Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 21

MENGHADAPI serangan kilat Maya Dewi yang juga mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, Tejakasmala bersikap hati-hati. Dia juga menduga bahwa wanita ini memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi daripada yang lain dan serangannya tidak boleh dianggap ringan. Maka, untuk dapat mengalahkan Maya Dewi secepatnya agar dia dapat cepat membunuh yang lain, dia sengaja menangkis pukulan Maya Dewi dengan tangannya.

"Wuuuttt... syuuuutt...!" Tejakasmala terkejut. Ternyata wanita itu tidak mau mengadu tenaga dan tangannya sudah cepat menghindar dari tangkisan Tejakasmala dan tangan itu dengan gerakan memutar sudah menyambar lagi, kini dengan jari-jari tangan menusuk ke arah kedua mata lawan! Tejakasmala terkejut. Ternyata walaupun dia dapat menandingi tenaga sakti Maya Dewi, namun dalam hal kecepatan gerakan, dia harus mengaku bahwa gadis itu memiliki gerakan yang luar biasa ceparnya!

Dia merasa heran bagaimana wanita itu dapat bergerak secepat itu, padahal dia sendiri sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi tingkatnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa semua itu berkat khasiat Jamur Dwipa Suddhi yang telah dimakan sebagian oleh Maya Dewi. Terpaksa Tejakasmala menarik tubuh atas kebelakang lalu menghindar ke kiri agar kedua matanya tidak menjadi sasaran jari-jari lembut dan halus namun yang mengandung tenaga kuat itu.

Maya Dewi yang marah sekali karena mengira bahwa Bagus Sajiwo yang terkena pukulan sehebat itu tentu telah tewas, terus menyerang tanpa henti dan kedua matanya mengalirkan air mata. Ia menangisi kematian Bagus Sajiwo. Dunia serasa kiamat baginya! Semua tampak kosong tidak berarti lagi. Lenyap semua kebahagiaan, semua ketenteraman, semua ketenangan dan kebebasan.

Kosong tidak berarti, hanya penuh dengan duka, kecewa, kesepian, dan terutama sekali dendam! Dendam yang menebarkan kebencian terhadap orang yang telah membunuh Bagus Sajiwo. Maya Dewi merasa betapa semua nafsu seperti api membakar hatinya, membuat ia seperti dulu lagi. Satu-satunya keinginan hatinya hanya menyiksa dan membunuh Tejakasmala yang amat dibencinya. Ia menangis tanpa suara tangis, hanya air matanya yang mengalir menuruni kedua pipinya, seperti dua sumber air mengalirkan air ke lereng bukit.

Pada waktu itu, tingkat kepandaian Maya Dewi sudah mencapai titik yang tinggi, apalagi ditambah kemarahan dan kenekatannya untuk membunuh orang yang dibencinya, membuat setiap gerakan serangannya merupakan serangan maut, merupakan cakar maut yang sekali mengenai sasaran tentu akan merenggut nyawa lawan.

Akan tetapi yang dihadapi adalah Tejakasmala, murid utama Sang Bhagawan Ekabrata yang tingkat kepandaiannya sudah mencapai puncaknya. Bahkan kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Tejakasmala tidak berada di bawah tingkat Bagus Sajiwo. Bahkan pemuda Bali itu memiliki lebih banyak ajian yang ampuh. Hanya dalam hal tenaga sakti, dia tidak dapat menandingi Bagus Sajiwo yang sudah makan Jamur Dwipa Suddhi ditambah latihan Aji Sari Bantala.

Perkelahian antara Maya Dewi dan Tejakasmala seru bukan main. Setiap serangan keduanya merupakan jangkauan tangan maut. Akan tetapi keduanya dapat selalu menghindarkan diri dari cengkeraman maut. Hanya bedanya, kalau Tejakasmala selalu menangkis serangan Maya Dewi, tangkisan yang selalu membuat tubuh Maya Dewi terpental, sebaliknya setiap serangan Tejakasmala selalu dapat dielakkan oleh Maya Dewi yang dapat bergerak dengan lincah. Akan tetapi, baik Tejakasmala maupun Maya Dewi keduanya maklum bahwa lambat laun Maya Dewi pasti akan kalah karena ia memang kalah kuat.

Sementara itu, Tejomanik dan Retno Susilo sudah berlutut dekat tubuh Bagus Sajiwo yang telentang dan mata terpejam. Ki Tejomanik memeriksa keadaan puteranya dan mendapatkan kenyataan bahwa detak jantung dan pernapasan Bagus Sajiwo lemah sekali. Pemuda itu masih pingsan. Melihat keadaan puteranya, Retno Susilo menangis dan meratapi puteranya.

"Jahanam terkutuk! Aku akan mengadu nyawa dengan bedebah pembunuh anakku itu!" Retno Susilo menoleh dan melihat Tejakasmala masih bertanding melawan Maya Dewi, ia segera bangkit berdiri dan masih memegang Sihung Nila, kain ikat kepala suaminya, siap untuk terjun ke dalam perkelahian mengeroyok Tejakasmala.

Akan tetapi Ki Tejomanik cepat berkata, "Jangan, Diajeng. Dia berbahaya sekali, terlalu kuat untuk kita."

"Aku tidak takut! Aku harus membalas kematian anakku!" seru Retno Susilo.

"Bagus Sajiwo tidak mati!" kata Ki Tejomanik. "Sungguh hebat bukan main. Dia terluka pun tidak! Juga pada kulit dadanya tidak ada bekas pukulan. Dia hanya terguncang dan pingsan. Dia sama sekali tidak terluka!" mendengar ini, Retno Susilo cepat berlutut lagi dan ikut memeriksa keadaan puteranya.

Ki Tejomanik mengurut tengkuk puteranya beberapa kali dan, akhirnya Bagus Sajiwo mengeluh lirih dan membuka kedua matanya. "Bagus...!" Retno Susilo berseru, girang.

Bagus Sajiwo menarik napas panjang tiga kali dan dia sudah pulih kembali! Tiba-tiba dia menoleh dan melihat Maya Dewi berkelahi mati-matian melawan Tejakasmala yang berusaha keras untuk membunuh Maya Dewi, Bagus Sajiwo cepat bangkit berdiri.

"Ayah, Ibu, harap maafkan, saya harus menggantikan Dewi melawan Tejakasmala."

"Tapi dia... dia berbahaya sekali, Bagus...!" kata Retno Susilo, khawatir kalau puteranya yang baru saja pingsan itu akan celaka di tangan pemuda Bali yang amat tangguh itu.

"Jangan khawatir, Ibu. Saya kira saya dapat mengatasinya." Setelah berkata demikian, Bagus Sajiwo sekali menggerakkan tubuhnya, hanya tampak bayangan berkelebat dan dia sudah tiba dekat Maya Dewi yang masih sibuk menghindarkan serangan lawan dengan elakan-elakan mengandalkan kecepatan gerakannya.

"Dewi, mundurlah!" kata Bagus Sajiwo.

Mendengar ini, Maya Dewi yang sudah terdesak itu, cepat melompat tinggi kebelakang dan setelah berjungkir balik membuat salto sampai tujuh kali, baru ia turun keatas tanah. Wajahnya agak pucat, napasnya memburu karena terus menerus bergerak menghindarkan serangan bertubi itu membuatnya lelah sekali. Akan tetapi wajahnya berseri, sepasang matanya bersinar-sinar. Mata yang masih basah air mata kini mencorong penuh kebahagiaan melihat bahwa Bagus Sajiwo ternyata tidak apa-apa, tidak mati seperti yang dikhawatirkannya, seolah matahari terbit kembali setelah awan mendung menggelapkan dunianya.

Melihat Bagus Sajiwo menghadapi Tejakasmala yang tangguh, hati Maya Dewi terasa tenang dan ia yakin bahwa Bagus Sajiwo akan mampu mengalahkan pemuda Bali yang sakti mandraguna itu. Kalau Bagus Sajiwo tidak mati dan tidak terluka oleh pukulan curang Tejakasmala tadi, berarti Bagus Sajiwo pasti akan mampu mengatasi lawan.

Sementara itu, melihat Bagus Sajiwo menggantikan Maya Dewi yang tiba-tiba mundur dengan kecepatan kilat, Tejakasnala membelalakkan matanya. Dia tidak percaya! Bagaimana mungkin Bagus Sajiwo dapat bertahan dan tidak mati oleh pukulannya yang hebat tadi? Setidaknya tentu orang yang dipukulnya sedahsyat tu akan terluka parah! Akan tetapi kini Bagus Sajiwo berdiri di depannya. dengan sikap tenang. dan dari wajahnya dia tahu bahwa lawannya ini tidak menderita luka sama sekali!

"Kakangmas... anak kita itu... dia baru saja menerima pukulan dahsyat... Aku khawatir..."

Ki Tejomanik memegang tangan isterinya. "Jangan khawatir, Diajeng. Anak kita itu sama sekali tidak terluka. Aku sendiri masih heran memikirkan bagaimana mungkin dia tidak terluka dihantam pukulan curang yang dahsyat tadi. Kita lihat saja dan berdoa semoga dia akan dapat mengalahkan pemuda Bali yang tangguh itu."

Lindu Aji dan Sulastri yang tadinya khawatir melihat Bagus Sajiwo terpukul secara curang dan mereka berdua sudah siap untuk melawan musuh yang tangguh itu mati-matian, kini juga tersenyum gembira melihat betapa Bagus Sajiwo ternyata tidak apa-apa dan telah berhadapan lagi dengan Tejakasmala.

Lindu Aji yang telah memiliki aji kanuragan yang hebat itu harus mengakui bahwa pemuda Bali itu benar-benar tangguh. Dia mampu menolak sihir pemuda itu, namun dalam hal aji kanuragan, harus dia akui bahwa Tejakasmala. memiliki tingkat yang tinggi sekali. Belum pernah dia menemui lawan yang demikian tangguhnya.

"Semoga putera Paman Tejomanik itu mampu mengalahkan pemuda Bali itu." kata Lindu Aji dan seperti juga Ki Tejomanik dan isterinya, Lindu Aji dan Sulastri memandang ke arah dua orang pemuda itu dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.

Sebaliknya para jagoan Blambangan merasa kecewa dan khawatir sekali. Bhagawan Kalasrenggi, dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana yang terkenal dengan sebutan Dwi Kala (Dua Kala), Cakrasakti dan Candrabaya dua orang senopati Klungkung itu, tadinya sudah tersenyum girang melihat Bagus Sajiwo dipukul roboh oleh Tejakasmala.

Mereka sudah merasa yakin bahwa Tejakasmala tentu akan mampu membunuh Maya Dewi dan setelah itu, mereka akan membunuh semua orang yang membela Mataram itu dan pulang ke Blambangan dengan hasil kemenangan besar. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa terkejut, kecewa dan khawatirnya melihat Maya Dewi dapat terhindar dari kematian dan kini Bagus Sajiwo yang mereka sangka mati atau terluka parah itu telah berani menghadapi Tejakasmala dan tampak sama sekali tidak terluka!

Sementara itu, rasa penasaran dan kemarahan yang memuncak membuat Tejakasmala lupa akan kekhawatirannya melihat Bagus Sajiwo sudah berada di depannya. Tadi, ketika tiba-tiba Bagus Sajiwo menghadapinya, dia merasa terkejut dan juga gentar. Akan tetapi kemarahan hatinya, ditambah wataknya yang tinggi hati dan memandang ringan lawan mengusir rasa gentarnya. Tanpa banyak kata lagi dia langsung saja menyerang Bagus Sajiwo dengan dahsyat. Dari mulutnya terdengar suara mengaum seperti singa yang membuat bumi tergetar, tanda bahwa dia mengerahkan Aji Singabairawa dan kedua tangannya sudah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang diperkuat oleh sihirnya!

Namun Bagus Sajiwo kini telah waspada. Dia sudah tahu bahwa lawannya selain sakti mandraguna, Juga sangat curang. Maka, dia pun cepat menggerakkan tubuhnya yang seakan berubah menjadi bayang-bayang seperti yang dilakukan Maya Dewi tadi. Bayang-bayang itu berkelebatan diantara pukulan-pukulan Tejakasmala yang mengeluarkan angin besar dan terkadang juga mengeluarkan bara api karena pemuda Bali itu yang bernafsu sekali membunuh Bagus Sajiwo, telah menggunakan Aji Bayutantra dan Aji Condromowo silih berganti.

Sejak masih kanak-kanak, Bagus Sajiwo telah mendapat wejangan dari mendiang Ki Ageng Mahendra untuk kuat bertahan terhadap musuh manusia nomor satu dalam hidup ini, yaitu nafsunya sendiri yang tak terkendalikan seperti amarah, kebencian, dendam, iri, dengki, murka, mementingkan diri sendiri, yang dapat meniadakan rasa kasih terhadap sesama hidup. Semua itu ditambah lagi dengan peringatan dalam kitab kuno yang ditemukannya dimana terdapat larangan melakukan pembunuhan yang didorong oleh nafsu-nafsu tadi.

Maka, kini menghadapi Tejakasmala yang tadi nyeris membunuh ayah bundanya, bahkan yang tadi secara curang sekali telah memukulnya sehingga dia roboh pingsan, Bagus Sajiwo tetap tenang dan dia tidak dikuasai nafsu amarah atau dendam kebencian. Hal ini membuatnya tetap tenang dan waspada. Tidak seperti Tejakasmala ang hatinya penuh kemarahan, kebencian dan keinginan membunuh, yang hanya membuat hatinya terbakar dan membuat dia kehilangan sebagian dari kewaspadaannya.

"Haiiiiihhhh!" Tangan kiri Tejakasmala yang menjadi api membara itu menyambar ke arah dada Bagus Sajiwo. Dengan tenang Bagus Sajiwo mengelak kekiri.

"Syaaaahhhh!!" Kini tangan kanan Tejakasmala yang membentuk cakar setan mencengkeram ke arah kepala Bagus Sajiwo. Maklum bahwa kalau dielakkan, cakar itu akan tetap memburunya dan hal ini cukup berbahaya, Bagus Sajiwo mengibaskan tangan kirinya dari dalam untuk menangkis cakar yang menyerang kepalanya itu.

"Dukk!!!" Kedua orang pemuda itu sama-sama tergetar, akan tetapi cengkeraman itu gagal. Tejakasmala menjadi semakin ganas karena penasaran dan marah.

"Yaaaaahhhh!" Dia mengaum dan tiba-tiba tangan kirinya terbuka dan dari dalam tangannya menyambar sinar hitam ke arah dada Dagus Sajiwo. Entah kapan mengambilnya, sinar hitam itu adalah belasan batang jarum hitam yang disambitkan tangan kirinya dari jarak yang tidak lebih dari dua meter!

Karena tidak mungkin mengelak dari serangan jarum-jarum yang meluncur dari jarak sedemikian dekatnya dan untuk menerima serangan curang ini dengan mengandalkan kekebalan juga amat berbahaya karena siapa tahu jarum-jarum hitam itu mengandung racun yang ampuh, maka Bagus Sajiwo lalu mengibaskan tangannya dengan Aji Bromokendali yang mengeluarkan hawa panas, sambil kakinya menggunakan langkah ajaib Aji Lintang Kemukus.

"Prattt!" Sinar hitam itu tertangkis runtuh oleh angin yang mengandung hawa panas itu.

"Curang! Pengecut!. Tidak tahu malu!!" Maya Dewi berteriak-teriak memaki Tejakasmala.

Melihat sikap dan mendengar suara Maya Dewi, Lindu Aji dan Sulastri saling pandang dan Sulastri berkata lirih. "Lihat, sikapnya masih liar dan galak."

Lindu Aji mengangguk. "Ya, akan tetapi wataknya sungguh telah berubah dan terbalik seperti malam dan siang."

Perkelahian itu berlangsung semakin seru. Tejakasmala mengeluarkan semua ilmu dan aji-aji pamungkasnya, namun semua dapat dipatahkan oleh Bagus Sajiwo yang menggerakkan kaki dengan Aji Langkah Ajaib Lintang Kemukus, bersilat dengan Aji Bajrakirana.

"Lihat, itu Aji Bajrakirana!" kata Ki Tejomanik kagum kepada isterinya.

Retno Susilo yang kini sudah besar lagi hatinya, menjawab. "Apa anehnya? Bukankah gurunya, Ki Ageng Mahendra, adalah saudara seperguruan Resi Limut Manik yang memberimu pecut dan ilmu Bajrakirana, Kakangmas?"

"Ya, dan dia pun menggunakan Aji Bromokendali. Semua itu tidak mengherankan, akan tetapi bagaimana dia dapat menjadi sedemikian saktinya? Mendiang Eyang Resi Limut Manik sendiri agaknya tidak sampai sedemikian tinggi tingkatnya!"

Suami isteri itu terdiam dan memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka baru saja bertemu dengan putera tunggal yang lenyap selama belasan tahun, akan tetapi sebelum sempat bercakap-cakap melepas rindu, kini putera mereka itu telah bertanding mati-matian melawan seorang yang amat sakti!

Pada saat itu, Tejakasmala mengeluarkan auman yang dahsyat dan tiba-tiba kedua tangan yang hendak menangkap leher Bagus Sajiwo dari kanan kiri itu ketika serangan ini dielakkan, kedua lengan itu mulur seperti karet dan memanjang, mengejar terus ke arah leher Bagus Sajiwo!

Ki Tejomanik, Sulastri, Lindu Aji dan Retno Susilo terbelalak. Belum pernah mereka melihat ilmu yang demikian aneh. Kedua tangan pemuda Bali itu dapat mulur seperti karet! Melihat ini, Bagus Sajiwo lalu menjulurkan kedua tangan dan dua pasang tangan itu saling bertemu dan seperti melekat!

Tejakasmala mengerahkan tenaga sakti dan sihir dan dia berhasil mengangkat tubuh Bagus Sajiwo setinggi setengah depa dari tanah. Akan tetapi Bagus Sajiwo lalu mengerahkan Aji Giri Selo yang membuat tubuhnya menjadi seberat batu raksasa di gunung sehingga Tejakasmala tidak kuat dan tubuh Bagus Sajiwo turun dan menginjak tanah kembali! Tejakasmala mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh lawan. Kalau dia mampu mengangkat tubuh lawan, dia akan dapat membantingnya dan memperoleh kemenangan. Akan tetapi pengerahan Aji Giri Selo dari Bagus Sajiwo membuat tubuh itu menjadi berat sekali atau seolah-olah kedua kakinya tumbuh akar sehingga tidak dapat dicabut!

Tejakasmala hampir putus asa. Semua ajiannya telah dia keluarkan, namun kesemuanya itu gagal. Akan tetapi ada satu hal yang membuat dia masih ada harapan untuk memenangkan pertandingan mati-matian ini.

Sejak tadi dia mendapat kenyataan bahwa lawannya tidak pernah menyerangnya! Bagus Sajiwo hanya mempertahankan diri saja. Berarti, bagaimanapun juga dia tidak akan dipukul roboh dan dikalahkan! Betapa tololnya lawan itu! Dan ini merupakan keuntungan besar baginya. Maka dia cepat mengubah siasat. Kedua tangan mereka masih saling tempel dan kesempatan ini dipergunakan Tejakasmala untuk mengerahkan seluruh tenaganya, dengan pengerahan Aji Condromowo dan Aji Bayutantra secara berbareng dan sekuatnya, dia menyerang melalui penyaluran dua tenaga itu ke dalam kedua telapak tangannya. Kedua tangan itu menjadi merah, menjadi api yang membara dan dari situ ada tenaga angin dahsyat yang seolah mengipasi api membara itu untuk menyerbu tubuh Bagus Sajiwo melalui kedua telapak tangannya.

Bagus Sajiwo segera menggunakan Aji Sari Bantala menyambut serangan yang dahsyat itu. "Sssshhhh...!" Terdengar seperti besi membara dimasukkan air dan tampak asap putih mengepul dari kedua telapak tangan itu dan tubuh Tejakasmala mundur kebelakang, terhuyung dan wajahnya pucat, darah mengalir dari ujung mulutnya.

Melihat keadaan Tejakasmala seperti itu dua orang pembantunya, Cakrasakti dan Candrabaya cepat menghampirinya dan memapahnya. "Kita pergi..." Tejakasmala berkata lirih.

Dua orang senopati Klungkung itu lalu membimbing dan membawanya pergi dari situ. Tejakasmala menoleh dan berkata, "Bagus Sajiwo, tunggulah. Akan tiba saatnya aku membalas kekalahan ini!" Setelah berkata demikian, dia membiarkan dirinya dibimbing dua orang senopati Klungkung pergi dari situ. Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya, Dwi Kala, juga mengikuti mereka dari belakang.

Retno Susilo lari menghampiri Bagus Sajiwo dan merangkulnya. "Bagus, anakku. Kenapa mereka dibiarkan pergi? Aku akan mengejar dan membunuh mereka!"

"Jangan, Ibu. Biarkan mereka pergi. Tidak baik mengejar dan mendesak lawan yang sudah mengaku kalah." kata Bagus Sajiwo.

"Bagus, engkau terlalu mengalah!" Maya Dewi berseru, agak penasaran. "Sejak tadi engkau tidak pernah membalas dan dia terluka hanya karena tenaganya sendiri membalik dan melukainya. Orang-orang jahat seperti mereka sudah sepatutnya dibasmi habis!"

"Dewi, lupakah engkau akan apa yang telah kita pelajari? Tidak ada manusia yang sempurna tanpa dosa di dunia ini. Kalau kita merasa menjadi manusia, berarti kita pun mempunyai dosa, tidak jauh bedanya dengan orang lain yang kita anggap berdosa. Karena itu, maka sudah sepatutnya kalau kita dapat mengampuni kesalahan orang lain karena kita juga penuh dengan kesalahan. Kita juga hanya manusia berdosa. Ingat, Gusti Allah tidak akan mengampuni kesalahan kita kalau kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain kepada kita."

Maya Dewi yang tadinya berdiri dengan kepala tegak penuh rasa penasaran dan marah terhadap Tejakasmala dan kawan-kawannya, tiba-tiba menundukkan muka dan segala kekerasan seolah asap tipis tertiup angin.

"Ah, aku sudah lupa lagi, terseret oleh nafsu perasaanku. Maafkan aku, Bagus," katanya lirih, dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut, sungguh berlawanan dengan suaranya tadi ketika ia memaki-maki Tejakasmala.

Lindu Aji menyentuh tangan isterinya dan dia mengangguk-angguk. Sulastri juga mengerti akan isyarat suaminya itu. Suami isteri ini sekarang maklum dan tidak merasa heran akan perubahan besar yang terjadi atas diri Maya Dewi. Kiranya. perubahan itu terjadi karena Maya Dewi bertemu dan bersahabat dengan Bagus Sajiwo. Kenyataan ini membuat suami iateri ini semakin kagum kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo teringat bahwa dia belum memperkenalkan ayah ibunya kepada Maya Dewi, maka dia menggapai ke arah Maya Dewi dan berkata. "Dewi, kesinilah!"

Jantung dalam dada Maya Dewi berdebar-debar, penuh ketegangan walaupun wajah dan sikapnya tetap tenang. Ia melangkah dengan perlahan menghampiri Bagus Sajiwo yang berada dekat Ki Tejomanik, Retno Susilo, Lindu Aji, dan Sulastri. Ia tahu betapa empat pasang mata itu memandang kepadanya dengan penuh selidik. Setelah tiba di depan Bagus Sajiwo, ia berdiri dengan muka ditundukkan.

"Ayah, Ibu, ini adalah Maya Dewi, sahabat saya. Dewi, ini adalah Ayah dan Ibuku, dan mereka ini..." Dia memandang kepada Lindu Aji dan Sulastri.

"Adimas Bagus Sajiwo, aku bernama Lindu Aji dan ini isteriku, Sulastri." kata Lindu Aji memperkenalkan diri karena maklum bahwa Bagus Sajiwo belum mengenal dia dan isterinya.

"Bagus, aku sudah tahu, sudah mengenal Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo, Juga aku sudah mengenal baik Adimas Lindu Aji dan Adik Sulastri..." kata Maya Dewi dengan suara yang agak gemetar, lalu ia membungkuk, memberi sembah kepada Ki Tejomanik dan isterinya, juga kepada Lindu Aji dan Sulastri sambil berkata, "Saya mohon maaf sebesarnya atas segala keburukan yang pernah saya lakukan terhadap Andika berempat,"

Lindu Aji dan Sulastri mengangguk. Biarpun dulu Sulastri merupakan seorang gadis yang galak sekali, akan tetapi setelah menjadi isteri Lindu Aji ia pun banyak berubah, tidak begitu dikuasai oleh nafsu perasaannya. Maka melihat suaminya mengangguk sambil tersenyum tanda bahwa dia memberi maaf kepada Maya Dewi yang dulu pernah memusuhi bahkan membikin celaka mereka akan tetapi kini jelas bahwa Maya Dewi telah berubah dan tadi bahkan membela mereka, Sulastri juga mengangguk-angguk, siap memaafkan.

Akan tetapi, tiba-tiba Retno Susilo yang tadinya berwajah cerah sambil memegangi lengan puteranya, dengan alis berkerut dan suara lanlang berkata, walaupun ia tidak memandang kepada Maya Dewi, namun jelas kepada siapa kata-katanya yang ketus itu ditujukan.

"Ada kesalahan yang patut dimaafkan, akan tetapi ada pula kesalahan dan dosa bertumpuk-tumpuk dan terlalu jahat sehingga tidak mungkin dimaafkan lagi." Lalu ia memegang kedua pundak puteranya dan menatap tajam wajah tampan itu. "Bagus Sajiwo, bagaimana engkau dapat datang bersama perempuan ini? Aku tidak percaya bahwa engkau bersahabat dengannya!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan melirik ke arah Maya Dewi dengan hati merasa iba. Dia melihat wajah Maya Dewi menjadi pucat dan wajahnya ditundukkan sampai dagunya menempel leher.

"Ibu, Maya Dewi ini adalah seorang sahabatku yang baik sekali, sudah lama kami mengalami segala macam suka duka bersama. Ia setia dan amat sayang kepada saya, Ibu."

Ucapan yang terbuka dan Jujur ini diterima oleh Retno Susilo bagaikan minyak disiramkan ke atas api, membuat rasa penasaran dan kemarahannya semakin berkobar. "Begitukah? Berapa lama sudah engkau bergaul dengan perempuan ini?"

Bagus Sajiwo memandang ibunya dengan sinar mata merasa heran karena dia tidak mengerti apa sebabnya tampak marah setelah tadi tampak berbahagia sekali. "Berapa lama saya bergaul dengan Maya Dewi, Ibu? Kurang lebih empat tahun ini kami tidak pernah saling berpisah, mengalami suka duka bersama, hidup berdua dalam terowongan bawah gunung saja selama satu tahun, dan kami telah menjadi dua orang tunggal guru karena mempelajari ilmu yang sama."

Wajah Retno Susilo menjadi merah sekali dan matanya terbelalak lebar. Ia menoleh kepada suaminya dan melihat betapa wajah Ki Tejomanik juga tampak heran dan alisnya yang tebal berkerut tanda bahwa hati suaminya juga tidak senang mendengar ucapan Bagus Sajiwo tadi. Maka Retno Susilo lalu menekan kedua pundak puteranya kuat-kuat dan menatap wajahnya dengan tajam penuh selidik.

"Bagus Sajiwo!" suaranya tegas. "Engkau harus menjawab pertanyaan Ibu dengan sejujurnya dan jangan berbohong!"

"Ibu," kata Bagus Sajiwo sambil tersenyum dan merasa lucu, "Saya sama sekali tidak berbohong dan semua jawaban saya adalah sejujurnya."

"Sekarang jawablah! Sejauh mana hubunganmu dengan perempuan ini?" Sang Ibu bertanya, setengah berteriak karena ia sudah marah sekali.

"Apa... apa yang Ibu maksudkan? Saya tidak mengerti!" kata Bagus Sajiwo.

"Bagus, engkau tadi mengatakan bahwa Maya Dewi amat menyayangmu. Dan bagaimana dengan perasaanmu kepadanya? Apakah engkau juga menyayang Maya Dewi?" Ki Tejomanik menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan dia dan isterinya.

Retno Susilo memandang wajah puteranya dengan pandang mata terbelalak. Tanpa berpikir panjang, Bagus Sajiwo menjawab seolah pertanyaan itu aneh sekali, sama seperti kalau orang bertanya apakah dia senang bertemu dengan ayah ibunya setelah berpisah belasan tahun!

"Tentu saja saya sayang, amat, sayang padanya!"

"Huh! Itu kotor sekali! Tidak pantas dan aku bisa mati karena malu!" Tiba-tiba Retno Susilo berteriak.

Bagus Sajiwo membelalakkan matanya, tampak bodoh dan heran bukan main "Kotor"? Tidak pantas? Ibu... eh, apakah sebenarnya yang Ayah dan Ibu maksudkan? Sungguh aku tidak melihat sesuatu yang kotor, tidak pantas atau memalukan."

"Bagus Sajiwo! Aduh, anakku, engkau baru saja dewasa, usiamu baru dua puluh tahun. Aku maklum bahwa engkau masih belum ada pengalaman, masih hijau dan mudah dipengaruhi rayuan gombal seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu sudah bejat dan bobrok batinnya, perempuan yang sudah matang dengan pengalaman. Anakku, engkau tertipu, engkau dibohongi, engkau terkena guna2nya dan rayuan! Sadarlah anakku...!"

"Semua itu tidak benar, Ibu!" kata Bagus Sajiwo, suaranya masih lembut membujuk ibunya.

"Tidak benar? Tidak benar kau bilang? Ah, anakku Bagus, engkau agaknya belum tahu siapa sebenarnya perempuan ini! Ia adalah seorang datuk wanita sesat dari Parahyangan. Dia sesat, anakku, Ayahnya dahulu adalah datuk sesat bernama Resi Koloyitmo, saking jahatnya sampai terusir keluar dari Parahyangan. Perempuan ini bukan saja Jahat, kejam, dan hina untuk menjual tanah air dan bangsa, menghambakan diri kepada Kumpeni Belanda! Dan kau tahu berapa usianya? Ia tampak muda dan cantik karena memakai ilmu hitam! Usianya sudah setengah tua! Kutaksir mendekati empat puluh tahun! Lihat baik-baik perempuan ini, ia setan, iblis betina yang pandai memasang aji pameletan, guna-guna sehingga engkau jatuh ke dalam kekusaannya! Sadarlah, anakku!"

Bagus Sajiwo memandang kepada Maya Dewi. Wanita itu menundukkan mukanya yang menjadi pucat seperti mayat, dan biarpun tidak mengeluarkan suara, namun air matanya jatuh berderai dan kedua pundaknya terguncang karena ia menahan isak tangisnya.

Maya Dewi merasa betapa setiap kata yang diucapkan Retno Susilo bagaikan keris berkarat menusuk-nusuk perasaannya, jantungnya seperti disayat-sayat. Akan tetapi ia tidak marah apalagi sakit hati, karena semua yang keluar dari mulut Retno Susilo itu adalah benar! Bukan fitnah, bukan karena benci. Ia dapat menyelami perasaan hati Retno Susilo dan ia tidak menyalahkannya.

Seorang ibu yang hanya mempunyai seorang anak, kini sudah mulai dewasa, tentu tidak merelakan puteranya bergaul dengan seorang wanita seperti ia. Usianya belasan tahun lebih tua, mempunyai nama buruk tercemar, terkenal sebagai seorang iblis betina! Tidak, ia tidak menyalahkan ibunya Bagus Sajiwo. Ia hanya menyesali dirinya sendiri akan betapa hancur pun perasaan hatinya, ia menahan sekuatnya agar tangisnya tidak mengeluarkan suara. Ia merasa dunianya kiamat, mataharl tak bersinar lagi.

Retno Susilo tidak bersalah. Ki Tejomanik tidak bersalah. Bagus Sajiwo tidak bersalah. Ia hanya dapat melempar semua penyesalan, kekecewaan dan kedukaan kepada dirinya sendiri! Kalau saja ia tidak sudah menerima gemblengan batin di bawah bimbingan Bagus Sajiwo selama empat tahun ini, rasanya jalan tunggal yang dapat ditempuhnya hanya mengakhiri hidupnya, mengakhiri semua penderitaan di dunia ini.

Dari Bagus Sajiwo ia tahu dan percaya bahwa penderitaan sesudah mati malah Jauh lebih hebat lagi sebagai hukuman atas semua dosanya, akan tetapi ia akan rela karena tidak melihat dan dilihat Bagus Sajiwo. Akan tetapi, kini ia tidak dapat melakukan bunuh diri karena yakin bahwa hal itu merupakan dosa besar sekali terhadap Gusti Allah.

Sambil menahan isaknya namun tetap saja suaranya gemetar dan lirih ia lalu berkata sambil mengangkat mukanya yang pucat, memandang wajah Bagus Sajiwo dengan mata yang telah kehilangan sinarnya, mata yang seolah menerawang jauh sekali. "Bagus, semua yang dikatakan oleh Ibumu itu benar. Aku memang seorang yang penuh dosa, seorang yang kotor dan sungguh tidak pantas berdekatan denganmu, Bagus."

Hati Bagus Sajiwo penuh perasaan iba kepada Maya Dewi. Dia dapat membayangkan betapa hancur lebur hati wanita itu mendengar ucapan ibunya yang demikian keras dan penuh penghinaan, walaupun dia juga maklum bahwa apa yang dikatakan ibunya itu semua benar dan dia tahu pula mengapa ibunya marak kepada Maya Dewi.

"Ibu, mohon Ibu dan Ayah mendengar saya baik-baik. Saya tahu benar siapa Maya Dewi. Ia telah menceritakan segalanya tentang masa lalunya yang penuh kesesatan itu kepada saya. Saya tahu bahwa ia dahulu adalah seorang yang beraliran sesat bahkan menjadi telik sandi Kumpeni Belanda. Ia menceritakan semua itu, akan tetapi ia menyesali semua dosanya dan sejak bertemu dengan saya, ia berusaha sekuat tenaga untuk kembali ke jalan benar dan saya melihat bahwa ia telah berhasil, Ayah dan Ibu.

Karena itulah maka kami menjadi sahabat baik yang saling membantu. Saya mohon Ayah dan Ibu sudi memberi maaf kepada Maya Dewi sekiranya ia pernah berbuat salah kepada Ayah dan Ibu. Sayalah yang menanggung bahwa kini Maya Dewi sudah kembali ke jalan benar, membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan berserah diri kepada Gusti Allah. Saya yang menanggung, Ibu..."

Mendengar Bagus Sajiwo membelanya sedemikian rupa, air mata Maya Dewi bercucuran semakin deras. Ia tidak kuat bertahan diri lebih lama lagi dan berkata dengan suara mengandung jeritan hati.

"Ohhh... sudahlah, Bagus. Sudahlah, jangan membelaku lagi. Ibumu memang benar, semua orang benar, aku yang salah, aku yang kotor. Kalau engkau membelaku, engkau akan tercemar kekotoran dariku..."

"Itu benar!" bentak Retna Susilo yang sudah melompat ke depan Maya Dewi. "Anakku akan menjadi kotor kalau berdekatan dengan seorang perempuan macam kamu! Engkau sudah menggunakan sikap dan kata-kata manis sehingga mempengaruhi anakku yang masih muda. Maya Dewi, engkau sungguh tak tahu malu, usiamu sudah banyak masih merayu seorang pemuda remaja! Aku tahu bahwa engkau sakti, lebih digdaya daripada aku, akan tetapi kalau engkau mendekati anakku lagi, aku akan mengadu nyawa denganmu. Lebih baik aku mati daripada melihat anakku menjadi permainanmu!" Retno Susilo yang sudah gelap mata karena marah itu lalu mengayun kedua tangannya.

"Plak-plak!!" Kedua pipi Maya Dewi ditamparnya. Maya Dewi tentu saja akan mudah mengelak atau melindungi mukanya dengan aji kekebalan, atau menangkis kalau ia mau. Akan tetapi ia diam dan menerima saja tanpa mengerahkan tenaga sehingga kedua pipinya menjadi biru membengkak dan darah mengalir dari ujung bibirnya yang pecah.

Ki Tejomanik sudah melompat dan memegang kedua lengan isterinya agar jangan memukul lagi. "Sudah, Diajeng!" katanya tegas. "Kemarahan menyeretmu melakukan perbuatan yang tidak benar!" Kemudian Ki Tejomanik memandang Maya Dewi yang kedua pipinya biru membengkak lalu berkata, "Maya Dewi, kami kira sebaiknyalah kalau engkau pergi meninggalkan kami dan biarlah kita mengambil jalan kita masing-masing."

Maya Dewi mengangguk lalu memandang kepada Bagus Sajiwo. Matanya yang biasanya indah cemerlang dan jeli itu kini tampak seperti orang mati, tanpa ada sinar kehidupan. Lalu terdengar suaranya gemetar namun penuh kasih sayang.

"Tolol... ampuni aku... yang telah membuat engkau... dimarahi orang tua-mu... selamat tinggal Tolol... jaga dirimu baik-baik." Wanita itu lalu memutar tubuhnya dan berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Bagus Sajiwo merasa hatinya tergetar. Dia dapat menangkap getaran kasih sayang dalam suara Maya Dewi tadi, dan sebutan "Tolol" itu mengingatkan dia betapa dahulu, pada pertemuan pertama kalinya, sebutan itu menunjukkan bahwa Maya Dewi sedang marah atau sedang menyayangnya. Sebutan itu dapat menjadi tanda kemarahan atau kemesraan. Dan sebutan tadi jelas sama sekali bukan merupakan tanda kemarahan.

"Dewi...!" Dia berseru lirih, seperti bisikan karena seruan itu hanya merupakan letupan suara hatinya.

Bagus Sajiwo berdiri memandang ke arah menghilangnya bayangan Maya Dewi, diam tak bergerak seperti patung. Retno Susilo memeluknya dari belakang. Bagus Sajiwo seperti baru sadar dari lamunan, memutar tubuh dan balas merahgkul Ibunya. Retno Susilo menangis.

"Bagus, anakku sayang... kau maafkan Ibumu, ya Nak. Ibu... Ibu terpaksa harus bersikap kasar kepada Maya Dewi tadi... karena Ibu terlalu sayang padamu..."

Bagus Sajiwo tersenyum, sama sekali tidak tampak kesedihan pada wajahnya. Dengan pandang mata penuh pengertian dia menepuk-nepuk pundak ibunya. "Saya tidak menyalahkan Ibu. Saya mengerti perasaan Ibu."

Ki Tejomanik menghampiri mereka dan merangkul putera dan isterinya. "Anakku Bagus, aku bangga kepadamu, Nak. Engkau sungguh bijaksana!" Tiga orang itu saling rangkul.

Sejak tadi, Lindu Aji yang memiliki perasaan halus, ikut merasa terharu sekali melihat adegan antara Maya Dewi, Bagus Sajiwo dan Retno Susilo. Dia adalah seorang yang bijaksana pula, maka dia dapat mengerti akan sikap Retno Susilo yang tidak rela dan marah-marah melihat putera tunggalnya bergaul akrab dengan Maya Dewi yang dahulunya memang merupakan seorang datuk sesat.

Dia juga dapat merasakan pukulan batin yang diderita Maya Dewi dan di dalam hatinya dia merasa iba juga. Akan tetapi Lindu Aji mengerti bahwa itu merupakan akibat daripada sebab yang dibuat sendiri oleh Maya Dewi. Kesesatannya dahulu itulah yang mengakibatkan wanita itu menderita kehancuran batin seperti itu. Dan memang ia harus mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya di masa lalu. Dan Lindu Aji merasa iba, karena dia dapat melihat bahwa wanita itu bersungguh-sungguh dalam niatnya untuk mengubah jalan hidupnya.

Maya Dewi agaknya telah menemukan, jalan terang. Buktinya tadi ketika ditampar Retno Susilo, ia sama sekali tidak melawan dan menerima begitu saja tamparan itu yang membuat kedua pipinya biru membengkak dan bibirnya berdarah. Maya Dewi agaknya merasa bahwa ia memang pantas menerima hukuman itu, dan ini mendatangkan kesan baik dalam hatinya.

Sulastri yang tadinya, seperti Retno Susilo, juga merupakan seorang gadis yang keras hati, juga tidak menyalahkan sikap Retno Susilo. Akan tetapi ia merasa heran sekali akan perubahan yang amat besar dalam diri Maya Dewi. Sebagai seorang wanita, ia menduga bahwa Maya Dewi benar-benar amat mengasihi Bagus Sajiwo! Agaknya Retno Susilo juga merasakan ini, maka ia marah dan mengamuk, tidak rela kalau puteranya yang berusia dua puluh tahun dan seorang perjaka tampan dan sakti mandraguna, anak satu-satunya, saling jatuh cinta dengan seorang wanita yang dahulu menjadi iblis betina jahat, apalagi yang usianya sudah hampir empat puluh tahun! Ia pun merasa terharu melihat penderitaan Maya Dewi yang tahu diri dan mengalah itu.

Akan tetapi, suami isteri ini, Lindu Aji dan Sulastri, benar-benar merasa heran dan kagum bukan main melihat sikap dan sepak-terjang Bagus Sajiwo. Pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, sakti mandraguna dan gagah perkasa, juga lembut dan bijaksana sekali. Pemuda itu benar-benar seorang satria pinandita, gagah perkasa seperti satria dan berbudi hhur seperti pendeta. Dan yang lebih mengagumkan lagi, mereka dapat menduga bahwa Maya Dewi yang dahulunya demikian jauh tersesat, kini dapat kembali ke jalan benar berkat bimbingan pemuda yang baru berusia dua puluh tahun itu! Hal ini sungguh merupakan suatu keajaiban. Kalau bukan Kekuasaan Gusti Allah sendiri yang bekerja melalui pemuda itu, kiranya tidak mungkin ada manusia mampu menuntun seorang wanita yang tadinya demikian sesat dan jahat dapat berubah sama sekali dan menjadi seorang wanita yang berwatak demikian mengagumkan! "

Ki Tejomanik yang tadinya tenggelam dalam keharuan dan berangkulan dengan anak isterinya, teringat akan kehadiran Lindu Aji dan Sulastri yang tadi telah membantu dan menyelamatkannya ketika dia dan isterinya terancam oleh Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya yang tangguh itu. Maka dia cepat menyadarkan isteri dan puteranya.

"Bagus, mari kuperkenalkan kepada sepasang pendekar yang sudah banjak berjasa terhadap Mataram dan sudah menyelamatkan kami tadi sebelum engkau datang." Mereka bertiga menghanpiri Lindu Aji dan Sulastri. "Anakmas berdua, inilah anak kami Bagus Sajiwo. Bagus, mereka ini adalah Anakmas Lindu Aji dan isterinya, Sulastri. Mereka juga ikut prihatin dan sibuk mencarimu, Bagus."

Bagus Sajiwo memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya depan dada. "Kakangmas Lindu Aji dan Mbakayu Sulastri, saya berterima kasih dan sangat menghargai semua kebaikan yang Andika berdua lakukan untuk kami."

Lindu Aji dan Sulastri tersenyum dan menjawab. "Adimas Bagus Sajiwo, apa yang kami berdua lakukan hanya merupakan kewajiban semua pendekar yang memilih menjadi hamba dan alat yang dipergunakan oleh Gusti Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Kami berdua pun mungkin sekarang sudah tidak hidup lagi sekiranya Gusti Allah tidak menyelamatkan kami melalui uluran tanganmu tadi."

Sepasang mata Bagus Sajiwo bersinar dan wajahnya berseri ketika dia mendengar ucapan Lindu Aji itu. "Ah, Kakangmas Lindu Aji ternyata adalah seorang yang bijaksana sekali!" katanya.

Ki Tejomanik yang kini sudah merasa gembira kembali berkata sambil tertawa. "Ha-ha, Bagus, tentu saja Anakmas Lindu Aji seorang satria yang bijaksana. Mari kita semua masuk ke dalam rumah agar kita dapat bercakap-cakap dengan leluasa. Banyak yang perlu kita bicarakan!"

Lindu Aji dan Sulastri agak ragu-ragu karena mereka tahu bahwa suami isteri dan putera mereka yang baru saling ketemu dan berkumpul itu tentu akan merayakan kebahagiaan mereka. Lindu Aji dan Sulastri merasa seolah kehadiran mereka akan merupakan gangguan yang membuat keluarga itu merasa canggung dan kebahagiaan mereka terganggu. Mereka saling pandang dan saling mengerti perasaan masing-masing. Akan tetapi Retno Susilo yang juga bermata tajam dan peka itu dapat melihat kecanggungan dan keraguan mereka. Ia merangkul Sulastri dan berkata.

"Eh, kenapa kalian tampak ragu-ragu? Kalian berdua sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, bukan orang luar. Hayo kita bersama merayakan kebahagiaan ini dan apakah kalian tidak ingin mengenal Adikmu Bagus Sajiwo lebih baik lagi dan mendengarkan kisah pengalamannya selama empat belas tahun meninggalkan rumah?"

"Bibi kalian benar, Anakmas Lindu Aji. Mari kalian ikut bergembira bersama kami!" Kata Ki Tejomanik kepada Lindu Aji.

"Saya juga ingin mengenal Kakang-mas Lindu Aji dan Mbakayu Sulastri lebih baik lagi dan mengharapkan banyak petunjuk dari Andika berdua." kata Bagus Sajiwo.

Mendengar kata-kata yang diucapkan keluarga itu dengan tulus, keraguan Lindu Aji dan Sulastri menghilang dan mereka ikut masuk ke rumah dengan wajah gembira. Bagus Sajiwo membawa buntalan pakaiannya yang tadi dia letakkan di bawah pohon dan ketika melangkah menuju ke pendopo, dia memandang kesekeliling pekarangan dengan mata bersinar-sinar karena dia melihat betapa keadaan dipekarangan itu masih sama seperti ketika dia masih kecil, seolah tidak pernah ada perubahan disitu. Yang berubah cepat adalah manusia.

Ketika memasuki rumah, Bagus Sajiwo juga mendapat kenyataan bahwa tampaknya tidak ada perubahan sama sekali dalam rumah orang tuanya itu. "Lihat kamarmu ini, Bagus!" kata Retno Susilo yang membawa mereka memasuki sebuah kamar.

Bagus Sajiwo memasuki kamar itu dan meletakkan buntalan pakaiannya ke atas meja. Lalu dia memandangi semua benda yang berada di dalam kamar itu. Semuanya masih presis sama seperti belasan tahun yang lalu! Tempat tidurnya, almari pakaiannya. Dia menghampiri almari itu dan membukanya. Masih penuh pakaian, pakaiannya ketika dia berusia enam tahun!

"Ibu, semua masih lengkap disini seperti ketika saya diculik orang! Sama sekali tidak ada perubahan. Pakaian-pakaian ini, ha-ha, tentu tidak bisa kupakai sekarang, terlalu kecil!" Bagus Sajiwo mengambil sepotong baju yang tentu saja terlalu kecil untuk tubuhnya.

Ki Tejomanik dan Lindu Aji bersama isteri mereka yang ikut masuk ke dalam kamar itu tertawa. "Aku memang selalu merawat kamar ini dan tidak ada sepotong benda pun yang disingkirkan!" kata Retno Susilo bangga.

"Ibumu berkeras untuk mempertahankan kamarmu ini, Bagus. Dan ini merupakan bukti bahwa kami tidak pernah putus asa menanti kembalimu. Mari kita bicara diruangan dalam!"

Mereka memasuki ruangan dalam dan duduk mengelilingi meja. "Nah, sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu sejak engkau diculik orang sampai hari ini, Bagus. Aku sudah ingin sekali mendengar kisah pengalamanmu. Setelah engkau bercerita, baru aku akan mengajak Sulastri untuk menyiapkan masakan untuk pesta keluarga kita." kata Retno Susilo setelah menghidangkan minuman air teh yang sudah tersedia sebelumnya.

"Ketika itu Ayah dan Ibu sedang tidak ada di rumah dan saya tinggal sendiri dirumah bersama Bibi Sikem, pembantu yang setia itu." Bagus Sajiwo mulai bercerita.

"Ya, Ibumu dan aku sedang pergi membasmi perampok yang mengganggu penduduk dusun di kaki gunung yang ternyata merupakan pancingan agar kami berdua meninggalkan rumah. Para perampok itu disuruh oleh penculik." kata Tejomanik.

"Saya melawan akan tetapi tentu saja sia-sia ketika penculik itu membawa lari saya setelah dengan kejam dia membunuh Bibi Sikem. Penculik itu adalah Wiku Menak Koncar tokoh Blambangan dan dia hendak membawa saya ke Blambangan. Akan tetapi kemudian muncul Eyang Guru Ki Ageng Mahendra menolong saya. Setelah mengalahkan Wiku Menak Koncar yang melarikan diri, Eyang Guru lalu membawa saya ke Pegunungan Ijen dimana beliau bertapa dan sejak itu saya menjadi muridnya."

"Paman Ki Ageng Mahendra itu masih saudara seperguruan guruku, Resi Limut Manik, Bagus! Jadi, beliau bukan orang lain!" seru Ki Tejomanik.

"Eyang Guru juga telah memberitahu kepada saya akan hal itu, Ayah. Akan tetapi beliau menerima saya sebagai muridnya dengan dua syarat. Pertama, saya tidak boleh pulang bertemu Ayah dan Ibu sebelum berusia dua puluh tahun dan ke dua, saya tidak boleh menanyakan apa sebabnya. Akan tetapi saya tetap percaya bahwa mendiang Eyang Guru tentu mempunyai alasan tertentu untuk hal itu. Beliau adalah seorang yang arif bijaksana."

"Hemm, aku juga yakin akan hal itu dan setelah kini kami mendengar bahwa engkau dilarang pulang sebelum berusia dua puluh tahun, kami tidak menyalahkan engkau yang menaati pesan itu, Bagus." kata Ki Tejomanik dan Retno Susilo'hanya mengangguk setuju.

"Kurang lebih empat tahun yang lalu, ketika saya berusia enam belas tahun, Eyang Guru wafat karena usianya sudah sepuh (tua) sekali. Sesuai dengan pesan Eyang Guru, saya memperabukan jenazah beliau, dibakar berikut pondoknya. Setelah api padam dan jenazah sudah menjadi abu, selagi saya hendak mengumpulkannya, tiba-tiba datang angin lesus dan semua sisa pembakaran itu terbawa angin lesus diterbangkan ke atas sehingga abu itu menghujani permukaan Pegunungan Ijen. Karena Eyang Guru sudah memesan agar saya tidak pulang sebelum berusia dua puluh tahun, maka saya lalu meninggalkan gunung dan pergi merantau kemana saja untuk melewatkan waktu yang empat tahun lagi sebelum boleh pulang kesini."

"Eyang Gurumu itu sungguh seorang yang arif bijaksana, Adimas Bagus Sajiwo." kata Lindu Aji kagum.

"Ya, bahkan agaknya beliau sudah tahu apa yang akan terjadi. Buktinya sebelum meninggal saya disuruh menanak nasi dan memasak daging kijang yang sekiranya cukup untuk dihidangkan kepada lima puluh orang. Dan ternyata persediaan itu cukup untuk para penduduk pedusunan yang datang melayat."

"Lalu bagaimana engkau bertemu dan dapat bersama... Maya Dewi itu sampai hari ini, Bagus?" tanya Retno Susilo dan kini setelah Maya Dewi tidak berada disitu, suaranya lembut, tidak lagi penuh kemarahan seperti tadi ketika berhadapan dengan wanita itu.

"Begini, Ibu. Perjalanan saya tanpa tujuan itu pada suatu hari membawa saya tiba di Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis dan di puncak bukit itu saya melihat seorang wanita berkelahi, dikeroyok oleh dua orang yang kemudian saya ketahui adalah Raden Jaka Bintara dan Gagak Mudra. Wanita itu terpukul dan terluka dalam dengan parah, nyaris tewas. Saya yang tidak mengenal mereka tergerak untuk menolong wanita itu dan berhasil mengusir dua orang yang hendak membunuhnya itu. Melihat wanita yang terluka parah hampir tewas itu, saya berusaha mengobatinya dan berhasil menyelamatkan nyawanya, walaupun ia masih dalam keadaan menderita luka dalam yang berbahaya. Dia adalah Maya Dewi. Lalu muncul seorang wanita berpakaian putih hendak membunuh Maya Dewi yang sudah menderita luka. Wanita itu adalah kakak tiri Maya Dewi dan memiliki kepandaian tinggi. Kembali saya membela Maya Dewi dan kami melarikan diri ke dalam sebuah terowongan guha yang berada di dalam Bukit Keluwung. Candra Dewi tidak dapat mengejar kami karena terowongan itu longsor dan ter-uruk batu dari langit-langit terowongan."

"Ah, pantas saja aku melihat tulisan di batu luar guha bahwa tempat itu merupakan kuburan Maya Dewi dan Bagus Sajiwo. Karena kusangka bahwa engkau telah tewas, Adimas Bagus Sajiwo, maka saya mengabarkannya kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo." kata Sulastri.

Bagus Sajiwo mengangguk. "Benar, ia mengira kami telah mati. Kami berada dalam ruangan dalam bukit itu selama satu bulan untuk melenyapkan racun dingin dari Aji Wisa Sarpa yang membalik menyerang dirinya, karena ruangan itu merupakan pusat panas bumi. Setelah hawa beracun Aji Wisa Sarpa lenyap, tinggal hawa panas beracun dari Aji Tapak Rudira yang masih mengancam nyawanya. Kami lalu pergi ke Puncak Wilis yang teramat dingin dan disana saya mengajar Maya Dewi untuk bersamadhi, mengambil keadaan udara yang amat dingin itu untuk mengusir hawa beracun panas dari tubuhnya. Akhirnya ia sembuh, akan tetapi ia kehilangan kedua ajiannya itu. Ia menceritakan tentang kesesatannya dan menghilangnya dua aji sesat itu pun banyak membantu ia untuk menyadari kesalahan dan dosa-dosanya, bertaubat dan kembali ke jalan benar."

"Adimas Bagus Sajiwo. Kami pernah beberapa kali bentrok dengan Maya Dewi dan seingatku, kesaktiannya tidak sehebat sekarang! Bagaimana setelah ia kehilangan dua ajinya yang ganas itu kini ia malah menjadi begitu sakti mandraguna?" tanya Lindu Aji, agak penasaran melihat kemajuan luar biasa yang diperoleh Maya Dewi.

Bagus Sajiwo tersenyum melihat betapa empat pasang mata itu memandang kepadanya penuh penantian dan keinginan tahu. "Setelah Maya Dewi sembuh benar, kami turun dari puncak Wilis dan mulai merantau karena saya harus menunggu sampai berusia dua puluh tahun, baru aku kembali ke Gunung Kawi sini. Ketika kami melakukan perjalanan, saya membantu Maya Dewi untuk berlatih menghimpun kembali tenaga sakti sehingga ia mendapatkan kembali tenaganya. akan tetapi bukan tenaga sesat seperti yang pernah ia miliki. Dan saya melihat betapa Maya Dewi benar-benar telah bertaubat dan kembali ke jalan benar. Perubahan pada dirinya itu tampak nyata ketika dalam perjalanan kami itu seringkali kami bertemu peristiwa kejahatan dan ia selalu membela kebenaran, membela orang-orang yang tertindas dan menentang kejahatan."

Tiba-tiba Retno Susilo yang sejak tadi mendengarkan dan mulai merasa penasaran membayangkan puteranya bersama Maya Dewi sampai bertahun-tahun, bertanya, "Akan tetapi, Maya Dewi itu dahulu selain jahat dan kejam, juga terkenal sebagai seorang wanita kotor tukang pelet laki-laki! Apakah selama bersamamu ia tidak pernah merayumu? Rasanya tidak mungkin!"

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. Tadi ketika bercerita, dia sudah berhati-hati sekali, tidak mau menyinggung hati ibunya dan menjaga agar ibunya tidak marah. Maka dia tidak bercerita tentang pengalamannya bersama Maya Dewi ketika melakukan pengobatan, baik di Ruangan Pusat Panas Bumi maupun di puncak Wilis. Akan tetapi ketika ibunya bertanya tentang rayuan Maya Dewi, dia tidak dapat berbohong.

"Sebenarnya, Ibu. Ketika baru pertama kali bertemu, Maya Dewi menyatakan cintanya dan keinginannya untuk menjadi suami isteri dengan saya..."

"Nah! Perempuan hina dina itu...!"

"Ssstt, Diajeng. Tekanlah nafsu perasaanmu agar dapat mendengarkan dengan baik. Aku yakin Bagus Sajiwo akan menceritakan semua dengan sejujurnya." kata Ki Tejomanik kepada isterinya.

"Sesungguhnya begitu," kata Bagus Sajiwo. "Akan tetapi karena pada waktu itu, saya masih remaja, usia saya baru enam belas tahun, aku menolaknya dan perlahan-lahan aku membimbingnya untuk berkenalan dengan Gusti Allah yang tidak pernah dikenalnya. Perlahan-lahan berkat iman dan penyerahan dirinya kepada Gusti Allah Maya Dewi dapat menguasai nafsu-nafsunya dan akhirnya ia terbebas dari belenggu nafsunya sendiri. Ia memang masih mencinta saya, amat mencinta saya, Ayah dan Ibu. Akan tetapi saya yakin dan merasa bahwa cinta kasihnya itu murni, bukan sekedar cinta kasih yang didorong oleh nafsu belaka. Saya pun amat menyayangnya, Ibu. Sayang dan iba kepadanya, maka ketika ia mohon dengan sangat agar diperbolehkan ikut saya karena ia takut bahwa kalau ia berpisah dari saya ia akan terseret kembali oleh kekuasaan Iblis ke dalam lembah dosa, saya tidak dapat menolaknya. Percayalah, Ibu. Hubungan kami kasih sayang diantara kami, bersih dan sama sekali tidak dicemari nafsu."

Ki Tejomanik menepuk-nepuk pundak Retno Susilo dan wanita ini menghela napas panjang. "Anakku, tentu saja aku percaya kepadamu. Akan tetapi, peristiwa itu sungguh hampir mustahil. Perubahan yang terjadi pada diri Maya Dewi itu sungguh merupakan suatu keajaiban, maka tadinya aku merasa sukar untuk percaya."

"Ibu, wejangan dan ajaran mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra membuka mata batin saya bahwa di dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang sempurna dan bersih daripada dosa dan kesalahan. Kita semua sebagai manusia sudah pasti mempunyai kesalahan, mempunyai kelemahan dan berbuat dosa. Hanya mungkin kadarnya saja yang berbeda. Karena itu, sudah sepantasnya kalau kita yang juga berdosa dan siap untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, karena bagaimana Gustl Allah berkenan mengampuni kita kalau kita sendiri tidak mau mengampuni....

***Halaman hilang***

....masih ada tiga tahun lebih waktunya bagi saya untuk pulang kesini. Kami berdua tiba disana dan ternyata di muara itu telah berkumpul banyak tokoh dan datuk. Saya mengetahuinya dari keterangan Maya Dewi yang mengenal mereka itu. Dan orang yang dulu menyerang Maya Dewi, yaitu Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra membangun sebuah rumah di dekat muara dan semua tokoh diundang sebagai tamu pangeran dari Banten itu. Di tempat itu terjadi keributan dan seorang pendekar, namanya Ki Sumali dari Loano dituduh mata-mata Mataram dan dikeroyok para datuk yang menentang Mataram."

"Adimas Bagus Sajiwo, dia itu Pamanku, adik Ayahku!" kata Sulastri.

"Ah, begitukah? Melihat Paman Sumali dikeroyok, Maya Dewi segera membelanya dan melawan para pengeroyok. Karena melihat para pengeroyok itu orang-orang yang digdaya, aku pun membantu dan akhirnya para datuk itu, dapat kami pukul mundur. Kemudian, Maya Dewi mengajak aku pergi melihat-lihat dekat muara dan semua orang mencari-cari disekitar muara. Tiba-tiba kami diserang tembakan senjata-senjata api oleh beberapa orang yang menembak dari balik batu karang. Maya Dewi tertembak pundaknya dan karena keadaan amat berbahaya baginya, saya lalu membawanya terjun ke dalam air muara itu."

"Paman Sumali telah bercerita tentang itu kepada kami!" kata Lindu Aji. "Dan menurut ceritanya, setelah engkau dan Maya Dewi tercebur ke dalam muara yang dalam, kalian tidak muncul lagi sehingga semua orang menduga bahwa kalian tentu tewas tenggelam."

Bagus Sajiwo mengangguk. "Memang, tidak heran kalau semua orang menganggap begitu, Kakangmas Lindu Aji. Ketika saya membawa Maya Dewi menyelam, tanpa disengaja, secara kebetulan dan saya yakin hal itu memang merupakan bimbingan Gusti Allah, saya menemukan terowongan di dinding muara dan terowongan itu menembus ke sebuah ruangan bawah tanah yang luas. Dan apa yang kami temukan disana?"

"Jamur Dwipa Suddhi!" teriak Sulastri.

Bagus Sajiwo mengangguk dan tersenyum. "Tepat sekali dugaan Mbakayu Sulastri. Kami menemukan tempat dimana Jamur Dwipa Suddhi disimpan. Dan bukan itu saja, kami juga menemukan kitab yang kuno, mengandung pelajaran Aji Sari Bantala."

"Wah, luar biasa sekali. Ajaib dan sulit dipercaya, hampir mustahil ada ke-ajaiban yang begitu kebetulan dan aneh sekali!" seru Retno Susilo dengan kagum dan terheran-heran.

"Diajeng, lupakah engkau bahwa hal-hal yang tampaknya mustahil bagi manusia, sebenarnya sederhana dan biasa saja bagi kekuasaan Gusti Allah? Kalau Gusti Allah menghendaki, tidak ada hal yang tidak mungkin di alam semesta maupun di akhirat. Teruskan, Bagus ceritamu semakin menarik. Selanjutnya bagaimana?"

"Kami sangat gembira. Karena merasa kelaparan, ketika menemukan Jamur Dwipa Suddhi, Maya Dewi segera menggigit dan memakannya sepotong..Dan ia memberikan setengahnya kepada saya dan saya juga memakannya. Khasiatnya luar biasa sekali. Kami berdua memperoleh tenaga sakti mujijat yang hampir tidak dapat kami kendalikan. Akan tetapi dengan sabar dan tekun, kami dapat melatih sehingga kami dapat menguasai tenaga dahsyat itu, Ternyata pundak Maya Dewi tidak terluka parah dan setelah makan jamur itu, kami merasa sehat dan kuat. Kemudian kami berdua berdiam dalam ruangan bawah tanah itu, berlatih diri menguasai tenaga mujijat itu dan melatih Aji Sari Bantala. Ternyata aji itu membutuhkan ketekunan dan baru setelah tiga tahun, kami dapat menyelesaikan latihan kami itu. Kami lalu keluar dari bawah tanah dan jalan memanjat dinding karang yang terjal, licin dan tinggi. Karena saat itu saya sudah berusia dua puluh satu tahun, maka saya lalu melakukan perjalanan menuju pulang ke Gunung Kawi. Maya Dewi memohon kepadaku agar diperbolehkan ikut. Ia mohon agar diperkenan....

***Halaman hilang***

....ruangan itu, membawa sebuah benda panjang terbungkus kain.

"Ibu seperti telah saya ceritakan tadi, Maya Dewi berhasil merampas pedang Candra Dewi dan ia segera mengenal pedang itu yang dikatakannya bahwa pedang itu milik Ibu. Tadinya ia hendak menyerahkan pedang itu kepada Ibu, akan tetapi ia mengubah pikirannya karena ia tidak ingin dianggap mencari muka, maka ia menitipkan pedang itu kepadaku dengan pesan agar saya yang mengembalikannya kepada Ibu., Lihat, Ibu mengenal pedang ini?" Bagus Sajiwo membuka buntalan itu dan tampaklah sinar kehijauan ketika sebatang pedang dan ambilnya dari buntalan.

"Pedang Nogo Wilis...!!" Empat orang itu berseru, hampir berbareng.

"Maya Dewi tahu bahwa pedang ini adalah pusaka milik Ibu, maka ia merampasnya dan ingin mengembalikannya kepada Ibu, Terimalah, Ibu." Bagus Sajiwo menyodorkan pedang itu kepada Ibunya.

Retno Susilo menoleh dan memandang kepada Sulastri, lalu berkata kepada puteranya. "Bagus, pusaka ini sudah lama bukan milikku lagi, sudah kuberikan kepada Mbakayumu Sulastri."

Bagus Sajiwo menoleh kepada Sulastri dan isteri Lindu Aji ini menghela napas dan berkata, "Memang benar, aku pernah diserang oleh Candra Dewi. Kami bertanding dan ia terlalu tangguh bagiku sehingga pedangku Nogo Wilis ini dapat dirampasnya dan aku nyaris dibunuhnya. Akan tetapi pada saat itu muncullah Kakangmas Lindu Aji yang membelaku dan mengalahkannya sehingga Candra Dewi melarikan diri. Saking gembiranya aku dan Kakangmas Lindu Aji karena pertemuan yang tidak tersangka-sangka itu, aku sampai lupa akan pedangku yang terampas Candra Dewi."

"Kalau begitu, terimalah kembali pusaka ini, Mbakayu. Sekiranya Maya Dewi berada disini, aku yakin akan mengembalikan pedang ini kepadamu juga."

"Terima kasih, Dimas." kata Sulastri sambil menerima pedangnya dengan girang sekali.

Retno Susilo memegang tangan Bagus Sajiwo dan ketika pemuda ini memandang, dia melihat sepasang mata ibunya basah dan dua butir air mata mengalir turun ke atas kedua pipinya.

"Bagus..., maafkanlah Ibumu. Baru sekarang aku menyadari bahwa tadi aku telah bersikap tidak adil terhadap Maya Dewi..."

"Ibu, harap jangan minta maaf kepada saya. Bagi saya, Ibu, tidak bersalah. Kalau Ibu menganggap bahwa sikap Ibu tadi tidak adil dan sudah menyadari dengan perasaan menyesal, itu sudah baik sekali. Bukankah begitu, Ayah?"

Ki Tejomanik mengangguk dan menghela napas panjang. "Anakmu benar, Diajeng. Maya Dewi pernah menderita sakit berat rohaninya, dan memang membutuhkan pengobatan. Dan kita semua tahu bahwa Jamu yang berkhasiat dan manjur itu rasanya pahit. Maya Dewi memang membutuhkan Jamu yang pahit-pahit agar ia benar-benar sembuh dari semua penyakitnya."

"Apa yang dikatakan Paman Tejomanik itu memang benar," kata Lindu Aji. "Segala peristiwa yang menimpa diri kita mempunyai hikmat dan justeru dalam peristiwa yang pahit atau yang tidak menyenangkan tersembunyi hikmat yang amat besar manfaatnya bagi kehidupan kita, baik itu diterima sebagai ujian, peringatan, atau hukuman atau sekadar cobaan."

"Ya," kata Ki Tejomanik, "keyakinan seperti apa yang dikatakan Anakmas Lindu Aji itu membuat kita selalu mensyukuri apapun juga yang menimpa diri kita, tidak terlalu mengeluh sehingga runtuh kalau dilanda hal yang menyusahkan dan tidak terlalu mabok kegirangan sehingga kehilangan kewaspadaan ketika menghadapi hal yang menyenangkan."

"Sulastri, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk sibuk didapur. Biarlah Bagus Sajiwo bercakap-cakap dengan ayahnya dan suamimu. Kita persiapkan hidangan untuk pesta keluarga yang menggembirakan."

Dua orang wanita itu lalu bangkit dan menuju ke dapur dengan wajah cerah dan gembira, sedangkan Bagus Sajiwo melanjutkan percakapannya dengan Lindu Aji dan Ki Tejomanik. Biarpun terdapat sedikit perasaan haru dan iba terhadap Maya Dewi, namun dia menenangkan hatinya dengan keyakinan bahwa Gusti Allah Maha Kasih akan selalu memberi berkat dan bimbinganNya kepada wanita itu. Atas permintaan Ki Tejomanik, Retno Susilo, dan Bagus Sajiwo, Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah keluarga itu sampai tiga hari lamanya.

Selama itu, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan hubungan diantara mereka menjadi semakin akrab. Baru setelah lewat tiga hari, Lindu Aji dan Sulastri meninggalkan Gunung Kawi, kembali ke perkampungan Perkumpulan Mega Liman yang berada di puncak Gunung Liman.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Maya Dewi berjalan perlahan sambil menundukkan mukanya. Ia membiarkan kedua kakinya melangkah tanpa tujuan tertentu. Biarpun tidak ada suara keluar dari mulutnya, namun kedua pundaknya terguncang, kedua tangan menutupi muka dan air mata menetes-netes keluar dari celah-celah jari tangannya. Darah di ujung bibirnya sudah berhenti keluar akan tetapi kedua pipinya masih biru membengkak.

Rasa pedih dan panas di mukanya sama sekali tidak terasa olehnya. Akan tetapi kesedihan yang amat mendalam menelannya, membuat dirinya hanyut. Ia sama sekali tidak merasa sakit hati, tidak mendendam atau marah kepada Retno Susilo yang menghinanya, mengusir bahkan menamparnya. Ia tahu bahwa ia memang sudah sepantasnya menerima semua itu, bahkan itu masih terlalu ringan kalau dipertimbangkan dengan dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Tidak, andaikata ia disiksa, dilukai parah, atau bahkan dibunuh sekalipun, ia akan merasa bahwa hal itu sudah sepatutnya dilakukan Retno Susilo, atau Tejomanik, atau suami isteri Lindu Aji dan Sulastri. Dosanya terlampau banyak dan terlampau besar. Yang membuat ia bersedih adalah perpisahannya dengan Bagus Sajiwo. Perpisahan inilah yang merupakan hukuman paling berat baginya. Dipaksa berpisah dari Bagus Sajiwo membuat hidupnya tidak ada artinya lagi.

"Bagus... ahhh,.. Bagusss...!" begitulah rintihan hatinya berulang-ulang, mengikuti setiap langkahnya yang terhuyung, terkadang terbisikan oleh mulutnya akan tetapi lebih banyak hanya bergema di ruang hatinya. Tiba-tiba hari yang tadinya terang itu menjadi gelap oleh mendung yang terbawa angin. Lalu hujan turun dengan derasnya.

Namun, Maya Dewi seolah tidak menyadari bahwa air hujan membuat seluruh tubuhnya, dari kepala sampai ke kaki, menjadi basah kuyup. Ia tetap melangkah, tertatih-tatih, tanpa disadarinya memasuki sebuah hutan. Perasaannya terhimpit, sejak tadi ia pertahankan, akan tetapi himpitan itu semakin berat karena tidak tersalurkan, karena ia menahan-nahan tangisya.

"Bress!" Ia menabrak pohon dan roboh terguling. Pingsan di bawah pohon. Telentang dan air hujan bertitik-titik menimpa muka dan tubuhnya. Ia rebah dengan penuh damai. Kilatan cahaya halilintar terkadang menerangi mukanya yang pucat seperti mayat.

Segala macam peristiwa menimpa kehidupan manusia yang tertimpa kesusahan merasa bahwa dirinyalah yang paling sengsara di dunia ini, sama sekali lupa bahwa masih banyak orang yang mengalami penderitaan kesengsaraan yang lebih hebat daripada yang dialami. Dan yang sedang menikmati kesenangan kebanyakan lupa bahwa disekelilingnya, banyak manusia hidup dalam kesengsaraan.

Sampai disini kisah ini berakhir. Akan tetapi saya tidak ingin membuat para pembaca merasa kecewa dan penasaran. Bagaimana selanjutnya dengan Maya Dewi? Dan Bagus Sajiwo? Dan dengan para pendekar dan satria yang lain?

Bagaimana pula ceritanya tentang Tejakasmala, pemuda Bali yang tampan gagah dan sakti mandraguna namun tinggi hati itu? Juga si kembar Dhirasani dan Dhirasanu? Apa pula yang terjadi dengan Ratna Manohara dan Niken Darmini, dua orang gadis remaja yang sakti itu? Dan apa pula yang dilakukan kelompok di Blambangan yang hendak menentang Mataram?

Semua ini akan terjawab dalam kisah "Kemelut Blambangan" Semoga kisah ini mengandung manfaat bagi kita semua dan sampai jumpa dalam kisah "Kemelut Blambangan".

T A M A T


EPISODE SELANJUTNYA KEMELUT BLAMBANGAN

Bagus Sajiwo Jilid 21

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 21

MENGHADAPI serangan kilat Maya Dewi yang juga mendatangkan angin pukulan dahsyat itu, Tejakasmala bersikap hati-hati. Dia juga menduga bahwa wanita ini memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi daripada yang lain dan serangannya tidak boleh dianggap ringan. Maka, untuk dapat mengalahkan Maya Dewi secepatnya agar dia dapat cepat membunuh yang lain, dia sengaja menangkis pukulan Maya Dewi dengan tangannya.

"Wuuuttt... syuuuutt...!" Tejakasmala terkejut. Ternyata wanita itu tidak mau mengadu tenaga dan tangannya sudah cepat menghindar dari tangkisan Tejakasmala dan tangan itu dengan gerakan memutar sudah menyambar lagi, kini dengan jari-jari tangan menusuk ke arah kedua mata lawan! Tejakasmala terkejut. Ternyata walaupun dia dapat menandingi tenaga sakti Maya Dewi, namun dalam hal kecepatan gerakan, dia harus mengaku bahwa gadis itu memiliki gerakan yang luar biasa ceparnya!

Dia merasa heran bagaimana wanita itu dapat bergerak secepat itu, padahal dia sendiri sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi tingkatnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa semua itu berkat khasiat Jamur Dwipa Suddhi yang telah dimakan sebagian oleh Maya Dewi. Terpaksa Tejakasmala menarik tubuh atas kebelakang lalu menghindar ke kiri agar kedua matanya tidak menjadi sasaran jari-jari lembut dan halus namun yang mengandung tenaga kuat itu.

Maya Dewi yang marah sekali karena mengira bahwa Bagus Sajiwo yang terkena pukulan sehebat itu tentu telah tewas, terus menyerang tanpa henti dan kedua matanya mengalirkan air mata. Ia menangisi kematian Bagus Sajiwo. Dunia serasa kiamat baginya! Semua tampak kosong tidak berarti lagi. Lenyap semua kebahagiaan, semua ketenteraman, semua ketenangan dan kebebasan.

Kosong tidak berarti, hanya penuh dengan duka, kecewa, kesepian, dan terutama sekali dendam! Dendam yang menebarkan kebencian terhadap orang yang telah membunuh Bagus Sajiwo. Maya Dewi merasa betapa semua nafsu seperti api membakar hatinya, membuat ia seperti dulu lagi. Satu-satunya keinginan hatinya hanya menyiksa dan membunuh Tejakasmala yang amat dibencinya. Ia menangis tanpa suara tangis, hanya air matanya yang mengalir menuruni kedua pipinya, seperti dua sumber air mengalirkan air ke lereng bukit.

Pada waktu itu, tingkat kepandaian Maya Dewi sudah mencapai titik yang tinggi, apalagi ditambah kemarahan dan kenekatannya untuk membunuh orang yang dibencinya, membuat setiap gerakan serangannya merupakan serangan maut, merupakan cakar maut yang sekali mengenai sasaran tentu akan merenggut nyawa lawan.

Akan tetapi yang dihadapi adalah Tejakasmala, murid utama Sang Bhagawan Ekabrata yang tingkat kepandaiannya sudah mencapai puncaknya. Bahkan kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Tejakasmala tidak berada di bawah tingkat Bagus Sajiwo. Bahkan pemuda Bali itu memiliki lebih banyak ajian yang ampuh. Hanya dalam hal tenaga sakti, dia tidak dapat menandingi Bagus Sajiwo yang sudah makan Jamur Dwipa Suddhi ditambah latihan Aji Sari Bantala.

Perkelahian antara Maya Dewi dan Tejakasmala seru bukan main. Setiap serangan keduanya merupakan jangkauan tangan maut. Akan tetapi keduanya dapat selalu menghindarkan diri dari cengkeraman maut. Hanya bedanya, kalau Tejakasmala selalu menangkis serangan Maya Dewi, tangkisan yang selalu membuat tubuh Maya Dewi terpental, sebaliknya setiap serangan Tejakasmala selalu dapat dielakkan oleh Maya Dewi yang dapat bergerak dengan lincah. Akan tetapi, baik Tejakasmala maupun Maya Dewi keduanya maklum bahwa lambat laun Maya Dewi pasti akan kalah karena ia memang kalah kuat.

Sementara itu, Tejomanik dan Retno Susilo sudah berlutut dekat tubuh Bagus Sajiwo yang telentang dan mata terpejam. Ki Tejomanik memeriksa keadaan puteranya dan mendapatkan kenyataan bahwa detak jantung dan pernapasan Bagus Sajiwo lemah sekali. Pemuda itu masih pingsan. Melihat keadaan puteranya, Retno Susilo menangis dan meratapi puteranya.

"Jahanam terkutuk! Aku akan mengadu nyawa dengan bedebah pembunuh anakku itu!" Retno Susilo menoleh dan melihat Tejakasmala masih bertanding melawan Maya Dewi, ia segera bangkit berdiri dan masih memegang Sihung Nila, kain ikat kepala suaminya, siap untuk terjun ke dalam perkelahian mengeroyok Tejakasmala.

Akan tetapi Ki Tejomanik cepat berkata, "Jangan, Diajeng. Dia berbahaya sekali, terlalu kuat untuk kita."

"Aku tidak takut! Aku harus membalas kematian anakku!" seru Retno Susilo.

"Bagus Sajiwo tidak mati!" kata Ki Tejomanik. "Sungguh hebat bukan main. Dia terluka pun tidak! Juga pada kulit dadanya tidak ada bekas pukulan. Dia hanya terguncang dan pingsan. Dia sama sekali tidak terluka!" mendengar ini, Retno Susilo cepat berlutut lagi dan ikut memeriksa keadaan puteranya.

Ki Tejomanik mengurut tengkuk puteranya beberapa kali dan, akhirnya Bagus Sajiwo mengeluh lirih dan membuka kedua matanya. "Bagus...!" Retno Susilo berseru, girang.

Bagus Sajiwo menarik napas panjang tiga kali dan dia sudah pulih kembali! Tiba-tiba dia menoleh dan melihat Maya Dewi berkelahi mati-matian melawan Tejakasmala yang berusaha keras untuk membunuh Maya Dewi, Bagus Sajiwo cepat bangkit berdiri.

"Ayah, Ibu, harap maafkan, saya harus menggantikan Dewi melawan Tejakasmala."

"Tapi dia... dia berbahaya sekali, Bagus...!" kata Retno Susilo, khawatir kalau puteranya yang baru saja pingsan itu akan celaka di tangan pemuda Bali yang amat tangguh itu.

"Jangan khawatir, Ibu. Saya kira saya dapat mengatasinya." Setelah berkata demikian, Bagus Sajiwo sekali menggerakkan tubuhnya, hanya tampak bayangan berkelebat dan dia sudah tiba dekat Maya Dewi yang masih sibuk menghindarkan serangan lawan dengan elakan-elakan mengandalkan kecepatan gerakannya.

"Dewi, mundurlah!" kata Bagus Sajiwo.

Mendengar ini, Maya Dewi yang sudah terdesak itu, cepat melompat tinggi kebelakang dan setelah berjungkir balik membuat salto sampai tujuh kali, baru ia turun keatas tanah. Wajahnya agak pucat, napasnya memburu karena terus menerus bergerak menghindarkan serangan bertubi itu membuatnya lelah sekali. Akan tetapi wajahnya berseri, sepasang matanya bersinar-sinar. Mata yang masih basah air mata kini mencorong penuh kebahagiaan melihat bahwa Bagus Sajiwo ternyata tidak apa-apa, tidak mati seperti yang dikhawatirkannya, seolah matahari terbit kembali setelah awan mendung menggelapkan dunianya.

Melihat Bagus Sajiwo menghadapi Tejakasmala yang tangguh, hati Maya Dewi terasa tenang dan ia yakin bahwa Bagus Sajiwo akan mampu mengalahkan pemuda Bali yang sakti mandraguna itu. Kalau Bagus Sajiwo tidak mati dan tidak terluka oleh pukulan curang Tejakasmala tadi, berarti Bagus Sajiwo pasti akan mampu mengatasi lawan.

Sementara itu, melihat Bagus Sajiwo menggantikan Maya Dewi yang tiba-tiba mundur dengan kecepatan kilat, Tejakasnala membelalakkan matanya. Dia tidak percaya! Bagaimana mungkin Bagus Sajiwo dapat bertahan dan tidak mati oleh pukulannya yang hebat tadi? Setidaknya tentu orang yang dipukulnya sedahsyat tu akan terluka parah! Akan tetapi kini Bagus Sajiwo berdiri di depannya. dengan sikap tenang. dan dari wajahnya dia tahu bahwa lawannya ini tidak menderita luka sama sekali!

"Kakangmas... anak kita itu... dia baru saja menerima pukulan dahsyat... Aku khawatir..."

Ki Tejomanik memegang tangan isterinya. "Jangan khawatir, Diajeng. Anak kita itu sama sekali tidak terluka. Aku sendiri masih heran memikirkan bagaimana mungkin dia tidak terluka dihantam pukulan curang yang dahsyat tadi. Kita lihat saja dan berdoa semoga dia akan dapat mengalahkan pemuda Bali yang tangguh itu."

Lindu Aji dan Sulastri yang tadinya khawatir melihat Bagus Sajiwo terpukul secara curang dan mereka berdua sudah siap untuk melawan musuh yang tangguh itu mati-matian, kini juga tersenyum gembira melihat betapa Bagus Sajiwo ternyata tidak apa-apa dan telah berhadapan lagi dengan Tejakasmala.

Lindu Aji yang telah memiliki aji kanuragan yang hebat itu harus mengakui bahwa pemuda Bali itu benar-benar tangguh. Dia mampu menolak sihir pemuda itu, namun dalam hal aji kanuragan, harus dia akui bahwa Tejakasmala. memiliki tingkat yang tinggi sekali. Belum pernah dia menemui lawan yang demikian tangguhnya.

"Semoga putera Paman Tejomanik itu mampu mengalahkan pemuda Bali itu." kata Lindu Aji dan seperti juga Ki Tejomanik dan isterinya, Lindu Aji dan Sulastri memandang ke arah dua orang pemuda itu dengan penuh perhatian dan dengan hati tegang.

Sebaliknya para jagoan Blambangan merasa kecewa dan khawatir sekali. Bhagawan Kalasrenggi, dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana yang terkenal dengan sebutan Dwi Kala (Dua Kala), Cakrasakti dan Candrabaya dua orang senopati Klungkung itu, tadinya sudah tersenyum girang melihat Bagus Sajiwo dipukul roboh oleh Tejakasmala.

Mereka sudah merasa yakin bahwa Tejakasmala tentu akan mampu membunuh Maya Dewi dan setelah itu, mereka akan membunuh semua orang yang membela Mataram itu dan pulang ke Blambangan dengan hasil kemenangan besar. Akan tetapi dapat dibayangkan betapa terkejut, kecewa dan khawatirnya melihat Maya Dewi dapat terhindar dari kematian dan kini Bagus Sajiwo yang mereka sangka mati atau terluka parah itu telah berani menghadapi Tejakasmala dan tampak sama sekali tidak terluka!

Sementara itu, rasa penasaran dan kemarahan yang memuncak membuat Tejakasmala lupa akan kekhawatirannya melihat Bagus Sajiwo sudah berada di depannya. Tadi, ketika tiba-tiba Bagus Sajiwo menghadapinya, dia merasa terkejut dan juga gentar. Akan tetapi kemarahan hatinya, ditambah wataknya yang tinggi hati dan memandang ringan lawan mengusir rasa gentarnya. Tanpa banyak kata lagi dia langsung saja menyerang Bagus Sajiwo dengan dahsyat. Dari mulutnya terdengar suara mengaum seperti singa yang membuat bumi tergetar, tanda bahwa dia mengerahkan Aji Singabairawa dan kedua tangannya sudah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang diperkuat oleh sihirnya!

Namun Bagus Sajiwo kini telah waspada. Dia sudah tahu bahwa lawannya selain sakti mandraguna, Juga sangat curang. Maka, dia pun cepat menggerakkan tubuhnya yang seakan berubah menjadi bayang-bayang seperti yang dilakukan Maya Dewi tadi. Bayang-bayang itu berkelebatan diantara pukulan-pukulan Tejakasmala yang mengeluarkan angin besar dan terkadang juga mengeluarkan bara api karena pemuda Bali itu yang bernafsu sekali membunuh Bagus Sajiwo, telah menggunakan Aji Bayutantra dan Aji Condromowo silih berganti.

Sejak masih kanak-kanak, Bagus Sajiwo telah mendapat wejangan dari mendiang Ki Ageng Mahendra untuk kuat bertahan terhadap musuh manusia nomor satu dalam hidup ini, yaitu nafsunya sendiri yang tak terkendalikan seperti amarah, kebencian, dendam, iri, dengki, murka, mementingkan diri sendiri, yang dapat meniadakan rasa kasih terhadap sesama hidup. Semua itu ditambah lagi dengan peringatan dalam kitab kuno yang ditemukannya dimana terdapat larangan melakukan pembunuhan yang didorong oleh nafsu-nafsu tadi.

Maka, kini menghadapi Tejakasmala yang tadi nyeris membunuh ayah bundanya, bahkan yang tadi secara curang sekali telah memukulnya sehingga dia roboh pingsan, Bagus Sajiwo tetap tenang dan dia tidak dikuasai nafsu amarah atau dendam kebencian. Hal ini membuatnya tetap tenang dan waspada. Tidak seperti Tejakasmala ang hatinya penuh kemarahan, kebencian dan keinginan membunuh, yang hanya membuat hatinya terbakar dan membuat dia kehilangan sebagian dari kewaspadaannya.

"Haiiiiihhhh!" Tangan kiri Tejakasmala yang menjadi api membara itu menyambar ke arah dada Bagus Sajiwo. Dengan tenang Bagus Sajiwo mengelak kekiri.

"Syaaaahhhh!!" Kini tangan kanan Tejakasmala yang membentuk cakar setan mencengkeram ke arah kepala Bagus Sajiwo. Maklum bahwa kalau dielakkan, cakar itu akan tetap memburunya dan hal ini cukup berbahaya, Bagus Sajiwo mengibaskan tangan kirinya dari dalam untuk menangkis cakar yang menyerang kepalanya itu.

"Dukk!!!" Kedua orang pemuda itu sama-sama tergetar, akan tetapi cengkeraman itu gagal. Tejakasmala menjadi semakin ganas karena penasaran dan marah.

"Yaaaaahhhh!" Dia mengaum dan tiba-tiba tangan kirinya terbuka dan dari dalam tangannya menyambar sinar hitam ke arah dada Dagus Sajiwo. Entah kapan mengambilnya, sinar hitam itu adalah belasan batang jarum hitam yang disambitkan tangan kirinya dari jarak yang tidak lebih dari dua meter!

Karena tidak mungkin mengelak dari serangan jarum-jarum yang meluncur dari jarak sedemikian dekatnya dan untuk menerima serangan curang ini dengan mengandalkan kekebalan juga amat berbahaya karena siapa tahu jarum-jarum hitam itu mengandung racun yang ampuh, maka Bagus Sajiwo lalu mengibaskan tangannya dengan Aji Bromokendali yang mengeluarkan hawa panas, sambil kakinya menggunakan langkah ajaib Aji Lintang Kemukus.

"Prattt!" Sinar hitam itu tertangkis runtuh oleh angin yang mengandung hawa panas itu.

"Curang! Pengecut!. Tidak tahu malu!!" Maya Dewi berteriak-teriak memaki Tejakasmala.

Melihat sikap dan mendengar suara Maya Dewi, Lindu Aji dan Sulastri saling pandang dan Sulastri berkata lirih. "Lihat, sikapnya masih liar dan galak."

Lindu Aji mengangguk. "Ya, akan tetapi wataknya sungguh telah berubah dan terbalik seperti malam dan siang."

Perkelahian itu berlangsung semakin seru. Tejakasmala mengeluarkan semua ilmu dan aji-aji pamungkasnya, namun semua dapat dipatahkan oleh Bagus Sajiwo yang menggerakkan kaki dengan Aji Langkah Ajaib Lintang Kemukus, bersilat dengan Aji Bajrakirana.

"Lihat, itu Aji Bajrakirana!" kata Ki Tejomanik kagum kepada isterinya.

Retno Susilo yang kini sudah besar lagi hatinya, menjawab. "Apa anehnya? Bukankah gurunya, Ki Ageng Mahendra, adalah saudara seperguruan Resi Limut Manik yang memberimu pecut dan ilmu Bajrakirana, Kakangmas?"

"Ya, dan dia pun menggunakan Aji Bromokendali. Semua itu tidak mengherankan, akan tetapi bagaimana dia dapat menjadi sedemikian saktinya? Mendiang Eyang Resi Limut Manik sendiri agaknya tidak sampai sedemikian tinggi tingkatnya!"

Suami isteri itu terdiam dan memandang dengan hati penuh ketegangan. Mereka baru saja bertemu dengan putera tunggal yang lenyap selama belasan tahun, akan tetapi sebelum sempat bercakap-cakap melepas rindu, kini putera mereka itu telah bertanding mati-matian melawan seorang yang amat sakti!

Pada saat itu, Tejakasmala mengeluarkan auman yang dahsyat dan tiba-tiba kedua tangan yang hendak menangkap leher Bagus Sajiwo dari kanan kiri itu ketika serangan ini dielakkan, kedua lengan itu mulur seperti karet dan memanjang, mengejar terus ke arah leher Bagus Sajiwo!

Ki Tejomanik, Sulastri, Lindu Aji dan Retno Susilo terbelalak. Belum pernah mereka melihat ilmu yang demikian aneh. Kedua tangan pemuda Bali itu dapat mulur seperti karet! Melihat ini, Bagus Sajiwo lalu menjulurkan kedua tangan dan dua pasang tangan itu saling bertemu dan seperti melekat!

Tejakasmala mengerahkan tenaga sakti dan sihir dan dia berhasil mengangkat tubuh Bagus Sajiwo setinggi setengah depa dari tanah. Akan tetapi Bagus Sajiwo lalu mengerahkan Aji Giri Selo yang membuat tubuhnya menjadi seberat batu raksasa di gunung sehingga Tejakasmala tidak kuat dan tubuh Bagus Sajiwo turun dan menginjak tanah kembali! Tejakasmala mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh lawan. Kalau dia mampu mengangkat tubuh lawan, dia akan dapat membantingnya dan memperoleh kemenangan. Akan tetapi pengerahan Aji Giri Selo dari Bagus Sajiwo membuat tubuh itu menjadi berat sekali atau seolah-olah kedua kakinya tumbuh akar sehingga tidak dapat dicabut!

Tejakasmala hampir putus asa. Semua ajiannya telah dia keluarkan, namun kesemuanya itu gagal. Akan tetapi ada satu hal yang membuat dia masih ada harapan untuk memenangkan pertandingan mati-matian ini.

Sejak tadi dia mendapat kenyataan bahwa lawannya tidak pernah menyerangnya! Bagus Sajiwo hanya mempertahankan diri saja. Berarti, bagaimanapun juga dia tidak akan dipukul roboh dan dikalahkan! Betapa tololnya lawan itu! Dan ini merupakan keuntungan besar baginya. Maka dia cepat mengubah siasat. Kedua tangan mereka masih saling tempel dan kesempatan ini dipergunakan Tejakasmala untuk mengerahkan seluruh tenaganya, dengan pengerahan Aji Condromowo dan Aji Bayutantra secara berbareng dan sekuatnya, dia menyerang melalui penyaluran dua tenaga itu ke dalam kedua telapak tangannya. Kedua tangan itu menjadi merah, menjadi api yang membara dan dari situ ada tenaga angin dahsyat yang seolah mengipasi api membara itu untuk menyerbu tubuh Bagus Sajiwo melalui kedua telapak tangannya.

Bagus Sajiwo segera menggunakan Aji Sari Bantala menyambut serangan yang dahsyat itu. "Sssshhhh...!" Terdengar seperti besi membara dimasukkan air dan tampak asap putih mengepul dari kedua telapak tangan itu dan tubuh Tejakasmala mundur kebelakang, terhuyung dan wajahnya pucat, darah mengalir dari ujung mulutnya.

Melihat keadaan Tejakasmala seperti itu dua orang pembantunya, Cakrasakti dan Candrabaya cepat menghampirinya dan memapahnya. "Kita pergi..." Tejakasmala berkata lirih.

Dua orang senopati Klungkung itu lalu membimbing dan membawanya pergi dari situ. Tejakasmala menoleh dan berkata, "Bagus Sajiwo, tunggulah. Akan tiba saatnya aku membalas kekalahan ini!" Setelah berkata demikian, dia membiarkan dirinya dibimbing dua orang senopati Klungkung pergi dari situ. Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya, Dwi Kala, juga mengikuti mereka dari belakang.

Retno Susilo lari menghampiri Bagus Sajiwo dan merangkulnya. "Bagus, anakku. Kenapa mereka dibiarkan pergi? Aku akan mengejar dan membunuh mereka!"

"Jangan, Ibu. Biarkan mereka pergi. Tidak baik mengejar dan mendesak lawan yang sudah mengaku kalah." kata Bagus Sajiwo.

"Bagus, engkau terlalu mengalah!" Maya Dewi berseru, agak penasaran. "Sejak tadi engkau tidak pernah membalas dan dia terluka hanya karena tenaganya sendiri membalik dan melukainya. Orang-orang jahat seperti mereka sudah sepatutnya dibasmi habis!"

"Dewi, lupakah engkau akan apa yang telah kita pelajari? Tidak ada manusia yang sempurna tanpa dosa di dunia ini. Kalau kita merasa menjadi manusia, berarti kita pun mempunyai dosa, tidak jauh bedanya dengan orang lain yang kita anggap berdosa. Karena itu, maka sudah sepatutnya kalau kita dapat mengampuni kesalahan orang lain karena kita juga penuh dengan kesalahan. Kita juga hanya manusia berdosa. Ingat, Gusti Allah tidak akan mengampuni kesalahan kita kalau kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain kepada kita."

Maya Dewi yang tadinya berdiri dengan kepala tegak penuh rasa penasaran dan marah terhadap Tejakasmala dan kawan-kawannya, tiba-tiba menundukkan muka dan segala kekerasan seolah asap tipis tertiup angin.

"Ah, aku sudah lupa lagi, terseret oleh nafsu perasaanku. Maafkan aku, Bagus," katanya lirih, dengan suara yang tiba-tiba menjadi lembut, sungguh berlawanan dengan suaranya tadi ketika ia memaki-maki Tejakasmala.

Lindu Aji menyentuh tangan isterinya dan dia mengangguk-angguk. Sulastri juga mengerti akan isyarat suaminya itu. Suami isteri ini sekarang maklum dan tidak merasa heran akan perubahan besar yang terjadi atas diri Maya Dewi. Kiranya. perubahan itu terjadi karena Maya Dewi bertemu dan bersahabat dengan Bagus Sajiwo. Kenyataan ini membuat suami iateri ini semakin kagum kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo teringat bahwa dia belum memperkenalkan ayah ibunya kepada Maya Dewi, maka dia menggapai ke arah Maya Dewi dan berkata. "Dewi, kesinilah!"

Jantung dalam dada Maya Dewi berdebar-debar, penuh ketegangan walaupun wajah dan sikapnya tetap tenang. Ia melangkah dengan perlahan menghampiri Bagus Sajiwo yang berada dekat Ki Tejomanik, Retno Susilo, Lindu Aji, dan Sulastri. Ia tahu betapa empat pasang mata itu memandang kepadanya dengan penuh selidik. Setelah tiba di depan Bagus Sajiwo, ia berdiri dengan muka ditundukkan.

"Ayah, Ibu, ini adalah Maya Dewi, sahabat saya. Dewi, ini adalah Ayah dan Ibuku, dan mereka ini..." Dia memandang kepada Lindu Aji dan Sulastri.

"Adimas Bagus Sajiwo, aku bernama Lindu Aji dan ini isteriku, Sulastri." kata Lindu Aji memperkenalkan diri karena maklum bahwa Bagus Sajiwo belum mengenal dia dan isterinya.

"Bagus, aku sudah tahu, sudah mengenal Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo, Juga aku sudah mengenal baik Adimas Lindu Aji dan Adik Sulastri..." kata Maya Dewi dengan suara yang agak gemetar, lalu ia membungkuk, memberi sembah kepada Ki Tejomanik dan isterinya, juga kepada Lindu Aji dan Sulastri sambil berkata, "Saya mohon maaf sebesarnya atas segala keburukan yang pernah saya lakukan terhadap Andika berempat,"

Lindu Aji dan Sulastri mengangguk. Biarpun dulu Sulastri merupakan seorang gadis yang galak sekali, akan tetapi setelah menjadi isteri Lindu Aji ia pun banyak berubah, tidak begitu dikuasai oleh nafsu perasaannya. Maka melihat suaminya mengangguk sambil tersenyum tanda bahwa dia memberi maaf kepada Maya Dewi yang dulu pernah memusuhi bahkan membikin celaka mereka akan tetapi kini jelas bahwa Maya Dewi telah berubah dan tadi bahkan membela mereka, Sulastri juga mengangguk-angguk, siap memaafkan.

Akan tetapi, tiba-tiba Retno Susilo yang tadinya berwajah cerah sambil memegangi lengan puteranya, dengan alis berkerut dan suara lanlang berkata, walaupun ia tidak memandang kepada Maya Dewi, namun jelas kepada siapa kata-katanya yang ketus itu ditujukan.

"Ada kesalahan yang patut dimaafkan, akan tetapi ada pula kesalahan dan dosa bertumpuk-tumpuk dan terlalu jahat sehingga tidak mungkin dimaafkan lagi." Lalu ia memegang kedua pundak puteranya dan menatap tajam wajah tampan itu. "Bagus Sajiwo, bagaimana engkau dapat datang bersama perempuan ini? Aku tidak percaya bahwa engkau bersahabat dengannya!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan melirik ke arah Maya Dewi dengan hati merasa iba. Dia melihat wajah Maya Dewi menjadi pucat dan wajahnya ditundukkan sampai dagunya menempel leher.

"Ibu, Maya Dewi ini adalah seorang sahabatku yang baik sekali, sudah lama kami mengalami segala macam suka duka bersama. Ia setia dan amat sayang kepada saya, Ibu."

Ucapan yang terbuka dan Jujur ini diterima oleh Retno Susilo bagaikan minyak disiramkan ke atas api, membuat rasa penasaran dan kemarahannya semakin berkobar. "Begitukah? Berapa lama sudah engkau bergaul dengan perempuan ini?"

Bagus Sajiwo memandang ibunya dengan sinar mata merasa heran karena dia tidak mengerti apa sebabnya tampak marah setelah tadi tampak berbahagia sekali. "Berapa lama saya bergaul dengan Maya Dewi, Ibu? Kurang lebih empat tahun ini kami tidak pernah saling berpisah, mengalami suka duka bersama, hidup berdua dalam terowongan bawah gunung saja selama satu tahun, dan kami telah menjadi dua orang tunggal guru karena mempelajari ilmu yang sama."

Wajah Retno Susilo menjadi merah sekali dan matanya terbelalak lebar. Ia menoleh kepada suaminya dan melihat betapa wajah Ki Tejomanik juga tampak heran dan alisnya yang tebal berkerut tanda bahwa hati suaminya juga tidak senang mendengar ucapan Bagus Sajiwo tadi. Maka Retno Susilo lalu menekan kedua pundak puteranya kuat-kuat dan menatap wajahnya dengan tajam penuh selidik.

"Bagus Sajiwo!" suaranya tegas. "Engkau harus menjawab pertanyaan Ibu dengan sejujurnya dan jangan berbohong!"

"Ibu," kata Bagus Sajiwo sambil tersenyum dan merasa lucu, "Saya sama sekali tidak berbohong dan semua jawaban saya adalah sejujurnya."

"Sekarang jawablah! Sejauh mana hubunganmu dengan perempuan ini?" Sang Ibu bertanya, setengah berteriak karena ia sudah marah sekali.

"Apa... apa yang Ibu maksudkan? Saya tidak mengerti!" kata Bagus Sajiwo.

"Bagus, engkau tadi mengatakan bahwa Maya Dewi amat menyayangmu. Dan bagaimana dengan perasaanmu kepadanya? Apakah engkau juga menyayang Maya Dewi?" Ki Tejomanik menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan dia dan isterinya.

Retno Susilo memandang wajah puteranya dengan pandang mata terbelalak. Tanpa berpikir panjang, Bagus Sajiwo menjawab seolah pertanyaan itu aneh sekali, sama seperti kalau orang bertanya apakah dia senang bertemu dengan ayah ibunya setelah berpisah belasan tahun!

"Tentu saja saya sayang, amat, sayang padanya!"

"Huh! Itu kotor sekali! Tidak pantas dan aku bisa mati karena malu!" Tiba-tiba Retno Susilo berteriak.

Bagus Sajiwo membelalakkan matanya, tampak bodoh dan heran bukan main "Kotor"? Tidak pantas? Ibu... eh, apakah sebenarnya yang Ayah dan Ibu maksudkan? Sungguh aku tidak melihat sesuatu yang kotor, tidak pantas atau memalukan."

"Bagus Sajiwo! Aduh, anakku, engkau baru saja dewasa, usiamu baru dua puluh tahun. Aku maklum bahwa engkau masih belum ada pengalaman, masih hijau dan mudah dipengaruhi rayuan gombal seorang perempuan, apalagi kalau perempuan itu sudah bejat dan bobrok batinnya, perempuan yang sudah matang dengan pengalaman. Anakku, engkau tertipu, engkau dibohongi, engkau terkena guna2nya dan rayuan! Sadarlah anakku...!"

"Semua itu tidak benar, Ibu!" kata Bagus Sajiwo, suaranya masih lembut membujuk ibunya.

"Tidak benar? Tidak benar kau bilang? Ah, anakku Bagus, engkau agaknya belum tahu siapa sebenarnya perempuan ini! Ia adalah seorang datuk wanita sesat dari Parahyangan. Dia sesat, anakku, Ayahnya dahulu adalah datuk sesat bernama Resi Koloyitmo, saking jahatnya sampai terusir keluar dari Parahyangan. Perempuan ini bukan saja Jahat, kejam, dan hina untuk menjual tanah air dan bangsa, menghambakan diri kepada Kumpeni Belanda! Dan kau tahu berapa usianya? Ia tampak muda dan cantik karena memakai ilmu hitam! Usianya sudah setengah tua! Kutaksir mendekati empat puluh tahun! Lihat baik-baik perempuan ini, ia setan, iblis betina yang pandai memasang aji pameletan, guna-guna sehingga engkau jatuh ke dalam kekusaannya! Sadarlah, anakku!"

Bagus Sajiwo memandang kepada Maya Dewi. Wanita itu menundukkan mukanya yang menjadi pucat seperti mayat, dan biarpun tidak mengeluarkan suara, namun air matanya jatuh berderai dan kedua pundaknya terguncang karena ia menahan isak tangisnya.

Maya Dewi merasa betapa setiap kata yang diucapkan Retno Susilo bagaikan keris berkarat menusuk-nusuk perasaannya, jantungnya seperti disayat-sayat. Akan tetapi ia tidak marah apalagi sakit hati, karena semua yang keluar dari mulut Retno Susilo itu adalah benar! Bukan fitnah, bukan karena benci. Ia dapat menyelami perasaan hati Retno Susilo dan ia tidak menyalahkannya.

Seorang ibu yang hanya mempunyai seorang anak, kini sudah mulai dewasa, tentu tidak merelakan puteranya bergaul dengan seorang wanita seperti ia. Usianya belasan tahun lebih tua, mempunyai nama buruk tercemar, terkenal sebagai seorang iblis betina! Tidak, ia tidak menyalahkan ibunya Bagus Sajiwo. Ia hanya menyesali dirinya sendiri akan betapa hancur pun perasaan hatinya, ia menahan sekuatnya agar tangisnya tidak mengeluarkan suara. Ia merasa dunianya kiamat, mataharl tak bersinar lagi.

Retno Susilo tidak bersalah. Ki Tejomanik tidak bersalah. Bagus Sajiwo tidak bersalah. Ia hanya dapat melempar semua penyesalan, kekecewaan dan kedukaan kepada dirinya sendiri! Kalau saja ia tidak sudah menerima gemblengan batin di bawah bimbingan Bagus Sajiwo selama empat tahun ini, rasanya jalan tunggal yang dapat ditempuhnya hanya mengakhiri hidupnya, mengakhiri semua penderitaan di dunia ini.

Dari Bagus Sajiwo ia tahu dan percaya bahwa penderitaan sesudah mati malah Jauh lebih hebat lagi sebagai hukuman atas semua dosanya, akan tetapi ia akan rela karena tidak melihat dan dilihat Bagus Sajiwo. Akan tetapi, kini ia tidak dapat melakukan bunuh diri karena yakin bahwa hal itu merupakan dosa besar sekali terhadap Gusti Allah.

Sambil menahan isaknya namun tetap saja suaranya gemetar dan lirih ia lalu berkata sambil mengangkat mukanya yang pucat, memandang wajah Bagus Sajiwo dengan mata yang telah kehilangan sinarnya, mata yang seolah menerawang jauh sekali. "Bagus, semua yang dikatakan oleh Ibumu itu benar. Aku memang seorang yang penuh dosa, seorang yang kotor dan sungguh tidak pantas berdekatan denganmu, Bagus."

Hati Bagus Sajiwo penuh perasaan iba kepada Maya Dewi. Dia dapat membayangkan betapa hancur lebur hati wanita itu mendengar ucapan ibunya yang demikian keras dan penuh penghinaan, walaupun dia juga maklum bahwa apa yang dikatakan ibunya itu semua benar dan dia tahu pula mengapa ibunya marak kepada Maya Dewi.

"Ibu, mohon Ibu dan Ayah mendengar saya baik-baik. Saya tahu benar siapa Maya Dewi. Ia telah menceritakan segalanya tentang masa lalunya yang penuh kesesatan itu kepada saya. Saya tahu bahwa ia dahulu adalah seorang yang beraliran sesat bahkan menjadi telik sandi Kumpeni Belanda. Ia menceritakan semua itu, akan tetapi ia menyesali semua dosanya dan sejak bertemu dengan saya, ia berusaha sekuat tenaga untuk kembali ke jalan benar dan saya melihat bahwa ia telah berhasil, Ayah dan Ibu.

Karena itulah maka kami menjadi sahabat baik yang saling membantu. Saya mohon Ayah dan Ibu sudi memberi maaf kepada Maya Dewi sekiranya ia pernah berbuat salah kepada Ayah dan Ibu. Sayalah yang menanggung bahwa kini Maya Dewi sudah kembali ke jalan benar, membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dan berserah diri kepada Gusti Allah. Saya yang menanggung, Ibu..."

Mendengar Bagus Sajiwo membelanya sedemikian rupa, air mata Maya Dewi bercucuran semakin deras. Ia tidak kuat bertahan diri lebih lama lagi dan berkata dengan suara mengandung jeritan hati.

"Ohhh... sudahlah, Bagus. Sudahlah, jangan membelaku lagi. Ibumu memang benar, semua orang benar, aku yang salah, aku yang kotor. Kalau engkau membelaku, engkau akan tercemar kekotoran dariku..."

"Itu benar!" bentak Retna Susilo yang sudah melompat ke depan Maya Dewi. "Anakku akan menjadi kotor kalau berdekatan dengan seorang perempuan macam kamu! Engkau sudah menggunakan sikap dan kata-kata manis sehingga mempengaruhi anakku yang masih muda. Maya Dewi, engkau sungguh tak tahu malu, usiamu sudah banyak masih merayu seorang pemuda remaja! Aku tahu bahwa engkau sakti, lebih digdaya daripada aku, akan tetapi kalau engkau mendekati anakku lagi, aku akan mengadu nyawa denganmu. Lebih baik aku mati daripada melihat anakku menjadi permainanmu!" Retno Susilo yang sudah gelap mata karena marah itu lalu mengayun kedua tangannya.

"Plak-plak!!" Kedua pipi Maya Dewi ditamparnya. Maya Dewi tentu saja akan mudah mengelak atau melindungi mukanya dengan aji kekebalan, atau menangkis kalau ia mau. Akan tetapi ia diam dan menerima saja tanpa mengerahkan tenaga sehingga kedua pipinya menjadi biru membengkak dan darah mengalir dari ujung bibirnya yang pecah.

Ki Tejomanik sudah melompat dan memegang kedua lengan isterinya agar jangan memukul lagi. "Sudah, Diajeng!" katanya tegas. "Kemarahan menyeretmu melakukan perbuatan yang tidak benar!" Kemudian Ki Tejomanik memandang Maya Dewi yang kedua pipinya biru membengkak lalu berkata, "Maya Dewi, kami kira sebaiknyalah kalau engkau pergi meninggalkan kami dan biarlah kita mengambil jalan kita masing-masing."

Maya Dewi mengangguk lalu memandang kepada Bagus Sajiwo. Matanya yang biasanya indah cemerlang dan jeli itu kini tampak seperti orang mati, tanpa ada sinar kehidupan. Lalu terdengar suaranya gemetar namun penuh kasih sayang.

"Tolol... ampuni aku... yang telah membuat engkau... dimarahi orang tua-mu... selamat tinggal Tolol... jaga dirimu baik-baik." Wanita itu lalu memutar tubuhnya dan berkelebat cepat sekali meninggalkan tempat itu.

Bagus Sajiwo merasa hatinya tergetar. Dia dapat menangkap getaran kasih sayang dalam suara Maya Dewi tadi, dan sebutan "Tolol" itu mengingatkan dia betapa dahulu, pada pertemuan pertama kalinya, sebutan itu menunjukkan bahwa Maya Dewi sedang marah atau sedang menyayangnya. Sebutan itu dapat menjadi tanda kemarahan atau kemesraan. Dan sebutan tadi jelas sama sekali bukan merupakan tanda kemarahan.

"Dewi...!" Dia berseru lirih, seperti bisikan karena seruan itu hanya merupakan letupan suara hatinya.

Bagus Sajiwo berdiri memandang ke arah menghilangnya bayangan Maya Dewi, diam tak bergerak seperti patung. Retno Susilo memeluknya dari belakang. Bagus Sajiwo seperti baru sadar dari lamunan, memutar tubuh dan balas merahgkul Ibunya. Retno Susilo menangis.

"Bagus, anakku sayang... kau maafkan Ibumu, ya Nak. Ibu... Ibu terpaksa harus bersikap kasar kepada Maya Dewi tadi... karena Ibu terlalu sayang padamu..."

Bagus Sajiwo tersenyum, sama sekali tidak tampak kesedihan pada wajahnya. Dengan pandang mata penuh pengertian dia menepuk-nepuk pundak ibunya. "Saya tidak menyalahkan Ibu. Saya mengerti perasaan Ibu."

Ki Tejomanik menghampiri mereka dan merangkul putera dan isterinya. "Anakku Bagus, aku bangga kepadamu, Nak. Engkau sungguh bijaksana!" Tiga orang itu saling rangkul.

Sejak tadi, Lindu Aji yang memiliki perasaan halus, ikut merasa terharu sekali melihat adegan antara Maya Dewi, Bagus Sajiwo dan Retno Susilo. Dia adalah seorang yang bijaksana pula, maka dia dapat mengerti akan sikap Retno Susilo yang tidak rela dan marah-marah melihat putera tunggalnya bergaul akrab dengan Maya Dewi yang dahulunya memang merupakan seorang datuk sesat.

Dia juga dapat merasakan pukulan batin yang diderita Maya Dewi dan di dalam hatinya dia merasa iba juga. Akan tetapi Lindu Aji mengerti bahwa itu merupakan akibat daripada sebab yang dibuat sendiri oleh Maya Dewi. Kesesatannya dahulu itulah yang mengakibatkan wanita itu menderita kehancuran batin seperti itu. Dan memang ia harus mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya di masa lalu. Dan Lindu Aji merasa iba, karena dia dapat melihat bahwa wanita itu bersungguh-sungguh dalam niatnya untuk mengubah jalan hidupnya.

Maya Dewi agaknya telah menemukan, jalan terang. Buktinya tadi ketika ditampar Retno Susilo, ia sama sekali tidak melawan dan menerima begitu saja tamparan itu yang membuat kedua pipinya biru membengkak dan bibirnya berdarah. Maya Dewi agaknya merasa bahwa ia memang pantas menerima hukuman itu, dan ini mendatangkan kesan baik dalam hatinya.

Sulastri yang tadinya, seperti Retno Susilo, juga merupakan seorang gadis yang keras hati, juga tidak menyalahkan sikap Retno Susilo. Akan tetapi ia merasa heran sekali akan perubahan yang amat besar dalam diri Maya Dewi. Sebagai seorang wanita, ia menduga bahwa Maya Dewi benar-benar amat mengasihi Bagus Sajiwo! Agaknya Retno Susilo juga merasakan ini, maka ia marah dan mengamuk, tidak rela kalau puteranya yang berusia dua puluh tahun dan seorang perjaka tampan dan sakti mandraguna, anak satu-satunya, saling jatuh cinta dengan seorang wanita yang dahulu menjadi iblis betina jahat, apalagi yang usianya sudah hampir empat puluh tahun! Ia pun merasa terharu melihat penderitaan Maya Dewi yang tahu diri dan mengalah itu.

Akan tetapi, suami isteri ini, Lindu Aji dan Sulastri, benar-benar merasa heran dan kagum bukan main melihat sikap dan sepak-terjang Bagus Sajiwo. Pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, sakti mandraguna dan gagah perkasa, juga lembut dan bijaksana sekali. Pemuda itu benar-benar seorang satria pinandita, gagah perkasa seperti satria dan berbudi hhur seperti pendeta. Dan yang lebih mengagumkan lagi, mereka dapat menduga bahwa Maya Dewi yang dahulunya demikian jauh tersesat, kini dapat kembali ke jalan benar berkat bimbingan pemuda yang baru berusia dua puluh tahun itu! Hal ini sungguh merupakan suatu keajaiban. Kalau bukan Kekuasaan Gusti Allah sendiri yang bekerja melalui pemuda itu, kiranya tidak mungkin ada manusia mampu menuntun seorang wanita yang tadinya demikian sesat dan jahat dapat berubah sama sekali dan menjadi seorang wanita yang berwatak demikian mengagumkan! "

Ki Tejomanik yang tadinya tenggelam dalam keharuan dan berangkulan dengan anak isterinya, teringat akan kehadiran Lindu Aji dan Sulastri yang tadi telah membantu dan menyelamatkannya ketika dia dan isterinya terancam oleh Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya yang tangguh itu. Maka dia cepat menyadarkan isteri dan puteranya.

"Bagus, mari kuperkenalkan kepada sepasang pendekar yang sudah banjak berjasa terhadap Mataram dan sudah menyelamatkan kami tadi sebelum engkau datang." Mereka bertiga menghanpiri Lindu Aji dan Sulastri. "Anakmas berdua, inilah anak kami Bagus Sajiwo. Bagus, mereka ini adalah Anakmas Lindu Aji dan isterinya, Sulastri. Mereka juga ikut prihatin dan sibuk mencarimu, Bagus."

Bagus Sajiwo memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya depan dada. "Kakangmas Lindu Aji dan Mbakayu Sulastri, saya berterima kasih dan sangat menghargai semua kebaikan yang Andika berdua lakukan untuk kami."

Lindu Aji dan Sulastri tersenyum dan menjawab. "Adimas Bagus Sajiwo, apa yang kami berdua lakukan hanya merupakan kewajiban semua pendekar yang memilih menjadi hamba dan alat yang dipergunakan oleh Gusti Allah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Kami berdua pun mungkin sekarang sudah tidak hidup lagi sekiranya Gusti Allah tidak menyelamatkan kami melalui uluran tanganmu tadi."

Sepasang mata Bagus Sajiwo bersinar dan wajahnya berseri ketika dia mendengar ucapan Lindu Aji itu. "Ah, Kakangmas Lindu Aji ternyata adalah seorang yang bijaksana sekali!" katanya.

Ki Tejomanik yang kini sudah merasa gembira kembali berkata sambil tertawa. "Ha-ha, Bagus, tentu saja Anakmas Lindu Aji seorang satria yang bijaksana. Mari kita semua masuk ke dalam rumah agar kita dapat bercakap-cakap dengan leluasa. Banyak yang perlu kita bicarakan!"

Lindu Aji dan Sulastri agak ragu-ragu karena mereka tahu bahwa suami isteri dan putera mereka yang baru saling ketemu dan berkumpul itu tentu akan merayakan kebahagiaan mereka. Lindu Aji dan Sulastri merasa seolah kehadiran mereka akan merupakan gangguan yang membuat keluarga itu merasa canggung dan kebahagiaan mereka terganggu. Mereka saling pandang dan saling mengerti perasaan masing-masing. Akan tetapi Retno Susilo yang juga bermata tajam dan peka itu dapat melihat kecanggungan dan keraguan mereka. Ia merangkul Sulastri dan berkata.

"Eh, kenapa kalian tampak ragu-ragu? Kalian berdua sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri, bukan orang luar. Hayo kita bersama merayakan kebahagiaan ini dan apakah kalian tidak ingin mengenal Adikmu Bagus Sajiwo lebih baik lagi dan mendengarkan kisah pengalamannya selama empat belas tahun meninggalkan rumah?"

"Bibi kalian benar, Anakmas Lindu Aji. Mari kalian ikut bergembira bersama kami!" Kata Ki Tejomanik kepada Lindu Aji.

"Saya juga ingin mengenal Kakang-mas Lindu Aji dan Mbakayu Sulastri lebih baik lagi dan mengharapkan banyak petunjuk dari Andika berdua." kata Bagus Sajiwo.

Mendengar kata-kata yang diucapkan keluarga itu dengan tulus, keraguan Lindu Aji dan Sulastri menghilang dan mereka ikut masuk ke rumah dengan wajah gembira. Bagus Sajiwo membawa buntalan pakaiannya yang tadi dia letakkan di bawah pohon dan ketika melangkah menuju ke pendopo, dia memandang kesekeliling pekarangan dengan mata bersinar-sinar karena dia melihat betapa keadaan dipekarangan itu masih sama seperti ketika dia masih kecil, seolah tidak pernah ada perubahan disitu. Yang berubah cepat adalah manusia.

Ketika memasuki rumah, Bagus Sajiwo juga mendapat kenyataan bahwa tampaknya tidak ada perubahan sama sekali dalam rumah orang tuanya itu. "Lihat kamarmu ini, Bagus!" kata Retno Susilo yang membawa mereka memasuki sebuah kamar.

Bagus Sajiwo memasuki kamar itu dan meletakkan buntalan pakaiannya ke atas meja. Lalu dia memandangi semua benda yang berada di dalam kamar itu. Semuanya masih presis sama seperti belasan tahun yang lalu! Tempat tidurnya, almari pakaiannya. Dia menghampiri almari itu dan membukanya. Masih penuh pakaian, pakaiannya ketika dia berusia enam tahun!

"Ibu, semua masih lengkap disini seperti ketika saya diculik orang! Sama sekali tidak ada perubahan. Pakaian-pakaian ini, ha-ha, tentu tidak bisa kupakai sekarang, terlalu kecil!" Bagus Sajiwo mengambil sepotong baju yang tentu saja terlalu kecil untuk tubuhnya.

Ki Tejomanik dan Lindu Aji bersama isteri mereka yang ikut masuk ke dalam kamar itu tertawa. "Aku memang selalu merawat kamar ini dan tidak ada sepotong benda pun yang disingkirkan!" kata Retno Susilo bangga.

"Ibumu berkeras untuk mempertahankan kamarmu ini, Bagus. Dan ini merupakan bukti bahwa kami tidak pernah putus asa menanti kembalimu. Mari kita bicara diruangan dalam!"

Mereka memasuki ruangan dalam dan duduk mengelilingi meja. "Nah, sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu sejak engkau diculik orang sampai hari ini, Bagus. Aku sudah ingin sekali mendengar kisah pengalamanmu. Setelah engkau bercerita, baru aku akan mengajak Sulastri untuk menyiapkan masakan untuk pesta keluarga kita." kata Retno Susilo setelah menghidangkan minuman air teh yang sudah tersedia sebelumnya.

"Ketika itu Ayah dan Ibu sedang tidak ada di rumah dan saya tinggal sendiri dirumah bersama Bibi Sikem, pembantu yang setia itu." Bagus Sajiwo mulai bercerita.

"Ya, Ibumu dan aku sedang pergi membasmi perampok yang mengganggu penduduk dusun di kaki gunung yang ternyata merupakan pancingan agar kami berdua meninggalkan rumah. Para perampok itu disuruh oleh penculik." kata Tejomanik.

"Saya melawan akan tetapi tentu saja sia-sia ketika penculik itu membawa lari saya setelah dengan kejam dia membunuh Bibi Sikem. Penculik itu adalah Wiku Menak Koncar tokoh Blambangan dan dia hendak membawa saya ke Blambangan. Akan tetapi kemudian muncul Eyang Guru Ki Ageng Mahendra menolong saya. Setelah mengalahkan Wiku Menak Koncar yang melarikan diri, Eyang Guru lalu membawa saya ke Pegunungan Ijen dimana beliau bertapa dan sejak itu saya menjadi muridnya."

"Paman Ki Ageng Mahendra itu masih saudara seperguruan guruku, Resi Limut Manik, Bagus! Jadi, beliau bukan orang lain!" seru Ki Tejomanik.

"Eyang Guru juga telah memberitahu kepada saya akan hal itu, Ayah. Akan tetapi beliau menerima saya sebagai muridnya dengan dua syarat. Pertama, saya tidak boleh pulang bertemu Ayah dan Ibu sebelum berusia dua puluh tahun dan ke dua, saya tidak boleh menanyakan apa sebabnya. Akan tetapi saya tetap percaya bahwa mendiang Eyang Guru tentu mempunyai alasan tertentu untuk hal itu. Beliau adalah seorang yang arif bijaksana."

"Hemm, aku juga yakin akan hal itu dan setelah kini kami mendengar bahwa engkau dilarang pulang sebelum berusia dua puluh tahun, kami tidak menyalahkan engkau yang menaati pesan itu, Bagus." kata Ki Tejomanik dan Retno Susilo'hanya mengangguk setuju.

"Kurang lebih empat tahun yang lalu, ketika saya berusia enam belas tahun, Eyang Guru wafat karena usianya sudah sepuh (tua) sekali. Sesuai dengan pesan Eyang Guru, saya memperabukan jenazah beliau, dibakar berikut pondoknya. Setelah api padam dan jenazah sudah menjadi abu, selagi saya hendak mengumpulkannya, tiba-tiba datang angin lesus dan semua sisa pembakaran itu terbawa angin lesus diterbangkan ke atas sehingga abu itu menghujani permukaan Pegunungan Ijen. Karena Eyang Guru sudah memesan agar saya tidak pulang sebelum berusia dua puluh tahun, maka saya lalu meninggalkan gunung dan pergi merantau kemana saja untuk melewatkan waktu yang empat tahun lagi sebelum boleh pulang kesini."

"Eyang Gurumu itu sungguh seorang yang arif bijaksana, Adimas Bagus Sajiwo." kata Lindu Aji kagum.

"Ya, bahkan agaknya beliau sudah tahu apa yang akan terjadi. Buktinya sebelum meninggal saya disuruh menanak nasi dan memasak daging kijang yang sekiranya cukup untuk dihidangkan kepada lima puluh orang. Dan ternyata persediaan itu cukup untuk para penduduk pedusunan yang datang melayat."

"Lalu bagaimana engkau bertemu dan dapat bersama... Maya Dewi itu sampai hari ini, Bagus?" tanya Retno Susilo dan kini setelah Maya Dewi tidak berada disitu, suaranya lembut, tidak lagi penuh kemarahan seperti tadi ketika berhadapan dengan wanita itu.

"Begini, Ibu. Perjalanan saya tanpa tujuan itu pada suatu hari membawa saya tiba di Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis dan di puncak bukit itu saya melihat seorang wanita berkelahi, dikeroyok oleh dua orang yang kemudian saya ketahui adalah Raden Jaka Bintara dan Gagak Mudra. Wanita itu terpukul dan terluka dalam dengan parah, nyaris tewas. Saya yang tidak mengenal mereka tergerak untuk menolong wanita itu dan berhasil mengusir dua orang yang hendak membunuhnya itu. Melihat wanita yang terluka parah hampir tewas itu, saya berusaha mengobatinya dan berhasil menyelamatkan nyawanya, walaupun ia masih dalam keadaan menderita luka dalam yang berbahaya. Dia adalah Maya Dewi. Lalu muncul seorang wanita berpakaian putih hendak membunuh Maya Dewi yang sudah menderita luka. Wanita itu adalah kakak tiri Maya Dewi dan memiliki kepandaian tinggi. Kembali saya membela Maya Dewi dan kami melarikan diri ke dalam sebuah terowongan guha yang berada di dalam Bukit Keluwung. Candra Dewi tidak dapat mengejar kami karena terowongan itu longsor dan ter-uruk batu dari langit-langit terowongan."

"Ah, pantas saja aku melihat tulisan di batu luar guha bahwa tempat itu merupakan kuburan Maya Dewi dan Bagus Sajiwo. Karena kusangka bahwa engkau telah tewas, Adimas Bagus Sajiwo, maka saya mengabarkannya kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo." kata Sulastri.

Bagus Sajiwo mengangguk. "Benar, ia mengira kami telah mati. Kami berada dalam ruangan dalam bukit itu selama satu bulan untuk melenyapkan racun dingin dari Aji Wisa Sarpa yang membalik menyerang dirinya, karena ruangan itu merupakan pusat panas bumi. Setelah hawa beracun Aji Wisa Sarpa lenyap, tinggal hawa panas beracun dari Aji Tapak Rudira yang masih mengancam nyawanya. Kami lalu pergi ke Puncak Wilis yang teramat dingin dan disana saya mengajar Maya Dewi untuk bersamadhi, mengambil keadaan udara yang amat dingin itu untuk mengusir hawa beracun panas dari tubuhnya. Akhirnya ia sembuh, akan tetapi ia kehilangan kedua ajiannya itu. Ia menceritakan tentang kesesatannya dan menghilangnya dua aji sesat itu pun banyak membantu ia untuk menyadari kesalahan dan dosa-dosanya, bertaubat dan kembali ke jalan benar."

"Adimas Bagus Sajiwo. Kami pernah beberapa kali bentrok dengan Maya Dewi dan seingatku, kesaktiannya tidak sehebat sekarang! Bagaimana setelah ia kehilangan dua ajinya yang ganas itu kini ia malah menjadi begitu sakti mandraguna?" tanya Lindu Aji, agak penasaran melihat kemajuan luar biasa yang diperoleh Maya Dewi.

Bagus Sajiwo tersenyum melihat betapa empat pasang mata itu memandang kepadanya penuh penantian dan keinginan tahu. "Setelah Maya Dewi sembuh benar, kami turun dari puncak Wilis dan mulai merantau karena saya harus menunggu sampai berusia dua puluh tahun, baru aku kembali ke Gunung Kawi sini. Ketika kami melakukan perjalanan, saya membantu Maya Dewi untuk berlatih menghimpun kembali tenaga sakti sehingga ia mendapatkan kembali tenaganya. akan tetapi bukan tenaga sesat seperti yang pernah ia miliki. Dan saya melihat betapa Maya Dewi benar-benar telah bertaubat dan kembali ke jalan benar. Perubahan pada dirinya itu tampak nyata ketika dalam perjalanan kami itu seringkali kami bertemu peristiwa kejahatan dan ia selalu membela kebenaran, membela orang-orang yang tertindas dan menentang kejahatan."

Tiba-tiba Retno Susilo yang sejak tadi mendengarkan dan mulai merasa penasaran membayangkan puteranya bersama Maya Dewi sampai bertahun-tahun, bertanya, "Akan tetapi, Maya Dewi itu dahulu selain jahat dan kejam, juga terkenal sebagai seorang wanita kotor tukang pelet laki-laki! Apakah selama bersamamu ia tidak pernah merayumu? Rasanya tidak mungkin!"

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. Tadi ketika bercerita, dia sudah berhati-hati sekali, tidak mau menyinggung hati ibunya dan menjaga agar ibunya tidak marah. Maka dia tidak bercerita tentang pengalamannya bersama Maya Dewi ketika melakukan pengobatan, baik di Ruangan Pusat Panas Bumi maupun di puncak Wilis. Akan tetapi ketika ibunya bertanya tentang rayuan Maya Dewi, dia tidak dapat berbohong.

"Sebenarnya, Ibu. Ketika baru pertama kali bertemu, Maya Dewi menyatakan cintanya dan keinginannya untuk menjadi suami isteri dengan saya..."

"Nah! Perempuan hina dina itu...!"

"Ssstt, Diajeng. Tekanlah nafsu perasaanmu agar dapat mendengarkan dengan baik. Aku yakin Bagus Sajiwo akan menceritakan semua dengan sejujurnya." kata Ki Tejomanik kepada isterinya.

"Sesungguhnya begitu," kata Bagus Sajiwo. "Akan tetapi karena pada waktu itu, saya masih remaja, usia saya baru enam belas tahun, aku menolaknya dan perlahan-lahan aku membimbingnya untuk berkenalan dengan Gusti Allah yang tidak pernah dikenalnya. Perlahan-lahan berkat iman dan penyerahan dirinya kepada Gusti Allah Maya Dewi dapat menguasai nafsu-nafsunya dan akhirnya ia terbebas dari belenggu nafsunya sendiri. Ia memang masih mencinta saya, amat mencinta saya, Ayah dan Ibu. Akan tetapi saya yakin dan merasa bahwa cinta kasihnya itu murni, bukan sekedar cinta kasih yang didorong oleh nafsu belaka. Saya pun amat menyayangnya, Ibu. Sayang dan iba kepadanya, maka ketika ia mohon dengan sangat agar diperbolehkan ikut saya karena ia takut bahwa kalau ia berpisah dari saya ia akan terseret kembali oleh kekuasaan Iblis ke dalam lembah dosa, saya tidak dapat menolaknya. Percayalah, Ibu. Hubungan kami kasih sayang diantara kami, bersih dan sama sekali tidak dicemari nafsu."

Ki Tejomanik menepuk-nepuk pundak Retno Susilo dan wanita ini menghela napas panjang. "Anakku, tentu saja aku percaya kepadamu. Akan tetapi, peristiwa itu sungguh hampir mustahil. Perubahan yang terjadi pada diri Maya Dewi itu sungguh merupakan suatu keajaiban, maka tadinya aku merasa sukar untuk percaya."

"Ibu, wejangan dan ajaran mendiang Eyang Guru Ki Ageng Mahendra membuka mata batin saya bahwa di dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada seorang pun manusia yang sempurna dan bersih daripada dosa dan kesalahan. Kita semua sebagai manusia sudah pasti mempunyai kesalahan, mempunyai kelemahan dan berbuat dosa. Hanya mungkin kadarnya saja yang berbeda. Karena itu, sudah sepantasnya kalau kita yang juga berdosa dan siap untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, karena bagaimana Gustl Allah berkenan mengampuni kita kalau kita sendiri tidak mau mengampuni....

***Halaman hilang***

....masih ada tiga tahun lebih waktunya bagi saya untuk pulang kesini. Kami berdua tiba disana dan ternyata di muara itu telah berkumpul banyak tokoh dan datuk. Saya mengetahuinya dari keterangan Maya Dewi yang mengenal mereka itu. Dan orang yang dulu menyerang Maya Dewi, yaitu Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra membangun sebuah rumah di dekat muara dan semua tokoh diundang sebagai tamu pangeran dari Banten itu. Di tempat itu terjadi keributan dan seorang pendekar, namanya Ki Sumali dari Loano dituduh mata-mata Mataram dan dikeroyok para datuk yang menentang Mataram."

"Adimas Bagus Sajiwo, dia itu Pamanku, adik Ayahku!" kata Sulastri.

"Ah, begitukah? Melihat Paman Sumali dikeroyok, Maya Dewi segera membelanya dan melawan para pengeroyok. Karena melihat para pengeroyok itu orang-orang yang digdaya, aku pun membantu dan akhirnya para datuk itu, dapat kami pukul mundur. Kemudian, Maya Dewi mengajak aku pergi melihat-lihat dekat muara dan semua orang mencari-cari disekitar muara. Tiba-tiba kami diserang tembakan senjata-senjata api oleh beberapa orang yang menembak dari balik batu karang. Maya Dewi tertembak pundaknya dan karena keadaan amat berbahaya baginya, saya lalu membawanya terjun ke dalam air muara itu."

"Paman Sumali telah bercerita tentang itu kepada kami!" kata Lindu Aji. "Dan menurut ceritanya, setelah engkau dan Maya Dewi tercebur ke dalam muara yang dalam, kalian tidak muncul lagi sehingga semua orang menduga bahwa kalian tentu tewas tenggelam."

Bagus Sajiwo mengangguk. "Memang, tidak heran kalau semua orang menganggap begitu, Kakangmas Lindu Aji. Ketika saya membawa Maya Dewi menyelam, tanpa disengaja, secara kebetulan dan saya yakin hal itu memang merupakan bimbingan Gusti Allah, saya menemukan terowongan di dinding muara dan terowongan itu menembus ke sebuah ruangan bawah tanah yang luas. Dan apa yang kami temukan disana?"

"Jamur Dwipa Suddhi!" teriak Sulastri.

Bagus Sajiwo mengangguk dan tersenyum. "Tepat sekali dugaan Mbakayu Sulastri. Kami menemukan tempat dimana Jamur Dwipa Suddhi disimpan. Dan bukan itu saja, kami juga menemukan kitab yang kuno, mengandung pelajaran Aji Sari Bantala."

"Wah, luar biasa sekali. Ajaib dan sulit dipercaya, hampir mustahil ada ke-ajaiban yang begitu kebetulan dan aneh sekali!" seru Retno Susilo dengan kagum dan terheran-heran.

"Diajeng, lupakah engkau bahwa hal-hal yang tampaknya mustahil bagi manusia, sebenarnya sederhana dan biasa saja bagi kekuasaan Gusti Allah? Kalau Gusti Allah menghendaki, tidak ada hal yang tidak mungkin di alam semesta maupun di akhirat. Teruskan, Bagus ceritamu semakin menarik. Selanjutnya bagaimana?"

"Kami sangat gembira. Karena merasa kelaparan, ketika menemukan Jamur Dwipa Suddhi, Maya Dewi segera menggigit dan memakannya sepotong..Dan ia memberikan setengahnya kepada saya dan saya juga memakannya. Khasiatnya luar biasa sekali. Kami berdua memperoleh tenaga sakti mujijat yang hampir tidak dapat kami kendalikan. Akan tetapi dengan sabar dan tekun, kami dapat melatih sehingga kami dapat menguasai tenaga dahsyat itu, Ternyata pundak Maya Dewi tidak terluka parah dan setelah makan jamur itu, kami merasa sehat dan kuat. Kemudian kami berdua berdiam dalam ruangan bawah tanah itu, berlatih diri menguasai tenaga mujijat itu dan melatih Aji Sari Bantala. Ternyata aji itu membutuhkan ketekunan dan baru setelah tiga tahun, kami dapat menyelesaikan latihan kami itu. Kami lalu keluar dari bawah tanah dan jalan memanjat dinding karang yang terjal, licin dan tinggi. Karena saat itu saya sudah berusia dua puluh satu tahun, maka saya lalu melakukan perjalanan menuju pulang ke Gunung Kawi. Maya Dewi memohon kepadaku agar diperbolehkan ikut. Ia mohon agar diperkenan....

***Halaman hilang***

....ruangan itu, membawa sebuah benda panjang terbungkus kain.

"Ibu seperti telah saya ceritakan tadi, Maya Dewi berhasil merampas pedang Candra Dewi dan ia segera mengenal pedang itu yang dikatakannya bahwa pedang itu milik Ibu. Tadinya ia hendak menyerahkan pedang itu kepada Ibu, akan tetapi ia mengubah pikirannya karena ia tidak ingin dianggap mencari muka, maka ia menitipkan pedang itu kepadaku dengan pesan agar saya yang mengembalikannya kepada Ibu., Lihat, Ibu mengenal pedang ini?" Bagus Sajiwo membuka buntalan itu dan tampaklah sinar kehijauan ketika sebatang pedang dan ambilnya dari buntalan.

"Pedang Nogo Wilis...!!" Empat orang itu berseru, hampir berbareng.

"Maya Dewi tahu bahwa pedang ini adalah pusaka milik Ibu, maka ia merampasnya dan ingin mengembalikannya kepada Ibu, Terimalah, Ibu." Bagus Sajiwo menyodorkan pedang itu kepada Ibunya.

Retno Susilo menoleh dan memandang kepada Sulastri, lalu berkata kepada puteranya. "Bagus, pusaka ini sudah lama bukan milikku lagi, sudah kuberikan kepada Mbakayumu Sulastri."

Bagus Sajiwo menoleh kepada Sulastri dan isteri Lindu Aji ini menghela napas dan berkata, "Memang benar, aku pernah diserang oleh Candra Dewi. Kami bertanding dan ia terlalu tangguh bagiku sehingga pedangku Nogo Wilis ini dapat dirampasnya dan aku nyaris dibunuhnya. Akan tetapi pada saat itu muncullah Kakangmas Lindu Aji yang membelaku dan mengalahkannya sehingga Candra Dewi melarikan diri. Saking gembiranya aku dan Kakangmas Lindu Aji karena pertemuan yang tidak tersangka-sangka itu, aku sampai lupa akan pedangku yang terampas Candra Dewi."

"Kalau begitu, terimalah kembali pusaka ini, Mbakayu. Sekiranya Maya Dewi berada disini, aku yakin akan mengembalikan pedang ini kepadamu juga."

"Terima kasih, Dimas." kata Sulastri sambil menerima pedangnya dengan girang sekali.

Retno Susilo memegang tangan Bagus Sajiwo dan ketika pemuda ini memandang, dia melihat sepasang mata ibunya basah dan dua butir air mata mengalir turun ke atas kedua pipinya.

"Bagus..., maafkanlah Ibumu. Baru sekarang aku menyadari bahwa tadi aku telah bersikap tidak adil terhadap Maya Dewi..."

"Ibu, harap jangan minta maaf kepada saya. Bagi saya, Ibu, tidak bersalah. Kalau Ibu menganggap bahwa sikap Ibu tadi tidak adil dan sudah menyadari dengan perasaan menyesal, itu sudah baik sekali. Bukankah begitu, Ayah?"

Ki Tejomanik mengangguk dan menghela napas panjang. "Anakmu benar, Diajeng. Maya Dewi pernah menderita sakit berat rohaninya, dan memang membutuhkan pengobatan. Dan kita semua tahu bahwa Jamu yang berkhasiat dan manjur itu rasanya pahit. Maya Dewi memang membutuhkan Jamu yang pahit-pahit agar ia benar-benar sembuh dari semua penyakitnya."

"Apa yang dikatakan Paman Tejomanik itu memang benar," kata Lindu Aji. "Segala peristiwa yang menimpa diri kita mempunyai hikmat dan justeru dalam peristiwa yang pahit atau yang tidak menyenangkan tersembunyi hikmat yang amat besar manfaatnya bagi kehidupan kita, baik itu diterima sebagai ujian, peringatan, atau hukuman atau sekadar cobaan."

"Ya," kata Ki Tejomanik, "keyakinan seperti apa yang dikatakan Anakmas Lindu Aji itu membuat kita selalu mensyukuri apapun juga yang menimpa diri kita, tidak terlalu mengeluh sehingga runtuh kalau dilanda hal yang menyusahkan dan tidak terlalu mabok kegirangan sehingga kehilangan kewaspadaan ketika menghadapi hal yang menyenangkan."

"Sulastri, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk sibuk didapur. Biarlah Bagus Sajiwo bercakap-cakap dengan ayahnya dan suamimu. Kita persiapkan hidangan untuk pesta keluarga yang menggembirakan."

Dua orang wanita itu lalu bangkit dan menuju ke dapur dengan wajah cerah dan gembira, sedangkan Bagus Sajiwo melanjutkan percakapannya dengan Lindu Aji dan Ki Tejomanik. Biarpun terdapat sedikit perasaan haru dan iba terhadap Maya Dewi, namun dia menenangkan hatinya dengan keyakinan bahwa Gusti Allah Maha Kasih akan selalu memberi berkat dan bimbinganNya kepada wanita itu. Atas permintaan Ki Tejomanik, Retno Susilo, dan Bagus Sajiwo, Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah keluarga itu sampai tiga hari lamanya.

Selama itu, mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing dan hubungan diantara mereka menjadi semakin akrab. Baru setelah lewat tiga hari, Lindu Aji dan Sulastri meninggalkan Gunung Kawi, kembali ke perkampungan Perkumpulan Mega Liman yang berada di puncak Gunung Liman.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Maya Dewi berjalan perlahan sambil menundukkan mukanya. Ia membiarkan kedua kakinya melangkah tanpa tujuan tertentu. Biarpun tidak ada suara keluar dari mulutnya, namun kedua pundaknya terguncang, kedua tangan menutupi muka dan air mata menetes-netes keluar dari celah-celah jari tangannya. Darah di ujung bibirnya sudah berhenti keluar akan tetapi kedua pipinya masih biru membengkak.

Rasa pedih dan panas di mukanya sama sekali tidak terasa olehnya. Akan tetapi kesedihan yang amat mendalam menelannya, membuat dirinya hanyut. Ia sama sekali tidak merasa sakit hati, tidak mendendam atau marah kepada Retno Susilo yang menghinanya, mengusir bahkan menamparnya. Ia tahu bahwa ia memang sudah sepantasnya menerima semua itu, bahkan itu masih terlalu ringan kalau dipertimbangkan dengan dosa-dosa yang pernah ia lakukan.

Tidak, andaikata ia disiksa, dilukai parah, atau bahkan dibunuh sekalipun, ia akan merasa bahwa hal itu sudah sepatutnya dilakukan Retno Susilo, atau Tejomanik, atau suami isteri Lindu Aji dan Sulastri. Dosanya terlampau banyak dan terlampau besar. Yang membuat ia bersedih adalah perpisahannya dengan Bagus Sajiwo. Perpisahan inilah yang merupakan hukuman paling berat baginya. Dipaksa berpisah dari Bagus Sajiwo membuat hidupnya tidak ada artinya lagi.

"Bagus... ahhh,.. Bagusss...!" begitulah rintihan hatinya berulang-ulang, mengikuti setiap langkahnya yang terhuyung, terkadang terbisikan oleh mulutnya akan tetapi lebih banyak hanya bergema di ruang hatinya. Tiba-tiba hari yang tadinya terang itu menjadi gelap oleh mendung yang terbawa angin. Lalu hujan turun dengan derasnya.

Namun, Maya Dewi seolah tidak menyadari bahwa air hujan membuat seluruh tubuhnya, dari kepala sampai ke kaki, menjadi basah kuyup. Ia tetap melangkah, tertatih-tatih, tanpa disadarinya memasuki sebuah hutan. Perasaannya terhimpit, sejak tadi ia pertahankan, akan tetapi himpitan itu semakin berat karena tidak tersalurkan, karena ia menahan-nahan tangisya.

"Bress!" Ia menabrak pohon dan roboh terguling. Pingsan di bawah pohon. Telentang dan air hujan bertitik-titik menimpa muka dan tubuhnya. Ia rebah dengan penuh damai. Kilatan cahaya halilintar terkadang menerangi mukanya yang pucat seperti mayat.

Segala macam peristiwa menimpa kehidupan manusia yang tertimpa kesusahan merasa bahwa dirinyalah yang paling sengsara di dunia ini, sama sekali lupa bahwa masih banyak orang yang mengalami penderitaan kesengsaraan yang lebih hebat daripada yang dialami. Dan yang sedang menikmati kesenangan kebanyakan lupa bahwa disekelilingnya, banyak manusia hidup dalam kesengsaraan.

Sampai disini kisah ini berakhir. Akan tetapi saya tidak ingin membuat para pembaca merasa kecewa dan penasaran. Bagaimana selanjutnya dengan Maya Dewi? Dan Bagus Sajiwo? Dan dengan para pendekar dan satria yang lain?

Bagaimana pula ceritanya tentang Tejakasmala, pemuda Bali yang tampan gagah dan sakti mandraguna namun tinggi hati itu? Juga si kembar Dhirasani dan Dhirasanu? Apa pula yang terjadi dengan Ratna Manohara dan Niken Darmini, dua orang gadis remaja yang sakti itu? Dan apa pula yang dilakukan kelompok di Blambangan yang hendak menentang Mataram?

Semua ini akan terjawab dalam kisah "Kemelut Blambangan" Semoga kisah ini mengandung manfaat bagi kita semua dan sampai jumpa dalam kisah "Kemelut Blambangan".

T A M A T


EPISODE SELANJUTNYA KEMELUT BLAMBANGAN