Social Items

Pendekar Sakti Jilid 04

PENDEKAR SAKTI

Karya Kho Ping Hoo

JILID 04

ANAK ini menurut saja dan ketika dia mulai membaca pelajaran itu, dia merasa kepalanya sampai berdenyutan saking merasa aneh dan terheran-heran! Dulu dia pernah menerima pelajaran siulian (semedhi) dari Pek-cilan Thio Loan Eng, juga sudah pernah menerima pelajaran melatih napas, akan tetapi apa yang dia baca di kitab ini benar-benar luar biasa sekali!

Dulu ketika dia belajar siulian dari Loan Eng, dia diharuskan duduk dengan sikap tegak, kedua kaki bersila dengan mata diarahkan kepada ujung hidung sendiri sambil mengatur pernapasan dan mengosongkan pikiran. Sekarang apa yang dibacanya?

Beraneka macam aturan tentang semedhi terdapat dalam kitab ini. Ada semedhi dengan berdiri jungkir balik, yaitu kepala di atas lantai dan kedua kaki diangkat ke atas, ada pula yang menggantung di atas pohon, dan berbagai macam cara yang aneh-aneh lagi! Dan latihannya bernapas juga luar biasa anehnya!

Menurut pelajaran yang diterima dari Loan Eng dulu, menyedot dan mengeluarkan napas harus selambat-lambatnya dan sepanjang-panjangnya, pada waktu meyedot hawa harus dikumpulkan di dada sehingga dada mengembung dan perut menipis, kemudian di waktu mengeluarkan napas, dada harus dikosongkan dan seluruh hawa murni dari dada harus ditarik ke dalam perut untuk memperkuat tian-tan sehingga dada mengempis dan perut mengembung. Akan tetapi di dalam Im-yang Bu-tek Cin-keng ini bahkan sebaliknya!

Kwan Cu benar-benar tidak mengerti. Akan tetapi dasar dia berbakat baik sekali dalam ilmu silat, maka ketika dia membaca ini, malam harinya ketika Gui Tin telah mendengkur, anak ini lalu bersemedhi dengan cara yang tadi dibacanya di dalam kitab itu, juga melatih pernapasan seperti yang dibacanya siang tadi!

Hasilnya bukan main! Kwan Cu hampir gila karenanya! Jika saja dia tidak memiliki tulang yang baik dan bahan bersih dalam dirinya, mungkin otaknya sudah menjadi miring. Pada saat dia bersemedhi menurut kedudukan yang dipelajari dari dalam kitab, yakni dengan kepalanya yang gundul di atas lantai dan kedua kakinya di atas bersandar tembok, dia merasa kepalanya berdenyut-denyut karena semua darah mengalir ke bawah dengan cepat.

Kemudian, pada waktu dia hendak mengosongkan pikiran serta mengheningkan panca inderanya, beraneka macam bayangan setan terbayang di depan matanya, dan berbagai macam hal yang ngeri-ngeri teringat olehnya. Juga latihan pernapasan dengan cara itu membuat perutnya merasa muak dan dadanya sakit.

Akan tetapi karena dia memang keras hati, dia melanjutkan latihannya sampai beberapa hari. Terjadilah hal yang aneh dalam dirinya. Ia merasa ada tenaga saling tarik-menarik di dalam dadanya dan perjalanan darahnya mengalir sebentar cepat sebentar lambat.

Ketika dia telah melatih selama sebulan, dia sudah dapat membiasakan diri dengan cara baru ini dan pada suatu tengah malam, dia mendengar buku-buku tulang pada seluruh tubuhnya berbunyi keletak-keletuk! Dia tidak tahu bahwa karena latihannya ini, dia sudah melenyapkan hasil latihannya yang dahulu.

Perasaan tidak enak dan tarik menarik tenaga di dalam dadanya adalah pertempuran antara tenaga latihan yang berlawanan. Dan ternyata bahwa cara latihan menurut kitab rahasia itu lebih kuat sehingga dalam waktu beberapa hari saja tenaga latihan cara baru ini dapat mengalahkan tenaga latihan yang dahulu!

Karena tiada waktu untuk melatih diri dengan ilmu silat seperti yang diuraikan di dalam kitab itu, maka Kwan Cu lalu membaca saja kitab itu seperti orang membaca buku cerita! Akan tetapi dia membaca tidak sembarang membaca, melainkan menghafal isi kitab itu sedikit demi sedikit.

Enam bulan telah lewat. Kini Gui Tin telah menyelesaikan pekerjaannya menterjemahkan ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng! Terjemahan itu diambil oleh An Lu Shan untuk dipraktekkan, ada pun kitab aslinya masih berada di dalam kamar, karena Gui Tin harus menterjemahkan ilmu-ilmu yang lain!

Dan pada petang hari itu terjadilah hal yang hebat! Baru saja Gui Tin menutup kitab itu setelah mulai menterjemahkan bagian pertama dari ilmu silat, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar kamar dan tak lama kemudian pintu kamar itu terbuka lebar.

Seorang laki-laki bertubuh gemuk dengan baju terbuka di bagian dada sehingga nampak dadanya itu brewok, juga mukanya penuh brewok, meloncat masuk! Gui Tin dan Kwan Cu melihat betapa beberapa orang penjaga yang tadinya menjaga di luar pintu kamar itu kini menggeletak malang melintang dalam keadaan tidak bernyawa pula!

Laki-laki brewok ini melihat kitab yang sudah dimasukkan ke dalam peti hitam dan ditaruh di atas meja. Tanpa banyak cakap, dia melompat ke dekat meja, memegang peti hitam itu dan berpaling kepada Gui Tin.

"Gui-siucai, inikah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang lagi kau terjemahkan?" tanyanya kepada Gui Tin dengan suaranya yang parau dan kasar sekali.

Gui Tin mengangguk dengan wajah pucat. Orang itu menyambar peti dan juga tangan kanannya menyambar Gui Tin yang terus dikempitnya dan hendak pergi dari situ.

"Jangan kau culik guruku!"

Mendadak orang itu merasa ada sambaran keras dari belakang menuju ke arah pundak kanannya! Sambaran ini merupakan angin pukulan yang hebat, maka dia terkejut sekali. Terpaksa dia melepaskan tubuh Gui Tin dan mengangkat tangan menangkis.

Ternyata yang menyerang adalah Kwan Cu! Melihat gurunya hendak dibawa orang, anak ini menjadi nekad dan memukul ke arah pundak orang itu dengan maksud merampas gurunya. Tidak tahunya bahwa pukulan itu mengandung tenaga lweekang yang didapat dari melakukan latihan siulian itu, maka juga hebat sekali datangnya.

Akan tetapi, orang itu lihai sekali. Dengan keras lengannya menangkis dan tubuh Kwan Cu terpental membentur tembok!

Orang itu tertawa dan hendak menyambar tubuh Gui Tin. Akan tetapi pada saat itu dari luar terdengar suara teriakan berkali-kali.

“Tangkap penjahat!”

Orang yang mencuri kitab itu melompat keluar dan disambut oleh An Lu Shan, An Lu Kui dan Li Kong Hoat-ong sendiri dan di belakang mereka ini masih terdapat puluhan orang perwira!

Ketika melihat orang brewokan ini, Li Kong Hoat-ong, An Lu Shan dan An Lu Kui menjadi terkejut sekali. Sebaliknya si brewok ini hanya tertawa saja menghina, sama sekali tidak merasa gentar dan bahkan suara ketawanya menyatakan bahwa dia memandang rendah semua orang itu.

“Ahhh, tidak tahunya Hek-mo-ong Lo-taihiap yang datang berkunjung,” kata An Lu Shan sambil menjura.

“An-ciangkun, kau seorang perwira, untuk apakah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng? Apa lagi Gui-siucai telah menterjemahkan bagian ilmu perangnya, yang lain-lain kau tak perlu lagi. Oleh karena itu aku datang untuk mengambilnya, dan sekalian membawa Gui-siucai pergi bersamaku.”

An Lu Shan tidak berani membantah dan terlalu banyak berbicara. Dia sudah kenal akan kelihaian Hek-mo-ong (Raja Iblis Hitam) ini yang di daerah utara namanya hanya sebelah bawah Pak-lo-sian Siangkoan Hai saja. Akan tetapi, Li Kong Hoat-ong tentu saja menjadi marah melihat lagak orang.

“Hek-mo-ong, sudah lama aku mendengar namamu tetapi baru sekarang aku mendapat kehormatan untuk bertemu muka. Tidak tahunya Hek-mo-ong yang memiliki nama besar itu hanya seorang sombong yang tidak memandang muka orang lain dan hendak berlaku sewenang-wenang tanpa kesopanan sedikit pun juga.”

Wajah Hek-mo-ong tak berubah, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat ketika dia berpaling kepada Li Kong Hoat-ong.

“Hemm…” Dia mengeluarkan suara dari hidung, sikapnya menghina sekali, “Kalau tidak salah kau adalah Li Kong Hoat-ong, raja yang sudah kehilangan mahkotanya itu? Perlu apa kau mencampuri urusanku? Kalau memang betul aku kurang sopan dan sombong, habis kau mau apakah?”

“Hek-mo-ong, kau benar-benar tidak melihat orang! Kalau tidak ada aku di sini, kau boleh berbuat sesuka hatimu, akan tetapi setelah aku berada di sini, apakah kau masih mau banyak lagak?”

“Li Kong Hoat-ong, apa kehendakmu?!” suara Hek-mo-ong dahsyat sekali, mengandung ancaman maut.

“Tinggalkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, kalau tidak jangan harap dapat keluar dari sini!” berkata Li Kong Hoat-ong dan bekas raja yang memiliki kepandaian tinggi ini telah meloloskan senjatanya, yakni sebatang pedang kerajaan Yu-yan pada tangan kanan dan sebatang tongkat tanda pangkat di tangan kiri!

An Lu Shan hendak mencegah akan tetapi dia sudah terlambat, karena telah terdengar suara ketawa ngakak seperti suara burung goak dari mulut Hek-mo-ong dan terdengar suara keras, disusul oleh melayangnya daun pintu yang sudah dicabut oleh Hek-mo-ong dan kini menyambar ke arah Li Kong Hoat-ong!

Li Kong Hoat-ong cepat menghantam dengan tongkat di tangan kirinya dan terdengarlah suara keras lain. Daun pintu itu sudah pecah menjadi beberapa potong dan pecahannya menyambar ke kanan kiri!

An Lu Shan dan An Lu Kui cepat-cepat mengelak, akan tetapi beberapa orang perwira lain yang kurang cepat sudah terkena sambaran potongan serta pecahan daun pintu ini sehingga terdengar jerit mengerikan. Pecahan-pecahan daun pintu itu menembus baju perang bagaikan pelor-pelor baja dan beberapa orang perwira tewas pada saat itu juga!

Pertempuran segera terjadi dengan hebatnya. An Lu Shan tak berdaya dan hanya bisa menyuruh para perwira menjauhkan diri, karena setelah dua orang sakti ini bertanding, siapa yang dapat dan berani memisahkan mereka? Sekejap saja yang nampak hanyalah berkelebatnya pedang serta tongkat pada kedua tangan Li Kong Hoat-ong, serta tubuh Hek-mo-ong yang berubah menjadi sesosok bayangan yang gesit sekali.

Sebentar saja kelihatan betapa hebatnya kepandaian Hek-mo-ong, karena meski pun dia bertangan kosong, akan tetapi tongkat dan pedang ini sama sekali tidak dapat mengenai tubuhnya. Tiap kali kedua tangannya bergerak, menyambar angin pukulan yang dahsyat, yang tidak saja membuat kedua senjata itu terpental mundur, juga membuat bangunan di situ seakan-akan tergetar-getar!

Berkat tubuhnya yang kuat, Kwan Cu yang tadi terlempar akibat tangkisan Hek-mo-ong dan membentur tembok, tidak mengalami luka hebat dan kini dia telah menolong gurunya bangun. Gui Tin cepat menyingkir ke tepi karena gentar melihat pertempuran yang amat dahsyat itu, sebaliknya Kwan Cu malahan menonton dekat-dekat.

Anak ini telah menghafal isi pelajaran ilmu silat dari kitab yang diperebutkan itu, dan biar pun pengetahuannya terbatas pada teori saja, namun pengertian ini telah mendatangkan dorongan sehingga dia mulai memperhatikan gerakan-gerakan kedua tokoh besar ini! Ia diam-diam merasa gembira sekali bisa menyaksikan pertandingan yang begitu hebatnya, dan biar pun dia merasa ngeri juga, akan tetapi dia tidak pernah melepaskan pandang matanya dari kedua orang itu.

Setelah bertempur puluhan jurus, perlahan-lahan Hek-mo-ong mendesak lawannya. Raja Iblis Hitam ini mempergunakan pukulan berdasarkan lweekang yang cukup tinggi dan baginya untuk merobohkan lawan tidak usah mempergunakan tenaga tangan, cukup oleh hawa pukulannya saja.

Li Kong Hoat-ong maklum akan kehebatan lawan, maka dia pun mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk mengimbangi permainan lawan. Akan tetapi sia-sia saja. Pada saat dia membacok dengan pedangnya dan berbarengan mengemplang dengan tongkatnya, tiba-tiba Hek-mo-ong berseru keras sekali.

Kwan Cu yang tadinya berdiri sampai roboh dan terlempar ke lantai saking hebatnya getaran seruan ini yang menyerang serta melumpuhkan dirinya melalui pendengarannya! Demikian pula orang-orang yang berada di sekitar tempat itu, semua merasa seolah-olah lumpuh!

Berbareng dengan pekik yang dahsyat ini, Hek-mo-ong tidak mengelak dari serangan lawan, bahkan menubruk maju. Tangan kanannya mencengkeram ke arah pedang dan dia membiarkan kepalanya dipukul tongkat!

Terdengar suara keras pada saat tongkat memukul kepalanya. Tongkat itu terpental dan Hek-mo-ong merasa kepalanya sedikit pening, akan tetapi dia berhasil mencengkeram pedang yang patah menjadi dua potong! Sebelum rasa terkejut Li Kong Hoat-ong hilang, Hek-mo-ong sudah menyeruduk maju dan menubruk dengan kepalanya ke dada Li Kong Hoat-ong.

Terdengar pekik mengerikan dan tubuh bekas raja itu terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Tulang-tulang dadanya sudah remuk akibat terkena benturan kepala lawannya dan dia tewas pada saat itu juga setelah tubuhnya roboh terlentang!

Keadaan menjadi sunyi, kemudian dipecahkan oleh suara ketawa Hek-mo-ong. Tak ada seorang pun berani bergerak.

“Ha-ha-ha! An-ciangkun, lebih baik kau mengurus bala tentaramu baik-baik dan jangan meributkan urusan kitab ini,” kata Hek-mo-ong.

An Lu Shan maklum bahwa tiada gunanya menyerang orang luar biasa ini. Akan tetapi dia tahu bahwa apa bila Gui Tin sampai dibawa pergi, amat berbahayalah bagi dirinya. Hanya Gui Tin dan muridnya saja yang tahu bahwa ia telah mempelajari ilmu perang dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dan kalau sampai orang luar mengetahuinya…, mungkin rencananya yang sudah terkandung di dalam hati selama bertahun-tahun akan gagal!

Oleh karena itu dia lalu menjura dan berkata,

“Lo-enghiong, kami tak akan meributkan urusan ini, akan tetapi kami harap Lo-enghiong juga suka berlaku adil. Kitab itu sudah kau ambil, biarlah. Akan tetapi harap kau jangan membawa pergi Gui-siucai, karena sebenarnya masih banyak sekali penjelasan tentang terjemahan yang kami perlukan darinya. Apa bila kami sudah selesai dengan dia, boleh Lo-enghiong membawanya. Hal ini penting sekali, dan kami harap saja Lo-enghiong tidak akan menggunakan kekerasan terhadap puluhan ribu anak buah barisan kami yang telah teratur dan menjaga berlapis-lapis di benteng ini.”

Hek-mo-ong terdiam sejenak. Ia juga tahu bahwa An Lu Shan adalah seorang komandan yang pandai sekali mengatur barisan. Kalau dia berkeras, dia akan menghadapi puluhan ribu tentara dan hal ini tidak boleh dibuat sembarangan.

Biar pun kepandaiannya tinggi dan dia tidak takut akan keroyokan, akan tetapi jika harus membobolkan pertahanan puluhan ribu orang, sebelum bebas tentu dia akan kehabisan tenaga dan akhirnya usahanya akan sia-sia belaka. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng telah berada di tangannya, mengapa dia harus bertindak tergesa-gesa? Masih banyak waktu untuk mempelajari kitab itu, pikirnya.

Setelah berpikir begitu, dia mengangguk. “Baiklah, An-ciangkun. Aku minta maaf karena sudah kesalahan tangan membunuh gurumu, namun seperti kalian menyaksikan sendiri, gurumulah yang mulai lebih dulu.”

“Tidak mengapa, Lo-enghiong. Mati hidup bukan di tangan kita dan sudah lajim di dalam pertempuran kalau tidak menang, tentu kalah dan mati,” jawab An Lu Shan.

Kembali Hek-mo-ong tertawa. Kemudian dia melihat Kwan Cu masih berdiri di pinggir. kedua matanya mendelik dan dia kelihatannya akan menyerang anak ini. Akan tetapi dia membatalkan niatnya, lalu tertawa dan sekali tubuhnya berkelebat, dia sudah melompat keluar dari rumah itu.

Pada saat dia berlari keluar dari benteng, benar saja dia melihat betapa tempat itu sudah terkurung rapat oleh lapisan-lapisan tentara yang kuat sekali. Dia merasa girang bahwa tadi dia tidak mempergunakan kekerasan. Mudah kelak menculik Gui-siucai, pikirnya.

Mengapa An Lu Shan berlaku demikian lemahnya? Mengapa dia tidak mengeroyok dan mengerahkan pasukannya untuk membunuh Hek-mo-ong? An Lu Shan tidak sedemikian bodoh untuk mengorbankan anak buahnya. Ia adalah seorang yang amat cerdik.

Pada waktu dia tadi melihat peti kitab itu tercuri oleh Hek-mo-ong, dia telah yakin bahwa Hek-mo-ong tidak akan dapat hidup lama di dunia ini. Selain peti itu mengandung rahasia sehingga kalau dibuka akan ada tujuh batang anak panah beracun yang menyambar ke luar, juga peti itu telah dilabur dengan racun yang amat jahat.

Jika tangan Hek-mo-ong telah terkena racun itu, sedikit racun masuk ke dalam mulutnya, pasti Raja Iblis Hitam itu akan mampus! Perlu apa mengeroyoknya? Dia tahu ke mana harus mencari Hek-mo-ong, maka nanti saja dia akan menyuruh para penyelidik supaya mendatangi tempat tinggal Hek-mo-ong di dusun Thian-bun di Gunung Hek-mo-san. Bila iblis itu sudah mati, mudah saja mengambil kembali peti itu.

Dan dia sengaja menahan Gui Tin, sebab selain dia sendiri, hanya sastrawan tua itu saja yang pernah membaca Im-yang Bu-tek Cin-keng. Biar pun kitab itu sekarang berada di tangan Hek-mo-ong, takkan ada gunanya kalau tidak diterjemahkan!

Karena itu, setelah Hek-mo-ong pergi, An Lu Shan lalu mengumpulkan orang-orangnya yang paling cakap untuk pergi menyusul ke Hek-mo-san dan menyelidiki keadaan iblis itu, sekalian kalau iblis itu sudah mampus terkena racun, supaya mengambil kembali peti kitab tadi.

Akan tetapi, setelah serbuan Hek-mo-ong yang mencuri kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, berturut-turut terjadilah hal-hal yang luar biasa dan mengerikan hati An Lu Shan.

Pada keesokan harinya, baru saja dia beserta yang lain-lain selesai mengubur jenazah Li Kong Hoat-ong dan sedang duduk berunding di dalam ruangan tengah, tiba-tiba datang penjaga-penjaga di pintu depan yang melaporkan dengan napas tersengal-sengal bahwa ada seorang tokouw (pertapa wanita) yang sangat galak dan memaksa masuk ke dalam benteng. Siapa saja yang menghalanginya lantas dirobohkan dengan amat mudah!

An Lu Shan dan An Lu Kui bergegas keluar, diikuti oleh beberapa orang perwira. Betapa kaget hati mereka ketika melihat pemandangan yang amat aneh dan luar biasa. Seorang tokouw yang tua akan tetapi tubuhnya masih nampak sehat seperti tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun, jalan mendatangi.

Tangan kirinya menggandeng seorang anak perempuan berusia enam tahun yang cantik mungil, tangan kanannya memegang sebatang ranting pohon yang panjang. Dia berjalan maju terus dan setiap kali ada prajurit yang hendak menghalanginya, dia menudingkan ranting itu kepada prajurit yang menghadang dan prajurit itu roboh sambil memekik keras dan ternyata bahwa prajurit itu telah tewas!

Berdiri bulu tengkuk An Lu Shan saat menyaksikan keganasan dan kekejaman yang luar biasa ini! Siapakah iblis wanita ini, pikirnya. Cepat dia lalu mengeluarkan aba-aba untuk melarang orang-orangnya menghalangi majunya wanita pertapa itu dan dia sendiri lalu cepat mundur dan menanti di ruang tengah, akan tetapi diam-diam dia menyuruh barisan panah mengurung tempat itu untuk bergerak apa bila tokouw itu datang dengan maksud kurang baik.

Sambil tersenyum-senyum mengejek, tokouw itu bersama anak perempuan tadi lantas memasuki benteng dan menuju ke ruangan besar di mana An Lu Shan duduk menanti. Dengan melihat bendera yang berkibar di atas ruangan itu, mudah saja bagi tokouw ini untuk mencari di mana adanya komandan benteng. Dia melangkah masuk dengan sikap tenang seperti memasuki rumahnya sendiri saja.

Setelah masuk ke dalam ruangan itu tokouw ini berdiri tegak dan memandang kepada An Lu Shan. Perwira ini segera berdiri dan menyambut dengan penghormatan. Akan tetapi sebelum dia membuka mulut, terdengar seruan nyaring.

“Ehh, adik Ceng...! Kau di sini...?”

“Hee...! Bukankah kau adalah Kwan Cu?” jawab anak perempuan yang masih digandeng tangannya oleh tokouw itu.

Kwan Cu yang kebetulan keluar bersama gurunya, melihat bahwa anak perempuan itu adalah Bun Sui Ceng, puteri dari Thio Loan Eng, segera menegur. Juga Gui Tin yang telah banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya, ketika melihat tokouw itu, dia tersaruk-saruk maju menghampiri dan menjura.

“Dunia ini ternyata sempit sekali,” katanya kepada tokouw itu, “sehingga di ujung utara ini akan dapat bertemu muka dengan Kiu-bwe Coa-li Suthai dari ujung selatan!”

Tokouw itu nampak tertegun, kemudian ia mengerutkan keningnya. Setelah memandang beberapa lama, dia lalu tersenyum dan berkata dingin, “Hemm, tubuhmu sudah reyot dan lelah, akan tetapi matamu masih tajam sekali, Gui-siucai. Kita bertemu baru satu kali ketika masih muda, namun kau betul-betul tidak melupakan muka orang.”

“Siapa dapat melupakan wajah dan bentuk badan Kii-bwe Coa-li Suthai dari selatan?” jawab Gui Tin sambil tersenyum pula.

Sementara itu, pada saat mendengar bahwa tokouw yang berada di depannya itu adalah Kiu-bwe Coa-li (Ular Betina Berekor Sembilan) yang namanya amat terkenal dan ditakuti oleh semua orang kang-ouw, An Lu Shan menjadi terkejut sekali sehingga dia merasa betapa belakang lehernya menjadi dingin. Ia cepat maju dan menjura dan berkata,

“Ah, tak tahunya Locianpwe yang datang mengunjungi tempatku yang bobrok ini. Mohon banyak maaf karena siauwte tidak tahu maka tidak keluar menyambut.”

Tokouw itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.

“Anak buahmu sudah menyambut baik-baik, mengapa kau bersungkan? Lagi pula, siapa sih yang mengharapkan sambutan? Aku bukan kaisar!”

Muka An Lu Shan menjadi merah. Akan tetapi biar pun dia disindir, toh hatinya senang juga mendengar bahwa tokouw ini tidak suka kepada kaisar.

“Maaf, maafkan!” katanya merendah. “Bolehkah kiranya siauwte mengetahui kedatangan Locianpwe ini membawa maksud mulia yang manakah?”

“Tidak bermaksud apa-apa, hanya minta kau menyerahkan padaku kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.”

Hemm, ini hebat, pikir An Lu Shan. Jadi kitab itu sudah demikian digilai oleh orang-orang pandai di dunia. Baiknya dia telah mendahului mempelajari bagian ilmu perangnya.

“Bagaimana?” tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li mendesak sambil menggerak-gerakkan ranting di tangannya.

Ternyata bahwa itu bukan ranting biasa, melainkan gagang sebatang pecut yang panjang dan halus sekali. Pecut itu terdiri dari sembilan helai tali yang halus akan tetapi kuat dan merupakan senjatanya yang luar biasa. Oleh karena tali-tali yang sembilan helai ini bisa bergerak-gerak hidup bagaikan ular-ular kecil, maka dia lalu dijuluki Ular Betina Berekor Sembilan!

Satu saja dari sembilan helai tali ini ia gerakkan untuk menotok jalan darah seperti yang diperlihatkan tadi terhadap para prajurit yang menghadangnya cukup untuk membunuh seorang manusia. Dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya kepandaian tokouw ini!

“Locianpwe, sungguh kebetulan sekali. Kalau saja siauwte tidak kehilangan guru siauwte dalam urusan ini, tentu siauwte sudah tertawa geli mendengar Locianpwe datang hendak minta kitab itu.”

“Apa yang telah terjadi?” Sepasang alis tokouw itu bergerak-gerak dan kedua matanya demikian tajam sehingga An Lu Shan tidak kuat untuk menentang lama-lama.

“Baru terjadi kemarin, Locianpwe. Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang kau minta itu telah dirampas orang dan suhu-ku Li Kong Hoat-ong bahkan sampai tewas melawan orang itu.”

“Lekas bilang, siapa yang merampasnya?” seru tokouw itu yang sama sekali tidak peduli tentang kematian Li Kong Hoat-ong.

“Dia adalah Hek-mo-ong yang tinggal di Hek-mo-san...”

Secepat kilat Kiu-bwe Coa-li memutar tubuhnya menghadapi Gui Tin.

“Betulkah demikian?”

Gui Tin hanya mengangguk dan diam-diam sastrawan ini tidak suka melihat sikap tokouw ini. Apa lagi setelah dia melihat bahwa tokouw ini sudah membunuh banyak penjaga di luar benteng!

Kiu-bwe Coa-li hendak pergi, akan tetapi ternyata Sui Ceng yang tadi masih digandeng, telah melepaskan gandengan tangannya dan anak itu sekarang nampak bercakap-cakap dengan seorang anak laki-laki gundul.

“Sui Ceng, mari!” seru tokouw ini dan sekali ia mengulur tangannya, ia mendorong Kwan Cu sehingga anak ini menggelundung seperti bola.

Akan tetapi Kwan Cu cepat melompat lagi dan menuding kepada Kiu-bwe Coa-li sambil berkata, “Mengapa kau begitu galak? Aku tidak suka melihat adik Ceng menjadi murid seorang galak! Ketahuilah, adik Ceng sudah diserahkan kepadaku untuk kujaga dan bila kau memperlakukan buruk padanya...”

Melihat betapa anak laki-laki gundul yang didorongnya itu tidak apa-apa, bahkan barusan mengeluarkan ucapan yang mengancam kepadanya untuk membela Sui Ceng, Kiu-bwe Coa-li menengok dan memandang terheran-heran. Hebat sekali anak gundul ini, pikirnya. Dia lalu ia berbisik kepada Sui Ceng dan anak perempuan ini berkata,

“Engko Kwan Cu, guruku ini baik sekali kepadaku! Ehh, aku ingin tanya, betul-betulkah penuturan mereka tentang Hek-mo-ong?”

Kwan Cu maklum bahwa tokouw ini masih tidak percaya penuh kepada An-ciangkun dan Gui-siucai, maka menggunakan Sui Ceng untuk bertanya kepadanya. Dengan demikian, itu berarti bahwa tokouw itu lebih percaya kepadanya! Hanya dalam sekejap mata saja anak yang berkepala gundul dan berotak cerdik ini bisa menghubung-hubungkan sesuatu dan menarik kesimpulannya pada saat itu juga!

“Adik Ceng, biasanya, orang yang tidak mudah percaya kepada orang lain itu mempunyai watak yang tak dapat dipercayai pula. Karena hendak mengukur watak orang lain seperti wataknya sendiri, maka dia selalu merasa khawatir kalau dibohongi orang!”

Sui Ceng tentu saja tidak mengerti akan maksud jawaban yang menyimpang dari pada pertanyaannya tadi, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li merasa sekali akan sindiran yang amat tepat ini. Anak gundul itu seakan-akan dapat membaca pikirannya!

“Keparat gundul!” bisiknya.

Sekali dia menarik tangan muridnya, kemudian menggerakkan tubuhnya, berkelebatlah bayangannya dan lenyaplah tokouw ini dari hadapan mereka! Kali ini, ketika berlari cepat keluar dari benteng, bayangannya hampir tidak dapat terlihat oleh para penjaga!

“Hebat...!” An Lu Shan berkata. “Celakalah Hek-mo-ong kalau bertemu dengan dia!”

Baru saja keadaan mereda setelah tokouw itu pergi, tiba-tiba terdengar suara di atas genteng, suara yang kecil tinggi. “Omitohud! Pinceng hanya datang mengganggu saja!”

Dan tiba-tiba genteng di atas ruangan itu pecah beterbangan, lalu tubuh seorang hwesio yang gemuk seperti gajah menerobos turun dari lubang di atas genteng itu! Walau pun tubuhnya besar dan gemuk, hampir sama dengan tubuh Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, akan tetapi ketika kaki hwesio ini menyentuh lantai sama sekali tidak terdengar suara apa pun, sungguh pun An Lu Shan yang masih duduk dapat merasakan betapa bangkunya tergetar dan dia terpental sedikit ke atas!

Pada saat semua mata memandang, ternyata bahwa hwesio ini berkulit agak kehitaman, bermata lebar dan misainya tergantung menutupi dagunya. Jubahnya hitam seluruhnya, hitam arang sehingga membuat mukanya yang berkulit kehitaman itu kelihatannya agak bersih. Tangan kiri hwesio gemuk ini memegang serangkaian tasbih, tangan kanannya memegang sebatang tongkat berkepala naga terbuat dari logam kuning seperti emas.

“Hek-i Hui-mo...,” terdengar Gui Tin berkata.

Hwesio ini segera menjura kepada sastrawan ini.

“Gui-siucai, kau masih tetap muda. Ha-ha-ha-ha, agaknya nasib akan menjodohkan kita sehingga tak lama lagi pinceng akan berkumpul dengan Gui-siucai, bersama mempelajari isi kitab!”

Setelah suaranya yang halus mengeluarkan kata-kata ini, mendadak dia menggerakkan tongkatnya ke depan An Lu Shan dan…

“Brakk!” meja di depan An Lu Shan menjadi hancur sama sekali tertimpa tongkat itu, biar pun dia hanya memukulkan perlahan saja.

An Lu Shan terkejut luar biasa dan mencelat ke belakang, bersiap sedia karena maklum bahwa dia kini berhadapan dengan tokoh besar dari barat, yaitu hwesio Tibet yang telah menyeleweng dan sekarang mengadakan permusuhan besar dengan hwesio Tibet aliran jubah kuning. Oleh karena penyelewengan inilah maka nama Hek-i Hui-mo (Iblis Terbang Berjubah Hitam) amat terkenal.

“An-ciangkun, pinceng tidak mau membuang banyak waktu. Lekas kau serahkan Im-yang Bu-tek Cin-keng kepada pinceng!” kini suaranya berbeda sekali karena terdengar amat ketus dan galak, mengandung ancaman hebat.

Akan tetapi An Lu Shan sudah menjadi mendongkol sekali. Kalau sekiranya yang datang bukanlah tokoh besar yang amat berbahaya ini, tentu dia akan menyerang mati-matian dan menyuruh seluruh barisannya untuk maju mengeroyok.

“Hemm, celaka sekali,” katanya, “kenapa hari ini aku betul-betul sial? Losuhu, ketahuilah bahwa kemarin kitab itu sudah dicuri oleh Hek-mo-ong, bahkan baru tadi Kiu-bwe Coa-li juga datang menanyakan. Sekarang Kiu-bwe Coa-li telah menyusul ke Hek-mo-san.”

Seperti juga Kiu-bwe Coa-li tadi, kini hwesio itu berpaling kepada Gui Tin dan bertanya. “Betulkah itu, Gui-siucai?”

“Memang betul demikian,” kata Gui Tin.

“Baiklah, kau beristirahat dulu baik-baik di sini, Gui-siucai. Kalau sudah terdapat kitab itu, pinceng akan menjemputmu di tempat ini!”

Sesudah berkata demikian, sekali dia menggerakkan kakinya, tubuhnya yang gemuk itu telah melayang naik dan menerobos melalui lubang yang tadi! Betul-betul hebat ginkang dari hwesio gemuk ini, karena itu tidak mengherankan apa bila julukannya adalah Iblis Terbang!

Celaka, pikir An Lu Shan. Sekarang benar-benar hebat! Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah dikejar oleh demikian banyak orang lihai. Tidak ada harapan sama sekali baginya untuk mendapatkan kitab itu kembali!

Sesungguhnya, yang pertama kali mendapatkan kitab itu adalah suhu-nya, yaitu Li Kong Hoat-ong. Maka setelah suhu-nya itu meninggal, An Lu Shan menganggap kitab itu telah menjadi haknya. Kalau tadinya dia masih mengandung harapan besar untuk mengambil kembali kitab itu dari tangan Hek-mo-ong yang lihai, tidak tahunya kini muncul banyak tokoh yang masih jauh lebih lihai dan berbahaya dari pada Hek-mo-ong sendiri! Habislah harapannya dan diam-diam dia mengerling ke arah Gui Tin. Untuk apa sastrawan tua ini dibiarkan hidup?

“Ia harus mati!” demikian An Lu Shan mengambil keputusan.

Kalau dia mati, biar pun seorang di antara tokoh-tokoh besar itu berhasil mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, namun apa gunanya? Tak seorang pun selain Gui-siucai mengerti akan bahasa tulisan kitab itu. Kalau sastrawan ini dibiarkan hidup sehingga ada orang lain yang mampu membaca kitab rahasia itu, bukankah hal itu berbahaya sekali?

Sekarang dia sudah mempunyai barisan yang kuat dan siasat-siasat perang yang lihai. Apa bila sampai ada yang mengerti rahasianya kemudian siasat-siasatnya itu dipecahkan orang, bukankah itu akan celaka sekali?

Sementara itu, terdengar Kwan Cu mengomel, “Benar-benar orang-orang tua itu sudah miring otaknya semua! Kitab palsu diperebutkan!” Baru saja dia bicara demikian, Gui Tin membentaknya dan baru Kwan Cu sadar bahwa dia telah berbicara terlalu banyak. Ia menyesal sekali dan mendekap mulutnya sendiri.

Akan tetapi An Lu Shan sudah bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri mereka.

“Coba katakan, apa artinya ucapan tadi, Kwan Cu? Kitab palsu, apakah maksudmu?”

Kwan Cu tak dapat menjawab, hanya berdiri memandang kepada komandan itu dengan mata terbuka lebar-lebar.

Akan tetapi An Lu Shan sudah menaruh kecurigaan dan tidak percaya akan keterangan ini. Memang dia hendak mencari-cari alasan untuk melenyapkan guru serta murid ini. Dia memegang tangan Kwan Cu dan menekannya keras-keras.

“Hayo kau mengaku terus terang, benarkah kitab itu palsu?”

Kwan Cu merasa tangannya sakit sekali, akan tetapi pada saat dia mengerahkan tenaga lweekang-nya yang selama ini dilatih menurut petunjuk kitab itu, mendadak An Lu Shan melepaskan pegangannya sambil berteriak kesakitan. Dari lengan anak itu seakan-akan menolak hawa yang panas sekali.

“Keparat! Kau bahkan sudah mempelajari isi kitab itu, ya? Hayo lekas katakan terus terang!”

Kwan Cu hanya tertawa, dan suara ketawanya ini mengobarkan kemarahan komandan itu. Sekali dia mengayun tangannya, dada Kwan Cu telah dipukulnya.

Bila menurut keadaan biasa, tentu dada anak ini akan pecah dan binasa di saat itu juga. Akan tetapi, tubuh anak ini hanya terlempar jauh dan kembali seperti ketika dia tertangkis oleh Hek-mo-ong, tubuhnya lalu membentur dinding. Anehnya, dia tidak apa-apa, karena ketika dipukul dia kerahkan hawa murni yang dikumpulkan di bagian dada yang terpukul sambil menahan napas sehingga tubuhnya seakan-akan terisi hawa yang kuat dan tidak terluka!

Melihat keanehan ini, semakin yakinlah An Lu Shan. Ia lalu menubruk maju dan kini dia memegang lengan Gui-siucai.

“Kau berbicaralah terus terang!”

Akan tetapi Gui Tin menggeleng-gelengkan kepala dan tidak mau menjawab pertanyaan ini. An Lu Shan menggunakan tenaganya menekan dan…

“Krakk!” terdengar suara dan ternyata tulang lengan Gui Tin telah remuk! Sastrawan tua ini berjengkit kesakitan. Namun dia tetap menutup mulut.

“Jangan kau sakiti guruku!” tiba-tiba Kwan Cu berseru keras.

Sekali melompat, dia telah berada di depan An Lu Shan dan merenggutkan lengan An Lu Shan yang menekan lengan Gui Tin. An Lu Shan merasakan sambaran angin datang dari serangan Kwan Cu, maka cepat dia mengelak dan kakinya menyambar. Sekali lagi Kwan Cu terlempar jauh.

An Lu Shan sudah marah sekali. Dia berteriak memanggil penjaga-penjaga dan berkata keras, “Tangkap mereka, rangket sampai mereka mengaku tentang kitab itu!”

Lima orang tentara yang biasa menjalankan perintah menyiksa tawanan atau lebih tepat disebut algojo-algojo, segera menyerbu dan sebentar saja Gui Tin dan Kwan Cu sudah ditangkap, lalu diseret keluar! Seorang di antara mereka mengeluarkan sebatang cambuk hitam dan mulailah guru dan murid ini dihajar, dicambuki seperti dua ekor binatang yang mogok kerja.

Darah mengalir dari kulit tubuh mereka yang tertimpa oleh cambuk. Tidak hanya pakaian mereka yang butut itu yang terobek, bahkan kulit dan muka mereka juga pecah-pecah mengeluarkan darah.

“Kwan Cu...” Giu-siucai mengeluh dengan tubuh lemah terkulai, menggantung di tangan seorang algojo yang memegangnya. “Carilah kitab aslinya, kau pelajari baik-baik, jangan seperti aku... lemah... kepandaian bu penting sekali agar dapat menghadapi orang-orang macam ini.”

Akan tetapi dia tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya karena sebuah tendangan tepat sekali mengenai ulu hatinya sehingga orang tua ini tiba-tiba merasa napasnya terhenti dan dia megap-megap seperti ikan dilempar di darat.

“Kejam! Kalian ini bukan manusia. Kejam!”

Kwan Cu meronta dan berhasil melepaskan diri, lalu menubruk gurunya. Akan tetapi satu ketokan dengan belakang golok membuat ia roboh terguling dan tangannya telah dicekal lagi, lalu dicambuki sampai pakaiannya hancur dan anak ini menjadi setengah telanjang!

Gui Tin sudah payah sekali. Dan betapa pun kuat tubuh Kwan Cu, tanpa memiliki ilmu silat, dia tidak berdaya dan agaknya guru dan murid ini tentu akan menemui kematian di tangan para algojo ini yang sudah mendapat perintah dari An Lu Shan untuk membunuh mereka.

Akan tetapi, pada waktu itu terdengar bunyi gembreng dan tambur dari luar benteng dan masuklah satu rombongan orang yang disambut dengan penghormatan besar oleh para penjaga.

Penyiksaan terhadap Gui Tin dan Kwan Cu otomatis dihentikan. An Lu Shan bersama An Lui Kui nampak tergesa-gesa menyambut kedatangan tamu agung itu. Ternyata bahwa yang datang adalah Menteri Lu Pin yang mendapat tugas dari kaisar untuk menaikkan pangkat An Lu Shan!

Dari jauh Lu Pin melihat kakek dan bocah pengemis itu dicambuki, maka begitu bertemu dengan An Lu Shan yang menjalankan penghormatan, dia lalu bertanya,

“Siapakah mereka itu dan mengapa dicambuki?”

“Ahh, Taijin. Mereka itu adalah dua orang penipu besar. Mereka adalah guru dan murid yang mengaku sebagai sastrawan dan yang kami perintahkan untuk menterjemahkan sebuah kitab kuno. Tiada tahunya mereka menipu kami dan menyatakan bahwa kitab itu palsu adanya.”

“Kitab kuno? Apakah An-ciangkun maksudkan bahwa kitab itu adalah Im-yang Bu-tek Cin-keng?”

Pucatlah muka An Lu Shan mendengar ini. “Ahh, Taijin sudah mendengar pula tentang kitab itu? Agaknya semua orang tahu akan kitab itu.”

“Tentu saja. Siapa yang tak mendengar akan kitab yang diperebutkan oleh semua orang di negeri ini? An-ciangkun, apakah kau benar-benar sudah menemukan kitab itu? Kalau benar begitu, kenapa tidak kau antarkan ke kota raja?” Menteri tua ini memandang penuh curiga dan selidik.

“Itulah Lu-taijin. Kami memang telah mendapatkan kitab, akan tetapi kami masih merasa ragu-ragu apakah kitab itu kitab yang asli, karena banyak kitab-kitab yang dipalsukan orang. Dan karena itu pula kami segera memerintahkan kepada sastrawan tua itu untuk menterjemahkannya. Tidak tahunya, dia menipu kami dan kitab itu dinyatakan palsu.”

“Mana kitab itu?”

An Lu Shan menarik napas panjang. Kini dia merasa puas dan lega bahwa kitab itu telah dirampas orang! Jauh lebih baik kitab itu jatuh ke dalam tangan para tokoh kang-ouw dari pada jatuh ke dalam tangan pemerintah! Ia kemudian menuturkan bahwa kitab itu telah dirampas orang. Menteri Lu Pin menghela napas dan menyatakan sayangnya. Lalu dia menyuruh orang membawa datang dua orang pengemis yang disiksanya tadi.

Setelah Gui Tin dan Kwan Cu diseret di hadapan Menteri Lu Pin, kebetulan sekali Gui Tin siuman dari pingsannya. Keadaannya sudah payah sekali, akan tetapi begitu dia melirik dan bertemu muka dengan Menteri Lu Pin, dia segera membuang muka dan meludah ke atas tanah.

Lu Pin memandang dengan penuh perhatian. “Ahh, bukankah kau ini Gui-twako?”

Gui Tin tetap saja membuang muka dan pandangan matanya penuh hinaan terhadap menteri itu.

“Benarkah kau Gui Tin...? Benarkah aku berhadapan dengan Gui-twako?” Menteri Lu Pin kembali bertanya, bahkan kini dia turun dari tempat duduknya yang tadi disediakan oleh seorang pengawalnya, lalu dihampirinya Gui Tin.

“Aku tidak sudi berkenalan dengan manusia she Lu!” mendadak Gui Tin berkata dengan suara keras dan marah sekali sehingga kembali dadanya terasa sakit dan dia pun roboh pingsan!

“Lekas tolong dia!” kata Lu Pin. “Dia adalah kenalan lama dariku. Hayo cepat tolong dan rawat dia baik-baik?”

An Lu Shan menjadi kaget sekali melihat bahwa menteri ini kenal baik dengan Gui Tin, karena itu dia cepat menyuruh orang-orangnya untuk menolong Gui Tin dan Kwan Cu. Kemudian Menteri Lu Pin lalu dibawa ke rumah gedung An Lu Shan yang berada di luar benteng. Memang komandan An ini telah membawa keluarganya dari kota raja ke tempat itu, akan tetapi karena merasa tak enak untuk tinggal bersama keluarga dalam benteng, dia lalu membuah sebuah rumah gedung di luar benteng.

Lu Pin lalu menyuruh An Lu Shan untuk membawa Gui Tin dan muridnya ke rumah itu pula untuk dirawat. Akan tetapi keadaan Gui Tin demikian parah sehingga dia tak pernah siuman lagi, kecuali satu kali di tengah malam ketika dia meninggalkan pesan kepada Kwan Cu bahwa anak ini harus mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

“Kwan Cu.” bisiknya di atas pembaringan. “Untuk mendapatkan kitab itu, satu-satunya jalan hanya membaca dan mempelajari kitab sejarah yang masih kusimpan di dalam goa di hutan siong di lereng Bukit Liang-san. Di dalam dusun di lereng bukit sebelah barat, asal kau tanyakan di mana tempat tinggal Gui-lokai (pengemis tua she Gui), tentu semua orang akan dapat memberi tahu. Goa itu kosong dan aku menyimpan peti besi di bawah tanah. Bukalah dan carilah kitab sejarah yang tulisannya sama dengan isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kau pelajari sejarah itu dan kemudian kau carilah kitab itu. Dunia kacau balau, kekerasan dan kekuatan selalu memegang peranan penting, kalau tidak dilawan oleh kekerasan dan tenaga pula, kita tidak berdaya. Taatilah pesanku ini, Kwan Cu.”

Kwan Cu mengangguk-angguk sambil mencegah keluarnya air matanya. Ia tidak mudah terharu, tetapi melihat keadaan gurunya yang sangat dikasihinya ini, dia merasa kasihan juga.

Gui Tin meninggal dunia dan berkat pengaruh Lu Pin, dia dimakamkan dengan pantas di dusun itu. Ada pun Kwan Cu yang bersembahyang di depan makam bekas gurunya ini, merasa sunyi sekali. Tiba-tiba dia disuruh datang menghadap Menteri Lu Pin.

Setelah dia berhadapan dengan menteri ini, Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa wajah menteri ini benar-benar sangat agung dan mendatangkan rasa sayang. Gerak-geriknya halus seperti Gui-siucai, dan amat peramah pula.

“Anak, apakah kau murid dari Gui-twako?”

“Benar, Taijin.”

“Apa saja yang kau pelajari dari gurumu itu?”

“Membaca, menulis, dan mempelajari syair-syair dan ujar-ujar kuno,” Kwan Cu menjawab terus terang.

Mendengar jawaban yang lancar serta melihat sikap Kwan Cu yang sopan-santun, jujur, dan tidak merendah ini, Lu Pin merasa suka juga.

“Anak baik, siapakah namamu?”

“Nama hamba Kwan Cu.”

“Nama keluargamu?”

“Hamba she Lu”

Menteri Lu Pin tercengang.

“Siapa orang tuamu?”

“Hamba tidak tahu. Nama dan she hamba juga hamba terima sebagai pemberian orang lain kepada hamba,” kata Kwan Cu terus terang.

Mau tidak mau Lu Pin tertawa juga. “Ahh, aneh sekali. Siapakah orangnya yang memberi she Lu kepadamu?”

“Hamba menerima she Lu itu dari pemberian seorang tua yang gagah perkasa, Ang-bin Sin-kai.”

“Ang-bin Sin-kai?!” Lu Pin benar-benar terkejut. “Ehhh, anak baik, masih ada hubungan apakah antara kau dan dia?”

“Tidak ada hubungan apa-apa, Taijin. Hanya Ang-bin Sin-kai hendak mengambil murid kepada hamba, akan tetapi hamba tidak mau.”

Lu Pin tertawa gembira. “Dia orang aneh, akan tetapi kau seorang bocah yang lebih aneh lagi. Dan namamu itu, Kwan Cu, pemberian siapa pula?”

“Nama hamba diberi oleh seorang hwesio gemuk bernama Kak Thong Taisu.”

Kembali menteri tua itu tertegun. “Ahh, benar-benar kau bocah aneh sekali. Masih sekecil ini sudah mengalami hal yang tidak sembarangan anak dapat mengalaminya. Diberi she oleh Ang-bin Sin-kai, diberi nama oleh Kak Thong Taisu, menjadi murid dari Gui-siucai, kini kau bercakap-cakap dengan aku! Ah, Lu Kwan Cu, apakah kau tidak ingat lagi siapa adanya ayah bundamu?”

Kwan Cu menggelengkan kepalanya. “Ayah hamba adalah langit dan ibu hamba adalah bumi. Saudara-saudara hamba adalah semua manusia di dunia ini,” Kwan Cu menjawab sambil meniru ujar-ujar yang pernah dibacanya.

Bukan main terharunya hati Lu Pin mendengar ini. Ia melambaikan tangannya dan ketika Kwan Cu mendekat, menteri tua ini lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya yang gundul.

Sebagaimana diketahui, Menteri Lu Pin hanya mempunyai seorang putera dan seorang cucunya amat tidak berkenan dalam hatinya. Kini melihat Kwan Cu, timbul sukanya.

“Kwan Cu, marilah kau ikut dengan aku saja ke kota raja. Kau akan kudidik dengan ilmu kesusastraan, dan sungguh pun aku tidak sepandai mendiang gurumu, akan tetapi kau akan berhasil dengan cita-citamu. Kau tinggallah bersama aku, kau kuanggap sebagai cucuku sendiri, Kwan Cu.”

Terharu sekali hati Kwan Cu. Belum pernah ada orang yang sikapnya demikian halus dan ramah tamah kepadanya, apa lagi seorang pembesar tinggi seperti Menteri Lu Pin ini.

“Hamba boleh menyebut kongkong kepada Taijin?”

“Tentu saja, karena dalam pandanganku, kau adalah cucuku sendiri, Kwan Cu.”

Saking girangnya Kwan Cu lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan menteri tua itu dan tak tertahankan pula dua titik air mata kemudian mengalir turun ke pipinya yang kurus. “Kongkong...” katanya.

Lu Pin juga merasa terharu, segera dipeluknya anak itu. “Kau harus berganti pakaian, cucuku, dan besok kau ikut aku ke kota raja.”

“Tidak, Kongkong. Tidak sekarang. Biarlah kelak aku akan mencari Kongkong. Sekarang aku mempunyai tugas lain yang lebih penting.”

“Tugas...?” Menteri Lu Pin membelalakkan matanya. “Kau...? Tugas apa dan dari siapa, cucuku?”

“Tugas yang telah dipesankan oleh mendiang Gui-lopek, dan tugas itu adalah...” Anak ini menengok ke kanan kiri, kemudian melanjutkan dengan perlahan, “tugas mencari kitab asli Im-yang Bu-tek Cin-keng.”

Kembali untuk ke sekian kalinya menteri tua itu tertegun. Kemudian dia menghela napas. “Memang kau seorang anak ajaib! Benar-benar kau bocah ajaib! Baiklah, aku juga tahu bahwa orang-orang aneh seperti Ang-bin Sin-kai dan kau tak akan mudah dibantah. Kau pergilah, akan tetapi ingat bahwa aku selalu menanti kau sebagai kongkong-mu!”

Sesudah berkata demikian, Menteri Lu Pin lalu memberi bekal sekantong uang emas kepada Kwan Cu, dan memberitahukan An Lu Shan agar semua anak buahnya jangan mengganggu anak ini. Sesudah berpamit dan menghaturkan terima kasihnya, Kwan Cu bersembahyang lagi di hadapan makam Gui Tin, lalu pergilah anak ini, menuju ke Goa Liang-san untuk mencari simpanan kitab-kitab mendiang gurunya…..

*****

Sesudah berhasil merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dengan hati gembira sekali Hek-mo-ong berlari cepat sambil tertawa-tawa menuju ke rumahnya di puncak gunung Hek-mo-san. Ia tinggal bersama dua orang adiknya dan isteri serta ipar-iparnya di dalam satu rumah besar di kampung yang cukup ramai, di mana dia dianggap sebagai seorang tuan tanah yang cukup kaya-raya. Memang sejak bertahun-tahun yang lalu, Hek-mo-ong tidak berkelana lagi di dunia kang-ouw, melainkan hidup aman di dalam kampung ini.

Ketika dia melangkah masuk ke dalam rumahnya, dia disambut oleh dua orang adiknya yang juga dua orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kasar, yang menyambutnya bersama isteri-isterinya yang cantik. Isteri Hek-mo-ong sendiri masih muda, lagi cantik dan genit sekali. Melihat kegembiraan Hek-mo-ong, mereka beramai-ramai mengajukan pertanyaan.

Akan tetapi Hek-mo-ong hanya menjawab sambil tertawa-tawa. “Lekas bikin masakan yang enak, keluarkan arak yang wangi! Kita rayakan hari besar ini, karena tak lama lagi aku Hek-mo-ong akan menjagoi di seluruh permukaan bumi! Tunggu saja kalian, Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu, Pak-lo-sian, Hek-i Hui-mo, dan Kiu-bwe Coa-li! Sebentar lagi, kalian terpaksa harus bertekuk lutut dan tunduk kepadaku, mengakui keunggulan Hek-mo-ong sebagai orang yang terpandai! Ha-ha-ha-ha-ha!”

Adik-adiknya, ipar-iparnya, juga isterinya sudah tahu akan keanehan watak Hek-mo-ong, karena itu mereka tidak berani bertanya lagi sebelum orang ini menceritakannya sendiri. Maka, segera makanan dan arak disediakan lalu mereka makan minum dengan gembira sekali.

Setelah makan kenyang, barulah Hek-mo-ong mengeluarkan peti hitam itu dari sakunya, meletakkannya di atas meja sambil berkata bangga.

“Lihat, inilah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

“Twa-pek (Uwa), mengapa kitab seperti kotak kayu?” memotong seorang anak kecil yang menjadi putera dari saudara termuda.

“Kau tahu apa?!” bentak ayahnya atau adik termuda dari Hek-mo-ong. “Kotak itu hanya tempat saja, tentunya.”

Karena tidak sabar lagi, mereka lalu mendesak kepada Hek-mo-ong untuk membuka peti itu. Pada waktu peti itu dibuka, kedua orang adik Hek-mo-ong menjenguk dari kanan kiri. Hek-mo-ong tertawa-tawa, lalu menggunakan kedua tangannya untuk membuka peti itu.

“Ser! Serr! Serrr…!”

Berturut-turut, tujuh batang anak panah yang secara pandai dipasang oleh An Lu Shan itu menyambar ke atas cepat sekali. Kalau saja bukan Hek-mo-ong, tentu orang yang membukanya akan mati saat itu juga, terpanggang oleh anak-anak panah itu.

Akan tetapi Hek-mo-ong sudah mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Begitu melihat menyambarnya cahaya hitam dari dalam peti, dia berseru keras dan kedua tangannya bergerak menangkis sehingga anak-anak panah itu terpental ke kanan kiri.

Celaka sekali, kedua adiknya yang menjenguk dari kanan kiri itu tidak sempat mengelak dan tepat sekali muka mereka tertembus anak-anak panah sehingga mereka roboh tak berkutik lagi. Muka itu menjadi bengkak dan biru, amat mengerikan.

Tentu saja isteri-isteri mereka menangis dan menjerit-jerit memeluki mayat dua orang itu. Hek-mo-ong sendiri untuk beberapa lama berdiri bagaikan patung, akan tetapi sesudah mengeluarkan kitab itu dan membalik-balikkan lembarannya, timbul lagi kegembiraannya.

“Sudah, jangan menangis lagi. Mereka sudah mati, sudahlah. Sudah patut kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng didapatkan dengan pengorbanan besar. Urus jenazah mereka baik-baik, dan kalian ini tidak usah menangis, mulai sekarang boleh ikut aku saja sebagai pengganti suami-suamimu.”

Tidak seorang pun berani membantah, akan tetapi ucapan ini saja sudah cukup dipakai ukuran orang macam apa adanya Hek-mo-ong ini! Tanpa menghiraukan perkabungan dan sambil tertawa-tawa, dia lalu minum arak dan membalik-balik lembaran kitab yang baru saja dirampasnya itu.

Akan tetapi, mendadak dia menjadi pucat sekali dan mukanya meringis-ringis menahan sakit. Kedua tangannya bergerak memegangi perut, dada, dan leher karena dia merasa betapa bagian-bagian tubuh itu terasa amat panas dan sakit.

“Celaka... keparat An Lu Shan... aduh...!” Ia terhuyung-huyung, menubruk meja sehingga kitab itu terlempar ke atas lantai.

Isterinya beserta ipar-iparnya memburu dan menubruknya.

“Aduh...” Hek-mo-ong menjerit-jerit, ada pun mulutnya mulai berbusa. “Awas... peti itu... jangan disentuh... aduh, mati aku!” tubuhnya kaku, matanya mendelik, mulutnya berbusa dan dia tidak bernapas lagi!

Apa bila orang lain, tentu sudah semenjak tadi mati karena pengaruh racun. Tadi dia memegang-megang peti, kemudian makan. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kasar seperti Hek-mo-ong, biar pun tangannya kotor, kalau mau makan terus saja makan tanpa mencuci atau membersihkan tangannya, maka sebentar saja racun di tangannya terbawa masuk ke perut. Akan tetapi dia memang bertubuh kuat sehingga racun itu agak lama merobohkannya.

Isteri-isteri dari tiga orang itu beserta anak-anak dan keluarganya, tentu saja menangis dan sebentar saja di situ terdengar jerit tangis ramai sekali. Pada waktu dua orang adik Hek-mo-ong tadi tewas, mereka tidak berani menangis karena takut kepada Hek-mo-ong. Setelah sekarang Hek-mo-ong sendiri mati, semua orang menangis sepuasnya!

Dengan dibantu oleh para tetangga dan orang sedusun yang datang berlayat, keluarga itu lalu mengurus tiga jenazah itu. Dan atas perintah isteri Hek-mo-ong, peti hitam itu lalu dibakar, ada pun kitabnya lalu ditaruh di atas meja sembahyang yang diletakkan di depan peti mati Hek-mo-ong. Tiga peti mati dijajarkan dan peti mati Hek-mo-ong ditempatkan di tengah-tengah. Juga meja sembahyangnya paling besar.

Pada keesokan harinya, pada waktu orang-orang masih ramai bersembahyang dan hio mengebulkan asapnya bergulung-gulung, seorang tokouw datang ke tempat itu! Tangan kanan tokouw itu memegang cambuk berbulu sembilan helai, sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan seorang anak perempuan yang mungil dan cantik manis. Tokouw ini bukan lain adalah Kiu-bwe Coa-li dan muridnya Bun Sui Ceng!

Pada saat Kiu-bwe Coa-li melihat tiga peti mati itu berjajar di halaman dan semua orang menangis dan berkabung, dia mengerutkan keningnya. Ada pun keluarga Hek-mo-ong segera menyambut tokouw ini, bagai layaknya menyambut seorang pertapa wanita yang mereka anggap datang untuk memberi hiburan kepada warga yang mati.

“Silakan duduk, Suthai,” kata mereka.

Kiu-bwe Coa-li tidak menjawab, melainkan memandang ke arah peti-peti mati, kemudian matanya mencari-cari sesuatu dengan pandangan yang tajam sekali.

“Di mana Hek-mo-ong?” tanyanya tiba-tiba dengan suara kereng.

Ditanya demikian, isteri dari Hek-mo-ong melangkah maju dan menangis.

“Suthai yang mulia, suamiku telah meninggal dunia,” lalu tangisnya makin menjadi.

Kiu-bwe Coa-li tertegun dan memandang tajam. “Yang mana petinya?” tanyanya pula.

Karena tidak menyangka buruk, isteri Hek-mo-ong lalu menunjuk ke arah peti mati yang berada di tengah-tengah sambil berkata, “Itulah peti mati suamiku.”

Dengan langkah perlahan Kiu-bwe Coa-li lalu menghampiri peti itu. Sui Ceng tak senang melihat peti mati, maka semenjak tadi dia sudah melepaskan tangannya dari gandengan gurunya. Sekarang anak ini duduk di atas sebuah bangku dan memandang ke arah meja sembahyang dengan perasaan heran serta kagum melihat hiasan-hiasan dalam upacara sembahyang itu.

Kiu-bwe Coa-li mendekati peti mati Hek-mo-ong, kemudian mengulur tangan kirinya dan menepuk-nepuk peti mati itu beberapa kali secara perlahan. Semua orang menyangka bahwa pendeta wanita itu memberi berkah kepada yang mati, maka mereka menjadi terharu dan girang. Tidak seorang pun di antara mereka pernah mengira bahwa tepukan-tepukan perlahan itu adalah serangan-serangan pukulan lweekang yang dahsyat bukan main!

Ternyata bahwa Kiu-bwe Coa-li masih belum percaya penuh akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati itu. Kemudian dia melirik ke arah peti mati yang berada di kanan kiri peti mati Hek-mo-ong.

“Siapa yang berada di dalam dua peti mati itu?” tanyanya kepada isteri Hek-mo-ong.

“Mereka adalah kedua adik suamiku, Suthai,” jawab nyonya itu sambil sesunggukan. Dan kembali ramai orang-orang menangis di tempat itu.

Pada saat itu terdengarlah suara ketawa keras. Semua orang terkejut dan menengok. Ternyata, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan peti-peti mati itu sudah berdiri seorang hwesio gemuk bundar berpakaian serba hitam yang berkali-kali menyebut nama Buddha.

“Omitohud!” Kemudian, sambil mengoceh seorang diri, dia berkata lagi, “Tidak tahunya iblis neraka telah mendahului pinceng (aku) dan merenggut nyawa Hek-mo-ong.”

“Hemm, Hek-i Hui-mo, alat penciumanmu lebih tajam dari seekor anjing buduk!” berkata Kiu-bwe Coa-li dengan senyum mengejek.

Hwesio itu yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo, tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha! Kiu-bwe Coa-li, kau benar-benar cepat. Hampir saja pinceng ketinggalan!”

Setelah berkata demikian, hwesio ini lalu melakukan upacara sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong. Akan tetapi yang dia pakai sembahyang bukannya hio yang dibakar, melainkan tiga batang hio hitam yang tidak dibakar. Orang-orang merasa heran sekali, akan tetapi Kiu-bwe Coa-li maklum bahwa tiga batang hio hitam itu sebenarnya bukanlah hio, melainkan tiga batang jarum hitam yang disebut Hek-tok-ciam (Jarum Racun Hitam)!

Mulut hwesio ini berkemak-kemik membaca doa, kemudian setelah selesai sembahyang dia menggerakkan tangannya dan lenyaplah tiga batang hio hitam itu! Orang-orang lain tidak tahu ke mana perginya benda-benda hitam itu dan mereka mengira hwesio gemuk ini main sulap.

Akan tetapi Kiu-bwe Coa-li tersenyum dan tahu bahwa hwesio Tibet yang lihai ini telah menyambitkan jarum-jarum itu yang meluncur laksana kilat ke arah tiga buah peti mati dan telah menembusi peti-peti itu untuk menyerang isinya! Jadi seperti juga dia sendiri, Hek-i Hui-mo Si Iblis Terbang Baju Hitam ini tidak percaya akan kematian Hek-mo-ong dan diam-diam menyerang isi peti mati!

“Sebelum mati, suamimu membawa sebuah peti kecil terisi kitab, di manakah ditaruhnya peti itu? Peti itu adalah milikku, sekarang harap dikeluarkan dan dikembalikan kepadaku!” Kata Kiu-bwe Coa-li kepada isteri Hek-mo-ong.

“Peti celaka itu!” seru isteri Hek-mo-ong. “Peti hitam celaka itulah yang telah membunuh suamiku dan adik-adiknya! Kami telah membakar peti siluman itu, Suthai!”

Terdengar seruan tertahan dan tahu-tahu Kiu-bwe Coa-li bersama Hek-i Hui-mo sudah bergerak dan berdiri di depan nyonya itu, sikap mereka mengancam dan beringas sekali.

“Sudah dibakar?!” tanya Hek-i Hui-mo dengan suara parau dan keras sehingga nyonya Hek-mo-ong terkejut sekali.

“Dan isinya, kitab itu... apakah terbakar pula?” tanya Kiu-bwe Coa-li, pandang matanya mengancam.

Kalau nyonya itu menganggukkan kepala, tak salah lagi dia tentu akan mati dalam sekali pukul oleh dua orang tokoh kang-ouw yang amat mengerikan itu. Akan tetapi nyonya itu menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk ke arah meja sembahyang di depan peti mati Hek-mo-ong.

“Itulah dia kitab setan itu, yang tadinya berada di dalam peti hitam.”

Tubuh Kiu-bwe Coa-li berkelebat ke arah meja hendak mengambil kitab itu. Akan tetapi tahu-tahu di dekat kitab itu, di atas meja, terdengar bunyi nyaring dan tiga batang jarum hitam telah menancap di situ! Kiu-bwe Coa-li cepat melompat ke belakang dan menoleh pada Hek-i Hui-mo yang berdiri tersenyum-senyum!

“Aha, Hek-i Hui-mo! Kau hendak main-main dengan pinni?” tanya Kiu-bwe Coa-li dengan pandang mata tajam dan cambuknya digerak-gerakkan dalam tangannya.

“Kiu-bwe Coa-li, kita datang di tempat yang sama dan dengan maksud yang sama pula. Tidak boleh kau mau menang sendiri saja! Aku pun membutuhkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!”

Dua orang tokoh besar itu berdiri saling pandang dengan sikap mengancam. Keduanya sama jauhnya dari meja sembahyang di mana keduanya maklum bahwa bergerak lebih dahulu berarti bahaya maut. Mereka saling menanti, dan sekali lawannya bergerak, tentu akan mengirim serangan.

Ada pun keluarga Hek-mo-ong, ketika sadar dan tahu bahwa dua orang ini sebenarnya sama sekali bukanlah orang-orang suci yang datang hendak menghibur mereka, bahkan sebaliknya adalah orang-orang jahat yang datang hendak mengacau, menjadi panik dan makin bersedih. Terdengar tangisan-tangisan dan sebentar saja keadaan di situ menjadi gaduh sekali.

Tiba-tiba terdengar suara orang mencela, “Hee, kalian ini apakah sudah gila? Menangis tidak karuan padahal seharusnya bersyukur! Hayo diam semua jangan menangis, kalau tidak akan kutampar mulutnya siapa yang menangis!”

Semua orang terheran dan kaget sehingga suara tangisan benar-benar lenyap. Memang, seperti biasanya di dalam sebuah kematian, sebagian besar tangisan orang hanyalah air mata buaya belaka, yaitu tangis palsu asal keluar air mata saja agar membuktikan bahwa mereka benar-benar berduka!

Ternyata yang baru saja menegur adalah seorang kakek berpakaian seperti pengemis yang tubuhnya kurus tinggi. Sesudah semua orang berhenti menangis, kakek ini lantas bernyanyi! Suara nyanyinya yang parau itu mengucapkan kata-kata yang cukup aneh!

Ahh, Hek-mo-ong!
Kau benar-benar amat berbahagia!
Kau telah kembali ke asalmu semula,
tidak seperti kami yang masih menjadi manusia!
Ahh, kau benar-benar berbahagia, Hek-mo-ong!


Kiu-bwe Coa-li dan Hek-i Hui-mo yang tadinya saling pandang dan sudah bersiap-siap untuk memperebutkan kitab di atas meja sembahyang itu, seketika air mukanya berubah ketika melihat pengemis kurus kering ini.

“Ang-bin Sin-kai, engkau juga datang? Kau tidak mau ketinggalan pula?” Kiu-bwe Coa-li menyindir.

“Ha-ha-ha-ha, tua bangka dari timur mana mau mengalah? Ada tulang baik dan daging gemuk, tentu datang anjing!” Hek-i Hui-mo juga menyindir.

Akan tetapi baik Hek-I Hui-mo mau pun Kiu-bwe Coa-li kini lebih waspada dan bersiap lagi mengawasi gerak-gerik Ang-bin Sin-kai, menjaga jangan sampai pengemis kurus itu mendahului mereka mengambil kitab di atas meja!

“Kau benar, Setan Hitam! Memang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng tidak boleh terjatuh ke dalam tanganmu yang kotor!” Ang-bin Sin-kai yang dimaki itu tersenyum-senyum saja.

Mendadak menyambar angin keras dan tubuh seorang lain yang gemuk bundar seperti tubuh Hek-i Hui-mo, datang bagaikan ‘menggelundung’! Ternyata dia adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Tiasu, tokoh pertama dari selatan.

“Omitohud, bakal ramai sekarang!” katanya sambil matanya yang bundar itu jelalatan ke kanan kiri. “Pengemis bangkotan, kau juga sudah ada di sini?” katanya kepada Ang-bin Sin-kai.

Pembaca tentu masih ingat akan hwesio gemuk ini, karena pada permulaan cerita ini, dia sudah muncul bersama Ang-bin Sin-kai dan mengadu kepandaian di pinggir pantai Laut Po-hai, maka tak perlu kiranya dituturkan pula betapa hebat dan lihai kepandaian hwesio gemuk ini!

“Bagus, bagus! Dengan munculnya si gundul gendut ini, benar-benar menggembirakan!” berkata Ang-bin Sin-kai yang segera menyambar sebuah bangku dan menduduki bangku itu. Matanya terus mengincar ke arah kitab yang terletak di atas meja sembahyang.

Empat tokoh besar ini telah mengetahui kepandaian masing-masing dan tak seorang pun di antara mereka berani lancang bergerak untuk mengambil kitab itu. Sudah jelas bahwa mereka semua datang untuk memperebutkan kitab itu, namun karena kitab itu berada di atas meja dan mereka berempat sudah berada di sana, siapakah yang berani lancang turun tangan lebih dulu? Oleh karena itu, Ang-bin Sin-kai memilih tempat duduk, karena dia tahu bahwa menanti sambil berdiri saja amat melelahkan.

Tidak tahunya, akalnya ini diketahui pula oleh yang lain-lain, maka yang tiga orang lagi pun segera menyambar bangku dan ikut duduk! Empat orang itu kini duduk tak bergerak mengelilingi meja sembahyang dalam jarak yang sama jauhnya. Masing-masing memutar otak mencari akal bagaimana dapat mengambil kitab itu!

Tiba-tiba Kiu-bwe Coa-li berseru nyaring dan tahu-tahu pecutnya yang berbulu sembilan helai itu menyambar ke arah meja. Ia hendak mencoba mengambil kitab itu dengan ujung cambuknya.

Akan tetapi, sebelum pecut itu mencapai kitab, sebatang tongkat berkepala naga datang menyambar dan menangkis pecut itu sehingga terpental kembali! Ternyata Hek-i Hui-mo yang duduknya paling dekat dengan Kiu-bwe Coa-li telah menangkis dan menggagalkan niat wanita sakti itu!

“Eh, ehh, nanti dulu, Kiu-bwe Coa-li,” kata hwesio dari Tibet ini sambil tertawa terkekeh.

Pada saat Kiu-bwe Coa-li memandang, dia melihat Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu juga memandangnya dengan senyum penuh arti. Senyum yang menyatakan bahwa mereka berdua ini pun tidak akan tinggal diam saja kalau wanita tua itu turun tangan.

“Hemm, berat nih...,” pikir Kiu-bwe Coa-li, lalu ia duduk kembali sambil mengerling ke kiri kanan. “Apakah kalian begitu pengecut tidak berani mendahului turun tangan mengambil kitab itu?” tanyanya.

Akan tetapi, tiga orang kakek itu tidak menjawab, hanya duduk saja sambil tersenyum-senyum. Benar-benar keadaan mereka lucu sekali, kini hanya duduk diam saja, bagaikan empat orang kawan lawan yang baru bertemu dan mengobrol mengitari meja!

“Bagus, baiknya aku belum terlambat!” mendadak terdengar suara halus dan datanglah seorang kakek bertubuh pendek kecil diikuti oleh dua orang anak laki-laki di tempat itu.

Semua orang menengok dan ternyata kakek ini adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, tokoh besar dari utara! Ada pun dua orang anak kecil itu adalah murid-muridnya, yakni Gouw Swi Kiat dan The Kun Beng.

Dua orang anak-anak ini sudah sering kali mendengar dari suhu mereka tentang empat orang tokoh yang kini duduk mengelilingi meja sembahyang. Maka, mereka tidak berani mendekat, lalu menghampiri Ben Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li, karena melihat anak perempuan yang mungil dan cantik duduk di tempat agak jauh sambil menonton.

“Bagus, tua bangka dari utara sekarang sudah datang, kaulah yang boleh mulai mencoba mengambil kitab itu. Bukankah untuk itu kau datang?” tanya Kiu-bwe Coa-li.

Akan tetapi Siangkoan Hai Si Dewa Dari Utara bukanlah seorang bodoh. Hanya melihat sekelebatan saja, dia tahu bahwa empat orang ini tidak berani mengambil kitab, karena kalau seorang mengambil, yang lain tentu akan mencegahnya. Ia tertawa terkekeh-kekeh sambil memandang mereka berempat itu berganti-ganti.

“Heh-heh-heh! Dunia ini ternyata tak lebih lebar dari pada setapak tangan. Tak kusangka bahwa aku di sini akan bertemu dengan Kiu-bwe Coa-li dan Jen-kin-jiu Kak Thong Taisu dari selatan! Hek-i Hui-mo dari barat dan Ang-bin Sin-kai dari timur! Hebat benar! Apakah seluruh dunia sudah terbakar oleh api neraka sehingga iblis-iblis dan setan-setan datang berkumpul di sini? Dan berkumpul mengelilingi meja kematian pula! Heh-heh-heh! Orang yang berada di dalam peti mati ini benar-benar seorang yang beruntung dan terhormat. Kaisar sendiri kalau mati tak mungkin dapat mengundang datang setan-setan dari barat, timur dan selatan!”

“Ehh, tua bangka kecil, kau lupa menyebutkan iblis dari utara!” kata Ang-bin Sin-kai.

“Ha-ha-ha!” Jeng-kin-jiu tertawa. “Memaki orang lain memang mudah, mana bisa memaki diri sendiri?”

Disindir oleh dua orang kakek itu, Siangkoan Hai hanya tersenyum-senyum saja, lalu dia menghampiri peti mati di mana tersimpan jenazah Hek-mo-ong. Empat orang yang lain segera memandang dengan penuh perhatian dan kecurigaan. Pak-lo-sian Siangkoan Hai memandang peti mati itu, lalu berkata lagi,

“Ingin aku melihat orang yang mendapat kehormatan demikian besar!” sambil berkata demikian, dua tangannya bergerak ke arah peti dan tiba-tiba sambil mengeluarkan suara keras, tutup peti itu telah dibukanya!

Semua keluarga yang mati berseru keras dan lari berserabutan ke belakang dan keluar, cepat-cepat pergi dari tempat itu. Mereka ketakutan setengah mati karena kedatangan lima orang yang seperti iblis-iblis berkeliaran itu.

Pemandangan yang nampak di dalam peti memang mengerikan sekali. Tadinya, karena pengaruh racun jahat yang memasuki perut Hek-mo-ong, muka orang ini sudah menjadi hitam kebiruan. Akan tetapi sekarang, kepalanya telah pecah sedangkan di ulu hatinya menancap jarum hitam! Inilah akibat dari pukulan lweekang dari Kiu-bwe Coa-li yang tadi meraba-raba peti dan serangan jarum hitam dari Hek-i Hui-mo!

“Siancai, siancai...!” Pak-lo-sian menyebut sambil cepat-cepat menutupkan peti kembali. “Benar-benar Hek-mo-ong telah mampus. Bahkan tiga kali mampus.”

Bun Sui Ceng, murid Kiu-bwe Coa-li, dan kedua orang murid Pak-lo-sian, segera berdiri menonton semua itu. Mereka bertiga sama sekali tidak takut melihat pemandangan yang mengerikan itu. Bahkan Sui Ceng dengan senyuman yang membuat pipi kirinya dekik, melirik ke arah The Kun Beng dan Gouw Swi Kiat, lalu berkata,

“Guru kalian itu bertubuh kecil, akan tetapi berkepala besar. Orang sombong seperti dia mana bisa mendapatkan kitab?”

Mendengar ucapan ini, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas lalu menjawab, “Kau bocah ingusan tahu apa? Lihat betapa suhu kami akan merampas kitab itu!”

“Huh! Sebelum dia menyentuh kitab, kepalanya akan hancur seperti kepala Hek-mo-ong oleh tangan guruku!” kata Sui Ceng sambil menjebikan bibirnya yang merah.

“Betulkah?” seru Swi Kiat penasaran. “Atau kepalamu yang akan pecah terlebih dulu oleh tanganku?” Sikapnya mengancam dan dia seakan-akan hendak menyerang nona cilik itu.

“Suheng, kenapa mencari perkara? Tiada salahnya dia ini membela dan memenangkan gurunya sendiri. Kita lihat sajalah buktinya nanti.” The Kun Beng mencegah suheng-nya.

Mendengar ini, Sui Ceng melirik ke arah Kun Beng dan diam-diam di dalam hatinya Sui Ceng merasa jauh lebih suka kepada Kun Beng dari pada Swi Kiat.

Sementara itu, Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang tak mau membuang-buang banyak waktu untuk menanti sambil memandangi kitab yang amat diinginkannya itu, tiba-tiba melompat dan sekali sambar saja dia sudah mengambil kitab itu. Akibatnya hebat sekali. Serentak empat orang tokoh yang lain bangun dan bergerak menyerang.

“Lepaskan kitab itu!” seru Kiu-bwe Coa-li yang lebih dulu menyerang dengan cambuknya.

Siangkoan Hai cepat mengelak, akan tetapi dia disambut oleh serangan bertubi-tubi dari Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan Ang-bin Sin-kai! Serangan-serangan tiga orang ini tentu saja tak bisa dipandang ringan, sebab kepandaian mereka setingkat dengan kepandaian Siangkoan Hai.

Dengan kaget Siangkoan Hai mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya melompat ke belakang secepatnya, namun masih saja sebuah pukulan dari jauh yang dilancarkan oleh Ang-bin Sin-kai mengenai pundaknya sehingga dia menjadi terhuyung-huyung!

Pada saat itu, Kiu-bwe Coa-li telah menubruk lagi dan sekali renggut, dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Merampas Bunga, kitab di tangan Siangkoan Hai itu telah dapat dirampas olehnya!

Kiu-bwe Coa-li yang sudah dapat merampas kitab hendak melompat ke arah muridnya dan hendak melarikan diri sambil membawa muridnya itu. Akan tetapi sebelum ia tiba di depan Sui Ceng, di depannya telah menghadang Hek-i Hui-mo!

“Enak saja kau mau membawa pergi kitab itu? Lepaskan!” kata Iblis Terbang Baju Hitam ini dan tasbihnya di tangan kiri menyambar ke arah dada Kiu-bwe Coa-li!

Serangan hebat ini dapat mendatangkan maut, karena meski pun hanya berupa tasbih, namun senjata aneh ini bukan main lihainya, merupakan segundukan cahaya putih yang bulatan tasbih itu menghantam ke arah jalan darah di dada.

Kiu-bwe Coa-li cepat menggerakkan pecutnya menangkis. Terdengar suara keras sekali dan bunga api berpijar ketika dua senjata aneh ini bertemu. Keduanya tergetar mundur dan sebelum Kiu-bwe Coa-li sadar, ia hanya merasa kitab itu dibetot orang dan terlepas dari pegangannya!

Ketika ia menoleh, ternyata bahwa kitab itu telah berpindah ke dalam tangan Ang-bin Sin-kai! Kakek pengemis ini tertawa-tawa sambil memegang kitab itu tinggi-tinggi, seperti sikap seorang kanak-kanak yang menggoda kawan-kawannya.

“Jembel tua, kau serahkan kitab itu kepadaku!” seru Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil mengulur tangan hendak merampas. Tangan kirinya diulur hendak merampas, ada pun tangan kanannya menonjok dada pengemis tua itu!

Pada saat yang sama Hek-i Hui-mo, Kiu-bwe Coa-li, dan Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga tidak tinggal diam dan sebentar saja Ang-bin Sin-kai telah dikeroyok empat!

Ang-bin Sin-kai maklum bahwa dia tak mungkin dapat melawan empat orang lihai ini, dan walau pun dia melarikan diri, ilmu lari cepat mereka pun tidak kalah olehnya. Maka dia cepat berseru, “Tahan serangan!”

Berkata begini, dia melempar kitab ke atas meja sembahyang kembali.

Empat orang yang menyerangnya tertegun dan tidak jadi menyerang, karena serangan mereka itu pun hanya berdasarkan ingin merampas kitab, sedangkan kini kitab sudah berada di atas meja lagi, untuk apa menyerang lawan yang sama lihainya itu?

“Hayo, siapa berani mengambil kitab itu, dialah jagoan sejati!” Ang-bin Sin-kai tertawa dan kembali menduduki bangkunya yang tadi.

Empat orang yang lain merasa ragu-ragu dan akhirnya mereka pun menduduki bangku dan duduk lagi mengelilingi meja sembahyang di mana terdapat kitab itu. Semua orang maklum bahwa apa bila dia memberanikan diri mengambil kitab itu, tentu akan langsung diserang oleh empat orang lainnya dan hal ini tidak mungkin, karena bahayanya terlalu besar. Akhirnya, tak seorang pun di antara mereka berani turun tangan mengambil kitab, dan kelima orang ini hanya saling pandang dan tertawa ha-ha-hi-hi-hi, tertawa masam!

Terdengar suara ketawa kanak-kanak dan yang tertawa adalah Sui Ceng dan Kun Beng. Dua orang anak ini merasa geli karena pemandangan itu benar-benar terlihat lucu sekali! Sebaliknya, Gouw Swi Kiat yang berdarah panas itu merasa mendongkol sekali. Benar suhu-nya tidak mampu mengambil kitab itu dan kini gurunya, seperti yang lain-lain, hanya duduk saja menghadapi meja sembahyang seperti patung.

Dari sikap mereka ini saja sudah dapat dilihat bahwa Sui Ceng dan Kun Beng memiliki sifat periang yang sama, ada pun Swi Kiat mempunyai sifat pemarah dan keras.

“Suhu, apa sih sukarnya mengambil kitab? Ambil dan lawan mereka, masa Suhu akan kalah?” seru Swi Kiat kepada suhu-nya.

“Hush, diam kau. Tahu apa kau tentang urusan ini?” bentak suhu-nya dan Swi Kiat makin mendongkol.

“Sayang kepandaianku masih belum sempurna. Kalau tidak, aku sama sekali tidak takut menghadapi mereka!” ia mengomel.

Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.

“Pak-lo-sian, muridmu yang itu benar-benar keras seperti batu. Tidak seperti muridmu yang ke dua itu, yang lunak seperti air!” katanya.

Keluarga dari Hek-mo-ong yang melihat betapa lima orang itu bertempur tak karuan rupa, kemudian kini duduk lagi mengelilingi meja sembahyang, menjadi terheran-heran, takut, dan juga cemas. Akhirnya, isteri Hek-mo-ong memberikan diri maju sambil membungkuk-bungkuk.

“Mau apa kau?” Kiu-bwe Coa-li membentak sehingga nyonya itu menjadi pucat.

“Kami bermaksud hendak mengubur jenazah tiga orang keluarga kami ini, apakah tidak boleh?” tanya nyonya itu dengan suara gemetar.

Di antara kelima orang tokoh yang aneh serta menyeramkan itu, Ang-bin Sin-kai boleh dibilang memiliki watak yang paling lembut. Ia menaruh kasih kepada nyonya ini, maka sambil menggerakkan tangan dia berkata, “Uruslah jenazah itu baik-baik dan bawa pergi dari sini. Akan tetapi, jangan sekali-kali berani menyentuh meja sembahyang kalau kalian sayang kepada nyawa sendiri.”

Setelah mendengar kata-kata ini, nyonya Hek-mo-ong lalu segera memberi tanda kepada keluarganya dan beramai-ramai akan tetapi hati-hati sekali supaya jangan mengganggu lima orang aneh itu, mereka lalu mengangkat tiga buah peti mati itu untuk dikuburkan.

Akan tetapi, lima orang itu tetap saja duduk mengelilingi meja sembahyang tanpa berani turun tangan, akan tetapi juga tidak sudi mengalah dan tidak mau meninggalkan tempat itu!

Hari sudah mulai senja. Tiba-tiba Sui Ceng yang merasa kesal berkata kepada gurunya, “Suthai, perutku lapar, hidangan di meja sembahyang itu tidak diperlukan, bukan? Lebih baik berikan kepada teecu!”

Kiu-bwe Coa-li boleh jadi seorang wanita sakti yang berhati baja dan terkenal ganas, akan tetapi terhadap muridnya ini, ia menaruh hati kasih sayang yang besar. Mendengar kata-kata muridnya ini, ia lalu bangkit dari tempat duduknya dan menggerakkan pecutnya yang berbulu sembilan itu ke arah meja. Secara luar biasa sekali dua helai bulu pecutnya melibat pinggir piring sebelah bawah dan mengangkat piring itu yang terus dilontarkan ke belakang dimana muridnya berdiri!

Hebat sekali demonstrasi tenaga lweekang ini, karena piring yang penuh kue mangkok itu melayang tanpa kuenya jatuh sama sekali! Sui Ceng menyambut piring ini dengan kedua tangannya dan ternyata selama ikut dengan gurunya, anak perempuan ini sudah memiliki kepandaian yang lumayan juga karena ia dapat menyambut piring itu tanpa ada kue yang jatuh.

Bocah ini lalu mengambil sebuah mangkok dan makan kue dengan enaknya. Pada saat makan kue, dia melirik ke arah Kun Beng dan tiba-tiba saja dia menyodorkan piring kue mangkok itu kepada Kun Beng.