Pendekar Sakti Jilid 22

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 22

SIAPAKAH gadis dan nenek yang sakti itu? Nenek itu bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti tokoh besar dari selatan. Gadis itu adalah muridnya, yakni Bun Sui Ceng, bocah perempuan yang dahulu amat lincah itu dan kini telah berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik dan perkasa.

Tiga orang panglima itu memandang semua sepak terjang yang hebat dari nenek serta gadis itu dengan bengong dan kagum. Kemudian mereka cepat menjura dengan hormat dan seorang di antara mereka berkata,

“Banyak terima kasih atas budi pertolongan Suthai dan Lihiap. Jika tidak ada pertolongan Ji-wi, tentu kami sudah menjadi korban keganasan anjing pemberontak itu. Mohon tanya, siapakah Suthai dan Lihiap yang gagah perkasa?”

Kiu-bwe Coa-li menggerak-gerakkan cambuknya dengan sikap tidak sabar, “Sudahlah, cukup segala penghormatan ini. Pinni (aku) bukan menteri, juga bukan kaisar. Lebih baik lekas tunjukkan saja di mana adanya Lu Pin bekas menteri itu!”

Melihat sikap yang amat galak dari Kiu-bwe Coa-li, tiga orang panglima itu terkejut sekali. Mereka maklum bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang aneh dan maklum pula bahwa tokoh-tokoh ini sering kali mengejar harta-harta pusaka. Siapa tahu kalau-kalau nenek sakti yang amat galak ini pun mencari Menteri Lu Pin dengan maksud kurang baik. Mereka adalah patriot-patriot sejati yang gagah, yang siap mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa, siap pula membela Menteri Lu Pin yang amat mereka junjung tinggi.

“Suthai menanyakan Lu-taijin ada maksud apakah?” tanya seorang di antara mereka.

Bun Sui Ceng memandang khawatir. Ia sudah maklum akan watak gurunya yang keras dan tidak mau dibantah oleh siapa pun juga. Benar saja, nenek sakti itu mengerutkan kening dan pecutnya bergerak-gerak di tangannya.

“Kau peduli apa dengan segala urusanku? Hayo katakan di mana dia berada dan habis perkara!”

Namun tiga orang panglima itu adalah orang-orang yang setia. Jangankan baru gertakan seorang nenek tua yang sakti, walau pun maut mengancam nyawa, mereka takkan sudi membuka rahasia persembunyian Menteri Lu Pin.

“Kalau Suthai tidak memberitahukan maksud Suthai menjumpai Lu-taijin, maafkan kami tidak dapat memberitahukan di mana tempat tinggalnya.”

Baru saja pembicara itu menutup mulutnya terdengar bunyi nyaring sekali dan…

“Tarrr…!”

Cambuk di tangan nenek itu menyambar turun ke atas kepala tiga orang panglima tadi!

“Suthai, jangan...!” Bun Siu Ceng melompat maju sambil mengangkat kedua tangannya seakan-akan melindungi kepala ketiga orang panglima itu. “Mereka adalah para pejuang rakyat, jangan dibunuh!”

“Pejuang atau bukan, mereka telah kurang ajar dan harus dibunuh, habis perkara!” jawab Kiu-bwe Coa-li dengan suara menyeramkan.

Sui Ceng cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan gurunya dan berkata dengan suara memohon.

“Suthai, ampunkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu siapa adanya Suthai. Biarlah teecu (murid) yang bicara dengan mereka.”

Cambuk berekor sembilan itu masih bergetar di tangan Kiu-bwe Coa-li dan dipegang di atas kepalanya. Akan tetapi, perlahan-lahan cambuk itu turun dan nenek itu lalu berkata penuh penyesalan.

“Hemm, kau anak nakal! Siapa peduli akan menteri dan kaisar? Dasar kau yang senang mencari-cari perkara!”

Namun jawaban ini sudah cukup bagi Sui Ceng. Setiap kali gurunya menyebutnya ‘anak nakal’, itu berarti bahwa gurunya memenuhi permintaannya. Dengan girang dia kemudian melompat bangun dan menghadapi tiga orang panglima yang memandang dengan mata terbelalak, masih kaget dan takut melihat sikap Kiu-bwe Coa-li yang aneh dan galak.

“Sam-wi Lo-pek (Paman Bertiga), sebenarnya guruku ini tidak peduli sama sekali tentang di mana adanya Lu-taijin. Hanya atas desakanku saja beliau terpaksa mencari tempat persembunyian Lu-taijin. Harap Sam-wi jangan mencurigai kami. Walau pun kami sudah mendengar bahwa Lu-taijin membawa harta pusaka besar, namun kami bukan sebangsa perampok dan kunjungan kami hanya sekedar hendak bertemu karena aku ingin sekali bicara dengan orang tua yang mulia dan gagah perkasa itu.”

Merahlah wajah tiga orang panglima itu mendengar ini. Mereka segera menjura dalam sekali dan salah seorang di antara mereka berkata,

“Maaf, maaf! Mohon maaf sebanyaknya bahwa kami yang sudah menerima pertolongan, sebaliknya telah berani mati untuk mencurigai Ji-wi. Kebetulan sekali kami pun baru saja tiba dengan maksud mengunjungi Lu-taijin yang sudah lama kami tinggalkan di sini. Akan tetapi ketika tadi kami melihat pasukan pemberontak berkumpul di sini, kami menjadi khawatir dan segera menyerbu mereka. Lu-taijin berada di dalam goa itu, Lihiap. Marilah kita bersama-sama masuk ke dalam untuk menemuinya, karena kami sudah sangat ingin melihat keadaannya.”

Biar pun tiga orang panglima itu bergerak cepat memasuki goa, tetap saja Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng dapat mendahului mereka. Dan alangkah heran dan kaget hati tiga orang itu ketika melihat betapa dengan tangan kirinya saja Kiu-bwe Coa-li dapat mendorong pintu raksasa itu sehingga terbuka, nampaknya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun juga.

Mereka mengeluarkan lidah saking kagumnya. Mereka bertiga yang bertenaga besar masih tak dapat mendorong pintu itu terbuka dan biasanya mereka hanya masuk dengan mempergunakan alat pembuka pintu yang tersembunyi di luar pintu itu.

Lima orang ini memasuki pintu. Kiu-bwe Coa-li nampak tertegun sejenak ketika melihat tengkorak-tengkorak raksasa itu. Biar pun ia seorang nenek sakti yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya maut dan kejadian yang aneh-aneh serta menyeramkan, akan tetapi selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyaksikan tengkorak-tengkorak yang begitu menyeramkan.

Ada pun Bun Sui Ceng yang masuk di belakang gurunya, mengeluarkan seruan tertahan dan merasa bulu tengkuknya berdiri! Tak terasa pula dia memegang tangan gurunya.

“Apa kau takut?” tanya Kiu-bwe Coa-li tak puas sambil menoleh dan memandang kepada muridnya. Bun Sui Ceng cepat melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng, kini mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya yang manis.

Mereka masuk terus ke dalam dan tiba-tiba tiga orang panglima itu menjerit berbareng.

“Lu-taijin...!”

Tergopoh-gopoh mereka berlari mendatangi tubuh kakek yang telah menggeletak miring di bawah dinding goa itu. Tangan kiri kakek itu memegang pedang Liong-coan-kiam, ada pun tangan kanannya memegang alat pengukir.

“Lu-taijin...!” kembali tiga bekas penglima itu berseru sambil beramai-ramai mengangkat tubuh kakek itu yang sudah lemas dan dingin.

Melihat sekelebatan saja, Kiu-bwe Coa-li tahu bahwa kakek itu sudah tak bernyawa lagi.

“Tidak perlu ribut-ribut, dia sudah mati,” katanya. “Marilah kita pergi, Sui Ceng, untuk apa berdiam di sini lebih lama lagi setelah orang yang ingin kau temui itu meninggal dunia?”

Akan tetapi muridnya tidak menjawab dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat muridnya itu tengah membaca ukir-ukiran yang berada di dinding tepat di mana kakek tadi menggeletak mati. Kiu-bwe Coa-li melangkah maju dan turut membaca huruf-huruf yang diukir amat indahnya itu.

Lu Kwan Cu

Kau cucu tunggal setelah seluruh keluargaku dibakar oleh pemberontak An Lu Shan. Lu Thong tidak termasuk hitungan. Kepadamu kuharapkan agar kau membinasakan seluruh keluarga An Lu Shan, bukan untuk membalaskan kesengsaraan keluargaku, melainkan kesengsaraan rakyat dan negara! Pedang Liong-coan-kiam kuberikan kepadamu. Sekali lagi, bebaskanlah rakyat dari pada angkara penjahat besar An Lu Shan sekeluarganya!

Kongkong-mu,
LU PIN


“Hebat! Sampai nyawanya meninggalkan raga, beliau tetap seorang patriot sejati untuk nusa dan bangsanya,” kata Sui Ceng dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, ia melihat mata muridnya itu berlinang air mata.

“Hmm, hmm, hmm, kau sudah terpengaruh oleh semangat kakek itu, Sui Ceng. Mari kita kembali ke gunung, untuk apa menyeret diri ke dalam kancah permusuhan?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. “Tidak, Suthai. Meski pun Suthai di mulut berkata demikian, akan tetapi teecu telah tahu akan perasaan hati Suthai. Bukankah dulu Suthai juga menjadi marah dan mencoba untuk membasmi kaki tangan An Lu Shan? Teecu akan membantu untuk memenuhi cita-cita Lu-taijin yang mulia, hendak teecu basmi para penjahat yang menindas rakyat itu,” katanya dengan gagah.

Kiu-bwe Coa-li menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mereka itu kuat sekali, Sui Ceng. An Lu Shan dibantu oleh banyak orang pandai dan agaknya sudah menjadi takdir bahwa negara kita harus berada dalam kekuasaan mereka. Lagi pula, bukankah menurut pesan Lu-taijin, yang diserahi tugas adalah Lu Kwan Cu? Heran aku, siapakah Lu Kwan Cu itu?”

Tiba-tiba Sui Ceng tersenyum. Gadis ini memang luar biasa sekali, mudah menangis dan mudah pula tersenyum. Dia teringat akan Kwan Cu, bocah gundul itu dan tak terasa pula dia tersenyum geli apa bila mengingat betapa tugas seberat itu diserahkan kepada bocah gundul setolol itu!

“Suthai, tidak ingatkah Suthai akan anak laki-laki yang menjadi sebab keributan dahulu? Semua tokoh besar memperebutkan dia, gara-gara kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu!”

Berubah wajah nenek sakti itu. “Ahh... dia...?” Dia mengerutkan kening dan berkata. “Sui Ceng, bocah itu bukan bocah biasa dan siapa tahu kalau-kalau dia sudah mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Sui Ceng kembali tersenyum geli. “Mana mungkin begitu, Suthai? Pada waktu gurunya, Ang-bin Sin-kai, tewas oleh keroyokan kaki tangan An Lu Shan, Kwan Cu tidak muncul dan sudah lama sekali dia tak memperlihatkan diri. Bagaimana dia bisa melakukan tugas sepenting ini? Biarlah aku mewakilinya, karena tugas ini bukan hanya tugasnya, akan tetapi tugas setiap orang gagah yang membela negara dan bangsanya.”

Diam-diam Kiu-bwe Coa-li bangga dan girang melihat sikap muridnya. Tidak percuma ia mempunyai murid yang hanya seorang ini, karena memang muridnya ini berjiwa gagah. Dia sendiri jemu untuk berurusan dengan segala keruwetan dunia, apa lagi ia memang merasa amat kecewa ketika tak berhasil membinasakan tokoh-tokoh yang mengkhianati bangsa.

“Baiklah, Sui Ceng. Kau boleh melakukan tugas ini, akan tetapi kau berhati-hatilah. Dan jangan lupa bahwa kau harus mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maksudku sebetulnya, kau harus mencari pemuda murid iblis utara itu, The Kun Beng.”

Merah sekali wajah Sui Ceng. Sebetulnya ia mengerti akan maksud gurunya, akan tetapi untuk mendapatkan penjelasan yang lebih nyata, ia pura-pura bertanya,

“Mengapa teecu harus mencari dia, Suthai?”

“Bocah bodoh! Seorang anak harus mentaati kehendak orang tuanya. Sebagai gurumu, aku sendiri tidak dapat berkata apa-apa, karena dalam hal perjodohan, orang tuamulah yang lebih berhak. Biar pun ibumu sudah tidak ada, akan tetapi pesannya harus ditaati. Bukankah ibumu sudah mengikatkan tali perjodohan antara kau dan The Kun Beng murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Nah, kau carilah dia supaya perjodohan ini dapat dilangsungkan segera. Tentu saja kau harus memberi tahu padaku apa bila pernikahan akan dilangsungkan.”

Warna merah makin menjalar luas sampai membikin merah kedua telinga gadis itu.

“Aahh, Suthai...! Perlu benarkah itu? Antara dia dan aku tidak ada hubungan sedikit pun juga. Bahkan semenjak kanak-kanak sampai sekarang, aku tak pernah melihat dia!”

“Meski pun begitu, Sui Ceng. Jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Thian dan disahkan oleh orang tua. Apakah sulitnya mencari murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Dia tentu lihai sekali seperti suhu-nya.”

Sui Ceng cemberut. “Walau pun dia lihai dan baik, teecu tidak peduli, Suthai. Mana ada wanita mencari laki-laki? Jika dia memang sudah diikatkan dengan teecu, kenapa bukan dia yang mencari teecu? Mengapa harus teecu yang mencarinya? Teecu tidak sudi!”

Kiu-bwe Coa-li tertawa, suara ketawanya aneh sekali. “Bodoh, apa kau lupa bahwa kita berdua menyembunyikan diri di gunung dan tidak seorang pun tahu di mana kita berdua? Andai kata dia mencari, apa kau kira dia mampu menemukan kita? Sudahlah, kau boleh berangkat dan hati-hatilah, jangan kau berpikiran singkat. Ingatlah semua nasehat dan pelajaran yang selama ini kau dapatkan dariku.”

Kiu-bwe Coa-li lalu meraba kepala muridnya dengan sentuhan mesra. Menghadapi sikap yang tidak seperti biasanya dari gurunya, terharulah hati Sui Ceng sehingga gadis ini lalu memeluk gurunya sambil menangis.

“Jaga baik-baik dirimu, Suthai. Tidak lama lagi teecu tentu akan menyambangi Suthai di puncak gunung.”

Pada saat itu, tiga orang panglima sedang sibuk mencoba untuk memindahkan hio-louw (tempat abu hio) yang sangat besar, akan tetapi sia-sia belaka. Hio-louw itu beratnya seribu kati lebih dan tidak dapat mereka angkat!

Mendengar suara mereka “ah-ah-uh-uh-uh!” mengerahkan tenaga, Kiu-bwe Coa-li lantas menengok.

“Eh, ehh, ehh, tidak mengurus jenazah baik-baik melainkan mengangkat-angkat hio-louw besar itu, apa-apaan kalian ini?” Kiu-bwe Coa-li menegur mereka.

Mendengar ini, tiga orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li.

“Suthai yang mulia, tolonglah kami. Lu-taijin dulu pernah berpesan bahwa apa bila beliau meninggal dunia, agar supaya jenazahnya dikubur di bawah hio-louw ini. Tidak tahunya hio-louw ini demikian beratnya sehingga kami bertiga tidak kuat memindahkannya.”

“Hm, hm, hm, orang-orang lemah seperti kalian ini mana bisa berhasil melawan pasukan-pasukan An Lu Shan?” kata Kiu-bwe Coa-li mengejek.

Akan tetapi dia bertindak juga menghampiri hio-louw itu. Dengan tangan kanannya dia memegang telinga hio-louw lalu dengan sekali sentak, hio-louw itu terangkat naik dan diturunkannya lagi di tempat yang agak jauh dari tempat semula!

Ketiga orang itu saling pandang dan mereka menghaturkan terima kasih sambil berlutut. Kemudian mereka cepat-cepat menggali lubang di bawah hio-louw itu.

Kiu-bwe Coa-li mengambil pedang Liong-coan-kiam dari tangan jenazah Lu Pin. Nenek ini memandang pedang itu dan mengangguk-angguk kagum.

“Pedang pusaka yang baik,” katanya.

“Suthai, pedang itu adalah pedang untuk Kwan Cu,” berkata Sui Ceng, mengira bahwa gurunya menginginkan pedang tadi.

“Untuk apa pedang macam ini bagiku?” kata Kiu-bwe Coa-li.

Sekali dia menggerakkan tangan yang memegang pedang, pedang itu meluncur seperti anak panah dan tertancap sampai ke gagangnya pada dinding batu karang yang diukir oleh Lu Pin! Pedang itu tertancap di tengah-tengah tulisan-tulisan itu sehingga sukarlah bagi orang biasa untuk mencabutnya kembali!

“Aku pergi dulu, Sui Ceng,” kata nenek itu dan tanpa menanti jawaban tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari situ.

Tiga orang panglima yang sedang menggali lubang, melihat kepergian nenek itu, menjadi bingung sekali. Mereka keluar dari lubang dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sui Ceng.

“Lihiap, harap kau jangan pergi dahulu. Siapa yang akan mengembalikan hio-louw itu ke tempat semula?”

Sui Ceng ragu-ragu. Akan tetapi melihat kepada mayat Menteri Lu Pin yang wajahnya masih membayangkan keagungan, dia pun lalu mengangguk.

Tiga orang itu bekerja keras dan sesudah lubang itu cukup dalam, dan dengan penuh penghormatan serta diantar oleh tangis, mereka mengubur jenazah Menteri Lu Pin. Sui Ceng lalu mengerahkan tenaganya, akan tetapi hanya sesudah mempergunakan kedua tangannya, gadis ini dapat memindahkan hio-louw yang memang amat berat itu.

Tiga orang panglima itu juga membaca tulisan yang diukir di dinding, kemudian mereka menyatakan kepada Sui Ceng bahwa di dalam perjuangan mereka hendak mendengar-dengar pula kalau-kalau ada pemuda seperti yang dimaksudkan oleh mendiang Lu-taijin itu. Setelah itu, mereka lalu keluar dari goa.

Sui Ceng berkata, “Mari kita tutup goa ini dengan batu-batu agar tidak ada sembarang orang dapat memasukinya dan mengganggu goa ini.” Setelah berkata demikian, gadis ini melempar-lemparkan batu-batu besar menutupi mulut goa.

Tiga orang itu tertegun. “Akan tetapi... bagaimana kalau pemuda yang bernama Lu Kwan Cu itu datang ke sini? Bagaimana dia akan dapat masuk?”

Sui Ceng tertawa. “Kalau dia sanggup menunaikan tugas yang diberikan kepadanya, apa susahnya untuk membongkar batu-batu ini dan membuka goa?”

Terpaksa tiga orang itu lalu membantu sehingga sebentar saja goa itu telah tertutup oleh batu-batu yang bertumpuk dan tidak kelihatan dari luar. Kemudian tanpa banyak cakap lagi Sui Ceng lalu melompat pergi diikuti oleh pandang mata tiga orang panglima itu yang merasa takjub dan kagum sekali.
Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

*****

“Turunkan aku...! Lepaskan aku...! Lepaskan, kau laki-laki kurang ajar!”

Gadis dalam pondongan Kwan Cu itu meronta-ronta dan memaki-maki minta dilepaskan dari pondongan. Namun Kwan Cu tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menjawab bahkan membiarkan saja kedua tangan gadis itu memukul-mukuli dadanya.

Ia merasa betapa pukulan tangan gadis itu cukup antep dan keras, namun baginya tidak terasa sama sekali. Diam-diam Kwan Cu merasa mendongkol sekali, maka dia sengaja tersenyum sambil berlari terus dengan cepatnya, keluar dari kota raja.

Akhirnya gadis itu tak dapat melanjutkan makiannya karena dia merasa lelah. Dia hanya menangis sambil menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda yang membawanya lari.

Setelah tiba jauh dari tembok kota raja, Kwan Cu masuk ke dalam hutan dan barulah dia menurunkan gadis itu di bawah sebatang pohon. Malam telah berganti pagi dan keadaan yang suram sejuk itu seakan-akan menyatakan kepadanya akan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh gadis yang telah ditolongnya. Kwan Cu tersenyum.

“Nah, di sini kau boleh memaki-maki dan menjerit sekerasmu. Para pengejar dari istana telah tertinggal jauh dan keadaan kita tidak terancam bahaya lagi.”

“Kau... kau laki-laki kasar, kurang ajar dan sombong! Kau berani memondongku, laki-laki sopan tidak akan sudi menyentuh kulit tubuh seorang gadis yang tidak dikenalnya. Kalau ada kakakku di sini, kepalamu tentu akan dihancurkan!” Gadis itu memaki lagi dengan sepasang matanya bersinar-sinar, menyaingi bintang pagi yang masih berkedip-kedip di angkasa.

Kwan Cu tersenyum lebar. “Kau maksudkan kakakmu Gouw Swi Kiat? Murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Aha, dia takkan marah-marah seperti kau, bahkan akan mengucapkan terima kasih kepadaku. Wahai gadis manis, tahukah kau mengapa aku menolongmu?”

“Mengapa lagi kalau kau tidak tertarik oleh kecantikan seorang gadis muda? Laki-laki di mana-mana sama saja, gila kecantikan dan lupa daratan, lupa peri kemanusiaan menjadi budak nafsu binatang!”

Berkerut kening Kwan Cu. Hatinya tersinggung sekali.

“Hemm, entah karena memang watakmu yang galak dan kasar ataukah karena kau telah mengalami banyak penderitaan maka kau bisa mengeluarkan tuduhan keji itu. Dengarlah perempuan, aku menolongmu karena empat hal. Pertama-tama aku benci melihat An Kong si pangeran botak yang mata keranjang itu. Ke dua karena aku mendengar bahwa kau adalah kekasih The Kun Beng, salah seorang kenalanku yang baik. Ke tiga, karena kau adalah adik dari Swi Kiat seorang sahabatku pula, dan keempat karena aku melihat muka si tua Siangkoan Hai dan murid-muridnya. Kau kira aku mempunyai maksud lain apa lagi? Kalau kau tidak suka, sudahlah, biarkan aku pergi. Terima kasih atas segala makian dan tuduhanmu yang keji!”

Setelah melontarkan kata-kata ini dengan suara gemas, Kwan Cu segera membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Dia merasa mengkal sekali.

“In-kong... (tuan penolong), perlahan dulu...”

Kwan Cu mengangkat alis dan menoleh. Ia tertegun melihat gadis itu berdiri memandang padanya dengan mata sayu dan di atas kedua pipi yang halus itu nampak butiran-butiran air mata! Benar-benar heran sekali, bagaimana gadis ini yang tadi marah-marah malah sekarang berbalik menangis? Sikap dan watak wanita benar-benar merupakan teka-teki besar bagi Kwan Cu.

“Ada apa lagi kau memanggil aku? Mengapa pula memakai sebutan In-kong? Aku tidak menolongmu. Apakah kurang cukup makian-makianmu tadi?”

Makin deras keluarnya air mata dari sepasang mata yang bening itu.

“Benar-benarkah kau... tidak akan menggangguku seperti yang kusangka semula?”

Kwan Cu tersenyum pahit, lalu menggeleng-geleng kepalanya. “Kau memang manis dan gampang menggugah hati laki-laki untuk mengganggumu. Akan tetapi karena kau sudah terlalu banyak menderita yang diakibatkan oleh sinar mata keranjang pria kau kemudian menganggap bahwa semua laki-laki gila nafsu dan mata keranjang. Tidak Nona, aku Lu Kwan Cu selama hidupku tidak akan mempergunakan kekerasan mengganggu wanita.”

Gadis ini terkejut mendengar nama ini, karena tadi di dalam kamar An Kong, dia sama sekali tidak memperhatikan nama ini.

“Jadi kau ini Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai yang sering di sebut-sebut oleh Kun Beng? Ahh, maafkan aku... maafkan aku yang sedang menderita ini...”

Tiba-tiba gadis itu menubruk maju dan berlutut di depan Kwan Cu.

Pemuda ini menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Kemudian dia mengangkat tubuh gadis itu sambil memegang kedua pundaknya.

“Sudahlah, Nona, tak perlu semua penghormatan ini dan kau janganlah terlalu berduka, tidak baik untuk kesehatanmu.”

Mendengar ucapan ini, gadis itu lalu memeluk dan menjatuhkan mukanya di dada Kwan Cu seakan seorang adik yang minta hiburan dari seorang kakak yang menyayanginya.

“Nasibku amat buruk...,” keluhnya sambil menangis.

Kembali Kwan Cu menggeleng kepala berkali-kali. Aneh sekali watak gadis ini, pikirnya. Tadi ditolong dan dipondong begitu saja, memaki-maki dan meronta-ronta, mengatakan dia kurang ajar dan tidak sopan. Sekarang atas kehendak sendiri bahkan memeluknya dan mendekapkan muka di dadanya. Alangkah anehnya. Akan tetapi timbul hati kasihan di dalam hatinya menyaksikan gadis itu terisak-isak di dadanya.

“Tenanglah, diamlah, Nona. Kenapa kau begini berduka?” Tanpa terasa, darah Kwan Cu panas juga.

Dia seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, apa lagi sampai bersentuhan kulit atau lebih-lebih lagi memeluk tubuh seorang gadis yang begitu cantik. Otomatis tangannya mengelus-elus rambut yang hitam panjang serta halus itu, sedangkan hatinya berdebar tidak karuan.

Rabaan tangan penuh kasih dan iba di rambutnya agaknya terasa oleh gadis itu. Dengan kaget dia menjauhkan dirinya, memandang kepada Kwan Cu, akan tetapi sekarang sinar ketakutan dan curiga telah lenyap dari matanya.

“Apakah kau kenal baik dengan Kun Beng dan kakakku Swi Kiat?” tanya gadis itu.

“Aku hanya bertemu dengan mereka pada waktu aku masih kecil. Dahulu kakakmu itu seorang anak yang berangasan, berbeda dengan Kun Beng yang halus dan ramah. Akan tetapi dahulu aku tidak tahu bahwa Swi Kiat mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Kui Lan.”

Gadis itu, Gouw Kui Lan, tersenyum pahit. “Memang kakakku selalu ikut dengan gurunya dan aku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Akan tetapi sekarang kedua orang tuaku sudah meninggal dunia dan aku hidup berdua dengan Kiat-ko. In-kong, aku hendak minta pertolonganmu, kau usahakanlah perdamaian antara Kiat-ko dan Kun Beng.”

“Ehh, mengapakah? Apakah mereka itu berselisih?”

Kui Lan mengangguk dan menarik napas panjang, kemudian duduk di atas akar pohon. “Duduklah, In-kong. Mereka tak hanya berselisih, bahkan Kiat-ko telah bersumpah untuk mencari dan membunuh Kun Beng... Dan aku tidak rela melihat Kun Beng terbunuh oleh kakakku. Aku... aku cinta kepada Kun Beng.”

Merah muka Kwan Cu mendengar pengakuan yang dianggapnya amat ganjil dari mulut gadis ini.

“Aku sudah mendengar ketika kau bicara dengan pangeran botak An Kong. Akan tetapi, kenapa mereka bermusuhan? Mereka adalah saudara sepergururan, bagaimana mereka bisa bermusuhan sedemikian hebatnya sehingga kakakmu bersumpah untuk membunuh sute-nya sendiri?”

Sampai beberapa lama Kui Lan ragu-ragu, kemudian dia menghela napas dan berkata, “Kun Beng sering kali membicarakan engkau, dan memujimu sebagai seorang yang aneh dan berbudi. Oleh karena itu, tiada salahnya apa bila aku menceritakan semua peristiwa yang kualami kepadamu, apa lagi karena aku juga hendak minta tolong kepadamu untuk mengakurkan mereka kembali.”

Kui Lan lalu bercerita, menuturkan pengalamannya dengan singkat. Akan tetapi, supaya lebih jelas bagi kita, marilah kita mengikuti sendiri semua pengalamannya itu.

Swi Kiat dan Kui Lan adalah putera-puteri dari keluarga Gouw yang bertempat tinggal di dalam Propinsi Hok-kian. Sesungguhnya ayah dari kedua orang anak ini adalah bekas seorang perwira Kerajaan Tang yang sudah mengundurkan diri karena tidak suka melihat kaisar dan para pembesar lain melakukan korupsi besar-besaran dan bukan merupakan pemimpin dan pelindung rakyat, malah sebaliknya mereka merupakan pemeras-pemeras berwewenang yang lebih jahat dari pada perampok-perampok tulen.

Bekas perwira she Gouw ini lalu membawa keluarganya pindah ke dalam dusun. Dengan uang simpanan yang tidak seberapa dia membeli tanah dan hidup sebagai petani yang berbahagia dan tenteram. Dia di segani di dusunnya karena selain luas pengertiannya, juga dia mempunyai kepandaian silat yang bagi orang-orang dusun sudah sangat tinggi sehingga dusun itu menjadi aman. Tidak ada orang jahat berani memperlihatkan aksinya setelah Gouw-ciangkun ini tinggal di situ.

Pada suatu hari, Swi Kiat dan adiknya bermain-main di halaman depan rumahnya. Ketika itu Swi Kiat baru berusia lima tahun dan Kui Lan berusia tiga tahun. Sebagai putera seorang petani, Swi Kiat memang amat rajin. Kalau dia tidak membantu para pekerja di ladang, baik hanya untuk mengawasi atau pun membantu sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan tenaganya yang masih kecil, tentulah dia membantu pekerjaan ibunya. Pada hari itu, Swi Kiat sedang bertugas menjaga adiknya yang masih kecil dan mengajaknya bermain-main.

Pada saat mereka bermain-main, mendadak kelihatan seorang kakek kecil pendek yang berpakaian sederhana. Entah kakek ini datangnya dari mana karena tahu-tahu dia telah berada di luar pekarangan rumah dan duduk di atas rumput, memandang ke arah dua orang anak yang bermain-main itu.

Swi Kiat dan Kui Lan melihat pula orang itu, akan tetapi tidak memperhatikannya karena hanya mengira bahwa kakek itu seorang dusun lain yang duduk beristirahat. Padahal sebetulnya kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang tokoh besar yang baru namanya saja sudah cukup hebat untuk membuat penjahat-penjahat segera mengangkat kaki seribu!

“Engko Kiat, ambilkan bunga itu...,” kata Kui Lan merengek-rengek.

“Mengapa kau minta bunga yang buruk di atas pohon itu? Lebih baik kucarikan bunga teratai di empang atau bunga mawar di kebun belakang, lebih bagus dan lebih mudah mengambilnya,” jawab kakaknya.

“Tidak mau, aku mau bunga yang di atas pohon itu!’ Kui Lan tetap merengek.

“Baiklah, baiklah, tapi jangan kau menangis,” Swi Kiat marah-marah, akan tetapi dia lalu naik ke atas pohon itu untuk mencarikan bunga bagi adiknya.

Dalam usia lima tahun, Swi Kiat telah mulai berlatih silat dan tubuhnya digembleng oleh ayahnya sehingga dia mempunyai tenaga dan kegesitan yang lebih dari pada anak-anak biasa. Bagaikan seekor monyet, dia memanjat pohon itu dan mengambilkan tiga tangkai bunga.

Tetapi, sebelum dia turun, tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan gatal-gatal. Alangkah kagetnya ketika anak ini melihat bahwa dia telah dikeroyok oleh ratusan ekor semut merah karena tanpa disengaja dia tadi telah menyentuh sarang mereka.

Swi Kiat memiliki ketabahan besar dan biar pun dia sibuk sekali mengusir semut-semut yang menggigit badannya, dia tidak mengeluarkan keluhan dan hanya berseru, “Semut... semut...!”

Ia merayap turun sambil menggaruk sana menepuk sini. Gigitan semut-semut merah itu sakit dan gatal luar biasa sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi. Ketika dua tangannya sibuk mengusir semut, keseimbangan tubuhnya menjadi kacau sehingga dia terpeleset dari atas dahan!

Anak itu tentu akan mengalami bencana hebat karena dia terjatuh dari dahan yang tinggi sekali. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tiba-tiba terdengar suara orang.

“Bodoh sekali...!”

Dan tahu-tahu tubuh Swi Kiat sudah ditangkap oleh sebuah lengan yang pendek kecil sehingga dia tidak sampai terbanting ke atas tanah. Kakek yang tadi tengah duduk di luar pekarangan, tahu-tahu telah berada di situ dan dapat menyambut tubuh Swi Kiat dengan amat mudah.

Swi Kiat masih sibuk mengusiri semut dan menggaruk ke sana ke mari. Biar pun semua semut itu sudah pergi, akan tetapi gatal-gatal masih hebat sekali sehingga anak ini tidak mempedulikan kakek yang telah menolongnya.

Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan pundak Swi Kiat ditampar. Aneh sekali, seketika itu juga lenyaplah rasa gatal serta sakit bekas gigitan semut, sungguh pun di sana sini masih nampak merah-merah bekas gigitan. Swi Kiat memandang dengan mata terbelalak, barulah dia teringat bahwa kakek ini telah menolongnya, maka serta merta dia menjatuhkan diri berlutut.

“Kakek yang baik, terima kasih atas pertolonganmu.”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai senang sekali melihat Swi Kiat. Ia dapat melihat bahwa anak ini bertulang baik dan bakatnya luar biasa. Juga melihat betapa dalam penderitaan, anak itu tidak mengeluh sama sekali, membuktikan bahwa anak itu mempunyai ketabahan dan ketenangan. Tiga tangkai kembang masih saja di pegangnya, ini pun menyatakan bahwa dia memiliki dasar kesetiaan.

Swi Kiat lalu memberikan kembang itu kepada Kui Lan yang menerimanya dan lantas bersembunyi di belakang kakaknya, karena dia takut melihat kakek kecil pendek yang suaranya nyaring itu.

“Anak yang tangkas, apa bila hendak mengambil bunga di atas pohon, mengapa harus susah-susah memanjat pohon yang banyak semutnya?” kata Siangkoan Hai tertawa.

“Ehh, kakek yang aneh. Kembang berada di atas pohon, jika tidak memanjat naik, habis bagaimana mengambilnya?” tanya Swi Kiat heran.

Siangkoan Hai tertawa semakin keras. “Banyak jalannya. Kau dapat menyambit tangkai kembang sehingga kembang-kembang itu turun sendiri ke bawah, atau kau dapat pula melompat dan mengambilnya tanpa menyentuh dahan pohon yang banyak semutnya.”

Swi Kiat berpikir sejenak, kemudian dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Membicarakannya sangat mudah, akan tetapi siapa dapat melakukan hal itu?” Memang Swi Kiat seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah begitu saja bila tidak melihat buktinya.

“Kau tidak percaya kepadaku? Lihatlah baik-baik!”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengambil segenggam batu kerikil, lantas sekali tangannya bergerak, lima butir kerikil lalu melayang ke arah pohon dan... tak lama kemudian, lima tangkai bunga melayang ke bawah.

“Hebat bukan main kepandaianmu menyambit, kakek yang baik. Akan tetapi, bagaimana dengan jalan ke dua?”

Siangkoan Hai tertawa makin keras dan tiba-tiba tubuhnya yang pendek kecil melayang ke arah pohon. Gerakan tubuhnya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata karena tiba-tiba dia sudah turun kembali dan ditangannya terdapat sepuluh tangkai bunga!

Bunga-bunga ini dia berikan kepada Kui Lan yang tertawa-tawa gembira. Anak ini belum dapat menghargai dan mengagumi semua perbuatan kakek itu yang dianggapnya aneh. Yang membikin dia gembira adalah pemberian bunga-bunga yang banyak itu.

“Luar biasa sekali!” tiba-tiba terdengar suara Gouw-ciangkun datang berlari-lari dari luar pekarangan, terus menjura dengan hormat kepada Siangkoan Hai.

“Ayah, kakek ini lihai sekali, aku ingin belajar ilmu kepandaian dari padanya,” berkata Swi Kiat sambil memandang kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan mata kagum.

“Locianpwe benar-benar amat mulia, sudi mengajak main-main anak-anakku yang bodoh dan nakal,” kata Gouw-ciangkun.

“Memang puteramu ini berjodoh dengan aku, biarlah dia menjadi muridku,” Pak-lo-sian Siangkoan Hai berkata.

Gouw-ciangkun adalah seorang bekas perwira dan ahli silat, karena itu dia pun tahu akan perlunya anak-anaknya mempelajari kepandaian silat. Mendengar ucapan kakek yang kecil pendek ini, dia lalu menjura dan berkata,

“Banyak terima kasih atas budi Locianpwe, tetapi bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama Locianpwe yang mulia?”

Pak-lo-sian Siangkoan Hai berwatak keras dan sombong, akan tetapi dia jujur dan baik hati. Ia tidak menjawab pertanyaan Gouw-ciangkun, karena baginya perkenalan tak ada artinya dan bersopan-sopan juga bukan kegemarannya, dia bahkan bertanya kepada Swi Kiat.

“Ehh, bocah tangkas. Sukakah kau menjadi muridku?”

Swi Kiat memang cerdik. Ia sudah yakin betul bahwa kakek ini seorang luar biasa, maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.

“Suhu, teecu merasa gembira sekali.”

Siangkoan Hai tertawa dan menoleh kepada Gouw-ciangkun. “Puteramu sudah setuju, aku tak punya banyak waktu. Selamat tinggal!” Tiba-tiba saja ia berkelebat dan tahu-tahu kakek itu dan juga Swi Kiat tidak kelihatan pula bayangannya.

Gouw-ciangkun terkejut bukan main. Ia girang bahwa puteranya mendapatkan guru yang demikian lihai, akan tetapi dia juga merasa gelisah karena tidak tahu siapakah gerangan guru anaknya itu. Maka biar pun kakek itu sudah tidak kelihatan, dia tetap berseru keras.

“Locianpwe, mohon kau sudi meninggalkan nama!”

Entah dari mana datangnya, terdengar amat jauh akan tetapi jelas sekali, ada jawaban, “Orang menyebutku Pak-lo-sian!”

Mendengar ini, Gouw-ciangkun tertegun dan berdiri seperti patung. Ia girang bukan main dan juga kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kakek kecil pendek itu adalah tokoh besar dari utara yang karena kesaktiannya mendapatkan julukan Dewa Utara!

Demikianlah, semenjak hari itu Swi Kiat mengikuti suhu-nya dan tidak lama kemudian gurunya mengambil murid seorang anak lain, yakni The Kun Beng. Hanya sekali dalam setahun, kadang-kadang sampai dua tahun, Swi Kiat datang mengunjungi orang tuanya atas perkenan suhu-nya yang mengajaknya merantau jauh.

Kehidupan keluarga Gouw aman dan tenteram sampai terjadi sebuah peristiwa beberapa belas tahun kemudian…..

Ketika itu Kui Lan telah berusia tujuh belas tahun dan dia merupakan seorang gadis yang sangat cantik jelita, bagaikan bunga mawar yang sedang mekar semerbak. Gadis ini pun mempelajari ilmu silat akan tetapi hanya di bawah pengajaran ayahnya sendiri yang tentu saja kalah jauh apa bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Siangkoan Hai.

Tiap kali Swi Kiat pulang mengunjungi orang tuanya, pemuda ini tentu memberi petunjuk-petunjuk kepada adiknya sehingga Kui Lan memperoleh kemajuan pesat. Tentu saja kini tingkat kepandaian Swi Kiat telah jauh melewati ayahnya sehingga orang tua itu menjadi amat bangga dan girang.

Sebagaimana sudah dituturkan di bagian depan, sejak Gouw-ciangkun tinggal di dusun itu, keadaan di situ aman dan tenteram, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya. Apa lagi setelah Kui Lan menjadi dewasa dan memiliki kepandaian silat tinggi, orang-orang makin menaruh hormat dan segan terhadap keluarga Gouw ini.

Akan tetapi, pada suatu hari, dusun ini sudah kedatangan rombongan orang-orang kasar yang ternyata adalah gerombolan perampok ganas yang melarikan diri dari utara karena mereka diobarak-abrik oleh Swi Kiat dan Kun Beng! Kepala perampok yang memimpin gerombolan ini bernama Ang Hok yang berjuluk Tok-hui-coa (Si Ular Terbang Berbisa).

Berkat penyelidikannya, Ang Hok mendapat keterangan bahwa seorang di antara kedua pemuda murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang gagah itu adalah putera Gouw-ciangkun yang tinggal di dusun Keng-kin-bun di sebelah utara kota raja. Dengan hati mengandung dendam, Tok-hui-coa Ang Hok lalu melarikan diri sambil membawa anak buahnya yang belum tewas menuju dusun itu untuk membalas dendamnya kepada keluarga Gouw!

Pada senja hari itu, Gouw-cingkun ditemani oleh isterinya serta Gouw Kui Lan, sedang makan malam sehabis bekerja keras sehari penuh, mengepalai para buruh tani di sawah. Mereka makan sambil bercakap-cakap dan seperti biasanya yang dipercakapkan mereka tentulah Swi Kiat.

“Tahun baru kurang tiga pekan lagi,” kata Gouw-ciangkun, “tentu Swi Kiat akan pulang.”

“Dulu Kiat-ko bilang bahwa sekarang dia jarang ikut suhu-nya merantau, karena kakek itu sekarang selalu bertapa di puncak gunung. Bahkan Kiat-ko sering kali mendapat tugas untuk membasmi para perampok dan membantu perjuangan rakyat dari pemberontak An Lu Shan,” kata Kui Lan menyambung.

Mereka bicara dengan asyik sekali. Tiba-tiba saja mereka terganggu oleh suara gemuruh di luar rumah, suara banyak orang datang berkumpul di sana. Lalu terdengar bentakan keras.

“Inilah rumah keluarga Gouw! Bakar habis, bunuh semua orang!”

Gouw-ciangkun cepat menyambar goloknya, sedangkan Kui Lan juga buru-buru berlari ke kamarnya mengambil pedang. Akan tetapi pada waktu itu, rumah bagian depan telah dibakar serta pintu depan sudah didorong roboh oleh Tok-hui-coa Ang Hok. Di belakang kepala perampok ini ikut masuk anak buahnya yang sebanyak dua puluh orang.

“Penjahat-penjahat rendah dari mana berani kurang ajar di rumah kami?” Gouw-ciangkun membentak marah dan menggerakkan golok menghadang mereka.

“Ha-ha-ha-ha! Inikah Gouw-ciangkun yang menjadi ayah dari si laknat Gouw Swi Kiat? Keluarga Gouw, bersiaplah untuk terima binasa!” kata Tok-hui-coa Ang Hok sambil maju menyerbu, mainkan ruyungnya yang besar dan berat.

Gouw-ciangkun dapat menduga bahwa mereka itu tentu penjahat-penjahat yang merasa sakit hati terhadap puteranya. Karena itu, tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyambut serangan lawan dan mengamuk. Akan tetapi alangkah kagetnya saat dia merasa telapak tangannya panas dan sakit ketika goloknya bertemu dengan ruyung itu. Ternyata bahwa tenaga kepala perampok itu besar sekali. Sebentar saja Gouw-ciangkun sudah dikeroyok oleh banyak orang.

“Penjahat-penjahat anjing, jangan kurang ajar!’ Tiba-tiba Kui Lan membentak.

Gadis ini melompat keluar dari kamarnya dengan pedang di tangannya. Seorang anggota perampok yang sudah menghampiri nyonya Gouw dengan golok di tangan, tiba-tiba saja diserangnya sehingga penjahat itu menjerit dengan dada tertembus pedang!

“Ibu, menyingkirlah ke dalam kamar!” seru Kui Lan sambil memutar pedang, membantu ayahnya yang sudah terkepung dan terdesak.

Ada pun Tok-hui-coa Ang Hok ketika melihat munculnya seorang gadis yang sedemikian gagahnya, menjadi seperti linglung dan dia memandang tanpa berkedip.

“Ha-ha-ha-ha, tidak kusangka di sini terdapat setangkai bunga cilan yang harum! Kawan-kawan, keroyok dan binasakan anjing tua ini, biar aku memetik kembang itu!” katanya kemudian dan dengan ruyung diputar cepat dia menyambut Kui Lan.

Biar pun Gouw-ciangkun gagah, akan tetapi dia telah mulai tua dan tenaganya terbatas. Lagi pula, selama menjadi petani, jarang sekali dia melatih ilmu silatnya dan juga tidak pernah bertempur, maka gerakannya kaku sekali. Bagaimana kini dia dapat menghadapi keroyokan belasan orang perampok itu?

Memang benar bahwa dia telah berhasil pula merobohkan tiga orang pengeroyok setelah mengamuk secara nekat dan mati-matian. Akan tetapi akhirnya tubuhnya menjadi korban keganasan para perampok, dihujani oleh pukulan senjata tajam sehingga ia roboh mandi darah.

Ada pun Kui Lan, mana dia dapat melawan Tok-hui-coa Ang Hok yang sudah kawakan dan penuh tipu muslihat pertempuran? Baru dua puluh jurus saja pedang di tangan gadis ini telah terlempar jauh. Sebelum Kui Lan dapat mengelak, ia telah diringkus dan sebuah totokan di pundak membuatnya tidak berdaya lagi.

“Ha-ha-ha, kawan-kawan. Bunuh semua orang di dalam rumah dan bakar habis rumah ini!” teriak Ang Hok sambil lari keluar memondong tubuh Kui Lan.

Para perampok itu tentu saja tak mau menyia-nyiakan waktu baik ini. Mereka merampok dulu habis-habisan, baru membunuh nyonya Gouw dan membakar rumah itu. Kemudian, dalam perjalanan mereka menyusul pemimpin mereka, mereka terlebih dulu merampok habis dusun itu dan melakukan pembunuhan keji.

Dalam keadaan lumpuh tertotok jalan darahnya, Kui Lan dibawa pergi oleh Tok-hui-coa Ang Hok ke arah pegunungan batu karang di mana banyak terdapat goa-goa yang besar. Di goa-goa itulah sarang para perampok yang baru datang dari utara ini.

Di sepanjang jalan terdengar suara Ang Hok tertawa-tawa menyeramkan. Kepala rampok yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tegap dan berwajah menyeramkan ini merasa girang sekali. Sekali ini hasil pekerjaannya memang hebat. Tidak saja dia dapat membalas dendam dan menghabiskan keluarga Gouw untuk membalaskan sakit hatinya terhadap Gouw Swi Kiat, juga dia berhasil mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita seperti Kui Lan yang sedang dipondongnya itu.

Hampir pingsan Kui Lan mengalami perlakuan yang kasar dan tidak senonoh oleh kepala rampok ini, akan tetapi apa dayanya? Selain kalah pandai dalam ilmu silat, juga ia telah dibikin tidak berdaya, semua urat-urat ditubuhnya lemas dan tenaganya lenyap. Baiknya sebelum Ang Hok melakukan hal-hal yang lebih hebat lagi, datanglah para anak buahnya yang tertawa-tawa sambil memanggul hasil-hasil rampokan.

Ang Hok meninggalkan Kui Lan dan keluar dari dalam goa, menemui anak buahnya.

“Kawan-kawan sekalian. Bunga yang kupetik itu sungguh-sungguh cantik dan aku sudah mengambil keputusan untuk menjadikan isteriku. Bersiap-siaplah untuk merayakan pesta pernikahanku malam nanti!’

Kawan-kawannya bersorak gembira. Memang hal itu merupakan hal baru yang sangat mengherankan. Biasanya kepala rampok itu mengganggu anak bini orang dan sesudah bosan lalu dioperkannya kepada anak buahnya. Baru kali ini agaknya kepala rampok itu jatuh hati terhadap seorang wanita!

Kawanan perampok itu lalu mendatangi dusun-dusun dan memaksa orang-orang dusun supaya menyediakan hidangan untuk meramaikan pesta pernikahan pemimpin mereka. Kasihan sekali orang-orang dusun ini, karena mereka dengan hati berat dan terpaksa harus melakukan segala perintah ini. Suasana di pegunungan batu karang pada malam hari itu ramai sekali dan para perampok menari-nari dan minum sampai mabuk.

Akan tetapi, tiba-tiba di sana-sini terdengar jeritan orang dan beberapa orang perampok roboh tak bernyawa lagi. Seorang pemuda yang amat tampan dan gagah tahu-tahu telah berdiri di situ dan kedua tangannya bergerak-gerak. Tiap kali tangannya bergerak, sebutir benda hitam melayang dan mengenai seorang perampok yang tak dapat menghindarkan diri lagi, terus saja roboh dan mati!

Gegerlah keadaan di situ. Orang-orang dusun melihat kesempatan baik ini, cepat-cepat melarikan diri, pulang ke rumah mereka masing-masing di bawah gunung. Ada pun para perampok menjadi amat marah sehingga sebentar saja pemuda itu telah dikepung oleh perampok-perampok yang memegang senjata tajam di tangan.



Thanks for reading Pendekar Sakti Jilid 22 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »