Social Items

ANG I NIO CU (DARA BAJU MERAH)

Karya Kho Ping Hoo

JILID 03

Bu Pun Su menarik napas panjang, "Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute. Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini sudah menguasai golongan Mo-kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri ini. Mereka adalah orang-orang dari barat, dan kalau mereka berhasil menaklukkan semua orang kang-ouw, dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali, tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Apa kau tidak ingat betapa orang-orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orang-orang kang-ouw berada di bawah kekuasaan ketiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita, bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh kebudayaan asing pula? Ini bukanlah soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu supaya kau suka membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua partai persilatan itu untuk bersama-sama menghadapi mereka itu.”

“Siapa sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba terbatas mengenai mereka. Konon mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama bernama atau berjuluk Hek-te-ong (Raja Tanah Hitam), yang ke dua berjuluk Pek-in-ong (Raja Awan Putih) dan yang ke tiga berjuluk Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari barat dan begitu datang mereka lalu merobohkan semua tokoh Mo-kauw sehingga para tokoh Mo-kauw itu takluk dan mengangkat mereka menjadi ketua serta menyebut mereka Thian-te Sam-kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit). Selain itu, rnereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi, Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri.”

“Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Suheng?”

“Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid-murid dari Thian-te Sam-kauwcu.”

“Sarang dari muridnya? Di sini?”

“Ya, di lembah Huang-ho di sebelah selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-te Sam-kauwcu menyebarkan anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian mereka, namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-te Sam-kauwcu, aku tak mau berlaku sembrono, lebih menguntungkan kalau kau ikut serta.”

Han Le merasa agak terheran. Dia percaya akan kepandaian suheng-nya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada kepandaiannya, tapi mengapa suheng-nya mengajaknya?

“Suheng, bukankah kau mengajak aku hanya untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka itu tidak akan disalah tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?”

Bu Pun Su tersenyum. “Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek Mo-ko biar pun menjadi tokoh Mo-kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-kauw yang selalu menjauhkan diri dan menjaga supaya jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan Beng-kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka, maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya.”

Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su. Tempat yang dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di pinggir Sungai Huang-ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil dan kelihatannya menyeramkan. Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun, mereka berjalan biasa saja.

Berturut-turut beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani dan ada pula seperti nelayan, bertemu dengan mereka. Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan curiga. Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam mengikuti Han Le dan Bu Pun Su. Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka pura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.

Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan keadaan rumah-rumah penduduk di sekitarnya yang kecil lagi miskin. Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya, yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah para hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain, akan tetapi orang-orang dusun, lelaki dan perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di dalam kelenteng itu!

Pada waktu melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, mereka ini segera melarikan diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan.

Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le, “Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu.”

Han Le memandang ke dalam kelenteng. Dari pintu yang terbuka, nampak tiga buah arca sebesar manusia, berupa tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti hwesio-hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi besar dan angker. Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, ada pun yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan matanya sipit sekali seperti meram.

“Itulah agaknya patung-patung Thian-te Sam-kauwcu yang dipuja-puja oleh pengikutnya,” kata Bu Pun Su pula kepada Han Le.

Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika dia melihat kedua orang itu. Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar bagai telinga gajah, pakaiannya serba hitam. Ada pun orang yang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus, sedangkan pakaiannya serba putih.

Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, mudah bagi Han Le untuk menduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi. Juga, melihat pakaian mereka biar pun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.

“Ha-ha-ha-ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Taihiap! Benar-benar kami mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan berterima kasih sekali!”

Bu Pun Su dan Han Le tertegun. Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat mengenali mereka? Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam putih ini dan keadaan Bu Pun Su mau pun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga mudah dikenal orang.

Berbeda dengan Hek Mo-ko yang senang tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut dan wajahnya murung.

“Kalian ini orang-orang Beng-kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai orang-orang busuk dari Mo-kauw?” tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang sipit.

Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan dia selalu berbicara dan bertindak secara langsung. Sambil tersenyum ia berkata terus terang,

“Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan sute-ku ini datang ke sini karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-thian yang kini mencengkeram Mo-kauw, tiga orang See-thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula mengenai hilangnya kitab rahasia dari Siauw-lim-pai dan pedang pusaka dari Kun-lun-pai, dan aku juga telah mendengar bahwa banyak tokoh Mo-kauw yang tadinya biar pun berbeda paham dengan Beng-kauw namun tetap menjaga kegagahan, tapi sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis muda, yang tentu saja dipaksanya! Bahkan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah menikah.”

Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya, akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli. Suara ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama semakin meninggi dan nyaring sehingga menyakitkan telinga. Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa lweekang dari Hek Mo-ko ini amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.

“Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-kauw! Ada apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang ketiga guru besar kami sudah datang, mereka sengaja datang dari barat untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha-ha-ha, agaknya kau benar-benar iri hati, apa lagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha-ha-ha!”

“Ngaco!” Han Le membentak marah. “Bagaimana jawabanmu mengenai hilangnya kitab rahasia Siauw-lim-pai dan pedang pusaka Kun-lun-pai?”

Hek Mo-ko memandang kepada Han Le, lalu dia tersenyum sindir. “Hilangnya kitab dan pedang, ada hubungan apakah dengan kami? Kau dan suheng-mu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai.”

“Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!” kata Bu Pun Su.

“Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami...!” kata Pek Mo-ko marah dan dia bergerak untuk menghalangi.

Akan tetapi ia segera melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Mo-ko tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!

Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi mendadak tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko. “Sute, tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!”

Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.

Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng. Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau pembantu Hek Pek Mo-ko, yaitu orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat dan kuat, lantas maju menubruknya.

Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang!

Bu Pun Su tidak pedulikan mereka lagi, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang awas dan tajam sekali. Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kalau kitab serta pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya tidak akan terlepas dari pandang mata pendekar ini.

Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat. Mereka ini tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandangnya dengan mata yang terbelalak.

“Apakah kau isteri Hek Mo-ko?” tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku isterinya Pek Mo-ko, engkau siapakah berani berlancang memasuki kamarku?” Kemudian wanita ini tertawa menyeringai hingga muka yang tadinya cantik ini berubah seperti muka iblis.

Bu Pun Su berdebar kaget. Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya! Dia tidak bertanya lebih lanjut dan ketika dia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lainnya, dia bertanya pula, “Hemm, kau agaknya isteri Hek Mo ko.”

“Benar,” wanita itu menjawab, “Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?”

Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat menahan hatinya untuk tidak bertanya.

“Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?”

Untuk sejenak wanita itu hanya diam saja, kemudian dia berdiri dan berkata marah, “Kau ini manusia dari manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara sah dan baik-baik, ada sangkut-paut apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?”

Bu Pun Su merasa seperti ditampar pipinya. Mukanya menjadi merah sekali. Inilah hal yang tidak disangka-sangkanya sama sekali dan baru sekarang ini dia melihat atau dapat menduga bahwa isteri Hek Mo-ko ini sedang mengandung.

“Maaf, maaf...,” katanya perlahan dan ia lalu keluar lagi dari kamar itu.

Setelah puas menyelidiki di dalam kelenteng dan tidak mendapatkan sesuatu, dia segera keluar lagi. Setibanya di ruangan luar, dia berdiri menghadapi tiga patung yang sebesar manusia itu.

Buatan patung ini begitu halus hingga benar-benar menyerupai manusia. la memandang kepada wajah patung yang mewakili Thian-te Sam-kauwcu itu untuk memperhatikan tiga orang ini. Mereka benar-benar kelihatan angker dan dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa tiga orang ini bukanlah orang sembarangan.

Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Siapa tahu kalau-kalau dua benda yang dicuri dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai itu disembunyikan di dalam patung-patung ini?

Ia pun melangkah maju dan meraba pundak patung Pek-in-ong yang berdiri di kiri, yakni patung yang tinggi kurus mukanya seperti tengkorak. Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari mulut patung itu menyambar keluar sinar hitam yang menyerang ke arah leher dan muka Bu Pun Su!

Pendekar ini bukan sembarangan ahli silat, melainkan seorang sakti yang telah mewarisi ilmu silat dan ilmu-ilmu aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Seorang ahli silat tinggi lainnya belum tentu dapat menghindarkan serangan tiba-tiba dari mulut patung itu, akan tetapi Bu Pun Su dengan sangat tenang miringkan kepalanya sehingga sinar hitam itu menyambar lewat.

Ia mencium bau yang amat amis, maka diam-diam ia bergidik. Tahulah Bu Pun Su bahwa yang menyambar lewat tadi adalah segenggam jarum-jarum halus berwarna hitam yang mengandung bisa yang amat jahat.

Bu Pun Su tersenyum. Dia maklum bahwa dua patung yang lain tentu mengandung alat rahasia pula, akan tetapi dia bukan Bu Pun Su kalau merasa gentar. Orang lain mungkin akan merasa khawatir dan tidak berani mengganggu dua patung yang lain, akan tetapi Bu Pun Su bahkan tertarik dan ingin sekali mengetahui bagaimana cara dua patung yang lain akan menyerangnya!

Ia mau coba-coba dan ini pun tidak aneh, karena orang seperti Bu Pun Su ini memang sudah biasa menantang dan bermain-main dengan maut! Dia lalu menghampiri patung di kanan, yakni patung dari Ceng-hai-ong yang bertubuh kurus bongkok dan matanya sipit itu.

Dengan tenang Bu Pun Su menepuk pundak patung itu. Dan secepat kilat kedua tangan patung itu bergerak, dengan kukunya yang panjang patung itu mencengkeram ke depan, kedua tangan menyambar dari kanan kiri!

“Aha, kau ahli gulat kiranya!” Bu Pun Su mengejek sambil bergerak melangkahkan kaki mundur, mengelak dari cengkeraman itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari jari-jari tangan itu menyambar keluar benda cair berwarna hijau yang baunya harum! Bu Pun Su kali ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan ujung lengan baju sebelah kiri dari mana keluar tenaga Pek-in Hoat-sut yang mengepulkan uap putih, sehingga benda cair itu terpercik kembali dan membasahi muka patung.

“Hemm, kiranya semua ahli racun yang berbahaya,” pikir Bu Pun Su.

Ia pikir bahwa patung yang berada di tengah, yang amat menyeramkan dan tinggi besar itu, tentulah yang paling lihai. Akan tetapi dia tidak merasa gentar, bahkan gembira dan sambil tersenyum dia melangkah menghampiri patung ini.

“Coba perlihatkan kelihaianmu!” katanya sambil menepuk dada patung tinggi besar ini. Patung ini besar dan tinggi sekali sehingga Bu Pun Su hanya sampai di leher tingginya.

Begitu tangan kanan Bu Pun Su menepuk dada patung, terdengar suara keras dan dada patung itu tiba-tiba terbuka, dari mana keluar menyambar uap hitam yang menyerang ke depan. Ini masih disusul pula dengan bergeraknya kaki kanan patung yang melakukan tendangan kilat ke depan, kemudian dari mata, hidung, telinga serta mulut patung itu menyambar keluar asap hitam sedangkan kedua tangan memukul pula ke depan.

Inilah serangan sekaligus yang sangat luar biasa dan berbahaya sehingga Bu Pun Su sendiri menjadi terkejut. Pendekar sakti ini tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur cepat sekali sambil menggoyang-goyang kepalanya.

“Kau jahat sekali... jahat sekali...” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat keluar dari kelenteng.

Ia sudah merasa puas karena pada saat tangannya menepuk patung-patung tadi, ia telah mengerahkan lweekang-nya sehingga apa bila di sana tersembunyi benda keras seperti pedang mustika, tentu bunyi pedang itu akan terdengar. Namun tadi ia hanya mendengar suara mendengung tanda bahwa di dalam patung itu hanya berisi hawa, maka ia sudah mengerahkan tenaga dan merusak patung itu secara diam-diam.

Dia benci melihat ketiga patung itu, bukan benci kepada orang karena macamnya, akan tetapi benci kalau mengingat betapa tiga orang dari barat ini sudah menguasai Mo-kauw dan menyebarkan pelajaran atau agama baru yang sesat. Di mana ada pendeta-pendeta suci yang menganjurkan pemeluk-pemeluk agamanya memuja dan menyembah mereka sendiri?

Setibanya di luar kelenteng, Bu Pun Su disambut oleh Pek Mo-ko dengan muka merah. “Bu Pun Su kau sudah menghina kami, kau sudah mengotori kelenteng kami yang suci. Meski pun namamu sudah terkenal di seluruh kolong langit, jangan kira bahwa aku Pek Mo-ko takut melawanmu!”

“Habis, kau mau apa?” Bu Pun Su bertanya. “Seperti sudah kukatakan tadi, aku datang buat mencari kitab dan pedang dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang hilang dan terus terang saja aku mencurigai Thian-te Sam-kauwcu. Akan tetapi sayang aku tidak dapat menemukannya di dalam kelenteng ini.”

Terdengar Hek Mo-ko tertawa mengejek. “Kau memang gatal tangan dan suka sekali ikut mencampuri urusan orang lain. Bu Pun Su, setelah kau datang dan mengacau kelenteng kami, sebagai tuan rumah terpaksa kami harus membela diri dari hinaan ini. Kedatangan kalian mengacau kelenteng ini berarti sebuah tantangan, kalau saja kami tidak melayani, bukankah kami akan ditertawai orang? Nah, bersiaplah, kita boleh main-main sebentar.”

Sambil berkata demikian, Hek Mo-ko beserta Pek Mo-ko masing-masing mengeluarkan senjata mereka. Dua orang Iblis Hitam Putih ini amat lihai dan senjata mereka juga bukan senjata sembarangan.

Tangan kanan mereka memegang sebatang pedang yang ujungnya bercabang. Pedang ini bukan saja sangat ampuh dan kuat karena terbuat dari bahan yang baik, akan tetapi juga ujungnya yang bercabang itu dapat digunakan untuk mengait dan merampas serta merusak senjata lawan.

Akan tetapi, betapa pun lihainya pedang di tangan kanan, masih lebih lihai lagi senjata aneh yang berada pada tangan kiri mereka. Senjata ini berupa seuntai tasbeh dari logam hitam.

Tasbeh ini dapat dimainkan begitu saja, akan tetapi sambungannya dapat pula dilepas sehingga merupakan sebuah pian atau senjata rantai yang hebat. Senjata ini juga masih bisa digunakan dengan cara lain, yakni batu-batu tasbeh itu dapat diloloskan keluar dari untaiannya dan dipergunakan sebagai senjata yang berbahaya!

Melihat sikap Hek Pek Mo-ko yang menantang ini, Han Le mendahului suheng-nya. Dia cepat melompat ke depan menghadapi mereka sambil mencabut pedangnya yang jarang keluar dari sarung itu.

“Hek Pek Mo-ko, kalian berdua dan kami pun berdua. Biarlah kita mencoba kepandaian masing-masing, seorang dari pada kalian boleh melawan aku, ada pun yang seorang lagi nanti menghadapi Suheng Bu Pun Su.”

“Hek Pek Mo-ko dua saudara tidak pernah berpisah,” Hek Mo-ko berkata. “Kami sudah bersumpah hidup bersama mati berdua, dalam pertempuran kami selalu maju bersama.”

“Itu tidak adil!” kata Han Le. Dia tidak gentar menghadapi seorang di antara mereka akan tetapi kalau dikeroyok dua, selain berat juga tidak adil.

“Suheng, biarlah sekali ini aku menghadapi dia sendiri!” kata Pek Mo-ko yang berwatak berangasan dan baru saja dia berkata demikian, tasbeh di tangan kirinya sudah bergerak menyambar kepala Han Le.

“Bagus!” seru pengemis sakti ini. Cepat dia mengelak sambil menggerakkan pedangnya yang menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Akan tetapi Pek Mo-ko ternyata memiliki gerakan yang gesit sekali. Tusukan pedang ini segera dia tangkis dengan pedangnya yang berujung aneh itu. Cabang ujung pedangnya menempel dan diputar demikian rupa untuk mengait badan pedang Han Le dan hendak mematahkannya.

Akan tetapi Han Le bukanlah murid Ang-bin Sin-kai kalau ia tidak dapat menghindarkan diri dari serangan lawan ini. Dengan gerakan Sian-jin Khai-in (Dewa Membuka Awan) ia melakukan gerakan ‘membuka’ dari ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat yang diajarkan oleh Ang-bin Sin-kai.

Pedangnya yang terkait itu secara aneh sudah membuka serangan lawan sehingga Pek Mo-ko bukannya dapat merampas atau mematahkan pedang lawannya, bahkan telapak tangannya merasa panas sekali sehingga dia cepat-cepat menarik pulang pedangnya. Sebagai gantinya, kembali tasbeh menyambar ke lambung Han Le.

Han Le terkejut sekali. Tidak disangkanya bahwa lawan ini mampu bergerak secepat itu, cepat melakukan serangan lanjutan begitu serangan pertama ditangkis. Dia lalu memutar pedangnya dan mengerahkan semua tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan yang amat lihai ini. Di lain pihak, secara diam-diam Pek Mo-ko harus mengakui kelihaian kiam-hoat lawannya.

Tidak saja sangat lihai, akan tetapi juga aneh sekali dan memiliki gerakan yang otomatis setiap kali menghadapi desakannya. Ia tentu saja tidak tahu bahwa selain telah mewarisi Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu-ilmu silat tinggi dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai, juga Han Le secara tekun telah mempelajari lukisan-lukisan di Pulau Pek-hio-to sehingga biar pun hanya kulitnya, ia telah sedikit-sedikit mempelajari ilmu-ilmu yang lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng! Pelajaran ini membuat gerakan Han Le menjadi otomatis dan matanya amat tajam dapat mengikuti semua arah tujuan serangan lawan.

Pek Mo-ko menggereng keras. Dua senjatanya yang aneh itu diputar cepat, bertubi-tubi dan berganti-ganti melakukan serangan maut. Namun, dengan pedangnya, Han Le dapat membendung gelombang gerakan serangan ini sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertempur, tidak ada yang terdesak. Kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, namun tingkat mereka boleh dikatakan seimbang sehingga pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang amat seru.

Saking penasaran menghadapi lawan yang sangat tangguh ini, Pek Mo-ko melepaskan sambungan tasbehnya sehingga tasbeh ini kini bukan merupakan lingkaran, akan tetapi menjadi seutas pian yang lemas dan panjang.

Pek Mo-ko beserta suheng-nya telah melakukan ratusan pertempuran dan jarang sekali ada orang yang sanggup mengalahkan mereka. Di sebelah barat atau selatan dari Tibet, mereka berdua merupakan sepasang iblis yang ditakuti dan disegani, bahkan golongan-golongan partai persilatan besar di barat seperti Go-bi-pai dan Kun-lun-pai, semuanya mengakui kelihaian Hek Pek Mo-ko. Akan tetapi kini menghadapi Han Le, Pek Mo-ko tak berdaya, bahkan tidak dapat mendesak, sungguh pun ia tidak dapat dikatakan kalah oleh pengemis sakti itu.

Saking marahnya, dalam jurus ke tujuh puluh, Pek Mo-ko berseru keras dan secepat kilat pedangnya membacok dari kanan ke kiri. Pada saat Han Le mengelak, pedang ini cepat sekali membalik dan menyambar ke leher. Inilah gerakan yang tidak terduga-duga, apa lagi ketika tasbeh yang sudah menjadi pian itu menyambar ke lambung!

Han Le maklum bahwa tidak mungkin dia menghindarkan diri dari dua serangan yang dilakukan sekaligus ini, maka dia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang amat lihai dan keberaniannya yang luar biasa. Pedang yang menyambar lehernya ditangkisnya dengan pedangnya sendiri, sambil mengerahkan tenaga ‘menempel’ sehingga begitu dua pedang itu bertemu lalu tidak dapat terpisah kembali, seakan-akan besi berani dengan besi! Ada pun tasbeh yang menyambar ke lambung kirinya, cepat ditangkis dengan tangan kiri, lalu ia mengerahkan tenaga membetot.

Sekarang keadaan dua orang itu benar-benar aneh. Keduanya tidak bergerak, bagaikan patung dalam kuda-kuda yang amat kuat. Tangan kanan yang memegang pedang saling mendorong akan tetapi tangan kiri yang memegang tasbeh saling membetot.

Pertarungan kini beralih kepada pertarungan tenaga lweekang, tapi bukan pertandingan lweekang yang biasa, karena tenaga pada seluruh tubuh disalurkan menjadi dua bagian, atau terpecah menjadi dua. Sebagian disalurkan ke tangan kanan yang mendorong, dan sebagian lagi disalurkan ke tangan kiri yang menarik! Hal ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang ahli silat yang tenaga lweekang-nya belum tinggi.

Sampai beberapa puluh detik mereka tak bergerak sama sekali, dan nyata sekali bahwa masing-masing mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya untuk mencuri kemenangan. Sekarang sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi, karena siapa yang mundur lebih dulu, banyak bahaya akan menderita luka hebat! Tidak ada jalan lain lagi kecuali mengerahkan tenaga dan mendesak lawan dengan lweekang.

Pertandingan ini berubah menjadi perjuangan mati hidup! Dari kepala dua orang jago ini telah mengepul uap putih, tanda bahwa mereka telah mengerahkan tenaga yang terakhir!

Tiba-tiba saja Hek Mo-ko tertawa bergelak, “Sute, mengapa kau sekarang begini lemah?” katanya. Dengan ringan dan cepat sekali ia telah meloncat di belakang Pek Mo-ko sambil menepuk-nepuk punggungnya seakan-akan orang yang mencela dan menegur.

Akan tetapi Han Le terkejut bukan main, ketika pada saat Hek Mo-ko menepuk punggung sute-nya, ia merasa tubuhnya bergetar dan kuda-kudanya tergempur!

“Hek Mo-ko, tidak malukah engkau?” tiba-tiba Bu Pun Su menegur.

Pendekar sakti ini berdiri di belakang Han Le dengan jarak satu tombak lebih. Dia tidak menghampiri sute-nya untuk membantu, melainkan menggerakkan kedua tangan ke arah sute-nya itu seperti orang mendorong, dan dari kedua tangannya keluar uap putih. Inilah ilmu Pek-in Hoat-sut yang tiada taranya di dunia!

Hek Mo-ko yang masih menempelkan tangan di punggung sute-nya tiba-tiba terdorong oleh tenaga yang amat hebat, yang keluar dari sepasang tangan Han Le, sebaliknya Han Le merasa betapa punggungnya kemasukan hawa hangat yang menyegarkan semangat dan tubuh sehingga ia mengerahkan tenaganya lagi.

Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko hendak mempertahankan diri, namun tenaga bantuan dari Bu Pun Su benar-benar hebat sehingga mereka berteriak keras dan tubuh mereka terlempar ke belakang berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih sampai dua tombak lebih! Pedang dan tasbeh di tangan Pek Mo-ko tadi terlepas dari tangan dan jatuh di tanah, menimpa batu sehingga menimbulkan suara berkerontangan!

Baiknya Bu Pun Su tidak berniat mencelakai kedua orang iblis ini sehingga mereka tidak terluka hebat, hanya Hek Mo-ko yang terkena langsung pembalikan tenaga Pek Mo-ko sehingga wajahnya memucat dan mulutnya menyemburkan darah. Akan tetapi, sesudah mengatur napas dia pun pulih kembali. Sambil memandang dengan terheran-heran, Hek Mo-ko menghadapi Bu Pun Su dengan melompat berdiri.

“Bu Pun Su, kau benar-benar lihai sekali. Aku dan sute-ku terima kalah,” katanya sambil menjura.

Akan tetapi Bu Pun Su tidak mempedulikannya, hanya berpaling kepada Han Le. “Sute, kita tidak mempunyai urusan lagi di sini, mari kita pergi.”

Pada saat kedua orang sakti itu hendak pergi, tiba-tiba saja dari atas genteng kelenteng melayang turun bayangan tubuh yang ramping dan tercium bau yang harum. Tahu-tahu seorang wanita sudah berdiri menghadang Bu Pun Su dan Han Le.

Dua orang sakti ini berdiri bengong, tertegun dan takjub, bukan karena kecantikan yang luar biasa dari gadis itu, melainkan melihat cara gadis itu melompat turun dari genteng seakan-akan melayang atau terbang! Inilah menandakan bahwa ginkang dari gadis ini telah mencapai puncak kesempurnaan. Bahkan Bu Pun Su yang menjadi ahli waris dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan memiliki ginkang yang jauh melebihi kebanyakan ahli silat tinggi, menjadi terheran-heran.

Orang yang melayang turun itu adalah seorang gadis cantik sekali, pakaiannya mewah dan indah, rambutnya yang panjang dan hitam disanggul dalam cara yang amat menarik. Kulit mukanya putih kemerahan, nampak halus dan segar, sepasang matanya bagaikan bintang di langit cerah, bibirnya tersenyum-senyum manis sekali. Pendek kata, selama hidupnya, baik Han Le mau pun Bu Pun Su sendiri, belum pernah melihat seorang gadis secantik ini.

Melihat muka dan potongan badannya, orang akan menaksir bahwa paling banyak gadis ini berusia dua puluh tahun. Akan tetapi orang itu akan terkejut dan tidak mau percaya kalau diberi tahu bahwa gadis ini adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih! Inilah dia murid terpandai sekaligus terkasih dari Thian-te Sam kauwcu, yang disebut Bi Sian-li (Bidadari Cantik) Pek Hoa Pouwsat!

Tadinya Han Le dan Bu Pun Su sendiri tidak dapat menduga siapa adanya gadis ini. Akan tetapi ketika Bu Pun Su melihat setangkai bunga yang bentuknya indah dan aneh, berwarna putih seperti salju menghias rambut yang digelung indah itu, tiba-tiba saja dia teringat. Akan tetapi dia masih ragu-ragu sehingga dia kemudian bertanya,

“Apakah kami berhadapan dengan Pek Hoa Pouwsat?”

Gadis itu tersenyum lebar. Bibirnya merah bergerak-gerak sehingga nampaklah deretan gigi yang bersih dan berkilau seperti mutiara.

“Bu Pun Su sungguh-sungguh bermata tajam sekali, sayang kau terlalu ganas dan gatal tangan sehingga kau berani merusak tiga patung dari guru-guruku. Untuk kedosaan ini kau harus menerima hukuman! Hek Pek Sute, mari kita gempur dia yang telah merusak patung Sam-wi Suhu!”

Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sepasang siang-kiam (sepasang pedang), kemudian tanpa banyak cakap lagi dia segera menggerakkan kedua pedang itu yang meluncur dan menyerang leher dan dada Bu Pun Su!

Hek Pek Mo-ko sudah gentar menghadapi Bu Pun Su dan mereka sudah maklum pula akan kelihaian pendekar sakti ini, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Bu Pun Su telah merusak patung tiga orang suhu dan pemimpin mereka, Hek Pek Mo-ko menjadi marah sekali. Apa lagi sekarang mereka dibantu pula oleh Pek Hoa Pouwsat, maka hati mereka menjadi tabah dan semangat besar. Sambil mengeluarkan suara mengancam, sepasang iblis hitam putih ini lalu menyerbu dan mengeroyok Bu Pun Su.

Melihat suheng-nya dikeroyok, Han Le tentu saja tidak mau tinggal diam. Dia mencabut pedangnya.

Namun tiba-tiba Bu Pun Su berkata, “Simpan kembali pedangmu, Sute. Perempuan ini lihai sekali, kau takkan menang. Biarkan aku menghadapi mereka bertiga, hitung-hitung mengukur kepandaian Thian-te Sam-kauwcu!”

Han Le percaya akan kata-kata suheng-nya, sebab ia memang melihat betapa sepasang pedang dari Pek Hoa Pouwsat itu amat lihai. Sepasang pedang ini bergerak terus susul menyusul dalam serangannya, merupakan serangan berantai yang tiada habisnya. Akan tetapi dia lebih percaya akan kesaktian Bu Pun Su maka dia cepat melompat ke pinggir dan berdiri menonton pertempuran itu dengan hati tenang.

Pertempuran itu berjalan seru sekali, jauh lebih ramai dari pada pertempuran antara Pek Mo-ko dan Han Le tadi. Akan tetapi pertandingan ini sebetulnya berat sebelah. Tidak saja Bu Pun Su dikeroyok tiga, juga ketiga orang lawannya menggunakan senjata pasangan sehingga mereka bertiga menggunakan enam buah senjata, ada pun Bu Pun Su sendiri bertangan kosong!

Akan tetapi di sinilah terlihat kelihaian Pendekar Sakti ini! Tiga orang pengeroyoknya itu merupakan tokoh-tokoh dari tingkat tinggi, bisa dibilang duduk pada tingkatan nomor satu dalam deretan tokoh-tokoh persilatan di masa itu, akan tetapi ia masih dapat menghadapi mereka dengan mengandalkan sepasang tangan berikut ujung lengan baju saja!

Di sini terlihat pula kehebatan dari pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng dan terbukti bahwa ilmu silat Pek-in Hoat-sut yang diciptakan oleh Bu Pun Su benar-benar hebat luar biasa. Menghadapi keroyokan tiga orang lawannya, tidak hanya sepasang lengannya saja yang mengeluarkan uap putih, bahkan seluruh tubuhnya diliputi uap putih yang mengandung tenaga mukjijat.

Patut sekali ilmu silat ini dinamakan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), oleh karena pengaruhnya seperti ilmu sihir saja. Setiap serangan senjata yang digerakkan oleh lawan dengan pengerahan tenaga lweekang tinggi, begitu terbentur oleh sambaran uap putih itu langsung terpental membalik kepada penyerangnya sendiri.

Ini masih belum hebat. Yang membuat Pek Hoa Pouwsat kadang-kadang berseru kaget adalah ketika Bu Pun Su membalasnya dengan serangan yang sama seperti gerakannya sendiri!

Bagaimana Bu Pun Su bisa meniru limu silatnya? Ilmu silat pedang kepunyaan Pek Hoa Pouwsat adalah ilmu asli dari barat, bukan ilmu silat Tiongkok. Sungguh pun sumbernya memang ada hubungan, bahkan boleh dibilang sama, namun perkembangannya sudah demikian berbeda sehingga jauh bedanya apa bila dipandang begitu saja.

Semenjak kecil Pek Hoa Pouwsat hidup di Nepal, bahkan belajar ilmu silat di sana pula, dari Thian-te Sam-kauwcu. Lalu bagaimanakah sekarang Bu Pun Su bisa menyerangnya dengan ilmu silat yang gerakannya serupa?

Dia tidak tahu bahwa inilah kehebatan ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Di dalam ilmu silat yang dipelajarkan oleh kitab rahasia ini, terdapat pelajaran dari pokok gerakan semua ilmu silat dan semua gerakan kaki tangan, sehingga belum tiba serangan lawan, dari gerakan pundak dan pangkal paha saja Bu Pun Su telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawan dalam penyerangannya. Ilmu ini ditambah oleh ketajaman mata dan kecerdikan ingatannya sehingga sekali lihat saja ia sudah dapat pula menangkap inti sari setiap serangan, kemudian dapat melakukan serangan semacam itu pula dengan sama hebatnya, kalau tidak boleh dibilang lebih sempurna lagi!

Di lain pihak Bu Pun Su memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Ilmu pedang ini kelihaiannya tak kalah oleh Hun-khai Kiam-hoat ciptaan Ang-bin Sin-kai, dan dia tadi tidak membohong ketika menyatakan bahwa Han Le tak akan dapat menang dari gadis ini. Juga yang membikin gadis itu sukar dilawan adalah ginkang-nya yang luar biasa, seakan-akan gadis ini benar-benar seorang bidadari yang dapat terbang.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus dan memperhatikan gerakan Pek Hoa Pouwsat, Bu Pun Su baru tahu kenapa gadis itu dapat bergerak sedemikian ringan dan cepatnya. Setiap gerakan yang cepat didahului oleh terbukanya pangkal lengan, dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa di punggung gadis ini, tersembunyi di balik pakaian, terdapat semacam alat yang terisi angin. Agaknya semacam alat penggerak yang mengandung tenaga yang kerjanya seperti sepasang sayap. Memang harus diakui bahwa ginkang dari gadis itu lebih tinggi dari pada Han Le, akan tetapi tanpa bantuan alat tak mungkin gadis itu dapat bergerak seperti terbang!

Dalam menghadapi tiga orang pengeroyoknya ini, Bu Pun Su memang hanya bermaksud menguji kepandaian mereka saja, sama sekali tidak bermaksud melukai atau membunuh mereka. Biar pun tidak mudah baginya, akan tetapi kalau dia mau ia mampu merobohkan tiga orang lawannya ini.

Biar pun demikian, tangkisan-tangkisan dari tenaga Pek-in Hoat-sut telah membuat muka Hek Pek Mo-ko menjadi pucat. Ini adalah akibat dari benturan tenaga Pek-in Hoat-sut yang membuat setiap serangan tenaga lweekang mental kembali dan balik menghantam penyerangnya sendiri.

Tidak demikian dengan Pek Hoa Pouwsat. Gadis ini maklum bahwa dalam hal lweekang ia tidak mampu menandingi Bu Pun Su, maka serangannya dia andalkan pada kegesitan tubuhnya. Tiap tusukan atau sabetan pedangnya hanya dilakukan dengan tenaga lemas sehingga ia tidak terserang oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Dipandang dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa gadis ini jauh lebih cerdik dari pada Hek Pek Mo-ko. Dan juga Bu Pun Su mendapat kenyataan bahwa walau pun kedua iblis itu dalam hal tenaga lweekang lebih kuat dari pada Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi kepandaian gadis ini masih lebih tinggi.

Setelah menyerang sampai enam puluh jurus lebih, tahulah Pek Hoa Pouwsat bahwa dia dan dua orang kawannya tak akan mungkin menangkan Bu Pun Su. Ia telah berkali-kali mengeluarkan hoat-sutnya, berkemak-kemik dan berkali-kali menyebarkan hawa beracun yang berbau harum sekali.

Lain orang apa bila terkena serangan ini pasti akan menjadi lemas dan jatuh pingsan. Akan tetapi berkat hawa Pek-in Hoat-sut, semua serangan ilmu hitam ini buyar tidak ada pengaruhnya terhadap Bu Pun Su!

“Ombak pasang! Buka layar dan mendarati!” tiba-tiba Pek Hoa Pouwsat berseru.

Inilah bahasa rahasia dari perkumpulan mereka dan tiba-tiba saja gadis ini membanting sesuatu di antara dia dan Bu Pun Su. Pendekar sakti ini sudah dapat menduga, maka cepat-cepat ia melompat mundur.

Terdengar ledakan keras. Asap hitam memenuhi tempat itu, membuat pandangan mata menjadi gelap. Setelah asap hitam membuyar, bayangan Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko tidak kelihatan lagi! Sebagai gantinya, di sekeliling tempat itu, penduduk dusun itu telah mengurung Bu Pun Su dan Han Le. Mereka ini membawa senjata dan memandang dengan sikap mengancam!

“Sute, kau pergilah ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, beri tahukan supaya mereka dan semua partai persilatan golongan Beng-kauw agar supaya berhati-hati terhadap Thian-te Sam-kauwcu. Kurasa mereka mengandung maksud kurang baik. Biar aku mencari kitab dan pedang yang hilang!” Sehabis berkata demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari situ.

Semua petani yang sudah dipengaruhi oleh agama baru itu menjadi terheran-heran. Tapi kini mereka mengurung dan mendekati Han Le dengan sikap mengancam, seakan-akan hendak mengeroyoknya.

Han Le tertawa pahit. Kemudian dengan sekali melompat saja, dia pun lenyap melalui atas kepala para pengurungnya sehingga kembali para penduduk dusun itu melongo dan saling pandang!

Bu Pun Su menyelinap ke dalam kelenteng hendak mencari Pek Hoa Pouwsat serta Hek Pek Mo-ko untuk dipaksa mengaku di mana adanya Thian-te Sam-kauwcu, atau di mana adanya kitab dan pedang. Akan tetapi setelah tiba di dalam kelenteng, ia tak melihat lagi bayangan mereka, bahkan dua orang isteri Hek Pek Mo-ko sudah tenyap pula.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

Kita kembali ke dusun Sui-chun yang sungguh pun hanya sebuah dusun namun besar menyerupai kota yang cukup ramai. Di rumah keluarga Song pada malam hari itu amat sunyi. Song Lo-kai, atau kini lebih terkenal dengan sebutan Song-lo-wangwe karena dia memang kaya raya, sudah tidur pulas. Para pelayan juga sudah tidak kelihatan lagi.

Akan tetapi, apa bila orang mau menengok ke dalam taman bunga yang luas di belakang gedung itu, dia akan melihat bahwa di dalam kebun itu masih ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka ini bukan lain adalah Song Bi Li, Ceng Si pelayannya, dan seorang pemuda yang tampan.

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Sun, siucai miskin yang mencinta Bi Li. Atas bantuan Ceng Si pelayan dari nona itu, Cia Sun pada malam hari ini berhasil memasuki taman.

Tadinya Song Bi Li terkejut, marah dan amat khawatir melihat pemuda itu sangat lancang berani memasuki tamannya. Akan tetapi Cia Sun segera menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu!

“Song-siocia, kau benar-benar berhati kejam. Ambillah sebatang pedang dan bunuhlah saja Cia Sun yang miskin dan malang ini. Untuk apa hidup lebih lama lagi di dunia ini?” Demikian Siucai tampan itu menangis.

Song Bi Li yang masih hijau itu tentu saja dapat dikelabuhi dan merasa amat terharu.

“Cia-siucai, kenapa kau begini berduka? Jangan begitu dan kau pergilah, jika Kongkong tahu bahwa kau masuk ke sini, kau tentu akan mendapat kesukaran.”

“Lebih baik diketahui oleh Kongkong-mu agar aku dibunuh! Song-siocia, kau benar-benar kejam sekali. Bagaimana kau dapat menerima pinangan orang lain? Kalau kau menjadi isteri orang lain, bagaimana dengan aku, Cia Sun yang bodoh dan miskin?”

Muka Song Bi Li menjadi merah. Ia bingung dan bibirnya gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Akhirnya Ceng Si yang mewakili nonanya bicara,

“Cia-kongcu, sudahlah, jangan kau terlalu berduka. Nona terpaksa menerima kehendak kongkong-nya karena dalam pernikahan, apakah daya seorang gadis terhadap kehendak orang tua? Ada pun tentang kau, Kongcu, Siocia tentu saja tidak akan melupakan begitu saja. Bahkan Siocia sudah berjanji kepadaku untuk memberi bekal kepadamu agar kau melanjutkan pelajaranmu di kota raja, agar kelak kau bisa menjadi seorang berpangkat.”

Cia Sun menangis lagi. “Bagaimanakah seorang miskin seperti aku ini dapat melanjutkan pelajaran di kota raja? Tidak saja biaya perjalanan ke sana amat besar, juga kehidupan di kota raja amat mahal. Apakah kau ingin aku menjadi seorang pengemis kelaparan di sana?”

“Bukan begitu, Cia-sicu,” kata Bi Li, “Biar pun aku tidak terlalu kaya, akan tetapi kiranya aku akan dapat membantumu. Aku sudah merencanakan hal ini dengan Ceng Si, dan ini ada sedikit uang untuk bekal di perjalanan. Kalau kiranya tidak mencukupi, kelak dengan perantaraan Ceng Si, aku akan dapat membantumu lagi.”

Sambil berkata demikian Bi Li memberi tanda dengan matanya kepada Ceng Si. Pelayan ini kemudian mengeluarkan sekantung uang emas yang memang sudah disediakan oleh nonanya, lalu memberikan kantung itu kepada Cia Sun.

Pemuda itu menerimanya kemudian berpura-pura marah dan berduka. Dia melemparkan kantung uang itu ke atas, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Apa artinya uang bagiku? Apa artinya kalau aku dapat melanjutkan pelajaran sehingga menerima pangkat tinggi sekali pun? Apa artinya hidup tanpa adanya kau di sampingku, Song-siocia? Cinta kasihku tidak semurah ini, tidak akan terbeli oleh harta dunia, takkan dapat ditukar dengan emas segunung Thai-san!”

“Cia-siucai, harap kau dapat berpikir lebih panjang dan jangan membikin susah padaku,” kata Bi Li. “Memang telah menjadi kehendak Thian bahwa di dunia ini kita tidak berjodoh. Harap kau suka menaruh kasihan padaku. Terimalah uang itu dan kelak akan kutambah sewaktu-waktu kau memerlukannya.”

Pada saat itu kelihatan sinar lampu di kamar Kakek Song yang tadinya padam gelap.

“Nah, Loya agaknya bangun...,” kata Ceng Si ketakutan.

“Cia-siucai, lekas pergi, Kongkong bangun...,” kata Bi Li.

Ceng Si mengambil kantung uang itu dan langsung menarik tangan Cia Sun menuju ke pintu taman. Pemuda ini cepat-cepat membawa kantung uang itu dan keluar dari taman.

“Ceng Si, jangan lupa membujuk dia memberikan mainan indah, hiasan rambut berupa kupu-kupu dan bunga cilan yang dia terima dari calon suaminya itu,” katanya perlahan ketika mereka hendak berpisah.

Ceng Si mengangguk. “Asal kau jangan lupa mengawiniku kelak,” jawabnya.

Kemudian pemuda itu menyelinap di dalam gelap, sedangkan Ceng Si kembali ke dalam taman. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah Cia Sun berjalan dengan hati gembira sambil membawa sekantung uang emas itu, tiba-tiba menyambar bayangan yang sangat ringan.

Cia Sun terkejut sekali ketika melihat bayangan orang menyambar turun di depannya dan tercium bau yang amat harum olehnya. Saking kagetnya hampir saja dia berteriak, akan tetapi begitu bayangan itu mengulur tangan dan jari-jari yang halus menyentuh lehernya, pemuda ini tidak dapat mengeluarkan suara apa-apa. Jalan darah Ah-tai-hiat di lehernya telah ditotok! Maka ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.

“Hemm, kau hendak mempermainkan seorang gadis kaya? Bagus sekali, orang macam kau harus dicongkel kedua matanya!” terdengar bentakan yang halus merdu, “Kau rebah dulu di sini, hendak kulihat gadis macam apa dia yang hendak kau permainkan itu.”

Kembali jari-jari halus itu bergerak menotok pundak dan robohlah Cia Sun, roboh dengan tubuh lemas tak dapat bergerak, karena kini jalan darah Thian-hu-hiat yang sudah ditotok secara istimewa sekali.

Cia Sun tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, karena keadaan sangat gelap. Dia hanya tahu bahwa orang itu adalah seorang wanita yang memiliki suara merdu, serta berbau harum sekali.

Perempuan ini tidak lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia telah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan berhasil melarikan diri setelah melepaskan semacam alat peledak yang bisa menimbulkan asap hitam tebal.

Akan tetapi, sesudah melarikan diri beberapa hari kemudian, dia merasa bagaikan selalu dikejar-kejar atau diikuti oleh Bu Pun Su! Sungguh pun ia tidak pernah melihat pendekar sakti ini mengikutinya, tetapi perasaannya selalu tidak enak dan demikianlah, malam hari itu ia terus melanjutkan perjalanannya sampai di dusun Sui-chun.

Melihat rumah gedung Song Lo-kai, dia tertarik dan ingin mencuri masuk dan beristirahat di situ. Secara kebetulan ia lalu melihat pertemuan antara Song Bi Li dan Cia Sun dan kemudian ia membikin pemuda itu tidak berdaya.



Darah Baju Merah Jilid 03

ANG I NIO CU (DARA BAJU MERAH)

Karya Kho Ping Hoo

JILID 03

Bu Pun Su menarik napas panjang, "Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute. Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini sudah menguasai golongan Mo-kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri ini. Mereka adalah orang-orang dari barat, dan kalau mereka berhasil menaklukkan semua orang kang-ouw, dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali, tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Apa kau tidak ingat betapa orang-orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orang-orang kang-ouw berada di bawah kekuasaan ketiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita, bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh kebudayaan asing pula? Ini bukanlah soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu supaya kau suka membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua partai persilatan itu untuk bersama-sama menghadapi mereka itu.”

“Siapa sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu?”

“Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka, akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba terbatas mengenai mereka. Konon mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama bernama atau berjuluk Hek-te-ong (Raja Tanah Hitam), yang ke dua berjuluk Pek-in-ong (Raja Awan Putih) dan yang ke tiga berjuluk Cheng-hai-ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari barat dan begitu datang mereka lalu merobohkan semua tokoh Mo-kauw sehingga para tokoh Mo-kauw itu takluk dan mengangkat mereka menjadi ketua serta menyebut mereka Thian-te Sam-kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit). Selain itu, rnereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi, Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri.”

“Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Suheng?”

“Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid-murid dari Thian-te Sam-kauwcu.”

“Sarang dari muridnya? Di sini?”

“Ya, di lembah Huang-ho di sebelah selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-te Sam-kauwcu menyebarkan anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian mereka, namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-te Sam-kauwcu, aku tak mau berlaku sembrono, lebih menguntungkan kalau kau ikut serta.”

Han Le merasa agak terheran. Dia percaya akan kepandaian suheng-nya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi dari pada kepandaiannya, tapi mengapa suheng-nya mengajaknya?

“Suheng, bukankah kau mengajak aku hanya untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka itu tidak akan disalah tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?”

Bu Pun Su tersenyum. “Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek Mo-ko biar pun menjadi tokoh Mo-kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-kauw yang selalu menjauhkan diri dan menjaga supaya jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan Beng-kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka, maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya.”

Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su. Tempat yang dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di pinggir Sungai Huang-ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil dan kelihatannya menyeramkan. Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun, mereka berjalan biasa saja.

Berturut-turut beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani dan ada pula seperti nelayan, bertemu dengan mereka. Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan curiga. Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam mengikuti Han Le dan Bu Pun Su. Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka pura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.

Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan keadaan rumah-rumah penduduk di sekitarnya yang kecil lagi miskin. Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya, yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah para hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain, akan tetapi orang-orang dusun, lelaki dan perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di dalam kelenteng itu!

Pada waktu melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, mereka ini segera melarikan diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan.

Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le, “Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu.”

Han Le memandang ke dalam kelenteng. Dari pintu yang terbuka, nampak tiga buah arca sebesar manusia, berupa tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti hwesio-hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi besar dan angker. Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, ada pun yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan matanya sipit sekali seperti meram.

“Itulah agaknya patung-patung Thian-te Sam-kauwcu yang dipuja-puja oleh pengikutnya,” kata Bu Pun Su pula kepada Han Le.

Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika dia melihat kedua orang itu. Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar bagai telinga gajah, pakaiannya serba hitam. Ada pun orang yang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus, sedangkan pakaiannya serba putih.

Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, mudah bagi Han Le untuk menduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh yang memiliki kepandaian tinggi. Juga, melihat pakaian mereka biar pun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.

“Ha-ha-ha-ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Taihiap! Benar-benar kami mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan berterima kasih sekali!”

Bu Pun Su dan Han Le tertegun. Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat mengenali mereka? Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam putih ini dan keadaan Bu Pun Su mau pun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga mudah dikenal orang.

Berbeda dengan Hek Mo-ko yang senang tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut dan wajahnya murung.

“Kalian ini orang-orang Beng-kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai orang-orang busuk dari Mo-kauw?” tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang sipit.

Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan dia selalu berbicara dan bertindak secara langsung. Sambil tersenyum ia berkata terus terang,

“Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan sute-ku ini datang ke sini karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-thian yang kini mencengkeram Mo-kauw, tiga orang See-thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula mengenai hilangnya kitab rahasia dari Siauw-lim-pai dan pedang pusaka dari Kun-lun-pai, dan aku juga telah mendengar bahwa banyak tokoh Mo-kauw yang tadinya biar pun berbeda paham dengan Beng-kauw namun tetap menjaga kegagahan, tapi sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis muda, yang tentu saja dipaksanya! Bahkan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah menikah.”

Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya, akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli. Suara ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama semakin meninggi dan nyaring sehingga menyakitkan telinga. Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa lweekang dari Hek Mo-ko ini amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.

“Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-kauw! Ada apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang ketiga guru besar kami sudah datang, mereka sengaja datang dari barat untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha-ha-ha, agaknya kau benar-benar iri hati, apa lagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha-ha-ha!”

“Ngaco!” Han Le membentak marah. “Bagaimana jawabanmu mengenai hilangnya kitab rahasia Siauw-lim-pai dan pedang pusaka Kun-lun-pai?”

Hek Mo-ko memandang kepada Han Le, lalu dia tersenyum sindir. “Hilangnya kitab dan pedang, ada hubungan apakah dengan kami? Kau dan suheng-mu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai.”

“Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!” kata Bu Pun Su.

“Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami...!” kata Pek Mo-ko marah dan dia bergerak untuk menghalangi.

Akan tetapi ia segera melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Mo-ko tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!

Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi mendadak tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko. “Sute, tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!”

Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.

Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng. Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau pembantu Hek Pek Mo-ko, yaitu orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat dan kuat, lantas maju menubruknya.

Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang!

Bu Pun Su tidak pedulikan mereka lagi, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang awas dan tajam sekali. Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kalau kitab serta pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya tidak akan terlepas dari pandang mata pendekar ini.

Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat. Mereka ini tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandangnya dengan mata yang terbelalak.

“Apakah kau isteri Hek Mo-ko?” tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, “Aku isterinya Pek Mo-ko, engkau siapakah berani berlancang memasuki kamarku?” Kemudian wanita ini tertawa menyeringai hingga muka yang tadinya cantik ini berubah seperti muka iblis.

Bu Pun Su berdebar kaget. Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya! Dia tidak bertanya lebih lanjut dan ketika dia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lainnya, dia bertanya pula, “Hemm, kau agaknya isteri Hek Mo ko.”

“Benar,” wanita itu menjawab, “Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?”

Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat menahan hatinya untuk tidak bertanya.

“Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?”

Untuk sejenak wanita itu hanya diam saja, kemudian dia berdiri dan berkata marah, “Kau ini manusia dari manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara sah dan baik-baik, ada sangkut-paut apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?”

Bu Pun Su merasa seperti ditampar pipinya. Mukanya menjadi merah sekali. Inilah hal yang tidak disangka-sangkanya sama sekali dan baru sekarang ini dia melihat atau dapat menduga bahwa isteri Hek Mo-ko ini sedang mengandung.

“Maaf, maaf...,” katanya perlahan dan ia lalu keluar lagi dari kamar itu.

Setelah puas menyelidiki di dalam kelenteng dan tidak mendapatkan sesuatu, dia segera keluar lagi. Setibanya di ruangan luar, dia berdiri menghadapi tiga patung yang sebesar manusia itu.

Buatan patung ini begitu halus hingga benar-benar menyerupai manusia. la memandang kepada wajah patung yang mewakili Thian-te Sam-kauwcu itu untuk memperhatikan tiga orang ini. Mereka benar-benar kelihatan angker dan dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa tiga orang ini bukanlah orang sembarangan.

Tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu. Siapa tahu kalau-kalau dua benda yang dicuri dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai itu disembunyikan di dalam patung-patung ini?

Ia pun melangkah maju dan meraba pundak patung Pek-in-ong yang berdiri di kiri, yakni patung yang tinggi kurus mukanya seperti tengkorak. Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari mulut patung itu menyambar keluar sinar hitam yang menyerang ke arah leher dan muka Bu Pun Su!

Pendekar ini bukan sembarangan ahli silat, melainkan seorang sakti yang telah mewarisi ilmu silat dan ilmu-ilmu aneh dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Seorang ahli silat tinggi lainnya belum tentu dapat menghindarkan serangan tiba-tiba dari mulut patung itu, akan tetapi Bu Pun Su dengan sangat tenang miringkan kepalanya sehingga sinar hitam itu menyambar lewat.

Ia mencium bau yang amat amis, maka diam-diam ia bergidik. Tahulah Bu Pun Su bahwa yang menyambar lewat tadi adalah segenggam jarum-jarum halus berwarna hitam yang mengandung bisa yang amat jahat.

Bu Pun Su tersenyum. Dia maklum bahwa dua patung yang lain tentu mengandung alat rahasia pula, akan tetapi dia bukan Bu Pun Su kalau merasa gentar. Orang lain mungkin akan merasa khawatir dan tidak berani mengganggu dua patung yang lain, akan tetapi Bu Pun Su bahkan tertarik dan ingin sekali mengetahui bagaimana cara dua patung yang lain akan menyerangnya!

Ia mau coba-coba dan ini pun tidak aneh, karena orang seperti Bu Pun Su ini memang sudah biasa menantang dan bermain-main dengan maut! Dia lalu menghampiri patung di kanan, yakni patung dari Ceng-hai-ong yang bertubuh kurus bongkok dan matanya sipit itu.

Dengan tenang Bu Pun Su menepuk pundak patung itu. Dan secepat kilat kedua tangan patung itu bergerak, dengan kukunya yang panjang patung itu mencengkeram ke depan, kedua tangan menyambar dari kanan kiri!

“Aha, kau ahli gulat kiranya!” Bu Pun Su mengejek sambil bergerak melangkahkan kaki mundur, mengelak dari cengkeraman itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari jari-jari tangan itu menyambar keluar benda cair berwarna hijau yang baunya harum! Bu Pun Su kali ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan ujung lengan baju sebelah kiri dari mana keluar tenaga Pek-in Hoat-sut yang mengepulkan uap putih, sehingga benda cair itu terpercik kembali dan membasahi muka patung.

“Hemm, kiranya semua ahli racun yang berbahaya,” pikir Bu Pun Su.

Ia pikir bahwa patung yang berada di tengah, yang amat menyeramkan dan tinggi besar itu, tentulah yang paling lihai. Akan tetapi dia tidak merasa gentar, bahkan gembira dan sambil tersenyum dia melangkah menghampiri patung ini.

“Coba perlihatkan kelihaianmu!” katanya sambil menepuk dada patung tinggi besar ini. Patung ini besar dan tinggi sekali sehingga Bu Pun Su hanya sampai di leher tingginya.

Begitu tangan kanan Bu Pun Su menepuk dada patung, terdengar suara keras dan dada patung itu tiba-tiba terbuka, dari mana keluar menyambar uap hitam yang menyerang ke depan. Ini masih disusul pula dengan bergeraknya kaki kanan patung yang melakukan tendangan kilat ke depan, kemudian dari mata, hidung, telinga serta mulut patung itu menyambar keluar asap hitam sedangkan kedua tangan memukul pula ke depan.

Inilah serangan sekaligus yang sangat luar biasa dan berbahaya sehingga Bu Pun Su sendiri menjadi terkejut. Pendekar sakti ini tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur cepat sekali sambil menggoyang-goyang kepalanya.

“Kau jahat sekali... jahat sekali...” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat keluar dari kelenteng.

Ia sudah merasa puas karena pada saat tangannya menepuk patung-patung tadi, ia telah mengerahkan lweekang-nya sehingga apa bila di sana tersembunyi benda keras seperti pedang mustika, tentu bunyi pedang itu akan terdengar. Namun tadi ia hanya mendengar suara mendengung tanda bahwa di dalam patung itu hanya berisi hawa, maka ia sudah mengerahkan tenaga dan merusak patung itu secara diam-diam.

Dia benci melihat ketiga patung itu, bukan benci kepada orang karena macamnya, akan tetapi benci kalau mengingat betapa tiga orang dari barat ini sudah menguasai Mo-kauw dan menyebarkan pelajaran atau agama baru yang sesat. Di mana ada pendeta-pendeta suci yang menganjurkan pemeluk-pemeluk agamanya memuja dan menyembah mereka sendiri?

Setibanya di luar kelenteng, Bu Pun Su disambut oleh Pek Mo-ko dengan muka merah. “Bu Pun Su kau sudah menghina kami, kau sudah mengotori kelenteng kami yang suci. Meski pun namamu sudah terkenal di seluruh kolong langit, jangan kira bahwa aku Pek Mo-ko takut melawanmu!”

“Habis, kau mau apa?” Bu Pun Su bertanya. “Seperti sudah kukatakan tadi, aku datang buat mencari kitab dan pedang dari Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai yang hilang dan terus terang saja aku mencurigai Thian-te Sam-kauwcu. Akan tetapi sayang aku tidak dapat menemukannya di dalam kelenteng ini.”

Terdengar Hek Mo-ko tertawa mengejek. “Kau memang gatal tangan dan suka sekali ikut mencampuri urusan orang lain. Bu Pun Su, setelah kau datang dan mengacau kelenteng kami, sebagai tuan rumah terpaksa kami harus membela diri dari hinaan ini. Kedatangan kalian mengacau kelenteng ini berarti sebuah tantangan, kalau saja kami tidak melayani, bukankah kami akan ditertawai orang? Nah, bersiaplah, kita boleh main-main sebentar.”

Sambil berkata demikian, Hek Mo-ko beserta Pek Mo-ko masing-masing mengeluarkan senjata mereka. Dua orang Iblis Hitam Putih ini amat lihai dan senjata mereka juga bukan senjata sembarangan.

Tangan kanan mereka memegang sebatang pedang yang ujungnya bercabang. Pedang ini bukan saja sangat ampuh dan kuat karena terbuat dari bahan yang baik, akan tetapi juga ujungnya yang bercabang itu dapat digunakan untuk mengait dan merampas serta merusak senjata lawan.

Akan tetapi, betapa pun lihainya pedang di tangan kanan, masih lebih lihai lagi senjata aneh yang berada pada tangan kiri mereka. Senjata ini berupa seuntai tasbeh dari logam hitam.

Tasbeh ini dapat dimainkan begitu saja, akan tetapi sambungannya dapat pula dilepas sehingga merupakan sebuah pian atau senjata rantai yang hebat. Senjata ini juga masih bisa digunakan dengan cara lain, yakni batu-batu tasbeh itu dapat diloloskan keluar dari untaiannya dan dipergunakan sebagai senjata yang berbahaya!

Melihat sikap Hek Pek Mo-ko yang menantang ini, Han Le mendahului suheng-nya. Dia cepat melompat ke depan menghadapi mereka sambil mencabut pedangnya yang jarang keluar dari sarung itu.

“Hek Pek Mo-ko, kalian berdua dan kami pun berdua. Biarlah kita mencoba kepandaian masing-masing, seorang dari pada kalian boleh melawan aku, ada pun yang seorang lagi nanti menghadapi Suheng Bu Pun Su.”

“Hek Pek Mo-ko dua saudara tidak pernah berpisah,” Hek Mo-ko berkata. “Kami sudah bersumpah hidup bersama mati berdua, dalam pertempuran kami selalu maju bersama.”

“Itu tidak adil!” kata Han Le. Dia tidak gentar menghadapi seorang di antara mereka akan tetapi kalau dikeroyok dua, selain berat juga tidak adil.

“Suheng, biarlah sekali ini aku menghadapi dia sendiri!” kata Pek Mo-ko yang berwatak berangasan dan baru saja dia berkata demikian, tasbeh di tangan kirinya sudah bergerak menyambar kepala Han Le.

“Bagus!” seru pengemis sakti ini. Cepat dia mengelak sambil menggerakkan pedangnya yang menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Akan tetapi Pek Mo-ko ternyata memiliki gerakan yang gesit sekali. Tusukan pedang ini segera dia tangkis dengan pedangnya yang berujung aneh itu. Cabang ujung pedangnya menempel dan diputar demikian rupa untuk mengait badan pedang Han Le dan hendak mematahkannya.

Akan tetapi Han Le bukanlah murid Ang-bin Sin-kai kalau ia tidak dapat menghindarkan diri dari serangan lawan ini. Dengan gerakan Sian-jin Khai-in (Dewa Membuka Awan) ia melakukan gerakan ‘membuka’ dari ilmu pedang Hun-khai Kiam-hoat yang diajarkan oleh Ang-bin Sin-kai.

Pedangnya yang terkait itu secara aneh sudah membuka serangan lawan sehingga Pek Mo-ko bukannya dapat merampas atau mematahkan pedang lawannya, bahkan telapak tangannya merasa panas sekali sehingga dia cepat-cepat menarik pulang pedangnya. Sebagai gantinya, kembali tasbeh menyambar ke lambung Han Le.

Han Le terkejut sekali. Tidak disangkanya bahwa lawan ini mampu bergerak secepat itu, cepat melakukan serangan lanjutan begitu serangan pertama ditangkis. Dia lalu memutar pedangnya dan mengerahkan semua tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan yang amat lihai ini. Di lain pihak, secara diam-diam Pek Mo-ko harus mengakui kelihaian kiam-hoat lawannya.

Tidak saja sangat lihai, akan tetapi juga aneh sekali dan memiliki gerakan yang otomatis setiap kali menghadapi desakannya. Ia tentu saja tidak tahu bahwa selain telah mewarisi Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu-ilmu silat tinggi dari gurunya, yakni Ang-bin Sin-kai, juga Han Le secara tekun telah mempelajari lukisan-lukisan di Pulau Pek-hio-to sehingga biar pun hanya kulitnya, ia telah sedikit-sedikit mempelajari ilmu-ilmu yang lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng! Pelajaran ini membuat gerakan Han Le menjadi otomatis dan matanya amat tajam dapat mengikuti semua arah tujuan serangan lawan.

Pek Mo-ko menggereng keras. Dua senjatanya yang aneh itu diputar cepat, bertubi-tubi dan berganti-ganti melakukan serangan maut. Namun, dengan pedangnya, Han Le dapat membendung gelombang gerakan serangan ini sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertempur, tidak ada yang terdesak. Kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, namun tingkat mereka boleh dikatakan seimbang sehingga pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang amat seru.

Saking penasaran menghadapi lawan yang sangat tangguh ini, Pek Mo-ko melepaskan sambungan tasbehnya sehingga tasbeh ini kini bukan merupakan lingkaran, akan tetapi menjadi seutas pian yang lemas dan panjang.

Pek Mo-ko beserta suheng-nya telah melakukan ratusan pertempuran dan jarang sekali ada orang yang sanggup mengalahkan mereka. Di sebelah barat atau selatan dari Tibet, mereka berdua merupakan sepasang iblis yang ditakuti dan disegani, bahkan golongan-golongan partai persilatan besar di barat seperti Go-bi-pai dan Kun-lun-pai, semuanya mengakui kelihaian Hek Pek Mo-ko. Akan tetapi kini menghadapi Han Le, Pek Mo-ko tak berdaya, bahkan tidak dapat mendesak, sungguh pun ia tidak dapat dikatakan kalah oleh pengemis sakti itu.

Saking marahnya, dalam jurus ke tujuh puluh, Pek Mo-ko berseru keras dan secepat kilat pedangnya membacok dari kanan ke kiri. Pada saat Han Le mengelak, pedang ini cepat sekali membalik dan menyambar ke leher. Inilah gerakan yang tidak terduga-duga, apa lagi ketika tasbeh yang sudah menjadi pian itu menyambar ke lambung!

Han Le maklum bahwa tidak mungkin dia menghindarkan diri dari dua serangan yang dilakukan sekaligus ini, maka dia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang amat lihai dan keberaniannya yang luar biasa. Pedang yang menyambar lehernya ditangkisnya dengan pedangnya sendiri, sambil mengerahkan tenaga ‘menempel’ sehingga begitu dua pedang itu bertemu lalu tidak dapat terpisah kembali, seakan-akan besi berani dengan besi! Ada pun tasbeh yang menyambar ke lambung kirinya, cepat ditangkis dengan tangan kiri, lalu ia mengerahkan tenaga membetot.

Sekarang keadaan dua orang itu benar-benar aneh. Keduanya tidak bergerak, bagaikan patung dalam kuda-kuda yang amat kuat. Tangan kanan yang memegang pedang saling mendorong akan tetapi tangan kiri yang memegang tasbeh saling membetot.

Pertarungan kini beralih kepada pertarungan tenaga lweekang, tapi bukan pertandingan lweekang yang biasa, karena tenaga pada seluruh tubuh disalurkan menjadi dua bagian, atau terpecah menjadi dua. Sebagian disalurkan ke tangan kanan yang mendorong, dan sebagian lagi disalurkan ke tangan kiri yang menarik! Hal ini tidak mampu dilakukan oleh sembarang ahli silat yang tenaga lweekang-nya belum tinggi.

Sampai beberapa puluh detik mereka tak bergerak sama sekali, dan nyata sekali bahwa masing-masing mengerahkan seluruh tenaga lweekang-nya untuk mencuri kemenangan. Sekarang sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi, karena siapa yang mundur lebih dulu, banyak bahaya akan menderita luka hebat! Tidak ada jalan lain lagi kecuali mengerahkan tenaga dan mendesak lawan dengan lweekang.

Pertandingan ini berubah menjadi perjuangan mati hidup! Dari kepala dua orang jago ini telah mengepul uap putih, tanda bahwa mereka telah mengerahkan tenaga yang terakhir!

Tiba-tiba saja Hek Mo-ko tertawa bergelak, “Sute, mengapa kau sekarang begini lemah?” katanya. Dengan ringan dan cepat sekali ia telah meloncat di belakang Pek Mo-ko sambil menepuk-nepuk punggungnya seakan-akan orang yang mencela dan menegur.

Akan tetapi Han Le terkejut bukan main, ketika pada saat Hek Mo-ko menepuk punggung sute-nya, ia merasa tubuhnya bergetar dan kuda-kudanya tergempur!

“Hek Mo-ko, tidak malukah engkau?” tiba-tiba Bu Pun Su menegur.

Pendekar sakti ini berdiri di belakang Han Le dengan jarak satu tombak lebih. Dia tidak menghampiri sute-nya untuk membantu, melainkan menggerakkan kedua tangan ke arah sute-nya itu seperti orang mendorong, dan dari kedua tangannya keluar uap putih. Inilah ilmu Pek-in Hoat-sut yang tiada taranya di dunia!

Hek Mo-ko yang masih menempelkan tangan di punggung sute-nya tiba-tiba terdorong oleh tenaga yang amat hebat, yang keluar dari sepasang tangan Han Le, sebaliknya Han Le merasa betapa punggungnya kemasukan hawa hangat yang menyegarkan semangat dan tubuh sehingga ia mengerahkan tenaganya lagi.

Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko hendak mempertahankan diri, namun tenaga bantuan dari Bu Pun Su benar-benar hebat sehingga mereka berteriak keras dan tubuh mereka terlempar ke belakang berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih sampai dua tombak lebih! Pedang dan tasbeh di tangan Pek Mo-ko tadi terlepas dari tangan dan jatuh di tanah, menimpa batu sehingga menimbulkan suara berkerontangan!

Baiknya Bu Pun Su tidak berniat mencelakai kedua orang iblis ini sehingga mereka tidak terluka hebat, hanya Hek Mo-ko yang terkena langsung pembalikan tenaga Pek Mo-ko sehingga wajahnya memucat dan mulutnya menyemburkan darah. Akan tetapi, sesudah mengatur napas dia pun pulih kembali. Sambil memandang dengan terheran-heran, Hek Mo-ko menghadapi Bu Pun Su dengan melompat berdiri.

“Bu Pun Su, kau benar-benar lihai sekali. Aku dan sute-ku terima kalah,” katanya sambil menjura.

Akan tetapi Bu Pun Su tidak mempedulikannya, hanya berpaling kepada Han Le. “Sute, kita tidak mempunyai urusan lagi di sini, mari kita pergi.”

Pada saat kedua orang sakti itu hendak pergi, tiba-tiba saja dari atas genteng kelenteng melayang turun bayangan tubuh yang ramping dan tercium bau yang harum. Tahu-tahu seorang wanita sudah berdiri menghadang Bu Pun Su dan Han Le.

Dua orang sakti ini berdiri bengong, tertegun dan takjub, bukan karena kecantikan yang luar biasa dari gadis itu, melainkan melihat cara gadis itu melompat turun dari genteng seakan-akan melayang atau terbang! Inilah menandakan bahwa ginkang dari gadis ini telah mencapai puncak kesempurnaan. Bahkan Bu Pun Su yang menjadi ahli waris dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan memiliki ginkang yang jauh melebihi kebanyakan ahli silat tinggi, menjadi terheran-heran.

Orang yang melayang turun itu adalah seorang gadis cantik sekali, pakaiannya mewah dan indah, rambutnya yang panjang dan hitam disanggul dalam cara yang amat menarik. Kulit mukanya putih kemerahan, nampak halus dan segar, sepasang matanya bagaikan bintang di langit cerah, bibirnya tersenyum-senyum manis sekali. Pendek kata, selama hidupnya, baik Han Le mau pun Bu Pun Su sendiri, belum pernah melihat seorang gadis secantik ini.

Melihat muka dan potongan badannya, orang akan menaksir bahwa paling banyak gadis ini berusia dua puluh tahun. Akan tetapi orang itu akan terkejut dan tidak mau percaya kalau diberi tahu bahwa gadis ini adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih! Inilah dia murid terpandai sekaligus terkasih dari Thian-te Sam kauwcu, yang disebut Bi Sian-li (Bidadari Cantik) Pek Hoa Pouwsat!

Tadinya Han Le dan Bu Pun Su sendiri tidak dapat menduga siapa adanya gadis ini. Akan tetapi ketika Bu Pun Su melihat setangkai bunga yang bentuknya indah dan aneh, berwarna putih seperti salju menghias rambut yang digelung indah itu, tiba-tiba saja dia teringat. Akan tetapi dia masih ragu-ragu sehingga dia kemudian bertanya,

“Apakah kami berhadapan dengan Pek Hoa Pouwsat?”

Gadis itu tersenyum lebar. Bibirnya merah bergerak-gerak sehingga nampaklah deretan gigi yang bersih dan berkilau seperti mutiara.

“Bu Pun Su sungguh-sungguh bermata tajam sekali, sayang kau terlalu ganas dan gatal tangan sehingga kau berani merusak tiga patung dari guru-guruku. Untuk kedosaan ini kau harus menerima hukuman! Hek Pek Sute, mari kita gempur dia yang telah merusak patung Sam-wi Suhu!”

Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu dia telah memegang sepasang siang-kiam (sepasang pedang), kemudian tanpa banyak cakap lagi dia segera menggerakkan kedua pedang itu yang meluncur dan menyerang leher dan dada Bu Pun Su!

Hek Pek Mo-ko sudah gentar menghadapi Bu Pun Su dan mereka sudah maklum pula akan kelihaian pendekar sakti ini, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Bu Pun Su telah merusak patung tiga orang suhu dan pemimpin mereka, Hek Pek Mo-ko menjadi marah sekali. Apa lagi sekarang mereka dibantu pula oleh Pek Hoa Pouwsat, maka hati mereka menjadi tabah dan semangat besar. Sambil mengeluarkan suara mengancam, sepasang iblis hitam putih ini lalu menyerbu dan mengeroyok Bu Pun Su.

Melihat suheng-nya dikeroyok, Han Le tentu saja tidak mau tinggal diam. Dia mencabut pedangnya.

Namun tiba-tiba Bu Pun Su berkata, “Simpan kembali pedangmu, Sute. Perempuan ini lihai sekali, kau takkan menang. Biarkan aku menghadapi mereka bertiga, hitung-hitung mengukur kepandaian Thian-te Sam-kauwcu!”

Han Le percaya akan kata-kata suheng-nya, sebab ia memang melihat betapa sepasang pedang dari Pek Hoa Pouwsat itu amat lihai. Sepasang pedang ini bergerak terus susul menyusul dalam serangannya, merupakan serangan berantai yang tiada habisnya. Akan tetapi dia lebih percaya akan kesaktian Bu Pun Su maka dia cepat melompat ke pinggir dan berdiri menonton pertempuran itu dengan hati tenang.

Pertempuran itu berjalan seru sekali, jauh lebih ramai dari pada pertempuran antara Pek Mo-ko dan Han Le tadi. Akan tetapi pertandingan ini sebetulnya berat sebelah. Tidak saja Bu Pun Su dikeroyok tiga, juga ketiga orang lawannya menggunakan senjata pasangan sehingga mereka bertiga menggunakan enam buah senjata, ada pun Bu Pun Su sendiri bertangan kosong!

Akan tetapi di sinilah terlihat kelihaian Pendekar Sakti ini! Tiga orang pengeroyoknya itu merupakan tokoh-tokoh dari tingkat tinggi, bisa dibilang duduk pada tingkatan nomor satu dalam deretan tokoh-tokoh persilatan di masa itu, akan tetapi ia masih dapat menghadapi mereka dengan mengandalkan sepasang tangan berikut ujung lengan baju saja!

Di sini terlihat pula kehebatan dari pelajaran Im-yang Bu-tek Cin-keng dan terbukti bahwa ilmu silat Pek-in Hoat-sut yang diciptakan oleh Bu Pun Su benar-benar hebat luar biasa. Menghadapi keroyokan tiga orang lawannya, tidak hanya sepasang lengannya saja yang mengeluarkan uap putih, bahkan seluruh tubuhnya diliputi uap putih yang mengandung tenaga mukjijat.

Patut sekali ilmu silat ini dinamakan Pek-in Hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih), oleh karena pengaruhnya seperti ilmu sihir saja. Setiap serangan senjata yang digerakkan oleh lawan dengan pengerahan tenaga lweekang tinggi, begitu terbentur oleh sambaran uap putih itu langsung terpental membalik kepada penyerangnya sendiri.

Ini masih belum hebat. Yang membuat Pek Hoa Pouwsat kadang-kadang berseru kaget adalah ketika Bu Pun Su membalasnya dengan serangan yang sama seperti gerakannya sendiri!

Bagaimana Bu Pun Su bisa meniru limu silatnya? Ilmu silat pedang kepunyaan Pek Hoa Pouwsat adalah ilmu asli dari barat, bukan ilmu silat Tiongkok. Sungguh pun sumbernya memang ada hubungan, bahkan boleh dibilang sama, namun perkembangannya sudah demikian berbeda sehingga jauh bedanya apa bila dipandang begitu saja.

Semenjak kecil Pek Hoa Pouwsat hidup di Nepal, bahkan belajar ilmu silat di sana pula, dari Thian-te Sam-kauwcu. Lalu bagaimanakah sekarang Bu Pun Su bisa menyerangnya dengan ilmu silat yang gerakannya serupa?

Dia tidak tahu bahwa inilah kehebatan ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Di dalam ilmu silat yang dipelajarkan oleh kitab rahasia ini, terdapat pelajaran dari pokok gerakan semua ilmu silat dan semua gerakan kaki tangan, sehingga belum tiba serangan lawan, dari gerakan pundak dan pangkal paha saja Bu Pun Su telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh lawan dalam penyerangannya. Ilmu ini ditambah oleh ketajaman mata dan kecerdikan ingatannya sehingga sekali lihat saja ia sudah dapat pula menangkap inti sari setiap serangan, kemudian dapat melakukan serangan semacam itu pula dengan sama hebatnya, kalau tidak boleh dibilang lebih sempurna lagi!

Di lain pihak Bu Pun Su memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat. Ilmu pedang ini kelihaiannya tak kalah oleh Hun-khai Kiam-hoat ciptaan Ang-bin Sin-kai, dan dia tadi tidak membohong ketika menyatakan bahwa Han Le tak akan dapat menang dari gadis ini. Juga yang membikin gadis itu sukar dilawan adalah ginkang-nya yang luar biasa, seakan-akan gadis ini benar-benar seorang bidadari yang dapat terbang.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus dan memperhatikan gerakan Pek Hoa Pouwsat, Bu Pun Su baru tahu kenapa gadis itu dapat bergerak sedemikian ringan dan cepatnya. Setiap gerakan yang cepat didahului oleh terbukanya pangkal lengan, dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa di punggung gadis ini, tersembunyi di balik pakaian, terdapat semacam alat yang terisi angin. Agaknya semacam alat penggerak yang mengandung tenaga yang kerjanya seperti sepasang sayap. Memang harus diakui bahwa ginkang dari gadis itu lebih tinggi dari pada Han Le, akan tetapi tanpa bantuan alat tak mungkin gadis itu dapat bergerak seperti terbang!

Dalam menghadapi tiga orang pengeroyoknya ini, Bu Pun Su memang hanya bermaksud menguji kepandaian mereka saja, sama sekali tidak bermaksud melukai atau membunuh mereka. Biar pun tidak mudah baginya, akan tetapi kalau dia mau ia mampu merobohkan tiga orang lawannya ini.

Biar pun demikian, tangkisan-tangkisan dari tenaga Pek-in Hoat-sut telah membuat muka Hek Pek Mo-ko menjadi pucat. Ini adalah akibat dari benturan tenaga Pek-in Hoat-sut yang membuat setiap serangan tenaga lweekang mental kembali dan balik menghantam penyerangnya sendiri.

Tidak demikian dengan Pek Hoa Pouwsat. Gadis ini maklum bahwa dalam hal lweekang ia tidak mampu menandingi Bu Pun Su, maka serangannya dia andalkan pada kegesitan tubuhnya. Tiap tusukan atau sabetan pedangnya hanya dilakukan dengan tenaga lemas sehingga ia tidak terserang oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Dipandang dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa gadis ini jauh lebih cerdik dari pada Hek Pek Mo-ko. Dan juga Bu Pun Su mendapat kenyataan bahwa walau pun kedua iblis itu dalam hal tenaga lweekang lebih kuat dari pada Pek Hoa Pouwsat, akan tetapi kepandaian gadis ini masih lebih tinggi.

Setelah menyerang sampai enam puluh jurus lebih, tahulah Pek Hoa Pouwsat bahwa dia dan dua orang kawannya tak akan mungkin menangkan Bu Pun Su. Ia telah berkali-kali mengeluarkan hoat-sutnya, berkemak-kemik dan berkali-kali menyebarkan hawa beracun yang berbau harum sekali.

Lain orang apa bila terkena serangan ini pasti akan menjadi lemas dan jatuh pingsan. Akan tetapi berkat hawa Pek-in Hoat-sut, semua serangan ilmu hitam ini buyar tidak ada pengaruhnya terhadap Bu Pun Su!

“Ombak pasang! Buka layar dan mendarati!” tiba-tiba Pek Hoa Pouwsat berseru.

Inilah bahasa rahasia dari perkumpulan mereka dan tiba-tiba saja gadis ini membanting sesuatu di antara dia dan Bu Pun Su. Pendekar sakti ini sudah dapat menduga, maka cepat-cepat ia melompat mundur.

Terdengar ledakan keras. Asap hitam memenuhi tempat itu, membuat pandangan mata menjadi gelap. Setelah asap hitam membuyar, bayangan Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko tidak kelihatan lagi! Sebagai gantinya, di sekeliling tempat itu, penduduk dusun itu telah mengurung Bu Pun Su dan Han Le. Mereka ini membawa senjata dan memandang dengan sikap mengancam!

“Sute, kau pergilah ke Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai, beri tahukan supaya mereka dan semua partai persilatan golongan Beng-kauw agar supaya berhati-hati terhadap Thian-te Sam-kauwcu. Kurasa mereka mengandung maksud kurang baik. Biar aku mencari kitab dan pedang yang hilang!” Sehabis berkata demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari situ.

Semua petani yang sudah dipengaruhi oleh agama baru itu menjadi terheran-heran. Tapi kini mereka mengurung dan mendekati Han Le dengan sikap mengancam, seakan-akan hendak mengeroyoknya.

Han Le tertawa pahit. Kemudian dengan sekali melompat saja, dia pun lenyap melalui atas kepala para pengurungnya sehingga kembali para penduduk dusun itu melongo dan saling pandang!

Bu Pun Su menyelinap ke dalam kelenteng hendak mencari Pek Hoa Pouwsat serta Hek Pek Mo-ko untuk dipaksa mengaku di mana adanya Thian-te Sam-kauwcu, atau di mana adanya kitab dan pedang. Akan tetapi setelah tiba di dalam kelenteng, ia tak melihat lagi bayangan mereka, bahkan dua orang isteri Hek Pek Mo-ko sudah tenyap pula.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

Kita kembali ke dusun Sui-chun yang sungguh pun hanya sebuah dusun namun besar menyerupai kota yang cukup ramai. Di rumah keluarga Song pada malam hari itu amat sunyi. Song Lo-kai, atau kini lebih terkenal dengan sebutan Song-lo-wangwe karena dia memang kaya raya, sudah tidur pulas. Para pelayan juga sudah tidak kelihatan lagi.

Akan tetapi, apa bila orang mau menengok ke dalam taman bunga yang luas di belakang gedung itu, dia akan melihat bahwa di dalam kebun itu masih ada beberapa orang yang sedang bercakap-cakap. Mereka ini bukan lain adalah Song Bi Li, Ceng Si pelayannya, dan seorang pemuda yang tampan.

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Sun, siucai miskin yang mencinta Bi Li. Atas bantuan Ceng Si pelayan dari nona itu, Cia Sun pada malam hari ini berhasil memasuki taman.

Tadinya Song Bi Li terkejut, marah dan amat khawatir melihat pemuda itu sangat lancang berani memasuki tamannya. Akan tetapi Cia Sun segera menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu!

“Song-siocia, kau benar-benar berhati kejam. Ambillah sebatang pedang dan bunuhlah saja Cia Sun yang miskin dan malang ini. Untuk apa hidup lebih lama lagi di dunia ini?” Demikian Siucai tampan itu menangis.

Song Bi Li yang masih hijau itu tentu saja dapat dikelabuhi dan merasa amat terharu.

“Cia-siucai, kenapa kau begini berduka? Jangan begitu dan kau pergilah, jika Kongkong tahu bahwa kau masuk ke sini, kau tentu akan mendapat kesukaran.”

“Lebih baik diketahui oleh Kongkong-mu agar aku dibunuh! Song-siocia, kau benar-benar kejam sekali. Bagaimana kau dapat menerima pinangan orang lain? Kalau kau menjadi isteri orang lain, bagaimana dengan aku, Cia Sun yang bodoh dan miskin?”

Muka Song Bi Li menjadi merah. Ia bingung dan bibirnya gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Akhirnya Ceng Si yang mewakili nonanya bicara,

“Cia-kongcu, sudahlah, jangan kau terlalu berduka. Nona terpaksa menerima kehendak kongkong-nya karena dalam pernikahan, apakah daya seorang gadis terhadap kehendak orang tua? Ada pun tentang kau, Kongcu, Siocia tentu saja tidak akan melupakan begitu saja. Bahkan Siocia sudah berjanji kepadaku untuk memberi bekal kepadamu agar kau melanjutkan pelajaranmu di kota raja, agar kelak kau bisa menjadi seorang berpangkat.”

Cia Sun menangis lagi. “Bagaimanakah seorang miskin seperti aku ini dapat melanjutkan pelajaran di kota raja? Tidak saja biaya perjalanan ke sana amat besar, juga kehidupan di kota raja amat mahal. Apakah kau ingin aku menjadi seorang pengemis kelaparan di sana?”

“Bukan begitu, Cia-sicu,” kata Bi Li, “Biar pun aku tidak terlalu kaya, akan tetapi kiranya aku akan dapat membantumu. Aku sudah merencanakan hal ini dengan Ceng Si, dan ini ada sedikit uang untuk bekal di perjalanan. Kalau kiranya tidak mencukupi, kelak dengan perantaraan Ceng Si, aku akan dapat membantumu lagi.”

Sambil berkata demikian Bi Li memberi tanda dengan matanya kepada Ceng Si. Pelayan ini kemudian mengeluarkan sekantung uang emas yang memang sudah disediakan oleh nonanya, lalu memberikan kantung itu kepada Cia Sun.

Pemuda itu menerimanya kemudian berpura-pura marah dan berduka. Dia melemparkan kantung uang itu ke atas, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Apa artinya uang bagiku? Apa artinya kalau aku dapat melanjutkan pelajaran sehingga menerima pangkat tinggi sekali pun? Apa artinya hidup tanpa adanya kau di sampingku, Song-siocia? Cinta kasihku tidak semurah ini, tidak akan terbeli oleh harta dunia, takkan dapat ditukar dengan emas segunung Thai-san!”

“Cia-siucai, harap kau dapat berpikir lebih panjang dan jangan membikin susah padaku,” kata Bi Li. “Memang telah menjadi kehendak Thian bahwa di dunia ini kita tidak berjodoh. Harap kau suka menaruh kasihan padaku. Terimalah uang itu dan kelak akan kutambah sewaktu-waktu kau memerlukannya.”

Pada saat itu kelihatan sinar lampu di kamar Kakek Song yang tadinya padam gelap.

“Nah, Loya agaknya bangun...,” kata Ceng Si ketakutan.

“Cia-siucai, lekas pergi, Kongkong bangun...,” kata Bi Li.

Ceng Si mengambil kantung uang itu dan langsung menarik tangan Cia Sun menuju ke pintu taman. Pemuda ini cepat-cepat membawa kantung uang itu dan keluar dari taman.

“Ceng Si, jangan lupa membujuk dia memberikan mainan indah, hiasan rambut berupa kupu-kupu dan bunga cilan yang dia terima dari calon suaminya itu,” katanya perlahan ketika mereka hendak berpisah.

Ceng Si mengangguk. “Asal kau jangan lupa mengawiniku kelak,” jawabnya.

Kemudian pemuda itu menyelinap di dalam gelap, sedangkan Ceng Si kembali ke dalam taman. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah Cia Sun berjalan dengan hati gembira sambil membawa sekantung uang emas itu, tiba-tiba menyambar bayangan yang sangat ringan.

Cia Sun terkejut sekali ketika melihat bayangan orang menyambar turun di depannya dan tercium bau yang amat harum olehnya. Saking kagetnya hampir saja dia berteriak, akan tetapi begitu bayangan itu mengulur tangan dan jari-jari yang halus menyentuh lehernya, pemuda ini tidak dapat mengeluarkan suara apa-apa. Jalan darah Ah-tai-hiat di lehernya telah ditotok! Maka ia hanya dapat memandang dengan mata terbelalak.

“Hemm, kau hendak mempermainkan seorang gadis kaya? Bagus sekali, orang macam kau harus dicongkel kedua matanya!” terdengar bentakan yang halus merdu, “Kau rebah dulu di sini, hendak kulihat gadis macam apa dia yang hendak kau permainkan itu.”

Kembali jari-jari halus itu bergerak menotok pundak dan robohlah Cia Sun, roboh dengan tubuh lemas tak dapat bergerak, karena kini jalan darah Thian-hu-hiat yang sudah ditotok secara istimewa sekali.

Cia Sun tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan ini, karena keadaan sangat gelap. Dia hanya tahu bahwa orang itu adalah seorang wanita yang memiliki suara merdu, serta berbau harum sekali.

Perempuan ini tidak lain adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat, murid terkasih dari Thian-te Sam-kauwcu. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia telah dikalahkan oleh Bu Pun Su dan berhasil melarikan diri setelah melepaskan semacam alat peledak yang bisa menimbulkan asap hitam tebal.

Akan tetapi, sesudah melarikan diri beberapa hari kemudian, dia merasa bagaikan selalu dikejar-kejar atau diikuti oleh Bu Pun Su! Sungguh pun ia tidak pernah melihat pendekar sakti ini mengikutinya, tetapi perasaannya selalu tidak enak dan demikianlah, malam hari itu ia terus melanjutkan perjalanannya sampai di dusun Sui-chun.

Melihat rumah gedung Song Lo-kai, dia tertarik dan ingin mencuri masuk dan beristirahat di situ. Secara kebetulan ia lalu melihat pertemuan antara Song Bi Li dan Cia Sun dan kemudian ia membikin pemuda itu tidak berdaya.