Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 18

"BENAR, kami akan menyuguhkan hidangan terlezat dan pertunjukan tari-tarian, pendeknya, kami akan meng-hibur Andika berdua sebagai tamu-tamu agung kami." kata pula Dhirasanu.

Ratna Manohara dan Ken Darmini saling pandang. Ratna mengerutkan alisnya dan Niken tersenyum geli, lalu keduanya menggeleng kepala pertanda bahwa keduanya tidak setuju dan tidak bersedia menerima undangan dua orang pemuda kembar itu.

"Terima kasih, Dhirasani dan Dhirasanu. Akan tetapi maaf, kami tidak bersedia menerima undangan kalian. Kami akan melanjutkan perjalanan dan selamat berpisah!" kata Ratna Manohara. Setelah berkata demikian, ia menggandeng tangan Niken Darmini dan mengajaknya memutar tubuh dan melanjutkan perjalanan.

"Eh, tunggu dulu!" kata Dhirasam mengejar. "Katakan dulu kenapa kalian berdua menolak undangan kami?" Sekarang Niken yang menjawab. la memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu dan berkata, "Kami menolak karena kami melihat ada udang di balik batu!"

"Eh? Apa maksud Andika?"

"Ada niat buruk di balik undangan itu!"

"Aeh, Nimas! Niat kami hanya ingin sekali bersahabat baik dengan Andika berdua!" kata Dhirasani penasaran.

"Ya itulah udangnya! Kami tidak ingin bersahabat baik dengan kalian. Sudahlah, kami hendak pergi!" kata Niken Darmini dan la lalu membalikkan tubuh diikuti oleh Ratna Manohara dan melangkah pergi.

Akan tetapi tampak dua sosok bayangan berkelebat dan dua orang pemuda kembar itu telah melewati mereka dan kini berdiri menghadang di depan mereka. Dhirasani sudah memakai lagi kain ikat kepalanya. Wajah kedua orang pemuda kembar itu kemerahan. Mereka merasa penasaran dan marah. Mereka adalah putera-putera Adipati Blambangan yang biasa dihormati semua orang, bahkan disanjung dan mereka mengira bahwa semua gadis memuja mereka dan berlumba untuk menarik hati mereka. Dan kini, biarpun mereka telah merendahkan diri terhadap dua orang gadis ini, mereka ditolak mentah-mentah!

Dua orang gadis dari desa dan gunung berani menolak mereka yang mengundang dua orang gadis itu untuk disambut sebagai tamu agung! Ini amat merendahkan dan menyinggung kehormatan mereka. Mereka adalah putera-putera Adipati, tampan kaya raya dan juga sakti mandraguna!

Melihat dua orang pemuda kembar itu menghadang di depan mereka dengan muka merah dan alis berkerut, Ratna Manohara menegur. "Hemm, mau apa kalian menghadang perjalanan kami?"

"Nimas berdua! Tadi dalam pertemuan Andika berdua mengatakan bahwa Andika berdua setia kepada Blambangan dan siap membela Kadipaten Blambangan, akan tetapi apa buktinya sekarang? Kalian menolak undangan yang kami ajukan dengan hormat dan baik-baik. Andika berdua agaknya lupa bahwa kami adalah putera-putera Adipati Blambangan dan kami berhak untuk memaksa siapa pun memenuhi perintah kami, termasuk Andika berdua!" kata Dhirasani dengan suara bernada marah dan penasaran. Bagi dia dan adiknya, ditolak oleh seorang wanita, apalagi hanya gadis-gadis gunung, merupakan penghinaan yang menyakitkan hati.

Mendengar ucapan itu, Niken Darmini maju menghadapi Dhirasani sambil bertolak pinggang, kepalanya tegak dan dadanya dibusungkan, sikapnya penuh tantangan. "Aeh-aeh, jangan asal membuka mulut seenaknya kamu, Dhira..." ia bingung karena kini tidak lagi dapat membedakan dua orang pemuda itu yang sudah memakai kain ikat kepala semua. "... Dhira... masa bodoh yang mana saja! Jangan bicara seenaknya! Kami menyatakan setia kepada Kadipaten Blambangan dan rakyatnya, bukan kepada kalian dua orang pemuda sombong yang suka GR (Gede Rasa)! Kami tidak lupa bahwa kalian berdua adalah anak-anak Adipati yang besar kepala! Dan dengarlah baik-baik, Citraksi-Citraksa, kalau kaliah berhak memaksa, kami pun berhak menolak! Nah, sekali lagi kami menolak undangan kalian! Lalu kalian mau apa?" Sikap Niken Darmini menantang sekali sehingga Ratna Manohara yang wataknya lebih halus itu merasa tidak enak juga.

Wajah kedua orang putera Adipati itu menjadi kemerahan dan pandang mata mereka berkilat. Kakak beradik kembar ini memang bukan orang-orang yang suka mengumbar nafsu, tidak termasuk golongan jahat. Akan tetapi sebagai putera Adipati yang selalu dimanja, selalu dihormati semua orang di Blambangan, mereka menjadi tinggi hati dan merasa lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Mereka tidak jahat atau sewenang-wenang, akan tetapi karena segala keinginan mereka selalu dituruti, hal ini membuat mereka tersinggung dan marah kalau sekali waktu keinginan mereka ditentang.

Sekali ini pun sebetulnya mereka tidak berniat buruk terhadap dua orang gadis itu, bahkan mereka berdua yang jatuh cinta kepada kedua orang gadis itu merasa tidak enak akan peristiwa di ruangan pertemuan. Mereka menyusul untuk mintakan maaf dan ingin menyenangkan hati dua orang gadis itu dengan mengundang dan menjamunya dengan pesta. Akan tetapi ternyata mereka kini malah mendapat penghinaan dan undangan mereka ditolak. Tentu saja mereka menjadi marah sekali.

Dhirasani dan Dhirasanu tahu benar bahwa dua orang gadis yang mereka hadapi itu adalah gadis-gadis yang sakti mandraguna, bukan gadis-gadis biasa yang boleh mereka paksa. Akan tetapi mereka sendiri pun bukan pemuda-pemuda biasa. Mereka adalah murid-murid Bhagawan Ekabrata, pertapa di Gunung Agung, Bali. Mereka memiliki aji kanuragan yang cukup kuat dan dahsyat. Oleh karena itu, kini diperhina dan ditantang oleh dua orang gadis, tentu saja mereka merasa malu, penasaran dan marah sekali.

"Niken Darmini dan Ratna Manohara!" bentak Dhirasani. "Apakah kalian berdua menantang kami?"

Ratna Manohara mendahului sahabat barunya agar keadaan tidak makin meruncing. "Sesungguhnya kami sama sekali tidak menantang kalian, akan tetapi kalau kami tidak dapat menerima dan memenuhi undangan kalian karena kami berdua mempunyai urusan lain, seyogianya kalian tidak memaksa kami. Sudahlah, kami tidak mencari keributan atau permusuhan dan biarkan kami pergi. Mari, Mbakayu Niken!" Ratna Manohara lalu menggandeng tangan Niken Darmini, diajak pergi meninggalkan dua orang pemuda itu. Niken Darmini hendak membantah, akan tetapi Ratna Manohara menariknya dan memaksanya pergi meninggalkan dua orang putera Adipati itu.

Dhirasani hendak mencegah mereka pergi, akan tetapi sebelum berkata atau berbuat sesuatu, Dhirasanu memegang lengannya dan ketika kakak kembarnya itu memandang kepadanya, dia menggeleng kepala melarangnya. Setelah dua orang gadis itu pergi jauh, Dhirasani menegur adik kembarnya.

"Adi Sanu, kenapa kita harus diam saja? Mereka itu menghina kita, kita harus memperlihatkan kepada mereka bahwa kita bukan pemuda-pemuda tempe!" "Kakang Sani, bukankah engkau mencinta Niken Darmini? Aku tahu bahwa engkau mencinta Niken Darmini dan aku pun terus terang saja jatuh hati kepada Ratna Manohara. Karena itu, tidak baik kalau kita ribut dengan mereka. Sebaiknya kita menunggu saat yang baik dan tepat untuk mohon kepada Kanjeng Rama untuk meminang mereka secara resmi kepada orang tua mereka. Bukankah itu lebih baik?"

Mendengar ucapan adik kembarnya, Dhirasani mengangguk-angguk lalu memegang pundak adiknya. "Engkau benar sekali, Adikku. Benar sekali. Untung engkau mengingatkan aku. Kalau sampai kita bermusuhan dengan mereka, tentu saja tidak mungkin kita dapat mempersunting mereka. Mari kita pulang."

Sementara itu, ketika mereka sudah pergi jauh, Niken Darmini mengomel. "Hemm, bagaimana sih engkau ini, Ratna? Mereka begitu sombong hendak memaksa kita, masa kita diam saja? Mereka patut dihajar. Tadi aku sudah hendak turun tangan memberi hajaran kepada mereka, eh, engkau malah mencegahku. Bagaimana sih engkau ini?"

"Maaf, Mbakayu Niken. Aku rasa tidak baik bermusuhan dengan mereka. Ingat, mereka itu putera-putera Adipati Blambangan dan aku mendengar mereka itu murid-murid Sang Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali.

"Aih..., jadi engkau jerih dan takut, ya?" Niken Darmini mencela.

"Bukan takut, Mbakayu Niken, melainkan berpikir panjang dan mempertimbangkan akibatnya. Kalau kita berkelahi dan bermusuhan dengan mereka, berarti kita menyeret gurumu dan bahkan perguruanku ke dalam kesulitan karena mungkin akan dianggap pemberontak oleh Adipati Blambangan dan akan timbul permusuhan dengan Bhagawan Ekabrata. Pula, dan ini yang terpenting, kedua orang itu bersikap sopan kepada kita. Mereka hanya mengundang makan dan minta maaf atas peristiwa tadi di gedung kadipaten. Andaikata mereka itu kurang ajar dan mengganggu kita, aku sendiri tidak akan perduli akibatnya dan akan menghajar mereka. Akan tetapi kalau hanya dengan alasan mereka mengundang kita makan dan kita menolak lalu timbul keributan yang menyeret gurumu dan perguruan kita, bukankah itu merupakan hal yang bodoh sekali?"

Niken Darmini memandang wajah temannya dengan kagum lalu ia mengangguk-angguk. "Waduh, benar juga ucapanmu itu, Ratna! Senang aku mendapatkan seorang sahabat baru yang selain cantik jelita, gagah perkasa, juga amat cerdik seperti engkau ini!" Niken Darmini lalu merangkul dan mencium pipi Ratna Manohara.

"Aih, engkaulah yang lebih cantik jelita, lebih sakti mandraguna, sayangnya..."

"Sayangnya apa, hayo?"

"Sayangnya... galak!"

"Hemm, memangnya aku ayam yang sedang bertelur?" Keduanya tertawa dan Niken Darmini berkata, "Hemm, kalau dikenang, sebetulnya mereka itu ganteng juga, ya?"

Ratna Manohara memandang wajah Niken Darmini dengan alis berkerut. "Ah, kiranya engkau ini sir (naksir) juga, ya?"

Niken Darmini menggoyang kepalanya. "Sama sekali tidak. Biarpun mereka itu cukup ganteng, akan tetapi mereka bukan calon suami seperti yang kuidamkan."

"Eh? Lalu yang kau idamkan itu yang bagaimana?" Ratna mengejar.

Niken mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya seperti membayangkan dalam benaknya. "Tampan atau ganteng maupun kesaktian bukan menjadi tolak ukur, juga kekayaan dan kedudukan, bagi pria yang kuidamkan. Idamanku adalah seorang pria yang kalau bertemu dengan aku dapat membuat jantungku melompat-lompat dan tadi ketika aku bertemu dengan mereka, jantungku diam saja! Dan bagaimana dengan engkau, Ratna?"

Kembali mereka tertawa-tawa. "Ah, aku sama sekali belum mempunyai niat untuk urusan itu, Mbakayu Niken. Membayangkan sedikitpun belum."

"Engkau harus mulai dari sekarang mempunyai idaman agar kelak bertemu dengan orang yang cocok dengan yang kau idamkan. Andaikata kita menjadi isteri dua orang putera Adipati tadi, wah, tidak sudi aku hidup dekat denganmu, Ratna!" Niken Darmini bersikap genit, bibirnya berjebi dan hidungnya yang ujungnya agak menjungkat itu digerakkan seperti mencium bau tidak enak.

"Memangnya kenapa?" tanya Ratna Manohara yang biasanya pendiam, akan tetapi bicara dengan Niken Darmini, bagaimana bisa tetap pendiam?

"Aku khawatir suami kita itu akan saling tertukar-tukar tanpa kita mengetahuinya. Ih, geli dan serem!" Kembali kedua orang gadis itu terkekeh, bahkan Ratna Manohara sampai terpingkal-pingkal.

Setelah tiba di jalan perempatan dimana mereka harus berpisah, Ratna Manohara harus berbelok ke kiri sedangkan Niken Darmini terus ke barat, keduanya berhenti di tepi jalan, duduk di atas batu-batu besar yang terdapat disisi jalan.

"Mbakayu Niken, aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu!" kata Ratna.

"Hemm, aku pun menyesal mengapa baru sekarang kita saling mengenal, Ratna. Aku suka sekali kepadamu dan senang menjadi sahabatmu. Padahal kita baru saja bertemu dan berkenalan."

"Karena itu, sebagai sahabat, kiranya sudah sepatutnya kalau kita mengetahui keadaan kita masing-masing. Maukah engkau menceritakan riwayatmu kepadaku?"

"Wah, Ratna. Kita sudah mengetahui bahwa aku berusia sembilan belas tahun, dan engkau delapan belas sehingga engkau menyebut aku Mbakayu. Sekarang, siapa yang sepantasnya bercerita lebih dulu, yang muda atau yang tua?"

"Aih, engkau ini belum tua, Mbakayu, bicaramu seolah engkau ini sudah ompong peyot!"

"Siapa yang ompyot?"

"Heh? Apa itu ompyot? Mbakayu Niken?"

"Ompyot itu ya ompong peyot itu tadi. Aku belum ompyot akan tetapi aku lebih tua, jadi seharusnya sang adik yang lebih dulu bercerita. Hayo ceritakan riwayatmu dulu."

Kembali Ratna Manohara tertawa geli, lalu menghela napas panjang. "Apa sih yang menarik tentang diriku? Seperti tadi telah kau dengar, aku adalah puteri Ki Sarwaguna yang menjadi ketua Perguruan Driya Pawitra. Aku adalah anak tunggal dan Ayahku adalah seorang duda. Ibu meninggal ketika aku masih kecil sehingga aku sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah ibuku."

"Wah, kasihan engkau, Ratna. Sekarang ceritakan tentang perguruan yang dipimpin ayahmu itu."

"Perguruan Driya Pawitra dahulu didirikan oleh mendiang Kakekku. Setelah Kakek meninggal dunia, perguruan dipimpin oleh Ayahku, dibantu oleh tiga orang Paman Guruku. Sekarang perguruan kami mempunyai murid sejumlah seratus orang. yang sudah lulus pulang ke tempat kediaman masing-masing, sedangkan yang masih belajar sekarang berjumlah lima puluh orang lebih dan mereka tinggal bersama kami di dusun Grajagan, dalam sebuah perkampungan kami. Sekarang aku bertugas mewakili Ayah untuk melatih para murid wanita yang jumlahnya tujuh belas orang. Dan ketika perguruan kami menerima undangan Adipati Blambangan, Ayah mengutus aku untuk datang mewakilinya. Nah, tidak ada apa-apanya yang menarik, bukan? Sekarang giliranmu. Mbakayu Niken."

"Nanti dulu, Ratna. Mendengar engkau menyebut mbakayu kepadaku, aku jadi merasa tua dan juga sedih."

"Eh, mengapa sedih?"

"Aku pernah mempunyai seorang adik perempuan, akan tetapi ia meninggal dunia ketika berusia tiga tahun. Ia yang biasa menyebut aku Mbakayu. Kalau engkau menyebut begitu engkau mengingatkan aku kepada adikku dan membuat aku sedih. Karena itu, aku minta engkau tidak usah menyebut Mbakayu, sebut saja nama aku!"

"Baiklah, Niken. Memang engkau tidak pantas menjadi Mbakayuku, malah lebih pantas mehjadi adikku. Engkau tampak begitu muda!"

Tentu saja senang hati Niken dikatakan tampak muda. Wanita mana yang tidak senang hatinya disebut lebih muda daripada usianya yang sesungguhnya?

"Bagus, Ratna. Engkau memang seorang sahabat yang baik sekali. Sekarang aku bercerita tentang diriku. Kalau engkau seorang anak yatim, tidak beribu lagi, maka aku adalah anak yatim piatu, tidak punya Ayah dan Ibu lagi."

"Aduh, kasihan sekali engkau, Niken!" Ratna Manohara merasa terharu dan ia merangkul sahabat barunya. Akan tetapi Niken Darmini tertawa dan melepaskan rangkulan Ratna.

"Wah, sudahlah, Ratna. Aku tidak mau menjadi gadis cengeng yang suka menangis dan kalau engkau bersikap begini terus, aku bisa menangis! Sejak berusia lima tahun aku dipelihara dan digembleng oleh guruku, yaitu Nini Kuntigarba. Aku masih samar-samar ingat akan wajah Ayah lbuku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, akan tetapi guruku hanya mengatakan bahwa Ayah Ibuku sudah meninggal dunia, tidak menceritakan lebih banyak lagi. Aku tahu bahwa guruku, Nini Kuntigarba, adalah seorang datuk sesat dan orang-orang menjulukinya Biang Iblis. Akan tetapi ia amat sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Karena itu, biarpun aku tidak setuju dengan wataknya yang keras dan amat kejam, aku tidak bisa membencinya. Aku berhutang budi kepadanya dan aku juga merasa sayang kepadanya. Ketika ia diundang oleh Adipati Blambangan, ia menyuruh aku yang datang. Nah, begitulah riwayatku, sama tidak menariknya dengan riwayatmu."

"Bagiku riwayatmu amat menarik, Niken. Akan tetapi, engkau tadi menolak ajakan Adipati Blambangan yang hendak mengadakan kekacauan di daerah Mataram. Mengapa engkau membenarkan pendapat Wiku Menak Jelangger dan tidak mau membantu?"

"Dan engkau sendiri bagaimana, Ratna? Engkau juga menolak untuk membantu mereka."

"Perguruan Driya Pawitra yang dipimpin Ayah selalu mengutamakan pembelaan kebenaran dan keadilan. Tentu saja kami akan melaksanakan tugas sebagai kawula Blambangan dengan membela Blambangan dan rakyatnya, akan tetapi kalau harus menuruti keinginan Adipati Blambangan untuk membuat kekacauan di daerah Mataram, itu sudah berlawanan dengan pendirian kami membela kebenaran dan keadilan. Kami tidak sudi mengacaukan kehidupan rakyat di daerah Mataram. Bagaimana pendapatmu?"

"Aku tahu bahwa biarpun guruku seorang yang tidak perduli akan kebenaran dan keadilan, namun aku yakin bahwa ia tidak sudi dijadikan antek Adipati Blambangan. Guruku tidak kekurangan harta benda dan ia pun tidak ingin mendapatkan kedudukan. Akan tetapi aku sendiri, secara pribadi, berpendapat bahwa seorang warga negara haruslah membela negaranya kalau diserang musuh dari luar. Ratna, biarpun latar belakang kita berbeda, akan tetapi aku girang sekali bahwa dalam menghadapi ajakan Adipati Blambangan kita sepaham. Aku ingin sekali mengunjungimu dan melihat perguruan kalian di Grajagan."

"Ah, aku akan senang sekali, Niken. Kalau begitu, marilah, sekarang saja engkau langsung ikut aku ke Grajagan. Ayahku juga tentu akan senang menerimamu sebagai sahabatku yang baik!"

"Wah, jangan sekarang Ratna. Aku harus melapor dulu kepada guruku. Kalau guruku memberi ijin kepadaku untuk pergi merantau, maka tempat yang pertama kukunjungi tentu tempat tinggalmu."

Kedua orang gadis itu setelah tidak ada lagi soal yang dibicarakan, lalu berpisah. Ratna kembali ke Grajagan dan Niken menuju ke Gunung Betiri.

Setelah Wiku Menak Jelangger, Ratna Manohara, dan Niken Darmini meninggalkan ruangan pertemuan, Adipati Blambangan melanjutkan perundingannya dengan para tamu undangan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

"Kadipaten Pasuruan merupakan benteng pertama Mataram bagi kita," antara lain Adipati Santa Guna Alit berkata. "Kalau Kadipaten Pasuruan dapat kita duduki, maka jalan menuju daerah-daerah Mataram lain terbuka. Maka, kami kira penyerbuan ke Kadipaten Pasuruan merupakan langkah pertama yang amat pending." Semua orang setuju dengan pendapat Sang Adipati dan mereka menyatakan siap membantu. Tejakasmala, sebagai utusan Raja Klungkung, Bali berkata tegas.

"Seperti yang pernah kami lakukan sejak dahulu, pasukan Kerajaan Klungkung selalu siap untuk memperkuat barisan Blambangan. Mataram merupakan ancaman bagi kita bersama, karena itu Kerajaan Klungkung akan selalu siap membantu Kadipaten Blambangan untuk menantang Mataram. Kami bertiga, saya, senopati Cakrasakti dan senopati Candrabaya, siap membantu semua rencana Paman Adipati Blambangan."

"Terima kasih, Anakmas Tejakasmala, kami tidak meragukan lagi bantuan Kerajaan Klungkung yang sejak dulu selalu bekerja sama dengan kami." Adipati Blambangan. lalu memandang kepada Arya Bratadewa yang menjadi utusan Kumpeni Belanda. "Bagaimana dengan Kumpeni Belando, Arya Bratadewa? Apa kesanggupan yang Andika bawa dari Kapten Van Klompen selain dua peti senapan dan pelurunya tadi?"

"Hak-hak-hak-ha-ha!" Arya Bratadewa tertawa ngakak (terbahak) sehingga mukanya yang pucat seperti mayat itu tampak menyeramkan. "Pihak Kumpeni Belanda akan mendukung dan membantu, Sang Adipati. Akan tetapi karena hubungan antara Mataram dan Kumpeni sekarang sedang damai, maka tentu saja Kumpeni tidak dapat membantu dengan pasukan. Namun, Kumpeni berjanji untuk membantu secara diam-diam, mengirim kami dan banyak telik sandi (mata-mata) yang lain untuk membantu selain mengirim senjata api untuk memperkuat pasukan Blambangan dan sekutunya."

Sang Adipati Santa Guna Alit merasa girang dan mereka lalu merundingkan rencana selanjutnya dari gerakan mereka. Pada saat itu, Dhirasani dan Dhirasanu memasuki ruangan dengan wajah agak muram. "Dari mana saja kalian?" Sang Adipati menegur.

"Kanjeng Rama, kami berusaha membujuk dua orang gadis itu untuk kembali, akan tetapi kami tidak berhasil. Akan tetapi kita bicarakan urusan ini nanti saja secara kekeluargaan, Kanjeng Rama."

Sang Adipati mengangguk dan Bhagawan Kalasrenggi terkekeh. "Heh-heh-heh, Sang Adipati. Mereka yang tidak mau mendukung gerakan kita dengan sepenuhnya, patut dicurigai dan diawasi. Terutama sekali Wiku Menak Jelangger itu. Dia sungguh berbeda dengan mendiang Adi Wiku Menak Koncar yang sepenuhnya berjuang untuk kepentingan Kadipaten Blambangan dan mati-matian menentang Mataram sampai berkorban nyawa!"

Mendiang Wiku Menak Koncar adalah adik seperguruan Bhagawan Kalasrenggi dan juga merupakan kakak seperguruan Wiku Menak Jelangger, akan tetapi tidak ada hubungan apa-apa antara Wiku Menak Jelangger dan Bhagawan Kalasrenggi. Ketika Wiku Menak Koncar telah berpisah dari Wiku Menak Jelangger, dia berguru lagi kepada guru Bhagawan Kalasrenggi dan dia mulai tersesat oleh lingkungan perguruan yang baru ini, dimana Bhagawan Kalasrenggi menjadi murid utama.

"Hemm, kami akan mengutus telik sandi untuk mengawasi mereka bertiga. Kalau sekiranya mereka hendak berkhianat, kami akan turun tangan membasmi mereka. kata Sang Adipati.

"Selain itu, menurut pendapat saya, sebelum kita menggempur benteng pertama Mataram, yaitu Pasuruan, kita harus dapat membasmi lebih dulu para pendekar yang mendukung Mataram karena kalau mereka tidak dibinasakan, tentu akan menjadi penghalang besar yang menyulitkan pasukan kita." kata pula Bhagawan Kalasrenggi yang menjadi penasihat Adipati Blambangan.

Semua orang setuju dan Sang Adipati minta kepada semua yang hadir untuk memberitahu siapa kiranya pendekar yang berpihak kepada Mataram dan akan merupakan hambatan bagi Blambangan. "Kami setuju, mereka harus dibinasakan lebih dulu." katanya.

Banyak nama pendekar, perguruan, bahkan pertapa disebut sebagai pembela dan pendukung Mataram yang setia. Tejakasmala, pemuda tampan gagah murid Bhagawan Ekabrata pertapa Gunung Agung di Bali itu berkata sambil tersenyum.

"Mudah saja untuk membasmi mereka. Biarlah aku dan dua orang pembantuku yang akan menumpas mereka!" katanya dengan tenang dan gagah.

"Para tokoh yang tadi disebutkan masih belum merupakan hambatan yang berarti, Kanjeng Adipati!" kata Bhagawan Kalasrenggi. "Yang benar-benar merupakan bahaya bagi gerakan kita adalah dua pasang suami isteri yang selain pernah menjadi pejuang membantu pasukan Mataram yang menyerang kadipaten-kadipaten di daerah-daerah lalu membantu Mataram dalam penyerbuan ke Batavia, juga terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sakti mandraguna."

Mendengar kakek tua renta itu memuji-muji tokoh yang akan menjadi lawan, Tejakasmala yang berwatak angkuh mengerutkan alisnya. "Hemm, katakanlah, Eyang Bhagawan. Siapa mereka itu? Aku sanggup untuk membinasakan mereka!"

Bhagawan Kalasrenggi memang tidak mengenal pemuda ini sebelumnya, akan tetapi mendengar bahwa Tejakasmala murid terbaik Sang Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Bali, dia dapat menduga bahwa pemuda ini memang sakti mandraguna. Maka, mendengar pertanyaan itu dia lalu berkata.

"Dua pasang orang sakti itu adalah pasangan suami isteri Ki Tejomanik yang terkenal dengan Pecut Sakti Bajrakirana miliknya dan isterinya Retno Susilo. Mereka tinggal di dusun Bayeman, di lereng Gunung Kawi. Dan pasangan yang lain, yang mungkin malah lebih sakti lagi dari pada pasangan pertama tadi adalah Parmadi yang terkenal dengan Seruling Gading senjata pamungkasnya dan isterinya Muryani. Suami isteri ini tinggal di Pasuruan. Nah, dua pasang suami isteri inilah yang merupakan lawan amat berat dan kalau keduanya tidak dibasmi lebih dulu, pasti rencana kita menyerbu Pasuruan akan menghadapi kesukaran karena mereka dan para pendekar lain tentu akan membela pasuruan."

"Apa sih hebatnya dua pasang suami isteri itu? Aku yang akan membasmi mereka!" kata Tejakasmala dengan sombong.

Pemuda ini bukan sekedar membual karena dia memang memiliki kesaktian yang hebat, yang mungkin lebih kuat dibandingkan kesaktian Bhagawan Kalasrenggi yang sudah tua itu.

"Sebaiknya kalau kita semua membagi tugas," kata Bhagawan Kalasrenggi. "Yang terpenting menghadapi dua pasang suami isteri yang sakti mandraguna itu. Kalau Kanjeng Adipati menyetujui dan kalau para utusan Kerajaan Klungkung sanggup, sebaiknya diatur begini. Tiga utusan Kerajaan Klungkung yaitu Teja-kasmala dan kedua orang senopati Klungkung bertugas untuk membunuh suami isteri Permadi dan Muryani yang tinggal di Pasuruan yang lebih dekat. Sedangkan aku sendiri bersama dua orang muridku akan pergi ke Gunug Kawi dan membunuh Ki Tejomanik dan isterinya!"

Adipati Blambangan mengangguk-angguk. "Itu baik sekali, Paman Bhagawan. Dan biarlah para pendekar yang lain yang dapat merupakan penghalang, dibasmi oleh saudara yang lain."

Semua orang setuju dan mereka menerima tugas masing-masing untuk melaksanakan rencana pertama, yaitu membunuhi para pendekar yang dianggap setia kepada Mataram dan akan menjadi penghalang penyerbuan pasukan Blambangan ke Pasuruan. Persidangan ditutup dengan pesta makan yang mewah sehingga semua tamu undangan merasa gembira. Pesta dihibur oleh tarian dan nyanyian belasan orang ledek dari daerah Banyuwangi yang rata-rata cantik menarik dengan tubuh denok melakukan tarian yang menggairahkan sehingga para tamu makan minum sampai mabok.

********************

Lindu Aji dan Sulastri sebagai pengantin baru melaksanakan perjalanan berkuda diiringkan Ki Parto. Mereka menuju pulang ke Gampingan di Pegunungan Kidul. Karena perjalanan itu melewati Loano, maka mereka singgah di rumah Ki Sumali, paman dari Sulastri.

Ki Sumali yang berusia sekitar lima puluh enam tahun dan isterinya, Winarsih yang berusia dua puluh tiga tahun, menyambut kedatangan Lindu Aji dan Sulastri dengan gembira sekali. Apalagi ketika mendengar bahwa mereka sudah menikah! Winarsih merangkul Sulastri dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Aduh, Lastri! Bukan main bahagia rasa hatiku mendengar engkau telah menjadi isteri Lindu Aji. Aiii, terlalu sekali engkau, kenapa menikah diam-diam saja dan tidak mengundang kami?"

"Maafkan kami, Bibi dan juga Paman Subali. Kami merayakan hanya sederhana saja, mengundang teman dan para tetangga dekat."

Ki Sumali dan isterinya menjamu tiga orang tamu itu yang menginap satu malam di rumah mereka. Malamnya mereka mengajak Lindu Aji dan Sulastri bercakap-cakap, sedangkan Ki Parto beristirahat di kamar yang diperuntukkannya.

Mendengar sepasang pengantin itu hendak pulang ke rumah ibu Aji, Ki Sumali berkata. "Jadi kalian hendak pergi ke Gampingan di Gunung Kidul. Kemudian, apa rencanamu selanjutnya, Anakmas? Apakah kalian akan tetap tinggal disana?"

"Entah kelak, Paman. Akan tetapi sementara ini, setelah kami melangsungkan upacara ngunduh panganten (menyambut mempelai), kami berdua akan pergi ke Jawa Timur, ke Gunung Kawi."

"Ke Gunung Kawi?"

"Juga ke Gunung Liman, Paman." kata Sulastri. "Ketahuilah, Paman. Selama dua tahun aku tinggal di Gunung Liman dan menjadi ketua perguruan Melati Puspa disana dan aku telah meninggalkan mereka untuk sementara. Aku harus kembali kesana dan memilih seorang ketua baru sebelum aku meninggalkan perguruan itu."

"Heh hebat! Engkau semuda ini telah menjadi ketua sebuah perguruan?" kata Ki Sumali. Terpaksa Sulastri menceritakan pengalamannya bagaimana ia sampai menjadi ketua perkumpulan Melati Puspa untuk menghibur kedukaannya karena berpisah dari Lindu Aji.

"Wah ceritamu menarik sekali, Lastri," kata Ki Sumali. "Kalian juga hendak pergi ke Gunung Kawi, ada keperluan apakah?"

"Kami hendak menemui Paman Tejomanik yang dikenal dengan nama julukan Pecut Sakti Bajrakirana, Paman." kata Lindu Aji.

"Ah, pendekar yang terkenal sakti mandraguna itu? Sudah lama aku mendengar namanya yang besar sebagai seorang satria yang besar jasanya terhadap Mataram!" seru Ki Sumali kagum.

"Benar, Paman. Akan tetapi nasibnya buruk dan kepergian kami kesana pun akan menyampaikan berita yang amat tidak enak.

"Hemm, apakah yang telah terjadi?"

Lindu Aji menoleh kepada isterinya dan Sulastri yang bercerita. "Begini, Paman. Aku pernah bertemu dengan Ki Tejomanik dan isterinya yang bernama Retno Susilo, bahkan kami sama-sama membantu pasukan Mataram ketika menyerang Batavia. Mereka menceritakan bahwa putera tunggal mereka yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang ketika baru berusia enam tahun. Paman Tejomanik dan isterinya mencarinya dan aku berjanji akan ikut mencarinya dalam perjalananku. Nah, ketika aku menjadi ketua perguruan Melati Puspa di Gunung Liman, pada suatu hari aku menemukan sebuah guha di dekat puncak Gunung Wilis tak jauh dari Gunung Liman dan guha itu tertutup reruntuhan dari atas, agaknya longsor. Ketika aku keluar lagi, di mulut guha aku melihat tulisan yang berbunyi KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO. Karena itu, maka kini Kakangmas Aji hendak mengajak aku ke Gunung Kawi untuk menyampaikan berita duka itu kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Ki Sumali mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. "Nanti dulu! Siapa nama anak yang hilang itu?"

"Namanya Bagus Sajiwo, Paman!" kata Sulastri.

"Dan kuburan itu kuburan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi?"

"Begitulah bunyi tulisan itu, Paman. Tentu kuburannya berada dalam terowongan guha yang tertimbun batu-batu itu."

"Coba ingat, kapan engkau menemukan gua yang menjadi kuburan mereka itu, Lastri?"

Sulastri mengingat-ingat. "Hemm, beberapa bulan yang lalu, sebelum aku pergi ke muara Sungai Lorog..."

"Wah, engkau juga pergi kesana, Lastri? Kenapa tidak bertemu dengan aku, Lastri? Aku pun pergi kesana dan hadir dalam pondok Pangeran Jaka Bintara yang mengundang semua tokoh yang hadir. Akan tetapi tidak apa, coba ceritakan dari semula, Lastri. Engkau menemukan tulisan di depan guha itu, kemudian engkau melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog?"

"Benar, Paman. Aku meninggalkan perguruan Melati Puspa lalu melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog untuk menonton pencarian Jamur Dwipa Suddhi. Setelah tiba disana, aku melihat muara itu kosong, tidak ada seorang pun. Selagi aku melihat dari atas bukit kapur, tiba-tiba aku diserang seorang wanita gila. Ia menyerangku tanpa sebab dan kami bertanding. Ia sakti bukan main dan setelah bertanding beberapa lamanya, ia bahkan berhasil merampas Pedang Naga Wilis. Aku tentu sudah tewas di tangannya kalau tidak muncul Kakangmas Aji yang menyelamatkan aku. Wanita yang bernama Candra Dewi itu melarikan diri membawa pedangku. Kami berdua lalu turun ke muara dan disana kami hanya melihat banyak orang yang telah menjadi mayat. Kami berdua menguburkan semua mayat itu lalu meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Kami lalu pulang ke Dermayu dan kemudian Kakangmas Aji pulang ke Gampingan lalu mengajukan pinangan dan kami menikah di Dermayu. Demikianlah nwayat singkatnya, Paman."

Ki Sumali menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk. "Aneh, aneh sekali. Kalian tahu, aku bertemu dengan Maya Dewi dan Bagus Sajiwo itu di dalam pondok Pangeran Jaka Bintara dan mereka berdualah yang menyelamatkan aku ketika aku dikeroyok dan dituduh sebagai mata-mata Mataram!"

Lindu Aji dan Sulastri saling pandang dengan mata terbelalak heran. "Benarkah itu, Paman? Wah, kalau begitu Bagus Sajiwo belum mati! Ah, alangkah bahagianya Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo!" Sulastri berkata dengan suara seolah bersorak.

Akan tetapi Ki Sumali menunduk dengan wajah muram. "Baiklah kuceritakan pengalamanku. Memang semua peristiwa itu amat aneh, sampai sekarang pun aku masih belum mengerti mengapa semua itu terjadi. Begini ceritanya. Seperti juga engkau, Lastri, aku tertarik oleh cerita tentang Jamur Dwipa Suddhi. Aku pergi kesana dan ikut hadir di pondok yang didirikan Pangeran Jaka Bintara dari Banten karena semua tokoh diundang. Disana terjadi keributan karena aku dituduh sebagai mata-mata Mataram yang melakukan penyelidikan. Aku dikeroyok dan berada dalam keadaan gawat dan terancam. Lalu tiba-tiba muncul Maya Dewi dan ia... ia membelaku!"

"Iblis betina itu membantumu, Paman?" tanya Sulastri, hampir tidak percaya kepada pamannya. "Bagaimana mungkin itu?"

"Ya, bagaimana bisa terjadi Maya Dewi membelamu, Paman?" kata pula Lindu Aji. Dia dan Sulastri tahu benar siapa Maya Dewi, wanita yang amat jahat dan kejam bagaikan iblis betina dan dulu wanita itu menjadi mata-mata Kumpeni Belanda yang berbahaya sekali.

"Ya, ya, aku sendiri pasti tidak percaya kalau mendengar itu. Akan tetapi aku mengalaminya sendiri! Maya Dewi membelaku mati-matian dan disampingnya ada seorang pemuda, masih amat muda, sekitar enam belas tahun dan namanya... namanya Bagus Sajiwo! Pemuda itu sakti mandraguna, dan mendengar percakapan antara mereka, pemuda luar biasa dan agaknya dialah yang telah mengubah jalan hidup Maya Dewi. Wanita itu kini sama sekali tidak liar dan jelas-jelas ia menentang mereka yang mengeroyok aku. Belasan orang yang tangguh kalah semua oleh Maya Dewi dan Bagus Sajiwo. Akan tetapi mereka itu tidak terbunuh, bahkan tidak terluka berat, hanya roboh pingsan atau tertotok jalan darahnya. Semua itu sungguh luar biasa sekali!"

"Bukan main!" Sulastri berseru. "Kalau pemuda itu bernama Bagus Sajiwo, tentu dialah putera Paman Tejomanik. Dia masih hidup!"

Lindu Aji melihat betapa wajah Ki Sumali tetap muram seperti orang yang kecewa atau bersedih. "Cerita Paman menarik sekali. Lalu bagaimana selanjutnya, Paman?" tanyanya.

"Setelah semua orang melarikan diri, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo juga keluar dari pondok itu. Aku diam-diam membayangi mereka karena aku merasa kagum dan juga heran. Mereka berdua menuju ke dekat muara Sungai Lorog. Aku mengintai dari jarak jauh. Tiba-tiba aku mendengar letusan-letusan senjata api. Beberapa orang telah menembaki Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dari balik batu karang. Aku melihat Maya Dewi dan Bagus Sajiwo terjatuh ke dalam muara! Tujuh orang penembak muncul dari balik batu karang dan menjaga di tepi muara, akan tetapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo tidak pernah muncul lagi. Mereka agaknya tenggelam dan terseret arus air muara ke laut. Tak dapat disangsikan lagi, mereka agaknya tewas terkena tembakan itu..."

Sulastri bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. "Keparat! Jahanam! Tujuh orang itu tentu antek-antek Kumpeni karena mereka memiliki senjata api!"

Lindu Aji menghela napas panjang. "Lastri, sebelum ditemukan jenazah mereka, aku masih belum yakin bahwa mereka berdua itu tewas. Paman Sumali, apakah jenazah mereka ditemukan?"

"Aku tidak tahu. Aku lalu meninggalkan tempat itu yang berbahaya bagiku."

"Aduh, sungguh celaka!" kata Sulastri. "Hatiku tadi sudah merasa gembira bukan main mendengar Bagus Sajiwo masih hidup setelah dulu melihat kuburan atas namanya itu dan ternyata sekarang... dia tertembak senjata api dan mati...!"

"Bukan mati, Lastri, hanya hilang. Hilang. belum tentu berarti mati." kata Ki Sumali. "Benar seperti apa yang dikatakan Anakmas Lindu Aji tadi."

"Benar begitu, Diajeng, jangan putus asa dulu. Ingat, dulu engkau pun jatuh dari jurang dan menurut perhitungan manusia, pasti engkau tewas. Akan tetapi ketika aku mencari jenazahmu tidak kutemukan, aku tidak putus asa dan aku yakin bahwa engkau masih hidup. Ternyata keyakinanku itu kemudian terbukti benar."

"Mudah-mudahan begitu, Kakangmas Aji. Akan tetapi sebaiknya kita cepat memberitahukan berita ini kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Demikianlah, Lindu Aji dan Sulastri, diikuti Ki Parto, meninggalkan Loano dan mereka pulang ke dusun Gampingan. Di dusun itu dirayakan upacara "ngunduh panganten" secara sederhana, dihadiri para penduduk dusun itu. Setelah tinggal selama satu minggu, sepasang pengantin baru itu lalu berangkat menuju Gunung Kawi, tempat tinggal Ki Tejomanik dan Retno Susilo di dusun Bayeman.

Ki Tejomanik dan isterinya, Retno Susilo tiba di rumah mereka yang terletak di sudut paling pinggir dusun Bayeman. Rumah itu sedang saja akan tetapi mempunyai pekarangan dan kebun yang luas sehingga agak jauh terpisah dari para tetangga.

Ketika tiba dekat rumah, jantung mereka berdebar mengharapkan putera mereka yang hilang itu telah berada di rumah. Akan tetapi yang menyambut mereka hanya Ki Dirjo, pria berusia lima puluh tahun yang mereka tugaskan untuk menjaga rumah selama mereka pergi. Dari Ki Dirjo mereka mendengar bahwa selama mereka pergi, tidak ada seorang pun yang datang berkunjung. Tentu saja Bagus Sajiwo juga tidak pernah datang berkunjung!

Retno Susilo menjadi lemas dan murung. "Sudahlah, Diajeng. Kita harus bersabar dan aku yakin, kalau sudah tiba saatnya anak kita tentu akan pulang. Dia telah menjadi murid Eyang Ki Ageng Mahendra, tentu telah memiliki aji-aji yang linuwih (tingkat tinggi) sehingga dia menjadi sakti mandraguna dan dapat melindungi dirinya sendiri." Tejamanik menghibur isterinya setelah mereka memasuki rumah.

Sejak hari itu, suami isteri ini hanya dapat menunggu dan menunggu, karena mereka tidak tahu kemana harus mencari anak mereka dan kalau mereka pergi lagi mencarinya dengan ngawur, mereka khawatir kalau anak mereka itu sewaktu-waktu pulang! Maka, tidak ada lain jalan bagi mereka kecuali menanti dan menanti dengan penuh kesabaran sambil berserah diri kepada kekuasaan Gusti Allah.

Mereka sudah cukup berusaha selama berta-hun-tahun ini dan mereka sudah cukup merasa bahagia mendengar tentang putera mereka itu. Kini mereka hanya tinggal menanti saat putera mereka pulang. Kurang lebih dua bulan kemudian, ketika Ki Tejomanik dan Retno Susilo sedang bekerja di ladang, kesibukan yang membuat mereka sejenak melupakan penantian mereka itu, tiba-tiba Ki Dirjo datang berlari-lari dari rumah ke tempat suami isteri itu bekerja, agak jauh dari rumah mereka.

"Denmas... Denmas...!" Pembantu itu berteriak sambil berlari menghampiri.

Suami isteri itu merasa heran dan berlari ke tepi ladang. "Ki Dirjo, ada apakah?" tanya Ki Tejomanik dengan alis berkerut, tidak senang melihat pembantunya demikian gugup.

"Denmas... ada tamu... seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu tampan gagah...ah, mungkin dia..."

"Kau tanya siapa namanya?" Retno Susilo bertanya.

"Tidak, Masayu, akan tetapi... dia lembut, tampan dan gagah sepantasnya kalau dia putera Andika..."

"Bagus Sajiwo...!" suami isteri itu melompat dan mengerahkan tenaga sakti sehingga mereka berlari seperti terbang cepatnya menuju ke rumah.

Ketika mereka tiba di pendopo, seorang pria muda dan seorang wanita muda bangkit dari bangku yang mereka duduki dan Ki Tejomanik dan Retno Susilo memandang dengan wajah tampak kecewa sekali.

Mereka tak dapat menyembunyikan kekecewaan hati mereka, bahkan Retno Susilo segera terisak dan menutupi muka dengan kedua tangan. Orang muda itu bukan anak mereka karena ia mengenal dia yang bukan lain adalah Lindu Aji bersama Sulastri, keduanya sudah dikenal dengan baik.

"Paman Tejomanik...!" Lindu Aji memberi salam dengan sembah di depan dada.

"Bibi Retno Susilo, Bibi kenapakah?" Sulastri sudah menghampiri Retno Susilo dan memegang lengannya.

Ki Tejomanik menghela napas panjang. "Maafkan kami, Anakmas Lindu Aji dan Sulastri... terus terang saja, kami kecewa karena mengira bahwa putera kami yang pulang..."

"Ah, kami mengerti, Paman dan Bibi, kami mengerti. Sesungguhnya kami berkunjung ini pun ada hubungannya dengan putera Paman berdua."

"Tentang puteraku? Bagaimana... dimana...?" Retno Susilo menghentikan tangisnya dan merangkul Sulastri.

"Nanti dulu, Diajeng. Mari kita mengajak mereka duduk dan bicara di dalam." kata Tejomanik dan mereka berempat lalu memasuki rumah dan duduk di ruangan dalam.

"Apakah Paman berdua sudah mendengar tentang putera Andika, Bagus Sajiwo?" tanya Lindu Aji hati-hati.

"Kami sudah mendapat keterangan yang melegakan hati, Anakmas Lindu Aji. Putera kami itu ternyata ketika diculik oleh Wiku Menak Koncar, telah tertolong oleh Eyang Ki Ageng Mahendra dan menjadi murid eyang guru. Kami mendapat kabar bahwa setelah Eyang Ki Ageng Mahendra wafat sekitar empat tahun yang lalu, putera kami itu lalu turun gunung. Bagaimanapun juga, hati kami lega mendengar bahwa Bagus Sajiwo selamat bahkan menjadi murid mendiang eyang guru." kata Tejomanik.

"Akan tetapi kami tunggu-tunggu sampai sekarang dia belum juga pulang. Tadi... tadi kukira dia yang pulang...! Sudah empat tahun turun gunung, kenapa anakku itu belum juga pulang kesini?" Retno Susilo berkata sedih.

"Aduh, Adik Bagus Sajiwo itu sungguh aneh sekali. Baru beritanya saja membuat semua panas dingin, sebentar gembira sebentar khawatir!" kata Sulastri.

"Anakmas Lindu Aji, apa yang Andika ketahui tentang anak kami? Ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya."

"Saya kira Diajeng Sulastri yang lebih mengetahui akan hal itu, Paman, karena ia mengalami sendiri, akan tetapi sebelumnya perlu kami beritahukan bahwa kami telah menjadi suami isteri."

Tejomanik dan Retno Susilo gembira mendengar ini. "Ah, kami mengucapkan selamat!" kata Retno Susilo. "Akan tetapi, Sulastri, cepat ceritakan kepadaku tentang Bagus Sajiwo. Apakah engkau berjumpa dengan dia?"

Sulastri menghela napas panjang. Rasanya berat untuk menyampaikan berita yang akhirnya akan membuat suami isteri itu gelisah dan berduka. "Seperti saya katakan tadi, Adik Bagus Sajiwo itu beritanya membuat kita semua panas dingin, karena itu saya harap kalau saya bercerita tentang dia, janganlah Paman dan Bibi bersenang atau berduka karena ada lanjutannya dan sampai sekarang pun cerita tentang Adik Bagus Sajiwo masih merupakan teka-teki yang penuh rahasia."

"Aih, ucapanmu membuat hatiku berdebar tegang saja, Sulastri. Cepat ceritakanlah!" kata Retno Susilo.

"Beberapa bulan yang lalu, di dekat puncak Pegunungan Wilis, yaitu di puncak Bukit Keluwung, saya menemukan sebuah terowongan guha yang ketika saya masuki ternyata terowongan itu tertimbun batu-batu yang agaknya longsor dari atas. Ketika saya keluar lagi, saya melihat di depan guha itu ada tulisan di atas batu yang berbunyi:

"KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO..."

"Ah...!" Retno Susilo berseru dan wajahnya menjadi pucat.

"Tenang, Bibi, sudah kukatakan tadi bahwa Bibi jangan merasa susah atau senang lebih dulu karena ceritanya masih bersambung! Memang cerita tentang Adik Bagus Sajiwo ini menyenangkan dan menyusahkan silih berganti, membuat kita panas dingin."

"Tenanglah Diajeng. Sulastri, lanjutkan ceritamu, kami siap mendengar yang terburuk sekalipun!" kata Ki Tejomanik yang kini merangkul pundak isterinya yang duduk di sampingnya.

"Saya bertemu dengan Kakangmas Aji dan kami lalu melangsungkan pernikahan kami, direstui kedua orang tua kami. Kemudian kami melakukan perjalanan kesini, sengaja untuk mengabarkan tentang penemuanku di puncak bukit Keluwung Pegunungan Wilis itu. Kami melewati Loano dan mampir ke rumah Pamanku, Ki Sumali dan dari Ki Sumali kami mendapatkan kabar tentang Adi Bagus Sajiwo."

"Bagaimana kabarnya, Sulastri?" tanya Retno Susilo, akan tetapi kini wanita itu bertanya dengan suara yang tenang. Rangkulan tangan suaminya agak membuat ia lebih tabah dan tenang.

"Paman Sumali menceritakan bahwa belum lama ini, jadi lama sesudah saya menemukan gua itu, dia bertemu dengan Bagus Sajiwo di muara Sungai Lorog di pantai Laut Kidul. Ini berarti bahwa tulisan di depan gua itu bohong, dan bahwa Adi Bagus Sajiwo masih hidup!"

"Terima kasih kepada Gusti Allah!" Ki Tejomanik dan Retno Susilo berseru.

"Yang amat aneh, Paman dan Bibi, ketika itu Paman Sumali dikeroyok orang-orang sesat yang menuduhnya sebagai mata-mata Mataram yang hendak merebut pusaka yang sedang dicari-cari..."

"Maksudmu memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya muncul di muara Sungai Lorog itu? Kami juga mendengarnya, akan tetapi karena kami menanti-nanti pulangnya anak kami, maka kami tidak ikut pergi kesana. Ah, kalau saja kami pergi, tentu akan dapat bertemu anak kami!" kata Retno Susilo.

"Benar, Bibi. Ketika Paman Sumali dikeroyok dan berada dalam keadaan terancam bahaya, muncullah Maya Dewi yang membelanya!"

"Ah, Maya Dewi mata-mata dan antek Kumpeni Belanda itu? Tidak mungkin...!" kata Retno Susilo.

"Bagaimana iblis betina itu membela pendekar yang dituduh menjadi mata-mata Mataram?" kata pula Ki Tejomanik heran.

"Itulah yang juga amat mengherankan Paman Sumali dan kami berdua. Menurut Paman Sumali, Maya Dewi sudah berubah dan ia menentang para tokoh sesat dan semua itu menurut Ki Sumali agaknya disebabkan oleh Adik Bagus Sajiwo yang muncul bersamanya di tempat itu. Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dikeroyok belasan orang tokoh sesat yang sakti-sakti, diantara mereka terdapat Pangeran Jaka Bintara dari Banten dan Kyai Gagak Mudra, lima orang Panca Warak, Kyai Jagalabilawa, dan Ki Kebondanu. Akan tetapi mereka semua kalah dan tidak seorang pun dari mereka yang dibunuh. Mereka melarikan diri dan Paman Sumali selamat."

"Bukan main! Alhamdulillah (Puji Tuhan), anak kita telah menjadi seorang yang sakti mandraguna dan baik budi!" kata Ki Tejomanik kepada isterinya.

Retno Susilo mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, kenapa dia bergaul dengan iblis betina Maya Dewi? Di Puncak Bukit Keluwung tertulis kuburan dia dan Maya Dewi, kemudian di Loano dia juga bersama Maya Dewi. Apa artinya ini?"

"Inilah yang aneh sekali dan membuat Paman Sumali terheran-heran dan tidak mengerti, terutama melihat Maya Dewi telah berubah menjadi seorang yang bersikap dan bertindak seperti seorang pendekar." kata Lindu Aji, membantu isterinya yang sejak tadi dia biarkan bercerita terus.

"Betapapun juga, kabar ini menggembirakan sekali karena terbukti bahwa Bagus Sajiwo masih hidup dan dalam keadaan selamat." kata Tejomanik, "Lalu bagaimana ceritanya Ki Sumali itu, Sulastri?"

"Inilah, Paman, yang membuat kami tidak enak hati untuk menceritakan." kata Sulastri. "Cerita tentang Adik Bagus Sajiwo memang aneh, sebentar menyenangkan, sebentar menyusahkan."

"Ceritakan saja, kami siap mendengarkan!" kata Tejomanik sambil masih merangkul isterinya.

"Ki Sumali yang merasa heran membayangi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dari jauh. Dia melihat mereka mendaki muara Sungai Lorog dan tiba-tiba ada tujuh orang yang menyerang mereka dengan tembakan senjata api."

"Ahh! Lalu... lalu bagaimana?" Retno Susilo bertanya.

"Menurut cerita Paman Sumali, dia melihat Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terjatuh ke dalam muara sungai dan lenyap. Tujuh orang bersenjata senapan itu menunggu di tepi muara sampai lama, akan tetapi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi tidak muncul lagi. Paman Sumali lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke Loano. Tentu saja pada waktu itu, Paman Sumali sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang bersama Maya Dewi membelanya itu adalah putera Paman dan Bibi."

"Aih, Bagus...!" Retno Susilo tertegun lemas dengan wajah pucat. Akan tetapi ia menahan tangisnya dan bersandar ke pundak suaminya.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri, matanya mencorong dan kedua tangannya dikepal lalu diamangkan ke atas. "Katakan siapa tujuh orang yang menembak anakku itu? Siapa mereka? Akan kuhancurkan kepala mereka, kupecahkan dada mereka!"

"Tenang dan bersabarlah, Diajeng." Tejomanik menarik lengan isterinya, diajak duduk kembali.

"Menurut perkiraan Paman Sumali, orang-orang yang memiliki senjata itu mungkin sekali kaki tangan Kumpeni Belanda." kata Sulastri.

"Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo, benar seperti dikatakan Diajeng Sulastri tadi, cerita tentang Bagus Sajiwo belum habis. Saya merasa yakin bahwa Bagus Sajiwo tidak tewas oleh tembakan itu."

"Hemm, bagaimana engkau dapat begitu yakin, Anakmas Lindu Aji?" tanya Tejomanik dan Retno Susilo memandang kepada Lindu Aji penuh harapan.

"Begini, Paman dan Bibi. Dulu pernah Diajeng Sulastri terjatuh dari tebing yang amat tinggi dan menurut perhitungan manusia, ia tidak mungkin hidup terjatuh dari tempat yang demikian tingginya. Akan tetapi ketika saya mencari ke bawah tebing, saya tidak menemukan jenazahnya, maka saya merasa yakin bahwa ia masih hidup dan ternyata keyakinan saya itu benar dan ia masih hidup. Demikian pula dengan Bagus Sajiwo. Biarpun dia ditembaki dan tampak terjatuh ke dalam muara sungai, akan tetapi kemudian dia dan Maya Dewi tidak muncul lagi dan jenazah mereka tidak ditemukan. Selama jenazahnya belum ditemukan, maka saya yakin bahwa dia belum tewas. Seorang dengan kesaktian seperti Bagus Sajiwo, saya kira tidak akan tewas begitu saja terkena peluru senapan. Harap Paman dan Bibi tenang dan kita hanya dapat berdoa kepada Gusti Allah semoga Bagus Sajiwo mendapatkan perlindungannya selalu."

"Amin!" kata Ki Tejomanik dan dia memegang lengan Lindu Aji. "Terima kasih, Anakmas Aji. Kata-katamu membesarkan hati kami!"

Ki Tejomanik dan Retno Susilo merasa suka dan cocok sekali dengan suami isteri muda ini, maka mereka minta dengan sangat agar Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah mereka beberapa hari lamanya dan tidak tergesa-gesa meninggalkan mereka. Pengantin baru ini pun memenuhi permintaan mereka karena dari dua orang suami isteri yang banyak pe-ngalaman hidup ini mereka dapat menimba banyak pengetahuan.

Setelah tinggal di rumah Ki Tejomanik selama satu minggu, barulah Lindu Aji dan Sulastri berpamit.

"Terima kasih atas kunjungan kalian, Anakmas Aji. Berita yang kalian bawa tentang anak kami berharga bagi kami." kata Ki Tejomanik ketika sepasang pengantin baru itu berpamit.

"Kami juga merasa gembira sekali dapat berkunjung kesini, Paman. Paman dan Bibi sungguh telah memberi banyak kebaikan kepada kami. Kami berjanji bahwa kami akan selalu mendengarkan berita tentang diri Bagus Sajiwo dan kalau kami mengetahuinya, pasti akan kami kabarkan kepada Paman dan Bibi disini."

"Terima kasih dan selamat jalan, Aji dan Sulastri." kata Retno Susilo dengan akrab.

"Selamat tinggal." kata Lindu Aji dan Sulastri.

Setelah meninggalkan Gunung Kawi, suami isteri ini lalu pergi ke Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis.

Sekitar lima puluh orang murid atau anggauta perkumpulan Melati Puspa menyambut ketua mereka dengan gembira, dipimpin oleh Suwarni yang mewakili gurunya memimpin perkumpulan selama Sulastri atau yang mereka kenal dengan nama Ni Melati Puspa tidak berada disitu. Para anak buah perkumpulan Melati Puspa itu terkejut bukan main ketika mereka berkumpul dan mendengar pengakuan ketua mereka.

"Ketahuilah, kalian semua anggauta Melati Puspa! Pria ini adalah suamiku, namanya Lindu Aji. Aku telah menikah dengan dia, oleh karena itu aku datang untuk berpamit karena menurut peraturan, setiap anggauta Melati Puspa yang menikah, harus keluar dari perkumpulan ini. Maka aku menyatakan diri keluar dan aku datang untuk mengatur pengangkatan ketua baru!"

Akan tetapi mendengar ucapan ketua ini, semua anggota yang berjumlah sekitar lima puluh orang wanita itu terbelalak, bahkan ada yang menangis. Suwarni, pejabat ketua itu yang berlutut paling depan bersama Kasmi, menangis sesenggukan.

Melihat ini Sulastri mengerutkan alisnya. "Hei, sejak kapan kalian menjadi orang-orang cengeng seperti ini? Kenapa menangis?"

"Ampunkan kami, Ni Dewi, kami... kami mohon jangan Ni Dewi meninggalkan kami. Hanya Andika pembimbing kami, guru dan pemimpin kami. Kalau kami ditinggal, kami akan kehilangan pegangan dan kami takut, kalau sampai ada laki-laki yang jahat seperti Ki Surogento yang dulu memimpin dan menindas kami, kami akan celaka. Kalau Andika memaksa pergi meninggalkan kami, terpaksa kami pun akan membubarkan perkumpulan ini dan kami akan pergi kemana saja nasib membawa kami."

Mendengar ucapan ini, kini semua anggota menangis karena mereka itu rata-rata sudah tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai rumah lagi. Sementara itu, Lindu Aji diam-diam merasa kagum dan suka sekali akan tempat itu. Pemandangan alamnya sungguh amat indah, dan tanahnya juga subur. Dia melihat tadi sawah ladang yang amat luas, dengan tanahnya yang subur. Tempat ini baik sekali dijadikan tempat tinggal.

"Bagaimana ini, Kakangmas?" tanya Sulastri kepadanya karena ia sendiri merasa bingung dan kasihan kepada anak buahnya.

"Hemm, bubarkan dulu mereka, kita bicarakan ini secara mendalam." katanya kepada isterinya.

Sulastri berkata dengan suara tegas. "Hentikan semua tangis itu! Aku, tidak suka melihat kalian cengeng begitu. Cepat kembali kepekerjaan masing-masing dan buatlah masakan yang enak untuk kita semua merayakan kembaliku kesini. Aku dan suamiku akan merundingkan urusan perkumpulan ini dan besok pagi baru aku akan mengambil keputusan bagaimana baiknya. Sekarang bubarlah!"

Semua wanita menghentikan tangisnya dan sebagian besar dari mereka tersenyum penuh harapan. Mereka memberi hormat dengan sembah di depan dada lalu cepat meninggalkan pendapa untuk melaksanakan tugas. Sudah terdengar tawa riang mereka sehingga diam-diam Sulastri merasa terharu.

Sulastri mengajak suaminya memasuki rumah. Kamarnya masih terpelihara dengan baik dan bersih. Mereka duduk berdua dalam kamar dan membicarakan urusan perkumpulan itu.

"Kakangmas, terus terang saja aku merasa tidak tega meninggalkan mereka begitu saja. Sayang sekali kalau mereka yang sudah kubina menjadi orang baik-baik, nanti terbawa oleh lingkungan ke dalam jalan sesat. Akan tetapi, aku harus ikut denganmu, Kakangmas. Sebagai isterimu, aku akan meninggalkan apa pun juga untuk mengikutimu."

"Engkau isteriku yang bijaksana dan setia, Diajeng. Akan tetapi, setelah tadi melihat keadaan di tempat ini, aku merasa suka sekali. Apakah perkumpulanmu ini memiliki sawah ladang yang cukup luas sehingga dapat mendatangkan hasil yang cukup untuk keperluan kita?"

"Wah, sawah ladang kami luas sekali dan kalau dikelola dengan baik hasilnya akan lebih dari cukup."

"Bagus! Diajeng, bagaimana kalau kita tinggal disini? Perkumpulan ini dapat kita ubah, bukan hanya perkumpulan wanita, melainkan perguruan besar yang mempuriyai murid pria dan wanita. Bagaimana pendapatmu?"

Wajah Sulastri berseri dan matanya bersinar-sinar. Tadi memang ia mempunyai pikiran seperti itu dan alangkah senang hatinya ketika mendengar ucapan suaminya itu. Ini berarti bahwa mereka berdua akan hidup di tempat yang memang sudah amat disenanginya itu.

"Itu baik sekali, Kakangmas. Engkau yang menjadi ketua bagian anggauta pria dan aku yang memimpin para anggauta wanita. Ah, kita akan hidup berbahagia disini!"

Suami isteri itu lalu berunding. Sampai jauh malam mereka berunding dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal di lereng dekat puncak Gunung Liman itu. Para anggauta Melati Puspa tetap dipertahankan dan mereka akan mengajak para pemuda berbakat di pedusunan sekitar Gunung Liman untuk menjadi anggauta atau murid. Nama perkumpulan baru itu pun harus diubah karena tidak sesuai lagi kalau mereka mempunyai murid atau anggauta pria.

Bagus Sajiwo Jilid 18

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 18

"BENAR, kami akan menyuguhkan hidangan terlezat dan pertunjukan tari-tarian, pendeknya, kami akan meng-hibur Andika berdua sebagai tamu-tamu agung kami." kata pula Dhirasanu.

Ratna Manohara dan Ken Darmini saling pandang. Ratna mengerutkan alisnya dan Niken tersenyum geli, lalu keduanya menggeleng kepala pertanda bahwa keduanya tidak setuju dan tidak bersedia menerima undangan dua orang pemuda kembar itu.

"Terima kasih, Dhirasani dan Dhirasanu. Akan tetapi maaf, kami tidak bersedia menerima undangan kalian. Kami akan melanjutkan perjalanan dan selamat berpisah!" kata Ratna Manohara. Setelah berkata demikian, ia menggandeng tangan Niken Darmini dan mengajaknya memutar tubuh dan melanjutkan perjalanan.

"Eh, tunggu dulu!" kata Dhirasam mengejar. "Katakan dulu kenapa kalian berdua menolak undangan kami?" Sekarang Niken yang menjawab. la memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu dan berkata, "Kami menolak karena kami melihat ada udang di balik batu!"

"Eh? Apa maksud Andika?"

"Ada niat buruk di balik undangan itu!"

"Aeh, Nimas! Niat kami hanya ingin sekali bersahabat baik dengan Andika berdua!" kata Dhirasani penasaran.

"Ya itulah udangnya! Kami tidak ingin bersahabat baik dengan kalian. Sudahlah, kami hendak pergi!" kata Niken Darmini dan la lalu membalikkan tubuh diikuti oleh Ratna Manohara dan melangkah pergi.

Akan tetapi tampak dua sosok bayangan berkelebat dan dua orang pemuda kembar itu telah melewati mereka dan kini berdiri menghadang di depan mereka. Dhirasani sudah memakai lagi kain ikat kepalanya. Wajah kedua orang pemuda kembar itu kemerahan. Mereka merasa penasaran dan marah. Mereka adalah putera-putera Adipati Blambangan yang biasa dihormati semua orang, bahkan disanjung dan mereka mengira bahwa semua gadis memuja mereka dan berlumba untuk menarik hati mereka. Dan kini, biarpun mereka telah merendahkan diri terhadap dua orang gadis ini, mereka ditolak mentah-mentah!

Dua orang gadis dari desa dan gunung berani menolak mereka yang mengundang dua orang gadis itu untuk disambut sebagai tamu agung! Ini amat merendahkan dan menyinggung kehormatan mereka. Mereka adalah putera-putera Adipati, tampan kaya raya dan juga sakti mandraguna!

Melihat dua orang pemuda kembar itu menghadang di depan mereka dengan muka merah dan alis berkerut, Ratna Manohara menegur. "Hemm, mau apa kalian menghadang perjalanan kami?"

"Nimas berdua! Tadi dalam pertemuan Andika berdua mengatakan bahwa Andika berdua setia kepada Blambangan dan siap membela Kadipaten Blambangan, akan tetapi apa buktinya sekarang? Kalian menolak undangan yang kami ajukan dengan hormat dan baik-baik. Andika berdua agaknya lupa bahwa kami adalah putera-putera Adipati Blambangan dan kami berhak untuk memaksa siapa pun memenuhi perintah kami, termasuk Andika berdua!" kata Dhirasani dengan suara bernada marah dan penasaran. Bagi dia dan adiknya, ditolak oleh seorang wanita, apalagi hanya gadis-gadis gunung, merupakan penghinaan yang menyakitkan hati.

Mendengar ucapan itu, Niken Darmini maju menghadapi Dhirasani sambil bertolak pinggang, kepalanya tegak dan dadanya dibusungkan, sikapnya penuh tantangan. "Aeh-aeh, jangan asal membuka mulut seenaknya kamu, Dhira..." ia bingung karena kini tidak lagi dapat membedakan dua orang pemuda itu yang sudah memakai kain ikat kepala semua. "... Dhira... masa bodoh yang mana saja! Jangan bicara seenaknya! Kami menyatakan setia kepada Kadipaten Blambangan dan rakyatnya, bukan kepada kalian dua orang pemuda sombong yang suka GR (Gede Rasa)! Kami tidak lupa bahwa kalian berdua adalah anak-anak Adipati yang besar kepala! Dan dengarlah baik-baik, Citraksi-Citraksa, kalau kaliah berhak memaksa, kami pun berhak menolak! Nah, sekali lagi kami menolak undangan kalian! Lalu kalian mau apa?" Sikap Niken Darmini menantang sekali sehingga Ratna Manohara yang wataknya lebih halus itu merasa tidak enak juga.

Wajah kedua orang putera Adipati itu menjadi kemerahan dan pandang mata mereka berkilat. Kakak beradik kembar ini memang bukan orang-orang yang suka mengumbar nafsu, tidak termasuk golongan jahat. Akan tetapi sebagai putera Adipati yang selalu dimanja, selalu dihormati semua orang di Blambangan, mereka menjadi tinggi hati dan merasa lebih tinggi derajatnya daripada orang lain. Mereka tidak jahat atau sewenang-wenang, akan tetapi karena segala keinginan mereka selalu dituruti, hal ini membuat mereka tersinggung dan marah kalau sekali waktu keinginan mereka ditentang.

Sekali ini pun sebetulnya mereka tidak berniat buruk terhadap dua orang gadis itu, bahkan mereka berdua yang jatuh cinta kepada kedua orang gadis itu merasa tidak enak akan peristiwa di ruangan pertemuan. Mereka menyusul untuk mintakan maaf dan ingin menyenangkan hati dua orang gadis itu dengan mengundang dan menjamunya dengan pesta. Akan tetapi ternyata mereka kini malah mendapat penghinaan dan undangan mereka ditolak. Tentu saja mereka menjadi marah sekali.

Dhirasani dan Dhirasanu tahu benar bahwa dua orang gadis yang mereka hadapi itu adalah gadis-gadis yang sakti mandraguna, bukan gadis-gadis biasa yang boleh mereka paksa. Akan tetapi mereka sendiri pun bukan pemuda-pemuda biasa. Mereka adalah murid-murid Bhagawan Ekabrata, pertapa di Gunung Agung, Bali. Mereka memiliki aji kanuragan yang cukup kuat dan dahsyat. Oleh karena itu, kini diperhina dan ditantang oleh dua orang gadis, tentu saja mereka merasa malu, penasaran dan marah sekali.

"Niken Darmini dan Ratna Manohara!" bentak Dhirasani. "Apakah kalian berdua menantang kami?"

Ratna Manohara mendahului sahabat barunya agar keadaan tidak makin meruncing. "Sesungguhnya kami sama sekali tidak menantang kalian, akan tetapi kalau kami tidak dapat menerima dan memenuhi undangan kalian karena kami berdua mempunyai urusan lain, seyogianya kalian tidak memaksa kami. Sudahlah, kami tidak mencari keributan atau permusuhan dan biarkan kami pergi. Mari, Mbakayu Niken!" Ratna Manohara lalu menggandeng tangan Niken Darmini, diajak pergi meninggalkan dua orang pemuda itu. Niken Darmini hendak membantah, akan tetapi Ratna Manohara menariknya dan memaksanya pergi meninggalkan dua orang putera Adipati itu.

Dhirasani hendak mencegah mereka pergi, akan tetapi sebelum berkata atau berbuat sesuatu, Dhirasanu memegang lengannya dan ketika kakak kembarnya itu memandang kepadanya, dia menggeleng kepala melarangnya. Setelah dua orang gadis itu pergi jauh, Dhirasani menegur adik kembarnya.

"Adi Sanu, kenapa kita harus diam saja? Mereka itu menghina kita, kita harus memperlihatkan kepada mereka bahwa kita bukan pemuda-pemuda tempe!" "Kakang Sani, bukankah engkau mencinta Niken Darmini? Aku tahu bahwa engkau mencinta Niken Darmini dan aku pun terus terang saja jatuh hati kepada Ratna Manohara. Karena itu, tidak baik kalau kita ribut dengan mereka. Sebaiknya kita menunggu saat yang baik dan tepat untuk mohon kepada Kanjeng Rama untuk meminang mereka secara resmi kepada orang tua mereka. Bukankah itu lebih baik?"

Mendengar ucapan adik kembarnya, Dhirasani mengangguk-angguk lalu memegang pundak adiknya. "Engkau benar sekali, Adikku. Benar sekali. Untung engkau mengingatkan aku. Kalau sampai kita bermusuhan dengan mereka, tentu saja tidak mungkin kita dapat mempersunting mereka. Mari kita pulang."

Sementara itu, ketika mereka sudah pergi jauh, Niken Darmini mengomel. "Hemm, bagaimana sih engkau ini, Ratna? Mereka begitu sombong hendak memaksa kita, masa kita diam saja? Mereka patut dihajar. Tadi aku sudah hendak turun tangan memberi hajaran kepada mereka, eh, engkau malah mencegahku. Bagaimana sih engkau ini?"

"Maaf, Mbakayu Niken. Aku rasa tidak baik bermusuhan dengan mereka. Ingat, mereka itu putera-putera Adipati Blambangan dan aku mendengar mereka itu murid-murid Sang Bhagawan Ekabrata di Gunung Agung, Bali.

"Aih..., jadi engkau jerih dan takut, ya?" Niken Darmini mencela.

"Bukan takut, Mbakayu Niken, melainkan berpikir panjang dan mempertimbangkan akibatnya. Kalau kita berkelahi dan bermusuhan dengan mereka, berarti kita menyeret gurumu dan bahkan perguruanku ke dalam kesulitan karena mungkin akan dianggap pemberontak oleh Adipati Blambangan dan akan timbul permusuhan dengan Bhagawan Ekabrata. Pula, dan ini yang terpenting, kedua orang itu bersikap sopan kepada kita. Mereka hanya mengundang makan dan minta maaf atas peristiwa tadi di gedung kadipaten. Andaikata mereka itu kurang ajar dan mengganggu kita, aku sendiri tidak akan perduli akibatnya dan akan menghajar mereka. Akan tetapi kalau hanya dengan alasan mereka mengundang kita makan dan kita menolak lalu timbul keributan yang menyeret gurumu dan perguruan kita, bukankah itu merupakan hal yang bodoh sekali?"

Niken Darmini memandang wajah temannya dengan kagum lalu ia mengangguk-angguk. "Waduh, benar juga ucapanmu itu, Ratna! Senang aku mendapatkan seorang sahabat baru yang selain cantik jelita, gagah perkasa, juga amat cerdik seperti engkau ini!" Niken Darmini lalu merangkul dan mencium pipi Ratna Manohara.

"Aih, engkaulah yang lebih cantik jelita, lebih sakti mandraguna, sayangnya..."

"Sayangnya apa, hayo?"

"Sayangnya... galak!"

"Hemm, memangnya aku ayam yang sedang bertelur?" Keduanya tertawa dan Niken Darmini berkata, "Hemm, kalau dikenang, sebetulnya mereka itu ganteng juga, ya?"

Ratna Manohara memandang wajah Niken Darmini dengan alis berkerut. "Ah, kiranya engkau ini sir (naksir) juga, ya?"

Niken Darmini menggoyang kepalanya. "Sama sekali tidak. Biarpun mereka itu cukup ganteng, akan tetapi mereka bukan calon suami seperti yang kuidamkan."

"Eh? Lalu yang kau idamkan itu yang bagaimana?" Ratna mengejar.

Niken mengerutkan alisnya dan memejamkan matanya seperti membayangkan dalam benaknya. "Tampan atau ganteng maupun kesaktian bukan menjadi tolak ukur, juga kekayaan dan kedudukan, bagi pria yang kuidamkan. Idamanku adalah seorang pria yang kalau bertemu dengan aku dapat membuat jantungku melompat-lompat dan tadi ketika aku bertemu dengan mereka, jantungku diam saja! Dan bagaimana dengan engkau, Ratna?"

Kembali mereka tertawa-tawa. "Ah, aku sama sekali belum mempunyai niat untuk urusan itu, Mbakayu Niken. Membayangkan sedikitpun belum."

"Engkau harus mulai dari sekarang mempunyai idaman agar kelak bertemu dengan orang yang cocok dengan yang kau idamkan. Andaikata kita menjadi isteri dua orang putera Adipati tadi, wah, tidak sudi aku hidup dekat denganmu, Ratna!" Niken Darmini bersikap genit, bibirnya berjebi dan hidungnya yang ujungnya agak menjungkat itu digerakkan seperti mencium bau tidak enak.

"Memangnya kenapa?" tanya Ratna Manohara yang biasanya pendiam, akan tetapi bicara dengan Niken Darmini, bagaimana bisa tetap pendiam?

"Aku khawatir suami kita itu akan saling tertukar-tukar tanpa kita mengetahuinya. Ih, geli dan serem!" Kembali kedua orang gadis itu terkekeh, bahkan Ratna Manohara sampai terpingkal-pingkal.

Setelah tiba di jalan perempatan dimana mereka harus berpisah, Ratna Manohara harus berbelok ke kiri sedangkan Niken Darmini terus ke barat, keduanya berhenti di tepi jalan, duduk di atas batu-batu besar yang terdapat disisi jalan.

"Mbakayu Niken, aku senang sekali dapat bertemu dan berkenalan denganmu!" kata Ratna.

"Hemm, aku pun menyesal mengapa baru sekarang kita saling mengenal, Ratna. Aku suka sekali kepadamu dan senang menjadi sahabatmu. Padahal kita baru saja bertemu dan berkenalan."

"Karena itu, sebagai sahabat, kiranya sudah sepatutnya kalau kita mengetahui keadaan kita masing-masing. Maukah engkau menceritakan riwayatmu kepadaku?"

"Wah, Ratna. Kita sudah mengetahui bahwa aku berusia sembilan belas tahun, dan engkau delapan belas sehingga engkau menyebut aku Mbakayu. Sekarang, siapa yang sepantasnya bercerita lebih dulu, yang muda atau yang tua?"

"Aih, engkau ini belum tua, Mbakayu, bicaramu seolah engkau ini sudah ompong peyot!"

"Siapa yang ompyot?"

"Heh? Apa itu ompyot? Mbakayu Niken?"

"Ompyot itu ya ompong peyot itu tadi. Aku belum ompyot akan tetapi aku lebih tua, jadi seharusnya sang adik yang lebih dulu bercerita. Hayo ceritakan riwayatmu dulu."

Kembali Ratna Manohara tertawa geli, lalu menghela napas panjang. "Apa sih yang menarik tentang diriku? Seperti tadi telah kau dengar, aku adalah puteri Ki Sarwaguna yang menjadi ketua Perguruan Driya Pawitra. Aku adalah anak tunggal dan Ayahku adalah seorang duda. Ibu meninggal ketika aku masih kecil sehingga aku sudah tidak ingat lagi bagaimana wajah ibuku."

"Wah, kasihan engkau, Ratna. Sekarang ceritakan tentang perguruan yang dipimpin ayahmu itu."

"Perguruan Driya Pawitra dahulu didirikan oleh mendiang Kakekku. Setelah Kakek meninggal dunia, perguruan dipimpin oleh Ayahku, dibantu oleh tiga orang Paman Guruku. Sekarang perguruan kami mempunyai murid sejumlah seratus orang. yang sudah lulus pulang ke tempat kediaman masing-masing, sedangkan yang masih belajar sekarang berjumlah lima puluh orang lebih dan mereka tinggal bersama kami di dusun Grajagan, dalam sebuah perkampungan kami. Sekarang aku bertugas mewakili Ayah untuk melatih para murid wanita yang jumlahnya tujuh belas orang. Dan ketika perguruan kami menerima undangan Adipati Blambangan, Ayah mengutus aku untuk datang mewakilinya. Nah, tidak ada apa-apanya yang menarik, bukan? Sekarang giliranmu. Mbakayu Niken."

"Nanti dulu, Ratna. Mendengar engkau menyebut mbakayu kepadaku, aku jadi merasa tua dan juga sedih."

"Eh, mengapa sedih?"

"Aku pernah mempunyai seorang adik perempuan, akan tetapi ia meninggal dunia ketika berusia tiga tahun. Ia yang biasa menyebut aku Mbakayu. Kalau engkau menyebut begitu engkau mengingatkan aku kepada adikku dan membuat aku sedih. Karena itu, aku minta engkau tidak usah menyebut Mbakayu, sebut saja nama aku!"

"Baiklah, Niken. Memang engkau tidak pantas menjadi Mbakayuku, malah lebih pantas mehjadi adikku. Engkau tampak begitu muda!"

Tentu saja senang hati Niken dikatakan tampak muda. Wanita mana yang tidak senang hatinya disebut lebih muda daripada usianya yang sesungguhnya?

"Bagus, Ratna. Engkau memang seorang sahabat yang baik sekali. Sekarang aku bercerita tentang diriku. Kalau engkau seorang anak yatim, tidak beribu lagi, maka aku adalah anak yatim piatu, tidak punya Ayah dan Ibu lagi."

"Aduh, kasihan sekali engkau, Niken!" Ratna Manohara merasa terharu dan ia merangkul sahabat barunya. Akan tetapi Niken Darmini tertawa dan melepaskan rangkulan Ratna.

"Wah, sudahlah, Ratna. Aku tidak mau menjadi gadis cengeng yang suka menangis dan kalau engkau bersikap begini terus, aku bisa menangis! Sejak berusia lima tahun aku dipelihara dan digembleng oleh guruku, yaitu Nini Kuntigarba. Aku masih samar-samar ingat akan wajah Ayah lbuku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka, akan tetapi guruku hanya mengatakan bahwa Ayah Ibuku sudah meninggal dunia, tidak menceritakan lebih banyak lagi. Aku tahu bahwa guruku, Nini Kuntigarba, adalah seorang datuk sesat dan orang-orang menjulukinya Biang Iblis. Akan tetapi ia amat sayang kepadaku dan menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Karena itu, biarpun aku tidak setuju dengan wataknya yang keras dan amat kejam, aku tidak bisa membencinya. Aku berhutang budi kepadanya dan aku juga merasa sayang kepadanya. Ketika ia diundang oleh Adipati Blambangan, ia menyuruh aku yang datang. Nah, begitulah riwayatku, sama tidak menariknya dengan riwayatmu."

"Bagiku riwayatmu amat menarik, Niken. Akan tetapi, engkau tadi menolak ajakan Adipati Blambangan yang hendak mengadakan kekacauan di daerah Mataram. Mengapa engkau membenarkan pendapat Wiku Menak Jelangger dan tidak mau membantu?"

"Dan engkau sendiri bagaimana, Ratna? Engkau juga menolak untuk membantu mereka."

"Perguruan Driya Pawitra yang dipimpin Ayah selalu mengutamakan pembelaan kebenaran dan keadilan. Tentu saja kami akan melaksanakan tugas sebagai kawula Blambangan dengan membela Blambangan dan rakyatnya, akan tetapi kalau harus menuruti keinginan Adipati Blambangan untuk membuat kekacauan di daerah Mataram, itu sudah berlawanan dengan pendirian kami membela kebenaran dan keadilan. Kami tidak sudi mengacaukan kehidupan rakyat di daerah Mataram. Bagaimana pendapatmu?"

"Aku tahu bahwa biarpun guruku seorang yang tidak perduli akan kebenaran dan keadilan, namun aku yakin bahwa ia tidak sudi dijadikan antek Adipati Blambangan. Guruku tidak kekurangan harta benda dan ia pun tidak ingin mendapatkan kedudukan. Akan tetapi aku sendiri, secara pribadi, berpendapat bahwa seorang warga negara haruslah membela negaranya kalau diserang musuh dari luar. Ratna, biarpun latar belakang kita berbeda, akan tetapi aku girang sekali bahwa dalam menghadapi ajakan Adipati Blambangan kita sepaham. Aku ingin sekali mengunjungimu dan melihat perguruan kalian di Grajagan."

"Ah, aku akan senang sekali, Niken. Kalau begitu, marilah, sekarang saja engkau langsung ikut aku ke Grajagan. Ayahku juga tentu akan senang menerimamu sebagai sahabatku yang baik!"

"Wah, jangan sekarang Ratna. Aku harus melapor dulu kepada guruku. Kalau guruku memberi ijin kepadaku untuk pergi merantau, maka tempat yang pertama kukunjungi tentu tempat tinggalmu."

Kedua orang gadis itu setelah tidak ada lagi soal yang dibicarakan, lalu berpisah. Ratna kembali ke Grajagan dan Niken menuju ke Gunung Betiri.

Setelah Wiku Menak Jelangger, Ratna Manohara, dan Niken Darmini meninggalkan ruangan pertemuan, Adipati Blambangan melanjutkan perundingannya dengan para tamu undangan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

"Kadipaten Pasuruan merupakan benteng pertama Mataram bagi kita," antara lain Adipati Santa Guna Alit berkata. "Kalau Kadipaten Pasuruan dapat kita duduki, maka jalan menuju daerah-daerah Mataram lain terbuka. Maka, kami kira penyerbuan ke Kadipaten Pasuruan merupakan langkah pertama yang amat pending." Semua orang setuju dengan pendapat Sang Adipati dan mereka menyatakan siap membantu. Tejakasmala, sebagai utusan Raja Klungkung, Bali berkata tegas.

"Seperti yang pernah kami lakukan sejak dahulu, pasukan Kerajaan Klungkung selalu siap untuk memperkuat barisan Blambangan. Mataram merupakan ancaman bagi kita bersama, karena itu Kerajaan Klungkung akan selalu siap membantu Kadipaten Blambangan untuk menantang Mataram. Kami bertiga, saya, senopati Cakrasakti dan senopati Candrabaya, siap membantu semua rencana Paman Adipati Blambangan."

"Terima kasih, Anakmas Tejakasmala, kami tidak meragukan lagi bantuan Kerajaan Klungkung yang sejak dulu selalu bekerja sama dengan kami." Adipati Blambangan. lalu memandang kepada Arya Bratadewa yang menjadi utusan Kumpeni Belanda. "Bagaimana dengan Kumpeni Belando, Arya Bratadewa? Apa kesanggupan yang Andika bawa dari Kapten Van Klompen selain dua peti senapan dan pelurunya tadi?"

"Hak-hak-hak-ha-ha!" Arya Bratadewa tertawa ngakak (terbahak) sehingga mukanya yang pucat seperti mayat itu tampak menyeramkan. "Pihak Kumpeni Belanda akan mendukung dan membantu, Sang Adipati. Akan tetapi karena hubungan antara Mataram dan Kumpeni sekarang sedang damai, maka tentu saja Kumpeni tidak dapat membantu dengan pasukan. Namun, Kumpeni berjanji untuk membantu secara diam-diam, mengirim kami dan banyak telik sandi (mata-mata) yang lain untuk membantu selain mengirim senjata api untuk memperkuat pasukan Blambangan dan sekutunya."

Sang Adipati Santa Guna Alit merasa girang dan mereka lalu merundingkan rencana selanjutnya dari gerakan mereka. Pada saat itu, Dhirasani dan Dhirasanu memasuki ruangan dengan wajah agak muram. "Dari mana saja kalian?" Sang Adipati menegur.

"Kanjeng Rama, kami berusaha membujuk dua orang gadis itu untuk kembali, akan tetapi kami tidak berhasil. Akan tetapi kita bicarakan urusan ini nanti saja secara kekeluargaan, Kanjeng Rama."

Sang Adipati mengangguk dan Bhagawan Kalasrenggi terkekeh. "Heh-heh-heh, Sang Adipati. Mereka yang tidak mau mendukung gerakan kita dengan sepenuhnya, patut dicurigai dan diawasi. Terutama sekali Wiku Menak Jelangger itu. Dia sungguh berbeda dengan mendiang Adi Wiku Menak Koncar yang sepenuhnya berjuang untuk kepentingan Kadipaten Blambangan dan mati-matian menentang Mataram sampai berkorban nyawa!"

Mendiang Wiku Menak Koncar adalah adik seperguruan Bhagawan Kalasrenggi dan juga merupakan kakak seperguruan Wiku Menak Jelangger, akan tetapi tidak ada hubungan apa-apa antara Wiku Menak Jelangger dan Bhagawan Kalasrenggi. Ketika Wiku Menak Koncar telah berpisah dari Wiku Menak Jelangger, dia berguru lagi kepada guru Bhagawan Kalasrenggi dan dia mulai tersesat oleh lingkungan perguruan yang baru ini, dimana Bhagawan Kalasrenggi menjadi murid utama.

"Hemm, kami akan mengutus telik sandi untuk mengawasi mereka bertiga. Kalau sekiranya mereka hendak berkhianat, kami akan turun tangan membasmi mereka. kata Sang Adipati.

"Selain itu, menurut pendapat saya, sebelum kita menggempur benteng pertama Mataram, yaitu Pasuruan, kita harus dapat membasmi lebih dulu para pendekar yang mendukung Mataram karena kalau mereka tidak dibinasakan, tentu akan menjadi penghalang besar yang menyulitkan pasukan kita." kata pula Bhagawan Kalasrenggi yang menjadi penasihat Adipati Blambangan.

Semua orang setuju dan Sang Adipati minta kepada semua yang hadir untuk memberitahu siapa kiranya pendekar yang berpihak kepada Mataram dan akan merupakan hambatan bagi Blambangan. "Kami setuju, mereka harus dibinasakan lebih dulu." katanya.

Banyak nama pendekar, perguruan, bahkan pertapa disebut sebagai pembela dan pendukung Mataram yang setia. Tejakasmala, pemuda tampan gagah murid Bhagawan Ekabrata pertapa Gunung Agung di Bali itu berkata sambil tersenyum.

"Mudah saja untuk membasmi mereka. Biarlah aku dan dua orang pembantuku yang akan menumpas mereka!" katanya dengan tenang dan gagah.

"Para tokoh yang tadi disebutkan masih belum merupakan hambatan yang berarti, Kanjeng Adipati!" kata Bhagawan Kalasrenggi. "Yang benar-benar merupakan bahaya bagi gerakan kita adalah dua pasang suami isteri yang selain pernah menjadi pejuang membantu pasukan Mataram yang menyerang kadipaten-kadipaten di daerah-daerah lalu membantu Mataram dalam penyerbuan ke Batavia, juga terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sakti mandraguna."

Mendengar kakek tua renta itu memuji-muji tokoh yang akan menjadi lawan, Tejakasmala yang berwatak angkuh mengerutkan alisnya. "Hemm, katakanlah, Eyang Bhagawan. Siapa mereka itu? Aku sanggup untuk membinasakan mereka!"

Bhagawan Kalasrenggi memang tidak mengenal pemuda ini sebelumnya, akan tetapi mendengar bahwa Tejakasmala murid terbaik Sang Bhagawan Ekabrata dari Gunung Agung di Bali, dia dapat menduga bahwa pemuda ini memang sakti mandraguna. Maka, mendengar pertanyaan itu dia lalu berkata.

"Dua pasang orang sakti itu adalah pasangan suami isteri Ki Tejomanik yang terkenal dengan Pecut Sakti Bajrakirana miliknya dan isterinya Retno Susilo. Mereka tinggal di dusun Bayeman, di lereng Gunung Kawi. Dan pasangan yang lain, yang mungkin malah lebih sakti lagi dari pada pasangan pertama tadi adalah Parmadi yang terkenal dengan Seruling Gading senjata pamungkasnya dan isterinya Muryani. Suami isteri ini tinggal di Pasuruan. Nah, dua pasang suami isteri inilah yang merupakan lawan amat berat dan kalau keduanya tidak dibasmi lebih dulu, pasti rencana kita menyerbu Pasuruan akan menghadapi kesukaran karena mereka dan para pendekar lain tentu akan membela pasuruan."

"Apa sih hebatnya dua pasang suami isteri itu? Aku yang akan membasmi mereka!" kata Tejakasmala dengan sombong.

Pemuda ini bukan sekedar membual karena dia memang memiliki kesaktian yang hebat, yang mungkin lebih kuat dibandingkan kesaktian Bhagawan Kalasrenggi yang sudah tua itu.

"Sebaiknya kalau kita semua membagi tugas," kata Bhagawan Kalasrenggi. "Yang terpenting menghadapi dua pasang suami isteri yang sakti mandraguna itu. Kalau Kanjeng Adipati menyetujui dan kalau para utusan Kerajaan Klungkung sanggup, sebaiknya diatur begini. Tiga utusan Kerajaan Klungkung yaitu Teja-kasmala dan kedua orang senopati Klungkung bertugas untuk membunuh suami isteri Permadi dan Muryani yang tinggal di Pasuruan yang lebih dekat. Sedangkan aku sendiri bersama dua orang muridku akan pergi ke Gunug Kawi dan membunuh Ki Tejomanik dan isterinya!"

Adipati Blambangan mengangguk-angguk. "Itu baik sekali, Paman Bhagawan. Dan biarlah para pendekar yang lain yang dapat merupakan penghalang, dibasmi oleh saudara yang lain."

Semua orang setuju dan mereka menerima tugas masing-masing untuk melaksanakan rencana pertama, yaitu membunuhi para pendekar yang dianggap setia kepada Mataram dan akan menjadi penghalang penyerbuan pasukan Blambangan ke Pasuruan. Persidangan ditutup dengan pesta makan yang mewah sehingga semua tamu undangan merasa gembira. Pesta dihibur oleh tarian dan nyanyian belasan orang ledek dari daerah Banyuwangi yang rata-rata cantik menarik dengan tubuh denok melakukan tarian yang menggairahkan sehingga para tamu makan minum sampai mabok.

********************

Lindu Aji dan Sulastri sebagai pengantin baru melaksanakan perjalanan berkuda diiringkan Ki Parto. Mereka menuju pulang ke Gampingan di Pegunungan Kidul. Karena perjalanan itu melewati Loano, maka mereka singgah di rumah Ki Sumali, paman dari Sulastri.

Ki Sumali yang berusia sekitar lima puluh enam tahun dan isterinya, Winarsih yang berusia dua puluh tiga tahun, menyambut kedatangan Lindu Aji dan Sulastri dengan gembira sekali. Apalagi ketika mendengar bahwa mereka sudah menikah! Winarsih merangkul Sulastri dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Aduh, Lastri! Bukan main bahagia rasa hatiku mendengar engkau telah menjadi isteri Lindu Aji. Aiii, terlalu sekali engkau, kenapa menikah diam-diam saja dan tidak mengundang kami?"

"Maafkan kami, Bibi dan juga Paman Subali. Kami merayakan hanya sederhana saja, mengundang teman dan para tetangga dekat."

Ki Sumali dan isterinya menjamu tiga orang tamu itu yang menginap satu malam di rumah mereka. Malamnya mereka mengajak Lindu Aji dan Sulastri bercakap-cakap, sedangkan Ki Parto beristirahat di kamar yang diperuntukkannya.

Mendengar sepasang pengantin itu hendak pulang ke rumah ibu Aji, Ki Sumali berkata. "Jadi kalian hendak pergi ke Gampingan di Gunung Kidul. Kemudian, apa rencanamu selanjutnya, Anakmas? Apakah kalian akan tetap tinggal disana?"

"Entah kelak, Paman. Akan tetapi sementara ini, setelah kami melangsungkan upacara ngunduh panganten (menyambut mempelai), kami berdua akan pergi ke Jawa Timur, ke Gunung Kawi."

"Ke Gunung Kawi?"

"Juga ke Gunung Liman, Paman." kata Sulastri. "Ketahuilah, Paman. Selama dua tahun aku tinggal di Gunung Liman dan menjadi ketua perguruan Melati Puspa disana dan aku telah meninggalkan mereka untuk sementara. Aku harus kembali kesana dan memilih seorang ketua baru sebelum aku meninggalkan perguruan itu."

"Heh hebat! Engkau semuda ini telah menjadi ketua sebuah perguruan?" kata Ki Sumali. Terpaksa Sulastri menceritakan pengalamannya bagaimana ia sampai menjadi ketua perkumpulan Melati Puspa untuk menghibur kedukaannya karena berpisah dari Lindu Aji.

"Wah ceritamu menarik sekali, Lastri," kata Ki Sumali. "Kalian juga hendak pergi ke Gunung Kawi, ada keperluan apakah?"

"Kami hendak menemui Paman Tejomanik yang dikenal dengan nama julukan Pecut Sakti Bajrakirana, Paman." kata Lindu Aji.

"Ah, pendekar yang terkenal sakti mandraguna itu? Sudah lama aku mendengar namanya yang besar sebagai seorang satria yang besar jasanya terhadap Mataram!" seru Ki Sumali kagum.

"Benar, Paman. Akan tetapi nasibnya buruk dan kepergian kami kesana pun akan menyampaikan berita yang amat tidak enak.

"Hemm, apakah yang telah terjadi?"

Lindu Aji menoleh kepada isterinya dan Sulastri yang bercerita. "Begini, Paman. Aku pernah bertemu dengan Ki Tejomanik dan isterinya yang bernama Retno Susilo, bahkan kami sama-sama membantu pasukan Mataram ketika menyerang Batavia. Mereka menceritakan bahwa putera tunggal mereka yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang ketika baru berusia enam tahun. Paman Tejomanik dan isterinya mencarinya dan aku berjanji akan ikut mencarinya dalam perjalananku. Nah, ketika aku menjadi ketua perguruan Melati Puspa di Gunung Liman, pada suatu hari aku menemukan sebuah guha di dekat puncak Gunung Wilis tak jauh dari Gunung Liman dan guha itu tertutup reruntuhan dari atas, agaknya longsor. Ketika aku keluar lagi, di mulut guha aku melihat tulisan yang berbunyi KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO. Karena itu, maka kini Kakangmas Aji hendak mengajak aku ke Gunung Kawi untuk menyampaikan berita duka itu kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Ki Sumali mengerutkan alisnya, mengingat-ingat. "Nanti dulu! Siapa nama anak yang hilang itu?"

"Namanya Bagus Sajiwo, Paman!" kata Sulastri.

"Dan kuburan itu kuburan Bagus Sajiwo dan Maya Dewi?"

"Begitulah bunyi tulisan itu, Paman. Tentu kuburannya berada dalam terowongan guha yang tertimbun batu-batu itu."

"Coba ingat, kapan engkau menemukan gua yang menjadi kuburan mereka itu, Lastri?"

Sulastri mengingat-ingat. "Hemm, beberapa bulan yang lalu, sebelum aku pergi ke muara Sungai Lorog..."

"Wah, engkau juga pergi kesana, Lastri? Kenapa tidak bertemu dengan aku, Lastri? Aku pun pergi kesana dan hadir dalam pondok Pangeran Jaka Bintara yang mengundang semua tokoh yang hadir. Akan tetapi tidak apa, coba ceritakan dari semula, Lastri. Engkau menemukan tulisan di depan guha itu, kemudian engkau melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog?"

"Benar, Paman. Aku meninggalkan perguruan Melati Puspa lalu melakukan perjalanan ke muara Sungai Lorog untuk menonton pencarian Jamur Dwipa Suddhi. Setelah tiba disana, aku melihat muara itu kosong, tidak ada seorang pun. Selagi aku melihat dari atas bukit kapur, tiba-tiba aku diserang seorang wanita gila. Ia menyerangku tanpa sebab dan kami bertanding. Ia sakti bukan main dan setelah bertanding beberapa lamanya, ia bahkan berhasil merampas Pedang Naga Wilis. Aku tentu sudah tewas di tangannya kalau tidak muncul Kakangmas Aji yang menyelamatkan aku. Wanita yang bernama Candra Dewi itu melarikan diri membawa pedangku. Kami berdua lalu turun ke muara dan disana kami hanya melihat banyak orang yang telah menjadi mayat. Kami berdua menguburkan semua mayat itu lalu meninggalkan tempat yang menyeramkan itu. Kami lalu pulang ke Dermayu dan kemudian Kakangmas Aji pulang ke Gampingan lalu mengajukan pinangan dan kami menikah di Dermayu. Demikianlah nwayat singkatnya, Paman."

Ki Sumali menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk. "Aneh, aneh sekali. Kalian tahu, aku bertemu dengan Maya Dewi dan Bagus Sajiwo itu di dalam pondok Pangeran Jaka Bintara dan mereka berdualah yang menyelamatkan aku ketika aku dikeroyok dan dituduh sebagai mata-mata Mataram!"

Lindu Aji dan Sulastri saling pandang dengan mata terbelalak heran. "Benarkah itu, Paman? Wah, kalau begitu Bagus Sajiwo belum mati! Ah, alangkah bahagianya Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo!" Sulastri berkata dengan suara seolah bersorak.

Akan tetapi Ki Sumali menunduk dengan wajah muram. "Baiklah kuceritakan pengalamanku. Memang semua peristiwa itu amat aneh, sampai sekarang pun aku masih belum mengerti mengapa semua itu terjadi. Begini ceritanya. Seperti juga engkau, Lastri, aku tertarik oleh cerita tentang Jamur Dwipa Suddhi. Aku pergi kesana dan ikut hadir di pondok yang didirikan Pangeran Jaka Bintara dari Banten karena semua tokoh diundang. Disana terjadi keributan karena aku dituduh sebagai mata-mata Mataram yang melakukan penyelidikan. Aku dikeroyok dan berada dalam keadaan gawat dan terancam. Lalu tiba-tiba muncul Maya Dewi dan ia... ia membelaku!"

"Iblis betina itu membantumu, Paman?" tanya Sulastri, hampir tidak percaya kepada pamannya. "Bagaimana mungkin itu?"

"Ya, bagaimana bisa terjadi Maya Dewi membelamu, Paman?" kata pula Lindu Aji. Dia dan Sulastri tahu benar siapa Maya Dewi, wanita yang amat jahat dan kejam bagaikan iblis betina dan dulu wanita itu menjadi mata-mata Kumpeni Belanda yang berbahaya sekali.

"Ya, ya, aku sendiri pasti tidak percaya kalau mendengar itu. Akan tetapi aku mengalaminya sendiri! Maya Dewi membelaku mati-matian dan disampingnya ada seorang pemuda, masih amat muda, sekitar enam belas tahun dan namanya... namanya Bagus Sajiwo! Pemuda itu sakti mandraguna, dan mendengar percakapan antara mereka, pemuda luar biasa dan agaknya dialah yang telah mengubah jalan hidup Maya Dewi. Wanita itu kini sama sekali tidak liar dan jelas-jelas ia menentang mereka yang mengeroyok aku. Belasan orang yang tangguh kalah semua oleh Maya Dewi dan Bagus Sajiwo. Akan tetapi mereka itu tidak terbunuh, bahkan tidak terluka berat, hanya roboh pingsan atau tertotok jalan darahnya. Semua itu sungguh luar biasa sekali!"

"Bukan main!" Sulastri berseru. "Kalau pemuda itu bernama Bagus Sajiwo, tentu dialah putera Paman Tejomanik. Dia masih hidup!"

Lindu Aji melihat betapa wajah Ki Sumali tetap muram seperti orang yang kecewa atau bersedih. "Cerita Paman menarik sekali. Lalu bagaimana selanjutnya, Paman?" tanyanya.

"Setelah semua orang melarikan diri, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo juga keluar dari pondok itu. Aku diam-diam membayangi mereka karena aku merasa kagum dan juga heran. Mereka berdua menuju ke dekat muara Sungai Lorog. Aku mengintai dari jarak jauh. Tiba-tiba aku mendengar letusan-letusan senjata api. Beberapa orang telah menembaki Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dari balik batu karang. Aku melihat Maya Dewi dan Bagus Sajiwo terjatuh ke dalam muara! Tujuh orang penembak muncul dari balik batu karang dan menjaga di tepi muara, akan tetapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo tidak pernah muncul lagi. Mereka agaknya tenggelam dan terseret arus air muara ke laut. Tak dapat disangsikan lagi, mereka agaknya tewas terkena tembakan itu..."

Sulastri bangkit berdiri dan mengepal tinjunya. "Keparat! Jahanam! Tujuh orang itu tentu antek-antek Kumpeni karena mereka memiliki senjata api!"

Lindu Aji menghela napas panjang. "Lastri, sebelum ditemukan jenazah mereka, aku masih belum yakin bahwa mereka berdua itu tewas. Paman Sumali, apakah jenazah mereka ditemukan?"

"Aku tidak tahu. Aku lalu meninggalkan tempat itu yang berbahaya bagiku."

"Aduh, sungguh celaka!" kata Sulastri. "Hatiku tadi sudah merasa gembira bukan main mendengar Bagus Sajiwo masih hidup setelah dulu melihat kuburan atas namanya itu dan ternyata sekarang... dia tertembak senjata api dan mati...!"

"Bukan mati, Lastri, hanya hilang. Hilang. belum tentu berarti mati." kata Ki Sumali. "Benar seperti apa yang dikatakan Anakmas Lindu Aji tadi."

"Benar begitu, Diajeng, jangan putus asa dulu. Ingat, dulu engkau pun jatuh dari jurang dan menurut perhitungan manusia, pasti engkau tewas. Akan tetapi ketika aku mencari jenazahmu tidak kutemukan, aku tidak putus asa dan aku yakin bahwa engkau masih hidup. Ternyata keyakinanku itu kemudian terbukti benar."

"Mudah-mudahan begitu, Kakangmas Aji. Akan tetapi sebaiknya kita cepat memberitahukan berita ini kepada Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo."

Demikianlah, Lindu Aji dan Sulastri, diikuti Ki Parto, meninggalkan Loano dan mereka pulang ke dusun Gampingan. Di dusun itu dirayakan upacara "ngunduh panganten" secara sederhana, dihadiri para penduduk dusun itu. Setelah tinggal selama satu minggu, sepasang pengantin baru itu lalu berangkat menuju Gunung Kawi, tempat tinggal Ki Tejomanik dan Retno Susilo di dusun Bayeman.

Ki Tejomanik dan isterinya, Retno Susilo tiba di rumah mereka yang terletak di sudut paling pinggir dusun Bayeman. Rumah itu sedang saja akan tetapi mempunyai pekarangan dan kebun yang luas sehingga agak jauh terpisah dari para tetangga.

Ketika tiba dekat rumah, jantung mereka berdebar mengharapkan putera mereka yang hilang itu telah berada di rumah. Akan tetapi yang menyambut mereka hanya Ki Dirjo, pria berusia lima puluh tahun yang mereka tugaskan untuk menjaga rumah selama mereka pergi. Dari Ki Dirjo mereka mendengar bahwa selama mereka pergi, tidak ada seorang pun yang datang berkunjung. Tentu saja Bagus Sajiwo juga tidak pernah datang berkunjung!

Retno Susilo menjadi lemas dan murung. "Sudahlah, Diajeng. Kita harus bersabar dan aku yakin, kalau sudah tiba saatnya anak kita tentu akan pulang. Dia telah menjadi murid Eyang Ki Ageng Mahendra, tentu telah memiliki aji-aji yang linuwih (tingkat tinggi) sehingga dia menjadi sakti mandraguna dan dapat melindungi dirinya sendiri." Tejamanik menghibur isterinya setelah mereka memasuki rumah.

Sejak hari itu, suami isteri ini hanya dapat menunggu dan menunggu, karena mereka tidak tahu kemana harus mencari anak mereka dan kalau mereka pergi lagi mencarinya dengan ngawur, mereka khawatir kalau anak mereka itu sewaktu-waktu pulang! Maka, tidak ada lain jalan bagi mereka kecuali menanti dan menanti dengan penuh kesabaran sambil berserah diri kepada kekuasaan Gusti Allah.

Mereka sudah cukup berusaha selama berta-hun-tahun ini dan mereka sudah cukup merasa bahagia mendengar tentang putera mereka itu. Kini mereka hanya tinggal menanti saat putera mereka pulang. Kurang lebih dua bulan kemudian, ketika Ki Tejomanik dan Retno Susilo sedang bekerja di ladang, kesibukan yang membuat mereka sejenak melupakan penantian mereka itu, tiba-tiba Ki Dirjo datang berlari-lari dari rumah ke tempat suami isteri itu bekerja, agak jauh dari rumah mereka.

"Denmas... Denmas...!" Pembantu itu berteriak sambil berlari menghampiri.

Suami isteri itu merasa heran dan berlari ke tepi ladang. "Ki Dirjo, ada apakah?" tanya Ki Tejomanik dengan alis berkerut, tidak senang melihat pembantunya demikian gugup.

"Denmas... ada tamu... seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu tampan gagah...ah, mungkin dia..."

"Kau tanya siapa namanya?" Retno Susilo bertanya.

"Tidak, Masayu, akan tetapi... dia lembut, tampan dan gagah sepantasnya kalau dia putera Andika..."

"Bagus Sajiwo...!" suami isteri itu melompat dan mengerahkan tenaga sakti sehingga mereka berlari seperti terbang cepatnya menuju ke rumah.

Ketika mereka tiba di pendopo, seorang pria muda dan seorang wanita muda bangkit dari bangku yang mereka duduki dan Ki Tejomanik dan Retno Susilo memandang dengan wajah tampak kecewa sekali.

Mereka tak dapat menyembunyikan kekecewaan hati mereka, bahkan Retno Susilo segera terisak dan menutupi muka dengan kedua tangan. Orang muda itu bukan anak mereka karena ia mengenal dia yang bukan lain adalah Lindu Aji bersama Sulastri, keduanya sudah dikenal dengan baik.

"Paman Tejomanik...!" Lindu Aji memberi salam dengan sembah di depan dada.

"Bibi Retno Susilo, Bibi kenapakah?" Sulastri sudah menghampiri Retno Susilo dan memegang lengannya.

Ki Tejomanik menghela napas panjang. "Maafkan kami, Anakmas Lindu Aji dan Sulastri... terus terang saja, kami kecewa karena mengira bahwa putera kami yang pulang..."

"Ah, kami mengerti, Paman dan Bibi, kami mengerti. Sesungguhnya kami berkunjung ini pun ada hubungannya dengan putera Paman berdua."

"Tentang puteraku? Bagaimana... dimana...?" Retno Susilo menghentikan tangisnya dan merangkul Sulastri.

"Nanti dulu, Diajeng. Mari kita mengajak mereka duduk dan bicara di dalam." kata Tejomanik dan mereka berempat lalu memasuki rumah dan duduk di ruangan dalam.

"Apakah Paman berdua sudah mendengar tentang putera Andika, Bagus Sajiwo?" tanya Lindu Aji hati-hati.

"Kami sudah mendapat keterangan yang melegakan hati, Anakmas Lindu Aji. Putera kami itu ternyata ketika diculik oleh Wiku Menak Koncar, telah tertolong oleh Eyang Ki Ageng Mahendra dan menjadi murid eyang guru. Kami mendapat kabar bahwa setelah Eyang Ki Ageng Mahendra wafat sekitar empat tahun yang lalu, putera kami itu lalu turun gunung. Bagaimanapun juga, hati kami lega mendengar bahwa Bagus Sajiwo selamat bahkan menjadi murid mendiang eyang guru." kata Tejomanik.

"Akan tetapi kami tunggu-tunggu sampai sekarang dia belum juga pulang. Tadi... tadi kukira dia yang pulang...! Sudah empat tahun turun gunung, kenapa anakku itu belum juga pulang kesini?" Retno Susilo berkata sedih.

"Aduh, Adik Bagus Sajiwo itu sungguh aneh sekali. Baru beritanya saja membuat semua panas dingin, sebentar gembira sebentar khawatir!" kata Sulastri.

"Anakmas Lindu Aji, apa yang Andika ketahui tentang anak kami? Ceritakanlah, kami ingin sekali mendengarnya."

"Saya kira Diajeng Sulastri yang lebih mengetahui akan hal itu, Paman, karena ia mengalami sendiri, akan tetapi sebelumnya perlu kami beritahukan bahwa kami telah menjadi suami isteri."

Tejomanik dan Retno Susilo gembira mendengar ini. "Ah, kami mengucapkan selamat!" kata Retno Susilo. "Akan tetapi, Sulastri, cepat ceritakan kepadaku tentang Bagus Sajiwo. Apakah engkau berjumpa dengan dia?"

Sulastri menghela napas panjang. Rasanya berat untuk menyampaikan berita yang akhirnya akan membuat suami isteri itu gelisah dan berduka. "Seperti saya katakan tadi, Adik Bagus Sajiwo itu beritanya membuat kita semua panas dingin, karena itu saya harap kalau saya bercerita tentang dia, janganlah Paman dan Bibi bersenang atau berduka karena ada lanjutannya dan sampai sekarang pun cerita tentang Adik Bagus Sajiwo masih merupakan teka-teki yang penuh rahasia."

"Aih, ucapanmu membuat hatiku berdebar tegang saja, Sulastri. Cepat ceritakanlah!" kata Retno Susilo.

"Beberapa bulan yang lalu, di dekat puncak Pegunungan Wilis, yaitu di puncak Bukit Keluwung, saya menemukan sebuah terowongan guha yang ketika saya masuki ternyata terowongan itu tertimbun batu-batu yang agaknya longsor dari atas. Ketika saya keluar lagi, saya melihat di depan guha itu ada tulisan di atas batu yang berbunyi:

"KUBURAN MAYA DEWI DAN BAGUS SAJIWO..."

"Ah...!" Retno Susilo berseru dan wajahnya menjadi pucat.

"Tenang, Bibi, sudah kukatakan tadi bahwa Bibi jangan merasa susah atau senang lebih dulu karena ceritanya masih bersambung! Memang cerita tentang Adik Bagus Sajiwo ini menyenangkan dan menyusahkan silih berganti, membuat kita panas dingin."

"Tenanglah Diajeng. Sulastri, lanjutkan ceritamu, kami siap mendengar yang terburuk sekalipun!" kata Ki Tejomanik yang kini merangkul pundak isterinya yang duduk di sampingnya.

"Saya bertemu dengan Kakangmas Aji dan kami lalu melangsungkan pernikahan kami, direstui kedua orang tua kami. Kemudian kami melakukan perjalanan kesini, sengaja untuk mengabarkan tentang penemuanku di puncak bukit Keluwung Pegunungan Wilis itu. Kami melewati Loano dan mampir ke rumah Pamanku, Ki Sumali dan dari Ki Sumali kami mendapatkan kabar tentang Adi Bagus Sajiwo."

"Bagaimana kabarnya, Sulastri?" tanya Retno Susilo, akan tetapi kini wanita itu bertanya dengan suara yang tenang. Rangkulan tangan suaminya agak membuat ia lebih tabah dan tenang.

"Paman Sumali menceritakan bahwa belum lama ini, jadi lama sesudah saya menemukan gua itu, dia bertemu dengan Bagus Sajiwo di muara Sungai Lorog di pantai Laut Kidul. Ini berarti bahwa tulisan di depan gua itu bohong, dan bahwa Adi Bagus Sajiwo masih hidup!"

"Terima kasih kepada Gusti Allah!" Ki Tejomanik dan Retno Susilo berseru.

"Yang amat aneh, Paman dan Bibi, ketika itu Paman Sumali dikeroyok orang-orang sesat yang menuduhnya sebagai mata-mata Mataram yang hendak merebut pusaka yang sedang dicari-cari..."

"Maksudmu memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya muncul di muara Sungai Lorog itu? Kami juga mendengarnya, akan tetapi karena kami menanti-nanti pulangnya anak kami, maka kami tidak ikut pergi kesana. Ah, kalau saja kami pergi, tentu akan dapat bertemu anak kami!" kata Retno Susilo.

"Benar, Bibi. Ketika Paman Sumali dikeroyok dan berada dalam keadaan terancam bahaya, muncullah Maya Dewi yang membelanya!"

"Ah, Maya Dewi mata-mata dan antek Kumpeni Belanda itu? Tidak mungkin...!" kata Retno Susilo.

"Bagaimana iblis betina itu membela pendekar yang dituduh menjadi mata-mata Mataram?" kata pula Ki Tejomanik heran.

"Itulah yang juga amat mengherankan Paman Sumali dan kami berdua. Menurut Paman Sumali, Maya Dewi sudah berubah dan ia menentang para tokoh sesat dan semua itu menurut Ki Sumali agaknya disebabkan oleh Adik Bagus Sajiwo yang muncul bersamanya di tempat itu. Maya Dewi dan Bagus Sajiwo dikeroyok belasan orang tokoh sesat yang sakti-sakti, diantara mereka terdapat Pangeran Jaka Bintara dari Banten dan Kyai Gagak Mudra, lima orang Panca Warak, Kyai Jagalabilawa, dan Ki Kebondanu. Akan tetapi mereka semua kalah dan tidak seorang pun dari mereka yang dibunuh. Mereka melarikan diri dan Paman Sumali selamat."

"Bukan main! Alhamdulillah (Puji Tuhan), anak kita telah menjadi seorang yang sakti mandraguna dan baik budi!" kata Ki Tejomanik kepada isterinya.

Retno Susilo mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, kenapa dia bergaul dengan iblis betina Maya Dewi? Di Puncak Bukit Keluwung tertulis kuburan dia dan Maya Dewi, kemudian di Loano dia juga bersama Maya Dewi. Apa artinya ini?"

"Inilah yang aneh sekali dan membuat Paman Sumali terheran-heran dan tidak mengerti, terutama melihat Maya Dewi telah berubah menjadi seorang yang bersikap dan bertindak seperti seorang pendekar." kata Lindu Aji, membantu isterinya yang sejak tadi dia biarkan bercerita terus.

"Betapapun juga, kabar ini menggembirakan sekali karena terbukti bahwa Bagus Sajiwo masih hidup dan dalam keadaan selamat." kata Tejomanik, "Lalu bagaimana ceritanya Ki Sumali itu, Sulastri?"

"Inilah, Paman, yang membuat kami tidak enak hati untuk menceritakan." kata Sulastri. "Cerita tentang Adik Bagus Sajiwo memang aneh, sebentar menyenangkan, sebentar menyusahkan."

"Ceritakan saja, kami siap mendengarkan!" kata Tejomanik sambil masih merangkul isterinya.

"Ki Sumali yang merasa heran membayangi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi dari jauh. Dia melihat mereka mendaki muara Sungai Lorog dan tiba-tiba ada tujuh orang yang menyerang mereka dengan tembakan senjata api."

"Ahh! Lalu... lalu bagaimana?" Retno Susilo bertanya.

"Menurut cerita Paman Sumali, dia melihat Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terjatuh ke dalam muara sungai dan lenyap. Tujuh orang bersenjata senapan itu menunggu di tepi muara sampai lama, akan tetapi Bagus Sajiwo dan Maya Dewi tidak muncul lagi. Paman Sumali lalu meninggalkan tempat itu, kembali ke Loano. Tentu saja pada waktu itu, Paman Sumali sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang bersama Maya Dewi membelanya itu adalah putera Paman dan Bibi."

"Aih, Bagus...!" Retno Susilo tertegun lemas dengan wajah pucat. Akan tetapi ia menahan tangisnya dan bersandar ke pundak suaminya.

Tiba-tiba ia bangkit berdiri, matanya mencorong dan kedua tangannya dikepal lalu diamangkan ke atas. "Katakan siapa tujuh orang yang menembak anakku itu? Siapa mereka? Akan kuhancurkan kepala mereka, kupecahkan dada mereka!"

"Tenang dan bersabarlah, Diajeng." Tejomanik menarik lengan isterinya, diajak duduk kembali.

"Menurut perkiraan Paman Sumali, orang-orang yang memiliki senjata itu mungkin sekali kaki tangan Kumpeni Belanda." kata Sulastri.

"Paman Tejomanik dan Bibi Retno Susilo, benar seperti dikatakan Diajeng Sulastri tadi, cerita tentang Bagus Sajiwo belum habis. Saya merasa yakin bahwa Bagus Sajiwo tidak tewas oleh tembakan itu."

"Hemm, bagaimana engkau dapat begitu yakin, Anakmas Lindu Aji?" tanya Tejomanik dan Retno Susilo memandang kepada Lindu Aji penuh harapan.

"Begini, Paman dan Bibi. Dulu pernah Diajeng Sulastri terjatuh dari tebing yang amat tinggi dan menurut perhitungan manusia, ia tidak mungkin hidup terjatuh dari tempat yang demikian tingginya. Akan tetapi ketika saya mencari ke bawah tebing, saya tidak menemukan jenazahnya, maka saya merasa yakin bahwa ia masih hidup dan ternyata keyakinan saya itu benar dan ia masih hidup. Demikian pula dengan Bagus Sajiwo. Biarpun dia ditembaki dan tampak terjatuh ke dalam muara sungai, akan tetapi kemudian dia dan Maya Dewi tidak muncul lagi dan jenazah mereka tidak ditemukan. Selama jenazahnya belum ditemukan, maka saya yakin bahwa dia belum tewas. Seorang dengan kesaktian seperti Bagus Sajiwo, saya kira tidak akan tewas begitu saja terkena peluru senapan. Harap Paman dan Bibi tenang dan kita hanya dapat berdoa kepada Gusti Allah semoga Bagus Sajiwo mendapatkan perlindungannya selalu."

"Amin!" kata Ki Tejomanik dan dia memegang lengan Lindu Aji. "Terima kasih, Anakmas Aji. Kata-katamu membesarkan hati kami!"

Ki Tejomanik dan Retno Susilo merasa suka dan cocok sekali dengan suami isteri muda ini, maka mereka minta dengan sangat agar Lindu Aji dan Sulastri tinggal di rumah mereka beberapa hari lamanya dan tidak tergesa-gesa meninggalkan mereka. Pengantin baru ini pun memenuhi permintaan mereka karena dari dua orang suami isteri yang banyak pe-ngalaman hidup ini mereka dapat menimba banyak pengetahuan.

Setelah tinggal di rumah Ki Tejomanik selama satu minggu, barulah Lindu Aji dan Sulastri berpamit.

"Terima kasih atas kunjungan kalian, Anakmas Aji. Berita yang kalian bawa tentang anak kami berharga bagi kami." kata Ki Tejomanik ketika sepasang pengantin baru itu berpamit.

"Kami juga merasa gembira sekali dapat berkunjung kesini, Paman. Paman dan Bibi sungguh telah memberi banyak kebaikan kepada kami. Kami berjanji bahwa kami akan selalu mendengarkan berita tentang diri Bagus Sajiwo dan kalau kami mengetahuinya, pasti akan kami kabarkan kepada Paman dan Bibi disini."

"Terima kasih dan selamat jalan, Aji dan Sulastri." kata Retno Susilo dengan akrab.

"Selamat tinggal." kata Lindu Aji dan Sulastri.

Setelah meninggalkan Gunung Kawi, suami isteri ini lalu pergi ke Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis.

Sekitar lima puluh orang murid atau anggauta perkumpulan Melati Puspa menyambut ketua mereka dengan gembira, dipimpin oleh Suwarni yang mewakili gurunya memimpin perkumpulan selama Sulastri atau yang mereka kenal dengan nama Ni Melati Puspa tidak berada disitu. Para anak buah perkumpulan Melati Puspa itu terkejut bukan main ketika mereka berkumpul dan mendengar pengakuan ketua mereka.

"Ketahuilah, kalian semua anggauta Melati Puspa! Pria ini adalah suamiku, namanya Lindu Aji. Aku telah menikah dengan dia, oleh karena itu aku datang untuk berpamit karena menurut peraturan, setiap anggauta Melati Puspa yang menikah, harus keluar dari perkumpulan ini. Maka aku menyatakan diri keluar dan aku datang untuk mengatur pengangkatan ketua baru!"

Akan tetapi mendengar ucapan ketua ini, semua anggota yang berjumlah sekitar lima puluh orang wanita itu terbelalak, bahkan ada yang menangis. Suwarni, pejabat ketua itu yang berlutut paling depan bersama Kasmi, menangis sesenggukan.

Melihat ini Sulastri mengerutkan alisnya. "Hei, sejak kapan kalian menjadi orang-orang cengeng seperti ini? Kenapa menangis?"

"Ampunkan kami, Ni Dewi, kami... kami mohon jangan Ni Dewi meninggalkan kami. Hanya Andika pembimbing kami, guru dan pemimpin kami. Kalau kami ditinggal, kami akan kehilangan pegangan dan kami takut, kalau sampai ada laki-laki yang jahat seperti Ki Surogento yang dulu memimpin dan menindas kami, kami akan celaka. Kalau Andika memaksa pergi meninggalkan kami, terpaksa kami pun akan membubarkan perkumpulan ini dan kami akan pergi kemana saja nasib membawa kami."

Mendengar ucapan ini, kini semua anggota menangis karena mereka itu rata-rata sudah tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai rumah lagi. Sementara itu, Lindu Aji diam-diam merasa kagum dan suka sekali akan tempat itu. Pemandangan alamnya sungguh amat indah, dan tanahnya juga subur. Dia melihat tadi sawah ladang yang amat luas, dengan tanahnya yang subur. Tempat ini baik sekali dijadikan tempat tinggal.

"Bagaimana ini, Kakangmas?" tanya Sulastri kepadanya karena ia sendiri merasa bingung dan kasihan kepada anak buahnya.

"Hemm, bubarkan dulu mereka, kita bicarakan ini secara mendalam." katanya kepada isterinya.

Sulastri berkata dengan suara tegas. "Hentikan semua tangis itu! Aku, tidak suka melihat kalian cengeng begitu. Cepat kembali kepekerjaan masing-masing dan buatlah masakan yang enak untuk kita semua merayakan kembaliku kesini. Aku dan suamiku akan merundingkan urusan perkumpulan ini dan besok pagi baru aku akan mengambil keputusan bagaimana baiknya. Sekarang bubarlah!"

Semua wanita menghentikan tangisnya dan sebagian besar dari mereka tersenyum penuh harapan. Mereka memberi hormat dengan sembah di depan dada lalu cepat meninggalkan pendapa untuk melaksanakan tugas. Sudah terdengar tawa riang mereka sehingga diam-diam Sulastri merasa terharu.

Sulastri mengajak suaminya memasuki rumah. Kamarnya masih terpelihara dengan baik dan bersih. Mereka duduk berdua dalam kamar dan membicarakan urusan perkumpulan itu.

"Kakangmas, terus terang saja aku merasa tidak tega meninggalkan mereka begitu saja. Sayang sekali kalau mereka yang sudah kubina menjadi orang baik-baik, nanti terbawa oleh lingkungan ke dalam jalan sesat. Akan tetapi, aku harus ikut denganmu, Kakangmas. Sebagai isterimu, aku akan meninggalkan apa pun juga untuk mengikutimu."

"Engkau isteriku yang bijaksana dan setia, Diajeng. Akan tetapi, setelah tadi melihat keadaan di tempat ini, aku merasa suka sekali. Apakah perkumpulanmu ini memiliki sawah ladang yang cukup luas sehingga dapat mendatangkan hasil yang cukup untuk keperluan kita?"

"Wah, sawah ladang kami luas sekali dan kalau dikelola dengan baik hasilnya akan lebih dari cukup."

"Bagus! Diajeng, bagaimana kalau kita tinggal disini? Perkumpulan ini dapat kita ubah, bukan hanya perkumpulan wanita, melainkan perguruan besar yang mempuriyai murid pria dan wanita. Bagaimana pendapatmu?"

Wajah Sulastri berseri dan matanya bersinar-sinar. Tadi memang ia mempunyai pikiran seperti itu dan alangkah senang hatinya ketika mendengar ucapan suaminya itu. Ini berarti bahwa mereka berdua akan hidup di tempat yang memang sudah amat disenanginya itu.

"Itu baik sekali, Kakangmas. Engkau yang menjadi ketua bagian anggauta pria dan aku yang memimpin para anggauta wanita. Ah, kita akan hidup berbahagia disini!"

Suami isteri itu lalu berunding. Sampai jauh malam mereka berunding dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk tetap tinggal di lereng dekat puncak Gunung Liman itu. Para anggauta Melati Puspa tetap dipertahankan dan mereka akan mengajak para pemuda berbakat di pedusunan sekitar Gunung Liman untuk menjadi anggauta atau murid. Nama perkumpulan baru itu pun harus diubah karena tidak sesuai lagi kalau mereka mempunyai murid atau anggauta pria.