Sepasang Garuda Putih Jilid 12

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Garuda Putih Jilid 12

SUARA suling itu mengalun naik turun. Lengkingannya yang merdu itu mendendangkan tembang Megatruh yang mengiris kalbu dan mendatangkan rasa trenyuh bagi siapa yang mendengarnya. Suara suling bambu yang mendayu-dayu itu datang dari sebuah gubuk yang berdiri di tengah sawah yang padinya sedang tumbuh dengan suburnya, menjelang berbunga dan berbuah.

Suara itu seperti rintihan yang memanggil-manggil jiwa Saritem. Gadis ini tahu belaka siapa peniup suling bambu itu. Ia sudah mengenal benar tiupan suling itu. Siapa lagi kalau bukan Saptoko yang pandai menyuling seperti itu. Lengkingan suara suling seperti mempercepat larinya di sepanjang pematang sawah, menuju ke gubuk yang diterangi sebuah-lampu minyak kelapa yang kecil.

Akhirnya tibalah ia di dekat gubuk itu dan dengan hati penuh perasaan iba ia memandang sesosok tubuh yang rebah telentang di atas gubuk sambil meniup suling bambu. Saptoko yang sedang asyik dibuai perasaannya sendiri yang hanyut oleh tiupan sulingnya, tidak mendengar dan tidak tahu bahwa gubuknya dihampiri orang. Dia meniup terus sampai selesai memainkan tembang Megatruh yang mendayu-dayu itu. Setelah selesai memainkan tembang itu, dia bangkit duduk dan hendak meniup lagi tembang yang lain. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara merdu memanggilnya.

"Kakang Saptoko.... !"

Saptoko menaruh sulingnya di dalam gubuk dan dia meloncat turun, menyambut gadis yang baru tiba.

"Saritem! Kenapa engkau menyusulku ke sini?"

"Kakang, engkau pergi begitu terpukul, aku harus menemuimu dan membicarakan sesuatu denganmu." Saritem lalu menghampiri dan iapun naik ke dalam gubuk dan duduk di sebelahnya.

"Saritem, apa yang dapat dibicarakan lagi? Aku telah dikalahkan Ki Blekok, tidak berhasil melindungimu dan aku tidak tahu bagaimana aku harus melindungi nanti kalau Ki Blekok muncul. Aku seorang laki-laki sejati, Saritem, dan aku akan mempertahankan kehormatanmu biarpun aku harus mati di tangan Ki Blekok. Akan tetapi apa yang terjadi? Hari ini aku kalah pula oleh seorang pemuda remaja yang berani menggodamu. Ah, sudahlah, apa lagi yang dapat dibicarakan? Aku siap mati nanti kalau Ki Blekok muncul! Hanya jiwa dan kematianku yang dapat kupersembahkan kepadamu sebagai bukti cintaku."

"Kakang Saptoko... !!" Saritem merangkul leher pemuda itu dengan kedua tangannya dan menjatuhkan mukanya di dadanya. Saptoko memeluknya dengan hati terasa sebesar gunung. "Kakang Saptoko, terima kasih atas cintamu yang demikian besar kepadaku, akan tetapi dengarlah dulu, jangan putus asa seperti itu, kakang. Dengarlah, orang yang kau kira menggodaku itu, pemuda yang masih remaja itu, dia adalah kakangmas Waras dan sahabatnya bernama kakangmas Jayawijaya. Mereka sama sekali bukan orang jahat atau orang kurang ajar, kakang. Bahkan aku telah menceritakan semua tentang halnya Ki Blekok dan mereka berdua sudah berjanji bahwa mereka yang akan menanggulangi kalau Ki Blekok datang hendak memboyongku ke dusunnya!"

"Saritem, bagaimana aku dapat menerima bantuan itu? Apa akan kata orang kalau aku mengandalkan dua orang asing untuk membantuku menghadapi Ki Blekok? Kehormatan dan harga diriku akan amblas, Saritem. Tidak, aku terpaksa menolak uluran tangan kedua orang asing itu dan aku harus dengan kaki tanganku sendiri menghadapi Ki Blekok sebagai seorang laki-laki sejati yang melindungi dan mempertahankan kekasihnya!"

Terdengar tepuk tangan menyambut ucapan yang gagah ini. "Waduh gagahnya, seperti Raden Gatutkaca saja! Hebat andika, Saptoko. Akan tetapi apa arti semua kegagahan itu kalau tidak ada isinya? Apa artinya semua pengorbananmu, bahkan nyawamu, kalau akhirnya Saritem diboyong dan dipaksa menjadi isteri Ki Blekok? Harga diri dan kehormatan itu memang perlu bagi seorang laki-laki sejati, akan tetapi kalau keterlaluan lalu menjadi semacam keangkuhan yang sama sekali tidak ada manfaatnya bahkan merugikan diri sendiri!"

Saptoko melompat turun dari atas gubuknya dan dia berhadapan dengan Joko Waras dan Jayawijaya.

"Apa yang dikatakan adi Joko Waras itu benar, kisanak. Pengorbananmu itu tidak ada artinya kalau kekasihmu tetap akan dipaksa menikah dengan orang lain," kata Jayawijaya dengan suaranya yang lembut.

"Akan tetapi bagaimana aku dapat menentang orang yang mengganggu Saritem dengan minta bantuan dua orang asing? Itu akan merendahkan kehormatanku."

"Saptoko yang angkuh!" kata Joko Waras. "Baiklah, kalau engkau merasa direndahkan kalau kami membantumu, kami tidak akan membantumu sama sekali. Kalau jahanam Ki Blekok itu berani datang di dusun ini, kami yang akan mengusirnya, tanpa menyebut namamu. Kami akan membuat dia bertaubat dan tidak akan berani memaksakan kehendaknya lagi. Dan ada lain jalan yang tidak akan menyinggung harga dirimu yang demikian mahal, yaitu kalau besuk pagi-pagi engkau mau datang ke gubuk ini, aku akan menunggumu dan aku akan mengajarkan semacam ilmu yang dapat kau pergunakan untuk menundukkan Ki Blekok. Bagaimana pendapatmu?"

"Kakang! Aku sudah bilang. Mereka ini adalah ksatria-ksatria yang berbudi. Terimalah penawarannya itu, kakang, demi aku!"

"Hemm, jalan itu memang baik sekali. Dan alangkah baiknya kalau aku sendiri yang dapat mengalahkan Ki Blekok. Baiklah, Joko Waras. Aku terima uluran tanganmu dan besuk pagi-pagi aku akan berada di tempat ini."

"Bagus! Sekarang, kami akan pergi mencari tempat menginap!" Joko Waras menggandeng tangan Jayawijaya.

"Mari kakang Jaya, kita pergi dan jangan mengganggu keasyikan mereka!" kata Joko Waras dengan sikap jenaka sehingga sepasang muda-mudi yang ditinggalkan itu tersipu dan menjadi merah mukanya.

Malam itu dengan mudah Joko Waras dan Jayawijaya mendapatkan tempat untuk bermalam, di rumah kepala dusun yang sudah mendengar akan sepak terjang mereka. Kepala dusun sendiri merasa cemas dengan ancaman Ki Blekok dan diapun tidak berani menghadapi Ki Blekok yang jagoan, maka mendengar bahwa ada dua orang pemuda asing yang dating ke dusun itu dan bersedia menolong dengan senang hati dia menawarkan tempat untuk bermalam bagi kedua orang pemuda itu.

"Kakang Jayawijaya, aku mempunyai kebiasan buruk sekali yang sudah kubiasakan sejak kecil, yaitu aku tidak dapat tidur sepembaringan dengan orang lain. Karena itu, biarlah engkau tidur di pembaringan itu dan aku akan tidur di lantai saja."

Jayawijaya yang lembut hati itu tentu saja menolak dengan keras. "Tidak, adi, Joko. Aku yang lebih tua, maka sudah sepatutnya aku yang mengalah. Aku sudah terbiasa tidur di tempat dingin. Di Tengger sana, aku dapat tidur di lantai tanah, apalagi di sini yang hawanya tidak begitu dingin. Tidurlah di atas, adi Joko dan aku akan tidur di bawah."

"Terima kasih, kakang Jaya, engkau memang seorang kakak yang baik hati sekali." Joko Waras memberi hadiah senyuman yang manis.

Pada keesokan harinya, Jayawijaya menyentuh kaki Joko Waras dan mengguncang tubuhnya. "Adi Joko, ayam telah berkokok. Ingat akan janjimu kepada Saptoko!"

Joko Waras menggeliat seperti seekor kucing lalu bangkit dan tersenyum. "Enak sekali tidurku semalam," katanya dan ia lalu cepat pergi ke sumur di belakang rumah untuk membersihkan diri dan sudah siap berangkat.

Tanpa mengganggu keluarga Lurah mereka berdua lalu meninggalkan rumah itu dan menuju ke sawah di luar dusun. Di gubuk yang semalam, mereka menemukan Saptoko telah duduk menanti dan dia segera meloncat turun ketika melihat mereka berdua.

"Ilmu apa yang akan andika ajarkan kepadaku, adimas Joko Waras?" tanya Saptoko dengan sikap ramah setelah semalam dia mempertimbangkan segalanya dan disadarkan oleh Saritem bahwa dia telah bersikap terburu nafsu terhadap dua orang muda penolong itu.

"Adi Joko yang akan mengajarkan ilmu kepadamu, aku sendiri tidak bisa apa-apa," kata Jayawijaya.

"Kakang Saptoko, sebelum aku menentukan ilmu apa yang kuajarkan, aku ingin tanya dulu sampai di mana tingginya ilmu kepandaian Ki Blekok itu. Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu silatmu?"

Saptoko tersipu. "Sebetulnya selisihnya tidak berapa banyak, hanya aku kalah dalam hal tenaga, juga kecepatan. Pertandingan kami berlangsung seru akan tetapi akhirnya aku kalah."

Joko Waras tersenyum. "Ah, sepele kalau begitu. Hanya menang sedikit di atas tingkat Saptoko. Dan apakah dia menggunakan Senjata?"

"Ketika bertanding denganku dia tidak menggunakan senjata, akan tetapi andaikata dia yang terdesak tentu dia akan mencabut kerisnya yang besar dan panjang."

"Bagus! Kalau begitu aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana untuk melawan kerisnya dan mengalahkannya."

Saptoko tertegun. "Mengalahkan kerisnya? Dengan senjata apa?"

"Senjatamu yang paling ampuh, ialah sulingmu itu. Mana sulingmu yang kemarin sore engkau tiup dengan indahnya itu?"

Saptoko semakin heran. "Sulingku? Akan tetapi, adimas. Sulingku itu hanya sebatang suling bambu. Bertemu tangan saja dapat patah dan remuk, apa lagi bertemu keris!"

"Hemm, engkau agaknya masih belum percaya padaku. Ambil sulingmu!"

Saptoko mengambil suling itu dari dalam gubuk dan menyerahkannya kepada Joko Waras. Sebatang suling bambu yang panjangnya setengah lengan.

"Apakah engkau memiliki senjata tajam di sini?"

Saptoko menggeleng kepala. "Bukan senjata, hanya sebatang arit."

"Bagus, ambillah arit itu."

Arit diambil dan Joko Waras lalu berkata, "Sekarang pergunakan arit itu untuk menyerangku, akan kuperlihatkan bagaimana sebatang suling bambu dapat mengalahkan sebatang arit!"

Karena masih belum dapat percaya, Saptoko lalu mau mencobanya. "Lihat seranganku!" teriaknya sambil mengayun arit itu menyerang, dengan cepat dan kuatnya karena ia memperhitungkan kalau pemuda remaja itu menangkis dengan suling, tentu suling bambu itu akan hancur diterjang aritnya.

Akan tetapi arit itu hanya mengenai tempat kosong dan tiba-tiba saja suling meluncur, ujungnya mengenai sambungan siku kanan dan seketika tangannya menjadi kaku dan arit itupun terlepas!

"Nah, kau lihat?" Joko Waras meyakinkan.

Saptoko menjadi bengong akan tetapi dia masih belum puas. "Kekalahanku demikian mudah karena aku yang lengah. Kalau aku berhati-hati sehingga sikuku tidak terkena sodokan suling, tentu aku belum kalah dan kalau suling itu menangkis arit, tentu sulingnya yang remuk," katanya.

"Engkau masih belum yakin bahwa sulingmu dapat mengalahkan keris lawan? Tidak baik sekali kalau engkau belum yakin, itu akan melemahkan dirimu sendiri. Sekarang coba lagi. Ambil aritmu dan serang lagi aku sesukamu."

Saptoko mengambil aritnya dan kembali dia berseru, "Awas serangan!" kini dia menyerang dengan hati-hati dan aritnya menyambar-nyambar ganas.

Namun Joko Waras dengan lincah mengelak ke sana sini dan sulingnya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan kadang suling itu menangkis arit, mengeluarkan bunyi nyaring akan tetapi sama sekali tidak pecah atau rusak ketika bertemu arit, bahkan Saptoko merasa lengan kanannya tergetar hebat. Setelah lewat belasan jurus, tiba-tiba suling itu menotok dua kali, sekali mengenai pundak kanan Saptoko dan yang kedua kali mengenai lambung dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh Saptoko terpelanting jatuh, sekali lagi aritnya terlepas dari tangan.

Setelah untuk kedua kalinya kalah, Saptoko baru yakin bahwa ilmu silat dengan suling itu hebat sekali maka diapun bangkit dan membungkuk kepada Joko Waras.

"Waduh, hebat bukan main ilmu silat suling itu, adimas Joko. Akan tetapi apakah dalam beberapa hari ini saja aku akan dapat memainkannya dengan baik?"

"Tentu saja dapat asal engkau menaati semua pesanku," kata Joko Waras.

Dan di tempat itu mulailah Joko Waras mengajarkan ilmu silat dengan suling kepada Saptoko, juga cara dia menghimpun tenaga sakti sehingga gerakan sulingnya mengandung tenaga yang dahsyat. Memang pada dasarnya Saptoko memiliki bakat yang baik sekali dan dia telah memiliki dasar ilmu silat yang cukup tinggi maka tidak terlalu sukar bagi Joko Waras untuk menurunkan ilmu lagi kepadanya.

Sementara itu, Jayawijaya hanya menonton saja dan dia merasa semakin kagum kepada Joko Waras yang masih demikian muda namun telah memiliki kedigdayaan yang tinggi. Jayawijaya sendiri tidak suka mempelajari aji kesaktian atau ilmu kedigdayaan. Sejak kecil dia digembleng oleh ayahnya Tengger untuk tidak menggunakan kekerasan dalam menghadapi segala sesuatu, melainkan menghadapinya dengan kelembutan dan kebijaksanaan.

Kalau dia terancam bahaya dia merasa terlindungi oleh Kekuasaan Hyang Widhi dan dia selalu menyerah dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Baginya sudah menjadi kepercayaan yang bulat dan mendalam lahir batin bahwa tidak ada apapun atau siapapun akan dapat mecelakainya selama Hyang Widhi melindunginya.

Dia seakan selalu berlindung di bawah bayangan Kekuasaan Hyang Widhi dengan penuh iman dan penyerahan sehingga selalu merasa aman dalam keadaan apapun, aman seperti bayi dalam gendongan Ibunya. Akan tetapi Jayawijaya kagum kepada Joko Waras karena pemuda remaja ini menggunakan semua aji kedigdayaan yang dimilikinya itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, dan menentang yang jahat.

Selama lima hari lima malam, hampir tidak pernah berhenti, Saptoko melatih dirinya dengan ilmu silat sulingnya di bawah bimbingan Joko Waras dan setelah lewat lima hari, hati Joko Waras telah merasa puas dan diam-diam dia memuji "muridnya" yang berbakat dan amat tekun itu.

Hari yang dinanti-nanti tiba. Pagi hari itu warung Saritem sudah penuh pemuda, bahkan yang tidak biasa jajan di situ, hari itu memerlukan datang untuk melihat apa yang akan dilakukan Ki Blekok terhadap gadis penjual nasi yang manis itu. Bahkan Ki lurah sendiri juga datang, hanya tidak langsung memasuki warung itu, melainkan menonton dari sebuah rumah penduduknya, tidak berapa jauh dari warung nasi itu. Setelah matahari naik tinggi dan semua orang yang datang ke warung nasi sudah sarapan pagi, muncullah orang yang ditunggu-wnggu, yaitu Ki Blekok!

Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan jalannya seperti seekor singa kelaparan, sinar matanya tajam dan penuh keangkuhan, jenggotnya sekepal sebelah dan setiap gerak geriknya menunjukkan bahwa dia seorang jagoan tulen! Di pinggangnya terselip sebatang keris yang panjang dan besar dan kepalanya memakai ikat kepala wulung. Dengan sikap congkak dia berjalan di depan, pakaiannya serba baru dan di belakangnya dia diikuti oleh belasan orang yang di antaranya ada yang membawa sebuah joli. Agaknya dia benar-benar datang hendak mengangkut atau memboyong Saritem untuk dijadikan isterinya. Karena dia yang menjadi pimpinan berlagak sombong sekali, maka belasan orang bawahannya juga semua bersikap sombong.

Setelah tiba di depan warung nasi, Ki Blekok berteriak dari luar warung dengan suaranya yang parau dan lantang. "Heii, diajeng Saritem, apakah engkau sudah siap untuk kuboyong ke Benang? Kenapa warung nasimu masih juga dibuka?"

Semua orang muda yang tadinya duduk di dalam warung sudah keluar semua dan mereka berdiri di tempat yang cukup aman. Mereka semua memandang kepada Ki Blekok dan rombongannya dengan sikap takut-takut. Karena tidak mendapatkan jawaban, Ki Blekok mengerutkan alisnya yang tebal dan dengan langkah tegap diapun menghampiri warung nasi itu dan memasukinya. Warung itu nampak sepi. Saritem duduk di belakang meja dagangannya seperti biasa dan ia hanya mengangkat muka memandang tanpa rasa takut sedikitpun kepada Ki Blekok! Dan di sebelah wanita cantik itu duduk seorang laki-laki yang bukan lain adalah Saptoko.

Tentu saja Ki Blekok menjadi marah. Dia sudah tahu bahwa Saptoko mengaku sebagai kekasih Saritem dan pernah pemuda itu dihajarnya. Sekarang pemuda itu masih berani duduk di samping Saritem dan tidak memperdulikan kedatangannya. Ki Blekok maju selangkah sehingga mendekati meja dagangan Saritem dan memandang kepada gadis itu dengan kumis bergerak-gerak dan mata terbelalak.

"Saritem! Hayo cepat keluar dan masuk ke joli yang sudah kusediakan untukmu!" bentaknya.

"Ki Blekok, sejak kapan engkau menganggap aku sebagai calon isterimu? Aku tidak pernah menerima pinanganmu dan aku tidak suka menjadi isterimu. Jangan ganggu aku dan pergilah dari sini," kata Saritem dan suaranya sedikitpun tidak menunjukkan sikap gentar.

"Brakk... !" Ki Blekok menghantam meja dengan telapak tangannya dan ujung meja tebal itu menjadi remuk. "Keluar dan masuk joli atau aku akan meruntuhkan warung nasi ini dan akan memaksamu dan menyeretmu keluar!"

"Hem, sungguh sikap yang amat tidak patut!" terdengar seruan halus.

Ki Blekok cepat memutar tubuhnya dan baru melihat bahwa di ujung bangku panjang di sebelahnya duduk dua orang pemuda, yang seorang pemuda remaja yang memandangnya dengan sikap mengejek dan senyum cengar-cengir, sedangkan yang menegurnya adalah seorang pemuda ganteng yang bersikap lembut.

"Apa katamu?" bentak Ki Blekok menghadapi dua orang pemuda yang masih duduk di bangku itu. Dia marah sekali melihat ada orang berani menegurnya.

"Ki sanak, aku mengatakan bahwa sikapmu ini sungguh tidak patut dan aku mengingatkanmu bahwa perbuatan yang tidak patut tentu akan berakibat buruk terhadap pelakunya sendiri. Engkau akan memetik buah dari pada pohon yang kau tanam sendiri, karena itu tanamlah pohon yang berguna dan baik demi kebaikanmu sendiri."

"Apa perdulimu dengan perbuatanku? setan alas!" Ki Blekok memaki dan sekali tangannya bergerak, bangku yang diduduki dua orang pemuda itu telah ditendangnya.

Joko Waras dapat meloncat sebelum tendangan tiba, akan tetapi Jayawijaya terpelanting jatuh. Akan tetapi dia bangkit berdiri lagi dan menghadapi Ki Blekok dengan sikap sedikitpun tidak merasa takut.

"Ki sanak, kuperingatkan sekali lagi. Kalau engkau lanjutkan perbuatanmu memaksa Saritem menjadi isterinya, engkau akan menyesal kelak. Bertaubatlah sekarang sebelum terlambat!"

"Keparat kau! Sudah bosan hidup rupanya!" Ki Blekok mengepal tangan kanannya dan melontarkan pukulan yang keras sekali ke wajah Jayawijaya.

Akan tetapi pada saat itu, mangkok yang terisi penuh sambal pecel telah melayang dan tepat mengenai mukanya. Tentu saja ini perbuatan Joko Waras.

"Eh, aupp... aduh pedas... !" Ki Blekok megap-megap dan mendesis-desis karena matanya yang kemasukan sambal pecel terasa pedas dan panas bukan main.

Sambil meraba-raba dia keluar dari warung nasi itu. Teman-temannya segera datang menolongnya. Ada yang membersihkan mukanya dari sambal pecel dan ada pula yang mencari air bersih untuk mencuci muka dan matanya. Akhirnya Ki Blekok dapat melihat lagi. Mukanya menjadi kemerahan dan dia sudah bertolak pinggang dan mengamangkan kerisnya ke arah warung sambil membentak.

"Eh, ki sanak yang berada di warung. Kalau memang engkau laki-laki, keluarlah dan tandingilah aku, Ki Blekok dari dusun Benang! Jangan berbuat curang seperti seorang perempuan!"

Suasana menjadi tegang dan hening setelah dia mengeluarkan tantangan itu dan semua mata ditujukan ke arah warung itu untuk melihat siapa yang akan keluar melawan Ki Blekok yang sudah mencabut kerisnya itu. Semua orang terbelalak heran dan juga khawatir ketika melihat Saptoko keluar dari warung itu dengan langkah satu-satu dan sikapnya tenang sekali, sebatang suling bamboo terselip di pinggangnya. Di belakangnya, agak jauh, keluar pula Joko Waras dan Jayawijaya, juga Saritem ikut keluar dan memandang dengan sinar mata-penuh kekhawatiran kepada kekasihnya.

"Ki Blekok! Kalau kedatanganmu untuk memaksa Saritem menjadi isterimu, akulah yang melarangmu dan akulah yang akan menandingimu!" kata Saptoko dengan kedua kaki dipentang lebar dan kedua lengan terlipat di depan dada, pandang matanya bersinar-sinar tertuju ke arah Ki Blekok.

Semua orang merasa heran dan juga khawatir. Sudah jelas bahwa beberapa hari yang lalu Saptoko tidak mampu melawan Ki Blekok dan dihajarnya, padahal ketika itu Ki Blekok hanya menggunakan tangan kosong belaka. Sekarang Ki Blekok memegang keris pusaka dan Saptoko hendak maju menandinginya? Seperti mencari mati!

"Hua-ha-ha-ha-ha! Andika yang bernama Saptoko itu, bukan? Tempo hari aku masih menaruh kasihan kepadamu dan tidak membunuhmu. Sekarang andika berani menantangku lagi? Ingat, baik-baik, orang muda. Aku adalah Ki Blekok, juara dari dusun Benang gemblengan yang sakti mandraguna. Kalau andika maju lagi sekali ini andika tentu akan mati karena aku tidak pernah mau memberi ampun untuk keduakalinya!"

"Wah-wah-wah, sumbarnya seperti dapat menggugurkan Mahameru! Padahal baru terkena sambal pecel saja sudah berkaok-kaok seperti kerbau disembelih. Ini yang namanya juara dan pendekar sambal pecel, sombongnya kepati-pati akan tetapi tidak ada artinya, gentong kosong dipukul nyaring!" tiba-tiba Joko Waras mengejeknya dan semua orang mau tidak mau tersenyum karena teringat akan peristiwa tadi ketika Ki Blekok disiram sambal pecel mukanya.

"Jahanam keparat! Jadi engkau anak kecil yang tadi melemparku dengan sambal pecel? Mari, kubunuh dulu engkau baru yang lain!" kata Ki Blekok dan dia sudah hendak mengejar Joko Waras. Akan tetapi Saptoko nenghadangnya.

"Ki Blekok, karena urusanmu mengenai Saritem, maka tidak ada lain kecuali akulah lawanmu. Saritem adalah milikku, calon isteriku, dan akulah yang akan mempertahankan kehormatannya!"

Kini kemarahan Ki Blekok sudah mencapai puncaknya, apa lagi karena ejekan JokoWaras tadi. Keris di tangannya gemetar saking marahnya dan dia memandang Saptoko dengan mata seakan hendak menelannya bulat-bulat.

"Saptoko, sekarang engkau mampus!" Dia membentak dan seperti seekor biruang dia sudah menubruk dan menyerangkan kerisnya ke arah dada Saptoko.

Pemuda ini mengelak ke belakang sambil mencabut sulingnya dan sambil menggeser langkahnya ke samping dia sudah mengayun sulingnya menusuk ke arah leher lawan. Melihat pemuda itu menggunakan sebatang suling menusuk lehernya, Ki Blekok menyampok dengan tangan kirinya dan dia melangkah mundur sambil tertawa.

"Heh, Saptoko, apakah engkau sudah menjadi gila? Engkau melawan kerisku dengan sebatang suling bambu? Ha-ha-ha, engkau membuat aku menjadi malu! Gantilah senjatamu itu, aku segan membunuh orang yang tidak memegang senjata!"

"Babo-babo, Ki Blekok. Biarpun aku hanya menggunakan suling, akan tetapi jangan harap engkau akan dapat menang dariku. Majulah, aku akan menandingimu!"

"Hemm, jangan salahkan aku kalau lehermu kutebas berikut sulingmu!" bentak Ki Blekok dan diapun menyerang lagi, kini lebih hebat dari tadi, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkan saingannya ini secepat mungkin agar dia dapat segera memboyong Saritem ke dusunnya di mana sudah dipersiapkan pesta pengantin.

Akan tetapi, pemuda itu bergerak cepat mengelak dan kadang menangkis kerisnya dan suling itu sama sekali tidak remuk, atau patah. Bahkan belasan jurus kemudian ujung suling itu menyerempet urat nadinya, membuat dia hamper melepaskan kerisnya dan selagi dia kaget, sebuah tendangan kaki Saptoko mengenai perutnya.

"Bukk!!" Tubuh Ki Blekok terpental ke belakang akan tetapi dia tidak jatuh bahkan menyerang lebih dahsyat karena dia mendengar orang memuji kemenangan Saptoko itu.

Saptoko mainkan ilmu silat sulingnya seperti yang diajarkan Joko Waras. Akan tetapi karena dia baru berlatih selama lima hari, tentu saja gerakannya belum mahir benar. Melihat kekurangan ini, Joko Waras diam-diam mengambil sebuah batu kerikil dan sekali menyentil dengan batu kerikil itu, melesatlah kerikil itu dan tepat mengenai bawah telinga kiri Ki Blekok. Tak seorangpun mengetahui akan hal ini dan Ki Blekok tiba-tiba menjerit dan mengaduh lalu tubuhnya terhuyung.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Saptoko untuk menotokkan ujung sulingnya pada tekukan siku dari lawan. Tak dapat dicegah lagi, keris itupun terlempar jatuh dan tangan kiri Saptoko, memukul, mengenai leher Ki Blekok dan betapapun kuatnya tubuh Ki Blekok, dia terjungkal juga. Terdengar sorak sorai para pemuda dusun Lentur yang bangkit kembali semangatnya melihat kemenangan mutlak Saptoko atas diri Ki Blekok sehingga timbul kembali keberanian mereka. Akan tetapi Ki Blekok merangkak bangun, mengambil kerisnya dan memberi isyarat kepada teman-temannya untuk mengeroyok Saptoko.

"Hei, jangan main keroyok. Itu tidak adil!" Teriak Jayawijaya.

Akan tetapi Joko Waras sudah melompat ke depan dan berkata kepada para pemuda dusun Lentur.

"Wahai para pemuda dusun Lentur! Apakah kalian akan tinggal diam saja melihat Kakang Saptoko dikeroyok? Hayo maju!" Dan dia sendiri sudah maju dan kaki tangannya bergerak merobohkan dua orang pengeroyok! Ketika dilihatnya Ki Blekok dengan keris di tangan hendak mengeroyok Saptoko pula, Joko Waras segera melompat ke depannya dan menjulurkan lidahnya.

"Ki Blekok pendekar sambal pecel, tidak malukah engkau mengeroyok?"

Melihat pemuda remaja ini mengejeknya, Ki Blekok lalu menubruk dengan kerisnya. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Saptoko yang telah mengalahkannya adalah "murid" lima hari pemuda remaja ini. Tubrukannya mengenai tempat kosong dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, kerisnya sudah berpindah tangan karena tangan kanannya menjadi lumpuh. Joko Waras menggunakan keris itu untuk mencoret dua kali ke arah muka Ki Blekok. Ki Blekok menjerit. Mukanya digores ujung keris dua kali sehingga tergores dan berdarah. Kemudian, di depan matanya yang terbelalak ketakutan, dia melihat betapa pemuda remaja itu mematah-matahkan kerisnya dengan jari-jari tangannya yang kecil dan membuang patahan-patahan keris itu ke atas tanah. Dia melihat pula bahwa teman-temannya kini berbalik dikeroyok banyak sekali pemuda Lentur. Melihat pihaknya mengalami kekalahan, Ki Blekok lalu memekik sambil mendesis kesakitan karena mukanya terasa pedih sekali.

"Kawan-kawan, lari... !"

Ki Blekok dan kawan-kawannya lari lintang pukang, meninggalkan jolinya yang segera dihancurkan para pemuda di situ. Para pemuda itu bersorak gembira melihat kemenangan di pihak mereka dan mereka memuji-muji Saptoko. Biarpun Saptoko merasa bangga dan harga dirinya seolah kembali terangkat, akan tetapi kini dia menyadari tiada gunanya berbangga diri, maka dia lalu berkata, "Kawan-kawan, dengarkan dulu ceritaku!"

Suara gaduh dari semua orang itu terhenti dan semua orang memandang kepada Saptoko yang menggandeng tangan Saritem.

"Kawan-kawan, kalian tentu merasa heran mengapa sekarang aku dapat menang melawan Ki Blekok. Semua ini berkat pertolongan adimas JokoWaras dan kakangmas Jayawijaya, dua orang penolong dan penyelamat kita. Mari kita haturkan terima kasih kepada mereka!"

Akan tetapi, ke manapun mereka semua mencari-cari, dua orang pemuda itu telah menghilang. Agaknya Joko Waras telah dapat menduga apa yang akan dilakukan Saptoko, maka dia telah menarik tangan Jayawijaya dan diajak pergi secepatnya dari tempat itu tanpa diketahui siapapun. Biarpun kedua orang penolongnya itu sudah tidak ada, Saptoko menceritakan semua pengalamannya kepada mereka. Dia sekarang menjadi seorang yang rendah hati, tidak angkuh lagi dan semua orang makin menyukainya dan mengangkatnyaa sebagai pemimpin para pemuda. Dan sejak saat itu, dusun Lentur menjadi dusun yang terkenal kuat pemudanya, tidak mudah orang dari lain tempat berlaku sewenang-wenang di situ. Saritem juga segera menikah dengan Saptoko, dirayakan orang sedusun.

********************

Mereka berhenti di bawah sebatang pohon beringin yang besar dan amat tua. Jayawijaya menyusut keringat yang membasahi lehernya. Wajahnya yang tampan itu kemerahan karena sinar matahari yang sudah naik tinggi dan sinarnya mulai panas membakar. Joko Waras memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian dan keheranan?

"Eh, adimas Joko, mengapa engkau memandangi aku seperti itu?" kata Jayawijaya sambil balas memandang.

Joko Waras menghela napas panjang dan bertanya. "Kakang Jayawiya, benarkah sejak dahulu engkau tidak pernah mempelajari ilmu kadigdayaan dan aji kesaktian sama sekali?"

Jayawijaya menggeleng kepalanya. "Menurut kata ayah, orang yang mempelajari aji kesaktian banyak yang tersesat, mengandalkan aji kesaktiannya untuk memaksakan kehendaknya. Karena itu, aku tidak suka mempelajarinya. Banyak macam ilmu yang lebih patut dipelajari, yakni ilmu-ilmu yang berguna, baik bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri. Juga banyak ilmu yang memperindah kehidupan ini, seperti ilmu kesenian, seni tari, seni suara, seni rupa dan masih banyak lagi"

"Akan tetapi tanpa menguasai seni belai diri engkau sudah diganggu dan dijahati orang, seperti halnya kakang Saptoko itu. Setelah dia mempelajari suatu ilmu silat dariku, baru dia dapat menghalau orang jahat yang hendak merampas Saritem. Kalau dia tidak mempelajari ilmu itu, tentu niat jahat Ki Blekok akan terlaksana dan ketidak adilan terjadi di dusun Lentur itu."

"Aku tidak percaya akan terjadi hal itu. Buktinya, engkau muncul dan menolongnya. Kemunculanmu itulah yang menolong mereka dan kemunculanmu itulah bentuk perlindungan dari Hyang Widhi. Kalau Hyang Widhi tidak menghendaki suatu kejahatan terjadi, tentu ada saja jalan keluar untuk menanggulanginya."

"Akan tetapi andaikata kita tidak kebetulan lewat di dusun itu?"

"Juga belum tentu kejahatan itu terjadi. Mungkin Sang Hyang Widhi akan memberikan perlindungan dalam bentuk lain, mungkin saja ada orang lain yang muncul untuk mencegah terjadinya kejahatan itu. Akan tetapi juga mungkin Sang Hyang Widhi sudah menghendaki hal itu terjadi maka pertolongan dari manapun juga tidak akan berhasil menggagalkan peristiwa itu."

"Wah, kalau begitu sama halnya dengan Sang Hyang Widhi merestui perbuatan jahat!"

"Jangan dinilai demikian, adi Joko. Rencana dan keputusan Sang Hyang Widhi merupakan rahasia besar bagi kita. Kita hanya dapat tunduk dan menyerah dengan penuh kesadaran dan kepercayaan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi pasti terjadi dan kejadian itu tidak dapat dinilai baik atau buruk, melainkan itulah kenyataan atau kebenaran yang bebas dari pada pendapat baik dan buruk, benar dan salah."

"Walah, aku jadi pening kalau begini, kakang Jayawijaya. Sungguh banyak aku mendengar tentang ilmu kehidupan, akan tetapi seperti yang kau gambarkan tadi sungguh membingungkan hatiku. Katanya Gusti itu Maha Suci, Maha Murah dan Maha Adil. Akan tetapi kalau sampai membiarkan seorang laki-laki memaksa seorang wanita menjadi isterinya dan tidak ada yang menolong wanita itu, mana itu dapat dibilang adil?"

"Dalam hal keadilan pun, Keadilan Sang Hyang Widhi sama sekali tidak bisa diukur dengan keadilan anggapan manusia. Anggapan manusia itu selalu berpamrih. Manusia baru menganggap adil kalau keadilan itu menguntungkan dirinya, karena itu keadilan versi manusia ini di mana-mana bertabrakan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Keadilan Sang Hyang Widhi itu maha luas dan tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia. Karena itu, satu-satunya sikap kita adalah menerima bahwa segala sesuatu yang terjadi itu telah dikehendaki oleh Hyang Widhi dan itu sudah benar dan adil."

"Kalau begitu, kita tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa, menyerahkan saja kepada kekuasaan Tuhan untuk bertindak?"

"Sama sekali salah! Sang Hyang Widhi telah menciptakan kita dengan serba sempurna dan lengkap, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban kita untuk mempergunakan segala kesempurnaan ini di dalam kehidupan. Untuk menjaga diri, untuk mempertahankan hidup ini, untuk menikmati kebahagiaan dalam kehidupan dan sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia untuk berusaha membela kebenaran dan keadilan umum untuk menentang tindak kejahatan."

"Jadi kita harus berusaha. Kalau usaha kita itu gagal, kita lalu menyerahkan kepada keputusan Sang Hyang Widhi?"

"Begitulah, adi Joko. Ada dongeng yang indah sekali tentang hal itu."

"Dongeng? Coba ceritakan kakang. Aku suka mendengar dongeng yang indah-indah."

"Di jaman dahulu hidup seorang janda bersama seorang anaknya. Mereka hanya hidup berdua saja dan tidaklah aneh kalau janda itu amat mencinta puteranya. Janda itu hidup saleh dan beribadah, tak pernah lupa bersembahyang untuk mohon doa restu dari Sang Hyang Widhi. Pada suatu hari ketika ia sedang mencari kayu bakar bersama puteranya yang berusia lima tahun itu, muncul seekor harimau yang menerkam puteranya sehingga anak itu tewas dengan tubuh penuh luka. Janda itu merasa hancur hatinya dan ia merasa bahwa Hyang Widhi tidak adil. Mengapa bukan ia yang diterkam harimau, melainkan puteranya yang sama sekali belum mengenal dosa? Dengan tekad besar seorang ibu yang kehilangan anaknya iapun ke Suralaya, tempat tinggal para dewata untuk memohon agar diperkenankan menghadap Sang Hyang Widhi untuk menyampaikan protesnya, ia diterima oleh kepala dewa dan ketika janda itu menyampaikan permohonan dan ulasannya, kepala dewa berkata kepadanya,

"Nyi Rondo, tidak begitu mudah untuk dapat menghadap Sang Hyang Widhi. Sebelum andika menghadap beliau, marilah lebih dulu andika melihat layar masa depan, setelah itu baru andika tentukan apakah andika ingin menghadap Hyang Widhi ataukah tidak."

"Janda itu menurut saja diajak ke sebuah taman. Dari taman yang letaknya tinggi itu ia dapat melihat kota-kota dan pedusunan terbentang luas di hadapannya. Kemudian, ia melihat seorang pemuda menunggang kuda dan pemuda itu dengan buasnya membunuhi banyak orang sambil merampasi barang-barang berharga. Pemuda itu kuat sekali, siapa yang maju melawannya tentu dibunuhnya dan dia tidak pandang bulu dalam pembunuhan yang semena-mena itu. Wanita dan kanak-kanak juga dibunuhnya secara kejam sekali, melihat ini, janda yang lembut hati itu tidak tega menyaksikan lebih lama lagi. Ia menutupi kedua matanya dan mengeluh,

"Aduh Gusti, untuk apa saya harus melihat segala kekejaman yang tiada taranya ini? Apa hubungannya dengan permohonan saya agar anak saya yang terkasih itu dihidupkan kembali."

Kepala Dewa yang menyertainya segera menutup layar masa depan itu dan berkata, "Nyi Rondo, ketahuilah bahwa anak muda itu bukan lain adalah puteramu sendiri setelah menjadi dewasa. Karena andika seorang yang hidup saleh dan beribadah amal, maka Sang Hyang Widhi tidak tega untuk menghancurkan perasaan hatimu menyaksikan apa yang akan terjadi dengan puteramu setelah dewasa. Karena itulah maka selagi masih kecil puteramu dimatikan, agar andika terbebas dari derita bathin yang maha hebat. Nah, sekarang terserah kepadamu. Apakah engkau masih ingin menghadap Sang Hyang Widhi untuk minta agar puteramu itu dihidupkan kembali?"

"Sambil bercucuran air mata, janda itu menggeleng kepalanya kuat-kuat dan menjerit, "Tidak! Biarkan anak itu mati. Aku tidak ingin melihat dia menjadi dewasa dan jahat seperti itu. Kini mengertilah aku mengapa Sang Hyang Widhi mematikannya. Segala kehendak Sang Hyang Widhi terjadilah karena kehendakNya selalu benar!"


Jayawijaya berhenti mendongeng dan memandang kepada Joko Waras. "Nah, demikianlah dongengnya, adi Joko. Banyak peristiwa di dunia ini terjadi yang tampak bagi pandangan manusia tidak adil sama sekali. Akan tetapi manusia tidak tahu apa yang tersembunyi di balik itu semua."

Joko Waras menghela napas panjang. "Ahhh, aku mengerti sekarang apa yang kau maksudkan, kakang Jaya. Jadi engkau dalam kehidupan ini berikhtiar sekuat tenagamu, dengan landasan penyerahan kepada kehendak Sang Hyang Widhi, dan akan menerima segala yang terjadi dengan ikhlas! Dan agaknya dengan bekal senjata seperti itu engkau berani menentang kejahatan dan berani pula menentang orang-orang sakti!"

"Aku bukan menentang orangnya, melainkan perbuatannya yang jahat. Tidak mungkin aku membiarkan perbuatan jahat dilakukan orang di depan mataku tanpa aku berusaha untuk mencegahnya."

"Kakang Jayawijaya, kita sudah menjadi sahabat baik akan tetapi aku belum mengenal riwayatmu. Maukah engkau menceritakan, siapa orang tuamu dimana engkau tinggal dan sekarang ini engkau hendak pergi ke mana dan apa yang sedang dan hendak kaulakukan?"

Menghadapi hujan pertanyaan itu, wajah yang selalu lembut itu tersenyum. "Adi Joko, engkau sudah tahu bahwa namaku adalah Jayawijaya. Aku berasal dari Tengger di mana ayahku menjadi sesepuh perkampungan Tengger. Ayah bernama Panji Kelana dan hidup di Tengger sebagai pertapa dan sesepuh. Banyak orang berguru kepada ayah, akan tetapi banyak pula yang kecewa karena ayah tidak mengajarkan apa-apa kecuali ilmu menyerah dengan mutlak kepada kekuasaan Hyang Widhi seperti yang kuterangkan kepadamu tadi. Ibuku sudah tiada dan aku meninggalkan Tengger atas perintah ayah agar aku mencari pengalaman hidup berkecimpung di dunia ramai. Akan tetapi ayah berpesan agar aku selalu membela kebenaran dan keadilan karena orang yang membela kebenaran dan keadilan, yang menentang tindak kejahatan adalah orang yang akan selalu dilindungi oleh kekuasaan Hyang Widhi. Dan orang yang merasa yakin bahwa dirinya dilindungi kekuasaan Hyang Widhi, tidak takut menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga."

"Jadi engkau sekarang sedang dalam perjalanan merantau untuk meluaskan pengalaman hidupmu?"

"Benar, adi Joko..."

"Wah, kalau begitu tentu banyak sekali yang kaualami dan apakah engkau tidak pernah bertemu dengan orang-orang jahat yang mencoba untuk mengganggumu?"

"Banyak aku bertemu dengan orang-orang yang menjadi hamba nafsunya dan mereka berusaha untuk mencelakai aku, akan tetapi berkat perlindungan kekuasaan Hyang Widhi, selalu ada saja jalan keluar bagiku dan sehingga kini aku masih dalam keadaan sehat dan selamat. Yang memprihatinkan hatiku adanya banyak orang jahat yang hendak memaksa rakyat berganti agama sesat. Kalau hal ini dibiarkan, amat berbahaya sekali. Rakyat diajar untuk menjadi bodoh dan menjadi hamba nafsu daya rendah yang akan menyeret mereka ke jurang kegelapan..."

Joko Waras membelalakkan matanya. "Ah, engkau tahu juga akan hal itu? Apakah engkau tahu juga bahwa para pimpinan agama baru itu memimpin rakyat untuk membangun candi-candi Trimurti yang lama? Apakah engkau tahu juga apakah agama baru itu?"

"Aku mengerti. Aku pernah bertemu dengan Wasi Karangwolo yang memimpin pembuatan candi yang menyembah Shiwa, Durga dan Kala. Aku pernah menegurnya karena dia memaksakan agama baru kepada rakyat pedusunan..."

Joko Waras tahu bahwa Wasi Karangwolo tentu seorang pemimpin agama baru yang sakti, maka tanyanya, "Dan apa yang diperbuat olehnya kepadamu, kakang Jaya?"

"Dia berusaha membunuhku, lalu menawanku, akan tetapi akhirnya aku dapat lolos juga, berkat pertolongan seorang bibi yang sakti mandraguna."

"Siapa nama bibi itu?" tanya Joko Waras ingin sekali tahu.

"Bibi itu adalah Endang Patibroto, isteri Ki Patih Tejolaksono dari Kerajaan Panjalu. Orangnya hebat sekali, cantik jelita, gagah perkasa dan sakti mandraguna. Akan tetapi sayang..."

"Sayang? Kenapa, kakang?" Tanya Joko Waras dengan jantung berdebar. Orang sedang membicarakan ibu kandungnya!

"Sayang bahwa dia terlalu ganas. Sepak terjangnya seperti seekor burung rajawali yang tidak mengenal ampun. Aku ngeri menyaksikan sepak terjangnya."

"Bagi seorang ksatria, kalau bertemu dengan orang-orang jahat, dia tentu akan turun tangan membasminya, kakang. Itu bukan ganas namanya, melainkan adil."

"Hemm, engkau boleh menganggap demikian, akan tetapi aku tidak, adi Joko. Betapa jahatpun seorang manusia, dia harus diberi kesempatan untuk bertaubat dan kembali menjadi orang baik-baik. Sekarang ganti engkau, adi Joko. Ceritakanlah keadaan dirimu kepadaku. Aku merasa amat kagum dan juga heran melihat engkau, adi Joko."

"Mengapa heran? Apakah keadaan diriku mengherankan dan aneh, kakang? Bukankah aku seorang pemuda biasa seperti yang lain?"

"Sama sekali tidak biasa! Engkau seorang pemuda remaja yang aneh sekali. Bayangkan saja. Usiamu masih begini muda, paling banyak tujuhbelas tahun."

"Walah! Aku sudah dua puluh tahun, kakang!"

"Benarkah? Akan tetapi engkau tampak jauh lebih muda dan semuda ini engkau telah memiliki aji kesaktian yang hebat. Nah, ceritakanlah riwayatmu, adi Joko. Riwayatmu tentu juga hebat sekali. Siapa orang tuamu? Siapa gurumu dari mana engkau berasal dan hendak pergi ke mana?"

Joko Waras tersenyum. Diam-diam ia merasa heran sekali mengapa ia merasa begitu dekat dengan pemuda ini. Perasaan hatinya begitu senang dan aman berdekatan dengan Jayawijaya.

"Sudah kukatakan, namaku Joko Waras dari pegunungan Kidul di barat sana. Kedua orang tuaku masih hidup dan yang menjadi guruku adalah mendiang Nini Bumigarbo yang tentu saja tidak kaukenal. Seperti juga engkau, aku pergi merantau untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, akan tetapi aku tidak pergi seorang diri. Aku pergi berdua dengan seorang kakakku yang bernama Joko Slamet. Dalam perjalanan kami selalu memberantas kejahatan dan menegakkan kebenaran dan keadilan."

Jayawijaya memandang tajam, dan bertanya,
"Di mana sekarang kakakmu itu? Dia tentu seorang yang sakti mandraguna pula."

"Dibandingkan dengan dia, maka kepandaianku tidak ada artinya, kakang. Kakakku itu selain sakti mandraguna, juga bijaksana dan aku tanggung kalau bertemu dan bercakap-cakap dengan dia, engkau tentu akan merasa akrab dan cocok sekali. Banyak kemiripan di antara kalian berdua, hanya bedanya dia memiliki kesaktian dan engkau tidak. Kami sengaja berpencar dan kami berdua memasuki kadipaten Blambangan dengan mengambil jalan masing-masing untuk bertemu kelak di Blambangan."

Setelah berkata demikian, Joko Waras memandang Jayawijaya dan melihat betapa pemuda itu memejamkan kedua matanya seperti orang bersamadhi. Ia merasa heran, akan tetapi mendiamkan saja, dan akhirnya menjadi kesal dan menegur, "Kakang Jayawijaya, aku bercerita seperti burung berkicau tiada hentinya, dan engkau malah tertidur pulas!"

Jayawijaya membuka matanya dan melihat Joko Waras marah-marah, dia tersenyum lalu berkata dengan sabar dan lembut, "Adi Waras, aku sama sekali tidak tidur nyenyak, aku mendengarkan semua ceritamu. Ceritamu mergingatkan aku kepada Bibi Endang Patibroto."

"Ehh? Kenapa engkau tiba-tiba teringat kepadanya, kakang Jaya?" Joko Waras menatap tajam wajah pemuda itu, penuh selidik.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Bibi Endang Patibroto menceritakan kepadaku bahwa ia mencari kedua orang anaknya, seorang laki-laki bernama Bagus Seto dan anak perempuan bernama Retno Wilis. Menurut Bibi Endang Patibroto, kedua orang putera-puterinya itu memiliki kesaktian, oleh karena itu, bertemu dengan andika dan mendengar tentang kakak andika, aku teringat akan cerita Bibi Endang Patibroto itu. Alangkah cocoknya kalau andika dan kakak andika menjadi anak-anaknya. Akan tetapi, menurut ceritanya, kedua anaknya itu adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan andika dan kakak andika keduanya laki-laki."

Joko Waras menelan ludahnya untuk menenteramkan hatinya yang sempat berdebar. "Akan tetapi engkau melihat sendiri bahwa aku dan kakakku keduanya adalah laki-laki, kakang Jaya."

"Itulah yang membuat aku tadi seperti melamun karena menurut penilaianku, engkau dan kakakmu itu sungguh pantas menjadi putera-putera Bibi Endang Patibroto."

"Sudahlah, jangan membayangkan yang bukan-bukan, kakang Jaya. Sekarang aku hendak bertanya, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke mana, kakang?"

"Ke mana saja hati dan kakiku membawanya, Adi Waras. Aku tertarik sekali mendengar ceritamu tadi. Engkau dan kakakmu berpencar memasuki Blambangan. Kalau boleh aku mengetahui, apa yang hendak kalian lakukan di Blambangan?"

"Kami berdua hendak menyelidiki keadaan di Blambangan, kakang. Kami mendengar bahwa Blambangan dan Nusabarung sedang menghimpun kekuatan untuk memusuhi Jenggala dan Panjalu, dan juga kami telah melihat ada usaha untuk meracuni rakyat Jenggala dengan pemujaan agama baru. Sebagai seorang kawula Panjalu, tentu saja kami tidak rela melihat hal ini. Kami akan melakukan penyelidikan di Blambangan untuk kemudian kami laporkan kepada Kerajaan Panjalu."

"Wah, kalau begitu andika adalah seorang telik sandi (mata-mata) yang dikirim Panjalu untuk menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan?"

"Bukan telik sandi yang dikirimkan pemerintah. Kami kakak beradik tadinya hanya hendak merantau dan meluaskan pengalaman menambah pengetahuan. Setelah tiba di sini kami melihat kenyataan-kenyataan yang membahayakan Panjalu dan Jenggala. Maka, secara suka rela kami melakukan penyelidikan, bukan sebagai utusan Panjalu atau Jenggala."

Jayawijaya mengangguk-angguk. "Aku mengerti dan hal itu sungguh menarik hati sekali. Tujuan andika berdua amat baik dan sekiranya andika tidak berkeberatan, aku-pun suka untuk memasuki Blambangan dan ikut pula mencegah agar para pemuja Shiwa Durgo-Kala itu tidak menyesatkan orang-orang dengan agama baru mereka."

"Akan tetapi perjalanan ini berbahaya sekali, kakang Jaya. Para pemimpin agama baru itu merupakan orang-orang sakti yang tentu akan membunuhmu kalau mereka mengetahui bahwa engkau menentang niat mereka."

Jayawijaya tersenyum. "Sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku berlindung di dalam Kekuasaan Hyang Widhi, aku tidak takut ancaman yang bagaimanapun juga. Kalau Gusti Yang Maha Kuasa telah menentukan bahwa aku harus mati, akupun tidak akan berkeberatan atau menyesal. Sebaliknya, kalau Yang Maha Kuasa belum menghendaki aku mati, ancaman dari manapun juga datangnya tidak akan mampu membunuhku."

"Begitu tebalkah keyakinanmu, kakang?"

"Setebal bumi, Adi Waras."

"Baiklah kalau begitu, Kakang Jaya. Semoga keyakinan dan imanmu akan benar-benar mendatangkan perlindungan bagi dirimu dari Hyang Widhi, kalau-kalau aku tidak mampu melindungimu. Mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kita harus berhati-hati karena ini sudah dekat dengan tapal batas Kadipaten Blambangan."

Matahari telah naik tinggi, tengah hari telah lewat ketika mereka tiba di perbatasan Kadipaten Blambangan. Dari sebuah lereng bukit mereka melihat bahwa di depan terdapat sebuah dusun, masih agak jauh hanya tampak gentengnya saja. Karena mereka merasa haus, maka melihat dusun ini mendatangkan semangat kepada mereka sehingga mereka berjalan lebih cepat agar segera tiba di dusun itu untuk mencari minuman pelepas haus. Tiba-tiba saja muncul seorang kakek di depan mereka, menghadang jalan. Joko Waras menahan langkahnya, diturut oleh Jayawijaya dan mereka memandang kakek itu penuh perhatian.

Dia seorang kakek yang usianya kurang lebih enampuluh lima tahun, akan tetapi tubuhnya yang sedang besarnya itu tampak masih tegak dan kokoh. Walaupun gerak geriknya lembut, namun di balik kelembutan itu bersembunyi kekuatan yang dahsyat. Dia memakai jubah sederhana berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta. Rambutnya sudah berwarna dua, namun jenggot dan kumisnya sudah putih semua. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat berkepala naga yang panjangnya sama dengan tinggi badannya. Melihat dua orang muda itu, kakek itu tersenyum lebar dan mengangkat tangan kanannya ke atas kepala seperti orang melambai.

"Dua orang muda, perlahan dulu! Siapakah andika berdua dan hendak memasuki wilayah Blambangan ada keperluan apakah?"

Pertanyaan itu dilakukan dengan suara halus. Akan tetapi Joko Waras yang melihat pendeta itu dapat menduga bahwa dia bukanlah seorang pendeta yang hidup suci, dapat ia lihat dari sinar matanya yang mengandung kekejaman. Maka, sebelum Jayawijaya menjawab, dia mendahului, "Kakek, minggirlah dan beri kami jalan. Kami adalah orang-orang muda yang sedang mengembara, tidak mempunyai urusan denganmu. Minggirlah!"

Akan tetapi mendadak tampak sesosok bayangan berkelebat dan di dekat kakek itu berdiri seorang kakek lain. Kakek ini usianya kurang lebih enampuluh dua tahun, pakaiannya mewah dan dia pesolek sekali, rambutnya tersisir licin dan berminyak, sikapnya kewanitaan. Dia melirik ke arah Jayawijaya lalu berkata kepada kakek pertama,

"Kakang Wasi, pemuda yang lebih tinggi itulah yang pernah kutemui bersama dengan Endang Patibroto. Mereka berdua itu tentu telik sandi yang akan menyelidiki Blambangan!"

Melihat kakek ke dua ini, teringatlah Jayawijaya akan peristiwa yang dialaminya beberapa pekan yang lalu. Kakek itu adalah Wasi Karangwolo yang dilihatnya membujuk penduduk dusun untuk beralih agama baru di sertai ancaman. Bahkan dia telah diserang oleh kakek itu dan kemudian muncul Endang Patibroto yang mengalahkan kakek itu. Mendengar ucapan Wasi Karangwolo, Jayawijaya lalu berkata dengan lembut, namun dengan suara mengandung penuh teguran.

"Mengapa andika selalu mencari permusuhan dan keributan? Dulu aku melihat andika membujuk dan memaksa rakyat untuk berganti agama, sekarang andika menghadang perjalanan kami. Siapakah andika berdua dan ada maksud apakah menghadang perjalanan kami?"

Ketika mendengar keterangan Wasi Karangwolo bahwa pemuda itu pernah bersama Endang Patibroto, Wasi Shiwamurti, yaitu kakek pertama tadi, mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk.

"Bagus, kiranya dia pernah bersama Endang Patibroto? Hei, orang muda. Ketahuilah bahwa aku adalah Wasi Shiwamurti dan ini adalah adik seperguruanku bernama Wasi Karangwolo yang menjadi penasihat Adipati Menak Sampar di Blambangan. Kalau engkau menyayang nyawamu sendiri, mari ikut dengan kami dan tunjukkan di mana adanya Endang Patibroto sekarang."

Joko Waras yang sejak tadi hanya menonton dan mendengarkan saja, ketika melihat Wasi Karangwolo segera mengenal kakek itu. Wasi Karangwolo itu bersama Wasi Surengpati pernah mempergunakan sihir dan menawannya, setelah penyamarannya sebagai Joko Wilis diketahui Dyah Candramanik puteri Adipati Nusabarung dan oleh puteri itu dilaporkan kepada ayahnya. Untung kakaknya Bagus Seto membebaskannya dari tempat tahanan dan ia mengamuk dan menyandera Adipati Martimpang, yaitu Adipati Nusabarung sehingga dia dapat lolos dari kepungan para perajurit dan senopati Nusabarung. Hatinya sudah menjadi marah sekali melihat Wasi Karangwolo yang tidak mengenalnya sebagai Retno Wilis. Dia lalu melangkah maju dan dengan suara lantang menegur dua orang kakek itu dengan berani.

"Kalian ini dua orang kakek tua bangka, lagi kalian adalah pendeta, seharusnya mencari jalan terang untuk bekal kematian kalian. Akan tetapi kalian bahkan berbuat jahat dan hendak memaksa orang. Pendeta macam apa kalian!"

Wasi Shiwamurti sampai terbelalak saking kaget, heran dan marahnya. Dia, seorang wasi yang disanjung-sanjung banyak orang, dipuja-puji seperti seorang dewa titisan Bathara Shiwa, kini dimaki-maki oleh seorang bocah! Saking marahnya dia sampai tidak dapat mengeluarkan kata-kata sampai beberapa lamanya. Dia merasa serba salah. Kalau meladeni seorang bocah yang tampaknya belum dewasa, berpakaian seperti bocah petani itu, sungguh merendahkan martabatnya. Akan tetapi kalau tidak dilayani dan dihajar, bocah ini sungguh menghina sekali.

"Keparat, engkau bocah masih ingusan berani mengeluarkan kata-kata seperti itu kepadaku?"

"Mengapa tidak berani? Kalian memang pendeta-pendeta yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Sepantasnya kalian ini menjadi maling atau perampok!" kata Joko Waras.

Wasi Shiwamurti menahan kemarahannya dan membentak,
"Jangan kalian mati tanpa nama! Katakan siapa nama kalian?"

Jeko Waras mengacungkan jempolnya menunjuk ke arah dada sendiri, lalu menunjuk dengan jempolnya ke arah Jayawijaya sambil berkata, "Aku bernama Joko Waras dan kakang ini bernama Jayawijaya. Agaknya kalian ini biang keladinya penyebaran agama baru yang menyesatkan rakyat. Benarkah itu?"

Wasi Shiwamurti mengeluarkan suara menggereng seperti seekor biruang terluka. Suara gerengannya menggetar-getar dengan amat kuatnya dan terdengarlah suaranya yang lantang dan mengandung wibawa kuat sekali. Ternyata dia telah mengerahkan kekuatan sihirnya.

"Joko Waras dan Jayawijaya, berlututlah kalian!"

Joko Waras terkejut bukan main karena ada dorongan yang luar biasa kuatnya memaksanya untuk menekuk kedua lututnya, ia tahu bahwa itu adalah gerengan ilmu sihir yang amat kuat. Ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan, namun ia kalah kuat dan tak dapat tertahankan lagi kedua lututnya tertekuk dan ia sudah jatuh berlutut di depan kakek itu. Akan tetapi Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh. Bentakan dan perintah itu lewat begitu saja seperti angin dan tidak mempengaruhinya, bahkan dia lalu mengangkat bangun Joko Waras sambil berkata.

"Adi Waras, tidak perlu berlutut di depan mereka. Bangunlah."

Dan seketika Joko Waras terlepas dari pengaruh yang memaksanya berlutut itu. Ia tidak sempat terheran-heran mengapa Jayawijaya sama sekali tidak terpengaruh oleh sihir itu bahkan dapat menyadarkan dan membebaskannya dari pengaruh sihir. Ia marah sekali kepada kakek yang menamakan dirinya Wasi Shiwamurti itu. Karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang wasi yang maha sakti, Joko Waras lalu membungkuk dan mencengkeram tanah berpasir itu dan ketika ia mengerahkan tenaga saktinya, segenggam tanah berpasir itu telah menjadi pasir sakti Pancaroba dan ia mengeluarkan bentakan sambil melontarkan pasir itu ke arah muka Wasi Shiwamurti.

Sang Wasi terkejut juga melihat serangan dahsyat ini. Namun dengan tenang ia mengebutkan lengan jubahnya yang lebar dan pasir yang berbahaya dan mematikan itu runtuh semua ke atas tanah. Joko Waras tidak mau berhenti sampai di situ saja. Walau pun serangannya gagal, ia menerjang maju dan menyerang dengan Aji Wisolangking, pukulan yang mengandung racun berbahaya, yang dahulu merupakan ilmu andalan dari gurunya, yaitu Nini Bumigarbo!

Wasi Shiwamurti semakin terkejut melihat betapa "bocah ingusan" itu dapat menyerangnya dengan ilmu pukulan sedahsyat itu. Dia menggerakkan kedua tangan untuk menangkis.

"Wuuuttt.... desss....!"' Dan wasi itu terdorong mundur sampai tiga langkah!

Hal ini terjadi karena dia masih memandang rendah sehingga ketika menangkis tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Akan tetapi akibat benturan dua tenaga sakti itu membuat dia mundur tiga langkah dan hal ini sungguh amat mengejutkan! Wasi Shiwamurti menjadi marah bukan main. Mulutnya berkemak-kemik membaca mantera, lalu dia melontarkan tongkatnya ke atas.

"Wuss.... !" Tampak asap mengepul dan keluarlah dari angkasa seekor naga hitam yang menggiriskan.

Melihat ini Joko Waras terbelalak dan perasaan ngeri mencekamnya. Akan tetapi Jayawijaya mendorongkan kedua tangannya ke arah naga hitam itu sambil berkata lembut, "Hong... air boyo sedyo rahayu... !"

Seketika naga hitam itu jatuh ke atas tanah dan berubah lagi menjadi tongkat berkepala naga milik Wasi Shiwamurti. Dapat dibayangkan betapa kagetnya sang wasi melihat ini. Ilmu sihirnya yang paling diandalkan itu begitu saja dipunahkan oleh pemuda itu! Joko Waras juga merasa heran dan girang sekali melihat ini, maka iapun menyerang lagi dengan Aji Wisolangking, mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah sang wasi itu. Melihat ini, sekarang Wasi Shiwamurti tidak berani memandang rendah dan dia mengerahkan seluruh tenaga, menggunakan tangan kanan menangkis pukulan itu dan tangan kirinya menyambar ke depan, tepat mengenai bawah pundak kanan bagian depan dari Joko Waras.

"Desss... !" Joko Waras terpelanting dan sampai bergulingan saking hebatnya pukulan itu. Ia merasa betapa dada bagian atas di bawah pundak kanan itu nyeri bukan main.

"Jangan pukul Adi Waras!" teriak Jayawijaya ketika melihat Joko Waras dihantam sampai terguling-guling dan dia maju menghampiri Wasi Shiwamurti untuk mencegahnya menyerang lagi kepada Joko Waras.

Wasi Shiwamurti yang tadi melihat betapa ilmu sihirnya dipunahkan oleh Jayawijaya, menyangka bahwa pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang tinggi. Maka melihat pemuda itu menghampirinya, dia lalu memapaki dengan pukulan yang menggunakan kedua tangannya didorongkan ke arah dada pemuda itu. Pukulan ini hebat sekali, lebih hebat dari pada pukulan tangan kiri yang merobohkan Joko Waras tadi. Kalau terkena pukulan dahsyat ini, tentu Jayawijaya akan remuk dadanya dan tewas seketika!

Akan tetapi terjadi keanehan yang luar biasa. Ketika kedua tangan Wasi Shiwamurti dengan tenaga sepenuhnya mendorong ke depan, tiba-tiba wasi itu merasakan betapa kedua tangannya bertemu dengan hawa yang maha dahsyat dan demikian kuatnya hawa itu sehingga tubuhnya terjengkang roboh dan terbanting keras seolah-olah dia yang terkena pukulannya itu! Sebetulnya peristiwa ini adalah sederhana saja dan sama sekali tidak aneh atau mengherankan. Harus diketahui bahwa Jayawijaya adalah seorang pemuda yang sejak kecil sekali sudah diajarkan dan ditanamkan iman dan penyerahan yang total dan ikhlas kepada kekuasaan Tuhan sehingga kalau ada bahaya mengancamnya, seolah-olah dia selalu terlindungi oleh Kekuasaan yang maha kuat dan tidak tampak. Pukulan Wasi Shiwamurti memang hebat, terbentuk dari latihan dan penggunaan aji kesaktian, akan tetapi apa artinya semua ilmu kedigdayaan dan kesaktian yang dapat dipelajari manusia kalau dibandingkan dengan kekuasaan Tuhan??

Joko Waras yang terkena pukulan hebat itu, walaupun menderita nyeri yang hebat namun ia masih sadar. Melihat Wasi Shiwamurti terjengkang, ia khawatir sekali kalau sampai sang wasi menyerang lagi dan membunuh Jayawijaya. Maka ia lalu melompat, menyambar tangan Jayawijaya dan ditariknya pemuda itu melarikan diri dari tempat berbahaya itu. Baru Wasi Shiwamurti saja sudah merupakan lawan yang terlalu tangguh, apa lagi kalau dibandingkan Wasi Karangmolo! Dengan pikiran ini, Joko Waras menahan rasa nyerinya dan terus mengajak lari Jayawijaya yang ditariknya itu memasuki sebuah hutan yang terdapat di lereng bukit itu....

SEPASANG GARUDA PUTIH JILID 13

Thanks for reading Sepasang Garuda Putih Jilid 12 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »