Dara Baju Merah Jilid 11

ANG I NIOCU

DARA BAJU MERAH

Karya Kho Ping Hoo

JILID 11

WANITA ini memang sudah mendengar tentang keadaan Han Le sebagai seorang laki-laki yang selamanya tidak pernah mau berdekatan dengan wanita, terkenal sebagai seorang laki-laki pembenci wanita, hidup seorang diri di Pulau Pek-le-to dan menjadi sute dari Bu Pun Su. Ini saja sudah menarik hatinya.

Apa lagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa Han Le pada dasarnya mempunyai wajah yang tampan dan gagah. Maka timbullah hati suka dan ia ingin menjadikan pria pembenci wanita ini sebagai kekasihnya. Tidak saja demikian, bahkan juga ia mempunyai niat untuk mempelajari ilmu silat yang lihai dari Han Le. Disamping semua ini, ia pun ingin menarik Han Le ke pihaknya untuk membantunya menghancurkan musuh-musuhnya, kemudian setelah semua usahanya berhasil dan ia sudah merasa bosan, mudah saja baginya untuk melenyapkan Han Le dari muka bumi ini.

Pek Hoa memperhebat gerakan-gerakannya yang penuh gairah dan pengaruh ajaib. Han Le menjadi makin mabuk sehingga akhirnya dengan napas memburu pengemis sakti ini mengeluh,

“Pek Hoa Pouwsat... hentikanlah... aku tidak kuat lagi...”

Pek Hoa tersenyum lebar, gembira dan puas bukan main. Kalau ia mau, dengan sekali tusuk saja akan tembus dada Han Le. Dengan ilmu silatnya yang baru ini, ia akan dapat menjagoi dunia kang-ouw!

Tentu saja ilmu baru ini tidak begitu besar pengaruhnya terhadap lawan wanita, namun untuk menghadapi lawan wanita, ia cukup memiliki ilmu silat tinggi. Biar Bu Pun Su sekali pun ia tidak takut menghadapinya!

“Han-taihiap, tidak indahkah tarianku ini...?” tanya Pek Hoa dengan suara berlagu.

“Indah, indah sekali, Pek Hoa Pouwsat. Bukan main indahnya,” Han Le menjawab sambil berusaha menggerakkan. ranting sebab sepasang pedang itu masih saja menyambar dan mengancam, biar pun digerakkan dengan cara yang amat manis dan sedap dipandang.

“Sukakah kau melihat aku memainkannya?”

“Suka, Pek Hoa Pouwsat, aku suka sekali...”

“Han-taihiap,” suara Pek Hoa Pouwsat semakin merdu merayu sambil dia memperhebat gerakan-gerakan tubuhnya secara tidak tahu malu. “Sukakah kau kepadaku...?”

Agak lama Han Le tak dapat menjawab, akan tetapi kedua matanya tak pernah berkedip menelan semua gerakan tubuh lawannya dan dia laksana terkena hikmat, terpesona oleh keindahan dan kecantikan yang telah mencengkeram seluruh semangat dan perasaan jiwanya. Kini dia sudah tidak menggerakkan rantingnya lagi, berdiri bagaikan patung dan tidak ingat lagi bahwa ia tengah menghadapi lawan, tengah bertempur.

“Aku suka sekali kepadamu, Pek Hoa...,” akhirnya dia menjawab dengan suara perlahan, seperti bukan suaranya sendiri.

Terdengar suara ketawa Pek Hoa Pouwsat, suara ketawa yang terdengar nyaring serta merdu, penuh kegenitan, akan tetapi bagi orang yang pikirannya sadar, suara ketawa ini mengandung sesuatu yang mengerikan. Namun bagi Han Le terdengar merdu menarik.

Pada lain saat Pek Hoa Pouwsat telah menyimpan sepasang pedangnya, melompat maju dan menggandeng lengan kanan Han Le dengan gaya yang manja dan genit, tersenyum-senyum dan melirik-lirik ke arah wajah pengemis sakti itu, membetotnya dan berkata,

“Kalau begitu, Han-taihiap, marilah kita pergi ke pulaumu!”

Han Le yang sudah berada di dalam cengkeraman pengaruh jahat, sudah seperti orang mabuk atau orang bermimpi, hanya menurut saja pada saat dia ditarik-tarik oleh Pek Hoa Pouwsat. Pek Hoa berpaling kepada Kam Kin yang memandang semua itu dengan mata melotot marah.

Ia penuh dengan hati cemburu, akan tetapi apakah yang dapat ia lakukan? Ia tak berdaya di depan suci-nya atau kekasihnya yang memang lebih lihai dari padanya.

“Sute, kau pulanglah dulu, aku titip murid keponakanmu Im Giok, biar menanti kembaliku di rumahmu.”

Kemudian dengan suara ketawa seperti siluman, Pek Hoa Pouwsat yang menggandeng lengan Han Le menarik bekas lawannya itu. Han Le tidak membantah dan keduanya lalu berlari cepat sambil bergandengan.

*****

“Tidak! Aku tidak mau ikut, jangan sentuh aku!” Dengan gerakan lincah Im Giok melompat dan mengelak menjauhi Giam-ong-to Kam Kin yang hendak menggandeng tangannya.

Kam Kin menyeringai dan memandang kepada Im Giok bagai seekor kucing memandang tikus. Tadinya dia marah dan jengkel sekali melihat sikap Pek Hoa yang pergi bersama Han Le. Laki-laki mana yang tak akan menjadi gemas menyaksikan kekasihnya main gila dengan lelaki lain?

Akan tetapi setelah ia memandang Im Giok, kegemasannya lenyap, bahkan terganti oleh kegembiraan. Meski pun Im Giok baru berusia sepuluh tahun lebih, namun gadis cilik ini sudah mempunyai kecantikan luar biasa. Dia hampir menyerupai Pek Hoa dan pantaslah kalau ia disebut Pek Hoa kecil atau seorang adik dari Pek Hoa Pouwsat.

Dalam pandang mata Kam Kin, Im Giok merupakan seorang calon bidadari, atau seperti sebuah kuncup kembang yang tak kalah menariknya oleh kecantikan Pek Hoa Pouwsat. Dan bocah mungil ini dititipkan kepadanya! Dengan girang ia lalu mendekati Im Giok dan hendak menggandeng. Akan tetapi siapa kira, bocah itu menolak dan menjauhinya.

“Im Giok, kau jangan banyak tingkah. Gurumu telah menyerahkan kau dalam rawatanku. Hayo ke sini dan ikut aku pulang!” berkata Kam Kin sambil melangkah lebar menghampiri gadis cilik itu.

“Aku tidak mau! Kau pergilah sendiri, aku tidak mau ikut denganmu.” Im Giok membandel.

“Ehh, ehhh, bocah bandel. Kalau kau tidak makin manis ketika membandel, tentu sudah kutempeleng kepalamu. Hayo ke sini, berani kau membantah susiok-mu?” Kini Kam Kin melompat dan tangannya diulur untuk menangkap pergelangan tangan Im Giok.

“Tidak, aku tidak mempunyai susiok seperti kau. Aku tidak mau ikut!” Im Giok mengelak, kemudian melihat Kam Kin berusaha menangkapnya, ia segera melarikan diri.

“Kurang ajar! Sekecil ini sudah berani kurang ajar dan keras kepala. Benar-benar calon kuda betina liar! Kuncup mawar berduri! Ke sini kau, Im Giok!” Kam Kin mengejar.

Akan tetapi Im Giok mempercepat larinya. Dasar bocah ini memang lincah dan tubuhnya ringan, apa lagi ditambah oleh latihan ginkang yang ia terima dari Pek Hoa Pouwsat. Kini perasaan wanitanya memperingatkan bahwa dia sedang menghadapi bahaya besar yang mengancam sehingga membuat ia ketakutan, maka larinya cepat seperti rusa muda.

“Im Giok, berhenti kau...!” Kam Kin mulai marah dan mengejar secepatnya.

Betapa pun juga, dia seorang laki-laki dewasa dan ilmu silatnya sudah tinggi, maka tentu saja ia dapat mengejar dan menyusul Im Giok. Hanya kelincahan anak itu yang membuat ia mengkal sekali. Setiap kali dia telah mendekat dan hendak menangkap, tiba-tiba anak itu miringkan tubuh dan mengganti arah sehingga Kam Kin terpaksa harus membalikkan tubuh dan kembali telah tertinggal agak jauh.

Namun Im Giok maklum pula bahwa ia takkan dapat menghindarkan diri lebih lama. Kam Kin telah memiliki ilmu lari cepat yang tak dapat dilawannya. Ia berlari terus dan akhirnya Im Giok memasuki sebuah hutan.

Di sini ia justru lebih leluasa mempermainkan Kam Kin sebab hutan ini banyak pohonnya. Dengan cara melompat ke sana ke mari dari balik pohon yang ini ke pohon itu dia dapat terus menghindarkan diri.

“Manusia tak tahu malu!” makinya berkali-kali. “Mengapa kau tidak mau membiarkan aku pergi? Kau mau apakah? Cih, tak tahu malu. Namanya saja besar, Giam-ong-to, hemm, tak tahunya seorang laki-laki tiada guna, pengecut dan pengganggu anak kecil!”

Kam Kin makin marah. “Siluman cilik, kau tunggu saja dan rasakan nanti kalau kau sudah tertangkap olehku!”

Dengan sangat bernafsu ia menubruk lagi, akan tetapi kemball ia memeluk batang pohon karena Im Giok sudah melompat ke tempat persembunyian lain dengan cekatan seperti seekor kera.

“Awas kau, setan cilik, kulumat dagingmu, kugerogoti tulang-tulangmu...!” Kam Kin memaki-maki gemas.

Akan tetapi ia menjadi girang sekali pada saat melihat bahwa Im Giok makin mendekati lapangan terbuka yang tak ada pohonnya. Ada pun Im Giok saking sibuk dan gugupnya, tidak tahu bahwa di belakangnya adalah lapangan terbuka, tempat yang tidak ada pohon dan berarti ia tak akan dapat menyembunyikan diri seperti kalau berada di hutan yang lebat.

Kam Kin memaki-maki, mengancam-ancam dan mengejar terus. Dan akhirnya, Im Giok memekik kaget ketika dia melompat dari pohon terakhir. Dia tiba di padang rumput yang tiada berpohon.

“Ha-ha-ha, kupu-kupu cantik, kau hendak lari ke manakah? Lebih baik kau berlaku manis dan menurut saja pergi dengan susiok-mu. Jika kau menurut dan tak banyak membantah, aku takkan bersikap kasar kepadamu, Im Giok yang jelita,” kata Kam Kin sambil tertawa lebar.

Im Giok melompat dan melarikan diri lagi. Saking gugupnya kakinya terjerat rumput dan ia pun roboh terguling. Di belakangnya ia mendengar suara Kam Kin tertawa bergelak.

Dalam terguling itu, kedua tangan Im Giok menyambar batu dan kayu kering. Kemudian dia melompat berdiri, tangan kirinya digerakkan dan batu tadi melayang ke arah kepala Kam Kin yang hendak menubruknya.

“Eh, kau berani melawanku!” bentak Kam Kin yang mudah saja mengelak dari sambaran batu. Kemudian ia melangkah maju, tangan kanan digerakkan untuk menangkap.

“Jangan sentuh aku!” Im Giok berteriak keras dan ranting kering yang tadi diambilnya dari atas tanah ketika ia jatuh, cepat ditusukkan ke arah pusar susiok-nya.

Kam Kin terkejut, cepat mengelak. Meski pun yang menyerangnya hanya seorang gadis cilik yang berumur sepuluh tahun, akan tetapi serangan itu dilakukan menurut ilmu silat tinggi, dan sungguh pun masih kecil, tenaga Im Giok bukanlah tenaga biasa, akan tetapi tenaga yang sudah terlatih. Apa lagi kalau dilihat bagian yang diserang pun bukan bagian tubuh yang kuat.

Setelah mengelak Kam Kin lalu menubruk lagi, akan tetapi sia-sia. Im Giok yang sudah berlatih selama empat tahun tidak membuang waktu sia-sia. Ia telah memiliki dasar ilmu silat tinggi dan telah memiliki gerakan yang otomatis dan lincah sekali.

Tubrukan Kam Kin dapat ia hindarkan dengan lompatan ke kiri dan sebagai pembalasan, rantingnya kini meluncur cepat menusuk ke arah mata paman gurunya. Tusukan ke arah mata ini hanya pancingan belaka karena sebelum lawan mengelak, ujung ranting itu telah meluncur ke arah jalan darah di leher! Inilah serangan hebat dan luar biasa bagi seorang anak kecil itu.

“Kurang ajar!” Kam Kin membentak marah dan juga kaget karena kalau tangannya tidak cepat-cepat menyampok, hampir saja jalan darah pada lehernya terkena totokan ujung ranting, dan hal ini bukan merupakan hal yang tidak berbahaya baginya.

Saking marahnya, Kam Kin segera mengeluarkan kepandaiannya. Sepasang tangannya ditekuk merupakan kuku harimau, kemudian ia mengeluarkan ilmu silat Hauw-jiauw-kang. Beberapa kali saja ia bergerak, ranting di tangan Im Giok telah kena disambar dan dibetot terlepas dari pegangan Im Giok. Kemudian ia menubruk lagi.

Im Giok mencoba untuk mengelak.

“Breettt!”

Pakaian Im Giok bagian pundak kiri robek hingga nampak kulit pundak yang putih bersih dan halus. Melihat ini, Kam Kin semakin menggila dan sambil tertawa-tawa dia menubruk lagi.

Im Giok menjadi bingung. Hanya dengan menjatuhkan diri kemudian bergulingan ia dapat menghindarkan tubrukan Kam Kin. Kemudian dia melompat lagi dan berlari secepatnya.

Diam-diam dia mengeluh karena sekarang habislah dayanya untuk menyelamatkan diri. Akan tetapi ia pun mengambil keputusan nekat untuk melawan mati-matian, kalau perlu ia akan melawan dengan dua pasang kaki tangan dan juga giginya.

Sesudah mendengar derap kaki pengejarnya sudah berada dekat sekali di belakangnya sampai-sampai dia mendengar dengus napas Kam Kin, Im Giok memasang kuda-kuda dan membalikkan tubuh, langsung menyerang dengan menonjokkan kedua tangannya ke depan.

“Ha-ha-ha, kau kuda betina liar...!” Kam Kin tertawa sambil menggerakkan tangan kiri.

Di lain saat, tangan kirinya itu telah memegang erat-erat sepasang pergelangan tangan Im Giok, membuat gadis cilik itu tak dapat berkutik. Namun Im Giok sudah nekat.

“Lepaskan tanganku!” bentaknya dan kakinya menendang ke arah bawah pusar.

Biar pun kakinya kecil, namun sekiranya tendangan ini mengenai sasaran, biar pun Kam Kin berkepandaian tinggi, kiranya Kam Kin akan roboh binasa atau setidaknya pingsan!

Kam Kin cepat menangkap kaki kecil ini dengan tangan kanannya dan di lain saat tubuh Im Giok sudah diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ha-ha-ha, burung cilik, coba kulihat kau mau berbuat apa lagi sekarang, ha-ha-ha!”

Tiba-tiba Kam Kin merasa tubuh Im Giok meronta keras atau seperti juga direnggut orang dari tangannya. Dia tidak tahu betul apa yang telah terjadi, akan tetapi tahu-tahu kedua tangannya sudah kosong dan Im Giok sudah lenyap. Ketika dia membalikkan tubuh, dia melihat bocah itu telah berdiri di atas tanah dan di sebelahnya berdiri seorang kakek yang bermata bintang!

Sepasang mata kakek ini demikian tajam berpengaruh sehingga Kam Kin merasa gentar juga, maklum bahwa ia menghadapi seorang berkepandaian tinggi. Akan tetapi, karena ia tidak mengenal siapa adanya kakek ini, Kam Kin memberanikan hatinya dan membentak keras,

“Anjing tua, siapakah kau berani bermain gila di depan Giam-ong-to Kam Kin?”

“Kakek, jangan takut. Nama Giam-ong-to hanya untuk menakut-nakuti belaka, sebetulnya dia seorang pengecut besar!” Im Giok berkata dan nona cilik ini kembali dengan nekat maju menyerang Kam Kin dengan pukulan ke arah lambung.

Dengan mudah Kam Kin menangkis, kini karena dia merasa gemas, tangkisannya keras hingga membuat tubuh Im Giok terhuyung lalu roboh tertelungkup di atas rumput. Namun gadis cilik itu tidak menjadi kapok atau takut, bahkan dengan marah dia bangkit kembali dan menyerang susiok-nya lagi.

“Bocah edan, apakah kau ingin aku marah dan memukul mampus padamu?” bentak Kam Kin dan kali ini ia kembali dapat menangkap tangan Im Giok.

“Boleh pukul mampus, siapa takut?” bentak Im Giok yang meronta-ronta.

“Lepaskan dia!” tiba-tiba kakek itu membentak keras.

Dan aneh sekali. Walau pun Kam Kin tidak melihat kakek itu bergerak, namun ia merasa tangannya yang memegang lengan Im Giok menjadi lemas sehingga gadis cilik itu dapat merenggut diri dan terlepas.

Kam Kin memandang kepada kakek itu dengan mata merah.

“Bangsat tua, kau berani mencampuri urusanku?”

Sepasang tangannya bergerak dan tahu-tahu golok besarnya telah berada di tangan dan di lain saat ia telah mengirim serangan hebat ke arah kakek itu. Golok itu dibacokkan ke arah kepala untuk kemudian disusul dengan babatan ke leher. Memang permainan golok dari Kam Kin sangat ganas dan kuat, dan tidak terlalu dilebihkan apa bila dia mempunyai julukan Golok Maut.

Akan tetapi, alangkah terkejut hatinya ketika tiba-tiba kakek itu dengan tenang dan cepat menggerakkan tangan kiri, lalu menyentil golok itu dengan jari tangannya.

“Cringg…!”

Terdengar suara yang nyaring dan golok itu menjadi somplak! Sentilan kedua menyusul dan kini golok itu terlempar jauh. Kam Kin tak kuasa menahan karena seakan-akan golok itu direnggut oleh tangan yang bertenaga raksasa.

“Ini untuk kekurang ajaranmu padaku, dan yang ini untuk kekejamanmu terhadap seorang gadis cilik!” kakek itu berkata sambil menggerakkan jari tangannya menyentil.

Kam Kin menjerit kesakitan sambil memegangi kedua telinganya yang daunnya sebelah bawah hancur terkena sentilan jari tangan kakek yang lihai itu. Walau pun luka itu tidak berbahaya sama sekali, akan tetapi sakitnya cukup membuat Kam Kin mengaduh-aduh. Darah mengalir di sepanjang lehernya kanan kiri.

“Setan tua, harap suka memperkenalkan nama. Kelak Giam-ong-to Kam Kin pasti akan membalas penghinaan ini!” Kata Kam Kin sambil menggigit bibir menahan rasa nyeri.

Kakek itu tersenyum duka, mengeleng-geleng kepalanya lalu berkata perlahan, “Untuk dapat mencapai tingkat kosong, kau harus belajar puluhan tahun lagi, dan bila kau sudah mencapai tingkat itu, aku pun sudah mati. Akan tetapi kalau kau menghendaki, biarlah kau tahu bahwa aku kakek tua bangka ini tidak punya nama juga tidak punya kepandaian. Nah, kau pergilah!”

Mendadak wajah Kam Kin menjadi pucat bukan main. Dia melangkah mundur tiga tindak seakan-akan kata-kata itu merupakan pukulan yang menyambar mukanya.

“Bu Pun Su...!” katanya setengah berbisik, kemudian dia segera lari lintang pukang tanpa menghiraukan goloknya yang masih menggeletak di atas tanah.

Tiba-tiba Bu Pun Su mengeluarkan suara terkejut dan terheran ketika anak perempuan yang baru saja ditolongnya itu menyerangnya kalang-kabut. Im Giok menyerang dengan nekat, sama nekatnya ketika ia tadi menyerang Kam Kin.

“Ehh, ehhh, bukan laku seorang gagah kalau menyerang orang tanpa memberi tahukan sebab-sebabnya. Bocah galak, kenapa kau menyerang aku?” Bu Pun Su bertanya tanpa mempedulikan tangan Im Giok yang memukul tubuhnya.

“Karena kau bernama Bu Pun Su dan menurut guruku, Bu Pun Su adalah seorang paling jahat di dunia ini dan harus dibasmi,” Im Giok menjawab sambil melompat mundur karena pukulannya yang mengenai tubuh kakek itu seolah-olah mengenai tumpukan kain belaka, membuat hatinya terheran dan gentar.

Bu Pun Su mengerutkan kening, lalu tertawa. “Gurumu memang betul, siapa sih nama gurumu yang mulia.”

“Guruku adalah Bi Sian-li Pek Hoa Pouwsat,” jawab Im Giok bangga.

Dia memang selalu merasa bangga mengaku Pek Hoa sebagai gurunya, bukan hanya bangga karena ilmu kepandaian Pek Hoa yang tinggi, terutama sekali bangga karena Pek Hoa dianggapnya wanita paling cantik di dunia ini dan amat mengagumkan hatinya.

Akan tetapi, kalau biasanya setiap laki-laki mendengar nama Pek Hoa Pouwsat nampak kagum dan gembira, tidaklah demikian dengan kakek ini. Sepasang matanya yang seperti bintang itu lantas bercahaya dan menatap kepada Im Giok dengan tajam berapi seakan hendak membakarnya.

“Dan kau she Kiang?”

“Betul, aku she Kiang bernama Im Giok,” kata gadis cilik itu kini tiba gilirannya terheran.

“Sungguh tak baik! Kalau kau dipelihara dan diambil murid seekor serigala kiranya takkan begitu buruk. Dan kau bahkan girang dan bangga menjadi muridnya. Benar-benar tanda tak baik bagi keluarga Kiang. Ehh, bocah tolol, tidak tahukah kau bahwa kau telah diculik oleh siluman betina yang ganas dan jahat?”

“Enci Pek Hoa bukan siluman betina dan aku suka menjadi muridnya,” bantah Im Giok.

Wataknya yang keras masih berkata demikian, biar pun di dalam hatinya dia sudah mulai tidak suka kepada gurunya itu semenjak mereka turun gunung dan ia melihat perbuatan-perbuatan yang ganjil dan memalukan dari gurunya.

“Bodoh, tolol! Tak tahukah kau bahwa penculikan terhadapmu ini mengakibatkan matinya ibumu dan gilanya ayahmu?” Bu Pun Su membentak.

Wajah Im Giok seketika menjadi pucat. Sepasang mata yang lebar dan indah bentuknya itu terpentang menatap wajah Bu Pun Su tanpa berkedip, kemudian perlahan-lahan mata itu menjadi basah dan air mata mulai menitik turun.

“Ibu... meninggal?”

Anak ini telah lupa lagi bagaimana bentuk wajah ayahnya yang telah pergi meninggalkan ibunya semenjak ia masih kecil sekali. Selama ia pergi ikut Pek Hoa, yang terbayang di depan matanya hanya wajah ibunya dan ia memang merasa amat rindu kepada ibunya.

Kini mendengar bahwa ibunya telah meninggal, tentu saja hatinya terasa seperti diiris-iris dan hanya kemauan dan perasaan yang keras saja yang dapat menahannya sehingga ia tidak menjerit-jerit. Sebaliknya, ia hanya menggigit bibirnya dan berusaha menahan pekik tangis sampai-sampai bibirnya terluka dan berdarah!

Pandangan mata Bu Pun Su menjadi berubah. Kini dia merasa kagum melihat bocah itu. Tadinya ia mengira bahwa Im Giok tentu akan menangis menjerit-jerit mendengar tentang ibunya meninggal dan ayahnya menjadi gila. Sebagian besar perempuan cantik biasanya mengandalkan tangisnya.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaannya bahwa gadis cilik ini tidak menangis, bahkan dia menunjukkan kekerasan hatinya dengan menggigit bibir sampai berdarah. Baru berusia sepuluh tahun sudah memiliki kekerasan hati seperti itu, benar-benar seorang anak yang berbakat untuk menjadi orang gagah, pikir Bu Pun Su senang.

Kakek ini mendengar tentang nasib Kiang Liat, merasa kasihan sekali. Maka, kini melihat puteri Kiang Liat ‘ada isinya’, ia ikut gembira.

“Kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu?”

Kesedihan membuat Im Giok tak dapat berkata-kata sampai beberapa lama. Kemudian ia mengeraskan hati menindas perasaannya, dan bertanya.

“Di mana ayah? Mengapa ia menjadi gila dan mengapa ia dahulu meninggalkan ibu?”

Bu Pun Su mengerti bahwa anak ini sudah terkena pengaruh Pek Hoa. Ini dapat dilihat tanda-tandanya dari cara anak ini berpakaian, bersolek dan bergaya ketika bicara, maka ia sengaja hendak menjauhkan hati anak ini dari Pek Hoa.

“Ibumu meninggal adalah karena Pek Hoa telah menculikmu. Di depan ibumu, Pek Hoa mengaku sebagai dewi dan dipercaya penuh oleh ibumu. Tidak tahunya, di balik semua itu, Pek Hoa hendak membalas dendam pada ayahmu yang membencinya. Sengaja Pek Hoa membawamu untuk membikin duka ibumu. Betul saja, ibumu menjadi sedih, bingung dan akhirnya jatuh sakit lalu meninggal. Ayahmu lantas menjadi gila akibat melihat ibumu meninggal.”

Im Giok adalah seorang yang masih kecil, usianya baru sepuluh tahun lebih. Tentu saja ia mudah dibakar hatinya. Mendengar kata-kata Bu Pun Su, mukanya yang tadi pucat kini menjadi merah sekali.

“Kalau begitu, Suci Pek Hoa yang membunuh ibuku dan merusak hidup ayahku!”

Diam-diam Bu Pun Su menyesal karena ia telah melakukan suatu perbuatan yang buruk, yakni menanam kebencian dalam hati seorang anak-anak. Akan tetapi semua ini adalah demi kebaikannya sendiri, pikirnya. Apa bila anak ini tidak membenci Pek Hoa, banyak bahayanya kelak ia akan meniru sepak terjang Pek Hoa yang dikaguminya.

“Kau boleh anggap begitu. Akan tetapi ibumu sudah meninggal, tak perlu diributkan lagi. Yang penting adalah ayahmu, sebab kalau tidak cepat-cepat kau hibur hatinya, kiraku tak lama lagi ayahmu akan menyusul ibumu.”

Bercucuran air mata dari sepasang mata gadis cilik itu ketika mendengar kata-kata ini. Akan tetapi tetap saja ia tidak memperdengarkan isak tangis.

“Kakek yang baik, harap kau suka membawaku kepada Ayah...”

Kata-katanya terhenti dan pada lain saat Im Giok telah ‘terbang’. Pergelangan tangannya dipegang oleh Bu Pun Su dan ketika kakek ini berlari, Im Giok merasa seakan-akan dia telah terbang.

Kedua kakinya tidak menginjak tanah, akan tetapi tubuhnya melayang demikian cepatnya sehingga dia terpaksa harus menutup kedua matanya. Hanya telinganya saja yang dapat mendengar suara angin menderu dan mukanya terasa dingin tertiup angin.

Diam-diam bocah ini merasa kagum dan juga terkejut bukan main. Dia tadi memang telah menyaksikan betapa lihainya kakek ini yang dengan mudah mengalahkan Kam Kin. Akan tetapi karena memang ia memandang rendah kepada Kam Kin, kemenangan Bu Pun Su tadi tidak dianggap istimewa. Gurunya sendiri pasti dengan mudah mengalahkan Kam Kin.

Akan tetapi berlari cepat seperti ini, benar-benar luar biasa sekali. Gurunya sendiri tidak mungkin dapat menirunya.

Kho Ping Hoo Serial Bu Pun Su
*****

DI LUAR kota tembok Liong-san-mui terdapat sebuah kelenteng tua yang sudah lama tidak pernah mengebulkan asap hio, tanda bahwa kelenteng itu tidak dipakai orang lagi. Sudah bertahun-tahun kelenteng itu tinggal kosong dan makin lama menjadi semakin rusak tidak terpelihara. Penghuninya hanyalah laba-laba yang membuat sarang pada setiap sudut, membuat kelenteng itu nampak menyeramkan sekali.

Tidak ada orang yang berani masuk ke dalam. Bahkan para jembel yang tak mempunyai tempat tinggal dan mempergunakan ruang depan kelenteng itu untuk tempat tidur atau berteduh, tidak berani sembarangan masuk ke dalam kelenteng itu.

Akan tetapi akhir-akhir ini, kurang lebih sudah seminggu, terjadi perubahan besar. Tidak ada lagi jembel yang berani tinggal di situ dan keadaan kelenteng itu tidak kosong lagi. Seorang laki-laki bertubuh gagah dan tampan, berpakaian bagai seorang pendekar, telah menjadikan kelenteng itu sebagai tempat tinggalnya.

Orang ini gerak-geriknya aneh sekali. Wajahnya selalu tampak muram dan berduka, akan tetapi tidak jarang orang mendengar gema suara ketawanya memecah kesunyian tengah malam. Sejak ia mengusir semua jembel dari ruang depan kelenteng, kemudian memukul kocar-kacir belasan orang pengemis yang datang hendak merampas kembali tempat itu, tidak ada lagi orang berani datang mengganggunya.

“Dia pendekar yang aneh,” kata seorang yang mengerti ilmu silat, “gerakan-gerakannya menunjukkan bahwa dia seorang ahli silat tinggi. Lihat saja cara ia ketika menyarungkan pedangnya, tentu pedang pusaka.”

“Dia berotak miring,” berbisik orang ke dua, “Pernah di tengah malam aku mendengar dia tertawa bergelak seperti iblis, dan pernah aku mendengar dia menangis tersedu-sedu dan akhirnya memaki-maki.”

“Dia orang yang aneh, benar-benar pendekar aneh,” demikian akhirnya orang mengambil kesimpulan.

Tadinya penduduk Liong-san-mui mengatakan sebutan ‘pendekar aneh’ ini dengan nada mengejek dan menertawakan. Akan tetapi tiga hari kemudian semenjak orang itu berada di situ, sebutan ini berubah menjadi sebutan yang disertai rasa kagum, segan, dan sangat menghormat. Tidak seorang pun berani lagi menganggapnya ‘berotak miring’ betapa pun aneh kelakuan orang ini.

Hal ini terjadi setelah pendekar aneh yang dianggap gila ini pada suatu malam, seorang diri dan bertangan kosong, telah merobohkan serombongan perampok yang mengganggu kota Liong-san-mui, dan menyerahkan rombongan perampok terdiri dari tujuh belas orang ini kepada yang berwajib!

Tikoan, pembesar yang menerima tawanan perampok itu, menghaturkan ucapan terima kasih dan menanyakan nama orang gagah itu. Akan tetapi, benar-benar orang aneh. Dia tidak mengaku, bahkan nampak marah-marah ketika berkata,

“Kewajiban Taijin hanya menerima dan menghukum orang-orang jahat itu, habis perkara. Perlu apa tanya-tanya namaku? Aku tidak minta hadiah!”

Maka pergilah dia meninggalkan Tikoan yang menjadi bengong, akan tetapi tidak berani berbuat apa-apa terhadap orang-orang yang bersikap aneh dan kurang ajar itu. Karena sikap yang kurang ajar inilah, maka selanjutnya para pembesar setempat tidak mau dan sungkan menghubunginya. Akan tetapi betapa pun juga, penduduk amat berterima kasih dan menganggapnya sebagai tuan penolong atau pendekar budiman.

Siapakah pendekar aneh itu? Untuk mengenalnya, mari kita melihat ke dalam kelenteng dan mengikuti gerak-geriknya.

Di ruangan yang paling dalam di kelenteng itu, ruangan yang gelap akan tetapi bersih dari sarang laba-laba karena ruangan ini dijadikan kamar tidur dan telah dibersihkan, nampak seorang laki-laki duduk bersila di atas lantai yang telah disapu bersih.

Seperti orang bersemedhi, laki-laki ini duduk bersila menghadapi meja sembahyang yang sudah tua dan sudah amat lama tak pernah dipakai orang. Kalau orang melihatnya dari belakang, tentu mengira bahwa ia sedang bersemedhi, tak bergerak seperti patung.

Akan tetapi kalau orang melihat dari depan dan berada dekat dengannya, akan kelihatan jelas bahwa orang biar pun tubuhnya tidak bergerak, akan tetapi bibirnya bergerak-gerak dan terdengar dia bercakap-cakap dengan suara perlahan. Dari sepasang matanya yang dipejamkan itu bercucuran air mata. Kalau orang mendengar dia seperti bercakap-cakap tanya jawab dengan seorang yang tidak kelihatan, orang tentu akan menganggap ia gila.

“Bi Li, aku memang berdosa besar kepadamu, isteriku... Kini aku mengaku, sebenarnya akulah yang membunuhmu, akulah yang memaksamu meninggal dunia karena menyiksa hatimu. Aku orang berdosa besar, Bi Li. Kau ampunkan suamimu yang hina dan bodoh ini, isteriku…”

Mendengar ucapan yang berupa bisikan ini, tahulah kita bahwa orang itu tidak lain adalah Jeng-jiu-san Kiang Liat. Seperti sudah dituturkan pada bagian depan, setelah menerima pukulan yang hebat dari penuturan Ceng Si bekas pelayan isterinya bahwa sebenarnya isterinya itu tak berdosa apa-apa, dan bahwa isterinya meninggal dunia karena menyesal dan berduka ditinggal suaminya, Kiang Liat seperti orang gila.

Hatinya penuh penyesalan dan ia merantau ke sana ke mari. Hidupnya hanya bertujuan satu, yakni mencari puterinya yang diculik oleh Pek Hoa Pouwsat. Apa bila kiranya Bi Li tidak meninggalkan anak, tentu Kiang Liat sudah membunuh diri untuk menyusul isterinya yang tercinta.

Dia tidak peduli lagi keadaan tubuhnya yang menderita pukulan batin dan membuat dia kadang-kadang muntah darah. Akan tetapi ia mulai mengumpulkan uang. Sesuai dengan wataknya, ia selalu memberantas kejahatan. Setiap kali ia membasmi penjahat, selalu ia merampas milik penjahat itu sehingga sebentar saja ia sudah dapat mengumpulkan harta kekayaan yang besar juga, yang disembunyikan dalam sebuah goa. Selama empat tahun lebih ia merantau, mencari-cari Pek Hoa. Akan tetapi sia-sia belaka, tak seorang pun di dunia kang-ouw tahu ke mana siluman itu menghilang.

Kiang Liat mengumpulkan uang bukan sekali-kali dikarenakan dia ingin hidup bersenang-senang, akan tetapi dia sengaja mengumpulkan harta untuk kelak dipakai menyenangkan hidup Im Giok anaknya. Bahkan ia mulai pula mengganti pakaiannya yang kotor dengan pakaian bersih dan indah, karena dia ingin kelihatan gagah apa bila dia berhasil bertemu dengan puterinya.

Setiap malam dia teringat kepada isterinya itu. Keadaan pendekar ini benar-benar sangat memilukan hati. Benar-benar amat berat hukuman yang dideritanya akibat kecerobohan dirinya terhadap isterinya,.

Sesudah mengeluarkan kata-kata itu sambil memandang ke atas meja, Kiang Liat diam beberapa lama, sikapnya seperti sedang mendengarkan orang yang bicara kepadanya. Kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata,

“Tentu saja, Bi Li. Aku pasti akan mencari Im Giok sampai ketemu. Aku akan mengadu nyawa dengan siluman Pek Hoa dan merampas kembali anak kita. Sudah empat tahun aku mencari jejaknya dengan sia-sia, akan tetapi aku tidak pernah putus asa. Sebelum putus nyawaku, aku tidak akan berhenti berusaha mencari Im Giok.”

Kiang Liat menarik napas panjang, menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya dan berkata lagi, “Kau tidak percaya kepadaku, Bi Li? Sudah sepantasnya kalau kau tidak mempercayai seorang suami goblok seperti aku, seorang suami buta yang menuduh isterinya yang setia berlaku tidak patut. Memang kau berhak tidak percaya kepadaku, Bi Li isteriku. Akan tetapi, biarlah aku Kiang Liat bersumpah, aku akan mencari Im Giok sampai saat penghabisan. Biarlah rambutku menjadi saksi!”

Setelah berkata demikian, Kiang Liat mencabut pedangnya dan berlutut. Dengan tangan kiri dijambaknya rambutnya yang hitam panjang, dan tangan kanannya yang memegang pedang bergerak membabat rambutnya sendiri! Putuslah rambut di kepalanya dan kepala itu kini hanya tinggal ditumbuhi rambut pendek saja.

“Ayaaah...!”

Tiba-tiba saja bayangan merah melayang turun dan ternyata yang melompat turun adalah seorang gadis cilik berpakaian merah, sedangkan di belakangnya turun seorang kakek.

Kiang Liat memandang dengan mata bengong, tidak mengenal siapa adanya anak yang menyebut ayah kepadanya itu. Kemudian saat ia melirik ke arah kakek yang telah berdiri di belakang gadis cilik itu, ia terkejut sekali, melempar pedangnya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Kiang Liat boleh jadi agak gendeng dan miring otaknya bila ia sedang tenggelam dalam lamunan sendiri dan mengingat akan isterinya. Akan tetapi pada lain waktu ia merupakan seorang manusia biasa yang sadar.

“Teecu tidak tahu akan kedatangan Suhu Bu Pun Su, mohon ampun kalau teecu tidak menyambutnya,” katanya penuh hormat dan segan.

Memang kalau ada orang di dunia ini yang disegani dan ditakuti oleh Kiang Liat, orang itu tak lain hanya Bu Pun Su dan mungkin juga Han Le.

Bu Pun Su memandang kepada Kiang Liat, sinar matanya penuh belas kasihan.

“Kiang Liat, jangan terlalu jauh dilarutkan oleh lamunan dan kedukaan. Inilah Kiang Im Giok puterimu, sengaja kubawa ke sini agar kau dapat hidup kembali bersama puterimu. Pergunakanlah sisa hidupmu sebaiknya untuk mendidik anakmu ini, Kiang Liat.”

Mendengar ini, dengan muka pucat Kiang Liat segera menengok ke arah Im Giok. Ayah dan anak berpandangan, dua pasang mata perlahan-lahan mengeluarkan air mata, dua pasang bibir bergerak-gerak dan bergemetar tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata.

Kiang Liat mengulurkan dua lengan yang tangannya menggigil, ada pun Im Giok perlahan melangkah maju.

“Im Giok... kau... anakku...?”

“Ayaah...!”

Di lain saat ayah dan anak itu sudah berpelukan dan bertangisan.

Bu Pun Su terbatuk-batuk untuk menenangkan hatinya sendiri yang ikut merasa terharu dan pilu. Setelah membiarkan mereka melepaskan perasaan hati untuk sementara, lalu dia berkata,

“Sudahlah, tidak baik menurutkan perasaan, mendatangkan kelemahan saja. Kiang Liat, anakmu ini berbakat baik dalam ilmu silat, biar aku tinggalkan dua macam ilmu silat untuk kelak kau turunkan kepadanya. Akan tetapi kau hati-hatilah, wataknya keras dan aneh, perlu dikendalikan dengan kuat!”

Kiang Liat girang sekali mendengar ini.

“Im Giok, anakku, lekas kau menghaturkan terima kasih kepada Susiok-couw-mu (Paman Kakek Guru).” Kiang Liat menarik tangan Im Giok dan keduanya berlutut di depan kakek sakti itu.

Dengan sangat tekun, Kiang Liat mempelajari dua ilmu silat yang diturunkan oleh Bu Pun Su untuk Im Giok. Pertama-tama Bu Pun Su minta supaya Im Giok bersilat menurut apa yang dia pelajari dari Pek Hoa Pouwsat. Bu Pun Su adalah seorang sakti yang memiliki kepandaian aneh dan luar biasa. Sekali saja melihat, ilmu silat apa pun juga dapat ia tiru dengan gerakan yang jauh lebih sempurna dari pada aslinya! Demikian pula dengan ilmu silat yang dimainkan oleh Im Giok, sekali melihat kakek ini dapat menurunkan ilmu silat yang sama, akan tetapi yang sama sekali bebas dari kelemahan dan kekurangan.

Pendeknya, Bu Pun Su memperbaiki dan menyempurnakan ilmu silat yang seperti tarian, yang dipelajari oleh Im Giok dari Pek Hok Pouwsat. Ada pun ilmu silat ke dua yang dia turunkan kepada Kiang Liat untuk Im Giok yaitu ilmu silat pedang yang disesuaikan pula dengan gerakan dan bakat yang sudah menjadi dasar dari Im Giok.

Selain dua macam ilmu silat yang khusus untuk Im Giok ini, juga kepada Kiang Liat kakek ini menurunkan ilmu berlatih lweekang dan ginkang sehingga Kiang Liat merasa bersukur sekali. Sampai dua pekan Bu Pun Su tinggal di kelenteng kuno itu bersama Kiang Liat dan Im Giok dan siang malam mereka tekun menerima pelajaran baru dari kakek sakti itu.

Sesudah selesai dan hendak meninggalkan mereka, Bu Pun Su berkata dengan suara sungguh-sungguh.

“Kiang Liat dan kau juga Im Giok, dengarlah baik-baik. Setelah kalian menerima pelajaran dariku, maka selanjutnya kalian harus menjaga diri baik-baik. Sekali saja aku mendengar kalian menggunakan kepandaian yang kalian pelajari dariku untuk melakukan perbuatan menyeleweng dan sewenang-wenang, aku sendiri akan datang memberi hukuman berat.”

Setelah Bu Pun Su pergi, Kiang Liat memeluk puterinya dan berkata dengan hati girang sekali.

“Anakku, marilah kita pulang ke Sian-koan dan mulai hidup baru. Akan kusediakan rumah gedung dan pakaian-pakaian indah untukmu. Dan jangan kau khawatir, anakku, aku akan berusaha supaya kelak engkau menjadi seorang dara perkasa yang jarang tandingannya, seorang yang hidup penuh kebahagiaan tidak kekurangan sesuatu!”

Im Giok sudah mendengar sumpah ayahnya dari atas genteng, karena itu dia tidak perlu mendengar janji-janji yang lain. Ia sudah merasa amat kasihan dan terharu melihat nasib ayahnya, dan dia merasa amat bangga karena ternyata ayahnya adalah seorang laki-laki gagah yang patut dibanggakan.

Demikianlah, ayah dan anak itu lalu pulang ke Sian-koan. Dengan uang yang ia simpan, Kiang Liat membangun sebuah gedung baru dengan taman bunga yang luas dan indah, perabot-perabot rumah serba baru, pendeknya dia berusaha untuk membikin senang hati puteri tunggalnya.

Im Giok baru berusia hampir sebelas tahun. Maka, menerima budi kecintaan ayahnya yang berlimpah-limpah ini, mau tidak mau timbul sifat manja dalam hatinya.

Memang beginilah, tidak hanya Kiang Liat, banyak orang tua-tua di dunia ini yang keliru menyatakan kasih sayang kepada anak sehingga bukan anak menjadi baik sebagaimana yang diharapkan, sebaliknya anak menjadi manja.

Untungnya, Im Giok memang sudah memiliki dasar watak gagah dan baik sehingga sikap ayahnya itu hanya mendatangkan sebuah cacat lagi, yaitu manja dan ingin dituruti segala kehendaknya. Di samping ini, sifat lain yang dia warisi dari Pek Hoa Pouwsat adalah sifat pesolek, suka berhias dan berpakaian serba indah dan serba merah, tidak lupa untuk menambah merah pada bibirnya, menambah hitam pada alisnya sehingga setiap saat gadis ini kelihatan seperti seorang bidadari baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi harus diakui bahwa bakat Im Giok dalam ilmu silat benar-benar baik sekali. Ditambah lagi oleh semangat Kiang Liat yang demikian besar. Pendekar ini benar-benar mempunyai cita-cita untuk membuat puterinya menjadi seorang gagah, maka dia sangat tekun dan hati-hati memimpin puterinya dalam ilmu silat, maka dapat dibayangkan betapa pesat kemajuan yang diperoleh Im Giok.

Akan tetapi, kadang-kadang Im Giok merasa kesepian. Hidup di dekat Kiang Liat berbeda jauh dengan pada saat ia masih bersama dengan Pek Hoa. Betapa pun besar sayangnya Kiang Liat kepadanya, akan tetapi ayahnya itu seorang pria, dan Im Giok membutuhkan pergaulan dengan sesama kelamin.

Selain ini, Im Giok yang melihat ayahnya masih belum tua dan begitu gagah, diam-diam juga prihatin dan berduka kalau teringat akan ibunya. Banyak buku yang ia baca karena ayahnya menyediakan untuknya dan mengajarnya pula, memberi pelajaran pada Im Giok bahwa seorang seperti ayahnya itu sudah sepatutnya kalau menikah lagi dengan seorang gadis cantik pengganti ibunya yang telah meninggal.

Sifat Im Giok yang tidak pemalu dan periang itu membuat dia sebentar saja mempunyai banyak kawan di kota Sian-koan. Tidak jarang gadis ini keluar rumah dan mengunjungi tetangga dan walau pun hal ini termasuk kebiasaan yang janggal, namun ayahnya tidak melarangnya. Kiang Liat cukup maklum bahwa puterinya telah memiliki kepandaian yang cukup untuk dipakai menjaga diri, dan di samping ini, siapakah yang berani mengganggu puteri Jeng-jiu-sian Kiang Liat?

Satu tahun kemudian, pada suatu sore, Im Giok pulang dari tetangga bersama seorang gadis yang cantik. Gadis ini pipinya kemerahan, sepasang matanya yang jeli dan kocak kelihatan agak berduka. Namun harus diakui bahwa gadis memiliki sepasang mata yang indah dan bening, seperti sepasang kemala. Usianya kurang lebih enam belas tahun dan tubuhnya sehat dan nampaknya biasa bekerja berat.

Kiang Liat bangkit dari kursinya dan memandang dengan mata terbelalak heran. Dengan malu-malu gadis remaja itu menjura sebagai penghormatan kepada Kiang Liat.

“Im Giok, siapakah nona ini dan mengapa kau membawa dia ke sini?” tanya Kiang Liat dengan nada menegur dalam suaranya.

“Ayah, jangan marah dulu,” berkata Im Giok dengan sikap manja, “dia ini adalah sahabat baikku, namanya Kim Lian, Song Kim Lian, rumahnya di sebelah barat itu. Enci Kim Lian, kau duduk dulu di sini, ya! Aku mau bicara dengan Ayah,”

Im Giok lalu menghampiri ayahnya, memegang tangan ayahnya itu dan menariknya ke ruangan sebelah dalam. Dengan kening berkerut Kiang Liat mengikuti puterinya, hatinya merasa tidak enak.

“Kau mau apakah, Im Giok?” tanyanya setelah mereka berada di ruang dalam.

“Ayah, bagaimana ayah lihat Enci Kim Lian itu? Cantik dan matanya seperti mata burung Hong, bukan?”

Kerut di kening Kiang Liat makin mendalam. “Kalau dia cantik dan bermata bagus, habis mengapa?”

“Ayah, aku selalu merasa kesunyian.”

“Kan ada Ayah, ada banyak pelayan.”

“Ayah laki-laki dan para pelayan... ahhh, mereka selalu bermuka-muka, aku tidak suka. Ayah juga... Ayah juga kesepian, bukan?”

Kiang Liat memegang pundak Im Giok, memandang tajam dan berkata, “Im Giok, pikiran ganjil apakah yang terkandung di dalam kepalamu? Hayo katakan terus terang, jangan berputar-putar.”

Im Giok menarik napas panjang, sukar agaknya untuk bicara. Akhirnya ia memberanikan hatinya, memegang tangan ayahnya dengan sikap manja dan berkata,

“Jangan marah, ya Ayah? Aku bermaksud baik. Sahabatku Kim Lian ini adalah seorang sahabat yang baik, lagi pula dia sudah yatim piatu, kalau saja... kalau saja… dia dapat tinggal di sini sehingga aku mempunyai kawan, alangkah baiknya.”

“Menjadi pelayan?” Kiang Liat menjelaskan.

Im Giok cemberut. “Dia sahabatku, bagaimana harus menjadi pelayan? Biarkan saja dia tinggal di sini, serumah dengan kita, Ayah.”

Kembali kening Kiang Liat berkerut. “Ah, Im Giok. Ada-ada saja kau ini. Tak tahukah kau bahwa seorang gadis dewasa seperti dia itu tidak patut sekali apa bila tinggal di rumah orang lain, apa lagi di rumah seorang duda!”

“Karena itu, alangkah baiknya kalau Ayah... kawinin saja dia!” kata Im Giok cepat.

Tangan ayahnya yang tadinya memegang pundak tiba-tiba saja terlepas dan Kiang Liat terduduk di atas kursi, wajahnya pucat dan matanya melotot memandang pada Im Giok. Gadis cilik ini kaget sekali dan agak ketakutan, mundur dua langkah.

“Im Giok...,“ akhirnya terdengar suara Kiang Liat, lambat dan perlahan, dengan gigi-gigi dirapatkan menahan nafsu marah. “Kalau bukan kau yang mengajukan usul macam ini, tentu kupukul mampus sekarang juga! Apa kau sudah gila? Kalau tidak untuk kau, aku sudah menyusul ibumu. Untuk apa hidupku di dunia ini melainkan untuk kau? Bagaimana kau bisa menyuruh aku menikah dengan perempuan lain dan mengkhianati ibumu?”

Im Giok menangis dan segera menubruk ayahnya. Ia berlutut dan menaruh kepala di atas pangkuan ayahnya.

“Ampunkan aku, Ayah. Aku tidak sengaja menyakiti hati Ayah. Aku hanya ingin punya kawan, aku... aku kehilangan Enci Pek Hoa. Ayah...”

Melihat keadaan anaknya, luluh hati Kiang Liat, lenyap marahnya. Ia berpikir sejenak, lalu berkata,

“Sudah, diamlah, anakku. Aku bisa memenuhi keinginanmu, akan tetapi bukan menikah. Mengingat bahwa Kim Lian sudah yatim piatu, dan selain engkau aku pun tidak punya murid, dan melihat gerak kakinya tadi cukup tegap dan kuat, biarlah dia menjadi muridku belajar di sini dan mengawanimu. Bagaimana?”

Im Giok hampir bersorak. Ia bangkit berdiri, memeluk ayahnya dan berlari ke ruangan depan. Tidak lama kemudian ia sudah datang lagi berlarian sambil menggandeng tangan Kim Lian. Agaknya dia sudah menuturkan pada sahabatnya itu, sebab begitu berhadapan dengan Kiang Liat, Kim Lian lau menjatuhkan diri berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala sambil menyebut,

“Suhu...!” suaranya merdu dan halus.

“Bangunlah! Kau menjadi muridku atas desakan Im Giok. Akan tetapi entah kau suka atau tidak belajar ilmu silat yang kasar,” kata Kiang Liat.

“Ayah... jangan Ayah memandang rendah kepada Enci Kim... ehh, kepada Suci (Kakak Seperguruan) Kim Lian. Dalam bermain-main dan selama setahun menjadi kawanku, dia telah banyak dapat meniru gerakan silatku. Suci, coba kau tunjukkan kebisaanmu kepada Ayah.”

“Ahh, Sumoi, kau membikin aku malu saja...,” Kim Lian mengerling dengan muka merah dan senyum dikulum.

Kiang Liat kembali mengerutkan kening melihat lagak yang genit dan dapat menarik hati laki-laki ini. Hemm, dalam banyak hal gerak-gerik Kim Lian ini hampir sama dengan Im Giok anaknya, pikirnya.

“Tidak usah malu-malu, kau perlihatkanlah apa yang sudah kau pelajari. Dengan melihat gerakanmu, aku bisa mengira-ngira sampai di mana tingkatmu.”

Mendengar perintah suhu-nya, Kim Lian lalu bersilat seperti apa yang ia lihat dan pelajari dari Im Giok. Dan Kiang Liat tercengang. Benar sekali kata-kata Im Giok. Gadis cantik ini mempunyai bakat yang luar biasa, sungguh pun tidak sebesar bakat Im Giok, akan tetapi kelemasan gerak kaki tangannya menunjukkan bahwa Kim Lian mempunyai bakat ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada gadis-gadis biasa. Memang sukar mencari seorang murid wanita dengan bakat seperti ini.

Timbullah kegembiraan di dalam hati Kiang Liat dan mulai hari itu Kim Lian menjadi murid Jeng-jiu-sian Kiang Liat, belajar ilmu silat bersama Im Giok yang tentu saja sudah sangat jauh meninggalkannya. Bahkan dalam latihan sehari-hari, boleh dibilang Kim Lian dilatih oleh Im Giok yang mewakili ayahnya.

Kiang Liat masih saja berlaku sungkan dan likat-likat. Maka ia hanya memberi contoh dan petunjuk-petunjuk teori saja, sedangkan prakteknya dia serahkan kepada Im Giok untuk mengajar suci-nya.

Benar saja, setelah Kim Lian juga tinggal di rumah gedung itu, Im Giok menjadi gembira sekali. Tidak saja ia menjadi semakin giat berlatih ilmu silat, juga ia tekun memperdalam ilmu surat dan bahkan suka belajar menyulam bersama suci-nya.

Ada pun dalam hal mempersolek diri, agaknya Kim Lian merupakan imbangan yang baik bagi Im Giok. Tentu saja Kim Lian tidak secantik Im Giok, karena sesungguhnya sukar mencari seorang gadis yang secantik Im Giok, akan tetapi pada umumnya Kim Lian juga seorang gadis yang manis dan cantik, lagi pandai beraksi.

Walau pun Kim Lian mulai belajar ilmu silat setelah ia berusia belasan tahun dan telah dewasa, akan tetapi berkat bakatnya yang baik dan terutama sekali oleh karena ia belajar di bawah pimpinan seorang ahli silat kelas tinggi, maka ia pun mewarisi ilmu silat tinggi dan menjadi seorang ahli silat yang pandai. Seperti juga Im Giok, ia mempunyai ginkang yang luar biasa, hanya kalah sedikit saja oleh sumoi-nya itu, biar pun dalam hal lweekang ia kalah jauh.

Akan tetapi, diam-diam Kiang Liat merasa amat khawatir kalau ia melihat watak muridnya ini. Kim Lian sering memperlihatkan sikap genit dan memikat di depannya, mengingatkan pendekar ini akan sikap Ceng Si dahulu. Kadang-kadang dia membentak dan menegur muridnya ini, yang diterima oleh Kim Lian dengan senyum manis memikat.

Beberapa kali Kiang Liat bahkan menyuruh puterinya menegur, dan kalau Im Giok sudah menegur, barulah Kim Lian menghentikan aksinya. Memang Kim Lian tidak takut kepada suhu-nya karena dia merasa lebih leluasa dan dapat menghadapi seorang laki-laki, akan tetapi terhadap Im Giok, ia merasa takut dan segan.

Pertama karena ia merasa berhutang budi kepada sumoi-nya ini. Jika tak ada sumoi-nya yang menariknya tinggal ke dalam rumah gedung mewah itu, hidupnya tentu kekurangan dan mungkin sekali terlantar. Ke dua, ia memang tahu bahwa kepandaian sumoi-nya jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

“Im Giok, sekarang suci-mu telah berusia dua puluh tahun lebih, dan kiranya sudah cukup lama ia berada di sini sehingga sudah patut baginya untuk berumah tangga. Bagaimana pikiranmu apa bila aku mencarikan seorang suaminya untuknya?” Pada suatu hari Kiang Liat berkata demikian kepada Im Giok yang sudah berusia empat belas tahun lebih.

Gadis ini sudah cukup dewasa untuk mengerti akan maksud ayahnya. Sering kali Kim Lian memperlihatkan sikap yang memikat di depan ayahnya, maka tentu ayahnya merasa tidak enak sekali. Memang, bagi ayahnya, akan lebih baik kalau Kim Lian keluar dari situ dan menikah dengan seorang pemuda yang baik.

“Baiklah, akan kusampaikan kepadanya, Ayah,” kata Im Giok yang akhir-akhir ini merasa kasihan dan juga gelisah melihat keadaan ayahnya.

Setelah beberapa kali menghadapi godaan Kim Lian, Kiang Liat jadi teringat lagi kepada isterinya dan juga kepada Ceng Si yang dulu menggodanya, maka terkenanglah ia akan kebodohannya, akan kekejamannya terhadap isterinya. Kenangan ini membikin kambuh sakit jantungnya, membuatnya pucat dan kadang-kadang batuk-batuk, bahkan sering di tengah malam ia tertawa-tawa dan menangis lagi!

Akan tetapi ketika Im Giok menyampaikan usul ayahnya kepada Kim Lian, suci-nya itu memperlihatkan muka berduka, bahkan lalu menghadap Kiang Liat sambil berlutut dan menangis.

“Suhu, teecu mohon supaya Suhu jangan menyuruh teecu pergi dari sini. Teecu rasanya tidak sanggup untuk berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Suhu, tentang menikah, teecu sama sekali tidak ada niat, karena selamanya teecu ingin melayani Suhu dan mengawani Sumoi...”

Kata-kata ini biar pun diucapkan dengan suara sedih dan terputus-putus, akan tetapi bagi pendengaran Kiang Liat hanya bermaksud satu, yakni Kim Lian akan menerima dengan hati terbuka bila gurunya mau mengambilnya sebagai isteri sehingga gadis ini selamanya akan melayaninya, juga tidak akan berpisah dari Im Giok!

Merah muka Kiang Liat dan dia merasa dadanya sakit. Dia selalu ingat akan kesetiaan mendiang isterinya dan akan kekejiannya memfitnah isterinya, maka ia telah bersumpah untuk membalas isterinya itu dengan kesetiaan selama hidupnya. Oleh karena ini, setiap godaan seorang wanita membangkitkan penyesalannya kepada diri sendiri dan membuat dadanya terasa sakit.

“Kim Lian, jangan kau mengeluarkan kata-kata seperti itu. Setiap pertemuan pasti akan berakhir dengan perpisahan. Kami tentu saja tidak mengusirmu, dan terus terang saja, kehadiranmu di rumah ini banyak mendatangkan kegembiraan Im Giok dan untuk ini aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi tentang menikah, kau sudah berusia dua puluh tahun lebih, waktunya sudah lebih dari cukup untuk berumah tangga sendiri, Kim Lian. Jangan kau khawatir, aku dapat memilihkan seorang calon suami yang baik, percayalah kepadaku karena sebagai guru aku takkan menyesatkan murid sendiri...”

Mendengar ini, tangis Kim Lian semakin sedih. Ia merangkul Im Giok lalu berkata, “Suhu, apa saja kehendak Suhu pasti teecu taati asal saja teecu jangan disuruh berpisah dengan Suhu dan Sumoi. Tentang menikah... teecu akan menanti Sumoi. Apa bila Sumoi sudah menikah, teecu baru suka menikah pula. Ini sudah menjadi sumpah di dalam hati teecu.”

Kiang Liat menjadi mendongkol. Ia dapat menduga bahwa kata-kata itu hanya akal saja, alasan untuk menggagalkan usulnya.

“Hmm, perempuan memang aneh. Lain di mulut lain di hati,” pikirnya. “Pada hatinya jelas nampak ia ingin melayani laki-laki, akan tetapi mulutnya bilang tidak mau menikah!”

Kemudian dengan suara marah ia berkata,

“Kim Lian, kau yang bersumpah, bukan aku yang memaksa. Kau harus memegang teguh sumpahmu itu, kalau tidak, aku akan marah kepadamu. Aku tidak sudi melihat muridku bermain lidah dan tidak dapat dipegang kata-katanya. Ingat, kau sudah bersumpah tidak akan menikah sebelum Im Giok menikah. Baik, akan begitulah jadinya!” Setelah berkata demikian, Kiang Liat meninggalkan dua orang gadis itu dan masuk ke dalam kamarnya.

Semenjak saat itu, sikap Kiang Liat makin pendiam. Jarang sekali ia bicara dengan Im Giok. Kepada Kim Lian, dia sama sekali tidak pernah bicara lagi. Akan tetapi anehnya, mulai saat itu ia makin giat melatih dua orang gadis itu.

Pagi-pagi sekali dia sudah memaksa mereka bangun, berlatih ilmu silat sampai kedua orang gadis itu hampir tidak kuat lagi. Demikian pun pada siang hari, bahkan sering kali pada malam hari. Pendeknya, Kiang Liat sama sekali tidak memberi mereka kesempatan untuk bermalas-malasan.

“Seorang wanita harus kuat, baru aman hidupnya,” katanya di depan dua orang gadis itu. “Kalian harus dapat menerima semua kepandaianku sebelum aku lupa lagi.”

Demikianlah, hampir tiga tahun lamanya Kiang Liat tekun menggembleng puterinya dan muridnya. Susah-payah Im Giok dan Kim Lian mengikuti latihan ini, akan tetapi hasilnya juga luar biasa sekali.

Im Giok secara terpisah sudah menerima latihan ilmu-ilmu silat yang ditinggalkan oleh Bu Pun Su untuknya, dan ternyata dia memang cocok sekali dengan ilmu silat gubahan Bu Pun Su ini. Gerakannya memang lemas dan indah, sehingga sering kali diam-diam Kiang Liat mengerutkan keningnya karena kalau ia melihat puterinya itu bersilat seperti orang menari dengan mata bersinar-sinar, pipi kemerah-merahan dan bibir tersenyum-senyum, teringatlah ia akan Pek Hoa Pouwsat! Alangkah miripnya anaknya itu dengan Pek Hoa. Benar seperti pernah dikatakan oleh Bi Li isterinya dahulu.

Ada pun Kim Lian, selama tiga tahun ini pun memperoleh kemajuan hebat. Tujuh tahun ia menjadi murid Kiang Liat, akan tetapi yang tiga tahun terakhir ini hasilnya jauh melampaui empat tahun pertama.

Kepandaian Kim Lian kini sudah dapat direndengkan dengan tingkat orang-orang pandai, bahkan sudah hampir menyusul kepandaian Kiang Liat sendiri. Tentu saja ia masih kalah oleh Im Giok yang ternyata bahkan telah melampaui ayahnya sendiri!

Hal ini adalah karena dia mempelajari ilmu silat gubahan Bu Pun Su secara mendalam, sedangkan Kiang Liat hanya menghafal saja agar tidak lupa. Apa lagi Kiang Liat memang hanya bersilat untuk mengajar, sama sekali dia tidak pernah berlatih untuk kemajuan diri sendiri. Bahkan kalau terlalu lama ia bersilat, dada kirinya terasa sakit sekali.

Dia maklum bahwa dirinya sudah mendapat luka di dalam, mendapat penyakit di dalam jantungnya, akan tetapi ia sengaja tidak mau mengobati, tidak mau mencari obat. Tidak jarang dia batuk-batuk darah, akan tetapi semua ini ia sembunyikan dari Im Giok, takut kalau-kalau puterinya akan menjadi gelisah dan berduka karenanya.


*****


Thanks for reading Dara Baju Merah Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »