Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 23

MURYANI tersenyum mengejek setelah melihat sikap si brewek yang kini amat hormat. "Kalau sudah tahu, jangan panyak cerewet lagi dan cepat dayung ke seberang"

Dua orang itu tidak berani bicara lagi, akan tetapi diam-diam mereka saling menukar isyarat dengan pandang mata. Muryani tidak tahu bahwa mereka mendayung perahu agak menuju ke hilir, mendekati muara di bagian tepi laut. Setelah tiba di seberang, di tepi laut, Muryani melompat ke darat, lalu memandang kepada dua orang itu dan berkata,

"Aku berterima kasih kepada kalian yang telah menyeberangkan aku kesini. Akan tetapi akupun hendak memperingatkan kalian agar kalian bertaubat dan jangan lagi bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita. Kalau kelak kita berjumpa lagi dan aku masih melihat kalian bersikap kurang ajar terhadap wanita, aku pasti tidak akan mengampunimu lagi!"

Setelah berkata demikian, Muryani melanjutkan perjalanannya ke timur. Ia sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya dua orang itu dan menganggap mereka itu hanyalah nelayan-nelayan yang berwatak kasar. Sama sekali ia tidak mengira betapa setelah ia pergi kedua orang itu cepat memberi isyarat ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal. Dua orang itu ternyata adalah dua orang anak buah mata-mata Kumpeni Belanda!

Seperti kita ketahui, Satyabrata telah berunding dengan Komandan Willem Van Huisen dan perwira kumpeni itu sudah menjanjikan akan mengirim sebuah kapal perang untuk membantu dengan diam-diam pihak Madura yang hendak diserang pasukan Mataram. Kapal inilah yang dijanjikan itu, sudah siap di lautan, siap untuk menuju ke Madura kalau saat perang tiba.

Kapal itu telah diperlengkapi dengan meriam-meriam besar dan senjata-senjata api lainnya, dipimpin oleh seorang kapten kapal bernama Kapten Johan Van Dalen. Begitu isyarat dua orang mata-mata itu terlihat dari kapal, oleh sang kapten yang menggunakan teropong, sebuah perahu diturunkan dan dua belas orang menumpang perahu itu yang berlayar cepat ke pantai.

Muryani sedang berjalan menyusuri pantai. Tiba-tiba ia. melihat sebuah meluncur cepat dan mendarat di pantai sebelah depan. Tadinya ia tidak begitu memperhatikan, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang berteriak dari arah belakangnya. "Perempuan itu seorang telik-sandi mata-mata Mataram!!"

Muryani cepat menengok dan mukanya berubah kemerahan karena marah. Kiranya yang berteriak itu adalah dua orang laki-laki yang kurang ajar tadi, yang telah dihajarnya dan yang menyeberangkannya di muara Bengawan Solo! Mereka berdua agaknya mengikutinya dengan berperahu di laut dan kini memberi peringatan kepada belasan orang yang berlompatan keluar dari perahu di depannya.

Muryani berhenti melangkah dan berdiri dengan sikap tenang walaupun ia dapat menduga bahwa belasan orang itu tentu tidak berniat baik, apalagi dilihatnya tiga orang di antara mereka adalah orang-orang kulit putih yang memegang senapan. Dari Satyabrata ia sudah banyak mendengar keterangan tentang ampuhnya senjata api. Menurut Satyabrata, peluru senjata api amat cepat dan hanya mungkin dapat dielakkan dengan merebahkan diri.

Kalau pelurunya biasa, mungkin dapat disambut dengan aji kekebalan, akan tetapi kalau peluru dari perak apalagi emas, aji kekebalan tidak dapat diandalkan. Biarpun maklum bahwa dirinya terancam, Muryani bersikap tenang saja melihat bahwa dari dua belas orang itu hanya tiga orang yang berkulit putih dan memegang senapan. Yang sembilan orang agaknya orang-orang Madura, melihat dari pakaian dan ikat kepalanya.

Sembilan orang ini membawa senjata golok atau clurit dipinggangnya dan sikap mereka mengancam. Akan tetapi mereka semua tersenyum dan memandang ringan ketika orang yang diisyaratkan oleh dua orang itu sebagai mata-mata Mataram, ternyata hanya seorang gadis cantik! Yang menjadi pimpinan selosin orang ini adalah seorang Madura yang berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan tampak kokoh kuat, berkumis melintang sekepal sebelah, matanya lebar dan bengis, bernama Sumbaga.

Dia adalah seorang jagoan dari Arisbaya, dan menjadi seorang senopati anak buah Ki Harya Baka Wulung. Dialah yang kini melangkah maju menghadapi Muryani, memandang gadis itu penuh selidik. "Gadis muda dan cantik ini seorang telik-sandi Mataram yang berbahaya?" Dia bertanya seperti kepada diri sendiri dan nada suaranya tidak percaya.

Dua orang anak buahnya yang menyamar sebagai nelayan, sudah berada di situ pula, ikut mengepung Muryani. Si brewok berkata, "Harap jangan memandang ringan. Gadis ini sungguh sakti dan tangguh sekali!"

Dengan pandang mata masih tidak percaya, Sumbaga mengamati Muryani. Kemudian dia bertanya dengan suaranya yang nyaring. "Heh, nona muda. Siapakah engkau dan kenapa engkau berada di sini seorang diri?"

Muryani tersenyum. "Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, maka tidak perlu aku memperkenalkan namaku. Aku berada di sini adalah urusanku sendiri. Ini tempat umum, tak seorangpun boleh melarangku!"

"Waduh sombongnya!" Sumbaga berseru penasaran. "Hei, dengar gadis sombong. Aku adalah Sumbaga, seorang senopati Arisbaya. Benarkah engkau seorang telik-sandi Mataram?"

Muryani tersenyum mengejek. "Kalau benar, kalian mau apa?"

Sumbaga menjadi marah. "Kalau engkau seorang laki-laki, tentu akan kami bunuh! Akan tetapi karena engkau seorang perempuan, engkau harus kami tangkap!"

"Begitukah? Hemm, coba tangkap aku kalau mampu!" Muryani menantang dan ia segera memasang kuda-kuda atau jurus pembukaan dari ilmu silat Bromo Dadali, yaitu dengan Jurus Dadali Anglayang. Ia berdiri berjingkat, tubuhnya agak ditundukkan, kedua lengannya dikembangkan seperti seekor burung hendak terbang.

Sumbaga yang masih memandang rendah sudah menubruk sambil mengeluarkan seruan panjang, "Haiiiiiiiitt...!" Kedua lengannya yang panjang itu sudah menerkam dari kanan kiri, tidak memberi jalan bagi gadis itu untuk mengelak. Dia yakin bahwa sekali terkam gadis itu sudah akan dapat ditangkapnya dengan mudah.

Akan tetapi Muryani diam-diam megerahkan Aji Kluwung Sakti yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali sehingga ia dapat bergerak cepat bagaikan serekor burung walet. Ketika kedua tangan Sumbaga menerkam dari kanan kiri, tubuh gadis itu berkelebat ke atas sehingga tubrukan itu luput. Akan tetapi yang diserang oleh Muryani adalah dua orang yang menyamar sebagai nelayan tadi.

Dari atas tubuhnya meluncur ke arah dua orang itu dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu berteriak dan roboh, tak mampu bangkit kembali karena kepala mereka telah terkena tamparan Muryani yang mempergunakan Aji Pukulan Gelap Sewu yang amat ampuh. Isi kepala dua orang itu terguncang hebat sehingga mereka roboh dan tewas seketika.

Matinya dua orang ini membikin semua pengepung menjadi terkejut dan marah. Serentak mereka lalu mencabut golok dan celurit, menyerang dan mengeroyok Muryani dari berbagai jurusan. Muryani memperlihatkan kegesitannya, mengamuk dikeroyok sembilan orang yang memegang senjata tajam.

Pengeroyokan yang kacau-balau ini malah menguntungkan Muryani karena tiga orang anak buah kumpeni yang memegang bedil itu sampai sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan senjata api mereka Kalau mereka menembak dalam keadaan seperti itu, besar kemungkinannya peluru mereka akan mengenai teman sendiri.

Muryani mengandalkan Aji Kluwung Sakti untuk bergerak cepat. Tubuhnya berkelebatan dan dapat menghindarkan diri dari semua serangan golok dan celurit. Lewat belasan jurus, ia telah mampu merobohkan dua orang pengeroyok lagi. Tamparan Aji Gelap Sewu membuat yang tertampar roboh tidak mampu bangkit kembali.

"Dorr-dorrr!!" Dua kali letusan ditembakkan dua orang serdadu Belanda. Seorang diantara tiga serdadu Belanda ini yang sudah pandai berbahasa pribumi, berseru, "Menyerah atau kami tembak!"

Akan tetapi, Muryani yang berkelebat di antara para pengeroyoknya yang tinggal tujuh orang itu sukar untuk dijadikan sasaran. Ia mengerti bahwa di antara mereka semua, yang paling berbahaya adalah tiga orang serdadu Belanda itu. Ia tidak tahu peluru apa yang mereka gunakan dan ia harus berhati-hati sekali.

Maka, ia terus bergerak cepat di antara para pengeroyoknya dan ketika mendapat keempatan, ia menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan seorang diantara para pengeroyok yang telah dirobohkannya, lalu secepat kilat ia melontarkan golok itu kearah seorang serdadu Belanda yang berada paling dekat dengannya.

Serdadu itu sama sekali tidak pernah mengira bahwa dia akan diserang lemparan golok. Tahu-tahu golok itu telah menyambar dan menancap di perutnya. Dia berteriak keras, senapannya terlepas dan tubuhnya roboh lalu berkelojotan dan mati!

"Semua mundur, biar kami menembaknya!" seru seorang serdadu Belanda yang sudah siap dengan bedilnya. Pada saat itu, Muryani sudah merobohkan pula seorang pengeroyok dengan tendangan kakinya yang mengenai dada. Beberapa tulang iga orang itu patah dan diapun roboh tak mampu bergerak lagi.

Enam orang itu terkejut dan mendengar teriakan serdadu Belanda tadi, Sumbaga lalu berseru kepada anak buahnya. "Mundur!!" Enam orang itu berlompatan ke belakang sehingga kini Muryani ditinggal sendiri. Pada saat itu, seorang serdadu Belanda menembakkan senapannya.

Pada detik itu, dengan kepekaannya, cepat sekali Muryani merebahkan dirinya ke atas tanah dan pada saat itu, terdengar ledakan dari tembakan itu. "Darrr...!" Muryani menggulingkan tubuhnya dengan cepat dan sebelum serdadu itu dapat menembak lagi, ia sudah melompat dan sebuah pukulan Gelap Musti menghantam kepalanya.

Serdadu itu tak sempat mengeluh, terpelanting dan roboh, tewas seketika. Akan tetapi pada seat itu, serdadu yang ketiga sudah membidikkan senapannya ke arah Muryani dari jarak paling jauh tiga meter. "Dorrr...!!" Api muncrat, asap mengepul, akan tetapi tembakan itu meleset jauh karena pada saat dia menarik pelatuk senapan, tiba-tiba sebuah batu menyambar dan mengenai tangannya sehingga senapan itu miring dan kehilangan arah. Serdadu itu terkejut akan tetapi pada saat berikutnya, sebuah tangan terbuka menghantam pelipisnya. Pukulan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya tubuh serdadu Belanda itu terpelanting dan dia tidak dapat bangkit atau bergerak lagi.

Sumbaga dan lima orang pembantunya menjadi marah dan juga terkejut melihat betapa tiga orang serdadu Kumpeni Belanda itu roboh dan tiga orang anak buahnya juga sudah roboh. Mereka melihat bahwa yang merobohkan serdadu terakhir tadi adalah seorang pemuda. Kini Muryani mengamuk. Ia hanya melihat bahwa ada seorang pemuda membantunya, akan tetapi ia tidak mengenal siapa pemuda itu.

Sumbaga dibantu oleh seorang anak buahnya kini mengeroyok pemuda yang bertangan kosong itu sedangkan empat orang anak buahnya yang lain mengeroyok Muryani dengan senjata mereka. Tiga orang memegang golok dan seorang bersenjata sebatang celurit panjang. Sambil melayani pengeroyokan empat orang yang marah dan nekat itu, beberapa kali Muryani menggunakan kesempatan untuk menoleh dan memandang pemuda yang menolongnya.

Di antara para pengeroyok, Sumbaga yang berkumis melintang memiliki kepandaian yang paling tinggi, maka Muryani khawatir kalau-kalau pemuda yang membantunya itu akan kalah. Akan tetapi ia melihat sesuatu yang aneh terjadi. Pemuda itu agaknya bergerak lambat saja untuk menghindarkan diri dari golok besar di tangan Sumpaga dan celurit panjang di tangan anak buahnya, akan tetapi anehnya, kedua senjata itu tidak pernah dapat menyentuhnya! Yang lebih terkejut dan heran adalah Sumbaga dan pembantunya.

Pemuda itu bergerak lambat dan senjata tajam mereka begitu tepat menyambar ketubuh pemuda itu, akan tetapi setelah dekat, senjata mereka melenceng dan menyimpang ke samping sehingga tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu. Biarpun demikian, melihat gerakan pemuda itu lambat, Muryani menjadi khawatir kalaukalau orang yang telah membantunya itu akan celaka, maka iapun mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring. Satu demi satu para pengeroyoknya itu terkena sambaran kedua tangannya yang memukul dengan Aji Gelap Musti!

Setelah merobohkan empat orang pengeroyoknya, Muryani memutar tubuh dan terbelalak heran melihat betapa pemuda itu sudah berdiri memandangnya. Dua orang yang tadi mengeroyok pemuda itu, Sumbaga dan seorang anak buahnya, telah menggeletak tak bergerak lagi dengan tubuh tanpa luka. Kini mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak lima meter, saling pandang dengan bengong, seperti dalam mimpi dan hampir tidak mempercayai pandangan mata mereka sendiri.

Mereka merasa asing satu sama 1ain, namun setelah sepasang mata mereka bertemu, bertaut dan seakan saling menyelami, mereka seperti terpesona karena masing masing mengenal pandang mata itu dengan baik sekali. "An... andika...??" pemuda itu berkata gagap.

"Andika...!!" Muryani juga berseru dengan sangsi dan ragu. Biarpun pandang mata itu menerangi semua ingatannya, mengembalikan kenangannya sehingga mengenal pemuda itu sebagai Parmadi, namun hal yang meragukannya adalah melihat Parmadi begitu mudahnya mampu merobohkan seorang serdadu Belanda, Sumbaga senopati Arisbaya dan seorang pembantunya!

Padahal ia tahu benar bahwa Parmadi, sekitar lima enam tahun yang lalu, adalah seorang pemuda remaja ,yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kesaktian. Sekarang, dia sudah tampak dewasa dan agaknya memiliki kesaktian, menjadi seorang pemuda yang digdaya!

Karena merasa ragu, Muryani mengamati penuh perhatian. Pemuda itu sudah matang, tubuhnya sedang namun tegap dan ia dapat melihat bahwa tubuh itu menyimpan tenaga sakti yang kuat. Wajahnya tampan walaupun pakaian dan sikapnya masih sederhana seperti dulu, sikap seorang pemuda dusun akan tetapi wajahnya anggun berwibawa seperti wajah seorang pemuda priyayi.

Mata yang lembut itu terkadang mencorong penuh kekuatan batin, hidungnya mancung, mulutnya selalu membayangkan senyum sehingga tampak cerah dan ramah. Sebatang seruling putih kekuningan terselip di ikat pinggangnya sebelah kiri dan gagang sebatang patrem terselip di pinggangnya sebelah kanan. Gagang patrem itu! Tak salah lagi. Ia masih ingat benar. Itu patrem miliknya! Tidak ada patrem lain di dunia ini yang gagangnya berbentuk kepala burung seperti patremnya. Tidak salah lagi!

"Kakang Parmadi...!!"

"Adi Muryani...!!"

Entah siapa yang lari lebih dulu. Keduanya merasa demikian gembira dan bahagia, merasa seperti bertemu dengan kakak dan adik yang sudah amat lama dirindukannya, bertemu dengan orang yang selama ini menjadi bayangan yang tidak pernah meninggalkan hatinya, orang yang dicintanya. Hanya pengertian cinta itu masih kabur dalam perasaan mereka, cinta di antara remaja.

Karena perasaan cinta remaja yang lebih condong kepada cinta saudara inilah yang membuat Muryani bingung dan ragu ketika Satyabrata menyatakan cintanya kepadanya! Dua orang muda itu berlari saling menghampiri dan tahu-tahu mereka sudah saling rangkul, persis seperti ketika mereka akan berpisah dulu. Tanpa dapat ditahannya saking terharu, Muryani menangis di dada Parmadi.

"Aduh, kakang Parmadi... ke mana saja engkau selama ini...?" Muryani terisak dalam rangkulan pemuda itu.

"Adi Muryani, aku juga amat gelisah mendapatkan engkau tidak berada lagi di Pakis dan aku mendengar bahwa paman Ronggo Bangak terbunuh orang dan engkaupun terluka parah. Kemudian Ki Demang Warutomo menceritakan bahwa engkau pergi tanpa pamit. Ah, aku menjadi khawatir sekali. Puji syukur kepada Gusti Allah bahwa engkau dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, Muryani."

Muryani menghela napas panjang, lalu menghapus air matanya, lalu merenggangkan diri dan memandang kepada Parmadi dengan kedua pipi masih basah, akan tetapi mulutnya tersenyum. "Maaf, kakang. Aku menjadi anak yang cengeng. Aku terharu dan girang sekali bertemu denganmu, maka aku menangis. Ketahuilah, setelah ayahku dibunuh orang, aku lalu pergi mencari pembunuhnya yang didalangi oleh Ki Demang Wiroboyo."

"Hemm, belum juga bertaubat orang tu? Betapa jahatnya."

"Aku bertemu dengan seseorang dan dalam keadaan terancam bahaya dalam tangan Wiroboyo dan temannya, aku ditolongnya kemudian menjadi muridnya. Setelah guruku meninggal, aku lalu melanjutkan usahaku mencari musuh besarku sehingga aku berhasil menemukan dan membunuh Wiroboyo dan temannya, pembunuh ayahku. Temannya itu bernama Darsikun."

"Siapa gurumu yang baru itu, adi Murani?"

"Mendiang guruku itu bernama Nyi Rukmo Petak yang bertapa di Bukit Ular, Pegunungan Anjasmoro."

"Pantas engkau menjadi begini sakti mandraguna! Aku pernah mendengar nama Nyi Rukmo Petak itu. Lalu bagaimana engkau dapat berada di sini dan dikeroyok orang-orang ini?"

"Setelah berhasil membalas dendam kematian ayah aku lalu pergi ke Muria untuk mengunjungi guru pertamaku Ki Ageng Branjang ketua Perguruan Bromo Dadali dan sempat membantu perguruan kami yang sedang diserang musuh."

"Siapakah musuh itu?"

"Dia bernama Dibyasakti, katanya seorang senopati dari Arisbaya, Madura yang membujuk agar Perguruan Bromo Dadali berpihak kepada Madura dan menentang Mataram. Karena bapa guru tidak mau maka terjadi perkelahian. Setelah tinggal beberapa hari di Muria, akhirnya aku tidak betah dan mendengar bahwa akan ada perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu melakukan perjalanan ke sini. Tadi ketika menyeberangi muara, aku diserang dua orang tukang perahu. Aku mengalahkan mereka, akan tetapi ketika tiba di sini, aku dikepung banyak orang dan engkau datang membantuku. Sama sekali aku tidak menyangka bahwa engkaulah yang membantuku kakang. Aku tadi sama sekali tidak mengenalimu!"

Parmadi tersenyum. "Akupun hampir tidak mengenalimu, adi Muryani. Engkau berubah, bukan lagi seorang gadis remaja seperti ketika berpisah dahulu. Sekarang engkau seorang gadis dewasa yang sakti mandraguna dan... cantik jelita!"

Mendapatkan pujian yang ia tahu keluar dari hati yang tulus, Muryani tersipu. Ia tadi sengaja tidak bercerita tentang Satyabrata. "Apalagi engkau, kakang! Engkau berubah sekali. Siapa sangka engkau yang dulu merupakan seorang pemuda yang biarpun pemberani namun lemah, kini berubah menjadi seorang pemuda yang digdaya! Aku benar-benar merasa terkejut, heran dan kagum sekali."

Kembali Parmadi tersenyum. "Dan bagaimana engkau dapat mengenal kembali aku?"

Muryani juga tersenyum dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah pinggang Parmadi sebelah kanan. "Melihat patrem itu, aku tidak ragu lagi dengan siapa aku berhadapan! Dan engkau, bagaimana engkau dapat mengenaliku, kakang?"

"Sinar matamu, adi Muryani. Pandang matamu itu amat kukenal dan segera aku dapat menduga siapa gadis cantik sakti mandraguna yang berdiri di depanku."

"Ahh, kakang Parmadi, betapa bahagia hatiku dapat bertemu denganmu. Hayo sekarang giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, sejak engkau meninggalkan aku, kakang."

"Mari kita duduk, Muryani. Tidak enak bicara sambil berdiri saja." Parmadi mengajak gadis itu duduk dan mereka berdua duduk di atas pasir yang putih dan bersih. "Seperti engkau tentu masih ingat ketika meninggalkan dusun Pakis dahulu itu, aku berpamit dan mengatakan bahwa aku hendak merantau dan meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Sebetulnya aku pergi mengikuti seorang kakek yang sakti mandraguna dan bijaksana, yang mengambil aku sebagai murid. Ketika itu, aku tidak berani bercerita tentang beliau karena memang beliau tidak ingin diketahui keadaannya oleh orang banyak. Beliau adalah Eyang Resi Tejo Wening. Aku diberi pelajaran tentang hidup dan diberi ilmu-ilmu untuk bekal hidup dan selama kurang lebih lima tahun kami berdua tinggal di puncak Gunung Lawu."

"Wah, tidak begitu jauh kalau begitu! Kalau tahu begitu, tentu aku sudah mencarimu ke sana!" seru Muryani terheran-heran, sama sekali tidak menyangka bahwa selama ini Parmadi berada di puncak Gunung Lawu, tidak begitu jauh dari Pakis, hanya membutuhkan pendakian beberapa jam saja!

"Setelah Eyang Resi Tejo Wening memerintahkan agar aku turun gunung, aku langsung kembali ke Pakis dan di sana aku mendengar tentang engkau dan ayahrnu. Aku lalu turun gunung dan berusaha mencari jejakmu, namun tidak berhasil. Kemudian aku mendengar juga tentang akan terjadinya perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu pergi ke timur dengan maksud untuk menyumbangkan tenagaku membantu Mataram. Tadi aku melihat engkau terancam bahaya kelika serdadu Belanda itu hendak menembakmu, maka biarpun aku tadi belum mengenalimu, aku cepat membantumu."

Parmadi juga tidak menceritakan pengalamannya bertanding melawan orang-orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Muryani. Tiba-tiba Muryani berseru, "Ah, dia itu belum mati!" Dan cepat ia mengambil sebatang golok yang menggeletak di dekatnya, lalu ia menyambitkan golok itu ke arah anak buah Senopati Sumbaga yang tadi dirobohkan Parmadi.

"Syuuuuttt...!" Golok itu meluncur dengan cepat ke arah tubuh orang yang sudah bangkit duduk sambil memegang kepalanya yang pening dengan kedua tangan, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebatang golok meluncur ke arahnya bagaikan tangan maut.

"Wuuuutt plakkk!" Golok yang sedang meluncur itu tiba-tiba saja runtuh seperti tertolak sesuatu yang amat kuat. "Ehh...?" Muryani terbelalak kaget. Ia melihat Parmadi tadi menggerakkan tangan ke arah golok yang meluncur itu dan ada hawa pukulan yang kuat menyambar ke depan, ke arah golok dan meruntuhkan golok itu. "Kenapa engkau lakukan itu, kakang?"

"Maaf, adi Muryani, aku tadi memang sengaja tidak membunuh orang itu, hanya membuat dia roboh pingsan. Kurasa kita membutuhkan orang itu."

"Mengapa? Untuk apa? Mereka adalah orang-orang dari Arisbaya, Madura yang agaknya bergabung dengan kumpeni!"

"Justeru karena itulah. Kita ingin membantu Mataram, bukan? Nah, mari kita tanya dia." Parmadi bangkit dan menghampiri orang itu, diikuti oleh Muryani yang belum mengerti benar apa yang dikehendaki pemuda itu.

Orang itu agaknya sudah tidak pening lagi dan dia kini mengangkat muka memandang dua orang muda yang datang menghampirinya. Dia terbelalak, lalu bangkit berdiri, agaknya siap untuk membela diri!

"Tenanglah, kisanak!" kata Parmadi dengan halus. "Kami memang sengaja membiarkan engkau hidup dan sebaliknya kami harap agar engkau suka memberi keterangan sejujurnya kepada kami."

"Hemm, aku sudah kalah. Kalau kalian hendak membunuhku, lakukanlah. Aku tidak takut mati untuk membela Madura!" kata orang itu dengan sikap gagah. Parmadi menghela napas panjang. Dia tahu bahwa sukar untuk berdebat tentang kebenaran dengan seorang musuh dalam perang.

Semua orang tentu saja mempertahankan kebenaran masing-masing yang menganggap dirinya benar karena membela pihaknya sendiri sebagai sebuah perjuangan yang suci dan benar. "Akan tetapi mengapa kalian mengeroyok seorang wanita?" dia memancing sambil menoleh kepada Muryani.

Orang Madura itu memandang Muryani dengan sinar mata penuh kebencian "Karena ia seorang telik-sandi Mataram yang harus dibunuh!"

Parmadi diam-diam mengakui bahwa orang ini, mungkin demikian pula dengan semua temannya yang telah tewas, adalah orang orang gagah yang membela tanah air mereka dengan gigih sebagai seorang pejuang yang mencinta tanah air dan bangsa. Ah, betapa menyedihkan kalau bangsa di Nusantara itu terpecah pecah seperti ini. "Akan tetapi, kisanak. Mengapa kalian orang-orang Arisbaya bersekongkol dengan orang Kumpeni Belanda itu untuk mengeroyok seorang wanita yang sebetulnya masih bangsa sendiri? Dari manakah tiga orang serdadu kumpeni itu datang?"

Orang itu tersenyum mengejek. "Kumpeni Belanda suka membantu kami untuk menghadapi Mataram, maka kami bekerja sama dengan mereka. Kalian boleh membunuhku, akan tetapi kalian tidak akan terlepas dari mereka!" Orarng itu menunjuk ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal. Tiba-tiba orang itu mengampil golok yang tadi dilontarkan Muryani dan menggeletak di situ, lalu menyerang gadis itu dengan nekat.

"Hyaaaaaehhhh!" Orang itu membacokkan goloknya ke arah kepala Muryani dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Golok itu menyambar dengan suara berdesing. Akan tetapi dengan mudah saja Muryani dapat menghindarkan diri dari bacokan itu dengan elakan kesamping dan sekali kakinya mencuat ke arah pergelangan tangan kanan penyerangnya, orang itu mengeluh dan golok itupun terlepas dan terpental dari tangannya.

"Cukup, Muryani. Jangan bunuh dia." kata Parmadi. Muryani merasa heran sendiri mengapa ia begitu mentaati seruan Parmadi ini. Ia merasa ada sesuatu yang amat kuat dan berwibawa sehingga secara otomatis ia melompat ke belakang.

"Kisanak, kami tidak akan membunuhmu. Kalau engkau memang seorang pejuang yang membela Arisbaya, engkau tentu memiliki kesetiakawanan untuk mengubur jenazah para kawanmu itu. Mari adi, kita pergi," kata Parmadi dan Muryani menurut saja ketika Parmadi menghampiri perahu kecil milik dua orang mata-mata Arisbaya yang menyamar sebagai nelayan tadi. Muryani merasa semakin heran. Ia seperti berubah menjadi seorang anak kecil yang menurut saja dituntun seorang dewasa!

cerita silat online karya kho ping hoo

Tanpa bicara Parmadi mengajak ia naik perahu kecil yang didayung oleh Parmadi menuju ke muara! Baru setelah mereka jauh meninggalkan tempat pertempuran tadi dan tidak tampak dari sana terhalang batu-batu karang dan bukit pasir, Muryani dapat bicara. Ia bertanya dengan suara keheranan. "Kakang Parmadi, apa artinya ini semua? Kenapa aku... aku menurut saja apa yang kau katakan?"

Parmadi tersenyum dan mendayung perahunya ke tepi muara, lalu mendarat dan menarik perahu itu ke darat. Setelah itu barulah dia duduk di atas batu karang dan mempersilakan gadis itu duduk di depannya. "Engkau menuruti kata-kataku berarti bahwa engkau percaya padaku, adikku, dan aku girang sekali."

"Ya, akan tetapi kenapa, kakang? Kenpa engkau melarang aku membunuh orang tadi? Bukankah dia itu musuh dan dia pun berniat membunuh aku?"

"Benar katamu, Muryani. Akan tetapi ingat, dia ingin membunuhmu karena menganggap engkau telik-sandi Mataram dan dia berjuang untuk membela Madura. Dia juga seorang pejuang, seorang gagah, walaupun sayang sekali kerajaan masing-masing bermusuhan sehingga membuat dua pihak yang sama-sama patriot, sama-sama pejuang, sama-sama orang gagah yang sebagai seorang kawula membela negaranya, terpaksa harus berhadapan sebagai musuh. Aku tidak tega melihat dia terbunuh. Pula, kalau dia terbunuh, lalu siapa yang akan menguburkan semua jenazah itu?"

"Kakang Parmadi, sungguh aku tidak mengerti. Kenapa engkau memperdulikan mayat-mayat para musuh itu? Kalau kita yang kalah dan mati, belum tentu mereka mau memperdulikan jenazah kita."

"Hal itu hanya akan membuktikan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan, adi Muryani. Di waktu hidup, nafsu dan keadaan mungkin memaksa kita untuk bermusuhan dengan mereka. Akan tetapi setelah mereka mati, permusuhan apalagi yang ada. Mereka telah menjadi jenazah dan ingat itu adalah jenazah manusia. Tak mungkin kita biarkan terlantar begitu saja."

"Aduh, bicaramu mengingatkan aku kepada mendiang ayahku, kakang Parmadi."

"Tentu saja. Bukankah beliau adalah guruku yang pertama?"

"Akan tetapi mengapa pula engkau mengajakku ke sini, kakang? Agaknya engkau seperti sedang merencanakan sesuatu."

"Engkau masih tetap cerdik seperti dulu, Muryani. Sesungguhnyalah. Melihat tiga orang serdadu Belanda yang membantu orang-orang Madura itu, aku menjadi curiga. Kapal Belanda disana itu pasti bermaksud untuk membantu Madura. Hal itu akan berbahaya sekali. Kalau kita ingin membantu Mataram, inilah kesempatan yang amat baik itu."

"Apa maksudmu?"

"Kita harus dapat naik ke kapal itu dan melumpuhkan kekuatannya. Ketahuilah, adi Muryani. Dari percakapanku dengan beberapa orang bijaksana yang setia kepada Mataram, aku mengetahui bahwa musuh utama kita adalah Kumpeni Belanda yang hendak menguasai bumi nusantara. Gusti Sultan Agung tidak memusuhi daerah-daerah, melainkan hendak mempersatukan semua kekuatan se-nusantara untuk bersatu padu menyusun kekuatan menghadapi Kumpeni Belanda. Yang menolak persatuan terpaksa ditundukkan. Dan pihak Belanda tentu saja tidak suka melihat persatuan semua daerah dengan Mataram, maka mereka selalu berusaha untuk memecah belah agar kekuatan kita menjadi lemah. Kapal itupun tentu ingin membantu Madura agar jangan sampai bersatu dengan Mataram. Karena itu, kalau kita ingin membantu Mataram kita harus berusaha untuk melumpuhkan kapal itu."

"Wah, itu sukar dan berbahaya sekali kakang Parmadi!" seru Muryani sambil memandang ke arah kapal besar itu. Moncong beberapa buah meriam tampak dari situ. "Dan mengapa pula engkau bersembunyi diantara batu karang ini?"

"Aku pernah mendengar bahwa kumpeni memiliki alat-alat yang ampuh. Selain senjata api panjang dan pendek, juga meriam-meriam dan aku mendengar mereka memiliki alat yang disebut teropong yang membuat mereka dapat melihat dari jauh sehingga dengan teropong itu, mungkin mereka dapat melihat kita di sini dari kapal. Maka sebaiknya kita berhati-hati dan sembunyi di antara batu karang sehingga kita dapat mengintai kapal sebaliknya mereka tidak dapat melihat kita."

"Akan tetapi bagaimana kita dapat naik ke kapal mereka? Bukankah hal itu sukar dan berbahaya sekali?"

"Tidak ada perjuangan tanpa menghadapi kesukaran dan bahaya, Muryani. Malam nanti akan kucoba untuk menggunakan perahu mendekati kapal mereka dan mencari jalan bagaimana aku dapat menyelundup naik ke kapal itu."

"Kalau begitu aku ikut, kakang!" kata Muryani penuh semangat.

"Lebih baik jangan, Muryani. Pekerjaan ini berbahaya sekali dan aku tidak ingin engkau terancam bahaya. Apalagi kita berada di atas lautan."

Muryani mengerutkan alisnya. "Kakang Parmadi! Kalau engkau berani menghadapi bahaya, apa kau kira aku tidak berani? Kita hadapi bahaya bersama dan dengan kita berdua bekerja sama, tentu kedudukan kita lebih kuat!"

Parmadi tersenyum dan menatap wajah gadis itu dengan kagum. "Ah, engkau masih pemberani dan pantang mundur, gagah perkasa seperti dulu, Muryani."

"Hemm, aku bukan menyombongkan diri, kakang. Akan tetapi aku bukan Muryani yang dulu. Aku telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari mendiang Ny Rukmo Petak!"

Parmadi mengangguk. "Aku telah melihatnya tadi. Gerakanmu amat ringan dan cepat dan aji pukulanmu yang kau pergunakan tadi dahsyat bukan main."

"Selain itu, aku juga pernah belajar dan pandai berenang," kata Muryani bangga.

"Baiklah, kita tunggu sampai malam tiba. Mudah-mudahan kapal itu belum pergi dan menyalakan lampu sehingga kita dapat menghampirinya dengan perahu."

Sambil menanti datangnya malam, kedua orang muda itu meninggalkan pantai dan menemukan tanaman ketela di sebuah tegalan. Karena perutnya lapar, Muryani hendak mencabut dan mengambil beberapa pohon ketela, akan tetapi Parmadi berkata, "Adi Muryani, walaupun kita hanya membutuhkan beberapa potong dan aku yakin pemiliknya akan rela kalau melihat kita mengambil untuk kita makan, namun sungguh akan terasa tidak enak di mulut dan perut kalau kita mengambil tanpa ijin pemiliknya. Coba bayangkan, selagi kita makan pemiliknya muncul dan melihat kita, apakah kita tidak akan malu sekali?"

Muryani tertawa. "Wah, engkau semakin mirip ayah dahulu! Baiklah, mari kita cari pemilik tegalan (ladang) ini, itu rumahnya tidak jauh dari sini. Kita beli saja darinya beberapa potong ketela."

Mereka lalu mencari dan tak lama kemudian dapat menemukan rumah pondok bambu sederhana. Penghuninya adalah seorang petani berusia kurang lebih lima puluh tahun bersama isterinyri yang juga sudah setengah tua. Mereka hanya berdua di pondok yang tidak mempunyai tetangga itu dan petani itu mengerjakan ladang, terkadang dia pergi pula menjala ikan di muara sungai. Hidup mereka sederhana namun serba cukup dan tampaknya mereka hidup berbahagia. Kedua orang suami isteri itu menyambut kedatangan Parmadi dan Muryani dengan hormat dan ramah sekali.

"Wah, mbok-ne! Kita kedatangan tamu-tamu priyayi!" seru laki-laki itu kepada isterinya yang berada di belakang. Sang isteri datang berlari-lari dan keduanya menyambut dua orang muda itu dengan wajah riang gembira, seperti penduduk dusun yang lugu pada umumnya kalau kedatangan priyayi atau orang kota.

"Mari, den-mas dan den-roro, silakan masuk, silakan duduk!" pemilik rumah itu mempersilakan dengan ramah sedangkan isterinya memandang dengan tersenyum dan membungkuk-bungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.

"Terima kasih, paman. Kami tidak akan mengganggu, kami hanya ingin bertanya apakah ladang di sana itu, yang ditanami ketela, milik paman?" kata Parmadi sambil menunjuk ke arah ladang itu.

"Oh, tegalan itu? Benar, den-mas. Kami yang menanami ketela di sana."

"Nah, begini, paman. Kami berdua membutuhkan beberapa potong ketela, maka kami datang untuk membelinya dari andika."

Suami isteri itu saling pandang, lalu sang isteri bertanya heran, "Den-mas, untuk apakah andika berdua membutuhkan beberapa potong ketela?"

Muryani tersenyum dan ia yang menjawab, "Untuk apa, bibi? Tentu saja untuk dibakar dan dimakan! Kami lapar sekali."

Kini suami isteri itu saling pandang dengan mata terbelalak, lalu si suami yang berseru, "Ah, den-mas! Masa untuk beberapa potong ketela saja harus membeli? Silakan ambil secukupnya, kami berdua rela dan senang sekali, den-mas!"

"Benar, den-mas dan den-roro!" kata pula si isteri. "Bahkan, kalau andika berdua sudi, silakan makan di sini bersama kami. Kami punya nasi dengan lauk sayur lodeh terong dan sambal!"

"Ah, terima kasih, bibi. Kami tidak ingin menyusahkan andika. Kalau begitu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas pemberian ketelanya dan kami mohon pamit," kata Parmadi.

"Silakan, den-mas. Silahkan!" kata suami isteri itu sambil membungkuk-bungkuk. Parmadi lalu pergi bersama Muryani, menuju ladang tadi dan tak lama kemudian mereka sudah mengambil delapn potong ketela ubi sebesar kepalan tangan pria. Mereka lalu membuat api dengan kayu-kayu kering dan membakar ubi. Tercium bau sedap bukan main, apalagi karena perut mereka sudah lapar sekali.

Setelah ketela ubi itu masak, mereka duduk dekat api dan mulai makan. Gurih dan manis sekali rasanya. Akan tetapi Muryani mengomel. "Hemm, kalau saja kita menerima tawaran suami isteri yang ramah itu, tentu sekarang kita makan nasi dan sayur lodeh terong. Dengan sambal pula. Hemm, alangkah sedapnya!"

Parmadi tertawa. "Adi Muryani, coba hentikan pikiranmu membayangkan lain makanan yang kau anggap lebih enak dan curahkan seluruh perhatianmu kepada makanan yang sedang kau hadapi dan makan, dengan rasa penuh syukur kepada Gusti Allah yang telah memberi berkah, dan makanan itu akan terasa lezat dan nikmat luar biasa!"

Muryani tersenyum. "Aku masih ingat akan wejangan mendiang bapak tentang hal itu dan aku memang bukanlah orang rnurka yang suka mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang kumiliki, kakang. Akan tetapi bagaimanapun juga, kalau dibuat perbandingan, tentu makan nasi dan sayur lodeh terong lebih lezat dibandingkan sekedar ketela ubi bakar, bukan?"

"Kalau engkau menghadapi dua tiga atau lebih macam makanan, tentu saja engkau bebas untuk memilih mana yang lebih kau inginkan dan sukai. Akan tetapi kalau hanya ada satu macam makanan, apapun juga makanan itu, baik yang sederhana seperti ubi bakar ini atau yang mewah mahal, maka membandingkannya dengan makanan lain yang tidak ada, hanya akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kelezatan makanan yang kau hadapi."

"Kenapa begitu, kakang?"

"Begitulah ulah nafsu angkara murka, selalu mendorong kita untuk mendapatkan atau menginginkan yang tidak ada pada kita. Dan biasanya, yang kita inginkan itu tentu kita anggap lebih baik dan lebih enak daripada apa yang kita miliki dan hadapi. Karena itu maka yang kita hadapi menjadi tampak tidak enak dan tidak menyenangkan."

"Hemm, engkau benar, kakang. Lalu, bagaimana kita harus berbuat kalau nafsu mendorong kita untuk menginginkan segala yang tidak ada pada kita?"

"Dengan cara menerima segala sesuatu yang kita dapatkan sebagai anugerah Gusti Allah, sebagai berkahNya dan bukti cinta kasihNya kepada kita sehingga kita selalu menerimanya dengan puji syukur yang tulus. Kalau sudah begitu, mendapatkan sepotong ketela ubi bakar ataupun sepiring nasi dengan lauk pauk mewah, akan sama saja merupakan berkah gusti Allah dan kita akan selalu menikmatinya."

"Wah, kalau begitu kita tidak akan memperoleh kemajuan dalam hidup ini, kakang. Kalau kita setiap hari hanya bisa makan ubi dan menerima begitu saja, dan sudah puas, maka selama hidup kita hanya akan makan ubi terus! Sebaliknya kalau kita tidak puas dan ingin mencari yang lebih daripada ubi, maka akan timbul keinginan untuk maju, untuk mencari agar mendapatkan yang lebih. Bukankah begitu?"

Parmadi tersenyum. "Bagus, Muryani. Engkau sudah dapat mempergunakan pikiranmu untuk bernalar. Ketahuilah, adikku, dalam kehidupan ini, Gusti Allah telah memberi kepada kita hati akal pikiran memberi nafsu dan semua itu harus kita pergunakan! Kita gunakan hati akal pikiran, didorong oleh semangat nafsu, untuk berusaha memenuhi segala kebuluhan kita dalam kehidupan ini. Kita tidak dapat meninggalkan nafsu yang menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan segala sesuatu demi kepentingan dalam hidup ini. Hidup ini berarti gerak, dan setiap gerakan merupakan usaha, ikhtiar, setiap gerakan bekerja. Seluruh alam maya pada ini bergerak dan bekerja. Kekuasaan Gusti Allah tidak pernah berhenti bekerja, sedetikpun! Lihat tubuh kita ini. Setiap bagian tubuh kita ini bergerak dan bekerja. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua bergerak dan bekerja. Semua hidup maka hidup itu gerak dan gerak itu kerja! Bayangkan kalau jantung kita berhenti berdetak, kalau darah kita berhenti mengalir, kalau pernapasan kita berhenti, kalau otak kita berhenti. Semua itu, termasuk seluruh bagian anggota tubuh kita, semua itu mempunyai tugas masing-masing dan bekerja yang berarti berikhtiar!"

"Nanti dulu, kakang, jangan cepat-cepat. Aku menjadi bingung. Bukankah semua itu digerakkan oleh kekuasaan Gusti Allah?"

"Benar, segala sesuatu memang terjadi menurut kehendakNya. Akan tetapi Gusti Allah tidak akan menolong manusia kalau manusia itu sendiri tidak mau berusaha, bergerak dan bekerja. Contohnya, adi Muryani yang manis, siapa yang menyediakan tanah, air, udara, sinar matahari, dan bibit padi?"

"Hemm, tentu saja Gusti Allah, kakang."

"Tepat, karena manusia tidak dapat membuat kesemuanya itu. Nah, biarpun Gusti Allah telah menyediakan semua itu dengan lengkap, untuk kepentingan dan kebutuhan manusia, namun manusia tidak akan dapat menikmati nasi apabila dia tidak mau bekerja atau berusaha. Manusia harus mengolah semua yang telah disediakan Gusti Allah itu, mencangkul tanah, mengairinya, menanam benih padinya, merawat dan sebagainya. Bahkan kalau sudah menjadi padi, dia harus melanjutkan pekerjaannya untuk menuai, menumbuk, lalu memasak beras menjadi nasi. Semua itu adalah ikhtiar, adikku. Bahkan setelah menjadi nasi di depan kita, Gusti Allah tidak menyuapi kita. Kita sendiri dengan tangan dan mulut harus makan nasi itu. Apakah cukup dengan semua ikhtiar itu untuk membuat kita hidup dan tidak kelaparan? Masih belum. Di dalam perut kita, bagian pencernaan dan perut kita masih harus bekerja lagi agar sari makanan nasi itu dapat menyehatkan dan mempertahankan hidup kita. Nah, jelas bahwa berkah dari Gusti Allah harus kita imbangi dengan ikhtiar, dengan usaha atau bekerja. Kita bekerja sekuat tenaga sebagai kewajiban akan tetapi kita terima segala hasilnya, besar atau kecil, sebagai berkahNya dan selalu memuji syukur kepadaNya."

Muryani mengangguk-angguk. "Aku mulai mengerti, kakang. Akan tetapi cukuplah dulu, jangan banyak-banyak, aku menjadi pusing."

Setelah selesai makan ubi bakar, mereka lalu minum dari sumber air yang terdapat di antara bukit karang. Mereka menanti datangnya malam sambil bersembunyi di antara batu karang. Setelah malam tiba, mereka girang melihat kapal itu masih berada di sana dan tampak lampu-lampu penerangan di kapal itu. Malam itu tidak gelap benar. Langit cerah dan penuh bintang. Parmadi mendayung perahu kecil itu menuju ke kapal yang hanya tampak kelap-kelip lampunya dari situ. Untung bahwa malam itu laut tidak berombak besar. Air tenang dan perahu meluncur cepat kearah kapal.

Dengan hati-hati Parmadi mendayung perahu menghampiri kapal. Terdengar suara orang-orang di atas kapal. Parmadi mendekatkan kapal sehingga menempel pada rantai jangkar yang dilepas dari bagian buritan kapal. Dia memegangi rantai itu dan berbisik kepada Muryani.

"Ikatkan tali perahu ke rantai ini." Muryani cepat melakukannya sehingga kini perahu tertahan di dekat rantai jangkar. Parmadi lalu berbisik lagi. "Sekarang aku hendak melihat keadaan di atas kapal. Engkau tunggu saja dulu disini, dik."

"Aku juga ikut ke atas, kang!" kata Muryani.

"Tunggu dulu. Kulihat tepat di atas bagian ini ada sebuah lampunya. Tentu keadaan disana terang dan berbahaya bagi kita. Kalau aku sudah berhasil memadamkan lampu itu sehingga keadaan bagian itu gelap, baru engkau menyusul naik."

"Baiklah," kata Muryani dan Parmadi lalu memanjat naik melalui rantai besat itu. Sebentar saja dia sudah tiba di atas. Dia tidak langsung naik ke atas geladak kapal, melainkan bergantung dipinggir permukaan geladak, di bawah pagar pengaman. Dilihatnya sekitar tiga puluh orang Belanda di bagian tengah kapal yang diterangi banyak lampu. Akan tetapi di bagian buritan sepi.

Melihat kesempatan ini Parmadi cepat melompati pagar besi pengaman dan berada di atas dek buritan, di bawah lampu gantung. Dia cepat menurunkan lampu itu dan memadamkannya, lalu dia berlutut, sembunyi di balik besi tempat gulungan rantai jangkar, memperhatikan keadaan diatas kapal besar itu. Dia melihat ada empat buah meriam besar, dua di kanan dan dua dikiri. Ada pula beberapa buah meriam-meriam kecil.

Tak lama kemudian Muryani yang sudah melihat lampu padam dan cepat memanjat naik melalui tali jangkar, sudah berlutut pula di sebelahnya. Mereka berdua mengintai dan melihat betapa orang-orang Belanda itu bersenang-senang, bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka minum-minum dengan gembira. Seorang memetik gitar mengiringi nyanyian beberapa orang. Ada pula yang bertepuk-tepuk tangan mengikuti irama sambil menari-nari.

Sambil berbisik-bisik Parmadi dan Murni mengatur siasat. Kemudian mereka berpencar, Muryani ke kiri dan Parmadi ke kanan, maju berindap-indap. Biarpun sangat hati-hati, namun mereka menyelinap maju dengan cepat sekali dan berturut-turut dua lampu di kanan kiri kapal itu padam. Muryani dan Parmadi mengerahkan seluruh tenaga dan berhasil mendorong meriam-meriam besar itu meluncur jatuh ke laut.

Agaknya ada yang mendengar suara itu. Dua orang serdadu berlari ke arah Muryani yang sudah bersembunyi dan ketika dua orang perajurit kumpeni itu lewat, dua kali sinar senjata patremnya yang sudah dikembalikan Parmadi kepadanya itu menyambar. Dua orang serdadu itu berseru keras, terhuyung, akan tetapi dua kali tendangan membuat mereka terlempar melewati pagar besi pengaman dan tercebur ke laut.

Tiga orang serdadu yang lain juga memeriksa di bagian kanan, akan tetapi dari dalam kegelapan menyambar sinar putih kekuningan, tiga kali sinar itu berkelebat dan tiga orang serdadu itu roboh tanpa mengeluarkan suara lagi. Parmadi melempar-lemparkan tiga orang serdadu itu keluar dari kapal dan mereka tercebur ke dalam laut. Akan tetapi seorang serdadu yang lain datang berlari-lari ke arah Parmadi. Tangan kirinya membawa sebuah lampu gantung, tangan kanannya memegang sebuah pistol.

"Dar-darrr...!" Pistol di tangan kanannya meledak dua kali. Akan tetapi karena tempat itu gelap, Parmadi dengan mudah bersembunyi, kemudian secepat kilat dia melompat ke depan dan sekali seruling gadingnya bergerak, robohlah serdadu itu. Parmadi cepat menangkap lampu gantung yang terlepas dari tangan serdadu itu. Dia melihat bayangan Muryani berkelebat ke arah buritan mendekati tali jangkar. Maka diapun cepat melempar lampu ke arah bilik yang berada ditengah kapal. Terdengar ledakan dan bilik itupun terbakar.

"Dar-dar-darr...!" Terdengar tembakan berulang-ulang dan suara orang ramai dan tampak mereka berlari-lari kalang kabut dan panik, ada pula yang berusaha memadamkan kebakaran.

Melihat ini, Parmadi segera melompat kearah tali jangkar dan menyusul Muryani yang sudah turun ke perahu kecil mereka. Begitu Parmadi turun ke perahu kecil, Muryani yang tadi sudah melepaskan tali perahunya dari tali jangkar, cepat mendayung perahu dibantu oleh Parmadi. Para serdadu sedang panik dan mengira bahwa kapal itu diserang banyak orang, maka sebagian ada yang memadamkan kebakaran, sebagian pula berindap-indap mencari musuh sambil siap dengan senjata api mereka sehingga tidak ada yang sempat menjenguk keluar kapal.

Dengan berselimutkan kegelapan, Parrnadi dan Muryani berhasil menjauhkan diri dari kapal dan lolos, kembali ke pantai. Setelah perahu mereka tiba di pantai, ternyata cuaca sudah mulai terang, malam telah berganti pagi. "Lihat itu !" Muryani menunjuk ke arah pantai. Parmadi mengangguk, tanda bahwa dia juga sudah melihatnya.

Di atas pasir pantai itu tampak ada dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita, sedang dikeroyok sekitar dua puluh orang yang bersenjata golok dan tombak. Akan tetapi gerakan dua orang itu, terutama yang pria, amat cepat dan hebat. Biarpun dua puluh orang itu bergerak menyerang dan mengeroyok secara ganas dan buas, namun sudah ada empat orang di antara mereka yang roboh.

"Kakang Parmadi, wanita itu...!"

"Kenapa? Engkau mengenalnya?"

"Tidak, akan tetapi aku mengenal gerakan silatnya! Kecepatan gerakannya itu tentu berdasarkan Aji Kluwung Sakti dan pukulan itu! Lihat, ia merobohkan seorang dengan pukulan Aji Gelap Sewu! Ilmu-ilmunya sama dengan ilmuku! Ah, tidak salah lagi, ia tentulah Mbakayu Retno Susilo seperti yang pernah diceritakan mendiang guruku, Nyi Rukmo Petak!"

"Hemm, kalau begitu, mari kita bantu mereka! Para pengeroyok itu tampak buas dan ganas sekali!" kata Parmadi dan mereka mendayung perahu lebih cepat lagi dan ketika tiba di tepi pantai, Muryani sudah melompat cepat dan berseru,

"Mbakayu Retno Susilo! Kakangmas Sutejo! Jangan khawatir, aku Muryani datang membantu andika!" Setelah berkata demikian, Muryani sudah menerjang maju dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti sehingga tubuhnya seperti gerakan seekor burung srikatan saja cepatnya dan begitu ia memukul beruntun dengan Aji Gelap Sewu, dua orang pengeroyok roboh terguling.

Sepasang suami isteri yang mengamuk itu memang benar Sutejo dan isterinya, Retno Susilo. Seperti diketahui, suami istri perkasa ini sedang mencari putera mereka, Bagus Sajiwo, yang hilang diculik orang setahun lebih yang lalu. Selain mencoba mencari jejak puteranya yang hilang, juga suami isteri yang setia kepada Mataram ini mendengar bahwa Mataram akan menggerakkan pasukan menundukkan Madura yang tidak mau diajak bersatu, maka mereka segera berusaha untuk membantu Mataram.

Ketika mereka tiba di pantai itu, mereka berusaha mencari perahu untuk menyeberang ke Pulau Madura yang sudah tampak dari pantai itu. Akan tetapi bukan perahu yang datang dan dapat mereka sewa, melainkan dua puluh orang perampok atau bajak laut. Orang-orang kasar ini mempergunakan kesempatan selagi rakyat dalam keadaan panik dan suasananya keruh, untuk berbuat jahat, merampok siapa saja yang kiranya dapat dirampok dan menguntungkan mereka.

Melihat suami isteri yang pakaiannya tampak pantas itu, mereka mungkin akan mendapatkan mangsa yang empuk, tidak tahunya mereka bertemu dengan suami isteri pendekar yang sakti. Akan tetapi, robohnya beberapa orang kawan tidak membuat mereka menjadi jera, bahkan mereka menjadi semakin penasaran dan mengeroyok suami isteri itu dengan ganas dan buas.

Akan tetapi begitu Muryani muncul bersama Parmadi dan sekali serang, Muryani sudah merobohkan dua orang, demikian pula Parmadi, mereka menjadi ketakutan. Dua orang yang mereka keroyok tadi sudah hebat sekali, kini datang lagi dua orang lain yang juga sakti, maka belasan orang sisa mereka yang roboh itu melarikan diri cerai berai meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Retno Susilo dan Sutejo yang tidak mengejar mereka yang melarikan diri, mengamati Muryani dengan heran. Juga Sutejo memandang Muryani dan Parmadi yang baru datang itu dengan heran karena seperti juga isterinya, rasanya dia belum pernah bertemu dengan dua orang ini.

"Adik, siapakah andika?" tanya Retno Susilo setelah menghampiri dan kini berhadapan dengan gadis itu sambil mengamati wajah yang ayu manis itu.

"Namaku Muryani dan ini kakang Parmadi," jawab Muryani memperkenalkan diri.

Juga kedua nama ini asing bagi suami isteri itu. "Kami tidak mengenal kalian. Bagaimana engkau bisa mengenal nama kami?" tanya pula Retno Susilo, agak ragu dan curiga karena ia tidak tahu berhadapan dengan siapa dan dari golongan mana.

"Apakah mbakayu tidak melihat tadi aku menggunakan Aji Kluwung Sakti dan Aji Gelap Sewu merobohkan dua orang pengeroyok?"

Retno Susilo mengangguk. "Justeru itulah yang membuatku heran. Bagaimana engkau dapat memiliki aji-aji itu dan mengenal kami?"

"Mbakayu, aku mengenalmu seketika ketika melihat engkau mempergunakan dua macam aji kesaktian itu. Ketahuilah, mbakayu, aku adalah murid guru kita Nyi Rukmo Petak dan beliau meninggalkan pesan bahwa kalau aku bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan suaminya yang bernama Sutejo, aku harus membantu kalian berdua."

"Ah, begitukah?" Retno Susilo gembira. "Di mana beliau sekarang?"

"Beliau sudah meninggal dunia, mbakayu."

"Ahhh...!" Biarpun ia pernah membenci Nyi Rukmo Petak, akan tetapi mengingat akan budi kebaikan gurunya itu Retno Susilo merasa sedih sekali dan ia menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.

"Bagaimana beliau meninggal? Ah, marilah kita menjauhi mereka yang terluka ini agar dapat bicara dengan leluasa."

Mereka berempat lalu menjauhi tempat itu dan Parmadi menyeret perahunya sampai mereka tiba di pantai yang agak jauh dan tidak lagi melihat delapan orang anggota perampok yang terluka berat itu. Di tempat sunyi ini, Muryani menceritakan tentang kematian Nyi Rukmo Petak. Mereka duduk di atas pasir pantai yang bersih.

Setelah selesai menceritakan tentang Nyi Rukmo Petak, Sutejo atau yang nama aslinya Tejomanik berkata, "Sungguh menggembirakan sekali bahwa kami dapat bertemu dengan adik seperguruan isteriku, dan andika ini murid siapakah, dimas Parmadi?"

"Saya adalah murid dari Eyang Guru Tejo Wening."

"Ah, maksudmu Sang Resi Tejo Wening, datuk yang sakti mandraguna dan arif bijaksana yang dulu bertapa di Gunung Sanggabuwana itu?" seru Sutejo heran dan kagum.

"Wah, kangmas Sutejo sudah mengenal eyang resi?"

"Belum pernah jumpa, akan tetapi sudah sejak dulu aku mendengar nama besarnya. Dan kalian, sepagi ini datang berperahu, dari manakah kalian?"

Muryani tersenyum. Karena ingin sekali memamerkan apa yang ia dan Parmadi lakukan kepada mbakayu seperguruannya, maka ia mendahului Parmadi menjawab, "Ah, kami berdua malam tadi mengacau dan melempar-lemparkan meriam-meriam dari kapal lalu melakukan pembakaran pada kapal itu, merobohkan beberapa orang serdadu kumpeni!"

"Wah, hebat! Jadi kiranya kalian yang membuat keributan dan pembakaran kapal kumpeni itu? Bagus, kami juga melihatnya tadi dari sini, ada api berkobar di kapal itu," kata Retno Susilo sambil menuding ke arah kapal yang kini tampak bergerak ke arah barat, agaknya hendak meninggalkan tempat yang mereka anggap berbahaya itu.

"Aih, sayang pertemuan kita terlambat," kata Muryani "Kalau saja kami bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan kakangmas Sutejo tadi, tentu kita berempat mungkin dapat membuat kapal itu menderita lebih parah lagi! Dan kalau boleh kami ketahui, andika berdua hendak kemanakah dan siapa mereka tadi yang mengeroyok andika?"

"Kami juga sama dengan kalian, hendak membela Mataram menghadapi musuh-musuhnya. Karena kami mendengar bahwa Mataram hendak berperang melawan Madura, maka kami bermaksud untuk membantu pasukan Mataram," kata Sutejo, terus terang karena dia tidak merasa ragu lagi kepada gadis dan pemuda itu.

"Aku sudah tentu tahu siapa guru mbakayu Retno Susilo karena ia seperguruan denganku. Akan tetapi aku ingin tahu siapakah guru kakangmas Sutejo? Tentu seorang yang amat bijaksana dan sakti mandraguna," kata Muryani.

Sutejo tersenyum. Sikap gadis ini mengingatkan dia akan sikap isterinya, Retno Susilo, diwaktu masih gadis. "Guruku tidak terkenal. Beliau adalah mendiang Resi Limut Manik."

"Wah, saya pernah mendengar dari eyang Resi Tejo Wening bahwa Resi Limut Manik adalah seorang pertapa, yang mengasingkan diri dan bijaksana sekali!" seru Parmadi dengan kagum.

"Oya, siapa tahu kalian berdua pernah bertemu anak kami!" tiba-tiba Retno Susilo berseru, penuh harapan.

"Ya, benar! Apakah kalian pernah melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun dibawa orang dan orang itu memiliki sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor naga berwarna kehijauan?" tanya pula Sutejo.

Parmadi dan Muryani saling pandang dan keduanya menggeleng kepala. "Kami tak pernah melihatnya," kata mereka hampir berbareng, lalu Muryani bertanya, "Apa yang telah terjadi dengan putera andika, mbakayu?"

Retno Susilo menghela napas, kecewa mendengar bahwa dua orang itu tidak pernah melihat anaknya yang diculik orang. "Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu. Ketika itu putera kami yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang bersama pedang pusakaku Naga Wilis. Sejak hari itu kami berdua meninggalkan rumah dan berkelana mencari jejak anak kami, namun sampai sekarang belum menemukan jejaknya. Kami tidak tahu siapa yang melakukan hal securang dan sekejam itu, tidak dapat menduga apakah orang itu laki-laki atau perempua tua atau muda," Retno Susilo mengusap dua titik air mata dari pipinya.

Muryani merangkul mbakayu seperguruannya. "Aku akan membantumu mencarinya, mbakayu! Akan kucari sampai dapat dan akan kuhajar orang yang berani menculiknya!"

"Terima kasih, Muryani. Engkau baik sekali, tidak rugi mempunyai adik seperguruan seperti engkau."

"Sudahlah," kata Sutejo. "Sekarang yang terpenting kita memikirkan tentang persiapan kita membantu pasukan Mataram."

"Kakangmas Sutejo benar, mari kita pusatkan perhatian kepada tugas membantu Mataram. Akan tetapi, saya kira pada saat ini seluruh Madura sudah siap siaga untuk menghadapi serangan Mataram, maka tidak akan leluasa kalau kita menyeberang dan menanti disana, tentu akan muncul banyak gangguan. Sebaiknya kalau kita menanti di pantai dan menggabungkan diri kalau pasukan Mataram lewat. Kita dengar-dengarkan melalui mana pasukan Mataram akan lewat dan kita menunggu mereka di sana."

Mereka semua setuju dan demikinlah, mereka berempat mencari keterangan tentang kemungkinan lewat mana pasukan Mataram akan melakukan penyeberangan dan sambil menanti, mereka berempat bercakap-cakap menceritakan pengalaman masing-masing.


Seruling Gading Jilid 23

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 23

MURYANI tersenyum mengejek setelah melihat sikap si brewek yang kini amat hormat. "Kalau sudah tahu, jangan panyak cerewet lagi dan cepat dayung ke seberang"

Dua orang itu tidak berani bicara lagi, akan tetapi diam-diam mereka saling menukar isyarat dengan pandang mata. Muryani tidak tahu bahwa mereka mendayung perahu agak menuju ke hilir, mendekati muara di bagian tepi laut. Setelah tiba di seberang, di tepi laut, Muryani melompat ke darat, lalu memandang kepada dua orang itu dan berkata,

"Aku berterima kasih kepada kalian yang telah menyeberangkan aku kesini. Akan tetapi akupun hendak memperingatkan kalian agar kalian bertaubat dan jangan lagi bersikap kasar dan kurang ajar terhadap wanita. Kalau kelak kita berjumpa lagi dan aku masih melihat kalian bersikap kurang ajar terhadap wanita, aku pasti tidak akan mengampunimu lagi!"

Setelah berkata demikian, Muryani melanjutkan perjalanannya ke timur. Ia sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya dua orang itu dan menganggap mereka itu hanyalah nelayan-nelayan yang berwatak kasar. Sama sekali ia tidak mengira betapa setelah ia pergi kedua orang itu cepat memberi isyarat ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal. Dua orang itu ternyata adalah dua orang anak buah mata-mata Kumpeni Belanda!

Seperti kita ketahui, Satyabrata telah berunding dengan Komandan Willem Van Huisen dan perwira kumpeni itu sudah menjanjikan akan mengirim sebuah kapal perang untuk membantu dengan diam-diam pihak Madura yang hendak diserang pasukan Mataram. Kapal inilah yang dijanjikan itu, sudah siap di lautan, siap untuk menuju ke Madura kalau saat perang tiba.

Kapal itu telah diperlengkapi dengan meriam-meriam besar dan senjata-senjata api lainnya, dipimpin oleh seorang kapten kapal bernama Kapten Johan Van Dalen. Begitu isyarat dua orang mata-mata itu terlihat dari kapal, oleh sang kapten yang menggunakan teropong, sebuah perahu diturunkan dan dua belas orang menumpang perahu itu yang berlayar cepat ke pantai.

Muryani sedang berjalan menyusuri pantai. Tiba-tiba ia. melihat sebuah meluncur cepat dan mendarat di pantai sebelah depan. Tadinya ia tidak begitu memperhatikan, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara orang berteriak dari arah belakangnya. "Perempuan itu seorang telik-sandi mata-mata Mataram!!"

Muryani cepat menengok dan mukanya berubah kemerahan karena marah. Kiranya yang berteriak itu adalah dua orang laki-laki yang kurang ajar tadi, yang telah dihajarnya dan yang menyeberangkannya di muara Bengawan Solo! Mereka berdua agaknya mengikutinya dengan berperahu di laut dan kini memberi peringatan kepada belasan orang yang berlompatan keluar dari perahu di depannya.

Muryani berhenti melangkah dan berdiri dengan sikap tenang walaupun ia dapat menduga bahwa belasan orang itu tentu tidak berniat baik, apalagi dilihatnya tiga orang di antara mereka adalah orang-orang kulit putih yang memegang senapan. Dari Satyabrata ia sudah banyak mendengar keterangan tentang ampuhnya senjata api. Menurut Satyabrata, peluru senjata api amat cepat dan hanya mungkin dapat dielakkan dengan merebahkan diri.

Kalau pelurunya biasa, mungkin dapat disambut dengan aji kekebalan, akan tetapi kalau peluru dari perak apalagi emas, aji kekebalan tidak dapat diandalkan. Biarpun maklum bahwa dirinya terancam, Muryani bersikap tenang saja melihat bahwa dari dua belas orang itu hanya tiga orang yang berkulit putih dan memegang senapan. Yang sembilan orang agaknya orang-orang Madura, melihat dari pakaian dan ikat kepalanya.

Sembilan orang ini membawa senjata golok atau clurit dipinggangnya dan sikap mereka mengancam. Akan tetapi mereka semua tersenyum dan memandang ringan ketika orang yang diisyaratkan oleh dua orang itu sebagai mata-mata Mataram, ternyata hanya seorang gadis cantik! Yang menjadi pimpinan selosin orang ini adalah seorang Madura yang berusia sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan tampak kokoh kuat, berkumis melintang sekepal sebelah, matanya lebar dan bengis, bernama Sumbaga.

Dia adalah seorang jagoan dari Arisbaya, dan menjadi seorang senopati anak buah Ki Harya Baka Wulung. Dialah yang kini melangkah maju menghadapi Muryani, memandang gadis itu penuh selidik. "Gadis muda dan cantik ini seorang telik-sandi Mataram yang berbahaya?" Dia bertanya seperti kepada diri sendiri dan nada suaranya tidak percaya.

Dua orang anak buahnya yang menyamar sebagai nelayan, sudah berada di situ pula, ikut mengepung Muryani. Si brewok berkata, "Harap jangan memandang ringan. Gadis ini sungguh sakti dan tangguh sekali!"

Dengan pandang mata masih tidak percaya, Sumbaga mengamati Muryani. Kemudian dia bertanya dengan suaranya yang nyaring. "Heh, nona muda. Siapakah engkau dan kenapa engkau berada di sini seorang diri?"

Muryani tersenyum. "Aku tidak mempunyai urusan dengan kalian, maka tidak perlu aku memperkenalkan namaku. Aku berada di sini adalah urusanku sendiri. Ini tempat umum, tak seorangpun boleh melarangku!"

"Waduh sombongnya!" Sumbaga berseru penasaran. "Hei, dengar gadis sombong. Aku adalah Sumbaga, seorang senopati Arisbaya. Benarkah engkau seorang telik-sandi Mataram?"

Muryani tersenyum mengejek. "Kalau benar, kalian mau apa?"

Sumbaga menjadi marah. "Kalau engkau seorang laki-laki, tentu akan kami bunuh! Akan tetapi karena engkau seorang perempuan, engkau harus kami tangkap!"

"Begitukah? Hemm, coba tangkap aku kalau mampu!" Muryani menantang dan ia segera memasang kuda-kuda atau jurus pembukaan dari ilmu silat Bromo Dadali, yaitu dengan Jurus Dadali Anglayang. Ia berdiri berjingkat, tubuhnya agak ditundukkan, kedua lengannya dikembangkan seperti seekor burung hendak terbang.

Sumbaga yang masih memandang rendah sudah menubruk sambil mengeluarkan seruan panjang, "Haiiiiiiiitt...!" Kedua lengannya yang panjang itu sudah menerkam dari kanan kiri, tidak memberi jalan bagi gadis itu untuk mengelak. Dia yakin bahwa sekali terkam gadis itu sudah akan dapat ditangkapnya dengan mudah.

Akan tetapi Muryani diam-diam megerahkan Aji Kluwung Sakti yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali sehingga ia dapat bergerak cepat bagaikan serekor burung walet. Ketika kedua tangan Sumbaga menerkam dari kanan kiri, tubuh gadis itu berkelebat ke atas sehingga tubrukan itu luput. Akan tetapi yang diserang oleh Muryani adalah dua orang yang menyamar sebagai nelayan tadi.

Dari atas tubuhnya meluncur ke arah dua orang itu dan sekali kedua tangannya bergerak, dua orang itu berteriak dan roboh, tak mampu bangkit kembali karena kepala mereka telah terkena tamparan Muryani yang mempergunakan Aji Pukulan Gelap Sewu yang amat ampuh. Isi kepala dua orang itu terguncang hebat sehingga mereka roboh dan tewas seketika.

Matinya dua orang ini membikin semua pengepung menjadi terkejut dan marah. Serentak mereka lalu mencabut golok dan celurit, menyerang dan mengeroyok Muryani dari berbagai jurusan. Muryani memperlihatkan kegesitannya, mengamuk dikeroyok sembilan orang yang memegang senjata tajam.

Pengeroyokan yang kacau-balau ini malah menguntungkan Muryani karena tiga orang anak buah kumpeni yang memegang bedil itu sampai sekali tidak memperoleh kesempatan untuk mempergunakan senjata api mereka Kalau mereka menembak dalam keadaan seperti itu, besar kemungkinannya peluru mereka akan mengenai teman sendiri.

Muryani mengandalkan Aji Kluwung Sakti untuk bergerak cepat. Tubuhnya berkelebatan dan dapat menghindarkan diri dari semua serangan golok dan celurit. Lewat belasan jurus, ia telah mampu merobohkan dua orang pengeroyok lagi. Tamparan Aji Gelap Sewu membuat yang tertampar roboh tidak mampu bangkit kembali.

"Dorr-dorrr!!" Dua kali letusan ditembakkan dua orang serdadu Belanda. Seorang diantara tiga serdadu Belanda ini yang sudah pandai berbahasa pribumi, berseru, "Menyerah atau kami tembak!"

Akan tetapi, Muryani yang berkelebat di antara para pengeroyoknya yang tinggal tujuh orang itu sukar untuk dijadikan sasaran. Ia mengerti bahwa di antara mereka semua, yang paling berbahaya adalah tiga orang serdadu Belanda itu. Ia tidak tahu peluru apa yang mereka gunakan dan ia harus berhati-hati sekali.

Maka, ia terus bergerak cepat di antara para pengeroyoknya dan ketika mendapat keempatan, ia menyambar sebatang golok yang terlepas dari tangan seorang diantara para pengeroyok yang telah dirobohkannya, lalu secepat kilat ia melontarkan golok itu kearah seorang serdadu Belanda yang berada paling dekat dengannya.

Serdadu itu sama sekali tidak pernah mengira bahwa dia akan diserang lemparan golok. Tahu-tahu golok itu telah menyambar dan menancap di perutnya. Dia berteriak keras, senapannya terlepas dan tubuhnya roboh lalu berkelojotan dan mati!

"Semua mundur, biar kami menembaknya!" seru seorang serdadu Belanda yang sudah siap dengan bedilnya. Pada saat itu, Muryani sudah merobohkan pula seorang pengeroyok dengan tendangan kakinya yang mengenai dada. Beberapa tulang iga orang itu patah dan diapun roboh tak mampu bergerak lagi.

Enam orang itu terkejut dan mendengar teriakan serdadu Belanda tadi, Sumbaga lalu berseru kepada anak buahnya. "Mundur!!" Enam orang itu berlompatan ke belakang sehingga kini Muryani ditinggal sendiri. Pada saat itu, seorang serdadu Belanda menembakkan senapannya.

Pada detik itu, dengan kepekaannya, cepat sekali Muryani merebahkan dirinya ke atas tanah dan pada saat itu, terdengar ledakan dari tembakan itu. "Darrr...!" Muryani menggulingkan tubuhnya dengan cepat dan sebelum serdadu itu dapat menembak lagi, ia sudah melompat dan sebuah pukulan Gelap Musti menghantam kepalanya.

Serdadu itu tak sempat mengeluh, terpelanting dan roboh, tewas seketika. Akan tetapi pada seat itu, serdadu yang ketiga sudah membidikkan senapannya ke arah Muryani dari jarak paling jauh tiga meter. "Dorrr...!!" Api muncrat, asap mengepul, akan tetapi tembakan itu meleset jauh karena pada saat dia menarik pelatuk senapan, tiba-tiba sebuah batu menyambar dan mengenai tangannya sehingga senapan itu miring dan kehilangan arah. Serdadu itu terkejut akan tetapi pada saat berikutnya, sebuah tangan terbuka menghantam pelipisnya. Pukulan itu perlahan saja, akan tetapi akibatnya tubuh serdadu Belanda itu terpelanting dan dia tidak dapat bangkit atau bergerak lagi.

Sumbaga dan lima orang pembantunya menjadi marah dan juga terkejut melihat betapa tiga orang serdadu Kumpeni Belanda itu roboh dan tiga orang anak buahnya juga sudah roboh. Mereka melihat bahwa yang merobohkan serdadu terakhir tadi adalah seorang pemuda. Kini Muryani mengamuk. Ia hanya melihat bahwa ada seorang pemuda membantunya, akan tetapi ia tidak mengenal siapa pemuda itu.

Sumbaga dibantu oleh seorang anak buahnya kini mengeroyok pemuda yang bertangan kosong itu sedangkan empat orang anak buahnya yang lain mengeroyok Muryani dengan senjata mereka. Tiga orang memegang golok dan seorang bersenjata sebatang celurit panjang. Sambil melayani pengeroyokan empat orang yang marah dan nekat itu, beberapa kali Muryani menggunakan kesempatan untuk menoleh dan memandang pemuda yang menolongnya.

Di antara para pengeroyok, Sumbaga yang berkumis melintang memiliki kepandaian yang paling tinggi, maka Muryani khawatir kalau-kalau pemuda yang membantunya itu akan kalah. Akan tetapi ia melihat sesuatu yang aneh terjadi. Pemuda itu agaknya bergerak lambat saja untuk menghindarkan diri dari golok besar di tangan Sumpaga dan celurit panjang di tangan anak buahnya, akan tetapi anehnya, kedua senjata itu tidak pernah dapat menyentuhnya! Yang lebih terkejut dan heran adalah Sumbaga dan pembantunya.

Pemuda itu bergerak lambat dan senjata tajam mereka begitu tepat menyambar ketubuh pemuda itu, akan tetapi setelah dekat, senjata mereka melenceng dan menyimpang ke samping sehingga tidak pernah mengenai tubuh pemuda itu. Biarpun demikian, melihat gerakan pemuda itu lambat, Muryani menjadi khawatir kalaukalau orang yang telah membantunya itu akan celaka, maka iapun mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring. Satu demi satu para pengeroyoknya itu terkena sambaran kedua tangannya yang memukul dengan Aji Gelap Musti!

Setelah merobohkan empat orang pengeroyoknya, Muryani memutar tubuh dan terbelalak heran melihat betapa pemuda itu sudah berdiri memandangnya. Dua orang yang tadi mengeroyok pemuda itu, Sumbaga dan seorang anak buahnya, telah menggeletak tak bergerak lagi dengan tubuh tanpa luka. Kini mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak lima meter, saling pandang dengan bengong, seperti dalam mimpi dan hampir tidak mempercayai pandangan mata mereka sendiri.

Mereka merasa asing satu sama 1ain, namun setelah sepasang mata mereka bertemu, bertaut dan seakan saling menyelami, mereka seperti terpesona karena masing masing mengenal pandang mata itu dengan baik sekali. "An... andika...??" pemuda itu berkata gagap.

"Andika...!!" Muryani juga berseru dengan sangsi dan ragu. Biarpun pandang mata itu menerangi semua ingatannya, mengembalikan kenangannya sehingga mengenal pemuda itu sebagai Parmadi, namun hal yang meragukannya adalah melihat Parmadi begitu mudahnya mampu merobohkan seorang serdadu Belanda, Sumbaga senopati Arisbaya dan seorang pembantunya!

Padahal ia tahu benar bahwa Parmadi, sekitar lima enam tahun yang lalu, adalah seorang pemuda remaja ,yang lemah dan sama sekali tidak memiliki kesaktian. Sekarang, dia sudah tampak dewasa dan agaknya memiliki kesaktian, menjadi seorang pemuda yang digdaya!

Karena merasa ragu, Muryani mengamati penuh perhatian. Pemuda itu sudah matang, tubuhnya sedang namun tegap dan ia dapat melihat bahwa tubuh itu menyimpan tenaga sakti yang kuat. Wajahnya tampan walaupun pakaian dan sikapnya masih sederhana seperti dulu, sikap seorang pemuda dusun akan tetapi wajahnya anggun berwibawa seperti wajah seorang pemuda priyayi.

Mata yang lembut itu terkadang mencorong penuh kekuatan batin, hidungnya mancung, mulutnya selalu membayangkan senyum sehingga tampak cerah dan ramah. Sebatang seruling putih kekuningan terselip di ikat pinggangnya sebelah kiri dan gagang sebatang patrem terselip di pinggangnya sebelah kanan. Gagang patrem itu! Tak salah lagi. Ia masih ingat benar. Itu patrem miliknya! Tidak ada patrem lain di dunia ini yang gagangnya berbentuk kepala burung seperti patremnya. Tidak salah lagi!

"Kakang Parmadi...!!"

"Adi Muryani...!!"

Entah siapa yang lari lebih dulu. Keduanya merasa demikian gembira dan bahagia, merasa seperti bertemu dengan kakak dan adik yang sudah amat lama dirindukannya, bertemu dengan orang yang selama ini menjadi bayangan yang tidak pernah meninggalkan hatinya, orang yang dicintanya. Hanya pengertian cinta itu masih kabur dalam perasaan mereka, cinta di antara remaja.

Karena perasaan cinta remaja yang lebih condong kepada cinta saudara inilah yang membuat Muryani bingung dan ragu ketika Satyabrata menyatakan cintanya kepadanya! Dua orang muda itu berlari saling menghampiri dan tahu-tahu mereka sudah saling rangkul, persis seperti ketika mereka akan berpisah dulu. Tanpa dapat ditahannya saking terharu, Muryani menangis di dada Parmadi.

"Aduh, kakang Parmadi... ke mana saja engkau selama ini...?" Muryani terisak dalam rangkulan pemuda itu.

"Adi Muryani, aku juga amat gelisah mendapatkan engkau tidak berada lagi di Pakis dan aku mendengar bahwa paman Ronggo Bangak terbunuh orang dan engkaupun terluka parah. Kemudian Ki Demang Warutomo menceritakan bahwa engkau pergi tanpa pamit. Ah, aku menjadi khawatir sekali. Puji syukur kepada Gusti Allah bahwa engkau dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, Muryani."

Muryani menghela napas panjang, lalu menghapus air matanya, lalu merenggangkan diri dan memandang kepada Parmadi dengan kedua pipi masih basah, akan tetapi mulutnya tersenyum. "Maaf, kakang. Aku menjadi anak yang cengeng. Aku terharu dan girang sekali bertemu denganmu, maka aku menangis. Ketahuilah, setelah ayahku dibunuh orang, aku lalu pergi mencari pembunuhnya yang didalangi oleh Ki Demang Wiroboyo."

"Hemm, belum juga bertaubat orang tu? Betapa jahatnya."

"Aku bertemu dengan seseorang dan dalam keadaan terancam bahaya dalam tangan Wiroboyo dan temannya, aku ditolongnya kemudian menjadi muridnya. Setelah guruku meninggal, aku lalu melanjutkan usahaku mencari musuh besarku sehingga aku berhasil menemukan dan membunuh Wiroboyo dan temannya, pembunuh ayahku. Temannya itu bernama Darsikun."

"Siapa gurumu yang baru itu, adi Murani?"

"Mendiang guruku itu bernama Nyi Rukmo Petak yang bertapa di Bukit Ular, Pegunungan Anjasmoro."

"Pantas engkau menjadi begini sakti mandraguna! Aku pernah mendengar nama Nyi Rukmo Petak itu. Lalu bagaimana engkau dapat berada di sini dan dikeroyok orang-orang ini?"

"Setelah berhasil membalas dendam kematian ayah aku lalu pergi ke Muria untuk mengunjungi guru pertamaku Ki Ageng Branjang ketua Perguruan Bromo Dadali dan sempat membantu perguruan kami yang sedang diserang musuh."

"Siapakah musuh itu?"

"Dia bernama Dibyasakti, katanya seorang senopati dari Arisbaya, Madura yang membujuk agar Perguruan Bromo Dadali berpihak kepada Madura dan menentang Mataram. Karena bapa guru tidak mau maka terjadi perkelahian. Setelah tinggal beberapa hari di Muria, akhirnya aku tidak betah dan mendengar bahwa akan ada perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu melakukan perjalanan ke sini. Tadi ketika menyeberangi muara, aku diserang dua orang tukang perahu. Aku mengalahkan mereka, akan tetapi ketika tiba di sini, aku dikepung banyak orang dan engkau datang membantuku. Sama sekali aku tidak menyangka bahwa engkaulah yang membantuku kakang. Aku tadi sama sekali tidak mengenalimu!"

Parmadi tersenyum. "Akupun hampir tidak mengenalimu, adi Muryani. Engkau berubah, bukan lagi seorang gadis remaja seperti ketika berpisah dahulu. Sekarang engkau seorang gadis dewasa yang sakti mandraguna dan... cantik jelita!"

Mendapatkan pujian yang ia tahu keluar dari hati yang tulus, Muryani tersipu. Ia tadi sengaja tidak bercerita tentang Satyabrata. "Apalagi engkau, kakang! Engkau berubah sekali. Siapa sangka engkau yang dulu merupakan seorang pemuda yang biarpun pemberani namun lemah, kini berubah menjadi seorang pemuda yang digdaya! Aku benar-benar merasa terkejut, heran dan kagum sekali."

Kembali Parmadi tersenyum. "Dan bagaimana engkau dapat mengenal kembali aku?"

Muryani juga tersenyum dan menudingkan telunjuk kanannya ke arah pinggang Parmadi sebelah kanan. "Melihat patrem itu, aku tidak ragu lagi dengan siapa aku berhadapan! Dan engkau, bagaimana engkau dapat mengenaliku, kakang?"

"Sinar matamu, adi Muryani. Pandang matamu itu amat kukenal dan segera aku dapat menduga siapa gadis cantik sakti mandraguna yang berdiri di depanku."

"Ahh, kakang Parmadi, betapa bahagia hatiku dapat bertemu denganmu. Hayo sekarang giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu sejak kita saling berpisah, sejak engkau meninggalkan aku, kakang."

"Mari kita duduk, Muryani. Tidak enak bicara sambil berdiri saja." Parmadi mengajak gadis itu duduk dan mereka berdua duduk di atas pasir yang putih dan bersih. "Seperti engkau tentu masih ingat ketika meninggalkan dusun Pakis dahulu itu, aku berpamit dan mengatakan bahwa aku hendak merantau dan meluaskan pengalaman dan pengetahuan. Sebetulnya aku pergi mengikuti seorang kakek yang sakti mandraguna dan bijaksana, yang mengambil aku sebagai murid. Ketika itu, aku tidak berani bercerita tentang beliau karena memang beliau tidak ingin diketahui keadaannya oleh orang banyak. Beliau adalah Eyang Resi Tejo Wening. Aku diberi pelajaran tentang hidup dan diberi ilmu-ilmu untuk bekal hidup dan selama kurang lebih lima tahun kami berdua tinggal di puncak Gunung Lawu."

"Wah, tidak begitu jauh kalau begitu! Kalau tahu begitu, tentu aku sudah mencarimu ke sana!" seru Muryani terheran-heran, sama sekali tidak menyangka bahwa selama ini Parmadi berada di puncak Gunung Lawu, tidak begitu jauh dari Pakis, hanya membutuhkan pendakian beberapa jam saja!

"Setelah Eyang Resi Tejo Wening memerintahkan agar aku turun gunung, aku langsung kembali ke Pakis dan di sana aku mendengar tentang engkau dan ayahrnu. Aku lalu turun gunung dan berusaha mencari jejakmu, namun tidak berhasil. Kemudian aku mendengar juga tentang akan terjadinya perang antara Mataram dan Madura, maka aku lalu pergi ke timur dengan maksud untuk menyumbangkan tenagaku membantu Mataram. Tadi aku melihat engkau terancam bahaya kelika serdadu Belanda itu hendak menembakmu, maka biarpun aku tadi belum mengenalimu, aku cepat membantumu."

Parmadi juga tidak menceritakan pengalamannya bertanding melawan orang-orang lain yang tidak ada hubungannya dengan Muryani. Tiba-tiba Muryani berseru, "Ah, dia itu belum mati!" Dan cepat ia mengambil sebatang golok yang menggeletak di dekatnya, lalu ia menyambitkan golok itu ke arah anak buah Senopati Sumbaga yang tadi dirobohkan Parmadi.

"Syuuuuttt...!" Golok itu meluncur dengan cepat ke arah tubuh orang yang sudah bangkit duduk sambil memegang kepalanya yang pening dengan kedua tangan, sama sekali tidak menyadari bahwa ada sebatang golok meluncur ke arahnya bagaikan tangan maut.

"Wuuuutt plakkk!" Golok yang sedang meluncur itu tiba-tiba saja runtuh seperti tertolak sesuatu yang amat kuat. "Ehh...?" Muryani terbelalak kaget. Ia melihat Parmadi tadi menggerakkan tangan ke arah golok yang meluncur itu dan ada hawa pukulan yang kuat menyambar ke depan, ke arah golok dan meruntuhkan golok itu. "Kenapa engkau lakukan itu, kakang?"

"Maaf, adi Muryani, aku tadi memang sengaja tidak membunuh orang itu, hanya membuat dia roboh pingsan. Kurasa kita membutuhkan orang itu."

"Mengapa? Untuk apa? Mereka adalah orang-orang dari Arisbaya, Madura yang agaknya bergabung dengan kumpeni!"

"Justeru karena itulah. Kita ingin membantu Mataram, bukan? Nah, mari kita tanya dia." Parmadi bangkit dan menghampiri orang itu, diikuti oleh Muryani yang belum mengerti benar apa yang dikehendaki pemuda itu.

Orang itu agaknya sudah tidak pening lagi dan dia kini mengangkat muka memandang dua orang muda yang datang menghampirinya. Dia terbelalak, lalu bangkit berdiri, agaknya siap untuk membela diri!

"Tenanglah, kisanak!" kata Parmadi dengan halus. "Kami memang sengaja membiarkan engkau hidup dan sebaliknya kami harap agar engkau suka memberi keterangan sejujurnya kepada kami."

"Hemm, aku sudah kalah. Kalau kalian hendak membunuhku, lakukanlah. Aku tidak takut mati untuk membela Madura!" kata orang itu dengan sikap gagah. Parmadi menghela napas panjang. Dia tahu bahwa sukar untuk berdebat tentang kebenaran dengan seorang musuh dalam perang.

Semua orang tentu saja mempertahankan kebenaran masing-masing yang menganggap dirinya benar karena membela pihaknya sendiri sebagai sebuah perjuangan yang suci dan benar. "Akan tetapi mengapa kalian mengeroyok seorang wanita?" dia memancing sambil menoleh kepada Muryani.

Orang Madura itu memandang Muryani dengan sinar mata penuh kebencian "Karena ia seorang telik-sandi Mataram yang harus dibunuh!"

Parmadi diam-diam mengakui bahwa orang ini, mungkin demikian pula dengan semua temannya yang telah tewas, adalah orang orang gagah yang membela tanah air mereka dengan gigih sebagai seorang pejuang yang mencinta tanah air dan bangsa. Ah, betapa menyedihkan kalau bangsa di Nusantara itu terpecah pecah seperti ini. "Akan tetapi, kisanak. Mengapa kalian orang-orang Arisbaya bersekongkol dengan orang Kumpeni Belanda itu untuk mengeroyok seorang wanita yang sebetulnya masih bangsa sendiri? Dari manakah tiga orang serdadu kumpeni itu datang?"

Orang itu tersenyum mengejek. "Kumpeni Belanda suka membantu kami untuk menghadapi Mataram, maka kami bekerja sama dengan mereka. Kalian boleh membunuhku, akan tetapi kalian tidak akan terlepas dari mereka!" Orarng itu menunjuk ke arah lautan di mana terdapat sebuah kapal. Tiba-tiba orang itu mengampil golok yang tadi dilontarkan Muryani dan menggeletak di situ, lalu menyerang gadis itu dengan nekat.

"Hyaaaaaehhhh!" Orang itu membacokkan goloknya ke arah kepala Muryani dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Golok itu menyambar dengan suara berdesing. Akan tetapi dengan mudah saja Muryani dapat menghindarkan diri dari bacokan itu dengan elakan kesamping dan sekali kakinya mencuat ke arah pergelangan tangan kanan penyerangnya, orang itu mengeluh dan golok itupun terlepas dan terpental dari tangannya.

"Cukup, Muryani. Jangan bunuh dia." kata Parmadi. Muryani merasa heran sendiri mengapa ia begitu mentaati seruan Parmadi ini. Ia merasa ada sesuatu yang amat kuat dan berwibawa sehingga secara otomatis ia melompat ke belakang.

"Kisanak, kami tidak akan membunuhmu. Kalau engkau memang seorang pejuang yang membela Arisbaya, engkau tentu memiliki kesetiakawanan untuk mengubur jenazah para kawanmu itu. Mari adi, kita pergi," kata Parmadi dan Muryani menurut saja ketika Parmadi menghampiri perahu kecil milik dua orang mata-mata Arisbaya yang menyamar sebagai nelayan tadi. Muryani merasa semakin heran. Ia seperti berubah menjadi seorang anak kecil yang menurut saja dituntun seorang dewasa!

cerita silat online karya kho ping hoo

Tanpa bicara Parmadi mengajak ia naik perahu kecil yang didayung oleh Parmadi menuju ke muara! Baru setelah mereka jauh meninggalkan tempat pertempuran tadi dan tidak tampak dari sana terhalang batu-batu karang dan bukit pasir, Muryani dapat bicara. Ia bertanya dengan suara keheranan. "Kakang Parmadi, apa artinya ini semua? Kenapa aku... aku menurut saja apa yang kau katakan?"

Parmadi tersenyum dan mendayung perahunya ke tepi muara, lalu mendarat dan menarik perahu itu ke darat. Setelah itu barulah dia duduk di atas batu karang dan mempersilakan gadis itu duduk di depannya. "Engkau menuruti kata-kataku berarti bahwa engkau percaya padaku, adikku, dan aku girang sekali."

"Ya, akan tetapi kenapa, kakang? Kenpa engkau melarang aku membunuh orang tadi? Bukankah dia itu musuh dan dia pun berniat membunuh aku?"

"Benar katamu, Muryani. Akan tetapi ingat, dia ingin membunuhmu karena menganggap engkau telik-sandi Mataram dan dia berjuang untuk membela Madura. Dia juga seorang pejuang, seorang gagah, walaupun sayang sekali kerajaan masing-masing bermusuhan sehingga membuat dua pihak yang sama-sama patriot, sama-sama pejuang, sama-sama orang gagah yang sebagai seorang kawula membela negaranya, terpaksa harus berhadapan sebagai musuh. Aku tidak tega melihat dia terbunuh. Pula, kalau dia terbunuh, lalu siapa yang akan menguburkan semua jenazah itu?"

"Kakang Parmadi, sungguh aku tidak mengerti. Kenapa engkau memperdulikan mayat-mayat para musuh itu? Kalau kita yang kalah dan mati, belum tentu mereka mau memperdulikan jenazah kita."

"Hal itu hanya akan membuktikan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan, adi Muryani. Di waktu hidup, nafsu dan keadaan mungkin memaksa kita untuk bermusuhan dengan mereka. Akan tetapi setelah mereka mati, permusuhan apalagi yang ada. Mereka telah menjadi jenazah dan ingat itu adalah jenazah manusia. Tak mungkin kita biarkan terlantar begitu saja."

"Aduh, bicaramu mengingatkan aku kepada mendiang ayahku, kakang Parmadi."

"Tentu saja. Bukankah beliau adalah guruku yang pertama?"

"Akan tetapi mengapa pula engkau mengajakku ke sini, kakang? Agaknya engkau seperti sedang merencanakan sesuatu."

"Engkau masih tetap cerdik seperti dulu, Muryani. Sesungguhnyalah. Melihat tiga orang serdadu Belanda yang membantu orang-orang Madura itu, aku menjadi curiga. Kapal Belanda disana itu pasti bermaksud untuk membantu Madura. Hal itu akan berbahaya sekali. Kalau kita ingin membantu Mataram, inilah kesempatan yang amat baik itu."

"Apa maksudmu?"

"Kita harus dapat naik ke kapal itu dan melumpuhkan kekuatannya. Ketahuilah, adi Muryani. Dari percakapanku dengan beberapa orang bijaksana yang setia kepada Mataram, aku mengetahui bahwa musuh utama kita adalah Kumpeni Belanda yang hendak menguasai bumi nusantara. Gusti Sultan Agung tidak memusuhi daerah-daerah, melainkan hendak mempersatukan semua kekuatan se-nusantara untuk bersatu padu menyusun kekuatan menghadapi Kumpeni Belanda. Yang menolak persatuan terpaksa ditundukkan. Dan pihak Belanda tentu saja tidak suka melihat persatuan semua daerah dengan Mataram, maka mereka selalu berusaha untuk memecah belah agar kekuatan kita menjadi lemah. Kapal itupun tentu ingin membantu Madura agar jangan sampai bersatu dengan Mataram. Karena itu, kalau kita ingin membantu Mataram kita harus berusaha untuk melumpuhkan kapal itu."

"Wah, itu sukar dan berbahaya sekali kakang Parmadi!" seru Muryani sambil memandang ke arah kapal besar itu. Moncong beberapa buah meriam tampak dari situ. "Dan mengapa pula engkau bersembunyi diantara batu karang ini?"

"Aku pernah mendengar bahwa kumpeni memiliki alat-alat yang ampuh. Selain senjata api panjang dan pendek, juga meriam-meriam dan aku mendengar mereka memiliki alat yang disebut teropong yang membuat mereka dapat melihat dari jauh sehingga dengan teropong itu, mungkin mereka dapat melihat kita di sini dari kapal. Maka sebaiknya kita berhati-hati dan sembunyi di antara batu karang sehingga kita dapat mengintai kapal sebaliknya mereka tidak dapat melihat kita."

"Akan tetapi bagaimana kita dapat naik ke kapal mereka? Bukankah hal itu sukar dan berbahaya sekali?"

"Tidak ada perjuangan tanpa menghadapi kesukaran dan bahaya, Muryani. Malam nanti akan kucoba untuk menggunakan perahu mendekati kapal mereka dan mencari jalan bagaimana aku dapat menyelundup naik ke kapal itu."

"Kalau begitu aku ikut, kakang!" kata Muryani penuh semangat.

"Lebih baik jangan, Muryani. Pekerjaan ini berbahaya sekali dan aku tidak ingin engkau terancam bahaya. Apalagi kita berada di atas lautan."

Muryani mengerutkan alisnya. "Kakang Parmadi! Kalau engkau berani menghadapi bahaya, apa kau kira aku tidak berani? Kita hadapi bahaya bersama dan dengan kita berdua bekerja sama, tentu kedudukan kita lebih kuat!"

Parmadi tersenyum dan menatap wajah gadis itu dengan kagum. "Ah, engkau masih pemberani dan pantang mundur, gagah perkasa seperti dulu, Muryani."

"Hemm, aku bukan menyombongkan diri, kakang. Akan tetapi aku bukan Muryani yang dulu. Aku telah mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari mendiang Ny Rukmo Petak!"

Parmadi mengangguk. "Aku telah melihatnya tadi. Gerakanmu amat ringan dan cepat dan aji pukulanmu yang kau pergunakan tadi dahsyat bukan main."

"Selain itu, aku juga pernah belajar dan pandai berenang," kata Muryani bangga.

"Baiklah, kita tunggu sampai malam tiba. Mudah-mudahan kapal itu belum pergi dan menyalakan lampu sehingga kita dapat menghampirinya dengan perahu."

Sambil menanti datangnya malam, kedua orang muda itu meninggalkan pantai dan menemukan tanaman ketela di sebuah tegalan. Karena perutnya lapar, Muryani hendak mencabut dan mengambil beberapa pohon ketela, akan tetapi Parmadi berkata, "Adi Muryani, walaupun kita hanya membutuhkan beberapa potong dan aku yakin pemiliknya akan rela kalau melihat kita mengambil untuk kita makan, namun sungguh akan terasa tidak enak di mulut dan perut kalau kita mengambil tanpa ijin pemiliknya. Coba bayangkan, selagi kita makan pemiliknya muncul dan melihat kita, apakah kita tidak akan malu sekali?"

Muryani tertawa. "Wah, engkau semakin mirip ayah dahulu! Baiklah, mari kita cari pemilik tegalan (ladang) ini, itu rumahnya tidak jauh dari sini. Kita beli saja darinya beberapa potong ketela."

Mereka lalu mencari dan tak lama kemudian dapat menemukan rumah pondok bambu sederhana. Penghuninya adalah seorang petani berusia kurang lebih lima puluh tahun bersama isterinyri yang juga sudah setengah tua. Mereka hanya berdua di pondok yang tidak mempunyai tetangga itu dan petani itu mengerjakan ladang, terkadang dia pergi pula menjala ikan di muara sungai. Hidup mereka sederhana namun serba cukup dan tampaknya mereka hidup berbahagia. Kedua orang suami isteri itu menyambut kedatangan Parmadi dan Muryani dengan hormat dan ramah sekali.

"Wah, mbok-ne! Kita kedatangan tamu-tamu priyayi!" seru laki-laki itu kepada isterinya yang berada di belakang. Sang isteri datang berlari-lari dan keduanya menyambut dua orang muda itu dengan wajah riang gembira, seperti penduduk dusun yang lugu pada umumnya kalau kedatangan priyayi atau orang kota.

"Mari, den-mas dan den-roro, silakan masuk, silakan duduk!" pemilik rumah itu mempersilakan dengan ramah sedangkan isterinya memandang dengan tersenyum dan membungkuk-bungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.

"Terima kasih, paman. Kami tidak akan mengganggu, kami hanya ingin bertanya apakah ladang di sana itu, yang ditanami ketela, milik paman?" kata Parmadi sambil menunjuk ke arah ladang itu.

"Oh, tegalan itu? Benar, den-mas. Kami yang menanami ketela di sana."

"Nah, begini, paman. Kami berdua membutuhkan beberapa potong ketela, maka kami datang untuk membelinya dari andika."

Suami isteri itu saling pandang, lalu sang isteri bertanya heran, "Den-mas, untuk apakah andika berdua membutuhkan beberapa potong ketela?"

Muryani tersenyum dan ia yang menjawab, "Untuk apa, bibi? Tentu saja untuk dibakar dan dimakan! Kami lapar sekali."

Kini suami isteri itu saling pandang dengan mata terbelalak, lalu si suami yang berseru, "Ah, den-mas! Masa untuk beberapa potong ketela saja harus membeli? Silakan ambil secukupnya, kami berdua rela dan senang sekali, den-mas!"

"Benar, den-mas dan den-roro!" kata pula si isteri. "Bahkan, kalau andika berdua sudi, silakan makan di sini bersama kami. Kami punya nasi dengan lauk sayur lodeh terong dan sambal!"

"Ah, terima kasih, bibi. Kami tidak ingin menyusahkan andika. Kalau begitu, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas pemberian ketelanya dan kami mohon pamit," kata Parmadi.

"Silakan, den-mas. Silahkan!" kata suami isteri itu sambil membungkuk-bungkuk. Parmadi lalu pergi bersama Muryani, menuju ladang tadi dan tak lama kemudian mereka sudah mengambil delapn potong ketela ubi sebesar kepalan tangan pria. Mereka lalu membuat api dengan kayu-kayu kering dan membakar ubi. Tercium bau sedap bukan main, apalagi karena perut mereka sudah lapar sekali.

Setelah ketela ubi itu masak, mereka duduk dekat api dan mulai makan. Gurih dan manis sekali rasanya. Akan tetapi Muryani mengomel. "Hemm, kalau saja kita menerima tawaran suami isteri yang ramah itu, tentu sekarang kita makan nasi dan sayur lodeh terong. Dengan sambal pula. Hemm, alangkah sedapnya!"

Parmadi tertawa. "Adi Muryani, coba hentikan pikiranmu membayangkan lain makanan yang kau anggap lebih enak dan curahkan seluruh perhatianmu kepada makanan yang sedang kau hadapi dan makan, dengan rasa penuh syukur kepada Gusti Allah yang telah memberi berkah, dan makanan itu akan terasa lezat dan nikmat luar biasa!"

Muryani tersenyum. "Aku masih ingat akan wejangan mendiang bapak tentang hal itu dan aku memang bukanlah orang rnurka yang suka mengharapkan sesuatu yang lebih daripada yang kumiliki, kakang. Akan tetapi bagaimanapun juga, kalau dibuat perbandingan, tentu makan nasi dan sayur lodeh terong lebih lezat dibandingkan sekedar ketela ubi bakar, bukan?"

"Kalau engkau menghadapi dua tiga atau lebih macam makanan, tentu saja engkau bebas untuk memilih mana yang lebih kau inginkan dan sukai. Akan tetapi kalau hanya ada satu macam makanan, apapun juga makanan itu, baik yang sederhana seperti ubi bakar ini atau yang mewah mahal, maka membandingkannya dengan makanan lain yang tidak ada, hanya akan mengurangi atau bahkan menghilangkan kelezatan makanan yang kau hadapi."

"Kenapa begitu, kakang?"

"Begitulah ulah nafsu angkara murka, selalu mendorong kita untuk mendapatkan atau menginginkan yang tidak ada pada kita. Dan biasanya, yang kita inginkan itu tentu kita anggap lebih baik dan lebih enak daripada apa yang kita miliki dan hadapi. Karena itu maka yang kita hadapi menjadi tampak tidak enak dan tidak menyenangkan."

"Hemm, engkau benar, kakang. Lalu, bagaimana kita harus berbuat kalau nafsu mendorong kita untuk menginginkan segala yang tidak ada pada kita?"

"Dengan cara menerima segala sesuatu yang kita dapatkan sebagai anugerah Gusti Allah, sebagai berkahNya dan bukti cinta kasihNya kepada kita sehingga kita selalu menerimanya dengan puji syukur yang tulus. Kalau sudah begitu, mendapatkan sepotong ketela ubi bakar ataupun sepiring nasi dengan lauk pauk mewah, akan sama saja merupakan berkah gusti Allah dan kita akan selalu menikmatinya."

"Wah, kalau begitu kita tidak akan memperoleh kemajuan dalam hidup ini, kakang. Kalau kita setiap hari hanya bisa makan ubi dan menerima begitu saja, dan sudah puas, maka selama hidup kita hanya akan makan ubi terus! Sebaliknya kalau kita tidak puas dan ingin mencari yang lebih daripada ubi, maka akan timbul keinginan untuk maju, untuk mencari agar mendapatkan yang lebih. Bukankah begitu?"

Parmadi tersenyum. "Bagus, Muryani. Engkau sudah dapat mempergunakan pikiranmu untuk bernalar. Ketahuilah, adikku, dalam kehidupan ini, Gusti Allah telah memberi kepada kita hati akal pikiran memberi nafsu dan semua itu harus kita pergunakan! Kita gunakan hati akal pikiran, didorong oleh semangat nafsu, untuk berusaha memenuhi segala kebuluhan kita dalam kehidupan ini. Kita tidak dapat meninggalkan nafsu yang menjadi pendorong bagi kita untuk melaksanakan segala sesuatu demi kepentingan dalam hidup ini. Hidup ini berarti gerak, dan setiap gerakan merupakan usaha, ikhtiar, setiap gerakan bekerja. Seluruh alam maya pada ini bergerak dan bekerja. Kekuasaan Gusti Allah tidak pernah berhenti bekerja, sedetikpun! Lihat tubuh kita ini. Setiap bagian tubuh kita ini bergerak dan bekerja. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, semua bergerak dan bekerja. Semua hidup maka hidup itu gerak dan gerak itu kerja! Bayangkan kalau jantung kita berhenti berdetak, kalau darah kita berhenti mengalir, kalau pernapasan kita berhenti, kalau otak kita berhenti. Semua itu, termasuk seluruh bagian anggota tubuh kita, semua itu mempunyai tugas masing-masing dan bekerja yang berarti berikhtiar!"

"Nanti dulu, kakang, jangan cepat-cepat. Aku menjadi bingung. Bukankah semua itu digerakkan oleh kekuasaan Gusti Allah?"

"Benar, segala sesuatu memang terjadi menurut kehendakNya. Akan tetapi Gusti Allah tidak akan menolong manusia kalau manusia itu sendiri tidak mau berusaha, bergerak dan bekerja. Contohnya, adi Muryani yang manis, siapa yang menyediakan tanah, air, udara, sinar matahari, dan bibit padi?"

"Hemm, tentu saja Gusti Allah, kakang."

"Tepat, karena manusia tidak dapat membuat kesemuanya itu. Nah, biarpun Gusti Allah telah menyediakan semua itu dengan lengkap, untuk kepentingan dan kebutuhan manusia, namun manusia tidak akan dapat menikmati nasi apabila dia tidak mau bekerja atau berusaha. Manusia harus mengolah semua yang telah disediakan Gusti Allah itu, mencangkul tanah, mengairinya, menanam benih padinya, merawat dan sebagainya. Bahkan kalau sudah menjadi padi, dia harus melanjutkan pekerjaannya untuk menuai, menumbuk, lalu memasak beras menjadi nasi. Semua itu adalah ikhtiar, adikku. Bahkan setelah menjadi nasi di depan kita, Gusti Allah tidak menyuapi kita. Kita sendiri dengan tangan dan mulut harus makan nasi itu. Apakah cukup dengan semua ikhtiar itu untuk membuat kita hidup dan tidak kelaparan? Masih belum. Di dalam perut kita, bagian pencernaan dan perut kita masih harus bekerja lagi agar sari makanan nasi itu dapat menyehatkan dan mempertahankan hidup kita. Nah, jelas bahwa berkah dari Gusti Allah harus kita imbangi dengan ikhtiar, dengan usaha atau bekerja. Kita bekerja sekuat tenaga sebagai kewajiban akan tetapi kita terima segala hasilnya, besar atau kecil, sebagai berkahNya dan selalu memuji syukur kepadaNya."

Muryani mengangguk-angguk. "Aku mulai mengerti, kakang. Akan tetapi cukuplah dulu, jangan banyak-banyak, aku menjadi pusing."

Setelah selesai makan ubi bakar, mereka lalu minum dari sumber air yang terdapat di antara bukit karang. Mereka menanti datangnya malam sambil bersembunyi di antara batu karang. Setelah malam tiba, mereka girang melihat kapal itu masih berada di sana dan tampak lampu-lampu penerangan di kapal itu. Malam itu tidak gelap benar. Langit cerah dan penuh bintang. Parmadi mendayung perahu kecil itu menuju ke kapal yang hanya tampak kelap-kelip lampunya dari situ. Untung bahwa malam itu laut tidak berombak besar. Air tenang dan perahu meluncur cepat kearah kapal.

Dengan hati-hati Parmadi mendayung perahu menghampiri kapal. Terdengar suara orang-orang di atas kapal. Parmadi mendekatkan kapal sehingga menempel pada rantai jangkar yang dilepas dari bagian buritan kapal. Dia memegangi rantai itu dan berbisik kepada Muryani.

"Ikatkan tali perahu ke rantai ini." Muryani cepat melakukannya sehingga kini perahu tertahan di dekat rantai jangkar. Parmadi lalu berbisik lagi. "Sekarang aku hendak melihat keadaan di atas kapal. Engkau tunggu saja dulu disini, dik."

"Aku juga ikut ke atas, kang!" kata Muryani.

"Tunggu dulu. Kulihat tepat di atas bagian ini ada sebuah lampunya. Tentu keadaan disana terang dan berbahaya bagi kita. Kalau aku sudah berhasil memadamkan lampu itu sehingga keadaan bagian itu gelap, baru engkau menyusul naik."

"Baiklah," kata Muryani dan Parmadi lalu memanjat naik melalui rantai besat itu. Sebentar saja dia sudah tiba di atas. Dia tidak langsung naik ke atas geladak kapal, melainkan bergantung dipinggir permukaan geladak, di bawah pagar pengaman. Dilihatnya sekitar tiga puluh orang Belanda di bagian tengah kapal yang diterangi banyak lampu. Akan tetapi di bagian buritan sepi.

Melihat kesempatan ini Parmadi cepat melompati pagar besi pengaman dan berada di atas dek buritan, di bawah lampu gantung. Dia cepat menurunkan lampu itu dan memadamkannya, lalu dia berlutut, sembunyi di balik besi tempat gulungan rantai jangkar, memperhatikan keadaan diatas kapal besar itu. Dia melihat ada empat buah meriam besar, dua di kanan dan dua dikiri. Ada pula beberapa buah meriam-meriam kecil.

Tak lama kemudian Muryani yang sudah melihat lampu padam dan cepat memanjat naik melalui tali jangkar, sudah berlutut pula di sebelahnya. Mereka berdua mengintai dan melihat betapa orang-orang Belanda itu bersenang-senang, bercakap-cakap dan tertawa-tawa. Ada yang duduk, ada pula yang berdiri. Mereka minum-minum dengan gembira. Seorang memetik gitar mengiringi nyanyian beberapa orang. Ada pula yang bertepuk-tepuk tangan mengikuti irama sambil menari-nari.

Sambil berbisik-bisik Parmadi dan Murni mengatur siasat. Kemudian mereka berpencar, Muryani ke kiri dan Parmadi ke kanan, maju berindap-indap. Biarpun sangat hati-hati, namun mereka menyelinap maju dengan cepat sekali dan berturut-turut dua lampu di kanan kiri kapal itu padam. Muryani dan Parmadi mengerahkan seluruh tenaga dan berhasil mendorong meriam-meriam besar itu meluncur jatuh ke laut.

Agaknya ada yang mendengar suara itu. Dua orang serdadu berlari ke arah Muryani yang sudah bersembunyi dan ketika dua orang perajurit kumpeni itu lewat, dua kali sinar senjata patremnya yang sudah dikembalikan Parmadi kepadanya itu menyambar. Dua orang serdadu itu berseru keras, terhuyung, akan tetapi dua kali tendangan membuat mereka terlempar melewati pagar besi pengaman dan tercebur ke laut.

Tiga orang serdadu yang lain juga memeriksa di bagian kanan, akan tetapi dari dalam kegelapan menyambar sinar putih kekuningan, tiga kali sinar itu berkelebat dan tiga orang serdadu itu roboh tanpa mengeluarkan suara lagi. Parmadi melempar-lemparkan tiga orang serdadu itu keluar dari kapal dan mereka tercebur ke dalam laut. Akan tetapi seorang serdadu yang lain datang berlari-lari ke arah Parmadi. Tangan kirinya membawa sebuah lampu gantung, tangan kanannya memegang sebuah pistol.

"Dar-darrr...!" Pistol di tangan kanannya meledak dua kali. Akan tetapi karena tempat itu gelap, Parmadi dengan mudah bersembunyi, kemudian secepat kilat dia melompat ke depan dan sekali seruling gadingnya bergerak, robohlah serdadu itu. Parmadi cepat menangkap lampu gantung yang terlepas dari tangan serdadu itu. Dia melihat bayangan Muryani berkelebat ke arah buritan mendekati tali jangkar. Maka diapun cepat melempar lampu ke arah bilik yang berada ditengah kapal. Terdengar ledakan dan bilik itupun terbakar.

"Dar-dar-darr...!" Terdengar tembakan berulang-ulang dan suara orang ramai dan tampak mereka berlari-lari kalang kabut dan panik, ada pula yang berusaha memadamkan kebakaran.

Melihat ini, Parmadi segera melompat kearah tali jangkar dan menyusul Muryani yang sudah turun ke perahu kecil mereka. Begitu Parmadi turun ke perahu kecil, Muryani yang tadi sudah melepaskan tali perahunya dari tali jangkar, cepat mendayung perahu dibantu oleh Parmadi. Para serdadu sedang panik dan mengira bahwa kapal itu diserang banyak orang, maka sebagian ada yang memadamkan kebakaran, sebagian pula berindap-indap mencari musuh sambil siap dengan senjata api mereka sehingga tidak ada yang sempat menjenguk keluar kapal.

Dengan berselimutkan kegelapan, Parrnadi dan Muryani berhasil menjauhkan diri dari kapal dan lolos, kembali ke pantai. Setelah perahu mereka tiba di pantai, ternyata cuaca sudah mulai terang, malam telah berganti pagi. "Lihat itu !" Muryani menunjuk ke arah pantai. Parmadi mengangguk, tanda bahwa dia juga sudah melihatnya.

Di atas pasir pantai itu tampak ada dua orang, seorang laki-laki dan seorang wanita, sedang dikeroyok sekitar dua puluh orang yang bersenjata golok dan tombak. Akan tetapi gerakan dua orang itu, terutama yang pria, amat cepat dan hebat. Biarpun dua puluh orang itu bergerak menyerang dan mengeroyok secara ganas dan buas, namun sudah ada empat orang di antara mereka yang roboh.

"Kakang Parmadi, wanita itu...!"

"Kenapa? Engkau mengenalnya?"

"Tidak, akan tetapi aku mengenal gerakan silatnya! Kecepatan gerakannya itu tentu berdasarkan Aji Kluwung Sakti dan pukulan itu! Lihat, ia merobohkan seorang dengan pukulan Aji Gelap Sewu! Ilmu-ilmunya sama dengan ilmuku! Ah, tidak salah lagi, ia tentulah Mbakayu Retno Susilo seperti yang pernah diceritakan mendiang guruku, Nyi Rukmo Petak!"

"Hemm, kalau begitu, mari kita bantu mereka! Para pengeroyok itu tampak buas dan ganas sekali!" kata Parmadi dan mereka mendayung perahu lebih cepat lagi dan ketika tiba di tepi pantai, Muryani sudah melompat cepat dan berseru,

"Mbakayu Retno Susilo! Kakangmas Sutejo! Jangan khawatir, aku Muryani datang membantu andika!" Setelah berkata demikian, Muryani sudah menerjang maju dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti sehingga tubuhnya seperti gerakan seekor burung srikatan saja cepatnya dan begitu ia memukul beruntun dengan Aji Gelap Sewu, dua orang pengeroyok roboh terguling.

Sepasang suami isteri yang mengamuk itu memang benar Sutejo dan isterinya, Retno Susilo. Seperti diketahui, suami istri perkasa ini sedang mencari putera mereka, Bagus Sajiwo, yang hilang diculik orang setahun lebih yang lalu. Selain mencoba mencari jejak puteranya yang hilang, juga suami isteri yang setia kepada Mataram ini mendengar bahwa Mataram akan menggerakkan pasukan menundukkan Madura yang tidak mau diajak bersatu, maka mereka segera berusaha untuk membantu Mataram.

Ketika mereka tiba di pantai itu, mereka berusaha mencari perahu untuk menyeberang ke Pulau Madura yang sudah tampak dari pantai itu. Akan tetapi bukan perahu yang datang dan dapat mereka sewa, melainkan dua puluh orang perampok atau bajak laut. Orang-orang kasar ini mempergunakan kesempatan selagi rakyat dalam keadaan panik dan suasananya keruh, untuk berbuat jahat, merampok siapa saja yang kiranya dapat dirampok dan menguntungkan mereka.

Melihat suami isteri yang pakaiannya tampak pantas itu, mereka mungkin akan mendapatkan mangsa yang empuk, tidak tahunya mereka bertemu dengan suami isteri pendekar yang sakti. Akan tetapi, robohnya beberapa orang kawan tidak membuat mereka menjadi jera, bahkan mereka menjadi semakin penasaran dan mengeroyok suami isteri itu dengan ganas dan buas.

Akan tetapi begitu Muryani muncul bersama Parmadi dan sekali serang, Muryani sudah merobohkan dua orang, demikian pula Parmadi, mereka menjadi ketakutan. Dua orang yang mereka keroyok tadi sudah hebat sekali, kini datang lagi dua orang lain yang juga sakti, maka belasan orang sisa mereka yang roboh itu melarikan diri cerai berai meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, Retno Susilo dan Sutejo yang tidak mengejar mereka yang melarikan diri, mengamati Muryani dengan heran. Juga Sutejo memandang Muryani dan Parmadi yang baru datang itu dengan heran karena seperti juga isterinya, rasanya dia belum pernah bertemu dengan dua orang ini.

"Adik, siapakah andika?" tanya Retno Susilo setelah menghampiri dan kini berhadapan dengan gadis itu sambil mengamati wajah yang ayu manis itu.

"Namaku Muryani dan ini kakang Parmadi," jawab Muryani memperkenalkan diri.

Juga kedua nama ini asing bagi suami isteri itu. "Kami tidak mengenal kalian. Bagaimana engkau bisa mengenal nama kami?" tanya pula Retno Susilo, agak ragu dan curiga karena ia tidak tahu berhadapan dengan siapa dan dari golongan mana.

"Apakah mbakayu tidak melihat tadi aku menggunakan Aji Kluwung Sakti dan Aji Gelap Sewu merobohkan dua orang pengeroyok?"

Retno Susilo mengangguk. "Justeru itulah yang membuatku heran. Bagaimana engkau dapat memiliki aji-aji itu dan mengenal kami?"

"Mbakayu, aku mengenalmu seketika ketika melihat engkau mempergunakan dua macam aji kesaktian itu. Ketahuilah, mbakayu, aku adalah murid guru kita Nyi Rukmo Petak dan beliau meninggalkan pesan bahwa kalau aku bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan suaminya yang bernama Sutejo, aku harus membantu kalian berdua."

"Ah, begitukah?" Retno Susilo gembira. "Di mana beliau sekarang?"

"Beliau sudah meninggal dunia, mbakayu."

"Ahhh...!" Biarpun ia pernah membenci Nyi Rukmo Petak, akan tetapi mengingat akan budi kebaikan gurunya itu Retno Susilo merasa sedih sekali dan ia menghapus beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.

"Bagaimana beliau meninggal? Ah, marilah kita menjauhi mereka yang terluka ini agar dapat bicara dengan leluasa."

Mereka berempat lalu menjauhi tempat itu dan Parmadi menyeret perahunya sampai mereka tiba di pantai yang agak jauh dan tidak lagi melihat delapan orang anggota perampok yang terluka berat itu. Di tempat sunyi ini, Muryani menceritakan tentang kematian Nyi Rukmo Petak. Mereka duduk di atas pasir pantai yang bersih.

Setelah selesai menceritakan tentang Nyi Rukmo Petak, Sutejo atau yang nama aslinya Tejomanik berkata, "Sungguh menggembirakan sekali bahwa kami dapat bertemu dengan adik seperguruan isteriku, dan andika ini murid siapakah, dimas Parmadi?"

"Saya adalah murid dari Eyang Guru Tejo Wening."

"Ah, maksudmu Sang Resi Tejo Wening, datuk yang sakti mandraguna dan arif bijaksana yang dulu bertapa di Gunung Sanggabuwana itu?" seru Sutejo heran dan kagum.

"Wah, kangmas Sutejo sudah mengenal eyang resi?"

"Belum pernah jumpa, akan tetapi sudah sejak dulu aku mendengar nama besarnya. Dan kalian, sepagi ini datang berperahu, dari manakah kalian?"

Muryani tersenyum. Karena ingin sekali memamerkan apa yang ia dan Parmadi lakukan kepada mbakayu seperguruannya, maka ia mendahului Parmadi menjawab, "Ah, kami berdua malam tadi mengacau dan melempar-lemparkan meriam-meriam dari kapal lalu melakukan pembakaran pada kapal itu, merobohkan beberapa orang serdadu kumpeni!"

"Wah, hebat! Jadi kiranya kalian yang membuat keributan dan pembakaran kapal kumpeni itu? Bagus, kami juga melihatnya tadi dari sini, ada api berkobar di kapal itu," kata Retno Susilo sambil menuding ke arah kapal yang kini tampak bergerak ke arah barat, agaknya hendak meninggalkan tempat yang mereka anggap berbahaya itu.

"Aih, sayang pertemuan kita terlambat," kata Muryani "Kalau saja kami bertemu dengan mbakayu Retno Susilo dan kakangmas Sutejo tadi, tentu kita berempat mungkin dapat membuat kapal itu menderita lebih parah lagi! Dan kalau boleh kami ketahui, andika berdua hendak kemanakah dan siapa mereka tadi yang mengeroyok andika?"

"Kami juga sama dengan kalian, hendak membela Mataram menghadapi musuh-musuhnya. Karena kami mendengar bahwa Mataram hendak berperang melawan Madura, maka kami bermaksud untuk membantu pasukan Mataram," kata Sutejo, terus terang karena dia tidak merasa ragu lagi kepada gadis dan pemuda itu.

"Aku sudah tentu tahu siapa guru mbakayu Retno Susilo karena ia seperguruan denganku. Akan tetapi aku ingin tahu siapakah guru kakangmas Sutejo? Tentu seorang yang amat bijaksana dan sakti mandraguna," kata Muryani.

Sutejo tersenyum. Sikap gadis ini mengingatkan dia akan sikap isterinya, Retno Susilo, diwaktu masih gadis. "Guruku tidak terkenal. Beliau adalah mendiang Resi Limut Manik."

"Wah, saya pernah mendengar dari eyang Resi Tejo Wening bahwa Resi Limut Manik adalah seorang pertapa, yang mengasingkan diri dan bijaksana sekali!" seru Parmadi dengan kagum.

"Oya, siapa tahu kalian berdua pernah bertemu anak kami!" tiba-tiba Retno Susilo berseru, penuh harapan.

"Ya, benar! Apakah kalian pernah melihat seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tujuh tahun dibawa orang dan orang itu memiliki sebatang pedang yang bentuknya seperti seekor naga berwarna kehijauan?" tanya pula Sutejo.

Parmadi dan Muryani saling pandang dan keduanya menggeleng kepala. "Kami tak pernah melihatnya," kata mereka hampir berbareng, lalu Muryani bertanya, "Apa yang telah terjadi dengan putera andika, mbakayu?"

Retno Susilo menghela napas, kecewa mendengar bahwa dua orang itu tidak pernah melihat anaknya yang diculik orang. "Peristiwa itu terjadi setahun lebih yang lalu. Ketika itu putera kami yang bernama Bagus Sajiwo lenyap diculik orang bersama pedang pusakaku Naga Wilis. Sejak hari itu kami berdua meninggalkan rumah dan berkelana mencari jejak anak kami, namun sampai sekarang belum menemukan jejaknya. Kami tidak tahu siapa yang melakukan hal securang dan sekejam itu, tidak dapat menduga apakah orang itu laki-laki atau perempua tua atau muda," Retno Susilo mengusap dua titik air mata dari pipinya.

Muryani merangkul mbakayu seperguruannya. "Aku akan membantumu mencarinya, mbakayu! Akan kucari sampai dapat dan akan kuhajar orang yang berani menculiknya!"

"Terima kasih, Muryani. Engkau baik sekali, tidak rugi mempunyai adik seperguruan seperti engkau."

"Sudahlah," kata Sutejo. "Sekarang yang terpenting kita memikirkan tentang persiapan kita membantu pasukan Mataram."

"Kakangmas Sutejo benar, mari kita pusatkan perhatian kepada tugas membantu Mataram. Akan tetapi, saya kira pada saat ini seluruh Madura sudah siap siaga untuk menghadapi serangan Mataram, maka tidak akan leluasa kalau kita menyeberang dan menanti disana, tentu akan muncul banyak gangguan. Sebaiknya kalau kita menanti di pantai dan menggabungkan diri kalau pasukan Mataram lewat. Kita dengar-dengarkan melalui mana pasukan Mataram akan lewat dan kita menunggu mereka di sana."

Mereka semua setuju dan demikinlah, mereka berempat mencari keterangan tentang kemungkinan lewat mana pasukan Mataram akan melakukan penyeberangan dan sambil menanti, mereka berempat bercakap-cakap menceritakan pengalaman masing-masing.