Social Items

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 17

MALITA dan Malika menghentikan gerakan mereka dan dengan menjura Malita menulis di atas tanah dengan ujung sepatunya.

Kami menyerah kalah dan percaya penuh akan kelihaianmu.’

Kalian memiliki ilmu pedang yang hebat sekali,’ jawab Kwan Cu sambil mengembalikan dua batang pedang kecil itu.

Akan tetapi, Kahano beserta kawan-kawannya lebih berbahaya lagi. Kalau menghadapi mereka, kau harus mempergunakan kedua tanganmu, dan untuk menjaga supaya jangan kau terluka oleh senjata mereka yang mengandung racun berbahaya, kedua tanganmu harus digosok lebih dulu dengan obat kami,’ kata Malita.

Sesudah mendapat kenyataan bahwa pemuda raksasa itu benar-benar lihai, Malita dan kawan-kawannya menjadi amat gembira dan penuh harapan. Malita segera mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati raksasa muda yang akan menolong mereka itu. Di dalam kesempatan ini Kwan Cu mempelajari bahasa mereka yang terdengar amat kaku bagi telinganya.

Malita dan Malika mengajak Kwan Cu untuk berunding bagaimana harus mengadakan penyerangan terhadap pemberontak.

“Yang terberat untuk dihadapi hanya enam orang di bawah pimpinan Kahano itu,” kata Malita sambil menjelaskan dengan tulisan bagian kata-kata yang tidak atau belum dapat dimengerti oleh Kwan Cu, “tentang anak buah mereka, serahkan saja kepada kami dan kawan-kawan. Asal kau sudah dapat mengalahkan dan menawan enam orang itu, tentu akan beres. Akan tetapi sukarnya, mereka itu menyembunyikan diri dalam goa-goa yang panjang dan gelap dan pertahanan mereka di situ kuat sekali. Setiap kali kami hendak menyerbu masuk, kami lantas dihujani anak panah dan senjata rahasia dari dalam goa.”

“Kita lihat saja dulu keadaan mereka di sana, baru nanti mencari akal,” kata Kwan Cu sambil makan hidangan yang enak akan tetapi aneh bagi lidahnya.

Dia merasa agak malu-malu ketika melihat betapa semua wanita itu menonton dia makan hidangan yang bagi mereka amat banyak itu. Hm, alangkah gembulku dalam pandangan mereka, pikir Kwan Cu.

Malam hari itu Kwan Cu bermalam di dusun mereka. Karena tidak ada rumah atau kamar yang cukup besar bagi Kwan Cu, terpaksa pemuda ini bermalam di luar rumah-rumah kecil itu, di udara terbuka. Namun dia mendapat hiburan yang luar biasa sekali.

Pada saat hari mulai gelap dan dia telah membaringkan tubuhnya di bawah pohon untuk mengaso dan mengenangkan semua pengalamannya yang amat aneh-aneh itu, tiba-tiba nampak banyak sekali obor yang menerangi tempat itu. Berbarengan dengan munculnya obor-obor ini, terdengar suara tetabuhan yang amat merdu namun aneh sekali iramanya. Suara tetabuhan ini lalu disusul oleh nyanyian bersama yang membuat Kwan Cu merasa heran, karena dalam suara nyanyian bersama ini, dia mendengar adanya suara laki-laki yang besar!

Obor-obor itu makin mendekat dan Kwan Cu melihat sesuatu yang membuat dia terkejut dan juga gembira, karena tanpa diduga-duganya bahwa para pemegang obor itu adalah wanita-wanita dan juga laki-laki bangsa katai itu. Mereka tampak begitu rukun dan damai, ada pun di antara mereka nampak pula banyak anak-anak kecil yang dalam pandangan Kwan Cu luar biasa lucunya, seperti bayi-bayi berjalan!

Malita dan Malika memimpin rombongan ini dan menurut tafsiran Kwan Cu tidak kurang dari lima puluh orang wanita-wanita muda dan dua puluh orang lelaki muda yang datang membawa obor itu. Pakaian mereka seragam, yang wanita merah dan yang laki-laki biru. Agaknya mereka dalam keadaan dan suasana berpesta riang gembira.

Kwan Cu bangun dan duduk bersandarkan pohon. Malita menghampirinya dan bersama Malika, dia menjura tanda menghormat yang dibalas Kwan Cu dengan anggukan kepala dan senyum ramah.

“Nasehatmu baik sekali, saudara Kwan Cu. Lihat, laki-laki yang tadinya menjadi tawanan kami, sekarang sudah kami bebaskan dan setelah kami menjelaskan tentang nasehatmu agar kami hidup rukun dan damai saling mengalah dan saling melindungi, mereka mau menerima dengan gembira dan menyatakan hendak membantu kami menumpas Kahano dan kawan-kawannya.”

“Bagus sekali! Tidak ada berita lebih menggirangkan dari pada ini,” kata Kwan Cu.

Ada pun orang-orang lelaki yang berada di situ, lalu bersama maju dan berlutut di depan Kwan Cu dengan mata memandang kagum dan juga agak takut-takut.

Kwan Cu melihat betapa kaum lelaki di situ memang bersemangat kecil dan jelas sekali nampak sifat rendah diri dan kalah pengaruh oleh kaum wanitanya. Namun harus diakui bahwa mereka pun mempunyai bentuk yang tampan dan menarik serta potongan tubuh yang bagus. Anak-anak kecil kelihatan lucu sekali ketika mereka memandang kepada ‘raksasa muda’ itu dengan mata terbelalak ketakutan.

“Kami sengaja mengumpulkan orang-orang untuk menghiburmu sebagai penghormatan,” kata Malita, kemudian ia memberikan tanda dengan tangannya.

Tetabuhan dibunyikan semakin gencar dan dari rombongan itu keluarlah belasan orang gadis dengan pakaian indah, menari-nari di hadapan Kwan Cu dengan gerakan lemah gemulai. Kwan Cu terpesona. Belum pernah dia menyaksikan tari-tarian yang demikian indahnya, ditarikan oleh gadis-gadis yang biar pun bentuk tubuhnya sudah menunjukkan kepenuhan dan kedewasaan, tapi tingginya hanya sampai di pahanya saja! Seakan-akan dia melihat boneka-boneka hidup menari dengan indahnya.

Semua ini menggembirakan hati Kwan Cu, namun yang paling menggembirakan adalah sikap laki-laki dan wanita yang berada di situ, saling pandang antara suami isteri, penuh cinta kasih dan pengertian, tertawa-tawa dan tiada ubahnya dengan pasangan-pasangan di dusun-dusun di negaranya, di mana hidup petani-petani yang sederhana akan tetapi selalu hidup rukun dengan keluarganya.

“Pesta seperti biasanya kami lakukan setahun sekali,” kata Malita kepada Kwan Cu tanpa mempergunakan tulisan karena Kwan Cu yang berotak cerdik luar biasa itu sebentar saja sudah menguasai bahasa percakapan yang mudah-mudah.

“Untuk merayakan apakah?” tanya Kwan Cu sambil menikmati gerak tarian para gadis cantik yang berputar-putar di hadapannya menurutkan irama lagu.

“Untuk merayakan dewi bulan. Dalam perayaan itu para dara mendapatkan kesempatan untuk memilih calon jodohnya.”

Kwan Cu tertegun. Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata. Hemm, benar-benar dunia nyata di pulau ini. Bahkan dalam hal memilih jodoh, wanitalah yang berhak memilih!

“Jadi laki-laki tak berhak memilih jodohnya?” tanyanya.

Sepasang mata Malita memancarkan sinar penasaran. “Laki-laki memilih? Hemm, akan rusaklah semua kalau laki-laki yang diberi kekuasaan memilih jodohnya. Laki-laki selalu memilih jodohnya berdasarkan kecantikan wanita dan keindahan bentuk tubuh! Laki-laki seakan-akan buta dalam hal memilih jodoh. Kalau mereka memilih, tentu tak akan dapat terbentuk rumah tangga bahagia. Mereka selalu memilih yang cantik-cantik, akan tetapi akhirnya bercekcok di kemudian hari karena ternyata pilihannya itu tidak cocok dengan wataknya sendiri. Kemudian bagaimana? Mereka itu, laki-laki buta itu, akan mencari-cari wanita lain!”

Kwan Cu tersenyum. “Malita, agaknya kau masih belum dapat melenyapkan kebencian terhadap laki-laki di dalam hatimu.”

Malita tersenyum juga menjadi sabar kembali. “Bukan semata-mata terdorong kebencian, melainkan berdasarkan kenyataan. Sifat buruk laki-lakilah yang memancing kebencian di dalam hati wanita.”

“Kurasa tak akan terjadi seperti penuturanmu itu apa bila pemilihan laki-laki berdasarkan cinta kasih.” Kata Kwan Cu.

Tiba-tiba gadis bertahi lalat di pipinya itu tertawa berkikikan sambil menutupi mulutnya, seakan-akan mendengar sesuatu yang sangat menggelikan hatinya. Tentu saja Kwan Cu menjadi melongo karena dia tidak mengerti apa gerangan yang ditertawakan oleh Malita.

“Ehh, kau tertawa begitu geli, ada apakah?” tanyanya dengan tak senang karena berada di tengah-tengah orang-orang katai ini, kembali datang perasaan tidak sedap dalam hati Kwan Cu yang merasa bahwa dia akan kembali menjadi buah tertawaan.

“Apakah di antara bangsa raksasa terdapat juga perasaan cinta kasih yang membikin gila orang?” tanya Malita.

“Tentu saja ada. Apa kau kira kami bangsa yang kau sebut raksasa bukan manusia yang mempunyai perasaan dan hati?”

“Bukan begitu maksudku, saudara Kwan Cu yang baik. Melihat kau serta kepandaianmu, tadinya kukira bahwa bangsamu adalah manusia-manusia yang sudah pandai dan tidak bodoh serta lemah sehingga mudah pula dikuasai oleh perasaan palsu yang kita sebut cinta kasih. Akan tetapi ternyata sama saja dengan kami, masih dapat dipengaruhi oleh perasaan palsu itu.”

“Bagaimana kau berani menyatakan bahwa cinta kasih itu adalah sesuatu perasaan yang palsu?” tanya Kwan Cu penasaran.

“Cinta kasih yang timbul di dalam hati wanita memang murni dan suci, akan tetapi cinta kasih di dalam dada seorang laki-laki hanyalah palsu belaka! Cinta kasih seorang laki-laki hanya berdasarkan nafsu, berdasarkan rasa tertarik dan suka kepada wajah yang indah, bentuk tubuh yang menggairahkan! Sebaliknya, cinta kasih yang timbul dalam hati wanita berdasarkan watak yang baik dan budi bahasa yang halus, bukan semata-mata karena wajah yang tampan dan gagah!”

Kwan Cu kembali tertegun. Baru kali ini dia mendengar filsafat seperti ini sungguh pun dia memang jarang sekali mendengar atau tidak pernah membaca tentang filsafat cinta kasih. Namun dia penasaran sekali karena sebagai seorang laki laki dia merasa laki-laki sangat direndahkan oleh ucapan itu.

“Tak mungkin!” ia membantah. ”Tidak semua laki-laki hanya mendasarkan cintanya pada nafsu dan keindahan. Ada pula laki-laki yang berpribudi dan bijaksana.”

“Seribu satu saudara Kwan Cu. Seribu orang hanya ada satu! Aku berani bertaruh bahwa seorang laki-laki tidak akan suka mencinta seorang wanita yang buruk rupa atau cacad tubuhnya. Ehh, apakah kau sendiri sudah mempunyai seorang wanita yang kau kasihi?”

Kwan Cu tak dapat menjawab, wajahnya memerah. Ia teringat akan sumpahnya di depan gadis raksasa Liyani bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng! Akan tetapi di depan Malita dia tidak menyatakan sesuatu.

“Saudara Kwan Cu, andai kata kau sudah mempunyai seorang gadis yang kau cinta, aku berani memastikan bahwa gadis itu tentulah seorang yang cantik manis, bukan seorang gadis yang tidak ada hidungnya! Aku tidak percaya akan ada seorang laki-laki yang mau mencintai seorang gadis yang hidungnya lenyap atau rusak.” Setelah berkata demikian, Malita tertawa mengejek.

“Kau mau menang sendiri saja,” Kwan Cu merasa perutnya panas, ”aku juga merasa yakin bahwa tidak ada seorang gadis yang mau menjadi isteri dari seorang laki-laki yang hidungnya rusak seperti yang kau katakan tadi.”

“Siapa bilang tidak mungkin? Banyak wanita yang mencinta sepenuh hati suaminya yang buruk rupa, yang bopeng, yang pincang dan sebagainya. Cintanya suci murni, karena seperti kukatakan tadi, cinta kasih seorang wanita berdasarkan kesetiaan, berdasarkan watak baik dan kecocokan hati dan pikiran, bukan seperti laki laki yang buta cinta, hanya suka kepada apa yang baik dan menarik, akan tetapi mudah pula bosan setelah melihat wanita lain yang lebih menarik!”

Kwan Cu menjadi panas, akan tetapi dia sempat menahan gelora hatinya dan hampir saja dia tertawa. Untuk apakah berdebat urusan cinta dengan gadis ini?

“Sesukamulah, Malita. Hanya kalau kau dan kawan kawanmu mau menuruti nasehatku, dalam menetapkan perjodohan, harus ada persetujuan kedua fihak, baik dari si wanita mau pun dari si lelaki, baik dari fihak wanita mau pun dari fihak laki-laki jangan sekali kali ada paksaan. Dengan demikian, kiranya baru akan dapat dibentuk rumah tangga yang damai.”

Pesta penghormatan itu berjalan sampai menjelang tengah malam. Tiba-tiba saja banyak sekali obor yang mendadak padam dan terdengar jeritan di sana sini. Kwan Cu terkejut sekali melihat beberapa orang laki-laki yang tadi memegang obor, terjungkal roboh dan keadaan menjadi panik. Di bawah penerangan bulan kelihatan bayangan yang amat gesit di sana sini dan anak panah-anak panah yang kecil menyambar-nyambar.

Kwan Cu dan Malita melompat bangun.

“Mereka datang menyerbu!” seru Malita marah sambil mencabut pedangnya.

“Biar aku yang menghadapi mereka!” Kwan Cu berseru. Pemuda ini berlari cepat dengan lompatan-lompatan jauh menuju ke arah para penyerbu.

Memang benar dugaan Malita, banyak sekali orang katai datang dari arah pantai sambil menghujankan anak panah kepada orang-orang yang sedang berpesta itu. Kahano yang mendengar bahwa pulau itu kedatangan seorang raksasa dan bahwa para wanita tengah mengadakan pesta pada malam itu, dan terutama sekali mendengar betapa para laki-laki yang tertawan kini sudah berbaikan dengan para wanita, menjadi marah dan memimpin semua orang menyerbu.

Kwan Cu yang berlari mendatangi, mendadak disambut oleh puluhan batang anak panah yang kecil-kecil tapi datangnya cukup berbahaya. Pemuda ini cepat mencabut sulingnya kemudian memutarnya seperti pedang sehingga semua anak panah yang kecil-kecil itu tersampok runtuh. Dia maju terus dan para pemberontak itu ketika menyaksikan betapa raksasa ini amat tangguh, menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai!

Akan tetapi, pada saat itu pula, Malita dan Malika serta kawan-kawannya telah datang menyerbu dan terjadilah pertempuran yang hebat. Kwan Cu menyerang ke sana ke mari dengan sulingnya. Dia tidak ingin membunuh, hanya mempergunakan tenaganya untuk membuat senjata-senjata lawan terlempar sambil berseru berkali-kali,

“Malita, jangan bunuh mereka, tawan saja!”

Menghadapi amukan raksasa ini, orang-orang katai yang sudah panik itu menjadi makin kacau balau. Apa lagi memang kepandaian para wanita itu hebat dan walau pun mereka menerima latihan ilmu silat tinggi yang aneh dari Kahano, namun masih belum sanggup mengatasi kepandaian para wanita.

Sebentar saja mereka sudah dapat dikalahkan, terluka dan tertawan. Kwan Cu sengaja mencegah mereka itu melarikan diri, tetapi setelah dia menjaga di pantai dan menangkap setiap orang katai yang hendak melarikan diri, dan pertempuran selesai, ternyata bahwa betapa pun juga, Kahano dan lima orang kawannya telah melarikan diri dari pulau itu!

Malita dan kawan-kawannya girang sekali melihat betapa semua anak buah Kahano kini telah dapat tertawan, sungguh pun Malita masih penasaran karena Kahano bersama lima orang kawannya yang menjadi biang keladi kekacauan itu dapat melarikan diri.

Pada malam hari itu juga, Malita beserta kawan-kawannya lalu memberi nasehat kepada semua tawanan, dibantu pula oleh orang-orang lelaki yang telah insyaf dan baik kembali. Para tawanan itu setelah mendapat penerangan bahwa semenjak hari itu tidak akan ada tindas-menindas antara laki-laki dan wanita, bahwa akan diadakan kerja sama yang baik menurut nasehat Kwan Cu raksasa muda itu, menjadi sangat terharu. Mereka tadinya kena hasutan Kahano hanya karena mereka menganggap pihak wanita terlalu menindas dan merendahkan mereka yang bertenaga lebih besar.

“Setiap pelanggaran atau kejahatan, setiap penindasan dan kekejaman, baik dilakukan oleh wanita mau pun laki-laki, akan diadili dan yang melakukan akan dihukum!” demikian Malita menutup penerangannya, sesuai dengan nasehat dan penerangan Kwan Cu yang memasukkan aturan-aturan bangsanya kepada bangsa katai ini.

Pada keesokan harinya, diantar oleh Malita, Malika beserta sepuluh orang prajurit wanita, Kwan Cu naik perahunya menuju ke pulau yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan lima orang kawannya. Melihat pulau itu dari perahunya, Kwan Cu berdebar hatinya.

Tidak salah lagi, inilah pulau yang ditunjuk di dalam buku sejarah, tempat Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan. Ia melihat pulau yang kecil dan bentuknya bundar dan dari jauh telah nampak pohon-pohon yang keputih-putihan, batu-batu karang yang menjulang tinggi dan goa-goa di batu karang yang bermulut hitam gelap.

“Itulah Pek-hio-to (pulau daun putih) yang dijadikan tempat sembunyi Kahano bersama kawan-kawannya,” kata Malita kepada Kwan Cu.

Di dalam kegembiraan dan ketegangan hatinya, Kwan Cu tidak menjawab, melainkan dia mendayung semakin cepat lagi ke arah pulau itu sehingga perahunya meluncur sangat cepat dan membuat para wanita itu memandang dengan kagum.

Pulau kecil itu ternyata paling tinggi letaknya di antara semua pulau-pulau kecil yang ada di sekitar daerah itu. Kelihatannya seperti bukit kecil yang berwarna putih.

Sesudah Kwan Cu mendaratkan perahunya, dia dan semua wanita katai melompat turun ke pantai. Malita mengeluarkan sehelai sapu tangan warna putih dari balik bajunya dan memberikan sapu tangan itu kepada Kwan Cu.

“Seperti telah kukatakan kemarin, Kahano dan kawan-kawannya menggunakan bisa ular pada ujung senjata mereka. Bisa itu sangat berbahaya, dan kalau kulit tanganmu sampai terluka, nyawamu akan terancam bahaya. Akan tetapi jika kau menggosok-gosok kedua tanganmu dengan sapu tangan yang sudah mengandung obat penawar ini, kau tak usah takut menghadapi ujung senjata mereka.”

Kwan Cu menerima sapu tangan itu sambil mengucapkan terima kasihnya kemudian dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan sapu tangan itu. Aneh sekali, terasa panas dan gatal-gatal tangannya, akan tetapi Malita meminta dia menggosok-gosok terus sampai lenyap rasa gatal-gatal itu.

Benar saja, lama-lama lenyap rasa gatalnya, tinggal rasa panas-panas hangat di telapak tangannya. Dia lalu mengembalikan sapu tangan putih kepada Malita dan diam-diam dia merasa kagum. Agaknya gadis ini adalah seorang ahli mengenai senjata yang berbahaya dan racun sehingga perlu membawa sapu tangan-sapu tangan yang aneh dari berbagai warna. Kwan Cu masih teringat sapu tangan merah yang dapat membuat dia mabuk dan tertidur.

“Di mana tempat mereka bersembunyi?” Kwan Cu bertanya sambil mengajak Malita dan kawan-kawannya naik ke tengah pulau.

Mata pemuda ini memandang ke sekelilingnya dan dia melihat bahwa pulau itu memang aneh sekali dan keadaannya juga menyeramkan. Pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak banyak, akan tetapi daun-daunnya berwarna putih belaka, juga rumput-rumputan banyak yang berwarna putih.

Pulau ini mengingatkan dia kepada daerah utara bila mana sedang dilanda musim salju. Goa-goa yang banyak terdapat di bukit karang itu nampak menghitam, sehingga sangat jelas terlihat di antara daun-daun yang putih itu.

“Sukar untuk mengatakan di mana mereka bersembunyi. Goa-goa di sini banyak sekali dan di antaranya terdapat lima buah goa yang merupakan terowongan bersambung satu dengan yang lainnya,” jawab Malita sambil memimpin rombongan itu kepada sebuah goa yang gelap. “Nah, goa ini yang terbesar, akan tetapi dari goa ini orang dapat mencapai goa-goa di lain bagian.”

Kwan Cu melihat ada bekas tapak-tapak kaki kecil di sekitar mulut goa dan tahu bahwa memang orang-orang katai itu menyembunyikan diri di dalam goa. Akan tetapi agaknya sia-sia kalau hendak mengejar, karena orang-orang itu dari dalam goa yang gelap tentu akan melihat kedatangannya sehingga mereka bisa melarikan diri melalui mulut goa yang lain. Di samping itu, goa itu memang cukup besar bagi orang-orang katai, namun bagi dia agaknya dia hanya dapat masuk dengan jalan merangkak! Ini berbahaya sekali! Akhirnya dia mendapat akal.

“Kumpulkan kayu-kayu bakar dan daun-daun kering di mulut goa yang berhubungan satu dengan yang lain itu, tutup empat mulut goa dengan kayu bakar dan daun kering, biarkan yang satu ini saja terbuka. Setelah penuh dengan kayu bakar , bakar semua tumpukan itu supaya asapnya memenuhi goa dan terowongan. Asap itulah yang akan memaksa mereka keluar dari goa melalui mulut goa ini dan aku akan menjaga di sini.”

Mendengar siasat ini, Malita mengangguk-angguk dengan kagum. Dia segera mengatur dan memecah kawan-kawan menjadi empat bagian untuk melakukan tugas menutup dan membakar mulut goa. Ada pun Kwan Cu lantas bersembunyi di belakang batu karang, menjaga kalau-kalau para pemberontak itu muncul dari goa besar itu.

Tempat sembunyi Kwan Cu adalah di balik pohon yang berada di dekat goa dan pemuda ini bersandar pada batu karang itu. Tanpa sengaja tangannya menyentuh batu karang yang hitam itu dan mendapatkan bagian-bagian yang halus teraba oleh tangannya. Dia memandang dan melihat ukiran-ukiran seperti huruf di dinding batu karang di luar goa. Akan tetapi coretan atau ukiran itu tak dapat dibaca karena telah tertutup oleh tanah yang mengeras, merupakan kulit dari batu karang itu.

Kwan Cu mengerahkan tenaga dan menggunakan tangan untuk menarik keluar kulit batu karang itu. Sebagian dari kulit yang terjadi dari tanah mengeras itu terlepas dan ternyata bahwa huruf itu adalah huruf LIU. Berdebar hati Kwan Cu.

Huruf ini mengingatkan dia akan bunyi kitab sejarah yang dia dapatkan di dalam sumur di Kun-lun-san, yakni kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang menyatakan bahwa kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong oleh LIU PANG yang akhirnya menjadi raja. Dia segera mengerjakan kedua tangannya untuk melepaskan kulit batu karang yang menutup huruf-huruf selanjutnya.

Sementara itu, Malita, Malika dan kawan-kawan mereka sudah mulai bekerja, menutupi empat mulut goa yang lainnya dengan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu membakar semua itu. Asap yang tebal bergumpal-gumpal lalu memasuki goa dan terus memasuki terowongan itu!

Karena amat tertarik oleh ukiran huruf di dinding sebelah luar goa, Kwan Cu lupa bahwa dia sedang bertugas menunggu munculnya Kahano dan kawan-kawannya, dan dia tidak ingat lagi bahwa sudah beberapa lama dia bekerja mencoba untuk melepaskan kulit batu karang yang sudah amat keras dan menjadi satu dengan batunya. Setelah dengan susah payah bekerja sehingga kuku-kuku jari tangannya sampai pecah-pecah, akhirnya Kwan Cu dapat membaca empat huruf yang berbunyi LIU SIN TONG TANG (Guna Anak Ajaib Liu).

Hampir saja Kwan Cu berjingkrak saking girangnya. Tak salah lagi, yang dimaksudkan dengan anak ajaib she Liu itu tentu bukan lain adalah Liu Pang, karena anak yang kelak menjadi kaisar patut disebut atau menyebut diri sendiri sebagai anak ajaib. Ia pun makin dekat dengan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang sudah lama dicari-carinya.

Akan tetapi pada saat itu asap telah memasuki terowongan dan bahkan sudah ada asap yang keluar dari mulut goa yang dijaga oleh Kwan Cu. Tidak lama kemudian terdengarlah batuk-batuk dan tampak enam orang katai berlari-lari keluar dari dalam goa itu.

Gerakan mereka gesit sekali dan keenam-enamnya memegang sebatang pedang kecil yang nampaknya tidak berbahaya, akan tetapi yang sesungguhnya mengandung racun putih yang sangat berbahaya pada ujungnya. Enam orang itu bukan lain adalah Kahano beserta lima orang kawannya.

Kwan Cu yang mendengar suara mereka, lalu memandang. Dia melihat seorang katai yang usianya sudah agak tua, dengan kumis dan jenggot putih tebal menutupi mulutnya. Lima orang yang lain berkepala gundul dan biar pun mereka masih muda-muda, namun wajah mereka buruk rupa dan nampak kejam-kejam.

Kwan Cu teringat akan penuturan Malita bahwa lima orang yang menjadi murid Kahano adalah pemuda-pemuda jahat yang dibenci oleh para gadis karena sikap mereka yang kurang ajar. Yang menarik perhatian adalah sapu tangan yang mengikat kepala mereka. Sapu tangan itu berwarna kuning dan bentuknya sama, seakan-akan dijadikan semacam tanda pengenal bagi golongan mereka.

“Tak salah lagi, dialah Kahano dan kawan-kawannya,” pikir Kwan Cu.

Hati pemuda ini sedang gembira sekali berhubung sudah ditemukannya huruf-huruf yang menyatakan bahwa dia benar-benar berada pada pulau yang dicari-carinya. Ia melompat keluar dan dengan dua kali lompatan saja dia sudah sampai di depan enam orang yang sedang mengatur napas untuk menghilangkan pengaruh asap yang menyerang mereka di dalam terowongan dan goa. Cara mereka mengatur napas membuat Kwan Cu terkejut, karena itulah pengaturan napas dari ilmu lweekang yang sangat tinggi.

Ada pun Kahano dan kawan-kawannya, pada saat melihat kedatangan Kwan Cu menjadi marah sekali.

“Hemm, jadi kaukah yang memimpin mereka dan melakukan akal ini?” tanya Kahano dan Kwan Cu kembali merasa tertegun karena kini Kahano menggunakan bahasa yang biasa dipergunakan oleh penduduk Tiongkok di bagian utara!

“Kau bisa bahasa daratan Tiongkok?” tanya Kwan Cu terheran-heran.

“Tentu saja bisa, karena aku pun seorang yang berasal dari sana,” jawab Kahano. “Oleh karena itu, mengingat hubungan antara orang kang-ouw, kuharap kau tidak mencampuri urusan kami dan jangan kau mengganggu kami.”

Memang benar bahwa sebenarnya Kahano adalah seorang keturunan Jepang-Tiongkok yang telah lama merantau di daratan Tiongkok daerah utara, yaitu di perbatasan Mongol. Ketika merantau di sana, dia telah mempelajari ilmu silat dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai orang yang kurang baik. Kadang-kadang dia turut dengan serombongan pemain akrobat dan bermain sebagai seorang pelawak yang cocok sekali dengan keadaannya yang pendek kecil itu.

Setelah dia merasa bosan di daratan Tiongkok, dia mengambil keputusan untuk kembali ke Jepang dengan naik perahu. Akan tetapi perahunya terserang oleh taufan hebat dan akhirnya dia terdampar dalam keadaan pingsan di atas pulau bangsa katai itu.

Dia dianggap sebagai bangsa sendiri oleh mereka dan Kahano yang cerdik itu pura-pura bisu sehingga dia tidak dicurigai. Sesudah dapat mempelajari bahasa orang-orang katai itu, barulah dia berbicara dan mendongeng bahwa dia adalah seorang yang terpilih oleh dewata sebagai calon pemimpin mereka, akan tetapi dengan syarat menjadi bisu untuk beberapa tahun!

Dongengnya ini dipercaya oleh sebagian orang lelaki, akan tetapi tidak dipercaya oleh kaum wanitanya sehingga semenjak Kahano berada di sana, di antara mereka timbullah pertentangan. Akan tetapi, ternyatalah oleh mereka bahwa Kahano pandai sekali ilmu silat dan bukan merupakan laki-laki yang lemah.

Melihat kecantikan Malita dan Malika, Kahano yang sudah agak tua itu jadi tergila-gila dan timbullah satu kehendak rendah. Ia ingin menjadi raja dari bangsa itu dan mengambil Malita serta Malika sebagai isteri-isterinya!

Mula-mula kehendak atau cita-cita ini dipendamnya saja karena kedudukan ayah kedua gadis ini kuat sekali sebagai raja yang terkasih dan bijaksana. Namun sedikit demi sedikit dia menanam rasa penasaran dan memberontak dalam hati kaum laki-laki sehingga dia berhasil mempunyai pengikut yang banyak juga. Kemudian meninggallah raja, ayah dari kedua orang dara jelita itu dan kesempatan ini segera dipergunakan oleh Kahano untuk memberontak.

Ketika Kwan Cu mendengar Kahano dari daratan Tiongkok, dia menjadi sangat marah.

“Kahano, apa bila kau bukan penduduk asli, maka dosamu lebih besar lagi. Kau sudah menghasut orang-orang untuk memberontak dan maksudmu untuk menjadi raja serta mengambil puteri-puteri itu sebagai isteri, telah menunjukkan betapa rendah martabatmu. Lebih baik kau dan pengikut-pengikutmu ini menyerah saja. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tidak akan dihukum asal saja kalian suka berjanji untuk selanjutnya tidak akan melakukan kekacauan lagi. Ketahuilah bahwa sekarang kaum perempuan bangsa katai ini telah insyaf, bahwa cara satu-satunya untuk mencapai perdamaian antara kaum laki-laki dan wanita, adalah dengan kerja sama dan persamaan hak, seperti yang terjadi di negara kita.”

Kahano tertawa bergelak. Biar pun orangnya kecil, ternyata suara ketawanya besar.

“Ha-ha-ha, orang muda sombong. Kau dapat membodohi mereka ini, akan tetapi apa kau kira aku tidak tahu bagaimana perangai kaum laki-laki di daratan Tiongkok? Apa kau kira aku tidak tahu betapa ayah bunda yang kelaparan menjual anak-anak gadisnya kepada orang-orang kaya, tuan-tuan tanah tua, hanya untuk ditukar dengan makanan? Memang sudah semestinya begitu. Orang perempuan memang dilahirkan cantik dan ditakdirkan untuk menjadi alat penghibur laki-laki. Mereka makhluk lemah yang harus menurut dan taat kepada laki-laki, akan tetapi di pulau ini terjadi sebaliknya. Aku hendak mengubah aturanmu itu, sesuai dengan aturan bangsamu, apakah kau masih berani mati untuk merintangi kehendakku? Siapakah kau ini berani mati mencampuri urusan orang lain?”

“Aku bernama Lu Kwan Cu dan aku sekali-kali bukan bermaksud mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sudah menjadi tugasku untuk membela orang-orang tertindas dan melenyapkan pengacau-pengacau keamanan seperti engkau ini!”

Kahano mengutuk dan memberi aba-aba kepada lima orang pembantunya. Enam orang katai itu segera bergerak secara teratur sekali, mengurung Kwan Cu dari enam jurusan. Melihat gerakan kaki mereka, diam-diam Kwan Cu memuji. Mereka ini memiliki gerakan kaki yang amat teratur dan gesit sekali, dan sikap mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tinggi.

Setelah Kahano berseru keras, enam orang itu mulai menyerang. Pedang pendek pada tangan mereka bergerak cepat. Serangan mereka tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan secara teratur sekali, susul-menyusul seakan-akan memang keenam orang itu sudah berlatih terlebih dahulu untuk maju berenam dengan ilmu silat tertentu yang harus dilakukan oleh enam orang!

Kwan Cu terkejut dan cepat mengelak. Akan tetapi, biar pun dia dapat mengelak dari serangan pertama tahu-tahu orang kedua sudah menyusul serangan dari belakang, dan ketika dia membalikkan tubuh sambil mengelak ke kiri, orang di sebelah kanan sudah menyusul serangan ke tiga. Dengan demikian, setiap serangan selalu datang dari arah belakangnya dan setiap serangan merupakan serangan yang amat berbahaya.

“Lihai sekali!” seru Kwan Cu tanpa terasa lagi.

Dia merasa gentar untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong, maka cepat dia mencabut sulingnya, yakni satu-satunya senjata yang selalu berada di tubuhnya. Dengan suling ini, dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat. Ia menangkis dengan keras dan membalas serangan enam orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, segera terjadi hal yang sangat mengherankan, juga mengecilkan hati Kwan Cu. Tiba-tiba Kahano berseru dan kini enam orang itu semuanya membalasnya dengan serangan yang mirip dengan ilmu pedangnya pula! Malah lebih hebat lagi, agaknya enam orang itu setengah dapat menduga ke mana pedangnya akan bergerak selanjutnya, dan seakan-akan keenam orang itu pernah mempelajari Hun-kai Kiam-hoat, meski pun belum mahir betul.

Menghadapi keroyokan yang dilakukan dengan ilmu silat yang sama dengan ilmu pedangnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali. Apa lagi senjatanya hanya sebatang suling yang tengahnya kosong sehingga tidak dapat dia gerakkan dengan tenaga besar. Maka, walau pun dia dapat menangkis setiap serangan lawan, namun dia tidak kuasa membuat lawannya itu melepaskan pedangnya.

Kwan Cu terkurung semakin hebat dan pada saat-saat tertentu, dengan aba-aba yang dikeluarkan oleh Kahano, enam orang itu mengubah gerakan mereka dan tiba-tiba saja maju menubruk berbareng dengan dahsyat sekali! Walau pun Kwan Cu sudah berusaha mengelak sambil memutar sulingnya, akan tetapi bajunya terobek oleh tiga ujung pedang kecil.

Pemuda ini berubah air mukanya. Ia maklum bahwa ujung pedang mereka mengandung racun yang berbahaya. Sekali kulit tubuhnya tergurat ujung pedang, besar kemungkinan nyawanya akan melayang! Lebih hebat lagi, selagi pemuda ini kebingungan, mendadak Kahano melompat ke atas dan sebuah tendangan yang sangat cepat sudah mengenai pergelangan tangan Kwan Cu yang memegang suling.

Pemuda ini merasa pergelangan tangannya kaku. Memang dulu Kahano adalah pemain akrobat, loncatannya tinggi dan tendangannya tepat mengenai urat besar sehingga Kwan Cu tidak kuasa memegang sulingnya lagi yang langsung terlempar jauh.

“Ha-ha-ha! Lu Kwan Cu bocah sombong. Baru kini kau mengenal kelihaian Kahano!” Si katai berjenggot ini tertawa bergelak saking girangnya. Lima orang kawannya mendesak makin hebat, mendapat tambahan semangat melihat hasil tendangan pemimpin mereka yang lihai.

Kwan Cu segera dapat menenteramkan hatinya. Dia teringat bahwa di antara anggota tubuhnya, yang berani menghadapi ujung pedang enam orang lawannya hanya kedua tangannya yang sudah diberi obat oleh Malita. Dia teringat pula betapa tenaga keenam orang ini kecil saja, terbukti pula dari tendangan tadi.

Tendangan Kahano itu tidak mengandung tenaga besar, dan hasil yang baik itu hanya karena tepatnya tendangan itu mengenai urat besar di pergelangan tangannya. Teringat akan hal ini, Kwan Cu berseri wajahnya dan dia tersenyum.

“Kahano, kaulah yang sombong. Sekarang akan kau rasai kelihaian Lu Kwan Cu!” sambil berkata demikian, Kwan Cu menggerakkan tangannya dengan jari-jari terpentang.

Ia lalu bersilat dengan ilmu silat Sin-ci Tin-san yang mengandung tenaga lweekang dan gwakang sangat besar sehingga baru sambaran hawa pukulannya saja sudah sanggup merobohkan lawan. Di samping itu, dia pun menggerakkan kedua kakinya menurutkan gerakan ilmu silat Sam-hoan-ciang sehingga dia seakan-akan mempunyai muka tiga dan gerakan-gerakan kakinya selalu membentuk segitiga sehingga tidak dapat di serang dari belakang oleh lawan-lawannya.

Sungguh tepat gerakan Kwan Cu ini. Begitu dia mainkan ilmu silat Sin-ci Tin-san, enam orang pengeroyoknya menjadi bingung luar biasa. Mereka agaknya dapat pula menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari Sin-ci Tin-san, namun karena ilmu silat ini dilakukan dengan mengandalkan lweekang yang tinggi dan tenaga yang besar, tentu saja mereka tidak dapat menirunya!

Hal ini merupakan keuntungan bagi Kwan Cu yang mendesak terus selagi enam orang itu kebingungan, tak tahu harus berbuat bagaimana untuk menghadapi pukulan-pukulan sepuluh jari tangan Kwan Cu yang baru hawa pukulannya saja sudah membuat tubuh mereka tergetar!

Melihat hasil serangannya, Kwan Cu mengamuk semakin hebat. Dengan heran sekali dia melihat betapa keenam orang ini pun seakan-akan mengenal ilmu silat Sin-ci Tin-san, karena mereka dapat menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari ilmu silat ini, bahkan mereka mencoba untuk menyerangnya dengan meniru gerakan itu. Ilmu silat apakah yang mereka miliki ini sehingga semua ilmu silatnya dapat dikembari oleh mereka? Kalau dia berlaku lambat, tentu mereka akan dapat menguasai diri dan kalau sekali ini dia tidak mampu mengalahkan mereka, agaknya itu akan menjadi tanda bahwa dialah sebaliknya yang akan kalah dan mendapatkan bencana besar!

“Robohlah kalian!” Kwan Cu berseru untuk memperkuat pengaruh dan lweekang-nya.

Kedua tangannya bergerak cepat sambil mengerahkan tenaga sekuatnya. Yang paling dia desak adalah Kahano, maka ketika kedua tangannya bergerak, terdengar Kahano menjerit, disusul oleh dua orang kawannya.

Ternyata bahwa hanya setengah pukulan Kwan Cu tadi yang mampu dielakkan mereka, akan tetapi hawa pukulannya masih menghantam Kahano dan kedua orang kawannya, yakni seorang yang berada di belakangnya dan seorang pula yang berada di kanannya. Pedang pendek Kahano terlepas dari pegangan dan si katai brewok ini terpukul dadanya sehingga dia terlempar ke belakang dengan dada menderita luka dalam.

Orang yang berada di belakang Kwan Cu lebih hebat lagi. Tangan kanan Kwan Cu, atau lebih tepat jari-jari tangan kanannya, telah dapat menampar kepala orang itu sehingga si katai gundul ini terlempar bagaikan seekor anjing dilemparkan dan dia roboh tanpa dapat bangun kembali. Orang yang berada di kanannya, hanya terkena langgar telunjuk Kwan Cu, namun karena tepat mengenai tangannya yang memegang pedang, pedang itu pun terlepas dari pegangan dan dia menjerit-jerit kesakitan sambil mundur dan memegangi tangan kanan dan tangan kirinya. Ternyata bahwa tulang-tulang tangan kanannya telah patah-patah.

Tiga orang lainnya yang berada di depan Kwan Cu, ketika melihat ini, terbang semangat mereka dan timbul watak pengecutnya. Mereka melempar pedang dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala yang gundul itu, minta ampun! Memang, sudah terlalu lama kaum lelaki di pulau katai itu diperlakukan seperti wanita sehingga rata-rata memiliki watak penakut dan berhati kecil.

Kwan Cu tertawa bergelak dengan puas dan mengambil sulingnya. Berhasillah tugasnya mengamankan pulau itu. Akan tetapi, mendadak dia melihat bayangan beberapa orang berkelebat dekatnya dan lenyaplah suara ketawanya ketika dia melihat apa yang sudah terjadi pada saat dia tertawa tadi. Ketika dia memandang, enam orang laki-laki katai itu telah kehilangan kepala mereka dan kini tubuh mereka tergeletak dengan leher terputus dan darah mengalir deras dari leher-leher yang tak berkepala lagi itu.

Dengan kening berkerut Kwan Cu memandang tajam pada Malita, Malika dan beberapa orang wanita lain yang sudah berdiri di situ dengan pedang di tangan. Malita dan Malika menyusut darah yang menempel di pedang mereka dengan menggunakan pakaian yang menempel pada mayat-mayat itu.

“Mengapa kalian lakukan ini? Alangkah kejamnya!” seru Kwan Cu tak senang.

Malika menghadapinya dengan sikap menantang. Gadis ini memang berwatak keras dan pemberani. Ia menentang pandang mata Kwan Cu tanpa merasa takut sedikit pun juga, lalu berkata,

“Kau bilang kami kejam? Kalau mengingat betapa enam orang iblis ini hendak membuat kami kaum perempuan menjadi barang permainan yang hina dina, hukuman penggal kepala masih terlampau murah untuk mereka!”

Kwan Cu menghela napas, lalu berkata,

“Sudahlah, Malika, dan kau juga Malita. Yang sudah lalu biarlah lenyap. Memang mereka ini jahat sekali dan patut dihukum mati, akan tetapi apakah perbuatan ini merupakan tanda bahwa kalian kaum wanita kini hendak berkuasa lagi dan melupakan kerja sama yang baik?”

“Tidak, sama sekali kami takkan mengulangi kesalahan besar yang dilakukan oleh nenek moyang kami. Kami sudah berjanji kepadamu dan janji kami selalu kami pegang teguh. Kami akan melakukan pemilihan raja baru secara adil, kaum laki-laki pun berhak memilih. Dan kami tak akan memandang-mandang lagi apakah ia laki-laki atau wanita, akan tetapi siapa saja yang bersalah akan dihukum dan yang tertindas akan dibela, baik dia laki-laki mau pun wanita! Dan semua ini, kebahagiaan yang akan kami hadapi ini, semua berkat pertolonganmu yang amat berharga, saudara Kwan Cu yang budiman!”

“Semua berkat pertolonganmu,” semua wanita berkata pula dan tiba-tiba, dipimpin oleh Malita dan Malika, semua orang wanita yang berada di sana menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Cu sambil menangis riuh-rendah!

Kwan Cu tertegun, kebingungan, kemudian dia menghela napas dan berkata di dalam hatinya, “Perempuan, perempuan... perempuan namamu dan di mana pun sama saja, paling mudah menangis!” berpikir sampai di sini, timbul pikiran lain yang membantahnya.

“Ahh, Kong Hoat putera Liok-te Mo-li itu terang seorang laki-laki, akan tetapi dia pun suka menangis.”

Pikiran kedua mengejek, “Ahh, Kong Hoat memang dasar cengeng!”

Demikianlah, menghadapi tangis karena berterima kasih dan gembira dari banyak wanita kecil-kecil ini, Kwan Cu malahan melamun, teringat yang bukan-bukan. Akan tetapi, dia sadar kembali dan berkata.

“Sudahlah, untuk apa menangis? Kalian membikin aku merasa sedih dan jangan-jangan aku akan ikut menangis pula. Malita dan Malika, saat ini boleh dibilang kalian merupakan pemimpin bangsamu, jangan melakukan upacara yang berlebih-lebihan ini. Aku bertindak sebagai seorang manusia yang memang seharusnya sebisa mungkin menolong manusia lain. Aku hanya ada satu permintaan, yakni kalau sekiranya kalian tidak keberatan.”

Malita menyusut air matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum manis sekali.

“Apakah permintaanmu itu, saudaraku yang baik? Apa saja yang menjadi permintaanmu, pasti akan kami turuti. Kau ingin menjadi pemimpin kami? Kami setuju sepenuhnya! Kau ingin memilih seorang jodoh di antara kami? Kiranya takkan ada seorang pun dara akan menolakmu, siapa pun dia adanya!” sesudah mengucapkan kata-kata ini, sadarlah Malita bahwa dia sudah berbicara terlalu banyak, maka merahlah mukanya.

“Jangan main-main, Malita. Aku bukan Kahano! Tiada lain hanya ini. Perbolehkanlah aku tinggal di pulau ini seorang diri, entah berapa tahun sampai aku merasa bosan dan pergi meninggalkan pulau ini. Selama aku berada di sini, harap kalian jangan menggangguku, karena aku bermaksud hendak bersemedhi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia di tempat ini. Tempat ini amat menarik hatiku.”

Malita dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran.

“Kau memang orang aneh, seorang sakti yang berbudi tinggi. Hal itu bukan merupakan permintaan karena tentu tak seorang pun merasa keberatan kalau kau tinggal di pulau ini.”

“Nah, jika begitu selamat berpisah. Kalian pulanglah, kemudian aturlah pemerintahanmu sebaik-baiknya dan tinggalkan aku di sini. Jangan ingat lagi kepadaku, karena aku pun tak akan mengganggu kalian di sana.”

Mendengar keputusan ini, terkejutlah Malita.

“Mengapa begitu keras, saudara Kwan Cu? Setidaknya, perkenankanlah kami kadang kala mengunjungimu di sini untuk melihat apakah kau tidak kekurangan sesuatu di sini,” kata Malita.

“Dan sudah tentu kami yang akan menjaga makananmu setiap harinya,” kata Malika.

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepala dan menggoyang-goyang tangannya.

“Jangan! Kulihat pulau ini mengandung pohon-pohon yang berbuah dan tadi kulihat ada beberapa ekor binatang hutan yang kiranya akan dapat menjadi bahan makanan bagiku. Aku ingin seorang diri saja di sini, tanpa mendapatkan gangguan dari siapa pun juga. Kecuali...” sambungnya ketika meliha sinar mata pada wajah mereka, “kecuali kalau ada sesuatu yang hebat menimpa kalian, tentu saja aku selalu bersiap sedia untuk menolong kalian. Nah, sekarang pergilah, mayat-mayat ini tinggalkan saja, biar aku nanti yang akan menguburnya di tempat ini.”

Terpaksa Malita memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk pergi dari sana dengan wajah kecewa sekali. Akan tetapi, belum berapa lama dia berjalan, dia segera membawa kawan-kawannya datang lagi dan berlutut.

“Ada apa lagi?” tanya Kwan Cu tak senang.

“Saudara Kwan Cu, sungguh pun kami tak berani melanggar laranganmu dan tidak akan mengganggumu di tempat ini, setidaknya berjanjilah bahwa sewaktu-waktu engkau akan datang mengunjungi kami supaya kami dapat melihat bahwa kau masih berada di dekat kami.”

Kwan Cu tersenyum. Ia tidak boleh terlalu keras agar mereka ini jangan menduga yang bukan-bukan sehingga malah akan pecah rahasia sebenarnya dari keinginannya berada seorang diri di tempat itu.

“Baiklah, kelak bila mana kau dan adikmu menikah, beritahulah aku dan aku akan datang menyaksikan pernikahan itu!”

Bertitik air mata di pipi Malita, bahkan Malika juga menangis sesenggukan akibat terharu. Mereka kemudian pergi dari tempat itu menuju ke perahu-perahu kecil milik Kahano dan kawan-kawannya, sambil menoleh beberapa kali ke arah raksasa muda yang masih terus berdiri bertolak pinggang melihat sampai mereka pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.
Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

*****

Setelah menggali lubang dan mengubur jenazah Kahano beserta lima orang kawannya, Kwan Cu segera menghampiri goa yang dijadikan tempat sembunyi para pemberontak tadi. Ia memeriksa dinding goa dengan sepasang obor yang dibuatnya dari pada rumput kering dan alangkah gembiranya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dinding-dinding itu, sebagaimana telah diduganya semula, terhias oleh gambar-gambar manusia sedang bersilat! Gambar-gambar ini ukirannya bagus dan jelas sekali sehingga melihat gambar-gambar ini saja orang sudah dapat mempelajari ilmu silat yang terlukis di situ!

“Hemm, kiranya dari sini mereka itu mempelajari ilmu silat mereka yang aneh!” pikirnya.

Gambar-gambar itu benar-benar hebat luar biasa karena amat banyak dan mengandung gerakan dari hampir semua ilmu-ilmu silat yang pernah dia pelajari dan yang pernah dia dengar dari suhu-nya, Ang-bin Sin-kai. Manusia gaib siapakah yang dulu telah membuat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat seperti ini?

Sampai seharian penuh Kwan Cu memeriksa gambar-gambar itu dan masih juga belum habis. Ternyata bahwa seluruh terowongan yang menembus ke goa-goa lain juga terhias gambar-gambar seperti itu, namun anehnya, semua lukisan itu menggambarkan orang bersilat tangan kosong! Tidak ada sebuah pun gambar orang bersilat dengan senjata di tangan.

Ada yang bersilat seorang diri, ada yang bertempur, ada pula yang dikeroyok dua, tiga, sampai dikeroyok puluhan orang! Agaknya lukisan itu dititik beratkan kepada tokoh yang dikeroyok, karena kedudukan tokoh ini jelas sekali, setiap gerak kaki atau tangan teratur baik.

Pada saat menghadapi sebaris lukisan yang menggambarkan bagaimana cara seorang lelaki dikeroyok oleh puluhan orang, Kwan Cu lantas menjadi terkejut sekali. Bukan main hebatnya kedudukan orang yang dikeroyok itu, malah jauh lebih kuat dari pada ilmu silat Pai-bun Tui-pek-to yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Saking girangnya, Kwan Cu sampai lupa makan lupa tidur, setiap hari dia melihat dan mempelajari gambar-gambar yang terlukis di dinding goa dan terowongan itu. Kemudian teringatlah dia akan niat sesungguhnya dari kedatangannya ke pulau ini, yakni mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Hatinya berdebar keras. Betapa pun jelas ukiran-ukiran ini yang dengan sendirinya telah merupakan pelajaran yang hebat sekali, namun tanpa buku petunjuk atau guru yang membimbing, ilmu-ilmu silat tinggi itu bisa dipelajari dengan cara yang keliru!

“Bukan tidak mungkin bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang merupakan kouw-koat (teori ilmu silat) dari semua lukisan ini,” pikirnya.

Sesudah berpikir demikian, Kwan Cu merangkak keluar dari goa kecil itu dan baru dia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua karena dia mempelajari dan melihat semua lukisan di dinding itu sambil merangkak! Ternyata bahwa sudah dua hari dua malam dia berada di goa itu tanpa berhenti untuk makan atau tidur. Kini dia merasa perutnya lapar sekali. Maka pergilah dia ke dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon itu.

Keadaan di situ memang aneh. Semua pohon mempunyai daun yang keputih-putihan, sungguh pun daun-daun itu berbeda corak dan ukurannya. Dan di antara pohon-pohon itu, ada pula yang mengandung buah-buahan yang biar pun ada yang berwarna merah, namun merahnya juga pucat seperti dikapur.



Pendekar Sakti Jilid 17

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 17

MALITA dan Malika menghentikan gerakan mereka dan dengan menjura Malita menulis di atas tanah dengan ujung sepatunya.

Kami menyerah kalah dan percaya penuh akan kelihaianmu.’

Kalian memiliki ilmu pedang yang hebat sekali,’ jawab Kwan Cu sambil mengembalikan dua batang pedang kecil itu.

Akan tetapi, Kahano beserta kawan-kawannya lebih berbahaya lagi. Kalau menghadapi mereka, kau harus mempergunakan kedua tanganmu, dan untuk menjaga supaya jangan kau terluka oleh senjata mereka yang mengandung racun berbahaya, kedua tanganmu harus digosok lebih dulu dengan obat kami,’ kata Malita.

Sesudah mendapat kenyataan bahwa pemuda raksasa itu benar-benar lihai, Malita dan kawan-kawannya menjadi amat gembira dan penuh harapan. Malita segera mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati raksasa muda yang akan menolong mereka itu. Di dalam kesempatan ini Kwan Cu mempelajari bahasa mereka yang terdengar amat kaku bagi telinganya.

Malita dan Malika mengajak Kwan Cu untuk berunding bagaimana harus mengadakan penyerangan terhadap pemberontak.

“Yang terberat untuk dihadapi hanya enam orang di bawah pimpinan Kahano itu,” kata Malita sambil menjelaskan dengan tulisan bagian kata-kata yang tidak atau belum dapat dimengerti oleh Kwan Cu, “tentang anak buah mereka, serahkan saja kepada kami dan kawan-kawan. Asal kau sudah dapat mengalahkan dan menawan enam orang itu, tentu akan beres. Akan tetapi sukarnya, mereka itu menyembunyikan diri dalam goa-goa yang panjang dan gelap dan pertahanan mereka di situ kuat sekali. Setiap kali kami hendak menyerbu masuk, kami lantas dihujani anak panah dan senjata rahasia dari dalam goa.”

“Kita lihat saja dulu keadaan mereka di sana, baru nanti mencari akal,” kata Kwan Cu sambil makan hidangan yang enak akan tetapi aneh bagi lidahnya.

Dia merasa agak malu-malu ketika melihat betapa semua wanita itu menonton dia makan hidangan yang bagi mereka amat banyak itu. Hm, alangkah gembulku dalam pandangan mereka, pikir Kwan Cu.

Malam hari itu Kwan Cu bermalam di dusun mereka. Karena tidak ada rumah atau kamar yang cukup besar bagi Kwan Cu, terpaksa pemuda ini bermalam di luar rumah-rumah kecil itu, di udara terbuka. Namun dia mendapat hiburan yang luar biasa sekali.

Pada saat hari mulai gelap dan dia telah membaringkan tubuhnya di bawah pohon untuk mengaso dan mengenangkan semua pengalamannya yang amat aneh-aneh itu, tiba-tiba nampak banyak sekali obor yang menerangi tempat itu. Berbarengan dengan munculnya obor-obor ini, terdengar suara tetabuhan yang amat merdu namun aneh sekali iramanya. Suara tetabuhan ini lalu disusul oleh nyanyian bersama yang membuat Kwan Cu merasa heran, karena dalam suara nyanyian bersama ini, dia mendengar adanya suara laki-laki yang besar!

Obor-obor itu makin mendekat dan Kwan Cu melihat sesuatu yang membuat dia terkejut dan juga gembira, karena tanpa diduga-duganya bahwa para pemegang obor itu adalah wanita-wanita dan juga laki-laki bangsa katai itu. Mereka tampak begitu rukun dan damai, ada pun di antara mereka nampak pula banyak anak-anak kecil yang dalam pandangan Kwan Cu luar biasa lucunya, seperti bayi-bayi berjalan!

Malita dan Malika memimpin rombongan ini dan menurut tafsiran Kwan Cu tidak kurang dari lima puluh orang wanita-wanita muda dan dua puluh orang lelaki muda yang datang membawa obor itu. Pakaian mereka seragam, yang wanita merah dan yang laki-laki biru. Agaknya mereka dalam keadaan dan suasana berpesta riang gembira.

Kwan Cu bangun dan duduk bersandarkan pohon. Malita menghampirinya dan bersama Malika, dia menjura tanda menghormat yang dibalas Kwan Cu dengan anggukan kepala dan senyum ramah.

“Nasehatmu baik sekali, saudara Kwan Cu. Lihat, laki-laki yang tadinya menjadi tawanan kami, sekarang sudah kami bebaskan dan setelah kami menjelaskan tentang nasehatmu agar kami hidup rukun dan damai saling mengalah dan saling melindungi, mereka mau menerima dengan gembira dan menyatakan hendak membantu kami menumpas Kahano dan kawan-kawannya.”

“Bagus sekali! Tidak ada berita lebih menggirangkan dari pada ini,” kata Kwan Cu.

Ada pun orang-orang lelaki yang berada di situ, lalu bersama maju dan berlutut di depan Kwan Cu dengan mata memandang kagum dan juga agak takut-takut.

Kwan Cu melihat betapa kaum lelaki di situ memang bersemangat kecil dan jelas sekali nampak sifat rendah diri dan kalah pengaruh oleh kaum wanitanya. Namun harus diakui bahwa mereka pun mempunyai bentuk yang tampan dan menarik serta potongan tubuh yang bagus. Anak-anak kecil kelihatan lucu sekali ketika mereka memandang kepada ‘raksasa muda’ itu dengan mata terbelalak ketakutan.

“Kami sengaja mengumpulkan orang-orang untuk menghiburmu sebagai penghormatan,” kata Malita, kemudian ia memberikan tanda dengan tangannya.

Tetabuhan dibunyikan semakin gencar dan dari rombongan itu keluarlah belasan orang gadis dengan pakaian indah, menari-nari di hadapan Kwan Cu dengan gerakan lemah gemulai. Kwan Cu terpesona. Belum pernah dia menyaksikan tari-tarian yang demikian indahnya, ditarikan oleh gadis-gadis yang biar pun bentuk tubuhnya sudah menunjukkan kepenuhan dan kedewasaan, tapi tingginya hanya sampai di pahanya saja! Seakan-akan dia melihat boneka-boneka hidup menari dengan indahnya.

Semua ini menggembirakan hati Kwan Cu, namun yang paling menggembirakan adalah sikap laki-laki dan wanita yang berada di situ, saling pandang antara suami isteri, penuh cinta kasih dan pengertian, tertawa-tawa dan tiada ubahnya dengan pasangan-pasangan di dusun-dusun di negaranya, di mana hidup petani-petani yang sederhana akan tetapi selalu hidup rukun dengan keluarganya.

“Pesta seperti biasanya kami lakukan setahun sekali,” kata Malita kepada Kwan Cu tanpa mempergunakan tulisan karena Kwan Cu yang berotak cerdik luar biasa itu sebentar saja sudah menguasai bahasa percakapan yang mudah-mudah.

“Untuk merayakan apakah?” tanya Kwan Cu sambil menikmati gerak tarian para gadis cantik yang berputar-putar di hadapannya menurutkan irama lagu.

“Untuk merayakan dewi bulan. Dalam perayaan itu para dara mendapatkan kesempatan untuk memilih calon jodohnya.”

Kwan Cu tertegun. Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata. Hemm, benar-benar dunia nyata di pulau ini. Bahkan dalam hal memilih jodoh, wanitalah yang berhak memilih!

“Jadi laki-laki tak berhak memilih jodohnya?” tanyanya.

Sepasang mata Malita memancarkan sinar penasaran. “Laki-laki memilih? Hemm, akan rusaklah semua kalau laki-laki yang diberi kekuasaan memilih jodohnya. Laki-laki selalu memilih jodohnya berdasarkan kecantikan wanita dan keindahan bentuk tubuh! Laki-laki seakan-akan buta dalam hal memilih jodoh. Kalau mereka memilih, tentu tak akan dapat terbentuk rumah tangga bahagia. Mereka selalu memilih yang cantik-cantik, akan tetapi akhirnya bercekcok di kemudian hari karena ternyata pilihannya itu tidak cocok dengan wataknya sendiri. Kemudian bagaimana? Mereka itu, laki-laki buta itu, akan mencari-cari wanita lain!”

Kwan Cu tersenyum. “Malita, agaknya kau masih belum dapat melenyapkan kebencian terhadap laki-laki di dalam hatimu.”

Malita tersenyum juga menjadi sabar kembali. “Bukan semata-mata terdorong kebencian, melainkan berdasarkan kenyataan. Sifat buruk laki-lakilah yang memancing kebencian di dalam hati wanita.”

“Kurasa tak akan terjadi seperti penuturanmu itu apa bila pemilihan laki-laki berdasarkan cinta kasih.” Kata Kwan Cu.

Tiba-tiba gadis bertahi lalat di pipinya itu tertawa berkikikan sambil menutupi mulutnya, seakan-akan mendengar sesuatu yang sangat menggelikan hatinya. Tentu saja Kwan Cu menjadi melongo karena dia tidak mengerti apa gerangan yang ditertawakan oleh Malita.

“Ehh, kau tertawa begitu geli, ada apakah?” tanyanya dengan tak senang karena berada di tengah-tengah orang-orang katai ini, kembali datang perasaan tidak sedap dalam hati Kwan Cu yang merasa bahwa dia akan kembali menjadi buah tertawaan.

“Apakah di antara bangsa raksasa terdapat juga perasaan cinta kasih yang membikin gila orang?” tanya Malita.

“Tentu saja ada. Apa kau kira kami bangsa yang kau sebut raksasa bukan manusia yang mempunyai perasaan dan hati?”

“Bukan begitu maksudku, saudara Kwan Cu yang baik. Melihat kau serta kepandaianmu, tadinya kukira bahwa bangsamu adalah manusia-manusia yang sudah pandai dan tidak bodoh serta lemah sehingga mudah pula dikuasai oleh perasaan palsu yang kita sebut cinta kasih. Akan tetapi ternyata sama saja dengan kami, masih dapat dipengaruhi oleh perasaan palsu itu.”

“Bagaimana kau berani menyatakan bahwa cinta kasih itu adalah sesuatu perasaan yang palsu?” tanya Kwan Cu penasaran.

“Cinta kasih yang timbul di dalam hati wanita memang murni dan suci, akan tetapi cinta kasih di dalam dada seorang laki-laki hanyalah palsu belaka! Cinta kasih seorang laki-laki hanya berdasarkan nafsu, berdasarkan rasa tertarik dan suka kepada wajah yang indah, bentuk tubuh yang menggairahkan! Sebaliknya, cinta kasih yang timbul dalam hati wanita berdasarkan watak yang baik dan budi bahasa yang halus, bukan semata-mata karena wajah yang tampan dan gagah!”

Kwan Cu kembali tertegun. Baru kali ini dia mendengar filsafat seperti ini sungguh pun dia memang jarang sekali mendengar atau tidak pernah membaca tentang filsafat cinta kasih. Namun dia penasaran sekali karena sebagai seorang laki laki dia merasa laki-laki sangat direndahkan oleh ucapan itu.

“Tak mungkin!” ia membantah. ”Tidak semua laki-laki hanya mendasarkan cintanya pada nafsu dan keindahan. Ada pula laki-laki yang berpribudi dan bijaksana.”

“Seribu satu saudara Kwan Cu. Seribu orang hanya ada satu! Aku berani bertaruh bahwa seorang laki-laki tidak akan suka mencinta seorang wanita yang buruk rupa atau cacad tubuhnya. Ehh, apakah kau sendiri sudah mempunyai seorang wanita yang kau kasihi?”

Kwan Cu tak dapat menjawab, wajahnya memerah. Ia teringat akan sumpahnya di depan gadis raksasa Liyani bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng! Akan tetapi di depan Malita dia tidak menyatakan sesuatu.

“Saudara Kwan Cu, andai kata kau sudah mempunyai seorang gadis yang kau cinta, aku berani memastikan bahwa gadis itu tentulah seorang yang cantik manis, bukan seorang gadis yang tidak ada hidungnya! Aku tidak percaya akan ada seorang laki-laki yang mau mencintai seorang gadis yang hidungnya lenyap atau rusak.” Setelah berkata demikian, Malita tertawa mengejek.

“Kau mau menang sendiri saja,” Kwan Cu merasa perutnya panas, ”aku juga merasa yakin bahwa tidak ada seorang gadis yang mau menjadi isteri dari seorang laki-laki yang hidungnya rusak seperti yang kau katakan tadi.”

“Siapa bilang tidak mungkin? Banyak wanita yang mencinta sepenuh hati suaminya yang buruk rupa, yang bopeng, yang pincang dan sebagainya. Cintanya suci murni, karena seperti kukatakan tadi, cinta kasih seorang wanita berdasarkan kesetiaan, berdasarkan watak baik dan kecocokan hati dan pikiran, bukan seperti laki laki yang buta cinta, hanya suka kepada apa yang baik dan menarik, akan tetapi mudah pula bosan setelah melihat wanita lain yang lebih menarik!”

Kwan Cu menjadi panas, akan tetapi dia sempat menahan gelora hatinya dan hampir saja dia tertawa. Untuk apakah berdebat urusan cinta dengan gadis ini?

“Sesukamulah, Malita. Hanya kalau kau dan kawan kawanmu mau menuruti nasehatku, dalam menetapkan perjodohan, harus ada persetujuan kedua fihak, baik dari si wanita mau pun dari si lelaki, baik dari fihak wanita mau pun dari fihak laki-laki jangan sekali kali ada paksaan. Dengan demikian, kiranya baru akan dapat dibentuk rumah tangga yang damai.”

Pesta penghormatan itu berjalan sampai menjelang tengah malam. Tiba-tiba saja banyak sekali obor yang mendadak padam dan terdengar jeritan di sana sini. Kwan Cu terkejut sekali melihat beberapa orang laki-laki yang tadi memegang obor, terjungkal roboh dan keadaan menjadi panik. Di bawah penerangan bulan kelihatan bayangan yang amat gesit di sana sini dan anak panah-anak panah yang kecil menyambar-nyambar.

Kwan Cu dan Malita melompat bangun.

“Mereka datang menyerbu!” seru Malita marah sambil mencabut pedangnya.

“Biar aku yang menghadapi mereka!” Kwan Cu berseru. Pemuda ini berlari cepat dengan lompatan-lompatan jauh menuju ke arah para penyerbu.

Memang benar dugaan Malita, banyak sekali orang katai datang dari arah pantai sambil menghujankan anak panah kepada orang-orang yang sedang berpesta itu. Kahano yang mendengar bahwa pulau itu kedatangan seorang raksasa dan bahwa para wanita tengah mengadakan pesta pada malam itu, dan terutama sekali mendengar betapa para laki-laki yang tertawan kini sudah berbaikan dengan para wanita, menjadi marah dan memimpin semua orang menyerbu.

Kwan Cu yang berlari mendatangi, mendadak disambut oleh puluhan batang anak panah yang kecil-kecil tapi datangnya cukup berbahaya. Pemuda ini cepat mencabut sulingnya kemudian memutarnya seperti pedang sehingga semua anak panah yang kecil-kecil itu tersampok runtuh. Dia maju terus dan para pemberontak itu ketika menyaksikan betapa raksasa ini amat tangguh, menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai!

Akan tetapi, pada saat itu pula, Malita dan Malika serta kawan-kawannya telah datang menyerbu dan terjadilah pertempuran yang hebat. Kwan Cu menyerang ke sana ke mari dengan sulingnya. Dia tidak ingin membunuh, hanya mempergunakan tenaganya untuk membuat senjata-senjata lawan terlempar sambil berseru berkali-kali,

“Malita, jangan bunuh mereka, tawan saja!”

Menghadapi amukan raksasa ini, orang-orang katai yang sudah panik itu menjadi makin kacau balau. Apa lagi memang kepandaian para wanita itu hebat dan walau pun mereka menerima latihan ilmu silat tinggi yang aneh dari Kahano, namun masih belum sanggup mengatasi kepandaian para wanita.

Sebentar saja mereka sudah dapat dikalahkan, terluka dan tertawan. Kwan Cu sengaja mencegah mereka itu melarikan diri, tetapi setelah dia menjaga di pantai dan menangkap setiap orang katai yang hendak melarikan diri, dan pertempuran selesai, ternyata bahwa betapa pun juga, Kahano dan lima orang kawannya telah melarikan diri dari pulau itu!

Malita dan kawan-kawannya girang sekali melihat betapa semua anak buah Kahano kini telah dapat tertawan, sungguh pun Malita masih penasaran karena Kahano bersama lima orang kawannya yang menjadi biang keladi kekacauan itu dapat melarikan diri.

Pada malam hari itu juga, Malita beserta kawan-kawannya lalu memberi nasehat kepada semua tawanan, dibantu pula oleh orang-orang lelaki yang telah insyaf dan baik kembali. Para tawanan itu setelah mendapat penerangan bahwa semenjak hari itu tidak akan ada tindas-menindas antara laki-laki dan wanita, bahwa akan diadakan kerja sama yang baik menurut nasehat Kwan Cu raksasa muda itu, menjadi sangat terharu. Mereka tadinya kena hasutan Kahano hanya karena mereka menganggap pihak wanita terlalu menindas dan merendahkan mereka yang bertenaga lebih besar.

“Setiap pelanggaran atau kejahatan, setiap penindasan dan kekejaman, baik dilakukan oleh wanita mau pun laki-laki, akan diadili dan yang melakukan akan dihukum!” demikian Malita menutup penerangannya, sesuai dengan nasehat dan penerangan Kwan Cu yang memasukkan aturan-aturan bangsanya kepada bangsa katai ini.

Pada keesokan harinya, diantar oleh Malita, Malika beserta sepuluh orang prajurit wanita, Kwan Cu naik perahunya menuju ke pulau yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan lima orang kawannya. Melihat pulau itu dari perahunya, Kwan Cu berdebar hatinya.

Tidak salah lagi, inilah pulau yang ditunjuk di dalam buku sejarah, tempat Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan. Ia melihat pulau yang kecil dan bentuknya bundar dan dari jauh telah nampak pohon-pohon yang keputih-putihan, batu-batu karang yang menjulang tinggi dan goa-goa di batu karang yang bermulut hitam gelap.

“Itulah Pek-hio-to (pulau daun putih) yang dijadikan tempat sembunyi Kahano bersama kawan-kawannya,” kata Malita kepada Kwan Cu.

Di dalam kegembiraan dan ketegangan hatinya, Kwan Cu tidak menjawab, melainkan dia mendayung semakin cepat lagi ke arah pulau itu sehingga perahunya meluncur sangat cepat dan membuat para wanita itu memandang dengan kagum.

Pulau kecil itu ternyata paling tinggi letaknya di antara semua pulau-pulau kecil yang ada di sekitar daerah itu. Kelihatannya seperti bukit kecil yang berwarna putih.

Sesudah Kwan Cu mendaratkan perahunya, dia dan semua wanita katai melompat turun ke pantai. Malita mengeluarkan sehelai sapu tangan warna putih dari balik bajunya dan memberikan sapu tangan itu kepada Kwan Cu.

“Seperti telah kukatakan kemarin, Kahano dan kawan-kawannya menggunakan bisa ular pada ujung senjata mereka. Bisa itu sangat berbahaya, dan kalau kulit tanganmu sampai terluka, nyawamu akan terancam bahaya. Akan tetapi jika kau menggosok-gosok kedua tanganmu dengan sapu tangan yang sudah mengandung obat penawar ini, kau tak usah takut menghadapi ujung senjata mereka.”

Kwan Cu menerima sapu tangan itu sambil mengucapkan terima kasihnya kemudian dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan sapu tangan itu. Aneh sekali, terasa panas dan gatal-gatal tangannya, akan tetapi Malita meminta dia menggosok-gosok terus sampai lenyap rasa gatal-gatal itu.

Benar saja, lama-lama lenyap rasa gatalnya, tinggal rasa panas-panas hangat di telapak tangannya. Dia lalu mengembalikan sapu tangan putih kepada Malita dan diam-diam dia merasa kagum. Agaknya gadis ini adalah seorang ahli mengenai senjata yang berbahaya dan racun sehingga perlu membawa sapu tangan-sapu tangan yang aneh dari berbagai warna. Kwan Cu masih teringat sapu tangan merah yang dapat membuat dia mabuk dan tertidur.

“Di mana tempat mereka bersembunyi?” Kwan Cu bertanya sambil mengajak Malita dan kawan-kawannya naik ke tengah pulau.

Mata pemuda ini memandang ke sekelilingnya dan dia melihat bahwa pulau itu memang aneh sekali dan keadaannya juga menyeramkan. Pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak banyak, akan tetapi daun-daunnya berwarna putih belaka, juga rumput-rumputan banyak yang berwarna putih.

Pulau ini mengingatkan dia kepada daerah utara bila mana sedang dilanda musim salju. Goa-goa yang banyak terdapat di bukit karang itu nampak menghitam, sehingga sangat jelas terlihat di antara daun-daun yang putih itu.

“Sukar untuk mengatakan di mana mereka bersembunyi. Goa-goa di sini banyak sekali dan di antaranya terdapat lima buah goa yang merupakan terowongan bersambung satu dengan yang lainnya,” jawab Malita sambil memimpin rombongan itu kepada sebuah goa yang gelap. “Nah, goa ini yang terbesar, akan tetapi dari goa ini orang dapat mencapai goa-goa di lain bagian.”

Kwan Cu melihat ada bekas tapak-tapak kaki kecil di sekitar mulut goa dan tahu bahwa memang orang-orang katai itu menyembunyikan diri di dalam goa. Akan tetapi agaknya sia-sia kalau hendak mengejar, karena orang-orang itu dari dalam goa yang gelap tentu akan melihat kedatangannya sehingga mereka bisa melarikan diri melalui mulut goa yang lain. Di samping itu, goa itu memang cukup besar bagi orang-orang katai, namun bagi dia agaknya dia hanya dapat masuk dengan jalan merangkak! Ini berbahaya sekali! Akhirnya dia mendapat akal.

“Kumpulkan kayu-kayu bakar dan daun-daun kering di mulut goa yang berhubungan satu dengan yang lain itu, tutup empat mulut goa dengan kayu bakar dan daun kering, biarkan yang satu ini saja terbuka. Setelah penuh dengan kayu bakar , bakar semua tumpukan itu supaya asapnya memenuhi goa dan terowongan. Asap itulah yang akan memaksa mereka keluar dari goa melalui mulut goa ini dan aku akan menjaga di sini.”

Mendengar siasat ini, Malita mengangguk-angguk dengan kagum. Dia segera mengatur dan memecah kawan-kawan menjadi empat bagian untuk melakukan tugas menutup dan membakar mulut goa. Ada pun Kwan Cu lantas bersembunyi di belakang batu karang, menjaga kalau-kalau para pemberontak itu muncul dari goa besar itu.

Tempat sembunyi Kwan Cu adalah di balik pohon yang berada di dekat goa dan pemuda ini bersandar pada batu karang itu. Tanpa sengaja tangannya menyentuh batu karang yang hitam itu dan mendapatkan bagian-bagian yang halus teraba oleh tangannya. Dia memandang dan melihat ukiran-ukiran seperti huruf di dinding batu karang di luar goa. Akan tetapi coretan atau ukiran itu tak dapat dibaca karena telah tertutup oleh tanah yang mengeras, merupakan kulit dari batu karang itu.

Kwan Cu mengerahkan tenaga dan menggunakan tangan untuk menarik keluar kulit batu karang itu. Sebagian dari kulit yang terjadi dari tanah mengeras itu terlepas dan ternyata bahwa huruf itu adalah huruf LIU. Berdebar hati Kwan Cu.

Huruf ini mengingatkan dia akan bunyi kitab sejarah yang dia dapatkan di dalam sumur di Kun-lun-san, yakni kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang menyatakan bahwa kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong oleh LIU PANG yang akhirnya menjadi raja. Dia segera mengerjakan kedua tangannya untuk melepaskan kulit batu karang yang menutup huruf-huruf selanjutnya.

Sementara itu, Malita, Malika dan kawan-kawan mereka sudah mulai bekerja, menutupi empat mulut goa yang lainnya dengan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu membakar semua itu. Asap yang tebal bergumpal-gumpal lalu memasuki goa dan terus memasuki terowongan itu!

Karena amat tertarik oleh ukiran huruf di dinding sebelah luar goa, Kwan Cu lupa bahwa dia sedang bertugas menunggu munculnya Kahano dan kawan-kawannya, dan dia tidak ingat lagi bahwa sudah beberapa lama dia bekerja mencoba untuk melepaskan kulit batu karang yang sudah amat keras dan menjadi satu dengan batunya. Setelah dengan susah payah bekerja sehingga kuku-kuku jari tangannya sampai pecah-pecah, akhirnya Kwan Cu dapat membaca empat huruf yang berbunyi LIU SIN TONG TANG (Guna Anak Ajaib Liu).

Hampir saja Kwan Cu berjingkrak saking girangnya. Tak salah lagi, yang dimaksudkan dengan anak ajaib she Liu itu tentu bukan lain adalah Liu Pang, karena anak yang kelak menjadi kaisar patut disebut atau menyebut diri sendiri sebagai anak ajaib. Ia pun makin dekat dengan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang sudah lama dicari-carinya.

Akan tetapi pada saat itu asap telah memasuki terowongan dan bahkan sudah ada asap yang keluar dari mulut goa yang dijaga oleh Kwan Cu. Tidak lama kemudian terdengarlah batuk-batuk dan tampak enam orang katai berlari-lari keluar dari dalam goa itu.

Gerakan mereka gesit sekali dan keenam-enamnya memegang sebatang pedang kecil yang nampaknya tidak berbahaya, akan tetapi yang sesungguhnya mengandung racun putih yang sangat berbahaya pada ujungnya. Enam orang itu bukan lain adalah Kahano beserta lima orang kawannya.

Kwan Cu yang mendengar suara mereka, lalu memandang. Dia melihat seorang katai yang usianya sudah agak tua, dengan kumis dan jenggot putih tebal menutupi mulutnya. Lima orang yang lain berkepala gundul dan biar pun mereka masih muda-muda, namun wajah mereka buruk rupa dan nampak kejam-kejam.

Kwan Cu teringat akan penuturan Malita bahwa lima orang yang menjadi murid Kahano adalah pemuda-pemuda jahat yang dibenci oleh para gadis karena sikap mereka yang kurang ajar. Yang menarik perhatian adalah sapu tangan yang mengikat kepala mereka. Sapu tangan itu berwarna kuning dan bentuknya sama, seakan-akan dijadikan semacam tanda pengenal bagi golongan mereka.

“Tak salah lagi, dialah Kahano dan kawan-kawannya,” pikir Kwan Cu.

Hati pemuda ini sedang gembira sekali berhubung sudah ditemukannya huruf-huruf yang menyatakan bahwa dia benar-benar berada pada pulau yang dicari-carinya. Ia melompat keluar dan dengan dua kali lompatan saja dia sudah sampai di depan enam orang yang sedang mengatur napas untuk menghilangkan pengaruh asap yang menyerang mereka di dalam terowongan dan goa. Cara mereka mengatur napas membuat Kwan Cu terkejut, karena itulah pengaturan napas dari ilmu lweekang yang sangat tinggi.

Ada pun Kahano dan kawan-kawannya, pada saat melihat kedatangan Kwan Cu menjadi marah sekali.

“Hemm, jadi kaukah yang memimpin mereka dan melakukan akal ini?” tanya Kahano dan Kwan Cu kembali merasa tertegun karena kini Kahano menggunakan bahasa yang biasa dipergunakan oleh penduduk Tiongkok di bagian utara!

“Kau bisa bahasa daratan Tiongkok?” tanya Kwan Cu terheran-heran.

“Tentu saja bisa, karena aku pun seorang yang berasal dari sana,” jawab Kahano. “Oleh karena itu, mengingat hubungan antara orang kang-ouw, kuharap kau tidak mencampuri urusan kami dan jangan kau mengganggu kami.”

Memang benar bahwa sebenarnya Kahano adalah seorang keturunan Jepang-Tiongkok yang telah lama merantau di daratan Tiongkok daerah utara, yaitu di perbatasan Mongol. Ketika merantau di sana, dia telah mempelajari ilmu silat dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai orang yang kurang baik. Kadang-kadang dia turut dengan serombongan pemain akrobat dan bermain sebagai seorang pelawak yang cocok sekali dengan keadaannya yang pendek kecil itu.

Setelah dia merasa bosan di daratan Tiongkok, dia mengambil keputusan untuk kembali ke Jepang dengan naik perahu. Akan tetapi perahunya terserang oleh taufan hebat dan akhirnya dia terdampar dalam keadaan pingsan di atas pulau bangsa katai itu.

Dia dianggap sebagai bangsa sendiri oleh mereka dan Kahano yang cerdik itu pura-pura bisu sehingga dia tidak dicurigai. Sesudah dapat mempelajari bahasa orang-orang katai itu, barulah dia berbicara dan mendongeng bahwa dia adalah seorang yang terpilih oleh dewata sebagai calon pemimpin mereka, akan tetapi dengan syarat menjadi bisu untuk beberapa tahun!

Dongengnya ini dipercaya oleh sebagian orang lelaki, akan tetapi tidak dipercaya oleh kaum wanitanya sehingga semenjak Kahano berada di sana, di antara mereka timbullah pertentangan. Akan tetapi, ternyatalah oleh mereka bahwa Kahano pandai sekali ilmu silat dan bukan merupakan laki-laki yang lemah.

Melihat kecantikan Malita dan Malika, Kahano yang sudah agak tua itu jadi tergila-gila dan timbullah satu kehendak rendah. Ia ingin menjadi raja dari bangsa itu dan mengambil Malita serta Malika sebagai isteri-isterinya!

Mula-mula kehendak atau cita-cita ini dipendamnya saja karena kedudukan ayah kedua gadis ini kuat sekali sebagai raja yang terkasih dan bijaksana. Namun sedikit demi sedikit dia menanam rasa penasaran dan memberontak dalam hati kaum laki-laki sehingga dia berhasil mempunyai pengikut yang banyak juga. Kemudian meninggallah raja, ayah dari kedua orang dara jelita itu dan kesempatan ini segera dipergunakan oleh Kahano untuk memberontak.

Ketika Kwan Cu mendengar Kahano dari daratan Tiongkok, dia menjadi sangat marah.

“Kahano, apa bila kau bukan penduduk asli, maka dosamu lebih besar lagi. Kau sudah menghasut orang-orang untuk memberontak dan maksudmu untuk menjadi raja serta mengambil puteri-puteri itu sebagai isteri, telah menunjukkan betapa rendah martabatmu. Lebih baik kau dan pengikut-pengikutmu ini menyerah saja. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tidak akan dihukum asal saja kalian suka berjanji untuk selanjutnya tidak akan melakukan kekacauan lagi. Ketahuilah bahwa sekarang kaum perempuan bangsa katai ini telah insyaf, bahwa cara satu-satunya untuk mencapai perdamaian antara kaum laki-laki dan wanita, adalah dengan kerja sama dan persamaan hak, seperti yang terjadi di negara kita.”

Kahano tertawa bergelak. Biar pun orangnya kecil, ternyata suara ketawanya besar.

“Ha-ha-ha, orang muda sombong. Kau dapat membodohi mereka ini, akan tetapi apa kau kira aku tidak tahu bagaimana perangai kaum laki-laki di daratan Tiongkok? Apa kau kira aku tidak tahu betapa ayah bunda yang kelaparan menjual anak-anak gadisnya kepada orang-orang kaya, tuan-tuan tanah tua, hanya untuk ditukar dengan makanan? Memang sudah semestinya begitu. Orang perempuan memang dilahirkan cantik dan ditakdirkan untuk menjadi alat penghibur laki-laki. Mereka makhluk lemah yang harus menurut dan taat kepada laki-laki, akan tetapi di pulau ini terjadi sebaliknya. Aku hendak mengubah aturanmu itu, sesuai dengan aturan bangsamu, apakah kau masih berani mati untuk merintangi kehendakku? Siapakah kau ini berani mati mencampuri urusan orang lain?”

“Aku bernama Lu Kwan Cu dan aku sekali-kali bukan bermaksud mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sudah menjadi tugasku untuk membela orang-orang tertindas dan melenyapkan pengacau-pengacau keamanan seperti engkau ini!”

Kahano mengutuk dan memberi aba-aba kepada lima orang pembantunya. Enam orang katai itu segera bergerak secara teratur sekali, mengurung Kwan Cu dari enam jurusan. Melihat gerakan kaki mereka, diam-diam Kwan Cu memuji. Mereka ini memiliki gerakan kaki yang amat teratur dan gesit sekali, dan sikap mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tinggi.

Setelah Kahano berseru keras, enam orang itu mulai menyerang. Pedang pendek pada tangan mereka bergerak cepat. Serangan mereka tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan secara teratur sekali, susul-menyusul seakan-akan memang keenam orang itu sudah berlatih terlebih dahulu untuk maju berenam dengan ilmu silat tertentu yang harus dilakukan oleh enam orang!

Kwan Cu terkejut dan cepat mengelak. Akan tetapi, biar pun dia dapat mengelak dari serangan pertama tahu-tahu orang kedua sudah menyusul serangan dari belakang, dan ketika dia membalikkan tubuh sambil mengelak ke kiri, orang di sebelah kanan sudah menyusul serangan ke tiga. Dengan demikian, setiap serangan selalu datang dari arah belakangnya dan setiap serangan merupakan serangan yang amat berbahaya.

“Lihai sekali!” seru Kwan Cu tanpa terasa lagi.

Dia merasa gentar untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong, maka cepat dia mencabut sulingnya, yakni satu-satunya senjata yang selalu berada di tubuhnya. Dengan suling ini, dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat. Ia menangkis dengan keras dan membalas serangan enam orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, segera terjadi hal yang sangat mengherankan, juga mengecilkan hati Kwan Cu. Tiba-tiba Kahano berseru dan kini enam orang itu semuanya membalasnya dengan serangan yang mirip dengan ilmu pedangnya pula! Malah lebih hebat lagi, agaknya enam orang itu setengah dapat menduga ke mana pedangnya akan bergerak selanjutnya, dan seakan-akan keenam orang itu pernah mempelajari Hun-kai Kiam-hoat, meski pun belum mahir betul.

Menghadapi keroyokan yang dilakukan dengan ilmu silat yang sama dengan ilmu pedangnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali. Apa lagi senjatanya hanya sebatang suling yang tengahnya kosong sehingga tidak dapat dia gerakkan dengan tenaga besar. Maka, walau pun dia dapat menangkis setiap serangan lawan, namun dia tidak kuasa membuat lawannya itu melepaskan pedangnya.

Kwan Cu terkurung semakin hebat dan pada saat-saat tertentu, dengan aba-aba yang dikeluarkan oleh Kahano, enam orang itu mengubah gerakan mereka dan tiba-tiba saja maju menubruk berbareng dengan dahsyat sekali! Walau pun Kwan Cu sudah berusaha mengelak sambil memutar sulingnya, akan tetapi bajunya terobek oleh tiga ujung pedang kecil.

Pemuda ini berubah air mukanya. Ia maklum bahwa ujung pedang mereka mengandung racun yang berbahaya. Sekali kulit tubuhnya tergurat ujung pedang, besar kemungkinan nyawanya akan melayang! Lebih hebat lagi, selagi pemuda ini kebingungan, mendadak Kahano melompat ke atas dan sebuah tendangan yang sangat cepat sudah mengenai pergelangan tangan Kwan Cu yang memegang suling.

Pemuda ini merasa pergelangan tangannya kaku. Memang dulu Kahano adalah pemain akrobat, loncatannya tinggi dan tendangannya tepat mengenai urat besar sehingga Kwan Cu tidak kuasa memegang sulingnya lagi yang langsung terlempar jauh.

“Ha-ha-ha! Lu Kwan Cu bocah sombong. Baru kini kau mengenal kelihaian Kahano!” Si katai berjenggot ini tertawa bergelak saking girangnya. Lima orang kawannya mendesak makin hebat, mendapat tambahan semangat melihat hasil tendangan pemimpin mereka yang lihai.

Kwan Cu segera dapat menenteramkan hatinya. Dia teringat bahwa di antara anggota tubuhnya, yang berani menghadapi ujung pedang enam orang lawannya hanya kedua tangannya yang sudah diberi obat oleh Malita. Dia teringat pula betapa tenaga keenam orang ini kecil saja, terbukti pula dari tendangan tadi.

Tendangan Kahano itu tidak mengandung tenaga besar, dan hasil yang baik itu hanya karena tepatnya tendangan itu mengenai urat besar di pergelangan tangannya. Teringat akan hal ini, Kwan Cu berseri wajahnya dan dia tersenyum.

“Kahano, kaulah yang sombong. Sekarang akan kau rasai kelihaian Lu Kwan Cu!” sambil berkata demikian, Kwan Cu menggerakkan tangannya dengan jari-jari terpentang.

Ia lalu bersilat dengan ilmu silat Sin-ci Tin-san yang mengandung tenaga lweekang dan gwakang sangat besar sehingga baru sambaran hawa pukulannya saja sudah sanggup merobohkan lawan. Di samping itu, dia pun menggerakkan kedua kakinya menurutkan gerakan ilmu silat Sam-hoan-ciang sehingga dia seakan-akan mempunyai muka tiga dan gerakan-gerakan kakinya selalu membentuk segitiga sehingga tidak dapat di serang dari belakang oleh lawan-lawannya.

Sungguh tepat gerakan Kwan Cu ini. Begitu dia mainkan ilmu silat Sin-ci Tin-san, enam orang pengeroyoknya menjadi bingung luar biasa. Mereka agaknya dapat pula menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari Sin-ci Tin-san, namun karena ilmu silat ini dilakukan dengan mengandalkan lweekang yang tinggi dan tenaga yang besar, tentu saja mereka tidak dapat menirunya!

Hal ini merupakan keuntungan bagi Kwan Cu yang mendesak terus selagi enam orang itu kebingungan, tak tahu harus berbuat bagaimana untuk menghadapi pukulan-pukulan sepuluh jari tangan Kwan Cu yang baru hawa pukulannya saja sudah membuat tubuh mereka tergetar!

Melihat hasil serangannya, Kwan Cu mengamuk semakin hebat. Dengan heran sekali dia melihat betapa keenam orang ini pun seakan-akan mengenal ilmu silat Sin-ci Tin-san, karena mereka dapat menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari ilmu silat ini, bahkan mereka mencoba untuk menyerangnya dengan meniru gerakan itu. Ilmu silat apakah yang mereka miliki ini sehingga semua ilmu silatnya dapat dikembari oleh mereka? Kalau dia berlaku lambat, tentu mereka akan dapat menguasai diri dan kalau sekali ini dia tidak mampu mengalahkan mereka, agaknya itu akan menjadi tanda bahwa dialah sebaliknya yang akan kalah dan mendapatkan bencana besar!

“Robohlah kalian!” Kwan Cu berseru untuk memperkuat pengaruh dan lweekang-nya.

Kedua tangannya bergerak cepat sambil mengerahkan tenaga sekuatnya. Yang paling dia desak adalah Kahano, maka ketika kedua tangannya bergerak, terdengar Kahano menjerit, disusul oleh dua orang kawannya.

Ternyata bahwa hanya setengah pukulan Kwan Cu tadi yang mampu dielakkan mereka, akan tetapi hawa pukulannya masih menghantam Kahano dan kedua orang kawannya, yakni seorang yang berada di belakangnya dan seorang pula yang berada di kanannya. Pedang pendek Kahano terlepas dari pegangan dan si katai brewok ini terpukul dadanya sehingga dia terlempar ke belakang dengan dada menderita luka dalam.

Orang yang berada di belakang Kwan Cu lebih hebat lagi. Tangan kanan Kwan Cu, atau lebih tepat jari-jari tangan kanannya, telah dapat menampar kepala orang itu sehingga si katai gundul ini terlempar bagaikan seekor anjing dilemparkan dan dia roboh tanpa dapat bangun kembali. Orang yang berada di kanannya, hanya terkena langgar telunjuk Kwan Cu, namun karena tepat mengenai tangannya yang memegang pedang, pedang itu pun terlepas dari pegangan dan dia menjerit-jerit kesakitan sambil mundur dan memegangi tangan kanan dan tangan kirinya. Ternyata bahwa tulang-tulang tangan kanannya telah patah-patah.

Tiga orang lainnya yang berada di depan Kwan Cu, ketika melihat ini, terbang semangat mereka dan timbul watak pengecutnya. Mereka melempar pedang dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala yang gundul itu, minta ampun! Memang, sudah terlalu lama kaum lelaki di pulau katai itu diperlakukan seperti wanita sehingga rata-rata memiliki watak penakut dan berhati kecil.

Kwan Cu tertawa bergelak dengan puas dan mengambil sulingnya. Berhasillah tugasnya mengamankan pulau itu. Akan tetapi, mendadak dia melihat bayangan beberapa orang berkelebat dekatnya dan lenyaplah suara ketawanya ketika dia melihat apa yang sudah terjadi pada saat dia tertawa tadi. Ketika dia memandang, enam orang laki-laki katai itu telah kehilangan kepala mereka dan kini tubuh mereka tergeletak dengan leher terputus dan darah mengalir deras dari leher-leher yang tak berkepala lagi itu.

Dengan kening berkerut Kwan Cu memandang tajam pada Malita, Malika dan beberapa orang wanita lain yang sudah berdiri di situ dengan pedang di tangan. Malita dan Malika menyusut darah yang menempel di pedang mereka dengan menggunakan pakaian yang menempel pada mayat-mayat itu.

“Mengapa kalian lakukan ini? Alangkah kejamnya!” seru Kwan Cu tak senang.

Malika menghadapinya dengan sikap menantang. Gadis ini memang berwatak keras dan pemberani. Ia menentang pandang mata Kwan Cu tanpa merasa takut sedikit pun juga, lalu berkata,

“Kau bilang kami kejam? Kalau mengingat betapa enam orang iblis ini hendak membuat kami kaum perempuan menjadi barang permainan yang hina dina, hukuman penggal kepala masih terlampau murah untuk mereka!”

Kwan Cu menghela napas, lalu berkata,

“Sudahlah, Malika, dan kau juga Malita. Yang sudah lalu biarlah lenyap. Memang mereka ini jahat sekali dan patut dihukum mati, akan tetapi apakah perbuatan ini merupakan tanda bahwa kalian kaum wanita kini hendak berkuasa lagi dan melupakan kerja sama yang baik?”

“Tidak, sama sekali kami takkan mengulangi kesalahan besar yang dilakukan oleh nenek moyang kami. Kami sudah berjanji kepadamu dan janji kami selalu kami pegang teguh. Kami akan melakukan pemilihan raja baru secara adil, kaum laki-laki pun berhak memilih. Dan kami tak akan memandang-mandang lagi apakah ia laki-laki atau wanita, akan tetapi siapa saja yang bersalah akan dihukum dan yang tertindas akan dibela, baik dia laki-laki mau pun wanita! Dan semua ini, kebahagiaan yang akan kami hadapi ini, semua berkat pertolonganmu yang amat berharga, saudara Kwan Cu yang budiman!”

“Semua berkat pertolonganmu,” semua wanita berkata pula dan tiba-tiba, dipimpin oleh Malita dan Malika, semua orang wanita yang berada di sana menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Cu sambil menangis riuh-rendah!

Kwan Cu tertegun, kebingungan, kemudian dia menghela napas dan berkata di dalam hatinya, “Perempuan, perempuan... perempuan namamu dan di mana pun sama saja, paling mudah menangis!” berpikir sampai di sini, timbul pikiran lain yang membantahnya.

“Ahh, Kong Hoat putera Liok-te Mo-li itu terang seorang laki-laki, akan tetapi dia pun suka menangis.”

Pikiran kedua mengejek, “Ahh, Kong Hoat memang dasar cengeng!”

Demikianlah, menghadapi tangis karena berterima kasih dan gembira dari banyak wanita kecil-kecil ini, Kwan Cu malahan melamun, teringat yang bukan-bukan. Akan tetapi, dia sadar kembali dan berkata.

“Sudahlah, untuk apa menangis? Kalian membikin aku merasa sedih dan jangan-jangan aku akan ikut menangis pula. Malita dan Malika, saat ini boleh dibilang kalian merupakan pemimpin bangsamu, jangan melakukan upacara yang berlebih-lebihan ini. Aku bertindak sebagai seorang manusia yang memang seharusnya sebisa mungkin menolong manusia lain. Aku hanya ada satu permintaan, yakni kalau sekiranya kalian tidak keberatan.”

Malita menyusut air matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum manis sekali.

“Apakah permintaanmu itu, saudaraku yang baik? Apa saja yang menjadi permintaanmu, pasti akan kami turuti. Kau ingin menjadi pemimpin kami? Kami setuju sepenuhnya! Kau ingin memilih seorang jodoh di antara kami? Kiranya takkan ada seorang pun dara akan menolakmu, siapa pun dia adanya!” sesudah mengucapkan kata-kata ini, sadarlah Malita bahwa dia sudah berbicara terlalu banyak, maka merahlah mukanya.

“Jangan main-main, Malita. Aku bukan Kahano! Tiada lain hanya ini. Perbolehkanlah aku tinggal di pulau ini seorang diri, entah berapa tahun sampai aku merasa bosan dan pergi meninggalkan pulau ini. Selama aku berada di sini, harap kalian jangan menggangguku, karena aku bermaksud hendak bersemedhi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia di tempat ini. Tempat ini amat menarik hatiku.”

Malita dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran.

“Kau memang orang aneh, seorang sakti yang berbudi tinggi. Hal itu bukan merupakan permintaan karena tentu tak seorang pun merasa keberatan kalau kau tinggal di pulau ini.”

“Nah, jika begitu selamat berpisah. Kalian pulanglah, kemudian aturlah pemerintahanmu sebaik-baiknya dan tinggalkan aku di sini. Jangan ingat lagi kepadaku, karena aku pun tak akan mengganggu kalian di sana.”

Mendengar keputusan ini, terkejutlah Malita.

“Mengapa begitu keras, saudara Kwan Cu? Setidaknya, perkenankanlah kami kadang kala mengunjungimu di sini untuk melihat apakah kau tidak kekurangan sesuatu di sini,” kata Malita.

“Dan sudah tentu kami yang akan menjaga makananmu setiap harinya,” kata Malika.

Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepala dan menggoyang-goyang tangannya.

“Jangan! Kulihat pulau ini mengandung pohon-pohon yang berbuah dan tadi kulihat ada beberapa ekor binatang hutan yang kiranya akan dapat menjadi bahan makanan bagiku. Aku ingin seorang diri saja di sini, tanpa mendapatkan gangguan dari siapa pun juga. Kecuali...” sambungnya ketika meliha sinar mata pada wajah mereka, “kecuali kalau ada sesuatu yang hebat menimpa kalian, tentu saja aku selalu bersiap sedia untuk menolong kalian. Nah, sekarang pergilah, mayat-mayat ini tinggalkan saja, biar aku nanti yang akan menguburnya di tempat ini.”

Terpaksa Malita memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk pergi dari sana dengan wajah kecewa sekali. Akan tetapi, belum berapa lama dia berjalan, dia segera membawa kawan-kawannya datang lagi dan berlutut.

“Ada apa lagi?” tanya Kwan Cu tak senang.

“Saudara Kwan Cu, sungguh pun kami tak berani melanggar laranganmu dan tidak akan mengganggumu di tempat ini, setidaknya berjanjilah bahwa sewaktu-waktu engkau akan datang mengunjungi kami supaya kami dapat melihat bahwa kau masih berada di dekat kami.”

Kwan Cu tersenyum. Ia tidak boleh terlalu keras agar mereka ini jangan menduga yang bukan-bukan sehingga malah akan pecah rahasia sebenarnya dari keinginannya berada seorang diri di tempat itu.

“Baiklah, kelak bila mana kau dan adikmu menikah, beritahulah aku dan aku akan datang menyaksikan pernikahan itu!”

Bertitik air mata di pipi Malita, bahkan Malika juga menangis sesenggukan akibat terharu. Mereka kemudian pergi dari tempat itu menuju ke perahu-perahu kecil milik Kahano dan kawan-kawannya, sambil menoleh beberapa kali ke arah raksasa muda yang masih terus berdiri bertolak pinggang melihat sampai mereka pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.
Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

*****

Setelah menggali lubang dan mengubur jenazah Kahano beserta lima orang kawannya, Kwan Cu segera menghampiri goa yang dijadikan tempat sembunyi para pemberontak tadi. Ia memeriksa dinding goa dengan sepasang obor yang dibuatnya dari pada rumput kering dan alangkah gembiranya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dinding-dinding itu, sebagaimana telah diduganya semula, terhias oleh gambar-gambar manusia sedang bersilat! Gambar-gambar ini ukirannya bagus dan jelas sekali sehingga melihat gambar-gambar ini saja orang sudah dapat mempelajari ilmu silat yang terlukis di situ!

“Hemm, kiranya dari sini mereka itu mempelajari ilmu silat mereka yang aneh!” pikirnya.

Gambar-gambar itu benar-benar hebat luar biasa karena amat banyak dan mengandung gerakan dari hampir semua ilmu-ilmu silat yang pernah dia pelajari dan yang pernah dia dengar dari suhu-nya, Ang-bin Sin-kai. Manusia gaib siapakah yang dulu telah membuat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat seperti ini?

Sampai seharian penuh Kwan Cu memeriksa gambar-gambar itu dan masih juga belum habis. Ternyata bahwa seluruh terowongan yang menembus ke goa-goa lain juga terhias gambar-gambar seperti itu, namun anehnya, semua lukisan itu menggambarkan orang bersilat tangan kosong! Tidak ada sebuah pun gambar orang bersilat dengan senjata di tangan.

Ada yang bersilat seorang diri, ada yang bertempur, ada pula yang dikeroyok dua, tiga, sampai dikeroyok puluhan orang! Agaknya lukisan itu dititik beratkan kepada tokoh yang dikeroyok, karena kedudukan tokoh ini jelas sekali, setiap gerak kaki atau tangan teratur baik.

Pada saat menghadapi sebaris lukisan yang menggambarkan bagaimana cara seorang lelaki dikeroyok oleh puluhan orang, Kwan Cu lantas menjadi terkejut sekali. Bukan main hebatnya kedudukan orang yang dikeroyok itu, malah jauh lebih kuat dari pada ilmu silat Pai-bun Tui-pek-to yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Saking girangnya, Kwan Cu sampai lupa makan lupa tidur, setiap hari dia melihat dan mempelajari gambar-gambar yang terlukis di dinding goa dan terowongan itu. Kemudian teringatlah dia akan niat sesungguhnya dari kedatangannya ke pulau ini, yakni mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Hatinya berdebar keras. Betapa pun jelas ukiran-ukiran ini yang dengan sendirinya telah merupakan pelajaran yang hebat sekali, namun tanpa buku petunjuk atau guru yang membimbing, ilmu-ilmu silat tinggi itu bisa dipelajari dengan cara yang keliru!

“Bukan tidak mungkin bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang merupakan kouw-koat (teori ilmu silat) dari semua lukisan ini,” pikirnya.

Sesudah berpikir demikian, Kwan Cu merangkak keluar dari goa kecil itu dan baru dia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua karena dia mempelajari dan melihat semua lukisan di dinding itu sambil merangkak! Ternyata bahwa sudah dua hari dua malam dia berada di goa itu tanpa berhenti untuk makan atau tidur. Kini dia merasa perutnya lapar sekali. Maka pergilah dia ke dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon itu.

Keadaan di situ memang aneh. Semua pohon mempunyai daun yang keputih-putihan, sungguh pun daun-daun itu berbeda corak dan ukurannya. Dan di antara pohon-pohon itu, ada pula yang mengandung buah-buahan yang biar pun ada yang berwarna merah, namun merahnya juga pucat seperti dikapur.