Naga Merah

Cerita Silat Pendekar Rajawali Sakti
Karya Teguh S
Penerbit Pertama Cintamedia, Jakarta
Episode
NAGA MERAH


Pendekar Rajawali Sakti

SATU

DESA Jatiwangi tidak seperti biasanya. Umbul-umbul dan macam-macam hiasan bertebaran di seluruh desa. Tampak semarak sekali. Keceriaan tercermin di setiap wajah penduduknya Berbondong-bondong mereka menuju panggung hiburan yang ada di setiap sudut desa.

Sebenarnya bukan hanya penduduk desa Jatiwangi saja yang kelihatan ceria penuh kegembiraan. Desa-desa di sekitarnya pun juga tidak luput dari suasana ceria itu. Tidak sedikit orang dari desa tetangga yang tumplek di desa yang penuh dengan panggung hiburan. Tentu saja kegembiraan ini juga sangat dirasakan oleh Kepala Desa Jatiwangi.

Ki Rangkuti tersenyum bangga menyaksikan warga desanya bergembira. Sepasang bola matanya berbinar-binar merayapi sekelilingnya. Kepala desa yang sudah berumur lanjut tapi masih terlihat gagah itu, duduk didampingi dua orang tamu istimewa yang diundang khusus. Yang duduk di sebelah kanannya adalah seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun. Wajahnya masih kelihatan tampan dan gagah. Di punggungnya bertengger sebilah pedang bergagang emas. Senjata itulah yang membuat dirinya dikenal sebagai Dewa Pedang Emas.

Sedangkan yang duduk di sebelah kiri Ki Rangkuti seorang tua berambut putih. Pakaiannya pun serba putih bersih. Matanya bercahaya menandakan seorang yang arif bijaksana. Kelihatannya dia tidak menyandang senjata sebuah pun. Semua orang pasti akan mengenalnya. Laki-laki tua berpenampilan penuh wibawa ini dikenal dengan nama Bayangan Malaikat.

Pada saat itu tiba-tiba seorang laki-laki muda dengan tombak panjang di tangan menghampiri. Pandangan mata Ki Rangkuti langsung tertuju padanya.

“Ada apa, Darmasaka?” tanya Ki Rangkuti.

“Ada seorang wanita tua ingin bertemu, Ayah,” sahut Darmasaka yang ternyata putra kepala desa itu.

“Siapa dia?” tanya Ki Rangkuti sambil mengernyitkan alisnya. Sepengetahuannya dia tidak pernah mengundang tamu seorang perempuan.

“Dia tidak mau menyebutkan namanya. Katanya Ayah pasti sudah mengenalnya,” sahut Darmasaka.

“Hm...,” Ki Rangkub bergumam.

“Apakah dia menyandang senjata?" tanya Dewa Pedang Emas.

“Tidak,” sahut Darmasaka cepat.

“Pakaiannya serba biru dan hanya membawa tongkat berkepala ular.”

“Dia menunggang kuda putih dengan garis hitam pada lehernya?” tanya Bayangan Malaikat.

“Benar!” jawab Darmasaka.

“Tidak salah lagi, pasti si Ular Betina," gumam Dewa Pedang Emas.

“Kau mengundangnya juga Rangkuti?” tanya Bayangan Malaikat menatap Ki Rangkuti yang sejak tadi diam saja.

Ki Rangkuti yang sejak tadi sudah menduga siapa yang datang, hanya menggeleng perlahan. Dia tidak menyangka sama sekali kalau si Ular Betina akan datang tanpa diundang. Sementara Darmasaka hanya memandang tidak mengerti. Hatinya bertanya-tanya melihat perubahan pada wajah Ayahnya yang seperti tidak menyukai kehadiran perempuan tua yang berjuluk Ular Betina itu.

Saat mereka terdiam, tiba-tiba terdengar suara ringkikan dan derap kaki kuda. Tampak seekor kuda putih yang ditunggangi seorang perempuan tua berpakaian serba biru memasuki halaman rumah kepala desa yang luas. Kuda itu berhenti tepat di depan serambi depan, tempat empat orang laki-laki itu berdiri.

Perempuan tua yang tidak lain adalah si Ular Betina. Dengan tangkas dan ringan sekali dia melompat dari kudanya seolah ingin memamerkan ilmu meringankan tubuh yang indah pada keempat laki-laki di depannya. Manis sekali kakinya menjejak tanah setelah berputar di udara dua kali.

“Kau mengadakan pesta besar, kenapa tidak mengundangku, Rangkuti?" suara si Ular Betina kecil namun terdengar nyaring tinggi.

“Maafkan kelalaianku, Ular Betina,” sahut Ki Rangkuti pelan penuh wibawa. “tidak seorang pun dari orang-orangku mengetahui di mana tempat tinggalmu.”

“Hik hik hik..,” si Ular Betina tertawa kecil. “Aku tidak mempersoalkan orang-orangmu, Rangkuti. Aku datang ke sini hanya ingin menikmati pesta besarmu.”

Ki Rangkuti menarik napas panjang dan berat. Ada sedikit kelegaan di dadanya. Jika kedatangan si Ular Betina hanya sekedar menikmati pesta, tidak ada masalah baginya. Hanya yang dikhawatirkan kedatangan perempuan tua itu bisa menghancurkan semua rencana yang sudah disiapkannya berbulan-bulan dengan penuh perhitungan.

“Kau tidak mempersilakan aku duduk di kursi undangan, Rangkuti?” kata si Ular Betina.

“Silakan. Pilihlah tempat di mana kau suka,” Ki Rangkuti merentangkan kedua tangannya.

Sambil tertawa mengikik kecil, si Ular Betina melangkah menaiki beranda rumah itu. Dia kemudian duduk di samping Dewa Pedang Emas. Ki Rangkuti masih berdiri meskipun ketiga tamunya sudah duduk di tempat masing-masing. Masih ada delapan bangku lagi yang kosong. Berarti belum semua undangan yang hadir. Padahal rencananya hari ini adalah puncak semua pesta besar yang telah terlaksana.

Ki Rangkuti memberi isyarat pada Darmasaka untuk mendekat. Tanpa membuang-buang waktu lagi, putra kepala desa itu maju mendekati ayahnya. Dia mengangguk kecil pada ketiga tamu undangan Ki Rangkuti. Darmasaka berdiri di samping ayahnya membelakangi Bayangan Malaikat.

“Kau urus kuda Ular Betina dengan baik, kemudian tambahkan satu kursi lagi di sini,” kata Ki Rangkuti memerintah.

“Baik Ayah,” sahut Darmasaka.

Darmasaka langsung melangkah menghampiri kuda putih milik si Ular Betina. Kemudian dituntunnya ke belakang. Dua kuda lainnya milik Bayangan Malaikat dan Dewa Pedang Emas telah tertambat di sana.

“Benar-benar anak yang berbakti, Rangkuti,” kata Ular Betina setelah Darmasaka lenyap di belakang rumah.

Ki Rangkuti hanya tersenyum, lalu duduk di kursinya sendiri. Hatinya masih belum bisa tenang dengan kehadiran si Ular Betina yang tidak diundang itu. Dia belum bisa memperkirakan maksud kedatangan si Ular Betina yang sebenarnya. Hatinya hanya berharap benar-benar Ular Betina hanya ingin menikmati pesta besar di Desa Jatiwangi ini.

Tidak lama berselang datang satu per satu undangan Dari penampilan mereka jelas kalau semuanya adalah tokoh-tokoh sakti kaum rimba persilatan. Mereka semua adalah laki-laki, kecuali si Ular Betina saja. Mereka duduk pada tempatnya masing-masing, menghadap panggung besar yang berdiri di tengah halaman rumah kepala desa ini.

Para penduduk pun sudah mulai berdatangan memenuhi halaman sekitar panggung. Dalam waktu yang tidak lama, halaman rumah Kepala Desa Jatiwangi penuh sesak dipenuhi manusia. Mereka semua ingin menyaksikan puncak acara pesta besar itu.

Pesta apa sebenarnya yang tengah berlangsung di desa Jatiwangi? Sebenarnya bukan pesta merayakan sesuatu tapi Ki Rangkuti mengadakan pesta ini untuk menyambut berdirinya Padepokan Jatiwangi yang baru didirikan dengan mengundang tokoh-tokoh rimba persilatan.

Tampak pada bagian kanan panggung berdiri berjajar puluhan anak-anak muda yang mengenakan seragam kuning keemasan. Mereka semua menggenggam tombak panjang. Merekalah murid pertama Padepokan Jatiwangi. Pada barisan depan duduk lima orang guru pengajar. Dari penampilan kelima orang itu dapat diukur kalau mereka memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.

Suara riuh penuh sorak-sorai seketika berhenti ketika terdengar suara gong dipukul tiga kali. Ki Rangkuti berdiri dengan sikap penuh wibawa. Langkahnya pelan dan tegap menuju ke panggung. Semua mata memandang ke arah laki-laki tua yang penuh daya pancar pesona itu. Ki Rangkuti berdiri tegak di tengah-tengah panggung. Sebentar matanya menyapu ke arah warga desanya.

“Saudara-saudara sekalian, saya gembira Pada hari yang sangat bersejarah bagi seluruh warga Desa Jatiwangi. Berkat restu Yang Maha Kuasa jualah maksud luhur kita semua bisa tercapai hari ini. Pada hari yang bahagia ini, saya selaku Kepala Desa Jatiwangi akan meresmikan berdirinya satu-satunya Padepokan Jatiwangi di desa yang kita cintai ini,” pelan dan teratur kata-kata Ki Rangkuti namun terdengar menggema ke seluruh pelosok.

Semua mata masih tertuju pada laki-laki yang penuh wibawa ini. Tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.

“Pada hari ke tujuh bulan Sanga, saya atas nama seluruh warga Desa Jatiwangi meresmikan berdirinya Padepokan Jatiwangi!”

Suara sorak-sorai dan tepuk tangan meriah terdengar menggemuruh begitu Ki Rangkuti menyelesaikan kata-katanya Dengan gegap-gempita semua orang yang hadir menyambut berdirinya Padepokan Jatiwangi yang hanya satu -satunya di desa ini.

Ki Rangkuti hanya tersenyum gembira menerima sambutan hangat seluruh warga desanya. Dadanya terasa hampir pecah menyaksikan sambutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rencana mendirikan Padepokan Jatiwangi ternyata berjalan lancar tanpa sedikit pun mendapat gangguan yang berarti. Ki Rangkuti baru bisa bernapas lega sebentar, ketika tiba-tiba sebuah bayangan hitam berkelebat cepat ke arah panggung.

Suara-suara menggumam terkejut terdengar begitu bayangan hitam tadi sudah berada di atas panggung. Ternyata seorang perempuan tua dengan wajah penuh keriput sudah berdiri tegak di depan Ki Rangkuti. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat hitam yang meliuk-liuk bagai ular. Bagian kepala tongkat itu bulat tidak rata.

“Iblis Tongkat Hitam...,” gumam Ki Rangkuti begitu mengenali perempuan yang berdiri di depannya.

“Hik hik hik..., rasanya tidak mudah mendirikan satu padepokan. Aku datang hanya ingin tahu, apakah Desa Jatiwangi sudah pantas memiliki padepokan silat?” suara Iblis Tongkat Hitam terdengar pelan, namun penuh dengan ejekan yang menyakitkan.

“Rasanya aku tidak mengundangmu, Iblis Tongkat Hitam. Satu kehormatan besar bagiku kau berkenan hadir pada peresmian berdirinya Padepokan Jatiwangi,” kata Ki Rangkuti.

“Aku tidak suka acara ramah-tamah. Aku datang ke sini untuk menguji pantas tidaknya Padepokan Jatiwangi berdiri!” dengus Iblis Tongkat Hitam.

Panas kuping Ki Rangkuti mendengarnya. Tapi sebagai guru besar Padepokan, sekaligus Kepala Desa Jatiwangi, dia harus bisa mengendalikan diri. Belum sempat ia menjawab tantangan itu, tiba-tiba Darmasaka melompat ringan. Tahu-tahu dia sudah berdiri di depan ayahnya.

“Ijinkan aku yang memberi pelajaran kepada perempuan yang tidak tahu sopan-santun init Ayah,” kata Darmasaka.

"Hati-hatilah. Dia sangat licik dan tinggi tingkat kepandaiannya,” kata Ki Rangkuti bijaksana.

Darmasaka membalikkan tubuhnya. Kemudian dia melangkah tiga tindak ke depan. Ki Rangkuti menuruni panggung kembali ke tempat duduknya semula. Meskipun bibirnya menyunggingkan senyum, tapi khawatir juga dengan keselamatan putranya. Dia tahu kalau Iblis Tongkat Hitam bukanlah lawan Darmasaka.

Itulah sulitnya jadi guru besar padepokan Dia harus bisa menahan segala bentuk perasaan. Kebijaksanaan selalu menyertai dalam setiap sikap dan tindakannya.

“He, bocah! Untuk apa kau berdiri di situ?” bentak Iblis Tongkat Hitam sengit.

“Aku akan membungkam mulutmu yang jelek!”dengus Darmasaka ketus.

"Hik hik hik..., sebaiknya kau turun. Aku tak mau mengotori tangan dengan bocah bau kencur macammu,” ejek Iblis Tongkat Hitam.

"Kami tidak mengundangmu datang ke sini. Aku juga malas mengusirmu seperti anjing kalau kau tidak lekas-lekas minggat!” balas Darmasaka tidak kalah sengitnya.

“Bocah setan! Tajam sekali mulutmu!” geram Iblis Tongkat Hitam.

“Lebih tajam lagi ujung tombakku!”

“Setan! Mampus kau!”

Iblis Tongkat Hitam tidak bisa lagi menahan amarahnya mendengar kata-kata Darmasaka yang menyakitkan. Seketika saja dia melompat sambil mengebutkan tongkat hitamnya yang meliuk-liuk bagai ular. Angin sambaran tongkat itu menderu keras di atas kepala Darmasaka yang merunduk. Dan bersamaan dengan itu, ujung tombak Darmasaka menyodok ke arah perut lawan.

Iblis Tongkat Hitam menarik kembali tongkatnya, dan dengan kecepatan bagai kilat dikebutkan ke bawah. Darmasaka tidak mau mengambil resiko dengan membenturkan tombaknya dengan tongkat hitam itu. Buru-buru ditarik tombaknya pulang. Iblis Tongkat Hitam menggeram sengit karena serangan pertamanya gagal total, bahkan hampir-hampir kecolongan.

Sorak-sorai bergemuruh mengelu-elukan Darmasaka yang berhasil mengimbangi serangan pertama dari Iblis Tongkat Hitam Tentu saja ha1 ini membuat perempuan tua berbaju hitam itu semakin geram.

Segera dia menyiapkan serangan yang kedua. Matanya memerah penuh amarah menatap Darmasaka yang hampir saja membuatnya malu. Kali ini Iblis Tongkat Hitam tidak lagi menganggap enteng lawannya. Meskipun masih muda Darmasaka memiliki ilmu silat yang cukup tinggi juga.

“Terima seranganku bocah!” teriak Iblis Tongkat Hitam.

Darmasaka menarik tubuhnya menghindari sodokan tongkat hitam perempuan tua itu. Pemuda itu langsung berputar ke belakang. Tapi sodokan tongkat hitam yang gagal diteruskan dengan kebutan ke arah dada. Dengan satu lentingan indah, anak muda itu berhasil keluar dari serangan beruntun Iblis Tongkat Hitam.

Baru saja ditapakkan kakinya di papan panggung, mendadak Iblis Tongkat Hitam kembali menyerang dengan mengibaskan tongkat hitam ke arah iga. Darmasaka yang baru saja menjejakkan kakinya tidak bisa lagi mengelak. Terpaksa ditangkisnya tongkat hitam itu dengan tombaknya.

Trak!

Darmasaka terpental dua tindak ke belakang Matanya membeliak melihat tombaknya patah jadi dua. Sambil menggeram kesal dibuangnya tombak patah itu ke luar panggung. Sementara Iblis Tongkat Hitam berdiri tegak dengan sikap jumawa. Tawanya mengikik kecil mengejek lawannya. Suara-suara riuh dari bawah panggung memberi dorongan semangat pada Darmasaka.

“Ayo, keluarkan lagi senjatamu. Aku tidak pernah melawan orang tanpa senjata!U seru Iblis Tongkat Hitam.

Sret!

­Tanpa sungkan-sungkan lagi Dannasaka. mencabut pedangnya yang sejak tadi tergantung di pinggang. Senjata itu berkilatan tertimpa sinar Matahari. Iblis Tongkat Hitam hanya mengikik menyaksikan hal itu. Baginya sebatang pedang bukanlah hal yang patut diperhitungkan. Sudah terlalu banyak lawan yang menggunakan pedang disikat habis olehnya.

“Majulah. Kuberi kau kesempatan menyerang,” kata Iblis tongkat Hitam meremehkan.

“Phuih!” Darmasaka meludah sengit.

Sambil mengeluarkan teriakan panjang Darmasaka melompat deras seraya mengibaskan pedangnya ke arah leher lawannya. Masih dengan suara mengikik, Iblis Tongkat Hitam hanya menarik sedikit bagian lehernya ke belakang, dan ujung pedang Darmasaka lewat begitu saja di depan leher Iblis Tongkat Hitam.

Mendapati serangan pertamanya gagal, Darmasaka cepat membelokkan arah pedangn­a ke kaki lawan tanpa menariknya lagi. Iblis Tongkat Hltam menaikkan sedikit kaki kanannya dan pedang itu lewat di bawah telapak kakinya. Darmasaka kembali melancarkan serangan tanpa henti, namun Iblis Tongkat Hitam dengan mudahnya mampu mengelak.

Sementara itu di serambi depan rumah Kepala Desa Jatiwangit Ki Rangkuti memperhatikan jala­nya pertarungan dengan mata tidak berkedip. Hanya semakin diliputi kecemasan melihat putranya tidak dapat lagi mengendalikan hawa amarah Dalam beberapa gebrakan lagi Dannasaka diramalkan akan kalah.

Dan baru saja Ki Rangkuti berkata begitu dalam hati. Tiba-tiba Iblis Tongkat Hitam memekik keras. Tongkat hitamnya berkelebat cepat mengarah kepala Darmasaka. Gerakan yang cepat dan tiba-tiba ini sangat mengejutkan anak muda itu. Tidak mungkin lagi untuk menghindar. Terpaksa disambutnya dengan menangkis.

Trak!

Tangan Darmasaka bergetar keras ketika pedangnya menangkis tongkat hitam yang mengancam kepalanya. Dan belum sempat dia menguasai diri, mendadak...

“Lepas!"

Iblis Tongkat Hitam melayangkan kakinya menghantam pergelangan tangan Darmasaka yang menggenggam pedang. Darmasaka tersentak kaget. Mendadak saja pergelangan tangannya terasa nyeri seperti remuk Dia tidak tahu lagi ke mana pedangnya mencelat.

Belum sempat Darmasaka berpikir lebih jauh satu tendangan keras kembali menghantam dadanya dengan telak Darmasaka terjengkang ambruk ke luar panggung dan jatuh di depan kaki ayahnya sendiri. Dari sudut bibir anak muda itu mengalir darah segar. Dia berusaha bangkit berdiri tapi tangan Ki Rangkuti lebih cepat menahan pundaknya.

“Semadilah, kau terluka dalam,” kata Ki Rangkuti.

“Perempuan iblis itu, Ayah...,” Darmasaka akan protes.

“Kau sudah kalah. Anggap saja semua ini sebagai pelajaran. Nah! Bersemadilah,” potong Ki Rangkuti tegas.

Darmasaka beringsut bangun, lalu duduk bersila. Dia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Kedua kelopak matanya terpejam. Dadanya masih terasa sakit dan napasnya juga jadi sesak. Sementara itu di alas panggung, Iblis Tongkat Hitam berdiri pongah. Sikapnya jelas-jelas menunjukkan tantangan bagi siapa saja yang berani melawannya. Matanya memerah, sangat tajam menatap Ki Rangkutl yang masih duduk tenang di kursinya.

“B­iarkan aku yang mengenyahkan iblis itu, Rangkuti,” kata Dewa Pedang Emas setengah berbisik.

“Jangan. Kau tamuku. Tidak pantas turun tangan,” Ki Rangkuti menolak halus tanpa menyinggung perasaan Dewa Pedang Emas. “Lagipula dia bukan lawanmu. Kau masih jauh di atas tingkat kepandalannya.”

Dewa Pedang Emas tidak membantah Memang benar apa yang dikatakan Ki Rangkuti tadi. Dalam tiga jurus saja dia mampu menundukkan Iblis Tongkat Hitam. Dulu pun iblis itu pernah dikalahkannya hanya dalam satu gebrakan saja. Dan dilihat dari caranya bertarung melawan Darmasaka, tampaknya belum ada perubahan dari jurus-jurusnya. Entah kalau dia menyimpannya untuk menghadapi lawan yang berat.

"Siapa lagi jago-jago Jatiwangi? Apakah nyali kalian hanya sebesar tahi ayam?” Iblis Tongkat Hitam menantang dengan pongahnya.

“Aku lawanmu,” Iblis jelek!

Dari deretan kursi depan di samping panggung melompat seorang laki-laki berpakaian serba putih yang ketat Dua kali dia berputar di udara, kemudian dengan Manis kedua kakinya menapak di papan panggung. Iblis Tongkat Hitam terkekeh melihat lawannya yang kali ini tampak lebih tua dari Darmasaka.

Bukan itu saja kelebihannya. Tanpa memperdengarkan suara sedikitpun dalam melompat, tahu-tahu sudah berada di atas panggung tanpa terdengar suara. Pertanda kalau dia memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi dari Darmasaka.

“Ijinkan aku bermain-main sedikit dengan Iblis Tongkat Hitam, Kakang Rangkuti?”

“Silakan Mahesa Jalang,” sahut Ki Rangkuti seraya merentangkan tangan kanannya ke depan.

Mahesa Jalang menggeser kakinya mendekati Iblis Tongkat Hitam. Dia berhenti setelah jaraknya kira-kira satu batang tombak lagi di depan perempuan tua berpakaian longgar serba hitam itu.

“Berikan aku sedikit pelajaran, nenek tua,” Mahesa Jalang menjura hormat.

“Hik hik hik...,” Iblis Tongkat Hitam jadi risih juga dengan sikap Mahesa Jalang yang penuh aturan dan tata-krama. “Jangan kau sungkan-sungkan Keluarkan semua kesaktianmu!”

“Bersiaplah!”

********************

DUA

Mahesa Jalang menjura sekali lagi, kemudian dengan cepat digeser kakinya maju. Begitu cepatnya bergerak kedua tapak kakinya sepertinya tidak menyentuh papan panggung lagi. Kedua tangannya berkelebat cepat ke kiri dan ke kanan serta ke depan.

Iblis Tongkat Hitam sesaat tertegun melihat jurus yang digunakan Mahesa Jalang. Gerakan-gerakannya tidak beraturan seperti orang mabuk saja layaknya. Tapi ketertegunan Iblis Tongkat Hitam berubah menjadi rasa terkejut yang amat sangat karena tiba-tiba saja tangan kanan Mahesa Jalang nyelonong ke arah dadanya.

“Uts!".

Iblis Tongkat Hitam langsung memiringkan tubuhnya ke kanan, sehingga tangan Mahesa Jalang lewat di sampingnya. Belum juga perempuan tua itu membenahi posisinya, mendadak kaki Mahesa Jalang. terangkat cepat mengarah ke perut. Iblis Tongkat Hitam cepat membabatkan tongkatnya melindungi perut.

Tentu saja Mahesa Jalang tidak mau mengambil resiko. Buru-buru ditarik kakinya kembali. Bukan di situ saja Iblis Tongkat Hitam bergerak. Selagi tongkatnya terayun ke bawah, dengan cepat tangan kirinya menyentak ke depan.

Bet!

­Mahesa Jalang tersentak seraya menarik kepalanya ke belakang menghindari tangan kiri yang mengancam kepalanya. Hanya beberapa helai rambut saja kepalan tangan kiri Iblis Tongkat Hitam melayang di depan mukanya.

“Awas kepala!” seru Mahesa Jalang tiba-tiba.

Secepat kilat tangan kanannya bergerak ke arah kepala lawan. Iblis Tongkat Hitam merunduk sedikit, namun tangan yang hampir mencapai atas kepala itu secara tiba-tiba turun dengan deras. Dan meluruk cepat ke arah perut.

Buk!

“Uhk!”

Iblis Tongkat Hitam terbungkuk terdorong dua langkah ke belakang. Bibirnya meringis merasakan mual dan nyeri pada perutnya terkena sodokan keras tangan Mahesa Jalang.

“Setan!” geram Iblis Tongkat Hitam.

Sorak-Sorai menggemuruh mengelu-elukan Mahesa Jalang. Mulut-mulut usil kembali mengejek Iblis Tongkat Hitam. Tentu saja hal ini membuat perempuan tua itu jadi semakin geram. Segera saja diputar tongkatnya dengan cepat. Tongkat hitam itu berputar deras bagai baling-baling. Suara angin menderu-deru bagai angin topan. Panggung besar dan kokoh itu berderak-derak seakan-akan hendak runtuh.

Menghadapi serangan yang dahsyat ini, Mahesa jalang langsung mengerahkan ilmu kesaktiannya. Dia tidak ingin menghadapinya hanya dengan jurus-jurus yang mengandalkan kecepatan gerak dan pengerahan tenaga dalam. Dia tahu kalau Iblis Tongkat Hitam sudah mengeluarkan ilmu kesaktiannya yang cukup tinggi.

Mahesa Jalang mengepalkan tangan kanannya, lalu dirapatkan dengan telapak tangan kiri di pinggang kanan. Cepat sekali dia memindahkan posisi tangannya ke pinggang kiri. Lalu perlahan-lahan naik sampai ke dada kiri.

"Aji Karang Kati, ...!” teriak Mahesa Jalang keras.

Seketika itu juga tubuhnya melenting deras ke arah Iblis Tongkat Hitam yang sudah melintangkan tongkatnya ke depan. Satu ledakan keras terjadi ketika kedua tangan Mahesa Jalang membentur tengah-tengah tongkat hitam.

Trak!

“Akh!” Iblis Tongkat Hitam memekik tertahan.

"Uhk!” Mahesa Jalang melenguh pendek.

Dua tubuh yang berbenturan tadi terdorong ke belakang sejauh dua batang tombak. Iblis Tongkat Hitam limbung beberapa saat, kemudian kembali berdiri tegak. Matanya membeliak merah setelah tahu tongkat hitamnya patah jadi dua bagian.

Teriakan-teriakan kembali terdengar menggemuruh dari para penduduk yang gembira melihat Mahesa Jalang berhasil mematahkan tongkat Iblis Tongkat Hitam.

“Bocah setan! Kau harus mati di tanganku!” dengus Iblis Tongkat Hitam geram.

Selesai berkata demikian, langsung disiapkan ilmu kesaktiannya yang lain. Sedangkan Mahesa Jalang kembali menyiapkan aji Karang Kati. Dua orang di atas panggung itu kembali saling berhadapan dengan niat ingin menjatuhkan satu sama lain. Keadaan kembali jadi hening, menunggu akhir adu kesaktian itu.

“Aji Tapak Apit!” teriak Iblis Tongkat Hitam.

“Aji Karang Kati!” Mahesa Jalang tidak mau kalah.

Hampir bersamaan mereka melompat ke udara. Masing-masing mendorong kedua tangan ke depan. Tampak kedua telapak tangan Iblis Tongkat Hitam berubah menjadi merah membara. Tepat pada satu titik dua pasang tangan itu bertemu di udara. Kembali ledakan keras disertai percikan bola-bola api terdengar menggema saat dua pasang telapak tangan beradu.

Iblis Tongkat Hitam terpental ke belakang. Teriakan keras melengking keluar dari mulutnya. Keras pula tubuhnya terbanting di pinggir panggung. Tampak dari mulut dan hidungnya merembes darah segar.

Sementara itu Mahesa Jalang melenting dan berputar dua kali di udara lalu dengan manis mendarat tepat di tengah-tengah panggung. Matanya tajam memandang tubuh terbungkus baju hitam yang tergolek di pinggir panggung besar yang kokoh ini. Tubuh Iblis Tongkat Hitam menelungkup tidak bergerak-gerak. Seorang murid dari Padepokan Jatiwangi menghampiri dan memeriksa keadaan Iblis Tongkat Hitam.

“Mati,” katanya agak pelan.

Suara bergemuruh kembali terdengar menyambut kemenangan Mahesa Jalang. Begitu mendengar kematian Iblis Tongkat Hitam, Mahesa Jalang melangkah ke tepi panggung. Tapi baru saja akan turun mendadak terdengar suara tawa menggelegar. Disusul melompatnya sesosok tubuh dari tengah-tengah penonton.

Begitu cepatnya sosok tubuh itu melompat tahu-tahu sudah berdiri di atas panggung Mahesa Jalang membalikkan tubuhnya. Dia tahu kalau kemenangan ini tentu akan mendapatkan tantangan lawan dan tokoh sakti rimba persilatan. Dan semuanya sudah diperkirakan sebelumnya.

********************

“Buto Dungkul...,” gumam Mahesa Jalang mengetahui siapa yang kini berdiri dengan sikap menantang di tengah-tengah panggung.

“Belum saatnya kau turun gelanggang, Mahesa Jalang,” ujar Buto Dungkul. Suaranya berat dan serak.

Mahesa Jalang memiringkan kepalanya mengamati laki-laki yang hanya mengenakan cawat saja. Di tangan kanannya tergenggam sebuah gada penuh duri-duri tajam yang besar. Tubuh Buto Dungkul juga tinggi besar bagai raksasa. Dadanya penuh dengan bulu-bulu hitam. Keadaannya sangat kotor persis manusia hutan yang baru keluar dan pengasingan.

Bagi tokoh-tokoh sakti rimba persilatan, nama Buto Dungkul tidak asing lagi. Dia sudah terkenal sebagai manusia rimba belantara yang menguasai Hutan Gading. Hutan lebat yang berada tak jauh dari Desa Jatiwangi ini. Sudah tak terhitung lagi manusia yang mati di tangannya. Buto Dungkul tidak memiliki satu jenis ilmu silat pun. Tapi tenaganya sangat besar dan kuat melebihi tenaga manusia biasa.

Kelebihan yang paling utama dari tubuhnya adalah kebal terhadap segala jenis racun. Kulit tubuhnya sekeras baja sukar ditembus senjata tajam. Cara bertarungnya juga aneh tidak mengikuti aturan jurus-jurus silat Serampangan dan hanya mengandalkan kekuatan otot serta kekebalan tubuh saja.

“Kau sudah mengingkari janji, Mahesa Jalang. Sekarang aku datang untuk menagih janjimu,” kata Buto Dungkul.

Mahesa Jalang hanya bergumam kecil. Dia memang pernah berjanji pada manusia raksasa ini untuk mengadu jiwa. Tiga tahun yang lalu, ketika masih bertugas sebagai pengantar barang-barang dari satu desa ke desa yang lain, dia pernah melewati Hutan Gading. Di situ Mahesa Jalang bertaung melawan Buto Dungkul yang ingin merampas semua barang-barang yang ada di atas pedati. Enam orang yang ikut waktu itu tewas secara mengerikan di tangan manusia raksasa ini.

Mahesa Jalan bisa menandingi, bahkan sempat melukai Buto Dungkul. Tapi keadaan dirinya juga tidak kalah kritis. Mereka kemudian mengadakan satu perjanjian untuk melanjutkan pertarungan dalam waktu tiga tahun mendatang. Dan setelah tiga tahun ini rupanya Buto Dungkul datang untuk menagih janji.

Mahesa. Jalang bukan lupa akan janjinya, tapi niatnya akan dipenuhi setelah Padepokan Jatiwangi berdiri resmi.

“Buto Dungkul saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyelesaikan persoalan pribadi,” kata Mahesa Jalang.

“Ha ha ha.... Kau gentar menghadapiku. Mahesa Jalang?"

“Waktu yang kita janjikan masih tujuh hari lagi. Aku akan datang tepat pada waktunya nanti ke Hutan Gading! "

"Kau kira aku salah menghitung heh? Hari ini tepat kau harus memenuhi janjimu!"

Mahesa Jalang tidak mengerti dengan cara perhitungan hari Buto Dungkul. Dalam perhitungannya sendiri sebenarnya masih tujuh hari lagi, tapi kenapa Buto Dungkul menganggap hari ini perjanjian itu harus terlaksana?

“Rangkuti! Kau yang jadi saksi perjanjian itu. Bagaimana bunyinya?” Buto Dungkul menatap Ki Rangkuti.

Sebentar Ki Rangkuti menarik napas panjang. Memang pada waktu itu dia ada di sana. Dialah yang mengusulkan supaya diadakan satu perjanjian. Kebetulan saat itu ia sedang berburu di tepian Hutan Gading dan mendengar suara pertarungan.

Namun ketika tiba di tempat kejadian dua orang yang bertarung sudah tergeletak dalam keadaan kritis. Tapi masing-masing orang itu tidak mau mengakui kekalahannya. Lalu Ki Rangkuti pun mengusulkan agar diadakan suatu perjanjian untuk mengulang pertempuran itu. Mereka pun akhirnya setuju.

Sejak kejadian itulah Mahesa Jalang tinggal di Desa Jatiwangi. Dia merasa berhutang budi pada Ki Rangkuti yang tanpa sengaja telah menyelamatkan nyawanya. Memang saat itu Buto Dungkul sudah bisa bangkit kembali sementara Mahesa Jalang masih tergeletak lemah tanpa daya.

­“Perjanjian itu berbunyi, tiga tahun berselang, pertarungan kalian dilanjutkan sampai ada yang tewas. Waktunya ditetapkan tujuh hari sebelum bulan purnama ketiga,” lantang suara Ki Rangkuti menyebutkan isi perjanjian antara Mahesa Jalang dengan Buto Dungkul.

“Kau dengar itu Mahesa Jalang?” Buto Dungkul kembali menatap Mahesa Jalang.

"Aku tahu!” sahut Mahesa Jalang.

"Nah! Bukankah tujuh hari lagi bulan purnama ketiga? Berarti hari ini kau harus menepati janjimu!” Mahesa Jalang tidak bisa berkata lain lagi. Sungguh mati dia tidak ingat kalau bulan purnama ketiga yang ditetapkan dikurangi tujuh hari. Kalau begitu memang tepat hari ini harus bertarung untuk memenuhi janji dengan manusia raksasa itu.

“Kau sudah menyalahi janji, Mahesa Jalang. Seharusnya kau datang tepat begitu matahari terbit. Jangan salahkan aku kalau kedatanganku merusak acara besar di sini.”

Ki Rangkuti mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia memang tidak bisa menyalahkan Buto Dungkul. Dan seharusnyalah Mahesa Jalang harus menepati janji datang ke Hutan Gading tepat ketika matahari terbit.

KI angkuti tidak bisa mencegah lagi, panggung yang sedianya untuk pertunjukan adu ketangkasan murid-muridnya dengan beberapa padepokan yang diundang jadi arena pertarungan pelaksanaan perjanjian.

Malah sejak awal acara peresmian Padepokan Jatiwangi sudah dirusak dengan munculnya Iblis Tongkat Hitam. Kejadian seperti ini memang sudah diperhitungkan oleh Ki Rangkuti dan lima orang pembantunya di padepokan. Kini salah seorang pembantu utamanya harus melaksanakan janji yang dibuatnya sendiri.

"Bersiaplah kau, Mahesa Jalang!” seru Buto Dungkul tiba-tiba.

Manusia raksasa itu berteriak menggelegar sambil memutar-mutar gadanya yang besar berduri di atas kepala. Sungguh besar tenaga yang dimilikinya. Gada sebesar paha orang dewasa itu menderu-deru menimbulkan suara angin menggemuruh memekakkan telinga. Dengan gada yang diputar -putar di atas kepala Buto Dungkul berlari berat ke arah Mahesa Jalang.

Suara menderu berat terdengar keras di samping Mahesa Jalang. Gada besar berduri itu melayang cepat mengarah ke kepala laki-laki gagah berpakaian serba putih itu. Hanya sedikit saja Mahesa Jalang menarik kepalanya ke belakang gada itu lewat di depan mukanya. Angin keras yang bertiup dari gada itu membuat tubuh Mahesa Jalang agak terdorong.

Sret!

Mahesa Jalang menarik pedangnya sambil melangkah mundur dua tindak Pedang bercahaya keperakan itu berkelebat cepat membabat bagian perut Buto Dungkul. Sabetan pedang disertai pengerahan tenaga dalam cukup tinggi itu tak dapat lagi dielakkan Buto Dungkul.

Duk!

Mata pedang perak menghantam keras perut buncit dari manusia raksasa itu. Tangan Mahesa Jalang bergetar hebat. Hampir saja pedangnya terlempar dari genggamannya. Mahesa Jalang membelalak lebar melihat perut Buta Dungkul tidak terluka sedikitpun oleh sabetan pedangnya.

Bukan cuma Mahesa Jalang yang keheranan melihat kekebalan kulit Buto Dungkul tapi semua orang yang hadir juga jadi melongo. Sementara itu Buto Dungkul menggeram keras bagai gorila lapar. Gada besar penuh duri diayunkan seperti hendak meremukkan tubuh Mahesa Jalang.

Uts!

Mahesa Jalang melompat mundur saat gada Buto Dungkul nyaris menghantam tubuhnya. Begttu derasnya hantaman gada sebesar paha manusia dewasa itu sehingga ketika menghantam papan panggung langsung Jebol berantakan. Panggung berukuran besar itu bergetar hebat seolah akan rubuh.

“Gila! Orang apa gorila tuh!” seru salah seorang hadirin.

Mahesa Jalang kembali mengarahkan pedangnya yang kali ini mengancam leher Buto Dungkul. Kibasa pedang yang hampir bersamaan degan hancurnya panggung, tidak bisa dielakkan manusia raksasa itu.

Mata pedang dari perak itu tepat membabat leher Buto Dungkul. Lagi-lagi Mahesa Jalang terpental begitu pedangnya menghantam leher Buto Dungkul. Sabetan keras disertai pengerahan tenaga dalam penuh membuat pedang Mahesa Jalang patah jadi dua bagian. Dan dia sendiri terpental sejauh satu batang tombak ke belakang. Mahesa Jalang bergulingan di atas panggung, dan segera berdiri

“Setan!” dengan kesal Mahesa Jalang melemparkan pedangnya yang buntung.

Buto Dungkul menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar. Leher yang terbabat pedang tidak sedikit pun mengalami luka. Kulitnya benar-benar sekeras baja tidak mempan oleh senjata tajam. Padahal Mahesa Jalang sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.

“Ghraaaghhh...! Mampus kau sekarang, Mahesa Jalang!” Buto Dungkul menggeram bagai guruh.

Mahesa Jalang yang kini tidak lagi menggengam senjata segera mengerahkan kesaktiannya. Tidak tanggung-tanggung lagi, langsung dikerahkan aji ‘Karang Kati' yang menjadi ilmu andalannya.

Begitu Mahesa Jalang selesai mempersiapkan ajiannya Buto Dungkul menghantamkan gadanya dengan cepat sambit menggeram hebat Gada besar penuh duri tajam itu melayang deras bagai gunung runtuh. Mahesa Jalang melompat sambil menapak senjata mengerikan itu dengan tangannya yang sudah mengerahkan Aji Karang Kati .

“Akh...!” Mahesa Jalang memekik keras begitu tangannya membentur gada Buto Dungkul.

Bersamaan dengan pekikan keras itu terdengar suara ledakan dahsyat Tubuh Mahesa Jalang terlontar deras dan terbanting ke luar panggung. Darah segar muncrat keluar dari mulutnya begitu tubuhnya menghantam tanah dengan kerasnya.

Sedangkan Buto Dungkul menggeram-geram sambil memutar-mutar gada besarnya. Suara angin menderu-deru keluar dari putaran gada di atas kepala manusia raksasa itu. Semua orang yang berada di sekitar panggung, bergegas mundur penuh kengerian.

Tak ada lagi sorak-sorai atau decak kekaguman. Yang terlihat hanya wajah-wajah ketakutan dan kengerian menyaksikan manusia raksasa berdiri dengan tegar sambil memutar-mutar gadanya di atas kepala.

Mahesa Jalang bangkit berdiri. Dengan ujung lengan bajunya disekanya darah yang mengotori mulut. Dia hampir tidak percaya kalau Aji Karang Kati tidak bisa melukai Buto Dungkul apa lagi membunuhnya. Mahesa Jalang benar-benar putus asa menghadapi kehebatan manusia liar ini. Sungguh tidak diduga sama sekali dalam waktu tiga tahun telah begitu hebat.

“Ilmu setan apa yang dipakainya?” gumam Mahesa Jalang bertanya pada dirinya sendiri.

“Mahesa Jalang keluarkan semua kesaktianmu. Kita bertarung sampai ada yang mati!” keras menggelegar suara Buto Dungkul.

“Phuih!” Mahesa Jalang menyemburkan ludahnya.

Seketika dikempos tenaganya, dan melayang kembali ke atas panggung. Tubuhnya ringan bagai kapas, menjejak papan panggung tanpa menimbulkan suara sedikitpun juga. Segera disiapkan kembali Aji 'Karang Kati'. Kali ini Mahesa Jalang mengerahkan seluruh kekuatannya dan dipusatkan pada kedua telapak tangannya.

“Aji Karang Kati...!” teriak Mahesa Jalang keras.

Bersamaan dengan itu, tubuhnya segera melenting menerjang Buto Dungkul. Manusia raksasa itu mengibaskan gadanya berusaha menghantam tubuh Mahesa Jalang yang meluncur deras ke arahnya. Mahesa Jalang menurunkan tubuhnya sedikit dan gada Buto Dungkul lewat di atas tubuhnya sedlkit.

Dalam waktu yang bersamaan, kedua telapak tangan Mahesa Jalang menerpa dada manusia raksasa itu. Suara ledakan dahsyat kembali terdengar Tubuh Mahesa Jalang terlontar lagi ke belakang dengan derasnya. Sementara Buto Dungkul hanya terdorong dua langkah saja. Dia masih tetap berdiri tegak meskipun mulutnya sedikit meringis. .

Tubuh Mahesa Jalang kembali terbanting keras di panggung. Papan panggung yang. tebal nan kuat itu tergetar kemudian hancur berkeping-keping tertimpa tubuh Mahesa Jalang. Guru kelima Padepokan Jatiwangi itu bergulingan setelah menghantam papan panggung di tanah. Mahesa Jalang baru berhenti bergulir begitu sampai di pinggir.

“Hoek!” kembali dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Mahesa Jalang merasakan seluruh tubuhnya seperti remuk. Rasa nyeri menggerogoti seluruh tulang-tulang tubuhnya. Dengan susah-payah dia berusaha bangkit berdiri. Namun belum juga sempat berdiri, mendadak lantai panggung itu bergetar hebat.

“Graaahhh...!” Buto Dungkul menggeram keras.

Kakinya yang besar dan berat berlari kencang ke arah Mahesa Jalang yang belum juga bangkit. Buto Dungkul berlari kencang sambil mengayun-ayunkan gadanya. Dan dengan keras dihantamkan ke punggung Mahesa Jalang.

“Aaakh...!” Mahesa Jalang menjerit melengking tinggi.

Darah langsung muncrat dari punggungnya yang terbelah. Buto Dungkul mengangkat tubuh Mahesa Jalang yang telah tewas dengan sebelah tangannya. Dia memutar-mutar tubuh itu, sehingga darah berceceran kemana-mana Dengan satu geraman mengguruh, Buto Dungkul melemparkan tubuh Mahesa Jalang ke tengah-tengah para murid Padepokan Jatiwangi.

Tubuh Mahesa Jalang yang sudah tidak bernyawa lagi itu meluncur deras dan jatuh tepat di tengah-tengah murid-muridnya sendiri. Seketika itu juga Desa Jatiwangi geger dengan gugurnya Mahesa Jalang di tangan manusia raksasa itu. Suara-suara penuh kengerian mendengung memenuhi sekitar panggung. Buto Dungkul berdiri tegak menyandang gada berdurinya. Matanya merah menyala menatap Ki Rangkuti yang kini berdiri dari kursinya.

“Rangkuti, giliranmu tiga purnama lagi!” seru Buto Dungkul menggelegar.

Ki Rangkuti belum bisa berkata apa-apa, Buto Dungkul sudah berbalik dan melangkah menuruni panggung. Orang-orang pun segera menyingkir ketika manusia raksasa itu akan lewat. Ki Rangkuti masih menatap kepergian Buto Dungkul yang semakin jauh dengan langkah-langkah lebar dan berat

********************

TIGA

Malam sudah amat larut. Suasana di Desa Jatiwangi sepi lengang. Beberapa obor masih tampak menyala terang di beberapa tempat. Halaman rumah kepala desa pun tampak senyap. Tidak ada seorang pun yang terlihat, kecuali di beranda depan. Tampak Ki Rangkuti duduk termenung didampingi oleh Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat. Dua sahabat yang belum juga meninggalkan tempat meskipun perayaan peresmian berdirinya Padepokan Jatiwangi sudah berakhir sore tadi.

Sementara tamu-tamu undangan lainnya sudah beristirahat di kamar masing-masing yang telah disediakan oleh Ki Rangkuti. Sejak sore tadi ketiga orang itu duduk di beranda depan tanpa banyak kata yang terucap dari mulutnya. Ki Rangkuti seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Aku lihat kau tidak lagi gembira sejak kematian Mahesa Jalang, Rangkuti. Apakah kau memikirkan kata-kata Buto Dungkul?” Dewa Pedang Emas membuka suara pelan.

Ki Rangkuti menarik napas panjang. Bola matanya menatap kedua sahabatnya bergantian.

“Kau punya perjanjian dengan manusia liar itu Rangkuti?” tanya Bayangan Malaikat.

“Ya,” desah Ki Rangkuti berat. "Aku harus berhadapan dengannya tiga bulan mendatang kalau Mahesa Jalang tewas.”

"Perjanjian nekad!" dengus Dewa Pedang Emas.

“Aku melakukannya karena terpaksa, aku hanya ingin menyelamatkan nyawa Mahesa Jalang waktu itu."

“Seharusnya kau biarkan saja Mahesa Jalang mati saat itu juga. Toh akhirnya dia pun harus mati di tangan Buto Dungkul!” Bayangan Malaikat seolah-olah menyesalkan sikap Ki Rangkuti.

“Aku tidak menyesali perjanjian itu,” sahut Ki Rangkuti.

“Lalu kenapa kau jadi murung?" desak Dewa Pedang Emas.

"Aku memikirkan permintaan Buto Dungkul.”

“Permintaan apa?"

“Buto Dungkul tidak akan membunuhku dalam pertarungan nanti. Dia hanya ingin mengalahkan aku saja.”

"Kalau cuma itu kenapa jadi dipikirkan?”

“Bukan cuma itu Dewa Pedang Emas. Yang jadi beban pikiranku sekarang Buto Dungkul meminta putriku kalau aku kalah."

Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat terkejut setengah mati. Rasanya mereka saat itu terdengar ledakan petir yang amat dahsyat. Tidak diduga sama sekali Ki Rangkuti mempunyai perjanjian yang berat sekali.

Mereka semua tahu bagaimana hebatnya Buto Dugkul. Rasanya sulit bagi Ki Rangkuti mengalahkan manusia liar itu. Mereka bertiga saja belum tentu bisa menandingi meskipun secara bersamaan menyerang. Benar-benar petjanjian edan!

“Sekar Telasih sudah tahu perjanjian itu?" tanya Dewa Pedang Emas.

“Belum,” sahut Ki Rangkuti lesu.

“Aku tidak bisa bayangkan bagaimana kalau putrimu tahu mengenai perjanjian itu? Benar-benar sembrono sekali kau, Rangkuti,” gumam Bayangan Malaikat menyesalkan.

Ki Rangkuti tidak bisa menyalahkan kata-kata sahabatnya. Diakui kalau tindakannya sungguh ceroboh. Padahal tidak ada untungnya sama sekali menolong Mahesa Jalang waktu itu. Dia juga tidak kenal sebelumnya. Mungkin karena jiwa kependekarannya saja yang tergerak untuk menolong siapa saja yang membutuhkan meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Tiga purnama bukan waktu yang panjang untuk mempersiapkan diri, Rangkuti,” kata Dewa Pedang Emas.

“Aku belum bisa memikirkannya," sahut Ki Rangkuti.

“Sebaiknya kau menyempurnakan ilmu-ilmu andalanmu. Aku juga tidak akan tinggal diam begitu saja melihat kehancuranmu,” kata Bayangan Malaikat.

"Terima kasih. Kalian memang sahabat sejati," ucap Ki Rangkuti terharu.

“Ah, sudahlah. Aku juga belum tahu, apakah pedangku ini bisa merobek kulitnya," kata Dewa Pedang Emas.

Ki Rangkuti menatap kedua sahabatnya dengan penuh rasa haru. Dia tidak bisa lagi mengatakan apa-apa. Kesediaan dua sahabatnya membantu memecahkan kesulitan yang tengah dihadapi, membuat lidahnya seakan-akan jadi kelu. Mungkin inilah arti persahabatan sejati. Senang sama dirasa, susah sama dipikul. Meskipun nyawa taruhannya tidak membuat persahabatan jadi retak.

Dewa Pedang Emas menepuk pundak Ki Rangkuti kemudian bangkit berdiri. Kakinya terayun menuju ke pintu masuk rumah besar itu. Tidak lama kemudian Bayangan Malaikat menyusul untuk beristirahat.

Kini di beranda depan itu tinggal Ki Rangkuti duduk termenung sendirian. Sungguh berat persoalan yang dihadapinya sekarang. Bagaimana mungkin menyerahkan Sekar Telasih pada manusia liar yang selalu hidup di tengah-tengah hutan belantara?

Saat Ki Rangkuti tengah termenung, tiba-tiba secercah sinar meluncur deras ke arahnya dan tepat membentur tengah-tengah meja batu pualam putih di depannya. Laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu terkejut hingga terlonjak berdiri. Seberkas sinar yang meluncur deras itu ternyata sebuah anak panah kecil yang terbuat dari bahan logam berwarna merah menyala. Ki Rangkuti mengedarkan matanya ke sekeliling menerobos kegelapan malam.

Tidak ada seorang pun yang terlihat di luar sana. Hanya kegelapan saja yang menyelimuti sekitarnya. Tidak ada suara-suara ganjil terdengar, kecuali desah angin dan gemerisik dedaunan saja. Ki Rangkuti mengalihkan pandangannya pada anak panah kecil yang tertancap itu.

­“Hmm...,” bibirnya bergumam panjang begitu melihat ada gulungan daun lontar terikat pada batang anak panah itu. Gulungan daun lontar yang diikat dengan pita berwarna merah darah. Ki Rangkuti melepaskannya dari anak panah itu. Matanya jadi melebar begitu membaca tulisan yang tertera pada daun lontar itu.

“Setan!” geramnya sambil meremas daun lontar itu hingga hancur lumat Ki Rangkuti langsung melompat ke luar dari beranda. Dua kali berputar di udara, lalu dengan manisnya menjejak tanah. Dia berdiri bertolak pinggang dengan bola mata nyalang beredar ke sekelilingnya.

Tidak ada seorang pun yang terlihat Keadaan sekeliling tetap sunyi, bahkan binatang-binatang malam pun seolah enggan untuk memperdengarkan suara. Cukup lama juga Ki Rangkuti berdiri di atas reruntuhan panggung yang terletak persis di tengah-tengah halaman rumahnya. Dia seperti tidak peduli dengan hembusan angin malam yang dingin menusuk kulit. Hatinya panas dan geram menerima surat tantangan dari seorang yang tidak dikenal sama sekali.

Kemarahan Ki Rangkuti memuncak. Kalimat yang tertulis tidak banyak tapi cukup membuat hati Kepala Desa Jatiwangi itu jadi panas. Di dalam benaknya masih tertera hangat kata-kata “Serahkan Sekar Telasih, kau akan terbebas dari perjanjian gila. Tidak ada yang bisa menandingi Buto Dungkul selain aku”

Ini sama saja satu tantangan yang meremehkan kemampuan Ki Rangkuti. Pantas saja Kepala Desa Jatiwangi ini jadi panas. Belum pernah dia menerima tantangan yang begitu meremehkan dan menghina.

“Keluar kau. Biar kuhancurkan batok kepalamu!” geram Ki Rangkuti agak keras.

Tetap sepi tidak ada yang menyahut. Hanya desiran angin saja yang membawa suara Ki Rangkuti menyebar ke segala penjuru.

"Kalau kau laki-laki jantan tunjukkan batang hidungmu!” seru Ki Rangkuti lagi.

Tetap saja tidak ada sahutan keadaan tetap sepi. Ki Rangkuti mendengus kesal. Dengan kaki terhentak, dia melangkah kembali ke beranda rumahnya yang diterangi empat buah pelita di tiap pojoknya. Dengan kesal dihenyakkan tubuhnya ke kursi. Matanya langsung menatap anak panah berwarna merah yang masih tertancap di tengah-tengah meja.

Batu pualam putih alas meja itu kerasnya melebihi batu biasa. Dan mata anak panah itu mampu tembus ke dalam tanpa sedikit pun merusak bagian lainnya. Dari situ saja sudah dapat diukur ketinggian ilmu tenaga dalam yang dimiliki si pelempar.

"Siapakah si pelempar panah kecil itu? Dan apa maksudnya meminta putriku? Dari mana dia tahu aku punya persoalan dengan Buto Dungkul?' Ki Rangkuti jadi bertanya-tanya sendiri.

********************

Kegemparan kembali terjadi pagi ini. Sepuluh orang murid Padepokan Jatiwangi yang kepandaiannya baru seumur jagung kedapatan tewas dengan dada tertancap anak panah kecil berwarna merah. Sepuluh orang yang tewas itu semalam mendapat tugas jaga di sekitar padepokan.

Geraham Ki Rangkuti bergemeletuk menahan geram. Matanya memerah melihat sepuluh orang mayat muridnya. Satu persatu wajah-wajah muridnya dan empat guru pengajar yang tersisa di padepokan, dipandanginya. Desahan napas berat terdengar keras.

“Siapa yang pertama melihat?" tanya Ki Rangkuti. Suaranya terdengar dalam dan berat.

“Saya Ki,” sahut salah seorang dari keempat guru pengajar.

“Pandu,” gumam Ki Rangkuti. “Hanya kau sendiri yang pertama melihat?”

“Bersama sepuluh orang murid,” sahut Pandu.

"Ceritakan apa yang terjadi?"

"Saya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Saya dan sepuluh orang lainnya mendapatkan mereka sudah tewas,” sahut Pandu menjelaskan.

“Ada di antara kalian yang mendengar sesuatu tadi malam?”

Semua menggelengkan kepalanya.

“Edan!” geram Ki Rangkuti gusar.

Ki Rangkuti tidak bisa menyalahkan mereka semua. Orang yang melakukan ini pasti memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi sehingga tidak seorang pun bisa mengetahui dan mendengar apa-apa. Mungkinkah orang itu memiliki aji sirep, sehingga mereka semua jadi terlelap tidurnya bagai mati?

“Kuburkan mereka sekarang juga,” perintah Ki Rangkuti.

Semua murid Padepokan Jatiwangi membungkuk hormat. Ki Rangkuti berbalik dan melangkah meninggalkan halaman padepokan yang berada tidak jauh dan rumah kediamannya. Langkahnya lebar dan cepat keluar dan tembok padepokan.

Ki Rangkuti memandangi beberapa penduduk yang berkerumun ingin menyaksikan kematian sepuluh murid Padepokan Jatiwangi. Laki-laki tua itu terus melangkah menuju rumah kediamannya. Dia baru berhenti ketika melihat Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat berdiri di depan beranda rumahnya. Kedua sahabat itu menghampiri.

"Aku dengar sepuluh orang muridmu tewas. Benarkah itu?” tanya Dewa Pedang Emas.

“Ya, benar. Semalam," jawab Ki Rangkuti

“Mustahil! Kita baru beranjak dan beranda menjelang pagi. Dan kau sendiri kelihatannya tidak tidur semalaman Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" Bayangan Malaikat menggeleng-gelengkan kepalanya setengah tidak percaya.

"Aku sendiri tidak tahu. Bencana apa yang akan menimpa desaku?" Ki Rangkuti mengeluh.

Mereka bertiga terdiam. Ki Rangkuti melangkah menuju ke beranda. Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat mengikuti dari belakang. Mereka kembali duduk di beranda menghadapi meja marmer yang tengah-tengahnya bolong. Dewa Pedang Emas meraba lubang di tengah-tengah meja itu.

“Dia melemparkan ini semalam " kata Ki Rangkuti seraya mengeluarkan anak panah kecil berwarna merah yang tergeletak di atas meja.

"Hebat...," gumam Dewa Pedang Emas menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kapan ini terjadi?” tanya Bayangan Malaikat.

“Tidak lama sesudah kalian masuk.”

Dewa Pedang Emas berdecak kagum.

“Aku rasa ada orang yang tidak senang atas berdirinya Padepokan Jatiwangi,” Bayangan Malaikat menduga-duga.

"Kejadian seperti ini selalu terjadi pada padepokan silat yang baru berdiri. Ini merupakan salah satu ujian bagi Padepokan Jatiwangi,” sambung Dewa Pedang Emas.

Ki Rangkuti hanya tersenyum tipis. Dugaan-dugaan yang dikeluarkan kedua sahabatnya hanya didengarkan saja. Dalam pikirannya berkecamuk permasalahan yang saling tumpang-tindih. Semua dugaan itu memang ada benarnya kalau orang yang melemparkan anak panah kecil berwarna. merah ini tidak menyertai surat penghinaan. Bunyi surat itu yang membuat Ki Rangkuti punya pikiran lain.

Orang itu bukan hanya ingin merampas Sekar Telasih. Tapi juga ingin menghancurkan Padepokan Jatiwangi yang seumur jagung itu. Siapapun orangnya, yang jelas dia mempunyai kepandaian yang tinggi. Dia dapat beraksi tanpa diketahui seorangpun! Sedangkan malam tadi, tidak kurang dan sebelas orang tokoh-tokoh sakti rimba persilatan menginap di rumah kepala desa itu. Tidak satu pun dan mereka mengetahuinya.

********************

Satu persatu para undangan meninggalkan Desa Jatiwangi hari itu juga. Hanya Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat saja yang masih tinggal. Sebagai sahabat, mereka bertekad untuk membantu kesulitan yang kini sedang dihadapi Ki Rangkuti. Bagi mereka nyawa tidaklah penting. Persahabatan sejatilah yang paling penting dalam hidup ini.

Pada masa mudanya dulu Ki Rangkuti adalah seorang pendekar yang selalu malang-melintang dalam rimba persilatan. Tidak heran kalau memiliki banyak musuh, atau orang-orang yang tidak senang dan menaruh dendam padanya. Hal ini sangat disadari oleh Ki Rangkuti maupun kedua sahabatnya.

Pada masa tuanya Ki Rangkuti memilih menetap di desa kelahirannya. Lebih-lebih setelah mempunyai istri dan anak. Tekadnya untuk meninggalkan kehidupan yang penuh kekerasan benar-benar dijalankan selama bertahun-tahun. Tapi sekarang ini Kepala Desa Jatiwangi itu mau tidak mau harus menghadapi dan terjun kembali dalam kehidupannya yang dulu. Kehidupan yang selalu dilumuri darah dan kematian.

Wusss!

“Awas...!” tiba-tiba Dewa Pedang Emas berteriak.

Secercah sinar merah tiba-tiba berkelebat cepat ke arah Ki Rangkuti. Tiga orang yang berdiri di tengah-tengah halaman yang luas itu serentak berlompatan menyelamatkan diri. Ki Rangkuti yang menjadi sasaran sinar merah itu melenting berputar di udara dua kali. Sinar merah itu lewat di dalam putaran tubuh Ki Rangkuti.

Baru saja laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu menapak di tanah, kembali berkelebat sinar merah mengancam dirinya. Secepat kilat Ki Rangkuti menggerakkan tangannya dan...

Tap!

Tangkas sekali dia menangkap kelebatan sinar merah itu. Ki Rangkuti berdiri tegak di tengah-tengah halaman rumahnya. Sementara Dewa Pedang Emas berada agak jauh di kiri. Bayangan Malaikat. jaraknya sekitar tiga tombak di kanan. Ki Rangkuti melihat genggaman tangannya yang menangkap sinar merah tadi.

“panah merah...,” desisnya begitu melihat sebatang anak panah kecil berwarna merah darah di telapak tangannya.

Anak panah merah itu terbungkus oleh daun lontar yang diikat pita merah. Ki Rangkuti langsung melepaskan pita merah yang mengikat daun lontar itu. Sementara kedua sahabatnya sudah mendekati dan berdiri di samping kiri dan kanan.

"Rangkuti, kutunggu kau di Lembah Bunga Bangkai tepat tengah malam ini,” gumam Dewa Pedang Emas yang ikut membaca tulisan di sehelai daun lontar.

“Kau kenal dengan senjata itu?” tanya Bayangan Malaikat.

Ki Rangkuti tidak segera menjawab. Sejak pertama kali didapatkan senjata anak panah kecil merah ini otaknya selalu berputar mengingat-ingat. Barangkali saja dia pernah bentrok dengan orang yang biasa menggunakan senjata ini. Tapi rasa-rasanya belum pernah kenal dengan senjata ini sebelumnya.

­“Kehidupan pendekar memang selalu dikelilingi musuh. Bisa saja orang itu murid dari salah satu musuhmu," kata Dewa Pedang Emas.

"Mungkin juga, aku tidak pernah melihat senjata jenis ini sebelumnya," sahut Ki Rangkuti setengah bergumam.

"Sekarang bagaimana? Kau akan penuhi tantangan itu?" tanya Dewa Pedang Emas lagi.

"Bagaimana dengan Buto Dungkul?" Bayangan Malaikat seolah mengingatkan.

"Itu urusan belakangan,” sahut Ki Rangkuti.

Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat saling berpandangan. Mereka sama-sama mengangkat bahu. Persoalan yang dihadapi Ki Rangkuti saat ini memang tidak ringan. Satu persoalan belum juga tuntas sudah datang lagi persoalan lain.

"Kami akan mendampingimu nanti malam," kata Dewa Pedang Emas.

“Terima kasih."

********************

EMPAT

Malam gelap yang dingin menyelimuti seluruh Lembah Bunga Bangkai. Angin bertiup sedikit keras menyebarkan aroma tidak sedap. Sepanjang hari di lembah ini selalu tercium bau seperti bangkai. Dan setiap setahun sekali di lembah ini selalu tumbuh sejenis bunga yang menyebarkan bau busuk selama tujuh hari. Itulah sebabnya lembah ini dinamakan Lembah Bunga Bangkai. Tidak ada seorang pun yang bersedia tinggal di situ. Masuk ke daerah sekitar lembah ini pun enggan.

Ki Rangkuti berdiri tepat di tengah-tengah batu besar menantang sang dewi malam yang berada tepat di tengah-tengah atas kepala. Sudut ekor matanya melirik Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat yang bersembunyi agak jauh dan tempatnya berdiri.

"Hik hik hik..!" tiba-tiba terdengar suara tawa mengikik, menggema ke seluruh dataran Lembah Bunga Bangkai ini.

Ki Rangkuti memiringkan sedikit kepalanya, mencoba mencari arah suara tawa tadi. Belum juga dapat menentukan arahnya tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan merah keluar dari gerumbul semak belukar di depan laki-laki tua itu.

"Nyi Rongkot...!" Ki Rangkuti terkejut begitu mengetahui siapa yang kini berdiri di depannya.

­"Hik hik hik..., kau masih ingat aku Pendekar Jari Baja? Lama sekali kita tidak pernah lagi bertemu " perempuan tua yang masih kelihatan garis-garis kecantikannya itu menyebut julukan Ki Rangkuti.

Memang pada masa mudanya dulu ketika malang-melintang dalam rimba persilatan Ki Rangkuti punya Julukan Pendekar Jari Baja. Karena dia punya satu Jurus yang membuat kesepuluh jari-jari tangannya sekuat baja Tidak ada lawan yang mampu menandingi jurus, yang dinamakan 'Sepuluh Jari Baja’ itu.

“Hm... kau membawa kedua sahabatmu. Kenapa mereka bersembunyi seperti tikus? Undanglah mereka ke sini agar bisa jadi saksi pada malam ini " kata Nyi Rongkot setengah bergumam.

Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat yang mendengar semua kata-kata itu jadi terkejut juga. Tidak disangka sama sekali kalau Nyi Rongkot mengetahui kehadiran mereka di lembah Bunga Bangkai ini.

Merasa kehadirannya sudah diketahui, kedua orang itu keluar dan tempat persembunyiannya. Mereka melangkah menghampiri dan berhenti setelah jaraknya dengan Ki Rangkuti. sekitar tiga batang tombak lagi. Nyi Rongkot mengikik kecil melihat kedua sahabat Ki Rangkuti sudah menampakkan diri.

“Apa maksudmu meminta aku datang ke sini Nyi Rongkot?" tanya Ki Rangkuti.

“Aku hanya meminta anakku," sahut Nyi Rongkot

Ki Rangkuti mendengus keras mendengar jawaban yang memang sudah diduga sebelumnya ketika perempuan itu muncul. Sedangkan Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat terkejut sekali mendengarnya. Dia tidak tahu maksud kata-kata Nyi Rongkot barusan. Mereka memang sudah mengetahui siapa perempuan berbaju serba merah ini.

Nyi Rongkot masih terhitung saudara sepupu Ki Rangkuti. Dulu ketika sama-sama masih muda, mereka tidak pernah akur dalam setiap langkah. Di samping itu, jalan hidup mereka berdua memang saling bertentangan. Ki Rangkuti dikenal sebagai Pendekar Jari Baja yang berjalan lurus. Sedangkan Nyi Rongkot sampai sekarang masih malang-melintang dengan julukan Ular Betina. Itulah sebabnya kenapa pada waktu puncak acara peresmian Padepokan Jatiwangit Ki Rangkuti kelihatan tidak menyukai kehadiran Nyi Rongkot.

"Dia bukan anakmu, Nyi Rongkot! Dia tidak pernah kenal siapa ibunya yang sebenarnya. Kau mencampakkan begitu saja saat dia memerlukan kasih sayang seorang ibu. Apakah pantas kau meminta dan mengakuinya sebagai anak? Tidak! Sekar Telasih bukan anakmu! Dia anakku! Aku yang merawat dan membesarkannya sejak masih bayi merah!" Ki Rangkuti membeberkan semuanya dengan suara keras dan tegas.

"Aku hanya menitipkan Sekar Telasih padamu. Bukan untuk mengakuinya sebagai anak!" dengus Nyi Rongkot alias Ular Betina.

"Apapun namanya kau telah membuang anakmu sendiri. Darah dagingmu!” sentak Ki Rangkuti gusar.

"Rangkuti! Suka atau tidak, kau harus mengembalikan anakku!” geram Nyi Rongkot.

“Tidak! "

­Nyi Rongkot menggeram marah. Matanya menyala-nyala menatap tajam pula. Sementara dua orang yang berdiri di belakang Ki Rangkuti perlahan-lahan melangkah mundur menjauh. Mereka tidak ingin ikut campur dalam urusan yang bersifat pribadi ini.

Dewa Pedang Emas menggeser kakinya mendekati Bayangan Malaikat. Sepasang bola matanya tetap terarah pada Nyi Rongkot yang berdiri tegak di depan Ki Rangkuti. Beberapa saat lamanya suasana di Lembah Bunga Bangkai ini jadi sepi senyap.

“Kau mengetahui persoalan itu Bayangan Malaikat?” tanya Dewa Pedang Emas berbisik.

"Tidak Aku sendiri agak terkejut juga mendengarnya," sahut Bayangan Malaikat terus terang.

"Tidak kusangka kalau Sekar Telasih anak Ular Betina," Dewa Pedang Emas setengah bergumam.

"Segalanya bisa terjadi dalam dunia ini," sahut Bayangan Malaikat.

''Ya, dan kita tidak mungkin mencampurinya.”

"Benar, sebaiknya kita hanya menjadi saksi saja. "

Dewa Pedang Emas dan Bayangan Malaikat duduk di bawah pohon yang besar dan rindang. Dua pasang mata tetap tertuju ke depan dengan telinga terpasang lebar mendengarkan semua pembicaraan yang sudah menghangat.

Sementara itu Nyi Rongkot menyumpah-nyumpah kesal karena Ki Rangkuti masih tetap tidak ingin menyerahkan Sekar Telasih. Begitu marahnya ia sehingga seluruh otot-otot lengannya menegang bersembulan. Wajahnya semakin memerah-saga menahan kemarahan. Sedangkan Ki Rangkuti yang mengenal persis watak saudara pupunya ini sudah bersiap-siap jika Nyi Rongkot main kekerasan.

"Aku beri kesempatan sekali lagi, Rangkuti! Pilih salah satu, serahkan Sekar Telasih atau kau mati!” kata Nyi Rongkot mengancam.

"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak!” sahut Ki Rangkuti tegas.

"Kau memilih mampus Rangkuti!" geram Nyi Rongkot.

“Itu lebih baik berarti kau sengaja membiarkan Sekar Telasih jatuh ke tangan Buto Dungkul!" sinis suara Ki Rangkuti

"Ha ha ha...!" Nyi Rongkot tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ki Rangkuti. “Dasar kakek tua jompo! Sudah pikun masih sok jual lagak. Apakah kau tidak ingat dengan surat pertamaku, heh?”

"Setan demit! Rupanya kau bersekutu dengan manusia liar itu!" geram Ki Rangkuti menyadari apa yang telah terjadi selama ini.

"Hik hik hik...! Nyi Rongkot hanya tertawa mengikik

"Kubunuh kau iblis!” geram Ki Rangkuti

"Kau tidak akan mampu, Rangkuti...."

''Yeaaah...! "

Ki Rangkuti yang sudah muak melihat tingkah saudara sepupunya ini langsung melompat menyerang. Kedua tangannya bergerak cepat mengarah ke bagian-bagian tubuh Nyi Rongkot begitu kakinya menjejak tanah. Mendapat serangan yang cepat disertai pengerahan tenaga dalam membuat Nyi Rongkot berkelit sambil mengebutkan tongkat berbentuk ularnya.

Pertarungan dua saudara yang bertentangan itu berlangsung cepat dengan menggunakan jurus-jurus maut dan berbahaya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pertarungan sudah berjalan tidak kurang dan sepuluh jurus. Namun sampai saat ini belum ada yang kelihatan terdesak. Pertarungan masih berjalan seimbang dan cepat.

"Kau melihat ada kejanggalan dalam pertarungan itu Bayangan Malaikat?” tanya Dewa Pedang Emas.

"Ini bisa berbahaya kalau Rangkuti tidak cepat menyadarinya," gumam Bayangan Malaikat.

Cara bertarung Ular Betina yang ogah-ogahan itu rupanya juga disadari oleh Ki Rangkuti. Hal ini bukannya membuat Ki Rangkuti jadi enggan, tapi malah semakin bernafsu untuk menjatuhkan lawan. Dia merasa kalau ulah Ular Betina yang tidak sungguh-sungguh hanya meremehkan dirinya saja.

Pada satu ketika, tangan kanan Ki Rangkuti menerobos masuk ke arah dada Ular Betina. Begitu cepatnya sodokan tangan itu sehingga membuat perempuan tua itu jadi terkejut. Buru-buru diangkat tongkatnya dan disilangkan ke dada.

"Uts!”

Ki Rangkuti yang sudah mengetahui kehebatan tongkat ular Nyi Rongkot, segera menarik tangannya kembali. Dia tahu kalau tongkat itu mengandung racun yang sangat mematikan. Hanya pemiliknya saja yang kebal terhadap racun tongkat maut itu.

Begitu menarik tangannya pulang, secepat kilat Ki Rangkuti mengangkat kakinya, mengibas ke arah pinggang. Nyi Rongkot menarik tongkatnya ke samping menjaga pinggangnya dari sepakan kaki lawan. Lagi-lagi serangan Ki Rangkuti gagal total sebelum mencapai tujuan.

"Keluarkan keris Panca Ngamu, Rangkuti!" seru Nyi Rongkot.

Selesai berkata begitu Nyi Rongkot mengibaskan ujung tongkatnya mengarah ke dada lawan. Begitu cepatnya kibasan itu sehingga membuat Ki Rangkuti tidak bisa lagi menghindar. Jalan satu-satunya adalah menangkis. Padahal dia sekarang dalam keadaan kosong tanpa senjata. Secepat kilat Ki Rangkuti mencabut kerisnya yang berlekuk lima.

Tring!

Dua senjata beradu keras tepat di depan dada Ki Rangkuti. Bunga-bunga api memercik begitu dua senjata beradu. Pada saat itu juga Ki Rangkuti merasakan tangannya bergetar kesemutan. Buru-buru dia melompat mundur tiga langkah.

"Hik hik hik... !" Nyi Rongkot terkikik dengan tongkat menyilang di depan dada.

Bola matanya berbinar melihat keris hitam legam tergenggam di tangan Ki Rangkuti. Tatapannya tertuju pada ujung keris yang berlekuk lima. Dari ujungnya yang runcing mengepulkan asap hitam yang sangat bau menyengat hidung. Tidak ada seorang pun yang sanggup bertahan lama mencium bau busuk yang terpancar dari keris Pancanaga itu.

­Nyi Rongkot menghirup dalam-dalam uap busuk yang tersebar di sekitarnya. Cuping hidungnya kembang-kempis seolah tengah menikmati bau yang harum menyegarkan. Jelas sekali kalau dia begitu kesenangan menghirup bau busuk yang keluar dari keris Pancanaga milik Ki Rangkuti.

Sementara dua orang yang duduk di bawah pohon mulai mengerahkan hawa murni untuk menghalau bau busuk yang semakin lama semakin menyengat hidung Kalau mereka orang biasa atau hanya memiliki tingkat kepandaian pas-pasan mungkin sudah sejak tadi muntah-muntah dan pingsan Dan begitu melihat Nyi Rongkot seperti kenikmatan menghirup udara busuk mata mereka jadi terbelalak seperti tidak percaya dengan penglihatan sendiri.

“Gila! Bagaimana mungkin dia bisa tahan oleh asap Pancanaga?” dengus Ki Rangkuti keheranan melihat Nyi Rongkot sedikitpun tidak terpengaruh oleh uap berbau busuk itu.

“Ah... segar sekali rasanya,” desah Nyi Rongkot sambil menghirup udara yang berbau busuk dalam-dalam.

"Hesss... hih!' Ki Rangkuti menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kuat. Bersamaan dengan itu, secepat kilat dia melompat sambil menghunus kerisnya. Uap hitam mengepul tebal keluar dari kelima lekukan keris berwarna hitam kelam itu. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan Tusukan keris itu lewat sedikit di depan dadanya. Lalu dengan cepat dihentakkan tongkatnya menghalau keris Pancanaga.

­Trak!

“Akh!” Ki Rangkuti memekik tertahan.

Tanpa dapat dicegah lagi, keris dalam genggamannya terpental tinggi ke udara. Dan pada saat itu meluncur sebuah bayangan menyambar keris Pancanaga yang melayang deras ke angkasa. Ki Rangkuti melenting dua kali berputar di udara lalu mendarat dengan kaki sempoyongan sejauh dua tombak dari Ular Betina itu.

Nyi Rongkot yang melihat ada sebuah bayangan meluncur deras menyambar keris Pancanaga langsung melesat cepat mengejar bayangan itu. Ujung tongkatnya terhunus mengarah ke bayangan yang sudah menyambar keris hitam di udara.

Buk!

“Ikh!” Nyi Rongkot terpekik

Tanpa dapat dicegah lagi tubuhnya meluruk deras ke bawah. Namun dengan manis sekali mampu menjejak tanah dengan kedua kakinya. Bayangan itu juga menukik deras turun ke bawah. Nyi Rongkot menggeram hebat dengan bola mata memerah nyalang.

"Setan! "

Seorang laki-laki muda dan tampan berdiri tegak di antara dua tokoh sakti yang tadi bertarung sengit. Di tangan kanannya tergenggam keris hitam Pancanaga. Tampak di punggungnya bertengger sebilah pedang bergagang kepala rajawali. Dengan baju rompi putih, sudah dapat dikenali siapa pemuda tampan gagah itu. Dia Pendekar Rajawali Sakti.

Pendekar Rajawali Sakti atau Rangga, menatap Nyi Rongkot sebentar, lalu beralih pada Ki Rangkuti yang berdiri sambil memegangi tangan kanannya sendiri. Tampak darah mengucur dari jari-jari tangannya. Luka di tangannya terjadi akibat hentakan keras disertai tenaga dalam yang cukup sempurna dari tongkat Ular Nyi Rongkot tadi.

"Kau terkena racun berbahaya, Paman," kata Rangga sambil melangkah menghampiri.

Ki Rangkuti membiarkan saja tangannya dipegang oleh Pendekar Rajawali Sakti itu. Jari-jari tangan Rangga bergerak cepat menotok sekitar pergelangan tangan yang mulai membiru kehitaman. Lalu di serahkan keris Pancanaga pada Ki Rangkuti. Tentu saja laki-laki tua itu jadi keheranan dengan sikap anak muda yang jelas-jelas berpihak kepadanya.

"Keluarkan darah yang mengandung racun. Gunakan pisau biasa," kata Rangga.

Belum sempat Ki Rangkuti mengucapkan apa-apa, Pendekar Rajawali Sakti sudah meninggalkannya. Rangga melangkah menghampiri Nyi Rongkot yang menyumpah-nyumpah karena serangannya gagal akibat campur tangan anak muda yang kini sudah berdiri di depannya.

"Setan belang! Minggir! Jangan coba-coba campuri urusanku!" bentak Nyi Rongkot geram.

"Aku tidak akan mencampuri urusanmu kalau kau tidak berlaku kejam,” sahut Rangga kalem.

"Buka matamu lebar-lebar, bocah. Siapa di antara aku dan dia yang paling kejam?!" sinis suara Nyi Rongkot

"Aku sudah tahu semua dan sudah berada di sini sebelum kalian semua datang. Tidak sepatutnya kau menuntut dengan cara begitu. Pertumpahan darah bukan penyelesaian yang terbaik,” tenang sekali Rangga berkata.

“Edan! Monyet buntung! Sebutkan gurumu! Lancang sekali kau berkhotbah di depanku. Apa matamu sudah buta sehingga tidak melihat siapa yang ada di depanmu heh?!” merah padam muka Nyi Rongkot

Kata-kata Pendekar Rajawali Sakti yang tenang. Sangat tepat menusuk jantung. Rangga tahu siapa yang berdiri di depannya ini. Dia seorang tokoh tua yang pilih tanding. Tapi jelas Rangga tidak bisa melihat kekejaman berlangsung di depan matanya.

“Aku tahu siapa kau. Perempuan tua yang berjuluk Ular Betina. Perempuan yang tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri. Apakah pantas setelah kau menyerahkan anakmu sendiri, lalu kau meminta kembali dengan cara paksa? Membunuh sepuluh orang yang tidak berdosa! Dan sekarang, kau hampir membunuh orang yang mengurus dan membesarkan anakmu. Semua orang pasti akan mengutukmu, Nyi Rongkot!"

"Bedegul! Berani kau berkata begitu padaku!"

"Anak kecil pun akan mengatakan begitu padamu.”

“Setan ! Kau harus mampus!"

Selesai memaki Nyi Rongkot berteriak nyaring. Tongkatnya dikebutkan dengan cepat sambil melompat menerjang Pendekar Rajawali Sakti. Kemarahan yang sudah meluap membuat Ular Betina itu langsung menyerang dengan jurus-jurus maut.

Tongkat berbentuk ular berkelebatan cepat menimbulkan suara angin menderu-deru di sekitar tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Setiap kibasannya mengandung hawa dingin menusuk tulang. Hawa yang mengandung uap racun dahsyat mematikan. Tapi semuanya tidaklah berarti sama sekali bagi Pendekar Rajawali Sakti yang kebal terhadap segala jenis racun.

Dalam tubuh Rangga sudah mengandung zat penangkal segala jenis racun yang sudah menyatu dalam aliran darahnya. Dua puluh tahun tinggal di lembah Bangkai, selama itu pula hanya memakan jamur yang mengandung khasiat penawar segala jenis racun. (Baca Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah Iblis Lembah Tengkorak).

Ular Betina semakin mengkelap melihat lawannya tidak terpengaruh sama sekali dengan uap racun yang keluar dan tongkat saktinya. Biasanya tidak ada seorang lawan pun yang sanggup melayani kalau jurus Tongkat Beracun sudah keluar dalam sepuluh jurus. Tapi kini sudah lebih dari sepuluh jurus Pendekar Rajawali Sakti itu masih mampu menandinginya. Bahkan tidak sedikit pun kelihatan terdesak. Malahan tidak jarang memberikan serangan balasan yang cukup berbahaya.

“Mampus kau hih!" dengus Nyi Rongkot geram.

Seketika diputar tongkatnya dengan cepat dari bawah ke atas. Rangga hanya menundukkan kepalanya sedikit dan tongkat itu mendesing di atas kepalanya. Begitu serangannya lewat menerpa angin Nyi Rongkot cepat menarik tongkatnya sedikit dan dengan kecepatan kilat ditusukkan tepat ke arah dada Rangga.

Pendekar muda ini memiringkan tubuhnya ke kanan. Ujung tongkat itu lewat di depan dadanya. Dengan jarinya disentil tepat pada ujung tongkat yang runcing. Nyt Rongkot terkejut karena dari ujung tongkat sampai pangkal lengannya bergetar ketika ujung tongkatnya tersentil.

“Kurang ajar, hih!" Nyi Rongkot mengumpat sambil cepat-cepat menarik kembali tongkatnya.

Tepat ketika Nyi Rongkot menarik pulang tongkat ularnya, kaki Rangga melayang deras ke atas. Buk! Tanpa dapat dicegah lagi kibasan kaki yang cepat bagai geledek itu menghantam dadanya. Nyi Rongkot mengeluh pendek. Tubuhnya terdorong tiga langkah ke belakang. Cepat digerakkan tangannya untuk menghilangkan rasa sesak yang menyelimuti dadanya.

Rangga berdiri tegak bertolak pinggang. Bibirnya tersenyum tipis mengejek. Nyi Rongkot mendengus geram langsung menyilangkan tongkatnya di depan dada: Kemudian dengan cepat diputarnya tongkat itu bagai baling-baling. Suara angin menderu-deru bagai hendak ada badai topan.

Dengan tiba-tiba perempuan tua itu menghantam ujung tongkatnya ke tanah. Lalu secepat kilat dia memindahkan ujung tongkat ke dalam genggaman Pelan-pelan tangannya mengangkat tongkat itu.

“Naga Merah...!” teriak Nyi Rongkot tiba-tiba.

Bersamaan dengan terdengarnya teriakan itu, mendadak tongkat sakti Ular Betina berubah jadi seekor ular berwarna merah menyala. Rangga tersentak kaget, dan langsung melompat mundur sejauh satu batang tombak. Ular di tangan Nyi Rongkot meliuk-liuk dengan suara mendesis-desis. Dari mulutnya keluar asap kemerahan seirama dengan suara desisannya.

“Celaka! Anak muda itu bisa mati!” sentak Ki Rangkuti yang kini sudah didampingi oleh dua sahabatnya.

“Jarang sekali Nyi Rongkot mengeluarkan ilmu Naga Merahtnya,” gumam Dewa Pedang Emas.

“Kita harus mencegah sebelum terlambat,” kata Bayangan Malaikat.

“Mustahil! Ilmu Naga Merah tidak bisa ditarik sebelum mendapatkan korban,” dengus Ki Rangkuti.

Dua orang yang berdiri mengapit Ki Rangkuti terdiam. Mereka memang sudah mendengar kehebatan ilmu ‘Naga Merah'. Kalau Nyi Rongkot sudah mengeluarkannya sulit untuk ditarik kembali sebelum jatuh korban. Mereka hanya terdiam memandang iba pada Pendekar Rajawali Sakti.

Sambil melompat cepat Nyi Rongkot melepaskan tongkatnya yang sudah berubah jadi ular berwarna merah darah. Ular itu meluncur cepat mengarah ke dada Pendekar Rajawali Sakti. Hanya dengan memiringkan tubuhnya sedikit ke samping ular itu lewat di depan dada Namun belum juga Rangga merubah posisinya kaki Nyi Rongkot melayang deras.

Buk!

­Rangga tidak bisa berkelit lagi. Punggungnya terhajar tendangan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam. Tiga langkah Pendekar Rajawali Sakti itu terdorong ke depan. Lalu dengan cepat dia berputar sambil mengembangkan kedua tangannya ke samping. Kedua tangan membentang lebar, bergerak cepat diikuti geseran kaki yang menyuruk tanah.

Wut, wut!

Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan kedua tangannya bergantian. Begitu cepatnya kibasan tangan yang disertai gerakan tubuh yang lincah membuat Nyi Rongkot sedikit kerepotan menghindari serangan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega.

Pada saat perempuan tua itu kerepotan menghindar kibasan tangan Pendekar Rajawali Sakti tiba-tiba mulutnya mendesis bagai ular. Dan tiba-tiba saja berkelebat sebuah bayangan merah panjang ke arah Pendekar Rajawali sakti. Ular yang meliuk-liuk melayang bagai kilat langsung menyambar tubuh Rangga.

Serangan yang datang tiba-tiba tanpa diduga itu menyebabkan Pendekar Rajawali Sakti sedikit terperangah. Buru-buru dimiringkan tubuhnya sambil mengibaskan tangan kanannya. Ular merah jelmaan tongkat Nyi. Rongko meliuk membentuk putaran dengan kepala meluruk deras ke arah pundak.

Cras!

“Akh!” Rangga memekik tertahan

Pundak sebelah kiri tak dapat lagi dilindungi. Ular merah itu berhasil menancapkan giginya dan merobek pundak Pendekar Rajawali Sakti. Darah segar langsung mengucur deras. Rangga segera menghantam tubuh ular itu. Tapi gerakan yang selalu meliuk-liuk membuat hantamannya hanya mengenai angin kosong.

“Hiyaaa!”

Mendadak Ular Betina berteriak nyaring. Bagai anak panah lepas dari busurnya tubuhnya meluncur deras dengan kedua telapak tangan terbuka. Rangga yang sibuk oleh serangan ular merah terkejut melihat dua telapak tangan berwarna merah meluncur deras ke arahnya.

Buru-buru dia melompat ke udara, namun gerakannya terhambat karena ular merah kembali menyerang dari atas kepala Rangga mengibaskan tangan kirinya ke atas, sehingga pertahanan dadanya jadi terbuka lebar.

Buk!

“Aaakh...!”

Tubuh Pendekar Rajawali Sakti terlontar sejauh dua batang tombak ke belakang. Kedua telapak tangan Nyi Rongkot yang mengerahkan ilmu ‘Naga M­rah’ berhasil bersarang telak di dada Pendekar Rajawali Sakti. Deras sekali tubuh Rangga meluncur dan terbanting ke tanah.

Dua tapak tangan berwarna merah tergambar di dada. Rangga memuntahkan darah kental kehitaman dari mulutnya ketika telah mampu bangun. Seluruh bagian rongga dadanya terasa nyeri dan sesak Sebentar digerak-gerakkan tangannya menghimpun hawa mumi di dalam tubuhnya, lalu berdiri tegak dengan mata menatap tajam Nyi Rongkot. Ular merah membelit tangan kanan perempuan tua itu.

­“Dadaku.... ukh!” Rangga mengeluh.

Dadanya terasa nyeri dan sesak sekali. Sepertinya seluruh tulang-tulang dadanya remuk. Hawa mumi yang dialirkan ke rongga dada membuatnya kembali memuntahkan darah kental kehitaman. Saat Pendekar Rajawali Sakti itu tengah bergelut dengan rasa nyeri di dada mendadak Nyi Rongkot sudah melompat bagai kilat menyerang lagi.

“Mampus kau bocah setan!” teriak Nyi Rongkot. Rangga berkelit sambil mengempos ilmu meringankan tubuhnya. Kemudian dia berlari-lari kencang mengelilingi Ular Betina itu. Sambil berlari berkeliling Pendekar Rajawali Sakti mengeluarkan jurus andalan yang terakhir yaitu Seribu Rajawali.

Sungguh luar biasa tubuh Pendekar Rajawali Sakti bagaikan berjumlah seribu orang banyaknya mengepung lawan. Nyi Rongkot tampak tenang-tenang saja menghadapi kepungan seribu orang Pendekar Rajawali Sakti.

“He he he...,” Nyi Rongkot malah tertawa terkekeh. “Yeah!”

Satu jeritan keras terdengar melengking tinggi. Bersamaan dengan itu kedua tangan Nyi Rongkot terangkat ke atas. Ular Merah bergerak cepat memutari kedua tangan yang Jari-Jemarinya bergerak-gerak. Tampak kedua tangan Ular Betina itu seperti dikelilingi sinar merah.

“Bubar...!” teriak Nyi Rongkot tiba-tiba.

Seketika itu juga dari gulungan sinar merah di tangan Ular Betina itu memijar percikan bola-bola api ke segala penjuru. Bola-bola api itu langsung menghantam satu persatu tubuh dari pecahan Pendekar Rajawali Sakti. Satu persatu bayangan tubuh itu lenyap dengan cepat. Dan akhirnya tinggal satu saja yang tinggal.

“Bedebah!” dengus Rangga geram.

“He he he... ilmu andalan apa yang bisa kau keluarkan bocah setan?” ejek Nyi Rongkot terkekeh.

“Lihat ini, iblis betina!” rungut Rangga.

Sret!

Seketika itu juga tagan kanan Pendekar Rajawali Sakti menarik pedang pusaka dari warangkanya. Sinar biru menyilaukan membias menerangi sekitarnya. Nyi Rongkot mundur dua langkah ke belakang ketika melihat pamor Pedang Rajawali Sakti.

“Rasakan Pedang Rajawali Sakti iblis betina!” teriak Rangga keras. “yeaaah...!”

Rangga menerjang bagai kilat sambil mengayun-ayunkan pedang pusakanya. Sinar biru menyilaukan berkelebat cepat mengurung tubuh Ular Betina. Pertarungan dua tokoh sakti kembali berlangsung cepat dan berbahaya. Masing-masing telah mengeluarkan ilmu andalannya yang paling dahsyat.

Sinar merah berkilau berkelebat menjadi satu saling sambar. Tubuh kedua tokoh sakti itu bagai lenyap ditelan dua sinar yang berkelebat cepat Sinar biru yang memancar dari Pedang Rajawali Sakti, semakin lama semakin berkilau menyilaukan mata.

Tampak mata Nyi Rongkot mulai berair terkena pancaran sinar Pedang Rajawali Sakti pandangannya menjadi buram tak mampu melihat jelas. Sekuat tenaga dia berusaha mengimbangi ilmu pedang Rajawali Sakti Kejadian yang hampir sama juga dialami oleh Pendekar Rajawali Sakti. Sinar merah ilmu ‘Naga Merah’ menyakitkan matanya.

Pada suatu saat tiba-tiba Ular Betina berteriak nyaring. Kemudian tubuhnya melambung tinggi ke udara. Pendekar Rajawali Sakti ikut melayang deras mengejar. Ular Betina melepaskan ular merah jelmaan tongkat saktinya. Ular itu meluncur deras ke arah Rangga.

Wut!

Pendekar Rajawali Sakti mengebutkan pedangnya membabat kepala ular yang menganga lebar. Namun sabetan pedang itu hanya menyambar angin dengan lincah sekali ular merah meliukkan tubuhnya menghindari babatan pedang Rajawali Sakti. Pada saat yang bersamaan kaki Nyi Rongkot terangkat dan....

Buk!

“Akh!” Pendekar Rajawali Sakti memekik tertahan. Tubuhnya langsung meluruk deras ke bawah.

“Hiyaaa...!” Nyt Rongkot mengejar sambil mendorong kedua tangannya ke depan.

“Aaa...!” Rangga berteriak nyaring.

Kedua telapak tangan Nyi Rongkot yang merah berhasil telak memukul punggung Pendekar Rajawali Sakti itu. Tak ampun lagi Rangga jatuh keras di tanah. Tubuhnya bergulingan membentur batu besar Pedang Rajawali Sakti terlepas dari genggamannya. Bagian dada dan punggung tergambar sepasang telapak tangan berwarna merah menyala.

Manis sekali Ular Betina mendarat di tanah. Kedua tangannya segera terangkat tinggi-tinggi. Sinar merah menyala dan kedua telapak tangannya. Lalu dengan cepat mengebut ke depan. Dua bias sinar merah meluncur deras ke arah Pendekar Rajawali Sakti yang masih menggeletak di tanah.

Rangga menjerit-jerit ketika sinar merah menggulung tubuhnya. Dia menggeliat-geliat di tanah dengan seluruh tubuh terbalut warna merah. Pohon-pohon dan batu hancur berantakan diterjang tubuh Pendekar Rajawali Sakti yang bergulingan sambil berteriak-teriak keras. Cahaya merah menyala masih mengurung dirinya.

“Ha ha ha...!” Nyi Rongkot tertawa terbahak-bahak. “Mampus kau bocah setan!”

“Kraaagh...!” tiba-tiba terdengar suara raungan menggelegar.

Mendadak satu bayangan besar dan hitam melesat cepat menukik dari atas Nyi Rongkot terkejut ketika tiba-tiba merasakan sapuan angin bagai topan mengarah ke tubuhnya. Secepat kilat dia melompat menghindari sapuan deras itu. Nyi Rongkot berputar dua kali di udara, tubuhnya agak limbung saat kakinya menjejak tanah Angin bagai badai topan yang hampir melontarkan tubuhnya lewat hanya beberapa jengkal saja

Mata Nyi Rongkot membelalak lebar setelah melihat seekor rajawali raksasa melayang-layang di atas tanah dengan kecepatan tinggi. Suaranya menggelegar memekakkan telinga seakan ingin meruntuhkan Lembah Bunga Bangkai ini. Nyi Rongkot segera menuding ular merah yang bergerak-gerak di tanah dengan jari telunjuknya. Seketika itu juga sinar merah meluncur langsung menerpa ular merah itu.

“Hsss...!” desisan keras terdengar.

Tiba-tiba saja ular yang tadinya sebesar tongkat berubah membesar. Setelah tubuhnya mencapai sebesar batang pohon kelapa, langsung menyerang burung rajawali sakti. Itulah ilmu tingkat akhir Naga Merah.

Ular itu menjadi besar seperti seekor naga berwarna merah menyala. Lidah-lidah api menyembur dari lubang hidung dan mulutnya.

“Khraaagh...!” rajawali memekik keras.

Seketika tubuhnya melesat ke udara lalu kembali menukik deras ke arah kepala naga. Semburan api keluar saat cakar-cakar rajawali raksasa hampir mencapai kepala naga merah itu.

Secepat kilat burung raksasa itu berkelit dari sambaran api langsung meluruk menghantam tubuh naga merah.

UIar naga merah itu menggerung dahsyat begitu paruh burung rajawali raksasa menyobek kulit tubuhnya. Belum sempat balas menyerang, tahu-tahu cakar burung raksasa itu sudah mencengkeram kuat. Sayap yang lebar mengepak kencang menimbulkan suara angin yang keras menderu.

Nyi Rongkot yang melihat ular naga jelmaan tongkat saktinya terangkat naik, segera melompat menerjang burung rajawali raksasa. Kedua tangannya yang berwarna merah, didorong ke depan. Secercah sinar merah meluncur deras ke arah burung raksasa itu.

Tepat pada saat itu, burung rajawali itu melemparkan ular naga yang sebesar batang pohon kelapa ke arah Nyi Rongkot. Cepat sekali dia menukik turun sehingga sinar merah yang dilepaskan Nyi Rongkot tidak mengenai sasaran. Sayap rajawali raksasa yang besar mengibas dan....

“Aaakh!” Nyi Rongkot terpekik.

Dalam keadaan tubuh masih di udara Ular Betina tidak bisa berkelit. Dengan telak sayap rajawali itu menghantam tubuhnya. Nyi Rongkot terpelanting keras jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, ular naga ciptaannya juga meluruk menghantam tubuhnya. Nyi Rongkot meraung keras sambil menggelimpang keluar dari himpitan badan ular yang besar dan berat.

“Graaahg...!” rajawali raksasa memekik nyaring.

Bagai kilat tubuhnya melesat menyambar tubuh Pendekar Rajawali Sakti dan pedang pusaka yang menggeletak di tanah. Tubuh Rangga serta pedang pusaka itu dicengkeram dengan jari-jari kakinya. Hanya sekejap mata saja burung rajawali raksasa itu telah membumbung tinggi ke angkasa.

********************

LIMA

Nyi Rongkot menggeram sambil berusaha bangun. Ular naga merah jelmaan tongkat sakti miliknya sudah kembali ke bentuk asalnya. Kibasan sayap burung rajawali raksasa membuat seluruh tubuhnya nyeri. Seluruh tulang-tulang tubuhnya bagaikan remuk Tertatih-tatih dihampiri tongkat saktinya yang menggeletak di tanah.

Mata perempuan tua itu memandang ke sekitar Lembah Bunga Bangkai. Kegelapan masih menyelimuti sekitarnya. Kabut tebal bergulung-gulung membuat udara bertambah dingin. Lagi-lagi dia menggeram begitu menyadari Ki Rangkuti dan kedua sahabatnya sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.

“Sial, dasar pengecut!” dengus Nyi Rongkot.

Merasa tidak ada gunanya lagi berlama-lama di lembah yang selalu menyebarkan bau busuk ini, perempuan tua itu mengayunkan kakinya pergi. Digunakannya ilmu meringankan tubuh, sehingga dalam waktu sebentar saja sudah tidak tampak lagi tertelan kabut tebal.

Ular betina itu tidak tahu kalau Ki Rangkuti masih belum jauh dari tempat pertarungan tadi. Ki Rangkuti yang didampingi dua sahabatnya bersembunyi di balik batu besar agak jauh dari arena pertarungan ketika Nyi Rongkot mengeluarkan ilmu ‘Naga Merah'. Mereka tidak ingin mati konyol terkena keganasan ilmu 'Naga Merah’.

“Luar biasa...” gumam Dewa Pedang Emas menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dunia persilatan bakal hancur kalau tidak ada yang bisa menandingi ilmu Naga Merah,” sambung Bayangan Malaikat.

“Pedang Emasku juga belum tentu bisa menandinginya,” ujar Dewa Pedang Emas jujur.

“Ya, Sepuluh orang seperti kita pun belum tentu bisa menandingi kehebatan ilmu itu,” sambung Bayangan Malaikat.

Tiba-tiba kedua orang itu terdiam. Mata mereka langsung menatap Ki Rangkuti yang sejak tadi hanya terdiam dengan pandangan kosong ke depan. Merasa dirinya dipandangi Kepala Desa Jatiwangi itu menoleh sambil menarik napas panjang.

“Aku yakin, anak muda itu pasti Pendekar Rajawali Sakti,” pelan suara Ki Rangkuti terdengar.

“Apakah dia mati?” tanya Bayangan Malaikat yang sudah tahu siapa anak muda itu ketika telah mengeluarkan pedang berwarna biru berkilau

“Entahlah,” desah Ki Rangkuti.

“Aku juga telah mendengar sepak terjang Pendekar Rajawali Sakti. Ternyata berita yang kudengar bukan isapan jempol belaka,” Dewa Pedang Emas bergumam.

“Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini,” ajak Ki Rangkuti.

Tanpa banyak bicara lagi mereka segera melangkah meninggalkan Lembah Bunga Bangkai. Mereka berjalan biasa tanpa mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Tak ada yang bicara sampai tiba di luar batas lembah yang berbau busuk itu.

“Sebentar!” tiba-tiba Dewa Pedang Emas berhenti melangkah.

“Ada apa?” tanya Ki Rangkuti seraya berhenti melangkah.

“Apa tidak sebaiknya kita datangi saja manusia liar Buto Dungkul?” Dewa Pedang memberi usul.

“Jangan,” sergah Bayangan Malaikat. “Keselamatan Sekar Telasih lebih penting daripada manusia liar itu.”

“Benar. Apapun yang terjadi Sekar Telasih tidak boleh jatuh ke tangan Buto Dungkul. Apa lagi sampai ke Nyi Rong­ot meskipun ibu kandungnya sendiri,” Ki Rangkuti menyetujui kata-kata Bayangan Malaikat.

“Jangan-jangan Ular Betina langsung ke Desa Jatiwangi,” gumam Ki Rangkuti.

“Celaka! Kita harus cepat ke sana sebelum terlambat!” seru Bayangan Malaikat.

“Kalian berdua saja ke sana aku akan ke Hutan Gading,” kata Dewa Pedang Emas.

“Mau apa kau ke sana?” tanya Ki Rangkuti.

“Aku ingin coba kehebatan manusia liar itu,” sahut Dewa Pedang Emas.

“Gila! Apa kau sudah tidak pikir dua kali Dewa Pedang Emas?” ujar Bayangan Malaikat kaget.

“Aku belum pernah punya persoalan dengan Buto Dungkul. Kini, aku akan membuat persoalan dengannya. Hal ini untuk memecahkan perhatiannya terhadapmu Rangkuti,” kata Dewa Pedang Emas.

“Kau akan sia-sia Dewa Pedang Emas,” kata Ki Rangkuti terharu.

“Tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Aku akan tersenyum puas meskipun hanya mencederai sedikit saja.”

Bayangan Malaikat akan membuka mulut hendak mencegah kenekatan Dewa Pedang Emas tapi cepat dikatupkan lagi mulutnya. Dewa Pedang Emas sudah memberi isyarat dengan menggoyang-goyangkan telapak tangannya.

“pergilah. Mudah-mudahan kalian bisa menyelamatkan Sekar Telasih,” kata Dewa Pedang Emas.

Setelah berkata demikian Dewa Pedang Emas segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap mata saja ia sudah berlari meninggalkan kedua sahabatnya. Cukup tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki sehingga dalam waktu yang singkat hanya terlihat titik punggungnya saja di kejauhan. Ki Rangkuti mendesah berat setelah bayangan tubuh Dewa Pedang Emas tidak terlihat lagi.

“Nekad! Aku tidak yakin dia mampu mengalahkan Buto Dungkul,” dengus Bayangan Malaikat setengah bergumam.

“Kita doakan semoga selamat,” sahut Ki Rangkuti.

“Ayo, kita harus cepat sebelum terlambat!”

“Mari.”

********************

Bagaimana dengan nasib Pendekar Rajawali Sakti yang dapat dikalahkan oleh Ular Betina? Burung Rajawali raksasa membawanya pergi, langsung menuju ke lembah Bangkai tempat Rangga yang kini bergelar Pendekar Rajawali Sakti digembleng selama dua puluh tahun. (Baca Serial Pendekar Rajawali Sakti dalam kisah Iblis Lembah Tengkorak).

Burung Rajawali Sakti itu memandangi tubuh Rangga yang tergolek pingsan di atas batu pipih di dalam goa lembah Bangkai. Di dadanya tergambar dua tapak tangan berwarna merah. burung raksasa itu menggeleng-gelengkan kepalanya sebentar kemudian paruhnya ditotok ke beberapa bagian tubuh Rangga. Sedangkan pedang pusaka Rajawali Sakti tergeletak di sampingnya.

Kemudian dengan cakarnya digenggamnya tubuh Rangga. Suaranya terdengar lirih. Sayapnya terkepak tubuhnya yang besar terangkat naik. Burung rajawali raksasa itu membawa Rangga masuk lebih ke dalam goa besar yang pengap dan gelap.

Sampai pada satu relung yang luas, burung rajawali itu berhenti. Rangga diletakkan di atas tanah berpasir dan berbatu-batu kerikil. Di sebelahnya tampak sebuah kolam berisi air yang berwarna kebiru-biruan bergolak mendidih. Suaranya terdengar gemuruh disertai letupan-letupan kecil.

“Arggg,” burung rajawali raksasa mengeluarkan suara lirih.

Dengan paruhnya dia menggusur tubuh Rangga mendekati kolam mendidih. Air muncrat ke atas ketika tubuh Rangga tercebur ke dalam kolam. Rangga langsung tenggelam bersamaan dengan menggelegaknya air. Suaranya semakin terdengar bergemuruh keras. Seketika itu juga permukaan air menjadi berubah-ubah warnanya.

Agak lama juga Rangga tenggelam di dalam kolam mendidih itu. Kemudian perlahan-lahan permukaan air kolam itu menjadi tenang. Setenang kolam biasa dan tidak lagi bergolak mendidih. Perlahan-lahan Rangga muncul terangkat ke permukaan. Tampak seluruh tubuhnya berkilau bagai tersiram cahaya. Aneh! Pakaiannya pun jadi lebih bersih dan terang warnanya.

Beberapa saat Rangga terapung-apung di permukaan kolam. Kemudian perlahan-lahan bergerak ke tepi. Kelopak mata pendekar muda itu masih terpejam rapat Sampai di tepi perlahan-lahan tubuhnya terangkat naik, lalu melayang ke luar dari kolam yang kini jadi tenang.

Begitu Rangga sudah berada di atas batu pipih di samping kolam air kolam kembali bergolak mendidih.

Dan warnanya yang semula jernih kini kembali jadi biru bercahaya. Burung rajawali raksasa berjalan menghampiri. Paruhnya kembali bergerak cepat menotok bagian-bagian tubuh Rangga.

“Oooh...!” Rangga menggerak-gerakkan kepalanya.

Perlahan-lahan kelopak matanya terbuka. Dia segera bangkit duduk ketika melihat burung rajawali raksasa ada di sampingnya. Sebentar Rangga mengedarkan pandangannya. Bibirnya tersenyum setelah mengenali tempat itu.

"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku,” ucap Rangga berbisik.

Burung rajawali raksasa itu berkaokan gembira. Dia mendesak-desakkan kepalanya. Rangga memeluk, membelai-belai penuh kasih. Ingatannya kembali pada pertarungannya melawan Ular Betina. Setinggi-tingginya ilmu pasti masih ada yang lebih tinggi lagi. Batinnya berkata sendiri.

Rangga memandangi burung rajawali raksasa yang berjalan lambat mendekati dinding goa itu. Dengan paruh didorongnya sebuah batu yang menonjol. Batu itu terdorong masuk ke dalam. Tampak sebuah rongga yang cukup besar di dinding. Paruh burung rajawali raksasa itu masuk ke dalam sebentar ke luar kembali.

Kini di ujung paruhnya terjepit sebuah buku kumal berwarna merah. Rajawali raksasa itu kembali menghampiri Rangga dan menyerahkan buku di paruhnya.

Rangga membolak-balikkan buku itu. Dibukanya selembar demi selembar. Ternyata buku itu berisi dua macam ilmu yang belum pernah dipelajarinya. Yang pertama ilmu pedang Pemecah Sukma. Dan yang kedua ilmu kesaktian Cakra Buana Sukma.

“Hm satu ilmu yang dipecah jadi dua bagian,” gumam Rangga. “Aku harus bisa menguasai dan menyatukan kembali.”

“Kraaagh... !”

“Ah, kau setuju aku menyatukan kedua ilmu itu?”

Rajawali itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Beri aku petunjuk Rajawali Sakti.”

“Argh!”

“Baiklah. Mungkin kau tidak mengerti ilmu ini. Aku akan mempelajarinya sendiri.”

­Rajawali itu mengepak-ngepakkan sayapnya. Kedua bola matanya berbinar-binar sepertinya bisa mengerti apa yang diucapkan Rangga.

“Aku akan memulainya sekarang!”

********************

ENAM

Sementara itu di Desa Jatiwangi, suasananya tampak tenang seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat berjalan cepat menuju ke rumah Kepala Desa Jatiwangi itu. Suasana rumah yang tampak sunyi membuat jantung laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu jadi berdetak cepat. Tidak ada seorangpun yang kelihatan di sana.

Tapi kekhawatirannya yang sekejap itu hilang ketika melihat seorang gadis cantik muncul di depan pintu. Gadis itu melangkah ke luar menghampiri kedua laki-laki yang memang sedang menuju ke sana. Di pintu muncul lagi seorang pemuda tampan yang juga langsung ke luar. Satu lengannya terbalut kain putih yang rapi. Dialah Darmasaka putra kepala desa.

“Sekar Telasih...,” desah Ki Rangkuti begitu gadis cantik itu sudah berdiri di depannya.

“Ayah dari mana saja semalam?” tanya Sekar Telasih manja.

Ki Rangkuti tidak segera menjawab. Tangannya merangkul bahu gadis itu. Kemudian dia melangkah menuju ke beranda depan. Di belakangnya Darmasaka berjalan di samping Bayangan Malaikat.

Mereka berempat duduk melingkari meja marmer putih. Agak lama juga tidak ada yang bicara. Sedangkan mata Bayangan Malaikat tidak lepas menatap wajah Ki Rangkuti. Meskipun bibir Kepala Desa Jatiwangi itu tersenyum tapi Bayangan Malaikat bisa merasakan keperihan di dalam hatinya

“Kelihatannya Ayah baru saja bertarung?” Darmasaka menatap ayahnya dengan penuh selidik.

“Ya...,” desah Ki Rangkuti pelan.

“Dengan siapa?” tanya Sekar Telasih.

“Musuh,” sahut Ki Rangkuti berat.

Memang berat rasanya menceritakan semua dengan benar. Lebih-lebih saat matanya menatap wajah Sekar T elasih. Tidak mungkin dia sanggup untuk mengatakan kalau gadis itu bukan anak kandungnya sendiri. Beberapa kali Ki Rangkuti menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat Darmasaka dan Sekar Telasih yang mengetahui ayahnya punya persoalan berat hanya saling pandang. Mereka sama-sama mengangkat bahu dan menatap ayahnya. Mendapat pandangan penuh selidik dari kedua anaknya Ki Rangkuti semakin kelihatan gelisah. Matanya menatap Bayangan Malaikat seolah meminta dukungan.

“Sebaiknya kau ceritakan terus terang,” kata Bayangan Malaikat

“Ada apa sebenarnya, Paman?” tanya Darmasaka.

“Paman tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya Ayahmu sendiri yang tahu" sahut Bayangan Malaikat

“Ada apa Ayah? Kalau persoalannya sangat berat, mungkin bisa kami bantu," desak Sekar Telasih.

"Berat. Berat sekali," desah Ki Rangkuti. "Persoalannya menyangkut dirimu."

"Aku?" Sekar Telasih menatap Ki Rangkuti seolah-olah tidak percaya.

“Kuharap kau bisa menerima dengan tabah, anakku,” lirih suara Ki Rangkuti.

"Ada apa dengan diriku, Ayah? Katakan!" desak Sekar Telasih. Mendadak saja perasaannya jadi tidak enak.

Baru juga Ki Rangkuti hendak membuka mulut mendadak mereka dikejutkan oleh suara tawa mengikik. Suara tawa yang menggema seolah-olah datang dari segala penjuru. Ki Rangkuti cepat melompat ke luar diikuti oleh Bayangan Malaikat.

Begitu kaki mereka menjejak tanah, berkelebat sinar-sinar merah mengarah pada Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat. Mereka berlompatan menghindari sinar-sinar merah yang membias dari beberapa batang anak panah kecil. Senjata-senjata rahasia itu datang bagaikan hujan deras mengancam jiwa dua laki-laki yang berjumpalitan menghindar.

Sementara Darmasaka sudah meloloskan pedangnya yang terbuat dari bahan perak murni. Sekar Telasih yang berdiri di sampingnya juga sudah bersiap-siap dengan kipas baja. Namun mereka masih berdiri di depan beranda rumah, tidak lepas memandangi dua laki-laki tua yang sibuk berjumpalitan menghindari serbuan itu.

Mendadak Bayangan Malaikat berteriak nyaring. ­Kemudian tubuhnya melambung tinggi ke udara. Tangan kanannya berputar cepat langsung mendorong ke satu arah. Suara ledakan terdengar keras, saat secercah sinar hijau meluncur deras dari tangan kanannya. Hampir bersamaan, berkelebat sebuah bayangan merah dari tempat terjadinya ledakan.

Hujan anak panah kecil merah seketika berhenti.

Kini di depan Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat yang sudah turun kembali berdiri seorang perempuan tua dengan tongkat berbentuk ular di tangan. Perempuan tua itu menatap tajam Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat bergantian. suara tawanya mengikik kecil begitu matanya memandang Sekar Telasih yang berdiri di samping Darmasaka.

"Rangkuti! Apakah dia anakku?" Nyi Rongkot menunjuk Sekar Telasih.

"Apa...?" Sekar Telasih terlongong.

"Hik hik hik.., tidak kusangka, kau cantik sekali," Nyi Rongkot terkikik sambil melangkah mendekati gadis itu.

"Nyi Rongkot!" bentak Ki Rangkuti.

"Kau tidak bisa mencegahku, Rangkuti. Aku akan mengambil anakku " kata Nyi Rongkot terus saja melangkah menghampiri Sekar Telasih.

Begitu Nyi Rongkot sudah dekat, Darmasaka melompat ke depan menghadang. Pedangnya melintang di depan dada. Dia mengenali betul perempuan tua yang datang tanpa diundang ketika pesta peresmian Padepokan Jatiwangi. Kini perempuan tua itu datang lagi dan hendak membawa adiknya. Bahkan mengakui Sekar Telasih sebagai anaknya. Tentu saja Darmasaka jadi muak.

"Minggir kau anak muda!" bentak Nyi Rongkot.

“Kau yang harus enyah dari sini!" balas Darmasaka ketus.

“Bedebah!"

Nyi Rongkot mengibaskan tongkat ular saktinya. Begitu cepatnya bergerak sehingga Darmasaka tidak bisa lagi berkelit. Dia segera mengangkat pedangnya untuk menangkis tongkat ular itu. Trak! Dua senjata beradu keras. Dan pedang Darmasaka terpental jatuh ke udara. Darmasaka sendiri terdorong mundur tiga tindak.

Anak muda itu meringis sambil menguru-urut pergelangan tangannya yang menjadi kesemutan. Belum juga disadari apa yang baru terjadi, tiba-tiba Nyi Rongkot sudah melompat bagai kilat sambil mengayunkan kakinya. Buk! Darmasaka yang memang masih jauh tingkat kepandaiannya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Kaki kanan Nyi Rongkot telak menghantam dadanya.

Darmasaka tidak bisa lagi mengeluarkan suara. Tubuhnya meluncur deras menghantam tiang penyangga serambi rumah. Tiang sebesar paha manusia dewasa itu hancur berantakan kena terjangan tubuh Darmasaka Anak muda itu jatuh bergulingan dan tak bergerak lagi. Dari mulut dan lubang hidung mengalir darah kental kehitaman. Tampak dadanya hangus hitam melesak ke dalam.

"Iblis!" geram Ki Rangkuti begitu mengetahui putra tunggalnya tewas terkena jurus 'Sengatan Ular Sendok .

"Hik hik hik... " Nyi Rongkot terkikik.

Sekar Telasih membeliak melihat kekejaman perempuan tua yang mengaku ibunya ini. Mulutnya ternganga lebar memandangi mayat Darmasaka yang tergeletak di serambi depan rumah.

“Kubunuh kau, iblis!” geram Ki Rangkuti.

Laki-laki tua itu berteriak melengking sambil melompat menerjang.

Trak!

Dua senjata beradu keras, sehingga menimbulkan pijaran bunga api. Ki Rangkuti yang sudah dikuasai amarah tidak peduli lagi dengan tangannya yang seketika nyeri kesemutan. Dia segera mengirimkan tendangan geledek. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit dan tendangan geledek itu hanya lewat di samping pinggangnya. Pada saat yang bersamaan, tongkat ular sakti dikibaskan Nyi Rongkot.

"Akh!" Ki Rangkuti memekik tertahan.

Ujung tongkat ular itu menghantam pergelangan tangan kanannya yang menggenggam keris. Hantaman keras disertai pengerahan tenaga dalam itu membuat keris di tangan Ki Rangkuti terpental tinggi ke angkasa. Secepat kilat Bayangan Malaikat melompat mengejar keris yang mengeluarkan bau bangkai itu.

Pada saat yang kritis Nyi Rongkot menyambar tubuh Sekar Telasih. Cepat sekali dia menotok jalan darah gadis itu hingga pingsan lemas. Sekar Telasih yang belum berpengalaman dalam dunia persilatan, tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya kini sudah berada dalam gendongan Nyi Rongkot di pundak.

“Sekar... !” Ki Rangkuti berteriak nyaring.

Nyi Rongkot sudah lebih dulu mencelat bagai kilat. Dalam sekejap mata saja tubuhnya tidak terlihat lagi. Ki Rangkuti jatuh lemas terduduk di tanah. Kedua tangannya terkepal memukul-mukul tanah di depannya.

Bayangan Malaikat yang sudah turun membawa keris pusaka Ki Rangkuti, menghampiri Kepala Desa Jatiwangi itu. Dia langsung duduk berlutut di depannya. Tangannya terulur menyerahkan keris hitam yang memancarkan bau busuk tidak sedap. Bayangan Malaikat sendiri sudah hampir tidak tahan lagi. Dadanya seperti akan pecah menahan napas

"Aku akan mengejarnya,” dengus Ki Rangkuti menggeram sambil menyarungkan kerisnya kembali di pinggang.

"Bagaimana dengan Darmasaka?" Bayangan Malaikat mengingatkan.

"Oh!”

Ki Rangkuti langsung bangkit dan berlari menghampiri tubuh Darmasaka yang menggeletak tak bernyawa lagi. Dia memeluk mayat itu dan menangis.

Bayangan Malaikat hanya bisa menarik napas panjang, tidak tahu harus berbuat apa

“Tunggu pembalasanku, Rongkot... !" teriak Ki Rangkuti keras.

­Nyi Rongkot berlari cepat bagaikan terbang saja layaknya. Di pundak kanannya terpondong tubuh ramping dengan rambut hitam panjang terurai melambai-lambai. Dilihat dari arah yang dituju, jelas kalau dia menuju ke Hutan Gading. Hutan tempat Buto Dungkul tinggal.

Begitu tingginya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki perempuan tua yang bergelar Ular Betina itu, sehingga yang terlihat hanya bayang-bayang era saja berkelebatan di antara pepohonan. Ketika tiba di tepi Hutan Gading, mendadak terdengar suara bentakan keras disertai pengerahan tenaga dalam.

“Berhenti!”

Nyi Rongkot langsung berhenti. Matanya merah nyalang menatap seorang laki-laki yang berdiri menghadang di depan. Laki-laki yang berumur sekitar lima puluh tahun, namun masih kelihatan gagah dan tampan itu menghunus sebuah tombak bermata tiga. Pakaiannya berwarna biru dan ketat memetakan bentuk tubuhnya yang kekar atletis. .

"Singa Lodra...," desis Nyi Rongkot mengenali laki-laki yang menghadang di depannya.

“Tinggalkan Sekar Telasih di sini, Ular Betina!” dingin dan datar suara Singa Lodr­a

"Hik rupanya kau juga menginginkan gadis ini, Singa Lodra Dia sudah berada di tanganku, tidak seorang pun yang bisa menghalangi. Maksudku!” Nyi Rongkot membalas tidak kalah dinginnya.

"Kau benar-benar manusia iblis! Tega-teganya kau gunakan darah dagingmu sendiri hanya untuk memenuhi nafsu Iblismu!” dengus Singa Lodra.

“Minggirlah, Singa Lodra. Aku tidak ada urusan denganmu. Sekar Telasih anakku, aku bebas memperlakukan sekehendak hatiku sendiri tahu!"

"Sekar Telasih muridku, dan aku wajib membela nyawanya! "

"Hik hik hik..., rupanya kau sudah bosan hidup, Singa Lodra," Nyi Rongkot terkikik.

"Kau yang harus mampus, iblis!"

Setelah berkata demikian, Singa Lodra segera memutar tongkat mata tiga. Begitu cepat gerakannya, sehingga tombak itu bagaikan baling-baling berputar memperdengarkan suara angin menggemuruh Makin lama angin di sekitar tempat itu makin keras.

Daun-daun mulai berguguran dan pohon-pohon sudah ada yang tumbang. Batu-batu kerikil berlompatan diterjang badai yang terjadi akibat putaran tombak mata tiga itu. Sungguh dahsyat ilmu yang dimiliki laki-laki ini. Hutan Gading bagaikan diamuk badai yang amat hebat.

"Hik hik hik." ilmu 'Tongkat Mata Badai'mu tidak akan mampu menghalangi niatku Singa Lodra!" Nyi Rongkot malah tertawa lebar. Tidak sedikit pun bergeser dari tempatnya berdiri.

Mendadak Singa Lodra berteriak melengking tinggi. Bersamaan dengan itu, tubuhnya berkelebat cepat dengan ujung tongkat terhunus ke depan. Nyi Rongkot memiringkan tubuhnya sedikit. Dan tongkat mata tiga itu lewat di samping tubuhnya. Secepat kilat dihantamkan tongkat ular saktinya memapas tombak lawan.

­Trak!

Benturan dua senjata terjadi amat keras sehingga menimbulkan percikan api. Nyi Rongkot mendengus merasakan tangannya yang kaku saat tongkat ular saktinya beradu. Begitu juga yang dialamai Singa Lodra. Dia sampai terdorong dan tombak mata tiganya hampir lepas dari pegangan.

Cepat sekali Singa Lodra memutar tombak mata tiga. Kali ini di kibaskan ke arah kaki lawan. Namun Nyi Rongkot hanya menaikkan satu kakinya sedikit dan menjejak batang tombak itu. Tubuhnya melenting ke udara, berputar dua kali. Tongkat ular sakti dikibaskan ke arah kepala Singa Lodra.

"Uts!"

Singa Lodra merunduk sedikit, tongkat ular sakti lewat menerpa angin di alas kepalanya. Cepat dibalasnya dengan menyodok tombak mata tiga ke perut Nyi Rongkot Kali ini ujung tombaknya juga hanya mengenai angin. Nyi Rongkot dengan manis mendarat di belakang Singa Lodra. Kakinya langsung terayun deras menghajar punggung.

Buk!

Singa Lodra yang terlambat berbalik, tidak bisa lagi menghindar. Punggung Singa Lodra kena hantam tendangan keras yang disertai pengerahan tenaga dalam. Kalau bukan Singa Lodra mungkin sudah remuk tulang-tulang pungggungnya. Singa Lodra hanya terdorong dua tindak saja ke depan. Bergegas diputar tubuhnya sambil mengibaskan tombaknya.

Nyi Rongkot menyilangkan tongkat ular saktinya menangkis kibasan tombak itu. Kembali dua senjata beradu keras. Tombak mata tiga terpental ke samping. Secepat kilat Ular Betina itu menyodok tongkatnya ke arah dada Singa Lodra. Untung laki-laki itu masih bisa membuang diri dan bergulingan di tanah, sehingga sodokan maut tongkat ular sakti bisa dihindari.

Namun belum juga bisa bangkit, Nyi Rongkot sudah menyerang kembali. Singa Lodra terus bergulingan di tanah menghindari tusukan dan sabetan tongkat ular sakti yang mengincar tubuhnya. Pada satu kesempatan, Singa Lodra menangkis dengan tombak mata tiganya. Secepat kilat dia melenting bangun ketika tongkat ular sakti terangkat agak jauh dari tubuhnya. .

“Hup!”

Tangan kiri Singa Lodra berkelebat cepat. Seketika meluncur sinar -sinar biru dari tangan kirinya. Nyi Rongkot berlompatan jungkir balik seraya mengebutkan tongkatnya. Sinar -sinar biru berupa jarum beracun itu terus mencecar bagai hujan datangnya. Nyi Rongkot berjumpalitan di udara menghindari terjangan senjata rahasia Singa Lodra.

"Setan! Mampus kau, hih!" geram Nyi Rongkot.

Secepat kilat diputarnya tongkat ular saktinya, lalu dilemparkan ke tanah. Dalam sekejap saja tongkat itu berubah menjadi seekor ular berwarna merah. Kedua tangan Nyi Rongkot pun menjadi merah. Dia melepaskan tubuh Sekar Telasih dari pondongannya. Tubuh ramping itu jatuh keras bergulingan di tanah.

“Naga Merah,” desis Singa Lodra terkejut.

­Bergegas dia melompat sejauh dua batang tombak ke belakang. Matanya membelalak lebar melihat ular merah meliuk-liuk di tanah. Kepalanya terangkat ke atas menyemburkan ludah disertai asap berwarna merah. Asap yang mengandung racun sangat berbahaya dan mematikan. Bergidik juga Singa Lodra saat menyadari Ular Betina sudah mengeluarkan ilmu simpanannya yang sukar ditandingi itu. .

Singa Lodra tidak menduga kalau Nyi Rongkot bisa mengeluarkan ilmu 'Naga Merah' meskipun dalam keadaan terdesak. Dia tahu kalau Ular Betina memiliki satu ilmu simpanan yang sukar ditandingi karenanya dia tidak memberi kesempatan sedikit pun. Tapi kenyataannya lain. Nyi Rongkot masih bisa mengeluarkan ilmu andalannya meskipun dalam keadaan sulit sekali pun.

“Hik hik hik...! Aku akan mengampuni kelancanganmu, Singa Lodra. Asal kau cepat-cepat enyah dari sini!" dingin. menyeramkan suara Nyi Rongkot

"Phuih! Kau kira aku takut dengan ilmu setanmu!" dengus Singa Lodra.

“Sebut nama leluhurmu sebelum mati, Singa Lodra! "

Singa Lodra segera bersiap-siap ketika Nyi Rongkot mengangkat kedua tangannya. Dengan satu Jeritan melengking tinggi, Ular Betina itu melompat cepat. Dan ular merah di tanah pun juga melayang cepat bagai anak panah lepas dari busur.

Singa Lodra mengebutkan tombaknya ke arah ular merah, dan tangan kirinya mengibas tangan Ular Betina. Kibasan tongkat dapat dihindari ular merah. Di lain hal Nyj Rongkot membiarkan tangan kirinya beradu, tapi tangan kanannya langsung masuk ke dada.

Begitu cepatnya serangan yang dilakukan sehingga Singa Lodra tidak mampu lagi menghindar. Telak sekali dadanya kena hajar tangan kanan Nyi Rongkot yang memerah. Bersamaan dengan itu warna merah juga berhasil menggigit paha kanan Singa Lodra.

"Aaakh...,” Singa Lodra menjerit keras.

Tubuhnya terlontar deras ke belakang, dan jatuh keras di tanah. Darah segar mengucur dari paha kanan yang koyak. Ular merah membelit kaki kanannya. Buas sekali ular merah mematuk dan menggigit, mengoyak tubuh Singa Lodra.

"Hik hik hik...! Nyi Rongkot tertawa mengikik.

Singa Lodra kelojotan di tanah. Darah mengucur deras dari beberapa bagian tubuhnya yang koyak. Begitu kepala ular merah menembus dadanya, Singa Lodra menjerit melengking tinggi. Sebentar menggelepar, lalu diam tak bergerak-gerak lagi.

Nyi Rongkot mengulurkan tangannya ke depan, dan ular merah itu melayang menghampirinya. Begitu berada di tangan perempuan yang berjuluk Ular Betina itu ular merah berubah kembali menjadi tongkat berbentuk ular.

Lagi-lagi Ular Betina tertawa mengikik. Kakinya terayun menghampiri Sekar Telasih yang masih tergeletak lemas di tanah. Setelah meletakkan tubuh gadis itu di punggung, Nyj Rongkot langsung berlari menembus Hutan Gading dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang cukup sempurna..

“Hik hik hik..!"

********************

TUJUH

Nyi Rongkot atau si Ular Betina menghentikan larinya ketika mendengar suara pertarungan di tengah-tengah Hutan Gading. Sebentar dimiringkan kepalanya mencoba untuk mencari arah sumber suara pertarungan itu Kakinya kembali terayun setelah dapat memastikan arah suara itu.

Matanya mengernyit saat melihat kelebatan-kelebatan sinar keemasan. Tampak dua orang sedang bertarung menggunakan senjata masing-masing. Dari ayunan berat disertai suara gemuruh, dapat diketahui salah satu dari yang bertarung itu adalah si manusia liar Buto Dungkul.

Sedangkan yang menggenggam pedang mengeluarkan cahaya keemasan adalah Dewa Pedang Emas. Sejak semalam hingga pagi ini mereka sudah bertarung puluhan jurus. Namun belum ada yang tampak terdesak. Masing-masing melancarkan serangan yang cukup berbahaya dan mematikan. Nyi Rongkot menurunkan tubuh Sekar Telasih dari pondongannya.

“Hm... Dewa Pedang Emas. Benar-benar nama yang patut diperhitungkan oleh Buto Dungkul," gumam Nyi Rongkot.

Perkiraan Nyi Rongkot memang tepat. Dalam beberapa jurus kemudian tampak Buto Dungkul terdesak terus-menerus. Pantas saja kalau mendapat julukan Dewa Pedang Emas. Permainan jurus-jurus pedangnya sungguh lihai dan cepat Pedang dari emas itu berkelebatan berada di tangannya. Cepat sehingga yang terlihat hanya berupa sinar keemasan bergulung-gulung mengurung Buto Dungkul.

Pada satu kesempatan baik, pedang emas berkelebat cepat membabat pundak Buto Dungkul. Gerakan yang begitu cepat dan tiba-tiba tidak dapat dihindari lagi. Pundak kiri si manusia liar itu terkena sabetan pedang emas.

“Ha ha ha...!” Buto Dungkul tertawa terbahak-bahak.

Dewa Pedang Emas melompat mundur tiga tindak ke belakang. Matanya membeliak lebar hampir tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Jelas-jelas mata pedangnya membabat pundak si manusia liar itu tapi tidak sedikit pun ada luka goresan di sana. Bahkan dari ujung pedang sampai pangkal lengannya Dewa Pedang Emas merasakan getaran yang amat dahsyat

“Gila! Pedang emasku tidak mempan," dengus Dewa Pedang Emas.

Dewa Pedang Emas berteriak nyaring. Dikebutkan pedangnya kuat-kuat lalu dia melompat menerjang. Buto Dungkul masih tetap tergelak tanpa menghiraukan cahaya keemasan yang berkilat. mengarah dadanya.

“Mampus kau, setan!” geram Dewa Pedang Emas.

Trak!

Dewa Pedang Emas membabat si manusia liar Buto Dungkul dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Seketika tubuh Dewa Pedang Emas terpental ke belakang begitu pedangnya menghantam sasaran. Sedangkan si manusia liar Buto Dungkul masih terbahak-bahak berdiri tegar.

“Setan! Ilmu apa yang dipakainya?” geram Dewa Pedang Emas begitu melihat mata pedangnya gompal. Tidak sedikitpun ada luka di dada si manusia liar ini. Dia berdiri congkak bertolak pinggang. Tubuhnya yang tinggi besar berguncang-guncang karena tawanya terus tergelak. Sementara itu Nyi Rongkot yang menyaksikan hanya tersenyum-senyum. Lain halnya dengan Dewa Pedang. Dia tampak kebingungan menghadapi lawan begini tangguh, tidak mempan oleh senjata pusaka yang sangat diandalkannya.

“Terpaksa, aku harus gunakan paku-paku emas,” gumam Dewa Pedang Emas.

Dia melemparkan pedang emasnya yang gompal besar pada matanya yang tajam. Segera dia bersiap-siap mengeluarkan jurus 'Seribu Paku Emas'. Sambil berteriak nyaring, Dewa Pedang Emas bergerak cepat melontarkan paku-paku emas yang menjadi senjata rahasianya yang sangat diandalkan.

Aneh! Si manusia liar Buto Dungkul tidak sedikitpun bergeming. Paku-paku emas meluncur deras menghantam tubuh tinggi besar bagai raksasa itu. Lagi-lagi Dewa Pedang Emas terbeliak lebar. Pakupaku emas yang dilontarkan dengan menggunakan jurus Seribu Paku Emas tidak sedikit pun melukai lawannya. Paku-paku emas yang mengandung racun dahsyat, rontok begitu saja setelah menghantam tubuh Buto Dungkul.

“Habiskan semua ilmu yang kau miliki, bocah!” ejek Buto Dungkul jumawa.

“Bedebah!” geram Dewa Pedang Emas jengkel.

"Kenapa bengong? Apa kau sudah tidak punya lagi ilmu kesaktian?"

Dewa Pedang Emas tidak menyahut. Otaknya berpikir keras mencari cara untuk mengalahkan si manusia raksasa ini. Matanya melirik Nyi Rongkot, si Ular Betina yang berdiri tersenyum-senyum. Hati Dewa Pedang Emas jadi panas saat matanya tertumbuk pada sesosok tubuh ramping menggeletak dekat kaki si Ular Betina.

"Iblis! Rupanya dia sudah berhasil menculik Sekar Telasih. Hm, bagaimana nasib Rangkuti dan Bayangan Malaikat? Apakah mereka sudah tewas?" Dewa Pedang Emas bertanya-tanya sendiri dengan hati geram.

“Cukup waktumu untuk berpikir, Dewa Pedang Emas. Bersiaplah untuk ke neraka!” sentak Buto Dungkul.

Begitu selesai berkata, gada besar penuh duri dikebut-kebutkan di atas kepala. Suara angin menderu-deru memekakkan telinga. Begitu besar tenaga yang dimiliki si manusia liar itu, sehingga dalam seketika saja tempat itu seperti dilanda badai topan yang amat dahsyat.

Secepat kilat Buto Dungkul berlari sambil mengayunkan gada besar berdurinya. Dewa Pedang Emas melompat ke samping menghindari sambaran gada yang sebesar pahanya sendiri. Bumi bergetar begitu gada itu menghantam tempat Dewa Pedang berdiri tadi.

­"Graaagh...!" Buto Dungkul meraung dahsyat.

Kembali diayunkan gadanya kuat-kuat. Kembali Dewa Pedang Emas melompat namun kali ini kaki Buto Dungkul terayun cepat hampir bersamaan dengan ayunan gada. Dewa Pedang Emas yang terlalu memusatkan perhatian pada senjata lawan tidak menyangka kalau kaki Buto Dungkul melayang.

Buk!

Keras sekali kaki manusia liar yang bagai raksasa itu menghantam pinggang Dewa Pedang Emas. Tak ayal lagi tubuh Dewa Pedang Emas terjungkal menyuruk tanah. Belum sempat memperbaiki diri, gada besar berduri telah terayun deras ke arahnya.

"Aaakh...!” Dewa Pedang Emas menjerit keras. Kaki kirinya langsung remuk kena hantam gada Buto Dungkul. Darah muncrat dari kaki yang hancur.

Buto Dungkul kembali mengayunkan gadanya. Prak! KaIi ini Dewa Pedang Emas tidak bisa lagi bersuara. Kepalanya langsung hancur terkena hantaman keras gada berduri Buto Dungkul. Tubuh Dewa Pedang Emas menggeletak tak bernyawa lagi.

Buto Dungkul kembali tertawa tergelak. Tawanya langsung berhenti begitu tubuhnya berbalik. Gada besar penuh duri dipanggul di pundak. Matanya yang merah besar menatap tajam pada Nyi Rongkot.

“Kau sudah datang, Rongkot?” suara Buto Dungkul terdengar berat menggelegar.

“Aku datang membawa hadiah untukmu," Nyi Rongkot menunjuk Sekar Telasih yang masih tergeletak lemas di tanah.

“Sekar Telasih...!” mata Buto Dungkul berbinar. Buru-buru dia melangkah menghampiri.

“Tunggu!” cegah Nyi Rongkot.

Buto Dungkul menghentikan langkahnya seketika. Jarak antara dia dengan Sekar Telasih tinggal empat langkah lagi. Matanya langsung menatap Nyi Rongkot yang berdiri tepat di depannya di samping Sekar Telasih yang menggeletak di tanah. Kembali ditatapnya gadis itu. Keningnya agak berkerut.

“Dia, dia mati...?" suaranya agak parau serak.

“Tidak. Cuma pingsan,” sahut Nyi Rongkot

"Lalu kenapa kau menghalangiku?" Buto Dungkul menatap Ular Betina itu dengan pandangan tajam tidak mengerti.

"Belum saatnya kau menyentuh putriku."

“Rongkot! Kau sudah berjanji akan menyerahkan Sekar Telasih padaku. Kau sudah kuberi Kitab Naga Merah. Dan kau sudah menguasainya, kenapa masih juga menghalangiku?”

"Masih ada satu syarat lagi yang belum kau laksanakan."

"Membunuh si tua bangka Rangkuti? Ha ha ha.... Dengan sebelah mata saja aku bisa mengirimnya ke neraka'"

“Kenapa tidak kau lakukan?"

"Tidak! Aku harus taat pada janjiku sendiri. Belum waktunya aku membunuh si tua keparat itu!"

"Kalau begitu kau juga belum waktunya menyentuh putriku.”

"Kau licik, Rongkot!” dengus Buto Dungkul.

“Lebih licik lagi dirimu, Buto Dungkul. Kau sudah kuberi ilmu kekebalan tubuh masih juga menginginkan putriku.”

“Huh!” Buto Dungkul hanya mendengus.

“­Nah! Sambil menunggu waktu perjanjianmu, selama itu aku tidak mengijinkan kau mengganggu Sekar Telasih.”

"Baiklah," desah Buto Dungkul pasrah.

Nyi Rongkot tersenyum puas. Kemudian dia kembali memondong tubuh Sekar Telasih di atas pundaknya. Kakinya mulai terayun melangkah di dampingi si manusia liar Buto Dungkul. Mereka melangkah terus lebih masuk ke dalam Hutan Gading yang lebat tak pernah terjamah manusia. Hutan yang selalu dijauhi para penduduk di sekitarnya.

********************

Sementara itu Ki Rangkuti termenung di beranda depan rumahnya. Di depannya duduk Bayangan Malaikat. Sejak acara penguburan Darmasaka Ki Rangkuti terlihat lebih banyak diam termenung. Memang berat rasanya kehilangan putra tunggal yang sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang pendekar. Lebih-lebih sekarang ini dia juga kehilangan anak angkat seorang gadis cantik yang diurus sejak masih bayi.

Belum lagi dia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan Buto Dungkul yang kebal terhadap segala jenis senjata pusaka. Bayangan Malaikat yang mengetahui persis persoalan yang tengah dihadapi sahabatnya, tidak bisa meninggalkannya sendirian Ke mana Ki Rangkuti pergi, dia selalu mendampingi. Mereka memang benar-benar sahabat sejati.

"Sudah ada berita tentang Dewa Pedang Emas?” tanya Ki Rangkuti tiba-tiba seraya mengangkat kepalanya. Pandangan matanya sayu tanpa gairah hidup.

"Belum," sahut si Bayangan Malaikat. ''Tapi aku sudah mengirim beberapa orang murid pilihan Padepokan Jatiwangi untuk memeriksa sekitar Hutan Gading. "

"Berapa orang yang kau kirim?"

"Hanya sepuluh."

Ki Rangkuti mendesah panjang.

"Aku tidak mau mengambil resiko kehilangan banyak orang. Hutan itu sangat berbahaya, masih untung kalau tidak bertemu si manusia liar."

''Terima kasih.”

"Jangan berterima kasih padaku. Aku hanya melaksanakan apa yang kumampu saja,” Bayangan Malaikat merendah.

Ki Rangkuti tersenyum kecut. Namun senyumnya mendadak hilang ketika matanya melihat sepuluh orang berkuda datang. Mereka langsung turun dari kuda masing-masing setelah sampai di depan rumah Kepala Desa Jatiwangi itu.

Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat serentak berdiri lalu berjalan ke luar beranda menghampiri sepuluh orang yang datang itu. Mereka adalah murid-murid Padepokan Jatiwangi. Yang berjalan paling depan, laki-laki tinggi tegap berkumis tebal. Dia salah satu guru pengajar olah kanuragan

"Bagaimana, Sayuti?" tanya Ki Rangkuti tidak sabar.

­“Kami hanya menemukan mayatnya saja, Ki,” sahut Sayuti yang jadi pemimpin dalam pencarian Dewa Pedang Emas di samping sebagai guru pengajar olah kanuragan di Padepokan Jatiwangi.

“Maksudmu...?” Ki Rangkuti tidak bisa lagi melanjutkan pertanyaannya.

“Dewa Pedang Emas tewas di tengah Hutan Gading.”

“Jagat Dewa Batara...,” Ki Rangkuti mengeluh lirih.

Sebentar dia mendongakkan kepalanya kemudian berpaling pada Bayangan Malaikat. Tampak sepasang bola matanya berkaca-kaca. Ki Rangkuti benar-benar terpukul mendengar kematian sahabat karibnya. Sahabat sejati tewas membela kemurnian persahabatan. Dewa Pedang Emas mempertaruhkan nyawa demi kehormatan sahabatnya Ki Rangkuti.

“Bagaimana dengan Sekar Telasih?” tanya Bayangan Malaikat

“Kami tidak menemukan Nini Sekar Telasih. Hanya ini,” Sayuti menyerahkan kain warna biru muda.

Ki Rangkuti mengambil kain ikat kepala yang biasa dikenakan Sekar Telasih. Kepala Desa Jatiwangi yang bekas seorang pendekar itu tidak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya. Dia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah Air matanya tidak bisa lagi ditahan. Kain ikat kepala Sekar Telasih diciuminya beberapa kali..

Bayangan Malaikat dan sepuluh orang lainnya hanya bisa memandang dengan perasaan sedih. Belum pernah mereka melihat Ki Rangkuti begitu sedih sampai menitikkan air mata. Kejadian yang menimpa Ki Rangkuti benar-benar sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Setegar-tegarnya dia hancur juga hatinya kehilangan orang-orang yang dicintai secara beruntun.

“Kau tidak menemukan mayat Nini Sekar?” tanya Bayangan Malaikat setengah berbisik.

“Tidak Hanya itu yang saya temukan,” sahut Sayuti.

“Tidak menemukan jejak?”

Sayuti menggelengkan kepalanya.

“Hhh....,” Bayangan Malaikat menarik napas panjang.

“Di sekitar tempat itu kelihatannya bekas terjadi pertempuran. Di situ juga saya menemukan ikat kepala Nini Sekar Telasih.”

“Baiklah terima kasih,” ucap Bayangan Malaikat, “Aku percayakan padamu mengatur penjagaan untuk keamanan desa ini.”

Sayuti membungkuk sedikit lalu mengajak yang lain meninggalkan tempat itu. Mereka menuntun kuda masing-masing kembali ke padepokan. Bayangan Malaikat masih berdiri cukup lama di depan beranda rumah. Sebentar ditarik napasnya dalam-dalam kemudian kakinya terayun hendak pergi.

Baru saja dia melangkah tiga tindak telinganya mendengar suara langkah kaki di belakang. Bayangan Malaikat berhenti dan menoleh. Keningnya agak berkerut melihat Ki Rangkuti berjalan ke luar dengan pakaian lengkap seorang pendekar. Pakaian putih-putih yang ketat membentuk tubuhnya yang kekar. Sebilah pedang tergantung di pinggang.

“Kau akan ke mana?” tanya Bayangan Malaikat setelah Ki Rangkuti berada di depannya.

“Membunuh iblis-iblis itu!” sahut Ki Rangkuti dingin.

“Pikirkan dulu Rangkuti. Aku tidak menyangsikan kesaktianmu tapi mereka berdua bukanlah orang-orang yang bisa dianggap remeh. Aku tidak ingin kehilangan lagi seorang sahabat. Tinggal kau satu-satunya sahabatku di dunia ini, Rangkuti,” Bayangan Malaikat mencoba meredakan rasa dendam di hati Kepala Desa Jatiwangi itu.

“Mereka telah merampas orang-orang yang kucintai!”

“Aku mengerti aku tahu. Aku juga bisa merasakan apa yang kau rasakan sekarang. Tapi cobalah kau bertindak dengan kepala dingin. Jangan turuti hawa dendam dan amarahmu. Aku yakin Sekar Telasih tidak dibunuh. Dia pasti masih hidup.”

“Mereka harus mati. Nyawa anakku harus mereka tebus!”

“Darmasaka mati membela kebenaran. Kau harus bangga punya putra yang berjiwa pendekar. Salah besar kalau kau menyesali kematiannya. Sebaliknya kau harus bangga Rangkuti. Darmasaka mati karena membela kehormatanmu!”

Ki Rangkuti terdiam. Kata-kata Bayangan Malaikat tepat mengena pusat hatinya. Dia memang harus bangga dengan Darmasaka yang mati sebagai pendekar Tidak gentar menghadapi musuh meskipun tahu tingkatannya jauh lebih tinggi. Putranya tidak mati secara sia-sia. Dia mati karena membela kehormatan keluarga.

“Sempurnakan dulu ilmu Pukulan Karang Baja mu. Aku rasa waktu tiga purnama cukup untukmu menyempurnakan ilmu itu,” kata Bayangan Malaikat.

Ki Rangkuti menatap Bayangan Malaikat dengan mata sayu. Bibirnya bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun tidak ada kata-kata yang terucapkan. Tiba-tiba ia merangkul sahabatnya dengan ketat. Bayangan Malaikat menepuk-nepuk punggung Ki Rangkuti.

“Aku akan selalu berada di sampingmu Sobat.” bisik Bayangan Malaikat.

“Kau benar-benar sahabat sejatiku,” balas Ki Rangkuti lirih.

“Sudahlah, aku sendiri akan menyempurnakan ilmu Bayangan Maut. Kita bisa bersatu mengalahkan mereka.”

Ki Rangkuti tersenyum penuh haru. Memang dalam persahabatan ditemui banyak ujian. Kejadian seperti inilah merupakan satu ujian berat dalam persahabatan. Kalau perlu nyawa akan dikorbankan demi persahabatan yang murni dan sejati.

Mereka berpelukan hangat agak lama. Kemudian Bayangan Malaikat melepaskan pelukan perlahan-lahan. Sesaat mereka hanya saling pandang saja. Kemudian pelan-pelan melangkah menuju ke rumah besar yang kini tampak sepi senyap.

“Aku akan menyediakan kamar khusus untukmu bersemedi,” kata Ki Rangkuti.

“Terima kasih ilmu Bayangan Maut tidak bisa dilatih di dalam kamar. Aku akan berlatih di pinggiran desa setiap malam hari,” sahut Bayangan Malaikat.

“Maaf, aku lupa.”

Bayangan Malaikat hanya tersenyum tipis.

“Kau yakin Sekar Telasih tidak apa-apa?” tanya Ki Rangkuti masih memikirkan keselamatan anak angkatnya itu.

“Aku yakin. Meskipun Ular Betina berada di jalan yang sesat tidak mungkin mencelakakan anaknya sendiri.”

“Yah, itu kalau tidak bersama Buto Dungkul,” desah Ki Rangkuti. berat.

“Jangan terlalu dipikirkan biarpun dia liar, masih bisa taat pada janji. Kau ingat perjanjian Mahesa Jalang kan?”

“Ya.”

“Nah! itu satu bukti kalau Buto Dungkul selalu mentaati perjanjiannya.”

Agak sedikit tenang hati Ki Rangkuti. Namun belum seluruhnya begitu. Bagaimanapun juga dia masih memikirkan keselamatan nyawa Sekar Telasih. Gadis itu belum tahu seluk-beluk orang-orang rimba persilatan. Meskipun sudah mendapat gemblengan dalam berbagai ilmu olah kanuragan, tapi tingkatannya jelas masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Buto Dungkul dan si Ular Betina.

********************

DELAPAN

Tiga purnama hampir menjelang. Sementara itu di Lembah Bangkai Pendekar Rajawali Sakti tengah menguji ilmu yang baru dipelajari dari kitab yang diberikan burung rajawali raksasa Dia puas melihat hasil dari ilmu pedang Pemecah Sukma . Dengan pedang rajawali sakti dia dapat menghancurkan batu karang sebesar gunung sekalipun hanya dengan menggoreskan ujungnya saja.

Kehebatan pedang itu adalah mampu membabat benda tanpa memperlihatkan bekas sabetan. Tapi di dalam benda itu hancur. Rangga sudah mencobanya pada sebatang pohon besar. Dari luar pohon itu nampak habis ditebas tapi tidak berapa lama kemudian daun-daunnya berguguran semua, dan seluruh batangnya menjadi kering seperti habis terbakar saja.

Kini Pendekar Rajawali Sakti itu tengah memusatkan seluruh konsentrasinya pada ilmu Cakra Buana Sukma . Kedua bola matanya lurus menatap pohon ara yang besar dan tinggi. Perlu tiga orang dewasa untuk bisa melingkari batang pohon itu dengan tangan saling bertaut. Tangan kanannya menggenggam pedang sampai ke ujung. Kemudian kembali lagi dan berhenti tepat di tengah-tengah.

“Cakra Buana Sukma ...!” teriak Rangga keras.

Seketika itu juga dari seluruh batang pedang yang memancarkan sinar biru berkilau sinar itu berkumpul jadi satu. Secepat kilat sinar itu menggumpal menerjang lurus ke depan. Seleret sinar biru memanjang membentur pohon ara yang tinggi besar itu. Seluruh pohon itu diliputi sinar biru dari pangkal akar sampai ke puncaknya.

“Yeaaa,” Rangga berteriak nyaring melengking.

Suara ledakan dahsyat terdengar, bersamaan dengan hancurnya pohon itu. Dan sinar biru yang menggumpal berleret panjang pun lenyap. Kini Pedang Rajawali Sakti kembali seperti biasa memancarkan cahaya biru berkilau.

“Kraaargh!” burung rajawali raksasa mengibas-ngibaskan sayapnya sambil melonjak-lonjak.

Rangga menoleh sambil tersenyum. Kepala burung itu terangguk-angguk dengan bola mata bulat berbinar-binar. Rangga memasukkan pedang pusaka ke dalam sarungnya. Dia melangkah dengan bibir tersungging senyuman menghampiri burung raksasa itu. Tangannya terkembang dan kepala rajawali itu menyorong ke depan. Pendekar Rajawali Sakti memeluk kepala burung rajawali itu dengan penuh kasih sayang.

“Bagaimana penilaianmu?” tanya Rangga setelah melepaskan pelukannya.

Burung rajawali raksasa itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Rangga tersenyum puas karena burung. sakti itu telah menyatakan kepuasannya melihat dua ilmu dahsyat telah dapat dikuasai Rangga dalam waktu kurang dari tiga purnama.

“Sebaiknya aku segera keluar dan lembah ini,” kata Rangga.

“Argh!” Rajawali itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dia merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya. Rangga dengan sigap melompat ringan dan hinggap di punggung rajawali raksasa itu. Sekejap saja burung itu mengepakkan sayapnya. Melesat terbang tinggi ke angkasa sambil berkaokan. Rangga memandang ke bawah yang terlihat hanya permukaan bumi yang hijau dan berbukit-bukit.

“Agak rendah sedikit Rajawali,” teriak Rangga.

“Argh!”

Rajawali raksasa itu merendahkan terbangnya. Kini Rangga dapat melihat ke bawah lebih jelas lagi. Sinar matahari sore seperti berada tepat di punggungnya. Hangat dan indah dipandang mata. Rangga mengernyitkan alisnya saat melihat Desa Jatiwangi berada tepat di bawahnya. Tampak desa itu kelihatannya sepi seperti tidak berpenduduk saja.

“Turun di tepi hutan itu Rajawali!" teriak Rangga sambit menunjuk Hutan Gading.

“Argh!”

Rajawali raksasa menukik menuju ke Hutan Gading yang ditunjuk Rangga. Ringan sekali tubuh Pendekar Rajawali Raksasa itu melompat turun dari punggung burung raksasa setelah mendarat di tepian Hutan Gading yang sepi. Rangga sebentar mengamati sekitarnya.

''Terima kasih. Kau boleh kembali,” kata Rangga.

“Argh!”

Rangga menepuk-nepuk kepala Rajawali yang merunduk ke depan. Kemudian burung raksasa itu kembali melesat ke angkasa memperdengarkan suaranya yang serak melengking tinggi. Rangga mengamati kepergian burung raksasa itu sampai hilang di balik awan. Kembali dia mengamati ke sekelilingnya. Matanya langsung menatap ke arah Desa Jatiwangi yang kelihatan jelas dari tempat tinggi seperti ini.

“Aku harus ke desa itu. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di sana,” gumam Rangga.

Namun baru saja hendak melangkah mendadak telinganya yang tajam mendengar langkah kaki orang. Langkah kaki yang masih terdengar jauh. Rangga celingukan sebentar kemudian tubuhnya melesat ringan. Dalam sekejap saja sudah nangkring di atas pohon. Matanya langsung menatap lurus ke arah suara langkah kaki yang semakin dekat terdengar.

Tampak seorang berjalan ke arahnya. Pakaiannya serba putih. Dan tidak ada satu senjata pun tampak di tubuhnya. Dia berjalan pelan satu-satu namun jelas kalau orang itu menggunakan ilmu meringankan tubuh. Meskipun begitu telinga Rangga yang sudah terlatih baik masih juga dapat mendengar suara langkahnya yang ringan hampir tidak menapak tanah.

“Bayangan Malaikat...,” gumam Rangga begitu mengenali orang yang berjalan ke arahnya.

Memang benar orang itu adalah Bayangan Malaikat. Dia berjalan sendirian menuju ke tepi Hutan Gading. Rangga memperhatikan terus setiap gerak langkah Bayangan Malaikat dari atas pohon.

“Mau apa dia ke Hutan Gading?” pikir Rangga dalam hati.

­Bayangan Malaikat berjalan melewati pohon yang di atasnya bertengger Pendekar Rajawali Sakti. Tanpa sadar kalau dirinya diamati sejak tadi. Bayangan Malaikat terus berlalu menembus Hutan Gading.

Rangga yang tadi penasaran ingin tahu maksud Bayangan Malaikat ke hutan yang sangat ditakuti sel penduduk desa di sekitarnya. Dia melompat ringan dari satu pohon ke pohon lainnya. Tidak sedikitpun suara yang ditimbulkan. Gerakan Pendekar Rajawali Sakti sungguh ringan bagal kapas.

Pendekar Rajawali Sakti mengerutkan keningnya. Bayangan Malaikat berlompatan menyelinap dan balik pohon satu ke pohon lainnya. Sepertinya dia takut terlihat oleh siapa pun. Tentu saja kelakuan Bayangan Malaikat ini semakin menarik perhatian Rangga. Terus saja dibuntutinya dari atas pohon. Matanya tajam bagai mata rajawali mengamati setiap gerakan Bayangan Malaikat

“Berhenti...?” Rangga jadi bertanya tanya saat melihat Bayangan Malaikat berhenti di tengah hutan. Mata Pendekar Rajawali Sakti memandang ke sekelilingnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar tempat ini. Bayangan Malaikat juga berdiri di balik sebuah batu besar memandang ke depan. Matanya lurus menatap sebuah gundukan tanah di bawah pohon rindang.

“Kuburan siapa itu?” tanya Rangga dalam hati.

Belum juga Rangga bisa menjawab matanya langsung melihat pada Bayangan Malaikat. Orang berpakaian serba putih itu melangkah menghampiri gundukan tanah yang dikelilingi batu-batuan yang bertata rapi. Sebentar dia berdiri mematung di samping kuburan lalu berlutut.

“Dewa Pedang Emas sudah tiba saatnya untuk membalas sakit hatimu. Malam nanti di tempat ini Ki Rangkuti akan menyabung nyawa membela kehormatan keluarganya. Aku juga tidak akan tinggal diam untuk membalaskan dendam hatimu,” bisik Bayangan Malaikat pelan.

“Dewa Pedang Emas... ?!” Rangga terkejut. “Siapa yang membunuhnya?” Pendekar Rajawali Sakti segera melayang turun dan hinggap di belakang Bayangan Malaikat. Tentu saja kedatangan Pendekar Rajawali Sakti yang tiba-tiba itu membuat Bayangan Malaikat kaget bukan main. Dia sampai terlompat sejauh dua batang tombak Bayangan Malaikat menarik napas panjang begitu mengetahui siapa yang datang.

“Maaf, aku mengejutkanmu Paman,” ucap Rangga

“Ah, tidak,” sahut Bayangan Malaikat seraya melangkah mendekat

“Apakah ini makam Dewa Pedang Emas?” tanya Rangga menatap kuburan di depannya.

“Benar,” sahut Bayangan Malaikat.

“Bagaimana kejadiannya? Kenapa sampai dikuburkan di Hutan Gading ini?”

“Dia bertarung dengan manusia liar Buto Dungkul tiga purnama yang lalu,” Bayangan Malaikat menceritakan.

Rangga Mendengarkan cerita Bayangan Malaikat dengan penuh perhatian. Tidak sedikitpun memotong cerita itu sampai selesai. Diceritakan pula kalau tengah malam nanti akan terjadi pertarungan antara Ki Rangkuti melawan Buto Dungkul.

Pendekar Rajawali Sakti kini semakin mengerti duduk persoalannya. Bukan saja Buto Dungkul yang akan dihadapi Ki Rangkuti nanti tapi juga Ular Betina yang telah berhasil membawa lari Sekar Telasih.

Rangga memang belum pernah bertemu dengan Buto Dungkul tapi mendengar cerita Bayangan Malaikat dia sudah bisa memperkirakan seperti apa orang yang bernama Buto Dungkul itu.

“Hm.. jadi Paman ke sini mendahului Ki Rangkuti?” gumam Rangga seolah bertanya dalam ha­ti

“Benar. Aku hanya ingin mencegah terjadinya kecurangan. Mereka orang-orang yang licik dan curang. Aku yakin, Dewa Pedang Emas bisa tewas karena kecurangan. Rasanya kalau baru menghadapi Buto Dungkul saja Dewa Pedang Emas tidak sampai tewas. Pasti ada campur tangan Ular Betina,” suara Bayangan Malaikat terdengar penuh rasa benci dan dendam.

“Di mana pertarungan itu dilaksanakan?” tanya Rangga.

“Di sini!”

********************

Pada saat yang sama di tempat tinggal Buto Dungkul Nyi Rongkot menikmati angin sejuk di depan goa Sementara di dalam goa yang sangat tersembunyi, Sekar Telasih duduk beralaskan daun-daun kering. Agak jauh di depannya, manusia liar Buto Dungkul asyik menikmati daging menjangan bakar.

Keadaan Sekar Telasih tidak kekurangan satu apa-apa. Hanya raut wajahnya saja yang tidak mencerminkan kegembiraan. matanya sayu tanpa sinar gairah kehidupan. Hatinya terpukul sekali manakala mengetahui dirinya bukan anak Ki Rangkuti tapi anak perempuan iblis yang berjuluk Ular Betina. Dan sekarang nasibnya ditentukan dengan pertarungan antara ayah angkatnya dengan Buto Dungkul.

Sekar Telasih bergidik begitu matanya melirik Buto Dungkul yang lebih mirip raksasa daripada manusia. Haruskah dia mendampingi hidup laki-laki menyeramkan ini? Hidup terpencil di dalam hutan rimba yang ganas? Sungguh tidak terpikirkan sama sekali dalam hidupnya. Sekar Telasih membenci Nyi Rongkot yang membawa dirinya untuk diserahkan pada manusia yang menyeramkan ini. Kalau saja dia mampu, ingin rasanya membunuh kedua orang itu. Bahkan kalau mungkin melarikan diri.

“Lari...!” sentak Sekar Telasih dalam hati. “Lari.... Aku harus bisa lari dari tempat ini. Tapi bagaimana caranya?”

Sekar Telasih memutar otak, mencari cara untuk bisa meloloskan diri dari tempat kotor ini. Bibirnya yang selalu merah merekah menyunggingkan senyum begitu matanya melirik Buto Dungkul. Satu rencana mendadak mengalir begitu saja dalam benaknya.

“Raksasa ini memang kuat dan sakti tapi aku yakin dia bodoh. Tindakannya hanya mengandalkan kekuatan tanpa mampu berpikir,” gumam Sekar Telasih dalam hati.

­Sekar Telasih bangkit berdiri. Mata Buto Dungkul menatapnya tidak berkedip. Dalam pandangannya gadis itu bagaikan bidadari baru turun dan kahyangan. Dada Buto Dungkul berdebar-debar ketika Sekar Telasih tersenyum manis padanya lebih-lebih saat gadis itu melangkah menghampiri.

“Kakang...,” lembut sekali suara Sekar Telasih.

“Kau... kau memanggilku cah ayu?” Buto Dungkul seperti tidak percaya dengan pendengarannya.

“Iya memangnya aku bicara dengan siapa?” makin manis senyum Sekar Telasih

“He he he...,” Buto Dungkul gembira karena Sekar Telasih bersedia bicara dengannya. Lama sekali ditunggu-tunggu saat seperti ini.

“Sudah berapa lama aku di sini ya?” Sekar Telasih seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Hampir tiga purnama Dan besok kau sudah jadi milikku sepenuhnya,” sahut Buto Dungkul gembira.

“Rasanya lama ya menunggu sampai besok...”gumam Sekar Telasih.

“Mak.. maksudmu?" Buto Dungkul jadi tergagap. Dia menelan ludahnya menahan napsu birahi. .

“Yaaah... kenapa harus menunggu sampai besok? Kenapa tidak sekarang saja?"

“Apa... ?”

“Aku bersedia jadi istrimu, Kakang.”

“Kau... kau mau ja...,” saking nafsunya Buto Dungkul jadi susah bicara. ...

“Iya sekarang juga aku bersedia jadi istrimu.”

Begitu gembiranya Buto Dungkul sampai dia lompat dan menubruk Sekar Telasih. Gadis itu menjerit kecil. Dia tidak mampu lagi melepaskan pelukan manusia liar itu. Sekar Telasih meronta coba melepaskan diri.

“Tunggu Kakang. Jangan kasar begini, ah!” rajuk Sekar Telasih manja.

“He he he... aku senang kau mau jadi istriku. Aku gembira!”

“Iya tapi jangan begini dong sakit!”

Buto Dungkul melepaskan pelukannya. Matanya liar menatap wajah Sekar Telasih yang cantik memerah saga. Rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu sampai besok. Sambil menahan rasa jijik dan takut.

Sekar Telasih berusaha sekuat tenaga untuk tetap tersenyum dan berlaku manis. Dia tidak ingin rencana yang memenuhi benaknya jadi berantakan.

“Kau ingin merasakan tubuhku, kan?” pancing Sekar Telasih.

“He he he...,” Buto Dungkul terkekeh.

“Jangan!” Sekar Telasih mencegah tangan Buto Dungkul yang mau menjambret bajunya.

“Kau tadi menawarkan kenapa sekarang menolak?, Buto Dungkul tidak sabaran

“Maksudku jangan di sini.”

“Kenapa?”

“Ada ibu,” Sekar Telasih menekan suaranya.

Hatinya perih menyebut ibu pada Nyi Rongkot. Sungguh mati dia tidak ingin mengakui sedikitpun perempuan yang melahirkan dirinya.

“He he he. kau malu?”

Sekar Telasih mengangguk.

“Lalu di mana?”

­“Cari tempat yang aman dan tenang. Aku suka tempat di pinggir sungai. Kau tahu tempatnya?”

Si manusia liar Buta Dungkul terkekeh kesenangan. Kembali dia memeluk tubuh ramping gadis itu dan memutar-mutarnya sambil tertawa gembira. Sekar Telasih memekik-mekik minta diturunkan. Dia ngeri berada dalam pelukan manusia raksasa ini.

“Ayo kita ke tempat yang kau inginkan!” ajak Buto Dungkul setelah menurunkan tubuh gadis itu.

Sekar Telasih tersenyum. Dibiarkannya saja tangannya digenggam manusia raksasa itu. Mereka kemudian melangkah ke luar goa. Nyi Rongkot mengerutkan keningnya melihat Sekar Telasih kelihatan berseri-seri berjalan bergandengan tangan dengan Buto DungkuI. Mereka seperti tidak melihat dirinya yang berdiri menatap penuh keheranan.

“Buto Dungkul akan ke mana kau?” teriak Nyi Rongkot

“He he he... bersenang-senang!” sahut Buto Dungkul terus saja melangkah.

Sekar Telasih tidak sedikitpun menoleh. Dia terus melangkah di samping manusia raksasa ini. Langkah kakinya agak cepat dan sedikit berlari mengimbangi langkah kaki Buto Dungkul yang lebar-lebar. Mereka terus berjalan menembus kelebatan Hutan Gading.

Dalam benak Sekar Telasih terus berputar mengatur rencana untuk bisa membodohi si manusia liar ini. Sampai pada jalan yang sulit dan agak menanjak, Sekar Telasih membiarkan dirinya dipondong. Sama sekali dia tidak memandang wajah seram yang memondongnya. Gadis itu minta diturunkan ketika sampai pada sebuah sungai yang jernih dengan airnya yang tenang mengalir. Tidak jauh dari tempat itu terlihat sebuah air terjun kecil mengalunkan lagu indah memercik.

“Aku mau mandi dulu, biar segar,” kata Sekar Telasih sambil melangkah mendekati tepian sungai.

Buto Dungkul mengikutinya dari belakang. Bibirnya menyeringai dengan bola mata liar melalap tubuh ramping gadis itu. Sejak keluar dari goa tadi dia sudah tidak lagi bisa menahan diri. Tapi dia tidak ingin gadis cantik itu jadi takut dan membencinya lagi. Dia harus bisa menahan diri sampai Sekar Telasih benar-benar rela menyerahkan diri dan tubuhnya.

“Kau mau mandi Kakang?” Sekar Telasih menawarkan.

“He he he...” Buto Dungkul terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Huh! Pantas badanmu bau mungkin telah bertahun-tahun tidak pernah kena air,” dengus Sekar Telasih dalam hati.

Sekar Telasih berdiri di atas batu yang menjorok ke sungai. Sebentar dipandanginya arus sungai yang tenang dan tidak terlalu keras. Kemudian dia menoleh pada Buto Dungkul yang berdiri agak jauh.

“Selamat tinggal, orang jelek!” dengus Sekar Telasih pelan.

Seketika tubuhnya melayang dan terjun ke dalam sungai. Tubuh gadis itu terus masuk ke dalam air. Buto Dungkul berlari mengejar. Dia berlutut di atas batu tempat Sekar Telasih tadi berdiri. Kepalanya menjulur melihat sungai yang menelan tubuh ramping gadis cantik itu.

Tidak kelihatan sama sekali di mana Sekar Telasih berada. Buto Dungkul jadi kebingungan matanya liar mencari-cari Sekar Telasih. Hatinya mulai diliputi kecemasan karena sama sekali Sekar Telasih tidak muncul-muncul.

“Jangan-jangan dia.... Ah! Tidak, tidak mungkin dia bunuh diri!” Buto Dungkul bergumam sendirian.

Dia berdiri bertolak pinggang memandangi sekitar sungai di depannya. Dari ujung sampai ke ujung lainnya tidak terlihat adanya Sekar Telasih. Kecemasan dalam diri Buto Dungkul semakin menjadi-jadi. Dia berlarian menyusuri tepian sungai. Namun tidak juga menemukan gadis itu.

“Celaka! Nyi Rongkot harus tahu Bodoh! Kenapa aku membiarkannya mandi di sini? Kenapa tidak di dalam goa saja? Aku bisa mengambilkan air sebanyak yang diperlukan. Bodoh!” Buto Dungkul memaki-maki dirinya sendiri.

Bergegas dia berlari kencang menerjang lebatnya hutan kembali menuju goa tempat tinggalnya selama ini. Suaranya menggelegar bagai guntur memanggil-manggil Nyi Rongkot Belum juga mencapai goa, tiba-tiba Nyi Rongkot sudah muncul di depannya.

“Ada apa? Kelihatannya kau kebingungan,” tanya Nyi Rongkot

“Anakmu...,” sahut Buto Dungkul.

“Ada apa dengan Sekar?”

“Dia hilang di sungai.”

Nyi Rongkot langsung melompat cepat begitu mendengar Sekar Telasih hilang di sungai Buto Dungkul langsung berlari mengikuti. Dalam waktu yang singkat saja mereka sudah mencapai tepian sungai. Dua pasang mata beredar mencari kalau-kalau melihat tubuh Sekar Telasih.

“Bagaimana mungkin bisa terjadi?” tanya Nyi Rongkot.

Buto Dungkul menceritakan semuanya mulai dari dalam goa sampai ke tepian sungai ini. Sedikit pun dia tidak merasakan dirinya bersalah namun dalam nada suaranya terdengar nada kecemasan Buto Dungkul cemas kalau-kalau Sekar T elasih tewas terbawa arus sungai. Dia tidak mau gadis itu mati sebelum sempat dijamah dan dinikmatinya.

“Bodoh!” geram Nyi Rongkot begitu Buto Dungkul selesai bercerita.

“Lho...!” tentu saja Buto Dungkul terkejut melihat Nyi Rongkot kelihatan begitu marah sekali.

“Dasar otak udang! Dia menipumu goblok!” dengus Nyi Rongkol

“Apa... ?!”

“Dia pura-pura baik padamu supaya bisa keluar dari goa. Rupanya dia tahu kalau kau tidak bisa berenang. Makanya mengajakmu ke sini. Huh! Aku tidak mau tahu lagi, kau harus mencarinya sendiri kalau masih menginginkan Sekar Telasih!” sungut Nyi Rongkol.

“Setaaan...!” Buto Dungkul meraung keras dan menggelegar.

Dia benar-benar marah sekarang karena telah ditipu mentah-mentah oleh seorang gadis cantik. Buto Dungkul mengamuk membabi-buta menghajar batu-batu dan pohon-pohon di sekitar sungai dengan gadanya.

“Sekar Telasih tidak ketemu kalau ngamuk begitu!” kata Nyi Rongkot.

“Akan kubunuh dia Rongkot! Kubunuh dia...!”

********************

Malam semakin larut. Sekitar Hutan Gading telah terselimuti kabut tebal. Angin bertiup agak keras menyebarkan hawa dingin menusuk tulang. Sebelum tengah malam tadi Ki Rangkuti telah berdiri tegak menanti datangnya Buto Dungkul. Sementara, agak jauh dari tempat itu tampak Bayangan Malaikat dan Pendekar Rajawali Sakti bersembunyi di balik batu besar. Mata mereka tetap tertuju pada Ki Rangkuti yang tidak menyadari kalau tengah diawasi oleh sahabatnya.

Tepat ketika bulan berada di atas kepala Buto Dungkul datang bersama Nyi rongkot. Mereka berdiri sejauh kira-kira dua batang tombak di depan Ki Rangkuti. Laki-laki tua berpakaian serba putih itu mengerutkan keningnya karena dua orang itu tidak membawa Sekar Telasih

“Mana anakku?” tanya Ki Rangkuti.

“Anak setan itu telah kabur!” dengus Nyi rongkot.

“Rongkot!” bentak Ki Rangkuti geram “Kalau terjadi apa-apa terhadap Sekar Telasih aku bersumpah akan membunuhmu!”

“Hik hik hik... Kau akan mati sebelum membunuhku, Rangkuti."

"Setan alas! Iblis!" gerarn Ki Rangkuti.

Seketika itu juga Ki Rangkuti melompat bagai kilat seraya mencabut pedang yang tergantung di pinggang. Seleret cahaya keperakan melesat cepat membentuk lingkaran panjang menusuk ke arah Nyi Rongkot.

Serangan mendadak itu dengan cepat dielakkan Ular Betina. Dia hanya memiringkan sedikit tubuhnya sehingga tusukan pedang Ki Rangkuti hanya menemui tempat kosong.

Bersamaan dengan itu Buto Dungkul mengayunkan gadanya bagai geledek. Ki Rangkuti membuang dirinya dan bergulingan di tanah. Bergegas dia bangkit berdiri. Gada besar penuh duri menghantam tanah sampai bergetar seperti terjadi gempa.

“Kau berurusan denganku, Rangkuti!” bentak Buto Dungkul menggelegar suaranya.

Bersamaan dengan menghilangnya suara bentakan itu, Buto Dungkul kembali mengayunkan gadanya dengan kekuatan penuh. Ki Rangkuti melompat ke samping sambil mengibaskan pedangnya menghantam pergelangan tangan Buto Dungkul yang menggenggam gada. Gerakan Buto Dungkul yang lambat tidak mungkin menghindari sabetan pedang itu. Deras sekali sabetan pedang Ki Rangkuti itu namun pedang itu malah terpental lagi seperti membabat karet kenyal.

Ki Rangkuti melompat mundur. Tangannya seketika terasa kaki kesemutan. Benar-benar kebal manusia liar ini.

"Ha ha ha... keluarkan semua senjatamu Rangkuti!" Buto Dungkul tertawa jumawa.

Ki Rangkuti segera mengeluarkan ilmu Pukulan Karang Baja setelah membuang pedangnya yang gompal. Ki Rangkuti berteriak nyaring dan segera mengirimkan serangan dengan ilmunya itu. Tetapi Buto Dungkul malah tetap berdiri tegak membiarkan tubuhnya jadi sasaran. Dia begitu yakin dengan ilmu kebal yang dimilikinya.

"Modar!” bentak Ki Rangkuti menggelegar.

Satu ledakan keras terjadi begitu kedua tangan Ki Rangkuti membentur dada Buto Dungkul. Tubuh Ki Rangkuti terpelanting sejauh dua batang tombak. Sedangkan Buto Dungkul masih berdiri tegak tertawa terbahak-bahak Laki-laki tua yang masih kelihatan gagah itu segera bangkit berdiri. Matanya membeliak lebar menyaksikan lawan tidak mempan dengan ilmu Pukulan Karang Baja yang sudah disempurnakan selama tiga bulan ini.

“Ambil pedangmu," tiba-tiba telinga Ki Rangkuti mendengar suara bisikan halus namun jelas.

Ki Rangkuti menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada yang terlihat, kecuali Nyi Rongkot yang berdiri agak jauh. Rasanya kalau Ular Betina yang membisikinya, tidak mungkin Masih dalam kebingungan datang lagi suara bisikan halus.

"Jangan buang waktu. Ambil pedangmu gunakan ilmu peringan tubuh. Arahkan sasaran pada mata dan ubun-ubun.”

"Siapa pun orangnya, pasti bermaksud baik,” bisik Ki Rangkuti.

Segera dia melompat dan menyambar pedangnya yang menggeletak di tanah. Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh, segera dilakukan serangan disertai jurus-jurus pedang yang cepat ke arah mata dan ubun-ubun Buto Dungkul.

Tampaknya serangan Ki Rangkuti ini membuat Buto Dungkul menjadi kelabakan. Setengah mati dia berusaha melindungi daerah mata dan ubun-ubunnya dari serbuan yang cepat bagai kilat. Memang sulit juga bagi Ki Rangkuti untuk dapat menancapkan pedangnya ke mata dan ubun-ubun lawan. Gada besar penuh duri selalu menghalau setiap kali ujung pedang Ki Rangkuti menuju sasaran.

Sementara itu Nyi Rongkot rupanya juga mendengar bisikan halus yang diterima Ki Rangkuti. Dia segera mengerahkan ilmu pemecah suara dan pembeda gerak. Dalam sekejap saja dia telah bisa mengetahui ada orang lain di sekitar tempat ini. Mendadak tubuhnya mencelat ke arah batu besar tempat Bayangan Malaikat dan Pendekar Rajawali Sakti bersembunyi.

Bersamaan dengan itu, Pendekar Rajawali Sakti juga melompat ke arah Nyi Rongkot. Satu benturan keras terjadi di udara. Dua tokoh sakti itu terlontar dan jatuh ke tanah bergulingan. Mereka segera bangkit berdiri berhadapan. Melihat Pendekar Rajawali Sakti telah berhadapan dengan lawannya, Bayangan Malaikat pun melompat keluar.

“Bantu Ki Rangkuti Paman," kata Rangga agak keras. "Pusatkan perhatian pada mata dan ubun-ubun Buto Dungkul!

“Setan! Rupanya kau yang membisiki Rangkuti!” geram Nyt Rongkot.

­“Dan kau lawanku iblis betina!” dengus Rangga.

"Phuih!"

Nyi Rongkot langsung memutar tongkat ular saktinya. Sinar merah segera bergulung-gulung, lalu dengan cepat dihantamkan ujung tongkatnya ke tanah. Seketika itu juga tongkat berubah menjadi ular berwarna merah menyala.

"Naga Merah...!" Nyi Rongkot berteriak keras.

Bersamaan dengan itu tangannya menuding ular yang meliuk-liuk di tanah. Dari ujung jarinya meluncur sinar merah yang langsung membungkus ular itu. Dalam sekejap saja ular itu berubah menjadi seekor naga merah. Rupanya Nyi Rongkot langsung mengeluarkan ilmu andalannya setelah tahu siapa yang dihadapinya kini. Dia tidak lagi memandang enteng Pendekar Rajawali Sakti.

Rangga segera mencabut pedang saktinya. Sinar biru berkilau langsung memancar menerangi sekitarnya. Secepatnya dikerahkan ilmu pedang Pemecah Sukma. Sinar biru pedang itu segera bergulung-gulung menjadi satu. Sementara itu jelmaan ular naga yang sebesar pohon kelapa telah menyerang bagai kilat.

Rangga menghunus pedangnya sehingga sinar biru berkelebat cepat menghajar ular naga itu. Tampak ular naga merah seperti diselimuti sinar biru yang berkilau di seluruh tubuhnya. Naga itu menggeliat-geliat seraya menyemburkan api dari mulutnya.

“Yeaaah...!" Nyi Rongkot berteriak melengking dengan tubuh melenting sambil mengirimkan pukulan Naga Merah ke arah Pendekar Rajawali Sakti.

"Hup!"

­Rangga mengangkat tangan kirinya yang tergulung sinar biru. Begitu disentakkan tangannya, sinar biru langsung meluncur cepat ke arah Ular Betina yang berada di udara. Dari kedua telapak tangannya yang memerah juga meluncur sinar merah. Dua sinar bertemu di udara dan saling mendorong. Pelan-pelan tubuh Nyi Rongkot turun dan menjejak tanah kembali. Jarak mereka tinggal satu tombak lagi.

“Cakra Buana Sukma...!” teriak Rangga yang merasa kewalahan juga menghadapi dua makhluk maut ini.

Seketika itu juga Rangga menempelkan telapak tangan kirinya ke batang pedangnya lalu digosok-gosokkan dan berhenti di tengah-tengah pedang. Sinar biru kini semakin banyak menggumpal menyelimuti tubuh ular naga merah. Sedangkan dari telapak tangan kiri yang menempel pada tengah-tengah pedang, keluar sinar biru yang makin menggumpal ke arah sinar merah milik Ular Betina.

********************

Agak lama juga kedua tokoh sakti itu mengadu kekuatan. Namun sedikit demi sedikit sinar merah mulai terdesak. Seluruh tubuh dan wajah Ular Betina telah basah oleh keringat. Tangan dan kakinya mulai bergetar menahan ilmu Cakra Buana Sukma.

Pelan-pelan Rangga mulai merenggangkan telapak kiri dengan pedangnya. Kemudian ujung pedang yang terus mengeluarkan sinar biru mengarah pada naga merah yang menggeliat-geliat dan terus menyemburkan api dari mulutnya.

“Yeah!” tiba-tiba Rangga berteriak nyaring.

Seketika dikebutkan pedangnya ke atas. Ular naga merah sebesar pohon kelapa itu terangkat, melayang deras mengikuti tarikan pedang Pendekar Rajawali Sakti. Secepat kilat Rangga mengerahkan ilmu pedang Pemecah Sukma. Pedang pusaka itu dikebutkan dan...

Cras!

“Aaaargh... !”

Ular naga merah meraung menggelegar. Dengan keras tubuhnya terbanting ke tanah. Sebentar menggelepar-gelepar lalu diam tidak bergerak lagi. Perlahan-lahan naga merah itu berubah wujud kembali keasalnya. Kini yang menggeletak di tanah hanya sebatang tongkat berbentuk ular.

Rangga langsung menempelkan kembali pedangnya ke telapak tangan kiri. Kakinya mulai terayun melangkah mendekati Nyi Rongkot. Si Ular Betina yang mulai kejang-kejang kini tersentuh sinar biru pada telapak tangannya. Perlahan-lahan sinar biru menyelimuti seluruh tangan. Kaki Pendekar Rajawali Sakti terus melangkah semakin dekat.

“Aaakh...!” Nyi Rongkot menjerit keras ketika seluruh tubuhnya terselimuti sinar biru.

Tepat ketika tinggal selangkah lagi dengan cepat Pendekar Rajawali Sakti mengelebatkan pedangnya. Tanpa ampun lagi pedang pusaka Rajawali Sakti itu menghantam dada Ular Betina. Rangga langsung melompat ke belakang. Dia mencabut kembali ilmu Cakra Buana Sukma yang dipadukan dengan ilmu Pedang Pemecah Sukma. Begitu pedang Rajawali Sakti masuk dalam sarungnya sinar biru langsung hilang dari pandangan.

Tubuh Ular Betina menggeletak di tanah dekat tongkatnya yang telah menjadi tepung. Rangga berdiri memperhatikan tubuh Nyi Rongkot yang mulai lumer. Perlahan tapi pasti tubuh perempauan tua itu menjadi onggokan abu hitam. Pendekar Rajawali Sakti menarik napas panjang. Matanya langsung beralih pada Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat yang tengah berhadapan dengan si manusia liar Buto Dungkul. Tampaknya pertarungan masih berjalan seimbang.

Secepat kilat dia melompat sambil merentangkan kedua tangannya. Pendekar Rajawali Sakti kini mengerahkan jurus Sayap Rajawali Membelah Mega. Sedangkan Ki Rangkuti dan Bayangan Malaikat langsung melompat mundur. Rangga segera menyerang dengan jurus andalannya dengan cepat ke arah Buto Dungkul.

“Grrr...!” Buto Dungkul menggeram berat.

Gadanya yang penuh duri tajam berkelebatan mengincar tubuh Pendekar Rajawali Sakti. Namun gerakan pendekar muda ini sangat lincah. Tidak sedikitpun gada itu dapat menyentuh tubuhnya. Bahkan beberapa kali tangan Rangga berhasil bersarang telak di tubuh manusia liar itu.

Buto Dungkul beberapa kali terjajar sambil menggeram marah. Kedua bola matanya makin merah menyala. Tiba-tiba Rangga melenting tinggi ke udara lalu dalam sekejap merubah jurusnya menjadi Rajawali Menukik Menyambar Mangsa. Kedua kaki Rangga bergerak cepat dan berputar.

“Aaargh!” Buto Dungkul meraung keras.

Dua kali kaki Rangga menghantam kepala si manusia liar itu. Dan begitu kakinya menjejak tanah tangan kanannya meluruk ke depan sambil melompat. Rangga kembali merubah jurusnya jadi Cakar Rajawali . Jari-jari tangannya menegang keras dan kaku.

Buto Dungkul yang masih merasakan sakit pada kepalanya tidak bisa lagi mengelak Dua jari tangan Pendekar Rajawali Sakti langsung mencoblos matanya. Lagi-lagi Buto Dungkul meraung keras. Dua biji mata mencelat keluar bersamaan dengan ditariknya kembali jari-jari Pendekar Rajawali Sakti. Kaki Rangga langsung melayang deras menghantam dada Buto Dungkul. Tubuh Rangga melambung tinggi ke udara.

Kembali diubah jurusnya menjadi Pukulan Maut Paruh Rajawali. Tangan kanan Rangga terkepal meluruk ke arah ubun-ubun kepala si manusia liar Buto Dungkul.

Prak!

Buto Dungkul meraung keras. Tubuhnya limbung beberapa saat. Batok kepalanya hancur. Keras sekali tubuh si manusia raksasa itu terbanting ke tanah. Sebentar berkelejotan lalu diam tak bergerak-gerak lagi.

Rangga berdiri mematung memandangi tubuh Buto Dungkul yang menggeletak tak bernyawa lagi. Dia menoleh begitu mendengar langkah-langkah kaki menghampiri. Rangga membalikkan tubuhnya. Kedua orang itu berdiri dengan jarak sekitar setengah batang tombak lagi.

“Terima kasih, kau te...,” belum habis Ki Rangkuti menyelesaikan ucapannya tiba-tiba terdengar suara panggilan keras.

“Ayah...!”

Hampir bersamaan mereka menoleh. Tampak seorang gadis berlari-lari dengan pakaian tidak karuan.

“Sekar Telasih...!” seru Ki Rangkuti.

Laki-laki tua yang tegap itu langsung berlari menyongsong anak angkatnya. Mereka bertemu dan berpelukan hangat. Bayangan Malaikat menyaksikannya dengan mata berkaca-kaca. Mereka sampai lupa pada Pendekar Rajawali Sakti. Ketika sadar, tidak lagi mereka dapati pendekar muda digdaya di tempatnya.

“Ke mana dia?” tanya Ki Rangkuti.

Bayangan Malaikat juga kebingungan tidak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri sampai tidak memperhatikan dan tidak mengetahui kapan Pendekar Rajawali Sakti itu pergi.

“Siapa Ayah?” tanya Sekar Telasih.

“Pendekar Rajawali Sakti,” sahut Ki Rangkuti.

“Aku yakin dia tidak memerlukan ucapan apa-apa. Hm, benar-benar seorang pendekar sejati,” kata Bayangan Malaikat agak bergumam.

“Apakah dia yang membunuh kedua orang itu?” tanya Sekar Telasih.

“Ya, nanti Ayah ceritakan.”

Tanpa banyak bicara lagi mereka kemudian melangkah pergi meninggalkan Hutan Gading ini. Dalam perjalanannya Sekar Telasih menceritakan bagaimana ia bisa meloloskan diri. Dia tidak tahu jalan pulang lalu mendengar suara pertarungan serta melihat kilatan-kilatan sinar saling sambar. Sayang sekali kedatangannya setelah pertarungan selesai jadi tidak bisa menyaksikan.

“Ayah mau menceritakan semuanya kan?” desak Sekar Telasih.

“Tentu tapi tidak di sini.”

“Janji?”

“Janji!”

Sekar Telasih tersenyum manis. Kakinya terayun ringan bagai tidak memiliki beban apa-apa lagi. Dia seperti baru terbebas dari sebuah belenggu yang hampir menghancurkan seluruh hidupnya. Sedangkan Ki Rangkuti masih memikirkan Pendekar Rajawali Sakti yang datang dan pergi secara misterius. Namun hatinya dengan tulus mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya.


SELESAI

EPISODE BERIKUTNYA PRAHARA GADIS TUMBAL
Thanks for reading Naga Merah I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »