Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Garuda Putih Jilid 13

..... dan melompat berdiri. Wajahnya menjadi merah sekali dan matanya mencorong, bersinar-sinar. Kedua tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking marahnya.

"Engkau... kau... " akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan, "Kakang Jaya apa yang engkau lakukan ini?"

Sikap Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa pemuda yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!

"Dan ketika kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan. Kemudian karena itu aku telah melihat bagian....? maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan. "Maafkan aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."

Joko Waras yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian dada yang terpukul dan menekannya. Tidak lagi terasa nyeri! Lalu diperiksanya. Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri, kinipun telah lenyap! Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan! Hawa beracun yang terkandung di dalamnya sudah bersih. Ia merasa takjub dan semakin tidak mengerti akan keadaan Jayawijaya. Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh! Bahkan kemudian ketika Wasi Shiwamurti yang amat sakti itu mengirim pukulan jarak jauhnya kepada Jayawijaya, sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri. Dan lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya yang mengandung hawa beracun. Pemuda macam apakah ini? Ketika diajak untuk melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.

"Aku tahu dan bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang bernama Retno Wilis!" Dalam hatinya, Jayawijaya merasa agak rikuh ketika teringat akan ucapan Endang Patibroto yang hendak menjodohkan dia dengan Retno Wilis! Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan dikatakannya kepada gadis itu.

"Akan tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Siapa yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis ? Aku sendiri sukar untuk dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa heran lagi."

Retno Wilis kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan Wasi Shiwamurti.

"Kakang Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?" Ia memandang dengan penuh selidik. "Andika menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Aku tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi ... eh, diajeng Retno. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda. Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam kepadamu."

"Kau pikir begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti pakaian." Retno Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai, pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan agung.

Ketika ia muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak belukar itu. Retno Wilis tersenyum. Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan luar biasa sekali. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan menimbulkan kekagumannya. Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!

"Kakang Jaya... !" Retno Wilis memanggil.

Jayawijaya memutar tubuhnya menghadapi Retno Wilis dan dia memandang dengan mata tidak berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya! Dia melihat seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan walaupun sederhana pakaian itu tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat berlekuk-lengkung sempurna. Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di dahinya dan depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora, mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil mancung. Apa lagi ketika itu Retno Wilis memandangnya dengan senyum simpul dan kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.

"Kaukah itu... ? Benarkah engkau... Adi Waras ... eh, diajeng Retno Wilis?" Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar melebihi semua bayangannya tentang gadis itu. Begitu pandainya gadis itu menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu putih kekuningan. Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan bersinar-sinar cemerlang dan bening.

"Aih, kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retno Wilis atau Joko Waras yang tadi."

"Engkau cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng." Pujian itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.

Mendengar ini, Retno Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam. Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain. Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.

"Terima kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi... ah, kukira ada orang-orang berdatangan!" kata Retno Wilis yang pendengarannya amat tajam terlatih.

Baru saja ia berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda! Kiranya Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi, hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran terhadap Jayawijaya dan Retno Wilis, kedua orang itupun ikut mengejar.

Wasi Shiwamurti tidak mengenal Retno Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera mengenalnya. Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retno Wilis, juga Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.

"Kakang Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu!" Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.

"Ia bersama kakaknya yang bernama Bagus Seto yang telah menentang penyebaran agama kita, Kakangmas Wasi!" kata pula Ni Dewi Durgomala.

Melihat sikap mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retno Wilis. Dia membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan berkata dengan suara nyaring.

"Kalian adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis? Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun!"

Wasi Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap untuk bergerak menyerang itu. Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak gentar. Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini. Mampu menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh. Sebaliknya malah dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri. Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati itu, dia menjadi semakin terheran-heran. Siapakah sesungguhnya pemuda yang memakai nama Jayawijaya ini? Dari perguruan mana? Tampaknya demikian lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya gagal? Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun tangan.

"Heh, Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi kami!"

"Tidak mungkin diajeng Retno Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retno Wilis!"

"Akan tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian !" bantah Wasi Shiwamurti.

"Penyebaran agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya," kata pula Jayawijaya dan Retno Wilis mendengarkannya dengan heran. Pemuda ini mengajak orang-orang tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya, seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan Jayawijaya.

"Hemm, kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kau kehendaki," kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan heran. Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?

Tentu saja dalam hatinya Retno Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki gua penuh dengan srigala yang buas. Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!

"Begitulah seharusnya! Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak. Kebetulan karena akupun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan paksaan."

Retno Wilis terbelalak keheranan. Jayawijaya menerima undangan itu? Gila! Sama saja dengan memasuki perangkap! Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawanpun tidak akan ada gunanya. Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka. Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah. Apalagi kalau Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok. Ia tentu akan tertawan juga. Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan! Dan anehnya, hatinya tidak merasa khawatir. Entah mengapa, ia merasa aman bersama Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya. Dekat dengan Jayawijaya ia merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seto. Teringat akan Bagus Seto, hatinya menjadi lebih besar lagi. Kakaknya tentu sudah memasuki Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan mengetahuinya dan akan menolongnya.

"Kalau begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati Menak Sampar di Blambangan," kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar ramah dan halus!

"Kakang Jaya... !" Retno Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.

"Tidak mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."

"Kakang Wasi... !" Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu. Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam dan tidak membantah.

Demikianlah, Jayawijaya dan Retno Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu gerbang kota kadipaten Blambangan. Para perajurit yang berjaga di situ juga terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan sama sekali bukan sebagai tawanan. Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon menghadap.

Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya menggiriskan itu, datang menghadapnya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai tamu! Dia merasa heran dan cepat bersiap siaga untuk menyambut mereka di Balai Agung.

Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai, melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan. Juga disediakan dua kursi untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai tamu! Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.

"Sang Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retno Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran agama baru di wilayah Blambangan."

Sang Adipati mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh selidik. Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retno Wilis, hatinya diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.

"Hemm, Retno Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada kami mengenai penyebaran agama itu?" tanya Adipati Menak Sampar kepada dua orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin. Akan tetapi suara itu sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang muda itu.

Retno Wilis hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja. Ia membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh Jayawijaya. Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.

"Sang adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."

Ucapan itu tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan. Muka sang adipati sudah mulai merah. Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika" begitu saja. Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka". Dia melirik ke arah puterinya yang hadir di situ. Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti. Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang teramat cantik jelita. Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang tamu itu, terutama kepada Jayawijaya. Pandang matanya melekat kepada pemuda itu. Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan membuatnya terpesona. Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang tanpa berkedip.

Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati Menak Sampar melirik kepada puterinya. Melihat puterinya memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak Sampar mengerutkan alisnya. Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan semua percakapan itu. Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu. Dia tidak mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya. Maka diapun segera berkata kepada puterinya.

"Anakku Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."

Dyah Ayu Kerti memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya. Akan tetapi biarpun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau membantah perintah ayahnya. Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya. Setelah puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya tadi.

"Orang muda, sebetulnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin kami!"

"Sang Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Akan tetapi banyak peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"

Retno Wilis merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat. Juga ia merasa lucu. Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian. Akan tetapi Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar!

Diam-diam Retno Wilis bersikap waspada. Ia tidak dapat percaya terhadap kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo. Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali.

Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua? Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan? Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biarpun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi! Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya. Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera.

Ingatan ini yang menimbulkan pikiranya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu. Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya dapat lolos dari tempat itu! Diam-diam Retno Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak. Dengan sekali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu dan menyanderanya, demikian pikirnya.

Ketika Adipati Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah itu menjadi semakin merah. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.

"Jayawijaya, berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat, orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh kalian!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Inilah yang dinanti-nanti oleh Retno Wilis. Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik dengan suara yang nyaring.

"Siapa berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati Menak Sampar!"

"Diajeng Retno Wilis! Jangan, jangan bunuh orang... !" Jayawijaya berseru kepada Retno Wilis. Dia khawatir kalau-kalau Retno Wilis benar-benar akan memenggal leher sang adipati!

Wasi Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman. Sekali pandang dan dengar saja, tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retno Wilis membunuh sang adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang. Di detik lain Jayawijaya telah ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.

"Retno Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan kepalanya!" bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga girang sekali. Ternyata pemuda yang ditakutinya itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencobapun tidak! Sama sekali tidak disangkanya bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.

"Diajeng Retno! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan rela!"

Retno Wilis menjadi serba salah. Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal dan tidak ada gunanya. Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya, juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras! Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya menyandera sang adipati, terpaksa Retno Wilis melepaskan adipati itu. Akan tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.

"Aku hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"

Tidak ada yang memberi jawaban atas ucapan Retno Wilis itu. Para wasi dan kawan-kawannya berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya ke belakang tubuhnya. Retno Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia berkata kepada Adipati Menak Sampar,

"Adipati Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi pari dewa, aku akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!!" Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu.

Wasi Shiwamurti menggertak dan berseru keras, "Retno Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh Jayawijaya!"

Retno Wilis membalas dengan kata-kata lantang, "Wasi Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"

Merasa betapa pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.

"Paman Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!" teriaknya dengan mata terbelalak ketakutan. "Retno Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh Jayawijaya!"

"Engkau berani bersumpah?" desak Retno Wilis.

"Aku, Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"

"Aku ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi Menak Sampar yang tidak kupercaya!" kata pula Retno Wilis.

"Baiklah, sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"

Mendengar ini, dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya. Begitu terlepas dari cengkeraman wasi itu, Jayawijaya mendekati Retno Wilis dan berkata kepada gadis itu,

"Diajeng Retno Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."

Sebelum menarik kembali pedang pusakanya, Retno Wilis yang teringat akan sesuatu berkata lagi, "Adipati Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang Jayawijaya!"

"Baik, kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."

Setelah sang adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retno Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang pedang pusakanya. Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi perlindungan. Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali. Mukanya yang tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retno Wilis.

"Retno Wilis, berani sekali engkau telah menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu! Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau kami akan menggunakan kekerasan terhadap dirimu!" Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang perajurit pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.

Melihat ini, Jayawijaya berseru dengan penasaran. "Sang Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh orang-orang sedaerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami. Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retno Wilis?"

"Ha-ha-ha!" Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan. "Siapa yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan sekarangpun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retno Wilis! Karena itu ia harus menjadi tawanan kami!"

Retno Wilis teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.

"Sang Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk menawan diajeng Retno Wilis?"

"Hemm, ia seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan kedua, ia telah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan itu sudah cukup untuk menawannya! Retno Wilis, menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!" bentak Sang Adipati.

Retno Wilis mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk. Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata kepadanya dengan lembut.

"Sarungkan pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, kalau engkau tidak membebaskan diajeng Retno Wilis dan hendak menawannya, maka akupun ingin menyertainya menjadi tawanan."

"Ha-ha-ha, ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang melanggar janji. Retno Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."

Retno Wilis menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara dingin.

"Senjata merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan melawan."

Sang Adipati Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau wanita itu mengamuk.

"Bawa mereka dan masukkan ke dalam penjara!" teriaknya dengan marah.

Dua orang senopati dan belasan orang perajuritnya segera mengawal Retno Wilis dan Jayawijaya menuju ke penjara yang terdapat dibelakang kadipaten, diantarkan pula oleh Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya yang khawatir kalau-kalau dua orang muda itu akan memberontak dan meloloskan diri.

Biarpun hatinya mendongkol dan alisnya berkerut, namun Retno Wilis yang melihat Jayawijaya menyerah dengan sabar dan tenang, terpaksa mengikuti pemuda itu dan diam saja ketika diarak menuju ke penjara. Mereka disuruh memasuki sebuah kamar penjara yang cukup besar, pintunya terbuat dari baja dan berterali yang kokoh kuat lalu dikunci dari sebelah luar. Melalui pintu berterali itu Retno Wilis dapat melihat belasan orang yang memegang tombak atau golok berjaga disitu.

Setelah mereka ditinggalkan berdua saja, barulah Retno Wijis menegur kepada Jayawijaya. "Kakang Jaya, engkau ini bagaimanakah? Kenapa menyerah saja ketika ditawan? Kalau sudah begini, kita tidak berdaya dan berada di dalam kekuasaan Adipati Blambangan dan para wasi yang jahat itu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari tempat ini, kakang?"

"Jangan salah mengerti, diajeng Retno Wilis. Aku menyarankan agar kita menyerah karena tidak ada jalan lain. Kalau kubiarkan engkau mengamuk, biarpun engkau akan dapat membunuh banyak orang, akhirnya engkau akan roboh juga karena keadaan mereka terlalu kuat bagimu. Engkau akan tewas dan membawa banyak dosa karena membunuh banyak orang. Dan jangan sekali-kali mengira bahwa kita berada dalam kekuasaan Adipati Blambangan atau para wasi. Tidak, kita tetap berada dalam kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Dan aku yakin kita akan dapat terbebas dari bahaya kalau Hyang Widhi menghendaki. Aku yakin sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi berada bersama kita dan betapa mudahnya bagi kekuasaan Hyang Widhi untuk membebaskan kita."

"Akan tetapi kita telah berada dalam kurungan dan tidak berdaya! Bagaimana mungkin kita akan dapat membebaskan diri tanpa daya upaya dan hanya mengandalkan kekuasaan Hyang Widhi?" Retno Wilis membantah.

"Daya upaya merupakan kewajiban kita. Tentu saja kita harus berdaya upaya karena bimbingan Hyang Widhi mungkin tersalur lewat daya upaya kita. Akan tetapi tidak selamanya daya upaya kita mendatangkan hasil dan pada akhirnya kita harus mendasari semua itu dengan penyerahan, dengan kepasrahan ke Tangan Hyang Widhi."

Sungguh mengherankan. Entah mengapa, setelah mendengar ucapan-ucapan yang dikeluarkan dengan suara yang demikian tenang dan sabar, penuh iman, hati Retno Wilis juga menjadi tenang. Sampai lama mereka berdua berdiam diri, hanya duduk bersila di atas lantai yang dingin. Sejak tadi Retno Wilis memperhatikan pemuda itu. Tiada habis rasa heran di dalam hatinya. Pemuda itu demikian tenang, demikian sabar, bahkan melebihi ketenangan dan kesabaran kakaknya sendiri. Berada dalam tawanan musuh, pemuda itu sedikitpun tidak tampak bersedih atau cemas, duduk bersila memejamkan mata dengan tenangnya seperti berada di dalam kamarnya sendiri!

"Kakang Jayawijaya..." panggilnya.

Pemuda itu membuka kedua matanya, memandangnya dan tersenyum. "Ada apakah, diajeng?"

"Pernahkah andika merasa berduka atau bersuka?"

Jayawijaya tersenyum sebelum menjawab. "Tentu saja, diajeng. Aku juga seorang manusia biasa yang kadang dipermainkan perasaan hati sendiri. Dapat diombang ambingkan di antara suka dan duka. Merasa suka atau duka adalah manusiawi. Selama pikiran dan gagasan menguasai kita, sudah pasti kita akan diseret di antara dua perasaan yang berlawanan itu. Akan tetapi, apabila kita menghadapi setiap peristiwa yang kita hadapi sebagai sesuatu yang wajar dan sebagai pelaksanaan dari kehendak Hyang Widhi, maka kita akan dapat memulihkan ketenteraman hati dan tidak terseret antara suka dan duka. Kita mengenal duka karena kita mengenal suka dan demikian sebaliknya. Bagaimana mungkin kita dapat mengenal rasa manis kalau kita tidak mengenal rasa pahit, masam, asin, getir dan sebagainya sebagai lawan rasa? Bagaimana kita dapat mengenal malam kalau kita tidak mengenal siang? Seluruh alam mayapada digerakkan dan diputar oleh dua keadaan yang saling berlawanan ini, diajeng. Saling berlawanan, saling menunjang, saling menolak dan karenanya terjadi perputaran dan terjadi kehidupan."

"Terjadinya kehidupan, kakang?" tanya Retno Wilis heran, menjadi bingung oleh keterangan yang baginya terlalu rumit itu.

"Ya, terjadinya kehidupan inipun dikarenakan bertemunya dua keadaan yang berlawanan itu, diajeng. Ingat, kelahiran manusia dan semua mahluk hidup dapat terjadi karena adanya sifat jantan dan betina yang saling berlawanan. Bahkan dalam kehidupan nabati sekalipun terdapat dua sifat yang bertentangan sebagai sifat jantan dan sifat betina yang mendatangkan benih."

"Apakah andika tidak pernah merasa takut, kakang?"

Kembali Jayawijaya tersenyum. "Kalau engkau setiap detik dengan penuh kepasrahan menyerahkan diri ke dalam kekuasaan Tuhan, engkau tidak akan mengenal rasa takut, diajeng. Apakah rasa takut itu? Rasa takut timbul kalau gagasan membayangkan masa datang, membayangkan apa yang belum terjadi, khawatir kalau sampai terjadi ini atau itu yang menimpa dirinya. Contohnya. Kalau ada wabah mengamuk, orang yang belum sakit takut kalau ketularan penyakit itu. Kalau dia sudah ketularan, maka rasa takut akan penyakit itu lenyap, terganti rasa takut kalau sampai dia mati, dan selanjutnya. Rasa takut timbul kalau pikiran membayangkan masa depan, hal yang belum terjadi. Seperti keadaan kita sekarang ini. Tentu saja rasa takut akan timbul kalau kita membayangkan apa yang akan dapat terjadi terhadap diri kita."

"Lalu, apakah kita harus tidak mengacuhkan apa yang boleh terjadi kepada kita dan tidak perduli?" Retno Wilis mengejar.

"Bukan tidak acuh atau tidak perduli, melainkan tidak membayangkan apa yang akan datang. Hal itu bukan berarti bahwa kita tidak melakukan usaha untuk menolong diri sendiri. Akan tetapi seluruh hati akal pikiran ditujukan kepada masa kini, saat ini dan kalau kita mencurahkan kepada saat ini, maka mungkin akan terbuka mata kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan kita dapat menolong diri sendiri, dengan landasan penyerahan kepada kekuasaan Hyang Widhi. Bagiku, setiap detik, setiap saat kita harus selalu ingat dan waspada, diajeng."

"Ingat kepada siapa dan waspada terhadap apa, kakang?"

"Ingat kepada Sang Hyang Widhi yang berarti penyerahan diri secara mutlak ke Tangan Hyang Widhi, dan waspada akan diri sendiri, apa yang kita pikirkan, ucapkan atau lakukan."

Suasana hening meliputi hati Retno Wilis. Seperti terbuka mata hatinya dan sadarlah ia bahwa suka duka datang silih berganti dalam kehidupan manusia dan justeru itulah romantika kehidupan. Hidup merupakan tantangan dan kita harus berani menghadapi setiap tantangan dengan mata terbuka, tidak melarikan diri dari keadaan yang bagaimanapun juga. Menghadapi dan mengatasi setiap tantangan, itulah seninya hidup! Akan tetapi, kalau hidup hanya untuk diombang-ambingkan antara suka dan duka, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan kehidupan ini? Hatinya merasa penasaran dan ia langsung mengajukan pertanyaan yang timbul dalam hatinya itu kepada Jayawijaya.

"Kakang, kalau begitu, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan dari pada kehidupan ini? Apa maksudnya kita dihidupkan sebagai manusia di dunia ini?"

Jayawijaya tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini dan memandang kepada Retno Wilis dengan mata bersinar lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran.

"Diajeng Retno Wilis, sudah seringkali aku mendengar pertanyaan ini diajukan orang. Sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari pada kehidupan ini, mari kita mengamati keadaan diri kita sebagai manusia yang dilahirkan di dunia melalui ayah bunda kita. Ingat, kita ini dilahirkan, di luar kehendak kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang minta dilahirkan. Jadi kelahiran kita ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Sang Hyang Widhi! Karena kita dilahirkan di luar kehendak kita, maka tentu saja bagi kita tidak ada tujuan apapun dalam kehidupan ini. Kita dilahirkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka Dialah yang berkehendak dan bertujuan! Bukan kita. Kita hanya tinggal hidup saja, tidak menguasai apapun. Bahkan kita tidak menguasai rambut kita sendiri. Tidak ada selembarpun rambut di tubuh kita yang kita kuasai sehingga kita tidak dapat mengatur pertumbuhannya. Kita tidak memiliki apa-apa, bahkan yang menempel di tubuh kita-pun bukan milik kita. Seluruh diri kita ini ada yang Memiliki, ada yang Menguasai. Berhentinya kehidupan kita terserah kepada Yang Memiliki dan Yang Menguasai itulah. Hanya, ketika kita dilahirkan, diciptakan di dunia ini sebagai manusia hidup, kita disertai tanggung jawab, disertai kewajiban-kewajiban untuk menghadapi segala kenyataan dan mengatasinya, seperti yang telah kukatakan tadi. Kita harus menghadapi segala tantangan dan mengatasinya, itulah kenyataan hidup. Perut kita lapar dan kalau tidak diisi kita akan mati kelaparan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisinya, dan untuk dapat mengisinya sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari makanan pengisi perut itu. Demikian pula dengan hal-hal lain. Dan Gusti Yang Maha Kasih telah menciptakan kita secara sempurna. Untuk dapat memenuhi kewajiban itu kita telah disertai segala macam alat. Setiap anggota tubuh kita ini bermanfaat, berguna untuk mempertahankan hidup. Demikianlah kehendak Hyang Widhi. Kita tidak dapat menentang kehendakNya. Karena itu, satu-satunya cara hidup yang baik adalah menyerah kepada kekuasaanNya, menyerah kepada kehendakNya. Apapun yang terjadi kepada kita, kita harus mengucap syukur karena berkahNya berlimpah-limpah setiap saat tanpa henti, walaupun berkah itu terkadang terselubung dan bersembunyi di balik peristiwa yang bagi hati akal pikiran kita terasa tidak enak atau tidak menguntungkan. Segala kehendak Hyang Widhi atas-diri kita adalah baik dan benar dan kita tidak dapat menilainya melalui pertimbangan hati akal pikiran kita, karena semua penilaian hati akal pikiran bersifat mementingkan diri sendiri, mementingkan kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Mengertikah engkau mengapa aku setiap saat menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, diajeng?"

Retno Wilis mengangguk, kehabisan bahan untuk bicara. Ia merasa bahwa segala sesuatu tentang hidup sudah tercakup dalam kata-kata Jayawijaya tadi, dan ia sudah tidak perlu mengetahui hal yang lain lagi tentang kehidupan. Sekarang mulailah ia mengerti mengapa Jayawijaya tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga. Mengapa Jayawijaya tidak pernah menggunakan kekerasan, namun tidak takut menghadapi kekerasan itu sendiri. Cara penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa secara mutlak lahir dan batin. Akan tetapi ia sangsi apakah ia mampu bersikap seperti Jayawijaya! Agaknya tidak mungkin dapat. Gairah hidupnya masih penuh semangat, bergelora dan ia tidak mungkin dapat mengalah terhadap kekerasan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Pasti akan dilawannya sekuat tenaga!

"Kakang, untuk dapat bersikap seperti engkau ini, dibutuhkan kekuatan yang luar biasa, melebihi tenaga sakti yang manapun. Engkau telah membuat dirimu lebih kuat daripada segala cipta, rasa dan karsamu sendiri, engkau telah mengalahkan segala nafsu-nafsumu! Hal itu tidak mungkin dapat tercapai oleh aku yang lemah ini."

Jayawijaya tertawa dan suara tawanya membuat Retno Wilis menyadari bahwa yang berada di depannya bukanlah dewa, melainkan manusia biasa.

"Diajeng, akupun tidak dapat melepaskan diri dari nafsu-nafsuku. Kalau aku melepaskan diri dari nafsu, aku tidak akan dapat bertahan hidup di dunia ini. Nafsu adalah keduniawian. Nafsu adalah alat-alat yang kita pergunakan untuk dapat hidup dan untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Akan tetapaku selalu memohon kekuatan dari Hyang Widhi agar nafsu tidak sampai memperbudak aku, agar nafsu-nafsuku tetap menjadi peserta, menjadi alat yang baik dan berguna, bukan menjadi majikan atas diriku, bukan menjadi kuda-kuda binal yang akan menyeret kereta berikut kusirnya ke dalam jurang."

"Kuda-kuda binal, kakang? Apa pula maksudnya itu?"

"Diajeng Retno Wilis yang bijaksana. Nafsu dapat diibaratkan api yang kalau kita kuasai akan menjadi alat yang amat berguna dan mutlak bagi kehidupan akan tetapi kalau menjadi liar akan membakar dan melahap segala yang berada di depannya. Nafsu-nafsu juga dapat diibaratkan kuda-kuda penarik kereta, di mana terdapat sang kusir, kereta adalah badan jasmani kita sedangkan kusirnya adalah rohani kita. Kalau kuda-kuda penarik itu dapat dijinakkan, maka mereka akan dapat menarik kereta sehingga maju ke arah yang semestinya. Akan tetapi kalau kuda-kuda itu menjadi liar sehingga sang kusir tidak lagi mampu mengendalikannya, kuda-kuda itu akan kabur dan mungkin akan menyeret kereta berikut kusirnya masuk ke dalam jurang."

"Ah, begitukah? Jadi kuda-kuda itu amat penting untuk menarik maju sang kereta, akan tetapi juga amat berbahaya kalau sampai menjadi liar? Begitukah nafsu-nafsu kita itu, kakang? Lalu bagaimana upaya kita agar nafsu-nafsu kita tidak menjadi liar dan tetap menjadi peserta yang baik? Bagaimana cara kita untuk dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri?"

"Kita tidak dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri karena kita memang bergantung kepada mereka. Akan tetapi nafsu-nafsu itu diikut sertakan kepada kita sejak kita lahir, merupakan anugerah pemberian Hyang Widhi sebagai penciptanya. Karena itu, satu-satunya jalan untuk dapat menempatkan nafsu-nafsu di kedudukannya semula, yaitu sebagai peserta dan pelayan, hanyalah menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Hanya kekuasaan Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu yang suka meliar itu, diajeng."

Kembali hening mengikuti percakapan, ini. Retno Wilis termenung dan semakin merasa bahwa ia akan selalu berada dalam keadaan damai dan tenteram kalau berdekatan dengan pemuda ini. Ia merasa terharu sekali, merasa bahwa selama hidupnya baru kini ia bertemu dengan seorang yang benar benar dikaguminya lahir batin, ia melihat seorang laki-laki yang benar-benar gagah perkasa, yang berani menentang bahaya bahkan maut dengan dada terbuka, sedikitpun tidak ada rasa takut, dengan hati bersih tidak terkandung perasaan bermusuhan apa lagi benci! Dan setelah ia termenung dan tenggelam dalam renungannya, Retno Wilis melihat bahwa ia telah jatuh cinta kepada pria itu! Rasa kagum bercampur dengan rasa iba dan sayang, membuatnya timbul keinginan untuk dapat membahagiakan pria yang dikaguminya itu.

Malam tiba. Dari sela-sela jeruji, penjaga memasukkan makanan yang terbungkus daun pisang dengan minuman. Retno Wilis membiarkannya saja. Akan tetapi Jayawijaya lalu mengambil bungkusan nasi dan lauk pauknya itu, membawanya ke dekat Retno Wilis. Sinar lampu menyorot dari luar, memberi penerangan yang cukup ke dalam kamar tahanan itu.

"Diajeng Retno Wilis, silakan makan dan minum hidangan antaran mereka ini," kata Jayawijaya lirih.

"Hemm, aku tidak suka dengan makanan pemberian mereka, kakang," jawab Retno Wilis dengan alis berkerut. Ia tahu bahwa penolakannya itu bukan hanya karena perasaan tidak senang kepada musuh-musuhnya, melainkan juga karena rasa khawatir kalau-kalau makanan itu diberi racun.

"Orang tidak tahu apa saja yang dapat dilakukan orang-orang licik dan curang seperti itu! Dan kurasa sebaiknya kalau engkau juga jangan makan suguhan mereka ini, kakang Jaya."

"Akan tetapi mengapa, diajeng? Sudah sejak pagi kita tidak makan dan perut kita menuntut isi. Kalau tidak makan malam ini, besok kita akan merasa lemah padahal dalam keadaan seperti ini kita perlu menjaga kesehatan dan tenaga. Makanlah, diajeng, biarpun hanya sedikit," Jayawijaya membujuk.

"Terus terang saja, kakang. Aku sangsi akan kebersihan makanan dan minuman ini. Ingat, mereka adalah orang-orang sesat. Bisa saja mereka mencampuri makanan ini dengan racun untuk membunuh kita."

Jayawijaya tersenyum. "Percayalah akan kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Kekuasaan itu tidak akan membiarkan kita diracuni orang. Mulut kita tidak akan mau menelan kalau makanan atau minuman ini mengandung racun. Marilah, biar aku dulu yang mulai makan dan minum untuk membuktikan bahwa tidak ada racun dalam hidangan ini."

Jayawijaya lalu menuangkan air teh dari poci itu ke dalam cangkir yang disediakan, kemudian menempelkan bibir cangkir pada bibirnya. Diminumnya sedikit demi sedikit air teh itu dan ditelannya. Tidak terjadi sesuatu. Kemudian diambilnya sebungkus nasi dan dimakannya. Juga tidak terjadi sesuatu.

"Nah, jelas bahwa dalam hidangan makanan dan minuman ini tidak ada racunnya, diajeng. Mari silakan makan dan minum."

Retno Wilis merasa tidak enak untuk menolak terus. Juga kekhawatirannya hilang. Kalau tidak ada Jayawijaya di situ, biar bagaimanapun juga ia tidak akan mau menyentuh makanan dan minuman itu. Mulailah ia minum dan makan untuk menenangkan perutnya yang memang lapar dan tenggorokannya yang memang haus. Setelah selesai makan dan minum, Jayawijaya membawa sisa makanan dan bekas hidangan itu ke pintu dan mengeluarkannya lewat sela-sela jeruji. Kemudian kembali dia duduk bersila di depan Retno Wilis seperti tadi.

"Mengaso dan tidurlah kalau engkau lelah dan mengantuk, diajeng."

"Aku tidak akan dapat tidur, akan tetapi aku sudah terbiasa beristirahat dengan duduk bersila dan bersamadhi, kakang."

"Bagus kalau begitu. Mari kita mengaso, diajeng."

Mereka tetap duduk bersila. Malam semakin larut dan Retno Wilis sudah membuat perhitungan bagaimana kalau ia berusaha meloloskan diri bersama Jayawijaya. Pintu jeruji besi itu bukan apa-apa baginya. Dengan aji kesaktiannya dan kekuatan yang timbul dari hawa sakti, ia tentu akan mampu menjebol pintu itu. Pedang pusaka Sapudenta juga tentu akan mampu mematahkan jeruji-jeruji besi itu. Dan belasan orang perajurit penjaga di luar pintu kamar tahanan, dapat dengan mudah ia robohkan. Akan tetapi bagaimana kalau Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya datang? Mereka terlalu kuat baginya. Dan juga Jayawijaya belum tentu mau, bahkan ia hampir yakin bahwa pemuda itu tentu akan menolaknya untuk melarikan diri dengan menggunakan kekerasan. Ah, biarlah. Ia akan melihat apa yang hendak dilakukan pemuda luar biasa itu dan ia hanya akan menurut saja apa kehendaknya. Iapun mulai belajar pasrah dan menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa!

Menjelang fajar. Suasana semakin hening. Para penjaga tidak terdengar lagi bicara, bahkan ada suara mendengkur. Agaknya mereka telah tertidur! Hawa udara yang dingin memasuki ruangan kamar tahanan itu, begitu dinginnya sehingga Retno Wilis dan Jayawijaya sadar dari Samadhi mereka. Tiba-tiba terdengar suara di pintu besi dan tampak sesosok bayangan orang ditimpa sinar lampu dari luar. Sesosok bayangan seorang wanita! Agaknya wanita itu sedang membuka kunci pintu penjara dan tak lama kemudian pintu itu terbuka. Bau harum menerpa hidung kedua orang tahanan itu. Retno Wilis segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah puteri Sang Adipati Menak Sampar yang cantik jelita itu.

Gadis itu memang Dyah Ayu Kerti, puteri sang adipati! Retno Wilis segera bangkit berdiri dan bertanya kepada puteri adipati itu. "Siapa andika dan mau apa andika memasuki kamar tahanan ini?"

Akan tetapi Dyah Ayu Kerti tidak memperdulikan pertanyaan Retno Wilis. Ia menghampiri Jayawijaya yang masih duduk bersila dan berkata dengan bisikan lembut.

"Kakangmas Jayawijaya, aku Dyah Ayu Kerti datang untuk membebaskanmu, kakangmas. Andika berdua boleh pergi dan melarikan diri sekarang juga."

Jayawijaya bangkit berdiri dan memandang gadis jelita itu dengan heran. "Bukankah andika ini puteri Sang Adipati Menak Sampar? Bagaimana andika dapat masuk ke sini? Para penjaga itu... "

"Ssssssttt... kakangmas Jayawijaya, jangan keras-keras andika bicara. Mereka sudah tertidur semua, terkena aji penyirepanku," kata Dyah Ayu Kerti lirih sambil meletakkan telunjuknya di depan sepasang bibirnya yang merah merekah.

"Akan tetapi ramamu? Para wasi itu?" tanya pula Jayawijaya dengan heran.

"Mereka sedang berpesta mabuk-mabukan semalam suntuk untuk merayakan kemenangan mereka atas tertawannya andika berdua."

"Akan tetapi... mengapakah andika membebaskan kami?" tanya pula Jayawijaya.

"Karena aku merasa kasihan kepada andika, aku... aku... "

Retno Wilis kehilangan kesabarannya, ia menyambar tangan Jayawijaya dan menariknya sambil berkata, "Marilah, kakang. Kesempatan terbuka bagi kita untuk melarikan diri. Jangan disia-siakan kesempatan ini!" Ia menarik Jayawijaya keluar dari kamar tahanan itu dan lari melalui lorong di mana para penjaga malang melintang dalam keadaan pulas.

Mereka berdua melangkahi tubuh para penjaga itu. Retno Wilis tetap menggandeng tangan Jayawijaya yang agaknya tidak tampak tergesa-gesa, seperti orang hendak pergi berjalan-jalan saja, bukan melarikan diri!

"Kakangmas Jayawijaya... !"

Mereka berhenti mendengar seruan ini dan melihat Dyah Ayu Kerti berlari-lari menghampiri mereka. Setelah dekat, Dyah Ayu Kerti memegang tangan Jayawijaya yang sebelah lagi dengan erat dan ia berkata, wajahnya berubah kemerahan.

"Kakangmas, bawalah aku. Aku ikut, kakangmas Jayawijaya... "

"Ehhhh?? Ikut bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu."

"Ikut ke mana saja andika pergi. Aku... aku... ingin menemanimu, selamanya... !"

Panas rasa perut Retno Wilis, diamuk cemburu! Ia cepat menepiskan tangan gadis puteri adipati itu yang memegangi tangan Jayawijaya sehingga terlepas dan ia menghardik, "Perempuan tak tahu malu! Hayo, kakang Jayawijaya, kita lari dan jangan perdulikan gadis gila ini!" Dan diapun menarik lagi pemuda itu, lari keluar dari bangunan itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Dyah Ayu Kerti yang masih berdiri di lorong itu tidak mengejar lagi, akan tetapi ia menangis sesenggukan dengan hati duka. Ia telah jatuh kasmaran (cinta) kepada pemuda yang luar biasa itu, tergila-gila dan ingin sekali hidup bersama pemuda itu untuk selamanya. Akan tetapi di sana ada Retno Wilis yang agaknya merebut pemuda itu dan ia merasa tidak mampu untuk menandingi wanita perkasa itu. Ia sendiri memiliki aji penyeripan dan beberapa macam ilmu kadigdayaan, akan tetapi apa artinya kalau dibandingkan dengan Retno Wilis yang demikian sakti?

Tiba-tiba muncul Sang Adipati Menak Sampar, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda dan dua orang senopati Blambangan, yaitu senopati Rajah Beling dan Senopati Kurdolangit, diikuti belasan orang perajurit pengawal. Melihat puterinya berada di luar tempat tahanan sambil menangis, sang adipati menghampiri dan bertanya heran,

"Dyah Ayu Kerti! Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa pula engkau menangis?" Sang adipati melihat para perajurit penjaga yang malang melintang dalam keadaan tidur. Sambil mengerutkan alisnya karena puterinya tidak menjawab pertanyaannya, dia lalu memerintahkan dua orang senopatinya.

"Periksa ke dalam kamar tahanan!"

Dua orang senopati itu berlari cepat, berloncatan melangkahi para perajurit penjaga yang tertidur lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dan wajah mereka berubah pucat.

"Celaka, kanjeng gusti! Dua orang tawanan telah lolos!" kata Senopati Kurdolangit.

"Wah, celaka! Dyah Ayu Kerti, apa yang telah terjadi?" bentak sang adipati kepada puterinya.

Sambil menangis sesenggukan akhirnya gadis itu menjawab, Aku... aku... telah membebaskan mereka, kanjeng rama... "

Sang adipati marah sekali. Matanya melotot memandang kepada puterinya tersayang itu dan dia menggeram. "Akan tetapi mengapa?"

"Aku... aku kasihan... kepada... kakangmas Jayawijaya..."

"Celaka!" seru sang adipati. "Mari kita kejar. Mereka tentu belum berlari jauh," kata Wasi Shiwamurti kepada kawan-kawannya dan dia melompat keluar, diikuti oleh rekan-rekannya, juga oleh dua orang senopati dan belasan perajuritnya yang dibentak oleh sang adipati untuk ikut pula melakukan pengejaran.

Sementara itu, Adipati Menak Sampar dengan marah sekali akan tetapi dia terlalu sayang kepada puteri tunggalnya untuk memarahinya terus, menarik tangan puterinya dan diajak kembali ke gedungnya.

********************

"Perlahan dulu, diajeng Retno! Kenapa engkau menyeretku seperti ini?" keluh Jayawijaya yang terpaksa ikut berlari karena tangannya ditarik dengan kuat oleh Retno Wilis.

Retno Wilis berhenti dan memandang kepadanya dengan wajah cemberut. Mereka telah berlari agak jauh juga karena sekarang fajar telah menyingsing, sinar matahari mulai mengusir kegelapan malam yang meninggalkan kabut.

"Agaknya andika tidak ingin sekali untuk melarikan diri, ya kakang Jaya?"

"Eh, kenapa engkau bertanya demikian? Tentu saja aku ingin terlepas dari kurungan mereka," kata Jayawijaya sambil menghapus keringatnya, berlari-lari sejak tadi melelahkannya dan membuatnya berkeringat.

"Ah, mengakulah saja terus terang. Andika tentu ingin sekali tinggal di sana agar dapat bersama-sama dengan gadis cantik jelita puteri Sang Adipati tadi!"

"Lho! Kenapa engkau berkata demikian?"

"Apakah engkau tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, kakang? Dyah Ayu Kerti yang cantik jelita itu tergila-gila kepadamu! Ia telah jatuh cinta kepadamu, kakang, maka ia berani mati membebaskanmu. Kenapa engkau tadi tidak menerimanya ketika ia hendak ikut dan ingin menemanimu selama hidupnya?" Dengan wajah cemberut Retno Wilis lalu melangkah lagi, kini tidak mengandeng tangan Jayawijaya seolah hendak meninggalkan pemuda itu. Jayawijaya mengikutinya dari belakang.

"Begitukah perkiraanmu? Aku sendiri tidak mengira... "

"Hemm, jelas sekali bahwa ia mencintamu. Kalau tidak, mengapa ia membebaskanmu?"

"Aku hanya menganggapnya sebagai uluran Kekuasaan Tuhan yang hendak menolong kita melalui tangan puteri itu, diajeng."

"Hemm, apapun anggapanmu, jelas bahwa puteri itu jatuh cinta kepadamu."

"Andaikata benar demikian, apakah hal itu karena kesalahanku, diajeng? Aku tidak sengaja... "

Retno Wilis berhenti melangkah dan menatap tajam wajah pemuda itu. "Kakang Jayawijaya, apakah engkau tidak tertarik? Ingat, ia seorang gadis yang amat cantik jelita dan ia puteri seorang adipati yang berkuasa pula, gadis bangsawan, kaya raya dan cantik jelita. Kalau engkau menjadi suaminya, engkau tentu akan menjadi mantu adipati dan memperoleh derajat dan pangkat tinggi, menjadi orang yang mulia, terhormat dan disegani orang sekadipaten Blambangan!"

Jayawijaya tersenyum geli ketika dia memandang kepada gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya itu. "Diajeng, aku tidak mengerti mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku. Pernikahan hanya mempunyai satu saja syarat, yaitu cinta kasih. Dan cinta kasih ini tidak memandang kecantikan, derajat pangkat atau harta, bukan pula keturunan. Dyah Ayu Kerti hendak ikut denganku, bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Ia seorang puteri adipati, dan aku seorang kelana. Juga tidak mungkin menemaniku selama hidupnya karena hal itu berarti bahwa aku harus menjadi suaminya, padahal tidak ada cinta kasih dalam hatiku terhadap dirinya."

Retno Wilis menunduk dan senyum berkembang di bibirnya. Wajahnya yang jelita itu berseri, semringah. "Aku... aku girang mendengar pertanyaanmu itu, kakang Jayawijaya."

Jayawijaya menatap tajam wajah gadis itu. "Diajeng, aku heran sekali mengapa engkau tadi seperti orang marah-marah."

Retno Wilis masih menundukkan mukanya dan matanya mengerling ke arah pemuda itu. Lalu katanya lirih, "Aku tidak senang karena gadis itu mencintamu..."

"Dan engkau mengira bahwa aku juga membalas cintanya?"

Dengan suara masih lirih Retno Wilis menjawab, "Aku... khawatir begitu."

"Kalau begitu, ah, benarkah dugaanku ini bahwa engkau... cemburu, diajeng?"

Wajah Retno Wilis menjadi merah sekali, kepala semakin menunduk dan suaranya semakin lirih. "Aku... aku malu, kakang..."

"Kenapa, diajeng? Karena cemburu? Kita ini manusia biasa, diajeng, dan adalah wajar kalau kita masih dipermainkan perasaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu kita. Masih baik kalau kita tidak menjadi buta oleh nafsu, melainkan dapat mempergunakan nafsu secara wajar. Kalau engkau cemburu, hal itu adalah manusiawi, diajeng. Tidak perlu membuatmu malu. Aku sendiri, akupun seorang manusia biasa yang sadar akan kelemahanku. Karena merasa diri lemah inilah maka aku selalu bersandar kepada Kekuasaan Hyang Widhi, selalu menyerah. Engkau tidak ingin melihat seorang wanita lain mencintaku, hal itu berarti bahwa engkau cinta kepadaku, bukan?"

Kini Retno Wilis menundukkan mukanya sampai dagunya mepet dengan bawah lehernya, jantungnya berguncang keras dan napasnya tersendat...

SEPASANG GARUDA PUTIH JILID 14

Sepasang Garuda Putih Jilid 13

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Garuda Putih Jilid 13

..... dan melompat berdiri. Wajahnya menjadi merah sekali dan matanya mencorong, bersinar-sinar. Kedua tangannya siap untuk memukul, dan ia berkata dengan suara terputus-putus saking marahnya.

"Engkau... kau... " akan tetapi ia menahan diri dan melanjutkan, "Kakang Jaya apa yang engkau lakukan ini?"

Sikap Jayawijaya tenang sekali akan tetapi kini pandang matanya terhadap Joko Waras menjadi lain, penuh kekaguman dan terheran-heran setelah mengetahui bahwa pemuda yang sakti ini ternyata adalah seorang gadis!

"Dan ketika kau jatuh pingsan dan agaknya terluka pukulan di bawah pundak, maka aku berusaha untuk mengurut-urut bagian yang ada bekas pukulan itu dengan harapan mudah-mudahan bekas luka pukulan itu dapat disembuhkan. Kemudian karena itu aku telah melihat bagian....? maka disambungnya dengan wajah yang kemerahan. "Maafkan aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa andika adalah seorang wanita."

Joko Waras yang memang telah diketahui bahwa ia sebenarnya seorang gadis, meraba bagian dada yang terpukul dan menekannya. Tidak lagi terasa nyeri! Lalu diperiksanya. Warna kehitaman di dadanya yang tadi sudah dilihatnya ketika ia melarikan diri, kinipun telah lenyap! Lukanya yang mengandung racun telah disembuhkan! Hawa beracun yang terkandung di dalamnya sudah bersih. Ia merasa takjub dan semakin tidak mengerti akan keadaan Jayawijaya. Tadi ketika ia berlutut karena pengaruh sihir, Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh! Bahkan kemudian ketika Wasi Shiwamurti yang amat sakti itu mengirim pukulan jarak jauhnya kepada Jayawijaya, sama sekali tidak bergeming, ia malah terjengkang sendiri. Dan lukanya hanya dengan urutan jari tangan pemuda itu telah menyembuhkan lukanya yang mengandung hawa beracun. Pemuda macam apakah ini? Ketika diajak untuk melarikan diri, terseret di belakangnya ternyata ia tidak dapat berlari cepat.

"Aku tahu dan bukan itu saja, aku bahkan dapat menebak bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang bernama Retno Wilis!" Dalam hatinya, Jayawijaya merasa agak rikuh ketika teringat akan ucapan Endang Patibroto yang hendak menjodohkan dia dengan Retno Wilis! Akan tetapi tentu saja hal ini tidak akan dikatakannya kepada gadis itu.

"Akan tetapi apakah sebelum ini andika tidak menduga bahwa aku seorang wanita?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Siapa yang dapat menduga? Selain penyamaranmu sempurna, juga siapa yang mengira bahwa orang muda yang sakti mandraguna itu seorang gadis ? Aku sendiri sukar untuk dapat mempercaya, akan tetapi ketika aku teringat bahwa andika adalah puteri Kanjeng Bibi Endang Patibroto yang sakti mandraguna, aku menjadi tidak merasa heran lagi."

Retno Wilis kembali meraba dadanya dan menggosok-gosok bagian yang tadi terkena pukulan Wasi Shiwamurti.

"Kakang Jaya, aku merasa heran sekali. Andika tidak berkepandaian, akan tetapi bagaimana dapat menyembuhkan luka pukulan ini demikian cepatnya?" Ia memandang dengan penuh selidik. "Andika menggunakan ilmu apakah untuk menyembuhkan ini?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Aku tidak mempergunakan ilmu apapun juga. Aku hanya mengurut-urut dan berdoa semoga Yang Maha Kasih akan menyembuhkanmu. Akan tetapi sudahlah, adi ... eh, diajeng Retno. Kurasa sebaiknya andika tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda. Kalau engkau seorang wanita, tentu orang-orang itu tidak akan bersikap kejam kepadamu."

"Kau pikir begitukah, kakang? Agaknya engkau belum mengenal benar watak orang-orang jahat itu. Akan tetapi kalau engkau menghendaki, baiklah, aku akan berganti pakaian." Retno Wilis membawa buntalannya pergi ke balik semak belukar dan di situ ia berganti pakaian, yaitu pakaiannya yang seperti biasa ia pakai, pakaian serba putih yang sederhana namun membuat ia tampak cantik jelita dan agung.

Ketika ia muncul dari balik semak belukar, ternyata Jayawijaya berdiri membelakangi semak belukar itu. Retno Wilis tersenyum. Benar-benar seorang pemuda yang sopan dan luar biasa sekali. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang yang aneh seperti Jayawijaya ini yang sekaligus telah menarik hatinya dan menimbulkan kekagumannya. Bayangkan saja, seorang pemuda yang sama sekali tidak memiliki ilmu kanuragan, namun berani menentang para datuk besar, bahkan berani menentang seorang sakti mandraguna seperti Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya!

"Kakang Jaya... !" Retno Wilis memanggil.

Jayawijaya memutar tubuhnya menghadapi Retno Wilis dan dia memandang dengan mata tidak berkedip, terpesona oleh apa yang dilihatnya! Dia melihat seorang gadis yang usianya sekitar duapuluh tahun, rambutnya hitam agak berombak dan panjang sampai ke pinggang, berpakaian putih bersih dan walaupun sederhana pakaian itu tidak menyembunyikan bentuk tubuhnya dengan pinggang ramping dan padat berlekuk-lengkung sempurna. Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di dahinya dan depan telinganya, alisnya melengkung hitam matanya seperti sepasang kejora, mulutnya manis menggairahkan dengan bibir yang merah basah, dihias lesung pipit di kiri mulutnya, dagunya runcing dan lehernya panjang, hidungnya kecil mancung. Apa lagi ketika itu Retno Wilis memandangnya dengan senyum simpul dan kedua tangannya sedang berusaha untuk menggelung rambutnya yang panjang.

"Kaukah itu... ? Benarkah engkau... Adi Waras ... eh, diajeng Retno Wilis?" Tanya Jayawijaya agak tersendat-sendat karena apa yang dilihatnya benar-benar melebihi semua bayangannya tentang gadis itu. Begitu pandainya gadis itu menyamar sehingga tadi wajahnya agak kecoklatan, tidak seperti sekarang begitu putih kekuningan. Bahkan kedua matanya juga berbeda, kini demikian indahnya dan bersinar-sinar cemerlang dan bening.

"Aih, kakang Jaya, apakah engkau pangling? Aku Retno Wilis atau Joko Waras yang tadi."

"Engkau cantik jelita seperti seorang bidadari dari kahyangan, diajeng." Pujian itu demikian jujur dan polos, tidak mengandung rayuan.

Mendengar ini, Retno Wilis tidak menjadi marah, bahkan mukanya yang putih mulus kulitnya itu kini menjadi kemerahan dan matanya mengerling tajam. Biasanya, pujian akan kecantikannya yang keluar dari mulut laki-laki mengandung rayuan, akan tetapi sekali ini sama sekali lain. Jayawijaya mengucapkannya dengan setulus hati penuh kejujuran dan tidak disembunyikan, terbuka dan polos.

"Terima kasih atas pujianmu, kakang Jayawijaya, akan tetapi... ah, kukira ada orang-orang berdatangan!" kata Retno Wilis yang pendengarannya amat tajam terlatih.

Baru saja ia berkata demikian, tampak bayangan empat orang dan di situ telah berdiri Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda! Kiranya Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda juga berada bersama kedua orang Wasi tadi, hanya tadi belum memperlihatkan diri dan ketika mereka mengadakan pengejaran terhadap Jayawijaya dan Retno Wilis, kedua orang itupun ikut mengejar.

Wasi Shiwamurti tidak mengenal Retno Wilis, akan tetapi tiga orang yang lain segera mengenalnya. Wasi Karangwolo pernah bertanding melawan Retno Wilis, juga Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda pernah bentrok dengan gadis perkasa itu.

"Kakang Wasi Shiwamurti, inilah gadis puteri Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono dari Panjalu!" Kata Wasi Karangwolo kepada kakak seperguruannya.

"Ia bersama kakaknya yang bernama Bagus Seto yang telah menentang penyebaran agama kita, Kakangmas Wasi!" kata pula Ni Dewi Durgomala.

Melihat sikap mereka, Jayawijaya sudah melangkah maju dan melindungi Retno Wilis. Dia membusungkan dada, dengan penuh keberanian menentang pandang mata mereka dan berkata dengan suara nyaring.

"Kalian adalah orang-orang beragama, apakah tidak malu untuk mengganggu seorang gadis? Sepatutnya kalian bicara baik-baik, bukan menggunakan kekerasan seperti orang yang tidak mengenal sopan santun!"

Wasi Shiwamurti mengangkat tangan kirinya mencegah kawan-kawannya yang sudah siap untuk bergerak menyerang itu. Dia memandang Jayawijaya penuh selidik, juga agak gentar. Tadi dia sudah mengalami sendiri betapa hebatnya pemuda ini. Mampu menolak semua sihirnya, bahkan ketika dia menyerang dengan pukulan sakti jarak jauh, pemuda itu sama sekali tidak bergeming apa lagi roboh. Sebaliknya malah dia sendiri terjengkang karena tenaga dan hawa sakti pukulannya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri. Kini melihat sikap pemuda seperti menasihati itu, dia menjadi semakin terheran-heran. Siapakah sesungguhnya pemuda yang memakai nama Jayawijaya ini? Dari perguruan mana? Tampaknya demikian lemah lembut dan tidak memiliki kedigdayaan, akan tetapi mengapa semua serangannya gagal? Dia tidak berani sembrono lagi dan mencegah kawan-kawannya untuk turun tangan.

"Heh, Jayawijaya. Kami melakukan kekerasan karena gadis ini berulang kali menentang kami. Demikian juga ibunya, Endang Patibroto selalu menentang dan memusuhi kami!"

"Tidak mungkin diajeng Retno Wilis memusuhi kalian kalau kalian tidak melakukan kesalahan dan kejahatan. Kalian memaksa penduduk untuk memeluk agama baru, tentu saja ia menentang kalian! Kalian yang memulai, bukan diajeng Retno Wilis!"

"Akan tetapi kami menyebarkan agama kami sendiri, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian !" bantah Wasi Shiwamurti.

"Penyebaran agama secara wajar tentu tidak akan menimbulkan pertentangan. Akan tetapi kalian menggunakan kekerasan, itulah persoalannya," kata pula Jayawijaya dan Retno Wilis mendengarkannya dengan heran. Pemuda ini mengajak orang-orang tersesat itu untuk bercakap-cakap dan agaknya Wasi Shiwamurti melayaninya, seolah mereka itu berbantahan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Padahal baru saja kakek itu berusaha keras untuk membunuh ia dan Jayawijaya.

"Hemm, kalau begitu, mari kita bicarakan hal ini dan menghadap Sang Adipati di Blambangan. Kita bicarakan dengan baik-baik seperti yang kau kehendaki," kata Wasi Shiwamurti dan teman-temannya juga memandang kepada Wasi itu dengan heran. Kenapa Wasi Shiwamurti bersikap seperti sahabat terhadap pemuda itu?

Tentu saja dalam hatinya Retno Wilis tidak sudi diundang menghadap Adipati Blambangan karena ia tahu bahwa hal itu sama saja dengan memasuki gua penuh dengan srigala yang buas. Akan tetapi Jayawijaya menyambut undangan itu dengan suara gembira!

"Begitulah seharusnya! Kalau kami diundang secara terhormat, tentu kami mau datang, akan tetapi kalau kalian menggunakan kekerasan, kami bahkan menolak. Kebetulan karena akupun ingin bicara dengan sang adipati, menasihatinya agar dia tidak menggunakan cara kekerasan dalam penyebaran agama, melainkan dengan halus dan kalau ada yang memasuki agama baru itu, dengan suka rela bukan dengan paksaan."

Retno Wilis terbelalak keheranan. Jayawijaya menerima undangan itu? Gila! Sama saja dengan memasuki perangkap! Akan tetapi ia tahu bahwa pada saat seperti itu, melawanpun tidak akan ada gunanya. Kedigdayaannya masih kalah jauh untuk melawan mereka. Baru melawan Wasi Shiwamurti seorang saja, ia sudah kalah. Apalagi kalau Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda ikut maju mengeroyok. Ia tentu akan tertawan juga. Dan kalau dipikir dan diperhitungkan, ikut sebagai tamu yang diundang dengan hormat jauh lebih baik dari pada ikut sebagai tawanan! Dan anehnya, hatinya tidak merasa khawatir. Entah mengapa, ia merasa aman bersama Jayawijaya, merasa tenang dan sama sekali tidak takut, bahkan yakin bahwa pemuda aneh itu tentu akan mampu melindunginya. Dekat dengan Jayawijaya ia merasa seperti kalau ia dekat dengan kakaknya, Bagus Seto. Teringat akan Bagus Seto, hatinya menjadi lebih besar lagi. Kakaknya tentu sudah memasuki Blambangan dan kalau terjadi sesuatu dengan dirinya, tentu kakaknya akan mengetahuinya dan akan menolongnya.

"Kalau begitu, kami undang kalian berdua untuk mengikuti kami, menghadap Sang Adipati Menak Sampar di Blambangan," kata Wasi Shiwamurti dan suaranya terdengar ramah dan halus!

"Kakang Jaya... !" Retno Wilis hendak memrotes, akan tetapi Jayawijaya menggerakkan tangannya menenangkan gadis itu sambil berkata lembut dan tenang.

"Tidak mengapa, diajeng. Kita mendapat undangan dengan hormat dan karena kita tidak bersalah, Sang Hyang Widhi akan selalu melindungi kita."

"Kakang Wasi... !" Wasi Karangwolo menegur kakak seperguruannya karena telah bersikap sehalus itu terhadap kedua orang muda yang dimusuhi itu. Akan tetapi Wasi Shiwamurti juga mengangkat tangan memberi isarat agar kawan-kawannya diam dan tidak membantah.

Demikianlah, Jayawijaya dan Retno Wilis dikawal oleh empat orang tokoh itu memasuki pintu gerbang kota kadipaten Blambangan. Para perajurit yang berjaga di situ juga terbelalak melihat betapa dua orang itu dikawal masuk dalam keadaan tenang dan sama sekali bukan sebagai tawanan. Wasi Shiwamurti segera menyuruh seorang perwira untuk melapor kepada Sang Adipati Menak Sampar bahwa mereka mohon menghadap.

Adipati Menak Sampar sendiri terkejut mendengar bahwa Wasi Shiwamurti membawa dua orang muda, terutama Retno Wilis yang namanya menggiriskan itu, datang menghadapnya, bukan sebagai tawanan melainkan sebagai tamu! Dia merasa heran dan cepat bersiap siaga untuk menyambut mereka di Balai Agung.

Karena Wasi Karangwolo berkedudukan sebagai penasihat Sang Adipati, dan tiga orang tokoh agama Shiwa-Durgo-Kala itu merupakan tamu-tamu terhormat, maka ketika menghadap Adipati Menak Sampar mereka tidak duduk di atas lantai, melainkan duduk di atas kursi yang telah disediakan. Juga disediakan dua kursi untuk Jayawijaya dan Retno Wilis sehingga mereka benar-benar dianggap sebagai tamu! Setelah diadakan tegur sapa resmi dan memberi penghormatan kepada sang adipati, Wasi Shiwamurti lalu melapor dengan suara lembut.

"Sang Adipati, kami datang membawa serta dua orang tamu ini. Mereka ini adalah Retno Wilis, puteri dari Kipatih Tejolaksono dari Panjalu, dan yang seorang lagi bernama Jayawijaya. Mereka datang untuk memperbincangkan tentang penyebaran agama baru di wilayah Blambangan."

Sang Adipati mengangguk dan memandang kepada dua orang muda itu dengan sinar mata penuh selidik. Ketika memandang kepada Retno Wilis, dia terpesona oleh kecantikan gadis itu, akan tetapi mendengar akan sepak terjang Retno Wilis, hatinya diliputi kengerian dan juga hamper tidak dapat percaya bahwa gadis cantik jelita seperti itu dapat menjadi seorang ganas dan sakti menakutkan.

"Hemm, Retno Wilis dan Jayawijaya, apakah yang andika berdua hendak sampaikan kepada kami mengenai penyebaran agama itu?" tanya Adipati Menak Sampar kepada dua orang muda itu dengam suara yang dibuat sewibawa mungkin. Akan tetapi suara itu sama sekali tidak menggetarkan atau menimbulkan rasa hormat kepada dua orang muda itu.

Retno Wilis hanya memandang dengan dingin dan tidak hendak menjawab karena ia ikut menjadi tamu itu sebetulnya hanya untuk mengikuti kehendak Jayawijaya saja. Ia membiarkan pemuda itu yang menjawabnya dan hal ini agaknya juga dimengerti oleh Jayawijaya. Dia menatap wajah sang Adipati dan dia lalu berkata.

"Sang adipati, sebetulnya bukan keinginan kami untuk datang ke sini, akan tetapi kami diundang oleh Wasi Shiwamurti untuk menghadap andika dan untuk bicara tentang penyebaran agama baru itu. Kami sungguh tidak setuju dengan cara penyebaran agama baru yang menggunakan paksaan dan kekerasan. Kami menentang itu karena hal itu sebetulnya menyalahi prikemanusiaan. Siapa saja boleh berganti agama sesuka hatinya asalkan agama yang baru itu tidak memaksakan kehendak para penyebarnya dengan ancaman. Karena kami sudah diundang ke sini, maka kebetulan sekali kami hendak menegur andika dengan cara penyebaran agama itu."

Ucapan itu tegas, tenang, tidak menjilat akan tetapi juga dengan cukup sopan. Muka sang adipati sudah mulai merah. Pemuda yang kelihatan seperti pemuda dusun walau pun wajahnya amat tampan itu menyebutnya dengan "andika" begitu saja. Padahal seluruh kawula Blambangan menyebutnya "paduka". Dia melirik ke arah puterinya yang hadir di situ. Puterinya itu adalah anak tunggalnya yang terkasih, bernama Dyah Ayu Kerti. Ibunya seorang puteri Bali dan Dyah Ayu Kerti yang berusia kurang lebih tujuh-belas tahun itu adalah seorang gadis yang teramat cantik jelita. Sejak tadi, Dyah Ayu Kerti memandang kepada dua orang tamu itu, terutama kepada Jayawijaya. Pandang matanya melekat kepada pemuda itu. Entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang menarik hatinya dan membuatnya terpesona. Apalagi ketika pemuda itu sudah bicara, suaranya seperti menembus ke hatinya dan kata-katanya demikian menarik, membuat Dyah Ayu Kerti memandang tanpa berkedip.

Pada saat itu, Jayawijaya sudah selesai bicara dan Adipati Menak Sampar melirik kepada puterinya. Melihat puterinya memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan mulut sedikit ternganga, Adipati Menak Sampar mengerutkan alisnya. Tidak sepantasnya kalau puterinya mendengarkan semua percakapan itu. Pula, nanti mungkin akan terjadi kekerasan di situ kalau dia memerintahkan agar para senopatinya menangkap dua orang muda itu. Dia tidak mau puterinya terlibat dalam kekerasan dan berada dalam bahaya. Maka diapun segera berkata kepada puterinya.

"Anakku Dyah Ayu Kerti, engkau sebaiknya masuk ke dalam dan menemani ibumu. Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan keluargaku. Masuklah, nini."

Dyah Ayu Kerti memandang kepada ayahnya, lalu menengok dan memandang lagi kepada Jayawijaya. Akan tetapi biarpun ia tidak ingin meninggalkan tempat itu, ia tidak mau membantah perintah ayahnya. Ia Ialu menyembah dan mengundurkan diri, sebelum memasuki pintu tembusan, kembali ia mengerling ke arah Jayawijaya. Setelah puterinya masuk ke dalam, Adipati Menak Sampar lalu menjawab ucapan Jayawijaya tadi.

"Orang muda, sebetulnya semua ucapanmu tadi salah alamat. Ketahuilah bahwa Kadipaten Blambangan sama sekali tidak menyebar agama baru, akan tetapi yang menyebar adalah para pendeta dari Negeri Cola di dunia barat, yang dipimpin oleh Sang Wasi Shiwamurti. Bagaimana cara mereka menyebar agama adalah hak mereka, dan andika sama sekali tidak mempunyai hak untuk mencampuri. Apalagi kalau terjadi di daerah Blambangan, kami tidak ingin orang luar mencampurinya tanpa seijin kami!"

"Sang Adipati, kalau peristiwa itu terjadi di daerah Blambangan, tentu saja hal itu dapat dimengerti dan kamipun tidak akan mencampurinya. Akan tetapi banyak peristiwa pemaksaan memeluk agama baru itu terjadi di luar daerah Blambangan dan Nusabarung, bahkan menjalar ke daerah Panjalu dan Jenggala. Karena itu kami terpaksa menentangnya. Dan kami menegur kepada andika sama sekali bukan salah alamat, karena para penyebar agama itu menjadi tamu kadipaten Blambangan maka kadipaten Blambangan pula yang harus bertanggung-jawab!"

Retno Wilis merasa heran sekali akan kepandaian Jayawijaya untuk berdebat. Juga ia merasa lucu. Biasanya, menghadapi orang-orang seperti para wasi sesat ini, ia tidak perlu banyak cakap, melainkan tangan kaki yang bicara mengadu kesaktian. Akan tetapi Jayawijaya berdebat dengan mulut dan pemuda itu sedikitpun tidak merasa gentar!

Diam-diam Retno Wilis bersikap waspada. Ia tidak dapat percaya terhadap kejujuran orang-orang seperti Wasi Shiwamurti dan Wasi Karangwolo. Orang-orang seperti itu biasanya berhati palsu, tidak pantang melakukan kecurangan dan kekerasan dalam bentuk apapun juga. Ia merasa bahwa mereka berada di dalam sarang harimau yang penuh binatang buas dan keadaan mereka berbahaya sekali.

Bagaimana kalau sang adipati itu memerintahkan para punggawanya untuk menangkap mereka berdua? Kalau Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Nini Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda turun tangan terhadap mereka, apa yang dapat ia lakukan? Melawan mereka pasti ia akan kalah dan Jayawijaya biarpun memiliki pengaruh mujijat, belum dapat diandalkan untuk menundukkan mereka karena pemuda itu tidak dapat dan tidak mau berkelahi! Ia teringat akan pengalamannya di Nusabarung ketika ia dikeroyok banyak punggawa Nusabarung dan keadaannya berada dalam bahaya. Ia mampu meloloskan diri dengan menangkap Adipati Martimpang dan menjadikannya sebagai sandera.

Ingatan ini yang menimbulkan pikiranya untuk berbuat yang sama di kadipaten Blambangan itu. Kalau terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan ia dan Jayawijaya, ia akan menawan Adipati Menak Sampar dan menyanderanya agar ia dan Jayawijaya dapat lolos dari tempat itu! Diam-diam Retno Wilis sudah siap sedia, seluruh urat syarafnya menegang, siap untuk bergerak. Dengan sekali loncatan saja ia akan dapat tiba di dekat adipati itu dan menyanderanya, demikian pikirnya.

Ketika Adipati Menak Sampar mendengar bantahan Jayawijaya, wajahnya yang biasanya sudah merah itu menjadi semakin merah. Tubuhnya yang tinggi besar bergerak gelisah di atas kursinya dan kumisnya yang melintang itu seperti menjadi semakin kaku.

"Jayawijaya, berani engkau bicara seperti itu di depan kami! Ingat, andika sekarang berada di tempat kami dan sekali kami menggerakkan tangan memberi isyarat, orang-orangku akan menangkap kalian, bahkan dengan mudah kami dapat membunuh kalian!"

cerita silat online karya kho ping hoo

Inilah yang dinanti-nanti oleh Retno Wilis. Begitu mendengar ucapan adipati itu, terutama kalimat terakhir yang nadanya mengancam, secepat kilat ia sudah meloncat ke depan dan sebelum ada orang dapat mencegahnya, bahkan sebelum Adipati Menak Sampar dapat berkutik, tangannya sudah mencabut pedang pusaka Sapudenta dan ditempelkannya pedang itu ke leher Adipati Menak Sampar sambil menghardik dengan suara yang nyaring.

"Siapa berani mengganggu kakang Jayawijaya, pedangku akan memenggal leher Adipati Menak Sampar!"

"Diajeng Retno Wilis! Jangan, jangan bunuh orang... !" Jayawijaya berseru kepada Retno Wilis. Dia khawatir kalau-kalau Retno Wilis benar-benar akan memenggal leher sang adipati!

Wasi Shiwamurti adalah seorang yang berpengalaman. Sekali pandang dan dengar saja, tahulah dia bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan Retno Wilis membunuh sang adipati, maka cepat sekali tangannya menyambar dan dia sudah menangkap kedua lengan Jayawijaya dan dipuntirnya ke belakang. Di detik lain Jayawijaya telah ditelikungnya dan pemuda itu tidak mampu bergerak.

"Retno Wilis! Kalau engkau mengganggu Sang Adipati, pemuda ini akan kuhancurkan kepalanya!" bentak Wasi Shiwamurti dan diam-diam dia merasa heran dan juga girang sekali. Ternyata pemuda yang ditakutinya itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melepaskan diri, bahkan mencobapun tidak! Sama sekali tidak disangkanya bahwa sedemikian mudahnya dia menangkap pemuda yang disangkanya maha sakti itu.

"Diajeng Retno! Lepaskanlah Sang Adipati. Bukan karena aku takut mati, akan tetapi karena tidak baik kalau engkau sampai membunuh orang demi aku. Aku tidak akan rela!"

Retno Wilis menjadi serba salah. Ancamannya dengan menyandera Sang Adipati ternyata gagal dan tidak ada gunanya. Selain Wasi Shiwamurti tidak mau melepaskan Jayawijaya, juga ia tidak dapat membunuh sang adipati karena Jayawijaya menentang keras! Dengan perasaan menyesal dan gemas karena Jayawijaya tidak mendukung siasatnya menyandera sang adipati, terpaksa Retno Wilis melepaskan adipati itu. Akan tetapi sebelum ia melepaskan pedangnya dari leher Adipati Menak Sampar, ia berkata dengan suara penuh wibawa kepada Wasi Shiwamurti.

"Aku hanya mau membebaskan Adipati Menak Sampar kalau kalian mau berjanji bahwa kalian tidak akan membunuh Kakang Jayawijaya!"

Tidak ada yang memberi jawaban atas ucapan Retno Wilis itu. Para wasi dan kawan-kawannya berdiam diri, dan Wasi Shiwamurti masih saja menelikung kedua lengan Jayawijaya ke belakang tubuhnya. Retno Wilis menggigit bibirnya dengan marah sekali dan ia berkata kepada Adipati Menak Sampar,

"Adipati Menak Sampar, berjanjilah bahwa engkau tidak akan memperkenankan mereka membunuh kakang Jayawijaya, atau kalau engkau tidak mau berjanji, demi pari dewa, aku akan membunuhmu sekarang juga kemudian mengamuk, kalau perlu mengorbankan nyawaku di sini. Akan tetapi engkaulah yang akan mati lebih dulu!!" Setelah berkata demikian, ia menekan pedangnya ke leher adipati itu.

Wasi Shiwamurti menggertak dan berseru keras, "Retno Wilis! Kalau engkau tidak cepat melepaskan Sang Adipati, aku akan membunuh Jayawijaya!"

Retno Wilis membalas dengan kata-kata lantang, "Wasi Shiwamurti! Begitu engkau membunuh kakang Jayawijaya, kepala Adipati Menak Sampar akan menggelinding dari lehernya, kemudian aku akan mengamuk dan percayalah, sebelum aku mati kalian keroyok, aku pasti telah membunuh banyak di antara kalian! Tidak ada gunanya engkau menggertak!"

Merasa betapa pedang itu ditekankan di kulit lehernya dan tahu bahwa gadis perkasa itu bukan hanya menggertak kosong belaka, Adipati Menak Sampar menjadi ketakutan sekali.

"Paman Wasi Shiwamurti, jangan bunuh Jayawijaya!" teriaknya dengan mata terbelalak ketakutan. "Retno Wilis, aku berjanji bahwa aku tidak akan memperkenankan mereka membunuh Jayawijaya!"

"Engkau berani bersumpah?" desak Retno Wilis.

"Aku, Adipati Menak Sampar, bersumpah tidak akan membunuhnya!"

"Aku ingin engkau berjanji dan bersumpah sebagai Adipati Blambangan, bukan pribadi Menak Sampar yang tidak kupercaya!" kata pula Retno Wilis.

"Baiklah, sebagai Adipati Blambangan, aku bersumpah tidak akan membunuh atau menyuruh bunuh Jayawijaya. Paman Wasi bebaskan pemuda itu!"

Mendengar ini, dengan apa boleh buat Wasi Shiwamurti melepaskan kedua lengan Jayawijaya yang tadinya dia telikung ke belakang tubuhnya. Begitu terlepas dari cengkeraman wasi itu, Jayawijaya mendekati Retno Wilis dan berkata kepada gadis itu,

"Diajeng Retno Wilis, harap engkau suka melepaskan Sang Adipati."

Sebelum menarik kembali pedang pusakanya, Retno Wilis yang teringat akan sesuatu berkata lagi, "Adipati Menak Sampar, katakan sekali lagi bahwa engkau akan membebaskan kakang Jayawijaya!"

"Baik, kami membebaskan Jayawijaya, Sekarang juga dia boleh meninggalkan tempat ini dan kami tidak akan mengganggunya sama sekali."

Setelah sang adipati berjanji akan membebaskan Jayawijaya, barulah lega rasa hati Retno Wilis dan iapun melepaskan ancamannya, mundur dan tangannya masih memegang pedang pusakanya. Melihat ini, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda lalu bergerak mendekati sang adipati untuk memberi perlindungan. Adipati Menak Sampar kini menjadi marah sekali. Mukanya yang tadinya pucat berubah merah dan dia berkata dengan mata melotot kepada Retno Wilis.

"Retno Wilis, berani sekali engkau telah menghina kami. Kami terpaksa harus menawanmu! Terserah engkau hendak menyerah menjadi tawanan atau kami akan menggunakan kekerasan terhadap dirimu!" Dengan tangannya sang adipati memberi isyarat dan dua orang senopatinya, yaitu Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan Senopati Kurdolangit yang tinggi kurus, telah memimpin belasan orang perajurit pengawal untuk mengepung dara perkasa itu.

Melihat ini, Jayawijaya berseru dengan penasaran. "Sang Adipati Menak Sampar! Andika adalah seorang adipati yang disembah oleh orang-orang sedaerah Blambangan, apakah engkau tidak malu untuk menjilat ludah sendiri yang telah dikeluarkan? Engkau sudah berjanji untuk membebaskan kami. Mengapa sekarang engkau hendak menawan diajeng Retno Wilis?"

"Ha-ha-ha!" Sang Adipati Blambangan itu tertawa bergelak penuh ejekan. "Siapa yang melanggar janji? Kami memang berjanji untuk membebaskan Jayawijaya, dan sekarangpun engkau boleh pergi, kami tidak akan mencegahmu. Akan tetapi kami tidak pernah berjanji untuk membebaskan Retno Wilis! Karena itu ia harus menjadi tawanan kami!"

Retno Wilis teringat akan hal ini dan ia gemas sekali. Dalam keadaan tegang ingin menyelamatkan Jayawijaya ia sampai lupa kepada dirinya sendiri.

"Sang Adipati Menak Sampar, andika seorang adipati yang besar dan tentu tidak akan bertindak sewenang-wenang dan tanpa alasan. Alasan apa yang andika pakai untuk menawan diajeng Retno Wilis?"

"Hemm, ia seorang telik sandi dari Kerajaan Panjalu! Itu alasan pertama. Dan alasan kedua, ia telah berani menawan dan menghina kami sebagai sandera. Dan alasan itu sudah cukup untuk menawannya! Retno Wilis, menyerahlah atau kami akan menggunakan kekerasan!" bentak Sang Adipati.

Retno Wilis mempererat pegangannya pada gagang pedangnya, siap untuk melawan dan mengamuk. Akan tetapi pada saat itu Jayawijaya melangkah maju menghampirinya dan berkata kepadanya dengan lembut.

"Sarungkan pedangmu, diajeng. Sang Adipati Menak Sampar, kalau engkau tidak membebaskan diajeng Retno Wilis dan hendak menawannya, maka akupun ingin menyertainya menjadi tawanan."

"Ha-ha-ha, ini adalah kemauanmu sendiri, Jayawijaya, jangan katakan bahwa kami yang melanggar janji. Retno Wilis, serahkan pedangmu dan menyerahlah."

Retno Wilis menyarungkan pedangnya menuruti permintaan Jayawijaya dan menjawab dengan suara dingin.

"Senjata merupakan nyawa kedua bagi seorang pendekar. Aku tidak akan menyerahkan pedangku selama nyawaku belum meninggalkan badan! Tawanlah kami, aku tidak akan melawan."

Sang Adipati Menak Sampar maklum akan kehebatan wanita yang sudah amat terkenal ini. Dia tidak ingin mengorbankan orang-orangnya yang tentu banyak yang akan tewas kalau wanita itu mengamuk.

"Bawa mereka dan masukkan ke dalam penjara!" teriaknya dengan marah.

Dua orang senopati dan belasan orang perajuritnya segera mengawal Retno Wilis dan Jayawijaya menuju ke penjara yang terdapat dibelakang kadipaten, diantarkan pula oleh Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya yang khawatir kalau-kalau dua orang muda itu akan memberontak dan meloloskan diri.

Biarpun hatinya mendongkol dan alisnya berkerut, namun Retno Wilis yang melihat Jayawijaya menyerah dengan sabar dan tenang, terpaksa mengikuti pemuda itu dan diam saja ketika diarak menuju ke penjara. Mereka disuruh memasuki sebuah kamar penjara yang cukup besar, pintunya terbuat dari baja dan berterali yang kokoh kuat lalu dikunci dari sebelah luar. Melalui pintu berterali itu Retno Wilis dapat melihat belasan orang yang memegang tombak atau golok berjaga disitu.

Setelah mereka ditinggalkan berdua saja, barulah Retno Wijis menegur kepada Jayawijaya. "Kakang Jaya, engkau ini bagaimanakah? Kenapa menyerah saja ketika ditawan? Kalau sudah begini, kita tidak berdaya dan berada di dalam kekuasaan Adipati Blambangan dan para wasi yang jahat itu. Bagaimana kita akan dapat lolos dari tempat ini, kakang?"

"Jangan salah mengerti, diajeng Retno Wilis. Aku menyarankan agar kita menyerah karena tidak ada jalan lain. Kalau kubiarkan engkau mengamuk, biarpun engkau akan dapat membunuh banyak orang, akhirnya engkau akan roboh juga karena keadaan mereka terlalu kuat bagimu. Engkau akan tewas dan membawa banyak dosa karena membunuh banyak orang. Dan jangan sekali-kali mengira bahwa kita berada dalam kekuasaan Adipati Blambangan atau para wasi. Tidak, kita tetap berada dalam kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Dan aku yakin kita akan dapat terbebas dari bahaya kalau Hyang Widhi menghendaki. Aku yakin sepenuhnya bahwa Sang Hyang Widhi berada bersama kita dan betapa mudahnya bagi kekuasaan Hyang Widhi untuk membebaskan kita."

"Akan tetapi kita telah berada dalam kurungan dan tidak berdaya! Bagaimana mungkin kita akan dapat membebaskan diri tanpa daya upaya dan hanya mengandalkan kekuasaan Hyang Widhi?" Retno Wilis membantah.

"Daya upaya merupakan kewajiban kita. Tentu saja kita harus berdaya upaya karena bimbingan Hyang Widhi mungkin tersalur lewat daya upaya kita. Akan tetapi tidak selamanya daya upaya kita mendatangkan hasil dan pada akhirnya kita harus mendasari semua itu dengan penyerahan, dengan kepasrahan ke Tangan Hyang Widhi."

Sungguh mengherankan. Entah mengapa, setelah mendengar ucapan-ucapan yang dikeluarkan dengan suara yang demikian tenang dan sabar, penuh iman, hati Retno Wilis juga menjadi tenang. Sampai lama mereka berdua berdiam diri, hanya duduk bersila di atas lantai yang dingin. Sejak tadi Retno Wilis memperhatikan pemuda itu. Tiada habis rasa heran di dalam hatinya. Pemuda itu demikian tenang, demikian sabar, bahkan melebihi ketenangan dan kesabaran kakaknya sendiri. Berada dalam tawanan musuh, pemuda itu sedikitpun tidak tampak bersedih atau cemas, duduk bersila memejamkan mata dengan tenangnya seperti berada di dalam kamarnya sendiri!

"Kakang Jayawijaya..." panggilnya.

Pemuda itu membuka kedua matanya, memandangnya dan tersenyum. "Ada apakah, diajeng?"

"Pernahkah andika merasa berduka atau bersuka?"

Jayawijaya tersenyum sebelum menjawab. "Tentu saja, diajeng. Aku juga seorang manusia biasa yang kadang dipermainkan perasaan hati sendiri. Dapat diombang ambingkan di antara suka dan duka. Merasa suka atau duka adalah manusiawi. Selama pikiran dan gagasan menguasai kita, sudah pasti kita akan diseret di antara dua perasaan yang berlawanan itu. Akan tetapi, apabila kita menghadapi setiap peristiwa yang kita hadapi sebagai sesuatu yang wajar dan sebagai pelaksanaan dari kehendak Hyang Widhi, maka kita akan dapat memulihkan ketenteraman hati dan tidak terseret antara suka dan duka. Kita mengenal duka karena kita mengenal suka dan demikian sebaliknya. Bagaimana mungkin kita dapat mengenal rasa manis kalau kita tidak mengenal rasa pahit, masam, asin, getir dan sebagainya sebagai lawan rasa? Bagaimana kita dapat mengenal malam kalau kita tidak mengenal siang? Seluruh alam mayapada digerakkan dan diputar oleh dua keadaan yang saling berlawanan ini, diajeng. Saling berlawanan, saling menunjang, saling menolak dan karenanya terjadi perputaran dan terjadi kehidupan."

"Terjadinya kehidupan, kakang?" tanya Retno Wilis heran, menjadi bingung oleh keterangan yang baginya terlalu rumit itu.

"Ya, terjadinya kehidupan inipun dikarenakan bertemunya dua keadaan yang berlawanan itu, diajeng. Ingat, kelahiran manusia dan semua mahluk hidup dapat terjadi karena adanya sifat jantan dan betina yang saling berlawanan. Bahkan dalam kehidupan nabati sekalipun terdapat dua sifat yang bertentangan sebagai sifat jantan dan sifat betina yang mendatangkan benih."

"Apakah andika tidak pernah merasa takut, kakang?"

Kembali Jayawijaya tersenyum. "Kalau engkau setiap detik dengan penuh kepasrahan menyerahkan diri ke dalam kekuasaan Tuhan, engkau tidak akan mengenal rasa takut, diajeng. Apakah rasa takut itu? Rasa takut timbul kalau gagasan membayangkan masa datang, membayangkan apa yang belum terjadi, khawatir kalau sampai terjadi ini atau itu yang menimpa dirinya. Contohnya. Kalau ada wabah mengamuk, orang yang belum sakit takut kalau ketularan penyakit itu. Kalau dia sudah ketularan, maka rasa takut akan penyakit itu lenyap, terganti rasa takut kalau sampai dia mati, dan selanjutnya. Rasa takut timbul kalau pikiran membayangkan masa depan, hal yang belum terjadi. Seperti keadaan kita sekarang ini. Tentu saja rasa takut akan timbul kalau kita membayangkan apa yang akan dapat terjadi terhadap diri kita."

"Lalu, apakah kita harus tidak mengacuhkan apa yang boleh terjadi kepada kita dan tidak perduli?" Retno Wilis mengejar.

"Bukan tidak acuh atau tidak perduli, melainkan tidak membayangkan apa yang akan datang. Hal itu bukan berarti bahwa kita tidak melakukan usaha untuk menolong diri sendiri. Akan tetapi seluruh hati akal pikiran ditujukan kepada masa kini, saat ini dan kalau kita mencurahkan kepada saat ini, maka mungkin akan terbuka mata kita untuk melihat kemungkinan-kemungkinan kita dapat menolong diri sendiri, dengan landasan penyerahan kepada kekuasaan Hyang Widhi. Bagiku, setiap detik, setiap saat kita harus selalu ingat dan waspada, diajeng."

"Ingat kepada siapa dan waspada terhadap apa, kakang?"

"Ingat kepada Sang Hyang Widhi yang berarti penyerahan diri secara mutlak ke Tangan Hyang Widhi, dan waspada akan diri sendiri, apa yang kita pikirkan, ucapkan atau lakukan."

Suasana hening meliputi hati Retno Wilis. Seperti terbuka mata hatinya dan sadarlah ia bahwa suka duka datang silih berganti dalam kehidupan manusia dan justeru itulah romantika kehidupan. Hidup merupakan tantangan dan kita harus berani menghadapi setiap tantangan dengan mata terbuka, tidak melarikan diri dari keadaan yang bagaimanapun juga. Menghadapi dan mengatasi setiap tantangan, itulah seninya hidup! Akan tetapi, kalau hidup hanya untuk diombang-ambingkan antara suka dan duka, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan kehidupan ini? Hatinya merasa penasaran dan ia langsung mengajukan pertanyaan yang timbul dalam hatinya itu kepada Jayawijaya.

"Kakang, kalau begitu, lalu apa artinya hidup ini? Apa tujuan dari pada kehidupan ini? Apa maksudnya kita dihidupkan sebagai manusia di dunia ini?"

Jayawijaya tersenyum lebar mendengar pertanyaan ini dan memandang kepada Retno Wilis dengan mata bersinar lembut dan penuh ketenangan dan kesabaran.

"Diajeng Retno Wilis, sudah seringkali aku mendengar pertanyaan ini diajukan orang. Sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan apa tujuan dari pada kehidupan ini, mari kita mengamati keadaan diri kita sebagai manusia yang dilahirkan di dunia melalui ayah bunda kita. Ingat, kita ini dilahirkan, di luar kehendak kita. Tidak ada manusia di dunia ini yang minta dilahirkan. Jadi kelahiran kita ini bukan kehendak kita, melainkan kehendak Sang Hyang Widhi! Karena kita dilahirkan di luar kehendak kita, maka tentu saja bagi kita tidak ada tujuan apapun dalam kehidupan ini. Kita dilahirkan atas kehendak Yang Maha Kuasa, maka Dialah yang berkehendak dan bertujuan! Bukan kita. Kita hanya tinggal hidup saja, tidak menguasai apapun. Bahkan kita tidak menguasai rambut kita sendiri. Tidak ada selembarpun rambut di tubuh kita yang kita kuasai sehingga kita tidak dapat mengatur pertumbuhannya. Kita tidak memiliki apa-apa, bahkan yang menempel di tubuh kita-pun bukan milik kita. Seluruh diri kita ini ada yang Memiliki, ada yang Menguasai. Berhentinya kehidupan kita terserah kepada Yang Memiliki dan Yang Menguasai itulah. Hanya, ketika kita dilahirkan, diciptakan di dunia ini sebagai manusia hidup, kita disertai tanggung jawab, disertai kewajiban-kewajiban untuk menghadapi segala kenyataan dan mengatasinya, seperti yang telah kukatakan tadi. Kita harus menghadapi segala tantangan dan mengatasinya, itulah kenyataan hidup. Perut kita lapar dan kalau tidak diisi kita akan mati kelaparan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mengisinya, dan untuk dapat mengisinya sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari makanan pengisi perut itu. Demikian pula dengan hal-hal lain. Dan Gusti Yang Maha Kasih telah menciptakan kita secara sempurna. Untuk dapat memenuhi kewajiban itu kita telah disertai segala macam alat. Setiap anggota tubuh kita ini bermanfaat, berguna untuk mempertahankan hidup. Demikianlah kehendak Hyang Widhi. Kita tidak dapat menentang kehendakNya. Karena itu, satu-satunya cara hidup yang baik adalah menyerah kepada kekuasaanNya, menyerah kepada kehendakNya. Apapun yang terjadi kepada kita, kita harus mengucap syukur karena berkahNya berlimpah-limpah setiap saat tanpa henti, walaupun berkah itu terkadang terselubung dan bersembunyi di balik peristiwa yang bagi hati akal pikiran kita terasa tidak enak atau tidak menguntungkan. Segala kehendak Hyang Widhi atas-diri kita adalah baik dan benar dan kita tidak dapat menilainya melalui pertimbangan hati akal pikiran kita, karena semua penilaian hati akal pikiran bersifat mementingkan diri sendiri, mementingkan kesenangan dan keuntungan diri sendiri. Mengertikah engkau mengapa aku setiap saat menyerah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, diajeng?"

Retno Wilis mengangguk, kehabisan bahan untuk bicara. Ia merasa bahwa segala sesuatu tentang hidup sudah tercakup dalam kata-kata Jayawijaya tadi, dan ia sudah tidak perlu mengetahui hal yang lain lagi tentang kehidupan. Sekarang mulailah ia mengerti mengapa Jayawijaya tidak pernah merasa takut menghadapi apapun juga. Mengapa Jayawijaya tidak pernah menggunakan kekerasan, namun tidak takut menghadapi kekerasan itu sendiri. Cara penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa secara mutlak lahir dan batin. Akan tetapi ia sangsi apakah ia mampu bersikap seperti Jayawijaya! Agaknya tidak mungkin dapat. Gairah hidupnya masih penuh semangat, bergelora dan ia tidak mungkin dapat mengalah terhadap kekerasan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya. Pasti akan dilawannya sekuat tenaga!

"Kakang, untuk dapat bersikap seperti engkau ini, dibutuhkan kekuatan yang luar biasa, melebihi tenaga sakti yang manapun. Engkau telah membuat dirimu lebih kuat daripada segala cipta, rasa dan karsamu sendiri, engkau telah mengalahkan segala nafsu-nafsumu! Hal itu tidak mungkin dapat tercapai oleh aku yang lemah ini."

Jayawijaya tertawa dan suara tawanya membuat Retno Wilis menyadari bahwa yang berada di depannya bukanlah dewa, melainkan manusia biasa.

"Diajeng, akupun tidak dapat melepaskan diri dari nafsu-nafsuku. Kalau aku melepaskan diri dari nafsu, aku tidak akan dapat bertahan hidup di dunia ini. Nafsu adalah keduniawian. Nafsu adalah alat-alat yang kita pergunakan untuk dapat hidup dan untuk menikmati kehidupan itu sendiri. Akan tetapaku selalu memohon kekuatan dari Hyang Widhi agar nafsu tidak sampai memperbudak aku, agar nafsu-nafsuku tetap menjadi peserta, menjadi alat yang baik dan berguna, bukan menjadi majikan atas diriku, bukan menjadi kuda-kuda binal yang akan menyeret kereta berikut kusirnya ke dalam jurang."

"Kuda-kuda binal, kakang? Apa pula maksudnya itu?"

"Diajeng Retno Wilis yang bijaksana. Nafsu dapat diibaratkan api yang kalau kita kuasai akan menjadi alat yang amat berguna dan mutlak bagi kehidupan akan tetapi kalau menjadi liar akan membakar dan melahap segala yang berada di depannya. Nafsu-nafsu juga dapat diibaratkan kuda-kuda penarik kereta, di mana terdapat sang kusir, kereta adalah badan jasmani kita sedangkan kusirnya adalah rohani kita. Kalau kuda-kuda penarik itu dapat dijinakkan, maka mereka akan dapat menarik kereta sehingga maju ke arah yang semestinya. Akan tetapi kalau kuda-kuda itu menjadi liar sehingga sang kusir tidak lagi mampu mengendalikannya, kuda-kuda itu akan kabur dan mungkin akan menyeret kereta berikut kusirnya masuk ke dalam jurang."

"Ah, begitukah? Jadi kuda-kuda itu amat penting untuk menarik maju sang kereta, akan tetapi juga amat berbahaya kalau sampai menjadi liar? Begitukah nafsu-nafsu kita itu, kakang? Lalu bagaimana upaya kita agar nafsu-nafsu kita tidak menjadi liar dan tetap menjadi peserta yang baik? Bagaimana cara kita untuk dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri?"

"Kita tidak dapat menundukkan nafsu-nafsu kita sendiri karena kita memang bergantung kepada mereka. Akan tetapi nafsu-nafsu itu diikut sertakan kepada kita sejak kita lahir, merupakan anugerah pemberian Hyang Widhi sebagai penciptanya. Karena itu, satu-satunya jalan untuk dapat menempatkan nafsu-nafsu di kedudukannya semula, yaitu sebagai peserta dan pelayan, hanyalah menyerah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Hanya kekuasaan Hyang Widhi yang mampu menundukkan nafsu-nafsu yang suka meliar itu, diajeng."

Kembali hening mengikuti percakapan, ini. Retno Wilis termenung dan semakin merasa bahwa ia akan selalu berada dalam keadaan damai dan tenteram kalau berdekatan dengan pemuda ini. Ia merasa terharu sekali, merasa bahwa selama hidupnya baru kini ia bertemu dengan seorang yang benar benar dikaguminya lahir batin, ia melihat seorang laki-laki yang benar-benar gagah perkasa, yang berani menentang bahaya bahkan maut dengan dada terbuka, sedikitpun tidak ada rasa takut, dengan hati bersih tidak terkandung perasaan bermusuhan apa lagi benci! Dan setelah ia termenung dan tenggelam dalam renungannya, Retno Wilis melihat bahwa ia telah jatuh cinta kepada pria itu! Rasa kagum bercampur dengan rasa iba dan sayang, membuatnya timbul keinginan untuk dapat membahagiakan pria yang dikaguminya itu.

Malam tiba. Dari sela-sela jeruji, penjaga memasukkan makanan yang terbungkus daun pisang dengan minuman. Retno Wilis membiarkannya saja. Akan tetapi Jayawijaya lalu mengambil bungkusan nasi dan lauk pauknya itu, membawanya ke dekat Retno Wilis. Sinar lampu menyorot dari luar, memberi penerangan yang cukup ke dalam kamar tahanan itu.

"Diajeng Retno Wilis, silakan makan dan minum hidangan antaran mereka ini," kata Jayawijaya lirih.

"Hemm, aku tidak suka dengan makanan pemberian mereka, kakang," jawab Retno Wilis dengan alis berkerut. Ia tahu bahwa penolakannya itu bukan hanya karena perasaan tidak senang kepada musuh-musuhnya, melainkan juga karena rasa khawatir kalau-kalau makanan itu diberi racun.

"Orang tidak tahu apa saja yang dapat dilakukan orang-orang licik dan curang seperti itu! Dan kurasa sebaiknya kalau engkau juga jangan makan suguhan mereka ini, kakang Jaya."

"Akan tetapi mengapa, diajeng? Sudah sejak pagi kita tidak makan dan perut kita menuntut isi. Kalau tidak makan malam ini, besok kita akan merasa lemah padahal dalam keadaan seperti ini kita perlu menjaga kesehatan dan tenaga. Makanlah, diajeng, biarpun hanya sedikit," Jayawijaya membujuk.

"Terus terang saja, kakang. Aku sangsi akan kebersihan makanan dan minuman ini. Ingat, mereka adalah orang-orang sesat. Bisa saja mereka mencampuri makanan ini dengan racun untuk membunuh kita."

Jayawijaya tersenyum. "Percayalah akan kekuasaan Hyang Widhi, diajeng. Kekuasaan itu tidak akan membiarkan kita diracuni orang. Mulut kita tidak akan mau menelan kalau makanan atau minuman ini mengandung racun. Marilah, biar aku dulu yang mulai makan dan minum untuk membuktikan bahwa tidak ada racun dalam hidangan ini."

Jayawijaya lalu menuangkan air teh dari poci itu ke dalam cangkir yang disediakan, kemudian menempelkan bibir cangkir pada bibirnya. Diminumnya sedikit demi sedikit air teh itu dan ditelannya. Tidak terjadi sesuatu. Kemudian diambilnya sebungkus nasi dan dimakannya. Juga tidak terjadi sesuatu.

"Nah, jelas bahwa dalam hidangan makanan dan minuman ini tidak ada racunnya, diajeng. Mari silakan makan dan minum."

Retno Wilis merasa tidak enak untuk menolak terus. Juga kekhawatirannya hilang. Kalau tidak ada Jayawijaya di situ, biar bagaimanapun juga ia tidak akan mau menyentuh makanan dan minuman itu. Mulailah ia minum dan makan untuk menenangkan perutnya yang memang lapar dan tenggorokannya yang memang haus. Setelah selesai makan dan minum, Jayawijaya membawa sisa makanan dan bekas hidangan itu ke pintu dan mengeluarkannya lewat sela-sela jeruji. Kemudian kembali dia duduk bersila di depan Retno Wilis seperti tadi.

"Mengaso dan tidurlah kalau engkau lelah dan mengantuk, diajeng."

"Aku tidak akan dapat tidur, akan tetapi aku sudah terbiasa beristirahat dengan duduk bersila dan bersamadhi, kakang."

"Bagus kalau begitu. Mari kita mengaso, diajeng."

Mereka tetap duduk bersila. Malam semakin larut dan Retno Wilis sudah membuat perhitungan bagaimana kalau ia berusaha meloloskan diri bersama Jayawijaya. Pintu jeruji besi itu bukan apa-apa baginya. Dengan aji kesaktiannya dan kekuatan yang timbul dari hawa sakti, ia tentu akan mampu menjebol pintu itu. Pedang pusaka Sapudenta juga tentu akan mampu mematahkan jeruji-jeruji besi itu. Dan belasan orang perajurit penjaga di luar pintu kamar tahanan, dapat dengan mudah ia robohkan. Akan tetapi bagaimana kalau Wasi Shiwamurti dan kawan-kawannya datang? Mereka terlalu kuat baginya. Dan juga Jayawijaya belum tentu mau, bahkan ia hampir yakin bahwa pemuda itu tentu akan menolaknya untuk melarikan diri dengan menggunakan kekerasan. Ah, biarlah. Ia akan melihat apa yang hendak dilakukan pemuda luar biasa itu dan ia hanya akan menurut saja apa kehendaknya. Iapun mulai belajar pasrah dan menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kuasa!

Menjelang fajar. Suasana semakin hening. Para penjaga tidak terdengar lagi bicara, bahkan ada suara mendengkur. Agaknya mereka telah tertidur! Hawa udara yang dingin memasuki ruangan kamar tahanan itu, begitu dinginnya sehingga Retno Wilis dan Jayawijaya sadar dari Samadhi mereka. Tiba-tiba terdengar suara di pintu besi dan tampak sesosok bayangan orang ditimpa sinar lampu dari luar. Sesosok bayangan seorang wanita! Agaknya wanita itu sedang membuka kunci pintu penjara dan tak lama kemudian pintu itu terbuka. Bau harum menerpa hidung kedua orang tahanan itu. Retno Wilis segera mengenal wanita itu yang bukan lain adalah puteri Sang Adipati Menak Sampar yang cantik jelita itu.

Gadis itu memang Dyah Ayu Kerti, puteri sang adipati! Retno Wilis segera bangkit berdiri dan bertanya kepada puteri adipati itu. "Siapa andika dan mau apa andika memasuki kamar tahanan ini?"

Akan tetapi Dyah Ayu Kerti tidak memperdulikan pertanyaan Retno Wilis. Ia menghampiri Jayawijaya yang masih duduk bersila dan berkata dengan bisikan lembut.

"Kakangmas Jayawijaya, aku Dyah Ayu Kerti datang untuk membebaskanmu, kakangmas. Andika berdua boleh pergi dan melarikan diri sekarang juga."

Jayawijaya bangkit berdiri dan memandang gadis jelita itu dengan heran. "Bukankah andika ini puteri Sang Adipati Menak Sampar? Bagaimana andika dapat masuk ke sini? Para penjaga itu... "

"Ssssssttt... kakangmas Jayawijaya, jangan keras-keras andika bicara. Mereka sudah tertidur semua, terkena aji penyirepanku," kata Dyah Ayu Kerti lirih sambil meletakkan telunjuknya di depan sepasang bibirnya yang merah merekah.

"Akan tetapi ramamu? Para wasi itu?" tanya pula Jayawijaya dengan heran.

"Mereka sedang berpesta mabuk-mabukan semalam suntuk untuk merayakan kemenangan mereka atas tertawannya andika berdua."

"Akan tetapi... mengapakah andika membebaskan kami?" tanya pula Jayawijaya.

"Karena aku merasa kasihan kepada andika, aku... aku... "

Retno Wilis kehilangan kesabarannya, ia menyambar tangan Jayawijaya dan menariknya sambil berkata, "Marilah, kakang. Kesempatan terbuka bagi kita untuk melarikan diri. Jangan disia-siakan kesempatan ini!" Ia menarik Jayawijaya keluar dari kamar tahanan itu dan lari melalui lorong di mana para penjaga malang melintang dalam keadaan pulas.

Mereka berdua melangkahi tubuh para penjaga itu. Retno Wilis tetap menggandeng tangan Jayawijaya yang agaknya tidak tampak tergesa-gesa, seperti orang hendak pergi berjalan-jalan saja, bukan melarikan diri!

"Kakangmas Jayawijaya... !"

Mereka berhenti mendengar seruan ini dan melihat Dyah Ayu Kerti berlari-lari menghampiri mereka. Setelah dekat, Dyah Ayu Kerti memegang tangan Jayawijaya yang sebelah lagi dengan erat dan ia berkata, wajahnya berubah kemerahan.

"Kakangmas, bawalah aku. Aku ikut, kakangmas Jayawijaya... "

"Ehhhh?? Ikut bagaimana? Aku tidak mengerti maksudmu."

"Ikut ke mana saja andika pergi. Aku... aku... ingin menemanimu, selamanya... !"

Panas rasa perut Retno Wilis, diamuk cemburu! Ia cepat menepiskan tangan gadis puteri adipati itu yang memegangi tangan Jayawijaya sehingga terlepas dan ia menghardik, "Perempuan tak tahu malu! Hayo, kakang Jayawijaya, kita lari dan jangan perdulikan gadis gila ini!" Dan diapun menarik lagi pemuda itu, lari keluar dari bangunan itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

Dyah Ayu Kerti yang masih berdiri di lorong itu tidak mengejar lagi, akan tetapi ia menangis sesenggukan dengan hati duka. Ia telah jatuh kasmaran (cinta) kepada pemuda yang luar biasa itu, tergila-gila dan ingin sekali hidup bersama pemuda itu untuk selamanya. Akan tetapi di sana ada Retno Wilis yang agaknya merebut pemuda itu dan ia merasa tidak mampu untuk menandingi wanita perkasa itu. Ia sendiri memiliki aji penyeripan dan beberapa macam ilmu kadigdayaan, akan tetapi apa artinya kalau dibandingkan dengan Retno Wilis yang demikian sakti?

Tiba-tiba muncul Sang Adipati Menak Sampar, Wasi Shiwamurti, Wasi Karangwolo Ni Dewi Durgomala, Ki Shiwananda dan dua orang senopati Blambangan, yaitu senopati Rajah Beling dan Senopati Kurdolangit, diikuti belasan orang perajurit pengawal. Melihat puterinya berada di luar tempat tahanan sambil menangis, sang adipati menghampiri dan bertanya heran,

"Dyah Ayu Kerti! Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa pula engkau menangis?" Sang adipati melihat para perajurit penjaga yang malang melintang dalam keadaan tidur. Sambil mengerutkan alisnya karena puterinya tidak menjawab pertanyaannya, dia lalu memerintahkan dua orang senopatinya.

"Periksa ke dalam kamar tahanan!"

Dua orang senopati itu berlari cepat, berloncatan melangkahi para perajurit penjaga yang tertidur lalu masuk ke dalam. Tak lama kemudian keduanya keluar lagi dan wajah mereka berubah pucat.

"Celaka, kanjeng gusti! Dua orang tawanan telah lolos!" kata Senopati Kurdolangit.

"Wah, celaka! Dyah Ayu Kerti, apa yang telah terjadi?" bentak sang adipati kepada puterinya.

Sambil menangis sesenggukan akhirnya gadis itu menjawab, Aku... aku... telah membebaskan mereka, kanjeng rama... "

Sang adipati marah sekali. Matanya melotot memandang kepada puterinya tersayang itu dan dia menggeram. "Akan tetapi mengapa?"

"Aku... aku kasihan... kepada... kakangmas Jayawijaya..."

"Celaka!" seru sang adipati. "Mari kita kejar. Mereka tentu belum berlari jauh," kata Wasi Shiwamurti kepada kawan-kawannya dan dia melompat keluar, diikuti oleh rekan-rekannya, juga oleh dua orang senopati dan belasan perajuritnya yang dibentak oleh sang adipati untuk ikut pula melakukan pengejaran.

Sementara itu, Adipati Menak Sampar dengan marah sekali akan tetapi dia terlalu sayang kepada puteri tunggalnya untuk memarahinya terus, menarik tangan puterinya dan diajak kembali ke gedungnya.

********************

"Perlahan dulu, diajeng Retno! Kenapa engkau menyeretku seperti ini?" keluh Jayawijaya yang terpaksa ikut berlari karena tangannya ditarik dengan kuat oleh Retno Wilis.

Retno Wilis berhenti dan memandang kepadanya dengan wajah cemberut. Mereka telah berlari agak jauh juga karena sekarang fajar telah menyingsing, sinar matahari mulai mengusir kegelapan malam yang meninggalkan kabut.

"Agaknya andika tidak ingin sekali untuk melarikan diri, ya kakang Jaya?"

"Eh, kenapa engkau bertanya demikian? Tentu saja aku ingin terlepas dari kurungan mereka," kata Jayawijaya sambil menghapus keringatnya, berlari-lari sejak tadi melelahkannya dan membuatnya berkeringat.

"Ah, mengakulah saja terus terang. Andika tentu ingin sekali tinggal di sana agar dapat bersama-sama dengan gadis cantik jelita puteri Sang Adipati tadi!"

"Lho! Kenapa engkau berkata demikian?"

"Apakah engkau tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu, kakang? Dyah Ayu Kerti yang cantik jelita itu tergila-gila kepadamu! Ia telah jatuh cinta kepadamu, kakang, maka ia berani mati membebaskanmu. Kenapa engkau tadi tidak menerimanya ketika ia hendak ikut dan ingin menemanimu selama hidupnya?" Dengan wajah cemberut Retno Wilis lalu melangkah lagi, kini tidak mengandeng tangan Jayawijaya seolah hendak meninggalkan pemuda itu. Jayawijaya mengikutinya dari belakang.

"Begitukah perkiraanmu? Aku sendiri tidak mengira... "

"Hemm, jelas sekali bahwa ia mencintamu. Kalau tidak, mengapa ia membebaskanmu?"

"Aku hanya menganggapnya sebagai uluran Kekuasaan Tuhan yang hendak menolong kita melalui tangan puteri itu, diajeng."

"Hemm, apapun anggapanmu, jelas bahwa puteri itu jatuh cinta kepadamu."

"Andaikata benar demikian, apakah hal itu karena kesalahanku, diajeng? Aku tidak sengaja... "

Retno Wilis berhenti melangkah dan menatap tajam wajah pemuda itu. "Kakang Jayawijaya, apakah engkau tidak tertarik? Ingat, ia seorang gadis yang amat cantik jelita dan ia puteri seorang adipati yang berkuasa pula, gadis bangsawan, kaya raya dan cantik jelita. Kalau engkau menjadi suaminya, engkau tentu akan menjadi mantu adipati dan memperoleh derajat dan pangkat tinggi, menjadi orang yang mulia, terhormat dan disegani orang sekadipaten Blambangan!"

Jayawijaya tersenyum geli ketika dia memandang kepada gadis yang diam-diam menjadi pujaan hatinya itu. "Diajeng, aku tidak mengerti mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku. Pernikahan hanya mempunyai satu saja syarat, yaitu cinta kasih. Dan cinta kasih ini tidak memandang kecantikan, derajat pangkat atau harta, bukan pula keturunan. Dyah Ayu Kerti hendak ikut denganku, bagaimana mungkin aku dapat menerimanya? Ia seorang puteri adipati, dan aku seorang kelana. Juga tidak mungkin menemaniku selama hidupnya karena hal itu berarti bahwa aku harus menjadi suaminya, padahal tidak ada cinta kasih dalam hatiku terhadap dirinya."

Retno Wilis menunduk dan senyum berkembang di bibirnya. Wajahnya yang jelita itu berseri, semringah. "Aku... aku girang mendengar pertanyaanmu itu, kakang Jayawijaya."

Jayawijaya menatap tajam wajah gadis itu. "Diajeng, aku heran sekali mengapa engkau tadi seperti orang marah-marah."

Retno Wilis masih menundukkan mukanya dan matanya mengerling ke arah pemuda itu. Lalu katanya lirih, "Aku tidak senang karena gadis itu mencintamu..."

"Dan engkau mengira bahwa aku juga membalas cintanya?"

Dengan suara masih lirih Retno Wilis menjawab, "Aku... khawatir begitu."

"Kalau begitu, ah, benarkah dugaanku ini bahwa engkau... cemburu, diajeng?"

Wajah Retno Wilis menjadi merah sekali, kepala semakin menunduk dan suaranya semakin lirih. "Aku... aku malu, kakang..."

"Kenapa, diajeng? Karena cemburu? Kita ini manusia biasa, diajeng, dan adalah wajar kalau kita masih dipermainkan perasaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu kita. Masih baik kalau kita tidak menjadi buta oleh nafsu, melainkan dapat mempergunakan nafsu secara wajar. Kalau engkau cemburu, hal itu adalah manusiawi, diajeng. Tidak perlu membuatmu malu. Aku sendiri, akupun seorang manusia biasa yang sadar akan kelemahanku. Karena merasa diri lemah inilah maka aku selalu bersandar kepada Kekuasaan Hyang Widhi, selalu menyerah. Engkau tidak ingin melihat seorang wanita lain mencintaku, hal itu berarti bahwa engkau cinta kepadaku, bukan?"

Kini Retno Wilis menundukkan mukanya sampai dagunya mepet dengan bawah lehernya, jantungnya berguncang keras dan napasnya tersendat...

SEPASANG GARUDA PUTIH JILID 14