Gelang Naga Soka

Pendekar Rajawali Sakti

Karya Teguh S

GELANG NAGA SOKA

SATU
MALAM ini bulan bersinar penuh, tampak indah menggantung di langit kelam bermandikan taburan bintang gemerlapan. Cahayanya yang keperakan begitu lembut menyirami permukaan bumi yang seharian tadi terpanggang sang raja siang. Suasana malam ini benar­benar sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Namun semua keindahan itu terusik oleh suara-suara gaduh dari sebuah desa yang terletak di kaki Bukit Parut. Tampak api berkobar, seakan-akan hendak mengalahkan sinar rembulan yang keemasan. Jeritan-jeritan melengking tinggi disertai teriakan-teriakan keras terdengar membahana. Itu pun juga masih diselingi oleh denting senjata beradu.

Memang tidak lama suara-suara gaduh itu mengusik kesunyian dan keindahan malam ini. Dan kini suasana kembali sunyi tenang, bagai tak pernah terjadi sesuatu. Tinggal cahaya api yang masih berkobar bersama kepulan asap tebal membumbung tinggi ke angkasa. Semua ini menandakan kalau malam ini telah terjadi sesuatu. Tampak mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah. Angin yang berhembus menebarkan udara dingin, menyebarkan bau anyir darah, menambah rusaknya keindahan malam ini.

Tak berapa lama kemudian, terdengar derap langkah kaki kuda. Terlihat seorang pemuda berbaju putih tanpa lengan tengah menunggang seekor kuda hitam yang dipacu cepat menuju desa itu.

“Hup...!” Dengan gerakan ringan dan indah sekali, pemuda itu melompat turun dari punggung kudanya. Matanya agak menyipit memandangi keadaan Desa Gandus yang porak poranda disertai kobaran api menghanguskan beberapa rumah. Mayat bergelimpangan di mana-mana dalam keadaan bersimbah darah. Bau anyir darah menyebar menusuk hidung, membuat perut serasa bergolak hendak muntah. Pemuda berbaju rompi putih itu mengayunkan kakinya perlahan-lahan, namun matanya tetap beredar berkeliling merayapi tubuh-tubuh berlumuran darah yang berserakan di sekitarnya.

“Hiyaaat...!” Pemuda itu terkejut ketika tiba-tiba terdengar teriakan keras melengking tinggi. Dan sebelum keterkejutannya hilang, tahu-tahu dari arah samping meluncur seseorang sambil mengayunkan golok berlumuran darah ke arahnya.

“Uts!” Buru-buru pemuda itu memiringkan tubuhnya, sehingga tebasan golok hanya lewat di samping. Namun sebelum tubuhnya sempat ditarik kembali, golok berlumuran darah itu berputar cepat mengarah ke perut. Terpaksa pemuda berbaju rompi putih itu melompat mundur dua langkah ke belakang.

“Hei, tunggu...!” teriak pemuda itu.

“Mampus kau. Hiyaaat...!”

Namun penyerang gelap itu tidak memberi kesempatan lagi. Kembali pemuda itu diserang dengan ganas. Serangan-serangannya sungguh cepat luar biasa, membuat pemuda berbaju rompi putih itu harus berjumpalitan menghindarinya. Namun pada saat golok berlumuran darah itu hampir menyambar dadanya, cepat sekali tangannya dikibaskan.

Plak!

“Akh...!” Terdengar pekikan keras agak tertahan. Pekikan itu jelas sekali kalau datangnya dari seorang wanita. Tampak gadis yang menyerang dengan golok itu terhuyung-huyung ke belakang saat satu gedoran yang tidak terlalu keras mendarat di dadanya. Golok berlumuran darah itu langsung terlepas dari genggaman, setelah pergelangan tangannya juga terkena sampokan keras mengandung sedikit pengerahan tenaga dalam.

“Hup...!” Pemuda berbaju rompi putih itu melompat cepat, dan tahu-tahu sudah meringkus penyerangnya. Dipegangnya tangan gadis itu kuat-kuat ke belakang, lalu ditekan kepunggung.

“Akh...!” gadis itu memekik merasakan sakit pada tangannya yang dipelintir ke belakang. Dia berusaha memberontak melepaskan diri, tapi pegangan pemuda itu kuat sekali. Dan semakin berusaha memberontak, tangannya semakin terasa sakit.

“Lepaskan...!” sentak gadis itu keras.

“Aku akan melepaskan jika kau tidak menyerangku lagi, Nisanak,” tegas pemuda itu.

“Baik. Aku tidak akan menyerang lagi,” janji gadis itu.

Pemuda berbaju rompi putih itu melepaskan ringkusannya. Buru-buru gadis yang pakaiannya serba kuning itu menjauh dan langsung berbalik. Bibir yang berbentuk indah itu meringis, sedang tangan kirinya mengurut-urut pergelangan tangan kanan yang terasa nyeri. Sepertinya, tulang pergelangannya remuk tercengkeram tangan kekar tadi.

“Siapa kau, Nisanak? Mengapa tiba-tiba menyerangku?” tanya pemuda itu.

“Huh! Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja sekarang, Iblis!” dengus gadis itu ketus.

“Tidak semudah itu membunuh orang, Nisanak.”

“Hhh! Bicara memang gampang. Tapi kenyataannya, kau bantai habis orang-orang tidak berdosa!” rungut gadis itu dengan wajah memberengut dan mata menyorot tajam menusuk.

“Aku baru saja datang ke sini, dan tidak tahu apa yang terjadi terhadap mereka. Ada apa sebenarnya?” tanya pemuda itu.

“Huh!” gadis itu hanya mendengus saja.

Tubuhnya kemudian berbalik dan terus melangkah cepat. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih itu jadi tertegun tidak mengerti. Sebentar dipandanginya mayat-mayat yang bergelimpangan tak tentu arah. Kemudian pandangannya beralih pada gadis berbaju kuning yang sudah cukup jauh meninggalkan tempat ini.

“Hei, tunggu...!” seru pemuda itu. “Hup...!”

Hanya sekali lesat saja, pemuda berbaju rompi putih itu sudah berhasil menyusul gadis berbaju kuning, dan langsung memandangnya. Gadis yang cukup cantik dengan rambut sebahu itu mendengus sambil membuang muka ke samping. Seketika ayunan langkahnya dihentikan.

“Mengapa kau mengejarku?” dengus gadis itu ketus.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Nisanak,” sahut pemuda itu

“He...?!” gadis itu mendelik.

“Aku baru saja tiba, sedangkan keadaan di desa ini sudah begini. Lalu kau tiba-tiba saja muncul, langsung menyerang. Seharusnya akulah yang menuduhmu melakukan semua ini, bukannya kau yang menuduhku demikian,” tegas pemuda itu dengan nada suara agak tertekan.

“Siapa kau sebenarnya...?” tanya gadis itu jadi berkerenyut keningnya.

Dipandanginya pemuda tampan berbaju rompi putih di depannya, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Matanya agak menyipit, seakan-akan ingin menegaskan kalau yang berdiri di depannya ini adalah seorang pemuda berwajah tampan dan bertubuh tegap berotot.

“Namaku Rangga. Aku seorang pengembara yang kebetulan lewat di sini,” sahut pemuda itu memperkenalkan diri.

Pemuda berbaju rompi putih itu memang bernama Rangga yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Terpaksa dirinya diperkenalkan lebih dahulu, karena tatapan gadis itu demikian tajam penuh selidik.

“Benar kau bukan salah seorang dari mereka...?” tanya gadis itu, ragu-ragu nada suaranya.

“Mereka siapa...?” Rangga malah balik bertanya.

Gadis yang memiliki wajah cantik dan berbaju agak ketat berwarna kuning itu semakin dalam mengamati pemuda tampan di depannya. Sepertinya, benar-benar ingin meyakinkan dirinya kalau pemuda itu hanya seorang pengembara yang kebetulan saja lewat di desa ini.
Pendekar Rajawali Sakti
Semalaman Rangga terpaksa harus menguburkan mayat-mayat yang bergelimpangan. Rasanya memang tidak tega meninggalkan begitu saja para penduduk yang tewas terbantai, meskipun dia belum tahu, apa yang menyebabkan mereka mengalami penderitaan seperti ini. Sedangkan gadis cantik berbaju kuning yang mengaku bernama Paranti itu hanya diam saja. Dia mencangkung di beranda depan sebuah rumah yang tak sempat terjilat api.

Saat matahari menampakkan dirinya di balik bukit sebelah timur, Pendekar Rajawali Sakti baru selesai menguburkan semua mayat penduduk Desa Gandus. Dihampirinya Paranti yang masih duduk mencangkung sambil memeluk lututnya yang tertekuk.

Sambil menghembuskan napas panjang, Pendekar Rajawali Sakti itu menghempaskan diri di samping Paranti. Tubuhnya disandarkan di dinding papan yang sebagian sudah keropos dimakan rayap. Sementara gadis cantik berbaju kuning itu hanya melirik sedikit saja. Goloknya diayun-ayunkan ke tepi balai-balai bambu yang diduduki.

“Capek....?” pelan sekali suara Paranti.

Rangga tidak menanggapi, dan hanya melirik saja sedikit. Terdengar hembusan napas panjang dan terasa berat sekali. Pendekar Rajawali Sakti bangkit berdiri, lalu mengambil air dari dalam tempayan tanah liat. Dengan air yang sejuk itu wajah dan tangannya langsung dibasuh, untuk membersihkan tanah yang melekat bercampur darah kering. Kemudian dia kembali duduk di balai-balai bambu itu.

“Kenapa kau bersusah payah menguburkan mereka?” tanya Paranti.

“Mereka bukan binatang,” jawab Rangga singkat.

“Tapi mereka bukan saudaramu.”

“Saudara atau bukan, aku tidak bisa melihat mayat bergelimpangan begitu saja menjadi santapan anjing-anjing liar.”

“Hebat..! Ada seribu orang sepertimu, pasti dunia ini akan aman. Tidak ada lagi mayat bergelimpangan, tidak ada lagi pertikaian yang membawa korban nyawa.”

Rangga memandangi gadis yang duduk agak jauh di sampingnya. Bicara gadis itu selalu ketus dan bernada sinis. Tapi setiap kata yang terucapkan, langsung menyentuh perasaan yang mendengarnya. Rangga jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang gadis ini, juga keberadaannya di tempat yang semua penduduknya terbantai semalam. Kalau dia penduduk desa ini, mengapa hanya dirinya sendiri saja yang selamat...? Atau mungkin gadis ini juga sama seperti dirinya yang sedang mengembara menjelajahi dunia yang ganas ini.

“Kenapa kau memandangiku begitu...?!” dengus Paranti ketus.

Rupanya, Paranti merasa jengah juga dipandangi dalam-dalam oleh seorang pemuda tampan yang belum begitu dikenalnya. Langsung wajahnya dipalingkan, memandang ke arah lain.

“Siapa kau sebenarnya, Nisanak?” Rangga malah bertanya. Ada kesungguhan di dalam nada suara Pendekar Rajawali Sakti.

“Untuk apa bertanya seperti itu? Lagi pula, namaku bukan Nisanak. Tapi Paranti!” ketus sekali nada suara Paranti.

“Aku tidak percaya kalau kau penduduk desa ini. Kalau memang benar kau salah seorang penduduk desa ini, tentu bukan hanya kau sendiri yang selamat,” pancing Rangga. Nada suaranya jelas mengandung kecurigaan.

“Apa pedulimu...?” dengus Paranti ketus. Paranti langsung saja bangkit berdiri, lalu berjalan meninggalkan Pendekar Rajawali Sakti itu. Ayunan kakinya begitu cepat dan ringan. Jelas kalau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya cukup tinggi. Sebentar saja gadis itu sudah begitu jauh meninggalkan tempat ini. Sedangkan Rangga masih diam, duduk di beranda depan sebuah rumah yang tak sempat tersentuh api. Pandangannya tetap tertuju pada gadis yang semakin jauh berjalan pergi.

“Masa bodo, ah...!” dengus Rangga. Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit berdiri, lalu berjalan menghampiri kudanya yang tertambat tidak jauh di samping rumah berdinding papan itu. Seekor kuda hitam yang tinggi dan tegap berotot kuat, telah menunggu sejak tadi di situ.

“Hup...!” Sekali melompat saja, Rangga sudah berada di punggung kuda yang bernama Dewa Bayu. Bibirnya memperdengarkan suara berdecak, dan tangannya menghentakkan tali kekang kuda yang terbuat dari perak. Dewa Bayu melangkah perlahan dengan kepala terangguk-angguk.

********************

Siang ini matahari bersinar begitu terik, seakan-akan hendak menghanguskan semua yang ada di mayapada ini. Begitu teriknya, sehingga banyak pepohonan yang daunnya berguguran. Ditambah lagi, angin bertiup cukup kencang menimbulkan suara menderu-deru.

Di antara kepulan debu dan hempasan dedaunan kering, tampak seorang gadis berbaju kuning tengah berjalan perlahan-lahan. Tangannya diangkat untuk melindungi wajahnya dari siraman debu yang beterbangan terhembus angin kencang. Bajunya berkibar-kibar, dan tampaknya ayunan kakinya agak tertahan.

Langkahnya seketika berhenti, lalu memandang ke depan dengan kelopak mata agak menyipit. Terdengar dengusan napas kencang dan terasa berat sekali. Kembali kakinya terayun perlahan. Namun baru saja berjalan beberapa tindak, mendadak saja sebatang pohon besar tumbang, tercabut sampai akar-akarnya.

“Hup! Yeaaah...!” Cepat sekali gadis itu melompat menghindari pohon yang roboh tepat di atas kepalanya. Suara pohon tumbang itu demikian menggemuruh, dan langsung menciptakan kepulan debu saat menghantam tanah dengan kerasnya.

“Sial...!” rutuk gadis itu sengit. Sesaat kemudian tubuhnya melesat ke atas, dan langsung melewati pohon itu. Dengan manis sekali, kedua kakinya mendarat di tanah. Namun sebelum sempat berdiri tegak, mendadak saja sebatang pohon lagi tumbang ke arahnya.

“Edan! Hiyaaa...!” Gerakan gadis itu sungguh cepat luar biasa. Tubuhnya langsung melompat ke depan, dan bergulingan beberapa kali di tanah. Kembali bumi berguncang saat batang pohon besar itu keras menghantam tanah. Suara bergemuruh seketika terjadi, disertai gempa. Gadis berbaju kuning itu buru-buru melompat bangkit. Matanya kontan terbeliak begitu melihat pohon yang baru tumbang tadi seluruh batangnya hangus, dan daun-daunnya rontok berguguran. Sebentar saja pohon itu bagaikan terbakar hangus menjadi arang.

“Ha ha ha....!” tiba-tiba saja terdengar tawa menggelegar. Seketika itu juga, angin berhenti berhembus. Gadis berbaju kuning itu menggeser kakinya sedikit ke samping. Suara tawa itu demikian keras, seakan-akan datang dari segala penjuru mata angin. Kepala gadis itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu perlahan-lahan tubuhnya bergerak memutar. Sementara, wajahnya tampak sedikit menegang. Dicobanya mencari arah sumber suara tawa itu.

“Uh...!” gadis itu mengeluh pendek. Telinganya mendadak saja terasa jadi sakit. Saat itu juga disadari kalau suara tawa yang menggelegar itu mengandung pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Dan sebelum gadis itu mengerahkan tenaga dalam, seketika aliran darahnya terasa berguncang hebat, dan tubuhnya bergetar.

“Akh...!” gadis berbaju kuning itu memekik keras sambil menutup kedua telinganya. Buru-buru kekuatan tenaga dalamnya dikerahkan. Namun semakin berusaha, semakin terasa kalau aliran darahnya seperti tidak teratur. Tampak, darah mulai merembes keluar dari lubang hidung dan mulutnya. Tubuhnya semakin keras menggeletar.

“Hih...!” Gadis itu buru-buru mengibaskan tangannya beberapa kali di depan dada, membuat gerakan-gerakan cepat. Sebentar kemudian kedua tangannya merapat di depan dada. Perlahan-lahan tangan kanannya diangkat hingga ibu jarinya sejajar dengan hidung. Sementara, telapak tangan kirinya terbuka di depan dadanya.

“Ups! Hsss...!”

“Ha ha ha...!”

Seketika adu kekuatan tenaga dalam terjadi. Suatu pertarungan yang biasa dilakukan tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi yang sudah menguasai ilmu tenaga dalam secara sempurna. Tampak tubuh gadis itu mulai tenang. Pikirannya dipusatkan, dan jiwanya dijernihkan untuk menahan gempuran tenaga dalam yang dikeluarkan lewat pengerahan tawa menggelegar itu.

“Hiyaaa...!” tiba-tiba saja gadis berbaju kuning itu berteriak keras menggelegar. Bersamaan dengan itu tangannya menghentak ke depan, lalu cepat merentang ke samping. Namun sesaat kemudian....

“Akh!” gadis itu memekik tertahan. Entah kenapa, mendadak saja tubuh gadis itu terlontar jauh ke belakang. Tubuhnya baru berhenti setelah menghantam sebatang pohon yang cukup besar. Tepat saat tubuh ramping terbalut baju kuning agak ketat itu ambruk, suara tawa menggelegar tadi langsung berhenti.

“Ugh! Hoeeek...!” gadis itu memuntahkan darah kental berwarna agak kehitaman.

“He he he....” Bersamaan dengan terdengarnya suara tawa terkekeh, berkelebat sebuah bayangan kehijauan. Dan tahu-tahu, di depan gadis itu sudah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk dan berjubah panjang warna hijau daun. Sebatang tongkat yang tidak beraturan bentuknya, tergenggam di tangan kanan untuk menyangga tubuhnya. Sebuah tonjolan berada di punggungnya membuktikan kalau dia benar-benar bungkuk.

Perlahan-lahan gadis berbaju kuning bangkit berdiri. Dipandanginya laki-laki tua yang terkekeh berdiri di depannya. Keriput pada wajah laki-laki tua itu sudah nampak jelas. Sepasang matanya memerah masuk ke dalam. Giginya yang hanya ada dua itu menyembul keluar saat dia terkekeh kering.

“Kau terlalu gegabah menggunakan aji ‘Malih Jiwa’, Paranti,” kering sekali suara laki-laki tua bungkuk itu.

“Terima sembahku, Eyang Congkok,” ucap Paranti seraya membungkukkan tubuhnya dengan merapatkan kedua telapak tangan di depan dada.

“Bangun, jangan bersikap bodoh begitu di depanku!” sentak laki-laki tua bungkuk yang dipanggil Eyang Congkok.

Paranti menegakkan tubuhnya kembali, namun kepalanya tetap tertunduk agak dalam. Punggung tangannya menyeka sisa darah yang masih mengalir di mulut.

“Kau terluka?” tanya Eyang Congkok.

“Sedikit,” sahut Paranti pelan. “Hanya dada saja yang masih terasa sesak.”

“Tidak apa. Kau bisa pulih kembali dengan sendirinya nanti. Asal, jangan mengerahkan tenaga dalam dulu sampai sore nanti. Dan nampaknya kepandaian yang kau miliki ada kemajuan. Itu tadi belum seberapa bila dibanding lawan-lawan yang akan kau hadapi nanti. Berlatihlah dengan tekun, Paranti,” kata Eyang Congkok.

“Baik, Eyang,” sahut Paranti.

Eyang Congkok menoleh ke kanan sedikit, kemudian menghampiri sebongkah batu yang tidak begitu besar di samping kanannya. Kini laki-laki tua itu duduk di sana. Sedangkan Paranti duduk bersila di depannya, dan kepalanya masih tetap tertunduk.

“Bagaimana dengan tugas yang diberikan pamanmu?” tanya Eyang Congkok.

“Sampai sejauh ini masih lancar,” sahut Paranti. “Hanya saja....”

“Apa?”

“Ada sedikit hambatan. Tapi itu tidak berarti, Eyang. Aku masih bisa mengatasinya.”

“Bagus. Kau memang harus mampu mengatasi segala hambatan yang dihadapi. Ingat! Tugas ini masih belum selesai. Kau paham, Paranti?”

“Paham, Eyang.”

Eyang Congkok memandangi gadis yang duduk bersila di depannya. Kening yang sudah berkerut, semakin dalam berkerut dengan mata sedikit menyipit. Terasa ada sesuatu yang sengaja disimpan gadis ini.

“Ada yang menyulitkanmu, Paranti?” tanya Eyang Congkok.

“Ah, tidak...,” sahut Paranti buru-buru.

“Hm..., mengapa wajahmu murung?”

“Tidak, Eyang. Tidak ada apa-apa,” Jawab Paranti cepat-cepat.

“Paranti, jika mengalami kesulitan, aku tidak ingin kau sendiri menghadapinya. Kau tahu caranya memanggilku, bukan? Jadi, jangan segan-segan memanggilku jika menghadapi halangan yang sulit.”

“Sampai saat ini belum, Eyang,” sahut Paranti.

“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Paranti bangkit berdiri pada saat laki-laki tua itu bangkit berdiri. Beberapa saat lamanya Eyang Congkok memandangi seraut wajah yang kelihatan agak murung dan tertunduk. Laki-laki tua itu yakin kalau Paranti menyembunyikan sesuatu yang tidak mungkin diutarakannya. Tapi dia tidak bisa mendesak, selagi tugas yang dijalankan gadis itu belum mendapatkan hambatan yang berarti.

“Kau sungguh tidak ada persoalan, Paranti?” desak Eyang Congkok.

“Tidak, Eyang,” sahut Paranti.

“Baiklah, aku pergi dulu.”

Paranti hanya menganggukkan kepalanya saja. Sementara, laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu langsung melesat pergi. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap.

“Hhh...!” Paranti menghembuskan napas panjang.

********************

DUA

“Sial...!” maki Rangga sambil memandangi kelinci yang sudah tenggelam masuk ke dalam sarangnya di bawah tanah. Perutnya sudah berkeruyuk minta diisi, tapi hanya satu kelinci yang ditemui. Dan itu pun sudah kabur sebelum bisa didekati. Sekarang tak ada lagi yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya.

Hari ini Rangga merasakan dirinya tertimpa sial terus. Dengan ayunan langkah lesu, Pendekar Rajawali Sakti berjalan sambil menuntun kuda hitamnya yang setia mengikuti. Namun belum begitu lama berjalan, ayunan kakinya mendadak terhenti. Kepalanya sedikit terdongak. Cuping hidungnya bergerak-gerak mencium bau sesuatu yang membuat perutnya semakin melintir berkeruyuk.

“Hm..., harum sekali baunya,” gumam Rangga.

Kembali Pendekar Rajawali Sakti itu berjalan menuju arah bau harum yang tercium. Diterobosnya semak belukar yang berada di sebelah kanan. Namun begitu keluar dari semak, mendadak saja matanya terbeliak

“Mau...?”

Rangga masih terpaku setengah tidak percaya melihat seorang gadis cantik mengenakan baju kuning tengah duduk menghadapi daging kijang bakar yang dipanggang di atas api unggun. Mereka memang sudah pernah bertemu sekali di Desa Gandus. Tak pernah terpikirkan oleh Rangga kalau akan kembali bertemu gadis ketus yang mengaku bernama Paranti itu.

“Kalau kau suka kijang panggang, silakan duduk di sini dan ambil sekerat. Tapi kalau tidak suka, silakan pergi dan jangan ganggu selera makanku,” ujar Paranti tanpa sedikit pun memalingkan wajah.

Rangga berjalan menghampiri, kemudian duduk di depan gadis itu. Tanpa dipersilakan lagi, tangannya menjulur dan mengambil sekerat daging kijang yang sudah masak. Digigitnya daging itu, dan dikunyah lumat-lumat. Terasa nikmat sekali. Tapi yang penting, perutnya sudah terisi dan tidak lagi menagih.

“Dari mana kau dapatkan kijang ini?” tanya Rangga yang tahu betul kalau di sekitar hutan Bukit Parut ini tidak ada seekor-kijang pun.

Itu sebabnya tidak ada pemburu yang suka datang ke sini, kecuali pemburu kelinci dan ayam hutan. Atau kalau yang ingin lebih besar, bisa berburu babi hutan.

“Makan saja, tidak usah banyak tanya!” dengus Paranti.

“Aku harus tahu setiap makanan yang masuk ke dalam perutku. Dan kuharap kau mendapatkannya tidak secara memaksa,” sahut Rangga, enteng.

“Aku bukan pencuri!” sentak Paranti tersinggung.

“Tidak ada yang mengatakan kau pencuri.”

“Huh! Tinggal makan saja cerewet!” dengus Paranti memberengut.

Paranti membuka ikatan buntalan kain lusuh di sampingnya. Sedangkan Rangga hanya melirik saja. Namun keningnya jadi berkerut, karena gadis itu mengeluarkan sebuah guci arak dari dalam buntalan kain itu.

“Mau...?” Paranti menawarkan. “Masih ada satu lagi kalau mau.”

Rangga tidak menjawab, tapi Paranti sudah mengeluarkan satu guci arak lagi dan dilemparkan kepadanya. Terpaksa Rangga menangkapnya. Kembali pemuda berbaju rompi putih itu terkejut saat Paranti menenggak arak langsung dari mulut gucinya. Dan memang tidak ada tempat untuk menuang arak.

“Kenapa bengong...? Kau tidak suka minum arak?” tegur Paranti seraya punggung tangannya menyeka bibirnya yang merah dan basah oleh arak.

“Kau pasti sudah biasa minum arak,” tebak Rangga.

“Hanya masalah kecil,” jawab Paranti, enak sekali.

Gadis itu kembali menenggak araknya tanpa mempedulikan Rangga yang terus memperhatikan terheran-heran. Baru kali ini disaksikannya ada seorang gadis bisa menenggak arak begitu rupa. Tentu sekali tenggak, tidak sedikit cairan memabukkan itu masuk ke dalam perutnya. Rangga masih memegangi guci, dan sedikit pun tidak meminum araknya.

“Kalau kau tidak suka, bawa lagi ke sini. Sudah habis nih...,” pinta Paranti seraya membuang guci araknya.

Rangga semakin terpana. Hanya beberapa kali teguk saja, seguci arak sudah berpindah ke dalam perut gadis itu. Tapi entah kenapa, Pendekar Rajawali Sakti itu bangkit berdiri dan menghampiri Paranti. Diberikannya arak itu, namun Paranti langsung merebut dan menenggaknya. Sedangkan Rangga hanya memperhatikan saja.

“Glek...!” Rangga menelan ludahnya sendiri.

Betapa dia tidak heran...? Sekali tenggak saja, arak di dalam guci itu sudah tandas. Dan kini berpindah ke dalam perut yang ramping itu. Paranti tidak peduli dipandangi sedemikian rupa. Dan kini duduknya bergeser mendekati pohon. Sambil menyeka mulutnya dengan punggung tangan, gadis itu menyandarkan punggungnya ke pohon. Sedangkan Rangga hanya duduk dan memandangi saja di dekat api panggangan kijang. Masih banyak juga sisa daging kijang panggang itu, tapi Rangga tak berniat menyentuhnya.

“Oaaahhh....!” Paranti menguap membuka mulutnya lebar-lebar. Sekarang, matanya yang berbulu lentik itu terpejam. Sama sekali tidak dipedulikan kalau ada seorang pemuda tampan di dekatnya. Tapi sebenarnya tidak seluruhnya matanya terpejam. Dari sudut ekor mata, pemuda tampan berbaju rompi putih itu selalu diperhatikannya. Entah apa yang ada di dalam benak Rangga saat ini, yang jelas dirinya benar-benar heran pada Paranti yang tampak mulai tertidur.

“Aneh..., juga liar,” desis Rangga dalam hati. Pendekar Rajawali Sakti jadi teringat Pandan Wangi. Waktu pertama bertemu Pandan Wangi, juga punya pikiran yang sama dengan sekarang ini. Pandan Wangi dulunya juga seorang gadis liar, nakal, dan keras kepala. Rangga seperti melihat Pandan Wangi dalam perwujudan lain pada diri gadis ini.

********************

Rangga melempar-lemparkan kerikil yang banyak di sekitarnya ke tengah sungai. Entah, sudah berapa lama Pendekar Rajawali Sakti duduk di tepi sungai itu, dan sudah berapa banyak kerikil yang dilemparkan ke dalam sungai. Pandangannya lurus tidak berkedip ke seberang sungai di depannya. Wajahnya dipalingkan sedikit ketika mendengar langkah kaki halus mendekatinya.

Pemuda berbaju rompi putih itu hanya sedikit saja melirik seorang gadis cantik mengenakan baju kuning yang ketat. Gadis itu berjalan melenggang menghampirinya, dan tanpa bicara sedikit pun, duduk di samping Rangga. Sebuah kerikil dilemparkan ke dalam sungai. Rangga hanya melirik saja sedikit.

“Kenapa kau tidak pergi, Paranti?” tanya Rangga tanpa berpaling sedikit pun pada gadis yang berada di sampingnya.

“Kau sendiri, kenapa belum juga pergi?” Paranti malah balik bertanya.

Rangga memalingkan wajahnya memandangi gadis berbaju kuning di sampingnya. Paranti memang selalu saja begitu. Kalau ditanya, dia tidak pernah mau menjawab, tapi malah balik bertanya. Sedangkan yang dipandangi hanya tenang-tenang saja tidak peduli. Tangannya terus melemparkan kerikil-kerikil ke dalam sungai.

“Aku yang bertanya padamu, Paranti,” kata Rangga.

“Apa aku tidak berhak untuk bertanya juga?”

“Terserah kaulah,” desah Rangga menyerah.

Pendekar Rajawali Sakti itu memang paling tidak suka berdebat. Maka, kini dia bangkit berdiri dan melangkah menghampiri kuda hitamnya yang tinggi tegap, dan otot­-ototnya bersembulan. Rangga menepuk-nepuk leher kuda itu. Setelah mengambil tali kekangnya, kemudian Pendekar Rajawali Sakti melompat naik. Sementara Paranti juga sudah beranjak berdiri, dan langsung memandangi pemuda yang sudah berada di punggung kudanya.

“Kau cepat sekali tersinggung, Rangga,” ujar Paranti.

“Tidak. Tapi aku memang harus pergi,” sahut Rangga.

Pendekar Rajawali Sakti segera menghentakkan tali kekang kudanya sambil berdecak. Kuda hitam yang bernama Dewa Bayu itu berjalan perlahan-lahan setelah memutar tubuhnya. Sementara Paranti masih berdiri sambil memandangi saja. Dia masih tetap berdiri meskipun Rangga sudah jauh bersama kudanya.

Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu. Yang jelas, Paranti mengangkat pundaknya diiringi desahan napas panjang dan terasa berat sekali. Kemudian kakinya terayun perlahan-lahan ke arah yang berlawanan dengan kepergian Rangga. Tapi baru beberapa langkah berjalan, mendadak saja ayunan kakinya terhenti.

“Bodo, ah...!” dengus Paranti. Gadis itu membalikkan tubuhnya, kemudian berlari cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti tadi pergi. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki gadis itu memang sudah cukup tinggi, sehingga bisa berlari cepat bagai bergerak di atas angin. Begitu cepatnya berlari, sehingga yang terlihat hanyalah bayangan kuning yang berkelebat di antara pepohonan.

Namun setelah tiba di sebuah jalan setapak yang melingkari Bukit Parut, mendadak saja larinya terhenti. Pendengaran Paranti yang tajam, langsung dapat mendengar suara orang bercakap-cakap, bercampur suara langkah kaki kuda yang berjalan perlahan. Tampaknya suara itu datangnya dari sebelah kanan jalan. Sebentar Paranti menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, kemudian ringan sekali melesat ke atas.

“Hup!” Ringan sekali lesatan gadis itu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, dia sudah hinggap di atas sebatang dahan pohon yang cukup lebat daunnya. Tak berapa lama kemudian, dari tikungan jalan setapak ini, terlihat sekitar enam orang berpakaian serba merah tengah menunggang kuda. Mereka berbicara sambil tertawa terbahak-bahak. Sesekali arak dari guci yang dibawa, ditenggak ke mulut.

“Hm..., orang-orang Siluman Kera...,” gumam Paranti yang berada di atas pohon, dalam hati.

Gadis itu mendengarkan semua pembicaraan orang-orang berbaju merah itu. Wajahnya seketika berubah ketika mendengar satu nama disebut-sebut. Namun Paranti mencoba menahan diri. Sayangnya, gadis itu tidak bisa lagi menahan diri ketika mendengar percakapan salah seorang yang menyinggung perasaannya.

“Kalau saja bukan karena perempuan liar itu, sudah kubabat leher si tua bongkok!”

“Benar! Seharusnya kita tidak mengalah. Lebih baik aku tadi mati bertarung daripada harus mengalah pada si tua bongkok itu.”

“Ah, sudahlah. Yang penting sekarang, si tua bongkok itu sekarang berada dalam pelukan si Mawar Beracun. Aku yakin, sekarang dia sudah mampus dalam pelukannya.”

“Ha ha ha...!”

“Keparat...!” geram Paranti tanpa sadar. Geraman Paranti yang pelan dan tanpa disadari itu, rupanya terdengar juga oleh enam orang berpakaian merah. Mereka langsung saja menghentikan langkah kudanya, dan langsung saling berpandangan beberapa saat. Kemudian salah seorang menghentakkan tangannya ke arah atas pohon, tempat Paranti berada di sana. Guci yang berada di dalam genggaman tangannya, melesat bagaikan kilat.

Prak!

Bersamaan dengan hancurnya guci itu, dari atas pohon Paranti meluncur turun. Gerakan tubuhnya ringan dan cepat sekali. Tahu-tahu gadis berbaju kuning itu sudah berdiri tegak di depan enam orang berbaju merah yang masih berada di punggung kudanya.

Keenam orang berbaju merah itu langsung saja melompat turun dari punggung kudanya masing-masing, dan membiarkan kudanya berjalan menyingkir ke tepi. Bibir mereka menyeringai disertai tatapan mata liar seperti tidak percaya melihat ada seorang gadis cantik tahu-tahu muncul di depan.

“He he he.... Hari ini kita benar-benar beruntung, sobat. Hilang satu gadis, sekarang muncul lagi yang tidak kalah cantiknya. He he he...,” salah seorang mengumbar tawa yang terkekeh.

“Benar-benar cantik! Bagai bidadari baru turun dari kahyangan,” sambung yang lain.

“Kalian tentu ingin bersenang-senang, bukan...? Mari, kalian akan kubuat senang untuk selamanya,” ledek Paranti dengan bibir menyunggingkan senyuman tipis.

Mendengar kata-kata Paranti, enam orang berbaju merah itu tertawa terbahak-bahak. Mereka langsung saja berhamburan hendak menyergap gadis berbaju kuning itu. Namun tiba-tiba saja, Paranti bergerak cepat bagai kilat. Dan entah kapan mulainya, tahu-tahu pedang gadis itu sudah tercabut. Langsung pedang itu ditebaskan pada tiga orang yang berada paling depan.

Tebasan Paranti yang cepat dan tidak terduga itu tak bisa dihindari lagi. Ketiga orang berbaju merah itu hanya bisa terperangah dengan mata mendelik lebar.

Cras! Cras! Cras!

Tiga kali jeritan terdengar saling susul, kemudian tiga orang ambruk ke tanah. Dada mereka terbelah mengucurkan darah segar. Melihat kejadian yang tidak terduga itu, tiga orang lainnya jadi terbeliak. Mereka seperti tidak percaya melihat tiga orang temannya kini tergeletak tak bernyawa lagi dengan dada terbelah cukup lebar.

Sedangkan Paranti hanya berdiri tegak. Pedangnya yang berlumuran darah kini menyilang di depan dada. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, namun sinar matanya begitu tajam menusuk. Sementara tiga orang berbaju merah lainnya, masih terpaku seperti tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi. Dan sebelum ada yang menyadari, Paranti sudah melompat cepat sambil mengibaskan pedangnya.

“Hiyaaat..!”
Trang!
“Heh...?!”

Paranti terkejut bukan main ketika pedangnya terasa membentur sesuatu yang keras. Seketika senjatanya terpental balik. Buru-buru gadis itu melompat ke belakang, lalu berputaran beberapa kali. Dengan gerakan manis sekali, kakinya mendarat ringan di tanah. Paranti semakin terbeliak ketika tiba-tiba saja di depan ketiga orang berbaju merah itu sudah berdiri....

“Oh..., apakah aku bermimpi...?” desis Paranti tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Memang sukar untuk diungkapkan. Apakah yang berdiri di depannya itu manusia, atau binatang. Makhluk itu bentuknya memang seperti manusia biasa. Hanya saja, wajahnya mirip sekali dengan seekor kera. Seluruh tangan, kaki, serta lehernya berbulu hitam. Bajunya merah, namun bagian lehernya berwarna kuning keemasan. Sebatang tongkat seperti bambu tergenggam di tangannya.

Terlalu sukar bagi Paranti untuk menentukan, apakah yang berdiri di depannya ini manusia atau kera. Mungkin juga setengah manusia dan setengah kera. Dan sebenarnya, makhluk itu adalah orang biasa yang menganut ilmu kesaktian ‘Siluman Kera’. Ilmu ini merupakan ilmu hitam yang sulit dicari tandingannya. Hanya saja, siapa saja yang menganut ilmu ini, jiwanya dipenggal menjadi dua.

Satu dalam jasadnya, dan satu lagi harus dicarinya sendiri berdasarkan wangsit. Dan jika jiwa yang satu lagi bisa ditemukan, maka kekuatan dan kesaktiannya akan berlipat ganda. Namun walaupun demikian, dia sudah berhak menyandang julukan Siluman Kera. Untuk beberapa saat gadis itu hanya bisa bengong dengan mulut sedikit terbuka. Pancaran sinar matanya mengandung ketidakpercayaan dengan apa yang dilihatnya kini.

“Kau yang membunuh ketiga muridku ini...?” terdengar suara dingin dan berat.

Paranti semakin terpana. Sungguh tidak disangka kalau manusia kera itu dapat berbicara seperti manusia, meskipun gerakan mulutnya lebar, tidak begitu jelas. Gadis itu sampai lupa menjawab, karena masih memperhatikan makhluk setengah manusia dan kera itu dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

“Perempuan...! Selalu saja bikin gara-gara. Aku benci perempuan, huh!” dengus Siluman Kera itu dingin.

Tiba-tiba saja, Siluman Kera melompat cepat bagai kilat menerjang Paranti yang masih terpana. Gadis itu tersentak ketika ujung tongkat manusia setengah kera itu menyodok ke arah dadanya.

“Uts...!” Buru-buru Paranti memiringkan tubuhnya ke kanan, sehingga sodokan tongkat kayu itu lewat di depan dadanya. Namun sebelum gadis itu bisa menyadari penuh apa yang terjadi, si Siluman Kera itu sudah memberi satu pukulan keras cepat luar biasa.

Des!

“Akh...!” Paranti terpekik. Pukulan manusia kera itu tepat menghantam bahu kiri Paranti. Akibatnya gadis itu terhuyung-huyung ke belakang sedikit berputar. Namun dengan cepat sekali, Paranti bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Segera dia melompat ke samping begitu tongkat kayu si Siluman Kera kembali berkelebat mengarah ke tubuhnya.

“Hap! Yeaaah...!”

Wut!

Pedang Paranti langsung dikebutkan begitu tongkat si Siluman Kera itu lewat di depan dadanya. Namun sungguh sukar dipercaya, si Siluman Kera itu menggerakkan tangan kirinya. Dan tiba-tiba saja, ujung pedang Paranti sudah terjepit di antara dua jari tangan kiri si Siluman Kera.

“Ihk...!” Sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam, Paranti berusaha menarik pedangnya. Namun sedikit pun pedangnya tidak bergeming. Dan sebelum gadis itu bisa melepaskan pedangnya, mendadak si Siluman Kera itu melenting ke atas. Dan....

“Yeaaah...!”

Beghk!

“Akh...!” untuk kedua kalinya, Paranti menjerit keras agak tertahan.

Sambil melentingkan tubuhnya, si Siluman Kera melayangkan satu tendangan keras mengandung tenaga dalam tinggi. Paranti tak bisa lagi menguasai tubuhnya ketika tendangan itu telak menghantam dadanya. Tubuhnya terpental ke belakang sejauh tiga batang tombak, lalu tersuruk jatuh ke tanah.

Brak!

“Akh...!” kembali Paranti memekik keras ketika kepalanya membentur sebatang pohon. Gadis itu menggelepar, menggeliat-geliatkan tubuhnya sambil mengerang. Dada dan kepalanya terasakan sakit yang amat sangat. Dia tidak tahu lagi, ke mana pedangnya. Yang jelas, pada saat itu si Siluman Kera sudah melompat sambil berteriak nyaring. Teriakannya bagaikan suara seekor monyet.

“Ghraaaghk...!”
Bet!
Wut!

Dua kali si Siluman Kera mengebutkan tongkat kayunya ke arah kepala Paranti. Namun sebelum tongkat yang tampaknya hanya terbuat dari sepotong kayu biasa itu hampir mengenai kepala Paranti, mendadak saja sebuah bayangan putih berkelebat cepat bagai kilat.

Slap!

“Heh...?!”

Betapa terkejutnya si Siluman Kera itu. Ternyata tiba­-tiba saja tubuh Paranti sudah lenyap, tepat saat bayangan putih berkelebat menyambar tubuh gadis itu. Dan tongkat kayunya hanya menghantam pohon hingga hancur berkeping-keping. Seketika terdengar ledakan yang dahsyat menggelegar.

“Setan....!” maki si Siluman Kera itu. Pandangan si Siluman Kera beredar ke sekeliling, tapi tak ada seorang pun yang bisa dijadikan alasan atas hilangnya Paranti. Sedangkan tiga orang berbaju merah masih terbengong tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka juga melihat adanya bayangan putih berkelebat menyambar tubuh gadis itu. Dan yang kini mereka ketahui, tiba-tiba saja gadis itu lenyap tak berbekas.

“Huh...!” si Siluman Kera mendengus kesal.

Trang!

Dibuangnya pedang Paranti yang terampas di tangannya. Kemudian pandangan matanya tajam tertuju pada tiga orang laki-laki berwajah kasar, mengenakan baju merah menyala. Sepasang bola matanya memerah tajam, seakan-akan bagaikan sepasang bola api yang hendak melumat hangus ketiga orang itu.

“Kalian harus kembali secepatnya!” dingin dan datar sekali suara si Siluman Kera itu.

Setelah berkata demikian, si Siluman Kera langsung melesat pergi. Begitu cepatnya, sehingga dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya sudah lenyap. Ketiga orang laki-laki berbaju merah itu saling berpandangan, kemudian merayapi tiga mayat temannya yang tergeletak berlumuran darah.

Tanpa ada yang berkata sedikit pun, ketiga orang berbaju merah itu melompat naik ke punggung kuda masing-masing. Kemudian mereka menggebah cepat kudanya. Meninggalkan tiga mayat temannya yang tergeletak begitu saja. Debu langsung mengepul begitu tiga ekor kuda berpacu cepat menyusuri jalan tanah yang berdebu dan berkerikil.

********************

TIGA

Pagi ini udara begitu cerah. Langit tampak jernih dihiasi awan tipis berarak di langit. Sengatan sinar matahari menjadi tak terasa karena diusir oleh angin yang lembut membuai. Namun keindahan hari ini, tidak dinikmati oleh satu keluarga yang tinggal di sebuah desa di kaki Gunung Panjakan.

Di dalam rumah yang cukup besar itu, hanya ada seorang perempuan berusia sekitar empat puluh lima tahun yang tengah duduk di kursi rotan. Dia ditemani seorang gadis muda mengenakan baju warna merah muda. Gadis itu juga duduk di kursi rotan di samping kanan perempuan setengah baya itu. Sedangkan di depan mereka, ada dua orang laki-laki yang duduk bersila di lantai. Tampak gagang golok menyembul keluar dari balik pinggangnya.

“Aku benar-benar menyesali sikap ayahmu yang keras kepala. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi jika saja dia bersedia mengalah sedikit,” terdengar lirih suara perempuan setengah baya itu.

“Sudahlah, Bu. Tidak perlu disesali lagi. Ayah benar, dan aku bangga,” gadis di sebelahnya menyahuti.

Perempuan setengah baya yang usianya kelihatan lebih muda dari sebenarnya itu menarik napas dalam-dalam. Anak gadisnya dipandangi lekat-lekat, sepertinya tidak tampak adanya kesedihan di wajah gadis itu. Padahal baru dua hari yang lalu mereka ditinggal pergi selama-lamanya oleh orang yang selama ini dicintai dan selalu melindungi. Ayah gadis itu baru saja meninggal, tapi gadis itu tidak berduka sama sekali.

“Entah kapan waktunya, mereka pasti datang lagi ke sini. Mereka belum mendapatkan apa yang diinginkan, Murasi,” tegas perempuan setengah baya itu lagi.

“Aku akan menghadapinya, Bu,” tekad gadis yang bernama Murasi mantap.

“Tidak, Anakku. Kau tidak boleh menghadapi mereka, karena tidak akan mampu. Apa yang akan kau andalkan...?” ada nada kecemasan pada suaranya.

“Kami semua akan menghadapinya, Nyi Enoh,” celetuk salah seorang yang duduk di lantai.

Perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu seketika memandang dua orang laki-laki bertubuh tegap yang duduk bersila di lantai. Kedua orang itu memang sudah lama ikut bersama suaminya, sebelum Murasi lahir. Mereka begitu setia mengikuti ke mana saja Ki Enoh pergi. Bahkan rela mempertaruhkan jiwa dan raga bagi keutuhan keluarga ini.

“Mungkin kami memang tidak bisa mengalahkan orang-orang Siluman Kera itu. Tapi kami yakin bisa menyelamatkan Nyi dan Ni Murasi dari ancaman mereka,” tegas salah seorang yang memiliki kumis tebal seperti sapu ijuk.

“Tidak! Kalian tidak boleh mati. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Sudah cukup banyak korban, dan aku tidak ingin jatuh korban lagi,” sergah Nyi Enoh tegas.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Bu?” tanya Murasi tidak mengerti atas sikap ibunya.

“Memberikan apa yang mereka inginkan,” sahut Nyi Enoh.

“Bu...?!” Murasi terkejut. Gadis itu memandangi ibunya dalam-dalam. Sungguh tidak diduga kalau ibunya akan mengambil keputusan seperti itu. Selama ini Murasi mengenal ibunya sebagai wanita yang tegar dan tabah, serta kuat dalam menghadapi segala macam peristiwa. Tapi sekarang ini..., Murasi seperti kehilangan sosok wanita yang selama ini didambakan dan dikaguminya. Sosok yang menjadi panutan dan pedoman dalam hidupnya.

“Bu! Kita tidak tahu apa yang mereka inginkan dari Ayah. Bagaimana ibu bisa mengatakan akan memberikan yang mereka inginkan?” tanya Murasi, agak lunak suaranya.

“Mereka menginginkan Gelang Naga Soka,” sahut Nyi Enoh, terdengar pelan suaranya.

“Gelang Naga Soka...?” Murasi mengerutkan keningnya.

Murasi tahu gelang yang dimaksudkan ibunya. Gelang itu memang selalu dikenakan ayahnya tanpa pernah lepas, meskipun hanya sebentar saja. Namun, tentu saja ada pengecualian. Ketika si siluman akan datang menyerbu, Ki Enoh segera memerintahkan anak istrinya untuk mengungsi. Dan tentu saja sambil menyelamatkan Gelang Naga Soka.

Hal ini dilakukan agar si Siluman Kera jangan sampai mendapatkan sebelah jiwanya yang tersimpan dalam gelang itu. Karena berdasarkan wangsit, sebagian jiwanya berada di situ. Bentuknya cukup indah, dihiasi oleh ukiran seekor ular yang melingkar berwarna hitam pekat. Pada bagian ekornya yang melilit kepala, berwarna kuning keemasan.

Gelang itu sekarang memang berhasil diselamatkan Nyi Enoh setelah suaminya tewas dalam pertarungan melawan Siluman Kera yang datang bersama muridnya dalam jumlah cukup banyak. Semua murid-murid Ki Enoh tewas, dan hanya tinggal mereka berempat saja yang masih bisa selamat karena telah berhasil mengungsi lebih dulu. Dan sampai sekarang, Murasi tidak tahu, kenapa si Siluman Kera itu menginginkan Gelang Naga Soka. Apakah ada sesuatu yang tersembunyi di dalam gelang itu? Pertanyaan-pertanyaan itu menggaluti benak Murasi.

“Mengapa mereka menginginkan gelang itu, Bu?” tanya Murasi yang tidak bisa menahan rasa keingintahuannya.

“Gelang itu menyimpan sebagian jiwa asli si Siluman Kera. Dengan gelang itu, dia bisa merubah ujudnya kembali menjadi manusia biasa. Dan ilmu kesaktiannya akan menjadi berlipat ganda jika gelang itu dikenakan,” jelas Nyi Enoh.

“Kenapa ayah sampai bisa menyimpannya, Bu?” tanya Murasi lagi.

“Sebenarnya ayahmu hanya menjalankan amanat saja. Sepuluh tahun yang lalu, gelang itu milik seorang pertapa yang dicuri orang. Oleh orang itu, kemudian digunakan untuk melakukan kejahatan. Namun akhirnya, orang itu sadar dan menitipkannya pada ayahmu untuk diserahkan pada pertapa tadi. Dan pada kenyataannya, pertapa itu telah meninggal dunia.”

Nyi Enoh berhenti bercerita sebentar. Suasana kemudian menjadi hening, seperti menunggu perempuan setengah baya itu untuk melanjutkan ceritanya.

“Pada suatu malam, ayahmu bermimpi didatangi oleh pertapa yang memiliki gelang itu. Katanya, gelang itu telah dimasuki sebagian jiwa seseorang yang telah menganut ilmu hitam ‘Siluman Kera’. Maka, tentu saja orang itu akan merampasnya dari tangan ayahmu.”

Kembali suasana menjadi hening ketika Nyi Enoh menghentikan ceritanya sebentar.

“Dan sebenarnya, si Siluman Kera itu sudah tewas tiga puluh tahun yang lalu di tangan kakekmu, Murasi. Tapi rupanya, kematiannya tidak dalam arti yang sebenarnya. Ternyata sebagian jiwanya sempat dipindahkan ke dalam tubuh seekor kera, yang kemudian menjelma menjadi manusia kera. Sedangkan jiwanya yang lain masuk ke Gelang Naga Soka. Selama gelang itu tidak jatuh ke tangan si Siluman Kera, selamanya dia akan berujud setengah manusia dan setengah kera. Dia tidak akan bisa menjelma kembali menjadi manusia, selama sebagian jiwa yang berada di dalam gelang itu tidak menyatu bersama raganya yang sekarang,” tutur Nyi Enoh.

“Aneh...,” gumam Murasi.

“Di dalam dunia persilatan, tidak ada yang bisa dikatakan aneh, Murasi. Segalanya bisa terjadi tanpa dapat dimengerti akal sehat. Memang, hal itu bagimu terasa aneh. Tapi bagi kalangan rimba persilatan, sudah menjadi sesuatu yang wajar dan sering terjadi. Bahkan tidak jarang seorang tokoh rimba persilatan meninggalkan raganya yang sudah mati, dan masuk ke dalam tubuh seseorang, binatang atau ke sebuah benda. Bisa juga mereka menyusup masuk ke dalam tubuh muridnya. Tapi banyak juga yang menerima kodratnya sebagai manusia, dan kembali ke swargaloka,” kembali Nyi Enoh menjelaskan.

Meskipun sukar dimengerti, namun Murasi mencoba untuk bisa memahami. Dia memang sering mendengar cerita ayahnya tentang dunia persilatan. Baginya, menggeluti dunia persilatan adalah sesuatu yang unik dan sukar dimengerti. Tapi, itulah kenyataan salah satu sisi dunia kehidupan yang nyata. Sesuatu yang dianggap konyol bagi orang biasa, tapi kenyataannya memang ada dalam kalangan persilatan.

“Ibu yakin kalau si Siluman Kera itu akan kembali lagi ke sini?” tanya Murasi lagi.

“Pasti, sebelum mereka mendapatkan apa yang diinginkannya,” sahut Nyi Enoh.

“Dan Ibu akan menyerahkan gelang itu?”

“Ibu tidak punya pilihan lain lagi, anakku.”

“Itu berarti Ibu memberikan kesempatan padanya untuk merajalela menghancurkan dunia ini!” agak ketus nada suara Murasi.

“Kau tidak mengerti, anakku. Siluman Kera bisa berbuat apa saja pada kita...,” Nyi Enoh meminta pengertian anaknya.

“Meskipun telah memperoleh gelang itu, dia pasti akan membunuh kita juga, Bu. Apakah Ibu rela mati sebagai pengecut...?!” dingin sekali suara Murasi.

“Ibu tidak berpikir ke situ, anakku. Ibu hanya memikirkan keselamatanmu saja.”

“Dia harus melangkahi mayatku dulu kalau ingin merebut gelang itu!” tegas Murasi.

“Murasi...?!” sentak Nyi Enoh terkejut. “Kau harus hati­hati bicara. Kalau dia tahu, kau akan celaka.”

“Jangan khawatir, Bu. Seandainya tidak mampu menghadapi mereka, kita bisa meninggalkan desa ini.”

“Kau tidak tahu, siapa si Siluman Kera itu, anakku.”

“Sudahlah, Bu. Sebaiknya aku saja yang mengenakan gelang itu, dan aku akan bertanggung jawab,” tegas Murasi, mantap suaranya.

Nyi Enoh begitu terharu sekali atas ketegasan sikap anaknya. Tapi hatinya juga khawatir. Kekerasan hati Murasi bisa mendatangkan bencana yang lebih besar lagi. Bukan saja akan mati terbunuh oleh anak buah si Siluman Kera, tapi desa ini akan hancur. Maka sudah dapat dibayangkan, tak ada seorang penduduk pun yang bisa hidup.

Nyi Enoh jadi teringat cerita mendiang suaminya sebelum mereka kedatangan si Siluman Kera. Suaminya itu hendak mengunjungi sahabatnya di Desa Gandus. Tapi kenyataan yang didapati, desa itu telah hancur. Saat itu juga Ki Enoh menduga apa yang bakal terjadi, karena tidak menemukan tongkat kayu putih yang disimpan sahabatnya itu di rumahnya.

Ternyata tongkat kayu putih yang menjadi senjata maut si Siluman Kera sudah lenyap. Dan Ki Enoh sudah menduga kalau Siluman Kera sedikit demi sedikit akan menyempurnakan kembali dirinya seperti dulu lagi. Dan Jika itu terlaksana..., tidak dapat dikatakan lagi, apa jadinya dunia ini.

********************

Murasi memandangi gelang hitam berbentuk ular yang ekornya berwarna keemasan membelit kepala. Gelang itu melingkar di tangan kanannya. Murasi merasakan adanya sesuatu di dalam dirinya ketika pertama kali menggunakan gelang ini. Tapi terlalu sulit untuk mengetahuinya. Yang jelas, ada hawa sejuk yang terasa merasuk menyebar ke seluruh tubuhnya. Dan Murasi juga merasakan kalau batinnya jadi tenang. Bahkan tidak mudah tersinggung. Sesuatu yang belum pernah dirasakan selama ini dalam dirinya.

“Murasi....”

“Heh...?!” Murasi terperanjat ketika tiba-tiba ada yang memanggilnya.

Gadis itu langsung beranjak bangkit dari kursi, lalu memutar tubuhnya. Kelopak mata gadis itu membelalak begitu melihat seorang laki-laki tua berjubah hijau tahu­tahu sudah ada di dalam taman belakang rumahnya ini. Tubuhnya yang bungkuk, tersangga tongkat yang tak beraturan bentuknya. Tampak pada punggungnya terdapat tonjolan seperti unta.

“Siapa kau?! Bagaimana bisa masuk ke sini? Apa maksudmu ke sini? Dari mana kau tahu namaku...?” Murasi langsung memberondong dengan berbagai macam pertanyaan.

“Ck ck ck.... Kalau pertanyaanmu begitu, bagaimana menjawabnya...?” laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murasi jadi tercenung. Baru disadari kalau tadi telah memberondong dengan pertanyaan yang banyak sekali. Gadis itu jadi heran juga. Padahal, beberapa hari ini hatinya bisa tenang. Namun begitu melihat kedatangan laki-laki tua bungkuk yang mengejutkan itu, watak aslinya langsung timbul kembali. Apakah ini juga pengaruh Gelang Naga Soka yang dipakainya...?

“Siapa kau, Orang Tua?” tanya Murasi dengan nada suara yang lunak.

“He he he.... Kalau pertanyaanmu begitu, aku juga bisa tenang menjawabnya. Namaku Eyang Congkok,” laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu menjawab pertanyaan Murasi sambil terkekeh-kekeh.

“Lalu, apa maksudmu datang ke sini?” Murasi mengulangi pertanyaannya yang pertama tadi.

“He he he..., aku ingin bertemu ayahmu,” sahut Eyang Congkok.

“Ayahku sudah meninggal,” Murasi memberi tahu.

“Meninggal...?!” Eyang Congkok tampak terkejut.

Kedua mata laki-laki tua bungkuk itu berputar merayapi wajah gadis cantik di depannya, seakan-akan hendak meminta kepastian dengan apa yang baru saja didengarnya. Masih belum bisa dipercayai pendengarannya tadi. Sedangkan Murasi jadi keheranan juga melihat sikap Eyang Congkok yang tampak begitu terkejut mendengar kematian ayahnya. Hingga beberapa saat lamanya, mereka hanya berdiam diri saja.

“Kapan meninggalnya?” tanya Eyang Congkok setelah bisa menguasai dirinya kembali.

“Sekitar enam hari yang lalu,”sahut Murasi.

“Enam hari yang lalu.... Ah...,” Eyang Congkok menggumam dan mendesah panjang.

“Apakah kau kenal ayahku...?” tanya Murasi bernada menyelidik.

“Aku kenal ayahmu sebelum kau lahir, Murasi. Aku dan ayahmu sahabat baik. Ahhh.... Aku tidak mengerti, bencana apa lagi yang akan menimpa dunia ini?” nada suara Eyang Congkok terdengar mengeluh.

Murasi tertegun. Laki-laki tua ini tidak dikenalnya sama sekali, tapi mengaku sahabat ayahnya. Memang, Ki Enoh punya banyak sahabat yang tidak bisa dikenal Murasi seluruhnya. Hanya beberapa saja yang dikenal. Dan itu juga sahabat-sahabat yang sering datang berkunjung ke sini.

Kembali mereka terdiam membisu. Masing-masing disibukkan oleh pikirannya sendiri. Beberapa kali Eyang Congkok menarik napas panjang. Sedangkan Murasi tidak pernah lepas mengawasinya. Meskipun laki-laki tua bungkuk ini telah mengaku sahabat ayahnya, tapi gadis itu tidak akan mempercayai begitu saja. Dan dalam keadaan seperti ini, kecurigaan itu sangat perlu.

“Kau tadi bilang akan terjadi bencana. Apa maksudnya, Eyang Congkok?” tanya Murasi setelah cukup lama berdiam diri dengan benak dipenuhi tanda tanya.

“Ah! Aku hanya menduga-duga saja. Tapi...,” Eyang Congkok berhenti, namun keningnya berkerut dalam.

“Tapi kenapa?” desak Murasi.

“Murasi, apakah ayahmu mengatakan atau meninggalkan sesuatu sebelum meninggal?” Eyang Congkok malah balik bertanya.

Murasi tidak langsung menjawab. Kembali dipandanginya laki-laki tua bungkuk yang mengenakan jubah hijau itu. Pertanyaan Eyang Congkok barusan, membuatnya semakin curiga. Ayahnya memang meninggalkan sesuatu, tapi tidak pernah mengatakan apa­-apa sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Yang membuat gadis itu semakin curiga, ayahnya tidak pernah menyebut-nyebut nama Eyang Congkok sebagai sahabatnya.

“Maaf. Seharusnya aku memang tidak perlu bertanya seperti itu padamu, Murasi. Memang sebaiknya aku harus bertemu ibumu secara langsung,” ucap Eyang Congkok melihat Murasi terdiam saja, seperti keberatan menjawab pertanyaannya tadi.

“Sekarang ini ibu tidak Ingin diganggu,” kata Murasi.

“Ah, sayang sekali. Kapan aku bisa menemui ibumu?” ada nada kekecewaan di dalam suara Eyang Congkok.

“Aku tidak tahu. Nanti akan kutanyakan lebih dulu,” sahut Murasi.

“Terima kasih. Kalau begitu, sebaiknya aku pergi dulu,” pamit Eyang Congkok.

“Tunggu dulu,” cegah Murasi.

Eyang Congkok memandangi gadis cantik di depannya.

“Di mana aku bisa menemuimu nanti?” tanya Murasi.

“Kau tidak perlu bersusah payah, Murasi. Besok pagi aku akan datang lagi ke sini menemuimu,” sahut Eyang Congkok.

Setelah berkata demikian, Eyang Congkok langsung melesat pergi. Begitu cepatnya, sehingga sebelum Murasi bisa membuka mulut, laki-laki tua bertubuh bungkuk itu sudah lenyap dari pandangan. Murasi bukanlah seorang gadis manja yang tahunya hanya bersolek saja. Dia sudah sering melihat tokoh rimba persilatan, terutama sahabat-sahabat ayahnya yang memiliki ilmu olah kanuragan dan kesaktian tingkat tinggi. Jadi lesatan yang dilakukan Eyang Congkok barusan, baginya bukanlah sesuatu yang dirasakan aneh.

Murasi mengangkat bahunya. Gadis itu memutar tubuhnya, lalu berjalan. Namun belum jauh melangkah, terlihat ibunya berjalan menuju ke arahnya. Perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu tersenyum manis melihat putrinya yang berhenti melangkah menunggunya.

“Tadi kulihat kau berbicara dengan seseorang. Siapa dia?” tanya Nyi Enoh begitu dekat dengan Murasi.

Murasi tidak langsung menjawab. Agak terkejut juga hatinya mendengar pertanyaan itu. Sungguh tidak disangka kalau ibunya tadi memperhatikan. Murasi memandang ke arah kamar ibunya melalui bahu wanita setengah baya itu. Tampak jendela kamar itu sedikit terbuka. Dari sana memang dapat melihat ke tempat pembicaraannya tadi dengan laki-laki tua bungkuk yang mengaku bernama Eyang Congkok. Tapi memang tidak cukup jelas, karena terhalang rimbunnya pohon kenanga.

“Aku tidak tahu siapa dia, Bu. Tapi, katanya sahabat ayah,” sahut Murasi.

“Dia menyebutkan namanya?” tanya Nyi Enoh lagi.

“Iya,” sahut Murasi seraya mengangguk pelan.

“Siapa?”

“Eyang Congkok.”

“Siapa...?!” Nyi Enoh seperti tidak jelas mendengar penuturan anaknya tadi.

“Eyang Congkok,” Murasi mengulangi dengan kening sedikit berkerut.

Gadis itu heran juga melihat ibunya terkejut ketika nama Eyang Congkok disebutkan. Dipandanginya wanita setengah baya itu dalam-dalam. Sedangkan yang dipandangi jadi terdiam disertai pandangan kosong lurus ke depan. Untuk beberapa saat mereka terdiam membisu dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang ada dalam kepala Nyi Enoh saat ini. Murasi tidak bisa menduganya. Sedangkan dirinya sendiri jadi tidak mengerti, mengapa ibunya terkejut seperti itu.

Nyi Enoh mengayunkan kakinya perlahan-lahan, namun kepalanya sedikit tertunduk. Sedangkan Murasi hanya berdiri saja mengawasi dengan kepala dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang sukar dijawab. Nyi Enoh menghembuskan napas panjang sambil menghempaskan tubuhnya di kursi bambu yang ada di bawah sebatang pohon kamboja. Dipandanginya Murasi yang masih berdiri saja di tempatnya.

“Apakah maksudnya datang ke sini diutarakan juga, Murasi?” tanya Nyi Enoh setelah cukup lama berdiam diri saja.

“Tidak,” sahut Murasi. “Tapi katanya dia akan datang lagi besok pagi dan ingin bertemu Ibu.”

“Hm...,” Nyi Enoh bergumam saja sambil mengangguk­anggukkan kepala sedikit.

Kembali dipandanginya Murasi. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dan Murasi tidak bisa mengetahui. Sementara sinar mata ibunya begitu datar, meskipun raut wajahnya mencerminkan adanya sesuatu yang sedang dipikirkan.

“Lalu, apa jawabanmu, Murasi?” tanya Nyi Enoh.

“Kukatakan, aku harus tanyakan pada Ibu dulu. Sebab, Ibu tidak mau diganggu saat ini,” sahut Murasi.

Nyi Enoh mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, sudah. Besok kalau dia datang lagi, langsung beri tahu Ibu,” pinta Nyi Enoh.

“Baik, Bu.”

“Sekarang, pergilah kau keluar. Bantu kedua pamanmu. Sudah banyak orang yang datang untuk menghadapi si Siluman Kera.”

“Jadi..., Ibu jadi mengundang orang-orang persilatan untuk menghadapi si Siluman Kera?” agak terkejut juga Murasi mendengarnya.

“Tidak ada lagi yang bisa ibu lakukan, Murasi. Toh mereka akan dibayar mahal untuk ini.”

“Seharusnya Ibu memilih para pendekar tangguh saja. Kalau Ibu hanya memanggil orang-orang persilatan biasa saja, akan mengorbankan nyawa sia-sia,” Murasi agak menyesali tindakan ibunya yang mengundang orang-orang persilatan berkemampuan tanggung untuk menghadapi si Siluman Kera.

“Kau harus bisa mengetahui lebih banyak tentang orang-orang persilatan, Murasi. Para pendekar, jika tidak secara kebetulan, sulit mencarinya. Ibu tahu, para pendekar tidak akan minta imbalan apa pun juga. Sedangkan saat ini kita memerlukan banyak tenaga. Ah..., sudahlah. Kau lihat saja mereka di luar sana. Tampaknya mereka juga memiliki kepandaian yang cukup tinggi.”

“Tapi kabarnya si Siluman Kera mempunyai kesaktian yang sangat tinggi, Bu.”

“Itu urusan mereka, Murasi. Mereka datang sendiri dan menerima pembayaran tanpa ada paksaan. Kalau mereka tidak mau, aku juga tidak memaksa. Yang penting, aku sudah mengatakan kalau yang akan dihadapi adalah si Siluman Kera.”

“Terserah ibulah,” Murasi mengangkat bahunya.

Gadis itu membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi meninggalkan perempuan setengah baya itu. Sedangkan Nyi Enoh masih tetap duduk di bangku bambu. Sebentar dipandanginya anak gadisnya yang lenyap di balik pintu belakang rumah besar ini. Terdengar hembusan napas panjang dan terasa berat sekali.

“Kau terlalu lembut, anakku. Kelembutan akan membawa penderitaan bagi dirimu sendiri. Kau tidak akan bisa menghadapi kehidupan ganas ini dengan kelembutan,” ujar Nyi Enoh setengah bergumam.

Kembali perempuan tua itu menarik napas. Dia jadi teringat pada masa gadisnya dulu. Sifat dan tingkah lakunya, sangat jauh berbeda dengan Murasi. Dia sendiri tidak tahu, sifat siapa yang menurun pada anaknya itu. Padahal tidak ada seorang pun keluarganya yang memiliki sifat serta tingkah laku seperti itu. Sedangkan dari keluarga suaminya pun, tidak jauh berbeda dengan keluarganya yang lahir dan tumbuh dari kalangan persilatan.

Tapi ada satu keistimewaan yang dimiliki Murasi. Gadis itu berotak cerdas, dan terlalu kuat pendiriannya. Tidak heran jika dalam usia muda, Murasi sudah memiliki kepandaian tinggi. Terlebih lagi ayahnya memang menggembleng gadis itu dengan berbagai ilmu olah kanuragan dan kesaktian tingkat tinggi. Bahkan Nyi Enoh sendiri sekarang ini merasa tidak akan mampu menandingi anaknya.

“Mudah-mudahan gelang itu bisa dipertahankannya,” desah Nyi Enoh lagi.

********************

EMPAT

“Hup! Hap! Yeaaah...!”Glarrr!

Sebuah ledakan keras terdengar menggelegar memecah kesunyian malam. Tampak api menyemburat terang bersama hancurnya sebongkah batu sebesar kerbau yang hitam berkilat tertutup lumut tebal. Di antara kilatan cahaya api, terlihat seorang gadis mengenakan baju merah muda tengah berdiri tegak sambil merentangkan kedua tangan lurus ke depan. Kedua telapak tangannya terbuka lebar dengan jari-jari merapat menjadi satu.

Perlahan-lahan gadis berbaju merah muda itu menurunkan tangannya hingga menjuntai ke samping. Dipandanginya dalam-dalam batu yang hancur berkeping-keping. Bibir yang memerah dan agak tipis itu, menyunggingkan senyuman tipis. Sinar matanya berkilatan penuh kepuasan.

Plok! Plok...!

“He...!” gadis itu terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar tepukan tangan beberapa kali dari belakang. Tubuhnya langsung berbalik dengan tangan terkepal di sisi pinggang. Lalu dengan cepat, tangan kanannya bergerak memutar hingga menyilang di depan dada.

“Hei, tunggu...!” terdengar sentakan keras bernada mencegah.

Sinar mata gadis itu demikian tajam kala melihat seorang laki-laki muda mengenakan baju rompi putih tahu-tahu kini sudah berada di depannya. Perlahan gadis itu menurunkan tangan kanannya yang telah menyilang di depan dada. Dan perlahan pula kakinya dirapatkan kembali. Namun sikapnya masih tetap waspada, dan ini terpancar jelas dari sinar matanya yang menyorot tajam.

“Siapa kau...?” tanya gadis itu ketus.

“Kau sendiri siapa? Dan kenapa berbuat gaduh di sini?” pemuda berbaju rompi putih itu malah balik bertanya.

“He...?! Aku yang bertanya padamu!” bentak gadis itu keras.

“Maaf, Nisanak!” timpal pemuda berbaju rompi putih itu. “Terus terang saja, aku hanya ingin mengatakan agar untuk sementara kau jangan membuat kegaduhan di sini.”

“Kenapa?! Aku bisa bebas melakukan apa saja di sini. Ini tanah milik ayahku, dan kau tidak berhak melarangku! Tahu?!” ketus sekali nada suara gadis itu.

“Siapa pun dirimu, dan siapa pemilik daerah ini, kuminta kau jangan membuat gaduh malam ini,” tegas pemuda berbaju rompi putih itu.

“He.... Kenapa?” gadis berbaju merah muda itu mendelik.

“Aku lihat, kepandaianmu cukup tinggi. Jadi kau pasti tahu, bagaimana suasana yang diinginkan seseorang jika sedang melaksanakan semadi.”

Gadis itu mengernyitkan keningnya.

“Bukan aku yang bersemadi, tapi temanku,” sambung pemuda itu memberi tahu.

“Kenapa bersemadi di tempat seperti ini?”

“Tidak ada waktu lagi. Dia terluka cukup parah, dan harus segera bersemadi untuk menyembuhkan luka dalamnya.”

Gadis itu mengayunkan kakinya mendekati pemuda itu, dan kini semakin jelas bisa melihat. Agak tertegun juga hatinya begitu mengetahui kalau pemuda berbaju rompi putih itu ternyata memiliki raut wajah tampan. Bentuk tubuhnya tegap berotot terbungkus kulit yang kuning langsat bagai seorang putra bangsawan. Untuk sesaat gadis itu memandangi sosok tampan di depannya.

“Kau pasti bukan dari Desa Banggal ini,” tebak gadis itu. Kali ini nada suaranya terdengar lebih lunak dan agak lembut.

“Benar. Aku berasal dari tempat yang jauh,” sahut pemuda itu.

“Kau tadi mengatakan, temanmu sedang terluka dalam dan kini bersemadi. Di mana semadinya?”

“Tidak jauh dari sini.”

“Boleh kulihat?”

Pemuda berbaju rompi putih itu tidak langsung menjawab. Dipandanginya gadis cantik yang mengenakan baju merah muda di depannya ini. Meskipun gadis itu tidak lagi berkata ketus, namun sorot mata pemuda itu tetap mengandung kewaspadaan. Dan rupanya gadis itu mengetahui, maka langsung memberi senyuman manis.

“Maaf atas kekasaranku tadi,” ucap gadis itu lembut. “Namaku Murasi. Aku tinggal tidak jauh dari sini.”

Sebentar pemuda itu memandangi gadis berbaju merah muda yang memperkenalkan namanya sambil menyodorkan tangan. Kemudian pemuda berbaju rompi putih itu menyambut uluran tangan itu. Dan kini mereka berjabatan tangan beberapa saat.

“Rangga,” pemuda berbaju rompi putih itu juga memperkenalkan namanya.

Kemudian mereka sama-sama melepaskan jabatan tangannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja mereka sama­sama tersenyum. Mungkin teringat kekasaran masing­masing yang baru saja terjadi. Untung saja satu sama lain bisa menjaga diri, sehingga tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.

“Kenapa temanmu terluka dalam?” tanya gadis berbaju merah muda yang mengaku bernama Murasi.

“Bertarung,” sahut Rangga singkat

“Parah sekali?”

“Kelihatannya. Mungkin baru besok pagi dia bisa bangun dari semadinya. Hanya saja mungkin belum sembuh benar dari luka-luka dalamnya.”

“Aku punya sedikit kebisaan tentang pengobatan luka dalam akibat pertarungan. Mungkin dia bisa sedikit diobati,” Murasi menawarkan jasa.

Sebentar Rangga berpikir menimbang-nimbang tawaran gadis yang baru dikenalnya ini, kemudian mengangkat bahunya sedikit dan memutar tubuhnya. Pemuda berbaju rompi putih itu melangkah, sementara Murasi mengikuti. Langsung ayunan langkahnya disejajarkan di samping pemuda berbaju rompi putih itu.

Murasi memandangi seorang gadis yang duduk bersila dengan kedua tangan berada di lututnya. Kedua mata gadis berbaju kuning itu terpejam rapat. Wajahnya kelihatan memucat, dan bibirnya agak membiru. Perlahan Murasi menghampiri, sedangkan Rangga hanya berdiri saja mengawasi.

Murasi meletakkan ujung jari tangannya di leher gadis berbaju kuning, tepat di bawah rahangnya. Kepalanya menggeleng beberapa kali, lalu berpaling pada Pendekar Rajawali Sakti yang mengawasi saja dari jarak yang tidak seberapa jauh.

“Sudah berapa lama dia terluka begini?” tanya Murasi.

“Baru kemarin,” sahut Rangga.

“Kau pasti sudah memberikan hawa murni,” tebak Murasi.

Rangga agak terkejut juga atas tebakan yang tepat itu, tapi kepalanya terangguk sedikit. Dibenarkannya dugaan Murasi yang begitu tepat. Pendekar Rajawali Sakti itu hanya diam saja memperhatikan Murasi yang mulai memeriksa bagian-bagian tubuh gadis berbaju kuning.

“Siapa namanya?” tanya Murasi tanpa berpaling pada Rangga.

“Paranti. Itu juga katanya...,” sahut Rangga.

“Katanya...?”

“Aku baru mengenalnya beberapa hari ini. Jadi, wajar kalau aku tidak begitu jelas mengetahui tentang dirinya,” jelas Rangga.

“Baru kenal beberapa hari sudah mengakui teman...!” gumam Murasi pelan.

Begitu pelannya, sehingga tidak bisa terdengar oleh Rangga. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti itu sendiri sudah duduk, dan menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon yang tumbang dan sudah mengering. Dipungutnya ranting kering dan dilemparkannya ke dalam api unggun. Terlihat percikan api naik ke atas, saat ranting itu terjilat api yang berkobar tidak terlalu besar.

Rangga kembali memperhatikan Murasi yang kini sudah membaringkan tubuh Paranti. Entah apa yang dilakukannya, karena gadis berbaju merah itu duduk bersila membelakangi. Tapi terlihat kalau tangannya selalu bergerak-gerak. Dan terdengar beberapa kali napas ditarik dalam-dalam.

Agak lama juga Murasi mencoba mengobati luka dalam yang diderita Paranti akibat pertarungannya melawan si Siluman Kera. Dan luka yang dideritanya ini juga akibat pukulan si Siluman Kera. Rangga mengangkat kepalanya sedikit ketika Murasi bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Kemudian kakinya melangkah menghampiri, lalu duduk di depan Pendekar Rajawali Sakti.

“Maaf. Aku tidak bisa menyembuhkannya. Terlalu parah luka dalam yang dideritanya,” kata Murasi memberitahu sebelum ditanya.

Rangga hanya mengangkat bahunya sedikit. Pendekar Rajawali Sakti memang sudah tahu kalau luka dalam yang diderita Paranti sangat parah. Dan luka dalam itu hanya bisa disembuhkan oleh orang yang mengetahui ilmu pengobatan luka dalam. Sedangkan dia sendiri, sama sekali tidak mengetahui ilmu pengobatan dalam tingkat tinggi. Kalau yang sedang-sedang saja, mungkin bisa diobatinya. Tapi luka yang diderita Paranti..., tidak sembarang orang bisa menyembuhkannya.

“Dengan luka seperti itu, kemungkinan dia hanya mampu bertahan dua atau tiga hari,” jelas Murasi lagi.

“Apa yang bisa kulakukan?” tanya Rangga.

“Hm...,” Murasi menggumam kecil.

Cukup lama juga mereka berdiam diri dengan benak berpikir keras untuk menyelamatkan Paranti yang kini terbaring, beralaskan tumpukan rerumputan kering. Sebentar Murasi memandangi gadis berbaju kuning itu, kemudian kembali menatap Pendekar Rajawali Sakti.

“Dalam keadaan seperti ini, segala kemungkinan harus dicoba dulu. Mungkin ibuku bisa menyembuhkan,” kata Murasi setelah cukup lama berdiam diri saja.

“Jauhkah rumahmu dari sini?” tanya Rangga.

“Tidak.”

Rangga segera bangkit berdiri, kemudian menghampiri Paranti yang masih terbaring tak sadarkan diri. Sebentar dipandanginya wajah pucat yang bibirnya agak membiru itu. Kemudian tubuh ramping terbungkus baju kuning itu dipondongnya. Perlahan kakinya terayun melangkah menghampiri Murasi yang sudah berdiri menanti.

“Kita berangkat sekarang,” ajak Rangga.

“Lebih cepat, lebih baik,” sahut Murasi.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka kemudian bergegas beranjak pergi. Dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuh, mereka akan lebih cepat sampai di tempat kediaman gadis berbaju merah muda itu.

********************

Rangga berjalan mondar-mandir di ruangan depan rumah Murasi yang cukup besar ini. Sedangkan Murasi hanya duduk di kursi yang terbuat dari rotan berwarna coklat mahoni. Sementara malam terus merambat semakin larut. Tak lagi terdengar suara, kecuali hembusan napas berat.

“Apa kau tidak bisa tenang sedikit, Rangga...?” tegur Murasi.

“Oh, maaf,” ucap Rangga buru-buru.

Pendekar Rajawali Sakti itu menghempaskan tubuhnya di kursi, tepat di depan Murasi. Hanya sebuah meja bundar yang tidak begitu besar menghalangi mereka.

“Kalau kau terus gelisah, aku jadi ikut gelisah,” ungkap Murasi, mengakui.

Rangga hanya tersenyum saja. Diambilnya gelas perak yang berada di atas meja, kemudian isinya diteguk hingga tandas. Pendekar Rajawali Sakti itu meletakkan kembali gelas peraknya di atas meja di depannya. Murasi menuangkan kembali arak ke dalam gelas itu dari guci tanah liat.

“Terima kasih,” ucap Rangga seraya mengambil gelas yang sudah penuh. Sebentar kemudian arak itu ditenggaknya kembali.

“Kenapa kau begitu gelisah? Apa dia teman istimewamu?” tanya Murasi dengan sinar mata penuh selidik.

“Bukan,” sahut Rangga.

“Lalu...?” Murasi terus mendesak.

“Aku selalu begini kalau melihat orang yang sedang menghadap maut,” Rangga menjawab asal saja.

“Ibu mengenalimu, Rangga. Aku tidak percaya pendekar digdaya sepertimu selalu gelisah menghadapi persoalan sepele seperti ini,” kata Murasi tidak percaya.

Rangga hanya tersenyum saja untuk menghilangkan keterkejutannya. Memang, Nyi Enoh langsung mengenalinya ketika baru bertemu tadi. Dia sendiri tidak tahu, dari mana perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu bisa mengenalinya. Padahal, baru kali ini mereka bertemu. Namun Rangga sendiri sama sekali tidak mengenal perempuan itu.

“Aku juga sering mendengar tentang namamu, Rangga. Terus terang, aku kagum terhadap segala tindakanmu yang tidak pernah memandang orang yang kau tolong. Aku juga ingin seperti itu. Menolong siapa saja yang membutuhkan,” tekad Murasi.

“Kepandaianmu cukup tinggi. Pasti tidak terlalu sulit,” Rangga membesarkan hati gadis ini.

“Memang kelihatannya tidak sulit, tapi aku tidak mungkin bisa melakukannya,” ada sedikit keluhan pada suara Murasi.

“Kenapa?” tanya Rangga.

“Bagaimana mungkin aku bisa mengembara dan menumpas kejahatan, sedangkan menghadapi kemelut keluarga saja masih belum mampu mengatasinya...?” kali ini jelas sekali kalau Murasi mengeluh.

“Oh, maaf. Aku menambah repot keluargamu saja,” ucap Rangga langsung merasakan.

“Kau jangan selalu rendah diri begitu, Rangga. Sama sekali kau tidak merepotkan. Bahkan tampaknya ibu senang atas kedatanganmu ke sini. Dan aku sendiri...,” Murasi memutuskan kalimatnya.

“Kenapa denganmu?” desak Rangga.

“Tidak apa-apa. Aku hanya kagum saja padamu,” sahut Mutasi.

“Tidak ada yang bisa kau kagumi dariku, Murasi. Masih banyak kekurangan pada diriku,” lagi-lagi Rangga merendah.

“Tidak ada seorang pun yang sempurna di mayapada ini, Rangga.”

“Memang. Dan itu kusadari penuh. Makanya aku masih terus belajar dari pengalaman yang kuperoleh selama dalam pengembaraan,” kata Rangga lagi.

“Hebat...! Kau sudah memiliki hampir segalanya, tapi masih juga mau belajar,” puji Murasi tulus.

Dan gadis itu semakin kagum saja pada sikap Pendekar Rajawali Sakti itu. Murasi memang sering mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti yang selalu menumpas kejahatan dan keangkaramurkaan dari satu tempat ke tempat lainnya. Meskipun baru kali ini bertemu pendekar yang dikaguminya itu, tapi rasanya sudah mengenal lama.

Saat itu Nyi Enoh muncul dari dalam sebuah kamar. Rangga langsung bangkit berdiri diikuti Murasi. Nyi Enoh tersenyum sedikit pada Pendekar Rajawali Sakti yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala sedikit. Nyi Enoh kini duduk di samping Murasi yang sudah duduk kembali. Rangga juga ikut duduk di bangkunya semula. Murasi menuangkan arak ke dalam gelas dari perak, dan diberikan pada ibunya.

“Bagaimana?” tanya Rangga setelah Nyi Enoh menghabiskan minumannya.

“Belum terlambat. Mudah-mudahan besok pagi dia bisa sadar. Tapi harus melakukan semadi, paling tidak tiga hari lamanya,” jelas Nyi Enoh.

Rangga menarik napas lega. Matanya sempat melirik Murasi yang saat itu juga melirik kepadanya. Tampak ada suatu kilatan di mata gadis itu, yang sukar diartikan. Hanya sayangnya, Rangga sudah kembali memandang perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik di samping Murasi.

“Nak Rangga, apakah kau tahu, dengan siapa dia bertarung?” tanya Nyi Enoh.

“Aku kurang begitu jelas memperhatikannya,” sahut Rangga.

“Dari luka-luka yang diderita, dia seperti baru bertarung melawan si Siluman Kera,” agak pelan suara Nyi Enoh.

“Siluman Kera...?” Murasi terperanjat. Murasi segera memandangi ibunya dalam-dalam. Sungguh tidak disangka kalau Paranti bertarung dengan si Siluman Kera. Satu nama yang kini menjadi momok bagi keluarga ini. Sedangkan Rangga sempat melihat adanya keterkejutan pada raut wajah gadis itu.

“Siapa itu si Siluman Kera, Nyi?” tanya Rangga.

Nyi Enoh tidak langsung menjawab, dan hanya menarik napas dalam-dalam. Memang jelas sekali, terasa adanya sesuatu yang mengganjal dada perempuan itu. Rangga memandangi Nyi Enoh dan Murasi bergantian. Saat itu juga, benaknya bekerja. Dan memang, terasa ada sesuatu yang tersembunyi, dan berhubungan langsung dengan nama Siluman Kera yang baru saja disebut namanya oleh Nyi Enoh tadi.

********************

Pagi-pagi sekali, selagi matahari belum menampakkan wajahnya, Nyi Enoh sudah duduk di bangku taman halaman belakang rumahnya yang besar. Perempuan tua itu seperti menanti sesuatu di sana. Namun, tak ada seorang pun yang terlihat di taman itu. Dan hari ini memang masih terlalu pagi.

Sedikit pun Nyi Enoh tidak bergeming, meskipun rona merah mulai menyemburat di ufuk timur. Pandangannya lurus ke arah barat, seakan-akan begitu yakin kalau sesuatu akan muncul dari arah sana. Nyi Enoh bangkit berdiri ketika sebuah bayangan hijau berkelebat dari arah barat.

“He he he....” Sebuah suara tawa terkekeh terdengar, bersamaan dengan munculnya seorang laki-laki tua bungkuk mengenakan jubah panjang berwarna hijau. Tubuhnya bungkuk, dan ada tonjolan pada punggungnya. Sebatang tongkat tergenggam di tangan kanan, menyangga dia berdiri.

“Kau datang terlalu pagi, Eyang Congkok,” kata Nyi Enoh menyambut kedatangan laki-laki tua itu.

“He he he.... Rupanya kau belum lupa padaku, Nyi Enoh,” terdengar serak dan kering suara laki-laki tua bungkuk yang bernama Eyang Congkok itu.

“Tentu saja aku tidak akan lupa terhadap sahabat lama, kecuali kematian sudah datang menjemputku,” sahut Nyi Enoh kalem.

“Dan pasti kau juga tidak lupa pada junjunganku kali ini, bukan?”

“Tentu saja. Tapi sayang sekali, aku tidak memilikinya sekarang ini,” sahut Nyi Enoh langsung memahami.

“He he he...,” Eyang Congkok terkekeh kering. “Kenapa kau masih saja mempertahankan, Nyi? Benda itu tidak ada harganya sama sekali bagimu. Bahkan selalu mendatangkan bencana. Aku hanya ingin menolongmu keluar dari bencana besar.”

“Terima kasih. Hanya saja aku tidak bisa menolongmu kali ini, Eyang Congkok. Kedatanganmu terlambat sekali.”

“Terlambat...? Apa maksudmu, Nyi?”

“Gelang itu sudah tidak ada lagi di sini. Ada seseorang yang mencurinya semalam.”

“Dusta...!” bentak Eyang Congkok, langsung menegang wajahnya.

“Aku berkata benar, Eyang Congkok. Semalam aku kedatangan seorang tamu. Dia seorang pemuda berbaju rompi putih. Pada punggungnya terdapat pedang bergagang kepala burung. Dan dia....”

“Cukup!” bentak Eyang Congkok memutuskan kata­kata Nyi Enoh. “Kau jangan coba-coba mengelabuiku, Nyi. Aku tahu siapa yang kau maksud. Tidak mungkin Pendekar Rajawali Sakti berbuat serendah itu!”

“Tapi yang jelas, Gelang Naga Soka sudah tidak ada lagi di tanganku.”

“Memang bukan kau yang menyimpan. Tapi gelang itu dipakai anakmu!” dengus Eyang Congkok. “Sudahlah, Nyi.... Aku tidak suka berdebat terlalu panjang denganmu. Kau akan terbebas dari bencana bila menyerahkan gelang itu padaku,” bujuk Eyang Congkok.

“Lalu, kau yang akan menghadapi bencana itu...? Ha ha ha...! Kelakuanmu belum saja berubah sejak masa muda dulu, Eyang Congkok. Untuk apa kau selalu bersusah payah mencari benda-benda yang bukan milikmu sendiri? Apa tidak kau sadari kalau perbuatanmu itu akan mengakibatkan bencana besar bagi keluarga dan keturunanmu kelak? Benda-benda seperti itu tidak akan membuat hidup kita tenang, Eyang Congkok.”

“Kedatanganku bukan untuk mendengar ocehanmu, Nyi. Waktuku hanya sedikit. Berikan saja Gelang Naga Soka padaku!” sentak Eyang Congkok, agak keras suaranya.

Nyi Enoh menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi laki-laki tua yang keras kepala ini. Mereka memang sudah saling mengenal sejak lama. Bahkan sebelum Nyi Enoh menikah dengan suaminya, mereka sudah saling mengenal dan sudah mengetahui satu sama lain. Jadi, Nyi Enoh merasa maklum atas sikap Eyang Congkok yang begitu kasar padanya. Mereka memang tidak pernah punya persoalan secara pribadi. Tapi, semenjak suami perempuan itu memiliki Gelang Naga Soka yang menyimpan sebagian jiwa si Siluman Kera, Eyang Congkok selalu saja mencari­cari persoalan untuk mendapatkan gelang itu. Laki-laki tua itu memang suka memburu benda apa saja yang dianggap memiliki sesuatu kekuatan. Sama sekali tidak dipedulikan kalau benda itu ada yang punya.

“Berikan gelang itu padaku, Nyi. Atau terpaksa aku melupakan persahabatan kita...?” desis Eyang Congkok.

“Otak dan hatimu benar-benar sudah terasuk keserakahan, Eyang Congkok.”

“Cukup...!” bentak Eyang Congkok kasar.

Bet!

Seketika itu juga, Eyang Congkok mengebutkan tongkatnya hingga tersilang di depan dada. Sementara kedua tangannya menggenggam bagian tengahnya.

“Kau akan menyesal, Congkok,” kata Nyi Enoh.

“Kau yang memaksaku, Enoh! Hiyaaat...!”

“Hap!”

********************

LIMA

Nyi Enoh tidak bisa lagi membendung keserakahan Eyang Congkok untuk memiliki benda-benda bertuah yang mempunyai kekuatan. Laki-laki tua itu memang terkenal gemar mengumpulkan benda-benda bertuah. Apa saja akan dilakukannya. Bahkan tidak memandang siapa pun untuk mendapatkan benda yang diinginkannya. Malah kalau mungkin, saudara kandung sekalipun akan digempur bila mempertahankan benda yang diinginkannya.

Antara Nyi Enoh dan Eyang Congkok, sebenarnya sudah cukup lama bersahabat. Tapi semua persahabatan itu luntur setelah terdengar kalau suami Nyi Enoh menyimpan suatu benda yang menyimpan jiwa si Siluman Kera. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung dalam rimba persilatan, Eyang Congkok tentu tahu siapa itu Siluman Kera. Dan tentu saja jiwa Siluman Kera yang tersimpan di dalam Gelang Naga Soka ingin dimilikinya. Namun beberapa kali dia gagal mendapatkannya. Dan, baru sekarang inilah dirinya mulai lagi gencar memburu benda itu setelah mendengar kabar kalau Ki Enoh sudah tewas di tangan orang-orang si Siluman Kera.

Pertarungan yang terjadi di halaman belakang rumah itu rupanya menarik perhatian seluruh penghuni rumah ini. Bukan saja Murasi dan kedua pamannya yang datang ke halaman belakang rumah itu, tapi juga Pendekar Rajawali Sakti dan beberapa orang bayaran yang diundang Nyi Enoh untuk menghadapi anak buah si Siluman Kera.

“Siapa yang bertarung dengan Nyi Enoh?” tanya Rangga yang berdiri di samping Murasi.

“Eyang Congkok,” sahut Murasi.

“Huh! Orang tua itu memang selalu bikin ulah...!” dengus Paman Katir sambil memelintir kumisnya yang tebal seperti ijuk.

“Kalau saja dia bukan sahabat Kakang Enoh, sudah dari dulu kukirim ke neraka!” sambung Paman Julak.

Sementara Rangga hanya mendengarkan saja gerutuan kedua laki-laki yang selalu dipanggil paman oleh Murasi itu. Sementara, matanya tidak berkedip memandang jalannya pertarungan itu. Entah sudah berapa jurus berlalu. Padahal, matahari semakin naik tinggi. Namun, kelihatannya pertarungan itu masih akan terus berlangsung lama. Rangga bisa menilai kalau kekuatan mereka seimbang. Hanya saja, ada kemungkinan Nyi Enoh kalah tenaga.

“Awas kepala...!” seru Eyang Congkok tiba-tiba. Dan seketika itu juga, tongkatnya bergerak cepat mengibas ke arah kepala Nyi Enoh.

Wut!

“Uts...!”

Buru-buru Nyi Enoh merundukkan kepalanya. Namun pada saat tongkat itu berada di atas kepala, mendadak saja tangan kiri Eyang Congkok menghentak ke arah dada. Begitu cepatnya sentakan tangan kiri itu, sehingga Nyi Enoh tidak sempat lagi menghindar.

Deghk!

“Akh...!” Nyi Enoh memekik agak tertahan. Perempuan yang mengenakan baju putih itu terhuyung­huyung ke belakang beberapa langkah sambil mendekap dadanya. Namun sebelum keseimbangan tubuhnya sempat terkuasai, Eyang Congkok sudah mengibaskan tongkatnya ke arah kaki.

Tak!

“Aaakh...!” lagi-lagi Nyi Enoh menjerit keras. Perempuan berbaju putih itu langsung jatuh terguling ketika tongkat Eyang Congkok menghantam kakinya.

“Ibu..!” jerit Murasi.

Pada saat yang sama, Eyang Congkok sudah melompat menerjang perempuan setengah baya yang masih kelihatan cantik itu. Tongkatnya diangkat tinggi-tinggi, dan siap dihunjamkan ke tubuh Nyi Enoh yang terjajar di tanah.

“Hiyaaat...!”

“Hup! Yeaaah...!”

Bagaikan kilat, tahu-tahu Murasi sudah melesat cepat hendak menyelamatkan nyawa ibunya yang tertawan. Namun....

Crab!
“Aaa...!”
“Hup...!”
“Ibuuu...!”

Bukan main terkejutnya Murasi begitu melihat ujung tongkat Eyang Congkok sudah terbenam di dada Nyi Enoh. Sedangkan laki-laki tua berjubah hijau itu cepat mencabut tongkatnya seraya melompat mundur, tepat saat Murasi menerjang sambil mengirimkan satu pukulan keras bertenaga dalam tinggi. Maka pukulan gadis itu hanya mengenai angin kosong saja.

Dan kini Murasi tidak melanjutkan serangannya kembali. Tubuhnya langsung berputar, dan menghambur memeluk ibunya yang tergeletak di tanah dengan dada berlubang berlumuran darah segar. Murasi langsung memeluk, lalu mengangkat tubuh ibunya. Gadis itu memang lebih mementingkan keadaan ibunya daripada harus bertarung. Tapi yang jelas, rasa dendam mulai menyelimuti hatinya.

“Ibuuu...,” rintih Murasi tak dapat lagi membendung air matanya.

“Ha ha ha...!” Eyang Congkok tertawa terbahak-bahak.

“Keparat...!” desis Paman Katir menggeram.

“Iblis...!” geram Paman Julak.

Kedua laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan itu segera melesat cepat bagaikan kilat menerjang Eyang Congkok. Golok mereka langsung dicabut, dan dibabatkan ke tubuh laki-laki tua itu. Namun dengan tangkas sekali, Eyang Congkok berkelit sambil menangkis satu serangan golok yang cepat datangnya bagaikan kilat itu.

Trang!

“Kubunuh kau, Iblis...!” bentak Paman Julak geram. “Hiyaaa...!”

“Hup! Yeaaah...!”

********************

Rangga mengangkat tubuh Nyi Enoh yang sudah tidak bernyawa lagi. Dibawanya tubuh yang mulai dingin itu ke sebuah bangku panjang yang berada di bawah pohon kamboja, lalu dibaringkan di sana. Sementara Murasi masih sibuk meredam isak tangisnya. Rangga merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, sehingga membuat Murasi semakin kencang menangis sesenggukan.

Meskipun Murasi sejak kecil selalu dididik dan ditempa keras dalam berbagai ilmu olah kanuragan dan kesaktian, namun menghadapi kenyataan pahit ini tidak akan mungkin bisa tegar selamanya. Baru beberapa hari menyaksikan kematian ayahnya di tangan si Siluman Kera, dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan pahit lagi. Kini ibunya juga tewas di depan matanya pula.

Sementara itu, Eyang Congkok sibuk menahan gempuran dua orang adik angkat Ki Enoh. Tampak laki-laki tua bungkuk itu kewalahan juga. Terlebih lagi, orang-orang yang dibayar Nyi Enoh kini ikut membantu. Maka tak heran kalau orang tua berjubah hijau itu semakin kewalahan saja.

“Edan...!” dengus Eyang Congkok. Menyadari tidak akan mungkin bisa menandingi sekitar dua belas orang berkemampuan cukup tinggi, Eyang Congkok berusaha mencari jalan untuk melarikan diri. Dan jalan yang dicari itu ternyata datang tidak berapa lama. Tepat ketika golok Paman Julak mengibas ke arah kakinya, Eyang Congkok melentingkan tubuhnya ke atas.

“Hup! Yeaaah...!”

Namun pada saat itu, seseorang telah lebih cepat menusukkan tombaknya. Dan ini membuat Eyang Congkok sedikit bergetar hatinya. Namun tiba-tiba muncul cara terbaik, sehingga membuatnya jadi tersenyum. Dengan cepat sekali ujung tongkatnya menotok ujung tombak orang itu. Dan dengan meminjam tenaga, kembali tubuhnya melesat cepat keluar dari arena pertarungan.

“Hiyaaa...!”

“Kejar...! Jangan biarkan dia lolos...!” teriak Paman Katir keras.

Namun lesatan Eyang Congkok demikian cepat luar biasa. Sehingga dalam sekejap saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik tembok halaman belakang rumah ini. Sepuluh orang bayaran bergegas berlompatan mengejar. Gerakan mereka sungguh cepat dan ringan saat melompati tembok yang cukup tinggi itu. Kemudian lenyap di balik tembok batu itu.

“Keparat...!” geram Paman Katir.

Sementara itu, Murasi baru saja bisa menguasai keadaan dirinya yang terguncang. Gadis itu sudah tidak lagi berada di dalam pelukan Pendekar Rajawali Sakti. Dengan punggung tangan, disekanya air mata yang membasahi wajahnya. Masih terdengar suara isak yang kecil tertahan.

“Ibuuu...,” lirih sekali suara Murasi. Gadis itu memandangi mayat ibunya yang terbaring di bangku bambu panjang. Sedangkan Rangga berada di sampingnya. Saat itu Paman Katir dan Paman Julak sudah menghampiri, namun langsung dicegah Pendekar Rajawali Sakti. Rangga mengajak kedua orang itu menjauh.

“Huh! Eyang Congkok benar-benar manusia keparat! Manusia macam dia tidak lagi memandang sahabat pada Kakang Enoh. Tega sekali Nyi Enoh dibunuhnya...!” desis Paman Katir dingin.

“Maaf, Paman. Siapa itu Eyang Congkok, dan kenapa membunuh istri sahabatnya sendiri?” tanya Rangga, sopan.

“Dia manusia gila!” dengus Paman Katir.

“Eyang Congkok menginginkan Gelang Naga Soka yang berisi sebagian jiwa si Siluman Kera. Manusia iblis itu akan mengejar benda apa saja yang bertuah, dan tidak akan memandang saudara atau sahabat untuk memperoleh keinginannya. Dia tega membunuh siapa saja, asal bisa memperoleh yang diinginkannya,” jelas Paman Julak.

Rangga memandangi kedua laki-laki itu. Masih belum bisa dipahami keterangan Paman Julak barusan, namun sudah bisa menangkap sedikit artinya. Rupanya semua peristiwa ini berpangkal pada Siluman Kera. Pendekar Rajawali Sakti jadi teringat dengan Paranti yang kini tengah bersemadi di dalam salah satu kamar di rumah besar ini.

Menurut Nyi Enoh, Paranti terkena beberapa pukulan maut Siluman Kera. Akibatnya dia menderita luka dalam yang sangat parah dan sukar disembuhkan. Hanya mereka yang mengerti pengobatan luka dalam saja yang bisa menyembuhkannya. Itu juga tergantung daya tahan si penderita. Kalau memang dugaan Nyi Enoh benar, tentu Paranti juga mempunyai persoalan dengan si Siluman Kera itu. Tapi, persoalan apa...? Sedangkan persoalan yang sedang dihadapi keluarga ini, sedikitnya Rangga sudah bisa memahami.

“Sejak Kakang Enoh menyimpan Gelang Naga Soka, malapetaka seperti tidak pernah jauh dari rumah ini. Selalu saja ada kejadian yang meminta korban nyawa,” jelas Paman Julak lagi. Kali ini nada suaranya seperti mengeluh.

“Kau jangan mengeluh, Julak. Kita harus mempertahankannya, apa pun yang akan terjadi. Terlebih lagi, gelang itu jangan sampai jatuh ke tangan si Siluman Kera. Apa jadinya dunia ini kalau manusia iblis itu bisa menyatukan jiwanya kembali...?” kata Paman Katir.

“Ya..., memang serba salah juga. Kita berikan gelang itu pada orang lain, berarti sama saja menyebarkan bencana. Yang pasti, si Siluman Kera akan membunuh siapa saja yang pernah menyimpan sebagian jiwanya,” kata Paman Julak lagi. Pelan sekali suaranya.

“Paman, sebaiknya kita urus dulu mayat Nyi Enoh. Nanti kita bicarakan lagi persoalan ini,” sela Rangga.

Kedua laki-laki itu memandang Pendekar Rajawali Sakti, kemudian bergegas menghampiri mayat Nyi Enoh yang masih ditunggu anak gadisnya. Sementara Paman Julak dan Paman Katir membawa mayat Nyi Enoh ke dalam rumah, Rangga membimbing Murasi meninggalkan halaman belakang ini.

********************

“Kakang...!”

Teriakan keras terdengar memecah kesunyian di pagi buta ini. Seluruh penghuni rumah besar itu jadi terbangun. Tampak Murasi berdiri tegak di depan pintu sebuah kamar yang terbuka lebar. Rangga yang langsung terbangun dari tidurnya, bergegas menghampiri diikuti Paman Julak dan Paman Katir serta beberapa orang yang disewa untuk mengamankan rumah ini.

“Ada apa?” tanya Rangga.

“Lihat tuh! Paranti sudah tidak ada lagi,” sahut Murasi seraya menunjuk ke dalam kamar.

Rangga bergegas menerobos masuk ke dalam kamar. Memang kamar ini digunakan Paranti untuk bersemadi dalam menyempurnakan kembali kesehatan tubuhnya yang terluka dalam. Kamar itu memang sudah kosong, tak ada lagi Paranti di sana.

Pendekar Rajawali Sakti itu mengedarkan pandangannya, dan langsung tertegun saat melihat ke atas atap yang jebol. Ternyata Paranti kabur lewat atap, karena pintu kamar ini memang terkunci dari luar. Sementara kuncinya dipegang Murasi setelah ibunya tewas di tangan Eyang Congkok

“Kenapa dia kabur, Kakang?” tanya Murasi tidak mengerti.

“Aku tidak tahu,” sahut Rangga seraya mengangkat bahunya.

Pendekar Rajawali Sakti itu memang tidak tahu, mengapa Paranti kabur begitu saja. Padahal menurut Nyi Enoh, Paranti baru bisa sembuh benar setelah bersemadi selama tiga hari penuh. Dan ini baru semalaman saja Paranti bersemadi, tapi gadis itu sudah kabur lewat atap yang dijebol.

“Aku akan mencarinya. Mungkin dia belum jauh dari sini,” tegas Rangga.

“Biarkan saja dia pergi, Kakang. Orang tidak tahu berterima kasih!” dengus Murasi agak kesal terhadap sikap Paranti yang ugal-ugalan.

“Maafkan atas kelakuannya, Murasi. Akulah yang membuatmu jadi bertambah repot,” ucap Rangga menyesali tindakan Paranti.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Kakang. Huh..., sudahlah. Biarkan saja dia pergi,” kata Murasi seraya melangkah keluar dari kamar ini.

Sementara Paman Katir dan Paman Julak menyuruh yang lainnya meninggalkan tempat ini. Mereka sendiri juga bergegas pergi. Sedangkan Rangga masih tetap berada di kamar itu. Kembali pandangannya beredar ke sekeliling kamar ini. Tak ada yang berubah, selain atap yang jebol.

Rangga semakin tidak mengerti atas sikap Paranti yang dirasakan sangat aneh itu. Kemarin Pendekar Rajawali Sakti memang sempat melihat Paranti mengintip keluar dari jendela ini, saat Nyi Enoh bertarung melawan Eyang Congkok. Apakah karena pertarungan itu, maka dia pergi...? Rangga jadi menduga-duga. Kalau memang benar, berarti gadis itu kenal Eyang Congkok. Atau paling tidak, tahu tentang keluarga Nyi Enoh ini. Mustahil dia pergi begitu saja kalau tidak mengetahui siapa sebenarnya Eyang Congkok dan Nyi Enoh.

Sukar bagi Pendekar Rajawali Sakti untuk mengetahui. Memang sampai saat ini dia tidak tahu, apa sebenarnya yang tengah terjadi di sini. Dan yang membuatnya semakin bertanya-tanya adalah tentang si Siluman Kera. Dugaan Pendekar Rajawali Sakti jelas, semua kejadian ini berpangkal dari orang yang berjuluk Siluman Kera itu. Tapi apa hubungannya dengan Paranti?

Rangga keluar dari kamar itu, dan jadi agak tertegun melihat Murasi masih berada di depan kamar ini. Gadis itu berdiri saja dengan pandangan agak sayu mengarah langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti itu.

“Siapa sebenarnya Paranti itu, Kakang?” tanya Murasi. Nada suaranya seperti menyelidik. Atau mungkin juga curiga.

“Entahlah. Aku baru beberapa hari bertemu, dan tampaknya dia tertutup sekali,” sahut Rangga perlahan.

“Kemarin kulihat dia mengintip dari jendela,” kata Murasi lagi.

Rangga agak tertegun juga mendengar kata-kata gadis itu. Sungguh tidak disangka kalau Murasi juga sempat melihat Paranti mengintip pertarungan kemarin dari balik jendela. Dan rupanya gadis ini menaruh kecurigaan pada Paranti yang memang kurang jelas asal-usulnya.

“Ibu mempercayaimu, Kakang. Bahkan kedua pamanku sering mendengar tentang dirimu. Aku juga percaya padamu. Dulu sebelum tewas, ayah sering cerita tentang sepak terjangmu. Hanya saja aku tidak mengerti, kenapa kau begitu mudah tertipu oleh orang yang tidak dikenal sama sekali,” tegas Murasi.

“Ditipu...? Aku tidak mengerti maksudmu, Murasi?” Rangga keheranan mendengar kata-kata gadis itu.

“Gelang Naga Soka hilang,” agak dalam nada suara Murasi.

“Apa...?!” bukan main terkejutnya Pendekar Rajawali Sakti kala mendengar ucapan gadis itu.

Untuk beberapa saat mereka terdiam.

“Aku sudah perintahkan mereka untuk mencari. Bahkan Paman Katir dan Paman Julak juga ikut mencari,” jelas Murasi

“Bagaimana kau bisa kehilangan gelang itu, Murasi?” tanya Rangga.

“Tanpa disadari, kita semua terkena aji sirep semalam, Kakang. Dan baru kusadari kalau gelangku hilang. Makanya aku langsung ke kamar ini, dan ternyata dugaanku tepat. Aku yakin, dia hanya pura-pura saja terkena pukulan maut si Siluman Kera agar bisa bebas mengambil gelang itu.”

“Tapi kan pintunya terkunci...?”

“Tidak.”

“Tidak...?!”

“Aku lupa menguncinya lagi ketika akan menengok keadaannya.”

“Jagat Dewa Batara.... Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang, Murasi?”

“Mencegahnya memberikan gelang itu pada si Siluman Kera,” tegas Murasi.

“Tapi kita tidak tahu, ke mana perginya.”

Murasi tidak menjawab, dan jadi kebingungan sendiri. Dia tidak tahu, ke mana arah perginya Paranti. Situasi yang dihadapi sekarang ini semakin terasa sulit saja. Gelang Naga Soka yang seharusnya dijaga baik, kini telah hilang. Dan mereka tahu siapa yang mencurinya. Tapi apa hubungannya Paranti dengan Siluman Kera...? Lagi pula, untuk apa gelang itu dicurinya jika tidak punya hubungan dengan si Siluman Kera...? Terlalu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak Rangga. Dan belum ada satu pun yang terjawab.

********************

ENAM

“He he he.... Kau berhasil, Paranti?” tanya Eyang Congkok yang baru saja datang.

Gadis berbaju kuning yang tengah duduk menghadap api unggun kecil langsung mengangkat kepalanya. Mulut yang sudah terbuka hendak menggigit daging kelinci panggang, kembali tertutup. Dipandangnya laki-laki tua bungkuk berjubah hijau yang tahu-tahu sudah duduk di depannya. Eyang Congkok mengambil sekerat daging, langsung mengunyahnya.

“Tidak percuma bertahun-tahun aku mendidikmu, ternyata kau punya otak yang cerdas juga,” tegas Eyang Congkok.

“Tapi aku hampir saja gagal, Eyang,” dengus Paranti dengan wajah tertekuk memberengut.

“He he he..., hanya tantangan kecil. Tidak ada artinya sama sekali bila dibandingkan dengan keberhasilanmu. Semadimu bisa kau teruskan di pondokku nanti. Biar nanti lukamu aku yang menyembuhkan,” Eyang Congkok kembali terkekeh.

Paranti kembali menikmati daging panggangnya. Sedangkan laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu menggeser duduknya di bawah sebatang pohon rindang, sambil menikmati daging panggang. Malam memang sudah demikian larut, dan udara dingin merasuk sampai ke tulang sumsum. Namun, dinginnya udara malam ini seakan-akan tidak terasakan lagi. Bukan oleh nyalanya api, tapi oleh kegembiraan karena Paranti berhasil mencuri Gelang Naga Soka.

“Mana gelang itu?” tanya Eyang Congkok. Matanya berbinar-binar seperti mengandung sesuatu yang sukar diartikan.

“Ada,” sahut Paranti ringan.

“Coba kulihat,” pinta Eyang Congkok.

“Untuk apa? Eyang pasti ingin memiliki kalau sudah melihat.”

“He he he.... Kau pikir aku berminat pada gelang itu? Tidak sama sekali, Paranti. Gelang itu tidak ada apa­apanya tanpa jiwa Siluman Kera.”

“Bukankah Eyang sudah lama ingin memilikinya? Bahkan sampai membunuh sahabat baik!”

“Kau lupa, Paranti. Ini kulakukan demi pamanmu. Aku hanya sekadar membantu saja untuk mendapatkannya. “

“Kalau begitu, biar aku saja yang menyerahkannya pada paman. Toh, tugas ini dibebankan padaku. Buktinya, Eyang telah gagal selama ini.”

“He he he.... Kau semakin pintar saja, Paranti. Baik, aku tidak akan memaksa. Aku memang kalah cerdik darimu,” Eyang Congkok menyerah. Namun di balik itu, ada sesuatu yang harus dilaksanakan. Dan itu harus berhasil.

“Bukan cerdik, tapi licik.”

Eyang Congkok dan Paranti terkejut ketika tiba-tiba mendengar suatu suara berat yang terasa dingin. Mereka langsung saja menggelinjang bangkit, dan saling menggeser kaki mendekat. Tak ada seorang pun terlihat di sekitar tempat ini, tapi suara itu demikian jelas terdengar. Eyang Congkok dan Paranti saling berpandangan.

“Siapa itu...?!” seru Eyang Congkok, agak keras suaranya.

Tidak ada sahutan sama sekali. Keadaan begitu sunyi. Bahkan suara binatang malam pun tak terdengar, kecuali gemeretak ranting yang termakan api karena ditimpa hembusan angin yang menyebarkan udara dingin menggigilkan.

Namun sebelum Eyang Congkok bisa membuka suara lagi, mendadak saja berlompatan orang-orang berpakaian serba merah. Sebentar saja tempat itu sudah dikelilingi manusia berbaju merah yang semuanya sudah menghunus golok. Paranti langsung menggeser kakinya semakin mendekati laki-laki tua bungkuk berjubah hijau.

“Mereka orang-orang Siluman Kera, Eyang,” kata Paranti berbisik.

“Aku tahu, hati-hatilah,” sahut Eyang Congkok juga berbisik pelan.

Eyang Congkok mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dalam hati dihitungnya jumlah orang berbaju serba merah yang sudah mengepung tempat ini. Ada sekitar tiga puluh orang jumlahnya. Dan laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu merasakan kalau masih banyak lagi yang bersembunyi di sekitarnya.

Laki-laki tua itu melirik Paranti yang berdiri tidak jauh di sebelah kanannya. Ada perasaan khawatir terhadap diri gadis ini. Meskipun tahu kalau Paranti tidak bisa dianggap enteng dan sembarangan, namun gadis ini belum begitu sembuh benar dari luka dalamnya. Dan juga belum berpengalaman dalam menghadapi berbagai pertarungan dalam rimba persilatan. Paranti masih begitu polos, meskipun sikapnya bisa dikatakan agak liar. Dia memang gadis nakal, dan masih suka mempermainkan orang. Berbagai akalnya bisa membuat orang lain kewalahan.

Dalam hal yang sebenarnya, hati Eyang Congkok tengah berkecamuk. Dia seperti menyimpan sesuatu yang tidak mungkin diungkapkan. Batinnya terpecah oleh dua rencananya sendiri. Dan dia harus memilih salah satu. Membantu Paranti, atau merampas Gelang Naga Soka. Dan rupanya ada sifat bijaksana juga di dalam hatinya.

“Kau harus lari begitu ada kesempatan, Paranti. Mereka tidak bisa dilawan begitu saja,” kata Eyang Congkok setengah berbisik. Memang, niatnya untuk membantu gadis itu timbul seketika.

“Eyang sendiri...?”

“Jangan hiraukan aku!” sentak Eyang Congkok pelan.

“Tapi mereka terlalu banyak, Eyang.”

“Aku bisa mengatasi.”

“Kalau Eyang bisa, aku juga bisa,” bantah Paranti.

Eyang Congkok mendesis geram. Kenakalan Paranti mulai timbul lagi. Dan inilah yang sebenarnya sangat dikhawatirkannya. Paranti tidak pernah memandang sedikit pun pada lawan-lawannya. Semua lawannya selalu dianggap sama. Padahal ilmu olah kanuragan dan ilmu-ilmu kesaktian yang dimilikinya belum seberapa bila dibandingkan anak buah si Siluman Kera. Dan tentu saja yang datang kali ini, ilmunya pasti cukup tinggi. Namun hal seperti itu tidak dihiraukan Paranti sama sekali.

“Kau jangan membantah, Paranti. Aku akan melemparkan mayatmu ke jurang jika mati di tangan mereka!” ancam Eyang Congkok.

Paranti bergidik juga mendengar ancaman laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu. Dia tahu kalau Eyang Congkok sudah sampai mengeluarkan ancaman, itu berarti tidak main-main lagi. Paranti langsung menyadari kalau situasi yang dihadapi sekarang ini sangatlah gawat, dan tidak mungkin bisa dibantah lagi.

“Dengar! Begitu ada kesempatan, kau harus lari. Cepat temui pamanmu. Mengerti...?!” kata Eyang Congkok menekankan.

“Baik, Eyang,” sahut Paranti terpaksa.

********************

Sementara itu, orang-orang berbaju merah yang semuanya memegang senjata golok sudah mulai bergerak. Golok mereka digerak-gerakkan di depan dada, dengan tatapan mata tajam menusuk. Eyang Congkok menggeser kakinya sedikit ke depan, seperti ingin melindungi Paranti yang diharapkan bisa meloloskan diri dari kepungan ini.

“Ikuti aku, Paranti. Hiyaaat..!”

Eyang Congkok seketika itu juga melompat cepat sambil mengebutkan tongkatnya ke arah orang-orang berbaju merah di depannya. Begitu cepatnya gerakan laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu, sehingga dua orang yang di depannya tidak bisa lagi menghindari tebasan tongkat itu.

Des!

Beghk!

Seketika dua jeritan panjang langsung terdengar saat tongkat Eyang Congkok menghantam dua orang itu. Pada saat yang bersamaan, orang-orang berbaju merah menyala itu cepat berlompatan menerjang. Eyang Congkok yang baru saja merobohkan dua orang sekaligus, jadi kelabakan juga menerima serangan gencar dari segala penjuru. Terlebih lagi Paranti. Gadis itu terlambat mengikuti gerakan Eyang Congkok, sehingga tidak bisa lagi menghindari bentrokan langsung. Sayangnya, gadis itu terpisah agak jauh dari laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu.

“Celaka...,” desis Eyang Congkok saat mengetahui jaraknya dengan Paranti semakin jauh saja.

Laki-laki tua berjubah hijau itu terus berusaha mendekati Paranti. Tapi kepungan yang dilakukan orang-orang berbaju merah demikian ketat. Meskipun tidak sedikit yang bergelimpangan berlumuran darah, tapi mereka tidak gentar. Bahkan seperti tidak mengenal kata takut. Mereka terus saja merangsek dan semakin mendesak, merapatkan kepungan. Tentu saja hal ini membuat ruang gerak Eyang Congkok semakin terasa sempit saja.

Saat melihat sedikit kesempatan, dengan cepat Eyang Congkok melompat mendekati Paranti. Tongkatnya berkelebat bagai kilat, menciptakan jeritan-jeritan melengking tinggi yang saling sambut. Hanya sekali lesatan saja, laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu sudah mencapai tempat Paranti bertarung.

“Cepat kau tinggalkan tempat ini!” sentak Eyang Congkok.

“Tidak bisa...!” sahut Paranti agak terengah.

“Cepat..!”

Eyang Congkok mengamuk bagaikan banteng terluka. Tongkatnya bergerak cepat luar biasa, membuka kepungan orang berbaju merah yang jumlahnya kian bertambah saja.

Entah sudah berapa orang yang tergeletak tak bernyawa lagi. Sedangkan udara di sekitar pertarungan itu sudah sesak oleh bau anyir darah yang mengalir dari tubuh-tubuh bergelimpangan bersimbah darah.

“Sekarang...!” seru Eyang Congkok begitu melihat ada kesempatan bagi Paranti untuk lari meninggalkan pertarungan.

Paranti tak bisa lagi mengelak. Memang disadari kalau tak mungkin bertahan lama dalam pertarungan seperti ini. Tingkat kepandaian orang-orang berbaju merah itu sudah cukup tinggi apalagi dalam jumlah begini banyak! Jadi, dia tak mungkin bisa bertahan terus.

“Hiyaaat..!”

Sambil berteriak keras melengking tinggi, gadis itu melompat cepat bagaikan kilat, melewati beberapa kepala. Pedangnya dikebutkan membabat orang-orang yang berusaha menghalanginya untuk keluar dari pertarungan ini. Setelah berputaran beberapa kali di udara, kakinya hinggap di salah satu cabang pohon. Tanpa menunggu waktu lagi, Paranti kembali melesat ke cabang pohon lainnya. Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki gadis itu memang sudah mencapai tingkatan yang cukup tinggi. Tak heran kalau dia cepat sekali bisa meninggalkan arena pertarungan itu.

Sementara Eyang Congkok masih terus sibuk menghadapi keroyokan orang berbaju merah. Namun bibirnya tersenyum juga saat melihat Paranti sudah jauh meninggalkan tempat ini.

“Hiyaaa...!”

Tiba-tiba saja, Eyang Congkok berteriak keras menggelegar. Seketika itu juga, tubuhnya berputar, dan tongkatnya dikebutkan dengan kecepatan luar biasa. Kembali terdengar jeritan-jeritan panjang melengking tinggi. Disusul kemudian, terlihat beberapa tubuh berjatuhan dengan darah mengucur deras.

Trak!

“Heh...?!” Eyang Congkok tersentak kaget ketika tiba-tiba tongkatnya terasa mendapat hentakan yang kuat hingga terpental balik.

Mata laki-laki tua bungkuk berjubah hijau itu seketika terbelalak lebar begitu melihat seorang..., atau mungkin seekor kera, tahu-tahu sudah berdiri di depannya. Makhluk aneh bertubuh manusia, namun wajahnya menyerupai kera itu mengenakan baju merah menyala. Sedangkan pada bagian lehernya berwarna kuning keemasan. Sebatang tongkat kayu tergenggam di tangan yang berbulu, mirip tangan kera.

“Siluman Kera...,” desis Eyang Congkok, agak bergetar suaranya.

Sementara orang-orang berbaju merah yang memegang senjata golok, bergerak menyingkir. Namun tetap membentuk lingkaran mengepung tempat itu. Eyang Congkok menggeser kakinya beberapa langkah ke belakang.

“Kau benar-benar bajingan keparat yang tak bisa dipercaya, Congkok!” desis manusia kera yang sukar untuk dikatakan manusia ataupun binatang itu. Suaranya terdengar kering dan dingin sekali.

“Aku..., aku...,” Eyang Congkok jadi tergagap.

“Sudah!” bentak si Siluman Kera keras. “Tidak ada lagi alasan bagimu, Congkok! Aku paling tidak suka melihat pengkhianat hidup lebih lama lagi!”

Eyang Congkok menelan ludahnya. Kata-kata si Siluman Kera demikian tegas, dan sudah bisa ditebak maksudnya. Meskipun disadari kalau makhluk yang ada di hadapannya ini bukan manusia lagi, tapi Eyang Congkok tidak ingin mati begitu saja tanpa perlawanan sama sekali. Memang diakui dirinya telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Tapi semua yang dilakukannya bukan karena tanpa sebab, dan memang disengaja dan sangat disadari sekali. Itu tak lain untuk membantu Paranti. Inilah sifat bijaksana yang dimiliki laki-laki tua itu.

“Aku menuntut janjimu sekarang, Congkok. Kau bersedia mati jika melakukan kesalahan. Terlebih lagi bila gagal menyerahkan Gelang Naga Soka padaku. Tapi kenyataannya, kau malah membantu pencuri cilik itu membawa kabur Gelang Naga Soka!” tegas si Siluman Kera, tetap dingin nada suaranya.

Siluman Kera memang mendapat kabar kalau Gelang Naga Soka telah hilang dicuri oleh Paranti. Kabar itu didapat dari telik sandinya yang sangat dipercaya. Itulah sebabnya, mengapa si Siluman Kera sekarang memburu Eyang Congkok. Dan tentu saja, manusia kera itu tahu hubungannya antara Eyang Congkok dengan Paranti. Maka pencariannya memang tidak salah.

“Tap, Siluman Kera.... Dia lebih memerlukannya,” Eyang Congkok mencoba membela diri.

“Lebih penting mana, aku atau pencuri cilik itu, heh...?!” bentak si Siluman Kera, berang. “Kau tahu, Congkok. Sebagian jiwa dan kehidupanku berada dalam gelang itu. Dan aku tidak ingin selamanya begini. Kau paham, Congkok...?!”

Eyang Congkok hanya diam saja membisu. Semua itu memang sudah diketahuinya. Tanpa jiwa dan kehidupan yang utuh, si Siluman Kera tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Kalaupun dapat, selamanya dirinya akan berujud kera, dan tak mungkin bisa kembali menjadi manusia lagi. Dia memang menganut satu ilmu hitam yang berasal dari roh para siluman kera. Makanya saat di masa hidupnya dulu, dia dikenal berjuluk Manusia Kera. Itu karena jurus ‘Kera’ yang dimilikinya dahsyat sekali, dan sukar dicari tandingannya.

Sekarang pun, meskipun ujudnya sudah berubah menyerupai kera, namun masih sukar untuk ditandingi. Memang sukar sekali mengukur, sampai di mana tingkat kepandaian yang dimiliki si Siluman Kera ini. Karena, sepertinya dia bisa menguasai segala jenis ilmu olah kanuragan dan ilmu kesaktian yang ada di dunia ini.

Eyang Congkok memang seperti makan buah simalakama. Tidak dimakan, ibu mati. Dimakan, ayah mati. Sungguh dia menyesal terperangkap dalam jebakan si Siluman Kera. Itu terjadi karena ulah seorang perempuan berjuluk si Mawar Beracun. Memang, wanita itu telah berhasil membujuk Eyang Congkok untuk bergabung dengan si Siluman Kera. Tentu saja dengan imbalan, tubuh wanita itu harus rela dinikmati oleh Eyang Congkok. Sementara, laki-laki tua itu harus merebut Gelang Naga Soka dari sahabatnya, Nyi Enoh. Memang diakui, dirinya sendiri sebenarnya juga ingin memiliki gelang itu.

Di lain hal, Paranti sendiri tidak tahu sama sekali kalau Eyang Congkok telah berada di pihak musuh. Namun untung saja, Eyang Congkok seketika merubah keputusannya. Biar bagaimanapun, dia lebih sayang pada muridnya sendiri.

“Nah! Sekarang bersiaplah untuk mati, Congkok...!” desis Siluman Kera dingin.

Kembali Eyang Congkok menelan ludahnya. Pada saat itu, si Siluman Kera sudah cepat memutar tongkatnya. Dan sekarang, bentuk tongkat kayu itu jadi hilang. Yang terlihat kini hanyalah sebuah bayangan lingkaran putih. Mendadak saja, entah dari mana datangnya, tahu-tahu terdengar suara menggemuruh bagai badai. Tapi di sekitar tempat ini masih terasa tenang, dan angin pun bertiup seperti biasanya. Namun mendadak saja....

“Hiyaaa...!”

“Heh...?! Hup!”

Sambil berteriak keras menggelegar, si Siluman Kera menghentakkan tongkatnya ke tanah. Hal ini membuat Eyang Congkok terkejut setengah mati. Mata laki-laki tua itu makin terbeliak ketika tanah yang dipijaknya bergetar, lalu merekah terbelah. Buru-buru tubuhnya melenting, berlompatan menghindari diri dari perangkap yang bisa mengakibatkan tubuhnya terjerumus ke dalam tanah yang merekah semakin lebar itu.

Pada saat yang bersamaan, orang-orang berbaju merah bergegas berlarian menyelamatkan diri. Mereka berkumpul di belakang si Siluman Kera. Beberapa kali Eyang Congkok berjumpalitan di udara. Namun setiap kali kakinya berpijak pada tanah, seketika itu juga tanah yang dipijaknya merekah terbelah dengan cepat.

“Setan...!” geram Eyang Congkok.

Serangan yang dilakukan Siluman Kera memang bisa membuat lawannya harus menguras tenaga. Bagaimana tidak? Untuk menghindari diri dari kemungkinan terkubur hidup-hidup, harus memeras tenaga dengan berlompatan sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Paling tidak harus berusaha untuk bisa bertahan lama berada di udara.

Saat berada di udara seperti ini tenaga lebih banyak keluar, karena harus mengimbangi daya tarik bumi. Dan Eyang Congkok menyadari akan hal itu. Namun tidak mudah baginya untuk bisa terlepas dari serangan­serangan ini.

Wut! Wut..!

Tiba-tiba saja Eyang Congkok yang masih berada di udara memutar tongkatnya di atas kepala dengan cepat sekali. Kemudian, ujung tongkatnya langsung dihentakkan ke arah si Siluman Kera.

“Hiyaaa...!”
Bet!
Rrrt..!

Tiba-tiba saja dari ujung tongkat laki-laki tua berjubah hijau itu meluncur beberapa benda kecil yang halus berwarna hijau. Benda-benda yang bentuknya seperti jarum itu meluruk deras menghujani si Siluman Kera.

“Ghraaaghk...!” si Siluman Kera meraung keras.

Seketika itu juga tubuhnya melenting ke atas sambil mengebutkan tongkat kayunya. Cepat sekali gerakan yang dilakukan manusia kera itu, sehingga tiba-tiba saja sudah melesat ke arah Eyang Congkok yang baru saja mendaratkan kakinya di tanah berumput

“Uts...!”

Buru-buru Eyang Congkok merundukkan kepalanya ketika tiba-tiba saja tongkat kayu si Siluman Kera meluruk deras mengibas ke arah kepala. Namun belum juga laki­laki tua berjubah hijau itu bisa menegakkan kepala kembali, mendadak si Siluman Kera menghentakkan kakinya. Diberikannya satu tendangan keras menggeledek yang disertai pengerahan tenaga dalam tinggi sekali.

“Yeaaah...!”
Deghk!

“Akh...!” Eyang Congkok memekik keras. Tendangan yang tiba-tiba dan tidak terduga itu tak dapat dihindari lagi, tepat mendarat di punggung Eyang Congkok. Seketika laki-laki tua bungkuk berbaju hijau itu tersungkur ke tanah, namun cepat melompat bangkit berdiri. Dan sebelum dia berdiri dengan tegak, kembali Siluman Kera melancarkan serangan. Kali ini ujung tongkatnya meluruk deras ke arah dada. Sejenak Eyang Congkok terkesiap, lalu bergegas memiringkan tubuhnya ke kiri.

Bet!

Sungguh di luar dugaan sama sekali. Begitu tongkatnya lewat di samping tubuh lawan, mendadak saja Siluman Kera cepat memutar tongkatnya, dan langsung dikebutkan ke arah pinggang.

Buk!

“Akh...!” lagi-lagi Eyang Congkok terpekik. Tulang-tulang pinggangnya seperti remuk terhantam tongkat kayu yang kelihatannya biasa itu. Kembali laki-laki tua bungkuk itu terjajar terhuyung-huyung beberapa kali.

“Sebut nama leluhurmu, Congkok! Yeaaah...!”

Kembali si Siluman Kera mengibaskan tongkatnya. Dan kali ini Eyang Congkok benar-benar tidak mampu berkelit lagi. Tebasan tongkat kayu itu demikian cepat dan deras sekali, karena mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi sekali.

Prak!

“Aaa...!” Seketika jeritan panjang melengking, terdengar menyayat saat tongkat kayu si Siluman Kera menghantam keras ke kepala laki-laki tua berjubah hijau itu. Tampak Eyang Congkok meraung-raung sambil memegangi kepalanya. Tubuh tua dan bungkuk itu terhuyung-huyung limbung.

Dan sebelum Eyang Congkok bisa menyadari apa yang terjadi, si Siluman Kera sudah kembali menyodokkan tongkatnya. Dan sudah pasti sodokannya tak terbendung lagi, tepat menghunjam dada laki-laki tua bungkuk itu.

Crab!

“Aaa...!” Satu jeritan melengking tinggi yang panjang dan menyayat mengakhiri perlawanan Eyang Congkok untuk selama-lamanya. Laki-laki tua bungkuk itu hanya sebentar saja masih mampu berdiri limbung, kemudian ambruk menggelepar di tanah. Dadanya berlubang sebesar tongkat bambu. Tampak darah mengucur dari dada yang berlubang dan dari kepalanya. Kepala Eyang Congkok retak terhantam tongkat kayu milik Siluman Kera tadi.

“Ha ha ha...!”

Suara tawa si Siluman Kera yang keras dan lepas berderai itu mengiringi kematian Eyang Congkok. Tubuh tua itu kini terbujur kaku. Sementara Siluman Kera bergegas pergi diikuti orang-orangnya. Mereka tidak mempedulikan lagi mayat-mayat yang bergelimpangan. Bahkan sebagian sudah terkubur di dalam tanah yang tadi merekah, kemudian tertutup kembali.

********************

TUJUH

Jeritan panjang Eyang Congkok yang terakhir, menyentakkan hati Paranti yang sudah jauh dari tempat pertarungan tadi. Gadis itu menghentikan larinya seketika, lalu memutar tubuhnya. Kecemasan terpancar jelas di seputar wajahnya. Jelas sekali kalau jeritan panjang melengking itu adalah jeritan kematian Eyang Congkok.

Hati Paranti jadi diliputi kebimbangan. Tanpa disadari, dirabanya gelang hitam berbentuk ular yang ekornya berwarna keemasan membelit kepala, di pergelangan tangannya. Gelang ini rupanya sudah begitu banyak meminta korban nyawa. Dan baru saja nyawa Eyang Congkok terbang melayang.

“Tidak...! Aku harus membawa gelang ini pada paman,” Paranti berbicara sendiri.

Setelah memantapkan hatinya, tubuhnya kembali diputar. Namun belum juga kakinya terayun melangkah, mendadak saja matanya membeliak lebar. Entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu di depannya sudah berdiri seorang pemuda berbaju rompi putih. Tampak gagang pedang yang berbentuk kepala burung, menyembul dari balik punggungnya.

“Rangga...,” desis Paranti mengenali pemuda berbaju rompi putih itu.

Pemuda tampan itu memang Rangga yang lebih dikenal berjuluk Pendekar Rajawali Sakti. Rangga mengayunkan kakinya beberapa langkah mendekati Paranti. Gadis itu masih berdiri, namun hatinya tersekat rasa terkejut atas kemunculan Pendekar Rajawali Sakti itu yang amat tiba-tiba. Sungguh tidak disangka kalau akan secepat ini Rangga bisa mengetahuinya.

“Kenapa kau lari begitu saja, Paranti?” agak dingin nada suara Rangga.

“Aku tidak ingin menyusahkan orang lain,” sahut Paranti.

“Kau sudah membuat susah orang lain, Paranti. Sebaiknya kembalikan saja apa yang kau ambil dari Murasi,” Rangga langsung saja bicara pada pokok persoalannya.

“He...! Jangan menuduh sembarangan, ya...!” bentak Paranti, langsung membeliak matanya.

“Aku tidak akan berkata seperti itu kalau kau tidak memperlihatkan apa yang kau ambil, Paranti.”

Kali ini Paranti benar-benar terkejut. Buru-buru tangan kanannya disembunyikan di balik tubuhnya. Baru disadari kalau sekarang telah memakai gelang yang diambilnya dari Murasi. Hanya sebentar saja gadis itu gelagapan, namun cepat bisa menguasai dirinya kembali.

“Kau akan menambah kesulitan. Bukan saja bagi dirimu sendiri, tapi juga bagi orang lain, Paranti. Sebaiknya, berikan saja gelang itu pada pemiliknya. Tidak ada gunanya bagimu,” tegas Rangga lagi.

“Kalau aku tidak mau...?” ketus nada suara Paranti.

Percuma saja Paranti berbohong. Toh, Pendekar Rajawali Sakti ini sudah mengetahui semuanya. Gadis itu tidak lagi menyembunyikan tangannya di balik tubuh. Dan kini malah bertolak pinggang dengan sikap menantang. Wajah yang cantik, semakin terlihat cantik kalau menegang demikian.

“Gelang itu tidak ada gunanya bagimu, Paranti. Akan membuat kesulitan saja,” bujuk Rangga.

“Heh...! Enak saja kalau bicara. Apa kau kira si Murasi itu mampu mempertahankan gelang ini dari si Siluman Kera...? Baru melihat tampangnya saja pasti sudah pingsan,” terdengar sinis kata-kata Paranti.

“Murasi memang tidak setangguh dirimu, Paranti. Tapi dia pemiliknya. Bisa atau tidak mempertahankannya, itu terserah dia. Kau tidak berhak atas gelang itu.”

“Siapa bilang...?! Semua orang berhak atas gelang ini. Dan sekarang gelang ini sudah berada di tanganku. Itu berarti aku yang berhak memilikinya. Kalau kau ingin memiliki, maka harus merebut dariku!” tegas sekali kata­kata Paranti.

“Kau benar-benar gadis pembawa masalah,” desis Rangga menggeram. Kesabaran Pendekar Rajawali Sakti sudah hampir habis. Namun, masih tetap bertahan untuk tidak terpancing atas sikap Paranti yang liar dan sedikit keras kepala itu.

“Ayo, rebut gelang ini dariku. Gelarmu Pendekar Rajawali Sakti, maka tentunya bukan pendekar kosong yang hanya bisa bicara dan menggertak saja, bukan? Ayo, serang dan rebut gelang ini dariku,” tantang Paranti, pongah.

“Aku tidak ingin bertarung denganmu, Paranti,” Rangga masih mencoba bersabar.

“Kenapa?! Kau bukan laki-laki pengecut, kan...?” ejek Paranti memanasi.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya. Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tidak ingin bertarung dengan gadis ini, karena tahu kalau gelang itu diambil bukan untuk dirinya sendiri. Gelang itu untuk seseorang yang dipanggilnya dengan sebutan paman. Memang Paranti tadi menyebut tentang pamannya. Dan Rangga sudah sejak tadi mengikuti gadis ini. Bahkan mengetahui pertarungan gadis itu yang ditemani seorang laki-laki tua berjubah hijau melawan orang-orang Siluman Kera.

Pendekar Rajawali Sakti juga mendengar semua percakapan Paranti dengan Eyang Congkok. Bahkan ikut menyaksikan pertarungan itu. Rangga langsung mengikuti Paranti, saat gadis itu berhasil keluar dan melarikan diri dari kancah pertarungan. Rangga pun tahu kalau Eyang Congkok pasti sudah tewas. Hanya saja dia tidak tahu, untuk apa orang yang selalu dipanggil dengan sebutan paman itu menginginkan Gelang Naga Soka...?

“Baik. Kalau kau tidak ingin menyerang, aku yang akan menyerangmu,” tegas Paranti dingin.

“Jangan lakukan itu, Paranti. Tidak ada gunanya...,” Rangga mencoba mencegah.

“Terlambat, Pendekar Rajawali Sakti. Bersiaplah! Hiyaaat..!”

Paranti langsung saja melompat menerjang pemuda berbaju rompi putih itu. Serangannya cepat luar biasa, dibarengi pukulan beberapa kali yang mengandung pengerahan tenaga dalam cukup tinggi.

“Heps...!”

Cepat-cepat Rangga mengegoskan tubuhnya, menghindari serangan-serangan Paranti yang gencar sekali. Pendekar Rajawali Sakti itu langsung saja menggunakan jurus ‘Sembilan Langkah Ajaib’. Tapi kali ini tujuannya lain dari biasanya. Yang jelas, bukannya hendak mengukur kemampuan ilmu olah kanuragan yang dimiliki gadis itu, tapi memang enggan bertarung.

********************

Meskipun Paranti melontarkan pukulan-pukulan yang dahsyat dan mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi, namun tak membawa hasil sedikit pun. Rangga selalu berhasil mengelak dengan mudah. Tampaknya, Pendekar Rajawali Sakti hanya meliuk-liukkan tubuhnya saja, dan selalu menghindar tanpa membalas serangan.

“Jangan hanya bisa menghindar saja, Rangga!” bentak Paranti kesal.

Namun bentakan itu sama sekali tidak digubris Pendekar Rajawali Sakti. Dan ini membuat Paranti semakin berang saja. Gadis itu langsung meningkatkan serangan-serangannya. Namun sampai sejauh ini, belum juga berhasil menyarangkan satu pukulan pun. Gadis itu bukan saja heran, tapi juga penasaran, geram, dan entah apa lagi yang ada dalam hatinya. Padahal Paranti sudah menghabiskan lebih dari sepuluh jurus, namun belum juga bisa mendesak Rangga sedikit pun.

“Hup...!”

Tiba-tiba saja Paranti melompat mundur, dan seketika menghentikan serangannya. Meskipun gadis itu memiliki kepandaian tinggi, namun belum cukup untuk menandingi Pendekar Rajawali Sakti. Ilmu yang dimilikinya masih terlalu jauh di bawah pemuda berbaju rompi putih itu. Tidak heran, walaupun telah melampaui dua puluh jurus, namun belum juga bisa mendesak pemuda itu.

“Sudah kukatakan, tidak ada gunanya berkeras kepala, Paranti,” kata Rangga seraya tersenyum.

“Huh! Aku belum kalah!” dengus Paranti, agak tersengal napasnya.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi kekerasan hati gadis ini. Namun sesaat kemudian, Pendekar Rajawali Sakti itu menyipitkan matanya kala Paranti meloloskan pedangnya.

Sret! Cring...!

“Kau harus mampus, Pendekar Rajawali Sakti. Kau adalah penghalangku yang paling utama...!” desis Paranti dingin.

“Sarungkan kembali pedangmu, Paranti. Berbahaya menggunakan senjata,” bujuk Rangga.

“Aku senang menentang bahaya. Terlebih lagi jika kau menikmati bahaya itu, Pendekar Rajawali Sakti,” balas Paranti sinis.

“Hm.... Sepertinya aku harus memberimu pelajaran, Paranti,” gumam Rangga agak dalam.

“Bagus! Sejak tadi aku menunggu pelajaran itu,” sambut Paranti meledek.

Setelah berkata demikian, Paranti langsung saja mengebutkan pedangnya sambil melompat. Ujung pedangnya tertuju lurus ke arah dada pemuda berbaju rompi putih itu. Namun sedikit pun Rangga tidak berusaha mengelak. Bahkan sama sekali tidak bergeming. Dan ini membuat Paranti jadi terkejut. Tapi, serangannya tak mungkin ditarik kembali.

“Hap...!”

Tap!

Tepat ketika ujung mata pedang Paranti hampir menghunjam di dada, Pendekar Rajawali Sakti cepat merapatkan kedua tangannya. Seketika dijepitnya ujung pedang itu, kemudian dibawanya ke samping sambil membungkukkan tubuh sedikit. Dan sebelum Paranti menyadari apa yang terjadi, Rangga sudah memberi satu tendangan keras yang hanya sedikit disertai pengerahan tenaga dalam.

“Yeaaah...!”

Des!

“Ughk..!” Paranti mengeluh pendek. Tendangan kaki Pendekar Rajawali Sakti tepat menghantam perut Paranti, sehingga membuatnya terbungkuk. Tubuhnya terdorong beberapa langkah ke belakang. Pegangannya pada pedang langsung terlepas. Paranti merasakan seketika perutnya jadi mual, dan ingin muntah rasanya.

Sementara Rangga sudah berdiri tegak sambil menggenggam pedang Paranti di tangannya. Pedang itu dilemparkan, dan langsung menancap tepat di ujung kaki Paranti. Gadis itu terbeliak, sehingga kontan mengangkat kepalanya. Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Paranti masih merasakan mual pada perutnya.

“Hup! Hesss...!”

Paranti menggerak-gerakkan tangannya di depan dada, kemudian menarik napas dalam-dalam. Setelah ditahan sebentar, napasnya dihembuskannya kuat-kuat. Dicobanya untuk mengusir rasa mual pada perutnya dengan mengerahkan hawa murni.

“Hih!”

Gadis itu kemudian mencabut pedangnya yang tertanam di tanah, dan digenggamnya erat-erat dengan tangan kanan. Sementara Rangga hanya berdiri tegak sambil tersenyum.

“Kau harus mampus, Rangga...!” desis Paranti dingin.

Kemudian pedangnya dikebutkan, lalu disilangkan di depan dada. Tatapan mata gadis itu demikian tajam menusuk. Bibirnya terkatup rapat, menahan kemarahan dan rasa malu karena mudah sekali dapat diperdaya oleh pemuda tampan berbaju rompi putih itu.

“Hiyaaat..!”

Sambil berteriak nyaring, Paranti kemudian melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Pedangnya dikebutkan beberapa kali ke bagian-bagian tubuh Rangga. Namun Pendekar Rajawali Sakti itu hanya meliuk-liukkan tubuhnya saja, sehingga tebasan pedang itu hanya mengenai angin kosong saja.

Kali ini Rangga dapat merasakan kalau serangan Paranti yang sekarang, mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Dan nampaknya, Paranti benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuan untuk bisa merobohkannya.

“Hiya! Hiyaaat...!”

“Uts...!”

Hampir saja mata pedang yang berkilatan itu menebas leher, kalau saja Rangga tidak cepat-cepat menarik mundur kepalanya. Namun sebelum Pendekar Rajawali Sakti itu bisa menarik pulang kepalanya, Paranti sudah memberi satu tendangan cepat menggeledek.

“Hiyaaa...!”

Cepat sekali Rangga melompat ke samping, maka tendangan Paranti kembali tidak mengenai sasaran. Pada saat itu, Rangga mengayunkan kakinya setengah melingkar, mengarah ke pinggang. Namun dengan gerakan manis sekali, Paranti bisa menghindari tendangan itu. Bahkan dengan cepat sekali pedangnya ditebaskan.

“Heh...?!” Rangga tersentak kaget

Buru-buru kakinya ditarik pulang. Dan pada saat itu juga Pendekar Rajawali Sakti langsung melompat ke samping. Dan gadis ini tidak menduga kalau Rangga bisa memotong arus gerakan pedangnya tanpa sedikit pun membiarkan pedang itu menyentuh ujung bajunya.

“Yeaaah...!”

Kembali kaki Rangga menghentak sebelum Paranti menarik pulang pedangnya. Tendangan Rangga yang begitu cepat dan tidak terduga ini, membuat Paranti jadi gelagapan. Gadis itu berusaha berkelit, namun....

Des...!

“Akh...!” Paranti terpekik. Tendangan Rangga tepat menghantam perut, dan membuat gadis itu kembali terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya yang kembali terasa mual seketika. Namun sebelum sempat gadis itu menguasai dirinya kembali, Rangga sudah melontarkan satu pukulan keras disertai pengerahan sedikit tenaga dalam. Memang Pendekar Rajawali Sakti benar-benar tidak ingin melukai Paranti.

Paranti terjajar jatuh ke tanah dengan keras sekali. Gadis itu meringis, berusaha menggelinjang bangkit berdiri. Namun sebelum mampu bangkit berdiri, pedang Paranti sudah menyentuh leher tuannya sendiri. Paranti benar-benar tidak berdaya sama sekali. Bahkan diam saja saat Rangga mencopot gelang yang dipakainya. Pendekar Rajawali Sakti membuang pedang Paranti tidak seberapa jauh, kemudian bergerak mundur beberapa langkah.

Sebentar Rangga memandangi gelang berbentuk seekor ular itu, kemudian menyimpannya di dalam sabuk yang mengikat pinggangnya. Sementara Paranti sudah mencoba bangkit berdiri. Tampak dari sudut bibirnya mengeluarkan darah sedikit.

“Aku akui, kau memang tangguh, Rangga,” kata Paranti memuji.

“Terima kasih,” ucap Rangga. Pendekar Rajawali Sakti bergegas memutar tubuhnya, dan langsung saja berjalan cepat. Begitu cepatnya, sehingga sebentar saja sudah jauh berjalan.

“Hei, tunggu...!” teriak Paranti langsung saja berlari mengejar sambil mendekap perutnya yang masih terasa mual.

Namun Rangga seperti tidak mendengar teriakan itu. Dia terus saja berjalan ringan, namun cepat sekali. Meskipun kakinya bergerak melangkah, namun seolah-olah telapak kakinya tidak menyentuh tanah.

********************

Murasi gembira begitu Rangga kembali membawa Gelang Naga Soka. Namun kegembiraan gadis itu lenyap saat melihat Paranti ikut bersama pemuda itu. Kehadiran Paranti benar-benar tidak diinginkan sama sekali. Memang, Murasi sudah telanjur tidak menyukainya.

“Apa maksudmu datang lagi ke sini? Akan mencari kesempatan lagi ya...?” sinis sekali nada suara Murasi.

“Tidak. Aku hanya ingin membantumu menghadapi si Siluman Kera dan orang-orangnya,” tegas Paranti.

“Dia sudah berjanji padaku, Murasi,” sergah Rangga sebelum Murasi sempat membuka suara.

“Kau percaya begitu saja, Kakang..?” Murasi masih tidak mempercayai sikap Rangga yang begitu mudah telah diperdayai Paranti waktu itu.

Rangga mengangguk pasti. Pendekar Rajawali Sakti memang mempercayai Paranti setelah gadis itu menceritakan sebabnya mencuri Gelang Naga Soka dari tangan Murasi. Gelang itu memang bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk pamannya yang kini menunggu di sebuah pertapaan yang cukup jauh dari Desa Banggal ini. Paman Paranti ingin memusnahkan sebagian jiwa si Siluman Kera yang berada di dalam gelang itu. Dia tahu kalau jiwa si Siluman Kera masih berada dalam Gelang Naga Soka, maka siluman itu tidak akan mati sepanjang zaman. Dia akan tetap hidup dalam ujud setengah kera dan setengah manusia, dan akan terus mengembara mencari sebagian dari jiwanya yang hilang itu.

Dengan tulus Rangga memuji tujuan mulia itu, tapi cara yang ditempuh Paranti sungguh tidak disukainya. Dan dia yakin kalau paman gadis itu tidak memberi perintah untuk mencuri, tapi meminta dengan menjelaskan semua persoalan dan keinginannya yang murni. Masalahnya cara yang dilakukan Paranti bisa berakibat buruk pada diri gadis itu sendiri. Bahkan bukannya tidak mungkin, keinginan suci pamannya akan ternoda.

Tidak ada cara lain bagi Rangga untuk meyakinkan niat suci Paranti dalam memperoleh Gelang Naga Soka itu, kecuali menceritakan semuanya pada Murasi. Memang tidak mudah, karena harus meyakinkan gadis yang sudah telanjur membenci Paranti akibat kesembronoannya. Dan Rangga tidak bisa menyalahkan sikap Murasi dalam hal ini. Karena gadis itu sendiri mendapat amanat untuk tetap mempertahankan Gelang Naga Soka, walau apa pun yang terjadi.

“Mungkin kau bisa cepat mempercayainya, Kakang. Tapi aku belum bisa percaya begitu saja,” tegas Murasi setelah Rangga menceritakan semua yang telah didengarnya dari Paranti sendiri.

“Itu hakmu. Tapi yang jelas, Paman Kumbara tidak bermaksud buruk. Paman Kumbara tidak jahat!” celetuk Paranti sengit.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tantang Murasi.

“Terserah. Yang jelas aku harus kembali ke pertapaan sambil membawa gelang itu. Kau berikan atau tidak, aku tetap akan berusaha mengambilnya sebelum si Siluman Kera mendapatkannya!” tegas Paranti.

Sejenak Murasi mengerutkan keningnya. Kata-kata Paranti barusan, jelas bernada tantangan yang tak akan pernah mengenal menyerah. Kali ini mungkin Paranti menganggapnya gagal. Tapi di lain saat dia pasti akan mencoba lagi. Dan tentunya, tidak akan berhenti sebelum memperoleh Gelang Naga Soka.

Satu tantangan terbuka telah digelar Paranti. Dan Murasi tidak mungkin hanya mendiamkan saja. Hatinya langsung jadi panas. Matanya menatap tajam, menusuk langsung ke bola mata Paranti. Sementara Paranti sendiri membalasnya tidak kalah tajam. Untuk beberapa saat kedua gadis itu saling menatap tajam. Suasana semakin bertambah panas.

“Hih! Yeaaah...!”

Tiba-tiba saja Murasi menghentakkan tangannya ke depan, memberi satu pukulan lurus disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi. Serangan yang dilakukan Murasi demikian cepat dan mendadak sekali. Namun, Paranti yang memang sudah siap sejak tadi, tidak kalah cepatnya. Langsung ditangkisnya serangan itu, sehingga tangannya beradu dengan tangan Murasi.

Plak!

Kedua gadis itu langsung terpental seketika. Mereka sama-sama berjumpalitan, dan hampir bersamaan pula mendarat manis di lantai. Juga dalam waktu yang sama, mereka melompat saling memberi serangan keras bertenaga dalam tinggi.

“Hiyaaat...!”

“Yeaaah...!”

Kembali pukulan-pukulan saling berbenturan di udara. Namun kali ini mereka tidak terpental. Dan dengan telapak tangan menempel erat, mereka sama-sama turun dan mendarat manis di lantai. Seketika itu juga, Paranti melayangkan satu tendangan keras ke arah perut.

“Hih!”
“Ufs...!”
Plak!

Murasi mengebutkan tangannya, menangkis tendangan Paranti. Kedua gadis itu langsung saja terlibat pertarungan menggunakan jurus-jurus pendek dan cepat. Jarak mereka begitu dekat, hanya sekitar satu langkah saja. Sementara Rangga, Paman Katir, dan Paman Julak yang menyaksikan pertarungan itu tak bisa berbuat apa-apa. Mereka semua tadi mendengar kalau Paranti yang membuka tantangan.

Rangga menatap kedua laki-laki itu yang kemudian hanya dibalas dengan bahu yang terangkat saja. Rangga sendiri jadi mengangkat bahu juga. Memang tak ada yang bisa dilakukan. Mencegah pertarungan, sama saja menghina kedua gadis yang sedang bertarung. Rangga jadi serba salah sendiri. Dia tidak menginginkan kedua gadis itu bertarung, tapi juga tidak mungkin mencegah.

Sementara pertarungan terus berlangsung semakin sengit. Masing-masing berusaha menjatuhkan lawan. Jurus demi jurus berlalu cepat. Dan pertarungan kini berpindah ke halaman depan, setelah memporak­porandakan seluruh isi ruangan depan yang besar itu.

“Ha ha ha...!”

Tiba-tiba saja terdengar tawa menggelegar yang mengejutkan. Seketika itu juga, Paranti dan Murasi menghentikan pertarungannya. Mereka sama-sama berlompatan mundur, tepat pada saat mereka baru saja mencabut pedangnya. Saat itu juga Rangga melompat cepat dan tahu-tahu sudah berdiri di antara kedua gadis itu

********************

DELAPAN

“Awas...!” teriak Rangga tiba-tiba.

Secepat kilat Pendekar Rajawali Sakti melompat ke arah Murasi. Tepat ketika sebuah benda bercahaya kemerahan meluncur deras ke arah gadis itu. Rangga langsung menubruk Murasi, sehingga mereka jatuh bergulingan di tanah. Namun Pendekar Rajawali Sakti itu cepat melompat bangkit, dan langsung membantu Murasi berdiri.

Sebentar Rangga melirik ke tanah, tempat Murasi berdiri tadi. Tanah itu berlubang kecil sebesar lingkaran bambu. Tampak di dalam lubang itu terdapat sebuah benda bulat berwarna merah. Benda itu mengepulkan asap tipis, dan terus melesak masuk ke dalam tanah.

Bisa dibayangkan bila benda itu menghunjam tubuh orang. Jelas, akan terus amblas dan menggerogoti daging! Suatu bentuk kematian secara perlahan, setelah mengalami siksaan sakit yang amat sangat.

“Kau tunggu di sini,” ujar Rangga.

“Mau ke mana...?”

Tapi pertanyaan Murasi tidak sempat terjawab, karena Pendekar Rajawali Sakti itu sudah lebih dulu melesat ke atas atap. Rangga memang sempat melihat kalau benda merah itu datang dari arah atap. Namun belum juga bisa mencapai tempat yang dimaksud, mendadak saja sebuah bayangan merah berkelebat cepat menyambarnya.

“Hup...!”

Cepat Rangga memutar tubuhnya, sehingga bayangan merah itu tidak sampai menyentuh dirinya, dan hanya lewat di bawah tubuhnya. Pada saat yang sama, Rangga melontarkan satu tebasan tangan dari jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’.

Bet!
Deghk!

“Akh...!” satu pekikan tertahan terdengar.

Saat itu juga, terlihat satu sosok tubuh mengenakan baju warna merah meluncur ke bawah dengan cepat sekali. Seketika tubuh berbaju merah itu keras menghantam tanah. Sebentar dia menggeliat, kemudian diam tidak bergerak-gerak lagi. Darah langsung merembes keluar dari sudut bibirnya.

Pada saat itu, Rangga sudah hinggap di atas atap. Dan saat kakinya menjejak atap, dua bayangan merah kembali berkelebat cepat menyambarnya. Bergegas Pendekar Rajawali Sakti melentingkan tubuhnya ke atas, lalu berputaran dua kali di udara. Dan secepat kilat kakinya menghentak, menyambar dua bayangan merah yang lewat di bawahnya.

Des!

Deghk!

Seketika terdengar dua jeritan melengking saling susul. Lalu, tampaklah dua sosok tubuh berbaju merah jatuh bergulingan di atap, dan terus meluncur ke bawah. Begitu tubuh mereka sampai ke tanah, Paman Katir dan Paman Julak langsung menyambutnya. Golok mereka berkelebat menyambar dua sosok tubuh berbaju merah itu. Kembali terdengar jeritan-jeritan melengking tinggi. Dua sosok tubuh itu seketika tewas bersimbah darah, terhajar babatan golok.

Rangga sudah kembali berdiri tegak di atap rumah yang besar ini. Pandangannya langsung beredar ke sekeliling. Sedangkan beberapa orang menunggu di bawah sana. Mereka semua memperhatikan Pendekar Rajawali Sakti yang berdiri tegak di atas atap rumah. Pada saat itu Murasi melesat cepat, dan tahu-tahu sudah berdiri di samping Pendekar Rajawali Sakti. Pada saat yang sama, Paranti juga melompat. Dan kini kedua gadis itu sudah berada di samping Rangga.

Baru saja Murasi hendak membuka mulut, mendadak dari segala penjuru bermunculan orang-orang berbaju merah yang langsung mengepung rumah ini. Paman Julak dan Paman Katir yang berada di bawah bersama orang-orang bayaran, langsung bersiap. Sementara tiga orang yang berada di atap jadi bengong, karena tidak menyangka akan mendapat satu serangan yang begitu mendadak.

“Ha ha ha...!”

Rangga langsung berpaling ke kanan ketika tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak. Tampak di bawah pohon kamboja, tahu-tahu sudah berdiri sosok makhluk yang sukar dijelaskan wujudnya. Apakah itu manusia, atau kera. Bentuk badan dan tingginya, seperti manusia. Tapi seluruh tubuhnya berbulu, dan wajahnya benar­benar mirip kera. Bajunya warna merah dengan bagian leher berwarna kuning keemasan. Sebatang tongkat kayu tergenggam di tangan kanan yang berbulu lebat.

“Itu dia si Siluman Kera,” kata Paranti memberi tahu.

Pandangannya beredar ke sekeliling. Saat ini seluruh rumah besar ini sudah terkepung oleh orang-orang berbaju merah yang semuanya sudah menghunus golok. Jumlah mereka begitu banyak. Yang jelas, tak seimbang dengan orang-orang yang disewa mendiang Nyi Enoh untuk menjaga keutuhan rumah ini.

“Paranti, turun kau...!” tiba-tiba si Siluman Kera berteriak keras menggelegar.

Sebentar Paranti menatap Rangga, kemudian langsung melompat turun. Gerakannya begitu ringan, dan dengan manisnya menjejak tanah. Pada saat yang hampir bersamaan, Rangga dan Murasi juga ikut melompat turun. Mereka langsung mendarat di samping Paranti yang sudah berdiri di tanah lebih dahulu.

“Mana gelang itu...?” bentak Siluman Kera. Suaranya terdengar berat dan kasar sekali.

“Tidak ada padaku,” sahut Paranti ketus.

Siluman Kera langsung menatap Murasi yang berdiri di samping Rangga. Agak bergidik juga gadis itu mendapatkan sorot mata bulat memerah yang tajam itu.

“Kau...! Ke sini!” bentak Siluman Kera sambil menunjuk Murasi dengan ujung tongkatnya.

“Kau saja yang ke sini, Monyet!” balas Murasi tidak kalah ketusnya.

Si Siluman Kera menggeram marah mendengar penolakan yang tegas dari Murasi. Tatapannya semakin tajam pada gadis itu. Sedangkan Murasi kini jadi berani membalas tatapan itu dengan tidak kalah tajamnya. Bahkan malah bertolak pinggang, seakan-akan sengaja memamerkan Gelang Naga Soka yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Berikan gelang itu padaku, Murasi,” pinta Rangga setengah berbiak.

“Apa...?!” Murasi terkejut

“Berikan saja gelang itu padaku. Yang diinginkan hanya

gelang itu. Dan aku akan menantang bertarung agar tidak menimbulkan banyak korban,” kata Rangga setengah memaksa.

“Tapi....”

“Tidak ada waktu untuk berdebat, Murasi,” Rangga memutuskan ucapan Murasi.

Entah apa yang ada dalam hati gadis itu, tapi akhirnya melepaskan Gelang Naga Soka yang berada di pergelangan tangannya. Rangga langsung merebut gelang itu, lalu mengenakannya di pergelangan tangan kiri. Kemudian kakinya terayun ke depan beberapa langkah. Pendekar Rajawali Sakti itu berhenti setelah jaraknya dengan si Siluman Kera tinggal dua batang tombak lagi.

“Sekarang aku yang memiliki gelang ini. Siapa pun tidak kuizinkan menyentuhnya,” tegas Rangga dengan suara dingin.

Siluman Kera menggeram agak tertahan mendengar kata-kata bernada tantangan dari seorang pemuda yang berdiri sekitar dua tombak di depannya. Ditatapnya Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Begitu tajamnya, seakan-akan sorot matanya akan melumat Rangga hingga hancur jadi tepung.

“Siapa kau, Anak Muda?” dingin sekali nada suara si Siluman Kera.

“Rangga,” sahut Rangga pendek. Suaranya terdengar datar, tanpa tekanan sama sekali.

“Kau tahu, dengan siapa kau berhadapan?”

“Monyet iblis yang sudah menggali kuburnya sendiri,” sahut Rangga, tetap dingin suaranya.

“Ha ha ha...! Rupanya kau punya nyawa rangkap juga, Anak Muda. Bagus...! Itu berarti akan semakin banyak darah membanjiri tempat ini.”

“Tidak ada darah yang mengalir, kecuali darahmu, Monyet Iblis,” desis Rangga datar.

Siluman Kera langsung terhenyak mendengar kata-kata yang begitu dingin dan menusuk. Dipandanginya wajah Pendekar Rajawali Sakti dalam-dalam. Meskipun kata-kata itu diucapkan bernada datar, namun Siluman Iblis bisa menangkap maksudnya. Dan hatinya agak terkejut juga. Karena, selama ini tidak ada seorang pun yang berani menantangnya bertarung, kecuali mereka yang terpojok dan nekat melawan.

Tapi pemuda berbaju rompi putih ini terang-terangan menantangnya, meskipun diucapkan secara halus. Bahkan hampir tidak jelas maksudnya.

Siluman Kera mendesis kecil seraya memindahkan tongkat kayunya yang berwarna putih, ke tangan kiri. Pandangannya masih tajam, mengamati pemuda berbaju rompi putih di depannya.

“Apa yang kau andalkan untuk menantangku, Anak Muda?” tanya Siluman Kera, bersikap meremehkan.

“Tidak ada,” sahut Rangga singkat

“Phuih! Kau terlalu merendahkan aku, Anak Muda!” dengus Siluman Kera seraya menyemburkan ludahnya.

“Di mataku, kau memang rendah sekali. Bahkan terlalu rendah untuk bisa berdiri tegak,” ejek Rangga datar.

“Keparat..!” geram Siluman Kera, langsung memuncak amarahnya.

Trap!

Siluman Kera kembali memindahkan tongkatnya ke tangan kanan. Perlahan kakinya bergeser ke kiri beberapa tindak. Tatapan matanya semakin menusuk langsung ke bola mata Pendekar Rajawali Sakti. Sedangkan pemuda berbaju rompi putih itu hanya berdiri tegak sambil tersenyum tipis. Dengan sudut ekor matanya, setiap gerak yang dilakukan manusia setengah kera itu diawasi.

“Kau akan menyesal di neraka, Anak Muda,” desis Siluman Kera dingin.

“Jangan takabur, Siluman Kera. Kita buktikan, siapa yang lebih dulu pergi ke neraka,” sambut Rangga.

“Bedebah...! Hiyaaat..!”

Siluman Kera tidak bisa lagi menahan amarahnya. Sambil berteriak keras menggelegar, dia langsung melompat menerjang sambil mengayunkan kakinya ke arah kepala Pendekar Rajawali Sakti. Namun manis sekali, Rangga mengegoskan kepalanya sedikit. Maka ujung tongkat kayu berwarna putih itu lewat di depan wajahnya.

Namun sebelum Rangga bisa menarik kembali kepalanya, satu pukulan tangan kiri yang cepat dan mengandung tenaga dalam tinggi dilontarkan Siluman Kera ke arah dada.

“Uts...!”

Bergegas Pendekar Rajawali Sakti memiringkan tubuhnya ke kanan, maka pukulan itu lewat di depan dadanya. Seketika itu juga Rangga menghentakkan kakinya. Diberikannya serangan balasan lewat satu tendangan memutar sambil melompat sedikit

“Yeaaah...!”

Rangga menduga kalau si Siluman Kera itu akan berkelit menghindari tendangannya. Namun tanpa diduga sama sekali, manusia setengah kera itu malah membabatkan tongkatnya untuk menyampok kaki Pendekar Rajawali Sakti itu.

“Bet!”

“Ufs...!” Buru-buru Rangga menarik pulang serangannya, langsung memutar tubuhnya. Kembali dilontarkan satu kibasan tangan yang merentang lurus dengan telapak merapat. Pendekar Rajawali Sakti langsung mengerahkan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’. Salah satu jurus dahsyat dari rangkaian lima jurus ‘Rajawali Sakti’.

Kedua tangan Rangga merentang lebar ke samping, lalu bergerak-gerak cepat disertai pengerahan tenaga dalam yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Gerakan tangan yang mengibas itu diimbangi gerakan tubuh dan kaki yang lincah serta lentur bagai karet. Serangan yang dilancarkan Pendekar Rajawali Sakti sedikitnya membuat repot si Siluman Kera.

“Hiya! Yeaaah...!”

Pendekar Rajawali Sakti seperti tidak lagi memberi kesempatan pada si Siluman Kera itu untuk balas menyerang. Selesai dengan jurus ‘Sayap Rajawali Membelah Mega’, langsung digantinya dengan jurus lain. Pertarungan itu memang berjalan cepat dan dahsyat luar biasa. Bahkan kini satu sama lain saling melancarkan serangan secara bergantian. Jurus demi jurus pun berlalu cepat sekali. Sehingga tidak terasa, pertarungan sudah melewati lebih dari lima belas jurus.

Namun tampaknya pertarungan itu masih berjalan cukup lama, belum ada tanda-tanda kalau akan cepat berakhir. Bahkan tidak ada sedikit pun tanda-tanda bakal ada yang akan terdesak. Sementara mereka yang menyaksikan jalannya pertarungan seringkali harus menahan napas.

“Serang...!”

Tiba-tiba saja terdengar teriakan keras. Maka semua orang yang berada di halaman depan rumah besar itu jadi terkejut bukan main. Ternyata tiba-tiba saja muncul puluhan orang bersenjata segala macam, berlarian sambil berteriak-teriak mengacungkan senjata di atas kepala.

“Paman Kumbara...,” desis Paranti ketika matanya menangkap seorang laki-laki setengah baya yang berlarian cepat di antara orang-orang yang datang menyerbu itu.

Murasi yang berada di sebelah gadis itu, jadi tertegun sejenak. Ditatapnya Paranti dalam-dalam. Sedangkan yang ditatap, malah tersenyum senang. Matanya tidak berkedip memandang laki-laki setengah baya yang mengenakan jubah putih sambil menghunus pedang.

“Serbuuu...!” tiba-tiba saja Paman Julak berseru keras memberi perintah.

Sekitar sepuluh orang bayaran yang disewa mendiang Nyai Enoh, seketika mencabut senjata masing-masing. Mereka langsung menerjang orang-orang berbaju merah yang kelihatannya jadi kebingungan. Karena, sekarang giliran mereka yang terkepung.

Pertempuran massal pun tak terhindarkan lagi. Sebentar saja terdengar jeritan panjang melengking tinggi yang saling sambut, mengiringi kematian. Tubuh-tubuh mulai bergelimpangan tewas berlumuran darah.

Sementara itu, pertarungan antara Pendekar Rajawali Sakti dan Siluman Kera sudah mencapai taraf yang tertinggi. Masing-masing kini menggunakan ilmu-ilmu kesaktian yang dahsyat. Cahaya-cahaya kilat bertebaran saling menyambar, diselingi ledakan menggelegar yang amat dahsyat dan memekakkan telinga.

“Kau memang hebat, Anak Muda. Tapi cobalah ilmu pamungkasku yang terakhir!” dengus Siluman Kera.

Makhluk setengah manusia dan setengah kera itu menggerakkan tangannya di depan dada. Tampak begitu telapak tangannya merapat di atas kepala, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya kuning keemasan yang bercampur sinar merah bagai api berkobar membakar tubuhnya.

“Hap...!”

Sret! Cring!

Menyadari kalau ilmu pamungkas yang hendak dikeluarkan si Siluman Kera memiliki kekuatan dahsyat, Rangga tidak tanggung-tanggung lagi. Segera diloloskan pedangnya dari warangka di punggung, kemudian dilintangkan di depan dada. Telapak tangannya menempel pada mata pedang, dan perlahan-lahan mulai bergerak menggosok mata pedang yang memancarkan cahaya biru berkilau.

“Hiyaaa...!” sambil berteriak keras menggelegar, Siluman Kera melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti.

“Aji ‘Cakra Buana Sukma’...! Yeaaah...!” teriak Rangga seraya melintangkan pedangnya di depan dada. Kemudian dengan kecepatan tinggi, Pendekar Rajawali Sakti itu memasukkan pedang ke dalam warangkanya kembali. Dan pada saat itu, cahaya biru telah menggumpal pada kedua tangannya. Secepat kilat Rangga menghentakkan tangannya ke depan, tepat ketika dua telapak tangan si Siluman Kera hampir menghajar dadanya.

Glarrr...!

Ledakan keras seketika terdengar bagai ledakan gunung berapi yang memuntahkan laharnya. Seluruh mayapada ini berguncang dahsyat. Angin bertiup keras, dan tanah bergetar bagai diguncang gempa. Sementara itu, dua pasang telapak tangan telah menyatu rapat dalam selimut cahaya beraneka ragam. Siluman Kera dan Pendekar Rajawali Sakti saling berdiri berhadapan dengan telapak tangan menyatu rapat. Tampak tubuh mereka bergetar, berusaha menjatuhkan satu sama lain sesingkat mungkin.

Ini bukan yang pertama kali Pendekar Rajawali Sakti bertarung mempergunakan aji ‘Cakra Buana Sukma’. Tapi baru kali ini tahapan yang paling terakhir dikerahkannya. Dan baru kali ini pula mendapat balasan yang kuat sehingga seluruh kekuatannya harus dikerahkan.

“Yeaaah...!” tiba-tiba Rangga berteriak keras. Seketika itu juga, seluruh tubuhnya berselimut sinar biru yang terang dan menyilaukan mata. Pendekar Rajawali Sakti membuka mulutnya lebar-lebar. Maka dari dalam rongga mulutnya memancarkan cahaya biru yang langsung membelit tubuh Siluman Kera, bagaikan seekor ular saja.

“Akh...!” Siluman Kera memekik agak tertahan. Tubuh manusia kera itu menggeliat dan menggeletar. Sepasang bola matanya semakin memancar memerah. Sebentar kemudian terdengar suara raungan bagai binatang buas yang liar. Tampak seluruh tubuh Siluman Kera semakin kuat menggeletar. Dicobanya untuk melepaskan diri dari pertarungan ini, namun kedua telapak tangannya tak bisa lagi dilepaskan. Manusia setengah kera itu merasakan adanya tarikan kuat yang menyedot kekuatannya. Dan semakin mencoba bertahan, semakin terasa kuat tarikan itu.

Sementara cahaya biru semakin tebal menyelimuti tubuh berbulu dengan wajah seekor kera itu. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti semakin kuat mengerahkan kekuatan aji ‘Cakra Buana Sukma’. Dari mulutnya yang terbuka lebar, terus mengeluarkan cahaya biru berkilauan yang menyilaukan mata.

“Hup! Yeaaah...!”

Cring! Bet!

Tiba-tiba saja Pendekar Rajawali Sakti mencabut pedangnya, dan langsung dibabatkan ke leher si Siluman Kera. Begitu cepatnya, sehingga Siluman Kera tidak sempat lagi menghindar. Terlebih lagi, dia tengah berusaha keluar dari pertarungan kekuatan ilmu kesaktian ini. Sehingga....

Cras!

“Aaakh....!” Siluman Kera menjerit melengking tinggi.

“Hup...!” Rangga langsung melompat mundur sambil menarik kembali ajiannya. Tampak si Siluman Kera berdiri tegak tak bergerak-gerak. Mulutnya terbuka lebar, dan matanya mendelik memerah. Pendekar Rajawali Sakti memasukkan kembali pedang pusaka ke dalam warangka di punggung. Kemudian sambil berteriak keras menggelegar, Rangga melompat melontarkan satu tendangan keras menggeledek.

“Hiyaaat..!”

Glarrr! Ledakan keras kembali terdengar bagai guntur di siang bolong, begitu tendangan Pendekar Rajawali Sakti menghantam dada si Siluman Kera. Seketika itu juga, tubuh Siluman Kera hancur berkeping-keping tanpa memperdengarkan suara lagi.

“Hhh...!” Rangga menghembuskan napas panjang. Dipandanginya tubuh Siluman Kera yang hancur jadi tepung. Sementara itu, pertarungan di tempat lain juga sudah berakhir. Tidak sedikit anak buah Siluman Kera yang tewas, dan tidak sedikit pula yang sempat melarikan diri begitu melihat pemimpinnya tewas. Tampak Murasi dan Paranti berdiri berdampingan di depan seorang laki­-laki setengah baya mengenakan jubah panjang berwarna putih.

“Kau percaya padaku, Murasi?” tanya Paranti seraya melirik gadis di sampingnya.

“Percaya. Tapi, gelang itu ada pada Kakang Rangga,” sahut Murasi.

“Hei...?! Di mana dia...?” seru Paranti.

Kedua gadis itu saling berpandangan, kemudian sama-sama mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pendekar Rajawali Sakti memang sudah tidak ada lagi. Entah kapan dan ke mana perginya, tak ada yang mengetahui. Tapi di beranda depan rumah, tergantung sebuah gelang hitam berbentuk seekor ular. Murasi cepat-cepat mengambil gelang itu dan membawanya pada Paman Kumbara yang langsung menerimanya disertai senyuman tersungging di bibir.

“Tidak ada gunanya lagi. Dia sudah memusnahkan sebagian jiwa Siluman Kera yang ada dalam gelang ini,” jelas Paman Kumbara.

“He...?! Bagaimana caranya, Paman?” tanya Paranti terkejut.

“Entahlah. Tapi yang jelas, tingkatan kepandaiannya lebih tinggi daripada Siluman Kera. Hm..., seandainya aku bisa berbicara dengannya...,” nada suara Paman Kumbara seperti bergumam.

“Aneh juga, ya.... Kenapa dia pergi begitu saja...?” gumam Paranti seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Begitulah seorang pendekar sejati. Dia tidak memerlukan ucapan terima kasih ataupun balas jasa atas sumbangsihnya,” jelas Paman Kumbara.

Ada nada kekaguman pada suara Paman Kumbara. Tapi di balik itu semua hatinya juga menyesal. Karena, dia tidak sempat bertemu muka dan berbicara dengan seorang pendekar sejati seperti Pendekar Rajawali Sakti.

“Sudahlah. Sebaiknya kita urus saja mayat-mayat ini. Mudah-mudahan saja bisa bertemu lagi dengannya,” Paman Kumbara seperti menghibur dirinya sendiri.

Kedua gadis itu saling melempar pandangan, kemudian sama-sama duduk di undakan beranda depan. Paman Kumbara memperhatikan sebentar, kemudian hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Dia memang belum sempat bertemu pemuda yang bernama Rangga itu. Tapi dari sikap kedua gadis ini, bisa ditebak kalau mereka begitu kehilangan sekali. Dan yang pasti, pendekar muda itu telah menarik simpati hati kedua gadis ini.

“Hhh..., anak muda...” desah Paman Kumbara seraya menggelengkan kepala.

SELESAI

KISAH SELANJUTNYA: GERHANA KEMBANG KEDATON
Thanks for reading Gelang Naga Soka I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »