Jaringan Hitam

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

JARINGAN HITAM

SATU
DERU angin senja di Puncak Gunung Caringin begitu kencang, seakan-akan hendak meruntuhkan puncak yang terselimut kabut tebal. Daun-daun kering berguguran terhempas sapuan angin kencang. Beberapa pohon kecil mulai bertumbangan, dan batu-batu kerikil berhamburan. Semuanya diterjang kuatnya tiupan angin kencang yang membawa udara dingin menggigilkan tulang. Juga, membawa awan tebal menghitam, bergulung-gulung menutupi sinar matahari senja.

Namun segala yang terjadi di Puncak Gunung Caringin ini, sama sekali tidak mengusik seorang pemuda berwajah cukup tampan yang berdiri tegak di atas sebongkah batu hitam berlumut tebal. Pandangan pemuda berbaju putih ketat itu lurus tak berkedip. Sinar matanya begitu kosong dan jauh, menembus gulungan ombak yang berada di bawah tebing yang dipijaknya.

Ketampanan wajahnya terusik oleh mendung yang menggantung menyelimuti. Entah apa yang mengganggu pikiran anak muda itu. Rambutnya yang panjang terikat pita putih, hanya tergerai melambai-melambai dipermainkan angin. Tubuhnya terlihat tegak, terbungkus baju ketat berwarna putih. Belahan baju pada bagian dada cukup lebar, menampakkan bentuk dada yang bidang, tegap dan berotot

Entah sudah berapa lama dia berdiri mematung di atas batu karang itu, dan sedikit pun tidak bergeming. Perhatiannya begitu tajam, tertuju langsung pada ombak yang bergulung-gulung tak ada habisnya. Perhatiannya begitu penuh pada lautan, sampai-sampai tidak menyadari kalau ada seseorang mendekatinya dari arah belakang.

Orang tua berjubah kuning gading dan berkepala gundul, berhenti tepat di belakang pemuda tampan berbaju putih ketat ini. Kepalanya bergerak menggeleng perlahan. Ujung-ujung jarinya terus bergerak lincah, seperti menghitung butiran tasbih yang terbuat dari batu hitam berkilat.

“Ehm-ehm...!”

“Oh...?!”

Pemuda berbaju putih ketat itu terkejut ketika mendengar suara batuk kecil di belakangnya. Dia cepat berbalik, lalu menarik napas panjang begitu melihat ada seorang laki-laki gundul berjubah kuning di tempat ini.

“Paman Pendeta Pohaji...,” desah pemuda berbaju putih ketat itu, mengenali laki-laki tua gundul berjubah kuning di depannya. Bergegas pemuda itu melompat turun dari batu.

Dia hendak berlutut, tapi laki-laki tua yang dikenalinya sebagai Pendeta Pohaji itu cepat mencegah. Pemuda berbaju putih itu tidak jadi berlutut, dan hanya menundukkan kepala saja. Dia seakan-akan tidak sanggup memandang sorot mata pendeta tua di depannya ini

“Sudah tiga hari ini kau tidak berlatih, Sangkala. Dan kuperhatikan, kau selalu menyendiri, memandang ke tengah laut. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan...?” terasa lembut suara Pendeta Pohaji.

“Tidak ada apa-apa, Paman. Aku hanya senang saja memandangi burung camar yang begitu bebas bergembira di alam yang indah ini. Aku suka mendengarkan deburan ombak memecah batu karang. Begitu merdu, bagaikan nyanyian sang Dewi,” sahut pemuda yang dipanggil Sangkala.

Pendeta Pohaji tersenyum. Laki-laki tua gundul itu tahu kalau Sangkala menyimpan sesuatu. Dan jawaban tadi, hanya untuk menutupi hal yang sebenarnya saja. Kemudian digamitnya bahu Sangkala dan diajaknya melangkah. Mereka berjalan perlahan-lahan menuruni Puncak Gunung Caringin ini. Untuk beberapa saat lamanya tidak ada yang berbicara.

Hingga sampai di kaki lereng gunung ini, masih juga belum ada yang membuka suara. Dan ayunan kaki mereka terus bergerak perlahan menuju pantai yang berada tepat di bawah kaki Gunung Caringin ini. Mereka terus berjalan ke pantai yang landai berpasir putih, sampai lidah ombak menjilati kaki. Dan kedua laki-laki itu terus berjalan bersisian.

“Aku tahu, kau pasti menyembunyikan sesuatu, Sangkala. Mungkin berat bagimu untuk mengatakannya pada orang lain. Tapi segala persoalan harus terpecahkan. Dan kau pasti membutuhkan seseorang yang dapat membantu memecahkan persoalan yang sedang kau hadapi,” kata Pendeta Pohaji lembut, membuka percakapan kembali.

“Aku tidak memiliki persoalan apa-apa, Paman,” kilah Sangkala agak mendesah perlahan.

“Aku dulu juga pernah muda sepertimu, Sangkala. Kau tidak bisa menyembunyikan perasaan hatimu padaku,” nada suara Pendeta Pohaji terdengar mendesak.

Sangkala diam saja. Beberapa kali ditariknya napas panjang dan dihembuskannya kuat-kuat Seakan-akan begitu berat untuk mengungkapkan semua ganjalan hatinya. Memang diakui kalau pengamatan Pendeta Pohaji tidak meleset sedikit pun. Pemuda itu memang memiliki persoalan yang sulit dipecahkan. Apalagi harus menceritakannya pada orang lain, meskipun yang meminta adalah gurunya sendiri, yang juga pamannya.

“Baiklah, jika merasa keberatan. Aku tidak akan menanyakan lagi,” ujar Pendeta Pohaji.

“Maafkan aku, Paman,” ucap Sangkala pelan.

Pendeta Pohaji hanya tersenyum saja. Ditepuknya lembut pundak pemuda itu, penuh kasih sayang. Kembali mereka terdiam untuk beberapa saat lamanya.

“Sangkala! Apa kau sudah menamatkan ajian terakhir yang kuberikan?” tanya Pendeta Pohaji, mengalihkan pembicaraan.

“Sudah, Paman,” sahut Sangkala.

“Bagus Kalau begitu, malam ini aku akan mengujimu. Aku ingin tahu, sampai di mana kau menguasai aji 'Petak Jiwa'.”

“Nanti malam, Paman...?!” Sangkala tampak terkejut

“Kenapa? Belum siap...?”

“Siap, Paman,” sahut Sangkala, bernada ragu-ragu.

“Aku tunggu kau tepat tengah malam di sini.”

Setelah berkata demikian, Pendeta Pohaji berjalan cepat mendahului Sangkala. Sedangkan pemuda berbaju putih itu menghentikan ayunan kakinya. Dipandanginya laki-laki tua gundul yang semakin jauh di depannya.

“Hhh.... Seharusnya tadi aku menolak. Pendeta Pohaji pasti kecewa,” desah Sangkala perlahan.
Pendekar Rajawali Sakti
Sangkala baru mengayunkan kaki kembali setelah Pendeta Pohaji tidak terlihat lagi. Ayunan kakinya begitu perlahan. Sedangkan kepalanya tertunduk dalam, memandangi ujung jari kaki yang bergerak teratur menyusuri tepian pantai ini. Tapi baru beberapa depa berjalan, mendadak saja berkelebat sebuah bayangan biru.

“He...! Sangkala tersentak kaget, dan langsung berhenti melangkah. Belum lagi hilang rasa keterkejutannya, tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang perempuan muda yang cantik. Tubuhnya ramping, dengan lekuk-lekuk indah terbalut baju biru terang yang ketat dan agak tipis.

“Mintarsih...,” desis Sangkala mengenali wanita cantik di depannya.

Wanita cantik berbaju biru yang dipanggil Mintarsih itu tersenyum manis. Begitu manis dan memikat senyumnya, membuat Sangkala jadi menelan ludah. Entah kenapa, mendadak saja tenggorokan pemuda ini jadi kering.

“Sudah tiga hari aku menunggumu, Sangkala. Apa sudah mengambil keputusan...?” terdengar halus dan lembut suara Mintarsih.

“Aku.., aku tidak bisa memutuskannya,” sahut Sangkala agak tergagap

“Kenapa...?” tanya Mintarsih agak terkejut mendengar jawaban itu

“Aku tidak mungkin meninggalkan Pendeta Pohaji. Aku bukan lagi seperti kemenakannya, tapi Pendeta Pohaji malah sudah menganggapku seperti anaknya sendiri”

“Kenapa kau begitu berat meninggalkannya hanya untuk beberapa hari saja, Sangkala? Lagi pula, kalau kau memberi alasan tepat, Pendeta Pohaji pasti mengizinkanmu keluar dari Karang Setra.”

Sangkala hanya diam saja.

“Alasanmu tidak tepat, Sangkala. Apa sebenarnya yang membuatmu begitu berat meninggalkan Karang Setra? Ini kesempatan baik, Sangkala. Aku sudah tahu, di mana Pendekar Rajawali Sakti sekarang berada. Jadi, tidak pertu repot-repot lagi mencarinya. Setelah semuanya selesai, kau bisa kembali lagi ke sini,” bujuk Mintarsih.

“Kenapa tidak kau saja, Mintarsih?” tanya Sangkala, tetap pelan suaranya.

“Aku membutuhkan teman.”

“Tapi, kenapa harus aku?”

“Karena alasan kita sama, Sangkala. Dan kita bisa bekerja sama. Aku yakin, ilmu-ilmu yang kau dapatkan dari Pendeta Pohaji bisa diandalkan. Terlebih lagi aji 'Petak Jiwa' yang sudah kau kuasai, Sangkala,” lagi-lagi Mintarsih membujuk.

“Aku belum sempurna menguasai aji 'Petak Jiwa', Mintarsih. Masih terlalu banyak kekurangannya,” Sangkala mencoba berkilah.

“Kau hanya merendah saja, Sangkala.”

“Ah! Sudahlah, Mintarsih. Beri aku sedikit waktu lagi untuk berpikir,” desah Sangkala.

“Waktunya sangat mendesak, Sangkala.”

“Kau datang saja ke sini besok.”

“Kenapa tidak sekarang saja, Sangkala?” desak Mintarsih.

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Sudahlah, Mintarsih. Besok kau baru bisa mendengar keputusanku.”

“Baiklah kalau begitu,” Mintarsih mengalah.

“Besok siang aku akan datang lagi ke sini.”

Setelah berkata demikian, Mintarsih langsung melesat pergi. Begitu cepatnya gerakan gadis berbaju biru itu, hingga dalam sekejap mata saja sudah lenyap tak terlihat lagi. Sangkala menghembuskan napas panjang, lalu kembali mengayunkan kaki meninggalkan pantai ini.

********************

Malam ini udara di sekitar pantai begitu dingin. Angin berhembus kencang, menciptakan deburan ombak yang semakin keras menghantam karang. Di bawah siraman cahaya bulan, tampak dua orang laki-laki berdiri saling berhadapan. Mereka adalah Pendeta Pohaji dan Sangkala. Saat ini, memang sudah lewat tengah malam. Tak ada orang lain lagi yang terlihat di sekitar pantai ini, kecuali mereka berdua saja. Mereka seperti tidak mempedulikan hembusan angin kencang yang menyebarkan udara dingin membekukan tulang.

“Kau sudah siap, Sangkala...?” tanya Pendeta

Pohaji membuka suara lebih dahulu.

“Siap,” sahut Sangkala.

“Bagus...! Yeaaah...!”

Mendadak saja Pendeta Pohaji melompat cepat bagai kilat menerjang Sangkala. Akibatnya pemuda itu sejenak terperangah. Namun dia cepat melompat ke samping sambil menarik tubuhnya miring ke kanan. Maka terjangan Pendeta Pohaji lewat sedikit di depan dada pemuda itu. Pendeta Pohaji berdiri tegak. Matanya menyorot tajam, dan bibirnya terkatup rapat. Sangkala cepat merundukkan kepala, tidak sanggup menerima tatapan mata yang begitu tajam menusuk

“Cara menghindarmu jelek sekali, Sangkala. Lawan bisa mudah memasukkan pukulan. Dadamu terlalu kosong, sama sekali tidak terlindungi,” ujar Pendeta Pohaji tajam.

“Maaf, Paman,” ucap Sangkala.

“Kau harus bersungguh-sungguh, Sangkala.”

Belum juga Sangkala menjawab, Pendeta Pohaji sudah menerjang kembali, mengeluarkan jurus yang cepat luar biasa. Sangkala masih kelabakan sejenak, tapi cepat bisa menguasai keadaan setelah satu pukulan mendarat telak di dadanya. Untung saja pukulan itu tidak mengandung tenaga dalam, sehingga Sangkala tidak merasakan sakit sedikit pun juga.

“Jangan membuatku kecewa, Sangkala...! Hiyaaat..!”

“Hup”

Sangkala cepat melentingkan tubuhnya ke udara, lalu berputar dua kali sebelum menjejakkan kaki di pasir pantai. Namun baru saja hendak bersiap, sudah datang lagi serangan cepat. Sangkala cepat memiringkan tubuh ke kiri, menghindari tendangan Pendeta Pohaji. Namun ketika Pendeta Pohaji melepaskan tendangan berputar, Sangkala tidak dapat lagi berkelit. Maka tendangan yang cukup keras itu, tepat menghantam dada pemuda itu.

Des!

“Akh…!” Sangkala terpekik agak tertahan.

Pemuda berbaju putih itu terjengkang jatuh duduk. Sementara Pendeta Pohaji berdiri tegak. Baru dua jurus, tapi Sangkala sudah dua kali menerima pukulan pada dadanya. Dan tendangan yang terakhir tadi, membuat dadanya sedikit terasa sesak.

“Bangun!” bentak Pendeta Pohaji.

Sambil meringis, Sangkala beranjak bangkit ber-diri. Sebentar dia mengatur jalan napasnya yang agak sedikit tertahan, akibat tendangan laki-laki tua gundul ini.

“Kau benar-benar membuatku kecewa, Sangkala,” ujar Pendeta Pohaji.

“Maafkan aku, Paman. Perhatianku sedang terpecah,” sahut Sangkala beralasan.

“Aku beri kau lima jurus. Namun bila tidak bisa bertahan, jangan harap aku memberi izin ke kota di akhir pekan ini.”

“Aku akan bersungguh-sungguh, Paman,” janji Sangkala.

Bet!

Sangkala cepat mengebutkan tangan ke depan, lalu perlahan ditarik kembali hingga sejajar dada. Dan setelah menghembuskan napas panjang, mendadak saja pemuda tampan berbaju putih itu melompat menerjang Pendeta Pohaji sambil melemparkan beberapa pukulan beruntun.

“Hup! Yeaaah....!”

Tapi Pendeta Pohaji bukanlah orang sembarangan. Dengan mudah sekali, dia bisa menghindari serangan beruntun yang dilancarkan muridnya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Tanpa terasa, Sangkala sudah melewati lima jurus yang dijanjikan Pendeta Pohaji. Namun dari semua jurus andalan yang dikerahkan, tapi tidak ada satu pun yang mengenai sasaran. Hingga akhirnya....

“Tahan...! Yeaaah...!” seru Pendeta Pohaji tiba-tiba.

Manis sekali gerakan Pendeta Pohaji saat melenting ke belakang, keluar dari pertempuran latihannya. Sangkala juga segera menghentikan serangan. Dia langsung berlutut, memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung. Sementara, kepalanya tertunduk dalam.

Pendeta Pohaji menghampiri dengan ayunan langkah ringan, bagai tak menyentuh tanah pantai berpasir putih. Tatapan matanya begitu tajam, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sepertinya, pemuda yang berlutut di depannya ini bukan Sangkala, murid kesayangannya yang sudah memiliki jurus-jurus andalan dahsyat dari ilmu tingkat tinggi.

“Aku tidak tahu, apa sebenarnya yang sedang kau hadapi, Sangkala. Jurus-jurus yang kau mainkan tadi, begitu mentah dan tidak berbobot sama sekali. Aku yakin, kau pasti belum mempelajari aji 'Petak Jiwa',” dingin sekali nada suara Pendeta Pohaji.

“Maafkan aku, Paman,” ucap Sangkala perlahan.

“Kenapa belakangan ini kau jadi pemalas? Apa yang mengganggu pikiranmu, Sangkala?” tanya Pendeta Pohaji. Kali ini nada suaranya berubah lembut.

Sangkala diam saja. Pemuda itu duduk bersila sambil tetap menundukkan kepala. Seakan-akan dia tidak berani membalas tatapan Pendeta Pohaji yang begitu tajam menusuk sampai ke relung hatinya yang paling dalam.

“Sejak kecil kau sudah ikut bersamaku, Sangkala. Dan selama ini, sekali pun kau belum pernah menyimpan rahasia padaku. Tapi kenapa sekarang begitu lain? Kau tidak lagi menganggapku pamanmu, Sangkala?” Pendeta Pohaji terus mendesak.

Sangkala diam saja. Bahkan tetap tertunduk, menekuri pasir yang putih berkilat tertimpa cahaya bulan. Sementara debur ombak terus terdengar memecah karang. Untuk beberapa saat lamanya, suasana begitu sunyi. Pendeta Pohaji menunggu sabar, namun Sangkala tetap diam membisu.

“Ada persoalan apa sebenarnya, Sangkala?” tanya Pendeta Pohaji tidak sabar.

“Paman...,” pelan sekali suara Sangkala, seakan-akan begitu berat untuk mengeluarkan suara. Perlahan pemuda itu mengangkat kepalanya, tapi tidak berani membalas tatapan mata laki-laki tua berjubah kuning di depannya ini.

“Katakan, apa sebenarnya yang mengganjal hatimu?” desak Pendeta Pohaji lembut.

“Paman tidak marah kalau aku mengatakan sesuatu?” Sangkala malah bertanya.

“Kenapa harus marah?” ujar Pendeta Pohaji.

“Paman...,” kembali ucapan Sangkala terputus. Dan kepala pemuda itu kembali menunduk. Dicobanya untuk mengumpulkan kekuatan agar segala yang ada di relung hatinya bisa diutarakan. Sesuatu yang selama beberapa hari ini selalu membuat pikirannya tidak menentu, hingga tidak bisa memusatkan perhatian pada pelajaran yang diberikan Pendeta Pohaji.

“Sebenarnya aku ingin bertanya pada Paman. Itu pun kalau Paman tidak marah dan bersedia menjawab pertanyaanku,” ujar Sangkala perlahan. Nada suaranya terdengar seperti ragu-ragu.

“Apa pun yang kau tanyakan, pasti akan kujawab. Dan jika ingin mengetahui sesuatu, tentu aku akan memberi tahu sebatas pengetahuanku sendiri,” jawab Pendeta Pohaji lembut.

“Paman, apakah benar Gusti Prabu Rangga itu Pendekar Rajawali Sakti?” tanya Sangkala setelah berpikir agak lama.

“Benar,” sahut Pendeta Pohaji. Laki-laki tua berjubah kuning yang menjadi penasihat Kerajaan Karang Setra itu jadi heran juga mendengar pertanyaan muridnya ini. Tapi keheranannya tidak ingin diungkapkan dulu. Dia ingin agar Sangkala mengutarakan lebih dahulu semua yang menjadi beban pikirannya saat ini.

“Benarkah dia yang membunuh ayahku, Paman?” tanya Sangkala setelah menguatkan diri.

Pendeta Pohaji tersentak kaget mendengar pertanyaan pemuda itu, sehingga tidak langsung menjawab. Dan Sangkala kini menatap wajah laki-laki tua yang berdiri di depannya ini. Tampak jelas dari raut wajah, kalau Pendeta Pohaji begitu terkejut mendengar pertanyaan Sangkala barusan.

Laki-laki tua berjubah kuning gading itu memutar tubuhnya, lalu melangkah perlahan menuju tepian pantai. Pandangannya lurus ke depan. Sementara Sangkala sudah bangkit berdiri. Perlahan kakinya melangkah mengikuti pendeta tua itu yang kini sudah berhenti di garis pantai. Tampak lidah ombak menjilati kaki mereka.

“Maafkan atas pertanyaanku tadi, Paman,” ucap Sangkala.

Pendeta Pohaji tidak berpaling sedikit pun. Dia terus menatap ke tengah laut yang menghitam pekat. Pantulan sinar rembulan, membuat permukaan laut yang selalu bergelombang seperti bertaburkan batu permata yang berkilauan. Tapi di mata Pendeta Pohaji, bagaikan lautan duri yang harus diseberangi. Beberapa kali napasnya dihembuskan, seakan-akan ingin melonggarkan rongga dadanya yang mendadak jadi sesak.

DUA

“Dari mana kau punya pikiran seperti itu, Sangkala?” tanya Pendeta Pohaji tanpa berpaling sedikit pun.

Sangkala tidak menjawab. Pandangannya pun diarahkan ke tengah lautan. Pertanyaan Pendeta Pohaji barusan terasa begitu berat dijawab. Tidak mungkin hal itu diutarakan dengan terus terang, karena sudah berjanji pada Mintarsih untuk tidak memberitahukan pertemuan mereka selama ini pada siapa pun juga. Termasuk Pendeta Pohaji.

“Aku kenal betul Gusti Prabu Rangga. Meskipun, aku baru bertemu dengannya lagi setelah dia menjadi dewasa,” jelas Pendeta Pohaji.

Laki-laki itu terkenang kembali saat pertemuannya dengan Pendekar Rajawati Sakti. Saat itu, Karang Setra belum lagi berbentuk kerajaan, tapi masih merupakan sebuah kadipaten (Baca serial Pendekar Rajawati Sakti dalam kisah, Api di Karang Setra). Sebuah pertemuan yang sangat mengharukan semua orang. Karena selama dua puluh tahun, Rangga Pati Permadi sudah dianggap tewas di Lembah Bangkai.

Peristiwa itu memang sudah lama sekali, tapi masih melekat kuat dalam ingatan Pendeta Pohaji. Saat itu dia memang tidak bisa menentukan, dan tidak ingin berpihak pada siapa saja. Kedudukannya sebagai pendeta dan penasihat keturunan Adipati Karang Setra, membuat Pendeta Pohaji harus berdiri di tengah-tengah. Tidak memihak pada Rangga yang ahli waris tunggal Karang Setra. Juga, tidak memihak pada Wira Permadi, adik tiri Rangga yang sangat bernafsu ingin menguasai Karang Setra. Terlepas, apakah dia tahu kalau jalan yang ditempuh Wira Permadi dapat dibenarkan atau tidak.

Namun Pendeta Pohaji sudah berjanji pada Adipati Karang Setra untuk menjaga dan melindungi keturunannya sampai ajal datang menjemput. Satu persatu janjinya pada Adipati Karang Setra sudah terpenuhi, meskipun dia tidak bisa memenuhi janjinya sendiri pada putra adipati itu sendiri. Dan yang jelas, itu bukan kesalahannya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan musibah datang.

“Paman, benarkah Pendekar Rajawali Sakti yang membunuh ayahku?” tanya Sangkala lagi, agak mendesah.

“Aku tidak bisa menjawabnya, Sangkala,” sahut Pendeta Pohaji pelan.

“Kenapa? Bukankah Paman begitu dekat dengan Pendekar Rajawali Sakti?”

“Rangga, Pendekar Rajawali Sakti, atau Gusti Prabu Karang Setra adalah sama. Dan aku memang salah seorang pejabat yang dipercaya menjadi penasihat istana. Tapi aku dan Gusti Prabu jarang sekali bertemu. Jadi, aku tidak tahu pasti tentang semua itu, Sangkala,” jelas Pendeta Pohaji.

Sangkala tampak kecewa mendengar jawaban laki-laki tua berjubah kuning gading ini. Sebentar dirayapinya wajah tua yang sudah banyak berkeriput Kemudian kedua tangannya dirapatkan di depan hidung. Tanpa berkata-kata lagi, pemuda berbaju putih ketat itu melangkah pergi. Tinggallah Pendeta Pohaji yang masih berdiri mematung memandangi gulungan ombak. Sampai langkah kaki Sangkala tidak terdengar lagi, Pendeta Pohaji masih juga berdiri mematung. Pandangannya lurus tak berkedip menatap lautan bebas, bagai tak bertepi. Namun mendadak saja....

“Hm...,” Pendeta Pohaji menggumam perlahan.

Pendengarannya yang setajam mata pisau, mendengar suara lain dari yang didengarnya. Suara halus yang datang dari arah belakang.

“Hup...!”

Mendadak saja Pendeta Pohaji melenting ke atas, melakukan putaran dua kali. Tepat pada saat itu, berkelebat sebuah bayangan biru yang lewat di bawah kaki Pendeta Pohaji. Setelah melakukan dua kali putaran, laki-laki tua berjubah kuning yang seluruh kepalanya gundul itu mendarat di pasir pantai yang putih dengan manis sekali.

“Siapa kau...?!” bentak Pendeta Pohaji seraya mengamati seseorang yang berdiri membelakanginya.

“Hik hik hik...!” wanita berbaju biru terang itu tertawa terkikik.

Pendeta Pohaji melompat mundur dua tindak. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan pendeta tua berkepala gundul itu sudah berdiri seorang perempuan berwajah cukup cantik. Dia mengenakan baju ketat warna biru. Begitu ketatnya, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya nampak jelas membayang.

“Kau tidak mengenaliku lagi, Pohaji?” lembut sekali nada suara wanita berbaju biru itu.

Pendeta Pohaji nampak tersentak. Kembali diamatinya wajah dan seluruh tubuh wanita cantik di depannya. Kepala yang gundul tanpa sehelai rambut, terlihat bergerak menggeleng perlahan. Pandangan matanya seperti tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.

“Mustahil...,” desis Pendeta Pohaji sambil menggelengkan kepala perlahan beberapa kali.

“Zaman bisa berubah dan waktu pun terus berputar, Pohaji. Tapi jangan lupa, kalau kepandaian manusia pun semakin meningkat,” kata wanita berbaju biru itu lagi.

“Bagaimana mungkin kau bisa tetap muda, Mintarsih?” tanya Pendeta Pohaji, masih tidak percaya dengan apa yang disaksikannya kini.

Wanita cantik yang mengenakan baju biru itu hanya tertawa saja. Tawanya begitu lembut terdengar di telinga, namun juga mengandung suatu daya rangsang tersendiri yang sangat menyentuh kejantanan seorang laki-laki. Dan itu terasa sekali, sehingga Pendeta Pohaji terpaksa harus mengerahkan kekuatan dengan menutup sebagian aliran darah yang menuju kejantanannya.

Laki-laki tua berkepala gundul itu seketika menyadari kalau suara yang dikeluarkan Mintarsih mengandung suatu ilmu langka yang dapat melemahkan hati siapa saja yang mendengarnya. Dan kalau hati seseorang sudah melemah, wanita ini dapat dengan mudah memperdayai. Apa pun yang dikatakan akan dituruti tanpa disadari.

“Aku akui, aji 'Lemah Atma' yang kau miliki mengalami kemajuan pesat. Tapi belum cukup untuk melemahkan hatiku, Mintarsih,” kata Pendeta Pohaji dingin.

“Rupanya kau masih juga bisa merasakan ilmuku, Pohaji. Hebat...! Kau masih juga dapat bertahan, tidak seperti muridmu. Hi hi hi...!”

“Apa maksudmu, Mintarsih?”

Mintarsih hanya tertawa saja, namun mendadak saja mengebutkan tangan kanannya ke depan. Seketika itu juga, dari telapak tangan wanita itu melesat secercah cahaya keemasan yang meluruk deras ke arah Pendeta Pohaji. Sejenak Pendeta Pohaji terperangah, namun cepat mengegoskan tubuh ke kanan untuk menghindari serangan mendadak yang dilakukan wanita cantik itu.

Maka cahaya kuning keemasan itu lewat sedikit di samping tubuh Pendeta Pohaji. Namun sebelum laki-laki tua itu bisa menarik kembali kedudukan tubuhnya, kembali Mintarsih menyerang lebih cepat dan dahsyat. Wanita itu melesat cepat bagaikan kilat, disertai lontaran dua pukulan bertenaga dalam tinggi sekali.

“Hiyaaat..!”

“Uts!”

Pendeta Pohaji terpaksa melentingkan tubuh ke udara. Dia melakukan putaran dua kali di udara, sebelum menjejak tanah berpasir, sekitar dua batang tombak jauhnya dari Mintarsih.

“Tunggu...!” sentak Pendeta Pohaji begitu melihat Mintarsih hendak melakukan serangan kembali.

Mintarsih langsung mengurungkan serangannya.

“Apa maksudmu dengan semua ini, Mintarsih?” tanya Pendeta Pohaji.

“Kau sudah tahu keinginanku, Pohaji. Dan hanya kaulah penghalang utamaku! Maka kau harus mampus lebih dahulu...!” sahutan Mintarsih begitu dingin dan datar suaranya.

“Aku tidak tahu, apa keinginanmu,” sahut Pendeta Pohaji.

“Keparat...! Sejak dulu kau selalu saja berpura pura. Dasar penjilat..!” geram Mintarsih.

Wanita cantik berbaju biru itu kembali bersiap melakukan serangan. Wajahnya tampak memerah bagai saga. Sinar matanya berkilatan tajam, menusuk langsung bola mata Pendeta Pohaji. Perlahan-lahan kedua tangannya ditarik hingga sejajar dada. Sedangkan kedua kakinya terpentang lebar ke samping.

“Hm...,” Pendeta Pohaji bergumam perlahan melihat Mintarsih sudah bersiap hendak melakukan serangan.

Semua yang dipersiapkan wanita itu sudah tidak asing lagi bagi Pendeta Pohaji. Hanya saja dia tidak tahu sampai di mana kemajuan jurus-jurus yang dimiliki wanita cantik ini. Dan laki-laki gundul itu tidak ingin menganggap remeh. Pendeta Pohaji tahu kalau Mintarsih bukanlah wanita yang bisa dianggap enteng ilmu-ilmunya. Mereka satu sama lain kenal sudah lama. Bukan setahun atau dua tahun, tapi puluhan tahun. Dan masing-masing sudah mengenal watak dan kemampuannya. Hanya saja, Pendeta Pohaji masih belum mengerti, kenapa Mintarsih masih juga kelihatan muda dan cantik seperti seorang gadis belia saja.

Sedangkan dia sendiri sudah begitu tua, keriput, dan tinggal menunggu ajal saja. Padahal kalau diukur usia, tentu hanya terpaut dua tahun saja. Inilah yang belum bisa dimengerti laki-laki tua berkepala gundul itu. Sementara Mintarsih sudah bersiap hendak melakukan serangan. Kakinya sudah digeser ke kanan beberapa tindak.

“Tahan seranganku, Pohaji! Hiyaaat..!”

“Yeaaah...!”

Pendeta Pohaji langsung melentingkan tubuh ke angkasa, begitu Mintarsih melompat menyerang. Satu benturan keras di udara tak dapat dihindari lagi. Dua pasang telapak tangan beradu keras, hingga menimbulkan ledakan dahsyat menggelegar. Begitu kerasnya dua kekuatan tenaga dalam itu beradu, sehingga mereka sama-sama terpental jatuh keras sekali.

Namun mereka masih dapat menguasai diri, sehingga jatuh tepat dengan kedua kaki tegar. Mintarsih langsung bersiap hendak melakukan serangan kembali. Sedangkan Pendeta Pohaji tampak sedikit bergetar tubuhnya. Tampak darah menetes keluar dari sudut bibirnya.

“Hhh! Ilmu perempuan ini benar-benar maju pesat!” desis Pendeta Pohaji dalam hati.

Dengan punggung tangannya, pendeta tua itu menyeka darah yang menetes di sudut bibir. Hampir sulit dipercaya kalau Mintarsih masih tetap tegar, tanpa kurang suatu apa pun juga. Terlebih lagi, wanita itu kini sudah kembali siap hendak menyerang lagi.

“Kau orang pertama yang harus mampus di tanganku, Pohaji. Bersiaplah...! Hiyaaat...!”

Mintarsih kembali meluruk deras menerjang Pendeta Pohaji. Kedua tangannya merentang lurus ke depan dengan jari-jari tangan terkembang lebar agak tertekuk ke depan. Tampak jelas kalau ujung jari tangan perempuan itu berwarna merah bagai terbakar.

“Hap!”

Pendeta Pohaji cepat melompat ke samping dua tindak. Seketika tubuhnya ditarik miring ke kanan, hingga doyong seperti pohon yang hampir tumbang. Maka tangan Mintarsih lewat sedikit di samping tubuh laki-laki tua berkepala gundul itu. Namun tanpa diduga sama sekali, wanita cantik berbaju biru itu cepat melepaskan satu pukulan menggeledek, mengarah ke dada.

“Ih...!” Pendeta Pohaji terkejut bukan main. Bergegas tubuhnya melompat ke atas sejauh satu batang tombak. Tapi belum juga siap, Mintarsih sudah kembali menyerang cepat bagai kilat. Terpaksa Pendeta Pohaji melakukan salto ke udara. Dia berputaran beberapa kali, melewati kepala wanita itu. Lalu, dengan manis sekali kakinya mendarat di belakang Mintarsih.

“Yeaaah...!”

Begitu kakinya menjejak tanah, Pendeta Pohaji langsung memberi satu gedoran keras bertenaga dalam penuh ke arah punggung wanita itu.

“Hait..!”

Hanya sedikit saja Mintarsih memiringkan tubuh ke kiri, sehingga gedoran Pendeta Pohaji dapat dielak kan. Cepat wanita itu memutar tubuh seraya memberi satu tendangan berputar, lurus mengarah ke dada. Cara mengelak yang langsung diikuti serangan berputar begitu cepat, membuat Pendeta Pohaji terbeliak tidak menyangka.

Laki-laki tua itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena tubuhnya sendiri menjorok ke depan. Dan dia tidak sempat lagi menarik tangannya yang merentang lurus ke depan. Akibatnya sepakan kaki Mintarsih tepat menghantam dada pendeta tua itu.

Des!

“Akh...!” Pendeta Pohaji memekik agak tertahan.

Tubuh tua berjubah kuning gading itu terdorong keras ke belakang sejauh dua batang tombak. Sebentar Pendeta Pohaji terhuyung-huyung sambil memegangi dadanya yang terhantam tendangan berputar Mintarsih tadi. Setelah bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, dia cepat melakukan gerakan-gerakan ringan untuk mengatur pernapasan yang mendadak sesak.

“Huh!” Pendeta Pohaji mendengus keras, membuang napasnya untuk melonggarkan dada.

“Kau sudah terlalu tua, Pohaji. Gerakanmu lamban sekali,” ejek Mintarsih sambil tersenyum sinis.

“Hm.... Kau pun sudah tua, Mintarsih,” balas Pendeta Pohaji tidak kalah dinginnya.

“Ha ha ha...! Apa matamu sudah buta, Pohaji? Seorang pangeran pun akan terpikat oleh wajahku.”

“Orang lain boleh kau kelabui. Tapi, mata tuaku ini tidak bisa kau bodohi. Di balik kecantikanmu, kau adalah seorang nenek tua yang keriput!”

“Setan...! Hanya kau yang tahu siapa aku sebenarnya, Pohaji. Maka kau harus mampus! Hiyaaat..!”

Kata-kata Pendeta Pohaji yang terakhir, benar-benar membuat Mintarsih berang setengah mati. Kembali tubuhnya melompat menyerang Pendeta Pohaji. Namun kali ini, laki-laki tua berjubah kuning itu sudah siap menghadapinya. Dia tidak sudi lagi bermain-main, karena sudah menyadari kalau kepandaian Mintarsih kini jauh lebih tinggi dari yang pernah diketahui.

Pertarungan di tepi pantai itu pun kembali berlangsung sengit sekali. Masing-masing berusaha menjatuhkan. Jurus-jurus maut tingkat tinggi yang mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi, membuat pasir di tepi pantai itu bertebaran ke udara. Setiap kali pukulan yang dilontarkan, selalu mengandung dorongan angin kuat sekali. Bahkan beberapa batu karang yang terkena pukulan nyasar pun hancur berkeping-keping.

Sementara malam terus merambat semakin larut mendekati fajar. Namun pertarungan masih terus berlangsung sengit sekali. Dari jalannya pertarungan, tampak jelas kalau Mintarsih begitu bernafsu hendak menjatuhkan Pendeta Pohaji. Jurusnya selalu berganti cepat, begitu serangannya gagal. Kemudian dia langsung membuat serangan baru yang lebih dahsyat. Hal ini membuat Pendeta Pohaji kelihatan agak kewalahan menghadapi. Beberapa kali pukulan Mintarsih yang mengandung tenaga dalam tinggi hampir menghantam pendeta tua itu. Tapi sampai pertarungan lewat dari dua puluh jurus, belum ada yang terdesak. Hingga pada satu saat, tepat memasuki jurus yang ketiga puluh, mendadak saja....

“Awas kepala...!”

“Heh...?!”

Pendeta Pohaji tersentak kaget begitu tiba-tiba Mintarsih berteriak nyaring memperingatinya. Cepat kepalanya dirundukkan, tanpa melihat lebih dahulu. Namun rupanya seruan Mintarsih tadi hanya tipuan saja. Tepat ketika Pendeta Pohaji merundukkan kepalanya, mendadak saja Mintarsih memberi satu pukulan keras ke arah dada laki-laki tua itu.

Serangan yang dilakukan Mintarsih memang sungguh dahsyat dan tidak terduga. Memang, Pendeta Pohaji tadi menyangka kalau wanita ini akan menyerang bagian kepala. Dan sama sekali tidak disangka kalau itu merupakan tipuan untuk membuka daerah kosong.

Diegkh...!

“Akh...!” Pendeta Pohaji menjerit keras.

Pukulan yang dilepaskan Mintarsih tepat menghantam dada laki-laki tua berjubah kuning gading itu. Begitu kerasnya, sehingga membuat Pendeta Pohaji terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Sebongkah batu karang yang cukup besar hancur berkeping-keping begitu terlanda tubuh tua berjubah kuning gading itu.

“Hoek...!”

Pendeta Pohaji memuntahkan darah kental agak kehitaman. Dia mencoba bangkit berdiri. Namun belum juga sempurna berdirinya, mendadak saja satu serangan kembali datang.

“Hiyaaat..!”

Pendeta Pohaji hanya bisa terperangah saja. Tidak ada lagi kesempatan untuk menghindari serangan itu. Cepat Pendeta Pohaji menghentakkan kedua tangannya ke depan, menyambut serangan yang dilakukan Mintarsih. Tak dapat dielakkan lagi. Dua pasang telapak tangan yang terbuka lebar, seketika beradu keras hingga menimbulkan ledakan dahsyat luar biasa.

Glarrr...!

“Akh...!” lagi-lagi Pendeta Pohaji memekik keras agak tertahan.

Untuk kedua kalinya tubuh tua berjubah kuning gading itu terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Beberapa kali dia bergulingan di atas pasir yang dingin membekukan. Darah semakin banyak keluar dari mulutnya. Setelah menyemburkan darah agak kehitaman, Pendeta Pohaji berusaha bangkit berdiri. Dan belum lagi laki-laki tua berjubah kuning itu bisa berdiri tegak, Mintarsih sudah kembali melompat seraya melontarkan dua pukulan keras bertenaga dalam tinggi secara beruntun. Begitu cepatnya serangan yang dilakukan, sehingga Pendeta Pohaji tidak sempat lagi menghindar. Dan…

“Yeaaah....!”
Dieghk!
Prak!

“Aaa...!” Satu jeritan panjang melengking tinggi terdengar hampir bersamaan dengan terdengarnya suara tulang yang berderak patah, tepat ketika kedua telapak tangan Mintarsih mengepruk kepala gundul itu.

“Hih!”

Dengan tangan masih berada di kepala Pendeta Pohaji, Mintarsih menggenjot tubuhnya. Maka, kini kedua kakinya berada di atas, dan tangannya tetap berada di kepala laki-laki tua berjubah kuning gading itu.

Brest

“Akh...!” lagi-lagi Pendeta Pohaji menjerit Tubuhnya amblas, masuk ke dalam pasir sampai ke pinggang. Sementara, kepalanya terus mengucurkan darah segar. Mintarsih melentingkan tubuh ke udara, lalu berputaran dua kali. Manis sekali kakinya menjejak tepat sekitar tiga langkah di depan Pendeta Pohaji.

“Ha ha ha...!” Mintarsih tertawa terbahak-bahak melihat lawannya sudah tidak berdaya lagi.

Dengan setengah tubuh terbenam, Pendeta Pohaji memang tidak mungkin melakukan sesuatu lagi. Terlebih, kepalanya sudah pecah. Darah tampak semakin banyak bercucuran dari kepala yang pecah akibat terkena keprukan tangan halus Mintarsih.

“Mampus kau, Pohaji! Hiyaaat...!”

Bet!

Bagaikan kilat, Mintarsih mengibaskan tangan ke arah leher Pendeta Pohaji. Begitu cepatnya kibasan tangan wanita itu, sehingga Pendeta Pohaji tidak mampu lagi menghindar. Dan....

Cras!

Tangan Mintarsih yang tajamnya melebihi mata pedang begitu dahsyat menebas leher Pendeta Pohaji hingga langsung terpenggal buntung. Darah seketaka muncrat dari leher yang buntung tanpa kepala lagi. Sedangkan kepalanya menggelinding di tanah berpasir putih.

“Ha ha ha...!”

********************

TIGA

Seluruh penghuni Istana Karang Setra dilanda awan mendung yang amat tebal. Bahkan seluruh rakyat Kerajaan Karang Setra terselimut kabut duka atas kematian Pendeta Pohaji yang begitu menyedihkan dan penuh teka-teki. Beberapa nelayan menemukan tubuh pendeta tua penasihat istana itu terbenam sepinggang di tepi pantai, dengan kepala buntung.

Hingga tubuh pendeta itu dimakamkan, tidak ada yang bisa menemukan kepalanya. Malah Raden Danupaksi, orang kedua di Karang Setra sudah memerintahkan ratusan prajurit untuk mencari kepala Pendeta Pohaji, namun tidak juga bisa ditemukan.

Sampai saat ini, sudah dua hari jenazah Pendeta Pohaji dimakamkan tanpa kepala. Namun sampai saat itu, kematiannya belum juga terungkap. Raden Danupaksi sudah menanyakan pada semua murid Pendeta Pohaji, tapi tidak ada seorang pun yang mengetahui. Dan semuanya mengatakan, kalau malam itu Pendeta Pohaji menguji ilmu Sangkala. Raden Danupaksi tahu kalau Sangkala adalah murid kesayangan Pendeta Pohaji, dan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang lain. Sangkala pun tidak luput dari pertanyaan Raden Danupaksi.

“Semua murid Paman Pendeta Pohaji mengatakan kalau malam itu kau bersamanya, Sangkala,” kata Raden Danupaksi seraya menatap dalam-dalam pemuda berbaju putih yang duduk bersimpuh di depannya.

“Ampunkan hamba, Raden. Memang malam itu Paman Pendeta menguji ilmu yang selama ini sudah hamba dapatkan darinya. Tapi itu berlangsung tidak lama. Kemudian hamba meninggalkan pantai lebih dahulu, sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sana,” sahut Sangkala, bersikap penuh rasa hormat.

“Kau tidak kembali ke puri malam itu, hingga menjelang fajar. Lalu ke mana saja sepanjang malam?” pertanyaan Raden Danupaksi sudah menjurus ke nada curiga.

“Hamba langsung pergi ke makam,” sahut Sangkala.

“Ke makam..? Makam siapa?” tanya Raden Danupaksi agak terkejut

Orang kedua di Kerajaan Karang Setra itu kemudian menatap Cempaka yang sejak tadi diam saja di dalam ruangan khusus ini. Memang di situ hanya ada Raden Danupaksi, Sangkala, dan Cempaka. Danupaksi memang tidak mengizinkan seorang pun masuk ke dalam ruangan ini.

“Sangkala! Meskipun tidak mengenalmu sejak kecil, tapi kami semua tahu tentang dirimu. Paman Pendeta Pohaji tidak pernah menyembunyikan apa pun tentang murid-muridnya. Jadi, kami tahu kalau kau tidak memiliki ayah dan ibu sejak kecil. Lalu, makam siapa yang kau kunjungi malam itu?” Cempaka baru membuka suara setelah mendapatkan isyarat dari Danupaksi.

“Aku tahu, kalau aku tidak memiliki orang tua sejak kecil. Tapi, aku tahu kalau makam ayah dan ibuku sejajar bersama makam para pengkhianat dan pemberontak serta penjahat besar kerajaan ini,” sahut Sangkala kalem.

Danupaksi dan Cempaka tersentak kaget bukan kepalang mendengar jawaban Sangkala yang begitu tenang dan tegas sekali. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Sangkala sudah mengetahui makam kedua orang tuanya. Hal ini membuat Danupaksi tidak punya gairah lagi untuk menanyai Sangkala. Sedangkan Cempaka tidak mengetahui jelas duduk perkara orang tua Sangkala.

“Kau boleh keluar, Sangkala,” ujar Danupaksi.

Sangkala merapatkan kedua telapak tangannya di depan hidung, kemudian meninggalkan ruangan itu. Tinggal Danupaksi dan Cempaka saja yang masih berada di ruangan ini. Beberapa saat mereka terdiam dengan pikiran menerawang jauh.

“Aku tidak mengerti, dari mana dia bisa tahu tentang pusara orang tuanya...?” gumam Danupaksi seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Kau tahu asal-usul Sangkala, Kakang?” tanya Cempaka.

“Aku tahu asal-usul semua orang yang bebas keluar masuk di istana ini, Cempaka. Tapi semua itu kurahasiakan, hingga tidak ada seorang pun yang tahu, kecuali Kakang Rangga sendiri,” sahut Danupaksi.

“Mungkin Pendeta Pohaji sendiri yang memberitahukannya, Kakang,” duga Cempaka.

“Tidak mungkin, Cempaka. Pendeta Pohaji tidak pernah membuka rahasia asal-usul murid-muridnya, kecuali padaku dan Kakang Rangga. Kita memang tidak tahu pasti, tapi Pendeta Pohaji sudah menceritakan semuanya. Bahkan berani bersumpah kalau semua yang dikatakannya adalah benar. Tidak seorang pun dari murid-muridnya yang mengetahui asal-usulnya. Mereka semua diambil sejak masih kecil. Bahkan ada yang masih bayi,” bantah Danupaksi.

“Kalau bukan Pendeta Pohaji sendiri, lalu siapa lagi?” tanya Cempaka.

“Itu yang tidak kumengerti, Cempaka. Dan aku yakin, kalau ini ada hubungannya dengan kematian Pendeta Pohaji sendiri,” sahut Danupaksi.

“Kakang, apa tidak sebaiknya hal ini diberitahukan pada Kakang Rangga?” usul Cempaka.

“Di mana harus mencari Kakang Rangga, Cempaka...? Kita semua tidak tahu pasti, di mana Kakang Rangga sekarang berada.”

Cempaka terdiam. Jawaban Danupaksi memang tidak bisa disangkal lagi. Tidak ada seorang pun yang tahu, di mana Pendekar Rajawali Sakti itu kini berada.

Memang sukar memiliki raja seorang pendekar yang gemar berkelana. Dan ini sangat dirasakan Cempaka maupun Danupaksi yang harus menggantikan kedudukan raja mereka selama kepergian yang tidak bisa ditentukan kapan kembalinya. Bahkan tidak tahu ke mana perginya.

“Kalau Kakang mengizinkan, aku akan mencari Kakang Rangga. Mudah-mudahan saja bisa cepat bertemu,” pinta Cempaka berharap.

“Aku tidak bisa melarang atau mengizinkanmu, Cempaka. Berbuatlah yang menurutmu benar,” sahut Danupaksi.

“Kalau begitu, aku berangkat sekarang, Kakang.”

“Hati-hatilah. Aku merasa kematian Paman Pendeta Pohaji akan berbuntut panjang.”

Cempaka mengangguk sedikit, kemudian meninggalkan ruangan itu dengan ayunan kaki tegap dan mantap. Sepeninggal adik tirinya itu, Danupaksi masih merenung sendiri.

********************

Sementara itu dekat perbatasan Kotaraja Karang Setra, tepatnya di daerah pemakaman para bangsawan dan keluarga istana, Sangkala tampak berdiri mematung di depan gundukan tanah merah yang kelihatan belum lama. Sejak keluar dari Istana Karang Setra, pemuda itu langsung ke pemakaman ini. Sedangkan saat itu matahari sudah begitu tinggi di atas kepala.

Tatapan matanya tertuju rurus ke batu nisan yang terukir nama Pendeta Pohaji di ujung kanan gundukan tanah merah itu. Tak ada makna sama sekali di dalam sinar matanya. Begitu kosong dan tak bercahaya. Sangkala baru mengangkat perlahan kepalanya ketika mendengar suara batuk kecil yang halus. Sedikit pun tidak ada perubahan pada wajahnya saat pandangannya tertumbuk pada seorang wanita cantik berbaju biru, yang tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

“Sejak kapan kau berada di sini, Mintarsih?” tanya Sangkala, suaranya terdengar kosong dan datar.

“Belum lama,” sahut wanita cantik yang dikenali Sangkala bernama Mintarsih.

“Untuk apa datang ke sini?” tanya Sangkala lagi. Suaranya masih tetap datar, tanpa tekanan sama sekali.

Mintarsih tidak menjawab, tapi malah tersenyum tipis. Wanita cantik itu melangkah menghampiri, memutari makam Pendeta Pohaji dan berdiri di samping pemuda itu. Sedangkan Sangkala seperti tidak memperhatikan, tetap menatap kosong ke depan. Bau harum yang menyebar dari tubuh Mintarsih, menyeruak lubang hidung Sangkala. Hal ini membuat pemuda itu menggerinjang, menggeser sedikit agak menjauh.

“Aku tahu, siapa yang berbuat ini semua, Sangkala,” kata Mintarsih lembut.

Sangkala tersentak kaget. Langsung tubuhnya diputar, menatap Mintarsih dalam-dalam. Namun yang ditatap hanya tersenyum saja, manis sekali.

“Mungkin kau tidak percaya, tapi kebetulan sekali aku ada di sana malam itu. Aku lihat jelas semua yang terjadi di tepi pantai,” sambung Mintarsih.

“Katakan, siapa yang membunuh Paman Pendeta?” desak Sangkala tegas.

“Pandan Wangi,” sahut Mintarsih, diiringi senyum dikulum.

“Pandan Wangi...?” Sangkala seperti tidak percaya. Dia tahu, siapa Pandan Wangi itu.

“Kau jangan mengada-ada, Mintarsih,” ujar Sangkala tidak percaya. “Semua orang tahu kalau Pandan Wangi sekarang bersama Gusti Prabu Rangga yang kini entah berada di mana. Tidak mungkin dia bisa berada di sini dan membunuh Paman Pendeta Pohaji.”

“Kan sudah kukatakan, mungkin kau tidak percaya. Tapi ini kenyataan, Sangkala. Sekarang ini Rangga berada di salah satu desa di dekat Rimba Tengkorak. Tidak terlalu jauh jaraknya dari sini, bukan...? Bisa saja Pandan Wangi menyelinap dan datang ke pantai untuk membunuh Pendeta Pohaji,” Mintarsih mencoba meyakinkan pemuda ini.

“Tidak ada alasan bagi Pandan Wangi untuk membunuh Paman Pendeta, Mintarsih.”

“Kenapa tidak...? Apa kau sudah lupa, Sangkala? Karena Pendeta Pohajilah, sehingga mereka tidak bisa meresmikan pernikahan. Pendeta Pohaji tidak mau meresmikannya, karena asal-usul Pandan Wangi tidak jelas. Dan merupakan suatu pantangan berat bagi seorang raja bila memiliki permaisuri yang tidak jelas asal-usulnya. Bagaimanapun juga, Pandan Wangi adalah manusia biasa. Apalagi telah lama berkecimpung di dalam rimba persilatan. Apa saja bisa dilakukannya untuk mendapatkan Rangga, Sangkala. Ingat cara apa pun akan dilakukan bagi seseorang yang sudah lama berkecimpung dalam rimba persilatan.”

Sangkala terdiam membisu. Kata-kata yang diuraikan Mintarsih barusan, langsung merasuk ke dalam relung hatinya. Memang tidak dapat dibantah lagi, setinggi apa pun tingkat kepandaian seseorang, tetap saja manusia biasa yang terkadang bisa khilaf dan melakukan kesalahan. Terlebih, semua orang sudah tahu kalau hubungan asmara antara Rangga dengan Pandan Wangi bukan rahasia umum lagi. Sudah terlalu lama mereka menjalin asmara.

Dan memang mereka tidak bakal bisa bersatu dalam satu ikatan tali perkawinan, selama asal-usul Pandan Wangi belum jelas diketahui. Kalaupun nantinya diketahui, dan ternyata Pandan Wangi bukan keturunan satria, sudah pasti ikatan perkawinan tidak akan bisa disatukan. Hal ini memang bisa membuat seseorang mempunyai pikiran lain. Bahkan bisa juga berbuat nekat tanpa memperhitungkan akibatnya. Tapi, mungkinkah itu akan terjadi pada Pandan Wangi..? Hal ini yang membuat Sangkala jadi bimbang.

“Aku..., aku tidak tahu. Aku tidak bisa....”

“Sangkala...,” potong Mintarsih cepat “Pandanglah aku, Sangkala. Apakah aku mendustaimu? Atau mengada-ada...?”

Seperti ada suatu daya tarik, Sangkala langsung menatap bola mata Mintarsih yang indah, penuh bertaburkan bintang gemerlap. Pemuda itu tidak tahu, dan sama sekali tidak menyadari kalau Mintarsih menggunakan aji 'Lemah Atma'. Suatu ilmu kesaktian yang tidak berwujud, tapi pengaruhnya sangat dahsyat bagi orang yang terkena. Apalagi orang itu memiliki kepandaian tidak begitu tinggi. Maka akibatnya mudah sekali dirasuki ajian itu.

“Pergilah, Sangkala. Cari Pandan Wangi dan Rangga. Bunuh mereka secara halus. Kau tidak akan dicurigai mereka,” kata Mintarsih, dalam sekali nada suaranya.

“Apa yang harus kulakukan?” tanya Sangkala.

Pandangan mata pemuda itu sudah demikian kosong, seperti tidak memiliki semangat hidup lagi. Aji 'Lemah Atma' yang ditebarkan Mintarsih telah benar-benar merasuk tubuh Sangkala, tanpa disadari lagi. Maka pemuda ini bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, sehingga mengikuti saja apa yang diperintah Mintarsih.

“Aku tahu, kau ahli membuat racun. Buatlah racun yang tidak berbau, dan tawar rasanya. Racuni mereka! Kau lebih paham tentang itu dariku, Sangkala.

“Baiklah, akan kulakukan,” sahut Sangkala.

“Bagus. Demi arwah gurumu, semua kata-kataku harus kau laksanakan.”

Sangkala tidak berkata-kata lagi. Tubuhnya berputar dan berjalan meninggalkan tempat pemakaman ini. Sementara Mintarsih memperhatikan dengan bibir menyunggingkan senyuman lebar. Begitu punggung Sangkala sudah tidak terlihat lagi, bagaikan kilat, Mintarsih melesat pergi. Begitu cepatnya, hingga dalam sekejap saja sudah lenyap bagai tertelan bumi.

********************

Pagi-pagi sekali, di saat matahari baru saja menampakkan dirinya, Sangkala sudah keluar dari gerbang perbatasan Kotaraja Karang Setra. Dengan menunggang kuda tegap berwarna putih, pemuda itu menuju bagian Selatan Rimba Tengkorak. Sebuah hutan yang jarang sekali dimasuki manusia, kalau tidak mempunyai keperluan yang mendesak sekali.

Hutan itu memang kelihatan angker. Pepohonannya begitu rapat, seperti tidak ada jarak untuk dapat dilalui. Begitu lebatnya, sehingga hutan itu kelihatan gelap. Bahkan sinar matahari tak kuasa menembus lebatnya Rimba Tengkorak. Sementara Sangkala sudah berbelok, menyusuri tepian Rimba Tengkorak. Dia terus menuju ke arah Selatan, arah yang ditunjukkan oleh Mintarsih.

“Hiya...! Hiya...! Hiyaaa...!” Sangkala terus menggebah kudanya semakin kencang. Begitu penuh perhatiannya pada perjalanan ini, sehingga tidak mengetahui kalau ada yang memperhatikan dari tempat yang cukup tersembunyi. Mereka adalah seorang gadis berbaju merah muda, bersenjatakan pedang di punggungnya, dan dua orang laki-laki berusia setengah baya.

“Gusti Ayu Cempaka! Bukankah itu Sangkala, murid utama Pendeta Pohaji...?” ujar salah seorang laki-laki setengah baya yang mengenakan baju hijau yang dipadu warna kuning.

Gadis cantik berbaju merah muda yang memang Cempaka, hanya menggumam kecil saja. Dia tahu kalau pemuda berbaju putih yang menunggang kuda seperti dikejar setan itu adalah Sangkala, murid utama Pendeta Pohaji.

“Aneh...! Untuk apa dia ke Selatan...?” gumam Cempaka, seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Ini memang sangat mencurigakan, Gusti Ayu Cempaka,” tegas laki-laki setengah baya berbaju hijau itu lagi

“Paman Rakatala, ikuti dia. Jaga jangan sampai diketahui,” perintah Cempaka.

“Hamba, Gusti Ayu,” sahut laki-laki setengah baya berbaju hijau itu seraya memberi sembah dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung.

Tanpa menunggu perintah dua kali, laki-laki berbaju hijau yang dipanggil Paman Rakatala segera melompat ke punggung kudanya. Lalu cepat sekali kuda coklat berbelang putih itu digebah untuk menyusul Sangkala yang sudah jauh, dan hampir tidak terlihat lagi. Sementara Cempaka masih terus memperhatikan dengan kening agak berkerut dalam. Sementara laki-laki setengah baya lainnya, yang mengenakan baju warna kuning keemasan tetap setia menunggui di belakangnya.

“Paman Jarak Legi....” panggil Cempaka, pelan suaranya.

“Hamba, Gusti Ayu Cempaka,” sahut laki-laki setengah baya berbaju kuning yang dipanggil Paman Jarak Legi.

“Kalau tidak salah, kau pernah mengatakan bahwa Kakang Prabu Rangga sekarang ini berada di daerah Selatan. Benar, Paman?” Cempaka ingin kepastian yang jelas.

“Benar, Gusti Ayu. Bahkan Gusti Prabu Rangga sempat memberi pesan yang harus disampaikan pada Gusti Raden Danupaksi, melalui telik sandi hamba, Gusti Ayu.”

“Sudah kau sampaikan pesan itu, Paman?” tanya Cempaka lagi

“Sudah, Gusti Ayu. Raden Danupaksi sendiri yang menerimanya kemarin.”

“Hm..., apa isi pesannya?” tanya Cempaka agak menggumam perlahan seraya mengangguk-anggukkan kepala.

“Hanya memberitahukan kalau Gusti Prabu Rangga hanya sebentar berada di Selatan, dan tidak sempat singgah ke Karang Setra. Hanya itu saja, Gusti Ayu,” sahut Paman Jarak Legi.

Gadis itu kembali mengarahkan pandangan ke Selatan. Tidak terlihat bayangan Paman Rakatala yang mengikuti Sangkala, pemuda murid utama Pendeta Pohaji itu. Kecurigaannya pada Sangkala semakin menebal. Apalagi setelah menyangkutpautkan peristiwa pembunuhan itu dengan semua jawaban yang diberikannya pada Danupaksi di ruangan khusus.

Dan sekarang, Sangkala menuju ke daerah Selatan. Sedangkan Cempaka mendengar kalau Rangga kini berada di Selatan. Seketika timbul berbagai macam pertanyaan dan dugaan di kepala gadis itu. Namun, semuanya masih belum jelas. Dan Cempaka tidak ingin terlalu banyak menduga.

“Ayo, Paman. Kita harus cepat berada di Selatan sebelum mereka sampai,” ajak Cempaka.

“Tapi mereka melalui jalan pintas yang terdekat, Gusti Ayu. Tidak ada jalan lain lagi yang terdekat, selain melintasi Rimba Tengkorak,” jelas Paman Jarak Legi.

“Lalu, jalan mana yang terbaik, Paman?” tanya Cempaka.

“Melewati pantai di kaki Gunung Caringin, Gusti Ayu. Tapi hamba tidak yakin bisa sampai lebih dahulu. Karena, itu berarti melalui jalan memutar,” sahut Paman Jarak Legi.

“Kita pacu kuda tanpa berhenti, Paman.”

Cempaka tidak lagi menunggu jawaban Paman Jarak Legi yang sebenarnya memiliki pangkat panglima. Tapi dalam keadaan seperti ini, terlebih lagi mengenakan pakaian biasa, sama sekali tidak terlihat kalau laki-laki setengah baya itu adalah salah seorang Panglima Karang Setra.

Cempaka segera berjalan cepat menuju kudanya yang tertambat di bawah pohon. Paman Jarak Legi mengikuti dari belakang. Tak berapa lama kemudian, terlihat dua ekor kuda berbacu cepat meninggalkan tempat itu, diikuti tiga penunggang kuda lainnya. Ketiga penunggang kuda yang mengikuti Cempaka adalah para prajurit pilihan yang sengaja dibawa dengan mengenakan pakaian biasa.

Arah yang dituju, jelas kaki Gunung Caringin. Sebuah gunung yang tidak begitu tinggi, dan terletak di tepi pantai. Jaraknya memang tidak begitu jauh lagi. Sehingga dalam waktu tidak berapa lama saja, mereka sudah berada di pantai kaki Gunung Caringin. Mereka terus berpacu cepat menyusuri pantai yang menuju ke arah Selatan.

********************

Seharian penuh, Cempaka, Paman Jarak Legi, dan tiga orang prajurit yang mengenakan pakaian biasa menunggang kuda dengan kecepatan tinggi. Sekejap pun mereka tidak berhenti untuk beristirahat Begitu matahari benar-benar tenggelam di belahan Barat, baru mereka menghentikan lari kudanya. Tiga orang prajurit segera membuat api, tanpa diperintah lagi. Sedangkan Cempaka memandang ke arah Selatan yang masih harus ditempuh sehari perjalanan lagi.

“Paman, kau mendengar sesuatu?” tanya Cempaka seraya berpaling pada Paman Jarak Legi yang berdiri di sampingnya.

“Seperti suara pertempuran, Gusti Ayu,” sahut Paman Jarak Legi.

“Benar. Dan tampaknya, tidak terlalu jauh,” agak bergumam suara Cempaka.

“Apa tidak sebaiknya kita lihat, Gusti Ayu?” saran Paman Jarak Legi.

“Kau suruh mereka tetap tinggal di sini, Paman.” “Hamba, Gusti Ayu...”

Sebelum Paman Jarak Legi menyelesaikan kata-katanya, Cempaka sudah melompat cepat mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Paman Jarak Legi segera memerintahkan tiga prajurit yang ikut untuk tetap tinggal di tempat ini. Kemudian, dia segera melesat cepat mengikuti Cempaka yang sudah melesat jauh. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Paman Jarak Legi memang lebih tinggi dibandingkan Cempaka.

Sehingga, dia tidak mendapatkan kesulitan menyusul gadis itu. Sementara suara pertarungan yang terdengar semakin jelas dan dekat sekali. Hingga sampai di sebuah padang rumput yang tidak begitu luas, Cempaka menghentikan larinya.

Di padang rumput itu, terlihat dua orang tengah bertarung sengit. Hampir saja Cempaka terpekik begitu mengenali salah seorang di antaranya.

“Kakang Rangga...,” desis Cempaka.

“Gusti Ayu, bukankah itu...” suara Paman Jarak Legi terputus.

Mereka tidak bisa berbuat apa apa, dan hanya bisa menyaksikan pertarungan itu. Jarak mereka tidak terlalu jauh, namun cukup aman dari kemungkinan terkena pukulan jarak jauh bertenaga dalam tinggi.

Sementara pertarungan rupanya sudah hampir berakhir. Tampak pemuda berbaju rompi putih yang memang Rangga, sudah berada di atas angin. Beberapa kali pukulan dan tendangannya bersarang di tubuh lawan. Dia adalah seorang wanita berbaju biru. Rambutnya yang panjang, teriap sehingga menutupi wajahnya. Sukar bagi Cempaka untuk mengenali lawan Pendekar Rajawali Sakti, karena pertarungan berjalan cepat. Dan lagi, wajah wanita itu hampir seluruhnya tertutup rambut hitam yang panjang meriap.

“Hup...!”

Tiba-tiba saja wanita berbaju biru itu melesat ke belakang, lalu langsung melompat kabur.

“Hei! Jangan lari kau...!”

“'Kakang...!”

Cempaka cepat-cepat berteriak, begitu melihat Rangga hampir saja melompat mengejar lawannya. Pendekar Rajawali Sakti itu tidak jadi mengejar. Wajahnya berpaling, dan terkejut bukan main begitu melihat Cempaka dan Paman Jarak Legi berada di tempat ini. Cempaka bergegas berlari kecil menghampiri.

“Cempaka..., apa yang kau lakukan di sini?” Rangga langsung bertanya, begitu Cempaka berada dekat di depannya.

Sementara Paman Jarak Legi tetap menunggu pada jarak yang cukup jauh juga. Rangga sempat melirik pada panglima itu. Maka Paman Jarak Legi segera memberi sembah dengan membungkukkan badan sedikit, dan merapatkan kedua tangan di depan hidung.

“Kenapa kau berada di sini, Cempaka?” tanya Rangga lagi.

“Aku mencarimu, Kakang,” sahut Cempaka.

“Untuk apa?” tanya Rangga lagi.

“Ada sesuatu yang harus kusampaikan padamu. Penting....”

Rangga mengajak adik tirinya untuk mendekati Paman Jarak Legi. Sekali lagi, laki-laki setengah baya itu membungkuk memberi hormat Rangga menepuk pundak Paman Jarak Legi dengan sikap penuh persaudaraan.

“Ceritakan, kenapa kau sampai berada di tempat ini?” pinta Rangga mendesak.

“Ceritanya cukup panjang, Kakang.”

“Ceritakan saja.”

“Baiklah. Tapi, sebaiknya jangan di sini.” Mereka kemudian berjalan meninggalkan padang rumput kecil itu. Sambil berjalan, Cempaka mulai bercerita. Dari ditemukannya mayat Pendeta Pohaji yang buntung kepalanya, hingga berada di tempat ini.

********************

EMPAT

Sampai lewat tengah malam, Cempaka menceritakan keadaan di Karang Setra setelah kematian Pendeta Pohaji. Sementara Rangga mendengarkan penuh perhatian. Sedikit pun Pendekar Rajawali Sakti itu tidak menyelak, sampai Cempaka menyelesaikan ceritanya. Rangga masih saja diam sambil menundukkan kepala, meskipun Cempaka telah menyelesaikan ceritanya.

Cukup lama juga Pendekar Rajawali Sakti diam sambil tertunduk. Sementara Cempaka hanya memperhatikan saja, tanpa berani menegur. Gadis itu bisa merasakan, apa yang sedang dirasakan pemuda berbaju rompi putih ini. Memang merupakan satu pukulan berat bagi Rangga, karena Pendeta Pohaji sudah dianggap seperti orang tua sendiri. Segala permasalahan selalu diceritakan pada pendeta tua itu, setiap kali Rangga berada di Karang Setra. Dan memang, Pendeta Pohaji merupakan panutan semua orang di Kerajaan Karang Setra. Bukan saja sikapnya yang selalu lembut dan bersahaja, tapi segala tindakannya selalu adil dan bijaksana sekali.

“Hhh...!” Rangga menghembuskan napas panjang-panjang.

Kepalanya diangkat, menatap bulan yang saat itu tengah bersinar penuh. Cahayanya yang keemasan, menyinari wajah mendung Pendekar Rajawali Sakti. Begitu jelas terlihat, sampai-sampai Cempaka sendiri tidak sanggup memandangi wajah yang terselimut kabut duka itu.

“Apa sudah dicari kepala Pendeta Pohaji di sekitar pantai itu, Cempaka?” tanya Rangga pelan. Begitu pelannya, hampir tidak terdengar.

“Sudah,” sahut Cempaka. “Bahkan beberapa nelayan ikut mencari sampai ke dasar laut, tapi tidak ditemukan juga.”

Kembali Rangga menghembuskan napas panjang, kemudian bangkit berdiri sambil memandang lurus ke depan. Hutan ini memang tidak terlalu lebat, sehingga sinar bulan yang memancar dapat menerangi sekitarnya. Apalagi malam ini tak ada awan sedikit pun mengantung di langit Namun, udara malam ini terasa panas sekali.

“Tidurlah, Cempaka. Besok, pagi-pagi sekali kita menjemput Pandan Wangi. Setelah itu baru kembali ke Karang Setra,” kata Rangga tanpa membalikkan tubuhnya.

“Di mana Pandan Wangi, Kakang?” tanya Cempaka baru teringat Pandan Wangi.

“Di Desa Batu Ceper. Tidak jauh dari sini,” sahut Rangga.

Cempaka memandangi kakak tirinya yang berjalan perlahan-lahan, menjauhi tempat bermalam ini. Sebentar gadis itu melirik Paman Jarak Legi dan tiga orang prajurit yang duduk melingkari api unggun. Kemudian kakinya terayun perlahan mengikuti pemuda berbaju rompi putih itu.

Mereka terus berjalan tanpa berkata-kata, dan semakin jauh meninggalkan tempat bermalam para prajurit yang ikut serta bersama Cempaka. Mereka baru berhenti setelah tiba di tempat yang cukup tinggi. Dari sini, mereka bisa memandangi balik punggung gunung kecil yang berhubungan langsung dengan pantai. Memang kelihatan dekat, tapi membutuhkan waktu satu hari untuk mencapai tempat itu. Di sanalah Pendeta Pohaji ditemukan tewas terbunuh dengan kepala buntung.

“Kakang...,” panggil Cempaka.

“Kenapa kau mengikutiku, Cempaka?” tanya Rangga tanpa berpaling.

Cempaka mendekati kakak tirinya ini, lalu berdiri di samping kanannya. Gadis itu juga mengarahkan pandangan ke arah yang sama dengan Rangga. Mata mereka menatap lautan yang tampak menghitam, dipenuhi pernik cahaya, bagai bertarburkan ribuan mutiara. Namun keindahan itu sama sekali tak dapat dinikmati karena terasa suram, akibat tewasnya Pendeta Pohaji.

“Aku tahu, kau merasa sangat kehilangan, Kakang. Aku juga.... Tapi aku mencoba untuk menyadari kenyataan ini,” kata Cempaka perlahan.

Rangga menolehkan kepalanya, lalu meraih pundak gadis itu. Sebentar kemudian dibawanya ke dalam pelukan. Cempaka jadi manja, langsung merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda ini. Tangannya dilingkarkan, memeluk pinggang Rangga. Tidak banyak kesempatan baginya untuk bermanja-manja. Tapi pada keadaan seperti ini, apakah pantas bermanja-manja...? Tidak...! Cempaka segera melepaskan pelukannya. Disingkirkannya tangan Rangga dari pundaknya. Gadis itu kemudian menggeser kakinya agak menjauh.

“Kita akan mencari pembunuh itu bersama-sama, Kakang. Dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya,” tegas Cempaka lagi.

Lagi-lagi Rangga hanya tersenyum saja, namun terasa masam sekali. Cempaka tahu, kalau Rangga sedang bergulat dengan batinnya sendiri. Pendekar Rajawali Sakti seperti mempertahankan kesabaran dan ketabahan, yang mungkin saja tidak dapat terbendung lagi. Namun pemuda berbaju rompi putih itu masih mampu bertahan, dan memperlihatkan ketabahannya di depan gadis ini.

“Ap...”

Baru saja Cempaka akan membuka mulut, mendadak saja....

“Aaa...!”

“Heh...?!”

Rangga dan Cempaka tersentak kaget begitu tiba-tiba terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Sebentar mereka saling berpandangan. Jeritan itu demikian jelas, dan datang dari tempat peristirahatan Paman Jarak Legi dan tiga orang prajurit

“Paman Jarak Legi...,” desis Rangga tertahan.

Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti melesat cepat, masuk kembali ke dalam hutan. Cempaka tidak mau ketinggalan. Dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya, gadis itu berlompatan mengejar kakak tirinya.

“Keparat..!” desis Rangga menggeram.

Hampir Pendekar Rajawali Sakti tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Belum lama meninggalkan tempat ini, tiga orang prajurit tampak telah tergeletak berlumuran darah. Rangga langsung memeriksa tubuh ketiga prajurit itu. Tak ada seorang pun yang hidup. Mereka semua tewas dengan dada terbelah lebar. Darah terus mengucur dari dada mereka.

Saat itu Cempaka muncul, dan langsung terpekik kecil menyaksikan ketiga prajurit yang dibawanya sudah tergeletak tak bernyawa, disertai lumuran darah. Bergegas gadis itu menghampiri Rangga yang sedang memandangi tiga mayat di depannya.

“Paman Jarak Legi.... Di mana dia...?!” sentak Rangga begitu teringat Paman Jarak Legi yang tidak kelihatan di tempat ini.

Pada saat itu, terdengar jeritan panjang melengking tinggi dari arah Timur. Rangga cepat melesat menuju ke arah jeritan itu. Cempaka bergegas mengikuti, mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Meskipun seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya sudah dikerahkan, tapi tetap saja tidak dapat mengimbangi Pendekar Rajawali Sakti. Gadis itu tertinggal jauh, sementara Rangga sudah lenyap di balik kerimbunan pepohonan.

“Paman...!” pekik Rangga tertahan Di depan Pendekar Rajawali Sakti tampak Paman Jarak Legi tergeletak dengan dada terbelah berlumur darah. Bergegas Rangga menghampiri, lalu mengangkat tubuh laki-laki setengah baya itu Kemudian diletakkannya kepala Paman Jarak Legi di pangkuannya. Bibir Paman Jarak Legi bergerak gerak, seakan-akan hendak mengatakan sesuatu.

“Paman.... Siapa yang melakukan ini?” tanya Rangga.

Pada saat itu, Cempaka datang. Gadis itu segera menghampiri Rangga, dan berlutut di depannya. Paman Jarak Legi melirik Cempaka sebentar

“Gusti..., Mintarsih... Akh…!”

“Paman...!”

Rangga mengguncang guncang tubuh laki-laki separuh baya itu. Tapi, laki-laki itu tetap diam dengan kepala terkulai. Darah semakin banyak mengucur dari dada dan mulutnya. Perlahan-lahan Rangga meletak-kan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi ke tanah. Dipandanginya mayat itu sebentar, lalu beralih pada Cempaka.

“Siapa itu Mintarsih, Kakang?” tanya Cempaka.

Rangga tidak segera menjawab. Dihempaskan tubuhnya, duduk dengan lemas. Sinar matanya begitu kosong, memandangi tubuh setengah baya yang sudah tidak bernyawa lagi. Tidak lama Pendekar Rajawali Sakti meninggalkan Paman Jarak Legi dan tiga orang prajurit, namun sekarang mereka sudah tiada. Hanya dalam waktu sebentar saja!

“Mintarsih...,” desis Rangga agak menggeram.

Pendekar Rajawali Sakti memandangi Cempaka. Disadari kalau ada seseorang yang selalu membayanginya, sehingga membantai orang orang yang dekat dengannya. Paman Jarak Legi dan tiga orang prajurit pilihan tewas begitu cepat, tanpa dapat dicegah lagi. Siapa pun orangnya, tentu memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

“Kakang...,” pelan suara Cempaka.

Gadis itu menghampiri, namun agak takut-takut. Belum pernah dia melihat Rangga menahan amarah begitu besar, sampai seluruh wajahnya memerah. Bahkan urat-urat di seluruh tubuhnya bersembulan ke luar.

“Orang itu pasti yang membunuh Pendeta Pohaji...,” desis Rangga, dingin menggetarkan.

“Siapa dia, Kakang?” tanya Cempaka.

Rangga menatap Cempaka dalam-dalam. Dipegangnya pundak gadis itu. Agak risih juga Cempaka, mendapatkan tatapan begitu dalam, menusuk tajam bola matanya.

“Cempaka, pulanglah lebih dahulu sekarang juga. Aku akan segera menyusul setelah menjemput Pandan Wangi,” ujar Rangga.

“Malam-malam begini...?” Cempaka ingin menolak.

Saat itu malam memang masih begitu larut Rangga seakan-akan baru menyadari, kalau tidak mungkin melepaskan Cempaka sendirian kembali ke Karang Setra malam-malam begini. Kepala Pendekar Rajawali Sakti terdongak, seraya menghembuskan napas panjang.

“Kuda Dewa Bayu akan mengantarkanmu, Cempaka,” kata Rangga setelah cukup lama berpikir.

“Dewa Bayu...? Oh..., tidak.... Jangan paksa aku menunggang kudamu, Kakang,” tolak Cempaka.

Tidak pernah Cempaka memimpikan menunggang Dewa Bayu. Gadis itu tahu kalau kuda hitam milik kakak tirinya ini bukanlah kuda sembarangan. Kecepatan larinya seperti angin saja. Tidak ada seekor kuda pun di dunia ini yang bisa menandinginya. Cempaka memang pernah sekali menunggang kuda itu. Dan gadis itu sudah bersumpah, tidak akan mengulanginya lagi.

“Kau harus kembali ke Karang Setra sekarang juga, Cempaka,” desak Rangga.

“Tapi tidak dengan Dewa Bayu. Aku tidak ingin mati di atas punggung kudamu, Kakang,” Cempaka tetap menolak.

“Hanya Dewa Bayu yang bisa mengantarkanmu pulang dengan selamat.”

“Aku lebih memilih bersamamu, daripada harus menunggang kuda itu. Aku tidak mau dipaksa, Kakang. Lebih baik pulang sendiri daripada harus menunggang kuda itu. Sekali kukatakan tidak, tetap tidak...!” tegas Cempaka.

Rangga tidak bisa lagi mendesak. Kepalanya yang tidak gatal digaruk-garuk. Memang Cempaka tidak mungkin dipaksa untuk pulang bersama Dewa Bayu. Jangankan Cempaka, Pandan Wangi yang selalu bersamanya saja, sampai sekarang tidak pernah sudi menunggang kuda itu lagi. Meskipun Dewa Bayu sendiri, sebenarnya begitu jinak.

“Baiklah, kau ikut aku ke Desa Batu Ceper. Kita jemput Pandan Wangi sekarang, lalu terus ke Karang Setra malam ini juga,” Rangga akhirnya menyerah juga.

“Itu lebih baik, Kakang,” sambut Cempaka senang.

Rangga memandangi mayat Paman Jarak Legi.

“Kita kuburkan dulu, Kakang,” kata Cempaka, seakan-akan bisa membaca jalan pikiran Pendekar Rajawali Sakti.

“Tentu. Aku tidak ingin mereka jadi santapan binatang hutan.”

********************

Pandan Wangi terkejut bukan main ketika melihat Rangga datang bersama Cempaka, dan langsung memberondong dengan segudang pertanyaan. Tentu saja Rangga tidak dapat menjawab semua pertanyaan itu. Sedangkan Cempaka hanya tersenyum-senyum saja. Di dalam kamar penginapan ini, hanya mereka bertiga saja yang ada di dalam. Sebuah rumah penginapan yang hanya ada satu-satunya di Desa Batu Ceper.

“Cempaka, ada persoalan apa di Karang Setra?” tanya Pandan Wangi mengalihkan perhatian pada Cempaka, karena Rangga tidak menjawab satu pun pertanyaannya.

“Hanya kesulitan kecil saja,” sahut Cempaka seraya melirik Rangga.

“Benar begitu, Kakang?” Pandan Wangi meminta penjelasan pada Rangga.

“Aku tidak tahu, tapi tampaknya cukup gawat juga,” sahut Rangga.

“Maksudmu?”

“Paman Pendeta Pohaji tewas,” Cempaka yang menyahuti.

“Maksudmu..., dibunuh...?” Pandan Wangi ingin ketegasan.

“Benar. Tapi, pembunuhnya belum ketahuan,” sahut Cempaka lagi.

“Bagaimana mungkin bisa terjadi...?”

Pandan Wangi tidak percaya kalau Pendeta Pohaji bisa tewas terbunuh. Dia tahu betul, siapa Pendeta Pohaji itu. Dia seorang yang bijaksana, dan menjadi panutan di Kerajaan Karang Setra. Ilmu-ilmunya juga tergolong sangat tinggi, dan sukar dicari tandingannya. Rasanya sulit dipercaya kalau pendeta itu bisa terbunuh. Tapi, itulah kenyataannya. Sehingga, Cempaka sekarang harus berada di desa yang cukup jauh dari pusat Kerajaan Karang Setra.

“Kakang, coba ceritakan. Bagaimana itu bisa terjadi?” pinta Pandan Wangi.

“Aku sendiri belum tahu jelas persoalannya, Pandan. Mungkin kalau kita sudah sampai di kota, semuanya baru bisa diketahui,” sahut Rangga.

“Semua orang di kota juga tidak ada yang tahu persis kejadiannya. Bahkan semua murid Paman Pendeta Pohaji tidak ada yang tahu peristiwanya,” selak Cempaka. “Tapi...”

“Tapi kenapa, Cempaka?” tanya Pandan Wangi yang masih penasaran.

“Aku sendiri belum pasti, Kak Pandan. Sejak ke-matian Paman Pendeta Pohaji, tingkah laku dan sikap Sangkala begitu aneh. Bahkan sekarang ini dia sedang menuju Selatan. Tapi aku sudah meminta Paman Rakatala untuk terus membuntuti,” jelas Cempaka.

“Mau apa dia ke Selatan?” tanya Rangga seperti untuk dirinya sendiri.

“Itulah yang sampai saat ini aku tidak tahu, Kakang,” sahut Cempaka, agak mendesah.

“Ini mencurigakan juga, Kakang,” timpal Pandan Wangi, juga dengan suara setengah menggumam.

Rangga jadi terdiam merenung. Pendekar Rajawali Sakti melangkah mendekati jendela, dan berdiri mematung di depan jendela yang terbuka lebar. Matanya memandangi sang rembulan, yang pada malam ini bersinar penuh. Sedangkan Pandan Wangi dan Cempaka hanya dapat memandangi saja. Mereka juga terdiam, dan beberapa kali saling melempar pandang.

Cukup lama juga Rangga berdiam diri mematung di depan jendela. Entah apa yang ada di dalam benak Pendekar Rajawali Sakti. Perlahan-lahan tubuhnya diputar sambil menghembuskan napas panjang. Beberapa saat dipandanginya Cempaka dan Pandan Wangi yang duduk bersisian di tepi pembaringan. Pendekar Rajawali Sakti kemudian menghempaskan diri di kursi, dekat jendela.

“Cempaka, apa ada sesuatu yang aneh belakangan ini pada diri Pendeta Pohaji?” tanya Rangga, setelah cukup lama berdiam diri.

“Rasanya tidak ada yang aneh, Kakang. Sikap Paman Pendeta Pohaji biasa biasa saja. Tidak ada yang aneh pada dirinya sebelum meninggal,” sahut Cempaka sambil mengingat-ingat sikap Pendeta Pohaji belakangan ini, sebelum ditemukan tewas dengan kepala hilang entah ke mana.

“Kakang, apakah Paman Pendeta Pohaji pernah cerita padamu, kalau punya musuh?” tanya Pandan Wangi.

“Tidak. Dia tidak pernah menceritakan apa pun tentang dirinya. Aku tidak pernah tahu, apakah dia punya musuh atau tidak. Bahkan latar belakang kehidupannya saja, aku tidak tahu,” sahut Rangga.

“Sulit... Kita berada di jalan yang buntu,” gumam Pandan Wangi seraya menggelengkan kepala.

“Aku rasa tidak,” selak Cempaka.

“Maksudmu, Cempaka...?” tanya Rangga.

“Aku yakin, Sangkala tahu semua peristiwa ini,” tenang sekali nada suara Cempaka, tapi mengandung kesungguhan yang mendalam.

“Jangan terlalu cepat berprasangka, Cempaka,” Rangga memperingatkan adik tirinya.

“Aku tidak berprasangka buruk sedikit pun pada Sangkala. Tapi kelakuannya begitu mencurigakan, Kakang. Malah dia langsung menuju Selatan setelah gurunya meninggal. Untuk apa dia ke sana kalau tidak punya satu tujuan yang pasti,” Cempaka menguraikan kecurigaannya pada Sangkala, murid tersayang Pendeta Pohaji.

“Sudahlah, Cempaka. Simpan dulu rasa curiga dan segala macam dugaanmu pada Sangkala. Mungkin dia punya maksud lain, atau juga untuk melupakan kepahitannya,” Rangga mencoba menyangkal.

“Aku merasa yakin, Kakang. Sangkala pasti tahu orang yang membunuh gurunya. Dia pasti mengejar orang itu, Kakang,” Cempaka tetap pada pendiriannya.

“Kau punya dasar yang tepat, Cempaka?” tanya Rangga, menguji prasangka adik tirinya ini.

“Dari sikapnya,” sahut Cempaka, singkat

“Sikap belum sepenuhnya menjamin, Cempaka.”

“Naluriku yang mengatakannya, Kakang. Dan biasanya, naluriku tidak pernah salah. Aku juga merasa kalau dia sumber dari segalanya, Kakang.”

Rangga tidak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan gadis ini. Dia tahu, Cempaka tidak pernah suka mengalah sedikit pun. Gadis itu akan tetap kokoh pada pendiriannya, meskipun apa yang diucapkan seperti tidak memiliki dasar dan bukti yang kuat. Tapi Rangga memang mengakui, Cempaka seperti memiliki indra keenam. Dan biasanya memang begitu. Kalau Cempaka sudah mengatakan nalurinya yang berbicara, biasanya selalu menjadi kenyataan. Apakah mungkin..., Rangga tidak dapat melanjutkan.

Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri dari kursi yang didudukinya. Setelah memberikan ucapan selamat malam, kakinya melangkah keluar dari kamar ini. Tinggal Cempaka dan Pandan Wangi saja yang masih duduk diam di tepi pembaringan.

“Sebaiknya tidur saja, Cempaka. Besok pagi baru kita ke kota,” ujar Pandan Wangi seraya merebahkan diri.

“Duluan saja, Kak. Aku belum ngantuk.”

********************

LIMA

Pagi-pagi sekali Rangga, Pandan Wangi, dan Cempaka sudah meninggalkan rumah penginapan yang hanya satu-satunya di Desa Batu Ceper. Mereka menunggang kuda menuju Kotaraja Karang Setra. Dari Desa Batu Ceper ini, mereka harus merintasi Rimba Tengkorak. Sebuah hutan yang selalu di-anggap angker oleh penduduk desa-desa sekitar hutan itu.

Walaupun ada jalan lain, tapi itu harus memutar dan memakan waktu yang cukup panjang. Mereka berkuda demikian cepat setelah keluar dari Desa Batu Ceper. Dan kini Rimba Tengkorak sudah meng-hadang di depan. Hutan yang begitu lebat, dan tampak angker sekali. Tapi semua itu tidak membuat gentar hati ketiga anak muda yang terus memacu kuda dengan kecepatan tinggi. Namun begitu memasuki hutan itu, mendadak saja....

“Berhenti dulu...!” seru Rangga keras.

Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti melompat dari atas punggung kudanya. Begitu indah dan ringan gerakan pemuda berbaju rompi putih itu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, kakinya mendarat manis sekali di atas tanah berumput. Pandan Wangi dan Cempaka bergegas berlompatan turun dari punggung kuda masing-masing. Mereka menghampiri Pendekar Rajawali Sakti yang berjongkok sambil mengamati tanah berumput di depannya.

“Ada apa, Kakang...?” tanya Pandan Wangi.

“Lihat,” Rangga menujuk ke tanah berumput di depannya.

“Darah...?!” desis Pandan Wangi dan Cempaka hampir bersamaan.

Darah yang melekat di rerumputan ini memang tidak begitu jelas terlihat, meskipun tampaknya masih baru. Darah itu menuju ke dalam hutan. Rangga bangkit berdiri, lalu mengayunkan kakinya perlahan mengikuti ceceran darah yang melekat di rerumputan. Matanya begitu tajam tidak berkedip, mengamati ceceran darah itu.

Pluk...!

“Heh...?!”

Rangga tersentak kaget, dan langsung melompat ke belakang dua tindak ketika tiba-tiba saja dari atas jatuh sebuah benda hitam bercampur putih. Bukan hanya Rangga, tapi Cempaka dan Pandan Wangi pun tersentak kaget. Lebih terkejut lagi, ternyata benda hitam bercampur putih itu adalah seekor kera besar yang tidak lagi memiliki kepala. Tampak darah mengucur dari lehernya yang buntung.

“Hup! Yeaaah...!”

Cepat sekali Rangga melesat ke angkasa, lalu tangan kananya bergerak cepat mengibas mempergunakan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti membabat batang pohon yang tinggi itu.

Kraaak...!

Bruk!

Tepat saat potongan pohon itu jatuh, berkelebat sebuah bayangan dari puncak pohon yang terbabat buntung itu. Tepat ketika bayangan itu mendarat di tanah berumput, Rangga juga menjejakkan kakinya tanpa bersuara sedikit pun. Kening Pendekar Rajawali Sakti jadi berkerut ketika di depannya kini berdiri seseorang yang mengenakan baju warna biru terang.

Dari sosok tubuh yang ramping, sudah dapat dipastikan kalau orang itu adalah wanita. Tak terlihat sebuah senjata pun melekat di tubuhnya Seluruh wajahnya tertutup selembar kain biru. Hanya sepasang bola matanya saja yang terlihat menyorot tajam ke arah Rangga. Dia berdiri tegak sambil berkacak pinggang. Sikapnya begitu angkuh dan menantang.

“Nisanak, apa maksudmu mencegah langkah kami?” tanya Rangga, mencoba bersikap ramah.

“Aku ingin membunuhmu, Pendekar Rajawali Sakti!” sahut wanita berbaju biru itu dingin.

Suaranya terdengar agak parau dan berat sekali, namun Rangga tahu kalau suara wanita ini dibuat-buat agar terdengar garang. Wanita yang wajahnya tertutup kain biru itu, melirik Cempaka dan Pandan Wangi yang berada sekitar lima batang tombak di belakang Rangga. Dan wanita bercadar itu kembali memusatkan perhatiannya pada Rangga.

“Bersiaplah untuk mati, Pendekar Rajawali Sakti! Hiyaaat..!”

“Hei...! Tunggu...!” sentak Rangga. Tapi wanita bercadar biru itu sudah keburu melompat menyerang. Cepat sekali dia melakukan serangan, sehingga membuat Pendekar Rajawali Sakti terperangah. Namun hanya sesaat saja, karena tubuhnya cepat dimiringkan ke kanan begitu satu pukulan yang mengandung seluruh pengerahan tenaga dalam meluncur deras ke arah dada.

Pukulan yang dilepaskan wanita bercadar biru itu sedikit saja lewat di depan dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun sebelum Rangga sempat menegakkan kembali tubuhnya, wanita itu sudah kembali menyerang. Kaki kirinya terayun cepat dengan lutut tertekuk. Tendangan itu tertuju lurus ke arah perut Pendekar Rajawali Sakti.

“Uts! Hup...!”

Bergegas Rangga melompat mundur dua tindak, menghindari serangan yang begitu cepat luar biasa. Tapi wanita bercadar biru itu seakan-akan tidak ingin memberikan kesempatan pada Pendekar Rajawali Sakti untuk melakukan serangan. Kembali diserangnya pemuda berbaju rompi putih itu dengan dahsyat dan ganas sekali.

Pertarungan baru berjalan sebentar saja, tapi daerah sekitar pertarungan sudah tidak karuan lagi bentuknya. Karena setiap pukulan maupun tendangan yang tidak menemui sasaran, membuat pepohonan bertumbangan dan batu-batu hancur berkeping-keping. Sementara di tempat lain yang cukup aman Cempaka dan Pandan Wangi hanya dapat menyaksikan saja. Rasanya memang tidak mungkin melakukan sesuatu untuk mengeroyok wanita bercadar biru. Dan lagi, Rangga juga tidak akan suka jika pertarungannya dicampuri orang lain.

“Lepas kepalamu. Hih...!” seru wanita bercadar biru itu tiba-tiba.

Dan seketika itu juga tangan kanannya dikibaskan cepat ke arah leher Rangga. Namun manis sekali Pendekar Rajawali Sakti menarik kepala ke belakang sehingga tebasan tangan wanita bercadar biru itu hanya lewat sedikit di depan tenggorokan.

“Hup...!” Rangga cepat melompat ke belakang sejauh batang tombak.

“Tunggu...!” sentak Rangga seraya menghentakkan tangan kanan ke depan.

Wanita bercadar biru itu tak jadi melakukan serangan, dan hanya berdiri tegak berkacak pinggang. Tatapan matanya begitu tajam, menyorot langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti.

“Kau menggunakan jurus 'Pukulan Tapak Maut'. Apa hubunganmu dengan Pendeta Gurusinga?” tanya Rangga, mengenali jurus yang tadi dikerahkan wanita bercadar biru itu.

“Dia kakakku!” dengus wanita bercadar biru itu ketus.

“Kakakmu...? Lalu, siapa kau sebenarnya?” tanya Rangga lagi.

“Untuk apa ingin tahu? Aku hanya ingin agar kau mati, Pendekar Rajawali Sakti!”

Setelah berkata demikian, wanita bercadar biru itu langsung melompat cepat menyerang kembali. Namun kali ini semakin dahsyat dan berbahaya sekali. Jurus 'Pukulan Tapak Maut' yang dikenali Rangga ketika bertarung melawan Pendeta Gurusinga, membuatnya harus berhati-hati menghadapinya. Kelengahan sedikit saja, akibatnya sangat berbahaya. Dan Pendekar Rajawali Sakti sudah merasakan ketika bertarung melawan Pendeta Gurusinga.

Jurus 'Pukulan Tapak Maut' banyak mengandung gerak tipu yang dapat membuyarkan perhatian lawan dalam bertarung. Apa lagi kedua telapak tangan pemilik jurus itu berbahaya sekali. Bisa tajam melebihi tajamnya mata pedang. Juga, pukulannya dapat menghancurkan sebongkah batu cadas sebesar kerbau. Dan ini sangat disadari Rangga, sehingga harus menghadapinya dengan hati-hati sekali. Dia selalu memperhatkan setiap gerak yang dilakukan wanita bercadar biru itu.

“Pandan, Cempaka...! Cepat kalian pergi. Nanti aku menyusul!” teriak Rangga menyuruh kedua gadis yang bersamanya meninggalkan tempat ini.

Rangga tahu, jurus 'Pukulan Tapak Maut' sangat berbahaya. Maka Pendekar Rajawali Sakti tidak ingin kedua gadis itu menjadi sasaran dari wanita bercadar biru ini. Dan memang, kalau tidak bisa mengenai sasaran yang dituju dalam dua puluh gebrakan, wanita itu akan mencari sasaran lain secara membabi buta. Dan memang itu salah satu sifat jurus 'Pukulan Tapak Maut'. Sifat yang sangat tidak terpuji, dan sukar ditolak jika sudah merasuk dalam jiwa pemakainya.

Cempaka yang sudah tahu bahayanya jurus 'Pukulan Tapak Maut', segera menarik tangan Pandan Wangi. Mereka menjauh, lalu melompat ke atas punggung kuda masing-masing.

“Ayo kita tinggalkan tempat ini,” ajak Cempaka.

“Bagaimana dengan Kakang Rangga?” tanya Pandan Wangi.

“Dia pasti bisa mengatasi,” sahut Cempaka.

“Tapi, kenapa Kakang Rangga meminta kita pergi?” tanya Pandan Wangi tidak mengerti.

“Nanti kujelaskan. Yang penting sekarang kita harus menjauhi tempat ini dulu.”

Pandan Wangi yang sudah berpengalaman dalam mengarungi kancah rimba persilatan, tidak dapat membantah lagi. Apalagi, yang menyuruhnya pergi adalah Pendekar Rajawali Sakti. Meskipun ada sedikit rasa khawatir di hatinya, tapi diikutinya juga Cempaka. Sementara pertarungan antara Rangga melawan wanita bercadar biru itu semakin terlihat sengit. Sudah lebih dari lima belas gebrakan dari jurus 'Pukulan Tapak Maut', tapi Rangga masih mampu bertahan.

“Setan kau, Rangga! Hiya! Hiya! Hiyaaa...!” wanita bercadar biru itu tampak gusar, karena belum juga mampu mendesak lawannya.

Wanita itu semakin sering melontarkan pukulan-pukulan mautnya, sehingga Rangga terpaksa harus berpelantingan menghindari. Sementara Pandan Wangi dan Cempaka sudah begitu jauh, bahkan sudah tidak terlihat lagi. Rangga merasa lega saat mengetahui kalau kedua gadis itu sudah pergi.

“Maaf, aku tidak ada waktu untuk melayanimu. Hiyaaa...!”

Setelah berkata demikian, Rangga cepat melentingkan tubuhnya ke udara. Lalu bagaikan kilat, dia melesat pergi. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuhnya, sehingga dalam sekejap mata saja sudah tidak terlihat lagi. Bahkan wanita bercadar biru itu sendiri belum sempat menyadari.

“Hei...?!” seru wanita bercadar biru itu terkejut. Tapi dia tidak mampu lagi melakukan sesuatu, karena Rangga sudah menghilang entah ke mana. Tampak kedua bola matanya berkilatan menyimpan amarah yang meledak-ledak. Kedua tangannya terkepal, hingga otot-ototnya bersembulan.

“Keparat..! Hiyaaat..!”

Wanita bercadar biru itu melampiaskan kemarahan dengan melepaskan pukulan-pukulan maut ke arah batu dan pepohonan. Suara-suara ledakan terdengar menggelegar saling susul. Entah berapa puluh pohon dan bebatuan hancur berkeping-keping terhantam pukulan wanita itu. Tingkahnya baru dihenti setelah sekitarnya rata dengan tanah.

Wanita itu berdiri tegak memandang ke arah kepergian Pendekar Rajawali Sakti tadi. Sambil mendengus kencang, cadar yang menutupi wajahnya dilepaskan. Tampak seraut wajah cantik terlihat begitu cadar tipis berwarna biru terlepas. Namun dari kecantikan wajahnya, tersirat suatu gambaran kemarahan dari dendam yang bersemayam lekat dalam hatinya.

“Pengecut..! Tapi aku tidak akan berhenti sebelum kau mampus di tanganku, Rangga! Apa pun akan kulakukan, dan kau akan merasakan betapa sengsaranya hidup dalam penderitaan,” dengus wanita itu dingin.

Sebentar wanita itu berdiri mematung, lalu perlahan-lahan mengayunkan kakinya meninggalkan tempat itu. Namun belum begitu lama melangkah, mendadak saja sebuah bayangan berkelebat menghadang. Wanita berbaju biru itu cepat menghentikan ayunan langkahnya. Sorot matanya langsung tajam begitu di depannya tahu-tahu sudah berdiri seorang perempuan tua berjubah hitam. Dia memegang tongkat berbentuk ular kobra di tangan kanannya.

“Nenek Jamping... Ada apa kau datang ke sini?” dengus wanita itu, agak ketus nada suaranya.

“Kasihan sekali. Seharusnya kau memberitahuku dulu bila ingin keluar dari pertapaan,” ujar perempuan tua berjubah hitam yang dipanggil Nenek Jamping.

“Ini urusanku sendiri, Nek. Sebaiknya Nenek jangan ikut campur,” ujar wanita cantik berbaju biru itu ketus.

“Kau muridku, Mintarsih. Sudah sepatutnya kau memberi tahu bila ingin keluar dari pertapaan,” tetap kalem nada suara perempuan tua ini, mengulangi perkataannya.

“Hhh! Kalau memberitahu dulu, kau pasti tidak akan mengizinkan.”

“He he he...! Kau belum pernah mencobanya, bukan? Kapan kau pernah mengatakannya padaku?”

Wanita cantik berbaju biru yang ternyata adalah Mintarsih, hanya diam saja. Memang diakui, selama puluhan tahun bersama perempuan tua ini, belum pernah sekali pun keinginannya diutarakan. Bahkan keinginannya yang terbesar pun, tidak pernah dikatakan. Itu sebabnya, kenapa wanita itu nekat meninggalkan pertapaan di Puncak Gunung Batur Gamping. Suatu tempat yang sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk.

Di puncak Gunung Batur Gamping itulah dirinya ditempa puluhan tahun oleh Nenek Jamping. Bahkan meskipun usia sebenarnya hampir sebaya dengan perempuan tua ini, tapi masih terlihat cantik. Itu semua berkat ramuan-ramuan yang selalu diminumnya dari Nenek Jamping. Mintarsih dijadikan kelinci percobaan, dan hasilnya sungguh mengagumkan. Wajah dan bentuk tubuhnya tetap muda seperti gadis saja. Padahal, usianya sudah di atas kepala enam.

“Aku tahu, kau menyimpan dendam yang sangat besar, Mintarsih. Tapi, apakah keinginanmu untuk membalas dendam tidak bisa ditunda? Aku khawatir pembalasanmu ini tidak mencapai hasil yang diinginkan,” ujar Nenek Jamping.

“Aku tidak ingin berlarut-larut, Nek. Sampai saat ini, apa yang kurencanakan harus bisa berjalan lancar,” sahut Mintarsih.

“Dengan memperalat murid Pendeta Pohaji...?' Nenek Jamping menggeleng-gelengkan kepalanya “Apa kau yakin, anak muda yang masih hijau begitu mampu mengalahkan Pendekar Rajawali Sakti? Ilmu yang dimilikinya masih terlalu jauh, Mintarsih. Bahkan berada jauh di bawahmu. Malah kau sendiri belum tentu mampu menandingi kesaktian Pendekar Rajawali Sakti. Kusarankan, sebaiknya tunda dulu pembalasan dendam ini, Mintarsih. Masih banyak yang harus dipersiapkan. Dan kau belum betul-betul siap untul pekerjaan ini. Percayalah padaku, Mintarsih. Suatu saat kelak, pembalasanmu akan berjalan lebih baik.”

“Rasanya tidak mungkin dihentikan, Nek. Musuh bebuyutanku sudah berada di depan mata, dan tidak mungkin kulepaskan kembali,” Mintarsih tetap menolak.

“Aku yakin, kakakmu, Pendeta Gurusinga tidak menyetujui semua tindakanmu sekarang ini. Akan sia-sia saja, Mintarsih. Dan kau sendiri akan mengalami kekecewaan besar. Bahkan kakakmu di alam sana akan kecewa kalau kau gagal.”

“Kalaupun gagal, aku akan mencobanya terus, Nek,” ujar Mintarsih mantap.

“Itu kalau kau tidak tewas, Mintarsih. Lalu kalau kau sampai tewas, siapa yang meneruskan...?”

Mintarsih belum menjawab. “Pokoknya aku tidak akan berhenti, Nek. Kau sudi membantu atau tidak, itu urusanmu!” agak tinggi nada suara Mintarsih.

“Kau sama keras kepalanya dengan Pendeta Gurusinga. Dulu, aku juga sudah memperingatkan padanya agar tidak ikut mencampuri urusan di Karang Setra. Tapi dia keras kepala, dan akhirnya tewas di tangan pewaris tunggal Karang Setra. Dan sekarang, kau juga akan berhadapan dengannya. Hhh...,” pelan sekali suara Nenek Jamping, bernada mengeluh.

“Maaf, Nek. Bukannya ingin membuat kau sakit hati. Semua yang kulakukan ini demi kau juga, Nek. Demi keluarga kita,” ujar Mintarsih, melemah suaranya.

Nenek Jamping terdiam. Tubuhnya diputar lalu melangkah perlahan sambil menundukkan kepala. Mintarsih memperhatikan dengan mata agak menyipit. Dia tahu kalau perempuan tua itu pasti terkenang pada suami dan anak-anaknya. Suaminya tewas di tiang gantungan, karena dihukum oleh Adipata Arya Permadi. Saat itu Karang Setra belum tumbuh menjadi sebuah kerajaan seperti sekarang ini, dan masih berbentuk sebuah kadipaten. Yang menjadi adipati waktu itu adalah ayah kandung Rangga si Pendekar Rajawali Sakti, yang bernama Arya Permadi.

Sementara itu, anak lelaki Nenek Jamping satu-satunya, juga tewas di tangan adipati itu. Dia telah menantang Adipati Arya Permadi untuk membalas dendam atas kematian ayahnya, suami Nenek Jamping. Tapi kepandaian yang dimilikinya masih rendah, sehingga harus tewas dalam pertempuran yang jujur. Mendapat kenyataan ini, kemudian Nenek Jamping meninggalkan Karang Setra, dan menyepi di Puncak Gunung Batur Gamping. Di situlah semua ilmu-ilmu yang dimilikinya diperdalam. Hingga pada suatu saat, mereka bertemu.

Mintarsih pada waktu terjadi kemelut di Karang Setra ikut pula membantu kakaknya, Pendeta Gurusinga. Dia ikut bertarung melawan prajurit-prajurit Karang Setra, sehingga terluka sangat parah. Dalam keadaan luka parah, Mintarsih pergi ke Puncak Gunung Batur Gamping. Di sana, dia berjumpa Nenek Jamping yang akhirnya cepat membantunya.

Sebagai ungkapan balas jasa, Mintarsih bersedia menjadi kelinci percobaan perempuan tua itu. Maka kemudian dia harus tinggal selama bertahun-tahun di puncak gunung yang sunyi dan terpencil itu. Ketika mendapat kabar kalau Pendeta Gurusinga tewas, Mintarsih semakin meluap-luap rasa bencinya terhadap Karang Setra. Untuk itu dia berkewajiban membalas kematian kakaknya itu kepada Pendekar Rajawali Sakti, penguasa Karang Setra sekarang ini

Di antara Mintarsih dan Nenek Jamping, memang terjadi persamaan nasib. Hanya bedanya, Nenek Jamping mempunyai dendam pada Arya Permadi, ayah Rangga. Sedangkan Mintarsih mempunyai dendam pada Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti. Hubungan dendam yang saling terkait ini membentuk jaringan-jaringan yang akan menjerat orang yang terlibat di dalamnya. Sebuah jaringan hitam yang akan menjerat siapa saja. Bahkan orang yang tak terlibat sekalipun, akan ikut terjerat. Seperti layaknya Sangkala.

Pemuda itu telah terpedaya oleh Mintarsih, dengan menciptakan dendam. Kematian Pendeta Pohaji oleh Mintarsih dikatakan oleh wanita itu atas perbuatan Pandan Wangi. Sedangkan Pandan Wangi adalah kekasih Rangga. Sebagai murid Pendeta Pohaji, tentu saja Sangkala harus membalas kematian itu. Apalagi, Mintarsih telah membuka rahasia kalau ayah dan ibu Sangkala juga telah dihukum mati oleh Pendekar Rajawali Sakti karena mereka terlibat dalam makar.

Maka semakin lengkaplah dendam-dendam yang jalin menjadi sebuah jaringan hitam di Kerajaan Kara Setra. Bagi Nenek Jamping dan Mintarsih, Karang Setra merupakan musuh utama yang harus dihancurkan. Berbagai macam cara telah ditempuh, tapi tak ada hasil yang memuaskan. Bahkan, mereka banyak kehilangan anggota keluarga. Apakah sekarang juga harus gagal lagi...?

“Nek...! Mau ke mana kau...?” teriak Mintarsih seraya berlari mengejar perempuan tua yang sudah berjalan cukup jauh.

“Aku hanya akan menenangkan pikiran,” sahut Nenek Jamping sambil terus melangkah perlahan.

Mintarsih mensejajarkan langkahnya di samping kanan perempuan tua itu. “Maafkan atas kekasaranku tadi, Nek,” ucap Mintarsih.

“Tidak mengapa. Malah, seharusnya aku bangga. Hhh..., sudahlah. Kita berdua memang sudah bertekad untuk menghancurkan Karang Setra. Hanya tinggal kita berdua, Mintarsih.”

“Jadi Nenek menyetujui apa yang kulakukan?”

“Sebenarnya tidak, bila dilakukan sekarang. Tapi kau sudah melangkah cukup jauh. Aku tidak ingin mengecewakanmu, Mintarsih.”

“Tapi aku telah mengecewakanmu, Nek.”

“Kekecewaanku terobati dengan tujuanmu.”

“Terima kasih, Nek. Aku janji, tidak akan mengecewakanmu lagi.”

Nenek Jamping tersenyum. Mereka terus berjalan menembus lebatnya Rimba Tengkorak. Tanpa disadari, arah yang dituju, justru Karang Setra.

********************

Sementara itu, Rangga yang meninggalkan per-tarungan sudah sangat jauh berlari. Larinya dihentikan ketika tiba di sebuah sungai kecil, namun berair sangat jernih. Pendekar Rajawali Sakti membasuh muka dan angannya. Dibersihkannya kotoran yang melekat akibat pertarungannya tadi dengan wanita bercadar biru. Dia bangkit berdiri ketika telinganya mendengar ringkikan kuda.

Perlahan Rangga memutar tubuhnya. Tampak dari kejauhan terlihat debu mengepul di udara. Kemudian terdengar suara kuda yang dipacu cepat. Tak berapa lama, terlihat dua ekor kuda dipacu cepat menuju ke arah sungai kecil itu. Rangga tersenyum begitu mengenali penunggang kuda yang ternyata Pandan Wangi dan Cempaka.

Kedua gadis itu langsung melompat turun dari punggung kuda setelah dekat dengan Rangga. Mereka bergegas menghampiri Pendekar Rajawali Sakti. Sementara kuda-kuda mereka menghilangkan dahaga dengan mereguk air sungai sebanyak-banyaknya.

“Mana kudamu, Kakang?” tanya Pandan Wai langsung.

“Mungkin tertinggal,” sahut Rangga seenaknya.

Pendekar Rajawali Sakti memang tidak memikirkan kudanya. Kalau dalam keadaan terpaksa kudanya memang selalu ditinggalkan begitu saja. Rangga tahu, tidak lama lagi kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu pasti akan datang menyusul. Dan dugaannya memang tepat. Belum lagi Cempaka atau Pandan Wangi membuka mulutnya, terdengar ringkikan yang disusul munculnya seekor kuda hitam dari dalam semak belukar. Kuda hitam itu langsung menghampiri Rangga.

“Sukar mencari kuda seperti ini, Kakang,” puji Pandan Wangi, tulus.

Rangga hanya tersenyum saja, seraya menepuk leher dan bokong kuda hitam itu tiga kali. Maka kuda hitam itu segera melenggang mendekati kuda-kuda yang kini tengah merumput di pinggir sungai. Tampak sekali perbedaan ketiga ekor kuda itu. Jelas Dewa Bayu lebih tinggi dan gagah dari yang lainnya.

“Bagaimana pertarunganmu, Kakang? Apa sudah tahu, siapa wanita itu?” tanya Pandan Wangi lagi.

“Aku tidak tahu siapa dia. Tapi yang jelas, dia mempunyai jurus-jurus yang sama dengan Pendeta Gurusinga,” sahut Rangga.

“Pendeta Gurusinga...?” Cempaka terbeliak.

“Kau tahu siapa dia, Cempaka?” tanya Pandan Wangi yang tidak mengenal orang yang bernama Pendeta Gurusinga.

“Tentu saja aku tahu,” sahut Cempaka. “Kakang! Apa tidak mungkin dia muridnya, atau barangkali anaknya?” Cempaka menduga-duga.

“Dia mengaku adiknya,” sahut Rangga.

“Adiknya...? Rasanya Pendeta Gurusinga tidak punya adik, Kakang.”

“Aku yakin Ki Lintuk bisa menjelaskannya, Cempaka.”

“Benar, Kakang. Aku yakin kalau Ki Lintuk mengetahui semua ini. Dia tidak pernah meninggalkan Karang Setra, semasa masih sebuah kadipaten. Bahkan selagi masih menjadi sebuah desa, dia sudah tinggal di sana.”

“Kalau begitu, kenapa tidak segera saja ke Karang Setra...?” selak Pandan Wangi.

“Istirahat saja dulu di sini, Pandan. Besok saja kita lanjutkan perjalanan,” ujar Rangga.

“Masih terlalu siang, Kakang. Aku yakin, masih cukup waktu untuk ke Karang Setra. Senja nanti, pasti sudah sampai di perbatasan,” serga Pandan Wangi lagi.

“Bagaimana, Cempaka?” Rangga meminta pendapat adiknya.

“Aku rasa, Kak Pandan benar, Kakang,” sahut Cempaka. “Hanya setengah hari perjalanan, dan ini masih terlalu siang.”

Rangga tersenyum. Sebenarnya tadi Pendekar Rajawali Sakti hanya menguji saja. Dan ternyata, kedua gadis ini begitu bersemangat dan tidak ingin berlarut-larut. Tak lama kemudian, mereka bertiga sudah berkuda lagi menuju Karang Setra yang tinggal setengah hari lagi perjalanan menunggang kuda.

********************

ENAM

Seperti yang telah diperkirakan Pandan Wangi, mereka tiba di gerbang perbatasan Kotaraja Karang Setra tepat ketika matahari tenggelam di balik belahan bumi sebelah Barat. Mereka terus memacu kuda memasuki kota yang selalu ramai dan tidak pernah sepi. Namun mereka mengendalikan kuda tidak secepat tadi, karena tidak ingin menarik perhatian penduduk yang memadati jalan.

Pendekar Rajawali Sakti, Pandan Wangi, dan Cempaka terus mengendalikan kuda menuju Istana Karang Setra. Tak ada seorang pun yang mengenali, karena mereka berpakaian bak layaknya orang persilatan. Dan memang, seluruh rakyat Karang Setra hanya mengenali, bila rajanya berpakaian kerajaan. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mengenali Rangga dalam keadaan seperti ini. Bahkan tidak semua prajurit mengetahuinya.

Malah, dua orang prajurit penjaga pintu gerbang istana pun tidak mengenalinya. Mereka hanya mengenal Cempaka. Bahkan kedua prajurit itu memandang curiga terhadap Rangga dan Pandan Wangi. Tapi mereka tidak bisa bertanya. Mungkin karena Pendekar Rajawali Sakti dan Pandan Wangi datang bersama Cempaka.

“Mereka tidak mengenalmu, Kakang,” bisik Cempaka pelan setelah melewati pintu gerbang istana.

“Itu lebih baik,” sahut Rangga sambil tersenyum.

“Soalnya Kakang kalau pergi selalu lewat belakang, sih.”

Lagi-lagi Rangga hanya tersenyum saja. Matanya melirik sedikit pada Pandan Wangi yang juga tersenyum saja. Memang, Rangga dan Pandan Wangi tidak dikenal di lingkungan istana ini. Dan itu memang disengaja, karena tidak ingin semua orang tahu siapa mereka sebenarnya.

Tiga orang prajurit bergegas menghampiri ketika Rangga, Cempaka, dan Pandan Wangi tiba di tangga masuk istana. Mereka turun dari kuda masing-masing. Ketiga prajurit itu membungkuk, memberi hormat pada Cempaka. Sama sekali, Rangga dan Pandan Wangi tidak dipedulikan. Ketiga prajurit itu membawa kuda-kuda itu ke tempat penambatan kuda.

“Kau masih ingat seluk-beluk istana ini, Kakang?” tanya Cempaka.

“Tidak pernah kulupakan, Cempaka. Selama belum ada perubahan yang mendalam,” sahut Rangga.

“Sedikit pun tidak berubah.”

Mereka terus berjalan menaiki anak-anak tangga, dan terus masuk ke dalam bangunan istana yang megah ini. Setiap pintu selalu dijaga prajurit, sedikitnya dua orang. Dan para prajurit itu selalu membungkuk memberi hormat pada Cempaka. Ketiga orang itu kemudian langsung menuju Balai Sema Agung.

Danupaksi dan para pembesar istana yang tengah berada di ruangan itu terkejut melihat kedatangan Cempaka bersama Rangga dan Pandan Wangi. Danupaksi bergegas menyongsong. Dia kemudian berlutut memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak dengan di depan hidung, tepat di depan Rangga. Pendekar Rajawali Sakti menepuk pundak adik tirinya ini, dan memintanya bangun. Semua orang yang berada di ruangan itu memberi hormat. Mereka tahu, kalau penguasa kerajaan ini sudah hadir.

“Kami semua selalu menunggu di sini, Kanda Prabu,” ujar Danupaksi.

“Apa sebenarnya yang terjadi, Danupaksi?” tanya Rangga dengan bibir menyunggingkan senyum.

Pendekar Rajawali Sakti selalu merasa jengah bila adik-adiknya memanggil dengan sebutan Kanda Prabu. Dan itu memang sudah menjadi kewajiban Cempaka dan Danupaksi untuk menyebut Rangga dengan sebutan itu. Tapi Rangga tidak pernah suka disebut begitu jika tidak di depan para pembesar. Pendekar Rajawali Sakti lebih senang dipanggil kakang saja.

“Sebenarnya tidak ada kegawatan di sini, Kanda Prabu. Tapi kami semua selalu waspada,” ujar Danupaksi.

Lagi-lagi Rangga hanya tersenyum saja. Pandangannya beredar ke sekeliling, merayapi para pembesar yang berada di sekitarnya. Sikap mereka hormat. Semua kepala tertunduk menekuri lantai. Pandangan Rangga tertumbuk pada Ki Lintuk, laki-laki tua yang mengenakan jubah putih panjang tongkat kayu berkeluk tergenggam di tangan.

“Kalian semua boleh beristirahat,” ujar Rangga. Nada suaranya begitu berwibawa.

Semua orang membungkuk dan merapatkan dua tangan di depan hidung. Tanpa menunggu perintah dua kali, mereka bergerak meninggalkan ruangan ini.

“Ki Lintuk...,” panggil Rangga ketika melihat Ki Lintuk beranjak bangun hendak pergi.

“Hamba, Gusti Prabu,” sahut Ki Untuk seraya memberi hormat.

“Kau tetap di sini.”

“Hamba, Gusti Prabu.”

Dengan sikap agung, Pendekar Rajawali Sakti duduk di sebuah kursi berukir yang sangat indah. Cempaka, Danupaksi, dan Pandan Wangi mengambil tempat di samping Raja Karang Setra itu. Sedangkan Ki Lintuk tetap berdiri di depan mereka.

“Duduklah di sini, Ki Lintuk,” ujar Rangga seraya menepuk kursi di sebelahnya.

“Maaf, Gusti Prabu. Hamba...”

“Di sini aku memang raja. Tapi aku tidak pernah melupakan sejarah, Ki Lintuk. Duduklah di sini, dan jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi,” ujar Rangga lembut

Ki Lintuk tersenyum tersipu. Memang di ruangan ini tidak ada pembesar lain lagi, kecuali Danupaksi dan Cempaka. Bahkan tak ada prajurit penjaga. Dengan sikap yang masih menujukkan rasa hormat, laki-laki tua yang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun itu duduk di kursi yang diminta Rangga.

“Ada yang ingin kutanyakan padamu, Ki,” ujar Rangga langsung.

“Tentang apa itu...?” tanya Ki Lintuk hampir lupa dengan permintaan Rangga untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Gusti Prabu lagi.

“Pendeta Pohaji.”

Ki Lintuk memandang Pendekar Rajawali Sakti tidak mengerti. Semua orang, baik patih, panglima, punggawa dan pembesar lain di istana ini memang sedang diliputi kewaspadaan atas kematian Pendeta Pohaji yang masih menjadi teka-teki bagi mereka semua. Dan sekarang Rangga ingin menanyakan sesuatu yang ada hubungannya dengan peristiwa itu. Ki Lintuk hanya dapat menduga-duga saja tanpa mendapat jawaban pasti.

“Kakang, boleh aku bicara...?” selak Danupaksi.

“Silakan, Danupaksi,” sahut Rangga.

“Jika Kakang ingin menanyakan tentang kematian Pendeta Pohaji, terus terang, kami semua masih belum tahu tentang pembunuhnya. Semuanya masih teka-teki, penuh kabut kegelapan,” ujar Danupaksi mendahului.

“Ya, aku tahu. Cempaka sudah banyak cerita,” sambut Rangga seraya tersenyum.

“Lalu, apa yang Kakang ingin ketahui lagi?” tanya Danupaksi.

“Masa lalu Pendeta Pohaji,” sahut Rangga seraya menatap Ki Lintuk lagi.

“Maksud, Kakang...?” Danupaksi jadi tidak mengerti.

Apa yang sejak tadi menjadi dugaan di kepalanya, ternyata tidak terbukti sama sekali. Dan selama ini Danupaksi tidak pernah memikirkan tentang masa lalu Pendeta Pohaji. Tapi masa lalu itulah yang ingin diketahui Rangga. Danupaksi hanya bisa bertanya dalam hati, apa hubungannya dengan masa lalu...? Mungkinkah dari masa lalu bisa terungkap, siapa pembunuh Pendeta Pohaji...?

Bukan hanya Danupaksi yang keheranan atas pertanyaan Rangga. Bahkan Ki Lintuk, orang yang dianggap tertua merasa heran mendengar pertanyaan itu. Hingga matanya memandangi Rangga begitu dalam. Entah, apa yang ada di kepala Ki Lintuk saat ini. Mungkin sedang menduga-duga, apa sebenarnya yang diinginkan Pendekar Rajawali Sakti hingga menanyakan tentang masa lalu Pendeta Pohaji.

“Yang aku tahu, Pendeta Pohaji sudah lama mengabdi di Karang Setra, Anakku. Beliau sudah mengabdi sejak ayahandamu kecil,” jelas Ki Lintuk membeberkan apa yang diketahui tentang diri Pendeta Pohaji.

“Ki Lintuk juga sudah mengabdi pada ayah sejak dulu, kan...?” tanya Cempaka yang sejak tadi diam saja.

“Benar. Tapi, lebih lama tiga tahun daripada Pendeta Pohaji”

“Dan selama itu, apakah Pendeta Pohaji mempunyai musuh?” tanya Rangga lagi.

“Musuh...?” Ki Lintuk tampak kebingungan. “Rasanya..., beliau tidak punya musuh seorang pun juga. Bahkan ketika Gusti Wira Permadi berkuasa di Karang Setra dia memilih tetap berada di istana ini. Padahal, aku dan yang lainnya mengundurkan diri. Kuakui, pandangannya memang luas. Dan dia tetap menjaga keutuhan istana ini, meskipun seharusnya ditinggalkan.”

“Tentang kehidupan pribadinya, Ki. Apakah dia pernah menikah, atau pernah mencintai seseorang?” desak Rangga lagi.

“Ya, pernah sekali. Tapi rasa cintanya bukan antara sepasang kekasih. Pendeta Pohaji mencintai seorang wanita yang dianggapnya adik. Tidak lebih dari itu. Tapi, wanita itu menganggapnya lain. Maka dia jadi membenci Pendeta Pohaji.”

“Siapa nama wanita itu, Ki?” tanya Pandan Wangi.

Ki Lintuk tidak langsung menjawab. Kening yang sudah berkerut, semakin dalam kerutannya saat berpikir keras. Ki Lintuk mencoba mengingat-ingat nama, wanita yang pernah mencintai Pendeta Pohaji. Namun, cintanya hanya dibalas dengan rasa kasih sayang sebagai saudara.

“Kalau tidak salah, namanya Mintarsih.... Ya benar. Mintarsih,” jelas Ki Lintuk.

“Mintarsih...,” gumam Rangga.

Sementara Cempaka dan Pandan Wangi saling berpandangan. Mereka jadi teringat wanita yang bertarung melawan Rangga di Rimba Tengkorak. Wanita itu mengenakan cadar biru, sehingga sukar dikenali wajahnya. Apakah wanita itu yang bernama Mintarsih...? Pikiran seperti itulah yang langsung tersirat di dalam kepala Cempaka dan Pandan Wangi. Namun kedua gadis itu hanya dapat bertanya, tanpa tahu jawabannya.

“Sebentar, Kakang...!” selak Danupaksi tiba-tiba.

Semua yang ada di ruangan Balai Sema Agung ini seketika menatap Danupaksi. Sedangkan yang ditatap seakan-akan sedang berpikir, atau mungkin sedang teringat sesuatu.

“Ada apa, Danupaksi?” tanya Rangga melihat Danupaksi hanya diam saja.

“Rasanya aku pernah mendengar nama itu, Kakang,” ujar Danupaksi

“Di mana kau mendengar nama itu, Danupaksi,” tanya Rangga lagi.

“Sangkala.... Ya...! Sangkala pernah bercerita kalau punya kekasih yang bernama Mintarsih. Dia ingin menceritakannya pada Pendeta Pohaji, tapi tidak berani. Dia takut kalau-kalau Pendeta Pohaji tidak menyetujui hubungannya,” ujar Danupaksi.

“Itu mustahil, Anakku Danupaksi,” bantah Ki Lintuk.

“Apanya yang tidak mungkin, Ki...?” tanya Danupaksi tidak mengerti.

“Orang yang bernama Mintarsih itu sudah hidup puluhan tahun yang lalu. Sejak kau masih kecil, dia sudah menjadi gadis remaja. Dia meninggalkan Karang Setra setelah ayahnya dihukum gantung, karena keterlibatannya dalam usaha pemberontakan. Sedangkan kakak laki-lakinya yang bernama Pendeta Gurusinga tewas dalam pertarungan melawan Gusti Rangga. Jadi kalaupun wanita itu kembali lagi, pasti sudah sangat tua. Setua aku ini.”

“Tapi Sangkala menyebutkan nama itu, Ki Lintuk.”

“Mungkin saja namanya saja,” Ki Lintuk tetap tidak percaya.

“Aku rasa ada benarnya, Ki,” selak Cempaka. “Saat ini Sangkala sedang menuju Selatan. Aku menugaskan Patih Rakatala untuk membuntutinya.”

“Eh...! Untuk apa dia pergi ke Selatan...?” sentak Ki Lintuk terkejut

“Kakang, bukankah kemarin ini kau berada di selatan?” tanya Danupaksi.

Saat itu, mendadak saja semuanya terdiam. Pikiran mereka kini jadi terpusat pada Sangkala yang tengah menuju daerah Selatan, seperti yang baru saja dituturkan Cempaka. Dan memang selama ini, Rangga berada di daerah Selatan bersama Pandan Wangi. Tapi hanya satu hari saja di sana. Selama ini Pendekar Rajawali Sakti terus berjalan, dan baru kemarin menginap di Desa Baru Ceper.

Rangga juga bertanya-tanya, untuk apa Sangkala pergi ke Selatan? Padahal di sana tidak ada satu pun sanak keluarganya. Dan ini tentu saja membuat Rangga jadi bertanya-tanya dalam hati. Cukup lama juga tidak ada yang membuka suara. Semua sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Dan beberapa kali mereka saling melempar pandang. Pada saat semua terdiam, mendadak saja...

“Hup...!”

Tiba-tiba Rangga melompat cepat bagaikan kilat, melewati kepala Danupaksi. Semua yang ada di ruangan ini jadi terkejut. Namun belum lagi keterkejutan mereka hilang, Rangga sudah kembali duduk di kursinya. Di tangan kiri Pendekar Rajawali Sakti sudah tergenggam sebuah bungkusan kain putih yang kotor oleh tanah dan darah kering. Begitu bungkusan kain putih itu dibuka, semua mata jadi terbeliak lebar dengan mulut temganga.

Rangga sendiri sampai terlonjak kaget. Kursi yang didudukinya terguling. Kedua matanya terbeliak menatap bungkusan kain yang sudah terbuka. Bungkusan kain itu ternyata berisi kepala Pendeta Pohaji!

“Biadab...!” desis Pandan Wangi geram.

Rangga bergegas membungkus kembali kain putih berisi kepala Pendeta Pohaji, lalu meletakkannya di atas meja kecil. Ki Lintuk membetulkan kembali kursi yang terguling. Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.

“Kakang, dari mana kau dapatkan itu?” tanya Pandan Wangi setengah berbisik.

“Aku mencium bau yang lain, dan berasal dari langt-langit atap ruangan ini,” sahut Rangga perlahan.

“Siapa pun orangnya, perbuatan ini tidak bisa didiamkan lagi, Kakang,” celetuk Danupaksi. “Aku akan mengerahkan para prajurit untuk mencari manusia keparat itu...!”

“Kau gegabah kalau melakukan itu, Danupaksi,” cegah Rangga.

“Tapi, Kakang... Ini sudah keterlaluan. Seenaknya saja kepala Pendeta Pohaji diletakkan di sini!” dengus Danupaksi tidak suka.

“Biar aku yang menyelesaikannya, Danupaksi. Dan kuminta, sebaiknya semua berjalan seperti biasa,” ujar Rangga. “Ki Lintuk.. .”

“Hamba, Gusti Prabu,” sahut Ki Lintuk jadi terlupa, dan kembali memanggil Rangga dengan sebutan Gusti Prabu lagi.

“Kuburkan kepala ini, tapi jangan sampai ada seorang pun yang tahu. Ingat, aku ingin semua ini menjadi rahasia kerajaan. Kalian tahu, kenapa harus dirahasiakan...?”

Semua menggelengkan kepala. Dan memang mereka tidak tahu, kenapa Rangga meminta hal ini dirahasiakan...? Dan ketidakmengertian mereka juga diketahui Pendekar Rajawali Sakti.

“Aku hanya tidak ingin kalian kehilangan muka di mata rakyat. Terutama kau, Danupaksi. Sebuah istana yang bisa dimasuki seseorang tanpa diketahui, merupakan aib besar. Maka rakyat akan menganggap kalian tidak mampu menjadi pemimpin. Jadi kuminta, hal ini tetap dirahasiakan,'' jelas Rangga.

“Maafkan aku, Kakang,” ucap Danupaksi menyesal.

“Tidak ada yang bersalah, Danupaksi. Orang ini memang berkemampuan tinggi,” sambut Rangga seraya menepuk pundak adik tirinya ini.

“Aku janji, akan lebih memperhatikan penjagaan.”

“Penjagaan sudah cukup ketat, Danupaksi. Jika kau langsung merubahnya, akan menimbulkan kecurigaan. Sebaiknya tetap seperti sekarang ini.”

Danupaksi hanya menganggukkan kepala saja. Memang diakui, dalam hal tata pemerintahan, dia masih kalah jauh dibandingkan Rangga. Bahkan dalam segala hal, selalu merasa kalah. Tapi hal itu dianggapnya sebagai pelajaran berharga yang sulit diperoleh.

“Ki Lintuk, sebaiknya kuburkan sekarang,” kata Rangga memerintah dengan halus.

“Hamba laksanakan, Gusti Prabu.”

“Dan kalian sebaiknya beristirahat.”

Danupaksi, Cempaka, dan Pandan Wangi tidak membantah. Setelah Ki Lintuk meninggalkan ruangan ini, mereka juga beranjak pergi. Hanya Rangga yang masih tetap tinggal di ruangan besar dan megah ini, sambil duduk bertopang dagu.

********************

Sudah lewat tengah malam, tapi Rangga belum juga dapat memejamkan mata. Begitu banyak yang bersemayam di kepalanya. Sulit untuk menduga-duga, apa yang sedang terjadi. Keadaan yang tenang seperti ini, biasanya yang paling berbahaya. Nalurinya mengatakan, kalau ada bahaya yang sedang mengincar. Tapi sulit diduga-duga, apa yang akan terjadi terhadap dirinya.

Selagi Rangga membuka jendela kamarnya, men-dadak saja terdengar teriakan keras, lalu disusul memijarnya cahaya terang dari arah Selatan.

“Kebakaran...! Kebakaran...!”

Teriakan-teriakan itu semakin keras dan ramai. Belum juga Rangga berbuat sesuatu, tampak dari arah Utara juga terlihat cahaya api membumbung tinggi ke angkasa. Malam yang semula hening, seketika berubah hiruk pikuk oleh orang-orang berteriak-teriak.

“Hup! Yeaaah...!”

Bagaikan kilat, Pendekar Rajawali Sakti melompat ke luar melalui jendela kamarnya. Begitu sempurna ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, sehingga dalam waktu sekejap saja sudah ienyap ditelan kegelapan malam.

Rangga terus berlompatan keluar dari benteng istana. Ringan dan indah sekali gerakannya saat melompati tembok benteng yang tinggi dan kokoh. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun juga, kakinya mendarat manis di luar tembok benteng yang mengelilingi bangunan istana ini. Rangga terus berlari menuju arah kobaran api di Selatan.

Tampak orang-orang berlarian sambil berteriak-teriak ketakutan. Para prajurit terlihat sibuk, berusaha memadamkan api yang membakar beberapa rumah penduduk yang berdekatan di sekitar istana Rangga jadi tertegun menyaksikan kobaran api yang begitu besar.

“Kakang...!”

Rangga berpaling begitu merdengar panggilan dari arah belakang. Tampak Pandan Wangi dan Cempaka berlari-lari menghampiri. Keringat tampak mengucur deras di seluruh tubuh kedua gadis itu. Napas mereka juga tersengal, seperti baru saja berlari jauh.

“Dari mana kalian?” tanya Rangga.

“Dari Utara. Di sana lebih gawat lagi,” sahut Pandan Wangi agak tersengal.

“Banyak penduduk yang mati terbunuh,” sambung Cempaka.

“Terbunuh...?!” Rangga tersentak kaget

“Benar, Kakang. Menurut beberapa orang penduduk, ada dua orang perempuan tengah mengamuk membantai penduduk, kemudian membakar rumah-rumah mereka,” jelas Pandan Wangi lagi.

Baru juga Rangga hendak membuka mulut kembali, muncul Danupaksi yang menunggang kuda. Pemuda itu cepat melompat turun dari punggung kuda, begitu berhenti. Bergegas dihampirinya Pendekar Rajawali Sakti.

“Kakang! Di sebelah Barat, beberapa prajurit dan panglima tengah bertarung melawan dua orang perempuan,” lapor Danupaksi.

Tanpa menunggu Danupaksi selesai memberi laporan, Rangga langsung melompat cepat ke arah Barat. Begitu cepatnya, sehingga membuat Danupaksi dan kedua gadis itu sempat terlongong kagum. Cepat sekali lesatan Pendekar Rajawali Sakti. Sehingga dalam sekejap saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap tak terlihat lagi.

“Ayo, kita ke sana...!” ajak Danupaksi.

Cepat sekali Danupaksi melompat naik ke punggung kuda, lalu menggebahnya agar berlari mungkin. Sebentar Cempaka dan Pandan Wangi pandangan, kemudian bersamaan berlari ke Barat, mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Sementara api terus berkobar besar. Puluhan prajurit dibantu penduduk sibuk memadamkan api. Sedangkan tidak sedikit yang meratap dan berteriak-teriak ketakutan.

********************

TUJUH

Sementara itu di sebelah Barat, tampak sekitar tiga puluh prajurit dan dua orang panglima tengah sibuk bertarung menghadapi dua orang perempuan yang ternyata adalah Mintarsih dan Nenek Jamping. Di sekitar pertarungan terlihat tidak sedikit mayat bergelimpangan bermandikan darah. Dan tampaknya, para prajurit Karang Setra tidak sanggup membendung amukan dua orang wanita yang berkepandaian sangat tinggi.

Jerit dan pekik melengking tinggi terus terdengar sating susul. Sedangkan tubuh-tubuh bersimbah darah terus bergelimpangan tanpa henti. Nampaknya, jumlah prajurit semakin berkurang saja. Setiap kali kedua orang wanita itu bergerak, selalu disusul jeritan panjang menyayat dan ambruknya dua atau tiga prajurit tanpa nyawa lagi.

“Berhenti...!”

Tiba-tiba saja terdengar bentakan keras menggelegar. Begitu kerasnya, sehingga membuat pertarungan itu seketika terhenti. Para prajurit berlompatan mundur. Saat itu berkelebat sebuah bayangan putih ke arah mereka. Dan tahu-tahu, di depan kedua wanita itu sudah berdiri seorang pemuda berpakaian putih tanpa lengan. Tampak pedangnya yang berga kepala burung tersampir di punggung.

“Pendekar Rajawali Sakti.... Hhh! Akhirnya muncul juga,” dengus Mintarsih sinis.

“Siapa kalian?! Apa maksudnya mengacau sini?” tanya Rangga.

“Mereka hendak menuntut balas, Gusti Prabu..., terdengar suara dari arah kanan.

Rangga berpaling ke kanan. Tampak Ki Lintuk membungkuk sedikit memberi hormat dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan hidung. Laki-laki tua itu perlahan menghampiri Rangga.

“Hamba kenal perempuan tua itu, Gusti Prabu. Dia adalah Nenek Jamping. Suaminya pernah menduduki jabatan penting di Kadipatan Karang Setra, tapi menyalahgunakan jabatannya. Maka Gusti Adipati Arya Permadi memberikan hukuman mati,” ujar Ki Lintuk memberi tahu. “Tapi yang seorang lagi... Hamba tidak kenal, Gusti,” kali ini nada suara Ki Untuk terdengar ragu-ragu.

“Lihat aku baik-baik, Lintuk,” selak Mintarsih, jumawa.

“Wajahmu mirip Mintarsih. Tapi..,” Ki Lintuk tidak melanjutkan kata-katanya.

“Aku memang Mintarsih. Kedatanganku seperti yang telah kujanjikan. Karang Setra harus hancur di tanganku!” keras dan lantang sekali suara Mintarsih.

“Bagaimana mungkin kau masih tetap muda, Mintarsih?” tanya Ki Lintuk.

“Ha ha ha...!” Mintarsih hanya tertawa terbahak-bahak saja.

Dari cerita Ki Lintuk, Rangga sudah tahu kalau wanita yang bernama Mintarsih seharusnya sudah tua. Dan paling tidak sudah berumur lebih dari enam puluh tahun. Tapi wanita ini..., masih terlihat muda dan cantik sekali. Dan bagi Rangga itu suatu hal yang tidak aneh lagi. Dia pernah menemukan hal seperti ini. Memang ada satu ilmu yang bisa membuat orang tetap muda. Dan itu merupakan ilmu yang sangat langka. Tidak sembarang orang bisa memilikinya, karena terlalu berat syarat yang harus dipenuhi. Hanya saja itu merupakan ilmu sesat karena menentang kodrat

“Jadi kau yang membunuh Pendeta Pohaji?” tanya Rangga dingin, ingin memastikan.

“Kau cukup tanggap, Pendekar Rajawali Sakti. Sayang sekali orang secerdas dirimu harus mati malam ini juga,” sambut Mintarsih sinis.

Setelah berkata demikian, Mintarsih cepat melompat menyerang Rangga lewat jurus dahsyat. Satu pukulan bertenaga dalam tinggi dilepaskan tepat mengarah ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Namun dengan gerakan manis sekali, Rangga memiringkan tubuhnya. Maka, pukulan Mintarsih lewat di samping tubuh pemuda berbaju rompi putih itu.

Sebelum Mintarsih bisa menarik pulang tangannya, Rangga sudah memberi satu sodokan tangan kiri ke arah lambung. Mintarsih mendelik, lalu tubuhnya melenting berputar ke belakang. Sehingga, sodokan tangan Rangga tak sempat mengenai sasaran.

“Hiyaaa...!” Mintarsih kembali menyerang Pendekar Rajawali Sakti, begitu kakinya menjejak tanah.

Sementara, Ki Lintuk menarik kakinya mundur sejauh tiga batang tombak. Pada saat itu, Danupaksi, Cempaka, dan Pandan Wangi telah tiba. Mereka hanya dapat menyaksikan pertarungan antara Rangga dan Mintarsih. Dari pakaian Mintarsih, Pandan Wangi dan Cempaka sudah dapat memastikan kalau wanita itu adalah yang kemarin bertarung melawan Rangga.

“Apakah itu yang bernama Mintarsih, Ki Lintuk?” tanya Pandan Wangi.

“Benar,” sahut Ki Lintuk.

“Lalu, yang seorang lagi?” tanya Pandan Wangi lagi seraya menatap tajam Nenek Jamping.

“Dia Nenek Jamping. Suaminya mendapat hukuman mati ketika Karang Setra masih berbentuk kadipaten. Dia dan Mintarsih ingin membalas dendam, dan hendak menghancurkan Karang Setra.”

“Hanya berdua...? Edan...!” desis Cempaka.

“Aku yakin, bukan hanya mereka berdua saja. Pasti ada yang lainnya. Aku akan memeriksa di sekitar istana,” selak Danupaksi

Belum ada yang membuka suara, Danupaksi sudah cepat meninggalkan tempat itu. Kudanya dipacu cepat bagaikan dikejar setan. Ki Lintuk memerintahkan sepuluh orang prajurit untuk mengikuti pemuda itu.

Sementara pertarungan antara Rangga dan Mintarsih terus berlangsung semakin sengit. Mereka bertarung hanya menggunakan tangan kosong saja. Namun begitu, angin pukulan yang dilepaskan, terasa sekali. Tentu saja hal ini membuat para prajurit terus menyingkir menjauh. Pertarungan itu berjalan dalam tingkatan yang tinggi, membuat debu berhamburan ke udara. Beberapa kali terdengar ledakan keras disertai ppercikan bunga api, setiap kali pukulan mereka beradu.

Entah sudah berapa jurus pertarungan itu berlangsung, tapi belum ada tanda-tanda akan berakhir. Namun suatu ketika....

“Yeaaah...!”

Sambil berteriak nyaring, mendadak saja Rangga melesat tinggi ke udara. Lalu tubuhnya menukik deras sekali dengan tangan lurus ke depan mengarah ke kepala Mintarsih. Sejenak wanita cantik berbaju biru itu terpana, lalu cepat membanting tubuh ke tanah, dan bergulingan beberapa kali. Serangan Rangga tidak membawa hasil. Dan kini pukulannya malah menghantam tanah, membuat ledakan dahsyat terdengar menggelegar. Seketika tanah berguncang bagai terjadi gempa.

Cepat Rangga melentingkan tubuh berdiri, dan langsung melompat seraya memberi satu tendangan keras menggeledek. Pada saat itu, Mintarsih baru bisa berdiri.

“Uts!”

Bergegas Mintarsih memiringkan tubuh ke kanan menghindari tendangan keras yang dilepaskan Rangga. Tapi wanita itu jadi tersentak. Ternyata pada saat yang sama, Rangga cepat melepaskan satu pukulan tangan kiri yang keras dan mengandung pengerahan tenaga dalam sempurna.

“Yeaaah...!”
Dieghk!
“Akh...!”

Mintarsih tak dapat lagi berkelit. Tubuhnya terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak dadanya terkena pukulan keras Pendekar Rajawali Sakti. Selagi wanita itu terjajar menggeletak di tanah, Rangga melompat memburu. Namun sebelum sampai, Nenek Jamping sudah melesat cepat menghadang. Seketika wanita tua itu mengibaskan tongkat ke arah perut Pendekar Rajawali Sakti.

“Hiyaaa...!”
Bet!
“Hup...!”

Cepat Rangga memutar balik tubuhnya ke belakang, sehingga sabetan tongkat wanita tua itu tidak mengenai tubuhnya. Dua kali Rangga melakukan putaran di udara, lalu manis sekali kakinya menjejak tanah. Pada saat itu, Nenek Jamping sudah meluruk deras dengan tongkat berputaran cepat di depan tubuhnya.

“Hiyaaat..!”

“Hep! Yeaaah...!”

Rangga cepat melompat ke atas sampai melewati kepala Nenek Jamping. Seketika, cepat sekali kakinya bergerak menyepak punggung wanita itu. Nenek Jamping yang sudah dikuasai nafsu, sampai tidak lagi menghiraukan pertahanan diri. Akibatnya....

Buk!

“Akh...!”

Telak sekali kaki kanan Rangga mendupak punggung Nenek Jamping. Akibatnya wanita tua itu tersungkur mencium tanah, tapi cepat bangkit kembali dan menggeram marah. Tongkatnya diputar cepat bagai baling-baling, hingga menimbulkan deru angin yang keras bagai topan.

Rangga menggeser kakinya ke kanan perlahan tiga tindak. Tatapan matanya begitu tajam memperhatikan perempuan tua itu. Sementara Nenek Jamping menggeser kakinya perlahan ke depan. Sorot matanya begitu tajam, menyiratkan amarah dan dendam yang meluap-luap. Perempuan tua itu memang sudah bersumpah akan membunuh semua keturunan Adipati Arya Permadi. Mati pun rasanya tidak puas jika belum mengotori tangannya dengan darah keturunan Adipati Arya Permadi, ayah kandung Pendekar Rajawali Sakti.

“Hiyaaat..!”

Sambil berteriak, Nenek Jamping meluruk deras dengan kaki menyusur tanah. Tongkatnya dikebutkan beberapa kali, mengincar tubuh Rangga yang sangat mematikan.

“Hap! Yeaaah...!”

Rangga yang memang sudah siap sejak tadi, segera melayani serangan perempuan tua ini. Maka pertarungan pun kembali berlangsung sengit sekali. Masing-masing berusaha saling menjatuhkan lawan. Pertarungan itu berjalan cepat, dalam tingkatan yang sangat tinggi. Sehingga tubuh mereka seperti lenyap. Yang terlihat hanya dua bayangan saja yang berkelebat saling sambar.

Sementara itu Mintarsih sudah bisa bangkit, meskipun hanya bisa duduk. Tampak darah menetes keluar dari sudut bibirnya. Dengan punggung tangan, disekanya darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Mulutnya meringis merasakan dadanya begitu sesak dan sukar bemapas. Cepat dia melakukan semadi, untuk menyalurkan hawa murni ke dadanya.

“Ugkh...!”

Mintarsih memuntahkan darah kental kehitaman. Seluruh tubuhnya menggigil bagai terserang demam. Sedangkan kepalanya terasa begitu pening dengan mata berkunang-kunang. Kembali Mintarsih melakukan semadi untuk memulihkan kekuatannya kembali. Untung saja, Rangga hanya memukul dadanya tanpa disertai ajian. Maka dengan bersemadi dan penyaluran hawa murni, kekuatan Mintarsih dapat pulih kembali. Namun demikian, hal itu memerlukan waktu juga. Dan Mintarsih tidak sempat lagi memperhatikan pertarungan yang berlangsung antara Rangga melawan Nenek Jamping.

Glarrr...!

Tiba-tiba saja terdengar ledakan keras menggelegar. Semua orang yang berada di tempat itu jadi tersentak kaget. Tampak Rangga dan Nenek Jamping terpental ke belakang, dan sama-sama jatuh bergulingan beberapa kali di tanah. Namun mereka cepat bangkit berdiri dan kembali berhadapan untuk melakukan pertarungan lagi.

“Kau hebat, Pendekar Rajawali Sakti. Tapi cobalah tahan aji pamungkasku ini,” desis Nenek Jamping.

“Hm...,” Rangga hanya menggumam kecil.

Pertarungan memang sudah berjalan sampai menggunakan aji kesaktian. Dan tadi saja mereka sama-sama melepaskan aji kesaktian, hingga terpental jatuh bergulingan di tanah. Sekarang Nenek Jamping sudah mempersiapkan ajian pamungkasnya. Tampak tongkat hitam berbentuk ular kobra yang digenggam erat dengan kedua tangannya berubah menyala bagai terbakar. Hebatnya lagi, seluruh tubuh perempuan tua itu juga merah membara seperti besi panas.

“Terpaksa, aji 'Cakra Buana Sukma' harus kugunakan,” gumam Rangga dalam hati.

Pendekar Rajawali Sakti kemudian merentangkan kakinya melebar ke samping. Sementara, kedua tangannya merapat di depan dada. Perlahan tubuhnya ditarik ke kanan, lalu dimiringkan ke kiri. Sebentar kemudian tubuhnya sudah tegak kembali. Saat telapak tangannya dibuka perlahan, menyemburat cahaya biru terang menyilaukan mata dari kedua telapak tangannya. Tepat ketika tangan Pendekar Rajawali Sakti sejajar dada, Nenek Jamping melompat cepat

“Hiyaaat..!”

“Aji 'Cakra Buana Sukma'...! Yeaaah...!”

Glarrr...!

Satu ledakan keras terdengar menggelegar ketika telapak tangan Rangga menghantam bagian tengah tongkat Nenek Jamping. Seketika itu juga, cahaya biru yang memancar di kedua telapak tangan Pendekar Rajawali Sakti melibat seluruh tongkat ular kobra hitam perempuan tua itu.

Nenek Jamping mencoba menarik tongkatnya, namun sedikit pun tidak bergeming. Saat itu juga terasa ada sesuatu yang bergolak di dalam tubuhnya. Nenek Jamping tersentak ketika menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya. Cepat tenaga dalamnya dikerahkan untuk melepaskan diri dari pengaruh ajian yang dikerahkan Rangga.

“Ikh...!”

Namun semakin kuat mengerahkan tenaga, semakin deras kekuatan yang mengalir keluar. Hingga akhirnya Nenek Jamping tidak dapat lagi menahan kekuatannya yang terus tersedot keluar. Sementara cahaya biru mulai menyelimuti tangan Nenek Jamping.

“Akh...!” Nenek Jamping mulai berteriak-teriak dengan tubuh menggeliat dan menggelepar. Tampak darah kental mengalir dari sudut bibirnya. Sedangkan sinar biru yang memancar di kedua telapak tangan Rangga, terus menyelimuti tubuh Nenek Jamping. Perlahan gerakan tubuh Nenek Jamping mulai melemah. Memang kekuatan perempuan tua itu terus mengalir, tersedot. Hingga pada akhirnya tubuhnya lemas lunglai tak bertenaga lagi. Seluruh wajahnya memucat bagai tak pernah teralirkan darah.

“Hih! Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja Rangga menghentakkan kedua tangannya. Seketika tubuh Nenek Jamping terpental ke belakang sejauh dua batang tombak. Keras sekali tubuh tua renta itu terbanting ke tanah. Tak ada gerakan sedikit pun. Nenek Jamping ternyata tewas seketika begitu tubuhnya menghantam tanah.

“Maaf. Seharusnya kau tidak terlalu menguras tenaga,” ujar Rangga agak bergumam.

DELAPAN

Rangga mengalihkan perhatian pada Mintarsih yang saat itu sudah selesai bersemadi. Mintarsih terkejut setengah mati begitu melihat Nenek Jamping sudah tergeletak tak bernyawa lagi. Bergegas diburunya perempuan tua itu. Dan begitu tangannya menyentuh tubuh tua renta itu, mendadak tangannya kembali ditarik kembali.

“Ah...!” Mintarsih terpekik kecil.

Tubuh Nenek Jamping langsung hancur begitu tersentuh tangan Mintarsih. Wanita cantik berbaju biru muda itu hampir tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Tubuh Nenek Jamping seketika hancur jadi debu!

“Nek..., oh...! Keparat..!” desis Mintarsih menggeram.

Wanita itu cepat bangkit berdiri dan memutar tubuhnya, menghadap Pendekar Rajawali Sakti. Sepasang bola matanya merah berapi-api. Gerahamnya terdengar bergelemetuk menahan amarah yang hampir tidak tertampung lagi. Perlahan kakinya melangkah mendekati Rangga. Tangan kanannya meraba pinggang, lalu menarik sabuk yang melilit pinggangnya.

Cring!

Ctar...!”

Begitu sabuk berwarna kuning keemasan itu dikebutkan, seketika langsung menegang kaku menjadi sebatang pedang. Cahaya kuning keemasan tampak berkilatan tertimpa sinar rembulan. Mintarsih mendesis bagai seekor ular. Kedua bola matanya menyorot tajam dan merah. Jika orang lain yang melihatnya, pasti akan bergidik ngeri. Tapi Rangga malah membalas tatapan wanita itu tidak kalah tajamnya.

“Kau harus mampus, Pendekar Rajawali Sakti...!” desis Mintarsih dingin.

Mintarsih menggeser kakinya ke kanan beberapa langkah. Tatapan matanya begitu tajam, menusuk langsung kedua bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Dendam yang sudah lama terpendam, ditambah lagi kemarahan akibat tewasnya Nenek Jamping di tangan pemuda berbaju rompi putih itu, membuat Mintarsih tak dapat lagi menahan kemarahannya.

“Mampus kau! Hiyaaat...!” teriak Mintarsih melengking tinggi.

Bagaikan kilat, wanita berwajah cantik dan berbaju biru itu melompat menerjang Rangga. Serangan yang dilakukan Mintarsih begitu cepat dan dahsyat luar biasa. Namun Rangga yang sudah bersiap sejak tadi, segera dapat menghindari serangan itu dengan memiringankan tubuh ke kiri hingga doyong, seolah-olah akan jatuh. Pukulan yang dilepaskan Mintarsih hanya lewat sedikit saja di samping tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Namun Rangga terkejut bukan main. Ternyata angin pukulan itu mengandung hawa yang sangat panas menyengat. Cepat-cepat tubuhnya melenting ke samping, menjauhi wanita itu. Dua kali Rangga melakukan putaran di udara, lalu manis sekali menjejakkan kakinya di tanah sejauh dua batang tombak dari wanita cantik berbaju biru itu.

Baru saja Pendekar Rajawali Sakti menjejakkan kakinya di tanah, mendadak saja Mintarsih mengebutkan sabuk yang telah menjadi pedang. Senjata kuning keemasan itu telah berubah warnanya menjadi merah membara. Bahkan kini telah mengeluarkan api yang berkobar-kobar.

“Hiyaaat..!”

Bagaikan kilat, Mintarsih melompat menyerang Pendekar Rajawali Sakti. Sabuk yang sudah berubah menjadi pedang api, berkelebat mengurung pendekar berbaju rompi putih itu. Sungguh dahsyat ilmu yang dikerahkan Mintarsih. Seluruh tubuh Rangga bagai terkurung api. Hanya kelebatan bayangan putih saja yang terlihat di antara pijaran api yang memancar dari sabuk di tangan Mintarsih.

“Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras menggelegar. Tak berapa lama kemudian, Mintarsih tampak terpental ke belakang sambil memekik tinggi. Tampak Rangga merentangkan tangannya lurus ke depan dengan jari-jari tangan terbuka lebar.

Mintarsih jatuh bergulingan beberapa kali. Dia mencoba bangkit berdiri, namun darah kental meluncur keluar dari mulutnya. Tangannya memegangi dada yang terasa begitu sesak. Pandangannya jadi nanar, namun masih terlihat tajam menatap Rangga yang berdiri tegak sambil terus menatapnya.

“Kau memang tangguh, Rangga. Tapi kau harus mati di tanganku...!” desis Mintarsih seraya bangkit berdiri. “Aku bersumpah! Demi arwah leluhurku, kau dan keturunanmu harus mati di tanganku, Pendekar Rajawali Sakti!”

Cras...!

Glarrr...!

Begitu Mintarsih mengucapkan sumpah, kilat seketika menyambar di angkasa. Akibatnya semua orang yang berada di tempat itu tersentak kaget. Begitu keras suara kilat itu, seakan-akan telinga terasa pekak mendengung.

“Hiyaaat..!”

Mintarsih bergegas lari meninggalkan tempat itu. Melihat wanita itu kabur, Pandan Wangi hendak mengejar. Tapi, Rangga keburu mencegah.

“Jangan dikejar, Pandan!”

Pandan Wangi mengurungkan niatnya hendak mengejar. “Kau membiarkannya pergi begitu saja, Kakang?” tanya Pandan Wangi, seakan-akan tidak percaya.

Rangga hanya tersenyum saja, lalu melangkah menghampiri Pandan Wangi yang kini sudah didampingi Cempaka kembali. Pendekar Rajawali Sakti memandangi mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Suasana malam yang hiruk pikuk dan cahaya api yang semula berkobar bagai hendak menghanguskan seluruh Kotaraja Karang Setra ini, sekarang mulai mereda. Namun malam terus merambat semakin larut. Sebentar lagi pagi akan datang menjelang.

“Tidak ada gunanya mengejar, Pandan. Dia sudah terluka cukup parah. Kupikir dia tidak akan berani mengganggu kita lagi,” kata Rangga dengan suara lembut.

“Tapi dia bisa menjadi ancaman besar, Kakang,” sergah Pandan Wangi, tak mau kalah.

Rangga ingin berkata lagi, tapi tidak jadi. Sebab, Pendekar Rajawali Sakti melihat Danupaksi datang menghampiri membawa Sangkala. Pemuda murid Pendeta Pohaji itu dalam keadaan tak berdaya, dengan tangan terikat ke belakang. Danupaksi mendorong pemuda itu dengan kasar, sehingga jatuh tersuruk di depan Pendekar Rajawali Sakti.

Tampak darah menetes keluar dari sudut bibir dan hidungnya. Seluruh wajahnya juga biru lebam dan pakaiannya robek di sana-sini. Sepertinya Sangkala baru saja melakukan pertarungan hebat.

“Aku menemukannya sedang menyelusup di belakang istana, Kakang. Tepatnya di bawah jendela kamarmu,” jelas Danupaksi memberi tahu.

Rangga menatap tajam Sangkala. Dia tahu betul, siapa pemuda ini. Apalagi sekarang ini Sangkala sedang menjadi buah bibir dalam lingkungan istana, karena sikapnya yang aneh sejak Pendeta Pohaji ditemukan tewas terbunuh dengan kepala hilang. Agak lama juga Rangga terdiam menatap tajam Sangkala. Sementara yang ditatap hanya menunduk, seakan-akan tak sanggup membalas tatapan tajam pemuda berbaju rompi putih ini.

“Kau yang bernama Sangkala?” tanya Rangga dengan suara berwibawa.

“Benar! Hamba Sangkala,” sahut Sangkala pelan tanpa mengangkat kepalanya.

“Hm.... Kenapa kau berada di dekat kamarku malam-malam begini?” tanya Rangga lagi.

“Hamba ingin membunuhmu,” sahut Sangkala, agak bergetar suaranya.

Baru Sangkala mengangkat kepalanya, dan langsung menatap tajam Pendekar Rajawali Sakti. Bukan hanya Rangga yang terkejut mendengar jawaban Sangkala. Bahkan juga Ki Lintuk, Danupaksi, Cempaka, dan Pandan Wangi, dan semua orang yang berada di tempat ini. Mereka seakan-akan tidak percaya kalau Sangkala punya maksud ingin membunuh Pendekar Rajawali Sakti yang juga penguasa tunggal di kerajaan ini.

“Benar kau ingin membunuhku, Sangkala? Kenapa...?” tanya Rangga setelah bisa menenangkan kembali.

“Karena kau yang membunuh kedua orang tuaku!” sahut Sangkala tajam.

Rangga tersenyum. Kini baru jelas, kenapa Sangkala ingin membunuhnya. Rupanya kepergian Sangkala ke Selatan juga bermaksud mencari dan membunuh Pendekar Rajawali Sakti. Tapi begitu men-dengar kalau Pendekar Rajawali Sakti sudah berada di Karang Setra, dia cepat kembali. Dan malam ini, Sangkala merasa punya kesempatan. Apa lagi dalam keadaan yang kacau seperti ini.

Namun belum juga maksudnya terlaksana, sudah keburu dipergoki Danupaksi. Sangkala mencoba melawan, tapi kepandaian yang dimilikinya masih di bawah Danupaksi. Dan kini pemuda itu dapat diringkus, bahkan tak berdaya terikat di depan Pendekar Rajawali Sakti.

“Kakang, aku menyuruh seorang patih untuk mengikutinya ke Selatan. Tapi...,” bisik Cempaka.

“Manusia tolol itu sudah mampus!” selak Sangkala mendengus.

“Heh...?! Kau telah membunuhnya...?!” Cempaka terkejut.

Sangkala hanya mencibir saja.

“Keparat...!”

Hampir saja Cempaka melayangkan pukulan kalau tidak cepat ditangkap Rangga. Padahal, tangan gadis itu sudah melayang ke atas. Cempaka menatap Pendekar Rajawali Sakti sebentar, kemudian menurunkan tangannya kembali. Dia mendengus kesal melihat Sangkala menyeringai penuh ejekan.

“Kesalahanmu sudah cukup berat, Sangkala. Kenapa kau lakukan semua itu?” tanya Rangga masih dengan nada suara lembut

“Karena aku ingin membunuhmu. Dan siapa saja yang mencoba menghalangiku, harus mati!” sahut Sangkala dingin.

“Ketahuilah, Sangkala. Ayahmu mendapat hukuman mati karena mencoba melakukan makar. Dan itu sudah menjadi keputusan pengadilan. Jadi bukan aku yang membunuhnya,” Rangga mencoba menjelaskan.

“Aku tahu! Tapi kalau kau tidak memutuskan hukuman itu, ayahku tidak akan mati di tiang gantungan!”

“Bukan aku yang memutuskan, tapi sidang pengadilan. Dan itu cukup adil, Sangkala. Seseorang atau sekelompok orang yang mencoba melakukan makar, harus dihukum mati. Itu sudah menjadi keputusan yang tidak bisa dirubah lagi. Dengan tindakanmu seperti ini saja, kau sudah digolongkan hendak melakukan makar. Dan hukumannya sangat berat, Sangkala. Kecuali bila kau sudi bekerja sama memberi tahu orang yang menghasutmu,” kata Rangga lagi. Masih dengan suara lembut.

“Mintarsih. Dan masih banyak lagi orang yang ingin membalas dendam padamu!” sahut Sangkala ketus.

“Mintarsih...,” desis Cempaka.

“Perempuan keparat itu harus dibunuh, Kakang!” sambung Pandan Wangi.

Rangga hanya tersenyum saja, seakan-akan tidak mendengarkan celotehan kedua gadis itu. Kembali ditatapnya Sangkala penuh wibawa. Sedangkan Sangkala membalasnya dengan tajam, dan masih penuh dendam.

“Dia juga yang membunuh gurumu, Sangkala?” tanya Rangga.

“Aku tidak peduli!” dengus Sangkala.

“Keparat..! Kubunuh kau, Sangkala,” desis Cempaka menggeram.

Sret!

“Cempaka...!”

Pedang Cempaka sudah keluar dari warangka, tapi Rangga cepat bertindak mencegahnya agar tidak main hakim sendiri. Sambil menggerutu kesal, Cempaka kembali memasukkan pedangnya ke dalam warangka di pinggang. Rangga mengerdipkan matanya pada Danupaksi. Tanpa diperintah, Danupaksi sudah bisa menangkap isyarat itu. Cepat dibawanya Cempaka meninggalkan tempat itu.

“Sangkala! Kau tahu, siapa Mintarsih itu sesungguhnya?”tanya Rangga.

“Dia adalah seorang gadis cantik berotak cerdas!” sahut Sangkala seenaknya. Pemuda ini memang tidak tahu tentang diri Mintarsih sebenarnya.

“Gadis! Kau katakan dia gadis? Ketahuilah, Sangkala. Mintarsih yang kau sangka gadis itu, usianya hampir sama dengan gurumu. Pendeta Pohaji!”

“Jangan dikira aku percaya bualanmu, Pendekar Rajawali Sakti!”

“Kalau kau tak percaya, baiklah.”

Pendekar Rajawali Sakti kemudian melangkah, memutari Sangkala. Dia berhenti di belakang pemuda itu. Sementara Danupaksi, Cempaka, Pandan Wangi dan beberapa prajurit hanya memandang tak mengerti atas sikap Rangga.

Sebentar Pendekar Rajawali Sakti memejamkan mata, seperti tengah memusatkan pikirannya. Kemudian, kakinya dipentang lebar-lebar. Kedua tangannya diangkat ke atas, dengan telapak tangan terbuka lebar. Ketika kedua mata Rangga terbuka, kedua tangannya cepat bergerak ke bawah. Langsung dicengkeramnya kepala Sangkala.

“Aaa...!” Sangkala berteriak kesakitan. Tampak dari kepalanya keluar asap tipis berbau busuk. Sedangkan Ki Lintuk, Danupaksi, Cempaka dan Pandan Wangi hanya menahan napas, sambil memandang takjub.

Sebentar kemudian, Pendekar Rajawali Sakti melepaskan cengkeramannya di kepala Sangkala. Baru saja dilepaskan, tubuh Sangkala langsung terkulai. Asap tipis yang keluar dari kepalanya telah hilang sama sekali. Tubuh pemuda itu seperti pingsan, namun sebentar kemudian mulai bergerak-gerak.

“Oooh...!” Sangkala merintih lirih.

“Nah, Sangkala. Bangunlah,” ujar Rangga lembut

“Gusti Prabu, ada apa dengan hamba?”

“Kekuatan batin seseorang telah menguasai jiwamu, Sangkala. Tanpa disadari, kau telah dikendalikan seseorang. Dan seseorang yang kau anggap muda itu, ternyata berusia sebaya dengan gurumu. Kau telah terjerat oleh jaring-jaring hitam yang dilemparkan Mintarsih. Dendam yang ada dalam dirinya, telah dijalin menjadi sebuah jaring. Kemudian dengan kekuatan batin dia telah menguasai dirimu,” jelas Rangga.

“Oh! Ampunkan hamba, Gusti Prabu. Hamba akui, hamba memang dendam pada Gusti Prabu. Tapi, entah kenapa hamba seperti lupa diri. Hamba seperti lupa, dengan siapa hamba berhadapan. Keparat Mintarsih itu! Sekali lagi, ampunkan hamba, Gusti Prabu.”

Rangga hanya tersenyum. Sedangkan Pandan Wangi segera menghampirinya.

“Kakang, dari mana kau tahu kalau Sangkala telah dikuasai oleh kekuatan batin?” tanya Pandan Wangi.

“Pandan, orang yang memiliki ilmu awet muda, sudah pasti memiliki kekuatan batin yang tinggi. Dan dia mampu menguasai orang yang ilmunya lebih rendah. Apalagi, orang yang dikuasai mempunyai dendam. Jika orang memiliki dendam, nalarnya akan tertutup. Dengan demikian kekuatan batin seseorang akan mudah menguasainya,” jelas Rangga.

“Lalu, mengapa kau mampu memusnahkannya?” tanya Pandan Wangi lagi, kurang puas.

“Untung-untungan,” jawab Rangga seenaknya.

“Untung-untungan?” Pandan Wangi tidak mengerti.

“Aku hanya menyalurkan hawa murni. Yaaah, mungkin saja usahaku berhasil. Dan ternyata, seperti apa yang kau lihat tadi,” jawab Rangga lagi.

Kemudian Pandan Wangi menatap Sangkala. Sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya saja.

“Hukumlah hamba yang seberat-beratnya, Gusti Prabu,” ujar Sangkala.

“Pengadilan yang akan menentukan, Sangkala,” kata Rangga. “Danupaksi, bawa Sangkala ke istana.”

Danupaksi segera membungkuk, memberi hormat. Adik tiri Pendekar Rajawali Sakti itu segera membawa Sangkala seperti yang diperintah Rangga.

“Kita langsung ke istana, Kakang?” tanya Pandan Wangi.

Rangga mengangguk. Dan mereka terus berjalan menuju Istana Karang Setra, mengikuti Danupaksi yang telah berjalan lebih dulu. Sementara di belakang mereka api masih terus berkobar, meskipun tidak lagi besar seperti tadi.

Bagaimanakah nasib Sangkala dalam penjara di Karang Setra? Dan kemana Mintarsih pergi membawa lukanya? Benarkah dia akan melaksanakan sumpahnya untuk membunuh Pendekar Rajawali Sakti? Siapa saja yang akan diajak bekerja sama?

Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Pendekar Rajawali Sakti dalam episode Pembalasan Mintarsih

Thanks for reading Jaringan Hitam I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »