Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 21

SETELAH berada agak jauh dari tempat bekas pertempuran, Aji memberi isyarat kepada Jatmika dan Eulis untuk berhenti. Mereka duduk di atas batu dan Aji memandang dengan penuh selidik kepada Eulis yang sejak tadi diam saja. "Nimas Sulastri, mengapa engkau tidak mengakui namamu sendiri dan berganti nama Listyani atau Eulis? mengapa, nimas." Tanya Aji kepada Eulis yang tampak bingnung mendengar pertanyaan ini.

Eulis menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya sambil menatap wajah Aji dengan senar mata penuh keheranan. "aku tidak mengenal andika dan namaku memang Listyani dan biasa disebut Eulis. Tanya saja kepada Kakangmas Jatmika ini. Bukankah begitu, kakangmas?" Eulis menoleh kepada Jatmika.

Aji memandang kepada Jatmika dan pemuda ini mengangguk, lalu berkata kepada Aji. "Ki sanak, kami berdua mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu sehingga menyelamatkan kami berdua dan juga sang adipati. Gadis ini memang bernama Listyani atau Eulis, kenapa andika menyebutnya Sulastri? Apakah andika mengenalnya?"

"Mengenalnya?" Aji mengerutkan alisnya.

"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik, bahkan aku juga mengenal namamu dengan baik, Kakang Jatmika. Andika putera Paman Sudrajat, bukan?"

Jatmika menatap tajam wajah Aji, "Benar! Bagaimana andika tahu? Apakah andika mengenal ayahku?"

"Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku ingin engkau lebih dulu menjelaskan. Kalau engkau memang Kakangmas Jatmika putera Paman Sudrajat, kenapa engkau tidak mengenal Nimas Sulastri dan menyebutnya Listyani ayau Eulis? Hal ini aneh sekali. Sebagai putera Paman Sudrajat berarti engkau adalah cucu Eyang Ki Ageng Pasisiran atau Eyang Ki Tejo Langit. mustahil kalau engkau tidak mengenal Nimas Sulastri karena ia adalah murid Eyang Ki Tejo Langit."

Jatmika terbelalak menatap wajah Aji, lalu menoleh dan memandang Sulastri. "Duh Gusti...! Jadi... ia ini Sulastri murid eyang? Bapa pernah bercerita tentang ia... dan memang kami belum pernah saling berjumpa...!" Jatmika lalu menghampiri Sulastri dan memegang kedua pundak gadis itu, mengguncangnya. "Engkau Sulastri...! Pantas aku mengenal ilmu-ilmu yang kau mainkan. Engkau Sulastri, bukan Listyani atau Eulis!"

"Kakangmas Jatmika, engkau ini bagaimana sih? Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa namaku Listyani dengan panggilan Eulis?"

"Ya, karena ketika kita saling bertemu aku tidak mengenalmu dan engkau kehilangan ingatanmu, tidak ingat siapa namamu dan tidak ingat apa yang telah terjadi. Karena itu aku memberimu nama Listyani atau Eulis."

"Ohhh...!" Sulastri duduk lagi di atas batu, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Kalau begitu... siapakah aku ini...?"

"Engkau adalah Sulastri, puteri Paman Subali di Dermayu, nimas dan aku Lindu Aji, murid eyang Guru Tejo Budi. Engkau ingat, bukan?"

Sulastri menggeleng kepalanya kuat-kuat. "Tidak, tidak...! Aku tidak ingat sama sekali tidak ingat...!" Lalu dia menundukkan mukanya dan memegangi kepala dengan kedua tangan lagi seolah hendak memaksa ingatannya yang hilang agar kembali.

Akan tetapi kini Jatmika memandang wajah Aji dengan mata terbelalak penuh kejutan. Andika murid... Eyang Tejo Budi? Ahh, Adi Lindu Aji, bagaimana kabarnya dengan Eyang Tejo Budi? Di mana dia sekarang? Sudah bertahun-tahun aku merindukannya, ingin sekali menghadap dan sujud di depan kakinya!" Aji merasa terharu sekali. Dia maklum apa yang menjadi gejolak hati Jatmika. Ki Tejo Budi adalah kakek kandung pemuda itu, karena Ki Sudrajat adalah putera kandung.

Ki Tejo Budi, hanya anak angkat Ki Tejo Langit. Berat rasa hati dan mulutnya untuk menceritakan tentang kematian orang-orang yang begitu dekat dengan Jatmika, akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus menceritakan yang sebenarnya, menceritakan semuanya. "Maafkan aku, kakang Jatmika. Aku terpaksa menceritakan kenyataan yang tidak membahagiakan hatimu. Eyang Guru Tejo Budi sudah meninggal dunia kurang lebih satu setengah tahun yang lalu."

"Ohhh...!" Jatmika jatuh terduduk di atas batu, tubuhnya terasa lemas. Kakek kandungnya yang begitu dirindukannya ternyata telah meninggal dunia sebelum dia dapat bertemu.

"Maaf, kakang. Aku membuatmu menjadi berduka." kata Aji.

Jatmika dapat menguasai dirinya dan menjadi tenang kembali. Dia menatap wajah Aji dan berkata. "Tolonglah, Adi Aji, ceritakan kepadaku tentang beliau, tentang Eyang Tejo Budi, di mana dia tinggal, bagaimana engkau dapat bertemu dengan beliau dan bahaimana beliau meninggal. Aku ingin sekali mengetahui segalanya tentang beliau. apakah beliau meninggalkan isteri... atau anak...?"

"Tidak, Kakang Jatmika. Semenjak berpisah dari Paman Sudrajat, eyang Guru Tejo Budi tidak pernah menikah lagi. Beliau hidup seorang diri, bahkan terlunta-lunta sampai pada suatu hari beliau tiba di dusun Gampingan dekat pantai Laut Kidul di mana aku tinggal bersama ibuku. Kemudian eyang guru tinggal bersama kami dan menjadi guruku sampai pada suatu hari beliau meninggal dunia karena sakit dan tua."

"Ah, kalau ayahku tahu..." kata Jatmika terharu.

"Paman sudrajat sudah tahu, kakang. Aku sudah menghadap Eyang Tejo Langit dan Paman sudrajat di pesisir dekat Dermayu dan sudah kuceritakan kepada mereka"

"ah, engkau sudah bertemu ayah dan eyang, Adi Aji?"

"Sudah dan aku..." Aji berhenti bicara, rasanya tidak tega untuk memberi tahu tentang kematian dua orang tua itu.

Melihat Aji tersendat bicara, Jatmika memandang tajam "Ada apakah, Adi? Apa yang hendak kaukatakan?"

"Ah, tidak kakang. Aku hanya ingin tahu bagaimana engkau bertemu dengan Nimas Sulastri dan mengapa ia menjadi begini... eh, kehilangan ingatan."

"Pertemuan kami kebetulan saja, Dimas Aji. Aku melihat ia dikeroyok tujuh orang penjahat, di antara mereka adalah Munding Hideung dan kakek Ki Kolo Srenggi yang jahat dan sakti mandraguna. Untung setelah kami berdua bekerja sama dengan susah payah, akhirnya kami dapat meobohkan dan membunuh mereka. Nah, ketika kutanya, ia tidak ingat lagi siapa namanya dan darimana ia datang. Karena, biarpun ia murid Eyang Tejo Langit , aku belum pernah bertemu dengannya, maka aku tidak mengenalnya. Karena ia bingung dan tidak ingat namanya aku mengaku tahu bahwa namanya Listyani atau Eulis. Nah, begitulah pertemuan kami. Aku lalu pergi ke Sumedang untuk memenuhi pesan ayah dan eyang untuk membantu Kadipaten Sumedang yang dirongrong oleh pemberontakan. Akan tetapi dalam perjalanan, kami dihadang oleh Aki Mahesa Sura bersekongkol dengan Tumenggung Jaluwisa, senopati Sumedang yang memberontak. Kami pura-pura menyerah dan ditugaskan untuk membunuh Pangeran Mas Gede, Adipati Sumedang. Pada saat penyerangan itulah kami berdua menggunakan kesempatan untuk meloloskan diri dan kebetulan engkau muncul dan membantu kami, Dimas Aji. Sekarang ceritakanlah apa yang kauketahui tentang Nimas Sulastri?"

Sulastri mengangkat mukanya memandang kepada Aji. Ia masih belum ingat apa-apa dan pemuda itu bagaikan orang asing baginya. "Ya... ceritakanlah tentang diriku kalau benar aku ini Sulastri, aku ingin mendapatkan kembali ingatanku tentang diriku yang sebenarnya, semua terasa seperti mimpi dan aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi. Tidak ingat akan masa laluku, tidak ingat akan orang tuaku. Ahhh...!" Sulastri memegangi kepalanya lagi.

Aji memandang Sulastri dengan hati penuh iba, kemudian dia menatap wajah Jatmika dan berkata. "Aku melakukan perjalanan bersama nimas Sulastri sejak sebulan yang lalu. Kami menghadap Adipati Cirebon dan mendapat tugas untuk membasmi gerombolan Munding Hideung yang mengacau di Pegunungan Careme. Kami berdua berhasil temukan Munding Hideung dan Munding Bodas dengan anak buah mereka. Kami berhasil mengalahkan mereka, akan tetapi Nimas Sulastri terkena anak panah dan terjatuh ke bawah tebing yang amat curam. setelah merobohkan semua gerombolan, aku menuruni tebing dan mencari-cari. Akan tetapi aku tidak dapat menemukan Nimas Sulastri yang hilang tanpa meninggalkan jejak! Sudah kucari dengan bantuan anak buah Munding Hideung selama dua hari, namun sia-sia. Nimas Sulastri lenyap."

Sulastri mengangkat mukanya memandang Aji dengan alis berkerut. Melihat ini, Aji bertanya penuh harapan.

"Nimas, apakah ceritaku tadi mendatangkan kembali ingatanmu?"

Akan tetapi Sulastri menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya. "Aku tidak ingat apa-apa, tidak ingat sama sekali." katanya sedih.

Dimas Aji, lanjutkan ceritamu. Bagaimana engkau dapat membantu kami?" Tanya Jatmika.

"Sekarang jelas bahwa tentu Nimas Sulastri kehilangan ingatan ketika terjatuh ke bawah tebing itu. entah bagaimana ia selamat, mungkin Ki Kolo Srenggi itu yang menyelamatkannya. Ia selamat akan tetapi kehilangan ingatan, mungkin kepalanya terbentur keras. Nah, lanjutkan ceritamu, dimas."

"Dalam keadaan putus asa dan membawa pedang pusaka Nogo Wilis milik Nimas Sulastri, aku pergi menemui Paman Subali dan istrinya, yaitu ayah ibu Nimas Sulastri dan menceritakan tentang hilangnya Nimas Sulastri. Tentu saja mereka merasa gelisah dan berduka sekali. Aku menyerahkan pedang Nogo Wilis kepada Paman Subali."

"Jatmika memandang gadis itu. "Nimas Sulastri, apakah Pedang Nogo Wilis dan ayah ibumu itu belum juga dapat mengembalikan ingatanmu?"

Sulastri menggeleng kepalanya. "Jangan sebut aku dengan nama itu, kakangmas! Aku merasa lebih akrab dengan sebutan Listyani atau Eulis. Nama Sulastri itu terasa asing bagiku. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang teringat olehku hanya semenjak kita saling bertemu sampai sekarang."

Jatmika menoleh kepada Aji. "Ceritamu tadi masih belum dapat mengembalikan ingatannya, Dimas Aji. Lanjutkanlah ceritamu tentang pertemuanmu dengan ayah dan kakekku, juga tentang bantuanmu kepada kami tadi."

Aji sengaja melewati kisah pertemuannya dengan Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, dan dia langsung menceritakan bantuannya kepada Jatmika. "Secara kebetulan saja aku melihat rombongan Tumenggung Jaluwisa dan aku merasa curiga lalu aku membayangi mereka. Setelah mereka tiba di pondok Aki Mahesa Sura aku melihat Nimas Sulastri dan engkau yang belum kukenal, Kakang Jatmika. Aku mendengarkan perundingan mereka dan cepat-cepat aku pergi menemui Adipati Sumedang. Kuceritakan semuanya dan kami membuat rencana siasat untuk menghadapi serbuan yang diatur Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura. Ketika aku yang menggantikan sang adipati dan berada dalam kereta melihat kalian berdua membalik dan melawan para pemberontak, aku merasa girang sekali. Setelah aku mendengar namamu disebut, maka tahulah aku siapa engkau, Kakang Jatmika, aku sudah mendengar tentang engkau dari..." Tiba-tiba Aji teringat bahwa ia tidak ingin bercerita tentang Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit, maka dia terdiam seketika.

"Ya, engkau tentu mendengar tentang aku dari ayah dan kakek. Bagaimana engkau dapat bertemu dengan mereka, dimas?" Tanya Jatmika.

Berdebar rasa jantung dalam dada Aji. Beberapa kali dia menelan ludah. Akhirnya dia dapat menguasai ketegangan hatinya dan berkata dengan hati-hati. "mulanya begini, kakangmas. Aku sedang mencari orang yang bernama Raden banuseta yang enam tahun tujuh tahun yang lalu telah membunuh ayah kandungku di dusun Gampingan. Ketika aku berkunjung kepada Paman Subali menceritakan tentang lenyapnya Nimas sulastri, aku mendapat keterangan darinya bahwa Raden banuseta adalah Ketua perkumpulan Dadali sakti di dermayu dan terkenal jahat. Aku lalu mengunjungi perguruan itu. Akan tetapi Banuseta sedang tidak berada di rumah. Di sana aku melihat wakilnya dan para anak buahnya hendak memaksa seorang wanita menjadi isteri Banuseta, Aku menentang dan menghajar mereka, membebaskan wanita itu dan suaminya. Aku merobohkan wakil ketuanya dan ketika aku hendak pergi, wakil ketua itu bertanya di mana alamatku karena Banuseta pasti akan mencariku untuk membalas dendam. karena aku hendak berkunjung ke pondok Eyang Tejo Langit di pesisir, maka aku sebutkan alamat itu, lalu aku pergi menuju ke pantai laut."

"Dan engkau bertemu dengan ayah dan kakekku? tanya Jatmika.

Aji menghela napas panjang, matanya menatap wajah Jatmika penuh iba. "Kakangmas Jatmika, sebelumnya ampunilah aku kalau terpaksa aku menyampaikan hal yang membuat engkau tidak bahagia."

"Ada apakah, adimas? Katakan saja terus terang, aku siap menghadapi hal yang bagaimanapun juga."

"Aku memang sudah menghadap Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit. Mereka berduka sekali mendengar bahwa Eyang Guru Tejo Budi telah meninggal dunia. Juga mereka prihatin mendengar laporanku tentang lenyapnya Nimas Sulastri." Kembali dia berhenti.

"Tentu saja ayah dan kakekku bersedih dan prihatin mendengar berita yang tidak menyenangkan itu, dimas. dan selanjutnya?"

"Aku ditahan malam itu oleh Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit, kami bercakap-cakap dan aku menceritakan semua yang terjadi dengan mendiang Eyang Guru Tejo Budi dan dengan Nimas Sulastri. Akan tetapi tiba-tiba Banuseta dan anak buahnya datang menyerang. Dia berteriak menantangku. Aku mohon Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tidak mencampuri karena permusuhan dengan Banuseta adalah urusan pribadiku. Aku keluar menerima tantangan Banuseta. Dia menyerangku akan tetapi aku dapat mengalahkan dia. Tiba-tiba ada seorang temannya yang membelanya dan menandingi aku. Aku terkejut melihat ilmunya sama dengan ilmu Nimas Sulastri. Pada saat kami bertanding, Eyang Tejo Langit keluar dari pintu dan ketika menyebut nama lawanku, aku terkejut karena ternyata dia bernama Hasanudin atau panggilannya Udin!"

"Ahhh...? Kakang Hasanudin...?" Jatmika berseru kaget.

"Benar, dia Hasanudin... kakak tiriku yang sedang kucari-cari..." kata Aji.

"Kakak tirimu?" Jatmika mengulang, kaget dan heran. "Benar, Ayahku berasal dari Galuh dan meninggalkan seorang putera. Hasanudin itulah puteranya dan ketika ayah meninggalkannya, dia masih kecil. Ayah sebelum meninggal dunia, berpesan kepadaku agar aku mencari kakak tiriku itu. Siapa tahu begitu bertemu, dia malah membantu Banuseta pembunuh ayah kami, membantu Banuseta yang menjadi antek Kumpeni Belanda."

"Antek Kumpeni Belanda?"

"Ya, Banuseta itu antek Kumpeni Belanda. Pada saat Eyang Tejo Langit muncul di luar pintu, dari kanan kiri terdengar letusan-letusan senapan dan Eyang Tejo Langit roboh tertembak anak buah Banuseta yang ternyata merupakan pasukan yang menggunakan senjata api."

"Aaahhh...!" Jatmika berseru, mukanya berubah pucat, matanya terbelalak, Aji merasa kasihan, akan tetapi sudah kepalang, dia harus menceritakan semuanya.

"Pada saat itu, Paman Sudrajat muncul. kembali dihujani peluru senapan, akan tetapi semua peluru itu hanya merobek bajunya dan kekebalan Paman Sudrajat tidak dapat ditembusi peluru itu. Akan tetapi, tiba-tiba Banuseta menembakkan pistolnya ke arah Paman Sudrajat dan beliau... roboh..."

"Aahhh... bagaimana... bagaimana keadaan eyang dan bapa...?"

"Mafkan aku, kakang... paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tewas...!"

"Duh Gusti...!!" tubuh Jatmika terkulai dan diapun roboh pingsan.

Untung Aji bergerak cepat dan merangkulnya sehingga dia tidak terbanting. Dengan lembut direbahkan tubuh yang lemas itu di atas rumput. "Kakangmas Jatmika, maafkan aku...!" Aji mengeluh.

"Kakangmas Jatmika...!" Sulastri menjerit dan menubruk tubuh pemuda yang pingsan itu, mengguncang pundaknya dan menangis. "Aduh, kakangmas Jatmika, kasihan sekali engkau...!" tangisnya.

cerita silat online karya kho ping hoo

Aji melihat betapa gadis itu menangis dengan sedihnya, air matanya bercucuran dan mengalir disepanjang kedua pipinya. Melihat gadis itu memeluki Jatmika sambil menangis, diam-diam ada rasa pedih dan perih dihati Aji. Betapa gadis ini amat menyayang Jatmika dan agaknya sama sekali tidak ingat lagi kepadanya! Ada rasa cemburu mengusik hatinya, akan tetapi dilawannya perasaan yang dia tahu tidak benar ini. Harus diakuinya bahwa ada rasa sayang besar sekali dalam hatinya terhadap dara ini. Mengapa dia harus cemburu?

Dia tahu bahwa rasa cemburu didorong oleh nafsu daya rendah dan cinta yang yang disertai cemburu itu bukanlah cinta yang setulusnya, melainkan cinta yang mengandung nafsu untuk memiliki, nafsu untuk menyenangkan diri sendiri. Kalau memang Sulastri yang disayangnya itu ternyata mencinta pria lain, dan akan hidup berbahagia dengan pria lain, mengapa hatinya tidak rela? Kalau dia benar-benar menyayang Sulastri, tentu dia mementingkan kebahagiaan gadis itu dan hatinya akan turut berbahagia kalau gadis yang disayanginya itu berbahagia.

"Minggirlah, nimas. Biar aku yang menyadarkannya." katanya lirih dan Sulastri minggir, memberi keleluasaan kepada Aji untuk menolong pemuda yang pingsan itu. Aji maklum bahwa hati Jatmika tertekan penuh ketegangan. Maka, sebelum menyadarkannya, lebih dulu Aji menggunakan jari-jari tangannya untuk memijit, menekan dan mengurut tengkuk dan kedua pundak Jatmika, kemudian tiga kali dia mengurut pelipis di atas kedua telinga. Setelah itu barulah dia memijit tangan pemuda itu, tepat di tengah-tengah antara ibu jari dan telunjuk, membetotnya dan Jatmika segera mengeluh dan siuman. Begitu membuka matanya, Jatmika teringat akan apa yang didengarnya dari Aji. Serentak dia bangkit duduk, matanya melotot memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

"Jahanam keparat kalian Banuseta dan Hasanudin! Akan kubunuh kalian!" Dia bangkit berdiri.

Aji segera merangkulnya. "Kakangmas Jatmika, ingatlah, kakang. Sebutlah nama Gusti Allah dan bersabarlah!" Pandang mata Jatmika melayang ke arah muka Aji, muka yang terhias senyum penuh kesabaran, sinar mata yang begitu lembut penuh pengertian dan juga mengandung wibawa yang amat meyakinkan. seketika Jatmika teringat dan diapun menangis.

"Duh Gusti... ampunilah hamba... aduh bapa dan eyang... semoga paduka mendapat pengampunan dan dianugerahi kedamaian dan ketenteraman oleh Gusti Allah..." pemuda itu menutupi mukanya dengan kedua tangannya dan menangis.

"Kakangmas Jatmika... kuatkan hatimu, kakangmas...!" Sulastri mendekat dan merangkul, Jatmika balas merangkul pundak gadis itu.

Jatmika mengusap air matanya dan menghentikan tangisnya, teringat bahwa sungguh tidak pantas seorang satria meruntuhkan air mata. "Terima kasih, nimas Sulastri..."

"Eulis saja, kakangmas. Aku lebih senang kau sebut Eulis, nama pemberianmu."

"Ah, nimas Eulis, sekali lagi terima kasih. engkau begini baik kepadaku..."

"Engkau yang begini baik sekali kepadaku, kakangmas. Aku berjanji akan membantumu mencari musuh-musuh besar yang telah membunuh ayah dan kakekmu."

"Sudah semestinya, nimas, karena kakekku itu juga eyang gurumu sehingga sebenarnya kita masih saudara seperguruan."

"Sayang aku tidak ingat lagi siapa eyang guruku itu." kata Sulastri dengan wajah sedih.

"Dimas Aji, aku berterima kasih sekali kepadamu karena selain engkau telah menolong kami, engkau juga menerangkan juga tentang keadaan diri Nimas Eulis yang sebenarnya, juga aku menjadi tahu akan tewasnya bapa dan eyang. Lanjutkan ceritamu tadi, Dimas Aji."

Aji menghela napas panjang. Betapapun pedih hatinya melihat Sulastri lupa kepadanya dan kini gadis itu jells berhubungan akrab dengan Jatmika, namun di dasar hatinya dia merasa berbahagia melihat kenyataan bahwa gadis itu masih hidup. "Setelah Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tertembak, Hasanudin melarikan diri. Tanpa bantuannya, agaknya Banuseta merasa jerih dan diapun melarikan diri bersama anak buahnya. Aku lalu merawat dan masih sempat mendengar pesan terakhir Paman Sudrajat yang minta agar kalau aku bertemu dengan puteranya yang bernama Jatmika agar aku suka membantunya. kemudian Paman Sudrajat tewas dan aku mengubur kedua jenazah itu dibelakang pondok. Demikianlah, Kakangmas Jatmika."

"Ah, sekali lagi terima kasih, Adimas Aji. Engkau sungguh baik sekali dan aku merasa girang bahwa engkau adalah murid Eyang Tejo Budi karena dengan demikian berarti antara kita masih ada tali persaudaraan seperguruan. Kita bertiga, Nimas Eulis, engkau dan aku masih saudara seperguruan atau sealiran."

Tiba-tiba Sulastri memandang kepada Aji dan berkata, "Biarpun aku tidak ingat lagi tentang perguruanku, namun aku juga girang bahwa aku masih saudara seperguruan dengan Kakangmas Jatmika dan dngan engkau, Kakangmas Aji. Engkau adalah seorang yang gagah dan baik."

Aji merasa terharu sekali. Biarpun sudah kehilangan ingatannya dan lupa masa lalunya, Sulastri ternyata masih bersikap baik dan ramah. "Akupun merasa girang, Nimas Sulastri."

"Eh, engkau lupa lagi, kakangmas. Namaku Listyani, sebut saja Eulis."

Aji terpaksa mengulang, untuk menyenangkan hati gadis itu. "Aku akan berusaha agar aku tidak lupa lagi, Nimas Eulis." Bagaimanapun, nama baru Eulis yang sederhana itu cukup cocok dan pantas karena Eulis berarti cantik. Dan Sulastri tidak berubah biarpun ingatannya hilang. Kecantikan tidak pernah hilang, bahkan dalam pandangan Aji gadis itu tampak semakin cantik!

"Adimas Aji, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku ingin sekali melakukan pengejaran dan pencarian terhadap si jahanam Banuseta dan Hasanudin, akan tetapi bagaimana dngan Nimas Eulis?"

Sulastri menyambar tangan Jatmika dan berkata. "Aku ikut denganmu, kakangmas. Aku akan membantumu menghadapi dua orang jahat itu!"

"Kakangmas Jatmika, aku kira yang betanggung jawab atas kematian Paman Sudrajat dan Eyang tejo langit hanyalah banuseta seorang. Hasanudin tidak turun tangan terhadap mereka. Hasanudin hanya membantu Banuseta untuk melawan aku dan agaknya diapun menyesal ketika melihat Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit roboh oleh tembakan sehingga dia melarikan diri."

"Hemm, betapapun juga, melihat Eyang Tejo Langit yang menjadi gurunya tewas ditembak orang, sepatutnya dia harus membela."

"Kakangmas Jatmika, menurut pendapatku, sebaiknya kalau engkau mengantarkan Nimas Eulis lebih dulu ke Dermayu, ke rumah orang tuanya. Siapa tahu, kalau dia bertemu dengan Paman Subali dan isterinya, ia akan mendapatkan kembali ingatannya. Apakah engkau tidak merasa bahwa menolong Nimas Eulis jauh lebih penting dari pada mencari Banuseta?" kata Aji.

"Tentu saja!" jawab Jatmika cepat. "Engkau benar, Dimas Aji, aku akan lebih dulu membawa Nimas Eulis ke rumah Paman Subali di Dermayu. Mari, nimas, kita berangkat!"

"Akan tetapi, kakangmas, aku sudah lupa lagi siapa orang tuaku, siapa nama mereka dan di mana tempat tinggal mereka!" Kata Sulastri.

"Tidak mengapa, nimas. Ikutlah saja denganku dan kita sama lihat nanti, mudah-mudahan pertemuanmu dengan orang tuamu akan mengembalikan ingatanmu yang hilang." Jatmika menggandeng tangan gadis itu dan menoleh kepada Aji. "Dimas Aji, kami berangkat. Selamat berpisah dan sampai bertemu kembali."

"Selamat berpisah dan selamat jalan, semoga kalian berhasil dan semoga Gusti Allah selalu melindungi dan membimbing kalian!" kata Aji kepada dua orang yang sudah mulai melangkah pergi itu.

Setelah Jatmika dan Sulastri pergi tak tampak lagi bayangannya, Aji menjatuhkan dirinya dengan lemas lunglai ke atas batu yang tadi diduduki Sulastri. Dia meraba-raba dan merangkul batu itu dengan hati penuh rindu dendam kepada Sulastri. Dia merasa nelangsa sekali, akan tetapi ketika merasa betapa kedua matanya panas, hatinya seperti diremas-remas, Aji cepat duduk bersila di atas batu dan menegakkan tubuhnya, seluruh jati dirinya berlutut pasrah menyembah Gusti Allah dan seketika cengkeraman nafsu yang membuat dia menderita duka dan kehilangan itupun sirna.

"Terima kasih, aduh Gusti, bahwa Nimas Sulastri masih hidup dan selamat. Semoga Paduka senantiasa melindungi dan membimbingnya sehingga ia dapat hidup dalam kebenaran dan berbahagia selalu." bisiknya diapun bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

********************

Biarpun dia juga ingin dapat menemukan Banuseta yang jahat dan menjadi antek Kumpeni Belanda untuk menentang dan membasminya, juga ingin mencari Hasanudin untuk menyadarkannya, namun Aji mengesampingkan keinginannya itu. Dia merasa amat heran melihat kenyataan bahwa Tumenggung Jaluwisa, senopati yang menjadi tangan kanan dan kepercayaan Adipati Sumedang, memberontak terhadap Adipati Pangeran Mas Gede. Kadipaten Sumedang merupakan tempat yang amat penting bagi pasukan Mataram apabila nanti balabantuan Mataram menyerang ke Batavia.

Selain bala bantuan diharapkan dari Kadipaten Sumedang, juga tempat ini bisa dijadikan tempat peristirahatan dan menyusun kekuatan, juga sebagai sumber ransum. Kadipaten itu perlu diselidiki, pikirnya dan dia lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Sumedang. Malam mulai tiba ketika Aji memasuki Kadipaten Sumedang. Bulan yang cukup besar, walaupun belum purnama, telah muncul dan membuat suasana malam itu tampak meriah dan gembira. Orang-orang memenuhi halaman rumah dan jalan-jalan.

Langit bersih dan bulan cerah hawa udara di Kadipaten Sumedang sejuk dari biasanya. Tadi sebelum memasuki pintu gapura kadipaten itu, dari jauh Aji sudah mendengar suara gamelan. Gamelan Sunda masih agak asing dalam pendengaran Aji, akan tetapi setelah beberapa kali mendengarnya sejak dia memasuki daerah pasundan, dia mulai dapat menikmati iramanya. Berbeda dengan gamelan Jawa yang lembut, gamelan Sunda terdengar gagah, dengan bunyi suling yang mendayu-dayu dan kendangnya yang demikian menghentak-hentak penuh semangat.

Kalau gamelan Jawa pada umumnya mengandung kelembutan dan keluwesan seperti gerak-gerik satria Harjuna, maka gamelan Sunda mengandung keperkasaan seperti gerak gerik satria Gatotkaca. Hentakan kendangnya seperti merangsang kaki tangan untuk ikut bergerak! Setelah memasuki gapura, Aji melihat banyak orang, terutama laki-laki muda, berbondong menuju ke tengah kota kadipaten, ke arah datangnya suara gamelan. Aji dapat menduga bahwa di sana tentu sedang diadakan pesta, maka diapun ikut dengan orang-orang itu menuju ke tengah kota. Ketika ada seorang pemuda tinggi kurus berjalan didekatnya, dia menyapa dengan ramah.

"Maaf, sobat. Kalau boleh saya bertanya, ada perayaan apakah di sana?"

Laki-laki itu memandang Aji dengan sinar mata heran. "Agaknya andika bukan orang sini, maka tidak tahu akan perayaan itu."

"Memang saya bukan orang sini, ki sanak."

"Pantas andika tidak mengetahui. Nah, ketahuilah bahwa untuk merayakan kemenangan Gusti Adipati atas pemberontakan Tumenggung Jaluwisa, juga atas keselamatan Gusti Adipati, maka senopati Tumenggung Jayasiran mengadakan pesta semalam suntuk dan yang amat menarik perhatian adalah diundangnya waranggana yang terkenal dari Galuh yang bernama Neneng Salmah yang cantik jelita, bersuara emas dan kalau menari, aduh, goyang pinggul dan pundaknya membuat orang mabok kepayang! Malah diadakan pertandingan antara jawara, siapa menang berhak untuk berjoget dilayani Neneng Salmah. Wah, bakal ramai sekali!" kata laki-laki tinggi kurus itu dan diapun bergegas mempercepat langkahnya.

Aji merasa tertarik. Pernah dia melihat pesta dengan tampilnya seorang waranggana yang cantik bernyanyi dan menari. Akan tetapi dia belum pernah melihat para jagoan bertanding untuk memperebutkan kemenangan agar dapat berjoget bersama seorang waranggana yang terkenal. Diapun tidak mungkin pergi menghadap adipati Sumedang pada malam hari begitu. Dia harus menanti sampai besok pagi dan dia tidak tahun di mana dia akan melewatkan mala mini. lebih baik nonton keramaian yang akan berlangsung semalam suntuk. Dia lalu mempercepat langkahnya mengikuti orang-orang itu.

Pesta itu diadakan di depan pendopo sebuah rumah besar. Di pekarangan rumah itu dibangun sebuah panggung yang tingginya satu setengah meter, panggung yang luas dan terbuat dari papan yang kokoh. Banyak lampu besar membuat tempat itu terang benderang dan suasananya meriah sekali. Di pendopo yang menyambung panggung itu penuh dengan kursi yang sudah diduduki para tamu undangan. Karena yang mengadakan pesta adalah seorang senopati, maka para tamunya tentu saja orang-orang penting di Sumedang.

Hanya Sang Adipati Pangeran Mas Gede yang tidak hadir walaupun pesta itu diadakan untuk merayakan keselamatannya, karena sang adipati merasa lelah dan membutuhkan istirahat. Di dalam pekarangan yang luas itu, di bawah panggung, penuh dengan orang-orang yang datang menonton. Di belakang panggung terdapat para penabuh gamelan yang sejak tadi sudah mulai menabuh gamelan sehingga suasana meriah walaupun sang waranggana yang ditunggu-tunggu itu masih duduk di antara penabuh gamelan dan belum menari, hanya kadang-kadang saja melengkapi suara gamelan dengan lengkingan suaranya yang merdu mendayu-dayu.

Hampir semua mata ditujukan kepadanya. Karena ia duduk bersimpuh di tengah-tengah para penabuh gamelan, maka yang tampak hanya mukanya yang memang cantik sekali, cantik dan segar bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar, dengan kulit yang putih kuning seperti tampak pada lehernya yang panjang dan indah. Rambut hitam ngandan-andan (berombak) digelung rapi dan dihias dengan untaian bunga melati, membuat rambut itu tampak semakin hitam. Sinom (anak rambut) bergantung manja di atas dahi yang halus dan indah bentuknya.

Sepasang alis melengkung rapi, hitam dan lebat, melindungi sepasang mata yang jeli indah, kedua ujungnya agak berjungat ke atas, dengan sinar mata yang lembut namun bercahaya mengandung daya pikat dan tantangan yang kuat. Kedua pipinya berkulit segar kemerahan, mengapit sebatang hidung yang kecil mancung dan lucu serta sebuah mulut yang indah menggairahkan. Sepasang bibir itu merah basah dan selalu tersungging senyum simpul yang juga memiliki daya tarik amat kuat yang merangsang hati kaum pria karena bibir itu seolah menantang. Ketika ia bernyanyi, kadang-kadang mulutnya terbuka dan tampaklah sekilas deretan gigi putih rapi seperti mutiara, lidah merah muda dan rongga mulut yang lebih merah lagi. Mulut itu bagaikan sarang madu, penuh kesan menjanjikan kemanisan yang nikmat. Dagunya runcing dan setitik tahi lalat hitam di dagu menambah kemanisan wajah itu.

Aji dapat menyelinap dan mendapat tempat berdiri tak jauh dari panggung sehingga dia dapat melihat keadaan di atas panggung dan pendopo dengan jelas. Dia memperhatikan orang-orang yang duduk di pendopo, pada deretan paling depan. Jelas tampak bahwa mereka adalah orang-orang penting. Kursi merekapun lebih besar, berbeda dengan kursi-kursi lain. Dari seorang laki-laki yang berdiri di dekatnya, Aji mendapat tahu bahwa laki-laki tinggi besar berpakaian seperti seorang pembesar dan sikapnya yang berwibawa dan congkak itu adalah tuan rumah yang mengadakan pesta, yaitu Tumenggung Jayasiran, seorang senopati Sumedang.

Aji memperhatikan dua orang yang duduk di kanan kiri sang tumenggung itu. Di sebelah kanan tumenggung itu duduk seorang kakek yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun. Ketika bicara, kakek itu mengeluarkan suaranya yang lemah lembut. Kepalanya kecil dan botak, rambut yang tumbuh disekeliling kepalanya keriting dan sudah berwarna dua. Wajahnya masih tampak muda, bahkan bersih dan tampan tanpa kumis atau jenggot. Hidungnya pesek dan mulutnya kecil, akan tetapi bentuk mukanya tampan. Kedua lengannya mengenakan gelang akar bahar hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular kobra.

Dari penampilannya saja, Aji dapat menduga bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti mandraguna. Hal ini jelas tampak pada sinar matanya yang terkadang mencorong seperti mata harimau. Orang kedua yang duduk di sebelah kiri tumenggung juga menarik perhatian Aji. Orang itu masih muda, berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus namun karena cara duduknya, sikap dan tongkrongannya seperti jagoan, dia tampak tegap dan kokoh. Wajahnya cukup tampan walaupun kulitnya hitam gelap. Sikapnya membayangkan kesombongan, apa lagi karena di punggungnya tergantung sebatang pedang yang warangkanya terukir indah.

Pemuda ini memandang ke sekeliling dengan mulut tersenyum mengejek, agaknya memandang rendah semua yang berada di situ. Akan tetapi kalau pandang matanya berhenti pada wajah sang waranggana, Neneng Salmah, Aji melihat betapa mata itu bersinar penuh gairah, seperti mata seekor kucing kelaparan melihat tikus. Aji juga melihat betapa tuan rumah bersikap amat hormat kepada dua orang itu dan ketika dia mengerahkan pendengarannya, dia dapat menangkap betapa logat bicara tuan rumah dan dua orang tamunya itu serupa, yaitu logat bicara orang yang datang dari Banten.

Dari tempat dia berdiri, Aji dapat mencium bau minuman keras yang dihidangkan kepada para tamu beserta makanan yang membuat dia merasa semakin lapar. Tiba-tiba Tumenggung Jayasiran memberi isyarat dengan mengangkat tangannya. Isyarat ini ditujukan kepada para penabuh gamelan atau lebih tepat kepada pimpinan para penabuh agar tarian para waranggana dimulai. Mulailah para penari itu bangkit berdiri. Dua orang gadis penari yang cukup manis bangkit berdiri, akan tetapi Neneng Salmah sendiri masih belum mulai.

Tentu saja sebagai primadona, ia dijual mahal baru akan menari sebagai puncak acara perayaan itu. Namun dua orang penari itu cukup menarik. Dari leher, pundak dan lengan yang tidak tertutup itu dapat dilihat betapa mereka memiliki kulit yang putih mulus. Wajah mereka berdua manis dan usia mereka bahkan baru sekitar tujuh belas tahun. Tubuh mereka belum mekar benar, bagaikan bunga baru setengah mekar, bagaikan buah masih ranum. Namun ketika mereka mulai menari diiringi suara gamelan dan hentakan suara kendang, tubuh mereka bergerak lemah gemulai dengan indahnya.

Goyangan pundak dan pinggul, gelengan kepala, sedemikian hidup membuat hati para pria berdebar-debar. Semua gerakan yang menarik hati ini masih dipermanis dengan senyum memikat dengan kerlingan mata yang menantang. Keadaan mulai ramai dan gembira. Suara tawa, sorak dan tepuk tangan menyambut setiap goyangan pinggul yang merangsang, keadaan menjadi riuh rendah dan seruan-seruan nakal mulai terlontar dari mulut para penonton.

Aji yang merasa lapar itu melihat betapa di luar pekarangan, di tepi jalan, banyak orang berjualan makanan dan minuman dengan memasang obor. Dia segera menyelinap di antara penonton, keluar dan segera membeli makanan dan minuman teh. Sejak pagi tadi dia belum makan dan perutnya terasa lapar sekali. Karena itu, biarpun membeli makanan sederhana terdiri dari nasi dan sayur gudang (sayur dengan sambal kelapa) dan minum air teh cair, Aji merasa nikmat dan puas.

Sementara itu, perebutan untuk tampil berjoget dilayani dua orang penari itupun sudah dimulai. Pertama-tama seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun melompat ke atas panggung dan langsung saja dia berjoget bersama seorang penari yang berselendang biru. Penari kedua berselendang merah segera mengundurkan diri untuk memberi kesempatan kepada si selendang biru melayani laki-laki itu berjoget. Orang-orang bertepuk tangan ketika laki-laki itu dengan beraninya, memutar-mutar tubuh dan menggoyang pinggul dekat sekali dengan tubuh si penari sehingga beberapa kali tangannya menyentuh dan mencolek tubuh penari itu.

Yang dicolek hanya tersenyum genit dan dengan lincahnya mengelak dan menghindar. Tarian itu menjadi seperti sepasang kupu-kupu yang saling berkejaran. Aji melihat bahwa tidak ada tamu yang duduk di pendopo yang bangkit untuk memperebutkan penari itu. Agaknya dua orang penari itu kurang layak diperebutkan para tamu yang terhormat itu, melainkan menjadi sajian bagi para penonton yang berdiri di bawah panggung, yaitu para penonton yang tak diundang atau rakyat jelata.

Setelah laki-laki itu menari beberapa menit lamanya, tiba-tiba seorang laki-laki lain yang usianya dua puluh lima tahun melompat ke atas panggung. Tepuk tangan menyambutnya karena penonton mulai merasa tegang dan bersemangat. Naiknya seorang laki-laki lain ke atas panggung itu berarti akan ada adu kekuatan agar yang menang mendapat hak untuk berjoget dengan penari itu. Munculnya laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kokoh ini segera disambut oleh laki-laki pertama, seolah seekor jago (ayam jantan) yang mendapat gangguan selagi dia bercumbu dengan seekor ayam betina. Mereka berdua segera membuka pasangan kuda-kuda dalam gerakan silat yang indah dan gagah, saling berhadapan.

Penari wanita itupun segera mundur dan duduk bersimpuh, menanti siapa yang akan keluar sebagai pemenang dan berhak untuk ia layani berjoget. Sementara itu, Neneng Salmah bertembang dengan suaranya yang merdu merayu. Para penabuh gamelan yang mahir itu segera mengubah irama gamelan mereka. Kini suara gamelan itu berdetak-detak garang, membunyikan gamelan perang yang gegap gempita. Tukang kendangnya dengan penuh semangat memukul kendangnya dengan jari-jari tangan yang trampil. Suasana menjadi tegang dan gembira. Diiringi suara gamelan, dua orang itu tanpa banyak kata lagi sudah mulai saling terjang. mereka bersilat dengan gagah dan gerakan mereka ditimpali hentakan bunyi kendang, diseling teriakan mereka ber-ciat-ciat dan ber-hait-hait. Mereka saling tampar, saling tonjok, saling sikut, saling tending dan pertandingan berjalan dengan serunya.

"Plak-ketipak-tipak... blang...!" Suara kendang bergaya.

"Ciattt...!" Pemuda tinggi besar menerjang dengan tonjokan kuat sekali ke arah dada. Lawannya dengan sigapnya menangkis, akan tetapi agaknya pukulan itu terlalu kuat baginya sehingga dia terhuyung ke belakang. Pemuda itu cepat maju dan kakinya menyerampang. "Bresss...!" Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh lawannya terpelanting roboh dan pada saat itu, pemuda tinggi besar menendang dengan kaki kirinya. "Pak-dupak-pak... jerr...!"

Tubuh laki-laki pertama kena tendang perutnya dan dia terguling-guling sampai keluar dari panggung dan jatuh ke bawah! Tepuk tangan menyambut kemenangan pemuda tinggi besar itu yang kini menari-nari dengan gagahnya menghampiri penari berselendang biru tadi seperti lagak Raden Gatotkaca menghampiri Dyah Pergiwa! Penari itupun tersenyum manis dan ketika pemuda itu menjulurkan tangan iapun menyambutnya, membiarkan tangannya dituntun dan ia bangkit berdiri. Mereka lalu menari bersama dan laki-laki itu merapatkan tubuhnya sampai mukanya hampir merapat dengan muka si penari dan hidungnya menyentuh pipi yang halus itu.

Para penonton bersorak gembira menyambut kemenangan pemuda yang mendapat "hadiah" dari penari itu. Ketika mereka berdua menari dengan asyiknya, diseling senggakan para penabuh gamelan dengan bunyi "serr! serr!" sehingga suasana menjadi semakin meriah dan merangsang, tiba-tiba tampak seorang laki-laki yang usianya tentu sudah ada lima puluh tahun lebih. Akan tetapi laki-laki ini tidak meloncat ke atas panggung yang tingginya satu setengah meter, melainkan memanjat melalui tihang di sudut panggung!

Tentu saja pemandangan yang lucu ini membuat banyak orang tertawa geli, apalagi ketika laki-laki itu memanjat tihang bambu yang licin beberapa kali terpeleset dan melorot turun lagi. Membayangkan laki-laki tua kurus kerempeng dan tak dapat meloncat itu hendak naik panggung dengan memanjat tihang bambu dan hendak merebut penari ayu, tentu saja orang-orang menjadi geli dan tertawa terbahak-bahak. Akhirnya orang itu dapat juga naik ke atas panggung dan begitu tiba di atas panggung, dia lalu memasang kuda-kuda sambil berjoget mengikuti irama kendang.

Jogetnya lucu, tubuhnya kerempeng ditekuk ke belakang, pantatnya yang tepos (tak berdaging) meruncing megal-megol. Orang-orang semakin riuh tertawa. Bahkan penari selendang biru itupun tak tahan untuk tak tertawa. Ia menutupi mulut dengan tangan kiri lalu mundur dan duduk bersimpuh seperti tadi, menanti pertandingan sampai seorang di antara dua pria itu keluar sebagai pemenang. Pemuda itu mengerutkan alis dan mulutnya tersenyum menyeringai melihat lagak kakek itu. Orang macam itu hendak menantangnya? Sekali tampar saja kakek itu tentu akan roboh ke bawah panggung dan copot semua giginya. Tanpa banyak membuat gerakan kembangan lagi, pemuda tinggi besar itu sudah menerjang ke arah lawan yang berusia setengah abad dan bertubuh kerempeng itu.

"Heiiiitttt...! Pecah kepalamu!" tangan kanannya yang panjang besar dengan kepalan sebesar kepala lawan menyambar ke arah kepala kakek itu. Akan tetapi dengan gerakan lucu dan agak kaku, kakek itu telah dapat mengelak dengan menekuk kedua lututnya. Akan tetapi pemuda itu sudah menyerang lagi dengan tendangan kaki yang kuat sekali. "Syuuuuttt... ambrol dadamu!" Dia membentak dan kaki kanannya mencuat, menyambar ke arah dada lawan.

"Hossshhh!" Kakek itu menggerakkan kedua lengannya untuk menangkis tendangan daru samping. "Plakk!" Dua lengannya berhasil menangkis tendangan kaki, namun tangkisan ini membuat dia terhuyung. Kembali pemuda itu menyerang semakin cepat dan kakek itu segera terdesak hebat, hanya mampu menangkis dan mengelak saja. Gerakannya kacau dan lucu sehingga terdengar suara tawa geli di sana sini. Akan tetapi Aji yang menonton pertandingan itu mempunyai pendapat lain. Dia tahu bahwa kakek itu kalah besar tenaganya, juga kalah dalam hal ketangkasan, namun harus diakui bahwa kakek itu bergerak mengelak dengan cerdik sekali dan yang menguntungkan adalah bahwa dia memiliki tubuh yang ringan dan lincah sehingga sampai sebegitu lama semua serangan lawan dapat dia hindarkan.

Tiba-tiba pemuda itu menyerangnya dengan pukulan beruntun sambil berseru nyaring, "Mampus kau!" Tiba-tiba tubuh kakek itu rebah dan bergulingan. gerakannya sedemikian cepatnya sehingga ketika dia bangkit, dia berada di samping pemuda itu. Tangan kanannya menyambar ke arah pinggang lawan, lalu menarik dan... "bret...!" tali celana pemuda itu putus sehingga celananya melorot! Pemuda itu terkejut dan cepat menggunakan kedua tangan untuk menahan dan memegangi celana yang kedodoran. Tentu saja pemandangan ini disambut ledakan suara tawa para penonton.

Semua orang tak dapat menahan tawa karena geli melihat kejadian yang lucu itu. Apalagi sekarang kakek itu begitu bernafsu untuk mengalahkan lawan dan mengejarnya, mengirim pukulan dan tendangan membabi buta sedangkan pemuda ang menggunakan kedua tangan memegangi celananya yang tidak berkolor lagi itu berlari-larian memutari panggung dikejar-kejar kakek itu! Sungguh suatu pemandangan yang lucu. Pertunjukan adu ilmu pencak silat itu kini berubah menjadi pertunjukan pelawak! Akhirnya pemuda itu yang tak dapat bertahan lagi sehingga dia terjerumus keluar dan turun dari panggung! Tentu saja dia dianggap kalah dan tidak berani naik lagi, malah melarikan diri sambil memegangi celananya.

Kini kakek itu mulai menari dengan gayanya yang lucu. Semua orang yang tadi terpingkal-pingkal menyaksikan adegan itu, kini bersorak menambut kemenangan yang lucu itu dan tertawa-tawa melihat betapa kekek itu kini beraksi dan menggerakkan kaki tangannya, berjoget dilayani oleh penari berselendang biru. Tarian kakek itu juga kucu. Dari gerakannya yang kaku orang dapat mengetahui bahwa dia bukan ahli berjoget, akan tetapi dia hanya memiliki keberanian atau tebal muka. Dia lebih banyak menggerak-gerakkan pinggulnya yang kerempeng dan mulutnya tersenyum-senyum, matanya melirik kekanan kiri, agaknya merasa bahwa dia seperti Raden Gatotkaca yang gagah perkasa!

Penari berselendang biru itu mengerutkan alisnya dan wajahnya yang ayu kini tampak sebal dan tidak suka, akan tetapi menurut peraturan ia harus melayani sang pemenang dan kakek ini dianggap sebagai pemenang. Ia merasa lebih sebal lagi ketika kakek itu tanpa malu-malu menyentuh pipinya dengan hidung, disoraki banyak penonton! Para penabuh gamelan, melihat joget yang lucu ini, bersemangat dan mengimbanginya dengan tabuhan yang lucu pula, terutama si tukang kendang. Dia sengaja memukul kendang dengan gencar dan sengaja mengacaukan bunyi kendang sehingga terkadang cocok dengan gerakan si kakek, akan tetapi terkadang berlawanan sehingga kakek itu bergerak gerak bingung dalam usahanya mengikuti irama kendang!

Tentu saja para penonton menjadi semakin geli disuguhi adegan seperti badut ini. Tiba-tiba tampak seorang wanita berusia empat puluh tahun, bertubuh gendut sekali sehingga tampak bulat, dengan susah payah memanjat ke atas panggung melalui tihang bambu. Tangan kanannya memegang sebatang sapu bergagang kayu dan dengan bantuan sapu itu yang ditekankan pada tanah, akhirnya ia dapat juga naik ke atas panggung. Semua orang terheran-heran, akan tetapi segera mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat adegan yang lebih lucu lagi. Wanita gendut itu segera saja menyerang kakek yang sedang berjoget dengan gagang sapunya, menyerang dan memukuli kalang kabut, sambil memaki-maki.

"Cih, lelaki gelo, teu boga era, sia! (Huh, laki-laki gila, tak punya malu, kamu)." teriaknya sambil memukuli kepala dan tubuh laki-laki yang menjadi suaminya itu. "Heitt... huutt... aih, aduh... wadouww... aih, amit-mit... sabarlah. Cicih... !" laki-laki itu mencoba mengelak dan menangkis, namun tetap saja tubuh dan kepalanya kena dihajar sehingga terdengar suara bak-bik-buk dan di dahinya muncul benjolan sebesar telur ayam.

Dia berlari larian memutari panggung, dikejar isterinya yang memaki-maki. Semua orang terpingkal pingkal, bahkan ada yang memegangi perut dan terjungkal dari tempat duduknya di pendopo. Penonton yang berada di bawah panggung juga terpingkal-pingkal, bersorak bergemuruh. Akhirnya suami kerempeng itu meloncat turun dari atas panggung, disusul isterinya yang gembrot dan dia melarikan diri dikejar-kejar wanita yang mengacung-acungkan gagang sapu itu.

"Ha-ha-ha-ha, jago dikejar babon! Ha-ha-ha!" Semua orang terbahal-bahak. bahkan ada beberapa orang laki-laki yang bergegas keluar dari kerumunan penonton untuk pergi ke tempat sunyi karena mereka tidak tahan untuk tidak membuang air kecil. Saking gelinya tertawa tepingkal-pingkal membuat mereka terkencing-kencing dan biarpun sudah berada di tempat sunyi dan membuang air kecil, mereka masih tetap terkekeh-kekeh! Penari berselendang biru mengundurkan diri di tengah-tengah para penabuh gamelan dan kini giliran penari berselendang merah untuk tampil di panggung.

Penari berselendang merah ini lebih manis dibandingkan si selendang biru, maka banyak penonton menelan air liur membayangkan betapa akan nikmat dan menggembirakan kalau dapat berjoget bersama penari itu! Akan tetapi karena sekali ini, pertunjukan tarian itu juga merupakan pertunjukan adu kedigdayaan, tentu saja jarang ada yang berani naik ke panggung dengan resiko patah tulang dan memar-memar, terbanting jatuh ke bawah panggung dan mendapatkan malu!

Penari berselendang merah itu mulai menari dan semua orang menahan nafas. Ternyata penari ini memiliki keistimewaan dalam gerak tariannya, yaitu pinggulnya dapat berputar secara menggairahkan dan lentur. Terdengar tepuk tangan dan teriakan-teriakan para pria yang seperti mabok karena terangsang oleh tarian itu. Tiba-tiba dari tempat duduk para tamu di pendopo, bangkit seorang laki-laki dan dengan langkah lebar dia menuju panggung. Ketika para penonton melihat laki-laki itu, mereka bersorak dan bertepuk tangan menyambut. Laki-laki itupun segera berjoget dan gerakannya menari cukup gagah.

Aji melayangkan pandangannya ke atas panggung. Laki-laki itu memang gagah. Ikat kepala dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang yang kaya. Tubuhnya tinggi besar dengan kulit agak kehitaman. Sepasang matanya bundar dan lebar, sinarnya galak dan angkuh. Hidung dan mulutnya juga besar dan ketika dia berhadapan dengan penari selendang merah, dia menyeringai memperlihatkan giginya yang agak tongos dan besar-besar. Begitu mulai berjoget, laki-laki itu mengambil beberapa butir uang reyal dan dengan bangga dia memasukkan uang itu ke celah-celah antara sepasang bukit dada penari itu.

Si penari tersenyum girang karena hadiah itu merupakan jumlah yang cukup besar. Mereka berdua mulai berjoget dan penari itu melayaninya dengan penuh semangat sehingga tariannya menjadi semakin menggairahkan dan merangsang. Beberapa kali laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mencolek dagu atau pipinya, bahkan mengelus pundak dan lengan yang telanjang itu. Semua penonton yang tinggal di Sumedang mengenal laki-laki ini. Dia bernama Badrun dan dikenal dengan julukan Maung (Macan) Sumedang. Dia kaya dan juga terkenal digdaya, juga orang-orang mengenalnya sebagai seorang bandar yang suka menyelenggarakan perjudian adu ayam jago.

Karena seringnya memukul roboh orang-orang yang berani menentangnya, maka Si Maung Badrun ini ditakuti orang dan ketika semua penonton melihat dia kini naik panggung berjoget dengan penari berselendang merah, mereka mengira bahwa tak seorangpun penduduk Sumedang yang akan berani "mencari penyakit" menyainginya di atas panggung. Si Maung Badrun agaknya juga maklum akan hal ini. Dia merasa bangga dan memamerkan keperkasaannya di depan para tamu kehormatan Tumenggung Jayasiran yang juga mengundang dia. Maka setelah berjoget lama dan melihat belum juga ada orang berani naik panggung, sambil berjoget dia melempar pandang ke arah penonton di bawah panggung. Dia memang menantang para penonton yang sebagian besar merupakan penduduk Sumedang yang sudah mengenal kebesarannya. Dia tidak begitu bodoh untuk menantang mereka yang menjadi tamu undangan karena dia tahu bahwa di antara mereka terdapat banyak perwira yang sakti.

鈥淗ei, para penduduk di Kadipaten Sumedang! Tidak adakah di antara kalian yang cukup jantan untuk mencoba merebut si geulis (si cantik) ini dari tanganku?"

Beberapa kali dia mengajukan pertanyaan ini kepada para penonton di bawah, namun jawaban mereka hanya menyeringai saja. Badrun melanjutkan jogetnya. Akhirnya dia menjadi bosen juga. Dia lebih ingin menonjolkan diri melalui pertarungan dan merobohkan orang-orang yang berani menyainginya. Dia tidak begitu suka berjoget. Kalau dia menginginkan seorang wanita, dia dapat langsung membawanya, dengan halus maupun kasar.

"Heh, apakah semua penonton di sini pengecut? Hayo saingilah aku Si Maung Badrun, kita main-main sebentar untuk memeriahkan pesta perayaan Gusti Tumenggung Jayasiran malam ini!"

Terdengar banyak orang saling berbisik-bisik. Si Maung Badrun itu sekali ini sudah keterlaluan sombongnya. Di tempat umum berani mengatakan semua penonton pengecut! Padahal semua orang tahu bahwa di antara penduduk Sumedang terdapat banyak pendekar, hanya mereka tidak mau naik panggung karena mereka sungkan untuk membuat keributan hanya untuk dapat berjoget dengan penari selendang merah itu. Apalagi yang mengadakan pesta adalah seorang senopati Sumedang.

Kalau mereka tidak mengacuhkan dan tidak meladeni sesumbar dan tantangan Maung Badrun, bukan karena mereka takut kepada sang senopati. Akan tetapi sekiranya Neneng Salmah yang menari, tentu akan banyak orang yang akan mencoba merebutnya dari tangan Badrun. Bahkan mereka yang duduk di pendopo sebagai tamu undangan juga banyak yang tergila-gila kepada Neneng Salmah. Baru mendengar suara tembang Neneng Salmah saja yang amat merdu, lirikan matanya yang tajam memikat dan senyumnaya yang seolah menantang dan menjanjikan seribu satu macam kenikmatan, para tamu pria sudah gandrung, apa lagi kalau ia menari, melenggang-lenggokkan tubuhnya yang aduhai itu!

Sementara itu, di atas panggung Senopati Tumenggung Jayasiran dengan hormatnya bercakap-cakap dengan kakek yang tadi menarik perhatian Aji. Tidak salah dugaan Aji bahwa kakek itu seorang yang memiliki kesaktian karena dia bukan lain adalah Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten yang sudah terkenal sekali kehebatan kepandaiannya. Kalau saja dia tahu bahwa kakek itu adalah Kyai Sidhi Kawasa, tentu dia akan terkejut sekali karena dia pernah mendengar nama datuk ini sebagai seorang yang anti Kerajaan Mataram. Juga Tumenggung Jayasiran bersikap menghormat sekali kepada pemuda tinggi kurus yang duduk di sebelah Kyai Sidhi Kawasa.

Pemuda ini bukanlah orang sembarangan. selain menjadi murid Kyai Sidhi Kawsa, juga pemuda yang usianya tiga puluh tahun ini masih pangeran, putera Adipati Banten dari seorang selir. Karena Tumenggung Jayasiran juga berasal dari Banten, tentu saja dia mengenal baik guru dan murid ini dan karenanya dia bersikap hormat. Pemuda Banten ini bernama Raden Jaka Bintara. Tadi ketika terjadi pertandingan untuk memperebutkan penari, dia bersikap tak acuh, memandang rendah semua itu dan minum arak sepuasnya. Kini mukanya kemerahan, minuman telah mulai mempengaruhinya dan matanya yang lebar kemerahan itu ditujukan kepada Badrun yang masih menantang-nantang lawan di atas panggung.

Pemuda bangsawan dari Banten itu mengerutkan alisnya dan akhirnya dia tak tahan lagi melihat sikap yang jumawa dari Badrun. "Hemm, alangkah sombongnya monyet itu!" katanya.

Kyai Sidhi Kawasa yang duduk di sebelahnya berkata, "Ah, Raden, untuk apa memperhatikan orang macam itu? Tidak ada harganya."

Akan tetapi Jaka Bintara masih merasa penasaran dan bertanya kepada sang senopati Sumedang. "Paman tumenggung, siapa sih monyet sombong itu?"

Tumenggung Jayasiran memandang ke arah panggung di mana Badrun masih berjoget dengan penari berselendang merah dengan penuh gaya. Karena tidak ada yang berani menyambut tantangannya, Badrun menjadi semakin berlagak, bahkan kini dia berani menari sambil menggerayangi tubuh penari itu secara kurang ajar sekali. Apalagi setelah para penonton yang terdiri dari laki-laki muda tertawa gembira menyambut kekurang-ajaran itu. Penari berselendang merah itu menjadi merah sekali wajahnya dan matanya menunjukkan bahwa ia merasa malu sekali dan hampir menangis.

"Oh itu! Dia seorang kaya di Sumedang, hubungannya dengan para pamong praja cukup baik maka diapun terkenal memiliki kedigdayaan dan setiap ada perayaan yang diramaikan dengan pertunjukan penari yang diperebutkan, dia selalu tampil sebagai bintang." kata Tumenggung Jayasiran.

"Paman, saya tak senang denagn lagaknya. saya ingin menyambut tantangannya!" kata Jaka Bintara. "Raden, untuk apa melayani dia? Tentu saja dia bukan lawan andika!" kata Tumenggung Jayasiran yang sudah mengenal kesaktian murid Kyai Sidhi Kawasa itu.

"Orang itu perlu dihajar!" Jaka Bintara berkata dan dia lalu bangkit berdiri dan dengan langkah lebar dia menuju ke panggung di mana Badrun masih berjoget bersama si selendang merah. Kekurangajaran Badrun mencapai puncaknya. Ketika mereka berjoget berdekatan, tangan kiri Badrun tiba-tiba merangkul pinggang yang ramping itu, menarik tubuh si selendang merah itu sehingga merapat dengan tubuhnya sendiri dan dia menciumi muka ledek itu!

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pundaknya. Badrun berteriak kesakitan dan pelukannya kepada ledek itu terlepas. Dia cepat melangkah ke pinggir dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berani berbuat kurang ajar kepadanya. Jaka Bintara memberi isyarat kepada si selendang merah untuk mundur, Sambil menahan isak ledek itu lalu berlari ke tempat semula di antara para penabuh gamelan, duduk bersimpuh di dekat dua orang ledek lainnya dan menangis tanpa suara, hanya menutupi mukanya dengan selendang merahnya.


Alap Alap Laut Kidul Jilid 21

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 21

SETELAH berada agak jauh dari tempat bekas pertempuran, Aji memberi isyarat kepada Jatmika dan Eulis untuk berhenti. Mereka duduk di atas batu dan Aji memandang dengan penuh selidik kepada Eulis yang sejak tadi diam saja. "Nimas Sulastri, mengapa engkau tidak mengakui namamu sendiri dan berganti nama Listyani atau Eulis? mengapa, nimas." Tanya Aji kepada Eulis yang tampak bingnung mendengar pertanyaan ini.

Eulis menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya sambil menatap wajah Aji dengan senar mata penuh keheranan. "aku tidak mengenal andika dan namaku memang Listyani dan biasa disebut Eulis. Tanya saja kepada Kakangmas Jatmika ini. Bukankah begitu, kakangmas?" Eulis menoleh kepada Jatmika.

Aji memandang kepada Jatmika dan pemuda ini mengangguk, lalu berkata kepada Aji. "Ki sanak, kami berdua mengucapkan banyak terima kasih atas bantuanmu sehingga menyelamatkan kami berdua dan juga sang adipati. Gadis ini memang bernama Listyani atau Eulis, kenapa andika menyebutnya Sulastri? Apakah andika mengenalnya?"

"Mengenalnya?" Aji mengerutkan alisnya.

"Tentu saja aku mengenalnya dengan baik, bahkan aku juga mengenal namamu dengan baik, Kakang Jatmika. Andika putera Paman Sudrajat, bukan?"

Jatmika menatap tajam wajah Aji, "Benar! Bagaimana andika tahu? Apakah andika mengenal ayahku?"

"Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku ingin engkau lebih dulu menjelaskan. Kalau engkau memang Kakangmas Jatmika putera Paman Sudrajat, kenapa engkau tidak mengenal Nimas Sulastri dan menyebutnya Listyani ayau Eulis? Hal ini aneh sekali. Sebagai putera Paman Sudrajat berarti engkau adalah cucu Eyang Ki Ageng Pasisiran atau Eyang Ki Tejo Langit. mustahil kalau engkau tidak mengenal Nimas Sulastri karena ia adalah murid Eyang Ki Tejo Langit."

Jatmika terbelalak menatap wajah Aji, lalu menoleh dan memandang Sulastri. "Duh Gusti...! Jadi... ia ini Sulastri murid eyang? Bapa pernah bercerita tentang ia... dan memang kami belum pernah saling berjumpa...!" Jatmika lalu menghampiri Sulastri dan memegang kedua pundak gadis itu, mengguncangnya. "Engkau Sulastri...! Pantas aku mengenal ilmu-ilmu yang kau mainkan. Engkau Sulastri, bukan Listyani atau Eulis!"

"Kakangmas Jatmika, engkau ini bagaimana sih? Bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa namaku Listyani dengan panggilan Eulis?"

"Ya, karena ketika kita saling bertemu aku tidak mengenalmu dan engkau kehilangan ingatanmu, tidak ingat siapa namamu dan tidak ingat apa yang telah terjadi. Karena itu aku memberimu nama Listyani atau Eulis."

"Ohhh...!" Sulastri duduk lagi di atas batu, memegangi kepalanya dengan kedua tangan. "Kalau begitu... siapakah aku ini...?"

"Engkau adalah Sulastri, puteri Paman Subali di Dermayu, nimas dan aku Lindu Aji, murid eyang Guru Tejo Budi. Engkau ingat, bukan?"

Sulastri menggeleng kepalanya kuat-kuat. "Tidak, tidak...! Aku tidak ingat sama sekali tidak ingat...!" Lalu dia menundukkan mukanya dan memegangi kepala dengan kedua tangan lagi seolah hendak memaksa ingatannya yang hilang agar kembali.

Akan tetapi kini Jatmika memandang wajah Aji dengan mata terbelalak penuh kejutan. Andika murid... Eyang Tejo Budi? Ahh, Adi Lindu Aji, bagaimana kabarnya dengan Eyang Tejo Budi? Di mana dia sekarang? Sudah bertahun-tahun aku merindukannya, ingin sekali menghadap dan sujud di depan kakinya!" Aji merasa terharu sekali. Dia maklum apa yang menjadi gejolak hati Jatmika. Ki Tejo Budi adalah kakek kandung pemuda itu, karena Ki Sudrajat adalah putera kandung.

Ki Tejo Budi, hanya anak angkat Ki Tejo Langit. Berat rasa hati dan mulutnya untuk menceritakan tentang kematian orang-orang yang begitu dekat dengan Jatmika, akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus menceritakan yang sebenarnya, menceritakan semuanya. "Maafkan aku, kakang Jatmika. Aku terpaksa menceritakan kenyataan yang tidak membahagiakan hatimu. Eyang Guru Tejo Budi sudah meninggal dunia kurang lebih satu setengah tahun yang lalu."

"Ohhh...!" Jatmika jatuh terduduk di atas batu, tubuhnya terasa lemas. Kakek kandungnya yang begitu dirindukannya ternyata telah meninggal dunia sebelum dia dapat bertemu.

"Maaf, kakang. Aku membuatmu menjadi berduka." kata Aji.

Jatmika dapat menguasai dirinya dan menjadi tenang kembali. Dia menatap wajah Aji dan berkata. "Tolonglah, Adi Aji, ceritakan kepadaku tentang beliau, tentang Eyang Tejo Budi, di mana dia tinggal, bagaimana engkau dapat bertemu dengan beliau dan bahaimana beliau meninggal. Aku ingin sekali mengetahui segalanya tentang beliau. apakah beliau meninggalkan isteri... atau anak...?"

"Tidak, Kakang Jatmika. Semenjak berpisah dari Paman Sudrajat, eyang Guru Tejo Budi tidak pernah menikah lagi. Beliau hidup seorang diri, bahkan terlunta-lunta sampai pada suatu hari beliau tiba di dusun Gampingan dekat pantai Laut Kidul di mana aku tinggal bersama ibuku. Kemudian eyang guru tinggal bersama kami dan menjadi guruku sampai pada suatu hari beliau meninggal dunia karena sakit dan tua."

"Ah, kalau ayahku tahu..." kata Jatmika terharu.

"Paman sudrajat sudah tahu, kakang. Aku sudah menghadap Eyang Tejo Langit dan Paman sudrajat di pesisir dekat Dermayu dan sudah kuceritakan kepada mereka"

"ah, engkau sudah bertemu ayah dan eyang, Adi Aji?"

"Sudah dan aku..." Aji berhenti bicara, rasanya tidak tega untuk memberi tahu tentang kematian dua orang tua itu.

Melihat Aji tersendat bicara, Jatmika memandang tajam "Ada apakah, Adi? Apa yang hendak kaukatakan?"

"Ah, tidak kakang. Aku hanya ingin tahu bagaimana engkau bertemu dengan Nimas Sulastri dan mengapa ia menjadi begini... eh, kehilangan ingatan."

"Pertemuan kami kebetulan saja, Dimas Aji. Aku melihat ia dikeroyok tujuh orang penjahat, di antara mereka adalah Munding Hideung dan kakek Ki Kolo Srenggi yang jahat dan sakti mandraguna. Untung setelah kami berdua bekerja sama dengan susah payah, akhirnya kami dapat meobohkan dan membunuh mereka. Nah, ketika kutanya, ia tidak ingat lagi siapa namanya dan darimana ia datang. Karena, biarpun ia murid Eyang Tejo Langit , aku belum pernah bertemu dengannya, maka aku tidak mengenalnya. Karena ia bingung dan tidak ingat namanya aku mengaku tahu bahwa namanya Listyani atau Eulis. Nah, begitulah pertemuan kami. Aku lalu pergi ke Sumedang untuk memenuhi pesan ayah dan eyang untuk membantu Kadipaten Sumedang yang dirongrong oleh pemberontakan. Akan tetapi dalam perjalanan, kami dihadang oleh Aki Mahesa Sura bersekongkol dengan Tumenggung Jaluwisa, senopati Sumedang yang memberontak. Kami pura-pura menyerah dan ditugaskan untuk membunuh Pangeran Mas Gede, Adipati Sumedang. Pada saat penyerangan itulah kami berdua menggunakan kesempatan untuk meloloskan diri dan kebetulan engkau muncul dan membantu kami, Dimas Aji. Sekarang ceritakanlah apa yang kauketahui tentang Nimas Sulastri?"

Sulastri mengangkat mukanya memandang kepada Aji. Ia masih belum ingat apa-apa dan pemuda itu bagaikan orang asing baginya. "Ya... ceritakanlah tentang diriku kalau benar aku ini Sulastri, aku ingin mendapatkan kembali ingatanku tentang diriku yang sebenarnya, semua terasa seperti mimpi dan aku benar-benar tidak ingat apa-apa lagi. Tidak ingat akan masa laluku, tidak ingat akan orang tuaku. Ahhh...!" Sulastri memegangi kepalanya lagi.

Aji memandang Sulastri dengan hati penuh iba, kemudian dia menatap wajah Jatmika dan berkata. "Aku melakukan perjalanan bersama nimas Sulastri sejak sebulan yang lalu. Kami menghadap Adipati Cirebon dan mendapat tugas untuk membasmi gerombolan Munding Hideung yang mengacau di Pegunungan Careme. Kami berdua berhasil temukan Munding Hideung dan Munding Bodas dengan anak buah mereka. Kami berhasil mengalahkan mereka, akan tetapi Nimas Sulastri terkena anak panah dan terjatuh ke bawah tebing yang amat curam. setelah merobohkan semua gerombolan, aku menuruni tebing dan mencari-cari. Akan tetapi aku tidak dapat menemukan Nimas Sulastri yang hilang tanpa meninggalkan jejak! Sudah kucari dengan bantuan anak buah Munding Hideung selama dua hari, namun sia-sia. Nimas Sulastri lenyap."

Sulastri mengangkat mukanya memandang Aji dengan alis berkerut. Melihat ini, Aji bertanya penuh harapan.

"Nimas, apakah ceritaku tadi mendatangkan kembali ingatanmu?"

Akan tetapi Sulastri menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya. "Aku tidak ingat apa-apa, tidak ingat sama sekali." katanya sedih.

Dimas Aji, lanjutkan ceritamu. Bagaimana engkau dapat membantu kami?" Tanya Jatmika.

"Sekarang jelas bahwa tentu Nimas Sulastri kehilangan ingatan ketika terjatuh ke bawah tebing itu. entah bagaimana ia selamat, mungkin Ki Kolo Srenggi itu yang menyelamatkannya. Ia selamat akan tetapi kehilangan ingatan, mungkin kepalanya terbentur keras. Nah, lanjutkan ceritamu, dimas."

"Dalam keadaan putus asa dan membawa pedang pusaka Nogo Wilis milik Nimas Sulastri, aku pergi menemui Paman Subali dan istrinya, yaitu ayah ibu Nimas Sulastri dan menceritakan tentang hilangnya Nimas Sulastri. Tentu saja mereka merasa gelisah dan berduka sekali. Aku menyerahkan pedang Nogo Wilis kepada Paman Subali."

"Jatmika memandang gadis itu. "Nimas Sulastri, apakah Pedang Nogo Wilis dan ayah ibumu itu belum juga dapat mengembalikan ingatanmu?"

Sulastri menggeleng kepalanya. "Jangan sebut aku dengan nama itu, kakangmas! Aku merasa lebih akrab dengan sebutan Listyani atau Eulis. Nama Sulastri itu terasa asing bagiku. Aku tidak ingat apa yang terjadi sebelumnya. Yang teringat olehku hanya semenjak kita saling bertemu sampai sekarang."

Jatmika menoleh kepada Aji. "Ceritamu tadi masih belum dapat mengembalikan ingatannya, Dimas Aji. Lanjutkanlah ceritamu tentang pertemuanmu dengan ayah dan kakekku, juga tentang bantuanmu kepada kami tadi."

Aji sengaja melewati kisah pertemuannya dengan Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat, dan dia langsung menceritakan bantuannya kepada Jatmika. "Secara kebetulan saja aku melihat rombongan Tumenggung Jaluwisa dan aku merasa curiga lalu aku membayangi mereka. Setelah mereka tiba di pondok Aki Mahesa Sura aku melihat Nimas Sulastri dan engkau yang belum kukenal, Kakang Jatmika. Aku mendengarkan perundingan mereka dan cepat-cepat aku pergi menemui Adipati Sumedang. Kuceritakan semuanya dan kami membuat rencana siasat untuk menghadapi serbuan yang diatur Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura. Ketika aku yang menggantikan sang adipati dan berada dalam kereta melihat kalian berdua membalik dan melawan para pemberontak, aku merasa girang sekali. Setelah aku mendengar namamu disebut, maka tahulah aku siapa engkau, Kakang Jatmika, aku sudah mendengar tentang engkau dari..." Tiba-tiba Aji teringat bahwa ia tidak ingin bercerita tentang Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit, maka dia terdiam seketika.

"Ya, engkau tentu mendengar tentang aku dari ayah dan kakek. Bagaimana engkau dapat bertemu dengan mereka, dimas?" Tanya Jatmika.

Berdebar rasa jantung dalam dada Aji. Beberapa kali dia menelan ludah. Akhirnya dia dapat menguasai ketegangan hatinya dan berkata dengan hati-hati. "mulanya begini, kakangmas. Aku sedang mencari orang yang bernama Raden banuseta yang enam tahun tujuh tahun yang lalu telah membunuh ayah kandungku di dusun Gampingan. Ketika aku berkunjung kepada Paman Subali menceritakan tentang lenyapnya Nimas sulastri, aku mendapat keterangan darinya bahwa Raden banuseta adalah Ketua perkumpulan Dadali sakti di dermayu dan terkenal jahat. Aku lalu mengunjungi perguruan itu. Akan tetapi Banuseta sedang tidak berada di rumah. Di sana aku melihat wakilnya dan para anak buahnya hendak memaksa seorang wanita menjadi isteri Banuseta, Aku menentang dan menghajar mereka, membebaskan wanita itu dan suaminya. Aku merobohkan wakil ketuanya dan ketika aku hendak pergi, wakil ketua itu bertanya di mana alamatku karena Banuseta pasti akan mencariku untuk membalas dendam. karena aku hendak berkunjung ke pondok Eyang Tejo Langit di pesisir, maka aku sebutkan alamat itu, lalu aku pergi menuju ke pantai laut."

"Dan engkau bertemu dengan ayah dan kakekku? tanya Jatmika.

Aji menghela napas panjang, matanya menatap wajah Jatmika penuh iba. "Kakangmas Jatmika, sebelumnya ampunilah aku kalau terpaksa aku menyampaikan hal yang membuat engkau tidak bahagia."

"Ada apakah, adimas? Katakan saja terus terang, aku siap menghadapi hal yang bagaimanapun juga."

"Aku memang sudah menghadap Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit. Mereka berduka sekali mendengar bahwa Eyang Guru Tejo Budi telah meninggal dunia. Juga mereka prihatin mendengar laporanku tentang lenyapnya Nimas Sulastri." Kembali dia berhenti.

"Tentu saja ayah dan kakekku bersedih dan prihatin mendengar berita yang tidak menyenangkan itu, dimas. dan selanjutnya?"

"Aku ditahan malam itu oleh Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit, kami bercakap-cakap dan aku menceritakan semua yang terjadi dengan mendiang Eyang Guru Tejo Budi dan dengan Nimas Sulastri. Akan tetapi tiba-tiba Banuseta dan anak buahnya datang menyerang. Dia berteriak menantangku. Aku mohon Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tidak mencampuri karena permusuhan dengan Banuseta adalah urusan pribadiku. Aku keluar menerima tantangan Banuseta. Dia menyerangku akan tetapi aku dapat mengalahkan dia. Tiba-tiba ada seorang temannya yang membelanya dan menandingi aku. Aku terkejut melihat ilmunya sama dengan ilmu Nimas Sulastri. Pada saat kami bertanding, Eyang Tejo Langit keluar dari pintu dan ketika menyebut nama lawanku, aku terkejut karena ternyata dia bernama Hasanudin atau panggilannya Udin!"

"Ahhh...? Kakang Hasanudin...?" Jatmika berseru kaget.

"Benar, dia Hasanudin... kakak tiriku yang sedang kucari-cari..." kata Aji.

"Kakak tirimu?" Jatmika mengulang, kaget dan heran. "Benar, Ayahku berasal dari Galuh dan meninggalkan seorang putera. Hasanudin itulah puteranya dan ketika ayah meninggalkannya, dia masih kecil. Ayah sebelum meninggal dunia, berpesan kepadaku agar aku mencari kakak tiriku itu. Siapa tahu begitu bertemu, dia malah membantu Banuseta pembunuh ayah kami, membantu Banuseta yang menjadi antek Kumpeni Belanda."

"Antek Kumpeni Belanda?"

"Ya, Banuseta itu antek Kumpeni Belanda. Pada saat Eyang Tejo Langit muncul di luar pintu, dari kanan kiri terdengar letusan-letusan senapan dan Eyang Tejo Langit roboh tertembak anak buah Banuseta yang ternyata merupakan pasukan yang menggunakan senjata api."

"Aaahhh...!" Jatmika berseru, mukanya berubah pucat, matanya terbelalak, Aji merasa kasihan, akan tetapi sudah kepalang, dia harus menceritakan semuanya.

"Pada saat itu, Paman Sudrajat muncul. kembali dihujani peluru senapan, akan tetapi semua peluru itu hanya merobek bajunya dan kekebalan Paman Sudrajat tidak dapat ditembusi peluru itu. Akan tetapi, tiba-tiba Banuseta menembakkan pistolnya ke arah Paman Sudrajat dan beliau... roboh..."

"Aahhh... bagaimana... bagaimana keadaan eyang dan bapa...?"

"Mafkan aku, kakang... paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tewas...!"

"Duh Gusti...!!" tubuh Jatmika terkulai dan diapun roboh pingsan.

Untung Aji bergerak cepat dan merangkulnya sehingga dia tidak terbanting. Dengan lembut direbahkan tubuh yang lemas itu di atas rumput. "Kakangmas Jatmika, maafkan aku...!" Aji mengeluh.

"Kakangmas Jatmika...!" Sulastri menjerit dan menubruk tubuh pemuda yang pingsan itu, mengguncang pundaknya dan menangis. "Aduh, kakangmas Jatmika, kasihan sekali engkau...!" tangisnya.

cerita silat online karya kho ping hoo

Aji melihat betapa gadis itu menangis dengan sedihnya, air matanya bercucuran dan mengalir disepanjang kedua pipinya. Melihat gadis itu memeluki Jatmika sambil menangis, diam-diam ada rasa pedih dan perih dihati Aji. Betapa gadis ini amat menyayang Jatmika dan agaknya sama sekali tidak ingat lagi kepadanya! Ada rasa cemburu mengusik hatinya, akan tetapi dilawannya perasaan yang dia tahu tidak benar ini. Harus diakuinya bahwa ada rasa sayang besar sekali dalam hatinya terhadap dara ini. Mengapa dia harus cemburu?

Dia tahu bahwa rasa cemburu didorong oleh nafsu daya rendah dan cinta yang yang disertai cemburu itu bukanlah cinta yang setulusnya, melainkan cinta yang mengandung nafsu untuk memiliki, nafsu untuk menyenangkan diri sendiri. Kalau memang Sulastri yang disayangnya itu ternyata mencinta pria lain, dan akan hidup berbahagia dengan pria lain, mengapa hatinya tidak rela? Kalau dia benar-benar menyayang Sulastri, tentu dia mementingkan kebahagiaan gadis itu dan hatinya akan turut berbahagia kalau gadis yang disayanginya itu berbahagia.

"Minggirlah, nimas. Biar aku yang menyadarkannya." katanya lirih dan Sulastri minggir, memberi keleluasaan kepada Aji untuk menolong pemuda yang pingsan itu. Aji maklum bahwa hati Jatmika tertekan penuh ketegangan. Maka, sebelum menyadarkannya, lebih dulu Aji menggunakan jari-jari tangannya untuk memijit, menekan dan mengurut tengkuk dan kedua pundak Jatmika, kemudian tiga kali dia mengurut pelipis di atas kedua telinga. Setelah itu barulah dia memijit tangan pemuda itu, tepat di tengah-tengah antara ibu jari dan telunjuk, membetotnya dan Jatmika segera mengeluh dan siuman. Begitu membuka matanya, Jatmika teringat akan apa yang didengarnya dari Aji. Serentak dia bangkit duduk, matanya melotot memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

"Jahanam keparat kalian Banuseta dan Hasanudin! Akan kubunuh kalian!" Dia bangkit berdiri.

Aji segera merangkulnya. "Kakangmas Jatmika, ingatlah, kakang. Sebutlah nama Gusti Allah dan bersabarlah!" Pandang mata Jatmika melayang ke arah muka Aji, muka yang terhias senyum penuh kesabaran, sinar mata yang begitu lembut penuh pengertian dan juga mengandung wibawa yang amat meyakinkan. seketika Jatmika teringat dan diapun menangis.

"Duh Gusti... ampunilah hamba... aduh bapa dan eyang... semoga paduka mendapat pengampunan dan dianugerahi kedamaian dan ketenteraman oleh Gusti Allah..." pemuda itu menutupi mukanya dengan kedua tangannya dan menangis.

"Kakangmas Jatmika... kuatkan hatimu, kakangmas...!" Sulastri mendekat dan merangkul, Jatmika balas merangkul pundak gadis itu.

Jatmika mengusap air matanya dan menghentikan tangisnya, teringat bahwa sungguh tidak pantas seorang satria meruntuhkan air mata. "Terima kasih, nimas Sulastri..."

"Eulis saja, kakangmas. Aku lebih senang kau sebut Eulis, nama pemberianmu."

"Ah, nimas Eulis, sekali lagi terima kasih. engkau begini baik kepadaku..."

"Engkau yang begini baik sekali kepadaku, kakangmas. Aku berjanji akan membantumu mencari musuh-musuh besar yang telah membunuh ayah dan kakekmu."

"Sudah semestinya, nimas, karena kakekku itu juga eyang gurumu sehingga sebenarnya kita masih saudara seperguruan."

"Sayang aku tidak ingat lagi siapa eyang guruku itu." kata Sulastri dengan wajah sedih.

"Dimas Aji, aku berterima kasih sekali kepadamu karena selain engkau telah menolong kami, engkau juga menerangkan juga tentang keadaan diri Nimas Eulis yang sebenarnya, juga aku menjadi tahu akan tewasnya bapa dan eyang. Lanjutkan ceritamu tadi, Dimas Aji."

Aji menghela napas panjang. Betapapun pedih hatinya melihat Sulastri lupa kepadanya dan kini gadis itu jells berhubungan akrab dengan Jatmika, namun di dasar hatinya dia merasa berbahagia melihat kenyataan bahwa gadis itu masih hidup. "Setelah Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit tertembak, Hasanudin melarikan diri. Tanpa bantuannya, agaknya Banuseta merasa jerih dan diapun melarikan diri bersama anak buahnya. Aku lalu merawat dan masih sempat mendengar pesan terakhir Paman Sudrajat yang minta agar kalau aku bertemu dengan puteranya yang bernama Jatmika agar aku suka membantunya. kemudian Paman Sudrajat tewas dan aku mengubur kedua jenazah itu dibelakang pondok. Demikianlah, Kakangmas Jatmika."

"Ah, sekali lagi terima kasih, Adimas Aji. Engkau sungguh baik sekali dan aku merasa girang bahwa engkau adalah murid Eyang Tejo Budi karena dengan demikian berarti antara kita masih ada tali persaudaraan seperguruan. Kita bertiga, Nimas Eulis, engkau dan aku masih saudara seperguruan atau sealiran."

Tiba-tiba Sulastri memandang kepada Aji dan berkata, "Biarpun aku tidak ingat lagi tentang perguruanku, namun aku juga girang bahwa aku masih saudara seperguruan dengan Kakangmas Jatmika dan dngan engkau, Kakangmas Aji. Engkau adalah seorang yang gagah dan baik."

Aji merasa terharu sekali. Biarpun sudah kehilangan ingatannya dan lupa masa lalunya, Sulastri ternyata masih bersikap baik dan ramah. "Akupun merasa girang, Nimas Sulastri."

"Eh, engkau lupa lagi, kakangmas. Namaku Listyani, sebut saja Eulis."

Aji terpaksa mengulang, untuk menyenangkan hati gadis itu. "Aku akan berusaha agar aku tidak lupa lagi, Nimas Eulis." Bagaimanapun, nama baru Eulis yang sederhana itu cukup cocok dan pantas karena Eulis berarti cantik. Dan Sulastri tidak berubah biarpun ingatannya hilang. Kecantikan tidak pernah hilang, bahkan dalam pandangan Aji gadis itu tampak semakin cantik!

"Adimas Aji, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku ingin sekali melakukan pengejaran dan pencarian terhadap si jahanam Banuseta dan Hasanudin, akan tetapi bagaimana dngan Nimas Eulis?"

Sulastri menyambar tangan Jatmika dan berkata. "Aku ikut denganmu, kakangmas. Aku akan membantumu menghadapi dua orang jahat itu!"

"Kakangmas Jatmika, aku kira yang betanggung jawab atas kematian Paman Sudrajat dan Eyang tejo langit hanyalah banuseta seorang. Hasanudin tidak turun tangan terhadap mereka. Hasanudin hanya membantu Banuseta untuk melawan aku dan agaknya diapun menyesal ketika melihat Paman Sudrajat dan Eyang Tejo Langit roboh oleh tembakan sehingga dia melarikan diri."

"Hemm, betapapun juga, melihat Eyang Tejo Langit yang menjadi gurunya tewas ditembak orang, sepatutnya dia harus membela."

"Kakangmas Jatmika, menurut pendapatku, sebaiknya kalau engkau mengantarkan Nimas Eulis lebih dulu ke Dermayu, ke rumah orang tuanya. Siapa tahu, kalau dia bertemu dengan Paman Subali dan isterinya, ia akan mendapatkan kembali ingatannya. Apakah engkau tidak merasa bahwa menolong Nimas Eulis jauh lebih penting dari pada mencari Banuseta?" kata Aji.

"Tentu saja!" jawab Jatmika cepat. "Engkau benar, Dimas Aji, aku akan lebih dulu membawa Nimas Eulis ke rumah Paman Subali di Dermayu. Mari, nimas, kita berangkat!"

"Akan tetapi, kakangmas, aku sudah lupa lagi siapa orang tuaku, siapa nama mereka dan di mana tempat tinggal mereka!" Kata Sulastri.

"Tidak mengapa, nimas. Ikutlah saja denganku dan kita sama lihat nanti, mudah-mudahan pertemuanmu dengan orang tuamu akan mengembalikan ingatanmu yang hilang." Jatmika menggandeng tangan gadis itu dan menoleh kepada Aji. "Dimas Aji, kami berangkat. Selamat berpisah dan sampai bertemu kembali."

"Selamat berpisah dan selamat jalan, semoga kalian berhasil dan semoga Gusti Allah selalu melindungi dan membimbing kalian!" kata Aji kepada dua orang yang sudah mulai melangkah pergi itu.

Setelah Jatmika dan Sulastri pergi tak tampak lagi bayangannya, Aji menjatuhkan dirinya dengan lemas lunglai ke atas batu yang tadi diduduki Sulastri. Dia meraba-raba dan merangkul batu itu dengan hati penuh rindu dendam kepada Sulastri. Dia merasa nelangsa sekali, akan tetapi ketika merasa betapa kedua matanya panas, hatinya seperti diremas-remas, Aji cepat duduk bersila di atas batu dan menegakkan tubuhnya, seluruh jati dirinya berlutut pasrah menyembah Gusti Allah dan seketika cengkeraman nafsu yang membuat dia menderita duka dan kehilangan itupun sirna.

"Terima kasih, aduh Gusti, bahwa Nimas Sulastri masih hidup dan selamat. Semoga Paduka senantiasa melindungi dan membimbingnya sehingga ia dapat hidup dalam kebenaran dan berbahagia selalu." bisiknya diapun bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu.

********************

Biarpun dia juga ingin dapat menemukan Banuseta yang jahat dan menjadi antek Kumpeni Belanda untuk menentang dan membasminya, juga ingin mencari Hasanudin untuk menyadarkannya, namun Aji mengesampingkan keinginannya itu. Dia merasa amat heran melihat kenyataan bahwa Tumenggung Jaluwisa, senopati yang menjadi tangan kanan dan kepercayaan Adipati Sumedang, memberontak terhadap Adipati Pangeran Mas Gede. Kadipaten Sumedang merupakan tempat yang amat penting bagi pasukan Mataram apabila nanti balabantuan Mataram menyerang ke Batavia.

Selain bala bantuan diharapkan dari Kadipaten Sumedang, juga tempat ini bisa dijadikan tempat peristirahatan dan menyusun kekuatan, juga sebagai sumber ransum. Kadipaten itu perlu diselidiki, pikirnya dan dia lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Sumedang. Malam mulai tiba ketika Aji memasuki Kadipaten Sumedang. Bulan yang cukup besar, walaupun belum purnama, telah muncul dan membuat suasana malam itu tampak meriah dan gembira. Orang-orang memenuhi halaman rumah dan jalan-jalan.

Langit bersih dan bulan cerah hawa udara di Kadipaten Sumedang sejuk dari biasanya. Tadi sebelum memasuki pintu gapura kadipaten itu, dari jauh Aji sudah mendengar suara gamelan. Gamelan Sunda masih agak asing dalam pendengaran Aji, akan tetapi setelah beberapa kali mendengarnya sejak dia memasuki daerah pasundan, dia mulai dapat menikmati iramanya. Berbeda dengan gamelan Jawa yang lembut, gamelan Sunda terdengar gagah, dengan bunyi suling yang mendayu-dayu dan kendangnya yang demikian menghentak-hentak penuh semangat.

Kalau gamelan Jawa pada umumnya mengandung kelembutan dan keluwesan seperti gerak-gerik satria Harjuna, maka gamelan Sunda mengandung keperkasaan seperti gerak gerik satria Gatotkaca. Hentakan kendangnya seperti merangsang kaki tangan untuk ikut bergerak! Setelah memasuki gapura, Aji melihat banyak orang, terutama laki-laki muda, berbondong menuju ke tengah kota kadipaten, ke arah datangnya suara gamelan. Aji dapat menduga bahwa di sana tentu sedang diadakan pesta, maka diapun ikut dengan orang-orang itu menuju ke tengah kota. Ketika ada seorang pemuda tinggi kurus berjalan didekatnya, dia menyapa dengan ramah.

"Maaf, sobat. Kalau boleh saya bertanya, ada perayaan apakah di sana?"

Laki-laki itu memandang Aji dengan sinar mata heran. "Agaknya andika bukan orang sini, maka tidak tahu akan perayaan itu."

"Memang saya bukan orang sini, ki sanak."

"Pantas andika tidak mengetahui. Nah, ketahuilah bahwa untuk merayakan kemenangan Gusti Adipati atas pemberontakan Tumenggung Jaluwisa, juga atas keselamatan Gusti Adipati, maka senopati Tumenggung Jayasiran mengadakan pesta semalam suntuk dan yang amat menarik perhatian adalah diundangnya waranggana yang terkenal dari Galuh yang bernama Neneng Salmah yang cantik jelita, bersuara emas dan kalau menari, aduh, goyang pinggul dan pundaknya membuat orang mabok kepayang! Malah diadakan pertandingan antara jawara, siapa menang berhak untuk berjoget dilayani Neneng Salmah. Wah, bakal ramai sekali!" kata laki-laki tinggi kurus itu dan diapun bergegas mempercepat langkahnya.

Aji merasa tertarik. Pernah dia melihat pesta dengan tampilnya seorang waranggana yang cantik bernyanyi dan menari. Akan tetapi dia belum pernah melihat para jagoan bertanding untuk memperebutkan kemenangan agar dapat berjoget bersama seorang waranggana yang terkenal. Diapun tidak mungkin pergi menghadap adipati Sumedang pada malam hari begitu. Dia harus menanti sampai besok pagi dan dia tidak tahun di mana dia akan melewatkan mala mini. lebih baik nonton keramaian yang akan berlangsung semalam suntuk. Dia lalu mempercepat langkahnya mengikuti orang-orang itu.

Pesta itu diadakan di depan pendopo sebuah rumah besar. Di pekarangan rumah itu dibangun sebuah panggung yang tingginya satu setengah meter, panggung yang luas dan terbuat dari papan yang kokoh. Banyak lampu besar membuat tempat itu terang benderang dan suasananya meriah sekali. Di pendopo yang menyambung panggung itu penuh dengan kursi yang sudah diduduki para tamu undangan. Karena yang mengadakan pesta adalah seorang senopati, maka para tamunya tentu saja orang-orang penting di Sumedang.

Hanya Sang Adipati Pangeran Mas Gede yang tidak hadir walaupun pesta itu diadakan untuk merayakan keselamatannya, karena sang adipati merasa lelah dan membutuhkan istirahat. Di dalam pekarangan yang luas itu, di bawah panggung, penuh dengan orang-orang yang datang menonton. Di belakang panggung terdapat para penabuh gamelan yang sejak tadi sudah mulai menabuh gamelan sehingga suasana meriah walaupun sang waranggana yang ditunggu-tunggu itu masih duduk di antara penabuh gamelan dan belum menari, hanya kadang-kadang saja melengkapi suara gamelan dengan lengkingan suaranya yang merdu mendayu-dayu.

Hampir semua mata ditujukan kepadanya. Karena ia duduk bersimpuh di tengah-tengah para penabuh gamelan, maka yang tampak hanya mukanya yang memang cantik sekali, cantik dan segar bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar, dengan kulit yang putih kuning seperti tampak pada lehernya yang panjang dan indah. Rambut hitam ngandan-andan (berombak) digelung rapi dan dihias dengan untaian bunga melati, membuat rambut itu tampak semakin hitam. Sinom (anak rambut) bergantung manja di atas dahi yang halus dan indah bentuknya.

Sepasang alis melengkung rapi, hitam dan lebat, melindungi sepasang mata yang jeli indah, kedua ujungnya agak berjungat ke atas, dengan sinar mata yang lembut namun bercahaya mengandung daya pikat dan tantangan yang kuat. Kedua pipinya berkulit segar kemerahan, mengapit sebatang hidung yang kecil mancung dan lucu serta sebuah mulut yang indah menggairahkan. Sepasang bibir itu merah basah dan selalu tersungging senyum simpul yang juga memiliki daya tarik amat kuat yang merangsang hati kaum pria karena bibir itu seolah menantang. Ketika ia bernyanyi, kadang-kadang mulutnya terbuka dan tampaklah sekilas deretan gigi putih rapi seperti mutiara, lidah merah muda dan rongga mulut yang lebih merah lagi. Mulut itu bagaikan sarang madu, penuh kesan menjanjikan kemanisan yang nikmat. Dagunya runcing dan setitik tahi lalat hitam di dagu menambah kemanisan wajah itu.

Aji dapat menyelinap dan mendapat tempat berdiri tak jauh dari panggung sehingga dia dapat melihat keadaan di atas panggung dan pendopo dengan jelas. Dia memperhatikan orang-orang yang duduk di pendopo, pada deretan paling depan. Jelas tampak bahwa mereka adalah orang-orang penting. Kursi merekapun lebih besar, berbeda dengan kursi-kursi lain. Dari seorang laki-laki yang berdiri di dekatnya, Aji mendapat tahu bahwa laki-laki tinggi besar berpakaian seperti seorang pembesar dan sikapnya yang berwibawa dan congkak itu adalah tuan rumah yang mengadakan pesta, yaitu Tumenggung Jayasiran, seorang senopati Sumedang.

Aji memperhatikan dua orang yang duduk di kanan kiri sang tumenggung itu. Di sebelah kanan tumenggung itu duduk seorang kakek yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun. Ketika bicara, kakek itu mengeluarkan suaranya yang lemah lembut. Kepalanya kecil dan botak, rambut yang tumbuh disekeliling kepalanya keriting dan sudah berwarna dua. Wajahnya masih tampak muda, bahkan bersih dan tampan tanpa kumis atau jenggot. Hidungnya pesek dan mulutnya kecil, akan tetapi bentuk mukanya tampan. Kedua lengannya mengenakan gelang akar bahar hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat ular kobra.

Dari penampilannya saja, Aji dapat menduga bahwa kakek itu tentu seorang yang sakti mandraguna. Hal ini jelas tampak pada sinar matanya yang terkadang mencorong seperti mata harimau. Orang kedua yang duduk di sebelah kiri tumenggung juga menarik perhatian Aji. Orang itu masih muda, berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus namun karena cara duduknya, sikap dan tongkrongannya seperti jagoan, dia tampak tegap dan kokoh. Wajahnya cukup tampan walaupun kulitnya hitam gelap. Sikapnya membayangkan kesombongan, apa lagi karena di punggungnya tergantung sebatang pedang yang warangkanya terukir indah.

Pemuda ini memandang ke sekeliling dengan mulut tersenyum mengejek, agaknya memandang rendah semua yang berada di situ. Akan tetapi kalau pandang matanya berhenti pada wajah sang waranggana, Neneng Salmah, Aji melihat betapa mata itu bersinar penuh gairah, seperti mata seekor kucing kelaparan melihat tikus. Aji juga melihat betapa tuan rumah bersikap amat hormat kepada dua orang itu dan ketika dia mengerahkan pendengarannya, dia dapat menangkap betapa logat bicara tuan rumah dan dua orang tamunya itu serupa, yaitu logat bicara orang yang datang dari Banten.

Dari tempat dia berdiri, Aji dapat mencium bau minuman keras yang dihidangkan kepada para tamu beserta makanan yang membuat dia merasa semakin lapar. Tiba-tiba Tumenggung Jayasiran memberi isyarat dengan mengangkat tangannya. Isyarat ini ditujukan kepada para penabuh gamelan atau lebih tepat kepada pimpinan para penabuh agar tarian para waranggana dimulai. Mulailah para penari itu bangkit berdiri. Dua orang gadis penari yang cukup manis bangkit berdiri, akan tetapi Neneng Salmah sendiri masih belum mulai.

Tentu saja sebagai primadona, ia dijual mahal baru akan menari sebagai puncak acara perayaan itu. Namun dua orang penari itu cukup menarik. Dari leher, pundak dan lengan yang tidak tertutup itu dapat dilihat betapa mereka memiliki kulit yang putih mulus. Wajah mereka berdua manis dan usia mereka bahkan baru sekitar tujuh belas tahun. Tubuh mereka belum mekar benar, bagaikan bunga baru setengah mekar, bagaikan buah masih ranum. Namun ketika mereka mulai menari diiringi suara gamelan dan hentakan suara kendang, tubuh mereka bergerak lemah gemulai dengan indahnya.

Goyangan pundak dan pinggul, gelengan kepala, sedemikian hidup membuat hati para pria berdebar-debar. Semua gerakan yang menarik hati ini masih dipermanis dengan senyum memikat dengan kerlingan mata yang menantang. Keadaan mulai ramai dan gembira. Suara tawa, sorak dan tepuk tangan menyambut setiap goyangan pinggul yang merangsang, keadaan menjadi riuh rendah dan seruan-seruan nakal mulai terlontar dari mulut para penonton.

Aji yang merasa lapar itu melihat betapa di luar pekarangan, di tepi jalan, banyak orang berjualan makanan dan minuman dengan memasang obor. Dia segera menyelinap di antara penonton, keluar dan segera membeli makanan dan minuman teh. Sejak pagi tadi dia belum makan dan perutnya terasa lapar sekali. Karena itu, biarpun membeli makanan sederhana terdiri dari nasi dan sayur gudang (sayur dengan sambal kelapa) dan minum air teh cair, Aji merasa nikmat dan puas.

Sementara itu, perebutan untuk tampil berjoget dilayani dua orang penari itupun sudah dimulai. Pertama-tama seorang laki-laki berusia tiga puluhan tahun melompat ke atas panggung dan langsung saja dia berjoget bersama seorang penari yang berselendang biru. Penari kedua berselendang merah segera mengundurkan diri untuk memberi kesempatan kepada si selendang biru melayani laki-laki itu berjoget. Orang-orang bertepuk tangan ketika laki-laki itu dengan beraninya, memutar-mutar tubuh dan menggoyang pinggul dekat sekali dengan tubuh si penari sehingga beberapa kali tangannya menyentuh dan mencolek tubuh penari itu.

Yang dicolek hanya tersenyum genit dan dengan lincahnya mengelak dan menghindar. Tarian itu menjadi seperti sepasang kupu-kupu yang saling berkejaran. Aji melihat bahwa tidak ada tamu yang duduk di pendopo yang bangkit untuk memperebutkan penari itu. Agaknya dua orang penari itu kurang layak diperebutkan para tamu yang terhormat itu, melainkan menjadi sajian bagi para penonton yang berdiri di bawah panggung, yaitu para penonton yang tak diundang atau rakyat jelata.

Setelah laki-laki itu menari beberapa menit lamanya, tiba-tiba seorang laki-laki lain yang usianya dua puluh lima tahun melompat ke atas panggung. Tepuk tangan menyambutnya karena penonton mulai merasa tegang dan bersemangat. Naiknya seorang laki-laki lain ke atas panggung itu berarti akan ada adu kekuatan agar yang menang mendapat hak untuk berjoget dengan penari itu. Munculnya laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan kokoh ini segera disambut oleh laki-laki pertama, seolah seekor jago (ayam jantan) yang mendapat gangguan selagi dia bercumbu dengan seekor ayam betina. Mereka berdua segera membuka pasangan kuda-kuda dalam gerakan silat yang indah dan gagah, saling berhadapan.

Penari wanita itupun segera mundur dan duduk bersimpuh, menanti siapa yang akan keluar sebagai pemenang dan berhak untuk ia layani berjoget. Sementara itu, Neneng Salmah bertembang dengan suaranya yang merdu merayu. Para penabuh gamelan yang mahir itu segera mengubah irama gamelan mereka. Kini suara gamelan itu berdetak-detak garang, membunyikan gamelan perang yang gegap gempita. Tukang kendangnya dengan penuh semangat memukul kendangnya dengan jari-jari tangan yang trampil. Suasana menjadi tegang dan gembira. Diiringi suara gamelan, dua orang itu tanpa banyak kata lagi sudah mulai saling terjang. mereka bersilat dengan gagah dan gerakan mereka ditimpali hentakan bunyi kendang, diseling teriakan mereka ber-ciat-ciat dan ber-hait-hait. Mereka saling tampar, saling tonjok, saling sikut, saling tending dan pertandingan berjalan dengan serunya.

"Plak-ketipak-tipak... blang...!" Suara kendang bergaya.

"Ciattt...!" Pemuda tinggi besar menerjang dengan tonjokan kuat sekali ke arah dada. Lawannya dengan sigapnya menangkis, akan tetapi agaknya pukulan itu terlalu kuat baginya sehingga dia terhuyung ke belakang. Pemuda itu cepat maju dan kakinya menyerampang. "Bresss...!" Tak dapat dihindarkan lagi, tubuh lawannya terpelanting roboh dan pada saat itu, pemuda tinggi besar menendang dengan kaki kirinya. "Pak-dupak-pak... jerr...!"

Tubuh laki-laki pertama kena tendang perutnya dan dia terguling-guling sampai keluar dari panggung dan jatuh ke bawah! Tepuk tangan menyambut kemenangan pemuda tinggi besar itu yang kini menari-nari dengan gagahnya menghampiri penari berselendang biru tadi seperti lagak Raden Gatotkaca menghampiri Dyah Pergiwa! Penari itupun tersenyum manis dan ketika pemuda itu menjulurkan tangan iapun menyambutnya, membiarkan tangannya dituntun dan ia bangkit berdiri. Mereka lalu menari bersama dan laki-laki itu merapatkan tubuhnya sampai mukanya hampir merapat dengan muka si penari dan hidungnya menyentuh pipi yang halus itu.

Para penonton bersorak gembira menyambut kemenangan pemuda yang mendapat "hadiah" dari penari itu. Ketika mereka berdua menari dengan asyiknya, diseling senggakan para penabuh gamelan dengan bunyi "serr! serr!" sehingga suasana menjadi semakin meriah dan merangsang, tiba-tiba tampak seorang laki-laki yang usianya tentu sudah ada lima puluh tahun lebih. Akan tetapi laki-laki ini tidak meloncat ke atas panggung yang tingginya satu setengah meter, melainkan memanjat melalui tihang di sudut panggung!

Tentu saja pemandangan yang lucu ini membuat banyak orang tertawa geli, apalagi ketika laki-laki itu memanjat tihang bambu yang licin beberapa kali terpeleset dan melorot turun lagi. Membayangkan laki-laki tua kurus kerempeng dan tak dapat meloncat itu hendak naik panggung dengan memanjat tihang bambu dan hendak merebut penari ayu, tentu saja orang-orang menjadi geli dan tertawa terbahak-bahak. Akhirnya orang itu dapat juga naik ke atas panggung dan begitu tiba di atas panggung, dia lalu memasang kuda-kuda sambil berjoget mengikuti irama kendang.

Jogetnya lucu, tubuhnya kerempeng ditekuk ke belakang, pantatnya yang tepos (tak berdaging) meruncing megal-megol. Orang-orang semakin riuh tertawa. Bahkan penari selendang biru itupun tak tahan untuk tak tertawa. Ia menutupi mulut dengan tangan kiri lalu mundur dan duduk bersimpuh seperti tadi, menanti pertandingan sampai seorang di antara dua pria itu keluar sebagai pemenang. Pemuda itu mengerutkan alis dan mulutnya tersenyum menyeringai melihat lagak kakek itu. Orang macam itu hendak menantangnya? Sekali tampar saja kakek itu tentu akan roboh ke bawah panggung dan copot semua giginya. Tanpa banyak membuat gerakan kembangan lagi, pemuda tinggi besar itu sudah menerjang ke arah lawan yang berusia setengah abad dan bertubuh kerempeng itu.

"Heiiiitttt...! Pecah kepalamu!" tangan kanannya yang panjang besar dengan kepalan sebesar kepala lawan menyambar ke arah kepala kakek itu. Akan tetapi dengan gerakan lucu dan agak kaku, kakek itu telah dapat mengelak dengan menekuk kedua lututnya. Akan tetapi pemuda itu sudah menyerang lagi dengan tendangan kaki yang kuat sekali. "Syuuuuttt... ambrol dadamu!" Dia membentak dan kaki kanannya mencuat, menyambar ke arah dada lawan.

"Hossshhh!" Kakek itu menggerakkan kedua lengannya untuk menangkis tendangan daru samping. "Plakk!" Dua lengannya berhasil menangkis tendangan kaki, namun tangkisan ini membuat dia terhuyung. Kembali pemuda itu menyerang semakin cepat dan kakek itu segera terdesak hebat, hanya mampu menangkis dan mengelak saja. Gerakannya kacau dan lucu sehingga terdengar suara tawa geli di sana sini. Akan tetapi Aji yang menonton pertandingan itu mempunyai pendapat lain. Dia tahu bahwa kakek itu kalah besar tenaganya, juga kalah dalam hal ketangkasan, namun harus diakui bahwa kakek itu bergerak mengelak dengan cerdik sekali dan yang menguntungkan adalah bahwa dia memiliki tubuh yang ringan dan lincah sehingga sampai sebegitu lama semua serangan lawan dapat dia hindarkan.

Tiba-tiba pemuda itu menyerangnya dengan pukulan beruntun sambil berseru nyaring, "Mampus kau!" Tiba-tiba tubuh kakek itu rebah dan bergulingan. gerakannya sedemikian cepatnya sehingga ketika dia bangkit, dia berada di samping pemuda itu. Tangan kanannya menyambar ke arah pinggang lawan, lalu menarik dan... "bret...!" tali celana pemuda itu putus sehingga celananya melorot! Pemuda itu terkejut dan cepat menggunakan kedua tangan untuk menahan dan memegangi celana yang kedodoran. Tentu saja pemandangan ini disambut ledakan suara tawa para penonton.

Semua orang tak dapat menahan tawa karena geli melihat kejadian yang lucu itu. Apalagi sekarang kakek itu begitu bernafsu untuk mengalahkan lawan dan mengejarnya, mengirim pukulan dan tendangan membabi buta sedangkan pemuda ang menggunakan kedua tangan memegangi celananya yang tidak berkolor lagi itu berlari-larian memutari panggung dikejar-kejar kakek itu! Sungguh suatu pemandangan yang lucu. Pertunjukan adu ilmu pencak silat itu kini berubah menjadi pertunjukan pelawak! Akhirnya pemuda itu yang tak dapat bertahan lagi sehingga dia terjerumus keluar dan turun dari panggung! Tentu saja dia dianggap kalah dan tidak berani naik lagi, malah melarikan diri sambil memegangi celananya.

Kini kakek itu mulai menari dengan gayanya yang lucu. Semua orang yang tadi terpingkal-pingkal menyaksikan adegan itu, kini bersorak menambut kemenangan yang lucu itu dan tertawa-tawa melihat betapa kekek itu kini beraksi dan menggerakkan kaki tangannya, berjoget dilayani oleh penari berselendang biru. Tarian kakek itu juga kucu. Dari gerakannya yang kaku orang dapat mengetahui bahwa dia bukan ahli berjoget, akan tetapi dia hanya memiliki keberanian atau tebal muka. Dia lebih banyak menggerak-gerakkan pinggulnya yang kerempeng dan mulutnya tersenyum-senyum, matanya melirik kekanan kiri, agaknya merasa bahwa dia seperti Raden Gatotkaca yang gagah perkasa!

Penari berselendang biru itu mengerutkan alisnya dan wajahnya yang ayu kini tampak sebal dan tidak suka, akan tetapi menurut peraturan ia harus melayani sang pemenang dan kakek ini dianggap sebagai pemenang. Ia merasa lebih sebal lagi ketika kakek itu tanpa malu-malu menyentuh pipinya dengan hidung, disoraki banyak penonton! Para penabuh gamelan, melihat joget yang lucu ini, bersemangat dan mengimbanginya dengan tabuhan yang lucu pula, terutama si tukang kendang. Dia sengaja memukul kendang dengan gencar dan sengaja mengacaukan bunyi kendang sehingga terkadang cocok dengan gerakan si kakek, akan tetapi terkadang berlawanan sehingga kakek itu bergerak gerak bingung dalam usahanya mengikuti irama kendang!

Tentu saja para penonton menjadi semakin geli disuguhi adegan seperti badut ini. Tiba-tiba tampak seorang wanita berusia empat puluh tahun, bertubuh gendut sekali sehingga tampak bulat, dengan susah payah memanjat ke atas panggung melalui tihang bambu. Tangan kanannya memegang sebatang sapu bergagang kayu dan dengan bantuan sapu itu yang ditekankan pada tanah, akhirnya ia dapat juga naik ke atas panggung. Semua orang terheran-heran, akan tetapi segera mereka semua tertawa terbahak-bahak melihat adegan yang lebih lucu lagi. Wanita gendut itu segera saja menyerang kakek yang sedang berjoget dengan gagang sapunya, menyerang dan memukuli kalang kabut, sambil memaki-maki.

"Cih, lelaki gelo, teu boga era, sia! (Huh, laki-laki gila, tak punya malu, kamu)." teriaknya sambil memukuli kepala dan tubuh laki-laki yang menjadi suaminya itu. "Heitt... huutt... aih, aduh... wadouww... aih, amit-mit... sabarlah. Cicih... !" laki-laki itu mencoba mengelak dan menangkis, namun tetap saja tubuh dan kepalanya kena dihajar sehingga terdengar suara bak-bik-buk dan di dahinya muncul benjolan sebesar telur ayam.

Dia berlari larian memutari panggung, dikejar isterinya yang memaki-maki. Semua orang terpingkal pingkal, bahkan ada yang memegangi perut dan terjungkal dari tempat duduknya di pendopo. Penonton yang berada di bawah panggung juga terpingkal-pingkal, bersorak bergemuruh. Akhirnya suami kerempeng itu meloncat turun dari atas panggung, disusul isterinya yang gembrot dan dia melarikan diri dikejar-kejar wanita yang mengacung-acungkan gagang sapu itu.

"Ha-ha-ha-ha, jago dikejar babon! Ha-ha-ha!" Semua orang terbahal-bahak. bahkan ada beberapa orang laki-laki yang bergegas keluar dari kerumunan penonton untuk pergi ke tempat sunyi karena mereka tidak tahan untuk tidak membuang air kecil. Saking gelinya tertawa tepingkal-pingkal membuat mereka terkencing-kencing dan biarpun sudah berada di tempat sunyi dan membuang air kecil, mereka masih tetap terkekeh-kekeh! Penari berselendang biru mengundurkan diri di tengah-tengah para penabuh gamelan dan kini giliran penari berselendang merah untuk tampil di panggung.

Penari berselendang merah ini lebih manis dibandingkan si selendang biru, maka banyak penonton menelan air liur membayangkan betapa akan nikmat dan menggembirakan kalau dapat berjoget bersama penari itu! Akan tetapi karena sekali ini, pertunjukan tarian itu juga merupakan pertunjukan adu kedigdayaan, tentu saja jarang ada yang berani naik ke panggung dengan resiko patah tulang dan memar-memar, terbanting jatuh ke bawah panggung dan mendapatkan malu!

Penari berselendang merah itu mulai menari dan semua orang menahan nafas. Ternyata penari ini memiliki keistimewaan dalam gerak tariannya, yaitu pinggulnya dapat berputar secara menggairahkan dan lentur. Terdengar tepuk tangan dan teriakan-teriakan para pria yang seperti mabok karena terangsang oleh tarian itu. Tiba-tiba dari tempat duduk para tamu di pendopo, bangkit seorang laki-laki dan dengan langkah lebar dia menuju panggung. Ketika para penonton melihat laki-laki itu, mereka bersorak dan bertepuk tangan menyambut. Laki-laki itupun segera berjoget dan gerakannya menari cukup gagah.

Aji melayangkan pandangannya ke atas panggung. Laki-laki itu memang gagah. Ikat kepala dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang yang kaya. Tubuhnya tinggi besar dengan kulit agak kehitaman. Sepasang matanya bundar dan lebar, sinarnya galak dan angkuh. Hidung dan mulutnya juga besar dan ketika dia berhadapan dengan penari selendang merah, dia menyeringai memperlihatkan giginya yang agak tongos dan besar-besar. Begitu mulai berjoget, laki-laki itu mengambil beberapa butir uang reyal dan dengan bangga dia memasukkan uang itu ke celah-celah antara sepasang bukit dada penari itu.

Si penari tersenyum girang karena hadiah itu merupakan jumlah yang cukup besar. Mereka berdua mulai berjoget dan penari itu melayaninya dengan penuh semangat sehingga tariannya menjadi semakin menggairahkan dan merangsang. Beberapa kali laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mencolek dagu atau pipinya, bahkan mengelus pundak dan lengan yang telanjang itu. Semua penonton yang tinggal di Sumedang mengenal laki-laki ini. Dia bernama Badrun dan dikenal dengan julukan Maung (Macan) Sumedang. Dia kaya dan juga terkenal digdaya, juga orang-orang mengenalnya sebagai seorang bandar yang suka menyelenggarakan perjudian adu ayam jago.

Karena seringnya memukul roboh orang-orang yang berani menentangnya, maka Si Maung Badrun ini ditakuti orang dan ketika semua penonton melihat dia kini naik panggung berjoget dengan penari berselendang merah, mereka mengira bahwa tak seorangpun penduduk Sumedang yang akan berani "mencari penyakit" menyainginya di atas panggung. Si Maung Badrun agaknya juga maklum akan hal ini. Dia merasa bangga dan memamerkan keperkasaannya di depan para tamu kehormatan Tumenggung Jayasiran yang juga mengundang dia. Maka setelah berjoget lama dan melihat belum juga ada orang berani naik panggung, sambil berjoget dia melempar pandang ke arah penonton di bawah panggung. Dia memang menantang para penonton yang sebagian besar merupakan penduduk Sumedang yang sudah mengenal kebesarannya. Dia tidak begitu bodoh untuk menantang mereka yang menjadi tamu undangan karena dia tahu bahwa di antara mereka terdapat banyak perwira yang sakti.

鈥淗ei, para penduduk di Kadipaten Sumedang! Tidak adakah di antara kalian yang cukup jantan untuk mencoba merebut si geulis (si cantik) ini dari tanganku?"

Beberapa kali dia mengajukan pertanyaan ini kepada para penonton di bawah, namun jawaban mereka hanya menyeringai saja. Badrun melanjutkan jogetnya. Akhirnya dia menjadi bosen juga. Dia lebih ingin menonjolkan diri melalui pertarungan dan merobohkan orang-orang yang berani menyainginya. Dia tidak begitu suka berjoget. Kalau dia menginginkan seorang wanita, dia dapat langsung membawanya, dengan halus maupun kasar.

"Heh, apakah semua penonton di sini pengecut? Hayo saingilah aku Si Maung Badrun, kita main-main sebentar untuk memeriahkan pesta perayaan Gusti Tumenggung Jayasiran malam ini!"

Terdengar banyak orang saling berbisik-bisik. Si Maung Badrun itu sekali ini sudah keterlaluan sombongnya. Di tempat umum berani mengatakan semua penonton pengecut! Padahal semua orang tahu bahwa di antara penduduk Sumedang terdapat banyak pendekar, hanya mereka tidak mau naik panggung karena mereka sungkan untuk membuat keributan hanya untuk dapat berjoget dengan penari selendang merah itu. Apalagi yang mengadakan pesta adalah seorang senopati Sumedang.

Kalau mereka tidak mengacuhkan dan tidak meladeni sesumbar dan tantangan Maung Badrun, bukan karena mereka takut kepada sang senopati. Akan tetapi sekiranya Neneng Salmah yang menari, tentu akan banyak orang yang akan mencoba merebutnya dari tangan Badrun. Bahkan mereka yang duduk di pendopo sebagai tamu undangan juga banyak yang tergila-gila kepada Neneng Salmah. Baru mendengar suara tembang Neneng Salmah saja yang amat merdu, lirikan matanya yang tajam memikat dan senyumnaya yang seolah menantang dan menjanjikan seribu satu macam kenikmatan, para tamu pria sudah gandrung, apa lagi kalau ia menari, melenggang-lenggokkan tubuhnya yang aduhai itu!

Sementara itu, di atas panggung Senopati Tumenggung Jayasiran dengan hormatnya bercakap-cakap dengan kakek yang tadi menarik perhatian Aji. Tidak salah dugaan Aji bahwa kakek itu seorang yang memiliki kesaktian karena dia bukan lain adalah Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten yang sudah terkenal sekali kehebatan kepandaiannya. Kalau saja dia tahu bahwa kakek itu adalah Kyai Sidhi Kawasa, tentu dia akan terkejut sekali karena dia pernah mendengar nama datuk ini sebagai seorang yang anti Kerajaan Mataram. Juga Tumenggung Jayasiran bersikap menghormat sekali kepada pemuda tinggi kurus yang duduk di sebelah Kyai Sidhi Kawasa.

Pemuda ini bukanlah orang sembarangan. selain menjadi murid Kyai Sidhi Kawsa, juga pemuda yang usianya tiga puluh tahun ini masih pangeran, putera Adipati Banten dari seorang selir. Karena Tumenggung Jayasiran juga berasal dari Banten, tentu saja dia mengenal baik guru dan murid ini dan karenanya dia bersikap hormat. Pemuda Banten ini bernama Raden Jaka Bintara. Tadi ketika terjadi pertandingan untuk memperebutkan penari, dia bersikap tak acuh, memandang rendah semua itu dan minum arak sepuasnya. Kini mukanya kemerahan, minuman telah mulai mempengaruhinya dan matanya yang lebar kemerahan itu ditujukan kepada Badrun yang masih menantang-nantang lawan di atas panggung.

Pemuda bangsawan dari Banten itu mengerutkan alisnya dan akhirnya dia tak tahan lagi melihat sikap yang jumawa dari Badrun. "Hemm, alangkah sombongnya monyet itu!" katanya.

Kyai Sidhi Kawasa yang duduk di sebelahnya berkata, "Ah, Raden, untuk apa memperhatikan orang macam itu? Tidak ada harganya."

Akan tetapi Jaka Bintara masih merasa penasaran dan bertanya kepada sang senopati Sumedang. "Paman tumenggung, siapa sih monyet sombong itu?"

Tumenggung Jayasiran memandang ke arah panggung di mana Badrun masih berjoget dengan penari berselendang merah dengan penuh gaya. Karena tidak ada yang berani menyambut tantangannya, Badrun menjadi semakin berlagak, bahkan kini dia berani menari sambil menggerayangi tubuh penari itu secara kurang ajar sekali. Apalagi setelah para penonton yang terdiri dari laki-laki muda tertawa gembira menyambut kekurang-ajaran itu. Penari berselendang merah itu menjadi merah sekali wajahnya dan matanya menunjukkan bahwa ia merasa malu sekali dan hampir menangis.

"Oh itu! Dia seorang kaya di Sumedang, hubungannya dengan para pamong praja cukup baik maka diapun terkenal memiliki kedigdayaan dan setiap ada perayaan yang diramaikan dengan pertunjukan penari yang diperebutkan, dia selalu tampil sebagai bintang." kata Tumenggung Jayasiran.

"Paman, saya tak senang denagn lagaknya. saya ingin menyambut tantangannya!" kata Jaka Bintara. "Raden, untuk apa melayani dia? Tentu saja dia bukan lawan andika!" kata Tumenggung Jayasiran yang sudah mengenal kesaktian murid Kyai Sidhi Kawasa itu.

"Orang itu perlu dihajar!" Jaka Bintara berkata dan dia lalu bangkit berdiri dan dengan langkah lebar dia menuju ke panggung di mana Badrun masih berjoget bersama si selendang merah. Kekurangajaran Badrun mencapai puncaknya. Ketika mereka berjoget berdekatan, tangan kiri Badrun tiba-tiba merangkul pinggang yang ramping itu, menarik tubuh si selendang merah itu sehingga merapat dengan tubuhnya sendiri dan dia menciumi muka ledek itu!

Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pundaknya. Badrun berteriak kesakitan dan pelukannya kepada ledek itu terlepas. Dia cepat melangkah ke pinggir dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang berani berbuat kurang ajar kepadanya. Jaka Bintara memberi isyarat kepada si selendang merah untuk mundur, Sambil menahan isak ledek itu lalu berlari ke tempat semula di antara para penabuh gamelan, duduk bersimpuh di dekat dua orang ledek lainnya dan menangis tanpa suara, hanya menutupi mukanya dengan selendang merahnya.