Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 23
AJI mengerutkan alisnya. Benar juga apa yang dikatakan pemuda yang bijaksana ini. Biarpun orang sedunia menuduhnya, kalau memang kenyataannya dia tidak melakukan apa yang dituduhkan orang, megapa dia mesti pusing? Gurunya juga selalu mengajarkan bahwa yang penting bagi seseorang adalah eling lan waspodo (ingat dan waspada), yaitu ingat setiap saat dan menyerah kepada Gusti Allah dan waspada terhadap pikiran, kata, dan perbuatan sendiri. Kalau kita waspada dan sadar bahwa kita bersalah, inilah yang penting dan harus kita ubah. Sebaliknya kalau kita tidak bersalah, mengapa harus memusingkan gunjinagn orang? dan kalau benar besok terjadi sesuatu yang mencelakakan Neneng Salmah pada hal dia menolak bermalam di sana, tentu saja dia akan merasa menyesal bukan main.

"Apa yang dikatakan Darman itu benar, anakmas Lindu Aji. mari kuantar andika berkunjung ke sana."

Aji mengangguk dan berangkatlah mereka berdua ke rumah Neneng Salmah yang berada di sebelah utara tepi kota kadipaten Sumedang. Akan tetapi, begitu tiba di rumah Ki Salmun, mereka menemukan Ki Salmun menangis kebingungan. Mang Engkos segera bertanya apa yang telah terjadi sedangkan Aji mendengarkan dengan alis berkerut. Ketika Ki salmon melihat Aji dan mengenalnya sebagai pemuda perkasa yang tadi telah menghajar Jaka Bintara dia lalu berlutut menyembah-nyembah.

"Raden... tolonglah anak saya... tolonglah Neneng Salmah."

Aji memegang kedua pundak Ki Salmun dan menariknya bangkit. "Tenanglah, paman. tenang dan ceritakan apa yang terjadi."

"Serombongan perajurit datang dan memaksa Neneng Salmah ikut ke rumah Raden Tumenggung Jayasiran yang memanggilnya. Anak saya menolak akan tetapi dipaksa, diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi..." kata Ki Salmun denngan bingung.

"Kapan hal itu terjadi, paman?" Tanya Aji.

"Baru saja dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Tolonglah... tolong anak saya, raden..."

"Mang Engkos, temani paman ini dulu. Aku hendak menyusul dan menolong Neneng Salmah!"

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban tubuh Aji berkelebat lenyap karena dia sudah mempergunakan Aji Bayu Sakti, meloncat dan berlari secepat angin menembus kegelapan malam menuju ke rumah Tumenggung Jayasiran. Ternyata rumah gedung itu telah sepi. Pesta tadi telah bubar hanya tinggal bekasnya saja, daun dan kertas bekas pembungkus makanan berserak di pekarangan, di bawah panggung. Aji memasuki pekarangan yang sepi, lalu menyusup ke samping dan melompati pagar tembok samping yang tidak begitu tinggi. Dia turun ke sebelah dalam yang ternyata merupakan sebuah taman dan menyelinap di antara pohon dan semak menuju ke gedung yang sudah tampak sunyi itu. Dia bingung karena tidak tahu di mana Neneng Salmah berada, akan tetapi dia yakin bahwa tentu gadis penari itu dibawa ke gedung ini.

Tiba-tiba dia mendengar jerit wanita, akan tetapi segera jerit itu terdiam seolah mulut yang menjerit itu dibungkam. Jeritan pendek itu cukup bagi Aji yang memberi petunjuk ke mana dia harus mencari. Cepat dia melompat ke bagian belakang gedung. Dia melihat sinar lampu menyorot keluar dari celah-celah jendela sebuah kamar dan terdengar napas orang terengah engah dari dalam kamar itu. Aji lalu mendorong daun jendela kamar dan jendela itupun jebol. Di bawah sinar lampu gantung di kamar itu, dia melihat Neneng Salmah mempertahankan diri, bergumul di atas pembaringan dengan seorang pria yang berusaha merenggut lepas pakaiannya. Gadis itu melawan dengan gigih, mempertahankan pakaiannya dengan cakaran, gigitan dan pukulan. Mulutnya tak mampu mengeluarkan suara karena didekap tangan kiri penyerangnya yang bukan lain adalah Raden Jaka Bintara!

Ternyata Jaka Bintara inilah yang karena merasa penasaran, minta kepada Tumenggung Jayasiran agar dia dapat menguasai Neneng Salmah yang digandrunginya. Tumenggung itu merasa sungkan untuk menolak, apa lagi tadi dia tidak dapat mencegah pangeran Banten yang dikalahkan dan dipermalukan di depan umum. Untuk menghibur hati pangeran itu, Tumenggung Jayasiran memenuhi permintaannya dan memerintahkan pasukan memanggil Neneng Salmah dan memaksa gadis itu datang ke gedungnya dan menyerahkannya kepada Jaka Bintara. Pemuda bangsawan Banten itu menjadi girang sekali dan setelah dia memasuki kamar di mana Neneng Salmah dikeram, dia menerkam gadis itu bagaikan seekor binatang buas!

Namun gadis itu melawan dengan sekuat tenaga bahkan sempat mengeluarkan jeritan. Ketika daun jendela jebol, Jaka Bintara terkejut dan dia menjadi lebih kaget lagi ketika menengok ke jendela yang sudah terbuka, dia melihat wajah Aji yang tertimpa sinar lampu dari dalam. Dia terbelalak dan merasa gentar karena dia maklum bahwa dia tidak mampu menandingi pemuda yang sakti mandraguna itu. Apa lagi melihat sinar mata Aji mencorong, Jaka Bintara merasa gentar dan maklum bahwa bahaya besar mengancam dirinya. Orang yang suka bertindak kejam dasarnya memang menyembunyikan perasaan takut. Maka perasaan takut membuat pemuda ini melepaskan Neneng Salmah dan diapun melompat, membuka daun pintu kamarnya dan lari meninggalkan kamar itu. Dia harus cepat mencari bala bantuan dan siapa lagi kalau bukan gurunya yang akan mampu menandingi Lindu Aji?

Setelah melihat Jaka Bintara melarikan diri, Aji melompat masuk ke dalam kamar itu. Neneng Salmah membereskan pakaiannya yang awut-awutan dan saking lega dan girangnya ia lalu lari menghampiri Aji, menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu dan merangkul kedua kakinya, menyembah dan mencium kaki seperti orang melakukan sungkem (menghormati orang dengan sembah sujud).

"Terima kasih, raden... terima kasih..."

Aji cepat memegang lengan gadis itu dan menariknya bangkit. "Cukup, mari kita cepat pergi dari sini."

Neneng Salmah adalah seorang wanita yang tabah. Ia tidak menangis walaupun kedua pipinya masih basah, Ia mengangguk sambil bangkit berdiri dan menurut saja ketika Aji menarik lengannya menghampiri jendela.

Akan tetapi pada saat itu Neneng Salmah berseru, "Awas, raden...!"

Aji cepat membalik dan melihat Kyai Sidhi Kawasa sudah berdiri di ambang pintu. Di belakangnya berdiri Jaka Bintara yang berlindung di belakang gurunya. Agaknya Kyai Sidhi Kawasa sudah marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah mendorongkan kedua tangannya dengan Aji Analabanu. Sinar api berkobar menyambar dari kedua telapak tangannya ke arah Aji. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya namun dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula. Karena maklum bahwa tenaga kakek ini tentu jauh lebih kuat daripada tenaga Jaka Bintara, maka Aji juga menggunakan Aji Guruh Bumi. Begitu dia mengerahkan tenaga untuk menyambut, kamar itu seolah tergetar hebat, seolah ada gempa bumi. Demikain hebatnya Aji Guruh Bumi itu.

"Wuuuttt... blarrrr...!" Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan akibatnya, tubuh Kyai Sidhi Kawasa tergetar, sehingga dia melangkah mundur tiga kali. Aji tidak terpengaruh benturan tenaga itu dan dia cepat memondong tubuh Neneng Salmah dan membawanya melompat keluar jendela. Gadis itu memejamkan mata ketika merasa betapa pinggangnya dirangkul dan tubuhnya dibawa "terbang", demikian rasanya karena cepat sekali Aji yang memondongnya itu membawanya lari dan melompati pagar tembok sehingga mereka tiba di luar gedung itu. Barulah Aji menurunkan tubuh Neneng Salmah dari pondongannya. barulah wajah Aji menjadi kemerahan dan jantungnya berdebar.

"Ah... nimas, maafkan aku. Terpaksa aku tadi memondongmu agar dapat lari dengan cepat." kata Aji.

Neneng Salmah menjadi semakin kagum. Tadi, ketika melihat pemuda ini menghajar Jaka Bintara, ia sudah merasa kagum dan merasa dibela kehormatannya. Karena itu, ketika ia berada dalam cengkeraman Jaka Bintara dalam kamar tadi, bagaikan seekor domba dalam cengkeraman harimau, lalu Aji muncul dan membuat laki-laki jahat itu melarikan diri, ia menjadi terharu dan bersyukur sekali sehingga ia menjatuhkan diri berlutut dan sungkem di depan kaki Aji. Kemudian, pemuda yang dikaguminya itu bahkan melawan serangan kekek mengerikan itu, kemudian memondongnya dan membawanya lari keluar dari gedung Tumenggung Jayasiran. Dan apa yang dilakukan pemuda itu setelah menyelamatkannya dari bahaya yang lebih mengerikan baginya dari pada kematian?

Pemuda itu malah minta maaf karena tadi memondongnya! Belum pernah selama hidupnya Neneng Salmah menemukan pemuda seperti ini! Bijaksana dan berbudi, lemah lembut dan bersusila tinggi! Biasanya, semua laki-laki seperti berlomba untuk dapat menjamahnya, baik mempergunakan pengaruh uang, kedudukan, rayuan atau paksaan. Akan tetapi pemuda ini, yang memondongnya karena hendak membawanya lari dan menyelamatkannya, malah minta maaf! Dan sebutan itu! Nimas! Betapa merdu memasuki telinganya. Betapa membuat ia merasa terhormat. Padahal, hampir semua pria, kecuali Sudarman, seolah memandang rendah padanya. Mereka mengira bahwa semua ledek adalah wanita murahan yang mudah menyerahkan diri kepada setiap orang laki-laki yang mampu memberinya uang! Ia tahu apa artinya sebutan nimas itu, seperti sebutan adinda yang mesra dan akrab. Walaupun sebutan itu biasa dipergunakan di Jawa Tengah, di Mataram, namun ia tahu artinya, maka terdengar amat merdu menyenangkan.

"Aduh, raden... akulah yang sepatutnya mohon maaf kepadamu. Raden sama sekali tidak mengenalku, akan tetapi andika telah menyelamatkan aku dari bencana, telah menolongku dengan mempertaruhkan keselamatan diri raden sendiri. Akulah yang sepatutnya mohon maaf dan menghaturkan terima kasih. Sampai mati aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu yang berlimpah itu, raden."

"Hemm, jangan sebut aku raden, Nimas Neneng Salmah. Aku bukan bangsawan seperti Raden Jaka Bintara itu. Aku seorang dusun biasa, namaku Lindu Aji. engkau cukup memanggilku Mas Aji saja."

"Baiklah, Mas Aji. Bertambah lagi nilai andika di dalam pandanganku. Ternyata andika seorang pemuda yang rendah hati, pula. Akan tetapi dalam pandanganku, andika jauh lebih bijaksana, lebih berharga dari pada sekalian laki-laki bangsawan yang pernah kujumpai dan aku berterima kasih sekali kepadamu."

"Sudahlah, kalau hendak berterima kasih, berterima kasih dan bersukurlah kepada Gusti Allah karena hanya Gusti Allah yang dapat menolong manusia. Aku hanya menjadi alat, menjadi sarana. Mari kuantar engkau pulang ke rumah Ki Salmun yang menunggumu dengan hati gelisah."

"Bapa... ah bapa... kasihan dia." Mereka lalu bergegas menuju rumah Ki Salmun.

Sementara itu, Kyai Sidhi Kawasa dan Jaka Bintara yang merasa penasaran hendak melakukan mengejaran dan akan minta bantuan pasukan. Akan tetapi Tumenggung Jayasiran muncul dan mencegah mereka. "Jangan kejar mereka. Ketahuilah, baru saja aku mendapat kabar bahwa yang bernama Lindu Aji itu mempunyai keris pusaka Nagawelang!"

"Hemm, lalu apa artinya itu?" Tanya Kyai Sidhi Kawasa.

"Itu berarti bahwa dia adalah seorang utusan dan kepercayaan Sultan Agung di Mataram. Dia seorang senopati Mataram!" kata Tumenggung Jayasiran.

"Baru saja aku mendapat berita ini dari seorang perajurit pengawal sang adipati. Karena itu, sebaiknya kita tidak membuat permusuhan dengan dia. Bahkan besok pagi sekali kuharap paman mendahuluinya menghadap Gusti Adipati Pangeran Mas Gede, untuk mempererat persahabatan antara Banten dan Sumedang karena saya berpendapat bahwa Lindu Aji itu pasti datang menghadap sang adipati besok. Kalau paman melakukan pengejaran dan menggunakan pasukan, kemudian diketahui sang adipati, saya tentu akan mendapat teguran keras, paman. Sebaliknya, kalau paman menghadap lebih dulu dan dapat meyakinkan hati sang adipati bahwa Lindu Aji itu mungkin dikirim Mataram sebagai mata-mata dapat membangkitkan kecurigaan dalam hati sang adipati, hal itu akan menguntungkan kita."

Karena alasan yang dikemukakan tumenggung jayasiran itu kuat, biarpun hatinya masih penasaran, Kyai sidhi kawasa terpaksa mengangguk-angguk dan dia mengajak muridnya kembali ke kamarnya. Jaka Bintara yang sudah dua kali merasa dihalangi dan diganggu Aji, mengepal kedua tangannya. "Akan kubunuh dia... kubunuh dia..."

********************

"Salmah, anakku...!" Ki Salmun merangkul anaknya dan keduanya berangkulan sambil menangis.

Mang Engkos yang berada di situ menemui Ki Salmun berkata kepada Ki Salmun. "Sudahlah, kita harus bersyukur bahwa Neneng Salmah dapat pulang dengan selamat berkat pertolongan Anakmas Lindu Aji."

Ki Salmun seperti diingatkan. Dia melepaskan anaknya lalu membungkuk dan menyembah kepada Lindu Aji. "Anakmas, banyak terima kasih atas pertolongan andika. Budi kebaikan terhadap kami sekeluarga sungguh tak ternilai besarnya."

"Sudahlah, paman. Mari kita mengucap syukur dan menghaturkan terima kasih kepada Gusti Allah. Sekarang, yang penting adalah paman dan Nimas Neneng Salmah harus pergi meninggalkan Sumedang untuk mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk lagi." Ayah dan anak itu saling pandang dengan mata terbelalak dan Neneng Salmah memutar tubuh menghadapi Aji dengan wajah pucat. "mas Aji... kami... kami harus pergi meninggalkan rumah sekarang juga, malam-malam begini? Akan tetapi kemana, mas...?"

"Benar, nimas. terpaksa engkau dan ayahmu harus pergi sekarang juga, kalau tidak, tentu akan muncul gangguan-gangguan baru yang lebih buruk lagi karena sudah jelas bahwa Tumenggung Jayasiran berpihak kepada orang Banten itu. Besok aku akan melaporkan kepada Paman Adipati Sumedang, minta keadilan. Akan tetapi engkau dan ayahmu harus pergi dulu sehingga tidak akan terancam bahaya selagi aku pergi menghadap ke kadipaten."

"Akan tetapi... Akang... eh, Mas Aji. Ke manakah kami harus pergi malam-malam begini?" suara gadis itu terdengar gemetar seperti hendak menangis, bahkan Ki Salmun juga bingung dan tidak mampu berkata apa-apa. Meninggalkan Sumedang malam-malam begini, lalu hendak kemanakah?

"Apakah andika tidak memiliki keluarga yang tinggal jauh dari Sumedang, Paman Salmun?"

Ki Salmun menggeleng kepalanya tanpa mengeluarkan suara karena dia bingung sekali. Bingung harus bersama puterinya pergi begitu saja, meninggalkan rumah seisinya, tanpa tahu harus pergi ke mana! "Kang Aji..." dalam kegugupannya Neneng Salmah keliru menyebut akang, bukan mas kepada Aji yang sesungguhnaya maksudnya sama, yaitu kakak atau kanda. "Kami tidak mempunyai sanak dekat yang kiranya akan mampu menampung kami."

"Kalau begitu, aku yang akan mengatur. Malam ini juga, andika berdua harus meninggalkan Sumedang dan mengungsi ke Cirebon."

"Ke Cirebon?" kata Ki Salmun. "Tapi... tapi kami tidak mempunyai keluarga di sana..."

"Aku mempunyai sahabat yang amat baik, paman, yaitu Ki Subali yang tinggal di Indramayu. Akan tetapi, sebelum andika pergi ke Indramayu dan tinggal bersama Ki Subali, harap andika lebih dulu pergi ke Kadipaten Cirebon, menghadap Adipati Cirebon Pangeran Ratu."

Kembali Ki Salmun terbelalak heran. "Menghadap Gusti Adipati Cirebon? Saya... saya... tidak berani, anakmas!"

"Jangan takut, paman. Aku akan membuatkan sepucuk surat dan paman hanya tinggal menghadap dan menyerahkan surat itu saja. Gusti Adipati Pangeran Ratu tentu akan menyambut paman dan Nimas Neneng Salmah dengan baik. Kemudian baru andika berdua pergi ke Dermayu, menemui Paman Subali dan menyerahkan pula suratku kepadanya." "Tapi...!" Orang tua itu tampak bingung dan memandang ke sekeliling dalam rumahnya. "lalu bagaimana dengan rumah dan semua milik kami ini?"

"Jangan khawatir, paman. Kukira paman... eh, Mang Engkos akan mau menjaganya dan kelak kalau perlu atas namamu menjual semua ini dan uangnya dapat paman pergunakan untuk membeli rumah dan sawah ladang di Dermayu, kalau segalanya sudah tenang kembali. Atau ada kemungkinan juga andika berdua kembali kesini, yaitu... kalau keadaan sudah aman dan nimas Neneng Salmah sudah mempunyai seorang suami yang dapat melindunginya."

"Tentu saja aku mau mengurus rumah seisinya ini untuk Adi Salmun. Jangan khawatir akan hal itu!" kata Mang Engkos dengan serius.

"Nah, sekarang aku akan membuat surat untuk Paman Adipati Cirebon dan untuk Paman Subali di Dermayu. Andika berdua dapat berkemas, membawa apa yang sekiranya perlu. dan Paman... eh, Mang Engkos, harap suka mencarikan sebuah kereta dengan kuda-kuda yang dapat disewa untuk mengantar Paman Salmun dan Nimas Salmah ke Cirebon."

Mang Engkos segera pergi. Ki Salmun dan Neneng Salmah, biarpun masih bingung, segera berkemas, membawa pakaian dan barang berharga yang tidak terlalu berat, sementara itu Aji lalu membuat dua pucuk surat yang akan dibawa ayah dan anak itu. Setelah semua beres, Ki Salmun dan Neneng Salmah selesai berkemas, kereta dan dua ekor kuda beserta kusirnya sudah datang, Aji sudah pula menyelesaikan dua sampul suratnya, pemuda itu berkata. "Nah, sekarang tiba saatnya bagi andika berdua berangkat, Paman Salmun."

Ayah dan anak itu masih tampak bingung. "Aku... aku masih merasa tidak tenang dan khawatir, anakmas..."

"Dan aku juga takut, Mas Aji. Bagaimana nanti kalau dalam perjalanan ada oang jahat menghadang dan mengganggu kami..." suara Neneng Salmah seperti hendak menangis.

"Tenanglah, paman dan engkau juga, Nimas. Aku sendiri akan mengawalmu malam ini meninggalkan Sumedang. Baru setelah malam lewat dengan aman, besok pagi andika berdua boleh melanjutkan perjalanan tanpa aku."

Wajah Neneng Salmah yang tadinya muram dan bendungan tangisnya hampir bobol, tiba-tiba saja tampak berseri dan mulutnya tersenyum. Hampir ia melompat dan menari-nari saking girangnya. "Andika mengantar kami, Mas Aji? Aduh terima kasih, terima kasih. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga! Aku tidak takut lagi!"

Juga Ki Salmun merasa lega dan dapat tersenyum. "Hanya sampai besok pagi, nimas. Besok pagi aku harus kembali ke sini karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku akan menghadap Paman Adipati Sumedang, melaporkan semua kejadian ini agar beliau dapat turun tangan dan mengusir orang-orang Banten yang agaknya didukung Tumenggung Jayasiran itu."

"Nanti dulu, aku ingin bicara dan mengajukan saran. maafkan kalau aku bicara salah, anakmas Aji." kata Mang Engkos.

"Tentu saja boleh. Saran siapapun akan membantu dan amat penting, Mang Engkos. Mungkin saranmu lebih baik daripada apa yang hendak kulakukan." kata Aji.

"Begini, Anakmas Aji dan kalian juga, adi Salmun dan Neneng Salmah. Kukira, kepergian adi Salmun dan anaknya tidak perlu begini tergesa-gesa. Aku mendengar bahwa anakmas Aji telah menyelamatkan Gusti Adipati dari serangan Tumenggung Jaluwisa yang memberontak. Dengan demikian, tentu anakmas dipercaya oleh Gusti Adipati. Kalau anakmas melaporkan semua ini kepada beliau, tentu beliau akan bertindak, mengusir orang Banten itu dan menindak Tumenggeng Jayasiran. Nah, kalau sudah begitu, bukankah berarti keadaan menjadi aman dan Neneng Salmah tidak terancam lagi. Kalau sudah begitu, aku kira tidak perlu lagi ayah dan anak ini melarikan diri dari Sumedang. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah sebaiknya kepergian ini ditunda dan menanti sampai besok pagi, melihat bagaimana keadaannya setelah Anakmas Aji melapor kepada Gusti Adipati?"

Ayah dan anak itu memandang kepada Aji dengan sinar mata penuh harapan. tentu saja mereka juga ingin sekali agar tetap tinggal di Sumedang dan mereka menganggap usul mang Engkos itu baik sekali. Aji menyambut pandangan mereka dan diapun termenung. Bagaimanapun juga, usul itu memang patut diperhatikan. Besar kemungkinan Adipati Sumedang akan mendengarkan laporannya dan bertindak. Kalau Jaka Bintara dan gurunya telah diusir dari Sumedang dan Tumenggung Jayasiran telah ditindak, berarti tidak ada lagi ancaman bagi Neneng Salmah. Mengapa tergesa-gesa menyuruh mereka menyingkir malam-malam begini? Aji mengangguk-angguk.

"Baik sekali saranmu itu, Mang Engkos. Baiklah kalau begitu. Malam ini aku akan tinggal di sini, menjaga segala kemungkinan buruk. Besok pagi-pagi aku akan menghadap Paman Adipati Sumedang dan melaporkan kejahatan Jaka Bintara yang didukung Tumenggung Jayasiran. Kemudian kita lihat perkembangannya."

cerita silat online karya kho ping hoo

"Terima kasih, Mas Aji! Terima kasih, mang Engkos!" Neneng Salmah berseru, seperti bersorak gembira. "Biar kubuatkan masakan untuk andika bedua."

Gadis itu lalu berlari ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka semua. Setelah minum-minum sejenak, mang Engkos lalu berpamit pulang karena dia harus merawat Sudarman dan Ki Bajra yang terluka. Aji dipersilahkan beristirahat dalam sebuah kamar di mana pemuda ini duduk bersila, mengaso akan tetapi tetap waspada melakukan penjagaan. sementara itu, Neneng Salmah berada di kamar ayahnya. Ayah dan anak itu bicara berbisik-bisik, tampaknya serius sekali.

"Sudah kau pertimbangkan baik-baik, Salmah?" Tanya Ki Salmun berbisik.

"Sudah, bapa. Kalau hati sudah merasa, perlukah pikiran mempertimbangkannya lagi? Selama hidupku, belum pernah aku bertemu seorang laki-laki seperti dia. Aku jatuh cinta, bapa, aku merasa berbahagia kalau dapat hidup didekatnya, biar hanya menjadi pelayannya, abdinya. Tolonglah, bapa, sampaikan keinginanku kepadanya, bicarakanlah urusan perjodohan ini."

Ki Salmun menghela napas panjang. "Hemm, memang sebetulnya sudah matang waktunya bagimu untuk menjadi isteri orang, Salmah. Semenjak tiga tahun terakhir ini, entah berapa banyaknya pinangan pria yang terpaksa kutolak karena engkau masih belum ingin menjadi isteri orang. Bahkan pinangan Sudarman putera Mang Engkos yang begitu baik, terpaksa kutolak. Padahal engkau juga tahu bahwa Sudarman adalah seorang pemuda yang baik sekali, bahkan tadipun dia berusaha untuk membelamu dari orang Banten itu. Akan tetapi engkau menolak juga dan sekarang... tiba-tiba engkau ingin menjadi isteri anakmas Aji."

"Akang Sudarman memang baik, akan tetapi aku tidak menyukainya, bapa. Sedangkan Mas Aji ini... dia telah menjatuhkan hatiku dan aku merasa yakin bahwa hidupku pasti akan berbahagia di dekatnya, walaupun hanya menjadi pelayannya."

"Hemm, kalau tekadmu sudah bulat seperti ini, biarlah besok setelah dia menghadap Gusti adipati, akan kusampaian kepadanya."

"Terima kasih, bapa! Bapa memang seorang yang bijaksana dan berhati mulia! Hatur nuhun (terima kasih) bapa!" Gadis itu merangkul dan mencium pipi ayahnya. Perbuatan ini mendatangkan rasa haru dalam hati Ki Salmun, membuat ia teringat akan mendiang isterinya dan dua butir air mata jatuh ke atas kedua pipinya.

********************

Malam ini tidak terjadi sesuatu. Hal ini sebetulnya berkat Tumenggung Jayasiran yang mencegah Kyai Sidhi Kawasa dan Jaka Bintara yang hendak melakukan pengejaran terhadap Aji. Setelah matahari muncul menerangi bumi, Aji pergi mandi dan menerima ajakan sarapan pagi yang disediakan oleh Neneng Salmah. Sepagi itu Neneng Salmah telah mandi dan bertukar pakaian, tampak bersih dan cantik berseri walau wajahnya yang berkulit putih kuning mulus itu tidak memakai hiasan apapun, bahkan bedakpun tidak. Gadis itu tampak pendiam dan malu-malu. Ki Salmun juga tidak banyak bicara ketika mereka sarapan. Setelah selesai sarapan, Aji berpamit untuk pergi menghadap Sang Adipati Sumedang.

"Kami doakan semoga usaha andika berhasil baik, anakmas." kata Ki Salmun yang bersama puterinya mengantar pemuda itu sampai ke depan rumah.

Setelah Aji pergi, mereka bergegas memasuki rumah dan menutup daun pintu. Kereta yang disewa masih berada di pekarangan dan kusirnya yang dengan setia menanti juga sudah mendapat kiriman sarapan oleh Neneng Salmah. Ketika tiba di pekarangan gedung kadipaten yang luas, aji disambut oleh para perajurit pengawal dengan penuh kehormatan setelah mereka mengetahui bahwa pemuda itu yang kemarin telah menyelamatkan Sang Adipati. Mereka tahu bahwa pemuda itu adalah seorang senopati mataram dan seorang yang sakti mandraguna. Seorang dari pengawal segera melapor ke dalam dan tak lama kemudian Aji diantar seorang perwira pasukan pengawal memasuki gedung kadipaten menuju ke ruangan tamu yang luas.

Akan tetapi ketika dia memasuki ruangan tamu di mana Adipati Sumedang, Pangeran Mas Gede, menantinya, Aji merasa terkejut bukan main melihat Kyai Sidhi Kawasa telah duduk berhadapan dengan sang adipati, agaknya menjadi tamu agung yang dihormati! Akan tetapi dia tidak memperlihatkan keterkejutan hatinya dan dengan tenang dia melangkah maju menghampiri lalu melakukan penghormatan dengan sembah sambil berdiri kepada sang adipati. Pangeran Mas Gede bangkit berdiri dan menyambut Aji dengan senyum ramah.

"Ah, akhirnya andika muncul juga, Anakmas Lindu Aji. Silakan duduk, memang sejak tadi kami menanti kedatanganmu. Mari, kami perkenalkan. Anakmas, ini adalah Bapa Kyai Sidhi Kawasa, tokoh besar dari Banten yang juga menjadi penasihat Adipati di Banten. Bapa Kyai, ini adalah Anakmas Lindu Aji, senopati muda Mataram yang telah menyelamatkan kami dari ancaman pemberontak Tumenggung Jaluwisa!"

Melihat Kyai Sidhi Kawasa tidak bangkit berdiri, Aji pun lalu duduk dan kedua orang ini saling pandang dengan sinar mata mencorong. Sang Adipati memandang dengan alis berkerut. Tadi dia telah lebih dulu menerima pelaporan datuk Banten itu betapa Aji telah menghina dan membikin malu Jaka Bintara, bahkan telah melarikan Neneng Salmah dari tangan Jaka Bintara. tentu saja sang adipati merasa tidak enak terhadap dua orang tamunya dari Banten mengingat bahwa Raden Jaka Bintara adalah seorang pangeran dan dialah yang sudah memberikan Neneng Salmah kepada pangeran itu untuk menghiburnya. Akan tetapi di lain pihak, diapun berhutang budi kepada Lindu Aji, maka dia menjadi serba bingung.

"Hemm, para senopati Mataram hanya merupakan orang sombong yang suka memamerkan kesaktian, memukul orang-orang tak bedosa, sesuai dengan sifat angkara murka Mataram yang memerangi dan menaklukkan semua daerah. Akan tetapi Kadipaten Banten tidak akan tunduk kepada Mataram yang angkara murka!" kata Kyai Sidhi Kawasa.

"Paman...!" Pangeran Mas Gede terkejut sekali dan wajahnya berubah khawatir.

"Tidak apa-apa, Anakmas Adipati. Mungkin Kadipaten Sumedang memang mengakui kekuasaan Sultan Agung Mataram, akan tetapi kami dari Banten bukanlah taklukan Mataram!" kata Kyai Sidhi Kawasa dengan tajam menggigit.

Aji bangkit perlahan-lahan, memandang kepada kakek itu dengan sinar mata mencorong dan dia berkata dengan tenang, "Kyai Sidhi Kawasa, sudah menjadi watak senopati Mataram sebagai satria sejati untuk menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Kalau andika memaksakan kekerasan di manapun andika berada, kalau bertemu dengan aku, sudah pasti aku akan menentangmu!"

"Babo-babo, apa kau kira aku takut kepadamu?" Kyai Sidhi Kawasa bangkit berdiri. Kini dia memegang sebuah tongkat ular cobra yang tampak mengerikan. Aji juga bangkit berdiri. "Akupun tidak takut kepadamu!" Dua orang itu saling berhadapan, siap untuk saling serang.

Adipati Sumedang cepat bangkit dari kursi dan berdiri di antara mereka, melerai. "Cukup, kalau ada permusuhan pribadi, harap jangan dipertengkarkan di sini! Apakah andika berdua sama sekali tidak menaruh hormat kepada kami?"

"Maafkan, Anakmas Adipati." kata Kyai Sidhi Kawasa sambil duduk kembali.

Akan tetapi Aji menghadapi sang adipati dan berkata dengan hormat. "Paman Adipati, orang Banten ini dan muridnya telah berlaku sewenang-wenang di kadipaten ini, mengandalkan kesaktian melukai orang-orang, bahkan semalam mereka menculik Neneng Salmah. Tindakan mereka didukung Tumenggung Jayasiran, dan baru saja kakek ini bahkan menghina Mataram. Apakah Paman Adipati akan mendiamkan saja sikap dan perbuatannya?"

"Anakmas Lindu Aji, tenang dan bersabarlah. Bagaimanapun juga Paman Kyai Sidhi Kawasa ini adalah tamu kehormatan kami, dia adalah utusan kerajaan Banten. Bahkan muridnya, Raden Jaka Bintara, adalah seorang Pangeran Banten. Karena itu, semua urusan harus diselesaikan dengan jalan damai, bukan dengan permusuhan."

"Hemm, begitukah pendapat paman? Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit!"

Setelah berkata demikian Aji cepat memberi hormat dan keluar dari ruangan itu, terus berjalan cepat meninggalkan gedung itu menuju ke rumah Ki Salmun. Ketika ia tiba di sana, Ki Salmun dan Neneng Salmah menyambutnya dengan penuh harapan. Mang Engkos juga sudah berada di situ, ingin mengetahui apa hasil kunjungan Aji ke kadipaten. "Bagaimana hasilnya, anakmas?"

"Kami tidak perlu pergi, bukan, Mas Aji?" tanya pula Neneng Salmah penuh harapan.

Aji menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Keadaannya semakin buruk. Ternyata Adipati Sumedang sendiri juga membela orang Banten. Andika berdua bersiaplah, kita pergi sekarang juga. Paman Salmun, tolong berikan surat saya untuk Kanjeng Adipati Cirebon, akan saya tambah sedikit laporan saya."

Ayah dan anak itu tentu saja menjadi prihatin lagi. Ki Salmun cepat mengeluarkan surat itu dan Aji menambahkan laporannya. Setelah itu, Ki Salmun, Neneng Salmah dan Aji lalu naik kereta yang masih siap menunggu di pekarangan dan berangkatlah mereka. Neneng Salmah duduk dalam kereta sambil menangis tanpa suara. Aji dan Ki Salmun duduk di depannya dan kereta bergerak meninggalkan pekarangan rumah itu.

Mang Engkos berdiri di pekarangan mengikuti kereta itu dengan pandang matanya yang sayu. Dia ikut berduka dengan nasib Neneng Salmah dan ayahnya. Kalau saja dulu Neneng Salmah menerima pinangannya, pikirnya, tentu sekarang telah menjadi isteri Sudarman dan tidak akan terjadi musibah ini karena Sudarman tentu melarang isterinya menjadi ledek. Dia berjanji pada diri sendiri akan merawat rumah itu dan isinya dengan baik-baik.

Kereta meluncur laju keluar dari kota Sumedang melalui pintu gerbang sebelah utara. Tidak ada halangan sesuatu dalam perjalanan. Setelah matahari naik tinggi dan mereka tidak menemui gangguan, beberapa kali Neneng Salmah memberi isyarat dengan pandang matanya kepada ayahnya, sedangkan Aji memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Sebetulnya dia melakukan hal itu agar tidak usah bertemu pandang terlalu sering dengan Neneng Salmah. Tadi, ketika beberapa kali dia beradu pandang, dia terkejut melihat betapa sinar mata gadis itu mengandung pandang yang aneh! Seperti orang terharu, orang memohon, dan ada kemesraan yang terasa benar olehnya dalam pandang mata yang indah itu.

Melihat ayahnya masih belum juga tanggap, Neneng Salmah bahkan menjulurkan kaki dan menyentuh kaki Ki Salmun yang duduk di depannya. Ki Salmun terkejut memandang puterinya dan kembali Neneng Salmah memberi isyarat dengan kedipan matanya ke arah Aji. Barulah Ki Salmun mengerti apa yang dimaksud puterinya. Sesungguhnya, sejak tadipun dia sudah memikirkan janjinya semalam kepada puterinya, hanya dia merasa rikuh dan sukar untuk mengeluarkan kata-kata menyampaikan keinginan hati anaknya itu. Dia menoleh kepada Aji yang duduk di sebelah kanannya. Melihat Aji duduk dengan punggung lurus dan kedua mata terpejam dia ragu-ragu dan meoleh kepada anaknya. Neneng Salmah kembali memberi isyarat seolah mendorongnya untuk segera bicara, maka Ki Salmun lalu menggunakan tangan kanannya menyentuh paha kiri Aji dan berkata lembut.

"Anakmas Aji tentu amat lelah dan mengantuk. Semua itu andika lakukan demi kami, sungguh membuat hati kami ayah dan anak merasa tidak enak sekali telah membuat anakmas kelelahan."

Seperti yang diharapkan ayah dan anak itu, Aji tidak tertidur. Dia membuka matanya dan tersenyum menoleh dan memandang kepada Ki Salmun. "Ah, tidak sama sekali, paman. Saya tidak lelah atau mengantuk, saya sedang memikirkan keadaan Kadipaten Sumedang."

"Kalau begitu maafkan kalau saya mengganggu ketenanganmu, anakmas. Ada sesuatu yang hendak saya sampaikan."

"Ada apakah, paman? Kalau ada persoalan, katakana saja, kenapa mesti ragu-ragu?" Aji merasa heran, apa lagi melihat Neneng Salmah menundukkan muka dengan kedua pipi merah sekali!

"Akan tetapi sebelumnya kami mohon sudilah kiranya anakmas memaafkan kami..." Ki Salmun tampak gugup dan mukanya basah berkeringat.

"Tentu saja! Paman ini aneh-aneh saja. Kalau hendak menyatakan sesuatu, katakanlah saja, kenapa harus sungkan-sungkan dan minta maaf segala? Katakanlah, paman, aku yakin tidak akan marah."

"Begini, anakmas. Semalam kami, saya dan Salmah telah merundingkan tentang masa depan kehidupan Salmah. Ia menyatakan keinginan dan kebulatan tekadnya dan saya menyetujuinya, maka dalam kesempatan ini saya menyampaikan kepada anakmas tentang apa yang telah menjadi keputusan kami itu. Anak saya ini sudah mengambil keputusan untuk... suwita (menghambakan diri) kepada andika, Anakmas Lindu Aji. Sudah tentu saja kalau anakmas belum beristeri dan sudi menerimanya sebagai isteri."

Aji terbelalak. Sama sekali tidak disangkanya akan mendengar pernyataan seperti itu! Mendadak saja dia teringat kepada Sulastri yang telah kehilangan ingatan dan kini menjadi Listyani atau Eulis. Sejenak dia tidak mampu bicara, hanya memandang kepada Neneng Salmah dan di melihat betapa kini gadis itu semakin menundukkan mukanya sehingga dagunya menempel pada dadanya. Bibir yang merah mungil itu seperti hendak tersenyum, namun gemetar dan tampak giginya rapi dan putih menggigit bibir bawahnya seperti hendak menahan gejolak hati yang membuat bibir itu tergetar.

Alangkah ayu manisnya gadis ini! Akan tetapi selain teringat kepada Sulastri, Ajipun teringat akan tugasnya. Memang dia telah bertemu dengan keluarga mendiang gurunya, bahkan telah bertemu dengan putera gurunya dan cucu gurunya yang ternyata adalah orang-orang bijaksana dan baik. Akan tetapi, biarpun dia telah bertemu dengan kakak tirinya seperti yang dipesankan mendiang ayahnya, namun pertemuan itu tidak melegakan hatinya karena dia mendapat kenyataan bahwa kakak tirinya itu terpikat oleh para kaki tangan Kumpeni Belanda.

Hal ini haruslah ditentangnya. Dia harus menyadarkan kakak tirinya bahwa kakak tirinya itu diperalat oleh Banuseta, pada hal justru Banuseta itu yang menjadi musuh besar mereka berdua! Tugas ini harus diselesaikannya dan tugas besar lain, membantu usaha Sultan Agung Mataram untuk menyerang Batavia juga harus dia laksanakan dengan baik. Setelah semua itu terlaksana, barulah dia akan memikirkan tentang jodoh, akan tetapi tidak sekarang!

"Maaf, paman Salmun. terus terang saja, saya memang belum beristeri. Akan tetapi, paman, pada saat sekarang ini, saya masih mengemban banyak tugas penting dan saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, Maaf, saya kira sekarang telah aman bagi andika berdua melanjutkan perjalanan tanpa saya karena saya harus mengambil jalan saya sendiri. Selamat jalan dan selamat berpisah."

Aji menyuruh kusir menghentikan kereta dan dia lalu turun dari kereta. "Mas Aji...!" Neneng Salmah cepat turun pula dari kereta. Aji membalikkan tubuhnya dan gadis itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya. Gadis itu menangis.

"Ada apakah, nimas? Jangan begini, jangan berlutut seperti ini." kata Aji.

"Mas Aji..." Neneng Salmah terisak... "Apakah andika membenci saya? Apakah andika jijik melihat saya...? Karena saya... saya seorang ledek? Tentu saya tidak berharga dalam pandangan andika, tidak berharga menjadi... isteri andika..."

Aji memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya berdiri sehingga mereka berdiri berhadapan, dekat sekali. "Sama sekali tidak, nimas. Kalau mau bicara tentang siapa yang tidak berharga di antara kita berdua, maka akulah yang tidak berharga untuk menjadi suamimu, nimas. Andika adalah sorang gadis yang baik sekali, bijaksana dan pandai, seorang seniwati yang jarang bandingannya. Sedangkan aku? Aku hanya seorang pemuda dusun yang melarat dan tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi bukan itu yang menjadi alasanku menolak usul perjodohan yang diajukan ayahmu. Melainkan karena aku masih memiliki tugas yang banyak dan penting dan sama sekali aku belum mempunyai pikiran dan keinginan untuk menikah. Maafkan aku, nimas."

Akan tetapi Neneg Salmah tiba-tiba menjatuhkan lagi dirinya, berlutut sambil merangkul kedua kaki Aji. Ia menangis. "Mas Aji... aku sudah mengambil keputusan untuk menghambakan diriku kepadamu, mas... aku mau menjadi apa saja, menjadi abdimu, menjadi hambamu, mencucikan pakaianmu, melakukan semua pekerjaan untuk melayanimu asal andika sudi menerimaku, asal aku diperbolehkan ikut denganmu"

Aji tersenyum dan menghela napas, lalu menggeleng kepalanya, rasa haru memenuhi hatinya. Terasa benar olehnya betapa gadis itu amat mencintainya, begitu pasrah, bahkan mau menjadi budaknya, menjadi abdinya! "Nimas Neneng Salmah, jangan menuruti perasaanmu, akan tetapi pergunakanlah akal budimu. Bangkitlah dan mari kita bicara secara baik-baik." Suara Aji terdengar begitu penuh wibawa sehingga seolah menyeret Neneng Salmah dari keadaan yang dipenuhi perasaan haru dan duka itu, dan iapun bangkit perlahan-lahan sambil berusaha menghentikan isaknya. Mereka berdiri berhadapan, Aji, Neneng Salmah dan Ki Salmun.

"Nimas, pikirkanlah baik-baik. Kuulangi sekali lagi. Penolakan ini sama sekali bukan berarti bahwa aku benci atau tidak suka padamu. Aku masih mempunyai banyak sekali tugas penting yang harus kuselesaikan dan pada saat ini aku sama sekali belum berniat menikah. Dan bagaimana mungkin andika ikut denganku, nimas? Dalam menunaikan tugas ini, hidupku penuh bahaya. Ancaman maut mengintai dari seluruh penjuru. Aku masih dapat membela dan melindungi diriku sendiri, Nimas Neneng Salmah, akan tetapi bagaimana aku akan dapat melindungimu terus menerus? Engkau akan menyita banyak waktu dan perhatianku untuk melindungi dirimu, mendatangkan banyak kesulitan dan menghalangi terlaksananya semua tugasku. Apakah engkau menghendaki terjadinya hal seperti itu?"

"Aduh! Ampun Gusti! Ah, tidak, tentu saja saya tidak...!" jerit neneng salmah.

"Nah, syukurlah kalau begitu, Andika berdua akan aman tinggal bersama Paman Subali di Dermayu. Dia seorang yang bijaksana. Kelak, kalau semua tugasku sudah selesai terlaksana, baru kita dapat bicara soal perjodohan dengan hati terbuka dan jujur. Bagaimana pendapatmu, Nimas?"

Neneng Salmah menyembah. "Aduh, Mas Aji. Andika membuka dan menyadarkan hati dan pikiranku. Aku tadi terlalu hanyut oleh perasaanku dan hanya mementingkan diri sndiri. Aku patut malu. Andika benar, mas Aji. Biarlah aku menaati semua petunjukmu. Semoga Gusti allah kelak memberkahi dan mengabulkan pemohonan dan keinginanku dan semoga Gusti Allah selalu melindungi andika."

"Amin, nimas. Nah, sekarang lanjutkan perjalanan kalian. Aku harus pergi!" Aji melompat dan lenyap dari situ.

"Mas Aji...!" Neneng Salmah mengeluh, air matanya bercucuran. Rasanya semangatnya ikut terbang mengejar bayangan pemuda itu.

Salmun menyentuh pundaknya. "Sudahlah, Salmah. Ucapan Anakmas Lindu Aji tadi benar sekali dan tidak ada yang perlu ditangisi. Mari kita melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuknya"

Dia menggandeng lengan anaknya dan mengajaknya memasuki kereta kembali, Kereta lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Dermayu lewat Cirebon. Setelah tiba di Cirebon, tanpa banyak kesulitan Salmun dan puterinya diperkenankan menghadap Adipati Pangeran Ratu, penguasa Cirebon setelah dia melapor kepada perwira pengawal bahwa dia datang menghadap sebagai utusan Lindu Aji. Apa lagi wajah Neneng Salmah juga dikenal oleh perwira itu karena ledek dari Sumedang yang amat terkenal itu pernah pula ditanggap di kadipaten Cirebon.

Setelah Adipati Cirebon menerima surat Aji, membaca laporan pemuda itu bahwa Adipati Sumedang bersikap bersahabat, bahkan memanjakan dan membela pangeran dari Banten yang jahat, dia menjadi marah. Pada hari itu juga Adipati Cirebon mengirim utusan ke Mataram untuk menyerahkan pelaporannya kepada Sulatan Agung. Peristiwa ini menyebabkan kemarahan Sultan Agung dan beberapa bulan kemudian Sultan Agung di Mataram memutuskan untuk memecat Pangeran Mas Gede. Sebagai gantinya diangkat Adipati Ukur yang mewakili Mataram dan menjadi penguasa di Sumedang dan bahkan seluruh Priangan. Salmun dan Neneng Salmah tidak lama berada di Cirebon. Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Dermayu. begitu memasuki Dermayu mereka langsung mencari Ki Subali.

********************

Belasan hari yang lalu, Ki Subali dan isterinya mengalami peristiwa yang menggembirakan, namun sekaligus juga mengejutkan dan mengkhawatirkan. Pada suatu siang, suami istri ini duduk diserambi depan dan seperti biasa, kalau mereka sedang duduk berdua tanpa kesibukan tertentu itu, tiada lain yang mereka bicarakan tentu perihal anak mereka, Sulastri. Sudah berbulan-bulan anak tunggal mereka itu meninggalkan mereka dan berita yang mereka dapat tentang anak mereka adalah berita yang membuat mereka berdua selalu merasa gelisah, yaitu ketika Lindu Aji datang berkunjung dan menceritakan bahwa Sulastri terjatuh ke dalam tebing yang amat curam.

Yang menghibur hati mereka adalah bahwa Lindu Aji tidak pernah menemukan jenazahnya di bawah tebing, akan tetapi yang mengkhawatirkan hati mereka adalah tidak adanya berita dari anak mereka itu. Mereka tidak tahu bagaimana dengan nasib puteri mereka, kalau masih hidup di mana ia berada, kalau sudah mati di mana kuburnya. Melihat wajah isterinya yang pucat dan muram, Ki Subali yang duduk di depan isterinya, terhalang meja, menghibur,

"Sudahlah, jangan terlalu membiarkan hati ditekan kesedihan. Hal ini amat tidak baik bagi kesehatanmu."

Nyi Subali memandang suaminya, menghela nafas panjang dan akhirnya berkata, "Semua ini adalah kesalahanmu..."

"Ehh? Mengapa kesalahanku?"

"Kalau dulu engkau tidak membiarkan anak kita mempelajari ilmu silat, tidak melatih aji kanuragan, tentu ia tidak akan berani pergi merantau dan tidak terjadi malapetaka seperti ini. Ia akan menjadi seorang perawan yang alim, yang baik, membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah dan mungkin kita sekarang sudah mempunyai mantu, sudah menimang cucu..." Wanita itu menahan tangisnya.

Ki Subali menghela napas panjang. "Akupun menyesal kalau memikirkan hal itu. Engkau tahu sendiri bahwa aku seorang yang tidak suka akan kekerasan. Akan tetapi anak kita itu berhati keras dan ialah yang dahulu itu nekat untuk mempelajari aji kanuragan. Akan tetapi semua itu telah terjadi dan tidak ada gunanya disesali lagi. Sekarang kita hanya dapat berdoa dan mohon kepada Gusti Allah semoga anak kita selamat dan pada suatu hari akan pulang ke sini."

Tiba-tiba Nyi Subali menjulurkan tangannya di atas meja dan mencengkeram lengan tangan suaminya, matanya terbelalak memandang ke luar rumah. "Ada apa, bune...?" Ki Subali berseru kaget melihat isterinya memandang keluar rumah. Diapun menoleh dan memandang ke pekarangan. Mereka berdua melihat dua orang memasuki pekarangan. seorang gadis yang bukan lain adalah Sulastri!

"Ia... ia... Sulastri anakku...!" Nyi Subali lalu bangkit dan berlari keluara diikuti suaminya.

Gadis itu tertegun melihat suami istri itu berlari keluar, yang wanita lari sambil menangis. Apa lagi ketika wanita yang wajah dan bentuk tubuhnya tidak asing baginya akan tetapi yang tidak dikenalnya siapa itu langsung merangkulnya sambil menangis. Eulis hanya bengong, membiarkan dirinya dirangkul dan diciumi sehingga mukanya basah oleh air mata yang membanjir keluar dari mata wanita itu.

"Sulastri... anakku...!" Nyi Subali berkata dalam tangisnya, akan tetapi ibu ini dapat merasakan juga dengan penuh kekagetan dan keheranan betapa gadis itu sama sekali tidak menanggapinya, tidak membalas rangkulan dan ciumannya, melainkan hanya berdiri seperti patung! Maka iapun melepaskan rangkulannya untuk dapat mengamati wajah anaknya dengan jelas sambil membelalakkan matanya yang masih basah.

"Engkau... engkau Lastri anakku... engkau kenapa...?"

Eulis balas memandang dan menggelengkan kepalanya. Ada rasa suka dalam hatinya terhadap wanita ini, akan tetapi tetap saja ia tidak mengenal siapa wanita yang mengaki ibunya itu. "Saya tidak mengenal bibi. Nama saya Listyani, biasa dipanggil Eulis"

"Lastri, apa maksudmu dengan kata-kata itu? Engkau Sulastri anak tunggal kami! Mustahil engkau tidak mengenal ayah ibumu sendiri!" Ki Subali membentak penasaran melihat sikap dan mendengar ucapan Sulastri.

Gadis itu memandang Ki Subali. Iapun merasa suka melihat laki-laki setengah tua itu, akan tetapi ia tidak tahu siapa dia. Ia menggeleng kepalanya. "Saya... saya tidak mengenal andika..."

Selagi Ki Subali dan isterinya kebingungan, Jatmika melangkah maju dan berkata. "Maaf, kanjeng paman dan kanjeng bibi, saya kira hal ini perlu penjelasan dari saya."

Karena tadi seluruh perhatiannya tertuju kepada anaknya, maka baru sekarang Ki Subali memperhatikan pemuda itu. Dia mengerutkan alisnya, memandang pemuda itu dengan penuh kecurigaan, seolah dia hendak menyalahkan pemuda itu akan keadaan Sulastri yang aneh itu. "Siapa andika? Bagaimana andika dapat bersama anak kami? Mengapa anak kami menjadi begini?"

Jatmika mengangkat kedua tangannya ke atas, menyabarkan hati orang tua itu. "Harap paman dan bibi tenang dan bersabar. Saya mengerti kegelisahan andika berdua. Saya dapat menceritakan keadaan Nimas Eulis dengan jelas. Apakah tidak sebaiknya kalau kita bicarakan masalah ini di dalam saja?"

Barulah Ki Subali teringat bahwa tadi dia bersikap kurang bijaksana terhadap pemuda ini, sebelumnya telah menyangka yang bukan-bukan. "Maafkan kami... kami bingung tadi... silakan anakmas, silakan masuk. Bune, ajaklah Sulastri masuk."

Nyi Subali merangkul gadis itu. "Lastri, mari masuk rumah, nak."

"Bibi, nama saya Listyani, panggil saja Eulis." bantah Eulis dengan suara lembut karena ia merasa hormat dan suka kepada wanita itu.

"Baiklah... Eulis ... mari kita masuk dan bicara di dalam" kata ibu itu dengan hati tersayat keharuan.

Eulis menurut saja ketika ia dirangkul dan diajak masuk. Mereka berempat lalu masuk ke ruangan dalam dan mengambil tempat duduk. Nyi Subali duduk di dekat Eulis dan tak pernah melepaskan gadis itu dari rangkulannya, "Begini paman dan bibi. Sebelum saya bercerita tentang Nimas Eulis, saya ingin memperkenalkan diri lebih dulu. Nama saya Jatmika dan saya adalah cucu dari Eyang Ki Ageng Pasisiran yang tentu paman telah mengenalnya."

"Ah, maksudmu, guru Sulastri di pantai itu?"

"Benar, paman. menurut cerita yang kudengar dari Adimas Lindu Aji, mula-mula Nimas Eulis yang tadinya bernama Sulastri ini terjatuh dari atas tebing yang curam ketika bersama Adimas ia melawan gerombolan perampok."

"Hal itu sudah kami dengar dari anakmas Lindu Aji sendiri, Anakmas Jatmika. Dia menceritakan bahwa Sulastri jatuh dari atas tebing. Akan tetapi setelah selama dua hari Anakmas Aji mencari-cari, dia tidak dapat menemukan Sulastri di bawah tebing, Hal itu mendatangkan harapan bagi kami bahwa anak kami masih hidup. Akan tetapi hanya sampai di situ sajalah cerita anakmas Aji tentang Sulastri. Selanjutnya kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya, dan tahu-tahu ia kini muncul bersama andika dalam keadaan seperti ini, tidak ingat kepada kami orang tuanya."

"Ah, kiranya Adimas Aji telah datang kepada paman berdua? Sekarang saya yang akan melanjutkan ceritanya, paman. Saya bertemu dengan Nimas Sulastri"

"Kangmas Jatmika, aku lebih senang disebut Eulis!" Sulastri atau Eulis mencela.

Jatmika tersenyum. "Baiklah, Nimas. akan tetapi aku harus menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada Paman dan Bibi Subali."

Eulis diam saja, hanya memandang wajah Nyi Subali yang masih merangkul pinggangnya. "Saya bertemu dengan Nimas Eulis dan berkenalan ketika berdua melawan gerombolan jahat."

"Kangmas Jatmika yang telah menolong saya ketika saya dikeroyok orang-orang jahat." kata Eulis. Peristiwa itu tidak dapat ia lupakan karena sejak saat peristiwa itulah iangatannya mulai bekerja. sejak saat itu sampai sekarang saja yang dapat diingatnya, dan sebelum itu, ia tidak ingat apa-apa. "Setelah kami berdua membasmi gerombolan jahat itu, kami berkenalan dan saat itu Nimas Eulis tidak ingat apa-apa, tidak tahu siapa dirinya dan apa yang terjadi dengan dirinya sebelumnya, karena itu, saya memilihkan nama Listyani atau disingkat Eulis kepadanya."

"Itu memang namaku! Aku suka disebut Eulis!" kata pula gadis itu.

Setelah mendengar keterangan Jatmika bahwa puterinya memang kehilangan ingatannya, dengan penuh pengertian Nyi Subali merangkul leher Eulis dan mencium pipinya. "Baiklah, anakku, mulai sekarang aku akan menyebutmu Eulis, kalau engkau menyukai nama itu." katanya lembut.

"Kemudian bagaimana, Anakmas Jatmika? Tanya Ki Subali. "Kami berdua tertawan orang-orang jahat yang bersekutu dengan seorang senopati Sumedang yang hendak memberontak terhadap Adipati Sumedang. mereka memaksa kami untuk membantu mereka memberontak terhadap Pangeran Mas Gede, adipati sumedang. Untung sekali kami bertemu dengan Adimas Lindu aji yang melindungi sang adipati membasmi para pemberontak. Adimas Aji yang menganjurkan agar kami berdua datang kesini, paman. Siapa tahu, di sini Nimas Eulis akan dapat memulihkan ingatannya."

Eulis yang sejak tadi mendengarkan, menatap wajah Ki Subali dan Nyi Subali bergantian. Dua wajah yang menimbulkan rasa suka di hatinya, dua wajah yang tidak terasa asing baginya, akan tetapi dua wajah yang sama sekali tidak diingat siapa mereka. "Kami akan berusaha mencarikan usaha pengobatan untuk memulihkan ingatannya, anakmas." kata ki Subali.

"Jadi andika berdua ini adalah ayah dan ibu kandungku? Dan namaku sebenarnya Sulastri?" kata Eulis sambil mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, sungguh aku sama sekali tidak ingat, tidak merasa mengenal dengan andika berdua dan hanya tahu dan ingat bahwa namaku Listyani atau Eulis, bukan Sulastri."

Dengan penuh kesabaran Ki Subali yang bijaksana berkata, "Baiklah, nak. Mulai saat ini, engkau bernama Listyani atau Eulis seperti yang kau kehendaki, dan engkau anggaplah kami suami isteri sebagai pengganti ayah ibumu. Maukah engkau tinggal di sini bersama kami dan menjadi anak angkat kami?"

"Benar, Nimas Eulis. Engkau sebaiknya tinggal di sini bersama Paman Subali dan bibi. Mereka amat menyayangmu dan mudah-mudahan engkau akan menemukan ingatanmu kembali akan masa lalumu. Aku sendiri harus pergi untuk mengunjungi makam ayahku dan kakekku, kemudian aku akan mencari para pembunuh mereka!"

"Ah...! Apakah... Ki Ageng Pasisiran terbunuh, anakmas Jatmika?" Tanya Ki Subali dengan terkejut dan heran.

Jatmika menghela napas panjang. "Saya mendengar berita mengejutkan dan menyedihkan ini dari Adimas Lindu aji, paman. Ayah dan kakek saya terbunuh oleh penjahat yang bersekutu dengan para mata-mata kumpeni belanda."

"Ah, jahat sekali! Seorang yang sudah tua dan bijaksana seperti Ki Ageng Pasisiran juga dibunuhnya!" kata Ki Subali.

"Benar, paman. mereka itu jahat sekali. Selain menjadi antek Kumpeni Belanda, mengkhianati tanah air dan bangsa sendiri, mereka juga kejam. Karena itu, saya harus mencari mereka dan membalas kematian ayah dan kakek saya. Nah, saya mohon diri, paman dan bibi. engkau juga, nimas, aku pergi sekarang."

Jatmika cepat keluar dari rumah itu. Setelah dia tiba di luar, Eulis bangkit dan berlari keluar, "Kakangmas Jatmika, tunggu...!"

Nyi Subali bergerak hendak mengejar, akan tetapi suaminya memegang pundaknya dan mencegahnya. "Sstt... jangan kejar, biarkan saja mereka berdua bicara di luar. Tidakkah engkau melihat bahwa ada hubungan batin yang lebih akrab di antara mereka?" kata Ki Subali lirih dan isterinya mengangguk, lalu menjatuhkan dirinya terduduk kembali. Ia masih merasa terpukul melihat anak tunggal yang dikasihinya itu kini tidak mengenalnya sebagai ibu lagi!

Sementara itu, mendengar seruan Eulis, Jatmika berhenti dan memutar tubuhnya. Dia melihat Eulis mengejarnya keluar rumah dan mereka berdua berdiri berhadapan di pekarangan rumah itu. "Nimas Eulis, ada apakah?" tanyanya sambil tersenyum. Betapa cantiknya gadis ini, pikirnya dan hatinya dipenuhi rasa sayang.

"Kakangmas Jatmika, kenapa engkau tidak mengajak aku?" Eulis bertanya dan dalam suaranya terkandung teguran.

"Nimas, apakah engkau ingat bahwa Eyang Tejo langit atau Ki Ageng Pasisiran itu gurumu?"

Eulis menggeleng kepala dengan sedih. "Aku tidak ingat sama sekali, aku tidak tahu siapa guruku"

"Nah, apakah engkau tidak ingin menemukan kembali ingatanmu yang hilang itu? Tinggallah di sini, di rumahmu sendiri, di rumah ayah ibumu yang telah kau lupakan agar perlahan-lahan engkau dapat menemukan kembali ingatanmu. Percayalah, nimas. Hal ini yang terbaik untukmu. Aku sendiri mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan. Aku berjanji bahwa kalau semua tugas telah kuselesaikan, aku pasti akan kembali ke sini."

"Benarkah, kakangmas? Engkau akan kembali ke sini? Engkau tidak akan melupakan aku?" tanya Eulis dengan wajah memelas.

Jatmika tidak dapat menahan hatinya yang penuh kasih sayang, Dia maju dan memegang kedua tangan gadis itu. "Betapa mungkin aku dapat melupakanmu, nimas? Aku akan selalu ingat kepadamu karena aku... aku .. cinta padamu, nimas..."

"Engkau penolongku dan engkau merupakan orang yang paling baik bagiku. Kakangmas Jatmika, aku... aku akan... merindukanmu, karena aku... jangan pergi terlalu lama"

Jatmika menggenggam jari-jari tangan yang lembut hangat itu. "Aduh, nimas. Betapa bahagia hatiku mendengar ucapanmu ini. Aku juga selalu akan merasa rindu padamu. pecayalah, aku pasti kembali dan aku... aku akan melamarmu kepada Paman Subali, untuk menjadi istriku."

"Kangmas..." Jatmika tidak ingin terseret gelombang gairah cintanya. Dia melepaskan tangan gadis itu. "Cukup, nimas. Selamat tinggal, selamat berpisah untuk sementara waktu. Aku akan segera kembali." Dia lalu memutar tubuhnya karena dia merasa bahwa kalau dia membiarkan dirinya terlalu lama berdekatan dan berbincang-bincang dengan gadis itu, dia tidak akan mampu memisahkan diri...


Alap Alap Laut Kidul Jilid 23

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 23
AJI mengerutkan alisnya. Benar juga apa yang dikatakan pemuda yang bijaksana ini. Biarpun orang sedunia menuduhnya, kalau memang kenyataannya dia tidak melakukan apa yang dituduhkan orang, megapa dia mesti pusing? Gurunya juga selalu mengajarkan bahwa yang penting bagi seseorang adalah eling lan waspodo (ingat dan waspada), yaitu ingat setiap saat dan menyerah kepada Gusti Allah dan waspada terhadap pikiran, kata, dan perbuatan sendiri. Kalau kita waspada dan sadar bahwa kita bersalah, inilah yang penting dan harus kita ubah. Sebaliknya kalau kita tidak bersalah, mengapa harus memusingkan gunjinagn orang? dan kalau benar besok terjadi sesuatu yang mencelakakan Neneng Salmah pada hal dia menolak bermalam di sana, tentu saja dia akan merasa menyesal bukan main.

"Apa yang dikatakan Darman itu benar, anakmas Lindu Aji. mari kuantar andika berkunjung ke sana."

Aji mengangguk dan berangkatlah mereka berdua ke rumah Neneng Salmah yang berada di sebelah utara tepi kota kadipaten Sumedang. Akan tetapi, begitu tiba di rumah Ki Salmun, mereka menemukan Ki Salmun menangis kebingungan. Mang Engkos segera bertanya apa yang telah terjadi sedangkan Aji mendengarkan dengan alis berkerut. Ketika Ki salmon melihat Aji dan mengenalnya sebagai pemuda perkasa yang tadi telah menghajar Jaka Bintara dia lalu berlutut menyembah-nyembah.

"Raden... tolonglah anak saya... tolonglah Neneng Salmah."

Aji memegang kedua pundak Ki Salmun dan menariknya bangkit. "Tenanglah, paman. tenang dan ceritakan apa yang terjadi."

"Serombongan perajurit datang dan memaksa Neneng Salmah ikut ke rumah Raden Tumenggung Jayasiran yang memanggilnya. Anak saya menolak akan tetapi dipaksa, diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi..." kata Ki Salmun denngan bingung.

"Kapan hal itu terjadi, paman?" Tanya Aji.

"Baru saja dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Tolonglah... tolong anak saya, raden..."

"Mang Engkos, temani paman ini dulu. Aku hendak menyusul dan menolong Neneng Salmah!"

Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban tubuh Aji berkelebat lenyap karena dia sudah mempergunakan Aji Bayu Sakti, meloncat dan berlari secepat angin menembus kegelapan malam menuju ke rumah Tumenggung Jayasiran. Ternyata rumah gedung itu telah sepi. Pesta tadi telah bubar hanya tinggal bekasnya saja, daun dan kertas bekas pembungkus makanan berserak di pekarangan, di bawah panggung. Aji memasuki pekarangan yang sepi, lalu menyusup ke samping dan melompati pagar tembok samping yang tidak begitu tinggi. Dia turun ke sebelah dalam yang ternyata merupakan sebuah taman dan menyelinap di antara pohon dan semak menuju ke gedung yang sudah tampak sunyi itu. Dia bingung karena tidak tahu di mana Neneng Salmah berada, akan tetapi dia yakin bahwa tentu gadis penari itu dibawa ke gedung ini.

Tiba-tiba dia mendengar jerit wanita, akan tetapi segera jerit itu terdiam seolah mulut yang menjerit itu dibungkam. Jeritan pendek itu cukup bagi Aji yang memberi petunjuk ke mana dia harus mencari. Cepat dia melompat ke bagian belakang gedung. Dia melihat sinar lampu menyorot keluar dari celah-celah jendela sebuah kamar dan terdengar napas orang terengah engah dari dalam kamar itu. Aji lalu mendorong daun jendela kamar dan jendela itupun jebol. Di bawah sinar lampu gantung di kamar itu, dia melihat Neneng Salmah mempertahankan diri, bergumul di atas pembaringan dengan seorang pria yang berusaha merenggut lepas pakaiannya. Gadis itu melawan dengan gigih, mempertahankan pakaiannya dengan cakaran, gigitan dan pukulan. Mulutnya tak mampu mengeluarkan suara karena didekap tangan kiri penyerangnya yang bukan lain adalah Raden Jaka Bintara!

Ternyata Jaka Bintara inilah yang karena merasa penasaran, minta kepada Tumenggung Jayasiran agar dia dapat menguasai Neneng Salmah yang digandrunginya. Tumenggung itu merasa sungkan untuk menolak, apa lagi tadi dia tidak dapat mencegah pangeran Banten yang dikalahkan dan dipermalukan di depan umum. Untuk menghibur hati pangeran itu, Tumenggung Jayasiran memenuhi permintaannya dan memerintahkan pasukan memanggil Neneng Salmah dan memaksa gadis itu datang ke gedungnya dan menyerahkannya kepada Jaka Bintara. Pemuda bangsawan Banten itu menjadi girang sekali dan setelah dia memasuki kamar di mana Neneng Salmah dikeram, dia menerkam gadis itu bagaikan seekor binatang buas!

Namun gadis itu melawan dengan sekuat tenaga bahkan sempat mengeluarkan jeritan. Ketika daun jendela jebol, Jaka Bintara terkejut dan dia menjadi lebih kaget lagi ketika menengok ke jendela yang sudah terbuka, dia melihat wajah Aji yang tertimpa sinar lampu dari dalam. Dia terbelalak dan merasa gentar karena dia maklum bahwa dia tidak mampu menandingi pemuda yang sakti mandraguna itu. Apa lagi melihat sinar mata Aji mencorong, Jaka Bintara merasa gentar dan maklum bahwa bahaya besar mengancam dirinya. Orang yang suka bertindak kejam dasarnya memang menyembunyikan perasaan takut. Maka perasaan takut membuat pemuda ini melepaskan Neneng Salmah dan diapun melompat, membuka daun pintu kamarnya dan lari meninggalkan kamar itu. Dia harus cepat mencari bala bantuan dan siapa lagi kalau bukan gurunya yang akan mampu menandingi Lindu Aji?

Setelah melihat Jaka Bintara melarikan diri, Aji melompat masuk ke dalam kamar itu. Neneng Salmah membereskan pakaiannya yang awut-awutan dan saking lega dan girangnya ia lalu lari menghampiri Aji, menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu dan merangkul kedua kakinya, menyembah dan mencium kaki seperti orang melakukan sungkem (menghormati orang dengan sembah sujud).

"Terima kasih, raden... terima kasih..."

Aji cepat memegang lengan gadis itu dan menariknya bangkit. "Cukup, mari kita cepat pergi dari sini."

Neneng Salmah adalah seorang wanita yang tabah. Ia tidak menangis walaupun kedua pipinya masih basah, Ia mengangguk sambil bangkit berdiri dan menurut saja ketika Aji menarik lengannya menghampiri jendela.

Akan tetapi pada saat itu Neneng Salmah berseru, "Awas, raden...!"

Aji cepat membalik dan melihat Kyai Sidhi Kawasa sudah berdiri di ambang pintu. Di belakangnya berdiri Jaka Bintara yang berlindung di belakang gurunya. Agaknya Kyai Sidhi Kawasa sudah marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah mendorongkan kedua tangannya dengan Aji Analabanu. Sinar api berkobar menyambar dari kedua telapak tangannya ke arah Aji. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya namun dengan pengerahan tenaga sakti sepenuhnya menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula. Karena maklum bahwa tenaga kakek ini tentu jauh lebih kuat daripada tenaga Jaka Bintara, maka Aji juga menggunakan Aji Guruh Bumi. Begitu dia mengerahkan tenaga untuk menyambut, kamar itu seolah tergetar hebat, seolah ada gempa bumi. Demikain hebatnya Aji Guruh Bumi itu.

"Wuuuttt... blarrrr...!" Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu dan akibatnya, tubuh Kyai Sidhi Kawasa tergetar, sehingga dia melangkah mundur tiga kali. Aji tidak terpengaruh benturan tenaga itu dan dia cepat memondong tubuh Neneng Salmah dan membawanya melompat keluar jendela. Gadis itu memejamkan mata ketika merasa betapa pinggangnya dirangkul dan tubuhnya dibawa "terbang", demikian rasanya karena cepat sekali Aji yang memondongnya itu membawanya lari dan melompati pagar tembok sehingga mereka tiba di luar gedung itu. Barulah Aji menurunkan tubuh Neneng Salmah dari pondongannya. barulah wajah Aji menjadi kemerahan dan jantungnya berdebar.

"Ah... nimas, maafkan aku. Terpaksa aku tadi memondongmu agar dapat lari dengan cepat." kata Aji.

Neneng Salmah menjadi semakin kagum. Tadi, ketika melihat pemuda ini menghajar Jaka Bintara, ia sudah merasa kagum dan merasa dibela kehormatannya. Karena itu, ketika ia berada dalam cengkeraman Jaka Bintara dalam kamar tadi, bagaikan seekor domba dalam cengkeraman harimau, lalu Aji muncul dan membuat laki-laki jahat itu melarikan diri, ia menjadi terharu dan bersyukur sekali sehingga ia menjatuhkan diri berlutut dan sungkem di depan kaki Aji. Kemudian, pemuda yang dikaguminya itu bahkan melawan serangan kekek mengerikan itu, kemudian memondongnya dan membawanya lari keluar dari gedung Tumenggung Jayasiran. Dan apa yang dilakukan pemuda itu setelah menyelamatkannya dari bahaya yang lebih mengerikan baginya dari pada kematian?

Pemuda itu malah minta maaf karena tadi memondongnya! Belum pernah selama hidupnya Neneng Salmah menemukan pemuda seperti ini! Bijaksana dan berbudi, lemah lembut dan bersusila tinggi! Biasanya, semua laki-laki seperti berlomba untuk dapat menjamahnya, baik mempergunakan pengaruh uang, kedudukan, rayuan atau paksaan. Akan tetapi pemuda ini, yang memondongnya karena hendak membawanya lari dan menyelamatkannya, malah minta maaf! Dan sebutan itu! Nimas! Betapa merdu memasuki telinganya. Betapa membuat ia merasa terhormat. Padahal, hampir semua pria, kecuali Sudarman, seolah memandang rendah padanya. Mereka mengira bahwa semua ledek adalah wanita murahan yang mudah menyerahkan diri kepada setiap orang laki-laki yang mampu memberinya uang! Ia tahu apa artinya sebutan nimas itu, seperti sebutan adinda yang mesra dan akrab. Walaupun sebutan itu biasa dipergunakan di Jawa Tengah, di Mataram, namun ia tahu artinya, maka terdengar amat merdu menyenangkan.

"Aduh, raden... akulah yang sepatutnya mohon maaf kepadamu. Raden sama sekali tidak mengenalku, akan tetapi andika telah menyelamatkan aku dari bencana, telah menolongku dengan mempertaruhkan keselamatan diri raden sendiri. Akulah yang sepatutnya mohon maaf dan menghaturkan terima kasih. Sampai mati aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu yang berlimpah itu, raden."

"Hemm, jangan sebut aku raden, Nimas Neneng Salmah. Aku bukan bangsawan seperti Raden Jaka Bintara itu. Aku seorang dusun biasa, namaku Lindu Aji. engkau cukup memanggilku Mas Aji saja."

"Baiklah, Mas Aji. Bertambah lagi nilai andika di dalam pandanganku. Ternyata andika seorang pemuda yang rendah hati, pula. Akan tetapi dalam pandanganku, andika jauh lebih bijaksana, lebih berharga dari pada sekalian laki-laki bangsawan yang pernah kujumpai dan aku berterima kasih sekali kepadamu."

"Sudahlah, kalau hendak berterima kasih, berterima kasih dan bersukurlah kepada Gusti Allah karena hanya Gusti Allah yang dapat menolong manusia. Aku hanya menjadi alat, menjadi sarana. Mari kuantar engkau pulang ke rumah Ki Salmun yang menunggumu dengan hati gelisah."

"Bapa... ah bapa... kasihan dia." Mereka lalu bergegas menuju rumah Ki Salmun.

Sementara itu, Kyai Sidhi Kawasa dan Jaka Bintara yang merasa penasaran hendak melakukan mengejaran dan akan minta bantuan pasukan. Akan tetapi Tumenggung Jayasiran muncul dan mencegah mereka. "Jangan kejar mereka. Ketahuilah, baru saja aku mendapat kabar bahwa yang bernama Lindu Aji itu mempunyai keris pusaka Nagawelang!"

"Hemm, lalu apa artinya itu?" Tanya Kyai Sidhi Kawasa.

"Itu berarti bahwa dia adalah seorang utusan dan kepercayaan Sultan Agung di Mataram. Dia seorang senopati Mataram!" kata Tumenggung Jayasiran.

"Baru saja aku mendapat berita ini dari seorang perajurit pengawal sang adipati. Karena itu, sebaiknya kita tidak membuat permusuhan dengan dia. Bahkan besok pagi sekali kuharap paman mendahuluinya menghadap Gusti Adipati Pangeran Mas Gede, untuk mempererat persahabatan antara Banten dan Sumedang karena saya berpendapat bahwa Lindu Aji itu pasti datang menghadap sang adipati besok. Kalau paman melakukan pengejaran dan menggunakan pasukan, kemudian diketahui sang adipati, saya tentu akan mendapat teguran keras, paman. Sebaliknya, kalau paman menghadap lebih dulu dan dapat meyakinkan hati sang adipati bahwa Lindu Aji itu mungkin dikirim Mataram sebagai mata-mata dapat membangkitkan kecurigaan dalam hati sang adipati, hal itu akan menguntungkan kita."

Karena alasan yang dikemukakan tumenggung jayasiran itu kuat, biarpun hatinya masih penasaran, Kyai sidhi kawasa terpaksa mengangguk-angguk dan dia mengajak muridnya kembali ke kamarnya. Jaka Bintara yang sudah dua kali merasa dihalangi dan diganggu Aji, mengepal kedua tangannya. "Akan kubunuh dia... kubunuh dia..."

********************

"Salmah, anakku...!" Ki Salmun merangkul anaknya dan keduanya berangkulan sambil menangis.

Mang Engkos yang berada di situ menemui Ki Salmun berkata kepada Ki Salmun. "Sudahlah, kita harus bersyukur bahwa Neneng Salmah dapat pulang dengan selamat berkat pertolongan Anakmas Lindu Aji."

Ki Salmun seperti diingatkan. Dia melepaskan anaknya lalu membungkuk dan menyembah kepada Lindu Aji. "Anakmas, banyak terima kasih atas pertolongan andika. Budi kebaikan terhadap kami sekeluarga sungguh tak ternilai besarnya."

"Sudahlah, paman. Mari kita mengucap syukur dan menghaturkan terima kasih kepada Gusti Allah. Sekarang, yang penting adalah paman dan Nimas Neneng Salmah harus pergi meninggalkan Sumedang untuk mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk lagi." Ayah dan anak itu saling pandang dengan mata terbelalak dan Neneng Salmah memutar tubuh menghadapi Aji dengan wajah pucat. "mas Aji... kami... kami harus pergi meninggalkan rumah sekarang juga, malam-malam begini? Akan tetapi kemana, mas...?"

"Benar, nimas. terpaksa engkau dan ayahmu harus pergi sekarang juga, kalau tidak, tentu akan muncul gangguan-gangguan baru yang lebih buruk lagi karena sudah jelas bahwa Tumenggung Jayasiran berpihak kepada orang Banten itu. Besok aku akan melaporkan kepada Paman Adipati Sumedang, minta keadilan. Akan tetapi engkau dan ayahmu harus pergi dulu sehingga tidak akan terancam bahaya selagi aku pergi menghadap ke kadipaten."

"Akan tetapi... Akang... eh, Mas Aji. Ke manakah kami harus pergi malam-malam begini?" suara gadis itu terdengar gemetar seperti hendak menangis, bahkan Ki Salmun juga bingung dan tidak mampu berkata apa-apa. Meninggalkan Sumedang malam-malam begini, lalu hendak kemanakah?

"Apakah andika tidak memiliki keluarga yang tinggal jauh dari Sumedang, Paman Salmun?"

Ki Salmun menggeleng kepalanya tanpa mengeluarkan suara karena dia bingung sekali. Bingung harus bersama puterinya pergi begitu saja, meninggalkan rumah seisinya, tanpa tahu harus pergi ke mana! "Kang Aji..." dalam kegugupannya Neneng Salmah keliru menyebut akang, bukan mas kepada Aji yang sesungguhnaya maksudnya sama, yaitu kakak atau kanda. "Kami tidak mempunyai sanak dekat yang kiranya akan mampu menampung kami."

"Kalau begitu, aku yang akan mengatur. Malam ini juga, andika berdua harus meninggalkan Sumedang dan mengungsi ke Cirebon."

"Ke Cirebon?" kata Ki Salmun. "Tapi... tapi kami tidak mempunyai keluarga di sana..."

"Aku mempunyai sahabat yang amat baik, paman, yaitu Ki Subali yang tinggal di Indramayu. Akan tetapi, sebelum andika pergi ke Indramayu dan tinggal bersama Ki Subali, harap andika lebih dulu pergi ke Kadipaten Cirebon, menghadap Adipati Cirebon Pangeran Ratu."

Kembali Ki Salmun terbelalak heran. "Menghadap Gusti Adipati Cirebon? Saya... saya... tidak berani, anakmas!"

"Jangan takut, paman. Aku akan membuatkan sepucuk surat dan paman hanya tinggal menghadap dan menyerahkan surat itu saja. Gusti Adipati Pangeran Ratu tentu akan menyambut paman dan Nimas Neneng Salmah dengan baik. Kemudian baru andika berdua pergi ke Dermayu, menemui Paman Subali dan menyerahkan pula suratku kepadanya." "Tapi...!" Orang tua itu tampak bingung dan memandang ke sekeliling dalam rumahnya. "lalu bagaimana dengan rumah dan semua milik kami ini?"

"Jangan khawatir, paman. Kukira paman... eh, Mang Engkos akan mau menjaganya dan kelak kalau perlu atas namamu menjual semua ini dan uangnya dapat paman pergunakan untuk membeli rumah dan sawah ladang di Dermayu, kalau segalanya sudah tenang kembali. Atau ada kemungkinan juga andika berdua kembali kesini, yaitu... kalau keadaan sudah aman dan nimas Neneng Salmah sudah mempunyai seorang suami yang dapat melindunginya."

"Tentu saja aku mau mengurus rumah seisinya ini untuk Adi Salmun. Jangan khawatir akan hal itu!" kata Mang Engkos dengan serius.

"Nah, sekarang aku akan membuat surat untuk Paman Adipati Cirebon dan untuk Paman Subali di Dermayu. Andika berdua dapat berkemas, membawa apa yang sekiranya perlu. dan Paman... eh, Mang Engkos, harap suka mencarikan sebuah kereta dengan kuda-kuda yang dapat disewa untuk mengantar Paman Salmun dan Nimas Salmah ke Cirebon."

Mang Engkos segera pergi. Ki Salmun dan Neneng Salmah, biarpun masih bingung, segera berkemas, membawa pakaian dan barang berharga yang tidak terlalu berat, sementara itu Aji lalu membuat dua pucuk surat yang akan dibawa ayah dan anak itu. Setelah semua beres, Ki Salmun dan Neneng Salmah selesai berkemas, kereta dan dua ekor kuda beserta kusirnya sudah datang, Aji sudah pula menyelesaikan dua sampul suratnya, pemuda itu berkata. "Nah, sekarang tiba saatnya bagi andika berdua berangkat, Paman Salmun."

Ayah dan anak itu masih tampak bingung. "Aku... aku masih merasa tidak tenang dan khawatir, anakmas..."

"Dan aku juga takut, Mas Aji. Bagaimana nanti kalau dalam perjalanan ada oang jahat menghadang dan mengganggu kami..." suara Neneng Salmah seperti hendak menangis.

"Tenanglah, paman dan engkau juga, Nimas. Aku sendiri akan mengawalmu malam ini meninggalkan Sumedang. Baru setelah malam lewat dengan aman, besok pagi andika berdua boleh melanjutkan perjalanan tanpa aku."

Wajah Neneng Salmah yang tadinya muram dan bendungan tangisnya hampir bobol, tiba-tiba saja tampak berseri dan mulutnya tersenyum. Hampir ia melompat dan menari-nari saking girangnya. "Andika mengantar kami, Mas Aji? Aduh terima kasih, terima kasih. Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang juga! Aku tidak takut lagi!"

Juga Ki Salmun merasa lega dan dapat tersenyum. "Hanya sampai besok pagi, nimas. Besok pagi aku harus kembali ke sini karena masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku akan menghadap Paman Adipati Sumedang, melaporkan semua kejadian ini agar beliau dapat turun tangan dan mengusir orang-orang Banten yang agaknya didukung Tumenggung Jayasiran itu."

"Nanti dulu, aku ingin bicara dan mengajukan saran. maafkan kalau aku bicara salah, anakmas Aji." kata Mang Engkos.

"Tentu saja boleh. Saran siapapun akan membantu dan amat penting, Mang Engkos. Mungkin saranmu lebih baik daripada apa yang hendak kulakukan." kata Aji.

"Begini, Anakmas Aji dan kalian juga, adi Salmun dan Neneng Salmah. Kukira, kepergian adi Salmun dan anaknya tidak perlu begini tergesa-gesa. Aku mendengar bahwa anakmas Aji telah menyelamatkan Gusti Adipati dari serangan Tumenggung Jaluwisa yang memberontak. Dengan demikian, tentu anakmas dipercaya oleh Gusti Adipati. Kalau anakmas melaporkan semua ini kepada beliau, tentu beliau akan bertindak, mengusir orang Banten itu dan menindak Tumenggeng Jayasiran. Nah, kalau sudah begitu, bukankah berarti keadaan menjadi aman dan Neneng Salmah tidak terancam lagi. Kalau sudah begitu, aku kira tidak perlu lagi ayah dan anak ini melarikan diri dari Sumedang. Bagaimana pendapat kalian? Bukankah sebaiknya kepergian ini ditunda dan menanti sampai besok pagi, melihat bagaimana keadaannya setelah Anakmas Aji melapor kepada Gusti Adipati?"

Ayah dan anak itu memandang kepada Aji dengan sinar mata penuh harapan. tentu saja mereka juga ingin sekali agar tetap tinggal di Sumedang dan mereka menganggap usul mang Engkos itu baik sekali. Aji menyambut pandangan mereka dan diapun termenung. Bagaimanapun juga, usul itu memang patut diperhatikan. Besar kemungkinan Adipati Sumedang akan mendengarkan laporannya dan bertindak. Kalau Jaka Bintara dan gurunya telah diusir dari Sumedang dan Tumenggung Jayasiran telah ditindak, berarti tidak ada lagi ancaman bagi Neneng Salmah. Mengapa tergesa-gesa menyuruh mereka menyingkir malam-malam begini? Aji mengangguk-angguk.

"Baik sekali saranmu itu, Mang Engkos. Baiklah kalau begitu. Malam ini aku akan tinggal di sini, menjaga segala kemungkinan buruk. Besok pagi-pagi aku akan menghadap Paman Adipati Sumedang dan melaporkan kejahatan Jaka Bintara yang didukung Tumenggung Jayasiran. Kemudian kita lihat perkembangannya."

cerita silat online karya kho ping hoo

"Terima kasih, Mas Aji! Terima kasih, mang Engkos!" Neneng Salmah berseru, seperti bersorak gembira. "Biar kubuatkan masakan untuk andika bedua."

Gadis itu lalu berlari ke dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka semua. Setelah minum-minum sejenak, mang Engkos lalu berpamit pulang karena dia harus merawat Sudarman dan Ki Bajra yang terluka. Aji dipersilahkan beristirahat dalam sebuah kamar di mana pemuda ini duduk bersila, mengaso akan tetapi tetap waspada melakukan penjagaan. sementara itu, Neneng Salmah berada di kamar ayahnya. Ayah dan anak itu bicara berbisik-bisik, tampaknya serius sekali.

"Sudah kau pertimbangkan baik-baik, Salmah?" Tanya Ki Salmun berbisik.

"Sudah, bapa. Kalau hati sudah merasa, perlukah pikiran mempertimbangkannya lagi? Selama hidupku, belum pernah aku bertemu seorang laki-laki seperti dia. Aku jatuh cinta, bapa, aku merasa berbahagia kalau dapat hidup didekatnya, biar hanya menjadi pelayannya, abdinya. Tolonglah, bapa, sampaikan keinginanku kepadanya, bicarakanlah urusan perjodohan ini."

Ki Salmun menghela napas panjang. "Hemm, memang sebetulnya sudah matang waktunya bagimu untuk menjadi isteri orang, Salmah. Semenjak tiga tahun terakhir ini, entah berapa banyaknya pinangan pria yang terpaksa kutolak karena engkau masih belum ingin menjadi isteri orang. Bahkan pinangan Sudarman putera Mang Engkos yang begitu baik, terpaksa kutolak. Padahal engkau juga tahu bahwa Sudarman adalah seorang pemuda yang baik sekali, bahkan tadipun dia berusaha untuk membelamu dari orang Banten itu. Akan tetapi engkau menolak juga dan sekarang... tiba-tiba engkau ingin menjadi isteri anakmas Aji."

"Akang Sudarman memang baik, akan tetapi aku tidak menyukainya, bapa. Sedangkan Mas Aji ini... dia telah menjatuhkan hatiku dan aku merasa yakin bahwa hidupku pasti akan berbahagia di dekatnya, walaupun hanya menjadi pelayannya."

"Hemm, kalau tekadmu sudah bulat seperti ini, biarlah besok setelah dia menghadap Gusti adipati, akan kusampaian kepadanya."

"Terima kasih, bapa! Bapa memang seorang yang bijaksana dan berhati mulia! Hatur nuhun (terima kasih) bapa!" Gadis itu merangkul dan mencium pipi ayahnya. Perbuatan ini mendatangkan rasa haru dalam hati Ki Salmun, membuat ia teringat akan mendiang isterinya dan dua butir air mata jatuh ke atas kedua pipinya.

********************

Malam ini tidak terjadi sesuatu. Hal ini sebetulnya berkat Tumenggung Jayasiran yang mencegah Kyai Sidhi Kawasa dan Jaka Bintara yang hendak melakukan pengejaran terhadap Aji. Setelah matahari muncul menerangi bumi, Aji pergi mandi dan menerima ajakan sarapan pagi yang disediakan oleh Neneng Salmah. Sepagi itu Neneng Salmah telah mandi dan bertukar pakaian, tampak bersih dan cantik berseri walau wajahnya yang berkulit putih kuning mulus itu tidak memakai hiasan apapun, bahkan bedakpun tidak. Gadis itu tampak pendiam dan malu-malu. Ki Salmun juga tidak banyak bicara ketika mereka sarapan. Setelah selesai sarapan, Aji berpamit untuk pergi menghadap Sang Adipati Sumedang.

"Kami doakan semoga usaha andika berhasil baik, anakmas." kata Ki Salmun yang bersama puterinya mengantar pemuda itu sampai ke depan rumah.

Setelah Aji pergi, mereka bergegas memasuki rumah dan menutup daun pintu. Kereta yang disewa masih berada di pekarangan dan kusirnya yang dengan setia menanti juga sudah mendapat kiriman sarapan oleh Neneng Salmah. Ketika tiba di pekarangan gedung kadipaten yang luas, aji disambut oleh para perajurit pengawal dengan penuh kehormatan setelah mereka mengetahui bahwa pemuda itu yang kemarin telah menyelamatkan Sang Adipati. Mereka tahu bahwa pemuda itu adalah seorang senopati mataram dan seorang yang sakti mandraguna. Seorang dari pengawal segera melapor ke dalam dan tak lama kemudian Aji diantar seorang perwira pasukan pengawal memasuki gedung kadipaten menuju ke ruangan tamu yang luas.

Akan tetapi ketika dia memasuki ruangan tamu di mana Adipati Sumedang, Pangeran Mas Gede, menantinya, Aji merasa terkejut bukan main melihat Kyai Sidhi Kawasa telah duduk berhadapan dengan sang adipati, agaknya menjadi tamu agung yang dihormati! Akan tetapi dia tidak memperlihatkan keterkejutan hatinya dan dengan tenang dia melangkah maju menghampiri lalu melakukan penghormatan dengan sembah sambil berdiri kepada sang adipati. Pangeran Mas Gede bangkit berdiri dan menyambut Aji dengan senyum ramah.

"Ah, akhirnya andika muncul juga, Anakmas Lindu Aji. Silakan duduk, memang sejak tadi kami menanti kedatanganmu. Mari, kami perkenalkan. Anakmas, ini adalah Bapa Kyai Sidhi Kawasa, tokoh besar dari Banten yang juga menjadi penasihat Adipati di Banten. Bapa Kyai, ini adalah Anakmas Lindu Aji, senopati muda Mataram yang telah menyelamatkan kami dari ancaman pemberontak Tumenggung Jaluwisa!"

Melihat Kyai Sidhi Kawasa tidak bangkit berdiri, Aji pun lalu duduk dan kedua orang ini saling pandang dengan sinar mata mencorong. Sang Adipati memandang dengan alis berkerut. Tadi dia telah lebih dulu menerima pelaporan datuk Banten itu betapa Aji telah menghina dan membikin malu Jaka Bintara, bahkan telah melarikan Neneng Salmah dari tangan Jaka Bintara. tentu saja sang adipati merasa tidak enak terhadap dua orang tamunya dari Banten mengingat bahwa Raden Jaka Bintara adalah seorang pangeran dan dialah yang sudah memberikan Neneng Salmah kepada pangeran itu untuk menghiburnya. Akan tetapi di lain pihak, diapun berhutang budi kepada Lindu Aji, maka dia menjadi serba bingung.

"Hemm, para senopati Mataram hanya merupakan orang sombong yang suka memamerkan kesaktian, memukul orang-orang tak bedosa, sesuai dengan sifat angkara murka Mataram yang memerangi dan menaklukkan semua daerah. Akan tetapi Kadipaten Banten tidak akan tunduk kepada Mataram yang angkara murka!" kata Kyai Sidhi Kawasa.

"Paman...!" Pangeran Mas Gede terkejut sekali dan wajahnya berubah khawatir.

"Tidak apa-apa, Anakmas Adipati. Mungkin Kadipaten Sumedang memang mengakui kekuasaan Sultan Agung Mataram, akan tetapi kami dari Banten bukanlah taklukan Mataram!" kata Kyai Sidhi Kawasa dengan tajam menggigit.

Aji bangkit perlahan-lahan, memandang kepada kakek itu dengan sinar mata mencorong dan dia berkata dengan tenang, "Kyai Sidhi Kawasa, sudah menjadi watak senopati Mataram sebagai satria sejati untuk menentang yang jahat dan membela yang lemah tertindas. Kalau andika memaksakan kekerasan di manapun andika berada, kalau bertemu dengan aku, sudah pasti aku akan menentangmu!"

"Babo-babo, apa kau kira aku takut kepadamu?" Kyai Sidhi Kawasa bangkit berdiri. Kini dia memegang sebuah tongkat ular cobra yang tampak mengerikan. Aji juga bangkit berdiri. "Akupun tidak takut kepadamu!" Dua orang itu saling berhadapan, siap untuk saling serang.

Adipati Sumedang cepat bangkit dari kursi dan berdiri di antara mereka, melerai. "Cukup, kalau ada permusuhan pribadi, harap jangan dipertengkarkan di sini! Apakah andika berdua sama sekali tidak menaruh hormat kepada kami?"

"Maafkan, Anakmas Adipati." kata Kyai Sidhi Kawasa sambil duduk kembali.

Akan tetapi Aji menghadapi sang adipati dan berkata dengan hormat. "Paman Adipati, orang Banten ini dan muridnya telah berlaku sewenang-wenang di kadipaten ini, mengandalkan kesaktian melukai orang-orang, bahkan semalam mereka menculik Neneng Salmah. Tindakan mereka didukung Tumenggung Jayasiran, dan baru saja kakek ini bahkan menghina Mataram. Apakah Paman Adipati akan mendiamkan saja sikap dan perbuatannya?"

"Anakmas Lindu Aji, tenang dan bersabarlah. Bagaimanapun juga Paman Kyai Sidhi Kawasa ini adalah tamu kehormatan kami, dia adalah utusan kerajaan Banten. Bahkan muridnya, Raden Jaka Bintara, adalah seorang Pangeran Banten. Karena itu, semua urusan harus diselesaikan dengan jalan damai, bukan dengan permusuhan."

"Hemm, begitukah pendapat paman? Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit!"

Setelah berkata demikian Aji cepat memberi hormat dan keluar dari ruangan itu, terus berjalan cepat meninggalkan gedung itu menuju ke rumah Ki Salmun. Ketika ia tiba di sana, Ki Salmun dan Neneng Salmah menyambutnya dengan penuh harapan. Mang Engkos juga sudah berada di situ, ingin mengetahui apa hasil kunjungan Aji ke kadipaten. "Bagaimana hasilnya, anakmas?"

"Kami tidak perlu pergi, bukan, Mas Aji?" tanya pula Neneng Salmah penuh harapan.

Aji menggeleng kepala dan menghela napas panjang. "Keadaannya semakin buruk. Ternyata Adipati Sumedang sendiri juga membela orang Banten. Andika berdua bersiaplah, kita pergi sekarang juga. Paman Salmun, tolong berikan surat saya untuk Kanjeng Adipati Cirebon, akan saya tambah sedikit laporan saya."

Ayah dan anak itu tentu saja menjadi prihatin lagi. Ki Salmun cepat mengeluarkan surat itu dan Aji menambahkan laporannya. Setelah itu, Ki Salmun, Neneng Salmah dan Aji lalu naik kereta yang masih siap menunggu di pekarangan dan berangkatlah mereka. Neneng Salmah duduk dalam kereta sambil menangis tanpa suara. Aji dan Ki Salmun duduk di depannya dan kereta bergerak meninggalkan pekarangan rumah itu.

Mang Engkos berdiri di pekarangan mengikuti kereta itu dengan pandang matanya yang sayu. Dia ikut berduka dengan nasib Neneng Salmah dan ayahnya. Kalau saja dulu Neneng Salmah menerima pinangannya, pikirnya, tentu sekarang telah menjadi isteri Sudarman dan tidak akan terjadi musibah ini karena Sudarman tentu melarang isterinya menjadi ledek. Dia berjanji pada diri sendiri akan merawat rumah itu dan isinya dengan baik-baik.

Kereta meluncur laju keluar dari kota Sumedang melalui pintu gerbang sebelah utara. Tidak ada halangan sesuatu dalam perjalanan. Setelah matahari naik tinggi dan mereka tidak menemui gangguan, beberapa kali Neneng Salmah memberi isyarat dengan pandang matanya kepada ayahnya, sedangkan Aji memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Sebetulnya dia melakukan hal itu agar tidak usah bertemu pandang terlalu sering dengan Neneng Salmah. Tadi, ketika beberapa kali dia beradu pandang, dia terkejut melihat betapa sinar mata gadis itu mengandung pandang yang aneh! Seperti orang terharu, orang memohon, dan ada kemesraan yang terasa benar olehnya dalam pandang mata yang indah itu.

Melihat ayahnya masih belum juga tanggap, Neneng Salmah bahkan menjulurkan kaki dan menyentuh kaki Ki Salmun yang duduk di depannya. Ki Salmun terkejut memandang puterinya dan kembali Neneng Salmah memberi isyarat dengan kedipan matanya ke arah Aji. Barulah Ki Salmun mengerti apa yang dimaksud puterinya. Sesungguhnya, sejak tadipun dia sudah memikirkan janjinya semalam kepada puterinya, hanya dia merasa rikuh dan sukar untuk mengeluarkan kata-kata menyampaikan keinginan hati anaknya itu. Dia menoleh kepada Aji yang duduk di sebelah kanannya. Melihat Aji duduk dengan punggung lurus dan kedua mata terpejam dia ragu-ragu dan meoleh kepada anaknya. Neneng Salmah kembali memberi isyarat seolah mendorongnya untuk segera bicara, maka Ki Salmun lalu menggunakan tangan kanannya menyentuh paha kiri Aji dan berkata lembut.

"Anakmas Aji tentu amat lelah dan mengantuk. Semua itu andika lakukan demi kami, sungguh membuat hati kami ayah dan anak merasa tidak enak sekali telah membuat anakmas kelelahan."

Seperti yang diharapkan ayah dan anak itu, Aji tidak tertidur. Dia membuka matanya dan tersenyum menoleh dan memandang kepada Ki Salmun. "Ah, tidak sama sekali, paman. Saya tidak lelah atau mengantuk, saya sedang memikirkan keadaan Kadipaten Sumedang."

"Kalau begitu maafkan kalau saya mengganggu ketenanganmu, anakmas. Ada sesuatu yang hendak saya sampaikan."

"Ada apakah, paman? Kalau ada persoalan, katakana saja, kenapa mesti ragu-ragu?" Aji merasa heran, apa lagi melihat Neneng Salmah menundukkan muka dengan kedua pipi merah sekali!

"Akan tetapi sebelumnya kami mohon sudilah kiranya anakmas memaafkan kami..." Ki Salmun tampak gugup dan mukanya basah berkeringat.

"Tentu saja! Paman ini aneh-aneh saja. Kalau hendak menyatakan sesuatu, katakanlah saja, kenapa harus sungkan-sungkan dan minta maaf segala? Katakanlah, paman, aku yakin tidak akan marah."

"Begini, anakmas. Semalam kami, saya dan Salmah telah merundingkan tentang masa depan kehidupan Salmah. Ia menyatakan keinginan dan kebulatan tekadnya dan saya menyetujuinya, maka dalam kesempatan ini saya menyampaikan kepada anakmas tentang apa yang telah menjadi keputusan kami itu. Anak saya ini sudah mengambil keputusan untuk... suwita (menghambakan diri) kepada andika, Anakmas Lindu Aji. Sudah tentu saja kalau anakmas belum beristeri dan sudi menerimanya sebagai isteri."

Aji terbelalak. Sama sekali tidak disangkanya akan mendengar pernyataan seperti itu! Mendadak saja dia teringat kepada Sulastri yang telah kehilangan ingatan dan kini menjadi Listyani atau Eulis. Sejenak dia tidak mampu bicara, hanya memandang kepada Neneng Salmah dan di melihat betapa kini gadis itu semakin menundukkan mukanya sehingga dagunya menempel pada dadanya. Bibir yang merah mungil itu seperti hendak tersenyum, namun gemetar dan tampak giginya rapi dan putih menggigit bibir bawahnya seperti hendak menahan gejolak hati yang membuat bibir itu tergetar.

Alangkah ayu manisnya gadis ini! Akan tetapi selain teringat kepada Sulastri, Ajipun teringat akan tugasnya. Memang dia telah bertemu dengan keluarga mendiang gurunya, bahkan telah bertemu dengan putera gurunya dan cucu gurunya yang ternyata adalah orang-orang bijaksana dan baik. Akan tetapi, biarpun dia telah bertemu dengan kakak tirinya seperti yang dipesankan mendiang ayahnya, namun pertemuan itu tidak melegakan hatinya karena dia mendapat kenyataan bahwa kakak tirinya itu terpikat oleh para kaki tangan Kumpeni Belanda.

Hal ini haruslah ditentangnya. Dia harus menyadarkan kakak tirinya bahwa kakak tirinya itu diperalat oleh Banuseta, pada hal justru Banuseta itu yang menjadi musuh besar mereka berdua! Tugas ini harus diselesaikannya dan tugas besar lain, membantu usaha Sultan Agung Mataram untuk menyerang Batavia juga harus dia laksanakan dengan baik. Setelah semua itu terlaksana, barulah dia akan memikirkan tentang jodoh, akan tetapi tidak sekarang!

"Maaf, paman Salmun. terus terang saja, saya memang belum beristeri. Akan tetapi, paman, pada saat sekarang ini, saya masih mengemban banyak tugas penting dan saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, Maaf, saya kira sekarang telah aman bagi andika berdua melanjutkan perjalanan tanpa saya karena saya harus mengambil jalan saya sendiri. Selamat jalan dan selamat berpisah."

Aji menyuruh kusir menghentikan kereta dan dia lalu turun dari kereta. "Mas Aji...!" Neneng Salmah cepat turun pula dari kereta. Aji membalikkan tubuhnya dan gadis itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya. Gadis itu menangis.

"Ada apakah, nimas? Jangan begini, jangan berlutut seperti ini." kata Aji.

"Mas Aji..." Neneng Salmah terisak... "Apakah andika membenci saya? Apakah andika jijik melihat saya...? Karena saya... saya seorang ledek? Tentu saya tidak berharga dalam pandangan andika, tidak berharga menjadi... isteri andika..."

Aji memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya berdiri sehingga mereka berdiri berhadapan, dekat sekali. "Sama sekali tidak, nimas. Kalau mau bicara tentang siapa yang tidak berharga di antara kita berdua, maka akulah yang tidak berharga untuk menjadi suamimu, nimas. Andika adalah sorang gadis yang baik sekali, bijaksana dan pandai, seorang seniwati yang jarang bandingannya. Sedangkan aku? Aku hanya seorang pemuda dusun yang melarat dan tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi bukan itu yang menjadi alasanku menolak usul perjodohan yang diajukan ayahmu. Melainkan karena aku masih memiliki tugas yang banyak dan penting dan sama sekali aku belum mempunyai pikiran dan keinginan untuk menikah. Maafkan aku, nimas."

Akan tetapi Neneg Salmah tiba-tiba menjatuhkan lagi dirinya, berlutut sambil merangkul kedua kaki Aji. Ia menangis. "Mas Aji... aku sudah mengambil keputusan untuk menghambakan diriku kepadamu, mas... aku mau menjadi apa saja, menjadi abdimu, menjadi hambamu, mencucikan pakaianmu, melakukan semua pekerjaan untuk melayanimu asal andika sudi menerimaku, asal aku diperbolehkan ikut denganmu"

Aji tersenyum dan menghela napas, lalu menggeleng kepalanya, rasa haru memenuhi hatinya. Terasa benar olehnya betapa gadis itu amat mencintainya, begitu pasrah, bahkan mau menjadi budaknya, menjadi abdinya! "Nimas Neneng Salmah, jangan menuruti perasaanmu, akan tetapi pergunakanlah akal budimu. Bangkitlah dan mari kita bicara secara baik-baik." Suara Aji terdengar begitu penuh wibawa sehingga seolah menyeret Neneng Salmah dari keadaan yang dipenuhi perasaan haru dan duka itu, dan iapun bangkit perlahan-lahan sambil berusaha menghentikan isaknya. Mereka berdiri berhadapan, Aji, Neneng Salmah dan Ki Salmun.

"Nimas, pikirkanlah baik-baik. Kuulangi sekali lagi. Penolakan ini sama sekali bukan berarti bahwa aku benci atau tidak suka padamu. Aku masih mempunyai banyak sekali tugas penting yang harus kuselesaikan dan pada saat ini aku sama sekali belum berniat menikah. Dan bagaimana mungkin andika ikut denganku, nimas? Dalam menunaikan tugas ini, hidupku penuh bahaya. Ancaman maut mengintai dari seluruh penjuru. Aku masih dapat membela dan melindungi diriku sendiri, Nimas Neneng Salmah, akan tetapi bagaimana aku akan dapat melindungimu terus menerus? Engkau akan menyita banyak waktu dan perhatianku untuk melindungi dirimu, mendatangkan banyak kesulitan dan menghalangi terlaksananya semua tugasku. Apakah engkau menghendaki terjadinya hal seperti itu?"

"Aduh! Ampun Gusti! Ah, tidak, tentu saja saya tidak...!" jerit neneng salmah.

"Nah, syukurlah kalau begitu, Andika berdua akan aman tinggal bersama Paman Subali di Dermayu. Dia seorang yang bijaksana. Kelak, kalau semua tugasku sudah selesai terlaksana, baru kita dapat bicara soal perjodohan dengan hati terbuka dan jujur. Bagaimana pendapatmu, Nimas?"

Neneng Salmah menyembah. "Aduh, Mas Aji. Andika membuka dan menyadarkan hati dan pikiranku. Aku tadi terlalu hanyut oleh perasaanku dan hanya mementingkan diri sndiri. Aku patut malu. Andika benar, mas Aji. Biarlah aku menaati semua petunjukmu. Semoga Gusti allah kelak memberkahi dan mengabulkan pemohonan dan keinginanku dan semoga Gusti Allah selalu melindungi andika."

"Amin, nimas. Nah, sekarang lanjutkan perjalanan kalian. Aku harus pergi!" Aji melompat dan lenyap dari situ.

"Mas Aji...!" Neneng Salmah mengeluh, air matanya bercucuran. Rasanya semangatnya ikut terbang mengejar bayangan pemuda itu.

Salmun menyentuh pundaknya. "Sudahlah, Salmah. Ucapan Anakmas Lindu Aji tadi benar sekali dan tidak ada yang perlu ditangisi. Mari kita melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuknya"

Dia menggandeng lengan anaknya dan mengajaknya memasuki kereta kembali, Kereta lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Dermayu lewat Cirebon. Setelah tiba di Cirebon, tanpa banyak kesulitan Salmun dan puterinya diperkenankan menghadap Adipati Pangeran Ratu, penguasa Cirebon setelah dia melapor kepada perwira pengawal bahwa dia datang menghadap sebagai utusan Lindu Aji. Apa lagi wajah Neneng Salmah juga dikenal oleh perwira itu karena ledek dari Sumedang yang amat terkenal itu pernah pula ditanggap di kadipaten Cirebon.

Setelah Adipati Cirebon menerima surat Aji, membaca laporan pemuda itu bahwa Adipati Sumedang bersikap bersahabat, bahkan memanjakan dan membela pangeran dari Banten yang jahat, dia menjadi marah. Pada hari itu juga Adipati Cirebon mengirim utusan ke Mataram untuk menyerahkan pelaporannya kepada Sulatan Agung. Peristiwa ini menyebabkan kemarahan Sultan Agung dan beberapa bulan kemudian Sultan Agung di Mataram memutuskan untuk memecat Pangeran Mas Gede. Sebagai gantinya diangkat Adipati Ukur yang mewakili Mataram dan menjadi penguasa di Sumedang dan bahkan seluruh Priangan. Salmun dan Neneng Salmah tidak lama berada di Cirebon. Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka ke Dermayu. begitu memasuki Dermayu mereka langsung mencari Ki Subali.

********************

Belasan hari yang lalu, Ki Subali dan isterinya mengalami peristiwa yang menggembirakan, namun sekaligus juga mengejutkan dan mengkhawatirkan. Pada suatu siang, suami istri ini duduk diserambi depan dan seperti biasa, kalau mereka sedang duduk berdua tanpa kesibukan tertentu itu, tiada lain yang mereka bicarakan tentu perihal anak mereka, Sulastri. Sudah berbulan-bulan anak tunggal mereka itu meninggalkan mereka dan berita yang mereka dapat tentang anak mereka adalah berita yang membuat mereka berdua selalu merasa gelisah, yaitu ketika Lindu Aji datang berkunjung dan menceritakan bahwa Sulastri terjatuh ke dalam tebing yang amat curam.

Yang menghibur hati mereka adalah bahwa Lindu Aji tidak pernah menemukan jenazahnya di bawah tebing, akan tetapi yang mengkhawatirkan hati mereka adalah tidak adanya berita dari anak mereka itu. Mereka tidak tahu bagaimana dengan nasib puteri mereka, kalau masih hidup di mana ia berada, kalau sudah mati di mana kuburnya. Melihat wajah isterinya yang pucat dan muram, Ki Subali yang duduk di depan isterinya, terhalang meja, menghibur,

"Sudahlah, jangan terlalu membiarkan hati ditekan kesedihan. Hal ini amat tidak baik bagi kesehatanmu."

Nyi Subali memandang suaminya, menghela nafas panjang dan akhirnya berkata, "Semua ini adalah kesalahanmu..."

"Ehh? Mengapa kesalahanku?"

"Kalau dulu engkau tidak membiarkan anak kita mempelajari ilmu silat, tidak melatih aji kanuragan, tentu ia tidak akan berani pergi merantau dan tidak terjadi malapetaka seperti ini. Ia akan menjadi seorang perawan yang alim, yang baik, membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah dan mungkin kita sekarang sudah mempunyai mantu, sudah menimang cucu..." Wanita itu menahan tangisnya.

Ki Subali menghela napas panjang. "Akupun menyesal kalau memikirkan hal itu. Engkau tahu sendiri bahwa aku seorang yang tidak suka akan kekerasan. Akan tetapi anak kita itu berhati keras dan ialah yang dahulu itu nekat untuk mempelajari aji kanuragan. Akan tetapi semua itu telah terjadi dan tidak ada gunanya disesali lagi. Sekarang kita hanya dapat berdoa dan mohon kepada Gusti Allah semoga anak kita selamat dan pada suatu hari akan pulang ke sini."

Tiba-tiba Nyi Subali menjulurkan tangannya di atas meja dan mencengkeram lengan tangan suaminya, matanya terbelalak memandang ke luar rumah. "Ada apa, bune...?" Ki Subali berseru kaget melihat isterinya memandang keluar rumah. Diapun menoleh dan memandang ke pekarangan. Mereka berdua melihat dua orang memasuki pekarangan. seorang gadis yang bukan lain adalah Sulastri!

"Ia... ia... Sulastri anakku...!" Nyi Subali lalu bangkit dan berlari keluara diikuti suaminya.

Gadis itu tertegun melihat suami istri itu berlari keluar, yang wanita lari sambil menangis. Apa lagi ketika wanita yang wajah dan bentuk tubuhnya tidak asing baginya akan tetapi yang tidak dikenalnya siapa itu langsung merangkulnya sambil menangis. Eulis hanya bengong, membiarkan dirinya dirangkul dan diciumi sehingga mukanya basah oleh air mata yang membanjir keluar dari mata wanita itu.

"Sulastri... anakku...!" Nyi Subali berkata dalam tangisnya, akan tetapi ibu ini dapat merasakan juga dengan penuh kekagetan dan keheranan betapa gadis itu sama sekali tidak menanggapinya, tidak membalas rangkulan dan ciumannya, melainkan hanya berdiri seperti patung! Maka iapun melepaskan rangkulannya untuk dapat mengamati wajah anaknya dengan jelas sambil membelalakkan matanya yang masih basah.

"Engkau... engkau Lastri anakku... engkau kenapa...?"

Eulis balas memandang dan menggelengkan kepalanya. Ada rasa suka dalam hatinya terhadap wanita ini, akan tetapi tetap saja ia tidak mengenal siapa wanita yang mengaki ibunya itu. "Saya tidak mengenal bibi. Nama saya Listyani, biasa dipanggil Eulis"

"Lastri, apa maksudmu dengan kata-kata itu? Engkau Sulastri anak tunggal kami! Mustahil engkau tidak mengenal ayah ibumu sendiri!" Ki Subali membentak penasaran melihat sikap dan mendengar ucapan Sulastri.

Gadis itu memandang Ki Subali. Iapun merasa suka melihat laki-laki setengah tua itu, akan tetapi ia tidak tahu siapa dia. Ia menggeleng kepalanya. "Saya... saya tidak mengenal andika..."

Selagi Ki Subali dan isterinya kebingungan, Jatmika melangkah maju dan berkata. "Maaf, kanjeng paman dan kanjeng bibi, saya kira hal ini perlu penjelasan dari saya."

Karena tadi seluruh perhatiannya tertuju kepada anaknya, maka baru sekarang Ki Subali memperhatikan pemuda itu. Dia mengerutkan alisnya, memandang pemuda itu dengan penuh kecurigaan, seolah dia hendak menyalahkan pemuda itu akan keadaan Sulastri yang aneh itu. "Siapa andika? Bagaimana andika dapat bersama anak kami? Mengapa anak kami menjadi begini?"

Jatmika mengangkat kedua tangannya ke atas, menyabarkan hati orang tua itu. "Harap paman dan bibi tenang dan bersabar. Saya mengerti kegelisahan andika berdua. Saya dapat menceritakan keadaan Nimas Eulis dengan jelas. Apakah tidak sebaiknya kalau kita bicarakan masalah ini di dalam saja?"

Barulah Ki Subali teringat bahwa tadi dia bersikap kurang bijaksana terhadap pemuda ini, sebelumnya telah menyangka yang bukan-bukan. "Maafkan kami... kami bingung tadi... silakan anakmas, silakan masuk. Bune, ajaklah Sulastri masuk."

Nyi Subali merangkul gadis itu. "Lastri, mari masuk rumah, nak."

"Bibi, nama saya Listyani, panggil saja Eulis." bantah Eulis dengan suara lembut karena ia merasa hormat dan suka kepada wanita itu.

"Baiklah... Eulis ... mari kita masuk dan bicara di dalam" kata ibu itu dengan hati tersayat keharuan.

Eulis menurut saja ketika ia dirangkul dan diajak masuk. Mereka berempat lalu masuk ke ruangan dalam dan mengambil tempat duduk. Nyi Subali duduk di dekat Eulis dan tak pernah melepaskan gadis itu dari rangkulannya, "Begini paman dan bibi. Sebelum saya bercerita tentang Nimas Eulis, saya ingin memperkenalkan diri lebih dulu. Nama saya Jatmika dan saya adalah cucu dari Eyang Ki Ageng Pasisiran yang tentu paman telah mengenalnya."

"Ah, maksudmu, guru Sulastri di pantai itu?"

"Benar, paman. menurut cerita yang kudengar dari Adimas Lindu Aji, mula-mula Nimas Eulis yang tadinya bernama Sulastri ini terjatuh dari atas tebing yang curam ketika bersama Adimas ia melawan gerombolan perampok."

"Hal itu sudah kami dengar dari anakmas Lindu Aji sendiri, Anakmas Jatmika. Dia menceritakan bahwa Sulastri jatuh dari atas tebing. Akan tetapi setelah selama dua hari Anakmas Aji mencari-cari, dia tidak dapat menemukan Sulastri di bawah tebing, Hal itu mendatangkan harapan bagi kami bahwa anak kami masih hidup. Akan tetapi hanya sampai di situ sajalah cerita anakmas Aji tentang Sulastri. Selanjutnya kami tidak tahu apa yang terjadi dengannya, dan tahu-tahu ia kini muncul bersama andika dalam keadaan seperti ini, tidak ingat kepada kami orang tuanya."

"Ah, kiranya Adimas Aji telah datang kepada paman berdua? Sekarang saya yang akan melanjutkan ceritanya, paman. Saya bertemu dengan Nimas Sulastri"

"Kangmas Jatmika, aku lebih senang disebut Eulis!" Sulastri atau Eulis mencela.

Jatmika tersenyum. "Baiklah, Nimas. akan tetapi aku harus menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada Paman dan Bibi Subali."

Eulis diam saja, hanya memandang wajah Nyi Subali yang masih merangkul pinggangnya. "Saya bertemu dengan Nimas Eulis dan berkenalan ketika berdua melawan gerombolan jahat."

"Kangmas Jatmika yang telah menolong saya ketika saya dikeroyok orang-orang jahat." kata Eulis. Peristiwa itu tidak dapat ia lupakan karena sejak saat peristiwa itulah iangatannya mulai bekerja. sejak saat itu sampai sekarang saja yang dapat diingatnya, dan sebelum itu, ia tidak ingat apa-apa. "Setelah kami berdua membasmi gerombolan jahat itu, kami berkenalan dan saat itu Nimas Eulis tidak ingat apa-apa, tidak tahu siapa dirinya dan apa yang terjadi dengan dirinya sebelumnya, karena itu, saya memilihkan nama Listyani atau disingkat Eulis kepadanya."

"Itu memang namaku! Aku suka disebut Eulis!" kata pula gadis itu.

Setelah mendengar keterangan Jatmika bahwa puterinya memang kehilangan ingatannya, dengan penuh pengertian Nyi Subali merangkul leher Eulis dan mencium pipinya. "Baiklah, anakku, mulai sekarang aku akan menyebutmu Eulis, kalau engkau menyukai nama itu." katanya lembut.

"Kemudian bagaimana, Anakmas Jatmika? Tanya Ki Subali. "Kami berdua tertawan orang-orang jahat yang bersekutu dengan seorang senopati Sumedang yang hendak memberontak terhadap Adipati Sumedang. mereka memaksa kami untuk membantu mereka memberontak terhadap Pangeran Mas Gede, adipati sumedang. Untung sekali kami bertemu dengan Adimas Lindu aji yang melindungi sang adipati membasmi para pemberontak. Adimas Aji yang menganjurkan agar kami berdua datang kesini, paman. Siapa tahu, di sini Nimas Eulis akan dapat memulihkan ingatannya."

Eulis yang sejak tadi mendengarkan, menatap wajah Ki Subali dan Nyi Subali bergantian. Dua wajah yang menimbulkan rasa suka di hatinya, dua wajah yang tidak terasa asing baginya, akan tetapi dua wajah yang sama sekali tidak diingat siapa mereka. "Kami akan berusaha mencarikan usaha pengobatan untuk memulihkan ingatannya, anakmas." kata ki Subali.

"Jadi andika berdua ini adalah ayah dan ibu kandungku? Dan namaku sebenarnya Sulastri?" kata Eulis sambil mengerutkan alisnya. "Akan tetapi, sungguh aku sama sekali tidak ingat, tidak merasa mengenal dengan andika berdua dan hanya tahu dan ingat bahwa namaku Listyani atau Eulis, bukan Sulastri."

Dengan penuh kesabaran Ki Subali yang bijaksana berkata, "Baiklah, nak. Mulai saat ini, engkau bernama Listyani atau Eulis seperti yang kau kehendaki, dan engkau anggaplah kami suami isteri sebagai pengganti ayah ibumu. Maukah engkau tinggal di sini bersama kami dan menjadi anak angkat kami?"

"Benar, Nimas Eulis. Engkau sebaiknya tinggal di sini bersama Paman Subali dan bibi. Mereka amat menyayangmu dan mudah-mudahan engkau akan menemukan ingatanmu kembali akan masa lalumu. Aku sendiri harus pergi untuk mengunjungi makam ayahku dan kakekku, kemudian aku akan mencari para pembunuh mereka!"

"Ah...! Apakah... Ki Ageng Pasisiran terbunuh, anakmas Jatmika?" Tanya Ki Subali dengan terkejut dan heran.

Jatmika menghela napas panjang. "Saya mendengar berita mengejutkan dan menyedihkan ini dari Adimas Lindu aji, paman. Ayah dan kakek saya terbunuh oleh penjahat yang bersekutu dengan para mata-mata kumpeni belanda."

"Ah, jahat sekali! Seorang yang sudah tua dan bijaksana seperti Ki Ageng Pasisiran juga dibunuhnya!" kata Ki Subali.

"Benar, paman. mereka itu jahat sekali. Selain menjadi antek Kumpeni Belanda, mengkhianati tanah air dan bangsa sendiri, mereka juga kejam. Karena itu, saya harus mencari mereka dan membalas kematian ayah dan kakek saya. Nah, saya mohon diri, paman dan bibi. engkau juga, nimas, aku pergi sekarang."

Jatmika cepat keluar dari rumah itu. Setelah dia tiba di luar, Eulis bangkit dan berlari keluar, "Kakangmas Jatmika, tunggu...!"

Nyi Subali bergerak hendak mengejar, akan tetapi suaminya memegang pundaknya dan mencegahnya. "Sstt... jangan kejar, biarkan saja mereka berdua bicara di luar. Tidakkah engkau melihat bahwa ada hubungan batin yang lebih akrab di antara mereka?" kata Ki Subali lirih dan isterinya mengangguk, lalu menjatuhkan dirinya terduduk kembali. Ia masih merasa terpukul melihat anak tunggal yang dikasihinya itu kini tidak mengenalnya sebagai ibu lagi!

Sementara itu, mendengar seruan Eulis, Jatmika berhenti dan memutar tubuhnya. Dia melihat Eulis mengejarnya keluar rumah dan mereka berdua berdiri berhadapan di pekarangan rumah itu. "Nimas Eulis, ada apakah?" tanyanya sambil tersenyum. Betapa cantiknya gadis ini, pikirnya dan hatinya dipenuhi rasa sayang.

"Kakangmas Jatmika, kenapa engkau tidak mengajak aku?" Eulis bertanya dan dalam suaranya terkandung teguran.

"Nimas, apakah engkau ingat bahwa Eyang Tejo langit atau Ki Ageng Pasisiran itu gurumu?"

Eulis menggeleng kepala dengan sedih. "Aku tidak ingat sama sekali, aku tidak tahu siapa guruku"

"Nah, apakah engkau tidak ingin menemukan kembali ingatanmu yang hilang itu? Tinggallah di sini, di rumahmu sendiri, di rumah ayah ibumu yang telah kau lupakan agar perlahan-lahan engkau dapat menemukan kembali ingatanmu. Percayalah, nimas. Hal ini yang terbaik untukmu. Aku sendiri mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan. Aku berjanji bahwa kalau semua tugas telah kuselesaikan, aku pasti akan kembali ke sini."

"Benarkah, kakangmas? Engkau akan kembali ke sini? Engkau tidak akan melupakan aku?" tanya Eulis dengan wajah memelas.

Jatmika tidak dapat menahan hatinya yang penuh kasih sayang, Dia maju dan memegang kedua tangan gadis itu. "Betapa mungkin aku dapat melupakanmu, nimas? Aku akan selalu ingat kepadamu karena aku... aku .. cinta padamu, nimas..."

"Engkau penolongku dan engkau merupakan orang yang paling baik bagiku. Kakangmas Jatmika, aku... aku akan... merindukanmu, karena aku... jangan pergi terlalu lama"

Jatmika menggenggam jari-jari tangan yang lembut hangat itu. "Aduh, nimas. Betapa bahagia hatiku mendengar ucapanmu ini. Aku juga selalu akan merasa rindu padamu. pecayalah, aku pasti kembali dan aku... aku akan melamarmu kepada Paman Subali, untuk menjadi istriku."

"Kangmas..." Jatmika tidak ingin terseret gelombang gairah cintanya. Dia melepaskan tangan gadis itu. "Cukup, nimas. Selamat tinggal, selamat berpisah untuk sementara waktu. Aku akan segera kembali." Dia lalu memutar tubuhnya karena dia merasa bahwa kalau dia membiarkan dirinya terlalu lama berdekatan dan berbincang-bincang dengan gadis itu, dia tidak akan mampu memisahkan diri...