Bagus Sajiwo Jilid 17

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 17

SELAIN mempererat hubungan dengan para raja di Bali, juga Adipati Blambangan mengumpulkan para datuk yang sakti mandraguna untuk memperkuat kadipatennya. Dulu, ketika Mataram menyerang daerah Jawa Timur, dia mengirim datuk yang menjadi kepercayaannya, yaitu Wiku Menak Koncar, untuk membantu daerah-daerah yang diserang Mataram. Akhirnya Wiku Menak Koncar tewas di tangan Ratu Wandansari yang dibantu oleh Lindu Aji.

Sang Adipati lalu mengundang para pertapa dan para orang sakti untuk membantu dia dalam menyusun kekuatan untuk membela Kadipaten Blambangan kalau sewaktu-waktu diserang oleh pasukan Mataram. Diantara para datuk itu terdapat Bhagawan Kalasrenggi dan dua orang muridnya yang juga sakti mandraguna, yaitu Kalajana dan Kaladhama, Sang Wiku Menak Jelangger adik seperguruan mendiang Wiku Menak Koncar. Biarpun Wiku Menak Jelangger termasuk orang baik budi, akan tetapi sebagai warga atau kawula Kadipaten Blambangan, dia tidak dapat menolak ketika diajak membela negaranya. Bahkan Adipati Blambangan berhasil pula membujuk Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi dan Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo untuk membantunya dengan menjanjikan imbalan tanah dan harta-benda.

Tidak hanya sampai disitu saja usaha Adipati Blambangan untuk memperkuat diri. Selain mengumpulkan para datuk sakti, dia pun mengadakan kontak dengan Kumpeni Belanda. Ketika sebuah kapal Kumpeni singgah di Blambangan, dipimpin oleh Kapten Van Klompen, Adipati Blambangan menyambutnya dengan baik. Kumpeni Belanda yang memang merasa terancam oleh Mataram, merasa senang melihat betapa Blambangan memperkuat diri dan dibantu pula oleh Bali untuk menentang Mataram.

Memang sudah menjadi siasat Kumpeni sejak semula untuk mengadu domba semua kadipaten yang ada melawan Mataram. Dengan cara mengadu domba berarti melemahkan kedudukan para penguasa pribumi. Para kadipaten itu akan menderita rugi besar karena perang antara bangsa sendiri dan yang untung besar adalah Kumpeni!

Maka ketika Adipati Blambangan menjamu Kapten Van Klompen dan para pembantunya dan Sang Adipati minta bantuan untuk menghadapi Mataram, Kapten Van Klompen menjanjikan bantuan itu. Akan tetapi Kumpeni Belanda amatlah cerdiknya. Kapten Van Klompen mengatakan bahwa tidak bisa membantu dengan pasukan Kumpeni, melainkan akan mengirim beberapa orang sakti dari Banten yang juga memusuhi Mataram untuk membantu Blambangan dan Kumpeni sendiri membantu dengan beberapa ratus buah senapan.

Agaknya Belanda masih merasa ngeri untuk secara terang-terangan memusuhi Mataram yang pernah menyerbu Batavia sampai dua kali. Biarpun Belanda dapat mengalahkan pasukan Mataram dalam perang itu, namun mereka juga telah kehilangan banyak perajurit. Maka, bantuan itu diberikan secara gelap. Demikianlah, pada suatu hari yang telah ditentukan, Sang Adipati Santa Guna Alit mengadakan pertemuan dengan para pembantunya.

Sejak pagi para datuk yang diundang berdatangan dan diterima di kadipaten dengan ramah dan dianggap sebagai tamu kehormatan. Berturut-turut mereka berdatangan dan berkumpul di sebuah ruangan luas yang tertutup dalam gedung Kadipaten Blambangan. Sebelum Sang Adipati sendiri keluar menyambut para orang sakti yang menjadi tamu dan pembantu, Bhagawan Kalasrenggi mewakilinya karena kakek ini memang sudah diangkat menjadi penasehat Sang Adipati.

Bhagawan Kalasrenggi dibantu oleh dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana, menyambut para tamu yang berdatangan dengan hormat dan mempersilakan mereka memasuki ruangan itu dan segera hidangan disuguhkan kepada mereka secara royal sekali.

Bhagawan Kalasrenggi yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun itu pun hanya duduk dalam ruangan khusus itu dan hanya membalas salam para tamu dengan merangkap kedua tangan di depan dada sambil terkekeh-kekeh seperti kebiasaannya. Yang menyambut tamu adalah dua orang muridnya, Kaladhama dan Kalajana.

Tamu pertama yang datang adalah Wiku Menak Jelangger, diantar oleh Kaladhama dan Kalajana memasuki ruangan itu. Tentu saja Wiku Menak Jelangger dapat datang paling dulu karena dia pun tinggal di daerah Blambangan, di pantai Selat Bali.

Kakek berusia enam puluh satu tahun ini, biarpun menjadi saudara seperguruan mendiang Wiku Menak Koncar dan mendiang Resi Wisangkolo yang keduanya sesat, adalah seorang pertapa yang baik budi. Tubuhnya sedang, agak kurus, gerak-gerik dan sikap serta budi bahasanya lembut, pakaiannya juga sederhana namun bersih.

Wiku Menak Jelangger adalah seorang yang sakti biarpun tampaknya lemah lembut namun sesungguhnya dia memiliki ilmu kepandaian tinggi. Seperti juga mendiang Wiku Menak Koncar, saudara seperguruannya, dia memiliki dua macam aji pamungkas yang ampun, yaitu Aji Bayu Bajra (Angin Ribut) dan Aji Nandaka Kroda (Banteng Mengamuk).

Karena mendengar bahwa Wiku Menak Jelangger terkenal sebagai seorang pertapa alim yang menentang kejahatan dan tidak suka keluar di dunia ramai dan kini mau memenuhi undangan Adipati Blambangan hanya karena merasa wajib sebagai kawula Blambangan, maka Bhagawan Kalasrenggi menyambut kedatangan Sang Wiku dengan dingin saja.

Akan tetapi Wiku Menak Jelangger juga tidak mengacuhkannya. Dia sudah tahu bahwa kakek tua renta yang memakai julukan Bhagawan ini adalah seorang datuk sesat yang bahkan diusir ke luar dari Bali-dwipa karena kesesatannya yang dilakukan bersama dua orang muridnya itu.

Ketika dipersilakan duduk oleh Dwi Kala (Dua Kala), yaitu dua orang murid Bhagawan Kalasrenggi, Wiku Menak Jelangger memilih kursi yang paling pinggir, lalu duduk bersila di atas kursi dan bersamadhi, duduk tepekur sambil menanti datangnya para undangan lainnya.

Tak lama kemudian Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton muncul diantar oleh Dwi Kala. Resi Sapujagad, pertapa Merapi itu berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dengan muka pucat, pakaiannya serba kuning dan tangannya memegang seuntai tasbeh merah dan sebatang keris terselip di pinggangnya.

Adapun Bhagawan Dewokaton, pertapa Gunung Bromo itu berusia sekitar lima puluh lima tahun, tubuhnya gemuk, mukanya selalu menyeringai seperti hendak tertawa sehingga muka yang bulat itu tampak lucu. Pakaiannya serba putih dan dia mempunyai sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya. Mereka berdua inipun terkenal sebagai dua orang pertapa yang sakti.

Resi Sapujagad mempunyai senjata pamungkas, yaitu Aksamala Rakta (Tasbeh Merah) dan Bhagawan Dewokaton terkenal dengan senjata pamungkasnya, yaitu Candrasa Langking (Pedang Hitam). Selain itu, juga mereka memiliki tenaga sakti yang kuat.

Kedua orang pertapa adalah dua orang yang biarpun sudah puluhan tahun bertapa, namun mereka bertapa dengan pamrih kesenangan duniawi. Selain memperdalam dan memperkuat aji kesaktian, mereka pun mendambakan kedudukan dan harta benda. Oleh karena itu, mereka tertarik oleh ajakan Adipati Blambangan, dan seperti seringkali terjadi, manusia yang menjadi hamba nafsunya mengejar nafsu keinginan untuk menyenangkan diri dengan menghalalkan segala cara!

Manusia sebagai ciptaan Gusti Allah Yang Maha Sempurna, terlahir dalam keadaan sempurna pula, akan tetapi roh yang sempurna itu mengenakan jubah jasmani yang sudah disertai nafsu-nafsu daya rendah yang teramat kuat. Kalau dia tetap dekat dengan Gusti Allah, maka nafsu daya rendah pun akan menjadi alat yang baik dan berguna bagi kehidupan. Akan tetapi kalau dia lengah, jauh dari Gusti Allah, maka iblis akan mendekatinya dan iblis akan menggunakan nafsu-nafsu daya rendah manusia itu sendiri untuk membuat dia menjadi hambanya.

Dalam mengejar nafsu keinginannya yang berki-lauan dan tampak menyenangkan itulah manusia terseret ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak sepatutnya dilakukan seorang manusia, ciptaan Gusti Allah yang paling baik dan paling sempurna. Dia akan menjadi hamba iblis yang tidak segan melakukan kejahatan apa pun demi memperoleh kesenangan duniawi, kenikmatan daging yang dikejarnya.


"Heh-heh-heh, Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, selamat datang! Kami girang sekali Andika berdua datang memenuhi undangan Sang Adipati Blambangan!" kata Bhagawan Kalasrenggi menyambut mereka berdua dengan gembira.

Dia tahu bahwa dua orang pertapa ini patut diajak berkawan karena sepaham atau setidaknya, mereka berdua bukan orang yang bersikap alim seperti Menak Jelangger!

"Ha-ha-ha-heh-heh-heh! Tentu saja kami datang, Kakang Bhagawan Kalasrenggi! Kami juga sudah lama merasa tidak suka kepada Mataram!" kata Bhagawan Dewokaton sambil menyeringai lebar.

"Kami juga sudah bosan bertapa di tempat sepi dan ingin mencicipi kemuliaan dan kesenangan!" kata Resi Sapujagad sambil memutar-mutar biji tasbeh dengan jari-jari tangannya.

"Heh-heh-heh, bagus-bagus! Andika berdua adalah orang-orang jujur dan tidak berpura-pura alim. Sikap begini yang kusuka, heh-heh-heh!" kata Bhagawan Kalasrenggi. Sungguhpun sikapnya tidak menunjukkan sesuatu, namun Wiku Menak Jelangger merasa bahwa kakek tua renta itu menyindirnya. Namun dia hanya tersenyum penuh kesabaran, maklum bahwa Bhagawan Kalasrenggi berbeda pendapat dengannya.

Dua orang pertapa itu pun mengerti kemana arah ucapan Bhagawan Kalasrenggi ketika mereka melihat Wiku Menak Jalangger duduk bersila di atas kursi paling ujung. Karena Sang Wiku duduk bersila memejamkan mata, keduanya tidak mau mengganggu dan mengambil tempat duduk di dekat Bhagawan Kalasrenggi.

Berturut-turut para datuk yang diundang itu pun berdatangan karena pagi hari itulah yang ditentukan untuk berkumpul dan mengadakan perundingan dengan Sang Adipati Blambangan. Tidak kurang dari sepuluh orang jagoan dari sekitar daerah Blambangan berdatangan dan disambut oleh Bhagawan Kalasrenggi dengan ramah.

Ketika Bhagawan Kalasrenggi dan Dwi Kala bangkit dari duduk mereka untuk menyambut kehadiran Sang Adipati Santa Guna Alit dan Sang Bhagawan mengumumKannya dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita, belasan orang yang menjadi tamu itu pun bangkit berdiri untuk menghormati Sang Adipati.

Dengan diiringkan selosin perajurit pengawal, Adipati Santa Guna Alit memasuki ruangan itu. Para pengawal itu setelah mengiringkan Sang Adipati memasuki ruangan, lalu keluar dan menjaga diluar ruangan. Adipati Santa Guna Alit yang bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan kulit mukanya merah itu berusia sekitar empat puluh lima tahun. Dengan langkah tegap berwibawa dia memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di atas sebuah kursi kebesaran dan mengangkat tangan kanan sebagai salam kepada semua yang hadir.

Setelah dia duduk, semua orang lalu duduk kembali dan Sang Adipati menoleh ke pintu. Dari luar ruangan masuklah dua orang pria muda, berusia kurang lebih dua puluh dua tahun. Mereka itu bertubuh tinggi besar dan gagah, dan yang menyolok adalah persamaan diantara mereka. Wajah sama, sikap sama, bahkan pakaian mereka serupa sehingga bagi yang belum mengenal mereka tentu akan merasa heran dan menjadi bingung karena tidak dapat membedakan mana yang satu dan mana yang lain. Akan tetapi bagi mereka yang sudah mengenal, tahu bahwa mereka adalah sepasang anak kembar dari Sang Adipati. Mereka bernama Dhirasani dan Dhirasanu dan di antara mereka ada sebuah tanda kelahiran yang membuat orang dapat mengetahui perbedaan di antara mereka, yaitu sebuah tembong (tanda hitam) selebar ibu jari di kulit leher sebelah kanan dari Dhirasani.

Sepasang pemuda kembar ini selain ganteng dan gagah, juga mereka berdua memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna karena mereka adalah murid-murid Sang Bhagawan Ekabrata yang bertapa di Gunung Agung yang berada di Bali-dwipa. Baru setahun mereka pulang ke Kadipaten Blambangan dari Bali dan karena kesaktian mereka maka ayah mereka lalu mengangkat mereka menjadi senopati-senopati muda yang bekerja sama dengan Bhagawan Kalasrenggi dan kedua orang muridnya.

Dua orang muda itu mengambil tempat duduk di sebelah kanan ayah mereka. Adipati Santa Guna Alit tersenyum kepada dua orang puteranya yang dibanggakan lalu bertanya. "Kenapa kalian datang berdua saja? Mana Anakmas Tejakasmala yang kalian tunggu-tunggu?"

Dhirasani menjawab, "Kakang Tejakasmala belum juga datang, Kanjeng Rama, maka kami tinggal masuk dan sudah kami pesan para pengawal kalau dia datang agar langsung diantar masuk kesini."

Dhirasanu juga berkata, "Harap Kanjeng Rama tidak khawatir. Kakang Tejakasmala pasti datang dan kalau tidak salah, dia akan datang sebagai utusan dari Raja Dewa Agung di Klungkung bersama rombongan dari Bali."

Baru saja ayah dan dua orang anaknya itu berhenti bicara, seorang pengawal melaporkan bahwa rombongan dari Bali-dwipa sudah tiba. Pemuda kembar Dhirasani dan Dhirasanu dengan wajah berseri bangkit dan keluar dari ruangan untuk menyambut kedatangan kakak seperguruan mereka yang mereka duga pasti datang bersama rombongan dari Bali itu.

Dugaan mereka benar. Rombongan yang terdiri dari tiga orang yang dikawal dua losin perajurit Kerajaan Klungkung di Bali itu terdiri dari Tejakasmala dan dua orang jagoan lain dari Bali yang bernama Cakrasakti dan Cakrabaya.

Setelah tiba di gedung kadipaten, dua losin perajurit pengawal diperintahkan beristirahat di pendapa, disambut oleh pengawal Blambangan, sedangkan tiga orang utusan Raja Klungkung itu disambut oleh sepasang saudara kembar dan dipersilakan memasuki ruangan.

Semua orang memandang ke arah tiga orang utusan dari Bali itu. Tejakasmala adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh empat tahun yang berwajah tampan dan bersikap gagah. Pakaiannya mewah dan serba rapi. Wajah yang tampan itu memiliki sepasang mata yang mencorong tajam dan mulutnya selalu tersenyum manis. Akan tetapi pembawaan dirinya, sikapnya dengan samar menunjukkan ketinggian hatinya.

Biarpun usianya masih muda, akan tetapi Tejakasmala ini adalah seorang pemuda yang amat sakti mandraguna karena dia adalah kakak seperguruan kedua saudara kembar itu, atau murid tersayang dari Sang Bhagawan Ekabrata yang telah menurunkan semua ilmu kepandaiannya kepada Tejakasmala.

Adipati Blambangan yang sudah mengenalnya dan tahu betapa saktinya pemuda ini, segera menyambut dengan ramah. "Selamat datang, Anakmas Tejakasmala, bahagia sekali hati kami menyambut kedatangan Anakmas! Silakan duduk, Anakmas!" Sang Adipati juga menyambut dua orang yang datang bersama pemuda itu karena dia pun sudah mengenal Cakrasakti dan Cakrabaya, dua orang senopati Klungkung yang terkenal sakti dan ahli perang.

Cakrasakti berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan sepasang matanya sipit, hidungnya pesek dan mulutnya cemberut seperti orang mau menangis. Adapun Candrabaya berusia sekitar tiga puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar wajahnya bopeng bekas cacar, matanya lebar dan jarang berkedip, hidungnya besar dan mulutnya selalu menyeringai.

Setelah mereka semua duduk, Adipati Blambangan lalu membuka pertemuan itu dengan kata-kata lantang. "Para undangan dan utusan, para sahabat yang kami hormati. Kami merasa berbahagia sekali dan berterima kasih bahwa Andika sekalian hari ini telah datang memenuhi undangan kami. Hanya sayang bahwa pihak yang juga kami harap-harapkan, yaitu utusan dari Kumpeni Belanda, belum juga tiba disini..."

Tiba-tiba terdengar suara nyaring, "Sang Adipati, kami datang!" dan tampak berkelebat sebuah bayangan. Seorang pria berusia enam puluhan tahun, bertubuh sedang, berpakaian mewah, kedua lengannya dilingkari akar bahar hitam, wajahnya licin tanpa kumis atau jenggot, mukanya seperti mayat karena pucat pasi, telah berdiri dalam ruangan itu. Dengan matanya yang bersinar tajam dia menyapu ke arah semua tamu, lalu dia memandang kepada Adipati Blambangan dan tertawa.

"Ha-ha-ha, maafkan kelambatan kami, Sang Adipati. Perkenalkan, aku adalah Arya Bratadewa, utusan Kumpeni Belanda dan mewakili pihak Kumpeni untuk menghadiri pertemuan ini. Kami agak terlambat karena kapal kami bertemu kapal pasukan Mataram sehingga terjadi pertempuran, akan tetapi kapal kami dapat mengusir tiga buah kapal Mataram itu!" Dia tertawa bangga.

Adipati Blambangan maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi juga, terbukti dari cara dia memasuki ruangan itu. "Ah, selamat datang, Arya Bratadewa, dan silakan duduk. Kami berbahagia sekali menerima utusan dari Kumpeni Belanda. Apakah Andika membawa pesan dari Kapten Van Klompen?"

"Tepat sekali! Aku datang membawakan sesuatu dari Kapten Van Klompen yang pasti akan membuat Andika senang." Arya Bratadewa bertepuk tangan sambil menoleh ke arah pintu dan tampak empat orang bertubuh tinggi besar seperti raksasa menggotong dua buah peti.

Setelah empat orang itu meletakkan dua peti di atas lantai, Arya Bratadewa menyuruh mereka membuka tutup peti. Dua buah peti dibuka dan semua orang tercengang melihat isinya. Ternyata isinya adalah senapan-senapan dan peluru senapannya!

Wajah Adipati Santa Guna Alit berseri melihat ini. Dengan adanya senjata-senjata itu kedudukannya menjadi semakin kuat untuk menentang Mataram! Dia berterima kasih dan mempersilakan Arya Bratadewa mengambil tempat duduk dan memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkan dan menyimpan dua peti senjata api itu ke dalam gudang kadipaten.

"Nah, sekarang rasanya semua undangan telah lengkap." kata Adipati Blambangan dengan suara girang setelah mendapatkan kiriman dua peti senapan itu.

"Kanjeng Rama, kalau tidak salah masih ada dua utusan yang belum datang, yaitu utusan dari Perguruan Driya Pawitra dari Grajagan dan juga kalau tidak salah, kita mengundang pula datuk wanita pertapa dari Gunung Betiri, ia juga belum datang." kata Dhirasanu mengingatkan Ayahnya.

"Ah, benar juga! Perguruan Driya Pawitra terkenal kuat dan Nini Kunti-garba dari Gunung Betiri juga merupakan tokoh sakti mandraguna. Mereka belum datang!"

Pada saat itu, seorang perajurit pengawal masuk dan melaporkan dengan sikap ragu-ragu. "Hamba melapor, Gusti Adipati. Seorang wakil dari Perguruan Driya Pawitra telah datang, akan tetapi..."

"Akan tetapi apa? Lapor yang betul!" bentak Dhirasani kepada perajurit itu.

"Ampun, Gusti. Wakil itu... ia hanya seorang gadis remaja!"

"Hem mm, seorang gadis remaja?" kata Sang Adipati. Dia menengok ke arah Bhagawan Kalasrenggi yang mengatur siapa-siapa yang akan diundang.

Bhagawan Kalasrenggi terkekeh. "Heh-heh-heh, biarpun seorang gadis remaja atau seorang bocah sekalipun, kalau dia sudah menjadi wakil yang dikirim oleh Perguruan Driya Pawitra dari Garjagan, tak boleh dipandang ringan. Harap Andika berdua sendiri yang menyambut wakil itu, Denmas Dhirasani dan Denmas Dhirasanu!"

Dua orang pemuda itu mengangguk dan mereka segera bangkit dan keluar dari ruangan. Setibanya di luar, Dhirasani dan Dhirasanu tertegun. Disana berdiri seorang gadis yang masih muda sekali, paling banyak delapan belas tahun usianya. Namun, dari sikap dan pandang mata yang tajam, dari tarikan mulut yang bibirnya merah basah dan indah itu, terbayang wibawa yang amat kuat.

Berdirinya tegak dan sikapnya lemah lembut dan sopan sehingga menimbulkan kesan terhormat. Jarang ada laki-laki iseng yang berani menggoda seorang wanita bersikap seperti itu karena kelemah-lembutan dan kewibawaannya sanggup mencairkan kekurang-ajaran yang timbul dalam benak pria karena melihat kecantikannya yang memiliki daya pikat amat kuatnya.

Tubuhnya sedang dengan pinggang ramping. Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, atau sebutir buah sedang ranum, bentuk tubuhnya sudah mendekati sempurna. Mungkin sebatang pedang yang tampak tergantung di punggungnya itu menambah wibawanya membuat laki-laki iseng tidak berani sembarangan menggodanya.

Dhirasani dan Dhirasanu terpesona, kagum akan kecantikan dara jelita itu. Akan tetapi mereka segera menyadari bahwa sikap mereka tidak sepatutnya, maka keduanya segera memberi hormat dengan membungkuk dan merangkap kedua tangan depan dada sebagai salam sembah. Dara itu pun membalasnya dengan sopan.

"Nimas Ayu, apakah Andika yang diperkenalkan oleh pengawal kami sebagai wakil dari Perguruan Driya Pawitra?"

Dara itu mengangguk dan menjawab singkat. "Benar, aku mewakili Perguruan Driya Pawitra dari Grajagan untuk memenuhi undangan Sang Adipati Blambangan."

"Ah, maaf kalau kami terlambat menyambut. Kami adalah putera-putera Kanjeng Rama Adipati, namaku Dhirasani dan ini adalah adik kembarku Dhirasanu." Dhirasani memperkenalkan diri.

Gadis itu kini tersenyum sekilas. Sejak dua orang pemuda itu muncul, ia sudah memandang penuh perhatian dan tampak bingung. Setelah mereka memperkenalkan diri, ia pun berkata sambil menahan senyumnya.

"Ah, Andika berdua sama benar. Akan sukar bagiku untuk mengenal mana yang adik dan mana yang kakak. Namaku adalah Ratna Manohara dan aku menjadi utusan guru atau ketua kami untuk menjadi wakil Driya Pawitra memenuhi undangan ini."

"Nimas Ayu Ratna, silakan masuk, semua orang sudah menunggu dan Kanjeng Rama Adipati sudah mengharapkan kedatangan Andika!" kata Dhirasani sambil memandang wajah ayu manis merak ati itu dengan hati terguncang.

"Mari Nimas Ayu Ratna, tanpa kehadiran Andika, rapat pertemuan ini akan menjadi kering dan sepi!" kata pula Dhirasanu, tak mau kalah dengan saudaranya untuk menarik hati Si Jelita. Ratna Manohara hanya mengangguk dan mengikuti dua orang saudara kembar itu memasuki ruangan pertemuan.

Ketika ia masuk, semua mata memandang, kagum dan heran. Kagum karena kecantikan gadis itu dan heran bagaimana Perguruan Driya Pawitra mengirim utusan seorang wanita dan masih begitu muda lagi! Padahal, pertemuan itu merupakan pertemuan orang-orang yang berilmu tinggi, datuk-datuk yang sakti mandraguna! Yang diam-diam merasa dongkol adalah Bhagawan Kalasrenggi karena dia mengundang ketua Perguruan Driya Pawitra akan tetapi ketua itu yang bernama Ki Sarwaguna tidak datang melainkan mengirim wakil seorang gadis muda! Dia menganggap hal ini tidak patut, apalagi karena dia memang tahu bahwa Ki Sarwaguna selama ini bersikap tak acuh terhadap usaha Blambangan untuk menentang Mataram.

Bhagawan Kalasrenggi menganggap sikap ketua Driya Pawitra ini tidak patut bahkan memandang rendah kepadanya yang menjadi orang kepercayaan Sang Adipati dan sudah mengirim undangan. Karena mendongkol, dia ingin memberi peringatan kepada Perguruan Driya Pawitra dengan membikin malu gadis muda yang menjadi utusannya itu.

Diam-diam dia memasang "Rajah" kepada sebuah kursi. Rajah ini merupakan sebuah ilmu sihir yang "mengisi" kursi itu dengan tenaga panas sehingga orang yang mendudukinya akan merasa pinggulnya seperti dibakar!

Semua orang yang berada disitu tentu saja merasa terheran melihat gadis muda cantik jelita menjadi utusan sebuah perguruan yang amat terkenal di daerah Blambangan. Hal ini adalah karena tidak mengenal siapa gadis itu. Kalau saja mereka sudah mengenalnya tentu tidak akan merasa heran.

Ratna Manohara yang baru berusia delapan belas tahun ini adalah puteri tunggal Ki Sarwaguna, ketua perguruan Driya Pawitra dan semuda itu sudah memiliki kesaktian yang cukup hebat. Sejak kecil sekali ia telah digembleng oleh ayahnya sendiri dan karena ia memang memiliki bakat besar, maka dalam usianya yang delapan belas sekarang ini ia telah hampir mewarisi semua aji kesaktian ayahnya! Ratna Manohara sama sekali bukan seorang gadis jelita yang lemah!

"Nona, silakan duduk disini!" Kaladhama menyodorkan kursi yang sudah diisi dengan rajah oleh Bhagawan Kalasrenggi tadi, atas isyarat gurunya itu.

Ratna Manohara mengangguk dan semua orang yang tadi melihat Bhagawan Kalasrenggi membuat rajah dengan gerakan tangan di atas kursi itu, memandang dengan hati tegang. Gadis cantik itu tentu akan menjerit kalau duduk di atas kursi itu. Akan tetapi Ratna Manohara menggerakkan tangannya seperti mengusap permukaan kursi itu, seperti hendak membersihkannya dari debu dan tiba-tiba saja kursi itu patah-patah!

"Hemm, kursi ini sudah rusak," kata gadis itu dengan tenang sambil memandang kepada Adipati Santa Guna Alit. "Paman Adipati, apakah tidak ada kursi lain yang tidak rusak?"

Dhirasani dan Dhirasanu dengan gerakan berbareng masing-masing mengambil sebuah kursi kosong dan menghampiri Ratna Manohara. "Silakan duduk di kursi ini, Nimas Ayu!" kata mereka berbareng pula.

Ratna Manohara tersenyum geli. Baginya, dua orang pemuda kembar ini sungguh membingungkan dan juga menggelikan. Ia menerima dua buah kursi itu karena merasa tidak enak kalau hanya menerima sebuah saja yang berarti menolak pemberian yang lain. Dengan kedua tangannya ia menerima dua buah kursi itu lalu mengerahkan tenaga sakti, mempertemukan sisi dua buah kursi itu. Terdengar suara keras dan dua buah kursi itu saling menempel sehingga menjadi sebuah kursi yang lebar. Ia lalu duduk di atas kursi lebar itu dengan sikap tenang!

Sekarang baru Bhagawan Kalasrenggi dan semua orang tahu bahwa Driya Pawitra tidak mengirim orang sembarangan sebagai wakil, melainkan seorang gadis muda cantik jelita yang sakti mandraguna!

Pada saat itu terdengar suara gaduh diluar, suara orang jatuh berdebukan diiringi keluh kesakitan. Mendengar ini, Adipati Santa Guna Alit mengerutkan alis dan memandang ke arah pintu. Dia merasa marah karena rapat pertemuan itu terganggu. Seorang perajurit pengawal dengan memegangi pipi kanannya yang membengkak kebiruan melapor dengan suara pelo karena bibirnya sebelah kanan turut membengkak.

"Ampun, Gusti Adipati, di luar ada seorang gadis mengamuk dan merobohkan para perajurit pengawal yang berjaga..."

Sang Adipati dan juga Bhagawan Kalasrenggi menjadi marah mendengar laporan ini. Kakek pendeta itu segera memerintahkan Kalajana muridnya. "Coba lihat siapa yang berani membikin ribut diluar!"

Kalajana segera bangkit dan keluar dari ruangan, menuju ke depan. Ketika tiba di depan, dia melihat belasan orang perajurit pengawal rebah malang melintang di depan pendopo, merintih kesakitan sambil memegangi bagian muka yang membengkak. Ada yang bibirnya berdarah, ada yang giginya rompal, ada yang tulang hidungnya patah dan ada yang matanya menghitam. Dan disana masih ada belasan orang perajurit lain yang mengeroyok seorang gadis muda.

Para pengeroyok itu kini menggunakan senjata tajam setelah melihat betapa rekan-rekan mereka dihajar berpelantingan. Belasan golok dan pedang berkelebatan menyerang ke arah gadis itu, akan tetapi gadis itu berkelebatan dan tubuhnya bagaikan bayangan menari-nari diantara sambaran senjata tajam sambil membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga beberapa orang berpelantingan.

Kalajana terkejut. Gadis itu sama sekali tidak bersenjata walaupun ia memiliki sebuah keris yang terselip di pinggang dan sehelai sabuk yang diikat di pinggangnya. Kalajana mengenal sabuk seperti itu yang juga dapat dipergunakan sebagai senjata. Gadis itu menghadapi pengeroyokan belasan orang bersenjata golok dan pedang dengan tangan kosong saja! Melihat betapa beberapa orang perajurit roboh, dia tahu bahwa kalau dilanjutkan, semua perajurit itu akan roboh. Dia melompat ke depan pendopo dan berseru. "Semua perajurit mundur!!"

Mendengar seruan ini dan melihat bahwa yang berseru adalah Kalajana, para perajurit yang masih mengeroyok itu segera berlompatan ke belakang.

Gadis itu berdiri sambil bertolak pinggang dan tersenyum manis, namun senyum dan pandang matanya mengandung ejekan ketika ia memandang kepada Kalajana yang maju menghampirinya.

cerita silat online karya kho ping hoo

Kalajana memandang kagum. Gadis ini juga cantik jelita seperti utusan Perguruan Driya Pawitra tadi, usianya sekitar sembilan belas tahun. Pakaiannya mewah dan indah, rambutnya hitam panjang terurai di punggung dan berombak. Wajahnya berbentuk bulat telur dengan dagu meruncing manis, sepasang matanya berkilat tajam, hidungnya lucu, mancung menjungat ke atas sehingga ada kesan menantang, mulutnya berbentuk indah menggairahkan. Namun, berbeda dengan Ratna Manohara tadi, gadis ini sikapnya ugal-ugalan, liar, galak dan pemberani.

Melihat kini ada dua puluh orang lebih yang telah roboh, Kalajana maklum bahwa gadis itu seorang yang berkepandaian tinggi. Dia tidak berani sembarangan, maka dia menoleh kepada seorang perajurit yang pipinya bengkak dan berada di dekatnya. "Apa yang terjadi? Mengapa kalian mengeroyok wanita itu?" tanya Kalajana.

Sambil memegangi pipinya yang bengkak membiru, perajurit itu menjawab, "Gadis itu memukul pemimpin regu penjaga sampai giginya rontok semua dan pingsan, maka kami lalu mengeroyoknya."

Kalajana mengerutkan alisnya. Ternyata gadis cantik ini telah sengaja membuat kekacauan, pikirnya. Itu berarti menantang Sang Adipati! Hendak kulihat sampai dimana kedigdayaannya maka ia berani lancang memukul perwira pengawal.

"Bocah perempuan jahat, agaknya engkau hendak memamerkan kepandaian disini. Coba sambutlah Aji Tatit Geni dariku ini, kalau engkau memang sakti. Hyaaaaaaattt...!"

Kalajana mendorongkan kedua tangannya dari jarak sekitar empat depa dari gadis itu. Dari kedua telapak tangannya menyambar kilat api ke arah gadis itu! Tentu saja dia membatasi tenaganya karena dia tidak ingin membunuh gadis itu sebelum dia ketahui siapa dara itu sesungguhnya. Dia menyerang hanya untuk menguji kepandaian orang, akan tetapi aji pukulannya itu memang dahsyat bukan main.

Gadis itu malah tertawa! "Hi-hi-hik, ini ada pula monyet besar jelek hendak membadut di depanku." Dan gadis itu lalu mendorongkan kedua tangannya yang berkulit putih dan bentuknya indah itu menyambut serangan itu. Dari kedua telapak tangan yang mungil dan putih mulus itu menyambar keluar semacam awan yang kemerahan. Itulah Aji Niraja Jingga (Awan Merah).

"Wuuuttt... dessss...!" Tenaga pukulan Kalajana terpental dan membalik sehingga amat mengejutkan murid Bhagawan Kalasrenggi itu. Dia lalu mengerahkan tenaganya, mendorong kembali tenaga serangannya yang membalik. Akan tetapi dia bertemu dengan tenaga yang amat kuat dari awan merah itu sehingga aji pukulannya itu tidak mampu mendesak pertahanan lawan. Dia menghentikan serangannya.

"Hemm, kiranya Nona memiliki kesaktian. Akan tetapi kenapa Andika datang membikin kekacauan dan memukul roboh para perajurit pengawal kami?" tegur Kalajana.

Gadis itu tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang rapi dan putih. "Heh-heh-hi-hi! Engkau ini orang yang munafik, lahirnya bersih batinnya kotor seperti buah mangga yang kulitnya mulus dalamnya berulat! Engkau memutar balikkan kenyataan. Engkau yang lebih dulu menyerangku dan sekarang kau katakan aku membikin kacau?"

"Akan tetapi engkau memukul roboh para perajurit pengawal kami!"

"Tentu saja! Apa kalau dikeroyok aku harus diam saja membiarkan tubuhku dicincang oleh mereka?"

"Hemm..." Kalajana agak kewalahan. Gadis itu terdengar galak dan pandai berdebat. Akan tetapi dia masih mengejar. "Lalu kenapa engkau dikeroyok? Dan kenapa engkau memukul roboh perwira mereka?"

Gadis itu menjawab dengan mudah tanpa dipikir dulu, hal ini menunjukkan bahwa ia memang seorang yang pandai berdebat. "Aku bukan anak kecil yang cengeng dan suka melapor kepada kakeknya kalau diganggu orang. Maka pertanyaan itu mengapa tidak kau ajukan saja kepada mereka yang mengeroyokku?"

Wajah Kalajana yang bopeng itu menjadi kemerahan. Dalam kata-kata itu seolah-olah gadis ini menyamakan dia dengan seorang kakek-kakek! Padahal dia tidaklah begitu tua, baru tiga puluh tahun usianya. Akan tetapi ucapannya itu benar juga maka dia lalu menoleh kepada perajurit tadi dan bertanya.

"Katakan, mengapa kalian mengeroyok nona ini!" Pertanyaan itu lebih merupakan bentakan sehingga perajurit itu menjadi ketakutan. "Tadi kau katakan bahwa ia memukul roboh perwira pasukan pengawal. Nah, kenapa perwira itu dipukul oleh nona ini?"

"Begini awal mulanya, Denmas." Kalajana dan Kaladhama menuntut agar disebut Denmas oleh para perajurit seolah mereka itu keturunan bangsawan tinggi! "Tadi gadis itu muncul dan dengan sikap sombong minta kepada kami agar dipanggilkan Gusti Adipati atau wakilnya supaya keluar menyambut kedatangannya. Perwira kami yang merasa tidak senang dengan sikap gadis itu, lalu menggodanya dan gadis itu lalu menghajarnya sampai roboh pingsan dengan gigi rontok."

Karena ingin mengetahui sejelasnya, Kalajana bertanya lagi. "Godaan bagaimana yang dilakukan perwira penjaga?"

"Dia berkata begini, 'Nimas yang ayu manis merak ati, daripada engkau minta yang bukan-bukan, lebih baik engkau ikut dengan aku ke dalam gardu dan kita bersenang-senang karena aku cinta padamu, Nimas!' Begitulah dia menggoda."

"Nah, engkau sudah mendengar semua, bukan? Ada akibat tentu ada sebabnya. Aku merobohkan para perajurit, itulah akibat dan sebabnya adalah karena mereka mengeroyok aku! Mereka mengeroyokku sebab aku memukul pingsan perwira mereka. Aku menghajar perwira itu karena dia mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. Perwira itu mengeluarkan kata-kata tidak sopan, itulah akibat dan sebabnya adalah karena dia adalah seorang yang wataknya busuk dan kurang ajar, maka kuhajar! Sekarang engkau lihat, siapa yang menjadi sebab dan bersalah dalam peristiwa ini?"

Kalajana merasa kewalahan dan bagaimanapun juga, semua ucapan gadis itu tidak dapat dibantah kebenarannya. "Akan tetapi, Nona, kenapa engkau minta agar Gusti Adipati atau wakilnya keluar menyambutmu?"

"Tentu saja karena dia adalah tuan rumah dan aku adalah tamu yang diundang!"

"Ah, maaf, kalau begitu para pengawal yang salah. Jadi Nona adalah seorang diantara para tamu yang diundang oleh Gusti Adipati?"

"Yang diundang adalah guruku dan aku adalah murid yang mewakilinya untuk memenuhi undangan itu."

"Kalau begitu selamat datang dan mari kita masuk ke dalam ruangan dimana para tamu yang lain telah datang dan berkumpul. Akan tetapi, siapakah namamu, Nona?"

"Kau katakan dulu siapa namamu agar kuketahui apakah engkau layak menyambut aku!"

Kalajana menghela napas. Gadis ini benar-benar luar biasa. Selain sakti, juga amat angkuh dan luar biasa pandainya berdebat. "Ketahuilah, Nona. Yang mengundang untuk pertemuan ini memang Gusti Adipati, akan tetapi pelaksanaannya adalah Bhagawan Kalasrenggi dan aku adalah muridnya yang bernama Kalajana. Nah, apakah engkau puas disambut oleh murid yang mewakili gurunya?"

"Hemm, boleh juga. Aku datang mewakili guruku yang bernama Nini Kuntigarba dari Gunung Betiri dan aku muridnya bernama Ken Darmini."

Terkejutlah Kalajana mendengar bahwa gadis ini murid Nini Kuntigarba. Tentu saja dia mengenal siapa itu Nini Kunti-garba, seorang nenek yang sakti mandraguna dan ditakuti semua orang, seorang datuk wanita yang diam-diam dijuluki orang Biyang Iblis

"Ah, sekali lagi maafkan anak buahku, Nona. Mari silakan masuk menemui Gusti Adipati Blambangan yang sudah berada di ruangan pertemuan bersama semua tamu undangan."

Sekali ini, Ken Darmini tidak membantah dan ia mengikuti Kalajana memasuki gedung dan langsung menuju ke ruangan pertemuan dimana semua orang telah menanti-nanti kembalinya Kalajana. Setelah Kalajana memasuki ruangan bersama seorang gadis muda yang cantik jelita dan tersenyum-senyum menyapu semua orang yang berada di ruangan itu, mereka merasa kagum dan heran. Kalajana cepat melapor kepada Adipati Santa Guna Alit.

"Gusti Adipati, ini adalah Nona Ken Darmini yang datang sebagai murid atau utusan gurunya, yaitu Nini Kuntigarba dari Gunung Betiri. Tadi telah terjadi kesalah-pahaman antara Nona ini dengan para perajurit pengawal sehingga terjadi sedikit keributan, akan tetapi semua telah dapat diselesaikan." kata Kalajana.

"Eh-he-he-heh! Ken Darmini, kenapa gurumu, Nini Kuntigarba tidak datang sendiri? Aku, Bhagawan Kalasrenggi yang mengundangnya atas nama Sang Adipati Blambangan. Apakah dia tidak menganggap kami sebagai sahabat?" tanya Bhagawan Kalasrenggi dengan suaranya yang tinggi.

"Bhagawan Kalasrenggi, guruku bilang bahwa ia tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Andika. Kalau ia mengutus aku menjadi wakilnya memenuhi undangan pada hari ini, hanya karena guruku menghormati Sang Adipati Blambangan sebagai penguasa daerah ini." jawab Ken Darmini lantang.

Mendengar ini, Sang Adipati Blambangan tersenyum dan berkata dengan ramah. "Ken Darmini, kami merasa girang bahwa Andika mewakili Nini Kuntigarba datang menghadiri pertemuan ini, Silakan duduk."

Tiba-tiba terdengar suara yang tinggi dan suara itu menggetar penuh wibawa yang amat kuat. "Ken Darmini, Andika duduklah disini...!" Itu adalah suara Bhagawan Kalasrenggi yang mengerahkan tenaga sihirnya untuk mempengaruhi Ken Darmini agar duduk di sebelahnya! Kekuatan sihir ini terasa oleh semua orang dan mereka memandang kepada Ken Darmini dengan wajah tegang karena perintah itu sudah merupakan serangan ilmu sihir dan kalau gadis itu mentaati perintah itu berarti dara itu telah kalah!

Semua orang melihat betapa Ken Darmini yang mendengar ucapan itu menoleh dan memandang kepada Bhagawan Kalasrenggi, lalu... ia menggerakkan kakinya menghampiri kakek itu!

Semua orang memandang dengan hati tegang. Bahkan Ratna Manohara berdiri dari kursinya. Ia tidak mengenal Ken Darmini walaupun ia juga pernah mendengar nama besar Nini Kuntigarba yang dijuluki Biyang Iblis. Akan tetapi melihat bahwa dalam pertemuan itu hanya ada dua orang wanita, ia dan Ken Darmini, maka tentu saja hatinya condong membela Ken Darmini. Akan tetapi biarpun ia tahu bahwa kakek yang mengerikan itu menyerang Ken Darmini dengan kekuatan sihir, ia tidak boleh membantu Ken Darmini, karena hal itu dianggap tidak sopan melakukan pengeroyokan! Maka ia pun diam saja hanya memandang dengan penuh perhatian dan sepasang alisnya yang hitam kecil melengkung panjang itu berkerut.

Akan tetapi terjadi perubahan yang tidak tersangka-sangka. Setelah melangkah menghampiri Bhagawan Kalasrenggi dan tampaknya Ken Darmini kalah dan taat, duduk di atas kursi disamping kakek yang memerintahnya itu, dan kini telah tiba dalam jarak tiga meter dari Bhagawan Kalasrenggi, tiba-tiba Ken Darmini berhenti melangkah dan memandang kakek itu dengan mata mencorong dan bibir yang manis itu tersenyum mengejek, lalu jari tangan kanannya menuding ke arah muka kakek itu dan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Heh, kakek tua bangka tengik! Mentang-mentang kamu ini dukun lepus, kamu yang tua bangka hendak mempermainkan orang muda, ya? Dan begitu itu yang kau katakan bersahabat tadi? Hemm, jangan kira aku gentar menghadapi tenung dan santetmu!"

Semua orang tertegun sekali. Pertama, melihat kenyataan bahwa gadis yang usianya belum ada dua puluh tahun itu mampu mengatasi pengaruh kekuatan sihir Bhagawan Kalasrenggi yang amat dahsyat. Dan ke dua mendengar betapa ucapan gadis itu amat keras dan nadanya menantang Sang Bhagawan!

Bhagawan Kalasrenggi menjadi merah mukanya karena malu. Sihirnya gagal dan bukan dia yang mempermalukan gadis itu, sebaliknya Ken Darmini yang mempermalukan dia di depan banyak orang! Akan tetapi karena mereka berada di depan Sang Adipati dan tujuan pertemuan ini untuk bersatu padu menghimpun kekuatan menghadapi Mataram, maka dia menahan kemarahannya dan terkekeh.

"Heh-heh-heh, Ken Darmini! Aku tidak berniat buruk, hanya ingin menguji sampai dimana kehebatan seorang murid Nini Kuntigarba dan ternyata Andika memang hebat dan kuat sekali!"

Melihat ini, Sang Adipati Blambangan lalu cepat berkata, "Kami harap agar pertemuan penting ini tidak diganggu oleh urusan pribadi. Ken Darmini, kami mempersilakan Andika memilih dan mengambil tempat duduk karena pembicaraan akan segera kami mulai."

Ken Darmini yang tadinya memandang kepada kakek itu dengan mata mencorong, kini tersenyum dan menghadap Sang Adipati sambil berkata, "Terima kasih dan maafkan saya, Paman Adipati!" Gadis ini memang watak dan sikapnya liar, bahkan ia begitu saja menyebut Adipati Blambangan dengan panggilan "paman"!

"Ken Darmini, disini ada kursi kosong. Aku Ratna Manohara murid Driya Pawitra mengundangmu duduk di sebelahku kalau engkau suka."

Ken Darmini memandang ke arah gadis dari Grajagan itu, lalu ia menyapu ke arah para datuk dan undangan yang hadir disitu. Ia tersenyum lebar. "He-he-heh! Kulihat bahwa hanya kita berdua sajalah wanita yang hadir disini. Baik, aku suka duduk disebelahmu, Ratna!"

Ia lalu melangkah cepat menghampiri Ratna Manohara dan duduk di atas kursi di sebelahnya. Dua orang dara jelita yang muda dan sakti mandraguna ini segera bercakap-cakap dengan suara setengah berbisik, tampaknya gembira dan asyik, tanpa mengacuhkan orang-orang yang berada disitu.

Melihat ini, Sang Adipati Blambangan mengerutkan alisnya, akan tetapi mulutnya tersenyum dan dia menggeleng-geleng kepalanya. Para tamu juga hanya dapat menggeleng-geleng kepala, merasa tidak berdaya. Mereka semua tahu bahwa kalau dua orang wanita saling bertemu dan mereka merasa suka satu sama lain, tentu mereka berdua akan berceloteh dan ngobrol dengan gembira. Sebetulnya yang banyak bicara adalah Ken Darmini.

Sang Adipati Blambangan memperkuat suaranya ketika dia berkata, "Kami ulangi lagi ucapan selamat datang dan terima kasih kami bahwa Andika sekalian suka memenuhi undangan kami. Kita datang dari berbagai daerah, akan tetapi mempunyai satu persamaan, yaitu kita semua menentang Mataram. Persamaan ini membuat kita dapat bekerja sama dengan baik untuk menghadapi ancaman Mataram dan menentangnya kalau Mataram berani datang menyerang. Dengan mempersatukan segenap kekuatan kita, kita bahkan akan mampu menyerang dan menundukkan Mataram atau sedikitnya dapat menimbulkan kekacauan di Mataram sehingga melemahkan kekuatan mereka. Apakah diantara Andika sekalian ada yang ingin memberi tanggapan atas pendapat yang kami kemukakan itu?"

Kebanyakan dari mereka mengangguk-angguk, merasa setuju. Tejakasmala utusan dari Raja Klungkung yang masih muda dan berwajah tampan dan gagah itu, berbisik kepada Cakrasakti, seorang diantara dua orang Senopati Klungkung yang duduk disebelahnya.

Senopati Bali Cakrasakti lalu berkata dengan suara lantang. "Kami wakil Kerajaan Klungkung di Bali-dwipa setuju sekali. Mataram memang musuh kita!"

Terdengar suara tawa yang serak dan terbahak-bahak. "Hak-hak-hak! Tepat sekali, kami utusan Kumpeni Belanda juga setuju sepenuhnya. Kita harus menghentikan keangkara-murkaan Mataram yang ingin menjajah semua daerah!" Suara ini diucapkan oleh Arya Bratadewa, datuk Banten yang menjadi antek Kumpeni.

Mendengar pernyataan utusan Kerajaan Klungkung di Bali dan utusan Kumpeni Belanda yang merupakan dua kekuatan terbesar, hampir semua tamu menyatakan setuju.

Sejak tadi Bhagawan Kalasrenggi memperhatikan sikap Wiku Menak Jelangger yang dia tahu biasanya tidak memperlihatkan sikap bermusuhan terhadap Mataram. Dia melihat Sang Wiku tidak ikut ramai-ramai menyatakan setuju dengan ucapan Sang Adipati, hanya duduk diam saja, maka dia pun bertanya dengan suara nyaring sehingga semua orang terdiam mendengarkan.

"Heh-heh-heh, sahabat Wiku Menak Jelangger!" Suara Bhagawan Kalasrenggi itu tinggi melengking seperti suara wanita. "Aku melihat Andika diam saja. Bagaimana tanggapan Andika terhadap pernyataan Sang Adipati tadi? Karena Andika adalah seorang datuk dari Blambangan maka kami ingin sekali mendengar pendapat Andika!"

Semua orang kini memandang kepada Wiku Menak Jelangger dan ingin sekali mengetahui jawaban tokoh Blambangan ini. Sang Wiku bersikap tenang saja mendengar pertanyaan Bhagawan Kalasrenggi yang berhasil menarik hati Adipati Blambangan sehingga diangkat menjadi penasihat dan orang kepercayaan. Dia lalu menjawab, suaranya lembut.

"Jagad Dewa Bathara! Sahabat Bhagawan Kalasrenggi, kenapa Andika masih menanyakan hal itu kepadaku? Aku adalah seorang kawula Blambangan, oleh karena itu, kerajaan mana pun, siapa pun kalau mengacau dan mengganggu rakyat di Blambangan, pasti akan kutentang. Aku akan membela Blambangan dengan taruhan nyawa!"

"Heh-heh, sahabat Wiku Menak Jelangger, Andika belum menjelaskan apakah Mataram itu Andika anggap musuh atau bukan?" Bhagawan Kalasrenggi mendesak.

"Sudah kukatakan bahwa aku akan menganggap siapa saja yang mengganggu kehidupan rakyat Blambangan sebagai musuh. Dan siapapun juga yang tidak menyerang Blambangan dan tidak mengganggu rakyatnya, tentu saja tidak kutentang."

"Wah, tepat sekali ucapan Sang Wiku Menak Jelangger itu! Aku setuju sepenuhnya. Kalau orang tidak mengganggu kita, untuk apa kita tentang? Siapa yang mengganggu kita, itulah musuh kita!" kata Ken Darmini dengan suara lantang.

Ia adalah seorang gadis yang galak, ugal-ugalan, berani, akan tetapi terbuka dan jujur, apa yang keluar dari mulutnya langsung keluar dari hatinya. "Eh, Ratna, engkau sebagai wakil Driya Pawitra, bagaimana pandapatmu dengan ucapan Wiku Menak Jelangger tadi?"

Dengan suara lembut namun cukup tegas Ratna Manohara menjawab pertanyaan itu. "Aku pun setuju dengan pendapatmu tadi, Ken Darmini. Kami sama sekali tidak ingin mencari permusuhan, akan tetapi kalau kami diganggu, tentu saja kami akan melawan dengan taruhan nyawa kami!"

Semua orang lalu saling bicara sendiri mendengar ucapan Wiku Menak Jelangger, Ken Darmini dan Ratna Manohara itu. Mendengar ucapan tiga orang itu, diam-diam Adipati Blambangan merasa tidak puas. Dia mengumpulkan semua kekuatan untuk digabungkan bukan hanya untuk mempertahankan Blambangan kalau diserang Mataram, akan tetapi juga untuk menyerang dan kalau mungkin menundukkan Kerajaan Mataram. Maka dia ingin sekali mendengar utusan Kumpeni Belanda karena dia yakin bahwa Kumpeni akan menyokong niatnya menyerbu daerah Mataram. Dia mengangkat tangan kanan ke atas minta mereka tenang dan suara biasing itu perlahan-lahan mereda karena semua orang ingin mendengar apa yang akan dikatakan Sang Adipati.

"Saudara sekalian, kita masih ingin mendengarkan pendapat pihak lain. Kami persilakan utusan Kumpeni untuk menyatakan pendapatnya."

"Hak-hak-hak! Kalau Sang Adipati menanyakan, sekali lagi kami tegaskan bahwa Kumpeni selalu menganggap Mataram sebagai musuh! Bahkan beberapa tahun yang lalu Mataram pernah dua kali berturut-turut menyerbu Batavia, akan tetapi pihak Kumpeni dapat bertahan dan mengusir mereka. Tentu saja kami mendukung Blambangan untuk memusuhi Mataram dengan segala cara! Ha-ha-hak!" Arya Bratadewa tertawa lagi terbahak-bahak.

Tiba-tiba terdengar suara yang halus, namun mengandung getaran kekuatan yang mengguncang hati semua orang. Itulah suara Tejakasmala yang bicara sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya mengandung getaran kuat dan berwibawa.

"Paman Adipati, saudara-saudara sekalian! Pendapat Andika sekalian itu benar. Juga pendapat Nimas Ayu Ratna Manohara dan Nimas Ayu Ken Darmini tadi tidak salah! Mereka berdua, maksud saya bertiga dengan Paman Wiku Menak Jelangger, menyatakan pendapat berdasarkan kepentingan pribadi, bukan seperti kami yang pendapatnya berdasarkan kepentingan kerajaan. Saya kira hal ini adalah karena mereka bertiga itu, belum mengerti akan urusan politik negara. Mereka tidak menyadari akan keangkara-murkaan Mataram yang sudah mendudukkan dan menjajah banyak daerah, yang terakhir daerah Kadipaten Surabaya, Madura dan Giri. Karena tidak mengerti, biarlah mereka itu berdiri di atas pendapat mereka sendiri. Setidaknya, Blambangan tentu akan mereka bela mati-matian kalau sampai diserang Mataram. Bukankah demikian, Paman Wiku Menak Jelangger, Nimas Ayu Ken Darmini dan Nimas Ayu Ratna Manohara?"

Sang Wiku Menak Jelangger hanya mengangguk-angguk, mau tidak mau membenarkan ucapan utusan Kerajaan Klungkung yang masih muda itu, walau pun di dalam hatinya ada perasaan tidak suka kepada pemuda yang tampan halus ini, mungkin perasaan ini timbul karena pancaran sinar mata pemuda tampan gagah itu.

"Ya, aku tidak menyangkal. Aku akan membela Blambangan kalau diserang musuh karena aku pun merasa menjadi warga-negara Blambangan, akan tetapi aku tidak mau diajak memusuhi kerajaan lain yang tidak mengganggu Blambangan!" kata Ken Darmini lantang.

"Aku setuju sekali dengan pendirian Mbakayu Ken Darmini!" kata Ratna Manohara.

"Heh-heh-heh, kalau pendirian Andika bertiga seperti itu, lalu apa gunanya mengikuti rapat pertemuan ini? Kami hendak membicarakan usaha kami menyerbu ke daerah Mataram yang menjadi musuh kami, kalau Andika bertiga tidak menyetujui tindakan yang akan kami lakukan itu, tidak perlu Andika berada disini. Nanti saja kalau Blambangan diserang musuh, Andika bertiga baru datang membela Blambangan bersama kami." kata Bhagawan Kalasrenggi dengan suaranya yang tinggi.

"Sadhu-sadhu-sadhu...!" kata Wiku Menak Jelangger sambil merangkap kedua tangan depan dada lalu bangkit berdiri. "Ucapan Sang Bhagawan Kalasrenggi itu tidak keliru. Saya mohon pamit, Sang Adipati setelah berkata demikian, Wiku Menak Jelangger lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah tegak.

"Huh! Untuk apa aku lebih lama disini hanya untuk mendengar dan melihat kesombongan seorang dukun tua bangka yang tengik? Paman Adipati, aku memang tidak perlu lagi tinggal disini lebih lama. Aku minta pamit!" kata Ken Darmini dengan galak, lalu ia menoleh kepada Ratna Manohara. "Adik Ratna, mari kita keluar dari sini!"

"Paman Adipati, saya pun mohon pamit karena tidak ada keperluan lagi disini." kata Ratna Manohara sambil berdiri dan dua orang dara jelita ini melangkah keluar dari ruangan itu.

Melihat ini, si kembar Dhirasani dan Dhirasanu merasa tidak enak hati. Tadinya mereka berdua terpesona dan tertarik oleh kecantikan Ratna Manohara. Kemudian Ken Darmini yang jelita juga amat menarik hati mereka berdua. Maka, melihat dua orang dara jelita itu meninggalkan ruangan dan tampaknya tidak senang hati, mereka segera berkata kepada ayah mereka, Sang Adipati Blambangan.

"Kanjeng Rama, kami hendak pergi keluar sebentar." Tanpa menunggu jawaban ayah mereka, kedua orang pemuda itu lalu keluar dari ruangan dan mengejar dua orang gadis yang sudah lebih dulu keluar dari situ.

Akan tetapi mereka tidak melihat dua orang gadis itu di luar. Mereka lalu bertanya kepada perajurit dan mendapat jawaban bahwa dua orang gadis itu menuju ke barat. Karena maklum bahwa dua orang gadis itu sakti dan mungkin menggunakan kepandaian mereka untuk berjalan cepat, dua orang muda kembar itu lalu berlari cepat mengejar ke barat.

Di pintu gerbang sebelah barat mereka mendengar dari penjaga pintu gerbang bahwa baru saja dua orang gadis yang mereka kejar itu lewat. Maka mereka terus melakukan pengejaran ke barat, keluar kota kadipaten dan akhirnya mereka dapat menyusul dua orang gadis yang sedang berjalan sambil bercakap-cakap itu.

"Nimas Ayu berdua, berhentilah sebentar, kami ingin bicara!" teriak Dhirasani sambil menghampiri bersama adik kembarnya, Dhirasanu.

Dua orang gadis itu menengok dan melihat dua orang pemuda kembar itu mengejar mereka, Ken Darmini tersenyum dan berbisik kepada Ratna Manohara. "Wah, Raden Nakula dan Raden Sadewa datang..., ataukah mereka itu lebih cocok disebut Raden Citraksi dan Raden Citraksa?"

Ratna Manohara tersenyum, geli hatinya mendengar ini. Nakula dan Sadewa adalah kakak beradik kembar dari tokoh tokoh Pandawa Lima, yaitu saudara ke empat dan ke lima. Ada pun Raden Citraksi dan Citraksa adalah dua orang kakak beradik dari pihak Kurawa yang ada yang mengira kembar, akan tetapi dua orang tokoh ini merupakan pemuda-pemuda yang sombong, takabur, galak, banyak lagak seperti sakti mandraguna, namun sesungguhnya lemah dan pengecut. Dua orang tokoh Kurawa ini oleh ki dalang sering dimunculkan sebagai dua orang tokoh yang menjemukan dan lucu.

Ketika tiba di depan dua orang gadis yang masih tersenyum lebar setengah tertawa-tawa itu, Dhirasani dan Dhirasanu merasa girang karena menduga bahwa dua orang dara jelita ini bergembira melihat mereka berdua!

"Nimas berdua, kami sungguh merasa bahagia sekali dapat bertemu dengan Andika berdua!" kata Dhirasani sambil menatap wajah Ken Darmini tanpa menyembunyikan rasa kagumnya. Pemuda ini memang telah tergila-gila begitu melihat Ken Darmini yang lincah dan pandai bicara.

"Tentu saja kita dapat saling bertemu karena kalian memang mengejar kami, bukan?" balas tanya Ken Darmini sambil tersenyum sehingga wajahnya tampak lebih menarik.

"Aku gembira sekali melihatmu, Nimas Ratna Manohara!" kata pula Dhirasanu yang lebih pendiam daripada kakak kembarnya dan dia lebih kagum kepada Ratna Manohara yang juga pendiam dan lembut.

"Akan tetapi kami tidak gembira karena andika berdua mengganggu perjalanan kami." Ucapan Ratna Manohara ini membuat Dhirasanu tertegun dan tak mampu bicara lagi.

"He-he, aku tidak tahu antara kalian ini, mana yang Citraksi mana Citraksa..."

"Citraksi Citraksa...?" tanya Dhirasani heran sambil memandang kepada Ken Darmini yang setelah berkata tadi lalu tertawa geli.

Ratna Manohara juga tidak dapat menahan tawanya sehingga dua orang gadis itu kembali tertawa-tawa sampai membungkuk-bungkuk menutupi mulut mereka.

"Hi-hi-hi-hik..." Ratna Manohara mengikik geli.

'"Heh-heh-he-he-he..." Ken Darmini terkekeh-kekeh, lalu berhasil menghentikan tawanya dan memandang kepada dua orang itu bergantian. "Maksudku... eh, aku lupa lagi nama Andika berdua!"

Ia tidak berbohong. Memang ia telah lupa lagi siapa nama mereka karena tadi-pun belum berkenalan. Ia hanya mendengar nama mereka disebut Ratna Manohara ketika mereka bercakap-cakap membicarakan mereka yang hadir di Kadipaten Blambangan tadi.

"Nimas Ken Darmini," kata Dhirasani yang tidak marah malah merasa betapa lucunya gadis itu, menganggap ia hanya berkelakar ketika menyebut nama dia dan adiknya sebagai Citraksi dan Citraksa. "Perkenalkanlah, kami berdua adalah saudara kembar, putera-putera Sang Adipati Santa Guna Alit penguasa Blambangan. Namaku adalah Dhirasani dan ini adik kembarku bernama Dhirasanu!"

"Sudahlah, diperkenalkan juga aku tetap akan bingung membedakan mana yang Dhirasani dan mana yang Dhirasanu. Nah, kalau kalian ingin melanjutkan bicara dengan kami, sekarang yang bernama Dhirasani harus menanggalkan ikat kepalanya dan biar yang bernama Dhirasanu tetap memakai ikat kepala. Dengan begitu aku tidak akan menjadi bingung. Kalau tidak mau, kami pun tidak sudi bicara dengan kalian karena aku menjadi bingung." kata Ken Darmini.

Dua orang saudara kembar itu saling pandang, kemudian Dhirasani yang memang sudah tergila-gila kepada Ken Darmini, terpaksa memenuhi tuntutan itu dan dia menanggalkan kain kepalanya. Tanpa kain pengikat kepala ini tentu saja sekarang mudah membedakan diantara mereka.

"Nah, bagus begitu. Sekarang katakan apa mau kalian mengejar kami!" kini Ratna Manohara yang bertanya.

Karena yang bertanya gadis murid perguruan Driya Pawitra ini, gadis yang menjatuhkan hatinya, Dhirasanu yang cepat menjawab. "Begini, Nimas Ratna Manohara. Sebetulnya kami berdua menyusul Andika berdua atas kehendak kami sendiri, tidak diutus siapa pun, karena kami merasa kasihan melihat Andika berdua. Sudah jauh-jauh Andika berdua datang berkunjung, sebelum Andika berdua kami sambut dengan baik Andika sudah pulang lagi!"

"Hemm, untuk apa kami hadir dalam pertemuan yang hendak membicarakan urusan mengacau di daerah Mataram dan mencari penyakit? Tidak ada sangkut pautnya dengan kami!" kata Ratna Manohara.

"Karena itulah maka kami berdua mengejar Andika untuk minta maaf akan apa yang telah terjadi dalam ruangan pertemuan tadi. Kami berdua ingin bersahabat baik dengan Andika berdua, karena itu kini kami mengundang Andika berdua untuk menjadi tamu kehormatan kami. Ini merupakan urusan pribadi dan kami berjanji tidak akan bicara tentang urusan negara. Kami ingin menjamu Andika berdua dengan pesta yang tentu akan menyenangkan hati Andika berdua!" kata Dhirasani.

Thanks for reading Bagus Sajiwo Jilid 17 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »