Seruling Gading Jilid 11

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 11

NENEK itu tersenyum. "Heh, mudah saja berkata begitu. Akan tetapi sekali engkau jatuh cinta dan tergila-gila kepada seorang pria, baru engkau tahu apa yang kumaksudkan. Sekarang syarat yang keempat atau yang terakhir. Ingat baik-baik pesanku yang terakhir ini. Aku ingin agar engkau tidak melupakan dua nama, yaitu Retno Susilo dan suaminya yang bernama Tejomanik atau Sutejo.

Mereka itu, terutama Retno Susilo, adalah orang yang kukasihi, bahkan wanita itu dahulu pernah menjadi muridku yang terkasih. Karena itu aku berpesan padamu, kalau engkau kelak bertemu Retno Susilo, bantulah ia dalam segala hal seperti engkau membantu aku sendiri."

"Baik, eyang guru. Akan saya ingat selalu pesan eyang guru."

"Nah, mulai sekarang engkau ikut denganku ke manapun aku pergi, dan engkau harus mentaati semua perintahku, dengan tekun melatih semua aji kanuragan yang kuajarkan," kata nenek itu dan nada suaranya masih mengandung kekerasan yang tidak dapat dibantah lagi. Muryani mengikuti nenek itu menuju ke timur dan ternyata nenek yang berjuluk Nyi Rukmo Petak itu tinggal sebagai seorang pertapa di Bukit Ular yang terletak di Pegunungan Anjasmoro.

Nyi Rukmo Petak ini dahulu bernama Ken Lasmi, seorang gadis cantik jelita dan terkenal di mana-mana sebagai seorang gadis yang sakti mandraguna. Kemudian Ken Lasmi bertemu dengan seorang pemuda gagah perkasa bernama Harjodento yang kemudian menjadi ketua perguruan Nogo Dento di daerah Ngawi. Ken Lasmi tergila-gila kepada Harjodento. Akan tetapi pemuda yang semula mencintanya, akhirnya meninggalkannya setelah mengetahui Ken Lasmi memiliki watak yang kejam dan mudah membunuh orang yang dia nggap bersalah atau menentangnya. Harjodento meninggalkannya, kemudian pendekar ini menikah dengan seorang gadis lain bernama Padmosari yang juga seorang wanita yang digdaya. Ken Lasmi merasa sakit hati sekali ditinggalkan Harjodento yang dicintanya, apalagi mendengar pemuda itu menikah dengan gadis lain.

Pada malam pengantin, Ken Lasmi menyerbu rumah Harjodento dan berusaha membunuh Padmosari dianggap telah merebut kekasihnya. Akan tetapi ia dapat dikalahkan oleh Harjodento yang membantu isterinya. Ken Lasmi masih penasaran. Berulang kali dicobanya untuk membunuh Padmosari, namun selalu gagal karena selain Padmosari juga bukan wanita lemah, terutama karena tingkat kepandaian Harjodento lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Ken Lasmi. Hal ini membuat Ken Lasmi jengkel, sakit hati dan berduka serta mendadak rambut di kepalanya berubah putih semua!

Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan sebutan Nyi Dewi Rukmo Petak! Ia mendendam sakit hati yang amat mendalam dan meningkatkan ilmu kepandaiannya. Namun tetap saja ia tidak dapat mengungguli suami isteri itu. Empat tahun telah lewat sejak Harjodento menikah dengan Padmosari dan suami isteri ini mendapatkan seorang anak laki-laki ya diberi nama Tejomanik yang telah baru tiga tahun. Dan terjadilah malapetaka bagi suami isteri itu. Tejomanik yang baru berusia tiga tahun itu pada suatu hari lenyap!

Tentu saja penculiknya adalah Rukmo Petak. Akan tetapi, anak itu ditolong oleh orang pendeta sakti bernama Bhagawan Sindusakti yang kemudian merawat mendidik anak itu karena tidak diketahui siapa orang tuanya. Adapun Nyi Rukmo Petak lalu mengambil seorang anak perempuan bernama Retno Susilo sebagai murid. Ia menyayangi anak itu dan menurunkan semua ilmunnya. Setelah Retno Susilo menjadi gadis Nyi Rukmo Petak mengutusnya untuk membunuh Harjodento dan Padmosari!

Akan tetapi apa yang terjadi? Retno Susilo bertemu dan saling jatuh cinta dengan seorang pemuda bernama Sutejo yang bukan lain adalah Tejomanik! Mengetahui ini, Nyi Rukmo Petak berhasil membujuk Sutejo, menceritakan betapa jahatnya Harjodento dan Padmosari, sehingga Sutejo mau membantu Retno Susilo untuk membunuh suami isteri yang sesungguhnya orang tuanya sendiri itu. Nyi Rukmo Petak merasa girang dan puas bukan main. Ia dapat mengadu suami isteri musuh besarnya itu dengan anak mereka sendiri! Dan usahanya itu hampir berhasil.

Namun kemudian gagal karena ulahnya sendiri. Ia mengintai dan menonton pertempuran itu. Melihat betapa Harjodento dan Sutejo sama-sama terluka, ia keluar dan menertanwakan suami isteri itu! Setelah Sutejo dan Harjodento tahu bahwa mereka adalah ayah dan anak, mereka menandingi Nyi Rukmo Petak. Biarpun sudah terluka, mereka berempat, Sutejo, Harjodento, Padmosari dibantu Retno Susilo yang menentang gurunya sendiri yang dianggapnya jahat.

Nyi Rukmo Petak kalah dan melarikan diri. Sejak saat itulah ia menjadi pertapa dan perlahan-lahan dapat menyadari kesalahannya dan ia bertaubat tidak lagi mau berbuat kejam, tidak mau membunuh orang, biarpun wataknya yang keras masih ada bekasnya. Kebetulan pada hari itu ia melihat Muryani tertawan oleh Wiroboyo dan Darsikun. Ia marah, akan tetapi tidak mau membunuh mereka. Melihat Wajah dan watak Muryani yang keras, timbul rasa sukanya dan ia lalu mengambil gadis itu sebagai muridnya, mengajaknya pulang ke Bukit Ular di Pegunungan Anjasmoro, Kurang lebih empat tahun lamanya!

Muryani digembleng oleh Nyi Rukmo Petak di Bukit Ular. Ia belajar dengan tekin sekali dan mewarisi berbagai aji kesaktian yang hebat. Nyi Rukmo Petak terkenal sekali dengan ilmunya meringankan tubuh sehingga ia dapat bergerak cepat seperti menghilang. Ilmu ini disebut Aji Kluwung Sakti yang kini dapat dikuasai Muryani.

Selain itu iapun menguasai Aji Gelap Sewu, semacam pukulan tenaga sakti dahsyat dan juga ilmu pukulan yang mengerikan, yang disebut Aji Wiso Sarpo, (bisa Ular). Pukulan ini kalau dipergunakan dengan aji tersebut, mengandung hawa racun sehingga akibatnya, yang terkena pukulannya akan keracunan seperti tergigit ular berbisa!

Selain tiga ilmu yang dahsyat ini, Muryani juga diberi ilmu pawang ular. Semua ular, betapa liar dan berbisapun, akan menjadi jinak dan tunduk kepadanya! Setelah ia tamat belajar, pada suatu malam Nyi Rukmo Petak mengajukan permintaan yang amat aneh bagi Muryani. "Muryani, malam ini aku ingin engkau menemaniku. Aku ingin tidur sepembaring dan sebantal denganmu!"

Tentu saja Muryani merasa heran sekali. Akan tetapi ia tidak berani membantah. Ketika malam tiba, ia merebahkan diri di samping gurunya, tidur berbagi bantal. Muryani merasa terharu sekali ketika Nyi Rukmo Petak merangkul dan menciuminya sambil berulang kali berbisik, "Anakku... cucuku... yang terkasih...!" Dan ia merasa betapa pipinya basah terkena air mata, yang keluar dari mata nenek itu. Gurunya, Nyi Rukmo Petak yang berhati sekeras baja itu menangis! Muryani teringat akan keadaan dirinya sendiri. Neneknya telah meninggal dunia. Ibunya telah meninggal dunia sejak ia kecil, dan ayahnya juga meninggal dunia dibunuh orang. Ia menyadari bahwa pada saat itu ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali Nyi Rukmo Petak sebagai gurunya dan pengganti nenek atau ibunya!

Maka, keharuan mendorongnya untuk balas memeluk tubuh nenek itu dan keduanya bertangisan! Setelah reda tangisnya, Muryani bertanya kepada Nyi Rukmo Petak yang masih merangkulnya. "Eyang guru, apakah eyang tidak mempunyai anak atau cucu?"

"Aku... aku tidak pernah menikah Muryani," jawab nenek itu lirih dan suaranya menjadi parau karena tangis.

"Akan tetapi kenapa, eyang? Eyang dahulu tentu seorang wanita yang amat cantik. Sekarangpun masih tampak bekas kecantikan eyang, tentu banyak pria yang jatuh cinta kepada eyang."

Nenek itu menghela napas dan melepaskan rangkulannya untuk menyusut air matanya. "Pria yang kucinta membelakangiku... dia menikah dengan wanita lain dan sejak itu aku tidak pernah berdekatan dengan pria lain. Aku tidak mau menikah dengan pria lain."

"Ah, dia jahat sekali, membikin hidup eyang merana dengan menolak cinta eyang!" kata Muryani penasaran. Ingin ia menghajar laki-laki yang membuat eyang gurunya patah hati dan sengsara seperti itu.

"Tidak, Muryani. Dia sama sekali tidak jahat. Bahkan dia seorang pendekar gagah perkasa dan bijaksana. Akulah yang jahat. Dahulu aku seorang gadis yang galak, liar dan kejam. Aku yang jahat dan karena itulah dia menolak cintaku. Masih ingat akan syarat ketiga yang kuajukan kepadamu?"

Muryani mengangguk. "Saya tidak boleh jatuh cinta kepada seorang pria yang tidak mencintaiku. Ah, jadi itukah sebabnya mengapa eyang mengajukan syarat seperti itu?"

"Benar, Muryani. Aku sangat sayang kepadamu dan aku tidak ingin engkau kelak hidup menderita seperti aku. Muryani, muridku, anakku, cucuku, peluk dan ciumlah aku sekali lagi setelah itu tinggalkan aku, tidurlah di kamarmu sendiri."

Muryani memeluk dan menciumi kedua pipi gurunya. "Eyang, saya ingin menemani eyang semalam penuh, tidur di sini. Saya juga amat sayang kepada eyang."

"Tidak, Muryani. Cukup sudah bagiku Kasih sayangmu membahagiakan aku. Sungguh. Aku berterima kasih kepada Gusti Allah yang mempertemukan aku denganmu. Aku lelah sekali. Tinggalkanlah aku sendiri, aku akan bersamadhi."

Terpaksa Muryani turun dari atas pembaringan. Akan tetapi sebelum ia keluar dari kamar itu, gurunya berkata, suaranya lirih dan tersendat, agaknya napasnya sesak.

"Muryani, jangan lupa... besok, setelah sinar matahari menyentuh pondok, kau bakarlah pondok ini sampai semua menjadi abu."

Muryani terkejut bukan main. "Eyang guru! Apa artinya ini? Kenapa saya harus membakar pondok ini?"

"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Taati saja semua pesan dan perintahku. Engkau akan mengerti sendiri besok. Tidurlah, Muryani, sayangku...."

Muryani ingin merangkul lagi, akan tetapi takut kalau gurunya yang keras hati itu marah. Ia lalu keluar dari kamar itu, dengan hati-hati menutupkan daun pintunya, kemudian memasuki kamarnya sendiri. Akan tetapi semalam itu ia tidak dapat tidur pulas. Ia selalu ingat kepada gurunya, ingat kepada keadaan diri sendiri, ingat akan semua pesan gurunya dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan gurunya besok. Kenapa ia harus membakar pondok!

Pagi-pagi sekali ia keluar dari kamarya, dengan tubuh terasa lesu karena kurang tidur. Ia melangkah dengan hati-hati agar jangan mengagetkan gurunya yang sedang tidur. Ia pergi mandi di pancuran air yang berada di belakang pondok. Berganti pakaian lalu memasak air untuk membuatkan minuman bagi gurunya. Ia tidak melihat Nyi Rukmo Petak keluar dari kamarnya. Padahal, biasanya nenek itu sudah bangun pagi-pagi sekali dan kesukaannya duduk di luar pondok, di atas bangku menikmati kesejukan udara pagi.

Setelah, ia menyelesaikan semua pekerjaan pagi dan melihat sinar matahari mulai mengintai dari balik puncak dan menyinari pondok, Muryani menjadi kaget karena ia teringat akan pesan gurunya agar ia membakar pondok setelah sinar matahari menyentuh pondok! Jantungnya berdebar tegang dan cepat ia memasuki pondok. Ada perasaan tidak enak di hatinya. Di depan pintu kamar gurunya ia meragu.

Biasanya, ia tidak pernah berani memasuki kamar gurunya tanpa dipanggil. Akan tetapi hatinya merasa tidak enak dan jantungnya berdebar. Diketuknya pintu kamar itu perlahan.

"Tok-tok-tok" Muryani menunggu, mengerahkan pendengarannya. Tidak ada jawaban, bahkan tidak terdengar gerakan sedikitpun juga di dalam kamar itu. Muryani merasa semakin tegang dan tidak enak hatinya. Biasanya, gurunya itu memiliki pendengaran yang peka sekali. Dalam keadaan tidur sekalipun, kalau terdengar suara yang tidak wajar gurunya pasti terbangun. Setelah mengetuk pintu sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban, ini memberanikan diri mendorong daun itu perlahan. Daun pintu yang tak pernah diganjal, selalu hanya ditutup begitu saja dengan mudah terbuka. Muryani melangkah masuk. Cuaca dalam kamar masih gelap remang-remang karena jendela kamar itu masih tertutup dan tidak ada lampu penerangan di dalam kamar.

Setelah pandang matanya dapat disesuaikan dengan keremangan kamar itu, Muryani dapat melihat sosok tubuh gurunya duduk bersila menghadap ke luar. Sepasang mata nenek itu terpejam, agaknya tenggelam ke dalam samadhinya. Muryani tidak berani mengganggu gurunya yang tampaknya sedang bersamadhi itu. Akan tetapi, perasaan tidak enak dalam hatinya memaksa ia memberanikan diri melangkah maju menghampiri pembaringan itu.

"Eyang..." panggilnya lirih. Sosok tubuh nenek itu tidak menjawab, tidak bergerak dan yang membuat hati Muryani berdebar tegang dan gelisah adalah ketika ia mengerahkan pendengarannya, ia tidak menangkap pernapasan gurunya!

"Eyang...?" ia memanggil lagi, agak keras. Nenek berambut putih itu tetap tidak menjawab dan tidak bergerak, seolah tubuhnya telah menjadi arca.

"Eyang..." ia menghampiri dan menyentuh pundak nenek itu. Ketika ia mendorongnya, tubuh Nyi Rukmo Petak terjengkang dan roboh telentang dalam keadaan kedua kaki masih bersila dan kedua tangan menyembah di depan dada!

"Eyang...!" Muryani merangkul dan ternyata tubuh gurunya itu telah kaku dan dingin. Gurunya telah mati dalan keadaan duduk bersila! "Eyanggg.... ah, eyang telah mati...!" Muryani menangis sambil memeluk tubuh nenek itu dan menciumi mukanya sehingga muka jenaza nenek itu basah oleh air matanya. Setelah tangisnya mereda, ia teringat akan pesan nenek itu.

"Eyang guru ingin mati dalam keadaan duduk bersamadhi dan ingin jenazahnya dibakar bersama pondok ini." Setelah berkata kepada dirinya sendiri, Muryani lalu merangkul kedua pundak nenek itu dan membangkitkannya kembali, duduk bersila seperti tadi.

Jenazah itu kaku dan ketika didudukkan, seperti arca, tidak terguling kembali. Kamar itu mulai terang dan Muryani melihat bahwa nenek ilu telah berganti pakaian, mengenakan pakaian serba putih yang bersih. Rambutnya yang putih digelung rapi, dan tongkat ular kobra kering berada di dekatnya. Betapa hebat gurunya, pikir Muryani kagum. Pasti sudah tahu bahwa saat kematiannya segera tiba, maka ia berpesan kepada muridnya untuk membakar pondok itu. Muryani berlutut di depan pembaringan, di depan jenazah nenek yang duduk bersila itu, menyembah dengan sikap hormat. "Baiklah, eyang. Saya akan mentaati pesan dan perintah eyang. Saya akan membakar pondok ini."

Setelah memberi hormat, Muryani berkemas, mengumpulkan pakaiannya, membungkusnya dengan kain, memasukkan perhiasan-perhiasan emas, milik yang dibawanya ketika meninggalkan Dusun Pakis dan selama ini tak pernah dipakainya. Kemudian ia menggendong buntalan itu dan kembali memasuki kamar Nyi Rukmo Petak. Jenazah itu masih duduk bersila seperti arca. Muryani menjatuhkan diri berlutut lagi di depan jenazah itu.

"Eyang, saya akan melaksanakan pesan dan perintah eyang, membakar pondok ini. Selamat tinggal, eyang." Ia meragu, masih berlutut karena pada saat itu ia teringat akan wejangan mendiang ayahnya, Ki Ronggo Bangak. Ayahnya dulu pernah berkata bahwa kematian merupakan kelanjutan daripada kehidupan Yang mati dan akhirnya lenyap menjadi tanah hanyalah jasadnya, badannya.

Namun rohnya tidak akan lenyap, melainkan ke alam lain, ke alam baka. Jadi, bukan ia yang meninggalkan gurunya. Yang akan ia tinggalkan hanyalah bekas tubuh yang tadinya dihuni roh gurunya dan kini tubuh itu ditinggalkan karena sudah lapuk, sudah tua. Roh gurunyalah yang meniggalkannya!

"Selamat jalan, eyang...!" la berkata lagi, bangkit dan mencium wajah jenazah itu lalu keluar dari situ, keluar dari pondok yang didiaminya bersama Nyi Rukmo Petak selama kurang lebih empat tahun.

Setelah tiba di luar pondok, Muryani menggantungkan buntalan pakaiannya pada sebatang pohon, kemudian ia mengumpulkan daun dan kayu kering, ditumpuk didalam dan sekeliling pondok. Setelah merasa cukup, ia menyalakan api dan membakar tumpukan daun dan jerami serta kayu kering di luar pondok. Pondok itu segera terbakar. Api bernyala, berkobar, membubung ke atas disertai bunyi ledakan-ledakan kayu dan bambu yang dimakan api. Muryani menonton dari bawah pohon, hatinya terharu dan ketika atap pondok yang terbakar itu runtuh, ia memejamkan matanya.

Suara menggelegarnya guntur membuat Muryani membuka matanya dan baru ia melihat bahwa di angkasa terdapat banyak awan mendung. Ia tadi tidak memperhatikan dan tidak merasa bahwa cuaca semakin gelap. Hal ini tidaklah aneh karena memang pada waktu itu sudah ada musim hujan. Melihat mendung yang bergumpal tebal di atas itu timbul kekhawatiran dalam hati Muryani. Diam-diam ia berdoa dalam hatinya agar hujan jangan turun dulu sebelum jenazah gurunya terbakar sempurna menjadi abu.

Mungkin doanya terkabul. Kenyataanya, hujan belum juga turun sedangkan nyala api semakin lahap memakan pondok dan semua isinya. Akhirnya, nyala api padam dan yang tinggal hanya asap yang makin lama semakin berkurang. Muryani melihat bahwa bekas pondok itu kini telah menjadi abu semua, rata dengan tanah. Tentu jenazah gurunya sudah menjadi abu dan hancur ketika tertimpa atap yang runtuh. Ia belum dapat mencari abu jenazah gurunya karena asap masih mengepul di sana-sini tanda bahwa masih terdapat api yang membara.

Ketika asap mulai menipis dan ia sudah melangkah dari bawah pohon hendak menghampiri tumpukan puing dan abu itu, tiba-tiba tampak kilat menyambar disertai geledek yang menggelegar. Muryani sudah mendengar cerita tentang bahayanya kilat dan geledek itu, maka cepat ia surut kembali ke bawah pohon besar. Pada saat itu, hujan turun dari langit seperti dituangkan. Kandungan mendung agaknya sudah terlampau berat sehingga akhirnya bobol dan air yang berjatuhan merupakan tetesan yang besar-besar dan deras sekali.

Melihat ini, Muryani menyambar buntalannya dan larilah secepatnya ke arah barat. Tak jauh dari situ terdapat sebuah guha yang cukup besar dan ke guha inilah ia berlari untuk berlindung. Dalam hujan sederas itu, pohon takkan mampu melindunginya dan ia akan basah kuyup, termasuk pakaian dalam buntalannya. Hujan turun dengan deras sekali dan cukup lama. Muryani melihat betapa air yang berwarna kuning kemerahan, air hujan bercampur tanah, membanjir di depan gua, mengalir ke bagian yang lebih rendah. Ia tidak dapat melihat bekas pondok gurunya dari dalam gua itu.

Hatinya gelisah. Ia tahu bahwa pondok itu didirikan di bagian paling tinggi dari puncak Biasanya, di waktu turun hujan deras, ia sering melihat air hujan menjadi sungai yang membanjir turun dari sekeliling pondok. Ia tidak dapat membayangkan apa yang terjadi dengan puing dan abu pondok yang terbakar habis itu sekarang. Hampir setengah hari lamanya hujan turun. Deras dan tiada hentinya. Ketika akhirnya hujan reda dan langit sudah mulai bersih dari awan mendung, tampak sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat.

Sudah lewat tengah hari. Muryani meninggalkan buntalan pakaiannya dalam gua ketika ia keluar dari tempal perlindungan itu karena masih turun gerimis kecil mengakhiri hujan lebat. Ia langsung menuju ke tempat di mana pondok itu terbakar. Ketika ia tiba di situ, ia tercengang terpukau berdiri seperti berubah menjadi arca. Matanya terbelalak, mulutnya te nganga. Pondok itu tak tampak bekasn sama sekali! Puing dan abu pondok itu tidak ketinggalan sedikitpun juga! Agaknya semua disapu bersih oleh banjir, terhawa hanyut air hujan yang menjadi seperti sungai itu.

Habis sama sekali, tinggal bekas lantai pondok dari tanah liat yang tampak mengkilap licin dicuci air hujan! Abu jenazah Nyi Rukmo Petak sudah lenyap, tidak ada bekasnya sedikit pun juga. Akhirnya Muryani dapat mengatasi guncangan hatinya dan ia menjadi sadar dan tenang kembali. Ia berdiri dan merangkap kedua tangan dalam bentuk sembah, menyentuh ujung hidungnya dengan sepasang ibu jari dan berbisik, "Selamat jalan, eyang...!"

Hujan telah berhenti sama sekali. Matahari tersenyum cerah. Hawa udara menjadi demikian hangat, nyaman dan bersih. Semua kotoran telah disapu bersih oleh air hujan. Daun-daun pohon berkilauan dalam warna hijau yang segar dan bersih. Bau tanah dan tanam-tanaman menghambur sedap dan menyehatkan. Muryani menuruni puncak sambil menggendong buntalan pakaiannya. Ia harus berjalan hati-hati sekali karena hanya tanah lereng yang longsor dan hujan membuat tanah menjadi licin.

Terpeleset dapat membawa maut karena terjerumus ke dalam jurang! Akan tetapi Muryani sekarang berbeda sekali dari Muryani empat tahun yang lalu. Kalau dulu Muryani sudah merupakan seorang gadis murid Perguruan Bromo Dadali yang digdaya, sekarang ia adalah seorang gadis dewasa yang sakti mandraguna! Nyi Rukmo Petak telah mewariskan seluruh aji kesaktiannya kepada Muryani.

Ilmu meringankan tubuh yang amat terkenal dari Nyi Rukmo Petak, yang membuat ia dapat bergerak cepat sekali yaitu Aji Kluwung Sakti, telah dikuasai Muryani. Juga pukulan jarak jauh berdasarkan tenaga sakti, yaitu Aji Gelap Sewu, dan pukulan yang mengandung hawa beracun, yaitu Aji Wiso Sarpo. Bukan saja kesaktian gadis itu yang bertambah hebat, akan tetapi juga kecantikannya.

Bagaikan bunga, ia telah mekar indah. Bagaikan buah, ia telah masak. Ia telah menjadi seorang gadis dewasa berusia dua puluh satu tahun. Sepasang matanya yang seperti bintang itu kini dapat mencorong penuh wibawa yang amat kuat. Begitu sempurna Muryani menguasai Aji Kluwung Sakti sehingga licinnya tanah yang dilaluinya ketika ia menuruni puncak, tidak merupakan halangan baginya. Kedua kakinya demikian ringan melangkah, bahkan makin lama tubuhnya meluncur turun semakin cepat bagaikan terbang saja!

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Muryani menuruni Bukit Ular di Pegunungan Anjasmoro. Bukit Ular itu merupakan bukit yang ditakuti orang. Tidak ada orang berani mendaki bukit itu, baik dia pemburu atau pencari kayu, karena bukit itu terkenal dihuni banyak ular. Ada ular yang besar sekali yang mampu menelan tubuh seekor babi hutan, dan banyak ular-ular kecil yang berbisa. Ketika menuruni bukit, Muryani melihat banyak ular. Agaknya mereka itu hanyut terbawa air yang membanjir. Akan tetap ia sama sekali tidak merasa takut atau ngeri.

Setelah ia menguasai ilmu pawing ular yang diajarkan oleh Nyi Rukmo Petak, ia sudah biasa bermain-main dengan ular-ular berbisa. Karena ia menuruni Bukit Ular dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti maka sebentar saja ia sudah tiba di kaki bukit. Tiba-tiba ia mendengar suara jerit ketakutan seorang anak kecil. Cepat berlari menuju ke arah suara itu. Ia melihat seorang anak laki-laki yang usianya sekitar delapan tahun dan agaknya tadi bermain-main dan mandi di air hujan yang tergenang di selokan tepi sawah.

Anak laki-laki itu telanjang bulat dan dia berdiri terbelalak dengan muka pucat. Di depannya, hanya dalam jarak kurang dari dua meter, tampak seekor ular kobra sebesar lengan orang dewasa, mengangkat kepala dan lehernya yang mekar itu ke atas, moncongnya mendesis-desis dan binatang itu siap mematuk. Pengetahuannya tentang ular membuat Muryani maklum bahwa ular berbisa itu sedang marah dan siap untuk menyerang.

Cepat sekali tubuh Muryani berkelebat ke depan dan dia sudah mengerahkan Aji Wiso Sarpo. Ular itu terkejut dan menjadi semakin marah ketika melihat ada orang menghadapinya dan melindungi bocah itu. Akan tetapi ketika Muryani menggerak-gerakkan kedua lengannya yang melenggok seperti dua ekor ular, ular kobra itu tiba-tiba menurunkan kepalanya. Muryani berjongkok di depan anak itu, menghadapi ular yang berada dekat sekali di depannya. Agaknya ular kobra itu seperti terpesona, lalu dengan perlahan merayap mendekati Muryani yang mengulurkan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka.

Ular itu menghampiri tangan kiri Muryani lalu menjilati telapak tangan itu Muryani tahu bahwa ular itu tentu terbawa hanyut oleh air hujan dan ketika tiba di selokan, tanpa sengaja anak laki-laki itu menginjaknya sehingga ular itu menjadi marah dan hendak mematuknya. Muryani memegang leher ular itu, mengangkatnya ke depan mukanya, matanya mencorong memandang muka ular itu dan ia berkata lirih,

"Tidak boleh engkau menyerang manusia yang tidak mengganggumu. Hayo pergi, kembali ke bukit!" Setelah berkata demikian, ia melepaskan ular itu yang segera merayap naik ke atas bukit dengan cepat, sepertl ketakutan!

Muryani memandang anak lak-laki yang masih ketakutan itu. "Di mana rumahmu, le (nak)?"

Anak laki-laki itu menunjuk ke arah belakangnya di mana terdapat sebuah dusun. Atap rumah-rumah sederhana di dusun itu tampak dari situ. "Cepatlah pulang dan katakan kepada teman-temanmu agar jangan bermain-main dulu di tempat ini. Banyak ular hanyut oleh air hujan turun dari bukit."

Anak itu mengangguk-angguk dan dia pun lari ke arah dusun sambil membawa pakaian yang belum dikenakannya. Muryani mengikuti larinya anak itu sambu tersenyum geli. Muryani melanjutkan perjalanannya, Setelah ditinggal mati ayahnya, kini ditinggal mati gurunya, ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Neneknya di Demak juga sudah meninggal dunia dan selain nenek itu, tidak ada sanak keluarga lain. Ia benar-benar hidup seorang diri di dunia ini. Kembali ke Pakis? Ah, di sana ia hanya akan terkenang kepada ayahnya yang telah tiada. Parmadi juga tidak ada di dusun itu. Tidak, ia tidak akan kembali ke Pakis, entah kalau kelak ada kesempatan untuk itu dan ada keinginan untuk mengunjungi makam ayahnya.

Sekarang ia harus melaksanakan tugas pertamanya, yaitu mencari pembunuh ayahnya! Ia tahu bahwa Wiroboyo berdiri di belakang layar pembunuhan ayahnya dan bekas demang itu dibantu seseorang yang digdaya. Ia harus mencari Wiroboyo dan memaksa orang itu mengaku siapa orang yang telah menjadi algojo ayahnya dan yang telah menyerangnya dengan pukulan ampuh. Dengan hati penuh dendam ia segera pergi ke Ponorogo. Ia akan membunuh Wiroboyo!

Tiba-tiba Muryani yang sedang berlari cepat itu menahan kakinya dan berhenti berlari. Sebuah pikiran seperti cahaya kilat memasuki benaknya. Ia hendak membunuh orang. Jahatkah ini? Gurunya meninggalkan pesan kepadanya agar ia tidak menggunakan ilmunya untuk berbuat jahat. Ia harus membela kebenaran dan keadilan dan ia harus membela orang-orang yang namanya Sutejo dan Retno Susilo.

Tidak, ia tidak berbuat jahat. Ia bahkan hendak menentang dan membasmi seorang penjahat besar yang membahayakan kehidupan banyak orang tak berdosa, terutama sekali kaum wanita. akan menentang dan membunuh Wiroboyo dan kawan-kawannya, bukan hanya karena Wiroboyo dan para pembantunya telah membunuh ayahnya dan telah menyerang, dan melukainya, bahkan ia telah dijebak ditangkap dan nyaris diperkosa kalau tidak ditolong gurunya. Ia akan membasmi Wiroboyo dan kawan-kawannya seperti membasmi segerombolan binatang yang amat berbahaya dan jahat bagi manusia.

Mereka itu merupakan sampah dunia yang memang sudah semestinya disapu bersih dari permukaan bumi! Dengan membunuh orang-orang macam Wiroboyo dan kawan-kawannya, ia tidak melakukan kejahatan. Sebaliknya, ia bahkan akan membasmi kejahatan dan melakukan kebaikan! Jalan pikiran Muryani seperti ini adaIah akibat pengaruh pendidikan mendiang Nyi Rukmo Petak yang selama empat tahun menjadi gurunya dan membimbingnya. Nyi Rukmo Petak adalah seorang wanita yang sejak mudanya berwatak keras dan pernah menjadi datuk yang ditakuti karena kekerasan dan kekejamannya.

Ia pernah menderita kekecewaan besar yang membuat hatinya diracuni dendam walaupun di hari tuanya dengan susah payah ia sudah dapat meredakan dendamnya. Namun sisa kekerasan yang menjadi dasar wataknya sejak muda masih ada dan kekerasan inilah yang kini menguasai hati Muryani. Balas kebaikan orang dengan kebaikan, berikut bunganya! Juga balas kekerasan orang dengan kekerasan pula berikut bunganya! Orang jahat harus diperlakukan jahat pula. Orang kejam harus diperlakukan kejam. Ini namanya adil! Beginilah seharusnya pendirian seorang gagah, seorang pendekar demikian jalan pikirannya yang dianggapnya sudah tepat dan benar.

Muryani agaknya sudah lupa akan wejangan-wejangan mendiang ayahnya. Mendiang Ki Ronggo Bangak, biarpun tidak dapat mengajarkan aji kanuragan, namun telah mengajarkan ilmu-ilmu yang jaul lebih indah dan lebih bermanfaat sebagai bekal untuk perjalanan disepanjang jalan raya yang dinamakan hidup ini. Dia mengajarkan kesusastraan, kesenian, dan terutama sekali, pengertian tentang kehidupan, tentang isi kehidupan dan bagaimana sebaiknya mengisi kehidupan ini. Bukan sekedar pelajaran menghafal filsafat-filsafat jiplakan yang sudah mapan dan sudah ada, kemudian hanya untuk dihafal di luar kepala sehingga kemudian hanya menjadi semacam peribahasa atau motto.

Ki Ronggo Bangak memaklumi bahwa puterinya telah menguasai aji kanuragan telah menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna, penuh dengan kekuatan dan kekerasan. Karena itu dia pernah menasihati puterinya ketika Muryani mengatakan bahwa kekerasan harus dihadapi dengan kekerasan pula, pembunuhan harus dibalas dengan pembunuhan juga. Ki konggo Bangak ketika itu berkata,

"Muryani, kalau kita membalas kekerasan dengan kekerasan, membalas pembunuhan dengan pembunuhan pula, lalu apa bedanya di antara kita dengan mereka yang melakukan kekerasan dan pembunuhan itu? Kalau kita membunuh seorang pembunuh, bukankah kita menjadi pembunuh juga?"

"Akan tetapi jelas tidak sama, ayah!" bantah Muryani. "Kita membunuh karena ia seorang yang jahat sedangkan dia..."

"Diapun tentu mempunyai alasan terentu untuk membenarkan perbuatannya itu, anakku. Semua itu hanya alasan yang dicari dan dipergunakan orang untuk menutupi kesalahannya atau perasaan bersalahnya."

Muryani masih merasa penasaran. "Kalau begitu, lalu untuk apa orang bersusah payah belajar aji kanuragan selama bertahun-tahun dan menjadi pendekar?"

"Nah, di sinilah letak salah pengertian yang harus dipahami semua orang yang mempelajari aji kanuragan dan yang menganggap dirinya sebagai pendekar. Aji kanuragan berarti ilmu olah raga yang tujuannya jelas untuk manfaat raga, yaitu kesehatan. Jadi aji kanuragan adalah untuk membuat raga menjadi sehat dan kuat menolak serangan penyakit, dan intinya yang lebih mendalam adalah menyehatkan lahir dan batin. Ilmu pencak silat adalah ilmu bela diri sebagai pelindung dan penyelamat diri terhadap ancaman serangan dari luar yang kuat. Bela diri ini dapat dikembangkan menjadi membela orang lain yang terancam kekerasan sehingga orang yang terancam itu luput dari tindak kekerasan. Jadi ilmu pencak silat adalah ilmu membela diri, bukan ilmu memukul orang! Sekarang mengenai arti pendekar. Pendekar berarti seorang yang berani membela kebenaran dan keadilan yang bersifat umum, bukan kebenaran dan keadilan menurut penilaian sendiri atau penilaian golongan sendiri. Membela kepentingan pribadi atau kepentingan golongan sendiri. Siapa saja dapat menjadi pendekar asal dia berjiwa pembela rakyat dan berani berkorban untuk tindakannya itu tanpa penyesalan. Dia harus berprinsip berdasarkan bimbingan Gusti Allah, berlandaskan kebenaran dan kalau perlu berani menentang arus. Kalau orang hanya mengandalkan kekuatan main pukul dan main bunuh, belum tentu dia pendekar. Tukang pukul dan penjahat tukang bunuh juga berbuat seperti itu dengan dalih dan alasan masing-masing. Mengertikah engkau, Muryani? Sungguhpun aku tahu bahwa engkau memiliki kebaktian, aku tidak ingin anakku menjadi tukang pukul atau pembunuh!"

Pada waktu mendengar petuah itu, Muryani terkesan sekali. Nasihat itu diucapkan ayahnya setelah terjadinya peristiwa pengusiran Wiroboyo dari Dusun Pakis, dan ia amat memperhatikan nasihat itu. Akan tetapi sejak ayahnya terbunuh, kemudian ia terluka parah oleh pembunuh ayahnya, apalagi setelah ia menjadi tangkapan dan nyaris diperhina Wiroboyo, semua itu mendatangkan rasa sakit hati yang mendalam. Ditambah lagi selama empat tahun ia menjadi murid Nyi Rukmo Petak yang masih berwatak keras walaupun sudah mampu mengatasi kekejamannya, hati Muryani penuh kekerasan dan tekadnya membulat untuk mencari dan membunuh Wiroboyo.

Dengan melakukan perjalanan cepat tanpa menanggapi atau melayani segala macam gangguan atau penghalang, ia menuju ke Ponorogo. Kalau ada yang menghalanginya dalam perjalanan, ia menggunakan Aji Kluwung Sakti untuk menghindar dan aji itu dapat membuat ia berkelebat menghilang dari para penghalangnya. Ia tidak ingin terganggu dan tertunda oleh hal-hal yang dianggapnya tidak ada artinya dibandingkan usahanya mencari Wiroboyo yang amat dibencinya.

Pada suatu pagi tibalah ia di depan pintu gerbang kota Kadipaten Ponorogo. Tak tampak banyak perubahan pada kota itu. Bangunan-bangunannya masih seperti empat tahun yang lalu. Ia langsung saja melangkah menuju ke rumah Wiroboyo yang pernah dikunjunginya empat tahun yang lalu. Begitu ia melihat rumah itu, jantungnya berdebar tegang. Seolah-olah ia telah melihat musuh besarnya telah menantinya di depan rumah!

Akan tetapi bukan! Bukan Wiroboyo yang dilihatnya, melainkan lima orang perajurit yang duduk di atas bangku sebuah gardu yang berdiri di dekat pintu gerbang pekarangan rumah itu. Keadaan rumah besar itu telah berubah! Lima orang itu berpakaian seragam. Mereka adalah perajurit! Apakah Wiroboyo kini telah menjadi seorang pembesar dan berpangkat tinggi sehingga rumahnya dijaga perajurit? Tak mungkin, pikirnya. Wiroboyo adalah bekas demang yang telah diusir rakyat dusun yang dipimpinnya. Namanya tentu telah dicoret oleh pemerintah sebagai seorang ponggawa yang tidak baik. Tak mungkin kini diangkat menjadi seorang yang berpangkat tinggi.

Namun Muryani sekarang berbeda dengan empat tahun yang lalu. Biarpun hatinya sudah merasa tegang dan panas berada di depan rumah musuh besarnya, namun ia tidak mau sembrono menggunakan kepandaiannya memasuki rumah itu. Bagaimanapun juga, ada kemungkinan rumah itu tidak dihuni Wiroboyo lagi. Ia harus mendapat keterangan pasti lebih dulu. Ia lalu memasuki pekarangan, menghampiri para penjaga yang duduk diatas bangku panjang yang berada di luar gardu. Lima orang penjaga yang masih muda-muda itu serentak bangkit berdiri melihat masuknya seorang gadis cantik jelita ke dalam pekarangan. Sikap mereka seolah menyambut kedatangan seorang pembesar tinggi yang harus mereka hormati!

"Selamat pagi, nona," kata seorang antara mereka.

"Nona ada keperluan apakah?" sambung orang kedua.

"Nona mencari siapakah?" tanya orang ke tiga.

"Apa yang dapat saya lakukan untukmu, nona?" orang keempat tidak mau ketinggalan.

Dari sikap dan pandang mau mereka, jelas bahwa empat orang itu saling berebutan mencari muka dan perhatian. Hanya orang kelima yang usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun, diam dan hanya tersenyum geli menyaksikan ulah rekan-rekannya. Namun sepasang matanya memandang penuh selidik. Melihat sikap mereka, Muryani lalu memilih orang kelima yang diam saja itu untuk bertanya.

"Paman, tolong paman memberi keterangan kepadaku apakah Ki Wiroboyo berada di rumah?" Ia menuding ke arah bangunan besar itu.

Yang ditanya memandang heran. "Wiroboyo? Siapakah itu, nona?"

"Wiroboyo dan keluarganya penghuni rumah itu. Bukankah itu rumah Wiroboyo?" tanya Muryani penasaran.

Penjaga itu menggeleng kepalanya. "Nona salah alamat. Penghuni dan pemilik rumah ini adalah Raden Tumenggung Jatisurya, senopati Ponorogo."

Tentu saja Muryani menjadi terkejut dan heran, juga ragu. "Akan tetapi empat tahun yang lalu rumah ini masih menjadi tempat tinggal Ki Wiroboyo bersama keluarganya. Apakah dia sudah pindah? Kalau dia sudah pindah, katakanlah kepadaku ke mana dia pindah, paman."

Orang itu menggeleng kepala. "Kami tidak tahu, nona. Kami adalah anggota pasukan pengawal Raden Tumenggung Jatisurya yang menerima tugas Kanjeng Gusti Sultan Agung untuk diperbantukan di Kadipaten Ponorogo dan kami datang tiga tahun yang lalu. Rumah ini ketika kami datang sudah kosong lalu menjadi tempat tinggal atasan kami itu."

Bingung juga hati Muryani mendengar keterangan ini. Tak disangkanya, jahanam itu telah pergi lagi dan ia tidak tahu harus mencarinya ke mana. Ia menjadi jengkel dan seperti biasanya, kalau hatinya kesal, tanpa disengaja ia membanting kaki kanannya sambil berseru, "Sialan!!" Akan tetapi saking jengkel dan marahnya, ia lupa diri dan ketika membanting kakinya, ia mengerahkan tenaga saktinya seolah-olah kakinya itu sedang menginjak-injak tubuh Wiroboyo..Tentu saja kekuataan bantingan kakinya itu hebat sekali dan akibatnya, lima orang penjaga yang berdiri di depannya itu terpelanting roboh! Mereka terkejut dan berteriak-teriak.

Pada saat itu dari luar masuk seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya tinggi besar dan kulitnya gelap. Wajahnya ganteng gagah seperti Sang Bimasena tokoh Pandawa. Dia tadi melihat semua peristiwa yang terjadi dan diam-diam hatinya terkejut bukan main melihat seorang gadis muda cantik jelita membuat lima orang prajuritnya berpelantingan hanya dengan membanting kaki kanan ke atas tanah. Sebagai seorang ahli aji kanuragan, maklumlah dia bahwa gadis itu tentu seorang yang sakti mandraguna.

Pria gagah perkasa ini adalah Raden Tumenggung Jatisurya. Dia adalah seorang senopati muda Mataram yang digdaya. Melihat munculnya seorang gadis muda yang memiliki tenaga sakti sehebat itu Lentu saja dia menjadi tertarik sekali dan curiga. "Heii! Apa yang terjadi di sini?" Ia membentak, suaranya nyaring penuh wibawa.

Lima orang petugas jaga tadi sudah berhasil bangkit berdiri kembali. Mereka masih terkejut dan heran ketika terpelanting jatuh tanpa diserang tadi. Melihat munculnya Raden Tumenggung Jatisurya mereka merasa lega. Seorang di antara mereka segera membuat laporan.

"Raden, ketika kami sedang berjaga datang gadis ini. Ia bertanya kepada kami tentang orang bernama Ki Wiroboyo. Kami menjawab bahwa kami tidak tahu. Dia agaknya marah lalu membanting kakinya. Entah mengapa kami berlima terpelanting roboh."

Kecurigaan dalam hati Tumengguni Jatisurya menjadi semakin besar. Dia menatap wajah yang cantik jelita itu dengan penuh selidik. Dia sendiri mengenal betul siapa Ki Wiroboyo. Bekas demang Dukuh Pakis yang diusir oleh penduduknya itu dan kemudian tinggal di Ponorogo. Orang itu telah diusir oleh Adipati Ponorogo karena diragukan kesetiaannya kepada Mataram. Bahkan ada penyelidik kadipaten yang melaporkan bahwa beberapa kali Ki Wiroboyo menerima tamu-tamu orang Madura dan orang Surabaya.

Ketika pada suatu hari Sang Adipati mendengar bahwa Wiroboyo menerima secara diam-diam di waktu malam kehadiran Ki Harya Baka Wulung, sebagai tamu kehormatan, Sang Adipati memerintahkan agar Wiroboyo diusir keluar dari Ponorogo. Pada waktu itu sepak terjang Ki Harya Baka Wulung sebagai seorang yang menentang Mataram sudah amat dikenal. Adipati Ponorogo sendiri sudah pernah dibujuk-bujuk oleh tokoh Madura itu untuk memberontak terhadap Mataram dan bekerja sama dengan Madura untuk melawan Mataram.

Tentu saja bujukan itu ditolaknya dengan keras. Maka, Ki Wiroboyo dianggap sebagai orang berbahaya yang diragukan kesetiaannya terhadap Ponorogo dan Mataram. Setelah dia diusir dari Ponorogo, bekas rumahnya ditempati oleh Tumenggung Jatisurya, senopati muda Mataram yang diperbantukan ke Ponorogo dalam persiapan Mataram untuk menyerbu ke Surabaya dan Madura. Dengan sepasang matanya yang lebar dan mencorong, Tumenggung Jatisurya memandang wajah Muryani dan bertanya, suaranya nyaring dan langsung tanpa basa-basi lagi.

"Nona, ada urusan apakah antara andika dan Wiroboyo maka andika mencarinya?"

Muryani sedang jengkel mendengar bahwa Wiroboyo tidak tinggal di situ ia dan tidak ada yang tahu ke mana perginya. Maka, mendengar pertanyaan yang nadanya kasar dari pria tinggi besar itu ia memandang dengan mata galak dan alis berkerut. "Aku mencari Wiroboyo adalah urusanku sendiri dan tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan siapa juga termasuk kamu!"

Tumenggung Jatisurya tertegun. Belum pernah ada wanita, masih muda lagi berani bersikap sedemikian galak terhadap dirinya, apalagi setelah dia menjadi seorang senopati. Akan tetapi pandangan matanya bersinar gembira. Gadis ini memiliki semangat berapi-api, sifat yang dikaguminya. Dia tidak suka melihat kelemahan dan kecengengan. Mungkin karena inilah maka setua ini dia masih belum dapat menemukan jodohnya untuk dijadikan isterinya.

"Hemm, kalau tidak ada urusannya. dengan kami, lalu kenapa kamu datang mencari keterangan ke sini?" Jawaban yang sama kerasnya ini membuat Muryani tertegun pula. Biasanya para pria menghadapinya dengan sikap lembut, bahkan menjilat. Akan tetapi pria yang satu ini demikian kasarnya!

Kalau dipikir, benar juga apa yang dikatakan pria ini. Ia pun lalu berkata dengan mulut cemberut yang di luar kesengajaannya malah membuat wajahnya tampak semakin cantik. "Aku mencari Wiroboyo karena ada urusan pribadi yang tak perlu kuceritakan kepada orang lain. Katakan saja kalau andika mengetahui di mana dia kini berada."

"Nanti dulu! Jawab dulu, andika mencari dia sebagai kawan atau lawan? Sebagai sahabat atau musuh?"

Muryani tidak tahu siapa pria ini sahabat Wiroboyo atau bukan. Ia tidak perduli. Andaikata sahabat musuhnya dan hendak membela Wiroboyo, akan dihajarnya sekalian. "Sebagai musuh besar! Aku akan membunuhnya!" ia berkata tegas dan lantang.

Kembali tumenggung itu terkejut. Gadis ini benar-benar seorang pemberani. Tidaklah mudah membunuh seorang seperti Ki Wiroboyo. Bukan saja karena dia mendengar berita bahwa akhir-akhir ini Wiroboyo telah mendapatkan seorang guru dan menjadi seorang yang digdaya, namun juga dia bergabung dengan orang-orang yang sakti mandraguna. Dia pernah mengirim orang-orangnya untuk melakukan penyelidikan atas gerombolan Wiroboyo itu untuk melihat keadaan mereka. Kalau sekiranya gerombolan itu akan mengadakan kerusuhan dan mengancam keamanan Ponorogo, tentu dia akan mengerahkan pasukan untuk membasminya. Akan tetapi para penyelidiknya melaporkan bahwa Wiroboyo dan teman-temannya tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan.

Mereka hanya mendirikan semacam perguruan pencak silat dan kini mendiami bekas perkampungan perguruan Welut Ireng yang sudah meninggalkan perkampungannya dilereng Gunung Wilis itu. Karena mereka tidak membuat keributan, maka Raden Tumenggung Jatisurya tidak dapat berbuat apa-apa, juga Sang Adipati Ponorogo tidak ingin mengganggu dan mencari keributan. Dan kini, gadis ini seorang diri hendak mencari dan membunuh Wiroboyo!

"Andika hendak membunuh Wiroboyo? Hemm, kalau begitu sebaiknya kita bicara didalam. Aku akan dapat memberi keterangan kepadamu dimana adanya orang itu!"

Setelah berkata demikian, tanpa bicara apa-apa lagi Raden Tumenggung Jatisurya lalu memutar tubuh meninggalkan Muryani pergi ke arah bangunan besar itu. Muryani merasa girang dan tanpa rasa takut sedikitpun ia lalu melangkah dan mengikuti laki-laki tinggi besar itu. Agaknya Raden Tumenggung Jatisurya memang hendak menguji gadis itu. Kedua kakinya yang panjang itu melangkah lebar dan cepat sekali. Akan tetapi ketika dia tiba di pendapa rumah itu dan menoleh, ternyata Muryani berada tepat di belakangnya.

"Silakan masuk!" kata Raden Tumenggung Jatisurya, mengajak Muryani memasuki sebuah ruangan di sebelah kiri pendapa. Ruangan itu agaknya ruangan tamu, luas dan bersih. "Duduklah, nona," kata tuan rumah.

Muryani duduk di atas kursi, berhadapan terhalang meja besar dengan laki-laki tinggi besar itu. Sejenak mereka saling pandang dan Raden Tumenggung Jatisurya berkata, suaranya tetap tenang dan tegas, sama sekali tidak terdengar ramah. "Sebelum kita bicara, kita perlu tahu lebih dulu dengan siapa kita saling berhadapan. Siapakah andika, nona?"

"Nama saya Muryani dan seperti sudah kukatakan tadi, Wiroboyo musuh besarku dan aku mencarinya untuk membunuhnya! Nah, kalau andika tahu di mana dia, beritahukanlah kepadaku!"

"Nanti dulu, nimas Muryani. Aku boleh menyebutmu nimas, bukan?"

"Sesukamulah!"

"Sebelum kita bicara tentang Wiroboyo, perkenalkan dulu diriku. Aku Raden Tumenggung Jatisurya yang sekarang menjadi senopati di Ponorogo. Tadinya aku adalah seorang senopati muda Mataram."

"Baiklah, paman Tumenggung, sekarang kita sudah saling mengenal nama. Harap segera ceritakan di mana aku bisa mendapatkan tempat tinggal Wiroboyo."

"Wah, nimas Muryani, jangan sebut aku paman! Biarpun usiaku sudah empat puluh tahun, akan tetapi aku belum menikah. Andika mencari Wiroboyo dan bermaksud membunuhnya? Tidak begitu mudah, nimas. Andika akan mendapatkan keterangan yang sejelas-jelasnya tentang Wiroboyo dariku, akan tetapi ada syaratnya."

"Hemm, apa syaratnya?" tanya Muryani, tidak mau menyebut apapun.

"Syaratnya hanya satu, yaitu andika harus dapat mengalahkan aku dalam pertandingan adu kanuragan, sekarang dan sini juga."

Muryani mengerutkan alisnya dan, sepasang matanya mencorong. "Hemm, apa artinya ini? Mengapa andika mengajukan syarat itu? Apakah in berarti bahwa Wiroboyo adalah seorang sahabatmu yang akan andika bela?"

Tumenggung tinggi besar seperti Bimasena itu terkekeh dan jari-jari tangannya menyentuh kumisnya yang tebal. "Semua pertanyaan itu baru akan dapat kujawab kalau andika sudah memenuhi syarat itu, ialah mengalahkan aku. Kalau andika tidak mampu mengalahkan aku, maaf, terpaksa semua itu tidak dapat kujawab."

Muryani bangkit berdiri dan mengepal kedua tangannya. "Baik, aku terima syarat itu! Mari kita mengadu kanuragan. Kapan dan dimana kita mulai?"

Raden Tumenggung Jatisurya terkekeh girang. Dia adalah seorang senopati, seorang gagah yang paling suka mengadu kesaktian. "Sekarang juga dan di sini, nimas Muryani. Tempat ini cukup luas dan tak seorangpun akan berani mengganggu kita."

Dia lalu mendorong meja kursi ke tepi ruangan itu agar lebih lega. Setelah itu dia berdiri di tengah ruangan itu dengan sikap gagah, kedua kakinya terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan dia berkata dengan lantang. "Karena kita tidak berkelahi sebagai musuh, melainkan saling menguji kepandaian, maka kita tidak perlu mempergunakan senjata, cukup dengan kaki tangan kita saja."

"Sudahlah, tidak perlu berpanjang tutur kata, mari kita mulai, aku sudah siap!" kata Muryani, suaranya mengandung ketidaksabaran.

Dengan senyum lebar tak pernah meninggalkan mulutnya, Jatisurya berkata, "Andika adalah seorang wanita, masih amat muda, dan sebagai tamu pula. Oleh karena itu, tidak pantaslah kalau aku sebagai pria dan tuan rumah membuka serangan. Silakan, nimas!"

Muryani tidak sabar lagi. "Lihat seranganku!" bentaknya dan tangan kirinya sudah meluncur dalam sebuah tamparan kilat yang diarahkan ke pipi kanan lawan.

Tumenggung yang sudah kaya akan pengalaman bertanding itu memandang rendah. Diapun menggerakkan lengan kanannya untuk menangkis dan maksudnya dia hendak menangkis sekalian menangkap lengan yang berkulit halus dan kecil mungil itu.

"Wuuuttt dukkk!!" Dua lengan yang berbeda jauh besarnya itu beradu dan seruan kaget terlepas dari mulut Jatisurya. Pertemuan lengan itu membuat kuda-kudanya gempur dan tubuhnya terhuyung ke belakang sampai lima langkah! Padahal, gadis itu masih tampak senyum dan sama sekali tidak terguncang. Maklumlah senopati yang berpengalaman ini bahwa gadis lawannya sungguh-sungguh seorang yang "berisi", memiliki tenaga sakti yang amat kuat. Tidak heranlah kalau lima orang perajuritnya terpelanting roboh begitu gadis itu membanting kakinya.

"Bagus!" Dia memuji untuk menutupi rasa malunya dan diapun melanjutkan berseru, "Lihat seranganku!" Tumenggung itu tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan kepandaian dan mengerahkan tenaganya. Serangannya dahsyat sekali, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar dan kokoh.

Muryani menghadapinya dengan tenang saja. Maklum bahwa serangan lawan ini tidak boleh dipandang ringan, iapun mengerahkan Aji Kluwung Sakti dan tubuhnya berkelebatan cepat sekali bagaikan bayang-bayang saja. Permainan pencak silat Tumenggung Jatisurya sungguh dahsyat. Tubuhnya bergerak dengan cepat dan kuat, serangannya sambung menyambung dan bertubi-tubi.

Tamparan, tonjokan, tendangan, serangan dengan siku, dengan lutut, semua bagian tubuhnya dapat melakukan serangan yang berbahaya. Diam-diam Muryani harus mengakui bahwa tingkat kepandaian senopati Ponorogo ini cukup hebat. Andaikata ia belum mendapat bimbingan ilmu dari mendiang Nyi Rukmo Petak, agaknya akan sukar baginya untuk dapat mengalahkan Raden Tumenggung Jatisurya ini.

Tingkatnya jelas jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Wiroboyo. Setelah merasa cukup mempermainkan lawan dengan kecepatan gerakannya, Muryani membuat lawan terputar-putar mengejar bayangannya dan tubuh tinggi besar ini mulai berkeringat dan napasnya mulai memburu, Muryani menyudahi pertandingan itu. Tangan kirinya yang dimiringkan menyambar tengkuk dan kakinya menendang belakang lutut.

"Plak! Desss厖 !" Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh tinggi besar itu ambruk seperti sebatang pohon jati ditebang. Raden Tumenggung Jatisurya jatuh mendeprok, menggunakan tangan kanan menekan-nekan tengkuknya dan tangan kirinya mengurut-urut lutut, mengeluh lirih.

Muryani berdiri bertolak pinggang dengan tangan kirinya. "Bagaimana, paman Tumenggung. Apakah andika masih belum puas dan ingin melanjutkan pertandingan ini?"

Pria itu mengguncang-guncang kepala untuk mengusir kepeningan, kemudian berkata, "Sudah... sudah... aku mengaku kalah. Andika hebat sekali, nimas Muryani... Aku sungguh kagum sekali..." Dia bangkit dengan susah payah, lalu menghampiri kursi dan duduk.

"Aku tidak butuh pujianmu, paman. Aku butuh keteranganmu tentang Wiroboyo," jawab Muryani.

"Duduklah, akan kuceritakan semua."

Mereka duduk lagi berhadapan, terhalang meja. Setelah mengamati wajah yang cantik itu dengan sepasang mata penuh kagum, Raden Tumenggung Jatisurya menghela napas dan berkata, "Nimas Muryani, ketahuilah. Ketika tadi bertemu denganmu dan mendengar bahwa andika hendak membunuh Wiroboyo, aku diam-diam mendukungmu karena kami semua disini juga tidak suka kepada manusia itu."

"Hemm," Muryani mengerutkan alisnya dan menatap wajah tumenggung itu penuh selidik. "Kalau begitu, kenapa andika tadi menantangku bertanding?"

"Terus terang saja, aku melakukan itu untuk mengujimu, nimas Muryani. Aku khawatir akan keselamatanmu. Tidak mudah membunuh si Wiroboyo itu, bahkan berbahaya sekali. Karena itulah maka aku sengaja menantangmu untuk menguji. Kalau andika tidak mampu menandingi aku, sama saja dengan membunuh diri kalau andika pergi menentang Wiroboyo. Maka, andaikata tadi andika kalah olehku, tentu aku tidak memberi tahu agar andika tidak mengantar nyawa dengan sia-sia kesana."

"Akan tetapi aku melihat bahwa tingkat kepandaian andika jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian jahanam itu, paman. Dia sama sekali tidak berbahaya bagiku dan aku pasti dapat membunuh dia!"

Tumenggung Jatisurya mengangguk-angguk dan tersenyum, matanya menatap wajah jelita itu dengan penuh kagum. "Aku harus mengakui bahwa andika masih muda dan sakti mandraguna, juga amat pemberani. Akan tetapi agaknya andika kurang pengalaman. Wiroboyo itu orangnya licik dan dia memiliki sekutu dengan orang-orang sakti mandraguna, bahkan dia kini menjadi murid seorang datuk besar."

"Maaf, paman Tumenggung!" kata Muryani dengan alis berkerut, dan matanya menatap tajam penuh wibawa. "Aku sama sekali tidak ingin mendengar andika memuji-muji keparat jahanam Wiroboyo itu. Aku hanya ingin mendengar darimu di mana sekarang dia berada!"

Raden Tumenggung Jatisurya menghela napas panjang. Biarpun pada saat pertama kali bertemu dengan Muryani dia merasa tertarik sekali dan diam-diam telah jatuh hati, namun kini sadarlah dia sepenuhnya bahwa dia tidak dapat mengharapkan gadis seperti ini menjadi isterinya. Gadis ini sakti mandraguna dan berwatak keras dan angkuh sehingga dia tidak akan mampu menundukkan hati gadis itu melalui kedudukannya sebagai senopati sekalipun! Gadis seperti ini hanya dapat ditundukkan oleh perasaan cintanya sendiri, bukan oleh bujuk rayu dari luar dirinya.

"Sungguh, aku tidak memuji-muji Wi roboyo untuk menakut-nakutimu, nimas Muryani. Akan tetapi biarlah aku menceritakan keadaan yang sebenarnya. Wiroboyo itu pada tiga tahun yang lalu telah diusir keluar dari Ponorogo karena Gusti Adipati meragukan kesetiaannya. Dia dikabarkan melakukan hubungan dengan orang-orang yang memusuhi Mataram dan agaknya dia mengumpulkan orang-orang dari golongan sesat. Setelah diusir keluar dari Ponorogo, menurut penyelidikan kami, dia menguasai perkampungan yang dulu menjadi pusat perkumpulan Welut Ireng, di lereng Gunung Wilis. Agaknya dia menguasai bekas para anggota Welut Ireng yang sudah bubar. Menurut hasil penyelidikan kami, dia mendirikan sebuah perkumpulan di sana, yang diberi nama perkumpulan pencak silat Kelabang Wilis. Kedudukannya kuat sekali karena dia telah menjadi murid seorang datuk besar yang bernama Wiku Menak Koncar, seorang datuk besar dari Blambangan yang sakti mandraguna. Bahkan kakek itu kini tinggal bersama Wiroboyo. Selain datuk ini, Wiroboyo dibantu pula oleh Warok Surosingo dan seorang sakti lain bernama Darsikun yang pernah menjadi murid Ki Harya Baka Wulung yang terkenal itu. Nah, andika bayangkan betapa kuat kedudukan Wiroboyo, nimas Muryani. Kami tidak dapat berbuat apa-apa kepada Wiroboyo karena tidak ada bukti bahwa dia melakukan pelanggaran atau kejahatan, walaupun kami semua tidak suka padanya dan tahu bahwa dia bukan orang baik-baik."

Diam-diam Muryani harus mengakui betapa kuatnya kedudukan musuh besarnya itu. Keterangan yang jelas dari tumenggung itu amat penting baginya. Setelah mengetahui keadaan musuh, ia dapat berhati-hati. Ia memang tidak boleh sembrono. Mendiang gurunya, Nyi Rukmo Petak juga telah memperingatkan kepadanya agar ia berhati-hati berhadapan dengan para datuk besar. Kini Wiroboyo telah menjadi murid seorang datuk besar dari Blambangan yang bernama Wiku Menak Koncar.

Tentu ilmu kepandaian bekas demang Pakis itu kini tidak seperti dulu lagi, sudah meningkat tinggi. Memang ia tidak perlu takut menghadap musuh besarnya itu, karena sekarang ia sendiripun sudah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat dari mendiang Nyi Rukmo Petak. Akan tetapi Wiroboyo kini memiliki banyak anak buah. Apalagi di sana ada gurunya, datuk besar dari Blambangan itu. Bahkan ada pula pembantu-pembantunya yang bukan orang lemah, yang bernama Warok Surosingo dan Darsikun.

Ia dapat menduga bahwa yang dulu membunuh ayahnya dan melukainya tentu orang bernama Darsikun itu, yang bersama Wiroboyo telah menjebaknya, membunuh kuda dan menangkapnya kemudian dua orang itu dikalahkan mendiang Nyi Rukmo Petak. Keadaan Wiroboyo amat kuat dan ia hanya seorang diri! Ia harus berhati-hati.

Muryani bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormat kepada tuan rumah. "Paman Tumenggung, keterangan andika ini sungguh amat berharga bagi saya, maka saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan paman."

Tumenggung Jatisurya cepat bangkit berdiri. "Kenapa terburu-buru hendak pergi nimas Muryani? Andika hendak pergi kemanakah?"

"Saya hendak pergi mencari Wiroboyo, paman." Sikap Muryani sekarang menghormat karena ia tahu betapa bangsawan berniat baik ketika menantangnya bertanding.

"Ah, nimas! Mengapa tergesa-gesa. Duduklah dulu, kita belum berkenalan. Aku ingin sekali mengenalmu lebih baik, mengetahui dari mana andika berasal, siapa keluarga andika dan mengapa andika memusuhi orang macam Wiroboyo itu?"

"Terima kasih, paman Tumenggung, Maafkan, saya tidak dapat menunda lebih lama lagi, harus segera mencari jahanam itu. Mohon pamit." Ia melangkah hendak keluar dari ruangan itu.

"Nimas Muryani, tunggu sebentar," kata Raden Tumenggung Jatisurya. Dia melangkah mengejar dan Muryani menghentikan langkahnya, membalikkan tubuh dan mereka berdiri saling berhadapan.

"Ada apakah, paman?"

"Nimas, aku amat mengkhawatirkan keselamatanmu. Biarlah aku akan memimpin pasukan menyertai dan membantumu menghadapi mereka!"

Muryani mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya. "Tidak, paman. Jangan bantu aku. Ini adalah urusan pribadi, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan paman atau dengan Kadipaten Ponorogo. Sudah, selamat tinggal, paman Tumenggung!"

Setelah berkata demikian, Muryani melompat keluar dengan cepat dan meninggalkan rumah itu. Raden Tumenggung Jatisurya mengikuti bayangan gadis, itu dengan pandang matanya dan dia menggeleng-geleng kepalanya. Kalau saja dia mampu mengalahkan kedigdayaan gadis itu, pikirnya, mungkin ada harapan baginya untuk memenangkan hati Muryani sehingga gadis itu dapat menjadi pendamping hidupnya.

********************

Bukit di belakang perguruan silat Jatikusumo yang letaknya di daerah Pacitan itu sepi sekali. Apalagi waktu itu malam hari. Biarpun bulan purnama tampak terang, memandikan seluruh permukaan bukit dengan cahayanya yang lembut, namun tak tampak seorangpun manusia di tempat itu. Apalagi di waktu malam, bahkan di waktu siang haripun, tidak ada murid Jatikusumo yang berani berkeliaran di bukit itu.

Sebuah sumur tua yang berada dipuncak bukit itulah yang menjadi sebabnya. Sumur tua yang menyimpan peristiwa-peristiwa mengerikan di masa yang lalu. Sumur tua penuh rahasia, yang pernah menjadi tempat tahanan seorang tokoh Jatikusumo puluhan tahun yang lalu...


Thanks for reading Seruling Gading Jilid 11 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »