Social Items

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 06

SUARA tangis itu makin mengeras dan tanpa banyak ragu-ragu lagi, Loan Eng membacok kedua pinggiran daun pintu hingga terlepaslah daun pintu itu dari tiangnya. Seperti juga tadi, Loan Eng tidak langsung menerjang masuk, bahkan mudur dua tindak ke belakang sambil memandang tajam.

Ia tak melihat apa-apa di dalam kamar itu, kosong melompong dan juga tidak kelihatan orang. Suara tangis wanita yang tadi kini sudah pindah ke belakang kamar itu. Loan Eng melihat bahwa di dalam kamar itu terdapat sebuah pintu lain yang agaknya menembus ke ruang tengah, maka ia lalu masuk ke dalam kamar ini.

Baru saja ia melangkah lima tindak di dalam kamar ini dengan hati-hati sekali, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar sebuah toya dari belakang. Pendekar wanita yang gagah ini tanpa menengok kemudian menggerakkan pedangnya ke belakang, diayun dari kanan sambil memutar tubuhnya. Akan tetapi anehnya, toya itu tidak dipegang oleh siapa pun juga dan kini sisanya tinggal sepotong masih tergantung di atas.

Ketika Loan Eng berdongak ke atas, ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa itulah sebuah senjata rahasia yang di gerakkan oleh alat-alat per dan yang otomatis bergerak memukul apa bila ada orang memasuki kamar dan alat penggeraknya kena terinjak. Tetapi ia tidak takut dan melangkah terus!

Baru dua tindak dia melangkah, agaknya ia kena menginjak alat-alat penggerak lagi yang dipasang di bawah permadani, karena mendadak terdengar suara keras dan tiga macam senjata menyerangnya dari tiga jurusan! Sebatang golok melayang keluar dari tembok dan menyambar ke arah kakinya dengan gerakan membabat, sebatang tombak yang runcing tiba-tiba saja keluar dari tembok sebelah depan dan menusuk ke arah perutnya, ada pun senjata ketiga adalah sebuah ruyung besar yang dengan kecepatan kilat menyambar kepalanya. Jadi, sekaligus Loan Eng diserang kaki, perut dan kepalanya!

Namun, Pek-cilan tidak gentar sedikit pun juga.

“Perampok busuk, siapa takut dengan senjata-senjatamu?” bentaknya.

Cepat dia merendahkan tubuh untuk menghindarkan kepala dari sambaran ruyung dan golok yang menyambar ke arah kakinya itu dapat di tendangnya secara luar biasa sekali! Memang Loan Eng memiliki ilmu tendang yang hebat sehingga nyonya muda ini berani menghadapi senjata musuh yang tajam atau runcing dengan kedua kakinya! Ada pun tombak yang menusuk ke arah perutnya dapat di babat putus dengan pedangnya.

“Gerombolan perampok, hari ini aku harus dapat membasmi kalian semua!” Loan Eng berseru dan hendak menerjang pintu yang berada di kamar itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja dari langit-langit kamar menyambar turun semacam jala yang lebarnya memenuhi kamar itu. Loan Eng terkejut sekali dan hendak melompat keluar dari kamar itu, namun tidak keburu. Sebelum ia tiba di pintu tadi, jala itu sudah menerkamnya dan ternyata bahwa itu bukanlah jala biasa melainkan jala yang terbuat dari kawat-kawat baja yang lemas akan tetapi kuat sekali!

Untuk beberapa lamanya, Loan Eng menjadi bingung dan gelagapan. Dia meronta-ronta ke sana ke mari di dalam jala, seperti seekor ikan emas di dalam jala seorang nelayan. Makin keras Loan Eng meronta, makin erat pula jala baja itu menekan tubuhnya!

Pendekar wanita ini lalu diam tak bergerak. Otaknya yang cerdik bekerja keras. Dia tidak boleh gugup menghadapi bahaya ini, kemudian ia menggunakan pedangnya, digosokkan pada kawat jala seperti orang orang menggergaji.

Dengan pengerahan tenaga lweekang-nya, dia berhasil membuat kawat itu putus! Loan Eng girang sekali dan bekerja terus. Tak lama kemudian, ia telah dapat membikin putus beberapa helai kawat jala dan kini ia akan mudah saja dapat menerobos keluar dari jala yang sudah bocor itu. Akan tetapi dia tidak mau keluar, bahkan memegangi bagian jala yang sudah rantas, karena ia mendengar suara orang mendatangi.

Muncullah dari pintu depan dengan seorang anggota gerombolan yang tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, aku dapat menangkap seekor ikan duyung!” serunya girang. “Aduh cantiknya! Manis, kalau kau berjanji mau menjadi biniku, segera aku akan melepaskan kau dari jala itu. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi mendadak dia menjadi pucat dan selanjutnya dia takkan dapat tertawa atau menangis lagi karena pada saat dia tertawa tadi, Loan Eng sudah menerobos keluar dan sekali pedangnya berkelebat, tubuh anggota gerombolan ini sudah putus menjadi dua pada bagian pinggangnya!

Dengan marah sekali Loan Eng lantas menendang pintu dalam kamar itu yang menjadi pecah dan terbuka. Di situ ia melihat pemandangan yang bikin alisnya terangkat naik dan giginya digigitkan.

Ternyata di balik pintu itu adalah sebuah ruangan yang cukup luas dan di seberang sana dia melihat seorang wanita yang pakaiannya cobak-cabik sedang di seret-seret oleh Sin Houw, kepala perampok ke dua. Wanita itu masih muda sekali, mukanya pucat dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Rambutnya yang hitam panjang itu terurai dan kini dijambak oleh Sin Houw yang menyeretnya ke arah lain.

“Jahanam keparat!” Loan Eng memaki dan cepat ia berlari mengejar.

Akan tetapi, celaka sekali baginya! Tak tahunya bahwa Sin Houw sengaja berlaku kejam kepada wanita itu, yakni seorang di antara banyak wanita yang diculik oleh gerombolan, hanya dengan maksud agar Loan Eng menjadi marah, menjadi kurang hati-hati dan terus mengejarnya.

Pada waktu pendekar wanita ini berlari mengejar sampai di tengah-tengah ruangan itu, tiba-tiba saja permadani yang diinjaknya menyeplos ke bawah! Di situ tidak ada lantainya sama sekali dan merupakan lobang yang bentuknya segi empat, besarnya ada sepuluh kaki dan dalam sekali, hanya luarnya ditutupi dengan permadani tebal. Tentu saja kalau diinjak lalu nyeplos ke bawah berikut permadaninya!

Bukan main kagetnya hati Loan Eng, bukan karena kejatuhan itu, melainkan karena yang menerima tubuhnya di bawah adalah air yang dingin! Ia masih berusaha berpegang pada permadani yang tebal dan lebar itu, akan tetapi permadani itu berat sekali dan sesudah terkena air, terus saja tenggelam!

Loan Eng terpaksa cepat-cepat melepaskan pegangannya dan merasa betapa tubuhnya akan tenggelam terus. Bukan main dalamnya sumur yang lebar sekali ini, sedangkan dia tidak pandai berenang!

Pada saat itu air bergolak dan permadani yang tadinya sudah tenggelam, kini tersembul kembali dengan cepatnya. Air muncrat tinggi dan pucatlah muka Loan Eng ketika melihat ujung ekor ikan yang besar!

Ternyata bahwa di dalam sumur lebar itu hidup seekor ikan yang besar dan tadi menjadi marah karena permadani itu tenggelam. Kini ikan itu mulai mengamuk dan menyerang permadani tadi. Terdengarlah suara kain robek dan sebentar saja permadani itu sudah cobak-cabik.

Ketika Loan Eng merasa tubuhnya hampir tenggelam, pendekar wanita ini menendang-nendangkan kedua kakinya ke bawah sehingga dia bisa mumbul kembali. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaganya menusuk dinding sumur dengan pedangnya yang tidak pernah lepas dari tangannya. Biar pun dinding sumur itu berbatu dan keras, namun pedang Loan Eng dengan mudah menancap sampai setengahnya.

Kini nyonya muda itu mempunyai pegangan, yakni gagang pedangnya dan karena tubuh di dalam air menjadi ringan sekali, maka ia dapat mengambang sambil berpegang pada pedangnya. Akan tetapi, setelah bahaya tenggelam tertolong, kini datang bahaya yang lebih hebat lagi, yaitu ikan itu!

Beberapa kali kepala ikan tersembul dan ngeri sekali hati Loan Eng melihatnya. Ikan itu di depan mulutnya memiliki sebatang senjata runcing seperti tombak dan tahulah Loan Eng bahwa itu ikan cucut yang jahat dan suka makan orang!

“Celaka,” pikirnya dengan hati berdebar.

Apa bila dia berada di darat, biar pun ada sepuluh ekor binatang macam ini, dia takkan merasa jeri. Akan tetapi, karena dia tidak berdaya dan di dalam air kepandaiannya tiada gunanya lagi, tentu saja bahaya yang kini dia hadapi adalah bahaya maut yang sukar dielakkan lagi.

“Betapa pun juga, aku harus dapat melawannya,” pikir Loan Eng dengan gemas.

Cepat-cepat nyonya muda ini mengerahkan tenaga lweekang-nya dan dengan tangan kiri berpegang pada gagang pedang, jari-jari tangan kanannya ditusukkan kepada dinding sumur. Hebat juga tenaga lweekang nyonya ini karena biar pun ia merasa ujung jari-jari tangannya sakit, namun dia berhasil mencengkeram dinding itu dan membuat lobang di mana ia bisa memegang atau menjadikan sebagai tempat tangannya berpegang pada lekukan lobang. Lalu ia cepat mencabut pedang dengan tangan kanan karena ia melihat air berombak dan ikan itu muncul lagi!

Bukan main dahsyatnya ikan itu. Panjangnya ada empat kaki dan kini ia menjadi marah sekali. Ketika ia melihat seorang manusia terapung, ia lalu menyerang dengan tombak di depan mulutnya dengan kecepatan luar biasa!

Loan Eng sudah bersiap sedia. Segera ia menggerakkan pedangnya menangkis tombak itu. Ia merasa seluruh lengannya kaku tergetar saking kuatnya ikan itu menyerang. Akan tetapi dia tidak menyangka bahwa ikan itu benar-benar cerdik, karena berbareng dengan memutarnya tubuhnya karena tangkisan tadi, ekornya menyabet ke depan!

Sebetulnya bagi Loan Eng serangan ini tidak hebat sekali, yang celaka adalah air yang muncrat ke arah mukanya sehingga dia sukar membuka mata! Akan tetapi nyonya ini masih sempat menggerakkan pedang, diputar di depannya dan ketika ekor itu menyabet, terlukalah tubuh ikan itu oleh ujung pedang yang runcing tajam.

Akan tetapi, berbareng dengan tubuh ikan yang meronta kesakitan, terdengar suara kain yang memberebet dan pecahlah ujung lengan baju Loan Eng terkena sambaran ekor ikan. Hebat sekali karena ujung lengan baju itu membelit pada ekor sehingga ketika ikan itu meluncur pergi, terdengar suara kain terobek dan tahu-tahu semua pakaian Loan Eng bagian atas sudah robek!

Pendekar wanita ini bingung sekali. Bajunya terlepas dan terobek dari tubuhnya, terbawa oleh ikan itu sehingga bagian atas tubuhnya hanya tertutup dengan pakaian dalam yang sempit dan tipis sehingga dia kini dalam keadaan setengah telanjang.

“Bedebah! Kau harus mampus!” seru Loan Eng dengan marah sekali.

Akan tetapi berbareng ia pun menjadi merah mukanya saking malu dan jengah. Andai kata ia tertolong dan dapat keluar dari sumur ini, bagaimana ia berani bertemu dengan orang?

Ikan itu kini tidak berani menyerang, tubuhnya berputar-putar karena ekornya terasa sakit sekali. Air sumur itu mulai menjadi kemerahan karena darahnya dan Loan Eng hampir menjadi pingsan oleh bau amis yang memuakkan perutnya.

Dia mengincar dan bersiap-siap. Ketika ikan itu berenang berputaran dan berada dekat dengan dia, cepat sekali pedangnya dia gerakkan ke arah perut, menusuk kuat-kuat lalu menggerakkan pedang ke belakang tubuh ikan sehingga perut itu terbelah! Ikan itu lalu meronta-ronta hebat sekali, air muncrat sehingga tubuh Loan Eng bergerak-gerak karena gelombang air. Akan tetapi hanya sebentar saja karena perut ikan itu sudah terbuka dan isi perutnya berhamburan keluar. Matilah binantang itu.

Akan tetapi, air menjadi semakin merah dan bau amis tak tertahankan lagi. Ia mengeluh dan pegangannya pada lobang di dinding sumur makin mengendur. Ia masih ingat untuk menancapkan pedang pada dinding sekuatnya dan kini ia dapat berpegang pada gagang pedang lagi. Demikianlah, pendekar wanita ini bergantung pada gagang pedang dalam keadaan setengah pingsan. Dia mulai putus asa karena tidak melihat jalan keluar sama sekali. Tubuhnya terasa kedinginan, karena dalam keadaan setengah telanjang itu, air yang dingin bagaikan menyusup ke dalam tulang-tulangnya.

Pada saat yang sangat berbahaya ini, tiba-tiba dari atas sumur terayun sehelai tambang dan terdengar suara orang.

"He, kawan yang berada di bawah. Lekas berpegang pada tambang!”

Pikiran Loan Eng sudah nanar dan pening. Ia tidak teringat akan apa-apa lagi, tidak ingat akan keadaan tubuhnya yang setengah telanjang. Melihat tambang terayun di dekatnya, ia cepat menyambar, mencabut pedangnya dan bergantung pada tambang itu. Bau amis membuat dia muak dan lemah sehingga tak kuasa lagi untuk merayap melalui tambang.

Perlahan-lahan tambang itu ditarik orang ke atas dan setibanya di lantai dalam ruang di mana dia tadi terjeblos, Loan Eng yang sudah pening sekali masih sempat melihat wajah seorang pemuda yang tampan. Ia berusaha mempertahankan rasa muaknya, akan tetapi tak tertahankan lagi dan ia muntah-muntah lalu tak sadarkan diri.

Akan tetapi tidak lama ia jatuh pingsan. Ketika kembali membuka mata, dia cepat-cepat melompat dan pada saat dia melompat itu, terbukalah sehelai baju panjang yang tadinya menutupi bagian atas tubuhnya. Dengan terkejut Loan Eng melihat betapa bagian atas tubuhnya itu setengah telanjang! Bukan main kagetnya dan cepat-cepat dia menyambar baju panjang itu dan dikerobongkan pada tubuhnya kembali. Ia menengok dan melihat seorang lelaki berdiri tak jauh dari situ sambil memandangnya dengan senyum!

“Loan Eng, baiknya kau lekas sadar kembali. Aku sudah khawatir karena mereka masih mengancam keselamatan kita.”

“Ohhh...” Loan Eng terkejut sekali dan mukanya menjadi merah seperti kepiting di rebus. “Kau… Ong Kiat...? Bagaimana kau bisa berada di sini...?”

Orang muda itu tersenyum lagi, wajahnya tampan dan bagi Loan Eng, tak ada perubahan pada wajah yang dikenalnya baik-baik semenjak masa kanak-kanak itu.

“Tiada waktu bicara sekarang, Loan Eng. Lekas kau pakailah pakaian kering ini dan kita bersiap-siap menghadapi mereka!” Sambil berkata demikian, Ong Kiat lalu melemparkan segulung pakaian wanita kepada Loan Eng, lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi Loan Eng.

Makin merah muka Loan Eng. Kalau bukan Ong Kiat yang sudah dipercaya penuh, dia tidak sudi berganti pakaian di dekat orang laki-laki, sungguh pun laki-laki itu telah berdiri membelakanginya. Akan tetapi dia harus berganti pakaian, karena kalau nanti bertempur melawan gerombolan, bagaimana ia dapat bergerak dengan baju panjang mengerobongi tubuhnya yang setengah telanjang itu? Cepat-cepat ia membuka semua pakaiannya dan apa bila pada waktu itu ada perlombaan berganti pakaian, pasti Loan Eng akan menjadi juaranya. Demikian cepatnya ia berganti pakaian!

“Jadi kaukah orang yang menolongku dari sumur tadi?” tanyanya perlahan.

“Tiada harganya untuk disebut-sebut, Loan Eng. Kau tahu bahwa aku selalu siap sedia untuk membelamu dengan taruhan nyawa sekali pun!”

Berdebar jantung janda muda itu. Dia memeras rambutnya, lalu di gelungnya.

“Punyamukah jubah panjang ini, Ong Kiat?”

“Ya, aku melihat kau... kau kedinginan, maka aku kerobongkan baju luarku.”

Dengan muka terasa panas biar pun masih basah oleh air, Loan Eng mengerling ke arah punggung orang muda itu. “Dan… kau... kau melihat...”

“Apa, Loan Eng?”

“...tidak apa-apa! Aku sudah selesai berpakaian, Ong Kiat!”

Orang muda itu memutar tubuhnya dan mereka saling pandang.

“Ahh, kau tidak berubah, Loan Eng. Masih seperti dulu.”

“Siapa bilang tidak berubah? Aku sekarang sudah tua.”

“Kau keliru! Setiap orang pasti akan mengatakan bahwa kau tidak ada ubahnya seorang gadis berusia tujuh belas tahun saja. Sungguh, kau tidak berubah, Loan Eng.”

“Kau pun tidak berubah, Ong Kiat, yakni... watakmu, masih baik seperti dulu.”

“Jadi keadaan jasmaniku berubah dalam pandanganmu?”

“Hanya pakaianmu!”

Ong Kiat tertawa dan biar pun usianya sudah hampir tiga puluh tahun, ketika tertawa dia nampak masih muda sekali.

“Memang aku telah menjadi piauwsu (pengantar dan pengawal barang kiriman) dan aku tinggal di kota Hak-keng, tidak jauh dari sini.”

Percakapan mereka terhenti karena terdengar suara orang dan dan tindakan kaki.

“Akan kubasmi semua gerombolan anjing itu!” kata Loan Eng perlahan dan tanpa berjanji dulu, kedua orang ini lalu melompat menerjang ke arah pintu, keluar dari ruangan itu.

Alangkah kagetnya Sin Sai dan Sin Houw yang memimpin orang-orangnya ketika melihat dua orang itu. Mereka tidak mengira bahwa Loan Eng sudah dapat keluar dari sumur itu. Namun Loan Eng dan Ong Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka untuk berheran-heran lebih lama lagi karena Loan Eng sudah lantas menggerakkan pedangnya dan menerjang dengan hebat sekali. Juga Ong Kiat telah menerjang dengan goloknya yang terkenal karena dia adalah anak murid Thian-san-pai yang berkepandaian tinggi.

Hebat sekali sepak terjang dua orang muda yang marah ini. Terutama sekali Loan Eng. Pendekar wanita ini mengarahkan serangannya khusus kepada Sin Sai dan Sin Houw yang mengeroyoknya, sedangkan Ong Kiat dengan enaknya membabati para anak buah gerombolan yang segera roboh sambil menjerit kesakitan.

Hanya dalam waktu tiga puluh jurus saja, berturut-turut Sin Sai dan Sin Houw roboh dan tewas di ujung pedang Loan Eng. Kemudian berdua Ong Kiat ia membasmi semua anak buah gerombolan. Tak seorang pun dapat melarikan diri.

Ong Kiat lalu mengajak Loan Eng menyerbu ke dalam gedung itu. Mereka membebaskan orang-orang wanita yang tadinya diculik oleh gerombolan itu dan jumlah mereka semua adalah sembilan orang, penduduk dusun-dusun dan juga ada dua orang berasal dari kota Hak-keng.

Ong Kiat segera mengumpulkan barang-barang kawalannya yang tadinya dirampok oleh gerombolan itu. Ia tak mau mengambil lain barang berharga untuk keperluannya sendiri, bahkan lalu membagi-bagikan barang-barang lainnya kepada sembilan orang wanita itu yang berlutut di depan Loan Eng dan Ong Kiat sambil menghaturkan terima kasih.

Mereka membakar gedung sarang gerombolan itu, lalu kedua orang gagah ini mengantar sembilan orang wanita itu menuju Hak-keng. Kiranya tidak perlu diceritakan betapa dua orang muda pendekar ini disambut dengan penuh kegembiraan dan rasa terima kasih oleh keluarga para korban itu. Terutama sekali Ong Kiat yang memang sudah terkenal di kota Hak-keng sebagai seorang pendekar yang budiman, mendapat sambutan hangat, bahkan kepala daerah di Hak-keng memberi gelar Hak-keng Taihiap kepadanya.

Kemudian, di ruang tamu di rumah Ong Kiat, dua orang pendekar itu duduk menghadap arak. Loan Eng merasa terharu melihat betapa keadaan rumah bekas kawannya ini sunyi saja, hanya ada dua orang pelayan wanita tua yang mengurus rumah tangga.

“Ong Kiat, di mana orang tuamu?”

Ong Kiat menarik napas panjang. “Mereka sudah meninggal dunia ketika wabah penyakit mengamuk di kota ini.”

“Dan kau hidup sebatang kara?”

Ong Kiat mengangguk.

“Apakah kau tidak… tidak beristri?”

Mendengar pertanyaan ini, seketika merahlah wajah Ong Kiat dan dia menjawab agak kasar, “Loan Eng, kau kira aku laki-laki macam apakah? Selama hidup, aku tidak akan melanggar sumpahku!”

Kini Loan Eng menghela napas sambil menundukkan mukanya. Ia masih ingat baik-baik akan sumpah Ong Kiat, bahwa pemuda ini tidak akan menikah dengan lain orang wanita kecuali dengan Thio Loan Eng yang sudah di jodohkan oleh orang tuanya kepada Bun Liok Si!

“Loan Eng, kau baik-baik saja selama ini? Bahagiakah hidupmu?”

“Ahh, Ong Kiat. Kau tidak tahu. Aku adalah seorang yang paling berdosa, seorang istri yang tidak baik. Aku... aku telah membunuh suamiku sendiri.”

Akan tetapi Ong Kiat tidak heran mendengar ini. “Aku sudah tahu, Loan Eng. Aku sudah mendengar tentang semua keadaanmu.” Kemudian untuk menggembirakan suasana, dia bertanya. “Ahh, ya, bagaimana dengan puterimu? Sudah besarkah?”

Berseri wajah Loan Eng. “Kalau tidak ada puteriku, agaknya aku takkan ada di dunia ini.” Setelah berhenti sebentar, Loan Eng lalu mengubah percakapan yang tak enak itu. “Ong Kiat, bagaimana kau bisa berada di sarang gerombolan itu dan kebetulan sekali dapat menolongku keluar dari dalam sumur?”

Ong Kiat lalu bercerita. Telah beberapa tahun dia menjadi piauwsu dan karena gagahnya dan jujurnya, maka dia dipercaya penuh oleh banyak pedagang dan bangsawan. Pada suatu hari, pembantu-pembantunya mengantarkan barang-barang berharga dari seorang bangsawan dan barang-barang itu harus diantarkan ke kota raja. Pada waktu itu, Ong Kiat tidak berada di Hak-keng karena piauwsu muda ini sedang mengantarkan sebuah keluarga yang melakukan perjalanan jauh. Ketika dia datang di Hak-keng kembali, dia mendengar bahwa barang kiriman itu dirampok oleh gerombolan di dalam hutan itu.

Marahlah Ong Kiat dan seorang diri saja dia kemudian membawa goloknya melakukan penyelidikan. Melihat gerombolan itu terdiri dari dua puluh orang lebih, ia lalu melakukan pembakaran di bagian belakang gedung itu, tidak tahu bahwa Loan Eng sudah menyerbu masuk ke dalam. Ong Kiat maklum akan kelihaian gerombolan ini, karena dia pun tahu bahwa bekas kelenteng ini memang mempunyai banyak bagian-bagian rahasia.

Dia lantas merobohkan beberapa orang anggota gerombolan dan menyerbu ke dalam. Ia datang pada saat yang tepat karena dia melihat empat orang gerombolan mengintai dari pintu sebuah ruangan besar, di mana terdapat sumur rahasia itu. Dia dapat merobohkan dua orang anggota gerombolan dan yang dua lagi lari keluar.

Maka waktu kedatangannya tepat sekali dan dia masih sempat menolong Loan Eng dari bahaya maut. Ia tadinya tidak tahu bahwa orang yang terjebak adalah Loan Eng, wanita satu-satunya di dunia ini yang menjadi pujaan kalbunya.

Melihat keadaan Loan Eng cepat Ong Kiat mengerobongi tubuh wanita yang dikasihinya ini dengan baju luarnya, kemudian dia menyerbu ke dalam kamar belakang dan meminta sesetel pakaian dari seorang wanita tawanan untuk diberikan kepada Loan Eng setelah pendekar manita ini siuman kembali.

Mendengar penuturan Ong Kiat ini, Loan Eng lalu berkata kagum, “Tak kusangka bahwa kepandaianmu telah maju demikian hebatnya, Ong Kiat.”

“Ahh, mana bisa dibandingkan dengan ilmu pedangmu?” jawab Ong Kiat merendah, lalu dengan wajah bersungguh-sungguh ia berkata, “Loan Eng, setelah kau sekarang menjadi janda, hanya hidup berdua saja dengan puterimu, kiranya adakah harapan bagiku untuk membantumu mendidik puterimu itu? Aku akan menganggap dia sebagai anakku sendiri, Loan Eng.” Sambil berkata demikian, dia menatap wajah bekas kawannya itu dengan penuh harapan.

Loan Eng tertegun dan menundukkan mukanya yang menjadi merah! Terus terang saja, dahulu sebelum dijodohkan dengan Bun Liok Si, diam-diam ia juga merasa suka kepada Ong Kiat, kawan mainnya semenjak ia kecil. Setelah mulai dewasa rasa suka ini menjadi perasaan cinta kasih yang terpendam.

Akan tetapi, setelah menjadi istri Bun Liok Si, perasaan terhadap Ong Kiat ini diusirnya jauh-jauh, dan tidak pernah dipikirkannya lagi. Sebagai seorang istri, ia harus mencinta suaminya dan harus bersetia lahir dan batin! Biar pun suaminya telah meninggal dunia, namun andai kata ia tidak bertemu Ong Kiat, agaknya selama hidupnya ia pun tidak akan mengingat lagi kepada bekas kawan itu.

Akan tetapi, nasib agaknya menghendaki lain, karena dalam keadaan yang sangat tidak tersangka-sangka, ia bertemu dengan pemuda ini. Dan lebih hebat lagi, ternyata bahwa Ong Kiat masih tetap setia dan tidak mau menikah dengan wanita lain, bahkan sekarang mengajukan pinangan kepadanya! Dapat dibayangkan betapa gelisah serta bingungnya hati Loan Eng menghadapi pinangan pemuda ini.

Ia maklum akan kemuliaan hati dan kebaikan watak Ong Kiat, dan ia berani memastikan bahwa andai kata ia meneriman pinangan ini, ia akan dapat hidup beruntung. Dan juga puterinya, Sui Ceng, pasti akan menemukan seorang ayah tiri yang jauh lebih baik adat wataknya dari pada ayahnya sendiri yang sudah meninggal! Akan tetapi... hatinya masih terasa berat untuk menerima pinangan ini. Memang, pada masa itu di Tiongkok, adalah merupakan suatu hal yang langka dan tidak mungkin bagi seorang janda, apa lagi sudah mempunyai anak, untuk bisa menikah lagi.

Melihat sampai sekian lamanya Loan Eng tidak menjawab dan menunduk saja dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Ong Kiat lalu bertanya dengan nada mendesak. “Loan Eng, bagaimana jawabmu? Apakah masih juga aku tidak mempunyai harapan?”

Loan Eng mengangkat mukanya memandang dan Ong Kiat melihat betapa sepasang mata yang bening itu menjadi basah.

“Ong Kiat, bagaimana aku harus menjawabmu? Aku tidak ingin menyakitimu, tidak ingin mengecewakanmu, kau begitu baik... Sedangkan aku...”

“Hushh Loan Eng, jangan ucapkan kata-kata seperti itu. Aku bukan seorang anak-anak lagi. Marilah kita bicara dengan tenang, tidak baik kalau orang-orang yang sudah banyak menderita seperti kita ini masih dapat dikuasai oleh nafsu.”

Mendengar ucapan ini, legalah Loan Eng. Ia mengangkat mukanya lagi dan sekarang ia memandang dengan berani. Pandangan matanya penuh kekaguman.

“Loan Eng, aku dapat menduga isi hatimu. Kau tentu suka sekali menerima pinanganku, akan tetapi kau merasa tidak enak, sebagai seorang janda muda menikah lagi, bukan?”

Loan Eng mengangguk, “Bukan cuma itu saja, Ong Kiat. Aku sudah membunuh suamiku sendiri karena dia menyeleweng, karena cemburu. Apa bila sekarang aku menikah lagi dengan kau, apakah orang lain tidak akan mengatakan bahwa aku sengaja membunuh suamiku untuk dapat menikah lagi dengan orang lain?”

Ong Kiat mengerutkan keningnya. Beralasan juga kata-kata wanita yang dicintainya ini. “Akan tetapi, Loan Eng. Dalam hal pembentukan rumah tangga, suara orang luar selalu hanya mendatangkan kerusakan belaka. Apa sangkut pautnya orang lain dengan kita? Pula, hendak kulihat siapa orang-orangnya yang berani mencacimu? Pendeknya begini, Loan Eng. Kau pulanglah dan pikirkanlah masak-masak. Aku tak terburu-buru dan masih tetap bersabar, karena sudah bertahun-tahun aku menanti, bahkan aku telah mengambil keputusan tak akan menikah dengan orang lain. Masa aku tidak dapat bersabar menanti sampai kau dapat mengambil keputusan? Ingatlah selalu, bahwa di Hak-keng, aku selalu menanti kedatanganmu dan anakmu.”

Demikianlah, Loan Eng lalu pulang ke Tun-hang dengan berat hati dan ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Dan dalam perjalanan pulang inilah ia bertemu dan menolong Lu Kwan Cu dari tangan Tauw-cai-houw sebagaimana sudah dituturkan pada bagian depan.

Kemudian terjadilah peristiwa penculikan Sui Ceng oleh para anak buah suaminya, yakni anggota-anggota Sin-to-pang. Melihat keadaan ini, hati Loan Eng merasa ngeri. Dia takut kalau-kalau puterinya yang hanya satu-satunya dan sangat dikasihinya itu benar-benar akan menjadi ketua dari Sin-to-pang! Karena itu ia kemudian membawa pergi puterinya, meninggalkan Lu Kwan Cu.

Ke manakah perginya Loan Eng dan Sui Ceng. Mudah diduga. Ke mana lagi kalau tidak ke Hak-keng, ke tempat tinggal Ong Kiat, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi harapan Loan Eng. Bukan demi rasa cintanya kepada Ong Kiat maka ia datang kepada piauwsu muda itu, melainkan karena ia bingung bagaimana harus mendidik Sui Ceng tanpa ayah. Ia tahu bahwa di samping Ong Kiat, ia akan merasa kuat dan tabah, dan Sui Ceng akan mendapatkan rumah tangga yang kokoh kuat dan berbahagia.

Ong Kiat menerima mereka dengan gembira bukan main. Pernikahan lalu dilangsungkan secara amat sederhana. Ong Kiat cuma mengundang teman-teman dan kenalan-kenalan yang dekat, dan upacara pernikahan hanya cukup dengan sembahyang dan disaksikan oleh para tamu. Akan tetapi, dalam upacara ini, terjadilah hal yang sangat hebat sekali.

Selagi para tamu bergembira-ria minum arak dan makan hidangan, sedangkan Loan Eng telah kembali ke kamarnya, tiba-tiba dari luar datang seorang tokouw (pendekar wanita) yang tua akan tetapi berwajah kereng sekali. Pendeta wanita ini memegang sebatang cambuk berbulu sembilan. Dia bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li, tokoh besar ke dua dari selatan!

Pada saat itu Loan Eng tengah memeluk puterinya sambil menangis terisak-isak. Selama dilakukan upacara pernikahan, Sui Ceng marah-marah dan menangis saja. Anak ini tidak mau keluar dari kamar.

“Ibu, kau terlalu! Mengapa menikah dengan Paman Ong Kiat?” demikian berkali-kali anak kecil ini menegur ibunya dengan muka cemberut.

“Ssttt, anakku. Bukankah paman Ong sangat baik? Dia akan menjadi ayahmu yang baik sekali.”

“Ahh, aku tidak suka, Ibu. Ayahku ketua dari Sin-to-pang, baik mati atau hidup dia tetap ayahku!”

Mendengar ucapan ini, Loan Eng memeluk puterinya dan menangis. Ia tidak tahu harus berbuat dan berkata bagaimana. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di bagian luar.

Suaminya masih melayani tamu di depan, maka mendengar suara ribut-ribut itu, Loan Eng cepat-cepat melepaskan penutup kepalanya, dan memang ia berpakaian sederhana. Kemudian dia segera bertindak keluar, meninggalkan puterinya yang masih berbaring menangis di atas tempat tidur.

Ketika Loan Eng tiba di luar, ia terkejut sekali. Ia melihat seorang tokouw dikelilingi oleh banyak tamu dan suaminya menghadapi tokouw itu dengan marah-marah.

“Suthai, kau terlalu sekali! Bagaimana kau bisa minta begitu saja anak orang. Harap kau jangan mengganggu kami, Suthai. Kesalahan apakah yang telah kami lakukan sehingga kau datang-datang hendak mengacau?”

Mendengar ucapan suaminya, Loan Eng terkejut sekali dan ia berseru keras, “Ong Kiat, jangan kurang ajar...!”

Semua orang menjadi terkejut dan lebih-lebih heran mereka ketika melihat betapa Loan Eng lalu berlari dan sesudah tiba di hadapan tokouw itu, Loan Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depannya dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Teecu mengaku salah, harap Locianpwe sudi memberi maaf kepada teecu sekalian...,” katanya dengan suara amat menghormat.

Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan lenyaplah kekakuan pada mukanya.

“Hemm, Loang Eng, kau masih muda, tentu saja kau ingin berumah tangga lagi. Pinni datang bukan hendak mengganggu, hanya untuk meminta anakmu, karena bukankah dia hanya mengganggu kebahagianmu saja?”

Pada saat itu Sui Ceng sudah muncul pula, karena anak ini tadi mengejar ibunya. Melihat tokouw itu, Sui Ceng tertegun. Mengapa ibunya berlutut di depan tokouw aneh ini?

Sementara itu ketika melihat Sui Ceng, Kiu-bwe Coa-li lalu menggerakkan cambuknya. Dua helai bulu cambuknya itu melayang dan tahu-tahu sudah melibat tubuh Sui Ceng. Dengan sekali betot saja, tubuh anak itu sudah melayang ke arahnya dan diterima terus dipondong oleh pendeta wanita itu. Sui Ceng bersorak girang.

“Hebat, hebat! Kau lihai sekali, Suthai,” kata Sui Ceng.

Kiu-bwe Coa-li tertawa. “Mau kau turut aku belajar silat? Di sini kau hanya mengganggu ibumu yang sedang bersenang-senang!”

Sui Ceng memandang kepada ibunya yang masih berlutut, kemudian memandangi Ong Kiat yang berdiri di dekat situ, lalu dia memandang kembali kepada Kiu-bwe Coa-li dan menganggukkan kepalanya.

“Aku ingin belajar silat, karena aku adalah ketua dari Sin-to-pang. Aku harus lihai!”

“Bagus, hayo kau ikut aku pergi!” Sambil berkata demikian, Kiu-bwe Coa-li membawa Sui Ceng.

“Sui Ceng...!” Loan Eng mengeluh akan tetapi tidak berani mengejar.

Tokouw itu menengok dan berkata dengan suara kereng, “Loan Eng, apa kau tidak rela memberikan anakmu sebagai muridku?”

“Bukan tidak rela, hanya teecu berat berpisah dari dia...,” jawab ibu ini.

Kiu-bwe Coa-li tertawa mengejek. “Bukankah kau sudah mendapatkan suami baru? Dia yang akan menghiburmu dan kau akan lupa kepada anakmu!”

“Suthai, kau terlalu sekali!” Ong Kiat membentak. “Kembalikan Sui Ceng kepada kami!” Piauwsu muda ini lalu melompat mengejar dan menubruk, hendak marampas Sui Ceng.

“Ong Kiat, jangan…!” Loan Eng memberi peringatan, namun terlambat.

Begitu Kiu-bwe Coa-li menggerakkan tangannya, tubuh Ong Kiat terpental ke belakang bagaikan tertiup angin puyuh.

“Hemm, kalau tidak ingat kau seorang pengantin baru, tentu kau sudah menggeletak tak bernyawa pula!” berkata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, lenyaplah bayangan bersama Sui-Ceng.

Loan Eng menangis, dipeluk dan dihibur oleh suaminya yang masih saja terheran-heran bagaimana dia tadi sampai terpental ke belakang, karena dia tak dapat melihat tangkisan atau serangan wanita tua yang lihai itu.

“Sudahlah, Loan Eng. Tak perlu kita bersedih terus. Bukankah Sui Ceng berada dalam tangan orang sakti? Ia akan menerima latihan ilmu silat yang luar biasa. Guru-guruku sendiri di Thian-san tidak mungkin dapat menandingi kelihaian nenek tadi. Siapakah dia itu?”

Sesudah menyusut air matanya dan dapat menentramkan hatinya, Loan Eng berkata, ”Tidak tahukah kau siapa dia? Dia adalah Kiu-bwe Coa-li!”

“Ayaaa...! Pantas saja ia demikian lihai dan aneh. Baiknya ia masih tidak berlaku kejam padaku, kalau tidak demikian, bagaimana aku masih bisa hidup?” kata Ong Kiat.

“Dia telah beberapa kali menolongku dan aku percaya bahwa anakku tentu akan aman di dalam pendidikannya, akan tetapi, bagaimana aku bisa senang ditinggal oleh anakku?” Loan Eng mengeluh sedih.

Ong Kiat menghiburnya dengan penuh cinta kasih dan perhatian sehingga lambat laun dapat juga Loan Eng mengatasi kedukaannya.

Demikianlah keadaan dan pengalaman Loan Eng sehingga Kiu-bwe Coa-li dapat muncul memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng bersama Bun Sui Ceng yang kini telah menjadi muridnya. Sekarang baik kita mengikuti pengalaman dan perjalanan Lu Kwan Cu lebih lanjut.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Sambil melakukan perjalanan menuju ke Gunung Liang-san untuk mencari peninggalan buku-buku dari Gui Tin, Lu Kwan Cu mulai menerima pelajaran ilmu silat dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai Lu Sin.

Ang-bin Sin-kai melihat bakat yang amat baik dalam diri muridnya, maka dia tidak berlaku kepalang tanggung dalam melatih ilmu silat. Dia melatih bhesi dan gerakan kaki dengan amat cermat, sehingga dalam beberapa bulan, dia masih belum memberi pelajaran ilmu pukulan, melainkan ilmu pelajaran pasang kuda-kuda kaki dan mengatur tenaga dalam kedudukan badan.

Selain itu, dia memberi pelajaran cara bersiulian dan mengatur napas. Biar pun pelajaran ini menjemukan dan tidak menarik hati, akan tetapi Kwan Cu mempelajari dan melatih diri dengan amat tekun. Tubuhnya telah kehilangan tenaga lweekang yang dahulu dilatihnya menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu, maka boleh dibilang bahwa dia mulai melatih diri dari tingkat bawah lagi.

Akan tetapi, dalam hal latihan ginkang dan ilmu berlari cepat, Kwan Cu sungguh-sungguh mendapat kemajuan pesat sekali. Hal ini adalah karena perjalanan itu sendiri merupakan latihan yang terus menerus baginya. Tanpa memberi tahu kepada muridnya, makin lama Ang-bin Sin-kai semakin cepat menggerakkan kedua kakinya sehingga secara otomatis, ilmu lari cepat Kwan Cu maju pesat sekali.

Kadang kala, pada waktu melompati jurang-jurang kecil, kakek ini tidak membantu Kwan Cu ketika melompati jurang-jurang. Karena itu, makin lama semakin hebat dan semakin lebarlah jurang yang dapat dilompatinya.

Pada suatu hari mereka mengaso di dalam sebuah hutan. Ang-bin Sin-kai langsung tidur mendengkur sambil bersandar pada sebatang pohon besar. Kwan Cu berjalan di dalam hutan mencari bahan makan siang. Ia tahu bahwa suhu-nya doyan sekali makan daging kelinci panggang, maka dia mencari-cari binatang itu untuk ditangkapnya.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya dia melihat seekor kelinci gemuk yang sedang menggerak-gerakkan dua telinganya dengan lagak lucu sekali. Kelinci itu pun mendengar kedatangannya, dan cepat sekali binatang ini melompat ke dalam semak-semak. Kwan Cu mengejarnya sambil mengambil beberapa potong batu kecil. Di goyang-goyangnya rumpun di mana kelinci itu bersembunyi.

Binatang ini menjadi ketakutan dan melompat keluar lalu berlari cepat. Akan tetapi Kwan Cu lebih cepat gerakannya dan tangannya menyambar. Sebuah batu kecil meluncur ke arah binatang itu.

Kwan Cu merasa yakin bahwa sambitannya pasti akan mengenai sasaran, karena dia sudah mempelajari Pek-po Coan-yang (Ilmu Timpuk Tepat Dalam Jarak Seratus Kaki). Akan tetapi, ketika batu itu sudah menyambar dekat dengan tubuh kelinci, tiba-tiba dari lain jurusan menyambar sebutir batu bundar yang meluncur cepat sekali dan membentur batu yang disambitkan Kwan Cu.

Kwan Cu terkejut dan juga heran sekali. Ia menoleh ke sana ke mari namun tidak melihat orang. Kelinci itu sudah berlari pergi dan sebentar saja lenyap.

“Binatang yang begitu lucu mengapa harus dibunuh?” terdengar suara nyaring menegur.

Mendadak melompatlah bayangan seorang anak kecil keluar dari balik sebatang pohon besar. Ketika Kwan Cu memandang, ternyata bahwa anak itu adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Kun Beng keluar sambil tersenyum-senyum ramah dan wajahnya yang tampan tampak menarik sekali. Kwan Cu tidak menjadi marah kehilangan kelincinya.

“Maksudku bukan untuk membunuh, akan tetapi makan dagingnya,” bantahnya sambil tersenyum juga.

Kun Beng membelalakkan kedua matanya. “Apa bedanya? Bukankah makan dagingnya berarti membunuh juga?”

Dengan wajah sungguh-sungguh, Kwan Cu menggelengkan kepalanya. “Bedanya sangat jauh! Membunuh karena marah dan mata gelap, itu bodoh namanya. Membunuh untuk memuaskan hati dan memperlihatkan keunggulan, itu kejam namanya. Tapi membunuh untuk mengisi perut karena lapar, itu lain lagi, bukan membunuh lagi namanya!”

Kun Beng tertegun. “Ahh, lidahmu lemas sekali, Kawan. Ucapanmu itu benar-benar aku tidak mengerti maksudnya. Cara kau bicara seperti suhu saja, membingungkan. Bukan bicara anak-anak dan aku tak suka. Lebih baik kita main gundu, lebih menggembirakan.”

“Main gundu?” kini Kwan Cu yang terheran-heran.

Anak aneh, datang-datang dan bertemu di tengah hutan mengajak main gundu! Pula, dia tidak bisa main gundu. Kun Beng mengeluarkan kelereng yang dipegangnya. Semua ada tujuh butir, terbuat dari pada batu-batu hitam yang keras.

“Sebetulnya harus delapan butir, akan tetapi yang sebutir tadi kupakai menolong nyawa kelinci,” kata Kun Beng sambil tertawa. “Akan tetapi tidak mengapa, pakai tujuh butir pun sudah cukup.”

“Bagaimana cara memainkannya?” tanya Kwan Cu yang ikut pula berjongkok seperti Kun Beng.

“Kau lihatlah baik-baik! Yang enam butir kulemparkan di atas tanah dan berpencaran, kemudian dengan sebutir ini aku akan membidik sehingga berganti-ganti dapat mengenai enam butir kelerang itu.” Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu membidikkan sebutir kelereng dari jarak lima kaki.

Kelereng itu meluncur dari tangannya dan menggelinding, dengan jitu sekali mengenai kelereng pertama, terus mental kepada kelereng kedua, ketiga dan seterusnya sampai enam butir kelereng itu itu terkena benturan semua!

“Bagus!” kata Kwan Cu memuji, “Kau pandai sekali!”

“Nah, yang berhasil membenturkan kelereng jagonya sampai mengenai enam yang lain, boleh main terus. Kalau tidak kena, baru kau boleh dapat giliran.”

Demikianlah, dua orang anak-anak ini sambil berjongkok bermain gundu di tengah hutan! Akan tetapi karena tidak terlatih, tentu saja Kwan Cu selalu kalah.

“Kau benar-benar pandai. Siapa sih namamu?’

“Namaku The Kun Beng. Aku sudah tahu namamu, Lu Kwan Cu, bukan?”

Kwan Cu mengangguk. “Suhu-mu itu amat lihai dan terkenal. Suhu-ku sering kali memuji namanya. Dan suheng-mu yang galak itu, siapa namanya?’

“Suheng bernama Gouw Swi Kiat, meski pun galak akan tetapi hatinya baik dan dia lihai mainkan sepasang kipas.”

“Kau pun tentu lihai main kipas.”

Kun Beng menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka memainkan tombak dan pedang, terutama sekali tombak. Kau sendiri belajar apakah dari suhu-mu?”

Kwan Cu menggelengkan kepalanya yang gundul. “Tidak belajar apa-apa, hanya belajar gerakan kaki saja. Eh, Kun Beng, kau kenapa bisa berada di tempat ini? Mana suhu-mu dan suheng-mu?”

“Mereka masih di belakang. Aku mendahului mereka masuk ke dalam hutan. Aku paling senang berada di dalam hutan, dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan daun-daun. Nah, itu dia suheng-ku datang.”

Benar saja, Swi Kiat muncul dan datang-datang ia menegur sute-nya.

“Sute, kau terlalu sekali. Suhu menyuruh aku mencarimu di mana-mana hingga kucari sampai berputaran di dalam hutan ini. Ehhh, bukankah ini Lu Kwan Cu, bocah yang mengacaukan urusan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu?” tanyanya sambil memandang tajam kepada Kwan Cu.

“Suheng, Kwan Cu kalah main kelereng denganku!” kata Kun Beng.

“Main kelereng? Ahh, kau seperti anak kecil saja. Mengapa tidak mengalahkan dalam dia main silat?”

“Kwan Cu belum belajar silat, Suheng. Bagaimana bisa minta dia untuk pibu (mengadu kepandaian silat)?”

“Dia bohong! Mana bisa murid Ang-bin Sin-kai tidak mengerti ilmu silat? Hm, orang yang suka menyembunyikan kepandaiannya, dia tentu memiliki hati curang dan licik. Ehh, Lu Kwan Cu, beranikah kau mengadu kepandaian dengan aku?” Gouw Swi Kiat menantang dengan sikap sombong.

“Berani sih tentu saja berani. Takut atau tidak berani hanya bersarang dalam hati orang yang bersalah, sedangkan aku tidak bersalah sesuatu terhadapmu. Akan tetapi, tentang mengadu kepandaian denganmu, apanya yang harus diadu? Aku tak punya kepandaian apa-apa,” jawab Kwan Cu sejujurnya.

Memang, semenjak suhu-nya mengeluarkan semua tenaga yang dipelajarinya dari kitab palsu, sekarang dia tidak mempunyai kepandaian silat sama sekali, kecuali ginkang dan lweekang yang masih dimiliki tanpa disadarinya.

“Mulutmu lemas sekali bagaikan perempuan! Kau hanya mempergunakan lidahmu untuk mencari alasan, padahal sesungguhnya kau takut padaku. Hayo bilang saja kau takut!” Swi Kiat membentak sambil mengejek.

“Aku tidak takut!” jawab Kwan Cu menggelengkan kepala.

“Bagus, kalau begitu marilah kita mengukur kepandaian!” Dan sebelum Kwan Cu sempat menjawab, Swi Kiat sudah menyerang dengan pukulan tangan kiri ke arah dada!

Walau pun belum menerima latihan ilmu pukulan dari suhu-nya, namun Kwan Cu sudah mempelajari cara pergerakan kaki serta kedudukan tubuh, maka dia memiliki kegesitan dan gerakan otomatis dari seorang ahli silat tinggi. Menghadapi pukulan ini, dia miringkan tubuh dan menarik kaki yang berada di depan sehingga pukulan itu mengenai angin! Swi Kiat menjadi penasaran dan menyerang bertubi-tubi!

Swi Kiat adalah murid pertama yang berbakat dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Tentu saja ilmu silatnya sudah baik dan tinggi. Seorang pria dewasa saja, dalam satu dua gebrakan tentu akan roboh olehnya. Usianya sebaya dengan Kwan Cu dan dalam hal ilmu silat, dia masih menang jauh. Karena itu, setelah dapat mengelak beberapa jurus, akhirnya kepala Kwan Cu yang gundul itu terkena pukulan tangan kiri Swi Kiat.

“Bukkk!”

Tubuh Kwan Cu berputaran saking kerasnya pukulan Swi Kiat. Untuk sejenak kepalanya terasa pening dan seolah-olah kepalanya terasa bengkak membesar. Akan tetapi hanya sebentar saja, karena di dalam darah Kwan Cu telah mengalir darah ular dan sari buah coa-ko, ditambah pula latihan lweekang yang tanpa disadarinya sudah mencapai tingkat tinggi juga.

“Suheng, jangan pukul dia! Dia betul-betul tidak mempunyai kepandaian silat!” Kwan Cu mendengar suara Kun Beng mencegah suheng-nya.

Akan tetapi sambil bertolak pinggang Swi Kiat berkata kepada Kwan Cu, “Hayo lekas kau mengaku kalah padaku!”

“Kita tidak berkelahi, bagaimana aku dapat mengaku kalah?” Kwan Cu berkata sambil menggelengkan kepalanya.

“Ehh, gilakah kau? Bukankah baru saja kau kuserang dan kepalamu terpukul?”

“Memang kau menyerangku, akan tetapi tidak berkelahi!”

“Suheng, dia benar! Dia sama sekali tidak membalas seranganmu, bagaimana disebut berkelahi?”

“Kalau begitu, sekarang aku akan memaksa dia supaya berkelahi dengan aku!” seru Swi Kiat yang segera menyerang pula. Akan tetapi, tiba-tiba Kun Beng melompat menangkis serangan suheng-nya itu.

“Ehh, Kun Beng. Apa kau sudah gila?”

“Tidak segila engkau, Suheng! Seorang gagah tidak akan menyerang orang yang tidak mau membalas!” jawab Kun Beng.

Swi Kiat ragu-ragu. Ia harus akui bahwa tingkat kepandaian sute-nya tidak kalah olehnya, kalau tidak mau dibilang lebih tinggi dan lebih maju. Pula, dia sayang kepada sute-nya ini dan tentu saja tidak mau cekcok dengan sute-nya hanya karena Kwan Cu, bocah gundul itu.

“Kau pergilah!” bentaknya kepada Kwan Cu yang memandang semua itu dengan mata yang bersinar-sinar.

Mendengar bentakan ini, sebetulnya kalau menurut wataknya yang keras dan tidak mau tunduk, Kwan Cu tidak mau mengambil perhatian. Akan tetapi Kun Beng berkata halus,

“Kwan Cu, lebih baik kau tinggalkan kami saja. Untuk apa mencari keributan?”

Kwan Cu mengangguk dan berjalanlah dia untuk kembali kepada suhu-nya. Di tengah jalan, dia berhasil menimpuk mati seekor kelinci dan dengan girang dibawanya kelinci itu kepada suhu-nya. Ia mendapatkan gurunya telah bangun dari tidurnya dan kini gurunya itu duduk bersandar pada pohon dan memandangnya.

“Suhu, teecu mendapatkan seekor kelinci!” kata anak itu girang.

Akan tetapi gurunya tidak ikut bergembira, bahkan menegurnya.

“Kwan Cu, kau membikin malu kepadaku! Kau hanya berani menyerang seekor kelinci, akan tetapi tidak berani membalas serangan seorang lawan yang menghinamu! Kenapa kau biarkan kepalamu yang gundul itu dijadikan permainan pukulan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Bukankah itu amat memalukan dan merendahkan nama guru?”

Kwan Cu tertegun. Gurunya tadi masih tidur pulas di bawah pohon, bagaimana suhu-nya ini tahu akan peristiwa yang terjadi antara dia dan Swi Kiat?

“Suhu, teecu tidak berniat untuk berkelahi. Untuk apakah berkelahi dengan orang? Tidak ada alasan bagi teecu untuk membalas serangannya. Dan pula, bagaimana teecu dapat membalas? Dia lihai sekali.”

Merah muka Ang-bin Sin-kai yang memang sudah merah itu, “Murid goblok! Kalau tiada hujan tiada angin kau mengamuk dan memukul orang, itu memang tidak baik dan tidak beralasan. Akan tetapi kau dihina dan dipukul. Itu sudah merupakan alasan kuat sekali bagimu untuk balas memukulnya!”

“Akan tetapi, Suhu...”

“Tidak ada tapi! Lekas kau kembali dan membalas pukulannya!”

“Dia lihai, Suhu...”

“Ehh, kau takut?”

Mata bocah gundul itu bersinar penasaran, “Takut?! Siapa takut, Suhu? Biar kepada iblis sekali pun teecu tidak takut!”

“Kalau begitu, kau lekas kembali kepadanya. Tanya apakah dia masih mau memukulmu, kalau dia menyerang, balas!”

“Teecu belum pernah suhu ajari ilmu pukulan.”

“Untuk apa kedua tangan dan kakimu? Belajar atau tidak, memukul dan menendang tak bisa lain harus menggunakan kaki tangan. Dan kaki tanganmu masih ada, bukan?”

Kwan Cu mengaku kalah dan segera dia kembali mencari Swi Kiat! Di dalam hutan, dia melihat Swi Kiat dan Kun Beng sedang duduk di bawah pohon bersama gurunya, yakni Pak-lo-sian Siangkoan Hai!

Keder juga hati Kwan Cu melihat orang tua yang bertubuh pendek kecil itu, akan tetapi memang dia seorang anak yang tidak mengenal arti takut. Pendiriannya sungguh teguh, seteguh batu karang di pinggir laut, bahwa apa bila tidak bersalah dia tidak boleh takut kepada siapa pun juga!

“Ehh, Swi Kiat. Apakah kau masih juga mau memukulku seperti tadi?” tanyanya sambil menghampiri Swi Kiat yang memandangnya dengan mata terheran.

Juga Kun Beng merasa heran sekali sehingga tidak dapat lagi mengeluarkan kata-kata. Ada pun Siangkoan Hai memandang dengan mata penuh perhatian, lalu berkata, “Ahh, bukankah bocah gundul itu murid Gui Tin?”

“Teecu sekarang murid Ang-bin Sin-kai, Locianpwe,” Kwan Cu menjawab dengan suara tenang.

Siangkoan Hai tertawa bergelak. “Bersemangat juga anak ini. Ehh, Swi Kiat, dia datang menegurmu hendak apakah?”

“Tadinya teecu telah menghajar dia, agaknya dia masih kurang dan minta tambah lagi,” kata Swi Kiat sambil bangun berdiri, “Kwan Cu, apakah kau datang karena hendak minta digebuk kepalamu yang gundul itu lagi? Jangan kurang ajar, lekaslah pergi dari sini!”

“Aku datang hendak menyatakan bahwa kalau kau menyerangku, sekarang aku akan membalasmu!”

Swi Kiat tertawa geli, bahkan Kun Beng juga tertawa. Akan tetapi murid kedua dari Siangkoan Hai ini lalu berkata, “Kwan Cu, jangan berlaku bodoh. Kau bukan tandingan Suheng, untuk apa mencari penyakit?”

“Aku tidak ingin menyerangnya. Akan tetapi kalau dia berani memukulku, pasti kali ini aku akan membalasnya,” kata Kwan Cu masih tetap tenang.

“Kalau begitu aku akan memukulmu!” kata Swi Kiat sambil bersiap-siap menyerang Kwan Cu.

Sikap bocah gundul ini tidak seperti tadi, sekarang dia pun bersiap-siap dan memasang kuda-kuda.

Melihat sikap Kwan Cu ini, Pak-lo-sian tertawa bergelak. “Ehh, bocah gundul, apakah kau benar-benar murid Ang-bin Sin-kai? Apa bila benar kau murid Ang-bin Sin-kai, kau biasa mempelajari ilmu senjata apa sajakah?”

Kini Kwan Cu mengerti bahwa tinggi rendahnya nama suhu-nya tergantung dari sikap dan sepak terjangnya, maka kini dia hendak menebus kesalahannya yang tadi membuat malu nama gurunya. Ia melihat sebatang ranting pohon di depan kakinya, maka ranting itu dipungutnya dan dia menjawab, “Apa pun juga yang berada di tangan suhu, menjadi senjatanya yang ampuh. Kalau Lociapwe bertanya tentang senjata, pada waktu ini teecu memegang ranting dan inilah pula senjataku!”

“Bagus! Eh, Kun Beng kau lawan bocah gundul ini. Kau pun boleh menggunakan ranting pohon!”

Kun Beng tertegun, akan tetapi dia pikir bagi Kwan Cu lebih baik melawan dia dari pada menghadapi suheng-nya, “Kwan Cu, sekarang kita mengukur kepandaian, jika kau roboh berarti kau kalah!”

“Sesukamulah!” kata Kwan Cu karena baginya, bertanding dengan siapa pun sama juga, asal dia sudah dapat menebus nama baik suhu-nya dengan melawan. “Siapa saja yang memukul dan menyerangku, tentu kubalas.”

Kun Beng menggerakkan rantingnya seperti kalau dia bermain tombak. Memang sejak kecil Kun Beng lebih suka mempelajari ilmu tombak, dan berbeda dengan suheng-nya, dia mewarisi ilmu tombak dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Awas senjata!” serunya.

Kwan Cu bingung sekali melihat betapa setelah ranting itu digerakkan oleh tangan Kun Beng, ujung ranting seolah-olah berubah menjadi banyak sekali yang semuanya serentak menyerang tubuhnya dengan hebat! Dia kemudian menggerakkan rantingnya menangkis sejadi-jadinya, namun karena tenaga lweekang-nya memang sudah boleh juga, dia pun berhasil menyampok ranting di tangan Kun Beng.

Akan tetapi, ilmu tombak yang dipelajari oleh Kun Beng termasuk ilmu silat tinggi yang jarang bandingannya. Sebab itu, begitu terkena tangkisan, ranting itu meluncur turun dan tanpa dapat dicegah lagi, kaki Kwan Cu kena dikait dan terjungkallah bocah gundul itu!

“Ha-ha-ha! Pukul kepalanya yang gundul, Sute, biar dia tahu rasa!” kata Swi Kiat tertawa gembira.

Sebaliknya, Siangkoan Hai lantas melongo. Bagaimana Ang-bin Sin-kai dapat mengambil seorang murid yang begini tolol? Dia akui bahwa memang si gundul ini bertulang baik, akan tetapi agaknya otaknya tidak genap!

Watak Kwan Cu memang bandel dan juga tubuhnya sudah kuat sekali. Begitu terjungkal dia segera bangun lagi dan siap sedia bertempur lagi.

“Ehh, Kwan Cu. Kau sudah kalah, mengakulah,” kata Kun Beng. Murid kedua Siangkoan Hai ini memang memiliki perasaan yang halus dan dia tidak tega untuk melawan Kwan Cu lagi yang terang-terangan tidak mempunyai kepandaian silat.

“Menyerah kalah tak mungkin. Tapi kalau kau menyerang lagi, aku tetap akan melawan!” Kwan Cu membandel.

Kun Beng tidak mau menyerang lagi, bahkan melempar rantingnya ke atas tanah. “Suhu, dia tidak bisa ilmu silat, bagaimana teecu dapat melawannya?”

Tiba-tiba Swi Kiat melompat maju. “Anak ini memang bandel sekali dan dia tidak akan tahu kelihaian ilmu Suhu kalau belum diberi hajaran. Ehh, Kwan Cu, apakah kau berani menghadapiku?”

“Mengapa tidak berani?” jawab Kwan Cu tenang.

“Kau boleh menggunakan rantingmu, biarlah aku menyerangmu dengan tangan kosong!” kata Swi Kiat.

“Aku bukan pengecut yang menghadapi orang bertangan kosong dengan senjata,” Kwan Cu juga membuang rantingnya.

Diam-diam Siangkoan Hai memuji. “Hemm, anak gundul ini benar-benar mempunyai sifat gagah, sayang sekali otaknya agak miring. Mana bisa dia belajar silat? Sungguh kali ini Ang-bin Sin-kai menggelikan sekali.”

Swi Kiat sudah maju menyerang. Kwan Cu segera mengelak dan menangkis. Dalam hal mempertahankan diri, dia boleh juga dan beberapa jurus lewat tanpa ada pukulan atau tendangan Swi Kiat yang mengenai tubuh Kwan Cu. Namun Kwan Cu hanya membalas dengan pukulan-pukulan ngawur saja, asal pukul dan asal menendang.

Ketika dia menendang, Swi Kiat menangkap tumitnya dan sekali mendorong ke depan, tubuh Kwan Cu terlempar ke belakang lantas dengan suara keras tubuhnya menyusur tanah! Namun dia bangkit kembali dan sebelum dia dapat memperbaiki kedudukannya kembali Swi Kiat menyerbu dengan pukulannya yang membuat Kwan Cu untuk kedua kalinya jatuh tersungkur.

“Kau masih belum mengaku kalah?” bentak Swi Kiat.

Kekerasan hati Kwan Cu memang luar biasa sekali. Ia menggeleng kepala dan mencoba untuk merayap bangun lagi, akan tetapi sebuah tendangan membuatnya terguling-guling. Sampai lima kali dia mencoba bangun dan terpaksa harus mencium tanah lagi, bahkan pukulan yang kelima kalinya membuat bibirnya pecah dan berdarah. Namun pukulan itu seperti tidak terasa olehnya karena sedikit pun dia tidak mengeluh dan begitu roboh, dia merayap bangun kembali.

“Cukup, Suheng!” kata Kun Beng.

“Diam kau, Sute. Di dalam pibu, yang kalah harus mengaku kalah!” jawab Swi Kiat yang mengejar Kwan Cu lagi.

Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai hanya tertawa-tawa saja. Kakek ini merasa bangga sekali dan diam-diam dia pun mengakui kekuatan Kwan Cu. Jangankan seorang anak-anak, biar pun orang dewasa menghadapi pukulan bertubi-tubi dari Swi Kiat yang sudah memiliki tenaga lweekang lumayan itu, pasti akan terluka hebat. Bagaimana bocah gundul ini tubuhnya seakan-akan terbuat dari pada baja dan tidak pernah merasa sakit?

Bila saja dia melihat bocah gundul itu terluka, tentu segera dia akan mencegah Swi Kiat melanjutkan serangannya. Akan tetapi karena ia tahu betul bahwa Kwan Cu tidak terluka di dalam tubuhnya, maka dia hanya menonton saja.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, disusul oleh kata-kata, “Bagus sekali! Memang orang yang kalah dalam pibu harus mengakui kebodohannya. Hayo Kwan Cu, kau harus mengakui kekalahan dan kelemahanmu!”

Muncullah Ang-bin Sin-kai sambil tertawa-tawa. Melihat kakek ini, Swi Kiat melompat ke belakang dan tidak melanjutkan serangannya lagi. Ada pun Kwan Cu setelah mendengar kata-kata suhu-nya ini, merahlah mukanya.

Ingin dia menangis keras, akan tetapi semangat serta kekerasan hatinya melarang air matanya mengucur keluar. Ia amat taat kepada suhu-nya, maka sambil menghadapi Swi Kiat yang berdiri dengan dada terangkat, dia berkata, “Swi Kiat, aku mengaku kalah.”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak dan berkata keras-keras. “Kwan Cu, dengan pengakuan ini, kau berarti menang! Orang yang menangkan orang lain, belum boleh disebut gagah. Hanya orang yang sudah bisa mengalahkan kesombongan dan nafsunya sendirilah yang patut disebut gagah! Orang menangkan orang lain tak akan kekal, akan datang masanya dia dikalahkan oleh orang lain. Tetapi kau telah dapat mengakui kelemahan, kebodohan dan kekalahanmu, inilah yang penting sekali. Kelak kau akan berlaku berhati-hati dan tidak akan terkalahkan untuk kedua kalinya. Ha-ha-ha!”

“Bagus, bagus!” Siangkoan Hai bertepuk tangan memuji dengan kagum. “Tak kusangka bahwa jembel tua ini benar-benar pandai menjadi guru. Ehh, Swi Kiat dan Kun Beng, kau perhatikan baik-baik ajaran tadi. Memang bagus dan tepat sekali!”

Sambil tersenyum Ang-bin Sin-kai menghampiri Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan bertanya, “Ehh, jago tua utara! Kenapa kau bisa tersesat sampai di sini?”

“Kau kira aku akan membiarkan Hek-i Hui-mo berlaku kurang ajar begitu saja? Meski pun kitab itu palsu, aku harus mengejarnya dan memberi hajaran padanya!” kata Siangkoan Hai.

“Hemm, kau sudah tua akan tetapi masih berkepala batu. Kau hendak menyusulnya ke Tibet?”

“Biar ke neraka sekali pun pasti akan kususul! Mana bisa orang merampas sesuatu dari depan hidungku begitu saja?”

Kembali Ang-bin Sin-kai tertawa. “Kau benar-benar orang tua sombong sekali. Pantas muridmu juga memiliki sifat tidak baik itu.”

“Bukan muridku yang sombong, tetapi muridmu yang terlalu bodoh. Ehh, Ang-bin Sin-kai, kenapa kau memilih murid seorang bocah gendeng yang pikirannya miring?” Siangkoan Hai memandang ke arah Kwan Cu yang diam saja mendengarkan percakapan antara dua orang tokoh besar ini, sama sekali tidak bergerak, hanya hatinya saja terasa panas sekali. Ia tidak berdarah lagi pada bibirnya, karena luka di bibir itu telah rapat kembali.

“Biarlah dia bodoh, dan biar kau menganggap miring otaknya. Akan tetapi coba saja kau lihat lima tahun lagi. Kukira dua orang muridmu ini tak akan mampu mempermainkannya seperti tadi.”

“Begitukah? Berani kau bertaruh, Ang-bin Sin-kai?” tantang Siangkoan Hai. “Lima tahun lagi kita adukan mereka, guru yang kalah harus memberi hadiah semacam ilmu pukulan kepada murid yang menang! Setujukah?”

Berseri muka Ang-bin Sin-kai. Dia tahu bahwa di antara para tokoh besar, Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini termasuk seorang yang baik hatinya, akan tetapi dia sombong sekali.

“Jadi bila muridku kalah, aku harus memberi hadiah ilmu pukulan kepada murid-muridmu, sebaliknya kalau muridku menang, kau akan memberi padanya semacam ilmu pukulan?” tanya Ang-bin Sin-kai Lu Sin kepadanya.

“Benar, benar begitu. Bukankah adil sekali namanya?”

“Baik. Kelak, lima tahun kemudian, aku akan membawa muridku mencarimu!” Siangkoan Hai lalu memberi tanda kepada murid-muridnya. “Hayo kita pergi, Hek-i Hui-mo tak akan jauh dari tempat ini!” tanpa berpamit dan tanpa menoleh lagi, Siangkoan Hai dan kedua muridnya lalu pergi dari dalam hutan itu.

Ang-bin Sin-kai menoleh kepada Kwan Cu yang menundukkan mukanya.

“Suhu, apakah kekalahanku tadi membikin malu nama Suhu?” tanyanya perlahan.

“Bukan memalukan aku, melainkan kuharap akan dapat membuka kedua matamu bahwa ilmu silat itu bukan tidak perlu sama sekali seperti yang kau kira. Coba kau dahulu tidak membenci ilmu silat, bukankah kau sudah mampu membela diri dan belum tentu begitu mudah dipermainkan orang.”

“Mulai sekarang teecu akan belajar ilmu pukulan dengan baik-baik, Suhu.”

“Hemm, tidak mudah. Kau mempunyai watak tidak mau menyakiti orang lain. Ini sukar sekali. Apa bila kau belum mempunyai kekerasan hati dan ketegaan untuk memukul dan merobohkan orang, bagaimana kau dapat mempelajari ilmu pukulan? Kau harus berlatih ketabahan lebih dulu, baru ilmu pukulan ada gunanya. Hayo kau ikut aku!”

Ang-bin Sin-kai melompat dan berlari pergi. Kwan Cu cepat mengejar suhu-nya. Sampai malam tiba, Ang-bin Sin-kai masih terus berlari, tanpa berhenti untuk makan, sedikit pun tidak pernah bicara.

Diam-diam Kwan Cu mengerti bahwa gurunya ini marah dan kecewa kepadanya, karena kalau dia pikir-pikir, peristiwa dengan murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai tadi, tentu saja amat memalukan gurunya!

“Aku harus belajar ilmu silat, aku harus dapat mengalahkan mereka,” demikian Kwan Cu berpikir sambil berlari di belakang suhu-nya.

Setelah memasuki sebuah hutan besar, hari sudah malam dan Ang-bin Sin-kai berhenti lalu mengaso di bawah pohon.

“Kau lihat ini baik-baik!” kata kakek jembel itu.

Setelah memasang kuda-kuda, dia lalu menggerakkan kedua kakinya. Terdengar suara keras dan tahu-tahu dua batang pohon yang besarnya setubuh orang menjadi tumbang!

Semenjak tadi Kwan Cu memasang mata baik-baik dan dia mencatat di dalam otaknya bagaimana tadi suhu-nya menggerakkan kedua tangan, bagaimana menggeser kaki dan cara memukul ke depan dan kanan kiri!

“Nah, kau latih gerakan pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) tadi!”

“Teecu sudah melihat Suhu.”

“Coba kau tiru gerakan Sam-hoan-ciang.”

Kwan Cu memasang kuda-kuda seperti gurunya tadi, kemudian sambil mengerjakan otak mengingat bagaimana tadi suhu-nya bergerak, dia lalu memukul dengan kedua tangan dan menggeserkan kakinya, kemudian mainkan tiga jurus Sam-hoan-ciang seperti yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai tadi. Dari sepasang kepalan tangannya yang kecil lantas menyambar angin yang membuat daun-daun pohon kecil bergoyang-goyang!

Ang-bin Sin-kai mengangguk sesudah Kwan Cu menyelesaikan gerakan tadi. “Gerakan tanganmu sudah baik, hanya saja tenaga pukulan jangan kau buyarkan. Tenaga dalam pukulan Sam-hoan-ciang harus dikumpulkan, ditujukan kepada bagian tubuh yang lemah dan jalan darah yang penting, ketika tangan kanan memukul, mulut harus mengeluarkan suara ‘hah!’ dan kalau tangan kiri memukul harus berbunyi ‘heh!’ Ingat, Sam-hoan-ciang dilakukan tiga jurus, jurus pertama pukulan tangan kanan, jurus kedua pukulan tangan kiri, dan jurus ke tiga pukulan kedua tangan dibarengkan, mendorong ke depan, dengan agak jongkok dan tenaga dari pusar disalurkan kepada kedua lengan. Mengertikah?”

Kwan Cu mengangguk. “Mengerti, Suhu.”

“Coba lagi! Sekarang anggap aku sebagai lawanmu dan lakukan tiga macam pukulan itu terhadap tubuhku! Mulai!”

Demikianlah, dalam keadaan yang remang-remang di dalam hutan itu, dan dengan perut kosong, Ang-bin Sin-kai mulai melatih muridnya. Kwan Cu memasang kuda-kuda, lalu mulai menggerakkan dua kakinya, dan melihat suhu-nya berdiri di depannya, ia lalu mulai menyerang dengan jurus pertama. Dia menyalurkan seluruh tenaganya di ujung tangan kanannya, menyerang ke arah ulu hati gurunya sambil membentak, “Hah!”

Dengan sedikit gerakan saja Ang-bin Sin-kai bisa mengelak dari pukulan muridnya. Kwan Cu lalu menyusul dengan jurus serangan kedua. Tangan kirinya yang sudah diisi dengan tenaga lweekang yang dipindah dari tangan kanan, segera menyambar dengan pukulan dahsyat ke arah lambung suhu-nya dan mulutnya berbunyi, “Heh!”

Kembali Ang-bin Sin-kai mengelak lagi, lalu kakek jembel ini sengaja berdiri tegak untuk menanti datangnya pukulan ketiga dari muridnya. Kwan Cu lantas menyerangnya dengan jurus ketiga dari ilmu Sam-hoan-ciang. Sekarang anak ini memukul dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dan mendorong ke arah tubuh suhu-nya bagian bawah.

Kali ini Ang-bin Sin-kai tidak mengelak, namun mengulur kedua tangan pula menyambut dorongan muridnya. Dua pasang tangan bertemu dan Kwan Cu terlempar ke belakang, bergulingan sampai beberapa kaki jauhnya! Dia menjadi agak nanar, akan tetapi cepat bangkit kembali dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Mohon Suhu memberi petunjuk tentang bagian yang salah dari gerakan teecu,” katanya.

“Kakimu yang salah, jika tidak masa kau akan jatuh berguling-guling? Kau menghabiskan seluruh tenagamu pada lengan, sama sekali tidak mempedulikan kedudukan kaki. Kalau kau bertemu dengan lawan yang tenaganya kecil, itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau kau menyerang orang yang tenaganya lebih besar, tentu kedua kakimu tidak kuasa menahan pertemuan tenaga dan kau akan terpelanting seperti tadi! Lupakah kau kenapa aku selama ini hanya mengajarmu dengan gerakan kaki dan pemasangan kuda-kuda? Karena pokok dasar ilmu silat terletak pada keteguhan pemasangan kuda-kuda, seperti bangunan berdasar pada tiang-tiang yang kuat. Nah, berlatihlah lagi, dan kini perhatikan gerakan kaki, aku hanya akan memberi contoh sekali lagi.”

Ang-bin Sin-kai kembali melakukan gerakan Sam-hoan-ciang. Kwan Cu memperhatikan dengan mata yang tak pernah berkedip. Setelah kakek jembel ini melakukan gerakannya, kembali dua batang pohon besar menjadi tumbang!

Kwan Cu merasa kagum bukan main. Dan setelah memberi contoh untuk kedua kalinya, Ang-bin Sin-kai lalu duduk menyandar di pohon dan sebentar saja dia sudah tidur pulas! Sudah dua malam kakek ini tidak makan, namun dia dapat tidur begitu mudah, sungguh membuktikan adatnya aneh.

Akan tetapi, Kwan Cu lebih aneh lagi. Kekerasan hatinya serta ketekunan hatinya boleh dipuji. Sebenarnya dia merasa sangat lapar, akan tetapi pelajaran baru ini membuat dia lupa akan keperihan perutnya. Dia terus berlatih ilmu pukulan Sam-hoan-ciang. Ia ulangi dan ulangi lagi dan mempergunakan batang pohon sebagai lawan!

Makin lama tenaganya bukan makin lemah, bahkan karena menghadapi kekuatan pohon, dia makin dapat mengatur tenaganya sedemikain rupa sehingga lambat laun dapatlah dia mengerahkan tenaga sampai pada titik yang tepat! Bila tadinya pukulannya pada pohon membuat kulit kepalan tangannya merah-merah sampai akhirnya lecet-lecet, menjelang fajar, dia telah dapat memukul pohon itu sampai menjadi doyong!

Ketika Ang-bin Sin-kai pada keesokan harinya membuka matanya, kakek ini amat girang dan kagum melihat muridnya masih berlatih diri dan melihat betapa gerakan Kwan Cu kini tidak kaku lagi!

“Cukup! Jangan menghabiskan tenagamu!” serunya.

Kwan Cu berhenti bersilat. Barulah dia merasa letih bukan main sehingga untuk berdiri saja kedua kakinya gemetar dan terpaksa dia menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Akan tetapi kepalanya yang gundul dan mukanya yang berkilau karena peluh itu berseri-seri ketika suhu-nya memujinya.

“Bagus, Kwan Cu, kau telah maju banyak sekali.”

“Masih jauh, Suhu. Tanpa menyentuh pohon Suhu sudah bisa merobohkan pohon-pohon dalam jarak lima kaki lebih. Sedangkan teecu, sampai rusak kulit tangan, tetap saja tidak dapat merobohkan sebatang pohon juga.”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Bocah bodoh. Kau lihat pohon ini, bukankah biar pun luarnya lecet kulitnya, akan tetapi dalamnya telah menderita pukulanmu yang bertubi-tubi itu? Kau lihat!”

Setelah berkata demikian, kakek ini lalu mendorong pohon tadi dan sambil mengeluarkan suara keras, pohon itu tumbang. Ternyata bahwa di bagian dalamnya telah banyak yang remuk menjadi bubuk seperti dimakan kutu. Kwan Cu lantas meleletkan lidahnya melihat kehebatan akibat pukulan-pukulannya yang telah membuat tangan-tangannya lecet-lecet malam tadi!

“Harus kau ketahui bahwa ilmu pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) mesti mengandalkan tenaga lweekang. Jika malam tadi kau memukul dengan tenaga gwakang dan mengandalkan kekerasan kulit tangan, kulitmu tak akan lecet sedang pohon ini pun hanya akan rusak luarnya saja. Akan tetapi karena kau menggunakan tenga lweekang, kulit tanganmu yang tak terjaga oleh tenaga gwakang menjadi rusak, sebaliknya pohon ini terluka pada bagian dalamnya! Oleh karena itu, penggunaan tenaga lweekang tidak boleh dilakukan secara membabi buta, harus sekali pukul dengan tepat seperti contoh ini. Lihat!”

Ang-bin Sin-kai lalu melakukan pukulan jurus kedua dari Sam-hoan-ciang dengan tangan kirinya, diarahkan pada pohon yang terpisah beberapa kaki dari tempat dia berdiri dan…

“Krakkk...!” pohon itu roboh!

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut. “Terima kasih atas petunjuk yang amat berharga dari Suhu.”

“Bangunlah,” kata Ang-bin Sin-kai sambil tertawa. “Kau seperti anak kecil yang mendapat permainan baru. Ketahuilah, ilmu pukulan Sam-hoan-ciang ini hanya merupakan pukulan pertama saja, dan kalau sudah mempelajari semua ilmu-ilmu silat dari aku, maka pukulan Sam-hoan-ciang ini belum ada seperseratusnya! Apa artinya mempunyai ilmu menyerang jika tidak dapat mempertahankan diri? Di dalam ilmu silat, kepandaian harus dibagi dua. Mempertahankan diri dan menyerang, dan seorang ahli silat yang baik, mengisi dirinya dengan enam puluh bagian ilmu menjaga diri dan hanya empat puluh bagian ilmu untuk menyerang lawan. Dalam setiap gerakan menjaga diri tersembunyi gerakan menyerang, sebaliknya kalau kau menyerang, berarti kau membuka kesempatan bagi lawan untuk membobolkan pertahananmu. Maka berlatihlah yang giat, karena ilmu silat bukanlah ilmu yang semudah orang kira!”

Demikianlah, Ang-bin Sin-kai mulai membuka rahasia ilmu silat kepada muridnya dan semua kata-kata suhu-nya itu masuk ke dalam kepala yang gundul itu.

“Apa kau tidak merasa lapar?” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai bertanya.

Mendengar ini, perut Kwan Cu berkeruyuk, mendahului mulutnya menjawab pertanyaan suhu-nya. Merahlah wajah Kwan Cu dan mengharap mudah-mudahan suara perutnya itu tak terdengar oleh suhu-nya. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai mempunyai pendengaran yang amat tajam. Jangankan suara perut berkeruyuk, biar sehelai daun yang jatuh ke tanah saja dia akan mendengarnya. Maka tertawalah kakek itu.

“Setelah latihan yang menggunakan banyak tenaga lweekang, tiada daging yang lebih baik melebihi daging ular besar. Hayo kita mencari daging ular. Di hutan depan banyak ular-ular besar!” Kakek ini lalu berlari ke hutan yang nampak kehijau-hijauan, dan Kwan Cu cepat menyusul gurunya.

Ang-bin Sin-kai memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar sekali sehingga Kwan Cu yang berjalan di belakang gurunya itu merasa betapa dirinya sangat kecil tak berarti di bawah pohon-pohon raksasa itu. Ketika mereka sudah tiba di tengah hutan, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke depan dan berkata,

"Nah, itu dia calon daging untuk perut kita. Kau tangkaplah yang paling gemuk!" Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai lalu duduk bersandar pada sebatang pohon.

Kwan Cu berdiri terpaku untuk beberapa lama. Di tempat itu, dia melihat beberapa ekor ular yang amat besar. Yang paling kecil saja ukuran perutnya sama dengan pahanya dan panjangnya sekitar tujuh atau delapan kaki! Tubuh ular itu berwarna kekuning-kuningan, lidahnya panjang warna merah, demikian pula matanya, ada pun mulutnya lebar sekali.

Berdebar juga hati Kwan Cu saking ngerinya sungguh pun dia tidak merasa takut sama sekali. Untuk menangkap yang paling kecil saja, agaknya sangat sukar dan mengerikan, apa lagi suhu-nya minta dia menangkap yang paling gemuk, yang berarti ular yang paling besar!

Akan tetapi Kwan Cu tidak merasa jeri. Apa lagi ada gurunya di situ, apakah yang perlu ditakutkan lagi? Sebagian besar ular-ular itu membelitkan tubuhnya pada cabang-cabang pohon, dengan kepala bergantung, atau kepala mereka tersembunyi dalam lilitan tubuh.

Pada waktu Kwan Cu mencari-cari dengan matanya untuk memilih, dia melihat seekor di antara ular-ular itu yang melingkar di bawah pohon. Ular ini besar sekali lagi amat gemuk. Agaknya lebih mudah menangkap yang melingkar di bawah ini karena dia sedang tidur, sedikit pun tidak bergerak, seakan-akan ular mati yang tidak bernapas sama sekali.

"Suhu, teecu akan menangkap yang itu!" katanya sambil menunjuk ke arah ular terbesar yang melingkar di bawah pohon.

"Bagus, kau tangkaplah, hitung-hitung latihan bagimu. Jangan takut, ular itu tak berbisa. Makin besar, semakin tidak berbahaya. Hanya dia kuat sekali, dan kalau sampai tergigit, sukar untuk melepaskan diri dari gigi-giginya yang doyong ke sebelah dalam itu," berkata Ang-bin Sin-kai dengan suara tenang.

Suara suhu-nya ini mendatangkan semangat dan keberanian dalam hati Kwan Cu, maka anak ini dengan hati-hati lalu mendekati ular besar itu.

Biar pun tadinya kelihatan seperti mati atau tidur, namun ketika Kwan Cu sudah sangat dekat, ular itu mulai hidup. Ia mengangkat kepalanya dan sepasang matanya yang merah itu ditujukan kepada Kwan Cu. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis. Mengebullah uap putih dari mulutnya yang terbuka lebar-lebar. Kini kelihatan betapa lebar mulutnya dan betapa mengerikan gigi-gigi yang runcing dan doyong ke dalam itu. Lidahnya yang panjang menjulur keluar dan bergerak-gerak keluar masuk cepat sekali.

Kwan Cu tidak mau membuang waktu lagi. Melihat ular itu sudah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia segera melangkah maju dan melakukan serangan dengan ilmu pukulan Sam-hoan-ciang, karena untuk bertindak dengan ilmu silat lain dia masih belum bisa. Ia melakukan jurus kedua, yakni tangan kiri bergerak maju, hanya mengubah sedikit. Kalau biasanya gerakan ini dilakukan dengan tangan terkepal untuk memukul, dia membuka jari tangannya dan kini menggunakan tangan kirinya untuk menerkam leher ular!

Ular itu gesit sekali. Melihat tangan bocah gundul ini bergerak ke arah leher, dia cepat mengelak ke kiri. Namun Kwan Cu adalah anak yang amat cerdik. Walau pun dia baru mempelajari Sam-hoan-ciang, akan tetapi kecerdikannya membuat dia dapat memecah gerakan-gerakan ini sehingga jurus ke dua yang dia pergunakan tadi sebenarnya adalah semacam pancingan belaka!

Dia tidak melanjutkan serangan, bahkan segera menarik kembali serangannya dan kini disusul cepat dengan jurus ketiga, yakni kedua tangannya maju berbareng dan tubuhnya agak berjongkok. Dan gerakan ini berhasil. Ia berhasil menangkap leher ular itu dengan kedua tangannya dan mencekiknya sekuat tenaganya.

Ular itu marah bukan main. Beberapa kali ia menggerakkan kepala dan menggoyangkan lehernya, meronta-ronta untuk melepaskan dirinya. Akan tetapi Kwan Cu mencengkeram semakin keras karena merasa betapa ular itu licin sekali.

Tiba-tiba ular itu berganti siasat dan seluruh tubuhnya bergerak, terus melilit tubuh Kwan Cu dengan ekornya. Sebentar saja tubuh bocah gundul ini sudah dililit sedemikian rupa sehingga dari paha sampai dada tidak kelihatan lagi.

Kwan Cu terkejut sekali dan sedapat mungkin dia mempertahankan kedua kakinya. Akan tetapi aneh sekali, tenaga ular itu makin lama semakin hebat dan lilitannya makin lama makin erat. Ketika ular itu menggoyang-goyang tubuhnya, dia tidak dapat bertahan lebih lama dan tergulinglah Kwan Cu! Betapa pun juga, dia masih dapat mengatur jatuhnya dan dia hanya jatuh duduk dengan tubuh masih dibelit-belit ular yang licin, dingin dan kuat. Ia memperkuat cekikannya, mengerahkan seluruh tenaga yang disalurkan kepada lengan tangannya.

Akan tetapi, tiba-tiba Kwan Cu merasa betapa perut dan dadanya terhimpit keras sekali sehingga dia sukar untuk bernapas! Dengan menekan napas ke arah perut, dia membuat perut dan dadanya mengembung dan sanggup menahan himpitan ular, akan tetapi oleh karena itu, tenaga pada kedua lengannya berkurang.

Sementara itu, ular tadi menjadi makin penasaran dan marah. Biasanya, kalau ia sudah mengerahkan tenaga dalam lilitannya, seekor kijang pun akan remuk-remuk tulangnya! Mengapa bocah gundul ini dari perut dan dadanya keluar hawa panas sekali? Apa lagi, cekikan pada lehernya itu pun mendatangkan rasa sakit.

Sambil mendesis hebat, ular itu membuka lebar-lebar mulutnya yang bergerak di depan muka Kwan Cu dan bergerak hendak menggigit kepala gundul itu. Kalau gigitannya ini berhasil, agaknya kepala Kwan Cu yang gundul itu akan masuk ke dalam mulutnya!

Kwan Cu terkejut dan menahan dengan kedua tanganya, akan tetapi tiba-tiba dia merasa kepalanya yang gundul itu gatal-gatal. Dia mengerti bahwa ini tentulah akibat dari pada semburan uap yang keluar dari mulut ular itu. Tadi ketika ular itu menyemburkan uap putih yang mengarah ke mukanya, dia menundukkan kepala untuk melindungi mukanya, maka kepalanya yang gundul itulah yang terkena uap putih dan kini gatal-gatal.

Rasa gatalnya tidak tertahankan lagi, maka terpaksa dia melepaskan tangan kanan yang mencekik leher ular untuk digunakan menggaruk kepala gundulnya yang gatal setengah mati itu! Ular tadi setelah kini merasa bahwa yang mencekik lehernya hanya satu tangan saja, cepat memberontak sehingga cekikan tangan kiri Kwan Cu terlepas! Ular itu segera menggerakkan lehernya dan dengan kecepatan luar biasa sekali mulutnya yang lebar itu menyerang kepala Kwan Cu.

Akan tetapi Kwan Cu tidak berkurang waspada. Bocah gundul ini cepat mengelak ke kiri sehingga mulut itu hanya meluncur lewat di samping telinga kanannya. Cepat Kwan Cu menggerakkan kedua tangan mencekik lagi dan kembali terjadi pergulatan mati-matian.



Pendekar Sakti Jilid 06

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 06

SUARA tangis itu makin mengeras dan tanpa banyak ragu-ragu lagi, Loan Eng membacok kedua pinggiran daun pintu hingga terlepaslah daun pintu itu dari tiangnya. Seperti juga tadi, Loan Eng tidak langsung menerjang masuk, bahkan mudur dua tindak ke belakang sambil memandang tajam.

Ia tak melihat apa-apa di dalam kamar itu, kosong melompong dan juga tidak kelihatan orang. Suara tangis wanita yang tadi kini sudah pindah ke belakang kamar itu. Loan Eng melihat bahwa di dalam kamar itu terdapat sebuah pintu lain yang agaknya menembus ke ruang tengah, maka ia lalu masuk ke dalam kamar ini.

Baru saja ia melangkah lima tindak di dalam kamar ini dengan hati-hati sekali, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar sebuah toya dari belakang. Pendekar wanita yang gagah ini tanpa menengok kemudian menggerakkan pedangnya ke belakang, diayun dari kanan sambil memutar tubuhnya. Akan tetapi anehnya, toya itu tidak dipegang oleh siapa pun juga dan kini sisanya tinggal sepotong masih tergantung di atas.

Ketika Loan Eng berdongak ke atas, ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa itulah sebuah senjata rahasia yang di gerakkan oleh alat-alat per dan yang otomatis bergerak memukul apa bila ada orang memasuki kamar dan alat penggeraknya kena terinjak. Tetapi ia tidak takut dan melangkah terus!

Baru dua tindak dia melangkah, agaknya ia kena menginjak alat-alat penggerak lagi yang dipasang di bawah permadani, karena mendadak terdengar suara keras dan tiga macam senjata menyerangnya dari tiga jurusan! Sebatang golok melayang keluar dari tembok dan menyambar ke arah kakinya dengan gerakan membabat, sebatang tombak yang runcing tiba-tiba saja keluar dari tembok sebelah depan dan menusuk ke arah perutnya, ada pun senjata ketiga adalah sebuah ruyung besar yang dengan kecepatan kilat menyambar kepalanya. Jadi, sekaligus Loan Eng diserang kaki, perut dan kepalanya!

Namun, Pek-cilan tidak gentar sedikit pun juga.

“Perampok busuk, siapa takut dengan senjata-senjatamu?” bentaknya.

Cepat dia merendahkan tubuh untuk menghindarkan kepala dari sambaran ruyung dan golok yang menyambar ke arah kakinya itu dapat di tendangnya secara luar biasa sekali! Memang Loan Eng memiliki ilmu tendang yang hebat sehingga nyonya muda ini berani menghadapi senjata musuh yang tajam atau runcing dengan kedua kakinya! Ada pun tombak yang menusuk ke arah perutnya dapat di babat putus dengan pedangnya.

“Gerombolan perampok, hari ini aku harus dapat membasmi kalian semua!” Loan Eng berseru dan hendak menerjang pintu yang berada di kamar itu.

Akan tetapi, tiba-tiba saja dari langit-langit kamar menyambar turun semacam jala yang lebarnya memenuhi kamar itu. Loan Eng terkejut sekali dan hendak melompat keluar dari kamar itu, namun tidak keburu. Sebelum ia tiba di pintu tadi, jala itu sudah menerkamnya dan ternyata bahwa itu bukanlah jala biasa melainkan jala yang terbuat dari kawat-kawat baja yang lemas akan tetapi kuat sekali!

Untuk beberapa lamanya, Loan Eng menjadi bingung dan gelagapan. Dia meronta-ronta ke sana ke mari di dalam jala, seperti seekor ikan emas di dalam jala seorang nelayan. Makin keras Loan Eng meronta, makin erat pula jala baja itu menekan tubuhnya!

Pendekar wanita ini lalu diam tak bergerak. Otaknya yang cerdik bekerja keras. Dia tidak boleh gugup menghadapi bahaya ini, kemudian ia menggunakan pedangnya, digosokkan pada kawat jala seperti orang orang menggergaji.

Dengan pengerahan tenaga lweekang-nya, dia berhasil membuat kawat itu putus! Loan Eng girang sekali dan bekerja terus. Tak lama kemudian, ia telah dapat membikin putus beberapa helai kawat jala dan kini ia akan mudah saja dapat menerobos keluar dari jala yang sudah bocor itu. Akan tetapi dia tidak mau keluar, bahkan memegangi bagian jala yang sudah rantas, karena ia mendengar suara orang mendatangi.

Muncullah dari pintu depan dengan seorang anggota gerombolan yang tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, aku dapat menangkap seekor ikan duyung!” serunya girang. “Aduh cantiknya! Manis, kalau kau berjanji mau menjadi biniku, segera aku akan melepaskan kau dari jala itu. Ha-ha-ha!”

Akan tetapi mendadak dia menjadi pucat dan selanjutnya dia takkan dapat tertawa atau menangis lagi karena pada saat dia tertawa tadi, Loan Eng sudah menerobos keluar dan sekali pedangnya berkelebat, tubuh anggota gerombolan ini sudah putus menjadi dua pada bagian pinggangnya!

Dengan marah sekali Loan Eng lantas menendang pintu dalam kamar itu yang menjadi pecah dan terbuka. Di situ ia melihat pemandangan yang bikin alisnya terangkat naik dan giginya digigitkan.

Ternyata di balik pintu itu adalah sebuah ruangan yang cukup luas dan di seberang sana dia melihat seorang wanita yang pakaiannya cobak-cabik sedang di seret-seret oleh Sin Houw, kepala perampok ke dua. Wanita itu masih muda sekali, mukanya pucat dan air matanya mengalir membasahi pipinya. Rambutnya yang hitam panjang itu terurai dan kini dijambak oleh Sin Houw yang menyeretnya ke arah lain.

“Jahanam keparat!” Loan Eng memaki dan cepat ia berlari mengejar.

Akan tetapi, celaka sekali baginya! Tak tahunya bahwa Sin Houw sengaja berlaku kejam kepada wanita itu, yakni seorang di antara banyak wanita yang diculik oleh gerombolan, hanya dengan maksud agar Loan Eng menjadi marah, menjadi kurang hati-hati dan terus mengejarnya.

Pada waktu pendekar wanita ini berlari mengejar sampai di tengah-tengah ruangan itu, tiba-tiba saja permadani yang diinjaknya menyeplos ke bawah! Di situ tidak ada lantainya sama sekali dan merupakan lobang yang bentuknya segi empat, besarnya ada sepuluh kaki dan dalam sekali, hanya luarnya ditutupi dengan permadani tebal. Tentu saja kalau diinjak lalu nyeplos ke bawah berikut permadaninya!

Bukan main kagetnya hati Loan Eng, bukan karena kejatuhan itu, melainkan karena yang menerima tubuhnya di bawah adalah air yang dingin! Ia masih berusaha berpegang pada permadani yang tebal dan lebar itu, akan tetapi permadani itu berat sekali dan sesudah terkena air, terus saja tenggelam!

Loan Eng terpaksa cepat-cepat melepaskan pegangannya dan merasa betapa tubuhnya akan tenggelam terus. Bukan main dalamnya sumur yang lebar sekali ini, sedangkan dia tidak pandai berenang!

Pada saat itu air bergolak dan permadani yang tadinya sudah tenggelam, kini tersembul kembali dengan cepatnya. Air muncrat tinggi dan pucatlah muka Loan Eng ketika melihat ujung ekor ikan yang besar!

Ternyata bahwa di dalam sumur lebar itu hidup seekor ikan yang besar dan tadi menjadi marah karena permadani itu tenggelam. Kini ikan itu mulai mengamuk dan menyerang permadani tadi. Terdengarlah suara kain robek dan sebentar saja permadani itu sudah cobak-cabik.

Ketika Loan Eng merasa tubuhnya hampir tenggelam, pendekar wanita ini menendang-nendangkan kedua kakinya ke bawah sehingga dia bisa mumbul kembali. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaganya menusuk dinding sumur dengan pedangnya yang tidak pernah lepas dari tangannya. Biar pun dinding sumur itu berbatu dan keras, namun pedang Loan Eng dengan mudah menancap sampai setengahnya.

Kini nyonya muda itu mempunyai pegangan, yakni gagang pedangnya dan karena tubuh di dalam air menjadi ringan sekali, maka ia dapat mengambang sambil berpegang pada pedangnya. Akan tetapi, setelah bahaya tenggelam tertolong, kini datang bahaya yang lebih hebat lagi, yaitu ikan itu!

Beberapa kali kepala ikan tersembul dan ngeri sekali hati Loan Eng melihatnya. Ikan itu di depan mulutnya memiliki sebatang senjata runcing seperti tombak dan tahulah Loan Eng bahwa itu ikan cucut yang jahat dan suka makan orang!

“Celaka,” pikirnya dengan hati berdebar.

Apa bila dia berada di darat, biar pun ada sepuluh ekor binatang macam ini, dia takkan merasa jeri. Akan tetapi, karena dia tidak berdaya dan di dalam air kepandaiannya tiada gunanya lagi, tentu saja bahaya yang kini dia hadapi adalah bahaya maut yang sukar dielakkan lagi.

“Betapa pun juga, aku harus dapat melawannya,” pikir Loan Eng dengan gemas.

Cepat-cepat nyonya muda ini mengerahkan tenaga lweekang-nya dan dengan tangan kiri berpegang pada gagang pedang, jari-jari tangan kanannya ditusukkan kepada dinding sumur. Hebat juga tenaga lweekang nyonya ini karena biar pun ia merasa ujung jari-jari tangannya sakit, namun dia berhasil mencengkeram dinding itu dan membuat lobang di mana ia bisa memegang atau menjadikan sebagai tempat tangannya berpegang pada lekukan lobang. Lalu ia cepat mencabut pedang dengan tangan kanan karena ia melihat air berombak dan ikan itu muncul lagi!

Bukan main dahsyatnya ikan itu. Panjangnya ada empat kaki dan kini ia menjadi marah sekali. Ketika ia melihat seorang manusia terapung, ia lalu menyerang dengan tombak di depan mulutnya dengan kecepatan luar biasa!

Loan Eng sudah bersiap sedia. Segera ia menggerakkan pedangnya menangkis tombak itu. Ia merasa seluruh lengannya kaku tergetar saking kuatnya ikan itu menyerang. Akan tetapi dia tidak menyangka bahwa ikan itu benar-benar cerdik, karena berbareng dengan memutarnya tubuhnya karena tangkisan tadi, ekornya menyabet ke depan!

Sebetulnya bagi Loan Eng serangan ini tidak hebat sekali, yang celaka adalah air yang muncrat ke arah mukanya sehingga dia sukar membuka mata! Akan tetapi nyonya ini masih sempat menggerakkan pedang, diputar di depannya dan ketika ekor itu menyabet, terlukalah tubuh ikan itu oleh ujung pedang yang runcing tajam.

Akan tetapi, berbareng dengan tubuh ikan yang meronta kesakitan, terdengar suara kain yang memberebet dan pecahlah ujung lengan baju Loan Eng terkena sambaran ekor ikan. Hebat sekali karena ujung lengan baju itu membelit pada ekor sehingga ketika ikan itu meluncur pergi, terdengar suara kain terobek dan tahu-tahu semua pakaian Loan Eng bagian atas sudah robek!

Pendekar wanita ini bingung sekali. Bajunya terlepas dan terobek dari tubuhnya, terbawa oleh ikan itu sehingga bagian atas tubuhnya hanya tertutup dengan pakaian dalam yang sempit dan tipis sehingga dia kini dalam keadaan setengah telanjang.

“Bedebah! Kau harus mampus!” seru Loan Eng dengan marah sekali.

Akan tetapi berbareng ia pun menjadi merah mukanya saking malu dan jengah. Andai kata ia tertolong dan dapat keluar dari sumur ini, bagaimana ia berani bertemu dengan orang?

Ikan itu kini tidak berani menyerang, tubuhnya berputar-putar karena ekornya terasa sakit sekali. Air sumur itu mulai menjadi kemerahan karena darahnya dan Loan Eng hampir menjadi pingsan oleh bau amis yang memuakkan perutnya.

Dia mengincar dan bersiap-siap. Ketika ikan itu berenang berputaran dan berada dekat dengan dia, cepat sekali pedangnya dia gerakkan ke arah perut, menusuk kuat-kuat lalu menggerakkan pedang ke belakang tubuh ikan sehingga perut itu terbelah! Ikan itu lalu meronta-ronta hebat sekali, air muncrat sehingga tubuh Loan Eng bergerak-gerak karena gelombang air. Akan tetapi hanya sebentar saja karena perut ikan itu sudah terbuka dan isi perutnya berhamburan keluar. Matilah binantang itu.

Akan tetapi, air menjadi semakin merah dan bau amis tak tertahankan lagi. Ia mengeluh dan pegangannya pada lobang di dinding sumur makin mengendur. Ia masih ingat untuk menancapkan pedang pada dinding sekuatnya dan kini ia dapat berpegang pada gagang pedang lagi. Demikianlah, pendekar wanita ini bergantung pada gagang pedang dalam keadaan setengah pingsan. Dia mulai putus asa karena tidak melihat jalan keluar sama sekali. Tubuhnya terasa kedinginan, karena dalam keadaan setengah telanjang itu, air yang dingin bagaikan menyusup ke dalam tulang-tulangnya.

Pada saat yang sangat berbahaya ini, tiba-tiba dari atas sumur terayun sehelai tambang dan terdengar suara orang.

"He, kawan yang berada di bawah. Lekas berpegang pada tambang!”

Pikiran Loan Eng sudah nanar dan pening. Ia tidak teringat akan apa-apa lagi, tidak ingat akan keadaan tubuhnya yang setengah telanjang. Melihat tambang terayun di dekatnya, ia cepat menyambar, mencabut pedangnya dan bergantung pada tambang itu. Bau amis membuat dia muak dan lemah sehingga tak kuasa lagi untuk merayap melalui tambang.

Perlahan-lahan tambang itu ditarik orang ke atas dan setibanya di lantai dalam ruang di mana dia tadi terjeblos, Loan Eng yang sudah pening sekali masih sempat melihat wajah seorang pemuda yang tampan. Ia berusaha mempertahankan rasa muaknya, akan tetapi tak tertahankan lagi dan ia muntah-muntah lalu tak sadarkan diri.

Akan tetapi tidak lama ia jatuh pingsan. Ketika kembali membuka mata, dia cepat-cepat melompat dan pada saat dia melompat itu, terbukalah sehelai baju panjang yang tadinya menutupi bagian atas tubuhnya. Dengan terkejut Loan Eng melihat betapa bagian atas tubuhnya itu setengah telanjang! Bukan main kagetnya dan cepat-cepat dia menyambar baju panjang itu dan dikerobongkan pada tubuhnya kembali. Ia menengok dan melihat seorang lelaki berdiri tak jauh dari situ sambil memandangnya dengan senyum!

“Loan Eng, baiknya kau lekas sadar kembali. Aku sudah khawatir karena mereka masih mengancam keselamatan kita.”

“Ohhh...” Loan Eng terkejut sekali dan mukanya menjadi merah seperti kepiting di rebus. “Kau… Ong Kiat...? Bagaimana kau bisa berada di sini...?”

Orang muda itu tersenyum lagi, wajahnya tampan dan bagi Loan Eng, tak ada perubahan pada wajah yang dikenalnya baik-baik semenjak masa kanak-kanak itu.

“Tiada waktu bicara sekarang, Loan Eng. Lekas kau pakailah pakaian kering ini dan kita bersiap-siap menghadapi mereka!” Sambil berkata demikian, Ong Kiat lalu melemparkan segulung pakaian wanita kepada Loan Eng, lalu membalikkan tubuhnya, membelakangi Loan Eng.

Makin merah muka Loan Eng. Kalau bukan Ong Kiat yang sudah dipercaya penuh, dia tidak sudi berganti pakaian di dekat orang laki-laki, sungguh pun laki-laki itu telah berdiri membelakanginya. Akan tetapi dia harus berganti pakaian, karena kalau nanti bertempur melawan gerombolan, bagaimana ia dapat bergerak dengan baju panjang mengerobongi tubuhnya yang setengah telanjang itu? Cepat-cepat ia membuka semua pakaiannya dan apa bila pada waktu itu ada perlombaan berganti pakaian, pasti Loan Eng akan menjadi juaranya. Demikian cepatnya ia berganti pakaian!

“Jadi kaukah orang yang menolongku dari sumur tadi?” tanyanya perlahan.

“Tiada harganya untuk disebut-sebut, Loan Eng. Kau tahu bahwa aku selalu siap sedia untuk membelamu dengan taruhan nyawa sekali pun!”

Berdebar jantung janda muda itu. Dia memeras rambutnya, lalu di gelungnya.

“Punyamukah jubah panjang ini, Ong Kiat?”

“Ya, aku melihat kau... kau kedinginan, maka aku kerobongkan baju luarku.”

Dengan muka terasa panas biar pun masih basah oleh air, Loan Eng mengerling ke arah punggung orang muda itu. “Dan… kau... kau melihat...”

“Apa, Loan Eng?”

“...tidak apa-apa! Aku sudah selesai berpakaian, Ong Kiat!”

Orang muda itu memutar tubuhnya dan mereka saling pandang.

“Ahh, kau tidak berubah, Loan Eng. Masih seperti dulu.”

“Siapa bilang tidak berubah? Aku sekarang sudah tua.”

“Kau keliru! Setiap orang pasti akan mengatakan bahwa kau tidak ada ubahnya seorang gadis berusia tujuh belas tahun saja. Sungguh, kau tidak berubah, Loan Eng.”

“Kau pun tidak berubah, Ong Kiat, yakni... watakmu, masih baik seperti dulu.”

“Jadi keadaan jasmaniku berubah dalam pandanganmu?”

“Hanya pakaianmu!”

Ong Kiat tertawa dan biar pun usianya sudah hampir tiga puluh tahun, ketika tertawa dia nampak masih muda sekali.

“Memang aku telah menjadi piauwsu (pengantar dan pengawal barang kiriman) dan aku tinggal di kota Hak-keng, tidak jauh dari sini.”

Percakapan mereka terhenti karena terdengar suara orang dan dan tindakan kaki.

“Akan kubasmi semua gerombolan anjing itu!” kata Loan Eng perlahan dan tanpa berjanji dulu, kedua orang ini lalu melompat menerjang ke arah pintu, keluar dari ruangan itu.

Alangkah kagetnya Sin Sai dan Sin Houw yang memimpin orang-orangnya ketika melihat dua orang itu. Mereka tidak mengira bahwa Loan Eng sudah dapat keluar dari sumur itu. Namun Loan Eng dan Ong Kiat tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka untuk berheran-heran lebih lama lagi karena Loan Eng sudah lantas menggerakkan pedangnya dan menerjang dengan hebat sekali. Juga Ong Kiat telah menerjang dengan goloknya yang terkenal karena dia adalah anak murid Thian-san-pai yang berkepandaian tinggi.

Hebat sekali sepak terjang dua orang muda yang marah ini. Terutama sekali Loan Eng. Pendekar wanita ini mengarahkan serangannya khusus kepada Sin Sai dan Sin Houw yang mengeroyoknya, sedangkan Ong Kiat dengan enaknya membabati para anak buah gerombolan yang segera roboh sambil menjerit kesakitan.

Hanya dalam waktu tiga puluh jurus saja, berturut-turut Sin Sai dan Sin Houw roboh dan tewas di ujung pedang Loan Eng. Kemudian berdua Ong Kiat ia membasmi semua anak buah gerombolan. Tak seorang pun dapat melarikan diri.

Ong Kiat lalu mengajak Loan Eng menyerbu ke dalam gedung itu. Mereka membebaskan orang-orang wanita yang tadinya diculik oleh gerombolan itu dan jumlah mereka semua adalah sembilan orang, penduduk dusun-dusun dan juga ada dua orang berasal dari kota Hak-keng.

Ong Kiat segera mengumpulkan barang-barang kawalannya yang tadinya dirampok oleh gerombolan itu. Ia tak mau mengambil lain barang berharga untuk keperluannya sendiri, bahkan lalu membagi-bagikan barang-barang lainnya kepada sembilan orang wanita itu yang berlutut di depan Loan Eng dan Ong Kiat sambil menghaturkan terima kasih.

Mereka membakar gedung sarang gerombolan itu, lalu kedua orang gagah ini mengantar sembilan orang wanita itu menuju Hak-keng. Kiranya tidak perlu diceritakan betapa dua orang muda pendekar ini disambut dengan penuh kegembiraan dan rasa terima kasih oleh keluarga para korban itu. Terutama sekali Ong Kiat yang memang sudah terkenal di kota Hak-keng sebagai seorang pendekar yang budiman, mendapat sambutan hangat, bahkan kepala daerah di Hak-keng memberi gelar Hak-keng Taihiap kepadanya.

Kemudian, di ruang tamu di rumah Ong Kiat, dua orang pendekar itu duduk menghadap arak. Loan Eng merasa terharu melihat betapa keadaan rumah bekas kawannya ini sunyi saja, hanya ada dua orang pelayan wanita tua yang mengurus rumah tangga.

“Ong Kiat, di mana orang tuamu?”

Ong Kiat menarik napas panjang. “Mereka sudah meninggal dunia ketika wabah penyakit mengamuk di kota ini.”

“Dan kau hidup sebatang kara?”

Ong Kiat mengangguk.

“Apakah kau tidak… tidak beristri?”

Mendengar pertanyaan ini, seketika merahlah wajah Ong Kiat dan dia menjawab agak kasar, “Loan Eng, kau kira aku laki-laki macam apakah? Selama hidup, aku tidak akan melanggar sumpahku!”

Kini Loan Eng menghela napas sambil menundukkan mukanya. Ia masih ingat baik-baik akan sumpah Ong Kiat, bahwa pemuda ini tidak akan menikah dengan lain orang wanita kecuali dengan Thio Loan Eng yang sudah di jodohkan oleh orang tuanya kepada Bun Liok Si!

“Loan Eng, kau baik-baik saja selama ini? Bahagiakah hidupmu?”

“Ahh, Ong Kiat. Kau tidak tahu. Aku adalah seorang yang paling berdosa, seorang istri yang tidak baik. Aku... aku telah membunuh suamiku sendiri.”

Akan tetapi Ong Kiat tidak heran mendengar ini. “Aku sudah tahu, Loan Eng. Aku sudah mendengar tentang semua keadaanmu.” Kemudian untuk menggembirakan suasana, dia bertanya. “Ahh, ya, bagaimana dengan puterimu? Sudah besarkah?”

Berseri wajah Loan Eng. “Kalau tidak ada puteriku, agaknya aku takkan ada di dunia ini.” Setelah berhenti sebentar, Loan Eng lalu mengubah percakapan yang tak enak itu. “Ong Kiat, bagaimana kau bisa berada di sarang gerombolan itu dan kebetulan sekali dapat menolongku keluar dari dalam sumur?”

Ong Kiat lalu bercerita. Telah beberapa tahun dia menjadi piauwsu dan karena gagahnya dan jujurnya, maka dia dipercaya penuh oleh banyak pedagang dan bangsawan. Pada suatu hari, pembantu-pembantunya mengantarkan barang-barang berharga dari seorang bangsawan dan barang-barang itu harus diantarkan ke kota raja. Pada waktu itu, Ong Kiat tidak berada di Hak-keng karena piauwsu muda ini sedang mengantarkan sebuah keluarga yang melakukan perjalanan jauh. Ketika dia datang di Hak-keng kembali, dia mendengar bahwa barang kiriman itu dirampok oleh gerombolan di dalam hutan itu.

Marahlah Ong Kiat dan seorang diri saja dia kemudian membawa goloknya melakukan penyelidikan. Melihat gerombolan itu terdiri dari dua puluh orang lebih, ia lalu melakukan pembakaran di bagian belakang gedung itu, tidak tahu bahwa Loan Eng sudah menyerbu masuk ke dalam. Ong Kiat maklum akan kelihaian gerombolan ini, karena dia pun tahu bahwa bekas kelenteng ini memang mempunyai banyak bagian-bagian rahasia.

Dia lantas merobohkan beberapa orang anggota gerombolan dan menyerbu ke dalam. Ia datang pada saat yang tepat karena dia melihat empat orang gerombolan mengintai dari pintu sebuah ruangan besar, di mana terdapat sumur rahasia itu. Dia dapat merobohkan dua orang anggota gerombolan dan yang dua lagi lari keluar.

Maka waktu kedatangannya tepat sekali dan dia masih sempat menolong Loan Eng dari bahaya maut. Ia tadinya tidak tahu bahwa orang yang terjebak adalah Loan Eng, wanita satu-satunya di dunia ini yang menjadi pujaan kalbunya.

Melihat keadaan Loan Eng cepat Ong Kiat mengerobongi tubuh wanita yang dikasihinya ini dengan baju luarnya, kemudian dia menyerbu ke dalam kamar belakang dan meminta sesetel pakaian dari seorang wanita tawanan untuk diberikan kepada Loan Eng setelah pendekar manita ini siuman kembali.

Mendengar penuturan Ong Kiat ini, Loan Eng lalu berkata kagum, “Tak kusangka bahwa kepandaianmu telah maju demikian hebatnya, Ong Kiat.”

“Ahh, mana bisa dibandingkan dengan ilmu pedangmu?” jawab Ong Kiat merendah, lalu dengan wajah bersungguh-sungguh ia berkata, “Loan Eng, setelah kau sekarang menjadi janda, hanya hidup berdua saja dengan puterimu, kiranya adakah harapan bagiku untuk membantumu mendidik puterimu itu? Aku akan menganggap dia sebagai anakku sendiri, Loan Eng.” Sambil berkata demikian, dia menatap wajah bekas kawannya itu dengan penuh harapan.

Loan Eng tertegun dan menundukkan mukanya yang menjadi merah! Terus terang saja, dahulu sebelum dijodohkan dengan Bun Liok Si, diam-diam ia juga merasa suka kepada Ong Kiat, kawan mainnya semenjak ia kecil. Setelah mulai dewasa rasa suka ini menjadi perasaan cinta kasih yang terpendam.

Akan tetapi, setelah menjadi istri Bun Liok Si, perasaan terhadap Ong Kiat ini diusirnya jauh-jauh, dan tidak pernah dipikirkannya lagi. Sebagai seorang istri, ia harus mencinta suaminya dan harus bersetia lahir dan batin! Biar pun suaminya telah meninggal dunia, namun andai kata ia tidak bertemu Ong Kiat, agaknya selama hidupnya ia pun tidak akan mengingat lagi kepada bekas kawan itu.

Akan tetapi, nasib agaknya menghendaki lain, karena dalam keadaan yang sangat tidak tersangka-sangka, ia bertemu dengan pemuda ini. Dan lebih hebat lagi, ternyata bahwa Ong Kiat masih tetap setia dan tidak mau menikah dengan wanita lain, bahkan sekarang mengajukan pinangan kepadanya! Dapat dibayangkan betapa gelisah serta bingungnya hati Loan Eng menghadapi pinangan pemuda ini.

Ia maklum akan kemuliaan hati dan kebaikan watak Ong Kiat, dan ia berani memastikan bahwa andai kata ia meneriman pinangan ini, ia akan dapat hidup beruntung. Dan juga puterinya, Sui Ceng, pasti akan menemukan seorang ayah tiri yang jauh lebih baik adat wataknya dari pada ayahnya sendiri yang sudah meninggal! Akan tetapi... hatinya masih terasa berat untuk menerima pinangan ini. Memang, pada masa itu di Tiongkok, adalah merupakan suatu hal yang langka dan tidak mungkin bagi seorang janda, apa lagi sudah mempunyai anak, untuk bisa menikah lagi.

Melihat sampai sekian lamanya Loan Eng tidak menjawab dan menunduk saja dengan muka sebentar merah sebentar pucat, Ong Kiat lalu bertanya dengan nada mendesak. “Loan Eng, bagaimana jawabmu? Apakah masih juga aku tidak mempunyai harapan?”

Loan Eng mengangkat mukanya memandang dan Ong Kiat melihat betapa sepasang mata yang bening itu menjadi basah.

“Ong Kiat, bagaimana aku harus menjawabmu? Aku tidak ingin menyakitimu, tidak ingin mengecewakanmu, kau begitu baik... Sedangkan aku...”

“Hushh Loan Eng, jangan ucapkan kata-kata seperti itu. Aku bukan seorang anak-anak lagi. Marilah kita bicara dengan tenang, tidak baik kalau orang-orang yang sudah banyak menderita seperti kita ini masih dapat dikuasai oleh nafsu.”

Mendengar ucapan ini, legalah Loan Eng. Ia mengangkat mukanya lagi dan sekarang ia memandang dengan berani. Pandangan matanya penuh kekaguman.

“Loan Eng, aku dapat menduga isi hatimu. Kau tentu suka sekali menerima pinanganku, akan tetapi kau merasa tidak enak, sebagai seorang janda muda menikah lagi, bukan?”

Loan Eng mengangguk, “Bukan cuma itu saja, Ong Kiat. Aku sudah membunuh suamiku sendiri karena dia menyeleweng, karena cemburu. Apa bila sekarang aku menikah lagi dengan kau, apakah orang lain tidak akan mengatakan bahwa aku sengaja membunuh suamiku untuk dapat menikah lagi dengan orang lain?”

Ong Kiat mengerutkan keningnya. Beralasan juga kata-kata wanita yang dicintainya ini. “Akan tetapi, Loan Eng. Dalam hal pembentukan rumah tangga, suara orang luar selalu hanya mendatangkan kerusakan belaka. Apa sangkut pautnya orang lain dengan kita? Pula, hendak kulihat siapa orang-orangnya yang berani mencacimu? Pendeknya begini, Loan Eng. Kau pulanglah dan pikirkanlah masak-masak. Aku tak terburu-buru dan masih tetap bersabar, karena sudah bertahun-tahun aku menanti, bahkan aku telah mengambil keputusan tak akan menikah dengan orang lain. Masa aku tidak dapat bersabar menanti sampai kau dapat mengambil keputusan? Ingatlah selalu, bahwa di Hak-keng, aku selalu menanti kedatanganmu dan anakmu.”

Demikianlah, Loan Eng lalu pulang ke Tun-hang dengan berat hati dan ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Dan dalam perjalanan pulang inilah ia bertemu dan menolong Lu Kwan Cu dari tangan Tauw-cai-houw sebagaimana sudah dituturkan pada bagian depan.

Kemudian terjadilah peristiwa penculikan Sui Ceng oleh para anak buah suaminya, yakni anggota-anggota Sin-to-pang. Melihat keadaan ini, hati Loan Eng merasa ngeri. Dia takut kalau-kalau puterinya yang hanya satu-satunya dan sangat dikasihinya itu benar-benar akan menjadi ketua dari Sin-to-pang! Karena itu ia kemudian membawa pergi puterinya, meninggalkan Lu Kwan Cu.

Ke manakah perginya Loan Eng dan Sui Ceng. Mudah diduga. Ke mana lagi kalau tidak ke Hak-keng, ke tempat tinggal Ong Kiat, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi harapan Loan Eng. Bukan demi rasa cintanya kepada Ong Kiat maka ia datang kepada piauwsu muda itu, melainkan karena ia bingung bagaimana harus mendidik Sui Ceng tanpa ayah. Ia tahu bahwa di samping Ong Kiat, ia akan merasa kuat dan tabah, dan Sui Ceng akan mendapatkan rumah tangga yang kokoh kuat dan berbahagia.

Ong Kiat menerima mereka dengan gembira bukan main. Pernikahan lalu dilangsungkan secara amat sederhana. Ong Kiat cuma mengundang teman-teman dan kenalan-kenalan yang dekat, dan upacara pernikahan hanya cukup dengan sembahyang dan disaksikan oleh para tamu. Akan tetapi, dalam upacara ini, terjadilah hal yang sangat hebat sekali.

Selagi para tamu bergembira-ria minum arak dan makan hidangan, sedangkan Loan Eng telah kembali ke kamarnya, tiba-tiba dari luar datang seorang tokouw (pendekar wanita) yang tua akan tetapi berwajah kereng sekali. Pendeta wanita ini memegang sebatang cambuk berbulu sembilan. Dia bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li, tokoh besar ke dua dari selatan!

Pada saat itu Loan Eng tengah memeluk puterinya sambil menangis terisak-isak. Selama dilakukan upacara pernikahan, Sui Ceng marah-marah dan menangis saja. Anak ini tidak mau keluar dari kamar.

“Ibu, kau terlalu! Mengapa menikah dengan Paman Ong Kiat?” demikian berkali-kali anak kecil ini menegur ibunya dengan muka cemberut.

“Ssttt, anakku. Bukankah paman Ong sangat baik? Dia akan menjadi ayahmu yang baik sekali.”

“Ahh, aku tidak suka, Ibu. Ayahku ketua dari Sin-to-pang, baik mati atau hidup dia tetap ayahku!”

Mendengar ucapan ini, Loan Eng memeluk puterinya dan menangis. Ia tidak tahu harus berbuat dan berkata bagaimana. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di bagian luar.

Suaminya masih melayani tamu di depan, maka mendengar suara ribut-ribut itu, Loan Eng cepat-cepat melepaskan penutup kepalanya, dan memang ia berpakaian sederhana. Kemudian dia segera bertindak keluar, meninggalkan puterinya yang masih berbaring menangis di atas tempat tidur.

Ketika Loan Eng tiba di luar, ia terkejut sekali. Ia melihat seorang tokouw dikelilingi oleh banyak tamu dan suaminya menghadapi tokouw itu dengan marah-marah.

“Suthai, kau terlalu sekali! Bagaimana kau bisa minta begitu saja anak orang. Harap kau jangan mengganggu kami, Suthai. Kesalahan apakah yang telah kami lakukan sehingga kau datang-datang hendak mengacau?”

Mendengar ucapan suaminya, Loan Eng terkejut sekali dan ia berseru keras, “Ong Kiat, jangan kurang ajar...!”

Semua orang menjadi terkejut dan lebih-lebih heran mereka ketika melihat betapa Loan Eng lalu berlari dan sesudah tiba di hadapan tokouw itu, Loan Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depannya dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Teecu mengaku salah, harap Locianpwe sudi memberi maaf kepada teecu sekalian...,” katanya dengan suara amat menghormat.

Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan lenyaplah kekakuan pada mukanya.

“Hemm, Loang Eng, kau masih muda, tentu saja kau ingin berumah tangga lagi. Pinni datang bukan hendak mengganggu, hanya untuk meminta anakmu, karena bukankah dia hanya mengganggu kebahagianmu saja?”

Pada saat itu Sui Ceng sudah muncul pula, karena anak ini tadi mengejar ibunya. Melihat tokouw itu, Sui Ceng tertegun. Mengapa ibunya berlutut di depan tokouw aneh ini?

Sementara itu ketika melihat Sui Ceng, Kiu-bwe Coa-li lalu menggerakkan cambuknya. Dua helai bulu cambuknya itu melayang dan tahu-tahu sudah melibat tubuh Sui Ceng. Dengan sekali betot saja, tubuh anak itu sudah melayang ke arahnya dan diterima terus dipondong oleh pendeta wanita itu. Sui Ceng bersorak girang.

“Hebat, hebat! Kau lihai sekali, Suthai,” kata Sui Ceng.

Kiu-bwe Coa-li tertawa. “Mau kau turut aku belajar silat? Di sini kau hanya mengganggu ibumu yang sedang bersenang-senang!”

Sui Ceng memandang kepada ibunya yang masih berlutut, kemudian memandangi Ong Kiat yang berdiri di dekat situ, lalu dia memandang kembali kepada Kiu-bwe Coa-li dan menganggukkan kepalanya.

“Aku ingin belajar silat, karena aku adalah ketua dari Sin-to-pang. Aku harus lihai!”

“Bagus, hayo kau ikut aku pergi!” Sambil berkata demikian, Kiu-bwe Coa-li membawa Sui Ceng.

“Sui Ceng...!” Loan Eng mengeluh akan tetapi tidak berani mengejar.

Tokouw itu menengok dan berkata dengan suara kereng, “Loan Eng, apa kau tidak rela memberikan anakmu sebagai muridku?”

“Bukan tidak rela, hanya teecu berat berpisah dari dia...,” jawab ibu ini.

Kiu-bwe Coa-li tertawa mengejek. “Bukankah kau sudah mendapatkan suami baru? Dia yang akan menghiburmu dan kau akan lupa kepada anakmu!”

“Suthai, kau terlalu sekali!” Ong Kiat membentak. “Kembalikan Sui Ceng kepada kami!” Piauwsu muda ini lalu melompat mengejar dan menubruk, hendak marampas Sui Ceng.

“Ong Kiat, jangan…!” Loan Eng memberi peringatan, namun terlambat.

Begitu Kiu-bwe Coa-li menggerakkan tangannya, tubuh Ong Kiat terpental ke belakang bagaikan tertiup angin puyuh.

“Hemm, kalau tidak ingat kau seorang pengantin baru, tentu kau sudah menggeletak tak bernyawa pula!” berkata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tubuhnya, lenyaplah bayangan bersama Sui-Ceng.

Loan Eng menangis, dipeluk dan dihibur oleh suaminya yang masih saja terheran-heran bagaimana dia tadi sampai terpental ke belakang, karena dia tak dapat melihat tangkisan atau serangan wanita tua yang lihai itu.

“Sudahlah, Loan Eng. Tak perlu kita bersedih terus. Bukankah Sui Ceng berada dalam tangan orang sakti? Ia akan menerima latihan ilmu silat yang luar biasa. Guru-guruku sendiri di Thian-san tidak mungkin dapat menandingi kelihaian nenek tadi. Siapakah dia itu?”

Sesudah menyusut air matanya dan dapat menentramkan hatinya, Loan Eng berkata, ”Tidak tahukah kau siapa dia? Dia adalah Kiu-bwe Coa-li!”

“Ayaaa...! Pantas saja ia demikian lihai dan aneh. Baiknya ia masih tidak berlaku kejam padaku, kalau tidak demikian, bagaimana aku masih bisa hidup?” kata Ong Kiat.

“Dia telah beberapa kali menolongku dan aku percaya bahwa anakku tentu akan aman di dalam pendidikannya, akan tetapi, bagaimana aku bisa senang ditinggal oleh anakku?” Loan Eng mengeluh sedih.

Ong Kiat menghiburnya dengan penuh cinta kasih dan perhatian sehingga lambat laun dapat juga Loan Eng mengatasi kedukaannya.

Demikianlah keadaan dan pengalaman Loan Eng sehingga Kiu-bwe Coa-li dapat muncul memperebutkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng bersama Bun Sui Ceng yang kini telah menjadi muridnya. Sekarang baik kita mengikuti pengalaman dan perjalanan Lu Kwan Cu lebih lanjut.

*****

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Sambil melakukan perjalanan menuju ke Gunung Liang-san untuk mencari peninggalan buku-buku dari Gui Tin, Lu Kwan Cu mulai menerima pelajaran ilmu silat dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai Lu Sin.

Ang-bin Sin-kai melihat bakat yang amat baik dalam diri muridnya, maka dia tidak berlaku kepalang tanggung dalam melatih ilmu silat. Dia melatih bhesi dan gerakan kaki dengan amat cermat, sehingga dalam beberapa bulan, dia masih belum memberi pelajaran ilmu pukulan, melainkan ilmu pelajaran pasang kuda-kuda kaki dan mengatur tenaga dalam kedudukan badan.

Selain itu, dia memberi pelajaran cara bersiulian dan mengatur napas. Biar pun pelajaran ini menjemukan dan tidak menarik hati, akan tetapi Kwan Cu mempelajari dan melatih diri dengan amat tekun. Tubuhnya telah kehilangan tenaga lweekang yang dahulu dilatihnya menurut petunjuk kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu, maka boleh dibilang bahwa dia mulai melatih diri dari tingkat bawah lagi.

Akan tetapi, dalam hal latihan ginkang dan ilmu berlari cepat, Kwan Cu sungguh-sungguh mendapat kemajuan pesat sekali. Hal ini adalah karena perjalanan itu sendiri merupakan latihan yang terus menerus baginya. Tanpa memberi tahu kepada muridnya, makin lama Ang-bin Sin-kai semakin cepat menggerakkan kedua kakinya sehingga secara otomatis, ilmu lari cepat Kwan Cu maju pesat sekali.

Kadang kala, pada waktu melompati jurang-jurang kecil, kakek ini tidak membantu Kwan Cu ketika melompati jurang-jurang. Karena itu, makin lama semakin hebat dan semakin lebarlah jurang yang dapat dilompatinya.

Pada suatu hari mereka mengaso di dalam sebuah hutan. Ang-bin Sin-kai langsung tidur mendengkur sambil bersandar pada sebatang pohon besar. Kwan Cu berjalan di dalam hutan mencari bahan makan siang. Ia tahu bahwa suhu-nya doyan sekali makan daging kelinci panggang, maka dia mencari-cari binatang itu untuk ditangkapnya.

Setelah mencari beberapa lama, akhirnya dia melihat seekor kelinci gemuk yang sedang menggerak-gerakkan dua telinganya dengan lagak lucu sekali. Kelinci itu pun mendengar kedatangannya, dan cepat sekali binatang ini melompat ke dalam semak-semak. Kwan Cu mengejarnya sambil mengambil beberapa potong batu kecil. Di goyang-goyangnya rumpun di mana kelinci itu bersembunyi.

Binatang ini menjadi ketakutan dan melompat keluar lalu berlari cepat. Akan tetapi Kwan Cu lebih cepat gerakannya dan tangannya menyambar. Sebuah batu kecil meluncur ke arah binatang itu.

Kwan Cu merasa yakin bahwa sambitannya pasti akan mengenai sasaran, karena dia sudah mempelajari Pek-po Coan-yang (Ilmu Timpuk Tepat Dalam Jarak Seratus Kaki). Akan tetapi, ketika batu itu sudah menyambar dekat dengan tubuh kelinci, tiba-tiba dari lain jurusan menyambar sebutir batu bundar yang meluncur cepat sekali dan membentur batu yang disambitkan Kwan Cu.

Kwan Cu terkejut dan juga heran sekali. Ia menoleh ke sana ke mari namun tidak melihat orang. Kelinci itu sudah berlari pergi dan sebentar saja lenyap.

“Binatang yang begitu lucu mengapa harus dibunuh?” terdengar suara nyaring menegur.

Mendadak melompatlah bayangan seorang anak kecil keluar dari balik sebatang pohon besar. Ketika Kwan Cu memandang, ternyata bahwa anak itu adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai! Kun Beng keluar sambil tersenyum-senyum ramah dan wajahnya yang tampan tampak menarik sekali. Kwan Cu tidak menjadi marah kehilangan kelincinya.

“Maksudku bukan untuk membunuh, akan tetapi makan dagingnya,” bantahnya sambil tersenyum juga.

Kun Beng membelalakkan kedua matanya. “Apa bedanya? Bukankah makan dagingnya berarti membunuh juga?”

Dengan wajah sungguh-sungguh, Kwan Cu menggelengkan kepalanya. “Bedanya sangat jauh! Membunuh karena marah dan mata gelap, itu bodoh namanya. Membunuh untuk memuaskan hati dan memperlihatkan keunggulan, itu kejam namanya. Tapi membunuh untuk mengisi perut karena lapar, itu lain lagi, bukan membunuh lagi namanya!”

Kun Beng tertegun. “Ahh, lidahmu lemas sekali, Kawan. Ucapanmu itu benar-benar aku tidak mengerti maksudnya. Cara kau bicara seperti suhu saja, membingungkan. Bukan bicara anak-anak dan aku tak suka. Lebih baik kita main gundu, lebih menggembirakan.”

“Main gundu?” kini Kwan Cu yang terheran-heran.

Anak aneh, datang-datang dan bertemu di tengah hutan mengajak main gundu! Pula, dia tidak bisa main gundu. Kun Beng mengeluarkan kelereng yang dipegangnya. Semua ada tujuh butir, terbuat dari pada batu-batu hitam yang keras.

“Sebetulnya harus delapan butir, akan tetapi yang sebutir tadi kupakai menolong nyawa kelinci,” kata Kun Beng sambil tertawa. “Akan tetapi tidak mengapa, pakai tujuh butir pun sudah cukup.”

“Bagaimana cara memainkannya?” tanya Kwan Cu yang ikut pula berjongkok seperti Kun Beng.

“Kau lihatlah baik-baik! Yang enam butir kulemparkan di atas tanah dan berpencaran, kemudian dengan sebutir ini aku akan membidik sehingga berganti-ganti dapat mengenai enam butir kelerang itu.” Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu membidikkan sebutir kelereng dari jarak lima kaki.

Kelereng itu meluncur dari tangannya dan menggelinding, dengan jitu sekali mengenai kelereng pertama, terus mental kepada kelereng kedua, ketiga dan seterusnya sampai enam butir kelereng itu itu terkena benturan semua!

“Bagus!” kata Kwan Cu memuji, “Kau pandai sekali!”

“Nah, yang berhasil membenturkan kelereng jagonya sampai mengenai enam yang lain, boleh main terus. Kalau tidak kena, baru kau boleh dapat giliran.”

Demikianlah, dua orang anak-anak ini sambil berjongkok bermain gundu di tengah hutan! Akan tetapi karena tidak terlatih, tentu saja Kwan Cu selalu kalah.

“Kau benar-benar pandai. Siapa sih namamu?’

“Namaku The Kun Beng. Aku sudah tahu namamu, Lu Kwan Cu, bukan?”

Kwan Cu mengangguk. “Suhu-mu itu amat lihai dan terkenal. Suhu-ku sering kali memuji namanya. Dan suheng-mu yang galak itu, siapa namanya?’

“Suheng bernama Gouw Swi Kiat, meski pun galak akan tetapi hatinya baik dan dia lihai mainkan sepasang kipas.”

“Kau pun tentu lihai main kipas.”

Kun Beng menggelengkan kepalanya. “Aku lebih suka memainkan tombak dan pedang, terutama sekali tombak. Kau sendiri belajar apakah dari suhu-mu?”

Kwan Cu menggelengkan kepalanya yang gundul. “Tidak belajar apa-apa, hanya belajar gerakan kaki saja. Eh, Kun Beng, kau kenapa bisa berada di tempat ini? Mana suhu-mu dan suheng-mu?”

“Mereka masih di belakang. Aku mendahului mereka masuk ke dalam hutan. Aku paling senang berada di dalam hutan, dikelilingi oleh pohon-pohon besar dan daun-daun. Nah, itu dia suheng-ku datang.”

Benar saja, Swi Kiat muncul dan datang-datang ia menegur sute-nya.

“Sute, kau terlalu sekali. Suhu menyuruh aku mencarimu di mana-mana hingga kucari sampai berputaran di dalam hutan ini. Ehhh, bukankah ini Lu Kwan Cu, bocah yang mengacaukan urusan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng itu?” tanyanya sambil memandang tajam kepada Kwan Cu.

“Suheng, Kwan Cu kalah main kelereng denganku!” kata Kun Beng.

“Main kelereng? Ahh, kau seperti anak kecil saja. Mengapa tidak mengalahkan dalam dia main silat?”

“Kwan Cu belum belajar silat, Suheng. Bagaimana bisa minta dia untuk pibu (mengadu kepandaian silat)?”

“Dia bohong! Mana bisa murid Ang-bin Sin-kai tidak mengerti ilmu silat? Hm, orang yang suka menyembunyikan kepandaiannya, dia tentu memiliki hati curang dan licik. Ehh, Lu Kwan Cu, beranikah kau mengadu kepandaian dengan aku?” Gouw Swi Kiat menantang dengan sikap sombong.

“Berani sih tentu saja berani. Takut atau tidak berani hanya bersarang dalam hati orang yang bersalah, sedangkan aku tidak bersalah sesuatu terhadapmu. Akan tetapi, tentang mengadu kepandaian denganmu, apanya yang harus diadu? Aku tak punya kepandaian apa-apa,” jawab Kwan Cu sejujurnya.

Memang, semenjak suhu-nya mengeluarkan semua tenaga yang dipelajarinya dari kitab palsu, sekarang dia tidak mempunyai kepandaian silat sama sekali, kecuali ginkang dan lweekang yang masih dimiliki tanpa disadarinya.

“Mulutmu lemas sekali bagaikan perempuan! Kau hanya mempergunakan lidahmu untuk mencari alasan, padahal sesungguhnya kau takut padaku. Hayo bilang saja kau takut!” Swi Kiat membentak sambil mengejek.

“Aku tidak takut!” jawab Kwan Cu menggelengkan kepala.

“Bagus, kalau begitu marilah kita mengukur kepandaian!” Dan sebelum Kwan Cu sempat menjawab, Swi Kiat sudah menyerang dengan pukulan tangan kiri ke arah dada!

Walau pun belum menerima latihan ilmu pukulan dari suhu-nya, namun Kwan Cu sudah mempelajari cara pergerakan kaki serta kedudukan tubuh, maka dia memiliki kegesitan dan gerakan otomatis dari seorang ahli silat tinggi. Menghadapi pukulan ini, dia miringkan tubuh dan menarik kaki yang berada di depan sehingga pukulan itu mengenai angin! Swi Kiat menjadi penasaran dan menyerang bertubi-tubi!

Swi Kiat adalah murid pertama yang berbakat dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Tentu saja ilmu silatnya sudah baik dan tinggi. Seorang pria dewasa saja, dalam satu dua gebrakan tentu akan roboh olehnya. Usianya sebaya dengan Kwan Cu dan dalam hal ilmu silat, dia masih menang jauh. Karena itu, setelah dapat mengelak beberapa jurus, akhirnya kepala Kwan Cu yang gundul itu terkena pukulan tangan kiri Swi Kiat.

“Bukkk!”

Tubuh Kwan Cu berputaran saking kerasnya pukulan Swi Kiat. Untuk sejenak kepalanya terasa pening dan seolah-olah kepalanya terasa bengkak membesar. Akan tetapi hanya sebentar saja, karena di dalam darah Kwan Cu telah mengalir darah ular dan sari buah coa-ko, ditambah pula latihan lweekang yang tanpa disadarinya sudah mencapai tingkat tinggi juga.

“Suheng, jangan pukul dia! Dia betul-betul tidak mempunyai kepandaian silat!” Kwan Cu mendengar suara Kun Beng mencegah suheng-nya.

Akan tetapi sambil bertolak pinggang Swi Kiat berkata kepada Kwan Cu, “Hayo lekas kau mengaku kalah padaku!”

“Kita tidak berkelahi, bagaimana aku dapat mengaku kalah?” Kwan Cu berkata sambil menggelengkan kepalanya.

“Ehh, gilakah kau? Bukankah baru saja kau kuserang dan kepalamu terpukul?”

“Memang kau menyerangku, akan tetapi tidak berkelahi!”

“Suheng, dia benar! Dia sama sekali tidak membalas seranganmu, bagaimana disebut berkelahi?”

“Kalau begitu, sekarang aku akan memaksa dia supaya berkelahi dengan aku!” seru Swi Kiat yang segera menyerang pula. Akan tetapi, tiba-tiba Kun Beng melompat menangkis serangan suheng-nya itu.

“Ehh, Kun Beng. Apa kau sudah gila?”

“Tidak segila engkau, Suheng! Seorang gagah tidak akan menyerang orang yang tidak mau membalas!” jawab Kun Beng.

Swi Kiat ragu-ragu. Ia harus akui bahwa tingkat kepandaian sute-nya tidak kalah olehnya, kalau tidak mau dibilang lebih tinggi dan lebih maju. Pula, dia sayang kepada sute-nya ini dan tentu saja tidak mau cekcok dengan sute-nya hanya karena Kwan Cu, bocah gundul itu.

“Kau pergilah!” bentaknya kepada Kwan Cu yang memandang semua itu dengan mata yang bersinar-sinar.

Mendengar bentakan ini, sebetulnya kalau menurut wataknya yang keras dan tidak mau tunduk, Kwan Cu tidak mau mengambil perhatian. Akan tetapi Kun Beng berkata halus,

“Kwan Cu, lebih baik kau tinggalkan kami saja. Untuk apa mencari keributan?”

Kwan Cu mengangguk dan berjalanlah dia untuk kembali kepada suhu-nya. Di tengah jalan, dia berhasil menimpuk mati seekor kelinci dan dengan girang dibawanya kelinci itu kepada suhu-nya. Ia mendapatkan gurunya telah bangun dari tidurnya dan kini gurunya itu duduk bersandar pada pohon dan memandangnya.

“Suhu, teecu mendapatkan seekor kelinci!” kata anak itu girang.

Akan tetapi gurunya tidak ikut bergembira, bahkan menegurnya.

“Kwan Cu, kau membikin malu kepadaku! Kau hanya berani menyerang seekor kelinci, akan tetapi tidak berani membalas serangan seorang lawan yang menghinamu! Kenapa kau biarkan kepalamu yang gundul itu dijadikan permainan pukulan murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai. Bukankah itu amat memalukan dan merendahkan nama guru?”

Kwan Cu tertegun. Gurunya tadi masih tidur pulas di bawah pohon, bagaimana suhu-nya ini tahu akan peristiwa yang terjadi antara dia dan Swi Kiat?

“Suhu, teecu tidak berniat untuk berkelahi. Untuk apakah berkelahi dengan orang? Tidak ada alasan bagi teecu untuk membalas serangannya. Dan pula, bagaimana teecu dapat membalas? Dia lihai sekali.”

Merah muka Ang-bin Sin-kai yang memang sudah merah itu, “Murid goblok! Kalau tiada hujan tiada angin kau mengamuk dan memukul orang, itu memang tidak baik dan tidak beralasan. Akan tetapi kau dihina dan dipukul. Itu sudah merupakan alasan kuat sekali bagimu untuk balas memukulnya!”

“Akan tetapi, Suhu...”

“Tidak ada tapi! Lekas kau kembali dan membalas pukulannya!”

“Dia lihai, Suhu...”

“Ehh, kau takut?”

Mata bocah gundul itu bersinar penasaran, “Takut?! Siapa takut, Suhu? Biar kepada iblis sekali pun teecu tidak takut!”

“Kalau begitu, kau lekas kembali kepadanya. Tanya apakah dia masih mau memukulmu, kalau dia menyerang, balas!”

“Teecu belum pernah suhu ajari ilmu pukulan.”

“Untuk apa kedua tangan dan kakimu? Belajar atau tidak, memukul dan menendang tak bisa lain harus menggunakan kaki tangan. Dan kaki tanganmu masih ada, bukan?”

Kwan Cu mengaku kalah dan segera dia kembali mencari Swi Kiat! Di dalam hutan, dia melihat Swi Kiat dan Kun Beng sedang duduk di bawah pohon bersama gurunya, yakni Pak-lo-sian Siangkoan Hai!

Keder juga hati Kwan Cu melihat orang tua yang bertubuh pendek kecil itu, akan tetapi memang dia seorang anak yang tidak mengenal arti takut. Pendiriannya sungguh teguh, seteguh batu karang di pinggir laut, bahwa apa bila tidak bersalah dia tidak boleh takut kepada siapa pun juga!

“Ehh, Swi Kiat. Apakah kau masih juga mau memukulku seperti tadi?” tanyanya sambil menghampiri Swi Kiat yang memandangnya dengan mata terheran.

Juga Kun Beng merasa heran sekali sehingga tidak dapat lagi mengeluarkan kata-kata. Ada pun Siangkoan Hai memandang dengan mata penuh perhatian, lalu berkata, “Ahh, bukankah bocah gundul itu murid Gui Tin?”

“Teecu sekarang murid Ang-bin Sin-kai, Locianpwe,” Kwan Cu menjawab dengan suara tenang.

Siangkoan Hai tertawa bergelak. “Bersemangat juga anak ini. Ehh, Swi Kiat, dia datang menegurmu hendak apakah?”

“Tadinya teecu telah menghajar dia, agaknya dia masih kurang dan minta tambah lagi,” kata Swi Kiat sambil bangun berdiri, “Kwan Cu, apakah kau datang karena hendak minta digebuk kepalamu yang gundul itu lagi? Jangan kurang ajar, lekaslah pergi dari sini!”

“Aku datang hendak menyatakan bahwa kalau kau menyerangku, sekarang aku akan membalasmu!”

Swi Kiat tertawa geli, bahkan Kun Beng juga tertawa. Akan tetapi murid kedua dari Siangkoan Hai ini lalu berkata, “Kwan Cu, jangan berlaku bodoh. Kau bukan tandingan Suheng, untuk apa mencari penyakit?”

“Aku tidak ingin menyerangnya. Akan tetapi kalau dia berani memukulku, pasti kali ini aku akan membalasnya,” kata Kwan Cu masih tetap tenang.

“Kalau begitu aku akan memukulmu!” kata Swi Kiat sambil bersiap-siap menyerang Kwan Cu.

Sikap bocah gundul ini tidak seperti tadi, sekarang dia pun bersiap-siap dan memasang kuda-kuda.

Melihat sikap Kwan Cu ini, Pak-lo-sian tertawa bergelak. “Ehh, bocah gundul, apakah kau benar-benar murid Ang-bin Sin-kai? Apa bila benar kau murid Ang-bin Sin-kai, kau biasa mempelajari ilmu senjata apa sajakah?”

Kini Kwan Cu mengerti bahwa tinggi rendahnya nama suhu-nya tergantung dari sikap dan sepak terjangnya, maka kini dia hendak menebus kesalahannya yang tadi membuat malu nama gurunya. Ia melihat sebatang ranting pohon di depan kakinya, maka ranting itu dipungutnya dan dia menjawab, “Apa pun juga yang berada di tangan suhu, menjadi senjatanya yang ampuh. Kalau Lociapwe bertanya tentang senjata, pada waktu ini teecu memegang ranting dan inilah pula senjataku!”

“Bagus! Eh, Kun Beng kau lawan bocah gundul ini. Kau pun boleh menggunakan ranting pohon!”

Kun Beng tertegun, akan tetapi dia pikir bagi Kwan Cu lebih baik melawan dia dari pada menghadapi suheng-nya, “Kwan Cu, sekarang kita mengukur kepandaian, jika kau roboh berarti kau kalah!”

“Sesukamulah!” kata Kwan Cu karena baginya, bertanding dengan siapa pun sama juga, asal dia sudah dapat menebus nama baik suhu-nya dengan melawan. “Siapa saja yang memukul dan menyerangku, tentu kubalas.”

Kun Beng menggerakkan rantingnya seperti kalau dia bermain tombak. Memang sejak kecil Kun Beng lebih suka mempelajari ilmu tombak, dan berbeda dengan suheng-nya, dia mewarisi ilmu tombak dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

“Awas senjata!” serunya.

Kwan Cu bingung sekali melihat betapa setelah ranting itu digerakkan oleh tangan Kun Beng, ujung ranting seolah-olah berubah menjadi banyak sekali yang semuanya serentak menyerang tubuhnya dengan hebat! Dia kemudian menggerakkan rantingnya menangkis sejadi-jadinya, namun karena tenaga lweekang-nya memang sudah boleh juga, dia pun berhasil menyampok ranting di tangan Kun Beng.

Akan tetapi, ilmu tombak yang dipelajari oleh Kun Beng termasuk ilmu silat tinggi yang jarang bandingannya. Sebab itu, begitu terkena tangkisan, ranting itu meluncur turun dan tanpa dapat dicegah lagi, kaki Kwan Cu kena dikait dan terjungkallah bocah gundul itu!

“Ha-ha-ha! Pukul kepalanya yang gundul, Sute, biar dia tahu rasa!” kata Swi Kiat tertawa gembira.

Sebaliknya, Siangkoan Hai lantas melongo. Bagaimana Ang-bin Sin-kai dapat mengambil seorang murid yang begini tolol? Dia akui bahwa memang si gundul ini bertulang baik, akan tetapi agaknya otaknya tidak genap!

Watak Kwan Cu memang bandel dan juga tubuhnya sudah kuat sekali. Begitu terjungkal dia segera bangun lagi dan siap sedia bertempur lagi.

“Ehh, Kwan Cu. Kau sudah kalah, mengakulah,” kata Kun Beng. Murid kedua Siangkoan Hai ini memang memiliki perasaan yang halus dan dia tidak tega untuk melawan Kwan Cu lagi yang terang-terangan tidak mempunyai kepandaian silat.

“Menyerah kalah tak mungkin. Tapi kalau kau menyerang lagi, aku tetap akan melawan!” Kwan Cu membandel.

Kun Beng tidak mau menyerang lagi, bahkan melempar rantingnya ke atas tanah. “Suhu, dia tidak bisa ilmu silat, bagaimana teecu dapat melawannya?”

Tiba-tiba Swi Kiat melompat maju. “Anak ini memang bandel sekali dan dia tidak akan tahu kelihaian ilmu Suhu kalau belum diberi hajaran. Ehh, Kwan Cu, apakah kau berani menghadapiku?”

“Mengapa tidak berani?” jawab Kwan Cu tenang.

“Kau boleh menggunakan rantingmu, biarlah aku menyerangmu dengan tangan kosong!” kata Swi Kiat.

“Aku bukan pengecut yang menghadapi orang bertangan kosong dengan senjata,” Kwan Cu juga membuang rantingnya.

Diam-diam Siangkoan Hai memuji. “Hemm, anak gundul ini benar-benar mempunyai sifat gagah, sayang sekali otaknya agak miring. Mana bisa dia belajar silat? Sungguh kali ini Ang-bin Sin-kai menggelikan sekali.”

Swi Kiat sudah maju menyerang. Kwan Cu segera mengelak dan menangkis. Dalam hal mempertahankan diri, dia boleh juga dan beberapa jurus lewat tanpa ada pukulan atau tendangan Swi Kiat yang mengenai tubuh Kwan Cu. Namun Kwan Cu hanya membalas dengan pukulan-pukulan ngawur saja, asal pukul dan asal menendang.

Ketika dia menendang, Swi Kiat menangkap tumitnya dan sekali mendorong ke depan, tubuh Kwan Cu terlempar ke belakang lantas dengan suara keras tubuhnya menyusur tanah! Namun dia bangkit kembali dan sebelum dia dapat memperbaiki kedudukannya kembali Swi Kiat menyerbu dengan pukulannya yang membuat Kwan Cu untuk kedua kalinya jatuh tersungkur.

“Kau masih belum mengaku kalah?” bentak Swi Kiat.

Kekerasan hati Kwan Cu memang luar biasa sekali. Ia menggeleng kepala dan mencoba untuk merayap bangun lagi, akan tetapi sebuah tendangan membuatnya terguling-guling. Sampai lima kali dia mencoba bangun dan terpaksa harus mencium tanah lagi, bahkan pukulan yang kelima kalinya membuat bibirnya pecah dan berdarah. Namun pukulan itu seperti tidak terasa olehnya karena sedikit pun dia tidak mengeluh dan begitu roboh, dia merayap bangun kembali.

“Cukup, Suheng!” kata Kun Beng.

“Diam kau, Sute. Di dalam pibu, yang kalah harus mengaku kalah!” jawab Swi Kiat yang mengejar Kwan Cu lagi.

Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai hanya tertawa-tawa saja. Kakek ini merasa bangga sekali dan diam-diam dia pun mengakui kekuatan Kwan Cu. Jangankan seorang anak-anak, biar pun orang dewasa menghadapi pukulan bertubi-tubi dari Swi Kiat yang sudah memiliki tenaga lweekang lumayan itu, pasti akan terluka hebat. Bagaimana bocah gundul ini tubuhnya seakan-akan terbuat dari pada baja dan tidak pernah merasa sakit?

Bila saja dia melihat bocah gundul itu terluka, tentu segera dia akan mencegah Swi Kiat melanjutkan serangannya. Akan tetapi karena ia tahu betul bahwa Kwan Cu tidak terluka di dalam tubuhnya, maka dia hanya menonton saja.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, disusul oleh kata-kata, “Bagus sekali! Memang orang yang kalah dalam pibu harus mengakui kebodohannya. Hayo Kwan Cu, kau harus mengakui kekalahan dan kelemahanmu!”

Muncullah Ang-bin Sin-kai sambil tertawa-tawa. Melihat kakek ini, Swi Kiat melompat ke belakang dan tidak melanjutkan serangannya lagi. Ada pun Kwan Cu setelah mendengar kata-kata suhu-nya ini, merahlah mukanya.

Ingin dia menangis keras, akan tetapi semangat serta kekerasan hatinya melarang air matanya mengucur keluar. Ia amat taat kepada suhu-nya, maka sambil menghadapi Swi Kiat yang berdiri dengan dada terangkat, dia berkata, “Swi Kiat, aku mengaku kalah.”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak dan berkata keras-keras. “Kwan Cu, dengan pengakuan ini, kau berarti menang! Orang yang menangkan orang lain, belum boleh disebut gagah. Hanya orang yang sudah bisa mengalahkan kesombongan dan nafsunya sendirilah yang patut disebut gagah! Orang menangkan orang lain tak akan kekal, akan datang masanya dia dikalahkan oleh orang lain. Tetapi kau telah dapat mengakui kelemahan, kebodohan dan kekalahanmu, inilah yang penting sekali. Kelak kau akan berlaku berhati-hati dan tidak akan terkalahkan untuk kedua kalinya. Ha-ha-ha!”

“Bagus, bagus!” Siangkoan Hai bertepuk tangan memuji dengan kagum. “Tak kusangka bahwa jembel tua ini benar-benar pandai menjadi guru. Ehh, Swi Kiat dan Kun Beng, kau perhatikan baik-baik ajaran tadi. Memang bagus dan tepat sekali!”

Sambil tersenyum Ang-bin Sin-kai menghampiri Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan bertanya, “Ehh, jago tua utara! Kenapa kau bisa tersesat sampai di sini?”

“Kau kira aku akan membiarkan Hek-i Hui-mo berlaku kurang ajar begitu saja? Meski pun kitab itu palsu, aku harus mengejarnya dan memberi hajaran padanya!” kata Siangkoan Hai.

“Hemm, kau sudah tua akan tetapi masih berkepala batu. Kau hendak menyusulnya ke Tibet?”

“Biar ke neraka sekali pun pasti akan kususul! Mana bisa orang merampas sesuatu dari depan hidungku begitu saja?”

Kembali Ang-bin Sin-kai tertawa. “Kau benar-benar orang tua sombong sekali. Pantas muridmu juga memiliki sifat tidak baik itu.”

“Bukan muridku yang sombong, tetapi muridmu yang terlalu bodoh. Ehh, Ang-bin Sin-kai, kenapa kau memilih murid seorang bocah gendeng yang pikirannya miring?” Siangkoan Hai memandang ke arah Kwan Cu yang diam saja mendengarkan percakapan antara dua orang tokoh besar ini, sama sekali tidak bergerak, hanya hatinya saja terasa panas sekali. Ia tidak berdarah lagi pada bibirnya, karena luka di bibir itu telah rapat kembali.

“Biarlah dia bodoh, dan biar kau menganggap miring otaknya. Akan tetapi coba saja kau lihat lima tahun lagi. Kukira dua orang muridmu ini tak akan mampu mempermainkannya seperti tadi.”

“Begitukah? Berani kau bertaruh, Ang-bin Sin-kai?” tantang Siangkoan Hai. “Lima tahun lagi kita adukan mereka, guru yang kalah harus memberi hadiah semacam ilmu pukulan kepada murid yang menang! Setujukah?”

Berseri muka Ang-bin Sin-kai. Dia tahu bahwa di antara para tokoh besar, Pak-lo-sian Siangkoan Hai ini termasuk seorang yang baik hatinya, akan tetapi dia sombong sekali.

“Jadi bila muridku kalah, aku harus memberi hadiah ilmu pukulan kepada murid-muridmu, sebaliknya kalau muridku menang, kau akan memberi padanya semacam ilmu pukulan?” tanya Ang-bin Sin-kai Lu Sin kepadanya.

“Benar, benar begitu. Bukankah adil sekali namanya?”

“Baik. Kelak, lima tahun kemudian, aku akan membawa muridku mencarimu!” Siangkoan Hai lalu memberi tanda kepada murid-muridnya. “Hayo kita pergi, Hek-i Hui-mo tak akan jauh dari tempat ini!” tanpa berpamit dan tanpa menoleh lagi, Siangkoan Hai dan kedua muridnya lalu pergi dari dalam hutan itu.

Ang-bin Sin-kai menoleh kepada Kwan Cu yang menundukkan mukanya.

“Suhu, apakah kekalahanku tadi membikin malu nama Suhu?” tanyanya perlahan.

“Bukan memalukan aku, melainkan kuharap akan dapat membuka kedua matamu bahwa ilmu silat itu bukan tidak perlu sama sekali seperti yang kau kira. Coba kau dahulu tidak membenci ilmu silat, bukankah kau sudah mampu membela diri dan belum tentu begitu mudah dipermainkan orang.”

“Mulai sekarang teecu akan belajar ilmu pukulan dengan baik-baik, Suhu.”

“Hemm, tidak mudah. Kau mempunyai watak tidak mau menyakiti orang lain. Ini sukar sekali. Apa bila kau belum mempunyai kekerasan hati dan ketegaan untuk memukul dan merobohkan orang, bagaimana kau dapat mempelajari ilmu pukulan? Kau harus berlatih ketabahan lebih dulu, baru ilmu pukulan ada gunanya. Hayo kau ikut aku!”

Ang-bin Sin-kai melompat dan berlari pergi. Kwan Cu cepat mengejar suhu-nya. Sampai malam tiba, Ang-bin Sin-kai masih terus berlari, tanpa berhenti untuk makan, sedikit pun tidak pernah bicara.

Diam-diam Kwan Cu mengerti bahwa gurunya ini marah dan kecewa kepadanya, karena kalau dia pikir-pikir, peristiwa dengan murid-murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai tadi, tentu saja amat memalukan gurunya!

“Aku harus belajar ilmu silat, aku harus dapat mengalahkan mereka,” demikian Kwan Cu berpikir sambil berlari di belakang suhu-nya.

Setelah memasuki sebuah hutan besar, hari sudah malam dan Ang-bin Sin-kai berhenti lalu mengaso di bawah pohon.

“Kau lihat ini baik-baik!” kata kakek jembel itu.

Setelah memasang kuda-kuda, dia lalu menggerakkan kedua kakinya. Terdengar suara keras dan tahu-tahu dua batang pohon yang besarnya setubuh orang menjadi tumbang!

Semenjak tadi Kwan Cu memasang mata baik-baik dan dia mencatat di dalam otaknya bagaimana tadi suhu-nya menggerakkan kedua tangan, bagaimana menggeser kaki dan cara memukul ke depan dan kanan kiri!

“Nah, kau latih gerakan pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) tadi!”

“Teecu sudah melihat Suhu.”

“Coba kau tiru gerakan Sam-hoan-ciang.”

Kwan Cu memasang kuda-kuda seperti gurunya tadi, kemudian sambil mengerjakan otak mengingat bagaimana tadi suhu-nya bergerak, dia lalu memukul dengan kedua tangan dan menggeserkan kakinya, kemudian mainkan tiga jurus Sam-hoan-ciang seperti yang dimainkan oleh Ang-bin Sin-kai tadi. Dari sepasang kepalan tangannya yang kecil lantas menyambar angin yang membuat daun-daun pohon kecil bergoyang-goyang!

Ang-bin Sin-kai mengangguk sesudah Kwan Cu menyelesaikan gerakan tadi. “Gerakan tanganmu sudah baik, hanya saja tenaga pukulan jangan kau buyarkan. Tenaga dalam pukulan Sam-hoan-ciang harus dikumpulkan, ditujukan kepada bagian tubuh yang lemah dan jalan darah yang penting, ketika tangan kanan memukul, mulut harus mengeluarkan suara ‘hah!’ dan kalau tangan kiri memukul harus berbunyi ‘heh!’ Ingat, Sam-hoan-ciang dilakukan tiga jurus, jurus pertama pukulan tangan kanan, jurus kedua pukulan tangan kiri, dan jurus ke tiga pukulan kedua tangan dibarengkan, mendorong ke depan, dengan agak jongkok dan tenaga dari pusar disalurkan kepada kedua lengan. Mengertikah?”

Kwan Cu mengangguk. “Mengerti, Suhu.”

“Coba lagi! Sekarang anggap aku sebagai lawanmu dan lakukan tiga macam pukulan itu terhadap tubuhku! Mulai!”

Demikianlah, dalam keadaan yang remang-remang di dalam hutan itu, dan dengan perut kosong, Ang-bin Sin-kai mulai melatih muridnya. Kwan Cu memasang kuda-kuda, lalu mulai menggerakkan dua kakinya, dan melihat suhu-nya berdiri di depannya, ia lalu mulai menyerang dengan jurus pertama. Dia menyalurkan seluruh tenaganya di ujung tangan kanannya, menyerang ke arah ulu hati gurunya sambil membentak, “Hah!”

Dengan sedikit gerakan saja Ang-bin Sin-kai bisa mengelak dari pukulan muridnya. Kwan Cu lalu menyusul dengan jurus serangan kedua. Tangan kirinya yang sudah diisi dengan tenaga lweekang yang dipindah dari tangan kanan, segera menyambar dengan pukulan dahsyat ke arah lambung suhu-nya dan mulutnya berbunyi, “Heh!”

Kembali Ang-bin Sin-kai mengelak lagi, lalu kakek jembel ini sengaja berdiri tegak untuk menanti datangnya pukulan ketiga dari muridnya. Kwan Cu lantas menyerangnya dengan jurus ketiga dari ilmu Sam-hoan-ciang. Sekarang anak ini memukul dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dan mendorong ke arah tubuh suhu-nya bagian bawah.

Kali ini Ang-bin Sin-kai tidak mengelak, namun mengulur kedua tangan pula menyambut dorongan muridnya. Dua pasang tangan bertemu dan Kwan Cu terlempar ke belakang, bergulingan sampai beberapa kaki jauhnya! Dia menjadi agak nanar, akan tetapi cepat bangkit kembali dan menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.

“Mohon Suhu memberi petunjuk tentang bagian yang salah dari gerakan teecu,” katanya.

“Kakimu yang salah, jika tidak masa kau akan jatuh berguling-guling? Kau menghabiskan seluruh tenagamu pada lengan, sama sekali tidak mempedulikan kedudukan kaki. Kalau kau bertemu dengan lawan yang tenaganya kecil, itu masih tidak mengapa. Akan tetapi kalau kau menyerang orang yang tenaganya lebih besar, tentu kedua kakimu tidak kuasa menahan pertemuan tenaga dan kau akan terpelanting seperti tadi! Lupakah kau kenapa aku selama ini hanya mengajarmu dengan gerakan kaki dan pemasangan kuda-kuda? Karena pokok dasar ilmu silat terletak pada keteguhan pemasangan kuda-kuda, seperti bangunan berdasar pada tiang-tiang yang kuat. Nah, berlatihlah lagi, dan kini perhatikan gerakan kaki, aku hanya akan memberi contoh sekali lagi.”

Ang-bin Sin-kai kembali melakukan gerakan Sam-hoan-ciang. Kwan Cu memperhatikan dengan mata yang tak pernah berkedip. Setelah kakek jembel ini melakukan gerakannya, kembali dua batang pohon besar menjadi tumbang!

Kwan Cu merasa kagum bukan main. Dan setelah memberi contoh untuk kedua kalinya, Ang-bin Sin-kai lalu duduk menyandar di pohon dan sebentar saja dia sudah tidur pulas! Sudah dua malam kakek ini tidak makan, namun dia dapat tidur begitu mudah, sungguh membuktikan adatnya aneh.

Akan tetapi, Kwan Cu lebih aneh lagi. Kekerasan hatinya serta ketekunan hatinya boleh dipuji. Sebenarnya dia merasa sangat lapar, akan tetapi pelajaran baru ini membuat dia lupa akan keperihan perutnya. Dia terus berlatih ilmu pukulan Sam-hoan-ciang. Ia ulangi dan ulangi lagi dan mempergunakan batang pohon sebagai lawan!

Makin lama tenaganya bukan makin lemah, bahkan karena menghadapi kekuatan pohon, dia makin dapat mengatur tenaganya sedemikain rupa sehingga lambat laun dapatlah dia mengerahkan tenaga sampai pada titik yang tepat! Bila tadinya pukulannya pada pohon membuat kulit kepalan tangannya merah-merah sampai akhirnya lecet-lecet, menjelang fajar, dia telah dapat memukul pohon itu sampai menjadi doyong!

Ketika Ang-bin Sin-kai pada keesokan harinya membuka matanya, kakek ini amat girang dan kagum melihat muridnya masih berlatih diri dan melihat betapa gerakan Kwan Cu kini tidak kaku lagi!

“Cukup! Jangan menghabiskan tenagamu!” serunya.

Kwan Cu berhenti bersilat. Barulah dia merasa letih bukan main sehingga untuk berdiri saja kedua kakinya gemetar dan terpaksa dia menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Akan tetapi kepalanya yang gundul dan mukanya yang berkilau karena peluh itu berseri-seri ketika suhu-nya memujinya.

“Bagus, Kwan Cu, kau telah maju banyak sekali.”

“Masih jauh, Suhu. Tanpa menyentuh pohon Suhu sudah bisa merobohkan pohon-pohon dalam jarak lima kaki lebih. Sedangkan teecu, sampai rusak kulit tangan, tetap saja tidak dapat merobohkan sebatang pohon juga.”

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak. “Bocah bodoh. Kau lihat pohon ini, bukankah biar pun luarnya lecet kulitnya, akan tetapi dalamnya telah menderita pukulanmu yang bertubi-tubi itu? Kau lihat!”

Setelah berkata demikian, kakek ini lalu mendorong pohon tadi dan sambil mengeluarkan suara keras, pohon itu tumbang. Ternyata bahwa di bagian dalamnya telah banyak yang remuk menjadi bubuk seperti dimakan kutu. Kwan Cu lantas meleletkan lidahnya melihat kehebatan akibat pukulan-pukulannya yang telah membuat tangan-tangannya lecet-lecet malam tadi!

“Harus kau ketahui bahwa ilmu pukulan Sam-hoan-ciang (Pukulan Tiga Lingkaran) mesti mengandalkan tenaga lweekang. Jika malam tadi kau memukul dengan tenaga gwakang dan mengandalkan kekerasan kulit tangan, kulitmu tak akan lecet sedang pohon ini pun hanya akan rusak luarnya saja. Akan tetapi karena kau menggunakan tenga lweekang, kulit tanganmu yang tak terjaga oleh tenaga gwakang menjadi rusak, sebaliknya pohon ini terluka pada bagian dalamnya! Oleh karena itu, penggunaan tenaga lweekang tidak boleh dilakukan secara membabi buta, harus sekali pukul dengan tepat seperti contoh ini. Lihat!”

Ang-bin Sin-kai lalu melakukan pukulan jurus kedua dari Sam-hoan-ciang dengan tangan kirinya, diarahkan pada pohon yang terpisah beberapa kaki dari tempat dia berdiri dan…

“Krakkk...!” pohon itu roboh!

Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut. “Terima kasih atas petunjuk yang amat berharga dari Suhu.”

“Bangunlah,” kata Ang-bin Sin-kai sambil tertawa. “Kau seperti anak kecil yang mendapat permainan baru. Ketahuilah, ilmu pukulan Sam-hoan-ciang ini hanya merupakan pukulan pertama saja, dan kalau sudah mempelajari semua ilmu-ilmu silat dari aku, maka pukulan Sam-hoan-ciang ini belum ada seperseratusnya! Apa artinya mempunyai ilmu menyerang jika tidak dapat mempertahankan diri? Di dalam ilmu silat, kepandaian harus dibagi dua. Mempertahankan diri dan menyerang, dan seorang ahli silat yang baik, mengisi dirinya dengan enam puluh bagian ilmu menjaga diri dan hanya empat puluh bagian ilmu untuk menyerang lawan. Dalam setiap gerakan menjaga diri tersembunyi gerakan menyerang, sebaliknya kalau kau menyerang, berarti kau membuka kesempatan bagi lawan untuk membobolkan pertahananmu. Maka berlatihlah yang giat, karena ilmu silat bukanlah ilmu yang semudah orang kira!”

Demikianlah, Ang-bin Sin-kai mulai membuka rahasia ilmu silat kepada muridnya dan semua kata-kata suhu-nya itu masuk ke dalam kepala yang gundul itu.

“Apa kau tidak merasa lapar?” tiba-tiba Ang-bin Sin-kai bertanya.

Mendengar ini, perut Kwan Cu berkeruyuk, mendahului mulutnya menjawab pertanyaan suhu-nya. Merahlah wajah Kwan Cu dan mengharap mudah-mudahan suara perutnya itu tak terdengar oleh suhu-nya. Akan tetapi Ang-bin Sin-kai mempunyai pendengaran yang amat tajam. Jangankan suara perut berkeruyuk, biar sehelai daun yang jatuh ke tanah saja dia akan mendengarnya. Maka tertawalah kakek itu.

“Setelah latihan yang menggunakan banyak tenaga lweekang, tiada daging yang lebih baik melebihi daging ular besar. Hayo kita mencari daging ular. Di hutan depan banyak ular-ular besar!” Kakek ini lalu berlari ke hutan yang nampak kehijau-hijauan, dan Kwan Cu cepat menyusul gurunya.

Ang-bin Sin-kai memasuki sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon besar sekali sehingga Kwan Cu yang berjalan di belakang gurunya itu merasa betapa dirinya sangat kecil tak berarti di bawah pohon-pohon raksasa itu. Ketika mereka sudah tiba di tengah hutan, Ang-bin Sin-kai menunjuk ke depan dan berkata,

"Nah, itu dia calon daging untuk perut kita. Kau tangkaplah yang paling gemuk!" Setelah berkata demikian, Ang-bin Sin-kai lalu duduk bersandar pada sebatang pohon.

Kwan Cu berdiri terpaku untuk beberapa lama. Di tempat itu, dia melihat beberapa ekor ular yang amat besar. Yang paling kecil saja ukuran perutnya sama dengan pahanya dan panjangnya sekitar tujuh atau delapan kaki! Tubuh ular itu berwarna kekuning-kuningan, lidahnya panjang warna merah, demikian pula matanya, ada pun mulutnya lebar sekali.

Berdebar juga hati Kwan Cu saking ngerinya sungguh pun dia tidak merasa takut sama sekali. Untuk menangkap yang paling kecil saja, agaknya sangat sukar dan mengerikan, apa lagi suhu-nya minta dia menangkap yang paling gemuk, yang berarti ular yang paling besar!

Akan tetapi Kwan Cu tidak merasa jeri. Apa lagi ada gurunya di situ, apakah yang perlu ditakutkan lagi? Sebagian besar ular-ular itu membelitkan tubuhnya pada cabang-cabang pohon, dengan kepala bergantung, atau kepala mereka tersembunyi dalam lilitan tubuh.

Pada waktu Kwan Cu mencari-cari dengan matanya untuk memilih, dia melihat seekor di antara ular-ular itu yang melingkar di bawah pohon. Ular ini besar sekali lagi amat gemuk. Agaknya lebih mudah menangkap yang melingkar di bawah ini karena dia sedang tidur, sedikit pun tidak bergerak, seakan-akan ular mati yang tidak bernapas sama sekali.

"Suhu, teecu akan menangkap yang itu!" katanya sambil menunjuk ke arah ular terbesar yang melingkar di bawah pohon.

"Bagus, kau tangkaplah, hitung-hitung latihan bagimu. Jangan takut, ular itu tak berbisa. Makin besar, semakin tidak berbahaya. Hanya dia kuat sekali, dan kalau sampai tergigit, sukar untuk melepaskan diri dari gigi-giginya yang doyong ke sebelah dalam itu," berkata Ang-bin Sin-kai dengan suara tenang.

Suara suhu-nya ini mendatangkan semangat dan keberanian dalam hati Kwan Cu, maka anak ini dengan hati-hati lalu mendekati ular besar itu.

Biar pun tadinya kelihatan seperti mati atau tidur, namun ketika Kwan Cu sudah sangat dekat, ular itu mulai hidup. Ia mengangkat kepalanya dan sepasang matanya yang merah itu ditujukan kepada Kwan Cu. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara mendesis. Mengebullah uap putih dari mulutnya yang terbuka lebar-lebar. Kini kelihatan betapa lebar mulutnya dan betapa mengerikan gigi-gigi yang runcing dan doyong ke dalam itu. Lidahnya yang panjang menjulur keluar dan bergerak-gerak keluar masuk cepat sekali.

Kwan Cu tidak mau membuang waktu lagi. Melihat ular itu sudah mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia segera melangkah maju dan melakukan serangan dengan ilmu pukulan Sam-hoan-ciang, karena untuk bertindak dengan ilmu silat lain dia masih belum bisa. Ia melakukan jurus kedua, yakni tangan kiri bergerak maju, hanya mengubah sedikit. Kalau biasanya gerakan ini dilakukan dengan tangan terkepal untuk memukul, dia membuka jari tangannya dan kini menggunakan tangan kirinya untuk menerkam leher ular!

Ular itu gesit sekali. Melihat tangan bocah gundul ini bergerak ke arah leher, dia cepat mengelak ke kiri. Namun Kwan Cu adalah anak yang amat cerdik. Walau pun dia baru mempelajari Sam-hoan-ciang, akan tetapi kecerdikannya membuat dia dapat memecah gerakan-gerakan ini sehingga jurus ke dua yang dia pergunakan tadi sebenarnya adalah semacam pancingan belaka!

Dia tidak melanjutkan serangan, bahkan segera menarik kembali serangannya dan kini disusul cepat dengan jurus ketiga, yakni kedua tangannya maju berbareng dan tubuhnya agak berjongkok. Dan gerakan ini berhasil. Ia berhasil menangkap leher ular itu dengan kedua tangannya dan mencekiknya sekuat tenaganya.

Ular itu marah bukan main. Beberapa kali ia menggerakkan kepala dan menggoyangkan lehernya, meronta-ronta untuk melepaskan dirinya. Akan tetapi Kwan Cu mencengkeram semakin keras karena merasa betapa ular itu licin sekali.

Tiba-tiba ular itu berganti siasat dan seluruh tubuhnya bergerak, terus melilit tubuh Kwan Cu dengan ekornya. Sebentar saja tubuh bocah gundul ini sudah dililit sedemikian rupa sehingga dari paha sampai dada tidak kelihatan lagi.

Kwan Cu terkejut sekali dan sedapat mungkin dia mempertahankan kedua kakinya. Akan tetapi aneh sekali, tenaga ular itu makin lama semakin hebat dan lilitannya makin lama makin erat. Ketika ular itu menggoyang-goyang tubuhnya, dia tidak dapat bertahan lebih lama dan tergulinglah Kwan Cu! Betapa pun juga, dia masih dapat mengatur jatuhnya dan dia hanya jatuh duduk dengan tubuh masih dibelit-belit ular yang licin, dingin dan kuat. Ia memperkuat cekikannya, mengerahkan seluruh tenaga yang disalurkan kepada lengan tangannya.

Akan tetapi, tiba-tiba Kwan Cu merasa betapa perut dan dadanya terhimpit keras sekali sehingga dia sukar untuk bernapas! Dengan menekan napas ke arah perut, dia membuat perut dan dadanya mengembung dan sanggup menahan himpitan ular, akan tetapi oleh karena itu, tenaga pada kedua lengannya berkurang.

Sementara itu, ular tadi menjadi makin penasaran dan marah. Biasanya, kalau ia sudah mengerahkan tenaga dalam lilitannya, seekor kijang pun akan remuk-remuk tulangnya! Mengapa bocah gundul ini dari perut dan dadanya keluar hawa panas sekali? Apa lagi, cekikan pada lehernya itu pun mendatangkan rasa sakit.

Sambil mendesis hebat, ular itu membuka lebar-lebar mulutnya yang bergerak di depan muka Kwan Cu dan bergerak hendak menggigit kepala gundul itu. Kalau gigitannya ini berhasil, agaknya kepala Kwan Cu yang gundul itu akan masuk ke dalam mulutnya!

Kwan Cu terkejut dan menahan dengan kedua tanganya, akan tetapi tiba-tiba dia merasa kepalanya yang gundul itu gatal-gatal. Dia mengerti bahwa ini tentulah akibat dari pada semburan uap yang keluar dari mulut ular itu. Tadi ketika ular itu menyemburkan uap putih yang mengarah ke mukanya, dia menundukkan kepala untuk melindungi mukanya, maka kepalanya yang gundul itulah yang terkena uap putih dan kini gatal-gatal.

Rasa gatalnya tidak tertahankan lagi, maka terpaksa dia melepaskan tangan kanan yang mencekik leher ular untuk digunakan menggaruk kepala gundulnya yang gatal setengah mati itu! Ular tadi setelah kini merasa bahwa yang mencekik lehernya hanya satu tangan saja, cepat memberontak sehingga cekikan tangan kiri Kwan Cu terlepas! Ular itu segera menggerakkan lehernya dan dengan kecepatan luar biasa sekali mulutnya yang lebar itu menyerang kepala Kwan Cu.

Akan tetapi Kwan Cu tidak berkurang waspada. Bocah gundul ini cepat mengelak ke kiri sehingga mulut itu hanya meluncur lewat di samping telinga kanannya. Cepat Kwan Cu menggerakkan kedua tangan mencekik lagi dan kembali terjadi pergulatan mati-matian.