Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 25

BAGAIMANA AJI? Jawablah terus terang saja, aku tidak akan marah kalau engkau menjawab sejujurnya. Aku malah tidak suka kalau jawabanmu itu hanya untuk menyenangkan hatiku."

"Karen, engkau adalah seorang gadis yang menarik sekali, engkau cantik dan manis, walaupun kecantikanmu itu agak asing bagiku. Kecantikanmu berbeda dengan kecantikan Sulastri, akan tetapi engkau juga cantik sekali hingga sukar bagiku untuk membandingkan antara engkau dan Sulastri."

Karen mengangguk-angguk dan tersenyum manis. "Aji, engkau tentu amat mencinta Sulastri, bukan?" Mata kebiruan itu menatap wajah Aji penuh selidik.

Aji terkejut. teringatlah dia kepada Sulastri dan hatinya terasa tidak enak sekali. Dia teringat akan hubungan yang mesra antara Sulastri yang kehilanan ingatan dan merasa dirinya sebagai Eulis itu dengan Jatmika. "Karen, bagaimana engkau dapat menduga begitu?"

"Mudah saja, Aji. Engkau membelanya mati-matian. Ketika ia ditawan, engkau lalu menyerahkan diri kepada musuh hanya untuk mencegah Sulastri dibunuh. Itu berarti engkau amat mencintainya dan siap membelanya dengan taruhan nyawa!"

Aji menghela napas panjang. "Sudah menjadi kewajiban seorang untuk membela dan menolong siapa saja, Karen. Bukankah tadi aku juga membelamu?"

"Kalau begitu, engkau... engkau tidak cinta padanya?" Gadis itu mendesak, matanya berbinar-binar.

"Sulastri adalah sahabat baikku, Karen, bahkan ia masih terhitung saudara seperguruanku. Aku tentu saja amat suka kepadanya, akan tetapi tentang cinta... aku tidak tahu."

Karen tersenyum, tampaknya girang sekali. "Sudahlah, sekarang lanjutkan ceritamu, bagaimana engkau dapat bertemu dengan Kapten De Vos, ayahku."

"Setelah aku dan Sulastri tertawan oleh gerombolan mata-mata Kumpeni itu, kami dibawa ke rumah Ki Warga yang agaknya menjadi seorang pemimpin mata-mata Kumpeni"

"Warga? Si keparat itu! Ibu dan aku benci sekali kepada pengkhianat bangsanya itu! Dia memang membantu ayahku. lalu bagaimana?"

"Kami lalu dibawa ke sebuah kapal yang berlabuh di pantai tegal dan di sana kami bertemu dengan Kapten De Vos."

"Ah, aku benci melihat pekerjaan ayahku! Kalau dia menjadi soldat (serdadu) di Belanda dan membela Negeri Belanda dari ancaman musuh, aku bangga. Akan tetapi di sini dia membantu Kumpeni yang hendak menguasai tanah air bangsa lain! Bangsa ibuku. Bangsaku juga! Aku benci!"

"Hemm, yang bersalah adalah pemerintahnya, Karen. Ayahmu hanya melaksanakan tugas sebagai seorang perajurit yang harus tunduk kepada perintah atasannya."

"Ya, ya! akan tetapi aku tetap benci. lalu bagaimana engkau yang sudah menjadi tawanan dapat lolos dengan selamat?"

"Karena kami terancam maut, maka terpaksa kami menggunakan akal. Dalam suatu kesempatan, aku berhasil menawan Kapten De Vos dan setelah menyandera dia, maka kami berdua dapat memaksa dia untuk melarang anak buahnya bergerak. Kami membawanya dengan perahu dan melarikan diri ke pantai. Kami paksa Kapten De Vos untuk ikut dengan kami sebagai sandera. Setelah jauh, aku lalu membebaskan Kapten De Vos dan kami berdua melarikan diri."

"Oh, Aji. Demikian luhur budimu. Demikian bijaksana. Engkau telah ditangkap oleh ayah, sebaliknya engkau membebaskannya dan kini engkau malah menyelamatkan aku dari bencana yang mengerikan! Ah, Aji, biar aku menyatakan terima kasihku yng tak terhingga kepadamu!"

Setelah berkata demikian, saking haru dan gembiranya, Karen menghampiri dan merangkul leher Aji, kemudian ia mencium pemuda itu, Dua kali di pipi kanan kiri dan sekali dikecupnya bibir pemuda yang saking kagetnya tak mampu berbuat apa-apa itu. Setelah bibir yang basah dan panas itu mencium bibirnya, baru Aji terkejut dan dengan lembut dia bangkit berdiri dan melepaskan rangkulan Karen.

"Jangan begini, Karen." katanya, wajahnya berubah merah sekali karena selama hidupnya belum pernah dia mengalami hal seperti yang dirasakannya tadi.

"Kenapa, Aji?"

"Ini... ini tidak baik dan tidak wajar"

"Kenapa tidak baik? Aku berterima kasih kepadamu, Aji dan aku... aku suka sekali kepadamu, kagum padamu, bahkan sekiranya aku diberi kesempatan, aku akan mudah jatuh cinta kepadamu."

"Sudahlah, Karen, engkau membikin aku bingung. Mari kuantar engkau pulang."

Karen memegang tangan Aji dan dengan bergandeng tangan mereka lalu berjalan menuju Batavia. Aji membiarkan saja tangan kirinya digandeng. Dia maklum bahwa gadis ini bermaksud baik, walaupun kebaikan itu diujudkan dengan cara yang terlalu mesra dan terlalu janggal baginya. Tangan gadis itu begitu lembut, begitu hangat dan disepanjang perjalanan, Aji merasa jantungnya berdebar. Dia membayangkan betapa akan bahagia rasa hatinya kalau yang menggandengnya itu Sulastri!

Dan tiba-tiba saja sadarlah dia sekarang bahwa sesungguhnya dia memang mencinta Sulastri, seperti yang dikatakan Karen tadi. Mereka berjalan tanpa berkata-kata, akan tetapi Aji merasa betapa telapak tangan Karen kadang-kadang memegang tangannya dengan erat dan terasa getaran keluar dari telapak tangan itu. Tanpa kata, namun semua itu, tekanan tangan, getaran telapak tangan, lalu pandang mata yang mengerling tajam kepadanya, senyum itu, semua itu menjadi isyarat yang jelas sekali bagi Aji. Gadis Belanda ini tidak berpura-pura ketika mengatakan bahwa ia amat suka, kagum dan mungkin mencinta kepadanya. Dan agaknya Karen juga berjalan lambat, enggan bercepat-cepat seolah hendak memperpanjang waktu berdua bersama Aji.

"Karen, dapatkah engkau menceritakan kepadaku tentang keadaan di benteng Kumpeni itu? Bagaimana kekuatan Kumpeni dan bagaimana pula persenjataan mereka?"

"Ohh, Aji. Ngeri aku membayangkan engkau akan ikut pula dengan pasukan Mataram menyerbu dan berperang melawan pasukan Kumpeni Belanda. Tentu saja aku tidak ingin menjadi pengkhianat bangsa ayahku sendiri..."

Aji menghela napas panjang. Ucapan ini bahkan menambah kekagumannya terhadap Karen. "Kalau engkau tidak ingin menceritakan, akupun tidak memaksamu untuk berkhianat kepada bangsamu, Karen."

"Akan tetapi, dalam hati kecilku aku berpihak kepada bangsa ibuku. Baiklah, akan kuceritakan karena ceritaku ini juga tidak akan mempengaruhi keadaan dan apa yang kuketahui sedikit sekali, Aji. Dari ayahku aku mendapat tahu bahwa pihak kumpeni telah mengetahui rencana Mataram untuk melakukan penyerbuan yang kedua kalinya terhadap benteng Belanda di Batavia. Karena itu, pasukan Kumpeni sudah membuat persiapan yang amat kuat. Meriam-meriam baru sudah didatangkan dan dibariskan di atas benteng, menghadap ke empat penjuru. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sendiri yang mengatur sendiri barisan. Aku melihat pasukan-pasukan tambahan berdatangan. belum lagi kapal-kapal besar dengan pasukan dan meriam-meriamnya. Aku mendengar belum lama ini ada lima buah kapal besar lagi datang memperkuat dan sekarang sudah berjaga di lautan dekat pantai. Ah, keadaan mereka kuat sekali, Aji. Laporkanlah kepada Sultan Agung agar berhati-hati, jangan sampai mengalami kehancuran yang kedua kalinya."

"Terima kasih atas keteranganmu, Karen. Akan tetapi, beritahukanlah kepadaku di mana adanya gudang ransum Kumpeni. Kalau kami dapat menguasai gudang ransum itu, tentu keadaan mereka menjadi lemah kehabisan ransum."

"Setahuku, ransum untuk pasukan berada dalam tiga buah gudang ransum yang berada di benteng. Akan tetapi, aku mendengar bahwa mereka juga mempunyai persediaan ransum yang mereka simpan di dalam kapal-kapal perang."

Aji mendapatkan sebuah pikiran yang dianggapnya baik sekali. Kalau saja dia dapat membakar gudang-gudang ransum itu! Setidaknya tentu akan mengacaukan dan melemahkan pertahanan mereka, pikirnya. "Karen, engkau sudah tahu siapa aku. Aku adalah seorang telik sandi Mataram dan aku adalah utusan Sultan Agung untuk menentang Kumpeni. Maukah engkau menunjukkan kepadaku di mana adanya tiga buah gudang ransum itu berada?"

"Aji! Mau apa engkau menanyakan gudang-gudang itu?"

"aku ingin membakarnya, untuk melemahkan pertahanan Kumpeni." kata Aji terus terang.

"Ohhh...!" "engkau tidak mau, Karen?"

"Bukan, bukan tidak mau. Akan tetapi hal itu berbahaya sekali, Aji. Kalau engkau ketahuan, biar aku sendiripun kiranya tidak akan mampu membela dan melindungimu dari hukuman mati!"

"Aku akan hati-hati dan berusaha agar jangan sampai ketahuan atau tertangkap. Asal engkau dapat membawaku masuk ke dalam benteng."

"Hemm, hal itu mudah, akan tetapi berbahaya sekali. Aku harus menjaga agar engkau tidak dapat terlihat ayah dan para penbantunya yang pernah melihatmu. Kalau mereka melihat dan mengenalmu, tentu engkau akan ditangkap."

"Kukira mereka tidak akan berada di pintu gerbang, Karen. Para serdadu yang berjaga di pintu gerbang tidak akan mengenalku. Kita tunggu sampai lewat senja, baru memasuki benteng agar dalam kegelapan tidak mudah mengenal mukaku."

"Baiklah, Aji, aku akan berdoa untuk keselamatanmu. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, kalau sampai engkau tertimpa bencana, aku akan merasa sedih sekali."

Mereka berjalan lagi dan tiba di kota setelah menjelang senja. sengaja mereka menanti sampai lewat senja dan cuaca menjadi remang-remang. Mereka berdiri di luar benteng, di tempat yang gelap.

"Bawa aku masuk ke benteng dan kita nanti berpisah setelah dapat memasuki benteng dengan selamat." bisik Aji.

"Hal itu mudah, jangan khawatir. Akan tetapi, setelah kita saling berpisah, aku... aku akan selalu gelisah sekali memikirkanmu."

"Aku akan berhati-hati." Mereka lalu menuju ke pintu gerbang.

Aji sudah menggunakan tanah untuk membedaki dahi, pipi, dan dagu sampai leher. Dua orang serdadu menyambut mereka dengan bedil ditodongkan. Akan tetapi begitu melihat Karen, mereka cepat berdiri tegak. "Selamat malam. nona!" kata seorang dari mereka dalam bahasa Belanda.

"Selamat malam. Biarkan kami masuk."

"Tetapi, orang ini...?"

"Jangan khawatir. Dia ini yang menolong aku ketika keretaku dirampok. Aku akan membawa dia menghadap ayah. Minggir dan jangan ganggu dia!"

"Siap, nona!" Dua orang serdadu itu memberi jalan dan berdiri tegak, memberi hormat kepada puteri kapten itu. Karen lalu mengajak Aji memasuki pintu gerbang dan Aji melihat betapa benteng itu luas sekali. Banyak bangunan terdapat dalam benteng yang dikelilingi tembok tinggi. Di atas tembok yang tinggi dan lebar itu terdapat serdadu-serdadu yang berjaga dan tampak berjajar-jajar. Dia sudah diberitahu oleh Karen bahwa tiga buah gudang ransum itu berada di ujung barat benteng. Mereka lalu berjalan dan Karen mengajak Aji ke bawah sebuah pohon rindang sehingga mereka tertelan kegelapan bayangan pohon.

"Di sana kita berpisah. Gudang itu berada di sana. Engkau dapat mencapainya dengan jalan menyusup antara pohon-pohon itu." Karen menunjuk.

"Baik, aku dapat mencarinya. Kita berpisah di sini, Karen dan sekali lagi terima kasih."

Aji hendak melangkah, akan tetapi Karen memegang tangannya. "Aji...!"

"Ya...!"

"Hati-hatilah, Aji. Aku tidak ingin kehilangan engkau..."

"Aku akan berhati-hati..."

"Aji..." Karen merangkul leher Aji, menariknya dan ia mencium dengan mesra, tidak perduli akan muka pemuda itu yang kotor karena dilumuri tanah.

Terpengaruh keharuan dan kemesraan dalam ciuman itu, Aji membalas. "selamat tinggal, Karen."

"Jangan selamat tinggal, selamat berpisah untuk sementara, Aji."

Aji melepaskan rangkulan mereka dan tubuhnya berkelebat cepat, menghilang dalam kegelapan malam. Karen bergegas menuju ke bangunan besar di mana orang tuanya tinggal dan ketika Karen muncul di ruangan depan, Kapten Van De Vos yang sedang bercakap-cakap dengan Banuseta dan Hasanudin, bangkit dan mengerutkan alisnya.

"Karen! Ke mana saja engkau pergi? Dari tadi kami mencarimu dan engkau tidak berada dalam kota!" Kapten De Vos yang bertubuh tinggi kurus itu memandang puterinya dan melihat pakaian Karen yang kusut dan agak kotor. "Apa yang terjadi denganmu?"

Agar tidak menimbulkan curiga dalam hati ayahnya, Karen lalu menghampiri ayahnya dan dengan manja merangkul pinggang ayahnya. "Ohh, ayah. Banyak yang terjadi denganku. Aku bahkan hampir mati. Ohh, mengerikan sekali."

Mendengar ini sang kapten terkejut, demikian pula Banuseta dan Hasanudin. Raden Banuseta memang sudah lama menjadi telik sandi Kumpeni, dan dia berhasil membujuk Hasanudin untuk membantu pula. Bagaimana mungkin Hasanudin yang sejak beberapa tahun yang lalu telah menjadi murid seorang sakti seperti mendiang Ki Tejo Langit kini dapat menjadi seorang yang dapat terbujuk menjadi antek Belanda? Hal ini sebenarnya tidak aneh.

Sejak kecil, Hasanudin adalah seorang yatim piatu yang kurang pendidikan orang tua dan terjerumus dalam pergaulan sesat. Dia bahkan kemudian menjadi murid Ki Somad, datuk yang condong memusuhi Mataram itu. Memang akhirnya, empat tahun yang lalu, dia betemu Ki Tejo Langit dan menjadi muridnya sehingga selain ilmu kanuragan, diapun menerima penggemblengan batin yang membuat dia kembali ke jalan benar, meninggalkan kejahatan. Namun pertahanan hati nuraninya masih lemah. Banuseta mengambil cara yang cerdik. Maklum akan kelemahan Hasanudin, dia sengaja memperkenalkan Hasanudin kepada Karen, gadis jelita puteri Kapten Van De Vos.

Begitu diperkenalkan Hasanudin tergila-gila kepada dara itu dan tanpa banyak pikir lagi dia menerima ajakan Banuseta untuk membantu Kumpeni dan mendapat upah besar. Demikianlah, dia membantu Banuseta, bahkan dia menyaksikan betapa Banuseta dan pasukan Kumpeni membunuh Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit. Biarpun dalam hatinya dia tidak setuju menyaksikan pembunuhan atas diri dua orang itu, namun hal itu tidak membuat dia mundur dari pengabdiannya terhadap kumpeni. Semua ini karena dia sudah tergila-gila kepada Karen dan juga karena dia menerima upah besar dan janji-janji muluk dari Banuseta yang dianggapnya sebagai seorang sahabat baik sejak dia masih tinggal di Dermayu.

Ketika Kapten Van De Vos mendengar ucapan Karen yang manja, dia terkejut dan cepat bertanya. "Apa yang telah terjadi?"

"Ayah, ketika keretaku tiba di tepi kota yang sunyi, tiba-tiba kusir kereta terjungkal keluar kereta dan keretaku sudah dikuasai dua orang, lalu dilarikan keluar kota. Aku tidak mampu berteriak karena mulutku ditutup kain."

"God verdoome! Siapa mereka itu?" bentak kapten Van De Vos marah sekali.

Aku tidak tahu, ayah. Mereka orang-orang kasar yang berusia sekitar empat puluh tahun. ketika mereka saling bicara, yang seorang disebut Mang Kosim dan yang lain disebut Bang Sikun. Mang Kosim bertubuh gendut pendek, dan Bang Sikun sedang, kumisnya panjang. Mereka agaknya hendak membunuhku, akan tetapi untung aku ditolong oleh seorang petani dan dia yang mengantar aku pulang, sedangkan keretanya dilarikan oleh dua orang perampok itu."

"Ah, begitukah? Siapa penolongmu itu dan di mana dia sekarang?" tanya Kapten Van de Vos.

"Dia mengantar aku sampai di luar pintu gerbang benteng, lalu pergi lagi, ayah."

"Siapa namanya?"

"Aku tidak tahu, dia tidak mengaku, ayah. Ahh, aku lelah sekali karena ketika pulang aku harus berjalan kaki cukup jauh." Gadis itu mengeluh.

"Kalau begitu, pergilah menemui ibumu yang sejak tadi menangis saja memikirkanmu, dan istirahatlah."

Setelah Karen pergi, kapten Van De Vos lalu berkata kepada dua orang pembantunya itu, terutama kepada Raden Banuseta. "Kalian sudah mendengar sendiri cerita Karen tadi. Karena Maya Dewi dan para pembantu lain sedang pergi melaksanakan tugas lain, maka kalian berdua harus menyelidiki hal ini. Aku merasa curiga bahwa dua orang perampok yang menculik Noni Karen itu ada hubungannya dengan para mata-mata Mataram. Selidiki mereka dan tangkap atau bunuh saja mereka. Juga penolong itu harus kalian selidiki. Kalau dia bukan orang Mataram, patut diberi hadiah yang cukup."

Baik, tuan." kata Raden Banuseta dan bersama Hasanudin dia lalu keluar dari gedung itu. "Kita berpencar."kata Banuseta setelah mereka keluar dari gedung tempat tinggal Kapten Van De Vos.

"Aku akan mengunjungi para anak buah penyelidik dan menyebarluaskan keterangan tentang Kosim dan Sikun itu, dan engkau coba selidiki penolong yang mengantar Nona Karen pulang. Mungkin ada yang melihat mereka memasuki kota tadi."

Hasanudin mengangguk dan mereka berpencar. Kalau Raden Banuseta pergi mencari para penyelidik yang disebar Kumpeni di kota Batavia untuk menjaga keamanan kota dari para telik sandi Mataram, Hasanudin langsung pergi ke pintu gerbang benteng. Dua orang serdadu yang berjaga di situ mengenalnya sebagai pembantu Kapten Van De Vos. Dengan Bahasa Belanda sepatah-sepatah bercampur bahasa daerah, Hasanudin bertanya kepada mereka. Dua orang serdadu itu mengangkat pundak lalu menggeleng kepala. dengan bahasa campuran pula seorang di antara mereka menjawab.

"Kami tidak melihatnya. Kami baru saja menggantikan tugas jaga di sini, baru beberapa menit."

"Siapakah yang bertugas jaga, sebelum kalian?" tanya Hasanudin.

"Karel dan Jansen." jawab dua orang serdadu itu. Setelah mendapatkan jawaban ini, Udin atau Hasanudin segera pergi ke tempat penampungan para serdadu. Setelah bertemu dengan Karel, karena Jansen masih tidur, dia segera bertanya apakah Karel melihat Karen memasuki pintu gerbang benteng.

"Ya, aku melihat ia pulang."

"Seorang diri?"

"Tidak, dia diantar seorang laki-laki petani yang kotor."

"Dan kemana perginya petani itu?" tanya Hasanudin.

"Dia ikut memasuki benteng bersama Nona Karen dan menurut Nona Karen, orang itu yang menolongnya ketika ia dirampok dan ia hendak menghadapkan orang itu kepada Kapten Van De Vos. Apakah yang terjadi?" tanya Karel.

"Tidak apa-apa, aku hanya mengecek saja atas perintah Tuan Kapten." Hasanudin lalu pergi dari situ. Jantungnya berdebar tegang. Karen telah berbohong! Orang yang dikatakan penolongnya itu telah menyelundup memasuki benteng dengan bantuan Karen. Dia harus menyelidiki! Bukan mustahil bahwa orang itu adalah telik sandi Mataram yang menyusup masuk ke dalam benteng! Akan tetapi mau apa dia? Apa yang dapat dilakukan seorang saja dalam benteng yang dihuni ribuan serdadu itu? Tiba-tiba dia teringat. Gudang mesiu atau gudang ransum! Agaknya ke sanalah orang itu pergi.

Setelah berpikir demikian Hasanudin lalu menyelinap di antara pohon-pohon menuju ke bangunan gudang mesiu yang berada di belakang, sebelah barat dalam benteng. Dia menghampiri gedung mesiu. Dua orang serdadu yang berjaga di depan gedung itu masih duduk berjaga di situ. Berarti keadaan aman di situ. Dia lalu pergi ke bagian belakang gedung itu di mana berdiri tiga buah gudang ransum yang besar, berjajar dan sambung menyambung. Di depan pintu besar tiga buah gudang yang menjadi satu itu biasanya terdapat dua orang serdadu penjaga. Akan tetapi, di bawah sinar lampu yang tergantung di atas pintu besar itu, kini tidak tampak adanya penjaga seorangpun.

Hasanudin menjadi curiga karena hal ini aneh sekali. Dia melompat ke depan pintu dan melihat dua batang senapan menggeletak di situ, akan tetapi dua orang serdadunya tidak ada. Dia lalu mencari ke belakang dan setelah tiba di pinggir gudang, dia melihat dua orang serdadu itu telah menggeletak di bawah pohon yang gelap. Dia terkejut sekali dan pada saat itu ada angin menyambar dari samping. Aji telah berhasil merobohkan dua orang penjaga gudang dan menyeret tubuh mereka ke samping gudang. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat bayangan seorang laki-laki di depan gudang, bahkan laki-laki itu mencari ke samping gudang dan menemukan tubuh dua orang penjaga.

Melihat ini, Aji terkejut dan kebetulan sekali laki-laki itu berdiri di bawah lampu yang tergantung di samping gedung. Dia makin kaget mengenal wajah laki-laki itu, Hasanudin! Udin kakak tirinya, orang yang dicari-carinya, yang telah membantu Banuseta ketika jahanam itu menyerbu tempat tinggal Ki Tejo Langit di pantai Dermayu! Dia tahu bahwa Hasanudin ini membenci ayah kandungnya, ayah kandung mereka dan kalau dia hanya membujuk dan mengingatkannya begitu saja, tidak mungkin kakak tirinya itu mau mendengarnya. Bahkan kalau Hasanudin tahu bahwa dia putera Harun Hambali, mungkin dia akan dimusuhinya pula. Karena itu, jalan satu-satunya hanyalah merobohkannya lebih dulu, baru membujuknya.

Setelah berpikir demikian, Aji lalu menyerang dengan cepat. Akan tetapi, Hasanudin bukan seorang yang lemah. Dia adalah murid Aki Somad yang kemudian memperdalam ilmunya kepada Ki Tejo Langit. Begitu ada angin pukulan dahsyat menyambar dari samping, Udin atau Hasanudin melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan tamparan Aji itupun luput. Udin cepat melompat berdiri dan begitu melihat Aji, walaupun muka pemuda itu berlumpur, dia masih ingat bahwa pemuda itu adalah orang yang dulu pernah bertempur dengannya di tempat tinggal Ki Tejo Langit, seorang yang amat tangguh.

"Hemm, kiranya engkau, telik sandi Mataram!" bentaknya dan diapun balas menyerang dengan hebat karena dia sudah menggunakan Aji Margopati, pukulan yang mematikan.

Aji tidak mau membuang waktu lagi, maklum bahwa kakak tirinya ini juga bekas murid Ki Tejo Langit, segera memainkan ilmu silat Wabara Sakti untuk mengelak dan secepat kilat dia sudah menggunakan jari-jari tangan yang dipenuhi tenaga Surya Candra, menotok ke arah iga kanan lawannya. "Tukk!" Iga kanan itu terkena totokan dan seketika tubuh Udin menjadi lemas.

Aji cepat menubruk dan menelikung kedua tangan kakak tirinya ke belakang sehingga Udin tidak mampu bergerak lagi! "Hemm, aku sudah kalah, kalau hendak bunuh, lakukanlah. Aku tidak takut mati!" bentaknya, diam-diam merasa penasaran dan malu sekali bahwa dalam segebrakan saja dia telah dibuat tak berdaya oleh lawannya.

"Aku tidak akan membunuhmu, Kakang Hasanudin karena engkau adalah kakakku. ketahuilah bahwa aku adalah putera kandung ayah kita, Harun Hambali!"

"Bohong! Harun Hambali hanya mempunyai anak seorang saja, yaitu aku! Dan dia seorang pengecut jahat, aku akan membunuhnya!"

"Sabar dan tenanglah, Kakang Udin. Dan dengarkan ceritaku baik-baik. Bapa Harun telah melarikan diri ke Mataram dan di sana dia menikah lagi dengan ibuku, dan lahirlah aku. Namaku Lindu Aji dan ayah kita telah tewas terbunuh oleh orang jahat."

"Hemm, dia sendiri juga jahat, tidak bertanggung jawab, meninggalkan aku begitu saja. Pantas kalau dia terbunuh orang pula!"

"Nanti dulu, kakang. Tahukah engkau mengapa ayah kita meninggalkanmu ketika engkau masih kecil dan menitipkanmu kepada Paman Ujang Karim?"

"Karena dia membunuh seorang menak dan pengecut itu melarikan diri ketakutan, tidak memperdulikan lagi padaku."

"Dan tahukah engkau mengapa ayah kita itu membunuh menak yang bernama Anom Bahrudin itu?"

"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu!"

"Kakang Udin, engkau pasti tidak tahu mengapa ibu kandungmu meninggal dunia?" "Apa...?" Udin menengok untuk memandang wajah Aji, matanya terbelalak. "Aku... aku tidak tahu. Kata paman Ujang, ibu meninggal karena sakit"

"Paman Ujang Karim bohong karena dia ketakutan. Ibumu meninggal dunia karena gantung diri setelah ia diculik dan diperkosa oleh seorang menak, Yaitu Aom Bahrudin! Karena itulah, Bapa harun hambali membunuh Aom Bahrudin itu. Karena dia khawatir akan keselamatanmu maka dia menitipkan engkau kepada Paman Ujang Karim dan dia sendiri lalu melarikan diri ke daerah Mataram."

Mata itu terbelalak dan muka itu menjadi merah, 鈥淏e... benarkah itu...?" Aji melepaskan ringkusannya dan memulihkan kembali tenaga Hasanudin sehingga orang itu mampu bangkit berdiri. Mereka berdiri berhadapan. "Lindu Aji, benarkah apa yang kau ceritakan itu?"

"Mengapa aku harus berbohong? Mendiang bapa sendiri yang menceritakannya."

"Mendiang...? Kau... kau maksudkan... ayah kita telah meninggal?"

"Telah dibunuh orang. Bapa Harun Hambali dan juga Paman Ujang Karim telah dibunuh orang dan tahukah engkau siapa yang membunuh meraka? Bukan lain adalah Raden Banuseta itu. Dia adalah putera Aom Bahrudin yang membalas kematian ayahnya dan mencari ayah kita sampai ke Mataram kemudian membunuh ayah, juga membunuh Paman Ujang Karim yang kebetulan berada di sana."

"Jahanam busuk!" Hasanudin mengepal tinjunya dan memaki.

"Dan engkau telah dapat dibujuknya untuk membantu kumpeni Belanda, kakang. Ah, kakang, tidak dapatkah engkau melihat betapa jahat dan hinanya orang yang mengabdi kepada bangsa Belanda untuk memusuhi bangsa sendiri? Dan Banuseta itu telah pula membunuh Paman Sudrajat, juga membunuh Eyang Tejo Langit gurumu sendiri! Dan engkau telah dipergunakannya untuk membantu dia mengabdi kepada Belanda. Sadarlah, kakang. Mendiang bapa kita adalah seorang ksatria, sedangkan Banuseta itu adalah seorang pengkhianat bangsa, seorang putera bangsawan jahat yang memperkosa ibu kandungmu sendiri!"

"Keparat busuk banuseta, mati engkau ditanganku!" Hasanudin membentak dan sekali melompat diapun lenyap dalam kegelapan malam.

Setelah mendengar cerita Aji bahwa ibu kandungnya mati membunuh diri setelah diculik dan diperkosa Aom Bhrudin dan ayah kandungnya dibunuh Banuseta putera Aom Bahrudin, Hasanudin marah bukan main. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Banuseta yang disangkanya seorang sahabat baik itu ternyata musuh besarnya. Apa lagi kalau dia ingat betapa Banuseta juga sudah membunuh Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, kemarahannya memuncak. Bagaikan seorang yang telah dimasuki iblis, dia lari, tidak memperdulikan apa saja untuk mencari Banuseta. Kebetulan sekali Banuseta juga sudah kembali dan sedang menghadap Kapten Van De Vos di ruangan tamu. Banuseta mendapat kabar bahwa Karen terlihat muncul di kota bersama seorang laki-laki, maka dia segera kembali untuk melapor atasannya.

"Betulkah laporanmu ini, Banuseta?" tanya Kapten van De Vos marah.

"Benar, tuan. Sudah beberapa orang mengatakan bahwa mereka melihat Nona Karen memasuki kota bersama seorang laki-laki pribumi dan mereka berdua memasuki benteng melalui pintu gerbang"

Pada saat itu Hasanudin melompat masuk ke dalam ruangan tamu itu dan segera menghampiri Banuseta. Sikapnya menyeramkan, wajahnya beringas dan tidak memperdulikan sopan santun sehingga mengejutkan dan mengherankan hati sang kapten dan Banuseta.

"Banuseta, benarkah engkau telah membunuh seorang bernama Harun Hambali?" Hasanudin bertanya dan berdiri di depan Banuseta. bangsawan muda itu merasa heran, akan tetapi dia bangkit berdiri juga dan menjawab.

"Memang benar, Udin karena jahanam itu telah membunuh ayahku. Aku hanya membalas dendam kematian ayahku."

"Hemm, apakah ayahmu bernama Aom bahrudin?"

"Benar."

"Engkau tahu mengapa Harun Hambali membunuh Aom Bahrudin?"

"Aku tidak tahu, mungkin Harun itu orang jahat."

"ketahuilah, Aom Bahrudin itu telah menculik dan memperkosa isteri Harun Hambali sehingga wanita itu membunuh diri!"

"Ah, aku tidak tahu dan aku tidak percaya."

"Dan tahukah engkau siapa aku? Wanita yang diperkosa ayahmu dan mati membunuh diri itu adalah ibu kandungku dan Harun Hambali adalah ayah kandungku! karena itu, engkau harus mati di tanganku, Banuseta!" Hasanudin menampar dengan keras sekali. Banuseta yang terkejut cepat menggerakkan tangan menangkis.

"Wuuuttt... dukkk !!" Dua lengan bertemu dan akbatnya, tubuh Banuseta terdorong ke belakang, menabrak kursi sehingga dia roboh. Akan tetapi, sebagai ketua cabang perguruan silat Dadali Sakti, dia sudah melompat lagi dan mencabut goloknya yang bergagang emas. Ketika Hasanudin menyerang lagi, dia menyambut dengan babatan goloknya. Hasanudin mengelak dan keduanya lalu berkelahi dengan seru dalam ruangan tamu itu.

Kapten Van De Vos mencabut pistolnya dan berseru nyaring. "God verdomme! Hentikan perkelahian itu!" Dan menodongkan pistolnya. Akan tetapi Hasanudin tidak memperdulikan teriakan ini, bahkan memperhebat serangannya dan gerakan kedua orang yang berkelahi itu sedemikian cepatnya, berputar-putar sehingga sulitlah bagi Kapten Van De Vos untuk menentukan sasarannya. Tentu saja dalam hatinya dia membela Raden Banuseta yang telah lama menjadi kaki tangannya, sedangkan Hasanudin adalah orang baru. Akan tetapi sukarlah untuk membidikkan pistolnya ke arah tubuh Hasanudin yang bergerak cepat itu. Jangan-jangan malah salah sasaran!

Hasanudin bernafsu sekali untuk membunuh musuh besarnya itu. dia sadar betul bahwa dirinya telah terseret ke dalam tindakan yang sesat tanpa diketahui bahwa "sahabat baik" itu justeru musuh besarnya. Dan sesungguhnya Raden Banuseta juga sama sekali tidak tahu bahwa Udin adalah putera kandung Harun, musuh besarnya, Kalau dia mengetahui, tentu dia sudah turun tangan lebih dulu untuk membunuh putera musuhnya itu.

"Aji Tapak Geni! Aarrgghhh...!!" Hasanudin mengeluarkan aji yang dipelajarinya dari Aki Somad itu. Kedua tangannya yang digosok-gosokkan itu ditiup menyala dan ketika dipukulkan ke depan, ada api menyambar ke arah Banuseta. Orang ini terkejut sekali dan mencoba menghindar, namun terlambat. Pukulan berapi itu mengenai dadanya dan diapun terjengkang roboh. Hasanudin, bagaikan seekor harimau, menerkam dan mencengkeram dan mencekik lehernya. Banuseta mengeluarkan suara mengerikan dan matanya melotot, lidahnya keluar dan batang lehernya patah!

Pada saat itu terdengan teriakan-teriakan dari luar gedung. "Kebakaran! Kebakaran!" dan terdengar banyak orang berlari-larian. Kapten Van De Vos kini mendapat kesempatan. Pistol yang berisi peluru emas itu menyalak tiga kali. "Dar-dar-darrrr...!" Dan tubuh Hasanudin terpelanting. Akan tetapi dia sempat menyambar golok yang terlepas dari tangan Banuseta yang telah tewas dan dalam keadaan terluka parah oleh tiga peluru emas itu, Hasanudin masih mampu mengerahkan tenaga terakhir, melontarkan golok itu ke arah Kapten Van De Vos.

"Singggg... capppp...!" Van De Vos mengeluh ketika golok itu menancap diperut dan menembus di punggungnya. Dia masih dapat melepaskan dua kali tembakan yang ngawur sebelum jatuh terjerembab di atas lantai, tewas mandi darahnya sendiri.

Sementara itu, begitu terdengar teriakan kebakaran, Karen Van De Vos dapat menduga bahwa kebakaran itu tentu dilakukan oleh Aji. Maka iapun cepat berlari melalui pintu belakang sambil membawa segulung pakaian. Ia tidak tahu apa yang terjadi di ruangan tamu. Ia hanya ingat akan keselamatan Aji. Ia harus menolongnya karena kalau tidak, tidak mungkin Aji dapat menyelamatkan diri. Dugaan Karen memang tepat. Yang membuat kebakaran itu adalah Aji.

Setelah dia berhasil menyadarkan kakak tirinya, Aji yang sudah merobohkan dua orang penjaga gudang ransum, lalu dia menggunakan tenaga saktinya untuk mematahkan gembok yang berada di pintu gudang. Dia membuka pintu dorong gudang itu dan mengambil dua buah lampu minyak gantung. Dilemparkannya dua buah lampu gantung itu dan gudang ransum itupun terbakar. Akan tetapi dia mendengar suara tembakan beruntun tiga kali, lalu dua kali lagi. Tembakan itu membuat dia maklum bahwa sebentar lagi tentu banyak serdadu datang ke tempat itu, apalagi sudah terdengar teriakan ada kebakaran. Dia menjadi agak bingung juga, tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Dia menyelinap menjauhi gudang yang terbakar, bersembunyi di tempat gelap. "Sssttt... Aji...!" Tiba-tiba terdengar bisikan.

"Karen...!" Aji berbisik kembali, segera mengenal suara itu dengan gembira karena dia merasa yakin bahwa kemunculan gadis itu pasti membawa kebaikan bagi dirinya.

"Sttt... Aji kau dalam bahaya. cepat pakai ini, hayo cepat!" Karen muncul dan masuk ke dalam bayangan gelap di mana Aji bersembunyi. Gadis itu dengan cekatan membantu Aji memakai gaun besar di luar pakaiannya, juga mengenakan syaal (kain penutup pundak dan leher) lebar dan menutupi kepala Aji dengan kain putih yang diikatkan di bawah dagu. Jadilah Aji seperti seorang nenek tua yang biasa memakai gaun!

"Hayo cepat, ikut aku!" bisik Karen dan ia mengait lengan Aji dan dibawanya berlari menuju ke bagian gelap benteng itu. Mereka melihat para serdadu berlarian sibuk memadamkan api. Setelah tiba di pintu gerbang benteng, lima orang serdadu memberi hormat kepada Karen dan tidak memperdulikan "nenek" itu. Dengan leluasa Karen menyeret Aji keluar benteng. Di tempat gelap Karen berbisik.

"Cepat pergi keluar kota. Cepat, Aji...!" Kini Aji merasa begitu gembira dan berterima kasih kepada gadis itu sehingga kini dia yang merangkul dan mencium bibir Karen untuk menyatakan terima kasihnya.

Cepat... selamat jalan, Aji... Semoga Tuhan melindungimu, Aji...!" Karen mendorong tubuh Aji dan pemuda itu melompat dan berlari di antara banyak orang yang berdesakan ingin menonton kebakaran dalam benteng. Dengan mempergunakan kesempatan selagi penduduk Batavia atau Jayakarta dalam keadaan panik, Aji berhasil lolos dari kota itu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Seperti biasa, pada pagi hari itu, Eulis (Sulastri) dan Neneng Salmah berada di tepi anak sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Akan tetapi, mereka tidak segera mencuci pakaian, melainkan bercakap-cakap sambil duduk di atas batu.

"Eulis, sudah hampir setengah tahun aku berada di sini dan aku merasa amat berbahagia dapat hidup bersama ayahku dengan engkau dan Paman Subali dan bibi yang begitu baik sekali kepada kami. Ah, sungguh aku merasa beruntung mendapatkan seorang saudara seperti engkau, Eulis."

"Aeh, sudah berapa ratus kali engkau mengatakan hal itu, hampir setiap hari. Akulah yang seharusnya berterima kasih karena kehadiranmu mengurangi banayak sekali kesedihanku yang telah kehilangan ingatan. Bahkan aku dapat belajar menari dan bertembang darimu."

"Suaramu juga indah dan merdu sekali, Eulis."

"Dan engkaupun ternyata memiliki bakat bermain pencak silat."

"Akan tetapi katamu aku bermain pencak dengan gerakan terlalu indah seperti orang menari." kata Neneng.

"Dan akupun kalau menari seperti orang bersilat, seperti pria!" kata Eulis.

"Sudahlah, mari sebelum kita mandi, coba engkau berlatih tari terbaru yang kuajarkan kepadamu."

"Tari Srimpi? Wah, sukar benar gerakannya."

"Tidak sukar, hanya engkau kurang sabar, Eulis. cobalah." desak Neneng Salmah.

"Boleh, aku akan berlatih berjoget dan bertembang, akan tetapi sesudah itu engkau harus berlatih silat dengan Aji Sonya Hasta seperti yang kuajarkan."

"Baik, nah, mulailah!" Eulis lalu bertembang. tembang Kinanti dan suaranya memang benar merdu dan lantang.

Kedua orang dara jelita ini sama sekali tidak tahu bahwa tak jauh dari situ, bersembunyi di balik batu besar, dua pasang mata manusia sejak tadi mengintai dan dua pasang telinga mendengarkan. Dua orang manusia itu memang telah berada di situ sebelum Eulis dan Neneng Salmah datang, maka Eulis yang peka itupun tidak tahu akan keadaan mereka. Ketika disebutnya Aji Sonya Hasta, seorang dari mereka, seorang laki-laki terbelalak heran dan semakin memperhatikan.

Dia adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya sedang dan wajahnya tampan dan berwibawa. Matanya lembuat namun bersinar tajam dan hidungnya mancung, wajahnya cerah karena mulutnya selalu tersenyum. Kumis tipis membuat dia tampak gagah. Adapun orang kedua adalah seorang wanita berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun, cantik jelita dan wajahnya lembut. Wajahnya bulat dengan dagu meruncing. Sepasang alisnya hitam dan sepasang matanya berbinar-binar seperti bintang kejora, bulu matanya lentik, hidung kecil mancung dan mulutnya menggairahkan. Sungguh merupakan sepasang manusia yang serasi, yang pria tampan gagah dan yang wanita cantik anggun.

Setelah selesai bertembang, Eulis lalu mulai menari. Memang indah tariannya, namun gerakannya kurang luwes bagi tari srimpi, karena gerakannya mengandung kegagahan. "Sekarang ganti engkau coba berlatih Aji Sonya Hasta!" kata Eulis setelah rampung berjoget.

Neneng Salmah juga tidak malu-malu lagi. Ia mulai bersilat dengan Aji Sonya Hasta yang diajarkan Eulis. Gerakannya indah dan luwes, sungguh seperti orang menari, namun gadis ini telah dapat memperoleh inti aji itu, yang tampaknya kosong namun berisi kekuatan yang dahsyat. Kosong namun berisi, yang berisi penuh malah kosong, itulah inti dari gerakan silat Sonya Hasta itu. Pria yang mengintai menjadi semakin heran. Setelah Neneng Salmah selesai berlatih, Eulis merangkulnya.

"Bagus! Hebat, sekarang engkau tidak perlu khawatir akan gangguan laki-laki brengsek lagi, Neneng. Biar ada tiga empat orang laki-laki kasar, kalau mengganggumu pasti akan roboh semua ditanganmu."

"Tapi mana bisa aku memukul orang, Eulis?"

"Tidak perlu memukul. jentikan jari tanganmu dan tamparan tanganmu sudah cukup membuat orang jahat terjungkal! Penyerangmu dapat mampus tanpa mengeluarkan darah!"

"Membunuh orang? Hiiihhh...!!" Neneng Salmah bergidik ngeri. "Jangankan membunuh orang, membunuh seekor coro (kecoak) saja aku ngeri dan tidak tega!"

Pria dan wanita yang mengintai itu saling pandang dan tersenyum geli. Mendengar percakapan antara dua orang gadis jelita itu, mendengar Eulis bertembang, dan melihat Neneng Salmah bermain pencak silat, meraka merasa kagum akan tetapi juga geli. Sikap dan kata-kata kedua orang gadis itu lucu dan juga menyenangkan. Dari ucapan mereka berdua, dua orang pengintai itu maklum bahwa dua orang gadis itu adalah orang-orang yang berwatak periang dan baik.

"Tentu saja! Coro itu binatang yang tidak ada dosanya, akan tetapi banyak manusia di dunia ini yang amat keji dan jauh lebih jahat dibandingkan coro atau binatang apapun juga!" kata Eulis.

Neneng Salmah menghela napas panjang. "Engkau benar, Eulis. Kalau aku teringat akan pengalamanku yang lalu, sebagian besar laki-laki yang ikut berjoget itu tidak sopan, pandang mata, senyuman dan kata-kata mereka kurang ajar. apa lagi kalau ingat pangeran dari Banten itu, iihh, dia jahat sekali melebihi seekor harimau yang buas!"

Eulis tertawa. "Heh-heh, apa kau kira harimau itu buas?"

"Tentu saja. Harimau merobek-robek tubuh korbannya dengan kejam dan makan dagingnya, minum darahnya!" kata Neneng Salmah.

"Habis, bagaimana? Apa engkau menyuruh harimau itu makan rumput dan daun-daunan? Atau menyuruh harimau itu menyembelih dulu korbannya lalu memasaknya dan makan masakan daging korbannya seperti kita? Sudah kodratnya begitu, harimau tidak doyan sayur, tidak pandai memasak daging, maka tentu saja dia makan binatang yang lebih lemah. Kalau tidak, dia akan mati kelaparan. Sama sekali dia tidak dapat dikatakan buas!"

Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Eulis teringat dan melamun. Dari mana ia mengerti semua itu? Siapa yang mengajarnya? Ia dapat merasakan betul bahwa ia pernah mendengar ada orang yang mengajarkan semua itu kepadanya, pengertian tentang kasunyatan dalam kehidupan ini. Akan tetapi ia tidak ingat lagi siapa yang mengajarinya! Tiba-tiba tanpa disengaja Eulis menoleh ke arah batu di balik mana dua orang itu mengintai. Hanya sekelebatan saja bayangan itu tampak, namun cukup bagi Eulis untuk berseru nyaring.

"Heii! Siapa mengintai di sana? Hayo keluar!"

Dua orang yang sejak tadi mengintai itu keluar dari balik batu-batu. Pria tampan yang wajahnya lembut dan cerah itu adalah seorang gagah perkasa yang berjasa besar membantu Mataram ketika terjadi perang antara Mataram dan Madura. Dia juga ikut dalam pertempuran ketika pasukan Mataram menundukkan Surabaya dan Giri. Akan tetapi dia tidak mau menerimanya ketika hendak dianugerahi pangkat senopati oleh Sultan Agung. Dia hanya memilih sebidang tanah di Pasuruhan dan tinggal di sana seperti rakyat biasa. Nama pria itu adalah Parmadi. Adapun wanita itu adalah istrinya bernama Muryani, juga seorang wanita yang sakti mandraguna.

Ketika Parmadi membantu Mataram, sepak terjangnya yang gagah dan kesaktiannya yang kadang dibantu sebuah seruling yang dapat dipergunakan sebagai alat senjata ampuh, maka diapun mendapat julukan "Seruling Gading". Mendengar seruan Eulis yang agaknya telah mengetahui akan tempat mereka mengintai, suami isteri ini keluar dan makin yakinlah mereka bahwa Eulis tentu seorang gadis yang sakti mandraguna sehingga dapat mengetahui bahwa mereka mengintai di balik batu-batu itu. Mereka lalu menghampiri dua orang gadis itu yang sudah bangkit berdiri memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

Parmadi dengan tersenyum merangkap kedua tangan memberi salam penghormatan lalu berkata, "maafkanlah kami, adik-adik yang manis. sesungguhnya kami berdua tidak berniat mengintai. Kami telah lama berada di sini sebelum andika berdua tiba. ketika melihat andika berdua bertembang, menari lalu bermain pencak silat, kami merasa tertarik sekali sehingga kami berdiam diri untuk menyaksikan. Saya bernama Parmadi dan ini isteriku, Muryani."

Wanita cantik itupun berkata, menyambung ucapan Parmadi. "Suamiku berkata benar, adik-adik yang baik. Kami tidak bermaksud buruk, hanya teramat heran dan tertarik melihat adik ini tadi bermain silat yang katanya belajar darimu."

Eulis mengerutkan alisnya, "Apapun alasannya, perbuatan kalian berdua mengintai kami patut dicurigai! Hayo katakan apa maumu?" Pada dasarnya Eulis memang memiliki watak keras. Apalagi telah beberapa kali ia bertemu dengan orang-orang yang jahat, seperti Mahesa Sura, Kolo Srenggi dan kelima Mahesa yang menjadi murid mereka, yang telah dibasminya bersama Jatmika dan Lindu Aji. Tentu saja ia merasa curiga.

Parmadi bertukar pandang dengan isterinya dan dia memberi isyarat dengan kedipan matanya, lalu dia menghadapi Eulis yang tampak galak menantang, sedangkan Neneng Salmah hanya menonton saja dengan hati tegang. "Kalau andika curiga kepada kami, akupun curiga kepadamu. dari mana engkau mempelajari Aji Sonya Hasta?"

Ditanya demikian, Eulis menjadi marah. Ia sendiri memang tidak ingat lagi dari siapa ia mempelajari ilmu itu, walaupun ia masih ingat akan nama dan cara menggunakannya. Menurut keterangan Ki Subali yang kini menjadi ayahnya walaupun ia masih belum ingat benar bahwa dia adalah ayah kandungnya, gurunya adalah Ki Ageng Pasisiran yang kini sudah meninggal. Akan tetapi ia tidak perduli lagi dan menganggap pertanyaan Parmadi itu lancang dan hendak mencampuri urusan pribadinya.

"Perduli apa engkau dengan itu? Bukan urusanmu!" bentaknya.

Muryani mengerutkan alisnya. Ia sendiri di waktu mudanya juga lincah dan keras, akan tetapi setelah menjadi isteri Parmadi selama beberapa tahun, perangainya sudah berubah lembut. "Adik yang baik, kami hanya ingin mengetahui, siapakah guru andika? Ketahuilah bahwa suamiku ini juga menguasai Aji Sonya Hasta."

"Hemm, kalau begitu tentu dia yang telah mencuri aji itu! lebih baik kalian yang mengaku dari mana mendapatkan aji iu! Siapa gurumu?" Eulis bertanya.

Parmadi tersenyum. Mungkin kalau dia memberi tahu siapa gurunya, gadis itu akan mengenalnya dan tidak bersikap begitu keras padanya. "Guruku adalah Eyang Ki Tejo Wening." Eulis mengerutkan alisnya. "Aku tidak mengenal nama itu! Tentu gurumu itu yang menjiplak atau mencuri ilmuku!"

"Hemm, kalau begitu ingin aku melihat apakah Aji sonya Hasta yang kau miliki itu tulen ataukah palsu!" kata Parmadi yang telah memberi isyarat kepada isterinya. Dia ingin menguji gadis galak ini karena kini dia curiga bahwa gadis ini entah bagaimana caranya telah mempelajari aji kesaktian itu dari orang yang mencurinya.

"Nah, tampak sekarang belangnya!" bentak Eulis. "Engkau pasti berniat buruk. Mari kita sama lihat, siapa yang mencuri dan mempunyai aji yang palsu!"

"Eulis, jangan berkelahi!" bujuk Neneng Salmah.

"Mundurlah, Neneng. Biar aku menghajar orang kurang ajar ini." kata Eulis sambil mendorong mundur Neneng Salmah yang terpaksa mundur dan menonton dengan hati gelisah.

Muryani juga mundur sambil tersenyum. Ia maklum bahwa suaminya hanya ingin melihat apakah gadis bernama Eulis itu benar-benar menguasai Aji Sonya Hasta yang asli. Maka ia menonton dengan tenang saja. Eulis lalu membuat gerakan pembukaan. Kedua tangannya melakukan sembah di atas kepalanya, kemudian kedua lutut ditekuk dan kedua tangan diturunkan dan menjadi sembah di depan dada, kemudian kedua lengan dikembangkan ke kanan kiri, terbuka dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan. Pembukaan itu benar-benar menandakan kekosongan, bahkan keadaan dirinya tebuka sama sekali.

"Mulailah!" bentak Eulis, matanya mencorong dan biarpun pembukaan itu tampak lemah sekali dan mudah dimasuki serangan lawan, namun sesungguhnya semua urat syarafnya sudah siap siaga dan menjadi peka sekali. Parmadi tertegun. Gerakan pembukaan itu nyaris sempurna! Diapun membuat gerakan yang sama sehingga diam-diam Eulis juga kaget, akan tetapi ia bersikap tida acuh.

"Andika yang mulai, adik manis." kata Parmadi ramah.

Eulis menganggap sebutan itu seperti ejekan yang kurang ajar, maka iapun tidak sungkan lagi. "Sambut ini...!" Tangannya dari samping bergerak, kedua tangan membuat gerak yang arahnya berlawanan dan tampaknya sebagai tamparan lembut hampir mengusap atau mengelus, Namun di dalamnya tekandung hawa yang amat kuat sehingga terdengar bunyi bersiut.

"Bagus!" Parmadi memuji karena memang gerakan gadis itu ketika menyerang tepat dan benar, Diapun lalu mengelak dan balas menyerang. Namun Eulis dapat menangkis tamparan itu dari samping lalu cepat membalas. Dua orang itu sudah bertanding seru, serang menyerang dan karena mereka memainkan ilmu silat yang sama, maka tampaknya seperti dua orang yang sedang latihan saja.

Melihat ini, Muryani juga merasa heran dan ia tidak ragu lagi bahwa antara suaminya dan gadis itu pasti ada hubungan persaudaraan seperguruan. Juga karena kdua orang itu melakukan gerakan yang sama, Neneng Salmah juga menduga demikian. Bagaimanapun juga, ia sendiri sudah mempelajari ilmu silat itu, maka ia berseru kepada Eulis.

"Eulis, hentikanlah! Dia benar, gerakanmu sama benar dengan gerakannya!" Akan tetapi dasar Eulis seorang gadis yang keras hati, ia masih belum mau mengalah. Ia melompat ke belakang, lalu menggosok kedua telapak tangannya dan mendorongkan kedua tangannya itu ke arah Parmadi sambil mengerahkan tenaga saktinya. Parmadi terbelalak dan cepat menghindarkan diri dengan melempar tubuh ke kiri sehingga serangan itu luput. Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar lewat samping tubuh Parmadi.

"Itu Aji Margopati...!" seru Parmadi. Eulis menjadi penasaran karena serangannya dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya. Maka iapun mengerahkan tenaga sakti lebih besar lagi lalu kembali ia menyerang dengan aji pukulan Margopati yang amat dahsyat itu. Parmadi terpaksa memperlihatkan kesaktiannya. Kedua tangannya didorong kedepan menyambut pukulan dahsyat itu, namun dia membatasi tenaganya karena tidak ingin melukai gadis yang pandai mempergunakan Aji Sonya Hasta dan Aji Margopati itu.

"Wuuuttt... wessss!" Eulis terkejut bukan main karena tenaga pukulannya itu seolah bertemu dengan air. Tenaganya seperti tenggelam dan kehilangan daya serangnya. Ia seorang gadis yang keras hati namun cerdik. Ia kini mengetahui benar bahwa ia berhadapan dengan seorang yang sakti mandraguna, yang jauh melampaui tingkat kepandaiannya sendiri, akan tetapi orang itu sama sekali tidak mempunyai niat jahat sehingga tidak mempergunakan kesaktiannya untuk mencelakai dirinya. Hal ini terasa sekali dalam tangkisan orang itu yang sama sekali tidak melawan, melainkan membuat tenaga aji pukulan Margopati seperti punah dan lumpuh!" Ia melompat mundur sampai dekat Neneng Salmah dan dengan mata terbelalak ia memandang kepada Parmadi sambil berkata gagap. "Andika... andika sebetulnya siapakah...?"

Parmadi dan Muryani melangkah maju menghampiri dua orang gadis itu. Parmadi tersenyum dan berkata lembut, "Sudah kami katakan tadi bahwa kami bukanlah musuh, kami tidak mempunyai niat buruk hanya kami tertarik melihat Aji Sonya Hasta tadi. Sekarang aku melihat bahwa Aji Sonya Hasta yang andika mainkan itu benar-benar asli sehingga aku yakin bahwa di antara kita masih terdapat tali persaudaraan seperguruan! Seperti sudah kuperkenalkan diri tadi, namaku Parmadi dan ini istriku Muryani. Kami berasal dari jauh di timur, dari kadipaten Pasuruan. Andika berdua siapakah?"

Karena Eulis tidak juga menjawab disebabkan perasaan malu atas kekerasan sikapnya dan juga kekalahan yang diam-diam harua diakuinya itu, Neneng Salmah yang menjawab. "Maafkan sikap saudaraku tadi. Ia bernama Eulis dan saya sendiri bernama Neneng Salmah. Eulis tidak dapat menjawab pertanyaan andika karena ia telah kehilangan ingatan tentang masa lalunya, bahkan tidak ingat lagi akan ayah ibunya sendiri."

"Neneng, kenapa hal itu kau ceritakan?" tegur Eulis.

"Eulis, mereka ini bukan musuh, melainkan orang-orang yang baik hati dan sakti mandraguna. Apa lagi melihat aji kesaktiannya yang sama dengan yang kau miliki, aku merasa yakin bahwa dia masih ada hubungan persaudaraan seperguruan denganmu."

"Engkau benar sekali, Neneng Salmah. Suamiku tentu masih ada pertalian persaudaraan seperguruan dengan Eulis ini, dan siapa tahu kalau Gusti Allah mengijinkan, suamiku dapat menyembuhkan Eulis dari penyakitnya kehilangan ingatan itu."

Neneng Salmah terbelalak dan wajahnya berseri. "Ah, benarkah? Kalau begitu, Kakangmas Parmadi dan Mbakayu Muryani, kami persilakan andika berdua suka singgah di rumah kami dan bertemu ayah Eulis, yaitu Paman Subali yang akan dapat menceritakan segala tentang guru Eulis. Mari, Eulis, kita antar mereka ini singgah ke rumah."

Neneng Salmah mengajak Eulis. Akan tetapi Eulis menggeleng kepalanya. "Engkau sajalah yang mengantar, Neneng. Aku hendak mencuci pakaian dan mandi." Bagaimanapun juga, hati Eulis masih agak penasaran karena ia tidak mampu menandingi Parmadi. Parmadi dan Muryani saling pandang, kemudian Parmadi berkata kepada Neneng Salmah.

"Baiklah, Nimas Neneng Salmah, kami akan menemui Paman Subali. Aku kasihan kepada Nimas Eulis yang tidak salah lagi tentu masih saudara seperguruanku sendiri. Mari kita pergi."

Suami isteri itu lalu mengikuti Neneng Salmah menuju ke rumah Ki Subali yang berada tidak begitu jauh dari situ. Setelah ditinggal pergi. Eulis termenung seorang diri. Bagaimanapun juga, jantungnya berdebar tegang. Benarkah orang yang bernama Parmadi itu mampu menyembuhkannya dan mengembalikan ingatannya tentang masa lalu yang hilang? Ia duduk melamun dan mencoba untuk mengerahkan ingatannya. Namun selalu terbentur dan berhenti. Yang diingatnya hanyalah saat ia bertemu dengan Jatmika, dari saat itu sampai sekarang. Bahkan ia tidak ingat akan masa lalunya bersama ibunya yang dianggap orang-orang yang baru dijumpainya dan dikenalnya sekarang. Ia termangu-mangu dan jantungnya berdebar tegang. Apa saja yang akan dapat diingatnya kalau ia benar dapat disembuhkan?

********************

Ki Subali dan isterinya merasa heran melihat Neneng Salmah pulang bersama seorang pria dan seorang wanita yang tidak mereka kenal. Ki Salmun yang baru muncul dari samping rumah sambil memanggul pacul juga merasa heran dan dia menegur anaknya.

"Neneng, kenapa engkau pulang sendiri? Di mana Eulis?"

"Ia masih berada di sungai. Saya pulang mengantarkan dua orang tamu ini. Paman Subali dan Bibi, ini adalah Kakangmas Parmadi dan Mbakyu Muryani. Kakangmas Parmadi adalah saudara seperguruan Eulis dan dia bersama isterinya ingin bicara dengan paman tentang Eulis, bahkan dia akan berusaha mengobati Eulis agar pulih kembali ingatannya."

Mendengar ini, Ki Subali dan isterinya menjadi girang sekali. "Ah, marilah anakmas berdua, silakan duduk!" Ki Subali memersilakan kedua orang tamunya duduk di serambi.

Parmadi duduk dihadapi Ki Subali dan isterinya. Ki Salmun yang mendengar bahwa kedua orang itu adalah tamu Ki Subali, dengan sikap sopan mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya ke ladang untuk bekerja seperti biasa. Di sana, Ki Subali memiliki sebidang tanah ladang di mana dipekerjakan beberapa orang buruh tani. Biasanya Ki Subali dan Ki Salmun juga membantu setiap kali mereka tidak mempunyai kesibukan lain. Neneng Salmah duduk di atas bangku di sudut serambi, ingin mendengarkan apa yang dibicarakan para tamu itu. Ia ingin sekali melihat Eulis disembuhkan dari penyakit "lupa" itu.

"Benarkah Anakmas Parmadi masih sudara seperguruan anak kami Eulis?" Tanya Ki Subali sambil memandang wajah Parmadi dengan kagum. Sekali pandang saja Ki Subali dapat menilai bahwa pria di depannya ini adalah seorang yang "berisi" dan berwatak baik.

"Saya menilai demikian karena aji kesaktiannya sama benar dengan yang pernah saya pelajari, paman. Saya ingin mengetahui, siapakah sebenarnya guru dari puteri paman itu?"

Ki Subali menghela napas panjang. "Anak kami itu sebetulnya bernama Sulastri. Di waktu remaja ia berguru kepada seorang pertapa yang bernama Ki Ageng Pasisiran yang tinggal dalam sebuah pondok di pantai laut utara daerah Dermayu ini."

"Ki Ageng Pasisiran...?" Parmadi dan Muryani mengulang nama itu sambil mengerutkan alis karena mereka tidak mengenal nama ini. "Tadinya saya mengira ia murid Ki Tejo Budi, atau Ki Tejo Langit, atau bahkan Eyang Ki Tejo Wening!" kata Parmadi heran.

"Sesungguhnyalah! akhirnya kami mendengar bahwa Ki Ageng Pasisiran itu datang dari Banten dan dahulu bernama Ki Tejo Langit, anakmas."

"Nah, benar, dan tepat dugaanku! Kiranya ia murid Paman Guru Ki Tejo Langit! Ketahuilah, paman, saya adalah murid Eyang Resi Tejo Wening yaitu kakak seperguruan Paman guru Tejo Langit. Jadi, puteri paman itu adalah adik seperguruan saya sendiri seperti yang kuduga! Akan tetapi, bagaimana ceritanya sampai Nimas Eulis kehilangan ingatannya tentang masa lalunya? Dan mengapa pula namanya dari Sulastri berganti menjadi Eulis?"

Ki Subali menghela napas panjang. "Kami juga belum lama mendengar tentang anak kami itu. mula-mula datang Anakmas Lindu Aji yang menceritakan bahwa ketika dia dan Sulastri menghadapi gerombolan penjahat, Sulastri terguling jatuh ke dalam tebing yang curam. Akan tetapi Anakmas Lindu Aji tidak menemukan jenazahnya maka menduga bahwa ia masih hidup. Lama kami menunggu Anakmas Aji yang katanya hendak mencari Sulastri. Tiba-tiba pada suatu hari, Sulastri muncul bersama Anakmas jatmika dalam keadaan sehat dan selamat, hanya... ia lupa segalanya di masa lalu, bahkan tidak mengenal kami ayah ibunya sendiri."

"Nanti dulu, paman. Siapakah itu Lindu Aji, dan siapa pula itu Jatmika?"

"Menurut keterangan mereka, anakmas lindu Aji adalah murid Ki Tejo Budi, sedangkan Anakmas Jatmika adalah cucu Ki Tejo Langit karena dia adalah putera Ki Sudrajat. Jadi mereka semua masih saudara seperguruan dari anak kami Sulastri. Parmadi mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya aku bertemu dengan para murid keturunan Paman Tejo Budi dan Paman Tejo Langit. Tahukah paman, di mana Paman Tejo Budi dan Paman Tejo Langit itu?"

Ki Subali menghela napas panjang, "Menurut keterangan Anakmas Lindu Aji, Ki Tejo Budi sudah meninggal dunia. Adapun menurut keterangan Anakmas Jatmika, Ki Tejo Langit atau Ki Ageng Pasisiran, juga Ki Sudrajat, tewas ditembak telik sandi Kumpeni Belanda"

"Duh Gusti... kumpeni keparat!" kata Muryani penasaran.

Parmadi menghela napas panjang. "Semoga mereka mendapatkan tempat yang bahagia di alam baka. Lalu bagaimana ceritanya tentang Nimas Eulis... eh, Sulastri, paman?"

Pada saat itu Neneng Salmah bangkit berdiri, wajahnya berseri-seri dan ia berkata. "Harap maafkan saya, saya harus pergi menemui Eulis dan mengajaknya pulang!" Tanpa menanti jawaban, Neneng Salmah sudah berlari keluar. Ia begitu gembira mendengar keterangan Parmadi tadi. Jelas sekarang bahwa Parmadi adalah kakak seperguruan Eulis sendiri, Kalau saja orang yang sakti mandraguna itu benar-benar dapat menyembuhkan Eulis, betapa akan bahagianya mereka semua!


Alap Alap Laut Kidul Jilid 25

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 25

BAGAIMANA AJI? Jawablah terus terang saja, aku tidak akan marah kalau engkau menjawab sejujurnya. Aku malah tidak suka kalau jawabanmu itu hanya untuk menyenangkan hatiku."

"Karen, engkau adalah seorang gadis yang menarik sekali, engkau cantik dan manis, walaupun kecantikanmu itu agak asing bagiku. Kecantikanmu berbeda dengan kecantikan Sulastri, akan tetapi engkau juga cantik sekali hingga sukar bagiku untuk membandingkan antara engkau dan Sulastri."

Karen mengangguk-angguk dan tersenyum manis. "Aji, engkau tentu amat mencinta Sulastri, bukan?" Mata kebiruan itu menatap wajah Aji penuh selidik.

Aji terkejut. teringatlah dia kepada Sulastri dan hatinya terasa tidak enak sekali. Dia teringat akan hubungan yang mesra antara Sulastri yang kehilanan ingatan dan merasa dirinya sebagai Eulis itu dengan Jatmika. "Karen, bagaimana engkau dapat menduga begitu?"

"Mudah saja, Aji. Engkau membelanya mati-matian. Ketika ia ditawan, engkau lalu menyerahkan diri kepada musuh hanya untuk mencegah Sulastri dibunuh. Itu berarti engkau amat mencintainya dan siap membelanya dengan taruhan nyawa!"

Aji menghela napas panjang. "Sudah menjadi kewajiban seorang untuk membela dan menolong siapa saja, Karen. Bukankah tadi aku juga membelamu?"

"Kalau begitu, engkau... engkau tidak cinta padanya?" Gadis itu mendesak, matanya berbinar-binar.

"Sulastri adalah sahabat baikku, Karen, bahkan ia masih terhitung saudara seperguruanku. Aku tentu saja amat suka kepadanya, akan tetapi tentang cinta... aku tidak tahu."

Karen tersenyum, tampaknya girang sekali. "Sudahlah, sekarang lanjutkan ceritamu, bagaimana engkau dapat bertemu dengan Kapten De Vos, ayahku."

"Setelah aku dan Sulastri tertawan oleh gerombolan mata-mata Kumpeni itu, kami dibawa ke rumah Ki Warga yang agaknya menjadi seorang pemimpin mata-mata Kumpeni"

"Warga? Si keparat itu! Ibu dan aku benci sekali kepada pengkhianat bangsanya itu! Dia memang membantu ayahku. lalu bagaimana?"

"Kami lalu dibawa ke sebuah kapal yang berlabuh di pantai tegal dan di sana kami bertemu dengan Kapten De Vos."

"Ah, aku benci melihat pekerjaan ayahku! Kalau dia menjadi soldat (serdadu) di Belanda dan membela Negeri Belanda dari ancaman musuh, aku bangga. Akan tetapi di sini dia membantu Kumpeni yang hendak menguasai tanah air bangsa lain! Bangsa ibuku. Bangsaku juga! Aku benci!"

"Hemm, yang bersalah adalah pemerintahnya, Karen. Ayahmu hanya melaksanakan tugas sebagai seorang perajurit yang harus tunduk kepada perintah atasannya."

"Ya, ya! akan tetapi aku tetap benci. lalu bagaimana engkau yang sudah menjadi tawanan dapat lolos dengan selamat?"

"Karena kami terancam maut, maka terpaksa kami menggunakan akal. Dalam suatu kesempatan, aku berhasil menawan Kapten De Vos dan setelah menyandera dia, maka kami berdua dapat memaksa dia untuk melarang anak buahnya bergerak. Kami membawanya dengan perahu dan melarikan diri ke pantai. Kami paksa Kapten De Vos untuk ikut dengan kami sebagai sandera. Setelah jauh, aku lalu membebaskan Kapten De Vos dan kami berdua melarikan diri."

"Oh, Aji. Demikian luhur budimu. Demikian bijaksana. Engkau telah ditangkap oleh ayah, sebaliknya engkau membebaskannya dan kini engkau malah menyelamatkan aku dari bencana yang mengerikan! Ah, Aji, biar aku menyatakan terima kasihku yng tak terhingga kepadamu!"

Setelah berkata demikian, saking haru dan gembiranya, Karen menghampiri dan merangkul leher Aji, kemudian ia mencium pemuda itu, Dua kali di pipi kanan kiri dan sekali dikecupnya bibir pemuda yang saking kagetnya tak mampu berbuat apa-apa itu. Setelah bibir yang basah dan panas itu mencium bibirnya, baru Aji terkejut dan dengan lembut dia bangkit berdiri dan melepaskan rangkulan Karen.

"Jangan begini, Karen." katanya, wajahnya berubah merah sekali karena selama hidupnya belum pernah dia mengalami hal seperti yang dirasakannya tadi.

"Kenapa, Aji?"

"Ini... ini tidak baik dan tidak wajar"

"Kenapa tidak baik? Aku berterima kasih kepadamu, Aji dan aku... aku suka sekali kepadamu, kagum padamu, bahkan sekiranya aku diberi kesempatan, aku akan mudah jatuh cinta kepadamu."

"Sudahlah, Karen, engkau membikin aku bingung. Mari kuantar engkau pulang."

Karen memegang tangan Aji dan dengan bergandeng tangan mereka lalu berjalan menuju Batavia. Aji membiarkan saja tangan kirinya digandeng. Dia maklum bahwa gadis ini bermaksud baik, walaupun kebaikan itu diujudkan dengan cara yang terlalu mesra dan terlalu janggal baginya. Tangan gadis itu begitu lembut, begitu hangat dan disepanjang perjalanan, Aji merasa jantungnya berdebar. Dia membayangkan betapa akan bahagia rasa hatinya kalau yang menggandengnya itu Sulastri!

Dan tiba-tiba saja sadarlah dia sekarang bahwa sesungguhnya dia memang mencinta Sulastri, seperti yang dikatakan Karen tadi. Mereka berjalan tanpa berkata-kata, akan tetapi Aji merasa betapa telapak tangan Karen kadang-kadang memegang tangannya dengan erat dan terasa getaran keluar dari telapak tangan itu. Tanpa kata, namun semua itu, tekanan tangan, getaran telapak tangan, lalu pandang mata yang mengerling tajam kepadanya, senyum itu, semua itu menjadi isyarat yang jelas sekali bagi Aji. Gadis Belanda ini tidak berpura-pura ketika mengatakan bahwa ia amat suka, kagum dan mungkin mencinta kepadanya. Dan agaknya Karen juga berjalan lambat, enggan bercepat-cepat seolah hendak memperpanjang waktu berdua bersama Aji.

"Karen, dapatkah engkau menceritakan kepadaku tentang keadaan di benteng Kumpeni itu? Bagaimana kekuatan Kumpeni dan bagaimana pula persenjataan mereka?"

"Ohh, Aji. Ngeri aku membayangkan engkau akan ikut pula dengan pasukan Mataram menyerbu dan berperang melawan pasukan Kumpeni Belanda. Tentu saja aku tidak ingin menjadi pengkhianat bangsa ayahku sendiri..."

Aji menghela napas panjang. Ucapan ini bahkan menambah kekagumannya terhadap Karen. "Kalau engkau tidak ingin menceritakan, akupun tidak memaksamu untuk berkhianat kepada bangsamu, Karen."

"Akan tetapi, dalam hati kecilku aku berpihak kepada bangsa ibuku. Baiklah, akan kuceritakan karena ceritaku ini juga tidak akan mempengaruhi keadaan dan apa yang kuketahui sedikit sekali, Aji. Dari ayahku aku mendapat tahu bahwa pihak kumpeni telah mengetahui rencana Mataram untuk melakukan penyerbuan yang kedua kalinya terhadap benteng Belanda di Batavia. Karena itu, pasukan Kumpeni sudah membuat persiapan yang amat kuat. Meriam-meriam baru sudah didatangkan dan dibariskan di atas benteng, menghadap ke empat penjuru. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sendiri yang mengatur sendiri barisan. Aku melihat pasukan-pasukan tambahan berdatangan. belum lagi kapal-kapal besar dengan pasukan dan meriam-meriamnya. Aku mendengar belum lama ini ada lima buah kapal besar lagi datang memperkuat dan sekarang sudah berjaga di lautan dekat pantai. Ah, keadaan mereka kuat sekali, Aji. Laporkanlah kepada Sultan Agung agar berhati-hati, jangan sampai mengalami kehancuran yang kedua kalinya."

"Terima kasih atas keteranganmu, Karen. Akan tetapi, beritahukanlah kepadaku di mana adanya gudang ransum Kumpeni. Kalau kami dapat menguasai gudang ransum itu, tentu keadaan mereka menjadi lemah kehabisan ransum."

"Setahuku, ransum untuk pasukan berada dalam tiga buah gudang ransum yang berada di benteng. Akan tetapi, aku mendengar bahwa mereka juga mempunyai persediaan ransum yang mereka simpan di dalam kapal-kapal perang."

Aji mendapatkan sebuah pikiran yang dianggapnya baik sekali. Kalau saja dia dapat membakar gudang-gudang ransum itu! Setidaknya tentu akan mengacaukan dan melemahkan pertahanan mereka, pikirnya. "Karen, engkau sudah tahu siapa aku. Aku adalah seorang telik sandi Mataram dan aku adalah utusan Sultan Agung untuk menentang Kumpeni. Maukah engkau menunjukkan kepadaku di mana adanya tiga buah gudang ransum itu berada?"

"Aji! Mau apa engkau menanyakan gudang-gudang itu?"

"aku ingin membakarnya, untuk melemahkan pertahanan Kumpeni." kata Aji terus terang.

"Ohhh...!" "engkau tidak mau, Karen?"

"Bukan, bukan tidak mau. Akan tetapi hal itu berbahaya sekali, Aji. Kalau engkau ketahuan, biar aku sendiripun kiranya tidak akan mampu membela dan melindungimu dari hukuman mati!"

"Aku akan hati-hati dan berusaha agar jangan sampai ketahuan atau tertangkap. Asal engkau dapat membawaku masuk ke dalam benteng."

"Hemm, hal itu mudah, akan tetapi berbahaya sekali. Aku harus menjaga agar engkau tidak dapat terlihat ayah dan para penbantunya yang pernah melihatmu. Kalau mereka melihat dan mengenalmu, tentu engkau akan ditangkap."

"Kukira mereka tidak akan berada di pintu gerbang, Karen. Para serdadu yang berjaga di pintu gerbang tidak akan mengenalku. Kita tunggu sampai lewat senja, baru memasuki benteng agar dalam kegelapan tidak mudah mengenal mukaku."

"Baiklah, Aji, aku akan berdoa untuk keselamatanmu. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, kalau sampai engkau tertimpa bencana, aku akan merasa sedih sekali."

Mereka berjalan lagi dan tiba di kota setelah menjelang senja. sengaja mereka menanti sampai lewat senja dan cuaca menjadi remang-remang. Mereka berdiri di luar benteng, di tempat yang gelap.

"Bawa aku masuk ke benteng dan kita nanti berpisah setelah dapat memasuki benteng dengan selamat." bisik Aji.

"Hal itu mudah, jangan khawatir. Akan tetapi, setelah kita saling berpisah, aku... aku akan selalu gelisah sekali memikirkanmu."

"Aku akan berhati-hati." Mereka lalu menuju ke pintu gerbang.

Aji sudah menggunakan tanah untuk membedaki dahi, pipi, dan dagu sampai leher. Dua orang serdadu menyambut mereka dengan bedil ditodongkan. Akan tetapi begitu melihat Karen, mereka cepat berdiri tegak. "Selamat malam. nona!" kata seorang dari mereka dalam bahasa Belanda.

"Selamat malam. Biarkan kami masuk."

"Tetapi, orang ini...?"

"Jangan khawatir. Dia ini yang menolong aku ketika keretaku dirampok. Aku akan membawa dia menghadap ayah. Minggir dan jangan ganggu dia!"

"Siap, nona!" Dua orang serdadu itu memberi jalan dan berdiri tegak, memberi hormat kepada puteri kapten itu. Karen lalu mengajak Aji memasuki pintu gerbang dan Aji melihat betapa benteng itu luas sekali. Banyak bangunan terdapat dalam benteng yang dikelilingi tembok tinggi. Di atas tembok yang tinggi dan lebar itu terdapat serdadu-serdadu yang berjaga dan tampak berjajar-jajar. Dia sudah diberitahu oleh Karen bahwa tiga buah gudang ransum itu berada di ujung barat benteng. Mereka lalu berjalan dan Karen mengajak Aji ke bawah sebuah pohon rindang sehingga mereka tertelan kegelapan bayangan pohon.

"Di sana kita berpisah. Gudang itu berada di sana. Engkau dapat mencapainya dengan jalan menyusup antara pohon-pohon itu." Karen menunjuk.

"Baik, aku dapat mencarinya. Kita berpisah di sini, Karen dan sekali lagi terima kasih."

Aji hendak melangkah, akan tetapi Karen memegang tangannya. "Aji...!"

"Ya...!"

"Hati-hatilah, Aji. Aku tidak ingin kehilangan engkau..."

"Aku akan berhati-hati..."

"Aji..." Karen merangkul leher Aji, menariknya dan ia mencium dengan mesra, tidak perduli akan muka pemuda itu yang kotor karena dilumuri tanah.

Terpengaruh keharuan dan kemesraan dalam ciuman itu, Aji membalas. "selamat tinggal, Karen."

"Jangan selamat tinggal, selamat berpisah untuk sementara, Aji."

Aji melepaskan rangkulan mereka dan tubuhnya berkelebat cepat, menghilang dalam kegelapan malam. Karen bergegas menuju ke bangunan besar di mana orang tuanya tinggal dan ketika Karen muncul di ruangan depan, Kapten Van De Vos yang sedang bercakap-cakap dengan Banuseta dan Hasanudin, bangkit dan mengerutkan alisnya.

"Karen! Ke mana saja engkau pergi? Dari tadi kami mencarimu dan engkau tidak berada dalam kota!" Kapten De Vos yang bertubuh tinggi kurus itu memandang puterinya dan melihat pakaian Karen yang kusut dan agak kotor. "Apa yang terjadi denganmu?"

Agar tidak menimbulkan curiga dalam hati ayahnya, Karen lalu menghampiri ayahnya dan dengan manja merangkul pinggang ayahnya. "Ohh, ayah. Banyak yang terjadi denganku. Aku bahkan hampir mati. Ohh, mengerikan sekali."

Mendengar ini sang kapten terkejut, demikian pula Banuseta dan Hasanudin. Raden Banuseta memang sudah lama menjadi telik sandi Kumpeni, dan dia berhasil membujuk Hasanudin untuk membantu pula. Bagaimana mungkin Hasanudin yang sejak beberapa tahun yang lalu telah menjadi murid seorang sakti seperti mendiang Ki Tejo Langit kini dapat menjadi seorang yang dapat terbujuk menjadi antek Belanda? Hal ini sebenarnya tidak aneh.

Sejak kecil, Hasanudin adalah seorang yatim piatu yang kurang pendidikan orang tua dan terjerumus dalam pergaulan sesat. Dia bahkan kemudian menjadi murid Ki Somad, datuk yang condong memusuhi Mataram itu. Memang akhirnya, empat tahun yang lalu, dia betemu Ki Tejo Langit dan menjadi muridnya sehingga selain ilmu kanuragan, diapun menerima penggemblengan batin yang membuat dia kembali ke jalan benar, meninggalkan kejahatan. Namun pertahanan hati nuraninya masih lemah. Banuseta mengambil cara yang cerdik. Maklum akan kelemahan Hasanudin, dia sengaja memperkenalkan Hasanudin kepada Karen, gadis jelita puteri Kapten Van De Vos.

Begitu diperkenalkan Hasanudin tergila-gila kepada dara itu dan tanpa banyak pikir lagi dia menerima ajakan Banuseta untuk membantu Kumpeni dan mendapat upah besar. Demikianlah, dia membantu Banuseta, bahkan dia menyaksikan betapa Banuseta dan pasukan Kumpeni membunuh Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit. Biarpun dalam hatinya dia tidak setuju menyaksikan pembunuhan atas diri dua orang itu, namun hal itu tidak membuat dia mundur dari pengabdiannya terhadap kumpeni. Semua ini karena dia sudah tergila-gila kepada Karen dan juga karena dia menerima upah besar dan janji-janji muluk dari Banuseta yang dianggapnya sebagai seorang sahabat baik sejak dia masih tinggal di Dermayu.

Ketika Kapten Van De Vos mendengar ucapan Karen yang manja, dia terkejut dan cepat bertanya. "Apa yang telah terjadi?"

"Ayah, ketika keretaku tiba di tepi kota yang sunyi, tiba-tiba kusir kereta terjungkal keluar kereta dan keretaku sudah dikuasai dua orang, lalu dilarikan keluar kota. Aku tidak mampu berteriak karena mulutku ditutup kain."

"God verdoome! Siapa mereka itu?" bentak kapten Van De Vos marah sekali.

Aku tidak tahu, ayah. Mereka orang-orang kasar yang berusia sekitar empat puluh tahun. ketika mereka saling bicara, yang seorang disebut Mang Kosim dan yang lain disebut Bang Sikun. Mang Kosim bertubuh gendut pendek, dan Bang Sikun sedang, kumisnya panjang. Mereka agaknya hendak membunuhku, akan tetapi untung aku ditolong oleh seorang petani dan dia yang mengantar aku pulang, sedangkan keretanya dilarikan oleh dua orang perampok itu."

"Ah, begitukah? Siapa penolongmu itu dan di mana dia sekarang?" tanya Kapten Van de Vos.

"Dia mengantar aku sampai di luar pintu gerbang benteng, lalu pergi lagi, ayah."

"Siapa namanya?"

"Aku tidak tahu, dia tidak mengaku, ayah. Ahh, aku lelah sekali karena ketika pulang aku harus berjalan kaki cukup jauh." Gadis itu mengeluh.

"Kalau begitu, pergilah menemui ibumu yang sejak tadi menangis saja memikirkanmu, dan istirahatlah."

Setelah Karen pergi, kapten Van De Vos lalu berkata kepada dua orang pembantunya itu, terutama kepada Raden Banuseta. "Kalian sudah mendengar sendiri cerita Karen tadi. Karena Maya Dewi dan para pembantu lain sedang pergi melaksanakan tugas lain, maka kalian berdua harus menyelidiki hal ini. Aku merasa curiga bahwa dua orang perampok yang menculik Noni Karen itu ada hubungannya dengan para mata-mata Mataram. Selidiki mereka dan tangkap atau bunuh saja mereka. Juga penolong itu harus kalian selidiki. Kalau dia bukan orang Mataram, patut diberi hadiah yang cukup."

Baik, tuan." kata Raden Banuseta dan bersama Hasanudin dia lalu keluar dari gedung itu. "Kita berpencar."kata Banuseta setelah mereka keluar dari gedung tempat tinggal Kapten Van De Vos.

"Aku akan mengunjungi para anak buah penyelidik dan menyebarluaskan keterangan tentang Kosim dan Sikun itu, dan engkau coba selidiki penolong yang mengantar Nona Karen pulang. Mungkin ada yang melihat mereka memasuki kota tadi."

Hasanudin mengangguk dan mereka berpencar. Kalau Raden Banuseta pergi mencari para penyelidik yang disebar Kumpeni di kota Batavia untuk menjaga keamanan kota dari para telik sandi Mataram, Hasanudin langsung pergi ke pintu gerbang benteng. Dua orang serdadu yang berjaga di situ mengenalnya sebagai pembantu Kapten Van De Vos. Dengan Bahasa Belanda sepatah-sepatah bercampur bahasa daerah, Hasanudin bertanya kepada mereka. Dua orang serdadu itu mengangkat pundak lalu menggeleng kepala. dengan bahasa campuran pula seorang di antara mereka menjawab.

"Kami tidak melihatnya. Kami baru saja menggantikan tugas jaga di sini, baru beberapa menit."

"Siapakah yang bertugas jaga, sebelum kalian?" tanya Hasanudin.

"Karel dan Jansen." jawab dua orang serdadu itu. Setelah mendapatkan jawaban ini, Udin atau Hasanudin segera pergi ke tempat penampungan para serdadu. Setelah bertemu dengan Karel, karena Jansen masih tidur, dia segera bertanya apakah Karel melihat Karen memasuki pintu gerbang benteng.

"Ya, aku melihat ia pulang."

"Seorang diri?"

"Tidak, dia diantar seorang laki-laki petani yang kotor."

"Dan kemana perginya petani itu?" tanya Hasanudin.

"Dia ikut memasuki benteng bersama Nona Karen dan menurut Nona Karen, orang itu yang menolongnya ketika ia dirampok dan ia hendak menghadapkan orang itu kepada Kapten Van De Vos. Apakah yang terjadi?" tanya Karel.

"Tidak apa-apa, aku hanya mengecek saja atas perintah Tuan Kapten." Hasanudin lalu pergi dari situ. Jantungnya berdebar tegang. Karen telah berbohong! Orang yang dikatakan penolongnya itu telah menyelundup memasuki benteng dengan bantuan Karen. Dia harus menyelidiki! Bukan mustahil bahwa orang itu adalah telik sandi Mataram yang menyusup masuk ke dalam benteng! Akan tetapi mau apa dia? Apa yang dapat dilakukan seorang saja dalam benteng yang dihuni ribuan serdadu itu? Tiba-tiba dia teringat. Gudang mesiu atau gudang ransum! Agaknya ke sanalah orang itu pergi.

Setelah berpikir demikian Hasanudin lalu menyelinap di antara pohon-pohon menuju ke bangunan gudang mesiu yang berada di belakang, sebelah barat dalam benteng. Dia menghampiri gedung mesiu. Dua orang serdadu yang berjaga di depan gedung itu masih duduk berjaga di situ. Berarti keadaan aman di situ. Dia lalu pergi ke bagian belakang gedung itu di mana berdiri tiga buah gudang ransum yang besar, berjajar dan sambung menyambung. Di depan pintu besar tiga buah gudang yang menjadi satu itu biasanya terdapat dua orang serdadu penjaga. Akan tetapi, di bawah sinar lampu yang tergantung di atas pintu besar itu, kini tidak tampak adanya penjaga seorangpun.

Hasanudin menjadi curiga karena hal ini aneh sekali. Dia melompat ke depan pintu dan melihat dua batang senapan menggeletak di situ, akan tetapi dua orang serdadunya tidak ada. Dia lalu mencari ke belakang dan setelah tiba di pinggir gudang, dia melihat dua orang serdadu itu telah menggeletak di bawah pohon yang gelap. Dia terkejut sekali dan pada saat itu ada angin menyambar dari samping. Aji telah berhasil merobohkan dua orang penjaga gudang dan menyeret tubuh mereka ke samping gudang. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat bayangan seorang laki-laki di depan gudang, bahkan laki-laki itu mencari ke samping gudang dan menemukan tubuh dua orang penjaga.

Melihat ini, Aji terkejut dan kebetulan sekali laki-laki itu berdiri di bawah lampu yang tergantung di samping gedung. Dia makin kaget mengenal wajah laki-laki itu, Hasanudin! Udin kakak tirinya, orang yang dicari-carinya, yang telah membantu Banuseta ketika jahanam itu menyerbu tempat tinggal Ki Tejo Langit di pantai Dermayu! Dia tahu bahwa Hasanudin ini membenci ayah kandungnya, ayah kandung mereka dan kalau dia hanya membujuk dan mengingatkannya begitu saja, tidak mungkin kakak tirinya itu mau mendengarnya. Bahkan kalau Hasanudin tahu bahwa dia putera Harun Hambali, mungkin dia akan dimusuhinya pula. Karena itu, jalan satu-satunya hanyalah merobohkannya lebih dulu, baru membujuknya.

Setelah berpikir demikian, Aji lalu menyerang dengan cepat. Akan tetapi, Hasanudin bukan seorang yang lemah. Dia adalah murid Aki Somad yang kemudian memperdalam ilmunya kepada Ki Tejo Langit. Begitu ada angin pukulan dahsyat menyambar dari samping, Udin atau Hasanudin melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan tamparan Aji itupun luput. Udin cepat melompat berdiri dan begitu melihat Aji, walaupun muka pemuda itu berlumpur, dia masih ingat bahwa pemuda itu adalah orang yang dulu pernah bertempur dengannya di tempat tinggal Ki Tejo Langit, seorang yang amat tangguh.

"Hemm, kiranya engkau, telik sandi Mataram!" bentaknya dan diapun balas menyerang dengan hebat karena dia sudah menggunakan Aji Margopati, pukulan yang mematikan.

Aji tidak mau membuang waktu lagi, maklum bahwa kakak tirinya ini juga bekas murid Ki Tejo Langit, segera memainkan ilmu silat Wabara Sakti untuk mengelak dan secepat kilat dia sudah menggunakan jari-jari tangan yang dipenuhi tenaga Surya Candra, menotok ke arah iga kanan lawannya. "Tukk!" Iga kanan itu terkena totokan dan seketika tubuh Udin menjadi lemas.

Aji cepat menubruk dan menelikung kedua tangan kakak tirinya ke belakang sehingga Udin tidak mampu bergerak lagi! "Hemm, aku sudah kalah, kalau hendak bunuh, lakukanlah. Aku tidak takut mati!" bentaknya, diam-diam merasa penasaran dan malu sekali bahwa dalam segebrakan saja dia telah dibuat tak berdaya oleh lawannya.

"Aku tidak akan membunuhmu, Kakang Hasanudin karena engkau adalah kakakku. ketahuilah bahwa aku adalah putera kandung ayah kita, Harun Hambali!"

"Bohong! Harun Hambali hanya mempunyai anak seorang saja, yaitu aku! Dan dia seorang pengecut jahat, aku akan membunuhnya!"

"Sabar dan tenanglah, Kakang Udin. Dan dengarkan ceritaku baik-baik. Bapa Harun telah melarikan diri ke Mataram dan di sana dia menikah lagi dengan ibuku, dan lahirlah aku. Namaku Lindu Aji dan ayah kita telah tewas terbunuh oleh orang jahat."

"Hemm, dia sendiri juga jahat, tidak bertanggung jawab, meninggalkan aku begitu saja. Pantas kalau dia terbunuh orang pula!"

"Nanti dulu, kakang. Tahukah engkau mengapa ayah kita meninggalkanmu ketika engkau masih kecil dan menitipkanmu kepada Paman Ujang Karim?"

"Karena dia membunuh seorang menak dan pengecut itu melarikan diri ketakutan, tidak memperdulikan lagi padaku."

"Dan tahukah engkau mengapa ayah kita itu membunuh menak yang bernama Anom Bahrudin itu?"

"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu!"

"Kakang Udin, engkau pasti tidak tahu mengapa ibu kandungmu meninggal dunia?" "Apa...?" Udin menengok untuk memandang wajah Aji, matanya terbelalak. "Aku... aku tidak tahu. Kata paman Ujang, ibu meninggal karena sakit"

"Paman Ujang Karim bohong karena dia ketakutan. Ibumu meninggal dunia karena gantung diri setelah ia diculik dan diperkosa oleh seorang menak, Yaitu Aom Bahrudin! Karena itulah, Bapa harun hambali membunuh Aom Bahrudin itu. Karena dia khawatir akan keselamatanmu maka dia menitipkan engkau kepada Paman Ujang Karim dan dia sendiri lalu melarikan diri ke daerah Mataram."

Mata itu terbelalak dan muka itu menjadi merah, 鈥淏e... benarkah itu...?" Aji melepaskan ringkusannya dan memulihkan kembali tenaga Hasanudin sehingga orang itu mampu bangkit berdiri. Mereka berdiri berhadapan. "Lindu Aji, benarkah apa yang kau ceritakan itu?"

"Mengapa aku harus berbohong? Mendiang bapa sendiri yang menceritakannya."

"Mendiang...? Kau... kau maksudkan... ayah kita telah meninggal?"

"Telah dibunuh orang. Bapa Harun Hambali dan juga Paman Ujang Karim telah dibunuh orang dan tahukah engkau siapa yang membunuh meraka? Bukan lain adalah Raden Banuseta itu. Dia adalah putera Aom Bahrudin yang membalas kematian ayahnya dan mencari ayah kita sampai ke Mataram kemudian membunuh ayah, juga membunuh Paman Ujang Karim yang kebetulan berada di sana."

"Jahanam busuk!" Hasanudin mengepal tinjunya dan memaki.

"Dan engkau telah dapat dibujuknya untuk membantu kumpeni Belanda, kakang. Ah, kakang, tidak dapatkah engkau melihat betapa jahat dan hinanya orang yang mengabdi kepada bangsa Belanda untuk memusuhi bangsa sendiri? Dan Banuseta itu telah pula membunuh Paman Sudrajat, juga membunuh Eyang Tejo Langit gurumu sendiri! Dan engkau telah dipergunakannya untuk membantu dia mengabdi kepada Belanda. Sadarlah, kakang. Mendiang bapa kita adalah seorang ksatria, sedangkan Banuseta itu adalah seorang pengkhianat bangsa, seorang putera bangsawan jahat yang memperkosa ibu kandungmu sendiri!"

"Keparat busuk banuseta, mati engkau ditanganku!" Hasanudin membentak dan sekali melompat diapun lenyap dalam kegelapan malam.

Setelah mendengar cerita Aji bahwa ibu kandungnya mati membunuh diri setelah diculik dan diperkosa Aom Bhrudin dan ayah kandungnya dibunuh Banuseta putera Aom Bahrudin, Hasanudin marah bukan main. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa Banuseta yang disangkanya seorang sahabat baik itu ternyata musuh besarnya. Apa lagi kalau dia ingat betapa Banuseta juga sudah membunuh Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, kemarahannya memuncak. Bagaikan seorang yang telah dimasuki iblis, dia lari, tidak memperdulikan apa saja untuk mencari Banuseta. Kebetulan sekali Banuseta juga sudah kembali dan sedang menghadap Kapten Van De Vos di ruangan tamu. Banuseta mendapat kabar bahwa Karen terlihat muncul di kota bersama seorang laki-laki, maka dia segera kembali untuk melapor atasannya.

"Betulkah laporanmu ini, Banuseta?" tanya Kapten van De Vos marah.

"Benar, tuan. Sudah beberapa orang mengatakan bahwa mereka melihat Nona Karen memasuki kota bersama seorang laki-laki pribumi dan mereka berdua memasuki benteng melalui pintu gerbang"

Pada saat itu Hasanudin melompat masuk ke dalam ruangan tamu itu dan segera menghampiri Banuseta. Sikapnya menyeramkan, wajahnya beringas dan tidak memperdulikan sopan santun sehingga mengejutkan dan mengherankan hati sang kapten dan Banuseta.

"Banuseta, benarkah engkau telah membunuh seorang bernama Harun Hambali?" Hasanudin bertanya dan berdiri di depan Banuseta. bangsawan muda itu merasa heran, akan tetapi dia bangkit berdiri juga dan menjawab.

"Memang benar, Udin karena jahanam itu telah membunuh ayahku. Aku hanya membalas dendam kematian ayahku."

"Hemm, apakah ayahmu bernama Aom bahrudin?"

"Benar."

"Engkau tahu mengapa Harun Hambali membunuh Aom Bahrudin?"

"Aku tidak tahu, mungkin Harun itu orang jahat."

"ketahuilah, Aom Bahrudin itu telah menculik dan memperkosa isteri Harun Hambali sehingga wanita itu membunuh diri!"

"Ah, aku tidak tahu dan aku tidak percaya."

"Dan tahukah engkau siapa aku? Wanita yang diperkosa ayahmu dan mati membunuh diri itu adalah ibu kandungku dan Harun Hambali adalah ayah kandungku! karena itu, engkau harus mati di tanganku, Banuseta!" Hasanudin menampar dengan keras sekali. Banuseta yang terkejut cepat menggerakkan tangan menangkis.

"Wuuuttt... dukkk !!" Dua lengan bertemu dan akbatnya, tubuh Banuseta terdorong ke belakang, menabrak kursi sehingga dia roboh. Akan tetapi, sebagai ketua cabang perguruan silat Dadali Sakti, dia sudah melompat lagi dan mencabut goloknya yang bergagang emas. Ketika Hasanudin menyerang lagi, dia menyambut dengan babatan goloknya. Hasanudin mengelak dan keduanya lalu berkelahi dengan seru dalam ruangan tamu itu.

Kapten Van De Vos mencabut pistolnya dan berseru nyaring. "God verdomme! Hentikan perkelahian itu!" Dan menodongkan pistolnya. Akan tetapi Hasanudin tidak memperdulikan teriakan ini, bahkan memperhebat serangannya dan gerakan kedua orang yang berkelahi itu sedemikian cepatnya, berputar-putar sehingga sulitlah bagi Kapten Van De Vos untuk menentukan sasarannya. Tentu saja dalam hatinya dia membela Raden Banuseta yang telah lama menjadi kaki tangannya, sedangkan Hasanudin adalah orang baru. Akan tetapi sukarlah untuk membidikkan pistolnya ke arah tubuh Hasanudin yang bergerak cepat itu. Jangan-jangan malah salah sasaran!

Hasanudin bernafsu sekali untuk membunuh musuh besarnya itu. dia sadar betul bahwa dirinya telah terseret ke dalam tindakan yang sesat tanpa diketahui bahwa "sahabat baik" itu justeru musuh besarnya. Dan sesungguhnya Raden Banuseta juga sama sekali tidak tahu bahwa Udin adalah putera kandung Harun, musuh besarnya, Kalau dia mengetahui, tentu dia sudah turun tangan lebih dulu untuk membunuh putera musuhnya itu.

"Aji Tapak Geni! Aarrgghhh...!!" Hasanudin mengeluarkan aji yang dipelajarinya dari Aki Somad itu. Kedua tangannya yang digosok-gosokkan itu ditiup menyala dan ketika dipukulkan ke depan, ada api menyambar ke arah Banuseta. Orang ini terkejut sekali dan mencoba menghindar, namun terlambat. Pukulan berapi itu mengenai dadanya dan diapun terjengkang roboh. Hasanudin, bagaikan seekor harimau, menerkam dan mencengkeram dan mencekik lehernya. Banuseta mengeluarkan suara mengerikan dan matanya melotot, lidahnya keluar dan batang lehernya patah!

Pada saat itu terdengan teriakan-teriakan dari luar gedung. "Kebakaran! Kebakaran!" dan terdengar banyak orang berlari-larian. Kapten Van De Vos kini mendapat kesempatan. Pistol yang berisi peluru emas itu menyalak tiga kali. "Dar-dar-darrrr...!" Dan tubuh Hasanudin terpelanting. Akan tetapi dia sempat menyambar golok yang terlepas dari tangan Banuseta yang telah tewas dan dalam keadaan terluka parah oleh tiga peluru emas itu, Hasanudin masih mampu mengerahkan tenaga terakhir, melontarkan golok itu ke arah Kapten Van De Vos.

"Singggg... capppp...!" Van De Vos mengeluh ketika golok itu menancap diperut dan menembus di punggungnya. Dia masih dapat melepaskan dua kali tembakan yang ngawur sebelum jatuh terjerembab di atas lantai, tewas mandi darahnya sendiri.

Sementara itu, begitu terdengar teriakan kebakaran, Karen Van De Vos dapat menduga bahwa kebakaran itu tentu dilakukan oleh Aji. Maka iapun cepat berlari melalui pintu belakang sambil membawa segulung pakaian. Ia tidak tahu apa yang terjadi di ruangan tamu. Ia hanya ingat akan keselamatan Aji. Ia harus menolongnya karena kalau tidak, tidak mungkin Aji dapat menyelamatkan diri. Dugaan Karen memang tepat. Yang membuat kebakaran itu adalah Aji.

Setelah dia berhasil menyadarkan kakak tirinya, Aji yang sudah merobohkan dua orang penjaga gudang ransum, lalu dia menggunakan tenaga saktinya untuk mematahkan gembok yang berada di pintu gudang. Dia membuka pintu dorong gudang itu dan mengambil dua buah lampu minyak gantung. Dilemparkannya dua buah lampu gantung itu dan gudang ransum itupun terbakar. Akan tetapi dia mendengar suara tembakan beruntun tiga kali, lalu dua kali lagi. Tembakan itu membuat dia maklum bahwa sebentar lagi tentu banyak serdadu datang ke tempat itu, apalagi sudah terdengar teriakan ada kebakaran. Dia menjadi agak bingung juga, tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Dia menyelinap menjauhi gudang yang terbakar, bersembunyi di tempat gelap. "Sssttt... Aji...!" Tiba-tiba terdengar bisikan.

"Karen...!" Aji berbisik kembali, segera mengenal suara itu dengan gembira karena dia merasa yakin bahwa kemunculan gadis itu pasti membawa kebaikan bagi dirinya.

"Sttt... Aji kau dalam bahaya. cepat pakai ini, hayo cepat!" Karen muncul dan masuk ke dalam bayangan gelap di mana Aji bersembunyi. Gadis itu dengan cekatan membantu Aji memakai gaun besar di luar pakaiannya, juga mengenakan syaal (kain penutup pundak dan leher) lebar dan menutupi kepala Aji dengan kain putih yang diikatkan di bawah dagu. Jadilah Aji seperti seorang nenek tua yang biasa memakai gaun!

"Hayo cepat, ikut aku!" bisik Karen dan ia mengait lengan Aji dan dibawanya berlari menuju ke bagian gelap benteng itu. Mereka melihat para serdadu berlarian sibuk memadamkan api. Setelah tiba di pintu gerbang benteng, lima orang serdadu memberi hormat kepada Karen dan tidak memperdulikan "nenek" itu. Dengan leluasa Karen menyeret Aji keluar benteng. Di tempat gelap Karen berbisik.

"Cepat pergi keluar kota. Cepat, Aji...!" Kini Aji merasa begitu gembira dan berterima kasih kepada gadis itu sehingga kini dia yang merangkul dan mencium bibir Karen untuk menyatakan terima kasihnya.

Cepat... selamat jalan, Aji... Semoga Tuhan melindungimu, Aji...!" Karen mendorong tubuh Aji dan pemuda itu melompat dan berlari di antara banyak orang yang berdesakan ingin menonton kebakaran dalam benteng. Dengan mempergunakan kesempatan selagi penduduk Batavia atau Jayakarta dalam keadaan panik, Aji berhasil lolos dari kota itu.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Seperti biasa, pada pagi hari itu, Eulis (Sulastri) dan Neneng Salmah berada di tepi anak sungai untuk mandi dan mencuci pakaian. Akan tetapi, mereka tidak segera mencuci pakaian, melainkan bercakap-cakap sambil duduk di atas batu.

"Eulis, sudah hampir setengah tahun aku berada di sini dan aku merasa amat berbahagia dapat hidup bersama ayahku dengan engkau dan Paman Subali dan bibi yang begitu baik sekali kepada kami. Ah, sungguh aku merasa beruntung mendapatkan seorang saudara seperti engkau, Eulis."

"Aeh, sudah berapa ratus kali engkau mengatakan hal itu, hampir setiap hari. Akulah yang seharusnya berterima kasih karena kehadiranmu mengurangi banayak sekali kesedihanku yang telah kehilangan ingatan. Bahkan aku dapat belajar menari dan bertembang darimu."

"Suaramu juga indah dan merdu sekali, Eulis."

"Dan engkaupun ternyata memiliki bakat bermain pencak silat."

"Akan tetapi katamu aku bermain pencak dengan gerakan terlalu indah seperti orang menari." kata Neneng.

"Dan akupun kalau menari seperti orang bersilat, seperti pria!" kata Eulis.

"Sudahlah, mari sebelum kita mandi, coba engkau berlatih tari terbaru yang kuajarkan kepadamu."

"Tari Srimpi? Wah, sukar benar gerakannya."

"Tidak sukar, hanya engkau kurang sabar, Eulis. cobalah." desak Neneng Salmah.

"Boleh, aku akan berlatih berjoget dan bertembang, akan tetapi sesudah itu engkau harus berlatih silat dengan Aji Sonya Hasta seperti yang kuajarkan."

"Baik, nah, mulailah!" Eulis lalu bertembang. tembang Kinanti dan suaranya memang benar merdu dan lantang.

Kedua orang dara jelita ini sama sekali tidak tahu bahwa tak jauh dari situ, bersembunyi di balik batu besar, dua pasang mata manusia sejak tadi mengintai dan dua pasang telinga mendengarkan. Dua orang manusia itu memang telah berada di situ sebelum Eulis dan Neneng Salmah datang, maka Eulis yang peka itupun tidak tahu akan keadaan mereka. Ketika disebutnya Aji Sonya Hasta, seorang dari mereka, seorang laki-laki terbelalak heran dan semakin memperhatikan.

Dia adalah seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya sedang dan wajahnya tampan dan berwibawa. Matanya lembuat namun bersinar tajam dan hidungnya mancung, wajahnya cerah karena mulutnya selalu tersenyum. Kumis tipis membuat dia tampak gagah. Adapun orang kedua adalah seorang wanita berusia kurang lebih dua puluh delapan tahun, cantik jelita dan wajahnya lembut. Wajahnya bulat dengan dagu meruncing. Sepasang alisnya hitam dan sepasang matanya berbinar-binar seperti bintang kejora, bulu matanya lentik, hidung kecil mancung dan mulutnya menggairahkan. Sungguh merupakan sepasang manusia yang serasi, yang pria tampan gagah dan yang wanita cantik anggun.

Setelah selesai bertembang, Eulis lalu mulai menari. Memang indah tariannya, namun gerakannya kurang luwes bagi tari srimpi, karena gerakannya mengandung kegagahan. "Sekarang ganti engkau coba berlatih Aji Sonya Hasta!" kata Eulis setelah rampung berjoget.

Neneng Salmah juga tidak malu-malu lagi. Ia mulai bersilat dengan Aji Sonya Hasta yang diajarkan Eulis. Gerakannya indah dan luwes, sungguh seperti orang menari, namun gadis ini telah dapat memperoleh inti aji itu, yang tampaknya kosong namun berisi kekuatan yang dahsyat. Kosong namun berisi, yang berisi penuh malah kosong, itulah inti dari gerakan silat Sonya Hasta itu. Pria yang mengintai menjadi semakin heran. Setelah Neneng Salmah selesai berlatih, Eulis merangkulnya.

"Bagus! Hebat, sekarang engkau tidak perlu khawatir akan gangguan laki-laki brengsek lagi, Neneng. Biar ada tiga empat orang laki-laki kasar, kalau mengganggumu pasti akan roboh semua ditanganmu."

"Tapi mana bisa aku memukul orang, Eulis?"

"Tidak perlu memukul. jentikan jari tanganmu dan tamparan tanganmu sudah cukup membuat orang jahat terjungkal! Penyerangmu dapat mampus tanpa mengeluarkan darah!"

"Membunuh orang? Hiiihhh...!!" Neneng Salmah bergidik ngeri. "Jangankan membunuh orang, membunuh seekor coro (kecoak) saja aku ngeri dan tidak tega!"

Pria dan wanita yang mengintai itu saling pandang dan tersenyum geli. Mendengar percakapan antara dua orang gadis jelita itu, mendengar Eulis bertembang, dan melihat Neneng Salmah bermain pencak silat, meraka merasa kagum akan tetapi juga geli. Sikap dan kata-kata kedua orang gadis itu lucu dan juga menyenangkan. Dari ucapan mereka berdua, dua orang pengintai itu maklum bahwa dua orang gadis itu adalah orang-orang yang berwatak periang dan baik.

"Tentu saja! Coro itu binatang yang tidak ada dosanya, akan tetapi banyak manusia di dunia ini yang amat keji dan jauh lebih jahat dibandingkan coro atau binatang apapun juga!" kata Eulis.

Neneng Salmah menghela napas panjang. "Engkau benar, Eulis. Kalau aku teringat akan pengalamanku yang lalu, sebagian besar laki-laki yang ikut berjoget itu tidak sopan, pandang mata, senyuman dan kata-kata mereka kurang ajar. apa lagi kalau ingat pangeran dari Banten itu, iihh, dia jahat sekali melebihi seekor harimau yang buas!"

Eulis tertawa. "Heh-heh, apa kau kira harimau itu buas?"

"Tentu saja. Harimau merobek-robek tubuh korbannya dengan kejam dan makan dagingnya, minum darahnya!" kata Neneng Salmah.

"Habis, bagaimana? Apa engkau menyuruh harimau itu makan rumput dan daun-daunan? Atau menyuruh harimau itu menyembelih dulu korbannya lalu memasaknya dan makan masakan daging korbannya seperti kita? Sudah kodratnya begitu, harimau tidak doyan sayur, tidak pandai memasak daging, maka tentu saja dia makan binatang yang lebih lemah. Kalau tidak, dia akan mati kelaparan. Sama sekali dia tidak dapat dikatakan buas!"

Setelah mengeluarkan kata-kata itu, Eulis teringat dan melamun. Dari mana ia mengerti semua itu? Siapa yang mengajarnya? Ia dapat merasakan betul bahwa ia pernah mendengar ada orang yang mengajarkan semua itu kepadanya, pengertian tentang kasunyatan dalam kehidupan ini. Akan tetapi ia tidak ingat lagi siapa yang mengajarinya! Tiba-tiba tanpa disengaja Eulis menoleh ke arah batu di balik mana dua orang itu mengintai. Hanya sekelebatan saja bayangan itu tampak, namun cukup bagi Eulis untuk berseru nyaring.

"Heii! Siapa mengintai di sana? Hayo keluar!"

Dua orang yang sejak tadi mengintai itu keluar dari balik batu-batu. Pria tampan yang wajahnya lembut dan cerah itu adalah seorang gagah perkasa yang berjasa besar membantu Mataram ketika terjadi perang antara Mataram dan Madura. Dia juga ikut dalam pertempuran ketika pasukan Mataram menundukkan Surabaya dan Giri. Akan tetapi dia tidak mau menerimanya ketika hendak dianugerahi pangkat senopati oleh Sultan Agung. Dia hanya memilih sebidang tanah di Pasuruhan dan tinggal di sana seperti rakyat biasa. Nama pria itu adalah Parmadi. Adapun wanita itu adalah istrinya bernama Muryani, juga seorang wanita yang sakti mandraguna.

Ketika Parmadi membantu Mataram, sepak terjangnya yang gagah dan kesaktiannya yang kadang dibantu sebuah seruling yang dapat dipergunakan sebagai alat senjata ampuh, maka diapun mendapat julukan "Seruling Gading". Mendengar seruan Eulis yang agaknya telah mengetahui akan tempat mereka mengintai, suami isteri ini keluar dan makin yakinlah mereka bahwa Eulis tentu seorang gadis yang sakti mandraguna sehingga dapat mengetahui bahwa mereka mengintai di balik batu-batu itu. Mereka lalu menghampiri dua orang gadis itu yang sudah bangkit berdiri memandang kepada mereka dengan alis berkerut.

Parmadi dengan tersenyum merangkap kedua tangan memberi salam penghormatan lalu berkata, "maafkanlah kami, adik-adik yang manis. sesungguhnya kami berdua tidak berniat mengintai. Kami telah lama berada di sini sebelum andika berdua tiba. ketika melihat andika berdua bertembang, menari lalu bermain pencak silat, kami merasa tertarik sekali sehingga kami berdiam diri untuk menyaksikan. Saya bernama Parmadi dan ini isteriku, Muryani."

Wanita cantik itupun berkata, menyambung ucapan Parmadi. "Suamiku berkata benar, adik-adik yang baik. Kami tidak bermaksud buruk, hanya teramat heran dan tertarik melihat adik ini tadi bermain silat yang katanya belajar darimu."

Eulis mengerutkan alisnya, "Apapun alasannya, perbuatan kalian berdua mengintai kami patut dicurigai! Hayo katakan apa maumu?" Pada dasarnya Eulis memang memiliki watak keras. Apalagi telah beberapa kali ia bertemu dengan orang-orang yang jahat, seperti Mahesa Sura, Kolo Srenggi dan kelima Mahesa yang menjadi murid mereka, yang telah dibasminya bersama Jatmika dan Lindu Aji. Tentu saja ia merasa curiga.

Parmadi bertukar pandang dengan isterinya dan dia memberi isyarat dengan kedipan matanya, lalu dia menghadapi Eulis yang tampak galak menantang, sedangkan Neneng Salmah hanya menonton saja dengan hati tegang. "Kalau andika curiga kepada kami, akupun curiga kepadamu. dari mana engkau mempelajari Aji Sonya Hasta?"

Ditanya demikian, Eulis menjadi marah. Ia sendiri memang tidak ingat lagi dari siapa ia mempelajari ilmu itu, walaupun ia masih ingat akan nama dan cara menggunakannya. Menurut keterangan Ki Subali yang kini menjadi ayahnya walaupun ia masih belum ingat benar bahwa dia adalah ayah kandungnya, gurunya adalah Ki Ageng Pasisiran yang kini sudah meninggal. Akan tetapi ia tidak perduli lagi dan menganggap pertanyaan Parmadi itu lancang dan hendak mencampuri urusan pribadinya.

"Perduli apa engkau dengan itu? Bukan urusanmu!" bentaknya.

Muryani mengerutkan alisnya. Ia sendiri di waktu mudanya juga lincah dan keras, akan tetapi setelah menjadi isteri Parmadi selama beberapa tahun, perangainya sudah berubah lembut. "Adik yang baik, kami hanya ingin mengetahui, siapakah guru andika? Ketahuilah bahwa suamiku ini juga menguasai Aji Sonya Hasta."

"Hemm, kalau begitu tentu dia yang telah mencuri aji itu! lebih baik kalian yang mengaku dari mana mendapatkan aji iu! Siapa gurumu?" Eulis bertanya.

Parmadi tersenyum. Mungkin kalau dia memberi tahu siapa gurunya, gadis itu akan mengenalnya dan tidak bersikap begitu keras padanya. "Guruku adalah Eyang Ki Tejo Wening." Eulis mengerutkan alisnya. "Aku tidak mengenal nama itu! Tentu gurumu itu yang menjiplak atau mencuri ilmuku!"

"Hemm, kalau begitu ingin aku melihat apakah Aji sonya Hasta yang kau miliki itu tulen ataukah palsu!" kata Parmadi yang telah memberi isyarat kepada isterinya. Dia ingin menguji gadis galak ini karena kini dia curiga bahwa gadis ini entah bagaimana caranya telah mempelajari aji kesaktian itu dari orang yang mencurinya.

"Nah, tampak sekarang belangnya!" bentak Eulis. "Engkau pasti berniat buruk. Mari kita sama lihat, siapa yang mencuri dan mempunyai aji yang palsu!"

"Eulis, jangan berkelahi!" bujuk Neneng Salmah.

"Mundurlah, Neneng. Biar aku menghajar orang kurang ajar ini." kata Eulis sambil mendorong mundur Neneng Salmah yang terpaksa mundur dan menonton dengan hati gelisah.

Muryani juga mundur sambil tersenyum. Ia maklum bahwa suaminya hanya ingin melihat apakah gadis bernama Eulis itu benar-benar menguasai Aji Sonya Hasta yang asli. Maka ia menonton dengan tenang saja. Eulis lalu membuat gerakan pembukaan. Kedua tangannya melakukan sembah di atas kepalanya, kemudian kedua lutut ditekuk dan kedua tangan diturunkan dan menjadi sembah di depan dada, kemudian kedua lengan dikembangkan ke kanan kiri, terbuka dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan. Pembukaan itu benar-benar menandakan kekosongan, bahkan keadaan dirinya tebuka sama sekali.

"Mulailah!" bentak Eulis, matanya mencorong dan biarpun pembukaan itu tampak lemah sekali dan mudah dimasuki serangan lawan, namun sesungguhnya semua urat syarafnya sudah siap siaga dan menjadi peka sekali. Parmadi tertegun. Gerakan pembukaan itu nyaris sempurna! Diapun membuat gerakan yang sama sehingga diam-diam Eulis juga kaget, akan tetapi ia bersikap tida acuh.

"Andika yang mulai, adik manis." kata Parmadi ramah.

Eulis menganggap sebutan itu seperti ejekan yang kurang ajar, maka iapun tidak sungkan lagi. "Sambut ini...!" Tangannya dari samping bergerak, kedua tangan membuat gerak yang arahnya berlawanan dan tampaknya sebagai tamparan lembut hampir mengusap atau mengelus, Namun di dalamnya tekandung hawa yang amat kuat sehingga terdengar bunyi bersiut.

"Bagus!" Parmadi memuji karena memang gerakan gadis itu ketika menyerang tepat dan benar, Diapun lalu mengelak dan balas menyerang. Namun Eulis dapat menangkis tamparan itu dari samping lalu cepat membalas. Dua orang itu sudah bertanding seru, serang menyerang dan karena mereka memainkan ilmu silat yang sama, maka tampaknya seperti dua orang yang sedang latihan saja.

Melihat ini, Muryani juga merasa heran dan ia tidak ragu lagi bahwa antara suaminya dan gadis itu pasti ada hubungan persaudaraan seperguruan. Juga karena kdua orang itu melakukan gerakan yang sama, Neneng Salmah juga menduga demikian. Bagaimanapun juga, ia sendiri sudah mempelajari ilmu silat itu, maka ia berseru kepada Eulis.

"Eulis, hentikanlah! Dia benar, gerakanmu sama benar dengan gerakannya!" Akan tetapi dasar Eulis seorang gadis yang keras hati, ia masih belum mau mengalah. Ia melompat ke belakang, lalu menggosok kedua telapak tangannya dan mendorongkan kedua tangannya itu ke arah Parmadi sambil mengerahkan tenaga saktinya. Parmadi terbelalak dan cepat menghindarkan diri dengan melempar tubuh ke kiri sehingga serangan itu luput. Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar lewat samping tubuh Parmadi.

"Itu Aji Margopati...!" seru Parmadi. Eulis menjadi penasaran karena serangannya dapat dielakkan dengan mudah oleh lawannya. Maka iapun mengerahkan tenaga sakti lebih besar lagi lalu kembali ia menyerang dengan aji pukulan Margopati yang amat dahsyat itu. Parmadi terpaksa memperlihatkan kesaktiannya. Kedua tangannya didorong kedepan menyambut pukulan dahsyat itu, namun dia membatasi tenaganya karena tidak ingin melukai gadis yang pandai mempergunakan Aji Sonya Hasta dan Aji Margopati itu.

"Wuuuttt... wessss!" Eulis terkejut bukan main karena tenaga pukulannya itu seolah bertemu dengan air. Tenaganya seperti tenggelam dan kehilangan daya serangnya. Ia seorang gadis yang keras hati namun cerdik. Ia kini mengetahui benar bahwa ia berhadapan dengan seorang yang sakti mandraguna, yang jauh melampaui tingkat kepandaiannya sendiri, akan tetapi orang itu sama sekali tidak mempunyai niat jahat sehingga tidak mempergunakan kesaktiannya untuk mencelakai dirinya. Hal ini terasa sekali dalam tangkisan orang itu yang sama sekali tidak melawan, melainkan membuat tenaga aji pukulan Margopati seperti punah dan lumpuh!" Ia melompat mundur sampai dekat Neneng Salmah dan dengan mata terbelalak ia memandang kepada Parmadi sambil berkata gagap. "Andika... andika sebetulnya siapakah...?"

Parmadi dan Muryani melangkah maju menghampiri dua orang gadis itu. Parmadi tersenyum dan berkata lembut, "Sudah kami katakan tadi bahwa kami bukanlah musuh, kami tidak mempunyai niat buruk hanya kami tertarik melihat Aji Sonya Hasta tadi. Sekarang aku melihat bahwa Aji Sonya Hasta yang andika mainkan itu benar-benar asli sehingga aku yakin bahwa di antara kita masih terdapat tali persaudaraan seperguruan! Seperti sudah kuperkenalkan diri tadi, namaku Parmadi dan ini istriku Muryani. Kami berasal dari jauh di timur, dari kadipaten Pasuruan. Andika berdua siapakah?"

Karena Eulis tidak juga menjawab disebabkan perasaan malu atas kekerasan sikapnya dan juga kekalahan yang diam-diam harua diakuinya itu, Neneng Salmah yang menjawab. "Maafkan sikap saudaraku tadi. Ia bernama Eulis dan saya sendiri bernama Neneng Salmah. Eulis tidak dapat menjawab pertanyaan andika karena ia telah kehilangan ingatan tentang masa lalunya, bahkan tidak ingat lagi akan ayah ibunya sendiri."

"Neneng, kenapa hal itu kau ceritakan?" tegur Eulis.

"Eulis, mereka ini bukan musuh, melainkan orang-orang yang baik hati dan sakti mandraguna. Apa lagi melihat aji kesaktiannya yang sama dengan yang kau miliki, aku merasa yakin bahwa dia masih ada hubungan persaudaraan seperguruan denganmu."

"Engkau benar sekali, Neneng Salmah. Suamiku tentu masih ada pertalian persaudaraan seperguruan dengan Eulis ini, dan siapa tahu kalau Gusti Allah mengijinkan, suamiku dapat menyembuhkan Eulis dari penyakitnya kehilangan ingatan itu."

Neneng Salmah terbelalak dan wajahnya berseri. "Ah, benarkah? Kalau begitu, Kakangmas Parmadi dan Mbakayu Muryani, kami persilakan andika berdua suka singgah di rumah kami dan bertemu ayah Eulis, yaitu Paman Subali yang akan dapat menceritakan segala tentang guru Eulis. Mari, Eulis, kita antar mereka ini singgah ke rumah."

Neneng Salmah mengajak Eulis. Akan tetapi Eulis menggeleng kepalanya. "Engkau sajalah yang mengantar, Neneng. Aku hendak mencuci pakaian dan mandi." Bagaimanapun juga, hati Eulis masih agak penasaran karena ia tidak mampu menandingi Parmadi. Parmadi dan Muryani saling pandang, kemudian Parmadi berkata kepada Neneng Salmah.

"Baiklah, Nimas Neneng Salmah, kami akan menemui Paman Subali. Aku kasihan kepada Nimas Eulis yang tidak salah lagi tentu masih saudara seperguruanku sendiri. Mari kita pergi."

Suami isteri itu lalu mengikuti Neneng Salmah menuju ke rumah Ki Subali yang berada tidak begitu jauh dari situ. Setelah ditinggal pergi. Eulis termenung seorang diri. Bagaimanapun juga, jantungnya berdebar tegang. Benarkah orang yang bernama Parmadi itu mampu menyembuhkannya dan mengembalikan ingatannya tentang masa lalu yang hilang? Ia duduk melamun dan mencoba untuk mengerahkan ingatannya. Namun selalu terbentur dan berhenti. Yang diingatnya hanyalah saat ia bertemu dengan Jatmika, dari saat itu sampai sekarang. Bahkan ia tidak ingat akan masa lalunya bersama ibunya yang dianggap orang-orang yang baru dijumpainya dan dikenalnya sekarang. Ia termangu-mangu dan jantungnya berdebar tegang. Apa saja yang akan dapat diingatnya kalau ia benar dapat disembuhkan?

********************

Ki Subali dan isterinya merasa heran melihat Neneng Salmah pulang bersama seorang pria dan seorang wanita yang tidak mereka kenal. Ki Salmun yang baru muncul dari samping rumah sambil memanggul pacul juga merasa heran dan dia menegur anaknya.

"Neneng, kenapa engkau pulang sendiri? Di mana Eulis?"

"Ia masih berada di sungai. Saya pulang mengantarkan dua orang tamu ini. Paman Subali dan Bibi, ini adalah Kakangmas Parmadi dan Mbakyu Muryani. Kakangmas Parmadi adalah saudara seperguruan Eulis dan dia bersama isterinya ingin bicara dengan paman tentang Eulis, bahkan dia akan berusaha mengobati Eulis agar pulih kembali ingatannya."

Mendengar ini, Ki Subali dan isterinya menjadi girang sekali. "Ah, marilah anakmas berdua, silakan duduk!" Ki Subali memersilakan kedua orang tamunya duduk di serambi.

Parmadi duduk dihadapi Ki Subali dan isterinya. Ki Salmun yang mendengar bahwa kedua orang itu adalah tamu Ki Subali, dengan sikap sopan mengangguk lalu melanjutkan perjalanannya ke ladang untuk bekerja seperti biasa. Di sana, Ki Subali memiliki sebidang tanah ladang di mana dipekerjakan beberapa orang buruh tani. Biasanya Ki Subali dan Ki Salmun juga membantu setiap kali mereka tidak mempunyai kesibukan lain. Neneng Salmah duduk di atas bangku di sudut serambi, ingin mendengarkan apa yang dibicarakan para tamu itu. Ia ingin sekali melihat Eulis disembuhkan dari penyakit "lupa" itu.

"Benarkah Anakmas Parmadi masih sudara seperguruan anak kami Eulis?" Tanya Ki Subali sambil memandang wajah Parmadi dengan kagum. Sekali pandang saja Ki Subali dapat menilai bahwa pria di depannya ini adalah seorang yang "berisi" dan berwatak baik.

"Saya menilai demikian karena aji kesaktiannya sama benar dengan yang pernah saya pelajari, paman. Saya ingin mengetahui, siapakah sebenarnya guru dari puteri paman itu?"

Ki Subali menghela napas panjang. "Anak kami itu sebetulnya bernama Sulastri. Di waktu remaja ia berguru kepada seorang pertapa yang bernama Ki Ageng Pasisiran yang tinggal dalam sebuah pondok di pantai laut utara daerah Dermayu ini."

"Ki Ageng Pasisiran...?" Parmadi dan Muryani mengulang nama itu sambil mengerutkan alis karena mereka tidak mengenal nama ini. "Tadinya saya mengira ia murid Ki Tejo Budi, atau Ki Tejo Langit, atau bahkan Eyang Ki Tejo Wening!" kata Parmadi heran.

"Sesungguhnyalah! akhirnya kami mendengar bahwa Ki Ageng Pasisiran itu datang dari Banten dan dahulu bernama Ki Tejo Langit, anakmas."

"Nah, benar, dan tepat dugaanku! Kiranya ia murid Paman Guru Ki Tejo Langit! Ketahuilah, paman, saya adalah murid Eyang Resi Tejo Wening yaitu kakak seperguruan Paman guru Tejo Langit. Jadi, puteri paman itu adalah adik seperguruan saya sendiri seperti yang kuduga! Akan tetapi, bagaimana ceritanya sampai Nimas Eulis kehilangan ingatannya tentang masa lalunya? Dan mengapa pula namanya dari Sulastri berganti menjadi Eulis?"

Ki Subali menghela napas panjang. "Kami juga belum lama mendengar tentang anak kami itu. mula-mula datang Anakmas Lindu Aji yang menceritakan bahwa ketika dia dan Sulastri menghadapi gerombolan penjahat, Sulastri terguling jatuh ke dalam tebing yang curam. Akan tetapi Anakmas Lindu Aji tidak menemukan jenazahnya maka menduga bahwa ia masih hidup. Lama kami menunggu Anakmas Aji yang katanya hendak mencari Sulastri. Tiba-tiba pada suatu hari, Sulastri muncul bersama Anakmas jatmika dalam keadaan sehat dan selamat, hanya... ia lupa segalanya di masa lalu, bahkan tidak mengenal kami ayah ibunya sendiri."

"Nanti dulu, paman. Siapakah itu Lindu Aji, dan siapa pula itu Jatmika?"

"Menurut keterangan mereka, anakmas lindu Aji adalah murid Ki Tejo Budi, sedangkan Anakmas Jatmika adalah cucu Ki Tejo Langit karena dia adalah putera Ki Sudrajat. Jadi mereka semua masih saudara seperguruan dari anak kami Sulastri. Parmadi mengangguk-angguk.

"Ah, kiranya aku bertemu dengan para murid keturunan Paman Tejo Budi dan Paman Tejo Langit. Tahukah paman, di mana Paman Tejo Budi dan Paman Tejo Langit itu?"

Ki Subali menghela napas panjang, "Menurut keterangan Anakmas Lindu Aji, Ki Tejo Budi sudah meninggal dunia. Adapun menurut keterangan Anakmas Jatmika, Ki Tejo Langit atau Ki Ageng Pasisiran, juga Ki Sudrajat, tewas ditembak telik sandi Kumpeni Belanda"

"Duh Gusti... kumpeni keparat!" kata Muryani penasaran.

Parmadi menghela napas panjang. "Semoga mereka mendapatkan tempat yang bahagia di alam baka. Lalu bagaimana ceritanya tentang Nimas Eulis... eh, Sulastri, paman?"

Pada saat itu Neneng Salmah bangkit berdiri, wajahnya berseri-seri dan ia berkata. "Harap maafkan saya, saya harus pergi menemui Eulis dan mengajaknya pulang!" Tanpa menanti jawaban, Neneng Salmah sudah berlari keluar. Ia begitu gembira mendengar keterangan Parmadi tadi. Jelas sekarang bahwa Parmadi adalah kakak seperguruan Eulis sendiri, Kalau saja orang yang sakti mandraguna itu benar-benar dapat menyembuhkan Eulis, betapa akan bahagianya mereka semua!