Social Items

Pendekar Bodoh Jilid 15

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 15

CIN HAI mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat berenang secepat mungkin, akan tetapi di dalam air dia tidak seleluasa seperti di darat di mana dia boleh mempergunakan ginkang-nya untuk bergerak cepat. Tidak saja kepandaian renangnya memang kurang sempurna, akan tetapi air laut itu berombak dan dia tidak kuat melawan ombak air sehingga tubuhnya hanya maju perlahan saja dan sebentar juga perahu yang dinaiki Ang I Niocu telah jauh meninggalkannya.

Keadaan di atas permukaan laut itu lebih gelap lagi. Satu-satunya petunjuk jalan bagi Cin Hai adalah cahaya terang yang memancar keluar dari Bukit Kim-san-to itu.

Ia masih bergulat dengan ombak laut ketika Ang I Niocu sudah lama mendarat dan gadis ini tanpa mempedulikan mereka yang berperang mati-matian, segera berlari naik ke atas bukit untuk mencari Lin Lin. Ketika dia naik semakin tinggi, sungguh luar biasa, karena cahaya terang itu semakin menghilang dan keadaan di atas bukit sunyi sekali! Bahkan di atas bukit itu tidak terlihat pohon sama sekali.

Ang I Niocu berseru keras memanggil, “Lin Lin…!”

Suaranya yang dikerahkan dengan tenaga khikang ini terdengar bergema nyaring sekali, bahkan terdengar lapat-lapat oleh Cin Hai yang masih berenang di laut!

“Niocu...!” Cin Hai berseru memanggil karena ia mengenal suara Ang I Niocu.

Hatinya bingung dan cemas sekali. Akan tetapi, biar pun ia mengerahkan khikang-nya, di dalam air itu suaranya tak terdengar jelas dan menjadi kacau oleh bunyi riak ombak yang menggelora.

“Lin Lin...!” terdengar lagi teriakan Ang I Niocu dan suara ini membangunkan semangat Cin Hai yang lalu mengerahkan tenaganya sehingga ia dapat maju lebih cepat.

Ang I Niocu terus berlari ke atas sambil memanggil nama Lin Lin. Ia telah berjanji kepada Cin Hai untuk menemukan gadis kekasih pemuda itu, maka ia bertekad tak akan kembali sebelum mendapatkan Lin Lin.

Ketika Ang I Niocu tiba di sebuah puncak yang tinggi, tiba-tiba ia memandang ke bawah. Kedua matanya langsung terbelalak dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi matanya oleh karena tiba-tiba matanya menjadi silau.

Di bawah, tidak jauh dari situ dia melihat pemandangan yang dahsyat dan menggetarkan sanubarinya. Di bawah puncak itu ia melihat api sedang berkobar-kobar besar sekali dan bernyala-nyala seolah-olah neraka sendiri yang terbuka di hadapan kakinya! Inilah danau penuh minyak tanah yang dibakar oleh kaki tangan Pangeran Vayami!

Dengan hati penuh kengerian dan cemas, Ang I Niocu berteriak lagi, “Lin Lin…! Lin Lin…! Di mana kau…??”

Akan tetapi suara teriakannya yang amat keras ini seakan-akan hanya menambah besar berkobarnya api yang membakar seluruh danau itu! Ang I Niocu dengan mata terbelalak memandang ke arah api dan tiba-tiba ia melihat seolah-olah bayangan Pangeran Vayami berdiri di tengah-tengah api sambil tersenyum-senyum serta melambai-lambaikan tangan kepadanya!

Ang I Niocu menggigil dengan penuh kengerian dan mukanya penuh keringat. Dia cepat menggosok-gosok kedua matanya, akan tetapi bayangan Pangeran Vayami makin jelas saja. Sambil berseru ngeri dan takut, Ang I Niocu lalu berlarian ke sana ke mari sambil memekik-mekik memanggil nama Lin Lin,

“Lin Lin...! Lin Lin...! Keluarlah, Lin Lin. Hai-ji menunggu kau...!”

Namun, sampai serak suaranya memanggil-manggil dengan kerasnya sambil berlari-lari menubruk sana menubruk sini, akan tetapi yang dipanggilnya tidak juga menjawab atau muncul.

Nyala api di danau yang membesar dan membubung tinggi itu terlihat juga oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Maka Hai Kong Hosiang segera menyerang semakin keras kepada Balutin sambil berteriak minta supaya supek-nya membantu.

Kiam Ki Sianjin lalu melompat maju dan menyerang Balutin dengan kebutan ujung lengan bajunya yang lebar. Balutin terkejut sekali oleh karena merasa betapa angin sambaran ujung baju itu keras dan luar biasa! Dia mencoba berkelit, akan tetapi serangan susulan dari Kiam Ki Sianjin membuatnya terhuyung-huyung ke belakang, dan pada saat itu pula tongkat ular Hai Kong Hosiang tepat menusuk jalan darah yang ada di lehernya. Sambil mengeluarkan teriakan keras, Balutin roboh dan tewas!

Kiam Ki Sianjin lalu mengempit tubuh Hai Kong Hosiang dan dengan lari cepat bagaikan terbang, kakek gagu ini cepat meninggalkan tempat pertempuran menuju ke pantai dan keduanya lalu melarikan diri di atas sebuah perahu!

Cin Hai juga melihat membubungnya api yang menjilat-jilat langit dan seolah-olah hendak membakar awan-awan di atas itu. Dia semakin bingung dan gelisah, lalu berteriak-teriak sambil berenang cepat-cepat.

“Niocu...! Lin Lin...!” Akan tetapi lagi-lagi suaranya tenggelam ditelan suara ombak yang menderu.

Pada waktu itu, terdengar ledakan yang kerasnya sampai menggetarkan tubuh Cin Hai yang sedang berenang di air! Pemuda ini melihat betapa api yang berkobar di atas bukit itu mendadak saja pecah dan pulau itu dalam sekejap mata menjadi terang oleh karena sudah terbakar menjadi lautan api! Tepat sebagaimana ramalan Pangeran Vayami, pulau itu berubah menjadi neraka!

Cin Hai membelalakkan matanya dan pada saat setelah suara menggelegar itu lenyap, ia masih mendengar suara Ang I Niocu lapat-lapat.

“Lin Lin... Lin Lin... Hai-ji...!”

Cin Hai merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik dan tenggorokannya seakan-akan tercekik oleh sesuatu! Sebagai akibat dari pada letusan dahsyat itu, tiba-tiba ombak besar datang menggulung dirinya dan tubuhnya terlempar ke atas, lalu diterima lagi oleh ombak dan dibawa hanyut jauh kembali ke tempat semula!

Cin Hai mencoba berseru lagi. “Niocu... Lin Lin...!”

Akan tetapi suaranya tak dapat keluar dari kerongkongannya. Ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan tidak kuat berenang pula! Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara bisikan.

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... Lin Lin menanti-nantimu...”

Cin Hai terkejut. Inilah suara Ang I Niocu! Cepat ia mengerahkan tenaga dan dapat timbul lagi ke permukaan air. Dia memandang ke sana ke mari mencari-cari, akan tetapi yang nampak hanya ombak dengan kepala ombak keputih-putihan yang menyambar kembali hingga ia terombang-ambing dan menjadi permainan ombak. Kembali tubuhnya menjadi lemas dan ketika dia sudah merasa putus asa tiba-tiba dia melihat bayangan wajah Ang I Niocu di dalam air dan bibir bayangan gadis itu bergerak-gerak dalam bisikan,

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... kuatkanlah, aku mencari Lin Lin untukmu...”

Dengan tenaga terakhir Cin Hai berenang lagi dan tiba-tiba tangannya menyentuh benda keras yang ternyata adalah sebuah perahu kecil yang terbalik. Dia segera mengangkat perahu itu dan membalikkannya, ternyata itu adalah perahunya yang siang tadi dia naiki bersama Ang I Niocu dan yang sudah dilarikan oleh Si Hwesio dan Si Tosu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu!

Agaknya perahu itu terpukul ombak lantas terguling, dan entah bagaimana nasib kedua pendeta itu! Dengan sekuat tenaga Cin Hai mengangkat tubuhnya ke dalam perahu dan akhirnya jatuh pingsan di dalam perahu kecil yang masih terombang-ambing oleh ombak besar itu.

Ternyata bahwa oleh karena pulau itu mengandung minyak yang terbakar dan meletus, maka minyak yang telah menjadi api itu lalu membakar seluruh pulau, bahkan kini minyak yang bernyala-nyala terbawa oleh air sampai di mana-mana hingga seakan-akan laut itu telah terbakar! Daya tekan letusan hebat itu telah menimbulkan gelombang hebat yang susul menyusul dengan dahsyatnya.

Seluruh benda, berjiwa mau pun tidak, yang berada di atas pulau itu binasa dan terbakar habis. Jangankan makhluk tanpa sayap yang tak dapat melarikan diri, sedangkan burung-burung yang berada di atas pohon pun tak dapat menghindarkan diri dari bencana sebab sebelum mereka terbang cukup tinggi, sudah terpukul oleh letusan itu dan runtuh ke atas tanah untuk menjadi korban api yang mengamuk hebat.

Perahu kecil yang ditumpangi Cin Hai terdampar ombak hingga kembali ke pantai daratan Tiongkok. Ketika Cin Hai siuman dari pingsannya, dia merasa kepalanya masih pening. Pemuda itu bangkit perlahan dan ternyata dia sudah berada di dalam perahu kecil itu semalam penuh karena waktu itu telah menjelang pagi! Karena melihat bahwa dia berada dekat dengan pantai, maka Cin Hai lalu melompat turun ke air yang dangkal dan berlari cepat ke pantai.

Tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa, teriakan yang dibarengi suara senjata beradu! Ia cepat berlari menuju ke arah suara itu dan menjadi kaget berbareng girang ketika melihat bahwa di sebelah kiri, yakni dekat pantai di mana air laut masih bergelombang memukul batu-batu karang, di situ terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat!

Ketika dia sudah datang mendekat, maka yang bertempur itu adalah Hek Mo-ko melawan Pek Mo-ko. Inilah yang membuat dia kaget dan heran, sedangkan yang membuat hatinya memukul girang adalah ketika ia melihat bahwa di dekat tempat pertempuran itu, empat orang sedang berdiri sebagai penonton, yaitu bukan lain Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng!

Hati Cin Hai berdebar girang sekali karena melihat hadirnya Si Nelayan Cengeng di sana, karena bukankah Lin Lin bersama-sama dengan nelayan tua itu? Akan tetapi hatinya kecut dan cemas kembali, karena ia tidak melihat Lin Lin dan Ma Hoa berada di situ!

Cin Hai lalu berlari cepat menghampiri mereka dan tanpa mempedulikan orang lain mau pun yang sedang bertempur, dia lalu menghampiri Kong Hwat Tojin Si Nelayan Cengeng dan terus menjatuhkan diri berlutut sambil bertanya dengan suara tak sabar, “Locianpwe, di mana adanya Lin Lin?”

Kedatangan pemuda ini sama sekali di luar dugaan Nelayan Cengeng dan yang lain-lain, maka mereka berempat lalu mengurung pemuda ini, hanya Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko yang tidak ambil peduli dan terus bertempur dengan hebat dan mati-matian!

“Locianpwe, bagaimana dengan Lin Lin?” Cin Hai bertanya lagi dengan muka pucat dan tubuh menggigil karena terdorong oleh gelora hatinya yang penuh kecemasan.

“Ah, Cin Hai... engkau selamatkah...?” tanya Si Nelayan Cengeng dengan terharu sekali. Kemudian, ketika melihat keadaan pemuda itu yang sangat mengkhawatirkan, dia segera menyambung. “Lin Lin dan Ma Moa selamat, mereka berdua pergi dengan Yousuf!”

Mendengar betapa Lin Lin sudah selamat, tiba-tiba saja Cin Hai menangis tersedu-sedu, menggunakan kedua tangan menutupi mukanya dan setelah menjerit perlahan, “Lin Lin... ahh, Niocu...!” lalu pemuda itu jatuh pingsan lagi!

Semua orang sibuk sekali, terutama Kwee An yang terus memeluk tubuh kawannya itu dan memijat-mijat belakang kepala Cin Hai hingga tak lama kemudian pemuda ini sadar kembali dalam pelukan Kwee An. Melihat Kwee An, Cin Hai lalu membalas memeluk dan pemuda ini menangis lagi.

Seribu satu macam hal sudah berada di ujung lidah mereka hendak diceritakan atau pun ditanyakan kepada Cin Hai, akan tetapi kini mereka terganggu oleh pertempuran hebat di dekat mereka. Malah Cin Hai juga tak sempat menceritakan pengalamannya, dan sambil memandang ke arah dua iblis yang sedang bertempur itu, dia tak tahan pula untuk tidak menyatakan keheranannya dan bertanya kepada Kwee An, “Mengapa mereka saling hantam sendiri?”

Dengan muka sedih Kwee An berkata kepadanya tanpa menjawab pertanyaan itu, “Cin Hai, hanya kau yang dapat menolong. Gunakanlah kepandaianmu dan cegahlah mereka saling membunuh.”

Cin Hai tidak mengerti akan maksud Kwee An, oleh karena ia tidak tahu hubungan Kwee An dengan Hek Mo-ko. Akan tetapi oleh karena dia percaya penuh kepada Kwee An, dia lalu bangkit berdiri dan mengumpulkan seluruh tenaganya yang telah lemas.

Akan tetapi ia terlambat. Pada saat itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang bertempur sambil menggunakan pedang mereka yang luar biasa, sudah menggunakan serangan-serangan nekad dan pada suatu saat, keduanya menjerit ngeri dan terhuyung-huyung ke belakang.

Pek Mo-ko terus roboh binasa dengan dada terluka oleh pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini sendiri telah kena pukulan tangan kiri Pek Mo-ko yang tepat menghantam dadanya sehingga Pek Mo-ko mendapat luka dalam yang sangat hebat dan jantungnya terguncang.

Setelah melihat Pek Mo-ko roboh tak bernyawa, Hek Mo-ko yang masih dapat bergerak lalu merangkak menghampiri adik seperguruannya ini dan setelah tertawa bergelak-gelak ia lalu memeluk mayat Pek Mo-ko sambil menangis sedih sekali. Kemudian ia muntahkan darah dari mulutnya dan roboh pingsan di dekat mayat Pek Mo-ko.

Mengapa kedua iblis yang biasanya sehidup semati dan saling membela ini tiba-tiba bisa bertempur mati-matian dan saling membunuh di pantai itu, ditonton oleh Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng? Baiklah kita melihat keadaan di tempat itu sebelum Cin Hai terdampar ke pantai.

Setelah Kwee An serta kedua iblis itu mengamuk lalu membasmi Pangeran Vayami dan seluruh anak buahnya, mereka bertiga kemudian mengajukan perahu itu ke arah Pulau Kim-san-to. Akan tetapi di pulau itu, mereka melihat api berkobar hebat sehingga menjadi takut dan memutar arah perahu.

Tiba-tiba terjadi letusan hebat itu hingga perahu mereka yang besar menjadi permainan gelombang air laut dan terbawa ke pantai daratan Tiongkok kembali. Dengan pucat dan ketakutan ketiganya cepat melompat ke darat sambil memandang ke arah Pulau Emas yang menjadi neraka itu. Mereka bergidik, bahkan Hek Pek Mo-ko dua iblis yang berhati kejam dan tidak kenal takut, kini sesudah melihat pemandangan mengerikan itu, menjadi pucat dan merasa ngeri juga.

Terutama sekali Kwee An, oleh karena pemuda ini teringat akan Cin Hai dan Ang I Niocu yang telah disaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa kedua orang itu tadi menuju ke Pulau Emas. Bagaimanakah nasib mereka?

Tanpa terasa pula Kwee An mengalirkan air mata karena ia tidak ragu-ragu lagi bahwa jiwa kedua orang itu pasti sukar ditolong dalam keadaan seperti itu. Siapakah orangnya yang kuasa menolong mereka yang berada di dekat neraka dan lautan api itu?

Menjelang fajar tiba-tiba ada sesosok bayangan orang melompat dari air ke dekat mereka dan ternyata bahwa bayangan orang ini adalah Si Nelayan Cengeng! Tepat pada saat itu, dari jurusan darat datang berlari dua orang yang gerakannya cepat sekali dan ketika telah dekat, kedua orang itu bukan lain adalah Biauw Suthai dan Pek I Toanio! Kwee An yang mengenal ketiga orang yang baru muncul pada waktu yang bersamaan ini segera berlari menghampiri dan berteriak memanggil.

Akan tetapi, Pek Mo-ko yang masih haus darah dan agaknya masih belum puas dengan pembunuhan-pembunuhan hebat yang dia lakukan bersama Hek Mo-ko di atas perahu Pangeran Vayami, sudah mendahului Kwee An dan tanpa bertanya apa-apa lagi dia lalu menyerang Si Nelayan Cengeng yang berada terdekat.

Nelayan Cengeng terkejut sekali ketika melihat dirinya diserang hebat oleh seorang tinggi besar yang berjubah putih! Akan tetapi Nelayan Cengeng bukanlah orang lemah, maka dengan mudah ia lalu berkelit dan balas menyerang sambil berseru, “Ehh, iblis dari mana datang-datang menyerang orang? Apakah tiba-tiba kau kemasukan setan Pulau Kim-san-to?”

Akan tetapi, ketika melihat bahwa kakek yang muncul dari dalam air itu dengan mudah dapat mengelak dari seranganya, Pek Mo-ko menjadi marah sekali dan menyerang lebih hebat lagi.

“Pek-susiok, jangan menyerang dia! Dia adalah Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng!” Akan tetapi, Pek Mo-ko tidak mau pedulikan teriakan Kwee An bahkan menyerang makin hebat lagi.

Sementara itu, Biauw Suthai yang mendengar nama dua orang yang sedang bertempur itu disebut oleh Kwee An, tidak ragu lagi untuk memilih pihak. Dia sudah lama mendengar nama Nelayan Cengeng sebagai seorang tokoh persilatan golongan pendekar berbudi, sedangkan nama Pek Mo-ko sudah terkenal sebagai iblis jahat yang kejam. Maka, ketika melihat bahwa lambat laun Si Nelayan Cengeng terdesak hebat, Biauw Suthai segera melompat maju sambil mencabut keluar hudtim-nya dan berseru, “Pek Mo-ko, jangan kau mengganggu orang di depanku!”

Pek Mo-ko tertawa pada saat melihat tokouw ini, oleh karena ia dapat mengenal wanita pendeta yang bermata satu dan beroman buruk ini.

“Biauw Suthai, kebetulan sekali aku sedang gembira! Marilah kau maju sekalian untuk menerima binasa!” Sambil berkata begini Pek Mo-ko lantas mencabut keluar pedangnya yang luar biasa itu dan menyerang dengan penuh semangat.

Biauw Suthai cepat menangkis dan Si Nelayan Cengeng yang mendengar nama Biauw Suthai, lalu berkata, “Suthai, jangan kuatir, aku membantumu membasmi iblis ini,”

Lalu kakek nelayan yang gagah ini maju pula dengan tangan kosong melawan pedang Pek Mo-ko. Dia mengeluarkan pukulan-pukulan keras dan lihai dan meski pun bertangan kosong, namun kakek yang lihai ini tidak kurang berbahayanya.

Dikeroyok dua, Pek Mo-ko menjadi sibuk juga dan terdesak. Pengeroyoknya bukanlah orang-orang biasa dan adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, maka tidak heran apa bila Pek Mo-ko kehilangan kegarangannya menghadapi mereka ini.

Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu Hek Mo-ko sudah masuk menyerbu ke tengah pertempuran, membantu Pek Mo-ko. Ilmu silat dua iblis ini memang merupakan kepandaian pasangan sehingga apa bila kedua iblis ini telah maju berbareng, maka kelihaian mereka menjadi berlipat-ganda. Sebentar saja Biauw Suthai dan Nelayan Cengeng terdesak hebat oleh kedua pedang Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang luar biasa.

Ketika melihat gurunya berada dalam bahaya, Pek I Toanio tidak mau tinggal dan maju membantu. Namun apa artinya bantuan Pek I Toanio yang tingkatnya masih kalah jauh? Tetap saja sepasang iblis itu mendesak hebat sambil tertawa-tawa.

Kwee An menjadi sibuk sekali. Berkali-kali dia berteriak mencegah Hek Pek Mo-ko, akan tetapi suaranya tak dihiraukan oleh kedua iblis yang sedang bergembira itu, seperti biasa kalau mereka berkelahi dan dapat mendesak serta mempermainkan lawan! Kwee An tak dapat membiarkan dua iblis itu membunuh tiga orang ini, maka terpaksa ia lalu mencabut pedang dan ikut menyerbu membantu Biauw Suthai dan kawan-kawannya.

Pertempuran berjalan makin hebat. Akan tetapi ketika Hek Mo-ko melihat ‘anaknya’ maju membantu lawan, dia pun menjadi ragu-ragu dan tiba-tiba berteriak,

“Tahan dan mundur semua!” Suaranya menggeledek dan berpengaruh sekali sehingga semua orang menahan senjata masing-masing.

“Siauw-mo (Setan Cilik), mengapa kau membantu musuh?” Hek Mo-ko bertanya sambil memandang Kwee An dengan heran tapi suaranya penuh nada mencinta.

“Maaf, Ayah. Mereka ini adalah kawan-kawan baikku, bahkan Kong Hwat Locianpwe ini masih dapat pula disebut guruku sendiri. Ayah dan Pek-susiok tidak boleh membinasakan mereka!” kata Kwee An dengan gagah sambil menentang pandang mata ayah angkatnya.

Hek Mo-ko menghela napas kemudian berkata perlahan, “Kalau begitu biarlah aku tidak menyerang mereka lagi.”

Akan tetapi Pek Mo-ko tiba-tiba menjadi beringas dan marah sekali. Ia menuding dengan pedangnya ke arah Kwee An dan membentak. “Anjing tak kenal budi! Beginikah cara kau membalas kami? Bagaimana pun, hari ini aku harus mencium bau darah orang-orang ini!”

Sesudah berkata demikian, Pek Mo-ko maju menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi pedang Kwee An segera menangkis pedangnya dan anak muda ini berseru, '“Pek-susiok! Kebaikan mereka lebih dari pada kekejamanmu! Kalau kau tetap berkeras, terpaksa aku memberanikan diri melawanmu!”

Pek Mo-ko makin marah. “Bagus sekali! Aku akan membunuh kau lebih dahulu!”

Ia lalu mengirim serangan hebat dan ketika Kwee An menangkis, pemuda ini terkejut oleh karena tenaga Pek Mo-ko benar-benar hebat hingga tangkisan itu membuat ia terhuyung-huyung belakang. Pek Mo-ko memburu dan mengirim serangan hebat sehingga terpaksa Kwee An membuang diri ke belakang sambil terus bergulingan di atas tanah untuk dapat menghindarkan diri dari serangan maut.

“Ha-ha-ha! Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana!” teriak Pek Mo-ko sambil memburu untuk memberi tusukan terakhir.

Akan tetapi pada saat itu Hek Mo-ko melompat maju dan menangkis pedang Pek Mo-ko sehingga terdengar suara keras dan kedua pedang itu mengeluarkan api! Baru sekali ini selama mereka hidup, pedang mereka ini saling beradu.

Pek Mo-ko memandang kepada Hek Mo-ko dengan mata terbelalak dan muka berubah merah, tanda bahwa dia merasa penasaran dan marah sekali, juga heran.

“Suheng, kau... kau... hendak melawan aku?” tanyanya gagap.

Hek Mo-ko memandang tajam. “Sute, kau tidak boleh turunkan tangan kepada anakku!”

“Apa? Dia bukan anakmu, dia adalah kawan musuh-musuh kita!” Pek Mo-ko membentak sambil menubruk lagi ke arah Kwee An yang telah bersiap sedia dan menangkis.

“Pek-sute! Jangan kau serang anakku!” teriak Hek Mo-ko dengan marah.

“Suheng, tinggal kau pilih. Kau akan membela aku atau membela binatang ini!” jawab Pek Mo-ko dengan melolotkan mata.

“Pikir saja sendiri olehmu! Anak dan Sute, mana lebih berat?”

Tiba-tiba Pek Mo-ko tertawa bergelak. “Anak? Ha-ha-ha, kau mabok, Suheng! Kau tidak punya anak! Ha-ha, kau tidak punya anak lagi! Anakmu telah mampus, seperti anakku!”

Kini mengertilah semua orang bahwa sebenarnya Pek Mo-ko yang kematian puterinya itu, merasa iri hati melihat Hek Mo-ko mengambil Kwee An sebagai anak angkat! Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Si Nelayan Cengeng memandang perdebatan ini dengan penuh perhatian dan tanpa terasa pula mereka berdiri saling mendekati, merupakan kelompok yang menonton pertentangan antara kedua iblis itu.

Mendengar ucapan adiknya itu, Hek Mo-ko menjadi marah bukan main. Karena itu ia lalu menggerak-gerakkan pedang di tangannya dan berkata tegas. “Siapa peduli ocehanmu? Pendeknya, kalau kau mengganggu Siauw Mo, kau harus dapat mengalahkan pedangku ini dulu!”

“Kau sudah bosan hidup!” Pek Mo-ko membentak dan menyerang dengan hebat.

Hek Mo-ko juga menggereng marah dan menangkis lalu balas menyerang. Demikianlah, dua saudara yang tadinya sehidup semati itu kemudian bertempur mati-matian sehingga mereka tidak menghiraukan kedatangan Cin Hai dan bahkan kemudian Pek Mo-ko mati di ujung pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini juga terkena pukulan hebat dari Pek Mo-ko sehingga menderita luka dalam yang berbahaya dan roboh pingsan.

Melihat keadaan Hek Mo-ko, hati Kwee An yang merasa sayang karena berhutang budi, menjadi terharu sekali. Pemuda ini menubruk tubuh Hek Mo-ko dan mengangkat kepala iblis itu di pangkuannya sambil mengeluh, “Ayah...”

Tentu saja Cin Hai dan lain-lainnya merasa heran sekali dan saling pandang dengan tak mengerti melihat kelakuan Kwee An itu!

Kwee An segera memeriksa keadaan Hek Mo-ko, lalu pemuda ini menengok pada Biauw Suthai yang pandai dalam hal pengobatan sambil berkata, “Suthai, tolonglah kau obati dia ini!”

Biar pun hatinya meragu untuk memeriksa dan menolong Iblis Hitam yang terkenal jahat dan kejam itu, Biauw Suthai tidak menolak permintaan Kwee An. Ia lalu menghampiri dan memeriksa dada yang terpukul, akan tetapi ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,

“Tak ada gunanya lagi. Jantungnya telah kena pukul dan terluka. Tidak ada obatnya bagi pukulan ini.” Ia lalu mengurut dan menotok dada Hek Mo-ko untuk mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Iblis Hitam itu.

Tidak lama kemudian Hek Mo-ko membuka matanya. Ketika melihat bahwa dia berada di dalam pelukan Kwee An, dia tersenyum dan dari kedua matanya mengalir air mata!

“Bagus... bagus... kau benar-benar anakku yang kusayang, Siauw Mo! Aku... aku puas dapat mati dalam pelukan anakku...” Agaknya Hek Mo-ko telah menggunakan tenaganya yang terakhir untuk mengucapkan kata-kata ini, karena lehernya lalu tiba-tiba menjadi lemas dan dia pun menghembuskan napas terakhir.

Kwee An menahan isak tangis yang mendorong perasaannya dari dalam dada. Kemudian dengan hati sedih dan tak banyak mengeluarkan kata-kata dia lalu menggali lubang, dan dibantu oleh Cin Hai dan Si Nelayan Cengeng, mereka lalu menguburkan kedua jenazah sepasang iblis yang telah menggemparkan dunia kang-ouw untuk puluhan tahun lamanya itu.

Sesudah penguburan kedua jenazah itu selesai, barulah semua orang berkumpul untuk menuturkan riwayat serta perjalanan masing-masing. Sebelum menuturkan pengalaman dirinya, lebih dulu Cin Hai menengok ke arah Pulau Kim-san-to dengan pandangan sayu dan melihat betapa pulau itu masih tetap berkobar bagaikan api neraka mengamuk.

Dengan suara terputus-putus dan keharuan besar mempengaruhi lidahnya, dia kemudian menceritakan riwayatnya, semenjak berpisah dari Kwee An dalam pertempuran melawan Hai Kong Hosiang dulu sampai tertolong oleh Ang I Niocu dan bersama Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu mencari Pulau Emas. Ketika dia menceritakan tentang pertempuran Ang I Niocu dengan seekor burung Kim-tiauw, dia menghela napas dan berkata,

“Memang betul ramalan pendeta itu bahwa pertempuran dengan burung Rajawali Emas itu mendatangkan bencana besar. Niocu yang bertempur melawan burung itu sekarang tak ketahuan nasibnya di pulau yang berubah menjadi neraka, sedangkan kedua pendeta yang tertimpa kotoran burung itu pun agaknya telah kena bencana pula. Buktinya perahu mereka kudapatkan terbalik di lautan sedangkan mereka tidak kelihatan lagi!”

Semua orang merasa terharu dan kasihan sekali pada Ang I Niocu yang telah mencegah Cin Hai mendekati pulau untuk mencari Lin Lin, bahkan yang menggantikan pemuda itu menuju ke pulau yang berbahaya, padahal dia sudah mendengar dari Pangeran Vayami bahwa pulau itu hendak dibakar dan diledakkan!

Dara Baju Merah yang luar biasa itu ternyata sudah mengorbankan diri guna menolong dan membela Cin Hai dan Lin Lin. Sungguh perbuatan yang mulia sekali. Apa lagi bagi Cin Hai yang mengetahui apa yang terkandung dalam hati sanubari Dara Baju Merah itu terhadap dirinya.

Sesudah Cin Hai selesai menuturkan pengalamannya yang mengerikan, lalu tiba giliran Kwee An untuk menuturkan perjalanannya. Dia menceritakan betapa setelah ia terlempar ke dalam sungai lalu dirinya terbawa hanyut dan diserang oleh ratusan ekor buaya yang ganas dan kemudian jiwanya tertolong oleh Hek Mo-ko.

Kemudian ia diambil anak oleh Iblis Hitam itu dan diberi pelajaran silat, dan bersama Hek Pek Mo-ko lalu pergi mencari Pulau Emas hingga berhasil membantu Cin Hai dan Ang I Niocu yang dikeroyok di perahu Pangeran Vayami. Ia menuturkan betapa kedua iblis itu sudah membasmi seluruh anak buah Pangeran Vayami dan membinasakan pangeran itu sendiri dan betapa perahunya terdampar oleh gelombang besar ke pantai.

Setelah ia menuturkan semua pengalamannya, maka mengertilah semua orang mengapa Kwee An yang telah diakui sebagai anak dan diberi nama Siauw Mo atau Iblis Kecil oleh Pek Mo-ko itu begitu sayang kepada lblis Hitam ini. Dan hal ini pun dianggap wajar oleh semua pendengarnya, oleh karena memang demikianlah semestinya sifat seorang ksatria yang biar pun kejam dan jahat, namun masih diliputi hati sayang dan cinta suci terhadap seorang anak pungut.

Biauw Suthai dan Pek I Toanio yang mendapat giliran menuturkan pengalaman mereka, tidak dapat bercerita banyak. Mereka ini oleh karena mengkhawatirkan keadaan Ang I Niocu dan Lin Lin yang diam-diam pergi meninggalkan rumah tanpa memberi tahu, lalu menyusul.

Akan tetapi, walau pun sudah merantau berapa lama, mereka tak berhasil mendapatkan jejak dua orang gadis itu. Akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang dusun di utara yang bicara tentang penyerbuan tentara Turki ke timur hingga hal yang aneh ini menarik hati Biauw Suthai dan dia pun mengajak muridnya untuk menyusul ke timur dan melihat apakah sebenarnya yang dikerjakan oleh barisan asing itu. Akhirnya mereka dapat pula menyusul ke pantai ini dan melihat Si Nelayan Cengeng bertempur melawan Pek Mo-ko dan membantu kakek nelayan yang gagah ini.

Sekarang tiba giliran Si Nelayan Cengeng untuk menuturkan riwayatnya yang didengar dengan penuh perhatian oleh Cin Hai, Kwee An, Biauw Suthai dan muridnya. Kong Hwat Lojin menghela napas berulang-ulang, kemudian ia mulai ceritanya yang panjang…

Sebagaimana telah diketahui di bagian depan, setelah Nelayan Cengeng memperlihatkan kemahirannya di dalam air dan berhasil mengambil perahu Yousuf yang tenggelam dari dasar sungai, dia dan Yousuf dengan bantuan Ma Hoa dan Lin Lin segera memperbaiki perahu itu dan kemudian berangkat berlayar menuju ke laut.

Di sepanjang pelayaran mereka, Yousuf dapat menggembirakan hati Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa dengan bermacam-macam cerita yang didongengkannya. Ternyata bahwa orang Turki ini telah memiliki banyak sekali pengalaman hidup dan sudah banyak melakukan perantauan-perantauan ke luar negeri. Ia bercerita tentang orang-orang yang tinggi besar seperti raksasa, berambut merah dan bermata biru, sehingga Lin Lin dan Ma Hoa menjadi ngeri dan takut.

“Apakah mereka itu suka makan orang?” Ma Hoa bertanya sambil menggeser duduknya mendekati Lin Lin oleh karena ketika itu telah malam dan kegelapan malam membuat dia membayangkan hal-hal yang mengerikan pada waktu mendengar cerita Yousuf tentang orang-orang aneh itu.

Mendengar pertanyaan ini, Yousuf lalu tertawa geli. “Ahh, tidak, mereka itu juga manusia seperti kita. Bahkan, mereka itu mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan dapat membuat barang-barang yang aneh dan indah. Hanya saja, mereka itu bersikap kasar dan tidak tahu adat. Mereka tinggal di Barat.”

“Apakah yang disebut Dunia Barat?” tanya Lin Lin.

Pada waktu itu Tiongkok telah mengenal India yang di sebut dengan Dunia Barat, bahkan Agama Buddha datangnya juga dari India. Mendengar bahwa raksasa-raksasa berambut merah dan bermata biru itu berada di Barat, maka Lin Lin mengajukan pertanyaan itu.

“Bukan, mereka bahkan tinggal lebih jauh lagi dari Dunia Barat. Orang-orang di Dunia Barat memang tinggi besar akan tetapi kulit dan warna rambut mereka sama dengan kita. Mungkin banyak yang lebih hitam kulitnya kalau dibandingkan dengan kalian orang-orang Han. Akan tetapi adat istiadat mereka itu tak berbeda jauh dengan kita sendiri.”

Kemudian Yousuf menceritakan pula pengalaman-pengalamannya pada saat ia merantau jauh ke utara hingga ia menyebut-nyebut tentang bukit-bukit es yang dinginnya membuat ludah yang dikeluarkan dari mulut menjadi beku sebelum tiba di atas tanah! Pendeknya, banyak hal-hal aneh yang terjadi di luar Tiongkok yang bagi ketiga orang pendengarnya, jangan kata menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah, diceritakan oleh Yousuf hingga ketiga orang itu menjadi tertarik dan senang sekali.

Juga perasaan mereka terhadap Yousuf yang peramah dan pandai membawa diri itu jadi makin berkesan baik. Setelah bergaul selama beberapa hari di atas perahu, kedua gadis itu harus mengakui bahwa Yousuf adalah seorang laki-laki yang sopan santun, pandai berkelakar dengan sopan, dan memiliki pribudi tinggi. Bahkan Nelayan Cengeng terpaksa harus melempar syakwasangka yang tadinya timbul di hatinya ketika bertemu dengan orang Turki ini.

“Dahulu kau berkata tentang Pulau Kim-san-to, maukah kau menceritakan tentang pulau itu? Kita sedang menuju ke sana, maka ada baiknya bagi kami bertiga untuk mengetahui serba cukup mengenai hal-ihwal pulau itu,” kata Nelayan Cengeng, dan Lin Lin serta Ma Hoa pun mendesak sambil mendengarkan.

Sesudah bergaul dengan ketiga orang Han ini, Yousuf juga mendapat kesan baik sekali dan ia mengagumi sepenuh hatinya sifat-sifat mereka yang gagah berani. Ia kini percaya bahwa di Tiongkok memang banyak sekali pendekar-pendekar atau orang-orang gagah yang pekerjaannya hanya menolong sesama manusia dan menjadi pelopor-pelopor serta penegak-penegak keadilan.

Terhadap Nelayan Cengeng dia merasa kagum sekali dan memandang penuh hormat seperti seorang saudara tua, sedangkan terhadap Ma Hoa dan Lin Lin, ia merasa sayang dan suka. Hatinya yang tadinya tertarik seperti tertariknya hati laki-laki terhadap seorang wanita, lambat laun berubah menjadi kasih sayang seorang tua terhadap anaknya atau seorang kakak terhadap adiknya.

Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi dan tak mengijinkan hatinya untuk memaksa seorang gadis mencintainya, dan meski ia mencinta gadis itu dengan sungguh-sungguh, melihat sikap Lin Lin terhadapnya yang polos dan jujur bagai sikap seorang adik sendiri, maka nafsu-nafsu birahi yang tadinya mengotori kasih sayangnya terhadap gadis itu, kini menjadi luntur dan banyak mengurang.

Pada saat mendengar permintaan mereka untuk menceritakan perihal Pulau Kim-san-to, Yousuf merasa ragu-ragu. Akan tetapi, kemudian ia berkata,

“Cerita ini sekaligus membongkar rahasiaku dan keadaan diriku. Apakah hal ini tak akan menimbulkan kekecewaan kalian dan tidak akan membuat kalian membenciku? Sungguh tak enak kalau kita yang melakukan pelayaran seperahu dan setujuan ini akan memiliki perasaan tak suka dan benci satu kepada yang lain!”

Nelayan Cengeng tertawa. “Saudara Yo Se Fei! Kau sungguh-sungguh terlalu sungkan! Bila sekiranya hal ini tak dapat kau ceritakan kepada kami, janganlah kau ceritakan! Kami juga tidak begitu nekat untuk memaksamu, bukankah begitu, anak-anak?”

Akan tetapi Nelayan Cengeng menjadi tertegun ketika Ma Hoa dan Lin Lin dengan suara berbareng dan tegas berkata, “Ahh, Yo-sianseng (Tuan Yo) harus menceritakan tentang pulau itu kepada kita!”

Bahkan Lin Lin segera berkata lagi, “Apakah Yo-sianseng kurang percaya kepada kami sehingga masih menyimpan segala rahasia?”

Kalau Nelayan Cengeng tercengang, Yousuf tertawa terbahak-bahak dan ia lalu berkata, “Ha-ha, Kong Hwat Lojin yang masih mempunyai sikap sungkan-sungkan, bukan aku dan bukan pula kedua nona ini! Baiklah, aku akan menceritakan pengalamanku!” Kemudian setelah minum air teh yang dibuat oleh Lin Lin dan dihidangkan oleh Ma Hoa, orang Turki itu bercerita,

“Beberapa tahun yang lalu, aku dan dua orang kawanku berlayar di laut ini. Pada suatu malam, ketika kami melalui banyak pulau di pantai laut ini, tiba-tiba kami dikejutkan oleh pemandangan yang dahsyat dan aneh, dan yang sebentar lagi juga akan dapat kalian saksikan. Sebuah pulau di depan kami, yakni pulau yang disebut Pulau Gunung Emas, nampak bercahaya mengeluarkan sinar kuning emas yang menakjubkan. Kami bertiga merasa takut sekali karena pemandangan itu sungguh aneh sekali. Kami lalu berhenti berlayar dan malam itu kami tidak tidur, terus berdiri di perahu mengagumi keindahan pulau itu dari jauh. Pada keesokan harinya, kami mendayung perahu mendekati pulau itu kemudian mendarat. Akan tetapi, apa yang menyambut kami? Sungguh di luar dugaan! Ketika kami mendarat di pulau itu, dari belakang sebatang pohon, tiba-tiba saja keluarlah seekor harimau besar yang memiliki sebuah tanduk di tengah-tengah kepalanya! Harimau itu lari menerjang, kami terpaksa melawannya. Harus diketahui bahwa kedua kawanku itu pun memiliki kepandaian yang hanya berada sedikit di bawah kepandaianku, akan tetapi kami bertiga masih tak dapat mengalahkan harimau itu! Dan dalam saat yang berbahaya itu tiba-tiba dari atas menyambar turun seekor burung rajawali berbulu kuning emas ke arah kami kemudian menyerang dengan tidak kalah hebatnya! Kami menjadi sibuk dan terdesak hebat, bahkan seorang kawan kami sudah kena cakar harimau itu dan dipukul dengan sayap oleh Kim-tiauw hingga keadaan kami makin berbahaya! Akan tetapi, ketika kami sudah berada di pinggir jurang maut, tiba-tiba datanglah penolong yang tidak kalah anehnya. Penolong ini adalah seekor burung merak yang besar sekali dan bulunya hijau bercampur kuning keemasan yang indah sekali. Merak ini cepat menyambar turun sambil mengeluarkan bunyi nyaring dan aneh! Dan begitu melihat merak ajaib ini, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk itu lalu mengeluarkan keluhan panjang kemudian berlarian pergi seolah-olah dalam ketakutan hebat!”

“Merak ajaib itu lalu turun dan sambil mengembangkan semua sayap dan ekornya yang indah, ia berjalan hilir mudik seolah-olah membanggakan keunggulan dan kecantikannya. Aku merasa sangat tertarik dan timbul keinginanku hendak menangkap dan memelihara Sin-kong-ciak (Merak Sakti) itu, akan tetapi tiba-tiba dia mengibaskan sayap kirinya dan aku jatuh terpelanting! Angin kibasan sayapnya ini mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya hingga aku mengerti mengapa Harimau Bertanduk dan Rajawali Emas itu takut menghadapinya. Ternyata merak itu bukanlah binatang sembarangan dan mempunyai kesaktian luar biasa!”

Nelayan Cengeng menjadi kagum sekali mendengar cerita tentang merak ajaib ini, maka dia lalu berkata, “Aku pernah mendengar tentang burung merak yang datang dari negeri sebelah selatan Tiongkok, dan kabarnya merak di negeri itu pun sangat cantik dan kuat, akan tetapi belum pernah aku mendengar tentang burung merak sehebat seperti yang kau ceritakan itu.”

Juga Lin Lin dan Ma Hoa merasa kagum sekali, dan Lin Lin segera mendesak supaya Yousuf suka melanjutkan penuturannya.

“Terpaksa kami berdua membawa kawan kami yang terluka dan melarikan diri ke atas perahu. Kami tidak berani mendarat oleh karena pulau itu ternyata mempunyai penghuni yang aneh-aneh dan lihai sekali. Kami hanya mendayung perahu mengitari pulau itu dan sungguh aneh. Selain tiga ekor binatang aneh itu, kami tidak melihat apa-apa lagi. Kami lalu mendarat pada bagian lain untuk menyelidiki, dan ternyata di puncak bukit terdapat sebuah telaga yang airnya berwarna indah, kadang kala hijau, ada merahnya, lalu kuning, bagaikan warna pelangi di udara, akan tetap pada dasarnya berwarna kehitam-hitaman. Kami mempunyai keyakinan bahwa pulau itu tentulah menyimpan harta yang luar biasa, sebab itu kami lalu berputar sambil memeriksa. Untung sekali kami tidak pergi terlalu jauh dari pantai, oleh karena selagi kami berjalan, tiba-tiba saja dari atas terdengar suara yang menakutkan dan betul saja, burung Rajawali Emas yang kami takuti itu telah menyambar dari atas dan menyerang kami! Kami berdua lalu memutar-mutar pedang di atas kepala untuk melindungi kepala kami dari terkaman burung hantu itu sambil berlarian ke perahu kami. Dan dengan penuh ketakutan, kami lalu pergi dari pulau itu, dan kawan kami yang terluka itu terpaksa kami lempar ke laut oleh karena dia meninggal dunia karena lukanya. Demikianlah, kami lantas kembali ke negeri kami dan Raja kami yang mendengar tentang penuturanku, lalu memerintahkan barisan besar untuk menyelidiki keadaan pulau itu. Dan harap kalian tidak kaget, aku adalah orang yang ditugaskan untuk memimpin rombongan penyelidik atau mata-mata Pemerintah Turki.”

Ketika melihat betapa ketiga orang Han itu tidak terpengaruh oleh pengakuannya, ia lalu melanjutkan, “Aku pergi sekarang ini pun oleh karena perintah Rajaku untuk membuka jalan sebagai perintis menuju ke pulau itu.” Sambil berkata begini, ia memandang tajam kepada Nelayan Cengeng untuk melihat perubahan muka pendengarnya.

Akan tetapi Nelayan Cengeng agaknya tidak tertarik sama sekali, bahkan ia lalu berkata, “Aku ingin sekali melihat binatang-binatang aneh itu.”

Juga Lin Lin dan Ma Hoa berkata. “Alangkah senangnya kalau dapat membawa pulang burung merak sakti itu.”

Maka gembiralah hati Yousuf melihat keadaan ketiga orang itu yang sama sekali tidak mau atau tak ambil peduli tentang segala urusan negeri. Saking girang dan lega hatinya, Yousuf lalu menyanyikan sebuah lagu Turki yang didengar oleh kawan-kawannya dengan penuh perhatian, kagum dan geli, oleh karena biar pun mereka harus mengakui bahwa Yousuf memiliki suara yang empuk dan merdu, namun lagu yang dinyanyikannya terasa asing bagi telinga mereka sehingga terdengar sumbang dan lucu.

Pada saat Yousuf selesai bernyanyi, hari telah menjadi gelap dan mereka telah sampai di dekat Pulau Kim-san-to. Tiba-tiba Yousuf menunjuk ke depan dan berkata, “Nah, kalian lihatlah baik-baik, bukanlah Kim-san-to benar-benar pulau yang menakjubkan?”

Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa menengok dan ketiganya menahan napas dengan mata terbelalak pada saat melihat pemandangan ajaib yang terbentang di hadapan mata mereka. Mereka telah melihat Kim-san-to di waktu malam, melihat bukit yang mencorong dan berkilauan seakan-akan bukit itu terbuat dari pada emas murni.

“Mungkinkah ini?” Nelayan Cengeng menggerakkan bibirnya.

“Apakah aku sedang bermimpi?” bisik Lin Lin sambil mengucek-ngucek kedua matanya seakan-akan tidak percaya kepada matanya sendiri. Ma Hoa juga terpesona hingga gadis ini berdiri diam bagaikan patung batu.

“Hebat bukan? Aku sendiri pada waktu melihat untuk pertama kalinya, telah berlutut dan menyebut nama Dewata, karena menyangka bahwa aku telah melihat Surga diturunkan di atas tempat ini. Tempat seperti itu, pantasnya menjadi kediaman para Dewata, bukan?” terdengar Yousuf berkata hingga ketiga orang itu tersadar dan menghela napas.

“Betul-betul hebat, Saudara Yousuf. Terus terang saja, tadinya aku masih ragu-ragu dan timbul persangkaanku bahwa kau berbohong atau melebih-lebihkan ceritamu. Akan tetapi melihat pemandangan ini aku menjadi percaya penuh kepadamu, juga tentang penghuni pulau yang aneh-aneh itu,” kata Nelayan Cengeng.

“Mari kita ke sana sekarang juga!” kata Ma Hoa dengan gembira.

Lin Lin juga mendesak supaya mereka segera pergi ke pulau indah dan ajaib itu. Akan tetapi Yousuf menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,

“Jangan pergi sekarang. Aku belum tahu benar, apakah selain ketiga binatang sakti itu tidak ada makhluk lain yang berbahaya di pulau itu. Mendarat malam-malam adalah hal yang sembrono dan berbahaya sekali. Lebih baik kita menanti di perahu sampai besok pagi, barulah kita mendarat dengan hati-hati.”

Nelayan Cengeng yang dapat memaklumi hal ini dan dapat berpikir lebih luas, menyetujui ucapan ini sehingga terpaksa Lin Lin dan Ma Hoa yang sudah tidak sabar menanti itu menekan perasaan mereka dan semalam suntuk mereka tidak mau tidur, hanya duduk di atas perahu sambil menikmati pemandangan indah itu dan mengaguminya.

Melihat pemandangan indah sekali itu, Lin Lin dan Ma Hoa yang duduk berdua saja, lalu teringat kepada kekasih masing-masing. Dan mendadak wajah mereka menjadi berduka. Ma Hoa tahu akan perubahan pada muka Lin Lin, maka dia bertanya perlahan, “Lin Lin mengapa tiba-tiba kau menghela napas dan seperti orang berduka?”

Lin Lin tiba-tiba menjadi merah mukanya dan dengan perlahan sambil memegang tangan Ma Hoa, ia bertanya, “Enci Hoa, apakah kau tidak teringat pada kakakku Kwee An?”

Ma Hoa memegang tangan Lin Lin erat-erat sambil bermerah muka, lalu berkata, “Jadi itukah yang mengganggu pikiranmu? Kita harus meneguhkan hati dan bersabar, Adikku. Aku yakin bahwa Saudara Cin Hai dan... dia akan selamat oleh karena mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi.”

Lin Lin maklum bahwa keadaan hati serta pikiran Ma Hoa pada saat itu sama dengan keadaan hati dan pikirannya maka dia tidak mau bicara mengenai hal kedua pemuda itu terlebih lanjut. Dalam berdiam, mereka seakan-akan mendengar bisikan jantung mereka masing-masing yang membuat mereka merasa saling tertarik lebih dekat lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sesudah matahari naik ke puncak bukit, Yousuf baru berani mendarat di pulau yang aneh itu. Dilihat pada siang hari, pulau itu merupakan sebuah pulau kecil yang berbukit satu dan yang kelihatan biasa saja seperti pulau-pulau lainnya.

Mereka berempat lalu mendarat dan bersiap sedia dengan senjata mereka kalau-kalau ada binatang luar biasa yang datang menyerang. Akan tetapi aneh sekali, dan terutama Yousuf merasa heran karena binatang yang dulu dilihatnya tak ada seekor pun kelihatan muncul.

“Apakah selama beberapa tahun ini mereka telah mati?” katanya pada diri sendiri akan tetapi diucapkan dengan mulut.

“Mungkin juga, karena benda atau makhluk apakah di dunia ini yang tidak akan menyerah terhadap kematian?” kata Nelayan Cengeng yang membawa dayungnya yang besar dan berat dipanggul di pundak.

Mereka lalu menjelajah di pulau itu dan ternyata bahwa selain burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon, pulau itu nampaknya tidak ada makhluk yang berbahaya. Mereka kemudian mengunjungi danau yang pernah diceritakan oleh Yousuf, dan bersama-sama mengagumi danau yang berwarna macam-macam itu.

“Agaknya ada sesuatu yang mengerikan di bawah danau ini,” Nelayan Cengeng berkata sehingga Lin Lin dan Ma Hoa lalu saling mendekat dan saling berpegangan tangan oleh karena kedua gadis ini pun merasa betapa danau ini agak berbeda dengan danau biasa, seakan-akan ada sesuatu di dasarnya yang hitam dan mengerikan!

Yousuf lalu mengajak mereka memeriksa terus keadaan pulau itu dengan pengharapan untuk mendapatkan harta atau emas yang disangkanya berada di pulau itu, akan tetapi mereka tidak mendapatkan sesuatu yang berharga.

Matahari sudah naik tinggi pada saat mereka tiba di sebuah puncak lain yang ditumbuhi banyak bunga-bunga indah.

Tiba-tiba Lin Lin berseru, “Ada goa di sini!”

Pada saat semua orang menghampiri, benar saja, tertutup oleh rumput alang-alang yang tinggi terdapat pintu goa yang cukup besar dan tinggi. Goa itu tadinya gelap oleh karena terhalang oleh alang-alang, akan tetapi segera setelah Yousuf menggunakan pedangnya untuk membabat alang-alang itu, di dalam goa menjadi terang karena kebetulan sekali goa itu menghadap ke barat dan matahari yang sudah condong ke barat itu menyinarkan cahayanya ke dalam goa.

Dengan didahului Yousuf dan Nelayan Cengeng, empat orang itu segera memasuki goa dengan perlahan dan hati-hati, dan tidak lupa mereka juga menyiapkan senjata di tangan masing-masing untuk menghadapi bahaya yang mungkin timbul. Kiranya goa itu memang cukup luas, akan tetapi dalamnya hanya kira-kira tiga tombak saja dan di dalam goa itu kosong tidak menampakkan sesuatu yang aneh.

Tiba-tiba saja Lin Lin menjerit perlahan dan melompat seakan-akan sudah diserang oleh sesuatu yang mengerikan dari bawah tanah! Semua orang terkejut dan bertanya, “Ada apakah?”

Dengan tangan menggigil Lin Lin menunjuk ke bawah, dan ternyata bahwa kaki gadis itu tadi sudah tersangkut oleh sebuah tulang tangan orang yang menonjol keluar dari tanah yang tertutup pasir itu! Tangan ini hanya kelihatan lima jarinya saja, sedangkan tulang rangka selebihnya terpendam di bawah pasir! Tentu saja melihat lima buah jari tangan yang sudah menjadi rangka itu di tempat yang mengerikan menimbulkan hati takut dan ngeri.

“Tentu ada apa-apanya di bawah ini,” berkata lagi Nelayan Cengeng dan ia segera mulai menggali pasir yang menimbun tangan rangka itu.

Setelah digali, maka tampaklah rangka manusia yang lengkap terpendam di pasir dan di sebelah rangka itu terdapat sebatang pedang yang telah habis dimakan karat dan pedang itu hanya tinggal sisanya sepanjang paling banyak satu kaki saja lagi. Sisa ini pun sudah merupakan besi berkarat dan gagangnya sudah tinggal sepotong kayu lapuk.

Sambil memegang pedang bobrok itu dan mengamat-amatinya dengan penuh perhatian, Nelayan Cengeng berkata sambil menghela napas.

“Ah, kalau saja pedang bobrok ini dapat bicara, tentu ia akan menceritakan riwayat orang ini yang tentu indah menarik sekali. Apa lagi tubuh manusia, sedangkan pedang yang aku percaya tadinya adalah sebatang pedang pusaka yang ampuh, kini hanya tinggal sisanya saja yang sudah tidak berharga lagi!” Sambil berkata demikian, Nelayan Cengeng segera menaruh kembali pedang yang tinggal sepotong dan karatan itu di dekat rangka itu.

“Kita harus tanam kembali rangka ini dengan pasir,” katanya penuh kekecewaan karena tidak mendapatkan sesuatu di situ.

“Nanti dulu, Locianpwe!” tiba-tiba Lin Lin berkata. “Agaknya tidak percuma tangan rangka ini tadi menowel kakiku dan karena di sini tidak terdapat sesuatu, biarlah kusimpan sisa pedang ini sebagai kenang-kenangan kunjunganku ke pulau ini.”

Nelayan Cengeng tertawa. “Engkau ini memang aneh! Untuk apakah sisa pedang bobrok itu?”

Akan tetapi semua orang tidak melarang pada waktu Lin Lin dengan hati-hati mengambil pedang bobrok itu dan membungkusnya dengan baik-baik di dalam sapu tangannya, lalu menyelipkannya di ikat pinggang.

Setelah mengubur kembali tulang itu secara baik-baik, mereka lalu mengambil keputusan untuk bermalam di goa ini yang merupakan tempat yang baik sekali untuk berlindung dari serangan angin atau binatang buas yang mungkin menyerang di waktu malam.

Berhari-hari keempat orang itu tinggal di Pulau Kim-san-to dan setiap hari Yousuf keluar melakukan pemeriksaan dan mencari-cari harta yang disangkanya berada di pulau itu. Akan tetapi usahanya selalu gagal dan sia-sia, karena yang didapatnya di pulau itu hanya batu-batu karang yang tidak berharga. Sedangkan Nelayan Cengeng serta kedua orang gadis itu yang tidak terlalu bernafsu untuk mencari harta terpendam, maka jarang ikut dan hanya berjalan-jalan menikmati pemandangan di pulau itu.

Pada hari ke tiga, mendadak terdengar jeritan Yousuf dari dekat. Ketiga orang kawannya menjadi kaget sekali dan cepat memburu ke arah suara jeritannya. Mereka kaget melihat Yousuf sedang mencekik seekor ular yang besarnya hanya selengan tangan orang, akan tetapi wajah orang Turki itu telah menjadi pucat sekali. Lin Lin memburu dengan pedang di tangan dan sekali bacok saja tubuh ular itu telah terpotong menjadi dua.

Yousuf melepaskan leher ular yang sedang dicekiknya itu ke atas tanah. Namun semua orang menjadi kaget sekali melihat bahwa bagian yang seharusnya menjadi ekor ular itu, ternyata merupakan kepala pula dan yang telah menggigit pundak Yousuf dan kini masih menempel di situ.

Ternyata bahwa ular itu adalah seekor ular kepala dua. Ketika Yousuf sedang memeriksa dan mencari-cari sambil menyingkap rumput alang-alang, mendadak ular tadi menyambar dan hendak menggigitnya. Yousuf tidak keburu berkelit, maka dia cepat mengulur tangan menangkap leher ular yang menyambarnya itu dan langsung menggunakan kekuatannya mencekik leher ular yang tak dapat melepaskan diri lagi.

Akan tetapi, mendadak Yousuf merasa pundaknya sakit sekali dan alangkah kaget serta herannya pada waktu melihat bahwa ekor ular itu dapat menggigit pundaknya. Dia tidak menyangka bahwa ekor ular itu pun merupakan kepala kedua sehingga dia tidak sempat mengelak dan pundaknya lalu kena tergigit. Yousuf merasa tubuhnya menjadi panas dan pundaknya sakit sekali, maka tanpa terasa pula dia menjerit sehingga kawan-kawannya datang menolong.

Sesudah melepaskan kepala ular yang dicekiknya, Yousuf lantas roboh pingsan dengan muka merah sekali. Ketika Nelayan Cengeng meraba jidatnya, ternyata tubuh orang Turki itu terasa panas sekali. Kong Hwat Lojin lalu mencabut kepala ular yang masih menggigit pundak walau pun telah mati dan melemparkannya jauh-jauh, kemudian dia memondong tubuh Yousuf ke dalam goa tempat mereka bermalam.

Lin Lin yang biar pun sedikit tapi pernah mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya yaitu Biauw Suthai, lalu memeriksa luka pada pundak Yousuf. Ia terkejut sekali melihat betapa pundak itu sudah menjadi matang biru dan maklum bahwa ular yang menggigit Yousuf itu adalah ular beracun yang berbahaya sekali.

Selagi mereka bertiga kebingungan, tiba-tiba di luar goa terdengar suara aneh. Mereka memburu keluar dan melihat seekor burung merak yang berbulu biru bercampur kuning keemas-emasan sehingga dari jauh nampak seperti hijau. Merak ini indah sekali dan juga besarnya melebihi merak biasa.

Mereka terkejut karena teringat akan cerita Yousuf tentang merak sakti yang amat lihai. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah siap dengan senjata mereka untuk menyerbu, akan tetapi tiba-tiba Lin Lin berseru,

“Jangan ganggu dia! Lihat, dia membawa buah Pek-kim-ko (Buah Emas Putih). Buah inilah yang kubutuhkan pada saat ini untuk menolong jiwa Yo sian seng.”

Merak itu seakan-akan mengerti bicara Lin Lin, karena ia berhenti dan berdiri di depan Lin Lin sambil memandang ke arah gadis itu dengan kedua matanya yang merah dan indah. Lin Lin lalu melangkah maju tanpa kelihatan jeri sedikit pun, karena di dalam hatinya dia menganggap tidak mungkin seekor burung yang begini indahnya dapat mempunyai watak jahat.

Setelah dekat, Lin Lin tidak berani langsung mengambil buah itu dari mulut merak karena menganggap hal itu kurang patut dan tidak menghargai burung itu, maka dia kemudian mengulurkan tangan kanan seperti orang minta-minta. Dan benar saja, merak ajaib itu lalu mengulurkan lehernya ke depan dan menjatuhkan buah yang berwarna putih itu ke dalam telapak tangan Lin Lin. Lin Lin menerima buah itu dan ketika melihat bahwa itu adalah benar-benar buah Pek-kim-ko seperti yang ia duga, ia menjadi girang sekali dan tak terasa pula ia mengangguk kepada burung merak itu dan berkata, “Sin-kong-ciak-ko (Saudara Merak Sakti), terima kasih banyak!”

Lalu gadis ini berlari masuk ke dalam goa, diikuti oleh Nelayan Cengeng serta Ma Hoa yang memandang terheran-heran. Lin Lin segera menghampiri Yousuf yang masih rebah di atas pembaringan tanpa dapat berkutik lagi dan mukanya makin menjadi merah serta tubuhnya panas sekali bagaikan dibakar.

Tanpa banyak membuang waktu dan banyak bicara lagi, Lin Lin cepat-cepat mencabut pedangnya dan mempergunakan ujung pedang itu untuk digoreskan ke pundak Yousuf yang telah dibuka bajunya, yaitu di bagian yang bengkak dan matang biru, bekas gigitan ular tadi. Kulit pundak dan daging di situ terbuka dengan mudah oleh ujung pedang yang tajam dan runcing itu, lalu setelah menyimpan pedangnya, Lin Lin lalu memasukkan buah Pek-kim-ko itu ke mulutnya terus dikunyah dan dimakan.

Rasa buah itu pahit sekali dan di dalamnya mengandung getah yang melekat di seluruh lidah, gigi, dan kulit di dalam mulut. Lin Lin lalu menempelkan bibirnya yang merah dan berbentuk indah itu ke arah luka bekas goresan pedang pada pundak Yousuf, lalu segera dihisapnya! Setelah menghisap, dia lalu meludahkan darah hitam yang dapat disedot dari luka itu.

Berkali-kali dia menghisap dan meludah sambil kadang-kadang berhenti untuk mengurut jalan darah di sekitar pundak yang tergigit ular itu. Dan akhirnya, habislah bisa ular yang meracuni darah Yousuf dan lenyaplah warna merah di mukanya dan warna matang biru pada pundaknya, sedangkan panasnya juga otomatis menurun.

Ternyata bahwa khasiat buah Emas Putih itu ialah untuk menjaga mulut dan tenggorokan Lin Lin, agar jangan sampai terpengaruh bisa yang jahat itu. Tanpa buah Pek-kim-ko, Lin Lin tidak akan berani melakukan penghisapan racun dengan mulutnya itu, karena hal ini berbahaya sekali dan dapat menewaskannya.

Setelah jiwa Yousuf tertolong dari ancaman racun ular, Lin Lin lalu keluar dari goa untuk mencari air dan mencuci mulutnya sampai bersih. Nelayan Cengeng dan Ma Hoa saling pandang. Rasa haru yang mendalam terasa oleh hati kedua orang ini melihat ketinggian budi Lin Lin. Mereka memuji kemuliaan hati gadis itu.

Ketika Lin Lin sedang mencuci mulut dan tangannya di sebuah sumber air kecil di puncak gunung itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara geraman hebat di belakangnya dan ketika ia menoleh, terlihat olehnya seekor harimau yang besar sekali! Yang aneh adalah bahwa di tengah-tengah jidat harimau itu tumbuh sebuah tanduk yang melengkung ke atas laksana tanduk seekor badak.

Lin Lin cepat berdiri dan melompat ke tempat yang lebih lega dan rata, karena maklum bahwa binatang ini tentulah harimau jahat dan lihai yang pernah diceritakan oleh Yousuf di atas perahu dulu.

Memang benar bahwa harimau inilah yang dulu menyerang Yousuf dan kawan-kawannya dan binatang ini lihai dan kuat. Akan tetapi melihat Lin Lin, harimau ini agaknya ragu-ragu untuk menyerang, hanya memandang dan menggeram beberapa kali, lalu mengaum kecil seakan-akan menyatakan keraguannya apakah ia harus menyerang gadis ini atau tidak.

Mendadak terdengar suara pukulan sayap dari atas dan Lin Lin merasa datangnya angin menyambar kepalanya dari arah atas. Cepat gadis ini mengelak secara tepat oleh karena tanpa peringatan lagi, dari atas telah manyambar turun seekor Rajawali Emas yang amat besar! Kalau Lin Lin tadi tidak mengelak secara tepat, tentu kepalanya telah kena dipatuk oleh burung yang gelak itu!

Lin Lin makin terkejut oleh karena dia telah mendengar akan kelihaian burung ini dan kini setelah dua macam binatang lihai ini berada di depannya, apakah yang dapat ia lakukan? Sedangkan Yousuf yang begitu gagah dan dibantu oleh dua orang kawannya pun masih tidak kuat melawan dua ekor binatang ini, apa lagi dia kini berada seorang diri dan tidak memegang senjata pula?

Namun gadis ini memang mempunyai hati yang tabah dan pada mukanya tidak terlihat rasa takut sedikit pun. Bahkan ketika itu dia memandang kepada harimau dan rajawali sakti itu dengan pandangan mata kagum dan senang.

Setelah menyambar turun rajawali itu lalu berdiri di dekat harimau bertanduk dan ternyata bahwa tubuh rajawali itu jauh lebih tinggi dari pada tubuh harimau itu! Dua ekor binatang ini memandang kepada Lin Lin dan agaknya mereka keduanya merasa ragu-ragu melihat seorang manusia cantik yang tidak mengambil sikap bermusuhan dengan mereka, malah tidak mengeluarkan senjata untuk melukai mereka.

Tiba-tiba saja terdengar bunyi nyaring dari atas dan ketika Lin Lin memandang, ternyata merak yang luar biasa tadi telah melayang turun dan berdiri di atas tanah di depan kedua binatang itu. Harimau bertanduk lalu menggoyang-goyangkan ekornya dan menundukkan kepala, ada pun Rajawali Emas itu lalu mengebut-ngebutkan sepasang sayapnya sambil menunduk pula, seakan-akan keduanya memberi hormat kepada merak ini.

Merak Sakti itu mengangkat dadanya dengan bangga, lalu memutar menghadapi Lin Lin dan gadis ini gembira sekali oleh karena ternyata bahwa merak ini berdiri hanya dengan sebelah kakinya sedang kakinya sebelah lagi mencengkeram serumpun daun Coa-tok-te, yaitu sejenis daun yang merupakan obat khusus untuk menyembuhkan luka akibat gigitan ular beracun. Lin Lin dengan girang melangkah maju dan sambil tersenyum manis gadis itu berkata,

“Ah, Saudara Merak Sakti. Sungguh kau benar-benar baik hati dan amat pandai.” Sambil berkata demikian Lin Lin mengulurkan tangan menerima rumput atau daun-daun panjang itu dari kaki merak. Kemudian dengan mesranya Lin Lin mengelus-elus bulu merak yang indah sekali serta halus dan bersih itu.

Merak itu menjulurkan lehernya yang panjang untuk dibelai-belaikan pada lengan tangan gadis yang mengelus-elusnya itu, seolah-olah ia merasa gembira sekali. Sikapnya seperti seekor binatang peliharaan yang amat jinak. Sedangkan harimau bertanduk dan Rajawali Emas itu pun melangkah maju perlahan-lahan dengan mata mengeluarkan pandangan mengiri.

Lin Lin tertawa dan dengan tabahnya dia pun lalu menghampiri kedua binatang buas itu dan mengelus-elus punggung mereka. Si Harimau bertanduk itu menggoyang-goyangkan ekornya dan mengeluarkan keluhan perlahan seperti seekor kucing yang merasa senang dan manja, sedangkan Rajawali Emas itu pun kemudian mengembangkan sayapnya dan merendahkan diri sambil membuka paruhnya bagaikan seekor burung murai yang dibelai oleh pemiliknya dengan kasih sayang.

Tiba-tiba harimau itu mencium-cium ke arah pinggang Lin Lin dan tiba-tiba ia menggeram keras sehingga gadis itu terkejut, juga Rajawali Emas dan Merak Sakti nampak kaget. Lin Lin teringat akan pedang karatan yang berada di pinggangnya dan otomatis ia mencabut pedang itu, dan sungguh aneh. Ketika melihat pedang karatan itu, ketiga binatang itu lalu mengeluarkan keluhan panjang dan sedih dan ketiganya lalu mendekam di hadapan Lin Lin seakan-akan berlutut.

Lin Lin adalah seorang gadis yang cerdik dan dapat mengerjakan otaknya cepat sekali. Ia dapat menduga tepat bahwa ketiga binatang sakti ini tentulah murid-murid atau binatang-binatang peliharaan orang sakti yang telah meninggal dunia di dalam goa dan kini ketiga ekor binatang ini mengenal pedang pusaka orang sakti itu!

Maka Lin Lin lalu ikut berlutut pula dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, seakan-akan hendak memperlihatkan kepada ketiga binatang itu bahwa dia juga menjunjung tinggi dan menghormat pemilik pedang itu. Kemudian ia berdiri dan memasukkan pedang bobrok itu ke dalam ikat pinggang lagi. Kini ketiga binatang itu nampak girang sekali dan mereka menjadi begitu jinak seperti tiga ekor anjing yang amat menurut.

Pada saat itu terdengar seruan heran dan ketika Lin Lin memandang, ternyata bahwa Nelayan Cengeng dan Ma Hoa telah berdiri mengintai dari belakang pohon dengan mata terbelalak heran. Lin Lin tersenyum lalu berkata kepada binatang itu dengan suara keras tapi halus,

“Sin-kong-ciak (Merak Sakti), Sin-kim-tiauw (Rajawali Emas Sakti), dan kau It-kak-houw (Harimau Tanduk Satu). Lihatlah baik-baik kepada dua orang itu. Mereka adalah sahabat-sahabat baikku dan janganlah kalian mengganggunya. Juga kawan yang sedang terluka oleh ular berbisa itu adalah kawan baikku!”

Ketiga ekor binatang sakti itu mengangguk-angukkan kepala seakan-akan mereka dapat mengerti ucapan Lin Lin sehingga Nelayan Cengeng dan Ma Hoa menjadi terheran dan girang sekali. Kini mereka tidak ragu-ragu lagi dan melangkah maju serta mengelus-elus pundak ketiga ekor binatang itu yang menjadi heran sekali. Terutama Ma Hoa, gadis ini merasa suka benar kepada Sin-kong-ciak dan mengagumi bulu merak itu tiada habisnya.

Kemudian mereka lalu kembali ke goa, diikuti oleh tiga ekor binatang itu. Ternyata bahwa tadi Nelayan Cengeng dan Ma Hoa juga mendengar suara binatang-binatang itu hingga mereka lalu memburu keluar karena khawatir kalau-kalau Lin Lin berada dalam bahaya. Akan tetapi mereka berdiri tercengang sambil mengintai dari balik pohon ketika melihat peristiwa yang aneh dan menakjubkan yang terjadi antara Lin Lin dan ketiga binatang itu.

Lin Lin lalu meremas-remas daun Racun Ular, dan obat ini digunakan untuk mengobati luka Yousuf, dibalurkan di tempat bekas gigitan dan sebagian airnya diminumkan.

Tak lama kemudian Yousuf siuman kembali dan keadaannya baik sekali. Ketika melihat betapa Lin Lin merawatnya dengan telaten dan penuh perhatian, tak terasa pula air mata mengalir turun dari kedua matanya. Apa lagi ketika Ma Hoa menceritakan betapa Lin Lin menyedot keluar semua racun yang ada di dalam tubuhnya dengan menggunakan mulutnya, orang Turki ini tidak dapat lagi menahan keharuan hatinya dan dia menangis terisak-isak di atas pembaringannya. Dia tak dapat mengucapkan kata-kata, hanya memandang kepada Lin Lin dengan pandangan penuh mengandung pernyataan terima kasih yang besar.

Lin Lin tersenyum dengan muka merah. “Enci Ma Hoa,” katanya kepada gadis itu, “mengapa kau menceritakan hal itu? Kau hanya melebih-lebihkan hal yang tidak ada artinya.” Kemudian kepada Yousuf ia berkata,

“Yo-sianseng, kita adalah sahabat-sahabat baik yang sedang berada di tempat asing dan berbahaya. Bila kita tidak saling menolong, bagaimana kita bisa hidup? Aku yakin bahwa kau pun tentu tidak akan ragu-ragu lagi melakukan hal ini apa bila aku yang mendapat kecelakaan.”

Yousuf hanya mengangguk-anggukkan kepala, tapi ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata oleh karena hatinya merasa terharu sekali dan penyesalan besar membuat ia tak kuasa membuka mulut. Dia ingin sekali membenturkan kepalanya pada dinding goa karena menyesal kepada diri sendiri dan diam-diam ia memaki pada diri sendiri.

“Ahh, Yousuf! Kau manusia tersesat dan gila! Mengapa kau biarkan setan menguasai hati dan pikiranmu hingga kau pernah tergila-gila dan memiliki pikiran buruk terhadap seorang gadis yang demikian mulia hatinya? Kalau kau mempunyai seorang anak perempuan pun belum tentu ia akan semulia dan sebakti gadis ini!”

Demikianlah Yousuf menyesali diri oleh karena memang ia pernah mengandung maksud untuk mengambil Lin Lin sebagai permaisurinya apa bila cita-citanya tercapai. Semenjak saat itu rasa cintanya kepada Lin Lin sama sekali berubah dari cinta seorang lelaki pada seorang wanita menjadi cinta kasih seorang ayah terhadap seorang anak perempuannya!

“Lin Lin,” katanya ketika gadis itu menyiapkan obat untuknya dan mereka berada berdua saja, karena Ma Hoa beserta Nelayan Cengeng dengan ditemani oleh harimau bertanduk dan Rajawali Emas sedang keluar mencari buah-buahan yang enak dimakan. “Setelah apa yang kau lakukan untuk membelaku, sudilah kiranya kau menyebut Ayah kepadaku? Kau kuanggap anakku sendiri, Lin Lin, dan oleh karena kau tak berayah ibu lagi, biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu. Sukakah kau, Nak?”

Mendengar suara yang diucapkan dengan menggetar, juga melihat betapa wajah Yousuf memandangnya dengan penuh harapan, Lin Lin menjadi amat terharu dan teringat pada ayahnya. Maka dia segera berlutut di depan pembaringan Yousuf dan tanpa ragu lagi dia menyebut, “Ayah!” sambil menangis.

Yousuf yang sudah kuat kembali tubuhnya lalu bangun dan duduk. Ia meletakkan kedua tangannya di atas kepala gadis itu dan berkata, “Lin Lin, semenjak saat ini kau adalah anakku dan aku akan membelamu dengan seluruh tubuh dan nyawaku, semoga Dewata Yang Agung memberkahimu.”

Ketika Nelayan Cengeng dan Ma Hoa mendengar tentang pemungutan anak ini, mereka berdua juga merasa girang sekali. Nelayan Cengeng sudah percaya penuh akan ketulus ikhlasan dan kejujuran hati orang Turki itu, maka ia pun tidak merasa keberatan apa-apa, sedangkan Ma Hoa yang juga telah kehilangan ayahnya, lalu menangis dengan terharu sekali sambil memeluk leher Lin Lin.

Nelayan Cengeng menghela napas, “Ma Hoa, aku tahu apa yang menjadikan kau merasa sedih, akan tetapi kau ingatlah, Ma Hoa, bahwa semenjak saat kau merantau denganku, aku Kong Hwat Lojin sudah menjadi guru dan ayahmu sendiri! Walau pun kau menyebut Suhu kepadaku, tapi kau kuanggap anak sendiri dan hal ini pun tentu kau maklumi, maka janganlah kau bersedih, Anakku.”

Ma Hoa menjatuhkan diri berlutut di hadapan suhu-nya dan berkata, “Terima kasih, Suhu, dan demi Tuhan, sedikit pun tak pernah teecu meragukan kemuliaan hati Suhu.”

Setelah Yousuf sembuh kembali, mereka melanjutkan pemeriksaan dan mencari harta di pulau itu, akan tetapi kalau dulu Yousuf mencari dengan cita-cita hendak mengangkat diri menjadi kaisar dan mengawini Lin Lin, kini cita-citanya itu diubah sedikit. Dia masih ingin menjadi kaisar dan memiliki harta besar itu, akan tetapi semua itu demi kemuliaan Lin Lin yang akan dijadikan seorang puteri kerajaan yang agung.

Akan tetapi, sesudah beberapa hari tinggal di pulau itu, ternyata belum juga didapatkan tanda-tanda bahwa pulau itu betul-betul mengandung banyak emas seperti yang tadinya disangka.