Seruling Gading Jilid 05

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 05

MATAHARI sudah naik agak tinggi dan pagi menjelang siang itu cerah sekali. Kecerahan cerahan suasana itu mempengaruhi hati Parmadi, membuat perasaannya yang tadi tertindih kesedihan karena perpisahan itu menjadi agak ringan. Dia membayangkan betapa dia akan hidup bersama gurunya, yang kini diyakini adalah seorang kakek yang sakti mandraguna. Juga dia merasa girang sekali bahwa tanpa disadarinya, dia telah memiliki pelindung gaib yang disebut Kekuasaan Ilahi oleh gurunya, yang bekerja tanpa disadarinya, seperti kekuasaan yang mendetakkan jantungnya, kekuasaan yang menumbuhkan semua anggauta tubuhtrya, rambut dan kukunya. Kekuasaan itu maha kuat dan tidak ada kekuatan lain di dunia ini yang mampu mengalahkannya!

Tiba-tiba dia menahan langkahnya. Dia sudah tiba di luar dusun Pakis dan di depan sana, diatas sebuah batu, dia melihat Muryani duduk dan memandangnya. Parmadi cepat maju menghampirinya dan dia melihat bahwa dara itu sudah tidak menangis lagi, akan tetapi sepasang matanya agak kemerahan dan kedua pipinya masih ada bekas air mata.

"Adi Muryani....! Engkau di sini...?"

Muryani melompat turun dari atas batu dan berdiri berhadapan dengan pemuda itu. "Kakang Parmadi, kau... kau benar-benar hendak pergi...?" kata gadis itu lirih, seperti berbisik.

Parmadi menelan ludah dan mengangguk. "Benar, Mur. Aku... aku harus pergi Aku ingin seperti engkau, memiliki kepandaian agar berguna bagi nusa dan bangsa."

Muryani menggigit bibirnya, agaknya menahan tangisnya. "Kau... kau tidak akan kembali lagi ke sini....?"

"Tentu saja aku akan kembali kelak kalau sudah berhasil."

"Berapa lama....?"

"Entahlah. Mudah-mudahan tidak terlalu lama."

"kakang, engkau... engkau tidak akan melupakan aku...?" bibir itu sudah gemetar menahan tangis.

"Ah, mana bisa aku melupakan engkau, adi Muryani? Sampai mati aku tidak akan melupakan engkau!"

"Kakang Parmadi...!!" entah siapa yang lebih dulu bergerak, namun tahu-tahu Parmadi sudah merangkul dan mendekap dara itu dan Muryani menangis terisak-isak di atas dada Parmadi.

Parmadi merasa terharu dan dia benar-benar merasakan betapa besar kasih sayangnya kepada gadis ini. Dia menggunakan lengan kiri untuk merangkul pundak dan tangan kanannya meng usap rambut yang hitam dan halus itu. Dia membiarkan gadis itu menangis beberapa lamanya sampai baju di dadanya menjadi basah oleh air mata. Akhirnya tangis itu mereda juga. Agaknya himpitan kedukaan pada dada Muryani menjadi ringan setelah perasaan itu dilarutkan melalui air matanya.

Dia lalu menarik tubuhnya dari rangkulan Parmadi dan merenggangkan diri. Mukanya basah, akan tetapi ia tidak menangis lagi. Bahkan ia berusaha untuk tersenyum. Senyum yang mengembang dibibirnya dengan mata yang masih merah dan muka yang basah itu bahkan menimbulkan pemandangan yang amat mengharukan hati Parmadi.

"Adi Muryani," katanya dengan suara menggetar, "maafkan aku kalau aku membuatmu bersedih..."

Muryani menggunakan ujung baju untuk mengusap air matanya yang membasahi mukanya. Ia tidak menangis lagi. Ia tersenyum. "Tidak, kakang. Engkau tidak bersalah. Aku mengerti mengapa engkau harus pergi merantau. Ayah tadi telah menyadarkan aku. Memang aku yang gembeng, cengeng! Aku yang minta maaf padamu karena tadi ketika engkau berpamit, aku diam saja. Karena itu aku mencegatmu di sini. Aku ingin mengucapkan selamat jalan, kakang." Gadis itu lalu mengambil patrem bersarung dari ikat pinggangnya dan berkata, "Patremku ini tadinya dirampas Ki Wiroboyo dan sudah kuambil kembali dari dalam kamar di rumahnya. Hanya ini milikku yang selama bertahun-tahun kusayang dan selalu berdekatan denganku, kupakai latihan pencak silat dan menjadi kawan yang melindungiku. Sekarang aku serahkan padamu. Aku berikan patremku ini padamu, kakang."

"Untuk apa, adi Muryani? Aku tidak memerlukan senjata...."

"Bukan untuk senjata, melainkan untuk mengingatkanmu akan diriku, agar engkau tidak lupa kepadaku."

"Ahh.... Muryani....!" Parmadi terharu dan menerima patrem itu. "Akan kusimpan patremmu ini, seperti kusimpan bayanganmu dalam hatiku."

"Benarkah, kakang? Ah, lega hatiku sekarang. Jangan pergi dulu, biar aku yang lebih dulu meninggalkanmu pulang ke rumah. Kalau engkau yang meninggalkan aku, aku takut takkan dapat menahan tangisku lagi." Gadis itu memegang kedua tangan Parmadi. Dua pasang tangan itu saling genggam dan Parmadi dapat merasakan getaran lembut dari dua telapak tangan yang lunak lembut itu.

"Selamat jalan, kakang. Selamat berpisah dan jagalah dirimu baik-baik. Aku akan selalu menantimu, kakang. Aku pulang dulu sekarang!" gadis itu melepaskan kedua tangan yang memegangi tangan pemuda itu lalu berlari meninggalkan Parmadi menuju ke dusun Pakis.

Parmadi berdiri mengikuti bayangan gadis yang berlari itu. Tiga kali Muryani menoleh sampai kemudian bayangannya lenyap di antara pohon-pohon. Parmadi menarik napas panjang. Dengan punggung tangannya dia menghapus dua titik air mata yang tergenang di pelupuk matanya. Kemudian setelah merasa yakin bahwa gadis itu telah pergi jauh, dia membalik dan berlari memasuki hutan menuju ke hutan Penggik.

Resi Tejo Wening menyambut kedatangan Parmadi dengan senyum. Ketika pemuda itu memberi hormat sembah kepadanya, kakek yang duduk di dalam gubuk itu, mengambil sebatang suling yang tadinya ditaruh di atas sebuah meja kayu yang kasar dan menyerahkannya kepada Parmadi.

"Terimalah seruling gading ini, Parmadi. Mulai sekarang, benda ini menjadi milikmu. Agaknya memang sudah ditakdirkan bahwa aku dalam usia tua ini harus mewariskan ilmu-ilmu yang pernah kupelajari kepadamu. Engkau memang berbakat untuk menguasai ilmu kanuragan dan engkau berjodoh denganku. Akan tetapi ingatlah bahwa seruling gading ini, juga ilmu-ilmu kanuragan, semua itu merupakan alat yang mati. Mereka itu dihidupkan oleh manusia dan tergantung kepada si manusia yang mempergunakan alat itu, apakah alat itu akan dipergunakan untuk kejahatan ataukah untuk kebaikan. Alat itu sendiri tidak ada yang jahat ataupun yang baik. Sebatang parang yang tajam menyeramkan akan menjadi alat yang baik dan bermanfaat sekali kalau dipergunakan manusia untuk menebang pohon, membelah kayu atau untuk pekerjaan lain. Sebaliknya, sebilah pisau dapur yang kecil yang tampaknya tidak berbahaya akan menjadi alat yang jahat sekali kalau dipergunakan manusia untuk menusuk dada orang lain. Bahkan benda yang namanya api itu menjadi benda berguna kalau dipakai untuk rnemasak atau menyalakan lampu, akan tetapi berubah menjadi benda jahat merusak kalau dipakai untuk membakar rumah orang lain. Seruling gading ini juga demikian. Dapat menjadi alat gamelan yang indah, dapat pula menjadi senjata pelindung diri yang ampuh, akan tetapi juga tentu saja dapat menjadi alat yang amat jahat kalau dipergunakan untuk membunuh orang. Mengertikah engkau?"

Parmadi menerima suling itu dengan takjub. Selama ini, belum pernah dia memegangnya walaupun seringkali dia melihatnya. Suling itu merupakan pusaka gurunya. Sebatang suling sepanjang lengannya yang amat indah, terbuat dari gading yang berwarna putih kuning mengkilap. "Saya mengerti, eyang, dan saya berjanji akan mempergunakan pusaka ini sebagai alat yang baik dan berguna bagi nusa dan bangsa, untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan untuk menentang kejahatan."

"Bagus! Akan tetapi ada satu hal yang perlu engkau ketahui benar tentang sikap menentang kejahatan itu. Kejahatan dan kebaikan adalah sebuah pendapat sebagai hasil dari pandangan seseorang, karena itu sangat bergantung kepada si pemandang. Biasanya, hal yang mendatangkan keuntungan lahir ataupun batin dianggap baik oleh si pemandang, sebaliknya hal yang mendatangkan kerugian lahir ataupun batin dianggap jahat atau buruk."

"Kalau begitu, baik dan buruk itu tidak ada, eyang?"

"Begitulah, seperti alat tadi, baik atau buruk tergantung dari si pemakai. Adapun yang dinamakan kebaikan atau kejahatan juga tergantung dari pendapat si pemandang. Akan tetapi, kulup, ada ukuran tentang baik dan buruk yang telah diterima oleh umum, yaitu oleh manusia yang beradab dan yang telah mengenal peraturan hukum. Ukuran itu ialah, perbuatan yang merugikan orang lain, adalah jahat dan perbuatan yang menguntungkan orang lain adalah baik. Yang sifatnya merusak adalah jahat dan yang sifatnya membangun dan memelihara adalah baik. Ukuran ini dapat kau pergunakan untuk menilai baik buruknya perbuatan seseorang.

Parmadi mengangguk-angguk, mencatat pelajaran penting ini dalam sanubarinya. "Saya akan selalu ingat akan nasihat eyang ini," katanya.

"Sekarang tentang menentang kejahatan seperti yang kaukatakan tadi, Parmadi. Seperti pernah kukatakan kepadamu, dua hal harus kau lakukan sepanjang hidupmu, kalau mungkin saat demi saat, yaitu INGAT dan WASPADA. Ingatlah selalu kepada Tuhan Yang Maha Kasih seolah sembahyang datan kendat (berdoa tiada hentinya), kemudian waspadalah setiap saat akan ulah pikiran dan perbuatanmu Dalam menentang kejahatan, berhati-hatilah, jangan membiarkan si AKU dalam dirimu berkuasa. Si AKU adalah nafsu akal pikiran yang selalu mendorong kita untuk bertindak dengan pamrih mementingkan diri sendiri, demi kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Dan engkau sudah berlatih dan merasakan bahwa bilamana si AKU dalam diri ini berkuasa, maka Kekuasuan Hyang Widhi tidak akan menuntun jiwa yang sudah tertutup oleh hawa nafsu. Kalau nafsu akal pikiran menguasai diri, maka akan dapat timbul amarah dan dendam. Kalau engkau hendak menentang kejahatan karena amarah dan dendam, maka tindakanmu dituntun oleh kebencian terhadap orang yang melakukan kejahatan itu, berarti bukan menentang kejahatannya, melainkan orangnya! Padahal yang harus ditentang adalah perbuatan jahat itu agar tidak terjadi, dan kalau engkau berhasil menyadarkan orangnya sehingga dia tidak jadi melakukan perbuatan jahat, atau dia dapat bertaubat dari kesalahannya, ini berarti bahwa engkau berhasil menentang kejahatan. Mengertikah engkau, Parmadi?"

"Saya berusaha untuk mengerti, eyang."

"Memang pelajaran tentang kehidupan ini sukar, kulup, akan tetapi penting. Kalau engkau ingin menjadi seorang manusia seutuhnya. Sekarang kita sudahi dahulu dan cobalah sekarang kau tiup seruling gading itu dan biarkan jiwamu yang menuntunnya."

Agak berdebar rasa jantung Parmadi. Alangkah seringnya dia mempunyai keinginan untuk mencoba meniup dan memainkan suling itu, dan sekarang seruling gading itu bukan hanya dapat dia mainkan, bahkan telah menjadi miliknya! Akan tetapi dia segera dapat menghilangkan ketegangan ini, dan menyerah dengan seluruh pribadinya lahir batin kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Begitu dia menyerah seperti yang biasa dia latih bersama eyang gurunya, getaran gaib menggerakkan, kedua tangannya dan dia membawa suling itu ke bibirnya dan terdengarlah suara melengking-lengking dengan aneh dan juga indahnya.

Parmadi merasakan ini semua, telinganya mendengar matanya melihat, panca indranya masih beker;a, pikirannya masih sadar, akan tetapi tiupan suling itu, tidak dikendalikan oleh hati akal pikirannya. Hati akal pikirannya hanya sadar sebagai penonton dan pendengar belaka. Segala macam daya rendah nafsu terbelenggu, tidak berdaya pada saat itu. Resi Tejo Wening duduk bersila di atas bale-bale, kedua matanya terpejam dan dia seperti orang yang sedang bersamadhi, tubuhnya bergoyang-goyang perlahan sesuai dengan irama tiupan suling yang dilakukan Parmadi.

Setelah tiupan suling itu terhenti dengan sendirinya, Resi Tejo Wening mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Baik sekali, Parmadi. Tahukah engkau, Kekuasaan Ilahi sepenuhnya terkandung dalam getaran suara sulingmu tadi sehingga cukup kuat untuk mengusir roh kegelapan. Berlatihlah terus, dengan tekun dan sabar, kulup. Pohon yang ditanam dalam jiwamu telah mulai tumbuh dan kelak tentu akan rnenghasilkan buahnya."

Pada keesokan harinya, setelah matahari muncul dari balik puncak Lawu, Resi Tejo Wening dan Parmadi meninggalkan gubuk di hutan Penggik itu. Parmadi tidak bertanya ke mana gurunya pergi, hanya mengikuti dari belakang dan ternyata gurunya melangkah mendaki ke atas menuju puncak Argadumilah! Diam-diam Parmadi merasa heran.

Ternyata kakek itu tidak meninggalkan Gunung Lawu, melainkan malah menuju ke puncak! Akan tetapi dia tetap tidak bertanya dan mengikutinya dari belakang. Dia hanya kagum sekali melihat dari belakang betapa kakek itu melangkah dengan tenang dan tegap, tak pernah ragu dan tidak pernah berhenti mengaso. Padahal perjalanan itu terus mendaki tebing yang curam dan tidak mudah dilalui. Hal ini saja sudah membuktikan bahwa gurunya bukan orang biasa. Bahkan dia sendiri yang bertubuh kuat dan masih muda, merasa lelah sekali.

Jauh lewat tengah hari, menjelang sore, baru mereka tiba di puncak Argadumilah, di mana kurang lebih setengah tahun yang lalu Resi Tejo Wening bertemu dengan tiga orang datuk, yaitu Harya Baka Wulung tokoh Madura, Wiku Menak Koncar tokoh Blambangan, dan Kyai Sidhi Kawasa tokoh Banten. Dia mencegah mereka bertiga yang hendak membunuh puluhan orang anggota perkumpulan pendekar Welut Ireng dan berhasil menghalau tiga orang datuk itu pergi meninggalkan puncak Argadumilah.

"Mulai hari ini, puncak ini menjad tempat tinggal kita, Parmadi. Tempat ini baik sekali untuk mengheningkan dan memurnikan batin dan baik sekali bagimu untuk berlatih ilmu kanuragan yang akan kuajarkan padamu. Akan tetapi ada sesuatu yang harus dibersihkan lebih dulu agar tidak mengganggu kita. Lihat di sana itu." Kakek, itu menunjuk ke kiri.

Parmadi melihat sebatang pohon randu alas berdiri tegak seperti raksasa. Pohon itu sudah tua sekali. Cabang-cabangnya seperti lengan-lengan panjang, ranting-ranting seperti jari-jarinya dan daun-daunnya seperti bulu yang lebat. Parmadi merasa bulu tengkuknya meremang. Dia hidup di dusun pegunungan di mana para pendudukya masih sangat dipengaruhi oleh tahyul dan seringkali dia mendengar cerita tentang siluman dan setan yang menjadi penghuni pohon-pohon besar dan tua seperti itu. Setiap ada halangan atau orang sakit, terutama kanak-kanak, tentu dihubungkan dengan pengaruh roh gelap atau yang disebut yang "mbaurekso" (menguasai) atau "danyang" yang marah karena merasa terganggu. Dalam benak Parmadi yang sudah terisi penuh dengan cerita semacam itu, melihat pohon randu alas tua besar itu tentu saja otomatis dia lalu membayangkan bahwa pohon setua dan sebesar itu pasti ada yang "menjaganya". Karena itu, biarpun hari masih terang, dia merasa ngeri juga.

"Eyang maksudkan.... randu alas itu?" tanyanya sambil menatap pohon itu dengan alis berkerut.

Kakek itu mengangguk. "Parmadi, pohon itu dihuni oleh roh penasaran. Kalau dia tidak diminta pergi dari sini, dia akan merupakan pengganggu kita. Oleh karena itu, sebaiknya engkau mempergunakan seruling gading untuk memaksa dia menjauhkan diri dari sini agar kita dapat hidup dengan tenang dan tenteram di puncak ini."

Melihat Parmadi meragu dan tampak: jerih, kakek itu tersenyum dan berkata, "Ragu-ragu bertindak berarti kelemahan. Hayolah kita mendekat." kakek itu melangkah dan Parmadi terpaksa juga melangkah maju.

Setelah tiba di bawah pohon besar itu, Resi Tejo Wening memberi isyarat kepada Parmadi sambil menunjuk ke arah Seruling Gading yang terselip d pinggang pemuda itu. Parmadi menenangkan hatinya yang tadi terguncang. Karena sudah agak matang dalam latihan, begitu pikirannya tidak berulah dan dia menyerah, hatinya menjadi tenang kembali. Tangan kanannya mencabut Seruling Gading dan setelah dia tenggelam ke dalam penyerahan total, kedua tangannya membawa suling ke bibirnya dan di lain saat terdengarlah lengking suling itu, nadanya naik turun dengan indahnya namun juga aneh, bukan merupakan tembang tertentu yang dikenal umum pada waktu itu.

Mula-mula lengking suara suling itu merendah dan semakin merendah, kemudian meninggi, terus meninggi sampai menjadi lengkingan yang nadanya tinggi dan kecil sekali. Lengkingan itu makin tinggi sampai akhirnya hampir tidak terdengar oleh telinga, namun terasa getarannya yang hebat. Pohon randu alas itu mulai bergoyang-goyang seperti tertiup angin besar! Parmadi melihat ini dan mendengar suara daundaunnya berkerosakan. Jantungnya berdebar tegang dan tiba-tiba suara sulingnya menjadi kacau, getaran itu mengurang dan suara lengkingannya mulai terdengar lagi. Dia merasakan hal ini, maklum bahwa pikirannya bekerja sehingga menimbulkan rasa ngeri dan takut.

Dia tenggelam lagi dalam penyerahan dan suara sulingnya kembali meninggi dan getarannya semakin kuat. Pohon itu kini terguncang keras seperti tertiup angin topan. Tiba-tiba saja terdengar suara keras! "Braakkkkk�.!!" dan pohon besar tua itupun tumbang! Pohon raksasa itu tumbang menuju ke arah Parmadi! Betapapun tenangnya, tentu saja Parmadi terkejut sekali dan hati akal pikirannya segera bekerja. Dia menjadi pucat dan takut, ngeri karena tidak melihat jalan untuk menghindar dari timpaan pohon raksasa yang tumbang itu!

"Tenanglah!" terdengar kata-kata di belakangnya dan tiba-tiba saja tubuhnya terangkat dan seperti diterbangkan dari tempat itu menjauhi pohon.

"Brakkkkk �.. bressss....!" suara gemuruh terdengar ketika pohon itu jatuh berdentum di atas tanah. Parmadi melihat dengan mata terbelalak dan muka pucat. Dia telah berdiri di atas tanah, agak jauh dari pohon itu dan Resi Tejo Wening berdiri di sampingnya. Dengan muka pucat dan tubuh gemetar Parmadi menunjuk ke arah pohon yang tumbang itu.

"Eyang... apakah... dia... dia...."

"Dia sudah pergi, Parmadi. Tentu mencari tempat yang lebih cocok baginya. Dia tidak kuat menahan getaran suara Seruling Gading yang kau tiup tadi. Dia sengaja merobohkan pohon untuk menunjukkan kemarahannya. Akan tetapi dia tidak berani bertahan dan melarikan diri. Tempat ini sekarang sudah bersih dari pengaruh kegelapan."

"Ah, berbahaya sekali! Untung eyang dapat menyelamatkan saya dengan cepat, Apakah eyang tadi membawa saya ter bang?" Parmadi memandang gurunya dengan kagum.

"Mana ada manusia dapat terbang? Manusia ditakdirkan hidup tanpa sayap, tidak dapat terbang seperti burung dan mahluk bersayap lainnya. Aku hanya membawamu melompat, dan engkaupun akan dapat menguasai ilmu itu asal engkau berlatih dengan tekun." Kakek itu menghampir pohon yang tumbang dan tertawa. "Kita harus bersyukur. Roh penasaran itu dalam amukannya bahkan membantu kita menumbangkan pohon besar ini. Kita memerlukan batangnya untuk membangun sebuah gubuk di sini."

Mereka lalu membangun sebuah gubuk sederhana namun cukup kokoh dan sejak hari itu Parmadi tinggal bersama Resi Tejo Wening di puncak Argadumilah. Latihan penyerahannya diperdalam sehingga Kekuasaan Hyang Widhi dapat manunggal dengan jiwanya setiap saat, membimbingnya dalam kehidupan ini. Di samping itu, Resi Tejo Wening juga mengajarkan dua macam gerakan ilmu bela diri.

Pertama adalah gerakan silat tangan kosong yang disebut Aji Sunya Hasta (Ilmu Tangan Kosong) dan gerakan silat menggunakan seruling gading yang disebut Aji Sunyatmaka (Berjiwa Bebas). Gerakan kedua macam ilmu silat ini sederhana sekali tampaknya. Aji Sunya Hasta digerakkan dengan kedua tangan terbuka dan tampaknya seperti orang menari, akan tetapi dari kedua tapak tangan itu menyambar hawa yang dahsyat sehingga kalau Parmadi berlatih, tumbuh-tumbuhan di sekitarnya bergoyang-goyang seperti diterpa angin besar.

Demikian pula Aji Sunyatmaka yang dimainkan dengan seruling gading itu, tampaknya seperti menari-nari akan tetapi kalau gerakan itu sampai kepada puncaknya, akan menjadi cepat dan suling itu hilang bentuknya berubah menjadi sinar kuning bergulung-gulung. Bukan saja sinar itu membawa tenaga yang dahsyat, akan tetapi juga dari gulungan sinar kuning itu keluar suara melengking-lengking seolah suling itu ditiup dan dimainkan. Hebatnya, setelah Parmadi melatih diri dengan tekun, secara otomatis tubuhnya menjadi ringan dan dia dapat bergerak cepat dan dapat melompat seperti terbang saja. Selain itu juga dia setiap saat dapat mendatangkan tenaga yang amat kuat setiap kali dia butuhkan...

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Siapakah sebenarnya Resi Tejo Wening itu? Untuk mengenal riwayat kakek tua renta yang sakti mandraguna ini, mari kita pergi ke daerah Banten dan menengok keadaan sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Ketika itu, di Gunung Sanggabuwana terdapat seorang pertapa berusia kurang lebih empat puluh tahun. Pria yang gentur tapa ini adalah Ki Tejo Wening.

Sejak muda dia memang gemar bertapa dan memperdalam soal-soal kerohanian dan aji kedigdayaan. Karena tidak suka mencampuri urusan keduniaan, maka dia tidak pernah menikah dan hidup sebagai seorang pertapa yang selalu mengasingkan diri dari keramaian orang banyak. Akan tetapi, setiap kali melihat orang menderita, dia selalu mengulurkan tangan menolong, walaupun hal itu lebih banyak dia lakukan secara sembunyi dan diam-diam.

Ada kalanya dia mengobati orang sakit, mengusir wabah yang mengamuk di dusun-dusun. Ada kalanya dia melindungi orang-orang lemah dari tindasan orang-orang yang menjadi hamba nafsu. Banyak sudah orang-orang sesat dia tundukkan dengan kesaktiannya dan disadarkan dengan kebijaksanaannya. Setelah ada orang mengenal namanya, maka orang memberinya julukan Resi Tejo Wening.

Pada suatu hari, perasaan hatinya mendorongnya untuk berkunjung ke rumah adik seperguruannya yang bernama Ki Tejo Budi yang berusia tiga puluh tahun dan tinggal di dusun Cihara yang berada di pantai Laut Kidul. Resi Tejo Wening memiliki dua orang adik seperguruan. Yang seorang lagi bernama Ki Tejo Langit. Berusia tiga puluh lima tahun. Mereka bertiga merupakan murid-murid Kyai Sapujagad, seorang pertapa di pegunungan karang tepi Laut Kidul.

Selama bertahun-tahun, setelah tamat belajar, tiga orang kakak beradik seperguruan ini terkenal sebagai pendekar-pendekar Banten yang gagah perkasa dan menjadi penegak kebenaran dan keadilan. Akan tetapi ketika dalam usia dua puluh lima tahun Ki Tejo Budi, yang termuda di antara mereka, bertemu dengan seorang gadis dusun yang cantik manis bernama Lasmini lalu menikah dengan gadis itu, ketiga orang kakak beradik seperguruan itu berpisah dan mengambil jalan masing-masing.

Murid pertama, Ki Tejo Wening, lalu berkelana dan hidup mengasingkan diri sebagai pertapa di gunung-gunung. Murid kedua, Ki Tejo Langit, masih dikenal sebagai seorang pendekar yang terkenal di seluruh Banten. Adapun murid ketiga, Ki Tejo Budi, tinggal di dusun Cihara dipantai Laut Kidul bersama isteririya. Lima tahun telah lewat sejak mereka berpisah dan pada hari itu, Ki Tejo Wening atau Resi Tejo Wening merasakan dorongan keinginannya untuk berkunjung ke dusun Cihara, menengok Ki Tejo Budi, adik seperguruannya yang sejak dulu amat disayangnya itu.

Demikianlah, pada suatu hari Ki Tejo Wening yang berusia empa tpuluh tahun itu menuruni Gunung Sanggabuwana lalu menggunakan jalan air Kali Cimadur yang bersumber dari gunung itu. Dia berperahu ke hilir. Perjalanan dengan perahu ini amat menyenangkan karena pemandangan amat indahnya dan juga tidak melelahkan seperti kalau melakukan perjalanan darat dan berjalan kaki. Beberapa hari kemudian dia tiba di muara di tepi laut. Dia mendarat dan melanjutkan perjalanannya ke barat, menuju dusun Cihara. Karena perjalanan menuju dusun itu melalui jalan liar yang amat sukar, maka mungkin pada besok pagi dia baru akan tiba di dusun Cihara.

Sementara itu, mari kita menengok keadaan keluarga Ki Tejo Budi di dusun Cihara. Dusun itu cukup ramai, merupakan dusun nelayan. Penduduknya mencari nafkah dengan jalan mencari ikan di lautan dan juga menggarap tanah agak jauh dari pantai. Ki Tejo Budi hidup bersama isterinya tercinta, Lasmini dan anak mereka yang diberi nama Sudrajat dan pada waktu itu sudah berusia empat tahun. Kehidupan mereka cukup berbahagia, tidak kekurangan sandang pangan karena Ki Tejo Budi memiliki sebidang tanah dan memiliki pula perahu dan alat penangkap ikan di lautan.

Pada waktu itu, Ki Tejo Budi kedatangan seorang tamu yang membuat dia merasa gembira bukan main karena tamunya itu adalah Ki Tejo Langit, kakak seperguruannya yang kedua. Sudah lima tahun mereka berpisah dan setelah kini Ki Tej Langit datang berkunjung, mereka berdua setiap hari bercakap-cakap dengan gembira. Pada hari ketiga selama kunjungannya di rumah adik seperguruannya itu, Ki Tejo Langit duduk bercakap-cakap dengan Ki Tejo Budi di ruangan depan.

Ki Tejo Budi berwajah tampan dan bertubuh tinggi kurus, berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun. Adapun Ki Tejo Langit berusia sekitar empat puluh tahun, wajahnya ganteng dan perawakannya tinggi besar, membuat dia tampak gagah sekali dan pantas menjadi seorang pendekar yang disegani.

Selagi mereka bercakap-cakap dan Ki Tejo langit menceritakan pengalamannya selama dia malang melintang di daerah Banten sebagai seorang pendekar, masuklah seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun. Ayu manis merak ati, dengan tubuh yang sedang mekar, tampak menggairahkan dengan lekuk-lengkung yang sempurna. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun mengikuti di belakangnya. Wanita itu adalah Lasmini, isteri Ki Tejo Budi dan anak itu Sudrajat, anak mereka. Lasmini memasuki ruangan membawa minuman dan makanan kecil.

"Wah, kunjunganku ini hanya merepotkan nimas Lasmini saja!" kata Ki Teja Langit sambil tertawa dan menatap wajah adik ipar yang ayu itu. Dan dia lalu membungkuk dan mengangkat Sudrajat, dipangkunya. Anak itu menurut saja karena dia pun sudah terbiasa dengan hadirnya pria yang dia panggil pakde (uwa) itu.

"Ah, kakang Tejo Langit, kami tidak repot apa-apa, kok. Sekedar minuman air teh dan makanan kecil. Silahkan, kakang," jawab Lasmini sambil tersenyum manis.

"Wah, baru saja makan malam, sudah disuguhi lagi makanan. Terima kasih, nimas. Mari silahkan duduk. Aku sedang menceritakan pengalamanku kepada adi Tejo Budi. Engkaupun boleh mendengarkan. Sudrajat juga agar kelak dia menjadi seorang pendekar besar pula, seperti pakdenya. Ha-ha-ha!"

Lasmini memandang kepada suaminya dan dengan senang hati dan gembira Ki Tejo Budi memberi isyarat dengan anggukan kepala. Lasmini lalu duduk di sebelah suaminya, berhadapan dengan Ki Tejo Langit. Pendekar ini lalu bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang hebat, menolong orang, menentang penjahat, perkelahiannya menundukkan orang-orang sesat.

Lasmini memandang dengan kagum. Pria ini sungguh gagah perkasa dan pandai mencari penghasilan besar sehingga pakaiannya serba mewah, memakai cincin dan gelang emas, bahkan kemarin menawarkan banyak uang kepada Ki Tejo Budi apabila adik seperguruan itu membutuhkan.

"Akan tetapi, kakang Tejo Langit," Lasmini berkata setelah pendekar itu berhenti bercerita. "Kenapa sampai sekarang andika belum juga berkeluarga? Padahal, usia andika tentu lebih tua sedikit dibandingkan suamiku yang sudah mempunyai anak berusia empat tahun. Sudah sepatutnya kalau andika menikah dan saya yakin tentu banyak perawan-perawan yang cantik jelita yang akan senang sekali menjadi isterimu."

"Ha-ha, akupun sudah mengusulkan hal itu!" kata Ki Tejo Budi. "Agaknya kakang Tejo Langit hendak mengikuti jejak kakang Tejo Wening, tidak akan berdekatan dengan wanita untuk selamanya."

"Ah, sama sekali tidak, adi Tejo Budi!" Ki Tejo Langit membantah. "Aku tidak ingin menjadi seperti kakang Tejo Wening yang tidak mau berdekatan dengan wanita! Aku suka dan kagum kepada wanita, akan tetapi sampai sekarang aku belum bertemu dengan seorang wanita yang memenuhi selera hatiku. Engkau sungguh beruntung sekali, adi Tejo Budi, memperoleh seorang isteri yang cocok, cantik jelita, dan bijaksana." berkata demikian, Ki Tejo Langit memandang wajah adik iparnya.

Lasmini menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan, akan tetapi bibirnya tersenyum. Wanita mana yang tidak akan mekar hatinya mendengar dirinya dipuji-puji, apalagi pemujinya itu seorang pria yang gagah perkasa?

Setelah berhenti bercakap-cakap, mereka memasuki kamar masing-masing. Ki Tejo Budi masuk kamarnya bersama anak isterinya sedangkan Ki Tejo Langit memasuki sebuah kamar dibagian belakang yang disediakan untuknya. Tak lama kemudian rumah itu sepi dan gelap, hanya sebuah lampu minyak yang tergantung di ruangan tengah saja yang dinyalakan.

Malam itu hawanya dingin sekali. Bulan tiga perempat mengambang di angkasa, cahayanya, menembus kegelapan malam sehingga cuaca menjadi remang-remang. Lasmini menggigil. Ia sudah berselimut, namun masih menggigil. Ia menoleh pada suami dan anaknya. Mereka sudah tidur pulas. Ia sendiri tidak dapat tidur dan merasa gelisah. Bukan hanya hawa dingin yang membuatnya menggigil, melainkan bayangan wajah yang gagah dengan sepasang mata yang bersinar-sinar itu.

Wajah Ki Tejo Langit. Tadi ketika hendak berpisah, Ki Tejo Langit menatap wajahnya. Sepasang matanya bersinar-sinar, bibirnya tersenyum. Pandang mata dan senyum itu! Jelas baginya mengandung sesuatu, mengandung rayuan, mengandung kekaguman, mengandung sanjungan dan ajakan! Dan hatinya ini... mengapa begini terguncang? Mengapa ada daya tarik yang luar biasa sekali menyeret hatinya, membuatnya rindu kepada pria itu, mendatangkan keinginan kuat dalam hatinya untuk bertemu?

Apa artinya semua ini? Ia menoleh dan memandang wajah suaminya dalam keremangan kamar itu. Kesadarannya membisikkan bahwa perasaan hatinya itu tidak benar! Akan tetapi rangsangan itu begitu mendesaknya. Ia harus melawannya. Tidak! Tidak boleh ini, teriak hatinya. Akan tetapi, daya tarik itu terlampau kuat. Ia merasa telah dikuasai oleh kekuatan yang tak mungkin dilawannya. Seperti dalam mimpi, ia turun perlahan-lahan dari atas pembaringan.

Dengan hati-hati ia melangkah ke pintu, membuka daun pintu dengar hati-hati, keluar dari kamar dan menutupkan daun pintunya kembali. Lalu, dengan jantung berdebar keras karena kesadarannya berusaha melawan gairah yang berkobar itu, ia melangkah perlahan ke arah belakang!

Ki Tejo Langit telah berdiri di depan kamarnya. Mereka berdiri berhadapan, saling pandang. Lasmini berusaha memperkuat perlawanannya dan hendak kembali ke kamarnya, akan tetapi ketika lengan yang kokoh kuat itu merangkul pundaknya dengan sentuhan lembut sekali, tubuh Lasmini menggeliat dan terkulai lemas dalam rangkulan. Ia pun pasrah saja ketika dituntun ke dalam kamar, memandang bagaikan kehilangan semangat ketika Ki Tejo Langit rnenutup daun pintu dan memalangnya dari dalam.

Kemudian semua itupun terjadi. Lasmini merasa bagaikan mimpi. Bahu itu demikian kokoh kuat, sentuhan jari tangan itu demikian lembut, belaian itu demikian mesra dan penuh kasih sayang. Ia menggelinjang, terbuai dan membiarkan dirinya hanyut, memejamkan mata dan merasa seperti melayang-layang.

Menjelang fajar Ki Tejo Budi terbangun dari tidurnya. Dia tidak melihat Lasrnini. Disangkanya Lasmini tentu bangun pagi-pagi sekali untuk menyediakan sarapan pagi untuk dia dan tamunya. Lasrnini memang rajin sekali. Isteri yang amat baik dan setia. Dia turun dari pembaringan, melangkah ke pintu yang tidak terpalang lagi, membukanya dan melangkah keluar, menuju ke belakang, maksudnya hendak pergi ke bilik mandi yang berada di dekat dapur.

Ketika melewati kamar Ki Tejo Langit, dia tersentak dan menghentikan langkahnya, matanya terbelalak dan dia mendekat pintu, memiringkan kepala mendekatkan telinganya pada daun pintu. Dia mendengar isak tangis lirih, isak suara wanita, dan diselingi suara pria yang nadanya menghibur. Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata mencorong dan gigi dikatupkan kuat-kuat, kedua tangan mengepal. Akan tetapi Ki Tejo Budi sadar kembali dan dia menarik napas panjang berulang kali sehingga hatinya menjadi tenang kembali. Diangkatnya tangannya lalu diketuknya daun pintu itu. Suara isak dan suara pria menghibur itu terhenti tiba-tiba setelah terdengar ketukan.

"Tok-tok-tok! Kakang Tejo Langit, dengan siapakah andika berada dalam kamar? Lasmini, engkaukah itu? Kalian bukalah pintu ini, aku tidak ingin merusaknya!"

Daun pintu terbuka dan Lasmini keluar berlari dengan pakaian kusut dan rambut terurai sambil menutupi muka dengan kedua tangan dan sesenggukan perlahan. Ki Tejo Budi melihat kakak seperguruannya telah berdiri di belakang daun pintu yang terbuka, sikapnya menantang.

"Semua telah terjadi, adi Tejo Budi. Tak perlu ada maaf dan penyesalan. Aku berani bertanggung jawab atas perbuatanku!" kata Ki Tejo langit.

"Baik, kakang Tejo Langit. Kita hadapi persoalan sebagai laki-laki jantan. Setelah matahari terbit, temuilah aku di pantai pasir putih di Karang Kemukus. Andika sudah kubawa ke sana kemarin. Di sana sepi orang, kita dapat bicara!" setelah berkata demikian Ki Tejo Budi memutar tubuhnya hendak meninggalkan kakak seperguruannya.

"Adi Tejo Budi. Sudah kukatakan, aku yang bertanggung jawab. Jangan ganggu Lasmini!" kata Ki Tejo Langit.

Tanpa menoleh Ki Tejo Budi menjawab, "Aku bukan laki-laki pengganggu wanita!" Dia lalu menuju ke ruangan dalam hendak kembali ke kamarnya. Akan tetapi dia melihat Lasmini duduk diruangan dalam, menangis tanpa suara di atas sebuah bangku. Ki Tejo Budi mengambil tempat duduk di depan isterinya. Kembali dia menghela napas panjang tiga kali untuk menenangkan hatinya yang bergolak.

"Sudah, tidak ada gunanya menangis lagi dan jawablah pertanyaanku dengan sejujurnya. Apakah dia memperkosamu?"

Lasmini masih menutupi mukanya dengan kedua tangan dan mendengar pertanyaan itu, ia menggeleng kepala. "Kalau dia tidak memperkosamu, bagaimana engkau bisa berada di dalam kamarnya? Apakah kalian siang tadi sudah saling berjanji untuk bertemu di dalam kamarnya?"

Kembali Lasmini menggeleng kepala dan terisak lirih.

"Kalau begitu, bagaimana engkau bisa berada di sana? Jawablah sejujurnya, Lasmini, demi untuk menyelesaikan urusan ini dan demi anakmu, anak kita Sudrajat yang tak berdosa. Ceritakanlah!"

Lasmini menurunkan tangannya. Wajahnya pucat, matanya membengkak merah oleh tangis dan ia berusaha sekuatnya untuk menghentikan isaknya lalu menjawab lirih, "Aku tidak tahu... semua seperti dalam mimpi... tahu-tahu aku meninggalkan kamar dan menuju ke kamarnya. Dan dia... dia mengajakku masuk... dan aku... aku seperti kehilangan akal... aku tidak berdaya untuk menolak... semua seperti dalam mimpi...." Ia menangis lagi, lirih.

Ki Tejo Budi mengerutkan alisnya. "Apakah engkau... mencintanya....?"

Lasmini menggeleng kepala akan tetapi mulutnya berkata, "aku tidak tahu... aku... tidak tahu... ah, kakang, aku telah bersalah besar padamu. Bunuhlah saja aku, kakang."

"Hemm, engkau hendak melarikan diri dalam kematian, hendak melepaskan tanggung jawab? Engkau hendak membiarkan anakmu hidup merana tanpa ibu? Engkau akan menambah dosa dengan dosa yang lebih besar lagi?"

Lasmini menangis lagi. "Tidak...! Tidak...! Ah, anakku...!" ia bangkit dan lari memasuki kamarnya, membanting diri di atas pembaringan dan merangkul, mendekap Sudrajat sambil menahan tangis. Ki Tejo Budi menghampiri kamar, melongok ke dalam, melihat keadaan Lasmini dan diapun menggeleng-geleng kepala sambil menghela napas panjang.

Sampai lama Ki Tejo Budi duduk bersila di atas bale bambu yang berada di ruangan tengah. Setelah cuaca mulai terang dia turun dari bale-bale menuju ke bilik mandi. Ketika melewati kamar Ki Tejo Langit, kamar itu telah kosong. Ki Tejo Langit telah pergi. Ki Tejo Budi sama sekali tidak khawatir kalau kakak seperguruannya itu melarikan diri. Dia mengenal siapa kakak seperguruannya itu dan dia merasa yakin bahwa kakak sepergurutnnya itu pasti akan menemui dia di pasir putih Karang Kemukus itu.

Dia membersihkan diri, berganti pakaian lalu berangkat meninggalkan rumah. Dia tidak membawa senjata apapun. Gurunya, guru mereka bertiga memang mengajarkan ilmu bela diri tanpa senjata, hanya menggunakan anggota badan, dan kalau perlu, segala macam benda bisa saja menjadi senjata yang ampuh bagi mereka. Dengan hati mantap dan langkah tegap Ki Tejo Budi meninggalkan dusun Cihara menuju ke selatan, ke tepi Laut Kidul. Kemudian, setelah tiba di pantai, dia menyusuri tee laut menuju ke timur, ke Karang Kemuk di mana terdapat pantai berpasir puti yang indah dan tempat ini tak pernah dikunjungi nelayan karena ombak di pantai ini terlalu besar sehingga tidak mungkin berperahu dan mencari ikan di daerah itu.

Matahari telah muncul dari balik buku karang di timur dan sinar matahari pagi yang lembut membuat air laut menyilangkan karena air memantulkan cahaya matahari. Ketika Ki Tejo Budi sudah tiba situ dia melihat Ki Tejo Langit sudah duduk di atas sebuah batu karang. Ketika melihat adik seperguruannya datang, dia pun bangkit dan menyambut dan kini keduanya berdiri berhadapan di atas pantai pasir putih. Tidak ada orang lain di situ. Hanya gelombang laut yang bergulung-gulung menjadi saksi pertemuan yang menegangkan ini.

"Nah, adi Tejo Budi. Sekarang kita sudah saling berhadapan, jantan sama jantan. Seperti kukatakan tadi, aku siap untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku semalam!" kata Ki Tejo Langit.

"Kakang Tejo Langit. Apa isi pertanggungan jawabmu itu?" tanya Ki Tejo Budi, suaranya tenang saja tidak mengandung kemarahan. Biarpun marah dan penasaran namun dia dapat menyimpannya dalam hari dan tidak tampak pada muka dan sikapnya.

"Terserah kepadamu, adi Tejo Budi. Apapun yang kaukehendaki, aku siap. Kalau Engkau hendak melepas Lasmini, aku akan menjadikan ia isteriku dan Sudrajat menjadi anakku. Aku akan membawa mereka pergi dari Cihara. Akan tetapi kalau engkau menghendaki lain, membuat perhitungan dengan mengadu nyawa, akupun siap.

Terserah apa yang kaukehendaki sekarang. halus boleh, kasarpun tidak akan kuhindari!" "Engkau hendak menjadikan Lasmini sebagai isterimu? Hemm, apa engkau yakin bahwa ia akan mau menjadi isterimu?"

"Aku yakin ia pasti mau karena yang terjadi semalam membuktikan bahwa kami saling mencinta."

"Saling mencinta?" Ki Tejo Budi mendengus.

"Engkau licik dan curang, kakang Tejo Langit. Engkau semalam telah mempergunakan aji pelet pengasihan sehingga Lasmini tidak berdaya. Apa kau kira aku tidak tahu?"

"Tidak kusangkal! Memang aku menggunakan Aji Pengasihan Sambung Sih! Dan engkaupun mengenal aji itu karena kita pernah sama-sama mempelajarinya! Engkau tahu benar bahwa aji itu tidak akan mempan terhadap seorang wanita kalau wanita itu tidak mempunyai perasaan suka atau tidak tertarik kepada kita! Aji itu hanya sebagai penyambung kasih yang terpendam, membuka rasa kasih itu sehingga wanita itu berani menuruti dorongan kasihnya. Nah, kalau aku berhasil dengan Aji Pengasihan Sambung Sih terhadap Lasmini berarti bahwa diam-diam Lasmini mencintaku!"

"Hemm, aku yakin ia tidak akan sudi menuruti kehendakmu yang mesum dan kotor itu kalau engkau tidak mempergunakan aji pengasihan itu. Kakang Tejo Langit! Engkau telah menodai isteriku, berarti engkau telah menghinaku, menginjak-injak kehormatanku. Sudah tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja!"

''Hemm, begitukah? Lalu apa kehendakmu sekarang?"

"Kita selesaikan secara jantan. Engkau atau aku yang akan menggeletak tanpa nyawa di pesisir ini!" kata Ki Tejo Budi.

Mendengar ini, Ki Tejo Langit segera cancut tali wondo, mengikatkan ujung sarungnya, menggulung lengan bajunya, bersiap-siap untuk bertanding. "Babo-babo, adi Tejo Budi! Kalau itu yang kau kehendaki, silakan! Kita sama-sama murid Kyai Sapujagad, mari kita lihat siapa di antara kita yang lebih banyak menyerap ilmu dari guru kita. Silakan mulai!"

Kedua orang pendekar itu lalu siap untuk saling serang. Mereka membuat gerakan pembukaan yang sama, keduanya menekuk kaki dan tangan dengan sikap seperti seekor kera atau monyet besar sedang berlaga. Ternyata keduanya telah siap untuk bergerak dengan ilmu silat Wanara Sakti (Kera Sakti) yang merupakan ilmu pencak aliran gurunya.

Tiba-tiba Ki Tejo Budi mengeluarkan pekik yang dahsyat. Akan tetapi Ki Tejo Langit mengeluarkan pekik yang sama. Dua suara gemuruh itu menjadi satu dan menggetarkan pesisir itu. Itulah Aji Guruh Bumi, aji kedigdayaan dahsyat yang terkandung dalam pekik itu. Teriakan ini saja sudah merupakan serangan dahsyat dan lawan yang kurang kuat, akan dapat digetarkan jantungnya sehingga roboh hanya oleh teriakan ini saja! Keduanya terhuyung ke belakang beberapa langkah ketika saling menerima serangan getaran suara itu.

Ternyata kekuatan tenaga sakti mereka yang terkandung dalam pekik dahsyat itu berimbang. Melihat bahwa dengan Aji Guruh Bumi dia tidak dapat mengalahkan kakak seperguruannya, Ki Tejo Budi lalu menyerang dengan pukulan dan tendangan dalam ilmu silat Wanara Sakti. Ki Tejo Langit menyambut dengan ilmu silat yang sama sehingga terjadilah perkelahian yang seru. Akan tetapi karena keduanya sudah menguasai ilmu silat yang sama itu dengan hampir sempurna, maka dengan jurus apapun mereka diserang, masing-masing dapat menghindar dengan baik.

Keduanya mengerahkan tenaga dan kecepatan gerakan sehingga bentuk tubuh kedua orang itu lenyap. Yang tampak hanya dua bayangan saja yang saling desak, saling serang dan saling belit. Akan tetapi, bagi mereka perkelahian itu seperti latihan saja karena keduanya sudah hafal benar akan gerakan lawan. "Hyaaattt....!" Ki Tejo Langit menyerang dengan dahsyat. Kedua tangannya menyambar dari atas ke arah kedua pelipis lawan. Namun Ki Tejo Budi sudah siap.

"Haiiittt !" diapun berseru dan menggerakkan kedua tangan sambil mengerahkan tenaga sakti untuk menangkis.

"Dessss....!" dua pasang lengan untuk kesekian kalinya beradu, akan tetapi pertemuan sekali ini amat kuatnya sehingga keduanya terdorong mundur dan keduanya agak meringis karena merasa betapa kedua lengan mereka nyeri sekali. Seluruh lengan mereka, dari jari sampai ke siku, sudah gosong-gosong karena seringnya beradu.

Perkelahian itu berjalan seimbang dan seru sekali. Saling terjang, saling tampar, saling jotos dan saling cengkeram, diseling mencuatnya kaki yang saling tendang. Akan tetapi semua serangan kedua pihak dapat dihindarkan lawan. Hampir dua jam mereka sudah bertanding. Tubuh mereka sudah basah oleh keringat, napas mereka mulai terengah-engah, akan tetapi belum terlihat siapa yang akan keluar sebagai pe menang.

Keduanya sudah marah dan penasaran sekali. Kedua orang kakak beradik itu masih mempunyai sebuah aji pamungkas. Nama ilmu ini adalah Aji Margo Pati (Jalan Maut), sebuah aji pukulan jarak jauh yang amat dahsyat. Siapapun yang menjadi lawan, kalau dia tidak memiliki tenaga sakti yang jauh lebih kuat daripada si penyerang, tentu akan tewas dihantam Aji Margo Pati ini! Akan tetapi aji ini pun amat berbahaya bagi si penyerang sendiri. Kalau lawan yang diserang memiliki tenaga yang lebih besar, maka tenaga pukulannya akan membalik dan besar sekali kemungkinannya si penyerang akan tewas sendiri!

Mereka berdua memiliki kekuatan tenaga sakti yang berimbang. Kalau mereka mengeluarkan aji pamungkas itu, besar bahayanya keduanya akan tewas sampyuh! Akan tetapi agaknya kedua orang itu sudah nekat dalam nafsu mereka untuk saling bunuh. Setelah kedua lengan mereka kembali beradu yang mengakibatkan mereka terhuyung mundur sehingga mereka kini berdiri berhadapan dalam jarak empat meter, keduanya lalu membuat gerakan menyembah, lalu mengembangkan kedua lengan ke atas, diturunkan perlahan dalam bentuk sembah lagi, kemudian kedua tangan turun ke depan pusar dengan jari tangan terbuka.

Inilah gerakan pembukaan dari Aji Margo Pati yang agaknya akan mereka pergunakan untuk saling menyerang! Kemudian dengan gerakan lambat, kedua tangan yang terbuka itu dari depan pusar mendorong ke depan dan dari mulut dua orang itu terlontar teriakan nyaring.

"Aji Margo Pati.... !!"

"Jagad Dewa Bathara....!" Pada saat itu berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu Ki Tejo Wening yang berpakaian serba putih itu sudah berdiri di antara kedua orang yang mengadu Aji Margo Pati itu!

Ki Tejo Wening mengembangkan kedua lengannya, yang kiri menyambut pukulan Ki Tejo Budi, yang kanan menyambut pukulan Ki Tejo Langit, kedua telapak tangannya terbuka.

"Blarrrrr....!" hebat sekali pertemuan tenaga sakti yang disambut oleh Ki Tejo Wening itu. Ki Tejo Budi dan Ki Tejo Langit merasa tenaga pukulan mereka seperti bertemu dengan air dan melihat bahwa kakak seperguruan pertama mereka yang berdiri di antara mereka dan menyambut kedua pukulan, mereka cepat melompat ke samping dan memandang dengan mata terbelalak.

Dua orang itu terhindar dari malapetaka karena tenaga sakti Margo Pati mereka bertemu dengan tenaga sakti lunak yang dikuasai Tejo Wening sehingga seolah tenaga pukulan mereka tenggelam. Akan tetapi mereka melihat kakak seperguruan pertama mereka berdiri limbung dan akan roboh. Cepat kedua orang itu melompat dan merangkul tubuh Ki Tejo Wening. Mereka berdua membantu Ki Tejo Wening untuk duduk bersila di atas pasir. Tanpa diminta Ki Tejo Budi duduk bersila menghadap Ki Tejo Wening dan Ki Tejo Langit duduk bersila di belakang kakak seperguruannya itu.

Kedua orang ini lalu menempelkan telapak tangan mereka ke dada dan punggung Ki Tejo Wening dan keduanya mengerahkan tenaga sakti, disalurkan ke tubuh kakak seperguruan itu untuk membantunya memulihkan keadaan dalam tubuh yang tadi terguncang hebat. Hawa yang hangat mengalir lewat telapak tangan kedua orang itu, memasuki tubuh Ki Tejo Wening. Perlahan-lahan, pernapasannya yang tadinya sesak menjadi lega, wajahnya yang pucat menjadi kemerahan lagi.

"Sudah cukup," katanya dan kedua orang adik seperguruannya itu melepaskan tempelan tangan mereka dari dada dan punggung.

Mereka bertiga duduk bersila di atas pasir putih, berhadapan dan saling pandang. Ki Tejo Wening, biarpun hanya kakak seperguruan, namun memiliki tingkat kepandaian yang paling tinggi dan wataknya yang bijaksana mendatangkan wibawa yang kuat dan kedua adik seperguruannya itu menganggapnya sebagai pengganti guru mereka dan keduanya merasa segan dan hormat sekali kepadanya. Kini mereka berdua duduk sambil menundukkan muka, maklum bahwa mereka tentu akan mendapat teguran dari kakak seperguruan mereka itu.

"Adi Tejo Langit dan Tejo Budi, roh-roh sesat apakah yang memasuki batin kalian sehingga kalian berkelahi dan berusaha keras untuk saling membunuh? Lupakah kalian bahwa kalian adalah kakak beradik seperguruan yang seharusnya saling membela dan melindungi, bukan saling bunuh?"

Kedua orang itu saling pandang, lalu menunduk kembali. Tejo Budi menghela napas panjang lalu berkata, "Kakang Tejo Wening, kalau aku menceritakan persoalan antara kakang Tejo Langit dan aku, bukan berarti bahwa aku akan mengadu dan tumbak-cucukan (suka mengadukan keburukan orang lain)."

"Tidak, adi Tejo Budi, asal yang kau ceritakan itu yang sebenarnya. Ataukah engkau yang akan bercerita lebih dulu, adi Tejo Langit?" tanya Ki Tejo Wening sambil memandang kepada adik seperguruannya itu.

Ki Tejo Langit tetap menundukkan mukanya dan berkata, "Biarlah adi Tejo Budi yang bercerita lebih dulu."

"Nah, adi Tejo Budi. Sekarang berceritalah dengan sejujurnya agar aku dapat mempertimbangkan urusan di antara kalian, jangan ragu karena bukankah kita bertiga adalah saudara-saudara sendiri?"

Ki Tejo Budi menghela napas ganjang lnlu berkata, "Begini, kakang Tejo Wening. Tiga hari yang lalu kakang Tejo Langit datang berkunjung dan menjadi tamu kami sekeluarga. Aku, isteriku Lasmini dan anak kami Sudrajat menerimanya dengan hati dan tangan terbuka. Dia kami beri sebuah kamar untuk tidur selama dia menjadi tamu kami. Akan tetapi malam tadi..." Ki Tejo Budi meragu, merasa sukar untuk melanjutkan ceritanya yang amat menyinggung kehormatannya itu.

"Tadi malam ada apa, adi Tejo Budi?"

"Malam tadi.... kakang Tejo Langit mempergunakan pelet aji pengasihan, mengguna-gunai Lasmini dan menzinai isteriku itu dalam kamarnya..."

Ki Tejo Wening mengerutkan alisnya dan menoleh kepada Ki Tejo Langit. "Adi Tejo Langit! Benarkah apa yang diceritakan oleh adi Tejo Budi itu?"

Ki Tejo Langit mengangkat mukanya dan memandang kepada kakak seperguruannya dengan tabah. "Hanya benar sebagian kakang."

"Benar sebagian bagaimana? Hayo ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!"

"Begini, kakang Tejo Wening. Memang benar aku menjadi tamu adi Tejo Budi, dan tinggal di rumahnya selama tiga hari. Selama itu aku melihat betapa pandang mata Lasmini, isterinya, yang ditujukan kepadaku mengandung bunga api asmara. Terus terang saja, aku sendiri baru sekali ini jatuh hati kepada seorang wanita. Aku mencinta Lasmini. Karena itu aku malam tadi menggunakan Aji Pengasihan Sambung Sih, untuk menguji benar tidaknya sangkaanku terhadap Lasmini itu. Kalau dia tidak mencintaku, tentu ajiku itu tidak akan mempan. Engkau juga tahu akan hal itu, kakang. Nah, aku dan Lasmini memang melakukan hubungan, akan tetapi atas dasar saling mencinta. Aku mengakui hal ini terus terang kepada adi Tejo Budi. Kalau dia mau melepaskan Lasmini, aku akan mengambilnya sebagai isteriku dan Sudrajat akan kujadikan anakku. Akan tetapi adi Tejo Budi memilih mengadu nyawa denganku seperti yang kau lihat tadi."

Ki Tejo Wening menoleh kepada Ki h'ejo Budi. "Adi Tejo Budi, benarkah yang diceritakan adi Tejo Langit tadi?"

"Benar, kakang. Akan tetapi aku merasa harga diriku diinjak-injak dan kehormatanku dihina oleh kakang Tejo Langit. Oleh karena itu aku menantangnya untuk menyelesaikan urusan ini dengan mengadu nyawa."

Ki Tejo Wening menarik napas panjang dan memandang kepada kedua orang adik seperguruannya itu bergantian. Kemudian dia berkata, suaranya lembut namun berwibawa, "Adikku berdua, sekarang dengarlah baik-baik. Adi Tejo Langit, engkau telah merusak pagar ayu. Engkau bersalah karena engkau tidak mampu menguasai nafsumu sendiri sehingga engkau tega mengganggu adik iparmu sendiri!"

Ki Tejo Langit menunduk dan berkata lirih, "Aku telah khilaf, kakang."

"Betapapun juga, hal itu telah terjadi Adi Tejo Budi, bagaimanapun, kesalahan itu bukan dilakukan oleh adi Tejo Langit sendiri. Isterimu Lasmini itu juga bersalah. Kesetiaannya kepadamu goyah karena dia tertarik kepada pria lain. Seandainya tidak goyah, tentu dia tidak akan mempan dipengaruhi Aji Pengasihan Sambung Sih. Dan engkau sendiri telah bersikap terburu nafsu, mengajak adi Tejo Langit untuk bersabung nyawa."

"Aku terlalu menuruti perasaan marah kakang." Ki Tejo Budi mengaku.

"Adi Tejo Budi, andaikata engkau menang dalam adu nyawa dan adi Tejo Langit tewas, apakah hal itu akan dapat mendamaikan hatimu? Apakah hubunganmu dengan Lasmini akan dapat pulih kembali seperti sebelumnya? Ingat, perjodohan hanya akan terlaksana dengan baik kalau kedua pihak menghendakinya, kalau kedua pihak mempunyai rasa cinta satu sama lain. Isterimu sudah tertarik kepada adi Tejo Langit, berarti cintanya kepadamu sudah mulai luntur. Engkau tidak akan dapat memaksanya untuk mencintaimu. Yang tertinggal hanya ketidakcocokan dengannya dan penyesalan bahwa engkau telah membunuh adi Tejo Langit."

"Sekarang aku baru menyadari hal itu, kakang."

"Dan engkau, adi Tejo Langit. Bayangkan, kalau engkau berhasil membunuh adikmu Tejo Budi, apa kau kira akan dapat hidup berbahagia dengan Lasmini? Mungkin ia berbalik membencimu, dan anaknyapun akan membencimu karena engkau membunuh ayahnya. Dan akhirnya engkau akan hidup menderita dan merasa menyesal bahwa engkau telah membunuh adik seperguruanmu dan merampas isterinya. Karena kalau engkau membunuhnya, berarti engkau telah menggunakan kekerasan untuk merampas isteri orang lain dengan membunuh suaminya. Apakah engkau yang mengaku seorang pendekar, akan melakukan perbuatan sekeji dan sejahat itu?"

"Maafkan aku, kakang Tejo Wening. Sekarang aku menyadari kesalahanku dan aku akan menurut apa yang akan kau putuskan."

"Bukan aku yang memutuskan. Aku hanya menjadi juru pemisah, pendamai dan penengah. Yang berhak memutuskan adalah adi Tejo Budi, karena dalam hal in dialah yang merasa disakiti hatinya. Nah adi Tejo Budi, sekarang bagaimana pendapat dan keputusanmu menghadapi urusan ini?"

Sampai lama Ki Tejo Budi diam saja kedua matanya terpejam, lalu dia bergumam lirih, "ikatan... ikatan kedagingan... ikatan duniawi, semua itu hanya membawa duka nestapa...." Ki Tejo Wening mengangguk-angguk.

"Syukurlah kalau engkau akhirnya dapat merasakan akan hal itu, adi Tejo Budi. Mudah-mudahan engkau akan dapat mengambil keputusan yang bijaksana."

Ki Tejo Budi membuka kedua matanya menoleh kepada Ki Tejo Langit dan bertanya, suaranya tenang, "Kakang Tejo Langit, maukah engkau berjanji dengan sungguh hati bahwa engkau akan mengambil Lasmini menjadi isterimu dan kelak tidak akan menyia-nyiakannya?"

"Aku berjanji akan memperisteri Lasmini dan tidak akan menyia-nyiakannya!" kata Ki Tejo Langit dengan suara lantang dan mantap.

"Dan bagaimana dengan puteramu, adi Tejo Budi?" tanya Ki Tejo Wening.

"Mengenai Sudrajat, karena dia anak kami berdua, maka aku akan membicarakan dengan ibunya," jawab Ki Tejo Budi.

"Bagus! Memang demikianlah sebaiknya. Nah, kurasa urusan di antara kalian telah dapat diselesaikan dengan baik, dan kuharap kalian tidak saling mendendam. Marilah kita ke rumahmu, adi Tejo Budi, untuk menyelesaikan urusan ini sampai tuntas."

Tiga orang kakak beradik seperguruan itu lalu berjalan menuju dusun Cihara. Ketika mereka memasuki rumah, mereka mendapatkan Lasmini duduk di. atas bale-bale di ruangan dalam sambil memangku dan merangkul Sudrajat yang berusia empat tahun. Wanita ini tampak pucat, pakaiannya kusut, rambutnya terurai. Ketika melihat suaminya masuk bersama dua orang kakak seperguruan suaminya, ia memandang seperti seekor kelinci bertemu harimau dan ia merangkul puteranya lebih ketat lagi, seolah khawatir kalau-kalau orang akan mengambil anaknya.

Dengan isyarat tangannya Ki Tejo Budi mempersilakan dua orang kakak seperguruannya duduk dan mereka bertiga duduk di atas bangku dalam ruangan itu. Ki Tejo Budi memandang kepada Lasmin yang tampak ketakutan. Diam-diam dalam hatinya dia merasa iba kepada wanita itu. Bagaimana dia dapat menyalahkan kalau isterinya tertarik kepada seorang pria segagah Ki Tejo Langit? Semua wanita tentu akan tertarik dan kagum. Dan dia yakin bahwa isterinya, betapapun kagumnya tidak akan melakukan penyelewengan kalau saja tidak terdorong oleh pengaruh Aji Pengasihan Sambung Sih.

"Lasmini," katanya lirih penuh kesabaran. "Kami telah membicarakan tentang peristiwa semalam dan kami mengambil keputusan yang dirasa baik bagi semua pihak. Mulai hari ini, engkau akan hidup bersama kakang Tejo Langit dan menjadi isterinya."

Mendengar ucapan suaminya itu, Lasmini yang matanya masih terbelalak ketakutan memandang kepada suaminya, lalu kepada Ki Tejo Langit dan ia tidak mengeluarkan sepatah katapun karena ia tidak tahu harus bicara apa. Rasa menyesal dan malu membuat ia seolah merasa ingin amblas ke dalam bumi agar jangan bertemu dengan siapapun.

"Lasmini, aku sudah rela sepenuhnya dan semoga engkau akan hidup berbahagia bersama kakang Tejo Langit. Biarlah aku yang akan merawat dan mendidik Sudrajat," kata pula Ki Tejo Budi, sambil memandang kepada bocah itu yang mendengarkan percakapan mereka dengan muka tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang sedang dibicarakan.

Mendengar ucapan itu, tiba-tiba Lasmini mendekap anaknya semakin erat, matanya terbelalak memandang kepada Ki TeJo Budi dan ia berkata, "Tidak...! Tidak...! Kalau anakku hendak diambil dariku, bunuh dulu aku!"

Ki Tejo Budi tertegun dan dia menoleh kepada Ki Tejo Wening, seolah minta pendapatnya.

"Semoga Hyang Widhi Wasa mengampuni kita semua....!" Ki Tejo Wening berucap lirih. "Seorang bijaksana mendahulukan kepentingan orang lain dan menahan keinginan hati sendiri."

Ki Tejo Budi mengangguk perlahan, lalu menoleh kepada Ki Tejo Langit dan berkata, "Kakang Tejo Langit, maukah engkau berjanji sekali lagi bahwa engkau akan merawat dan mendidik Sudrajat seperti kepada anakmu sendiri?"

Wajah Ki Tejo Langit berseri dan dia segera bangkit dari bangku, menghampiri Lasmini dan dengan lembut dia mengambil anak itu dari pangkuan wanita itu mengangkatnya ke atas lalu memondongnya. "Sudrajat, engkau akan kudidik agar kelak menjadi seorang pendekar!"

Anak itu yang tadinya agak ketakutan didekap ketat ibunya, kini tertawa karena tadi diangkat tinggi, lalu berkata, "Aku suka menjadi pendekar!"

Ki Tejo Langit tertawa lalu berkata kepada Ki Tejo Budi, "Adi Tejo Budi, aku berjanji akan mendidik Ajat seperti anakku sendiri. Biarlah kakang Tejo Wening yang menjadi saksinya!"

Ki Tejo Budi lalu bangkit berdiri dati menarik napas panjang. "Semuanya sudah beres sekarang. Bebas sudah Tejo Budi dari semua ikatan. Kakang Tejo Langit, mulai hari ini Lasmini menjadi isterimu, Ajat menjadi puteramu, dan rumah ini seisinya menjadi milikmu. Semoga Gusti Yang Maha Suci memberkahi engkau sekeluarga!"

Terkejut dan heran juga hati Ki Tejo Langit mendengar ini. "Eh, adi Tejo Budi! Lalu engkau hendak pergi ke mana?"

Ki Tejo Budi tersenyum, senyum tenang, tidak membayangkan kedukaan karena hatinya memang sudah rela melepaskan itu semua. Dia menoleh kepada Ki Tejo Wening. "Kakang Tejo Wening, maukah engkau membawaku dan membuka mataku untuk melihat kenyataan dalam segala kepalsuan yang terdapat dalam dunia ini?"

Ki Tejo Wening bangkit berdiri. "Marilah, adi Tejo Budi, marilah kita memasuki Alam, belajar dari Alam, bersatu dengan Alam dan mempelajari hakekat kehidupan ini." Dua orang kakak beradik seperguruan itu lalu meninggalkan ruangan itu, terus keluar dari rumah, berjalan seenaknya dengan tenang sekali. Setelah berjalan puluhan langkah, terdengar isak tangis di belakang mereka diselingi suara memelas.


Thanks for reading Seruling Gading Jilid 05 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »