Alap Alap Laut Kidul Jilid 19

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 19

SEHABIS makan dan minum, Jatmika diikat lagi kedua lengannya ke belakang. Barulah Aki Mahesa sura menyuruh muridnya melepaskan ikatan tangan Eulis dan dia sendiri duduk dekat Jatmika untuk menjaga kalau-kalau gadis itu memberontak. Eulis maklum bahwa kalau ia memberontak, tentu nyawa Jatmika terancam. Ia menahan kemarahannya dan tidak memberontak, akan tetapi hatinya yang keras dan penuh kebencian terhadap musuh-musuhnya itu membuat ia marah sekali dan ia menolak keras ketika dipersilakan makan minum.

"Aku tidak sudi makan minum!" bentaknya setelah kedua pergelangan tangannya dibebaskan dari ikatan.

"Hemm, engkau tidak mau makan? Kalau engkau lebih suka menderita dan mati kelaparan, terserah kepadamu!" kata Aki Mahesa Sura.

"Nimas Eulis, harap engkau jangan berkeras hati seperti itu. Aki Mahesa Sura sudah berbaik hati memberi kita makan. Maka, makanlah, nimas, ini perlu untuk menjaga kesehatan tubuhmu."

Kembali mereka bertemu pandang dan Eulis melihat sinar mata pemuda itu yang mengandung isyarat kepadanya. Iapun teringat bahwa selama mereka masih belum dibunuh, hanya ditawan saja mereka berdua masih mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Aki mahesa sura dan tiga orang muridnya. Akan tetapi tentu saja ia tidak akan mampu berbuat banyak kalau ia menderita kelaparan dan tubuhnya kehilangan tenaga dan menjadi lemas. Ia maklum akan isyarat Jatmika. pemuda itu menganjurkan agar ia tetap menjaga kesehatan tubuhnya agar kalau kesempatan itu terbuka, mereka akan dapat memberontak dan melepaskan diri.

"Baiklah, baiklah!" katanya marah dengan bersungut-sungut ia pun mulai makan. Tentu saja dalam keadaan seperti itu, makanpun tidak terasa sedap. Akan tetapi ia memaksa diri untuk menelan nasi dan sayurnya dan merasa betapa tubuhnya segar kembali. Setelah makan dan minum, eulis mempergunakan kesempatan itu untuk berkata kepada Aki Mahesa Sura, "Aki Mahesa Sura, aku merasa badanku gerah dan kotor berkeringat, maka perkenankanlah aku untuk mandi membersihkan diri di sungai."

Aki Mahesa Sura menyeringai dan mengangguk, berkata kepada tiga orang muridnya. "Kalian bertiga kawallah ia dan biarkan ia mandi di sungai. Pemuda ini tinggal di sini bersamaku."

Aki Mahesa Sura memang cerdik. Dengan menahan Jatmika sebagai sandera, tentu saja Eulis tidak berdaya dan tidak berani memberontak. Apalagi yang mengawalnya tiga orang murid kakek itu. Melawan pengeroyokan tiga orang ini tentu saja akan berat sekali bagi Eulis. Iapun tidak ingin memberontak karena ia tidak mau kalau sampai pemuda sahabat barunya itu dibunuh. Kegelapan malam itu menolong Eulis sehingga ia dapat mandi di tepi sungai tanpa malu-malu karena tiga orang yang mengawalnya dan yang menjaga di darat tidak dapat melihatnya dengan jelas dan iapun dapat mandi dan membersihan badannya dengan leluasa.

Setelah mandi Eulis merasa segar dan bersemangat kembali, dan Jatmika melihat betapa segar wajah yang jelita itu ketika gadis itu kembali memasuki ruangan dikawal tiga orang murid Aki Mahesa Sura. Munding Beureum lalu menggunakan tali ikat pinggang yang kuat itu untuk megikat lagi kedua pergelangan tangan Eulis ke belakang tubuhnya.

Aki Mahesa Sura membawa Jatmika keluar rumah dan melepaskan ikatan tangannya. kembali kakek itu memperlihatkan kecerdikannya. Dia sendiri yang pergi mengawal Jatmika sehingga kalau pemuda itu berani memberontak, pemuda itu harus menghadapi dia yang sakti mandraguna, sedangkan Eulis tetap berada dalam kekuasaan tiga orang itu dalam keadaan terbelenggu. Dengan demikian, Jatmika sama sekali tidak berdaya, tidak berani untuk mencoba meloloskan diri karena hal itu akan membahayakan keselamatan Eulis.

Setelah mandi, Jatmika juga merasa tubuhnya segar dan bersemangat. Dia memutar otaknya. Aki Mahesa Sura merupakan orang yang paling berbahaya di antara empat orang yang menawan dia dan Eulis. yang seorang lagi, anak buah Munding Hideung itu telah disuruh pergi oleh kakek itu, entah ke mana. Kini kakek itu menjaganya di tepi sungai. Kalau saja dia dapat merobohkan kakek itu sekarang, membunuhnya atau setidaknya membuat dia tidak berdaya, tentu tiga orang murid kakek itu tidak mengetahuinya dan diam-diam dia dapat menyerbu mereka untuk membebaskan Eulis!

Membayangkan kemungkinan ini, jantung dalam dada Jatmika berdebar. ketika dia mengenakan kembali pakaiannya dalam gelap dan melangkah keluar dari tepi sungai, menghampiri Aki Mahesa Sura yang berdiri termangu tak jauh dari situ, seluruh urat syaraf dalam tubuhnya sudah menegang dan dia sudah siap siaga untuk melakukan serangan mendadak dan merobohkan kakek sakti mandraguna itu. Akan tetapi, ketika dia melangkah sambil mengerahkan ilmunya agar tubuhnya menjadi ringan dan langkahnya tak terdengar orang, kakek itu membalikkan tubuh menghadapinya dan berkata dengan suara mengandung ejekan.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan mencoba untuk memberontak, Jatmika. Sebelum engkau dapat merobohkanku, gadismu itu tentu akan dicabut nyawanya oleh tiga orang muridku!"

Sudah tentu saja Jatmika terkejut bukan main. Kakek itu telah dapat menerka apa yang berada dalam benaknya. Dia menyadari. Tentu kakek yang cerdik itu tadi mendengar langkah kakinya yang ringan, yang tidak seperti biasa dan kakek itu sudah dapat mengambil kesimpulan apa yang berada dalam pikirannya. Tentu saja dia merasa malu dan dia berkata.

"Aki, siapa yang akan memberontak? Nimas Eulis berada dalam kekuasaanmu, aku tidak akan memberontak dan engkau tidak akan membunuh kami seperti telah dijanjikan!"

"Heh-heh, andaikata engkau memberontak sekalipun, apa kau kira akan mudah begitu saja mengalahkan aku? Mari kita kembali. Aku ada pembicaraan penting dengan kalian berdua."

Jatmika dikawal kembali ke pondok dan seperti halnya Eulis, diapun ditelikung kembali. Kedua lengannya diikat di belakang tubuhnya. Mereka semua duduk kembali menghadapi meja besar yang sudah dibersihkan. eulis duduk diapit tiga orang murid kakek itu, sedangkan Jatmika duduk di sebelah kiri Aki mahesa Sura, di seberang meja. Biarpun dua orang tawanan itu sudah dibelenggu, agaknya kakek itu masih bersikap hati-hati dan menjaga mereka dengan ketat. Dia sendiri menjaga Jatmika dan tiga orang muridnya disuruh menjaga Eulis. Melihat kakek itu diam saja, hanya memandang dia dan Eulis penuh perhatian, Jatmika menjadi tidak sabar.

"Aki Mahesa Sura, sekarang katakanlah, apa yang hendak kau lakukan kepada kami yang telah kau tawan? Engkau hendak membawa kami ke manakah?"

"Heh-heh, engkau tidak perlu tahu, Jatmika. sekarang jawablah pertanyaanku. Siapakah gurumu?"

Jatmika tidak ingin menyembunyikan nama gurunya, bahkan dia ingin mengagetkan hati kakek itu dengan memperkenalkan nama besar gurunya. "Guruku adalah eyangku sendiri yang tinggal di pantai deramyu, berjuluk Ki Ageng Pasisiran, dahulu bernama Ki Tejo Langit."

Benar saja. Aki Mahesa Sura tampak terkejut. "Ah tiga orang saudara seperguruan Tejo dari banten yang terkenal. Tejo Wening, Tejo Langit dan Tejo Budi! Kiranya engkau murid dan juga cucu Ki Tejo Langit? Bagus sekali. Tiga orang datuk Banten itu tentu tidak suka kepada Mataram. Sungguh kebetulan sekali. Kalau begitu kita masih orang sendiri dan sehaluan. Sudahlah, akan kuhapuskan saja kesalah-pahaman antara kita. Mulai sekarang kuajak kalian berdua untuk bekerja sama. Eh, akan tetapi murid siapakah Listyani ini?"

"Nimas Eulis adalah adik seperguruanku!" kata Jatmika karena dia sendiri tidak tahu, juga gadis itu tidak tahu murid siapakah ia. Akan tetapi dia tidak berbohong kalau mengakui gadis itu sebagai saudara seperguruannya karena ilmu-ilmu mereka memang sealiran.

"Bagus! Cocok sudah kalau begitu. Murid Tejo Langit tentu saja tepat untuk bekerja sama dengan kami. Jatmika dan Listyani, kalian tentu bersedia untuk bekerja sama dengan kami, bukan? Kalian murid dari Banten dan aku sendiri berasal dari Pajajaran, sudah semestinya bekerja sama untuk menentang kekuasaan Mataram yang sewenang-wenang itu!"

Mendengar dia diajak bersekutu menentang Mataram, tentu saja seketika hati Jatmika menolak keras. Akan tetapi dia bersikap cerdik. Dalam keadaan tidak berdaya itu tidak ada untungnya untuk berkeras menentang kehendak kakek itu. Dia dapat berpura-pura bersikap lunak dan hendak mengetahui apa sebenarnya yang dikehendaki kakek itu. "Bekerja sama sih baik saja, Aki Mahesa Sura. Akan tetapi bekerja sama menentang kekuasaan Mataram? Apakah yang kau maksudkan dengan itu?"

"Ketahuilah, Jatmika, Pangeran Mas Gede yang kini menjadi Adipati Sumedang adalah orang yang dipercaya oleh Sultan Agung di mataram dan kadipaten Sumedang akan dijadikan tempat penyimpanan ransum bagi para pasukan Mataram kalau nanti menyerang Kumpeni Belanda di Batavia, bahkan Kadipaten Sumedang juga mempersiapkan pasukan untuk membantu mataram menggempur Belanda."

"Hemm, kalau begitu lalu mengapa?"

"Dengar baik-baik. Sebagai murid Ki Tejo Langit engkau tentu juga kami, memusuhi Mataram. Karena Kadipaten Sumedang menjadi antek Mataram, maka perlu sekali Adipati Pangeran Mas Gede itu dirobohkan kedudukannya diganti seorang yang lebih pantas, seorang yang tidak mau menghambakan diri kepada Mataram."

"Hemm, maksudmu hendak memberontak terhadap Kadipaten sumedang dan menggantikan adipatinya? Lalu kalau menurutmu, siapa yang akan dijadikan pengganti?"

"Siapa saja asal dapat mengambil sikap memusuhi Mataram. Bisa diambil seorang dari murid-muridku, atau engkau sendiri juga bisa, Jatmika. Selama engkau menentang Mataram, aku akan selalu mendukung dan membantumu."

"Hemm, bicara memang mudah, Aki Mahesa Sura! Akan tetapi melaksanakan itulah yang sukar. Apa kau kira mudah saja merobohkan sang adipati yang memiliki banyak pasukan perajurit, hanya mengandalkan engkau, tiga orang muridmu dan kami berdua?"

"Heh-heh-heh, engkau terlalu memandang remeh kepadaku, Jatmika! Kau kira aku sebodoh itu? aku sudah menghimpun kekuatan yang lumayan banyaknya. Walaupun tidak sebanyak pasukan Kadipaten sumedang, namun seluruh anggota pasukan kami dipersenjatai dengan senjata api bedil, dan kalau kalian berdua mau membantu, sudah pasti Kadipaten Sumedang dapat direbut dan Pangeran Mas Gede dapat dirobohkan dan diganti orang lain."

Jatmika sejak tadi memutar otaknya. Dia menerima pesan dari eyang dan ayahnya untuk membantu Sumedang yang sedang terancam pemberontakan. Siapa kira dia dan Eulis kini malah telah tertawan oleh pimpinan pemberontak itu yang bukan lain adalah Aki mahesa Sura dan diajak untuk membantu pemberontakan menjatuhkan Kadipaten Sumedang! Jatmika maklum bahwa itulah sebabnya mengapa kakek itu tidak membunuh dia dan eulis, pada hal mereka berdua sudah membunuh murid dan sahabat kakek itu! Dia tahu bahwa kalau dia menolak, apalagi kalau kakek itu tahu bahwa dia malah membela Mataram, tentu nyawa dia dan Eulis tidak akan dapat tertolong pula!

"Bagaimana, Jatmika? Kenapa engkau diam dan bengong saja?"

"Kakangmas Jatmika..."

"Diamlah, Nimas Eulis dan engkau turutlah saja aku!" Jatmika memotong ucapan Eulis. Dia tahu bahwa tentu Eulis yang sudah dia beritahu tentang keadaan Mataram itu sudah yakin bahwa mereka berdua harus membela Mataram dan sama sekali tidak boleh menentang Mataram. Karena itu dia mendahului untuk mengatur siasat dan dia yakin bahwa Eulis akan menurut saja karena gadis yang sudah kehilangan ingatannya akan masa lalu itu merasa tidak berdaya dan hanya percaya kepadanya.

"Baiklah, Aki Mahesa Sura. Aku dan Eulis akan membantu, akan tetapi setelah kita bekerja sama, cepat lepaskan ikatan pada kedua tangan kami agar kami dapat leluasa bicara dan leluasa bergerak."

"Dan leluasa pula memberontak, dan menyerangku, bukan? Heh-heh-heh, aku tidak setolol itu, Jatmika!"

"Hemm, lalu maumu bagaimana, Aki Mahesa Sura? Kalau engkau tidak percaya kepada kami, mengapa kau mengajak kami untuk bekerja sama?" kata Jatmika, sengaja bertanya dengan suara bernada marah dan penasaran.

"Bersabarlah sampai besok pagi, orang muda. Seorang anak buahku sudah kusuruh memberi kabar kepada pimpinan kami. Besok pagi akan dapat kami memberi keputusan kepada kalian. Sekarang beristirahatlah. Engkau beristirahat dalam kamar bersamaku, dan Listyani akan dijaga tiga orang muridku."

"Tidak sudi aku sekamar dengan mereka!" Eulis membentak marah.

"Aki Mahesa Sura, kalau murid-muridmu berani mengganggu selembar saja rambut Nimas Eulis aku akan...!"

"Tenanglah, Jatmika. mereka tidak akan berani." Kata kakek itu lalu berkata kepada tiga orang muridnya. "Biarkan gadis itu tidur dalam kamar sebelah dan kalian bertiga berjaga di luar kamar. Awas, kalau ada yang menyentuhnya, aku akan membuntungi anggota badan kalian yang berani menyentuhnya!"

Melihat gadis itu masih ragu dan memandang kepadanya, Jatmika berkata, "pergilah tidur di kamar sebelah, nimas dan percayalah, Aki Mahesa Sura tidak akan melanggar janji."

Setelah jatmika berkata demikian, barulah Eulis bangkit berdiri lalu melangkah dan memasuki kamar sebelah yang diterangi sebuah lampu gantung kecil. Dengan kedua tangan terbelenggu, gadis itu lalu merebahkan diri di atas pembaringan kayu, miringkan tubuh menghadap ke dalam dan segera ia dapat tidur karena memang ia sudah merasa lelah dan mengantuk.

"Mari kita beristirahat, Jatmika," kata Aki Mahesa Sura. Jatmika bangkit dan mengikuti kakek itu memasuki sebuah kamar. dalam kamar itu terdapat dua buah dipan kayu. Menurut petunjuk Aki Mahesa Sura, Jatmika merebahkan dirinya di atas dipan yang berada di sebelah dalam, tidur miring membelakangi kakek itu yang duduk bersila di dipan kedua. Jatmika maklum bahwa memberontak tidak akan ada gunanya, bahkan membahayakan keselamatan Eulis. Maka dia mengambil keputusan untuk dapat tidur nyenyak agar tenaganya pulih kembali dan dalam keadaan segar bugar menghadapi peristiwa besok pagi.

********************

Pemuda itu melangkah dengan muka tunduk. Tubuhnya jangkung tegap, membayangkan kekuatan dahsyat di balik sikap lemah lembut itu. Wajahnya tampan manis, matanya lembut namun sinarnya tajam mencorong. Langkahnya seperti seekor harimau. Pakaiannya yang sederhana seperti pakaian pemuda tani itu tidak menyembunyikan keadaan dirinya yang menarik, yang berbeda dengan pemuda biasa.

Memang sudah menjadi kebiasaannya kalau berjalan selalu menundukkan mukanya. Hal ini bukan berarti bahwa dia tidak memperhatikan keadaan disekitarnya. Biarpun selalu menunduk, namun dia peka sekali terhadap lingkungannya. Takkan mudah bagi orang untuk lewat di dekatnya tanpa diketahuinya. Dia peka dan selalu waspada terhadap dirinya sendiri, pikirannya, perasaannya, gerak langkahnya, dan peka terhadap apapun yang berada di luar dirinya.

Kalau dia menunduk, hal ini adalah karena sudah menjadi kebiasaannya dan hal ini sesuai dengan ajaran yang dia dapatkan dari mendiang Ki Tejo Budi. Masih terngiang suara gurunya itu kalau dikenangnya, yang mengajarkan perihal menundukkan muka ini. Tampaknya sederhana saja, hanya selalu menundukkan muka, namun ternyata mengandung ajaran yang amat penting sebagai penurun sikap hidup.

"Biasakanlah untuk menundukkan muka, Aji" demikian mendiang Ki Tejo Budi dahulu memberi wejangan. "Orang menundukkan muka itu selalu waspada akan langkah hidupnya, tidak akan mudah berjegal tersandung, mudah melihat kesalahan sendiri. Tidak seperti orang yang dalam perjalanan hidupnya selalu menengadahkan muka melihat keatas, dia mudah tersandung dan jatuh tersungkur.

Orang yang selalu menundukkan muka memandang ke bawah, akan tetapi dapat melihat mereka yang berada di bawahnya, yang lebih rendah, lebih miskin dan lebih kekurangan daripada dirinya sendiri. Dengan demikian dia akan selalu merasa bahwa dia adalah seorang yang beruntung, cukup tinggi, cukup berkemampuan dan berlebihan dibanding banyak orang yang berada di bawahnya sehingga dia akan dapat mengucapkan syukur dan terima kasih kepada kemurahan Gusti Allah kepadanya.

Sebaliknya orang yang selalu berdongak hanya akan melihat mereka yang berada lebih tinggi darinya, lebih pandai, lebih kaya, lebih tinggi kedudukannya. Dengan demikian dia akan selalu merasa bahwa dia adalah seorang yang tidak berbahagia, yang rendah, yang kalah kaya, kalah makmur, kalah pandai oleh mereka yang berada diatasnya sehingga dia akan selalu mengomel, mencela, mengatakan bahwa Gusti Allah tidak adil kepadanya, hidupnya penuh keluh kesah dan iri hati.

Lihat betapa arif bijaksananya nenek moyang kita. Mereka membuat gambar gambar wayang kulit yang mengandung penuh arti. Lihat gambaran wayang. Semua satria arif bijaksana, semua digambar dengan muka menunduk dan lihat para raksasa yang angkara murka, semua digambar dengan muka menengadah atau dagu terangkat! Coba bayangkan, bagaimana sikap orang yang sombong, yang sewenang-wenang, yang angkara murka, yang berbangga diri dan berkepala besar, semua tentu mengangkat mukanya.

Sebaliknya, orang yang penyabar, yang mengalah, yang rendah hati, yang alim, selalu tentu menundukkan mukanya! Orang yang menundukkan mukanya itu juga menundukkan hatinya terhadap Gusti Allah, setiap saat mengucapkan syukur dan memuji namaNya. Akan tetapi orang yang menengadah atau mengangkat mukanya itupun meninggikan hatinya, bisanya hanya menuntut kepada manusia lain atau kepada Gusti Allah sekalipun, agar mendapatkan ini dan itu demi kesenangan diri sendiri belaka. Camkanlah ini, Lindu Aji muridku."


Aji tidak pernah melupakan petuah gurunya itu sehingga sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu merendahkan hati dan menundukkan muka, bahkan di waktu berjalan. Dalam kewaspadaannya, juga terhadap diri sendiri, yaitu kebiasaan mawas diri yang selalu dilakukan, Aji mendapatkan bahwa dirinya sedang diombang-ambingkan berbagai perasaan. Harus diakuinya bahwa betapa kuatnya iman dan penyerahannya kepada Gusti Allah, namun dia tidak dapat melepaskan diri sama sekali terhadap pengaruh nafsu.

Dan hal ini cocok dengan wejangan mendiang gurunya "Lindu Aji, tidak ada seorangpun manusia betapapun pandainya, betapapun salehnya, dapat terlepas sepenuhnya dari pengaruh nafsu. Selama kita masih mengenakan badan jasmani ini, sudah pasti kita terpengaruh oleh nafsu daya rendah benda, nafsu daya rendah hewani dan nafsu daya rendah nabati, hal ini adalah karena kita selama hidup dalam dunia ini masih amat membutuhkan mereka.

Kita membutuhkan sandang papan dan benda-benda lain yang membawa daya rendah benda. Kita membutuhkan makan minum yang membawa daya rendah hewani dan nabati. Bagaimana mungkin kita terbebas dari kesemuanya itu? Dan daya-daya rendah itulah yang mengakibatkan kita masih merasakan segala macam perasaan yang bergolak dalam hati akal pikiran seperti misalnya senang, suah, puas, kecewa, marah. malu, khawatir dan sebagainya.

Hanya bedanya, Aji, orang yang kuat imannya dan penyerahannya kepada Gusti Allah, pengaruh nafsu-nafsu daya rendah itu tidak sampai menyeretnya terlalu jauh, tidak sampai membuat dia melakukan perbuatan-perbuatan jahat karena ada kekuasaan Gusti Allah yang akan menahan dan membimbingnya. Tidak seperti orang tak beriman yang lalu melampiaskan nafsu-nafsunya dengan melakukan perbuatan yang keji dan sejahat-jahatnya."

Teringat akan semua ini, biarpun Aji melihat dengan jelas betapa hatinya bergolak oleh pengaruh nafsu-nafsu, dia tidak merasa khawatir akan tetapi percaya bahwa Gusti Allah tidak akan meninggalkannya. Pada saat itu, dia merasa penasaran, marah, kecewa dan juga berduka dan khawatir. Dia merasa penasaran dan marah melihat sepak terjang orang-orang yang memberontak terhadap Mataram dan merendahkan diri menjadi antek Kumpeni Belanda menjual nusa bangsa sendiri.

Dia kecewa sekali melihat betapa Hasanudin, kakak tirinya seayah berlainan ibu, telah tersesat dan terpikat oleh Belanda menjadi kaki tangannya pula. Dia berduka karena kematian Ki Sudrajat putera mendiang gurunya, dan kematian Ki Tejo Langit kakak seperguruan gurunya yang memang selama ini dicarinya. Baru saja bertemu, pada malam yang sama, mereka berdua tewas diterjang peluru-peluru senapan Kumpeni Belanda. Dan dia terutama sekali merasa khawatir memikirkan nasib Sulastri yang jatuh ke bawah tebing lalu lenyap tanpa meninggalkan bekas!

Kini dia dibebani oleh lebih banyak tugas lagi. Selain mambantu Mataram dalam mempersiapkan diri untuk menyerbu Kumpeni Belanda di Batavia, dia juga harus mencari Sulastri, lalu mencari Raden Banuseta yang ternyata amat jahat dan menjadi antek Belanda, selain telah membunuh ayah kandungnya, juga telah membawa serdadu Kumpeni membunuh Ki Tejo Langit dan Ki Sudrajat.

Selain itu juga harus mencari dan menyadarkan kakak tirinya, Hasanudin yang tersesat. Dia melakukan perjalanan cepat kembali ke Gunung Careme, melewati tempat dimana Sulastri lenyap kemudian dengan cepat dia menuruni gunung itu menuju ke barat. Dan pada sore hari itu, tibalah dia di lembah Sungai Ci Lutung. Ketika dia berjalan santai menyusuri tepi sungai untuk mencari penyeberangan atau tempat yang nyaman untuk melewatkan malam, sukur kalau dia bisa mendapatkan makanan, tiba-tiba dia melihat serombongan orang yang dipimpin seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang gagah perkasa berpakaian bangsawan.

Rombongan yang mengikuti laki-laki gagah ini berjumlah dua puluh empat orang, melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, jelas mereka adalah orang-orang sebangsa, akan tetapi mereka semua memegang senapan berlaras panjang, dan laki-laki gagah itupun menyelipkan sebatang pistol di ikat pinggangnya. Kalau saja mereka itu berpakaian serdadu, tentu mudah diduga bahwa mereka adalah pasukan Kumpeni Belanda. Akan tetapi mereka tidak berpakaian seragam, dan mereka itu jelas orang-orang dari bangsa sendiri.

Melihat keadaan mereka yang berjalan menyusuri pantai ke arah utara, dia tertarik sekali dan cepat dia membayangi mereka. Ketika membayangi mereka dari jarak agak dekat sambil menyelinap di antara pohon pohon dan semak-semak dengan pengerahan tenaga dalam sehingga gerakannya cepat dan hanya berkelebat seperti bayang-bayang, Aji mendengar seorang di antara dua losin anak buah itu bertanya.

"Gusti Menggung, tidak kelirukah jalan yang kita tempuh?"

Pria yang gagah perkasa yang memimpin pasukan itu, yang berkumis tebal sekepal sebelah seperti Raden Gatutkaca, tertawa "Ha-ha, mana bisa keliru? Aku pernah ke sini. Hayo cepat, keburu malam!" Suaranya besar dan mantap, juga berwibawa, rombongan itu mempercepat jalannya, bahkan setengah berlari dipimpin orang yang disebut Gusti Menggung itu.

Aji dapat melihat betapa orang gagah itu dapat berlari dengan ringan, tampaknya seperti melangkah biasa saja, akan tetapi anak buahnya terengah-engah mengikutinya dengan berlari cepat! Seorang yang cukup tangguh, pikir Aji sambil berlari agar dapat terus membayangi dari jarak dekat. Akhirnya, setelah cuaca mulai gelap, tibalah mereka di depan sebuah pondok kayu yang cukup besar di tepi sungai itu. Mereka berhenti di luar pintu dan pemimpin rombongan itu berseru dengan suara lantang.

"Aki (Kakek) Mahesa Sura! Apakah andika berada di dalam pondok?" Aki Mahesa Sura yang sedang duduk bersila di atas dipan, menjaga Jatmika yang rebah di dipan yang lain, menyeringai lebar mendengar suara itu.

"Heh-heh, kiranya Denmas Tumenggung Jaluwisa telah datang, kukira besok pagi baru tiba. Tunggu, kubuka pintu!" Aki Mahesa Sura memberi isyarat kepada Jatmika yang juga bangkit duduk untuk ikut dengannya keluar kamar. Setibanya di luar kamar, kakek itu berkata kepada tiga orang muridnya, "Kalian bawa gadis itu keluar, ke ruangan depan."

Tiga orang murid kakek itu membuka pintu kamar dan sebelum mereka masuk, Eulis sudah berada di ambang pintu. Gadis itu tidak ingin tiga orang itu memasuki kamarnya. Dalam keadaan terbelenggu, Jatmika dan Eulis dibawa ke ruangan tengah dan mereka disuruh duduk menghadapi meja besar tadi, terpisah. Beberapa buah lampu gantung dipasang sehingga ruangan itu menjadi terang. Daun pintu depan dibuka dan masuklah pemimpin rombongan tadi dengan sikap gagah. Kakek itu menyambut dengan sikap hormat dan bergembira.

"Selamat datang di pondokku, Denmas Tumenggung Jaluwisa. Tidak kusangka andika akan datang malam-malam begini! Silakan duduk."

Pria itu adalah Tumenggung Jaluwisa, tangan kanan atau orang kepercayaan Pangeran Mas Gede, Adipati yang berusia lima puluh tahun dan menjadi penguasa di Sumedang. Tadinya, Sultan Agung setelah diakui kekuasaannya oleh para adipati di Jawa Barat kecuali Banten, mengangkat Dipati Kusuma Dinata sebagai penguasa di daerah Jawa Barat dan menjadi wakil Kerajaan Mataram. Setelah Dipati Kusuma Dinata meninggal dunia, kedudukannya digantikan oleh Pangeran Mas Gede. Tumenggung Jaluwisa merupakan orang kepercayaan, juga senopati yang diandalkan di Sumedang.

Mendengar sambutan itu, Tumenggung Jaluwisa melayangkan pandang matanya, dengan memandang ke arah Jatmika dan Eulis yang dibelenggu tangannya, dan matanya bersinar melahap kecantikan gadis tawanan itu. Kemudian dia menoleh keluar dan berkata kepada anak buahnya, "Kalian beristirahat di pendopo. Jangan tinggalkan tempat dan tetap waspada dan berjaga-jaga."

Setelah berkata demikian, dia melangkah memasuki ruangan depan yang terang itu dan duduk berhadapan dengan Aki Mahesa Sura, tiga orang muridnya, yaitu Munding Beureum, Monding Koneng, dan Munding Hejo yang mengapit dua orang tawanan yang terbelenggu itu. "Aki, siapakah mereka ini?" Tumenggung Jaluwisa menuding ke arah tiga murid dan dua tawanan itu.

Sementara itu, Aji sudah menyelidiki dengan hati-hati dan kini dia mendekam di pojok luar ruangan depan itu dan mengintai dari sebuah lubang yang dibuat dengan tusukan telunjuknya pada dinding papan. Ketika dia melihat Eulis, jantungnya berdebar tegang, dia terbelalak dan hatinya diliputi rasa girang, heran dan terharu. "Nimas Sulastri...!!"

Untung Aji dapat menguasai mulutnya yang hampir saja dilalui jerit hatinya itu. Hanya dalam hati dia menjerit memanggil nama gadis itu. Sulastri masih hidup! Ini yang terpenting dan yang kedua, gadis itu tertawan dan harus dibebaskan. Akan tetapi dia kini sudah memiliki banyak pengalaman dan tidak mau bertindak sembrono. Dia hendak melihat keadaan dulu dan melihat perkembangannya. Maka, ketika Tumenggung Jaluwisa duduk lalu bertanya kepada kakek yang tadi disebut sebagai Aki mahesa Sura, Aji mengintai penuh perhatian.

"Perkenankan, denmas tumenggung. Yang tiga orang ini adalah murid-muridku. Munding Beureum, Munding Koneng dan Munding Hejo. Mereka inilah tiga dari panca Munding yang memimpin anak buah Munding Hideung di Gunung Careme. Heh, kalian bertiga, ketahuilah bahwa ini adalah Denmas Tumenggung Jaluwisa, senopati Sumedang." Tiga murid itu merasa rendah diri dan mengangguk dengan hormat. Guru mereka sendiri saja demikian hormat terhadap tumenggung itu, tentu saja mereka harus lebih hormat lagi.

"Dan dua orang ini, siapakah, Aki?" Tanya sang tumenggung akan tetapi sepasang matanya menggerayangi wajah cantik dan tubuh indah yang duduk begitu dekat di depannya itu. Sekali bangkit berdiri dan meraih dengan tangannya, tentu dia sudah dapat membelai tubuh itu!

"Oh, mereka ini adalah dua orang tawanan penting kami, akan tetapi mungkin akan menjadi teman-teman seperjuangan kami. Panjang ceritanya, denmas. Pasti akan kuceritakan nanti. Akan tetapi kedatangan denmas malam-malam begini sungguh mengejutkan hati kami. Bukankah menurut rencana, besok pagi baru denmas akan tiba di sini?"

"Memang benar, Aki Mahesa Sura. Ini adalah kehendak dan perintah dari Mayor Jakuwes. Beliau menghendaki agar rencana itu dilaksanakan secepatnya, jangan sampai mendahului laporan Adipati Sumedang tentang persiapan Kadipaten Sumedang untuk kelak membantu Mataram. Karena desakan itulah maka keberangkatanku setelah menerima laporan utusanmu itu kupercepat dan malam ini aku dapat tiba di sini."

Aji mendengarkan semua ini. Tadi dia heran setengah mati ketika Sulastri diperkenalkan sebagai seorang tawanan yang akan menjadi teman seperjuangan dan siapa pula pemuda tampan ganteng yang menjadi tawanan di samping Sulastri itu? Tampaknya begitu tenang namun sinar matanya mencorong. Juga dia tidak tahu siapa gerangan Mayor Jakuwes yang agaknya begitu besar kekuasaannya. Tentu saja dia tidak tahu. Yang disebut Mayor Jakuwes itu sesungguhnya adalah seorang perwira Kumpeni Belanda keturunan Portugis. Nama aslinya adalah Jacques Lefebre akan tetapi selanjutnya akan disebut Mayor Jakuwes saja seperti yang dikenal oleh orang pribumi, baik yang menentang Kumpeni Belanda maupun yang menjadi antek bangsa asing itu. "Oh, begitukah? Lega hatiku mendengar keteranganmu, denmas. Jadi tidak ada perubahan dalam rencana semula, bukan?"

"Sama sekali tidak ada perubahan, Aki. Akan tetapi bagaimana dengan tugasmu? Andika bertugas untuk menghubungi murid-murid andika untuk diajak membantu kami bersama anak buah mereka yang cukup banyak jumlahnya. Mengapa kini kami dapati Aki berada di sini berempat saja dengan tiga murid Aki, membawa dua orang tawanan? Siapakah nama dua orang tawanan muda ini, Aki?"

"pemuda ini bernama Jatmika, dan gadis ini bernama Listyani, mereka memiliki ilmu tinggi, sakti mandraguna, denmas, maka terpaksa kami ikat kedua tangannya agar tidak memberontak."

Aji dalam pengintaiannya tersentak kaget dan heran bukan main. Kakek itu menyebut nama Sulastri sebagai Listyani! dan pemuda tampan itu ternyata adalah Jatmika, putera Ki Sudrajat! Teringatlah dia betapa Ki Sudrajat berpesan kepadanya sebelum mati agar kalau dia bertemu dengan Jatmika, dia suka membantunya. Dan sekarang dia bertemu dengan Jatmika yang menjadi tawanan bersama Sulastri. Akan tetapi mengapa Sulastri diperkenalkan sebagai Listyani? Biarpun hati Aji merasa penasaran sekali, akan tetapi dia tidak berani gegabah turun tangan. Orang-orang itu agaknya bukan orang sembarangan, terutama kakek yang disebut Aki Mahesa Sura itu. Dan tumenggung itupun bukan orang lemah, ditambah lagi tiga orang murid kakek itu dan di luar masih ada dua losin orang yang memegang senjata api! Keadaan musuh kuat sekali.

"Jatmika dan Listyani? Hemm, nama yang bagus, terutama Listyani itu. Akan tetapi ceritakan hubungan kedua orang muda ini dengan tugasmu itu, Aki!"

Aki Mahesa Sura menghela napas panjang lalu berkata, "Kunjunganku kepada perkumpulan Munding Hideung yang dipimpin dua orang muridku, Si Munding Hideung dan Munding Bodas ternyata terlambat, denmas. Selagi aku bersama tiga orang muridku ini, Munding Beureum, Munding Koneng, dan Munding Hejo tiba di perkampungan Munding Hideung, kami bertemu seorang anggota Munding Hideung yang menceritakan bahwa perkumpulan itu baru saja diobrak-abrik sepasang muda-mudi yang sakti mandraguna. Bahkan dua orang muridku, Munding Hideung dan Munding Bodas tewas di tangan kedua orang muda-mudi itu. Tentu saja aku menjadi marah dan dengan anggota itu menjadi penunjuk jalan, ditemani tiga orang muridku ini, akhirnya kami dapat bertemu dengan sepasang muda-mudi itu. Kami bertanding mati-matian, akan tetapi akhirnya kami berhasil menawan mereka. Inilah muda-mudi itu, denmas, yaitu Jatmika dan Listyani ini."

"Engkau menawan kami dengan licik dan curang! engkau menangkap aku lalu Kakangmas Jatmika untuk menyerah." Eulis membentak marah.

"Heh-heh, aku melakukan akal karena ingat agar mereka menyerah dan mau bekerja sama, denmas. Sayang kalau dua tenaganya yang begini berharga dibunuh begitu saja."

"Ah, begitukah? Bagus sekali kalau mereka mau bekerja sama dan kurasa tidak perlu lagi tangan mereka dibelenggu. Aku menerima mereka berdua sebagai pembantu-pembanruku. Lepaskan saja ikatan mereka, Aki Mahesa Sura!"

"Akan tetapi, anakmas. mereka berbahaya sekali. Kalau belum ada kepastian mereka berdua mau benar-benar bekerja sama dengan kita, aku tidak berani melepaskan ikatan mereka."

"Huh, pengecut...!" Eulis mencebirkan bibirnya. Aji yang mengintai menahan senyumnya. Itulah Sulastri. Tak salah lagi. Gadis itu boleh mengubah namanya, boleh mengubah apa saja, akan tetapi tak dapat mengubah sikapnya yang galak pemberani dan suaranya yang lantang tajam itu!

"Kenapa takut, Aki? Nona ini bicara benar. Kita orang-orang gagah tidak sepatutnya bersikap pengecut. Andaikata mereka berdua setelah dilepaskan belenggunya lalu mengamuk, mereka dapat berbuat apa terhadap kita? Ada andika di sini, ada pula tiga orang muridmu dan ada aku pula! Lihat ini!"

Tiba-tiba, begitu kedua tangan Tumenggung Jaluwisa bergerak, tahu-tahu dua pucuk pistol sudah berada di kedua tangannya. Gerakannya demikian cepat sehingga hampir tak tampak. "Andika melihat ini, Aki?" tumenggung itu menimang pistol di tangan kiri. "Pistol ini mempunyai peluru-peluru perak dan akan menembus semua aji kekebalan! Dan kalau mungkin gagal, masih ada pistol kedua ini. Andika lihat. Ini pistol berpeluru emas. Aji kekebalan mana mampu bertahan? dengan kedua pistol ini di tanganku, jagoan Mataram yang mana akan mampu dan berani melawan aku? Nah, kenapa andika takut melepaskan ikatan kedua orang muda yang mau bekerja sama dengan kita ini? Di luar masih ada anak buahku sebanyak dua losin orang yang semua bersenjata senapan laras panjang. Hayo buka saja ikatan mereka!"

Aki Mahesa Sura bangkit dan menghampiri Jatmika. Sebelum membuka tali pengikat kedua lengan pemuda itu, dia berkata. "Jatmika, ingat baik-baik, kalau engkau bekerja sama dengan kami, engkau akan mendapatkan kemuliaan dan kedudukan. Akan tetapi kalau engkau mencoba untuk memberontak dan melawan, engkau akan tewas. Engkau tentu pernah mendengar, betapa banyaknya para datuk dan orang-orang yang sakti mandraguna dari Mataram, yang memiliki aji kekebalan yang amat kuat, tumbang satu demi satu ketika diterjang peluru perak atau emas. Dan denmas tumenggung ini terkenal sebagai seorang ahli tembak yang seratus kali bidik seratus kali kena!"

Setelah berkata demikian dia melepaskan ikatan kedua tangan Jatmika dan juga kedua tangan Eulis. Aji yang masih mengintai merasa khawatir sekali. Dia maklum bahwa ucapan Tumenggung Jaluwisa dan Aku Mahesa Sura tadi bukan hanya gertak kosong belaka. Dia sendiri sudah menyaksikan keampuhan pistol berpeluru perak itu. Ki Sudrajat, ayah kandung Jatmika juga tewas ketika disambar sebutir peluru perak. Padahal, beberapa butir peluru biasa tidak mampu melukainya, Juga Ki Tejo Langit yang sakti mandraguna itu tewas karena berondongan peluru dalam keadaan tidak siap melindungi dirinya dengan aji kekebalan. Senjata api itu memang berbahaya. Kalau Jatmika dan Sulastri memandang rendah dan nekat memberontak, tentu mereka akan celaka. Akan tetapi dia merasa lega melihat sikap Jatmika tenang saja dan dia memandang kepadanya, dan di sinar matanya seperti mengisyaratkan agar gadis itu menurut saja kepadanya.

"Nah, sekarang harap kalian beritahukan kepada kami, kerja sama bagaimana yang kalian maksudkan dan tugas apa yang harus kami lakukan" katanya sambil memandang tajam kepada Aki Mahesa Sura dan Tumenggung Jaluwisa.

Tumenggung Jaluwisa tertawa. "Ha-ha-ha, Jatmika, agaknya andika seorang pemuda yang jujur dan tidak mau banyak lika-liku, langsung saja ke persoalan. Bagus, aku suka sekali sikap seperti itu. Nah, dengarlah baik-baik. Kalau andika dapat melaksanakan tugas ini dengan baik bersama nona Listyani, kalian berdua akan mendapatkan kedudukan tinggi di Sumedang."

"Soal itu kita bicarakan belakangan saja, paman. Yang penting sekarang membicarakan apa yang akan kita lakukan terhadap Kadipaten Sumedang."

"Paman? Ah, benar juga. Andika masih muda, paling banyak dua puluh dua tahun usiamu, memang pantas kau sebut paman tumenggung, akan tetapi aku akan lebih suka kalau engkau dan Listyani ini menyebut kakangmas tumenggung padaku. Ha-ha, akan tetapi tidak mengapalah. Ucapanmu itu menunjukkan bahwa andika bukan seorang yang kemaruk (tamak) dan haus akan imbalan hadiah. Baik sekali. Nah, dengar baik-baik. Adipati Sumedang Mas Gede, adalah seorang yang tidak memiliki pendirian tegas. Dalam hatinya dia setuju dengan kami, tidak suka kepada Mataram dan condong membantu pihak Kumpeni Belanda yang hendak memakmurkan rakyat kami, akan tetapi pada lahirnya dia selalu mencari muka kepada Sultan Agung di Mataram. Dia seperti ular berkepala dua, siap mengkhianati kedua pihak untuk mencari keuntungan sendiri. Oleh karena itu, kami mengambil keputusan untuk menjatuhkannya dan menyerahkan kedudukan Adipati Sumedang kepada orang lain yang lebih tepat."

"Menjatuhkan? Apa yang andika maksudkan, paman?" tanya Jatmika, memancing untuk mendapat keterangan yang lebih jelas walaupun dia sudah dapat menduga bahwa ternyata tumenggung ini yang menjadi pemimpin pemberontakan seperti diceritakan ayahnya.

"Apa lagi kalau tidak membunuh Pangeran Mas Gede yang tidak pantas menjadi Adipati Sumedang itu? Kita bunuh dia dan seorang pengganti yang tepat, yang menentang Mataram, diangkat."

"Hemm, maafkan aku, paman. Akan tetapi bukankah paman sendiri seorang senopati Sumedang?"

"Justeru karena aku senopati pertama di Sumedang, aku mengetahui semua keadaan dengan baik dan akan memudahkan kita mengatur rencana itu. Pangeran Mas Gede merupakan kelilip dan penghalang perjuangan yang harus disingkirkan!"

"Perjuangan apa, paman?"

"Perjuangan Sumedang menentang Mataram dan membebaskan diri dari kekuasaan Mataram, berdiri dan mendatangkan kemakmuran kepada rakyat kita dengan bantuan Kumpeni belanda yang kaya raya dan pandai itu."

Jatmika menanti sesaat lalu bertanya dengan hati-hati, "Mengapa paman sekalian demikian membenci Mataram?"

Tumenggung Jaluwisa membelalakkan matanya memandang Jatmika dengan penasaran. "Mengapa tidak? Semua orang di Pasundan harus membenci Mataram. Lupakah andika akan kisah lama yang terjadi kurang lebih tiga ratus tahun yang lalu? Sang Maharaja Purana, raja Pajajaran dengan niat baik dan rendah hati mengantarkan puterinya untuk menjadi pemaisuri Sang Prabu Hayam Wuruk atau Rajasanegara. Akan tetapi apa yang dilakukan Raja Mataram itu? Raja Pasundan, Sang Maharaja Purana malah dihina, diharuskan mempersembahkan puteri beliau untuk menjadi seorang selir sebagai tanda menakluk! Pihak Pajajaran tentu saja menolak dan di Bubat itu terjadilah pertempuran yang berakhir dengan terbasminya pasukan Pajajaran. sang Maharaja Purana sekeluarga berikut semua perwira dan perajurit binasa! Hayo katakan, siapa yang tidak membenci Mataram? Aku adalah seorang keturunan Menak (bangsawan) Pajajaran, maka aku akan selalu memusuhi Mataram. Karena Adipati Sumedang Pangeran Mas Gede condong tunduk kepada Mataram, maka dia menjadi musuhku pula!"

Jatmika menghela napas panjang. tentu saja dia sudah pernah mendengar kisah lama itu dari ayahnya, akan tetapi dengan warna atau pendapat yang lain. Menurut ayahnya, pada waktu itu Sang Prabu Hayam Wuruk atau Rajasanegara sama sekali tidak bermaksud menumpas Sang Maharaja Purana dari Pajajaran berikut semua pasukannya. Hal itu terjadi karena kesalah-pahaman antara Ki Patih Gajahmada dan para perwira Pajajaran, ditambah lagi usaha licik Raja Wengker untuk mengadu domba karena dia menghendaki Sang Prabu Hayam Wuruk agar menikah dengan seorang puterinya, bukan dengan puteri Pajajaran itu. Ternyata kemudian, setelah terjadi Perang Bubat yang menewaskan Sang Maharaja Purana berikut seluruh keluarganya, Sang Prabu Hayam Wuruk benar-benar menikah dengan puteri Raja Wengker! Akan tetapi peristiwa itu sebetulnya adalah karena urusan pribadi, sama sekali bukan merupakan permusuhan antara kerajaan Mataram dan kerajaan Pajajaran.

Maka, sungguh keterlaluan sekali kalau peristiwa itu dijadikan alasan oleh Tumenggung Jaluwisa untuk memusuhi Mataram. Akan tetapi biarpun dalam hatinya dia tidak setuju, dia maklum bahwa kalau dia mengatakan hal itu, keselamatan dia dan Eulis akan terancam. Dia harus cerdik, mengambil sikap seolah menyetujui semua ucapan tumenggung itu dan melihat perkembangan keadaan, mencari kesempatan untuk meloloskan diri bersama Eulis.

"Lalu bagaimana rencana itu, paman tumenggung? Dan kami berdua kebagian tugas apakah?"

"Begini. Kami sudah merencanakan untuk melakukan penyerangan dan membunuh sang adipati pada besok siang kalau dia melakukan perjalanan berburu binatang di sekitar lembah sungai. Kami akan mengerahkan orang-orang untuk menyerang pasukan pengawal adipati yang biasanya berjumlah sekitar seratus orang dan dalam keributan selagi para pengawal bertempur melawan orang-orang kami, andika berdua agar muncul, mendekati sang adipati dan membunuhnya."

"Hemm, pengawalnya ada seratus orang. Apakah penyerbuan itu tidak berbahaya sekali?"

"Tidak, walaupun orang-orang kami hanya sekitar lima puluh orang, namun mereka semua bersenjata bedil."

Tiba-tiba Eulis yang hanya kehilangan ingatan tentang masa lalunya namun tidak pernah kehilangan kecerdikan itu, setelah mengerti akan segala rencana itu, bertanya. "Tumenggung, rencana besok siang itu, andaikata andika tidak bertemu dengan kami, lalu siapa yang akan melakukan itu?"

Sang tumenggung menatap wajah cantik itu dan tersenyum. Tadinya kami rencanakan agar aku sendiri atau Mahesa Sura yang melakukan pembunuhan. Akan tetapi kehadiran kalian ini sungguh menguntungkan sekali. Kalau aku atau Aki Mahesa Sura yang melaksanakan penyerangan untuk membunuhnya, tidaklah aman karena sang adipati telah mengenal baik aku dan Aki."

"Hemm, kenapa tidak menyuruh orang lain yang tidak dikenalnya? Bukankah andika mempunyai banyak anak buah?"

"Wah, itu berbahaya. Sang Adipati bukan orang lemah. Dia cukup tangguh, Kita harus mengingat kemungkinan gagal, walaupun menurut perhitunganku, kemungkinan itu kecil sekali atau hampir tak mungkin. Akan tetapi andaikata kita gagal membunuhnya, kalau aku atau Aki yang melakukan, tentu kami akan ketahuan. Sebaliknya, kalau kalian yang melakukan, andaikata gagal sekalipun, dia tidak akan mengenal kalian. Kalau gagalpun, aku tetap aman dan dapat merencanakan penyerangan berikutnya. Mengertikah kalian sekarang?"

Jatmika dan Eulis mengangguk setelah saling pandang sejenak. "Kami mengerti."

"Dan kalian besok siang sanggup melaksanakannya?" Kembali Eulis memandang Jatmika dan pemuda itu yang menjawab, "Kami sanggup!"

"Nah, sekarang kita beristirahat. Kuharap kalian setelah dibebaskan dari ikatan, tidak bertindak macam-macam karena kami belum mendapatkan bukti kesetiaan kalian dan tidak akan ragu-ragu untuk menembak mati kalian kalau kalian hendak memberontak" kata pula Tumenggung Jaluwisa.

"Biar aku mengaso bersama Aki dan Jatmika. Andika boleh menempati kamar itu seorang diri... diajeng Listyani. Terpaksa kami harus mengawasi kalian."

Pada saat itu, Aji sudah menyelinap pergi dan dia berlari cepat di bawah sinar bulan muda. Karena tidak menemukan perahu, dia lalu menumbangkan sebatang pohon kelapa, memotongnya menjadi dua dan menggandengnya dengan tusukan bambu. Jadilah sebuah getek yang amat sederhana. Dengan getek dari dua batang pohon kelapa yang digandeng dengan bambu, diapun menyeberangi sungai dan melanjutkan perjalanannya, berlari cepat menuju arah Sumedang yang sudah diketahuinya karena tadi siang dia sudah bertanya-tanya orang dalam perjalanannya.

Sambil berlari, tiada hentinya dia berpikir tentang Jatmika dan Sulastri. Mereka itu tampak begitu akrab. Ada perasaan tidak enak menyelinap dalam hatinya. Betapa tidak? Jatmika adalah seorang pemuda yang demikian tampan dan gagah. Akan tetapi sebetulnya tidak aneh kalau mereka itu berhubungan akrab, bantahnya sendiri. Bukankah mereka itu masih satu perguruan? Sulastri adalah murid atau lebih tepat, cucu murid Ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit.

Sedangkan Jatmika adalah cucu Ki Tejo Langit, putera dari Ki Sudrajat, anak angkatnya. Berarti antara Jatmika dan Sulastri tentu saja ada hubungan baik sekali bahkan mungkin tumbuh besar dalam satu lingkungan. Maka bukan hal aneh kalau gadis itu akrab dengan Jatmika! Kenyataan ini menghapus rasa tidak enak di benak Aji. Kini yang terpenting, dia harus cepat dapat bertemu dengan Pangeran Mas Gede, Adipati Sumedang yang sedang di tunggu bahaya maut. Walaupun dia masih ragu dan juga penasaran mengapa Jatmika dan Sulastri mau menerima kerja sama itu!

Benarkah Jatmika dan Sulastri sudi menjadi antek pengkhianat dan anak buah Kumpeni Belanda? Dia teringat pula kepada kakak tirinya, Hasanudin. Kakak tirinya itupun sudah terseret ke lembah hina, menjadi antek Kumpeni Belanda. Kenapa orang-orang begitu mudah terpikat umpan kedudukan dan harta benda? Untung baginya malam itu langit cerah dan bulan muda memberikan penerangan cukup sehingga dia dapat melakukan perjalanan cepat sekali.

Ketika fajar menyingsing, tibalah dia di luar sebuah dusun. Kebetulan dia melihat seorang petani setengah tua memanggul cangkul, agaknya petani yang amat rajin ini sudah hendak bekerja di sawah ladangnya sepagi itu. Aji menghadang di depan petani itu dan sebelum petani itu terkejut, Aji sudah mendahului dengan teguran yang ramah dan lembut.

"Selamat pagi, paman. Rajin benar sepagi ini sudah hendak bekerja di ladang."

"Yah, kalau saya menanti sampai matahari terbit, jangan-jangan saya malah tidak sempat lagi menggarap ladang, denmas."

"Jangan sebut saya denmas, paman. Saya juga orang desa seperti paman. Akan tetapi kenapa kalau matahari terbit paman malah tidak sempat menggarap ladang?"

"Wah, nakmas. Orang sedusun kami jadi repot sejak malam tadi. Kami harus melayani tamu agung, maka saya pagi-pagi sekali segera saja ke ladang agar terhindar dari kesibukan nanti."

"Tamu agung? Siapakah dia, paman?"

"Wah, bukan blaen-blaen (main-main), anakmas. Tamu yang kini bermalam di rumah kepala dusun adalah Gusti Adipati Sumedang sendiri! Para pengawalnya, kurang lebih seratus orang bersama perwira-perwiranya mondok di pendopo rumah kepala dusun sampai penuh dan ramainya bukan main. Semalam kami harus melayani semua keperluan para perajurit itu."

Berita itulah yang dicari Aji. "baiklah, paman. Lanjutkan perjalananmu dan terima kasih."

"Andika hendak ke mana?" Tanya petani itu melihat Aji hendak melangkah ke arah dusun.

"Aku ingin menonton Gusti Adipati dan para perajuritnya"

"Wah, hati-hati, nakmas. Mereka galak-galak, salah sedikit mereka main tampar!"

Aji tidak menjawab melainkan cepat memasuki dusun itu. Tidak sukar baginya menemukan rumah kepala dusun yang jauh lebih besar daripada rumah penduduk lainnya. Dan dari luar saja tampak betapa di pendopo terdapat lima orang perajurit yang bertugas jaga. Mereka melakukan penjagaan secara bergiliran. Aji cepat memasuki pekarangan rumah besar itu dan segera menghampiri pendopo. Lima orang penjaga itu terserang kantuk yang harus mereka tahan-tahan tadi. Tidak aneh kalau mereka itu menjadi tidak sabaran dan mudah marah. Melihat seorang pemuda dusun menghampiri mereka, seorang diantara para penjaga yang membawa tombak ini segera menghadang dengan galak dan kasar dia menodongkan ujung tombaknya ke depan dada Aji.

"Hei, mau apa kamu datang ke sini tanpa dipanggil? Mau nyolong (mencuri), ya?" Aji mengerutkan alisnya. Heran dia melihat sikap seorang perajurit Sumedang ini, tiada bedanya dengan serdadu Kumpeni belanda yang angkuh.

"Ki sanak, aku datang membawa berita penting sekali untuk Gusti Adipati." kata Aji dengan sikap hormat dan suaranya lembut. Pnjaga itu menjadi semakin marah. Empat orang kawannya sudah datang pula menodongkan tombak mereka kepada Aji.

"Apa kau bilang? Siapa sudi menjadi sanakmu? Hayo katakan, apa makasudmu datang malam-malam ke sini. Awas, jangan bohong dan bicara yang bukan-bukan atau tombakku akan menjebolkan isi perutmu!"

"Tadi sudah kukatakan bahwa aku datang membawa berita penting sekali untuk Gusti Adipati." Ujung tombak itu ditekan dan merapat di kulit dada Aji.

"Petani kotor macam kamu mana mempunyai berita penting untuk Gusti Adipati? Paling-paling kalau bertemu kamu ingin mengajukan permohonan, minta ini itu! Hayo pergi atau tombak ini akan kutusukkan di perutmu!"

Bukan hanya tombak si pembicara yang menekan kulit Aji, juga empat batang tombak lain menekan kulit tubuhnya, dua di depan, satu di kiri, satu di kanan dan satu di punggungnya. Dia telah dikepung lima batang tombak yang siap menusuk. "Kalian penindas rakyat, sungguh keterlaluan!"

Berkata demikian, dia menggerakkan kedua tangannya sambil memutar tubuhnya. Tombak-tombak itu ditusukkan karena para perajurit mengira dia melakukan perlawanan, akan tetapi senjata-senjata itu terpental dan ketika tangan Aji menampar lima kali, tombak-tombak itu patah-patah. Aji menggerakkan kakinya yang menyambar-nyambar dan lima orang itu berpelantingan dan jatuh terbanting keras.

"Hei, apa yang terjadi di sini?" Terdengar bentakan nyaring dan dua orang dengan gerakan trengginas telah berhadapan dengan Aji. Melihat dua orang itu berpakaian sebagai perwira, Aji cepat mencabut keris pusaka Kyai Nagawelang dan memperlihatkannya kepada dua orang perwira itu. "Mudah-mudahan andika berdua mengenal pusaka itu!" kata Aji yang mengangkat keris itu sehingga tertimpa sinar lampu gantung yang berada di pendopo.

"Apa artinya ini?" bentak seorang perwira.

"Ah... itu... Keris Pusaka Kyai Nagawelang! Andika utusan Gusti sultan Agung dari Mataram?" kata perwira ke dua.

Aji mengangguk dan menyarungkan kembali kerisnya. "Benar, ki sanak. Ketahuilah, aku datang hendak menghadap Gusti Adipati sekarang juga. Ada pengkhianatan dan para pengkhianat merencanakan untuk membunuh Gusti Adipati pada siang hari ini. Karena itu, harap segera laporkan kepada beliau agar aku dapat menghadap dan bicara dengan beliau."

Mendengar ini, dua orang perwira itu terkejut bukan main. Apalagi setelah mereka mengenal Kyai Nagawelang dan tahu bahwa pemuda yang merobohkan lima orang perajurit itu adalah utusan Sultan Agung di Mataram. "Mari, ki sanak, mari masuk saja. Akan kami hadapkan Gusti Adipati!" kata dua orang perwira itu dan Aji lalu diiringakn memasuki rumah melalui pendopo.

Semua perajurit pengawal ketika mendengar akan apa yang terjadi, menjadi heran dan menghujani lima orang yang dirobohkan Aji tadi dengan pertanyaan-pertanyaan. Adipati Pangeran Mas Gede tentu saja terkejut sekali ketika digugah dari tidurnya dan seorang perwira menghadap dan melapor akan kedatangan Aji yang membawa berita pengkhianatan yang mengancam nyawa adipati itu. Cepat Adipati Pangeran Mas Gede bertukar pakaian, mencuci muka dan tak lama kemudian dia sudah menerima Aji di ruangan belakang, ditemani oleh lima orang perwira, yaitu para pimpinan pasukan pengawal itu.

Pada waktu itu, Sumedang memang dirongrong oleh gerakan-gerakan gerombolan yang tampaknya ada tanda-tanda hendak memberontak, maka dalam perjalanan berburu binatang ini Adipati Pangeran Mas Gede membawa seratus orang pengawal dipimpin lima orang perwira. Di depan sang adipati Sumedang, kembali Aji memperlihatkan keris pusaka Kyai Nagawelang sehingga sang adipati percaya kepadanya. "Andika bernama Lindu Aji? Nah, setelah kami merasa yakin bahwa andika memang utusan Gusti Sultan Agung, sekarang ceritakanlah dengan gamblang tentang apa yang andika sebut sebagai pengkhianatan yang mengancam keselamatan kami itu."

Dengan jelas Aji lalu menceritakan tentang percakapan antara Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura tentang pengkhianatan meraka, dan tentang rencana mereka untuk besok siang turun tangan membunuh sang adipati yang sedang melakukan perburuan binatang di Lembah Sungai Ci Lutung. Mendengar laporan ini, Adipati Pangeran Mas Gede menepuk pahanya sendiri dengan marah.

"Keparat Jaluwisa! Kiranya dia merencanakan pengkhianatan dan pembunuhan keji! Akan tetapi kami mempunyai seratus orang pasukan pengawal!"

"Gusti Adipati, harap diketahui bahwa Tumenggung Jaluwisa akan mempersiapkan orang-orangnya yang berjumlah lima puluhan orang, akan tetapi mereka semua memegang senapan yang mereka dapatkan dari Kumpeni Belanda."

"Setan jahanam! Kalau begitu berbahaya juga. Hei para perwira pengawal, bagaimana baiknya menurut kalian?"

Seorang di antara lima orang itu berkata, "Demi keselamatan paduka, sebaiknya kalau kita segera kembali saja ke kadipaten, Gusti Adipati."

"Maafkan saya, paman adipati." kata Aji yang teringat akan nasib Jatmika dan Sulastri. Kalau penyerangan itu urung atau gagal, tentu keselamatan dua orang itu terancam sekali. "Saya kira justru ini saat yang terbaik sekali bagi paduka untuk membasmi para pemberontak itu."

"Tapi mereka kuat sekali, anakmas! Bagaimana mungkin seratus orang pasukan kami dapat melawan lima puluh orang yang memegang bedil?" kata sang adipati. "Juga amat membahayakan keselamatan Gusti Adipati!" kata seorang pengawal. Mereka semua tidak menyetujui usul Aji.

Akan tetapi dengan sikap tenang Aji berkata. "Paman Adipati, kita mempunyai suatu hal yang amat kuat dan yang menjamin kita untuk dapat mengalahkan mereka, yaitu bahwa kita telah mengetahui rencana mereka, sebaliknya mereka sama sekali tidak menduga bahwa paduka telah mengetahui keadaan dan rencana mereka. Kita dapat memanfaatkan keuntungan itu untuk menjebak mereka dan menghancurkan mereka, menangkap dan menghukum pengkhianat Tumenggung Jaluwisa dan Aki Mahesa Sura yang membantunya itu."

"Hemm, bagaimana mengaturnya, anakmas Lindu Aji? Aku tetap khawatir kalau sampai gagal tentu akan terjadi malapetaka. Tumenggung Jaluwisa itu cukup sakti dan dia memang pandai menggunakan senjata api. Apalagi yang namanya Aki Mahesa Sura itu! Dia sakti mandraguna dan pandai sihir, bahkan kabarnya dia dapat mengubah dirinya menjadi harimau jadi-jadian!"

"Harap Paduka jangan khawatir. Biar saya yang mengaturnya. Saya yang akan menggantikan paduka di dalam kereta, dan saya yang akan menghadapi Mahesa Sura. Sebaiknya sekarang juga kita berangkat, paman Adipati, agar kita dapat tempat yang cocok untuk melaksanakan rencana kita menjebak mereka. Kita dapat merundingkan teantang rencana jebakan itu dalam perjalanan."

Pangeran Mas Gede akhirnya menyetujui dan pagi-pagi sekali rombongan ini bergerak meninggalkan dusun dan setelah tiba di tepi sungai Ci Lutung, Aji mencari tempat yang baik untuk menjebak lawan. Ketika tiba di lembah sungai yang berhutan, Aji menghentikan rombongan itu. Dia lalu mengatur pasukan pengawal, membaginya menjadi tiga rombongan dan menyuruh mereka mempersiapkan gendewa dan anak panah sebanyaknya. Senjata bedil lawan akan dibalas dengan anak panah. Dia mengatur sedemikian rupa sehingga tiga rombongan pasukan itu bersembunyi dan mengepung tempat itu dari tiga jurusan. Mereka diperintahkan untuk tetap bersembunyi dan berlindung di balik batang-batang pohon dan batu-batuan besar. Aji lalu menggunakan tali untuk mengikat semak-semak belukar dan pohon-pohon kecil yang berada di tengah dan yang terkepung tiga rombongan itu.

"Paduka sebaiknya ikut bersembunyi bersama para perwira pengawal dan meninggalkan kereta di depan sana. Biar saya yang menggantikan paduka berada dalam kereta."

"Akan tetapi kami tidak takut, Kami bahkan ingin menghajar sendiri pengkhianat Jaluwisa itu!" kata Pangeran Mas Gede penuh semangat.

"Jangan, paman adipati. Saya percaya akan kemampuan paduka, akan tetapi ketahuilah bahwa Jaluwisa memiliki dua pistol berpeluru perak dan emas yang tidak dapat ditahan oleh aji kekebalan. Biarlah saya yang akan menghadapi mereka, bersama dua orang sahabat saya."

"Siapa dua orang sahabatmu itu?"

"Mereka adalah saudara-saudara seperguruan saya, seorang pria dan seorang wanita yang sekarang menjadi tawanan Tumenggung Jaluwisa. Saya akan membebaskan mereka, dan kami bertiga rasanya cukup untuk menghancurkan kekuatan Jaluwisa dan Mahesa Sura."

"Baiklah kalau begitu." Pangeran Mas Gede lalu ikut bersembunyi dan siap bertempur kalau keadaan membutuhkan bantuannya.

Aji berpesan kepada para perajurit pengawal agar jangan dulu menyerang dengan anak panah mereka sebelum dia memberi isyarat. "Aku akan memancing mereka, dibantu beberapa orang perajurit aku akan menarik tali-tali dan menggoyang-goyang pohon kecil dan semak belukar yang sudah diikat tali. Tentu mereka akan mengira bahwa kita bersembunyi di situ dan mereka akan menghujani tempat-tempat itu dengan tembakan bedil-bedil mereka. Nah, kalau bedil-bedil mereka kosong dan mereka sibuk mengisi bedil mereka dengan peluru baru, aku akan memberi isyarat dengan teriakan burung alap-alap seperti ini." Aji mengeluarkan suara mirip lengkingan burung alap-alap. "Setelah mendengar isyarat itu, barulah kalian menghujani mereka dengan anak panah itu jangan terlalu lama dan kalian harus cepat berpindah tempat berlindung yang sebelumnya harus sudah dipersiapkan agar kalau mereka memberondongkan peluru ke arah kalian tidak akan ada yang kena peluru. Kalian hanya menyerang begitu ada tanda dariku, menghujani anak panah lalu berpindah lagi. Mengerti?"

Semua perajurit mengangguk dan merasa gembira. Pemuda senopati muda yang menjadi utusan Sultan Agung itu tampak demikian tenang dan tegas, agaknya sudah yakin akan kemenangan mereka, maka perajurit juga penuh semangat. Setelah semua orang bersembunyi di tempat masing-masing, Aji duduk pada tempat kusir kereta Adipati Sumedang yang dia sembunyikan agak jauh dari tempat yang terkepung itu, menanti dengan sikap tenang...


Thanks for reading Alap Alap Laut Kidul Jilid 19 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »