Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Kemelut Blambangan

Jilid 08

TAN BENG KI sendiri sebagai seorang pria, diam-diam merasa tidak senang melihat sikap Swi Hong. Andaikata dia sendiri sebagai seorang yang menjunjung tinggi kebenaran, pasti tidak akan membela isterinya kalau sang isteri itu bersalah. Kewajiban seorang suami yang bijaksana bukan membela isterinya yang bersalah, melainkan berusaha menyadarkan sang isteri dari kesalahannya. Akan tetapi dia merasa tidak baik kalau membantah pendapat puterinya di depan mereka semua dan dia lalu membelokkan percakapan.

"Kalau begitu tidak terlalu salah dugaanku. Biarpun kalian tidak langsung diutus oleh kanjeng Sultan Agung di Mataram, namun jelas bahwa kalian hendak menyelidiki keadaan Blambangan dan hal itu kalian lakukan sepengetahuan Sang Bupati Tuban."

"Wah, aku senang sekali membantu. Biarpun aku tidak terlibat secara langsung kalau Mataram berperang melawan Blambangan, namun aku jelas tidak berpihak kepada Blambangan. Mataram gigih menentang Belanda dan aku kagum dan senang melihat itu. Negaraku sendiri, Cina, juga dijajah bangsa asing, yaitu bangsa Mancu. Maka, melihat Mataram menentang bangsa Belanda, aku berpihak kepada Mataram."

"Itulah yang menyebalkan, Paman Tan. Agaknya Blambangan dibantu pula oleh Kumpeni Belanda, maka aku semakin tak suka melihat gerakan Blambangan hendak menyerang Mataram itu." kata Joko Darmono.

"Kalian berdua jangan khawatir. Kalian dapat mengaku sebagai pembantu-pembantuku dan perahuku akan membawa kalian mendarat di suatu pantai terpencil dan sunyi di daerah Blambangan.” Demikianlah, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono bercakap-cakap dengan keluarga pedagang itu. Kemudian mereka mengaso dan tidur di dalam kamar yang telah disediakan oleh tuan tumah untuk mereka.

********************

Malam itu gelap dan dingin. Hujan yang baru turun sejak sore baru reda menjelang tengah malam. Udara yang amat dingin membuat orang enak tidur dan enggan bergadang. Kota Tuban sunyi sekali, tidak ada seorang pun di jalan atau di luar rumah. Juga di rumah besar Tan Beng Ki semua penghuni rumah sudah tidur. Kamar Tan Beng Ki berada di ruangan tengah, berjajar dengan kamar Tan Swi Hong. Kamar Sie Tiong masih berada di belakang, di mana terdapat kamar-kamar yang khusus untuk para karyawan yang mondok di rumah besar itu.

Selain Sie Tiong, terdapat empat karyawan lain yang tinggal di dua kamar sebelah Sie Tiong, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono juga mendaparkan dua buah kamar tak jauh dari kamar tuan rumah. Semua orang sudah tidur, kecuali Bagus Sajiwo yang masih duduk bersila di atas pembaringan dalam keadaan bersamadhi. Dalam kesunyian malam gelap itu, tiba-tiba tampak bayangan beberapa orang bergerak di dekat rumah besar milik Tan Beng Ki.

Setelah tiba di bawah lampu gantung yang berada di samping rumah besar itu, tampaklah dalam keremangan bahwa mereka itu adalah Kam Leng dan empat orang lain. Dua orang Cina dan dua orang Jawa, keempatnya bertubuh tinggi besar, tampak kuat dan berwajah bengis. Mereka berkumpul dan berbisik-bisik di bawah lampu gantung itu.

"Nah, sekali lagi kujelaskan seperti yang sudah kita rencanakan. Kalian, A Siong, A Tong dan Wira masuk ke ruangan dalam seperti sudah kugambarkan. Ingat, yang kiri itu kamar Tan Beng Ki. A Siong sendiri cukup kuat untuk membunuhnya. Dan kamar yang kanan itu kamar Nona Tan Swi Hong. Bagian A Tong dan Wira untuk membongkar pintu memasuki kamar itu. Ingat, kalian berdua tidak boleh melukainya, apalagi membunuhnya. gadis itu adalah calon isteriku!"

A Siong, A Tong dan Wira mengangguk. "Dan engkau, Jalu, engkau ikut aku, membantuku untuk membunuh Sie Tiong di kamar belakang. Sekali lagi ingatlah, Tan Beng Ki dan Sie Tiong harus dibunuh dan Nona Tan Swi Hong harus diculik tanpa melukainya. Mengerti kalian semua?" Kembali empat orang itu mengangguk.

Kemudian, dengan Kam Leng yang sudah hafal akan keadaan jalan, mereka berlima memasuki lewat pagar tembok di belakang, lalu berindap-indap menghampiri rumah besar. Biarpun A Tong dan Wira sudah diberitahu oleh Kam Leng bagaimana caranya untuk membuka daun pintu kamar itu dengan paksa, tetap saja mereka menimbulkan suara yang menggugah Swi Hong dari tidurnya.

Gadis ini mendengar suara di pintu dan melihat daun pintu itu bergoyang-goyang, ia cepat turun dari tempat tidur, mengenakan baju luar dan sepatunya, kemudian menghampiri dinding di mana tergantung siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjata andalannya. Pada saat itu mencabut sepasang pedang itu, daun pintu terbuka dan masuklah dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Karena lampu penerangan dalam kamar itu hanya redup, Swi Hong tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

"Siapa kalian!" bentaknya dan ia sudah maju menyerang dengan sepasang pedangnya, yakin bahwa mereka pasti orang-orang jahat yang mempunyai niat tidak baik.

A Tong dan Wira terkejut sekali, akan tetapi karena mereka sudah diberitahu Kam Leng bahwa gadis itu bukan orang lemah, maka mereka cepat melompat keluar kamar sambil mencabut pedang dan Wira mencabut sebatang golok. Ruangan di luar kamar itu mendapat penerangan yang lebih besar sehingga Swi Hong yang mengejar keluar dapat melihat wajah mereka. Akan tetapi ia tidak mengenal mereka dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang mereka dengan sepasang pedangnya. Dua orang yang sudah dipesan agar tidak melukai gadis itu, melainkan menangkap dan menculiknya, menggerakkan senjata menangkis.

"Trang! Cringg!" Swi Hong merasa betapa kedua tangannya tergetar, menandakan bahwa dua orang lawannya ini bukan orang-orang lemah. Akan tetapi ia tidak merasa gentar dan sambil membentak nyaring ia menyerang bertubi-tubi. Namun kedua orang lawannya dapat menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan sambil berusaha meraih dengan tangan kiri untuk menangkap gadis itu.

Kegaduhan di luar kamar itu membuat Tan Beng Ki terbangun dari tidurnya pula. Dia menggosok-gosok kedua matanya dan mendekati pintu untuk meneliti dan mendengarkan labih jelas. Ketika mendengar beradunya senjata tajam dan bentakan-bentakan suara puterinya, Tan Beng Ki cepat menyambar sebatang tombak yang berada di sudut kamarnya. Dia lalu membuka daun pintu. Pada saat itu, sebatang pedang menyambar ketika dia melangkah keluar. Tan beng Ki terkejut dan cepat menangkis sinar pedang yang enyambar ke arah lehernya itu.

"Trangggg .... !" Tombaknya terpental dan hampir terlepas dari genggamannya sehingga Tan Beng Ki terkejut bukan main. Dia melompat keluar dan segera melawan mati-matian ketika laki-laki Cina tinggi besar itu menyerangnya dengan pedang. serangan orang itu ganas dan kuat sekali sehingga Tan Beng Ki harus memutar tombaknya dengan cepat untuk melindungi dirinya. Dia bingung dan khawatir sekali melihat puterinya juga sedang berkelahi, bahkan dikeroyok dua orang.

Pada saat Ayah dan Anak ini terdesak dan Tan Beng Ki sudah menderita luka-luka di lengan dan pahanya, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan yang bukan lain adalah Bagus Sajiwo dan Joko Darmono. Mereka tadi terbangun oleh suara gaduh perkelahian di ruangan dalam itu dan hampir berbareng mereka keluar dari kamar masing-masing, lalu berlari cepat ke tempat perkelahian. Selagi mereka hendak membantu ayah dan anak itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan mengaduh dari arah belakang. Joko Darmono sepintas pandangan saja sudah dapat mengukur tingkat kepandaian tiga orang yang menyerang Tan Beng Ki dan Tan Swi Hong itu.

"Bagus, cepat engkau lihat di belakang. Siapa tahu bantuanmu dibutuhkan Sie Tiong di sana. Biar yang di sini kubereskan!"

Bagus Sajiwo juga merasa yakin bahwa sahabatnya itu akan mampu menundukkan tiga orang penjahat itu, maka dia lalu melompat dan lari ke arah bangunan belakang di mana Sie Tiong tinggal bersama beberapa orang karyawan lain. Ketika tiba di belakang, Bagus Sajiwo melihat Sie Tiong sedang berkelahi melawan seorang pemuda Cina yang bertubuh tinggi tegap. Sie Tiong bersenjatakan sebatang toya yang merupakan senjata andalannya dan lawannya menggunakan sebatang pedang.

Mereka bertanding dengan seru dan mati-matian. Akan tetapi sekali pandang saja Bagus Sajiwo maklum bahwa lawan Sie Tiong masih kalah kuat. Pemuda itu mulai mundur-mudur dan lebih banyak menangkis daripada menyerang. Tak jauh dari situ, Bagus Sajiwo melihat seorang laki-laki lain mengamuk dengan goloknya.

Dia bukan Cina dan agaknya goloknya telah merobohkan tiga orang, sedangkan yang seorang lagi masih melawan mati-matian, menggunakan sebuah parang, akan tetapi orang ini pun sudah menderita luka-luka di badannya. Melihat ini, Bagus Sajiwo cepat melompat dan menyambar ke arah orang yang mengamuk dengan goloknya itu.

"Wuuuttt .... plakkk! Aduhhh .... !" Orang bermuka hitam tinggi besar yang bukan lain adalah Jalu teman Kam Leng itu terjengkang jatuh dan lawannya yang sudah luka-luka cepat menubruk dan membacokkan parangnya ke arah leher penjahat itu.

"Crakkk!! Darah muncrat dan Jalu tewas seketika. Akan tetapi karyawan yang sudah menderita luka-luka parah itupun terguling roboh.

Perkelahian antara Sie Tiong dan Kam Leng terjadi dengan seru. Ilmu silat mereka satu aliran. Keduanya menguasai ilmu silat aliran Siauw Lim. Akan tetapi Sie Tiong adalah Sute (Adik seperguruan) Kam Leng, maka tentu saja ilmu silatnya masih kalah tangguh, apalagi karena sejak berusia belasan tahun Kam Leng adalah seorang tukang berkelahi, maka gerakan Sie Tiong kalah matang dan juga tenaganya kalah kuat. Namun, tentu saja dia melawan mati-matian, membela diri dengan gigih.

"Mampus kau, manusia tidak mengenal budi!" Kam Leng membentak, pedangnya meluncur dengan gerakan memutar, menusuk ke arah dada Sie Tiong. Sie Tiong yang memang sudah terdesak itu cepat menangkis dengan toyanya.

"Tranggg .... !" Kedua tangan Sie Tiong yang memegang toya tergetar hebat dan toyanya terlepas! Pada saat itu ujung pedang meluncur lagi ke dadanya. Dia miringkan tubuh ke kanan.

"Srattt .... !" Pundak Sie Tiong disambar pedang. Baju, kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya robek dan berlepotan darah. Tubuh Sie Tiong terhuyung dan Kam Leng cepat mengejar, pedangnya dibacokkan ke arah leher Sie Tiong yang amat dibencinya. Dalam keadaan terhuyung itu Sie Tiong sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran pedang ke arah lehernya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Singgggg .... plakkkk !!" Kam Leng terbelalak, terkejut bukan main karena tangan orang yang menangkis pedangnya itu membuat pedangnya patah dan terlepas dari pegangan tangannya yang terasa panas dan pedas sekali. Maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, yang dengan tangan kosong dapat mematahkan pedangnya. Apalagi melihat Jalu telah roboh dan agaknya tewas, Kam Leng menjadi panik dan ketakutan.

Dia lalu melompat dan menghilang dalam kegelapan. Bagus yang tadi menangkis pedang Kam Leng dan menyelamatkan nyawa Sie Tiong, tidak mengejar. Dia lalu menghampiri Sie Tiong setelah melihat pemuda itu terluka. Akan tetapi Sie Tiong berkata, "Bagus, aku tidak apa-apa. Tolong selamatkan Hong-moi dan Ayahnya..."

Bagus yang kembali ke ruangan dalam dan Sie Tiong mengikuti dari belakang. “Tiong-ko...!" Swi Hong menjerit ketika melihat Sie Tiong muncul dengan baju berlepotan darah, lalu ia berlari menghampiri. "Engkau... terluka....?"

"Tidak mengapa, Hong Moi, hanya terluka sedikit di bahuku. Bagus telah menyelamatkan nyawaku." Mereka saling berpegangan tangan.

Sementara itu, Bagus Sajiwo berdiri tertegun memandang ke arah mayat tiga orang yang menggeletak mandi darah dan agaknya sudah tewas semua. Joko Darmono berdiri sambil tersenyum mengejek, sebatang pedang yang berlepotan darah berada di atas lantai depan kakinya.

Tan Beng Ki duduk di atas sebuah bangku sambil mengeluh dan pakaiannya juga berlepotan darah yang mengucur dari luka di paha dan lengannya. Ternyata ketika Joko Darmono muncul, dia lalu mengamuk. Dengan gerakannya yang amat cepat dia telah berhasil merampas sebatang pedang dari tangan seorang penyerbu. Kemudian dengan pedang rampasannya itu telah menyambar-nyambar dan tiga orang yang bukan lain adalah A Siong, A Tong dan Wira, para pembantu Kam Leng itu, berpelantingan roboh dan tewas dengan luka di leher atau dada mereka.

Tan Beng Ki juga sudah luka-luka sebelum Joko Darmono muncul, lalu menjatuhkan diri di atas bangku. Biarpun dia sendiri sudah terluka, melihat calon mertuanya terluka parah, Sie Tiong segera berlari menghampiri. Akan tetapi, Tan Beng Ki yang duduk di bangku ternyata pingsan karena luka-lukanya. Sie Tiong segera dibantu oleh Bagus Sajiwo untuk menggotong Tan Beng Ki ke dalam kamarnya.

Bagus Sajiwo yang banyak mempelajari ilmu pengobatan dari mendiang Ki Ageng Mahendra memeriksa luka-luka di tubuh kedua orang itu. Luka-luka mereka cukup dalam dan parah walaupun hanya merupakan luka pada daging, tidak merusak otot besar atau tulang.

Dia lalu cepat menyuruh para pembantu yang siap melaksanakan semua perintahnya untuk mengobati dua orang yang terluka itu untuk mencari Akar pohon Trengguli, madu murni, getah pohon Gondang, getah pohon papaya, akarnya dihaluskan lalu dicampurkan dan dipanaskan di atas api kecil. Sesudah itu, Bagus Sajiwo mencuci bagian tubuh yang luka dengan air matang, lalu mengoleskan obat sampai semua permukaan luka tertutup obat, setelah itu bagian yang terluka dibalut dengan kain putih bersih.

"Ah, terima kasih, Bagus. Rasanya sejuk sekarang." kata Tan Beng Ki. Akan tetapi dia masih merasa lemah.

Demikian pula Sie Tiong. Biarpun obat itu telah melenyapkan rasa panas dan nyeri pada tubuh mereka yang terluka, terganti rasa sejuk, namun mereka merasa lemah. Hal ini adalah karena mereka kehilangan banyak darah. Akan tetapi untuk mengatasi hal ini, Tan Beng Ki mempunyai resep obat yang manjur, yang merupakan cara pengobatan dari Cina Kuno.

Dia menyuruh orang merebus ayam muda jantan dengan ji-som (akar obat) dalam arak merah yang dicampur air. Ayam itu direbus sampai matang dan lunak, lalu Tan Beng Ki dan Sie Tiong makan masakan itu dan minum airnya. Hal ini dilakukan setiap hari selama satu minggu dan ternyata kesehatan mereka sudah pulih kembali. Tubuh mereka menjadi kuat kembali dan luka-luka mereka sudah hampir sembuh, sudah kering dan tidak nyeri.

Setelah dua orang itu sembuh, mereka lalu berkemas dan membuat persiapan untuk berlayar seperti yang telah direncanakan. Tan Beng Ki membawa barang dagangannya, untuk berdagang ke daerah Jawa Timur melalui selat Madura seperti yang biasa dia lakukan. Sie Tiong dan Tan Swi Hong, selain merayakan pertunangan mereka dengan berpesiar ikut dengan perahu besar itu, juga untuk menghindarkan diri dari gangguan Kam Leng. Adapun Bagus Sajiwo dan Joko Darmono ikut dengan perahu untuk pergi ke Blambangan melakukan penyelidikan.

Perahu Tan Beng Ki itu cukup besar, kokoh dan kuat. Dia memenuhi perahunya dengan muatan tembakau. Selain Tan Beng Ki, Tan Swi Hong, Sie Tiong, dan dua orang tamu mereka, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono, terdapat pula sepuluh orang anak perahu yang mengatur pelayaran itu dan mereka adalah para pembantu Tan Beng Ki.

Pelayaran itu lancar dan perahu hanya mendarat di bandar-bandar tertentu di mana sudah ada langganan Tan Beng Ki yang menyambut untuk membeli daun tembakau. Ketika perahu melalui selat Bali, keadaan lautan di selat itu tidak tenang. Ombak besar bergulung-gulung dan hanya pengalaman dan keahlian para anak buah perahu saja yang membuat perahu dapat bertahan dari hempasan ombak dan dapat meluncur menuju selatan.

Pada suatu pagi, perahu itu tiba disuatu tempat yang dituju. Blambangan sudah tampak dan biarpun ombak di situ masih ganas, namun para anak buah perahu dapat dapat mengarahkan perahu mereka ke arah daratan di barat. Pagi itu cerah sekali dan sinar matahari pagi membuat jalur keemasan yang panjang di atas permukaan air yang bergelombang.

Joko Darmono yang lebih mengenal keadaan di pesisir daratan Blambangan, menjadi penunjuk jalan. mereka berlima, berdiri di atas perahu, memandang ke arah daratan yang terdiri dari bukit-bukit karang dengan dinding-dinding karang yang terjal.

"Wah, di bagian ini tidak mungkin melakukan pendaratan." kata Bagus Sajiwo.

"Justeru di sinilah merupakan tempat pendaratan yang baik sekali karena daerah ini sepi, tak pernah didatangi orang. Kita dapat mendarat di sini tanpa diketahui orang." kata Joko Darmono.

"Akan tetapi, Joko, bagaimana mungkin mendarat di daerah ini? Tebing-tebing karang itu begitu terjal dan lihat, ombak menghantam dinding karang dengan dahsyatnya. Perahu ini akan terancam bahaya dibanting ke dinding karang itu oleh ombak!" kata Tan Beng Ki.

Joko Darmono tersenyum. "Jangan khawatir, Paman. Di sana, di sebelah kanan dinding bukit karang yang menonjol itu, terdapat bagian yang landai dan di sanalah kami akan mendarat."

Lalu Joko Darmono memberi peunjuk kepada juru mudi ke arah yang dia maksudkan itu.

"Hei, di sana ada perahu besar!" terdengar juru mudi berseru. "Dan perahu itu melaju menuju ke arah kita!" teriak anak nuah yang lain.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono memandang dan mereka melihat sebuah perahu besar hitam meluncur ke arah perahu mereka. Tan Beng Ki bertiga juga memandang penuh perhatian dan dia berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Itu bukan perahu pedagang, juga bukan orang-orang sedang pesiar. Lebih mirip perahu bajak laut! Akan tetapi jangan khawatir, biasanya para bajak laut tidak menggangguku. Mereka hanya minta sumbangan dan aku sudah biasa menyumbang mereka dalam jumlah besar sehingga mereka tidak pernah mengganggu perahuku."

Setelah berkata demikian, Tan Beng Ki lalu maju dan berdiri di kepala perahu dan setelah perahu besar bercat hitam itu datang semakin dekat, dia mengangkat kedua tangan ke atas lalu melambaikan tangannya. Bagus Sajiwo menghampiri Tan Beng Ki dan tiba-tiba dia berseru, "Paman. awas.... !"

Berbareng dengan teriakannya itu, terdengar ledakan-ledakan dari perahu hitam itu dan tampak kilatan api. Tiba-tiba Tan Beng Ki terjengkang roboh mandi darah. Bagus Sajiwo maklum bahwa orang-orang di perahu itu menyerang dengan tembakan api!

"Semua tiarap!" Bagus Sajiwo memberi peringatan.

"Ayah... !!" Swi Hong lari dan berlutut dekat tubuh Ayahnya yang mandi darah. Tiga buah peluru telah menembus dadanya dan keadaannya tidak dapat diharapkan lagi.

"Swi Hong.... cepat.... lari.... !” katanya lemah dan dia terkulai, tewas.

"Ayaahhh... !" Swi Hong menangis di atas dada Ayahnya.

Sie Tiong marah sekali bahwa Suhengnya, Kam Leng, berada pula di atas perahu hitam itu. Maka melihat Ayah mertuanya tewas, dia melompat ke arah juru mudi, merebut kemudi perahu dan mengarahkan perahu itu lurus ke arah perahu hitam. Pemuda yang marah dan nekat karena merasa percuma melawan karena musuh mempergunakan senjata api, dengan kemarahan meluap lalu menabrakkan perahunya kepada perahu hitam itu.

"Braaakkk.... !!" Kedua perahu itu bertabrakan keras dan keduanya pecah bagian depannya. Akan tetapi kerusakan pada perahu milik Tan Beng Ki lebih parah, bahkan menjadi miring dan semua penumpangnya berpelantingan. Terdengar ledakan-ledakan senjata api. Para anak buah perahu terpaksa menyelamatkan diri dengan melompat keluar dari perahu yang sudah miring itu.

Joko Darmono melompat ke dekat Bagus Sajiwo. "Bagus! Kita harus tinggalkan perahu!"

Setelah berkata demikan, Joko Darmono menghampiri Tan Swi Hong yang masih berlutut menangisi Ayahnya. "Swi Hong, perahu akan tenggelam! Mari lari.... !" kata Joko Darmono sambil memegang lengan gadis itu.

Akan tetapi Swi Hong tetap berlutut menangisi Ayahnya. "Dar-dar-dar-darr....!!"

Tembakan datang dari perahu hitam dengan gencar dan melihat ini, Joko Darmono cepat menarik tangan Swi Hong dan dibawanya gadis itu melompat keluar dari perahu yang miring. Bagus Sajiwo juga menarik tangan Sie Tiong yang masih mencoba mengemudikan perahunya.

"Hayo kita cepat pergi!” Dan dia lalu menarik pemuda itu dan membawanya melompat keluar dari perahu. Gelombang di lautan itu amat besar dan segera para penumpang perahu yang berlompatan ke air itu ditelan ombak dan lenyap.

Perahu hitam itu adalah perahu Kadipaten Blambangan yang membawa mereka yang ditugaskan oleh Begawan Kalasrenggi untuk menangkap mata-mata Mataram yang ikut dengan perahu milik Tan Beng Ki itu, dengan Kam Leng sebagai penunjuk jalan. Mereka adalah Kaladhama, Kalajana, Arya Bratadewa dan Candra Dewi yang menjadi kaki tangan Kumpeni belanda. Yang melepas tembakan-tembakan adalah Arya Bratadewa dan anak buahnya yang membawa senapan.

Tentu saja mereka terkejut sekali ketika perahu pedagang itu dengan nekat menabrak perahu mereka. Hal ini sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika perahu dagang itu pecah dan mulai tenggelam, semua anak buah perahu berloncatan ke air dan karena air bergelombang dan perahu hitam mereka juga mengalami kerusakan, maka mereka tidak dapat menangkap atau menyerang lagi dengan tembakan. Semua orang sibuk berusaha mengarahkan perahu ke pesisir.

Bagus Sajiwo mencoba untuk menguasai dirinya. Akan tetapi, semua aji kanuragan yang pernah dipelajarinya dan telah dikuasainya dengan baik, seolah-olah tidak ada artinya sama sekali. Dia menjadi pemainan gelombang ombak seperti sepotong kayu saja, hanya berkat latihan pernapasannya yang membuat dia mampu menahan dan mengatur pernapasan yang agak menolongnya sehingga dia tidak sampai terpaksa menelan air laut karena terkadang dia digulung ke dalam ombak sampai agak lama.

Entah berapa lama dia menjadi permainan gelombang. Diayun dan diangkat tinggi, lalu dihempaskan oleh kekuatan yang amat dahsyat, yang membuat segala macam tenaga sakti yang dapat diupayakan untuk dikuasai manusia menjadi tidak ada artinya sama sekali, seolah angin tiupan mulut dalam gelora angin taufan. Dia hanyut dan hanya mampu berusaha semampunya untuk tetap sadar dan tidak sampai tenggelam dan terkubur dalam lautan.

Dia tidak ingat berapa lama dia terayun, terangkat lalu terbanting itu, hanya rasanya lama sekali, terlalu lama sehingga tenaganya untuk tetap tahan di atas air terkuras. Dia sudah berusaha sejak tadi untuk mencari Joko Darmono, Sie Tiong, dan Tan Swi Hong, juga anak buah perahu, namun tidak berhasil melihat mereka.

"Ayaaaahh... !" Tiba-tiba telinganya dapat menangkap teriakan lemah ini di sebelah kirinya. Aneh terasa olehnya karena seolah jeritan itu merupakan kata ajaib karena tiba-tiba saja gelombang yang tadi mengamuk menjadi reda. Bagus Sajiwo cepat mencari dengan pandang matanya ke arah suara tadi dan dia melihat Tan Swi Hong sedang terapung-apung seperti dia, dan gadis itu juga berusaha menyelamatkan diri, bahkan telah bergantung kepada sepotong kayu yang cukup besar, sebesar tubuh manusia dan panjangnya ada dua tombak.

"Swi Hong.... !" Dia berteriak dan berenang menghampiri.

"Bagus... oh, Bagus.... !" Swi Hong berseru lemah, terisak. Akhirnya Bagus Sajiwo dapat meraih kayu itu dan ternyata itu adalah tiang perahu layar mereka yang agaknya patah dan terapung sehingga menyelamatkan nyawa Swi Hong yang tadinya sudah kepayahan dan tidak kuat lagi. Bagus Sajiwo lalu membantu gadis itu untuk naik dan dapat duduk di atas kayu itu. Dia tetap berada di air, menahan kayu itu agar tidak berputar sehingga akan membuat tubuh Swi Hong terguling.

Gadis itu terengah-engah lemas. Setelah tenaganya agak pulih dan hatinya mulai tenang karena melihat Bagus Sajiwo, ia membuka matanya yang tadinya terpejam dan memandang kepada Bagus Sajiwo yang bergantung pada balok kayu itu.

"Bagus.... bagaimana... Ayahku.... ?"

"Swi Hong, tenangkanlah hatimu, dalam keadaan seperti ini, kita harus berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan karena hanya Dia yang akan mampu menyelamatkan kita kalau Dia menghendaki. Setelah itu baru kita akan berusaha sekuat kita untuk dapat mencapai daratan. Jangan pikirkan tentang Ayahmu, tentang Sie Tiong dan Joko Darmono atau yang lain-lain, tidak ada gunanya semua itu. Yang terpenting sekarang, kita harus berupaya agar dapat mencapai daratan."

Swi Hong dapat mengerti ucapan itu. Ia tahu bahwa kalau membayangkan tentang Ayahnya, tunangannya dan lain-lain, ia akan tertekan rasa khawatir dan sedih yang akan melemahkan semangat dari tenaganya. Ia lalu melupakan semua itu dan memandang ke sekeliling. Tidak tampak perahu hitam tadi, juga tidak tampak ada orang terapung dekat situ. Gelombang tidak mengganas lagi dan di sebelah timur ia melihat daratan yang tampak hijau kehitaman.

"Di sana ada daratan, Bagus."

Bagus Sajiwo memandang, "Hemm, agaknya kita sudah terbawa menjauh dari darat oleh gelombang. Mari, Swi Hong, kita kerahkan tenaga untuk mendorong kayu ini ke arah daratan, pergunakan tangan dan kakimu."

Swi Hong lalu menelungkup di atas kayu itu dan menggunakan kedua tangannya seperti mendayung. dibantu kakinya. Bagus Sajiwo juga mendorong sambil berenang. Untung bagi mereka bahwa ombak yang menuju daratan itu lebih kuat daripada dorongan air yang berlawanan sehingga biarpun tidak dapat cepat, namun mereka dapat bergerak maju, sedikit demi sedikit dan lambat sekali. Bagus Sajiwo sengaja mengajak gadis itu bicara untuk membesarkan hatinya.

"Swi Hong, percayakah engkau kepada Gusti Allah?"

"Gusti Allah? Tentu saja, dalam bahasa Cina disebut Thian, Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta."

"Ya, Dia Yang Maha Pencipta, yang menciptakan seluruh alam mayapada berikut isinya, juga menciptakan lautan dengan gelombangnya ini. Dan juga Dia Maha Kuasa, sehingga kalau Dia menghendaki, biarpun terancam bahaya yang bagaimanapun juga, manusia dapat terhindar dari malapetaka. Kita dapat Dia selamatkan, juga yang lain-lainnya kalau Dia menghendaki."

Swi Hong mengangguk. "Semoga Tiong-ko, Joko, dan yang lain-lain diselamatkan Thian. Akan tetapi, Bagus, Ayahku..." gadis itu menangis lagi akan tetapi ia tidak berhenti mendorong balok kayu itu dengan kedua tangannya.

"Swi Hong, seperti juga kehidupan, kematian pun terjadi kepada setiap orang atas kehendakNya, tak dapat diubah oleh siapa pun juga. Kita hanya dapat menerima segala keputusan terakhir itu, setelah kita mengerahkan segala kemampuan kita untuk berikhtiar, dengan ikhlas dan pasrah. Hanya inilah yang akan dapat meringankan derita batin kita dan akan memelihara iman dan harapan kita."

"Engkau benar, Bagus, engkau benar... akan tetapi Ayah..."

"Tenangkan hatimu dengan kepasrahan yang sepenuhnya. Bagaimananpun juga, engkau masih mempunyai seorang ibu yang mencintaimu dan menunggumu di rumah, dan masih ada pula Sie Tiong, tunanganmu yang mencintaimu..."

"Tiong-ko....! Ah, bagaimana kalau... kalau dia.... tidak tertolong....?"

"Apakah tadi engkau tidak melihat dia? Dan Joko Darmono?"

"Tadi Joko yang menarikku dan membawa aku melompat keluar perahu. Akan tetapi setelah jatuh ke air, kami berpisah. Aku terseret gelombang dan tidak melihat dia lagi. Dan aku juga tidak melihat siapa pun. Ketika aku sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, mendadak kayu ini menyentuhku dan aku lalu berpegang kepada kayu ini sampai engkau melihatku."

"Nah, engkau telah membuktikan sendiri, Swi Hong. kekuasaan siapakah yang membuat kayu ini menghampiri dan menyentuhmu pada saat engkau terancam bahaya maut? Kekuasaan siapa pula yang membuat kita dapat saling bertemu sehingga kita dapat saling bantu? Maka, mustahilkah kalau Kekuasaan yang sama itu pula menyelamatkan Sie Tiong dan Joko dari cengkeraman maut seperti yang telah mencengkeram kita?"

"Semoga demikian adanya, Bagus."

"Ya, semoga. Kita tidak boleh kehilangan harapan yang kita gantungkan sepenuhnya kepada perkenan dan kehendakNya."

"Wah, daratan sudah dekat!" tiba-tiba Swi Hong berseru sambil menudingkan telunjukknya ke depan.

Bagus Sajiwo memandang dan dia mengucap syukur dan terima kasih kepada Gusti Allah dalam hatinya. Seperti suatu mujizat, ketika bercakap-cakap tadi mereka tidak lagi memperhatikan daratan dan kini tiba-tiba daratan itu sudah begitu dekat! Hal ini membangkitkan semangat mereka dan mendapatkan tenaga baru, mereka mendorong kayu sekuat tenaga. Dibantu oleh dorongan ombak yang kuat dari belakang, akhirnya Bagus Sajiwo dan Swi Hong menyeberangi air yang tinggal setinggi pinggang ke darat.

Daratan itu landai dan berpasir putih, kering dan bersih. Keduanya baru merasa betapa lemah lunglainya tubuh mereka setelah terhuyung-huyung di atas lantai berpasir dan keduanya lalu menjatuhkan diri di atas pasir. Bagus Sajiwo lalu duduk bersila mengatur pernapasannya.

Melihat ini, Swi Hong lalu melakukan hal yang sama karena gadis ini juga sudah biasa memperkuat tubuhnya dengan cara mengatur pernapasan seperti itu. Ada setengah jam mereka duduk diam, mengatur pernapasan sehingga dalam perut bawah mereka terasa kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh dan mendatangkan kekuatan yang tadinya seolah terkuras habis.

Bagus Sajiwo lalu membuat api unggun, untuk menambah panasnya sinar matahari agar pakaian basah kuyup yang melekat di badan mereka dapat cepat kering. Juga hawa panas ini dapat cepat memulihkan tenaga dan mengusir sisa hawa dingin yang menyerang mereka selama mereka terendam air laut dan dipermainkan gelombang besar.

Setelah tubuhnya sehat dan kuat kembali mereka berdua duduk dengan api unggun membiarkannya perlahan-lahan padam karena pakaian mereka sudah kering dan sinar matahari siang itu cukup panas. Bahkan kemudian terlampau panas bagi mereka dan Bagus Sajiwo mengajak Swi Hong pindah duduk di tempat teduh di mana sinar matahari terhalang tebing karang. Swi Hong duduk bersandar batu karang setelah diamatinya seluruh pantai itu sambil berdiri tadi. Ia menghela napas panjang.

"Mereka tidak tampak... ah, mereka tidak ada... jangan-jangan mereka semua tewas tenggelam, Bagus..."

Bagus tadi juga mengamati sekitar pantai dan tidak melihat seorang pun di antara para penumpang perahu. Kini dia duduk berhadapan dengan Swi Hong dan dia melihat betapa gadis itu berada dalam keadaan menyedihkan. Biarpun ia agaknya dapat menahan diri dan tidak menangis, namun matanya sayu, wajahnya agak pucat. Pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang awut-awutan itu membuat Swi Hong tampak menyedihkan sekali.

Dia sendiri juga mulai merasa khawatir akan keselamatan semua penumpang, terutama sekali keselamatan Joko Darmono. Bagus Sajiwo mengerutkan alisnya, dalam batin dia menegur diri sendiri. mengapa demikian banyaknya penumpang yang terancam bahaya dan mungkin tewas semua, yang teringat olehnya dan membuatnya prihatin dan bersedih hanyalah Joko Darmono?

Dia merasa kehilangan dan sedih sekali kalau sampai Joko Darmono tewas tenggelam. Baru dia menyadari dan terasa benar olehnya bahwa dia amat akrab dan suka sekali kepada pemuda yang lincah jenaka, cerdik pemberani dan juga sakti mandraguna itu.

"Semoga saja mereka selamat seperti kita, Swi Hong." katanya lirih.

"Bagus, ayahku tewas dan Tong-ko..."

"Aku menyesal sekali, Swi Hong. Aku dan Joko yang menyebabkan malapetaka ini terjadi."

"Tidak, Bagus. Bukan salah kalian. Aku tadi melihat Kam Leng di perahu hitam yang menyerang kita itu. Jahanam itulah yang mengerahkan para penjahat itu untuk menyerang kita sebagai balas dendam."

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. "Mungkin ada benarnya juga pendapatmu bahwa Kam Leng minta bantuan orang-orang jahat untuk membalas dendam. Akan tetapi kukira, bukan hanya itu penyebabnya. Aku yakin bahwa Kim Leng telah bersekutu dengan mereka yang telah bersekongkol dengan Blambangan untuk menentang Mataram. Tadi aku melihat pula Arya Bratadewa di sana, tentu dia yang memimpin anak buahnya untuk menembaki kita dengan senjata api. Agaknya mereka mengetahui bahwa aku dan Joko menumpang di perahu Ayahmu dan bahwa kami berdua adalah orang-orang yang berpihak kepada Mataram, atau mungkin mereka menduga bahwa kami berdua adalah telik sandi Mataram. Karena itu, mereka mau diajak Kam Leng untuk menghadang dan menyerang perahu kita. Kalau hanya diajak untuk membalas dendam urusan pribadi Kam Leng, tidak mungkin mereka mau."

"Hemm, siapakah Arya Bratadewa itu?"

"Dia sekutu Blambangan dan melihat dia selalu mempergunakan senjata api, aku yakin dia pasti antek Kumpeni Belanda yang diam-diam membantu Blambangan. Mungkin Belanda membantu Blambangan untuk menentang Mataram dan agar hal itu merupakan rahasia, mereka tidak mengirim pasukan Belanda, melainkan menggunakan telik sandi bangsa kita sendiri sehingga tidak akan diduga oleh Mataram bahwa Belanda ikut menyerang Mataram."

"Ah, kiranya begitu?"

"Aku hampir yakin demikian keadaannya, Swi Hong. Karena itu, aku minta maaf dan merasa menyesal sekali karena aku dan Joko yang menyebabkan keluargamu tertimpa malapetaka seperti ini."

Mendengar suara Bagus Sajiwo penuh penyesalan itu, Swi Hong menghela napas panjang. "Sudahlah, Bagus. Andaikata dugaanmu benar, tetap saja Kam Leng yang menjadi biang keladi terjadinya penyerangan ini. Kalau tidak ada dia, bagaimana pihak Blambangan dapat mengetahui bahwa engkau dan Joko ikut dengan perahu kami? Ayah sudah bertahun-tahun mengadakan perdagangan di daerah Blambangan dan selama itu tidak pernah ada gangguan sama sekali. Maka, kau katakan tadi, kita harus menerima dengan ikhlas segala yang terjadi, betapapun pahitnya, karena segala sesuatu itu dapat terjadi karena sudah dikehendaki Tuhan. Jangan engkau sesali diri, yang perlu sekarang, apa yang akan kita lakukan, Bagus?"

"Aku berjanji, untuk menebus rasa bersalah ini, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, Swi Hong. Aku akan mencari tunanganmu dan mempertemukanmu dengan dia. Kalau terpaksa kita tidak dapat beremu dengan Sie Tiong, aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibumu."

"Terima kasih, Bagus. Aku percaya sepenuhnya padamu dan aku menurut semua petunjukmu."

Bagus sajiwo termenung sejenak, berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian dia berkata, "Swi Hong, mari kita menyusuri pantai ini untuk mencari kalau-kalau para penumpang lain ada yang selamat dan terdampar di daerah pantai yang landai itu."

Tubuh mereka kini telah menjadi segar kembali dan mereka segera mulai mencari di sepanjang pantai berpasir itu. Akan tetapi setelah mereka mencari dari ujung sampai ke ujung yang lain dari pantai berpasir itu, mereka tidak menemukan seorang pun. Bagus Sajiwo lalu mengajak Swi Hong untuk mendaki tebing bukit karang itu, mereka mengamati ke utara dan selatan.

Namun tidak melihat tanda-tanda adanya orang di sepanjang pantai. Agak jauh ke darat, dari atas tebing karang itu mereka dapat melihat genteng rumah-rumah, agaknya ada sebuah dusun di sana. Matahari mulai condong ke barat dan Swi Hong tampak kecewa tidak menemukan tanda-tanda bahwa di antara penumpang perahu mereka ada yang selamat terdampar di darat. Ia tidak mengeluarkan suara, hanya pandang matanya semakin suram.

"Senja telah menjelang, Swi Hong. Kita lanjutkan pencarian kita besok pagi. Sekarang yang terpenting kita harus mencari makanan. Sejak pagi kita belum makan dan hal ini kalau dilanjutkan akan melemahkan tubuh kita. Kita membutuhkan tenaga kita sepenuhnya untuk menghadapi perjalanan di daerah yang berbahaya ini. Selain makan, kita juga perlu mendapatkan pakaian."

"Pakaian?"

"Ya, pakaian, Swi Hong. Semua bekal pakaian kita hilang. Kita membutuhkan pakaian untuk ganti, dan selain itu, engkau sebaiknya mengubah dirimu menjadi seorang pemuda agar perjalanan kita tidak mengalami banyak gangguan. Mari kita menuruni bukit dan pergi ke dusun yang tampak dari sini itu."

Mereka menuruni bukit karang dan melihat wajah Bagus Sajiwo tampak muram, Swi Hong beranya, "Bagus, mengapa engkau kelihatan seperti orang susah?"

"Bagus Sajiwo memandang gadis itu dan tersenyum.

"Baru teringat aku bahwa aku sama sekali tidak mempunyai uang. Kalau hanya untuk makanan, tentu penduduk dusun itu dapat memberi kepada kita dengan Cuma-Cuma. Akan tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan pakaian kalau tidak membelinya dari mereka?"

"Ah, jangan khawatir, Bagus. Perhiasan-perhiasan ini tadi masih menempel di badanku, dan sekarang kusimpan."

Gadis itu mengeluarkan bungkusan saputangan dan menyerahkan kepada Bagus. Ketik bungkusan dibuka, ternyata berisi sepasang gelang, seuntai kalung, sepasang anting dan sebuah hiasan rambut. semua terbuat dari emas terhias batu permata.

"Ah, baik sekali!" seru Bagus Sajiwo. "Akan tetapi, sebuah gelang ini pun sudah lebih dari cukup untuk ditukar makanan dan beberapa potong pakaian."

Dia mengambil sebuah gelang dan mengembalikan sisa perhiasan kepada Swi Hong.

"Bawalah saja, bagus, untuk semua pembiayaan perjalanan kita," kata Swi Hong.

Tidak, kau simpan saja, Swi Hong. nanti kalau kita butuh saja kau keluarkan."

Mereka kini tiba di kaki bukit karang lalu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang tadi tampak dari atas bukit. Ketika mereka tiba di luar dusun, cuaca sudah mulai remang senja.

"Swi Hong, sebaiknya engkau menanti dulu di sini. Biar aku sendiri yang masuk, mencari makanan dan pakaian. Engkau akan menarik perhatian kalau memasuki dusun itu dalam keadaan seperti ini."

Swi Hong mengangguk dan Bagus Sajiwo lalu memasuki dusun itu. Dusun itu cukup besar dengan rumah-rumah yang lumayan keadaannya. Melihat alat-alat penangkap ikan seperti jala dan sebagainya bergantungan di luar rumah-rumah mudah diduga bahwa penduduk dusun itu hidup sebagai petani dan nelayan.

Dengan gelang emasnya itu, tidak sukar bagi Bagus Sajiwo untuk memperoleh apa yang dibutuhkannya, pepes dan ikan bakar, juga lima stel pakaian pria. Swi Hong menerima pakaian yang dibawa Bagus Sajiwo dengan girang. Mereka berdua lalu menemukan sebuah gardu di tengah ladang dan makan nasi dengan pepes dan ikan bakar. Kemudian Swi Hong menyelinap ke balik gardu dan berganti pakaian.

Kini ia berubah menjadi seorang pemuda yang tampak masih remaja dan tampan sekali. Akan tetapi Bagus Sajiwo tidak dapat melihat dengan jelas karena malam itu bulan hanya muncul sepotong sehingga sinarnya tidak cukup terang. Baru pada keesokan harinya, dia melihat keadaan Swi Hong dan dia memandang kagum.

"Wah, engkau menjadi seorang pemuda yang ganteng, Swi Hong. Engkau tampak tampan sekali dan lemah lembut seperti Harjuna!"

Swi Hong tersenyum. "Apanya yang masih kurang pas, Bagus? Jangan sampai ada yang tahu akan penyamaranku."

Bagus Sajiwo mengamati keadaan gadis itu, dari rambut sampai ke kakinya. "Hemm, rambutmu itu terlalu panjang dan halus bagi seorang pria, sebaiknya dipotong sehingga tidak terlalu panjang. Engkau harus sering membiarkan sinar matahari mengubah kulit muka dan bagian yang tampak lainnya menjadi kecoklatan. Bajumu sebaiknya longgar dan menutupi leher dan lenganmu, dan kakimu telanjang tidak memakai sepatu."

Swi Hong mematuhi petunjuk ini. Malam itu mereka melewatkan malam dalam gardu. Swi Hong melepaskan lelah dengan tidur dalam gardu sedangkan Bagus Sajiwo duduk bersila di atas batu besar yang terdapat di dekat gardu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka membersihkan badan di sebuah anak sungai, kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka menyusuri pantai menuju ke utara dengan harapan akan bertemu dengan para penumpang perahu yang lain, terutama Joko Darmono dan Sie Tiong.

"Bagus, lalu bagaimana dengan namaku? Kalau ada yang bertanya dan terpaksa aku harus menjawabnya, aku harus memakai nama apa?"

"Tentu saja tidak baik kalau engkau menggunakan namamu Tan Swi Hong. Engkau kini menyamar sebagai seorang pemuda Jawa, dan melihat engkau begitu halus dan tampan mirip Raden Janoko maka sebaiknya engkau menggunakan nama Parto."

"Parto?" "Ya, Parto itu adalah nama alias dari Raden Janoko atau Raden Harjuno."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menyusuri pantai menuju ke utara.

********************

Apakah yang terjadi pada diri Joko Darmono, Sie Tiong dan anak buah perahu yang pecah dan tenggelam itu? Selain Tan Beng Ki, ada tiga orang anak buah perahu yang terkena tembakan sehingga mereka tewas. Anak buah yang lain berlompatan ke air ketika perahu mulai tenggelam dari mereka dicerai-beraikan gelombang yang dahsyat sehingga saling berpisah. Di antara permainan gelombang yang menggunung, mereka itu bagaikan semut-semut kecil yang digulung dan ditelan ombak.

Sie Tiong adalah seorang pemuda yang pandai berenang. Akan tetapi dia pun tidak dapat berbuat banyak ketika digulung ombak bergelombang dahsyat itu. Akan tetapi dengan kepandaian renangnya, dia dapat memepertahankan dirinya sehingga tidak tenggelam. Bahkan kalau ada gelombang besar menerkam, dia menyelam agar terlepas dari cengkeraman ombak. Tentu saja seluruh ingatannya terpusat pada Swi Hong, tunangannya yang tercinta.

Dia berenang kesana-sini, mencari-cari Swi Hong namun sia-sia. Tunangannya itu seperti yang lain-lain, agaknya sudah ditelan lautan yang mengganas itu. Dia maklum bahwa dia sudah berada jauh dari tempat di mana perahu tadi pecah. Dia melihat perahu hitam sudah berlayar pergi dan dia dihempaskan, dihanyutkan gelombang ke arah utara.

"Hong-moi.... !" berkali-kali dia mengeluh memanggil nama tunangannya. Hatinya gelisah bukan main. Apakah dia harus kehilangan kekasihnya itu? Tiba-tiba dia mendengar teriakan melengking, dari arah utara.

"Hong-moi... !" Dia berseru dan cepat dia berenang menuju ke arah suara teriakan itu. Kebetulan pada saat itu, gelombang mulai mereda dan lautan menjadi agak tenang. Akhirnya dia dapat melihat bentuk tubuh seseorang di depan sana. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat sirip ikan meluncur dekat orang itu.

"Ikan hiu... !" Teriak Sie Tiong. Orang itu diserang hiu! Akan tetapi ketika dia mempercepat gerakan renangnya mendekat, dia menjadi kagum.

Orang itu adalah Joko Darmono dan pemuda ini dengan gigih melawan serangan seekor hiu sebesar tubuh manusia, menggunakan sebatang keris! Agaknya hiu itu sudah terluka oleh tusukan keris, akan tetapi lukanya tidak parah sehingga ikan buas itu masih berusaha menyerang Joko Darmono, berenang mengitari pemuda itu.

Melihat ini, Sie Tiong cepat mencabut pedang yang terselip di punggungnya, kemudian berenang mendekat. Ketika ikan hiu itu meluncur lewat di dekatnya, Sie Tiong menusukkan pedangnya. Tusukannya mengenai tubuh ikan dan air menjadi merah.

Ikan hiu itu agaknya kesakitan dan binatang itu melarikan diri dalam keadaan luka berdarah, keadaannya itu membuatnya tidak akan dapat bertahan lama karena tentu darah itu akan memancing datangnya ikan-ikan buas lainnya yang sebentar saja dia akan menjadi rebutan ikan-ikan buas yang menyerang untuk memakannya.

"Joko, cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini. Darah ini akan membahayakan kita, ikan-ikan buas lainnya akan berdatangan!"

Sie Tiong berenang mendekat dan dia melihat gerakan Joko Darmono lemah sekali. Agaknya pemuda itu sudah kehabisan tenaga, terengah-engah hanya dapat mempertahankan diri agar tidak tenggelam dengan susah payah.

"Joko, berpeganglah padaku!" katanya sambil mendekat dan Joko Darmono lalu mencengkeram baju Sie Tiong. keduanya berenang dan Joko Darmono dapat mengaso karena berpegang pada baju Sie Tiong, tubuhnya dapat terapung dan dia hanya membantu dengan gerakan kedua kakinya. Mereka meluncur ke depan.

"Lihat, Joko. Ada pantai di depan!" "Sie Tiong.... aku ... aku tidak kuat lagi..."

Sie Tiong terkejut, ini berbahaya, pikirnya. Kalau Joko Darmono sampai pingsan, akan sukarlah baginya menyelamatkan mereka berdua karena dia sendiripun sudah lelah bukan main.

"Joko, bertahanlah! Aku tahu engkau seorang yang sakti dan gagah perkasa, tidak mungkin menyerah begitu saja! Lawanlah ancaman laut yang akan menelanmu! Lawan sekuat tenaga! Hayo kita berdua melawan mati-matian. Lihat, pantai tak jauh lagi, kita harus dapat mencapainya. Kita tidak boleh menyerah, Joko. Pantang menyerah!"

Agaknya ucapan Sie Tiong itu membangkitkan semangat Joko Darmono yang sudah mengendur hampir putus asa. "Pantang menyerah!" teriaknya dan dia seolah mendapatkan tenaga baru, kini berenang di samping Sie Tiong, tidak membonceng dengan memegangi ujung baju lagi.

Setelah menguras semua tenaga selama kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya, berkat dorongan ombak dari belakang, mereka dapat tiba di pantai berpasir. Sie Tiong mendarat lebih dulu dan ketika dia melihat Joko Darmono berjalan terhuyung-huyung menyeberangi air yang selutut tingginya. Ketika akhirnya tiba di pantai, tubuh pemuda itu terkulai dan roboh telentang!

Sie Tiong cepat menghampiri. akan tetapi karena tenaganya sendiri sudah habis dan dia merasa tidak kuat untuk memondong tubuh kawannya itu, dia memegang kedua lengan Joko Darmono yang telentang lalu menyeret tubuh itu ke atas agar air tidak mencapainya. Melihat Joko Darmono terpejam, dan sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak tampak dia bernapas, Sie Tiong khawatir sekali. Dia berjongkok di dekatnya dan meraba dada pemuda itu untuk merasakan detak jantungnya.

Akan tetapi begitu tangannya menyentuh dada, Sie Tiong terkejut dan melompat bangun seperti dipagut ular! Dia berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Joko Darmono. Rambut Joko Darmono riap-riapan karena kain pengikat kepalanya hilang terbawa air laut. bajunya di bagian leher lepas kancingnya sehingga tampak seluruh bagian leher yang berkulit putih mulus.

"Dia.... dia... wanita..." Sie Tiong berkata dengan perasaan heran, terkejut, dan juga bingung. Akan tetapi dia segera teringat bahwa Joko Darmono pingsan dan keadaannya lemah sekali.

Maka dia lalu berjongkok kembali dan kini dia memegang pergelangan tangan Joko untuk merasakan denyut nadinya. Nadinya masih berdenyut, walaupun agak lemah. Sie Tiong pernah mempelajari ilmu menotok jalan darah untuk melancarkan darah, maka tanpa ragu-ragu dia segera menotok kedua pundak Joko Darmono, lalu mengurut tengkuk dan sepanjang tulang punggungnya.

Joko Darmono mengeluh, membuka matanya lalu bangkit duduk, dan melihat Sie Tiong berjongkok di depannya ia bertanya, "Kita... di mana?"

"Tenanglah, Thian Maha Kasih! Kita telah dapat terlepas dari maut dan berhasil mendarat di sini!" lalu dia duduk bersila di depan Joko Darmono dan berkata lagi. "Kita kehabisan tenaga sehingga menjadi lemah. Sebaiknya kita mengaso sebentar dan memulihkan tenaga kita."

Setelah berkata demikian Sie Tiong lalu memejamkan kedua matanya dan berlatih pernapasan. Dia perlu memulihkan tenaganya dan juga ketenangan hatinya yang sempat terguncang mendapat kenyataan bahwa Joko Darmono adalah seorang wanita! Kini dia mendapat kenyataan akan kebenaran ucapan gurunya.

"Thian Le Hwesio, pendeta Buddha di kuil Siauw-Lim-Si bahwa kalau tiba saatnya kematian menjemput seseorang, apa dan siapa pun tidak akan dapat mencegahnya. Sebaliknya kalau saatnya belum tiba, ancaman yang bagaimanapun hebatnya akan terlewat. Dia hanya dapat merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa.

Demikian pula Joko Darmono. selama melakukan perjalanan bersama Bagus Sajiwo, pemuda itu seringkali memperkenalkan Gusti Allah dengan segala kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatu, menciptakan dan menguasai seluruh alam semesta dengan segala isinya. Maka, kini ia dapat merasakan bukti kebesaran dan kekuasaan Gusti Allah.

Hanya kekuasaanNya sajalah yang mampu menyelamatkannya dari cengkeraman maut di antara gelombang lautan yang menggelora itu. Ia pun duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi terkuras habis. Kurang lebih satu jam mereka berdua duduk diam di atas pantai pasir itu. Mereka kini merasa segar dan tenaga mereka pulih kembali.

Joko Darmono membuka matanya dan pertama-tama yang ditemukannya adalah kenyataan betapa bajunya yang basah menempel ketat di tubuhnya dan betapa ramnutnya terlepas dan terurai. Dia menunduk dan terkejut sekali melihat betapa bajunya di bagian dada itu basah kuyup dan menempel ketat pada dadanya sehingga tampak jelas betapa dadanya menonjol. Dada wanita!

Cepat dia menarik baju yang menempel ketat itu agar longgar dan menyembunyikan ciri kewanitaannya. Ketika dia mengangkat muka memandang, sinar matanya bertemu pandang mata Sie Tiong. Pemuda itu membungkuk dan menundukkan mukanya sambil berkata hati-hati.

"Joko, harap engkau suka memaafkan aku. tanpa kusengaja aku mengetahui bahwa engkau adalah seorang wanita."

Hening sejenak. Joko Darmono menatap wajah yang menunduk itu, alisnya berkerut. Dia memikirkan bagaimana Sie tiong dapat mengetahui rahasianya itu. Kemudian dia teringat. rambutnya yang terurai, leher bajunya yang terkuak lebar, lalu payudaranya yang membayang di balik baju yang basah kuyup dan menempel ketat. Atau mungkin juga ketika mereka berdua berjuang dan bergulat melawan ombak, tentu tanpa disengaja tubuh mereka dapat bersenggolan atau berhimpitan diombang ambingkan gelombang dahsyat. Ah, sama sekali tidak aneh kalau Sie Tiong dapat mengetahui bahwa dia seorang wanita!

Dia menghela napas panjang, sebetulnya bukan merupakan hal yang amat penting untuk menyembunyikan kewanitaannya dibalik penyamaran. Dia menyamar sebagai seorang pria hanya dengan maksud agar perjalanannya lebih leluasa dan mudah, tidak menghadapi halangan dan banyak gangguan. Pertemuannya dengan Bagus Sajiwo itulah yang membuat dia menyimpan rapat rahasianya itu.

Bagus Sajiwo menganggap dia seorang pemuda dan kini mereka berdua telah menjalin persahabatan yang akrab. Kalau Bagus Sajiwo mengetahui bahwa dia wanita, belum tentu mereka berdua akan dapat bersahabat demikian akrab. Dia tahu betapa Bagus Sajiwo bukan seorang pemuda yang mudah tertarik kecantikan seorang wanita. Kalau kini Sie Tiong mengetahui rahasianya, tidak mengapa. Tidak ada bedanya baginya.

"Sie Tiong, tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Dalam keadaan begini tentu saja aku tidak mampu menyamar sebagai pria dengan baik. Tidak mengapa kalau engkau kini mengetahui bahwa aku seorang gadis, akan tetapi aku minta dengan sangat agar engkau tetap menganggap aku seorang pemuda dan memanggil aku Joko. Dan yang lebih penting lagi, aku minta agar engkau tidak membuka rahasiaku ini dan tidak menceritakan kepada siapapun juga!"

Kalimat terakhir ini terdengar mengandung ketegasan. Sie Tiong menangguk-angguk. "Baik, tentu saja aku akan merahasiakan keadaanmu yang sesungguhnya, Joko. Akan tetapi bolehkah aku mengajukan dua buah pertanyaan mengenai penyamaranmu ini?"

"Boleh. Dua saja dan setelah itu kita tutup semua pembicaraan mengenai hal ini. Setuju?"

"Setuju. Nah, pertanyaanku yang pertama, mengapa engkau menyamar sebagai seorang pemuda, Joko? Akan tetapi kalau engkau merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan ini, tidak usah engkau menjawabnya. Aku tidak ingin mengetahui masalah pribadimu, hanya ingin tahu mengapa engkau bersusah payah seperti itu?"

Joko Darmono tersenyum. "Karena engkau sudah mengetahui bahwa aku seorang gadis, tentu saja engkau boleh mengetahui semuanya, Sie Tiong. Memang tadinya aku tidak mempunyai niat untuk merahasiakan keadaan diriku. Begini, aku bernama Niken Darmini, Guruku adalah Nini Kuntigarbo. Sejak kecil aku ikut Guruku yang bertapa di gunung Betiri mempelajari aji kanuragan dan kesaktian. Setelah mendapat perkenan Guruku, aku melakukan pejalanan merantau, mencari pengalaman dan diberi waktu selama dua tahun oleh guruku. dalam perjalanan itu aku sengaja menyamar sebagai seorang pemuda atas nasihat Guruku agar aku dapat melakukan perjalanan dengan leluasa dan tidak mengalami banyak gangguan dalam perjalanan. Nah, dalam perjalanan itu aku bertemu dengan Bagus Sajiwo dan kami berkenalan, saling cocok dan menjadi sahabat. Aku tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perantauanku, maka ketika Bagus Sajiwo mengajak aku untuk melihat-lihat keadaan Blambangan, aku melihat Blambangan bersekutu dengan Bali dan dibantu Belanda untuk memusuhi Mataram."

"Terima kasih, Joko. Keteranganmu yang panjang lebar itu membuat aku mengerti mengapa engkau melakukan penyamaran dan biarpun aku tidak tahu siapa itu Nini Kuntigarba, aku yakin bahwa ia tentu seorang wanita pertapa yang sakti mandraguna. Pertanyaanku kedua adalah, apakah Bagus Sajiwo juga tidak tahu bahwa engkau seorang wanita?"

Joko Darmono tersenyum, dia menggeleng kepala. "Sama sekali dia tidak tahu bahwa aku wanita, dan karena itulah maka aku minta engkau merahasiakannya kepada siapapun juga agar Bagus tidak sampai mendengar. Kalau dia tahu.... maka sudah tidak lucu lagi. Nah, sekarang kita bicara soal lain. Kita berdua selamat, Sie Tiong, akan tetapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan Bagus Sajiwo dan Swi Hong, juga para anak buah perahu lainnya? Mengapa tidak ada yang terdampar ke sini?"

Sie Tiong yang sejak tadi sudah gelisah sekali memikirkan nasib tunangannya, mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang. "Entahlah, Joko, aku pun khawatir sekali. Dalam keadaan seperti ini, apa yang dapat dilakukan? Ah, aku merasa tidak berdaya sama sekali. Ya Tuhan, bagaimana dengan Hong-moi?"

Mendengar suara yang menggetar penuh kegelisahan dan kesedihan ini, Joko Darmono berkata lembut. "Jangan putus harapan, Sie Tiong. Selagi masih hidup, harapan harus tetap ada. percayalah, kalau Gusti Allah menghendaki, bukan mustahil Swi Hong akan selamat pula, seperti yang terjadi pada kita."

Tiba-tiba Joko Darmono merasa jantungnya seperti diremas karena dia teringat kepada Bagus Sajiwo. Ucapannya tadi merupakan pengulangan dari ucapan Bagus Sajiwo kepadanya. "Engkau benar, Joko. Biarlah aku hanya dapat memanjatkan doa dan mohon kepada Thian Yang Maha Pengasih agar Swi Hong dapat diselamatkan... juga Bagus Sajiwo!"

"Sekarang sebaiknya kita mencoba mencari mereka. Siapa tahu mereka terdampar tak jauh dari pantai ini."

Mereka lalu bangkit dan berjalan menusuri pantai, kalau terhalang bukit karang mereka mendaki, lalu turun di sebelah sana menyusuri pantai yang landai. Akan tetapi sampai matahari condong ke barat mereka tidak menemukan seorang pun. Akhirnya malam tiba dan mereka melewatkan malam dalam sebuah gua di bukit karang. Sie Tiong membuat api unggun dan mereka mengaso dalam gua. Lewat tengah malam, ketika Joko Darmono masih pulas, tiba-tiba dia terkejut mendengar teriakan-teriakan Sie tiong.

"Hong-moi.... ya Tuhan, Hong-moi...!" Sie Tiong berteriak-teriak. Api unggun dalam gua itu hampir padam sehingga keadaan di situ agak gelap.

Joko Darmono cepat mengambil kayu dan menyalakan api unggun lagi sehingga kini keadaannya terang. Dia melihat Sie Tiong masih tidur, gelisah bergerak ke kanan kiri sambil mulutnya masih memanggil-manggil Swi Hong.

"Hong-moi.... Hong-moi....!" Joko Darmono menghampiri pemuda yang tengah mimpi dan mengigau itu, lalu mengguncang pundaknya...

Kemelut Blambangan Jilid 08

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Kemelut Blambangan

Jilid 08

TAN BENG KI sendiri sebagai seorang pria, diam-diam merasa tidak senang melihat sikap Swi Hong. Andaikata dia sendiri sebagai seorang yang menjunjung tinggi kebenaran, pasti tidak akan membela isterinya kalau sang isteri itu bersalah. Kewajiban seorang suami yang bijaksana bukan membela isterinya yang bersalah, melainkan berusaha menyadarkan sang isteri dari kesalahannya. Akan tetapi dia merasa tidak baik kalau membantah pendapat puterinya di depan mereka semua dan dia lalu membelokkan percakapan.

"Kalau begitu tidak terlalu salah dugaanku. Biarpun kalian tidak langsung diutus oleh kanjeng Sultan Agung di Mataram, namun jelas bahwa kalian hendak menyelidiki keadaan Blambangan dan hal itu kalian lakukan sepengetahuan Sang Bupati Tuban."

"Wah, aku senang sekali membantu. Biarpun aku tidak terlibat secara langsung kalau Mataram berperang melawan Blambangan, namun aku jelas tidak berpihak kepada Blambangan. Mataram gigih menentang Belanda dan aku kagum dan senang melihat itu. Negaraku sendiri, Cina, juga dijajah bangsa asing, yaitu bangsa Mancu. Maka, melihat Mataram menentang bangsa Belanda, aku berpihak kepada Mataram."

"Itulah yang menyebalkan, Paman Tan. Agaknya Blambangan dibantu pula oleh Kumpeni Belanda, maka aku semakin tak suka melihat gerakan Blambangan hendak menyerang Mataram itu." kata Joko Darmono.

"Kalian berdua jangan khawatir. Kalian dapat mengaku sebagai pembantu-pembantuku dan perahuku akan membawa kalian mendarat di suatu pantai terpencil dan sunyi di daerah Blambangan.” Demikianlah, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono bercakap-cakap dengan keluarga pedagang itu. Kemudian mereka mengaso dan tidur di dalam kamar yang telah disediakan oleh tuan tumah untuk mereka.

********************

Malam itu gelap dan dingin. Hujan yang baru turun sejak sore baru reda menjelang tengah malam. Udara yang amat dingin membuat orang enak tidur dan enggan bergadang. Kota Tuban sunyi sekali, tidak ada seorang pun di jalan atau di luar rumah. Juga di rumah besar Tan Beng Ki semua penghuni rumah sudah tidur. Kamar Tan Beng Ki berada di ruangan tengah, berjajar dengan kamar Tan Swi Hong. Kamar Sie Tiong masih berada di belakang, di mana terdapat kamar-kamar yang khusus untuk para karyawan yang mondok di rumah besar itu.

Selain Sie Tiong, terdapat empat karyawan lain yang tinggal di dua kamar sebelah Sie Tiong, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono juga mendaparkan dua buah kamar tak jauh dari kamar tuan rumah. Semua orang sudah tidur, kecuali Bagus Sajiwo yang masih duduk bersila di atas pembaringan dalam keadaan bersamadhi. Dalam kesunyian malam gelap itu, tiba-tiba tampak bayangan beberapa orang bergerak di dekat rumah besar milik Tan Beng Ki.

Setelah tiba di bawah lampu gantung yang berada di samping rumah besar itu, tampaklah dalam keremangan bahwa mereka itu adalah Kam Leng dan empat orang lain. Dua orang Cina dan dua orang Jawa, keempatnya bertubuh tinggi besar, tampak kuat dan berwajah bengis. Mereka berkumpul dan berbisik-bisik di bawah lampu gantung itu.

"Nah, sekali lagi kujelaskan seperti yang sudah kita rencanakan. Kalian, A Siong, A Tong dan Wira masuk ke ruangan dalam seperti sudah kugambarkan. Ingat, yang kiri itu kamar Tan Beng Ki. A Siong sendiri cukup kuat untuk membunuhnya. Dan kamar yang kanan itu kamar Nona Tan Swi Hong. Bagian A Tong dan Wira untuk membongkar pintu memasuki kamar itu. Ingat, kalian berdua tidak boleh melukainya, apalagi membunuhnya. gadis itu adalah calon isteriku!"

A Siong, A Tong dan Wira mengangguk. "Dan engkau, Jalu, engkau ikut aku, membantuku untuk membunuh Sie Tiong di kamar belakang. Sekali lagi ingatlah, Tan Beng Ki dan Sie Tiong harus dibunuh dan Nona Tan Swi Hong harus diculik tanpa melukainya. Mengerti kalian semua?" Kembali empat orang itu mengangguk.

Kemudian, dengan Kam Leng yang sudah hafal akan keadaan jalan, mereka berlima memasuki lewat pagar tembok di belakang, lalu berindap-indap menghampiri rumah besar. Biarpun A Tong dan Wira sudah diberitahu oleh Kam Leng bagaimana caranya untuk membuka daun pintu kamar itu dengan paksa, tetap saja mereka menimbulkan suara yang menggugah Swi Hong dari tidurnya.

Gadis ini mendengar suara di pintu dan melihat daun pintu itu bergoyang-goyang, ia cepat turun dari tempat tidur, mengenakan baju luar dan sepatunya, kemudian menghampiri dinding di mana tergantung siang-kiam (sepasang pedang) yang menjadi senjata andalannya. Pada saat itu mencabut sepasang pedang itu, daun pintu terbuka dan masuklah dua orang laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Karena lampu penerangan dalam kamar itu hanya redup, Swi Hong tidak dapat melihat wajah mereka dengan jelas.

"Siapa kalian!" bentaknya dan ia sudah maju menyerang dengan sepasang pedangnya, yakin bahwa mereka pasti orang-orang jahat yang mempunyai niat tidak baik.

A Tong dan Wira terkejut sekali, akan tetapi karena mereka sudah diberitahu Kam Leng bahwa gadis itu bukan orang lemah, maka mereka cepat melompat keluar kamar sambil mencabut pedang dan Wira mencabut sebatang golok. Ruangan di luar kamar itu mendapat penerangan yang lebih besar sehingga Swi Hong yang mengejar keluar dapat melihat wajah mereka. Akan tetapi ia tidak mengenal mereka dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menyerang mereka dengan sepasang pedangnya. Dua orang yang sudah dipesan agar tidak melukai gadis itu, melainkan menangkap dan menculiknya, menggerakkan senjata menangkis.

"Trang! Cringg!" Swi Hong merasa betapa kedua tangannya tergetar, menandakan bahwa dua orang lawannya ini bukan orang-orang lemah. Akan tetapi ia tidak merasa gentar dan sambil membentak nyaring ia menyerang bertubi-tubi. Namun kedua orang lawannya dapat menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan sambil berusaha meraih dengan tangan kiri untuk menangkap gadis itu.

Kegaduhan di luar kamar itu membuat Tan Beng Ki terbangun dari tidurnya pula. Dia menggosok-gosok kedua matanya dan mendekati pintu untuk meneliti dan mendengarkan labih jelas. Ketika mendengar beradunya senjata tajam dan bentakan-bentakan suara puterinya, Tan Beng Ki cepat menyambar sebatang tombak yang berada di sudut kamarnya. Dia lalu membuka daun pintu. Pada saat itu, sebatang pedang menyambar ketika dia melangkah keluar. Tan beng Ki terkejut dan cepat menangkis sinar pedang yang enyambar ke arah lehernya itu.

"Trangggg .... !" Tombaknya terpental dan hampir terlepas dari genggamannya sehingga Tan Beng Ki terkejut bukan main. Dia melompat keluar dan segera melawan mati-matian ketika laki-laki Cina tinggi besar itu menyerangnya dengan pedang. serangan orang itu ganas dan kuat sekali sehingga Tan Beng Ki harus memutar tombaknya dengan cepat untuk melindungi dirinya. Dia bingung dan khawatir sekali melihat puterinya juga sedang berkelahi, bahkan dikeroyok dua orang.

Pada saat Ayah dan Anak ini terdesak dan Tan Beng Ki sudah menderita luka-luka di lengan dan pahanya, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan yang bukan lain adalah Bagus Sajiwo dan Joko Darmono. Mereka tadi terbangun oleh suara gaduh perkelahian di ruangan dalam itu dan hampir berbareng mereka keluar dari kamar masing-masing, lalu berlari cepat ke tempat perkelahian. Selagi mereka hendak membantu ayah dan anak itu, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan mengaduh dari arah belakang. Joko Darmono sepintas pandangan saja sudah dapat mengukur tingkat kepandaian tiga orang yang menyerang Tan Beng Ki dan Tan Swi Hong itu.

"Bagus, cepat engkau lihat di belakang. Siapa tahu bantuanmu dibutuhkan Sie Tiong di sana. Biar yang di sini kubereskan!"

Bagus Sajiwo juga merasa yakin bahwa sahabatnya itu akan mampu menundukkan tiga orang penjahat itu, maka dia lalu melompat dan lari ke arah bangunan belakang di mana Sie Tiong tinggal bersama beberapa orang karyawan lain. Ketika tiba di belakang, Bagus Sajiwo melihat Sie Tiong sedang berkelahi melawan seorang pemuda Cina yang bertubuh tinggi tegap. Sie Tiong bersenjatakan sebatang toya yang merupakan senjata andalannya dan lawannya menggunakan sebatang pedang.

Mereka bertanding dengan seru dan mati-matian. Akan tetapi sekali pandang saja Bagus Sajiwo maklum bahwa lawan Sie Tiong masih kalah kuat. Pemuda itu mulai mundur-mudur dan lebih banyak menangkis daripada menyerang. Tak jauh dari situ, Bagus Sajiwo melihat seorang laki-laki lain mengamuk dengan goloknya.

Dia bukan Cina dan agaknya goloknya telah merobohkan tiga orang, sedangkan yang seorang lagi masih melawan mati-matian, menggunakan sebuah parang, akan tetapi orang ini pun sudah menderita luka-luka di badannya. Melihat ini, Bagus Sajiwo cepat melompat dan menyambar ke arah orang yang mengamuk dengan goloknya itu.

"Wuuuttt .... plakkk! Aduhhh .... !" Orang bermuka hitam tinggi besar yang bukan lain adalah Jalu teman Kam Leng itu terjengkang jatuh dan lawannya yang sudah luka-luka cepat menubruk dan membacokkan parangnya ke arah leher penjahat itu.

"Crakkk!! Darah muncrat dan Jalu tewas seketika. Akan tetapi karyawan yang sudah menderita luka-luka parah itupun terguling roboh.

Perkelahian antara Sie Tiong dan Kam Leng terjadi dengan seru. Ilmu silat mereka satu aliran. Keduanya menguasai ilmu silat aliran Siauw Lim. Akan tetapi Sie Tiong adalah Sute (Adik seperguruan) Kam Leng, maka tentu saja ilmu silatnya masih kalah tangguh, apalagi karena sejak berusia belasan tahun Kam Leng adalah seorang tukang berkelahi, maka gerakan Sie Tiong kalah matang dan juga tenaganya kalah kuat. Namun, tentu saja dia melawan mati-matian, membela diri dengan gigih.

"Mampus kau, manusia tidak mengenal budi!" Kam Leng membentak, pedangnya meluncur dengan gerakan memutar, menusuk ke arah dada Sie Tiong. Sie Tiong yang memang sudah terdesak itu cepat menangkis dengan toyanya.

"Tranggg .... !" Kedua tangan Sie Tiong yang memegang toya tergetar hebat dan toyanya terlepas! Pada saat itu ujung pedang meluncur lagi ke dadanya. Dia miringkan tubuh ke kanan.

"Srattt .... !" Pundak Sie Tiong disambar pedang. Baju, kulit dan sedikit daging di pangkal lengan kirinya robek dan berlepotan darah. Tubuh Sie Tiong terhuyung dan Kam Leng cepat mengejar, pedangnya dibacokkan ke arah leher Sie Tiong yang amat dibencinya. Dalam keadaan terhuyung itu Sie Tiong sama sekali tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran pedang ke arah lehernya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Singgggg .... plakkkk !!" Kam Leng terbelalak, terkejut bukan main karena tangan orang yang menangkis pedangnya itu membuat pedangnya patah dan terlepas dari pegangan tangannya yang terasa panas dan pedas sekali. Maklumlah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti, yang dengan tangan kosong dapat mematahkan pedangnya. Apalagi melihat Jalu telah roboh dan agaknya tewas, Kam Leng menjadi panik dan ketakutan.

Dia lalu melompat dan menghilang dalam kegelapan. Bagus yang tadi menangkis pedang Kam Leng dan menyelamatkan nyawa Sie Tiong, tidak mengejar. Dia lalu menghampiri Sie Tiong setelah melihat pemuda itu terluka. Akan tetapi Sie Tiong berkata, "Bagus, aku tidak apa-apa. Tolong selamatkan Hong-moi dan Ayahnya..."

Bagus yang kembali ke ruangan dalam dan Sie Tiong mengikuti dari belakang. “Tiong-ko...!" Swi Hong menjerit ketika melihat Sie Tiong muncul dengan baju berlepotan darah, lalu ia berlari menghampiri. "Engkau... terluka....?"

"Tidak mengapa, Hong Moi, hanya terluka sedikit di bahuku. Bagus telah menyelamatkan nyawaku." Mereka saling berpegangan tangan.

Sementara itu, Bagus Sajiwo berdiri tertegun memandang ke arah mayat tiga orang yang menggeletak mandi darah dan agaknya sudah tewas semua. Joko Darmono berdiri sambil tersenyum mengejek, sebatang pedang yang berlepotan darah berada di atas lantai depan kakinya.

Tan Beng Ki duduk di atas sebuah bangku sambil mengeluh dan pakaiannya juga berlepotan darah yang mengucur dari luka di paha dan lengannya. Ternyata ketika Joko Darmono muncul, dia lalu mengamuk. Dengan gerakannya yang amat cepat dia telah berhasil merampas sebatang pedang dari tangan seorang penyerbu. Kemudian dengan pedang rampasannya itu telah menyambar-nyambar dan tiga orang yang bukan lain adalah A Siong, A Tong dan Wira, para pembantu Kam Leng itu, berpelantingan roboh dan tewas dengan luka di leher atau dada mereka.

Tan Beng Ki juga sudah luka-luka sebelum Joko Darmono muncul, lalu menjatuhkan diri di atas bangku. Biarpun dia sendiri sudah terluka, melihat calon mertuanya terluka parah, Sie Tiong segera berlari menghampiri. Akan tetapi, Tan Beng Ki yang duduk di bangku ternyata pingsan karena luka-lukanya. Sie Tiong segera dibantu oleh Bagus Sajiwo untuk menggotong Tan Beng Ki ke dalam kamarnya.

Bagus Sajiwo yang banyak mempelajari ilmu pengobatan dari mendiang Ki Ageng Mahendra memeriksa luka-luka di tubuh kedua orang itu. Luka-luka mereka cukup dalam dan parah walaupun hanya merupakan luka pada daging, tidak merusak otot besar atau tulang.

Dia lalu cepat menyuruh para pembantu yang siap melaksanakan semua perintahnya untuk mengobati dua orang yang terluka itu untuk mencari Akar pohon Trengguli, madu murni, getah pohon Gondang, getah pohon papaya, akarnya dihaluskan lalu dicampurkan dan dipanaskan di atas api kecil. Sesudah itu, Bagus Sajiwo mencuci bagian tubuh yang luka dengan air matang, lalu mengoleskan obat sampai semua permukaan luka tertutup obat, setelah itu bagian yang terluka dibalut dengan kain putih bersih.

"Ah, terima kasih, Bagus. Rasanya sejuk sekarang." kata Tan Beng Ki. Akan tetapi dia masih merasa lemah.

Demikian pula Sie Tiong. Biarpun obat itu telah melenyapkan rasa panas dan nyeri pada tubuh mereka yang terluka, terganti rasa sejuk, namun mereka merasa lemah. Hal ini adalah karena mereka kehilangan banyak darah. Akan tetapi untuk mengatasi hal ini, Tan Beng Ki mempunyai resep obat yang manjur, yang merupakan cara pengobatan dari Cina Kuno.

Dia menyuruh orang merebus ayam muda jantan dengan ji-som (akar obat) dalam arak merah yang dicampur air. Ayam itu direbus sampai matang dan lunak, lalu Tan Beng Ki dan Sie Tiong makan masakan itu dan minum airnya. Hal ini dilakukan setiap hari selama satu minggu dan ternyata kesehatan mereka sudah pulih kembali. Tubuh mereka menjadi kuat kembali dan luka-luka mereka sudah hampir sembuh, sudah kering dan tidak nyeri.

Setelah dua orang itu sembuh, mereka lalu berkemas dan membuat persiapan untuk berlayar seperti yang telah direncanakan. Tan Beng Ki membawa barang dagangannya, untuk berdagang ke daerah Jawa Timur melalui selat Madura seperti yang biasa dia lakukan. Sie Tiong dan Tan Swi Hong, selain merayakan pertunangan mereka dengan berpesiar ikut dengan perahu besar itu, juga untuk menghindarkan diri dari gangguan Kam Leng. Adapun Bagus Sajiwo dan Joko Darmono ikut dengan perahu untuk pergi ke Blambangan melakukan penyelidikan.

Perahu Tan Beng Ki itu cukup besar, kokoh dan kuat. Dia memenuhi perahunya dengan muatan tembakau. Selain Tan Beng Ki, Tan Swi Hong, Sie Tiong, dan dua orang tamu mereka, Bagus Sajiwo dan Joko Darmono, terdapat pula sepuluh orang anak perahu yang mengatur pelayaran itu dan mereka adalah para pembantu Tan Beng Ki.

Pelayaran itu lancar dan perahu hanya mendarat di bandar-bandar tertentu di mana sudah ada langganan Tan Beng Ki yang menyambut untuk membeli daun tembakau. Ketika perahu melalui selat Bali, keadaan lautan di selat itu tidak tenang. Ombak besar bergulung-gulung dan hanya pengalaman dan keahlian para anak buah perahu saja yang membuat perahu dapat bertahan dari hempasan ombak dan dapat meluncur menuju selatan.

Pada suatu pagi, perahu itu tiba disuatu tempat yang dituju. Blambangan sudah tampak dan biarpun ombak di situ masih ganas, namun para anak buah perahu dapat dapat mengarahkan perahu mereka ke arah daratan di barat. Pagi itu cerah sekali dan sinar matahari pagi membuat jalur keemasan yang panjang di atas permukaan air yang bergelombang.

Joko Darmono yang lebih mengenal keadaan di pesisir daratan Blambangan, menjadi penunjuk jalan. mereka berlima, berdiri di atas perahu, memandang ke arah daratan yang terdiri dari bukit-bukit karang dengan dinding-dinding karang yang terjal.

"Wah, di bagian ini tidak mungkin melakukan pendaratan." kata Bagus Sajiwo.

"Justeru di sinilah merupakan tempat pendaratan yang baik sekali karena daerah ini sepi, tak pernah didatangi orang. Kita dapat mendarat di sini tanpa diketahui orang." kata Joko Darmono.

"Akan tetapi, Joko, bagaimana mungkin mendarat di daerah ini? Tebing-tebing karang itu begitu terjal dan lihat, ombak menghantam dinding karang dengan dahsyatnya. Perahu ini akan terancam bahaya dibanting ke dinding karang itu oleh ombak!" kata Tan Beng Ki.

Joko Darmono tersenyum. "Jangan khawatir, Paman. Di sana, di sebelah kanan dinding bukit karang yang menonjol itu, terdapat bagian yang landai dan di sanalah kami akan mendarat."

Lalu Joko Darmono memberi peunjuk kepada juru mudi ke arah yang dia maksudkan itu.

"Hei, di sana ada perahu besar!" terdengar juru mudi berseru. "Dan perahu itu melaju menuju ke arah kita!" teriak anak nuah yang lain.

Bagus Sajiwo dan Joko Darmono memandang dan mereka melihat sebuah perahu besar hitam meluncur ke arah perahu mereka. Tan Beng Ki bertiga juga memandang penuh perhatian dan dia berkata sambil mengerutkan alisnya.

"Itu bukan perahu pedagang, juga bukan orang-orang sedang pesiar. Lebih mirip perahu bajak laut! Akan tetapi jangan khawatir, biasanya para bajak laut tidak menggangguku. Mereka hanya minta sumbangan dan aku sudah biasa menyumbang mereka dalam jumlah besar sehingga mereka tidak pernah mengganggu perahuku."

Setelah berkata demikian, Tan Beng Ki lalu maju dan berdiri di kepala perahu dan setelah perahu besar bercat hitam itu datang semakin dekat, dia mengangkat kedua tangan ke atas lalu melambaikan tangannya. Bagus Sajiwo menghampiri Tan Beng Ki dan tiba-tiba dia berseru, "Paman. awas.... !"

Berbareng dengan teriakannya itu, terdengar ledakan-ledakan dari perahu hitam itu dan tampak kilatan api. Tiba-tiba Tan Beng Ki terjengkang roboh mandi darah. Bagus Sajiwo maklum bahwa orang-orang di perahu itu menyerang dengan tembakan api!

"Semua tiarap!" Bagus Sajiwo memberi peringatan.

"Ayah... !!" Swi Hong lari dan berlutut dekat tubuh Ayahnya yang mandi darah. Tiga buah peluru telah menembus dadanya dan keadaannya tidak dapat diharapkan lagi.

"Swi Hong.... cepat.... lari.... !” katanya lemah dan dia terkulai, tewas.

"Ayaahhh... !" Swi Hong menangis di atas dada Ayahnya.

Sie Tiong marah sekali bahwa Suhengnya, Kam Leng, berada pula di atas perahu hitam itu. Maka melihat Ayah mertuanya tewas, dia melompat ke arah juru mudi, merebut kemudi perahu dan mengarahkan perahu itu lurus ke arah perahu hitam. Pemuda yang marah dan nekat karena merasa percuma melawan karena musuh mempergunakan senjata api, dengan kemarahan meluap lalu menabrakkan perahunya kepada perahu hitam itu.

"Braaakkk.... !!" Kedua perahu itu bertabrakan keras dan keduanya pecah bagian depannya. Akan tetapi kerusakan pada perahu milik Tan Beng Ki lebih parah, bahkan menjadi miring dan semua penumpangnya berpelantingan. Terdengar ledakan-ledakan senjata api. Para anak buah perahu terpaksa menyelamatkan diri dengan melompat keluar dari perahu yang sudah miring itu.

Joko Darmono melompat ke dekat Bagus Sajiwo. "Bagus! Kita harus tinggalkan perahu!"

Setelah berkata demikan, Joko Darmono menghampiri Tan Swi Hong yang masih berlutut menangisi Ayahnya. "Swi Hong, perahu akan tenggelam! Mari lari.... !" kata Joko Darmono sambil memegang lengan gadis itu.

Akan tetapi Swi Hong tetap berlutut menangisi Ayahnya. "Dar-dar-dar-darr....!!"

Tembakan datang dari perahu hitam dengan gencar dan melihat ini, Joko Darmono cepat menarik tangan Swi Hong dan dibawanya gadis itu melompat keluar dari perahu yang miring. Bagus Sajiwo juga menarik tangan Sie Tiong yang masih mencoba mengemudikan perahunya.

"Hayo kita cepat pergi!” Dan dia lalu menarik pemuda itu dan membawanya melompat keluar dari perahu. Gelombang di lautan itu amat besar dan segera para penumpang perahu yang berlompatan ke air itu ditelan ombak dan lenyap.

Perahu hitam itu adalah perahu Kadipaten Blambangan yang membawa mereka yang ditugaskan oleh Begawan Kalasrenggi untuk menangkap mata-mata Mataram yang ikut dengan perahu milik Tan Beng Ki itu, dengan Kam Leng sebagai penunjuk jalan. Mereka adalah Kaladhama, Kalajana, Arya Bratadewa dan Candra Dewi yang menjadi kaki tangan Kumpeni belanda. Yang melepas tembakan-tembakan adalah Arya Bratadewa dan anak buahnya yang membawa senapan.

Tentu saja mereka terkejut sekali ketika perahu pedagang itu dengan nekat menabrak perahu mereka. Hal ini sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Ketika perahu dagang itu pecah dan mulai tenggelam, semua anak buah perahu berloncatan ke air dan karena air bergelombang dan perahu hitam mereka juga mengalami kerusakan, maka mereka tidak dapat menangkap atau menyerang lagi dengan tembakan. Semua orang sibuk berusaha mengarahkan perahu ke pesisir.

Bagus Sajiwo mencoba untuk menguasai dirinya. Akan tetapi, semua aji kanuragan yang pernah dipelajarinya dan telah dikuasainya dengan baik, seolah-olah tidak ada artinya sama sekali. Dia menjadi pemainan gelombang ombak seperti sepotong kayu saja, hanya berkat latihan pernapasannya yang membuat dia mampu menahan dan mengatur pernapasan yang agak menolongnya sehingga dia tidak sampai terpaksa menelan air laut karena terkadang dia digulung ke dalam ombak sampai agak lama.

Entah berapa lama dia menjadi permainan gelombang. Diayun dan diangkat tinggi, lalu dihempaskan oleh kekuatan yang amat dahsyat, yang membuat segala macam tenaga sakti yang dapat diupayakan untuk dikuasai manusia menjadi tidak ada artinya sama sekali, seolah angin tiupan mulut dalam gelora angin taufan. Dia hanyut dan hanya mampu berusaha semampunya untuk tetap sadar dan tidak sampai tenggelam dan terkubur dalam lautan.

Dia tidak ingat berapa lama dia terayun, terangkat lalu terbanting itu, hanya rasanya lama sekali, terlalu lama sehingga tenaganya untuk tetap tahan di atas air terkuras. Dia sudah berusaha sejak tadi untuk mencari Joko Darmono, Sie Tiong, dan Tan Swi Hong, juga anak buah perahu, namun tidak berhasil melihat mereka.

"Ayaaaahh... !" Tiba-tiba telinganya dapat menangkap teriakan lemah ini di sebelah kirinya. Aneh terasa olehnya karena seolah jeritan itu merupakan kata ajaib karena tiba-tiba saja gelombang yang tadi mengamuk menjadi reda. Bagus Sajiwo cepat mencari dengan pandang matanya ke arah suara tadi dan dia melihat Tan Swi Hong sedang terapung-apung seperti dia, dan gadis itu juga berusaha menyelamatkan diri, bahkan telah bergantung kepada sepotong kayu yang cukup besar, sebesar tubuh manusia dan panjangnya ada dua tombak.

"Swi Hong.... !" Dia berteriak dan berenang menghampiri.

"Bagus... oh, Bagus.... !" Swi Hong berseru lemah, terisak. Akhirnya Bagus Sajiwo dapat meraih kayu itu dan ternyata itu adalah tiang perahu layar mereka yang agaknya patah dan terapung sehingga menyelamatkan nyawa Swi Hong yang tadinya sudah kepayahan dan tidak kuat lagi. Bagus Sajiwo lalu membantu gadis itu untuk naik dan dapat duduk di atas kayu itu. Dia tetap berada di air, menahan kayu itu agar tidak berputar sehingga akan membuat tubuh Swi Hong terguling.

Gadis itu terengah-engah lemas. Setelah tenaganya agak pulih dan hatinya mulai tenang karena melihat Bagus Sajiwo, ia membuka matanya yang tadinya terpejam dan memandang kepada Bagus Sajiwo yang bergantung pada balok kayu itu.

"Bagus.... bagaimana... Ayahku.... ?"

"Swi Hong, tenangkanlah hatimu, dalam keadaan seperti ini, kita harus berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan karena hanya Dia yang akan mampu menyelamatkan kita kalau Dia menghendaki. Setelah itu baru kita akan berusaha sekuat kita untuk dapat mencapai daratan. Jangan pikirkan tentang Ayahmu, tentang Sie Tiong dan Joko Darmono atau yang lain-lain, tidak ada gunanya semua itu. Yang terpenting sekarang, kita harus berupaya agar dapat mencapai daratan."

Swi Hong dapat mengerti ucapan itu. Ia tahu bahwa kalau membayangkan tentang Ayahnya, tunangannya dan lain-lain, ia akan tertekan rasa khawatir dan sedih yang akan melemahkan semangat dari tenaganya. Ia lalu melupakan semua itu dan memandang ke sekeliling. Tidak tampak perahu hitam tadi, juga tidak tampak ada orang terapung dekat situ. Gelombang tidak mengganas lagi dan di sebelah timur ia melihat daratan yang tampak hijau kehitaman.

"Di sana ada daratan, Bagus."

Bagus Sajiwo memandang, "Hemm, agaknya kita sudah terbawa menjauh dari darat oleh gelombang. Mari, Swi Hong, kita kerahkan tenaga untuk mendorong kayu ini ke arah daratan, pergunakan tangan dan kakimu."

Swi Hong lalu menelungkup di atas kayu itu dan menggunakan kedua tangannya seperti mendayung. dibantu kakinya. Bagus Sajiwo juga mendorong sambil berenang. Untung bagi mereka bahwa ombak yang menuju daratan itu lebih kuat daripada dorongan air yang berlawanan sehingga biarpun tidak dapat cepat, namun mereka dapat bergerak maju, sedikit demi sedikit dan lambat sekali. Bagus Sajiwo sengaja mengajak gadis itu bicara untuk membesarkan hatinya.

"Swi Hong, percayakah engkau kepada Gusti Allah?"

"Gusti Allah? Tentu saja, dalam bahasa Cina disebut Thian, Yang Maha Kuasa dan Maha Pencipta."

"Ya, Dia Yang Maha Pencipta, yang menciptakan seluruh alam mayapada berikut isinya, juga menciptakan lautan dengan gelombangnya ini. Dan juga Dia Maha Kuasa, sehingga kalau Dia menghendaki, biarpun terancam bahaya yang bagaimanapun juga, manusia dapat terhindar dari malapetaka. Kita dapat Dia selamatkan, juga yang lain-lainnya kalau Dia menghendaki."

Swi Hong mengangguk. "Semoga Tiong-ko, Joko, dan yang lain-lain diselamatkan Thian. Akan tetapi, Bagus, Ayahku..." gadis itu menangis lagi akan tetapi ia tidak berhenti mendorong balok kayu itu dengan kedua tangannya.

"Swi Hong, seperti juga kehidupan, kematian pun terjadi kepada setiap orang atas kehendakNya, tak dapat diubah oleh siapa pun juga. Kita hanya dapat menerima segala keputusan terakhir itu, setelah kita mengerahkan segala kemampuan kita untuk berikhtiar, dengan ikhlas dan pasrah. Hanya inilah yang akan dapat meringankan derita batin kita dan akan memelihara iman dan harapan kita."

"Engkau benar, Bagus, engkau benar... akan tetapi Ayah..."

"Tenangkan hatimu dengan kepasrahan yang sepenuhnya. Bagaimananpun juga, engkau masih mempunyai seorang ibu yang mencintaimu dan menunggumu di rumah, dan masih ada pula Sie Tiong, tunanganmu yang mencintaimu..."

"Tiong-ko....! Ah, bagaimana kalau... kalau dia.... tidak tertolong....?"

"Apakah tadi engkau tidak melihat dia? Dan Joko Darmono?"

"Tadi Joko yang menarikku dan membawa aku melompat keluar perahu. Akan tetapi setelah jatuh ke air, kami berpisah. Aku terseret gelombang dan tidak melihat dia lagi. Dan aku juga tidak melihat siapa pun. Ketika aku sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, mendadak kayu ini menyentuhku dan aku lalu berpegang kepada kayu ini sampai engkau melihatku."

"Nah, engkau telah membuktikan sendiri, Swi Hong. kekuasaan siapakah yang membuat kayu ini menghampiri dan menyentuhmu pada saat engkau terancam bahaya maut? Kekuasaan siapa pula yang membuat kita dapat saling bertemu sehingga kita dapat saling bantu? Maka, mustahilkah kalau Kekuasaan yang sama itu pula menyelamatkan Sie Tiong dan Joko dari cengkeraman maut seperti yang telah mencengkeram kita?"

"Semoga demikian adanya, Bagus."

"Ya, semoga. Kita tidak boleh kehilangan harapan yang kita gantungkan sepenuhnya kepada perkenan dan kehendakNya."

"Wah, daratan sudah dekat!" tiba-tiba Swi Hong berseru sambil menudingkan telunjukknya ke depan.

Bagus Sajiwo memandang dan dia mengucap syukur dan terima kasih kepada Gusti Allah dalam hatinya. Seperti suatu mujizat, ketika bercakap-cakap tadi mereka tidak lagi memperhatikan daratan dan kini tiba-tiba daratan itu sudah begitu dekat! Hal ini membangkitkan semangat mereka dan mendapatkan tenaga baru, mereka mendorong kayu sekuat tenaga. Dibantu oleh dorongan ombak yang kuat dari belakang, akhirnya Bagus Sajiwo dan Swi Hong menyeberangi air yang tinggal setinggi pinggang ke darat.

Daratan itu landai dan berpasir putih, kering dan bersih. Keduanya baru merasa betapa lemah lunglainya tubuh mereka setelah terhuyung-huyung di atas lantai berpasir dan keduanya lalu menjatuhkan diri di atas pasir. Bagus Sajiwo lalu duduk bersila mengatur pernapasannya.

Melihat ini, Swi Hong lalu melakukan hal yang sama karena gadis ini juga sudah biasa memperkuat tubuhnya dengan cara mengatur pernapasan seperti itu. Ada setengah jam mereka duduk diam, mengatur pernapasan sehingga dalam perut bawah mereka terasa kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh dan mendatangkan kekuatan yang tadinya seolah terkuras habis.

Bagus Sajiwo lalu membuat api unggun, untuk menambah panasnya sinar matahari agar pakaian basah kuyup yang melekat di badan mereka dapat cepat kering. Juga hawa panas ini dapat cepat memulihkan tenaga dan mengusir sisa hawa dingin yang menyerang mereka selama mereka terendam air laut dan dipermainkan gelombang besar.

Setelah tubuhnya sehat dan kuat kembali mereka berdua duduk dengan api unggun membiarkannya perlahan-lahan padam karena pakaian mereka sudah kering dan sinar matahari siang itu cukup panas. Bahkan kemudian terlampau panas bagi mereka dan Bagus Sajiwo mengajak Swi Hong pindah duduk di tempat teduh di mana sinar matahari terhalang tebing karang. Swi Hong duduk bersandar batu karang setelah diamatinya seluruh pantai itu sambil berdiri tadi. Ia menghela napas panjang.

"Mereka tidak tampak... ah, mereka tidak ada... jangan-jangan mereka semua tewas tenggelam, Bagus..."

Bagus tadi juga mengamati sekitar pantai dan tidak melihat seorang pun di antara para penumpang perahu. Kini dia duduk berhadapan dengan Swi Hong dan dia melihat betapa gadis itu berada dalam keadaan menyedihkan. Biarpun ia agaknya dapat menahan diri dan tidak menangis, namun matanya sayu, wajahnya agak pucat. Pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang awut-awutan itu membuat Swi Hong tampak menyedihkan sekali.

Dia sendiri juga mulai merasa khawatir akan keselamatan semua penumpang, terutama sekali keselamatan Joko Darmono. Bagus Sajiwo mengerutkan alisnya, dalam batin dia menegur diri sendiri. mengapa demikian banyaknya penumpang yang terancam bahaya dan mungkin tewas semua, yang teringat olehnya dan membuatnya prihatin dan bersedih hanyalah Joko Darmono?

Dia merasa kehilangan dan sedih sekali kalau sampai Joko Darmono tewas tenggelam. Baru dia menyadari dan terasa benar olehnya bahwa dia amat akrab dan suka sekali kepada pemuda yang lincah jenaka, cerdik pemberani dan juga sakti mandraguna itu.

"Semoga saja mereka selamat seperti kita, Swi Hong." katanya lirih.

"Bagus, ayahku tewas dan Tong-ko..."

"Aku menyesal sekali, Swi Hong. Aku dan Joko yang menyebabkan malapetaka ini terjadi."

"Tidak, Bagus. Bukan salah kalian. Aku tadi melihat Kam Leng di perahu hitam yang menyerang kita itu. Jahanam itulah yang mengerahkan para penjahat itu untuk menyerang kita sebagai balas dendam."

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. "Mungkin ada benarnya juga pendapatmu bahwa Kam Leng minta bantuan orang-orang jahat untuk membalas dendam. Akan tetapi kukira, bukan hanya itu penyebabnya. Aku yakin bahwa Kim Leng telah bersekutu dengan mereka yang telah bersekongkol dengan Blambangan untuk menentang Mataram. Tadi aku melihat pula Arya Bratadewa di sana, tentu dia yang memimpin anak buahnya untuk menembaki kita dengan senjata api. Agaknya mereka mengetahui bahwa aku dan Joko menumpang di perahu Ayahmu dan bahwa kami berdua adalah orang-orang yang berpihak kepada Mataram, atau mungkin mereka menduga bahwa kami berdua adalah telik sandi Mataram. Karena itu, mereka mau diajak Kam Leng untuk menghadang dan menyerang perahu kita. Kalau hanya diajak untuk membalas dendam urusan pribadi Kam Leng, tidak mungkin mereka mau."

"Hemm, siapakah Arya Bratadewa itu?"

"Dia sekutu Blambangan dan melihat dia selalu mempergunakan senjata api, aku yakin dia pasti antek Kumpeni Belanda yang diam-diam membantu Blambangan. Mungkin Belanda membantu Blambangan untuk menentang Mataram dan agar hal itu merupakan rahasia, mereka tidak mengirim pasukan Belanda, melainkan menggunakan telik sandi bangsa kita sendiri sehingga tidak akan diduga oleh Mataram bahwa Belanda ikut menyerang Mataram."

"Ah, kiranya begitu?"

"Aku hampir yakin demikian keadaannya, Swi Hong. Karena itu, aku minta maaf dan merasa menyesal sekali karena aku dan Joko yang menyebabkan keluargamu tertimpa malapetaka seperti ini."

Mendengar suara Bagus Sajiwo penuh penyesalan itu, Swi Hong menghela napas panjang. "Sudahlah, Bagus. Andaikata dugaanmu benar, tetap saja Kam Leng yang menjadi biang keladi terjadinya penyerangan ini. Kalau tidak ada dia, bagaimana pihak Blambangan dapat mengetahui bahwa engkau dan Joko ikut dengan perahu kami? Ayah sudah bertahun-tahun mengadakan perdagangan di daerah Blambangan dan selama itu tidak pernah ada gangguan sama sekali. Maka, kau katakan tadi, kita harus menerima dengan ikhlas segala yang terjadi, betapapun pahitnya, karena segala sesuatu itu dapat terjadi karena sudah dikehendaki Tuhan. Jangan engkau sesali diri, yang perlu sekarang, apa yang akan kita lakukan, Bagus?"

"Aku berjanji, untuk menebus rasa bersalah ini, aku akan melindungimu dengan taruhan nyawaku, Swi Hong. Aku akan mencari tunanganmu dan mempertemukanmu dengan dia. Kalau terpaksa kita tidak dapat beremu dengan Sie Tiong, aku akan mengantarmu pulang ke rumah ibumu."

"Terima kasih, Bagus. Aku percaya sepenuhnya padamu dan aku menurut semua petunjukmu."

Bagus sajiwo termenung sejenak, berpikir apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kemudian dia berkata, "Swi Hong, mari kita menyusuri pantai ini untuk mencari kalau-kalau para penumpang lain ada yang selamat dan terdampar di daerah pantai yang landai itu."

Tubuh mereka kini telah menjadi segar kembali dan mereka segera mulai mencari di sepanjang pantai berpasir itu. Akan tetapi setelah mereka mencari dari ujung sampai ke ujung yang lain dari pantai berpasir itu, mereka tidak menemukan seorang pun. Bagus Sajiwo lalu mengajak Swi Hong untuk mendaki tebing bukit karang itu, mereka mengamati ke utara dan selatan.

Namun tidak melihat tanda-tanda adanya orang di sepanjang pantai. Agak jauh ke darat, dari atas tebing karang itu mereka dapat melihat genteng rumah-rumah, agaknya ada sebuah dusun di sana. Matahari mulai condong ke barat dan Swi Hong tampak kecewa tidak menemukan tanda-tanda bahwa di antara penumpang perahu mereka ada yang selamat terdampar di darat. Ia tidak mengeluarkan suara, hanya pandang matanya semakin suram.

"Senja telah menjelang, Swi Hong. Kita lanjutkan pencarian kita besok pagi. Sekarang yang terpenting kita harus mencari makanan. Sejak pagi kita belum makan dan hal ini kalau dilanjutkan akan melemahkan tubuh kita. Kita membutuhkan tenaga kita sepenuhnya untuk menghadapi perjalanan di daerah yang berbahaya ini. Selain makan, kita juga perlu mendapatkan pakaian."

"Pakaian?"

"Ya, pakaian, Swi Hong. Semua bekal pakaian kita hilang. Kita membutuhkan pakaian untuk ganti, dan selain itu, engkau sebaiknya mengubah dirimu menjadi seorang pemuda agar perjalanan kita tidak mengalami banyak gangguan. Mari kita menuruni bukit dan pergi ke dusun yang tampak dari sini itu."

Mereka menuruni bukit karang dan melihat wajah Bagus Sajiwo tampak muram, Swi Hong beranya, "Bagus, mengapa engkau kelihatan seperti orang susah?"

"Bagus Sajiwo memandang gadis itu dan tersenyum.

"Baru teringat aku bahwa aku sama sekali tidak mempunyai uang. Kalau hanya untuk makanan, tentu penduduk dusun itu dapat memberi kepada kita dengan Cuma-Cuma. Akan tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan pakaian kalau tidak membelinya dari mereka?"

"Ah, jangan khawatir, Bagus. Perhiasan-perhiasan ini tadi masih menempel di badanku, dan sekarang kusimpan."

Gadis itu mengeluarkan bungkusan saputangan dan menyerahkan kepada Bagus. Ketik bungkusan dibuka, ternyata berisi sepasang gelang, seuntai kalung, sepasang anting dan sebuah hiasan rambut. semua terbuat dari emas terhias batu permata.

"Ah, baik sekali!" seru Bagus Sajiwo. "Akan tetapi, sebuah gelang ini pun sudah lebih dari cukup untuk ditukar makanan dan beberapa potong pakaian."

Dia mengambil sebuah gelang dan mengembalikan sisa perhiasan kepada Swi Hong.

"Bawalah saja, bagus, untuk semua pembiayaan perjalanan kita," kata Swi Hong.

Tidak, kau simpan saja, Swi Hong. nanti kalau kita butuh saja kau keluarkan."

Mereka kini tiba di kaki bukit karang lalu melanjutkan perjalanan menuju ke dusun yang tadi tampak dari atas bukit. Ketika mereka tiba di luar dusun, cuaca sudah mulai remang senja.

"Swi Hong, sebaiknya engkau menanti dulu di sini. Biar aku sendiri yang masuk, mencari makanan dan pakaian. Engkau akan menarik perhatian kalau memasuki dusun itu dalam keadaan seperti ini."

Swi Hong mengangguk dan Bagus Sajiwo lalu memasuki dusun itu. Dusun itu cukup besar dengan rumah-rumah yang lumayan keadaannya. Melihat alat-alat penangkap ikan seperti jala dan sebagainya bergantungan di luar rumah-rumah mudah diduga bahwa penduduk dusun itu hidup sebagai petani dan nelayan.

Dengan gelang emasnya itu, tidak sukar bagi Bagus Sajiwo untuk memperoleh apa yang dibutuhkannya, pepes dan ikan bakar, juga lima stel pakaian pria. Swi Hong menerima pakaian yang dibawa Bagus Sajiwo dengan girang. Mereka berdua lalu menemukan sebuah gardu di tengah ladang dan makan nasi dengan pepes dan ikan bakar. Kemudian Swi Hong menyelinap ke balik gardu dan berganti pakaian.

Kini ia berubah menjadi seorang pemuda yang tampak masih remaja dan tampan sekali. Akan tetapi Bagus Sajiwo tidak dapat melihat dengan jelas karena malam itu bulan hanya muncul sepotong sehingga sinarnya tidak cukup terang. Baru pada keesokan harinya, dia melihat keadaan Swi Hong dan dia memandang kagum.

"Wah, engkau menjadi seorang pemuda yang ganteng, Swi Hong. Engkau tampak tampan sekali dan lemah lembut seperti Harjuna!"

Swi Hong tersenyum. "Apanya yang masih kurang pas, Bagus? Jangan sampai ada yang tahu akan penyamaranku."

Bagus Sajiwo mengamati keadaan gadis itu, dari rambut sampai ke kakinya. "Hemm, rambutmu itu terlalu panjang dan halus bagi seorang pria, sebaiknya dipotong sehingga tidak terlalu panjang. Engkau harus sering membiarkan sinar matahari mengubah kulit muka dan bagian yang tampak lainnya menjadi kecoklatan. Bajumu sebaiknya longgar dan menutupi leher dan lenganmu, dan kakimu telanjang tidak memakai sepatu."

Swi Hong mematuhi petunjuk ini. Malam itu mereka melewatkan malam dalam gardu. Swi Hong melepaskan lelah dengan tidur dalam gardu sedangkan Bagus Sajiwo duduk bersila di atas batu besar yang terdapat di dekat gardu. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka membersihkan badan di sebuah anak sungai, kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka menyusuri pantai menuju ke utara dengan harapan akan bertemu dengan para penumpang perahu yang lain, terutama Joko Darmono dan Sie Tiong.

"Bagus, lalu bagaimana dengan namaku? Kalau ada yang bertanya dan terpaksa aku harus menjawabnya, aku harus memakai nama apa?"

"Tentu saja tidak baik kalau engkau menggunakan namamu Tan Swi Hong. Engkau kini menyamar sebagai seorang pemuda Jawa, dan melihat engkau begitu halus dan tampan mirip Raden Janoko maka sebaiknya engkau menggunakan nama Parto."

"Parto?" "Ya, Parto itu adalah nama alias dari Raden Janoko atau Raden Harjuno."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan menyusuri pantai menuju ke utara.

********************

Apakah yang terjadi pada diri Joko Darmono, Sie Tiong dan anak buah perahu yang pecah dan tenggelam itu? Selain Tan Beng Ki, ada tiga orang anak buah perahu yang terkena tembakan sehingga mereka tewas. Anak buah yang lain berlompatan ke air ketika perahu mulai tenggelam dari mereka dicerai-beraikan gelombang yang dahsyat sehingga saling berpisah. Di antara permainan gelombang yang menggunung, mereka itu bagaikan semut-semut kecil yang digulung dan ditelan ombak.

Sie Tiong adalah seorang pemuda yang pandai berenang. Akan tetapi dia pun tidak dapat berbuat banyak ketika digulung ombak bergelombang dahsyat itu. Akan tetapi dengan kepandaian renangnya, dia dapat memepertahankan dirinya sehingga tidak tenggelam. Bahkan kalau ada gelombang besar menerkam, dia menyelam agar terlepas dari cengkeraman ombak. Tentu saja seluruh ingatannya terpusat pada Swi Hong, tunangannya yang tercinta.

Dia berenang kesana-sini, mencari-cari Swi Hong namun sia-sia. Tunangannya itu seperti yang lain-lain, agaknya sudah ditelan lautan yang mengganas itu. Dia maklum bahwa dia sudah berada jauh dari tempat di mana perahu tadi pecah. Dia melihat perahu hitam sudah berlayar pergi dan dia dihempaskan, dihanyutkan gelombang ke arah utara.

"Hong-moi.... !" berkali-kali dia mengeluh memanggil nama tunangannya. Hatinya gelisah bukan main. Apakah dia harus kehilangan kekasihnya itu? Tiba-tiba dia mendengar teriakan melengking, dari arah utara.

"Hong-moi... !" Dia berseru dan cepat dia berenang menuju ke arah suara teriakan itu. Kebetulan pada saat itu, gelombang mulai mereda dan lautan menjadi agak tenang. Akhirnya dia dapat melihat bentuk tubuh seseorang di depan sana. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat sirip ikan meluncur dekat orang itu.

"Ikan hiu... !" Teriak Sie Tiong. Orang itu diserang hiu! Akan tetapi ketika dia mempercepat gerakan renangnya mendekat, dia menjadi kagum.

Orang itu adalah Joko Darmono dan pemuda ini dengan gigih melawan serangan seekor hiu sebesar tubuh manusia, menggunakan sebatang keris! Agaknya hiu itu sudah terluka oleh tusukan keris, akan tetapi lukanya tidak parah sehingga ikan buas itu masih berusaha menyerang Joko Darmono, berenang mengitari pemuda itu.

Melihat ini, Sie Tiong cepat mencabut pedang yang terselip di punggungnya, kemudian berenang mendekat. Ketika ikan hiu itu meluncur lewat di dekatnya, Sie Tiong menusukkan pedangnya. Tusukannya mengenai tubuh ikan dan air menjadi merah.

Ikan hiu itu agaknya kesakitan dan binatang itu melarikan diri dalam keadaan luka berdarah, keadaannya itu membuatnya tidak akan dapat bertahan lama karena tentu darah itu akan memancing datangnya ikan-ikan buas lainnya yang sebentar saja dia akan menjadi rebutan ikan-ikan buas yang menyerang untuk memakannya.

"Joko, cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini. Darah ini akan membahayakan kita, ikan-ikan buas lainnya akan berdatangan!"

Sie Tiong berenang mendekat dan dia melihat gerakan Joko Darmono lemah sekali. Agaknya pemuda itu sudah kehabisan tenaga, terengah-engah hanya dapat mempertahankan diri agar tidak tenggelam dengan susah payah.

"Joko, berpeganglah padaku!" katanya sambil mendekat dan Joko Darmono lalu mencengkeram baju Sie Tiong. keduanya berenang dan Joko Darmono dapat mengaso karena berpegang pada baju Sie Tiong, tubuhnya dapat terapung dan dia hanya membantu dengan gerakan kedua kakinya. Mereka meluncur ke depan.

"Lihat, Joko. Ada pantai di depan!" "Sie Tiong.... aku ... aku tidak kuat lagi..."

Sie Tiong terkejut, ini berbahaya, pikirnya. Kalau Joko Darmono sampai pingsan, akan sukarlah baginya menyelamatkan mereka berdua karena dia sendiripun sudah lelah bukan main.

"Joko, bertahanlah! Aku tahu engkau seorang yang sakti dan gagah perkasa, tidak mungkin menyerah begitu saja! Lawanlah ancaman laut yang akan menelanmu! Lawan sekuat tenaga! Hayo kita berdua melawan mati-matian. Lihat, pantai tak jauh lagi, kita harus dapat mencapainya. Kita tidak boleh menyerah, Joko. Pantang menyerah!"

Agaknya ucapan Sie Tiong itu membangkitkan semangat Joko Darmono yang sudah mengendur hampir putus asa. "Pantang menyerah!" teriaknya dan dia seolah mendapatkan tenaga baru, kini berenang di samping Sie Tiong, tidak membonceng dengan memegangi ujung baju lagi.

Setelah menguras semua tenaga selama kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya, berkat dorongan ombak dari belakang, mereka dapat tiba di pantai berpasir. Sie Tiong mendarat lebih dulu dan ketika dia melihat Joko Darmono berjalan terhuyung-huyung menyeberangi air yang selutut tingginya. Ketika akhirnya tiba di pantai, tubuh pemuda itu terkulai dan roboh telentang!

Sie Tiong cepat menghampiri. akan tetapi karena tenaganya sendiri sudah habis dan dia merasa tidak kuat untuk memondong tubuh kawannya itu, dia memegang kedua lengan Joko Darmono yang telentang lalu menyeret tubuh itu ke atas agar air tidak mencapainya. Melihat Joko Darmono terpejam, dan sama sekali tidak bergerak, bahkan tidak tampak dia bernapas, Sie Tiong khawatir sekali. Dia berjongkok di dekatnya dan meraba dada pemuda itu untuk merasakan detak jantungnya.

Akan tetapi begitu tangannya menyentuh dada, Sie Tiong terkejut dan melompat bangun seperti dipagut ular! Dia berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Joko Darmono. Rambut Joko Darmono riap-riapan karena kain pengikat kepalanya hilang terbawa air laut. bajunya di bagian leher lepas kancingnya sehingga tampak seluruh bagian leher yang berkulit putih mulus.

"Dia.... dia... wanita..." Sie Tiong berkata dengan perasaan heran, terkejut, dan juga bingung. Akan tetapi dia segera teringat bahwa Joko Darmono pingsan dan keadaannya lemah sekali.

Maka dia lalu berjongkok kembali dan kini dia memegang pergelangan tangan Joko untuk merasakan denyut nadinya. Nadinya masih berdenyut, walaupun agak lemah. Sie Tiong pernah mempelajari ilmu menotok jalan darah untuk melancarkan darah, maka tanpa ragu-ragu dia segera menotok kedua pundak Joko Darmono, lalu mengurut tengkuk dan sepanjang tulang punggungnya.

Joko Darmono mengeluh, membuka matanya lalu bangkit duduk, dan melihat Sie Tiong berjongkok di depannya ia bertanya, "Kita... di mana?"

"Tenanglah, Thian Maha Kasih! Kita telah dapat terlepas dari maut dan berhasil mendarat di sini!" lalu dia duduk bersila di depan Joko Darmono dan berkata lagi. "Kita kehabisan tenaga sehingga menjadi lemah. Sebaiknya kita mengaso sebentar dan memulihkan tenaga kita."

Setelah berkata demikian Sie Tiong lalu memejamkan kedua matanya dan berlatih pernapasan. Dia perlu memulihkan tenaganya dan juga ketenangan hatinya yang sempat terguncang mendapat kenyataan bahwa Joko Darmono adalah seorang wanita! Kini dia mendapat kenyataan akan kebenaran ucapan gurunya.

"Thian Le Hwesio, pendeta Buddha di kuil Siauw-Lim-Si bahwa kalau tiba saatnya kematian menjemput seseorang, apa dan siapa pun tidak akan dapat mencegahnya. Sebaliknya kalau saatnya belum tiba, ancaman yang bagaimanapun hebatnya akan terlewat. Dia hanya dapat merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Thian Yang Maha Kuasa.

Demikian pula Joko Darmono. selama melakukan perjalanan bersama Bagus Sajiwo, pemuda itu seringkali memperkenalkan Gusti Allah dengan segala kekuasaanNya yang meliputi segala sesuatu, menciptakan dan menguasai seluruh alam semesta dengan segala isinya. Maka, kini ia dapat merasakan bukti kebesaran dan kekuasaan Gusti Allah.

Hanya kekuasaanNya sajalah yang mampu menyelamatkannya dari cengkeraman maut di antara gelombang lautan yang menggelora itu. Ia pun duduk bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi terkuras habis. Kurang lebih satu jam mereka berdua duduk diam di atas pantai pasir itu. Mereka kini merasa segar dan tenaga mereka pulih kembali.

Joko Darmono membuka matanya dan pertama-tama yang ditemukannya adalah kenyataan betapa bajunya yang basah menempel ketat di tubuhnya dan betapa ramnutnya terlepas dan terurai. Dia menunduk dan terkejut sekali melihat betapa bajunya di bagian dada itu basah kuyup dan menempel ketat pada dadanya sehingga tampak jelas betapa dadanya menonjol. Dada wanita!

Cepat dia menarik baju yang menempel ketat itu agar longgar dan menyembunyikan ciri kewanitaannya. Ketika dia mengangkat muka memandang, sinar matanya bertemu pandang mata Sie Tiong. Pemuda itu membungkuk dan menundukkan mukanya sambil berkata hati-hati.

"Joko, harap engkau suka memaafkan aku. tanpa kusengaja aku mengetahui bahwa engkau adalah seorang wanita."

Hening sejenak. Joko Darmono menatap wajah yang menunduk itu, alisnya berkerut. Dia memikirkan bagaimana Sie tiong dapat mengetahui rahasianya itu. Kemudian dia teringat. rambutnya yang terurai, leher bajunya yang terkuak lebar, lalu payudaranya yang membayang di balik baju yang basah kuyup dan menempel ketat. Atau mungkin juga ketika mereka berdua berjuang dan bergulat melawan ombak, tentu tanpa disengaja tubuh mereka dapat bersenggolan atau berhimpitan diombang ambingkan gelombang dahsyat. Ah, sama sekali tidak aneh kalau Sie Tiong dapat mengetahui bahwa dia seorang wanita!

Dia menghela napas panjang, sebetulnya bukan merupakan hal yang amat penting untuk menyembunyikan kewanitaannya dibalik penyamaran. Dia menyamar sebagai seorang pria hanya dengan maksud agar perjalanannya lebih leluasa dan mudah, tidak menghadapi halangan dan banyak gangguan. Pertemuannya dengan Bagus Sajiwo itulah yang membuat dia menyimpan rapat rahasianya itu.

Bagus Sajiwo menganggap dia seorang pemuda dan kini mereka berdua telah menjalin persahabatan yang akrab. Kalau Bagus Sajiwo mengetahui bahwa dia wanita, belum tentu mereka berdua akan dapat bersahabat demikian akrab. Dia tahu betapa Bagus Sajiwo bukan seorang pemuda yang mudah tertarik kecantikan seorang wanita. Kalau kini Sie Tiong mengetahui rahasianya, tidak mengapa. Tidak ada bedanya baginya.

"Sie Tiong, tidak perlu minta maaf. Bukan salahmu. Dalam keadaan begini tentu saja aku tidak mampu menyamar sebagai pria dengan baik. Tidak mengapa kalau engkau kini mengetahui bahwa aku seorang gadis, akan tetapi aku minta dengan sangat agar engkau tetap menganggap aku seorang pemuda dan memanggil aku Joko. Dan yang lebih penting lagi, aku minta agar engkau tidak membuka rahasiaku ini dan tidak menceritakan kepada siapapun juga!"

Kalimat terakhir ini terdengar mengandung ketegasan. Sie Tiong menangguk-angguk. "Baik, tentu saja aku akan merahasiakan keadaanmu yang sesungguhnya, Joko. Akan tetapi bolehkah aku mengajukan dua buah pertanyaan mengenai penyamaranmu ini?"

"Boleh. Dua saja dan setelah itu kita tutup semua pembicaraan mengenai hal ini. Setuju?"

"Setuju. Nah, pertanyaanku yang pertama, mengapa engkau menyamar sebagai seorang pemuda, Joko? Akan tetapi kalau engkau merasa keberatan untuk menjawab pertanyaan ini, tidak usah engkau menjawabnya. Aku tidak ingin mengetahui masalah pribadimu, hanya ingin tahu mengapa engkau bersusah payah seperti itu?"

Joko Darmono tersenyum. "Karena engkau sudah mengetahui bahwa aku seorang gadis, tentu saja engkau boleh mengetahui semuanya, Sie Tiong. Memang tadinya aku tidak mempunyai niat untuk merahasiakan keadaan diriku. Begini, aku bernama Niken Darmini, Guruku adalah Nini Kuntigarbo. Sejak kecil aku ikut Guruku yang bertapa di gunung Betiri mempelajari aji kanuragan dan kesaktian. Setelah mendapat perkenan Guruku, aku melakukan pejalanan merantau, mencari pengalaman dan diberi waktu selama dua tahun oleh guruku. dalam perjalanan itu aku sengaja menyamar sebagai seorang pemuda atas nasihat Guruku agar aku dapat melakukan perjalanan dengan leluasa dan tidak mengalami banyak gangguan dalam perjalanan. Nah, dalam perjalanan itu aku bertemu dengan Bagus Sajiwo dan kami berkenalan, saling cocok dan menjadi sahabat. Aku tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perantauanku, maka ketika Bagus Sajiwo mengajak aku untuk melihat-lihat keadaan Blambangan, aku melihat Blambangan bersekutu dengan Bali dan dibantu Belanda untuk memusuhi Mataram."

"Terima kasih, Joko. Keteranganmu yang panjang lebar itu membuat aku mengerti mengapa engkau melakukan penyamaran dan biarpun aku tidak tahu siapa itu Nini Kuntigarba, aku yakin bahwa ia tentu seorang wanita pertapa yang sakti mandraguna. Pertanyaanku kedua adalah, apakah Bagus Sajiwo juga tidak tahu bahwa engkau seorang wanita?"

Joko Darmono tersenyum, dia menggeleng kepala. "Sama sekali dia tidak tahu bahwa aku wanita, dan karena itulah maka aku minta engkau merahasiakannya kepada siapapun juga agar Bagus tidak sampai mendengar. Kalau dia tahu.... maka sudah tidak lucu lagi. Nah, sekarang kita bicara soal lain. Kita berdua selamat, Sie Tiong, akan tetapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan Bagus Sajiwo dan Swi Hong, juga para anak buah perahu lainnya? Mengapa tidak ada yang terdampar ke sini?"

Sie Tiong yang sejak tadi sudah gelisah sekali memikirkan nasib tunangannya, mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang. "Entahlah, Joko, aku pun khawatir sekali. Dalam keadaan seperti ini, apa yang dapat dilakukan? Ah, aku merasa tidak berdaya sama sekali. Ya Tuhan, bagaimana dengan Hong-moi?"

Mendengar suara yang menggetar penuh kegelisahan dan kesedihan ini, Joko Darmono berkata lembut. "Jangan putus harapan, Sie Tiong. Selagi masih hidup, harapan harus tetap ada. percayalah, kalau Gusti Allah menghendaki, bukan mustahil Swi Hong akan selamat pula, seperti yang terjadi pada kita."

Tiba-tiba Joko Darmono merasa jantungnya seperti diremas karena dia teringat kepada Bagus Sajiwo. Ucapannya tadi merupakan pengulangan dari ucapan Bagus Sajiwo kepadanya. "Engkau benar, Joko. Biarlah aku hanya dapat memanjatkan doa dan mohon kepada Thian Yang Maha Pengasih agar Swi Hong dapat diselamatkan... juga Bagus Sajiwo!"

"Sekarang sebaiknya kita mencoba mencari mereka. Siapa tahu mereka terdampar tak jauh dari pantai ini."

Mereka lalu bangkit dan berjalan menusuri pantai, kalau terhalang bukit karang mereka mendaki, lalu turun di sebelah sana menyusuri pantai yang landai. Akan tetapi sampai matahari condong ke barat mereka tidak menemukan seorang pun. Akhirnya malam tiba dan mereka melewatkan malam dalam sebuah gua di bukit karang. Sie Tiong membuat api unggun dan mereka mengaso dalam gua. Lewat tengah malam, ketika Joko Darmono masih pulas, tiba-tiba dia terkejut mendengar teriakan-teriakan Sie tiong.

"Hong-moi.... ya Tuhan, Hong-moi...!" Sie Tiong berteriak-teriak. Api unggun dalam gua itu hampir padam sehingga keadaan di situ agak gelap.

Joko Darmono cepat mengambil kayu dan menyalakan api unggun lagi sehingga kini keadaannya terang. Dia melihat Sie Tiong masih tidur, gelisah bergerak ke kanan kiri sambil mulutnya masih memanggil-manggil Swi Hong.

"Hong-moi.... Hong-moi....!" Joko Darmono menghampiri pemuda yang tengah mimpi dan mengigau itu, lalu mengguncang pundaknya...