Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 04

HAL ini dia lakukan dengan perhitungun agar jangan ada orang dalam rumah kademangan yang melihat dia keluar pada waktu lewat tengah malam seperti itu. Karena ini, Parmadi tidak melihat jagoan itu meninggalkarn kamar. Setelah tiba di luar rumah, Surobajul disambut lima belas orang kaki tangan Ki Demang yang memang sudah menanti di luar rumah. Tanpa mengeluarkan suara, enam belas orang itu lalu berpencar dan menuju ke rumah Muryani.

Di luar rumah itu mereka berkumpul kembali dan kini mereka masing-masing mengeluarkan sehelai kain hitam dan mengikatkan kain hitam itu menutupi muka dari hidung kebawah. Karena kepala mereka diikat kain kepala, maka yang tampak hanya mata mereka. Setelah itu, Surobajul memberi isyarat agar mereka semua menyiapkan senjata. Sepuluh orang mengeluarkan senjata tongkat panjang dan lima orang mengeluarkan jala yang biasa dipergunakan untuk menjala ikan.

"Hati-hati, jangan sampai ia terluka parah apalagi tewas. Kepung rapat dan tangkap hidup-hidup," pesannya lirih.

Itulah siasat yang sudah direncanakannya bersama Ki Demang Wiroboyo, untuk dapat menangkap hidup-hidup gadis remaja yang digdaya itu. Setelah semua siap, Surobajul memimpin kaki tangan itu menghampiri rumah Ki Ronggo Bangak. Tiba-tiba tampak dua orang muda meloncat dan menghadang enam belas orang yang memasuki pekarangan rumah Muryani itu. Mereka adalah dua orang pemuda dusun Pakis yang bertugas menjaga dan mengamati rumah itu seperti yang sudah diatur oleh Parmadi.

"Heii! Siapa kalian dan mau apa memasuki pekarangan orang?" bentak dua orang pemuda itu.

Seorang di antara mereka membawa sebuah kentongan bambu. Temannya, yang memegang sebatang sabit, melangkah maju untuk melihat lebih jelas. Siapa gerangan orang-orang yang memakai penutup muka itu. Akan tetapi Surobajul yang melihat gelagat kurang baik, sudah cepat melompat ke depan. Tangan kanannya menggerakkan kolornya yang panjang. Sinar kuning menyambar ke arah dada pemuda dusun itu.

"Suuuttt bukkk!!" pemuda itu terjengkang dan terpental, roboh dan tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan teriakan. Melihat ini, pemuda yang kedua terkejut sekali. Cepat dia memukul kentongannya.

"Tung-tung....?" baru dua kali kentongan. itu berbunyi, tubuhnya sudah disambar sinar kuning kolor itu dan diapun roboh dan tewas seperti temannya. Keadaan meniadi sunyi kembali setelah terdengar bunyi kentongan yang hanya dua kali itu. Akan tetapi suara gaduh yang hanya sedikit dan sebentar itu sudah cukup untuk didengar oleh Muryani yang memang telah berjaga-jaga. Ia mendengar suara kentongan dua kali itu dan suara gaduh di luar rumah. Ki Ronggo Bangak juga mendengarnya. Muryani cepat mengikatkan ujung kainnya di pinggang dan dengan trengginas ia melompat keluar, senjata patrem terselip pinggangnya.

"Nini, ada apakah?" ayahnya mengejar dan bertanya.

"Tinggallah di dalam saja, ayah. Ada orang jahat di luar!" kata Muryani dan iapun bergegas membuka pintu depan dan berlari keluar.

Di dalam keremangan cuaca menjelang fajar itu ia melihat belasan orang di dalam pekarangan rumahnya dan ada dua orang pemuda dusun menggeletak di atas tanah. "Bangsat-bangsat hina! Mau apa kalian memasuki pekarangan rumah kami?" Muryani membentak dan melompat ke depan, sedikitpun tidak merasa gentar. Akan tetapi, seperti telah diatur sebelumnya, sepuluh orang yang memegang tongkat panjang bergerak maju mengepungnya dan serentak menyerangnya dengan pukulan dan tusukan tongkat. Melihat para penyerangnya memakai kain penutup muka dan mengeroyoknya, Muryani menjadi marah bukan main dan ia lalu mengamuk!

Sebagai murid perguruan Bromo Dadali yang dibanggakan gadis ini memiliki gerakan yang amat cepatnya seperti gerakan burung dadali (walet). Kecepatan gerakan dan keringanan tubuh inilah yang merupakan keistimewaan ilmu pencak silat dari perguruan Bromo Dadali dan membuat para murid utamanya merupakan orang-orang yang tangguh. Muryani yang telah menjadi ahli dan menguasai benar ilmu silat Bromo Dadali, bergerak cepat sekali. Karena marah ia sudah mencabut patremnya dan mengamuk. Biarpun dikeroyok sepuluh orang laki-laki yang bersenjata tongkat panjang, Muryani dapat berkelebatan diantara tongkat-tongkat. itu dan tak pernah tubuhnya terkena serangan tongkat.

Namun, agak sulit pula baginya untuk dapat menanamkan patremnya yang kecil di tubuh para pengeroyok karena mereka semua bersenjata tongkat panjang yang membuat ia sukar untuk mendekat. Akan tetapi, kedua kakinya mencuat dan menyambar-nyambar dengan tendangan-tendangan langsung, menyamping, atau memutar.

"Heiiiittt dukk! Plakk!" dua orang pengeroyok terpelanting disambar kaki Muryani. Mereka dapat bangkit kembali akan tetapi yang seorang perutnya mulas dan yang seorang lagi kepalanya puyeng. Dara remaja perkasa itu terus mengamuk. Ketika ada tongkat menusuk ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menangkap tongkat dengan tangan kiri, memutar dan menyentakkan dengan kejutan sehingga pemegang tongkat itu terpelanting.

"Hyaaatt tokk! Bresss...." pemegang tongkat itu kena dihantam tongkatnya sendiri sehingga roboh terjengkang, kemudian tongkat itu dilontarkan Muryani mengenai dua orang pengeroyok lain yang berpelantingan. Dengan kepala benjol-benjol mereka bangkit kembali. Sepak.terjang gadis perkasa itu membuat sepuluh orang pengeroyok yang bersenjata tongkat menjadi kewalahan, terdesak dan juga agak jerih.

Surobajul memberi isyarat dan kini lima orang yang memegang jala ikut maju. Mereka menebar jala-jala mereka ke arah tubuh Muryani. Gadis itu terkejut bukan main, mencoba untuk mengelak, akan tetapi karena yang menyambar adalah lima helai jala dari segala jurusan, ia tidak dapat menghindarkan diri lagi dan sehelai jala menyelimutinya. Ia meronta dan menggunakan patremnya untuk merobek jala, akan tetapi empat jala lain menimpa dan membungkusnya.

Muryani meronta-ronta seperti seekor ikan terperangkap jala. Akan, tetapi ada saat itu, Surobajul melompat dekat dan meringkusnya. Warok ini kuat sekali dan begitu diringkus, Muryani tidak mampu meronta lagi. Patremnya dirampas dan dengan tubuh masih terbungkus jala iapun dibelenggu.

Pada saat itu, Ki Ronggo Bangak menghampiri dan berkata dengan suaranya yang lembut namun berwibawa, "Hei, kalian ini tentu orang-orangnya Ki Demang Wiroboo! Tidak sadarkah kalian bahwa kalian telah melakukan kejahatan? Bebaskanlah puteriku atau kalian akan menderita hukuman Gusti Allah dan hukuman kerajaan!"

Akan tetapi, sambil memanggul tubuh Muryani yang sudah tak berdaya itu, Surobajul melompat dekat dan sekali kakinya diayun, tubuh Ki Ronggo Bangak tertendang roboh. Pada saat itulah Parmadi yang berlari-lari tiba di situ. Melihat di pekarangan rumah Muryani terdapat banyak orang yang mengenakan kain penutup muka, dia pun cepat memukul kentongannya dengan gencar. Bertalu-talu dia memukul kentongannya sehingga membangunkan dan mengegerkan orang sedusun.

Mendengar kentongan ini, Surobajul lalu melarikan di sambil memanggul tubuh Muryani. Melihat ini, Parmadi cepat melempar kentongannya dan berlari mengejar. Seperti yang diduganya, Surobajul membawa lari Muryani menuju hutan di luar dusun itu. Parmadi terus mengejarnya. Warok jagoan itu beri lari cepat sekali sehingga terengah-engah Parmadi mengejarnya dan dia tertinggal jauh.

Sementara itu, fajar mulai menyingsing sehingga walaupun cuaca masih remang remang, tidak segelap tadi. Matahari yang masih bersembunyi di balik puncak, mulai mengirim sinar terangnya. Parmadi mengejar terus dan setelah dia tiba di depan pondok baru, dia melihat Surobajul, kini tanpa penutup muka, sudah duduk di atas lincak (bangku bambu) di depan pondok. Muryani tidak tampak lagi dan pintu pondok itu tertutup.

Parmadi tidak perduli. Dia berlari hendak menuju pintu pondok sambil berteriak-teriak, "Paman Demang ! Paman Demang...!"

Surobajul yang pernah melihat Parmadi sebagai perawat kuda, mengira bahwa pemuda itu merupakan pembantu Ki Demang. Dia menghadang dan bertanya, "Ada keperluan apakah engkau dengan Ki Demang Wiroboyo?"

"Ada perlu penting sekali! Paman Demang, harap keluar sebentar!" Parmadi hendak menghampiri pintu akan tetapi Surobajul menghadang dan melarangnya.

"Engkau tunggu saja di sini, tidak boleh masuk!"

Daun pintu pondok itu terbuka dan Ki Demang Wiroboyo muncul. Dia tadi sedang duduk di tepi bale-bale (dipan) di mana Muryani menggeletak telentang masih terbungkus jala. Dia mengamati perawan yang membuatnya tergila-gila itu dengan hati senang sekali. "Akhirnya engkau terjatuh juga ke tanganku, Muryani manis...." katanya dan dia sudah mulai berusaha hendak melepaskan jaring atau jala yang menyelimuti gadis yang kedua tangannya sudah diikat itu ketika dia mendengar seruan Parmadi. Karena diapun mengira bahwa Parmadi tentu datang membawa kabar penting baginya, maka terpaksa dia menunda niat mesumnya kepada Muryani dan dia membuka daun pintu dan melangkah keluar.

"Engkau, Parmadi? Ada apakah engkau datang ke sini?" tanyanya.

Muryani mendengar ini dan tahu bahwa Parmadi berada di luar pondok, gadis itu berteriak, "Kakang Parmadi, tolong....!!"

Parmadi menatap wajah Ki Demang Wiroboyo dengan tajam. Selama kurang lebih delapan tahun dia memandang orang ini sebagai pengganti orang tuanya dan penghalangnya, sebagai majikannya yang harus selalu dia taati. Kalau dia mau jujur, dia harus mengakui bahwa Ki Demang Wiroboyo bersikap baik kepadanya sehingga kehidupannya terjamin, tidak kekurangan sandang pangan. Akan tetapi baru sekarang dia melihat orang itu sebagai melihat seorang penjahat yang harus ditentangnya. Dengan berdiri tegak dan sikap berani Parmadi berkata dengan lantang,

"Paman Wiroboyo, sadarlah akan perbuatan paman yang sesat ini! Bebaskan dan jangan ganggu Muryani, paman. Paman adalah seorang demang yang seharusnya melindungi warga dusunnya, bukan mengganggunya. Paman, saya mohon kepada paman, bebaskanlah adi Muryani dan jangan ganggu ia!"

Ki Demang hampir tidak percaya apa yang didengarnya. Dia memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mukanya berubah merah. Sepasang kumisnya yang sekepal sebelah itu bergerak-gerak dan kedua tangan mengepal tinju. Kemudian tangan kanannya bertolak pinggang dan telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Parmadi.

"Bocah keparat tidak mengenal budi. Lupakah engkau bahwa selama bertahun-tahun aku memeliharamu? Inikah balasanmu? Apakah engkau ingin mampus seperti ayah ibumu?"

"Paman, saya hanya ingin mencegah dan memperingatkan agar paman tidak melakukan kejahatan. Paman adalah seorang yang baik, sayang kalau paman melakukan kesesatan ini..."

"Kakang Surobajul, bunuh bocah tak tahu diri ini!" bentak Ki Demang Wiroboyo dengan marah sekali.

Warok ini sudah biasa membunuh orang dengan darah dingin dan dengan mudah. Apalagi harus membunuh seorang pemuda dusun yang tampaknya demikian lemah. Dia menyeringai, melangkah maju menghampiri Parmadi sambil memutar-mutar kolornya. "Bocah tak tahu diuntung, mampuslah kau!" bentaknya dan begitu tangannya bergerak, kolornya menyambar, berubah menjadi sinar kuning yang menghantam ke arah kepala Parmadi.

Parmadi hanya dapat memandang dan tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Maklum bahwa nyawanya terancam bahaya maut, dia teringat akan pelajaran yang diterimanya dari Ki Tejo Wening tentang penyerahan dirinya kepada kekuasaan Hyang Widhi. Maka diapun melepaskan semua pikiran, perasaan dan kemauan, membiarkan dirinya hanyut dan tenggelam dalam kepasrahan.

Kolor kuning itu menyambar dahsyat. "Wuuuutttt... blarrr...!!" terdengar suara keras dan kolor itu seperti menghantam dinding baja, terpental bahkan membuat Surobajul terbawa oleh tenaga pukulan yang membalik sehingga dia terhuyung!

"Semoga Sang Hyang Widhi rnengampuni kita semua !" terdengar suara tenang dan lirih penuh kedamaian. Parmadi merasa girang sekali mendengar suara gurunya itu dan dia segera menoleh ke belakang. Benar saja. Kakek itu berdiri di belakangnya, kakek berambut putih berpakaian putih berselimut embun pagi tipis. Tahulah Parmadi sekarang mengapa pukulan warok kearah kepalanya tadi tidak berhasil, membalik bahkan membuat pemukulnya terhuyung.

Tentu gurunya yang telah melindunginya. Surobajul terkejut, heran, penasaran dan marah sekali ketika pukulan kolornya tadi membalik, bahkan membuat dia terhuyung. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan diapun tidak memperdulikan kemunculan kakek itu. Dengan marah dia menerjang maju dan memukulkan lagi kolornya ke arah dada Parmadi yang masih menoleh memandang gurunya.

"Alangkah kejamnya....!" Ki Tejo Wening berkata dan dia mendorongkan tangan kirinya kearah Surobajul yang menyerang Parmadi.

Tiba-tiba ada tenaga dahsyat yang menyambut serangan Surobajul sehingga untuk kedua kalinya jagoan itu terdorong ke belakang, pukulan kolornya membalik dan dia terhuyung-huyung. Sekarang tahulah dia bahwa kakek itu yang telah membantu Parmadi. Kemarahannya segera beralih kepada kakek itu. "Babo-babo, keparat! Siapa berani menentang Warok Surobajul dan mencampurl urusanku? Heh, kakek tua bangka. Siapakah engkau?" kata Surobajul sambil menghampiri kakek itu. Ki Demang Wiroboyo juga menghampiri ketika melihat bahwa kakek itu akan menjadi penghalangnya.

"Siapa aku tidak penting. Yang terpenling, kalian berdua harus ingat bahwa apa yang kalian lakukan ini merupakan perbuatan yang jahat. Sang Hyang Widhi melihatnya dan pasti tidak merestui kejahatan kalian dan akan menghalanginya. Karena itu, kalian berdua sadarlah dan hentikan perbuatan jahat ini."

"Kakang Surobajul, cepat kita bereskan dua orang pengganggu ini!" kata Ki Demang Wiroboyo dengan tak sabar dan diapun sudah mencabut kerisnya. Karena mereka berdua menduga bahwa kakek itu yang agaknya memiliki kesaktian, maka mereka berdua menyerang kakek itu dengan cepat. Kolor kuning di tangan Surobajul menyambar kepala dan keris di tangan Ki Demang Wiroboyo menghunjam ke arah ulu hati kakek itu.

Ki Tejo Wening hanya berdiri tersenyum dan kedua matanya setengah terpejam. Parmadi melihat dengan mata terbelalak dan hatinya penuh ketegangan dan kekhawatiran. Dua buah senjata ampuh itu menyambar dahsyat agaknya dalam detik yang sama, kepala itu akan pecah dihantam kolor dan ulu hati itu akan menjadi sarung keris. Hampir Parmadi tidak dapat menahan kengerian hatinya. Akan tetapi terjadilah hal yang tidak disangka-sangkanya yang membuat hatinya ingin bersorak karena lega, girang dan kagum. Dua senjata yang sudah hampir menyentuh tubuh kakek itu, tiba-tiba seperti terpental, seolah-olah tubuh kakek itu terbungkus oleh dinding baja yang tidak tampak!

Dua orang itu terkejut, terheran dam tentu saja penasaran sekali. Mereka mengulang-ulang serangan mereka. Kolor kuning ditangan Surobajul menyambar-nyambar dan memukul-mukul dengan kuat. Keris di tangan Ki Demang Wiroboyo juga menyorang dengarn tusukan bertubi-tubi. Namun semua itu sia-sia belaka. Semua serangan itu terpental dan membalik, bahkan mereka sampai terengah-engah kehabisan tenaga karena mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti untuk menembus perisai yang tidak tampak itu. Bahkan pada serangan terakhir yang dilakukan sepenuh tenaga, mereka berdua terpental dan terhuyung sampai beberapa langkah ke belakang.

"Semoga Sang Hyang Widhi mengampuni kita semua!" Ki Tejo Wening berkata lirih. Akan tetapi kedua orang itu agaknya masih belum menerima kalah begitu saja. Mereka berdua mengerahkan tenaga sakti lalu keduanya menyerang dengan dorongan kedua tangan, melakukan pukulan jarak jauh ke arah Ki Tejo Wening. Kakek itu tersenyum dan tangan kirinya dijulurkan kedepan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka.

"Wuuusss... desss...!" dua orang itu terpental dan terbanting jatuh sampai bergulingan. Mereka bangkit dengan muka pucat, kini baru mereka yakin bahwa kakek tua renta itu adalah seorang yang sakti mandraguna.

Selagi keduanya bingung tak tahu harus berbuat apa karena tentu saja Ki Demang Wiroboyo tidak rela meningalkan Muryani, calon korban yang sudah terjatuh kedalam tangannya itu, tiba-tiba terdengar suara banyak orang datang dari jauh. Mendengar suara gaduh ini, Ki Demang Wiroboyo dan Surobajul segera lari meninggalkan tempat itu. Parmadi tidak membuang waktu lagi, cepat dia lari mernasuki pondok. Melihat Muryani rebah telentang terbungkus beberapa helai jala dan dalam keadaan terikat, Parmadi segera menolong dan melepaskan jala dan ikatan itu.

Muryani segera melompat dari atas dipan. "Kakang Parmadi, di mana jahanam-jahanam itu tadi?"

"Mereka melarikan diri!" kata Parmadi.

Mendengar ini, Muryani, sudah meloncat dan berlari keluar cepat sekali melakukan pengejaran. Parmadi juga keluar dari pondok, mencari-cari. gurunya, akan tetapi Ki Tejo Wening sudah tidak berada di situ lagi. Parmadi lalu melakukan pengejaran keluar dari hutan itu.

Sementara itu, para pria dusun Pakis, ketika mendengar bunyi kentongan titir (bertalu-talu) yang dipukul Parmadi tadi, keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka milik. Ada yang membawa sabit, parang, tombak, palu, linggis, atau cangkul. Mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang dan berbondong-bondong mereka lari kerumah Ki Ronggo Bangak. Di pekarangan rumah itu mereka menemukan dua orang pemuda dusun menggeletak tewas dan Ki Ronggo Bangak yang juga menderita nyeri pada dadanya terkena tendangan Surobajul akan tetapi dia masih hidup dan tidak terlalu parah keadaannya.

Melihat banyak orang, Ki Ronggo Bangak berkata, "Muryani... dibawa mereka... kalian tolonglah ia...."

Mendengar ini, puluhan orang itu yang sudah diberi tahu oleh Parmadi tentang pondok dihutan luar dusun, segera melakukan pengejaran keluar dusun menuju ke hutan itu. Ketika mereka sedang berbondong-bondong memasuki hutan, mereka melihat dua orang berlari-lari dari depan. Mereka segera mengenal dua orang itu sebagai Ki Demang Wiroboyo dengan seorang raksasa hitam. Bangkitlah kemarahan para pria dusun Pakis itu karena sudah tahu bahwa Ki Demang Wiroboyo dan jagoannya merencanakan menculik Muryani.

Maka begitu melihat dua orang itu mereka berteriak-teriak gemuruh. Ki Demang Wiroboyo terkejut bukan main melihat warga dusunnya kini dengan wajah beringas menyerbu untuk mengeroyok dia dan Surobajul. "Heii! Apa kalian telah buta atau gila? Ini adalah aku, Ki Demang Wiroboyo, kepala dusun kalian!" teriaknya.

Akan tetapi teriakan-teriakan yang menjawabnya sungguh amat mengejutkan hatinya. "Demang angkara murka!"
"Demang lalim!"
"Demang mata keranjang!"
"Perusak pagar ayu!"
"Bunuh! Bunuh!"

Lima puluh lebih orang itu mendesak maju, mengepung dan menghujankan senjata mereka kearah dua orang itu! Tentu saja Ki Demang Wiroboyo membela diri. Juga Surobajul mengamuk. Hanya bedanya, kalau Surobajul mengamuk untuk membunuh para pengeroyok, Ki Demang Wiroboyo hanya merobohkan pengeroyok untuk membela diri, tidak bermaksud membunuh. Dia tahu bahwa kalau dia membunuh warga dusunnya, maka mereka akan menjadi lebih sakit hati dan marah lagi.

Amukan Surobajul amat menggiriskan, Kolornya diputar menjadi sinar kuning yang bergulung-gulung dan rnengeluarkan bunyi meledak-ledak! Sinar kuning itu menangkis hujan senjata yang ditujukan kepadanya, bahkan dia sudah memukul roboh enam orang pengeroyok yang tewas dengan kepala pecah. Hal ini membuat para pengeroyok menjadi semakin ganas.

Pada saat itu, tampak bayangan berkelebat dan Muryani telah tiba di tempat itu. "Jahanam busuk! Manusia iblis keparat!"

Gadis itu minta sebatang golok dari seorang penduduk dan iapun terjun ke dalam pertempuran. Melihat betapa ganasnya Surobajul, iapun segera menerjang raksasa hitam yang tadi menawannya itu dengan penuh semangat. Mendengar golok berdesing nyaring, Surobajul terkejut dan cepat menggerakkan kolor untuk menangkis.

"Wuuuttt.... desss....!" golok dan kolor itu sama-sama terpental, akan tetapi Muryani merasa betapa telapak tangannya yang memegang gagang golok menjadi panas.

Hal itu membuat ia mengetahui bahwa lawannya itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat, lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Seorang lawan yang tangguh! Akan tetapi, ia tidak merasa gentar, apalagi karena ia dibantu oleh sedikitnya duapuluh orang pria dusun Pakis yang menyerang raksasa hitam itu dengan nekat dan marah karena melihat roboh dan tewasnya beberapa orang rekan mereka.

Sementara itu, Ki Demang Wiroboyo juga repot sekali menghadapi pengeroyokan dua puluh orang lebih. Apalagi karena dia tidak ingin membunuh, maka dia hanya menggunakan kedua tangan dan kakinya saja untuk membela diri. Tubuhnya sudah menderita banyak luka. Walaupun bukan luka berbahaya namun cukup membuat dia terasa nyeri dan tenaganya semakin lemah. Keadaannya gawat sekali karena para pengeroyoknya yang sudah marah itu seperti sekumpulan harimau yang ingin merobek-robek tubuhnya!

Pada saat yang amat gawat bagi Ki Demang Wiroboyo dan agaknya saat kematiannya hanya tinggal beberapa saat lagi, tiba-tiba Parmadi yang tadi melakukan pengejaran tiba di situ. Melihat keadaan Ki Demang yang sudah mandi darah dan didesak oleh para penduduk, dia lalu menyeruak masuk dan merangkul Ki Demang W iroboyo.

"Sudah cukup, teman-teman! Dia sudah cukup terhukum! Ingat akan semua kebaikan yang pernah dia lakukan untuk kita. Dan lihat, dia melawan kalian tanpa mempergunakan kerisnya! Hentikan penyerangan, aku akan mengantarnya pulang!"

karena dihalangi oleh Parmadi dan agaknya disadarkan oleh ucapan Parmadi tadi, kini para pengeroyok itu membalik dan membantu kawan-kawan dan Muryani yang sedang mengeroyok Surobajul! Mereka tidak lagi memperhatikan Parmadi yang memapah Ki Demang Wiroboyo, tersaruk-saruk pulang ke Pakis. Surobajul memang kebal. Senjata-senjata yang mengenai tubuhnya hanya mendatangkan goresan saja, paling-paling merobek sedikit kulitnya.

Akan tetapi, dia tahu bahwa golok di tangan Muryani akan membahayakan dia, akan dapat merobek pertahanan kekebalannya. Karena itu, dia lebih mencurahkan perhatiannya untuk menyambut serangan-serangan Muryani, tidak mengacuhkan hujan senjata dari para pengeroyok yang lain. Baju dan celananya sudah compang-camping, robek oleh bacokan senjata tajam. Akan tetapi Muryani adalah murid utama dari sebuah perguruan besar. Ia sudah mempelajari tentang orang-orang yang memiliki kekebalan. Ia tahu bahwa seorang yang kebal selalu memiliki titik kelemahan.

Sejak tadi ia memperhatikan dan akhirnya ia melihat bahwa raksasa hitam itu selalu melindungi tubuh bagian pusarnya. Kalau ada senjata yang meluncur ke arah pusar, tangan kirinya selalu menangkisnya, sedangkan kalau mengarah bagian lain diterima dengan kekebalannya.

"Kawan-kawan, serang bagian pusarnya!" Muryani berteriak lantang.

Para pengeroyok itu tentu saja menuruti ucapan Muryani dan Surobajul terkejut bukan main. Rahasianya ketahuan dan kini dirinya berada dalam bahaya besar. Memang bagian pusarnya itulah yang tidak kebal. Padahal kini hampir semua senjata menyerang ke arah pusarnya sehingga dia repot sekali, memutar kolornya untuk melindungi bagian perut bawah.

"Kawan-kawan, serang matanya. Mata dan pusarnya!" kembali Muryani berseru. Dara perkasa ini tahu benar bahwa mata merupakan bagian yang tidak dapat terlindung kekebalan, maka ia menyuruh para pengeroyok menyerang bagian itu, kembali para pengeroyok menurut dan sekarang, dua bagian tubuh Surobajul itu yang,menjadi sasaran penyerangan.

"Mati aku....!" Surobajul mengeluh dan dia menjadi repot sekali. Dia harus melindungi dua bagian yang berjauhan, yang satu di bawah yang satu di atas. Dan senjata para pengeroyok yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu datang bagaikan hujan!Akhirnya, sebuah ujung linggis menusuk mata kirinya. Surobajul menjerit kesakitan dan menjadi limbung. Senjata-senjata lain kini menghantam pusarnya bagaikan hujan.

Dia mengeluarkan teriakan parau seperti binatang buas terluka dan tubuh yang tinggi besar itu akhirnya roboh! Penduduk yang sudah marah seperti kesetanan itu menghujankan senjata mereka kepada tubuh raksasa yang sudah sekarat itu sehingga Warok Surobajul tewas dengan tubuh menjadi onggokan daging.

"Cukup, jahanam itu sudah mati. Mari kita mencari dan menghajar Demang Wiroboyo yang jahat itu!" terdengar suara Muryani melengking nyaring.

Seruan ini disambut sorak-sorai dan puluhan, orang itu lalu berbondong-bondong meninggalkan hutan itu untuk kembali ke dusun Pakis. Beberapa orang tinggal untuk mengurus jenazah sanak keluarganya yang tewas ketika mengeroyok Surobajul tadi. Bahkan ketika mereka memasuki dusun, jumlah mereka bertambah karena sekarang semua penduduk Pakis, laki perempuan, ikut pula dengan rombongan itu menuju ke rumah Ki Demang Wiroboyo!

Pada saat itu, semua panguneg-ineg, semua rasa sakit hati dan dendam, semua rasa penasaran, berkobar dan semua orang agaknya hendak menuntut agar Ki Demang Wiroboyo dihukum. Bahkan mereka yang tidak pernah dirugikan Ki Demang, bahkan pernah ditolong, pada saat itu terbawa dan terseret perasaan orang banyak dan ikut-ikutan mendaulat sang demang!

Rombongan itu memasuki pekarangan gedung kademangan. Muryani berjalan paling depan karena ia memang dianggap oleh semua penduduk sebagai pimpinan yang boleh diandalkan. Bersama belasan orang pemuda yang merasa diri sebagai jagoan dan pahlawan, gadis itu melangkah ke arah pendopo kademangan. Akan tetapi, belasan orang pimpinan termasuk Muryani itu berhenti di bawah anak tangga ketika melihat dua orang berdiri di atas anak tangga menghadapi mereka.

Dua orang itu bukan lain adalah Ki Ronggo Bangak dan Parmadi. Melihat ayahnya, Muryani memandang heran. Semua orang juga berdiam diri melihat pria yang mereka segani dan hormat itu. Ki Ronggo Bangak memang dihormat semua orang karena peramah, berbudi luhur, suka menolong, menjadi sumber nasihat dan terutama sekali setelah pria ini memperkenalkan puterinya yang disanjung semua orang itu.

Akan tetapi, di antara mereka terdapat beberapa orang pemuda yang pacar atau tunangannya dulu direbut Ki Demang Wiroboyo. Saking besarnya kobaran dendam di hati mereka, mereka serentak berteriak, "Bunuh Wiroboyo perusak pager ayu"

Teriakan ini seperti menyulut semua orang dan merekapun bersorak menyetujui. Ada pula teriakan-teriakan yang mengancam Parmadi. "Seret dan hajar Parmadi! Dia melindungi Wiroboyol!"

"Parmadi itu antek Wiroboyo. Hukum pula dia!"

Suara-suara yang mengancam Parmadi ini keluar dari mulut beberapa orang pemuda yang merasa iri dan cemburu melihat betapa dekat dan akrabnya hubungan Parmadi dengan Muryani. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan kecemburuan mereka. Dengan tenang Parmadi mengangkat dua tangan ke atas untuk menenangkan orang-orang itu.

"Para paman dan bibi, kakak dan adik, para saudaraku sewarga dusun Pakis! Dengarlah dulu kata-kataku dan jangan menuruti hati yang panas!" dia berkata dan aneh sekali, suara pemuda itu seolah mengandung wibawa kuat sehingga semua orang diam mendengarkan. Setelah semua orang diam, Parmadi bercara lagi, suaranya tenang namun cukup lantang.

"Saya tadi memang mencegah kalian membunuh Ki Demang Wiroboyo dan saya yang mengantarnya pulang ke sini. Akan tetapi hal itu saya lakukan bukan mata-mata untuk melindung dia, melainkan untuk mencegah kalian melakukan kekejaman yang sama jahatnya. Saya ingatkan kalian. Ki Demang Wiroboyo telah banyak melakukan kebaikan terhadap saya. Akan tetapi apakah terhadap kalian juga tidak demikian? Bukankah selama ini dia menjadi seorang demang yang jujur, adil dan baik terhadap warga dusun Pakis? Memang dia bersalah. Salah besar sekali terdorong nafsu-nafsunya sehingga dia menculik adi Muryani. Akan tetapi dia tidak melakukan pembunuhan, bahkan ketika kalian keroyok, dia membela diri dengan kaki tangannya saja, tidak menggunakan kerisnya. Surobajul itulah yang melakukan pembunuhan-pembunuhan. Karena itu, apakah Ki Demang Wiroboyo yang sudah kalian keroyok sehingga menderita banyak luka dan telah dipermalukan di depan semua orang itu berarti tidak telah mendapatkan hukuman yang cukup?"

Hening sejenak setelah Parmadi bicara. Akan tetapi kemudian terdengar teriakan beberapa orang pemuda yang membenci Ki Demang Wiroboyo. "Tidak! Tidak cukup! Dia harus dibunuh!" dan kembali banyak mulut menyambut teriakan ini sehingga suasana menjadi gegap-gempita.

Kini Ki Ronggo Bangak mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru, "Andika semua tenanglah!" kembali semua orang terdiam karena mereka memang segan terhadap pria yang lembut ini.

Setelah semua orang diam, Muryani bertanya kepada ayahnya dengan nada suara mengandung penasaran, "Ayah, mengapa ayah berada di sini?" tentu saja ia merasa penasaran. la baru saja diculik Ki Demang Wiroboyo dan nyaris diperkosa, bahkan ia tadi juga melihat ayahnya roboh ditendang Surobajul. Akan tetapi sekarang ayahnya malah berada di rumah demang itu dan berdiri di samping Parmadi, agaknya hendak membela Ki Demang Wiroboyo!

Semua orang diam ingin mendengarkan percakapan antar ayah dan anak itu. Ki Ronggo Bangak menatap tajam wajah puterinya dan diapun menjawab dengan tegas, "Muryani, akupun dapat memulangkan pertanyaan itu kepadamu, kepada andika sekalian semua. Mengapa kalian datang ke sini? Hendak membunuh Ki Demang Wiroboyo?"

Dengan tegas pula karena penasaran Muryani menjawab, "Benar sekali, ayah." Banyak orang bersorak mendengar jawaban ini. "Benar! Bunuh si keparat!"

Ki Ronggo Bangak mengangkat lagi kedua tangannya dan semua orang terdiam. "Harap kalian diam dengan tenang dan mendengarkan percakapan kami kalau kalian sudah menganggap Muryani sebagai wakil kalian!" semua orang diam, tidak ada yang berani menentang pandang mata Ki Ronggo Bangak ketika pria ini melayangkan pandang matanya, menyapu mereka.

"Nah, Muryani. Sekarang jawablah. Kalian datang hendak membunuh Ki Demang. Mengapa?"

"Ah, ayah. Mengapa ayah bertanya lagi? Dia baru saja bersama Surobajul dan kaki tangannya telah menyerbu rumah kita, mereka telah menangkap aku dan nyaris aku celaka di tangannya! Dia hendak menodaiku, ayah, dan itu lebih hebat daripada membunuh! Dia pantas dihukum mati!"

"Nini Muryani, dan kalian semua warga dusun Pakis. Dengarkan baik-baik. Ki Demang Wiroboyo memang bersalah, akan tetapi dia tidak membunuh siapa-siapa. Dia nyaris menodai, anakku ini, akan tetapi hal tu belum dia lakukan! Bandingkanlah dengan perbuatan kalian kalau sekarang kalian membunuhnya! Siapakah di antara dia dan kalian yang lebih jahat dan lebih kejam?" semua orang terdiam.

"Akan tetapi, ayah. Apakah kejahatan Wiroboyo itu harus didiamkan saja?" kembali banyak suara mendukung tuntutan Muryani.

"Memang tidak sepatutnya didiamkan. Akan tetapi harus melalui hukum yang benar. Bukan dengan cara menghakimi sendiri lalu mempergunakan banyak orang untuk mengeroyok dan membunuhnya! Aku sudah mendengar bahwa Surobajul juga sudah kalian bunuh. Sungguh perbuatan itu sama dengan perbuatan orang-orang biadab yang tidak mengenal peraturan dan hukum! Aku menyesal sekali. Coba saja bayangkan. Kalau cara menjadi hakim sendiri ini dibenarkan, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa yang kalian hakimi dan bunuh itu tidak bersalah? Orang bersalah memang sudah sepantasnya mendapat hukuman. Akan tetapi melalui saluran yang benar. Diselidiki dan diteliti dulu kesalahannya, mana saksi dan buktinya. Kalau ternyata menurut bukti dan saksi dia itu bersalah, barulah dijatuhi hukuman. Hukuman itupun menurut besar kecilnya kesalahan, menurut peraturan dan sepantasnya, bukan secara hantam kromo dibunuh beramai-ramai begitu saja!"

Muryani mulai dapat terbuka pikirannya dan ia diam saja, dalam hatinya tidak dapat membantah kebenaran yang terkandung dalam ucapan ayahnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan seseorang di antara para penduduk dusun Pakis itu. "Ki Ronggo! Di sini berlaku ucapan 'Deso mowo coro, negoro mowo toto' (Desa memakai cara/adat, kota raja memakai peraturan/hukum). Bukankah demikian Ki Ronggo"

Ki Ronggo Bangak tersenyum dan memandang ke arah pembicara itu. Seorang pria yang sudah setengah tua, warga lama dusun Pakis.

"Ucapan itu benar, akan tetapi tata cara adat sekalipun harus memakai peraturan, bukan ngawur dan hantam kromo. Hukuman atas diri seseorang harus disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, juga dipertimbangkan jasa-jasanya. Untuk itu perlu dimusyawarahkan antara para wakil warga yang terpandang. Sekarang mari kita memilih beberapa orang wakil yang terpandang dan terpercaya untuk memusyawarahkan keputusan hukuman terhadap Ki Demang Wiroboyo!"

Seketika itu semua orang melakukan pilihan. Empat orang tua, termasuk yang bicara tentang hukum dan adat tadi, juga Muryani, diangkat sebagai wakil-wakil semua warga dusun. "Aku mengusulkan agar Parmadi diperkenankan mewakili pihak Ki Demang Wiroboyo sekeluarga karena tertuduh berhak untuk diwakili seorang yang dekat dengannya. Dan kami rasa Parmadi merupakan orang dekat dan dia cukup adil dan bijaksana."

Setelah semua orang setuju, empat orang tua, Muryani, Parmadi, dan Ki Ronggo Bangak sendiri lalu memasuki pendopo dan mereka bertujuh lalu bermusyawarah. Setelah berunding, mereka memutuskan bahwa hukuman yang paling adil dan baik bagi semua pihak adalah bahwa Ki Demang Wiroboyo harus pergi dari dusun Pakis karena kalau dia masih tetap tinggal di Pakis, tentu akan menimbulkan banyak pertentangan. Karena yang bersalah hanyalah dia pribadi, maka pengusiran itu hanya untuk dia, sedangkan keluarganya boleh tinggal di Pakis kalau mereka menghendaki. Semua sawah ladangnya harus ditinggalkan dan menjadi milik warga dusun Pakis, hasilnya dimasukkan lumbung desa untuk keperluan semua warga.

Setelah keputusan musyawarah ini diumumkan, seluruh penghuni dusun Pakis menyatakan persetujuan mereka dengan suara bulat dan gembira. Bahkan dengan suara penuh harapan mereka semua memilih dan mengangkat Ki Ronggo Bangak sebagai pengganti demang. Ki Ronggo Bangak menyambut dengan tenang saja usul warga dusun itu, kemudian berkata, "Tidak mungkin aku menjadi demang menggantikan Ki Wiroboyo karena hal itu menyalahi peraturan, bahkan oleh Kerajaan Mataram kita dapat dianggap scbagai pemberontak. Biarlah sementara ini aku akan memimpin kalian mengatur dusun Pakis ini sambil menanti keputusan dari atas setelah aku membuat laporan tentang peristiwa mengenai Ki Wiroboyo."

Demikianlah, mulai hari itu Ki Ronggo Bangak dianggap sebagai pemimpin atau kepala Kademangan Pakis. Adapun Ki Wiroboyo, setelah sembuh dari luka-lukanya lalu memboyong keluarganya meninggalkan dusun Pakis tanpa pamit dan tidak ada orang mengetahui ke mana dia dan keluaganya pergi.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Resi Tejo Wening duduk di atas bangku kayu di depan gubuknya dan dia mengangkat muka memandang Parmadi yang datang menghampirinya. Pemuda itu memanggul sebuah buntalan dipundaknya. Hari masih pagi sekali. Halimun mulai membuyat diusir sinar matahari pagi. Burung-burung berkicau riang, berloncatan dari dahan ke dahan, menggoyang ranting dan daun-daun merontokkan air embun yang tadinya bergantungan di ujung-ujung dedaunan.

Begitu tiba di depan Resi Tejo Wening, Parmadi menaruh buntalan yang tadi dipanggulnya keatas tanah dan dia berlutut menyembah dengan hormat.

"Parmadi, sepagi ini engkau sudah datang dan membawa buntalan. Apakah isi buntalan itu?" kakek itu lalu menepuk bangku panjang yang didudukinya. "Bangkit dan duduklah di sebelahku sini, Parmadi. Tanah ini basah oleh embun, mengotorkan celana dan kakimu. Duduklah, akan lebih enak kita bicara."

Parmadi menurut dan duduk di sebelah kakek itu. "Eyang, pertama-tama saya hendak menghaturkan terima kasih atas pertolongan eyang sehingga saya terlepas dari ancaman maut."

"Eh? Kapan aku menolongmu terlepas dari ancaman, kulup?"

Parmadi menatap wajah kakek itu. Kenapa kakek itu berpura-pura lagi, pikirnya. Sudah jelas bahwa dia terancam maut ketika Surobajul memukulkan senjata kolornya yang ampuh itu ke arah kepalanya, akan tetapi senjata itu membalik dan tidak menyentuh kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Resi Tejo Wening yang menolongnya?

"Eyang, ketika dalam hutan itu Warok Surobajul menyerang saya dengan kolornya yang ampuh, eyang telah menyelamatkan saya dan menangkis serangan itu," dia menjelaskan untuk mengingatkan kakek itu.

Resi Tejo Wening tersenyum. "Heh-heh, aku sama sekali tidak menangkis pukulan itu, Parmadi."

"Akan tetapi, eyang! Pukulan kolor itu membalik dan tidak mengenai kepala saya. Siapa lagi kalau bukan eyang yang menolong saya?"

Kakek itu menggeleng kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan senyum penuh pengertian. "Bukan, bukan aku yang menyelamatkanmu, kulup. Coba ingat, apa yang kau lakukan ketika engkau melihat dirimu diserang dengan kolor ampuh itu oleh orang itu?"

Parmadi mengingat-ingat. "Saya merasa tidak berdaya dan tahu bahwa saya diancam bahaya maut, maka saya hanya pasrah, menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi seperti yang biasa saya latih bersama eyang."

"Nah, itulah yang menyelamatkanmu, Parmadi. Penyerahanmu yang ikhlas itu menggerakkan kekuasaan ilahi untuk bekerja dan kalau kekuasaan itu melindungi dirimu, tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang akan dapat mengganggu selembar rambutmu."

Parmadi terbelalak. Kemudian sertamerta dia menyembah kakek itu. "Aduh, eyang. Terima kasih atas petunjuk eyang selama ini."

"Jangan berterima kasih kepadaku. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Sang Hyang Widhi, karena hanya Dia yang menjadi gurumu, menjadi pembimbingmu, menjadi pelindungmu. Akan tetapi, jangan hendaknya rasa syukur dan terima kasihmu itu hanya berhenti sampai di dalam mulut dan hati akal pikiran saja. Bersyukur dan berterima kasih seperti itu hanya merupakan pemanis bibir belaka, kosong dan bahkan palsu adanya. Kita harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Hyang Widhi atas segala berkah, perlindungan, dan bimbingan-Nya, akan tetapi apakah yang menjadi bukti dari rasa terima kasih itu? Inilah yang dilupakan orang sehingga hampir setiap saat manusia hanya mengucap syukur dan terima kasih yang hampa belaka."

"Eyang, saya menjadi bingung. Lalu apakah yang harus kita lakukan untuk membuktikan bahwa kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya?"

"Bukti rasa terima kasih manusia terhadap Hyang Widhi adalah ketaatan, Parmadi. Manusia wajib taat kepada segala perintah-Nya yang tercantum dalam kitab-kitab suci, dalam weda-weda. Taat dalam arti kata melaksanakan segala perintah-Nya dalam tindakan kita sehari-hari. Menjadikan diri sendiri menjadi alat-Nya yang baik, mangayu hayuning bhuwana (mengusahakan keselamatan jagad), dengan cara selalu bertindak membela keadilan dan kebenaran, melindungi yang lemah tertindas, menentang yang jahat sewenang-wenang, berwatak ksatria sejati, dan membela nusa bangsa."

"Kalau begitu benar sekali pesan terakhir mendiang ayah saya, eyang, yaitu bahwa saya harus membela Mataram sampai mati."

"Itu hanya merupakan satu di antara kewajiban-kewajibanmu sebagai manusia utama."

"Dan apalagi yang harus saya panjatkan dalam doa saya kepada Yang Maha Kuasa selain bersyukur dan berterima kasih, eyang?"

"Di dalam doa kepada Hyang Widhi, yang terpenting adalah ucapan rasa syukur dan terima kasih yang dibuktikan dengan ketaatan. yang dilaksanakan dalam tindakan, kemudian kalau ada permohonan dalam doa, hanya ada dua permohonan yang patut kita persembahkan kepada Hyang Widhi."

"Permohonan apakah itu, eyang?"

"Pertama adalah permohonan ampun kepada-Nya atas segala kesalahan dan dosa kita. Seperti juga rasa syukur dan terima kasih, permohonan ampun ini harus kita panjatkan setiap saat, tiada henti-hentinya. Dan seperti rasa terima kasih tadi, permohonan ampun inipun harus bukan omong kosong belaka. Permohonan ampun itu kosong dan palsu selama kita tidak membuktikannya dengan perbuatan nyata, yaitu dengan bertobat, berarti tidak melakukan kesalahan yang kita mintakan ampun itu. Apa artinya mohon ampun untuk suatu kesalahan hari ini, besok kita ulangi lagi kesalahan itu, untuk dimintakan ampun lusa, dan demikian selanjutnya hari ini minta ampun, besok mengulang, hari ini minta ampun lagi, besok mengulang lagi? Hyang Widhi adalah Maha Pengampun, akan tetapi hanya dapat mengampuni orang yang minta ampun dengan benar-benar bertobat dan tidak mengulangi kesalahannya."

Parmadi mengangguk-angguk. "Saya mengerti dan bertekad untuk bertindak seperti yang eyang wejangkan. Kemudian, apakah permohonan yang kedua dalam doa kita kepada Yang Maha Kuasa, eyang?"

"Yang kedua adalah mohon bimbingan,, Manusia adalah mahluk yang lemah terhadap godaan nafsu. Tanpa adanya bimbingan kekuasaan Hyang Widhi, kita tidak akan kuat dan mampu menanggulangi kekuasaan gelap. Tanpa adanya kekuasaan Hyang Widhi yang bekerja dalam diri kita, kita ini tiada lain hanya seonggok darah, daging yang penuh kotoran dan noda. Sesungguhnya, hanya bimbingan kekuasaan Yang Maha Kasih sajalah yang akan membuat kita mampu menjadi seorang manusia yang taat akan segala kehendak-Nya, seorang manusia yang benar-benar bertobat dan dalam tindakannya sehari-hari selalu tertuju kepada keluhuran asma-Nya (Nama-Nya). Dan permohonan bimbingan ini hanya akan dapat terlaksana kalau Hyang Widhi menghendaki, dan itulah sebabnya kita harus MENYERAH, dengan ikhlas dan tawakal, sepenuh iman. Mengertikah engkau, Parmadi?"

"Saya akan berusaha untuk mengerti, eyang."

"Nah, baiklah. Sekarang ceritakan apa yang terjadi di Kademangan Pakis."

"Eyang tentu sudah mengetahui bahwa adi Muryani diculik oleh Ki Demang Wiroboyo dan kaki tangannya, dibantu oleh Surobajul. Bahkan eyang sendiri yang telah menghindarkan Muryani dari bahaya dan eyang sendiri yang teiah mengusir kedua orang jahat itu. Mereka melarikan diri dan bertemu dengan warga Kademangan Pakis yang marah. Puluhan orang warga Pakis lalu mengeroyok mereka, membantu adi Muryani yang mengamuk. Karena mengingat akan kebaikankebaikan dan jasa Ki Demang Wiroboyo terhadap warga Pakis, saya lalu mencegah mereka membunuhnya dan membawanya pulang. Surobajul tewas dikeroyok banyak orang. Kemudian, hasil musyawarah yang diadakan warga Pakis, diambil keputusan bahwa Ki Demang Wiroboyo harus pergi meninggalkan dusun Pakis. Kini Ki Wiroboyo sekeluarga telah pergi dan untuk sementara dusun Pakis dipimpin oleh paman Ronggo Bangak."

"Hemm, baik sekali kalau begitu. Lalu kenapa engkau sepagi ini datang membawa buntalan itu?"

"Eyang, karena Ki Wiroboyo telah pergi saya kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Karena itu saya mengambil keputusan untuk meninggalkan Pakis dan mulai saat ini saya hendak mengabdi kepada eyang dan mengikuti eyang ke manapun eyang pergi. Saya mohon eyang sudi mengajarkan ilmu-ilmu kepada saya untuk bekal dalam kehidupan ini agar seperti eyang katakan tadi, saya dapat menjadi alat Yang Maha Kuasa, menjadi alat yang berguna dan baik. Buntalan ini adalah milik saya, pakaian dan sisa uang pemberian Ki Wiroboyo selama ini."

Resi Tejo Wening tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kebetulan sekali, Parmadi, karena memang aku sudah bermaksud untuk mengajakmu pergi dari sini. Sudah tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini. Besok pagi-pagi adalah hari yang paling tepat bagi kita untuk berangkat meninggalkan tempat ini."

Parmadi merasa girang sekali. "Kalau begitu, perkenankan saya untuk pergi sebentar ke Pakis untuk berpamit kepada paman Ronggo Bangak, adi Muryani dan pen duduk dusun Pakis, eyang."

"Heh-heh, jadi engkau belum pamit kepada mereka?"

"Saya hendak mendapat kepastian dulu dari eyang. Setelah ada kepastian eyang dapat menerima saya mengabdi, baru saya akan pamit. Akan tetapi sebelum saya pergi ke sana, apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk eyang di sini? Membuatkan sarapan pagi untuk eyang? Atau mencucikan pakaian atau yang lain?"

Resi Tejo Wening tersenyum dan menggeleng kepalanya yang tertutup rambut putih. "Tidak ada yang harus kaukerjakan sekarang di sini, Parmadi. Pergilah ke dusun Pakis. Memang sepatutnya kalau engkau pamit dari mereka."

Dengan hati yang ringan dan gembira Parmadi meninggalkan hutan Penggik dan berlari menuju dusun Pakis. Akan tetapi setelah tiba di luar dusun itu, dia membayangkan perpisahannya dari dusun itu, dari para penduduknya dan terutama sekali dari Ki Ronggo Bangak dan lebih lagi dari Muryani! Dan hatinya tiba-tiba terasa berat. Awan kelabu menyelubungi hatinya. Sudah delapan tahun dia hidup di Pakis dan mereka semua begitu baik, terutama Ki Ronggo Bangak dan lebih lagi Muryani! Dia akan merasa kehilangan, terutama kehilangan Muryani yang sudah menempati sudut tertentu dalam hatinya. Dengan langkah berat dan muka tidak cerah lagi Parmadi lalu pergi menuju rumah Ki Ronggo Bangak. Biarpun Ki Ronggo Bangak telah diangkat oleh semua warga Pakis menjadi ketua atau lurah mereka, namun dia tidak mau menempati bekas gedung Ki Wiroboyo. Dia tetap bertempat tinggal di rumahnya sendiri dan rumah besar bekas kademangan itu hanya dipergunakan kalau sewaktu-waktu warga dusun mengadakan rapat pertemuan untuk memperbincangkan sesuatu.

Muryani menyambut kedatangannya dengan wajah gembira. "Kebetulan sekali engkau datang, kakang Parmadi. Tadi aku sudah mencarimu ke mana-mana, akan tetapi tidak ada seorang pun mengetahui ke mana engkau pergi. Engkau meninggalkan rumah besar itu tanpa pamit kepada siapapun juga."

"Engkau mencariku, Mur?" tanya Parmadi yang sekarang sudah amat akrab dengan gadis itu sehingga kalau menyebut namanya disingkat begitu saja. Mereka seperti kakak dan adik saja.

"Ada urusan apakah?"

"Duduklah dulu, nanti kita bicara," kata gadis itu. Mereka lalu duduk, saling berhadapan.

"Di mana paman Ronggo?"

"Ayah sedang menyelesaikan sebuah ukiran patung."

Parmadi yang sudah mengenal gurunya maklum bahwa kalau dia sedang memahat atau mengukir patung, Ki Ronggo Bangak amat asyik dan tidak mau diganggu siapapun, maka diapun tidak bertanya lagi tentang gurunya. "Nah, katakan, ada urusan apakah engkau mencari aku, Mur?"

Muryani menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata penuh selidik untuk sesaat. Kemudian ia berkata, "Kakang Parmadi, selama ini aku masih belum sempat bertanya kepadamu tentang pertolonganmu kepadaku pagi hari itu ketika engkau melepaskan aku dari libatan jaring dan ikatan. Bagaimana engkau bisa melakukan pertolongan itu? Bukankah di sana ada Ki Wiroboyo dan warok raksasa? Apa sebetulnya yang terjadi? Dari dalam aku mendengar engkau berteriak menegur Ki Wiroboyo agar membebaskan aku dan aku mendengar mereka mengancammu, akan tetapi kenapa tiba-tiba engkau dapat masuk menolongku? Kenapa mereka melarikan diri?"

Parmadi tidak ingin bercerita tentang Resi Tejo Wening. Gurunya itu tidak ingin dikenal orang lain, apalagi diketahui bahwa kakek itu yang menghalau dua orang penjahat itu dengan kesaktiannya. Maka diapun menjawab tanpa harus berbohong, "Sebelum mereka dapat mencelakai aku, mereka berdua agaknya mendengar sorak-sorai warga Pakis yang memang sudah siap dan marah. Mereka melarikan diri, akan tetapi di tengah hutan bertemu dengan warga Pakis yang segera mengeroyok mereka."

Muryani agaknya percaya akan keterangan ini. "Kang Parmadi, aku amat berterima kasih kepadamu. Engkau yang telah menolongku dari malapetaka besar. Sungguh engkau gagah berani, kakang. Engkau seorang diri berani menegur dan menentang Ki Wiroboyo yang dibantu warok raksasa itu. Engkau berani menempuh bahaya maut untuk menolongku!" pandang mata gadis itu menatap wajah Parmadi, penuh terima kasih.

Wajah Parmadi menjadi agak kemerahan. Dia sama sekali tidak merasa telah menolong gadis itu. Bahkan nyawanya sendiri mungkin sudah melayang kalau saja Tuhan Yang Mahakuasa tidak menolongnya melalui kesaktian gurunya.

"Adi Muryani, jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya melakukan kewajibanku. Kita wajib berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena sesungguhnya Dialah yang telah menolong kita."

Muryani tertawa, tawanya bebas karena ia sudah tidak merasa canggung atau rikuh lagi terhadap Parmadi yang dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. Tawanya merdu dan mulutnya terbuka sehingga tampak deretan giginya yang putih dan rapi, ujung lidahnya yang merah dan rongga mulutnya yang lebih mnerah lagi. Ketika mulutnya tertawa, matanya juga ikut tertawa dan bersinar-sinar.

"Hi-hi-hik, kalau engkau bicara seperti itu, engkau mirip dengan ayah. Engkau seperti kakek-kakek yang memberi wejangan saja!"

Parmadi juga tersenyum, agak canggung karena pada saat itu, hatinya tidak gembira melainkan agak bersedih dan teringat akan perpisahannya dari orang-orang yang dekat dengan hatinya.

"Mur, sebenarnya kedatanganku ini...."

"Untuk bertemu ayah, bukan? Sudah kukatakan, ayah sedang sibuk, tidak mau diganggu. Bicara dengan aku juga tidak apa-apa, bukan? Atau, engkau tidak suka bercakap-cakap denganku? Wajahmu tampak tidak bergembira!"

"Bukan begitu, adi Muryani. Kedatanganku ini... aku. hendak pamit dari engkau dan ayahmu...."

Muryani terbelalak. "Pamit? Engkau hendak ke mana?"

"Aku hendak pergi meninggalkan Pakis."

"Meninggalkan Pakis? Ke mana?"

Parmadi menggeleng kepala. "Aku sendiri belum tahu. Berkelana.... pokoknya meninggalkan dusun ini.... "

Muryani bangkit berdiri, matanya masih terbelalak. "Meninggalkan aku? Meninggalkan kami?"

"Benar. Aku akan meninggalkan kalian semua. Aku akan pergi sekarang juga."

"Tidak! Tidak... ahh, ayaaahhh !" Muryani berlari memasuki rumahnya dan langsung memasuki ruangan di mana ayahnya asyik bekerja. Biasanya iapun tidak mau mengganggu ayahnya kalau sedang bekerja, akan tetapi sekali ini ia tidak perduli dan mendorong daun pintu memasuki ruangan itu.

Ki Ronggo Bangak menunda pekerjaannya dan memandang kepada puterinya yang masuk tanpa dipanggil dan sikapnya seperti orang bingung. "Eh, ada apa lagi ini, Muryani?" tanyanya.

"Wah, celaka, ayah.... celaka....!" kata gadis itu.

Biarpun Ki Ronggo Bangak seorang yang tenang, namun melihat sikap puterinya, dia menduga tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka gadis itu bersikap seperti itu. Apakah Ki Wiroboyo muncul lagi dan membuat keributan? Dia bangkit berdiri dan menatap wajah puterinya.

"Katakanlah dengan jelas. Apa yang terjadi?"
"Kakang Parmadi, ayah...."
"Parmadi? Ada apa dengan dia?"

"Dia.... dia hendak meninggalkan dusun ini... meninggalkan kita! Ayah harus mencegah dan menahannya, ayah!"

Ki Ronggo Bangak menghela napas lega. "Ahhh, kiranya begitu. Kenapa kau bilang celaka dan kebingungan seperti kebakaran rumah? Di mana Parmadi sekarang?

"Di ruangan depan, ayah. Tahanlah dia, ayah, jangan biarkan dia pergi berkelana!"

Ki Ronggo Bangak tersenyum, mencatat sikap puterinya ini dalam hatinya. Sikap seperti ini jelas mengandung arti yang dalam, pikirnya. Agaknya dalam hati gadis remajanya ini sudah mulai tersulut api cinta! Akan tetapi di dalam hatinya, dia sama sekali tidak keberatan, bahkan senang sekali seandainya puterinya itu dapat berjodoh dengan Parmadi. Dia mengenal benar pemuda itu, tahu bahwa dia seorang pemuda yang berbudi baik dan bijaksana. Sambil menahan senyumnya dia melangkah keluar, lengannya dipegang oleh Muryani.

Parmadi segera bangkit berdiri ketika melihat Ki Ronggo Bangak muncul bersama Muryani. Dia sendiri tadi terkejut melihat sikap Muryani ketika dia menceritakan niatnya untuk meninggalkan Pakis. Gadis itu tampak demikian kaget dan berlari memanggil ayahnya. Dan sekarang, dia melihat betapa sepasang mata yang indah itu basah! Jantungnya berdebar. Tidak salahkah dia? Benarkah begitu sayangnya gadis itu kepadanya seperti juga perasaan rasa sayangnya yang mendalam terhadap gadis itu?

"Paman...." dia menyapa dengan sikap hormat.

"Parmadi, apa yang kudengar dari Mur yani tadi? Engkau hendak pergi meninggalkan Pakis. Benarkah itu?"

"Benar sekali, paman."

"Akan tetapi mengapa? Duduklah dan katakan alasanmu dengan jelas." Ki Ronggo Bangak duduk. Muryani duduk di sebelahnya dan Parmadi juga duduk berhadapan dengan mereka.

"Paman, sejak kecil saya ikut Ki Wiroboyo. Sekarang dia telah pergi. Saya kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Karena itu saya mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Pakis."

"Akan tetapi engkau boleh tinggal di sini, kakang! Betul tidak, ayah? Engkau boleh tinggal disini dan tentang pekerjaan, bukankah engkau dapat membantu pekerjaan ayah membuat patung dan perabotan rumah?"

Kembali Ki Ronggo Bangak mencatat ucapan puterinya itu dan dia semakin yakin bahwa telah tumbuh cinta kasih dalam hati puterinya terhadap pemuda yang menjadi muridnya itu. "Ucapan Muryani itu benar, Parmadi. Tentu saja engkau boleh tinggal bersama kami dan tentang pekerjaan, engkau sudah pandai memahat dan mengukir, engkau dapat membantu membuat patung, arca, darn perabot rumah."

"Terima kasih, paman dan adi Muryani. Tawaran paman berdua berharga sekali. Akan tetapi hal ini sudah saya pertimbangkan dengan matang dan saya sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Pakis dan merantau, berkelana."

"Hemm, agaknya keputusanmu sudah bulat. Kalau boleh kami mengetahui, apa yang menjadi dasar keputusanmu ini, Parmadi? Apa yang kau cari dalam perantauanmu itu?"

Ki Ronggo Bangak bertanya dan Parmadi melihat betapa sepasang mata yang tadi basah kini meruntuhkan dua titik air mata yang segera diusap oleh jari-jari tangan yang mungil itu. Muryani menangis! Dan kenyataan inilah yang membuat dia terpukul. Akan tetapi dia menguatkan hatinya dan menjawab,

"Paman, yang menjadi dasar keputusan saya adalah keinginan saya untuk meluaskan pengetahuan dan mencari pengalaman untuk bekal niat saya memenuhi pesan terakhir ayah saya seperti yang saya ceritakan kepada paman dulu."

Ki Ronggo Bangak mengangguk-angguk. "Hemm, pesan agar engkau mengabdikan diri kepada Kanjeng Sultan Agung di Mataram itu?"

"Benar, paman. Kalau saya terus-menerus berada di dusun ini, saya merasa seperti seekor katak dalam tempurung, tidak melihat keadaan dunia luar dan apa yang dapat saya andalkan untuk memenuhi pesan mendiang ayah saya itu?"

Ki Ronggo Bangak kembali mengangguk-angguk. Dalam hatinya dia tidak dapat menyalahkan pemuda itu, bahkan membenarkan niatnya yang amat baik. "Hemm, aku dapat melihat kebenaran alasanmu itu, Parmadi. Akan tetapi, ke manakah engkau hendak pergi merantau setelah meninggalkan dusun ini?"

"Entahlah. Bagaimana nanti saja, paman. Saya percaya bahwa Yang Mahakuasa tentu akan memberi petunjuk dan membimbing saya."

"Bagus kalau engkau selalu mohon petunjuk dan bimbingan Yang Mahakuasa. Dengan cara demikian aku yakin engkau tidak akan menyeleweng dari jalan yang benar. Muryani, niat kakangmu ini baik sekali. Kita tidak dapat menahan atau mencegahnya."

Mendengar ini, habislah harapan Muryani dan kini ia menangis tanpa disembunyikan lagi. Ia menangis sesenggukan, air matanya bercucuran dan ia sibuk menggunakan ujung kain bajunya untuk mengusap mata dan hidungnya. Melihat ini, Parmadi merasa terharu sekali. Inilah yang memberatkan hatinya. Meninggalkan Muryani! Dia merasa gadis itu seperti adiknya sendiri. Atau bahkan lebih dari itu. Dia tidak tahan untuk berdiam di situ lebih lama menghadapi Muryani yang menangis. Dia bangkit perlahan dari bangkunya.

"Paman Ronggo. Saya menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan yang sudah paman limpahkan kepada saya selama ini. Sekarang saya mohon diri karena saya harus berangkat sekarang. Saya masih akan berkunjung kepada para saudara lain untuk pamit. Selamat tinggal, paman Ronggo Bangak dan adi Muryani, saya mohon diri."

Ronggo Bangak bangkit berdiri. "Selamat jalan, Parmadi, dan baik-baiklah menjaga dirimu sendiri, semoga engkau berhasil. Muryani, ini kakangmu pamit!" katanya kepada Muryani.

Akan tetapi gadis itu tetap duduk sambil menangis sesenggukan, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Ki Ronggo hanya menghela napas dan Parmadi juga tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah memandang sejenak kepada Muryani, Parmadi lalu mengangguk dengan hormat kepada Ki Ronggo Bangak, lalu keluar dari rumah itu.

Parmadi berkunjung dari rumah ke rumah untuk berpamit dari para warga Pakis. Semua orang mengucapkan selamat jalan kepada pemuda yang mereka kenal dengan baik itu. Bahkan para pemuda yang tadinya merasa cemburu kepada Parmadi, bersikap ramah dan diam-diam merasa girang dengan kepergian pemuda itu meninggalkan Muryani. Setelah berpamit dari semua orang, Parmadi segera meninggalkan dusun Pakis...


Seruling Emas Jilid 04

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Seruling Gading Jilid 04

HAL ini dia lakukan dengan perhitungun agar jangan ada orang dalam rumah kademangan yang melihat dia keluar pada waktu lewat tengah malam seperti itu. Karena ini, Parmadi tidak melihat jagoan itu meninggalkarn kamar. Setelah tiba di luar rumah, Surobajul disambut lima belas orang kaki tangan Ki Demang yang memang sudah menanti di luar rumah. Tanpa mengeluarkan suara, enam belas orang itu lalu berpencar dan menuju ke rumah Muryani.

Di luar rumah itu mereka berkumpul kembali dan kini mereka masing-masing mengeluarkan sehelai kain hitam dan mengikatkan kain hitam itu menutupi muka dari hidung kebawah. Karena kepala mereka diikat kain kepala, maka yang tampak hanya mata mereka. Setelah itu, Surobajul memberi isyarat agar mereka semua menyiapkan senjata. Sepuluh orang mengeluarkan senjata tongkat panjang dan lima orang mengeluarkan jala yang biasa dipergunakan untuk menjala ikan.

"Hati-hati, jangan sampai ia terluka parah apalagi tewas. Kepung rapat dan tangkap hidup-hidup," pesannya lirih.

Itulah siasat yang sudah direncanakannya bersama Ki Demang Wiroboyo, untuk dapat menangkap hidup-hidup gadis remaja yang digdaya itu. Setelah semua siap, Surobajul memimpin kaki tangan itu menghampiri rumah Ki Ronggo Bangak. Tiba-tiba tampak dua orang muda meloncat dan menghadang enam belas orang yang memasuki pekarangan rumah Muryani itu. Mereka adalah dua orang pemuda dusun Pakis yang bertugas menjaga dan mengamati rumah itu seperti yang sudah diatur oleh Parmadi.

"Heii! Siapa kalian dan mau apa memasuki pekarangan orang?" bentak dua orang pemuda itu.

Seorang di antara mereka membawa sebuah kentongan bambu. Temannya, yang memegang sebatang sabit, melangkah maju untuk melihat lebih jelas. Siapa gerangan orang-orang yang memakai penutup muka itu. Akan tetapi Surobajul yang melihat gelagat kurang baik, sudah cepat melompat ke depan. Tangan kanannya menggerakkan kolornya yang panjang. Sinar kuning menyambar ke arah dada pemuda dusun itu.

"Suuuttt bukkk!!" pemuda itu terjengkang dan terpental, roboh dan tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan teriakan. Melihat ini, pemuda yang kedua terkejut sekali. Cepat dia memukul kentongannya.

"Tung-tung....?" baru dua kali kentongan. itu berbunyi, tubuhnya sudah disambar sinar kuning kolor itu dan diapun roboh dan tewas seperti temannya. Keadaan meniadi sunyi kembali setelah terdengar bunyi kentongan yang hanya dua kali itu. Akan tetapi suara gaduh yang hanya sedikit dan sebentar itu sudah cukup untuk didengar oleh Muryani yang memang telah berjaga-jaga. Ia mendengar suara kentongan dua kali itu dan suara gaduh di luar rumah. Ki Ronggo Bangak juga mendengarnya. Muryani cepat mengikatkan ujung kainnya di pinggang dan dengan trengginas ia melompat keluar, senjata patrem terselip pinggangnya.

"Nini, ada apakah?" ayahnya mengejar dan bertanya.

"Tinggallah di dalam saja, ayah. Ada orang jahat di luar!" kata Muryani dan iapun bergegas membuka pintu depan dan berlari keluar.

Di dalam keremangan cuaca menjelang fajar itu ia melihat belasan orang di dalam pekarangan rumahnya dan ada dua orang pemuda dusun menggeletak di atas tanah. "Bangsat-bangsat hina! Mau apa kalian memasuki pekarangan rumah kami?" Muryani membentak dan melompat ke depan, sedikitpun tidak merasa gentar. Akan tetapi, seperti telah diatur sebelumnya, sepuluh orang yang memegang tongkat panjang bergerak maju mengepungnya dan serentak menyerangnya dengan pukulan dan tusukan tongkat. Melihat para penyerangnya memakai kain penutup muka dan mengeroyoknya, Muryani menjadi marah bukan main dan ia lalu mengamuk!

Sebagai murid perguruan Bromo Dadali yang dibanggakan gadis ini memiliki gerakan yang amat cepatnya seperti gerakan burung dadali (walet). Kecepatan gerakan dan keringanan tubuh inilah yang merupakan keistimewaan ilmu pencak silat dari perguruan Bromo Dadali dan membuat para murid utamanya merupakan orang-orang yang tangguh. Muryani yang telah menjadi ahli dan menguasai benar ilmu silat Bromo Dadali, bergerak cepat sekali. Karena marah ia sudah mencabut patremnya dan mengamuk. Biarpun dikeroyok sepuluh orang laki-laki yang bersenjata tongkat panjang, Muryani dapat berkelebatan diantara tongkat-tongkat. itu dan tak pernah tubuhnya terkena serangan tongkat.

Namun, agak sulit pula baginya untuk dapat menanamkan patremnya yang kecil di tubuh para pengeroyok karena mereka semua bersenjata tongkat panjang yang membuat ia sukar untuk mendekat. Akan tetapi, kedua kakinya mencuat dan menyambar-nyambar dengan tendangan-tendangan langsung, menyamping, atau memutar.

"Heiiiittt dukk! Plakk!" dua orang pengeroyok terpelanting disambar kaki Muryani. Mereka dapat bangkit kembali akan tetapi yang seorang perutnya mulas dan yang seorang lagi kepalanya puyeng. Dara remaja perkasa itu terus mengamuk. Ketika ada tongkat menusuk ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menangkap tongkat dengan tangan kiri, memutar dan menyentakkan dengan kejutan sehingga pemegang tongkat itu terpelanting.

"Hyaaatt tokk! Bresss...." pemegang tongkat itu kena dihantam tongkatnya sendiri sehingga roboh terjengkang, kemudian tongkat itu dilontarkan Muryani mengenai dua orang pengeroyok lain yang berpelantingan. Dengan kepala benjol-benjol mereka bangkit kembali. Sepak.terjang gadis perkasa itu membuat sepuluh orang pengeroyok yang bersenjata tongkat menjadi kewalahan, terdesak dan juga agak jerih.

Surobajul memberi isyarat dan kini lima orang yang memegang jala ikut maju. Mereka menebar jala-jala mereka ke arah tubuh Muryani. Gadis itu terkejut bukan main, mencoba untuk mengelak, akan tetapi karena yang menyambar adalah lima helai jala dari segala jurusan, ia tidak dapat menghindarkan diri lagi dan sehelai jala menyelimutinya. Ia meronta dan menggunakan patremnya untuk merobek jala, akan tetapi empat jala lain menimpa dan membungkusnya.

Muryani meronta-ronta seperti seekor ikan terperangkap jala. Akan, tetapi ada saat itu, Surobajul melompat dekat dan meringkusnya. Warok ini kuat sekali dan begitu diringkus, Muryani tidak mampu meronta lagi. Patremnya dirampas dan dengan tubuh masih terbungkus jala iapun dibelenggu.

Pada saat itu, Ki Ronggo Bangak menghampiri dan berkata dengan suaranya yang lembut namun berwibawa, "Hei, kalian ini tentu orang-orangnya Ki Demang Wiroboo! Tidak sadarkah kalian bahwa kalian telah melakukan kejahatan? Bebaskanlah puteriku atau kalian akan menderita hukuman Gusti Allah dan hukuman kerajaan!"

Akan tetapi, sambil memanggul tubuh Muryani yang sudah tak berdaya itu, Surobajul melompat dekat dan sekali kakinya diayun, tubuh Ki Ronggo Bangak tertendang roboh. Pada saat itulah Parmadi yang berlari-lari tiba di situ. Melihat di pekarangan rumah Muryani terdapat banyak orang yang mengenakan kain penutup muka, dia pun cepat memukul kentongannya dengan gencar. Bertalu-talu dia memukul kentongannya sehingga membangunkan dan mengegerkan orang sedusun.

Mendengar kentongan ini, Surobajul lalu melarikan di sambil memanggul tubuh Muryani. Melihat ini, Parmadi cepat melempar kentongannya dan berlari mengejar. Seperti yang diduganya, Surobajul membawa lari Muryani menuju hutan di luar dusun itu. Parmadi terus mengejarnya. Warok jagoan itu beri lari cepat sekali sehingga terengah-engah Parmadi mengejarnya dan dia tertinggal jauh.

Sementara itu, fajar mulai menyingsing sehingga walaupun cuaca masih remang remang, tidak segelap tadi. Matahari yang masih bersembunyi di balik puncak, mulai mengirim sinar terangnya. Parmadi mengejar terus dan setelah dia tiba di depan pondok baru, dia melihat Surobajul, kini tanpa penutup muka, sudah duduk di atas lincak (bangku bambu) di depan pondok. Muryani tidak tampak lagi dan pintu pondok itu tertutup.

Parmadi tidak perduli. Dia berlari hendak menuju pintu pondok sambil berteriak-teriak, "Paman Demang ! Paman Demang...!"

Surobajul yang pernah melihat Parmadi sebagai perawat kuda, mengira bahwa pemuda itu merupakan pembantu Ki Demang. Dia menghadang dan bertanya, "Ada keperluan apakah engkau dengan Ki Demang Wiroboyo?"

"Ada perlu penting sekali! Paman Demang, harap keluar sebentar!" Parmadi hendak menghampiri pintu akan tetapi Surobajul menghadang dan melarangnya.

"Engkau tunggu saja di sini, tidak boleh masuk!"

Daun pintu pondok itu terbuka dan Ki Demang Wiroboyo muncul. Dia tadi sedang duduk di tepi bale-bale (dipan) di mana Muryani menggeletak telentang masih terbungkus jala. Dia mengamati perawan yang membuatnya tergila-gila itu dengan hati senang sekali. "Akhirnya engkau terjatuh juga ke tanganku, Muryani manis...." katanya dan dia sudah mulai berusaha hendak melepaskan jaring atau jala yang menyelimuti gadis yang kedua tangannya sudah diikat itu ketika dia mendengar seruan Parmadi. Karena diapun mengira bahwa Parmadi tentu datang membawa kabar penting baginya, maka terpaksa dia menunda niat mesumnya kepada Muryani dan dia membuka daun pintu dan melangkah keluar.

"Engkau, Parmadi? Ada apakah engkau datang ke sini?" tanyanya.

Muryani mendengar ini dan tahu bahwa Parmadi berada di luar pondok, gadis itu berteriak, "Kakang Parmadi, tolong....!!"

Parmadi menatap wajah Ki Demang Wiroboyo dengan tajam. Selama kurang lebih delapan tahun dia memandang orang ini sebagai pengganti orang tuanya dan penghalangnya, sebagai majikannya yang harus selalu dia taati. Kalau dia mau jujur, dia harus mengakui bahwa Ki Demang Wiroboyo bersikap baik kepadanya sehingga kehidupannya terjamin, tidak kekurangan sandang pangan. Akan tetapi baru sekarang dia melihat orang itu sebagai melihat seorang penjahat yang harus ditentangnya. Dengan berdiri tegak dan sikap berani Parmadi berkata dengan lantang,

"Paman Wiroboyo, sadarlah akan perbuatan paman yang sesat ini! Bebaskan dan jangan ganggu Muryani, paman. Paman adalah seorang demang yang seharusnya melindungi warga dusunnya, bukan mengganggunya. Paman, saya mohon kepada paman, bebaskanlah adi Muryani dan jangan ganggu ia!"

Ki Demang hampir tidak percaya apa yang didengarnya. Dia memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mukanya berubah merah. Sepasang kumisnya yang sekepal sebelah itu bergerak-gerak dan kedua tangan mengepal tinju. Kemudian tangan kanannya bertolak pinggang dan telunjuk tangan kirinya menuding ke arah muka Parmadi.

"Bocah keparat tidak mengenal budi. Lupakah engkau bahwa selama bertahun-tahun aku memeliharamu? Inikah balasanmu? Apakah engkau ingin mampus seperti ayah ibumu?"

"Paman, saya hanya ingin mencegah dan memperingatkan agar paman tidak melakukan kejahatan. Paman adalah seorang yang baik, sayang kalau paman melakukan kesesatan ini..."

"Kakang Surobajul, bunuh bocah tak tahu diri ini!" bentak Ki Demang Wiroboyo dengan marah sekali.

Warok ini sudah biasa membunuh orang dengan darah dingin dan dengan mudah. Apalagi harus membunuh seorang pemuda dusun yang tampaknya demikian lemah. Dia menyeringai, melangkah maju menghampiri Parmadi sambil memutar-mutar kolornya. "Bocah tak tahu diuntung, mampuslah kau!" bentaknya dan begitu tangannya bergerak, kolornya menyambar, berubah menjadi sinar kuning yang menghantam ke arah kepala Parmadi.

Parmadi hanya dapat memandang dan tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Maklum bahwa nyawanya terancam bahaya maut, dia teringat akan pelajaran yang diterimanya dari Ki Tejo Wening tentang penyerahan dirinya kepada kekuasaan Hyang Widhi. Maka diapun melepaskan semua pikiran, perasaan dan kemauan, membiarkan dirinya hanyut dan tenggelam dalam kepasrahan.

Kolor kuning itu menyambar dahsyat. "Wuuuutttt... blarrr...!!" terdengar suara keras dan kolor itu seperti menghantam dinding baja, terpental bahkan membuat Surobajul terbawa oleh tenaga pukulan yang membalik sehingga dia terhuyung!

"Semoga Sang Hyang Widhi rnengampuni kita semua !" terdengar suara tenang dan lirih penuh kedamaian. Parmadi merasa girang sekali mendengar suara gurunya itu dan dia segera menoleh ke belakang. Benar saja. Kakek itu berdiri di belakangnya, kakek berambut putih berpakaian putih berselimut embun pagi tipis. Tahulah Parmadi sekarang mengapa pukulan warok kearah kepalanya tadi tidak berhasil, membalik bahkan membuat pemukulnya terhuyung.

Tentu gurunya yang telah melindunginya. Surobajul terkejut, heran, penasaran dan marah sekali ketika pukulan kolornya tadi membalik, bahkan membuat dia terhuyung. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan diapun tidak memperdulikan kemunculan kakek itu. Dengan marah dia menerjang maju dan memukulkan lagi kolornya ke arah dada Parmadi yang masih menoleh memandang gurunya.

"Alangkah kejamnya....!" Ki Tejo Wening berkata dan dia mendorongkan tangan kirinya kearah Surobajul yang menyerang Parmadi.

Tiba-tiba ada tenaga dahsyat yang menyambut serangan Surobajul sehingga untuk kedua kalinya jagoan itu terdorong ke belakang, pukulan kolornya membalik dan dia terhuyung-huyung. Sekarang tahulah dia bahwa kakek itu yang telah membantu Parmadi. Kemarahannya segera beralih kepada kakek itu. "Babo-babo, keparat! Siapa berani menentang Warok Surobajul dan mencampurl urusanku? Heh, kakek tua bangka. Siapakah engkau?" kata Surobajul sambil menghampiri kakek itu. Ki Demang Wiroboyo juga menghampiri ketika melihat bahwa kakek itu akan menjadi penghalangnya.

"Siapa aku tidak penting. Yang terpenling, kalian berdua harus ingat bahwa apa yang kalian lakukan ini merupakan perbuatan yang jahat. Sang Hyang Widhi melihatnya dan pasti tidak merestui kejahatan kalian dan akan menghalanginya. Karena itu, kalian berdua sadarlah dan hentikan perbuatan jahat ini."

"Kakang Surobajul, cepat kita bereskan dua orang pengganggu ini!" kata Ki Demang Wiroboyo dengan tak sabar dan diapun sudah mencabut kerisnya. Karena mereka berdua menduga bahwa kakek itu yang agaknya memiliki kesaktian, maka mereka berdua menyerang kakek itu dengan cepat. Kolor kuning di tangan Surobajul menyambar kepala dan keris di tangan Ki Demang Wiroboyo menghunjam ke arah ulu hati kakek itu.

Ki Tejo Wening hanya berdiri tersenyum dan kedua matanya setengah terpejam. Parmadi melihat dengan mata terbelalak dan hatinya penuh ketegangan dan kekhawatiran. Dua buah senjata ampuh itu menyambar dahsyat agaknya dalam detik yang sama, kepala itu akan pecah dihantam kolor dan ulu hati itu akan menjadi sarung keris. Hampir Parmadi tidak dapat menahan kengerian hatinya. Akan tetapi terjadilah hal yang tidak disangka-sangkanya yang membuat hatinya ingin bersorak karena lega, girang dan kagum. Dua senjata yang sudah hampir menyentuh tubuh kakek itu, tiba-tiba seperti terpental, seolah-olah tubuh kakek itu terbungkus oleh dinding baja yang tidak tampak!

Dua orang itu terkejut, terheran dam tentu saja penasaran sekali. Mereka mengulang-ulang serangan mereka. Kolor kuning ditangan Surobajul menyambar-nyambar dan memukul-mukul dengan kuat. Keris di tangan Ki Demang Wiroboyo juga menyorang dengarn tusukan bertubi-tubi. Namun semua itu sia-sia belaka. Semua serangan itu terpental dan membalik, bahkan mereka sampai terengah-engah kehabisan tenaga karena mereka telah mengerahkan seluruh tenaga sakti untuk menembus perisai yang tidak tampak itu. Bahkan pada serangan terakhir yang dilakukan sepenuh tenaga, mereka berdua terpental dan terhuyung sampai beberapa langkah ke belakang.

"Semoga Sang Hyang Widhi mengampuni kita semua!" Ki Tejo Wening berkata lirih. Akan tetapi kedua orang itu agaknya masih belum menerima kalah begitu saja. Mereka berdua mengerahkan tenaga sakti lalu keduanya menyerang dengan dorongan kedua tangan, melakukan pukulan jarak jauh ke arah Ki Tejo Wening. Kakek itu tersenyum dan tangan kirinya dijulurkan kedepan dengan telapak tangan terbuka menghadap ke muka.

"Wuuusss... desss...!" dua orang itu terpental dan terbanting jatuh sampai bergulingan. Mereka bangkit dengan muka pucat, kini baru mereka yakin bahwa kakek tua renta itu adalah seorang yang sakti mandraguna.

Selagi keduanya bingung tak tahu harus berbuat apa karena tentu saja Ki Demang Wiroboyo tidak rela meningalkan Muryani, calon korban yang sudah terjatuh kedalam tangannya itu, tiba-tiba terdengar suara banyak orang datang dari jauh. Mendengar suara gaduh ini, Ki Demang Wiroboyo dan Surobajul segera lari meninggalkan tempat itu. Parmadi tidak membuang waktu lagi, cepat dia lari mernasuki pondok. Melihat Muryani rebah telentang terbungkus beberapa helai jala dan dalam keadaan terikat, Parmadi segera menolong dan melepaskan jala dan ikatan itu.

Muryani segera melompat dari atas dipan. "Kakang Parmadi, di mana jahanam-jahanam itu tadi?"

"Mereka melarikan diri!" kata Parmadi.

Mendengar ini, Muryani, sudah meloncat dan berlari keluar cepat sekali melakukan pengejaran. Parmadi juga keluar dari pondok, mencari-cari. gurunya, akan tetapi Ki Tejo Wening sudah tidak berada di situ lagi. Parmadi lalu melakukan pengejaran keluar dari hutan itu.

Sementara itu, para pria dusun Pakis, ketika mendengar bunyi kentongan titir (bertalu-talu) yang dipukul Parmadi tadi, keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa senjata apa saja yang mereka milik. Ada yang membawa sabit, parang, tombak, palu, linggis, atau cangkul. Mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang dan berbondong-bondong mereka lari kerumah Ki Ronggo Bangak. Di pekarangan rumah itu mereka menemukan dua orang pemuda dusun menggeletak tewas dan Ki Ronggo Bangak yang juga menderita nyeri pada dadanya terkena tendangan Surobajul akan tetapi dia masih hidup dan tidak terlalu parah keadaannya.

Melihat banyak orang, Ki Ronggo Bangak berkata, "Muryani... dibawa mereka... kalian tolonglah ia...."

Mendengar ini, puluhan orang itu yang sudah diberi tahu oleh Parmadi tentang pondok dihutan luar dusun, segera melakukan pengejaran keluar dusun menuju ke hutan itu. Ketika mereka sedang berbondong-bondong memasuki hutan, mereka melihat dua orang berlari-lari dari depan. Mereka segera mengenal dua orang itu sebagai Ki Demang Wiroboyo dengan seorang raksasa hitam. Bangkitlah kemarahan para pria dusun Pakis itu karena sudah tahu bahwa Ki Demang Wiroboyo dan jagoannya merencanakan menculik Muryani.

Maka begitu melihat dua orang itu mereka berteriak-teriak gemuruh. Ki Demang Wiroboyo terkejut bukan main melihat warga dusunnya kini dengan wajah beringas menyerbu untuk mengeroyok dia dan Surobajul. "Heii! Apa kalian telah buta atau gila? Ini adalah aku, Ki Demang Wiroboyo, kepala dusun kalian!" teriaknya.

Akan tetapi teriakan-teriakan yang menjawabnya sungguh amat mengejutkan hatinya. "Demang angkara murka!"
"Demang lalim!"
"Demang mata keranjang!"
"Perusak pagar ayu!"
"Bunuh! Bunuh!"

Lima puluh lebih orang itu mendesak maju, mengepung dan menghujankan senjata mereka kearah dua orang itu! Tentu saja Ki Demang Wiroboyo membela diri. Juga Surobajul mengamuk. Hanya bedanya, kalau Surobajul mengamuk untuk membunuh para pengeroyok, Ki Demang Wiroboyo hanya merobohkan pengeroyok untuk membela diri, tidak bermaksud membunuh. Dia tahu bahwa kalau dia membunuh warga dusunnya, maka mereka akan menjadi lebih sakit hati dan marah lagi.

Amukan Surobajul amat menggiriskan, Kolornya diputar menjadi sinar kuning yang bergulung-gulung dan rnengeluarkan bunyi meledak-ledak! Sinar kuning itu menangkis hujan senjata yang ditujukan kepadanya, bahkan dia sudah memukul roboh enam orang pengeroyok yang tewas dengan kepala pecah. Hal ini membuat para pengeroyok menjadi semakin ganas.

Pada saat itu, tampak bayangan berkelebat dan Muryani telah tiba di tempat itu. "Jahanam busuk! Manusia iblis keparat!"

Gadis itu minta sebatang golok dari seorang penduduk dan iapun terjun ke dalam pertempuran. Melihat betapa ganasnya Surobajul, iapun segera menerjang raksasa hitam yang tadi menawannya itu dengan penuh semangat. Mendengar golok berdesing nyaring, Surobajul terkejut dan cepat menggerakkan kolor untuk menangkis.

"Wuuuttt.... desss....!" golok dan kolor itu sama-sama terpental, akan tetapi Muryani merasa betapa telapak tangannya yang memegang gagang golok menjadi panas.

Hal itu membuat ia mengetahui bahwa lawannya itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat, lebih kuat daripada tenaganya sendiri. Seorang lawan yang tangguh! Akan tetapi, ia tidak merasa gentar, apalagi karena ia dibantu oleh sedikitnya duapuluh orang pria dusun Pakis yang menyerang raksasa hitam itu dengan nekat dan marah karena melihat roboh dan tewasnya beberapa orang rekan mereka.

Sementara itu, Ki Demang Wiroboyo juga repot sekali menghadapi pengeroyokan dua puluh orang lebih. Apalagi karena dia tidak ingin membunuh, maka dia hanya menggunakan kedua tangan dan kakinya saja untuk membela diri. Tubuhnya sudah menderita banyak luka. Walaupun bukan luka berbahaya namun cukup membuat dia terasa nyeri dan tenaganya semakin lemah. Keadaannya gawat sekali karena para pengeroyoknya yang sudah marah itu seperti sekumpulan harimau yang ingin merobek-robek tubuhnya!

Pada saat yang amat gawat bagi Ki Demang Wiroboyo dan agaknya saat kematiannya hanya tinggal beberapa saat lagi, tiba-tiba Parmadi yang tadi melakukan pengejaran tiba di situ. Melihat keadaan Ki Demang yang sudah mandi darah dan didesak oleh para penduduk, dia lalu menyeruak masuk dan merangkul Ki Demang W iroboyo.

"Sudah cukup, teman-teman! Dia sudah cukup terhukum! Ingat akan semua kebaikan yang pernah dia lakukan untuk kita. Dan lihat, dia melawan kalian tanpa mempergunakan kerisnya! Hentikan penyerangan, aku akan mengantarnya pulang!"

karena dihalangi oleh Parmadi dan agaknya disadarkan oleh ucapan Parmadi tadi, kini para pengeroyok itu membalik dan membantu kawan-kawan dan Muryani yang sedang mengeroyok Surobajul! Mereka tidak lagi memperhatikan Parmadi yang memapah Ki Demang Wiroboyo, tersaruk-saruk pulang ke Pakis. Surobajul memang kebal. Senjata-senjata yang mengenai tubuhnya hanya mendatangkan goresan saja, paling-paling merobek sedikit kulitnya.

Akan tetapi, dia tahu bahwa golok di tangan Muryani akan membahayakan dia, akan dapat merobek pertahanan kekebalannya. Karena itu, dia lebih mencurahkan perhatiannya untuk menyambut serangan-serangan Muryani, tidak mengacuhkan hujan senjata dari para pengeroyok yang lain. Baju dan celananya sudah compang-camping, robek oleh bacokan senjata tajam. Akan tetapi Muryani adalah murid utama dari sebuah perguruan besar. Ia sudah mempelajari tentang orang-orang yang memiliki kekebalan. Ia tahu bahwa seorang yang kebal selalu memiliki titik kelemahan.

Sejak tadi ia memperhatikan dan akhirnya ia melihat bahwa raksasa hitam itu selalu melindungi tubuh bagian pusarnya. Kalau ada senjata yang meluncur ke arah pusar, tangan kirinya selalu menangkisnya, sedangkan kalau mengarah bagian lain diterima dengan kekebalannya.

"Kawan-kawan, serang bagian pusarnya!" Muryani berteriak lantang.

Para pengeroyok itu tentu saja menuruti ucapan Muryani dan Surobajul terkejut bukan main. Rahasianya ketahuan dan kini dirinya berada dalam bahaya besar. Memang bagian pusarnya itulah yang tidak kebal. Padahal kini hampir semua senjata menyerang ke arah pusarnya sehingga dia repot sekali, memutar kolornya untuk melindungi bagian perut bawah.

"Kawan-kawan, serang matanya. Mata dan pusarnya!" kembali Muryani berseru. Dara perkasa ini tahu benar bahwa mata merupakan bagian yang tidak dapat terlindung kekebalan, maka ia menyuruh para pengeroyok menyerang bagian itu, kembali para pengeroyok menurut dan sekarang, dua bagian tubuh Surobajul itu yang,menjadi sasaran penyerangan.

"Mati aku....!" Surobajul mengeluh dan dia menjadi repot sekali. Dia harus melindungi dua bagian yang berjauhan, yang satu di bawah yang satu di atas. Dan senjata para pengeroyok yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu datang bagaikan hujan!Akhirnya, sebuah ujung linggis menusuk mata kirinya. Surobajul menjerit kesakitan dan menjadi limbung. Senjata-senjata lain kini menghantam pusarnya bagaikan hujan.

Dia mengeluarkan teriakan parau seperti binatang buas terluka dan tubuh yang tinggi besar itu akhirnya roboh! Penduduk yang sudah marah seperti kesetanan itu menghujankan senjata mereka kepada tubuh raksasa yang sudah sekarat itu sehingga Warok Surobajul tewas dengan tubuh menjadi onggokan daging.

"Cukup, jahanam itu sudah mati. Mari kita mencari dan menghajar Demang Wiroboyo yang jahat itu!" terdengar suara Muryani melengking nyaring.

Seruan ini disambut sorak-sorai dan puluhan, orang itu lalu berbondong-bondong meninggalkan hutan itu untuk kembali ke dusun Pakis. Beberapa orang tinggal untuk mengurus jenazah sanak keluarganya yang tewas ketika mengeroyok Surobajul tadi. Bahkan ketika mereka memasuki dusun, jumlah mereka bertambah karena sekarang semua penduduk Pakis, laki perempuan, ikut pula dengan rombongan itu menuju ke rumah Ki Demang Wiroboyo!

Pada saat itu, semua panguneg-ineg, semua rasa sakit hati dan dendam, semua rasa penasaran, berkobar dan semua orang agaknya hendak menuntut agar Ki Demang Wiroboyo dihukum. Bahkan mereka yang tidak pernah dirugikan Ki Demang, bahkan pernah ditolong, pada saat itu terbawa dan terseret perasaan orang banyak dan ikut-ikutan mendaulat sang demang!

Rombongan itu memasuki pekarangan gedung kademangan. Muryani berjalan paling depan karena ia memang dianggap oleh semua penduduk sebagai pimpinan yang boleh diandalkan. Bersama belasan orang pemuda yang merasa diri sebagai jagoan dan pahlawan, gadis itu melangkah ke arah pendopo kademangan. Akan tetapi, belasan orang pimpinan termasuk Muryani itu berhenti di bawah anak tangga ketika melihat dua orang berdiri di atas anak tangga menghadapi mereka.

Dua orang itu bukan lain adalah Ki Ronggo Bangak dan Parmadi. Melihat ayahnya, Muryani memandang heran. Semua orang juga berdiam diri melihat pria yang mereka segani dan hormat itu. Ki Ronggo Bangak memang dihormat semua orang karena peramah, berbudi luhur, suka menolong, menjadi sumber nasihat dan terutama sekali setelah pria ini memperkenalkan puterinya yang disanjung semua orang itu.

Akan tetapi, di antara mereka terdapat beberapa orang pemuda yang pacar atau tunangannya dulu direbut Ki Demang Wiroboyo. Saking besarnya kobaran dendam di hati mereka, mereka serentak berteriak, "Bunuh Wiroboyo perusak pager ayu"

Teriakan ini seperti menyulut semua orang dan merekapun bersorak menyetujui. Ada pula teriakan-teriakan yang mengancam Parmadi. "Seret dan hajar Parmadi! Dia melindungi Wiroboyol!"

"Parmadi itu antek Wiroboyo. Hukum pula dia!"

Suara-suara yang mengancam Parmadi ini keluar dari mulut beberapa orang pemuda yang merasa iri dan cemburu melihat betapa dekat dan akrabnya hubungan Parmadi dengan Muryani. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk melampiaskan kecemburuan mereka. Dengan tenang Parmadi mengangkat dua tangan ke atas untuk menenangkan orang-orang itu.

"Para paman dan bibi, kakak dan adik, para saudaraku sewarga dusun Pakis! Dengarlah dulu kata-kataku dan jangan menuruti hati yang panas!" dia berkata dan aneh sekali, suara pemuda itu seolah mengandung wibawa kuat sehingga semua orang diam mendengarkan. Setelah semua orang diam, Parmadi bercara lagi, suaranya tenang namun cukup lantang.

"Saya tadi memang mencegah kalian membunuh Ki Demang Wiroboyo dan saya yang mengantarnya pulang ke sini. Akan tetapi hal itu saya lakukan bukan mata-mata untuk melindung dia, melainkan untuk mencegah kalian melakukan kekejaman yang sama jahatnya. Saya ingatkan kalian. Ki Demang Wiroboyo telah banyak melakukan kebaikan terhadap saya. Akan tetapi apakah terhadap kalian juga tidak demikian? Bukankah selama ini dia menjadi seorang demang yang jujur, adil dan baik terhadap warga dusun Pakis? Memang dia bersalah. Salah besar sekali terdorong nafsu-nafsunya sehingga dia menculik adi Muryani. Akan tetapi dia tidak melakukan pembunuhan, bahkan ketika kalian keroyok, dia membela diri dengan kaki tangannya saja, tidak menggunakan kerisnya. Surobajul itulah yang melakukan pembunuhan-pembunuhan. Karena itu, apakah Ki Demang Wiroboyo yang sudah kalian keroyok sehingga menderita banyak luka dan telah dipermalukan di depan semua orang itu berarti tidak telah mendapatkan hukuman yang cukup?"

Hening sejenak setelah Parmadi bicara. Akan tetapi kemudian terdengar teriakan beberapa orang pemuda yang membenci Ki Demang Wiroboyo. "Tidak! Tidak cukup! Dia harus dibunuh!" dan kembali banyak mulut menyambut teriakan ini sehingga suasana menjadi gegap-gempita.

Kini Ki Ronggo Bangak mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru, "Andika semua tenanglah!" kembali semua orang terdiam karena mereka memang segan terhadap pria yang lembut ini.

Setelah semua orang diam, Muryani bertanya kepada ayahnya dengan nada suara mengandung penasaran, "Ayah, mengapa ayah berada di sini?" tentu saja ia merasa penasaran. la baru saja diculik Ki Demang Wiroboyo dan nyaris diperkosa, bahkan ia tadi juga melihat ayahnya roboh ditendang Surobajul. Akan tetapi sekarang ayahnya malah berada di rumah demang itu dan berdiri di samping Parmadi, agaknya hendak membela Ki Demang Wiroboyo!

Semua orang diam ingin mendengarkan percakapan antar ayah dan anak itu. Ki Ronggo Bangak menatap tajam wajah puterinya dan diapun menjawab dengan tegas, "Muryani, akupun dapat memulangkan pertanyaan itu kepadamu, kepada andika sekalian semua. Mengapa kalian datang ke sini? Hendak membunuh Ki Demang Wiroboyo?"

Dengan tegas pula karena penasaran Muryani menjawab, "Benar sekali, ayah." Banyak orang bersorak mendengar jawaban ini. "Benar! Bunuh si keparat!"

Ki Ronggo Bangak mengangkat lagi kedua tangannya dan semua orang terdiam. "Harap kalian diam dengan tenang dan mendengarkan percakapan kami kalau kalian sudah menganggap Muryani sebagai wakil kalian!" semua orang diam, tidak ada yang berani menentang pandang mata Ki Ronggo Bangak ketika pria ini melayangkan pandang matanya, menyapu mereka.

"Nah, Muryani. Sekarang jawablah. Kalian datang hendak membunuh Ki Demang. Mengapa?"

"Ah, ayah. Mengapa ayah bertanya lagi? Dia baru saja bersama Surobajul dan kaki tangannya telah menyerbu rumah kita, mereka telah menangkap aku dan nyaris aku celaka di tangannya! Dia hendak menodaiku, ayah, dan itu lebih hebat daripada membunuh! Dia pantas dihukum mati!"

"Nini Muryani, dan kalian semua warga dusun Pakis. Dengarkan baik-baik. Ki Demang Wiroboyo memang bersalah, akan tetapi dia tidak membunuh siapa-siapa. Dia nyaris menodai, anakku ini, akan tetapi hal tu belum dia lakukan! Bandingkanlah dengan perbuatan kalian kalau sekarang kalian membunuhnya! Siapakah di antara dia dan kalian yang lebih jahat dan lebih kejam?" semua orang terdiam.

"Akan tetapi, ayah. Apakah kejahatan Wiroboyo itu harus didiamkan saja?" kembali banyak suara mendukung tuntutan Muryani.

"Memang tidak sepatutnya didiamkan. Akan tetapi harus melalui hukum yang benar. Bukan dengan cara menghakimi sendiri lalu mempergunakan banyak orang untuk mengeroyok dan membunuhnya! Aku sudah mendengar bahwa Surobajul juga sudah kalian bunuh. Sungguh perbuatan itu sama dengan perbuatan orang-orang biadab yang tidak mengenal peraturan dan hukum! Aku menyesal sekali. Coba saja bayangkan. Kalau cara menjadi hakim sendiri ini dibenarkan, bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa yang kalian hakimi dan bunuh itu tidak bersalah? Orang bersalah memang sudah sepantasnya mendapat hukuman. Akan tetapi melalui saluran yang benar. Diselidiki dan diteliti dulu kesalahannya, mana saksi dan buktinya. Kalau ternyata menurut bukti dan saksi dia itu bersalah, barulah dijatuhi hukuman. Hukuman itupun menurut besar kecilnya kesalahan, menurut peraturan dan sepantasnya, bukan secara hantam kromo dibunuh beramai-ramai begitu saja!"

Muryani mulai dapat terbuka pikirannya dan ia diam saja, dalam hatinya tidak dapat membantah kebenaran yang terkandung dalam ucapan ayahnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan seseorang di antara para penduduk dusun Pakis itu. "Ki Ronggo! Di sini berlaku ucapan 'Deso mowo coro, negoro mowo toto' (Desa memakai cara/adat, kota raja memakai peraturan/hukum). Bukankah demikian Ki Ronggo"

Ki Ronggo Bangak tersenyum dan memandang ke arah pembicara itu. Seorang pria yang sudah setengah tua, warga lama dusun Pakis.

"Ucapan itu benar, akan tetapi tata cara adat sekalipun harus memakai peraturan, bukan ngawur dan hantam kromo. Hukuman atas diri seseorang harus disesuaikan dengan besar kecilnya kesalahan, juga dipertimbangkan jasa-jasanya. Untuk itu perlu dimusyawarahkan antara para wakil warga yang terpandang. Sekarang mari kita memilih beberapa orang wakil yang terpandang dan terpercaya untuk memusyawarahkan keputusan hukuman terhadap Ki Demang Wiroboyo!"

Seketika itu semua orang melakukan pilihan. Empat orang tua, termasuk yang bicara tentang hukum dan adat tadi, juga Muryani, diangkat sebagai wakil-wakil semua warga dusun. "Aku mengusulkan agar Parmadi diperkenankan mewakili pihak Ki Demang Wiroboyo sekeluarga karena tertuduh berhak untuk diwakili seorang yang dekat dengannya. Dan kami rasa Parmadi merupakan orang dekat dan dia cukup adil dan bijaksana."

Setelah semua orang setuju, empat orang tua, Muryani, Parmadi, dan Ki Ronggo Bangak sendiri lalu memasuki pendopo dan mereka bertujuh lalu bermusyawarah. Setelah berunding, mereka memutuskan bahwa hukuman yang paling adil dan baik bagi semua pihak adalah bahwa Ki Demang Wiroboyo harus pergi dari dusun Pakis karena kalau dia masih tetap tinggal di Pakis, tentu akan menimbulkan banyak pertentangan. Karena yang bersalah hanyalah dia pribadi, maka pengusiran itu hanya untuk dia, sedangkan keluarganya boleh tinggal di Pakis kalau mereka menghendaki. Semua sawah ladangnya harus ditinggalkan dan menjadi milik warga dusun Pakis, hasilnya dimasukkan lumbung desa untuk keperluan semua warga.

Setelah keputusan musyawarah ini diumumkan, seluruh penghuni dusun Pakis menyatakan persetujuan mereka dengan suara bulat dan gembira. Bahkan dengan suara penuh harapan mereka semua memilih dan mengangkat Ki Ronggo Bangak sebagai pengganti demang. Ki Ronggo Bangak menyambut dengan tenang saja usul warga dusun itu, kemudian berkata, "Tidak mungkin aku menjadi demang menggantikan Ki Wiroboyo karena hal itu menyalahi peraturan, bahkan oleh Kerajaan Mataram kita dapat dianggap scbagai pemberontak. Biarlah sementara ini aku akan memimpin kalian mengatur dusun Pakis ini sambil menanti keputusan dari atas setelah aku membuat laporan tentang peristiwa mengenai Ki Wiroboyo."

Demikianlah, mulai hari itu Ki Ronggo Bangak dianggap sebagai pemimpin atau kepala Kademangan Pakis. Adapun Ki Wiroboyo, setelah sembuh dari luka-lukanya lalu memboyong keluarganya meninggalkan dusun Pakis tanpa pamit dan tidak ada orang mengetahui ke mana dia dan keluaganya pergi.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Resi Tejo Wening duduk di atas bangku kayu di depan gubuknya dan dia mengangkat muka memandang Parmadi yang datang menghampirinya. Pemuda itu memanggul sebuah buntalan dipundaknya. Hari masih pagi sekali. Halimun mulai membuyat diusir sinar matahari pagi. Burung-burung berkicau riang, berloncatan dari dahan ke dahan, menggoyang ranting dan daun-daun merontokkan air embun yang tadinya bergantungan di ujung-ujung dedaunan.

Begitu tiba di depan Resi Tejo Wening, Parmadi menaruh buntalan yang tadi dipanggulnya keatas tanah dan dia berlutut menyembah dengan hormat.

"Parmadi, sepagi ini engkau sudah datang dan membawa buntalan. Apakah isi buntalan itu?" kakek itu lalu menepuk bangku panjang yang didudukinya. "Bangkit dan duduklah di sebelahku sini, Parmadi. Tanah ini basah oleh embun, mengotorkan celana dan kakimu. Duduklah, akan lebih enak kita bicara."

Parmadi menurut dan duduk di sebelah kakek itu. "Eyang, pertama-tama saya hendak menghaturkan terima kasih atas pertolongan eyang sehingga saya terlepas dari ancaman maut."

"Eh? Kapan aku menolongmu terlepas dari ancaman, kulup?"

Parmadi menatap wajah kakek itu. Kenapa kakek itu berpura-pura lagi, pikirnya. Sudah jelas bahwa dia terancam maut ketika Surobajul memukulkan senjata kolornya yang ampuh itu ke arah kepalanya, akan tetapi senjata itu membalik dan tidak menyentuh kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Resi Tejo Wening yang menolongnya?

"Eyang, ketika dalam hutan itu Warok Surobajul menyerang saya dengan kolornya yang ampuh, eyang telah menyelamatkan saya dan menangkis serangan itu," dia menjelaskan untuk mengingatkan kakek itu.

Resi Tejo Wening tersenyum. "Heh-heh, aku sama sekali tidak menangkis pukulan itu, Parmadi."

"Akan tetapi, eyang! Pukulan kolor itu membalik dan tidak mengenai kepala saya. Siapa lagi kalau bukan eyang yang menolong saya?"

Kakek itu menggeleng kepalanya dan menatap wajah pemuda itu dengan senyum penuh pengertian. "Bukan, bukan aku yang menyelamatkanmu, kulup. Coba ingat, apa yang kau lakukan ketika engkau melihat dirimu diserang dengan kolor ampuh itu oleh orang itu?"

Parmadi mengingat-ingat. "Saya merasa tidak berdaya dan tahu bahwa saya diancam bahaya maut, maka saya hanya pasrah, menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi seperti yang biasa saya latih bersama eyang."

"Nah, itulah yang menyelamatkanmu, Parmadi. Penyerahanmu yang ikhlas itu menggerakkan kekuasaan ilahi untuk bekerja dan kalau kekuasaan itu melindungi dirimu, tidak ada kekuasaan apapun di dunia ini yang akan dapat mengganggu selembar rambutmu."

Parmadi terbelalak. Kemudian sertamerta dia menyembah kakek itu. "Aduh, eyang. Terima kasih atas petunjuk eyang selama ini."

"Jangan berterima kasih kepadaku. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Sang Hyang Widhi, karena hanya Dia yang menjadi gurumu, menjadi pembimbingmu, menjadi pelindungmu. Akan tetapi, jangan hendaknya rasa syukur dan terima kasihmu itu hanya berhenti sampai di dalam mulut dan hati akal pikiran saja. Bersyukur dan berterima kasih seperti itu hanya merupakan pemanis bibir belaka, kosong dan bahkan palsu adanya. Kita harus selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Hyang Widhi atas segala berkah, perlindungan, dan bimbingan-Nya, akan tetapi apakah yang menjadi bukti dari rasa terima kasih itu? Inilah yang dilupakan orang sehingga hampir setiap saat manusia hanya mengucap syukur dan terima kasih yang hampa belaka."

"Eyang, saya menjadi bingung. Lalu apakah yang harus kita lakukan untuk membuktikan bahwa kita bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya?"

"Bukti rasa terima kasih manusia terhadap Hyang Widhi adalah ketaatan, Parmadi. Manusia wajib taat kepada segala perintah-Nya yang tercantum dalam kitab-kitab suci, dalam weda-weda. Taat dalam arti kata melaksanakan segala perintah-Nya dalam tindakan kita sehari-hari. Menjadikan diri sendiri menjadi alat-Nya yang baik, mangayu hayuning bhuwana (mengusahakan keselamatan jagad), dengan cara selalu bertindak membela keadilan dan kebenaran, melindungi yang lemah tertindas, menentang yang jahat sewenang-wenang, berwatak ksatria sejati, dan membela nusa bangsa."

"Kalau begitu benar sekali pesan terakhir mendiang ayah saya, eyang, yaitu bahwa saya harus membela Mataram sampai mati."

"Itu hanya merupakan satu di antara kewajiban-kewajibanmu sebagai manusia utama."

"Dan apalagi yang harus saya panjatkan dalam doa saya kepada Yang Maha Kuasa selain bersyukur dan berterima kasih, eyang?"

"Di dalam doa kepada Hyang Widhi, yang terpenting adalah ucapan rasa syukur dan terima kasih yang dibuktikan dengan ketaatan. yang dilaksanakan dalam tindakan, kemudian kalau ada permohonan dalam doa, hanya ada dua permohonan yang patut kita persembahkan kepada Hyang Widhi."

"Permohonan apakah itu, eyang?"

"Pertama adalah permohonan ampun kepada-Nya atas segala kesalahan dan dosa kita. Seperti juga rasa syukur dan terima kasih, permohonan ampun ini harus kita panjatkan setiap saat, tiada henti-hentinya. Dan seperti rasa terima kasih tadi, permohonan ampun inipun harus bukan omong kosong belaka. Permohonan ampun itu kosong dan palsu selama kita tidak membuktikannya dengan perbuatan nyata, yaitu dengan bertobat, berarti tidak melakukan kesalahan yang kita mintakan ampun itu. Apa artinya mohon ampun untuk suatu kesalahan hari ini, besok kita ulangi lagi kesalahan itu, untuk dimintakan ampun lusa, dan demikian selanjutnya hari ini minta ampun, besok mengulang, hari ini minta ampun lagi, besok mengulang lagi? Hyang Widhi adalah Maha Pengampun, akan tetapi hanya dapat mengampuni orang yang minta ampun dengan benar-benar bertobat dan tidak mengulangi kesalahannya."

Parmadi mengangguk-angguk. "Saya mengerti dan bertekad untuk bertindak seperti yang eyang wejangkan. Kemudian, apakah permohonan yang kedua dalam doa kita kepada Yang Maha Kuasa, eyang?"

"Yang kedua adalah mohon bimbingan,, Manusia adalah mahluk yang lemah terhadap godaan nafsu. Tanpa adanya bimbingan kekuasaan Hyang Widhi, kita tidak akan kuat dan mampu menanggulangi kekuasaan gelap. Tanpa adanya kekuasaan Hyang Widhi yang bekerja dalam diri kita, kita ini tiada lain hanya seonggok darah, daging yang penuh kotoran dan noda. Sesungguhnya, hanya bimbingan kekuasaan Yang Maha Kasih sajalah yang akan membuat kita mampu menjadi seorang manusia yang taat akan segala kehendak-Nya, seorang manusia yang benar-benar bertobat dan dalam tindakannya sehari-hari selalu tertuju kepada keluhuran asma-Nya (Nama-Nya). Dan permohonan bimbingan ini hanya akan dapat terlaksana kalau Hyang Widhi menghendaki, dan itulah sebabnya kita harus MENYERAH, dengan ikhlas dan tawakal, sepenuh iman. Mengertikah engkau, Parmadi?"

"Saya akan berusaha untuk mengerti, eyang."

"Nah, baiklah. Sekarang ceritakan apa yang terjadi di Kademangan Pakis."

"Eyang tentu sudah mengetahui bahwa adi Muryani diculik oleh Ki Demang Wiroboyo dan kaki tangannya, dibantu oleh Surobajul. Bahkan eyang sendiri yang telah menghindarkan Muryani dari bahaya dan eyang sendiri yang teiah mengusir kedua orang jahat itu. Mereka melarikan diri dan bertemu dengan warga Kademangan Pakis yang marah. Puluhan orang warga Pakis lalu mengeroyok mereka, membantu adi Muryani yang mengamuk. Karena mengingat akan kebaikankebaikan dan jasa Ki Demang Wiroboyo terhadap warga Pakis, saya lalu mencegah mereka membunuhnya dan membawanya pulang. Surobajul tewas dikeroyok banyak orang. Kemudian, hasil musyawarah yang diadakan warga Pakis, diambil keputusan bahwa Ki Demang Wiroboyo harus pergi meninggalkan dusun Pakis. Kini Ki Wiroboyo sekeluarga telah pergi dan untuk sementara dusun Pakis dipimpin oleh paman Ronggo Bangak."

"Hemm, baik sekali kalau begitu. Lalu kenapa engkau sepagi ini datang membawa buntalan itu?"

"Eyang, karena Ki Wiroboyo telah pergi saya kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Karena itu saya mengambil keputusan untuk meninggalkan Pakis dan mulai saat ini saya hendak mengabdi kepada eyang dan mengikuti eyang ke manapun eyang pergi. Saya mohon eyang sudi mengajarkan ilmu-ilmu kepada saya untuk bekal dalam kehidupan ini agar seperti eyang katakan tadi, saya dapat menjadi alat Yang Maha Kuasa, menjadi alat yang berguna dan baik. Buntalan ini adalah milik saya, pakaian dan sisa uang pemberian Ki Wiroboyo selama ini."

Resi Tejo Wening tersenyum dan mengangguk-angguk. "Kebetulan sekali, Parmadi, karena memang aku sudah bermaksud untuk mengajakmu pergi dari sini. Sudah tiba saatnya aku meninggalkan tempat ini. Besok pagi-pagi adalah hari yang paling tepat bagi kita untuk berangkat meninggalkan tempat ini."

Parmadi merasa girang sekali. "Kalau begitu, perkenankan saya untuk pergi sebentar ke Pakis untuk berpamit kepada paman Ronggo Bangak, adi Muryani dan pen duduk dusun Pakis, eyang."

"Heh-heh, jadi engkau belum pamit kepada mereka?"

"Saya hendak mendapat kepastian dulu dari eyang. Setelah ada kepastian eyang dapat menerima saya mengabdi, baru saya akan pamit. Akan tetapi sebelum saya pergi ke sana, apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk eyang di sini? Membuatkan sarapan pagi untuk eyang? Atau mencucikan pakaian atau yang lain?"

Resi Tejo Wening tersenyum dan menggeleng kepalanya yang tertutup rambut putih. "Tidak ada yang harus kaukerjakan sekarang di sini, Parmadi. Pergilah ke dusun Pakis. Memang sepatutnya kalau engkau pamit dari mereka."

Dengan hati yang ringan dan gembira Parmadi meninggalkan hutan Penggik dan berlari menuju dusun Pakis. Akan tetapi setelah tiba di luar dusun itu, dia membayangkan perpisahannya dari dusun itu, dari para penduduknya dan terutama sekali dari Ki Ronggo Bangak dan lebih lagi dari Muryani! Dan hatinya tiba-tiba terasa berat. Awan kelabu menyelubungi hatinya. Sudah delapan tahun dia hidup di Pakis dan mereka semua begitu baik, terutama Ki Ronggo Bangak dan lebih lagi Muryani! Dia akan merasa kehilangan, terutama kehilangan Muryani yang sudah menempati sudut tertentu dalam hatinya. Dengan langkah berat dan muka tidak cerah lagi Parmadi lalu pergi menuju rumah Ki Ronggo Bangak. Biarpun Ki Ronggo Bangak telah diangkat oleh semua warga Pakis menjadi ketua atau lurah mereka, namun dia tidak mau menempati bekas gedung Ki Wiroboyo. Dia tetap bertempat tinggal di rumahnya sendiri dan rumah besar bekas kademangan itu hanya dipergunakan kalau sewaktu-waktu warga dusun mengadakan rapat pertemuan untuk memperbincangkan sesuatu.

Muryani menyambut kedatangannya dengan wajah gembira. "Kebetulan sekali engkau datang, kakang Parmadi. Tadi aku sudah mencarimu ke mana-mana, akan tetapi tidak ada seorang pun mengetahui ke mana engkau pergi. Engkau meninggalkan rumah besar itu tanpa pamit kepada siapapun juga."

"Engkau mencariku, Mur?" tanya Parmadi yang sekarang sudah amat akrab dengan gadis itu sehingga kalau menyebut namanya disingkat begitu saja. Mereka seperti kakak dan adik saja.

"Ada urusan apakah?"

"Duduklah dulu, nanti kita bicara," kata gadis itu. Mereka lalu duduk, saling berhadapan.

"Di mana paman Ronggo?"

"Ayah sedang menyelesaikan sebuah ukiran patung."

Parmadi yang sudah mengenal gurunya maklum bahwa kalau dia sedang memahat atau mengukir patung, Ki Ronggo Bangak amat asyik dan tidak mau diganggu siapapun, maka diapun tidak bertanya lagi tentang gurunya. "Nah, katakan, ada urusan apakah engkau mencari aku, Mur?"

Muryani menatap wajah pemuda itu dengan pandang mata penuh selidik untuk sesaat. Kemudian ia berkata, "Kakang Parmadi, selama ini aku masih belum sempat bertanya kepadamu tentang pertolonganmu kepadaku pagi hari itu ketika engkau melepaskan aku dari libatan jaring dan ikatan. Bagaimana engkau bisa melakukan pertolongan itu? Bukankah di sana ada Ki Wiroboyo dan warok raksasa? Apa sebetulnya yang terjadi? Dari dalam aku mendengar engkau berteriak menegur Ki Wiroboyo agar membebaskan aku dan aku mendengar mereka mengancammu, akan tetapi kenapa tiba-tiba engkau dapat masuk menolongku? Kenapa mereka melarikan diri?"

Parmadi tidak ingin bercerita tentang Resi Tejo Wening. Gurunya itu tidak ingin dikenal orang lain, apalagi diketahui bahwa kakek itu yang menghalau dua orang penjahat itu dengan kesaktiannya. Maka diapun menjawab tanpa harus berbohong, "Sebelum mereka dapat mencelakai aku, mereka berdua agaknya mendengar sorak-sorai warga Pakis yang memang sudah siap dan marah. Mereka melarikan diri, akan tetapi di tengah hutan bertemu dengan warga Pakis yang segera mengeroyok mereka."

Muryani agaknya percaya akan keterangan ini. "Kang Parmadi, aku amat berterima kasih kepadamu. Engkau yang telah menolongku dari malapetaka besar. Sungguh engkau gagah berani, kakang. Engkau seorang diri berani menegur dan menentang Ki Wiroboyo yang dibantu warok raksasa itu. Engkau berani menempuh bahaya maut untuk menolongku!" pandang mata gadis itu menatap wajah Parmadi, penuh terima kasih.

Wajah Parmadi menjadi agak kemerahan. Dia sama sekali tidak merasa telah menolong gadis itu. Bahkan nyawanya sendiri mungkin sudah melayang kalau saja Tuhan Yang Mahakuasa tidak menolongnya melalui kesaktian gurunya.

"Adi Muryani, jangan berterima kasih kepadaku. Aku hanya melakukan kewajibanku. Kita wajib berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa karena sesungguhnya Dialah yang telah menolong kita."

Muryani tertawa, tawanya bebas karena ia sudah tidak merasa canggung atau rikuh lagi terhadap Parmadi yang dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. Tawanya merdu dan mulutnya terbuka sehingga tampak deretan giginya yang putih dan rapi, ujung lidahnya yang merah dan rongga mulutnya yang lebih mnerah lagi. Ketika mulutnya tertawa, matanya juga ikut tertawa dan bersinar-sinar.

"Hi-hi-hik, kalau engkau bicara seperti itu, engkau mirip dengan ayah. Engkau seperti kakek-kakek yang memberi wejangan saja!"

Parmadi juga tersenyum, agak canggung karena pada saat itu, hatinya tidak gembira melainkan agak bersedih dan teringat akan perpisahannya dari orang-orang yang dekat dengan hatinya.

"Mur, sebenarnya kedatanganku ini...."

"Untuk bertemu ayah, bukan? Sudah kukatakan, ayah sedang sibuk, tidak mau diganggu. Bicara dengan aku juga tidak apa-apa, bukan? Atau, engkau tidak suka bercakap-cakap denganku? Wajahmu tampak tidak bergembira!"

"Bukan begitu, adi Muryani. Kedatanganku ini... aku. hendak pamit dari engkau dan ayahmu...."

Muryani terbelalak. "Pamit? Engkau hendak ke mana?"

"Aku hendak pergi meninggalkan Pakis."

"Meninggalkan Pakis? Ke mana?"

Parmadi menggeleng kepala. "Aku sendiri belum tahu. Berkelana.... pokoknya meninggalkan dusun ini.... "

Muryani bangkit berdiri, matanya masih terbelalak. "Meninggalkan aku? Meninggalkan kami?"

"Benar. Aku akan meninggalkan kalian semua. Aku akan pergi sekarang juga."

"Tidak! Tidak... ahh, ayaaahhh !" Muryani berlari memasuki rumahnya dan langsung memasuki ruangan di mana ayahnya asyik bekerja. Biasanya iapun tidak mau mengganggu ayahnya kalau sedang bekerja, akan tetapi sekali ini ia tidak perduli dan mendorong daun pintu memasuki ruangan itu.

Ki Ronggo Bangak menunda pekerjaannya dan memandang kepada puterinya yang masuk tanpa dipanggil dan sikapnya seperti orang bingung. "Eh, ada apa lagi ini, Muryani?" tanyanya.

"Wah, celaka, ayah.... celaka....!" kata gadis itu.

Biarpun Ki Ronggo Bangak seorang yang tenang, namun melihat sikap puterinya, dia menduga tentu telah terjadi sesuatu yang hebat maka gadis itu bersikap seperti itu. Apakah Ki Wiroboyo muncul lagi dan membuat keributan? Dia bangkit berdiri dan menatap wajah puterinya.

"Katakanlah dengan jelas. Apa yang terjadi?"
"Kakang Parmadi, ayah...."
"Parmadi? Ada apa dengan dia?"

"Dia.... dia hendak meninggalkan dusun ini... meninggalkan kita! Ayah harus mencegah dan menahannya, ayah!"

Ki Ronggo Bangak menghela napas lega. "Ahhh, kiranya begitu. Kenapa kau bilang celaka dan kebingungan seperti kebakaran rumah? Di mana Parmadi sekarang?

"Di ruangan depan, ayah. Tahanlah dia, ayah, jangan biarkan dia pergi berkelana!"

Ki Ronggo Bangak tersenyum, mencatat sikap puterinya ini dalam hatinya. Sikap seperti ini jelas mengandung arti yang dalam, pikirnya. Agaknya dalam hati gadis remajanya ini sudah mulai tersulut api cinta! Akan tetapi di dalam hatinya, dia sama sekali tidak keberatan, bahkan senang sekali seandainya puterinya itu dapat berjodoh dengan Parmadi. Dia mengenal benar pemuda itu, tahu bahwa dia seorang pemuda yang berbudi baik dan bijaksana. Sambil menahan senyumnya dia melangkah keluar, lengannya dipegang oleh Muryani.

Parmadi segera bangkit berdiri ketika melihat Ki Ronggo Bangak muncul bersama Muryani. Dia sendiri tadi terkejut melihat sikap Muryani ketika dia menceritakan niatnya untuk meninggalkan Pakis. Gadis itu tampak demikian kaget dan berlari memanggil ayahnya. Dan sekarang, dia melihat betapa sepasang mata yang indah itu basah! Jantungnya berdebar. Tidak salahkah dia? Benarkah begitu sayangnya gadis itu kepadanya seperti juga perasaan rasa sayangnya yang mendalam terhadap gadis itu?

"Paman...." dia menyapa dengan sikap hormat.

"Parmadi, apa yang kudengar dari Mur yani tadi? Engkau hendak pergi meninggalkan Pakis. Benarkah itu?"

"Benar sekali, paman."

"Akan tetapi mengapa? Duduklah dan katakan alasanmu dengan jelas." Ki Ronggo Bangak duduk. Muryani duduk di sebelahnya dan Parmadi juga duduk berhadapan dengan mereka.

"Paman, sejak kecil saya ikut Ki Wiroboyo. Sekarang dia telah pergi. Saya kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan. Karena itu saya mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Pakis."

"Akan tetapi engkau boleh tinggal di sini, kakang! Betul tidak, ayah? Engkau boleh tinggal disini dan tentang pekerjaan, bukankah engkau dapat membantu pekerjaan ayah membuat patung dan perabotan rumah?"

Kembali Ki Ronggo Bangak mencatat ucapan puterinya itu dan dia semakin yakin bahwa telah tumbuh cinta kasih dalam hati puterinya terhadap pemuda yang menjadi muridnya itu. "Ucapan Muryani itu benar, Parmadi. Tentu saja engkau boleh tinggal bersama kami dan tentang pekerjaan, engkau sudah pandai memahat dan mengukir, engkau dapat membantu membuat patung, arca, darn perabot rumah."

"Terima kasih, paman dan adi Muryani. Tawaran paman berdua berharga sekali. Akan tetapi hal ini sudah saya pertimbangkan dengan matang dan saya sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Pakis dan merantau, berkelana."

"Hemm, agaknya keputusanmu sudah bulat. Kalau boleh kami mengetahui, apa yang menjadi dasar keputusanmu ini, Parmadi? Apa yang kau cari dalam perantauanmu itu?"

Ki Ronggo Bangak bertanya dan Parmadi melihat betapa sepasang mata yang tadi basah kini meruntuhkan dua titik air mata yang segera diusap oleh jari-jari tangan yang mungil itu. Muryani menangis! Dan kenyataan inilah yang membuat dia terpukul. Akan tetapi dia menguatkan hatinya dan menjawab,

"Paman, yang menjadi dasar keputusan saya adalah keinginan saya untuk meluaskan pengetahuan dan mencari pengalaman untuk bekal niat saya memenuhi pesan terakhir ayah saya seperti yang saya ceritakan kepada paman dulu."

Ki Ronggo Bangak mengangguk-angguk. "Hemm, pesan agar engkau mengabdikan diri kepada Kanjeng Sultan Agung di Mataram itu?"

"Benar, paman. Kalau saya terus-menerus berada di dusun ini, saya merasa seperti seekor katak dalam tempurung, tidak melihat keadaan dunia luar dan apa yang dapat saya andalkan untuk memenuhi pesan mendiang ayah saya itu?"

Ki Ronggo Bangak kembali mengangguk-angguk. Dalam hatinya dia tidak dapat menyalahkan pemuda itu, bahkan membenarkan niatnya yang amat baik. "Hemm, aku dapat melihat kebenaran alasanmu itu, Parmadi. Akan tetapi, ke manakah engkau hendak pergi merantau setelah meninggalkan dusun ini?"

"Entahlah. Bagaimana nanti saja, paman. Saya percaya bahwa Yang Mahakuasa tentu akan memberi petunjuk dan membimbing saya."

"Bagus kalau engkau selalu mohon petunjuk dan bimbingan Yang Mahakuasa. Dengan cara demikian aku yakin engkau tidak akan menyeleweng dari jalan yang benar. Muryani, niat kakangmu ini baik sekali. Kita tidak dapat menahan atau mencegahnya."

Mendengar ini, habislah harapan Muryani dan kini ia menangis tanpa disembunyikan lagi. Ia menangis sesenggukan, air matanya bercucuran dan ia sibuk menggunakan ujung kain bajunya untuk mengusap mata dan hidungnya. Melihat ini, Parmadi merasa terharu sekali. Inilah yang memberatkan hatinya. Meninggalkan Muryani! Dia merasa gadis itu seperti adiknya sendiri. Atau bahkan lebih dari itu. Dia tidak tahan untuk berdiam di situ lebih lama menghadapi Muryani yang menangis. Dia bangkit perlahan dari bangkunya.

"Paman Ronggo. Saya menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan yang sudah paman limpahkan kepada saya selama ini. Sekarang saya mohon diri karena saya harus berangkat sekarang. Saya masih akan berkunjung kepada para saudara lain untuk pamit. Selamat tinggal, paman Ronggo Bangak dan adi Muryani, saya mohon diri."

Ronggo Bangak bangkit berdiri. "Selamat jalan, Parmadi, dan baik-baiklah menjaga dirimu sendiri, semoga engkau berhasil. Muryani, ini kakangmu pamit!" katanya kepada Muryani.

Akan tetapi gadis itu tetap duduk sambil menangis sesenggukan, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Ki Ronggo hanya menghela napas dan Parmadi juga tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah memandang sejenak kepada Muryani, Parmadi lalu mengangguk dengan hormat kepada Ki Ronggo Bangak, lalu keluar dari rumah itu.

Parmadi berkunjung dari rumah ke rumah untuk berpamit dari para warga Pakis. Semua orang mengucapkan selamat jalan kepada pemuda yang mereka kenal dengan baik itu. Bahkan para pemuda yang tadinya merasa cemburu kepada Parmadi, bersikap ramah dan diam-diam merasa girang dengan kepergian pemuda itu meninggalkan Muryani. Setelah berpamit dari semua orang, Parmadi segera meninggalkan dusun Pakis...