Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 09

TIDAK seperti biasanya, wayang golek itu tidak dimainkan semalam suntuk. Sang adipati memang hanya ingin memberi hiburan kepada para senopati dan perwira, tidak ingin bersenang-senang dan lengah karena mereka sedang dalam keadaan siap siaga menghadapi serangan Mataram. Kalau pesta diadakan semalam suntuk, tentu pada keesokan harinya para pemimpin pasukan itu menjadi lelah dan mengantuk sehingga lengah dan kehilangan kewaspadaan. Maka, Ki Subali telah dipesan agar menyelesaikan pertunjukkan wayang golek itu sampai menjelang tengah malam saja.

Jatmika menonton sampai pesta itu bubar menjelang tengah malam. Dia melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan pesta yang mulai ditinggalkan para tamu itu. Dia menyelinap ke luar dan mengintai dari jauh. Tiba-tiba dilihatnya empat orang berpakaian perajurit menghampiri Ki Salmun dan puterinya dan setelah bicara sebentar dengan Ki Salmun, ayah dan anak itu lalu digiring keluar.

Di luar istana kadipaten telah menunggu sebuah kereta dan waranggana dan ayahnya itu disuruh naik kereta. Setelah kedua orang ayah dan anak itu memasuki kereta, kendaraan itu lalu dijalankan. Jatmika membayangi dari belakang. Dalam suratnya tadi Ki Salmun tidak menceritakan bahaya apa yang mengancam dia dan puterinya sehingga Jatmika tidak tahu kapan dia harus menolong mereka dan dia hanya membayangi saja.

Kereta itu dikawal oleh empat orang perajurit tadi dan seorang kusir kereta. Tentu saja amat mudah baginya untuk membebaskan mereka dari lima orang itu akan tetapi bagaimana dia dapat lancang melakukan kalau dia tidak tahu bahaya apa yang mengancam Ki Salmun dan puterinya. Ternyata kereta itu tidak berjalan terlalu jauh. Kereta memasuki pekarangan yang luas dari sebuah rumah gedung besar dan megah. Ini tentu rumah gedung Tumenggung Jayasiran yang disebut dalam surat Ki Salmun tadi, pikir Jatmika dan diapun menyelinap memasuki pekarangan yang ditumbuhi banyak pohon sawo kecik itu.

Dia harus yakin dulu bahwa ayah dan anak itu terancam bahaya, baru dia akan turun tangan menolong mereka. Bukankah dalam suratnya, Ki Salmun juga minta agar dia melindungi mereka? Dia tidak tahu orang macam apakah Tumenggung Jayasiran itu. Apakah sama dengan mendiang Tumenggung Jaluwisa yang dulu memberontak terhadap Adipati Pangeran Mas Gede dan kemudian tewas oleh dia dan Sulastri? Betapapun juga, Tumenggung Jayasiran ini tentu bukan seorang lemah.

Sementara itu, sejak tadi di dalam kereta Neneng Salmah sudah menyatakan kekhawatirannya kepada ayahnya. "Lupakah ayah bahwa di rumah inilah aku disekap dan hendak dipaksa oleh Raden Jaka Bintara? Untung ketika itu ada Kakangmas Lindu Aji yang menolongku. Kalau sekarang kita datang ke sini, apakah tidak berarti domba memasuki rumah jagal?"

"Jangan khawatir, anakku. Kurasa Tumenggung Jayasiran sekali ini tidak akan begitu bodoh untuk mengulangi perbuatannya dahulu itu. Dia tahu bahwa Gusti Adipati akan marah kalau dia berani mengganggumu. Gusti Adipati amat menghargaimu dan selain itu, ada seorang sakti yang melindungi kita. Apakah tadi engkau tidak melihat dia diantara para penonton?"

Neneng Salmah menatap wajah ayahnya. Ia melihat wajah ayahnya tenang bahkan ada senyum di bibirnya yang menunjukkan bahwa ayahnya benar-benar merasa aman. "Siapakah dia, ayah?" Gadis itu menduga-duga.

Apakah... Lindu Aji yang muncul lagi sebagai pelindungnya? Ah, ia akan merasa malu sekali dan merasa berdosa kalau harus bertemu dengan Lindu Aji. Ia merasa bahwa ialah yang menjadi penyebab gagalnya perjodohan antara Lindu Aji dan Sulastri! Kalau tidak ada ia yang menjadi penghalang, dua orang yang paling disayang dan dihormatinya itu tentu sudah menjadi suami isteri!

"Dia adalah anakmas Jatmika."

"Ah, dia...?" Neneng Salmah tentu saja ingat kepada pemuda gagah itu.

Tentu saja ia ingat karena pemuda itulah yang membuat ia salah sangka, ia mengira bahwa Sulastri saling mencinta dengan pemuda itu maka ia berani menyatakan cintanya kepada Lindu Aji kepada Sulastri. Tadinya ia sama sekali tidak menyangka bahwa Lindu Aji yang dicinta Sulastri. Jadi bukan ia seorang yang menjadi sebab gagalnya perjodohan antara Sulastri dan Lindu Aji, akan tetapi Jatmika juga menjadi penyebabnya yang kuat.

Mereka tidak dapat melanjutkan percakapan mereka karena kereta sudah berhenti di depan pendapa gedung ketumenggungan. Pintu kareta dibuka dari luar dan Tumenggung Jayasiran sendiri yang menyambut ayah dan anak itu.

"Ah, selamat datang dan selamat malam, Ki Salmun dan engkau juga, Neneng Salmah. Mari masuk kita bicara diruangan tamu!" kata Tumenggung Jayasiran kepada mereka.

Ayah dan anak itu tidak berani membantah dan mereka mengikuti sang tumenggung memasuki ruangan tamu yang berada disebelah kanan.

Jatmika melihat betapa ayah dan anak itu disambut oleh seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tujuh tahun, berpakaian mewah, bertubuh tinggi besar dan kumisnya sekepal sebelah seperti kumis Sang Gatotkaca.

Melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah mengikuti laki-laki itu memasuki ruangan sebelah kanan, Jatmika cepat mempergunakan kepandaiannya, menyelinap dengan gesit sehingga tidak tampak oleh para penjaga dan tak lama kemudian dia sudah mengintai ke dalam ruangan tamu itu melalui celah-celah jendela yang tertutup. Dari situ dia dapat melihat apa yang terjadi dan dapat mendengar semua percakapan.

Ki Salmun dan Neneng Salmah dudukdi atas kursi menghadap Tumenggung Jayasiran yang juga duduk di atas sebuah kursi berhadapan dengan mereka, terhalang sebuah meja besar.

"Ha-ha, senang sekali dapat berjumpa dengan kalian disini. Bagaimana kabarnya, Ki Salmun dan Neneng? Kalian baik-baik saja, bukan?"

"Terima kasih gusti tumenggung, hamba berdua dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi paduka memanggil hamba malam-malam begini, apakah yang harus kami lakukan?"

"Begini, Ki Salmun. Terus terang saja, aku menjadi perantara, diutus oleh Pangeran Jaka Bintara untuk meminang Neneng Salmah..."

"Ah...!!" Neneng Salmah menahan jeritan yang akan keluar dari mulutnya.

"Nanti dulu, Neneng. Sekali ini Pangeran Jaka Bintara bersungguh-sungguh, tidak mau menggunakan kekerasan, melainkan melamar dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isterinya yang resmi."

"Tidak...! Hamba tidak sudi menjadi isterinya!" Neneng Salmah berseru dan bangkit berdiri.

Tumenggung Jayasiran juga bangkit berdiri dan alisnya berkerut. "Neneng Salmah, pinangan ini dilakukan dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isteri seorang pangeran Banten yang mulia dan terhormat. Apa engkau lebih suka kalau dipaksa dengan kekerasan?"

Kini Ki Salmun juga bangkit berdiri. "Gusti tumenggung! Kalau anak hamba dipaksa, hamba akan melaporkan hal ini kepada Gusti Adipati yang pasti akan melindungi Neneng Salmah!"

"Ha-ha-ha-ha!" Sang tumenggung tertawa bergelak. "Lapor kepada Gusti Adipati? Hemm, justru beliau yang telah menyetujui pinangan itu. Kalian tahu, Sumedang menentang Mataram dan memerlukan hubungan persahabatan dengan Banten dan para penguasa daerah lain. Karena itu, engkau harus membantu Sumedang, Neneng! Kalau engkau menerima pinangan itu dengan baik-baik, berarti engkau mempererat hubungan antara Sumedang dan Banten, dan engkau sudah berjasa sebagai seorang kawula Sumedang!"

"Tidak, aku tetap tidak sudi diperisteri pangeran yang jahat itu!" Neneng Salmah kukuh menolak.

"Mau atau tidak, malam ini juga engkau harus berangkat ke Banten!" kata Tumenggung Jayasiran dan dia bertepuk tangan tiga kali.

Dari pintu sebelah dalam muncul tiga orang. Dua orang adalah perajurit dan seorang lagi adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi besar berkulit hitam dengan muka brewokan. Sepasang mata, hidung dan mulutnya serba besar dan gigi besar tongos mencuat keluar dari celah bibirnya. Pakaiannya mewah dan sikapnya sombong.

Dia adalah seorang jagoan Sumedang yang terkenal dengan julukan Maung Sumedang (Harimau Sumedang) bernama Badrun dan merupakan orang kepercayaan Tumenggung Jayasiran yang tangguh dan setia. Baru setahun jagoan ini ditarik menjadi pembantu sang tumenggung.

"Kalian tangkap Neneng Salmah dan masukkan dalam kereta!" sang tumenggung memerintah kepada dua orang perajurit itu.

Dua orang perajurit yang bertubuh tegap itu menyeringai senang menerima tugas itu. Sudah lama mereka hanya dapat mengagumi Neneng Salmah dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk menangkapnya, berarti mereka akan dapat memegang lengan yang putih mulus dan dapat mendekap tubuh yang denok itu!

Sambil menyeringai keduanya lalu melangkah lebar menghampiri Neneng Salmah yang sudah mundur menjauh dari meja dan berada di tengah ruangan sehingga akan mudah bergerak. Ketika dua orang perajurit sudah tiba dekat Neneng Salmah, mereka seperti berlumba menerkam untuk menangkap gadis yang bertubuh bahenol itu.

"Wuutt... bress...!!" Dua orang itu bertubrukan sendiri karena dengan gerakan yang indah dan lembut namun cepat sekali, Neneng Salmah telah dapat mengelak dari terkaman mereka!. Kiranya tidak percuma Neneng Salmah pernah mempelajari ilmu silat Sunya Hasta dari Sulastri ketika ia tinggal di Dermayu, di rumah Ki Subali.

Dua orang perajurit itu menjadi penasaran sekali. Mereka cepat membalik dan kembali mereka menyergap, sekali ini bukan untuk mendekap, melainkan untuk menangkap kedua lengan Neneng Salmah. Akan tetapi Neneng Salmah sudah siap siaga. Ketika tangan dua orang itu seperti berebutan hendak menangkapnya, ia mengelak ke samping dan menampar.

"Plak! Aduhh...!" Seorang perajurit terpelanting ketika lehernya terkena tamparan tangan miring itu. Yang seorang lagi mencengkeram ke arah lengan Neneng Salmah.

Gadis itu tidak sempat mengelak dan pergelangan tangan kirinya dapat ditangkap. Akan tetapi secepat kilat tang谩n kanannya bergerak, mengetuk siku lengan tangan yang memegang itu, lalu setelah perajurit itu terpaksa melepaskan pegangan karena lengannya mendadak seperti lumpuh, tangan kiri Neneng Salmah mendorong ke arah dadanya.

"Bukk! Augghh...!" Perajurit ke duajuga terjengkang roboh!

"Ehh, kiranya engkau pandai juga berkelahi?" Tumenggung Jayasiran berseru heran dan sekali dia menggerakkan tubuh, dia sudah melompat ke depan Neneng Salmah. Dia menjulurkan tangan untuk menangkap pundak gadis itu.

Neneng Salmah menangkis dengan putaran lengan kirinya. Akan tetapi tentu saja Neneng Salmah yang baru mempelajari sedikit ilmu silat dari Sulastri, bukan lawan tumenggung yang digdaya itu!

Tangkisan lengan gadis itu malah diterima dengan cengkeraman dan pergelangan lengan kiri Neneng Salmah sudah ditangkap oleh sang tumenggung.

Gadis itu tidak mau menyerah begitu saja. Dengan nekat ia menggunakan tangan kanannya untuk memukul ke arah kepala sang tumenggung. Akan tetapi kembali tangan kanan itu disambut cengkeraman tangan kiri Tumenggung Jayasiran dan kini lengan kanan Neneng Salmah juga sudah tertangkap. Sang tumenggung tertawa dan pada saat itu, Ki Salmun berseru dari belakangnya.

"Lepaskan anakku! Lepaskan...!" Dengan nekat Ki Salmun mengguncang pundak Tumenggung Jayasiran agar melepaskan kedua lengan puterinya.

Senopati Sumedang itu menjadi marah sekali. Dia mendorong dan melepaskan kedua lengan Neneng sehingga gadis itu terdorong dan terhuyung kebelakang, menabrak kursi dan terjatuh.

Badrun si Maung Sumedang segera menubruknya dan menggunakan sehelai kain untuk menelikung kedua tangan Neneng ke belakang lalu mengikatnya kuat-kuat sehingga Neneng tidak mampu menggerakkan kedua tangannya lagi. Sementara itu, dengan marah Tumenggung Jayasiran membentak Ki Salmun. "Keparat! Berani engkau memberontak?" Dengan cepat dia sudah berada di depan Ki Salmun dan sekali tangannya bergerak, dia sudah memukul kearah dada ayah Neneng itu.

"Bukk...!" Keras sekali pukulan itu. Ki Salmun mengaduh dan tubuhnya terpental kebelakang menabrak dinding.

Tumenggung Jayasiran masih belum reda kemarahannya. Dia melompat lagi mendekati dan kakinya menendang, kini mengarah kepala. "Dess...!!" Tubuh Ki Salmun terlempar bergulingan dan dia rebah menelungkup, tidak mengeluarkan suara atau bergerak lagi.

Neneng Salmah menjerit, meronta lepas dari pegangan Badrun dan gadis itu lari menghampiri Ki Salmun, lalu menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan masih terikat di belakang tubuhnya.

"Bapa...! Bapa...!" Ia menjerit-jerit dan menangis, akan tetapi Ki Salmun tidak dapat menjawab, bahkan tidak mendengar lagi karena dia telah tewas oleh tendangan yang mengenai kepalanya tadi. Melihat darah mengalir dari hidung, mulut dan telinga ayahnya, Neneng Salmah dapat menduga bahwa ayahnya telah tewas. Ia menjerit-jerit dan menangis.

"Engkau telah membunuhnya...! Telah membunuhnya...!" Ia meraung-raung.

"Bawa ia cepat ke kereta dan berangkatlah!" kata Tumenggung Jayasiran kepada Badrun. Si Maung Sumedang ini menangkap kedua pangkal lengan Neneng lalu setengah menyeret gadis itu keluar ruangan itu, menuju ke kereta yang masih menanti di pekarangan gedung.

Jatmika marah sekali akan tetapi dia cukup cerdik untuk tidak menuruti nafsu amarahnya. Dia tidak keburu menolong Ki Salmun karena dia sama sekali tidak mengira bahwa Tumenggung Jayasiran akan membunuh orang tua itu. Dia dapat melihat bahwa Ki Salmun sudah tak dapat ditolong lagi, sudah tewas. Kalau dia turun tangan di gedung itu, dia bukan saja tidak dapat menyelamatkan Neneng, sebaliknya dia malah terancam bahaya sendiri.

Tumenggung Jayasiran itu seorang yang digdaya, hal ini diketahui dari gerakannya ketika menyerang Ki Salmun dan di tempat itu terdapat banyak perajurit pengawal, anak buah senopati itu. Yang terpenting sekarang menyelamatkan Neneng Salmah. Setelah berpikir demikian, diapun menyelinap keluar dari pekarangan gedung itu melalui samping dan dia melompati pagar tembok yang mengelilingi pekarangan gedung. Dilihatnya Neneng Salmah diseret orang tinggi besar berkulit hitam itu memasuki kereta yang lalu dijalankan dengan cepat oleh sang kusir yang sejak tadi sudah siap.

Neneng Salmah tidak berdaya. Ia meronta-ronta, akan tetapi tidak dapat melepaskan ikatan kedua lengannya yang terbelenggu di belakang tubuhnya. Bahkan rontaannya hanya membuat Ki Badrun mendapat alasan dan kesempatan untuk merangkulnya dengan kedua lengannya yang besar.

"Lepaskan aku atau kelak akan kulaporkan kekurangajaranmu!" kata Neneng Salmah dengan cerdik.

Benar saja, ancamannya membuat Badrun ketakutan dan dia melepaskan rangkulannya. Neneng Salmah tidak meronta lagi, hanya duduk dan menangis perlahan. Ia diam-diam mencari akal bagaimana melepaskan diri. Akan tetapi dengan kedua tangan terbelenggu seperti itu, apa yang dapat ia lakukan?

Apa lagi, ingatan tentang ayahnya yang menggeletak tewas dalam ruangan itu, membuatnya bersedih sekali dan seluruh tubuhnya menjadi lemas. Tidak ada jalan lain baginya. Ia akan diserahkan kepada Pangeran Jaka Bintara yang dibencinya itu dan kalau ia mendapatkan kesempatan lepas dari ikatannya, ia akan mengamuk atau kalau tidak berhasil lolos, ia akan bunuh diri. Lebih baik mati daripada menyerah dan dinodai seorang manusia iblis seperti pangeran itu!

Kereta telah keluar dari kota Sumedang dan tiba di tepi sebuah hutan. Jalan itu memasuki hutan dan malam telah larut. Cuaca gelap sekali karena tidak ada bulan dan bintang-bintang terhalang mendung.

"Kita berhenti disini dulu!" kata Badrun kepada kusir. "Malam terlalu gelap untuk melakukan perjalanan dalam hutan. Kita tunggu sampai besok pagi baru melanjutkan perjalanan."

Kereta berhenti dan kusir turun, melepaskan dua ekor kuda penarik kereta untuk memberi kesempatan kepada dua ekor kuda itu agar dapat beristirahat pula. Kusir itu duduk melenggut melepas lelah dan kantuk di bawah sebatang pohon.

Badrun tidak berani tidur. Tadi dia melihat betapa dengan mudahnya Neneng Salmah merobohkan dua orang perajurit. Hal ini menunjukkan bahwa gadis waranggana itu bukan gadis yang lemah. Dia tidak ingin gadis itu dapat meloloskan diri karena dia akan celaka, kalau gadis itu sampai lolos.

Dulu dia pernah tergila-gila kepada Neneng Salmah, akan tetapi sekarang dia menjadi pembantu Tumenggung Jayasiran. Dia sama sekali tidak berani mengganggu Neneng Salmah. Dia mendapat tugas untuk membawa gadis itu ke Banten dan menyerahkan kepada Raden Jaka Bintara pangeran Kerajaan Banten itu.

Kalau tugas ini dapat dia laksanakan dengan baik, tentu dia akan mendapatkan hadiah besar dari Raden Jaka Bintara dan dari Tumenggung Jayasiran. Akan tetapi sebaliknya kalau sampai dia gagal, dia tentu akan mendapatkan hukuman berat dari sang tumenggung. Beberapa kali dia memeriksa kedalam kereta dan hatinya lega melihat Neneng Salmah tertidur pulas di tempat duduk mereka. Agaknya gadis itu kelelahan juga.

Melihat Neneng Salmah tidur pulas, Badrun menjadi lega dan dia duduk kembali ke bawah pohon. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Malam telah larut, bahkan sudah mendekati fajar. Kantuknya tak tertahankan lagi dan diapun melenggut. Tak jauh darinya terdengar dengkur kusir kereta.

Neneng Salmah membuka kedua matanya. Tipuannya dengan berlagak tidur pulas tadi berhasil. Dengan hati-hati ia membuka pintu kereta dan mengintai keluar. Dalam keremangan malam yang sudah mendekati pagi itu ia dapat melihat dua sosok tubuh yang berada di bawah pohon. Kusir itu rebah meringkuk, tidur pulas mendengkur. Ia melihat pula Badrun bersandar pada batang pohon, tak bergerak agaknya tertidur pula. Dengan perlahan dan hati-hati Neneng Salmah turun dari kereta, lalu berjingkat-jingkat meninggalkan kereta, memasuki hutan.

Cuaca masih gelap, akan tetapi remang-remang ada cahaya karena fajar mulai menyingsing, ada sinar matahari yang sudah menjenguk di balik bukit dan memberi sedikit penerangan. Setelah agak jauh dari kereta, Neneng Salmah mulai berlari! Akan tetapi karena cuaca masih gelap, dan karena kedua tangannya ditelikung ke belakang tubuhnya, sehingga larinya tidak tetap, kakinya tersandung akar pohon yang menonjol dan diapun jatuh terguling!

Ia cepat merangkak bangkit kembali dan lari lagi. Akan tetapi kejatuhannya tadi otomatis diikuti suara seruannya dan ini yang menyadarkan Badrun yang hanya tidur ayam, tidak pulas benar.

Dia membuka mata, menoleh kearah suara jeritan tadi akan tetapi tidak melihat sesuatu. Dia teringat akan tawanannya, maka cepat dia bangkit dan menghampiri kereta. Ketika menjenguk ke dalam dan tidak melihat Neneng Salmah di dalam kereta, tahulah dia bahwa tawanannya melarikan diri. Cepat dia lalu berlari mengejar kearah suara jeritan tadi.

Fajar menyingsing, matahari naik semakin tinggi sehingga muncul dari balik bukit. Cahayanya memberi penerangan mengusir kegelapan sisa malam. Neneng Salmah masih berlari tersaruk-saruk. Tiba-tiba ia mendengar teriakan di belakangnya. Ia menoleh dan tampaklah Badrun mengejarnya.

Neneng Salmah menjadi panik dan mempercepat larinya. Akan tetapi karena kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya, tentu saja larinya tidak dapat cepat, apalagi kainnya menghalangi langkah kakinya. Ia sudah tiba di tempat terbuka, keluar dari hutan dan mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat. Akan tetapi justeru ini mencelakakannya karena kembali kakinya tersandung batu dan iapun terguling jatuh!

"Neneng Salmah, engkau hendak lari kemana?" teriak Badrun dan dia melompat lalu berlari cepat melakukan pengejaran.

Mendengar teriakan ini, Neneng Salmah menjadi semakin panik, ia merangkak bangun. Lututnya berdarah dan ia lalu berlari lagi. Akan tetapi lututnya terasa nyeri dan ia hanya dapat lari terpincang-pincang, sedangkan pengejarnya, Badrun sudah berada dekat di belakangnya. Karena menengok kebelakang, kembali kakinya tersandung batu dan ia tentu akan terjatuh lagi kalau pada saat itu tidak ada orang yang menyambar lengannya dan menahan dirinya sehingga tidak sampai terguling.

Neneng Salmah memandang dan ia terbelalak. Cuaca sudah mulai terang sehingga ia dapat melihat jelas siapa orangnya yang menolongnya sehingga tidak sampai terjatuh itu. "Akang Jatmika...!" Neneng Salmah berseru girang sekali.

Jatmika membikin putus ikatan kedua lengan gadis itu dan berkata, "Minggirlah, Neneng. Biar kuhadapi jahanam itu."

Neneng Salmah menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena diikat sejak sore tadi dan ia lalu mundur. Sementara itu Badrun yang sudah tiba di situ, mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda berdiri menghadangnya. Dia juga melihat Neneng Salmah yang berdiri dibelakang pemuda itu telah terbebas dari belenggunya, maka dia menjadi marah sekali, maklum bahwa tentu pemuda itu yang telah melepas belenggu kedua tangan gadis itu.

"Keparat! Berani engkau mencampuri urusan kami? Engkau telah melepaskan gadis yang menjadi tawanan Tumenggung Jayasiran! Minggir, kalau engkau tidak ingin mampus!" bentak Badrun marah sekali dan dia sudah mencabut bedok (golok) yang tergantung di pinggangnya.

Jatmika menghadapi Maung Sumedang itu dengan senyum mengejek. "Tikus busuk, engkau yang perlu dihajar!"

"Eh, berani engkau? Aku adalah Maung Sumedang Badrun, makanlah bedog-ku ini!" Badrun lalu menyerang dan membacokkan goloknya ke arah leher Jatmika.

Pemuda sakti ini dapat melihat bahwa lawannya adalah seorang jagoan yang hanya mengandalkan tenaga kasar, maka dia membiarkan saja golok itu menyambar ke arah lehernya. Golok itu tepat mengenai sasaran, yaitu leher sebelah kiri Jatmika. "Wuuutt... takk!"

Badrun terbelalak, tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Goloknya mental ketika bertemu kulit leher pemuda itu! Akan tetapi pada saat itu, Jatmika sudah menggerakkan kakinya menendang. Badrun dengan cepat menangkis dengan tangan kiri dan goloknya.

"Desss...!" Golok terpental dan tubuh Badrun terlempar ke belakang lalu jatuh terbanting ke atas tanah. Dia merasa kepalanya pening dan semua yang tampak berputaran, juga pinggulnya nyeri sekali karena tadi terbanting keras ke atas tanah.

Selagi dia merangkak hendak bangun, Neneng Salmah yang marah sudah melompat dekat dan gadis itu melepaskan kejengkelannya dengan menendangi muka dan dada Badrun. Badrun mengaduh-aduh, jatuh bangun dan bergulingan. Akhirnya dia berhasil bangun, melompat dan melarikan diri dengan muka berdarah-darah yang keluar dari hidungnya, dan tubuhnya nyeri semua, pakaiannya yang mewah itu cabik-cabik dan kepalanya masih pening.

Setelah tiba di kereta, dia segera melompat ke dekat dua ekor kuda yang dilepas oleh kusir sambil meneriaki kusir agar bangun. Kusir terkejut, bangun dan membantu Badrun hendak memasang dua ekor kuda di depan kereta. Akan tetapi tiba-tiba muncul Jatmika dan Neneng Salmah. Dengan tendangannya, Neneng Salmah merobohkan kusir dan Jatmika juga melayangkan tamparan tangannya.

Badrun mencoba untuk menangkis, akan tetapi tamparan tangan itu membuat tangkisannya bahkan membalik dan menghantam mukanya sendiri dan tubuh Badrun terpelanting keras. Badrun yang maklum bahwa tak mungkin dia dapat menang segera melarikan diri, diikuti oleh kusir yang tentu saja menjadi ketakutan melihat Badrun melarikan diri. Jatmika dan Neneng Salmah tidak mengejar. Mereka berdiri saling pandang, berhadapan dan saling pandang.

Pertemuan yang tidak mereka sangka-sangka itu menimbulkan kenangan-kenangan masa lalu, mengingatkan mereka akan hubungan mereka dengan Sulastri dan Lindu Aji. Lalu tiba-tiba Neneng Salmah teringat akan semua yang terjadi dan bayangan ayahnya menggeletak berlumuran darah. Tiba-tiba ia menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu.

Jatmika membiarkan gadis itu menangis sejenak. Dia tahu bagaimana perasaan gadis yang melihat ayahnya tewas dipukul Tumenggung Jayasiran dan dia merasa iba sekali. Setelah Neneng Salmah menangis sejenak menumpahkan kesedihannya, barulah dia berkata dengan lemah lembut dan dengan nada menghibur.

"Neneng, sudahlah, jangan terlalu menuruti kedukaan hatimu. Segala sesuatu terjadi karena dikehendaki Gusti Allah, bahkan kita patut berterima kasih kepadaNya bahwa engkau dapat terhindar dari malapetaka yang menimpa dirimu."

Neneng Salmah menahan isaknya, mengusap air matanya lalu memandang kepada Jatmika dengan matanya yang menjadi merah oleh tangis. "Akang' Jatmika, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari tangan Si Badrun yang jahat tadi."

"Mari kita berterima kasih kepada Gusti Allah, Neneng. Hanya Dialah Maha Penolong yang telah menolongmu melalui pilihanNya dan kebetulan aku yang dipilihNya untuk menolongmu."

Sikap dan kata-kata Jatmika ini mengingatkan Neneng kepada sikap Lindu Aji dan ia merasa terharu sekali. Akan tetapi ingatan akan ayahnya membuat ia tiba-tiba mengepal tinju dan berkata, "Aku harus membunuh Tumenggung Jayasiran jahanam itu! Dia telah membunuh ayahku yang tidak berdosa! Aku harus membalasnya dan membunuh keparat itu!"

"Tenanglah, Neneng. Memang tumenggung itu jahat sekali, akan tetapi kedudukannya kuat dan diapun seorang yang digdaya."

"Aku tidak takut!" kata Neneng Salmah yang tiba-tiba saja, karena teringat akan kematian ayahnya, mendadak kini bersikap gagah penuh semangat, tidak seperti biasanya yang lemah lembut. "Aku akan kesana sekarang juga dan membunuhnya. Kalau aku gagal, aku rela mati untuk membalaskan kematian ayahku!"

Setelah berkata demikian, Neneng Salmah sudah bergerak hendak pergi, niatnya untuk kembali ke Sumedang dan mendatangi Tumenggung Jayasiran. Jatmika terpaksa menjulurkan tangan menangkap lengan gadis itu. "Neneng, harap jangan nekat begitu. Tekadmu itu sama dengan membunuh diri dan bunuh diri adalah perbuatan yang amat berdosa."

"Tapi aku... aku... harus membalas dendam. Ayahku..." Kata gadis itu dan bibirnya mulai gemetar karena menahan tangis yang hendak meluap lagi.

"Boleh saja, akan tetapi harus menggunakan perhitungan, Neneng. Kalau engkau masuk begitu saja, sebelum bertemu Tumenggung Jayasiran engkau akan ditangkap. Pula, apakah engkau tidak ingin mengurus jenazah ayahmu dulu? Marilah, mari kita lihat kesana dan kita urus jenazah ayahmu, baru nanti kubantu engkau untuk memberi hajaran kepada tumenggung kejam itu."

Neneng Salmah merasa terharu sekali dan tak dapat lagi ia menahan diri. Tangisnya meledak dan ia sesenggukan. Jatmika merasa sangat kasihan, lalu ia merangkul pundak gadis itu.

"Tenanglah, Neneng..." dia menghibur. Neneng Salmah yang merasa putus harapan karena kini ia hidup seorang diri, sebatang kara setelah ditinggal mati ayahnya.

Rangkulan dan hiburan Jatmika mendatangkan harapan baru sehingga ia menjadi semakin terharu, tangisnya semakin mengguguk dan ia merapatkan mukanya di dada pemuda itu dan menangis sepuasnya. Jatmika merangkul dan merasa betapa dia dan Neneng Salmah senasib sependeritaan, maka ia membiarkan gadis itu menangis sambil bersandar di dadanya sampai akhirnya Neneng Salmah dapat menguasai kembali hatinya.

"Tenangkan hatimu dan mari kita ke Sumedang untuk mengurus jenazah ayahmu."

Neneng Salmah agaknya baru menyadari bahwa ia menangis di dada pemuda itu, maka cepat ia merenggangkan mukanya dari dada itu dan agak tersipu, "...maafkan, akang Jatmika..." ia memandang ke arah baju pemuda itu, "Maafkan kelemahanku, aku sudah membasahi bajumu..."

Jatmika tersenyum. "Tidak mengapa, Neneng. Aku girang bahwa engkau sudah menyadari keadaan dan tidak nekat lagi. Mari kita pergi ke Sumedang. Kereta itu dapat kita pergunakan."

Neneng Salmah mengangguk. Mereka lalu menghampiri kereta. Jatmika memasangkan kedua ekor kuda di depan kereta, membereskan kendali lalu dia naik ke tempat duduk kusir. Neneng Salmah juga naik dan tidak duduk di dalam kereta, melainkan disebelah Jatmika, di depan. Jatmika lalu menggerakkan kuda dan kereta itu lalu meluncur, kembali ke arah Sumedang. Karena Jatmika ingin tiba di Sumedang diwaktu malam, maka dia sengaja menjalankan kereta perlahan-lahan.

Kesempatan itu mereka pergunakan untuk bercakap-cakap. "Sungguh tidak kusangka kita akan dapat bertemu dalam keadaan seperti ini, Neneng. Malam tadi aku terkejut dan juga girang mendengar bahwa di tumenggungan diadakan pesta wayangan dengan dalangnya Paman Subali dan waranggananya engkau. Aku lalu menyelinap diantara penonton dan aku menjadi curiga melihat engkau dan Paman Salmun dipanggil sang tumenggung. Akan tetapi sayang aku tidak bertindak disana karena berbahaya sekali. Sungguh tidak pernah kusangka tumenggung itu demikian kejam membunuh ayahmu. Aku lalu mengikuti kereta yang membawamu."

"Seperti kau katakan tadi, Akang Jatmika, semua telah terjadi atas kehendak Gusti Allah. Bagaimanapun juga, engkau tidak terlambat untuk menyelamatkan aku. O ya, sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa ketika engkau berada di Dermayu dahulu itu, engkau pergi secara tiba-tiba tanpa pamit kepada siapapun. Mengapa begitu, Akang Jatmika? Kurasa itu bukan watakmu untuk pergi diam-diam seperti itu."

Ditanya demikian, Jatmika menjadi tersipu, wajahnya memerah dan dia menghela napas panjang. Setelah berkali-kali menghela napas panjang, akhirnya dia berkata lirih. "Ah, tidak apa-apa, Neneng. Aku hanya ingin pergi pagi-pagi sekali dan tidak sempat pamit..."

Neneng Salmah menoleh ke kanan memandang wajah pemuda itu akan tetapi Jatmika menundukkan mukanya yang tampak bersedih. "Aku tahu, Akang Jatmika. Kepergianmu itu ada hubungannya dengan Listyani... eh, maksudku Sulastri, bukan?"

Jatmika kini menoleh ke kiri menatap wajah gadis itu penuh selidik. "Engkau tahu, Neneng? Apa yang kau ketahui?"

"Aku tahu bahwa engkau mencinta Sulastri, akan tetapi ia menolak cintamu karena ia sesungguhnya mencinta Akang Lindu Aji, bukan? Engkau menjadi patah hati lalu pergi tanpa pamit."

Jatmika menghela napas panjang lagi. "Sudahlah, hal itu sudah lama berlalu. Akan tetapi engkau sendiri, Neneng. Engkau dan ayahmu sudah baik-baik tinggal di rumah Paman Subali, kenapa kini berada di Sumedang? Engkau juga meninggalkan Dermayu, bukan? Aku pernah mendengar bahwa engkau dan Lindu Aji saling mencinta. Kenapa engkau pergi meninggalkannya?"

Kini Neneng Salmah yang menghela napas panjang. Sampai lama ia termenung, lalu menjawab lirih. "Nasib kita sama, Akang Jatmika. Ternyata Akang Lindu Aji tidak mencintaku seperti seorang pria mencinta seorang wanita, melainkan mencintaku seperti seorang kakak terhadap adiknya. Malah dia lalu mengangkat aku sebagai adiknya."

Jatmika mengangguk-angguk. "Hemm, begitukah? Kalau begitu Lindu Aji dan Sulastri sungguh saling mencintai Semoga mereka kini telah menjadi suami isteri yang hidup berbahagia."

Neneng Salmah menggeleng kepala dan menghela napas, wajahnya tiba-tiba tampak sedih sekali. "Sayang sekali tidak seperti yang kita harapkan, Akang Jatmika. Mereka tidak menjadi suami isteri, saling berpisah dan hal itu terjadi karena kita berdua! Kita berdua yang menjadi biang keladi sehingga dua orang yang saling mencinta itu tidak dapat berjodoh dan saling berpisah.鈥�

Jatmika terkejut bukan main sampai dia menarik kendali dan dua ekor kuda itu berhenti dan Jatmika memandang Neneng Salmah dengan sinar mata penuh rasa kaget dan heran. "Neneng Salmah! Apa maksudmu berkata bahwa kita berdua yang menyebabkan gagalnya perjodohan antara mereka?"

"Sesungguhnya mereka berdua adalah orang-orang yang budiman dan bijaksana, Akang Jatmika. Mereka saling mencinta sejak Sulastri belum kehilangan ingatannya. Setelah Sulastri kehilangan ingatannya, tentu saja ia lupa pula kepada Akang Lindu Aji. Akang Lindu Aji mengira bahwa Sulastri mencintamu, Akang jatmika, maka dia mengalah dan mengharapkan Sulastri menjadi jodohmu. Kemudian, Sulastri mendapatkan kembali ingatannya dan ia teringat dan menyadari bahwa ia mencinta Akang Lindu Aji sejak dahulu. Akan tetapi ia tahu bahwa aku jatuh cinta kepada Akang Lindu Aji. Hal ini kuceritakan kepadanya ketika ia masih merasa dirinya bernama Listyani dan ingatannya belum pulih. Maka, biarpun ingatannya telah pulih, Sulastri mengalah karena tahu bahwa aku mencinta Akang Lindu Aji. Ia pun mengalah dan mengharapkan Akang Lindu Aji berjodoh denganku. Jadi, kedua orang itu saling mengalah, walaupun mereka saling mencinta. Itulah sebabnya mengapa Sulastri menolak cintamu, dan Akang Lindu Aji menolak cintaku. Berarti kita berdua yang menjadi biang keladi atau penyebab gagalnya dua orang yang saling mencinta itu sehingga mereka saling berpisah."

"Duh Gusti...!" Jatmika menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Kenapa jadi begitu...?" Setelah membuka lagi kedua tangan dari mukanya, dia memandang Neneng Salmah dan berkata, "Aku menyesal sekali, Neneng. Menyesal sekali..."

Neneng Salmah menaruh tangannya di atas paha Jatmika, sentuhan lembut terdorong keharuan hatinya. "Tidak hanya cukup untuk disesalkan, Akang Jatmika. Kita harus menebus kesalahan kita ini. Aku sekarang telah menjadi seorang gadis yatim piatu, bahkan tiada sanak kadang, hidup sebatang kara di dunia ini. Setelah urusanku di Sumedang beres, aku akan mencari mereka! Aku harus dapat menyatukan mereka kembali. Kasihan Akang Lindu Aji dan Sulastri."

Jatmika mengangguk dan bangkit semangatnya. "Engkau benar, Neneng. Engkau benar dan aku akan membantumu. Kita berdua harus mencari dan menemukan mereka, lalu menjelaskan semua kesalah-pahaman ini dan membujuk mereka agar bersatu kembali. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Sumedang."

Tiba-tiba Neneng Salmah yang memandang jauh ke depan itu memegang lengan Jatmika dan berbisik, "Lihat disana itu!"

Jatmika memandang jauh ke depan. Disana, tampak serombongan orang berkuda membalapkan kuda mendatangi arah tempat mereka. Dari jauh saja sudah dapat diperkirakan bahwa jumlah mereka banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang berkuda!

"Hemm, mungkin sekali mereka itu pasukan dari Sumedang yang sengaja hendak mengejar dan mencari kita. Cepat turun dari kereta, Neneng. Kita bersembunyi. Tidak menguntungkan kalau harus melawan orang sebanyak itu, apalagi kalau Tumenggung Jayasiran sendiri berada diantara mereka!"

Keduanya lalu turun dari atas kereta dan menyelinap diantara pohon-pohon, meninggalkan kereta di tepi jalan. Mereka pergi agak jauh dan mengintai dari kejauhan. Ketika rombongan itu sudah tiba dekat, Jatmika dan Neneng Salmah melihat bahwa yang memimpin pasukan itu bukan lain adalah Tumenggung Jayasiran sendiri! Dia tampak marah-marah ketika memerintahkan pasukannya berhenti dan cepat memeriksa kereta yang telah kosong.

"Mereka telah lari. Kejar, cari sampai dapat!" bentak Tumenggung Jayasiran.

Para perajurit lalu berpencar untuk mencari dua orang buronan itu. Akan tetapi mereka mengejar ke depan, sama sekali tidak menduga bahwa yang dikejar berada tak jauh dari situ. Mereka mengira bahwa tentu dua orang itu melarikan diri menjauhi Sumedang. Kereta kosong itu lalu dijalankan menuju Sumedang dan Tumenggung Jayasiran duduk di dalamnya, dikawal tiga puluh orang perajurit, sedangkan perajurit lainnya ditugaskan mencari dua orang buronan itu. Tadi Tumenggung Jayasiran mendapat laporan Badrun bahwa Neneng Salmah lolos, ditolong oleh seorang pemuda yang sakti. Maka marahlah sang tumenggung dan dia melakukan pengejaran membawa lima puluh orang perajurit.

Jatmika memasuki kota Sumedang pada sore hari itu bersama Neneng Salmah yang menyamar dengan pakaian pria sehingga dara ini tampak sebagai seorang pemuda yang tampan. Penjaga pintu gerbang tidak mengenalnya dan mereka berdua segera menuju ke rumah Ki Salmun.

Jatmika yang tidak dikenal orang melakukan penyelidikan dan dia mendengar bahwa jenazah Ki Salmun oleh para tetangga telah dikuburkan dengan baik-baik. Mendengar ini, Neneng Salmah merasa berterima kasih dan mereka berdua berkunjung kemakam Ki Salmun bersujud sambil menangis sedih.

Setelah puas berkabung, Neneng Salmah dan Jatmika kembali kerumah gadis itu. Beberapa orang tetangga yang menjaga rumah itu terkejut melihat munculnya dua orang pemuda, akan tetapi mereka girang ketika Neneng Salmah menanggalkan penyamarannya.

Gadis itu lalu mengumpulkan barang-barangnya yang berharga, beberapa potong pakaian dan perhiasan, dibungkusnya menjadi buntalan kain, kemudian ia menyerahkan rumahnya kepada seorang tetangga yang sudah akrab dengannya. Rumah itu boleh ditempati oleh tetangga itu sampai ia pulang. Kemudian bersama Jatmika ia meninggalkan rumah.

"Akang Jatmika, sebelum meninggalkan Sumedang, aku harus membunuh dulu tumenggung jahanam itu untuk membalaskan kematian ayahku!" kata Neneng Salmah.

"Aku akan membantumu, Neneng. Akan tetapi kita harus berhati-hati selain Tumenggung Jayasiran itu sendiri digdaya, dia juga mengandalkan pasukannya."

Dengan hati-hati kedua orang muda itu berjalan menuju kearah gedung ke-tumenggungan. Dan ternyata Tumenggung Jayasiran agaknya sudah melakukan penjagaan yang amat kuat. Di luar gedung terdapat belasan orang penjaga dan Jatmika dapat menduga bahwa di sekeliling dan di dalam gedung itu tentu terdapat banyak perajurit pengawal.

Tiba-tiba terdengar bunyi kentungan dipukul gencar. Bunyi kentungan itu tadinya terdengar dari luar kota, lalu menjalar dan kini terdengar di seluruh penjuru. Keadaan menjadi gempar. Tampak banyak perajurit berlarian di jalan-jalan raya. Penduduk menjadi panik. Tentu saja Jatmika dan Neneng Salmah juga terkejut.

Ketika mereka bertanya-tanya, mereka berdua mendengar bahwa Sumedang dikepung bala tentara Mataram dan Cirebon yang mulai menyerang dari empat penjuru! Peperangan telah terjadi di luar kota dan pasukan Sumedang terdesak hebat. Pihak musuh makin mendekati kota!

Terpaksa Neneng Salmah mengurungkan niatnya untuk mencari Tumenggung Jayasiran. Keadaan tidak memungkinkan. Banyak sekali perajurit berkumpul dipelataran gedung sang tumenggung dan Tumenggung Jayasiran sendiri memimpin pasukan untuk keluar dari kota dan membantu pasukan yang sedang menahan serangan para penyerbu.

Apakah yang terjadi? Ternyata, sikap Adipati Sumedang yang tidak mengakui lagi kekuasaan Mataram membuat Sultan Agung menjadi marah sekali. Kadipaten Sumedang dianggap memberontak terhadap Mataram, maka Sultan Agung lalu mengerahkan pasukan Pasundan dan mengutus Tumenggung Singaranu untuk menyerang dan menundukkan Sumedang.

Juga Sultan Agung mengirim utusan membawa perintahnya kepada Kadipaten Cirebon agar sang adipati membantu dan mengirim pasukan untuk menyerang Sumedang. Demikianlah, Sumedang dikepung dari empat jurusan oleh pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singoranu dan pasukan Cirebon dan malam itu Sumedang mulai diserang dari empat penjuru secara mendadak sehingga terjadi perang dan pertempuran yang kacau dan seluruh penduduk Sumedang menjadi panik dan geger.

Keadaan yang kacau balau itu membuat Jatmika dan Neneng Salmah terpaksa bersembunyi di rumah Neneng Salmah. Untuk keluar dari kota Sumedang juga tidak mungkin karena di luar kota masih terjadi pertempuran dan kota sudah dikepung pasukan Mataram dan Cirebon. Mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk mencari Tumenggung Jayasiran karena sang tumenggung sibuk mengatur pasukan untuk menyambut serangan pasukan Mataram dan Cirebon. Bahkan pada hari ke dua, mereka mendengar bahwa Tumenggung Jayasiran tewas dalam perempuran. Mendengar berita ini, Neneng Salmah menangis karena menyesal, ia ingin dapat membunuh sendiri orang yang telah memukul mati ayahnya itu.

Jatmika menghiburnya. "Sudahlah, Neneng. Tak perlu disesalkan lagi, bahkan kita patut berterima kasih dan bersyukur kepada Gusti Allah yang agaknya memang mencegah engkau dan aku melakukan pembunuhan dengan dasar dendam dan kebencian karena perbuatan itu sesungguhnya berdosa dan tidak baik."

"Akan tetapi, Akang Jatmika. Tumenggung Jayasiran itu telah membunuh ayahku yang tidak berdosa, tidak bersalah apa-apa kepadanya!"

"Itu adalah pendapat kita, Neneng. Akan tetapi dia tentu mempunyai alasan lain. Dia menganggap ayahmu bersalah karena menghalangi kehendaknya menyerahkan engkau kepada pangeran Banten itu. Memang tentu saja perbuatannya itu sesat dan jahat."

"Karena sesat dan jahat maka kita ingin mengadili dan menghukumnya, akang!"

"Neneng, kita ini siapakah maka akan menghakimi dan menghukum orang lain? Hakim yang maha tinggi dan maha sempurna adalah Gusti Allah. Dia maha adil dan hukumannya tak dapat dihindarkan oleh siapapun juga. Dendam kebencian merupakan nafsu, bujukan iblis karena itu sesungguhnya pantang bagi seorang satria untuk melakukan perbuatan berdasar dendam kebencian. Kita memang berkewajiban menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi bukan berdasarkan dendam kebencian, karena kalau kita bertindak dengan dasar dendam kebencian, tidak ada bedanya antara kita dengan para penjahat, sama-sama menjadi alat setan. Karena itu, kita patut berterima kasih kepada Gusti Allah yang telah menjatuhkan hukum kematian kepada Tumenggung Jayasiran."

Neneng Salmah menghela napas panjang. Tentu saja ia sudah pernah mendengar tentang pendapat seperti itu. "Engkau benar, Akang Jatmika. Aku telah mabok oleh kedukaan sehingga timbul kebencian dan dendam. Hati siapa yang tidak akan hancur dan merana? Kematian ayahku membuat aku menjadi sebatangkara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia yang penuh kepalsuan dan kejahatan ini."

"Aeh, Neneng, mengapa engkau mempunyai perasaan seperti itu? Aku sendiri seorang yatim piatu, tiada sanak kadang, akan tetapi bukankah di dunia ini banyak terdapat manusia lain yang dapat kita anggap sebagai saudara? Disini ada aku yang siap untuk melindungimu dan membantumu, mengapa engkau bilang bahwa engkau tidak punya siapa-siapa lagi?"

"Ah, maafkan aku, akang, tentu saja engkau merupakan penolongku, merupakan sahabatku yang telah melepas budi besar kepadaku...."

"Cukup, Neneng, jangan menilai diriku terlampau tinggi. Anggap saja aku ini seorang yang senasib sependeritaan denganmu. Gusti Allah telah mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini. Kita sama-sama menjadi sebab kesengsaraan Lindu Aji dan Sulastri, dan kita sama-sama mempunyai tugas untuk menyatukan mereka kembali."

"Ah, aku merasa bahagia sekali, Akang Jatmika. Dalam keadaan seperti ini, Gusti Allah telah mengirim engkau untuk menjadi pelindungku, menjadi pembimbingku, menjadi sahabat baikku. Engkau begini sabar, bijaksana, dan pandai..."

"Tidak ada manusia pandai atau bodoh di dunia ini, Neneng. Yang Maha Pandai hanyalah Gusti Allah. Manusia itu sama saja, tidak ada yang pandai bodoh."

"Ah, kenapa begitu, akang? Aku melihat banyak orang pandai dan banyak orang bodoh."

"Tidak, Neneng. Yang kau maksudkan pandai itu sebetulnya hanya karena dia sudah tahu, dan yang kau sebut bodoh itu hanya karena dia belum tahu. Pengetahuan itu didapat melalui belajar. Aku sudah mempelajari beberapa aji kanuragan, tentu saja aku tahu. Apakah itu dapat disebut pandai? Bukan, hanya tahu saja. Buktinya, kalau aku disuruh menyanyi atau menari seperti engkau, aku pasti tidak bisa karena aku belum mempelajari dan belum tahu. Sebaliknya engkau sudah mempelajari dan engkau sudah tahu maka bisa. Bukan berarti engkau pandai dan aku bodoh atau sebaliknya. Siapa sudah mempelajari dia pasti mengenal, tahu dan bisa. Bukan pandai. Siapa yang belum mempelajari pasti dia tidak mengenal, tidak tahu dan tidak bisa. Bukan bodoh!"

Neneng Salmah tercengang. Belum pernah ia mendengar pendapat seperti itu. Ia membantah. "Akan tetapi, Akang Jatmika, ketika aku belajar menari dengan kawan-kawan, diantara mereka ada yang cepat hafal, ada yang pelupa, bukankah itu berarti bahwa diantara mereka ada yang pintar dan ada yang bodoh?"

"Tidak juga, Neneng. Kalau ada perbedaan diantara mereka, yang berbeda itu adalah keadaan otak mereka. Yang sukar mengerti tentu ada sesuatu yang membuat otaknya tidak sehat sehingga terganggu kepekaannya. Kalau sama-sama sehat, maka tidak akan ada perbedaan. Juga bakal masing-masing mempengaruhi. Namun itu tidak berarti bahwa ada orang pandai dan ada orang bodoh. Seorang bangsawan tinggi yang dianggap cerdik pandai dan terpelajar sekalipun, dalam hal bertani dia boleh berguru kepada seorang petani yang sederhana dan yang dianggap bodoh. Seorang bangsawan Belanda yang tinggi pangkatnya dan dianggap pintar sekalipun, kalau dia belum pernah belajar bahasa Jawa, dia sama sekali tidak dapat berbahasa Jawa, kalah oleh seorang anak kecil bangsa Jawa yang fasih berbahasa Jawa. Apakah dapat dikata bahwa Belanda berpangkat tinggi itu bodoh dan anak itu pandai? Tidak, bukan? Yang ada bukan pandai dan bodoh, melainkan sudah mengenal maka bisa dan belum mengenal maka tidak bisa."

"Wah, pendapatmu itu tidak dapat dibantah, Akang Jatmika. Dan aku mengerti apa inti pelajaran dalam uraianmu itu."

"Benarkah engkau mengerti? Lalu apa inti pelajaran itu, coba katakan." kata Jatmika, senang melihat gadis itu mulai gembira, tidak selalu tenggelam dalam kedukaan karena kematian ayahnya, sehingga menimbulkan dendam kebencian. Dia sendiri pernah merasakan kedukaan dan dendam seperti itu ketika dia mendengar akan kematian ayahnya dan kakeknya, yaitu Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit yang terbunuh oleh Raden Banuseta dan para serdadu Belanda. .

"Kalau aku tidak salah, kesimpulan dari pendapatmu tadi atau inti pelajarannya adalah jangan keminter (merasa diri pintar) karena kepandaianmu itu hanya hasil dari apa yang kau pelajari, dan jangan merasa bodoh karena sebetulnya engkau hanya belum mempelajari dan belum tahu. Merasa diri pintar hanya mendatangkan kesombongan dan merasa diri bodoh hanya mendatangkan rasa rendah diri. Keduanya sama tidak baiknya."

Jatmika mengangguk-angguk. "Wah, engkau sungguh hebat, Neneng. Engkau memang pandai!"

Neneng Salmah tersenyum geli. "Lho, mengapa engkau menyebut aku pandai, akang? Aku tidak pandai, hanya aku sudah banyak belajar dan tahu tentang kehidupan."

Jatmika tertawa. "Ha-ha, memang sukar menghilangkan sebutan pandai dan bodoh, sudah menjadi kata-kata yang sukar dihapuskan dalam bahasa percakapan kita. Biarlah, asal kita tahu makna yang sebenarnya saja."

"Akang Jatmika, setelah sekarang Tumenggung Jayasiran tewas dalam pertempuran dan aku melihat bahwa jenazah ayahku sudah terkubur baik, lalu kemana kita akan mencari Akang Lindu Aji dan Sulastri?"

"Kita tunggu sampai pertempuran selesai dan keadaan menjadi aman, lalu kita keluar dari Sumedang dan mulai perjalanan kita mencari mereka." Jatmika berhenti sebentar, berpikir, lalu melanjutkan, "Bagaimana kalau kita pergi ke Dermayu mencari Sulastri lebih dulu?"

Neneng Salmah menggeleng kepalanya. "Tidak ada gunanya. Aku sudah bertanya kepada Paman Subali ketika dia mendalang di Kadipaten dan dia mengatakan bahwa Sulastri belum kembali, bahkan sama sekali tidak ada kabar darinya."

"Kalau begitu kita pergi ke timur, mencari Lindu Aji ditempat tinggal ibunya. Dia pernah menceritakan kepadaku bahwa ibunya tinggal di dusun Gampingan, di daerah Gunung Kidul dekat pantai Laut Selatan."

"Baiklah, akang. Kita menanti sampai keadaan menjadi aman."

Ternyata perang itu tidak berlangsung lama Beberapa hari kemudian, pasukan Mataran dan Cirebon sudah menghancurkan pasukan Sumedang dan Adipati Ukur menjadi tawanan. Setelah keadaan aman kembali, Jatmika dan Neneng Salmah keluar dari Sumedang melakukan perjalanan ke timur.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Rumah itu masih baru dan cukup besar sehingga tampak aneh ada orang membangun rumah di dekat muara Sungai Lorong, tepi Laut Kidul yang sunyi itu. Di sekitar tempat itu hanya ada bukit-bukit Pegunungan Kidul, dan sejauh puluhan kilometer di sekitar daerah itu tidak ada dusun. Tanah disitu berkapur sehingga tidak layak untuk ditanami. Lautnya pun ganas dengan ombak-ombak besar dan di tepinya banyak terdapat batu-batu karang sehingga amat berbahaya bagi perahu. Maka, untuk mencari makan dengan mencari ikan dilaut pun tempat itu tidak layak, terlampau berbahaya.

Oleh karena itu, maka tempat di sekitar pantai itu sepi. Tidak ada orang tinggal disitu karena sukar mendapatkan nafkah. Maka, amat mengherankan kalau kini ada orang membangun rumah yang cukup besar di dekat muara Sungai Lorong itu. Akan tetapi keheranan itu akan sirna kalau orang mengetahui siapa yang membangunnya dan mengapa dia membangun rumah besar di tempat itu.

Yang membangun adalah Raden Jaka Bintara, seorang pangeran dari Banten yang tentu saja kaya raya. Dengan uangnya dia dapat mengerahkan penduduk dusun yang jauh dari situ untuk membangun sebuah pondok kayu yang cukup besar dan kokoh kuat, sungguhpun sederhana karena memang pondok itu bukan dimaksudkan untuk menjadi tempat tinggal tetap.

Pondok itu dibangun untuk tempat tinggal sementara sewaktu Raden Jaka Bintara berusaha untuk mendapatkan kitab kuno yang menjadi rahasia untuk mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi. Dia dibantu oleh Kyai Gagak Mudra, paman gurunya yang sakti mandraguna dan masih ada lagi lima orang jagoan yang terkenal di Banten. Mereka dikenal sebagai Panca Warak (Lima Badak), tokoh-tokoh besar dari perkumpulan pencak silat Warak Sakti.

Lima orang ini menjadi pengikut Raden Jaka Bintara yang merupakan orang yang mendukung dan membeayai perkumpulan olah kanuragan itu. Baru saja pondok itu jadi dan Raden Jaka Bintara dan paman gurunya, Kyai Gagak Mudra bersama kelima Panca Warak tinggal di pondok selama dua hari dilayani oleh tiga orang penduduk dusun yang jauh dari situ dan dijadikan pelayan dengan upah tinggi, bermunculan tokoh-tokoh sakti dan datuk-datuk dari berbagai perkumpulan olah kanuragan ditempat itu.

Ternyata berita tentang Jamur Dwipa Suddhi itu telah tersebar luas diseluruh nusantara sehingga memancing datangnya orang-orang sakti untuk memperebutkannya. Karena menurut dongeng, Jamur Dwipa Suddhi adalah sebuah benda amat langka yang khasiatnya hebat bukan main dapat membuat tubuh orang yang memakannya menjadi kuat dan khasiat jamur itu dapat membangkitkan tenaga sakti yang dahsyat, juga jamur langka itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit, maka tentu saja semua datuk persilatan amat tertarik untuk mendapatkan dan memilikinya.

Jamur itu kabarnya tumbuh di tubuh naga laut, maka tentu saja amat sukar didapatkan. Dan menurut dongeng, di jaman Mojopahit, seorang pertapa sakti menemukan, jamur itu dan disembunyikan di suatu tempat di daerah itu sebelum dia wafat. Jamur itu tidak akan dapat rusak biar disimpan sampai ratusan tahun. Menurut dongeng, peristiwa ditemukan jamur itu di daerah kerajaan Wengker jaman Mataram Lama dahulu, maka kini orang-orang berdatangan ke daerah yang diperkirakan menjadi tempat disimpan atau disembunyikannya Jamur Dwipa Suddhi itu.

Ketika para datuk itu bermunculan di daerah itu, mereka melihat pondok besar yang berdiri di tepi muara sungai. Mereka lalu berdatangan mengunjungi. Sebagai seorang datuk dari Banten, Kyai Gagak Mudra mengenal banyak diantara mereka dan atas persetujuan Raden Jaka Bintara, Kyai Gagak Mudra menyambut dan mengundang mereka untuk berkunjung sebagai tamu.

Banyak tokoh dunia persilatan hadir dalam pertemuan dipondok yang besar itu, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kesaktian tingkat tinggi, seperti Ki Sumali, pendekar Loano Resi Sapujagad pertapa dari Gunung Merapi, seorang pertapa dari Gunung Bromo yang menamakan dirinya Bhagawan Dewo-katon bersama tiga orang cantriknya, Ki Kebondanu, seorang jagoan dari Surabaya, Kyai Jagalabilawa dari daerah Madiun, dan masih banyak lagi.

Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, kesemuanya merupakan ahli-ahli olah kanuragan yang sakti. Suasana dalam pondok itu seperti pesta. Memang Raden Jaka Bintara menyambut mereka dengan pesta makan minum karena selain dia hendak mencari ketenaran diantara para datuk itu, juga dia ingin menanam pengaruhnya diantara mereka.

Siapa tahu mereka nanti akan tunduk kepadanya dan andaikata seorang diantara mereka beruntung bisa mendapatkan kitab tentang jamur Dwipa Suddi, dia akan dapat mempengaruhinya tintuk memberikan kepadanya, tentu saja dengan imbalan harta! Maka, suasananya gembira sekali. Semua orang yang sudah merasa lelah itu mendapatkan makanan dan minuman gratis yang serba royal pula. Daging ayam, domba dan lembu berlimpahan, juga arak, tuwak dan badeg.

Selain untuk mencari pengaruh dan ketenaran, juga Jaka Bintara memenuhi kehendak paman gurunya, Kyai Gagak Mudra yang hendak mempergunakan kesempatan itu untuk memancing agar para datuk itu memperlihatkan kesaktian mereka masing-masing sehingga dia akan dapat menilai sampai di mana kekuatan mereka. Betapapun juga, mereka semua mempunyai keinginan yang sama, yaitu memperebutkan kitab Jamur Dwipa Suddhi.

Mereka adalah saingan dan mungkin akan terjadi perebutan yang mengandalkan aji kesaktian, maka dia ingin menilai sampai di mana kekuatan mereka masing-masing. Agaknya memang Raden Jaka Bintara sudah memperhitungkan kehadiran banyak orang itu, maka dipondoknya telah tersedia kursi yang cukup untuk tempat duduk para tamunya. Selagi semua orang dipersilakan duduk dan hidangan mulai dikeluarkan, tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih sikapnya anggun dan lembut dan dia datang diikuti dua orang cantriknya yang berusia tiga puluh tahun lebih.

Melihat kedatangan kakek itu, Kyai Gagak Mudra datuk Banten itu segera bangkit dan membisiki Raden Jaka Bintara. "Mari kita sambut, dia itu adik seperguruan mendiang Menak Koncar!"

Mendengar disebutnya nama Menak Koncar, Raden Jaka Bintara cepat bangkit berdiri dan bersama paman gurunya dia keluar menyambut kedatangan Wiku Menak Jelangger dan dua orang cantriknya, itu Darun dan Dayun. Wiku Menak Jelangger yang biasanya hanya bertapa di pantai selat Bali dan tidak mencampuri urusan dunia, kini jauh-jauh datang ke tempat itu. Sungguh mengherankan sekali!

Sesungguhnya, pertapa ini sama sekali tidak ingin memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi untuk dirinya sendiri. Dia diminta oleh Adipati Blambangan untuk mencarikan jamur ajaib itu untuk mengobati putera ke tiga dari sang adipati. Putera ketiga yang berusia lima tahun itu sakit keras dan sudah diusahakan pengobatan oleh para ahli, namun tidak ada yang dapat menyembuhkannya. Oleh karena itu, mendengar kabar tentang Jamur Dwipa Suddhi, sang adipati lalu minta tolong kepada Wiku Menak Jelangger untuk mencarikan jamur ajaib itu.

Sang Wiku tidak dapat menolak permintaan tolong, apalagi yang minta tolong adalah Adipati Blambangan, maka berangkatlah dia, mengajak dua orang cantriknya yang setia sebagai teman seperjalanan. Kyai Gagak Mudra telah mengenal baik mendiang Wiku Menak Koncar, maka dia juga mengenal Wiku Menak Jelangger walaupun tidak pernah berhubungan dengan pertapa ini. Maka, melihat kedatangannya, dia segera menyambutnya bersama Raden Jaka Bintara.

"Ah, Kakang Wiku Menak Jelangger, selamat datang di pesanggrahan kami! Perkenalkan, ini adalah Pangeran Raden Jaka Bintaran pangeran dari Banten. Pangeran, ini adalah Kakang Wiku Menak Jelangger dari Blambangan."

"Selamat datang, Paman Wiku. Silakan duduk dekat kami." kata Raden Jaka Bintara.

"Terima kasih, pangeran." kata Wiku Menak Jelangger dan dia lalu mengikuti tuan rumah, duduk di tempat kehormatan dekat Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra.

Sedangkan dua orang cantrik Darun dan Dayun duduk di antara para tamu lain yang berhadapan dengan tempat duduk tuan rumah. Memang tuan rumah menyediakan beberapa kursi kehormatan yang sejajar dengan mereka dan di tempat kehormatan itu duduk para tamu yang dihormati. Mereka adalah Ki Sumali, pendekar Loano yang berusia lima puluh tujuh tahun, yang masih tampak gagah tampan dan sikapnya tenang berwibawa, lalu Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi yang usianya sudah enam puluh tahun, pakaiannya serba kuning, tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya yang bersih tanpa kumis jenggot itu tampak agak kepucatan seperti orang berpenyakitan.

Akan tetapi bagi mereka yang tahu, kepucatan mukanya itu adalah tanda bahwa pertapa ini memiliki aji tertentu yang dahsyat, mengandalkan tenaga sakti dan karena melatihnya maka wajahnya menjadi pucat. Resi Sapujagad ini membawa seuntai tasbeh yang selalu dimainkan dengan jarijari tangan kirinya, seolah dia selalu berdoa sambil menghitung tasbeh. Di pinggangnya terselip sebatang keris.

Orang ke tiga yang duduk di kursi kehormatan adalah Bhagawan Dewokaton, pertapa dari Gunung Bromo yang berusia lima puluh lima tahun. Tubuh pertapa ini gendut dan wajahnya juga serba bulat dan Jelalu tersenyum lebar sehingga biarpun usianya sudah lima puluh lima tahun dia tampak lebih muda. Pakaiannya serba putih dan dipunggungnya tergantung sebatang pedang. Bhagawan Dewokaton ini diiringkan tiga orang cantriknya, akan tetapi para cantrik ini oleh tuan rumah dipersilakan duduk di bagian tamu lain.

Bagus Sajiwo Jilid 09

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Bagus Sajiwo

Jilid 09

TIDAK seperti biasanya, wayang golek itu tidak dimainkan semalam suntuk. Sang adipati memang hanya ingin memberi hiburan kepada para senopati dan perwira, tidak ingin bersenang-senang dan lengah karena mereka sedang dalam keadaan siap siaga menghadapi serangan Mataram. Kalau pesta diadakan semalam suntuk, tentu pada keesokan harinya para pemimpin pasukan itu menjadi lelah dan mengantuk sehingga lengah dan kehilangan kewaspadaan. Maka, Ki Subali telah dipesan agar menyelesaikan pertunjukkan wayang golek itu sampai menjelang tengah malam saja.

Jatmika menonton sampai pesta itu bubar menjelang tengah malam. Dia melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan pesta yang mulai ditinggalkan para tamu itu. Dia menyelinap ke luar dan mengintai dari jauh. Tiba-tiba dilihatnya empat orang berpakaian perajurit menghampiri Ki Salmun dan puterinya dan setelah bicara sebentar dengan Ki Salmun, ayah dan anak itu lalu digiring keluar.

Di luar istana kadipaten telah menunggu sebuah kereta dan waranggana dan ayahnya itu disuruh naik kereta. Setelah kedua orang ayah dan anak itu memasuki kereta, kendaraan itu lalu dijalankan. Jatmika membayangi dari belakang. Dalam suratnya tadi Ki Salmun tidak menceritakan bahaya apa yang mengancam dia dan puterinya sehingga Jatmika tidak tahu kapan dia harus menolong mereka dan dia hanya membayangi saja.

Kereta itu dikawal oleh empat orang perajurit tadi dan seorang kusir kereta. Tentu saja amat mudah baginya untuk membebaskan mereka dari lima orang itu akan tetapi bagaimana dia dapat lancang melakukan kalau dia tidak tahu bahaya apa yang mengancam Ki Salmun dan puterinya. Ternyata kereta itu tidak berjalan terlalu jauh. Kereta memasuki pekarangan yang luas dari sebuah rumah gedung besar dan megah. Ini tentu rumah gedung Tumenggung Jayasiran yang disebut dalam surat Ki Salmun tadi, pikir Jatmika dan diapun menyelinap memasuki pekarangan yang ditumbuhi banyak pohon sawo kecik itu.

Dia harus yakin dulu bahwa ayah dan anak itu terancam bahaya, baru dia akan turun tangan menolong mereka. Bukankah dalam suratnya, Ki Salmun juga minta agar dia melindungi mereka? Dia tidak tahu orang macam apakah Tumenggung Jayasiran itu. Apakah sama dengan mendiang Tumenggung Jaluwisa yang dulu memberontak terhadap Adipati Pangeran Mas Gede dan kemudian tewas oleh dia dan Sulastri? Betapapun juga, Tumenggung Jayasiran ini tentu bukan seorang lemah.

Sementara itu, sejak tadi di dalam kereta Neneng Salmah sudah menyatakan kekhawatirannya kepada ayahnya. "Lupakah ayah bahwa di rumah inilah aku disekap dan hendak dipaksa oleh Raden Jaka Bintara? Untung ketika itu ada Kakangmas Lindu Aji yang menolongku. Kalau sekarang kita datang ke sini, apakah tidak berarti domba memasuki rumah jagal?"

"Jangan khawatir, anakku. Kurasa Tumenggung Jayasiran sekali ini tidak akan begitu bodoh untuk mengulangi perbuatannya dahulu itu. Dia tahu bahwa Gusti Adipati akan marah kalau dia berani mengganggumu. Gusti Adipati amat menghargaimu dan selain itu, ada seorang sakti yang melindungi kita. Apakah tadi engkau tidak melihat dia diantara para penonton?"

Neneng Salmah menatap wajah ayahnya. Ia melihat wajah ayahnya tenang bahkan ada senyum di bibirnya yang menunjukkan bahwa ayahnya benar-benar merasa aman. "Siapakah dia, ayah?" Gadis itu menduga-duga.

Apakah... Lindu Aji yang muncul lagi sebagai pelindungnya? Ah, ia akan merasa malu sekali dan merasa berdosa kalau harus bertemu dengan Lindu Aji. Ia merasa bahwa ialah yang menjadi penyebab gagalnya perjodohan antara Lindu Aji dan Sulastri! Kalau tidak ada ia yang menjadi penghalang, dua orang yang paling disayang dan dihormatinya itu tentu sudah menjadi suami isteri!

"Dia adalah anakmas Jatmika."

"Ah, dia...?" Neneng Salmah tentu saja ingat kepada pemuda gagah itu.

Tentu saja ia ingat karena pemuda itulah yang membuat ia salah sangka, ia mengira bahwa Sulastri saling mencinta dengan pemuda itu maka ia berani menyatakan cintanya kepada Lindu Aji kepada Sulastri. Tadinya ia sama sekali tidak menyangka bahwa Lindu Aji yang dicinta Sulastri. Jadi bukan ia seorang yang menjadi sebab gagalnya perjodohan antara Sulastri dan Lindu Aji, akan tetapi Jatmika juga menjadi penyebabnya yang kuat.

Mereka tidak dapat melanjutkan percakapan mereka karena kereta sudah berhenti di depan pendapa gedung ketumenggungan. Pintu kareta dibuka dari luar dan Tumenggung Jayasiran sendiri yang menyambut ayah dan anak itu.

"Ah, selamat datang dan selamat malam, Ki Salmun dan engkau juga, Neneng Salmah. Mari masuk kita bicara diruangan tamu!" kata Tumenggung Jayasiran kepada mereka.

Ayah dan anak itu tidak berani membantah dan mereka mengikuti sang tumenggung memasuki ruangan tamu yang berada disebelah kanan.

Jatmika melihat betapa ayah dan anak itu disambut oleh seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tujuh tahun, berpakaian mewah, bertubuh tinggi besar dan kumisnya sekepal sebelah seperti kumis Sang Gatotkaca.

Melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah mengikuti laki-laki itu memasuki ruangan sebelah kanan, Jatmika cepat mempergunakan kepandaiannya, menyelinap dengan gesit sehingga tidak tampak oleh para penjaga dan tak lama kemudian dia sudah mengintai ke dalam ruangan tamu itu melalui celah-celah jendela yang tertutup. Dari situ dia dapat melihat apa yang terjadi dan dapat mendengar semua percakapan.

Ki Salmun dan Neneng Salmah dudukdi atas kursi menghadap Tumenggung Jayasiran yang juga duduk di atas sebuah kursi berhadapan dengan mereka, terhalang sebuah meja besar.

"Ha-ha, senang sekali dapat berjumpa dengan kalian disini. Bagaimana kabarnya, Ki Salmun dan Neneng? Kalian baik-baik saja, bukan?"

"Terima kasih gusti tumenggung, hamba berdua dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi paduka memanggil hamba malam-malam begini, apakah yang harus kami lakukan?"

"Begini, Ki Salmun. Terus terang saja, aku menjadi perantara, diutus oleh Pangeran Jaka Bintara untuk meminang Neneng Salmah..."

"Ah...!!" Neneng Salmah menahan jeritan yang akan keluar dari mulutnya.

"Nanti dulu, Neneng. Sekali ini Pangeran Jaka Bintara bersungguh-sungguh, tidak mau menggunakan kekerasan, melainkan melamar dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isterinya yang resmi."

"Tidak...! Hamba tidak sudi menjadi isterinya!" Neneng Salmah berseru dan bangkit berdiri.

Tumenggung Jayasiran juga bangkit berdiri dan alisnya berkerut. "Neneng Salmah, pinangan ini dilakukan dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isteri seorang pangeran Banten yang mulia dan terhormat. Apa engkau lebih suka kalau dipaksa dengan kekerasan?"

Kini Ki Salmun juga bangkit berdiri. "Gusti tumenggung! Kalau anak hamba dipaksa, hamba akan melaporkan hal ini kepada Gusti Adipati yang pasti akan melindungi Neneng Salmah!"

"Ha-ha-ha-ha!" Sang tumenggung tertawa bergelak. "Lapor kepada Gusti Adipati? Hemm, justru beliau yang telah menyetujui pinangan itu. Kalian tahu, Sumedang menentang Mataram dan memerlukan hubungan persahabatan dengan Banten dan para penguasa daerah lain. Karena itu, engkau harus membantu Sumedang, Neneng! Kalau engkau menerima pinangan itu dengan baik-baik, berarti engkau mempererat hubungan antara Sumedang dan Banten, dan engkau sudah berjasa sebagai seorang kawula Sumedang!"

"Tidak, aku tetap tidak sudi diperisteri pangeran yang jahat itu!" Neneng Salmah kukuh menolak.

"Mau atau tidak, malam ini juga engkau harus berangkat ke Banten!" kata Tumenggung Jayasiran dan dia bertepuk tangan tiga kali.

Dari pintu sebelah dalam muncul tiga orang. Dua orang adalah perajurit dan seorang lagi adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi besar berkulit hitam dengan muka brewokan. Sepasang mata, hidung dan mulutnya serba besar dan gigi besar tongos mencuat keluar dari celah bibirnya. Pakaiannya mewah dan sikapnya sombong.

Dia adalah seorang jagoan Sumedang yang terkenal dengan julukan Maung Sumedang (Harimau Sumedang) bernama Badrun dan merupakan orang kepercayaan Tumenggung Jayasiran yang tangguh dan setia. Baru setahun jagoan ini ditarik menjadi pembantu sang tumenggung.

"Kalian tangkap Neneng Salmah dan masukkan dalam kereta!" sang tumenggung memerintah kepada dua orang perajurit itu.

Dua orang perajurit yang bertubuh tegap itu menyeringai senang menerima tugas itu. Sudah lama mereka hanya dapat mengagumi Neneng Salmah dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk menangkapnya, berarti mereka akan dapat memegang lengan yang putih mulus dan dapat mendekap tubuh yang denok itu!

Sambil menyeringai keduanya lalu melangkah lebar menghampiri Neneng Salmah yang sudah mundur menjauh dari meja dan berada di tengah ruangan sehingga akan mudah bergerak. Ketika dua orang perajurit sudah tiba dekat Neneng Salmah, mereka seperti berlumba menerkam untuk menangkap gadis yang bertubuh bahenol itu.

"Wuutt... bress...!!" Dua orang itu bertubrukan sendiri karena dengan gerakan yang indah dan lembut namun cepat sekali, Neneng Salmah telah dapat mengelak dari terkaman mereka!. Kiranya tidak percuma Neneng Salmah pernah mempelajari ilmu silat Sunya Hasta dari Sulastri ketika ia tinggal di Dermayu, di rumah Ki Subali.

Dua orang perajurit itu menjadi penasaran sekali. Mereka cepat membalik dan kembali mereka menyergap, sekali ini bukan untuk mendekap, melainkan untuk menangkap kedua lengan Neneng Salmah. Akan tetapi Neneng Salmah sudah siap siaga. Ketika tangan dua orang itu seperti berebutan hendak menangkapnya, ia mengelak ke samping dan menampar.

"Plak! Aduhh...!" Seorang perajurit terpelanting ketika lehernya terkena tamparan tangan miring itu. Yang seorang lagi mencengkeram ke arah lengan Neneng Salmah.

Gadis itu tidak sempat mengelak dan pergelangan tangan kirinya dapat ditangkap. Akan tetapi secepat kilat tang谩n kanannya bergerak, mengetuk siku lengan tangan yang memegang itu, lalu setelah perajurit itu terpaksa melepaskan pegangan karena lengannya mendadak seperti lumpuh, tangan kiri Neneng Salmah mendorong ke arah dadanya.

"Bukk! Augghh...!" Perajurit ke duajuga terjengkang roboh!

"Ehh, kiranya engkau pandai juga berkelahi?" Tumenggung Jayasiran berseru heran dan sekali dia menggerakkan tubuh, dia sudah melompat ke depan Neneng Salmah. Dia menjulurkan tangan untuk menangkap pundak gadis itu.

Neneng Salmah menangkis dengan putaran lengan kirinya. Akan tetapi tentu saja Neneng Salmah yang baru mempelajari sedikit ilmu silat dari Sulastri, bukan lawan tumenggung yang digdaya itu!

Tangkisan lengan gadis itu malah diterima dengan cengkeraman dan pergelangan lengan kiri Neneng Salmah sudah ditangkap oleh sang tumenggung.

Gadis itu tidak mau menyerah begitu saja. Dengan nekat ia menggunakan tangan kanannya untuk memukul ke arah kepala sang tumenggung. Akan tetapi kembali tangan kanan itu disambut cengkeraman tangan kiri Tumenggung Jayasiran dan kini lengan kanan Neneng Salmah juga sudah tertangkap. Sang tumenggung tertawa dan pada saat itu, Ki Salmun berseru dari belakangnya.

"Lepaskan anakku! Lepaskan...!" Dengan nekat Ki Salmun mengguncang pundak Tumenggung Jayasiran agar melepaskan kedua lengan puterinya.

Senopati Sumedang itu menjadi marah sekali. Dia mendorong dan melepaskan kedua lengan Neneng sehingga gadis itu terdorong dan terhuyung kebelakang, menabrak kursi dan terjatuh.

Badrun si Maung Sumedang segera menubruknya dan menggunakan sehelai kain untuk menelikung kedua tangan Neneng ke belakang lalu mengikatnya kuat-kuat sehingga Neneng tidak mampu menggerakkan kedua tangannya lagi. Sementara itu, dengan marah Tumenggung Jayasiran membentak Ki Salmun. "Keparat! Berani engkau memberontak?" Dengan cepat dia sudah berada di depan Ki Salmun dan sekali tangannya bergerak, dia sudah memukul kearah dada ayah Neneng itu.

"Bukk...!" Keras sekali pukulan itu. Ki Salmun mengaduh dan tubuhnya terpental kebelakang menabrak dinding.

Tumenggung Jayasiran masih belum reda kemarahannya. Dia melompat lagi mendekati dan kakinya menendang, kini mengarah kepala. "Dess...!!" Tubuh Ki Salmun terlempar bergulingan dan dia rebah menelungkup, tidak mengeluarkan suara atau bergerak lagi.

Neneng Salmah menjerit, meronta lepas dari pegangan Badrun dan gadis itu lari menghampiri Ki Salmun, lalu menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan masih terikat di belakang tubuhnya.

"Bapa...! Bapa...!" Ia menjerit-jerit dan menangis, akan tetapi Ki Salmun tidak dapat menjawab, bahkan tidak mendengar lagi karena dia telah tewas oleh tendangan yang mengenai kepalanya tadi. Melihat darah mengalir dari hidung, mulut dan telinga ayahnya, Neneng Salmah dapat menduga bahwa ayahnya telah tewas. Ia menjerit-jerit dan menangis.

"Engkau telah membunuhnya...! Telah membunuhnya...!" Ia meraung-raung.

"Bawa ia cepat ke kereta dan berangkatlah!" kata Tumenggung Jayasiran kepada Badrun. Si Maung Sumedang ini menangkap kedua pangkal lengan Neneng lalu setengah menyeret gadis itu keluar ruangan itu, menuju ke kereta yang masih menanti di pekarangan gedung.

Jatmika marah sekali akan tetapi dia cukup cerdik untuk tidak menuruti nafsu amarahnya. Dia tidak keburu menolong Ki Salmun karena dia sama sekali tidak mengira bahwa Tumenggung Jayasiran akan membunuh orang tua itu. Dia dapat melihat bahwa Ki Salmun sudah tak dapat ditolong lagi, sudah tewas. Kalau dia turun tangan di gedung itu, dia bukan saja tidak dapat menyelamatkan Neneng, sebaliknya dia malah terancam bahaya sendiri.

Tumenggung Jayasiran itu seorang yang digdaya, hal ini diketahui dari gerakannya ketika menyerang Ki Salmun dan di tempat itu terdapat banyak perajurit pengawal, anak buah senopati itu. Yang terpenting sekarang menyelamatkan Neneng Salmah. Setelah berpikir demikian, diapun menyelinap keluar dari pekarangan gedung itu melalui samping dan dia melompati pagar tembok yang mengelilingi pekarangan gedung. Dilihatnya Neneng Salmah diseret orang tinggi besar berkulit hitam itu memasuki kereta yang lalu dijalankan dengan cepat oleh sang kusir yang sejak tadi sudah siap.

Neneng Salmah tidak berdaya. Ia meronta-ronta, akan tetapi tidak dapat melepaskan ikatan kedua lengannya yang terbelenggu di belakang tubuhnya. Bahkan rontaannya hanya membuat Ki Badrun mendapat alasan dan kesempatan untuk merangkulnya dengan kedua lengannya yang besar.

"Lepaskan aku atau kelak akan kulaporkan kekurangajaranmu!" kata Neneng Salmah dengan cerdik.

Benar saja, ancamannya membuat Badrun ketakutan dan dia melepaskan rangkulannya. Neneng Salmah tidak meronta lagi, hanya duduk dan menangis perlahan. Ia diam-diam mencari akal bagaimana melepaskan diri. Akan tetapi dengan kedua tangan terbelenggu seperti itu, apa yang dapat ia lakukan?

Apa lagi, ingatan tentang ayahnya yang menggeletak tewas dalam ruangan itu, membuatnya bersedih sekali dan seluruh tubuhnya menjadi lemas. Tidak ada jalan lain baginya. Ia akan diserahkan kepada Pangeran Jaka Bintara yang dibencinya itu dan kalau ia mendapatkan kesempatan lepas dari ikatannya, ia akan mengamuk atau kalau tidak berhasil lolos, ia akan bunuh diri. Lebih baik mati daripada menyerah dan dinodai seorang manusia iblis seperti pangeran itu!

Kereta telah keluar dari kota Sumedang dan tiba di tepi sebuah hutan. Jalan itu memasuki hutan dan malam telah larut. Cuaca gelap sekali karena tidak ada bulan dan bintang-bintang terhalang mendung.

"Kita berhenti disini dulu!" kata Badrun kepada kusir. "Malam terlalu gelap untuk melakukan perjalanan dalam hutan. Kita tunggu sampai besok pagi baru melanjutkan perjalanan."

Kereta berhenti dan kusir turun, melepaskan dua ekor kuda penarik kereta untuk memberi kesempatan kepada dua ekor kuda itu agar dapat beristirahat pula. Kusir itu duduk melenggut melepas lelah dan kantuk di bawah sebatang pohon.

Badrun tidak berani tidur. Tadi dia melihat betapa dengan mudahnya Neneng Salmah merobohkan dua orang perajurit. Hal ini menunjukkan bahwa gadis waranggana itu bukan gadis yang lemah. Dia tidak ingin gadis itu dapat meloloskan diri karena dia akan celaka, kalau gadis itu sampai lolos.

Dulu dia pernah tergila-gila kepada Neneng Salmah, akan tetapi sekarang dia menjadi pembantu Tumenggung Jayasiran. Dia sama sekali tidak berani mengganggu Neneng Salmah. Dia mendapat tugas untuk membawa gadis itu ke Banten dan menyerahkan kepada Raden Jaka Bintara pangeran Kerajaan Banten itu.

Kalau tugas ini dapat dia laksanakan dengan baik, tentu dia akan mendapatkan hadiah besar dari Raden Jaka Bintara dan dari Tumenggung Jayasiran. Akan tetapi sebaliknya kalau sampai dia gagal, dia tentu akan mendapatkan hukuman berat dari sang tumenggung. Beberapa kali dia memeriksa kedalam kereta dan hatinya lega melihat Neneng Salmah tertidur pulas di tempat duduk mereka. Agaknya gadis itu kelelahan juga.

Melihat Neneng Salmah tidur pulas, Badrun menjadi lega dan dia duduk kembali ke bawah pohon. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Malam telah larut, bahkan sudah mendekati fajar. Kantuknya tak tertahankan lagi dan diapun melenggut. Tak jauh darinya terdengar dengkur kusir kereta.

Neneng Salmah membuka kedua matanya. Tipuannya dengan berlagak tidur pulas tadi berhasil. Dengan hati-hati ia membuka pintu kereta dan mengintai keluar. Dalam keremangan malam yang sudah mendekati pagi itu ia dapat melihat dua sosok tubuh yang berada di bawah pohon. Kusir itu rebah meringkuk, tidur pulas mendengkur. Ia melihat pula Badrun bersandar pada batang pohon, tak bergerak agaknya tertidur pula. Dengan perlahan dan hati-hati Neneng Salmah turun dari kereta, lalu berjingkat-jingkat meninggalkan kereta, memasuki hutan.

Cuaca masih gelap, akan tetapi remang-remang ada cahaya karena fajar mulai menyingsing, ada sinar matahari yang sudah menjenguk di balik bukit dan memberi sedikit penerangan. Setelah agak jauh dari kereta, Neneng Salmah mulai berlari! Akan tetapi karena cuaca masih gelap, dan karena kedua tangannya ditelikung ke belakang tubuhnya, sehingga larinya tidak tetap, kakinya tersandung akar pohon yang menonjol dan diapun jatuh terguling!

Ia cepat merangkak bangkit kembali dan lari lagi. Akan tetapi kejatuhannya tadi otomatis diikuti suara seruannya dan ini yang menyadarkan Badrun yang hanya tidur ayam, tidak pulas benar.

Dia membuka mata, menoleh kearah suara jeritan tadi akan tetapi tidak melihat sesuatu. Dia teringat akan tawanannya, maka cepat dia bangkit dan menghampiri kereta. Ketika menjenguk ke dalam dan tidak melihat Neneng Salmah di dalam kereta, tahulah dia bahwa tawanannya melarikan diri. Cepat dia lalu berlari mengejar kearah suara jeritan tadi.

Fajar menyingsing, matahari naik semakin tinggi sehingga muncul dari balik bukit. Cahayanya memberi penerangan mengusir kegelapan sisa malam. Neneng Salmah masih berlari tersaruk-saruk. Tiba-tiba ia mendengar teriakan di belakangnya. Ia menoleh dan tampaklah Badrun mengejarnya.

Neneng Salmah menjadi panik dan mempercepat larinya. Akan tetapi karena kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya, tentu saja larinya tidak dapat cepat, apalagi kainnya menghalangi langkah kakinya. Ia sudah tiba di tempat terbuka, keluar dari hutan dan mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat. Akan tetapi justeru ini mencelakakannya karena kembali kakinya tersandung batu dan iapun terguling jatuh!

"Neneng Salmah, engkau hendak lari kemana?" teriak Badrun dan dia melompat lalu berlari cepat melakukan pengejaran.

Mendengar teriakan ini, Neneng Salmah menjadi semakin panik, ia merangkak bangun. Lututnya berdarah dan ia lalu berlari lagi. Akan tetapi lututnya terasa nyeri dan ia hanya dapat lari terpincang-pincang, sedangkan pengejarnya, Badrun sudah berada dekat di belakangnya. Karena menengok kebelakang, kembali kakinya tersandung batu dan ia tentu akan terjatuh lagi kalau pada saat itu tidak ada orang yang menyambar lengannya dan menahan dirinya sehingga tidak sampai terguling.

Neneng Salmah memandang dan ia terbelalak. Cuaca sudah mulai terang sehingga ia dapat melihat jelas siapa orangnya yang menolongnya sehingga tidak sampai terjatuh itu. "Akang Jatmika...!" Neneng Salmah berseru girang sekali.

Jatmika membikin putus ikatan kedua lengan gadis itu dan berkata, "Minggirlah, Neneng. Biar kuhadapi jahanam itu."

Neneng Salmah menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena diikat sejak sore tadi dan ia lalu mundur. Sementara itu Badrun yang sudah tiba di situ, mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda berdiri menghadangnya. Dia juga melihat Neneng Salmah yang berdiri dibelakang pemuda itu telah terbebas dari belenggunya, maka dia menjadi marah sekali, maklum bahwa tentu pemuda itu yang telah melepas belenggu kedua tangan gadis itu.

"Keparat! Berani engkau mencampuri urusan kami? Engkau telah melepaskan gadis yang menjadi tawanan Tumenggung Jayasiran! Minggir, kalau engkau tidak ingin mampus!" bentak Badrun marah sekali dan dia sudah mencabut bedok (golok) yang tergantung di pinggangnya.

Jatmika menghadapi Maung Sumedang itu dengan senyum mengejek. "Tikus busuk, engkau yang perlu dihajar!"

"Eh, berani engkau? Aku adalah Maung Sumedang Badrun, makanlah bedog-ku ini!" Badrun lalu menyerang dan membacokkan goloknya ke arah leher Jatmika.

Pemuda sakti ini dapat melihat bahwa lawannya adalah seorang jagoan yang hanya mengandalkan tenaga kasar, maka dia membiarkan saja golok itu menyambar ke arah lehernya. Golok itu tepat mengenai sasaran, yaitu leher sebelah kiri Jatmika. "Wuuutt... takk!"

Badrun terbelalak, tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Goloknya mental ketika bertemu kulit leher pemuda itu! Akan tetapi pada saat itu, Jatmika sudah menggerakkan kakinya menendang. Badrun dengan cepat menangkis dengan tangan kiri dan goloknya.

"Desss...!" Golok terpental dan tubuh Badrun terlempar ke belakang lalu jatuh terbanting ke atas tanah. Dia merasa kepalanya pening dan semua yang tampak berputaran, juga pinggulnya nyeri sekali karena tadi terbanting keras ke atas tanah.

Selagi dia merangkak hendak bangun, Neneng Salmah yang marah sudah melompat dekat dan gadis itu melepaskan kejengkelannya dengan menendangi muka dan dada Badrun. Badrun mengaduh-aduh, jatuh bangun dan bergulingan. Akhirnya dia berhasil bangun, melompat dan melarikan diri dengan muka berdarah-darah yang keluar dari hidungnya, dan tubuhnya nyeri semua, pakaiannya yang mewah itu cabik-cabik dan kepalanya masih pening.

Setelah tiba di kereta, dia segera melompat ke dekat dua ekor kuda yang dilepas oleh kusir sambil meneriaki kusir agar bangun. Kusir terkejut, bangun dan membantu Badrun hendak memasang dua ekor kuda di depan kereta. Akan tetapi tiba-tiba muncul Jatmika dan Neneng Salmah. Dengan tendangannya, Neneng Salmah merobohkan kusir dan Jatmika juga melayangkan tamparan tangannya.

Badrun mencoba untuk menangkis, akan tetapi tamparan tangan itu membuat tangkisannya bahkan membalik dan menghantam mukanya sendiri dan tubuh Badrun terpelanting keras. Badrun yang maklum bahwa tak mungkin dia dapat menang segera melarikan diri, diikuti oleh kusir yang tentu saja menjadi ketakutan melihat Badrun melarikan diri. Jatmika dan Neneng Salmah tidak mengejar. Mereka berdiri saling pandang, berhadapan dan saling pandang.

Pertemuan yang tidak mereka sangka-sangka itu menimbulkan kenangan-kenangan masa lalu, mengingatkan mereka akan hubungan mereka dengan Sulastri dan Lindu Aji. Lalu tiba-tiba Neneng Salmah teringat akan semua yang terjadi dan bayangan ayahnya menggeletak berlumuran darah. Tiba-tiba ia menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu.

Jatmika membiarkan gadis itu menangis sejenak. Dia tahu bagaimana perasaan gadis yang melihat ayahnya tewas dipukul Tumenggung Jayasiran dan dia merasa iba sekali. Setelah Neneng Salmah menangis sejenak menumpahkan kesedihannya, barulah dia berkata dengan lemah lembut dan dengan nada menghibur.

"Neneng, sudahlah, jangan terlalu menuruti kedukaan hatimu. Segala sesuatu terjadi karena dikehendaki Gusti Allah, bahkan kita patut berterima kasih kepadaNya bahwa engkau dapat terhindar dari malapetaka yang menimpa dirimu."

Neneng Salmah menahan isaknya, mengusap air matanya lalu memandang kepada Jatmika dengan matanya yang menjadi merah oleh tangis. "Akang' Jatmika, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari tangan Si Badrun yang jahat tadi."

"Mari kita berterima kasih kepada Gusti Allah, Neneng. Hanya Dialah Maha Penolong yang telah menolongmu melalui pilihanNya dan kebetulan aku yang dipilihNya untuk menolongmu."

Sikap dan kata-kata Jatmika ini mengingatkan Neneng kepada sikap Lindu Aji dan ia merasa terharu sekali. Akan tetapi ingatan akan ayahnya membuat ia tiba-tiba mengepal tinju dan berkata, "Aku harus membunuh Tumenggung Jayasiran jahanam itu! Dia telah membunuh ayahku yang tidak berdosa! Aku harus membalasnya dan membunuh keparat itu!"

"Tenanglah, Neneng. Memang tumenggung itu jahat sekali, akan tetapi kedudukannya kuat dan diapun seorang yang digdaya."

"Aku tidak takut!" kata Neneng Salmah yang tiba-tiba saja, karena teringat akan kematian ayahnya, mendadak kini bersikap gagah penuh semangat, tidak seperti biasanya yang lemah lembut. "Aku akan kesana sekarang juga dan membunuhnya. Kalau aku gagal, aku rela mati untuk membalaskan kematian ayahku!"

Setelah berkata demikian, Neneng Salmah sudah bergerak hendak pergi, niatnya untuk kembali ke Sumedang dan mendatangi Tumenggung Jayasiran. Jatmika terpaksa menjulurkan tangan menangkap lengan gadis itu. "Neneng, harap jangan nekat begitu. Tekadmu itu sama dengan membunuh diri dan bunuh diri adalah perbuatan yang amat berdosa."

"Tapi aku... aku... harus membalas dendam. Ayahku..." Kata gadis itu dan bibirnya mulai gemetar karena menahan tangis yang hendak meluap lagi.

"Boleh saja, akan tetapi harus menggunakan perhitungan, Neneng. Kalau engkau masuk begitu saja, sebelum bertemu Tumenggung Jayasiran engkau akan ditangkap. Pula, apakah engkau tidak ingin mengurus jenazah ayahmu dulu? Marilah, mari kita lihat kesana dan kita urus jenazah ayahmu, baru nanti kubantu engkau untuk memberi hajaran kepada tumenggung kejam itu."

Neneng Salmah merasa terharu sekali dan tak dapat lagi ia menahan diri. Tangisnya meledak dan ia sesenggukan. Jatmika merasa sangat kasihan, lalu ia merangkul pundak gadis itu.

"Tenanglah, Neneng..." dia menghibur. Neneng Salmah yang merasa putus harapan karena kini ia hidup seorang diri, sebatang kara setelah ditinggal mati ayahnya.

Rangkulan dan hiburan Jatmika mendatangkan harapan baru sehingga ia menjadi semakin terharu, tangisnya semakin mengguguk dan ia merapatkan mukanya di dada pemuda itu dan menangis sepuasnya. Jatmika merangkul dan merasa betapa dia dan Neneng Salmah senasib sependeritaan, maka ia membiarkan gadis itu menangis sambil bersandar di dadanya sampai akhirnya Neneng Salmah dapat menguasai kembali hatinya.

"Tenangkan hatimu dan mari kita ke Sumedang untuk mengurus jenazah ayahmu."

Neneng Salmah agaknya baru menyadari bahwa ia menangis di dada pemuda itu, maka cepat ia merenggangkan mukanya dari dada itu dan agak tersipu, "...maafkan, akang Jatmika..." ia memandang ke arah baju pemuda itu, "Maafkan kelemahanku, aku sudah membasahi bajumu..."

Jatmika tersenyum. "Tidak mengapa, Neneng. Aku girang bahwa engkau sudah menyadari keadaan dan tidak nekat lagi. Mari kita pergi ke Sumedang. Kereta itu dapat kita pergunakan."

Neneng Salmah mengangguk. Mereka lalu menghampiri kereta. Jatmika memasangkan kedua ekor kuda di depan kereta, membereskan kendali lalu dia naik ke tempat duduk kusir. Neneng Salmah juga naik dan tidak duduk di dalam kereta, melainkan disebelah Jatmika, di depan. Jatmika lalu menggerakkan kuda dan kereta itu lalu meluncur, kembali ke arah Sumedang. Karena Jatmika ingin tiba di Sumedang diwaktu malam, maka dia sengaja menjalankan kereta perlahan-lahan.

Kesempatan itu mereka pergunakan untuk bercakap-cakap. "Sungguh tidak kusangka kita akan dapat bertemu dalam keadaan seperti ini, Neneng. Malam tadi aku terkejut dan juga girang mendengar bahwa di tumenggungan diadakan pesta wayangan dengan dalangnya Paman Subali dan waranggananya engkau. Aku lalu menyelinap diantara penonton dan aku menjadi curiga melihat engkau dan Paman Salmun dipanggil sang tumenggung. Akan tetapi sayang aku tidak bertindak disana karena berbahaya sekali. Sungguh tidak pernah kusangka tumenggung itu demikian kejam membunuh ayahmu. Aku lalu mengikuti kereta yang membawamu."

"Seperti kau katakan tadi, Akang Jatmika, semua telah terjadi atas kehendak Gusti Allah. Bagaimanapun juga, engkau tidak terlambat untuk menyelamatkan aku. O ya, sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa ketika engkau berada di Dermayu dahulu itu, engkau pergi secara tiba-tiba tanpa pamit kepada siapapun. Mengapa begitu, Akang Jatmika? Kurasa itu bukan watakmu untuk pergi diam-diam seperti itu."

Ditanya demikian, Jatmika menjadi tersipu, wajahnya memerah dan dia menghela napas panjang. Setelah berkali-kali menghela napas panjang, akhirnya dia berkata lirih. "Ah, tidak apa-apa, Neneng. Aku hanya ingin pergi pagi-pagi sekali dan tidak sempat pamit..."

Neneng Salmah menoleh ke kanan memandang wajah pemuda itu akan tetapi Jatmika menundukkan mukanya yang tampak bersedih. "Aku tahu, Akang Jatmika. Kepergianmu itu ada hubungannya dengan Listyani... eh, maksudku Sulastri, bukan?"

Jatmika kini menoleh ke kiri menatap wajah gadis itu penuh selidik. "Engkau tahu, Neneng? Apa yang kau ketahui?"

"Aku tahu bahwa engkau mencinta Sulastri, akan tetapi ia menolak cintamu karena ia sesungguhnya mencinta Akang Lindu Aji, bukan? Engkau menjadi patah hati lalu pergi tanpa pamit."

Jatmika menghela napas panjang lagi. "Sudahlah, hal itu sudah lama berlalu. Akan tetapi engkau sendiri, Neneng. Engkau dan ayahmu sudah baik-baik tinggal di rumah Paman Subali, kenapa kini berada di Sumedang? Engkau juga meninggalkan Dermayu, bukan? Aku pernah mendengar bahwa engkau dan Lindu Aji saling mencinta. Kenapa engkau pergi meninggalkannya?"

Kini Neneng Salmah yang menghela napas panjang. Sampai lama ia termenung, lalu menjawab lirih. "Nasib kita sama, Akang Jatmika. Ternyata Akang Lindu Aji tidak mencintaku seperti seorang pria mencinta seorang wanita, melainkan mencintaku seperti seorang kakak terhadap adiknya. Malah dia lalu mengangkat aku sebagai adiknya."

Jatmika mengangguk-angguk. "Hemm, begitukah? Kalau begitu Lindu Aji dan Sulastri sungguh saling mencintai Semoga mereka kini telah menjadi suami isteri yang hidup berbahagia."

Neneng Salmah menggeleng kepala dan menghela napas, wajahnya tiba-tiba tampak sedih sekali. "Sayang sekali tidak seperti yang kita harapkan, Akang Jatmika. Mereka tidak menjadi suami isteri, saling berpisah dan hal itu terjadi karena kita berdua! Kita berdua yang menjadi biang keladi sehingga dua orang yang saling mencinta itu tidak dapat berjodoh dan saling berpisah.鈥�

Jatmika terkejut bukan main sampai dia menarik kendali dan dua ekor kuda itu berhenti dan Jatmika memandang Neneng Salmah dengan sinar mata penuh rasa kaget dan heran. "Neneng Salmah! Apa maksudmu berkata bahwa kita berdua yang menyebabkan gagalnya perjodohan antara mereka?"

"Sesungguhnya mereka berdua adalah orang-orang yang budiman dan bijaksana, Akang Jatmika. Mereka saling mencinta sejak Sulastri belum kehilangan ingatannya. Setelah Sulastri kehilangan ingatannya, tentu saja ia lupa pula kepada Akang Lindu Aji. Akang Lindu Aji mengira bahwa Sulastri mencintamu, Akang jatmika, maka dia mengalah dan mengharapkan Sulastri menjadi jodohmu. Kemudian, Sulastri mendapatkan kembali ingatannya dan ia teringat dan menyadari bahwa ia mencinta Akang Lindu Aji sejak dahulu. Akan tetapi ia tahu bahwa aku jatuh cinta kepada Akang Lindu Aji. Hal ini kuceritakan kepadanya ketika ia masih merasa dirinya bernama Listyani dan ingatannya belum pulih. Maka, biarpun ingatannya telah pulih, Sulastri mengalah karena tahu bahwa aku mencinta Akang Lindu Aji. Ia pun mengalah dan mengharapkan Akang Lindu Aji berjodoh denganku. Jadi, kedua orang itu saling mengalah, walaupun mereka saling mencinta. Itulah sebabnya mengapa Sulastri menolak cintamu, dan Akang Lindu Aji menolak cintaku. Berarti kita berdua yang menjadi biang keladi atau penyebab gagalnya dua orang yang saling mencinta itu sehingga mereka saling berpisah."

"Duh Gusti...!" Jatmika menutupi mukanya dengan kedua tangan. "Kenapa jadi begitu...?" Setelah membuka lagi kedua tangan dari mukanya, dia memandang Neneng Salmah dan berkata, "Aku menyesal sekali, Neneng. Menyesal sekali..."

Neneng Salmah menaruh tangannya di atas paha Jatmika, sentuhan lembut terdorong keharuan hatinya. "Tidak hanya cukup untuk disesalkan, Akang Jatmika. Kita harus menebus kesalahan kita ini. Aku sekarang telah menjadi seorang gadis yatim piatu, bahkan tiada sanak kadang, hidup sebatang kara di dunia ini. Setelah urusanku di Sumedang beres, aku akan mencari mereka! Aku harus dapat menyatukan mereka kembali. Kasihan Akang Lindu Aji dan Sulastri."

Jatmika mengangguk dan bangkit semangatnya. "Engkau benar, Neneng. Engkau benar dan aku akan membantumu. Kita berdua harus mencari dan menemukan mereka, lalu menjelaskan semua kesalah-pahaman ini dan membujuk mereka agar bersatu kembali. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Sumedang."

Tiba-tiba Neneng Salmah yang memandang jauh ke depan itu memegang lengan Jatmika dan berbisik, "Lihat disana itu!"

Jatmika memandang jauh ke depan. Disana, tampak serombongan orang berkuda membalapkan kuda mendatangi arah tempat mereka. Dari jauh saja sudah dapat diperkirakan bahwa jumlah mereka banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang berkuda!

"Hemm, mungkin sekali mereka itu pasukan dari Sumedang yang sengaja hendak mengejar dan mencari kita. Cepat turun dari kereta, Neneng. Kita bersembunyi. Tidak menguntungkan kalau harus melawan orang sebanyak itu, apalagi kalau Tumenggung Jayasiran sendiri berada diantara mereka!"

Keduanya lalu turun dari atas kereta dan menyelinap diantara pohon-pohon, meninggalkan kereta di tepi jalan. Mereka pergi agak jauh dan mengintai dari kejauhan. Ketika rombongan itu sudah tiba dekat, Jatmika dan Neneng Salmah melihat bahwa yang memimpin pasukan itu bukan lain adalah Tumenggung Jayasiran sendiri! Dia tampak marah-marah ketika memerintahkan pasukannya berhenti dan cepat memeriksa kereta yang telah kosong.

"Mereka telah lari. Kejar, cari sampai dapat!" bentak Tumenggung Jayasiran.

Para perajurit lalu berpencar untuk mencari dua orang buronan itu. Akan tetapi mereka mengejar ke depan, sama sekali tidak menduga bahwa yang dikejar berada tak jauh dari situ. Mereka mengira bahwa tentu dua orang itu melarikan diri menjauhi Sumedang. Kereta kosong itu lalu dijalankan menuju Sumedang dan Tumenggung Jayasiran duduk di dalamnya, dikawal tiga puluh orang perajurit, sedangkan perajurit lainnya ditugaskan mencari dua orang buronan itu. Tadi Tumenggung Jayasiran mendapat laporan Badrun bahwa Neneng Salmah lolos, ditolong oleh seorang pemuda yang sakti. Maka marahlah sang tumenggung dan dia melakukan pengejaran membawa lima puluh orang perajurit.

Jatmika memasuki kota Sumedang pada sore hari itu bersama Neneng Salmah yang menyamar dengan pakaian pria sehingga dara ini tampak sebagai seorang pemuda yang tampan. Penjaga pintu gerbang tidak mengenalnya dan mereka berdua segera menuju ke rumah Ki Salmun.

Jatmika yang tidak dikenal orang melakukan penyelidikan dan dia mendengar bahwa jenazah Ki Salmun oleh para tetangga telah dikuburkan dengan baik-baik. Mendengar ini, Neneng Salmah merasa berterima kasih dan mereka berdua berkunjung kemakam Ki Salmun bersujud sambil menangis sedih.

Setelah puas berkabung, Neneng Salmah dan Jatmika kembali kerumah gadis itu. Beberapa orang tetangga yang menjaga rumah itu terkejut melihat munculnya dua orang pemuda, akan tetapi mereka girang ketika Neneng Salmah menanggalkan penyamarannya.

Gadis itu lalu mengumpulkan barang-barangnya yang berharga, beberapa potong pakaian dan perhiasan, dibungkusnya menjadi buntalan kain, kemudian ia menyerahkan rumahnya kepada seorang tetangga yang sudah akrab dengannya. Rumah itu boleh ditempati oleh tetangga itu sampai ia pulang. Kemudian bersama Jatmika ia meninggalkan rumah.

"Akang Jatmika, sebelum meninggalkan Sumedang, aku harus membunuh dulu tumenggung jahanam itu untuk membalaskan kematian ayahku!" kata Neneng Salmah.

"Aku akan membantumu, Neneng. Akan tetapi kita harus berhati-hati selain Tumenggung Jayasiran itu sendiri digdaya, dia juga mengandalkan pasukannya."

Dengan hati-hati kedua orang muda itu berjalan menuju kearah gedung ke-tumenggungan. Dan ternyata Tumenggung Jayasiran agaknya sudah melakukan penjagaan yang amat kuat. Di luar gedung terdapat belasan orang penjaga dan Jatmika dapat menduga bahwa di sekeliling dan di dalam gedung itu tentu terdapat banyak perajurit pengawal.

Tiba-tiba terdengar bunyi kentungan dipukul gencar. Bunyi kentungan itu tadinya terdengar dari luar kota, lalu menjalar dan kini terdengar di seluruh penjuru. Keadaan menjadi gempar. Tampak banyak perajurit berlarian di jalan-jalan raya. Penduduk menjadi panik. Tentu saja Jatmika dan Neneng Salmah juga terkejut.

Ketika mereka bertanya-tanya, mereka berdua mendengar bahwa Sumedang dikepung bala tentara Mataram dan Cirebon yang mulai menyerang dari empat penjuru! Peperangan telah terjadi di luar kota dan pasukan Sumedang terdesak hebat. Pihak musuh makin mendekati kota!

Terpaksa Neneng Salmah mengurungkan niatnya untuk mencari Tumenggung Jayasiran. Keadaan tidak memungkinkan. Banyak sekali perajurit berkumpul dipelataran gedung sang tumenggung dan Tumenggung Jayasiran sendiri memimpin pasukan untuk keluar dari kota dan membantu pasukan yang sedang menahan serangan para penyerbu.

Apakah yang terjadi? Ternyata, sikap Adipati Sumedang yang tidak mengakui lagi kekuasaan Mataram membuat Sultan Agung menjadi marah sekali. Kadipaten Sumedang dianggap memberontak terhadap Mataram, maka Sultan Agung lalu mengerahkan pasukan Pasundan dan mengutus Tumenggung Singaranu untuk menyerang dan menundukkan Sumedang.

Juga Sultan Agung mengirim utusan membawa perintahnya kepada Kadipaten Cirebon agar sang adipati membantu dan mengirim pasukan untuk menyerang Sumedang. Demikianlah, Sumedang dikepung dari empat jurusan oleh pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singoranu dan pasukan Cirebon dan malam itu Sumedang mulai diserang dari empat penjuru secara mendadak sehingga terjadi perang dan pertempuran yang kacau dan seluruh penduduk Sumedang menjadi panik dan geger.

Keadaan yang kacau balau itu membuat Jatmika dan Neneng Salmah terpaksa bersembunyi di rumah Neneng Salmah. Untuk keluar dari kota Sumedang juga tidak mungkin karena di luar kota masih terjadi pertempuran dan kota sudah dikepung pasukan Mataram dan Cirebon. Mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk mencari Tumenggung Jayasiran karena sang tumenggung sibuk mengatur pasukan untuk menyambut serangan pasukan Mataram dan Cirebon. Bahkan pada hari ke dua, mereka mendengar bahwa Tumenggung Jayasiran tewas dalam perempuran. Mendengar berita ini, Neneng Salmah menangis karena menyesal, ia ingin dapat membunuh sendiri orang yang telah memukul mati ayahnya itu.

Jatmika menghiburnya. "Sudahlah, Neneng. Tak perlu disesalkan lagi, bahkan kita patut berterima kasih dan bersyukur kepada Gusti Allah yang agaknya memang mencegah engkau dan aku melakukan pembunuhan dengan dasar dendam dan kebencian karena perbuatan itu sesungguhnya berdosa dan tidak baik."

"Akan tetapi, Akang Jatmika. Tumenggung Jayasiran itu telah membunuh ayahku yang tidak berdosa, tidak bersalah apa-apa kepadanya!"

"Itu adalah pendapat kita, Neneng. Akan tetapi dia tentu mempunyai alasan lain. Dia menganggap ayahmu bersalah karena menghalangi kehendaknya menyerahkan engkau kepada pangeran Banten itu. Memang tentu saja perbuatannya itu sesat dan jahat."

"Karena sesat dan jahat maka kita ingin mengadili dan menghukumnya, akang!"

"Neneng, kita ini siapakah maka akan menghakimi dan menghukum orang lain? Hakim yang maha tinggi dan maha sempurna adalah Gusti Allah. Dia maha adil dan hukumannya tak dapat dihindarkan oleh siapapun juga. Dendam kebencian merupakan nafsu, bujukan iblis karena itu sesungguhnya pantang bagi seorang satria untuk melakukan perbuatan berdasar dendam kebencian. Kita memang berkewajiban menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi bukan berdasarkan dendam kebencian, karena kalau kita bertindak dengan dasar dendam kebencian, tidak ada bedanya antara kita dengan para penjahat, sama-sama menjadi alat setan. Karena itu, kita patut berterima kasih kepada Gusti Allah yang telah menjatuhkan hukum kematian kepada Tumenggung Jayasiran."

Neneng Salmah menghela napas panjang. Tentu saja ia sudah pernah mendengar tentang pendapat seperti itu. "Engkau benar, Akang Jatmika. Aku telah mabok oleh kedukaan sehingga timbul kebencian dan dendam. Hati siapa yang tidak akan hancur dan merana? Kematian ayahku membuat aku menjadi sebatangkara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia yang penuh kepalsuan dan kejahatan ini."

"Aeh, Neneng, mengapa engkau mempunyai perasaan seperti itu? Aku sendiri seorang yatim piatu, tiada sanak kadang, akan tetapi bukankah di dunia ini banyak terdapat manusia lain yang dapat kita anggap sebagai saudara? Disini ada aku yang siap untuk melindungimu dan membantumu, mengapa engkau bilang bahwa engkau tidak punya siapa-siapa lagi?"

"Ah, maafkan aku, akang, tentu saja engkau merupakan penolongku, merupakan sahabatku yang telah melepas budi besar kepadaku...."

"Cukup, Neneng, jangan menilai diriku terlampau tinggi. Anggap saja aku ini seorang yang senasib sependeritaan denganmu. Gusti Allah telah mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini. Kita sama-sama menjadi sebab kesengsaraan Lindu Aji dan Sulastri, dan kita sama-sama mempunyai tugas untuk menyatukan mereka kembali."

"Ah, aku merasa bahagia sekali, Akang Jatmika. Dalam keadaan seperti ini, Gusti Allah telah mengirim engkau untuk menjadi pelindungku, menjadi pembimbingku, menjadi sahabat baikku. Engkau begini sabar, bijaksana, dan pandai..."

"Tidak ada manusia pandai atau bodoh di dunia ini, Neneng. Yang Maha Pandai hanyalah Gusti Allah. Manusia itu sama saja, tidak ada yang pandai bodoh."

"Ah, kenapa begitu, akang? Aku melihat banyak orang pandai dan banyak orang bodoh."

"Tidak, Neneng. Yang kau maksudkan pandai itu sebetulnya hanya karena dia sudah tahu, dan yang kau sebut bodoh itu hanya karena dia belum tahu. Pengetahuan itu didapat melalui belajar. Aku sudah mempelajari beberapa aji kanuragan, tentu saja aku tahu. Apakah itu dapat disebut pandai? Bukan, hanya tahu saja. Buktinya, kalau aku disuruh menyanyi atau menari seperti engkau, aku pasti tidak bisa karena aku belum mempelajari dan belum tahu. Sebaliknya engkau sudah mempelajari dan engkau sudah tahu maka bisa. Bukan berarti engkau pandai dan aku bodoh atau sebaliknya. Siapa sudah mempelajari dia pasti mengenal, tahu dan bisa. Bukan pandai. Siapa yang belum mempelajari pasti dia tidak mengenal, tidak tahu dan tidak bisa. Bukan bodoh!"

Neneng Salmah tercengang. Belum pernah ia mendengar pendapat seperti itu. Ia membantah. "Akan tetapi, Akang Jatmika, ketika aku belajar menari dengan kawan-kawan, diantara mereka ada yang cepat hafal, ada yang pelupa, bukankah itu berarti bahwa diantara mereka ada yang pintar dan ada yang bodoh?"

"Tidak juga, Neneng. Kalau ada perbedaan diantara mereka, yang berbeda itu adalah keadaan otak mereka. Yang sukar mengerti tentu ada sesuatu yang membuat otaknya tidak sehat sehingga terganggu kepekaannya. Kalau sama-sama sehat, maka tidak akan ada perbedaan. Juga bakal masing-masing mempengaruhi. Namun itu tidak berarti bahwa ada orang pandai dan ada orang bodoh. Seorang bangsawan tinggi yang dianggap cerdik pandai dan terpelajar sekalipun, dalam hal bertani dia boleh berguru kepada seorang petani yang sederhana dan yang dianggap bodoh. Seorang bangsawan Belanda yang tinggi pangkatnya dan dianggap pintar sekalipun, kalau dia belum pernah belajar bahasa Jawa, dia sama sekali tidak dapat berbahasa Jawa, kalah oleh seorang anak kecil bangsa Jawa yang fasih berbahasa Jawa. Apakah dapat dikata bahwa Belanda berpangkat tinggi itu bodoh dan anak itu pandai? Tidak, bukan? Yang ada bukan pandai dan bodoh, melainkan sudah mengenal maka bisa dan belum mengenal maka tidak bisa."

"Wah, pendapatmu itu tidak dapat dibantah, Akang Jatmika. Dan aku mengerti apa inti pelajaran dalam uraianmu itu."

"Benarkah engkau mengerti? Lalu apa inti pelajaran itu, coba katakan." kata Jatmika, senang melihat gadis itu mulai gembira, tidak selalu tenggelam dalam kedukaan karena kematian ayahnya, sehingga menimbulkan dendam kebencian. Dia sendiri pernah merasakan kedukaan dan dendam seperti itu ketika dia mendengar akan kematian ayahnya dan kakeknya, yaitu Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit yang terbunuh oleh Raden Banuseta dan para serdadu Belanda. .

"Kalau aku tidak salah, kesimpulan dari pendapatmu tadi atau inti pelajarannya adalah jangan keminter (merasa diri pintar) karena kepandaianmu itu hanya hasil dari apa yang kau pelajari, dan jangan merasa bodoh karena sebetulnya engkau hanya belum mempelajari dan belum tahu. Merasa diri pintar hanya mendatangkan kesombongan dan merasa diri bodoh hanya mendatangkan rasa rendah diri. Keduanya sama tidak baiknya."

Jatmika mengangguk-angguk. "Wah, engkau sungguh hebat, Neneng. Engkau memang pandai!"

Neneng Salmah tersenyum geli. "Lho, mengapa engkau menyebut aku pandai, akang? Aku tidak pandai, hanya aku sudah banyak belajar dan tahu tentang kehidupan."

Jatmika tertawa. "Ha-ha, memang sukar menghilangkan sebutan pandai dan bodoh, sudah menjadi kata-kata yang sukar dihapuskan dalam bahasa percakapan kita. Biarlah, asal kita tahu makna yang sebenarnya saja."

"Akang Jatmika, setelah sekarang Tumenggung Jayasiran tewas dalam pertempuran dan aku melihat bahwa jenazah ayahku sudah terkubur baik, lalu kemana kita akan mencari Akang Lindu Aji dan Sulastri?"

"Kita tunggu sampai pertempuran selesai dan keadaan menjadi aman, lalu kita keluar dari Sumedang dan mulai perjalanan kita mencari mereka." Jatmika berhenti sebentar, berpikir, lalu melanjutkan, "Bagaimana kalau kita pergi ke Dermayu mencari Sulastri lebih dulu?"

Neneng Salmah menggeleng kepalanya. "Tidak ada gunanya. Aku sudah bertanya kepada Paman Subali ketika dia mendalang di Kadipaten dan dia mengatakan bahwa Sulastri belum kembali, bahkan sama sekali tidak ada kabar darinya."

"Kalau begitu kita pergi ke timur, mencari Lindu Aji ditempat tinggal ibunya. Dia pernah menceritakan kepadaku bahwa ibunya tinggal di dusun Gampingan, di daerah Gunung Kidul dekat pantai Laut Selatan."

"Baiklah, akang. Kita menanti sampai keadaan menjadi aman."

Ternyata perang itu tidak berlangsung lama Beberapa hari kemudian, pasukan Mataran dan Cirebon sudah menghancurkan pasukan Sumedang dan Adipati Ukur menjadi tawanan. Setelah keadaan aman kembali, Jatmika dan Neneng Salmah keluar dari Sumedang melakukan perjalanan ke timur.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Rumah itu masih baru dan cukup besar sehingga tampak aneh ada orang membangun rumah di dekat muara Sungai Lorong, tepi Laut Kidul yang sunyi itu. Di sekitar tempat itu hanya ada bukit-bukit Pegunungan Kidul, dan sejauh puluhan kilometer di sekitar daerah itu tidak ada dusun. Tanah disitu berkapur sehingga tidak layak untuk ditanami. Lautnya pun ganas dengan ombak-ombak besar dan di tepinya banyak terdapat batu-batu karang sehingga amat berbahaya bagi perahu. Maka, untuk mencari makan dengan mencari ikan dilaut pun tempat itu tidak layak, terlampau berbahaya.

Oleh karena itu, maka tempat di sekitar pantai itu sepi. Tidak ada orang tinggal disitu karena sukar mendapatkan nafkah. Maka, amat mengherankan kalau kini ada orang membangun rumah yang cukup besar di dekat muara Sungai Lorong itu. Akan tetapi keheranan itu akan sirna kalau orang mengetahui siapa yang membangunnya dan mengapa dia membangun rumah besar di tempat itu.

Yang membangun adalah Raden Jaka Bintara, seorang pangeran dari Banten yang tentu saja kaya raya. Dengan uangnya dia dapat mengerahkan penduduk dusun yang jauh dari situ untuk membangun sebuah pondok kayu yang cukup besar dan kokoh kuat, sungguhpun sederhana karena memang pondok itu bukan dimaksudkan untuk menjadi tempat tinggal tetap.

Pondok itu dibangun untuk tempat tinggal sementara sewaktu Raden Jaka Bintara berusaha untuk mendapatkan kitab kuno yang menjadi rahasia untuk mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi. Dia dibantu oleh Kyai Gagak Mudra, paman gurunya yang sakti mandraguna dan masih ada lagi lima orang jagoan yang terkenal di Banten. Mereka dikenal sebagai Panca Warak (Lima Badak), tokoh-tokoh besar dari perkumpulan pencak silat Warak Sakti.

Lima orang ini menjadi pengikut Raden Jaka Bintara yang merupakan orang yang mendukung dan membeayai perkumpulan olah kanuragan itu. Baru saja pondok itu jadi dan Raden Jaka Bintara dan paman gurunya, Kyai Gagak Mudra bersama kelima Panca Warak tinggal di pondok selama dua hari dilayani oleh tiga orang penduduk dusun yang jauh dari situ dan dijadikan pelayan dengan upah tinggi, bermunculan tokoh-tokoh sakti dan datuk-datuk dari berbagai perkumpulan olah kanuragan ditempat itu.

Ternyata berita tentang Jamur Dwipa Suddhi itu telah tersebar luas diseluruh nusantara sehingga memancing datangnya orang-orang sakti untuk memperebutkannya. Karena menurut dongeng, Jamur Dwipa Suddhi adalah sebuah benda amat langka yang khasiatnya hebat bukan main dapat membuat tubuh orang yang memakannya menjadi kuat dan khasiat jamur itu dapat membangkitkan tenaga sakti yang dahsyat, juga jamur langka itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit, maka tentu saja semua datuk persilatan amat tertarik untuk mendapatkan dan memilikinya.

Jamur itu kabarnya tumbuh di tubuh naga laut, maka tentu saja amat sukar didapatkan. Dan menurut dongeng, di jaman Mojopahit, seorang pertapa sakti menemukan, jamur itu dan disembunyikan di suatu tempat di daerah itu sebelum dia wafat. Jamur itu tidak akan dapat rusak biar disimpan sampai ratusan tahun. Menurut dongeng, peristiwa ditemukan jamur itu di daerah kerajaan Wengker jaman Mataram Lama dahulu, maka kini orang-orang berdatangan ke daerah yang diperkirakan menjadi tempat disimpan atau disembunyikannya Jamur Dwipa Suddhi itu.

Ketika para datuk itu bermunculan di daerah itu, mereka melihat pondok besar yang berdiri di tepi muara sungai. Mereka lalu berdatangan mengunjungi. Sebagai seorang datuk dari Banten, Kyai Gagak Mudra mengenal banyak diantara mereka dan atas persetujuan Raden Jaka Bintara, Kyai Gagak Mudra menyambut dan mengundang mereka untuk berkunjung sebagai tamu.

Banyak tokoh dunia persilatan hadir dalam pertemuan dipondok yang besar itu, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kesaktian tingkat tinggi, seperti Ki Sumali, pendekar Loano Resi Sapujagad pertapa dari Gunung Merapi, seorang pertapa dari Gunung Bromo yang menamakan dirinya Bhagawan Dewo-katon bersama tiga orang cantriknya, Ki Kebondanu, seorang jagoan dari Surabaya, Kyai Jagalabilawa dari daerah Madiun, dan masih banyak lagi.

Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, kesemuanya merupakan ahli-ahli olah kanuragan yang sakti. Suasana dalam pondok itu seperti pesta. Memang Raden Jaka Bintara menyambut mereka dengan pesta makan minum karena selain dia hendak mencari ketenaran diantara para datuk itu, juga dia ingin menanam pengaruhnya diantara mereka.

Siapa tahu mereka nanti akan tunduk kepadanya dan andaikata seorang diantara mereka beruntung bisa mendapatkan kitab tentang jamur Dwipa Suddi, dia akan dapat mempengaruhinya tintuk memberikan kepadanya, tentu saja dengan imbalan harta! Maka, suasananya gembira sekali. Semua orang yang sudah merasa lelah itu mendapatkan makanan dan minuman gratis yang serba royal pula. Daging ayam, domba dan lembu berlimpahan, juga arak, tuwak dan badeg.

Selain untuk mencari pengaruh dan ketenaran, juga Jaka Bintara memenuhi kehendak paman gurunya, Kyai Gagak Mudra yang hendak mempergunakan kesempatan itu untuk memancing agar para datuk itu memperlihatkan kesaktian mereka masing-masing sehingga dia akan dapat menilai sampai di mana kekuatan mereka. Betapapun juga, mereka semua mempunyai keinginan yang sama, yaitu memperebutkan kitab Jamur Dwipa Suddhi.

Mereka adalah saingan dan mungkin akan terjadi perebutan yang mengandalkan aji kesaktian, maka dia ingin menilai sampai di mana kekuatan mereka masing-masing. Agaknya memang Raden Jaka Bintara sudah memperhitungkan kehadiran banyak orang itu, maka dipondoknya telah tersedia kursi yang cukup untuk tempat duduk para tamunya. Selagi semua orang dipersilakan duduk dan hidangan mulai dikeluarkan, tiba-tiba muncul seorang laki-laki tua berusia enam puluh tahun lebih sikapnya anggun dan lembut dan dia datang diikuti dua orang cantriknya yang berusia tiga puluh tahun lebih.

Melihat kedatangan kakek itu, Kyai Gagak Mudra datuk Banten itu segera bangkit dan membisiki Raden Jaka Bintara. "Mari kita sambut, dia itu adik seperguruan mendiang Menak Koncar!"

Mendengar disebutnya nama Menak Koncar, Raden Jaka Bintara cepat bangkit berdiri dan bersama paman gurunya dia keluar menyambut kedatangan Wiku Menak Jelangger dan dua orang cantriknya, itu Darun dan Dayun. Wiku Menak Jelangger yang biasanya hanya bertapa di pantai selat Bali dan tidak mencampuri urusan dunia, kini jauh-jauh datang ke tempat itu. Sungguh mengherankan sekali!

Sesungguhnya, pertapa ini sama sekali tidak ingin memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi untuk dirinya sendiri. Dia diminta oleh Adipati Blambangan untuk mencarikan jamur ajaib itu untuk mengobati putera ke tiga dari sang adipati. Putera ketiga yang berusia lima tahun itu sakit keras dan sudah diusahakan pengobatan oleh para ahli, namun tidak ada yang dapat menyembuhkannya. Oleh karena itu, mendengar kabar tentang Jamur Dwipa Suddhi, sang adipati lalu minta tolong kepada Wiku Menak Jelangger untuk mencarikan jamur ajaib itu.

Sang Wiku tidak dapat menolak permintaan tolong, apalagi yang minta tolong adalah Adipati Blambangan, maka berangkatlah dia, mengajak dua orang cantriknya yang setia sebagai teman seperjalanan. Kyai Gagak Mudra telah mengenal baik mendiang Wiku Menak Koncar, maka dia juga mengenal Wiku Menak Jelangger walaupun tidak pernah berhubungan dengan pertapa ini. Maka, melihat kedatangannya, dia segera menyambutnya bersama Raden Jaka Bintara.

"Ah, Kakang Wiku Menak Jelangger, selamat datang di pesanggrahan kami! Perkenalkan, ini adalah Pangeran Raden Jaka Bintaran pangeran dari Banten. Pangeran, ini adalah Kakang Wiku Menak Jelangger dari Blambangan."

"Selamat datang, Paman Wiku. Silakan duduk dekat kami." kata Raden Jaka Bintara.

"Terima kasih, pangeran." kata Wiku Menak Jelangger dan dia lalu mengikuti tuan rumah, duduk di tempat kehormatan dekat Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra.

Sedangkan dua orang cantrik Darun dan Dayun duduk di antara para tamu lain yang berhadapan dengan tempat duduk tuan rumah. Memang tuan rumah menyediakan beberapa kursi kehormatan yang sejajar dengan mereka dan di tempat kehormatan itu duduk para tamu yang dihormati. Mereka adalah Ki Sumali, pendekar Loano yang berusia lima puluh tujuh tahun, yang masih tampak gagah tampan dan sikapnya tenang berwibawa, lalu Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi yang usianya sudah enam puluh tahun, pakaiannya serba kuning, tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya yang bersih tanpa kumis jenggot itu tampak agak kepucatan seperti orang berpenyakitan.

Akan tetapi bagi mereka yang tahu, kepucatan mukanya itu adalah tanda bahwa pertapa ini memiliki aji tertentu yang dahsyat, mengandalkan tenaga sakti dan karena melatihnya maka wajahnya menjadi pucat. Resi Sapujagad ini membawa seuntai tasbeh yang selalu dimainkan dengan jarijari tangan kirinya, seolah dia selalu berdoa sambil menghitung tasbeh. Di pinggangnya terselip sebatang keris.

Orang ke tiga yang duduk di kursi kehormatan adalah Bhagawan Dewokaton, pertapa dari Gunung Bromo yang berusia lima puluh lima tahun. Tubuh pertapa ini gendut dan wajahnya juga serba bulat dan Jelalu tersenyum lebar sehingga biarpun usianya sudah lima puluh lima tahun dia tampak lebih muda. Pakaiannya serba putih dan dipunggungnya tergantung sebatang pedang. Bhagawan Dewokaton ini diiringkan tiga orang cantriknya, akan tetapi para cantrik ini oleh tuan rumah dipersilakan duduk di bagian tamu lain.