Social Items

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 10

KETIKA melihat kedatangan suhu dari Kwee An dan melihat pula naiknya semua lawan hingga keadaan menjadi berbahaya, Cin Hai berseru nyaring dan gerakan pedangnya kini disertai tenaga khikang yang luar biasa. Inilah tenaga khikang yang ia latih atas petunjuk Bu Pun Su, dan yang mempunyai daya gempur luar biasa sekali karena seluruh tenaga lweekang, gwakang mau pun ginkang dipersatukan merupakan pergerakan hebat hingga menimbulkan angin besar.

Khikang semacam ini jarang dikeluarkan oleh Cin Hai, karena tenaga ini membutuhkan pemusatan yang bulat hingga sangat melelahkan tubuh. Ia sendiri akan mendapat celaka oleh karena kehabisan tenaga. Oleh karena inilah, maka kepandaian ini jarang sekali dia keluarkan. Untuk mempergunakan tenaga khikang ini, paling lama dia hanya kuat bersilat sampai tiga puluh jurus saja.

Akan tetapi, akibatnya hebat sekali. Baru saja ia menyerang belum lima jurus, kaki kirinya berhasil menendang dada Beng Kong Hosiang hingga hwesio ini jatuh menggelinding ke bawah panggung dalam keadaan pingsan.

Melihat kehebatan ini, para perwira menjadi kaget sekali. Permainan Shantung Ngo-hiap menjadi kacau balau sehingga Eng Yang Cu mendapat kesempatan melukai Lauw Tek dengan pedangnya. Keadaan menjadi kalut dan semua perwira mencabut senjata hendak mengeroyok. Akan tetapi karena jumlah mereka besar, sedangkan panggung itu sempit, maka gerakan mereka itu bahkan mengacaukan kawan sendiri.

Cin Hai dan Kwee An yang mengambil keputusan hendak membalas dendam, kemudian sengaja menujukan senjata mereka kepada keempat sisa anggota Shantung Ngo-hiap dan kedua saudara Tan Song dan Tan Bu. Eng Yang Cu yang tidak tahu musuh-musuh besar muridnya hanya menggerakkan senjata untuk melindungi kedua pemuda itu.

Pedang Kwee An berhasil merobohkan Tan Song dan Tan Bu, dan serangan pemuda ini disertai oleh kegemasan yang meluap sehingga dua saudara Tan itu roboh tewas mandi darah. Cin Hai yang mengamuk hebat bagaikan seekor Naga Sakti memperlihatkan diri, juga berhasil merobohkan Un Kong Sian, Lauw Houw, Ma Ing, dan Ma Keng In. Akan tetapi karena ia tahu bahwa Ma Keng In tidak ikut dalam penyerbuan ke rumah keluarga Kwee, ia masih mengampuni jiwa orang tua ini dan hanya menotoknya roboh, sedangkan yang lain-lain telah tewas di ujung pedang Liong-koan-kiam!

Melihat bahwa ketujuh musuh besar itu semua telah dapat dirobohkan, tiba-tiba saja Cin Hai melintangkan pedangnya yang masih berlumpuran darah dan ia berteriak.

“Cuwi sekalian, tahan senjata! Kami bertiga tidak mau membunuh orang tidak berdosa. Orang-orang yang sudah mengganas dan membunuh keluarga Kwee hanya enam orang yang sudah tewas ini! Sedangkan Ma Keng In karena tidak ikut berdosa, ia hanya diberi hajaran saja, demikian pula Beng Kong Hwesio yang sombong hanya diberi hajaran agar ia tidak memandang ringan kepada lain orang! Sekarang harap Cuwi beritahukan di mana adanya Boan Sip dan Hai Kong Hosiang, karena kedua orang jahat itu pun hendak kami basmi dari permukaan bumi!”

Akan tetapi, di antara semua perwira itu, mana ada yang berani menjawab dan membuka rahasia kawan sendiri? Mereka hanya berdiri diam sambil bersiap sedia dengan senjata di tangan, walau pun hati mereka telah dibikin gentar oleh kehebatan ketiga orang itu!

Karena tidak ada orang yang berani memberi keterangan, Cin Hai lalu mengajak kedua kawannya pergi dari situ. Tiga bayangan berkelebat dan para perwira baru sadar bahwa ketiga lawan mereka telah pergi setelah tak melihat mereka di atas panggung lagi.

Mereka lalu menolong kawan-kawan yang terluka dan sebagian orang lalu lari memberi laporan ke istana. Keadaan menjadi kalut bukan main, karena sejak Kanglam Chit-koai mengamuk pada beberapa puluh tahun yang lalu di dalam Eng-hiong-koan ini, tak pernah ada orang yang berani mengganggu mereka.

Tak dinyana bahwa hari ini dua orang pemuda yang dibantu oleh seorang tosu tua sudah membuat mereka kocar-kacir, bahkan enam orang perwira telah binasa! Yang lebih hebat lagi, Beng Kong Hosiang yang belum pernah dikalahkan orang itu, kini juga roboh dalam tangan seorang pemuda tanggung! Ini hebat sekali.

Juga Kaisar menjadi terkejut mendengar huru-hara ini. Ia segera memerintahkan barisan pengawal untuk mengejar dan mengepung, tapi ketika itu, Cin Hai dan kawan-kawannya telah lari jauh meninggalkan tembok kota raja dan telah berhenti di dalam sebuah hutan.

Kwee An lalu memperkenalkan Cin Hai kepada gurunya dan Eng Yang Cu memandang dengan kagum kepada Cin Hai.

“Sie-taihiap, kau masih begini muda akan tetapi kepandaianmu betul-betul membuat aku menjadi kagum sekali. Siapakah Suhu-mu yang mulia?”

Sebagaimana biasa, Cin Hai merasa segan untuk memberitahukan nama suhu-nya oleh karena maklum bahwa Bu Pun Su sama sekali tak suka bahkan membenci segala nama besar yang dianggapnya kosong belaka. Maka melihat keraguan pemuda itu, Kwee An lalu mewakilinya menjawab,

“Guru Saudara Cin Hai ini adalah Bu Pun Su.”

“Ah!” Eng Yang Cu terkejut sekali mendengar ini. “Tak heran apa bila kepandaiannya lihai sekali. Pinto pernah mendengar nama besar Suhu-mu biar pun mataku belum mendapat kemuliaan dan kehormatan untuk bertemu dengan Locianpwe itu. Akan tetapi, sesudah melihat kepandaian muridnya, hatiku telah cukup puas.”

Eng Yang Cu lalu menceritakan bahwa dari seorang sahabatnya di kalangan kang-ouw ia mendengar tentang nasib buruk yang menimpa keluarga Kwee An. Kakek ini yang sangat sayang kepada muridnya itu, menjadi marah sekali dan seorang diri ia berangkat ke kota raja hendak mencari Shantung Ngo-hiap yang sudah membunuh keluarga muridnya dan kebetulan sekali ia datang di saat yang tepat hingga dapat membantu pembalasan sakit hati Kwee An dan Cin Hai.

“Baiknya Totiang cepat-cepat datang, kalau tidak, aku tidak berdaya menolong Saudara Kwee An, karena hwesio itu pun cukup lihai sehingga aku tidak mempunyai kesempatan membelanya,” kata Cin Hai terus terang.

“Kwee An, musuh-musuhmu sudah terbalas dan semua itu berkat bantuan Sie-taihiap ini, maka jangan kau melupakan budi yang besar itu.”

“Musuh belum terbalas semua, Suhu,” kata Kwee An. “Masih ada dua orang musuh besar yang memegang peranan penting dalam perbuatan biadab itu, yakni Hai Kong Hosiang yang lihai dan Boan Sip perwira yang tadinya hendak memaksa adikku menjadi isterinya.”

Eng Yang Cu terkejut. “Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji ini? Ah, memang benar kata-kata orang kang-ouw bahwa dalam setiap perbuatan jahat yang sangat keji, tentu Hai Kong Hosiang ikut campur! Meski ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang mungkin tak lebih hebat dari pada suheng-nya, akan tetapi hwesio itu terkenal cerdik dan banyak akalnya, lagi curang sekali. Namun pinto percaya bahwa dengan bantuan seorang kawan seperti Sie-taihiap ini, pasti ia akan terbalas!”

Kemudian, setelah memberi nasehat dan pesanan kepada muridnya agar supaya berlaku hati-hati dan supaya suka minta petunjuk-petunjuk dari Cin Hai, tosu pengembara ini lalu melanjutkan perjalanannya.

“Kalau pinto kebetulan bertemu dengan Hai Kong atau Boan Sip, tentu pinto tidak akan tinggal diam dan mencoba untuk melawan mereka,” katanya.

Kwee An merasa terharu atas pembelaan suhu-nya itu dan menghaturkan terima kasih serta selamat berpisah. Juga Cin Hai merasa kagum sekali atas kebaikan guru Kwee An itu.

“Suhu-mu itu berhati mulia sekali, Saudara An,” katanya dan ia teringat kepada suhu-nya sendiri Bu Pun Su, yang tiada kabar beritanya itu. Apakah suhu-nya itu masih berada di Goa Tengkorak?

“Saudara Cin Hai, ketika kita hendak pergi ke kota raja dan mampir di Tiang-an mencari Boan Sip, ternyata dia sudah meninggalkan tempat tinggalnya itu dan kabarnya pergi ke kota raja. Akan tetapi, di kota raja pun ia tak ada. Ke manakah ia pergi dan ke mana pula kita harus mencari dia dan Hai Kong Hosiang?”

Setelah berpikir sebentar, Cin Hai menjawab, “Mungkin sekali Boan Sip ikut pergi dengan Hai Kong Hosiang. Biarlah kita menyelidiki lagi ke kota raja mencari jejak mereka. Akan tetapi kita harus berlaku sangat hati-hati, karena tentu saja Kaisar tak akan tinggal diam karena perbuatan kita yang membunuh para perwira.”

Mereka lalu menunggu sampai sore, karena bermaksud hendak memasuki kota raja pada waktu malam agar jangan terlalu banyak mengalami rintangan para penjaga yang tentu berlaku waspada setelah terjadi kerusuhan demikian hebatnya.

“Saudara Kwee An, kurasa satu-satunya orang yang dapat memberi keterangan tentang Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, adalah Ma Keng In. Perwira ini adalah orang ke tiga dari Shantung Ngo-hiap, dan dibanding dengan saudara-saudaranya, dia agaknya paling baik. Mungkin sekali dia mau memberi tahu kepada kita mengenai tempat tinggal Hai Kong Hosiang, mengingat bahwa kita telah berlaku murah hati dan tidak membunuhnya.”

Dengan menggunakan kepandaian ginkang mereka yang tinggi, Cin Hai dan Kwee Ang dengan mudah bisa melompati tembok kota di bagian yang tak terjaga dan karena malam itu gelap, maka mereka dapat menyelundup ke dalam kota tanpa menemui rintangan. Ketika Cin Hai mencari keterangan di kalangan penduduk, dengan mudah mereka dapat mengetahui di mana rumah kediaman perwira she Ma itu, yakni di dalam sebuah gedung besar yang kuno.

Segera mereka jalan di atas genteng dan menuju ke rumah itu. Akan tetapi baru saja mereka tiba di atas wuwungan rumah perwira Ma Keng In, mereka dicegat oleh seorang pemuda berpakaian biru yang sudah berdiri di sana dengan tangan memegang sebatang pedang terhunus dan tajam berkilat!

“Hmm, kalian masih belum puas dan hendak mengambil jiwa Ayahku?” bentaknya sambil menggerakkan pedang. “Nah, majulah, memang sejak tadi aku telah menanti kedatangan kalian berdua!”

Pemuda baju biru itu menyerang Kwee An dengan pedangnya, namun Kwee An cepat menangkis. Kedua pedang bertemu menerbitkan suara nyaring dan bunga api berpijar memercik keluar tanda bahwa tenaga kedua orang muda ini seimbang! Cin Hai terkejut karena ternyata pemuda ini mempunyai gerakan cukup lihai.

“Sobat, tahan dulu,” katanya. “Kau siapakah dan mengapa tiba-tiba menyerang kami?”

“Kalian diam-diam memasuki kota raja dan mencari rumah kediaman Ma-ciangkun. Masih hendak bertanya mengapa aku di sini menanti dengan pedang di tanganku? Aku adalah anak dari Ma-ciangkun. Siang tadi kau telah melukai Ayahku dan mengganas di kota raja, sekarang sebelum kau hendak mencari Ayah, kau hadapi dulu anaknya!”

Sebelum Cin Hai dan Kwee An menjawab, pemuda itu dengan ganasnya sudah kembali menyerang kepada Kwee An. Melihat pemuda yang tampan itu dan sikapnya yang lemah lembut serta pergerakan pedangnya yang lihai, Cin Hai menjadi tertarik sekali, maka dia diamkan saja dan menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.

Yang mengherankan hatinya ialah bahwa ilmu pedang pemuda itu berbeda sekali dengan ilmu pedang Ma Keng In, bahkan tidak lebih rendah dari pada kepandaian Ma-ciangkun itu! Juga gerakan pemuda itu aneh sekali, karena selalu menyerang sambil membalikkan tubuh sehingga gerakannya bagaikan seekor naga yang menyabet dengan ekornya yang tajam. Juga dalam hal tenaga dan kecepatan, ternyata pemuda yang lihai ini tidak kalah oleh Kwee An!

Juga Kwee An tidak kurang terkejutnya karena putera Ma Keng In ini ternyata merupakan seorang lawan yang tangguh sekali dan ia hanya dapat mengimbangi pemuda itu tapi tak dapat mendesak!

“Sahabat, kita datang bukan dengan maksud buruk!” Kwee An berkata sambil menahan serangan orang. Akan tetapi pemuda itu tidak ambil peduli dan terus menyerang dengan ganasnya.

Pada saat itu terdengar suara Ma Keng In yang berat dari bawah genteng, “Hoa-ji, jangan berlaku kurang ajar kepada tamu. Jiwi, kalian turunlah jika hendak bicara dengan aku!”

Pemuda yang disebut Hoa-ji oleh ayahnya itu mengeluarkan seruan kecewa, akan tetapi ia lalu melompat ke bawah dengan ringan, diikuti oleh Kwee An dan Cin Hai. Ma Keng In telah berdiri di situ dan menyambut mereka dengan wajah kereng.

“Jiwi yang muda dan gagah malam-malam datang ke pondokku, ada keperluan apakah?”

Kwee An membalas hormatnya dan berkata, “Harap Lo-enghiong suka memaafkan kami. Sebetulnya kami berdua tak mempunyai permusuhan dengan kau orang tua, karena kau tak ikut membasmi keluargaku. Kedatangan kami ini sengaja hendak mohon pertolongan Lo-enghiong dan bertanya di mana adanya Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, dua musuh besarku yang masih belum terbalas itu.”

Wajah Ma Keng In memerah. “Hm, kalian orang-orang muda memang terlalu berani dan tidak memandang sebelah mata padaku! Kau kira aku ini seorang pengkhianat yang sudi mencurangi dan mengkhianati kawan-kawan sendiri? Meski kalian akan membunuh dan memotong lidahku, aku orang she Ma tak serendah itu untuk mengkhianati kawan-kawan sendiri.”

Kwee An tercengang dan tak dapat menjawab. Tapi Cin Hai lalu tertawa aneh. Ma Keng In memang semenjak tadi memandang ke arah Cin Hai karena ia sungguh mengagumi anak muda yang telah ia saksikan kelihaiannya siang tadi. Kini mendengar suara tertawa anak muda itu ia berkata,

“Apakah kau demikian memandang rendah kepadaku sehingga mentertawakan sikapku yang bodoh?”

“Ah, tidak, tidak sekali-kali, Ma-ciangkun! Aku yang muda bahkan merasa teramat kagum melihat sifat kesatriaanmu. Yang kuanggap lucu adalah keanehanmu. Kau begini gagah perkasa dan berjiwa satria, akan tetapi kenapa kau sudi menjadi anggota Sayap Garuda yang terkenal ganas menindas rakyat? Biarlah, hal itu bukan urusan kami dan aku pun tidak akan mengutik-utik. Akan tetapi pemandanganmu tadi keliru sekali! Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan! Hai Kong Hosiang dan Boan Sip merupakan orang-orang yang telah melakukan keganasan dan kekejaman yang termasuk kejahatan besar. Kalau kau memberi tahu tempat mereka kepada kami, itu berarti bahwa kau sudah melakukan perbuatan yang adil. Ingatlah bahwa permusuhan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukanmu atau kedudukan mereka sebagai anggota Sayap Garuda, akan tetapi ini adalah urusan pribadi. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian, maka apa perlunya mereka bersembunyi dari pada kami? Kalau kau tetap menolak untuk memberi tahukan tempat tinggal mereka, hal itu berarti bahwa kau bahkan merendahkan mereka dan berarti kau takut kalau-kalau mereka itu akan kalah dan terbunuh oleh kami!”

Ma Keng In mendengarkan ucapan panjang lebar ini dengan mata terbelalak. Dia makin heran melihat pemuda yang tidak saja berkepandaian lihai itu, akan tetapi juga memiliki pandangan yang demikian dalam dan halus. Ia menghela napas dan berkata,

“Alasan-alasanmu dapat diterima, anak muda. Memang Hai Kong Suhu adalah seorang yang tinggi hati dan bila ia tahu bahwa aku menolak untuk memberi keterangan padamu tentang kepergiannya, tentu ia akan merasa kurang senang dan menganggap aku sudah merendahkannya. Baiklah kalau kau dan kawanmu memaksa, akan tetapi apa bila kalian tewas dan celaka di dalam tangannya janganlah kalian merasa penasaran kepadaku. Hai Kong Suhu bersama Boan-ciangkun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar untuk menghubungi pasukan-pasukan Mongol di perbatasan utara. Lima hari yang lalu mereka dan beberapa orang perwira lain telah berangkat ke utara meninggalkan kota raja.”

Cin Hai segera menjura dan berkata, “Terima kasih banyak, Ma-ciangkun. Kau memang benar-benar seorang tua gagah dan berhati lurus. Mudah-mudahan kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan.”

Kwee An juga menghaturkan terima kasih dan keduanya lalu melompat ke atas genteng untuk meninggalkan kota raja yang sebetulnya tidak aman bagi mereka itu.

Akan tetapi, belum jauh mereka pergi, tiba-tiba saja terdengar suara orang menegur dari belakang. Mereka berhenti dan ternyata Ma Hoa, pemuda berbaju biru yang menegur mereka tadi, telah mengejar mereka!

“Eh, ehh, kau mengejar mau apa? Apakah hendak melanjutkan pertandingan yang tadi?” Kwee An menegur tidak senang.

“Kalau hendak melanjutkan pertandingan, tak perlu aku banyak cakap!” jawab pemuda itu ketus. “Ayah terlalu lemah, maka kalau kalian memang orang-orang gagah, di dalam tiga hari aku akan menanti kalian di lereng Pai-san di sebelah utara!”

Kwee An merasa mendongkol dan penasaran. “Kenapa kami tidak berani? Baiklah, kalau kami menuju ke utara kami akan mampir di tempat itu dan di sana kita boleh bertempur sampai seribu jurus! Siapa takut dengan seorang kanak-kanak seperti kau?”

Pemuda itu membanting-banting kaki dan berkata, “Aku akan menunggu di sana!”

Kemudian ia lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan mereka.

“Ah, Saudara An, mengapa kau mencari musuh baru? Orang itu kulihat lihai sekali, ilmu kepandaiannya tidak kalah jika dibandingkan dengan ayahnya,” Cin Hai menegur dengan suara menyesal.

“Siapa takut dia?” jawab Kwee An yang merasa mendongkol dan penasaran sekali sebab tadi ia benar-benar tak bisa mengalahkan pemuda itu. Setelah pemuda itu menantangnya apakah ia harus mundur? “Lagi pula kita pun hendak melewati Pai-san. Apa bila kita tidak menyambut tantangannya, bukankah kita akan ditertawakan oleh seorang kanak-kanak?”

Cin Hai tersenyum dan maklum bahwa Kwee An merasa penasaran sekali karena tidak dapat mengalahkan seorang pemuda yang sikapnya masih seperti kanak-kanak itu!

Sesudah melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya di jalan kepada penduduk dusun mengenai rombongan Hai Kong Hosiang, tiga hari kemudian Cin Hai dan Kwee An tiba di lereng bukit Pai-san.

Pemandangan di lereng bukit ini sungguh indah dan tanah di sana subur. Hal ini adalah karena di lereng itu mengalir sebuah sungai yang menjadi sumber atau mata air Sungai Liong-kiang dan yang menjadi anak sungai atau cabang Sungai Huangho, karena sungai Liong-kiang ini akhirnya memuntahkan airnya di Sungai Kuning yang besar itu.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sedang berdiri termangu-mangu sambil memandang ke arah air sungai yang mengalir sambil memperdengarkan dendang riak air yang menyedapkan telinga, tiba-tiba dari jauh terlihat sebuah perahu kecil yang bergerak maju melawan arus air.

Sesudah dekat, ternyata yang duduk di dalam perahu itu adalah pemuda baju biru putera Ma Keng In dan seorang tua berpakaian nelayan yang bertubuh kurus laksana tengkorak hidup dan berwajah gembira. Biar pun melawan arus air, akan tetapi dengan dayungnya pemuda itu mampu menggerakkan perahu dengan lajunya, sehingga dapat dibayangkan betapa kuat tenaganya.

Mendadak terdengar nelayan tua itu berdendang, suaranya yang parau itu diiringi suara riak air.

Di belakang pintu gerbang merah indah cemerlang
anggur dan daging berlebih-lebihan hingga masam membusuk!
Di luar pintu gerbang kotor sunyi melengang
berserakan tulang rangka sisa korban dingin dan lapar!


Cin Hai terkesiap. Ia mengenal syair yang diucapkan dalam lagu ini. Ini adalah syair yang ditulis oleh pujangga Tu Fu. Pada jaman dahulu keadaan rakyat di bawah pemerintahan Raja Hsuan Tsung sangat menderita dan pada suatu hari ketika lewat di Pegunungan Lisan, Pujangga itu melihat betapa Raja Hsuan Tsung bersenang-senang dan berpelesir dengan para selir di istananya yang disebut istana Hua Cin.

Oleh karena merasa betapa janggalnya perbedaan ini, yaitu antara kehidupan raja yang tahunya hanya bersenang-senang belaka tanpa mau mempedulikan keadaan rakyat yang sangat sengsara dan banyak yang mati kelaparan dan kedinginan, maka jiwa patriot yang menggelora di hati pujangga Tu Fu menggerakkan tangannya untuk membuat syair itu.

Semenjak dahulu syair ini dilarang oleh semua kaisar yang memerintah karena dianggap sangat menghina kaisar dan bersifat memberontak, maka jarang ada orang mengenalnya lagi, apa lagi menyanyikannya, karena apa bila terdengar oleh kaki tangan kaisar, tanpa ampun lagi orang itu dapat ditangkap sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman berat. Akan tetapi nelayan tua yang duduk di dalam perahu itu bahkan berani menyanyikannya dengan lagu suara yang bersemangat sekali. Orang yang berani bernyanyi seperti itu di tempat terbuka, tentulah seorang yang luar biasa dan berilmu tinggi.

“Bagus sekali syair itu, seolah-olah kulihat Tu Fu menjelma kembali,” dengan suara keras Cin Hai memuji.

Ketika itu perahu kecil tadi telah sampai di depan mereka, nelayan itu lalu memandang ke arah Cin Hai. Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tahu-tahu tubuh yang seperti tengkorak itu telah melayang berdiri di depan Cin Hai.

“Hi-hi-hi, anak muda, kau kenal Tu Fu?” tanyanya.

“Kenal? Ia adalah sahabat baikku di alam mimpi!” jawab Cin Hai yang lalu mengucapkan sebuah syair lain dari Tu Fu dengan suara nyaring.

Mungkinkah membangun sebuah gedung dengan laksaan kamar
Untuk memberi tempat bagi para fakir miskin di seluruh dunia
Yang akan merasa bahagia biar pun dalam hujan
Karena gedung kokoh kuat bagaikan bukit raksasa?

Kalau saja aku dapat melihat ini tiba-tiba muncul di depan mataku, biarlah gubukku ini hancur lebur, biarlah aku mati kedinginan, aku akan mati dengan mata meram dan jiwa tenteram!


Nelayan itu melebarkan matanya dan memandang kepada Cin Hai dengan wajah girang sekali. Tiba-tiba dari kedua matanya yang lebar itu mengalir air mata dan ia lalu memeluk leher Cin Hai dan menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya pada pundak pemuda itu.

Kepala nelayan tua itu mengeluarkan bau amis seperti bau ikan. Ketika dia memeluk Cin Hai dan kedua tangannya merangkul, Cin Hai merasa seolah-olah ia ditindih oleh sebuah batu besar yang beratnya ribuan kati. Dia merasa terkejut sekali dan tahu bahwa secara diam-diam kakek nelayan ini telah mencoba tenaganya.

Karena itu ia segera menahan napas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan tekanan yang hebat ini. Ia hampir saja tidak kuat, akan tetapi berkat keteguhan hatinya, ia tidak mengeluh atau memperlihatkan kelemahannya.

Akhirnya kakek nelayan itu melepaskan pelukannya sehingga Cin Hai merasa lega sekali. Keringat dingin telah keluar dari kulit mukanya, maka ia lalu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut peluh itu.

Setelah memandang tubuh Cin Hai dari kepala sampai kaki dengan mata berseri-seri dan wajah gembira, kakek nelayan itu lalu berpaling pada pemuda baju biru yang sementara itu telah keluar dari perahu dan menghampiri mereka.

“Ehh, anak nakal, pemuda inikah yang kau maksudkan? Ahh, Hoa-ji, kau akan kalah! Kau tentu kalah!”

Pemuda yang bernama Ma Hoa itu menggeleng kepalanya dan menuding ke arah Kwee An, “Bukan dia, Suhu, yang inilah!”

Kwee An dan Cin Hai memandang ke arah pemuda itu. Mereka pun tercengang, karena sesudah melihat pemuda itu di siang hari, ternyata bahwa wajah pemuda ini benar-benar tampan sekali serta sikapnya pendiam dan agung!

Ma Hoa lalu melangkah rnenghadapi Kwee An dan berkata,

“Hemm, ternyata kau mematuhi janji. Nah, mau tunggu apa lagi? Cabutlah senjatamu dan coba kau perlihatkan kepandaianmu!” Sambil berkata demikian, Ma Hoa segera melolos pedangnya dari pinggang dan bersiap sedia.

Kwee An berdiri bingung karena ia merasa jeri juga menghadapi pemuda yang bersikap agung dan tenang ini. Dia berpaling kepada Cin Hai, akan tetapi Cin Hai sedang saling pandang dengan nelayan tua itu sambil tersenyum-senyum, sedangkan kakek nelayan itu lalu memegang tangan Cin Hai, ditarik untuk bersama duduk di bawah sebatang pohon dan dengan tertawa haha-hihi ia berkata,

“Mari, mari, sahabatku, kita duduk di sini dan menonton kedua anak nakal itu!”

Cin Hai maklum bahwa kakek nelayan luar biasa ini tak bermaksud jahat, maka dia tidak menguatirkan keselamatan Kwee An dan ia lalu ikut duduk di sebelah kakek itu.

Pada saat melihat Kwee An berdiri bengong, Ma Hoa lalu membentak, “Tidak lekas-lekas mengeluarkan senjatamu? Apakah kau takut?”

Marahlah Kwee An melihat kecongkakan pemuda itu, maka dengan muka merah ia lantas mencabut senjatanya dan berkata, “Tenang, kawan. Siapa yang takut kepada engkau?”

Ma Hoa lalu menyerang dengan hebat dan tanpa sungkan-sungkan lagi Kwee An dengan cepat menangkis dan balas menyerang. Sebentar saja keduanya sudah bertempur seru sekali, saling mengerahkan tenaga dan kepandaian, saling melepas umpan, membuat gerak tipu dan mengeluarkan segala jurus yang saling berbahaya.

Cin Hai duduk dengan bengong karena kagum. Dia tidak hanya mengagumi kepandaian kedua anak muda ini, akan tetapi dia mengagumi kenyataan bahwa kepandaian kedua orang itu boleh dibilang sama tinggi dan sama pandai. Dan yang lebih mengherankannya lagi, walau pun sikapnya congkak sekali, akan tetapi di dalam pertempuran itu agaknya Ma Hoa tidak mengandung hati ingin mencelakakan Kwee An. Hal ini bisa dilihatnya dari gerakan pemuda itu yang selalu terlambat sedikit dari pada seharusnya dalam mengirim serangan maut!

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kwee An tak pantas disebut murid Kim-san-pai yang lihai kalau dia tidak mengetahui hal ini. Mula-mula ia merasa heran dan menganggap bahwa lawannya memang masih belum matang betul kepandaiannya, tetapi karena berkali-kali Ma Hoa sengaja memperlambat gerakannya, ia menjadi maklum dan hatinya girang sekali. Ternyata pemuda ini mencoba kepandaiannya saja.

Oleh karena itu, ia segera mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat dan memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, akan tetapi dia pun menjaga-jaga jangan sampai melukai pemuda lawannya itu. Suatu pertempuran yang sungguh hebat dan indah dipandang.

Bukan main girang hati Cin Hai melihat keadaan itu, karena ia maklum bahwa keduanya sama-sama tidak mempunyai keinginan mencelakakan lawan. Tadinya dia sudah merasa khawatir kalau-kalau harus bermusuhan dengan nelayan tua yang hebat ini, karena kalau dia dan Kwee An sampai menjadi musuh nelayan ini, hal itu berarti bahwa mereka telah menanam bibit permusuhan yang berbahaya.

Laginya, ia merasa suka sekali kepada kakek nelayan yang bersemangat ini. Kegirangan hatinya dan keadaan tamasya alam yang indah di sana telah membuat hatinya bahagia sekali dan tak terasa pula dia kemudian mengeluarkan suling bambunya. Kakek nelayan itu memandangnya dengan senang sekali sehingga Cin Hai lalu mulai menyuling, sambil matanya memandang kepada dua orang muda yang masih bermain pedang.

Cin Hai memang pintar sekali menyuling. Pada saat suara lengking sulingnya melagukan sebuah lagu peperangan kuno yang bersemangat, maka Kwee An dan Ma Hoa tak terasa pula terpengaruh oleh nyanyian ini dan mereka bermain pedang makin hebat dan indah, seakan-akan dua orang penari yang mendengar suara gamelan merdu yang membuat tarian mereka lebih indah.

Kakek nelayan itu menatap wajah Cin Hai dan aneh sekali. Kembali dari kedua matanya yang lebar mengalir keluar air mata. Ternyata hati kakek nelayan ini perasa sekali hingga membuat ia terkenal sebagai seorang yang cengeng atau mudah menangis. Oleh karena inilah, maka dia mendapat sebutan Nelayan Cengeng!

Cin Hai juga dapat melihat bahwa kedua anak muda itu sudah terpengaruh oleh suara sulingnya. Ia melihat betapa mereka berdua telah berpeluh karena pertempuran itu telah berjalan dua ratus jurus lebih! Dia menjadi kasihan dan tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya.

Keadaan menjadi sunyi setelah suara suling itu terhenti dan yang terdengar kini hanyalah riak air. Keadaan yang sunyi ini melenyapkan nafsu dan semangat kedua anak muda itu sehingga dengan sendirinya mereka lalu melompat mundur.

Wajah kedua pemuda itu berpeluh dan berwarna merah, akan tetapi sungguh aneh. Kini Kwee An tidak mempunyai perasaan penasaran akibat tidak dapat mengalahkan pemuda itu, bahkan dia memandang ke arah pemuda itu dengan sorot mata berterima kasih dan ingin bersahabat karena timbul rasa suka di dalam hatinya kepada pemuda itu.

“Bagus, bagus!” tiba-tiba nelayan tua itu melompat berdiri dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru diberi kembang gula. “Mereka itu cocok dan sesuai sekali, bukan?” katanya kepada Cin Hai dan Cin Hai lalu mengangguk sambil tersenyum.

“Cocok, sama tampan, sama tangkas, dan sama-sama keras hati! Sungguh, jodoh yang cocok! He, anak muda she Kwee, engkau adalah jodoh muridku, tidak ada pemuda lain yang lebih cocok untuk menjadi calon suami muridku, ha-ha-ha!” Kakek nelayan yang luar biasa ini tertawa terkekeh-kekeh karena girangnya.

Kwee An merasa bingung dan tak mengerti. Ia memandang ke arah Cin Hai dan tiba-tiba Cin Hai berkejap dan menunjuk dengan sulingnya ke arah Ma Hoat! Kwee An tetap tidak mengerti dan ketika ia memandang kepada Ma Hoa, ia melihat pemuda itu berdiri dengan kepala tunduk dan muka kemerah-merahan dan kadang kala sudut matanya mengerling dengan malu-malu! Ini adalah sikap seorang gadis dan tiba-tiba ia menjadi mengerti!

Hampir saja ia menempeleng kepalanya sendiri. Kenapa ia begitu bodoh? Ma Hoa bukan seorang pemuda, akan tetapi seorang gadis. Gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula! Mengingat hal ini, tiba-tiba saja wajah Kwee An menjadi merah bagai kepiting direbus dan ia lalu pergi menghampiri Cin Hai dan tak berani berkata-kata lagi.

“Bukankah mereka cocok sekali?” lagi-lagi kakek nelayan itu bertanya kepada Cin Hai. “Aku yang akan menjadi comblangnya dan aku tanggung Ma-ciangkun tak akan mampu menolak seorang calon mantu yang begini baik! Eh, anak muda she Kwee, mengapa kau diam saja?”

Cin Hai mewakili Kwee An dan berdiri sambil menjura, “Lo-cianpwe, maafkanlah kawanku ini. Dia masih kurang pengalaman dan pemalu sekali, dan mengenai perjodohan ini tentu saja harus ia tanyakan dulu kepada Suhu-nya karena kedua orang tuanya telah tidak ada lagi.”

“Ahh, jangan banyak upacara lagi!” kata kakek nelayan. “Orang she Kwee, bukankah kau juga suka kepada Hoa-ji seperti dia suka kepadamu?”

Kwee An memandang wajah kakek itu dengan heran. Mulutnya tak berani bertanya, akan tetapi sinar matanya mengandung banyak pertanyaan, yaitu bagaimana kakek ini dapat menduga demikian?

Agaknya kakek nelayan ini memang dapat membaca pikiran orang sebab setelah tertawa terkekeh-kekeh ia lalu berkata,

“Dalam pertempuran kalian tadi telah jelas terlihat sifat menyayang dan suka dari kalian berdua, apakah kalian dua orang bodoh dapat menipuku? He, Hoa-ji bukankah kau suka kepada pemuda she Kwee ini?”

Ma Hoa memang telah kenal betul akan sifat suhu-nya yang selalu bersikap terus terang dan jujur. Akan tetapi sebagai seorang gadis yang masih bodoh dan pemalu, tentu saja ia merasa amat malu mendengar orang berbicara tentang perjodohan dan tentang hati suka secara begitu blak-blakan tanpa tedeng aling-aling lagi! Maka ia lalu menundukkan muka dan melompat ke dalam perahunya terus mendayung perahu itu meninggalkan mereka!

“Ha-ha-ha... hi-hi... lihatlah dia telah menjawab pertanyaanku. Dia suka kepadamu! Kalau dia tidak suka tentu ia telah marah dan mengamuk. Jika ia pergi dan berlari, itu tandanya ia setuju! Nah, anak muda, kau tidak boleh menolak murid Si Nelayan Cengeng!”

Cin Hai terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar dari Bu Pun Su bahwa di antara tokoh-tokoh yang luar biasa terdapat seorang nelayan tua yang disebut Nelayan Cengeng dan yang menjadi ahli silat di darat mau pun di dalam air. Juga Kwee An pernah mendengar nama ini dari suhu-nya, maka mereka berdua kemudian menunjukkan sikap menghormat sekali.

“Locianpwe, harap kau orang tua sudi memaafkan teecu yang bodoh ini. Sebagaimana dikatakan oleh Saudara Cin Hai tadi, dalam urusan perjodohan, bukan teecu menampik, akan tetapi teecu harus minta nasehat Suhu terlebih dahulu.”

“Ehh, siapa Suhu-mu yang beradat kukuh dan kuno itu?” tanya Nelayan Cengeng.

“Suhu adalah Eng Yang Cu.”

“Oh, tosu dari Kim-san itu? Ha-ha, aku sudah menduga bahwa engkau tentu anak murid Kim-san-pai, akan tetapi tidak kuduga bahwa imam tua itu masih mau mencapaikan diri menerima seorang murid. Bagus, bagus! Kau tak usah menanyakan dia, karena kalau dia tahu bahwa engkau menjadi suami muridku, tentu dia setuju sepuluh bagian!”

“Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe, akan tetapi sungguh, teecu pada waktu ini belum berani mengikat diri dengan perjodohan!”

Si Nelayan Cengeng yang sebenarnya bernama Kong Hwat Lojin ini memang mempunyai perasaan yang mudah sekali tersinggung, maka mendengar ucapan dan penolakan Kwee An, ia lalu membanting-banting kakinya hingga tanah di mana kakinya terbanting menjadi berlubang setengah kaki lebih!

“Apa katamu?! Kau menolak? Baik, akan tetapi kau harus mengajukan alasan yang kuat dan dapat diterima, kalau tidak jangan harap kau dapat meninggalkan tempat ini!”

Kini Cin Hai yang buru-buru berdiri dan mewakili Kwee An menjawab, karena dia cukup mengenal adat Kwee An yang walau pun pendiam akan tetapi keras hati dan tidak kenal takut. Ia khawatir kalau-kalau Kwee An akan menjadi nekad dan membikin marah orang tua itu.

“Locianpwe, sebetulnya Saudara Kwee An sama sekali tak menolak dan bahkan merasa bahagia sekali karena mendapat kehormatan besar sudah dipilih sebagai jodoh muridmu yang lihai. Akan tetapi ketahuilah bahwa saudaraku ini berada dalam keadaan berkabung dan kini sedang melakukan perjalanan dengan teecu untuk mencari musuh besarnya dan membalaskan sakit hati orang tua dan keluarganya yang terbunuh oleh musuh besar itu.”

Cin Hai kemudian secara singkat menuturkan pengalaman Kwee An dan betapa keluarga pemuda itu terbasmi oleh musuh-musuhnya. Mendengar tentang peristiwa yang sangat menyedihkan ini, tak tertahan lagi Kong Hwat Lojin menangis tersedu-sedu hingga Kwee An merasa amat terharu dan tak dapat menahan lagi keluarnya air mata yang membasahi pipinya.

“Jadi dua musuh yang belum terbalas itu adalah Hai Kong Hosiang dan seorang perwira? Ahh, Hai Kong, engkau memang jahat sekali. Kalau kau kebetulan bertemu dengan aku, tentu kau akan kurendam dalam air sampai perutmu menjadi kembung!” katanya dengan marah. Kemudian ia teringat akan sesuatu dan berkata kepada Cin Hai,

“Kepandaian Hai Kong Hosiang kabarnya sudah maju pesat karena dia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat baru. Tunangan Hoa-ji ini tentu tidak dapat melawannya. Mungkin kau dapat menandingi hwesio itu, akan tetapi ketahuilah bahwa hwesio itu selain pandai ilmu silat, juga licin dan cerdik sekali. Apakah engkau mengerti ilmu dalam air?”

Cin Hai menggelengkan kepalanya, juga Kwee An menyatakan bahwa dia hanya dapat berenang sedikit saja.

“Ah, kalau begitu, kalian harus berlatih dulu hingga kau akan siap menghadapi hwesio itu, baik di darat mau pun di air!”

Cin Hai serta Kwee An merasa girang sekali dan semenjak hari itu, selama dua minggu mereka menerima latihan-latihan dari Nelayan Cengeng itu. Kwee An mendapat latihan ilmu pedang yang disebut Hai-liong Kiam-hoat atau Ilmu Pedang Naga Laut dan latihan napas untuk dapat bertahan di dalam air serta gerakan-gerakan renang.

Ada pun untuk Cin Hai, nelayan itu mengatakan bahwa ia tidak berani memberi pelajaran ilmu pukulan sebab kepandaian pemuda itu katanya malah telah melebihi kepandaiannya sendiri. Maka Cin Hai lalu mendapat latihan bermain di dalam air. Oleh karena Cin Hai memang telah mempunyai lweekang yang tinggi dan dapat menahan napas sampai lama, maka sebentar saja dia pun dapat menguasai ilmu itu dan dapat bermain di air bagaikan seekor ikan saja.

Tentu saja kedua pemuda itu merasa girang sekali. Selama dua minggu itu, Ma Hoa tidak muncul, akan tetapi pada saat Cin Hai dan Kwee An hendak pergi meninggalkan Nelayan Cengeng dan melanjutkan perjalanan ke utara mencari Hai Kong Hosiang, tiba-tiba gadis itu mendatangi dengan naik perahu dari jauh. Cin Hai lalu menunda keberangkatannya dan menanti kedatangan gadis itu, sedangkan Kwee An tidak berani mengangkat muka dan menunduk kemalu-maluan!

Ketika gadis itu melompat keluar dari perahu dan kebetulan Kwee An mengangkat muka memandang, ia menjadi tercengang dan tak kuasa mengalihkan pandangan matanya lagi dari gadis itu. Ternyata bahwa kali ini Ma Hoa mengenakan pakaian wanita dan ia telah merubah diri menjadi seorang dara yang luar biasa cantiknya.

Bajunya berwarna merah jambon, celananya sutera biru dan ikat pinggang serta pengikat rambutnya berwarna merah darah, berkibar-kibar tertiup angin gunung. Gagang pedang yang tergantung di pinggang menambah kegagahan dan kecantikannya. Diam-diam Cin Hai merasa girang sekali karena gadis ini memang pantas sekali menjadi jodoh Kwee An.

Nelayan Cengeng melebarkan sepasang matanya pada waktu melihat pakaian muridnya itu. “Aduh, sudah bertahun-tahun aku tidak melihat kau mengenakan pakaian seperti ini! Bagus muridku, bagus sekali. Kebetulan kau datang karena tunanganmu ini hendak pergi melanjutkan perjalanan.”

Memang orang tua ini terlalu sekali. Kejujurannya yang luar biasa sehingga dia menyebut Kwee An sebagai tunangan muridnya itu sudah membuat kedua anak muda itu menjadi jengah dan malu sekali.

“Ma Hoa, kita adalah orang-orang sendiri dan bukanlah orang-orang lemah, apa artinya segala sikap malu-malu kucing? Kesinikan pedangmu!”

Biar pun sangat keras hati, akan tetapi Ma Hoa tunduk dan takut kepada suhu-nya yang menganggapnya sebagai anak sendiri, maka sambil menundukkan kepala dia bertindak maju. Langkahnya lemah gemulai dan menarik hati sekali. Dengan perlahan dan tangan gemetar dia lalu melolos pedangnya dan diberikan kepada suhu-nya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena ia tahu bahwa jika ia mengeluarkan suara, maka suaranya akan terdengar menggigil.

Nelayan Cengeng gembira, lalu dia berkata kepada Kwee An dengan suara memerintah, “Kwee An, terimalah pedang ini dan sebagai gantinya kau harus memberikan pedangmu kepada tunanganmu!”

Dengah sikap menghormat Kwee An menerima pedang itu, lalu dia mencabut pedangnya sendiri dan hendak diberikan kepada kakek itu. Akan tetapi, tiba-tiba Cin Hai yang sedang bergirang hati, berkata,

“Saudaraku, kau tidak boleh memberikan kepada Locianpwe. Harus kau berikan sendiri kepada tunanganmu! Bukankah begitu, Locianpwe?”

Nelayan Cengeng itu memandang dengan hati heran kepada Cin Hai, akan tetapi hanya sebentar saja karena dia tertawa bergelak dan berkata, “Benar, benar! Cin Hai berkata betul sekali! Kau harus memberikan sendiri kepada tunanganmu agar kalian jangan terus bersikap malu-malu kucing!”

Dapat dibayangkan betapa malunya kedua anak muda itu karena godaan dua orang ini. Dengan hati berdebar-debar Kwee An menghampiri Ma Hoa dan mengasurkan pedang itu.

Akan tetapi, karena dara itu sedang menunduk dan sama sekali tidak berani mengangkat muka sehingga tidak melihat dia mengangsurkan pedang, maka gadis itu tidak menerima pedang yang diberikan kepadanya. Kwee An menjadi bingung dan serba salah, terpaksa dia menggerakkan bibirnya memanggil,

“Moi… ehh… Siocia, kau terimalah pedang ini!”

Barulah Ma Hoa mengangkat mukanya. Dua pasang mata bertemu dengan mesra dan cepat sekali Ma Hoa menyambar pedang itu lalu dimasukkan ke dalam sarung pedang dan dia lalu tertunduk kembali!

“Ahhh, salah... salah...!” Cin Hai menggoda terus. “Saudara An, engkau harus memanggil moi-moi, dan Ma Hoa harus memanggil koko, ini baru benar!”

Bukan main girangnya Nelayan Cengeng itu. Dia lalu bersorak-sorak dan meloncat-loncat sambil bertepuk-tepuk tangan. “Benar, benar...! Bagus...!”

Ma Hoa tidak dapat lagi menahan jengah dan malunya. Setelah mengerling sekali lagi ke arah Kwee An dan melempar senyum yang mesra dan penuh arti, dara ini lalu berlari ke perahunya, segera mendayung pergi secepatnya! Cin Hai dan Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak.

“Nah, kalian pergilah, pergilah! Cepat pergi dan lekaslah kembali!” kata Kong Hwat Lojin sambil bertindak pergi.

Kwee An dengan mulut cemberut lantas berkata kepada Cin Hai, “Cin Hai, kau sungguh terlalu! Menggoda orang sampai hampir mati karena malu. Awas, kalau kelak bertemu kembali dengan Lin Lin, pasti akan kubalas sepuas hatiku!”

Mendengar nama ini, tiba-tiba Cin Hai termenung. Ia lalu teringat akan gadis kekasihnya itu dan merasa sedih sekali. Akan tetapi, cepat dia mampu menekan perasaannya dan berkata, “Ahhh, bukankah godaan-godaan tadi diam-diam membikin engkau berbahagia sekali?”

Kwee An tidak dapat menjawab, hanya tersenyum dan memukul bahu Cin Hai. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke utara, akan tetapi seperempat bagian dari hati dan perasaan Kwee An sudah tersangkut pada duri bunga Botan yang tumbuh di tepi Sungai Liong-kiang itu!

Beberapa pekan kemudian, Cin Hai dan Kwee An telah tiba di perbatasan Tiongkok Utara di mana bertemu dengan suku-suku Mongol dan Mancu yang hidup secara berkelompok. Pada suatu hari mereka sampai di sebuah sungai yang cukup besar dan melihat sebuah perahu yang dihias mewah sekali di tengah itu.

Orang-orang Mongol dari suku Jungar hilir mudik naik turun perahu itu dan mengangkut kantong-kantong yang agaknya berat. Di antara suku-suku Jungar ini, banyak yang sering merantau ke pedalaman Tiongkok sehingga mereka dapat berbicara dalam bahasa Han, yang biar pun kaku akan tetapi cukup dimengerti oleh Cin Hai dan Kwee An.

Dari mereka inilah kedua pemuda itu mengetahui bahwa perahu itu adalah milik seorang Pangeran Mongol bernama Vayami. Pangeran ini sudah bertukar nama karena dia telah memeluk Agama Buddha Merah, dan bahkan menjadi pemuka dari pada Agama Sakya Buddha ini. Barang-barang yang lagi diangkut ke dalam perahu itu adalah sumbangan-sumbangan dari para pemeluk Agama Buddha yang diberikan kepada Pangeran Vayami.

Ketika Cin Hai serta Kwee An sedang melihat di pinggir sungai, tiba-tiba mereka melihat Hai Kong Hosiang di atas perahu itu. Hwesio ini dapat dikenali dengan mudah karena jubahnya yang berwarna kotak-kotak merah putih dan kepalanya yang gundul licin.

Pada saat itu perahu telah bergerak ke tengah dan hendak meninggalkan tempat itu, ada pun para pemeluk agama yang berdiri di pinggir sungai sedang berlutut memberi hormat yang terakhir kepada Pangeran Vayami.

Cin Hai dan Kwee An lalu menggenjot tubuh mereka dan meloncat ke atas perahu hingga mereka yang melihat perbuatan kedua pemuda Han ini berseru marah. Hai Kong Hosiang dengan mata terbelalak dan tindakan lebar menyambut kedatangan pemuda itu dengan bentakan,

“Dua ekor anjing rendah dari manakah berani memperlihatkan kekurang ajaran di sini?”

“Hai Kong Hosiang, pendeta keparat! Ajalmu sudah berada di depan mata dan kau masih banyak bertingkah lagi?” Kwee An balas membentak dan memaki.

Hai Kong Hosiang memandang anak muda itu dan ia lalu teringat serta mengenal wajah Kwee An, “Eh, kau masih belum mampus bersama Ayahmu?” Tiba-tiba tangan kanannya mencabut keluar tongkat ularnya yang lihai sambil berkata. “Baik, kalau begitu biarlah ini hari kuselesaikan pekerjaan dulu yang agaknya kurang sempurna agar kau tidak menjadi penasaran!”

Sambil berkata demikian ia maju ke arah Kwee An. Akan tetapi pada saat itu pintu kamar yang terdapat di perahu itu terbuka dan muncul seorang pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian pendeta jubah merah. Pendeta ini membentak dengan suaranya yang halus,

“Hai Kong bengyu, tahan dulu!” Kemudian ia keluar dengan tindakan kaki yang halus, dan anehnya, Hai Kong Hosiang nampak hormat sekali kepadanya, karena pendeta gundul ini lalu menahan senjata dan menjura. Pemuda ini bukan lain ialah seorang pangeran yaitu Pangeran Vayami sendiri.

Vayami memandang kepada Kwee An dan Cin Hai, lalu merangkap kedua tangannya dan berkata dalam bahasa Han yang fasih,

“Jiwi-enghiong (Kedua Tuan yang Gagah Perkasa) telah memberi kehormatan kepadaku dan mengunjungi perahu ini, tidak tahu hendak memberi pelajaran apakah?”

Kwee An dan Cin Hai tercengang melihat Pangeran Mongol yang pandai berbahasa Han dan yang halus tutur sapanya ini, juga mereka merasa heran melihat bahwa pemimpin agama ini ternyata masih muda sekali takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya! Cin Hai lalu merangkapkan kedua tangan pula dan membalas hormat, diikuti oleh Kwee An.

“Maafkan kami berdua yang tidak tahu adat. Oleh karena melihat hwesio jahat ini berada di atas perahu, kami menjadi lupa diri dan dengan lancang melompat ke atas perahumu. Akan tetapi, kami berdua sama sekali tak hendak mengganggu kepada Tuan, dan urusan kami hanyalah dengan hwesio yang bernama Hai Kong Hosiang ini, karena dia adalah pembunuh keluarga kami dan kami sengaja datang hendak mengadu jiwa dengannya.”

Pangeran Vayami tersenyum halus akan tetapi kedua matanya mengeluarkan sinar tajam yang membuat Cin Hai terkejut sekali karena ia dapat menduga bahwa selain mempunyai tenaga lweekang yang tinggi juga pangeran ini sangat berpengaruh dan cerdik.

“Jiwi-enghiong yang muda dan gagah! Kiranya Jiwi pun mengerti akan aturan tuan rumah dan tamunya. Hai Kong Hosiang Suhu sekarang menjadi tamu kami dan oleh karenanya, selama dia berada di atas perahuku, aku harus melindunginya dengan segala tenagaku, bahkan dengan jiwaku sekali pun. Maka, kuharap Jiwi suka memandang mukaku dan tak mengganggunya selama dia masih berada di sini!”

Setelah berkata demikian, pangeran itu lalu menggerakkan dua tangannya dan bertepuk tangan tiga kali. Mendadak dari segala sudut keluarlah lima orang pendeta Sakya yang berjubah merah dan nampak kuat serta pandai ilmu silat.

Cin Hai dapat merasai kebenaran ucapan pangeran itu, maka dia lalu menuding kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong! Kau tentu masih cukup gagah untuk mengakui kedosaan dan perbuatanmu dan tentunya tidak begitu pengecut untuk lari dari tuntutan balas kami. Jika memang kau seorang laki-laki, maka harap kau mau turun ke darat dan marilah kita bertanding mengadu jiwa, menentukan siapa yang lebih pandai!”

Hai Kong Hosiang tadi sudah melihat gerakan Cin Hai ketika melompat ke dalam perahu, maka ia pun maklum bahwa anak muda ini jauh lebih lihai dari pada Kwee An. Maka ia berkata,

“Jangan kau mengacau dan membuka mulut sembarangan. Aku Hai Kong Hosiang tidak pernah lari dari musuh-musuhku. Akan tetapi yang kubunuh adalah keluarga pemuda ini, dan kau tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan itu, mengapa kau ikut campur?”

“Ha-ha-ha, hwesio gundul yang palsu! Kau juga telah memiliki hutang padaku. Ingatkah kau dahulu ketika kau bertemu melawan Kanglam Sam-lojin di depan Kuil Ban-hok-tong di Tiang-an? Anak kecil yang meniup suling dan yang hendak kau bunuh dulu itu siapa? Lihatlah mukaku baik-baik, dan kau tentu akan ingat bahwa kau sekarang berhadapan dengan anak itu yang kini hendak membalas kebaikan budimu dulu!”

Hai Kong Hosiang terkejut. Ia ingat bahwa anak ini ia lihat bersama dengan Ang I Niocu di dalam goa Tengkorak itu, maka diam-diam ia merasa agak jeri. Akan tetapi, Hai Kong Hosiang adalah seorang gagah yang telah lama malang-melintang di dunia kang-ouw dan jarang bertemu tanding, karena itu tentu saja dia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang anak muda yang masih hijau itu.

“Bagus, kalau begitu, kebetulan sekali. Engkau pun rupanya sudah bosan hidup!”

“Hwesio keparat, kau turunlah ke darat!” Kwee An membentak marah.

“Ha-ha! Siapa sudi menurut perintah dua ekor anjing cilik! Aku akan turun kalau aku suka dan sekarang aku belum ada ingatan untuk turun dan melayani kalian.”

Cin Hai menjura pada Pangeran Vayami. “Maaf, karena hwesio ini membandel, terpaksa kami berlaku kurang ajar dan bertindak di sini!”

Sambil tersenyum Pangeran Vayami berkata. “Cobalah kalau engkau dapat, karena aku tak mungkin tinggal diam melihat tamuku diganggu.”

Ia kemudian memberi tanda dan kelima orang pendeta Sakya itu lalu maju dengan sikap mengancam dan mengurung Cin Hai serta Kwee An!

“Saudara An, kau lawanlah lima boneka merah itu dan aku akan membinasakan kera tua ini!”

Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang mendengar dirinya dimaki ‘kera tua’! Dia lalu berseru nyaring dan senjatanya yang luar biasa, yaitu seekor ular kering itu meluncur dan menyerang ke arah tenggorokan Cin Hai. Cin Hai berlaku gesit dan waspada, dia segera mengelak mundur sambil mencabut Liong-coan-kiam.

Kelima pendeta Sakya itu bersenjata tongkat dan mereka lalu mengeroyok Kwee An yang memutar pedangnya secara hebat luar biasa. Ternyata bahwa kelima pendeta Mongol itu hanya memiliki tenaga hebat dan kuat seperti kerbau jantan, akan tetapi kepandaian silat mereka tak seberapa tinggi sehingga Kwee An tak sampai terdesak oleh mereka.

Akan tetapi, bagi pemuda itu pun tak mudah merobohkan mereka karena ia harus berlaku hati-hati sekali. Walau pun serangan lawan-lawannya tidak cukup gesit dan berbahaya, akan tetapi karena tenaga mereka besar sekali, maka sekali saja terkena pukul tongkat mereka, ia pasti akan celaka! Karena itu ia berlaku tenang dan hati-hati dan menjaga diri dengan sangat kuatnya, sedikit pun tak ingin memberi waktu kepada mereka untuk dapat memukulnya.

Yang hebat adalah pertarungan antara Cin Hai dan Hai Kong Hosiang. Ternyata pendeta ini betul-betul telah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu silatnya seperti yang pernah dikatakan oleh Nelayan Cengeng.

Karena berkali-kali bertemu dengan lawan-lawan yang tangguh seperti Bu Pun Su, Biauw Suthai, dan yang lain-lain, dan semenjak dia kena dikalahkan oleh Biauw Leng Hosiang, pendeta ini lalu melatih diri dan mempelajari ilmu silat lain yang tinggi untuk menambah kepandaiannya. Bahkan dalam perjalanannya ke daerah utara, dia sengaja mengunjungi tokoh-tokoh ternama untuk bertukar ilmu silat dan mempelajari kepandaian mereka itu.

Maka dalam pertempuran Cin Hai kali ini, pemuda itu pun harus mengakui bahwa ilmu silat pendeta ini jauh lebih hebat dari pada ketika ia bertempur di dalam Goa Tengkorak. Terutama tongkatnya yang hebat itu, yang di dalam tangannya seolah-olah telah berubah menjadi seekor ular berbisa yang masih hidup, sangat berbahaya sekali.

Walau pun Cin Hai sudah dapat menduga gerakan dalam setiap serangan yang hendak dilancarkan, akan tetapi karena senjata lawannya ini berbahaya dan berbisa, ia menjadi sibuk juga dan terpaksa berlaku hati-hati sekali. Dia lalu mengeluarkan limu Silat Sian-li Utauw pelajaran Ang I Niocu, karena dengan ilmu silat ini dia dapat bergerak gesit sekali sehingga tubuhnya berkelebat ke sana ke mari menolak serangan lawan dan melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Melihat pertempuran-pertempuran itu, terutama pertempuran antara Cin Hai dengan Hai Kong Hosiang, Pangeran Vayami merasa kagum sekali. Pangeran muda ini berdiri di depan pintu kamarnya dan menonton dengan mata berseri.

Ia kagum sekali melihat permainan silat Cin Hai karena ia maklum bahwa terhadap Hai Kong Hosiang, pemuda ini hanya kalah pengalaman dan kalah senjata saja. Akan tetapi betapa herannya ketika ia melihat bahwa pemuda itu makin lama makin hebat permainan silatnya dan beberapa kali gerakan pemuda itu berubah-ubah.

Memang untuk mengacaukan permainan lawannya yang tangguh, Cin Hai sudah sengaja mencampur permainan silatnya dengan ilmu silat lain. Kadang-kadang dia mengeluarkan jurus Liong-san Kiam-hoat, lalu Ngo-lian-kiam-hoat, bahkan kadang kala ia mengimbangi permainan ilmu tongkat Hai Kong Hosiang, yaitu yang berdasarkan Jian-coa Kiam-sut atau Ilmu Pedang Seribu Ular.

Hai Kong Hosiang tercengang dan heran sekali sehingga dia menunda serangannya dan membentak, “Bangsat dan maling rendah! Dari mana kau curi ilmu pedangku?”

“Ha-ha, gundul tua berbatin kotor! Siapa sudi mencuri ilmu pedangmu yang tak berguna? Lihatlah, aku mempunyai ilmu pedang yang menjadi nenek moyang ilmu pedangmu itu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu menyerang dengan pedangnya.

Hai Kong Hosiang hampir berseru karena heran dan terkejut, karena Cin Hai benar-benar menyerangnya dengan Ilmu Pedang Jian-coa Kiam-sut, akan tetapi jauh lebih sempurna. Padahal sesungguhnya Cin Hai hanya meniru-niru serangan Hai Kong tadi, hanya saja karena dia telah dapat memecahkan rahasia dasar ilmu silat yang telah dimainkan itu, dia dapat mencari pula ciri-cirinya dan dapat pula memperbaikinya. Tentu saja gerakannya ini belum matang karena tak pernah dilatih, akan tetapi cukup membuat Hai Kong Hosiang terkejut dan jeri.

Tidak disangkanya bahwa pemuda ini demikian hebat kepandaiannya. Kehebatan meniru ilmu-ilmu silat ini mengingatkan ia akan Bu Pun Su karena pernah pula ia dipermainkan oleh jembel tua itu, maka tentu saja ia menjadi khawatir dan jeri. Namun, karena melihat bahwa Cin Hai hanya seorang pemuda yang baru dewasa, dia memperkuat hatinya dan sambil membentak keras ia menyerang lagi.

Kini tangan kirinya mencabut keluar sebatang sabuk ular yang penuh racun. Jangankan sampai terpukul oleh sabuk ini, bahkan baru keserempet sedikit saja, maka racun ular yang mengenai kulit dapat menimbulkan rasa gatal yang hebat dan cepat sekali racun itu dapat meresap ke dalam daging kemudian meracuni darah hingga membahayakan jiwa lawannya.

Baru saja sabuk ular itu tercabut keluar, Cin Hai sudah mencium bau yang sangat amis, maka tahulah dia akan bahaya dan lihainya senjata istimewa ini. Dia lalu menggunakan tangan kirinya mencabut keluar sulingnya. Untuk mengimbangi lawan, dia menggunakan dua macam senjata pula, di tangan kanan pedang Liong-coan-kiam, di tangan kiri suling bambunya!

Melihat suling ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah karena ia teringat akan peristiwa dulu ketika Cin Hai masih kecil dan dengan suling bambunya telah menggagalkannya untuk mengalahkan Kanglam Sam-lojin, bahkan yang mengakibatkan matinya kelima ularnya karena Bu Pun Su menjatuhkan tangan kejam! Maka ia lalu menyerang sambil berteriak,

“Anak setan, kali ini kalau belum menghancurkan kepalamu, aku takkan puas!”

Melihat kemarahan Hai Kong Hosiang ini, diam-diam Cin Hai merasa amat girang dan ia melayani serbuan hwesio itu dengan tenang, akan tetapi kegesitan dan kehebatan ilmu pedangnya yang dicampur dengan gerakan sulingnya tak dikurangi kecepatannya. Kedua orang ini bertempur mati-matian hingga bayangan dua orang ini tak tampak lagi, tertutup oleh sinar senjata masing-masing.

Sementara itu, Kwee An yang mengamuk dengan Kim-san Kiam-hoatnya telah berhasil merobohkan dua orang pengeroyoknya hingga Pangeran Vayami menjadi terkejut sekali. Pangeran yang cerdik ini maklum bahwa dua anak muda yang sedang mengacau di atas perahunya adalah orang-orang tangguh dan apa bila dilawan terus akan membahayakan keselamatannya. Maka ia lalu memberi aba-aba dalam bahasa Mongol.

Beberapa orang pelayan yang berkepandaian rendah dan karenanya tidak berani turut membantu lalu menurunkan dua buah perahu kecil ke atas air. Vayami lalu menyalakan api dan membakar layar yang tergantung ke bawah sehingga sebentar saja api menyala hebat di atas perahu itu. Dia lalu melompat dan hendak turun ke dalam perahu-perahu kecil yang telah dilepas ke atas air.

Akan tetapi, melihat kecurangan pangeran ini, Kwee An cepat meninggalkan ketiga orang pengeroyoknya dan ia mengejar pangeran itu sambil berteriak.

“Jangan kau berlaku curang!”

Akan tetapi, ketika ia telah tiba di depan pangeran itu, tiba-tiba Vayami menyerangnya dengan obor yang masih menyala. Kwee An terkejut karena serangan ini hebat juga dan dilayangkan ke arah pakaiannya. Cepat-cepat ia mengelak dan tahu-tahu obor di tangan Vayami yang lihai itu telah diserangkan pula ke arah mukanya!

Kwee An miringkan kepala dan selagi dia hendak membalas menyerang, tahu-tahu kaki Vayami telah berhasil menendang lututnya. Biar pun dia dapat miringkan kakinya hingga yang tertendang hanya di atas lututnya dan karena dia mengerahkan tenaga dalamnya maka pahanya tidak sampai terluka, akan tetapi karena tendangan itu keras, dan juga karena mereka berdiri di pinggir perahu, maka tak ampun lagi tubuh Kwee An terpelanting keluar perahu dan jatuh tercebur ke dalam air!

Cin Hai terkejut sekali. Akan tetapi ia tidak berdaya menolong karena Hai Kong Hosiang mendesaknya dengan hebat. Ia melihat betapa semua pengikut Vayami dan pangeran itu sendiri melompat ke dalam perahu-perahu kecil dan terdengar Vayami berseru,

“Hai Kong Bengyu, lekas kau melompat ke sini!”

Akan tetapi Hai Kong Hosiang mana dapat meninggalkan Cin Hai begitu saja. Anak muda ini maklum bahwa jika hwesio itu dapat melompat ke dalam perahu, maka selain musuh besar ini tidak dapat dirobohkan, juga dirinya berada dalam keadaan bahaya. Api di atas perahu telah mulai membesar dan bahkan kini sudah memakan tiang besar di tengah perahu!

Oleh karena ini, maka Cin Hai mengambil keputusan nekad dan menyerang mati-matian sehingga hwesio itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk lari. Terpaksa Hai Kong Hosiang mengertak gigi dan melayani dengan sama sengitnya.

Masih terdengar beberapa kali suara Vayami memanggil Hai Kong Hosiang. Akan tetapi karena hwesio itu tak dapat ikut pergi, terpaksa Vayami dan orang-orangnya mendayung perahu mereka melawan arus yang besar dan kuat karena perahu besar di mana Cin Hai dan Hai Kong Hosiang bertempur mati-matian itu sudah hanyut ke tengah dan telah tiba di tempat yang airnya mengalir kencang.



Pendekar Bodoh Jilid 10

Pendekar Bodoh

Karya Kho Ping Hoo

JILID 10

KETIKA melihat kedatangan suhu dari Kwee An dan melihat pula naiknya semua lawan hingga keadaan menjadi berbahaya, Cin Hai berseru nyaring dan gerakan pedangnya kini disertai tenaga khikang yang luar biasa. Inilah tenaga khikang yang ia latih atas petunjuk Bu Pun Su, dan yang mempunyai daya gempur luar biasa sekali karena seluruh tenaga lweekang, gwakang mau pun ginkang dipersatukan merupakan pergerakan hebat hingga menimbulkan angin besar.

Khikang semacam ini jarang dikeluarkan oleh Cin Hai, karena tenaga ini membutuhkan pemusatan yang bulat hingga sangat melelahkan tubuh. Ia sendiri akan mendapat celaka oleh karena kehabisan tenaga. Oleh karena inilah, maka kepandaian ini jarang sekali dia keluarkan. Untuk mempergunakan tenaga khikang ini, paling lama dia hanya kuat bersilat sampai tiga puluh jurus saja.

Akan tetapi, akibatnya hebat sekali. Baru saja ia menyerang belum lima jurus, kaki kirinya berhasil menendang dada Beng Kong Hosiang hingga hwesio ini jatuh menggelinding ke bawah panggung dalam keadaan pingsan.

Melihat kehebatan ini, para perwira menjadi kaget sekali. Permainan Shantung Ngo-hiap menjadi kacau balau sehingga Eng Yang Cu mendapat kesempatan melukai Lauw Tek dengan pedangnya. Keadaan menjadi kalut dan semua perwira mencabut senjata hendak mengeroyok. Akan tetapi karena jumlah mereka besar, sedangkan panggung itu sempit, maka gerakan mereka itu bahkan mengacaukan kawan sendiri.

Cin Hai dan Kwee An yang mengambil keputusan hendak membalas dendam, kemudian sengaja menujukan senjata mereka kepada keempat sisa anggota Shantung Ngo-hiap dan kedua saudara Tan Song dan Tan Bu. Eng Yang Cu yang tidak tahu musuh-musuh besar muridnya hanya menggerakkan senjata untuk melindungi kedua pemuda itu.

Pedang Kwee An berhasil merobohkan Tan Song dan Tan Bu, dan serangan pemuda ini disertai oleh kegemasan yang meluap sehingga dua saudara Tan itu roboh tewas mandi darah. Cin Hai yang mengamuk hebat bagaikan seekor Naga Sakti memperlihatkan diri, juga berhasil merobohkan Un Kong Sian, Lauw Houw, Ma Ing, dan Ma Keng In. Akan tetapi karena ia tahu bahwa Ma Keng In tidak ikut dalam penyerbuan ke rumah keluarga Kwee, ia masih mengampuni jiwa orang tua ini dan hanya menotoknya roboh, sedangkan yang lain-lain telah tewas di ujung pedang Liong-koan-kiam!

Melihat bahwa ketujuh musuh besar itu semua telah dapat dirobohkan, tiba-tiba saja Cin Hai melintangkan pedangnya yang masih berlumpuran darah dan ia berteriak.

“Cuwi sekalian, tahan senjata! Kami bertiga tidak mau membunuh orang tidak berdosa. Orang-orang yang sudah mengganas dan membunuh keluarga Kwee hanya enam orang yang sudah tewas ini! Sedangkan Ma Keng In karena tidak ikut berdosa, ia hanya diberi hajaran saja, demikian pula Beng Kong Hwesio yang sombong hanya diberi hajaran agar ia tidak memandang ringan kepada lain orang! Sekarang harap Cuwi beritahukan di mana adanya Boan Sip dan Hai Kong Hosiang, karena kedua orang jahat itu pun hendak kami basmi dari permukaan bumi!”

Akan tetapi, di antara semua perwira itu, mana ada yang berani menjawab dan membuka rahasia kawan sendiri? Mereka hanya berdiri diam sambil bersiap sedia dengan senjata di tangan, walau pun hati mereka telah dibikin gentar oleh kehebatan ketiga orang itu!

Karena tidak ada orang yang berani memberi keterangan, Cin Hai lalu mengajak kedua kawannya pergi dari situ. Tiga bayangan berkelebat dan para perwira baru sadar bahwa ketiga lawan mereka telah pergi setelah tak melihat mereka di atas panggung lagi.

Mereka lalu menolong kawan-kawan yang terluka dan sebagian orang lalu lari memberi laporan ke istana. Keadaan menjadi kalut bukan main, karena sejak Kanglam Chit-koai mengamuk pada beberapa puluh tahun yang lalu di dalam Eng-hiong-koan ini, tak pernah ada orang yang berani mengganggu mereka.

Tak dinyana bahwa hari ini dua orang pemuda yang dibantu oleh seorang tosu tua sudah membuat mereka kocar-kacir, bahkan enam orang perwira telah binasa! Yang lebih hebat lagi, Beng Kong Hosiang yang belum pernah dikalahkan orang itu, kini juga roboh dalam tangan seorang pemuda tanggung! Ini hebat sekali.

Juga Kaisar menjadi terkejut mendengar huru-hara ini. Ia segera memerintahkan barisan pengawal untuk mengejar dan mengepung, tapi ketika itu, Cin Hai dan kawan-kawannya telah lari jauh meninggalkan tembok kota raja dan telah berhenti di dalam sebuah hutan.

Kwee An lalu memperkenalkan Cin Hai kepada gurunya dan Eng Yang Cu memandang dengan kagum kepada Cin Hai.

“Sie-taihiap, kau masih begini muda akan tetapi kepandaianmu betul-betul membuat aku menjadi kagum sekali. Siapakah Suhu-mu yang mulia?”

Sebagaimana biasa, Cin Hai merasa segan untuk memberitahukan nama suhu-nya oleh karena maklum bahwa Bu Pun Su sama sekali tak suka bahkan membenci segala nama besar yang dianggapnya kosong belaka. Maka melihat keraguan pemuda itu, Kwee An lalu mewakilinya menjawab,

“Guru Saudara Cin Hai ini adalah Bu Pun Su.”

“Ah!” Eng Yang Cu terkejut sekali mendengar ini. “Tak heran apa bila kepandaiannya lihai sekali. Pinto pernah mendengar nama besar Suhu-mu biar pun mataku belum mendapat kemuliaan dan kehormatan untuk bertemu dengan Locianpwe itu. Akan tetapi, sesudah melihat kepandaian muridnya, hatiku telah cukup puas.”

Eng Yang Cu lalu menceritakan bahwa dari seorang sahabatnya di kalangan kang-ouw ia mendengar tentang nasib buruk yang menimpa keluarga Kwee An. Kakek ini yang sangat sayang kepada muridnya itu, menjadi marah sekali dan seorang diri ia berangkat ke kota raja hendak mencari Shantung Ngo-hiap yang sudah membunuh keluarga muridnya dan kebetulan sekali ia datang di saat yang tepat hingga dapat membantu pembalasan sakit hati Kwee An dan Cin Hai.

“Baiknya Totiang cepat-cepat datang, kalau tidak, aku tidak berdaya menolong Saudara Kwee An, karena hwesio itu pun cukup lihai sehingga aku tidak mempunyai kesempatan membelanya,” kata Cin Hai terus terang.

“Kwee An, musuh-musuhmu sudah terbalas dan semua itu berkat bantuan Sie-taihiap ini, maka jangan kau melupakan budi yang besar itu.”

“Musuh belum terbalas semua, Suhu,” kata Kwee An. “Masih ada dua orang musuh besar yang memegang peranan penting dalam perbuatan biadab itu, yakni Hai Kong Hosiang yang lihai dan Boan Sip perwira yang tadinya hendak memaksa adikku menjadi isterinya.”

Eng Yang Cu terkejut. “Hai Kong Hosiang ikut-ikut dalam perbuatan keji ini? Ah, memang benar kata-kata orang kang-ouw bahwa dalam setiap perbuatan jahat yang sangat keji, tentu Hai Kong Hosiang ikut campur! Meski ilmu kepandaian Hai Kong Hosiang mungkin tak lebih hebat dari pada suheng-nya, akan tetapi hwesio itu terkenal cerdik dan banyak akalnya, lagi curang sekali. Namun pinto percaya bahwa dengan bantuan seorang kawan seperti Sie-taihiap ini, pasti ia akan terbalas!”

Kemudian, setelah memberi nasehat dan pesanan kepada muridnya agar supaya berlaku hati-hati dan supaya suka minta petunjuk-petunjuk dari Cin Hai, tosu pengembara ini lalu melanjutkan perjalanannya.

“Kalau pinto kebetulan bertemu dengan Hai Kong atau Boan Sip, tentu pinto tidak akan tinggal diam dan mencoba untuk melawan mereka,” katanya.

Kwee An merasa terharu atas pembelaan suhu-nya itu dan menghaturkan terima kasih serta selamat berpisah. Juga Cin Hai merasa kagum sekali atas kebaikan guru Kwee An itu.

“Suhu-mu itu berhati mulia sekali, Saudara An,” katanya dan ia teringat kepada suhu-nya sendiri Bu Pun Su, yang tiada kabar beritanya itu. Apakah suhu-nya itu masih berada di Goa Tengkorak?

“Saudara Cin Hai, ketika kita hendak pergi ke kota raja dan mampir di Tiang-an mencari Boan Sip, ternyata dia sudah meninggalkan tempat tinggalnya itu dan kabarnya pergi ke kota raja. Akan tetapi, di kota raja pun ia tak ada. Ke manakah ia pergi dan ke mana pula kita harus mencari dia dan Hai Kong Hosiang?”

Setelah berpikir sebentar, Cin Hai menjawab, “Mungkin sekali Boan Sip ikut pergi dengan Hai Kong Hosiang. Biarlah kita menyelidiki lagi ke kota raja mencari jejak mereka. Akan tetapi kita harus berlaku sangat hati-hati, karena tentu saja Kaisar tak akan tinggal diam karena perbuatan kita yang membunuh para perwira.”

Mereka lalu menunggu sampai sore, karena bermaksud hendak memasuki kota raja pada waktu malam agar jangan terlalu banyak mengalami rintangan para penjaga yang tentu berlaku waspada setelah terjadi kerusuhan demikian hebatnya.

“Saudara Kwee An, kurasa satu-satunya orang yang dapat memberi keterangan tentang Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, adalah Ma Keng In. Perwira ini adalah orang ke tiga dari Shantung Ngo-hiap, dan dibanding dengan saudara-saudaranya, dia agaknya paling baik. Mungkin sekali dia mau memberi tahu kepada kita mengenai tempat tinggal Hai Kong Hosiang, mengingat bahwa kita telah berlaku murah hati dan tidak membunuhnya.”

Dengan menggunakan kepandaian ginkang mereka yang tinggi, Cin Hai dan Kwee Ang dengan mudah bisa melompati tembok kota di bagian yang tak terjaga dan karena malam itu gelap, maka mereka dapat menyelundup ke dalam kota tanpa menemui rintangan. Ketika Cin Hai mencari keterangan di kalangan penduduk, dengan mudah mereka dapat mengetahui di mana rumah kediaman perwira she Ma itu, yakni di dalam sebuah gedung besar yang kuno.

Segera mereka jalan di atas genteng dan menuju ke rumah itu. Akan tetapi baru saja mereka tiba di atas wuwungan rumah perwira Ma Keng In, mereka dicegat oleh seorang pemuda berpakaian biru yang sudah berdiri di sana dengan tangan memegang sebatang pedang terhunus dan tajam berkilat!

“Hmm, kalian masih belum puas dan hendak mengambil jiwa Ayahku?” bentaknya sambil menggerakkan pedang. “Nah, majulah, memang sejak tadi aku telah menanti kedatangan kalian berdua!”

Pemuda baju biru itu menyerang Kwee An dengan pedangnya, namun Kwee An cepat menangkis. Kedua pedang bertemu menerbitkan suara nyaring dan bunga api berpijar memercik keluar tanda bahwa tenaga kedua orang muda ini seimbang! Cin Hai terkejut karena ternyata pemuda ini mempunyai gerakan cukup lihai.

“Sobat, tahan dulu,” katanya. “Kau siapakah dan mengapa tiba-tiba menyerang kami?”

“Kalian diam-diam memasuki kota raja dan mencari rumah kediaman Ma-ciangkun. Masih hendak bertanya mengapa aku di sini menanti dengan pedang di tanganku? Aku adalah anak dari Ma-ciangkun. Siang tadi kau telah melukai Ayahku dan mengganas di kota raja, sekarang sebelum kau hendak mencari Ayah, kau hadapi dulu anaknya!”

Sebelum Cin Hai dan Kwee An menjawab, pemuda itu dengan ganasnya sudah kembali menyerang kepada Kwee An. Melihat pemuda yang tampan itu dan sikapnya yang lemah lembut serta pergerakan pedangnya yang lihai, Cin Hai menjadi tertarik sekali, maka dia diamkan saja dan menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.

Yang mengherankan hatinya ialah bahwa ilmu pedang pemuda itu berbeda sekali dengan ilmu pedang Ma Keng In, bahkan tidak lebih rendah dari pada kepandaian Ma-ciangkun itu! Juga gerakan pemuda itu aneh sekali, karena selalu menyerang sambil membalikkan tubuh sehingga gerakannya bagaikan seekor naga yang menyabet dengan ekornya yang tajam. Juga dalam hal tenaga dan kecepatan, ternyata pemuda yang lihai ini tidak kalah oleh Kwee An!

Juga Kwee An tidak kurang terkejutnya karena putera Ma Keng In ini ternyata merupakan seorang lawan yang tangguh sekali dan ia hanya dapat mengimbangi pemuda itu tapi tak dapat mendesak!

“Sahabat, kita datang bukan dengan maksud buruk!” Kwee An berkata sambil menahan serangan orang. Akan tetapi pemuda itu tidak ambil peduli dan terus menyerang dengan ganasnya.

Pada saat itu terdengar suara Ma Keng In yang berat dari bawah genteng, “Hoa-ji, jangan berlaku kurang ajar kepada tamu. Jiwi, kalian turunlah jika hendak bicara dengan aku!”

Pemuda yang disebut Hoa-ji oleh ayahnya itu mengeluarkan seruan kecewa, akan tetapi ia lalu melompat ke bawah dengan ringan, diikuti oleh Kwee An dan Cin Hai. Ma Keng In telah berdiri di situ dan menyambut mereka dengan wajah kereng.

“Jiwi yang muda dan gagah malam-malam datang ke pondokku, ada keperluan apakah?”

Kwee An membalas hormatnya dan berkata, “Harap Lo-enghiong suka memaafkan kami. Sebetulnya kami berdua tak mempunyai permusuhan dengan kau orang tua, karena kau tak ikut membasmi keluargaku. Kedatangan kami ini sengaja hendak mohon pertolongan Lo-enghiong dan bertanya di mana adanya Hai Kong Hosiang dan Boan Sip, dua musuh besarku yang masih belum terbalas itu.”

Wajah Ma Keng In memerah. “Hm, kalian orang-orang muda memang terlalu berani dan tidak memandang sebelah mata padaku! Kau kira aku ini seorang pengkhianat yang sudi mencurangi dan mengkhianati kawan-kawan sendiri? Meski kalian akan membunuh dan memotong lidahku, aku orang she Ma tak serendah itu untuk mengkhianati kawan-kawan sendiri.”

Kwee An tercengang dan tak dapat menjawab. Tapi Cin Hai lalu tertawa aneh. Ma Keng In memang semenjak tadi memandang ke arah Cin Hai karena ia sungguh mengagumi anak muda yang telah ia saksikan kelihaiannya siang tadi. Kini mendengar suara tertawa anak muda itu ia berkata,

“Apakah kau demikian memandang rendah kepadaku sehingga mentertawakan sikapku yang bodoh?”

“Ah, tidak, tidak sekali-kali, Ma-ciangkun! Aku yang muda bahkan merasa teramat kagum melihat sifat kesatriaanmu. Yang kuanggap lucu adalah keanehanmu. Kau begini gagah perkasa dan berjiwa satria, akan tetapi kenapa kau sudi menjadi anggota Sayap Garuda yang terkenal ganas menindas rakyat? Biarlah, hal itu bukan urusan kami dan aku pun tidak akan mengutik-utik. Akan tetapi pemandanganmu tadi keliru sekali! Ujar-ujar kuno menyatakan bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan pula, akan tetapi kejahatan harus dibalas dengan keadilan! Hai Kong Hosiang dan Boan Sip merupakan orang-orang yang telah melakukan keganasan dan kekejaman yang termasuk kejahatan besar. Kalau kau memberi tahu tempat mereka kepada kami, itu berarti bahwa kau sudah melakukan perbuatan yang adil. Ingatlah bahwa permusuhan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kedudukanmu atau kedudukan mereka sebagai anggota Sayap Garuda, akan tetapi ini adalah urusan pribadi. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian, maka apa perlunya mereka bersembunyi dari pada kami? Kalau kau tetap menolak untuk memberi tahukan tempat tinggal mereka, hal itu berarti bahwa kau bahkan merendahkan mereka dan berarti kau takut kalau-kalau mereka itu akan kalah dan terbunuh oleh kami!”

Ma Keng In mendengarkan ucapan panjang lebar ini dengan mata terbelalak. Dia makin heran melihat pemuda yang tidak saja berkepandaian lihai itu, akan tetapi juga memiliki pandangan yang demikian dalam dan halus. Ia menghela napas dan berkata,

“Alasan-alasanmu dapat diterima, anak muda. Memang Hai Kong Suhu adalah seorang yang tinggi hati dan bila ia tahu bahwa aku menolak untuk memberi keterangan padamu tentang kepergiannya, tentu ia akan merasa kurang senang dan menganggap aku sudah merendahkannya. Baiklah kalau kau dan kawanmu memaksa, akan tetapi apa bila kalian tewas dan celaka di dalam tangannya janganlah kalian merasa penasaran kepadaku. Hai Kong Suhu bersama Boan-ciangkun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar untuk menghubungi pasukan-pasukan Mongol di perbatasan utara. Lima hari yang lalu mereka dan beberapa orang perwira lain telah berangkat ke utara meninggalkan kota raja.”

Cin Hai segera menjura dan berkata, “Terima kasih banyak, Ma-ciangkun. Kau memang benar-benar seorang tua gagah dan berhati lurus. Mudah-mudahan kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih menyenangkan.”

Kwee An juga menghaturkan terima kasih dan keduanya lalu melompat ke atas genteng untuk meninggalkan kota raja yang sebetulnya tidak aman bagi mereka itu.

Akan tetapi, belum jauh mereka pergi, tiba-tiba saja terdengar suara orang menegur dari belakang. Mereka berhenti dan ternyata Ma Hoa, pemuda berbaju biru yang menegur mereka tadi, telah mengejar mereka!

“Eh, ehh, kau mengejar mau apa? Apakah hendak melanjutkan pertandingan yang tadi?” Kwee An menegur tidak senang.

“Kalau hendak melanjutkan pertandingan, tak perlu aku banyak cakap!” jawab pemuda itu ketus. “Ayah terlalu lemah, maka kalau kalian memang orang-orang gagah, di dalam tiga hari aku akan menanti kalian di lereng Pai-san di sebelah utara!”

Kwee An merasa mendongkol dan penasaran. “Kenapa kami tidak berani? Baiklah, kalau kami menuju ke utara kami akan mampir di tempat itu dan di sana kita boleh bertempur sampai seribu jurus! Siapa takut dengan seorang kanak-kanak seperti kau?”

Pemuda itu membanting-banting kaki dan berkata, “Aku akan menunggu di sana!”

Kemudian ia lalu membalikkan tubuh dan lari meninggalkan mereka.

“Ah, Saudara An, mengapa kau mencari musuh baru? Orang itu kulihat lihai sekali, ilmu kepandaiannya tidak kalah jika dibandingkan dengan ayahnya,” Cin Hai menegur dengan suara menyesal.

“Siapa takut dia?” jawab Kwee An yang merasa mendongkol dan penasaran sekali sebab tadi ia benar-benar tak bisa mengalahkan pemuda itu. Setelah pemuda itu menantangnya apakah ia harus mundur? “Lagi pula kita pun hendak melewati Pai-san. Apa bila kita tidak menyambut tantangannya, bukankah kita akan ditertawakan oleh seorang kanak-kanak?”

Cin Hai tersenyum dan maklum bahwa Kwee An merasa penasaran sekali karena tidak dapat mengalahkan seorang pemuda yang sikapnya masih seperti kanak-kanak itu!

Sesudah melakukan perjalanan sambil bertanya-tanya di jalan kepada penduduk dusun mengenai rombongan Hai Kong Hosiang, tiga hari kemudian Cin Hai dan Kwee An tiba di lereng bukit Pai-san.

Pemandangan di lereng bukit ini sungguh indah dan tanah di sana subur. Hal ini adalah karena di lereng itu mengalir sebuah sungai yang menjadi sumber atau mata air Sungai Liong-kiang dan yang menjadi anak sungai atau cabang Sungai Huangho, karena sungai Liong-kiang ini akhirnya memuntahkan airnya di Sungai Kuning yang besar itu.

Ketika Cin Hai dan Kwee An sedang berdiri termangu-mangu sambil memandang ke arah air sungai yang mengalir sambil memperdengarkan dendang riak air yang menyedapkan telinga, tiba-tiba dari jauh terlihat sebuah perahu kecil yang bergerak maju melawan arus air.

Sesudah dekat, ternyata yang duduk di dalam perahu itu adalah pemuda baju biru putera Ma Keng In dan seorang tua berpakaian nelayan yang bertubuh kurus laksana tengkorak hidup dan berwajah gembira. Biar pun melawan arus air, akan tetapi dengan dayungnya pemuda itu mampu menggerakkan perahu dengan lajunya, sehingga dapat dibayangkan betapa kuat tenaganya.

Mendadak terdengar nelayan tua itu berdendang, suaranya yang parau itu diiringi suara riak air.

Di belakang pintu gerbang merah indah cemerlang
anggur dan daging berlebih-lebihan hingga masam membusuk!
Di luar pintu gerbang kotor sunyi melengang
berserakan tulang rangka sisa korban dingin dan lapar!


Cin Hai terkesiap. Ia mengenal syair yang diucapkan dalam lagu ini. Ini adalah syair yang ditulis oleh pujangga Tu Fu. Pada jaman dahulu keadaan rakyat di bawah pemerintahan Raja Hsuan Tsung sangat menderita dan pada suatu hari ketika lewat di Pegunungan Lisan, Pujangga itu melihat betapa Raja Hsuan Tsung bersenang-senang dan berpelesir dengan para selir di istananya yang disebut istana Hua Cin.

Oleh karena merasa betapa janggalnya perbedaan ini, yaitu antara kehidupan raja yang tahunya hanya bersenang-senang belaka tanpa mau mempedulikan keadaan rakyat yang sangat sengsara dan banyak yang mati kelaparan dan kedinginan, maka jiwa patriot yang menggelora di hati pujangga Tu Fu menggerakkan tangannya untuk membuat syair itu.

Semenjak dahulu syair ini dilarang oleh semua kaisar yang memerintah karena dianggap sangat menghina kaisar dan bersifat memberontak, maka jarang ada orang mengenalnya lagi, apa lagi menyanyikannya, karena apa bila terdengar oleh kaki tangan kaisar, tanpa ampun lagi orang itu dapat ditangkap sebagai pemberontak dan dijatuhi hukuman berat. Akan tetapi nelayan tua yang duduk di dalam perahu itu bahkan berani menyanyikannya dengan lagu suara yang bersemangat sekali. Orang yang berani bernyanyi seperti itu di tempat terbuka, tentulah seorang yang luar biasa dan berilmu tinggi.

“Bagus sekali syair itu, seolah-olah kulihat Tu Fu menjelma kembali,” dengan suara keras Cin Hai memuji.

Ketika itu perahu kecil tadi telah sampai di depan mereka, nelayan itu lalu memandang ke arah Cin Hai. Tiba-tiba tubuhnya bergerak dan tahu-tahu tubuh yang seperti tengkorak itu telah melayang berdiri di depan Cin Hai.

“Hi-hi-hi, anak muda, kau kenal Tu Fu?” tanyanya.

“Kenal? Ia adalah sahabat baikku di alam mimpi!” jawab Cin Hai yang lalu mengucapkan sebuah syair lain dari Tu Fu dengan suara nyaring.

Mungkinkah membangun sebuah gedung dengan laksaan kamar
Untuk memberi tempat bagi para fakir miskin di seluruh dunia
Yang akan merasa bahagia biar pun dalam hujan
Karena gedung kokoh kuat bagaikan bukit raksasa?

Kalau saja aku dapat melihat ini tiba-tiba muncul di depan mataku, biarlah gubukku ini hancur lebur, biarlah aku mati kedinginan, aku akan mati dengan mata meram dan jiwa tenteram!


Nelayan itu melebarkan matanya dan memandang kepada Cin Hai dengan wajah girang sekali. Tiba-tiba dari kedua matanya yang lebar itu mengalir air mata dan ia lalu memeluk leher Cin Hai dan menangis tersedu-sedu sambil menyandarkan kepalanya pada pundak pemuda itu.

Kepala nelayan tua itu mengeluarkan bau amis seperti bau ikan. Ketika dia memeluk Cin Hai dan kedua tangannya merangkul, Cin Hai merasa seolah-olah ia ditindih oleh sebuah batu besar yang beratnya ribuan kati. Dia merasa terkejut sekali dan tahu bahwa secara diam-diam kakek nelayan ini telah mencoba tenaganya.

Karena itu ia segera menahan napas dan mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan tekanan yang hebat ini. Ia hampir saja tidak kuat, akan tetapi berkat keteguhan hatinya, ia tidak mengeluh atau memperlihatkan kelemahannya.

Akhirnya kakek nelayan itu melepaskan pelukannya sehingga Cin Hai merasa lega sekali. Keringat dingin telah keluar dari kulit mukanya, maka ia lalu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut peluh itu.

Setelah memandang tubuh Cin Hai dari kepala sampai kaki dengan mata berseri-seri dan wajah gembira, kakek nelayan itu lalu berpaling pada pemuda baju biru yang sementara itu telah keluar dari perahu dan menghampiri mereka.

“Ehh, anak nakal, pemuda inikah yang kau maksudkan? Ahh, Hoa-ji, kau akan kalah! Kau tentu kalah!”

Pemuda yang bernama Ma Hoa itu menggeleng kepalanya dan menuding ke arah Kwee An, “Bukan dia, Suhu, yang inilah!”

Kwee An dan Cin Hai memandang ke arah pemuda itu. Mereka pun tercengang, karena sesudah melihat pemuda itu di siang hari, ternyata bahwa wajah pemuda ini benar-benar tampan sekali serta sikapnya pendiam dan agung!

Ma Hoa lalu melangkah rnenghadapi Kwee An dan berkata,

“Hemm, ternyata kau mematuhi janji. Nah, mau tunggu apa lagi? Cabutlah senjatamu dan coba kau perlihatkan kepandaianmu!” Sambil berkata demikian, Ma Hoa segera melolos pedangnya dari pinggang dan bersiap sedia.

Kwee An berdiri bingung karena ia merasa jeri juga menghadapi pemuda yang bersikap agung dan tenang ini. Dia berpaling kepada Cin Hai, akan tetapi Cin Hai sedang saling pandang dengan nelayan tua itu sambil tersenyum-senyum, sedangkan kakek nelayan itu lalu memegang tangan Cin Hai, ditarik untuk bersama duduk di bawah sebatang pohon dan dengan tertawa haha-hihi ia berkata,

“Mari, mari, sahabatku, kita duduk di sini dan menonton kedua anak nakal itu!”

Cin Hai maklum bahwa kakek nelayan luar biasa ini tak bermaksud jahat, maka dia tidak menguatirkan keselamatan Kwee An dan ia lalu ikut duduk di sebelah kakek itu.

Pada saat melihat Kwee An berdiri bengong, Ma Hoa lalu membentak, “Tidak lekas-lekas mengeluarkan senjatamu? Apakah kau takut?”

Marahlah Kwee An melihat kecongkakan pemuda itu, maka dengan muka merah ia lantas mencabut senjatanya dan berkata, “Tenang, kawan. Siapa yang takut kepada engkau?”

Ma Hoa lalu menyerang dengan hebat dan tanpa sungkan-sungkan lagi Kwee An dengan cepat menangkis dan balas menyerang. Sebentar saja keduanya sudah bertempur seru sekali, saling mengerahkan tenaga dan kepandaian, saling melepas umpan, membuat gerak tipu dan mengeluarkan segala jurus yang saling berbahaya.

Cin Hai duduk dengan bengong karena kagum. Dia tidak hanya mengagumi kepandaian kedua anak muda ini, akan tetapi dia mengagumi kenyataan bahwa kepandaian kedua orang itu boleh dibilang sama tinggi dan sama pandai. Dan yang lebih mengherankannya lagi, walau pun sikapnya congkak sekali, akan tetapi di dalam pertempuran itu agaknya Ma Hoa tidak mengandung hati ingin mencelakakan Kwee An. Hal ini bisa dilihatnya dari gerakan pemuda itu yang selalu terlambat sedikit dari pada seharusnya dalam mengirim serangan maut!

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su

Kwee An tak pantas disebut murid Kim-san-pai yang lihai kalau dia tidak mengetahui hal ini. Mula-mula ia merasa heran dan menganggap bahwa lawannya memang masih belum matang betul kepandaiannya, tetapi karena berkali-kali Ma Hoa sengaja memperlambat gerakannya, ia menjadi maklum dan hatinya girang sekali. Ternyata pemuda ini mencoba kepandaiannya saja.

Oleh karena itu, ia segera mengeluarkan kepandaiannya yang paling hebat dan memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga sinar pedangnya bergulung-gulung, akan tetapi dia pun menjaga-jaga jangan sampai melukai pemuda lawannya itu. Suatu pertempuran yang sungguh hebat dan indah dipandang.

Bukan main girang hati Cin Hai melihat keadaan itu, karena ia maklum bahwa keduanya sama-sama tidak mempunyai keinginan mencelakakan lawan. Tadinya dia sudah merasa khawatir kalau-kalau harus bermusuhan dengan nelayan tua yang hebat ini, karena kalau dia dan Kwee An sampai menjadi musuh nelayan ini, hal itu berarti bahwa mereka telah menanam bibit permusuhan yang berbahaya.

Laginya, ia merasa suka sekali kepada kakek nelayan yang bersemangat ini. Kegirangan hatinya dan keadaan tamasya alam yang indah di sana telah membuat hatinya bahagia sekali dan tak terasa pula dia kemudian mengeluarkan suling bambunya. Kakek nelayan itu memandangnya dengan senang sekali sehingga Cin Hai lalu mulai menyuling, sambil matanya memandang kepada dua orang muda yang masih bermain pedang.

Cin Hai memang pintar sekali menyuling. Pada saat suara lengking sulingnya melagukan sebuah lagu peperangan kuno yang bersemangat, maka Kwee An dan Ma Hoa tak terasa pula terpengaruh oleh nyanyian ini dan mereka bermain pedang makin hebat dan indah, seakan-akan dua orang penari yang mendengar suara gamelan merdu yang membuat tarian mereka lebih indah.

Kakek nelayan itu menatap wajah Cin Hai dan aneh sekali. Kembali dari kedua matanya yang lebar mengalir keluar air mata. Ternyata hati kakek nelayan ini perasa sekali hingga membuat ia terkenal sebagai seorang yang cengeng atau mudah menangis. Oleh karena inilah, maka dia mendapat sebutan Nelayan Cengeng!

Cin Hai juga dapat melihat bahwa kedua anak muda itu sudah terpengaruh oleh suara sulingnya. Ia melihat betapa mereka berdua telah berpeluh karena pertempuran itu telah berjalan dua ratus jurus lebih! Dia menjadi kasihan dan tiba-tiba ia menghentikan tiupan sulingnya.

Keadaan menjadi sunyi setelah suara suling itu terhenti dan yang terdengar kini hanyalah riak air. Keadaan yang sunyi ini melenyapkan nafsu dan semangat kedua anak muda itu sehingga dengan sendirinya mereka lalu melompat mundur.

Wajah kedua pemuda itu berpeluh dan berwarna merah, akan tetapi sungguh aneh. Kini Kwee An tidak mempunyai perasaan penasaran akibat tidak dapat mengalahkan pemuda itu, bahkan dia memandang ke arah pemuda itu dengan sorot mata berterima kasih dan ingin bersahabat karena timbul rasa suka di dalam hatinya kepada pemuda itu.

“Bagus, bagus!” tiba-tiba nelayan tua itu melompat berdiri dan berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang baru diberi kembang gula. “Mereka itu cocok dan sesuai sekali, bukan?” katanya kepada Cin Hai dan Cin Hai lalu mengangguk sambil tersenyum.

“Cocok, sama tampan, sama tangkas, dan sama-sama keras hati! Sungguh, jodoh yang cocok! He, anak muda she Kwee, engkau adalah jodoh muridku, tidak ada pemuda lain yang lebih cocok untuk menjadi calon suami muridku, ha-ha-ha!” Kakek nelayan yang luar biasa ini tertawa terkekeh-kekeh karena girangnya.

Kwee An merasa bingung dan tak mengerti. Ia memandang ke arah Cin Hai dan tiba-tiba Cin Hai berkejap dan menunjuk dengan sulingnya ke arah Ma Hoat! Kwee An tetap tidak mengerti dan ketika ia memandang kepada Ma Hoa, ia melihat pemuda itu berdiri dengan kepala tunduk dan muka kemerah-merahan dan kadang kala sudut matanya mengerling dengan malu-malu! Ini adalah sikap seorang gadis dan tiba-tiba ia menjadi mengerti!

Hampir saja ia menempeleng kepalanya sendiri. Kenapa ia begitu bodoh? Ma Hoa bukan seorang pemuda, akan tetapi seorang gadis. Gadis yang cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula! Mengingat hal ini, tiba-tiba saja wajah Kwee An menjadi merah bagai kepiting direbus dan ia lalu pergi menghampiri Cin Hai dan tak berani berkata-kata lagi.

“Bukankah mereka cocok sekali?” lagi-lagi kakek nelayan itu bertanya kepada Cin Hai. “Aku yang akan menjadi comblangnya dan aku tanggung Ma-ciangkun tak akan mampu menolak seorang calon mantu yang begini baik! Eh, anak muda she Kwee, mengapa kau diam saja?”

Cin Hai mewakili Kwee An dan berdiri sambil menjura, “Lo-cianpwe, maafkanlah kawanku ini. Dia masih kurang pengalaman dan pemalu sekali, dan mengenai perjodohan ini tentu saja harus ia tanyakan dulu kepada Suhu-nya karena kedua orang tuanya telah tidak ada lagi.”

“Ahh, jangan banyak upacara lagi!” kata kakek nelayan. “Orang she Kwee, bukankah kau juga suka kepada Hoa-ji seperti dia suka kepadamu?”

Kwee An memandang wajah kakek itu dengan heran. Mulutnya tak berani bertanya, akan tetapi sinar matanya mengandung banyak pertanyaan, yaitu bagaimana kakek ini dapat menduga demikian?

Agaknya kakek nelayan ini memang dapat membaca pikiran orang sebab setelah tertawa terkekeh-kekeh ia lalu berkata,

“Dalam pertempuran kalian tadi telah jelas terlihat sifat menyayang dan suka dari kalian berdua, apakah kalian dua orang bodoh dapat menipuku? He, Hoa-ji bukankah kau suka kepada pemuda she Kwee ini?”

Ma Hoa memang telah kenal betul akan sifat suhu-nya yang selalu bersikap terus terang dan jujur. Akan tetapi sebagai seorang gadis yang masih bodoh dan pemalu, tentu saja ia merasa amat malu mendengar orang berbicara tentang perjodohan dan tentang hati suka secara begitu blak-blakan tanpa tedeng aling-aling lagi! Maka ia lalu menundukkan muka dan melompat ke dalam perahunya terus mendayung perahu itu meninggalkan mereka!

“Ha-ha-ha... hi-hi... lihatlah dia telah menjawab pertanyaanku. Dia suka kepadamu! Kalau dia tidak suka tentu ia telah marah dan mengamuk. Jika ia pergi dan berlari, itu tandanya ia setuju! Nah, anak muda, kau tidak boleh menolak murid Si Nelayan Cengeng!”

Cin Hai terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar dari Bu Pun Su bahwa di antara tokoh-tokoh yang luar biasa terdapat seorang nelayan tua yang disebut Nelayan Cengeng dan yang menjadi ahli silat di darat mau pun di dalam air. Juga Kwee An pernah mendengar nama ini dari suhu-nya, maka mereka berdua kemudian menunjukkan sikap menghormat sekali.

“Locianpwe, harap kau orang tua sudi memaafkan teecu yang bodoh ini. Sebagaimana dikatakan oleh Saudara Cin Hai tadi, dalam urusan perjodohan, bukan teecu menampik, akan tetapi teecu harus minta nasehat Suhu terlebih dahulu.”

“Ehh, siapa Suhu-mu yang beradat kukuh dan kuno itu?” tanya Nelayan Cengeng.

“Suhu adalah Eng Yang Cu.”

“Oh, tosu dari Kim-san itu? Ha-ha, aku sudah menduga bahwa engkau tentu anak murid Kim-san-pai, akan tetapi tidak kuduga bahwa imam tua itu masih mau mencapaikan diri menerima seorang murid. Bagus, bagus! Kau tak usah menanyakan dia, karena kalau dia tahu bahwa engkau menjadi suami muridku, tentu dia setuju sepuluh bagian!”

“Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe, akan tetapi sungguh, teecu pada waktu ini belum berani mengikat diri dengan perjodohan!”

Si Nelayan Cengeng yang sebenarnya bernama Kong Hwat Lojin ini memang mempunyai perasaan yang mudah sekali tersinggung, maka mendengar ucapan dan penolakan Kwee An, ia lalu membanting-banting kakinya hingga tanah di mana kakinya terbanting menjadi berlubang setengah kaki lebih!

“Apa katamu?! Kau menolak? Baik, akan tetapi kau harus mengajukan alasan yang kuat dan dapat diterima, kalau tidak jangan harap kau dapat meninggalkan tempat ini!”

Kini Cin Hai yang buru-buru berdiri dan mewakili Kwee An menjawab, karena dia cukup mengenal adat Kwee An yang walau pun pendiam akan tetapi keras hati dan tidak kenal takut. Ia khawatir kalau-kalau Kwee An akan menjadi nekad dan membikin marah orang tua itu.

“Locianpwe, sebetulnya Saudara Kwee An sama sekali tak menolak dan bahkan merasa bahagia sekali karena mendapat kehormatan besar sudah dipilih sebagai jodoh muridmu yang lihai. Akan tetapi ketahuilah bahwa saudaraku ini berada dalam keadaan berkabung dan kini sedang melakukan perjalanan dengan teecu untuk mencari musuh besarnya dan membalaskan sakit hati orang tua dan keluarganya yang terbunuh oleh musuh besar itu.”

Cin Hai kemudian secara singkat menuturkan pengalaman Kwee An dan betapa keluarga pemuda itu terbasmi oleh musuh-musuhnya. Mendengar tentang peristiwa yang sangat menyedihkan ini, tak tertahan lagi Kong Hwat Lojin menangis tersedu-sedu hingga Kwee An merasa amat terharu dan tak dapat menahan lagi keluarnya air mata yang membasahi pipinya.

“Jadi dua musuh yang belum terbalas itu adalah Hai Kong Hosiang dan seorang perwira? Ahh, Hai Kong, engkau memang jahat sekali. Kalau kau kebetulan bertemu dengan aku, tentu kau akan kurendam dalam air sampai perutmu menjadi kembung!” katanya dengan marah. Kemudian ia teringat akan sesuatu dan berkata kepada Cin Hai,

“Kepandaian Hai Kong Hosiang kabarnya sudah maju pesat karena dia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat baru. Tunangan Hoa-ji ini tentu tidak dapat melawannya. Mungkin kau dapat menandingi hwesio itu, akan tetapi ketahuilah bahwa hwesio itu selain pandai ilmu silat, juga licin dan cerdik sekali. Apakah engkau mengerti ilmu dalam air?”

Cin Hai menggelengkan kepalanya, juga Kwee An menyatakan bahwa dia hanya dapat berenang sedikit saja.

“Ah, kalau begitu, kalian harus berlatih dulu hingga kau akan siap menghadapi hwesio itu, baik di darat mau pun di air!”

Cin Hai serta Kwee An merasa girang sekali dan semenjak hari itu, selama dua minggu mereka menerima latihan-latihan dari Nelayan Cengeng itu. Kwee An mendapat latihan ilmu pedang yang disebut Hai-liong Kiam-hoat atau Ilmu Pedang Naga Laut dan latihan napas untuk dapat bertahan di dalam air serta gerakan-gerakan renang.

Ada pun untuk Cin Hai, nelayan itu mengatakan bahwa ia tidak berani memberi pelajaran ilmu pukulan sebab kepandaian pemuda itu katanya malah telah melebihi kepandaiannya sendiri. Maka Cin Hai lalu mendapat latihan bermain di dalam air. Oleh karena Cin Hai memang telah mempunyai lweekang yang tinggi dan dapat menahan napas sampai lama, maka sebentar saja dia pun dapat menguasai ilmu itu dan dapat bermain di air bagaikan seekor ikan saja.

Tentu saja kedua pemuda itu merasa girang sekali. Selama dua minggu itu, Ma Hoa tidak muncul, akan tetapi pada saat Cin Hai dan Kwee An hendak pergi meninggalkan Nelayan Cengeng dan melanjutkan perjalanan ke utara mencari Hai Kong Hosiang, tiba-tiba gadis itu mendatangi dengan naik perahu dari jauh. Cin Hai lalu menunda keberangkatannya dan menanti kedatangan gadis itu, sedangkan Kwee An tidak berani mengangkat muka dan menunduk kemalu-maluan!

Ketika gadis itu melompat keluar dari perahu dan kebetulan Kwee An mengangkat muka memandang, ia menjadi tercengang dan tak kuasa mengalihkan pandangan matanya lagi dari gadis itu. Ternyata bahwa kali ini Ma Hoa mengenakan pakaian wanita dan ia telah merubah diri menjadi seorang dara yang luar biasa cantiknya.

Bajunya berwarna merah jambon, celananya sutera biru dan ikat pinggang serta pengikat rambutnya berwarna merah darah, berkibar-kibar tertiup angin gunung. Gagang pedang yang tergantung di pinggang menambah kegagahan dan kecantikannya. Diam-diam Cin Hai merasa girang sekali karena gadis ini memang pantas sekali menjadi jodoh Kwee An.

Nelayan Cengeng melebarkan sepasang matanya pada waktu melihat pakaian muridnya itu. “Aduh, sudah bertahun-tahun aku tidak melihat kau mengenakan pakaian seperti ini! Bagus muridku, bagus sekali. Kebetulan kau datang karena tunanganmu ini hendak pergi melanjutkan perjalanan.”

Memang orang tua ini terlalu sekali. Kejujurannya yang luar biasa sehingga dia menyebut Kwee An sebagai tunangan muridnya itu sudah membuat kedua anak muda itu menjadi jengah dan malu sekali.

“Ma Hoa, kita adalah orang-orang sendiri dan bukanlah orang-orang lemah, apa artinya segala sikap malu-malu kucing? Kesinikan pedangmu!”

Biar pun sangat keras hati, akan tetapi Ma Hoa tunduk dan takut kepada suhu-nya yang menganggapnya sebagai anak sendiri, maka sambil menundukkan kepala dia bertindak maju. Langkahnya lemah gemulai dan menarik hati sekali. Dengan perlahan dan tangan gemetar dia lalu melolos pedangnya dan diberikan kepada suhu-nya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karena ia tahu bahwa jika ia mengeluarkan suara, maka suaranya akan terdengar menggigil.

Nelayan Cengeng gembira, lalu dia berkata kepada Kwee An dengan suara memerintah, “Kwee An, terimalah pedang ini dan sebagai gantinya kau harus memberikan pedangmu kepada tunanganmu!”

Dengah sikap menghormat Kwee An menerima pedang itu, lalu dia mencabut pedangnya sendiri dan hendak diberikan kepada kakek itu. Akan tetapi, tiba-tiba Cin Hai yang sedang bergirang hati, berkata,

“Saudaraku, kau tidak boleh memberikan kepada Locianpwe. Harus kau berikan sendiri kepada tunanganmu! Bukankah begitu, Locianpwe?”

Nelayan Cengeng itu memandang dengan hati heran kepada Cin Hai, akan tetapi hanya sebentar saja karena dia tertawa bergelak dan berkata, “Benar, benar! Cin Hai berkata betul sekali! Kau harus memberikan sendiri kepada tunanganmu agar kalian jangan terus bersikap malu-malu kucing!”

Dapat dibayangkan betapa malunya kedua anak muda itu karena godaan dua orang ini. Dengan hati berdebar-debar Kwee An menghampiri Ma Hoa dan mengasurkan pedang itu.

Akan tetapi, karena dara itu sedang menunduk dan sama sekali tidak berani mengangkat muka sehingga tidak melihat dia mengangsurkan pedang, maka gadis itu tidak menerima pedang yang diberikan kepadanya. Kwee An menjadi bingung dan serba salah, terpaksa dia menggerakkan bibirnya memanggil,

“Moi… ehh… Siocia, kau terimalah pedang ini!”

Barulah Ma Hoa mengangkat mukanya. Dua pasang mata bertemu dengan mesra dan cepat sekali Ma Hoa menyambar pedang itu lalu dimasukkan ke dalam sarung pedang dan dia lalu tertunduk kembali!

“Ahhh, salah... salah...!” Cin Hai menggoda terus. “Saudara An, engkau harus memanggil moi-moi, dan Ma Hoa harus memanggil koko, ini baru benar!”

Bukan main girangnya Nelayan Cengeng itu. Dia lalu bersorak-sorak dan meloncat-loncat sambil bertepuk-tepuk tangan. “Benar, benar...! Bagus...!”

Ma Hoa tidak dapat lagi menahan jengah dan malunya. Setelah mengerling sekali lagi ke arah Kwee An dan melempar senyum yang mesra dan penuh arti, dara ini lalu berlari ke perahunya, segera mendayung pergi secepatnya! Cin Hai dan Nelayan Cengeng tertawa terbahak-bahak.

“Nah, kalian pergilah, pergilah! Cepat pergi dan lekaslah kembali!” kata Kong Hwat Lojin sambil bertindak pergi.

Kwee An dengan mulut cemberut lantas berkata kepada Cin Hai, “Cin Hai, kau sungguh terlalu! Menggoda orang sampai hampir mati karena malu. Awas, kalau kelak bertemu kembali dengan Lin Lin, pasti akan kubalas sepuas hatiku!”

Mendengar nama ini, tiba-tiba Cin Hai termenung. Ia lalu teringat akan gadis kekasihnya itu dan merasa sedih sekali. Akan tetapi, cepat dia mampu menekan perasaannya dan berkata, “Ahhh, bukankah godaan-godaan tadi diam-diam membikin engkau berbahagia sekali?”

Kwee An tidak dapat menjawab, hanya tersenyum dan memukul bahu Cin Hai. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke utara, akan tetapi seperempat bagian dari hati dan perasaan Kwee An sudah tersangkut pada duri bunga Botan yang tumbuh di tepi Sungai Liong-kiang itu!

Beberapa pekan kemudian, Cin Hai dan Kwee An telah tiba di perbatasan Tiongkok Utara di mana bertemu dengan suku-suku Mongol dan Mancu yang hidup secara berkelompok. Pada suatu hari mereka sampai di sebuah sungai yang cukup besar dan melihat sebuah perahu yang dihias mewah sekali di tengah itu.

Orang-orang Mongol dari suku Jungar hilir mudik naik turun perahu itu dan mengangkut kantong-kantong yang agaknya berat. Di antara suku-suku Jungar ini, banyak yang sering merantau ke pedalaman Tiongkok sehingga mereka dapat berbicara dalam bahasa Han, yang biar pun kaku akan tetapi cukup dimengerti oleh Cin Hai dan Kwee An.

Dari mereka inilah kedua pemuda itu mengetahui bahwa perahu itu adalah milik seorang Pangeran Mongol bernama Vayami. Pangeran ini sudah bertukar nama karena dia telah memeluk Agama Buddha Merah, dan bahkan menjadi pemuka dari pada Agama Sakya Buddha ini. Barang-barang yang lagi diangkut ke dalam perahu itu adalah sumbangan-sumbangan dari para pemeluk Agama Buddha yang diberikan kepada Pangeran Vayami.

Ketika Cin Hai serta Kwee An sedang melihat di pinggir sungai, tiba-tiba mereka melihat Hai Kong Hosiang di atas perahu itu. Hwesio ini dapat dikenali dengan mudah karena jubahnya yang berwarna kotak-kotak merah putih dan kepalanya yang gundul licin.

Pada saat itu perahu telah bergerak ke tengah dan hendak meninggalkan tempat itu, ada pun para pemeluk agama yang berdiri di pinggir sungai sedang berlutut memberi hormat yang terakhir kepada Pangeran Vayami.

Cin Hai dan Kwee An lalu menggenjot tubuh mereka dan meloncat ke atas perahu hingga mereka yang melihat perbuatan kedua pemuda Han ini berseru marah. Hai Kong Hosiang dengan mata terbelalak dan tindakan lebar menyambut kedatangan pemuda itu dengan bentakan,

“Dua ekor anjing rendah dari manakah berani memperlihatkan kekurang ajaran di sini?”

“Hai Kong Hosiang, pendeta keparat! Ajalmu sudah berada di depan mata dan kau masih banyak bertingkah lagi?” Kwee An balas membentak dan memaki.

Hai Kong Hosiang memandang anak muda itu dan ia lalu teringat serta mengenal wajah Kwee An, “Eh, kau masih belum mampus bersama Ayahmu?” Tiba-tiba tangan kanannya mencabut keluar tongkat ularnya yang lihai sambil berkata. “Baik, kalau begitu biarlah ini hari kuselesaikan pekerjaan dulu yang agaknya kurang sempurna agar kau tidak menjadi penasaran!”

Sambil berkata demikian ia maju ke arah Kwee An. Akan tetapi pada saat itu pintu kamar yang terdapat di perahu itu terbuka dan muncul seorang pemuda yang berwajah tampan dan berpakaian pendeta jubah merah. Pendeta ini membentak dengan suaranya yang halus,

“Hai Kong bengyu, tahan dulu!” Kemudian ia keluar dengan tindakan kaki yang halus, dan anehnya, Hai Kong Hosiang nampak hormat sekali kepadanya, karena pendeta gundul ini lalu menahan senjata dan menjura. Pemuda ini bukan lain ialah seorang pangeran yaitu Pangeran Vayami sendiri.

Vayami memandang kepada Kwee An dan Cin Hai, lalu merangkap kedua tangannya dan berkata dalam bahasa Han yang fasih,

“Jiwi-enghiong (Kedua Tuan yang Gagah Perkasa) telah memberi kehormatan kepadaku dan mengunjungi perahu ini, tidak tahu hendak memberi pelajaran apakah?”

Kwee An dan Cin Hai tercengang melihat Pangeran Mongol yang pandai berbahasa Han dan yang halus tutur sapanya ini, juga mereka merasa heran melihat bahwa pemimpin agama ini ternyata masih muda sekali takkan lebih dari dua puluh lima tahun usianya! Cin Hai lalu merangkapkan kedua tangan pula dan membalas hormat, diikuti oleh Kwee An.

“Maafkan kami berdua yang tidak tahu adat. Oleh karena melihat hwesio jahat ini berada di atas perahu, kami menjadi lupa diri dan dengan lancang melompat ke atas perahumu. Akan tetapi, kami berdua sama sekali tak hendak mengganggu kepada Tuan, dan urusan kami hanyalah dengan hwesio yang bernama Hai Kong Hosiang ini, karena dia adalah pembunuh keluarga kami dan kami sengaja datang hendak mengadu jiwa dengannya.”

Pangeran Vayami tersenyum halus akan tetapi kedua matanya mengeluarkan sinar tajam yang membuat Cin Hai terkejut sekali karena ia dapat menduga bahwa selain mempunyai tenaga lweekang yang tinggi juga pangeran ini sangat berpengaruh dan cerdik.

“Jiwi-enghiong yang muda dan gagah! Kiranya Jiwi pun mengerti akan aturan tuan rumah dan tamunya. Hai Kong Hosiang Suhu sekarang menjadi tamu kami dan oleh karenanya, selama dia berada di atas perahuku, aku harus melindunginya dengan segala tenagaku, bahkan dengan jiwaku sekali pun. Maka, kuharap Jiwi suka memandang mukaku dan tak mengganggunya selama dia masih berada di sini!”

Setelah berkata demikian, pangeran itu lalu menggerakkan dua tangannya dan bertepuk tangan tiga kali. Mendadak dari segala sudut keluarlah lima orang pendeta Sakya yang berjubah merah dan nampak kuat serta pandai ilmu silat.

Cin Hai dapat merasai kebenaran ucapan pangeran itu, maka dia lalu menuding kepada Hai Kong Hosiang, “Hai Kong! Kau tentu masih cukup gagah untuk mengakui kedosaan dan perbuatanmu dan tentunya tidak begitu pengecut untuk lari dari tuntutan balas kami. Jika memang kau seorang laki-laki, maka harap kau mau turun ke darat dan marilah kita bertanding mengadu jiwa, menentukan siapa yang lebih pandai!”

Hai Kong Hosiang tadi sudah melihat gerakan Cin Hai ketika melompat ke dalam perahu, maka ia pun maklum bahwa anak muda ini jauh lebih lihai dari pada Kwee An. Maka ia berkata,

“Jangan kau mengacau dan membuka mulut sembarangan. Aku Hai Kong Hosiang tidak pernah lari dari musuh-musuhku. Akan tetapi yang kubunuh adalah keluarga pemuda ini, dan kau tidak mempunyai sangkut paut dengan urusan itu, mengapa kau ikut campur?”

“Ha-ha-ha, hwesio gundul yang palsu! Kau juga telah memiliki hutang padaku. Ingatkah kau dahulu ketika kau bertemu melawan Kanglam Sam-lojin di depan Kuil Ban-hok-tong di Tiang-an? Anak kecil yang meniup suling dan yang hendak kau bunuh dulu itu siapa? Lihatlah mukaku baik-baik, dan kau tentu akan ingat bahwa kau sekarang berhadapan dengan anak itu yang kini hendak membalas kebaikan budimu dulu!”

Hai Kong Hosiang terkejut. Ia ingat bahwa anak ini ia lihat bersama dengan Ang I Niocu di dalam goa Tengkorak itu, maka diam-diam ia merasa agak jeri. Akan tetapi, Hai Kong Hosiang adalah seorang gagah yang telah lama malang-melintang di dunia kang-ouw dan jarang bertemu tanding, karena itu tentu saja dia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang anak muda yang masih hijau itu.

“Bagus, kalau begitu, kebetulan sekali. Engkau pun rupanya sudah bosan hidup!”

“Hwesio keparat, kau turunlah ke darat!” Kwee An membentak marah.

“Ha-ha! Siapa sudi menurut perintah dua ekor anjing cilik! Aku akan turun kalau aku suka dan sekarang aku belum ada ingatan untuk turun dan melayani kalian.”

Cin Hai menjura pada Pangeran Vayami. “Maaf, karena hwesio ini membandel, terpaksa kami berlaku kurang ajar dan bertindak di sini!”

Sambil tersenyum Pangeran Vayami berkata. “Cobalah kalau engkau dapat, karena aku tak mungkin tinggal diam melihat tamuku diganggu.”

Ia kemudian memberi tanda dan kelima orang pendeta Sakya itu lalu maju dengan sikap mengancam dan mengurung Cin Hai serta Kwee An!

“Saudara An, kau lawanlah lima boneka merah itu dan aku akan membinasakan kera tua ini!”

Bukan main marahnya Hai Kong Hosiang mendengar dirinya dimaki ‘kera tua’! Dia lalu berseru nyaring dan senjatanya yang luar biasa, yaitu seekor ular kering itu meluncur dan menyerang ke arah tenggorokan Cin Hai. Cin Hai berlaku gesit dan waspada, dia segera mengelak mundur sambil mencabut Liong-coan-kiam.

Kelima pendeta Sakya itu bersenjata tongkat dan mereka lalu mengeroyok Kwee An yang memutar pedangnya secara hebat luar biasa. Ternyata bahwa kelima pendeta Mongol itu hanya memiliki tenaga hebat dan kuat seperti kerbau jantan, akan tetapi kepandaian silat mereka tak seberapa tinggi sehingga Kwee An tak sampai terdesak oleh mereka.

Akan tetapi, bagi pemuda itu pun tak mudah merobohkan mereka karena ia harus berlaku hati-hati sekali. Walau pun serangan lawan-lawannya tidak cukup gesit dan berbahaya, akan tetapi karena tenaga mereka besar sekali, maka sekali saja terkena pukul tongkat mereka, ia pasti akan celaka! Karena itu ia berlaku tenang dan hati-hati dan menjaga diri dengan sangat kuatnya, sedikit pun tak ingin memberi waktu kepada mereka untuk dapat memukulnya.

Yang hebat adalah pertarungan antara Cin Hai dan Hai Kong Hosiang. Ternyata pendeta ini betul-betul telah mendapat banyak kemajuan dalam ilmu silatnya seperti yang pernah dikatakan oleh Nelayan Cengeng.

Karena berkali-kali bertemu dengan lawan-lawan yang tangguh seperti Bu Pun Su, Biauw Suthai, dan yang lain-lain, dan semenjak dia kena dikalahkan oleh Biauw Leng Hosiang, pendeta ini lalu melatih diri dan mempelajari ilmu silat lain yang tinggi untuk menambah kepandaiannya. Bahkan dalam perjalanannya ke daerah utara, dia sengaja mengunjungi tokoh-tokoh ternama untuk bertukar ilmu silat dan mempelajari kepandaian mereka itu.

Maka dalam pertempuran Cin Hai kali ini, pemuda itu pun harus mengakui bahwa ilmu silat pendeta ini jauh lebih hebat dari pada ketika ia bertempur di dalam Goa Tengkorak. Terutama tongkatnya yang hebat itu, yang di dalam tangannya seolah-olah telah berubah menjadi seekor ular berbisa yang masih hidup, sangat berbahaya sekali.

Walau pun Cin Hai sudah dapat menduga gerakan dalam setiap serangan yang hendak dilancarkan, akan tetapi karena senjata lawannya ini berbahaya dan berbisa, ia menjadi sibuk juga dan terpaksa berlaku hati-hati sekali. Dia lalu mengeluarkan limu Silat Sian-li Utauw pelajaran Ang I Niocu, karena dengan ilmu silat ini dia dapat bergerak gesit sekali sehingga tubuhnya berkelebat ke sana ke mari menolak serangan lawan dan melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya.

Melihat pertempuran-pertempuran itu, terutama pertempuran antara Cin Hai dengan Hai Kong Hosiang, Pangeran Vayami merasa kagum sekali. Pangeran muda ini berdiri di depan pintu kamarnya dan menonton dengan mata berseri.

Ia kagum sekali melihat permainan silat Cin Hai karena ia maklum bahwa terhadap Hai Kong Hosiang, pemuda ini hanya kalah pengalaman dan kalah senjata saja. Akan tetapi betapa herannya ketika ia melihat bahwa pemuda itu makin lama makin hebat permainan silatnya dan beberapa kali gerakan pemuda itu berubah-ubah.

Memang untuk mengacaukan permainan lawannya yang tangguh, Cin Hai sudah sengaja mencampur permainan silatnya dengan ilmu silat lain. Kadang-kadang dia mengeluarkan jurus Liong-san Kiam-hoat, lalu Ngo-lian-kiam-hoat, bahkan kadang kala ia mengimbangi permainan ilmu tongkat Hai Kong Hosiang, yaitu yang berdasarkan Jian-coa Kiam-sut atau Ilmu Pedang Seribu Ular.

Hai Kong Hosiang tercengang dan heran sekali sehingga dia menunda serangannya dan membentak, “Bangsat dan maling rendah! Dari mana kau curi ilmu pedangku?”

“Ha-ha, gundul tua berbatin kotor! Siapa sudi mencuri ilmu pedangmu yang tak berguna? Lihatlah, aku mempunyai ilmu pedang yang menjadi nenek moyang ilmu pedangmu itu!” Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu menyerang dengan pedangnya.

Hai Kong Hosiang hampir berseru karena heran dan terkejut, karena Cin Hai benar-benar menyerangnya dengan Ilmu Pedang Jian-coa Kiam-sut, akan tetapi jauh lebih sempurna. Padahal sesungguhnya Cin Hai hanya meniru-niru serangan Hai Kong tadi, hanya saja karena dia telah dapat memecahkan rahasia dasar ilmu silat yang telah dimainkan itu, dia dapat mencari pula ciri-cirinya dan dapat pula memperbaikinya. Tentu saja gerakannya ini belum matang karena tak pernah dilatih, akan tetapi cukup membuat Hai Kong Hosiang terkejut dan jeri.

Tidak disangkanya bahwa pemuda ini demikian hebat kepandaiannya. Kehebatan meniru ilmu-ilmu silat ini mengingatkan ia akan Bu Pun Su karena pernah pula ia dipermainkan oleh jembel tua itu, maka tentu saja ia menjadi khawatir dan jeri. Namun, karena melihat bahwa Cin Hai hanya seorang pemuda yang baru dewasa, dia memperkuat hatinya dan sambil membentak keras ia menyerang lagi.

Kini tangan kirinya mencabut keluar sebatang sabuk ular yang penuh racun. Jangankan sampai terpukul oleh sabuk ini, bahkan baru keserempet sedikit saja, maka racun ular yang mengenai kulit dapat menimbulkan rasa gatal yang hebat dan cepat sekali racun itu dapat meresap ke dalam daging kemudian meracuni darah hingga membahayakan jiwa lawannya.

Baru saja sabuk ular itu tercabut keluar, Cin Hai sudah mencium bau yang sangat amis, maka tahulah dia akan bahaya dan lihainya senjata istimewa ini. Dia lalu menggunakan tangan kirinya mencabut keluar sulingnya. Untuk mengimbangi lawan, dia menggunakan dua macam senjata pula, di tangan kanan pedang Liong-coan-kiam, di tangan kiri suling bambunya!

Melihat suling ini, Hai Kong Hosiang menjadi marah karena ia teringat akan peristiwa dulu ketika Cin Hai masih kecil dan dengan suling bambunya telah menggagalkannya untuk mengalahkan Kanglam Sam-lojin, bahkan yang mengakibatkan matinya kelima ularnya karena Bu Pun Su menjatuhkan tangan kejam! Maka ia lalu menyerang sambil berteriak,

“Anak setan, kali ini kalau belum menghancurkan kepalamu, aku takkan puas!”

Melihat kemarahan Hai Kong Hosiang ini, diam-diam Cin Hai merasa amat girang dan ia melayani serbuan hwesio itu dengan tenang, akan tetapi kegesitan dan kehebatan ilmu pedangnya yang dicampur dengan gerakan sulingnya tak dikurangi kecepatannya. Kedua orang ini bertempur mati-matian hingga bayangan dua orang ini tak tampak lagi, tertutup oleh sinar senjata masing-masing.

Sementara itu, Kwee An yang mengamuk dengan Kim-san Kiam-hoatnya telah berhasil merobohkan dua orang pengeroyoknya hingga Pangeran Vayami menjadi terkejut sekali. Pangeran yang cerdik ini maklum bahwa dua anak muda yang sedang mengacau di atas perahunya adalah orang-orang tangguh dan apa bila dilawan terus akan membahayakan keselamatannya. Maka ia lalu memberi aba-aba dalam bahasa Mongol.

Beberapa orang pelayan yang berkepandaian rendah dan karenanya tidak berani turut membantu lalu menurunkan dua buah perahu kecil ke atas air. Vayami lalu menyalakan api dan membakar layar yang tergantung ke bawah sehingga sebentar saja api menyala hebat di atas perahu itu. Dia lalu melompat dan hendak turun ke dalam perahu-perahu kecil yang telah dilepas ke atas air.

Akan tetapi, melihat kecurangan pangeran ini, Kwee An cepat meninggalkan ketiga orang pengeroyoknya dan ia mengejar pangeran itu sambil berteriak.

“Jangan kau berlaku curang!”

Akan tetapi, ketika ia telah tiba di depan pangeran itu, tiba-tiba Vayami menyerangnya dengan obor yang masih menyala. Kwee An terkejut karena serangan ini hebat juga dan dilayangkan ke arah pakaiannya. Cepat-cepat ia mengelak dan tahu-tahu obor di tangan Vayami yang lihai itu telah diserangkan pula ke arah mukanya!

Kwee An miringkan kepala dan selagi dia hendak membalas menyerang, tahu-tahu kaki Vayami telah berhasil menendang lututnya. Biar pun dia dapat miringkan kakinya hingga yang tertendang hanya di atas lututnya dan karena dia mengerahkan tenaga dalamnya maka pahanya tidak sampai terluka, akan tetapi karena tendangan itu keras, dan juga karena mereka berdiri di pinggir perahu, maka tak ampun lagi tubuh Kwee An terpelanting keluar perahu dan jatuh tercebur ke dalam air!

Cin Hai terkejut sekali. Akan tetapi ia tidak berdaya menolong karena Hai Kong Hosiang mendesaknya dengan hebat. Ia melihat betapa semua pengikut Vayami dan pangeran itu sendiri melompat ke dalam perahu-perahu kecil dan terdengar Vayami berseru,

“Hai Kong Bengyu, lekas kau melompat ke sini!”

Akan tetapi Hai Kong Hosiang mana dapat meninggalkan Cin Hai begitu saja. Anak muda ini maklum bahwa jika hwesio itu dapat melompat ke dalam perahu, maka selain musuh besar ini tidak dapat dirobohkan, juga dirinya berada dalam keadaan bahaya. Api di atas perahu telah mulai membesar dan bahkan kini sudah memakan tiang besar di tengah perahu!

Oleh karena ini, maka Cin Hai mengambil keputusan nekad dan menyerang mati-matian sehingga hwesio itu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk lari. Terpaksa Hai Kong Hosiang mengertak gigi dan melayani dengan sama sengitnya.

Masih terdengar beberapa kali suara Vayami memanggil Hai Kong Hosiang. Akan tetapi karena hwesio itu tak dapat ikut pergi, terpaksa Vayami dan orang-orangnya mendayung perahu mereka melawan arus yang besar dan kuat karena perahu besar di mana Cin Hai dan Hai Kong Hosiang bertempur mati-matian itu sudah hanyut ke tengah dan telah tiba di tempat yang airnya mengalir kencang.