Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 47

KEADAAN menjadi panik dan lucu. Mereka lari saling tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan pakaian mereka, bahkan ada yang terbelit kaki mereka oleh pakaian sendiri sehingga jatuh tunggang-langgang dan berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah diserbu musuh dan dirobohkan lawan!

Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang hanya sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-hati melalui lereng yang belum mereka kenal baik itu. Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan di situ sunyi saja. Mereka berhenti dan memandang penuh perhatian ke bawah, meneliti kalau-kalau dapat melihat obor atau pergerakan. Namun sunyi saja dan suara monyet cecowetan diseling suara burung malam menandakan bahwa di bawah sana pun tidak ada manusianya!

"Wah, jangan-jangan kita tertipu... !" kata Ni Dewi Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa Sang Wasi Bagaspati yang sebenarnya tertipu.

"Si keparat Adiwijaya, kalau betul berani menipu, kuhancurkan kepalanya!" Wasi Bagaspati berseru dan berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik seperguruannya yang diam-diam mendongkol karena ia telah diganggu dan Ni Dewi Nilamanik.

"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan Jenggala?"

Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar dari mulut para anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak buahnya yang sudah panik menjadi makin bingung dan mawut.

Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga daun pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil memaki, "Adiwijaya pengkhianat laknat!" Akan tetapi, ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi dapat menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.

"Ah, mereka telah melarikan diri.... !" Ni Dewi Nilamanik berseru.

"Retna Wilis tak mungkin lari, akan tetapi dilarikan oleh bedebah itu. Kita harus kejar, cari sampai dapat!" ia lalu melompat keluar lagi diikuti oleh adik seperguruannya, sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dart pondok untuk memimpin anak buah mereka mencari Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis.

Setelah malam berganti pagi, barulah Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai laut selatan sebelah barat. Adiwijaya yang cerdik sengaja lari ke barat setelah menipu Wasi Bagaspati dengan mengatakan bahwa musuh datang dari timur. Akan tetapi, betapapun cepatnya ia lari, tentu saja ia tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua orang kakek yang amat sakti itu.

"Adiwijaya, manusia khianat yang ingin mampus!" Wasi Bagaspati membentak dan biarpun ia masih jauh di belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga Adiwijaya menjadi terkejut dan menghentikan larinya, memutar tubuh dan memandang kedua kakek yang berlari makin dekat itu dengan wajah pucat.

Retna Wilis baru setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk di atas pasir, memandang bengong dan seperti orang terheran-heran.

"Ampun.... Sang Wasi.... !" Adiwijaya berkata ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat. "Saya.... saya tidak bermaksud buruk.... !!"

"Jahanam! Pengkhianat! Engkau sengaja menipuku dan hendak melarikan Retna Wilis?"

"Ampun.... Retna Wilis tidak lari, hanya hamba.... hamba terangsang sekali semalam, ingin memilikinya.... hamba yang bersalah.... dia tidak tahu apa-apa...."

Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya masih ingat untuk membela Retna Wilis dan menimpakan semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan Retna Wilis selamat, pikirnya.

"Ha-ha-ha, pandai sekali memutar lidah. Memang engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik sekali, akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan engkau harus mampus!"

Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati memukul dari jarak jauh dengan pukulan sakti. Angin pukulan yang keras meniup ke arah Adiwijaya. Akan tetapi dengan cekatan sekali Adiwijaya melompat ke kiri, mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai pasir yang membuat pasir berhamburan.

"Hemmm, kiranya engkau juga berani melawanku?"

"Wasi Bagaspati, di saat terakhir ini biarlah aku membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku adalah hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku selamanya, sejak dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap setia kepadanya. Aku yang mengusulkan agar dia suka bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi ternyata engkau mengkhianatinya, juga berniat buruk terhadap dirinya. Aku harus menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun aku maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku bersumpah untuk membela gustiku Retna Wilis dan melawanmu sampai detik terakhir!"

"Ha-ha-ha, manusia macam engkau masih bicara tentang kesetiaan! Lupakah engkau akan perbuatan-perbuatanmu dahulu di Jenggala?"

"Wasi Bagaspati, sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap orang manusia untuk menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis, aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku terhadap gustiku ini adalah tulus ikhlas dan boleh engkau mentertawakan aku sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk menyesali perbuatanmu atau ka!au tidak, engkau akan terlambat!"

"Keparat, terimalah kematianmu!" Kini tubuh Wasi Bagaspati menerjang ke depan. Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang dari jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang tenaga sia-sia belaka.

"Wuuuuuttttt.... !" Pukulan tangan kiri yang menampar dari samping itu hebat bukan main. Terasa oleh Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan kakek itu seperti pohon besar tumbang menimpanya. Ia cepat meloncat dan mengelak, akan tetapi angin pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh.

Biarpun demikian, dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan dan dapat meloncat bangun tanpa terluka.

"Wah, lumayan juga ilmumu itu!" Wasi Bagaspati mengejek dan kembali ia melangkah maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangan yang berganti-ganti menampar dari kanan kiri.

Memang tingkat kesaktian Adiwijaya jauh berada di bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat Adiwijaya menjadi repot sekali. Mengelak ke kiri, dipapaki tangan kanan, meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan kiri. ia memiliki kecepatan, akan tetapi kini pukulan-pukulan dari kedua tangan Wasi Bagaspati mengandung hawa pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya terbanting keras dan hanya oleh ajinya Trenggiling Wesi saja ia mampu meloncat bangun setelah bergulingan. Makin lama makin pening kepalanya, dan setiap kali meloncat bangun, ia terhuyung-huyung. Akan tetapi, seperti yang diucapkannya tadi, ia nekat dan mengambil keputusan untuk melawan sampai detik terakhir.

Wasi Bagaspati menjadi penasaran. Ketika sekali lagi Adiwijaya meloncat bangun, ia menerjang maju seperti harimau menerkam. Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi Bagaspati masih berhasil menampar pundak kanannya. Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya merasa pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh.

cerita silat online karya kho ping hoo

Wasi Bagaspati tertawa bergelak, menghampiri dan mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur kepala Adiwijaya. Kakek ini hendak memenuhi janjinya, yaitu akan menghancurkan kepala Adiwijaya.

"Jangan bunuh dia!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wilis nyaring dan dara ini sudah menerjang Wasi Bagaspati dengan pukulan keras dari samping.

"Siuuuuuttttt.... !" Tenaga Retna Wilis belum pulih semua dan kepalanya masih pening, akan tetapi begitu melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak dan menyerang. Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil menangkis.

"Deesssss....!" Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang maklum bahwa biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih tenaganya. Maka ia cepat menengok untuk membunuh Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna Wilis. Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat di depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan dipalangkan di depan dada!

"Wasi Bagaspati, sungguh sayang engkau tak pernah mau bertobat," kata Bagus Seta.

"Bagus Seta! Engkau selalu menghalangi niatku, engkau musuhku terbesar dan hari ini aku harus mencabut nyawamu!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah mencabut senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang melihat munculnya pemuda sakti itu telah siap-siap pula dengan keris hitamnya.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah dua ratus orang lebih. Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi Nilamanik ini segera mengurung tempat itu. Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar. Biarpun ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan tetapi di situ ada Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik dan dua ratus orang lebih pasukan yang telah digemblengnya. Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus Seta, dan juga Adiwijaya serta Retna Wilis yang masih belum sehat benar, masa tidak mampu mengalahkannya?

"Ha-ha-ha, Bagus Seta. Apakah engkau mampu menyelamatkan diri sekarang?" Ia membentak sambil tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik seperguruannya.

Bagus Seta bergerak cepat melompat dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar pengurungan para anak buah pasukan. Melihat ini, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan menyerang. Bagus Seta mengelak dan balas menyerang dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu setangkai kembang cempaka putih dan pengikat rambutnya dari sutera. Gerakan tiga orang sakti ini amat cepat dan dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung menjadi bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia biasa.

"Gusti Puteri.... mari kita lari.... kita bisa membuka jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri...." kata Adiwijaya yang merasa serba salah kalau gustinya ikut bertanding. Sepihak adalah Bagus Seta dan mungkin di belakangnya ada pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya. Pihak lain adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga telah menjadi musuh, lebih baik cepat-cepat menyelamatkan diri.

Akan tetapi pada saat itu Retna Wilis telah sadar benar-benar dan tenaganya telah pulih kembali. Benturan tenaga dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan roboh tadi sama sekali tidak melukainya, bahkan telah menyadarkan dan memulihkan keadaannya. Kini ia telah berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan api kemarahan. Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya seperti mimpi itu ternyata adalah kenyataan!

Tadinya ia hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-samar teringatlah olehnya akan segala yang telah dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang gila, kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni Dewi Nilamanik, ketika menari dibelai dan terbangkit gairah yang belum pernah dirasai selama hidupnya, betapa ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi Bagaspati, dan.... ah, mengingat akan semua itu, hampir Retna Wilis berteriak saking malu dan marahnya. Kini Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!

"Tidak! Harus kubunuh mereka semua!" bentaknya, bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan tangan Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian tubuhnya melesat ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru nyaring, "Perempuan rendah menjijikkan, engkau harus mati di tanganku!"

Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya, Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia meloncat ke belakang, berlindung di belakang anak buahnya.

"Breesssss....!!" Terjangan Retna Wilis disambut oleh banyak orang anggauta pasukan anak buah Wasi Bagaspati dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak bernyawa dengan tubuh hangus terkena pukulan dan tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali ini.

Kemudian Retna Wilis mengamuk, bagaikan api menyala-nyala membakar apa saja yang berada di dekatnya. Maju dua orang roboh dua orang, maju empat orang roboh empat orang. Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi Nilamanik yang berusaha melarikan diri ke sana-sini di antara anak buahnya yang menyerbu Retna Wilis seperti sekumpulan laron menyerbu api.

Melihat ini, Adiwijaya tidak mau tinggal diam dan ia pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis itu. Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu mengejar ke mana pun Ni Dewi Nilamanik lari, maka sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula, terpisah jauh dari dara itu.

Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut. Juga Adiwijaya merupakan seorang lawan yang kuat sekali biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi pasukan itu untuk merobohkannya. Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan keadaan pasukan menjadi makin mawut ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa dan yang langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu dengan amukan kaki tangan mereka yang tangkas. Pasukan siluman menjadi lebih panik ketika mengenal bahwa yang datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih Tejolaksono dan isterinya, Endang Patibroto!

Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena pasukannya terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia harus menyambut sendiri Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.

"Ni Dewi Nilamanik, biar engkau lari ke neraka sekalipun, tetap akan kukejar sampai aku berhasil membunuhmu!"

Betapapun juga, Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa, jarang ditemukan orang yang dapat menandinginya. Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu ini ia menjadi nekat dan berkata,

"Retna Wilis, tidak begitu mudah engkau hendak membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo? Majulah!"

Retna Wilis berteriak marah dan menerjang dengan pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan akan membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa beracun. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik yang sudah nekat cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini, kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah leher Retna Wilis.

Dara perkasa ini mengubah pukulan yang luput menjadi cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud merampak senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah mengerti akan niat lawan, maka ia menggerakkan pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik, kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya yang berubah menjadi kaku menusuk ke arah ulu Kati Retna Wilis. Dara sakti ini menurunkan lengan yang tadi hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti.

"Pyarrr!" Ujung cambuk atau kebutan yang tadi mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali terkena tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh. Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ, cepat tangan kirinya menyodok dengan jari tangan terbuka ke arah leher Ni Dewi Nilamanik. Wanita ini terkejut sekali, cepat ia menarik tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada tusukan jari tangan yang ampuh itu. Akan tetapi tubuh Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti angin puyuh mengamuk. Demikian cepatnya gerakan dara ini yang telah memainkan Ilmu Sllat Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat. Ni Dewi Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung. Dalam pandang matanya, seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan berikut tiga pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru! Ia berlaku nekat, memutar cambuknya sekuat tenaga.

Retna Wilis tidak mau membuang banyak waktu, dan ia membiarkan ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya sambil mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak, kemudian ia menubruk maju mencengkeram tangan yang memegang kebutan merah.

"Aihhhhh.... !" Ni Dewi Nilamanik menjerit kesakitan ketika tangannya terasa seperti dibakar api menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah terampas oleh Retna Wilis.

Ni Dewi Nilamanik memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang kini melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum dingin dan mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya pucat, semua semangat perlawanannya lumpuh. Tiba-tiba Retna Wilis menggerakkan kebutan itu. Sinar merah menyambar dan sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang terjadi kebutan itu telah melibat lehernya. Ia cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit lehernya, mengerahkan tenaga, namun bulu-bulu yang kuat dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat, diiringi suara ketawa Retna Wilis.

"Auggghhh.... am.... ampunn...." Ni Dewi Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari lehernya hanya suara orang tercekik. Ia tak dapat bernapas lagi dan perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung kebutan dengan tangan kiri dan gagang kebutan dengan tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher Ni Dewi Nilamanik.

Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya terbelalak lebar, lidahnya yang merah dan yang biasanya dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang, tubuhnya yang tadinya meronta-ronta kuat kini hanya berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah terjengkang kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya.

Makin lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan tak lama kemudian terdengar suara aneh yang tidak menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke belakang dan menggelindinglah kepala karena leher itu telah putus seperti disayat pisau!

Retna Wilis membuang kebutan merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh darah kedekat mayat Ni Dewi Nilamanik, memandang jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi Nilamanik yang tadinya montok padat dan berkulit halus itu kini telah menjadi tubuh peyot keriputan, tubuh seorang nenek, adapun kepala yang menggelinding dengan muka di atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur, akan tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah melihat betapa muka itu kini menjadi muka seorang nenek-nenek.

Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu tadinya kelihatan cantik oleh pengaruh ilmu hitam dan ramuan jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama nyawanya, seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!

Baru setelah banyak sekali anak buah Ni Dewi Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan menggunakan senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan cepat menggerakkan tubuh, diputar dengan kedua tangan terpentang menampar ke kanan kiri. Senjata-senjata para pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang sekaligus dan mulailah Retna Wilis mengamuk seperti seekor harimau betina membela anaknya.

"Retna.... !"
"Retna Wilis....."

Dara sakti itu menengok dan alisnya berkerut ketika ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk, merobohkan para anak buah Wasi Bagaspati dengan tangkas dan gagah perkasa.

"Mari kita basmi bedebah-bedebah ini, anakku!" Endang Patibroto berteriak, suaranya penuh keharuan. Akan tetapi Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan bundanya.

Melihat sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono dan Endang Patibroto sendiri merasa ngeri. Mereka melihat betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat, betapa dara itu menangkap lengan seorang pengeroyok, diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu dibanting sampai remuk. Amukan Retna Wilis benar-benar menggiriskan dan sepak terjangnya bukan seperti manusia lagi!

Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat pula. Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak bertanding seperti manusia biasa sehingga mereka itu berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan naik ke gunung-gunung batu karang.

Bagus Seta tidak tahu bahwa kedua orang lawannya yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman yang menjadi inti pasukan gemblengan Wasi Bagaspati, sejumlah dua puluh orang! Maka setelah mereka tiba di lereng sebuah gunung anakan, tiba-tiba dari tempat-tempat bersembunyi muncul pasukan itu yang berpakaian serba merah, yang langsung melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta!

Pemuda ini terkejut sedetik, namun ia segera menggunakan pengikat rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin berpusing ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran. Kesempatan ini dipergunakan oleh Wasi Bagaspati yang menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala Bagus Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke arah lambung.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Sessss.... singggg!!!" Bagus Seta tanpa menoleh mengangkat setangkai kembang cempaka di atas kepala menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental, sedangkan pengikat rambutnya berubah menjadi kaku menangkis keris yang menusuk lambungnya sehingga keris itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir terlepas dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo.

Kedua kakek itu mencelat mundur dan kembali dua puluh orang pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengitari Bagus Seta sambil berlari dari kiri ke kanan, adapun rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu dari kanan ke kiri. Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara seperti orang menembang dan anehnya suara tembang mereka itu menimbulkan suara yang menyeramkan dan pengaruh yang menakutkan.

Bagus Seta makium bahwa pasukan ini bukan pasukan biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu hitam. Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari mengelilinginya, tentu ia akan menjadi pening dan kabur pandangan matanya, juga kalau ia memperhatikan suara tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian tentu akan ikut berlari-lari dan bertembang! Ia mencoba dan mendorongkan tangan kirinya yang memegang kembang cempaka ke arah kiri.

Dengan dorongan yang mengandung tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa lawan itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan. Hawa sakti yang merupakan angin kuat menyambar dan tiga orang anggauta pasukan sebelah dalam itu terpelanting, akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu bangkit kembali. Kiranya mereka itu telah "dimasuki" kekuatan mantera hitam oleh Wasi Bagaspati dan kekuatan mereka tergabung sehingga masing-masing anggauta memiliki tenaga dua puluh orang!

Tiba-tiba mereka itu memekik. dan tampak ujung-ujung tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam kurungan. Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis semua ujung tombak dengan angin pukulan tangannya. Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua senjata itu hidup dan menyerang Bagus Seta. Pemuda yang sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari pasukan yang masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah senjata ampuh ini cepat meloncat dan mengelak. Dua buah senjata itu seperti benda hidup, ketika luput menyerang, menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke dua!

"Hemm, penggunaan ilmu hitam tiada gunanya, Wasi Bagaspati!" Bagus Seta berkata dan tiba-tiba tubuhnya meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak luput dan sambil meloncat ini ia telah menangkis dua buah senjata ampuh itu dengan senjata-senjatanya.

Cakra dan keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau dan kembali ke tangan pemiliknya masing-masing. Sedang Bagus Seta sudah melayang keluar dari kepungan. Sejenak dua puluh orang anggauta pasukan siluman menjadi kacau, akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung kembali.

Bagus Seta menjadi bingung juga. Dia tidak mau membunuh, apalagi membunuh dua puluh orang anggota pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar baginya untuk menyerang dua orang pendeta sesat yang selalu di luar barisan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Puteraku Bagus Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan pasukan kadal ini kepada kami!" Itulah suara Pusporini dan benar saja, begitu Pusporini dan Joko Pramono datang menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan kurungan atas diri Bagus Seta menjadi buyar.

Tadinya memang mereka datang bersama dalam usaha mereka mencari Retna Wilis. Akan tetapi karena Bagus Seta mempergunakan ilmunya yang tidak lumrah dimiliki manusia biasa, Tejolaksono, Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru tiba di tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.

Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu. Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang anggauta pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta menerjang pasukan berpakaian merah.

Setelah mendapat bantuan Pusporini dan ia tahu cukup sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu, Bagus Seta lalu menggunakan kesaktiannya untuk mendesak Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Dua orang pendeta dari tanah barat ini terdesak hebat dan kewalahan. Mereka telah mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu hitam mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan mudah oleh Bagus Seta.

"Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan aku kalau terpaksa sekali aku melakukan kewajibanku membunuh kalian berdua!" Seru Bagus Seta dan tubuhnya berkeiebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat menyerang Wasi Bagaspati dengan pukulan ke arah kepala, sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah dada Wasi Bagaskolo.

Hebat bukan main penyerangan yang dilakukan berbareng ini, mengandung tenaga mujijat yang amat ampuh. Dua orang pendeta sesat itu terkejut dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.

"Gress! Bresss!!" Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terpelanting, lalu bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Tangkisan mereka berhasil menyelamatkan mereka, akan tetapi tidak cukup kuat untuk menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka terpelanting. Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang kakek itu tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu meloncat jauh dan melarikan diri.

"Ke mana Andika berdua akan melarikan diri?" Bagus Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar.

Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu kesaktian mereka untuk lari secepatnya. Mereka maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta, akan percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam untuk menghilang maka mereka kini mengandalkan kedua kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka untuk berlari congklang seperti dua ekor kuda dikejar harimau.

Napas mereka sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati mereka lega karena mereka tidak mendengar lagi suara kaki Bagus Seta mengejar. Mereka telah tiba di puncak sebuah di antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa betapa napas mereka hampir putus, mereka berhenti.

"Kalian baru tiba?"

Kalau halilintar menyambar di siang hari itu, agaknya kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu. Mereka menoleh ke kiri dan kiranya Bagus Seta telah berdiri di dekat mereka sambil memandang dengan mata tajam dan bibir tersenyum.

"Keparat.... setan iblis bukan manusia !!" Wasi Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya memuncak. ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua tangannya dan tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan dari dalam kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke arah Bagus Seta.

Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan hendak menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan lawan yang masih amat muda, patut menjadi cucunya akan tetapi memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu. Wasi Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris hitamnya lalu melontarkan keris itu ke udara yang cegera berubah menjadi ratusan batang banyaknya, semua menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah diselimuti kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati!

Dengan tenang Bagus Seta menghadapi serangan yang luar biasa ini. ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk melawannya dengan nekat.

"Oouumm.... sadhu-sadhu-sadhu..... kalian benar-benar telah tersesat jauh sekali!" Serunya lirih sambil memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka putih di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian mengerahkan semua tenaga batin melalui kembang cempaka putih.

Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat menyambar dari kembang putih itu. Seketika kegelapan terusir dan ratusan batang keris hitam lenyap berubah menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus Seta, adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi senjata cakra yang juga menyambar ke arah pemuda itu. Bagus Seta menyimpan kembali kedua senjatanya, kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan keris hitam yang menyambarnya, dengan gerakan indah namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua buah senjata ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa, "Segala sesuatu berasal dari tanah dan kembali ke tanah!" Sambil berkata demikian, ia membanting kedua senjata itu ke bawah.

Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah senjata itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam tanah entah ke mana!

"Heh si keparat Bagus Seta! Senjata hanya alat tidak bersalah, mengapa engkau melenyapkan mereka?" Wasi Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bagus Seta.

Pemuda itu tersenyum. "Benar ucapanmu. Senjata tetap senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat kejahatan. Sungguh kasihan, daripada dijadikan alat kejahatan lebih balk kembali ke asalnya. Demikian pun
dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu angkara murka, lebih baik kembali ke asal !"

"Bedebah, sombong amat wawasanmu! Akulah wakil Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang akan kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!" seru Wasi Bagaspati dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api bernyala, kemudian ia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dan menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta. Pemuda ini tetap berdiri tidak bergerak, berkedip pun tidak menerima hantarran pada dadanya ini.

"Dessss!!" Pukulan itu datangnya seperti serudukan seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon besar dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika mengenai dada pemuda itu, bukan Bagus Seta yang roboh, melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang terbanting ke belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah karena tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi membalik dan melukai isi dadanya sendiri.

"Jahanam!" Wasi Bagaskolo marah sekali melihat kakak seperguruan roboh. Ia menerjang maju hendak mencekik leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya.

Namun tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi Bagaspati sehingga baru saja tangannya menyentuh kulit leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa, menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun roboh terjengkang di samping Wasi Bagaspati.

Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik, "Duh Sang Hyang Bathara Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili Paduka mengembalikan mereka ini ke asal mereka!" Akan tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan terakhir, tiba-tiba terdengar seruan,

"Sadhu-sadhu-sadhu..... Bagus Seta, demi kasih sayang di antara semua mahluk dan benda, harap jangan membunuh mereka!"

Bagus Seta seperti sadar dari keadaan biasa, mengangkat muka dan memandang. Kiranya di situ telah berdiri seorang kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan kiri membawa seuntai tasbih dan tangan kanan memegang sebatang tongkat cendana yang panjang, wajahnya alim dan penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.

"Siapakah gerangan Andika, wahai sang Biku yang bersih lahirnya?"

Pertanyaan Bagus Seta yang dikeluarkan dengan suara halus ini merupakan sindiran tajam yang membuat muka pendeta itu menjadi merah. Dia dikatakan "bersih lahirnya", adakah pemuda ini melihat bahwa dia tidak bersih lahir batinnya? Akan tetapi ia tetap bersabar dan menjawab sambil tersenyum,

"Nama saya Biku Janapati, saya sedang bertugas melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan, memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di pantai timur untuk menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan sepak terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini, saya bergegas datang dan mendengar pula akan nama Andika, orang muda yang sakti mandraguna. Untung bahwa kedatangan saya tidak terlambat."

"Ah, kiranya Andika adalah Sang Biku Janapati utusan Kerajaan Sriwijaya? Membawa pelajaran agama dengan pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah sebuah usaha yang amat mulia, Sang Biku. Akan tetapi kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak akan ada manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan belaka, seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Aku pun hendak membasminya demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk, mengapa Andika menghadang? Apakah Andika yang katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara segala mahluk dan benda, menyetujui cara-cara yang dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka merasa perlu melindunginya?"

Biku Janapati tersenyum lebar dan menjawab, "Bukan demikian, orang muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa tidaklah mungkin memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula. Permusuhan hanya dapat dipadamkan dengan sikap tidak bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."

Bagus Seta mengangguk-angguk. "Benar sekali pelajaran itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang Biku, bahwa aku tidak memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya sebagai musuh dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi, melainkan hendak membasminya sebagai orang membasmi penyakit yang akan membahayakan keselamatan manusia umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya melaksanakan tugas sebagai manusia. Bukankah manusia dikurniai hak dan diberi kewajiban? Manusia merupakan titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan yang merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemelihara, dan Sang Maha Pembasmi yang bersifat Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api, namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan karenanya manusia berkewajiban untuk memanfaatkan dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau perlu membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri pribadi."

Mendengar ini, Biku Janapati merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata, "Namo Tasa Bhagawato Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah mencapai Perangai Sejati dan Kebijaksanaan Sempurna)! Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta, bukan? Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang tak dapat saya sangkal bahwa sahabat Wasi Bagaspati telah menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula dengan Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah kejahatan dilakukan dan biarlah mereka sendiri yang akan memetlk buahnya. Bagi saya, tidak boleh saja melalaikan tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini demi kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sendiri. Melihat mereka terancam bahaya maut, betapa mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja? Duhai Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan tak terbatas dan tak terlawan oleh Yang Maha Kuasa, anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau membunuh mereka ini merupakan kehendak Dia yang belum menghendaki mereka mati."

Bagus Seta menghela napas panjang dan diam-diam ia harus mengakui kebenaran ucapan ini, "Akan tetapi, Sang Biku yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan Andika ini merupakan tanggung jawab Andika pula terhadap kebenaran dan keadilan? Bahwa kalau mereka dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka kejahatan itu sebagian adalah akibat daripada perbuatan Andika saat ini?"

"Sebenarnyalah apa yang Andika katakan, wahai Bagus Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan kekacauan dengan perbuatan sesat lagi. Saya sendiri yang kelak akan menghadapi mereka sebagai pertanggungan jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun, yang memberi berkah kepada segala makluk dan tanpa pilih kasih dan tanpa Pandang bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam mayapada dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika membebaskan Wasi Bagaspati dan Was! Bagaskolo."

Didesak seperti ini, Bagus Seta merasa tidak baik untuk bersikeras. Ia menarik napas panjang dan menyerahkan segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia mengangguk dan berkata,

"Biarlah terjadi seperti yang Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka berdua kepadamu." Ia membungkuk dengan hormat dan meninggalkan tempat itu, menghampiri Pusporini dan Joko Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran sejak tadi, merobohkan dua puluh orang anggota pasukan siluman dan sejak tadi menonton dari jauh pertandingan hebat antara Bagus Seta melawan dua orang wasi sampai munculnya Biku Janapati.

"Mari kita turun dan menemui kanjeng rama," kata Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.

"Terima kasih, sahabatku Biku Janapati" kata Wasi Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh Bagaskolo yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak. Biku Janapti mengerutkan keningnya,

"Sahabatku Wasi Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika masih diperkenankan hidup untuk menebus segala dosa dan sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya lengah dan tidak sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan yang terbebas daripada gumpalan awan hitam. Maka, insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan jahat menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan membawamu ke alam kebahagiaan lahir batin."

Wasi Bagaspati mendongkol sekali, akan tetapi karena ia telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata, "Salahnya aku kurang tekun mempelajari ilmu, akan tetapi, sudahlah.... biar kucoba untuk mencari jalan kebenaran. Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!" Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Biku Janapati memandang dengan mata termenung dan menarik napas panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat sekali, kemudian ia pun melangkah pergi dengan tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.

Tejolaksono dan Endang Patibroto mengamuk di samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga pasukan menjadi gentar dan melarikan diri cerai-berai. Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga, maslh ada seorang pria lagi yang juga mengamuk hebat. Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang Patibroto berseru, "Sindupati....!"

Adiwijaya menengok terkejut sekali dan hendak melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena Endang Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi telah menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti. Karena wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar, sukar untuk dihindari lagi.

Terpaksa Adiwijaya menangkis, akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu lengannya bertemu dengan lengan Endang Patibroto, ia terjengkang dan roboh bergulingan. Untung ia cepat mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan, yaitu Trenggiling-wesi sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan diri. Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak Endang
Patibroto. Wanita ini makin marah dan terus mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan loncatan-loncatan cepat.

"Sindupati, manusia terkutuk! Saat ini engkau pasti akan mampus di tanganku!" Dengan sebuah lompatan cepat, kembali Endang Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali, bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan lagi, menyerahkan mati hidupnya kepada Endang Patibroto.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Plakkk!" Tubuh Endang Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya itu tertangkis oleh lengan Retna Wilis.

"Jangan bunuh dia.... !" teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya.

Endang Patibroto terbelalak memandang,
"Retna.... dia.... dia ini manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia.... dia musuh besar ibumu....!"

Retna Wilis menggeleng kepalanya dan berkata lirih, "Agaknya jalan kita selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia kauanggap jahat dan menjadi musuhmu. Akan tetapi bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya sahabatku. Mari Paman, kita pergi." Retna Wilis menggandeng tangan Adiwijaya dan mengajaknya pergi cepat dari tempat itu.

Endang Patibroto mengepal tinju dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya dipegang oleh Tejolaksono.

"Diajeng, jangan memaksa dia.....!" Suaranya penuh keharuan.

Endang Patibroto membalik, hendak meronta, akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh keharuan dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya dapat mengelus rambut isterinya itu sambil menghela napas dan matanya pun menjadi basah.

Demikianlah, ketika Bagus Seto, Joko Pramono dan Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka bertiga ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto sedang bertangisan di antara tumpukan mayat anak buah Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang!

Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan Tejolaksono dengan wajah muram dan berulang kali menghela napas menceritakan keadaan Retna Wilis yang meninggalkan ayah bundanya. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang Adiwijaya yang sesungguhnya adalah bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati, karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa menceritakan bahwa Endang Patibroto pernah diperkosa oleh manusia laknat itu!

Bagus Seta menghela napas dan berkata, "Harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu suka bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang menimpa kita, baik hal itu menguntungkan atau merugikan kita, dengan penuh kesabaran dan penyerahan, Sang Hyang Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa menguntungkan kita terima sebagai anugerah Tuhan dan karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan hormat tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupakan bahwa keuntungan itu hanya terjadi karena Tuhan menghendaki. Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima sebagai hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian, karenanya kita patut meneliti diri pribadi dan bertobat atas segala kesalahan kita, mohon ampun kepada Dia Yang Maha Adil."

"Ahhh.... Puteraku.... betapa aku akan dapat menahan batin yang berat ini.... Endang Patibroto terisak.

"Mengapa tidak dapat, Kanjeng Ibu? Manusia yang menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan penuh kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widdhi akan sanggup menanggung derita yang bagaimana pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar, bukan derita lagi."

"Bijaksana sekali ucapanmu, puteraku Bagus Seta. Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?" Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh kagum, juga dengan hati kosong melompong karena ia tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh meninggalkan ayah bundanya. Retna Wilis ataukah Bagus Seta!

Retna Wilis hanya terpisah lahirnya dan dara itu selama masih hidup dan berada di atas bumi, sekali waktu pasti dapat bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali sebagai puteri dan orang tuanya. Akan tetapi Bagus Seta ini sungguhpun kini berada di depannya, bercakap-cakap seperti seorang putera, namun sesungguhnya pemuda ini seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena keadaan Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia apalagi oleh hubungan keluarga!

"Karena musuh telah dihalau dan adinda Retna Wilis telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka berdua Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk memberi pelaporan kepada gusti sinuwun di Panjalu. Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng Bibi sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."

"Dan engkau sendiri?" Tejolaksono bertanya, suaranya kosong, sekosong hatinya yang makin merasakan betapa "jauhnya" puteranya yang kini berdiri di depannya itu.

"Hamba akan pergi merantau, melanjutkan perjalanan melakukan dharma bakti hamba seperti yang telah diajarkan oleh eyang guru...."

"Dan ibumu? Tentu akan kehilangan engkau.... betapa akan berduka hatinya...."

Bagus Seta tersenyum dan mengeluarkan setangkai bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono, "Harap Kanjeng Rama sudi menyerahkan bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang Hyang Widdhi, hati ibunda akan terhibur."

Tejolaksono menerima kembang itu teringat akan masa dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang pula untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah menyimpan kembang itu ia berkata, "Puteraku Bagus Seta, mendekatlah, Anakku."

Bagus Seta menghampiri ramandanya dan Tejolaksono memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam dadanya agar jangan dapat pergi lagi. Akan tetapi ada hawa yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang menjalar ke seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih sakti ini akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak hanya bertugas menghidupkan dia seorang. Sadarlah dia bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi kebenaran dan keadilan, demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan dunia umumnya.

Tidak hanya bertugas menyenangkan hati kedua orang tuanya belaka ia melepaskan pelukannya dan dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut tersenyum ia berkata, "Pergilah, Anakku. Pergilah dengan hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."

Setelah memberi hornat kepada Endang Patibroto yang memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini, pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut selatan, diikuti pandang mata empat orang itu sampai bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari yang mulai sore. Kemudian mereka berempat pun meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Wilis di mana pasukan-pasukan mereka masih berkumpul membersihkan sisa perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis.

********************

Retna Wilis duduk di atas sebuah batu besar di dalam hutan yang lebat. ia duduk bersila di atas batu bawah pohon tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk dan kedua mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena dara perkasa ini bersamadhi. Kalau tidak dipandang dengan penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga hampir tidak tampak dadanya bergerak.

Hanya bedanya dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu biasanya Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti kosong tidak mengandung perasaan apa-apa. Akan tetapi pada saat itu, wajahnya diselimuti kesuraman seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bahkan ada bekas-bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas sepasang pipinya, di bawah pelupuk mata. Juga sepasang alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut, tanda bahwa dia biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan cipta, dan tidak dapat membebaskan diri dari panca indrianya.

Tidak jauh dari tempat dara itu duduk bersamadhi di atas batu, tampak Adiwijaya duduk pula bersila di atas tanah, di depan gadis itu. Akan tetapi Adiwijaya tidak bersamadhi, semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh keprihatinan dan penuh perhatian. Entah sudah berapa puluh kali Adiwijaya menghela napas panjang dan pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang terjadi dan makin dipikir makin trenyuh hatinya, merasa amat kasihan dan terharu terhadap dara perkasa itu.

Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali. Tadi dara itu bersila semenjak pagi sekali di atas batu dan kalau Retna Wilis bersamadhi seperti biasanya, kiranya Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu batinnya. Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata, biarpun tidak pernah bergerak dan pernapasannya seperti orang tertidur atau bersamadhi, namun Adiwijaya yang juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa diri untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan tersiksa. Bahkan dara itu tidak sadar bahwa beberapa tetes air mata keluar melalui bulu matanya menitik turun ke atas pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa keningnya selalu berkerut dan wajahnya diselimuti kemuraman yang mengharukan.

"Aku berdosa...." pikirnya dengan trenyuh. "Aku berdosa kepada ibunya, kepadanya.... kalau tidak karena aku, mungkin dia sudah dapat berkumpul kembali dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri Patih Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi tokoh terkenal, sakti mandraguna dan gagah perkasa. Akan tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!" Ingin Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan terhadap diri sendiri, terhadap semua perbuatannya dan kesesatannya yang lalu. Patutkah seorang manusia jahat, manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari seorang seperti Retna Wilis?

Menjelang tengah hari Retna Wilis bergerak perlahan dan membuka matanya. Mata yang suram, sayu dan membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang tertindih penyesalan dan kedukaan. Melihat Adiwijaya duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan muka sedih, Retna Wilis bertanya, "Paman, sudah lamakah aku bersamadhi?"

Suara itu! Begitu memelas, tergetar dan lirih. Begitu mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak tertahankan lagi Adiwijaya menangis! Laki-laki yang dahulu menghadapi perbuatan keji sekeji-kejinya sambil tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!

"Aduh Gusti Ayu Puteri Retna Wilis.... mengapa Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu Paduka....?" katanya di antara isaknya.

Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan kedua kakinya dari atas batu.
"Paman Adiwijaya! Andika.... menangis? Betapa anehnya....! Mengapa aku membelamu? Tentu saja! Tidak boleh orang membunuhmu, biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau satu-satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku, bahkan kuanggap sebagai pengganti orang tuaku!"

"Aduh Dewa..... betapa kejinya Sindupati.... ah, tidak layak aku hidup di dunia ini...." Adiwijaya atau Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan keris berkarat yang menikam jantungnya.

"Sindupati? Apa maksudmu, Paman Adiwijaya?"

"Aduhai, Gusti Puteri yang mulia. Paduka bunuhlah hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan batin karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah hamba, Sang Puteri!"

Melihat pria setengah tua itu menangis mengguguk, Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar. "Paman, makin aneh saja kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan engkau jahat dan berdosa, bagiku engkau adalah orang yang paling baik."

"Tidak! Tidak! Paduka tidak tahu. Hamba sesungguhnya dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih yang lalu hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang dikasihi gusti sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi hamba berani mempersunting bunga dalam taman terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri sinuwun, sehingga hamba menjadi seorang pelarian yang terkutuk."

"Hemm, kesalahanmu tidak berapa hebat, Paman."

"Itu hanya permulaan saja. Hamba lalu menjadi perwira Blambangan, dan hamba bersama pasukan Blambangan melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah kepada Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri mantu gusti sinuwun, isteri dari Pangeran Panji Rawit. Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan karena tokoh Jenggala yang ditakuti adalah ibu Paduka."

Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa ketika Endang Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya Pangeran Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Demikianlah, Gusti Puteri. Hambalah orangnya yang telah mencelakakan secara tidak langsung kehidupan rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia terkutuk yang patut mati? Harap Paduka lekas turun tangan membunuh hamba, karena kebaikan Paduka merupakan siksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba."

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 48

Perawan Lembah Wilis Jilid 47

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 47

KEADAAN menjadi panik dan lucu. Mereka lari saling tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan pakaian mereka, bahkan ada yang terbelit kaki mereka oleh pakaian sendiri sehingga jatuh tunggang-langgang dan berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah diserbu musuh dan dirobohkan lawan!

Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang hanya sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-hati melalui lereng yang belum mereka kenal baik itu. Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan di situ sunyi saja. Mereka berhenti dan memandang penuh perhatian ke bawah, meneliti kalau-kalau dapat melihat obor atau pergerakan. Namun sunyi saja dan suara monyet cecowetan diseling suara burung malam menandakan bahwa di bawah sana pun tidak ada manusianya!

"Wah, jangan-jangan kita tertipu... !" kata Ni Dewi Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa Sang Wasi Bagaspati yang sebenarnya tertipu.

"Si keparat Adiwijaya, kalau betul berani menipu, kuhancurkan kepalanya!" Wasi Bagaspati berseru dan berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik seperguruannya yang diam-diam mendongkol karena ia telah diganggu dan Ni Dewi Nilamanik.

"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan Jenggala?"

Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar dari mulut para anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak buahnya yang sudah panik menjadi makin bingung dan mawut.

Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga daun pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil memaki, "Adiwijaya pengkhianat laknat!" Akan tetapi, ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi dapat menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.

"Ah, mereka telah melarikan diri.... !" Ni Dewi Nilamanik berseru.

"Retna Wilis tak mungkin lari, akan tetapi dilarikan oleh bedebah itu. Kita harus kejar, cari sampai dapat!" ia lalu melompat keluar lagi diikuti oleh adik seperguruannya, sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dart pondok untuk memimpin anak buah mereka mencari Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis.

Setelah malam berganti pagi, barulah Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai laut selatan sebelah barat. Adiwijaya yang cerdik sengaja lari ke barat setelah menipu Wasi Bagaspati dengan mengatakan bahwa musuh datang dari timur. Akan tetapi, betapapun cepatnya ia lari, tentu saja ia tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua orang kakek yang amat sakti itu.

"Adiwijaya, manusia khianat yang ingin mampus!" Wasi Bagaspati membentak dan biarpun ia masih jauh di belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga Adiwijaya menjadi terkejut dan menghentikan larinya, memutar tubuh dan memandang kedua kakek yang berlari makin dekat itu dengan wajah pucat.

Retna Wilis baru setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk di atas pasir, memandang bengong dan seperti orang terheran-heran.

"Ampun.... Sang Wasi.... !" Adiwijaya berkata ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat. "Saya.... saya tidak bermaksud buruk.... !!"

"Jahanam! Pengkhianat! Engkau sengaja menipuku dan hendak melarikan Retna Wilis?"

"Ampun.... Retna Wilis tidak lari, hanya hamba.... hamba terangsang sekali semalam, ingin memilikinya.... hamba yang bersalah.... dia tidak tahu apa-apa...."

Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya masih ingat untuk membela Retna Wilis dan menimpakan semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan Retna Wilis selamat, pikirnya.

"Ha-ha-ha, pandai sekali memutar lidah. Memang engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik sekali, akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan engkau harus mampus!"

Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati memukul dari jarak jauh dengan pukulan sakti. Angin pukulan yang keras meniup ke arah Adiwijaya. Akan tetapi dengan cekatan sekali Adiwijaya melompat ke kiri, mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai pasir yang membuat pasir berhamburan.

"Hemmm, kiranya engkau juga berani melawanku?"

"Wasi Bagaspati, di saat terakhir ini biarlah aku membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku adalah hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku selamanya, sejak dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap setia kepadanya. Aku yang mengusulkan agar dia suka bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi ternyata engkau mengkhianatinya, juga berniat buruk terhadap dirinya. Aku harus menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun aku maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku bersumpah untuk membela gustiku Retna Wilis dan melawanmu sampai detik terakhir!"

"Ha-ha-ha, manusia macam engkau masih bicara tentang kesetiaan! Lupakah engkau akan perbuatan-perbuatanmu dahulu di Jenggala?"

"Wasi Bagaspati, sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap orang manusia untuk menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis, aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku terhadap gustiku ini adalah tulus ikhlas dan boleh engkau mentertawakan aku sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk menyesali perbuatanmu atau ka!au tidak, engkau akan terlambat!"

"Keparat, terimalah kematianmu!" Kini tubuh Wasi Bagaspati menerjang ke depan. Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang dari jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang tenaga sia-sia belaka.

"Wuuuuuttttt.... !" Pukulan tangan kiri yang menampar dari samping itu hebat bukan main. Terasa oleh Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan kakek itu seperti pohon besar tumbang menimpanya. Ia cepat meloncat dan mengelak, akan tetapi angin pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh.

Biarpun demikian, dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan dan dapat meloncat bangun tanpa terluka.

"Wah, lumayan juga ilmumu itu!" Wasi Bagaspati mengejek dan kembali ia melangkah maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangan yang berganti-ganti menampar dari kanan kiri.

Memang tingkat kesaktian Adiwijaya jauh berada di bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat Adiwijaya menjadi repot sekali. Mengelak ke kiri, dipapaki tangan kanan, meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan kiri. ia memiliki kecepatan, akan tetapi kini pukulan-pukulan dari kedua tangan Wasi Bagaspati mengandung hawa pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya terbanting keras dan hanya oleh ajinya Trenggiling Wesi saja ia mampu meloncat bangun setelah bergulingan. Makin lama makin pening kepalanya, dan setiap kali meloncat bangun, ia terhuyung-huyung. Akan tetapi, seperti yang diucapkannya tadi, ia nekat dan mengambil keputusan untuk melawan sampai detik terakhir.

Wasi Bagaspati menjadi penasaran. Ketika sekali lagi Adiwijaya meloncat bangun, ia menerjang maju seperti harimau menerkam. Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi Bagaspati masih berhasil menampar pundak kanannya. Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya merasa pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh.

cerita silat online karya kho ping hoo

Wasi Bagaspati tertawa bergelak, menghampiri dan mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur kepala Adiwijaya. Kakek ini hendak memenuhi janjinya, yaitu akan menghancurkan kepala Adiwijaya.

"Jangan bunuh dia!" Tiba-tiba terdengar suara Retna Wilis nyaring dan dara ini sudah menerjang Wasi Bagaspati dengan pukulan keras dari samping.

"Siuuuuuttttt.... !" Tenaga Retna Wilis belum pulih semua dan kepalanya masih pening, akan tetapi begitu melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak dan menyerang. Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil menangkis.

"Deesssss....!" Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang maklum bahwa biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih tenaganya. Maka ia cepat menengok untuk membunuh Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna Wilis. Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat di depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan dipalangkan di depan dada!

"Wasi Bagaspati, sungguh sayang engkau tak pernah mau bertobat," kata Bagus Seta.

"Bagus Seta! Engkau selalu menghalangi niatku, engkau musuhku terbesar dan hari ini aku harus mencabut nyawamu!" Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah mencabut senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang melihat munculnya pemuda sakti itu telah siap-siap pula dengan keris hitamnya.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah dua ratus orang lebih. Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi Nilamanik ini segera mengurung tempat itu. Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar. Biarpun ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan tetapi di situ ada Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik dan dua ratus orang lebih pasukan yang telah digemblengnya. Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus Seta, dan juga Adiwijaya serta Retna Wilis yang masih belum sehat benar, masa tidak mampu mengalahkannya?

"Ha-ha-ha, Bagus Seta. Apakah engkau mampu menyelamatkan diri sekarang?" Ia membentak sambil tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik seperguruannya.

Bagus Seta bergerak cepat melompat dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar pengurungan para anak buah pasukan. Melihat ini, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan menyerang. Bagus Seta mengelak dan balas menyerang dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu setangkai kembang cempaka putih dan pengikat rambutnya dari sutera. Gerakan tiga orang sakti ini amat cepat dan dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung menjadi bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia biasa.

"Gusti Puteri.... mari kita lari.... kita bisa membuka jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri...." kata Adiwijaya yang merasa serba salah kalau gustinya ikut bertanding. Sepihak adalah Bagus Seta dan mungkin di belakangnya ada pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya. Pihak lain adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga telah menjadi musuh, lebih baik cepat-cepat menyelamatkan diri.

Akan tetapi pada saat itu Retna Wilis telah sadar benar-benar dan tenaganya telah pulih kembali. Benturan tenaga dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan roboh tadi sama sekali tidak melukainya, bahkan telah menyadarkan dan memulihkan keadaannya. Kini ia telah berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan api kemarahan. Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya seperti mimpi itu ternyata adalah kenyataan!

Tadinya ia hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-samar teringatlah olehnya akan segala yang telah dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang gila, kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni Dewi Nilamanik, ketika menari dibelai dan terbangkit gairah yang belum pernah dirasai selama hidupnya, betapa ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi Bagaspati, dan.... ah, mengingat akan semua itu, hampir Retna Wilis berteriak saking malu dan marahnya. Kini Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!

"Tidak! Harus kubunuh mereka semua!" bentaknya, bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan tangan Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian tubuhnya melesat ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru nyaring, "Perempuan rendah menjijikkan, engkau harus mati di tanganku!"

Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya, Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia meloncat ke belakang, berlindung di belakang anak buahnya.

"Breesssss....!!" Terjangan Retna Wilis disambut oleh banyak orang anggauta pasukan anak buah Wasi Bagaspati dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak bernyawa dengan tubuh hangus terkena pukulan dan tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali ini.

Kemudian Retna Wilis mengamuk, bagaikan api menyala-nyala membakar apa saja yang berada di dekatnya. Maju dua orang roboh dua orang, maju empat orang roboh empat orang. Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi Nilamanik yang berusaha melarikan diri ke sana-sini di antara anak buahnya yang menyerbu Retna Wilis seperti sekumpulan laron menyerbu api.

Melihat ini, Adiwijaya tidak mau tinggal diam dan ia pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis itu. Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu mengejar ke mana pun Ni Dewi Nilamanik lari, maka sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula, terpisah jauh dari dara itu.

Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut. Juga Adiwijaya merupakan seorang lawan yang kuat sekali biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi pasukan itu untuk merobohkannya. Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan keadaan pasukan menjadi makin mawut ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa dan yang langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu dengan amukan kaki tangan mereka yang tangkas. Pasukan siluman menjadi lebih panik ketika mengenal bahwa yang datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih Tejolaksono dan isterinya, Endang Patibroto!

Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena pasukannya terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia harus menyambut sendiri Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.

"Ni Dewi Nilamanik, biar engkau lari ke neraka sekalipun, tetap akan kukejar sampai aku berhasil membunuhmu!"

Betapapun juga, Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang lemah. Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa, jarang ditemukan orang yang dapat menandinginya. Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu ini ia menjadi nekat dan berkata,

"Retna Wilis, tidak begitu mudah engkau hendak membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo? Majulah!"

Retna Wilis berteriak marah dan menerjang dengan pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan akan membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa beracun. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik yang sudah nekat cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini, kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah leher Retna Wilis.

Dara perkasa ini mengubah pukulan yang luput menjadi cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud merampak senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah mengerti akan niat lawan, maka ia menggerakkan pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik, kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya yang berubah menjadi kaku menusuk ke arah ulu Kati Retna Wilis. Dara sakti ini menurunkan lengan yang tadi hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti.

"Pyarrr!" Ujung cambuk atau kebutan yang tadi mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali terkena tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh. Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ, cepat tangan kirinya menyodok dengan jari tangan terbuka ke arah leher Ni Dewi Nilamanik. Wanita ini terkejut sekali, cepat ia menarik tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada tusukan jari tangan yang ampuh itu. Akan tetapi tubuh Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti angin puyuh mengamuk. Demikian cepatnya gerakan dara ini yang telah memainkan Ilmu Sllat Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat. Ni Dewi Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung. Dalam pandang matanya, seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan berikut tiga pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru! Ia berlaku nekat, memutar cambuknya sekuat tenaga.

Retna Wilis tidak mau membuang banyak waktu, dan ia membiarkan ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya sambil mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak, kemudian ia menubruk maju mencengkeram tangan yang memegang kebutan merah.

"Aihhhhh.... !" Ni Dewi Nilamanik menjerit kesakitan ketika tangannya terasa seperti dibakar api menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah terampas oleh Retna Wilis.

Ni Dewi Nilamanik memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang kini melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum dingin dan mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat. Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya pucat, semua semangat perlawanannya lumpuh. Tiba-tiba Retna Wilis menggerakkan kebutan itu. Sinar merah menyambar dan sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang terjadi kebutan itu telah melibat lehernya. Ia cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit lehernya, mengerahkan tenaga, namun bulu-bulu yang kuat dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat, diiringi suara ketawa Retna Wilis.

"Auggghhh.... am.... ampunn...." Ni Dewi Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari lehernya hanya suara orang tercekik. Ia tak dapat bernapas lagi dan perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung kebutan dengan tangan kiri dan gagang kebutan dengan tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher Ni Dewi Nilamanik.

Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya terbelalak lebar, lidahnya yang merah dan yang biasanya dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang, tubuhnya yang tadinya meronta-ronta kuat kini hanya berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah terjengkang kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya.

Makin lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan tak lama kemudian terdengar suara aneh yang tidak menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke belakang dan menggelindinglah kepala karena leher itu telah putus seperti disayat pisau!

Retna Wilis membuang kebutan merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh darah kedekat mayat Ni Dewi Nilamanik, memandang jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi Nilamanik yang tadinya montok padat dan berkulit halus itu kini telah menjadi tubuh peyot keriputan, tubuh seorang nenek, adapun kepala yang menggelinding dengan muka di atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur, akan tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah melihat betapa muka itu kini menjadi muka seorang nenek-nenek.

Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang usianya sudah hampir enam puluh tahun itu tadinya kelihatan cantik oleh pengaruh ilmu hitam dan ramuan jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama nyawanya, seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!

Baru setelah banyak sekali anak buah Ni Dewi Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan menggunakan senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan cepat menggerakkan tubuh, diputar dengan kedua tangan terpentang menampar ke kanan kiri. Senjata-senjata para pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang sekaligus dan mulailah Retna Wilis mengamuk seperti seekor harimau betina membela anaknya.

"Retna.... !"
"Retna Wilis....."

Dara sakti itu menengok dan alisnya berkerut ketika ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk, merobohkan para anak buah Wasi Bagaspati dengan tangkas dan gagah perkasa.

"Mari kita basmi bedebah-bedebah ini, anakku!" Endang Patibroto berteriak, suaranya penuh keharuan. Akan tetapi Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan bundanya.

Melihat sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono dan Endang Patibroto sendiri merasa ngeri. Mereka melihat betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat, betapa dara itu menangkap lengan seorang pengeroyok, diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu dibanting sampai remuk. Amukan Retna Wilis benar-benar menggiriskan dan sepak terjangnya bukan seperti manusia lagi!

Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat pula. Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak bertanding seperti manusia biasa sehingga mereka itu berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan naik ke gunung-gunung batu karang.

Bagus Seta tidak tahu bahwa kedua orang lawannya yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman yang menjadi inti pasukan gemblengan Wasi Bagaspati, sejumlah dua puluh orang! Maka setelah mereka tiba di lereng sebuah gunung anakan, tiba-tiba dari tempat-tempat bersembunyi muncul pasukan itu yang berpakaian serba merah, yang langsung melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta!

Pemuda ini terkejut sedetik, namun ia segera menggunakan pengikat rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin berpusing ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran. Kesempatan ini dipergunakan oleh Wasi Bagaspati yang menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala Bagus Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke arah lambung.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Sessss.... singggg!!!" Bagus Seta tanpa menoleh mengangkat setangkai kembang cempaka di atas kepala menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental, sedangkan pengikat rambutnya berubah menjadi kaku menangkis keris yang menusuk lambungnya sehingga keris itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir terlepas dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo.

Kedua kakek itu mencelat mundur dan kembali dua puluh orang pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengitari Bagus Seta sambil berlari dari kiri ke kanan, adapun rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu dari kanan ke kiri. Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara seperti orang menembang dan anehnya suara tembang mereka itu menimbulkan suara yang menyeramkan dan pengaruh yang menakutkan.

Bagus Seta makium bahwa pasukan ini bukan pasukan biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu hitam. Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari mengelilinginya, tentu ia akan menjadi pening dan kabur pandangan matanya, juga kalau ia memperhatikan suara tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian tentu akan ikut berlari-lari dan bertembang! Ia mencoba dan mendorongkan tangan kirinya yang memegang kembang cempaka ke arah kiri.

Dengan dorongan yang mengandung tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa lawan itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan. Hawa sakti yang merupakan angin kuat menyambar dan tiga orang anggauta pasukan sebelah dalam itu terpelanting, akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu bangkit kembali. Kiranya mereka itu telah "dimasuki" kekuatan mantera hitam oleh Wasi Bagaspati dan kekuatan mereka tergabung sehingga masing-masing anggauta memiliki tenaga dua puluh orang!

Tiba-tiba mereka itu memekik. dan tampak ujung-ujung tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam kurungan. Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis semua ujung tombak dengan angin pukulan tangannya. Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua senjata itu hidup dan menyerang Bagus Seta. Pemuda yang sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari pasukan yang masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah senjata ampuh ini cepat meloncat dan mengelak. Dua buah senjata itu seperti benda hidup, ketika luput menyerang, menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke dua!

"Hemm, penggunaan ilmu hitam tiada gunanya, Wasi Bagaspati!" Bagus Seta berkata dan tiba-tiba tubuhnya meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak luput dan sambil meloncat ini ia telah menangkis dua buah senjata ampuh itu dengan senjata-senjatanya.

Cakra dan keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau dan kembali ke tangan pemiliknya masing-masing. Sedang Bagus Seta sudah melayang keluar dari kepungan. Sejenak dua puluh orang anggauta pasukan siluman menjadi kacau, akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung kembali.

Bagus Seta menjadi bingung juga. Dia tidak mau membunuh, apalagi membunuh dua puluh orang anggota pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar baginya untuk menyerang dua orang pendeta sesat yang selalu di luar barisan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Puteraku Bagus Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan pasukan kadal ini kepada kami!" Itulah suara Pusporini dan benar saja, begitu Pusporini dan Joko Pramono datang menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan kurungan atas diri Bagus Seta menjadi buyar.

Tadinya memang mereka datang bersama dalam usaha mereka mencari Retna Wilis. Akan tetapi karena Bagus Seta mempergunakan ilmunya yang tidak lumrah dimiliki manusia biasa, Tejolaksono, Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru tiba di tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.

Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu. Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang anggauta pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta menerjang pasukan berpakaian merah.

Setelah mendapat bantuan Pusporini dan ia tahu cukup sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu, Bagus Seta lalu menggunakan kesaktiannya untuk mendesak Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Dua orang pendeta dari tanah barat ini terdesak hebat dan kewalahan. Mereka telah mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu hitam mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan mudah oleh Bagus Seta.

"Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan aku kalau terpaksa sekali aku melakukan kewajibanku membunuh kalian berdua!" Seru Bagus Seta dan tubuhnya berkeiebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat menyerang Wasi Bagaspati dengan pukulan ke arah kepala, sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah dada Wasi Bagaskolo.

Hebat bukan main penyerangan yang dilakukan berbareng ini, mengandung tenaga mujijat yang amat ampuh. Dua orang pendeta sesat itu terkejut dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.

"Gress! Bresss!!" Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terpelanting, lalu bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang. Tangkisan mereka berhasil menyelamatkan mereka, akan tetapi tidak cukup kuat untuk menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka terpelanting. Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang kakek itu tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu meloncat jauh dan melarikan diri.

"Ke mana Andika berdua akan melarikan diri?" Bagus Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar.

Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu kesaktian mereka untuk lari secepatnya. Mereka maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta, akan percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam untuk menghilang maka mereka kini mengandalkan kedua kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka untuk berlari congklang seperti dua ekor kuda dikejar harimau.

Napas mereka sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati mereka lega karena mereka tidak mendengar lagi suara kaki Bagus Seta mengejar. Mereka telah tiba di puncak sebuah di antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa betapa napas mereka hampir putus, mereka berhenti.

"Kalian baru tiba?"

Kalau halilintar menyambar di siang hari itu, agaknya kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu. Mereka menoleh ke kiri dan kiranya Bagus Seta telah berdiri di dekat mereka sambil memandang dengan mata tajam dan bibir tersenyum.

"Keparat.... setan iblis bukan manusia !!" Wasi Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya memuncak. ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua tangannya dan tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan dari dalam kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke arah Bagus Seta.

Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan hendak menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan lawan yang masih amat muda, patut menjadi cucunya akan tetapi memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu. Wasi Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris hitamnya lalu melontarkan keris itu ke udara yang cegera berubah menjadi ratusan batang banyaknya, semua menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah diselimuti kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati!

Dengan tenang Bagus Seta menghadapi serangan yang luar biasa ini. ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk melawannya dengan nekat.

"Oouumm.... sadhu-sadhu-sadhu..... kalian benar-benar telah tersesat jauh sekali!" Serunya lirih sambil memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka putih di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian mengerahkan semua tenaga batin melalui kembang cempaka putih.

Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat menyambar dari kembang putih itu. Seketika kegelapan terusir dan ratusan batang keris hitam lenyap berubah menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus Seta, adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi senjata cakra yang juga menyambar ke arah pemuda itu. Bagus Seta menyimpan kembali kedua senjatanya, kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan keris hitam yang menyambarnya, dengan gerakan indah namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua buah senjata ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa, "Segala sesuatu berasal dari tanah dan kembali ke tanah!" Sambil berkata demikian, ia membanting kedua senjata itu ke bawah.

Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah senjata itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam tanah entah ke mana!

"Heh si keparat Bagus Seta! Senjata hanya alat tidak bersalah, mengapa engkau melenyapkan mereka?" Wasi Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bagus Seta.

Pemuda itu tersenyum. "Benar ucapanmu. Senjata tetap senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat kejahatan. Sungguh kasihan, daripada dijadikan alat kejahatan lebih balk kembali ke asalnya. Demikian pun
dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu angkara murka, lebih baik kembali ke asal !"

"Bedebah, sombong amat wawasanmu! Akulah wakil Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang akan kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!" seru Wasi Bagaspati dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api bernyala, kemudian ia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dan menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta. Pemuda ini tetap berdiri tidak bergerak, berkedip pun tidak menerima hantarran pada dadanya ini.

"Dessss!!" Pukulan itu datangnya seperti serudukan seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon besar dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika mengenai dada pemuda itu, bukan Bagus Seta yang roboh, melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang terbanting ke belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah karena tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi membalik dan melukai isi dadanya sendiri.

"Jahanam!" Wasi Bagaskolo marah sekali melihat kakak seperguruan roboh. Ia menerjang maju hendak mencekik leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya.

Namun tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi Bagaspati sehingga baru saja tangannya menyentuh kulit leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa, menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun roboh terjengkang di samping Wasi Bagaspati.

Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik, "Duh Sang Hyang Bathara Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili Paduka mengembalikan mereka ini ke asal mereka!" Akan tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan terakhir, tiba-tiba terdengar seruan,

"Sadhu-sadhu-sadhu..... Bagus Seta, demi kasih sayang di antara semua mahluk dan benda, harap jangan membunuh mereka!"

Bagus Seta seperti sadar dari keadaan biasa, mengangkat muka dan memandang. Kiranya di situ telah berdiri seorang kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan kiri membawa seuntai tasbih dan tangan kanan memegang sebatang tongkat cendana yang panjang, wajahnya alim dan penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.

"Siapakah gerangan Andika, wahai sang Biku yang bersih lahirnya?"

Pertanyaan Bagus Seta yang dikeluarkan dengan suara halus ini merupakan sindiran tajam yang membuat muka pendeta itu menjadi merah. Dia dikatakan "bersih lahirnya", adakah pemuda ini melihat bahwa dia tidak bersih lahir batinnya? Akan tetapi ia tetap bersabar dan menjawab sambil tersenyum,

"Nama saya Biku Janapati, saya sedang bertugas melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan, memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di pantai timur untuk menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan sepak terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini, saya bergegas datang dan mendengar pula akan nama Andika, orang muda yang sakti mandraguna. Untung bahwa kedatangan saya tidak terlambat."

"Ah, kiranya Andika adalah Sang Biku Janapati utusan Kerajaan Sriwijaya? Membawa pelajaran agama dengan pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah sebuah usaha yang amat mulia, Sang Biku. Akan tetapi kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak akan ada manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan belaka, seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Aku pun hendak membasminya demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk, mengapa Andika menghadang? Apakah Andika yang katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara segala mahluk dan benda, menyetujui cara-cara yang dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka merasa perlu melindunginya?"

Biku Janapati tersenyum lebar dan menjawab, "Bukan demikian, orang muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa tidaklah mungkin memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula. Permusuhan hanya dapat dipadamkan dengan sikap tidak bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."

Bagus Seta mengangguk-angguk. "Benar sekali pelajaran itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang Biku, bahwa aku tidak memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya sebagai musuh dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi, melainkan hendak membasminya sebagai orang membasmi penyakit yang akan membahayakan keselamatan manusia umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya melaksanakan tugas sebagai manusia. Bukankah manusia dikurniai hak dan diberi kewajiban? Manusia merupakan titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan yang merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemelihara, dan Sang Maha Pembasmi yang bersifat Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api, namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan karenanya manusia berkewajiban untuk memanfaatkan dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau perlu membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri pribadi."

Mendengar ini, Biku Janapati merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata, "Namo Tasa Bhagawato Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah mencapai Perangai Sejati dan Kebijaksanaan Sempurna)! Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta, bukan? Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang tak dapat saya sangkal bahwa sahabat Wasi Bagaspati telah menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula dengan Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah kejahatan dilakukan dan biarlah mereka sendiri yang akan memetlk buahnya. Bagi saya, tidak boleh saja melalaikan tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini demi kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sendiri. Melihat mereka terancam bahaya maut, betapa mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja? Duhai Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan tak terbatas dan tak terlawan oleh Yang Maha Kuasa, anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau membunuh mereka ini merupakan kehendak Dia yang belum menghendaki mereka mati."

Bagus Seta menghela napas panjang dan diam-diam ia harus mengakui kebenaran ucapan ini, "Akan tetapi, Sang Biku yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan Andika ini merupakan tanggung jawab Andika pula terhadap kebenaran dan keadilan? Bahwa kalau mereka dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka kejahatan itu sebagian adalah akibat daripada perbuatan Andika saat ini?"

"Sebenarnyalah apa yang Andika katakan, wahai Bagus Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan kekacauan dengan perbuatan sesat lagi. Saya sendiri yang kelak akan menghadapi mereka sebagai pertanggungan jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun, yang memberi berkah kepada segala makluk dan tanpa pilih kasih dan tanpa Pandang bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam mayapada dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika membebaskan Wasi Bagaspati dan Was! Bagaskolo."

Didesak seperti ini, Bagus Seta merasa tidak baik untuk bersikeras. Ia menarik napas panjang dan menyerahkan segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia mengangguk dan berkata,

"Biarlah terjadi seperti yang Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka berdua kepadamu." Ia membungkuk dengan hormat dan meninggalkan tempat itu, menghampiri Pusporini dan Joko Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran sejak tadi, merobohkan dua puluh orang anggota pasukan siluman dan sejak tadi menonton dari jauh pertandingan hebat antara Bagus Seta melawan dua orang wasi sampai munculnya Biku Janapati.

"Mari kita turun dan menemui kanjeng rama," kata Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.

"Terima kasih, sahabatku Biku Janapati" kata Wasi Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh Bagaskolo yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak. Biku Janapti mengerutkan keningnya,

"Sahabatku Wasi Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika masih diperkenankan hidup untuk menebus segala dosa dan sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya lengah dan tidak sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan yang terbebas daripada gumpalan awan hitam. Maka, insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan jahat menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan membawamu ke alam kebahagiaan lahir batin."

Wasi Bagaspati mendongkol sekali, akan tetapi karena ia telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata, "Salahnya aku kurang tekun mempelajari ilmu, akan tetapi, sudahlah.... biar kucoba untuk mencari jalan kebenaran. Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!" Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Biku Janapati memandang dengan mata termenung dan menarik napas panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat sekali, kemudian ia pun melangkah pergi dengan tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.

Tejolaksono dan Endang Patibroto mengamuk di samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga pasukan menjadi gentar dan melarikan diri cerai-berai. Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga, maslh ada seorang pria lagi yang juga mengamuk hebat. Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang Patibroto berseru, "Sindupati....!"

Adiwijaya menengok terkejut sekali dan hendak melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena Endang Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi telah menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti. Karena wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar, sukar untuk dihindari lagi.

Terpaksa Adiwijaya menangkis, akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu lengannya bertemu dengan lengan Endang Patibroto, ia terjengkang dan roboh bergulingan. Untung ia cepat mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan, yaitu Trenggiling-wesi sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan diri. Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak Endang
Patibroto. Wanita ini makin marah dan terus mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan loncatan-loncatan cepat.

"Sindupati, manusia terkutuk! Saat ini engkau pasti akan mampus di tanganku!" Dengan sebuah lompatan cepat, kembali Endang Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali, bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan lagi, menyerahkan mati hidupnya kepada Endang Patibroto.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Plakkk!" Tubuh Endang Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya itu tertangkis oleh lengan Retna Wilis.

"Jangan bunuh dia.... !" teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya.

Endang Patibroto terbelalak memandang,
"Retna.... dia.... dia ini manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia.... dia musuh besar ibumu....!"

Retna Wilis menggeleng kepalanya dan berkata lirih, "Agaknya jalan kita selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia kauanggap jahat dan menjadi musuhmu. Akan tetapi bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya sahabatku. Mari Paman, kita pergi." Retna Wilis menggandeng tangan Adiwijaya dan mengajaknya pergi cepat dari tempat itu.

Endang Patibroto mengepal tinju dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya dipegang oleh Tejolaksono.

"Diajeng, jangan memaksa dia.....!" Suaranya penuh keharuan.

Endang Patibroto membalik, hendak meronta, akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh keharuan dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya dapat mengelus rambut isterinya itu sambil menghela napas dan matanya pun menjadi basah.

Demikianlah, ketika Bagus Seto, Joko Pramono dan Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka bertiga ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto sedang bertangisan di antara tumpukan mayat anak buah Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang!

Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan Tejolaksono dengan wajah muram dan berulang kali menghela napas menceritakan keadaan Retna Wilis yang meninggalkan ayah bundanya. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang Adiwijaya yang sesungguhnya adalah bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati, karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa menceritakan bahwa Endang Patibroto pernah diperkosa oleh manusia laknat itu!

Bagus Seta menghela napas dan berkata, "Harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu suka bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang menimpa kita, baik hal itu menguntungkan atau merugikan kita, dengan penuh kesabaran dan penyerahan, Sang Hyang Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa menguntungkan kita terima sebagai anugerah Tuhan dan karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan hormat tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupakan bahwa keuntungan itu hanya terjadi karena Tuhan menghendaki. Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima sebagai hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian, karenanya kita patut meneliti diri pribadi dan bertobat atas segala kesalahan kita, mohon ampun kepada Dia Yang Maha Adil."

"Ahhh.... Puteraku.... betapa aku akan dapat menahan batin yang berat ini.... Endang Patibroto terisak.

"Mengapa tidak dapat, Kanjeng Ibu? Manusia yang menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan penuh kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widdhi akan sanggup menanggung derita yang bagaimana pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar, bukan derita lagi."

"Bijaksana sekali ucapanmu, puteraku Bagus Seta. Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?" Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh kagum, juga dengan hati kosong melompong karena ia tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh meninggalkan ayah bundanya. Retna Wilis ataukah Bagus Seta!

Retna Wilis hanya terpisah lahirnya dan dara itu selama masih hidup dan berada di atas bumi, sekali waktu pasti dapat bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali sebagai puteri dan orang tuanya. Akan tetapi Bagus Seta ini sungguhpun kini berada di depannya, bercakap-cakap seperti seorang putera, namun sesungguhnya pemuda ini seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena keadaan Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia apalagi oleh hubungan keluarga!

"Karena musuh telah dihalau dan adinda Retna Wilis telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka berdua Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk memberi pelaporan kepada gusti sinuwun di Panjalu. Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng Bibi sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."

"Dan engkau sendiri?" Tejolaksono bertanya, suaranya kosong, sekosong hatinya yang makin merasakan betapa "jauhnya" puteranya yang kini berdiri di depannya itu.

"Hamba akan pergi merantau, melanjutkan perjalanan melakukan dharma bakti hamba seperti yang telah diajarkan oleh eyang guru...."

"Dan ibumu? Tentu akan kehilangan engkau.... betapa akan berduka hatinya...."

Bagus Seta tersenyum dan mengeluarkan setangkai bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono, "Harap Kanjeng Rama sudi menyerahkan bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang Hyang Widdhi, hati ibunda akan terhibur."

Tejolaksono menerima kembang itu teringat akan masa dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang pula untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah menyimpan kembang itu ia berkata, "Puteraku Bagus Seta, mendekatlah, Anakku."

Bagus Seta menghampiri ramandanya dan Tejolaksono memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam dadanya agar jangan dapat pergi lagi. Akan tetapi ada hawa yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang menjalar ke seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih sakti ini akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak hanya bertugas menghidupkan dia seorang. Sadarlah dia bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi kebenaran dan keadilan, demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan dunia umumnya.

Tidak hanya bertugas menyenangkan hati kedua orang tuanya belaka ia melepaskan pelukannya dan dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut tersenyum ia berkata, "Pergilah, Anakku. Pergilah dengan hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."

Setelah memberi hornat kepada Endang Patibroto yang memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini, pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut selatan, diikuti pandang mata empat orang itu sampai bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari yang mulai sore. Kemudian mereka berempat pun meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Wilis di mana pasukan-pasukan mereka masih berkumpul membersihkan sisa perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis.

********************

Retna Wilis duduk di atas sebuah batu besar di dalam hutan yang lebat. ia duduk bersila di atas batu bawah pohon tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk dan kedua mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena dara perkasa ini bersamadhi. Kalau tidak dipandang dengan penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga hampir tidak tampak dadanya bergerak.

Hanya bedanya dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu biasanya Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti kosong tidak mengandung perasaan apa-apa. Akan tetapi pada saat itu, wajahnya diselimuti kesuraman seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bahkan ada bekas-bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas sepasang pipinya, di bawah pelupuk mata. Juga sepasang alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut, tanda bahwa dia biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan cipta, dan tidak dapat membebaskan diri dari panca indrianya.

Tidak jauh dari tempat dara itu duduk bersamadhi di atas batu, tampak Adiwijaya duduk pula bersila di atas tanah, di depan gadis itu. Akan tetapi Adiwijaya tidak bersamadhi, semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh keprihatinan dan penuh perhatian. Entah sudah berapa puluh kali Adiwijaya menghela napas panjang dan pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang terjadi dan makin dipikir makin trenyuh hatinya, merasa amat kasihan dan terharu terhadap dara perkasa itu.

Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali. Tadi dara itu bersila semenjak pagi sekali di atas batu dan kalau Retna Wilis bersamadhi seperti biasanya, kiranya Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu batinnya. Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata, biarpun tidak pernah bergerak dan pernapasannya seperti orang tertidur atau bersamadhi, namun Adiwijaya yang juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa diri untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan tersiksa. Bahkan dara itu tidak sadar bahwa beberapa tetes air mata keluar melalui bulu matanya menitik turun ke atas pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa keningnya selalu berkerut dan wajahnya diselimuti kemuraman yang mengharukan.

"Aku berdosa...." pikirnya dengan trenyuh. "Aku berdosa kepada ibunya, kepadanya.... kalau tidak karena aku, mungkin dia sudah dapat berkumpul kembali dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri Patih Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi tokoh terkenal, sakti mandraguna dan gagah perkasa. Akan tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!" Ingin Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan terhadap diri sendiri, terhadap semua perbuatannya dan kesesatannya yang lalu. Patutkah seorang manusia jahat, manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari seorang seperti Retna Wilis?

Menjelang tengah hari Retna Wilis bergerak perlahan dan membuka matanya. Mata yang suram, sayu dan membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang tertindih penyesalan dan kedukaan. Melihat Adiwijaya duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan muka sedih, Retna Wilis bertanya, "Paman, sudah lamakah aku bersamadhi?"

Suara itu! Begitu memelas, tergetar dan lirih. Begitu mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak tertahankan lagi Adiwijaya menangis! Laki-laki yang dahulu menghadapi perbuatan keji sekeji-kejinya sambil tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!

"Aduh Gusti Ayu Puteri Retna Wilis.... mengapa Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu Paduka....?" katanya di antara isaknya.

Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan kedua kakinya dari atas batu.
"Paman Adiwijaya! Andika.... menangis? Betapa anehnya....! Mengapa aku membelamu? Tentu saja! Tidak boleh orang membunuhmu, biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau satu-satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku, bahkan kuanggap sebagai pengganti orang tuaku!"

"Aduh Dewa..... betapa kejinya Sindupati.... ah, tidak layak aku hidup di dunia ini...." Adiwijaya atau Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan keris berkarat yang menikam jantungnya.

"Sindupati? Apa maksudmu, Paman Adiwijaya?"

"Aduhai, Gusti Puteri yang mulia. Paduka bunuhlah hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan batin karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah hamba, Sang Puteri!"

Melihat pria setengah tua itu menangis mengguguk, Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar. "Paman, makin aneh saja kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan engkau jahat dan berdosa, bagiku engkau adalah orang yang paling baik."

"Tidak! Tidak! Paduka tidak tahu. Hamba sesungguhnya dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih yang lalu hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang dikasihi gusti sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi hamba berani mempersunting bunga dalam taman terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri sinuwun, sehingga hamba menjadi seorang pelarian yang terkutuk."

"Hemm, kesalahanmu tidak berapa hebat, Paman."

"Itu hanya permulaan saja. Hamba lalu menjadi perwira Blambangan, dan hamba bersama pasukan Blambangan melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah kepada Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri mantu gusti sinuwun, isteri dari Pangeran Panji Rawit. Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan karena tokoh Jenggala yang ditakuti adalah ibu Paduka."

Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa ketika Endang Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya Pangeran Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Demikianlah, Gusti Puteri. Hambalah orangnya yang telah mencelakakan secara tidak langsung kehidupan rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia terkutuk yang patut mati? Harap Paduka lekas turun tangan membunuh hamba, karena kebaikan Paduka merupakan siksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba."

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 48