Sepasang Garuda Putih Jilid 02

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Sepasang Garuda Putih Jilid 02

MALAM itu gelap gulita. Angin malam berhembus lesu sehingga awan gelap yang menutupi bintang-bintang di langit tetap menyelubungi Kadipaten Pasisiran dalam kegelapan yang pekat. Orang-orang enggan ke luar rumah karena gelap dan dinginnya. Apalagi malam itu adalah malam Jumat Kliwon yang dianggap malam yang khas bagi roh-roh jahat gentayangan mencari korban.

Akan tetapi dua orang pemuda agaknya tidak memperdulikan malam yang menyeramkan itu. Mereka bahkan keluar dari batas kota Kadipaten Pasisiran dan menuju keselatan, ke pantai Laut Kidul. Di pantai yang curam terdapat gua-gua yang besar dan jalan menuju ke gua-gua itupun merupakan jalan yang berbahaya. Namun, dua orang itu kini memegang obor dan menuruni tebing yang curam itu.

Akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Mereka berhenti di depan sebuah guha besar dan menancapkan obor mereka di kanan kiri depan guha sehingga menerangi dalam guha itu. Di dalam guha, di atas sehelai tikar, duduk seorang kakek yang menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai seperti mulut seekor srigala yang kelaparan. Mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau ketika terkena cahaya dua batang obor itu. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning. Ketika melihat dua orang laki-laki muda itu maju, berlutut dan menyembah kepadanya, kakek ini tertawa bergelak.

"Hoa ha-ha, mengapa kalian datang malam-malam begini, Lembu Alun dan Lumbu Tirta. Bukankah sudah cukup aku memberi pelajaran ilmu-ilmu itu kepada kalian? Dan kapan kalian akan mengajak aku ke kadipaten menduduki pangkat sebagai Penasihat Kadipaten?"

"Ampunkan kami kalau mengganggu, Bapa Guru. Kedatangan kami ini ada hubungannya dengan pertanyaan terakhir itu. Sampai sekarang, ayah kami belum juga menentukan pilihannya untuk mengangkat seorang di antara kami para puteranya menjadi calon Adipati. Agaknya ayah kami masih terus memikirkan adimas Jarot yang lenyap tujuh tahun yang lalu. Karena itu, kami mohon keterangan dari Bapa Guru, apakah Dimas Jarot itu masih hidup?"

"Tunggu sebentar, akan kubuat perhitungan. Namanya Jarot? Akan kuminta Perewangan untuk memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian, kakek yang duduk bersila itu lalu menyilangkan lengan depan dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantram. Tak lama kemudian tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku, kedua tangannya mencakar-cakar udara, berkelojotan seperti orang sekarat dan mulutnya yang berbuih itu mengeluarkan suara melengking seperti suara seorang nenek-nenek.

"Kau tanyakan tentang Si Jarot? Hi-hi-hi-hik, dia masih hidup, bahkan dia menjadi ancaman besar bagi kalian. Hi-hihi aduh panas.... kalian jaga baik-baik, dia panas.... !" Kakek itu berhenti berkelojotan dan mengusap buih dari mulutnya.

"Kalian mendengar sendiri dari Perawangan tadi? Jarot masih hidup, bahkan menjadi ancaman besar bagi kalian. Dan agaknya dia itu tidak boleh dipandang ringan, kalau dia panas itu berarti pemuda itu memiliki kesaktian yang patut diperhitungkan."

"Kalau begitu, kita harus bekerja secepatnya, Bapa Guru. Sebelum Jarot muncul, ayah kami harus disingkirkan dulu. Kalau ayah meninggal, aku sebagai putera permaisuri pasti akan diangkat menjadi penggantinya. Dan kalau aku sudah menjadi adipati, tentu Bapa Guru akan kami boyong ke Kadipaten Pasisiran. Kalau Jarot muncul setelah aku menjadi Adipati, dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

"Hemm, itu mudah. Akan tetapi engkau harus menyediakan syaratnya. Sehelai bajunya yang bekas dipakai dan belum dicuci, beberapa helai, sedikitnya tujuh helai rambutnya, lalu hari dan pasaran apa dia dilahirkan. Karena hanya pada hari tertentu itu maka seranganku akan dapat berhasil. Dan kalau dia sudah jatuh sakit, engkau harus berusaha agar dia mau minum air yang sudah kuisi dengan kekuatan mantra. Nah, sediakan semua syarat itu secepatnya, dan pergilah dari sini, tinggalkan aku yang sedang menikmati malam Jumat Kliwon yang angker ini."'

Dua orang muda itu adalah putera-putera Adipati di Pasisiran yang bernama Lembu Alun dan Lembu Tirta, putera dari permaisuri. Seperti kita ketahui, Lembu Alun adalah kakak tiri Jarot yang dulu mengajak Jarot pergi berburu kijang. Sekarang dia telah berusia duapuluh lima tahun dan Lembu Tirta berusia duapuluh tiga tahun. Ketika dulu Lembu Alun pulang seorang diri sambil menuntun kuda tunggangan Jarot, pemuda ini sambil menangis memberitahu kepada ayah bundanya bahwa Jarot telah lenyap.

"Kami berpencar untuk memburu kijang, akan tetapi setelah saya cari-cari, adimas Jarot telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Sudah saya panggil-panggil dan cari-cari namun dia tidak muncul. Terpaksa karena hari sudah sore saya pulang sendirian."

Tentu saja ibu Jarot dan juga Adipati Pasisiran menjadi terkejut dan khawatir sekali mendengar keterangan Lembu Alun yang diceritakan sambil menangis itu. Sang Adipati lalu mengerahkan pasukan untuk mencari Jarot. Seluruh hutan itu telah-dijelajahi dan malam itu juga mereka mencari-cari namun sia-sia. Setelah tiga hari tiga malam mencari tanpa hasil, akhirnya mereka pulang ke kadipaten dengan lesu dan sedih.

"Tidak, tidak mungkin Jarot mati!" teriak Sang Adipati dengan penuh duka dan khawatir, "kalau dia mati tentu dapat ditemukan jenazahnya."

Sampai tujuh tahun lamanya, Sang Adipati walaupun terendam dalam duka, agaknya masih belum melepaskan harapannya bahwa Jarot masih hidup dan sewaktu-waktu akan muncul di depannya. Sikap ayahnya ini membuat hati Lembu Alun khawatir sekali. Diapun sangsi apakah Jarot telah tewas. Kenapa mayatnya tidak ditemukan? Andaikata mayat itu hanyut di Kali Rejuli pun tentu akan dapat ditemukan oleh para pencari itu. Dia sendiri menjadi ragu-ragu. Dan sikap ayahnya yang masih mengharap-harapkan kembalinya Jarot itu, makin menggelisahkan karena dia tahu bahwa kalau Jarot muncul, tentu pemuda itu yang akan ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.

Lima tahun yang lalu, dia dan adiknya, Lembu Tirta secara tidak sengaja bertemu dengan Wasi Surengpati, kakek yang menyeramkan di dalam guha itu. Setelah mengetahui bahwa Wasi Surengpati adalah seorang pertapa yang sakti, kedua orang muda ini lalu minta untuk diterima sebagai murid. Wasi Surengpati mau menerima mereka menjadi murid asalkan mereka berjanji kelak mengangkatnya menjadi sesepuh atau penasihat di Kadipaten Pasisiran. Setelah kedua orang pemuda itu menyanggupi dan memberi hadiah apa saja yang diinginkan kakek itu merekapun diterima menjadi murid dan menerima beberapa macam ilmu kanuragan yang membuat mereka menjadi semakin sombong.

Dan pada malam hari itu, mereka merencanakan agar cepat-cepat Lembu Alun diangkat menjadi adipati dengan cara melenyapkan atau membunuh ayah mereka sendiri melalui ilmu hitam yang akan dilaksanakan oleh guru mereka! Betapa kejinya!

Di antara segala daya tarik yang amat kuat dan membuat manusia saling berebutan, bahkan tidak segan-segan melakukan segala daya yang licik dan kotor untuk memperoleh adalah KEKUASAAN. Semua orang berpendapat bahwa hanya kekuasaan yang dapat membahagiakan mereka. Kalau ada kekuasaan, maka segala kehendaknya pasti tercapai!

Kekuasaan dapat membuat mereka dipuja dan disembah orang lain, dan dapat membuat mereka hidup kaya raya, mewah dan mulia! Kekuasaan dapat membuat orang mabok dan bertindak sewenang-wenang, karena kekuasaan selalu menjadi milik yang menang, dan kalau sudah berkuasa, maka apapun yang dilakukannya adalah baik dan benar!

Maka tidak heran kalau Lembu Alun yang haus akan kekuasaan itu, demi mendapatkan kedudukan Adipati, tidak segan-segan mencoba membunuh adik tirinya dan kini bahkan tidak segan-segan membunuh ayah kandungnya sendiri. Orang-orang yang berpendirian demi kian, yang sudah menjadi hamba nafsunya sendiri mengejar kekuasaan dengan segala cara, orang demikian itu sama sekali lupa bahwa di atas segala macam kekuasaan ada KEKUASAAN MUTLAK yaitu kekuasaan Tuhan!

Betapapun tinggi kekuasaan seorang manusia, dia tidaklah kebal terhadap kesengsaraan, terhadap duka, kecewa, putus asa, penyakit dan kematian! Terutama sekali menghadapi penyakit dan kematian, kekuasaan sedikitpun tidak dapat menolongnya. Dia akan tetap merintih-rintih kesakitan dikala sakit dan menghembuskan napas terakhir apabila ajal tiba. Dia tidak tahu bahwa makin besar kekuasaannya, makin lemahlah dia terhadap segala uji dan coba. Hanya orang bijaksana saja yang tidak haus kekuasaan secara wajar, diapun tidak mabok karenanya, bahkan dia menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan nusa dan bangsa, manusia dan dunia.


Sebelum kedua orang bersaudara ini sempat menyerahkan syarat-syarat yang diminta oleh Wasi Surengpati, pada keesokan harinya, menjelang senja, Lembu Alun danLembu Tirta sedang berjalan-jalan di luar pintu gerbang kota sebelah utara. Tiba-tiba di luar pintu gerbang mereka melihat seorang pemuda yang melangkah lebar kearah pintu gerbang. Keduanya terbelalak dan Lembu Alun cepat memberi isyarat kepada adiknya dan keduanya segera melangkah lebar menyambut pendatang itu. Setelah mereka berhadapan, pemuda itu memandang mereka dengan wajah berseri dan segera menegur mereka.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta!" Pemuda yang bukan lain adalah Jarot itu segera menghampiri semakin dekat.

Akan tetapi kedua orang muda itu memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata marah. "Siapa andika, berani menegur kami begitu saja?" tanya Lembu Alun dengan suara ketus.

"Kakangmas Lembu Alun. Sudah lupakah kepadaku? Aku Jarot, adikmu!"

"Jarot? Tidak mungkin! Jarot sudah mati dan lenyap tujuh tahun yang lalu! Andika hanya mengaku-ngaku saja, andika orang palsu!"

"Kakangmas Lembu Alun! Ini aku, Jarot. Aku masih hidup dan baru hari ini aku pulang."

"Aahh, Jarot sudah mati tidak mungkin hidup kembali. Andika orang jahat yang berpura-pura menjadi adik kami!" kata Lembu Tirta. "Kakangmas Lembu Alun, kita hajar saja orang palsu ini!"

Dua orang itu lalu menerjang maju dan memukul Jarot. Jarot terkejut sekali, bukan saja melihat betapa dua orang kakaknya tidak mengenalnya dan menyerangnya, terutama sekali melihat cara mereka menyerang menggunakan aji kekuatan yang cukup dahsyat! Dari mana kedua kakaknya memiliki kekuatan dahsyat seperti itu.

"Wuuuuuuttt.... ! Wuuuuuuuut.... !!"

Jarot cepat mengelak dengan lincahnya sehingga pukulan kedua orang itu luput. Kini kedua orang itu yang menjadi kaget dan heran. Mereka telah menyerang dengan Aji Samber Nyawa, yang sekali pukul dapat membunuh lawan. Akan tetapi dengan mudah saja Jarot dapat mengelak dari dua pukulan mereka! Padahal dahulu Jarot hanya pernah mempelajari ilmu kanuragan yang biasa saja, sama dengan mereka sebelum menjadi murid Bhagawan Dewondaru. Akan tetapi keheranan ini tidak menghentikan kemarahan mereka. Mereka lalu menerjang dan menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Melihat ini, terpaksa Jarot menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Dukk.... ! Dukk.... !" Dua orang kakak beradik itu terpental ke belakang dan terhuyung! Mereka menjadi semakin kaget dan penasaran sekali.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta. Ingatlah, ini aku Jarot, bukan musuh kalian. Aku telah kembali dan mari kita menghadap Kanjeng Romo dan kanjeng ibu."

Akan tetapi Lembu Alun sudah mencabut kerisnya dan membentak kepada adiknya, "Lembu Tirta, kita bunuh manusia palsu ini!" Dia lalu menyerang lagi menggunakan kerisnya dan perbuatannya ini segera diturut oleh Lembu Tirta yang juga menyerang dengan kerisnya. Jarot cepat mengelak dari tusukan kedua batang keris itu. Keris-keris itu menyambar lagi dan sampai lima enam kali Jarot mengelak.

"Kakangrnas berdua, hentikan serangan kalian. Aku Jarot tulen, bukan palsu. Aku adik kalian!" berulang kali Jarot membujuk mereka, akan tetapi kedua orang itu menyerang semakin ganas, keris mereka berkelebatan menyambar-nyambar.

Jarot maklum bahwa tidak mungkin dia mengelak terus, maka ketika melihat betapa mereka itu benar-benar tidak mau mendengarkan bujukannya, dia lalu menggerakkan kedua tangannya menangkis dengan pengerahan tenaga sakti. Tangkisannya mengena pergelangan tangan kanan mereka dengan kuat sekali.

"Dukk.... dukkk.... !!" Dan kedua orang bersaudara itu tidak dapat mempertahankan keris mereka yang terlepas dari tangan mereka yang terasa lumpuh!

Mereka terbelalak, maklum bahwa mereka tidak mampu menandingi Jarot yang kini demikian digdayanya. Mereka lalu memungut keris mereka dan lari memasuki kota, terus menuju ke pintu gerbang kota sebelah selatan dan terus berlari menuju ke pantai Laut Kidul.

Jarot tidak mengejar mereka, hanya merasa heran sekali mengapa kedua orang kakaknya begitu keras hendak membunuhnya. Benarkah mereka itu tidak mengenalnya lagi? Begitu besarkah perubahan pada dirinya sehingga mereka tidak mengenalnya? Jarot tidak memperdulikan mereka lagi dan langsung saja dia melangkah menuju ke Kadipaten.

Hatinya merasa terharu juga ketika dia berdiri di halaman kadipaten yang telah dikenalnya sejak dia kecil itu. Bahkan dia tahu bahwa pada saat senja seperti itu, para ibunya dan para putera-puteri berkumpul di ruangan dalam berbincang-bincang. Dia mengira-ira apakah namanya disebut dalam percakapan mereka itu. Mungkin tidak lagi. Sudah terlalu lama dia meninggalkan mereka. Mungkin mereka sekarang sudah lupa, seperti dua orang kakaknya tadi. Perasaan kecewa mengalir masuk ke dalam hatinya. Akan tetapi segera diusirnya perasaan ini dengan kesadaran bahwa yang bersalah adalah dia sendiri. Dia meninggalkan mereka selama tujuh tahun tanpa pamit.

Seorang tukang kebun menghampirinya, sapu lidi panjang di tangan kanan. Biarpun cuaca sudah agak remang, Jarot masih mengenal baik tukang kebun ini. Ki Sambung, tukang kebun yang kini berusia empat puluh tahun itu. Akan tetapi dia diam saja, pura-pura tidak mengenalnya untuk menguji apakah tukang kebun ini juga lupa kepadanya. Padahal dahulu, di waktu dia masih kecil, sering sekali dia mengajak tukang kebun itu bermain-main. Ketika tukang kebun sudah tiba dekat di depan Jarot, tiba-tiba dia terbelalak, mulutnya ternganga dan gagang sapu yang dipegangnya terlepas dari tangannya, lalu dia mengamati wajah Jarot dan akhirnya dia berseru dengan suara terputus-putus,

"Den mas Jarot.... ? Tapi.... tapi.... benarkah andika denmas Jarot yang sudah hilang demikian lamanya?"

Bukan main senang dan lega rasa hati Jarot mendengar seruan ini. Ki Sambung tidak lupa kepadanya, berarti bahwa tidak banyak perubahan terjadi atas dirinya! Jarot tertawa,

"Ha-ha, paman Sambung, kiranya andika tidak lupa kepadaku? Aku memang Jarot, tulen dan bukan setannya!"

"Denmas Jarot.... ! Ah, sekian lamanya ini, andika pergi ke mana sajakah, denmas? Semua orang mengharapkan kedatangan denmas!" Dan seperti seorang anak kecil, tukang kebun itu lalu berlari ke dalam gedung sambil berteriak-teriak.

"Denrnas Jarot datang.... ! Denmas Jarot telah pulang ... !!"

Mendengar teriakannya berulang-ulang itu, para pelayan yang berada di serambi depan sudah berlari-lari keluar ke pekarangan dan mereka semua menyambut Jarot dengan wajah ceria dan senyum gembira. Tak lama kemudian, Sang Adipati sendiri keluar diikuti oleh para isteri, putera dan puterinya.

"Jarot, anakku.... !" Ibu Jarot berlari ke depan dan menubruk puteranya. Mereka saling rangkul dan wanita itu menangis tersedu-sedu saking gembiranya.

"Kanjeng ibu, ampunkan anakmu yang berdosa, meninggalkan kanjeng ibu tanpa pamit...." Jarot menelan keharuannya.

"Jarot, benarkah kami tidak mimpi dan engkau yang datang ini?" Sang Adipati bertanya.

Jarot melepaskan pelukan pada ibunya dan dia lalu berlutut menyembah depan kaki ayahnya. "Kanjeng Rama, ampunkan saya, kanjeng Rama, saya telah pergi tanpa pamit selama tujuh tahun."

Sang Adipati memegang pundak pemuda itu dan berkata, "Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."

Keluarga itu lalu memasuki gedung dan berkumpul kembali di ruangan dalam. Setelah pelayan menyuguhkan minuman dan Jarot diminta agar minum lebih dulu, Sang Adipati Kertajaya lalu bertanya kepada Jarot,

"Jarot, sekarang tiba saatnya bagimu untuk bercerita. Tujuh tahun yang lalu itu, engkau pergi berburu dengan kangmasmu Lembu Alun.... ah, ya. Di mana Lembu Alun dan Lembu Tirta? Kenapa mereka tidak berkumpul di sini?"

"Mereka sejak sore tadi pergi dan belum kembali," jawab seorang di antara para ibu selir.

"Anakku Jarot, kau lanjutkan pertanyaanku. Ketika itu engkau pergi berburu kijang dengan kangmasmu Lembu Alun, kenapa engkau lalu menghilang di dalam hutan itu sehingga kangmasmu pulang seorang diri? Kami sudah mengerahkan pasukan untuk mencarimu di daerah itu sampai tiga hari tiga malam, namun usaha kami sia-sia belaka. Apakah yang terjadi denganmu dan ke mana saja engkau menghilang?"

Dengan terus terang tanpa menuduh siapa-siapa Jarot lalu menceritakan pengalamannya tujuh tahun yang lalu.

"Ketika itu, saya dan kakangrnas Lembu Alun berpencar untuk mencari dan memburu kijang. Ketika itu saya tidak melihat seekorpun kijang dan hawanya gerah sekali maka saya lalu turun ke sungai untuk membasuh muka dan leher saya. Tiba-tiba saja saya merasa sakit sekali pada punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

Jarot berhenti sebentar dan para pendengarnya penuh perhatian dan mereka ingin sekali tahu apa selanjutnya yang terjadi dengan pemuda itu. Jarot kini berhati lega karena ternyata seluruh keluarganya mengenalnya. Dia pergi ketika berusia limabelas tahun dan pulang setelah berusia duapuluh dua tahun, namun ayahnya, ibunya dan para ibu tiri, juga saudara-saudaranya semua mengenalnya. Mengapa Lembu Alun dan Lembu Tirta tidak mengenalnya? Hal ini membuat dia teringat dan melamun.

"Selanjutnya bagaimana, angger Jarot?" tanya ibunya yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui pengalaman Jarot.

"Ketika saya sadar dari pingsan, ternyata saya telah berada di dalam sebuah pondok. Kiranya ada orang yang menolong saya dan orang itu kemudian menjadi guru saya. Namanya adalah Bhagawan Dewondaru, seorang maha sakti yang bertapa di lereng Semeru. Karena ternyata kami saling cocok, saya terus berguru kepada Bapa Guru sampai tujuh tahun lamanya. Kanjeng Rama, dan kanjeng ibu, ampunkan saya yang tidak pulang selama tujuh tahun. Selama itu saya pergi menuntut ilmu dan baru sekarang saya dapat pulang."

"Tidak mengapa, engkau kini pulang sudah membahagiakan hati kami semua. Hanya lain kali, kalau hendak meninggalkan kadipaten lama-lama, harus memberitahu lebih dulu, Jarot. Engkau membuat hati kami gelisah dan putus harapan selama bertahun-tahun."

Keluarga itu lalu makan malam, dan semalam itu mereka bercakap-cakap melepas rindu sampai larut malam, barulah mereka mengaso dan tidur. Jarot mendapatkan kamarnya yang dahulu, yang masih dirawat dengan baik-baik oleh ibunya yang tidak pernah putus asa dan selalu percaya bahwa sekali waktu puteranya akan pulang.

********************

Malam itu, kembali Lembu Alun dan Lembu Tirta menghadap guru mereka, Wasi Surengpati, di dalam gua di tebing Laut Kidul itu.

"Anak mas berdua, mengapa kelihatan gugup dan lesu malam ini. Apakah yang mengganggu perasaan kalian berdua?" Tanya Wasi Surengpati setelah kedua orang muridnya itu menghadap di depannya. Sinar dua batang obor yang apinya bergerak-gerak tertiup angin itu menimbulkan pemandangan yang menyeramkan di guha itu.

"Ah, celaka, Bapa Guru. Secara tiba-tiba Jarot telah muncul kembali. Benar seperti petunjuk Bapa Guru, Jarot masih hidup dan ternyata dia memiliki kepandaian tinggi sehingga kami berdua tidak mampu menandinginya." Lembu Alun dan adiknya menceritakan pertemuan mereka dengan Jarot di luar pintu gerbang utara sore tadi. Wasi Surengpati mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hemmm, kalau sudah begini, lalu apa yang andika berdua hendak lakukan? Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada kalian?"

"Dengan munculnya Jarot, maka usaha melenyapkan kanjeng Rama tidak ada gunanya lagi. Sebelum meninggal, kanjeng Rama tentu akan mengangkat jahanam itu menjadi penggantinya. Sekarang sasaran harus ditujukan kepada Jarot, Bapa Guru. Kalau dia mati, berarti penghalangnya tidak ada lagi. Kami mohon agar Bapa Guru membunuh Jarot."

"Hemm...." Wasi Surengpati mengelus jenggotnya yang tebal. "Kalau pemuda itu memiliki kadigdayaan, mampu mengalahkan kalian berdua, maka tidak akan demikian mudah membunuh dengan guna-guna. Akan tetapi aku dapat memancingnya untuk datang ke tempat ini dan di sini kita bertiga dapat mengeroyok dan membunuhnya. Tempat ini sunyi dan baik, tidak akan ada orang yang melihat dan mengetahuinya ... juga kalau mayatnya kita buang ke bawah, dia akan ditelan ombak dan lenyap."

Dua orang kakak beradik ini menjadi girang bukan main. "Apakah untuk itu ada juga syaratnya, Bapa Guru?"

"Tentu saja, akan tetapi untuk mengguna-gunai agar dia datang ke sini syaratnya hanya mudah. Sepotong baju yang telah dipakai dan belum dicuci akan cukup untuk memaksa dia datang ke sini."

"Baik, Bapa Guru. Kalau hanya itu saja akan kami usahakan dan bawa ke sini secepatnya. Akan tetapi sekarang kami harus menghadapi hal yang amat tidak enak. Kalau Jarot sudah pulang ke Kadipaten, terpaksa kami berdua akan bertemu dengannya. Sungguh amat tidak enak bagi kami berdua."

"Akan tetapi, kakangmas Lembu Alun. Kenapa bingung? Kita pura-pura baru tahu bahwa dia benar-benar adik kita Jarot dan kita minta maaf kepadanya bahwa sore tadi kita tidak mengenalnya dan menyangkanya orang lain yang menyamar sebagai Jarot. Dengan demikian kita dapat menutup rasa malu kita dan menghilangkan kecurigaannya terhadap kita," kata Lembu Tirta kepada kakaknya.

Demikianlah, pada keesokan harinya, ketika Jarot baru saja bangun dari tidurnya dan mandi, dua orang kakaknya itu menemuinya di kamarnya.

"Adimas Jarot, kiranya benar-benar engkaukah yang datang?" kata Lembu Alun dengan wajah berseri dan dia melangkah maju memegang tangan Jarot.

"Sungguh mati, hal ini sukar dipercaya."

"Aku juga tadinya tidak percaya sama sekali bahwa engkau benar-benar masih hidup dan pulang, adimas Jarot. Sungguh kami menyesal sekali bahwa kemarin kami tidak percaya dan menyangka engkau orang lain yang hendak mengacau," kata pula Lembu Tirta dengan wajah sungguh-sungguh.

"Benar, adimas Jarot. Aku merasa menyesal dan malu sekali kepadamu bahwa kemarin aku tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu sebagai seorang jahat. Aku khawatir kanjeng Rama akan marah sekali kepada kami berdua."

Jarot tersenyum. "Tidak mengapalah, kakangmas. Aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian kemarin tidak mengenalku dan tidak percaya bahwa aku masih hidup dan pulang. Dan tentang kanjeng Rama, harap kalian jangan khawatir karena mengenai peristiwa kita kemarin, aku tidak menceritakan kepada siapapun juga. Kanjeng Rama tidak tahu akan peristiwa itu."

Tentu saja kedua orang pemuda itu merasa girang dan lega mendengar ucapan Jarot ini. Mereka berdua kini bersikap ramah dan baik sekali kepada Jarot, bahkan seolah memperlihatkan rasa sukur dan kangennya.

"Dahulu itu aku kebingungan sekali karena engkau tidak muncul kembali dan aku telah berteriak-teriak memanggilmu, mencari-cari sampai hari menjadi sore. Terpaksa aku pulang sendiri sambil menangis karena khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi denganmu, adimas Jarot? Ke mana engkau pergi?"

"Ada orang memanah punggungku, kakangmas Lembu Alun. Orang memanahku dari belakang dan anak panahnya mengenai punggungku sehingga aku roboh dan hanyut di Kali Rejali," kata Jarot sambil menatap tajam wajah Lembu Alun. Akan tetapi wajah kakaknya itu tidak menunjukkan sesuatu, hanya tampak heran mendengar jawabannya itu.

"Ada orang memanahmu dari belakang? Akan tetapi, siapakah orangnya yang bertindak sedemikian kepadamu, adikku?"

"Aku tidak tahu, kakangmas. Begitu terkena anak panah, aku lalu jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi."

"Ah, aku tahu! Pemanahnya tentulah anggauta perampok yang suka bersembunyi di dalam hutan. Karena khawatir ketahuan oleh adimas Jarot, maka dia memanahnya agar tempat persembunyiannya tidak diketahui orang," kata Lembu Tirta.

"Hemm, boleh jadi benar kata-katamu itu, dimas Lembu Tirta. Lalu bagaimana, adimas Jarot? Engkau pingsan dan hanyut di Kali Rejali, bagaimana engkau dapat tertolong dan siapa yang menyelamatkanmu?"

"Tentu ada orang yang menolongmu, bukan? Kalau tidak tentu adimas Jarot akan tewas di kali itu."

"Ehh, nanti dulu. Apakah engkau menyimpan anak panah itu, adimas Jarot? Barangkali dari anak panahnya kita dapat mengenal dan menemukan pemanahnya."

Jarot menggeleng kepalanya. "Anak panah itu biasa saja, berbulu hitam. Banyak orang memakai anak panah seperti itu, kakangmas, bagaimana kita dapat mengenal orangnya?"

"Ah, sayang. Lalu, siapa yang menolongmu, dimas?"

"Ketika aku sadar dari pingsan, aku telah berada dalam sebuah pondok dan ternyata ada orang yang menolongku dari Kali Rejali dan membawaku ke pondok itu. Dia yang mengobati dan merawatku sampai aku sembuh kembali."

"Siapa dia, adimas?"

"Dia adalah Bhagawan Dewondaru yang kemudian menjadi guruku selama tujuh tahun ini. Dari dialah aku mempelajari sedikit ilmu kanuragan."

Wajah Lembu Alun berubah merah karena dia teringat akan peristiwa kemarin sore di mana dia dan Lembu Tirta mengeroyok Jarot dengan keris namun mereka berdua tidak mampu menandinginya.

"Ahh, engkau sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dimas Jarot. Aku ikut merasa gembira."

Dua orang itu bersikap ramah dan akrab sekali sehingga Jarot sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka di luar pintu gerbang itu. Dan karena dia tidak menaruh curiga sama sekali, mudah saja bagi Lembu Alun untuk mengambil sepotong bajunya yang kotor dan yang sudah diserahkan pembantu untuk dicuci. Baju itu segera dibawanya ke Guha Iblis di tebing Laut Kidul itu.

Dua hari kemudian, pada suatu pagi Jarot mendadak merasa hatinya gelisah sekali. Dia tidak betah tinggal di rumah dan untuk melenyapkan hati yang gelisah itu dia lalu keluar untuk berjalan-jalan. Kadipaten Pasisiran masih sama dengan tujuh tahun yang lalu, hanya sedikit saja perubahannya. Dia masih mengenal rumah-rumah di kadipaten itu, dan diapun bertemu dengan banyak orang yang pernah dikenalnya ketika dia masih remaja dahulu.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan sampai keliling kota kadipaten, perasaan gelisah dalam hatinya tidak lenyap, bahkan bertambah dengan perasaan yang aneh. Dia merasa seperti dipanggil orang untuk keluar dari kota Kadipaten Pasisiran melalui pintu gerbang sebelah selatan. Diapun menurutkan dorongan hati ini dan pergilah dia keluar kota. Setelah tiba di luar pintu gerbang, masih saja ada sesuatu yang menariknya dengan kuat sekali sehingga dia menjadi semakin heran. Daya tarik itu mendorongnya untuk berjalan terus ke selatan! Dia mulai merasa bahwa dorongan hati ini tidaklah wajar, akan tetapi hal itu bahkan membuat dia tertarik sekali. Apa yang mendorongnya demikian kuatnya menuju ke pantai Laut Selatan? Dia menjadi ingin tahu dan tidak melawan daya tarik itu, bahkan dia lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.

Setelah tiba di daerah pantai, dia melihat seorang wanita cantik sedang berjalan seorang diri. Sekilas pandang saja Jarot maklum bahwa wanita itu bukan penduduk biasa. Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi wanita itu masih cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh seperti seoang dara saja. Wanita itupun memandang kepadanya, akan tetapi Jarot tidak memperhatikan atau memperdulikannya. Daya tarik itu semakin kuat dan dia berlari cepat mendaki bukit di tepi laut karena dari sanalah daya tarik itu datangnya. Dari atas bukit di tepi laut!

Sementara itu, wanita yang sedang berjalan itu juga memandang penuh perhatian. Tadinya wanita itu hendak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi ditahannya kembali. Ketika melihat Jarot menggunakan ilmu berlari cepat ia semakin tertarik dan tak lama kemudian wanita itupun menggunakan gerakan yang cepat sekali membayangi Jarot.

Siapakah gerangan wanita setengah tua yang cantik itu? Wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto! Sebagaimana kita ketahui, Endang Patibroto melakukan perjalanan menyusuri pantai Laut Kidul menuju ke timur dalam usahanya mencari jejak puterinya. Ketika tiba di situ bertemu seorang pemuda tampan yang jelas bukan pemuda dusun, tadinya ia ingin menyapa dan bertanya kalau-kalau pemuda itu pernah melihat puterinya atau melihat Bagus Seto. Akan tetapi ketika pemuda itu berlari kencang sekali, jelas bukan lari biasa melainkan lari yang menggunakan aji kesaktian, Endang Patibroto terkejut dan tertarik, maka iapun cepat menggunakan Aji Bayu Tantra untuk berlari secepat angina membayangi pemuda tampan itu.

Karena seluruh perhatian Jarot ditujukan ke depan, ke arah tenaga mujijat yang menariknya semakin kuat untuk berjalan terus, dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang membayanginya dari belakang. Dia mendaki bukit yang cukup tinggi itu, bukit berbatu-batu karang yang tajam dan runcing, harus berhati-hati kalau berlari di atas batu-batu karang itu. Akhirnya dia tiba di ujung jalan yang menuju ke tebing yang amat curam. Dia menjenguk ke bawah dan bergidik ngeri. Tebing itu amat curam. Air laut dan batu-batu karang tampak di bawah, sejauh tiga ratus meter lebih. Kalau orang terjatuh dari atas tebing, tentu tubuhnya akan hancur lebur disambut karang tajam dan runcing, dan disambut ombak laut yang ganas. Akan tetapi anehnya, kekuatan yang menariknya itu makin terasa dan kini menarik dari bawah! Dia menjadi makin terheran-heran, akan tetapi dia melihat sejalur jalan setapak menuruni tebing itu. Ada bekas kaki orang di jalan setapak, tanda bahwa ada orang menuruni jalan itu. Kalau orang lain berani menuruni jalan itu, mengapa dia tidak? Dan lagi, daya tarik itu terus terasa semakin kuat, datangnya dari bawah!

Tanpa ragu lagi Jarot lalu menuruni jalan setapak yang terjal itu. Berpegang kepada akar-akar kayu-kayuan atau kepada batu-batu karang yang menonjol, dia terus menuruni jalan setapak itu dengan cekatan dan cepat. Akhirnya tibalah dia di tempat datar dan dari situ dia melihat beberapa buah guha yang besar. Tenaga yang menariknya itu datang dari sebuah di antara guha-guha itu, yang berada di tengah. Di depan guha itu terdapat tanah datar yang cukup luas. Dengan berani Jarot menurutkan daya tarik itu dan melangkah ke depan. Setelah tiba didepan guha itu, dia mendengar suara orang tertawa. Tiga orang muncul dari dalam guha itu dan dia terbelalak. Dua di antara mereka dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Lembu Alun dan Lembu Tirta!

Kedua orang ini mengiringkan seorang kakek yang tertawa-tawa. Jarot memandang penuh perhatian. Kakek itu amat menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai ganas, namun mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning dekil. Tangan kanan kakek itu memegang sebatang tongkat berbentuk ular, seperti seekor ular yang dikeringkan.

"Hoa-ha-ha-ha, andika telah datang, Jarot?"

Jarot tidak memperdulikan kedua orang kakaknya, melainkan menatap tajam wajah kakek itu. Dia tidak mengenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek ini yang memiliki ilmu yang menariknya tadi.

"Jadi andika yang menggunakan ilmu hitam menarikku datang ke sini?"

"Hoa-ha-ha-ha, siapapun akan datang kalau kupanggil. Tak seorangpun dapat melawan ilmu sihirku!" Wasi Surengpati membanggakan diri.

"Orang tua, apa kehendakmu memanggil aku datang ke sini?" tanya Jarot, suaranya tetap tenang dan tabah.

"Hoa-ha-ha! Kalau engkau ingin tahu, tanyakan saja kepada dua orang saudaramu ini!"

Mendengar ini, Jarot memandang kepada kedua orang kakaknya dengan alis berkerut. "Kakangmas Lembu Alun dan Lembu Tirta, apa artinya semua ini?"

"Artinya, engkau akan mati hari ini, Jarot!" kata Lembu Alun. "Akan kami sempurnakan usahaku tujuh tahun yang lalu!"

Jarot membelalakkan kedua matanya. "Jadi.... jadi engkau yang dulu melepaskan anak panah menyerangku, kakangmas?"

Lembu Alun tidak menjawab, melainkan mencabut kerisnya dan berkata kepada Wasi Surengpati.

"Bapa, cepat habisi dia!"

Sambil tertawa kakek itu lalu menerjang dengan tongkat ularnya. Terdengar angin berdesir ketika tongkat itu menyambar dan cepat Jarot mengelak karena dari angin sambarannya saja maklumlah dia bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat. Akan tetapi tongkat ular itu menyambar lagi dan kini Lembu Alun dan Lembu Tirta juga sudah menerjang maju dengan keris mereka. Jarot dikeroyok tiga! Tiga orang lawannya semua bersenjata sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong, maka sebentar saja dia terdesak hebat.

Tongkat ular menyambar lagi. "Wuuutt... !" Jarot terpaksa menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga.

"Plakkk.... !" pertemuan lengannya dengan tongkat itu membuat tubuh Jarot tergetar hebat dan dia terhuyung.

Lembu Alun mengejar dan menusukkan kerisnya, akan tetapi dapat dielakkan oleh Jarot. Ketika Lembu Tirta menyusul dengan tusukan kerisnya, dia menangkis dengan tangan kirinya.

"Plakk!" Lembu Tirta terhuyung ke samping. Akan tetapi kini Wasi Surengpati sudah menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan nyaring, teriakan nyaring itu mengandung tenaga yang amat kuat dan Jarot merasa jantungnya tergetar dan diapun terhuyung-huyung ke belakang. Ternyata kakek itu dapat menyerang dengan suaranya yang mengandung tenaga mengguncang jantung lawan seperti auman seekor singa!

Selagi terhuyung, kembali dua orang kakak beradik itu sudah menyerang dengan keris mereka. Namun, Jarot dapat menggulingkan tubuhnya dan terluput dari tusukan kedua keris kakaknya. Ketika dia melompat berdiri dan berniat melarikan diri dari keadaan gawat itu, Wasi Surengpati telah menghadang di depannya. Kembali kakek ini mengeluarkan gerengannya yang dahsyat dan kembali Jarot terhuyung dan pada saat itu tongkat ular telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali ke arah kepalanya.

"Wuuuuuuttt.... tukk!" Tongkat yang sudah menyambar dekat kepala Jarot itu terpental karena ada sepotong batu menangkisnya.

Kakek ini terkejut dan memandang ke kiri darimana sepotong batu tadi melayang dan menangkis tongkatnya. Dia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri di sana sambil memandang tajam kepadanya. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sekali melompat sudah berada didepan Wasi Surengpati. Endang Patibroto tersenyum mengejek. Sikapnya tenang dan pandang matanya demikian tajam bersinar sehingga Wasi Surengpati diam-diam terkejut sekali dan menduga-duga siapa adanya wanita yang telah menangkis tongkatnya dengan sambitan batu tadi.

"Hemm, orang tua jelek! Sungguh tidak malu mengeroyok seorang pemuda yang tampaknya tidak bersalah apa-apa! Kalau andika mencari lawan, akulah lawanmu, kakek tua bangka buruk!" Endang Patibroto berseru.

Wasi Surengpati menjadi marah sekali. Biarpun dia dapat menilai bahwa wanita itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak takut.

"Babo-babo, wanita lancang tangan. Siapakah kamu berani menentang Wasi Surengpati dari Guha Iblis? Apakah nyawamu rangkap maka berani engkau mencampuri urusan kami?"

"Biar ditambah lima orang macam kamu, aku tidak takut. Wasi Surengpati, kamu adalah manusia jahat yang pantas dijadikan hamba iblis. Biarpun aku belum tahu duduk perkaranya, melihat penampilanmu saja aku sudah tahu bahwa pemuda yang kau keroyok itu tentulah berada di pihak yang tidak bersalah!"

"Keparat, lancang mulutmu! Heiiiiii...." Kembali dia berteriak melengking, suaranya menggetarkan seluruh tempat itu.

Akan tetapi Endang Patibroto tidak menjadi gentar, bahkan wanita inipun lalu mengeluarkan ajinya, menjerit dengan lengkingan panjang. Itulah Pekik Sardulo Bairowo dan lengkingan ini seolah menelan jeritan Wasi Surengpati tadi! Wasi Surengpati menjadi semakin marah dan diapun sudah menerjang maju dengan tongkat ularnya. Endang Patibroto menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk!" Endang Patibroto merasa betapa lengannya tergetar, akan tetapi sebaliknya tongkat Wasi Surengpati terpental ke atas!

Dari pertemuan dua tenaga ini saja sudah dapat dinilai bahwa tenaga Wasi Surengpati masih kalah setingkat dibandingkan tenaga wanita sakti itu. Akan tetapi Wasi Surengpati masih penasaran dan mulailah dia mengamuk dengan tongkat ularnya yang menyambar-nyambar bagaikan ular hidup yang pandai terbang. Namun, Endang Patibroto selalu dapat mengelakkannya dan ketika ia mendapat kesempatan, ia membalas serangan lawan dengan pukulan Pethit Nogo!

"Plakk!" Ujung jari tangan Endang Pati broto mengibas ke arah kepala Wasi Surengpati, akan tetapi kakek itu dapat menangkis dengan ujung tongkatnya. Mereka kini bertanding dengan hebat, saling serang dan kakek itu mendapat kenyataan betapa hebatnya kepandaian lawannya.

Sementara itu, dua orang kakak beradik itu masih tetap mengeroyok Jarot. Namun mereka bukan tandingan Jarot. Tusukan-tusukan keris mereka dengan mudah dihindarkan Jarot dengan elakan atau tangkisan dan ketika dia balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya, dua orang kakak beradik itu menjadi repot berloncatan ke sana sini untuk mengelak.

"Haiiiiitt.... ! Pergilah!" Bentak Endang Patibroto kepada lawannya dan kini ia menyerang dengan pukulan jarak jauh Gelap Musti.

Kakek itu mencoba untuk menahan serangan ini dengan pengerahan tenaga saktinya, namun dia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima meter. Agaknya kakek itu maklum bahwa ia tidak akan menang melawan wanita sakti itu, maka diapun melompat dan melarikan diri melalui tebing yang curam itu, merayap naik seperti seekor monyet. Endang Patibroto tidak mengejar melainkan menonton pertandingan antara Jarot yang dikeroyok dua oleh Lembu Alun dan Lembu Tirta.

Endang yang menonton pertandingan itu menjadi heran sekali. Sudah jelas bahwa pemuda tampan bertangan kosong yang dikeroyok dua orang pemuda berkeris itu jauh lebih kuat, akan tetapi dia melihat betapa pemuda tampan itu selalu membatasi diri. Kalau saja dia kehendaki, tentu dengan mudah dia dapat merobohkan dua orang pengeroyoknya. Agaknya dia memang tidak mau memukul kedua orang itu. Sebaliknya, dua orang berkeris itu mati-matian berusaha untuk membunuh si pemuda tampan.

Endang Patibroto menjadi penasaran sekali. Ia tidak tahu ada urusan apa di antara mereka, Dua orang pemuda pengeroyok itupun tampaknya seperti pemuda baik-baik dan berpakaian pantas seperti putera bangsawan. Akan tetapi yang jelas mereka itu licik, mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong dengan menggunakan keris. Apalagi kalau mengingat bahwa kakek iblis tadi membantu dua orang pemuda itu, hatinya condong memihak pemuda yang dikeroyok.

Melihat betapa pemuda bertangan kosong itu masih belum juga mau merobohkan dua orang lawannya, Endang Patibroto lalu menggerakkan tangan kirinya yang mengambil kerikil kecil ke arah perkelahian itu. Terdengar jerit kesakitan dua kali dan dua orang pengeroyok itupun roboh!

Jarot yang tadi maklum bahwa ada wanita sakti datang membantunya, bahkan wanita itu telah mengusir kakek iblis, maklum bahwa dua orang kakaknya itu roboh oleh wanita sakti itu. Sekali menggerakkan kaki, wanita itu telah berada dekat Lembu Alun dan Lembu Tirta, membentak dengan suara mengancam.

"Kalian dua orang muda ini tentu juga bukan manusia baik-baik, tiada bedanya dengan kakek iblis tadi!"

Lembu Alun dan Lembu Tirta yang sudah roboh dan kehilangan keris mereka, menjadi jerih. Mereka takut sekali karena Jarot telah mengetahui rahasia mereka. Kalau Jarot mengadu kepada ayah mereka, mereka berdua tentu akan mendapat marah besar dan akan dihukum berat. Maka, keduanya lalu merangkak, bangkit berdiri hendak melarikan diri. Akan tetapi, dua kali kaki Endang Patibroto menendang dan dua orang pemuda itu roboh lagi, kini menyeringai kesakitan karena tendangan yang mengenai dada mereka itu membuat mereka sukar untuk bernapas.

"Kanjeng Bibi, harap ampunkan mereka dan jangan dibunuh," tiba-tiba Jarot berkata dengan suara memohon kepada Endang Patibroto.

Wanita sakti itu menoleh dan memandang kepada Jarot dengan alis berkerut.
"Apa? Mereka berusaha mati-matian untuk membunuhmu, dan sekarang engkau malah mintakan ampun untuk mereka?"

Jarot berkata lembut. "Kanjeng Bibi, mereka ini adalah kakak-kakakku sendiri."

"Kakakmu sendiri? Akan tetapi mengapa mereka hendak membunuhmu dan mereka dibantu kakek sakti tadi? Hayo ceritakan yang jelas sebelum aku mengambil keputusan, hendak kubunuh atau tidak dua orang muda jahanam ini!"

Jarot menghela napas panjang dan memandang kepada dua orang kakaknya. "Mereka adalah kakak-kakak saya berlainan ibu, Kanjeng Bibi. Mereka hendak membunuhku mungkin karena mereka menghendaki agar ayah kami mengangkat mereka menjadi calon adipati. Ayah kami adalah Adipati di Pasisiran dan mereka khawatir kalau saya yang kelak diangkat menggantikan ayah. Akan tetapi rupanya Hyang Widhi belum menghendaki saya mati, maka kanjeng bibi muncul dan menolong saya."

"Keparat betul dua orang ini. Memperebutkan kedudukan dan berusaha membunuh adik sendiri? Orang muda, siapa namamu?"

"Nama saya Jarot, Kanjeng Bibi, dan mereka ini adalah kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta."

Mendengar jawaban Jarot, timbul harapan dalam hati kedua orang muda itu. "Dimas Jarot, ampunkan kesalahanku," kata Lembu Alun.

"Aku minta ampun darimu, dimas Jarot," kata Lembu Tirta.

"Anakmas Jarot, dua orang ini tidak semestinya diberi ampun. Hayo bawa mereka menghadap ramandamu dan ceritakan semua perbuatan mereka terhadap dirimu. Mereka layak mendapat hukuman berat. Kalau engkau tidak mau melaporkan perbuatan mereka kepada orang tua kalian, akulah yang akan menghadap Sang Adipati dan melaporkan semua peristiwa ini. Hayo kau bawa mereka ke Kadipaten."

"Baik, Kanjeng Bibi. Terima kasih atas pertolongan Kanjeng Bibi."

"Tidak usah berterima kasih. Ingat, orang muda, seorang saudara, apa lagi saudara tiri yang sudah memperlihatkan sikap bermusuhan merupakan musuh yang amat berbahaya. Aku menghargai sikapmu yang mengalah, akan tetapi hal ini harus dilaporkan kepada ayahmu. Tentu mereka yang licik ini akan menyangkal di depan ayah kalian, maka biarlah aku menyertaimu menghadap ayahmu sebagai saksi."

Karena Endang Patibroto menyertai mereka, maka kedua orang saudara itu tidak mampu berbuat sesuatu dan mereka mengikuti dengan gentar ketika Jarot membawa mereka pulang ke kadipaten. Demikian pula Jarot. Biarpun dia bermaksud untuk memaafkan kedua orang kakaknya, namun desakan Endang Patibroto membuat dia tak berdaya dan terpaksa menuruti permintaan wanita sakti itu. Kalau dia tidak melapor, dan wanita itu yang melaporkan kepada ayahnya, tentu dia akan dipersalahkan ayahnya pula.

Sang Adipati Kertajaya menyambut kedatangan ketiga puteranya yang diiringkan seorang wanita cantik itu dengan heran. Apa lagi melihat sikap Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak wajar, seperti dua orang yang ketakutan.

"Jarot, engkau bersama dua orang kakakmu menghadap aku disertai seorang wanita ini, ada urusan apakah dan siapa wanita ini?"

"Maafkan, Kanjeng Rama, saya datang menghadap tanpa dipanggil. Kami bertiga menghadap Kanjeng Romo untuk menceritakan suatu peristiwa yang perlu Kanjeng Romo ketahui. Dan Kanjeng Bibi ini yang namanya.... belum saya ketahui, akan tetapi kanjeng Bibi ini telah menyelamatkan nyawa saya, Kanjeng Romo."

Mendengar pengakuan ini, terkejutlah Adipati Kertajaya. Dia memandang kepada Endang Patibroto dengan penuh perhatian. Seorang wanita yang memiliki kepribadian agung dan anggun, cantik dan gagah, mendatangkan sikap hormat dalam hatinya.

"Selamat datang, Nyi Sanak. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu terhadap putera kami Jarot. Bolehkah kami mengetahui siapa gerangan nama Nyi Sanak dan berasal dari mana?"

Endang Patibroto tersenyum dan merasa senang. Adipati ini bukan seorang yang sombong dan suka mengagungkan kedudukannya. Sikapnya demikian hormat, maka iapun memperkenalkan diri dengan terus terang.

"Sang Adipati, saya bernama Endang Patibroto dan datang dari Panjalu."

Begitu mendengar nama dan tempat tinggal itu, Adipati Kertajaya lalu bangkit berdiri dan matanya terbelalak, kemudian dia membungkuk dengan sikap hormat sekali.

"Jagad Dewa Bathara. Kiranya paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto! Silakan duduk dan kami menghaturkan selamat datang di Kadipaten Pasisiran."

Semua orang yang melihat sikap Adipati menjadi heran. Adipati ini tentu saja sudah mendengar akan nama Endang Patibroto yang terkenal di seluruh daerah Panjalu dan Jenggala. Siapa yang tidak mengenal wanita sakti yang pernah menjadi isteri Pangeran Panjirawit dari Jenggala dan kemudian menjadi isteri Ki patih Tejolaksono di Panjalu? Wanita sakti ini dahulu pernah membuat geger ketika mengamuk di Nusabarung dan di Blambangan!

Setelah dipersilakan duduk di atas kursi yang sejajar dengan sang adipati Endang Patibroto segera duduk di kursi itu tanpa sungkan lagi. Sementara itu, Jarot dan dua orang kakaknya itu memandang dengan mata terbelalak kepada Endang Patibroto. Jarot memandang penuh kagum karena dia juga pernah mendengar nama itu disebut-sebut orang, akan tetapi Lembu Alun dan Lembu Tirta memandang dengan terkejut dan semakin takut. Habislah sudah riwayat mereka, mereka berpikir. Sungguh sial sekali. Setelah usaha mereka sudah hampir berhasil, mendadak muncul wanita sakti itu.

"Sekarang ceritakanlah peristiwa apa yang kau alami?" tanya Sang Adipati kepada Jarot.

Jarot beberapa kali membuka mulut akan tetapi tidak dapat mengeluarkan suara. Sungguh tidak enak sekali rasa hatinya kalau harus membongkar kekejian dua orang kakaknya itu di depan ayahnya. Dia menoleh kepada Endang Patibroto dan berkata, "Kanjeng Bibi yang mulia, sudikah kanjeng Bibi yang menceritakan kepada kanjeng Romo tentang peristiwa itu?"

Endang Patibroto tersenyum dan mengangguk. Dia juga kagum kepada pemuda ini. Sungguh seorang pemuda yang berbudi lembut dan bijaksana.

"Baiklah, saya akan bercerita," katanya sambil memandang kepada Adipati Kertajaya. "Ketika saya sedang melakukan perjalanan di luar kota kadipaten Pasisiran, saya melihat anakmas Jarot ini melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu berlari cepat. Saya menjadi tertarik sekali dan diam-diam saya membayanginya. Ketika dia menuruni tebing curam, sayapun mengikutinya dan akhirnya dia tiba di depan sebuah guha besar. Di situ dia bertemu dengan dua orang kakak tirinya yang ditemani seorang kakek iblis dan mereka bertiga itu segera mengeroyok anakmas Jarot. Mereka bertiga berusaha mati-matian untuk membunuh anakmas Jarot. Melihat ini saya lalu turun tangan menghadapi kakek iblis yang tangguh itu. Akhirnya kakek iblis itu berhasil saya usir dan dua orang muda yang bertindak keji dan curang ini dapat ditangkap dan dibawa menghadap di sini."

Wajah Adipati Kertajaya berubah merah sekali, matanya melotot kepada dua orang puteranya, akan tetapi dia masih bertanya kepada Jarot.

"Jarot benarkah seperti apa yang diceritakan Gusti Kanjeng Endang Patibroto itu?"

"Semua benar, Kanjeng Romo."

"Bedebah! Kalau begitu, yang memanahmu pada tujuh tahun yang lalu tentu si bedebah Lembu Alun ini! Heh, Lembu Alun dan Lembu Tirta. Benarkah kalian melakukan perbuatan keji itu, berusaha membunuh Jarot?"

Dua orang muda itu tidak berani menyangkal lagi, apa lagi yang menjadi saksi adalah Endang Patibroto! Mereka hanya mengangguk dan menundukkan kepala sambil bertiarap menyembah.

"Ampunkan kami, Kanjeng Romo."

"Siapa kakek iblis yang kalian ajak untuk membunuh adikmu Jarot?"

"Dia guru kami, Wasi Surengpati."

"Dan engkau Lembu Alun, beranikah engkau menyangkal lagi bahwa pada tujuh tahun yang lalu, engkau pula yang telah memanah punggung Jarot dari belakang?"

"Ampunkan hamba, Kanjeng Romo! Hamba mengaku salah...."

cerita silat online karya kho ping hoo

"Bedebah, kalian hanya mengotori Kadipaten Pasisiran saja! Orang-orang macam engkau yang menjadi hamba setan nafsu haruslah dienyahkan dari muka bumi!" Sang Adipati sudah menghunus kerisnya dan bangkit berdiri, siap untuk menyerang kedua orang puteranya.

Pada saat itu, Jarot meloncat dan menubruk ayahnya. "Kanjeng Romo, harap sabar dulu. Bagaimanapun juga, kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta adalah putera paduka, dan mereka juga kakak saya. Bagaimana Kanjeng Romo akan membunuh mereka begitu saja?"

Wajah Adipati itu masih merah dan matanya melotot memandang kepada Jarot yang menghalanginya membunuh kedua orang puteranya yang sesat itu.

"Kau.... kau yang hendak dibunuh mereka.... kau bahkan membela mereka, Jarot?"

"Mereka memang bertindak salah, Romo. Akan tetapi berilah kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan mengubah jalan pikiran mereka yang keliru. Kalau mereka dibunuh, berarti Kanjeng Romo tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menebus dosa. Apakah Kanjeng Romo tidak kasihan kepada mereka?"

Mendengar pembelaan adik mereka itu, kedua orang muda itu seperti ditusuk-tusuk rasa jantungnya dan mereka menangis sesenggukan.

"Adimas Jarot.... aku telah berdosa kepadamu, biarlah aku dihukum mati...."

"Aku juga berdosa kepadamu, dimas Jarot. Tidak pantas kau bela.... "

"Tidak, kakangmas. Andika berdua hanya terdorong nafsu ingin memperebutkan kedudukan adipati kelak. Kalau kalian minta baik-baik, aku akan menyerahkan kedudukan itu. Setelah kini kalian menyadari kesalahan, tentu akan bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatan yang menyeleweng dari kebenaran."

Adipati Kertajaya yang sudah menyarungkan kembali kerisnya karena ditahan oleh Jarot tadi, duduk kembali dan menghela napas panjang.

"Baiklah, mengingat akan permintaan ampun Jarot untuk kalian berdua, aku tidak akan menghukum mati kalian yang sebetulnya patut kalian terima. Sebagai gantinya, kalian kuhukum selama lima tahun menjadi perajurit jogoboyo kadipaten."

Dua orang pemuda itu cepat menyembah dan menghaturkan terima kasih. Semenjak hari itu, mereka berdua bertugas sebagai perajurit jogoboyo yang menjaga keamanan kadipaten Pasisiran. Adipati Kertajaya hendak menjamu Endang Patibroto, akan tetapi wanita ini menolak.

"Saya masih mempunyai banyak keperluan dan harus melanjutkan perjalanan sekarang juga. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Sang Adipati dan siapa tahu andika dapat membantu dalam urusan ini."

Adipati Kertajaya tersenyum dan menjawab. "Dengan sepenuh hati kami siap membantu Gusti Puteri. Apakah hal yang ingin andika tanyakan itu?"

"Saya sedang mencari putera puteriku yang melakukan perjalanan merantau. Puteraku itu bernama Bagus Seto dan puteriku bernama Retno Wilis. Apakah mereka itu lewat dan singgah di kadipaten ini?"

Adipati Kertajaya mengerutkan alisnya. "Saya sendiri tidak pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi akan saya umumkan dan tanyakan kepada semua perajurit kalau-kalau di antara mereka ada yang bertemu dengan kedua orang putera puteri andika itu."

Adipati Kertajaya segera mengutus perwira untuk mengumumkan pertanyaan itu dan sementara menanti jawaban mereka, Endang Patibroto dipersilakan menunggu dan dijamu makan oleh sang adipati bersama seluruh keluarganya. Hanya Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak ikut dalam perjamuan itu karena mereka mulai hari itu sudah harus bertugas sebagai perajurit jogoboyo. Dalam perjamuan itu Endang Patibroto banyak mendapat keterangan dari Adipati Kertajaya tentang pergolakan di timur. Pasisiran sendiri merupakan daerah kekuasaan Jenggala dan selama ini kadipaten ini selalu patuh kepada Jenggala.

"Mula-mula kadipaten di Nusabarung yang memperlihatkan tanda hendak menentang kekuasaan Kerajaan Jenggala, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Nusabarung bersekutu dengan Blambangan. Mereka telah memperkuat diri dan mempersiapkan pasukan besar untuk melawan pasukan Jenggala. Kami sendiri khawatir kalau kalau kami terseret karena kami berada ditengah-tengah antara Blambangan dan Jenggala," demikian antara lain Adipati Kertajaya memberi keterangan.

Mendengar ini semakin kuat keinginan hati Endang Patibroto untuk melakukan penyelidikan ke daerah yang bergolak itu. Kemudian, datang laporan dari para perwira yang mengatakan bahwa tidak ada seorang-pun di antara perajurit yang mendengar tentang Bagus Seto dan Retno Wilis Mendengar laporan itu, Endang Patibroto menjadi kecewa dan iapun segera berpamit dari keluarga Adipati Kertajaya. Ketika Endang Patibroto berpamit darinya, Jarot kembali mengucapkan banyak terima kasih.

"Bantuan kanjeng bibi sungguh merupakan budi yang besar. Mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat membalas budi itu."

Endang Patibroto tersenyum dan memandang pemuda itu dengan senang karena ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana, di samping memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh.

"Jangan bicara tentang budi, anakmas Jarot. Saya tidak mengharapkan balasan apapun juga, hanya saya mengharap agar kelak kalau andika sudah menggantikan ramandamu menjadi adipati, bertindaklah yang adil dan bijaksana terhadap rakyatmu."

Endang Patibroto segera melanjutkan perjalanannya menuju ke timur untuk mencari jejak puterinya dan juga untuk menyelidiki daerah yang bergolak itu.

**** 007 ****

Nusa Barung adalah sebuah pulau di lautan Kidul yang cukup besar. Di pulau itu terdapat seorang penguasa yang menyebut dirinya Adipati Martimpang yang kekuasaannya bukan hanya di atas pulau Nusa Barung, melainkan sampai ke daratan pantai Laut Kidul. Adipati Martimpang berhasil menjadi penguasa yang berpengaruh dan ditakuti. Dia juga menghimpun pasukan yang tidak kurang dari seribu orang jumlahnya, sebagian dari pasukannya berjaga di daratan pantai pulau Jawa bagian selatan itu. Dia juga mempunyai lima orang senopati yang terkenal gagah perkasa dan berbadan seperti raksasa.

Adipati Martimpang sendiri adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam dan wajahnya menyeramkan, sama sekali tidak dapat dibilang tampan. Akan tetapi dia memiliki belasan orang isteri yang cantik-cantik. Tidak mengherankan kalau dia juga mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita seperti ibunya dan diberi nama Dyah Candramanik. Gadis ini sudah berusia tujuh belas tahun dan tidak ada pemuda di Nusabarung yang tidak tergila-gila kepada puteri adipati ini.

Adipati Martimpang sendiri amat membanggakan puterinya. Akan tetapi siapakah yang berani mencoba untuk menundukkan hati Dyah Candramanik? Mereka gentar terhadap ayahnya. Karena itulah maka sampai berusia tujuh belas tahun, belum ada pria yang berani meminangnya. Tentu saja Adipati Martimpang mempunyai cita-cita besar terhadap puterinya yang dibanggakannya ini. Dia berkeinginan agar puterinya mendapatkan jodoh seorang raja yang masih muda dan yang kaya raya serta besar kekuasaannya. Atau setidaknya seorang ksatria yang sakti mandraguna dari keturunan orang terkenal. Karena itu jangan harap ada seorang pemuda biasa di Nusabarung mampu mempersunting bunga yang indah harum itu.

Untuk menguji kesaktian orang yang berani meminang, Sang Adipati mengadakan sayembara tanding. Siapa yang dapat mengalahkan seorang di antara lima orang senopatinya, yang bernama Wisokolo, dialah yang patut menjadi jodoh putrinya. Akan tetapi sebelum bertandmg melawan Wisokolo yang sakti, orang itu harus dapat menunjukkan bahwa dia putera seorang yang terkenal, pendeknya bukan pemuda keturunan orang biasa.

Karena syaratnya yang begitu berat, menandingi Ki Wisokolo, maka sampai berbulan-bulan setelah sayembara diumumkan, masih belum juga ada yang berani memasuki sayembara. Syarat itu begitu berat. Siapa yang berani menandingi Ki Wisokolo yang terkenal digdaya itu? Salah-salah tulang-tulang bisa patah-patah atau kepala bisa remuk!

Adipati Martimpang menjadi kecewa sekali, lalu menambah hadiah sayembara itu. Kalau ada orang yang lulus sayembara, bukan saja pemuda itu akan mempersunting Dyah Candramanik, bahkan akan diangkat menjadi calon adipati, menggantikan kedudukan Adipati Martimpang kalau dia sudah mengundurkan diri. Hal ini adalah sewajarnya karena sang adipati tidak mempunyai putera pria. Semua anaknya yang berjumlah tujuh orang adalah perempuan. Dyah Candramanik merupakan anak sulung dan yang paling cantik di antara saudara-saudaranya.

Berita tentang sayembara yang berhadiah besar ini tersebar luar sampai ke daerah-daerah lain. Maka berdatanganlah orang-orang muda dari segala penjuru untuk memasuki sayembara dan mengadu nasib. Mereka itu berdatangan dari Blambangan, daerah-daerah pantai utara dan timur, Probolinggo, Besuki, bahkan ada yang datang dari Madura dan Bali dwipa!

Pada hari yang ditentukan, berkumpullah lima orang pemuda yang tampak gagah perkasa di Nusabarung, kemudian muncul pula dua orang pemuda yang tampak lemah lembut. Dua orang pemuda ini bukan lain adalah Bagus Seto dan Retno Wilis! Ketika Retno Wilis mendengar berita tentang diadakannya sayembara tanding di Nusabarung, ia segera berkata kepada kakaknya, "Kakang Bagus, mari kita ikuti sayembara itu!"

Bagus Seto tersenyum memandang adiknya yang nakal. "Aku tidak ingin mencari jodoh, diajeng. Untuk apa aku mengikuti sayembara itu?"

"Biar aku yang memasuki sayembara, engkau hanya menjadi penonton saja."

"Heh-heh, engkau ini aneh-aneh saja. Engkau seorang gadis, bagaimana hendak memasuki sayembara tanding yang hadiahnya seorang puteri itu? Apakah engkau ingin menikah dengan sesama wanita?"

"Tentu saja tidak, kakangmas. Akan tetapi ini merupakan kesempatan baik sekali bagi kita untuk memasuki Nusabarung. Dalam keadaan biasa kita masuk ke sana tentu akan menimbulkan kecurigaan sehingga gerakan kita kurang leluasa. Kita sudah mendengar desas-desus bahwa Nusabarung sedang bergolak dan timbul dugaan bahwa mereka hendak memberontak terhadap Jenggala. Kiranya sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki keadaan di sana. Dan kesempatan ini amat baik. Kalau kita ikut menjadi peserta sayembara, tentu kita akan dapat menyelidiki dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Bukankah engkau pikir begitu, kakangmas?"

"Akan tetapi engkau seorang perempuan, bagaimana engkau akan ikut dalam sayembara itu, diajeng?"

"Ah, hal itu mudah saja, kakangmas. Apa sih sukarnya menjadi pria sebentar? Kan yang membedakan hanya pakaiannya saja. Aku dapat menyamar menjadi pria tentu saja dan tak seorangpun akan mengetahui akan hal itu."

"Menyamar sebagai pria? Ah, engkau nakal, diajeng."

"Bagaimana lagi kalau tidak mengambil cara itu, kakangmas? Sebetulnya, lebih baik kalau engkau yang mengikuti sayembara, akan tetapi kalau engkau tidak mau, terpaksa aku yang maju."

"Jangan main-main, diajeng. Bagaimana kalau engkau nanti mendapat kemenangan keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah puteri itu?"

"Kalau begitu, biarlah puteri itu kuhadiahkan kepadamu, kakangmas!"

"Hussh, mana boleh begitu? Aku tidak mempunyai niat sama sekali untuk menikah dan pula, mana mungkin diperbolehkan kalau si pemenang memberikan hadiahnya kepada orang lain ? Kita berdua tentu akan mendapat kesulitan."

"Kalau begitu, biar aku mengalah saja, kakangmas. Yang penting kita diperkenankan masuk tanpa dicurigai."

"Engkau dapat masuk sebagai peserta, akan tetapi aku tidak, kalau begitu sebaiknya engkau saja yang masuk untuk mengikuti sayembara, dan aku akan masuk sebagai pelancong biasa dan mengamati engkau dari jauh."

"Begitu juga boleh, kakang. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan meninggalkan aku seorang diri."

Bagus Seto kembali tersenyum dan memandang wajah adiknya dengan penuh kasih sayang. "Ah, diajeng Retno. Engkau seperti anak kecil saja. Seorang dara gagah perkasa seperti engkau ini, yang sudah biasa bertualang dan malang melintang di dunia, kenapa sekarang menjadi penakut, takut ditinggal seorang diri?"

"Aku tidak takut akan bahaya yang mengancam diriku, kakang Bagus. Aku takut kepada diriku sendiri. Dahulu aku bisa malang melintang, menurutkan kehendakku sendiri, menghancurkan mereka yang menjadi lawanku. Aku tidak mengenal apa artinya baik dan buruk, bahkan sampai sekarangpun aku masih bingung membedakan antara baik dan buruk. Aku membutuhkan bimbinganmu, kakang, maka aku takut kalau kautinggal pergi."

"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum tiba saatnya, Retno. Akan tetapi jangan lupa, engkau harus mengalah dalam sayembara, pura-pura kalah. Kalau engkau keluar sebagai pemenang, tentu engkau hanya akan menghadapi kesulitan, harus menikah dengan puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung."

"Aku mengerti, kakangmas. Aku akan berpura-pura kalah dan aku akan menyelidiki keadaan Nusabarung dari para peserta sayembara. Kabarnya malah ada jago dari Nusakambangan yang ikut dalam sayembara. Kalau aku dapat mendekatinya, tentu akan banyak mendengar tentang keadaan di Blambangan. Kalau benar Nusabarung bersekutu dengan Blambangan dan lain-lain kadipaten, aku harus menyelidikinya dan kelak melaporakan kepada Sang Prabu di Jenggala, juga kepada Kanjeng Romo. Aku sudah terlalu banyak mengacau dan mengganggu keamanan Panjalu dan Jenggala, maka sekarang aku harus menebus semua dosa itu. Juga aku akan membantu perjuangan kanjeng Romo."

"Bagus kalau engkau berpikiran begitu, diajeng. Nah, sekarang aku pergi, kita berpisah di sini."

"Baik, kakangmas."

Dua orang muda kakak beradik itu lalu berpisah. Sebelum berpisah Bagus Seto memberikan pakaian pria kepada Retno Wilis, kemudian pemuda itu meninggalkan adiknya. Retno Wilis lalu mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah guha untuk berganti pakaian. Pakaiannya dan bekal pakaiannya sendiri ia sembunyikan di dalam guha itu. Setelah keluar dari dalam guha, ia berubah menjadi seorang pemuda. Akan tetapi karena baju yang dipakainya terlalu besar, ia nampak sebagai seorang perjaka remaja tanggung! Iapun berangkat menuju Nusabarung, membayar seorang tukang perahu yang mau menyeberangkannya ke pulau itu. Ia tahu bahwa kakaknya tentu juga akan menyewa perahu untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung.

"Anakmas, apakah andika pergi ke Nusabarung untuk menonton keramaian sayembara?" tanya tukang perahu yang setengah tua itu.

"Benar, paman," jawab Retno Wilis, membenarkan saja agar tidak lagi orang banyak bertanya. "Paman, aku melihat di pantai tadi banyak perajurit melakukan penjagaan, apakah mereka itu perajurit Nusabarung?"

Tukang perahu menghela napas panjang. "Agaknya anakmas bukan orang sini, ini mudah diduga mendengar cara anakmas bicara dan bertanya tentang perajurit itu. Memang benar, mereka itu perajurit-perajurit dari Nusabrung yang akhir-akhir ini terdapat banyak di pantai, bahkan mereka mempunyai perkemahan di pantai. Biasanya, para petugas itu selalu memeriksa setiap orang yang hendak menyeberang ke Nusabarung, akan tetapi karena adanya sayembara itu, mereka tidak lagi memeriksa dan banyak orang pergi ke Nusabarung dibiarkan saja. Kalau lain waktu andika lewat di sini, tentu tidak lepas dari pemeriksaan mereka."

"Apa saja yang diperiksa, paman? Mengapa pula orang lewat harus diperiksa?"

"Aku sendiri tidak tahu, anakmas. Hanya kabarnya, mereka itu memeriksa untuk mencari mata-mata musuh."

Retno Wilis merasa lega bahwa ia meninggalkan pedang pusakanya di dalam guha tadi. Kalau ia membawa pedang, mungkin saja ia akan mengalami pemeriksaan oleh perajurit-perajurit tadi.

"Apakah Nusabarung mempunyai musuh, paman? Apakah mereka mau berperang?" Retno Wilis bertanya perlahan, seperti orang yang merasa takut kalau-kalau ucapannya didengar orang lain.

"Aku tidak tahu, anakmas. Akan tetapi di mana-mana kini diadakan gerakan, para pria muda diharuskan masuk menjadi perajurit-perajurit."

"Diharuskan?"

"Ya, yang menolak akan dihukum berat. Bahkan...." tukang perahu itu mengecilkan suaranya, "banyak wanita muda juga mereka bawa."

"Ke mana?"

"Entahlah, akan tetapi yang mereka bawa pergi itu wanita muda yang berwajah cantik."

Kini tampak banyak perahu menyeberang ke dan dari Pulau Nusabarung dan tukang perahu itu menjadi pendiam, agaknya khawatir kalau ucapannya terdengar orang lain. Setelah mendarat di Pulau Nusabarung, Retno Wilis ikut dalam rombongan banyak orang yang juga ingin nonton sayembara tanding. Mereka semua menuju ke alun-alun di depan kadipaten, di mana di dirikan sebuah panggung di mana para pengikut sayembara akan berlaga. Di alun-alun itu telah berkumpul banyak sekali orang yang hendak menonton sayembara. Retno Wilis menyelinap di antara orang banyak dan bertanya kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah kirinya.

"Kisanak, apa sajakah yang dipertandingkan dalam sayembara ini?" ia bertanya sambil lalu seperti seorang penonton yang ingin tahu.

Orang itu memandang kepada Retno Wilis.
"Agaknya andika datang dari pesisir maka belum tahu akan hal itu. Pertandingan ada tiga macam. Pertama, calon pengikut harus melalui ujian tenaga, yaitu mengangkat arca raksasa yang berada dipanggung itu."

Retno Wilis melihat sebuah arca yang sebesar manusia dewasa berdiri di atas panggung. Arca itu tentu besar sekali.

"Dan yang kedua?"

"Yang kedua ujian ketangkasan. Setiap peserta harus dapat memanah sasaran di atas itu dengan tepat. Nah, kalau seorang peserta lulus dalam dua ujian itu, barulah dia dihadapkan kepada Ki Wisokolo untuk bertanding dan kalau dia mampu bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai hitungan ke seribu, barulah dia dinyatakan menang."

"Siapa Ki Wisokolo?"

Orang itu tersenyum seperti menertawakan pertanyaan yang dianggapnya tolol itu. "Andika tidak mengenal Ki Wisokolo? Dia adalah senopati nomor satu di Nusabarung, jagoan yang tak pernah terkalahkan. Karena itu, siapa yang mampu menghadapinya sampai seribu hitungan, dia benar benar tangguh dan akan keluar sebagai pemenangnya."

"Ah, begitukah? Aku mendengar yang disayembarakan adalah puteri Gusti Adipati, apakah ia seorang gadis yang cantik?"

Kembali orang itu tersenyum lebar. "Ah-ah, siapa yang tidak tergila-gila kepada Sang Dyah Ayu Candramanik? Ia cantik jelita seperti dewi dari kahyangan, kalau bernyanyi suaranya merdu melebihi burung perkutut yang paling baik dan kalau ia menari, wah, seperti bidadari."

"Siapakah yang telah mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara?"

"Andika lihat di sana itu, di sebelah kanan panggung. Di sanalah orang yang hendak memasuki sayembara didaftar. Nah, itu beberapa orang pria sudah mendaftar."

"Terima kasih, ki sanak," kata Retno Wilis dan iapun lalu melangkah menuju ke tempat itu.

"Hei, engkau hendak ke mana?" tanya orang tadi heran.

"Hendak mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara, apa lagi?" jawab Retno Wilis sambil tersenyum dan orang itu tertegun. Pemuda remaja itu memang tampan sekali. Akan tetapi dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah itu bagaimana hendak mengikuti sayembara? Hampir dia tertawa membayangkan pemuda remaja itu mencoba mengangkat arca besar itu, lebih besar dari tubuh pemuda remaja itu sendiri!

Dengan langkah tegap Retno Wilis menghampiri meja di mana tiga orang perwira duduk menerima pendaftaran. Dan mereka yang sudah mendaftarkan diri sebagai pengikut sudah berkumpul di bawah panggung...

SEPASANG GARUDA PUTIH JILID 03

Thanks for reading Sepasang Garuda Putih Jilid 02 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »