Bagus Sajiwo Jilid 19

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 19

PADA keesokan harinya, Sulastri memanggil semua anggauta perkumpulannya untuk datang berkumpul ke pendapa rumahnya yang cukup besar itu. Lima puluh lebih wanita yang berusia antara delapan belas sampai mendekati tiga puluh tahun itu duduk bersimpuh di atas lantai yang bersih mengkilap. Sulastri dan Lindu Aji duduk di atas dua buah kursi berhadapan dengan para anggota.

"Saudara sekalian!" kata Sulastri. Ia biasa menyebut para anggota itu pada nama mereka saja, akan tetapi terkadang ia menyebut saudara sedangkan mereka menyebut Ni Dewi.

"Kami berdua, aku dan suamiku, telah bersepakat untuk melanjutkan pimpinan kami! atas perkumpulan ini."

Lima puluh lebih wanita itu bersorak gembira. Mereka tersenyum dan wajah mereka menjadi cerah, ada yang tertawa-tawa gembira.

Sulastri mengangkat tangan kiri ke atas dan mereka semua diam. "Akan tetapi mulai sekarang, perkumpulan kita bukan merupakan perkumpulan khusus wanita saja karena suamiku yang akan memimpin, dan aku membantunya. Kami akan menerima anggota pria juga. Suamiku akan memimpin anggauta pria dan aku tetap memimpin anggota wanita. Apakali kalian setuju akan perkumpulan kita diubah menjadi perkumpulan umum dengan anggota pria dan juga wanita?"

"Setuju...!!" Mereka serempak menjawab dengan gembira.

"Akan tetapi peraturan lama masih tetap dipakai, yaitu kalau ada anggota, baik dia pria maupun wanita, menikah, dia harus berhenti menjadi anggota perkumpulan kita. Dan karena akan ada anggauta pria, maka nama perkumpulan kita pun tidak akan tepat lagi kalau memakai nama Melati Puspa. Mulai sekarang perkumpulan kita memakai nama perguruan Mega Liman, ketuanya Ki Lindu Aji dan wakilnya Ni Sulastri. Aku tidak memakai nama samaran Ni Melati Puspa lagi. Namaku adalah Sulastri."

Semua anggauta itu bertepuk tangan tanda setuju dan gembira. "Hidup Ki Aji! Hidup Ni Dewi!" teriak Suwarni dan semua rekannya ikut berteriak.

"Maaf Ni Dewi, kami akan tetap menyebut Andika Ni Dewi Sulastri dan ketua kami Ki Aji, kalau Andika tidak keberatan." kata Suwarni.

Sulastri memandeng kepada suaminyo dan Lindu Aji tersenyum mengangguk. Demikianlah, mulai hari itu, berdirilah Perkumpulan Mega Liman dan suami isteri itu menjadi ketua dan wakilnya. Mereka mulai menerima murid-murid atau anggauta-anggauta pria, yaitu para pemuda yang tinggal di pedusunan sekitar Gunung Liman.

Lindu Aji memberi tahu ibunya di Gampingan dan menawarkan kepada ibunya kalau-kalau ibunya suka pindah ke Gunung Liman. Akan tetapi Nyi Warsiyem menolak karena sudah senang tinggal di Gampingan. Setahun kemudian, Sulastri melahirkan seorang anak perempuan yang mungil dan anak itu mereka beri nama Dewi Wulandari karena lahirnya tepat pada malam purnama.

Wulandari berati Wulan Ndadari (Bulan Purnama berlingkaran). Tentu saja suami isteri itu merasa gembira dan kehidupan terasa bahagia sekali bagi mereka. Juga Perkumpulan Mega Liman menjadi semakin besar. Setelah lewat tiga tahun dan Wulandari sudah berusia dua tahun, Perkumpulan Mega Liman telah memiliki hampir seratus lima puluh anggauta terdiri lima puluh orang murid wanita dan hampir seratus orang murid pria.

Lindu Aji dan Sulastri hidup berbahagia dan perkumpulan Mega Liman menjadi semakin kondang (terkenal) sebagai perkumpulan orang-orang muda, baik pria atau wanita, yang berwatak satria, suka menolong orang-orang yang tertindas dan menentang "mereka yang jahat.' Juga sawah ladang yang menjadi milik perkumpulan itu dikelola dengan baik sehingga mendatangkan hasil yang cukup untuk membeli kebutuhan hidup mereka, Pondok-pondok dibangun untuk para murid dan dipisahkan antara tempat tinggal para murid pria dan para murid wanita. Ada pula diantara para murid yang saling jatuh cinta. Mereka menikah dengan baik-baik dan terpaksa meninggalkan Mega Liman.

Setahun sekali, Lindu Aji dan Sulastri melakukan perjalanan berkunjung ke Gampingan lalu terus" ke Dermayu. Terkadang mereka mengajak orang tua mereka untuk berkunjung ke Gunung Liman dan mereka semua merasa berbahagia. Suami isteri ini tidak melupakan pesan Ki Tejomanik dan isterinya agar mereka membantu mendengarkan kalau-kalau ada berita tentang Bagus Sajiwo.

Anak buah perguruan Mega Liman mereka pesan agar ikut mendengar, bahkan mereka yang menikah lalu meninggalkan perkumpulan itu. juga agar segera memberitahu kalau mendengar berita tentang Bagus Sajiwo. Akan tetapi tiga tahun lebih telah lewat dan mereka sama sekali tidak pernah mendengar tentang Ragus Sajiwo yang menurut Ki Sumali telah ditembaki para antek Kumpeni dan terjatuh ke dalam muara Sungai Lorog lalu lenyap.

Pada suatu pagi Lindu Aji dan Sulastri duduk di pendapa rumah mereka. Seorang murid wanita menghidangkan minuman teh hangat dan ubi goreng, Disitu terdapat pula Nyi Warsiyem, ibu Lindu Aji yang memangku Dewi Wulandari yang berusia dua tahun dan sedang lucu-lucunya.

Wanita penduduk Gampingan ini sudah sepekan berada disitu, ikut Lindu Aji ketika puteranya itu berkunjung ke Gampingan. Nyi Warsiyem amat mencinta cucunya dan anak itu pun sebentar saja lengket dengan neneknya.

Anak-anak yang masih kecil mempunyai perasaan yang amat peka. Hal ini adalah karena nafsu akal pikiran mereka belum menguasai dirinya sehingga jiwanya masih bersih dan perasaannya amat peka, dapat menangkap getaran rasa kasih sayang ataupun kebencian orang yang diarahkan kepada mereka. Mereka bertiga bercakap-cakap dalam suasana tenteram bahagia, terkadang diseling teriakan-teriakan Dewi Wulandari yang membuat mereka tertawa gembira.

Seorang laki-laki muda memasuki pekarangan itu dan terus menuju pendapa. Lindu Aji dan Sulastri memandang. Laki-laki itu menghampiri mereka dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada Sebagai sembah.

"Hei, engkau Kasman?" tegur Lindu Aji sambil tersenyum. "Mari duduklah di atas kursi sini, jangan di lantai. Engkau sudah bukan murid Mega Liman lagi!" Ucapan ini ramah sekali.

Laki-laki muda itu bernama Kasman dan sudah setengah tahun ia meninggalkan Mega Liman karena menikah dengan seorang gadis dusun yang tinggal di sebuah dusun di kaki Gunung Liman. Kasman biarpun dengan sungkan, duduk di atas kursi dengan sikap hormat.

"Kasman, berita apakah yang kau bawa kesini?" Sulastri bertanya.

"Denmas Aji dan Ni Dewi, saya mendengar berita tentang Denmas Bagus Sajiwo, maka saya cepat datang kesini untuk menyampaikan berita itu yang dipesan ketika saya hendak meninggalkan Mega Liman."

"Ah, bagus sekali!" seru Lindu Aji dengan gembira. Kalau ada berita tentang Bagus Sajiwo, hal itu membuktikan bahwa keyakinan tentang pemuda itu benar, yaitu bahwa putera Ki Tejomanik itu masih hidup!

"Cepat ceritakan!"

"Saya mendengar dari seorang penduduk dusun yang baru datang dari Tulung-agung bahwa di daerah sana tidak aman karena adanya gangguan gerombolan liar yang dipimpin oleh orang-orang sakti. Akan tetapi kemudian muncul seorang pria muda dan seorang wanita cantik mengobrak-abrik sarang gerombolan itu dan mengalahkan mereka sehingga gerombolan itu kocar-kacir dan melarikan diri. Daerah itu menjadi aman kembali dan pemuda serta gadis itu mengaku bernama Bagus Sajiwo dan Maya Dewi.

Hanya itulah ceritanya, dan tetangga saya itu tidak tahu kemana perginya dua orang pendekar muda itu."

Lindu Aji dan Sulastri menjadi girang bukan main. Setelah Kasman pamit, mereka membuat persiapan untuk berangkat ke Gunung Kawi dan menyampaikan berita menggembirakan itu kepada Ki Tejomanik dan isterinya. Mereka tidak merasa khawatir meninggalkan Dewi Wulandari karena selain disitu banyak murid wanita yang biasanya menjaga anak mereka, juga ada Nyi Warsiyem yang tentu akan mengasuh anak itu dengan penuh kasih sayang.

Maka, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri ini berangkat meninggalkan Gunung Liman menuju ke Gunung Kawi di timur.

Setiap orang manusia dalam dunia ini mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya akan tetapi amatlah sukar menemukan seorang manusia yang benar-benar hidup berbahagia. Kesalahan kita adalah mengartikan kebahagiaan sebagai kesenangan. Ada yang menganggap bahwa kebahagiaan terdapat dalam harta benda. Kalau banyak harta benda berarti bahagia. Benarkah itu?

Orang yang menderita sakit yang menimpa diri sendiri maupun keluarga terdekat, suami, isteri, orang tua, maupun anak, akan melihat kenyataan bahwa bukan harta benda yang mendatangkan kebahagiaan karena dia akan rela menukar semua harta bendanya dengan kesehatan. Lalu, apakah harta benda plus kesehatan sekeluarga menjadi sarong. bahagia yang didamba-dambakan? Orang Vang sedang menderita pertentangan atau bentrokan dengan keluarga, antara anak dan orang tua, antara suami dan isteri, atau antara saudara, tidak akan merasa bahagia walaupun sekeluarga sehat badannya dan banyak hartanya.

Terutama sekali akan terasa kalau suami dan isteri bentrok, tidak rukun sehingga cinta mereka berubah menjadi benci, maka semua harta dan kesehatan jasmani itu sama sekali tidak menolong dan mereka akan tidak merasa bahagia. Bagaimana kalau berharta, sehat, ditambah rukun sekeluarga? Apakah sudah berbahagia?

Orang-orang yang mengalami permusuhan dengan tetangga, dengan orang lain, dalam menghadapi urusan dengan yang berwajib, atau menghadapi malapetaka, perang, kehilangan dan sebagainya, tetap saja tidak akan merasa bahagia walaupun dia berharta, sehat dan rukun sekeluarga. Tidak mungkin bahagia itu dicapai oleh keadaan lahiriah atau duniawi. Memang, kesenangan dapat diraih lewat semua itu.

Hanya kesenangan, bukan kebahagiaan! Dan kesenangan itu hanya merupakan tercapainya keinginan nafsu. Seperti biasa, pengejaran kesenangan itu hanya mempunyai dua akibat. Pertama, kecewa dan duka kalau pengejaran kesenangan itu tidak tercapai, dan yang ke dua, merasa bosan kalau kesenangan itu sudah tercapai dalam waktu tertentu, hanya sementara.

Lalu dimana letak kebahagiaan yang didambakan semua orang? Teramat jauh tidak mungkin terjangkau kalau dicari, namun terama dekat. Karena sesungguhnya kebahagiaan tidak pernah terpisah dari diri pribadi. Bukan kesenangan, melainkan kebahagiaan! Dalam keadaan tidak senang pun kita dapat berbahagia! Dalam keadaan miskin pun kita dapat berbahagia. Dalam keadaan sakit pun kita dapat berbahagia. Dalam keadaan terancam bahaya maut sekalipun kita dapat berbahagia karena kebahagiaan tidak pernah meninggalkan diri kita.

Bagi seorang manusia yang berserah diri sepenuhnya, lahir batin, dengan ikhlas, tawakal, kepada Gusti Allah yang Maha Esa, dia akan merasa betapa kasih dan bahagia selalu berada dalam dirinya.

Dia akan selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Gusti Allah, dalam keadaan bagaimanapun juga, berserah diri sepenuhnya sebagai dasar dari semua tindakan dan ikhtiar dalam hidupnya dan yakin bahwa kehendak Gusti Allah saja yang terjadi, bukan kehendak kita. Yakin bahwa segala sesuatu itu milik Gusti Allah, hati akal pikiran yang mengaku-aku sebagai "aku" ini tidak memiliki apa-apa, apalagi yang berada di luar diri seperti harta benda, kedudukan dan lain-lain, bahkan badan kita sendiri ini bukan milik kita, melainkan milik Gusti Allah. Kita tidak menguasai dan tidak dapat mengatur tumbuhnya sehelai rambut pun di tubuh kita! KekuasaanNya yang mengatur itu semua, kita hanya tinggal menerima. Semua yang ada ini adalah kurniaNya karena kasihNya yang.berlimpah kepada kita. Semua yang ditiadakan dan diambil dari kita itu pun adalah karena kuasaNya dan juga hakNya untuk mengambil apa saja yang dikehendakiNya karena semua itu milikNya!

Sekali lagi, hanya kalau kita berserah diri sepenuhnya, lahir batin, dengan ikhlas dan tawakal kepada Gusti Allah, kita akan dapat merasakan apa yang disebut bahagia itu. Akan tetapi kalau kita menjauhiNya, maka Setan akan menggunakan kesempatan itu untuk mendekati dan memancing kita dengan umpan kesenangan yang serba enak, serba nikmat menyenangkan jasmani kita termasuk hati akal pikiran sehingga kita dikuasai sepenuhnya oleh nafsu dan diperbudaknya, dan kita akan terseret ke dalam perbuatan dosa sehingga kita akan jauh dari kebahagiaan.


Ki Tejomanik dan Retno Susilo adalah suami isteri yang sakti mandraguna, juga orang-orang yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Akan tetapi, mereka pun hanya orang-orang biasa, manusia biasa seperti kita yang tidak sempurna, maka mereka pun tidak dapat terbebas dari duka nestapa.

Semenjak mereka mendengar dari Lindu Aji dan Sulastri tentang putera mereka, Bagus Sajiwo yang ditembaki orang kemudian jatuh dan hilang dalam muara Sungai Lorog, tiga tahun mereka menunggu di rumah. Setiap hari mereka menungu-nunggu, sampai tubuh mereka menjadi kurus namun yang ditunggu tidak pernah muncul dan kabar tentang putera mereka itu pun tidak pernah terdengar.

Retno Susilo hampir merasa putus asa. Akan tetapi dalam keadaan amat nelangsa itu, Ki Tejomanik menghihurnya. "Sudahlah, Diajeng. Kita tidak boleh putus asa, kita harus selalu percaya akan kekuasaan Gusti Allah. Segala sesuatu yang terjadi kepada anak kita, juga yang terjadi kepada diri kila sendiri, sudah ditentukan oleh Gusti Allah dan percayalah, apa yang terjadi atas kehendakNya itu pasti yang terbaik bagi kita!"

"Aduh, Kakangmas, bagaimana aku dapat menerimanya sebagai yang terbaik kalau anak kita satu-satunya itu hilang dan tidak akan kembali lagi kepada kita?" kata Retno Susilo dan la tidak dapat menahan mengalirnya air matanya yang entah sudah beberapa ribu kali membanjir dalam tangis dan keluh-kesahnya.

"Sekarang dengarlah baik-baik, Diajeng, aku akan mendongeng!"

Retno Susilo memandang heran kepada suaminya sambil menyusut air matanya. "Mendongeng?"

"Ya, dongeng yang ada hubungannya dengan keadaan kita. Di jaman dahulu kala, ada seorang janda muda yang telah ditinggal mati suaminya dan ia memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Tentu saja ia amat menyayang puteranya itu karena di dunia ini ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Seluruh tujuan dalam hidupnya sepenuhnya diarahkan untuk merawat puteranya dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi pada suatu hari anak itu terserang penyakit ganas dan meninggal dunia."

"Aduh kasihan sekali!" kata Retno 'Susilo dan pada saat itu ia lupa akan kesedihannya sendiri, mendengar kedukaan yang ia rasakan amat berat menimpa janda muda yang hidup seorang diri itu.

"Ya, begitulah pendapat manusia tentang musibah yang menimpa dirinya. Janda muda itu tentu saja merasa penasaran sekali. Ia hidup sebagai seorang wanita yang baik budi, maka ia menganggap Gusti Allah tidak adil. Maka ia lalu naik ke Surgaloka, ingat, ini hanya dongeng, untuk menghadap Gusti Allah dan mengajukan protesnya!"

"Aku tidak heran kalau ia berbuat begitu. Sekarang pun, kalau bisa, aku juga ingin menghadap Gusti Allah untuk memprotes hilangnya anakku!"

Tejomanik tersenyum dan tidak menyalahkan pendapat isterinya itu. "Baik kulanjutkan ceritaku. Dengarkan baik-baik ketika janda itu tiba di pintu gerbang Surgaloka, ia dihadang oleh seorang malaikat yang bertanya kepadanya apa maunya naik ke Surgaloka. Janda itu menjawab bahwa ia hendak memprotes Gusti Allah yang telah mengambil nyawa anaknya. Ia berkata bahwa selama ini ia hidup dengan saleh, berbudi baik, tidak pernah melakukan kejahatan, selalu berdoa kepada Gusti Allah, akan tetapi kenapa Gusti Allah begitu kejam mengambil anaknya, satu-satunya teman dalam hidupnya yang sebatang kara? Apakah dosa anaknya yang baru berusia tiga tahun itu? Kalau memang ia sendiri yang mempunyai dosa, kenapa bukan ia saja yang diambil nyawanya? Kenapa anaknya? Kenapa Gusti Allah begitu tega menyiksa hatinya?"

"Hemm, aku tidak menyalahkan janda itu," kata Retno Susilo. "Memang tidak salah kalau ia merasa penasaran."

"Malaikat penjaga pintu gerbang itu lalu berkata kepada janda muda agar tidak tergesa-gesa menghadap Gusti Allah dan agar lebih dulu menonton sesuatu yang akan diperlihatkannya kepada janda itu, kalau ia tidak mau, maka ia tidak diperkenankan memasuki pintu gapura. Janda itu terpaksa menurut. Malaikat itu lalu membentangkan sehelai layar putih dan tampaklah oleh janda muda itu pemandangan yang aneh. Ia melihat seorang pemuda sedang mengamuk, melakukan perampokan dan pembunuhan secara kejam dan melakukan segala macam kejahatan yang hanya dapat dilakukan seorang penjahat yang kejam sekali. Janda itu memalingkan mukanya dan minta agar pertunjukan itu dihentikan karena hatinya yang selalu penuh belas kasihan itu tidak tega menyaksikan kejahatan yang demikian kejamnya oleh pemuda itu."

"Aneh sekali," kata Retno Susilo. "Apa maksud dan artinya pertunjukan yang diadakan oleh malaikat itu?"

"Malaikat itu lalu memberitahu kepada Sang Janda bahwa pemuda yang dilihatnya tadi, yang begitu kejam dan jahat bukan lain adalah anak janda itu kelak kalau dibiarkan hidup dan tumbuh menjadi seorang pemuda. Dia menjelaskan bahwa Gusti Allah amat sayang kepada janda yang saleh itu sehingga Gusti Allah menghindarkan ia dari kesengsaraan hati melihat puteranya menjadi penjahat yang amat kejam, dan menghindarkan putera janda itu menjadi jahat. Semua itu dilakukan Gusti Allah sebagai karunia karena kebaikan budi dan kesalehan janda itu! Kemudian malaikat itu bertanya kepada Sang Janda, apakah ia tetap menghendaki anaknya dihidupkan kembali agar kelak menjadi seorang pemuda seperti yang ditontonnya tadi? Sang Janda menangis dan mohon ampun kepada Gusti Alah atas ketidak-percayaannya dan protesnya, lalu mengucap sukur dan terima kasih kepadaNya, kemudian pulang ke rumahnya dengan hati damai dan tenteram dan imannya kepada Gusti Allah menjadi semakin kuat."

"Akan tetapi... anak kita tidak mungkin akan menjadi seorang penjahat seperti itu, Kakangmas!" kata Retno Susilo.

Suaminya mengangguk-angguk. "Diajeng, dongeng itu hanya menjadi contoh dan pelajaran. Janda itu mengalami kesengsaraan yang jauh lebih hebat daripada kita, namun ternyata di balik peristiwa menyedihkan itu terdapat hikmahnya yang luar biasa yang bahkan merupakan anugerah atau karunia baginya. Segala peristiwa yang terjadi karena kehendak Gusti Allah pasti baik dan benar. Biar pun tampaknya oleh pendapat manusia dianggap tidak baik dan mendatangkan duka, tidak enak, namun pasti baik dan benar karena di balik itu ada hikmahnya yang kita tidak ketahui. Kehendak Gusti Allah itu tidak sama dengan kehendak kita yang hanya didorong nafsu ingin enak dan senang belaka. Karena itu, apakah artinya peristiwa yang menimpa diri kita. ini dibandingkan dengan yang menimpa diri janda dalam dongeng itu. Memang benar anak kita satu-satunya hilang, akan tetapi dia belum pasti mati, dan pula, bagaimanapun juga, kita berdua masih saling memiliki, bukan ditinggal menjadi sebatang kara tidak mempunyai siap-siapa lagi seperti janda itu. Karena itu, merasa penasaran dan mengeluh bahkan menuduh Gusti Allah kejam dan tidak adil seperti dilakukan janda itu sebelum ia sadar, bukanlah sikap yang benar, Diajeng."

Retno Susilo menghela napas panjang, "Alangkah beratnya derita hidup ini, Kakangmas. Akan tetapi aku kini dapat melihat kebenaran yang terkandung dalam dongeng tadi. Jadi, kita harus menerima keadaan apa pun yang menimpa kita dengan penuh kesadaran bahwa semua itu merupakan kehendak Gusti Allah yang tidak sama dengan kehendak kita, bahwa di balik semua itu terkandung hikmah yang tidak kita ketahui akan tetapi yang pasti merupakan yang terbaik bagi kita. Begitukah, Kakangmas?"

"Benar, Diajeng. Bukan hanya yang terbaik untuk kita, akan tetapi juga untuk anak kita. Aku juga berduka, Diajeng, aku juga manusia biasa yang tidak dapat terbebas daripada suka duka, akan tetapi aku tetap berserah diri kepada Gusti Allah, aku pasrah dengan penuh keyakinan bahwa Gusti Allah itu Maha Murah dan Maha Kasih dan segala apa yang terjadi itu demi kebaikan kita manusia. Semoga Gusti Allah akan selalu menguatkan iman kita dan akan selalu membimbing kita, semoga kelak Gusti Allah memberi berkah dan karunia kebahagiaan dan mempertemukan kita dengan anak kita, kalau dia menghendaki!"

"Insya Allah (kalau Allah menghendaki), Kakangmas. Amin-amin-amin." kata Retno Susilo dan berkembanglah senyum manis di bibirnya, senyum penuh penyerahan, penuh kepercayaan dan penuh harapan.

Akan tetapi, sering kali terjadi, apa yang diharapkan manusia itu bukan saja tidak terjadi, bahkan yang terjadi adalah hal yang berlawanan dan yang tidak diharap-harapkan!

Pada suatu pagi yang sejuk, Ki Tejomanik dan Retno Susilo sedang sarapan di ruangan makan, sebelah dalam rumah mereka. Tiba-tiba terdengar suara keras jebolnya pintu depan yang mereka palangi karena pintu itu belum dibuka oleh pelayan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Kita tinggalkan dulu Ki Tejomanik dan Retno Susilo di Gunung Kawi dan kita ikuti perjelanan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi. Seperti kita ketahui, dua orang ini meninggalkan batu karang di muara Sungai Lorog dan menuju ke Gunung Kawi untuk pulang ke rumah Ki Tejomanik karena Bagus Sajiwo merasa bahwa kini dia telah berusia dua puluh tahun dan sebagai mana telah dipesan mendiang Ki Ageng Mahendra, setelah berusia dua puluh tahun baru dia boleh pulang ke rumah orang tuanya.

Dalam perjalanan itu, setiap menemui keadaan yang membutuhkan bantuan mereka, mereka lalu turun tangan, membela kebenaran dan keadilan, membela rakyat kecil yang tertindas oleh kekuasaan yang sewenang-wenang dan jahat, menentang mereka yang jahat dan pengganggu kehidupan rakyat. Setiap kali! mendengar keluhan penduduk kota maupun dusun akan adanya gerombolan yang mengacau dan mengganggu, mereka langsung mendatangi sarang gerombolan dan menghajar mereka sehingga mereka lari kocar-kacir dan gerombolam itu bubar. Akan tetapi atas anjuran Bagus Sajiwo, mereka tidak pernah membunuh lawan, cukup hanya merobohkan mereka saja dan' membuat mereka lari ketakutan.

Ketika mereka tiba di Tulungagung, mereka mengobrak-abrik sarang gerombolan besar yang jumlah anggautanya tidak kurang dari seratus orang. Pimpinan mereka adalah orang-orang sakti, Akan tetapi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dapat mengalahkan mereka dengan mudah sehingga para pimpinan itu terluka dan semua anak buah kocar-kacir.

Nama Bagus Sajiwo dan Maya Dewi mulai terkenal dan disanjung-sanjung oleh rakyat sehingga nama mereka mulai dikenal sampai jauh. Banyak diantara para tokoh yang mengenal nama Maya Dewi, menjadi terkejut dan terheran-heran mendengar kini Maya Dewi memusuhi orang-orang dari golongan sesat. Padahal mereka mengenal Maya Dewi sebagai seorang datuk wanita sesat yang dijuiuki Iblis Betina!

Karena tindakan mereka menentang gerombolan penjahat, terkadang membantu pasukan pamong-praja setempat, maka perjalanan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi menjadi lambat. Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan lamanya, pada suatu pagi mereka tiba di padang rumput terbuka, di dekat sebuah hutan. Dari padang rumput itu sudah tampak Gunung Kawi menjulang tinggi.

Mereka berhenti dan Bagus Sajiwo menunjuk ke arah gunung itu. "itulah Gunung Kawi, Dewi. Disanalah orang tuaku tinggal dan disana aku dibesarkan sejak lahir sampai berusia enam tahun ketika aku diculik orang."

Maya Dewi mengerutkan alisnya, tampak pendiam dan wajahnya muram, hanya menunduk setelah memandang ke arah gunung itu sekilas.

"He, engkau kenapa, Dewi? Kau tampak gelisah!"

"Memang aku gelisah, gelisah sekali, Bagus."

"Kenapa? Selama ini engkau gembira sekali, kini setelah hampir tiba di tujuan, semestinya engkau girang, malah engkau gelisah."

"Bagus, aku takut..."

"Engkau? Takut? Ha-ha-ha!" Bagus Sajiwo tertawa. "Siapa yang kau takuti? Setan pun akan jerih untuk menggangumu!"

"Aku khawatir dan takut bertemu dengan orang tuamu, Bagus." kata Maya Dewi dan suaranya agak gemetar. "Ketahuilah, Ki Tejomanik dan Retno Susilo adalah sepasang suami isteri yang terkenal gagah perkasa dan setia kepada Mataram. Mereka sudah mengenal betul siapa Maya Dewi. Dalam pandangan mereka, aku adalah seorang iblis betina yang Jahat, seorang datuk sesat dan bukan itu saja, malah seorang antek Kumpeni Belanda. Mereka tentu benci sekali kepadaku dan aku tidak menyalahkan mereka, aku sendiri benci kepada diriku sendiri kalau ingat akan kesesatanku dahulu. Aku sungguh takut berhadapan dengan orang tuamu, Bagus."

"Tidak, Jangan takut, Dewi!" kata Bagus Sajiwo sambil tertawa, "Engkau bukanlah Maya Dewi yang dulu lagi. Engkau sekarang adalah seorang yang telah meninggalkan Jalan sesat, telah menjadi seorang yang takut, taat dan tawakal, berserah diri kepada Gusti Allah. Aku yang akan menanggung kalau oran tuaku marah. Aku akan menjelaskan kepada mereka yang meyakinkan mereka bahwa engkau bukanlah Maya Dewi empat tahun yang lalu."

"Benar engkau hendak melindungi dan membela aku, Bagus? Ah, aku ngeri, aku menyesal dan aku malu sekali kalau aku teringat akan kelakuanku dahulu..."

"Bagus, itulah yang membuat Gusti Allah senang dari seorang manusia, ya itu merasa malu dan menyesali dosanya lalu bertaubat mohon pengampunanNya seperti yang kau lakukan ini, Dewi. Sudahlah, kalau engkau sudah berserah diri sepenuhnya kepada Gusti Allah, apalagi yang kau takuti?"

Tiba-tiba mereka berdua waspada dan siap siaga. Sesosok bayangan putih berkelebat dan Candra Dewi telah berdiri di depan mereka, dalam jarak lima enam depa! Biarpun sudah lewat empat tahun namun ia masih tetap tampak cantik dengan daya tarik yang kuat. Tangan kirinya memegang sebuah kebutan berbulu putih dan pedangnya tergantung dipunggung. Sepasang mata tajam yang tadinya memandang liar, kini bersinar-sinar, wajahnya cerah berseri, mulutnya tersenyum manis ketika ia mengamati wajah Bagus Sajiwo.

"Engkau...? Bagus Sajiwo, engkau ternyata masih hidup? Ah, betapa senang rasa hatiku, Bagus suamiku...!" kata Candra Dewi melangkah maju menghampiri.

Bagus Sajiwo merasa bulu tengkuknya meremang karena geli melihat wanita itu memandangnya dengan mata mengandung gairah nafsu dan kedua tangannya bergerak seperti hendak merangkulnya sehingga dia' melangkah mundur.

Karena Bagus Sajiwo mundur beberapa langkah, maka kini Maya Dewi yang berada di depan menghadapi Candra Dewi. "Mbakayu, janganlah bersikap seperti ini! Bagus Sajiwo bukan suamimu." kata Maya Dewi suaranya lembut membujuk.

Agaknya baru sekarang Candra Dewi melihat Maya Dewi karena tadi seluruh perhatiannya tertuju kepada Bagus Sajiwo. Matanya yang tadi bersinar gembira itu kini melotot dan alisnya berkerut.

"Kau bilang apa, Maya Dewi? Jangan membikin aku marah! Melihat Bagus Sajiwo masih hidup dan aku dapat bertemu dengannya membuat aku begitu bahagia sehingga aku mau memaafkan engkau dan tidak membunuhmu. Jangan membikin aku berubah pikiran dan marah sehingga aku akan membunuhmu. Hayo minggir dan pergi dari sini, aku hendak mengajak suamiku pergi bersamaku!"

Akan tetapi Maya Dewi tidak mau pergi atau minggir, dan Bagus Sajiwo berada di belakangnya segera berkata. "Candra Dewi, sejak kapan aku menjadi suamimu? Aku bukan suamimu!"

"Sejak kapan? Sejak engkau memeluk tubuhku dan minum darahku melalui gigitan pada leherku. Hayo minggir, Maya Dewi, aku hendak mengajak suamiku pergi!"

Akan tetapi Maya Dewi tidak mau minggir. "Mbakayu Candra Dewi, tindakanmu ini tidak benar dan sesat! Mana ada wanita memaksa seorang pria menjadi suaminya? Sadarlah, Mbakayu, dan tinggalkan kami dengan segera agar kesesatanmu Jangan berlarut-larut." Lalu Maya Dewi menudingkan telunjuknya ke arah pedang yang tergantung di punggung Candra Dewi. "Aku mengenal pedang itu, Mbakayu Candra Dewi! Bukankah itu Pedang Pusaka Nogo Wilis milik Retno Susilo? Berikan pedang itu kepadaku, Mbakayu, untuk kukembalikan kepada pemiiiknya!"

Bagus Sajiwo terkejut mendengar ini dan dia pun memandang ke arah pedang yang tergantung di punggung Candra Dewi. Dia pun teringat bahwa ibunya, Retno Susilo, memang memiliki pedang pusaka Nogo Wilis, akan tetapi dia sudah lupa lagi akan pedang itu sehingga tidak mengenalnya. Akan tetapi Maya Dewi mengenalnya dan ia sudah banyak mendengar dari para datuk tentang pedang itu yang kabarnya dicuri oleh Kyai Sidik Kawasa akan tetepi dirampas seorang pertapa sakti dan akhirnya pedang itu terjatuh ke tangan Sulastri. Ia tahu akan semua ini, maka ia minta pedang itu karena kalau ia dapat mengembalikan pedang pusaka itu kepada Retno Susilo tentu ibu Bagus Sajiwo itu akan berkiurang kebenciannya kepadanya!

Candra Dewi marah bukan main, "Maya Dewi, apa engkau sudah bosan hidup? Sekali lagi, demi suamiku, aku ampuni engkau dan minggirlah. Kalau engkau tidak menurut, aku tidak aka mengampunimu lagi dan akan membunuhmu!" Candra Dewi sudah mengayun-ayun kebutan ditangan kirinya itu, mengancam untuk menyerang.

"Engkaulah yang sepantasnya pergi dan meninggalkan kami, jangan ganggu kami lagi, Mbakayu Candra Dewi!" kata Maya Dewi.

"Syuuuuttt... tar-tar-tar!!" tiga kali kebutan itu melecut dan menyambar-nyambar ke arah kepala Maya Dewi.

Akan tetapi Candra Dewi terkejut bukan main karena tiga kali serangannya itu luput. Tubuh Maya Dewi bergerak amat lincahnya sehingga ia merasa seolah-olah ia menyerang sebuah bayangan saja! Candra Dewi menjadi semakin marah dan penasaran sekali. Ia mengerahkan seluruh kepandaiannya, menggunakan semua tenaga dan kecepatannya, menyerang bertubl-tubi, namun semua serangannya gagal.

"Keparat!" Ia memaki dan sekali tangan kanannya bergerak, tampak sinar hijau. menyilaukan mata dan ia segera menyerang Maya Dewi dengan pedang dan kebutannya. Tampak dua gulungan sinar hijau dan putih menyambar-nyambar, mengepung dan menyerang tubuh Maya Dewi dari semua jurusan, namun tetap saja kedua senjata itu tidak mampu menyentuh tubuh Maya Dewi.

Candra Dewi hampir tidak percaya akan kenyataan ini. Maya Dewi dengan tangan kosong mampu menghadapi serangan yang menggunakan pedang pusaka dan kebutan! Padahal, tingkat kepandaian adik tirinya telah jauh dibandingkan tingkatnya. Ia tidak tahu bahwa sejak Maya Dewi makan Jamur Dwipa Suddi tenaga saktinya menjadi berlipat ganda kuatnya dan kitab Aji Sari Bantalanya sudah dipelajari dan dilatihnya membuat ia dapat bergerak secara aneh, seperti lambat namun cepat, seperti lemah namun kuat sekali.

Sementara itu, sejak tadi Bagus Sajiwo hanya menonton saja dan ia merasa girang dan kagum sekali melihat gerakan Maya Dewi melayani serangan Candra Dewi itu. Jelas tampak olehnya betapa Maya Dewi jauh lebih unggul dan dia tahu bahwa kalau Maya Dewi menghendaki, sudah sejak tadi ia akan dapat merobohkan dan membunuh lawannya. Ternyata Maya Dewi tidak mau membunuh kakak tirinya yang jahat itu.

Semenjak keluar dan perut bukit karang di muara Sungai Lorog, baru sekarang Maya Dewi memperlihatkan kepandaiannya. Ketika berkali-kali mereka berdua menghadapi para gerombolan yang menjadi lawan Maya Dewi hanyalah penjahat-penjahat kecil yang kemampuannya terbatas sehingga tidak tampak ketangguhan Maya Dewi. Akan tetapi kini, lawannya adalah Candra Dewi, datuk wanita dari Banten yang amat sakti itu. Melihat Maya Dewi dapat mengatasi lawannya walaupun ia bertangan kosong, Bagus Sajiwo diam saja, hanya menonton. Maya Dewi seolah mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan menguji ilmu silatnya, yaitu Aji Sari Bantala yang telah dilatihnya sampai selesai.

Sebetulnya, ilmu itu baru dapat sempurna sepenuhnya kalau dimainkan oleh sepasang pria dan wanita. Kalau dia dan Maya Dewi yang menggunakan ajian itu bersama, maka mereka dapat saling mengisi dan menutup segala kekurangan dan kelemahannya sehingga Aji Sari Bantala itu akan menjadi kuat sekali. Akan tetapi dimainkan sendiri juga ternyata sudah hebat sekali karena buktinya Maya Dewi mampu dengan tangan kosong melayani Candra Dewi yang menyerangnya dengan senjata pedang pusaka dan kebutan ampuh.

Dugaan Bagus Sajiwo benar. Maya Dewi memang sengaja hendak menguji ilmu yang baru saja dikuasainya dan ia merasa girang sekali karena dengan Aji Sari Bantala ternyata ia mampu menghindarkan semua serangan kakak tirinya yang datang bertubi-tubi menghujaninya. Kemudian, ia pun balas menyerang dengan tamparan tangan dan totokan jari tangan.

Begitu ia balas menyerang, Candra Dewi menjadi terkejut dan terdesak hebat. Tamparan tangan Maya Dewi yang kecil dan berkulit halus itu datangnya bagaikan sambaran palu godam dan totokan jari tangannya bagaikan tusukan anak panah yang meluncur cepat. Candra Dewi terpaksa memutar pedangnya sehingga pedang itu berubah menjadi gulungan sinar hijau yang bagaikan perisai melindungi dirinya dari depan.

Hebat memang kepandaian Candra Dewi. Tenaga saktinya juga sudah mencapai tingkat tinggi sehingga ketika ia melindungi dirinya dengan putaran pedang yang menjadi sinar hijau bergulung-gulung itu, Maya Dewi merasa sulit untuk merampas pedang seperti yang dikehendakinya. Kalau ia menggunakan pukulan yang merupakan inti Aji Sat Bantala, ia khawatir akan membunuh kakak tirinya itu. Hal ini tidak ia kehendaki. Ia tidak mau mengotori tangannya yang sudah ia cuci dan jaga jangan sampai menjadi kotor seperti dulu kembali, dengan membunuh, apalagi yang dibunuh adalah kakak tirinya sendiri betapa pun.jahatnya Candra Dewi.

Bagus Sajiwo menonton dengan tertarik. Dia tahu akan kesulitan Maya Dewi untuk merampas pedang. Dia sendiri tentu saja tahu bagaimana caranya agar dapat merampas pedang tanpa membunu Candra Dewi. Akan tetapi dia diam saja ingin dia melihat apakah Maya Dewi dapat menggunakan akal agar niatnya merampas pedang itu berhasil. Dalam keadaan seperti itu, agaknya hanya kecerdikan yang akan dapat membuatnya berhasil.

Tiba-tiba Maya Dewi berhasil mengeluarkan pekik melengking dan ia mempercepat gerakannya. Candra Dewi terkejut karena suara lengkingan itu menggetarkan jantungnya! Hal ini membuktikan betapa kuatnya tenaga sakti yang dimiliki adik tirinya itu. Maka untuk melindungi dirinya, ia memusatkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk memutar pedangnya secepat mungkin agar dirinya terlindung. Ia tidak mampu lagi menyerang, hanya mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melindungi dirinya.

Tiba-tiba ia terkejut karena tubuh Maya Dewi lenyap! Ia tadi hanya melihat bayangan berkelebat melewati sebelah kanannya, maka cepat ia memutar tubuh dari kanan. Maya Dewi yang sudah berada dibelakangnya, ketika Candra Dewi memutar tubuhnya itu, mendahuluinya dengan cepat sekali menotok siku tangan kanan itu. Biarpun lengan kanan Candra Dewi hanya terasa lumpuh selama beberapa detik saja, namun secepat kilat Maya Dewi menggerakkan tangan dan pedang pusaka Nogo Wilis telah dapat dirampasnya!

"Kembalikan pedangku!" Candra Dewi berteriak marah.

"Ini bukan pedangmu dan akan kukembalikan kepada pemiliknya." jawab Maya Dewi tenang.

Candra Dewi marah dan penasaran akan tetapi ia juga merasa agak gentar. Tadi sudah terbukti bahwa kini adik tirinya itu memiliki kesaktian yang amat hebat sehingga ia dengan dua macam senjata tidak mampu mengalahkan Maya Dewi yang bertangan kosong, bahkan kini pedangnya terampas. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga saktinya dan mendorongkan tangan kanannya ke arah Maya Dewi sambil membentak nyaring. "Aji Bajradenta...!!"

Maya Dewi yang sudah siap menyambut serangan pukulan jarak jauh yang ampuh ini dengan dorongan tangan kirinya.

"Syuuuuuttt... desss...!!" Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya tubuh Candra Dewi terjengkang dan roboh lalu ia bergulingan menjauh.

Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak dan muncullah seorang laki-laki berusia enam puluh tahun yang tubuhnya sedang dan mukanya pucat seperti mayat. Begitu tiba dia langsung saja menyerang ke arah Maya Dewi dengan pukulan yang mendatangkan badai panas!

Bagus Sajiwo sudah waspada, maka dia mendahului Maya Dewi, berkelebat dekat dan menepiskan pukulan dahsyat itu dengan tangan kirinya.

"Blarrrr...!!" Tubuh laki-laki muka mayat itupun terlempar ke belakang dan dia juga menggulingkan diri seperti yang dilakukan Candra Dewi tadi.

Dua belas orang laki-laki bermunculan dan mereka menyerang Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dengan tembakan senapan dan pistol, Terdengar bunyi meledak-ledak ketika dari moncong senapan dan pistol itu mengeluarkan asap dan belasan buah peluru menyambar ke arah mereka.

Maya Dewi cepat memutar pedang Nogo Wilis yang sudah berada di tangannya sehingga gulungan sinar hijau menyelimuti dirinya, Terdengar bunyi nyaring ketika peluru-peluru yang menyambar kepadanya tertangkis dan terpental oleh gulungan sinar hijau.

Adapun Bagus Sajiwo yang berdiri tenang menyambut peluru-peluru yang menyambar ke arah dirinya dengan kedua telapak tangannya. Peluru-peluru itu juga runtuh ketika mengenai kedua telapak tangannya!

Melihat ini, para penyerang menjadi gentar bukan main dan mereka semua, termasuk Candra Dewi segera berlompatan melarikan diri!

Maya Dewi hendak mengejar, akan tetapi Bagus Sajiwo. menangkap pergelangan lengan kirinya. "Tidak perlu dikejar; Dewi."

"Akan tetapi diantara mereka itu ada penembak-penembak yang dulu menembaki, kita di muara Sungai Lorog sehingga pundakku terluka!"

"Akan tetapi serangan mereka dulu itu malah menguntungkan kita, bukan? Tanpa penyerangan itu, bagaimana mungkin kita dapat menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan kitab Sari Bantala? Terkadang Gusti Allah memakai cara yang aneh untuk memberi kasih karunia dan berkatnya, Dewi."

Maya Dewi menjadi lemas kembali. Ia melihat kebenaran ucapan Bagus Sajiwo yang memang sesuai dengan kenyataan. Lalu ia memandang ke arah kedua tangan Bagus Sajiwo.

"Aku belum berani menyambut serangan peluru dengan tangan seperti yang kau lakukan tadi, Bagus."

"Aku yakin engkau juga mampu melakukannya, Dewi. Dengan tenaga sakti yang kau dapat melalui Jamur Dwipa Suddhi dan latihan Aji Sari Bantala, engkau juga dapat membuat tubuhmu kebal terhadap peluru. Engkau bersusah payah tadi untuk merampas pedang itu. Untuk apakah, Dewi?"

"Untuk apa? Bagaimana sih engkau ini? Pedang pusaka Nogo Wilis ini dahulu adalah milik Nyi Retno Susilo, ibu kandungmu dan aku mendengar bahwa akhirnya pedang ini menjadi milik seorang gadis pendekar yang gagah perkasa bernama Sulastri. Aku harus mengembalikan pedang ini kepada ibumu!"

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Ibuku tentu akan senang sekali. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Gunung Kawi sudah tampak, itu yang menjulang disana."

Mereka lalu meninggalkan tempat itu dan pergi menuju gunung yang sudah tampak itu. Sementara itu, Candra Dewi melarikan diri bersama laki-laki yang tadi membantunya bersama dua belas orang yang membawa senapan dan pistol. Setelah melarikan diri cukup jauh dan tidak melihat lawan yang sakti mandraguna itu mengejar, mereka lalu berhenti. Candra Dewi memandang laki-laki muka mayat itu.

"Paman Arya Bratadewa terima kasih atas bantuanmu." kata Candra Dewi. Ia mengenal Arya Bratadewa karena mereka berdua sama-sama tokoh Banten.

"Ah, sudah sepantasnya kalau kita saling membantu, Ni Candra Dewi. Akan tetapi, bukankah wanita tadi Maya Dewi adik tirimu? Bagaimana ia sekarang menjadi begitu sakti? Dan siapa pula pemuda yang luar biasa itu?"

"Benar, ia adalah adik tiriku Maya Dewi dan pemuda itu bernama Bagus Sajiwo. Mereka memang sakti mandraguna karena merekalah yang agaknya telah menemukan Jamur Dwipa Suddhi dan kitab rahasia yang dicari banyak orang itu. Selama kurang lebih tiga tahun mereka menghilang dan agaknya selama itu mereka telah mempelajari isi kitab rahasia dan menjadi sakti mandraguna seperti sekarang."

"Ah, benarkah? Bukan main kalau begitu, pantas mereka demikian sakti mandraguna! Akan tetapi kalau engkau bermusuhan dengan mereka, Ni Candra Dewi, bergabunglah dengan kami. Dengan menyatukan tenaga, kita akan mampu membasmi mereka!"

"Hemm, Paman Arya, bagaimana engkau dapat berada disini? Engkau jauh-jauh meninggalkan Banten, apa yang kau lakukan disini dan siapa pula mereka yang membawa senjata api ini?"

"Mereka ini adalah para pembantuku dan kami adalah utusan Kumpeni Belanda yang telah menghadiri undangan Adipati Blambangan untuk mengadakan rapat pertemuan. Kami mengadakan persekutuan untuk menentang Mataram. Kalau engkau mau bergabung dengan kami dan menjadi kepercayaan Kumpeni Belanda, tentu engkau akan dapat membunuh musuh-musuhmu dan engkau pun akan menerima hadiah apa saja yang kau inginkan kelak. Kedudukan tinggi harta benda, semua dijanjikan oleh Kumpeni!"

Mereka bercakap-cakap dan Arya Bratadewa menceritakan tentang keadaan dalam rapat pertemuan di Kadipaten Blambangan itu dan hasil rapat pertemuan itu. Dia membujuk Candra Dewi untuk menjadi seorang pembantu Kumpeni dan ia menjanjikan akan membantu Candra Dewi menangkap Bagus Sajiwo hidup-hidup karena wanita itu tetap menganggap Bagus Sajiwo sebagai suaminya Hanya ada dua pilihan baginya yaitu menjadikan pemuda itu suaminya dan kalau Bagus Sajiwo menolak dan tidak dapat dibujuk, pemuda itu harus mati ditangannya!

Akhirnya Candra Dewi terbujuk dan bersedia menjadi pembantu Kumpeni. Ia lalu ikut dengan Arya Bratadewa meninggalkan tempat itu.

********************

"Braaaakkk...!!" Daun pintu depan nimah Ki Tejomanik Jebol, mengeluarkan suara hiruk pikuk. Ki Tejomanik dan isterinya Retno Susilo terkejut mendengar suara ini. Ki tejomanik cepat mengambil Pecut Bajrakirana dan Retno Susilo mengambil pedangnya lalu keduanya berlari keluar.

Setelah tiba di luar, mereka melihat tiga orang berada di pekarangan dan mereka terkejut bukan main mengenal bahwa mereka itu adalah Bhagawan Kala-srenggi yang sudah tua renta bersama dua orang muridnya yang seperti raksasa, yaitu Kaladhama dan Kalajana.

Tiga orang ini pada tiga tahun yang lalu pernah bentrok dengan mereka nyaris celaka kalau saja tidak muncul Parmadi dan Muryani yang membantu mereka sehingga tiga orang itu dapat dikalahkan. Dan sekarang, setelah lewat tiga tahun, mereka bertiga itu muncul di depan rumah. Suami isteri itu menanti-nanti datangnya putera mereka, yang datang malah musuh yang amat tangguh dan berbahaya!

"Hemm, Bhagawan Kalasrenggi, apa perlunya Andika berkunjung secara tidak sopan seperti ini, merusak daun pintu rumah kami?" Ki Tejomanik menegur.

Biarpun maklum bahwa tiga orang itu merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya, namun suami isteri pendekar ini sedikit pun tidak merasa gentar.

"Heh-heh-heh-hi-hik!" Bhagawan Kalasrenggi terkekeh-kekeh seperti tawa seorang wanita, lalu berkata dengan suaranya yang tinggi kecil. "Ki Tejomanik, tiga tahun yang lalu Andika berdua dapat lolos dari tangan kami. Akan tetapi hari ini kalian akan mati di tangan kami untuk menghadap roh Adi Menak Koncar dan kawan-kawan yang telah tewas di tangan kalian!"

Sekali ini Bhagawan Kalasrenggi merasa yakin bahwa dia dan dua orang muridnya pasti akan berhasil membunuh suami isteri yang dibencinya itu karena sebelumnya dua orang muridnya telah melakukan penyelidikan dan yakin bahwa suami isteri yang mereka hendak bunuh itu hanya berdua saja di rumah itu ' dan tidak ada orang-orang lain yang dapat membantu mereka.

"Heh, keparat pendeta palsu dukun lepus!" Retno Susilo memaki marah teringat betapa dulu ia terpengaruh oleh aji pamelet yang dikerahkan kakek tua renta itu.

Sekarang dalam keadaan siap, ia tidak takut karena dengan tenaga saktinya ia dapat memperkuat batinnya dan menolak segala macam aji guna-guna dan sihir hitam yang mempergunakan kekuatan roh Jahat.

Ki Tejomanik. juga menggerakkan pecutnya ke udara dan terdengar suara meledak-ledak dan pada saat ujung pecut melecut udara tampak asap mengepul menyusul bunyi ledakan-ledakan itu. Lalu pendekar gagah perkasa itu berkata dengan suara tegas dan mantap.

"Bhagawan Kalasrenggi, kami tahu betapa sakti mandraguna Andika bertiga, akan tetapi Andika membela dua orang murid Andika yang melakukan kejahatan keji terhadap penduduk dusun dan kami berdua akan selalu menentang perbuatan jahat yang dilakukan oleh siapapun juga. Kami tidak takut menghadapi ancamanmu!"

"Heh-heh-heh, Tejomanik, engkau boleh bicara sombong sesukamu, ini adalah kata-katamu terakhir." Lalu dia menoleh kepada dua orang muridnya yang sejak tadi sudah menyeringai lebar menyeramkan. "Serang mereka!"

Sambil tertawa Kaladhama lalu mencabut golok gergajinya dan dia menerjang kearah Retno Susilo, sedangkan adiknya, Kalajana, menggunakan golok gergajinya menyerang Tejomanik.

Ketika Tejomanik menggerakkan pecutnya menyambut, Bhagawan Kalasrenggi menggerakkan tongkat kayu cendana dan maju membantu Kalajana. Memang sebelumnya telah mereka atur. Kaladhama yang akan menghadapi Retno Susilo yang sudah dia ketahui sampai dimana tingkat kepandaiannya dan dia merasa dapat mengungguli wanita itu, ada pun Tejomanik yang amat berbahaya dan tangguh dengan pecut Sakti Bajrakirana, dikeroyok oleh Kalajana dan Bhagawan Kalasrenggi sendiri!

Pembagian tugas ini memang telah mereka perhitungkan dan ternyata tepat sekali. Retno Susilo memang merasa kewalahan menghadapi golok gergaji yang berat dan kuat ditangan Kaladhama itu, sedangkan Tejomanik juga tahu bahwa dua orang lawannya itu amat tangguh.

Andaikata Tejomanik harus menghadapi Kalajana seorang diri saja dia pasti akan mampu mengalahkannya, juga andaikata harus menghadapi Bhagawan Kalasrenggi seorang dia pun akan mampu menandingi walaupun kakek tua renta itu amat berbahaya dengan ilmu-ilmu sihirnya yang dia perdalam ketika dia berguru di Bali-dwipa.

Kini, Kalajana menggerakkan golok gergajinya dengan dahsyat, diperkuat oleh sambaran tongkat cendana di tangan Bhagawan Kalasrenggi. Biarpun hanya tongkat biasa, namun karena digerakkan dengan dorongan tenaga sakti yang amat kuat ditambah pengaruh sihir yang menggiriskan, tongkat cendana itu seperti "hidup" dan menyambar-nyambar dengan amat cepat seperti kilat dan juga mendatangkan angin kuat yang membawa bau cendana yang amat tajam menyengat hidung dan membuat kepala menjadi pening.

'"Tar-tar-tar-tarrr...!" Pecut Sakti Bajrakirana berubah menjadi gulungan sinar yang meledak-ledak dan bunga api berpercikan, namun ujung pecut itu hanya dapat dipergunakan oleh Tejomanik untuk melindungi dirinya saja, menangkis serbuan golok gergaji dari tongkat. cendana!

Serangan Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana sedemikian gencar din dahsyat sehingga Tejomanik yang gagah perkasa dan sakti mandraguna itu kini hanya dapat mengandalkan pecut saktinya untuk membela diri dan menjaga agar tubuhnya tidak sampai terkena serangan dua orang lawannya.

Keadaan Retno Susilo tidak lebih baik dari suaminya. Desakan Kaladhama yang menyerang sambil terbahak-bahak itu sedemikian kuatnya sehingga Retno Susilo terpaksa memutar pedangnya untuk menangkis golok gergaji itu. Akan tetapi setelah puluhan kali terpaksa menangkis karena untuk mengelak tidak ada kesempatan lagi, ia mulai merasa betapa tangannya tergetar hebat setiap kali bertemu dengan golok gergaji yang berat itu.

"Hua-ha-ha! Manis, engkau masih cantik jelita. Menyerahlah untuk menjadi biniku dan aku akan mengampunimu, ha-ha-ha!" Kaladhama mengejek.

"Jahanam busuk, mampuslah!" Retno Susilo dengan nekat mengelak ke kiri lalu menerjang dengan tusukan pedangnya.

Hebat dan cepat sekali serangan balasan yang dilakukannya dengan tiba-tiba itu. Akan tetapi Kaladhama memang tangguh dan dia sudah menguasai ilmu-ilmu yang cukup tinggi. Dia menggerakkan goloknya menangkis dari samping.

"Tranggg...!" Bunga api berpijar dan pedang Retno Susilo terpental, tangan wanita ini terguncang hebat.

Retno Susilo marah dan tangan kirinya lalu meluncur dengan aji pukulan Gelap Sewu. Aji pukulan ini hebat bukan main, bagaikan kilat menyambar dan mengandung tenaga sakti yang, panas sekali.

Aji pukulan Gelap Sewu ini adalah ilmu yang diturunkan kepada Retno Susilo oleh gurunya, mendiang Nyi Dewi Rukmo Petak. Hebat bukan main aji pukulan ini. Jangankan sampai tangan yang mungil halus itu sampai menyentuh tubuh lawan, baru angin pukulannya saja cukup untuk merobohkan lawan yang tidak memiliki kesaktian tinggi. Apa lagi saking marahnya, Retno Susilo sudah mengisi pukulan Aji Gelap Sewu itu dengan hawa dari Aji Wiso Sarpo yang mengandung hawa beracun sari dari bisa ilar! Akan tetapi sekali ini lawannya adalah seorang tokoh sesat yang juga menguasai ilmu-ilmu sesat termasuk yang mengandung hawa beracun. Dengan beraninya Kaladhama menyambut pukulan telapak tangan yang didorongkan itu dengan dorongan tangan sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

"Wuuutttt... dessss...!!" Dua tenaga sakti bertabrakan dan tubuh Retno Susilo terpental kebelakang.

Kaladhama terbahak dan mengejar, akan tetapi biarpun kepalanya terasa pening dan dadanya sesak, wanita itu masih dapat memutar pedangnya melindungi diri sehingga Kaladhama belum dapat menangkap seperti yang dikehendaki raksasa muka-hitam itu. Sambil tertawa-tawa Kaladhama menyerang dengan golok gergajinya dan Retno Susilo hanya dapat menangkis. Makin lama ia terdesak semakin hebat dan hanya dapat mundur berputaran.

Sementara itu Tejomanik juga terdesak hebat. Melihat betapa satria yang terdesak itu masih juga mampu membuat pertahanan yang amat kuat sehingga serangan dua orang pengeroyok itu tidak mampu menembus tirai sinar pecutnya, Bhagawan Kalasrenggi menjadi penasaran sekali. Dia berkemak-kemik membaca mantera dan tiba-tiba tubuh dua orang pengeroyok itu diselubungi uap hitam sehingga tidak tampak oleh Ki Tejomanik. Dari dalam bungkusan uap hitam ini, Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana menyerang sehingga Tejomanik menjadi semakin repot karena dia tidak dapat melihat dua orang pengeroyoknya sehingga dia tidak tahu dari mana datangnya serangan.

Tejomanik mengeluarkan pekik melengking disertai pengerahan tenaga sakti yang kuat. Pekik melengking ini mendatangkan getaran kuat sekali dan tiba-tiba uap hitam itu membuyar dan lenyap!

Bhagawan Kalasrenggi mengerutkan alisnya. Dia marah dan penasaran sekali melihat betapa ilmu sihirnya dapat dipunahkan oleh lengkingan pekik Tejomanik. Dia lalu berkemak-kemik lagi dan menudingkan tongkat cendananya ke arah Tejomanik. Tiba-tiba bola-bola api meluncur dari ujung tongkat bagaikan peluru-peluru meriam menyerang tubuh Tejomanik yang masih memutar pecut untuk menangkis serangan Kalajana.

Melihat datangnya serangan bola-bola api yang jumlahnya lima buah itu Ki Tejomanik lalu menghantamKan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka mehyambut bola-bola api itu sambil mengerahkan aji pukulan Bromokendali yang amat dahsyat.

Terdengar ledakan lima kali dan bola-bola api itu runtuh! Bukan main marahnya Bhagawan Kalasrenggi. Lawan yang sudah terdesak dan kepepet (tertekan) itu masih mampu memunahkan serangan ilmu-ilmu sihirnya! Dia berkemak-kemik lagi dan keluarlah gerengan seperti suara setan sendiri dari kerongkongannya dan Tejomanik terkejut ketlka melihat betapa kakek tua renta itu kini berubah menjadi Leyak (Iblis di Bali). Tinggi besar dengan mata melotot dan mencorong berapi, mulutnya lebar bertaring, lidahnya panjang seperti ular hidup, jarl-jari tangannya berkuku panjang, mengerikan sekali wujud itu.

Tejomanik kembali mendorong dengan Aji Bromokendali yang berhawa panas, namun sekali ini serangannya membalik ketika mengenai Iblis jadi-jadian itu! Kerlngat dingin membasahi tubuh Tejomanik. Lawan ini terlalu tangguh baginya, pikirnya dan dia membagi perhatiannya kepada keadaan isterinya.

Retno Susilo sudah terdesak hebat. Kaladhama yang merasa penasaran juga melihat betapa wanita itu, dalam keadaan terdesak dan tidak mampu balas menyerang, masih mampu bertahan dan menangkis semua serangannya, tiba-tiba mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas dan golok gergajinya menyambar dahsyat sekali. Agaknya karena penasaran, dia marah dan kini serangannya dilakukan dengan tenaga sepenuhnya karena dia hendak membunuh wanita yang tadinya hendak diringkus hidup-hidup itu. Goloknya menyambar dahsyat ke arah leher Retno Susilo!

Retno Susilo cepat menangkis dengan pedangnya, pedang Nogo Wilis tiruan.

"Trakkkk...!" Pedang di tangan Retno Wilis patah-patah dan ia terhuyung ke belakang! Kaladhama menubruk dan hendak meringkusnya. Retno Susilo menggunakan sisa pedang di tangannya untuk menikam, akan tetapi karena ia dalam keadaan terhuyung, serangannya tidak tepat dan tangan Kaladhama yang berbulu, besar dan kuat itu sudah menangkap pergelangan tangan Retno Susilo, mencengkeramnya sehingga terpaksa wanita itu melepaskan gagang pedang yang sudah patah itu.

Kaladhama memutar lengan Retno Susilo sehingga dengan mudah ia ditelikung dan kedua tangannya lalu diikat dibelakang tubuhnya. Akan tetapi ketika Kaladhama sambil tertawa-tawa hendak menggerayangi tubuhnya, Retno Susilo menendang dengan kakinya ke arah perut raksasa itu! Kaladhama mengelak, menangkap tumit kaki yang menendang dan sekali dorong tubuh Retno Susilo terjengkang dan roboh.

Pada saat itu, terdengar bunyi ledakan dan ujung pecut Bajrakirana menyambar ke arah Kaladhama yang hendak menubruk Retno Susilo yang sudah roboh. Kaladhama terkejut dan cepat menghindarkan diri dengan lompatan kesamping.

Tadi Tejomanik melihat isterinya roboh maka dia cepat melindungi isterinya, melompat kebelakang meninggalkan dua orang pengeroyoknya dan menyerang Kaladhama sehingga Retno Susilo tidak jadi ditubruk oleh raksasa itu. Akan tetapi Bhagawan Kalasrenggi dan Kalajana mengejar. Bhagawan Kalasrenggi tetap masih menjadi wujud Leyak dan lengan yang panjang dengan jari tangan berkuku panjang itu kini meluncur ke arah leher Tejomanik. Pendekar ini menggerakkan pecutnya menangkis.

"Tarrr...!" Pecutnya membalik. Dia lalu mengerahkan tenaganya dan menggunakan Aji Bromokendali untuk menghantam ke arah tangan yang masih mengancamnya itu.

"Blarrrr...!" Pertemuan dua tenaga itu sedemikian hebatnya sehingga wujud Leyak tadi pudar dan kembali menjadi Bhagawan Kalasrenggi yang mundur beberapa langkah.

Akan tetapi tubuh Tejomanik terpental dan roboh. Ternyata dia masih kalah kuat dari lawannya, walaupun tidak banyak. Tentu saja saat itu merupakan saat yang gawat bagi Tejomanik dan Retno Susilo, karena tiga orang lawannya itu kini sudah maju dan siap membunuh Tejomanik yang sudah rebah telentang walaupun tidak terluka parah.

Thanks for reading Bagus Sajiwo Jilid 19 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »