Social Items

ANG I NIOCU

(DARA BAJU MERAH)

Karya Kho Ping Hoo

JILID 20

Ang I Niocu memandang kepada pemuda itu dengan tajam dan diam-diam ia harus akui bahwa Liem Sun Hauw adalah seorang pemuda yang bersemangat dan gagah. Pantas saja ayah suka kepada pemuda ini dan hendak menjodohkannya dengan aku, pikirnya. Kebenciannya terhadap pemuda itu makin berkurang saja.

“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe dapat menyetujui jika teecu yang mencoba untuk menangkap penjahat pembunuh Lai Tek-enghiong itu?” tanya Sun Hauw kepada Thian Beng Cu dengan suara mendesak.

Thian Beng Cu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Liem-sicu, kau memang gagah dan kiranya tepat kalau kau yang mencarinya. Untuk hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ang I Niocu tadi, pinto serahkan saja urusan ini kepada pihak Bu-tong-pai. Pinto hanya bisa menyampaikan terima kasih atas maksudmu yang mulia ini, Liem-sicu.”

“Kalau demikian, perkenankan teecu berangkat sekarang untuk membekuk batang leher pembunuh Lai Tek-enghiong!” kata Sun Hauw penuh semangat sambil mengerling pada Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar suara orang, lemah-lembut terdengarnya, “Tidak usah, tidak usah... penjahat itu telah tertangkap...!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di sana berdiri seorang tosu yang usianya kurang lebih lima puluhan tahun, gerak-geriknya halus, akan tetapi sinar matanya tajam berpengaruh.

“Eng Yang Cu-sute... kau baru datang...?” Thian Beng Cu berkata dengan suara girang. “Dan betulkah penjahat itu telah tertangkap?”

Tosu itu bukan lain adalah Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai yang menjadi sute termuda dari Thian Beng Cu dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada semua tokoh Kim-san-pai lainnya, akan tetapi yang selalu merantau. Tosu itu memberi hormat kepada suheng-nya lalu berkata,

“Memang benar, penjahat itu bukan lain adalah Siang-hek-pian (Sepasang Pian Hitam) Bwee Cat. Seperti Suheng tentu masih ingat, dahulu Siang-hek-pian Bwee Cat pernah memusuhi Kim-san-pai dan pernah jatuh oleh siauwte. Agaknya ia mengandung dendam sakit hati dan melihat salah paham yang timbul antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, dia lalu turun tangan, menewaskan muridku Lai Tek kemudian menggunakan nama Bu-tong-pai untuk mengadu domba.”

“Sute yang baik, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua dan bagaimana kau bilang bahwa dia itu sudah tertangkap?” tanya Thian Beng Cu dengan girang, sedangkan wajah Liem Sun Hauw menjadi muram sekali mendengar bahwa penjahat yang menjadi biang keladi pertikaian itu telah tertangkap.

“Dalam perantauan siauwte mendengar mengenai pertikaian antara Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai dan siauwte sudah mendengar pula sebab-sebab pertikaian itu. Siauwte tidak percaya bahwa Bu-tong-pai akan dapat berlaku sekeji itu, maka siauwte teringat kepada Siang-hek-pian Bwee Cat. Apa bila ada orang yang hendak mencelakakan Kim-san-pai, kiranya hanya penjahat itulah yang menaruh dendam dan pernah menjadi pecundang. Siauwte lalu mencarinya dan sesudah berjumpa, betul saja bahwa dia yang melakukan pembunuhan terhadap Lai Tek, katanya untuk memancing siauwte supaya mencarinya. Kami bertempur dan ternyata selama ini ia telah mempertinggi ilmunya sehingga hampir saja siauwte kalah dan celaka dalam tangannya. Tidak heran bila Lai Tek mudah saja ia tewaskan, tidak tahunya penjahat itu sudah berguru lagi semenjak kalah di Kim-san-pai. Masih baik nasib siauwte, pada saat itu datang dua orang bersaudara, yakni Kang Bok Sian dan Kang Eng Sian. Dua orang pendekar muda ini ternyata adalah anak-anak murid Bu-tong-pai dan mereka pun telah mendengar pula tentang pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Dari orang-orang kang-ouw mereka mendengar tentang Siang-hek-pian Bwee Cat yang menyombongkan perbuatannya, yakni sudah membunuh Lai Tek murid Kim-san-pai. Karena dua orang saudara Kang yang gagah perkasa itu telah mendengar pula akan sebab pertikaian kedua partai mereka lalu mengerti bahwa biang keladinya adalah Bwee Cat dan mencarinya. Kebetulan sekali siauwte terdesak dan mereka berdua turun tangan membantu. Barulah penjahat itu dapat dirobohkan, sayang sekali dalam keadaan tewas sehingga tidak mungkin siauwte seret ke sini untuk membuat pengakuan.”

Thian Beng Cu menggeleng-geleng kepalanya. Kemudian ia menoleh kepada para anak muridnya dan kepada tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang berada di situ, lalu berkata dengan suaranya yang halus berpengaruh,

“Kalian para murid-murid Kim-san-pai dan murid-murid Bu-tong-pai dengarlah baik-baik. Penuturan sute-ku Eng Yang Cu ini menjadi cermin bagi kalian. Kalian yang berada di sini ribut-ribut saling menuduh dan saling menyerang menurutkan hati panas. Sebaliknya Eng Yang Cu dan dua orang saudara Kang sebagai murid-murid Kim-san-pai dan Bu-tong-pai yang jauh dari sini, bahkan sudah bekerja sama untuk menangkap penjahat. Murid-murid Kim-san-pai, kalian tirulah sikap susiok kalian ini dan murid-murid Bu-tong-pai harap suka meniru perbuatan kedua saudara Kang yang gagah perkasa.”

Sementara itu, Liem Sun Hauw lalu berkata kepada Thian Beng Cu dengan muka muram,
“Locianpwe, ternyata bahwa teecu seorang yang tidak ada gunanya sama sekali, kalau lebih lama di sini hanya akan mengotorkan tempat saja. Mohon maaf sebanyaknya dan perkenankan teecu pergi. Cuwi Suhu dari Bu-tong-pai, tolong sampaikan rasa hormatku kepada Locianpwe Lo Beng Hosiang di Bu-tong-pai. Nona Ang I Niocu, aku telah banyak melakukan kesalahan terhadapmu, maaf...”

Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Liem Sun Hauw melompat dan pergi dari situ, berlari turun dari lereng Bukit Kim-san-pai.

Semua orang memandang dengan bengong dan diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda tampan dan gagah itu yang sebenarnya bukan bertindak salah, hanya kurang teliti dan kurang hati-hati.

“Saudara Liem, tunggu dulu!” Ang I Niocu berseru dan di lain saat dia sudah melompat sambil berkata, “Totiang, maafkan aku tak dapat lebih lama lagi tinggal di sini!”

Sebelum Ketua Kim-san-pai menjawab, tubuhnya sudah lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebat dan meluncur turun gunung.

“Siapa mereka itu?” tanya Eng Yang Cu kagum sekali melihat kehebatan dua orang muda itu.

“Yang pertama adalah Liem Sun Hauw, murid mendiang Thian Mo Siansu dari Go-bi-pai untuk mendamaikan urusan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Yang ke dua tadi adalah Ang I Niocu, puteri dari Jeng-jiu-sian Kiang Liat, Bu Pun Su adalah susiok-couw-nya dan dia pun datang atas perintah Bu Pun Su untuk maksud yang sama, yakni mendamaikan kedua partai.”

Eng Yang Cu menarik napas panjang. “Ahhh, anak-anak muda sekarang memang hebat. Kepandaian mereka tadi benar lihai, apa lagi nona baju merah tadi, ginkang-nya sudah sampai di tingkat yang melebihi kita...”

Semua yang ada di situ mengangguk-angguk. Sunyi sepi di tempat itu, hanya beberapa kali terdengar suara orang menarik napas panjang.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

Liem Sun Hauw merasa amat malu. Ia kecewa sekali karena usahanya melakukan tugas yang diserahkan kepadanya oleh Twi Mo Siansu selalu menemui kegagalan. Dia bahkan membuat suasana semakin keruh dan sebelum ia dapat menebus kesalahannya, dengan menangkap biang keladi permusuhan, ia telah didahului oleh Eng Yang Cu!

Saking malu dan kecewanya dia lalu meninggalkan Kim-san-pai. Yang membuat dia malu sesungguhnya bukan terhadap orang lain, melainkan terhadap Ang I Niocu. Dia sudah tertarik dan jatuh hati kepada gadis ini, apa lagi setelah dia tahu bahwa gadis itulah yang dicalonkan menjadi isterinya oleh Kiang Liat. Dan sekarang di depan gadis itu ia kelihatan sebagai seorang yang bodoh!

Biar pun ia berlari cepat sekali, sebentar saja ia tersusul oleh Ang I Niocu. Tadi Sun Hauw mendengar suara panggilan Ang I Niocu, akan tetapi ia mengira bahwa gadis yang cantik tapi galak itu akan menyalahkan dan menyindirnya, maka ia tidak mau berhenti sebelum jauh dari para tokoh Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Selain ini dia pun hendak menguji ilmu lari cepat dari gadis itu dan diam-diam dia segera mengerahkan ilmu lari cepat yang paling diandalkan, yakni Liok-te Hui-teng (Lari Seperti Terbang di Atas Bumi), karena ia tahu bahwa gadis itu mengejarnya.

Akan tetapi alangkah kagumnya ketika tak lama kemudian gadis itu sudah menyusulnya. Bayangan merah berkelebat di samping kanannya dan di lain saat gadis itu telah berdiri beberapa tombak jauhnya di sebelah depan, tersenyum menghadang di jalan.

Ang I Niocu sengaja mengejar Sun Hauw karena gadis ini ingin sekali mendengar dari pemuda ini mengenai hubungan ayahnya dengan pemuda ini. Ingin dia mengetahui bagai mana pemuda ini bertemu dengan ayahnya dan bagaimana pula ayahnya sampai punya maksud menjodohkan dia dengan pemuda itu.

Selain ini, ia pun agak menyesal atas sikapnya yang menghina dan keras terhadap Sun Hauw, dan sekarang ternyata bahwa sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang yang menyombongkan kepandaian dan sengaja membantu Bu-tong-pai melakukan penghinaan terhadap Kim-san-pai. Semua pertengkaran yang terjadi hanya timbul diakibatkan kesalah pahaman.

Sungguh pun pada mukanya terbayang kemuraman, namun di dalam hatinya Sun Hauw merasa girang sekali melihat gadis itu. “Nona, apakah kau masih merasa penasaran? Aku sudah mengaku salah dan...”

“Saudara Liem, jangan kau salah sangka. Tadi kau menyebut nama ayahku. Di mana kau pernah bertemu dengan Ayah dan kapankah? Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang Ayah.”

Seketika wajah Sun Hauw berseri, hatinya berdebar-debar girang dan dia menarik napas lega.

“Aku bertemu kemudian berkenalan dengan ayahmu yang gagah perkasa dan mulia itu di Go-bi-san,” dia mulai bercerita, “ketika aku menghadap Susiok Twi Mo Siansu, kebetulan ayahmu datang dan menyampaikan pesan dari Sin-taihiap Bu Pun Su kepada Susiok-ku. Susiok lalu memilih aku untuk berusaha mendamaikan pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai dan hal ini menimbulkan iri hati dan tidak senangnya beberapa orang anak murid Go-bi-pai. Aku sendiri biar pun anak murid Go-bi-pai, akan tetapi suhu-ku adalah seorang perantau dan hampir tidak mempunyai hubungan lagi dengan Go-bi-pai.”

Kemudian Sun Hauw menuturkan bagaimana dia telah diserang oleh tokoh Go-bi-pai Tek Le Tojin dan hampir celaka kalau saja dia tidak ditolong oleh Kiang Liat. Dan bagaimana perjalanannya ke Bu-tong-pai tertunda dan terlambat karena dia singgah di kampungnya dan terpaksa menunda perjalanan ke Bu-tong-san sebab dia harus terlebih dulu merawat ayahnya yang sedang sakit payah. Semua peristiwa ini sudah dituturkan di bagian depan dan kiranya tak perlu diulang pula.

“Demikianlah, Nona. Apakah ayahmu sudah pulang ke Sian-koan dan apakah kau telah bertemu dengan orang tua yang mulia itu?” Sun Hauw menutup penuturannya dan balas bertanya.

Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya mengangguk. Hatinya terasa bagai ditusuk-tusuk karena teringatlah dia akan segala peristiwa antara dia dan ayahnya yang menyebabkan kematian ayahnya.

Sun Hauw makin berdebar. Kalau gadis ini sudah bertemu dengan ayahnya, tentu sudah mendengar pula mengenai maksud pertalian jodoh itu. Matanya bersinar-sinar, mukanya merah ketika ia menatap wajah dara cantik jelita yang berdiri sambil menundukkan muka di depannya itu.

“Syukurlah jika ayahmu telah pulang, Nona. Kuharap saja orang tua yang gagah perkasa itu dalam sehat-sehat dan selamat. Ah, alangkah inginku menghadap Kiang-lo-enghiong, alangkah rindu hatiku bertemu muka dengan dia lagi. Aku amat menghormat dan memuja ayahmu, Nona, selembar nyawaku ini masih bisa berada di dalam tubuhku hanya berkat pertolongan ayahmu.”

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh ini, Ang I Niocu menjadi sangat terharu. Ia meramkan kedua matanya dan merasa hatinya perih sekali. Ketika ia membuka lagi kedua matanya, ia tak dapat menahan air matanya yang mengucur deras. Cepat-cepat ia menggunakan ujung lengan baju untuk menutupi matanya dan mengusap air matanya.

“Ang I Niocu... kau kenapa…? Maafkan kalau aku kesalahan bicara...” Sun Hauw berkata kaget.

Ang I Niocu dapat menekan perasaannya dan kini menjadi tenang kembali. “Saudara Liem, harap kau maafkan kelemahanku. Sebenarnya, perlu kiranya kau ketahui bahwa Ayah telah meninggal dunia tujuh bulan yang lalu.”

Tiba-tiba muka Sun Hauw menjadi pucat dan ia merasa seperti kehilangan semangatnya. Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan biar pun ia tidak mengeluarkan suara, kedua pundaknya bergerak-gerak dan tahulah Ang I Niocu bahwa pemuda ini telah menangis!

Diam-diam ia menjadi terharu hadap pemuda ini, sekarang perasaan benci lenyap dan ia harus mengakui bahwa kecuali mendiang Gan Tiauw Ki, pemuda ini merupakan seorang pemuda pilihan dan baik, yang pernah ditemuinya.

“Gakhu...,” terdengar kata-kata dari mulut pemuda itu, hanya perlahan sekali

Wajah Ang I Niocu menjadi merah sekali ketika mendengar pemuda itu mengeluarkan kata-kata sebutan gakhu (ayah mertua) itu, akan tetapi kata-kata itu diucapkan perlahan sekali dan agaknya pemuda itu menahan hatinya supaya tidak mengeluarkan suara. lagi.

Memang di samping keharuan dan kesedihannya, Sun Hauw juga merasa bimbang dan gelisah. Calon mertuanya sudah meninggal dunia, apakah nona ini sudah tahu tentang perjodohan yang diikat? Bagaimana kalau Nona ini belum diberi tahu oleh ayahnya.

Ingin sekali ia bertanya kepada Ang I Niocu tentang ini, akan tetapi tentu saja ia merasa malu dan sungkan. Sebaliknya ia lalu menenangkan hatinya, diam-diam ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri lagi. Kedua matanya masih basah dan mukanya merah.

“Niocu...,” suaranya serak dan pandang matanya kepada Ang I Niocu penuh perasaan kasih dan iba, “sungguh aku ikut berduka cita dan betapa kaget hatiku mendengar warta yang menyedihkan ini. Niocu, ayahmu demikian sehat dan gagah perkasa ketika bertemu dengan aku, bagaimana ia bisa meninggal dengan mendadak? Apa sebabnya?”

Jika saja masih ada kemarahan dan kebencian dalam hati Ang I Niocu terhadap pemuda ini, tentu dia akan menjawab dengan makian dan tuduhan bahwa pemuda inilah yang menjadi gara-gara kematian ayahnya. Akan tetapi sikap Sun Hauw mendatangkan kesan baik dalam hati Ang I Niocu dan gadis itu hanya menjawab singkat,

“Ayah meninggal karena sakit pada bagian jantungnya.”

Keduanya lalu berdiam diri agak lama. Sun Hauw tidak tahu harus berbuat atau berkata apa untuk menghibur nona itu. Akhirnya ia hanya dapat bertanya dengan perlahan,

“Niocu, apakah... apakah mendiang ayahmu ada meninggalkan sesuatu pesanan untuk aku...?”

Tentu saja Ang I Niocu dapat menangkap maksud dari pertanyaan itu, tentu pemuda ini hendak bertanya tentang maksud perjodohan yang direncanakan ayahnya. Akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan tidak berkata apa-apa.

“Niocu, apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”

Kembali Ang I Niocu menggeleng kepalanya.

“Kau sebatang kara di dunia ini?” pertanyaan ini penuh perasaan iba.

Ang I Niocu mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara karena tahu bahwa suaranya tentu akan gemetar. Pertanyaan-pertanyaan ini telah membangkitkan kesedihan hatinya. Sampai lama Sun Hauw diam saja, penuh bimbang, ragu dan iba.

“Niocu, aku hendak melaporkan urusan Bu-tong-pai dan Kim-san-pai yang sudah selesai itu kepada Susiok di Go-bi-pai, setelah itu aku akan menghadiri pertemuan yang hendak diadakan oleh Sin-taihiap Bu Pun Su. Kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke mana?”

“Aku juga harus menghadiri pertemuan di puncak Gunung Thai-san, seperti yang dipesan oleh Susiok-couw Bu Pun Su.”

Wajah Sun Hauw berseri. “Kalau begitu, Niocu, apa bila kau tak menganggap aku terlalu lancang dan kurang ajar, maukah kau mengijinkan aku mengiringkan perjalananmu? Kita sejalan, dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau dibolehkan melakukan perjalanan bersamamu.”

Karena sikap pemuda itu memang sangat baik dan menyenangkan hatinya, Ang I Niocu tidak merasa keberatan. Di atas dunia ini ia memang hidup sebatang kara, tiada keluarga tiada teman, sekarang ada pemuda yang baik hati dan sopan ini, mengapa dia menolak perjalanan bersama? Sedikitnya dia akan dapat menyelidiki dan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya dari pemuda yang menjadi pilihan ayahnya ini.

Maka berangkatlah dua orang muda itu menuruni Bukit Kim-san dan dengan kepandaian mereka yang tinggi, mereka perjalanan cepat sekali. Sikap Sun Hauw benar-benar amat sopan dan baik sehingga Ang I Niocu makin suka kepadanya, meski pun sukar dikatakan bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya. Sesudah kehilangan ayahnya dan Gan Tiauw Ki, memang amatlah sukar bagi Ang I Niocu untuk dapat mencinta pemuda lain.

Memang Sun Hauw seorang pemuda yang baik dan gagah. Tidak saja dia telah memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi dia juga amat pandai membawa diri. Perjalanan yang selama berbulan-bulan bersama Ang I Niocu menjadi ujian baginya. Walau pun dia sudah tergila-gila kepada Ang I Niocu, mabuk oleh kecantikan gadis ini yang memang sungguh luar biasa sehingga dia mencinta gadis ini dengan sepenuh hati dan perasaannya, tetapi belum pernah dia memperlihatkan sikap yang kurang ajar dan melanggar tata susila.

Bahkan, biar pun sepasang matanya selalu menyorotkan sinar cinta kasih yang berkobar-kobar, tetapi bibirnya tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang perasaan yang terkandung dalam hatinya itu. Tiap malam, kalau Ang I Niocu sudah pulas di dalam kamar lain di penginapan, atau di dalam kamar pada sebuah kelenteng kosong di mana mereka bermalam, Sun Hauw gelisah tak dapat tidur.

Kadang-kadang dia hanya duduk bersandar pada meja sembahyang di dalam kelenteng dan melamun! Tentu saja yang terbayang hanyalah Ang I Niocu yang gagah perkasa dan cantik jelita, dan terbayanglah pula pertemuannya yang pertama kali dengan dara pujaan hatinya itu.

Kadang-kadang pemuda ini menjadi muram wajahnya, penuh kegelisahan dan kedukaan, kalau dia teringat betapa akan sengsara hidupnya kalau gadis itu kelak menolaknya! Dia pun merasa bingung mencari jalan bagaimana untuk bicara dengan Ang I Niocu tentang kehendak mendiang Kiang Liat mengenai tali perjodohan itu.

Oleh karena nama Ang I Niocu sudah mulai terkenal, apa lagi semenjak dia membasmi gerombolan perampok di Bukit Min-san itu, tidak ada penjahat yang berani sembarangan mengganggunya dalam perjalanan itu. Lebih-lebih karena di situ ada Liem Sun Hauw dan pemuda ini yang sudah lama merantau di dunia kang-ouw bersama mendiang suhu-nya, juga merupakan tokoh yang terkenal dan ditakuti penjahat.

Para kaum liok-lim mempunyai mata yang sangat awas dan telinga yang tajam. Mereka tak mau mengganggu orang-orang gagah yang sekiranya malah akan merugikan mereka sendiri.

Ketika mereka tiba di jalan simpangan yang dekat dengan kampung tempat tinggal Sun Hauw, pemuda itu berkata, “Nah, di sinilah jalan yang menuju ke rumah ayahku, Niocu. Kau tentu tidak keberatan apa bila kita singgah sebentar, bukan? Aku harus menengok keadaan Ayah karena ketika kutinggalkan, dia baru saja sembuh dari sakit.”

Hal ini memang sering kali dikemukakan oleh Sun Hauw dalam perjalanan, yakni bahwa pemuda itu hendak singgah di kampung halamannya. Ang I Niocu tidak keberatan dan ia memang ingin sekali melihat keadaan keluarga pemuda ini.

Mereka membelok dan dengan cepat menuju ke kampung Peng-kan-mui. Akan tetapi, ketika mereka sampai di luar kampung itu, tiba-tiba Sun Hauw menghentikan kakinya dan mukanya berubah. Ang I Niocu juga berhenti dan menoleh, memandang heran kepada pemuda itu.

“Mengapa kita berhenti di sini?” tanyanya.

Mendadak Sun Hauw teringat akan sesuatu yang membuat hatinya berdebar cemas dan yang membuatnya tiba-tiba berhenti. Ia teringat akan Siok Lan, gadis yang oleh ayahnya dicalonkan menjadi isterinya!

Ia mengajak Ang I Niocu ke rumahnya, bahkan bermaksud minta kepada ayahnya agar melamar gadis ini sebagai calon isterinya. Namun bagaimana dengan Siok Lan? Karena dahulu ayahnya sudah menetapkan perjodohannya dengan Siok Lan, maka urusan ini menjadi sulit dan harus dipecahkan dengan perlahan.

Kalau ia mengajak Ang I Niocu ke rumah ayahnya, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tak dikehendakinya? Bagaimana kalau andai kata ayahnya marah-marah dan Ang I Niocu mendengar tentang pertunangannya dengan Siok Lan? Bisa ribut dan tentu Ang I Niocu akan tersinggung, akan marah!

“Niocu, baru sekarang aku ingat dan betapa pun besar malu dan kecewaku kepadamu, terpaksa hal ini harus kukemukakan secara terus terang padamu. Kau tahu bahwa Ayah adalah seorang dusun yang kuno dan pendiriannya masih kolot. Kalau tiba-tiba saja aku datang bersama engkau, tentu ia akan menduga yang bukan-bukan dan mengira bahwa aku sudah menyeleweng. Hal ini bukan saja tidak baik bagiku, juga akan menyinggung perasaanmu. Oleh karena itu, aku harap kau sudi memaafkan aku, Niocu. Biarlah nanti aku yang masuk terlebih dahulu, memberi tahukan tentang perjalananku dan mengenai kunjunganmu, agar orang tua itu tidak salah paham dan bisa menyambut kunjunganmu.”

Wajah Ang I Niocu menjadi merah. Akan tetapi bagaimana dia bisa marah? Pemuda ini bicara dengan begitu terus terang dan secara terbuka, sehingga sama sekali tidak dapat disebut menghinanya, bahkan telah melindunginya dari keadaan yang benar-benar akan dapat menyinggung dan menghinanya, misalnya kalau tiba-tiba ayah pemuda itu lantas memaki-maki puteranya di depannya, tentu hal ini akan membuat dia merasa terhina. Oleh karena itu ia pun, tersenyum manis sekali dan berkata,

“Aku mengerti, Saudara Liem. Tidak apa, karena memang aku tidak berhak mengganggu orang tua itu. Kau masuklah ke kampung dan tengok orang tuamu. Biar aku berjalan-jalan di kampung ini melihat-lihat. Kiranya setengah hari cukup untuk melepas rindu kepada ayahmu, bukan? Nah, sekarang masih pagi. Nanti lewat tengah hari kita bertemu pula di luar kampung ini untuk melanjutkan perjalanan.”

Sun Hauw tidak berani banyak membantah. Masuklah dua orang muda itu ke kampung Peng-kan-mui dalam keadaan berpisah. Sun Hauw membelok ke kanan dan Ang I Niocu membelok ke kiri.

Kampung itu besar juga sehingga Ang I Niocu takkan merasa kesepian selama menanti Sun Hauw menyelesaikan kunjungannya ke rumah. Dia berjalan perlahan di sepanjang jalan kampung itu, tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang terheran-heran dan kagum melihatnya.

*****

Di bawah sebatang pohon di belakang rumahnya, Tang Siok Lan berdiri dan termenung. Gadis manis ini kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang membelai-belai batang pohon dengan jari-jari tangannya yang halus. Baru saja ia mendengar warta girang, warta yang dianggapnya paling baik di antara segala berita. Warta tentang datangnya Liem Sun Hauw, kekasih dan tunangannya!

Ia sudah ‘jatuh hati’ kepada Liem Sun Hauw semenjak ia masih kecil! Teringat ia ketika dahulu, sama-sama masih seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun, ia selalu bermain-main dengan Sun Hauw di tempat ini, di kebun rumahnya di mana setiap hari Sun Hauw selalu datang mengajaknya bermain-main.

Semenjak kecilnya, Sun Hauw memang sudah gagah atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi seorang gagah. Sering kali Sun Hauw membuat kuda-kudaan dari batang pohon, lalu berlari-lari ‘naik kuda’ dengan lagak seorang pahlawan berangkat ke medan perang! Dan di tengah jalan ia melambai-lambaikan tangan kepada Siok Lan yang dibalas dengan lambaian tangan pula. Sering kali mereka bermain-main, Sun Hauw menjadi pangeran dan Siok Lan menjadi puterinya, sang pangeran menolong sang puteri yang ditawan oleh penjahat!

Siok Lan tersenyum dan kadang-kadang tertawa kecil menutupi mulut dengan tangannya kalau dia teringat akan semua ini. Sekarang Sun Hauw sudah pulang! Sedangkan ayah Sun Hauw dan ayahnya sendiri sudah setuju bahwa kalau Sun Hauw pulang, pernikahan antara dua orang muda ini akan segera dilangsungkan.

Tiba-tiba pintu belakang rumah itu terbuka dan seorang wanita muda yang cantik juga datang berlari-lari sambil tertawa,

“Siok Lan, kau sedang apa di situ? Mengapa kau tidak lekas-lekas berganti pakaian dan membereskan rambutmu? Sebentar lagi tentu dia akan datang ke sini...!” kata wanita itu yang ternyata adalah kakak ipar dari Siok Lan.

“Ahhh... Soso suka menggoda orang...,” jawab Siok Lan dan mukanya yang putih halus menjadi merah, lesung di atas tahi lalat yang berada di dagu kirinya segera membayang, menambah kemanisannya.

Dua orang wanita ini lalu bersendau-gurau dan Siok Lan digoda terus oleh kakak iparnya. Keduanya tertawa-tawa gembira tidak tahu bahwa tak jauh dari situ dua orang mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

*****

Bila di rumah Siok Lan terjadi hal yang menggembirakan, sebaliknya di rumah Sun Hauw terjadi hal yang ribut. Terdengar ayah pemuda itu berteriak-teriak marah, diselingi suara Sun Hauw yang tenang dan lemah-lembut, agaknya hendak menghibur ayahnya.

Akhirnya dengan suara yang menyatakan kekecewaan, kemarahan, dan kedukaan, ayah pemuda itu berkata, “Sudahlah, Sun Hauw. Kalau kau berkukuh, aku pun tak dapat memaksa, karena kaulah yang akan menikah. Akan tetapi, untuk membatalkan ikatan jodoh dengan keluarga Tang, harus kau sendiri yang datang memberi tahukan. Aku tidak sampai hati, aku tidak tega membikin malu dan susah Siok Lan, anak yang baik itu... Baru saja dia masih demikian lincah gembira... penuh harapan, sekarang kau hendak menghancurkan hatinya...”

“Ayah, sesungguhnya anak pun merasa amat kasihan kepada Siok Lan. Akan tetapi apa daya, Ayah. Anak merasa lebih cocok dan anak mencintai Ang I Niocu, seorang wanita gagah yang lebih sesuai dengan keadaan anak sendiri. Mengenai Siok Lan, biarlah anak anggap sebagai adik sendiri dan kelak anak yang akan mencarikan calon suami.”

“Masa bodoh... masa bodoh... anak muda sekarang memang tidak kenal budi!”

Biar pun secara terpaksa sekali harus mendapat persetujuan ayahnya, Sun Hauw girang juga bahwa akhirnya ayahnya menyerahkan hal perjodohan ini kepadanya. Dia lalu cepat meninggalkan rumahnya dan menuju ke rumah Siok Lan. Ia harus bertindak cepat karena khawatir kalau membuat Ang I Niocu terlalu lama menunggu.

Akan tetapi, sesudah dia sampai di dekat rumah Siok Lan, hatinya merasa berdebar juga. Bagaimana dia harus menyampaikan hal yang amat pahit bagi Siok Lan itu? Lebih baik kusampaikan kepada Siok Lan sendiri, pikirnya.

Untuk menyampaikan hal ini kepada ayah Siok Lan, atau kakak Siok Lan, ia merasa lebih sukar lagi karena hubungannya dengan mereka ini kurang erat. Semenjak kecil memang kakak Siok Lan itu bekerja di kota lain dan pulang-pulang sudah membawa isteri. Akan tetapi kalau dengan Siok Lan, semenjak kecil ia memang sudah kenal baik sehingga biar pun amat berat rasa hati menyampaikan hal yang menghancurkan perasaan gadis itu, namun masih lebih mudah apa bila dibandingkan dengan menyampaikan kepada ayah atau kakaknya.

Ketika Sun Hauw melompati pagar belakang rumah, ternyata dia mendapatkan Siok Lan tengah duduk seorang diri di bawah pohon. Kebetulan sekali, setelah bergurau dengan kakak iparnya yang barusan menggodanya, kakak ipar itu kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga. Siok Lan kemudian melamun seorang diri di dalam kebunnya, mengambil keputusan di dalam hatinya, hanya akan keluar kalau Sun Hauw sudah datang berkunjung ke rumahnya.

Akan tetapi kini ia telah berganti pakaian seperti yang dinasehatkan oleh kakak iparnya tadi, dan rambutnya yang hitam halus dan panjang sudah disisirnya rapi. Mukanya yang jarang dibedaki, karena ia memang bukan seorang pesolek, akan tetapi yang putih dan halus, kini bertambah menarik dengan bedak tipis-tipis, ada pun senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya. Saat-saat seperti ini, menunggu datangnya kekasih hati, memang merupakan saat paling bahagia bagi seorang dara.

Ketika melompat turun ke dalam kebun itu, untuk sesaat Sun Hauw berdiri tertegun. Ia terharu. Teringat ia akan masa kanak-kanak dahulu. Setiap kali dia pun memasuki kebun Siok Lan dengan cara seperti ini. Hanya bedanya, kalau dulu ia masuk menerobos pagar kebun yang rusak, adalah sekarang dengan mudahnya dia dapat melompati pagar tanpa mengeluarkan suara.

“Siok Lan...” Ia memanggil dengan nada suara seperti dahulu ketika masih kecil pula.

Gadis itu terkejut, serasa dalam mimpi. Seperti pada waktu dahulu, dia pun tersenyum, menoleh dan memandang ke Sun Hauw.

“Hauw-ko... kau baru datang...?” Kemudian ia teringat bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka merahlah mukanya dan disambungnya dengan kata. kata itu, “Ehh, mengapa kau datang dari belakang?”

Sun Hauw makin terharu melihat wajah wanita itu tersenyum bahagia, sepasang mata yang sudah dikenalnya baik semenjak kanak-kanak itu berseri seri, akan tetapi ia tidak bisa membalas senyum dan wajahnya nampak muram.

“Aku sengaja datang dari belakang untuk bertemu dan bicara dengan kau, Siok Lan.”

Dia lalu menghampiri gadis itu dan mulai mengucapkan kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkannya di sepanjang jalan tadi.

“Siok Lan, semenjak kita masih kanak-kanak, kita sudah menjadi sahabat baik, bahkan boleh dibilang sudah seperti kakak beradik saja. Oleh karena itu, biarlah sekarang kau anggap aku bicara selaku kakakmu dan bagi aku, lebih baik aku bicara sendiri denganmu dari pada dengan ayah atau kakakmu. Sebagai seorang kakak aku hendak bicara terus terang saja, demi kebaikan kita berdua dan demi kebaikan keluarga kita. Kau tahu bahwa selamanya aku menganggap kau sebagai adikku, karena aku sendiri tidak mempunyai saudara. Akan tetapi, ketika aku pulang tadi, aku mendengar dari Ayah bahwa antara kita telah diikat tali perjodohan.”

Mendengar ini Siok Lan menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali sampai ke telinga dan lehernya. Ia tidak berani bergerak, hanya tersenyum-senyum malu dan ujung kasutnya menggurat-gurat tanah di bawah kaki, hanya itulah gerakan satu-satunya yang ia berani lakukan. Ia merasa malu, jengah, dan juga... girang bukan main.

“Siok Lan, kau sendiri tentu tahu bahwa aku selalu akan merasa gembira dan berterima kasih, bahwa aku tentu akan menerima perjodohan itu dengan tangan dan hati terbuka, karena kau memang seorang yang kutahu amat bijaksana, amat mulia, dan seorang dara pilihan, kalau saja...”

Mendadak wajah menunduk yang kemerahan itu menjadi pucat dan diangkat, sepasang mata yang bingung dan kaget, menatap wajah Sun Hauw bagaikan mata seekor kelinci melihat harimau, membuat Sun Hauw merasa kerongkongannya tersumbat! Akan tetapi pemuda itu mengeraskan hati dan ia harus sanggup mengakhiri kalimat yang paling sulit diucapkannya itu.

“Kalau saja aku belum mempunyai seorang kekasih, Siok Lan. Memang ini salahku. Aku sudah jatuh cinta kepada seorang gadis gagah perkasa bernama Ang I Niocu Kiang Im Giok, dan aku... aku bahkan sudah bertunangan dengan dia, aku pulang untuk meminta Ayah meminangnya, maka tali perjodohan antara kau dan aku ini tentu saja menjadi tak mungkin...! Kau tahu Siok Lan, aku sayang kepadamu seperti seorang kakak menyayang adiknya, dan terhadap Ang I Niocu... dia itu pilihan hatiku, tidak mungkin diganti oleh lain orang...”

Kalau ada geledek yang menyambarnya di saat itu, kiranya Siok Lan takkan begitu kaget seperti ketika mendengar kata-kata ini. Sepasang matanya terbelalak, mukanya pucat, bibirnya gemetar dan bergerak-gerak tanpa mampu mengeluarkan satu patah kata pun, kakinya menggigil dan akhirnya air mata membanjir keluar dibarengi keluhan suaranya,

“Hauw-ko...” dan gadis ini berlari dengan limbung, memasuki rumahnya.

Sun Hauw menarik napas panjang dengan perasaan kasihan bercampur lega. Akhirnya kata-kata itu dapat juga dikeluarkan dan nona itu tentu akan menyampaikannya kepada kakaknya dan ayahnya dan semua bereslah! Ia lalu membalikkan tubuh dan melompati pagar kebun itu, kembali ke rumah ayahnya, untuk menyampaikan bahwa hal itu sudah beres.

Walau pun kebun itu sudah ditinggalkan oleh Siok Lan dan Sun Hauw, akan tetapi orang yang semenjak tadi mengintai di situ masih belum pergi. Ia berdiri bersembunyi, seperti patung, rupa-rupanya terpengaruh oleh semua yang sudah didengarnya, semenjak Siok Lan bergurau dengan kakak iparnya tentang Sun Hauw sampai pertemuan antara Siok Lan dan Sun Hauw.

Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dari dalam rumah sederhana, rumah keluarga Tang itu. Orang yang tadi bersembunyi, cepat sekali berkelebat, berubah menjadi bayangan merah dan di lain saat ia telah naik ke atas genteng rumah itu. Dilihatnya dari atas betapa Siok Lan berlari dikejar oleh kakak dan iparnya.

Bayangan merah di atas genteng hendak melompat turun mengejar, akan tetapi sudah terlambat. Siok Lan sudah sampai di dekat dinding dan dengan sekuat tenaga gadis yang malang ini lantas membenturkan kepalanya pada dinding.

Terdengar suara keras dan gadis itu roboh terkulai, darah mengalir dari pelipisnya, keluar pula dari mulut, hidung, dan matanya yang terbuka lebar tanpa cahaya, mata seorang yang sudah tewas...!

Kakak Siok Lan menggereng-gereng, isterinya menjerit-jerit dan seorang kakek tua, yakni ayah Siok Lan, terbungkuk-bungkuk berlari dari dalam, lalu menubruk jenazah puterinya sambil menangis dan berkata-kata tidak karuan bagaikan orang yang ingatannya sudah berubah, seperti orang gila saking sedihnya.

Bayangan merah itu menggigit bibir dan menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkelebat pergi.

Sun Hauw menjadi terkejut dan menyesal sekali pada saat mendengar tentang perbuatan Siok Lan yang nekad. Tak terasa lagi air matanya turun bertitik, karena betapa pun juga, ia sesungguhnya amat sayang kepada Siok Lan. Kalau di sana tidak ada Ang I Niocu, kiranya ia akan menerima Siok Lan sebagai isteri dengan perasaan gembira dan bahagia.

Ayahnya juga menangis sesenggukan, membanting diri di atas pembaringan sambil terus memaki-maki anaknya, “Sun Hauw, dasar kau manusia tidak kenal budi! Kau sudah melakukan perbuatan yang membikin kotor nama keluarga kita, kau telah melakukan dosa besar sekali oleh karena sesungguhnya kaulah yang membunuh Siok Lan...!”

Setelah memaki-maki, ayah ini berkata, “Kau boleh mencari isteri yang mana saja, akan tetapi bagiku, kau sudah mempunyai isteri Siok Lan! Aku tak akan sudi melamarkan lain orang gadis untuk menjadi isterimu!”

Tentu saja Sun Hauw merasa amat berduka. Akan tetapi, di samping kedukaannya ini, ia pun diam-diam merasa girang karena sekarang perjodohannya dengan Ang I Niocu tidak terhalang oleh apa pun juga lagi! Kalau ayahnya tidak mau meminang, dia dapat minta perantaraan susiok-nya. Memang, seorang yang telah dimabuk cinta kadang kala sampai lupa akan kebajikan, yang diingat hanyalah kesenangan diri sendiri saja.

Sesudah meninggalkan sebagian besar uangnya untuk disumbangkan kepada keluarga Tang, Sun Hauw lalu berpamit kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan. Tak dapat dilukiskan betapa remuk perasaan hati ayahnya. Ayah ini hanya memiliki seorang putera dan sekarang, putera ini telah mengecewakan hatinya, bahkan hanya setengah hari saja pulang, dan hendak pergi lagi.

Sebaliknya, setelah keluar dari rumahnya, Sun Hauw merasa seakan-akan seekor burung terlepas dari sangkar yang sempit. Ia berlari-lari menuju ke luar kampung di mana tadi ia berpisah dari Ang I Niocu. Kemuraman wajahnya yang tadi telah lenyap dan terganti oleh seri penuh harapan dan kegembiraan. Masa depannya penuh madu dan kebahagiaan bersama Ang I Niocu, dara perkasa yang cantik seperti bidadari, mengapa pula ia harus berduka?

Dengan hati gembira ia berlari keluar dari pintu gerbang dusunnya dan dari jauh ia sudah melihat dara baju merah itu menunggu kedatangannya, berdiri tegak dengan gagah dan cantiknya. Gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya bersinar-sinar menatap wajah Sun Hauw.

“'Kuharap aku tidak terlalu lama pergi sehingga kau tidak menjadi kesal hati,” kata Sun Hauw.

“Tidak sama sekali,” jawab Ang I Niocu dengan suara merdu dan sikap menarik sekali. “Saudara Liem, mengapa selama ini kau tak pernah bercerita kepadaku tentang maksud-maksud mendiang ayahku?”

Sun Hauw terkejut, hatinya berdebar. “Apa yang kau maksudkan, Niocu?”

Ang I Niocu tersenyum manis. “Sebelum menutup mata, Ayah telah meninggalkan pesan kepadaku tentang kita.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Sun Hauw. Jadi kalau begitu selama ini Ang I Niocu sudah tahu bahwa dia merupakan pilihan ayahnya? Dan gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia. Ah, kalau begini dapat diharapkan sembilan dari sepuluh bagian cita-citanya terlaksana!

“Jadi kau... kau sudah tahu, Niocu? Aku diam saja karena tidak ingin membikin kau tak enak hati dan malu. Memang, mendiang ayahmu dahulu sudah… mengusulkan tentang... ikatan jodoh antara kita...”

“Saudara Liem, apakah kau suka kepadaku?” Ang I Niocu bertanya, sepasang matanya menatap tajam, mulutnya tetap tersenyum manis.

Diam-diam Sun Hauw terheran-heran juga kenapa gadis ini tidak kelihatan likat atau pun sungkan, dan bicara tentang ikatan jodoh nampaknya demikian biasa!

“Suka kepadamu, Niocu? Ah, kiranya tak perlu kujelaskan dan Niocu yang berpandangan tajam tentu sudah mengetahui akan isi hatiku. Semenjak pertemuan kita yang pertama kali, aku... aku sedetik pun tidak pernah dapat melupakanmu, Niocu. Aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwaku...”

Senyum di mulut Ang I Niocu melebar sehingga nampak sekilas giginya yang putih dan rapi. “Begitukah? Akan tetapi kau harus tahu bahwa sebelum Ayah menyatakan keinginannya supaya aku berjodoh denganmu, aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan pedangku. Nah, Saudara Liem, kalau kau memang benar-benar cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku, coba kau kalahkan pedangku ini!” Sambil berkata demikian Ang I Niocu mencabut pedangnya dan menanti dengan sikap garang.

Tentu saja Liem Sun Hauw menjadi terkejut, tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, melihat senyum Ang I Niocu tadi, hatinya menjadi besar. Melihat gelagatnya, nona ini pun membalas cinta kasihnya. Sudah tentu saja Ang I Niocu memegang harga diri dan mengadakan ‘sayembara’ ini untuk mempertinggi harga dirinya. Akan tetapi kalau nona ini membalas cintanya, masa Ang I Niocu akan bertempur sungguh-sungguh?

Dan pula, andai kata Ang I Niocu bersungguh-sungguh, ia pun tidak takut karena biar pun dalam hal ginkang ia harus mengakui masih kalah oleh nona baju merah ini, akan tetapi dalam ilmu pedang, dia tidak percaya kalau kalah. Dia telah menerima gemblengan dari mendiang Thian Mo Siansu dan telah mempelajari ilmu pedang yang lebih lihai dari pada ilmu pedang Go-bi-pai.

“Begitukah kehendakmu, Niocu? Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,” dia berkata sambil mencabut pedang dan memasang kuda-kuda. Ia sengaja memasang pertahanan untuk memberi kesempatan kepada Ang I Niocu menyerang lebih dulu.

Ang I Niocu tidak sungkan-sungkan lagi. “Lihat pedang!” serunya

Pada lain saat Sun Hauw harus cepat-cepat membuang diri ke kanan sambil menyampok karena pedang gadis itu telah lenyap berubah sinar bagaikan kilat menyambarnya, cepat bukan main.

“Hebat...!” tak terasa lagi Sun Hauw mengeluarkan seruan terkejut.

Kembali sinar pedang di tangan Ang I Niocu menyambarnya. Dalam beberapa jurus Sun Hauw terus terdesak hebat dan serangan-serangan Ang I Niocu benar-benar luar biasa ganasnya. Akan tetapi Sun Hauw tidak mau membalasnya, hanya sedapat mungkin dia memutar pedang untuk melindungi tubuhnya.

“Balaslah, aku paling tidak suka bila melihat orang berlaku mengalah. Memangnya ilmu pedangmu jauh lebih menang?” kata Ang I Niocu. Sambil berkata-kata, dia melanjutkan serangan-serangannya dengan cepat.

Melihat gerakan pedang Ang I Niocu, diam-diam Sun Hauw terkejut sekali dan tahulah ia bahwa gadis itu benar-benar lihai, ada pun ilmu pedangnya amat tinggi tingkatnya, sukar diduga gerak-gerik dan perubahannya. Akan tetapi ia masih percaya penuh bahwa tidak nanti Ang I Niocu mau melukainya, maka sambil tersenyum manis ia berkata,

“Niocu, bagaimana aku berani menyerangmu? Sejak dahulu ayahmu telah memberi tahu bahwa kepandaianmu tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari pada ayahmu sendiri. Pula, pedang tidak bermata, bagaimana aku tega menyerangmu? Kalau sampai kulitmu terluka pedang, bukankah aku akan menyesal setengah mati?”

Ang I Niocu yang tadinya bersikap manis, sekarang mengeluarkan suara ketus. “Orang she Liem, kita dalam pibu, luka atau mati merupakan soal biasa! Aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!”

Sun Hauw masih saja tidak sadar akan perubahan suara ini. Dia masih tersenyum dan berkata manis, “Niocu, aku tidak percaya kau akan melukaiku. Apakah kau tega melihat tunangan sendiri menjadi korban ujung pedangmu? Kalau kau tega, silakan, aku rela mati dalam tangan orang yang paling kucinta...“

Ang I Niocu tidak mampu menahan marahnya lagi. Ia menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan dengan muka merah dia menudingkan pedangnya ke arah muka Sun Hauw.

“Bangsat rendah! Kau kira kau ini orang macam apakah berani sekali bicara seperti itu di depanku? Ketahuilah, buka telingamu lebar-lebar, jangankan kau tidak dapat menangkan pedangku, andai kata kau mampu menangkan juga, belum tentu aku sudi menjadi isteri seorang kejam macam kau!”

Kali ini benar-benar Sun Hauw terkejut. Mukanya berubah pucat ketika ia bertanya, “Ehh, Niocu, mengapa kau marah kepadaku? Apakah kesalahanku?”

“Manusia rendah, kau pandai berpura-pura! Tentu Ayah dahulu juga sudah tertarik oleh gerak-gerik dan kata-katamu yang palsu, menyangka kau seorang baik-baik tak tahunya kau menyimpan hati yang palsu. Apa yang kau sudah lakukan terhadap Siok Lan?”

Sun Hauw merasa semangatnya terbang. “Siok Lan...? Bagaimana kau bisa tahu...?”

Ang I Niocu tersenyum akan tetapi kini senyumnya mengiris jantung, senyum mengejek dan memandang rendah.

“Kau sanggup menghancurkan hati seorang gadis suci seperti Siok Lan, dan kau sudah mempermainkan perasaan cintanya. Kemudian, setelah gadis itu membunuh diri, masih hangat jenazahnya, kau sudah berani beraksi di depanku seolah-olah aku ini kekasihmu. Cih, laki-laki tak tahu malu!” Setelah berkata demikian, dengan sikap menghina sekali Ang I Niocu membalikkan tubuh dan meninggalkan pemuda itu.

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Sun Hauw pada saat itu. Malu dan marah karena terhina, kecewa dan berduka karena cintanya ditolak mentah-mentah, menyesal sekali atas perbuatannya terhadap Siok Lan, semua perasaan ini teraduk-aduk menjadi satu dalam hati dan pikirannya.

Kemudian, melihat Ang I Niocu meninggalkannya, ia mengejar sambil rnembentak, “Ang I Niocu, ayahmu telah menjanjikan aku untuk menjadi suamimu! Apakah kau hendak melanggar janji? Apakah hendak mencemarkan nama baik ayahmu dengan mengingkari janji?”

Tiba-tiba saja Ang I Niocu membalikkan tubuh dan menantangnya dengan pandang mata berapi-api.

“Kau masih berani menyebut-nyebut ayahku? Bangsat rendah, aku tidak membunuh kau seperti anjing saja sudah sangat untung bagimu. Kau berani menuduh aku mengingkari janji? Kaulah yang menipu Ayah, kau sudah bertunangan dengan Siok Lan masih berani menerima uluran tangan Ayah! Kau yang sudah mengingkari janjimu terhadap keluarga Siok Lan. Ada pun aku, aku sama sekali tidak mengingkari janji. Sudah kukatakan tadi bahwa orang yang hendak menjadi suamiku harus dapat mengalahkan pedangku. Nah, sanggupkah kau mengalahkan pedangku?” Kata-kata ini disusul dengan tarikan pedang yang dilintangkan di depan dada dengan gaya menantang sekali.

Hati Sun Hauw yang telah remuk dan putus asa, yang merasa kebahagiaannya jatuh dan hancur berantakan, kini menjadi panas dan membuatnya nekad. Dia rela mati kalau tidak bisa mendapatkan Ang I Niocu sebagai isterinya. Maka cepat dihadapinya Ang I Niocu dengan pedang di tangan dan katanya, “Baiklah, Niocu. Kalau begitu besar keinginanmu hendak mengadu ilmu, mari kulayani kau!”

Sun Hauw kini menerjang dengan sengitnya dan sebentar kemudian dua orang muda itu sudah bertanding dengan seru. Ilmu pedang dari Sun Hauw memang lihai sekali, karena di dalam ilmu pedang yang berdasar pada ilmu pedang Go-bi-pai ini terdapat pukulan-pukulan aneh yang dulu diwarisi oleh Thian Mo Siansu dari orang sakti Hok Peng Taisu. Pedang di tangannya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung, bagai seekor naga mengejar awan.

Namun kini ia menghadapi Ang I Niocu, dara perkasa ahli pedang yang mewarisi ilmu pedang dari keluarga Kiang, kemudian yang sudah menerima petunjuk dari orang sakti Bu Pun Su. Dalam menghadapi pemuda lihai ini, Ang I Nio tidak berani main-main dan cepat memainkan limu pedang Sian-li Kiam-sut yang gerakan-gerakannya sangat indah akan tetapi di dalamnya mengandung tangan maut yang setiap saat mengancam nyawa lawannya.

Setelah mendapat kenyataan betapa tangguh ilmu pedang Ang I Niocu dan bahwa gadis itu benar-benar hendak merobohkan dirinya, Sun Hauw menjadi marah dan hatinya sakit sekali. Dia merasa dipermainkan oleh gadis ini yang tadinya dikira ‘ada hati’ kepadanya. Dengan seluruh tenaga dan kepandaian yang ada padanya, ia tidak sungkan-sungkan lagi dan kini ia benar-benar ingin mengalahkan Ang I Niocu, baik dengan melukainya mau pun kalau perlu membunuhnya!

Pertempuran di luar kampung Peng-kan-mui menjadi semakin seru dan hebat. Beberapa orang kampung yang melihat pertempuran ini memberi kabar kepada lain orang sehingga sebentar saja di tempat itu banyak berkumpul orang kampung. Akan tetapi mereka itu hanya menonton saja, tak ada yang berani mencampuri. Apa lagi dua orang itu bertempur bagaikan telah saling libat dengan sinar pedang, seperti menjadi satu.

Kalau bukan seorang ahli, mana bisa mencampuri mereka? Di samping ini, biar pun Sun Hauw orang kampung itu, akan tetapi ia sudah mendatangkan kesan yang buruk kepada penduduk kampung itu dengan peristiwa yang terjadi pada diri Siok Lan.

Seratus jurus sudah lewat dan mendadak terdengar Ang I Niocu mengeluarkan bentakan nyaring, disusul dengan robohnya tubuh Liem Sun Hauw yang dada kirinya telah tertusuk oleh pedang dara baju merah itu. Aneh sekali, dalam menghadapi maut ini, tiba-tiba Sun Hauw teringat kepada Siok Lan dan seperti dalam mimpi ia berseru, “Siok Lan... kau tunggulah aku...!”

Dan tewaslah ia dengan pedang masih di tangan. Melihat ini, Ang I Niocu merasa terharu juga, terharu karena pemuda ini tewas sebagai akibat mencintainya. Dia menoleh kepada orang-orang kampung yang masih berdiri memandangnya.

“Yang menewaskan Liem Sun Hauw adalah aku, Ang I Niocu. Aku membalaskan sakit hati Nona Siok Lan.” Setelah berkata demikian, Ang I Niocu berjalan pergi dengan langkah tenang dan lambat, akan tetapi anehnya, sebentar saja dia sudah lenyap dari pandangan mata orang-orang kampung.

Ang I Niocu segera menuju ke Thai-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang diadakan oleh susiok-couw-nya. Memang sebetulnya dia tidak diharuskan ke sana, akan tetapi setelah sekarang ia menjadi seorang perantau, peristiwa ini menarik hatinya dan ingin ia melihat dan bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama. Ketika ia tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Thai-san, selagi ia berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba terdengar bentakan!

“Perempuan rendah, sudah lama aku menunggu di sini!”

Dengan tenang Ang I Niocu memandang. Dia melihat Koai-tung Toanio muncul bersama seorang kakek tua yang bermuka hijau. Ang I Niocu maklum bahwa Koai-tung Toanio tentu akan membalas sakit hati karena telah dua kali ia kalahkan, apa lagi akhir-akhir ini ia telah melukai pundak seorang puterinya, bahkan telah membunuh dua orang anaknya yang menjadi anggota Min-san Sam-kui, yakni Kwan Liong dan Kwan Bi Hwa. Karena itu tahulah ia bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian.

Terhadap Koai-tung Toanio dia tidak takut. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek yang menyertai nenek galak itu tentulah seorang berkepandaian tinggi.

“Toanio, kita berjumpa pula di sini. Kali ini apa kehendakmu?” tanya Ang I Niocu tenang akan tetapi siap sedia.

Sementara itu, kakek muka hijau itu semenjak tadi sudah memandang dengan bengong kepada Ang I Niocu.

“Ci Im, inikah nona yang bernama Ang I Niocu?” tanya kakek itu kepada Koai-tung Toanio yang sebetulnya bernama Kwan Ci Im.

“Betul, Susiok. Dia inilah siluman betina yang telah membunuh dua orang anakku,” jawab Koai-tung Toanio penuh kebencian.

“Kau keliru, Ci Im. Dia ini tidak seperti siluman, tapi lebih patut menjadi bidadari. Hemm, alangkah cantik manisnya. Aku telah hidup selama lima puluh tahun lebih, baru sekarang ini melihat seorang wanita secantik ini...! Bukan main...!”

Dapatlah dibayangkan alangkah mendongkol dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar kata-kata bandot tua itu. Dari kata-katanya itu sudah dapat dinilai orang macam apa yang sekarang dia hadapi.

“Anjing-anjing tua yang tidak tahu malu!” makinya sambil mencabut pedangnya. “Kalian menggonggong di sini mau apakah?”

“Setan perempuan, kuhancurkan kepalamu!”

Koai-tung Toanio sudah tak dapat menahan marahnya lagi dan tongkatnya menyambar. Ang I Niocu cepat menangkis sehingga tongkat itu terpental kembali.

“Ci Im, jangan! Biarkan aku menangkapnya. Sayang kalau sampai kulitnya yang putih halus itu lecet oleh tongkatmu! Aku akan menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya. Nona manis, marilah ikut dengan aku!”

Kakek tua bermuka hijau itu melompat maju. Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya seperti cakar setan.

Ang I Niocu marah bukan main. Pedangnya berkelebat membabat dua lengan itu. Kakek itu tertawa bergelak, tangannya disampokkan ke arah pedang.

“Triiing...!”

Kedua pihak kaget. Ang I Niocu terkejut sekali karena pedangnya sudah ditangkis oleh kuku jari-tangan kakek itu! Benar-benar kepandaian yang luar biasa dan hebat. Agaknya kakek ini telah melatih jari tangannya berikut kukunya untuk menghadapi senjata tajam lawan. Di lain pihak, kakek itu pun kaget setengah mati karena bukan saja ia tidak dapat merampas pedang seperti yang ia duga semula, bahkan jari tangannya terasa sakit ketika bertemu dengan pedang.

“Ehh, ehhh, kau ternyata berisi juga, Nona manis. Akan tetapi sekarang bertemu dengan Tiat-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Besi), jangan harap kau dapat berlagak!” Setelah berkata demikian, ia mencabut keluar sebatang golok yang memakai gelangan-gelangan kecil pada punggung golok, gelangan yang dapat mengeluarkan bunyi gemerincing yang gunanya untuk mengacaukan lawan.

Ang I Niocu diam-diam terkejut juga. Ia pernah mendengar nama julukan Tiat-sim Lo-mo ini, yaitu seorang tokoh besar Kong-thong-pai yang menyeleweng dan sudah tidak diakui di partainya. Tiat-sim Lo-mo terkenal sebagai seorang penjahat cabul yang kejam sekali. Di samping ini ia pun sering kali merampok rumah orang dan dalam melakukan semua kejahatan ini, ia bisa berlaku kejam dan membunuh seisi rumah tanpa berkedip mata, dari yang tua sampai anak-anak kecil. Oleh karena itulah maka dia diberi julukan Iblis Tua Berhati Besi untuk menggambarkan betapa kejam hatinya.

“Ahh, kiranya kau iblis jahat. Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan sakit hati puluhan orang yang menjadi korbanmu!” kata Ang I Niocu sambil memainkan pedangnya.

“Ha-ha-ha, kau sendiri akan menjadi korban baru, bagaimana kau akan membalas sakit hati? Ha-ha-ha-ha, lebih baik kau menyerah dengan tenang dari pada harus lecet-lecet kulitmu!”

Ang I Niocu tidak mau melayaninya bicara lagi, pedangnya bergerak hebat dan mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang lihai, Ang I Niocu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Sebetulnya tingkat dari Tiat-sim Lo-mo ini lebih tinggi dari Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena dia seorang pemogoran sehingga lweekang-nya banyak berkurang, pula karena ilmu pedang dari Ang I Niocu memang luar biasa, sebentar saja ia terdesak hebat dan goloknya hanya mampu menangkis saja. Baiknya ia masih mempunyai andalan tangan kirinya yang kadang-kadang melakukan serangan mencengkeram yang berbahaya sekali sehingga Ang I Niocu harus berlaku hati-hati sekali dan tidak mudah merobohkan iblis tua ini.

Melihat Tiat-sim Lo-mo belum juga dapat mendesak, apa lagi mengalahkan Ang I Niocu, Koai-tung Toanio menjadi kecewa bukan main. Nenek ini kemudian menyerbu dengan tongkatnya, membantu Tiat-sim Lo-mo dan mengeroyok Ang I Niocu!

Kali ini Ang I Niocu benar-benar terdesak hebat. Kepandaian nenek bertongkat itu sudah tinggi. Menghadapi kakek muka hijau itu saja sudah amat berat baginya, apa lagi kini nenek itu ikut-ikut mengeroyok. Terpaksa Ang I Niocu mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya melindungi tubuhnya sehingga jangan kata baru senjata lawan, biar angin dan air pun takkan mampu menembus benteng sinar pedangnya!

Akan tetapi, pertempuran seperti ini apa bila dilanjutkan tentu ia akan kalah juga, kalah karena kehabisan tenaga. Ia hanya mampu melindungi diri tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali. Sudah delapan puluh jurus lebih Ang I Niocu bertahan diri. Dia mulai lelah karena untuk menangkis semua serangan kedua lawannya, dia harus mengerahkan tenaga lweekang. Ang I Niocu merasa gemas sekali.

Untuk membalas serangan lawan, ia tidak mampu karena dirinya sudah dikurung hebat. Untuk melarikan diri, memang dapat karena dalam hal ginkang ia masih menang, akan tetapi ia tidak sudi melakukan hal ini. Ia bertahan terus.

Seratus jurus telah lalu dan kini peluh telah membasahi jidat dan leher gadis itu. Tiat-sim Lo-mo sudah tertawa-tawa mengejek dan mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah kemarahan Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Dua orang siluman bangkotan sungguh tidak tahu malu! Ang I Niocu, jangan khawatir, aku datang membantumu!”

Berkelebat bayangan yang gerakannya cepat dan gesit, sebatang pedang menyerang dan menahan tongkat Koai-tung Toanio. Serangan ini cukup kuat dan cepat sehingga terpaksa Koai-tung Toanio meninggalkan Ang I Niocu dan menghadapi lawan baru ini.

Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian sastrawan. Sungguh pun gerak-geriknya lemah, akan tetapi ternyata ilmu pedangnya ini cukup kuat, apalagi tenaga lweekang-nya cukup hebat.

Ang I Niocu melirik dan melihat pemuda tampan ini, ia menjadi heran. Belum pernah ia bertemu dengan pemuda ini, mengapa begitu datang langsung membantunya dan sudah mengenal namanya? Akan tetapi segera nona baju merah ini mengerutkan kening.

Walau pun ia sudah ditinggalkan Koai-tung Toanio sehingga ia kini dapat membalas dan mendesak Tiat-sim Lo-mo, akan tetapi sebaliknya, pemuda itu lalu terdesak oleh tongkat Koai-tung Toanio yang hebat dan ganas. Sekali pandang saja Ang I Niocu sudah dapat mengenal ilmu pedang pemuda itu, yakni ilmu pedang dari Bu-tong-pai, dan biar pun ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi masih belum cukup kuat untuk mengalahkan Koai-tung Toanio.

Di lain pihak, meski pun dia sendiri mengurung lawan dengan sinar pedangnya, ternyata bahwa Tiat-sim Lo-mo benar-benar seorang yang luar biasa. Pengalaman bertempur kakek ini sudah banyak sekali, maka ia tak mudah ditipu oleh gerakan pedang dan dapat menjaga diri dengan baiknya, bahkan kadang-kadang tangan kirinya masih melakukan serangan yang berbahaya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring. “Ha-ha-ha, iblis tua berani mengganggu Sumoi? Ini artinya kau akan segera mampus!”

Berbareng dengan ucapan itu sinar pedang gemerlapan menyambar leher Tiat-sim Lo-mo yang menjadi kaget sekali karena serangan ini benar-benar cepat dan ganas.

“Giok Gan Kui-bo (Biang Iblis Bermata Kemala)!” teriak Koai-tung Toanio ketika ia melihat gadis yang baru datang.

“Enci Kim Lian...!” Ang I Niocu berseru girang dan juga heran.

Dengan majunya Kim Lian mengeroyok Tiat-sim Lo-mo, sebentar saja kakek itu menjadi kewalahan. Walau pun ilmu pedang Kim Lian tidak sehebat ilmu pedang Ang I Niocu, namun memiliki keganasan sesuai dengan wataknya dan dalam lain-lain hal, kepandaian gadis ini hanya kalah sedikit saja oleh sumoi-nya.

Akibat rangsekan dua orang gadis ini, tak lama kemudian pedang Ang I Niocu telah dapat membabat lehernya, dan pedang Kim Lian membabat putus lengan kirinya. Kakek itu roboh tanpa dapat berteriak lagi dan tewas pada saat itu juga!

Ang I Niocu tidak cepat menyambut suci-nya, melainkan terus saja menyerang Koai-tung Toanio, membantu pemuda itu. Mana Koai-tung Toanio dapat menahannya? Dalam lima jurus kemudian, ia pun roboh binasa oleh pedang Ang I Niocu.

Setelah itu, baru Ang I Niocu menoleh kepada suci-nya. Kim Lian tertawa, akan tetapi sepasang mata yang indah sekali itu menjadi basah air mata! Ang I Niocu memandang terharu dan di lain saat dua orang gadis itu saling berpelukan.

“Im Giok... aku bahagia sekali kau sudah pulih kembali, sudah gembira dan bertambah cantik!” kata Song Kim Lian atau dengan julukan baru Giok Gan Kui-bo sambil menatap wajah sumoi-nya.

Sebaliknya, Ang I Niocu juga memperhatikan suci-nya yang sekarang kelihatan pesolek sekali, jauh melebihi dulu. Bahkan sepasang pipi dan bibirnya juga diberi merah-merah! Pakaiannya indah dan terbuat dari sutera mahal. Ang I Niocu teringat akan pemuda itu, lalu ia menoleh dan menghadapinya.

“Tuan siapakah? Sungguh gegabah sekali berani menyerang Koai-tung Toanio. Bila tidak cepat-cepat Suci datang membantu, bukankah kau hanya akan mengantarkan nyawamu dengan cuma-cuma?” tegurnya, akan tetapi suara dan pandang matanya manis.

Pemuda itu menjura dan sepasang matanya yang bening dan menyinarkan watak jujur dan halus itu berseri. “Niocu,” katanya tersenyum, “andai kata aku harus tewas dalam membantumu, aku rela! Aku adalah Kang Ek Sian dan aku mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di Thai-san. Di Bu-tong-pai aku telah banyak mendengar tentang engkau, Niocu, kau sudah berjasa mengakurkan kembali Bu-tong-pai dengan Kim-san-pai. Budimu terlalu besar dan nyawaku tidak berharga dibandingkan itu!”

Mendengar ini, diam-diam Ang I Niocu menjadi senang dan memuji pemuda yang pandai bicara ini. Akan tetapi tiba-tiba Giok Gan Kui-bo membentaknya, “Bocah lancang! Awas, jangan kau berani main gila. Kau telah jatuh cinta pada sumoi-ku, ya? Jangan kau main-main, orang seperti kau ini mana ada harganya untuk mencinta Sumoi?”

“Suci!” Ang I Niocu menegur gadis itu. “Jangan kau bicara sembarangan dan menghina orang tanpa alasan. Kalau Susiok-couw mendengarnya, kau akan menerima hukuman!”

Nama Bu Pun Su sangat ditakuti Kim Lian. Ia menjadi pucat dan menengok ke sana ke mari. “Apakah Susiok-couw berada di sini?” tanyanya.

“Apa kau masih belum tahu?” Ang I Niocu menjawab. “Susiok-couw sedang mengadakan pertemuan di puncak Gunung Thai-san ini. Sewaktu-waktu Susiok-couw bisa muncul di sini. Maka jangan kau bicara sembarangan!”

Song Kim Lian menjadi makin ketakutan. Ia buru-buru pergi sambil berkata, “Aku pergi dulu, Sumoi, ada urusan penting sekali. Biar lain kali kita bertemu kembali.”

Akan tetapi sesudah agak jauh, dia mengamang-ngamangkan tinjunya ke arah Kang Ek Sian sambil berkata, “Awas kau, aku tahu kau tergila-gila pada Sumoi!” Dan di lain saat Giok Gan Kui-bo Song Kim Lian lenyap dari situ.

Kang Ek Sian berdiri seperti patung, mukanya agak pucat. Ang I Niocu merah mukanya dan ia merasa malu sekali atas sikap suci-nya.

“Harap kau suka memaafkan Suci, memang wataknya aneh luar biasa,” katanya kepada pemuda itu.

Kang Ek Sian memandangnya dengan tajam. “Tidak ada yang harus dimaafkan, Niocu. Bahkan aku diam-diam memikirkan apakah kata-katanya itu tidak tepat sekali.”

Kedua mata Ang I Niocu memancarkan api kemarahan, akan tetapi melihat wajah yang jujur dan terbuka itu, ia menahan kemarahannya. Hanya ia merasa mendongkol sekali.

Pada saat yang sama, dua orang laki-laki telah tergila-gila kepadanya. Tadi si tua bangka bermuka hijau itu tergila-gila, sekarang pemuda ini! Akan tetapi selain kedongkolannya, timbul perasaan aneh di dalam hatinya. Perasaan seperti orang gembira dan puas. Puas melihat orang-orang lelaki yang tergila-gila kepadanya karena dia maklum bahwa mereka akan tergila-gila dengan sia-sia belaka, tak akan menerima balasan darinya. Biar mereka itu menjadi korban cinta, pikirnya. Biar laki-laki bodoh itu makan hati, biar sengsara karena kebodohan sendiri telah mabuk oleh cinta, seperti yang sudah pernah ia alami...!

Kang Ek Sian sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang kurang patut, maka ia lalu berkata cepat-cepat, “Maaf, Niocu. Aku... aku hendak mengurus dua jenazah ini lebih dulu.”

Pemuda itu lalu menggali lubang dan mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio. Ang I Niocu melihat semuanya ini dengan hati memuji. Pemuda ini benar-benar seorang yang berbudi luhur, meski pun Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio merupakan penjahat-penjahat keji, akan tetapi sesudah mereka tewas, pemuda itu mau mengubur jenazah mereka. Jarang terdapat pemuda yang demikian baik hati, pikirnya.

“Anak baik, kau siapakah?” tiba-tiba terdengar suara halus.

Belum juga orangnya nampak, Ang I Niocu sudah cepat menjatuhkan diri berlutut dan betul saja tak lama kemudian, tiba-tiba di situ berdiri Bu Pun Su, pendekar sakti yang kini pakaiannya penuh tambalan seperti pengemis. Kakek sakti itu memandang kepada Ang I Niocu yang memberi hormat sambil menyebut, “Susiok-couw!”

Kakek itu mengangguk-angguk senang, lalu menoleh kepada Kang Ek Sian yang sudah selesai dengan pekerjaannya.

Ketika Kang Ek Sian mendengar bahwa kakek ini adalah Sin-taihiap Bu Pun Su, ia cepat menjatuhkan diri memberi hormat dan menjawab, “Boanpwe adalah Kang Ek Sian, murid Bu-tong-pai. Suhu Lo Beng Hosiang menyuruh boanpwe mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di puncak Thai-san. Harap Locianpwe maafkan kalau boanpwe tidak melihat kedatangan Locianpwe sehingga tidak sempat menyambut.”

“Tidak apa, tidak apa. Kau mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio, itu amat baik! Terima kasih, orang muda. Dengarlah, dan kau juga Im Giok, pertemuan di puncak tidak jadi diadakan. Perang sudah meletus, para pemberontak sudah bergerak di sana-sini. Celakanya, banyak orang-orang gagah di dunia kang-ouw membantu mereka! Benar-benar dunia kang-ouw telah terpecah dua dengan adanya pemberontakan ini.” Bu Pun Su menghela napas dan memandang ke angkasa.

“Kehendak Thian, siapakah orangnya dapat membantah? Im Giok, kau jagalah di lereng bukit sebelah barat, tunggu selama tiga hari. Kalau ada orang datang, sampaikan terima kasih dan salamku, dan katakan bahwa pertemuan tak mungkin diadakan karena banyak tokoh-tokoh kang-ouw sudah turun tangan, ikut terjun dalam peperangan. Jadi tidak perlu dirunding-runding lagi. Dan kau, Kang Ek Sian, kau jagalah di lereng timur, jaga sampai tiga hari dan lakukan seperti yang kukatakan kepada Im Giok tadi. Aku sendiri hendak meninjau keadaan di mana terjadi perang supaya rakyat jangan terlalu menderita akibat kerusuhan yang timbul karenanya.”

Dua orang muda yang berlutut itu menyatakan kesanggupan mereka. Pada saat hendak pergi, Bu Pun Su berkata, “Im Giok, kelak kau harus mengawasi baik-baik suci-mu Kim Lian itu. Aku sekarang tidak sempat, sampaikan peringatanku kepadanya supaya dia menjaga langkah hidupnya dan jangan menyeleweng!”

Sebelum Ang I Niocu menjawab, kakek itu berkelebat lenyap! Dua orang muda itu bangkit berdiri, saling pandang dan Kang Ek Sian berkata, “Alangkah besar untungku, dapat bertemu dengan pendekar sakti itu. Niocu, setelah kita melakukan tugas ini selama tiga hari, bolehkah aku menemuimu di lereng barat? Aku merasa bahagia dan terhormat sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, dan sudikah kau menerimaku berkunjung di lereng barat untuk bercakap-cakap?”

Permintaan ini cukup pantas, bagaimana ia dapat menolaknya? ”Apa salahnya? Tentu saja aku suka menerima kunjunganmu, asal saja aku masih ada di sana,” jawabnya menyimpang, kemudian gadis itu berlari cepat menuju ke lereng barat.

Kang Ek Sian memandang ke arah bayangan merah itu dengan bengong, semangat dan hatinya seakan-akan ikut melayang bersama bayangan merah itu.

*****

Benar seperti dugaan Bu Pun Su, hanya sedikit saja orang yang datang mengunjungi puncak Thai-san untuk menghadiri pertemuan. Mereka ini segera turun kembali setelah diberi tahu oleh Ang I Niocu atau Kang Ek Sian. Tak seorang pun di antara mereka berani mengganggu dua orang muda ini karena siapakah orangnya berani main-main terhadap orang kepercayaan Bu Pun Su?

Tiga hari telah lewat dan pada hari ke empat, ketika masih pagi-pagi sekali, Kang Ek Sian telah berlari-lari menuju ke lereng sebelah barat untuk bertemu dengan gadis baju merah yang selama tiga hari tiga malam telah membuat dia tak dapat memejamkan mata barang semenit! Akan tetapi setelah tiba di tempat itu, ia tidak melihat lagi bayangan Ang I Niocu.

“Niocu...!” ia memanggil. Tidak ada jawaban. “Ang I Niocu...!” ia memperkeras suaranya. Hanya kumandangnya saja yang menjawab.

Sambil berseru memanggil-manggil nama gadis yang telah merampas hatinya itu, Kang Ek Sian mencari terus di daerah itu, semakin lama suaranya yang memanggil-manggil nama Ang I Niocu itu makin jauh sampai akhirnya tidak kedengaran lagi.

Bayangan merah berkelebat dari balik gerombolan pohon dan Ang I Niocu berdiri di situ menarik napas panjang berkali-kali. Ia tidak mau mendekati Kang Ek Sian. Pemuda ini orang baik-baik dan memiliki watak yang mulia. Kalau dia dekati, mungkin akan menjadi berubah seperti halnya Liem Sun Hauw.

Bukankah Sun Hauw tadinya juga seorang pemuda gagah perkasa yang berbudi mulia? Akan tetapi menjadi buta dan tidak kenal pribudi setelah tergoda oleh cinta. Ia tidak mau melihat Kang Ek Sian menjadi seperti itu.

Setelah berpikir sebentar, Ang I Niocu segera berlari-lari cepat turun gunung. Tujuannya adalah Pek-tiauw-san (Bukit Rajawali Putih) di mana ia akan mencari telur Rajawali Putih untuk dibuat obat anti tua agar ia tetap cantik jelita seperti Pek Hoa Pouwsat dahulu! Ang I Niocu tidak mau melayani kasih sayang pria, akan tetapi ia pun tidak mau menjadi tua, hendak muda selalu, cantik jelita selalu, dan menjatuhkan hati laki-laki.

Setelah dia mendapatkan telur Pek-tiauw dan meminumnya bersama obat sebagaimana yang diajarkan oleh mendiang Pek Hoa Pouwsat, benar saja Ang I Niocu menjadi makin cantik jelita, mukanya menjadi semakin halus kemerahan dan bercahaya, dan meski pun tahun demi tahun usianya meningkat, namun wajah serta bentuk tubuhnya masih tetap seperti seorang remaja berusia tujuh belas tahun!

Tidak terbilang banyaknya pria yang tergila-gila kepadanya, tua muda, ahli silat dan sastrawan, bangsawan dan petani, hartawan dan miskin. Namun, Ang I Niocu tetap tidak mau menerima seorang di antara mereka, hanya tersenyum makin manis sambil pergi meninggalkan mereka yang kehilangan semangat dan hati, pergi meninggalkan mereka yang bertekuk lutut mengharapkan balasan cintanya. Di samping semua ini, Ang I Niocu tidak lupa melakukan pekerjaan sebagai seorang pendekar wanita menolong orang-orang yang tertindas, membasmi si jahat dan si penindas.

Oleh karena itu beberapa tahun kemudian, nama Ang I Niocu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, kadang-kadang ganas sekali dan tidak mengenal ampun menghadapi penjahat. Seorang pendekar wanita yang cantik jelita seperti bidadari akan tetapi yang berhati batu, dingin membeku tidak pernah menghiraukan segala bujuk rayu kaum pria.


TAMAT

KISAH SELANJUTNYA: PENDEKAR BODOH

Dara Baju Merah Jilid 20

ANG I NIOCU

(DARA BAJU MERAH)

Karya Kho Ping Hoo

JILID 20

Ang I Niocu memandang kepada pemuda itu dengan tajam dan diam-diam ia harus akui bahwa Liem Sun Hauw adalah seorang pemuda yang bersemangat dan gagah. Pantas saja ayah suka kepada pemuda ini dan hendak menjodohkannya dengan aku, pikirnya. Kebenciannya terhadap pemuda itu makin berkurang saja.

“Bagaimana, Locianpwe? Apakah Locianpwe dapat menyetujui jika teecu yang mencoba untuk menangkap penjahat pembunuh Lai Tek-enghiong itu?” tanya Sun Hauw kepada Thian Beng Cu dengan suara mendesak.

Thian Beng Cu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Liem-sicu, kau memang gagah dan kiranya tepat kalau kau yang mencarinya. Untuk hal ini, sebagaimana dinyatakan oleh Ang I Niocu tadi, pinto serahkan saja urusan ini kepada pihak Bu-tong-pai. Pinto hanya bisa menyampaikan terima kasih atas maksudmu yang mulia ini, Liem-sicu.”

“Kalau demikian, perkenankan teecu berangkat sekarang untuk membekuk batang leher pembunuh Lai Tek-enghiong!” kata Sun Hauw penuh semangat sambil mengerling pada Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar suara orang, lemah-lembut terdengarnya, “Tidak usah, tidak usah... penjahat itu telah tertangkap...!”

Tiba-tiba berkelebat bayangan dan tahu-tahu di sana berdiri seorang tosu yang usianya kurang lebih lima puluhan tahun, gerak-geriknya halus, akan tetapi sinar matanya tajam berpengaruh.

“Eng Yang Cu-sute... kau baru datang...?” Thian Beng Cu berkata dengan suara girang. “Dan betulkah penjahat itu telah tertangkap?”

Tosu itu bukan lain adalah Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai yang menjadi sute termuda dari Thian Beng Cu dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari pada semua tokoh Kim-san-pai lainnya, akan tetapi yang selalu merantau. Tosu itu memberi hormat kepada suheng-nya lalu berkata,

“Memang benar, penjahat itu bukan lain adalah Siang-hek-pian (Sepasang Pian Hitam) Bwee Cat. Seperti Suheng tentu masih ingat, dahulu Siang-hek-pian Bwee Cat pernah memusuhi Kim-san-pai dan pernah jatuh oleh siauwte. Agaknya ia mengandung dendam sakit hati dan melihat salah paham yang timbul antara Kim-san-pai dan Bu-tong-pai, dia lalu turun tangan, menewaskan muridku Lai Tek kemudian menggunakan nama Bu-tong-pai untuk mengadu domba.”

“Sute yang baik, bagaimana kau bisa mengetahui ini semua dan bagaimana kau bilang bahwa dia itu sudah tertangkap?” tanya Thian Beng Cu dengan girang, sedangkan wajah Liem Sun Hauw menjadi muram sekali mendengar bahwa penjahat yang menjadi biang keladi pertikaian itu telah tertangkap.

“Dalam perantauan siauwte mendengar mengenai pertikaian antara Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai dan siauwte sudah mendengar pula sebab-sebab pertikaian itu. Siauwte tidak percaya bahwa Bu-tong-pai akan dapat berlaku sekeji itu, maka siauwte teringat kepada Siang-hek-pian Bwee Cat. Apa bila ada orang yang hendak mencelakakan Kim-san-pai, kiranya hanya penjahat itulah yang menaruh dendam dan pernah menjadi pecundang. Siauwte lalu mencarinya dan sesudah berjumpa, betul saja bahwa dia yang melakukan pembunuhan terhadap Lai Tek, katanya untuk memancing siauwte supaya mencarinya. Kami bertempur dan ternyata selama ini ia telah mempertinggi ilmunya sehingga hampir saja siauwte kalah dan celaka dalam tangannya. Tidak heran bila Lai Tek mudah saja ia tewaskan, tidak tahunya penjahat itu sudah berguru lagi semenjak kalah di Kim-san-pai. Masih baik nasib siauwte, pada saat itu datang dua orang bersaudara, yakni Kang Bok Sian dan Kang Eng Sian. Dua orang pendekar muda ini ternyata adalah anak-anak murid Bu-tong-pai dan mereka pun telah mendengar pula tentang pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai. Dari orang-orang kang-ouw mereka mendengar tentang Siang-hek-pian Bwee Cat yang menyombongkan perbuatannya, yakni sudah membunuh Lai Tek murid Kim-san-pai. Karena dua orang saudara Kang yang gagah perkasa itu telah mendengar pula akan sebab pertikaian kedua partai mereka lalu mengerti bahwa biang keladinya adalah Bwee Cat dan mencarinya. Kebetulan sekali siauwte terdesak dan mereka berdua turun tangan membantu. Barulah penjahat itu dapat dirobohkan, sayang sekali dalam keadaan tewas sehingga tidak mungkin siauwte seret ke sini untuk membuat pengakuan.”

Thian Beng Cu menggeleng-geleng kepalanya. Kemudian ia menoleh kepada para anak muridnya dan kepada tujuh orang hwesio Bu-tong-pai yang berada di situ, lalu berkata dengan suaranya yang halus berpengaruh,

“Kalian para murid-murid Kim-san-pai dan murid-murid Bu-tong-pai dengarlah baik-baik. Penuturan sute-ku Eng Yang Cu ini menjadi cermin bagi kalian. Kalian yang berada di sini ribut-ribut saling menuduh dan saling menyerang menurutkan hati panas. Sebaliknya Eng Yang Cu dan dua orang saudara Kang sebagai murid-murid Kim-san-pai dan Bu-tong-pai yang jauh dari sini, bahkan sudah bekerja sama untuk menangkap penjahat. Murid-murid Kim-san-pai, kalian tirulah sikap susiok kalian ini dan murid-murid Bu-tong-pai harap suka meniru perbuatan kedua saudara Kang yang gagah perkasa.”

Sementara itu, Liem Sun Hauw lalu berkata kepada Thian Beng Cu dengan muka muram,
“Locianpwe, ternyata bahwa teecu seorang yang tidak ada gunanya sama sekali, kalau lebih lama di sini hanya akan mengotorkan tempat saja. Mohon maaf sebanyaknya dan perkenankan teecu pergi. Cuwi Suhu dari Bu-tong-pai, tolong sampaikan rasa hormatku kepada Locianpwe Lo Beng Hosiang di Bu-tong-pai. Nona Ang I Niocu, aku telah banyak melakukan kesalahan terhadapmu, maaf...”

Setelah berkata demikian, dengan cepat sekali Liem Sun Hauw melompat dan pergi dari situ, berlari turun dari lereng Bukit Kim-san-pai.

Semua orang memandang dengan bengong dan diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda tampan dan gagah itu yang sebenarnya bukan bertindak salah, hanya kurang teliti dan kurang hati-hati.

“Saudara Liem, tunggu dulu!” Ang I Niocu berseru dan di lain saat dia sudah melompat sambil berkata, “Totiang, maafkan aku tak dapat lebih lama lagi tinggal di sini!”

Sebelum Ketua Kim-san-pai menjawab, tubuhnya sudah lenyap dan yang nampak hanya bayangan merah berkelebat dan meluncur turun gunung.

“Siapa mereka itu?” tanya Eng Yang Cu kagum sekali melihat kehebatan dua orang muda itu.

“Yang pertama adalah Liem Sun Hauw, murid mendiang Thian Mo Siansu dari Go-bi-pai untuk mendamaikan urusan Kim-san-pai dengan Bu-tong-pai. Yang ke dua tadi adalah Ang I Niocu, puteri dari Jeng-jiu-sian Kiang Liat, Bu Pun Su adalah susiok-couw-nya dan dia pun datang atas perintah Bu Pun Su untuk maksud yang sama, yakni mendamaikan kedua partai.”

Eng Yang Cu menarik napas panjang. “Ahhh, anak-anak muda sekarang memang hebat. Kepandaian mereka tadi benar lihai, apa lagi nona baju merah tadi, ginkang-nya sudah sampai di tingkat yang melebihi kita...”

Semua yang ada di situ mengangguk-angguk. Sunyi sepi di tempat itu, hanya beberapa kali terdengar suara orang menarik napas panjang.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

Liem Sun Hauw merasa amat malu. Ia kecewa sekali karena usahanya melakukan tugas yang diserahkan kepadanya oleh Twi Mo Siansu selalu menemui kegagalan. Dia bahkan membuat suasana semakin keruh dan sebelum ia dapat menebus kesalahannya, dengan menangkap biang keladi permusuhan, ia telah didahului oleh Eng Yang Cu!

Saking malu dan kecewanya dia lalu meninggalkan Kim-san-pai. Yang membuat dia malu sesungguhnya bukan terhadap orang lain, melainkan terhadap Ang I Niocu. Dia sudah tertarik dan jatuh hati kepada gadis ini, apa lagi setelah dia tahu bahwa gadis itulah yang dicalonkan menjadi isterinya oleh Kiang Liat. Dan sekarang di depan gadis itu ia kelihatan sebagai seorang yang bodoh!

Biar pun ia berlari cepat sekali, sebentar saja ia tersusul oleh Ang I Niocu. Tadi Sun Hauw mendengar suara panggilan Ang I Niocu, akan tetapi ia mengira bahwa gadis yang cantik tapi galak itu akan menyalahkan dan menyindirnya, maka ia tidak mau berhenti sebelum jauh dari para tokoh Bu-tong-pai dan Kim-san-pai.

Selain ini dia pun hendak menguji ilmu lari cepat dari gadis itu dan diam-diam dia segera mengerahkan ilmu lari cepat yang paling diandalkan, yakni Liok-te Hui-teng (Lari Seperti Terbang di Atas Bumi), karena ia tahu bahwa gadis itu mengejarnya.

Akan tetapi alangkah kagumnya ketika tak lama kemudian gadis itu sudah menyusulnya. Bayangan merah berkelebat di samping kanannya dan di lain saat gadis itu telah berdiri beberapa tombak jauhnya di sebelah depan, tersenyum menghadang di jalan.

Ang I Niocu sengaja mengejar Sun Hauw karena gadis ini ingin sekali mendengar dari pemuda ini mengenai hubungan ayahnya dengan pemuda ini. Ingin dia mengetahui bagai mana pemuda ini bertemu dengan ayahnya dan bagaimana pula ayahnya sampai punya maksud menjodohkan dia dengan pemuda itu.

Selain ini, ia pun agak menyesal atas sikapnya yang menghina dan keras terhadap Sun Hauw, dan sekarang ternyata bahwa sesungguhnya pemuda ini bukanlah seorang yang menyombongkan kepandaian dan sengaja membantu Bu-tong-pai melakukan penghinaan terhadap Kim-san-pai. Semua pertengkaran yang terjadi hanya timbul diakibatkan kesalah pahaman.

Sungguh pun pada mukanya terbayang kemuraman, namun di dalam hatinya Sun Hauw merasa girang sekali melihat gadis itu. “Nona, apakah kau masih merasa penasaran? Aku sudah mengaku salah dan...”

“Saudara Liem, jangan kau salah sangka. Tadi kau menyebut nama ayahku. Di mana kau pernah bertemu dengan Ayah dan kapankah? Aku ingin sekali mendengar penuturanmu tentang Ayah.”

Seketika wajah Sun Hauw berseri, hatinya berdebar-debar girang dan dia menarik napas lega.

“Aku bertemu kemudian berkenalan dengan ayahmu yang gagah perkasa dan mulia itu di Go-bi-san,” dia mulai bercerita, “ketika aku menghadap Susiok Twi Mo Siansu, kebetulan ayahmu datang dan menyampaikan pesan dari Sin-taihiap Bu Pun Su kepada Susiok-ku. Susiok lalu memilih aku untuk berusaha mendamaikan pertikaian antara Bu-tong-pai dan Kim-san-pai dan hal ini menimbulkan iri hati dan tidak senangnya beberapa orang anak murid Go-bi-pai. Aku sendiri biar pun anak murid Go-bi-pai, akan tetapi suhu-ku adalah seorang perantau dan hampir tidak mempunyai hubungan lagi dengan Go-bi-pai.”

Kemudian Sun Hauw menuturkan bagaimana dia telah diserang oleh tokoh Go-bi-pai Tek Le Tojin dan hampir celaka kalau saja dia tidak ditolong oleh Kiang Liat. Dan bagaimana perjalanannya ke Bu-tong-pai tertunda dan terlambat karena dia singgah di kampungnya dan terpaksa menunda perjalanan ke Bu-tong-san sebab dia harus terlebih dulu merawat ayahnya yang sedang sakit payah. Semua peristiwa ini sudah dituturkan di bagian depan dan kiranya tak perlu diulang pula.

“Demikianlah, Nona. Apakah ayahmu sudah pulang ke Sian-koan dan apakah kau telah bertemu dengan orang tua yang mulia itu?” Sun Hauw menutup penuturannya dan balas bertanya.

Ang I Niocu tak dapat menjawab, hanya mengangguk. Hatinya terasa bagai ditusuk-tusuk karena teringatlah dia akan segala peristiwa antara dia dan ayahnya yang menyebabkan kematian ayahnya.

Sun Hauw makin berdebar. Kalau gadis ini sudah bertemu dengan ayahnya, tentu sudah mendengar pula mengenai maksud pertalian jodoh itu. Matanya bersinar-sinar, mukanya merah ketika ia menatap wajah dara cantik jelita yang berdiri sambil menundukkan muka di depannya itu.

“Syukurlah jika ayahmu telah pulang, Nona. Kuharap saja orang tua yang gagah perkasa itu dalam sehat-sehat dan selamat. Ah, alangkah inginku menghadap Kiang-lo-enghiong, alangkah rindu hatiku bertemu muka dengan dia lagi. Aku amat menghormat dan memuja ayahmu, Nona, selembar nyawaku ini masih bisa berada di dalam tubuhku hanya berkat pertolongan ayahmu.”

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sungguh-sungguh ini, Ang I Niocu menjadi sangat terharu. Ia meramkan kedua matanya dan merasa hatinya perih sekali. Ketika ia membuka lagi kedua matanya, ia tak dapat menahan air matanya yang mengucur deras. Cepat-cepat ia menggunakan ujung lengan baju untuk menutupi matanya dan mengusap air matanya.

“Ang I Niocu... kau kenapa…? Maafkan kalau aku kesalahan bicara...” Sun Hauw berkata kaget.

Ang I Niocu dapat menekan perasaannya dan kini menjadi tenang kembali. “Saudara Liem, harap kau maafkan kelemahanku. Sebenarnya, perlu kiranya kau ketahui bahwa Ayah telah meninggal dunia tujuh bulan yang lalu.”

Tiba-tiba muka Sun Hauw menjadi pucat dan ia merasa seperti kehilangan semangatnya. Kemudian ia menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan biar pun ia tidak mengeluarkan suara, kedua pundaknya bergerak-gerak dan tahulah Ang I Niocu bahwa pemuda ini telah menangis!

Diam-diam ia menjadi terharu hadap pemuda ini, sekarang perasaan benci lenyap dan ia harus mengakui bahwa kecuali mendiang Gan Tiauw Ki, pemuda ini merupakan seorang pemuda pilihan dan baik, yang pernah ditemuinya.

“Gakhu...,” terdengar kata-kata dari mulut pemuda itu, hanya perlahan sekali

Wajah Ang I Niocu menjadi merah sekali ketika mendengar pemuda itu mengeluarkan kata-kata sebutan gakhu (ayah mertua) itu, akan tetapi kata-kata itu diucapkan perlahan sekali dan agaknya pemuda itu menahan hatinya supaya tidak mengeluarkan suara. lagi.

Memang di samping keharuan dan kesedihannya, Sun Hauw juga merasa bimbang dan gelisah. Calon mertuanya sudah meninggal dunia, apakah nona ini sudah tahu tentang perjodohan yang diikat? Bagaimana kalau Nona ini belum diberi tahu oleh ayahnya.

Ingin sekali ia bertanya kepada Ang I Niocu tentang ini, akan tetapi tentu saja ia merasa malu dan sungkan. Sebaliknya ia lalu menenangkan hatinya, diam-diam ia mengeringkan air matanya, lalu bangkit berdiri lagi. Kedua matanya masih basah dan mukanya merah.

“Niocu...,” suaranya serak dan pandang matanya kepada Ang I Niocu penuh perasaan kasih dan iba, “sungguh aku ikut berduka cita dan betapa kaget hatiku mendengar warta yang menyedihkan ini. Niocu, ayahmu demikian sehat dan gagah perkasa ketika bertemu dengan aku, bagaimana ia bisa meninggal dengan mendadak? Apa sebabnya?”

Jika saja masih ada kemarahan dan kebencian dalam hati Ang I Niocu terhadap pemuda ini, tentu dia akan menjawab dengan makian dan tuduhan bahwa pemuda inilah yang menjadi gara-gara kematian ayahnya. Akan tetapi sikap Sun Hauw mendatangkan kesan baik dalam hati Ang I Niocu dan gadis itu hanya menjawab singkat,

“Ayah meninggal karena sakit pada bagian jantungnya.”

Keduanya lalu berdiam diri agak lama. Sun Hauw tidak tahu harus berbuat atau berkata apa untuk menghibur nona itu. Akhirnya ia hanya dapat bertanya dengan perlahan,

“Niocu, apakah... apakah mendiang ayahmu ada meninggalkan sesuatu pesanan untuk aku...?”

Tentu saja Ang I Niocu dapat menangkap maksud dari pertanyaan itu, tentu pemuda ini hendak bertanya tentang maksud perjodohan yang direncanakan ayahnya. Akan tetapi ia hanya menggeleng kepala dan tidak berkata apa-apa.

“Niocu, apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”

Kembali Ang I Niocu menggeleng kepalanya.

“Kau sebatang kara di dunia ini?” pertanyaan ini penuh perasaan iba.

Ang I Niocu mengangguk, tidak berani mengeluarkan suara karena tahu bahwa suaranya tentu akan gemetar. Pertanyaan-pertanyaan ini telah membangkitkan kesedihan hatinya. Sampai lama Sun Hauw diam saja, penuh bimbang, ragu dan iba.

“Niocu, aku hendak melaporkan urusan Bu-tong-pai dan Kim-san-pai yang sudah selesai itu kepada Susiok di Go-bi-pai, setelah itu aku akan menghadiri pertemuan yang hendak diadakan oleh Sin-taihiap Bu Pun Su. Kalau aku boleh bertanya, kau hendak ke mana?”

“Aku juga harus menghadiri pertemuan di puncak Gunung Thai-san, seperti yang dipesan oleh Susiok-couw Bu Pun Su.”

Wajah Sun Hauw berseri. “Kalau begitu, Niocu, apa bila kau tak menganggap aku terlalu lancang dan kurang ajar, maukah kau mengijinkan aku mengiringkan perjalananmu? Kita sejalan, dan aku akan merasa berbahagia sekali kalau dibolehkan melakukan perjalanan bersamamu.”

Karena sikap pemuda itu memang sangat baik dan menyenangkan hatinya, Ang I Niocu tidak merasa keberatan. Di atas dunia ini ia memang hidup sebatang kara, tiada keluarga tiada teman, sekarang ada pemuda yang baik hati dan sopan ini, mengapa dia menolak perjalanan bersama? Sedikitnya dia akan dapat menyelidiki dan mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya dari pemuda yang menjadi pilihan ayahnya ini.

Maka berangkatlah dua orang muda itu menuruni Bukit Kim-san dan dengan kepandaian mereka yang tinggi, mereka perjalanan cepat sekali. Sikap Sun Hauw benar-benar amat sopan dan baik sehingga Ang I Niocu makin suka kepadanya, meski pun sukar dikatakan bahwa gadis itu membalas cinta kasihnya. Sesudah kehilangan ayahnya dan Gan Tiauw Ki, memang amatlah sukar bagi Ang I Niocu untuk dapat mencinta pemuda lain.

Memang Sun Hauw seorang pemuda yang baik dan gagah. Tidak saja dia telah memiliki kepandaian yang tinggi, akan tetapi dia juga amat pandai membawa diri. Perjalanan yang selama berbulan-bulan bersama Ang I Niocu menjadi ujian baginya. Walau pun dia sudah tergila-gila kepada Ang I Niocu, mabuk oleh kecantikan gadis ini yang memang sungguh luar biasa sehingga dia mencinta gadis ini dengan sepenuh hati dan perasaannya, tetapi belum pernah dia memperlihatkan sikap yang kurang ajar dan melanggar tata susila.

Bahkan, biar pun sepasang matanya selalu menyorotkan sinar cinta kasih yang berkobar-kobar, tetapi bibirnya tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun tentang perasaan yang terkandung dalam hatinya itu. Tiap malam, kalau Ang I Niocu sudah pulas di dalam kamar lain di penginapan, atau di dalam kamar pada sebuah kelenteng kosong di mana mereka bermalam, Sun Hauw gelisah tak dapat tidur.

Kadang-kadang dia hanya duduk bersandar pada meja sembahyang di dalam kelenteng dan melamun! Tentu saja yang terbayang hanyalah Ang I Niocu yang gagah perkasa dan cantik jelita, dan terbayanglah pula pertemuannya yang pertama kali dengan dara pujaan hatinya itu.

Kadang-kadang pemuda ini menjadi muram wajahnya, penuh kegelisahan dan kedukaan, kalau dia teringat betapa akan sengsara hidupnya kalau gadis itu kelak menolaknya! Dia pun merasa bingung mencari jalan bagaimana untuk bicara dengan Ang I Niocu tentang kehendak mendiang Kiang Liat mengenai tali perjodohan itu.

Oleh karena nama Ang I Niocu sudah mulai terkenal, apa lagi semenjak dia membasmi gerombolan perampok di Bukit Min-san itu, tidak ada penjahat yang berani sembarangan mengganggunya dalam perjalanan itu. Lebih-lebih karena di situ ada Liem Sun Hauw dan pemuda ini yang sudah lama merantau di dunia kang-ouw bersama mendiang suhu-nya, juga merupakan tokoh yang terkenal dan ditakuti penjahat.

Para kaum liok-lim mempunyai mata yang sangat awas dan telinga yang tajam. Mereka tak mau mengganggu orang-orang gagah yang sekiranya malah akan merugikan mereka sendiri.

Ketika mereka tiba di jalan simpangan yang dekat dengan kampung tempat tinggal Sun Hauw, pemuda itu berkata, “Nah, di sinilah jalan yang menuju ke rumah ayahku, Niocu. Kau tentu tidak keberatan apa bila kita singgah sebentar, bukan? Aku harus menengok keadaan Ayah karena ketika kutinggalkan, dia baru saja sembuh dari sakit.”

Hal ini memang sering kali dikemukakan oleh Sun Hauw dalam perjalanan, yakni bahwa pemuda itu hendak singgah di kampung halamannya. Ang I Niocu tidak keberatan dan ia memang ingin sekali melihat keadaan keluarga pemuda ini.

Mereka membelok dan dengan cepat menuju ke kampung Peng-kan-mui. Akan tetapi, ketika mereka sampai di luar kampung itu, tiba-tiba Sun Hauw menghentikan kakinya dan mukanya berubah. Ang I Niocu juga berhenti dan menoleh, memandang heran kepada pemuda itu.

“Mengapa kita berhenti di sini?” tanyanya.

Mendadak Sun Hauw teringat akan sesuatu yang membuat hatinya berdebar cemas dan yang membuatnya tiba-tiba berhenti. Ia teringat akan Siok Lan, gadis yang oleh ayahnya dicalonkan menjadi isterinya!

Ia mengajak Ang I Niocu ke rumahnya, bahkan bermaksud minta kepada ayahnya agar melamar gadis ini sebagai calon isterinya. Namun bagaimana dengan Siok Lan? Karena dahulu ayahnya sudah menetapkan perjodohannya dengan Siok Lan, maka urusan ini menjadi sulit dan harus dipecahkan dengan perlahan.

Kalau ia mengajak Ang I Niocu ke rumah ayahnya, bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tak dikehendakinya? Bagaimana kalau andai kata ayahnya marah-marah dan Ang I Niocu mendengar tentang pertunangannya dengan Siok Lan? Bisa ribut dan tentu Ang I Niocu akan tersinggung, akan marah!

“Niocu, baru sekarang aku ingat dan betapa pun besar malu dan kecewaku kepadamu, terpaksa hal ini harus kukemukakan secara terus terang padamu. Kau tahu bahwa Ayah adalah seorang dusun yang kuno dan pendiriannya masih kolot. Kalau tiba-tiba saja aku datang bersama engkau, tentu ia akan menduga yang bukan-bukan dan mengira bahwa aku sudah menyeleweng. Hal ini bukan saja tidak baik bagiku, juga akan menyinggung perasaanmu. Oleh karena itu, aku harap kau sudi memaafkan aku, Niocu. Biarlah nanti aku yang masuk terlebih dahulu, memberi tahukan tentang perjalananku dan mengenai kunjunganmu, agar orang tua itu tidak salah paham dan bisa menyambut kunjunganmu.”

Wajah Ang I Niocu menjadi merah. Akan tetapi bagaimana dia bisa marah? Pemuda ini bicara dengan begitu terus terang dan secara terbuka, sehingga sama sekali tidak dapat disebut menghinanya, bahkan telah melindunginya dari keadaan yang benar-benar akan dapat menyinggung dan menghinanya, misalnya kalau tiba-tiba ayah pemuda itu lantas memaki-maki puteranya di depannya, tentu hal ini akan membuat dia merasa terhina. Oleh karena itu ia pun, tersenyum manis sekali dan berkata,

“Aku mengerti, Saudara Liem. Tidak apa, karena memang aku tidak berhak mengganggu orang tua itu. Kau masuklah ke kampung dan tengok orang tuamu. Biar aku berjalan-jalan di kampung ini melihat-lihat. Kiranya setengah hari cukup untuk melepas rindu kepada ayahmu, bukan? Nah, sekarang masih pagi. Nanti lewat tengah hari kita bertemu pula di luar kampung ini untuk melanjutkan perjalanan.”

Sun Hauw tidak berani banyak membantah. Masuklah dua orang muda itu ke kampung Peng-kan-mui dalam keadaan berpisah. Sun Hauw membelok ke kanan dan Ang I Niocu membelok ke kiri.

Kampung itu besar juga sehingga Ang I Niocu takkan merasa kesepian selama menanti Sun Hauw menyelesaikan kunjungannya ke rumah. Dia berjalan perlahan di sepanjang jalan kampung itu, tidak mempedulikan pandangan orang-orang yang terheran-heran dan kagum melihatnya.

*****

Di bawah sebatang pohon di belakang rumahnya, Tang Siok Lan berdiri dan termenung. Gadis manis ini kadang-kadang tersenyum dan kadang-kadang membelai-belai batang pohon dengan jari-jari tangannya yang halus. Baru saja ia mendengar warta girang, warta yang dianggapnya paling baik di antara segala berita. Warta tentang datangnya Liem Sun Hauw, kekasih dan tunangannya!

Ia sudah ‘jatuh hati’ kepada Liem Sun Hauw semenjak ia masih kecil! Teringat ia ketika dahulu, sama-sama masih seorang anak berusia sekitar enam atau tujuh tahun, ia selalu bermain-main dengan Sun Hauw di tempat ini, di kebun rumahnya di mana setiap hari Sun Hauw selalu datang mengajaknya bermain-main.

Semenjak kecilnya, Sun Hauw memang sudah gagah atau setidak-tidaknya bercita-cita menjadi seorang gagah. Sering kali Sun Hauw membuat kuda-kudaan dari batang pohon, lalu berlari-lari ‘naik kuda’ dengan lagak seorang pahlawan berangkat ke medan perang! Dan di tengah jalan ia melambai-lambaikan tangan kepada Siok Lan yang dibalas dengan lambaian tangan pula. Sering kali mereka bermain-main, Sun Hauw menjadi pangeran dan Siok Lan menjadi puterinya, sang pangeran menolong sang puteri yang ditawan oleh penjahat!

Siok Lan tersenyum dan kadang-kadang tertawa kecil menutupi mulut dengan tangannya kalau dia teringat akan semua ini. Sekarang Sun Hauw sudah pulang! Sedangkan ayah Sun Hauw dan ayahnya sendiri sudah setuju bahwa kalau Sun Hauw pulang, pernikahan antara dua orang muda ini akan segera dilangsungkan.

Tiba-tiba pintu belakang rumah itu terbuka dan seorang wanita muda yang cantik juga datang berlari-lari sambil tertawa,

“Siok Lan, kau sedang apa di situ? Mengapa kau tidak lekas-lekas berganti pakaian dan membereskan rambutmu? Sebentar lagi tentu dia akan datang ke sini...!” kata wanita itu yang ternyata adalah kakak ipar dari Siok Lan.

“Ahhh... Soso suka menggoda orang...,” jawab Siok Lan dan mukanya yang putih halus menjadi merah, lesung di atas tahi lalat yang berada di dagu kirinya segera membayang, menambah kemanisannya.

Dua orang wanita ini lalu bersendau-gurau dan Siok Lan digoda terus oleh kakak iparnya. Keduanya tertawa-tawa gembira tidak tahu bahwa tak jauh dari situ dua orang mengintai dan mendengarkan percakapan mereka.

*****

Bila di rumah Siok Lan terjadi hal yang menggembirakan, sebaliknya di rumah Sun Hauw terjadi hal yang ribut. Terdengar ayah pemuda itu berteriak-teriak marah, diselingi suara Sun Hauw yang tenang dan lemah-lembut, agaknya hendak menghibur ayahnya.

Akhirnya dengan suara yang menyatakan kekecewaan, kemarahan, dan kedukaan, ayah pemuda itu berkata, “Sudahlah, Sun Hauw. Kalau kau berkukuh, aku pun tak dapat memaksa, karena kaulah yang akan menikah. Akan tetapi, untuk membatalkan ikatan jodoh dengan keluarga Tang, harus kau sendiri yang datang memberi tahukan. Aku tidak sampai hati, aku tidak tega membikin malu dan susah Siok Lan, anak yang baik itu... Baru saja dia masih demikian lincah gembira... penuh harapan, sekarang kau hendak menghancurkan hatinya...”

“Ayah, sesungguhnya anak pun merasa amat kasihan kepada Siok Lan. Akan tetapi apa daya, Ayah. Anak merasa lebih cocok dan anak mencintai Ang I Niocu, seorang wanita gagah yang lebih sesuai dengan keadaan anak sendiri. Mengenai Siok Lan, biarlah anak anggap sebagai adik sendiri dan kelak anak yang akan mencarikan calon suami.”

“Masa bodoh... masa bodoh... anak muda sekarang memang tidak kenal budi!”

Biar pun secara terpaksa sekali harus mendapat persetujuan ayahnya, Sun Hauw girang juga bahwa akhirnya ayahnya menyerahkan hal perjodohan ini kepadanya. Dia lalu cepat meninggalkan rumahnya dan menuju ke rumah Siok Lan. Ia harus bertindak cepat karena khawatir kalau membuat Ang I Niocu terlalu lama menunggu.

Akan tetapi, sesudah dia sampai di dekat rumah Siok Lan, hatinya merasa berdebar juga. Bagaimana dia harus menyampaikan hal yang amat pahit bagi Siok Lan itu? Lebih baik kusampaikan kepada Siok Lan sendiri, pikirnya.

Untuk menyampaikan hal ini kepada ayah Siok Lan, atau kakak Siok Lan, ia merasa lebih sukar lagi karena hubungannya dengan mereka ini kurang erat. Semenjak kecil memang kakak Siok Lan itu bekerja di kota lain dan pulang-pulang sudah membawa isteri. Akan tetapi kalau dengan Siok Lan, semenjak kecil ia memang sudah kenal baik sehingga biar pun amat berat rasa hati menyampaikan hal yang menghancurkan perasaan gadis itu, namun masih lebih mudah apa bila dibandingkan dengan menyampaikan kepada ayah atau kakaknya.

Ketika Sun Hauw melompati pagar belakang rumah, ternyata dia mendapatkan Siok Lan tengah duduk seorang diri di bawah pohon. Kebetulan sekali, setelah bergurau dengan kakak iparnya yang barusan menggodanya, kakak ipar itu kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan rumah tangga. Siok Lan kemudian melamun seorang diri di dalam kebunnya, mengambil keputusan di dalam hatinya, hanya akan keluar kalau Sun Hauw sudah datang berkunjung ke rumahnya.

Akan tetapi kini ia telah berganti pakaian seperti yang dinasehatkan oleh kakak iparnya tadi, dan rambutnya yang hitam halus dan panjang sudah disisirnya rapi. Mukanya yang jarang dibedaki, karena ia memang bukan seorang pesolek, akan tetapi yang putih dan halus, kini bertambah menarik dengan bedak tipis-tipis, ada pun senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya. Saat-saat seperti ini, menunggu datangnya kekasih hati, memang merupakan saat paling bahagia bagi seorang dara.

Ketika melompat turun ke dalam kebun itu, untuk sesaat Sun Hauw berdiri tertegun. Ia terharu. Teringat ia akan masa kanak-kanak dahulu. Setiap kali dia pun memasuki kebun Siok Lan dengan cara seperti ini. Hanya bedanya, kalau dulu ia masuk menerobos pagar kebun yang rusak, adalah sekarang dengan mudahnya dia dapat melompati pagar tanpa mengeluarkan suara.

“Siok Lan...” Ia memanggil dengan nada suara seperti dahulu ketika masih kecil pula.

Gadis itu terkejut, serasa dalam mimpi. Seperti pada waktu dahulu, dia pun tersenyum, menoleh dan memandang ke Sun Hauw.

“Hauw-ko... kau baru datang...?” Kemudian ia teringat bahwa mereka bukan kanak-kanak lagi, maka merahlah mukanya dan disambungnya dengan kata. kata itu, “Ehh, mengapa kau datang dari belakang?”

Sun Hauw makin terharu melihat wajah wanita itu tersenyum bahagia, sepasang mata yang sudah dikenalnya baik semenjak kanak-kanak itu berseri seri, akan tetapi ia tidak bisa membalas senyum dan wajahnya nampak muram.

“Aku sengaja datang dari belakang untuk bertemu dan bicara dengan kau, Siok Lan.”

Dia lalu menghampiri gadis itu dan mulai mengucapkan kata-kata yang sudah dirangkai dan dihafalkannya di sepanjang jalan tadi.

“Siok Lan, semenjak kita masih kanak-kanak, kita sudah menjadi sahabat baik, bahkan boleh dibilang sudah seperti kakak beradik saja. Oleh karena itu, biarlah sekarang kau anggap aku bicara selaku kakakmu dan bagi aku, lebih baik aku bicara sendiri denganmu dari pada dengan ayah atau kakakmu. Sebagai seorang kakak aku hendak bicara terus terang saja, demi kebaikan kita berdua dan demi kebaikan keluarga kita. Kau tahu bahwa selamanya aku menganggap kau sebagai adikku, karena aku sendiri tidak mempunyai saudara. Akan tetapi, ketika aku pulang tadi, aku mendengar dari Ayah bahwa antara kita telah diikat tali perjodohan.”

Mendengar ini Siok Lan menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali sampai ke telinga dan lehernya. Ia tidak berani bergerak, hanya tersenyum-senyum malu dan ujung kasutnya menggurat-gurat tanah di bawah kaki, hanya itulah gerakan satu-satunya yang ia berani lakukan. Ia merasa malu, jengah, dan juga... girang bukan main.

“Siok Lan, kau sendiri tentu tahu bahwa aku selalu akan merasa gembira dan berterima kasih, bahwa aku tentu akan menerima perjodohan itu dengan tangan dan hati terbuka, karena kau memang seorang yang kutahu amat bijaksana, amat mulia, dan seorang dara pilihan, kalau saja...”

Mendadak wajah menunduk yang kemerahan itu menjadi pucat dan diangkat, sepasang mata yang bingung dan kaget, menatap wajah Sun Hauw bagaikan mata seekor kelinci melihat harimau, membuat Sun Hauw merasa kerongkongannya tersumbat! Akan tetapi pemuda itu mengeraskan hati dan ia harus sanggup mengakhiri kalimat yang paling sulit diucapkannya itu.

“Kalau saja aku belum mempunyai seorang kekasih, Siok Lan. Memang ini salahku. Aku sudah jatuh cinta kepada seorang gadis gagah perkasa bernama Ang I Niocu Kiang Im Giok, dan aku... aku bahkan sudah bertunangan dengan dia, aku pulang untuk meminta Ayah meminangnya, maka tali perjodohan antara kau dan aku ini tentu saja menjadi tak mungkin...! Kau tahu Siok Lan, aku sayang kepadamu seperti seorang kakak menyayang adiknya, dan terhadap Ang I Niocu... dia itu pilihan hatiku, tidak mungkin diganti oleh lain orang...”

Kalau ada geledek yang menyambarnya di saat itu, kiranya Siok Lan takkan begitu kaget seperti ketika mendengar kata-kata ini. Sepasang matanya terbelalak, mukanya pucat, bibirnya gemetar dan bergerak-gerak tanpa mampu mengeluarkan satu patah kata pun, kakinya menggigil dan akhirnya air mata membanjir keluar dibarengi keluhan suaranya,

“Hauw-ko...” dan gadis ini berlari dengan limbung, memasuki rumahnya.

Sun Hauw menarik napas panjang dengan perasaan kasihan bercampur lega. Akhirnya kata-kata itu dapat juga dikeluarkan dan nona itu tentu akan menyampaikannya kepada kakaknya dan ayahnya dan semua bereslah! Ia lalu membalikkan tubuh dan melompati pagar kebun itu, kembali ke rumah ayahnya, untuk menyampaikan bahwa hal itu sudah beres.

Walau pun kebun itu sudah ditinggalkan oleh Siok Lan dan Sun Hauw, akan tetapi orang yang semenjak tadi mengintai di situ masih belum pergi. Ia berdiri bersembunyi, seperti patung, rupa-rupanya terpengaruh oleh semua yang sudah didengarnya, semenjak Siok Lan bergurau dengan kakak iparnya tentang Sun Hauw sampai pertemuan antara Siok Lan dan Sun Hauw.

Tiba-tiba terdengar jerit mengerikan dari dalam rumah sederhana, rumah keluarga Tang itu. Orang yang tadi bersembunyi, cepat sekali berkelebat, berubah menjadi bayangan merah dan di lain saat ia telah naik ke atas genteng rumah itu. Dilihatnya dari atas betapa Siok Lan berlari dikejar oleh kakak dan iparnya.

Bayangan merah di atas genteng hendak melompat turun mengejar, akan tetapi sudah terlambat. Siok Lan sudah sampai di dekat dinding dan dengan sekuat tenaga gadis yang malang ini lantas membenturkan kepalanya pada dinding.

Terdengar suara keras dan gadis itu roboh terkulai, darah mengalir dari pelipisnya, keluar pula dari mulut, hidung, dan matanya yang terbuka lebar tanpa cahaya, mata seorang yang sudah tewas...!

Kakak Siok Lan menggereng-gereng, isterinya menjerit-jerit dan seorang kakek tua, yakni ayah Siok Lan, terbungkuk-bungkuk berlari dari dalam, lalu menubruk jenazah puterinya sambil menangis dan berkata-kata tidak karuan bagaikan orang yang ingatannya sudah berubah, seperti orang gila saking sedihnya.

Bayangan merah itu menggigit bibir dan menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya, kemudian berkelebat pergi.

Sun Hauw menjadi terkejut dan menyesal sekali pada saat mendengar tentang perbuatan Siok Lan yang nekad. Tak terasa lagi air matanya turun bertitik, karena betapa pun juga, ia sesungguhnya amat sayang kepada Siok Lan. Kalau di sana tidak ada Ang I Niocu, kiranya ia akan menerima Siok Lan sebagai isteri dengan perasaan gembira dan bahagia.

Ayahnya juga menangis sesenggukan, membanting diri di atas pembaringan sambil terus memaki-maki anaknya, “Sun Hauw, dasar kau manusia tidak kenal budi! Kau sudah melakukan perbuatan yang membikin kotor nama keluarga kita, kau telah melakukan dosa besar sekali oleh karena sesungguhnya kaulah yang membunuh Siok Lan...!”

Setelah memaki-maki, ayah ini berkata, “Kau boleh mencari isteri yang mana saja, akan tetapi bagiku, kau sudah mempunyai isteri Siok Lan! Aku tak akan sudi melamarkan lain orang gadis untuk menjadi isterimu!”

Tentu saja Sun Hauw merasa amat berduka. Akan tetapi, di samping kedukaannya ini, ia pun diam-diam merasa girang karena sekarang perjodohannya dengan Ang I Niocu tidak terhalang oleh apa pun juga lagi! Kalau ayahnya tidak mau meminang, dia dapat minta perantaraan susiok-nya. Memang, seorang yang telah dimabuk cinta kadang kala sampai lupa akan kebajikan, yang diingat hanyalah kesenangan diri sendiri saja.

Sesudah meninggalkan sebagian besar uangnya untuk disumbangkan kepada keluarga Tang, Sun Hauw lalu berpamit kepada ayahnya untuk melanjutkan perjalanan. Tak dapat dilukiskan betapa remuk perasaan hati ayahnya. Ayah ini hanya memiliki seorang putera dan sekarang, putera ini telah mengecewakan hatinya, bahkan hanya setengah hari saja pulang, dan hendak pergi lagi.

Sebaliknya, setelah keluar dari rumahnya, Sun Hauw merasa seakan-akan seekor burung terlepas dari sangkar yang sempit. Ia berlari-lari menuju ke luar kampung di mana tadi ia berpisah dari Ang I Niocu. Kemuraman wajahnya yang tadi telah lenyap dan terganti oleh seri penuh harapan dan kegembiraan. Masa depannya penuh madu dan kebahagiaan bersama Ang I Niocu, dara perkasa yang cantik seperti bidadari, mengapa pula ia harus berduka?

Dengan hati gembira ia berlari keluar dari pintu gerbang dusunnya dan dari jauh ia sudah melihat dara baju merah itu menunggu kedatangannya, berdiri tegak dengan gagah dan cantiknya. Gadis itu tersenyum manis sekali dan matanya bersinar-sinar menatap wajah Sun Hauw.

“'Kuharap aku tidak terlalu lama pergi sehingga kau tidak menjadi kesal hati,” kata Sun Hauw.

“Tidak sama sekali,” jawab Ang I Niocu dengan suara merdu dan sikap menarik sekali. “Saudara Liem, mengapa selama ini kau tak pernah bercerita kepadaku tentang maksud-maksud mendiang ayahku?”

Sun Hauw terkejut, hatinya berdebar. “Apa yang kau maksudkan, Niocu?”

Ang I Niocu tersenyum manis. “Sebelum menutup mata, Ayah telah meninggalkan pesan kepadaku tentang kita.”

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Sun Hauw. Jadi kalau begitu selama ini Ang I Niocu sudah tahu bahwa dia merupakan pilihan ayahnya? Dan gadis itu mau melakukan perjalanan bersama dia. Ah, kalau begini dapat diharapkan sembilan dari sepuluh bagian cita-citanya terlaksana!

“Jadi kau... kau sudah tahu, Niocu? Aku diam saja karena tidak ingin membikin kau tak enak hati dan malu. Memang, mendiang ayahmu dahulu sudah… mengusulkan tentang... ikatan jodoh antara kita...”

“Saudara Liem, apakah kau suka kepadaku?” Ang I Niocu bertanya, sepasang matanya menatap tajam, mulutnya tetap tersenyum manis.

Diam-diam Sun Hauw terheran-heran juga kenapa gadis ini tidak kelihatan likat atau pun sungkan, dan bicara tentang ikatan jodoh nampaknya demikian biasa!

“Suka kepadamu, Niocu? Ah, kiranya tak perlu kujelaskan dan Niocu yang berpandangan tajam tentu sudah mengetahui akan isi hatiku. Semenjak pertemuan kita yang pertama kali, aku... aku sedetik pun tidak pernah dapat melupakanmu, Niocu. Aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwaku...”

Senyum di mulut Ang I Niocu melebar sehingga nampak sekilas giginya yang putih dan rapi. “Begitukah? Akan tetapi kau harus tahu bahwa sebelum Ayah menyatakan keinginannya supaya aku berjodoh denganmu, aku sudah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan pedangku. Nah, Saudara Liem, kalau kau memang benar-benar cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku, coba kau kalahkan pedangku ini!” Sambil berkata demikian Ang I Niocu mencabut pedangnya dan menanti dengan sikap garang.

Tentu saja Liem Sun Hauw menjadi terkejut, tertegun dan tidak tahu harus berbuat apa. Akan tetapi, melihat senyum Ang I Niocu tadi, hatinya menjadi besar. Melihat gelagatnya, nona ini pun membalas cinta kasihnya. Sudah tentu saja Ang I Niocu memegang harga diri dan mengadakan ‘sayembara’ ini untuk mempertinggi harga dirinya. Akan tetapi kalau nona ini membalas cintanya, masa Ang I Niocu akan bertempur sungguh-sungguh?

Dan pula, andai kata Ang I Niocu bersungguh-sungguh, ia pun tidak takut karena biar pun dalam hal ginkang ia harus mengakui masih kalah oleh nona baju merah ini, akan tetapi dalam ilmu pedang, dia tidak percaya kalau kalah. Dia telah menerima gemblengan dari mendiang Thian Mo Siansu dan telah mempelajari ilmu pedang yang lebih lihai dari pada ilmu pedang Go-bi-pai.

“Begitukah kehendakmu, Niocu? Biarlah aku memperlihatkan kebodohanku,” dia berkata sambil mencabut pedang dan memasang kuda-kuda. Ia sengaja memasang pertahanan untuk memberi kesempatan kepada Ang I Niocu menyerang lebih dulu.

Ang I Niocu tidak sungkan-sungkan lagi. “Lihat pedang!” serunya

Pada lain saat Sun Hauw harus cepat-cepat membuang diri ke kanan sambil menyampok karena pedang gadis itu telah lenyap berubah sinar bagaikan kilat menyambarnya, cepat bukan main.

“Hebat...!” tak terasa lagi Sun Hauw mengeluarkan seruan terkejut.

Kembali sinar pedang di tangan Ang I Niocu menyambarnya. Dalam beberapa jurus Sun Hauw terus terdesak hebat dan serangan-serangan Ang I Niocu benar-benar luar biasa ganasnya. Akan tetapi Sun Hauw tidak mau membalasnya, hanya sedapat mungkin dia memutar pedang untuk melindungi tubuhnya.

“Balaslah, aku paling tidak suka bila melihat orang berlaku mengalah. Memangnya ilmu pedangmu jauh lebih menang?” kata Ang I Niocu. Sambil berkata-kata, dia melanjutkan serangan-serangannya dengan cepat.

Melihat gerakan pedang Ang I Niocu, diam-diam Sun Hauw terkejut sekali dan tahulah ia bahwa gadis itu benar-benar lihai, ada pun ilmu pedangnya amat tinggi tingkatnya, sukar diduga gerak-gerik dan perubahannya. Akan tetapi ia masih percaya penuh bahwa tidak nanti Ang I Niocu mau melukainya, maka sambil tersenyum manis ia berkata,

“Niocu, bagaimana aku berani menyerangmu? Sejak dahulu ayahmu telah memberi tahu bahwa kepandaianmu tinggi sekali, bahkan lebih tinggi dari pada ayahmu sendiri. Pula, pedang tidak bermata, bagaimana aku tega menyerangmu? Kalau sampai kulitmu terluka pedang, bukankah aku akan menyesal setengah mati?”

Ang I Niocu yang tadinya bersikap manis, sekarang mengeluarkan suara ketus. “Orang she Liem, kita dalam pibu, luka atau mati merupakan soal biasa! Aku akan menyerangmu sungguh-sungguh!”

Sun Hauw masih saja tidak sadar akan perubahan suara ini. Dia masih tersenyum dan berkata manis, “Niocu, aku tidak percaya kau akan melukaiku. Apakah kau tega melihat tunangan sendiri menjadi korban ujung pedangmu? Kalau kau tega, silakan, aku rela mati dalam tangan orang yang paling kucinta...“

Ang I Niocu tidak mampu menahan marahnya lagi. Ia menghentikan gerakan pedangnya, berdiri tegak dan dengan muka merah dia menudingkan pedangnya ke arah muka Sun Hauw.

“Bangsat rendah! Kau kira kau ini orang macam apakah berani sekali bicara seperti itu di depanku? Ketahuilah, buka telingamu lebar-lebar, jangankan kau tidak dapat menangkan pedangku, andai kata kau mampu menangkan juga, belum tentu aku sudi menjadi isteri seorang kejam macam kau!”

Kali ini benar-benar Sun Hauw terkejut. Mukanya berubah pucat ketika ia bertanya, “Ehh, Niocu, mengapa kau marah kepadaku? Apakah kesalahanku?”

“Manusia rendah, kau pandai berpura-pura! Tentu Ayah dahulu juga sudah tertarik oleh gerak-gerik dan kata-katamu yang palsu, menyangka kau seorang baik-baik tak tahunya kau menyimpan hati yang palsu. Apa yang kau sudah lakukan terhadap Siok Lan?”

Sun Hauw merasa semangatnya terbang. “Siok Lan...? Bagaimana kau bisa tahu...?”

Ang I Niocu tersenyum akan tetapi kini senyumnya mengiris jantung, senyum mengejek dan memandang rendah.

“Kau sanggup menghancurkan hati seorang gadis suci seperti Siok Lan, dan kau sudah mempermainkan perasaan cintanya. Kemudian, setelah gadis itu membunuh diri, masih hangat jenazahnya, kau sudah berani beraksi di depanku seolah-olah aku ini kekasihmu. Cih, laki-laki tak tahu malu!” Setelah berkata demikian, dengan sikap menghina sekali Ang I Niocu membalikkan tubuh dan meninggalkan pemuda itu.

Dapat dibayangkan betapa hancur perasaan Sun Hauw pada saat itu. Malu dan marah karena terhina, kecewa dan berduka karena cintanya ditolak mentah-mentah, menyesal sekali atas perbuatannya terhadap Siok Lan, semua perasaan ini teraduk-aduk menjadi satu dalam hati dan pikirannya.

Kemudian, melihat Ang I Niocu meninggalkannya, ia mengejar sambil rnembentak, “Ang I Niocu, ayahmu telah menjanjikan aku untuk menjadi suamimu! Apakah kau hendak melanggar janji? Apakah hendak mencemarkan nama baik ayahmu dengan mengingkari janji?”

Tiba-tiba saja Ang I Niocu membalikkan tubuh dan menantangnya dengan pandang mata berapi-api.

“Kau masih berani menyebut-nyebut ayahku? Bangsat rendah, aku tidak membunuh kau seperti anjing saja sudah sangat untung bagimu. Kau berani menuduh aku mengingkari janji? Kaulah yang menipu Ayah, kau sudah bertunangan dengan Siok Lan masih berani menerima uluran tangan Ayah! Kau yang sudah mengingkari janjimu terhadap keluarga Siok Lan. Ada pun aku, aku sama sekali tidak mengingkari janji. Sudah kukatakan tadi bahwa orang yang hendak menjadi suamiku harus dapat mengalahkan pedangku. Nah, sanggupkah kau mengalahkan pedangku?” Kata-kata ini disusul dengan tarikan pedang yang dilintangkan di depan dada dengan gaya menantang sekali.

Hati Sun Hauw yang telah remuk dan putus asa, yang merasa kebahagiaannya jatuh dan hancur berantakan, kini menjadi panas dan membuatnya nekad. Dia rela mati kalau tidak bisa mendapatkan Ang I Niocu sebagai isterinya. Maka cepat dihadapinya Ang I Niocu dengan pedang di tangan dan katanya, “Baiklah, Niocu. Kalau begitu besar keinginanmu hendak mengadu ilmu, mari kulayani kau!”

Sun Hauw kini menerjang dengan sengitnya dan sebentar kemudian dua orang muda itu sudah bertanding dengan seru. Ilmu pedang dari Sun Hauw memang lihai sekali, karena di dalam ilmu pedang yang berdasar pada ilmu pedang Go-bi-pai ini terdapat pukulan-pukulan aneh yang dulu diwarisi oleh Thian Mo Siansu dari orang sakti Hok Peng Taisu. Pedang di tangannya lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung, bagai seekor naga mengejar awan.

Namun kini ia menghadapi Ang I Niocu, dara perkasa ahli pedang yang mewarisi ilmu pedang dari keluarga Kiang, kemudian yang sudah menerima petunjuk dari orang sakti Bu Pun Su. Dalam menghadapi pemuda lihai ini, Ang I Nio tidak berani main-main dan cepat memainkan limu pedang Sian-li Kiam-sut yang gerakan-gerakannya sangat indah akan tetapi di dalamnya mengandung tangan maut yang setiap saat mengancam nyawa lawannya.

Setelah mendapat kenyataan betapa tangguh ilmu pedang Ang I Niocu dan bahwa gadis itu benar-benar hendak merobohkan dirinya, Sun Hauw menjadi marah dan hatinya sakit sekali. Dia merasa dipermainkan oleh gadis ini yang tadinya dikira ‘ada hati’ kepadanya. Dengan seluruh tenaga dan kepandaian yang ada padanya, ia tidak sungkan-sungkan lagi dan kini ia benar-benar ingin mengalahkan Ang I Niocu, baik dengan melukainya mau pun kalau perlu membunuhnya!

Pertempuran di luar kampung Peng-kan-mui menjadi semakin seru dan hebat. Beberapa orang kampung yang melihat pertempuran ini memberi kabar kepada lain orang sehingga sebentar saja di tempat itu banyak berkumpul orang kampung. Akan tetapi mereka itu hanya menonton saja, tak ada yang berani mencampuri. Apa lagi dua orang itu bertempur bagaikan telah saling libat dengan sinar pedang, seperti menjadi satu.

Kalau bukan seorang ahli, mana bisa mencampuri mereka? Di samping ini, biar pun Sun Hauw orang kampung itu, akan tetapi ia sudah mendatangkan kesan yang buruk kepada penduduk kampung itu dengan peristiwa yang terjadi pada diri Siok Lan.

Seratus jurus sudah lewat dan mendadak terdengar Ang I Niocu mengeluarkan bentakan nyaring, disusul dengan robohnya tubuh Liem Sun Hauw yang dada kirinya telah tertusuk oleh pedang dara baju merah itu. Aneh sekali, dalam menghadapi maut ini, tiba-tiba Sun Hauw teringat kepada Siok Lan dan seperti dalam mimpi ia berseru, “Siok Lan... kau tunggulah aku...!”

Dan tewaslah ia dengan pedang masih di tangan. Melihat ini, Ang I Niocu merasa terharu juga, terharu karena pemuda ini tewas sebagai akibat mencintainya. Dia menoleh kepada orang-orang kampung yang masih berdiri memandangnya.

“Yang menewaskan Liem Sun Hauw adalah aku, Ang I Niocu. Aku membalaskan sakit hati Nona Siok Lan.” Setelah berkata demikian, Ang I Niocu berjalan pergi dengan langkah tenang dan lambat, akan tetapi anehnya, sebentar saja dia sudah lenyap dari pandangan mata orang-orang kampung.

Ang I Niocu segera menuju ke Thai-san untuk menghadiri pertemuan orang-orang gagah yang diadakan oleh susiok-couw-nya. Memang sebetulnya dia tidak diharuskan ke sana, akan tetapi setelah sekarang ia menjadi seorang perantau, peristiwa ini menarik hatinya dan ingin ia melihat dan bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama. Ketika ia tiba di sebuah hutan di kaki Gunung Thai-san, selagi ia berjalan perlahan-lahan, tiba-tiba terdengar bentakan!

“Perempuan rendah, sudah lama aku menunggu di sini!”

Dengan tenang Ang I Niocu memandang. Dia melihat Koai-tung Toanio muncul bersama seorang kakek tua yang bermuka hijau. Ang I Niocu maklum bahwa Koai-tung Toanio tentu akan membalas sakit hati karena telah dua kali ia kalahkan, apa lagi akhir-akhir ini ia telah melukai pundak seorang puterinya, bahkan telah membunuh dua orang anaknya yang menjadi anggota Min-san Sam-kui, yakni Kwan Liong dan Kwan Bi Hwa. Karena itu tahulah ia bahwa kali ini ia harus bertempur mati-matian.

Terhadap Koai-tung Toanio dia tidak takut. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek yang menyertai nenek galak itu tentulah seorang berkepandaian tinggi.

“Toanio, kita berjumpa pula di sini. Kali ini apa kehendakmu?” tanya Ang I Niocu tenang akan tetapi siap sedia.

Sementara itu, kakek muka hijau itu semenjak tadi sudah memandang dengan bengong kepada Ang I Niocu.

“Ci Im, inikah nona yang bernama Ang I Niocu?” tanya kakek itu kepada Koai-tung Toanio yang sebetulnya bernama Kwan Ci Im.

“Betul, Susiok. Dia inilah siluman betina yang telah membunuh dua orang anakku,” jawab Koai-tung Toanio penuh kebencian.

“Kau keliru, Ci Im. Dia ini tidak seperti siluman, tapi lebih patut menjadi bidadari. Hemm, alangkah cantik manisnya. Aku telah hidup selama lima puluh tahun lebih, baru sekarang ini melihat seorang wanita secantik ini...! Bukan main...!”

Dapatlah dibayangkan alangkah mendongkol dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar kata-kata bandot tua itu. Dari kata-katanya itu sudah dapat dinilai orang macam apa yang sekarang dia hadapi.

“Anjing-anjing tua yang tidak tahu malu!” makinya sambil mencabut pedangnya. “Kalian menggonggong di sini mau apakah?”

“Setan perempuan, kuhancurkan kepalamu!”

Koai-tung Toanio sudah tak dapat menahan marahnya lagi dan tongkatnya menyambar. Ang I Niocu cepat menangkis sehingga tongkat itu terpental kembali.

“Ci Im, jangan! Biarkan aku menangkapnya. Sayang kalau sampai kulitnya yang putih halus itu lecet oleh tongkatmu! Aku akan menangkapnya hidup-hidup tanpa melukainya. Nona manis, marilah ikut dengan aku!”

Kakek tua bermuka hijau itu melompat maju. Kedua tangannya dikembangkan, jari-jari tangannya seperti cakar setan.

Ang I Niocu marah bukan main. Pedangnya berkelebat membabat dua lengan itu. Kakek itu tertawa bergelak, tangannya disampokkan ke arah pedang.

“Triiing...!”

Kedua pihak kaget. Ang I Niocu terkejut sekali karena pedangnya sudah ditangkis oleh kuku jari-tangan kakek itu! Benar-benar kepandaian yang luar biasa dan hebat. Agaknya kakek ini telah melatih jari tangannya berikut kukunya untuk menghadapi senjata tajam lawan. Di lain pihak, kakek itu pun kaget setengah mati karena bukan saja ia tidak dapat merampas pedang seperti yang ia duga semula, bahkan jari tangannya terasa sakit ketika bertemu dengan pedang.

“Ehh, ehhh, kau ternyata berisi juga, Nona manis. Akan tetapi sekarang bertemu dengan Tiat-sim Lo-mo (Iblis Tua Berhati Besi), jangan harap kau dapat berlagak!” Setelah berkata demikian, ia mencabut keluar sebatang golok yang memakai gelangan-gelangan kecil pada punggung golok, gelangan yang dapat mengeluarkan bunyi gemerincing yang gunanya untuk mengacaukan lawan.

Ang I Niocu diam-diam terkejut juga. Ia pernah mendengar nama julukan Tiat-sim Lo-mo ini, yaitu seorang tokoh besar Kong-thong-pai yang menyeleweng dan sudah tidak diakui di partainya. Tiat-sim Lo-mo terkenal sebagai seorang penjahat cabul yang kejam sekali. Di samping ini ia pun sering kali merampok rumah orang dan dalam melakukan semua kejahatan ini, ia bisa berlaku kejam dan membunuh seisi rumah tanpa berkedip mata, dari yang tua sampai anak-anak kecil. Oleh karena itulah maka dia diberi julukan Iblis Tua Berhati Besi untuk menggambarkan betapa kejam hatinya.

“Ahh, kiranya kau iblis jahat. Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan sakit hati puluhan orang yang menjadi korbanmu!” kata Ang I Niocu sambil memainkan pedangnya.

“Ha-ha-ha, kau sendiri akan menjadi korban baru, bagaimana kau akan membalas sakit hati? Ha-ha-ha-ha, lebih baik kau menyerah dengan tenang dari pada harus lecet-lecet kulitmu!”

Ang I Niocu tidak mau melayaninya bicara lagi, pedangnya bergerak hebat dan mengerti bahwa ia berhadapan dengan orang lihai, Ang I Niocu langsung mengeluarkan jurus-jurus yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Sebetulnya tingkat dari Tiat-sim Lo-mo ini lebih tinggi dari Ang I Niocu, akan tetapi oleh karena dia seorang pemogoran sehingga lweekang-nya banyak berkurang, pula karena ilmu pedang dari Ang I Niocu memang luar biasa, sebentar saja ia terdesak hebat dan goloknya hanya mampu menangkis saja. Baiknya ia masih mempunyai andalan tangan kirinya yang kadang-kadang melakukan serangan mencengkeram yang berbahaya sekali sehingga Ang I Niocu harus berlaku hati-hati sekali dan tidak mudah merobohkan iblis tua ini.

Melihat Tiat-sim Lo-mo belum juga dapat mendesak, apa lagi mengalahkan Ang I Niocu, Koai-tung Toanio menjadi kecewa bukan main. Nenek ini kemudian menyerbu dengan tongkatnya, membantu Tiat-sim Lo-mo dan mengeroyok Ang I Niocu!

Kali ini Ang I Niocu benar-benar terdesak hebat. Kepandaian nenek bertongkat itu sudah tinggi. Menghadapi kakek muka hijau itu saja sudah amat berat baginya, apa lagi kini nenek itu ikut-ikut mengeroyok. Terpaksa Ang I Niocu mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya melindungi tubuhnya sehingga jangan kata baru senjata lawan, biar angin dan air pun takkan mampu menembus benteng sinar pedangnya!

Akan tetapi, pertempuran seperti ini apa bila dilanjutkan tentu ia akan kalah juga, kalah karena kehabisan tenaga. Ia hanya mampu melindungi diri tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali. Sudah delapan puluh jurus lebih Ang I Niocu bertahan diri. Dia mulai lelah karena untuk menangkis semua serangan kedua lawannya, dia harus mengerahkan tenaga lweekang. Ang I Niocu merasa gemas sekali.

Untuk membalas serangan lawan, ia tidak mampu karena dirinya sudah dikurung hebat. Untuk melarikan diri, memang dapat karena dalam hal ginkang ia masih menang, akan tetapi ia tidak sudi melakukan hal ini. Ia bertahan terus.

Seratus jurus telah lalu dan kini peluh telah membasahi jidat dan leher gadis itu. Tiat-sim Lo-mo sudah tertawa-tawa mengejek dan mengeluarkan kata-kata kotor yang menambah kemarahan Ang I Niocu.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, “Dua orang siluman bangkotan sungguh tidak tahu malu! Ang I Niocu, jangan khawatir, aku datang membantumu!”

Berkelebat bayangan yang gerakannya cepat dan gesit, sebatang pedang menyerang dan menahan tongkat Koai-tung Toanio. Serangan ini cukup kuat dan cepat sehingga terpaksa Koai-tung Toanio meninggalkan Ang I Niocu dan menghadapi lawan baru ini.

Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian sastrawan. Sungguh pun gerak-geriknya lemah, akan tetapi ternyata ilmu pedangnya ini cukup kuat, apalagi tenaga lweekang-nya cukup hebat.

Ang I Niocu melirik dan melihat pemuda tampan ini, ia menjadi heran. Belum pernah ia bertemu dengan pemuda ini, mengapa begitu datang langsung membantunya dan sudah mengenal namanya? Akan tetapi segera nona baju merah ini mengerutkan kening.

Walau pun ia sudah ditinggalkan Koai-tung Toanio sehingga ia kini dapat membalas dan mendesak Tiat-sim Lo-mo, akan tetapi sebaliknya, pemuda itu lalu terdesak oleh tongkat Koai-tung Toanio yang hebat dan ganas. Sekali pandang saja Ang I Niocu sudah dapat mengenal ilmu pedang pemuda itu, yakni ilmu pedang dari Bu-tong-pai, dan biar pun ilmu pedang pemuda itu cukup baik, akan tetapi masih belum cukup kuat untuk mengalahkan Koai-tung Toanio.

Di lain pihak, meski pun dia sendiri mengurung lawan dengan sinar pedangnya, ternyata bahwa Tiat-sim Lo-mo benar-benar seorang yang luar biasa. Pengalaman bertempur kakek ini sudah banyak sekali, maka ia tak mudah ditipu oleh gerakan pedang dan dapat menjaga diri dengan baiknya, bahkan kadang-kadang tangan kirinya masih melakukan serangan yang berbahaya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring. “Ha-ha-ha, iblis tua berani mengganggu Sumoi? Ini artinya kau akan segera mampus!”

Berbareng dengan ucapan itu sinar pedang gemerlapan menyambar leher Tiat-sim Lo-mo yang menjadi kaget sekali karena serangan ini benar-benar cepat dan ganas.

“Giok Gan Kui-bo (Biang Iblis Bermata Kemala)!” teriak Koai-tung Toanio ketika ia melihat gadis yang baru datang.

“Enci Kim Lian...!” Ang I Niocu berseru girang dan juga heran.

Dengan majunya Kim Lian mengeroyok Tiat-sim Lo-mo, sebentar saja kakek itu menjadi kewalahan. Walau pun ilmu pedang Kim Lian tidak sehebat ilmu pedang Ang I Niocu, namun memiliki keganasan sesuai dengan wataknya dan dalam lain-lain hal, kepandaian gadis ini hanya kalah sedikit saja oleh sumoi-nya.

Akibat rangsekan dua orang gadis ini, tak lama kemudian pedang Ang I Niocu telah dapat membabat lehernya, dan pedang Kim Lian membabat putus lengan kirinya. Kakek itu roboh tanpa dapat berteriak lagi dan tewas pada saat itu juga!

Ang I Niocu tidak cepat menyambut suci-nya, melainkan terus saja menyerang Koai-tung Toanio, membantu pemuda itu. Mana Koai-tung Toanio dapat menahannya? Dalam lima jurus kemudian, ia pun roboh binasa oleh pedang Ang I Niocu.

Setelah itu, baru Ang I Niocu menoleh kepada suci-nya. Kim Lian tertawa, akan tetapi sepasang mata yang indah sekali itu menjadi basah air mata! Ang I Niocu memandang terharu dan di lain saat dua orang gadis itu saling berpelukan.

“Im Giok... aku bahagia sekali kau sudah pulih kembali, sudah gembira dan bertambah cantik!” kata Song Kim Lian atau dengan julukan baru Giok Gan Kui-bo sambil menatap wajah sumoi-nya.

Sebaliknya, Ang I Niocu juga memperhatikan suci-nya yang sekarang kelihatan pesolek sekali, jauh melebihi dulu. Bahkan sepasang pipi dan bibirnya juga diberi merah-merah! Pakaiannya indah dan terbuat dari sutera mahal. Ang I Niocu teringat akan pemuda itu, lalu ia menoleh dan menghadapinya.

“Tuan siapakah? Sungguh gegabah sekali berani menyerang Koai-tung Toanio. Bila tidak cepat-cepat Suci datang membantu, bukankah kau hanya akan mengantarkan nyawamu dengan cuma-cuma?” tegurnya, akan tetapi suara dan pandang matanya manis.

Pemuda itu menjura dan sepasang matanya yang bening dan menyinarkan watak jujur dan halus itu berseri. “Niocu,” katanya tersenyum, “andai kata aku harus tewas dalam membantumu, aku rela! Aku adalah Kang Ek Sian dan aku mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di Thai-san. Di Bu-tong-pai aku telah banyak mendengar tentang engkau, Niocu, kau sudah berjasa mengakurkan kembali Bu-tong-pai dengan Kim-san-pai. Budimu terlalu besar dan nyawaku tidak berharga dibandingkan itu!”

Mendengar ini, diam-diam Ang I Niocu menjadi senang dan memuji pemuda yang pandai bicara ini. Akan tetapi tiba-tiba Giok Gan Kui-bo membentaknya, “Bocah lancang! Awas, jangan kau berani main gila. Kau telah jatuh cinta pada sumoi-ku, ya? Jangan kau main-main, orang seperti kau ini mana ada harganya untuk mencinta Sumoi?”

“Suci!” Ang I Niocu menegur gadis itu. “Jangan kau bicara sembarangan dan menghina orang tanpa alasan. Kalau Susiok-couw mendengarnya, kau akan menerima hukuman!”

Nama Bu Pun Su sangat ditakuti Kim Lian. Ia menjadi pucat dan menengok ke sana ke mari. “Apakah Susiok-couw berada di sini?” tanyanya.

“Apa kau masih belum tahu?” Ang I Niocu menjawab. “Susiok-couw sedang mengadakan pertemuan di puncak Gunung Thai-san ini. Sewaktu-waktu Susiok-couw bisa muncul di sini. Maka jangan kau bicara sembarangan!”

Song Kim Lian menjadi makin ketakutan. Ia buru-buru pergi sambil berkata, “Aku pergi dulu, Sumoi, ada urusan penting sekali. Biar lain kali kita bertemu kembali.”

Akan tetapi sesudah agak jauh, dia mengamang-ngamangkan tinjunya ke arah Kang Ek Sian sambil berkata, “Awas kau, aku tahu kau tergila-gila pada Sumoi!” Dan di lain saat Giok Gan Kui-bo Song Kim Lian lenyap dari situ.

Kang Ek Sian berdiri seperti patung, mukanya agak pucat. Ang I Niocu merah mukanya dan ia merasa malu sekali atas sikap suci-nya.

“Harap kau suka memaafkan Suci, memang wataknya aneh luar biasa,” katanya kepada pemuda itu.

Kang Ek Sian memandangnya dengan tajam. “Tidak ada yang harus dimaafkan, Niocu. Bahkan aku diam-diam memikirkan apakah kata-katanya itu tidak tepat sekali.”

Kedua mata Ang I Niocu memancarkan api kemarahan, akan tetapi melihat wajah yang jujur dan terbuka itu, ia menahan kemarahannya. Hanya ia merasa mendongkol sekali.

Pada saat yang sama, dua orang laki-laki telah tergila-gila kepadanya. Tadi si tua bangka bermuka hijau itu tergila-gila, sekarang pemuda ini! Akan tetapi selain kedongkolannya, timbul perasaan aneh di dalam hatinya. Perasaan seperti orang gembira dan puas. Puas melihat orang-orang lelaki yang tergila-gila kepadanya karena dia maklum bahwa mereka akan tergila-gila dengan sia-sia belaka, tak akan menerima balasan darinya. Biar mereka itu menjadi korban cinta, pikirnya. Biar laki-laki bodoh itu makan hati, biar sengsara karena kebodohan sendiri telah mabuk oleh cinta, seperti yang sudah pernah ia alami...!

Kang Ek Sian sadar bahwa ia telah mengucapkan kata-kata yang kurang patut, maka ia lalu berkata cepat-cepat, “Maaf, Niocu. Aku... aku hendak mengurus dua jenazah ini lebih dulu.”

Pemuda itu lalu menggali lubang dan mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio. Ang I Niocu melihat semuanya ini dengan hati memuji. Pemuda ini benar-benar seorang yang berbudi luhur, meski pun Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio merupakan penjahat-penjahat keji, akan tetapi sesudah mereka tewas, pemuda itu mau mengubur jenazah mereka. Jarang terdapat pemuda yang demikian baik hati, pikirnya.

“Anak baik, kau siapakah?” tiba-tiba terdengar suara halus.

Belum juga orangnya nampak, Ang I Niocu sudah cepat menjatuhkan diri berlutut dan betul saja tak lama kemudian, tiba-tiba di situ berdiri Bu Pun Su, pendekar sakti yang kini pakaiannya penuh tambalan seperti pengemis. Kakek sakti itu memandang kepada Ang I Niocu yang memberi hormat sambil menyebut, “Susiok-couw!”

Kakek itu mengangguk-angguk senang, lalu menoleh kepada Kang Ek Sian yang sudah selesai dengan pekerjaannya.

Ketika Kang Ek Sian mendengar bahwa kakek ini adalah Sin-taihiap Bu Pun Su, ia cepat menjatuhkan diri memberi hormat dan menjawab, “Boanpwe adalah Kang Ek Sian, murid Bu-tong-pai. Suhu Lo Beng Hosiang menyuruh boanpwe mewakili Bu-tong-pai untuk menghadiri pertemuan di puncak Thai-san. Harap Locianpwe maafkan kalau boanpwe tidak melihat kedatangan Locianpwe sehingga tidak sempat menyambut.”

“Tidak apa, tidak apa. Kau mengubur jenazah Tiat-sim Lo-mo dan Koai-tung Toanio, itu amat baik! Terima kasih, orang muda. Dengarlah, dan kau juga Im Giok, pertemuan di puncak tidak jadi diadakan. Perang sudah meletus, para pemberontak sudah bergerak di sana-sini. Celakanya, banyak orang-orang gagah di dunia kang-ouw membantu mereka! Benar-benar dunia kang-ouw telah terpecah dua dengan adanya pemberontakan ini.” Bu Pun Su menghela napas dan memandang ke angkasa.

“Kehendak Thian, siapakah orangnya dapat membantah? Im Giok, kau jagalah di lereng bukit sebelah barat, tunggu selama tiga hari. Kalau ada orang datang, sampaikan terima kasih dan salamku, dan katakan bahwa pertemuan tak mungkin diadakan karena banyak tokoh-tokoh kang-ouw sudah turun tangan, ikut terjun dalam peperangan. Jadi tidak perlu dirunding-runding lagi. Dan kau, Kang Ek Sian, kau jagalah di lereng timur, jaga sampai tiga hari dan lakukan seperti yang kukatakan kepada Im Giok tadi. Aku sendiri hendak meninjau keadaan di mana terjadi perang supaya rakyat jangan terlalu menderita akibat kerusuhan yang timbul karenanya.”

Dua orang muda yang berlutut itu menyatakan kesanggupan mereka. Pada saat hendak pergi, Bu Pun Su berkata, “Im Giok, kelak kau harus mengawasi baik-baik suci-mu Kim Lian itu. Aku sekarang tidak sempat, sampaikan peringatanku kepadanya supaya dia menjaga langkah hidupnya dan jangan menyeleweng!”

Sebelum Ang I Niocu menjawab, kakek itu berkelebat lenyap! Dua orang muda itu bangkit berdiri, saling pandang dan Kang Ek Sian berkata, “Alangkah besar untungku, dapat bertemu dengan pendekar sakti itu. Niocu, setelah kita melakukan tugas ini selama tiga hari, bolehkah aku menemuimu di lereng barat? Aku merasa bahagia dan terhormat sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu, dan sudikah kau menerimaku berkunjung di lereng barat untuk bercakap-cakap?”

Permintaan ini cukup pantas, bagaimana ia dapat menolaknya? ”Apa salahnya? Tentu saja aku suka menerima kunjunganmu, asal saja aku masih ada di sana,” jawabnya menyimpang, kemudian gadis itu berlari cepat menuju ke lereng barat.

Kang Ek Sian memandang ke arah bayangan merah itu dengan bengong, semangat dan hatinya seakan-akan ikut melayang bersama bayangan merah itu.

*****

Benar seperti dugaan Bu Pun Su, hanya sedikit saja orang yang datang mengunjungi puncak Thai-san untuk menghadiri pertemuan. Mereka ini segera turun kembali setelah diberi tahu oleh Ang I Niocu atau Kang Ek Sian. Tak seorang pun di antara mereka berani mengganggu dua orang muda ini karena siapakah orangnya berani main-main terhadap orang kepercayaan Bu Pun Su?

Tiga hari telah lewat dan pada hari ke empat, ketika masih pagi-pagi sekali, Kang Ek Sian telah berlari-lari menuju ke lereng sebelah barat untuk bertemu dengan gadis baju merah yang selama tiga hari tiga malam telah membuat dia tak dapat memejamkan mata barang semenit! Akan tetapi setelah tiba di tempat itu, ia tidak melihat lagi bayangan Ang I Niocu.

“Niocu...!” ia memanggil. Tidak ada jawaban. “Ang I Niocu...!” ia memperkeras suaranya. Hanya kumandangnya saja yang menjawab.

Sambil berseru memanggil-manggil nama gadis yang telah merampas hatinya itu, Kang Ek Sian mencari terus di daerah itu, semakin lama suaranya yang memanggil-manggil nama Ang I Niocu itu makin jauh sampai akhirnya tidak kedengaran lagi.

Bayangan merah berkelebat dari balik gerombolan pohon dan Ang I Niocu berdiri di situ menarik napas panjang berkali-kali. Ia tidak mau mendekati Kang Ek Sian. Pemuda ini orang baik-baik dan memiliki watak yang mulia. Kalau dia dekati, mungkin akan menjadi berubah seperti halnya Liem Sun Hauw.

Bukankah Sun Hauw tadinya juga seorang pemuda gagah perkasa yang berbudi mulia? Akan tetapi menjadi buta dan tidak kenal pribudi setelah tergoda oleh cinta. Ia tidak mau melihat Kang Ek Sian menjadi seperti itu.

Setelah berpikir sebentar, Ang I Niocu segera berlari-lari cepat turun gunung. Tujuannya adalah Pek-tiauw-san (Bukit Rajawali Putih) di mana ia akan mencari telur Rajawali Putih untuk dibuat obat anti tua agar ia tetap cantik jelita seperti Pek Hoa Pouwsat dahulu! Ang I Niocu tidak mau melayani kasih sayang pria, akan tetapi ia pun tidak mau menjadi tua, hendak muda selalu, cantik jelita selalu, dan menjatuhkan hati laki-laki.

Setelah dia mendapatkan telur Pek-tiauw dan meminumnya bersama obat sebagaimana yang diajarkan oleh mendiang Pek Hoa Pouwsat, benar saja Ang I Niocu menjadi makin cantik jelita, mukanya menjadi semakin halus kemerahan dan bercahaya, dan meski pun tahun demi tahun usianya meningkat, namun wajah serta bentuk tubuhnya masih tetap seperti seorang remaja berusia tujuh belas tahun!

Tidak terbilang banyaknya pria yang tergila-gila kepadanya, tua muda, ahli silat dan sastrawan, bangsawan dan petani, hartawan dan miskin. Namun, Ang I Niocu tetap tidak mau menerima seorang di antara mereka, hanya tersenyum makin manis sambil pergi meninggalkan mereka yang kehilangan semangat dan hati, pergi meninggalkan mereka yang bertekuk lutut mengharapkan balasan cintanya. Di samping semua ini, Ang I Niocu tidak lupa melakukan pekerjaan sebagai seorang pendekar wanita menolong orang-orang yang tertindas, membasmi si jahat dan si penindas.

Oleh karena itu beberapa tahun kemudian, nama Ang I Niocu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, kadang-kadang ganas sekali dan tidak mengenal ampun menghadapi penjahat. Seorang pendekar wanita yang cantik jelita seperti bidadari akan tetapi yang berhati batu, dingin membeku tidak pernah menghiraukan segala bujuk rayu kaum pria.


TAMAT

KISAH SELANJUTNYA: PENDEKAR BODOH