Sepasang Walet Merah

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Pertama Cintamedia, Jakarta
Episode
SEPASANG WALET MERAH

Ebook by kangzusi.com


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

BULAN bersinar penuh, menampakkan wajah bulat indah keemasan. Angin bertiup lembut membawa butir-butir embun yang menitik dari pucuk-pucuk daun pepohonan yang meliuk-liuk seperti menari. Malam semakin indah manakala binatang-binatang malam mulai menembang dengan suara-suara mereka yang merdu.

Namun keindahan itu mendadak pecah oleh suara-suara teriakan disertai denting senjata beradu. Suara-suara itu ternyata datang dari sebuah bukit batu yang berdiri gagah menyerupai sebuah batok kelapa terbelah. Di tempat itu terlihat kilatan-kilatan cahaya putih keperakan menyambar-nyambar di bawah siraman cahaya bulan.

Trang! Trang!

Denting senjata beradu makin sering terdengar. Pijaran-pijaran bunga api berpencaran ke segala penjuru. Tiba-tiba dua orang yang saling mengadu senjata itu melompat ke belakang sejauh dua tombak, bersamaan dengan terdengarnya suara tawa terbahak-bahak.

"Kakang Jaka, rupanya kita kedatangan tamu kurang ajar malam ini," kata salah seorang dari mereka. Orang itu bertubuh kecil ramping mengenakan pakaian ketat berwarna serba merah.

Dari suaranya dapat dipastikan kalau dia adalah seorang wanita. Sementara yang diajak bicara melangkah perlahan ke depan. Tampak jelas wajahnya yang begitu tampan, berkeringat. Sinar matanya tajam menyorot lurus ke depan. Pakaiannya ketat dan serba merah pula.

"Tentu maksudnya sama dengan tamu-tamu yang lain. Bersiaplah, Adik Wulan," sahut pemuda itu yang dipanggil Jaka.

"Ha ha ha...!"

Suara tawa itu kembali menggelegar. Kedua muda-mudi itu sudah berdiri berdampingan dengan senjata tombak pendek bermata dua menyilang di depan dada. Semakin lama suara tawa itu semakin memekakkan telinga. Angin pun mendadak bergemuruh disertai batu-batu kerikil berlompatan. Jelas sekali kalau suara tawa itu dibarengi pengerahan tenaga dalam.

Rupanya dua orang muda ini sama sekali tidak gentar dengan kedatangan suara tawa itu. Mereka seperti tidak terpengaruh, bahkan tetap berdiri tegak dengan mata menatap lurus ke depan.

"Tapak Geni!" tiba-tiba Jaka berteriak lantang.

Dengan cepat mereka mendorong tangan kanan masing-masing ke depan Seketika dari telapak tangan kanan yang terbuka, meluncur deras seberkas sinar merah yang kemudian menghantam sebongkah batu besar.

Blar...!

Batu sebesar rumah itu pun hancur berkeping-keping menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat Pada saat yang sama, melesat sebuah bayangan hitam dari bongkahan batu yang hancur.

Debu mengepul pekat menghalangi sinar bulan menembus permukaan bumi. Bayangan hitam itu berputar beberapa kali di udara sebelum mendarat manis di tanah berumput tebal. Jaka dan Wulan sudah menarik tangan kanannya kembali. Mereka masih berdiri tegak dengan mata tajam memandang tubuh hitam yang telah berdiri sekitar sepuluh langkah di depan.

"Sudah kuduga, dia pasti si Gila Jubah Hitam," gumam Jaka begitu mengenali sosok tubuh itu.

Si Gila Jubah Hitam, adalah tokoh sakti yang tidak jelas golongannya. Tingkahnya yang mirip orang gila sering membuat bingung tokoh-tokoh rimba persilatan, baik dari gotongan hitam maupun putih.

"He he he..., tidak percuma bertahun-tahun kalian mengurung diri di Bukit Batok," si Gila Jubah Hitam terkekeh sambil menggaruk-garuk rambutnya yang panjang dan kusut.

Kalau dilihat dari wajah, pakaian, dan tubuhnya orang pasti menyangka si Gila Jubah Hitam ini seorang kakek-kakek. Padahal dia masih berusia tiga puluh tahun. Hanya karena tidak pernah mengurus diri, jadi kelihatan seperti berumur tujuh puluhan

"Mau apa kau datang ke sini?" tanya Jaka. Matanya tetap tajam menatap si Gila Jubah Hitam.

"Hanya mengunjungi kalian. Tidak boleh?"

Jaka memandang adiknya yang berdiri di sampingnya. Memang sulit diduga niat dan keinginan orang itu. Dalam sekejap saja bisa berubah. Jaka kembali mengalihkan pandangan pada laki-laki aneh yang kini telah duduk di atas rerumputan. Dari kantung kulit yang selalu dibawanya, dikeluarkan seguci arak.

"Kalian punya makanan?" tiba-tiba si Gila Jubah Hitam bertanya. Sikapnya acuh, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal mereka tadi sempat mengadu ilmu, meskipun hanya satu jurus saja.

"Mana ada makanan di sini?" Wulan jadi geli juga. Rasa tegang yang menyelimuti dadanya berangsur-angsur berkurang.

"Lho, kalian selama bertahun-tahun di sini makan apa?" si Gila Jubah Hitam seperti kebingungan. Kembali tangannya garuk-garuk kepala.

"Apa saja, asal bisa dimakan," sahut Wulan.

"Kau punya apa saja?"

Sekelebatan Wulan melihat seekor rusa yang kemalaman di jalan. Secepat kilat tangannya bergerak, lalu seberkas cahaya keperakan pun meluncur deras. Tak pelak lagi, rusa gemuk itu terjungkal langsung mati. Jaka tersenyum akan ketangkasan adiknya melempar bintang perak yang menjadi andalan senjata rahasia mereka berdua.

"Itu!" sahut Wulan menunjuk rusa yang mati dengan leher tertembus bintang bersegi delapan dari perak.

"He he he....!" si Gila Jubah Hitam terkekeh, lalu berdiri.

Wulan hampir saja tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil mendapat mainan. Dengan berjingkrak kegirangan dihampirinya rusa yang tergeletak itu. Sambil menari-nari dan bernyanyi-nyanyi tidak karuan, si Gila itu mengangkat rusa gemuk bagai mengangkat sekantung kapas.

Si Gila Jubah Hitam kembali ke tempatnya semula seraya menjatuhkan rusa itu di depannya. Dia kembali duduk dan meminum arak langsung dari guci. Dengan lengan baju, disekanya mulut yang basah oleh arak.

Orang aneh itu mencabut bintang bersegi delapan yang menancap di leher rusa, lalu dengan cepat dilemparkannya kembali pada Wulan. Tangkas sekali gadis itu menangkap senjata rahasia miliknya. Dimasukannya kembali senjata itu ke dalam kantung yang tersembunyi di balik baju, setelah sebelumnya dibersihkan dari noda darah.

"Aku senang sekali rusa ini dimasak wanita cantik yang baik hati," kata si Gila menatap Wulan.

Wulan memandang Jaka. Kakaknya hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Jaka tahu betul tabiat orang aneh ini. Dia akan selalu baik kalau ada yang membuatnya baik lebih dulu.

Wulan menghampiri laki-laki aneh itu, lalu dikeluarkan sebilah pisau dari lipatan bajunya. Kini rusa malang itu mulai dikulitinya. Sementara Jaka mengumpulkan ranting dan membuat api. Sebentar saja rusa itu telah terpanggang di atas api

"He he he...," si Gila terkekeh senang. Perutnya mendadak lapar sekali mencium bau harum daging panggang.

Laki-laki aneh itu menggeser duduknya mendekati rusa panggang yang masih di atas api. Hidungnya kembang kempis mencium bau harum yang lezat. Tangannya menjulur hendak mencuil daging rusa, tapi Wulan telah terlebih dulu menepisnya.

"Nanti, belum matang!" rungut Wulan, persis seorang ibu pada anaknya.

"Aku sudah lapar, boleh mencicipi sedikit saja," rengek si Gila Jubah Hitam.

"Kubilang nanti! Kita pesta sama-sama!"

"Pesta...! Kau bilang kita akan pesta?" mata si Gila Jubah Hitam seketika berbinar-binar.

"Iya, kenapa?"

"Wah, wah! Nasibku memang mujur malam Ini. Datang membuat ribut, malah ditawari pesta. Maafkan aku," Si Gila Jubah Hitam mendadak murung.

"Sudahlah, yang penting malam ini kita akan pesta dan gembira!" Jaka menimpali.

"He he he..., kalian memang baik!" orang aneh itu terkekeh lagi.

Wulan tersenyum dan mengerling pada kakaknya. Jaka cepat memahami arti kerlingan itu, dan segera bangkit beranjak dari situ.

"Mau ke mana kakakmu?" tanya si Gila Jubah Hitam.

"Mengambil arak," sahut Wulan terus membalik-balik rusa panggangnya.

"Arak..?! Wah, jadi kita benar-benar pesta?"

Wulan mengangguk dan tersenyum manis. Si Gila Jubah Hitam kembali berjingkrak-jingkrak kegirangan. Mulutnya tidak henti-hentinya bernyanyi. Tawa Wulan tidak tertahankan lagi. Sementara Jaka telah kembali dengan lima guci arak di pelukan tangannya. Si Gila Jubah Hitam makin gembira. Apalagi Jaka juga membawa gelas perak indah sebagai pelengkap pesta mereka.

********************

Laki-laki aneh yang dikenal sebagai si Gila Jubah Hitam kini tengah duduk bersandar di pohon. Dibiarkan saja perutnya yang kekenyangan itu terbuka. Jaka dan Wulan duduk tidak jauh dari situ. Wulan sejak tadi tersenyum-senyum melihat tingkah polah si Gila Jubah Hitam yang selalu memancing tawa itu.

Nafsu makan si Gila ini juga luar biasa. Setengah badan rusa gemuk Itu, dihabiskannya sendiri. Sedangkan Wulan dan Jaka saja hanya makan sekedarnya. Sengaja mereka makan berlambat-lambat untuk mengimbangi makan laki-laki aneh itu.

"Sudah berapa orang yang datang ke sini?" tanya Si Gila Jubah Hitam tiba-tiba. Suaranya terdengar seperti bergumam.

"Maksudmu?" tanya Jaka sambil memandang adiknya.

"Aku yakin, aku bukan orang pertama yang datang ke Bukit Batok ini," gumam si Gila Jubah Hitam tidak menghiraukan pertanyaan Jaka.

"Memang bukan. Aku dan adikku sudah sepuluh tahun tinggal di sini," sahut Jaka seenaknya.

"Bukan kalian, tapi yang lain!"

"Oh... maksudmu orang-orang yang...," Jaka tidak melanjutkan kata-katanya.

"Iya, mereka yang gila pusaka!" sambung si Gila sambil membenahi letak bajunya.

"Aku tidak mengerti, kenapa mereka mengira kami yang menyimpan benda pusaka itu," kata Wulan seperti mengeluh.

"Jadi kalian tidak menyimpannya?" tanya si Gila Jubah Hitam.

"Jangankan menyimpan, melihat bentuknya pun belum pernah! Dengar namanya saja baru-baru ini," sahut Wulan.

Si Gila menatap Wulan tajam.

"Kau pasti tidak percaya!" dengus Wulan agak Jengkel.

"Entahlah. Yang jelas aku tidak peduli dengan benda pusaka macam itu," sahut si Gila Jubah Hitam.

"Lantas, kenapa kau ke sini?" tanya Jaka. Si Gila Jubah Hitam tak menjawab. Hanya kepalanya yang terdongak menengadah. Ada kemurungan terpencar dari sinar matanya yang cekung. Desah nafasnya berat, lalu perlahan-lahan kepalanya tertunduk. Sepertinya sedang mengenang sesuatu sehingga wajahnya kelihatan murung.

Kedua anak muda itu saling berpandangan. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan perubahan yang tiba-tiba pada si Gila Jubah Hitam Beberapa saat mereka hanya berdiam diri saja. Jaka mengalihkan pandangannya kembali pada laki-laki aneh itu. Wulan juga mengarahkan pandangannya ke sana. Si Gila Jubah Hitam masih tertunduk, diam.

"Ada yang menyusahkanmu?" tanya Wulan lembut

Kembali si Gila Jubah Hitam mendesah berat. Pelan-pelan kepalanya terangkat. Matanya langsung tertumbuk pada wajah Wulan. Gadis ini tersentak melihat butir-butir air bening menetes dari sudut mata laki-laki aneh ini. Wulan menggeser duduknya lebih dekat

"Kau menangis, kenapa?" tanya Wulan pelan dan lembut

"Oh, ah! Tidak..., tidak !" si Gila Jubah Hitam gugup. Cepat-cepat diseka air matanya dengan lengan baju.

"Aku menangkap kesedihan di wajahmu. Kalau kau percaya pada kami, ungkapkanlah! Mungkin kami bisa membantu mengatasi kesedihanmu," lebih lembut suara Wulan.

"Aku tidak yakin kalian akan menemukan," parau suara si Gila Jubah Hitam.

Wulan dan Jaka saling berpandangan. Belum dapat mengerti maksudnya. Mereka segera menggeser duduknya agar lebih dekat lagi pada orang aneh ini

"Kalau kau bersedia mengatakannya, kami berjanji akan membantu kesulitanmu," kata Jaka seraya meletakkan tangannya ke punggung laki-laki itu.

"Persoalan yang kalian hadapi sekarang, lebih berat daripada persoalanku. Aku tidak ingin menambah beban buat kalian lagi. Dosaku akan semakin besar dan menumpuk," lirih suara si Gila Jubah Hitam.

"Kami tidak punya persoalan apa-apa. Kami mengasingkan diri ke Bukit Batok ini karena ingin memperdalam ilmu-ilmu yang kami miliki," kata Wulan meyakinkan.

"Jangan bohongi diri kalian sendiri! Kalian tengah berhadapan dengan tokoh-tokoh rimba persilatan yang gila benda pusaka! Mereka menyangka kalian yang menyimpan benda itu. Atau paling tidak, mengetahui di mana letak penyimpanannya."

Kembali sepasang anak muda itu saling berpandangan. Memang dalam beberapa hari ini sudah empat orang yang datang mencari benda pusaka Cupu Manik Tunjung Biru. Empat orang yang hanya memiliki kepandaian tanggung itu, tentu saja harus rela melepaskan nyawa mereka di tangan sepasang anak muda ini. Di kalangan rimba persilatan, sepasang anak muda ini dikenal sebagai Sepasang Walet Merah.

Kemunculan si Gila Jubah Hitam di Bukit Batok ini memang sedikit menambah persoalan baru bagi Sepasang Walet Merah. Entah ada hubungannya dengan Cupu Manik Tunjung Biru atau tidak, tetapi yang jelas saat ini tokoh-tokoh rimba persilatan tengah geger ingin mendapatkan benda pusaka itu.

Tidak jelas bersumber dari mulut siapa, kini Sepasang Walet Merah menjadi sasaran buruan. Tokoh-tokoh rimba persilatan menduga sepasang anak muda inilah yang paling tahu tentang benda itu. Padahal yang menjadi buruan tidak tahu sama sekali tentang benda itu. Mengapa orang-orang menyangka kalau Sepasang Walet Merah yang menyimpannya?

"Dari mana kau dengar kabar bohong itu?" tanya Jaka.

"Semua orang rimba persilatan sudah tahu, dan mereka pasti mengatakan kalau mereka tahu sendiri," sahut si Gila Jubah Hitam.

"Dan kau juga akan mengatakan begitu? Juga menyangka kalau kami menyimpan benda yang kami sendiri tidak tahu sama sekali? Iya?" desak Jaka agak sewot juga.

"He he he...," tiba-tiba si Gila kumat lagi edannya.

"Mereka semua mengatakan aku gila. Padahal, siapa sebenarnya yang gila?" si Gila Jubah Hitam memberi pertanyaan yang cukup sulit.

"Baiklah! Aku tidak peduli apakah kau, mereka, atau kami yang gila. Aku hanya ingin tahu, untuk apa kau datang ke sini, kenapa tiba-tiba kau sedih, dan untuk apa datang memberi kabar tidak enak?" Jaka memberondong pertanyaan.

"Banyak amat?! Yang mana harus aku jawab lebih dulu?" si Gila Jubah Hitam bingung.

"Terserah!" jawab Jaka.

Si Gila menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya komat-kamit mengulangi pertanyaan-pertanyaan Jaka tadi. Wulan yang memperhatikannya tidak dapat menahan geli. Mendadak saja perutnya mules karena menahan tawa.

"Kebanyakan, ah! Aku akan pergi!" dengus si Gila.

"Hey...,!" Jaka terkejut.

Tapi laki-laki aneh itu telah lebih cepat menghilang. Tokoh satu ini memang boleh juga tingkat kepandaiannya. Dalam keadaan duduk saja masih bisa mencelat dengan cepat. Jaka yang masih sempat mengetahui arah perginya, akan mengejar. Tetapi Wulan telah lebih cepat mencegahnya.

"Sudahlah, Kakang. Satu saat nanti kita pasti tahu," kata Wulan lembut.

"Aku masih penasaran. Adik Wulan," sahut Jaka.

"Aku juga, tapi tidak ada gunanya mendesak. Bisa-bisa dia berbalik memusuhi kita."

"Memang sulit juga menghadapi orang seperti itu," Jaka mengangkat bahunya.

"He he he...!"

Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara tawa. Tidak salah lagi kalau suara itu milik si Gila Jubah Hitam. Sepasang Walet Merah paham betul dengan suaranya.

"Terima kasih, kalian telah berbaik hati mengundangku pesta. Lain waktu kita jumpa lagi, sobat!"

Jaka yang akan membuka mulut untuk menjawab, jadi mengurungkan niatnya. Wulan telah lebih cepat menepuk pundaknya. Dan memang suara itu tidak terdengar lagi. Si Gila Jubah Hitam benar-benar telah pergi meninggalkan Bukit Batok. Hebat juga pengerahan tenaga dalam orang aneh itu. Dia dapat mengirimkan suara dari jarak yang cukup jauh.

"Aku rasa sebaiknya kita mendahului mereka." kata Jaka.

"Jadi, kita turun kembali merambah rimba persilatan?" nada suara Wulan seperti tidak setuju.

"Terpaksa," desah Jaka sambil mengangkat bahunya.

"Yaaah, lagi pula kita memperdalam ilmu silat memang untuk menjaga dan mempersiapkan diri. Mungkin sudah waktunya," pelan suara Wulan.

"Kita berangkat besok saat fajar."

"Baiklah."

********************

DUA

Fajar baru saja menyingsing. Dua ekor kuda hitam berlari menuruni lereng Bukit Batok. Penunggangnya Sepasang Walet Merah. Wulan memperlambat lari kudanya ketika mencapai kaki bukit.

"Sebaiknya kita lebih cepat lagi meninggalkan bukit ini, Adik Wulan," ujar Jaka.

"Untuk apa ? Toh tidak ada yang harus diburu."

Jaka mengangkat bahunya. Benar juga kata Wulan tadi. Mereka memang tidak sedang memburu seseorang. Jadi untuk apa harus cepat-cepat? Dan lagi, dengan berjalan seperti ini tidak akan menarik perhatian orang.

"Semalaman aku berpikir," kata Jaka agak bergumam.

"Tentang apa?" tanya Wulan.

"Tentang Cupu Manik Tunjung Biru."

"Apa yang kau pikirkan dari benda itu?"

"Aku berpikir sebaiknya kita mencari keterangan tentang benda itu."

"Maksudmu?"

"Yaaah, kita harus tahu jenis benda apa, untuk apa, dan kenapa orang-orang sampai menginginkannya? Tidak mungkin mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk sebuah benda kalau tidak bermanfaat sama sekali!" Jaka mengemukakan pikirannya.

"Si Gila Jubah Hitam mengatakan kalau benda itu merupakan benda pusaka. Jelas banyak kegunaannya," Wulan menimpali.

"Kau tahu benda apa itu?"

"Kalau aku tahu, kau pun pasti tahu, Kakang."

"Susah juga, ya. Kita sendiri tidak tahu, tapi orang menyangka lain."

"Itulah hidup."

Mereka tertawa bersama, tapi tidak tahu apa yang ditertawakan. Namun mendadak tawa mereka berhenti. Seketika itu juga, mereka menarik tali kekang kudanya. Belum sempat menarik napas, mendadak secercah sinar keemasan meluncur deras ke arah mereka.

"Awas, Kakang...!" teriak Wulan.

Dengan sigap Jaka melompat dari kudanya melesat ke udara sambil bersalto dua kali. Sinar keemasan Itu lewat di bawah kakinya, dan hampir menyambar Wulan. Untung gadis itu tak kalah sigap dengan Jaka. Dia melompat cepat dari kudanya.

Sepasang Walet Merah dengan manis mendarat di atas tanah dan berdiri tegak berdampingan. Hampir bersamaan, mereka mencabut tombak yang kedua ujungnya bermata tajam.

Kembali dua berkas sinar keemasan meluncur deras ke arah mereka. Tapi Sepasang Walet Merah sama sekati tidak bergeming. Dan ketika dua sinar keemasan itu hampir menyentuh tubuh, dengan cepat masing-masing menggerakkan tongkatnya.

Trak! Trak!

Dua sinar itu meluruk ke tanah. Tampak sebentuk bunga anggrek dari bahan logam keemasan menggeletak di ujung kaki mereka.

"Dewi Anggrek Emas," desis Wulan mengenali senjata itu.

Belum lagi selesai kata-kata terucap, tiba-tiba di depan mereka muncul seorang wanita cantik. Dia mengenakan baju berwarna kuning keemasan. Pada rambutnya yang panjang terkepang, terselip bunga anggrek berwarna kuning emas. Wanita itu adalah Dewi Anggrek Emas. Tangannya menggenggam setangkai bunga anggrek yang sangat besar.

"Panjang jodoh kita bisa bertemu di sini," suara Dewi Anggrek Emas terdengar lembut mempesona. Kedua matanya yang bulat indah tidak lepas menatap wajah Jaka.

"Apa yang kau inginkan. Dewi Anggrek Emas? Mengapa kau menghadang jalan kami?" tanya Wulan ketus. Dia benci melihat pandangan mata itu terhadap kakaknya.

"Sepuluh tahun tidak bertemu, rasa rindu sekali. Apakah perasaanmu sama denganku, Jaka?" Dewi Anggrek Emas tidak menghiraukan pertanyaan Wulan.

"Tentu saja aku rindu," sahut Jaka.

"Kakang!" bentak Wulan kesal.

Jaka menatap adiknya yang kelihatan sewot. Dia paham betul kalau Wulan membenci wanita itu. Rasa benci itu memang dapat dimaklumi. Sebab, meskipun Dewi Anggrek Emas memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh indah, namun tingkah lakunya liar. Segala macam cara selalu digunakannya untuk menjerat pemuda-pemuda tampan untuk memuaskan nafsunya.

Dewi Anggrek Emas sampai sekarang masih penasaran karena belum juga dapat menundukkan Jaka. Hatinya belum puas kalau pemuda tampan itu belum tunduk di bawah kakinya. Hanya saja yang jadi ganjalan utamanya adalah Wulan.

"Dewi Anggrek Emas! Kalau kau tidak ada keperluan penting, sebaiknya angkat kaki dari sini!" bentak Wulan penuh kebencian.

"Justru aku datang memang sengaja mencari kalian," sahut Dewi Anggrek Emas.

"Kau pasti sama seperti yang lain. Menyangka kami memiliki benda keparat itu!" dengus Wulan.

"Sebaiknya kalian serahkan saja benda pusaka itu padaku. Bukankah dengan demikian kalian akan selamat?" Dewi Anggrek Emas mengerling genit pada Jaka.

"Kami tidak tahu di mana benda itu! Jelas?!" lantang suara Wulan.

"Benar begitu, Jaka?" tanya Dewi Anggrek Emas dengan suara dibuat selembut mungkin.

"Mungkin," sahut Jaka sambil mengangkat bahunya. Dia senang membuat wanita ini jadi penasaran. Jaka tahu betul kalau Dewi Anggrek Emas selalu menginginkan dirinya. Maka setiap bertemu, Jaka selalu mempermainkannya dengan halus.

"Dan itu berarti benda pusaka ada pada kalian, bukan?"

"Tanyakan saja sendiri pada Wulan," kata Jaka.

Wulan jadi gemas melihat sikap kakaknya yang seperti memberi angin pada wanita liar itu. Rasanya ingin memaki-maki, namun saat ini bukanlah waktu yang tepat. Wulan jadi tambah geregetan melihat Jaka tersenyum-senyum. Di tangannya tidak lagi tergenggam tombak bermata dua. Senjata itu sejak tadi sudah diselipkan di pinggangnya.

"Kalau benar benda itu ada padaku, kau mau apa?" gemas Wulan menantang.

Dewi Anggrek Emas hanya tertawa saja.

"Nenek jelek, rebut benda pusaka itu dari tanganku!" teriak Wulan mengejek.

"Kadal buduk! Kurobek mulutmu!" geram Dewi Anggrek Emas. Muka dan telinganya merah saat itu juga ketika dipanggil nenek jelek.

Secepat kilat Dewi Anggrek Emas melompat sambil mengibaskan bunga anggrek raksasa yang menjadi senjata kebanggaannya. Wulan yang sudah muak sejak tadi langsung menggeser kakinya ke samping. Dan tombak bermata dua pun digerakkan dengan cepat ke atas.

Trang!

Dua senjata beradu sangat keras sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Dewi Anggrek Emas lantas melesatkan tubuhnya dan berputar satu kali tanpa menjejak tanah lebih dulu, lalu kembali menyerang dari atas.

Wulan segera memutar tombak pendeknya seolah-olah memayungi kepalanya dari gempuran lawan. Namun tanpa diduga sama sekali, Dewi Anggrek Emas mengegos ke samping, lalu kakinya melayang deras ke iga Tawan.

"Ih!" Wulan tersentak. Buru-buru digerakkan tangannya menangkis kaki yang mengarah ke iganya, sambil memiringkan tubuh sedikit.

Dewi Anggrek Emas tidak ingin mengambil resiko. Cepat ditarik kakinya kembali dan dijejakkan di tanah. Namun baru saja kakinya sampai di tanah, Wulan menyerangnya dengan satu tombak mengarah dada.

Tidak ada pilihan lain bagi Dewi Anggrek Emas. Ditangkis tombak pendek itu dengan senjatanya yang berbentuk bunga anggrek raksasa.

Trang!

Kembali dua senjata beradu keras. Seketika tangan Wulan seperti kesemutan. Bergegas ditarik pulang senjatanya. Demikian juga yang dialami Dewi Anggrek Emas. Jari-jari tangannya menjadi kaku. Hampir saja senjatanya lepas kalau tidak segera dipindahkannya ke tangan kiri.

Pertarungan yang baru berlangsung dua jurus itu mendapat perhatian serius dari Jaka. Diam-diam dikaguminya kemajuan Wulan. Dua kali adu senjata, dua kali pula Wulan hampir melontarkan senjata lawan. Kelihatannya selama sepuluh tahun ini, Dewi Anggrek Emas tidak mengalami perubahan. Baru dua jurus saja, Jaka telah dapat menilainya

"Kenapa berhenti, takut?" ejek Wulan.

"Sepuluh orang sepertimu, aku tidak akan mundur setapak pun!" dengus Dewi Anggrek Emas.

"Bersiaplah! Terima jurus Mata geledekku!"

Selesai berkata demikian, Wulan menggerakkan kakinya menyusur tanah dengan cepat. Tombaknya dibolak-balikkan cepat ke depan. Dua ujung tombak yang bermata tajam mengarah ke dada lawan.

Dewi Anggrek Emas menyambut serangan itu dengan jurus Anggrek Maut itu diputar-putar bagai baling-baling. Tubuhnya meliuk-liuk bagai karet.

"Lihat kaki!" teriak Wulan keras dan tiba-tiba.

Secepat itu pula ujung tombaknya mengibas ke kaki lawan. Dewi Anggrek Emas menggeser kakinya segera, tetapi ternyata terpedaya. Serangan Wulan yang mengarah ke kaki hanya tipuan saja. Sedangkan dalam waktu yang hampir bersamaan, kaki kanannya naik cepat dan menyambar pinggang.

"Setan!" dengus Dewi Anggrek Emas kaget. Cepat-cepat Dewi Anggrek Emas mengarahkan senjatanya untuk melindungi pinggangnya. Tapi lagi-lagi tertipu. Ternyata kaki Wulan tidak sampai menyambar pinggang. Justru pada saat kaki itu bergerak, Wulan membarengi dengan memutar tombaknya ke atas.

Kali ini Dewi Anggrek Emas tidak bisa lagi mengelak Tombak itu sangat cepat menyambar ke lehernya. Mau tidak mau Dewi Anggrek Emas menangkis dengan tangan kirinya yang masih bebas.

"Akh!" Dewi anggrek emas memekik tertahan.

Dengan cepat dia melompat sejauh dua tombak ke belakang. Tangan kirinya sobek cukup lebar. Darah segar mengucur deras. Dewi Anggrek Emas segera menotok jalan darah di tangan yang luka itu. Sekejap saja darah berhenti mengalir.

Dewi Anggrek Emas memandang sengit pada lawannya. Giginya terkatup rapat dengan geraham bergemeletuk menahan geram. Dia hampir tidak percaya kalau Wulan memperoleh kemajuan begitu pesat. Jurus-jurusnya makin berbahaya. Gerakannya sangat cepat, sukar diduga arah dan tujuannya.

Sementara Jaka yang sejak tadi mengawasi dengan seksama pertarungan itu, tersenyum-senyum melihat Dewi Anggrek Emas mendapat luka. Di璦cungkan ibu jarinya saat Wulan menoleh dengan bibir tersungging senyum.

"Jangan besar kepala dulu, Wulan. Aku belum kalah," desis Dewi Anggrek Emas dongkol.

"Kau ingin adu kesaktian?" Wulan menantang.

"Bersiaplah! Terima jurus Anggrek Seribuku!"

Dewi Anggrek Emas memasukkan senjata bunga anggrek raksasanya ke balik ikat pinggang. Kemudian direntangkan kedua belah tangannya ke samping. Dengan diiringi jerit melengking, secara cepat kedua tangannya bergerak. Seketika benda-benda yang memancarkan sinar keemasan bertebaran deras ke arah Wulan.

"Hait..!"

Wulan berjumpalitan menghindari serbuan anggrek emas yang dilontarkan Dewi Anggrek Emas. Senjata yang berbentuk bunga anggrek berwarna emas itu datang bagai hujan tumpah dari langit. Begitu derasnya sehingga Wulan agak kerepotan menghindarinya.

Trang! Trang! Trang!

Beberapa kali tombak bermata dua beradu menahan serangan anggrek-anggrek emas yang datang tanpa henti. Bahkan kini Dewi Anggrek Emas menggerakkan kakinya dengan cepat seperti ingin memutari tubuh Wulan.

Wulan sadar betul melihat keadaan ini. Tanpa menunggu waktu lagi, tombak bermata dua itu pun diputar-putar bagai baling-baling. Dewi Anggrek Emas sangat terkejut melihat tubuh Wulan seperti hilang di balik gulungan sinar keperakan. Dengan hati panas diliputi penasaran yang tinggi, Dewi Anggrek Emas makin mempercepat gerakan sambil melontarkan senjata andalannya.

"Habiskan semua senjatamu, Nenek Sihir!" teriak Wulan mengejek.

"Phuih!"Dewi Anggrek Emas makin geram hatinya mendengar ejekan itu.

Dewi Anggrek Emas semakin cepat bergerak memutari tubuh Wulan. Senjata anggreknya menyebar dari segala penjuru. Namun sampai sejauh itu belum ada satu pun yang dapat menembus benteng pertahanan Wulan. Sinar keperakan yang menyelimuti tubuh gadis itu sulit ditembus. Dewi Anggrek Emas makin geram.

Tiba-tiba Dewi Anggrek Emas menjerit melengking, lalu tubuhnya melompat tinggi ke udara. Tangannya bergerak cepat melontarkan senjata andalannya dari udara.

"Setan!" dengus Wulan terkejut dengan perubahan serangan yang tiba-tiba.

Anggrek-anggrek emas itu datang sangat cepat dari atas kepalanya Wulan. Tidak mungkin merobah lagi pertahanannya Bagian atas memang lowong, dan tidak ada pilihan lain. Segera Wulan menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Anggrek-anggrek emas itu meluruk deras menancap di tanah beberapa jengkal saja dari tubuh Wulan.

"Mampus kau!" jerit Dewi Anggrek Emas.

Setelah berkata demikian, dengan cepat Dewi Anggrek Emas meluruk ke bawah sambil tidak henti melontarkan senjatanya. Seperti bermata saja, senjata itu mengejar ke mana saja Wulan menghindari sambil bergulingan. Wulan tidak punya kesempatan lagi menggunakan tombaknya.

"Pakai ujung tombakmu, Wulan. Pinjam tenaga!" tiba-tiba Jaka berteriak keras.

"Baik, Kakang!" balas Wulan.

Tanpa menunggu lagi, Wulan menekan ujung tongkatnya ke tanah. Ketika sebuah senjata meluncur deras ke arahnya, dengan cepat Wulan membalikkan tombaknya. Sebelah ujung tombaknya menutuk senjata bunga anggrek itu. Kemudian dengan meminjam tenaga dari tongkatnya, Wulan langsung melompat ke angkasa.

"Curang!" sungut Dewi Anggrek Emas.

Manis sekali kaki Wulan mendarat di tanah. Senjata tombak bermata dua kembali menyilang di depan dada. Sesaat Wulan memberikan kerlingan mata pada Jaka, yang kemudian dibalas dengan senyuman. Sedangkan Dewi Anggrek Emas kelihatan bersungut-sungut setelah lawannya mampu menandingi jurus Anggrek Seribunya tanpa mendapat celaka sedikit pun

"Jaka, hadapi aku!" bentak Dewi Anggrek Emas sengit.

"Tidak perlu manis. Adikku pun sudah cukup," tenang dan lembut Jaka menyahuti.

Tetapi kelembutan suara Jaka justru menyakitkan di telinga Dewi Anggrek Emas. Jelas, kata-kata yang diucapkan tenang itu mengandung nada ejekan serta meremehkan dirinya. Dewi Anggrek Emas makin dongkol saja.

"Bagaimana, Nenek Sihir? Menyerah?" tantang Wulan.

"Phuih!" tambah geram hati Dewi Anggrek Emas "Jaka, jangan salahkan aku kalau adikmu yang masih bau kencur ini mati di tanganku!"

"Apa tidak sebaliknya?" ejek Wulan.

"Tikus busuk! Terima seranganku!"

Seketika saja Dewi Anggrek Emas mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Lalu dengan gerakan perlahan, tangannya diturunkan hingga sejajar dengat ketiak.

"Hati-hati, Wulan. Dia mengeluarkan ajian Wisanggeni" kata Jaka memperingatkan. "Lawan dengan Bayu Segara!"

"Baik, Kakang," sahut Wulan.

Segera saja Wulan menekuk kaki kanannya ke depan. Sedangkan kaki kirinya ditarik ke belakang agak menyamping. Kemudian tangan kirinya dipentang lurus ke depan, lalu tangan kanannya ditempelkan di siku kiri.

"Aji Wisanggeni...!" teriak Dewi Anggrek Emas melengking.

Seketika tubuhnya mencelat bagai anak panah lepas dari busur. Pada saat yang bersamaan kaki Wulan bergerak cepat menyusur tanah. Tangannya merentang ke samping, lalu dengan cepat dikebut ke depan.

Pada saat yang sama, Dewi Anggrek Emas telah mendorong kedua tangannya ke depan pula. Maka kedua pasang tangan itu pun beradu keras hingga menimbulkan suara ledakan dahsyat. Tubuh Dewi Anggrek Emas terjengkang ke belakang dua depa. Sedangkan Wulan melentingkan tubuhnya ke angkasa. Dua kali berputar di udara, kemudian dengan cepat meluruk bagai seekor elang menerkam mangsa, terarah ke kepala Dewi Anggrek Emas.

Dewi Anggrek Emas yang terjengkang itu belum dapat menguasai diri. Dia terkejut sekali karena Wulan telah menyerang kembali dari atas kepalanya.

"Setan!" umpat Dewi Anggrek Emas.

Tanpa pikir panjang lagi, disambutnya serangan Wulan yang mendadak. Kembali dua pasang telapak tangan beradu. Begitu dahsyatnya serangan itu sampai-sampai kaki Dewi Anggrek Emas melesak masuk ke tanah hingga sebatas lutut Wulan kembali melenting berputar dua kali di udara, lalu dengan lincah mendarat ke tanah.

"Hoek!" Dewi Anggrek Emas memuntahkan darah kental kehitaman.

Wajah wanita itu mendadak merah. Betapa malunya Dewi Anggrek Emas karena dapat dikalahkan oleh seorang gadis yang dulu menjadi bulan-bulanan dirinya. Setelah menyeka mulutnya, Dewi Anggrek Emas mengerahkan tenaga dalamnya. Dan....

"Hait..!"

Tubuh Dewi Anggrek Emas terlonjak ke atas. Kakinya telah keluar dari tanah. Kini tubuhnya melesat ke udara dan membuat putaran tiga kali sebelum menjejak tanah. Tubuhnya sedikit limbung ketika kakinya sampai di tanah. Dari mulutnya kembali memuntahkan kental kehitaman. Matanya menjadi perih berkunang-kunang.

"Kau terluka dalam, Dewi Anggrek Emas. Perlu waktu satu bulan untuk memulihkan kekuatanmu," kata Wulan kalem.

"Bocah setan! Aku tidak akan melupakan penghinaan ini. Satu saat kelak, akan kubalas kau!" dengus Dewi Anggrek Emas dendam.

"Aku rasa dalam satu bulan belum tentu kau dapat memulihkan tenaga dalammu," Jaka menimpali.

Dewi Anggrek Emas mendengus. Dia baru tahu kalau aji Bayu Segara yang dilepaskan Wulan dapat menyedot setengah lebih tenaga dalam yang dimilikinya. Memang bukan sedikit waktu yang dibutuhkan untuk memulihkannya.

Aji Bayu Segara memang tidak kelihatan akibatnya secara langsung. Tapi siapa saja yang terkena ajian itu, dapat dipastikan lebih dari setengah tenaga dalamnya akan tersedot. Dan lagi jurus-jurus serta ilmu-ilmu kesaktiannya juga akan berkurang kehebatannya Tidak nyata secara fisik, tapi mampu membuat mental seorang tokoh jadi frustasi.

"Tunggu pembalasanku, Wulan!" teriak Dewi Anggrek Emas.

Setelah berkata demikian, Dewi Anggrek Emas segera melompat pergi. Tetapi tanpa diduga sekali, lompatannya jadi lambat dan pendek seperti orang sedang belajar ilmu olah kanuragan. Dia benar-benar lupa kalau setengah kekuatan tenaga dalamnya telah tersedot. Melihat kenyataan ini, Dewi Anggrek Emas menjadi geram setengah mati. Matanya merah menyala menatap Wulan yang hanya tersenyum-senyum.

"Jangan gunakan tenaga dalam, bisa mati lemas nanti," kata Jaka kalem.

"Huh!" Dewi Anggrek Emas bersungut-sungut.

Hatinya benar-benar tidak dapat melupakan penghinaan ini. Dendam terbalut rapat di dasar hatinya. Sambil menggerutu jengkel, Dewi Anggrek Emas melangkah pergi tanpa berani lagi menggunakan tenaga dalamnya.

"Kau tidak apa-apa, Wulan?" tanya Jaka ketika Dewi Anggrek Emas sudah tidak kelihatan lagu

"Tidak," sahut Wulan cepat.

"Tapi kau harus semadi sebentar untuk memulihkan tenagamu. Barangkali ada sedikit pengaruh aji Wisanggeni di jalan darahmu," kata Jaka penuh perhatian.

Wulan tersenyum, lalu duduk bersimpuh di bawah pohon yang berumput tebal. Segera diambilnya sikap bersemadi, memusatkan seluruh perhatian dan semua indranya dari hubungan dengan dunia fana. Disatukan diri dan jiwanya kepada Sang Pencipta. Perlahan-lahan Wulan merasakan tubuhnya kian ringan, darahnya mengalir tenang. Hawa sejuk mulai merembes masuk ke seluruh jaringan syarafnya.

Hawa sejuk nyaman perlahan-lahan berganti menjadi panas. Semakin lama panas yang menyambar ke seluruh tubuhnya semakin menyengat. Keringat mulai menitik di kening dan seputar lehernya. Selanjutnya tubuh Wulan bagai terserang demam. Dan....

"Hoek!" Wulan memuntahkan darah merah kental dari mulutnya dua kali.

Berangsur-angsur seluruh jiwa dan raganya kembali tenang. Wajah yang memerah pun kembali pulih seperti semula. Cerah bagai bayi tanpa dosa. Perlahan-lahan Wulan membuka matanya yang bulat bening seperti bertaburkan bintang berkilauan. Dengan lengan baju diseka mulutnya Segera Wulan bangkit berdiri. Matanya langsung tertuju pada Jaka yang duduk bersandar di bawah pohon rindang. Kakaknya itu pun tengah memperhatikannya dengan bibir tersenyum.

"Sudah?" tanya Jaka setelah Wulan mendekat.

Wulan mengangguk.

"Kau terkena aji Wisanggeni tadi," kata Jaka sambil bangkit dari duduknya.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Wulan. Kakinya terus melangkah mendekati kuda yang setia menunggu sambil merumput.

"Aku melihat noda merah pada telapak tanganmu," sahut Jaka seraya melompat ringan ke atas punggung kuda.

Wulan segera naik ke punggung kudanya sendiri. Sikapnya tenang, setenang air sungai mengalir. Digebah kudanya perlahan agar berjalan lambat-lambat saja Jaka juga menyentak tali kekang kudanya. Dua ekor kuda dengan penunggang Sepasang Walet Merah itu berjalan perlahan.

"Kalau saja aji Bayu Segaramu sudah sempurna, pasti perempuan itu akan mati tanpa luka," kata Jaka setengah bergumam.

"Yah, seharusnya aku menyempurnakannya dulu baru turun bukit lagi," desah Wulan.

"Kau bisa melakukannya dalam perjalanan."

"Apa mungkin?"

"Kenapa tidak? Setiap lawan yang terkena aji Bayu Segara akan menitipkan sebagian tenaga dalamnya padamu. Dengan demikian kau tidak perlu susah-susah bersemedi menyempurnakan tenaga dalam. Enak, kan?"

"Kau lupa, Wulan. Aji Bayu Segara hanya cocok dimiliki wanita. Sedangkan aku melatih padanannya yang dapat menunjang ajianmu itu. Namanya, aji Tirta Segara."

"Maaf, aku lupa," Wulan tersipu. "Kita dipersiapkan eyang resi untuk menjadi Sepasang Walet Merah. Jadi apa yang kita miliki ini saling menunjang. Memang tidak ada salahnya kalau dilakukan sendiri-sendiri. Tapi akan lebih sempurna jika dilakukan bersama-sama dalam satu jiwa."

"Itu kan pesan Eyang Resi, Kakang."

"Iya, aku hanya memperingatkan saja kok." Wulan mendadak tercenung. Dia ingat dengan kata-kata yang diucapkan guru mereka sebelum meninggal. Semua yang telah diturunkan dan dikuasai kakak beradik ini akan lebih sempurna jika memakan jantung burung walet merah yang hanya ada sepasang saja di dunia ini. Dan sepasang jantung itu telah disimpan eyang resi dalam satu tempat. Sayang beliau belum sempat menyebutkan, di mana jantung sepasang walet merah Ku disimpan.

"Kakang..," kata Wulan.

"Ada apa?" tanya Jaka.

"Kau Ingat pesan terakhir Eyang Resi?" Wulan balik bertanya.

"Pesan apa?" Jaka belum mengerti.

"Coba kau ingat-ingat dulu," kata Wulan seolah-olah memberi teka-teki.

Jaka mengerutkan keningnya. Terlalu banyak pesan yang diberikan guru mereka sebelum meninggal. Jaka mencoba untuk mengingat satu per satu. Menduduk dia tersentak ketika teringat salah satu pesan yang hampir terlupakan. Hanya satu kalimat saja, dan kelihatannya tidak begitu penting.

"Aku rasa ini ada hubungannya dengan tokoh-tokoh rimba persilatan yang tengah mencari-cari kita," kata Wulan.

"Mungkin juga," gumam Jaka. Keningnya masih berkerut.

********************

Hari sudah menjelang senja. Matahari bersiap-siap pergi tidur. Di atas pepohonan, burung-burung nampak sibuk kembali ke sarangnya. Sedangkan di bawahnya, terlihat dua ekor kuda yang tengah ditunggangi Sepasang Walet Merah. Mereka terus berjalan menyusuri lereng Bukit Batok. Tidak jauh dari situ, terlihat sebuah desa yang mulai kelihatan sepi. Desa yang satu-satunya terdekat dengan lereng bukit ini dinamakan Desa Batok.

Suasana sepi itu tiba-tiba pecah oleh teriakan keras disusul dengan munculnya sesosok tubuh menjebol atap sebuah rumah. Sosok tubuh berpakaian ketat serba putih itu bersalto beberapa kali. Di sebuah dahan pohon sosok itu hinggap dengan manis. Matanya memandang sebentar pada rumah yang baru saja dijebolnya, lalu kembali mendarat di tanah. Gerakannya ringan, menandakan orang itu memiliki kepandaian yang tidak rendah.

Sepasang Walet Merah segera menghentikan langkah kudanya. Serentak mereka melompat turun dan menuntun kuda mendekati sebuah pohon di pinggir jalan utama desa itu. Wulan mengamati rumah yang ternyata sebuah penginapan. Tatapannya lalu beralih pada orang berpakaian ketat serba putih yang berdiri tegang menghadap ke pintu rumah penginapan.

"Sarmapala," desah Wulan mengenali orang itu.

Brak!

Tiba-tiba saja pintu rumah penginapan itu hancur berantakan. Kemudian disusul berkelebatnya seberkas cahaya merah meluncur deras ke arah Sarmapala. Dalam waktu yang bersamaan, Sarmapala melompat ke udara. Sinar merah itu lewat di bawah kakinya, lalu tepat menghantam pohon yang berada di belakang laki-laki muda itu. Seketika pohon itu meledak dan tumbang. Sarmapala kembali mendarat manis di tanah.

"Klabang Hijau, ke luar kau! Jangan seperti tikus bersembunyi di parit!" bentak Sarmapala keras.

"He he he.... Sungguh besar nyalimu, Sarmapala. Tapi lebih besar bualanmu daripada besarnya gunung," terdengar suara keras dari dalam penginapan.

"Nyalimu yang seperti liur! Kalau jantan, ke luar!" balas Sarmapala dengan tajam.

Belum lagi selesai bibir Sarmapala berkata, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan hijau ke luar dari pintu rumah penginapan yang hancur berantakan. Sekejap saja di depan Sarmapala sudah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh bungkuk dengan tongkat hijau di tangannya. Bajunya yang menyerupai jubah, seluruhnya berwarna hijau. Bahkan wajah dan tangannya pun berwarna hijau. Dia kini tengah memandang Sarmapala dengan tajam.

"Sarmapala bisa mati di tangan Klabang Hijau." desis Jaka ketika melihat laki-laki tua berdiri dengan tiba-tiba di depan Sarmapala.

"Kau akan membantu Sarmapala, Kakang?" tanya Wulan

"Tidak," Sahut Jaka tegas.

Seperti apapun bahayanya Sarmapala, tidak bakalan Jaka membantu. Dia tidak pernah menyukai laki-laki itu yang selalu saja menginginkan Wulan menerima cintanya, meskipun Sarmapala seorang pendekar digdaya yang berhati lurus.

Jaka masih ingat ketika Sarmapala mempermalukannya di depan orang banyak. Saat itu tubuh Jaka dibuat babak belur hanya karena salah pengertian yang sepele. Meskipun dulu hidup bergelandang dan mengemis, tapi Jaka tidak pernah melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.

Waktu itu, Sarmapala masih remaja, sama seperti dirinya yang masih berusia sekitar lima belas tahun. Dia anak seorang pembesar kerajaan yang sangat dihormati dan disegani. Suatu saat, di pusat kerajaan sedang diadakan pesta besar-besaran menyambut datangnya peringatan Dasawarsa Kerajaan. Dalam keadaan seluruh penduduk bersenang-senang, tiba-tiba terjadi ribut-ribut.

Keributan itu berawal dari seorang wanita setengah baya yang kecopetan. Kebetulan Jaka yang waktu itu masih bergelandang berada dekat dengan kejadian itu. Semua orang langsung menuduhnya mencopet wanita setengah baya itu. Sarmapala yang saat itu juga berada di sana bersama sejumlah prajurit, segera bertindak tanpa bertanya lebih dulu. Tentu saja, Jaka yang hanya seorang gelandangan dan awam terhadap ilmu kanuragan, menjadi babak belur. Untunglah seorang kakek tua cepat menolongnya dan membawanya dari tempat itu. Kakek yang bernama Eyang Resi Suralaga lalu mengangkat Jaka sebagai anak sekaligus murid bersama cucu kakek itu yang bernama Wulan. Kejadian itu tidak terlupakan bagi Jaka hingga saat ini.

"Kakang...," Wulan mencolek lengan Jaka.

"Oh!" Jaka tersentak dari lamunannya.

"Kita disini terus, Kakang?" tanya Wulan

"Sebentar, biarkan mereka selesai dulu dengan urusannya, baru kita lanjutkan perjalanan," jawab Jaka.

Wulan tidak membantah. Dia cukup mengerti perasaan Jaka saat ini. Wulan pun tahu peristiwa yang sekitar dua puluh tahun yang lalu. Saat itu dia masih berusia sekitar lima tahun. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana keadaan Jaka waktu itu. Tetapi Wulan tidak menyalahkan Jaka ataupun Sarmapala. Baginya hal itu hanya salah pengertian saja. Lain halnya dengan Jaka. Rupanya dia mengingatnya sebagai sesuatu yang tidak patut dilupakan. Dan itu memang hak seseorang, dan Wulan tidak ingin mencampurinya.

Sementara itu Sarmapala sudah bertarung melawan Klabang Hijau. Jaka yang selalu memperhatikan dengan serius, sudah bisa menghitung kalau pertarungan itu sudah berjalan hampir lima jurus. Dan kelihatannya Sarmapala sudah sangat terdesak sekali.

Kepandaian Klabang Hijau memang jauh di atas Sarmapala. Hanya saja sikap Sarmapala yang congkak dan tinggi hati membuatnya enggan mengakui keunggulan lawan. Hidupnya yang serba kecukupan dan dikelilingi para pengawal, membuatnya selalu memandang rendah pada siapa. Rupanya ini berlanjut sampai dewasa. Lebih-lebih sekarang menjabat sebagai Kepala Pasukan Kerajaan, semakin jelas sikap congkaknya. Namun demikian, Sarmapala selalu berjalan dalam alur yang lurus.

Kini Sarmapala telah mengeluarkan jurus-jurus ilmu pedang andalannya. Sementara Klabang Hijau kelihatan masih melayaninya setengah-setengah. Bahkan sampai lewat tiga puluh jurus, Klabang Hijau belum sekali pun membalas setiap serangan Sarmapala. Dia hanya berkelit menghindar, sambil terkekeh tidak henti-hentinya Hal ini membuat Sarmapala semakin gusar dan panas hatinya.

"Klabang Hijau, jangan hanya berkelit saja! Serang aku!" teriak Sarmapala jengkel karena merasa diremehkan.

"He he he.... Aku tidak pernah berurusan dengan pihak kerajaan. Bahkan selamanya aku tidak ingin berurusan!" sahut Klabang Hijau.

"Jangan katakan aku kejam kalau pedangku menembus jantungmu!" dengus Sarmapala.

"Silakan, kalau kau mampu."

Mendengar tantangan ini, Sarmapala makin geram hatinya. Dia pun segera memperhebat serangan-serangannya Pedang pusaka warisan Ayahandanya, berkelebat cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan. Rasa penasaran di dalam hatinya semakin menebal. Tetapi sampai sejauh ini, pedangnya belum sedikit pun menyentuh ujung jubah orang tua itu. Hingga pada suatu saat...

"Tahan...!" seru Klabang Hijau keras.

"Celaka!" sentak Jaka dan Wulan hampir berbarengan.

Apa yang dilakukan Klabang Hijau?

********************

TIGA

Tiba-tiba saja Klabang Hijau melesat ke udara. Setelah berputar satu kali, dalam keadaan masih di atas, disentakkan tangan kanannya Sepasang Walet Merah tahu betul kalau Klabang Hijau tengah mengeluarkan jurus Kala Wisa yang sangat berbahaya.

Tidak semua tokoh mampu menandingi jurus 'Kala Wisa' termasuk Sarmapala yang hanya mengandalkan ilmu kanuragan dan sedikit menguasai ilmu kesaktian lainnya. Dapat dipastikan jika Kala Wisa menghantam Sarmapala, dia pasti tewas seketika dengan tubuh membiru. Pukulan jarak jauh Kala Wisa memiliki gelombang racun yang sangat mematikan.

Cras!

Pada detik yang sangat kritis dan mendebarkan itu, tiba-tiba saja sebuah bayangan berkelebat cepat memapak serangan Klabang Hijau.

"Setan belang! Siapa berani mencampuri urusanku?!" umpat Klabang Hijau gusar, karena serangannya patah di tengah jalan.

"Tidak kusangka, nama besar Klabang Hijau ternyata hanya untuk menakut-nakuti bocah kemarin sore," terdengar suara serak dan parau.

Semua mata langsung tertuju pada arah suara tadi. Tampak seorang perempuan tua berambut putih seluruhnya, berdiri di atas batu besar sebesar kerbau. Orang mengenalinya dari sabuk hitam yang melilit pinggangnya. Namanya, Nenek Sumbing.

"Tidak ada gunanya kalian mengadu nyawa di sini," kata Nenek Sumbing lagi. Suaranya tetap terdengar serak dan parau.

"Ha ha ha..., ternyata mulutnya yang somplak mampu juga memberi nasihat," Sarmapala tertawa mengejek.

Nenek Sumbing hanya tersenyum. Bibirnya yang telah sobek bagian atas semakin jelek dipandang. Senyuman itu juga lebih mirip seringaian. Gigi-giginya yang hitam mencuat ke luar.

"Kau datang ke desa ini tentunya bermaksud ke Bukit Batok. Aku rasa langkahmu hanya untuk mengantar nyawa saja, anak muda," tenang Nenek Sumbing berkata.

Merah padam wajah Sarmapala ketika mendengar ucapan Nenek Sumbing yang bernada tenang itu, namun membuat panas telinga. Jelas kalau perempuan tua itu meremehkan dirinya.

"Nenek jelek! Semua orang tahu kalau Cupu Manik Tunjung Biru milik siapa saja yang berhasil mendapatkannya. Pusaka itu bukan hanya milik kalian kaum rimba persilatan!" kata Sarmapala keras dengan nada gusar.

Kata-kata yang diucapkan lantang dan keras, membuat Sepasang Walet Merah yang sejak tadi mengamati mereka, menjadi tersentak kaget. Ternyata berita tentang pusaka Cupu Manik Tunjung Biru sudah tersebar begitu luas. Bukan hanya tokoh-tokoh rimba persilatan saja yang ingin memilikinya, tetapi orang-orang kerajaan seperti Sarmapala ini pun juga tertarik.

"Rasanya tidak ada gunanya berdebat di sini. Kalau kau punya nyali, kita dapat saling mengadu nyawa nanti di Goa Larangan Bukit Batok," kata Nenek Sumbing seraya mencelat tinggi dan lenyap di antara rumah-rumah penduduk.

"Perhitungan kita belum selesai, Klabang Hijau," Sarmapala langsung menatap Klabang Hijau. Dia tidak peduli lagi dengan Nenek Sumbing yang entah sudah pergi ke mana.

"He he he...," Klabang Hijau terkekeh, kemudian dibalikkan tubuhnya, lalu melangkah.

"Hey, tunggu! Kau tidak bisa pergi begitu saja sebelum salah satu di antara kita mati!" teriak Sarmapala lantang.

"Percuma aku melayanimu. Buang-buang tenaga saja," dengus Klabang Hijau terus saja berlalu.

Dengan kemarahan memuncak, Sarmapala berteriak nyaring sambil melompat membabatkan pedangnya. Namun ketika mata pedangnya hampir menyentuh tubuh Klabang Hijau, sekejap saja sasarannya telah melompat tinggi dan telah hinggap di atas genteng rumah penginapan.

"Kutunggu kau di Goa Larangan Bukit Batok," kata Klabang Hijau sambil melompat dan hilang di antara pepohonan.

"Pengecut!" umpat Sarmapala geram. Sambil bersungut-sungut, Dihampirinya kudanya yang ditambatkan di depan rumah penginapan. Setelah melompat ringan ke punggung kuda putih tunggangannya, kuda itu pun melesat bagai anak panah lepas dari busur ketika digebah tali kekangnya.

Sepasang Walet Merah yang sejak tadi memperhatikan, hanya diam saja melihat kejadian itu. Masing-masing sibuk dengan pikirannya. Sebentar saja keadaan di depan rumah penginapan kembali sunyi lengang. Sementara senja telah semakin merayap menjelang malam. Suasana gelap mulai menyelimuti desa itu.

"Mereka pasti menuju makam Eyang Resi," gumam Jaka.

Wulan hanya memandang Jaka tanpa bicara.

"Kau dengar kata-kata Nenek Sumbing tadi, Wulan?" tanya Jaka.

"Ya," sahut Wulan.

"Mereka menyangka Cupu Manik Tunjung Biru ada di Goa Larangan Bukit Batok. Dan kau tahu di dalam goa itu Eyang Resi Suralaga dimakamkan. Apakah kita hanya berdiam diri saja?"

"Aku tidak rela makam eyang diobrak-abrik tangan-tangan kotor!" dengus Wulan geram.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka melompat ke punggung kuda masing-masing. Secepat kilat digebah kuda tunggangan mereka, kembali ke Bukit Batok. Sepasang Walet Merah kini semakin yakin bahwa benda pusaka yang tengah diperebutkan dan dicari-cari tokoh-tokoh rimba persilatan adalah milik Eyang Resi Suralaga.

Benda pusaka yang bernama Cupu Manik Tunjung Biru kini jadi rebutan setelah pemiliknya meninggal dunia. Eyang Resi Suralaga memang tidak pernah cerita panjang lebar mengenai hal itu. Tetapi kata-kata terakhirnya yang merupakan teka-teki, kini hampir terungkap. Bahkan sekarang jadi permasalahan serius.

Sepasang Walet Merah belum tahu, apa manfaat pusaka itu bagi orang lain. Mereka sampai rela mengadu nyawa hanya untuk memperebutkan sebuah cupu yang belum ketahuan bentuk dan khasiatnya. Bagi Sepasang Walet Merah cupu itu sangat bermanfaat. Tapi bagi orang lain? Ini yang menjadi pertanyaan.

********************

Bukit Batok tampak berdiri angkuh terselimuti kabut tebal yang bergerak tertiup angin. Bukit yang semula tidak dikenal, kini mendadak jadi pusat perhatian. Setiap hari selalu saja ada yang pergi ke sana. Tujuan mereka hanya satu. Cupu Manik Tunjung Biru.

Kini Goa Larangan Bukit Batok ramai oleh tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan putih maupun hitam. Mereka datang sendiri-sendiri, dan ada pula yang bersama murid-muridnya. Bahkan terlihat pula serombongan prajurit-prajurit kerajaan yang dibagi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin seorang punggawa atau pembesar kerajaan.

Walaupun maksud memiliki Cupu Manik Tunjung Biru berlainan, tapi yang jelas orang-orang dari segala penjuru telah berdatangan ke Bukit batok. Tempat itu kini seperti akan diadakan pesta saja. Bahkan ada beberapa kelompok orang yang hanya memiliki kepandaian pas-pasan ikut hadir. Mereka rata-rata hanya ingin melihat saja tokoh-tokoh tingkat tinggi saling bertarung untuk memperebutkan benda yang bukan miliknya.

"Tidak kusangka, Cupu Manik Tunjung Biru punya daya tarik luar biasa," gumam seorang pemuda sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pemuda itu bertubuh kurus jangkung. Sepasang matanya bulat cekung, masuk ke dalam di antara dua pipinya yang kempot. Namun masih juga terlihat garis-garis ketampanannya dengan kulit yang kuning langsat. Pakaiannya rapi perlente bagai seorang pangeran. Di sampingnya berdiri seorang pemuda dengan bentuk tubuh dan wajah yang sama. Pakaiannya pun persis sama. Sulit membedakan kalau mereka berdampingan bersama. Mereka dikenal dengan julukan si Setan Kembar.

"Kau lihat, Adik Sencaki. Pihak kerajaan ternyata berminat juga dengan Cupu Manik Tunjung Biru," kata pemuda itu lagi yang bernama Sencaka.

"Ya, mereka datang secara terbuka," sahut Sencaki. Matanya meneliti keadaan sekitar. Sepertinya tempat ini tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Di balik pepohonan, batu-batu, bahkan di pucuk-pucuk pohon sudah dihuni tokoh-tokoh rimba persilatan yang selalu mengincar kesempatan untuk menembus Goa Larangan.

Tiba-tiba mata Sencaki yang tajam menangkap sepasang anak muda berpakaian serba merah tengah duduk di atas punggung kuda. Memang agak jauh dari tempat ini, tapi jelas kalau mereka tengah mengawasi keadaan sekitarnya.

"Bukankah itu Sepasang Walet Merah?" Sencaki seperti bertanya pada diri sendiri.

"Benar. Rupanya kau melihat juga," sahut Sencaka.

"Kelihatannya mereka tenang-tenang saja, Kakang," kata Sencaki tidak mengalihkan perhatian pada Sepasang Walet Merah.

"Mungkin cupu itu telah berada di tangannya," sahut Sencaka menebak.

"Kalau begitu, untuk apa kita berada di sini? Bukankah lebih baik merebut cupu itu dari tangan mereka?'

"Jangan terburu nafsu. Lihat dulu perkembangan. Biarkan orang-orang dungu itu saling bunuh! Dengan demikian, rintangan kita berkurang."

Sencaki mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya tetap tidak berkedip mengawasi Sepasang Walet Merah yang berada di puncak bukit. Dari puncak itu memang bisa terlihat jelas keadaan di sekitar Goa Larangan.

"Aku yakin Sepasang Walet Merah tidak rela tempat ini dijadikan ajang pertempuran," gumam Sencaki.

"Mereka juga harus berpikir dua kali untuk langsung turun tangan. Kau lihat saja di situ. Ada Nenek Sumbing, Klabang Hijau, Pendekar Mata Elang, dan hampir seluruh tokoh sakti tumplek di tempat ini. Kita sendiri belum tentu mampu menandingi salah satu di antara mereka."

"Jadi, menurutmu bagaimana, Kakang?"

"Diam di sini sambil mengamati perkembangan. Dan kau jangan lepas mengawasi setiap gerak Sepasang Walet Merah."

Sencaki mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengerti maksud kakak kembarnya ini. Dalam keadaan seperti ini, memang bukan tenaga dan kesaktian yang diperlukan, tapi kelicikan dan kecerdikan lah yang bermain. Siapa yang lebih cerdik, dia yang berhasil mendapatkan Cupu Manik Tunjung Biru.

Tapi bukan si Setan Kembar saja yang punya pikiran seperti itu. Tidak jauh dari mereka, juga terlihat lima orang bertubuh kekar dengan golok tersampir di punggung. Mereka lebih di kenal dengan sebutan Lima Golok Neraka.

"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi," gumam salah seorang dari Lima Golok Neraka yang mengenakan baju berwarna kuning.

"Sabar, Baga Kuning. Kita datang ke sini untuk mendapatkan Cupu Manik Tunjung Biru. Bukan untuk mengantarkan nyawa sia-sia!" kata seorang lagi yang mengenakan baju biru.

Memang kelima orang itu dapat dikenal namanya dari pakaian yang dikenakan. Warna yang berbeda merupakan ciri khas dari nama mereka.

"Lalu sampai kapan kita harus menunggu? Rasanya tanganku sudah gatal," sembur Baga Ungu.

"Ingat, Baga Ungu, Baga Kuning, dan kalian semua. Keadaan seperti ini sudah kita duga sebelumnya. Dan cara yang terbaik bukan dengan jalan adu otot dan ilmu kesaktian, tapi!" kata Baga Biru sambil telunjuknya diketuk-ketukkan ke keningnya sendiri. Memang, adik-adiknya sudah tidak sabaran lagi untuk mendapatkan benda pusaka itu.

"Lalu bagaimana menurut pikiranmu?" tanya Baga Putih.

Baga Biru tidak segera menjawab. Dia sendiri tengah memikirkan cara terbaik agar dapat memenangkan persaingan ini tanpa terlalu menguras tenaga. Masalahnya, yang datang ke Bukit Batok ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Jadi tidak mungkin menghadapi mereka semua dengan mengandalkan ilmu olah kanuragan dan kesaktian.

Langkah yang terpenting sekarang adalah dapat menjaga emosi, dan mencari yang tepat tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Tentu saja hal ini membutuhkan kerja otak yang berat. Kecerdikan lebih berperan untuk memenangkan persaingan ini.

Pada saat Baga Biru memeras otak, tiba-tiba terdengar ribut-ribut yang disusul suara jerit kematian. Tampak satu pasukan berseragam prajurit kerajaan porak-poranda bagai diterjang banteng liar yang mengamuk. Beberapa mayat terlihat bergelimpangan dengan dada tertembus batang panah.

"Ada apa?" tanya Baga Biru.

"Ada orang gila membantai prajurit kerajaan," sahut Baga Kuning.

Mata Baga Biru membeliak melihat anak-anak panah datang bagai hujan membantai para prajurit itu. Bukan hanya satu kelompok pasukan saja yang mengalami hal ini Kelompok-kelompok lain pun ikut kacau dengan datangnya hujan panah secara tiba-tiba itu. Jerit melengking disertai tumbangnya beberapa tubuh manusia mewarnai keadaan Bukit Batok.

Semua orang yang ada di situ langsung memusatkan perhatian pada kejadian yang datang secara tiba-tiba itu. Terlihat beberapa prajurit yang masih hidup berusaha menyelamatkan diri. Namun karena derasnya anak panah yang datang, seperti tak ada kesempatan lagi buat mereka untuk meloloskan diri. Satu dua anak panah dapat mereka hindari, tapi anak panah berikutnya berhasil menembus tubuh mereka.

Malang benar nasib mereka. Siapakah orang yang begitu tega dan kejam membantai puluhan orang tanpa diberi kesempatan sedikit pun untuk balas menyerang? Anak-anak panah itu bagai datang dari segala penjuru. Hanya mata yang telah terlatih baik saja yang dapat melihat kalau anak panah itu datang dari satu arah.

Kini jeritan kematian yang menyayat itu sebentar saja sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya tubuh-tubuh bergelimpangan tidak tentu arah. Darah membanjiri rerumputan. Bau anyir darah mulai tercium dibawa angin.

"Ha ha ha..., mampus kalian semua anjing-anjing Pasirwatu!" terdengar suara menggelegar bersamaan dengan berhentinya hujan panah.

Terlihat seorang laki-laki muda dengan tubuh tinggi tegap berdiri di atas sebuah batu besar yang bertumpuk-tumpuk. Di tangan kanannya tergenggam sebuah busur. Sedangkan di pinggangnya tergantung sebuah kantong anak panah yang telah kosong. Pongah sekali lagaknya sambil berdiri membelakangi matahari.

Matanya tajam memandangi mayat-mayat prajurit Kerajaan Pasirwatu. Mendadak dibuangnya busur, dan dengan gerakan lincah, kedua tangannya mencabut tombak pendek bermata tiga yang terselip di pinggang. Dialah Rakawigirang.

Rakawigirang membantai habis prajurit Pasirwatu memang ada alasannya. Lima tahun lalu putri Kerajaan Pasirwatu pernah disayembarakan. Ternyata pemuda bernama Rakawigirang ini ikut pula dalam sayembara itu. Tapi dia dapat dikalahkan oleh putri yang disayembarakan itu. Memang putri itu seorang yang digdaya. Rupanya dari peristiwa itu Rakawigirang memendam dendam.

"Siapa yang akan membela anjing-anjing Pasirwatu? Tunjukkan muka!" teriak Rakawigirang pongah menantang.

"Rakawigirang, tingkahmu sungguh menjijikkan!" suara balasan terdengar menggeram, disusul munculnya seorang laki-laki muda berpakaian ketat serba putih.

"Oh, rupanya masih ada juga tikus busuk Pasirwatu," Rakawigirang tersenyum sinis melihat Sarmapala muncul.

Sarmapala, salah seorang abdi utama dengan jabatan kepala pasukan prajurit Kerajaan Pasirwatu. Hatinya murka melihat pembantaian brutal yang dilakukan Rakawigirang. Lebih-lebih kata-kata yang terlontar dari mulut Rakawigirang sangat menyakitkan telinga.

"Kurobek mulutmu, Rakawigirang!" geram Sarmapala.

"Majulah! Keluarkan senjatamu!" tantang Rakawigirang.

"Menghadapimu tidak perlu menggunakan senjata!"

Rakawigirang segera menyelipkan kembali dua tombak bermata tiga ke pinggangnya, lalu melesat ke udara dan bersalto dua kali. Dengan manis kakinya menjejak tanah sejauh lima langkah di depan Sarmapala.

"Kau datang ke sini tentu ingin mencari Cupu Manik Tunjung Biru, bukan? Nah, sebelum itu hadapi aku dulu!" kata Rakawigirang pongah.

"Bersiaplah!" dengus Sarmapala enggan bertele-tele.

Bibirnya belum lagi kering mengucapkan kata-kata itu, Sarmapala langsung membuka jurus-jurus tangan kosong. Sedangkan Rakawigirang tampak berdiri tenang dengan mata tajam mengawasi setiap kembangan jurus tangan kosong Sarmapala. Bibirnya tersungging senyuman tipis. Dia sudah tidak aneh lagi menghadapi jurus-jurus itu, karena telah pernah berhadapan sewaktu melawan putri Rasmala dari Kerajaan Pasirwatu lima tahun lalu. Tentu saja Sarmapala juga mendapatkan sumber yang sama.

Seandainya putri sombong itu ada di sini, belum tentu dapat mengalahkan Rakawigirang lagi. Selama lima tahun Rakawigirang memperdalam ilmu-ilmunya. Apalagi kini dia mempelajari ilmu baru yang lebih dahsyat dan dapat diandalkan.

"Tahan serangan!" teriak Sarmapala tiba-tiba.

Bersamaan dengan itu, kaki Sarmapala bergerak cepat melompat menerjang Rakawigirang Masih dalam posisi di atas tanah, digerakkan kakinya dengan cepat ke arah bagian-bagian tubuh lawan.

Rakawigirang yang sudah mengetahui gerakan-gerakan itu sebelumnya, hanya memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri dan ke kanan menghindari sabetan kaki lawan yang beruntun. Tidak sedikit pun digeser kakinya.

Serangan pertama Sarmapala gagal total. Segera dibukanya serangan baru dengan jurus kedua. Kali ini tubuh Sarmapala dimiringkan ke kanan. Sebelah kakinya menekuk. Dengan cepat, tangan kanannya menyambar kepala lawan.

Pembahan serangan yang cepat dan mendadak itu tidak diduga sebelumnya oleh Rakawigirang. Dia kaget, lalu cepat-cepat menundukkan kepala. Tapi tanpa diduga sama sekali, kaki kanan Sarmapala yang tertekuk bergerak cepat menendang ke depan.

"Setan!" dengus Rakawigirang sengit.

Jarak mereka begitu dekat dan tidak mungkin Rakawigirang mengelak. Terpaksa diayunkan tangannya memapak tendangan itu.

Buk!

Benturan keras terjadi antara tangan dan kaki. Seketika itu juga Rakawigirang melompat dua kali ke belakang. Bibirnya meringis menahan sakit yang amat sangat pada tangannya.

"Babi buntung, keluarkan senjatamu!" umpat Rakawigirang sambil meringis. Untung tulang tangannya tidak patah. Hanya memar sedikit.

"Sudah kubilang, menghadapimu tidak perlu menggunakan senjata," sahut Sarmapala dingin.

"Setan! Jangan menyesal kalau kau mati di ujung senjataku!" geram Rakawigirang sambil mencabut tongkat pendek berujung tiga dari pinggangnya.

"Ha ha ha..., anak kecil pun tidak akan gentar melihat mainanmu!" ejek Sarmapala.

"Hiyaaa...!" Rakawigirang tidak lagi bisa menahan amarahnya. Langsung saja dia melompat dengan dua senjata di tangan terhunus ke depan.

Sarmapala melesat tinggi ke udara menghindari terjangan yang bagai banteng mengamuk itu. Ujung senjata Rakawigirang meleset beberapa rambut di bawah kaki Sarmapala. Dua kali dia bersalto di udara, lalu mendarat di belakang Rakawigirang.

"Mampus kau!" bentak Rakawigirang.

Dengan cepat tubuhnya berputar. Satu ujung tombak itu mengancam perut sedangkan tombak lainnya mengarah ke leher. Sarmapala yang baru saja mendarat ke tanah, segera melenting ke belakang beberapa tombak menghindari serangan yang begitu cepat

"Setan!" dengus Sarmapala. "Lima tahun begitu pesat kemajuannya."

Belum lagi Sarmapala bernapas sedikit, telah datang lagi serangan selanjutnya. Sarmapala hanya bisa berkelit dan melompat menghindari setiap serangan lawan. Namun sampai lewat lima jurus, Rakawigirang belum menyentuhkan ujung senjatanya ke tubuh Sarmapala. Gerakan Sarmapala benar-benar cepat berkelit menghindari setiap serangan beruntun lagi berbahaya.

Namun setelah lewat sepuluh jurus, kelihatan Sarmapala mulai terdesak. Beberapa kali harus jatuh bangun menghindari senjata lawan yang nyaris menikam tubuhnya. Rakawigirang benar-benar tidak memberi kesempatan pada lawan untuk bernapas. Dia mendesak terus dengan jurus-jurus mautnya.

Bret!

Tiba-tiba saja ujung senjata Rakawigirang berhasil merobek baju Sarmapala. Bukan main terkejutnya pemuda itu. Cepat-cepat dia melompat tinggi ke udara, dan menarik pedangnya.

"Bagus! Aku sungkan membunuh lawan tanpa memegang senjata!" seru Rakawigirang.

Sebenarnya Sarmapala enggan menggunakan senjata. Tetapi karena serangan-serangan lawan sangat berbahaya, terpaksa dikeluarkan juga senjatanya. Mau tidak mau dia harus menahan malu karena telah meremehkan lawan tadi.

Kini pertarungan mulai berjalan seimbang. Sarmapala tidak lagi harus jatuh bangun menghindari serangan. Bahkan kini serangan-serangannya kelihatan mengganas. Sebentar saja telah dua puluh jurus terlewati. Namun sejauh ini belum ada yang kelihatan terdesak.

"Awas kepala!" teriak Sarmapala tiba-tiba. Dengan cepat disabetkan pedangnya ke arah kepala lawan. Begitu cepatnya sabetan pedang Sarmapala membuat Rakawigirang tidak punya pilihan lain. Dengan cepat pula diangkatnya satu senjatanya untuk melindungi kepala.

Trang!

Dua senjata beradu keras sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Tangan Rakawigirang pun sampai-sampai bergetar hebat. Belum lagi hilang rasa kagetnya tiba-tiba saja Sarmapala memutar pedangnya dan...

Bret!

"Akh!" Rakawigirang memekik tertahan.

Darah mengucur dari perut yang sobek tergores ujung pedang Sarmapala. Cepat-cepat Rakawigirang melompat dua depa ke belakang. Dia meringis menahan perih yang menyayat perutnya. Darah terus merembes membasahi bajunya.

"Setan!" geram Rakawigirang sengit.

"Melawan Gusti Putri saja kau tak mampu, apalagi melawan aku...?" Sarmapala mengejek.

Rakawigirang mendengus geram. Setelah menotok beberapa jalan darah sekitar perutnya, dia kembali menyerang dengan ganas. Sarmapala kini tidak sungkan-sungkan lagi. Ditandinginya Rakawigirang dengan jurus-jurus pedang mautnya. Pertarungan kembali berlangsung seru.

Tepat pada jurus yang kelima puluh, Sarmapala merubah jurusnya. Ditarik pedangnya ke samping, seakan-akan memberikan kebebasan lawan untuk menikam tubuhnya yang kosong. Hal ini dimanfaatkan oleh Rakawigirang yang sudah kalap dibalut amarah.

Dengan cepat ditusukan kedua senjatanya ke arah perut dan dada. Semua orang melihat pasti akan menyangka Sarmapala sengaja bunuh diri dengan membuka jurus pertahanannya. Namun apa yang terjadi selanjutnya?

Trang! Trang!

Tepat pada saat ujung-ujung senjata Rakawigirang hampir mencapai sasaran, mendadak Sarmapala mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Dalam keadaan doyong ke belakang itu, tangan Sarmapala yang semula terentang, tiba-tiba bergerak cepat mengarahkan pedangnya dari bawah ke atas.

"Akh" pekik Rakawigirang terkejut

Rakawigirang tidak mungkin menarik senjatanya lagi. Dengan bebas Sarmapala memapak Dua senjata tombak pendek bermata cabang tiga itu pun terpental ke udara. Belum lagi hilang rasa kagetnya, secepat kilat Sarmapala membuat setengah putaran pada pedangnya. Dan....

"Aaaa...!" Rakawigirang menjerit melengking

Ujung pedang Sarmapala berhasil menembus tepat dada Rakawigirang hingga tembus ke punggung. Sambil mendengus, Sarmapala mengayunkan kakinya menendang tubuh lawan yang telah tertembus pedang. Rakawigirang pun terlontar ke belakang bersamaan dengan tertariknya pedang keluar dari tubuhnya. Darah segar menyembur dari tubuh Rakawigirang.

Rakawigirang menggeletak tidak bernyawa lagi. Sarmapala berdiri tegak menatap tubuh lawannya yang telah menjadi mayat. Setelah membersihkan mata pedang dari noda darah, dimasukkannya pedang itu ke sarungnya di punggung.

********************

EMPAT

Sarmapala melangkah ringan. Matanya mengamati ke sekeliling. Dia tahu benar kalau di sekitarnya bersembunyi tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan hitam maupun putih. Dan tentunya mereka telah menyaksikan pertarungan tadi. Tapi sepertinya Sarmapala tidak peduli. Langkahnya terus terayun menuju ke Goa Larangan.

Tetapi baru saja kakinya melangkah sekitar tiga tombak, tiba-tiba di depannya meluncur sebuah bayangan berwarna hijau, yang kemudian berhenti di depannya. Ternyata bayangan itu adalah Klabang Hijau yang telah berdiri angker dengan sikap menantang.

"Belum saatnya kau melangkah ke sana, anak setan," kata Klabang Hijau dingin.

"Hm, rupanya Klabang Hijau masih juga penasaran," gumam Sarmapala.

"Aku belum puas kalau belum mematahkan lehermu!"

"Silakan kalau kau mampu."

"Bersiaplah untuk mati, anak setan! Arwah cucuku yang kau nodai belum puas kalau kau belum mampus di tanganku!"

Setelah berkata demikian, Klabang Hijau segera mengerahkan aji Kala Wisa. Sarmapala yakin kalau lawannya kali ini tidak main-main lagi untuk menggunakan kesaktiannya. Makanya dia pun tidak menganggap remeh, segera disiapkan aji Guntur Geni, ajian yang cukup dahsyat.

Dua orang memiliki persoalan pribadi sudah siap-siap dengan ilmu kesaktian masing-masing. Dan sebenarnya Klabang Hijau ke Bukit Batok ini hanya untuk menemui Sarmapala. Klabang Hijau tahu betul kalau manusia satu ini sangat gila akan benda-benda pusaka yang memiliki kekuatan tinggi. Selain itu, Sarmapala juga gemar mempelajari ilmu-ilmu kesaktian. Tidak heran kalau dia selalu meninggalkan tugas-tugasnya sebagai kepala pasukan kerajaan hanya karena ingin memenuhi ambisinya.

Klabang Hijau tidak pernah tertarik dengan Cupu Manik Tunjung Biru. Dia tahu kalau benda pusaka itu milik Eyang Resi Suralaga yang mangkat beberapa tahun lalu. Klabang Hijau pun tahu kalau mendiang tokoh tua itu memiliki cucu perempuan dan seorang murid laki-laki yang diangkat menjadi cucunya. Jadi sudah pasti kalau Cupu Manik Tunjung Biru harus jatuh ke tangan cucu-cucunya sebagai pewaris yang sah.

"Aji 'Kala Wisa'!"

"Aji 'Guntur Geni'!"

Dua teriakan keras terdengar hampir bersamaan waktunya, disusul dengan melesatnya dua tubuh lengkap dengan kesaktian masing-masing. Klabang Hijau meluncur deras dengan kedua telapak tangan terbuka ke depan. Sedangkan Sarmapala melompat dengan kedua tangan terkepal ke depan. Hingga pada satu titik di udara, dua pasang tangan bertemu.

Blar!

Ledakan keras terjadi diikuti berpencarnya bunga api yang berwarna-warni ke segala arah. Dia bergulingan beberapa tombak.

Sementara itu Sarmapala tidak kalah jauhnya terpental. Punggungnya sampai menghantam sebuah batu besar hingga hancur berkeping-keping. Debu mengepul dari batu yang hancur itu. Sarmapala menggeletak di antara batu-batuan yang berserakan terlanggar tubuhnya. Dari mulut, hidung, dan telinga keluar darah kental kehitaman. Pelan-pelan dia berusaha bangkit berdiri. Tetapi baru saja bangun sedikit, dari mulutnya kembali memuntahkan darah kental kehitaman. Sarmapala berusaha duduk, dan segera mengambil sikap bersemedi.

Lain halnya dengan Klabang Hijau. Setelah bergulingan di tanah beberapa kali, dengan cepat dia langsung mengambil posisi bersemedi. Dari sudut bibirnya juga mengalir darah kental kehitaman. Namun keadaannya tidak separah Sarmapala.

Dengan menyalurkan hawa mumi ke seluruh tubuh, tidak lama kemudian tenaga Klabang Hijau telah pulih kembali. Masih dalam posisi bersila, tubuhnya terangkat naik dan bergerak ke depan menghampiri Sarmapala yang telah membuka matanya.

"Edan!" dengus Sarmapala ketika lawannya sudah kembali menyerang dengan posisi bersila.

Dengan cepat ditarik tangan kirinya ke atas, lalu perlahan-lahan turun, tangan kanannya menyilang di dada dengan telapak tangan terbuka. Perlahan-lahan tubuhnya juga terangkat naik.

Wush!

Klabang Hijau mengebut dua tangannya ke depan ketika jaraknya dengan Sarmapala sudah dekat. Dan bersamaan dengan itu, Sarmapala mendorong dua telapak tangannya ke depan. Kembali dua pasang telapak tangan bertema Namun kali ini tidak diiring dengan ledakan. Mereka sama-sama mendorong rapat. Tubuh mereka juga berada sejauh batang anak panah di atas tanah.

Perubahan mulai terlihat pada wajah kedua orang itu. Tegang sekali. Asap putih mengepul dari telapak tangan yang menyatu rapat. Dua tubuh yang masih mengambang di atas tanah itu perlahan-lahan bergerak berputar. Semakin lama putaran itu semakin cepat. Yang terlihat kini hanya berupa bayangan berputar pada satu titik.

"Aaaa...!" tiba-tiba terdengar teriakan memilukan.

Sejurus kemudian, tampak satu tubuh terpental dari lingkaran yang berputar cepat. Ternyata itu adalah tubuh Sarmapala. Dia menggelepar-gelepar sebentar, lalu diam tak bergerak lagi. Seluruh tubuhnya hangus bagai terbakar.

Sementara Klabang Hijau telah duduk di tanah masih dengan sikap bersemedi. Kedua tangannya menyatu rapat di depan dada. Terlihat dari pergelangan tangan hingga telapak berwarna merah bagai darah. Agak lama dia bersemedi, sampai berangsur-angsur warna merah di tangannya memudar, dan hilang sana sekali. Klabang Hijau membuka matanya, lalu menarik napas dalam-dalam sebentar, dan bangkit berdiri. Matanya sempat melihat mayat Sarmapala yang hangus menggeletak di tanah.

"Sungguh hebat aji Guntur Geri," gumam Klabang Hijau memuji kesaktian lawannya yang telah tewas.

********************

Malam baru saja menjelang. Udara dingin menyelimuti seluruh puncak Bukit Batok. Kabut tebal datang bergulung-gulung sedikit menghalangi pemandangan. Namun semua itu tidak menghalangi tokoh-tokoh rimba persilatan untuk tetap tinggal di sana. Sementara lolongan anjing hutan semakin ramai terdengar saling sambut. Beberapa ekor bahkan telah menghampiri mayat-mayat yang bergelimpangan di sekitar Goa La璻angan.

Pesta pora anjing-anjing liar itu tidak luput dari perhatian Sepasang Walet Merah yang masih berdiri di puncak tertinggi bukit ini. Sepuluh tahun mereka tinggal di Bukit Batok, setiap jengkal tanah dapat mereka hafal dengan baik. Mereka dapat memandang dengan leluasa di bawahnya hingga dapat tahu siapa-siapa saja yang datang ke tempat itu dengan tujuan yang sama, mencari Cupu Manik Tunjung Biru.

"Kematian yang sia-sia," gumam Wulan lirih.

"Hanya orang tolol yang membuang nyawa percuma."

Sepasang Walet Merah terkejut mendengar suara yang datang tiba-tiba dari belakang. Tampak seorang laki-laki berpakaian kumuh berdiri dengan tangan membawa guci arak. Wulan langsung tersenyum mengetahui orang yang ada di depannya itu.

"Kau datang lagi, Gila Jubah Hitam?" lembut suara Wulan.

"Ya. Aku datang untuk menyaksikan orang-orang tolol memperebutkan pepesan kosong," sahut si Gila Jubah Hitam.

Kata-katanya belum lagi hilang ditelan angin, wajah si Gila Jubah Hitam kembali kelihatan murung. Matanya yang cekung menatap Wulan sayu.

"Aku senang jika kalian tidak lagi memanggilku dengan sebutan si Gila Jubah Hitam," lirih suaranya

"Lantas, kami harus memanggilmu apa?" tanya Jaka.

"Sebenarnya namaku Atmaya."

"Atmaya...?!" hampir bersamaan Jaka dan Wulan berseru kaget

"Kenapa kalian kaget?" tanya si Gila Jubah Hitam atau Atmaya.

"Bagaimana mungkin kami tidak kaget? Eyang Resi Suralaga sering menyebut-nyebut namamu," kata Jaka.

"Benar begitu?" tanya Atmaya tidak percaya.

"Kau lihat aku berbohong?" Jaka malah balik bertanya.

"Bohong atau tidak, itu urusanmu. Aku hanya ingin tahu si Suralaga bicara apa saja tentang aku?"

"Kau jangan sembarangan menyebut Eyang Resi dengan namanya saja!" dengus Wulan gusar. Dia tidak senang kakeknya seperti tidak dihormati.

"He he he..., rupanya kau tidak senang aku menyebut namanya saja," Atmaya dapat mengetahui perasaan Wulan.

"Kakek Atmaya, sebenarnya ada hubungan apa antara kau dengan eyang resi?" tanya Jaka mencoba mendinginkan suasana.

"Pertanyaanku belum dijawab, kau sudah bertanya lagi!" Atmaya seolah-olah bersungut kesal.

"Baiklah," Jaka mengalah. "Eyang resi sering menyebut namamu, tapi beliau tidak pernah bercerita tentang dirimu yang sebenarnya. Beliau hanya beri pesan agar kami mencarimu setelah penyelesaian dan penyempurnaan semua ilmu."

"Untuk apa dia menyuruh kalian mencariku?" tanya Atmaya.

"Aku sendiri tidak tahu," sahut Jaka.

Atmaya memandang Wulan.

"Aku tahu, tapi jawab dulu pertanyaan Kakang Jaka," kata Wulan mengerti arti pandangan Atmaya.

"He he he..., kau memang mirip dengan ibumu. Cantik dan cerdik!" Atmaya terkekeh.

"Kau tahu ibuku?" Wulan kaget campur penasaran.

Memang tidak pernah disangka kalau Atmaya atau si Gila Jubah Hitam tahu banyak tentang diri Wulan. Tentu saja gadis ini makin penasaran ingin mengetahui orang tua ini sebenarnya. Tampaknya dia tahu banyak tentang Eyang Resi Suralaga dan dirinya.

"Aku tahu siapa ibumu. Wanita cantik, cerdas, dan pandai dalam segala hal. Tidak heran kalau banyak pemuda yang ingin mempersuntingnya," Atmaya seperti sedang mengenang masa lalu.

Wulan semakin heran dengan kebenaran ucapan Atmaya. Meskipun ibunya meninggal ketika dia berusia tiga tahun, tapi Wulan kenal betul dengan ibunya. Ibunya meninggal karena menjadi korban musuh-musuh suaminya. Malang sekali nasibnya. Wulan tidak menyalahkan ayahnya yang memang seorang pendekar. Pendekar mana pun pasti punya banyak musuh,

"Sayang aku terlambat datang waktu itu. Aku hanya mendapatkan ibumu telah meninggal. Sedangkan kau sendiri dibawa Suralaga ke Bukit Batok ini. Aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena memang dia lebih berhak merawatmu daripada aku," lanjut Atmaya.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Wulan. Suara terdengar bergetar.

"Meskipun Suralaga lebih tua umurnya dari aku, tapi dalam urutan keluarga dia adik misanku," lanjut Atmaya

"Jadi...," Wulan tidak bisa berkata-kata lagi. pandangnya laki-laki yang berdiri di depannya setengah tidak percaya.

"Ya. Kau adalah cucuku, Wulan."

"Kakek...!"

Wulan langsung menubruk Atmaya dan memeluknya. Tidak dapat lagi ditahannya air mata haru. Sedangkan Atmaya tampak berkaca-kaca matanya. Bagi Wulan pertemuan itu benar-benar mengharukan dan tiba-tiba sekali. Jaka hanya dapat menatap dengan pandangan kosong, seperti sedang mimpi saja.

Cukup lama mereka saling berpelukan menumpahkan rasa. yang terpendam dalam dada Pelan-pelan Atmaya melepaskan pelukan gadis itu. Matanya masih berkaca-kaca memandang wajah Wulan yang bersimbah air mata. Dengan tangan bergetar, diusapnya air mata di wajah gadis itu.

"Kenapa baru sekarang kakek datang ke sini?" tanya Wulan setelah tenang kembali.

"Aku sudah janji pada Suralaga untuk tidak mengganggumu," sahut Atmaya.

"Menggangguku? Apa maksud kakek?" tanya Wulan tidak mengerti.

"Semua peristiwa menyedihkan itu berawal dari ulahku. Aku telah menyebar kabar yang sebenarnya sangat rahasia. Aku menyesal dan merasa berdosa. Ketika aku berniat merawatmu, Suralaga tidak mengijinkan. Tapi aku berjanji akan datang lagi sampai kau selesai mewarisi seluruh ilmu-ilmu Suralaga. Aku hanya bisa memberimu rahasia tentang cupu."

"Rahasia tentang cupu? Lalu, rahasia yang kakek sebar?" tanya Jaka.

"Ya mengenai cupu itu," sahut Atmaya.

"Cupu? Maksud kakek, Cupu Manik Tunjung Biru?" desak Jaka lagi.

"Benar. Cupu itu sebenarnya ada padaku dan kusimpan di suatu tempat. Tapi aku mengatakan kalau benda itu dipegang ayahmu," sahut Atmaya memandang Wulan.

"Kenapa kakek berbuat demikian?" tanya Wulan sedikit menyesalkan.

"Aku sakit hati pada ayahmu. Beliau telah membuatku malu di depan keluarga sehingga aku diusir dari keluarga besar," sebentar Atmaya terdiam. Setelah menarik napas panjang, dilanjutkannya lagi. "Sebenarnya memang salahku juga. Aku mencuri pedang pusaka miliknya dan kusembunyikan. Ternyata perbuatanku dilihat oleh si Suralaga. Aku ditantang oleh ayahmu. Kami lalu bertarung dan aku kalah. Tapi itu tidak berarti pedang pusakanya kukembalikan. Setelah aku mengabarkan kabar bohong tentang cupu itu pada orang-orang, baru aku sadar bahwa jiwa ayahmu terancam oleh orang-orang yang gila benda pusaka. Aku pun berniat akan mengembalikan pedang milik ayahmu, tapi terlambat"

Beberapa saat kemudian keadaan menjadi sunyi. Pundak Atmaya berguncang-guncang menahan isak tangis penyesalan.

"Kalau saja pedang itu kukembalikan pada ayahmu tentu dia tidak akan terbunuh," kata Atmaya lagi.

"Ah, sudahlah. Semuanya telah berlalu. Semua sudah takdir Yang Maha Kuasa, Kek," lembut suara Wulan.

"Kau tidak dendam padaku, Wulan?" Atmaya memandang sayu pada Wulan.

"Untuk apa? Tinggal kau satu-satunya kakekku sekarang. Lagi pula semua yang telah terjadi tidak perlu dijadikan dendam yang tidak akan pernah berkesudahan."

Atmaya tidak dapat menahan harunya. Langsung dipeluknya Wulan dengan perasaan haru yang dalam. Betapa besar jiwa gadis ini. Setelah pelukan itu lepas, Wulan mengajak Atmaya dan Jaka duduk di bawah pohon. Mereka duduk melingkar tanpa membuat api unggun. Padahal udara di puncak Bukit Batok dingin menusuk pada malam hari. Tapi buat tokoh rimba persilatan seperti mereka, dengan mudah saja mengusir hawa dingin lewat penyaluran hawa murni ke seluruh tubuh.

"Aku tidak menyangka kalau mereka masih menginginkan Cupu Manik Tunjung Biru," kata Atmaya agak bergumam setelah lama terdiam.

"Sebenarnya apa sih istimewanya cupu itu, Kek?" tanya Wulan.

Atmaya menatap Wulan dan Jaka bergantian. Bibirnya tersungging senyuman. Wulan heran jugal melihat wajah kakek itu mendadak jadi cerah lagi. Memang aneh si Gila Jubah Hitam ini, sehingga orang yang diajak bicara sering kali mengerutkan kening.

"Kakek akan menjelaskannya, bukan?" desak Jaka.

"Apa Suralaga tidak pernah memberi tahu kalian berdua?" Atmaya balik bertanya.

Sepasang Walet Merah menggeleng bersamaan.

"Edan! Rupanya dia lebih gila daripada aku!" rungut Atmaya.

Lagi-lagi Wulan dan Jaka saling berpandangan. Sulit sekali memperoleh keterangan dari laki-laki aneh ini. Persoalan yang dibicarakan, selalu saja dibolak-balik. Ada rahasia apa yang sebenarnya dibalik Cupu Manik Tunjung Biru, sehingga tokoh-tokoh rimba persilatan nekad mengadu nyawa untuk memperebutkannya?

********************

LIMA

Malam terus merambat bertambah larut. Suasana puncak Bukit Batok sebenarnya sunyi senyap. Tapi seakan-akan suara anjing-anjing liar yang berpesta menikmati mayat-mayat di sekitar Goa Larangan, terus merusak suasana itu. Angin yang berhembus agak kencang, menyebarkan bau anyir darah. Mencekam sekali seperti mengandung hawa kemarahan.

Wulan masih tetap duduk bersimpuh di depan Atmaya. Jaka yang duduk di samping gadis itu, tidak berkedip mengamati Atmaya. Wajah laki-laki yang diam membisu itu, seperti tengah memikirkan sesuatu. Desahan napasnya terdengar keras dan tiba-tiba. Kemudian perlahan-lahan kepalanya terangkat menengadah. Secara mendadak digelengkan kepalanya sambil menyemburkan ludah dengan keras.

"Akh!"

Seketika itu juga Sepasang Walet Merah terkejut mendengar keluhan tertahan, disusul dengan suara benda berat jatuh ke semak-semak. Jaka segera melompat ke arah datangnya suara keluhan pendek tadi

"Bawa dia ke sini!" seru Atmaya berat penuh wibawa.

Jaka yang belum hilang rasa terkejutnya, mendapatkan seorang laki-laki muda terkapar di semak-semak Segera diseretnya tubuh orang itu ke depan Atmaya. Kelihatannya orang itu masih bernapas, dengan setemplokan ludah kental menempel di keningnya. Rupanya semburan ludah Atmaya tadi disertai pengerahan tenaga dalam. Sungguh luar biasa, Atmaya. Dia cepat tahu kalau di sekitar sini ada orang yang mengintai. Padahal Sepasang Walet Merah tidak mendengar apa-apa tadi.

"Bangun!" dengus Atmaya sambil mengetuk jidat orang yang terkapar di depannya.

Seketika itu juga orang itu bangun. Tiba-tiba saja ludah yang menempel di jidat orang itu langsung hilang, dan lengket menempel di ujung ranting kering yang dipegang Atmaya. Aneh.

"Ampun, Ki, jangan bunuh aku," kata orang itu segera berlutut di depan Atmaya.

"Siapa yang menyuruhmu memata-mataiku?" tanya Atmaya dingin suaranya.

Jaka memperhatikan laki-laki yang kelihatan masih muda dan sebaya dengan dirinya. Dia sendiri heran dengan sikap orang itu yang seperti ketakutan di depan Atmaya. Padahal, kalau dilihat dari cara mengintip tadi, sepertinya dia memiliki kepandaian yang lumayan. Sampai-sampai sepasang Walet Merah tidak mengetahui kehadirannya.

"Kau datang ke sini bersama gurumu, heh?" tegas dan berat suara Atmaya.

"akh!"

Belum lagi orang itu mengucapkan satu kata, tiba-tiba tubuhnya terjungkal. Di keningnya menancap sebuah paku emas. Wulan dan Jaka serentak melompat dan bersiaga dengan tombak pendek bermata dua pada ujung-ujungnya. Sedangkan Atmaya masih tetap duduk bersila di tempatnya. Dia seperti tidak terpengaruh sama sekali.

"Paku Emas...," gumam Atmaya dengan mata menatap lurus pada paku emas yang tertancap pada kening orang itu.

Sret! Sret!

Dua kilatan sinar kuning melesat cepat ke arah Atmaya. Dengan sigap, digerakkan tangan kanannya. Dan...

Tap! Tap!

Seketika itu di jari-jari tangan Atmaya sudah terselip dua batang paku emas Secepat kilat Atmaya menggerakkan tangannya, dan kembali sinar kuning melesat ke arah yang berlawanan menuju serangan gelap tadi.

"Aaaakh...!"

Terdengar dua kali teriakan kesakitan saling susul. Kemudian terlihat dua sosok tubuh terguling, tersuruk dari semak-semak. Masing-masing keningnya tertancap sebuah paku emas.

"Hm..., hanya cunguk busuk!" gumam Atmaya agak mendengus.

"Siapa mereka, Kakang?" tanya Wulan.

"Orang-orang partai Paku Emas," jawab Jaka setengah berbisik

"Kau tahu mereka?"

"Ya. Dari senjata yang digunakan. Eyang resi pernah cerita padaku tentang partai itu."

Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika Eyang Resi Suralaga menceritakan seseorang atau sebuah partai, tentulah ada maksudnya. Paling tidak mereka yang diceritakan punya tingkatan kepandaian yang cukup tinggi dan punya nama dalam rimba persilatan.

Ketika Wulan akan membuka mulutnya lagi tiba-tiba beberapa sinar kuning kembali meluncur deras ke arah mereka dan Atmaya. Jelas di sekitar sini tidak hanya tiga orang saja dari partai Paku Emas. Selain mereka yang telah tewas tadi masih ada beberapa orang yang mengintai. Bahkan kemungkinan guru mereka juga hadir di sini.

Tring! Tring!

Sepasang Walet Merah menangkis serangan-serangan itu dengan memutar-mutar tombak pendek senjata andalan mereka. Paku-paku emas yang mengancam jiwa, rontok di tengah jalan tersapu senjata Sepasang Walet Merah.

Sementara itu Atmaya hanya melompat-lompat berkelit menghindari serangan beruntun yang datang bagai hujan. Paku-paku itu datang saling susul tidak hentinya mengancam tubuh si Gila Jubah Hitam.

"Hanya beginikah tikus-tikus yang kau bawa, Jenggala?" Atmaya berkata nyaring mengejek

Setelah berkata demikian, tangannya bergerak cepat Dan tiba-tiba saja beberapa paku emas berbalik arah, disusul dengan terdengar jerit kematian. Beberapa tubuh terjungkal dari semak-semak dan balik pohon.

"Gunakan 'Sapuan Badai', Adik Wulan!" seru Jaka ketika melihat Atmaya berhasil merobohkan beberapa orang lagi dengan senjata lawannya pula.

"Baik, Kakang!" sahut Wulan. Seketika itu juga Sepasang Walet Merah melompat dan berpegangan tangan. Tombak mereka berputar bagai baling-baling. Bagai terjadi angin topan saja, paku-paku yang berkelebatan mengancam jiwa mereka tertiup keras dan berbalik arah mengarah ke pemiliknya. Kembali terdengar jerit melengking disusul dengan robohnya beberapa orang dari semak-semak. Senjata makan tuan.

Deru angin dari ajian Sepasang Walet Merah terus bekerja dan semakin dahsyat Pohon-pohon kecil mulai melayang tercabut sampai ke akar-akarnya. Batu-batu kerikil beterbangan tersapu angin dari jurus 'Sapuan Badai' milik Sepasang Walet Merah. Bahkan kini pohon-pohon besar mulai tumbang. Kembali jerit kematian dan kepanikan yang menyayat

"He he he..., bagus, bagus!" Atmaya terkekeh gembira.

Dengan sikap tenang dia berdiri sambil melipat tangannya di dada. Sepertinya tidak terpengaruh sama sekali dengan jurus Sapuan Badai. Suara Atmaya terdengar terus terkekeh. Gilanya seperti kumat lagi

Namun angin badai tidak bertahan lama ketika tiba-tiba saja dua berkas sinar kuning berhasil menembus badai buatan itu. Dua sinar kuning itu mengarah deras ke kepala Sepasang Walet Merah.

"Awas, Kakang!" teriak Wulan langsung melompat sambil melepaskan pegangan tangannya pada Jaka.

Seketika itu juga Jaka melompat ke arah yang berlawanan. Dua sinar kuning meluruk cepat mengenai sasaran kosong dan hanya menghantam sebuah pohon besar. Terdengar suara ledakan yang dahsyat. Ternyata berasal dari pohon yang hancur berkeping-keping dihantam dua sinar kuning tadi.

"Tidak percuma kalian menguras ilmu si tua bangka Suralaga. Sayang, kalian harus lebih banyak membuka mata dan telinga," terdengar suara menggema yang disertai pengerahan tenaga dalam.

Sepasang Walet Merah kembali melompat dan berdiri berdampingan. Mata mereka melayang mengamati ke sekitarnya yang gelap diselimuti kabut tebal. Suara itu seperti datang dari segala arah. Jelas, sumber suara itu milik orang yang cukup tinggi ilmunya. Dia dapat memperdengarkan suara tanpa diketahui di mana orangnya. Sepasang Walet Merah memang telah menyadari sejak semula kalau yang datang ke Bukit Batok adalah orang-orang yang berilmu cukup tinggi.

"Muncullah, Jenggala. Aku tidak suka main petak umpet macam anak kecil!" seru Atmaya atau si Gila Jubah Hitam. Suaranya pun dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam yang cukup sempurna.

"Ha ha ha...!" kembali terdengar suara. Kali ini suara tawa keras disertai pengerahan tenaga dalam yang kuat. Suara itu terdengar menggelegar dan menyakitkan telinga.

Saat setelah suara tawa itu berhenti, dari sebuah batu besar muncul sesosok tubuh berpakaian serba kuning yang ketat. Pada bagian dadanya tersulam gambar sebuah paku dari benang emas yang indah. Dia berambut panjang yang digulung ke atas. Beberapa helai dibiarkan meriap sampai bahu.

Wulan agak tersekat juga ketika melihat wajah orang itu. Tak disangka sama sekali kalau wajah itu begitu tampan dengan kulit putih bersih. Dua bola matanya bening bagai bayi baru lahir. Bibirnya merah seperti bibir seorang gadis, dengan senyum tersungging. Tubuhnya pun ramping, namun

"Dia kah yang bernama Jenggala?" Wulan bertanya dalam hati.

********************

Jenggala. Wajah yang tampan itu tenang saja berdiri sekitar lima tombak di depan mereka. Sungguh tidak sesuai sekali dengan namanya. Wulan dibuat tak berkedip menatap laki-laki muda itu. Pikir Wulan, nama Jenggala adalah seorang laki-laki tua renta dengan wajah yang buruk. Ternyata dugaannya meleset Yang berdiri didepannya adalah seorang pemuda dengan pandangan mata mempesona serta senyum memikat setiap gadis yang meliriknya.

"Oh!" Wulan tersentak ketika Jaka menyenggol sikunya dengan keras.

"Jangan terpesona dengan ketampanannya," Bisik Jaka sambil menekan suaranya.

Seketika wajah Wulan memerah. Malu. Ternyata sejak tadi Jaka memperhatikannya Wulan jadi salah tingkah setelah kepergok tengah mengagumi ketampanan seorang pria. Apalagi suara Jaka tadi seperti ditekan dengan maksud mengingatkan Wulan agar jangan terlalu terbawa perasaannya sendiri.

"Jenggala, apa maksudmu datang ke sini?" tanya Atmaya setelah lama saling berdiam diri.

"Huh! Kau sendiri, ada apa muncul di sini?" Jenggala balas bertanya tanpa menjawab.

"Urusanku di sini tidak ada sangkut pautnya denganmu!" dengus Atmaya.

"Kalau begitu, menyingkirlah! Aku ada perlu sedikit dengan Sepasang Walet Merah!"

"Kutu busuk! Pongah sekali lagakmu!" rungut Atmaya sambil menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.

"Mungkin aku pongah, tapi tidak bejat sepertimu!" sinis suara Jenggala.

Sambil menggeram berat, si Gila Jubah Hitam langsung menggerakkan tangan kanannya. Dengan seketika dari telapak tangannya yang terbuka, meluncur seberkas sinar merah ke arah Jenggala. Si Gila Jubah Hitam rupanya tidak sungkan-sungkan lagi mengerahkan kesaktiannya.

"Uts!" Jenggala melompat ke atas menghindari sinar merah yang meluncur deras mengancam nyawanya.

Sinar merah itu terus meluncur, lalu menghantam pohon di belakang Jenggala. Akibatnya memang tidak langsung. Perlahan-lahan daun-daun pohon itu berguguran. Pengaruh sinar merah itu terus bekerja, sedikit demi sedikit mulai kelihatan hasilnya. Batang pohon mulai hangus seluruhnya, kemudian luruh hancur jadi debu. Sungguh hebat ilmu 'Arang Geni' yang dilepaskan si Gila Jubah Hitam.

Tanpa memberi kesempatan, si Gila Jubah Hitam segera menyerang kembali lawannya yang masih berada di udara. Mau tidak mau Jenggala bersalto di udara menghindari sinar-sinar merah itu. Baru saja kakinya sampai di tanah, kembali dia harus melesat ke udara sambil jungkir balik beberapa kali. Sinar-sinar merah itu terus mengancam jiwanya.

"Setan!" umpat Jenggala geram.

Seketika itu juga dilontarkan paku-paku emas andalannya ke arah si Gila Jubah Hitam atau Atmaya. Kini gantian si Gila Jubah Hitam yang harus jumpalitan menghindari paku-paku emas, sambil melancarkan ajian 'Arang Geni'. Sinar-sinar merah dan kuning saling berkelebat di tengah kegelapan malam yang pekat oleh selimut kabut tebal.

Sepasang Walet Merah hanya terpaku saja melihat pemandangan yang indah namun mengancam nyawa itu. Sinar-sinar merah dan kuning yang berseliweran itu kadang-kadang berbenturan hingga menimbulkan percikkan bunga-bunga api berwarna kebiru-biruan.

Sedikit demi sedikit jarak mereka makin dekat saja. Namun sinar-sinar yang indah tapi mengandung maut itu semakin jarang terlihat. Selanjutnya yang terlihat hanya kelebatan-kelebatan dua tubuh yang saling balas menyerang mempergunakan jurus-jurus silat yang cukup tinggi.

"Tampaknya pertarungan ini akan berjalan lama," gumam Jaka seperti bicara sendiri.

"Kau menyangka begitu, Kakang?" tanya Wulan tanpa mengalihkan pandangannya pada pertarungan itu.

"Ya. Mereka tokoh-tokoh sakti yang sudah cukup punya nama dalam rimba persilatan. Aku yakin tingkat kepandaian mereka seimbang," sahut Jaka sambil menjatuhkan diri, duduk di rerumputan.

Wulan menoleh sebentar, lalu ikut duduk di samping Jaka. Kembali pandangan terarah pada pertarungan itu. Bagi Wulan dan Jaka ini adalah kesempatan buat mereka menyaksikan pertarungan dua tokoh sakti yang sudah cukup punya nama dengan jurus-jurus silat cukup tinggi. Tiba-tiba Wulan tersentak ketika Atmaya merubah jurusnya.

"Kakang, bukankah itu jurus Kelelawar Sakti," tanya Wulan disela-sela keterkejutannya.

"Benar. Rupanya Kakek Atmaya dan Eyang Suralaga memiliki ilmu yang sama," sahut Jaka yang juga mengenali jurus itu.

"Sungguh dahsyat jurus Kelelawar Sakti, sayang eyang resi tidak mengajarkannya padaku," gumam Wulan.

"Kau sudah memiliki padanannya, Wulan," kata Jaka menangkap nada kekecewaan pada Wulan.

"Tapi, apakah jurus Pukulan Batara Karang sehebat dan sedahsyat jurus Kelelawar Sakti?"

"Dua jurus itu memiliki kehebatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Tapi jika keduanya dipadukan dengan satu kerjasama yang serasi, sangat sulit dicari tandingannya," Jaka menjelaskan.

"Kalau begitu, Eyang Resi pasti menurunkan jurus Kelelawar Sakti padamu?" tanya Wulan.

"Benar," sahut Jaka.

"Kenapa kita tidak berlatih kerja samanya, Kakang?"

"Tanpa berlatih pun, jika kita gunakan secara bersama-sama sudah merupakan satu kesatuan jurus yang ampuh."

Wulan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun dalam hati masih belum mengerti dengan sikap eyang resi yang tidak pernah bercerita tentang kedahsyatan jurus-jurus yang dipelajarinya bila dipadukan dengan jurus-jurus yang dimiliki Jaka. Memang dalam beberapa jurus, mereka dapat bekerja sama secara kompak. Tapi sepertinya masih banyak yang belum diketahui Wulan. Sedangkan Jaka seperti tahu banyak tentang jurus-jurus yang diberikan Eyang Resi Suralaga.

Apakah Eyang Resi hanya memilih Jaka untuk mengetahui banyak tentang jurus-jurus itu? Kalau memang demikian, berarti Eyang Resi Suralaga bersikap pilih kasih! Memberikan teka-teki padanya, tapi kuncinya diberikan kepada Jaka. Sungguh tidak adil! Benak Wulan terus berkecamuk.

Sementara itu pertarungan antara Atmaya dan Jenggala terus berlangsung semakin seru. Dua puluh jurus telah berlalu dengan cepat, tapi belum ada tanda-tanda yang terdesak. Kelihatannya mereka masih seimbang, entah sampai berapa jurus lagi. Sepasang Walet Merah tidak berkedip mengamati setiap gerakan juris yang mereka keluarkan.

Walaupun mata Wulan tertuju pada pertarungan itu, tapi benaknya teras bertanya-tanya tentang sikap Eyang Resi Suralaga yang dirasanya tidak adil.

********************

Ketika lewat lima puluh jurus, mendadak Jenggala melompat mundur sejauh lima lompatan katak. Keringat telah membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya yang tampan kelihatan memerah. Dengus napasnya memburu.

Sedangkan keadaan Atmaya tidak jauh berbeda dengan, lawannya. Baju kumal yang dikenakannya telah basah oleh keringat. Garis-garis wajahnya terlihat menegang. Selama malang melintang di rimba persilatan, baru kali ini Atmaya mendapat lawan yang tangguh. Kali ini dia benar-benar serius menghadapi lawannya hingga menghabiskan lima puluh jurus.

"Aku akui kau hebat Atmaya Tapi belum cukup untuk memiliki Cupu Manik Tunjung Biru," kata Jenggala dengan tenang.

"He he he..., cupu itu memang bukan hakku, dan bukan pula hakmu," sahut Atmaya terkekeh.

"Cupu itu milik semua orang, maka aku berhak pula memilikinya!" dengus Jenggala.

"Aku yakin, kau tidak bisa menggunakannya," sinis penuh ejekan suara Atmaya.

Jenggala hanya mendengus saja. Memang secara jujur, dia belum tahu kegunaan cupu itu. Tapi dari kabar yang tersiar, di dalam cupu itu terukir tulisan tentang jurus-jurus sakti. Di dalam cupu itu pun terdapat jantung Walet Merah yang berkhasiat untuk menolak berbagai racun yang terganas sekali pun. Secara alamiah, tubuh orang yang memakan jantung itu akan timbul hawa murni secara terus menerus dan teratur. Tidak mustahil kekuatan tenaga dalam akan berlipat ganda.

Goresan tulisan yang terdapat dalam Cupu Manik Tunjung Biru adalah jurus-jurus sakti Walet Merah. Semua yang terdapat pada Cupu Manik Tunjung Biru sebenarnya yang berhak memilikinya hanya Sepasang Walet Merah. Jadi secara langsung mereka adalah ahli waris dari ilmu Walet Merah. Eyang Resi Suralaga sendiri, dulu telah mempersiapkan jurus-jurus dasar Walet Merah untuk Wulan dan Jaka Untuk lebih menguasai dan menyempurnakan jurus-jurus itu, mereka harus menemukannya pada Cupu Manik Tunjang Biru. Jika kelak terlaksana, tidak mustahil mereka menjadi sepasang pendekar yang tangguh dan sulit dicari tandingannya.

Sementara itu Jenggala telah bersiap-siap dengan jurus andalannya. Kedua kakinya terpentang lebar ke samping Tangan kirinya terkepal ke atas, dan tangan kanan terbuka di depan dada. Atmaya paham betul kalau Jenggala hendak mengeluarkan jurus Tapak Karang Waja.

"Aku tidak boleh main-main," Bisik Atmaya dalam hati.

Segera saja digeser sebelah kaki kanannya ke depan agak menyamping. Kemudian kaki kirinya ditekuk sehingga lututnya hampir menyentuh tanah. Sedangkan kedua tangannya terbuka menyilang dada.

"Jurus Naga Wisa!" sentak Wulan mengenali jurus yang diperagakan Atmaya.

Memang yang diperagakan Atmaya adalah jurus andalan yang sangat ampuh dan berbahaya. Jari-jari tangannya membiru, mengandung racun yang me璵atikan. Lebih dahsyat lagi kalau seluruh tubuh Atmaya telah timbul sisik-sisik seperti seekor naga. Ini berarti dia telah sampai pada tingkat terakhir jurus Naga Wisa.

Apa yang dibayangkan Wulan memang kenyataan. Seluruh tubuh Atmaya perlahan-lahan muncul sisik-sisik yang berkilauan. Jari-jari tangan seluruhnya sudah membiru. Lebih menakutkan lagi, kedua bola mata Atmaya merah menyala bagai bola api yang siap membakar apa saja. Bahkan dari mulutnya menjulur lidah yang bercabang.

"Gawat!" Jenggala pasti mati!" desis Wulan.

Wulan tahu betul kehebatan jurus Naga Wisa karena jurus itu pernah dipelajarinya dari Eyang Resi Suralaga meski belum sampai tingkat terakhir. Gadis ini baru menguasai tingkat kelima. Sedangkan jurus Naga Wisa ada sepuluh tingkatan. Gambaran mengenai jurus-jurus selanjutnya itu, sudah diketahuinya karena Eyang Resi Suralaga sudah memperlihatkan semuanya

"Kau cemas?" Jaka berbisik melihat Wulan seperti gelisah,

"Ah, tidak!" sahut Wulan gugup. Cepat-cepat dia bersikap wajar.

Jaka semakin yakin kalau Wulan sudah terpikat dengan ketampanan Jenggala. Memang tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Jaka cemburu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hubungannya dengan Wulan hanya sebatas seperti kakak beradik saja, meskipun satu sama lain telah sama-sama tahu kalau mereka bukanlah saudara.

Kembali Sepasang Walet Merah memusatkan perhatian pada kedua tokoh yang sudah siap dengan jurus andalan masing-masing. Atmaya kini berdiri tegak dengan bola mata merah menyala mengarah pada Jenggala yang telah siap dengan jurus Tapak Karang Waja

"Aku tidak peduli setan apa yang merasuk dalam tubuhmu, Atmaya," desis Jenggala. "Malam ini kau harus mampus oleh Tapak Karang Waja!"

Selesai berkata, Jenggala langsung menarik turun tangan kirinya. Dengan satu teriakan keras, kakinya terangkat lalu dijejakkan ke tanah dengan kuat Dalam sekejap saja, tubuh Jenggala sudah meluncur deras ke arah Atmaya.

"Mampus kau, Atmanya!" teriak Jenggala lantang.

"Aaaargh...!" Atmaya menggeram dahsyat

Sungguh sangat sukar dipercaya, Atmaya sedikit pun tidak merobah posisinya. Dia tetap berdiri tegar walaupun Jenggala telah menyerang dengan mengerahkan jurus andalannya Dan pada detik selanjutnya...

Blarr!!!

"Aaaargh...!"

"Aaaakh...!"

Suara ledakan dahsyat saling susul bersama jerit melengking dan geraman keras ketika kedua telapak tangan Jenggala membentur dada Atmaya. Seketika dua tubuh terpental keras ke belakang.

Badan Jenggala membentur pohon besar hingga hancur. Tidak berhenti di situ, beberapa pohon tumbang terhantam tubuh yang terus meluncur itu Luncuran tubuh Jenggala baru berhenti ketika jatuh bergulingan di tanah, lalu menghantam batu sebesar kerbau hingga hancur berantakan. Jenggala menggeletak dengan darah kental keluar dari mulutnya.

"Kakek...!" jerit Wulan histeris.

Memang, nasib yang dialami si Gila Jubah Hitam tidak jauh berbeda. Tubuhnya terpental jauh ke belakang membentur dinding bukit cadas yang keras. Dinding batu cadas itu hancur dan menimbulkan getaran yang amat kuat bagai terjadi gempa. Atmaya, atau si Gila Jubah Hitam menggelatak di antara reruntuhan batu-batu cadas. Dari mulut dan hidungnya mengalir darah segar.

"Kakek...," rintih Wulan menghambur ke arah si Gila Jubah Hitam. Gadis Ini semakin yakin kalau laki-laki itu memang kakeknya. Jurus-jurus yang dimiliki sangat mirip dengan Eyang Resi Suralaga.

Ketika Wulan akan menubruk, tangan Atmaya bergerak lemah mencegah. Wulan berhenti. Matanya menatap cemas terhadap keadaan kakeknya. Seluruh tubuh laki-laki itu penuh sisik keperakan. Dadanya bergerak pelan dan tersengal. Di dadanya juga terlihat ada tanda dua tapak tangan berwarna merah kehitaman.

"Jangan dekat, Wulan. Kau belum sempurna menguasai jurus Naga Wisa. Sangat berbahaya bagimu," lemah suara Atmaya.

"Kek...," suara Wulan tersekat di tenggorokkan.

"Cupu Manik Tunjung Biru milikmu dan Jaka. Di dalamnya banyak tersimpan jurus-jurus maut yang harus kalian kuasai penuh sebagai Sepasang Walet Merah. Dua jantung yang ada di dalamnya harus kalian makan. Aku yakin, ketak kalian akan menjadi sepasang pendekar yang sulit dicari tandingannya," semakin lemah suara Atmaya. Sinar matanya pun semakin redup.

Wulan tak kuasa lagi membendung air matanya. Sementara Jaka hanya berdiri saja di samping gadis itu yang berlutut di sisi tubuh Atmaya

"Hanya satu pesanku, jadilah kalian sepasang pendekar yang berada di jalan lurus. Kalian tidak boleh berpisah satu sama lain. Aku senang jika kalian menurunkan ilmu pada anak cucu kalian, juga cucu-cucu buyutku. Wulan... kau bersedia meluluskan permintaanku, juga permintaan Suralaga?"

Mulut Wulan seperti terkunci. Dia hanya memandang pada Jaka yang telah berlutut juga. Memang sulit untuk meluluskan permintaan terakhir itu. Di antara mereka berdua sudah terjalin tali persaudaraan yang erat. Hal ini sulit bagi Wulan yang telah menganggap Jaka sebagai kakaknya. Entah bagi Jaka.

"Aku akan mati tersenyum jika kalian mau berjanji," kata-kata Atmaya makin melemah. Beberapa kali dia terbatuk-batuk dan diiringi dengan darah yang muncrat dari mulutnya.

Tidak ada pilihan lain bagi Wulan kecuali mengangguk Jaka pun ikut menganggukkan kepalan ketika Atmaya memandang lemah kepadanya. Laki-laki kumal itu tersenyum bahagia.

"Jika aku mati, timbuni saja dengan batu-batu. Jangan kalian sentuh tubuhku. Sangat berbahaya. Racun yang berada di seluruh tubuhku akan mematikan kalian seketika! Se... lamat..., ting..., gal!"

"Kek...!"

Wulan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Atmaya atau si Gila Jubah Hitam telah menghembuskan napasnya yang terakhir. Bibirnya menyungging senyum. Sesaat keadaan menjadi sunyi lengang. Bahu Wulan terguncang-guncang, menangis terisak. Sedangkan Jaka hanya tertunduk dengan hati terbalut duka dan berbagai perasaan lainnya. Pesan terakhir Atmaya sangat persis dengan pesan Eyang Resi Suralaga sebelum meninggal.

"Jenggala, kubunuh kau!" geram Wulan tiba-tiba!

"Wulan...!"

Jaka tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah gadis itu yang tiba-tiba kalap. Wulan telah melompat cepat sambil menghunus tombak pendek bermata dua. Ketika sampai di tubuh Jenggala, langsung senjata andalannya berkelebat cepat.

Tetapi apa yang terjadi? Wulan langsung mundur ketika ujung senjatanya menyentuh jasad Jenggala. Hanya terkena ujungnya saja, jasad itu segera hancur jadi debu. Benar-benar dahsyat jurus Naga Wisa. Jasad Jenggala kini menjadi tepung dalam seketika. Baru kali ini Wulan menyaksikan keampuhan jurus Naga Wisa yang sesungguhnya.

"Wulan...."

Wulan menoleh. Matanya basah oleh air bening yang merembang di kelopak matanya yang bulat indah. Jaka mengambil senjata di tangan Wulan, dan diselipkan di pinggang gadis itu. Pandangan matanya lembut lurus ke arah bola mata Wulan. Sesaat mereka hanya terdiam saling pandang.

"Sebaiknya kita kubur dulu jenazah Kakek Atmaya," bisik Jaka lembut.

Wulan menoleh ke arah jasad Atmaya. Hatinya sedih melihat satu-satunya keluarga terakhir telah meninggal dunia. Sepertinya baru sedetik mereka bertemu. Dan kini harus berpisah untuk selama-lamanya. Maut kembali memisahkan Wulan dari orang-orang yang dicintainya.

********************

Pagi baru saja menjelang. Matahari mengukir dirinya dengan sinar kemerahan menyapu lembut mengusir kabut. Burung-burung membangunkan teman-temannya untuk mencari makan entah di mana. Di samping tumpukkan batu, Wulan masih berdiri mematung membayangkan kenangan-kenangan manis yang telah dialaminya. Sedangkan Jaka masih setia menunggu di samping gadis itu. Sudah cukup lama mereka saling berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

"Wulan...," bisik Jaka tiba-tiba sambil menepuk pundak Wulan lembut.

Wulan mengangkat kepalanya dan tersentak kaget. Tiba-tiba saja di depan mereka telah duduk bersila seorang pemuda berambut panjang. Laki-laki muda itu hanya mengenakan rompi dengan pedang bergagang kepala burung tersampir di punggungnya. Dialah Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti juga mengangkat kepalanya pelan-pelan. Jarak mereka tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua tombak lebih. Secara serentak, Sepasang Walet Merah telah menggenggam tombaknya masing-masing yang masih terselip di pinggang. Kehadiran Rangga yang tidak diketahui sama sekali, membuat Sepasang Walet Merah cepat waspada.

"Maaf, mungkin kehadiranku membuat kalian terkejut," kata Rangga lembut disertai senyum terkembang.

"Kau datang ke sini tentunya ingin mencari Cupu Manik Tunjung Biru, bukan?" Wulan langsung menuduh.

"Benda atau makanan itu?" tanya Rangga sambil berdiri.

"Jangan berlagak bodoh!" sentak Wulan sengit

"Kehadiranmu tanpa kami ketahui sudah menandakan kalau kau bukan orang sembarangan. Tentunya maksud dan tujuanmu sama seperti yang lain," ucap Jaka masih dapat bersikap sabar dan lunak.

"Maaf," ucap Rangga sedikit hormat "Aku di sini memang telah sejak malam tadi"

"Nah, jelas sekarang! Kau mengintai kami dan mengira kami menyimpan cupu itu!" ucap Wulan ketus. "Ayo, Kakang. Orang ini jelas-jelas menginginkan Cupu Manik Tunjung Biru!"

"Tunggu, Wulan!" Jaka cepat-cepat mencegah tangan Wulan yang akan menarik senjatanya.

"Apakah kehadiranku di sini mengganggu?" tanya Rangga.

"Maaf atas kekasaran sikap adikku," ucap Jaka sudah dapat menuai kalau Rangga tidak bermaksud buruk. "Kalau boleh tahu, siapa namamu dan bermaksud apa datang ke Bukit Batok ini?"

"Namaku Rangga. Aku datang ke sini secara kebetulan saja. Sebenarnya aku hanya ingin lewat saja. Tetapi ketika aku melihat begitu banyak orang dan mayat bergelimpangan, lalu aku singgah sebentar," Rangga menjelaskan secara jujur. "Apa kedatanganku mengganggu?"

"Jangan percaya kata-katanya, Kakang!" kembali ketus suara Wulan.

Rangga hanya tersenyum saja mendengar suara tanpa persahabatan itu. Bisa dimakluminya sikap gadis cantik ini. Semalam dia telah tahu permasalahannya yang sedang terjadi. Itulah sebabnya, mengapa tidak dilanjutkan perjalanannya. Hati nuraninya merasa tergerak ingin membantu sepasang anak muda yang tengah dilanda bahaya ini.

Rangga sama sekali tidak menyalahkan sikap Wulan yang terlalu emosi itu. Tapi Rangga kagum dengan sikap Jaka yang lebih sabar dan tenang dalam menghadapi persoalan. Benar-benar sikap seorang ksatria sejati

Baru saja Rangga ingin membuka mulutnya, tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik, yang disusul dengan kelebatan bayangan Dan detik itu juga muncul seorang perempuan tua berambut putih. Pada bibir bagian atasnya terdapat luka panjang sehingga giginya yang hitam terlihat mencuat

"Nenek Sumbing," desis Jaka mengenali perempuan tua itu.

Wulan sedikit terkejut dengan kedatangan perempuan tua itu yang secara tiba-tiba di Bukit Batok ini. Memang telah diduga sebelumnya, tapi tak disangka harus begini cepat berhadapan dengan tokoh tua yang sulit diukur tingkat kepandaiannya.

Belum lagi hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki tua berpakaian serba hijau. Dari warna pakaiannya, jelas kalau dia adalah Klabang Hijau. Kemunculannya didasari oleh rasa penasaran melihat Nenek Sumbing yang telah berhasil menggagalkan aji 'Kala Wisa' ketika Klabang Hijau berhadapan dengan Sarmapala di depan penginapan.

Klabang Hijau yang gemar mencari lawan untuk mengadu kesaktian, seperti merasa ditantang dengan kata-kata Nenek Sumbing waktu itu. Makanya setelah dilampiaskan dendamnya pada Sarmapala, dia tidak segera pergi. Ditunggu saat yang tepat untuk bertemu nenek jelek ini. Dan inilah saat yang tepat ketika dia melihat Nenek Sumbing muncul di Bukit Batok.

"He he he..., kita bertemu lagi, nenek usil," Klabang Hijau terkekeh.

"Huh! Aku tidak ada urusan denganmu!" dengus Nenek Sumbing.

"Siapa bilang? Kau telah berani mencampuri urusanku, berarti kau sudah berani menantangku!" jawab Klabang Hijau.

Nenek Sumbing segera teringat kejadian di depan rumah penginapan. Baru disadari kalau sikapnya telah membuat persoalan baru bagi Klabang Hijau. Dia tahu tabiat tokoh tua yang aneh ini. Kegemarannya adalah berkelana hanya untuk mengukur tingkat kepandaiannya saja. Memang diakui, sampai detik ini belum ada seorang pun yang mampu mengalahkannya.

Klabang Hijau sendiri tidak peduli dengan kemelut yang terjadi dalam rimba persilatan. Baginya seorang lawan lebih menarik perhatian daripada segala macam tetek bengek persoalan dunia. Dia tidak peduli dengan cupu yang tengah diperebutkan. Dia ke sini hanya ingin bertarung dengan Nenek Sumbing. Itu saja. Wataknya memang hampir sama dengan si Gila Jubah Hitam. Dia tidak bisa dimasukkan dalam salah satu golongan.

"Sekarang aku menagih tantanganmu, Nenek Sumbing!" tegas nada suara Klabang Hijau.

"Hh...!" Nenek Sumbing mendesah panjang Sebenarnya, tidak ada setitik pun niatan di hatinya untuk mencari perkara dengan Klabang Hijau. Tapi sekarang dihadapkan pada salah satu pilihan yang amat sulit Terpaksa harus dihadapinya Kelabang Hijau lebih dulu dan menangguhkan mencari Cupu Manik Tunjung Biru.

********************

ENAM

Klabang Hijau memutar-mutar tongkatnya yang berwarna hijau. Tidak pakai basa-basi lagi, segera dikeluarkannya jurus Tongkat Sakti Membelah Badai. Putaran tongkat yang cepat menimbulkan suara menderu. Hawa panas mulai menyebar ke sekitarnya. Semakin lama semakin menyengat.

Sementara Nenek Sumbang masih berdiri tegak menatap tajam putaran tongkat itu. Tampaknya tidak gentar dan terpengaruh oleh hawa panas yang semakin menyengat. Padahal daun-daun pepohonan di sekitarnya sampai berguguran hingga berwarna kuning kering.

"Jangan gunakan hawa murni," bisik Rangga.

Sepasang Walet Merah telah menyalurkan hawa murni menjadi terkejut mendengarnya. Segera saja mereka hentikan penyaluran hawa murni itu.

"Kesinilah. Pegang tanganku!" bisik Rangga lagi.

Jaka yang sejak semula sudah menduga kalau Rangga tidak bermaksud buruk, langsung menarik tangan Wulan dan membawanya mendekati Rangga. Cepat dipegangnya tangan Pendekar Rajawali Sakti. Seketika tubuh Jaka teraliri hawa dingin yang nyaman, sehingga udara panas yang menyengat hilang begitu saja.

"Pegang tanganku, sebelum kau terkena akibatnya!" perintah Rangga pada Wulan.

"Tidak apa-apa, Adik Wulan. Kau akan selamat," lembut suara Jaka

Wulan masih kelihatan ragu-ragu. Tapi udara panas kian menyengat kulit, membuatnya harus melangkah juga ke samping kanan Pendekar Rajawali Sakti. Lebih-lebih ketika melihat Jaka segar setelah tangannya menggenggam tangan Rangga

Tiga orang itu akhirnya saling berpegangan tangan. Sekejap saja hawa panas yang menyengat di tubuh Wulan berganti menjadi sejuk dan nyaman. Hati Wulan kini malah menjadi malu sendiri karena telah menyangka buruk pada Rangga. Mendadak saja tangan Wulan malah menjadi dingin karena digenggam terus oleh seorang laki-laki tampan. Baru kali ini tangannya digenggam sedemikian rupa sehingga mendadak saja dadanya berdetak keras tidak beraturan. Ganggaman seorang laki-laki tampan lagi asing yang menggetarkan itu.

Selama hidupnya, laki-laki yang dekat hanya Jaka. Tidak heran kalau dia jadi salah tingkah ketika tangannya digenggam laki-laki lain. Wulan bagaikan sekuntum bunga yang belum pernah terjamah oleh tangan iseng manusia. Dia bagaikan bunga yang belum tahu bentuknya kumbang. Gadis itu pun memejamkan matanya untuk menghilangkan segala macam perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.

Sementara itu Klabang Hijau semakin hebat memutar tongkatnya. Putaran itu membentuk sinar hijau yang melingkar dan mengeluarkan kilat yang menyambar-nyambar. Seperti bermata saja, ujung kilat itu menyambar tubuh Nenek Sumbing Tentu saja hal ini membuat si nenek tua berlompatan ke sana kemari, menghindari sambaran kilat.

"Setan! Terima sabuk saktiku!" umpat Nenek Sumbing merasa kewalahan menghadapi serangan Klabang Hijau.

Selesai dengan kata-katanya, Nenek Sumbing melepaskan sabuk hitamnya. Dengan seketika dikebutkan sabuk itu beberapa kali. Suara menggelegar bagai guntur terdengar memekakkan telinga. Ujung sabuk hitam itu selalu menghalau arah kilat yang menyambar ke arahnya.

"Hiya...!" Nenek Sumbing tiba-tiba menjerit tinggi.

Seketika itu juga tubuhnya melesat tinggi ke angkasa sambil berjungkir balik tiga kali. Tubuh itu langsung meluncur cepat ke bawah, tepat ke arah kepala Klabang Hijau. Bersamaan dengan itu, tangannya bergerak cepat mengecutkan sabuk hitamnya.

Trak!

Ujung sabuk menembus lingkaran hijau yang menutupi seluruh tubuh Klabang Hijau. Hal ini membuat serangan Klabang Hijau menjadi berantakan. Dalam sekejap lingkaran yang menyelimuti tubuhnya buyar. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Nenek Sumbing. Dengan cepat diayunkan kakinya ke arah dada lawan.

"Uts!"

Klabang Hijau langsung menyabet kaki itu dengan tongkatnya. Namun secepat kilat Nenek Sumbing menarik kakinya. Dengan gerakan yang tak terduga Nenek Sumbing mengebutkan sabuknya ke kepala lawan. Untunglah Klabang Hijau cepat menarik kepalanya ke belakang, sehingga ujung sabuk lewat di depan mukanya

Pertarungan terus berlangsung berganti-ganti jurus, saling sambung tanpa henti. Tampaknya dalam jurus-jurus awal mereka masih kelihatan seimbang. Pada saat yang sama, Jaka mengalihkan pandangannya ke Goa Larangan. Matanya tiba-tiba saja mendelik ketika melihat lima orang sedang mendekati mulut goa.

"Wulan...," bisik Jaka.

"Aku sudah tahu. Ayo kita halangi," potong Wulan cepat.

Tanpa banyak bicara lagi, Sepasang Walet Merah segera melepaskan genggamannya pada Rangga, langsung melompat cepat ke arah Goa Larangan. Mereka tidak lagi menghiraukan pertarungan dua tokoh sakti itu. Sedangkan Pendekar Rajawali Sakti seperti acuh saja terhadap Sepasang Walet Merah. Dia dengan seksama memperhatikan setiap pertarungan itu.

"Berhenti!" teriak Wulan melengking.

Teriakan yang disertai tenaga dalam, membuat terkejut lima orang yang berpakaian dengan warna berbeda itu. Mereka adalah Lima Golok Neraka. Mereka semakin terkejut ketika melihat Sepasang Walet Merah tiba-tiba saja telah meluruk dan berdiri di depan mulut goa. Di tangan mereka telah tergenggam senjata tombak bermata dua.

"Sungguh beruntung sekali bertemu langsung dengan kalian," kata Baga Biru, salah satu dari Lima Golok Neraka yang tertua.

"Huh! Kalian orang-orang tidak tahu diri! Datang hanya untuk merusak peristirahatan orang!" dengus Wulan.

"Kalau begitu, serahkan saja Cupu Manik Tunjung Biru pada kami," kata Baga Biru lagi.

"Langkahi dulu mayat kami!" seru Wulan menantang.

Baga Biru menjentikkan dua jarinya. Seketika itu juga empat orang lainnya serentak mencabut senjata masing-masing yang berupa golok besar dengan sebelah sisinya bergerigi. Senjata-senjata itu berkilatan tertimpa sinar matahari. Baga Kuning dan Baga Ungu menggeser posisinya berada di sebelah kiri Baga Biru. Sedangkan Baga Merah dan Baga Putih mengambil tempat di kanannya.

"Hati-hati, Wulan. Tampaknya mereka punya kepandaian cukup tinggi," bisik Jaka. Jika dilihat dari cara mereka mengambil posisi saja, sudah terlihat kalau ilmu peringan tubuh mereka tidak rendah. Kaki-kaki mereka seperti tidak bergerak, tapi tiba-tiba saja telah siap dengan posisi masing-masing.

Wulan tidak bersuara. Matanya tajam menatap pada lima orang yang sudah siap dengan senjata di tangan. Sedikit pun hatinya tidak merasa gentar. Setinggi apa pun tingkat kepandaian lawan, harus dipertahankan hak miliknya sampai titik darah penghabisan.

"Hiyaaat...!" tiba-tiba Wulan memekik keras.

Seketika itu juga tombaknya berpindah ke tangan kiri, sedang tangan kanannya bergerak cepat Cahaya keperakan berkelebat keluar dari tangan kanan Wulan. Ternyata gadis itu telah menyerang lebih dulu dengan melemparkan bintang-bintang besi bersegi delapan.

Cring! Cring! Cring!

Lima Golok Neraka mengebut-ngebutkan senjatanya menangkis bintang-bintang besi yang meluncur cepat mengancam jiwa. Wulan terus menghujani lima orang itu dengan senjata rahasianya. Namun sampai sejauh ini, tak satu pun senjata itu menyentuh kulit lawan. Semuanya rontok di tengah jalan.

"Hanya sampai di sinikah kepandaian murid Suralaga?" Baga Biru mengejek.

"Kurobek mulutmu, bangsat'" Wulan seperti kalap mendengar ejekan yang membawa-bawa nama Eyang Resi Suralaga.

Setelah berkata demikian, Wulan langsung mencelat menerjang Baga Biru. Ujung tombaknya berkelebat mengancam leher.

Trang!

Baga Biru menangkis serangan itu dengan mengayunkan goloknya. Wulan mencelat lagi ke belakang sejauh satu batang tombak. Tangannya terasa kesemutan ketika ujung tombaknya berbenturan dengan golok Baga Biru. Padahal dia menyerang dengan mengerahkan tenaga dalam.

Itu baru satu dari Lima Golok Neraka. Bagaimana jika semuanya bergabung bersatu padu? Ada sedikit rasa gentar terselip di hati Wulan. Dia sadar kalau lawannya mempunyai tingkat kepandaian yang jauh di atasnya. Ternyata hal ini pun dirasakan oleh Jaka. Segera dia melompat menghampiri Wulan.

"Kita hadapi bersama. Adik Wulan Tahan emosimu," kata Jaka setengah berbisik.

Tanpa banyak bicara lagi, Wulan segera memegang tangan Jaka. Mereka langsung mengerahkan jurus 'Tapak Geni'. Melihat Sepasang Walet Merah telah siap akan menyerang lagi, Baga Biru memberi isyarat pada yang lain. Serentak mereka merapat dan menyatukan ujung-ujung golok.

"Tapak Geni...!" Wulan dan Jaka berteriak bersamaan.

Seketika itu juga mereka mendorong tangan ke depan. Dari telapak tangan mereka meluncur sinar merah ke arah Lima Golok Neraka.

Dalam waktu yang bersamaan, dari ujung-ujung golok yang menyatu, keluar seberkas sinar bagai kilat. Pada satu titik, kedua sinar itu saling bertemu. Ledakan keras pun terjadi disertai percikkan bunga api. Belum tuntas suara ledakan keras tadi, kembali Sepasang Walet Merah mengerahkan ajiannya. Lima Golok Neraka pun tak kalah sigap untuk menyambut serangan itu.

Suara ledakan kembali terdengar beruntun. Lima Golok Neraka mulai bergerak maju sambil terus menyatukan ujung goloknya. Semakin lama jarak mereka semakin dekat saja. Ketika jarak mereka hanya tinggal setengah tombak lagi, tiba-tiba Baga Biru melepaskan diri seraya mengibaskan goloknya.

"Awas!" teriak Jaka sambil melepaskan pegangannya pada tangan Wulan.

Sepasang Walet Merah melompat ke samping menghindari tebasan golok Baga Biru. Tanpa diduga sama sekali, Baga Biru melompat ke arah Jaka seraya menebaskan goloknya. Jaka yang belum siap benar, sedapat mungkin menangkis serangan itu yang mengancam iganya dengan tombak pendek bermata dua.

Trang!

Serangan cepat Baga Biru memang berhasil dipatahkan, tetapi dengan cepat Baga Biru melayangkan kakinya.

Buk!

Tanpa dapat dihindari lagi, kaki itu bersarang telak di dada Jaka. Tubuh Jaka terdorong ke belakang sejauh dua tombak. Baga Biru tidak memberi kesempatan lawannya untuk bernapas. Dia langsung melompat sambil berteriak nyaring. Jaka yang masih sempoyongan dengan dada sesak, terkejut mendapati lawannya sudah kembali menyerang Tapi belum sempat dia berbuat sesuatu, tiba-tiba...

Cras!

Ujung tombak Baga Biru menggores dada Jaka. Darah segar keluar deras dari luka yang dalam dan memanjang. Kembali Baga Biru mengirimkan satu tendangan keras. Buk! Tendangan itu tepat bersarang di luka yang diderita Jaka.

"Akh!" Jaka memekik pendek dan tertahan. Tubuhnya tersuruk ke belakang dan membentur pohon. Jaka meluruk roboh di tanah. Darah semakin mengalir deras dari dadanya yang terluka. Dalam keadaan kritis, Jaka masih berusaha untuk bangkit. Matanya berkunang-kunang. Bibirnya meringis menahan sakit yang amat sangat. Seluruh tulang dadanya terasa remuk.

"Kakang...!" Wulan memekik cemas melihat keadaan Jaka yang kritis.

Dengan dada penuh diliputi berbagai perasaan, gadis itu berlari ke arah Jaka yang tertunduk bersandar di pohon. Tampaknya dia sudah tidak sanggup lagi untuk dapat berdiri. Napasnya satu dua. Wulan langsung menubruk tubuh Jaka dan memeluknya.

"Kakang...," suara Wulan tercekat. Dilepaskan pelukannya sambil matanya nanar melihat darah membasahi tubuh Jaka.

Cepat-cepat Wulan menotok beberapa bagian tubuh Jaka untuk membekukan aliran darah. Seketika darah itu tidak mengalir. Wulan membuka ikat kepalanya dan membalut luka Jaka yang cukup lebar. Selesai menolong Jaka, dia berdiri membalikkan tubuh menghadapi Lima Golok Neraka.

"Kubunuh kalian!" pekik Wulan mengkelap.

Selesai mengatakan itu, Wulan langsung berteriak nyaring. Tubuhnya yang ramping berkelebat cepat bagai seekor burung walet Diterjangnya Lima Golok Neraka seraya mengarahkan dua ujung tombaknya ke bagian-bagian tubuh lawan yang mematikan.

Wulan bertarung bagai singa betina terluka. Tidak dipedulikannya lagi lawan yang jauh lebih tinggi tingkat kepandaiannya. Rasa marah dan dendam membalut seluruh perasaan takut gadis ini, sehingga tidak dapat berpikir jernih lagi. Serangan-serangannya memang hebat, tapi kurang terkontrol. Lima Golok Neraka dengan mudah dapat menghindari setiap serangan Wulan yang gencar.

Baga Biru yang mengetahui Wulan yang tak terkontrol itu, dengan tenang selalu dapat mengantisipasinya. Bibirnya tersenyum ketika tahu beberapa kelemahan pada setiap serangan Wulan yang beruntun. Dia pun mencari-cari kesempatan yang baik untuk menjatuhkan lawan sambil membuatnya malu.

Baga Biru memberi isyarat kepada yang lain untuk terus bertahan sambil mendesak Wulan. Empat orang itu mengangguk sambil tersenyum-senyum. Wulan tidak sadar kalau Lima Golok Neraka mempunyai rencana kotor terhadapnya. Dia terus saja menyerang membabi buta.

"Hup!" Baga Biru menurunkan tangan kanannya setelah melempar golok ke tangan kirinya.

Wulan yang sibuk menghadang empat golok, tidak memperhatikan Baga Biru. Tiba-tiba saja tangan kanan Baga Biru menepuk bokong gadis itu.

"Auw!" Wulan memekik kaget

"Ha ha ha...!" Lima Golok Neraka tertawa terbahak-bahak bersama-sama.

Wajah Wulan seketika merah padam. Sambil mendengus geram, tangannya bergerak cepat menerjang leher Baga Biru. Namun terjangan tangan yang menggenggam tongkat itu hanya dilayani dengan mengegoskan kepala sedikit ke samping. Bahkan tangan kanan Baga Biru menjulur ke depan.

"Setan!" maki Wulan sambil melompat mundur. Tangan Baga Biru hampir saja menyentuh buah dadanya. Laki-laki itu makin tertawa-tawa liar. Bola matanya jalang penuh nafsu memandang paras Wulan yang cantik.

"Serahkan saja Cupu Manik Tunjung Biru, dan kau akan senang bila jadi istriku," kata Baga Biru.

"Phuih!" Wulan semakin geram hatinya.

Lima Golok Neraka kembali tertawa gelak. Mereka melangkah maju mendekati Wulan. Dada mereka bergolak penuh nafsu. Liur mereka seperti tak tertahan memandangi kecantikan Wulan. Mendadak mereka melompat serempak Wulan menjadi bingung. Sedapat mungkin diputarnya tombak pendek bermata dua untuk melindungi dirinya.

Trang! Trang!

"Akh!" Wulan menjerit tertahan. Tangannya bergetar kesemutan ketika tombak pendeknya beradu dengan golok mereka.

Pada saat yang tepar, ujung golok Baga Biru berkelebat cepat.

Bret...! Bagian dada baju Wulan sobek, sehingga kulit bukitnya yang putih, terbuka. Dua bukit kembar terlihat akan mencuat hendak keluar.

Wulan memekik kaget bukan main. Buru-buru ditutupinya bagian yang terbuka itu dengan tangannya. Wajahnya semakin merah karena marah campur malu. Baga Biru yang sempat melihat kemulusan kulit dua bulat kembar itu, semakin bernafsu. Perhatiannya terhadap Cupu Manik Tunjung Biru terasa hilang seketika. Kini dia hanya terpusat pada gadis cantik yang sudah tidak berdaya di depannya.

"He he he...," Baga Biru terkekeh. Liurnya menetes menahan gejolak birahi.

"Kubunuh kalian!" geram Wulan.

Baga Biru tidak peduli. Kakinya melangkah maju mendekati Wulan yang sibuk memegangi sobekan baju di dadanya. Dengan kalap gadis itu menerjang Baga Biru. Tapi laki-laki ini hanya memiringkan sedikit tubuhnya, sehingga tusukan tombak pendek Wulan hanya lewat menyambar tempat kosong. Bahkan tangan kiri Baga Biru berhasil menjambret bahu gadis itu.

Bret!

"Akh!" lagi lagi Wulan memekik.

Kini bahunya terbuka lebar sampai ke punggung. Keadaan Wulan benar-benar tidak menguntungkan saat ini. Sebagian tubuhnya kini telah terbuka lebar. Kulit tubuhnya yang putih mulus terlihat leluasa membangkitkan gairah lima laki-laki yang menatapnya liar penuh nafsu.

Baga Biru sudah tidak bisa lagi menahan gejolak nafsunya. Sambil mengerahkan ilmu meringankan tubuh, dia melompat menerjang. Wulan yang sudah tak berdaya hanya bisa mendelik, serta repot berusaha menutupi tubuhnya. Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba....

"Akh...!" tubuh Baga Biru yang hampir mencapai Wulan, tiba-tiba saja terjengkang ke belakang.

Empat orang lainnya hanya ternganga. Di depan Wulan kini berdiri seorang pemuda tampan berbaju rompi dengan pedang di punggung Laki-laki muda itu tidak lain dari Rangga, atau Pendekar Rajawali Sakti.

"Rangga...," Wulan mendesah.

"Menyingkirlah. Bawa saudaramu ke tempat yang aman," kata Rangga pelan, namun tegas suaranya.

Sementara itu Baga Biru terlempar sejauh dua batang tombak ke belakang telah berdiri kembali. Mukanya merah padam karena ada orang yang berani menghalangi maksudnya. Dengan cepat dia melompat menerjang Rangga.

Rangga hanya memiringkan sedikit tubuhnya menghindari tebasan golok Baga Biru. Kemudian tangan kirinya bergerak cepat menotok pergelangan tangan lawan. Baga Biru terperanjat, cepat-cepat ditarik tangannya sambil berputar mengarahkan mata goloknya ke perut Rangga.

Lagi-lagi Pendekar Rajawali Sakti hanya mengegos sedikit Tangan kanannya segera bergerak menotok kembali pergelangan tangan lawan. Makin kalap saja Baga Biru. Dua serangannya gagal total, bahkan dua kali pula hampir terkena totokan pada jalan darah di pergelangan tangannya.

"Serang, anjing keparat ini!" teriak Baga Biru keras.

Seketika itu juga empat orang saudaranya segera bergerak mengepung Pendekar Rajawali Sakti. Golok mereka berkelebatan menyerang ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Pendekar Rajawali Sakti hanya mengegoskan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menghindari setiap tebasan golok lawan.

Semakin lama serangan Lima Golok Neraka semakin dahsyat mematikan. Menyadari lawannya bukan hanya sekedar nama kosong belaka. Rangga mengeluarkan jurus Cakar Rajawali. Kini gerakan tubuhnya semakin cepat. Kedua tangannya bergerak mencari sasaran. Kesepuluh jari tangannya menjadi keras bagai baja.

Pendekar Rajawali Sakti menarik kepalanya ke belakang ketika golok Baga Kuning mengarah ke lehernya. Secepat kilat dinaikkan tangan kiri, dan disentilnya ujung golok yang berada tepat di depan lehernya.

Tring!

Baga Kuning kaget bukan main. Tangannya bergetar hebat bagai terkena sengatan ribuan kalajengking. Cepat-cepat ditarik pulang senjatanya. Baga Kuning segera mundur dua tindak ke belakang. Seluruh tangan kanannya seperti mati, sulit digerakkan.

Satu demi satu Pendekar Rajawali Sakti menyentil ujung-ujung golok lawannya. Mereka semua langsung melompat mundur karena seperti tersengat tangan mereka. Merah Padam wajah Lima Golok Neraka. Segera dipindahkan golok mereka ke tangan kiri. Bagi mereka, tangan kanan atau kiri sama aktifnya.

"Aku masih mau memaafkan kalian. Nah, pergilah. Benda itu bukan milik kalian," ujar Pendekar Rajawali Sakti.

"Kutu busuk! Jangan sok jadi pahlawan, kau!" bentak Baga Biru berang.

"Aku peringatkan sekali lagi. Pergilah kalian sebelum aku jatuhkan tangan maut pada kalian!" dingin suara Rangga.

"Seraaang...!" Baga Biru berteriak lantang.

Serempak Lima Golok Neraka berlompatan menyerang Pendekar Rajawali Saku. Namun serangan yang mendadak dan cepat itu hanya menemui tempat kosong saja. Rangga telah lebih dulu menjejak kakinya dan melesat ke atas dengan menggunakan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.

Tentu saja hal ini membuat kelima penyerangnya kebingungan. Dan di tengah-tengah kebingungan itu, tiba-tiba saja Rangga menggerakkan tangannya dengan cepat.

Plak! Plak!

Lima kali tangan Rangga menempeleng kepala mereka. Lima Golok Neraka bergulingan di tanah. Rangga masih memberikan kelonggaran bagi lawannya dengan tidak mengerahkan seluruh kekuatan. Hanya saja kepala Lima Golok Neraka dibuat benjol sebesar telur ayam.

"Setan!" dengus Baga Biru sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan rasa pening.

Baga Biru cepat melejit ke atas ketika rasa pening di kepalanya hilang. Diayunkan goloknya dengan cepat disertai pengerahan tenaga dalam yang penuh. Pendekar Rajawali Sakti tidak sedikit pun berkelit Dia seperti menanti datangnya golok itu. Dan ketika ujung golok hampir mencapai tubuhnya, dengan cepat dijepitnya ujung golok itu dengan dua jari tangannya.

"Trek!"

Baga Biru hanya melompong melihat goloknya patah dengan mudah oleh Pendekar Rajawali Sakti. Belum lagi hilang rasa bingungnya, tiba-tiba sebelah tangan Rangga berkelebat cepat. Baga Biru tidak mampu lagi berkelit. Lehernya terbabat tangan Pendekar Rajawali Sakti, dan disusul dengan tendangan telak menghantam dadanya.

Baga Biru tidak mampu lagi bersuara. Tubuhnya melayang deras ke tanah tanpa kepala lagi. Tangan Pendekar Rajawali Sakti yang setajam pedang telah memisahkan kepala dari badannya. Empat orang lainnya hanya bisa melongo menyaksikan Baga Biru menggeletak tanpa kepala lagi.

"Siapa di antara kalian yang ingin menyusul?" keras dan lantang suara Rangga.

Empat orang dari Lima Golok Neraka saling berpandangan. Di wajah mereka tergambar jelas rasa kengerian yang amat sangat Buru-buru mereka menggotong tubuh Baga Biru yang sudah tidak memiliki kepala lagi. Tiga orang menggotong badan, seorang lagi membawa kepala Baga Biru. Bergegas mereka meninggalkan Bukit Batok.

Sementara Pendekar Rajawali Sakti masih melayang tegak lurus di angkasa, dan perlahan-lahan turun kembali. Ketika kakinya sampai di tanah, segera dihampirinya Wulan yang tengah merawat luka-luka Jaka. Gadis itu menoleh ketika merasa di dekatnya ada orang lain.

"Bagaimana lukanya?" tanya Rangga.

"Aku masih tidak tahu. Dia masih belum sadar juga," sahut Wulan lirih.

"Bawa saudaramu ke goa itu. Biar aku yang jaga di luar," kata Rangga.

"Goa Larangan...?!" Wulan terkejut

"Iya. Kenapa?" Rangga heran.

"Apa kau tidak tahu kalau goa itu sekarang jadi pusat perhatian semua orang?"

Rangga hanya mengerutkan keningnya. Dia semakin paham dengan apa yang tengah terjadi di Bukit Batok ini. Rupanya orang-orang yang berkumpul di tempat ini menduga kalau Cupu Manik Tunjung Biru ada di dalam Goa Larangan. Rangga menatap mulut goa yang tampak hitam gelap. Tiba-tiba matanya menyipit. Dilihatnya sebuah titik cahaya di dalam kegelapan goa itu. Cahaya itu terlihat jauh di relung goa.

"Cahaya Cupu Manik Tunjung Biru kah itu?" tanya Rangga dalam hati.

Mendadak saja cahaya itu hilang dari pandangan matanya. Rangga menoleh ke arah Wulan, lalu jongkok di samping tubuh Jaka yang masih belum siuman. Dadanya tampak bergerak lemah, menandakan masih hidup. Rangga menempelkan telapak tangannya di dada yang bergerak lemah itu.

"Racun...," desis Rangga kaget.

"Apa?!" Wulan semakin cemas.

"Dia harus cepat ditolong"

Wulan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Didiamkan saja ketika Rangga menyobek baju bagian dada Jaka. Selanjutnya kedua tangan Rangga menempel di dada yang bidang itu. Perlahan-lahan kedua tangan Rangga bergetar. Sebentar kemudian, asap putih mengepul dari tangan yang menempel di dada itu.

"Buka balutannya," kata Rangga.

Wulan segera membuka kain pembalut luka Jaka. Tampak darah yang menghitam seperti mendidih, meleleh keluar dari luka yang lebar dan panjang Dari mulut Jaka juga mengalir darah kehitaman. Rangga menyalurkan hawa murni melalui kedua telapak tangannya ke seluruh tubuh Jaka. Dicobanya untuk mengeluarkan racun yang bersarang di dalam tubuh salah seorang dari Sepasang Walet Merah. Sedikit demi sedikit darah yang keluar berubah merah segar. Rangga melepaskan tangannya setelah darah yang mengandung racun tuntas.

"Bisa minta kain bajumu sedikit?" pinta Rangga. Tanpa membantah lagi, Wulan lantas menyobek bajunya. Tidak dipedulikan lagi sebagian tubuhnya yang terbuka. Pikirannya hanya terpusat pada keselamatan Jaka. Rangga membalut luka di dada Jaka dengan kain sobekan baju Wulan. Kemudian diangkatnya tubuh Jaka dan dibawa ke rimbunan pepohonan. Wulan mengikuti sambil mengikat cabikan-cabikan bajunya. Yang penting tubuhnya tidak terlalu lebar terbuka.

********************

TUJUH

Tanpa ragu-ragu lagi Wulan menceritakan semua tentang Cupu Manik Tunjung Biru yang diketahuinya. Wulan merasa yakin kalau Pendekar Rajawali Sakti tidak seperti tokoh-tokoh lain yang datang hanya untuk merebut benda yang bukan miliknya.

Rangga mendengarkannya dengan serius. Sedikit pun dia tidak bersuara sampai Wulan selesai dengan ceritanya. Bahkan sampai lama Wulan terdiam, masih juga belum membuka mulut.

Wulan memandang Jaka yang kelihatan tidur pulas di sampingnya. Hanya sebentar Jaka sadar tadi, lalu merasa lelah dan mengantuk. Sampai sekarang Jaka belum juga bangun. Wulan kembali teringat pesan terakhir Eyang Resi Suralaga dan Kakek Atmaya.

"Kau tunggu di sini, Wulan," kata Rangga tiba-tiba seraya bangit berdiri.

"Kau akan ke mana?" tanya Wulan

"Ke Goa Larangan," sahut Rangga.

"Untuk apa ke sana?"

"Aku akan mencoba masuk ke dalam goa itu, Wulan," ujar Rangga sambil berbalik menghadap ke muka goa.

"Rangga...!" teriak Wulan mencemaskan kepergian Rangga yang nekat ingin masuk ke goa itu. Sebab banyak pihak lain yang tidak akan membiarkan Rangga masuk begitu saja!

"Mengambil Cupu Manik Tunjung Biru. Jangan khawatir, cupu itu akan menjadi milik kalian berdua."

"Aku tidak yakin benda itu ada di sana," Wulan setengah bergumam.

"Kau bilang, selama ini tinggal di goa itu. Berarti Eyang Resi Suralaga juga tinggal di sana. Aku yakin beliau pasti menyimpan benda itu di sana juga."

"Aku kenal betul Goa Larangan, tapi aku belum pernah melihat benda itu. Namanya saja baru dengar sekarang-sekarang ini," polos sekali Wulan berkata.

"Tidak ada salahnya kan aku ke sana?"

"Mereka tidak akan membiarkanmu masuk ke goa itu."

"Aku akan coba." Rangga segera melangkah, tapi...

"Rangga..," suara Wulan agak tersekat di tenggorokkan.

Rangga berbalik. Dilihatnya Wulan telah berdiri. Tampak bagian atas bajunya terbuka. Kulit dada yang putih terlihat jelas seakan dua bukit kembarnya ingin keluar. Darah muda Pendekar Rajawali Sakti sedikit bergetar melihat pemandangan itu. Cepat-cepat dialihkan perhatiannya ke arah lain.

Wulan menangkap sikap Rangga, jadi merasa canggung dan serba salah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupi dadanya yang terbuka. Hanya tangannya saja yang sibuk agar kemulusan tubuhnya sedikit tidak terlihat oleh orang lain. Keadaanlah yang membuatnya menahan malu.

"Aku tidak tahu harus berkata apa. Budimu terlalu besar bagi kami berdua," pelan suara Wulan.

"Ah, sudahlah. Aku senang jika dapat mengembalikan cupu itu padamu," sahut Rangga.

Wulan ingin berkata lagi, tapi Rangga telah lebih cepat menghilang dari hadapannya. Cepat sekali Rangga pergi, sampai-sampai gadis itu tidak melihat arahnya pergi. Wulan menarik napas panjang, lalu kembali duduk di samping Jaka yang terbaring lelap.

Mata Wulan merayapi wajah Jaka yang tampak lelap. Seolah-olah baru disadarinya kalau laki-laki yang selama sekian tahun selalu bersama-sama bukan saudaranya. Wulan seperti baru pertama kali melihat wajah Jaka yang tampan, yang selama ini lepas dan perhatiannya. Rasanya tidak berlebihan kalau dua kakeknya menginginkan Wulan dan Jaka menjadi sepasang pendekar suami istri.

"Jaka...," Wulan mendesah ketika melihat kelopak mata Jaka bergerak-gerak.

Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu perlahan-lahan membuka matanya. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Wulan yang duduk di sampingnya. Pelan-pelan dia berusaha bangun. Tubuhnya memang masih terasa lemah, tapi kesegaran mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Jaka duduk bersandar di pohon.

"Wulan...!" Jaka tersentak kaget ketika melihat keadaan Wulan yang sobek-sobek bajunya "Kau.... Kenapa begini?"

"Aku..., aku tidak apa-apa. Hanya bajuku saja yang rusak," sahut Wulan. "Seorang pendekar telah menolong kita."

"Pendekar...?"

"Iya. Dia menamakannya Pendekar Rajawali Sakti"

Jaka berusaha mengingat-ingat. Rasanya tidak pernah dengar nama itu. Namun begitu, dalam hatinya mengucapkan terima kasih pada pendekar yang telah menolong mereka.

"Dia yang tadi pagi bersama kita," kata Wulan seolah-olah mengingatkan..

"Oh..., Itu," Jaka jadi teringat dengan laki-laki muda yang sebaya dengannya. Ternyata mata hatinya tidak salah menilai.

"Dia juga yang menyembuhkanmu dari racun Lima Golok Neraka," sambung Wulan.

Jaka langsung menatap Wulan. Dirasakan ada nada-nada aneh pada suara Wulan. Laki-laki itu memang masih muda dan tampan. Ilmunya pun sangat tinggi. Buktinya, dengan mudah Lima Golok Neraka dapat dikalahkannya. Tidak aneh kalau Wulan seperti terpikat karenanya. Secara jujur, Jaka cemburu juga. Namun dia tidak berusaha memperlihatkan cemburunya pada Wulan. Memang sulit bagi mereka untuk menghilangkan perasaan saudara yang telah tertanam sejak lama.

"Aku sudah ceritakan semuanya pada pendekar itu. Kau tidak keberatan, kan?" kata Wulan.

"Oh, tidak," sahut Jaka. "Asal kau tidak ceritakan tentang permintaan Eyang Resi dan Kakek Atmaya yang terakhir."

"Juga itu."

"Apa...?" Jaka kaget bukan main.

"Tapi ditanggapinya dengan baik . Katanya kita memang cocok untuk..." Wulan tidak melanjutkan ucapannya. Kepalanya tertunduk, tidak sanggup lagi meneruskan kata-kata yang hanya karangannya sendiri. Dia sebenarnya hanya ingin tahu perasaan Jaka saja.

"Wulan..," Jaka meletakkan tangannya ke pundak gadis itu yang terbuka.

Seketika aliran darah Jaka seperti terhenti. Baru kali ini dia menyentuh pundak Wulan tanpa penghalang. Sangat halus kulit pundak itu. Rasanya Jaka seperti sulit bernapas. Debar jantungnya pun kian cepat berdetak.

Perlahan-lahan Wulan mengangkat kepalanya. Pandangannya langsung tertuju pada satu titik perasaan yang sukar diungkapkan. Seketika dirasakan ada sesuatu yang lain pada dirinya. Dia tidak mengerti perasaan apa yang tengah melanda dirinya. Yang jelas, debar jantungnya jadi semakin kuat saja.

Tangan Jaka yang berada di pundak Wulan, perlahan-lahan merayap naik. Lalu dengan lembut jari-jari tangannya mengusap pipi yang halus bagai sutra. Wulan membiarkan saja ketika tangan itu secara perlahan-lahan menarik kepalanya. Dia malah memejamkan matanya ketika desah napas Jaka mengusap kulit wajahnya. Begitu hangat dan lembut.

Seketika itu juga, Wulan seperti terserang demam luar biasa ketika bibir Jaka menyentuh bibirnya dengan lembut Jaka merasakan seluruh tubuh Wulan menggigil. Cepat-cepat dilepaskan bibirnya yang memagut tadi. Sungguh mati, Jaka tidak tahu kenapa Wulan demikian.

"Wulan, kau kenapa?" tanya Jaka seperti orang bodoh.

"Aku...," Wulan tidak sanggup berkata-kata lagi. Wajahnya menyemburat merah. Kepalanya kembali tertunduk.

"Maafkan aku, Wulan. Tidak seharusnya aku berbuat seperti ini padamu," pelan suara Jaka.

Wulan mengangkat kepalanya. Mereka kembali saling pandang. Entah kenapa, tiba-tiba saja Wulan jadi seperti takut kehilangan Jaka. Apakah ini yang dinamakan cinta? Begitu cepatkah cinta itu datang?

"Kita akan selalu bersama kan, Kakang?" lirih suara Wulan.

"Tentu," sahut Jaka tersenyum.

Tanpa berpikir banyak, Wulan segera menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Jaka. Sesaat mereka saling berpelukan tanpa berkata-kata lagi. Kini hanya hati dan debar jantung mereka yang terpaut jadi satu. Mengalun dalam irama cinta yang indah.

Dengan jari-jari tangannya, Jaka mengangkat dagu gadis itu. Mata mereka kembali bertemu. Jaka secara lembut mendekatkan wajahnya. Yang terjadi kini hanya desahan napas dari dua insan berlainan jenis yang menyatukan bibir mereka dengan rapat. Anehnya, Wulan seperti sudah biasa saja melakukannya. Dibalasnya kecupan dan lumatan bibir Jaka penuh dengan gelora cinta.

Mendapat balasan yang bergelora dari Wulan, gairah Jaka bangkit seketika. Pelan-pelan dibaringkan tubuh ramping itu di atas rerumputan. Tangannya kini mulai merayap menjelajahi tubuh indah yang terbaring pasrah. Luka yang ada pada tubuh Jaka seakan-akan lenyap saat itu juga, terbawa desah napas Wulan yang memburu hangat menggairahkan.

"Oh, Kakang...," desah Wulan.

********************

Sementara itu Pendekar Rajawali Sakti semakin dekat dengan Goa Larangan. Malam yang berkabut tebal hanya menampakkan bayangan tubuhnya saja yang bergerak ringan bagai melayang di atas tanah. Tanpa disadari dua pasang mata mengawasi setiap geraknya yang tersembunyi tidak jauh dari situ.

"Uts!" tiba-tiba Pendekar Rajawali Sakti melompat.

Seberkas sinar kebiruan menyambar cepat ke arah tubuhnya. Untungnya Pendekar Rajawali Sakti selalu waspada. Sinar biru itu hanya lewat sedikit di bawah kakinya. Dua kali jumpalitan di udara, lalu dengan manis menjejakkan kakinya di tanah.

"Rupanya ada juga yang ingin main-main denganku," gumam Rangga pelan.

Baru saja selasai bergumam, sinar biru kembali meluncur menyambar tubuh Rangga. Pendekar ini hanya memiringkan tubuhnya sedikit, maka sinar itu hanya lewat di depan dadanya. Matanya yang tajam, segera dapat mengetahui dari mana datangnya sinar-sinar itu.

"Keluar, kalian!" dengus Rangga.

Dengan kekuatan luar biasa, tangan kanannya bergerak mengibas. Seberkas cahaya kemerahan pun meluncur deras dari telapak tangannya. Sinar itu langsung menghantam pohon besar tidak jauh darinya. Pohon itu pun tumbang tanpa menimbulkan suara ledakan sedikit pun.

Dari pohon yang tumbang itu, berkelebat dua sosok bayangan putih. Dalam sekejap saja di depan Rangga telah berdiri dua orang dengan pakaian, wajah, dan bentuk tubuh yang sama.

"Ah, rupanya Setan Kembar dari Gunung Wetan tertarik juga dengan kabar kosong," kata Rangga mengenali dua laki-laki kembar di depannya.

"Kami sudah mendengar nama besarmu, Pendekar Rajawali Sakti.

Beruntung sekali bisa bertemu di sini," kata Sencaka.

"Tentunya maksudku berbeda dengan kalian."

"Aku tidak peduli dengan alasanmu datang ke Bukit Batok. Yang jelas, siapa saja berani mendekati Goa Larangan, harus mati!" dingin suara Sencaki.

"Apa ada larangan seperti nama goa itu?" Rangga berlagak pilon.

"Aku yang melarang!" dengus Sencaki.

"Apakah goa ini milikmu?"

"Jangan banyak bacot!" bentak Sencaki yang tidak pernah dapat meredam emosi. Lain dengan saudara kembarnya yang lebih tenang dan kalem dalam wataknya. Mereka memang selalu sama dalam banyak hal, tapi dalam watak mereka berbeda jauh.

"Meskipun kau punya nama besar yang bisa membuat jantung orang copot tapi kami tidak gentar menghadapimu!" lanjut Sencaki.

"Aku pun tahu nama besar kalian, tapi aku muak dengan sepak terjang kalian!" Rangga tidak kalah dingin serta pedas suaranya.

"Bersiaplah untuk mati!" dengus Sencaki seraya mencabut senjata andalannya berupa sepasang pedang pendek melengkung.

Sret!

Sencaka pun telah mencabut senjata yang sama bentuknya dengan Sencaki. Rangga tetap berdiri tenang walaupun dua orang dari Setan Kembar telah mencabut senjatanya. Pendekar Rajawali Sakti sama sekali tidak menyentuh gagang pedangnya. Dia sengaja bersikap seolahlah meremehkan, untuk memancing kemarahan lawan.

"Cabut pedangmu!" dengus Sencaki.

Rangga hanya tersenyum tanpa mempedulikan bentakan Sencaki.

"Jangan salahkan kami bila kau mati tanpa senjata," kata Sencaka. Suaranya masih terdengar tenang dan tanpa emosi.

"Silakan kalau kalian mampu"

Setan Kembar segera bergerak membuka jurus. Rangga masih tetap tenang, namun dua bola matanya tajam mengamati setiap gerakan lawan. Sambil berteriak nyaring, dua orang kembar itu melompat menyerang.

Sadar kalau lawan memiliki kepandaian cukup tinggi, Rangga melayaninya dengan jurus Cakar Raawali. Tubuhnya bergerak cepat menghindari setiap sabetan dan tusukan pedang lawan yang sangat berbahaya dan mematikan. Hingga pada saat yang tepat Rangga berhasil menyentil ujung pedang Sencaki. Namun dengan cepat Sencaki memutar pedangnya menyabet ke perut Rangga.

"Uh!" Rangga mendengus sambil menarik perutnya ke belakang.

Ujung pedang Sencaki lewat di depan perut Rangga. Tampaknya Sencaki tidak terpengaruh oleh sentilan jari Pendekar Rajawali Sakti. Bahkan semakin ganas saja menyerang Demikian pula dengan saudara kembarnya yang selalu mendukung setiap serangan Sencaki. Tidak jarang ujung pedang Sencaka hampir bersarang di tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

"Nampaknya mereka bisa menandingi jurus Cakar Rajawali. Hm..., akan kucoba lagi," bisik Rangga dalam hati.

Pada saat yang tepat pedang Sencaki masuk mengarah dada Pendekar Rajawali Sakti. Dengan cepat tangan Rangga bergerak menjepit pedang Itu dengan dua jarinya. Jepitan itu sangat kuat dan disertai pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Tapi hanya sekali sentak saja, Sencaki berhasil melepaskan jepitan itu Bahkan dia langsung memutar pedangnya mengarah ke leher. Rangga benar-benar terkejut.

Pendekar Rajawali Sakti tidak punya pilihan lain. Segera dikerahkan jurus 'Sayap Rajawali Membelah Mega'. Seketika itu juga tubuhnya mencelat ke udara.

Pedang Sencaki hanya menyambar tempat kosong di bawah kaki Rangga. Tetapi sungguh di luar dugaan sama sekali. Setelah Pendekar Rajawali Saka melesat ke udara, ternyata Setan Kembar pun bisa melayang bagai burung. Apalagi serangan-serangan mereka juga semakin dahsyat. Baru kali ini Pendekar Rajawali Sakti menemui lawan yang mampu menandingi duel di udara. Sungguh lawan yang cukup tangguh. Kibasan-kibasan tangan pendekar muda itu selalu dapat dihindari lawan. Namun serangan-serangan balasan Setan Kembar juga tidak kalah dahsyatnya. Empat buah pedang pendek seperti mengurung Pendekar Rajawali Sakti.

"Sungguh hebat kalian," puji Rangga dalam hati.

Dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya. Kini dia melesat tinggi, lalu secepat itu pula menukik dengan kaki bergerak mengancam kepala lawan. Jelas, ini adalah jurus Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Begitu cepat gerakan kakinya, sehingga membuat Setan Kembar kewalahan. Secepat itu pula mereka merubah jurusnya.

Kembali pertarungan berjalan seimbang. Rangga terus saja menukik turun dan menjejakkan kakinya di tanah dengan gerakan indah. Setan Kembar juga segera turun sambil terus menyerang, membuat Pendekar Rajawali Sakti sedikit kewalahan juga.

"Terpaksa harus kugunakan jurus Pukulan Maut Paruh Rajawali" dengus Rangga dalam hati.

********************

Ketika Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya, baru kelihatan kalau lawan mulai terdesak sedikit demi sedikit. Gerakan pendekar muda ini selalu penuh tipuan. Bahkan setiap pukulannya mengandung hawa panas yang luar biasa. Hal ini membuat Setan Kembar menjadi kacau dalam permainan jurus-jurusnya.

"Hm..."

Rangga mendengus ketika melihat Sencaki sedikit lowong pertahanannya. Dengan cepat dimiringkan tubuhnya menghindari tebasan pedang Sencaka. Tapi tanpa diduga, tangan kirinya menyodok iga Sencaki yang kosong.

Sencaki yang tengah memusatkan perhatiannya pada kaki lawan, benarenar terkejut Padahal dia tadi ingin cepat-cepat melompat, tapi pukulan tangan kiri Rangga bagai kilat datangnya. Tanpa ampun lagi iga Sencaki terhantam Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Aaaakh!" Sencaki memekik keras.

Sencaki terjungkal beberapa langkah ke belakang. Tampak pada bagian iganya seperti hangus terbakar. Warna hitam sebesar kepalan tangan menghanguskan bajunya, tembus sampai ke bagian tubuh. Melihat saudara kembarnya terkena pukulan, Sencaka pun memperhebat serangannya. Dua pedang pendeknya berkelebat cepat mengancam tubuh Pendekar Rajawali Sakti.

Sementara itu Sencaki yang roboh, berusaha bangun kembali Mulutnya meringis kesakitan merasakan tulang-tulang iganya remuk. Cepat digerakkan jari-jari tangannya ke bagian sekitar luka hitam di iga. Walaupun masih terasa nyeri, Sencaki bergerak berdiri.

"Bangsat!" umpat Sencaki geram.

Segera dia terjun lagi dalam pertarungan. Sencaka agak senang juga melihat saudaranya mampu melanjutkan pertarungan lagi. Sedangkan Rangga sedikit terkejut karena pukulan mautnya tidak membuat lawan tewas. Bahkan kini mampu menyerang kembali dengan ganas.

Sret!

Rangga tidak ada pilihan lagi. Segera dicabut pedang saktinya. Seketika keadaan malam yang diliputi kabut menjadi terang oleh sinar biru yang terpancar dari pedang pusaka itu.

Betapa terkejutnya Setan Kembar melihat pamor pedang itu. Tapi rasa terkejut itu pun lenyap ketika Rangga mengibaskan pedangnya.

Trang! Trang!

Dua kali terdengar senjata berbenturan. Kali ini Setan Kembar terlonjak dan langsung mencelat mundur dua langkah. Mata mereka membelalak melihat sebuah pedang mereka masing-masing buntung. Bahkan akibat benturan itu, tangan mereka seperti kaku.

Rasa kaget yang menyentak jantung mereka belum lagi hilang, Rangga kini kembali menyerang dengan menggunakan jurus gabungan antara Cakar Rajawali dengan Pukulan Maut Paruh Rajawali.

"Awas...!" seru Sencaka keras.

Sencaki yang masih dalam keadaan terluka, tidak dapat mengelak cepat. Terpaksa ditangkisnya pedang yang mengancam jiwanya.

Trang! Pedang Sencaki buntung!

Dan tanpa diduga sama sekali, pedang Rangga terus menerobos tanpa henti.

"Aaaakh...!" Sencaki menjerit melengking.

Pedang itu telah membuat leher Sencaki hampir putus. Sebentar masih mampu bertahan, tapi tak lama ambruk dan menggelepar di tanah. Darahnya mengucur deras dari leher yang koyak.

"Sencaki...!" teriak Sencaka kaget. Benar-benar hampir tak percaya Sencaka melihat saudara kembarnya tewas mengerikan.

Sencaka memang tidak bisa berbuat banyak lagi. Pedang itu kini telah berkelebat lagi mengancam dirinya. Pikirannya cerdik. Dia tidak mau mengambil resiko dengan menghadang pedang itu dengan pedangnya. Cepat-cepat dia melompat sejauh satu tombak ke belakang. Pedang Pendekar Rajawali Sakti hanya menebas bagian kosong.

"Kubunuh kau, bangsat!" geram Sencaka. Secepat kilat Sencaka menyerang Rangga dengan melompat. Tapi kalah cepat dengan Rangga. Karena baru saja akan melompat, pedang Rangga telah lebih dulu mengibas. Sencaka yang dirasuki amarah tidak dapat lagi menghindar. Pedang itu tepat menancap di dadanya. Dengan satu jeritan melengking panjang, tubuh Sencaka roboh mandi darah.

Rangga kembali memasukkan pedang pusaka ke dalam sarung di punggung. Kembali gelap menyelimuti sekitarnya. Sebentar Rangga memandangi dua mayat lawannya, lalu cepat melompat ke arah mulut goa.

********************

DELAPAN

Rangga mengamati sebentar mulut goa yang gelap pekat Kakinya melangkah ringan memasuki Goa Larangan Semakin masuk, semakin lembab udaranya. Rangga mengerahkan ilmu Mata Dewa Elang seingga dapat melihat jelas dalam keadaan gelap sekali pun.

Kakinya terus melangkah lebih dalam lagi, dan baru berhenti melangkah ketika didapatkannya sebuah makam yang indah di depannya. Segera Rangga berlutut dengan sikap memberi hormat. Dari cerita Wulan dapat dipastikan kalau ini makam Eyang Resi Suralaga. Pendekar Rajawali Sakti kembali berdiri.

"Maaf, saya datang untuk membantu cucu-cucumu," kata Rangga sopan.

Baru saja Rangga selesai berkata, tiba-tiba makam itu bergetar yang semakin lama semakin kuat. Rangga tetap berdiri tenang. Matanya tertuju pada makam yang masih bergetar bagai terjadi gempa. Tiba-tiba asap putih mengepul perlahan-lahan di tengah-tengah makam. Kian lama kian menebal.

Rangga kembali memberi hormat, namun matanya tetap tertuju ke arah makam yang masih mengepulkan asap putih tebal. Pelan-pelan getaran itu melemah bersamaan dengan pudarnya asap, hingga akhirnya hilang sama sekali. Goa kembali tenang.

"Apakah Eyang Resi berkenan cupu itu saya bawa untuk Sepasang Walet Merah?" Rangga bertanya halus dan sopan.

Rangga menunggu beberapa saat sambil tetap menjura hormat. Matanya tertuju pada sebuah benda berbentuk kendi berwarna keemasan yang muncul setelah asap tebal menghilang. Itulah Cupu Manik Tunjung Biru. Besarnya seukuran kepala orang dewasa, berada tepat di tengah-tengah makam.

Tiba-tiba saja cupu itu bergerak-gerak dan melayang ke arah Rangga. Pendekar Rajawali Sakti ini pun berdiri seraya mengeluarkan tangannya. Cupu Manik Tunjung Biru berhenti tepat di telapak tangannya. Tanpa ragu-ragu lagi, dia menjura dan berbalik. Kembali dilangkahkan kakinya menuju luar goa.

Ketika kakinya baru melangkah sejauh dua tombak di depan mulut Goa Larangan, tiba-tiba di depannya muncul seorang perempuan tua dengan rambut yang serba putih.

"Nenek Sumbing," gumam Rangga mengenali perempuan tua itu. "Apakah telah kau selesaikan pertarunganmu?"

"Hik hik hik..," Nenek Sumbing tertawa ngikik. "Sangat mudah melenyapkan si tua Klabang Hijau."

Pendekar Rajawali Sakti tak perlu penjelasan lagi. Dia cepat mengerti kalau Klabang Hijau telah tewas di tangan perempuan tua ini. Jadi jelas, tingkat kepandaian Nenek Sumbing tidak bisa diremehkan.

"Heh! Rupanya kau sudah berhasil menemukan Cupu Manik Tunjung Biru, bocah!" seru Nenek Sumbing. Matanya jelalatan memandang benda yang berada di kempitan ketiak Pendekar Rajawali Sakti.

"Benda pusaka ini akan kuserahkan pada pemiliknya," sahut Rangga.

"Kalau begitu, kau tak usah repot-repot mencarinya. Benda itu milikku."

"Aku sudah tahu siapa pemiliknya. Yang pasti bukan kau, Nenek Sumbing."

"Kampret jelek! Berani umbar bacot di depanku. Apa kau punya nyawa rangkap?" Nenek Sumbing mendelik gusar.

"Bukan hanya rangkap, tapi seribu."

Nenek Sumbing berjingkrak geram. Kata-kata Rangga yang diucapkan tenang itu sangat menyakitkan telinganya. Jelas mengandung tantangan meski tidak diucapkan secara langsung.

"Bocah, serahkan saja cupu itu! Jangan sampai kuturunkan tangan kejam padamu!" dengus Nenek Sumbing mengancam.

"Aku rasa kau telah kejam sejak dulu," sahut Rangga kalem.

"Setan belang! Rupanya kau tidak bisa diajak damai!"

"Tidak ada kata damai untuk orang serakah sepertimu."

Nenek Sumbing tidak bisa lagi menahan geram. Seketika itu juga diterjangnya Pendekar Rajawali Sakti. Namun terjangan itu luput, karena pendekar ini telah menggeser kakinya sedikit ke kanan. Nenek Sumbing yang semula menganggap remeh, semakin gusar. Segera dia berbalik dan menyerang kembali dengan jurus-jurus tangan kosong Perhatiannya terpusat penuh pada cupu yang aman dalam ketiak Pendekar Rajawali Sakti.

Dalam lima jurus saja, Rangga paham kalau Nenek Sumbing mengarahkan jurus-jurusnya hanya untuk merebut Cupu Manik Tunjung Biru. Namun demikian, pertahanan Nenek Sumbing juga sangat kokoh. Beberapa kali Rangga mencoba untuk membuka pertahanan itu dengan pancingan, tapi kenyataannya gagal. Nenek Sumbing seperti mampu membaca ke mana arah gerakan dan tujuan lawan.

Sebenarnya, pertarungan itu berjalan lamban seperti dua orang yang sedang berlatih olah kanuragan. Sampai matahari terbit di ufuk Timur, mereka hanya menyelesaikan sepuluh jurus tangan kosong. Rangga penasaran juga melihat Nenek Sumbing seperti main-main.

"Aku tidak punya waktu untuk main-main denganmu, Nenek Sumbing!" seru Rangga agak gusar.

"Siapa yang main-main? Lihat tanganku!" dengus Nenek Sumbing.

Belum lagi kering mulutnya berkata, Nenek Sumbing memiringkan badannya ke kiri sambil tangan kanannya dengan cepat didorong ke depan. Rangga hanya berkelit ke kanan, karena serangan itu mudah dibaca. Tapi tak diduga sama sekali, kaki perempuan itu terangkat naik cepat.

Buk!

Rangga tersentak ketika dirasakan perutnya terkena hantaman kaki perempuan tua itu. Dua langkah dia terdorong ke belakang, lalu dengan cepat menguasai diri. Dan memang benar, Nenek Sumbing sudah kembali menyerang dengan jurus-jurus yang cepat.

"Awas kaki!" seru Nenek Sumbing tiba-tiba.

Rangga hanya mengangkat kaki kanan sedikit ketika kaki Nenek Sumbing bergerak cepat menyambar. Dan sebelum perempuan tua itu berdiri dengan leluasa, dengan cepat kaki Pendekar Rajawali Sakti terayun ke depan.

"Uts!" Nenek Sumbing cepat menarik kepalanya.

Kibasan kaki Rangga meleset beberapa senti di depan muka Nenek Sumbing. Masih dalam keadaan kaki kanan di atas, Rangga menaikkan kaki kirinya. Cepat sekali Rangga bergerak memutar tubuh. Dan tanpa diduga kaki kiri pendekar itu melayang ke arah dada.

"Ukh!" Nenek Sumbing yang tidak menyangka secepat itu datangnya serangan susulan, tidak bisa mengelak lagi.

Satu tombak Nenek Sumbing terjengkang ke belakang. Dadanya terasa sesak terkena tendangan yang disertai dengan pengerahan tenaga dalam yang sempurna. Nenek Sumbing mendengus, sambil mengerahkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Ini dilakukan untuk menghilangkan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.

********************

Duel dua tokoh tingkat tinggi itu terjadi sampai matahari naik cukup tinggi. Sampai sejauh ini belum ada yang terlihat terdesak. Masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurus andalan yang sangat berbahaya. Pada kesempatan yang memungkinkan, Rangga menggunakan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Tubuhnya melayang cepat ke angkasa. Tidak diduga, Nenek Sumbing pun mampu melesat cepat mengejar Pendekar Rajawali Sakti.

"Jangan lari, Bocah!" seru Nenek Sumbing.

Tangan Nenek Sumbing bergerak cepat melontarkan benda-benda kecil berbentuk jarum. Senjata rahasia itu melesat cepat ke arah Pendekar Rajawali Sakti. Saat itu juga Rangga memang telah siap dengan jurusnya itu, sehingga dengan mudah tangannya mengibas cepat menghalau serangan jarum-jarum Nenek Sumbing. Gerakannya bagai sepasang sayap burung saja yang hendak menghalau kumpulan awan di langit.

Jarum-jarum senjata rahasia Nenek Sumbing pun rontok di tengah, jalan. Bahkan beberapa di antaranya berbalik menyerang sang pemilik. Tentu saja Nenek Sumbing terkejut. Segera dia jumpalitan di udara menghindari senjata rahasianya sendiri.

Pada saat perempuan itu sibuk dengan senjata rahasianya sendiri, Rangga dengan cepat merubah jurusnya menjadi 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Begitu cepat gerakan kakinya meluruk mengincar kepala lawan. Nenek Sumbing tidak mampu mengelak lagi. Terpaksa dihadangnya kaki itu dengan tangannya.

Krek!

"Akh!" Nenek Sumbing memekik tertahan.

Bunyi tulang patah terdengar cukup keras. Tampak tangan kiri perempuan tua itu seperti layu, menyambar di samping tubuhnya. Nenek Sumbing merasa tidak menguntungkan bertarung di udara. Cepat-cepat dia kembali turun.

Sementara itu Rangga terus mengikutinya dengan tetap mengerahkan jurus 'Rajawali Menukik Menyambar Mangsa'. Ketika kaki Nenek Sumbing sampai di tanah, tiba-tiba dari atas datang serangan bagai seekor rajawali hendak menyambar mangsa.

Nenek Sumbing menjerit kaget. Buru-buru dijatuhkan tubuhnya dan bergulingan di tanah. Kaki Rangga menyambar tempat kosong. Tapi secepat itu pula Rangga kembali melesat ke udara, lalu turun kembali langsung menyambar lawan yang bergulingan di tanah. Nenek Sumbing benar-benar seperti seekor tikus yang terancam oleh elang lapar.

Tiga kali serangan Rangga berhasil dihindari. Kini Pendekar Rajawali Sakti merubah jurusnya menjadi 'Pukulan Maut Paruh Rajawali' ketika kakinya menjejak tanah. Mendapat sedikit kesempatan, Nenek Sumbing bergegas bangkit.

"Tamat riwayatmu, Nenek Sumbing!" seru Rangga keras.

Seketika Nenek Sumbing harus menerima serangan jurus 'Pukulan Maut Paruh Rajawali'. Kedua tangan Rangga bergerak cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh yang mematikan. Perempuan tua itu kembali repot menghindari serangan yang datang beruntun bagai hujan yang tumpah dari langit. Lebih-lebih hanya sebelah tangan saja yang bergerak menahan gempuran itu.

Beberapa kali Nenek Sumbing hampir kecolongan. Jurus yang dikerahkan Pendekar Rajawali Sakti penuh dengan tipuan. Dan lagi, setiap ayunan tangannya mengandung hawa panas menyengat kulit. Hal ini membuat Nenek Sumbing kian sulit mengatur napasnya.

"Ikh!" Nenek Sumbing kembali tersentak ketika tangan kiri Rangga tiba-tiba menerobos mengarah dada.

Buru-buru Nenek Sumbing melompat ke belakang. Dalam keadaan tangan masih mengarah sasaran, kaki Rangga sudah bergerak cepat melompat sambil menyepak. Nenek Sumbing segera mengegoskan tubuhnya ke kiri. Sepakan kaki Rangga luput dari sasaran.

"Hiya...!" Rangga berteriak nyaring.

Dengan kaki masih melayang, tangan kanan Pendekar Rajawali Sakti berkelebat cepat. Kali ini Nenek Sumbing tidak bisa lagi menghindar. Hawa panas yang datang lebih dulu, membuat tubuhnya kaku. Dan...

"Aaaakh...!" Nenek Sumbing menjerit menyayat hati.

Tangan kanan Rangga telak masuk ke bagian dada perempuan tua itu. Seketika tubuh Nenek Sumbing terlontar keras ke belakang, dan baru berhenti setelah menabrak pohon yang cukup besar. Tubuh itu pun terhempas keras di tanah. Tampak dari mulutnya darah kental kehitaman muncrat membasahi pakaian.

Nenek Sumbing meregang nyawa sebentar, lalu diam dengan dada melesak ke dalam. Rangga berdiri tegak memandang tubuh tua yang menggeletak tak bernyawa lagi Kemudian mata Rangga beredar ke sekeliling. Bibirnya menyungging senyum, karena yakin tidak ada lagi orang-orang yang terlihat di sekitar tempat ini.

Mereka yang rata-rata memiliki kepandaian di bawah Nenek Sumbing, segera melarikan diri ketika melihat perempuan tua itu tewas. Rangga mengalihkan pandangannya ke arah Wulan yang berdiri memapah Jaka. Pendekar Rajawali Sakti itu pun tersenyum seraya melangkah mendekati Sepasang Walet Merah. Cupu Manik Tunjung Biru masih berada di dalam kempitan ketiaknya.

Rangga menyerahkan Cupu Manik Tunjung Biru kepada Sepasang Walet Merah. Wulan yang menerimanya tidak mampu untuk berkata-kata lagi selain matanya saja yang berkaca-kaca meluapkan keharuan. Agak lama mereka tidak saling bicara.

"Aku rasa tempat ini tidak aman untuk kalian berdua," kata Rangga memulai pembicaraan.

Wulan menatap Jaka sebentar, lalu kembali memandang Pendekar Rajawali Sakti.

"Jika kalian setuju, aku punya tempat cukup baik," kata Rangga lagi.

"Boleh kami tahu?" tanya Jaka.

"Tentu saja. Tempat itu bernama Pulau Karang. Memang tempatnya di seberang laut, tapi kalian bisa menyewa perahu dari para nelayan."

"Di mana letaknya?" tanya Wulan.

"Kalau ingin ke sana, pergi saja ke arah selatan. Jika telah sampai pantai, minta tolonglah pada nelayan untuk mengantarkan. Rata-rata mereka tahu tempat itu."

Wulan mengerutkan keningnya.

"Jangan khawatir. Di sana ada banyak pulau karang Kalian bisa memilihnya salah satu. Sulit bagi orang lain untuk mencari pulau yang akan kalian tempati. Bahkan nelayan yang mengantar kalian belum tentu dapat ingat."

"Bagaimana, Kakang?" tanya Wulan meminta pendapat.

"Aku rasa itu lebih baik," sahut Jaka menerima penuh usul Pendekar Rajawali Sakti.

"Tapi keadaanmu..."

"Aku tidak apa-apa. Hanya luka ini perlu sedikit perawatan lagi."

Sepasang Walet Merah kembali menoleh pada Rangga, tapi pendekar muda itu telah tidak ada lagi di tempatnya. Tentu saja mereka jadi mencari-cari. Rangga seolah-olah lenyap ditelan bumi, hilang tanpa jelas ke mana perginya. Bahkan suaranya pun tak terdengar saat pergi.

"Sungguh tinggi ilmunya," gumam Jaka kagum.

"Ya. Kalau saja seluruh tokoh sakti seperti dia, dunia ini pasti aman," sahut Wulan bergumam pula.

Jaka memandang Wulan dan tersenyum. Tangannya melingkar di pundak gadis itu. Wulan juga tersenyum sambil melingkarkan tangannya di pinggang Jaka. Sesaat mereka berdiri mematung.

"Kita berangkat sekarang?" usul Jaka setelah lama terdiam.

"Sebentar, aku ganti pakaian dulu, "sahut Wulan baru sadar kalau pakaiannya cabik-cabik tidak karuan.

Sepasang Walet Merah mengayunkan kakinya menuju ke Goa Larangan. Goa itu sebenarnya memang tempat tinggal mereka. Bertahun-tahun mereka tinggal di sana, dan sebentar lagi harus hengkang dari situ. Entah untuk waktu berapa lama, atau mungkin tak lama lagi.

"Sebenarnya aku berat meninggalkan tempat ini," bisik Wulan.

"Aku juga," sahut Jaka.

"Tapi kita harus berlatih lagi untuk menyempurnakan ilmu Walet Merah."

"Kau tetap ingin jadi pendekar?" Jaka bertanya.

"Kenapa?" Wulan balas bertanya.

"Tidak apa-apa," desah Jaka.

"Kau tidak suka, Kakang?"

"Aku suka, tapi aku lebih suka jadi orang biasa. Punya ladang, keluarga, dan anak-anak yang manis. Hidup tenteram tanpa selalu dibayangi bahaya."

"Kita akan hidup tenteram setelah menguasai ilmu "Walet Merah'," sahut Wulan.

Jaka hanya tersenyum saja. Wulan tak kalah dengan senyumnya yang manis. Dan matahari pun tersenyum seperti mengiringi sepasang anak manusia memasuki goa. Tanpa diketahui, sepasang mata mengawasi dari jarak yang tidak begitu jauh. Sepasang mata itu milik Pendekar Rajawali Sakti. Bibirnya menyungging senyum, lalu berbalik dan melangkah pergi.


TAMAT

EPISODE SELANJUTNYA KITAB TAPAK GENI
Thanks for reading Sepasang Walet Merah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »