Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 11

BAGUS SAJIWO memandang ke arah pertandingan dan berkata, "Dewi, kurasa pertandingan itu tidak akan berlangsung lama lagi. Kuharap saja Ki Sumali itu benar-benar seorang pendekar dan tidak akan membunuh lawannya."

Ki Sumali memang sedang mendesak Kyai Jagalabilawa yang berubah menjadi dua orang itu. Suling dan kerisnya bergerak cepat dan setiap kali senjatanya berbenturan dengan senjata lawan, maka lawan yang menjadi dua badan itu terhuyung ke belakang. Kini pertandingan sudah meningkat dan Ki Sumali mendesak lawannya dengan hebat. Dia mendengar pula ucapan terakhir Bagus Sajiwo tadi yang memang menujukan suaranya sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suara itu seolah memasuki telinga Ki Sumali.

Pendekar ini seketika sadar bahwa sesungguhnya dia tidak mempunyai permusuhan apapun dengan Kyai Jagalabilawa maka sungguh tidak perlu dan tidak baik kalau sampai dia membunuhnya dalam pertandingan ini. Seorang pendekar memang pantang membunuh lawan tanpa alasan yang kuat. Seolah menaati ucapan dan harapan pemuda teman Nyi Maya Dewi itu, Ki Sumali mengendurkan desakannya.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang tamu yang duduk di bagian orang muda berlompatan ke tengah ruangan. Mereka berusia sekitar tiga puluh tahun dan keduanya memegang sebatang pedang. Seorang diantara mereka berteriak lantang.

"Bunuh telik-sandi Mataram!" Dua orang itu lalu menerjang ke depan dan menyerang Ki Sumali dengan pedang mereka!

"Wah, ini tidak adil! Sama sekali tidak adil!" Tiba-tiba Nyi Maya Dewi sudah melompat ke depan dan tampak sinar keemasan berkelebat ketika ia menggerakkan Sabuk Cinde Kencana. Gulungan sinar keemasan itu menyambar dan menyerang ke arah dua orang muda yang mengeroyok Ki Sumali! Dua orang muda itu cepat menangkis dengan pedang mereka.

"Wuuutt... prat-pratt!!" Biarpun ditangkis, namun sabuk panjang itu ujungnya masih sempat melecut pundak kedua orang itu dan dua orang muda itu terhuyung ke belakang sambil menangkis dan memegangi pundaknya.

Akan tetapi melihat Nyi Maya Dewi membantu Ki Sumali, hal yang sungguh tidak pernah disangkanya karena keadaan datuk wanita itu sesungguhnya berlawanan dengan keadaan pendekar Loano. Jaka Bintara segera memberi isyarat kepada paman gurunya. Kyai Gagak Mudra lalu bangkit berdiri dan berseru lantang.

"Para saudara yang menentang telik-sandi Mataram, mari maju dan binasakan telik-sandi itu agar tidak mengkhianati kita!" Setelah berkata demikian, dia dan Jaka Bintara sudah menyerbu ke tengah ruangan, bermaksud menyerang Ki Sumali.

Akan tetapi Nyi Maya Dewi menjadi marah. "Curang! Curang sekali. Kalian berdua sebagai tuan rumah berat sebelah, tidak adil melakukan pengeroyokan!" Wanita itu cepat memutar Sabuk Cinde Kencana dan menyambut kedua orang dari Banten itu dengan serangan senjatanya.

Akan tetapi, pada saat itu dari tempat duduk para tamu muda berlompatan tujuh orang yang ikut mengeroyok Ki Sumali! Ki Kebondanu yang sejak dulu menentang Mataram dan terpaksa menyimpan perasaan penasaran itu hanya karena Pangeran Pekik sudah menyerah kepada Mataram, bahkan menjadi mantu Mataram, kini bangkit rasa tak senangnya mendengar bahwa Ki Sumali adalah telik sandi Mataram yang dapat menghalang-halangi mereka semua mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi. Maka dia lalu melolos pecutnya dan melompat ke tengah ruangan. Pecutnya meledak-ledak ketika dia menyerang Ki Sumali!

Tentu saja Ki Sumali menjadi repot dan terdesak mundur ketika Ki Kebondanu membantu Kyai Jagalabilawa yang sudah didesaknya. Melawan pengeroyokan dua orang sakti itu dia merasa kewalahan juga. Dia memang masih lebih kuat dibandingkan Kyai Jagalabilawa, akan tetapi tingkat kepandaian Ki Kebondanu hampir sama dengan tingkat datuk Madiun itu, maka dikeroyok dua, Ki Sumali menghadapi lawan-lawan yang amat berat. Terpaksa dia hanya menggerakkan keris hitam dan sulingnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya dari serangan tiga orang, yaitu Kyai Jagal-abilawa yang berubah menjadi dua ditambah Ki Kebondanu!

Nyi Maya Dewi sendiri juga repot menghadapi terjangan Jaka Bintara dan Kyai Cagak Mudra yang mengeroyoknya. Dulupun, setahun lebih yang lalu, ketika ia masih menguasai dua aji pamungkasnya yang ampuh, yaitu Aji Wisa Sarpa dan Aji Tapak Rudira, ia sampai terluka dan hampir saja tewas melawan pengeroyokan dua orang ini. Apalagi sekarang. Biarpun tenaganya sudah pulih, namun ia tidak lagi memiliki aji pamungkas atau pukulan yang mematikan.

Untung baginya bahwa selama ini ia telah memperdalam ilmu silatnya, yaitu ilmu silat Singorodra. Bahkan Bagus Sajiwo telah membantunya menyempurnakan ilmu silat itu. Maka kini ia segera mempergunakan ilmu silat itu untuk membela diri terhadap pengeroyokan Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra. Kedua orang itu agaknya ingin membalas kekalahan mereka dahulu di puncak Bukit Keluwung, mengandalkan pengeroyokan.

Ketika Kyai Gagak Mudra memberi isyarat, Panca Warak yang sejak tadi sudah siap siaga, lalu berlompatan menyerbu dan mengeroyok Nyi Maya Dewi. Nyi Maya Dewi terdesak dan gawat sekali. Apalagi ketika tujuh orang tamu golongan muda yang tadinya mengeroyok Ki Sumali itu ditambah lima orang lagi!

Diam-diam Ki Sumali juga merasa heran bukan main melihat Nyi Maya Dewi membelanya mati-matian dan kini, seperti juga dirinya, wanita itu menghadapi pengeroyokan banyak orang dan keadaannya terancam.

"Hei, Tolol, apakah engkau akan membiarkan saja aku mampus?" Nyi Maya Dewi berteriak dan karena ia merasa mendongkol melihat Bagus Sajiwo belum juga bergerak menolongnya, ia menyebut pemuda itu Tolol.

Bagus Sajiwo sejak tadi memang menonton perkelahian keroyokan itu dengan penuh perhatian. Terutama dia memperhatikan sepak terjang Nyi Maya Dewi dan hatinya girang melihat betapa dengan ilmu silat Singorodra yang sudah disempurnakan, kini Maya Dewi mampu membela diri dari pengeroyokan begitu banyak orang dengan baik walaupun tentu saja ia terdesak hebat.

"Bagus, Dewi. Ilmu silatmu sudah maju pesat. Jangan khawatir, sekarang aku akan membantumu!" Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak ke depan. Dengan ilmu langkah ajaib Lintang Kemukus, dia menyelinap diantara para pengeroyok Maya Dewi dan terjadi kekacauan ketika dengan cepat sekali, satu demi satu lima orang Panca Warak itu terkulai roboh tidak dapat bergerak lagi, seperti mati! Kyai Gagak Mudra dan Jaka Bintara terkejut bukan main melihat lima orang pembantunya yang cukup tangguh itu roboh semua dan tampaknya seperti mati karena sama sekali tidak bergerak lagi. Mereka berdua terkejut dan juga marah.

Kyai Gagak Mudra yang tadinya tertawa-tawa melihat Maya Dewi terdesak hebat, kini hilang tawanya dan dia berteriak nyaring dengan suara parau saking marah dan dia mendorongkan kedua tangannya yang mengandung hawa panas dan kedua telapak tangan itu membara dan menyala, ke arah Bagus Sajiwo. "Aarrrghhhhh!"

Akan tetapi Bagus Sajiwo bersikap tenang. Dia mengebutkan tangan kanannya ke arah Kyai Gagak Mudra untuk menyambut serangan dahsyat itu.

"Dessss...!" Kyai Gagak Mudra terpelanting dan terbanting jatuh. Tubuh yang pendek gemuk itu bergulingan sampai menabrak kursi dan dia merangkak bangkit, duduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak karena tenaga pukulannya sendiri membalik.

Setelah kini Maya Dewi hanya menghadapi Jaka Bintara seorang, Bagus Sajiwo lalu menerjang ke arah para pengeroyok Ki Sumali. Pendekar Loano itu sudah terluka pundak dan paha kirinya, namun dengan gagah dia masih mengamuk. Begitu Bagus Sajiwo menerjang masuk, beberapa orang pengeroyok terkulai dan tidak dapat bergerak lagi. Mereka yang roboh di tangan Bagus Sajiwo dan seperti mati itu sesungguhnya sama sekali tidak tewas, bahkan terluka parah pun tidak. Akan tetapi jalan darah mereka tertotok, membuat mereka untuk beberapa lamanya tidak mampu bergerak seperti mati.

Jaka Bintara menjadi gentar sekali ketika dia harus melawan Maya Dewi seorang diri saja. Pada hal, kalau dibuat perbandingan, saat itu tingkat kepandaiannya masih lebih kuat daripada Maya Dewi yang telah kehilangan ajian-ajiannya yang ampuh dan ganas. Akan tetapi, melihat betapa paman gurunya dan lima orang pembantunya sudah roboh semua, nyalinya menjadi kecil dan dia berteriak kepada para tamu kehormatan.

"Paman Resi Sapujagad dan Paman Bhagawan Dewokaton, mohon bantuan paman berdua!"

Dua orang pertapa dari Merapi dan Bromo itu saling pandang. Mereka merasa sungkan juga kepada Pangeran Jaka Bintara dari Banten kalau diam saja. Maka mereka berdua lalu bangkit berdiri dan siap melangkah ke arena pertempuran untuk membantu tuan rumah. Akan tetapi, tiba-tiba dari tempat duduknya Wiku Menak Jelangger berkata, lembut akan tetapi penuh wibawa.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kalau aku boleh menasehati, lebih baik andika berdua tidak mencampuri urusan ini. Apalagi melakukan pengeroyokan sungguh merupakan perbuatan amat memalukan dan tidak pantas dilakukan orang-orang yang melakukan tapa brata."

Dua orang pendeta atau pertapa itu menjadi sungkan, wajah mereka berubah merah dan mereka pun melangkah, akan tetapi tidak menuju ke arena pertempuran, melainkan ke pintu samping dan keluar meninggalkan pondok itu. Wiku Menak Jelangger tersenyum dan mengangguk-angguk, memberi isyarat kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya dan mereka bertiga juga meninggalkan pondok melalui pintu samping.

Setelah melihat betapa dua orang pertapa itu tidak mau membantunya malah pergi meninggalkan pondok, Jaka Bintara menjadi ketakutan dan dia melompat jauh kebelakang meninggalkan Maya Dewi. Kebetulan Kyai Gagak Mudra juga sudah bangkit berdiri maka ke-dua orang ini lalu melarikan diri keluar pondok, takut kalau-kalau Maya Dewi dan temannya, pemuda remaja yang ternyata sakti mandraguna itu, akan mengejar mereka.

Setelah ditinggal lawannya, Maya Dewi lalu mengamuk dan membantu Bagus Sajiwo yang menolong Ki Sumali. Masuknya Maya Dewi dengan Sabuk Cinde Kencananya membuat para pengeroyok kocar-kacir. Bahkan Ki Kebondanu dan Kyai Jagalabilawa yang tadi sudah mendesak Ki Sumali dan berhasil melukainya, menjadi gentar dan merekapun melarikan diri cerai berai. Para tamu yang melakukan pengeroyokan dan belum roboh, melihat betapa para tokoh besar yang mereka bantu melarikan diri, tentu saja menjadi gentar dan mereka pun melarikan diri tunggang langgang tanpa diperintah lagi!

Mereka yang tadi roboh terluka, juga mereka yang tadi roboh tertotok dan kini sudah dapat bergerak lagi, merangkak bangkit, saling bantu dan merekapun terpincang-pincang meninggalkan pondok itu. Tanpa ada yang mengetahui, dua orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang tadi juga duduk diantara para tamu muda, tidak ikut berkelahi, diam-diam meninggalkan pula tempat itu dan dua orang ini lalu menuju ke tebing sebelah barat.

Setelah tiba disitu mereka mengeluarkan suara bersuit! lalu bermunculan enam orang laki-laki yang sebaya dengan mereka. Mereka semua berpakaian seperti penduduk biasa, padahal sebetulnya delapan orang ini adalah orang-orang yang menjadi antek bayaran Kumpeni Belanda dan dikirim kesitu untuk menjadi mata-mata dan mengamati gerakan para tokoh duma persilatan, para orang-orang sakti itu. Dua orang yang tadi bertugas memata-matai pertemuan itu bernama Tatang dan Wirya. Kedua orang ini menjadi pimpinan diantara delapan orang itu.

"Ada orang-orang yang membela Mataram disini. Mereka harus dibinasakan. Kita bersiap!" kata Tatang yang bertubuh jangkung.

"Dan kita tidak boleh melepaskan Maya Dewi, kalau kita dapat membunuh pengkhianat itu, Mayor Yakuwes tentu akan memberi hadiah besar kepada kita." kata Wirya yang matanya juling sambil meraba pistol yang disembunyikan di balik bajunya.

Demikianlah, delapan orang itu lalu melakukan pengintaian dari jauh, memandang ke arah pondok dimana Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, juga Ki Sumali masih berada, setelah ditinggalkan semua orang. Maya Dewi berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kanan memegang Sabuk Cinde Kencana dan tangan kiri bertolak pinggang, memandang kesekeliling.

Ruangan itu telah ditinggalkan semua tamu, yang berada disitu hanya Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali. Semua orang yang tadi melakukan pengeroyokan telah pergi, meninggalkan ruangan yang dipenuhi meja kursi yang porak poranda, berserakan.

"Hi-hi-hi-hi...!" Maya Dewi tertawa cekikikan, sambil menggunakan tangan kiri untuk menutupi mulutnya.

Pemandangan ini bagi yang sudah mengenal Maya Dewi sungguh aneh dan mengherankan. Dulu, Maya Dewi terkenal sebagai seorang wanita yang berwatak liar, kalau tertawa terkekeh dan terbahak dengan bebas, kini ia tidak berani tertawa keras, hanya cekikikan dan masih menutupi mulutnya dengan tangan pula, gaya tawa seorang wanita yang bersusila! Betapa banyak perubahan terjadi pada diri Maya Dewi dalam waktu setahun lebih ini!

Ki Sumali sendiri merasa terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi. Dia tahu betul siapa Nyi Maya Dewi, puteri mendiang Resi Koloyitmo ini. Dia tahu bahwa Nyi Maya Dewi adalah seorang datuk wanita yang sesat, liar dan kejam, bahkan menjadi mata-mata Kumpeni Belanda, bergabung dengan para datuk sesat dan namanya tersohor sebagai seorang jahat sekali.

Akan tetapi kenapa sekarang muncul sebagai seorang yang menolong dan membelanya mati-matian, menentang para datuk sesat yang menentang Mataram? Bukankah dahulu Maya Dewi ini seorang yang membenci Mataram? Kenapa sekarang malah membelanya? Dan perhatiannya tertuju kepada pemuda remaja itu.

Dia tadi melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda yang Usianya paling banyak tujuh belas tahun itu telah merobohkan tokoh-tokoh yang digdaya. Siapakah pemuda remaja yang agaknya akrab sekali dengan Maya Dewi ini? Apakah pemuda ini yang membuat Maya Dewi kini berubah seperti itu? Betapapun heran hatinya, Ki Sumali teringat bahwa dua orang inilah yang telah menyelamatkannya. Kalau tidak dibantu dua orang ini, tentu dia telah tewas dikeroyok mereka yang memusuhi Mataram itu. Maka dia cepat menghadapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, membungkuk dan menyembah dengan kedua tangan depan dada.

"Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan andika berdua." katanya dengan singkat dan agak gagap karena dia masih terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi. Tentu saja dia merasa salah tingkah karena dulu dia bahkan pernah bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya ketika wanita itu masih menjadi mata-mata Kumpeni, walaupun bukan dia yang melawan Maya Dewi, melainkan Lindu Aji.

Nyi Maya Dewi tersenyum manis. "Ki Sumali, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang masih melindungi kita. Kami berdua hanya melaksanakan tugas menentang mereka yang jahat!"

Ki Sumali terbelalak mendengar ucapan wanita itu. Benarkah ini Maya Dewi yang dulu itu? Perasaan hatinya yang penuh keharuan itu tanpa disadarinya terucapkan dalam kata-kata pertanyaan. "Benarkah andika ini Maya Dewi?"

Maya Dewi kembali tersenyum dan memandang wajah pendekar Loano itu dengan sinar mata penuh keterbukaan. "Tentu saja aku Maya Dewi! Badanku adalah Nyi Maya Dewi yang dulu, akan tetapi batinku telah diperbaharui, Ki Sumali, berkat bimbingan Bagus Sajiwo ini." Maya Dewi menuding kepada Bagus Sajiwo.

Ki Sumali semakin heran. Bocah ini yang dapat mengubah watak yang liar jahat itu menjadi baik? Dia tertarik sekali dan kini dia memandang kepada Bagus Sajiwo dengan penuh perhatian. Seorang pemuda remaja, masih amat muda dan tampaknya seperti masih hijau. Akan tetapi sepasang mata itu! Sinarnya demikian tajam, penuh wibawa, penuh pengertian. Dan pemuda ini tadi dengan kata-katanya yang berdengung ditelinganya telah menyadarkannya bahwa dia tidak boleh membunuh lawannya!

"Andika orang muda yang sakti mandraguna, Bolehkah saya mengetahui siapa nama andika?" tanya Ki Sumali dengan sikap hormat.

Melihat sikap dan mendengarkan pertanyaan itu, Bagus Sajiwo tersenyum dan mukanya berubah kemerahan. "Ah, paman, harap jangan terlalu memuji..." katanya tersipu.

"Hi-hi, Ki Sumali, dia menjadi bingung dan malu kalau dipuji-puji. Bagus, ini adalah Ki Sumali, seorang pendekar yang terkenal dengan sebutan Pendekar Loano, tinggal di Loano dan dialah seorang yang setia kepada Mataram. Ki Sumali, ini adalah... sahabatku, juga pembimbingku, namanya Bagus Sajiwo." Nyi Maya Dewi memperkenalkan dengan nada suara bangga.

Untung ia masih dapat segera menyadari dan menahan diri, hampir saja tadi ia memperkenalkan Bagus Sajiwo sebagai suaminya! Kata-kata suamiku yang sudah berada di ujung lidah, masih sempat diubahnya menjadi sahabatku.

"Anakmas Bagus Sajiwo, sungguh aku merasa kagum sekali. Masih begini muda namun andika sudah memiliki kepandaian yang amat tinggi. Bolehkah aku mengetahui, siapa guru andika?"

"Guru saya adalah mendiang Ki Ageng Mahendra, paman." jawab Bagus Sajiwo singkat.

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Banyak tokoh sakti, para datuk yang dikenalnya, baik mengenal wajahnya atau setidaknya mengenal namanya. Namun nama Ki Ageng Mahendra belum pernah didengarnya. Namun dia tahu bahwa dunia ini amat luas dan banyak orang pandai yang tidak dikenal orang. Bahkan kabarnya orang-orang yang amat sakti mandraguna lebih suka mengasingkan diri dan tidak dikenal di dunia ramai.

"Ki Sumali, apakah engkau datang ke muara Sungai Lorog ini juga untuk mencari dan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi seperti orang-orang tadi?" tanya Nyi Maya Dewi. Wanita ini masih tetap lincah, walaupun kini kelincahannya itu penuh keterbukaan dan kewajaran, tidak palsu dan menyembunyikan pamrih pribadi seperti dulu sebelum bertemu Bagus Sajiwo.

Ki Sumali menghela napas dan menjawab sejujurnya. "Tidak kusangkal lagi. Memang tadinya aku tertarik mendengar tentang Jamur Dwipa Suddhi. Akan tetapi melihat betapa banyaknya orang yang datang di tempat ini untuk memperebutkannya, hatiku menjadi tawar dan aku tidak ingin lagi mencarinya, Nyi Maya Dewi. Aku hendak pulang saja ke Loano."

"Memang lebih baik begitu," kata Bagus Sajiwo lirih seperti bicara kepada diri sendiri. "Memperebutkan sesuatu hanya mendatangkan permusuhan, padahal yang diperebutkan itu belum diketahui berada dimana."

Ki Sumali menghela napas. "Benar sekali. Tadinya aku hanya tertarik dan ingin melihat-lihat, tidak tahunya sampai disini malah terlibat dalam pertempuran yang hampir saja merenggut nyawaku. Sekali lagi terima kasih atas pertolongan andika berdua, aku hendak pulang sekarang."

"Selamat jalan, Ki Sumali." kata Maya Dewi.

"Semoga Gusti Allah selalu melindungimu, Paman Sumali." kata Bagus Sajiwo.

Ki Sumali memandang kagum, kemudian meninggalkan pondok itu. Setelah kini tinggal mereka berdua dalam pondok itu, Maya Dewi menghampiri Bagus Sajiwo dan memegang tangannya. "Sekarang kita mulai mencari Jamur Dwipa Suddhi itu, Bagus."

"Kemana kita harus mencarinya, Dewi? Kita tidak tahu dimana adanya pusaka itu."

"Tidak ada yang tahu tepatnya dimana benda itu berada, Bagus. Akan tetapi, menurut dongeng, peristiwa penemuan Jamur Dwipa Suddhi sampai hilangnya karena disembunyikan oleh pertapa yang menemukannya sebelum dia meninggal dunia, terjadi di muara Sungai Lorog, yaitu disini. Maka untuk mencarinya, kemana lagi kalau bukan sekitar daerah ini? Hayolah, kalau kita berdiam saja di dalam pondok ini, bagaimana kita dapat menemukannya? Dan orang-orang tadi tentu juga sedang mencarinya. Hayolah, jangan sampai kita ketinggalan dan Jamur Dwipa Suddhi itu ditemukan orang lain!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan mereka berdua lalu keluar dari dalam pondok sambil bergandeng tangan. Dari situ mereka langsung menuju ke muara Sungai Lorog yang tak jauh dari pondok itu. Muara ini cukup lebar dan air sungai itu bergerak perlahan-lahan menuju ke laut selatan. Terkadang, kalau ombak laut besar, air laut dari Laut Kidul memasuki muara, bertemu dengan air sungai. Di sebelah kanan muara terdapat tebing batu karang yang cukup tinggi, merupakan bukit kapur atau karang yang tandus.

Setelah tiba ditepi muara, mereka memandangi air dari lautan yang datang menyerbu ke muara, seolah air lautan menyambut datangnya air sungai, seperti saudara yang menyambut kerabatnya yang sudah lama berpisah dan baru sekarang kembali ke kampung halamannya. Bertemunya air laut dengan air sungai dan dengan batu karang menimbulkan suara berdebur dan bergerisik, terkadang amat dahsyat, terkadang lembut seperti bisikan para bidadari.

Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terpesona oleh keagungan, kebesaran dan keindahan alam itu. Mereka berdua merasa betapa kecil tak berarti adanya mereka, dan betapa mereka hanyut dan merupakan sebagian dari alam yang amat besar itu.

"Daerah muara Kali Lorog ini begini luas, dan disana ada bukit karang begitu besar. Kemana kita harus mencari pusaka itu, Dewi?"

Maya Dewi memandang ke sekelilingnya. "Rasanya tidak mungkin kalau disembunyikan di tempat yang tidak terlindung, karena baik jamur yang dikeringkan maupun kitab tentu akan rusak kalau setiap hari terkena panas dan hujan. Juga kalau dekat muara, terancam air kalau air laut sedang pasang, atau kalau sungai sedang banjir. Andaikata engkau yang hendak menyembunyikan pusaka itu, tempat mana yang akan kau pilih dan kau anggap paling aman?"

Mendengar pertanyaan ini, Bagus Sajiwo lalu mengerutkan alisnya, memandang ke sekeliling dan berpikir. Mula-mula dia memandang ke arah depan, diseberang muara dimana terdapat pantai berpasir yang amat luas dan jajaran bukit berdiri agak jauh di sebelah utara. Lalu dia menengok ke belakang dimana terdapat tebing-tebing curam dari bukit karang. Setelah itu dia termenung memandang ke arah air muara di depan kakinya.

"Hemm, dimana-mana serba terbuka dan pasti akan dapat ditemukan orang. Agaknya tak mungkin kalau selama ratusan tahun dapat tersimpan aman kalau benda itu disembunyikan di atas daratan." demikian dia berkata sungguh-sungguh.

"Wah, engkau ini aneh, Bagus. Tentu saja disimpan di darat apa kau pikir benda itu disimpan dalam air?" Maya Dewi tertawa.

"Kalau dapat disimpan dalam muara ini, tentu aman." kata Bagus Sajiwo sambil termenung, suaranya lirih dan kata-katanya keluar seperti tanpa disadarinya atau seperti dalam mimpi.

"Engkau memang tolol, Bagus!" seru Maya Dewi, setengah geli setengah dongkol. "Mana mungkin disimpan dalam muara? Baru sehari saja tentu jamur dan kitab itu akan hancur!"

"Dar-dar-dar-darrr...!!" Tiba-tiba terdengar letusan bertubi-tubi. Tiga butir peluru mengenai punggung Bagus Sajiwo, akan tetapi hanya baju pemuda itu yang hangus dan robek, akan tetapi kulitnya tidak terluka dan peluru-peluru itu jatuh ke atas tanah. Akan tetapi Maya Dewi mengeluh dan ia roboh dengan pundak kiri mengucurkan darah!

Bagus Sajiwo cepat memutar tubuhnya dan dia melihat delapan orang berlomba lari dari balik tebing dan mereka semua membawa senapan. Bagus Sajiwo sudah banyak mendengar tentang senjata api yang berbahaya itu. Tadipun dia sudah merasakan serangan senjata itu yang mengenai punggungnya. Akan tetapi dia tidak terluka dan hal ini hanya karena dirinya telah mendapat perlindungan Gusti Allah saja maka kekuasaanNya yang menjadi perisai sehingga peluru-peluru itu tidak menembus kulitnya.

Akan tetapi Maya Dewi terkena tembakan dan terluka. Kalau dia melawan delapan orang itu, tentu keselamatan Maya Dewi terancam maut. Maka, setelah sekilas pikirannya bekerja, dia lalu menyambar tubuh Maya Dewi dan melompat ke air muara.

"Byuurrr...!" Air muncrat dan Bagus Sajtwo menyelam sambil merangkul tubuh Maya Dewi yang pingsan.

Delapan orang itu adalah Tatang dan Wirya bersama enam orang anak buahnya yang menyerang Bagus Sajiwo dan Nyi Maya Dewi dengan senapan mereka. Melihat Maya Dewi roboh dan pemuda itu membawa wanita itu melompat ke dalam muara, mereka cepat berlari menghampiri. Akan tetapi, mereka tidak dapat melihat mereka berdua lagi. Dengan harapan bahwa kalau masih hidup tentu dua orang itu akan muncul di permukaan air, mereka lalu berjaga-jaga di tepi muara dengan senjata api siap ditembakkan.

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagus Sajiwo merasa bersyukur bahwa dulu dia pernah belajar renang di sebuah telaga tak jauh dari padepokan Ki Ageng Mahendra dipegunungan Ijen sehingga dia pandai renang dan dapat menyelam. Akan tetapi tentu saja dia tidak akan kuat berdiam di air terlalu lama, juga Maya Dewi tidak akan kuat. Kalau dia muncul ke permukaan air, tentu delapan orang itu sudah berada disana dan siap menembaknya. Maka dia segera berenang dalam air hendak menjauh.

Dia mendekati tepi dimana terdapat tebing tinggi dan ketika meraba-raba, dia menemukan terowongan varig besar, tidak kurang dari dua meter garis tengahnya. Dengan nekat dia berenang memasuki terowongan itu, terus masuk ke dalam. Dia merasa betapa tubuh Mava Dewi meronta-ronta, tanda wanita itu telah siuman dan kini meronta hendak melepaskan diri atau tentu ia mendapat kesukaran dengan pernapasannya.

Dia sendiri pun merasa betapa dadanya terasa sesak seperti akan meledak! Akan tetapi tiba-tiba dia melihat di atas kepalanya tidak hitam lagi. Ada sinar terang di atas kepalanya! Dia lalu menggerakkan kakinya dan tubuh mereka meluncur ke atas dan kepalanya tersembul ke permukaan air!

Maya Dewi terbatuk-batuk dan terengah-engah menghirup udara dan mulutnya. Dia sendiri cepat mengambil napas. Udara segar memasuki dadanya melalui hidung, terasa nyaman bukan main. Setelah dia memperhatikan, ternyata terowongan di bawah permukaan air itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah dan sinar matahari masuk melalui lubang dan celah-celah antara batu-batu bukit karang yang dari situ tampak tinggi sekali! Ruangan itu luas sekali, merupakan ruangan di perut bukit karang. Kalau dilihat dari atas tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa di bawah celah-celah bukit karang, diantara batu-batu itu, tersembunyi ruangan yang demikian luasnya. Air hujan yang turun tentu akan masuk ke air muara yang sampai dan berhenti disitu.

Bagus Sajiwo tidak memeriksa lebih lanjut. Yang terpenting adalah menolong Maya Dewi yang masih dirangkulnya. Setelah terbatuk-batuk dan pernapasannya pulih dan biasa lagi, wanita itu mengeluh. "Aduh... pundakku terluka, Bagus."

Bagus Sajiwo memeriksanya dan menjadi lega. Ternyata peluru itu hanya menyerempet saja dan menggores pangkal lengan. Hanya kulit dan sedikit daging yag terluka dan tidak berbahaya.

"Tahankan rasa nyeri sedikit, Dewi. Aku harus menjaga agar sedikit luka ini tidak sampai tercemar dan menjadikan bengkak. Karena disini tidak ada daun obat, satu-satunya jalan hanya mengisap dan menjilat." Setelah membuka baju bagian dalam Maya Dewi, tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa jijik sedikitpun, Bagus Sajiwo lalu... mengisap dan menjilati luka di pangkal lengan Maya Dewi!

Melihat ini, Maya Dewi terbelalak. Ia melihat betapa Bagus Sajiwo mengisap dan menjilati luka di pangkal lengannya yang kini masih mengeluarkan sedikit darah. "Tolol, apa yang kau lakukan ini?" serunya sambil berusaha menarik lengannya.

Akan tetapi Bagus Sajiwo memegangi lengan itu dengan kuat. Dia melanjutkan menjilati luka itu sampai merasa bahwa luka itu bersih betul, barulah dia menghentikan perbuatannya dan memandang kepada Maya Dewi sambil tersenyum. "Dewi jangan heran dan kaget. Mendiang guruku yang mengajarkan cara membersihkan luka agar jangan sampai menjadi parah, dengan cara begini."

"Tapi... tapi..." Maya Dewi tak dapat menahan rasa harunya dan kedua matanya sudah menjadi basah dan air matanya turun membasahi kedua pipinya. "Tapi... itu... tidakkah engkau merasa jijik?"

"Kenapa jijik, Dewi? Luka itu baru saja terjadi. Kalau luka itu mengandung racun, harus diisap keluar racunnya. Akan tetapi kalau tidak, dengan cara mengisap dan menjilati, maka luka itu akan bersih dan tanpa diobatipun akan cepat sembuh. Percayalah, Dewi. Tahukah engkau bagaimana semua mahluk hidup, seperti semua binatang, menjilati luka dan luka itu akan sembuh tanpa di-obati seperti yang dilakukan manusia? Kalau disini ada daun-daun obat, tentu engkau akan kuobati. Akan tetapi disini tidak ada apa-apa, maka aku mempergunakan pengobatan cara alami seperti yang dilakukan semua mahluk hidup. Bukankah engkau juga akan melakukan hal yang sama kepadaku, kalau aku yang terluka? Ataukah engkau akan merasa jijik?"

Sambil terisak Maya Dewi merangkul Bagus Sajiwo dan menangis di dada pemuda remaja itu. "Tentu saja tidak, Bagus. Aku... aku akan melakukan apapun juga untukmu... aku siap mempertaruhkan nyawaku untukmu..."

Bagus Sajiwo membiarkan Maya Dewi menangis sejenak, kemudian dengan lembut dia melepaskan rangkulan wanita itu dan berkata. "Dewi, kita perlu mengeringkan pakaian kita yang basah kuyup ini terlebih dulu agar jangan menjadi sakit. Kita dapat menjemur pakaian kita selagi sinar matahari masih memasuki tempat ini. Nanti kita pikirkan apa yang dapat kita lakukan lebih lanjut. Nah, engkau disini dan jemur pakaianmu aku akan ke bagian sana untuk menjemur pakaianku."

"Bagus, mengapa engkau harus pergi kesana? Apakah diantara kita masih harus saling merasa malu?" tanya Maya Dewi.

Bagus tersenyum. "Dewi, lupakah engkau akan kesusilaan seperti yang sering kujelaskan kepadamu? Kesusilaan merupakan bagian dan kebudayaan, dan kebudayaanlah yang membedakan kita semua dan mahluk hidup yang lain. Kalau manusia kehilangan kesusilaannya, maka dia lebih mendekati binatang. Kita tidak mau disamakan dengan binatang, bukan?"

"Sudahlah, pergi Sana!" kata Maya Dewi agak dongkol.

Bagus Sajiwo lalu pergi kesebelah depan dan menghilang di balik batu besar yang banyak terdapat di ruangan dalam bukit batu karang itu. Di bagian itu juga masih terdapat sinar matahari. Mereka lalu menanggalkan pakaian yang basah kuyup, memeras pakaian itu lalu menjemurnya di tempat yang terdapat sinar matahari. Karena mereka memeras dengan pengerahan tenaga sehingga pakaian itu hanya tinggal basah sedikit, maka setelah dijemur, tak lama kemudian pakaian itu menjadi kering dan mereka memakainya kembali.

"Bagus! Aku sudah selesai!" teriak Maya Dewi ke arah batu besar.

Bagus Sajiwo muncul dan diapun sudah mengenakan pakaiannya yang menjadi kering. Keduanya lalu duduk di atas batu. saling berhadapan. "Sekarang, apa yang harus kita lakukan, Bagus?"

"Mari kita pertimbangkan keadaan kita, Dewi. Atas kemurahan Gusti Allah kita dilindungi dan selamat dari ancaman maut walaupun engkau mengalami luka yang tidak berbahaya di pangkal lenganmu. Kita sekarang berada di ruangan ini dan sementara kita aman dari orang-orang yang bersenjata senapan itu."

"Hemm, mereka itu tentu anak buah Mayor Jakuwes, bekas atasanku yang menyuruh orang-orangnya mencari dan membunuh aku karena aku meninggalkan Kumpeni." kata Maya Dewi gemas.

"Kukira ruangan ini merupakan sebuah terowongan gua, di dalam bukit karang. Biarpun kita aman disini, akan tetapi kita kehilangan bekal pakaian..."

"Sabuk Cinde Kencanaku masih ada!" potong Maya Dewi.

"Kita tidak mungkin bisa mendapatkan makanan di tempat ini. Karena itu, kita harus mencari jalan keluar." sambung Bagus Sajiwo.

"Wah, berenang dan menyelam seperti tadi? Aku dapat juga berenang, akan tetapi kalau harus melalui jalan seperti kita masuk kesini tadi, rasanya ngeri!"

"Kita tidak dapat mengambil jalan itu, Dewi. Orang-orang itu mungkin masih berada disana dan begitu kita muncul, mereka akan menyerang kita dengan tembakan senapan mereka. Kita harus mencari jalan keluar. Mungkin kita dapat memanjat ke atas sana." Bagus Sajiwo menunjuk ke atas dimana tampak celah-celah besar diantara batu-batu.

"Hehehe, mungkin engkau benar, Bagus. Rasanya tidak akan begitu sukar memanjat ke atas melalui batu dan dinding karang yang kasar itu."

"Kalau begitu, mari kita mencari jalan yang paling baik untuk memanjat ke atas. Engkau mencari tebing sebelah sini, aku akan mencari yang di sebelah sana. Kita harus dapat keluar dari sini sebelum gelap, Dewi."

Mereka lalu berpencar dan mulai mencari bagian yang paling mudah untuk memanjat sampai ke atas. Bagus Sajiwo mencari di tebing sebelah sana. Bagian itu harus dipilih dan diperhitungkan agar jalan panjatan ke atas tidak putus di tengah jalan.

"Bagus...!!!" Teriakan Maya Dewi ini mengejutkan Bagus Sajiwo.

Akan tetapi ketika dia menengok dan memandang, dia melihat tidak terjadi sesuatu pada Maya Dewi. Wanita itu sedang membungkuk dan agaknya memeriksa sesuatu pada dinding karang.

"Ada apakah, Dewi?" Bagus bertannya, tanpa beranjak dari tempatnya karena dia sedang memperhitungkan tempat tanjakan yang sekiranya mudah membawanya terus ke atas.

"Bagus ke sinilah! Cepat...!!" kembali Maya Dewi berteriak dan sekali ini Bagus Sajiwo menjadi heran. Apakah yang terjadi? Dia melompat dan berlari menghampiri wanita itu.

"Ada apa, Dewi?"

"Lihat ini...!" kata Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah sebongkah batu yang bersandar pada dinding karang.

Bagus Sajiwo mengamati dan ternyata di atas batu itu terdapat coretan-coretan huruf seperti diukir di atas permukaan batu. Bagus Sajiwo membacanya. Itu adalah tulisan kuno, akan tetapi dia pernah belajar membaca dan mengartikan tulisan kuno jaman Mojopahit itu dari mendiang Ki Ageng Mahendra.

"Siapa yang berjodoh mendapatkan pusaka ini, harus bersumpah kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk mempergunakannya demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat."

"Bagus cepat singkirkan batu itu, kurasa di balik batu ini terdapat pusaka yang ampuh... ah, siapa tahu Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu berada disini! Cepat singkirkan batu itu, Bagus!"

"Hemm, nanti dulu, Dewi. Engkau tadi sudah mendengar bunyi dan arti tulisan itu. Kita harus bersumpah lebih dulu seperti yang dituntut dia yang meninggalkan pusaka disini. Lupakah engkau bahwa kita harus selalu bersusila dalam setiap tindakan kita. Engkau tidak boleh melupakan hal itu, Dewi!" Suara Bagus Sajiwo mengandung teguran.

Maya Dewi yang tadi lupa akan pelajaran itu saking tegang dan gembiranya menemukan tempat rahasia itu, segera menyadari dan ia berkata, "Maafkan aku, Bagus."

"Baiklah, asalkan engkau tidak melupakan hal itu lagi. Nah, marilah kita berlutut sebagai penghormatan dan mengucapkan sumpah kita."

Bagus Sajiwo berlutut di depan batu itu. Maya Dewi berlutut di sampingnya. Kemudian Bagus Sajiwo mengucapkan sumpahnya.

"Hamba Bagus Sajiwo dan Maya Dewi bersumpah kepada Gusti Allah untuk mempergunakan pusaka yang diberikan kepada hamba demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat." Setelah mengucapkan sumpahnya, Bagus Sajiwo menyembah dan menundukkan mukanya.

"Eh, Dewi, lihat ini!" katanya dan Bagus Sajiwo membersihkan permukaan batu yang berada di bawah batu besar bertulis itu dengan tangannya. Setelah tanah yang menutupi batu kecil itu disingkirkan, baru tampak jelas tulisan dengan huruf-huruf kecil di atas batu itu. Dia lalu membacanya.

"Dorong batu dari samping, jangan berdiri didepannya."

Bagus Sajiwo memegang tangan Maya Dewi dan menariknya sehingga wanita itu bangkit berdiri. Mereka lalu berdiri disamping batu bertulis dan Bagus Sajiwo mendorong batu itu sehingga tergulir ke samping. Ternyata di balik batu itu terdapat sebuah lubang dengan garis tengah sekitar dua jengkal. Tiba-tiba, begitu tergulir ke samping, terdengar bunyi menjepret dan dari dalam lubang itu menyambar keluar sebatang benda hitam. Sambaran itu cepat bukan main dan benda itu meluncur lewat.

Maya Dewi membelalakkan matanya. "Wah, aku yakin benda runcing hitam tadi mengandung racun yang amat kuat! Dari baunya saja aku dapat mengenalnya. Racun ular-ular berbisa!"

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk. "Nah, sekarang engkau tahu betapa pentingnya bersikap hormat dan bersusila? Kalau kita tadi langsung menggulingkan batu, bagaimana kita dapat mengelak dari sambaran senjata rahasia yang meluncur dari jarak sedekat itu?"

Maya Dewi bergidik. "Ah, hebat sekali dia yang menyembunyikan pusaka ini. Dia menghendaki agar pusaka terjatuh ke tangan orang yang bersusila dan berbudi luhur. Kalau penjahat yang menemukan, tentu dia akan tewas terpanah."

Mereka lalu menyingkirkan rumput-rumput kering dan daun-daun kering yang dijejalkan di mulut lubang itu. Maka tampaklah dua buah benda yang membuat mereka berdua tercengang. "Jamur Dwipa Suddhi dan sebuah kitab!" Maya Dewi berseru.

Mereka mengambil dua buah benda itu dengan hati-hati. Maya Dewi mengambil jamurnya dan Bagus Sajiwo mengambil kitabnya. Selain dua buah benda itu, tidak ada apa-apa lagi di dalam lubang itu. Maya Dewi mengamati benda yang ia kira pasti Jamur Dwipa Suddhi yang dicari banyak orang itu. Benda itu masih berbentuk jamur, seperti payung kecil, sebesar telapak tangan. Warnanya kehitaman dan ketika ia menciumnya, baunya harum akan tetapi aneh karena belum pernah ia mencium keharuman seperti itu.

Sebagai seorang yang ahli dalam soal racun, dan bau benda itu Maya Dewi mengerti bahwa benda itu tidak mengandung racun, akan tetapi mengandung unsur panas yang dapat ia rasakan dari melalui penciumannya.

Sementara itu Bagus Sajiwo mengamati kitab daun lontar itu. Masih baik dan utuh, tulisannya dalam bahasa Jawa Kuno juga jelas. Ternyata kitab itu bernama Kitab Aji Sari Bantala. Di dalamnya terdapat gambar-gambar, pria dan wanita dalam berbagai kedudukan pasangan kuda-kuda dan gerakan silat yang aneh. Semua itu disertai keterangan tulisan yang jelas sekali. Bagus Sajiwo menjadi girang bukan main karena memandang secara sekilas saja tahulah dia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu silat yang amat tinggi.

"Bagus, apakah isi kitab itu?" tanya Maya Dewi kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo menyerahkan kitab itu kepada Maya Dewi, dan Maya Dewi sebaliknya menyerahkan jamur kering kepada Bagus Sajiwo. Ketika melihat isi kitab itu, Maya Dewi menjadi girang bukan main. Melihat gambar-gambar yang terdapat dalam kitab itu saja tahulah ia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu kanuragan. Akan tetapi ia tidak begitu mengerti akan maksud tulisannya. Bagus Sajiwo yang mengamati jamur di tangannya itu juga dapat merasakan bahwa yang dipegangnya adalah benda yang memiliki khasiat yang amat hebat.

"Bagus bagaimana bunyi tulisan dalam kitab ini? Ini merupakan pelajaran ilmu silat, bukan? Dan gambarnya ada dua orang, seorang pria dan seorang wanita. Bagaimana bunyinya? Tolong jelaskan, aku merasa sulit membaca tulisan kuno ini."

Bagus Sajiwo tertawa gembira. "Ha-ha, Dewi. Sungguh kita beruntung sekali. Kitab itu adalah kitab yang mengandung pelajaran Aji Sari Bantala dan aji kesaktian itu hebat bukan main. Memang ajian itu digubah oleh pembuatnya untuk seorang pria dan pasangannya, seorang wanita."

"Ah, aku beruntung sekali kalau begitu, Bagus. Kita dapat melatih ilmu dari kitab itu disini agar tidak sampai ketahuan orang lain! Dan Jamur itu, aku yakin benar-benar Jamur Dwipa Suddhi yang dicari semua orang. Kita makan saja jamur itu, Bagus! Aku yakin khasiatnya untuk kita tentu luar biasa."

"Akan tetapi kita tidak boleh sembrono, Dewi. Bagaimana kalau jamur yang ratusan tahun umurnya itu mengandung racun?"

"Tidak, Bagus. Aku yakin tidak mengandung racun, melainkan mengandung khasiat yang luar biasa. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang yang ahli tentang racun, bukan? Jamur ini tidak beracun, akan tetapi berkhasiat luar biasa. Mari, mari kita makan."

"Akan tetapi jamur ini kering dan keras seperti batu karang. Bagaimana dapat enak dimakan?"

"Aku tahu, bagus. Untuk mengembalikannya menjadi lunak, jamur ini harus direndam air selama satu malam." Maya Dewi lalu sibuk membersihkan bagian lantai batu karang yang cekung dan mengambil air dari air muara yang masuk ke ruangan itu, mengisi cekungan yang cukup lebar itu dengan air lalu memasukkan jamur kering itu ke dalamnya. "Kita tunggu sampai semalam, Bagus. Aku yakin jamur ini akan menjadi lunak dan dapat kita makan."

"Ah, Dewi, hari agaknya mulai menjelang sore. Cuaca disini mulai gelap dan kita belum menemukan jalan untuk memanjat ke atas!" seru Bagus Sajiwo.

"Kita tidak akan naik dulu, Bagus. Biar kita lewatkan malam ini disini dan mungkin akan tinggal disini untuk sementara waktu."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Tenanglah, Bagus. Mana ketenanganmu yang biasa itu? Dengar, malam ini kita tinggal disini dan mengaso sambil membiarkan jamur ini terendam air sampai lunak. Besok pagi kita makan jamur ini. Kemudian, engkau boleh mencari jalan keluar dengan memanjat dinding tebing untuk membeli pakaian pengganti dan bahan makanan, kemudian engkau kembali lagi kesini. Kita tinggal d sini mempelajari ilmu dari kitab Sari Bantala (Inti Bumi) sampai dapat menguasainya, baru kita berdua akan keluar dari tempat ini."

"Wah, untuk apa kita bersusah payah dan tinggal di perut bukit seperti ini berlama-lama?" Bagus Sajiwo berusaha menatap dengan tajam penuh selidik wajah Maya Dewi dalam cuaca yang mulai remang-remang itu. "Dewi, apakah engkau memiliki pamrih menguasai ilmu yang hebat agar dapat menjagoi lagi di dunia ramai?"

Maya Dewi menghela napas. "Bagus, kenapa engkau masih juga meragukan aku? Aku hanya ingin agar engkau tidak menjadi seorang laki-laki yang menjilat kembali ludah yang sudah kau keluarkan."

"Eh, Apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

"Lupakah engkau akan janjimu, akan sumpahmu ketika engkau akan mengambil jamur dan kitab ini? Engkau bersumpah kepada Gusti Allah bahwa engkau akan mempergunakan pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Benarkah itu atau engkau sudah lupa?"

"Tentu saja aku tidak lupa."

"Nah, lalu bagaimana engkau akan dapat mempergunakan pusaka ini, yaitu jamur dan kitab ini, kalau engkau tidak makan jamurnya dan tidak mempelajari kitab ini, sampai engkau menguasai betul ilmu yang dikandungnya? Nah, jawablah! Apakah tidak berarti engkau mengingkari janji atau sumpahmu sendiri kalau engkau tidak makan jamur dan mempelajari kitab ini?"

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. "Tentu saja aku akan memenuhi sumpahku, akan tetapi tidak harus tinggal di tempat ini berlama-lama, Dewi. Kita dapat melaksanakan sumpah itu di atas bumi sana, bukan disini."

"Akan tetapi aku mau mempelajarinya disini, Bagus. Ingat, ketika bersumpah engkau menyebut nama kita berdua, berarti akupun ikut bersumpah. Aku tidak ingin terganggu orang-orang jahat itu pada saat mempelajari kitab Sari Bantala ini. Sudahlah, Bagus. Engkau yang pernah menemani aku tinggal di perut Bukit Keluwung yang panas sampai lama, kemudiap di puncak Gunung Wilis yang amat dingin, apakah kini engkau tidak mau menemani aku berlatih ilmu Sari Bantala di tempat ini?"

Bagus Sajiwo tersenyum dan iapun mengalah. "Yah, baiklah kalau kehendakmu begitu. Aku tidak dapat berbantahan denganmu, Dewi."

Maya Dewi memegang tangan kanan Bagus Sajiwo dan mengikuti dorongan hatinya yang penuh kasih dan merasa bahagia, ia menciumi tangan pemuda itu. "Terima kasih, Bagus. Aku tahu engkau memang amat baik, terlalu baik kepadaku. Aku rela mati untukmu, Bagus..."

"Hussh, siapa mau bicara tentang mati di tempat seperti ini? Nah, cuaca semakin gelap. Lebih baik kita mencari dan mempersiapkan tempat untuk mengaso dan tidur. Kalau sudah gelap kita tidak akan mampu melakukan apa-apa."

Maya Dewi lalu memilih dan membersihkan lantai batu yang agak halus dan datar. Malampun tiba dan dengan perut kosong mereka lalu duduk tepekur, kemudian setelah mengantuk, mereka tidur di atas lantai yang cukup dingin.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah membersihkan tubuh dan muka dengan air muara yang masuk ke ruangan itu, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo sudah duduk berhadapan. Jamur yang telah direndam semalam ternyata telah lunak dan berada di depan mereka, Dipegang oleh Maya Dewi dengan kedua tangannya. Sinar matahari pagi hanya mendatangkan penerangan yang lemah di tempat itu, namun cukup jelas bagi mereka.

"Kita harus makan jamur ini sekarang," kata Maya Dewi sambil menarik jamur itu menjadi dua potong. Melihat sinar mata Bagus Sajiwo tampak meragu, Maya Dewi berkata, "Bagus, kau lihat, aku akan makan lebih dulu sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak baik, biarlah aku yang mengalaminya."

"Maya, jangan! Biar aku dulu!" Bagus Sajiwo' mencegah akan tetapi Maya Dewi sudah dengan cepat mulai memasukkan jamur itu ke dalam mulut dan menggigitnya lalu mengunyahnya.

"Wah, sedap sekali, Bagus!" katanya dan benar-benar ia kelihatan menikmati makanan itu. Sebentar saja, separuh jamur itu telah lenyap ke dalam perutnya. Bagus Sajiwo hendak makan bagiannya, akan tetapi Maya Dewi cepat memegang lengannya. "Jangan dimakan dulu, Bagus!"

"Kenapa? Engkau tidak merasakan sesuatu yang buruk, Dewi?" tanya Bagus khawatir.

Maya Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, atau lebih tepat lagi, belum! Karena itu, tunggulah sebentar, kita lihat dulu apa akibatnya dengan aku yang telah memakannya."

Bagus Sajiwo merasa terharu. Wanita ini benar-benar mengorbankan dirinya sendiri untuk mencoba terlebih dulu agar kalau akibatnya mencelakakan, ialah yang akan mengalami, bukan Bagus Sajiwo!

Tiba-tiba terasa hawa udara disitu menjadi panas dan Bagus Sajiwo melihat dengan mata terbelalak betapa uap mengepul dari tubuh Maya Dewi dan seluruh tubuh wanita itu berkeringat! Akan tetapi anehnya, Maya Dewi tersenyum dan tidak tampak kepanasan.

"Dewi! Apakah engkau merasa panas?"

Maya Dewi menggeleng kepalanya. "Hanya terasa hangat dan nyaman, Bagus!"

Tiba-tiba terdengar suara berkerotokan di seluruh tubuh wanita itu, seolah-olah semua buku dan sambungan tulangnya bergerak. Maya Dewi bangkit dari duduknya dan tubuhnya terhuyung.

Bagus Sajiwo cepat memegang lengannya, akan tetapi Maya Dewi mengibaskan dan akibatnya, tubuh Bagus Sajiwo terlempar! Dari kibasan lengan itu timbul tenaga yang amat dahsyat!

Bagus Sajiwo cepat berjungkir balik dan membuat salto sampai lima kali, baru dia dapat turun dan berdiri tegak. Sepotong jamur tadi masih berada dalam genggaman tangannya. Dia memandang ke arah Maya Dewi yang terhuyung kedinding. Seperti orang mabok, Maya Dewi menggunakan tangan kiri untuk menahan tubuhnya pada dinding karang.

"Brakkkk!" Batu dinding karang yang menonjol itu hancur terkena sentuhan jari-jari tangannya!

"Dewi cepat duduk bersila dan atur pemapasan!" teriak Bagus Sajiwo.

Suara pemuda itu agaknya dapat menembus kepeningan yang menyerang kepala Maya Dewi. Mendengar suara pemuda itu, dalam keadaan seperti mabok itupun Maya Dewi menaati dengan patuh. Ia lalu duduk dan bersila, berdiam diri menghentikan semua ulah hati akal pikiran, mengheningkan cipta sehingga dirinya kosong sama sekali tidak mengandung kehendak apapun dan pikiran apapun.

Hawa yang tadi meliar dalam tubuhnya dan menimbulkan tenaga dahsyat itu seperti mengendap dan menetap di pusarnya yang terasa hangat nyaman. Bagus Sajiwo menghampiri dan memeriksa keadaan tubuh Maya Dewi. Tidak ada kelainan, tidak ada tanda-tanda bahwa Maya Dewi keracunan. Setelah merasa tenang, Maya Dewi membuka mata memandang Bagus Sajiwo dan tersenyum.

"Engkau tidak merasakan sesuatu yang tidak enak atau nyeri pada tubuhmu?" tanya Bagus Sajiwo.

"Sama sekali tidak, Bagus, bahkan rasanya hangat nyaman. Ada hawa yang tadi meliar dalam tubuhku, akan tetapi sekarang sudah dapat kukuasai dan berdiam di dalam pusar. Bagus, ini adalah tenaga sakti yang amat hebat, yang aku yakin datang karena khasiat jamur itu. Karena itu, makanlah jamurmu agar engkau dapat merasakan juga dan dapat membimbingku untuk menguasai tenaga dahsyat itu."

Setelah melihat bahwa Maya Dewi benar-benar sehat dan tidak keracunan, hati Bagus sajiwo menjadi lega. Mendengar desakan Maya Dewi, diapun segera makan jamur bagiannya.

Benar kata Maya Dewi tadi. Rasa jamur itu cukup enak, baunya harum. Dia makan jamur itu sampai habis, lalu dia duduk bersila di depan Maya Dewi karena dia dapat menduga bahwa sebentar lagi khasiat jamur itu akan bekerja dan dia harus siap menguasai hawa sakti yang dahsyat dan liar itu kalau menguasai dirinya.

Dia tidak menanti lama. Tubuhnya mulai terasa hangat dan tubuhnya mulai mengeluarkan uap panas! Benar saja, ada tenaga sakti yang bergerak-gerak dari dalam perutnya menjalar ke seluruh tubuhnya dan ketika memasuki bagian kepalanya dia merasa pening seperti orang mabok. Cepat Bagus Sajiwo mengerahkan tenaga dalamnya menyambut dan menguasai tenaga sakti liar itu. Rasanya seperti menunggang seekor kuda liar yang melompat-lompat dan meronta-ronta. Akan tetapi perlahan-lahan dia yang terus mengikuti gerakan tenaga sakti itu seperti dapat mengenal ulahnya dan dapat menyesuaikan diri sehingga dia dapat menguasainya.

Maya Dewi sejak tadi memperhatikan Bagus Sajiwo yang duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya. Kini melihat pemuda itu membuka mata. Ia bertanya. "Bagaimana, Bagus?"

"Dewi, sekarang biarkan tenaga sakti itu keluar dari pusar dan ikuti saja seperti engkau menunggang seekor kuda liar. Perhatikan ulah geraknya sehingga engkau dapat mengenal benar mulai dapat menyesuaikan diri dan mengendalikannya. Mari, coba, jangan ragu dan takut."

Maya Dewi menurut. Begitu tenaga itu lepas dan menjalar ke seluruh tubuh, tubuhnya bergoyang-goyang, termasuk kepalanya.

"Tenang... ikuti saja... perhatikan gerak geriknya dan engkau akan mengenalnya dan dapat mengendalikannya." kata Bagus Sajiwo.

Maya Dewi mengikuti petunjuk Bagus Sajiwo. Akan tetapi karena pada dasarnya ia tidak sekuat Bagus Sajiwo yang dalam waktu singkat dapat menguasai dan mengendalikan tenaga sakti itu, Maya Dewi membutuhkan waktu agak lama, ia harus sabar dan perlahan-lahan mencoba untuk menguasai tenaga liar itu.

"Latihlah terus, Dewi. Aku hendak naik ke atas dan mencari pakaian dan bahan makanan." kata Bagus Sajiwo.

Maya Dewi mengangguk. "Ambil perhiasanku, di balik ikat pinggang ini." Katanya tanpa berhenti melatih diri menguasai tenaga sakti yang liar itu.

Maklum bahwa kalau Maya Dewi menghentikan latihannya, tenaga sakti itu akan meliar dan mengamuk seperti tadi, Bagus Sajiwo menghilangkan rasa rikuh dan dia mengambil sebuah kantung merah kecil dari balik ikat pinggang Maya Dewi. Kantung merah kecil itu berisi beberapa potong perhiasan yang mahal harganya. Dia mengambil sebuah gelang emas lalu mengembalikan kantung merah itu ke balik ikat pinggang Maya Dewi. Gelang itu disimpannya.

"Aku pergi, Dewi." katanya dan dia lalu memanjat tebing yang kemarin telah dipilihnya. Bagus Sajiwo terperanjat dan terheran ketika mendapat kenyataan betapa mudahnya dia memanjat ke atas, bagaikan seekor cecak memanjat dinding saja! Dia merasakan betul bahwa tenaga saktinya bertambah, berlipat ganda dibandingkan biasanya. Tubuhnya dapat dibuatnya ringan sekali sehingga dia dapat bergerak cepat memanjat ke atas dan jari-jari dan telapak tangannya memiliki daya melekat pada dinding batu karang!

Dia yakin bahwa dalam keadaan biasa, tak mungkin dia dapat memanjat semudah dan secepat itu. Tentu saja dia menjadi girang sekali dan diapun mengerti bahwa ini tentulah daya yang ampuh dari khasiat jamur ajaib itu. Tentu saja dia merasa girang sekali, terutama girang karena Maya Dewi juga mendapatkan tenaga sakti yang ajaib itu.

Kini wanita itu tentu menjadi sakti mandraguna, jauh lebih sakti daripada dulu ketika ia masih menjadi seorang datuk sesat. Apalagi kalau mereka berdua sudah mempelajari kitab yang mereka temukan, yaitu kitab yang mengandung Aji Sari Bantala! Akan tetapi dia harus lebih tekun pula berusaha membelokkan jalan hidup Maya Dewi, kejalan yang lurus, jalan kebenaran dan kebajikan!

Dengan bekal gelang emas yang mahal harganya itu, mudah saja bagi Bagus Sajiwo untuk membeli beberapa potong pakaian lengkap untuk dia dan Maya Dewi. Juga ia membeli beras, bumbu-bumbu dan bahan makanan lain. Untuk semua belanjaannya ini, harga gelang itu masih lebih banyak sehingga dia membawa pula uang kembalinya. Tidak lupa dia membeli prabot untuk memasak dan ketika menuruni tebing, semua itu dimasukkan dalam sebuah karung besar yang dipanggulnya. Tidak lupa dia membawa pula alat pembuat api dan sebatang kayu besar untuk dibuat kayu bakar.

Hari telah siang ketika dia merayap turun melalui tebing itu, dari lereng bukit kapur. Dari atas hanya tampak celah-celah batu dan keadaan di bawah tidak tampak karena terhalang batu, bahwa di bawah sana terdapat ruangan luas dimana terdapat terowongan di bawah permukaan air menuju ke muara. Ketika akhirnya Bagus Sajiwo tiba di ruangan itu, dia melihat Maya Dewi sudah menanti dan memandang kepadanya dengan senyum manis dan mata bersinar, wajah berseri.

"Wah, engkau membawa barang begitu banyak dan dapat menuruni tebing demikian cepatnya! Engkau hebat sekali, Bagus!"

"Bagaimana denganmu, Dewi? Apakah engkau sudah dapat menguasai tenaga sakti dari Jamur Dwipa Suddhi itu?"

"Sudah, Bagus. Bahkan aku sudah berlatih dengan tenaga itu." kata Maya Dewi sambil membantu Bagus Sajiwo menurunkan barang-barang belanjaannya. "Mari kau lihat!" Maya Dewi menghampiri tepi air muara yang masuk ke ruangan itu dan ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah air. Air itu segera bergelombang seolah didorong angin atau tenaga yang amat kuat! Bagus Sajiwo mengangguk-angguk.

"Bagus sekali, Dewi. Aku tadipun sudah membuktikannya sendiri. Kita benar-benar menerima anugerah Gusti Allah, mendapatkan tenaga sakti yang luar biasa. Aku dapat memanjat tebing itu dengan amat mudahnya."

Mereka berdua menjadi girang dan Bagus Sajiwo mengajak Maya Dewi untuk berlutut dan berdoa kepada Gusti Allah, menghaturkan terima kasih atas berkahNya yang berlimpahan. Setelah itu, mereka mulai sibuk membuat api dan hendak menanak beras. Maya Dewi girang bahwa Bagus Sajiwo tidak lupa membeli bumbu-bumbu, juga beberapa macam sayuran.

"Sayang aku tidak bisa menemukan orang menjual daging segar, maka aku hanya membeli daging kering yang diasin." kata Bagus Sajiwo.

"Mengapa repot? Di sini banyak terdapat ikan. Tadi aku melihat ikan-ikan lele dan bader yang cukup besar berenang di air. Biar aku tangkap beberapa ekor!" kata Maya Dewi dan seperti seorang anak kecil yang bergembira, ia berlari-lari menuju ke tepi sungai dalam perut bukit itu. Akan tetapi ia menahan jeritnya karena ketika melompat dan berlari, lompatannya amat jauh dan larinya seperti angin. Demikian ringan rasa tubuhnya.

"Hati-hati, Dewi. Jangan tergesa-gesa!" kata Bagus Sajiwo sambil tertawa.

Bagus Sajiwo Jilid 11

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 11

BAGUS SAJIWO memandang ke arah pertandingan dan berkata, "Dewi, kurasa pertandingan itu tidak akan berlangsung lama lagi. Kuharap saja Ki Sumali itu benar-benar seorang pendekar dan tidak akan membunuh lawannya."

Ki Sumali memang sedang mendesak Kyai Jagalabilawa yang berubah menjadi dua orang itu. Suling dan kerisnya bergerak cepat dan setiap kali senjatanya berbenturan dengan senjata lawan, maka lawan yang menjadi dua badan itu terhuyung ke belakang. Kini pertandingan sudah meningkat dan Ki Sumali mendesak lawannya dengan hebat. Dia mendengar pula ucapan terakhir Bagus Sajiwo tadi yang memang menujukan suaranya sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suara itu seolah memasuki telinga Ki Sumali.

Pendekar ini seketika sadar bahwa sesungguhnya dia tidak mempunyai permusuhan apapun dengan Kyai Jagalabilawa maka sungguh tidak perlu dan tidak baik kalau sampai dia membunuhnya dalam pertandingan ini. Seorang pendekar memang pantang membunuh lawan tanpa alasan yang kuat. Seolah menaati ucapan dan harapan pemuda teman Nyi Maya Dewi itu, Ki Sumali mengendurkan desakannya.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang tamu yang duduk di bagian orang muda berlompatan ke tengah ruangan. Mereka berusia sekitar tiga puluh tahun dan keduanya memegang sebatang pedang. Seorang diantara mereka berteriak lantang.

"Bunuh telik-sandi Mataram!" Dua orang itu lalu menerjang ke depan dan menyerang Ki Sumali dengan pedang mereka!

"Wah, ini tidak adil! Sama sekali tidak adil!" Tiba-tiba Nyi Maya Dewi sudah melompat ke depan dan tampak sinar keemasan berkelebat ketika ia menggerakkan Sabuk Cinde Kencana. Gulungan sinar keemasan itu menyambar dan menyerang ke arah dua orang muda yang mengeroyok Ki Sumali! Dua orang muda itu cepat menangkis dengan pedang mereka.

"Wuuutt... prat-pratt!!" Biarpun ditangkis, namun sabuk panjang itu ujungnya masih sempat melecut pundak kedua orang itu dan dua orang muda itu terhuyung ke belakang sambil menangkis dan memegangi pundaknya.

Akan tetapi melihat Nyi Maya Dewi membantu Ki Sumali, hal yang sungguh tidak pernah disangkanya karena keadaan datuk wanita itu sesungguhnya berlawanan dengan keadaan pendekar Loano. Jaka Bintara segera memberi isyarat kepada paman gurunya. Kyai Gagak Mudra lalu bangkit berdiri dan berseru lantang.

"Para saudara yang menentang telik-sandi Mataram, mari maju dan binasakan telik-sandi itu agar tidak mengkhianati kita!" Setelah berkata demikian, dia dan Jaka Bintara sudah menyerbu ke tengah ruangan, bermaksud menyerang Ki Sumali.

Akan tetapi Nyi Maya Dewi menjadi marah. "Curang! Curang sekali. Kalian berdua sebagai tuan rumah berat sebelah, tidak adil melakukan pengeroyokan!" Wanita itu cepat memutar Sabuk Cinde Kencana dan menyambut kedua orang dari Banten itu dengan serangan senjatanya.

Akan tetapi, pada saat itu dari tempat duduk para tamu muda berlompatan tujuh orang yang ikut mengeroyok Ki Sumali! Ki Kebondanu yang sejak dulu menentang Mataram dan terpaksa menyimpan perasaan penasaran itu hanya karena Pangeran Pekik sudah menyerah kepada Mataram, bahkan menjadi mantu Mataram, kini bangkit rasa tak senangnya mendengar bahwa Ki Sumali adalah telik sandi Mataram yang dapat menghalang-halangi mereka semua mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi. Maka dia lalu melolos pecutnya dan melompat ke tengah ruangan. Pecutnya meledak-ledak ketika dia menyerang Ki Sumali!

Tentu saja Ki Sumali menjadi repot dan terdesak mundur ketika Ki Kebondanu membantu Kyai Jagalabilawa yang sudah didesaknya. Melawan pengeroyokan dua orang sakti itu dia merasa kewalahan juga. Dia memang masih lebih kuat dibandingkan Kyai Jagalabilawa, akan tetapi tingkat kepandaian Ki Kebondanu hampir sama dengan tingkat datuk Madiun itu, maka dikeroyok dua, Ki Sumali menghadapi lawan-lawan yang amat berat. Terpaksa dia hanya menggerakkan keris hitam dan sulingnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya dari serangan tiga orang, yaitu Kyai Jagal-abilawa yang berubah menjadi dua ditambah Ki Kebondanu!

Nyi Maya Dewi sendiri juga repot menghadapi terjangan Jaka Bintara dan Kyai Cagak Mudra yang mengeroyoknya. Dulupun, setahun lebih yang lalu, ketika ia masih menguasai dua aji pamungkasnya yang ampuh, yaitu Aji Wisa Sarpa dan Aji Tapak Rudira, ia sampai terluka dan hampir saja tewas melawan pengeroyokan dua orang ini. Apalagi sekarang. Biarpun tenaganya sudah pulih, namun ia tidak lagi memiliki aji pamungkas atau pukulan yang mematikan.

Untung baginya bahwa selama ini ia telah memperdalam ilmu silatnya, yaitu ilmu silat Singorodra. Bahkan Bagus Sajiwo telah membantunya menyempurnakan ilmu silat itu. Maka kini ia segera mempergunakan ilmu silat itu untuk membela diri terhadap pengeroyokan Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra. Kedua orang itu agaknya ingin membalas kekalahan mereka dahulu di puncak Bukit Keluwung, mengandalkan pengeroyokan.

Ketika Kyai Gagak Mudra memberi isyarat, Panca Warak yang sejak tadi sudah siap siaga, lalu berlompatan menyerbu dan mengeroyok Nyi Maya Dewi. Nyi Maya Dewi terdesak dan gawat sekali. Apalagi ketika tujuh orang tamu golongan muda yang tadinya mengeroyok Ki Sumali itu ditambah lima orang lagi!

Diam-diam Ki Sumali juga merasa heran bukan main melihat Nyi Maya Dewi membelanya mati-matian dan kini, seperti juga dirinya, wanita itu menghadapi pengeroyokan banyak orang dan keadaannya terancam.

"Hei, Tolol, apakah engkau akan membiarkan saja aku mampus?" Nyi Maya Dewi berteriak dan karena ia merasa mendongkol melihat Bagus Sajiwo belum juga bergerak menolongnya, ia menyebut pemuda itu Tolol.

Bagus Sajiwo sejak tadi memang menonton perkelahian keroyokan itu dengan penuh perhatian. Terutama dia memperhatikan sepak terjang Nyi Maya Dewi dan hatinya girang melihat betapa dengan ilmu silat Singorodra yang sudah disempurnakan, kini Maya Dewi mampu membela diri dari pengeroyokan begitu banyak orang dengan baik walaupun tentu saja ia terdesak hebat.

"Bagus, Dewi. Ilmu silatmu sudah maju pesat. Jangan khawatir, sekarang aku akan membantumu!" Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak ke depan. Dengan ilmu langkah ajaib Lintang Kemukus, dia menyelinap diantara para pengeroyok Maya Dewi dan terjadi kekacauan ketika dengan cepat sekali, satu demi satu lima orang Panca Warak itu terkulai roboh tidak dapat bergerak lagi, seperti mati! Kyai Gagak Mudra dan Jaka Bintara terkejut bukan main melihat lima orang pembantunya yang cukup tangguh itu roboh semua dan tampaknya seperti mati karena sama sekali tidak bergerak lagi. Mereka berdua terkejut dan juga marah.

Kyai Gagak Mudra yang tadinya tertawa-tawa melihat Maya Dewi terdesak hebat, kini hilang tawanya dan dia berteriak nyaring dengan suara parau saking marah dan dia mendorongkan kedua tangannya yang mengandung hawa panas dan kedua telapak tangan itu membara dan menyala, ke arah Bagus Sajiwo. "Aarrrghhhhh!"

Akan tetapi Bagus Sajiwo bersikap tenang. Dia mengebutkan tangan kanannya ke arah Kyai Gagak Mudra untuk menyambut serangan dahsyat itu.

"Dessss...!" Kyai Gagak Mudra terpelanting dan terbanting jatuh. Tubuh yang pendek gemuk itu bergulingan sampai menabrak kursi dan dia merangkak bangkit, duduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak karena tenaga pukulannya sendiri membalik.

Setelah kini Maya Dewi hanya menghadapi Jaka Bintara seorang, Bagus Sajiwo lalu menerjang ke arah para pengeroyok Ki Sumali. Pendekar Loano itu sudah terluka pundak dan paha kirinya, namun dengan gagah dia masih mengamuk. Begitu Bagus Sajiwo menerjang masuk, beberapa orang pengeroyok terkulai dan tidak dapat bergerak lagi. Mereka yang roboh di tangan Bagus Sajiwo dan seperti mati itu sesungguhnya sama sekali tidak tewas, bahkan terluka parah pun tidak. Akan tetapi jalan darah mereka tertotok, membuat mereka untuk beberapa lamanya tidak mampu bergerak seperti mati.

Jaka Bintara menjadi gentar sekali ketika dia harus melawan Maya Dewi seorang diri saja. Pada hal, kalau dibuat perbandingan, saat itu tingkat kepandaiannya masih lebih kuat daripada Maya Dewi yang telah kehilangan ajian-ajiannya yang ampuh dan ganas. Akan tetapi, melihat betapa paman gurunya dan lima orang pembantunya sudah roboh semua, nyalinya menjadi kecil dan dia berteriak kepada para tamu kehormatan.

"Paman Resi Sapujagad dan Paman Bhagawan Dewokaton, mohon bantuan paman berdua!"

Dua orang pertapa dari Merapi dan Bromo itu saling pandang. Mereka merasa sungkan juga kepada Pangeran Jaka Bintara dari Banten kalau diam saja. Maka mereka berdua lalu bangkit berdiri dan siap melangkah ke arena pertempuran untuk membantu tuan rumah. Akan tetapi, tiba-tiba dari tempat duduknya Wiku Menak Jelangger berkata, lembut akan tetapi penuh wibawa.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kalau aku boleh menasehati, lebih baik andika berdua tidak mencampuri urusan ini. Apalagi melakukan pengeroyokan sungguh merupakan perbuatan amat memalukan dan tidak pantas dilakukan orang-orang yang melakukan tapa brata."

Dua orang pendeta atau pertapa itu menjadi sungkan, wajah mereka berubah merah dan mereka pun melangkah, akan tetapi tidak menuju ke arena pertempuran, melainkan ke pintu samping dan keluar meninggalkan pondok itu. Wiku Menak Jelangger tersenyum dan mengangguk-angguk, memberi isyarat kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya dan mereka bertiga juga meninggalkan pondok melalui pintu samping.

Setelah melihat betapa dua orang pertapa itu tidak mau membantunya malah pergi meninggalkan pondok, Jaka Bintara menjadi ketakutan dan dia melompat jauh kebelakang meninggalkan Maya Dewi. Kebetulan Kyai Gagak Mudra juga sudah bangkit berdiri maka ke-dua orang ini lalu melarikan diri keluar pondok, takut kalau-kalau Maya Dewi dan temannya, pemuda remaja yang ternyata sakti mandraguna itu, akan mengejar mereka.

Setelah ditinggal lawannya, Maya Dewi lalu mengamuk dan membantu Bagus Sajiwo yang menolong Ki Sumali. Masuknya Maya Dewi dengan Sabuk Cinde Kencananya membuat para pengeroyok kocar-kacir. Bahkan Ki Kebondanu dan Kyai Jagalabilawa yang tadi sudah mendesak Ki Sumali dan berhasil melukainya, menjadi gentar dan merekapun melarikan diri cerai berai. Para tamu yang melakukan pengeroyokan dan belum roboh, melihat betapa para tokoh besar yang mereka bantu melarikan diri, tentu saja menjadi gentar dan mereka pun melarikan diri tunggang langgang tanpa diperintah lagi!

Mereka yang tadi roboh terluka, juga mereka yang tadi roboh tertotok dan kini sudah dapat bergerak lagi, merangkak bangkit, saling bantu dan merekapun terpincang-pincang meninggalkan pondok itu. Tanpa ada yang mengetahui, dua orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang tadi juga duduk diantara para tamu muda, tidak ikut berkelahi, diam-diam meninggalkan pula tempat itu dan dua orang ini lalu menuju ke tebing sebelah barat.

Setelah tiba disitu mereka mengeluarkan suara bersuit! lalu bermunculan enam orang laki-laki yang sebaya dengan mereka. Mereka semua berpakaian seperti penduduk biasa, padahal sebetulnya delapan orang ini adalah orang-orang yang menjadi antek bayaran Kumpeni Belanda dan dikirim kesitu untuk menjadi mata-mata dan mengamati gerakan para tokoh duma persilatan, para orang-orang sakti itu. Dua orang yang tadi bertugas memata-matai pertemuan itu bernama Tatang dan Wirya. Kedua orang ini menjadi pimpinan diantara delapan orang itu.

"Ada orang-orang yang membela Mataram disini. Mereka harus dibinasakan. Kita bersiap!" kata Tatang yang bertubuh jangkung.

"Dan kita tidak boleh melepaskan Maya Dewi, kalau kita dapat membunuh pengkhianat itu, Mayor Yakuwes tentu akan memberi hadiah besar kepada kita." kata Wirya yang matanya juling sambil meraba pistol yang disembunyikan di balik bajunya.

Demikianlah, delapan orang itu lalu melakukan pengintaian dari jauh, memandang ke arah pondok dimana Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, juga Ki Sumali masih berada, setelah ditinggalkan semua orang. Maya Dewi berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kanan memegang Sabuk Cinde Kencana dan tangan kiri bertolak pinggang, memandang kesekeliling.

Ruangan itu telah ditinggalkan semua tamu, yang berada disitu hanya Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali. Semua orang yang tadi melakukan pengeroyokan telah pergi, meninggalkan ruangan yang dipenuhi meja kursi yang porak poranda, berserakan.

"Hi-hi-hi-hi...!" Maya Dewi tertawa cekikikan, sambil menggunakan tangan kiri untuk menutupi mulutnya.

Pemandangan ini bagi yang sudah mengenal Maya Dewi sungguh aneh dan mengherankan. Dulu, Maya Dewi terkenal sebagai seorang wanita yang berwatak liar, kalau tertawa terkekeh dan terbahak dengan bebas, kini ia tidak berani tertawa keras, hanya cekikikan dan masih menutupi mulutnya dengan tangan pula, gaya tawa seorang wanita yang bersusila! Betapa banyak perubahan terjadi pada diri Maya Dewi dalam waktu setahun lebih ini!

Ki Sumali sendiri merasa terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi. Dia tahu betul siapa Nyi Maya Dewi, puteri mendiang Resi Koloyitmo ini. Dia tahu bahwa Nyi Maya Dewi adalah seorang datuk wanita yang sesat, liar dan kejam, bahkan menjadi mata-mata Kumpeni Belanda, bergabung dengan para datuk sesat dan namanya tersohor sebagai seorang jahat sekali.

Akan tetapi kenapa sekarang muncul sebagai seorang yang menolong dan membelanya mati-matian, menentang para datuk sesat yang menentang Mataram? Bukankah dahulu Maya Dewi ini seorang yang membenci Mataram? Kenapa sekarang malah membelanya? Dan perhatiannya tertuju kepada pemuda remaja itu.

Dia tadi melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda yang Usianya paling banyak tujuh belas tahun itu telah merobohkan tokoh-tokoh yang digdaya. Siapakah pemuda remaja yang agaknya akrab sekali dengan Maya Dewi ini? Apakah pemuda ini yang membuat Maya Dewi kini berubah seperti itu? Betapapun heran hatinya, Ki Sumali teringat bahwa dua orang inilah yang telah menyelamatkannya. Kalau tidak dibantu dua orang ini, tentu dia telah tewas dikeroyok mereka yang memusuhi Mataram itu. Maka dia cepat menghadapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, membungkuk dan menyembah dengan kedua tangan depan dada.

"Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan andika berdua." katanya dengan singkat dan agak gagap karena dia masih terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi. Tentu saja dia merasa salah tingkah karena dulu dia bahkan pernah bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya ketika wanita itu masih menjadi mata-mata Kumpeni, walaupun bukan dia yang melawan Maya Dewi, melainkan Lindu Aji.

Nyi Maya Dewi tersenyum manis. "Ki Sumali, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang masih melindungi kita. Kami berdua hanya melaksanakan tugas menentang mereka yang jahat!"

Ki Sumali terbelalak mendengar ucapan wanita itu. Benarkah ini Maya Dewi yang dulu itu? Perasaan hatinya yang penuh keharuan itu tanpa disadarinya terucapkan dalam kata-kata pertanyaan. "Benarkah andika ini Maya Dewi?"

Maya Dewi kembali tersenyum dan memandang wajah pendekar Loano itu dengan sinar mata penuh keterbukaan. "Tentu saja aku Maya Dewi! Badanku adalah Nyi Maya Dewi yang dulu, akan tetapi batinku telah diperbaharui, Ki Sumali, berkat bimbingan Bagus Sajiwo ini." Maya Dewi menuding kepada Bagus Sajiwo.

Ki Sumali semakin heran. Bocah ini yang dapat mengubah watak yang liar jahat itu menjadi baik? Dia tertarik sekali dan kini dia memandang kepada Bagus Sajiwo dengan penuh perhatian. Seorang pemuda remaja, masih amat muda dan tampaknya seperti masih hijau. Akan tetapi sepasang mata itu! Sinarnya demikian tajam, penuh wibawa, penuh pengertian. Dan pemuda ini tadi dengan kata-katanya yang berdengung ditelinganya telah menyadarkannya bahwa dia tidak boleh membunuh lawannya!

"Andika orang muda yang sakti mandraguna, Bolehkah saya mengetahui siapa nama andika?" tanya Ki Sumali dengan sikap hormat.

Melihat sikap dan mendengarkan pertanyaan itu, Bagus Sajiwo tersenyum dan mukanya berubah kemerahan. "Ah, paman, harap jangan terlalu memuji..." katanya tersipu.

"Hi-hi, Ki Sumali, dia menjadi bingung dan malu kalau dipuji-puji. Bagus, ini adalah Ki Sumali, seorang pendekar yang terkenal dengan sebutan Pendekar Loano, tinggal di Loano dan dialah seorang yang setia kepada Mataram. Ki Sumali, ini adalah... sahabatku, juga pembimbingku, namanya Bagus Sajiwo." Nyi Maya Dewi memperkenalkan dengan nada suara bangga.

Untung ia masih dapat segera menyadari dan menahan diri, hampir saja tadi ia memperkenalkan Bagus Sajiwo sebagai suaminya! Kata-kata suamiku yang sudah berada di ujung lidah, masih sempat diubahnya menjadi sahabatku.

"Anakmas Bagus Sajiwo, sungguh aku merasa kagum sekali. Masih begini muda namun andika sudah memiliki kepandaian yang amat tinggi. Bolehkah aku mengetahui, siapa guru andika?"

"Guru saya adalah mendiang Ki Ageng Mahendra, paman." jawab Bagus Sajiwo singkat.

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Banyak tokoh sakti, para datuk yang dikenalnya, baik mengenal wajahnya atau setidaknya mengenal namanya. Namun nama Ki Ageng Mahendra belum pernah didengarnya. Namun dia tahu bahwa dunia ini amat luas dan banyak orang pandai yang tidak dikenal orang. Bahkan kabarnya orang-orang yang amat sakti mandraguna lebih suka mengasingkan diri dan tidak dikenal di dunia ramai.

"Ki Sumali, apakah engkau datang ke muara Sungai Lorog ini juga untuk mencari dan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi seperti orang-orang tadi?" tanya Nyi Maya Dewi. Wanita ini masih tetap lincah, walaupun kini kelincahannya itu penuh keterbukaan dan kewajaran, tidak palsu dan menyembunyikan pamrih pribadi seperti dulu sebelum bertemu Bagus Sajiwo.

Ki Sumali menghela napas dan menjawab sejujurnya. "Tidak kusangkal lagi. Memang tadinya aku tertarik mendengar tentang Jamur Dwipa Suddhi. Akan tetapi melihat betapa banyaknya orang yang datang di tempat ini untuk memperebutkannya, hatiku menjadi tawar dan aku tidak ingin lagi mencarinya, Nyi Maya Dewi. Aku hendak pulang saja ke Loano."

"Memang lebih baik begitu," kata Bagus Sajiwo lirih seperti bicara kepada diri sendiri. "Memperebutkan sesuatu hanya mendatangkan permusuhan, padahal yang diperebutkan itu belum diketahui berada dimana."

Ki Sumali menghela napas. "Benar sekali. Tadinya aku hanya tertarik dan ingin melihat-lihat, tidak tahunya sampai disini malah terlibat dalam pertempuran yang hampir saja merenggut nyawaku. Sekali lagi terima kasih atas pertolongan andika berdua, aku hendak pulang sekarang."

"Selamat jalan, Ki Sumali." kata Maya Dewi.

"Semoga Gusti Allah selalu melindungimu, Paman Sumali." kata Bagus Sajiwo.

Ki Sumali memandang kagum, kemudian meninggalkan pondok itu. Setelah kini tinggal mereka berdua dalam pondok itu, Maya Dewi menghampiri Bagus Sajiwo dan memegang tangannya. "Sekarang kita mulai mencari Jamur Dwipa Suddhi itu, Bagus."

"Kemana kita harus mencarinya, Dewi? Kita tidak tahu dimana adanya pusaka itu."

"Tidak ada yang tahu tepatnya dimana benda itu berada, Bagus. Akan tetapi, menurut dongeng, peristiwa penemuan Jamur Dwipa Suddhi sampai hilangnya karena disembunyikan oleh pertapa yang menemukannya sebelum dia meninggal dunia, terjadi di muara Sungai Lorog, yaitu disini. Maka untuk mencarinya, kemana lagi kalau bukan sekitar daerah ini? Hayolah, kalau kita berdiam saja di dalam pondok ini, bagaimana kita dapat menemukannya? Dan orang-orang tadi tentu juga sedang mencarinya. Hayolah, jangan sampai kita ketinggalan dan Jamur Dwipa Suddhi itu ditemukan orang lain!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan mereka berdua lalu keluar dari dalam pondok sambil bergandeng tangan. Dari situ mereka langsung menuju ke muara Sungai Lorog yang tak jauh dari pondok itu. Muara ini cukup lebar dan air sungai itu bergerak perlahan-lahan menuju ke laut selatan. Terkadang, kalau ombak laut besar, air laut dari Laut Kidul memasuki muara, bertemu dengan air sungai. Di sebelah kanan muara terdapat tebing batu karang yang cukup tinggi, merupakan bukit kapur atau karang yang tandus.

Setelah tiba ditepi muara, mereka memandangi air dari lautan yang datang menyerbu ke muara, seolah air lautan menyambut datangnya air sungai, seperti saudara yang menyambut kerabatnya yang sudah lama berpisah dan baru sekarang kembali ke kampung halamannya. Bertemunya air laut dengan air sungai dan dengan batu karang menimbulkan suara berdebur dan bergerisik, terkadang amat dahsyat, terkadang lembut seperti bisikan para bidadari.

Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terpesona oleh keagungan, kebesaran dan keindahan alam itu. Mereka berdua merasa betapa kecil tak berarti adanya mereka, dan betapa mereka hanyut dan merupakan sebagian dari alam yang amat besar itu.

"Daerah muara Kali Lorog ini begini luas, dan disana ada bukit karang begitu besar. Kemana kita harus mencari pusaka itu, Dewi?"

Maya Dewi memandang ke sekelilingnya. "Rasanya tidak mungkin kalau disembunyikan di tempat yang tidak terlindung, karena baik jamur yang dikeringkan maupun kitab tentu akan rusak kalau setiap hari terkena panas dan hujan. Juga kalau dekat muara, terancam air kalau air laut sedang pasang, atau kalau sungai sedang banjir. Andaikata engkau yang hendak menyembunyikan pusaka itu, tempat mana yang akan kau pilih dan kau anggap paling aman?"

Mendengar pertanyaan ini, Bagus Sajiwo lalu mengerutkan alisnya, memandang ke sekeliling dan berpikir. Mula-mula dia memandang ke arah depan, diseberang muara dimana terdapat pantai berpasir yang amat luas dan jajaran bukit berdiri agak jauh di sebelah utara. Lalu dia menengok ke belakang dimana terdapat tebing-tebing curam dari bukit karang. Setelah itu dia termenung memandang ke arah air muara di depan kakinya.

"Hemm, dimana-mana serba terbuka dan pasti akan dapat ditemukan orang. Agaknya tak mungkin kalau selama ratusan tahun dapat tersimpan aman kalau benda itu disembunyikan di atas daratan." demikian dia berkata sungguh-sungguh.

"Wah, engkau ini aneh, Bagus. Tentu saja disimpan di darat apa kau pikir benda itu disimpan dalam air?" Maya Dewi tertawa.

"Kalau dapat disimpan dalam muara ini, tentu aman." kata Bagus Sajiwo sambil termenung, suaranya lirih dan kata-katanya keluar seperti tanpa disadarinya atau seperti dalam mimpi.

"Engkau memang tolol, Bagus!" seru Maya Dewi, setengah geli setengah dongkol. "Mana mungkin disimpan dalam muara? Baru sehari saja tentu jamur dan kitab itu akan hancur!"

"Dar-dar-dar-darrr...!!" Tiba-tiba terdengar letusan bertubi-tubi. Tiga butir peluru mengenai punggung Bagus Sajiwo, akan tetapi hanya baju pemuda itu yang hangus dan robek, akan tetapi kulitnya tidak terluka dan peluru-peluru itu jatuh ke atas tanah. Akan tetapi Maya Dewi mengeluh dan ia roboh dengan pundak kiri mengucurkan darah!

Bagus Sajiwo cepat memutar tubuhnya dan dia melihat delapan orang berlomba lari dari balik tebing dan mereka semua membawa senapan. Bagus Sajiwo sudah banyak mendengar tentang senjata api yang berbahaya itu. Tadipun dia sudah merasakan serangan senjata itu yang mengenai punggungnya. Akan tetapi dia tidak terluka dan hal ini hanya karena dirinya telah mendapat perlindungan Gusti Allah saja maka kekuasaanNya yang menjadi perisai sehingga peluru-peluru itu tidak menembus kulitnya.

Akan tetapi Maya Dewi terkena tembakan dan terluka. Kalau dia melawan delapan orang itu, tentu keselamatan Maya Dewi terancam maut. Maka, setelah sekilas pikirannya bekerja, dia lalu menyambar tubuh Maya Dewi dan melompat ke air muara.

"Byuurrr...!" Air muncrat dan Bagus Sajtwo menyelam sambil merangkul tubuh Maya Dewi yang pingsan.

Delapan orang itu adalah Tatang dan Wirya bersama enam orang anak buahnya yang menyerang Bagus Sajiwo dan Nyi Maya Dewi dengan senapan mereka. Melihat Maya Dewi roboh dan pemuda itu membawa wanita itu melompat ke dalam muara, mereka cepat berlari menghampiri. Akan tetapi, mereka tidak dapat melihat mereka berdua lagi. Dengan harapan bahwa kalau masih hidup tentu dua orang itu akan muncul di permukaan air, mereka lalu berjaga-jaga di tepi muara dengan senjata api siap ditembakkan.

cerita silat online karya kho ping hoo

Bagus Sajiwo merasa bersyukur bahwa dulu dia pernah belajar renang di sebuah telaga tak jauh dari padepokan Ki Ageng Mahendra dipegunungan Ijen sehingga dia pandai renang dan dapat menyelam. Akan tetapi tentu saja dia tidak akan kuat berdiam di air terlalu lama, juga Maya Dewi tidak akan kuat. Kalau dia muncul ke permukaan air, tentu delapan orang itu sudah berada disana dan siap menembaknya. Maka dia segera berenang dalam air hendak menjauh.

Dia mendekati tepi dimana terdapat tebing tinggi dan ketika meraba-raba, dia menemukan terowongan varig besar, tidak kurang dari dua meter garis tengahnya. Dengan nekat dia berenang memasuki terowongan itu, terus masuk ke dalam. Dia merasa betapa tubuh Mava Dewi meronta-ronta, tanda wanita itu telah siuman dan kini meronta hendak melepaskan diri atau tentu ia mendapat kesukaran dengan pernapasannya.

Dia sendiri pun merasa betapa dadanya terasa sesak seperti akan meledak! Akan tetapi tiba-tiba dia melihat di atas kepalanya tidak hitam lagi. Ada sinar terang di atas kepalanya! Dia lalu menggerakkan kakinya dan tubuh mereka meluncur ke atas dan kepalanya tersembul ke permukaan air!

Maya Dewi terbatuk-batuk dan terengah-engah menghirup udara dan mulutnya. Dia sendiri cepat mengambil napas. Udara segar memasuki dadanya melalui hidung, terasa nyaman bukan main. Setelah dia memperhatikan, ternyata terowongan di bawah permukaan air itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah dan sinar matahari masuk melalui lubang dan celah-celah antara batu-batu bukit karang yang dari situ tampak tinggi sekali! Ruangan itu luas sekali, merupakan ruangan di perut bukit karang. Kalau dilihat dari atas tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa di bawah celah-celah bukit karang, diantara batu-batu itu, tersembunyi ruangan yang demikian luasnya. Air hujan yang turun tentu akan masuk ke air muara yang sampai dan berhenti disitu.

Bagus Sajiwo tidak memeriksa lebih lanjut. Yang terpenting adalah menolong Maya Dewi yang masih dirangkulnya. Setelah terbatuk-batuk dan pernapasannya pulih dan biasa lagi, wanita itu mengeluh. "Aduh... pundakku terluka, Bagus."

Bagus Sajiwo memeriksanya dan menjadi lega. Ternyata peluru itu hanya menyerempet saja dan menggores pangkal lengan. Hanya kulit dan sedikit daging yag terluka dan tidak berbahaya.

"Tahankan rasa nyeri sedikit, Dewi. Aku harus menjaga agar sedikit luka ini tidak sampai tercemar dan menjadikan bengkak. Karena disini tidak ada daun obat, satu-satunya jalan hanya mengisap dan menjilat." Setelah membuka baju bagian dalam Maya Dewi, tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa jijik sedikitpun, Bagus Sajiwo lalu... mengisap dan menjilati luka di pangkal lengan Maya Dewi!

Melihat ini, Maya Dewi terbelalak. Ia melihat betapa Bagus Sajiwo mengisap dan menjilati luka di pangkal lengannya yang kini masih mengeluarkan sedikit darah. "Tolol, apa yang kau lakukan ini?" serunya sambil berusaha menarik lengannya.

Akan tetapi Bagus Sajiwo memegangi lengan itu dengan kuat. Dia melanjutkan menjilati luka itu sampai merasa bahwa luka itu bersih betul, barulah dia menghentikan perbuatannya dan memandang kepada Maya Dewi sambil tersenyum. "Dewi jangan heran dan kaget. Mendiang guruku yang mengajarkan cara membersihkan luka agar jangan sampai menjadi parah, dengan cara begini."

"Tapi... tapi..." Maya Dewi tak dapat menahan rasa harunya dan kedua matanya sudah menjadi basah dan air matanya turun membasahi kedua pipinya. "Tapi... itu... tidakkah engkau merasa jijik?"

"Kenapa jijik, Dewi? Luka itu baru saja terjadi. Kalau luka itu mengandung racun, harus diisap keluar racunnya. Akan tetapi kalau tidak, dengan cara mengisap dan menjilati, maka luka itu akan bersih dan tanpa diobatipun akan cepat sembuh. Percayalah, Dewi. Tahukah engkau bagaimana semua mahluk hidup, seperti semua binatang, menjilati luka dan luka itu akan sembuh tanpa di-obati seperti yang dilakukan manusia? Kalau disini ada daun-daun obat, tentu engkau akan kuobati. Akan tetapi disini tidak ada apa-apa, maka aku mempergunakan pengobatan cara alami seperti yang dilakukan semua mahluk hidup. Bukankah engkau juga akan melakukan hal yang sama kepadaku, kalau aku yang terluka? Ataukah engkau akan merasa jijik?"

Sambil terisak Maya Dewi merangkul Bagus Sajiwo dan menangis di dada pemuda remaja itu. "Tentu saja tidak, Bagus. Aku... aku akan melakukan apapun juga untukmu... aku siap mempertaruhkan nyawaku untukmu..."

Bagus Sajiwo membiarkan Maya Dewi menangis sejenak, kemudian dengan lembut dia melepaskan rangkulan wanita itu dan berkata. "Dewi, kita perlu mengeringkan pakaian kita yang basah kuyup ini terlebih dulu agar jangan menjadi sakit. Kita dapat menjemur pakaian kita selagi sinar matahari masih memasuki tempat ini. Nanti kita pikirkan apa yang dapat kita lakukan lebih lanjut. Nah, engkau disini dan jemur pakaianmu aku akan ke bagian sana untuk menjemur pakaianku."

"Bagus, mengapa engkau harus pergi kesana? Apakah diantara kita masih harus saling merasa malu?" tanya Maya Dewi.

Bagus tersenyum. "Dewi, lupakah engkau akan kesusilaan seperti yang sering kujelaskan kepadamu? Kesusilaan merupakan bagian dan kebudayaan, dan kebudayaanlah yang membedakan kita semua dan mahluk hidup yang lain. Kalau manusia kehilangan kesusilaannya, maka dia lebih mendekati binatang. Kita tidak mau disamakan dengan binatang, bukan?"

"Sudahlah, pergi Sana!" kata Maya Dewi agak dongkol.

Bagus Sajiwo lalu pergi kesebelah depan dan menghilang di balik batu besar yang banyak terdapat di ruangan dalam bukit batu karang itu. Di bagian itu juga masih terdapat sinar matahari. Mereka lalu menanggalkan pakaian yang basah kuyup, memeras pakaian itu lalu menjemurnya di tempat yang terdapat sinar matahari. Karena mereka memeras dengan pengerahan tenaga sehingga pakaian itu hanya tinggal basah sedikit, maka setelah dijemur, tak lama kemudian pakaian itu menjadi kering dan mereka memakainya kembali.

"Bagus! Aku sudah selesai!" teriak Maya Dewi ke arah batu besar.

Bagus Sajiwo muncul dan diapun sudah mengenakan pakaiannya yang menjadi kering. Keduanya lalu duduk di atas batu. saling berhadapan. "Sekarang, apa yang harus kita lakukan, Bagus?"

"Mari kita pertimbangkan keadaan kita, Dewi. Atas kemurahan Gusti Allah kita dilindungi dan selamat dari ancaman maut walaupun engkau mengalami luka yang tidak berbahaya di pangkal lenganmu. Kita sekarang berada di ruangan ini dan sementara kita aman dari orang-orang yang bersenjata senapan itu."

"Hemm, mereka itu tentu anak buah Mayor Jakuwes, bekas atasanku yang menyuruh orang-orangnya mencari dan membunuh aku karena aku meninggalkan Kumpeni." kata Maya Dewi gemas.

"Kukira ruangan ini merupakan sebuah terowongan gua, di dalam bukit karang. Biarpun kita aman disini, akan tetapi kita kehilangan bekal pakaian..."

"Sabuk Cinde Kencanaku masih ada!" potong Maya Dewi.

"Kita tidak mungkin bisa mendapatkan makanan di tempat ini. Karena itu, kita harus mencari jalan keluar." sambung Bagus Sajiwo.

"Wah, berenang dan menyelam seperti tadi? Aku dapat juga berenang, akan tetapi kalau harus melalui jalan seperti kita masuk kesini tadi, rasanya ngeri!"

"Kita tidak dapat mengambil jalan itu, Dewi. Orang-orang itu mungkin masih berada disana dan begitu kita muncul, mereka akan menyerang kita dengan tembakan senapan mereka. Kita harus mencari jalan keluar. Mungkin kita dapat memanjat ke atas sana." Bagus Sajiwo menunjuk ke atas dimana tampak celah-celah besar diantara batu-batu.

"Hehehe, mungkin engkau benar, Bagus. Rasanya tidak akan begitu sukar memanjat ke atas melalui batu dan dinding karang yang kasar itu."

"Kalau begitu, mari kita mencari jalan yang paling baik untuk memanjat ke atas. Engkau mencari tebing sebelah sini, aku akan mencari yang di sebelah sana. Kita harus dapat keluar dari sini sebelum gelap, Dewi."

Mereka lalu berpencar dan mulai mencari bagian yang paling mudah untuk memanjat sampai ke atas. Bagus Sajiwo mencari di tebing sebelah sana. Bagian itu harus dipilih dan diperhitungkan agar jalan panjatan ke atas tidak putus di tengah jalan.

"Bagus...!!!" Teriakan Maya Dewi ini mengejutkan Bagus Sajiwo.

Akan tetapi ketika dia menengok dan memandang, dia melihat tidak terjadi sesuatu pada Maya Dewi. Wanita itu sedang membungkuk dan agaknya memeriksa sesuatu pada dinding karang.

"Ada apakah, Dewi?" Bagus bertannya, tanpa beranjak dari tempatnya karena dia sedang memperhitungkan tempat tanjakan yang sekiranya mudah membawanya terus ke atas.

"Bagus ke sinilah! Cepat...!!" kembali Maya Dewi berteriak dan sekali ini Bagus Sajiwo menjadi heran. Apakah yang terjadi? Dia melompat dan berlari menghampiri wanita itu.

"Ada apa, Dewi?"

"Lihat ini...!" kata Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah sebongkah batu yang bersandar pada dinding karang.

Bagus Sajiwo mengamati dan ternyata di atas batu itu terdapat coretan-coretan huruf seperti diukir di atas permukaan batu. Bagus Sajiwo membacanya. Itu adalah tulisan kuno, akan tetapi dia pernah belajar membaca dan mengartikan tulisan kuno jaman Mojopahit itu dari mendiang Ki Ageng Mahendra.

"Siapa yang berjodoh mendapatkan pusaka ini, harus bersumpah kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk mempergunakannya demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat."

"Bagus cepat singkirkan batu itu, kurasa di balik batu ini terdapat pusaka yang ampuh... ah, siapa tahu Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu berada disini! Cepat singkirkan batu itu, Bagus!"

"Hemm, nanti dulu, Dewi. Engkau tadi sudah mendengar bunyi dan arti tulisan itu. Kita harus bersumpah lebih dulu seperti yang dituntut dia yang meninggalkan pusaka disini. Lupakah engkau bahwa kita harus selalu bersusila dalam setiap tindakan kita. Engkau tidak boleh melupakan hal itu, Dewi!" Suara Bagus Sajiwo mengandung teguran.

Maya Dewi yang tadi lupa akan pelajaran itu saking tegang dan gembiranya menemukan tempat rahasia itu, segera menyadari dan ia berkata, "Maafkan aku, Bagus."

"Baiklah, asalkan engkau tidak melupakan hal itu lagi. Nah, marilah kita berlutut sebagai penghormatan dan mengucapkan sumpah kita."

Bagus Sajiwo berlutut di depan batu itu. Maya Dewi berlutut di sampingnya. Kemudian Bagus Sajiwo mengucapkan sumpahnya.

"Hamba Bagus Sajiwo dan Maya Dewi bersumpah kepada Gusti Allah untuk mempergunakan pusaka yang diberikan kepada hamba demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat." Setelah mengucapkan sumpahnya, Bagus Sajiwo menyembah dan menundukkan mukanya.

"Eh, Dewi, lihat ini!" katanya dan Bagus Sajiwo membersihkan permukaan batu yang berada di bawah batu besar bertulis itu dengan tangannya. Setelah tanah yang menutupi batu kecil itu disingkirkan, baru tampak jelas tulisan dengan huruf-huruf kecil di atas batu itu. Dia lalu membacanya.

"Dorong batu dari samping, jangan berdiri didepannya."

Bagus Sajiwo memegang tangan Maya Dewi dan menariknya sehingga wanita itu bangkit berdiri. Mereka lalu berdiri disamping batu bertulis dan Bagus Sajiwo mendorong batu itu sehingga tergulir ke samping. Ternyata di balik batu itu terdapat sebuah lubang dengan garis tengah sekitar dua jengkal. Tiba-tiba, begitu tergulir ke samping, terdengar bunyi menjepret dan dari dalam lubang itu menyambar keluar sebatang benda hitam. Sambaran itu cepat bukan main dan benda itu meluncur lewat.

Maya Dewi membelalakkan matanya. "Wah, aku yakin benda runcing hitam tadi mengandung racun yang amat kuat! Dari baunya saja aku dapat mengenalnya. Racun ular-ular berbisa!"

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk. "Nah, sekarang engkau tahu betapa pentingnya bersikap hormat dan bersusila? Kalau kita tadi langsung menggulingkan batu, bagaimana kita dapat mengelak dari sambaran senjata rahasia yang meluncur dari jarak sedekat itu?"

Maya Dewi bergidik. "Ah, hebat sekali dia yang menyembunyikan pusaka ini. Dia menghendaki agar pusaka terjatuh ke tangan orang yang bersusila dan berbudi luhur. Kalau penjahat yang menemukan, tentu dia akan tewas terpanah."

Mereka lalu menyingkirkan rumput-rumput kering dan daun-daun kering yang dijejalkan di mulut lubang itu. Maka tampaklah dua buah benda yang membuat mereka berdua tercengang. "Jamur Dwipa Suddhi dan sebuah kitab!" Maya Dewi berseru.

Mereka mengambil dua buah benda itu dengan hati-hati. Maya Dewi mengambil jamurnya dan Bagus Sajiwo mengambil kitabnya. Selain dua buah benda itu, tidak ada apa-apa lagi di dalam lubang itu. Maya Dewi mengamati benda yang ia kira pasti Jamur Dwipa Suddhi yang dicari banyak orang itu. Benda itu masih berbentuk jamur, seperti payung kecil, sebesar telapak tangan. Warnanya kehitaman dan ketika ia menciumnya, baunya harum akan tetapi aneh karena belum pernah ia mencium keharuman seperti itu.

Sebagai seorang yang ahli dalam soal racun, dan bau benda itu Maya Dewi mengerti bahwa benda itu tidak mengandung racun, akan tetapi mengandung unsur panas yang dapat ia rasakan dari melalui penciumannya.

Sementara itu Bagus Sajiwo mengamati kitab daun lontar itu. Masih baik dan utuh, tulisannya dalam bahasa Jawa Kuno juga jelas. Ternyata kitab itu bernama Kitab Aji Sari Bantala. Di dalamnya terdapat gambar-gambar, pria dan wanita dalam berbagai kedudukan pasangan kuda-kuda dan gerakan silat yang aneh. Semua itu disertai keterangan tulisan yang jelas sekali. Bagus Sajiwo menjadi girang bukan main karena memandang secara sekilas saja tahulah dia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu silat yang amat tinggi.

"Bagus, apakah isi kitab itu?" tanya Maya Dewi kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo menyerahkan kitab itu kepada Maya Dewi, dan Maya Dewi sebaliknya menyerahkan jamur kering kepada Bagus Sajiwo. Ketika melihat isi kitab itu, Maya Dewi menjadi girang bukan main. Melihat gambar-gambar yang terdapat dalam kitab itu saja tahulah ia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu kanuragan. Akan tetapi ia tidak begitu mengerti akan maksud tulisannya. Bagus Sajiwo yang mengamati jamur di tangannya itu juga dapat merasakan bahwa yang dipegangnya adalah benda yang memiliki khasiat yang amat hebat.

"Bagus bagaimana bunyi tulisan dalam kitab ini? Ini merupakan pelajaran ilmu silat, bukan? Dan gambarnya ada dua orang, seorang pria dan seorang wanita. Bagaimana bunyinya? Tolong jelaskan, aku merasa sulit membaca tulisan kuno ini."

Bagus Sajiwo tertawa gembira. "Ha-ha, Dewi. Sungguh kita beruntung sekali. Kitab itu adalah kitab yang mengandung pelajaran Aji Sari Bantala dan aji kesaktian itu hebat bukan main. Memang ajian itu digubah oleh pembuatnya untuk seorang pria dan pasangannya, seorang wanita."

"Ah, aku beruntung sekali kalau begitu, Bagus. Kita dapat melatih ilmu dari kitab itu disini agar tidak sampai ketahuan orang lain! Dan Jamur itu, aku yakin benar-benar Jamur Dwipa Suddhi yang dicari semua orang. Kita makan saja jamur itu, Bagus! Aku yakin khasiatnya untuk kita tentu luar biasa."

"Akan tetapi kita tidak boleh sembrono, Dewi. Bagaimana kalau jamur yang ratusan tahun umurnya itu mengandung racun?"

"Tidak, Bagus. Aku yakin tidak mengandung racun, melainkan mengandung khasiat yang luar biasa. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang yang ahli tentang racun, bukan? Jamur ini tidak beracun, akan tetapi berkhasiat luar biasa. Mari, mari kita makan."

"Akan tetapi jamur ini kering dan keras seperti batu karang. Bagaimana dapat enak dimakan?"

"Aku tahu, bagus. Untuk mengembalikannya menjadi lunak, jamur ini harus direndam air selama satu malam." Maya Dewi lalu sibuk membersihkan bagian lantai batu karang yang cekung dan mengambil air dari air muara yang masuk ke ruangan itu, mengisi cekungan yang cukup lebar itu dengan air lalu memasukkan jamur kering itu ke dalamnya. "Kita tunggu sampai semalam, Bagus. Aku yakin jamur ini akan menjadi lunak dan dapat kita makan."

"Ah, Dewi, hari agaknya mulai menjelang sore. Cuaca disini mulai gelap dan kita belum menemukan jalan untuk memanjat ke atas!" seru Bagus Sajiwo.

"Kita tidak akan naik dulu, Bagus. Biar kita lewatkan malam ini disini dan mungkin akan tinggal disini untuk sementara waktu."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Tenanglah, Bagus. Mana ketenanganmu yang biasa itu? Dengar, malam ini kita tinggal disini dan mengaso sambil membiarkan jamur ini terendam air sampai lunak. Besok pagi kita makan jamur ini. Kemudian, engkau boleh mencari jalan keluar dengan memanjat dinding tebing untuk membeli pakaian pengganti dan bahan makanan, kemudian engkau kembali lagi kesini. Kita tinggal d sini mempelajari ilmu dari kitab Sari Bantala (Inti Bumi) sampai dapat menguasainya, baru kita berdua akan keluar dari tempat ini."

"Wah, untuk apa kita bersusah payah dan tinggal di perut bukit seperti ini berlama-lama?" Bagus Sajiwo berusaha menatap dengan tajam penuh selidik wajah Maya Dewi dalam cuaca yang mulai remang-remang itu. "Dewi, apakah engkau memiliki pamrih menguasai ilmu yang hebat agar dapat menjagoi lagi di dunia ramai?"

Maya Dewi menghela napas. "Bagus, kenapa engkau masih juga meragukan aku? Aku hanya ingin agar engkau tidak menjadi seorang laki-laki yang menjilat kembali ludah yang sudah kau keluarkan."

"Eh, Apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

"Lupakah engkau akan janjimu, akan sumpahmu ketika engkau akan mengambil jamur dan kitab ini? Engkau bersumpah kepada Gusti Allah bahwa engkau akan mempergunakan pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Benarkah itu atau engkau sudah lupa?"

"Tentu saja aku tidak lupa."

"Nah, lalu bagaimana engkau akan dapat mempergunakan pusaka ini, yaitu jamur dan kitab ini, kalau engkau tidak makan jamurnya dan tidak mempelajari kitab ini, sampai engkau menguasai betul ilmu yang dikandungnya? Nah, jawablah! Apakah tidak berarti engkau mengingkari janji atau sumpahmu sendiri kalau engkau tidak makan jamur dan mempelajari kitab ini?"

Bagus Sajiwo menghela napas panjang. "Tentu saja aku akan memenuhi sumpahku, akan tetapi tidak harus tinggal di tempat ini berlama-lama, Dewi. Kita dapat melaksanakan sumpah itu di atas bumi sana, bukan disini."

"Akan tetapi aku mau mempelajarinya disini, Bagus. Ingat, ketika bersumpah engkau menyebut nama kita berdua, berarti akupun ikut bersumpah. Aku tidak ingin terganggu orang-orang jahat itu pada saat mempelajari kitab Sari Bantala ini. Sudahlah, Bagus. Engkau yang pernah menemani aku tinggal di perut Bukit Keluwung yang panas sampai lama, kemudiap di puncak Gunung Wilis yang amat dingin, apakah kini engkau tidak mau menemani aku berlatih ilmu Sari Bantala di tempat ini?"

Bagus Sajiwo tersenyum dan iapun mengalah. "Yah, baiklah kalau kehendakmu begitu. Aku tidak dapat berbantahan denganmu, Dewi."

Maya Dewi memegang tangan kanan Bagus Sajiwo dan mengikuti dorongan hatinya yang penuh kasih dan merasa bahagia, ia menciumi tangan pemuda itu. "Terima kasih, Bagus. Aku tahu engkau memang amat baik, terlalu baik kepadaku. Aku rela mati untukmu, Bagus..."

"Hussh, siapa mau bicara tentang mati di tempat seperti ini? Nah, cuaca semakin gelap. Lebih baik kita mencari dan mempersiapkan tempat untuk mengaso dan tidur. Kalau sudah gelap kita tidak akan mampu melakukan apa-apa."

Maya Dewi lalu memilih dan membersihkan lantai batu yang agak halus dan datar. Malampun tiba dan dengan perut kosong mereka lalu duduk tepekur, kemudian setelah mengantuk, mereka tidur di atas lantai yang cukup dingin.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah membersihkan tubuh dan muka dengan air muara yang masuk ke ruangan itu, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo sudah duduk berhadapan. Jamur yang telah direndam semalam ternyata telah lunak dan berada di depan mereka, Dipegang oleh Maya Dewi dengan kedua tangannya. Sinar matahari pagi hanya mendatangkan penerangan yang lemah di tempat itu, namun cukup jelas bagi mereka.

"Kita harus makan jamur ini sekarang," kata Maya Dewi sambil menarik jamur itu menjadi dua potong. Melihat sinar mata Bagus Sajiwo tampak meragu, Maya Dewi berkata, "Bagus, kau lihat, aku akan makan lebih dulu sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak baik, biarlah aku yang mengalaminya."

"Maya, jangan! Biar aku dulu!" Bagus Sajiwo' mencegah akan tetapi Maya Dewi sudah dengan cepat mulai memasukkan jamur itu ke dalam mulut dan menggigitnya lalu mengunyahnya.

"Wah, sedap sekali, Bagus!" katanya dan benar-benar ia kelihatan menikmati makanan itu. Sebentar saja, separuh jamur itu telah lenyap ke dalam perutnya. Bagus Sajiwo hendak makan bagiannya, akan tetapi Maya Dewi cepat memegang lengannya. "Jangan dimakan dulu, Bagus!"

"Kenapa? Engkau tidak merasakan sesuatu yang buruk, Dewi?" tanya Bagus khawatir.

Maya Dewi menggelengkan kepalanya. "Tidak, atau lebih tepat lagi, belum! Karena itu, tunggulah sebentar, kita lihat dulu apa akibatnya dengan aku yang telah memakannya."

Bagus Sajiwo merasa terharu. Wanita ini benar-benar mengorbankan dirinya sendiri untuk mencoba terlebih dulu agar kalau akibatnya mencelakakan, ialah yang akan mengalami, bukan Bagus Sajiwo!

Tiba-tiba terasa hawa udara disitu menjadi panas dan Bagus Sajiwo melihat dengan mata terbelalak betapa uap mengepul dari tubuh Maya Dewi dan seluruh tubuh wanita itu berkeringat! Akan tetapi anehnya, Maya Dewi tersenyum dan tidak tampak kepanasan.

"Dewi! Apakah engkau merasa panas?"

Maya Dewi menggeleng kepalanya. "Hanya terasa hangat dan nyaman, Bagus!"

Tiba-tiba terdengar suara berkerotokan di seluruh tubuh wanita itu, seolah-olah semua buku dan sambungan tulangnya bergerak. Maya Dewi bangkit dari duduknya dan tubuhnya terhuyung.

Bagus Sajiwo cepat memegang lengannya, akan tetapi Maya Dewi mengibaskan dan akibatnya, tubuh Bagus Sajiwo terlempar! Dari kibasan lengan itu timbul tenaga yang amat dahsyat!

Bagus Sajiwo cepat berjungkir balik dan membuat salto sampai lima kali, baru dia dapat turun dan berdiri tegak. Sepotong jamur tadi masih berada dalam genggaman tangannya. Dia memandang ke arah Maya Dewi yang terhuyung kedinding. Seperti orang mabok, Maya Dewi menggunakan tangan kiri untuk menahan tubuhnya pada dinding karang.

"Brakkkk!" Batu dinding karang yang menonjol itu hancur terkena sentuhan jari-jari tangannya!

"Dewi cepat duduk bersila dan atur pemapasan!" teriak Bagus Sajiwo.

Suara pemuda itu agaknya dapat menembus kepeningan yang menyerang kepala Maya Dewi. Mendengar suara pemuda itu, dalam keadaan seperti mabok itupun Maya Dewi menaati dengan patuh. Ia lalu duduk dan bersila, berdiam diri menghentikan semua ulah hati akal pikiran, mengheningkan cipta sehingga dirinya kosong sama sekali tidak mengandung kehendak apapun dan pikiran apapun.

Hawa yang tadi meliar dalam tubuhnya dan menimbulkan tenaga dahsyat itu seperti mengendap dan menetap di pusarnya yang terasa hangat nyaman. Bagus Sajiwo menghampiri dan memeriksa keadaan tubuh Maya Dewi. Tidak ada kelainan, tidak ada tanda-tanda bahwa Maya Dewi keracunan. Setelah merasa tenang, Maya Dewi membuka mata memandang Bagus Sajiwo dan tersenyum.

"Engkau tidak merasakan sesuatu yang tidak enak atau nyeri pada tubuhmu?" tanya Bagus Sajiwo.

"Sama sekali tidak, Bagus, bahkan rasanya hangat nyaman. Ada hawa yang tadi meliar dalam tubuhku, akan tetapi sekarang sudah dapat kukuasai dan berdiam di dalam pusar. Bagus, ini adalah tenaga sakti yang amat hebat, yang aku yakin datang karena khasiat jamur itu. Karena itu, makanlah jamurmu agar engkau dapat merasakan juga dan dapat membimbingku untuk menguasai tenaga dahsyat itu."

Setelah melihat bahwa Maya Dewi benar-benar sehat dan tidak keracunan, hati Bagus sajiwo menjadi lega. Mendengar desakan Maya Dewi, diapun segera makan jamur bagiannya.

Benar kata Maya Dewi tadi. Rasa jamur itu cukup enak, baunya harum. Dia makan jamur itu sampai habis, lalu dia duduk bersila di depan Maya Dewi karena dia dapat menduga bahwa sebentar lagi khasiat jamur itu akan bekerja dan dia harus siap menguasai hawa sakti yang dahsyat dan liar itu kalau menguasai dirinya.

Dia tidak menanti lama. Tubuhnya mulai terasa hangat dan tubuhnya mulai mengeluarkan uap panas! Benar saja, ada tenaga sakti yang bergerak-gerak dari dalam perutnya menjalar ke seluruh tubuhnya dan ketika memasuki bagian kepalanya dia merasa pening seperti orang mabok. Cepat Bagus Sajiwo mengerahkan tenaga dalamnya menyambut dan menguasai tenaga sakti liar itu. Rasanya seperti menunggang seekor kuda liar yang melompat-lompat dan meronta-ronta. Akan tetapi perlahan-lahan dia yang terus mengikuti gerakan tenaga sakti itu seperti dapat mengenal ulahnya dan dapat menyesuaikan diri sehingga dia dapat menguasainya.

Maya Dewi sejak tadi memperhatikan Bagus Sajiwo yang duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya. Kini melihat pemuda itu membuka mata. Ia bertanya. "Bagaimana, Bagus?"

"Dewi, sekarang biarkan tenaga sakti itu keluar dari pusar dan ikuti saja seperti engkau menunggang seekor kuda liar. Perhatikan ulah geraknya sehingga engkau dapat mengenal benar mulai dapat menyesuaikan diri dan mengendalikannya. Mari, coba, jangan ragu dan takut."

Maya Dewi menurut. Begitu tenaga itu lepas dan menjalar ke seluruh tubuh, tubuhnya bergoyang-goyang, termasuk kepalanya.

"Tenang... ikuti saja... perhatikan gerak geriknya dan engkau akan mengenalnya dan dapat mengendalikannya." kata Bagus Sajiwo.

Maya Dewi mengikuti petunjuk Bagus Sajiwo. Akan tetapi karena pada dasarnya ia tidak sekuat Bagus Sajiwo yang dalam waktu singkat dapat menguasai dan mengendalikan tenaga sakti itu, Maya Dewi membutuhkan waktu agak lama, ia harus sabar dan perlahan-lahan mencoba untuk menguasai tenaga liar itu.

"Latihlah terus, Dewi. Aku hendak naik ke atas dan mencari pakaian dan bahan makanan." kata Bagus Sajiwo.

Maya Dewi mengangguk. "Ambil perhiasanku, di balik ikat pinggang ini." Katanya tanpa berhenti melatih diri menguasai tenaga sakti yang liar itu.

Maklum bahwa kalau Maya Dewi menghentikan latihannya, tenaga sakti itu akan meliar dan mengamuk seperti tadi, Bagus Sajiwo menghilangkan rasa rikuh dan dia mengambil sebuah kantung merah kecil dari balik ikat pinggang Maya Dewi. Kantung merah kecil itu berisi beberapa potong perhiasan yang mahal harganya. Dia mengambil sebuah gelang emas lalu mengembalikan kantung merah itu ke balik ikat pinggang Maya Dewi. Gelang itu disimpannya.

"Aku pergi, Dewi." katanya dan dia lalu memanjat tebing yang kemarin telah dipilihnya. Bagus Sajiwo terperanjat dan terheran ketika mendapat kenyataan betapa mudahnya dia memanjat ke atas, bagaikan seekor cecak memanjat dinding saja! Dia merasakan betul bahwa tenaga saktinya bertambah, berlipat ganda dibandingkan biasanya. Tubuhnya dapat dibuatnya ringan sekali sehingga dia dapat bergerak cepat memanjat ke atas dan jari-jari dan telapak tangannya memiliki daya melekat pada dinding batu karang!

Dia yakin bahwa dalam keadaan biasa, tak mungkin dia dapat memanjat semudah dan secepat itu. Tentu saja dia menjadi girang sekali dan diapun mengerti bahwa ini tentulah daya yang ampuh dari khasiat jamur ajaib itu. Tentu saja dia merasa girang sekali, terutama girang karena Maya Dewi juga mendapatkan tenaga sakti yang ajaib itu.

Kini wanita itu tentu menjadi sakti mandraguna, jauh lebih sakti daripada dulu ketika ia masih menjadi seorang datuk sesat. Apalagi kalau mereka berdua sudah mempelajari kitab yang mereka temukan, yaitu kitab yang mengandung Aji Sari Bantala! Akan tetapi dia harus lebih tekun pula berusaha membelokkan jalan hidup Maya Dewi, kejalan yang lurus, jalan kebenaran dan kebajikan!

Dengan bekal gelang emas yang mahal harganya itu, mudah saja bagi Bagus Sajiwo untuk membeli beberapa potong pakaian lengkap untuk dia dan Maya Dewi. Juga ia membeli beras, bumbu-bumbu dan bahan makanan lain. Untuk semua belanjaannya ini, harga gelang itu masih lebih banyak sehingga dia membawa pula uang kembalinya. Tidak lupa dia membeli prabot untuk memasak dan ketika menuruni tebing, semua itu dimasukkan dalam sebuah karung besar yang dipanggulnya. Tidak lupa dia membawa pula alat pembuat api dan sebatang kayu besar untuk dibuat kayu bakar.

Hari telah siang ketika dia merayap turun melalui tebing itu, dari lereng bukit kapur. Dari atas hanya tampak celah-celah batu dan keadaan di bawah tidak tampak karena terhalang batu, bahwa di bawah sana terdapat ruangan luas dimana terdapat terowongan di bawah permukaan air menuju ke muara. Ketika akhirnya Bagus Sajiwo tiba di ruangan itu, dia melihat Maya Dewi sudah menanti dan memandang kepadanya dengan senyum manis dan mata bersinar, wajah berseri.

"Wah, engkau membawa barang begitu banyak dan dapat menuruni tebing demikian cepatnya! Engkau hebat sekali, Bagus!"

"Bagaimana denganmu, Dewi? Apakah engkau sudah dapat menguasai tenaga sakti dari Jamur Dwipa Suddhi itu?"

"Sudah, Bagus. Bahkan aku sudah berlatih dengan tenaga itu." kata Maya Dewi sambil membantu Bagus Sajiwo menurunkan barang-barang belanjaannya. "Mari kau lihat!" Maya Dewi menghampiri tepi air muara yang masuk ke ruangan itu dan ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah air. Air itu segera bergelombang seolah didorong angin atau tenaga yang amat kuat! Bagus Sajiwo mengangguk-angguk.

"Bagus sekali, Dewi. Aku tadipun sudah membuktikannya sendiri. Kita benar-benar menerima anugerah Gusti Allah, mendapatkan tenaga sakti yang luar biasa. Aku dapat memanjat tebing itu dengan amat mudahnya."

Mereka berdua menjadi girang dan Bagus Sajiwo mengajak Maya Dewi untuk berlutut dan berdoa kepada Gusti Allah, menghaturkan terima kasih atas berkahNya yang berlimpahan. Setelah itu, mereka mulai sibuk membuat api dan hendak menanak beras. Maya Dewi girang bahwa Bagus Sajiwo tidak lupa membeli bumbu-bumbu, juga beberapa macam sayuran.

"Sayang aku tidak bisa menemukan orang menjual daging segar, maka aku hanya membeli daging kering yang diasin." kata Bagus Sajiwo.

"Mengapa repot? Di sini banyak terdapat ikan. Tadi aku melihat ikan-ikan lele dan bader yang cukup besar berenang di air. Biar aku tangkap beberapa ekor!" kata Maya Dewi dan seperti seorang anak kecil yang bergembira, ia berlari-lari menuju ke tepi sungai dalam perut bukit itu. Akan tetapi ia menahan jeritnya karena ketika melompat dan berlari, lompatannya amat jauh dan larinya seperti angin. Demikian ringan rasa tubuhnya.

"Hati-hati, Dewi. Jangan tergesa-gesa!" kata Bagus Sajiwo sambil tertawa.