Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 16

SUTEJO memandang kepadanya lalu kepada Sumarni yang masih menangis. Kemudian dia mengangguk. Biarlah Retno Susilo yang menghiburnya. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Dia mengangguk lalu meninggalkan dua orang wanita itu, kembali ke dalam gua, menambahkan kayu pada api unggun, lalu tertidur.

"Mbakayu Sumarni, aku Retno Susilo, aku kasihan kepadamu dan aku ingin memberi jalan kepadamu untuk melampiaskan dendam sakit hatimu. Bukankah engkau amat membenci Priyadi yang telah menyuguhkan dirimu kepada Ki Klabangkolo?"

"Aku... aku tadinya amat cinta kepadanya, den roro, akan tetapi sekarang aku amat benci kepadanya. Perbuatan itu amat menyakitkan hatiku."

"Engkau ingin membalas dendam dan melihat dia mati?"

"Akan tetapi bagaimana mungkin saya dapat membunuhnya? Dia digdaya sekali dan berkuasa di perkampungan Jatikusumo, mempunyai banyak pembantu pula."

"Mbakayu Sumarni Sebelum aku memberi jalan kepadamu untuk membalas dendam, lebih dulu ceritakanlah kepadaku tentang keadaan di Jatikusumo Kami memerlukan keterangan itu. Jawab saja pertanyaanku. Berapa banyak kira-kira Jumlah anak buah Jatikusumo?"

"Banyak sekali, den roro.Tidak kurang dari seratus Lima puluh orang dan setiap hari mereka berlatih kanuragan dan perang-perangan."

"Selain Ki Klabangkolo, ada siapa lagi yang membantu Priyadi di sana?"

"Banyak, den roro. Ada Resi Wisangkolo yang menyeramkan itu dan ada pula perempuan yang agaknya menjadi kekasih pula dari Priyadi. Wanita itu bernama Sekarsih, cantik dan genit sekali. Dan pernah pula datang empat orang tamu dari Wirosobo, akan tetapi mereka sekarang telah pergi."

"Bagus, keteranganmu ini amat berguna bagi kami. Ketahuilah, mbakayu Sumarni, kami berdua juga merupakan musuh besar Priyadi. Kami berusaha untuk membunuhnya karena dia adalah seorang jahat sekali. Dan kalau engkau mendendam kepadanya dan ingin Priyadi mati, engkau dapat membantu kami, malam ini juga."

"Den roro, saya adalah seorang gadis dusun yang bodoh dan lemah. Bagaimana saya dapat membantu andika berdua? Tentu saja saya bersedia membantu denmas Sutejo karena saya berhutang budi kepada ksatria yang budiman itu."

"Bagus sekali. Engkau memang harus menolong kakangmas Sutejo, karena kalau tidak kau tolong, mungkin besok pagi dia akan tewas di tangan si jahanam Priyadi."

"Ahh...!" Sumarni terkejut. "Saya akan bantu, akan tetapi bagaimana?"

"Begini, mbakayu Sumarni. Besok pagi setelah matahari terbit, Priyadi akan datang ke sini dan akan bertanding melawan kakangmas Sutejo. Sebetulnya kakangmas Sutejo dapat menandingi dan mengalahkan Priyadi. Akan tetapi Priyadi mempunyai sebatang pecut yang sebetulnya milik kakangmas Sutejo. Priyadi mendapatkan pecut itu secara curang. Nah, pecut itulah yang kalau dipergunakan Priyadi mungkin akan mengalahkan kakangmas Sutejo dan bisa jadi akan membunuhnya. Maka, kalau engkau benar-benar hendak membalas kejahatan Priyadi terhadap dirimu dan hendak membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu usahakanlah agar engkau dapat mencuri Pecut Bajrakirana itu dan membawanya kesini malam ini juga. Hanya dengan begitulah maka Priyadi akan dapat dihukum, bahkan juga Ki Klabangkolo yang membantunya. Kalau engkau tidak bersedia melakukannya, sakit hatimu tidak akan terbalas, engkau tetap menjadi barang permainan Priyadi dan Ki Klabangkolo yang terhina dan engkau tidak akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu. Bahkan mungkin kakangmas Sutejo akan tewas di tangan Priyadi. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih dan bertindak."

Sumarni sudah tidak menangis lagi. Ia termenung. "Hemm.... begitukah? Baik sekali, saya mendapat kesempatan untuk membalas terhadap jahanam-jahanam itu dan membalas budi kepada denmas Sutejo. Akan kulakukan itu, den roro. Akan ku usahakan. Saya tahu apa yang harus saya lakukan! Akan saya rayu dia malam ini sampai dia terlena dan kalau dia sudah tertidur pulas, akan saya curi pecut itu dan saya bawa ke sini."

Retno Susilo menjadi girang sekali. Melihat Sumarni hendak beranjak dari situ, ia berkata, "Tunggu dulu, Sumarni. Kalau engkau sudah berhasil membawa pecut ke sini dan menyerahkannya kepadaku, engkau harus segera meninggalkan tempat ini dan jangan sampai tertangkap oleh mereka. Sebaiknya engkau jangan pulang kedusunmu karena mungkin mereka akan mencarimu ke sana. Lebih baik engkau pergi ke daerah Ngawi, di tepi bengawan sana terdapat perkampungan Nogo Dento, yaitu tempat tinggal kami. Engkau pergilah ke sana dan engkau akan terlindung di sana. Tak seorangpun akan dapat mengganggumu lagi."

"Baik, den roro. Nah, saya pergi. Doakan saja usaha saya akan berhasil. Kalau saya berhasil, malam ini juga saya akan mengantarkan pusaka itu kesini, akan tetapi kalau saya tidak datang, berarti saya tidak berhasil dan mungkin sudah terbunuh."

"Selamat jalan dan selamat berjuang, mbakayu Sumarni. Sampai pagi aku akan menunggumu di sini," kata Retno Susilo dengan hati girang dan penuh harapan. Mereka duduk di sekeliling meja besar di ruangan belakang rumah induk Jatikusumo itu Sebuah ruangan yang luas dan tiga buah lampu gantung menerangi ruangan itu sehingga menjadi terang. Priyadi duduk di kepala meja dan di hadapannya, mengelilingi meja duduk Ki Klabangkolo Resi Wisangkolo. Sekarsih, dan tiga orang pembantu utamanya, yaitu yang merupakan perwira-perwira dari pasukan sebanyak seratus orang yang dikirim oleh Bhagawan Jaladara dari Wirosobo.

"Aku yakin akan dapat menang melawan Sutejo. Besok pagi. Pecut Bajrakirana tentu akan memecahkan kepalanya. Tadipun, kalau tidak keburu gelap, tentu aku sudah merobohkannya karena dia sudah terdesak." kata Priyadi.

"Memang andika tidak kalah" kata Ki Klabangkolo "akan tetapi menurut penglihatanku andika juga tidak akan mudah merobohkannya, Anak mas Priyadi. Si Sutejo itu benar-benar tangguh sekali, gerakannya luar biasa cepatnya sehingga ia mampu menghindar dari setiap sambaran pecut pusaka andika."

"Kurasa, lebih baik jangan main-main menghadapi orang berbahaya seperti dia," kata Sekarsih. "Untuk apa menunda-nunda lagi? Sebaiknya besok pagi, secara sembunyi kita semua mendatangi tempat itu. mengepung lalu menangkapnya."

"Hem. aku sendiri sudah merasakan ketangguhan Sutejo. Lebih baik memang begitu. Kita sergap dan kita bunuh dia agar lain waktu tidak akan mengganggu kita lagi," kata Resi Wisangkolo.

"Jangan kalian bergerak lebih dulu." kata Priyadi. "Kalian boleh datang mengepung tempat itu dan biarkan aku lebih dulu menandinginya. Hal ini menyangkut nama dan kehormatan, menyangkut harga diriku. Kalau ternyata memang sukar bagiku untuk mengalahkannya, barulah kalian boleh menyergap. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai melukai atau membunuh Retno Susilo. Aku sudah mengambil keputusan antuk menjadikan gadis itu sebagai isteriku, mendampingiku dalam memimpin Jatikusumo!"

"Aku akan menjaga agar ia tidak sampai terluka atau terbunuh, akan tetapi kuharap, setelah ada yang baru, yang lama agar Jangan dilupakan!" kata Sekarsih dengan sikap genit dan tanpa malu-malu lagi. Priyadi tersenyum lalu bangkit berdiri.

"Jangan khawatir, aku tidak akan melupakan kawan-kawan semua yang telah membuat jasa. Sekarang aku harus mengaso dan tidur untuk menghadapi pertandingan besok, Kalau tidak ada hal yang teramat penting, jangan ada yang mengganggu tidurku."

Setelah berkata demikian, Priyadi meninggalkan ruangan besar itu dan menuju ke kamarnya yang berada di sebelah dalam. Baru saja dia tiba di depan kamarnya, Sumarni sudah menyongsongnya. Gadis itu mendekatdan Priyadi melihat betapa gadis itu tampak segar kedua pipinya kemerahan, matanya redup dan senyumnya manis sekali, juga keharuman bunga menerpa hidungnya.

"Kakangmas Priyadi...!"ucap gadisitu dengan suaramerdu merayu. Priyadi tertegun. Sejak kemarin Sumarni tampak lesu dan seperti marah kepadanya setelah kemarin dulu dia menyerahkan gadis itu ke dalam pelukan Ki Klabangkolo dan memaksanya melayani Ki Klabangkolo semalam suntuk. Hal ini dilakukannya untuk menyenangkan hati pembantu itu yang tampaknya tergila-gila kepada Sumarni.

"Engkau, Sumarni? Mau apa engkau menemuiku?"

"Kakangmas.... saya... saya rindu kepadamu, kalau boleh.... malam ini saya ingin menemani dan melayanimu. Bukanlah kakangmas habis bertanding seperti yang kudengar dari para anggota? Biarlah saya memijiti tubuh kakangmas agar hilang semua kelelahan......"

Priyadi tersenyum. Perempuan ini masih belum membuatnya bosan, masih memiliki daya tarik yang kuat untuk menggairahkannya. "Engkau tidak marah lagi setelah kusuruh melayani Ki Klabangkolo tempo hari?"

"Bagaimana saya dapat marah kepadamu, kakangmas? Saya amat mencintamu, apalagi baru diperintahkan seperti itu, biar kakangmas memerintahkan saya terjun ke lautan api sekalipun, akan saya lakukan dengan senang hati."

Tergerak hati Priyadi dan dia lalu merangkul leher Sumarni dan diciumuya bibir yang menantang itu. Sumarni membalas dengan gairah yang sama. Priyadi lalu menggandengnya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam. Orang yang sedang dibuai nafsu berahi kehilangan kewaspadaannya. Priyadi menjadi terlena dan lengah.

Padahal kalau saja dia tidak mabok oleh nafsunya sendiri, dia akan melihat perubahan yang luar biasa pada sikap Sumarni. Belum pernah Sumarni memperlihatkan gairah yang demikian besar dan berlebihan, memperlihatkan kemesraan yang membuat dia mabok. Kalau dia waspada, tentu saja hal ini akan mendatangkan kecurigaan.

Namun, Priyadi tenggelam kedalam gelombang nafsu dan lupa segala. Akhirnya Priyadi tertidur karena kepuasan dan kelelahan. Sumarni pura-pura tertidur sambil merangkulnya, akan tetapi diam-diam sepasang mata wanita ini melirik ke arah Pecut Bajrakirana yang diletakkan di tepi bantal, di dekat dinding oleh Priyadi. Lewat tengah malam, setelah merasa yakin bahwa Priyadi telah benar-benar pulas, tertandai oleh dengkurnya yang dalam. Sumarni lalu bergerak perlahan dan hati-hati. Tangannya dijulurkan meraih pecut sakti itu. Dilibatkan ujung pecut yang panjang itu kepada batang pecut dan Ia lalu turun perlahan-lahan. Dibetulkan letak pakaiannya dan tanpa memperdulikan lagi akan pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang terlepas dan terurai panjang, iapun berjingkat ke arah pintu kamar, membuka pintu kamar lalu melangkah menuju ke pintu belakang. Keadaan rumah itu telah sunyi, semua orang agaknya telah tertidur pulas, merasa aman karena perkampungan itu terjaga ketat.

Sumarni telah mempelajari keadaan perkampungan itu. Ia tahu bagian dinding mana yang dapat diterobosnya untuk keluar tanpa diketahui para penjaga. Untuk itu ia harus memanjat pagar kayu yang tinggi. Ia membelit dan mengikatkan pecut itu di pinggangnya, mengikatkan ujung kain di pinggang dan memanjat pagar itu. Akhirnya, dengan susah payah dan hati-hati ia berhasil meninggalkan perkampungan Jatikusumo tanpa terlihat oleh penjaga.

Larilah wanita ini menuju ke pantai. Untung baginya bahwa bulan purnama cukup terang sehingga dia dapat melihat jalan. Ia berlari menuju ke pantai berpasir di mana tadi ia hendak membunuh diri dan bertemu dengan Sutejo dan Retno Susilo. Retno susilo sudah kembali ke mulut gua dan menjaga api unggun supaya tidak sampai padam. Ia duduk di depan api unggun asan tetapi matanya selalu dilayangkan ke arah pantai pasir penuh harap, menanti kemunculan orang yang ditunggu-tunggu, yaitu Sumarni. Maka, begitu melihat bayangan Sumarni berlarian ke pantai pasir itu. Retno Susilo cepat bangkit berdiri, melompat dan berlari cepat sekali menghampiri Sumarni yang sudah berhenti di pantai dan memandang ke sekeliling.

"Mbakayu Sumarni....!" Retno Susilo memanggil dau dengan cepat ia telah berhadapan dengan wanita itu. "Ahh, engkau sudah datang, den roro!" kata Sumarni dengan lega. Nafasnya masih terengah-engah karena ia tadi berlari terus, pakaiannya kusut dan rambutnya terurai. Tanpa bicara lagi ia melepaskan libatan Pecut Bajrakirana dan menyerahkannya kepada Retno Susilo.

Retno Susilo menerima pecut itu. mengamatinya sejenak dan ia mengenal pecut pusaka yang pernah dimilikinya untuk beberapa hari dahulu. Dengan hati girang sekali ia memeluk Sumarni dan mencium kedua pipi wanita itu.

"Mbakayu Sumarni! Terima kasih, mbakayu, engkau telah menyelamatkan nyawa kakangmas Sutejo. Terima kasih, engkau baik sekali!"

Sumarni sesenggukan dalam rangkulan Retno Susilo. Wanita ini merasa nelangsa sekali. Ia telah mengorbankan perasaannya, menahan rasa benci dan muaknya terhadap Priyadi yang telah menghancurkan hatinya, dengan bersikap mesra dan penuh cinta kasih. Akan tetapi ia juga merasa bersedih karena ia harus mengkhianati orang yang sesungguhnya ia cinta. Tak disangkanya cintanya yang demikian tulus dan murni terhadap Priyadi telah dihancurkan pemuda itu dengan perbuatan keji, menyerahkan ia untuk diperkosa oleh Ki Klabangkolo!

"Den roro, semoga engkau hidup berbahagia dengan denmas Sutejo..." katanya lirih.

Retno Susilo melepaskan rangkulannya dan ia mengeluarkan sekantung uang yang tadi telah dipersiapkannya. "Terimalah ini, mbakayu, untuk bekalmu dalam perjalanan. Sekarang, cepat pergilah dari sini dan lakukan perjalanan, terus saja menuju keutara dan pergilah ke daerah Ngawi, tanayakan perkampungan Nogo Dento yang berada di tepi bengawan. Pergilah engkau kesana. katakan kepada Ki Harjodento yang menjadi ketua di sana bahwa engkau datang karena aku yang menyuruhmu dan ceritakan semua kepada mereka. Engkau akan diterima dengan baik dan engkau akan aman di sana. Cepat pergilah!"

Sumarni menoleh ke arah utara, lalu mengangguk. "Selamat tinggal, den roro!" katanya terisak.

"Selamat jalan, mbakayu!" Sumarni lalu melangkah pergi, menuju ke utara dan lenyap di balik batu-batu karang.

Dengan gembira sekali Retno Susilo memainkan pecut itu lalu berlari kembali ke dalam gua. Ia melihat Sutejo masih tidur pulas. Hatinya merasa khawatir. Bagaimana kalau Priyadi sudah tahu bahwa Pecut Bajrakirana telah dicuri oleh Sumarni? Tentu dia akan datang mencari ke sini dengan membawa para pembantunya. Gawat kalau begitu! Malam telah larut dan Sutejo telah tidur cukup. Dia harus dibangunkan untuk diberitahu akan kenyataan yang menggembirakan itu dan untuk berjaga-jaga kalau Priyadi dan kawan-kawannya datang mencari pecutnya.

"Kakangmas Sutejo.....!" Ia mengguncang pundak pemuda itu.

Sutejo tidur dalam keadaan siap, maka begitu terguncang pundaknya, dia segera bangkit duduk dan memandang Retno Susilo. "Diajeng Retno! Ada apakah, sudah pagi?"

"Belum, kakangmas. Akan tetapi sudah lewat lengah malam. Bangunlah, kakangmas, ada suatu kabar gembira untukmu!"

Sutejo tersenyum. Gadis aneh, membangunkannya hanya untuk memberi kabar gembira. Mana ada kabar gembira di situ?

"Kabar apakah, diajeng?" katanya sambil bangkit berdiri dan mengambil tempat duduk didepan api unggun, dekat Retno Susilo.

"Lihat ini...!" kata Retno Susilo sambil mengambil pecut yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya dan dia mengangkat pecut itu tinggi-tinggi sehingga terkena cahaya api unggun

Sutejo terbelalak, mengejap-ngejapkan matanya seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

"Bajrakirana....???" Dia berseru, kaget dan heran, juga penuh keraguan.

"Yang asli dan murni!" kata Retno Susilo gembira sambil menyerahkan pecut itu. "Kalau tidak percaya, periksalah sendiri, kakangmas."

Sutejo mengambil pecut itu dari tangan Retno Susilo dan mengamati pecut itu. Matanya terbelalak , wajahnya berseri dan jantungnya berdebar penuh rasa gembira luar biasa. Dia tidak ragu lagi. Ini memang Pecut Sakti Bajrakirana yang asli. Dia mencium pecut itu dan menjunjung tinggi di atas kepalanya, lalu memandang kepada Retno Susilo.

"Diajeng, mujijat apakah yang telah kau lakukan ini? Bagaimana mungkin pecut pusaka yang kemarin sore masih dipergunakan oleh Priyadi, kini dapat berada di tanganmu? Apakah yang telah kau lakukan? Apa yang telah terjadi?"

"Kecerdikan, kakangmas. Kalau kekuatan sudah tidak berdaya, maka kecerdikan dapat menolong. Dengan menggunakan akal aku dapat memperoleh Pecut Bajrakirana dari tangan si jahanam Priyadi."

"Bagaimana caranya, Diajeng?" tanya Sutejo kagum. "Apakah engkau tadi berkunjung kesana? berbahaya sekali!"

"Kalau aku sendiri berkunjung ke sana dan. menggunakan kekerasan, itu berarti perbuatan nekat dan bodoh. Tidak, aku tetap ada di sini, hanya menanti, kakangmas. Yang melakukan bukan aku, melainkan Sumarni."

"Sumarni?" Sutejo terbelalak. "Akan tetapi bagaimana...?"

"Engkau tentu tahu bahwa Sumarni mengandung dendam sakit hati yang besar sekali terhadap Priyadi, kakangmas. Ia demikian bersedih sehingga hampir saja ia membunuh diri kalau tidak tertolong olehmu. Nah, aku menggunakan dendamnya itu, memberi jalan kepadanya untuk membalas dendam dengan mencuri pecut pusaka ini untukku dan untukmu. Ia hendak membalas dendamnya kepada Priyadi dan membalas budimu dengan mencuri pecut pusaka ini untukmu, dan ia berhasil."

"Ahh.....! Itu berbahaya sekali! Dan dimana Sumarni sekarang?"

"Aku telah memberinya bekal cukup dan menyuruh ia pergi ke perkampungan Nogo Dento. Ia akan aman di sana. Baru saja ia telah pergi sehingga tidak mungkin akan tertangkap oleh Priyadi yang tentu tidak tahu ke mana ia melarikan diri."

"Bagus, mudah-mudahan ia dapat tiba disana dengan selamat. Akan tetapi, diajeng, perbuatan ini... mencuri Pecut Bajrakirana merupakan perbuatan yang curang...!"

Retno Susilo mengerutkan alisnya dan menatap wajah pemuda itu dengan marah. "Kakangmas Sutejo! Menghadapi seorang jahanam busuk seperti Priyadi itu, engkau masih hendak menggunakan kejujuran? Ingat, engkau sendiri yang bercerita tentang Pecut Sakti Bajrakirana, Bukankah pecut itu tadinya dicuri oleh Bhagawan Jaladara dari padepokan Resi Limut Manik? Kemudian engkau berhasil merampasnya. Kemudian Bhagawan Jaladara menggunakan kecurangan lagi, memaksamu mengembalikan pecut itu kepadanya dengan mengancam akan membunuh gurumu. Dua kali Bhagawan Jaladara menguasai pecut itu dengan kecurangan dan kejahatan, dan dia menyerahkan pecut kepada Priyadi. Kalau sekarang aku menggunakan akal, ingat aku dan bukan engkau yang menggunakan akal mencuri pecut itu dari tangan Priyadi, bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku yang mencuri, kakangmas, bukan engkau. Dan aku memberikan pecut itu kepadamu, seperti Bhagawan Jaladara memberikannya kepada Priyadi!"

Melihat gadis itu marah-marah dan mendengar ucapannya yang mengandung kebenaran, Sutejo tersenyum dan mengangguk-angguk. "Terima kasih, diajeng. Aku menerima pemberianmu dan sekarang aku melihat bahwa memang sudah sewajarnya dan sepantasnya kalau Pecut Bajrakirana ini kembali ke tanganku karena memang aku yang berhak."

Setelah berkata demikian. Sutejo lalu berlatih silat, memainkan pecut itu dengan ilmu pecut Aji Bajrakirana. Semenjak dia menguasai aji itu, baru sekali ini dia berlatih menggunakan pecut aslinya. Terasa cocok dan enak sekali bersilat dengan aji itu menggunakan Pecut Bajrakirana, sudah pas dan tepat sekali. Pecut meledak-ledak dan tampak bunga api berpilar ketika ujung pecut mematuk udara. Ledakan diselingi sinar bunga api sehingga cocok benar dengan nama pecut itu Bajrakirana (Sinar Kilat).

Retno Susilo menonton dengan takjub dan kagum sekali. Sungguh luar biasa sekali ilmu silat yang dimainkan kekasihnya itu dan ia merasa yakin bahwa Sutejo pasti akan mampu mengalahkan Priyadi kalau dia menggunakan Pecut Bajrakirana.

Akan tetapi padu saat itu terdengar suara nyaring, "Sutejo, pencuri hina. manusia curang. Kembalikan Bajrakirana kepadaku!"

Itu adalah teriakan Priyadi yang dilakukan dari jarak jauh dan tampaklah banyak obor dibawa banyak orang yang berlari-larian menuju ke gua itu. Melihat ini, Sutejo juga mengerahkan tenaga saktinya dan berteriak lantang.

"Priyadi, ini adalah pecut pusaka milikku! Engkaulah yang mencurinya dariku melalui tangan BhagawanJaladara!"

Akan tetapi Retno Susilo sudah menyambar tangan kiri Sutejo dan ditariknya pemuda itu, diajaknya lari dari situ. "Kakangmas Sutejo, mari kita lari!"

"Tidak. aku hendak menghajar Priyadi!"

"Kakangmas! Aku sudah mendengar dari mbakayu Sumarni bahwa Priyadi dibantu baayak orang.

Ada Resi Wisangkolo, Ki Klabangkolo, Sekarsih dan tiga orang perwira Wirosobo. Belum lagi diperhitungkan anak buahnya yang seratus lima puluh lebih banyaknya. Bagaimana kita mampu melawan mereka? Belum waktunya sekarang untuk membasmi mereka. Marilah kita lari!" Retno Susilo menarik lagi tangan Sutejo untuk diajak melarikan diri. Kini Sutejo juga tidak membantah lagi karena dia menyadari bahwa seorang diri, bahkan dibantu oleh Retno Susilo sekalipun, melawan demikian banyaknya orang, sama saja dengan membunuh diri. Perbuatan nekat yang tidak dapat perhitungkan dan bodoh.

"Mari!" katanya dan kedua orang itu lalu melompat keluar dari gua dan melarikan diri.

Para pengejar dapat melihat bayangan dua orang yang melarikan diri ini. Mereka berteriak-teriak dan dipimpin oleh Priyadi dan Resi Wisangkolo, mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi Sutejo menggunakan Aji Harina Legawa yang sudah mencapai tingkat tertinggi sehingga tubuhnya meluncur Seperti terbang cepatnya. Retno Susilo juga tidak mau kalah. Dengan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya juga berlari cepat bukan main. Sebentar saja bayangan dua orang ini sudah lenyap dan para pengejar kehilangan jejak.

"Jahanam keparat!" Priyadi membanting-banting kaki dengan marah, kemudian dia teringat akan Sumarni. Bangkit kemarahannya karena dia menyadari bahwa tentu Sumarni yang telah melakukan pencurian terhadap pecut pusaka itu dan entah bagaimana wanita itu agaknya telah menyerahkan pecut pusaka itu kepada Sutejo.

"Cari Sumarni!" teriaknya sehingga terdengar oleh semua anak buahnya. "Cari perempuan khianat itu sampai ketemu, hidup atau mati!!" Karena sudah tidak mungkin mengejar kedua orang muda yang telah lenyap dan tidak diketahui lari ke arah mana itu, anak buah Priyadi kini melaksanakan perintah pimpinan mereka. Mereka mengira bahwa mencari Sumarni tentu lebih mudah karena Sumarni adalah seorang wanita lemah dan tentu belum lari jauh.

"Cari ia! Kalau perlu susul dan cari sampai ke desanya, di Jaten!" teriak pula Priyadi. Dia sendiri lalu ikut mencari dengan dada yang rasanya seperti mau meledak saking marahnya. Namun, semua pencari itu salah arah. Tidak ada yang mengira bahwa Sumarni sejak malam tadi sudah melarikan diri dan arahnya ke utara.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pemuda gagah perkasa tinggi besar itu melangkah tanpa ragu menuju pintu gerbang keputren. yang berada di bagian belakang istana kerajaan Mataram. Dia memanggul sebatang tongkat dan sikapnya santai saja ketika dia menghampiri belasan orang perajurit yang bertugas menjaga pintu gerbang keputren itu. Daerah keputren ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, terutama pria untuk memasukinya dan kalau ada yang mempunyai keperluan penting dengan keputren, dia harus mempunyai surat ijin dari pejabat pengawas keamanan istana.

Pemuda itu adalah Cangak Awu. Seperti kita ketahui, dia datang ke kota raja untuk menemui adik seperguruannya, yaitu Puteri Wandansari untuk melaporkan tentang keadaan Jatikusumo yang telah dibasmi oleh Priyadi.

"Berhenti!!" bentak kepala jaga ketika melihat Cangak Awu menghampiri pintu gerbang dengan sikap santai dan melangkah seenaknya Cangak Awu berhenti melangkah dan menghadapi belasan orang penjaga yang menghadangnya dengan pandang mata galak penuh curiga. "Heii, siapa engkau dan mau apa engkau berani mendekati pintu gerbang keputren?"

Menghadapi teguran yang galak itu Cangak Awu bersikap tenang saja. Dia memang belum pernah berkunjung ke tempat tinggal Puteri Wandansari dan tidak tahu tentang peraturan di tempat itu. Berbeda dengan mendiang Maheso Seto dan Rahmini yang tempo hari datang berkunjung. Mereka tidak mau repot-repot dan memasuki keputren dengan cara menyelundup, mempergunakan kepandaian mereka untuk melompati pagar tembok yang mengelilingi keputren dan langsung menemui Puteri Wandansari di dalam. Cangak Awu adalah seorang yang kasar dan jujur, dia tidak mempunyai akal untuk melakukan hal seperti itu, melainkan langsung saja hendak masuk melalui pintu gerbang seperti memasuki perkampungan sendiri saja.

"Namaku Cangak Awu dan aku ingin memasuki pintu gerbang ini untuk bertemu dan bicara dengan Diajeng Wandansari" kata Cangak Awu dengan nada suara biasa saja.

Belasan orang perajurit itu saling pandang dengan kaget dan heran. Kepala jaga menjadi marah sekali. "Manusia kurang ajar! Berani engkau menyebut Gusti Puteri Wandansari dengan diajeng" "Sudah gilakah engkau? Hayo cepat minggat dari sini atau kami akan menangkapmu dengan tuduhan mempunyai niat buruk yang mencurigakan!"

"Saudara-saudara, aku bicara sebenarnya. Diajeng Wandansari adalah adik seperguruanku dan ingin bertemu dan bicara kepadanya karena, ada urusan penting sekali. Biarkanlah aku masuk dan mencarinya!"

Setelah berkata demikian, Cangak Awu sudah menggerakkan kakinya lagi untuk melangkah maju hendak memasuki pintu gerbang. Akan tetapi empat batang tombak dipalangkan menghadang di depan dadanya. Kepala para perajurit pengawal itu menjadi marah sekali.

"Orang gila! Tangkap dia!" Belasan orang perajurit pengawal yang berjaga di situ segera mengepung Cangak Awu dan empat orang yang berada paling depan sudah menubruk dan meringkus kaki tangan Cangak Awu. Diperlakukan demikian, Cangak Awu menjadi marah.

"Haaaaiiittt......!" Dia mengeluarkan teriakkan nyaring dan tubuhnya bergerak mengguncang. Empat orang yang meringkusnya itu terpental berpelantingan dan roboh terbanting! Melihat ini, para perajurit menjadi marah dan mereka segera mempergunakan tombak dan golok untuk menyerang Cangak Awu yang mereka, kira mengamuk.

Cangak Awu menggerakkan tongkatnya melakukan perlawanan. Gerakannya hebat sekali. Tombak dan golok yang bertemu tongkatnya tentu terpental dan pemegangnya terhuyung. Diam-diam seorang di antara para perajurit itu lari memasuki keputren untuk melaporkan amukan pemuda itu kepada Sang Puteri Wandansari.

Perkelahian yang terjadi di depan pintu gerbang keputren itu menarik perhatian banyak orang. Banyak orang datang menonton Cangak Awu mengamuk dengan tongkatnya. Perajurit yang berani menyerang dan mendekatinya tentu akan terpental dan terlempar. Akan tetapi pemuda ini tidak berwatak kejam. Dia tahu bahwa para rajurit itu adalah pengawal-pengawal Puteri Wandansari, bukan musuh. Maka diapun membatasi tenaganya dan hanya membuat mereka berpelantingan tanpa melukai mereka dengan parah.

BAGIAN 49 Para penjaga yang mengandalkan banyak kawan, masih terus mengeroyok. Yang roboh bangkit lagi dan hujan senjata menyerang tubuh Cangak Awu. Akan tetapi pemuda itu memutar tongkatnya. Terdengar suara berdentangan dan banyak senjata golok dan tombak beterbangan, terlepas dari pemegangnya.

"Berhenti semua!" Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan mendengar suara bentakan ini, para perajurit segera berlompatan ke belakang, menghentikan pengeroyokan mereka.

Cangak Awu memanggul tongkatnya dan memutar tubuh menghadapi orang yang mengeluarkan suara bentakan tadi. Wajahnya berseri ketika melihat bahwa yang datang adalah Puteri Wandansari sendiri. Sang Puteri mendengar pelaporan perajurit dan segera ia berlari keluar karena ia tahu bahwa kakak seperguruannya, Cangak Awu, adalah seorang yang berwatak kasar dan jujur sehingga mungkin akan terjadi keributan dengan para penjaga. Benar saja, ketika ia tiba di pintu gerbang, ia melihat kakak seperguruannya itu mengamuk dengan tongkatnya. Akan tetapi iapun dapat melihat betapa Cangak Awu tidak bermaksud mencederai para pengeroyok, maka ia membentak para perajurit itu untuk mundur.

"Diajeng Wandansari....!" Cangak Awu berseru dengan girang.

"Kiranya engkau, Kakang Cangak Awu!" kata Sang Puteri dan para perajurit pengawal saling pandang dan tertegun. Kiranya pengakuan pemuda kasar itu benar. Gusti Puteri mereka mengenal baik dan menyebut kakang kepada pemuda itu!

"Maafkan kalau kedatanganku ini membuat kekacauan. Habis, mereka tidak memperkenankan aku masuk menemuimu, diajeng." kata Cangak Awu sambil memandang kepada belasan orang perajurit yang berkumpul di depan gardu penjagaan.

"Maafkan mereka, Kakang Cangak Awu. Mereka hanya melaksanakan tugas menjaga keamanan dan keselamatan keputren. Mari, masuklah. Tentu ada keperluan penting sekali maka engkau datang menemuiku."

"Memang aku membawa berita yang teramat penting, diajeng." kata Cangak Awu yang melangkah masuk dan keduanya segera melangkah memasuki taman keputren yang luas. Sang Puteri Wandansari mengajak Cangak Awu untuk pergi ke tengah taman di mana terdapat sebuah anjungan, ruangan terbuka yang terlindung atap yang biasanya dipergunakan untuk duduk bersantai menikmati keindahan dalam taman.

"Duduklah, Kakang Cangak Awu dan ceritakan apa urusan penting yang hendak kau sampaikan kepadaku." kata Puteri Wandansari dengan sikap ramah Cangak Awu lalu duduk di atas bangku, berhadapan dengan puteri itu. Dia sudah biasa berhubungan dengan dara bangsawan yang cantik jelita itu sebagai saudara seperguruan, maka dia tidak merasa canggung dan, menganggap sang puteri itu seperti adiknya sendiri.

"Diajeng Wandansari. Berita yang kubawa ini teramat penting, akan tetapi juga amat menyedihkan. Hatiku masih seperti diremas-remas rasanya kalau teringat akan semua peristiwa itu."

Wandansari mengerutkan alisnya. Ia mengenal baik pemuda tinggi besar yang gagah perkasa ini. Cangak Awu adalah seorang pemuda yang keras, kasar dan jujur, tabah dan tidak cengeng. Maka kalau sekarang demikian bersedih dan merasa hatinya seperti diremas-remas, tentu telah terjadi sesuatu yang hebat sekali.

"Kakang Cangak Awu, berita apakah itu, cepat katakan kepadaku!" Wandansari mendesak, ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi.

"Dunia terasa kiamat, geger telah terjadi malapetaka hebat menimpa Jatikusumo, diajeng. Hampir semua murid Jatikusumo terbantai, Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini, bahkan Bapa Sindusakti telah tewas" Cangak Awu tidak dapat melanjutkan ceritanya karena lehernya seperti tercekik kesedihan dan keharuan.

Sepasang mata yang tajam indah itu terbelalak, wajah itu menjadi pucat dan Puteri Wandansari bangkit berdiri, mengepal kedua tangan. "Ya Tuhan...! Siapa yang melakukan semua pembunuhan itu?" tanyanya setengah berteriak.

"Kakang Priyadi manusia murtad yang durhaka itu!"

"Kakang Priyadi? Akan tetapi bagaimana mungkin! Kakang Priyadi adalah seorang murid yang baik dan berbakti, bahkan kita semua tahu bahwa dia adalah murid terkasih dari Bapa Guru!"

"Akan tetapi dia telah berubah, diajeng. Entah iblis mana yang telah memasuki dirinya. Dia merampas kedudukan ketua Jatikusumo dan dia tega membunuh Bapa Guru,"

"Maaf, kakang Cangak Awu. Bagaimana aku dapat mempercayai berita itu? Sepandai-pandainya Kakang Priyadi, tidak mungkin dia dapat mengalahkan Bapa Guru, apa lagi membunuhnya!"

"Entah apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia telah berubah seperti iblis sendiri, selain jahat kejam juga amat sakti mandraguna."

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia mengalahkan semua murid Jatikusumo? Bukankah di samping Bapa Guru ada pula Kakang Mahesa Seto, Mbakayu Rahmini dan engkau sendiri, kakang? Tak mungkin dia dapat mengalahkan pengeroyokan kalian semua!"

"Dia tidak datang sendiri, diajeng Dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara dan kawan kawannya, para jagoan dari Wirosobo, bahkan di antara mereka terdapat Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo! Kami semua melawan mati-matian, akan tetapi pihak musuh lebih kuat sehingga akhirnya Bapa Guru. Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan banyak murid Jatikusumo tewas...."

Tiba-tiba Puteri Wandansari menatap wajah Cangak Awu penuh selidik dan ia bertanya, "Akan tetapi mengapa engkau masih dapat terhindar dari maut. Kakang Cangak Awu?"

"Itulah yang menyedihkan hatiku, diajeng. Seharusnya akupun melakukan pembelaan sampai titik darah terakhir. Akan tetapi ketika aku melihat betapa Bapa Guru dan kedua orang kakak seperguruan kita itu roboh, aku tahu bahwa kalau aku nekat, akupun akan mati. Pada saat itu kupikir, kalau aku juga mati, lalu siapa yang akan membalaskan semua sakit hati itu? Itulah sebabnya mengapa aku melarikan diri membawa luka tendangan yang amat parah."

"Hemm, kiranya Priyadi itu bersekutu dengan Bhagawan Jaladara yang menjadi kaki tangan kadipaten Wirosobo! Lalu bagaimana kakang? Lanjutkan ceritamu."

"Agaknya Priyadi hendak membawa Jatikusumo membantu gerakan kadipaten Wirosobo, diajeng. Aku telah terluka parah dan aku melarikan diri sekuat tenaga dan akhirnya aku jatuh pingsan di tepi sungai. Aku ditolong oleh nimas Pusposari puteri Paman Harjodento ketua perkumpulan Nogo Dento. Kiranya Paman Harjodento itu adalah ayah kandung Adi Sutejo, diajeng." Wajah sang puteri itu berseri. "Ah, benarkah? Jadi Kakangmas sutejo telah menemukan orang tuanya? Syukurlah, kabar ini cukup menggembirakan walaupun tidak mengurangi kedukaan mendengar Jatikusumo terbasmi."

"Paman Harjodento lalu menjodohkan aku dengan diajeng Pusposari"

"Begitukah, Kakang Cangak Awu? Aku ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepadamu."

"Terima kasih, diajeng. Juga Adi Sutejo dijodohkan dengan Retno Susilo yang menjadi sahabat baik Sutejo dan yang telah banyak membantunya"

"Kakang Sutejo adalah seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa, yang telah dipercaya mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk mewarisi AjiBajrakirana, sudahsepantasnya dia memperoleh jodoh yang sepadan dan pantas. Aku percaya bahwa gadis yang bernama Retno Susilo itu tentu seorang gadis yang amat baik, bijaksana dan juga sakti mandraguna."

"Dara itu adalah puteri Ki Mundingsosro ketua Sardula Cemeng dan ia memang memiliki kesaktian cocok sekali kalau menjadi jodoh Adi Sutejo," kata Cawak Awu dengan sejujurnya.

"Kakang Cangak Awu, berita yang kau bawa ini penting sekali karena menyangkut keamanan di Mataram, Kalau Jatikusumo kini dipimpin Priyadi yang bersekutu dengan Wirosobo, maka hal ini tidak boleh kami diamkan saja, karena berarti daerah Mataram telah kemasukan pengaruh Wirosobo. Mari, mari ikut aku menghadap Kanjeng Rama, karena hal ini perlu beliau ketahui dan aku akan minta ijin Kanjeng Rama untuk memimpin pasukan menggempur Priyadi dan antek-anteknya."

Cangak Awu berasa gentar untuk menghadap Sang Prabu, akan tetapi karena di situ ada Puteri Wandansari yang mengajaknya, maka biarpun jantungnya berdebar tegang, dia mengikuti sang puteri memasuki istana. Para pengawal tentu saja membiarkan sang puteri masuk, bahkan memberi hormat dan pengawal bagian dalam lalu melapor kepada Sultan Agung bahwa Puteri Wandansari mohon menghadap.

Pada waktu itu, Sultan Agung sedang berbincang-bincang dengan para senopatinya. Di antaranya yang hadir adalah Ki Mertoloyo yang melaporkan tentang penyelidikannya terhadap para kadipaten di sebelah timur. Juga hadir Ki Suroantani, Kyai Sujonopuro dan Kyai Juru Kiting, keduanya merupakan senopati-senopati yang terkenal dari Mataram. Mendengar pelaporan pengawal dalam bahwa puterinya. Puteri Wandansari dan seorang pemuda mohon menghadap, Sultan Agung segera memerintahkan pengawal untuk mempersilakan kedua orang muda itu masuk dan menghadap.

Ketika Puteri Wandansari dan Cangak Awu menghadap, dan menghaturkan sembah, Sultan Agung dan para senopati memandang kepada Cangak Awu dengan hati kagum. Cangak Awu memang merupakan seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah perkasa seperti Sang Bimasena.

"Nini Wandansari. Siapakah pemuda yang gagah perkasa ini?" tanya Sang Prabu kepada puterinya sambil memandang dan mengamati wajah Cangak Awu yang membayangkan keterbukaan dan kejujuran.

"Kakang Cangak Awu, Kanjeng Rama hendak mengetahui keadaanmu. Perkenalkanlah dirimu sendiri kepada Kanjeng Rama."

Cangak Awu lalu menghaturkan sembah dengan sikap hormat. Biarpun dia seorang yang jujur dan kasar, akan tetapi di bawah bimbingan mendiang Bhagawan Sindusakti, diapun tahu akan sopan santun atau tata-krama di depan Sang Prabu. "Mohon paduka sudi mengampuni hamba yang berani menghadap tanpa dipanggil, Gusti Sinuwun, Hamba bernama Cangak Awu. murid perguruan Jatikusumo. Kedatangan hamba adalah untuk memberi laporan kepada Gusti Puteri Wandansari, dan oleh beliau hamba diajak menghadap paduka"

"Murid Jatikusumo? Kalau begitu masih saudara seperguruanmu nini Wandansari?"

"Memang demikianlah, Kanjeng Rama. Kakang Cangak Awu ini masih terhitung kakak seperguruan hamba, dia adalah murid kepala ke empat sedangkan hamba murid kepala ke lima."

"Lalu apa maksudmu mengajak Cangak Awu untuk menghadap kami?" tanya Sang Prabu dengan ramah. Dia merasa bangga dan sayang kepada puterinya ini karena biarpun seorang wanita, namun amat berbakat dan tekun mempelajari ilmu kanuragan sehingga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna dan berwatak gagah perkasa.

"Ampun, Kanjeng Rama, kalau hamba berdua telah lancang dan mengganggu kesibukan paduka. Akan tetapi karena kakang Cangak Awu datang membawa berita tentang malapetaka yang menimpa perguruan Jatikusumo dan juga tentang ancaman yang membahayakan keamanan di Mataram, maka hamba pikir berita ini penting sekali untuk paduka ketahui."

Sang Prabu memandang Cangak Awu dan bertanya, "Cangak Awu, berita apakah yang kau bawa? Malapetaka apakah yang telah menimpa perguruan Jatikusumo?"

"Kanjeng Gusti, perguruan Jatikusumo telah dihancur binasakan oleh seorang murid kepala yang murtad bernama Priyadi. Dalam kerusuhan itu, Bapa Guru Bhagawan Sindusakti, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, juga para murid Jatikusumo, telah terbunuh."

"Jagad Dewa Bathara...!" Sang Prabu berseru.

"Paman Bhagawan Sindusakti terbunuh, dan oleh muridnya sendiri? Jahat sekali murid durhaka yang bernama Priyadi itu! Akan tetapi, Wandansari, apa hubungannya ini dengan terancamnya keamanan di Mataram?"

"Kanjeng Rama, Priyadi yang murtad dan durhaka itu menguasai Jatikusumo untuk menjadi ketua di sana dan dia menyerbu Jatikusumo dengan bantuan para tokoh dari Kabupaten Wirosobo. Kini dia menyusun kekuatan di Jatikusumo untuk membantu Wirosobo yang berniat memberontak terhadap Mataram. Oleh karena itu. Kanjeng Rama, kalau paduka mengijinkan, hamba ingin memimpin pasukan untuk membantu Kakang Cangak Awu dan Kakang Sutejo yang dibantu oleh keluarga perkumpulan Nogo Dento untuk menyerang dan menghancurkan persekutuan gerombolan pemberontak itu, dan untuk membalaskan kematian Bapa Guru Bhagawan Sindusakti dan para saudara seperguruan hamba yang terbunuh oleh jahanam Priyadi itu."

"Ampunkan hamba, Kanjeng Sinuwun. Kalau hanya menumpas gerombolan pemberontak, perkenankan hamba yang memimpin pasukan untuk menumpas mereka, tidak perlu menyusahkan Gusti Puteri," kata Tumenggung Wiroguno, seorang senopati.

"Tidak, Paman Tumenggung Wiroguno. Penumpasan ini harus saya lakukan sendiri karena ini menyangkut kehancuran perguruanku. Kanjeng Rama, hamba mohon perkenan paduka."

Sang Prabu mengangguk-angguk, tersenyum."Nini Wandansari, kami percaya akan kemampuanmu untuk melakukan penumpasan terhadap gerombolan itu. Akan tetapi, engkau tadi mengatakan bahwa murid yang murtad dari Jatikusumo itu dibautu oleh tokoh tokoh Wirosobo. Siapakah mereka itu?"

"Kakang Cangak Awu lebih mengetahui akan hal itu, Kanjeng Rama."

"Siapakah mereka, Cangak Awu?" tanya Sang Prabu kepada pemuda itu.

"Selain Priyadi sendiri yang rupanya telah memiliki kesaktian luar biasa yang entah di dapatkannya dari mana, juga dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara yang menjadi antek Kadipaten Wirosobo bersama dua orang pembantunya, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Selain itu, dia dibantu pula oleh dua orang kakek sakti mandraguna dan jahat, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, juga seorang wanita iblis bernama Sekarsih. Karena para murid Jatikusumo melawan sampai tewas, tentu sekarang Priyadi membentuk pasukan baru di Jatikusumo yang terdiri dari orang-orang Wirosobo."

"Ahhhh! Kami pernah mendengar akan nama Resi Wisangkolo dan kabarnya dia sakti mandraguna. Dan yang membantu demikian banyak, terdiri dari jagoan-jagoan Wirosobo, bahkan tentu masih ada senopati Wirosobo yang membantu. Bukankah begitu, Cangak Awu?"

"Sepanjang pengetahuan hamba, senopati yang membantu adalah Tumenggung Janurmendo, Kanjeng Sinuwun." jawab Cangak Awu.

"Ampun, Kanjeng Sinuwun!" tiba-tiba Senopati Ki Suroantani menyembah.

"Apa yang hendak kau katakan, Suroantani?" tanya Sang Prabu.

"Tumenggung Janurmendo adalah seorang digdaya. Karena itu perkenankanlah hamba yang memimpin pasukan menghadapi dia!"

"Bagaimana. Nini Wandansari? Keadaan pihak musuh demikian kuat. apakah engkau seorang diri akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka?" tanya Sang Prabu kepada puterinya. "Terutama sekali Resi Wisangkolo, aku khawatir kalau engkau tidak mampu menandinginya."

"Harap paduka jangan khawatir. Kanjeng Rama. Di pihak hambapun banyak terdapat pembantu yang memiliki kesaktian. Terutama sekali Kakang Sutejo seperti pernah hamba ceritakan kepada paduka. Kakang Sutejo dan hamba merupakan dua orang yang menerima warisan aji kesaktian dari mendiang Eyang Resi Limut Manik. Biarlah hamba berdua bersama Kakang Sutejo yang mewakili mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk menyelamatkan Jatikusumo dari tangan pengkhianat. Selain hamba berdua, di pihak hamba masih ada Kakang Cangak Awu ini. Adapula seorang gadis yang memiliki kesaktian bernama Retno Susilo dan juga pihak hamba dibantu oleh perkumpulan Nogo Dento dan ketuanya yang menurut Kakang Cangak Awu juga merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa bernama Harjodento dan isterinya, Padmosari."

"Harjodento? Hemm, kami pernah mendengar nama besar pendekar itu!" kata Sang Prabu sambil mengangguk-angguk.

"Juga menurut keterangan Kakang Cangak Awu, Retno Susilo akan minta bantuan perkumpulan Sardula Cemeng yang dipimpin ayahnya yang bernama Ki Mnndingsosro dan pamannya Ki Mundingloyo. Hamba pikir kedudukan kami cukup kuat Kanjeng Rama, sehingga belum perlu para paman senopati turun tangan sendiri. Karena urusan ini menyangkut Jatikusumo dan belum menyangkut kerajaan, maka biarlah hamba yang turun tangan sendiri bersama Kakang Sutejo dan Kakang Cangak Awu."

Tiba-tiba Ki Mertoloyo menyembah. "Ampun, Kanjeng Sinumun, Hamba juga mempunyai keterangan tentang diri pendekar muda bernama Sutejo itu."

"Apa yang kau ketahui tentang Sutejo, Mertoloyo?"

"Ketika hamba dan anak perempuan hamba mengadakan penyelidikan ke daerah Wirosobo, anak hamba tertawan oleh Bhagawan Jaladara dan para pembantunya, di antara mereka terdapat pula Tumenggung Janurmendo. Untuk menghadapi mereka dan menolong anak hamba, muncul Sutejo dan hamba menyaksikan sendiri betapa saktinya pendekar muda itu. Dia mampu mengalahkan Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo yang mengeroyoknya. Karena itu, hamba tidak khawatir akan keselamatan Gusti Puteri Wandansari kalau Sutejo membantu beliau."

Sang Prabu mengangguk-angguk. "Kami telah mendengar dari puteri kami tentang pemuda itu. Dia dan puteri kami telah menerima warisan dua aji simpanan mendiang Resi Limut Manik dan kami sendiri telah menguji keampuhan aji yang dikuasai Nini Wandansari. Baiklah, Nini Wandansari. Kami memberi ijin kepadamu untuk memimpin seratus orang perajurit. Akan tetapi, Mertoloyo, agar engkau persiapkan pasukan pilihan yang kuat untuk dipimpin Nini Wandansari."

"Sendiko, Gusti." kata Ki Mertoloyo.

Persidangan dibubarkan dan Wandansari lalu membuat persiapan. Sepasukan perajurit gemblengan yang dikenal dengan pasukan Pasopati yang merupakan pasukan pengawal Sang Prabu yang rata-rata memiliki kedigdayaan, dipersiapkan dan pada keesokan harinya, berangkatlah Puteri Wandansari memimpin pasukan Pasopati itu. Pasukan itu berkuda dan melakukan perjalanan cepat. Cangak Awu juga ikut dalam pasukan ini...

********************

Pakaiannya compang camping, telapak kakinya yang halus itu pecah-pecah rambutnya kusut, namun semua itu tidak mengurangi kecantikannya. Perempuan muda yang berjalan seorang diri di atas jalan di tepi hutan itu Ia adalah Sumarni, gadis berusia delapan belas tahun yang telah melarikan diri dari Jatikusumo, setelah berhasil mencuri Pecut Bajrakirana dan menyerahkan pecut pusaka itu kepada Retno Susilo.

Sumarni menangis di sepanjang jalan, meratapi nasibnya. Kalau ia mengenangkan semua pengalaman yang menimpa dirinya, hatinya penuh penyesalan dan kesedihan. Baru sekarang ia menyesal bukan main mengapa ia demikian mudah terkecoh, terbujuk cumbu rayu pemuda yang mengaku sebagai Dewa Sungai bernama Permadi itu. Demikian mudahnya ia menyerahkan dirinya kepada pemuda itu. Kemudian pemuda itu muncul dan baru ia ketahui bahwa Permadi itu sebenarnya bernama Priyadi dan menjadi ketua Jatikusumo.

Pada mulanya, ia merasa gembira karena bagaimanapun juga, harus ia akui bahwa ia telah tergila-gila kepada pemuda yang tampan, halus dan sakti itu. Akan tetapi kemudian terjadilah hal yang menghancurkan hatinya, menghancurkan kehidupannya. Priyadi menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo. Malam itu, ketika Ki Klabangkolo mempermainkan dirinya, ia benar-benar hancur. Ingin rasanya mati saja.

Kenyataan bahwa dirinya ternoda oleh Ki Klabangkolo sudah merupakan hal yang menghancurkan hatinya. Akan tetapi yang lebih parah lagi yang membuat ia ingin mengakhiri hidupnya adalah kenyataan betapa Priyadi telah tega menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo. Berarti Priyadi tidak mencintainya dan menganggapnya sebagai barang permainan dan hiburan saja yang mudah dipinjamkan kepada laki-laki lain!

Teringat akan itu semua, air mata bercucuran dari kedua mata Sumarni. Akan tetapi ketika ia teringat betapa ia telah mencuri pecut pusaka itu, menyerahkan kepada musuh Priyadi, hatinya agak terhibur seperti sebatang lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya. Setidaknya ia telah dapat membalas dendam! Cintanya terhadap Priyadi yang tadinya menjulang setinggi langit penuh harapan dan cita cita, kini berubah menjadi kebencian yang sedalam lautan!

Tanpa kita sadari, cinta yang begitu kita agung-agungkan, kita anggap sebagai perasaan yang murni, yang suci, ternyata bergelimang nafsu untuk menyenangkan diri-sendiri. Sesungguhnya bukan si dia yang kita cinta, melainkan diri kita sendiri, kita menginginkan kesenangan diri sendiri melalui orang yang katanya kita cinta! Oleh karena itu, kala orang yang kita cinta itu, yang kita inginkan agar selalu menyenangkan hati kita, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka cinta kita terbalik menjadi benci!

Cinta yang kita dengung-dengungkan sebagai cinta suci itu, ternyata dasarnya demikian. Kita mencinta dia karena dia baik kepada kita dan menyenangkan hati kita dan kalau dia tidak lagi baik kepada kita dan menyusahkan hati kita, kita lalu membencinya! Dapatkah perasaan yang dapat berubah ini, yang berdasarkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri ini, kita sebut cinta? Apalagi cinta murni dan suci? Bukankah cinta seperti itu tiada lain adalah cinta nafsu belaka? Kalau kita mau membuka mata dan mengamati CINTA yang berada dalam hati kita, maka akan terbukalah mata batin kita dan melihat betapa hal yang kita agungkan dan sucikan itu ternyata amatlah kotornya.

Jelaslah bahwa yang kita sebut cinta itu tiada lain adalah merupakan jual-beli belaka. Kita beli dengan cinta kita dengan pamrih memperoleh imbalan atau balasan yang berlipat ganda. Mendapatkan cinta, perhatian, pelayanan, kesetiaan, pendeknya segala hal yang menyenangkan hati kita. Cinta yang kita tujukan kepada seseorang saja, sudah pasti mengandung pamrih dan yang begitu jelaslah bukan cinta, melainkan nafsu ingin menyenangkan diri sendiri.

Patut kita telusuri dan amati, adakah cinta yang lain? Cinta yang tidak ditujukan kepada seseorang tertentu saja, cinta yang tidak berpamrih, cinta yang benar-benar perasaan kasih sayang terhadap sesamanya? Adakah api itu masih bernyala dalam hati sanubari kita, walaupun hanya kecil? Ataukah api itu sudah padam sama sekali? Kalau demikian halnya, maka amat perlulah bagi kita untuk mohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih, agar api cinta itu dapat dihidupkan kembali dalam hati sanubariki ta. Kalau api kasih sayang itu sudah benar-benar bernyala dalam hati sanubari kita, maka cinta asmara antara pria dan wanita tidak merupakan persoalan lagi! Nafsu hanya sebagai peserta dan hamba, bukan lagi menjadi pemimpin dan majikan!


Sumarni yang tenggelam ke dalam lamunannya, tidak tahu bahwa ada lima pasang mata mengikuti gerak geriknya, bahkan pemilik lima pasang mata itu lalu mengikutinya, membayanginya. Lima pasang mata yang liar dan yang memandang kepadanya penuh nafsu berahi, pakaian yang compang camping dari Sumarni itu tidak tampak oleh lima pasang mata itu. Yang tampak adalah kulit putih kuning mulus yang tampak disana sini, di antara pakaian yang compang camping itu. Sumarni memang seorang gadis muda yang ayu dan memiliki kulit dan tubuh yang mudah membangkitkan gairah nafsu para pria.

Sumarni baru terkejut setengah mati ketika tiba-tiba lima orang laki-laki tinggi besar dan kasar berlompatan menghadang di depannya. Muka mereka yang kasar dan bengis itu menyeringai bagaikan lima ekor srigala melihat seekor domba. Sumarni menoleh ke kanan kiri seperti hendak minta pertolongan, akan tetapi ia berada di atas jalan di tengah hutan. Sepi sekali di tempat itu, yang ada hanya ia dan lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun itu.

Seorang di antara lima orang laki-laki itu, yang berambut hitam bermata lebar dan kumisnya sekepal sebelah, agaknya merupakan pemimpin mereka melangkah maju dan sinar matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuh Sumarni.

"Heh-heh heh, wong ayu, wong manis denok merak ati! Siapakah engkau dan mengapa engkau seorang diri di sini, hendak pergi ke manakah, Sayang?"

Baru melihat sikap dan mendengar ucapan orang itu saja, seluruh bulu di tubuh Sumarni sudah bangkit meremang karena ia merasa ngeri dan takut. Jantungnya berdebar tegang sampai terdengar berdegup di dalam telinganya. Ia memandang laki-laki itu seperti mata seekor kelinci memandang harimau dan suaranya lirih gemetar ketika ia menjawab.

"Saya... saya bernama Sumarni... saya hendak pergi... ke Ngawi." hampir Sumarni tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking takutnya, Orang di depannya itu mengingatkan ia kepada Ki Klabangkolo dan hatinya menjadi ngeri dan takut sekali.

"Ha-ha ha, jangan takut, wong ayu! Aku Wiro Gembong tidak pernah galak terhadap wanita cantik seperti engkau! Engkau hendak pergi ke Ngawi? Mari kuantar, Sumarni cah ayu!" Berkata begini, laki laki bermuka hitam bermata lebar dan berkumis sekepal sebelah itu menjulurkan tangannya yang besar dan berbulu untuk memegang lengan tangan Sumarni.

Sumarni terkejut, menarik lengannya dan mundur ketakutan. "Tidak...!" katanya gemetar. "Saya... saya hendak berjalan sendiri, tidak ingin menyusahkan andika sekalian. Biarlah saya lewat...!"

"Ha-ha ha, tentu saja, bahkan aku akan mengantarmu sampai ka Ngawi. Akan tetapi engkau harus menjadi isteriku lebih dulu. Kebetulan sekali aku masih belum beristeri.

Sumarni, engkau akan hidup terhormat sebagai isteri Wiro Gembong!" kata laki-laki itu dan kembali dia bergerak ke depan, Sekali ini Sumarni tidak dapat mengelak dan dia sudah dirangkul Wira Gembong. Sumarni meronta-ronta, akan tetapi ia seperti seekor tikus dalam cengkeraman kucing. Empat orang kawan atau anak buah Wiro Gembong tertawa bergelak melihat ini. Karena Sumarni meronta-ronta, mencakar menggigit. Wiro Gembong lalu mengangkat tubuh wanita muda itu dan memanggulnya!

"Lepaskan aku...! Lepaskan...! Ahh, toloonggg...!" Sumarni meronta dan menjerit-jerit.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda datang dengan cepat sekali. Ketika tiba di tempat itu, penunggangnya, seorang laki-laki gagah berusia sekitar empat puluh tahun melompat dari atas punggung kuda dan menghadapi Wiro Gembong dan empat orang kawannya. Orang itu bertubuh sedang, akan tetapi sikap dan pandang matanya penuh wibawa dan kegagahan.

"Lepaskan gadis itu keparat!" bentaknya kepada Wiro Gembong, suaranya memerintah dan tegas.

Wiro Gembong memandang dengan alis berkerut dan mata penuh selidik. Dia melihat laki-laki itu bertubuh sedang saja, pakaiannya seperti seorang pejabat dan di pinggangnya terselip sebatang keris. Melihat sikap orang itu, dia menjadi marah dan menoleh kepada empat orang anak buahnya. "Bunuh dia, rampas bawaannya dan kudanya!"

Empat orang anak buah itu adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan memaksakan kehendak sendiri. Mereka sudah biasa membunuh orang. Entah sudah berapa banyaknya orang yang mereka bunuh. Kini mendengar perintah pimpinan mereka, empat orang itu sudah mencabut golok dari pinggang mereka dan sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring, mereka seolah berlomba untuk membunuh orang yang berani menentang mereka.

Akan tetapi ternyata orang itu cekatan bukan main menghadapi terjangan empat orang yang memegang golok itu sama sekali dia tidak gentar atau gugup. Dengan lincahnya tubuhnya bergerak cepat mengelak, kaki tangannya bergerak dan dua orang penyerang terkena tamparan tangan kirinya dan tendangan kaki kanannya. Dua orang itu terputar dan terpelanting, tak dapat bangun lagi!

Dua orang yang lain menjadi terkejut akan tetapi kemarahan membuat mereka seperti buta, tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan orang yang digdaya. Dua orang itu menyerang dari, kanan kiri, golok mereka membacok ke arah kepala dan perut. Laki-laki itu menghindar kan diri dengan melangkah ke belakang Ketika dua batang golok itu menyambar dan lewat, kakinya bergerak mencuat ke kiri dan menghantam dada lawan yang berdiri di kiri.

"Dessss.....!!" Orang itu terjengkang dan terbanting keras. Orang yang berada di kanan kembali membacokkan goloknya ke arah kepala. Akan tetapi sekali ini, orang yang diserang itu tidak menjatuhkan diri, bahkan melangkah maju ke kanan, mendahului gerakan orang itu dan menangkap tangan yang membacokkan golok dari bawah. Sekali dia memutar dan memuntir lengan yang dipegangnya, penyerang itu berteriak dan tubuhnya terputar lalu terbanting ke bawah. Laki-laki yang gagah perkasa itu menyusulkan tendangan.

"Desss...!" Orang terakhir dari empat anggota gerombolan itu terpental dan tubuhnya terguling-guling, selelah berhenti tubuh itu terkapar tidak dapat bangun lagi!

WiroGembong terbelalak dan dia marah sekali. Dia menurunkan tubuh Sumarni dari pondongannya, mendorong wanita itu sehingga terhuyung dan roboh ke atas tanah, kemudian dia melompat ke depan laki-laki yang telah merobohkan empat orang anak buahnya.

"Babo babo, keparat jahanam! Siapakah engkau yang berani menjual lagak di deparok Wiro Gembong? Apakah engkau sudah bosan hidup?"

Laki-laki itu memandang dengan sinar mata tajam, setelah dia melirik ke arah Sumarni dan melihat bahwa gadis itu tidak terluka dan kini sudah bangkit berdiri dan memandang dengan sepasang mata ketakutan seperti mata seekor kelinci yang tersudut.

"Kiranya engkau yang bernama Warok Wiro Gembong! Kebetulan sekali karena sudah menjadi tugasku untuk membasmi gerombolan dan penjahat seperti engkau ini. Aku adalah Senopati Suroantani yang siap untuk menumpas dan mengakhiri kejahatanmu!"

Warok Wiro Gembong terkejut juga mendengar bahwa dia berhadapan, dengan seorang senopati dari Mataram. Akan tetapi karena dia sudah tidak dapat menyingkir lagi, timbul kenekatannya. Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang. Kemudian tanpa mengeluarkan kata-kata dia sudah menubruk ke depan, kedua lengannya dikembangkan dan kedua tangan menerkam ke arah leher senopati itu.

Ki Suroantani bergerak cepat. Dia menghindarkan diri ke kanan sehingga tubrukan itu luput dan selagi tubuh Wiro Gembong condong ke depan, kakinya bergerak menendang lutut warok itu. "Dukkk...!" tak dapat dicegah lagi tubuh warok itu roboh terlungkup! Akan tetapi dia sudah melompat bangun lagi dan kini mengamuk, menyerang bertubi-tubi ke arah tubuh Suroantani. Senopati itu mengandalkan kelincahan tubuhnya mengelak ke sana sini.

Saking bernafsunya Wiro Gembong menyerang, dia menggunakan seluruh tenaganya dan sebentar saja, karena semua serangannya luput, napasnya terengah-engah. Akhirnya dia berhenti menyerang dan sambil terengah-engah dia berkata mengejek. "Engkau bukan laki-laki! Bisanya hanya mengelak dan melarikan diri. Kalau memang engkau senopati Mataram yang gagah dan jantan, mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang seperti yang biasa kami para warok lakukan!"

"Hemm, apa yang kau maksudkan, Wiro Gembong?"

"Kita saling serang tanpa dielakkan, menerima pukulan dengan kekebalan kulit. Beranikah engkau?"

"Mengapa tidak berani? Bagaimana aturannya?" tanya Suroantani.

"Aku akan memukulmu menggunakan kolor (ikat pinggang) yang kupakai ini sebanyak tiga kali dan engkau harus menerimanya tanpa mengelak. Setelah itu engkau boleh membalas dengan tiga kali pukulan atau serangan, boleh menggunakan senjata apapun dan akan kuterima dengan kekebalanku!"

"Bagus! Aku setuju, akan tetapi dengan syarat, tidak boleh memukul kepala, hanya dari batas pinggang sampai ke leher!"kata Suroantani.

"Baik. Nah, bersiaplah menerima hantaman kolor pusakaku!" kata Wiro Gembong sambil memutar-mutar kolornya yang panjang.

Suroantani memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. "Aku sudah siap. Lakukanlah pukulanmu, Wiro Gembong!"

"Awas, terimalah pukulanku yang pertama. Pecah dadamu!" Kolor itu menyambar dengan amat cepat dan kuatnya, menimpa dada Suroantani yang sudah membuka bajunya sehingga menerima pukulan itu dengan dada telanjang.

"Dessss....!!" Hebat sekali pukulan itu dan Suroantani mundur selangkah, akan tetapi tidak menderita luka. Dia bahkan tersenyum. "Pukulanmu kurang kuat, Wiro Gembong!" katanya dan sudah memasang kuda-kuda lagi, membusungkan dadanya yang penuh Aji kekebalan.

"Ini pukulan kedua! Ambrol wadukmu!!!" Kolor melecut lebih dahsyat lagi.

"Darr...!!" Begitu hebatnya hantaman kolor itu mengenai perut sehingga tampak uap atau asap mengepul ketika kolor bertemu kulit perut. Suroantani terdorong mundur dua langkah,akan tetapi dia tetap tersenyum dan tidak terluka.

"Hanya sebegitukah kekuatanmu, Wiro Gembong?" dia mengejek. Wiro Gembong terbelalak. Mukanya merah dan dia merasa penasaran sekali. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan ajinya. Batu karang sekalipun akan pecah berantakan terkena pukulan kolornya tadi. Akan tetapi senopati ini sama sekali tidak roboh, terlukapun tidak!

"Masih ada sekali lagi!" katanya dan dia memutar kolornya, mulutnya berkemak kemik membaca mantera. "Sambutlah!" teriaknya dan ujung kolor menyambar dahsyat mengarah ulu hati Suroantani, Senopati ini mengerahkan aji kekebalannya ke tempat yang dihantam.

"Blarrr...!" Ujung kolor itu membalik dan Suroantani terdorong mundur dua langkah lagi, akan tetapi bibirnya masih tersenyum. Wiro Gembong terkejut, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mundur. "Bagus, engkau memang digdaya, Suroantani. Sekarang giliranmu, keluarkan senjatamu dan inilah dadaku, boleh kau serang sampai tiga kali!"

"Aku tidakakan menggunakan senjata, Wiro Gembong. Cukup tanganku ini yang akan merobohkanmu dengan pukulanku"

Hati Wiro Gembong menjadi senangdan be sar. Dia memilki aji kekebalan cukup kuat untuk menyambut bacokan golok dan tusukan keris. Apa lagi kalau hanya kepalan tangan yang menyerangnya!

"Baik, lakukanlah dan boleh engkau memilih bagian yang paling lunak!" sumbarnya. "Wiro Gembong, dosamu sudah terlampau banyak. Kalau pukulanku menewaskanmu, itu merupakan hukuman yang setimpal bagimu dan jangan menjadi penasaran."

"Pukullah, jangan banyak cerewet lagi!" bentak Wiro Gembong.

Suroantani mengerahkan tenaga saktinya, dikumpulkan di telapak tangan kanannya, kemudian dia menerjang ke depan, memukulkan tangan kanannya dengan miring ke arah dada yang bidang dan berotot itu. "Haaiiiiitt... blarrrr...!!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras lalu rebah telentang, tidak bergerak lagi. Matanya terbelalak dan nyawanya putus karena isi dadanya terguncang dan remuk. Suroantani memeriksa keadaan lima orang itu. Yang tiga orang tewas dan dua orang masih hidup walaupun terluka.

"Urus dan kuburkan tiga orang kawan kalian yang tewas ini. Aku mengampuni kalian dan tidak akan membunuh kalian. Akan tetapi kalau lain kali aku masih mendengar kalian melakukan kejahatan, maka tidak ada ampun lagi bagi kalian. Mulai sekarang bertaubatlah dan hiduplah sebagai orang baik-baik!" demikian katanya kepada dua orang anak buah gerombolan itu. Setelah itu dia lalu menghampiri Sumarni yang masih berdiri ketakutan.

"Nimas, mari kita pergi dari sini. Jangan takut, aku akan mengawalmu."

Sumarni yang masih ketakutan hanya dapat mengangguk. Bagaimanapun juga, sikap pria ini menimbulkan kepercayaan dalam hatinya dan tidak dapat disangkal lagi bahwa pria ini telah menyelamatkannya dari ancaman yang akan menghancurkan diri dan kehormatannya. Ia masih bergidik ngeri kalau teringat akan perbuatan si muka hitam bernama Warok Wiro Gembong tadi kepadanya. Ketika pria itu menuntun kudanya, iapun mengikuti dari belakang meninggalkan tempatyang menyeramkan itu.

Mereka melangkah terus sampai keluar dari daerah berhutan itu. Setelah mereka keluar dari dalam hutan. Suroantani berhenti melangkah dau otomatis Sumarni juga menghentikan langkahnya dan memandang kepada pria itu. Suroantani juga menoleh kepadanya dan keduanya saling bertemu pandang. Barulah teringat oleh Sumarni bahwaia sama sekali belum mengucapkan terima kasih pada pria itu, pada hal pria itu baru saja membebaskannya dari cengkeraman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut. Iapun teringat bahwa priaini tadi mengaku kepada Wiro Gembong sebagai seorang senopati Mataram yang bernama Suroantani. Seorang senopati! Seorang panglima! Teringat ini, Sumarni lalu menjatuhkan diri bersimpuh dan menyembah.

"Kanjeng Senopati, Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka kepada saya." Ia menyembah lagi. Suroantani tersenyum. Begitu berjumpa dan melihat Sumarni, senopati yang biarpun usianya sudah empat puluh tahun namun belum beristeri itu merasa tertarik dan iba sekali. Ada daya tarik luar biasa dalam diri wanita ini yang membuat hatinya bergetar.

"Nimas, bangkitlah dan tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang telah menuntun kudaku sehingga aku lewat di tempat ini pada saat engkau diganggu para gerombolan itu. Aku sendiri hanya melaksanakan kewajibanku untuk memberantas semua kejahatan yang dilakukan orang dan menolong mereka yang terancam bahaya."

Sumarni memandang kagum dan iapun bangkit berdiri ketika Suroantani menyentuh pundaknya dan menyuruhnya berdiri. "Kanjeng Senopati, paduka sungguh seorang yang luhur budi."

Suroantani tersenyum. Dia sendiri merasa heran mengapa hatinya merasa demikian senangnya mendengar pujian yang keluar dari mulut wanita ini. "Sudahlah, tidak perlu memuji, nimas. Sebenarnya, siapakah andika dan mengapa andika seorang wanita muda berada seorang diri di dalam hutan?"

"Nama saya Sumarni dan saya... saya..." Sumarni tidak dapat melanjutkan. Ia teringat akan keadaan dirinya dan kesedihan membuat ia menangis. Ia menangis terisak-isak sambil menutupkan kedua tangannya ke depan mukanya. Air matanya mengalir melalui celah-celah jari tangannya.

Suroantani membiarkan wanita itu menangis karena dia tahu bahwa bagi seorang wanita, tangis merupakan penyaluran rasa duka yang menekan batin. Setelah tangis itu agak mereda, barulah dia berkata dengan suaranya yang tenang penuh kesabaran. "Sudahlah, nimas Sumarni. Hentikan tangismu dan ceritakanlah kepadaku apa yang membuatmu bersedih. Siapa tahu, barangkali aku akan dapat menolongmu."

Setelah menyusut air matanya dan menghentikan isak tangisnya, Sumarni lalu bercerita. Ia telah demikian percaya kepada pria ini sehingga ia menumpahkan semua isihatinya "Saya adalah seorang yang bernasib malang sekali. Kanjeng Senopati."

"Namaku Suroantani, Sumarni. Rasanya tidak enak engkau menyebutku seperti itu. Sebut saja aku... eh, paman." kata senopati itu walaupun di dalam hatinya dia ingin disebut kakangmas, bukan paman!

"Terima kasih, Paman Suroantani. Akan tetapi saya hanya seorang gadis dusun..."

"Akupun berasal dari desa, Sumarni. Nah, ceritakan pengalamanmu sampai engkau terlunta-lunta seorang diri di sini."

Mereka duduk di bawah sebatang pohon asem dan Suroantani membiarkan kudanya makan rumput yang tumbuh subur di tepi jalan. Setelah menghela napas beberapa kali, Sumarni melanjutkan ceritanya. "Ketika saya masih tinggal di dusun Jaten, saya dirayu dan ditipu seorang pemuda yang mengaku sebagai dewa sungai bernama Permadi. Kemudian dia datang dan membawa saya pergi. Baru kemudian saya ketahui bahwa dia bukanlah dewa sungai dan namanya bukan Permadi melainkan Priyadi ketua Jatikusumo..."

"Ahhh! Priyadi ketua Jatikusumo?" seru Suroantani. Dia sendiri melaksanakan perintah Sultan Agung untuk mengamati gerakan Puteri Wandansari yang memimpin pasukan membantu perkumpulan Nogo Dento untukmenumpas persekutuan pemberontak yang dipimpin oleh Priyadi ketua Jatikusumo!

"Kenalkah paduka dengan dia, paman?"

"Tidak mengenal, akan tetapi aku tahu siapa jahanam itu!"

Lega rasa hati Sumarni mendengar Suroantani menyebut jahanam kepada Priyadi. Hal ini membuktikan bahwa senopati ini bukan sahabat Priyadi, melainkan musuhnya!

"Memang dia itu manusia berwatak iblis paman. Saya dijadikan barang mainannya, bahkan dia begitu keji telah tega menyuguhkan saya kepada seorang pembantunya yang menyeramkan, bernama Ki Klabangkolo! Hati saya hancur, paman dan malam itu saya mengambil keputusan untuk membunuh diri di Laut Kidul."

"Keparat jahanam, kejam benar manusia iblis itu!" kata Suroantani dengan geram. "Lalu bagaimana, nimas Sumarni?"

"Rupanya Gusti Yang Maha Kuasa belum menghendaki saya mati, paman. Saya ditolong oleh Denmas Sutejo dan Den Roro Retno Susilo. dua orang gagah perkasa yang memusuhi Priyadi."

Suroantani mengangguk-angguk. Dua nama itupun tidak, asing baginya karena dia sudah mendengar ketika Cangak Awu dan Puteri Wandansari melapor kepada Sang Prabu. "Untung mereka dapat mencegahmu membunuh diri, Sumarni."

"Sebetulnya saya tidak mau dihalangi niat saya membunuh diri. Akan tetapi Den Roro Retno Susilo memberi jalan kepada saya untuk dapat membalas dendam kepada Priyadi."

"Bagaimana jalan itu? Bagaimana caranya engkau dapat membalas dendam kepada Priyadi? Aku mendengar kabar bahwa dia seorang yang sakti mandraguna."

"Memang benar, paman. Den Roro Retno Susilo minta bantuanku agar saya dapat mencuri pecut pusaka yung bernama Bajrakirana karena hanya kalau kehilangan pecut saktinya itu Priyadi dapat dikalahkan dan dibinasakan."

"Ah, begitukah? Lalu engkau sudah melakukan itu?"

Sumarni mengangguk. "Saya sudah melakukannya, paman. Malam tadi kucuri pecut itu dan sudah kuserahkan kepada Den Roro Retno Susilo. Ia menasihati saya agar saya segera melarikan diri ke perkampungan Nogo Dento yang berada di daerah Ngawi, di tepi Bengawan Solo untuk berlindung kepada perkumpulan itu yang dipimpin ketuanya bernama Ki Harjodento. Karena saya merasa yakin bahwa Priyadi dan kaki tangannya tentu akan mencari saya, maka saya segera melarikan diri secepatnya, Sejak malam tadi, saya berjalan setengah berlari tanpa berhenti sampai pakaian saya compang camping dan telapak kaki saya luka- luka, sampai akhirnya saya tiba di sini dan dihadang oleh gerombolan tadi, paman. Untung bagi saya, paman datang dan menyelamatkan diri saya."

Suroantani menghela napas panjang. Selama Sumarni bercerita, pandang matanya bergantung kepada sepasang bibir yang bergerak-gerak indah itu. Betapa ayu dan manisnya wanita yang bernasib malang ini!

"Kasihan engkau, nimas Sumarni. Jadi sekarang engkau hendak pergi keperkampungan Nogo Dento? Kebetulan sekali akupun sedang menuju ke sana sehingga aku dapat mengantarmu ke sana."

"Terima kasih, paman. Akan tetapi hati saya gelisah sekali. Saya khawatir kalau Priyadi dan kaki tangannya mencari saya, ke dusun Jaten dan karena tidak menemukan saya di Sana, mereka lalu mencelakai orang tua saya.

"Hemm, kekhawatiranmu beralasan juga, Sumarni. Kalau begitu, mati kuantar engkau pulang dan ke dusun Jaten yang tidak berapa jauhnya dari sini. Kita perlu mengajak orang tuamu untuk meninggalkan dusun itu sementara waktu agar terbebas dari ancaman Priyadi dan anak buahnya."

Bukan main girangnya hati Sumarni mendengarini. Ia memandang wajah senopati itu dengan perasaan girang dan bersyukur. "Ah, paman Suro antani, budimu bertumpuk-tumpuk kepadaku. Bagaimana saya akan mampu membalasnya?"

Suroantani tersenyum. "Aku tidak mengharapkan bantuan apapun, nimas. Sudah kukatakan, aku membantumu karena hal itu merupakan kewajibanku, tidak mengandung pamrih apapun. Akan tetapi, aku hanya memiliki seekor kuda, dan akan amat melelahkanmu kalau kita melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Bagaimana kalau engkau kubocengkan di atas kuda? Maukah engkau, Sumarni? Kalau engkau merasa rikuh, akupun tidak memaksa. Engkau boleh duduk di atas kudaku dan aku akan menuntun kuda itu."

"Ah, tidak, paman. Saya percaya dan tidak rikuh kepadamu. Paman sudah begitu baik kepada saya. bagaimana saya dapat membiarkan paman berjalan kaki dan menuntun kuda, sedangkan saya menunggang kuda? Biarlah saya membonceng paman," kata Sumarni, akan tetapi wajahnya berubah kemerahan karena sesungguhnya, dalam hatinya ia merasa rikuh duduk berhimpitan di atas punggung seekor kuda bersama seorang pria yang baru saja dikenalnya. Akan tatapi, ia merasa kagum, suka dan percaya kepada Suroantani dan ia percaya sepenuhnya bahwa pria yang berwatak satria ini tidak akan, mempunyai pikiran yang tidak sopan terhadap dirinya.

Setelah Sumarni menyatakan persetujuannya, karena wanita itu belum pernah menunggang kuda. Suroantani lalu membantunya naik ke atas punggung kuda, kemudian dia sendiri duduk di belakang Sumarni. Dengan cara berboncengan seperti itu, kuda lalu dibalapkan dan mereka menuju ke dusun Jaten. Biarpun mereka duduk berhimpitan, Suroantani selalu bersikap sopan sehingga Sumarni merasa semakin suka dan kagum kepada pria itu.

Dasun Jaten merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sehingga para penduduk dusun itu hidup dalam keadaan cukup makmur dan tenang tenteram. Peristiwa perginya Sumarni yang dibawa "Dewa penjaga sungai!" merupakan cerita yang tersebar luas di dusun itu dan semua orang mempercaya cerita yang keluar dari mulut Ki Karyotomo dan isterinya, orang tua Sumarni itu, Sumarni telah diperisteri oleh dewa penjaga sungai, demikianlah anggapan mereka.

Para penduduk dusun itu masih amat terbelakang dan amat sederhana sehingga mereka percaya akan ketahyulan. Pula, bagaimana mereka tidak akan percaya kalau buktinya Ki Karyotomo kini menjadi kaya, dapat memperbaiki rumah dan membeli sawah, memiliki banyak uang yang didapatnya dari pemberian mantunya yang dewa itu? Ki Karyotomo sendiri dan isterinya juga tidak pernah meragukan bahwa anak perempuan mereka telah menjadi isteri dewa penjaga sungai. Demikian besar kepercayaan hati mereka sehingga setiap malam Jumat Kliwon, selapan (tiga puluh lima hari) sekali, mereka pasti mengirim sesaji dan membakar kemenyan di tepi sungai dan menghanyutkan sesaji itu! Rupanya Agama Islam belum memasuki dusun itu sehingga penduduknya masih dipengaruhi tahyul.

Pada suatu senja, ketika Ki Karyotomo dan isterinya sedang duduk di beranda depan rumah mereka, menghadapi singkong rebus dan wedang kopi sambil bercakap-cakap membicarakan Sumarni, anak perempuan yang mereka rindukan, tiba-tiba muncul dua orang laki laki. Mereka itu adalah dua orang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Yang seorang bertubuh tinggi besar berkumis tebal dan seorang lagi bertubuh pendek kecil. Akan tetapi wajah mereka berdua tampak seram dan bengis. Mereka memasuki pekarangan rumah itu dan menghampiri suami isteri yang sedang duduk bercakap-cakap itu.

Tadinya Ki Karyotomo dan isterinya mengira bahwa yang datang adalah tetangga atau teman sedusun, akan tetapi setelah dua orang itu datang dekat dan suami isteri itutidak mengenalnya mereka segera bangkit berdiri untuk menyambut dua orang tamu yang tidak mereka kenal itu. Seperti yang menjadi kebiasaan bagi para penduduk dusun, mereka selalu menerima datangnya tamu dengan hati dan tangan terbuka dan penuhrasa keluargaan. Demikian pula Ki Karyotomo dan isterinya. Dengan senyum di mulut mereka menuruni anak tangga menyambut dua orangtamu mereka.

"Selamat datang. Ki Sanak!" sambut Ki Karyotomo dengan ramah. "Silakan masuk ke dalam gubuk kami yang tua daa buruk." Akan tetapi dua orang pendatang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap sebagai tamu-tamu yang baik.

"Apakah ini rumah Sumarni?" tanya orang yang berkumis tebal, suaranya menghardik KiKaryotomo masih bersikap ramah dan lu nak. Dia mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Benar sekali, ini adalah rumah Sumarni dan kami berdua adalah ayah dan ibu Sumarni." Diam-diam dia menduga apakah dua orang tamu aneh ini merupakan utusan dewa sungai, mantu mereka?

Tiba-tiba orang yang bertubuh pendek kecil melangkah maju dau membentak dengan suara kasar, "Panggil ia keluar sekarang juga!"

Mulai terkejutlah hati Ki Karyotomo dan isterinya. Mereka memandang kepada dua orang itu dengan heran dan bingung. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dua orang itu adalah jagoan yang terkenal dari Wirosobo, orang-orang yang sudah biasa memaksakan kehendak dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan. Mereka adalah Ki Warok Petak yang tinggi besar berkumis tebal dan Ki Baka Kroda yang bertubuh pendek kecil.

"Memanggilnya keluar? Akan tetapi ia... ia tidak berada di sini..." kata Ki Karyotomo dengan alis berkerut. Mulai tidak senang hatinya melihat sikap kedua orang tamunya yang kasar itu, sikap yang tidak biasa mereka lihat di dusun itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda memang melaksanakan perintah Priyadi untuk mencari Sumarni di dusun tempat tinggal orang tuanya, yaitu di Jaten. Ki Warok Petak menjadi marah mendengar jawaban Ki Karyotomo. Tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya mencengkeram baju di dada tuan rumah itu, mengguncangnya dengan kuat sehingga tubuh Ki Karyotomo terguncang-guncang, lalu mendorong sehingga tubuh tuan rumah itu jatuh terjengkang.

"Kalau tidak mau mengaku, akan kuhancurkan kepalamu!" bentak Ki Warok Petak.

"Dan engkau perempuan dusun! Katakan di mana anakmu Sumarni itu atau kupatahkan lehermu!" bentak Ki Baka Kroda sambil mendorong Mbok Karyotomo sehingga wanita itu terpelanting dan jatuh di dekat suaminya.

Kedua orang suami isteri itu merangkak bangkit dan Ki Karyotomo masih mencoba untuk bersikap ramah dan sabar. "Ki Sanak, harap andika berdua bersabar hati dan silakan duduk. Mari kita bicara dengan baik-baik dan kami akan menceritakan di mana anak kami Sumarni berada."

"Nah. begitu lebih baik!" kata Ki Warok Petak sambil melangkah dan mendaki anak tangga menuju ke beranda, didahului oleh Karyotomo dan Isterinya, lalu bersama Ki Baka Kroda dia duduk di atas kursi menghadapi meja. Suami isteri itu tetap berdiri di depan mereka. "Hayo cepat katakan di mana Sumarni berada!"

"Sumarni ikut dengan suaminya. Ki Sanak." Dua orang jagoan itu terbelalak dan saling pandang. "Ikut suaminya? Di mana?" bentak Ki Baka Kroda tidak percaya.

"Kami sendiri tidak tahu. Mungkin dibawa ke sungai"

"Ke sungai? Mengapa ke sungai?" tanya Ki Warok Petak.

"Kami sungguh tidak tahu. Hanya karena suaminya adalah Dewa Penjaga Sungai yang bernama permadi, tentu saja ia dibawa ke sungai..." kata Ki Karyotomo lalu segera menerangkan, "sudah hampir tiga bulan ini Sumarni dibawa suaminya pergi dari sini..."

Dua orang jagoan itu bangkit berdiri, muka mereka marah dan mata mereka melotot saking marahnya karena mereka merasa dipermainkan. "Braakkk!!" Meja itu pecah berantakan dihantam tangan kiri Ki Warok Petak.

"Kau lihat ini? Kepalamu akan pecah seperti ini kalau engkau berani mempermainkan kami!"

"Bressss...!" Sebuah kursi ditendang Ki Baka Kroda dan kursi itu melayang dan menghantam tubuh suami isteri itu sehingga mereka roboh terjengkang. "Nyawa kalian berada di tangan kami dan kalian masih berani mempermainkan kami"

"Aduh ki Sanak... kami tidak main-main... suamiku tidak main-main! memang benar anak kami Sumarni dibawa pergi suaminya Dewa Penjaga Sungai!" Mbok Karyotomo berkata dengan ketakutan.

"Jahanam! Kalian berani membohongi kami?Kalian kira kami begitu bodoh untuk mempercayai omongan kalian? Hayo sekali lagi, katakan di mana Sumarni, atau kami akan menyembelih kalian!" hardik Ki Warok Petak sambil mencabut goloknya yang besar dan mengkilap tajam.

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda me颅masuki pekarangan. Suroantani membantu Sumarni turun dari atas punggung kuda dan gadis itu segera menjerit ketika melihat ayah ibunya rebah di tanah diancam oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang ia kenal sebagai anak buah Priyadi, "Bapak...! Simbok...!" Sumarni lari menghampiri ayah ibunya dan berlutut, merangkul ibunya sambil menangis.

Melihat kemunculan Sumarni Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tertawa senang, "Ha-ha-ha, ternyata engkau muncul juga, Sumarni! Hampir saja ayah ibumu kami bunuh karena kebandelan mereka!"

"Sumarni, hayo engkau cepat ikut bersama kami. Denmas Priyadi sudah menunggu-nunggumu!" kata Ki Baka Kroda.

"Tentu engkau akan diberi hadiah, ha-ha-ha" kata Ki Warok Petak.

"Tidak! Aku tidak sudi ikut kalian!" Sumarni berteriak lantang dan berani.

"Begitukah? Ha ha ha, mau atau tidak mau engkau harus ikut dengan kami! Aku akan senang memondongmu dan membawamu pulang!" kata pula Ki Warok Petak.

Pada saat itu, Suroantani sudah memasuki beranda, "Nimas Sumarni, ajaklah ayah ibumu masuk, biar aku yang menghadapi dua orang berandal ini!" katanya dengan sikap tenang.

Ki Warok Petak dan Ki Buka Kroda terbelalak memandang kepada Suroantani. Tentu saja mereka berdua marah bukan main melihat ada orang berani melindungi Sumarni dan menghadapi mereka dengan sikap yang demikian menantang.

Sumarni membangunkan ayah ibunya dan mengajak mereka masuk, setelah lebih dulu menoleh kepada Suroantani dan berkata, "Paman, mereka ini adalah Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang anak buah Priyadi. Harap paman berhati-hati menghadapi mereka ini yang kejam dan jahat." Setelah berkata demikian, ia menggandeng ayah ibunya memasuki rumah, akan tetapi mereka mengintai dari dalam dengan hati tegang walaupun Sumarni sudah tahu bahwa penolongnya adalah seorang senopati yang digdaya dan gagah perkasa.

"Babo-babo. keparat! Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?" bentak Ki Warok Petak.

"Kakang Warok Petak, agaknya orang ini sudah bosan hidup!" kata Ki Baka Kroda.

"Hemm, kiranya andika berdua inilah yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang benggolan dari Wirosobo itu? Bagus! Hari ini andika berdua bertemu denganku, pasti tidak akan kuberi ampun, apa lagi karena kalian telah menjadi antek pemberontak. Ketahuilah, aku adalah Suroantani, senopati Mataram yang siap untuk menumpas gerombolan pemberontak macam kalian!"

Terkejut Juga dua orang jagoan itu mendengar bahwa mereka berhadapan dengan Senopati Suroantani yang nama besarnya sejajar dengan Senopati Mertoloyo dan lain-lain senopati di Mataram yang terkenal digdaya. Akan tetapi karena mereka sudah berhadapan dengan Suroantani, mereka memberanikan diri dan menjadi nekat. Apa lagi mereka berdua, sedangkan senopati itu hanya seorang diri.

"Bagus! Kiranya Senopati Suroantani yang berhadapan dengan kami. Sekaranglah saatnya engkau mampus di tangan kami!" kata Ki Warok Petak dan langsung saja dia menggunakan golok yang sudah berada di tangan kanannya untuk menyerang dengan bacokan cepat dan kuat ke arah leher sang senopati.

Suroantani maklum bahwa kedua orang lawannya ini adalah orang-orang yang digdaya, tidak dapat disamakan dengan mendiang Wiro gembong, maka diapun tidak berani sembarangan menerima serangan golok itu melainkan menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dengan merendahkan tubuh dan bergeser ke kiri. Golok itu meluncur lewat di atas kepalanya, lalu dengan cepat tangan kanannya menampar ke atas untuk menyerang siku kanan lawan yang memegang golok. Akan tetapi Ki Warok Petak sudah menarik lengannya sehingga sambaran itu luput.

Pada saat itu, terdengar suara bersiutan dan tampak tiga pucuk sinar berkilat menyambar ke arah tubuh Suroantani. Senopati yang sudah banyak pengalaman bertanding ini dapat menduga bahwa dia diserang dengan senjata rahasia. Memang benar dugaannya. Tiga sinar itu adalah tiga batang cundrik terbang yang meluncur ke arah leher, dada dan perutnya, dilepas oleh Ki Baka Kroda. Senopati Suroantani cepat melempar tubuh ke samping, terus bergulingan di atas lantai sehingga tiga batang cundrik itu luput. Ketika dia melompat bangun, Ki Baka Kroda yang merasa penasaran melihat serangan cundriknya tidak berhasil, telah menerkam maju sambil menusukkan kerisnya ke arah lambung Suroantani.

"Tranggg...!!" Tampak bunga api berpijar ketika dua batang keris itu beradu. Ternyata Sambil bergulingan tadi, Suroantani telah mencabut kerisnya karena dia maklum bahwa menghadapi dua orang lawan tangguh itu dia harus menggunakan kerisnya. Maka ketika Ki Baka Kroda menyerangnya dengan tusukan keris ke arah lambungnya, dia menangkis dengan kerisnya. Tangkisan itu membuat lengan tangan kanan Ki Baka Kroda tergetar hebat dan jagoan ini melompat ke belakang dengan terkejut. Tahulah dia bahwa senopati Mataram itu memang tangguh sekali, memiliki tenaga sakti yang bukan main besarnya.

Terjadilah pertandingan yang amat seru di pendopo yang cukup luas itu. Suara keris Ki Baka Kroda dan golok Ki Warok Petak bertemu dengan keris Suroantani berdentingan, bunga api berpijar-pijar menerangi cuaca yang mulai gelap. Tiga sosok tubuh yang bertanding itu berkelebatan sehingga orang tidak dapat melihat dengan jelas jalannya pertandingan. Di pekarangan rumah Ki Karyotomo penuh dengan penduduk dusun yang berdatangan mendengar soal ribut-ribut, apalagi ketika ada yang melihat Sumarni. Segera tersiar berita bahwa Sumarni yang dipercaya telah menjadi isteri dewa penjaga sungai telan pulang, maka berbondong-bondong orang berdatangan untuk melihat Sumarni. Akan tetapi mereka tertahan di pekarangan dan tidak berani mendekat ketika melihat ada perkelahian yang amat dahsyat terjadi di pendopo rumah itu.

Lurah dusun itupun hadir di pekarangan itu. Ki lurah yang tidak tahu mengapa dan siapa yang berkelahi, segera menyuruh orang-orang untuk menyalakan obor agar tempat itu menjadi terang. Akan tetapi lurah inipun seorang yang mengerti bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, maka dia tidak berani mendekat dan hanya menonton dari pekarangan.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya merasa yakin bahwa mereka berdua pasti akan mampu mengalahkan lawannya yang hanya seorang, kini mulai terkejut dan khawatir. Lawannya itu ternyata tangguh bukan main. Mereka sama sekali tidak dapat menekan lawan, bahkan mereka berdua yang terdesak oleh ancaman keris di tangan Senopati Suroantani yang bergerak cepat bagaikan kilat yang menyambar nyambar.

Apalagi melihat berkumpulnya banyak sekali orang di pekarangan itu. Mereka berdua merasa berada di pihak penyerang, pihak yang bersalah sehingga mungkin saja para penduduk dusun akan mengeroyok mereka. Dugaan ini membuat mereka mulai merasa ketakutan dan permainan silat mereka menjadi kacau. Suroantani mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak mereka dengan permainan kerisnya. Ketika golok Ki Warok Petak menyambar dan raksasa itu mengerahkan seluruh tenaganya dalam bacokan, Suroantani mengelak dan Ki Warok Petak terbawa oleh tenaga bacokannya sendiri sehingga tubuhnya terhuyung ke depan. Kesempatan itu dipergunakan Suroantani untuk mengirim sebuah tendangan yang mengenai pinggang Ki Warok Petak sehingga raksasa itu terhuyung-huyung ke depan.

"Mampuslah!" Ki Baka Kroda membentak dan kerisnya meluncur ke arah perut lawan dari arah kanan. Ki Suroantani mundur selangkah, ketika keris meluncur lewat, dia cepat menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang keris dengan tangan kirinya, memutar lengan itu sehingga tubuh Ki Baka Kroda terputar. Pada saat itu, dada Ki Baka Kroda yang sebelah kanan terbuka dan Suroantani menusukkan kerisnya.

"Cappp...!" Cepat dia mencabut kembali keris yang sudah menancap sampai ke gagangnya itu dan mendorong tubuh Ki Baka Kroda dengan tangan kiri. Ki Baka Kroda mengeluh, keris di tangan kanannya terlepas, kedua tangan mendekap luka di dada kanan dan diapun terkulai roboh dau tak mampu bergerak lagi, Keris milik Suroantani adalah sebatang ketis pusaka yang ampuh, maka sekali keris itu memasuki dada sampai ke gagangnya, tewaslah ki Baka Kroda seketika.

Melihat kawannya roboh. Ki Warok Petak menjadi marah, dan juga gentar. Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, tidak mampu melarikan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dia menyerbu lagi dan menyerang dengan golok nya secara membabi buta. Akan tetapi dengan tenang dan penuh kewaspadaan, Suroantani yang melihat golok itu menyambar dan membabat ke arah lehernya, segera dia merendahkan tubuhnya dan golok itu lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu, kerisnya kembali menusuk ke depan, tepat memasuki ulu hatiKi Warok Petak. Dia mencabut lagi kerisnya dan menendang perut lawan yang sudah terluka. Ki Warok Petak terlempar dan terbanting ke belakang dan tewas seketika karena lukanya bahkan lebih parah dibandingkan kawannya. Sumarni dan ayah ibunya yang mengintai dari dalam, merasa girang sekali melihat dua orang jahat itu roboh dan tewas. Sumarni lalu melangkah keluar, diikuti ayah ibunya dan dengan terharu saking gembira dan terima kasihnya, ia lari menghampiri Suroantani yang masih berdiri seperti sang Gatutkaca yang baru saja mengalahkan musuh-musuhnya.

"Paman... terima kasih... alangkah gagahnya paman...!" Ia memegang tangan senopati itu dan membawa tangan itu ke depan hidung dan mulutnya untuk dicium.

Suroantani terbelalak dan jantungnya berdebar kencang. Pada saat itu yakinlah dia bahwa dia telah jatuh cinta kepada wanita yang bernasib malang ini! Karyotomo dan isterinya tergopoh-gopoh menghampiri Suroantani. Mereka tadi sudah mendengar dari Sumarni siapa adanya pria yang gagah perkasa itu. Pria itu telah menolong anak mereka dari tangan gerombolan Wiro Gembong, dan sekarang malah menyelamatkan mereka semua dari tangan dua orang jahat itu.

"Kanjeng Senopati, kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka." kata Karyotomo sambil menyembah.

"Sudahlah, paman. Jangan banyak sungkan. Semua ini sudah menjadi kewajibanku. Yang penting sekarang membicarakan bahaya yang mengancam keluarga paman."

Sementara itu, melihat perkelahian sudah usai. Ki Lurah datang bersama para pemuda dusun yang membawa obor sehingga pendopo itu menjadi terang benderang. "Ki Lurah, silakan masuk." Karyotomo menyalami lurahnya.

"Ah, inikah Ki Lurah Jaten?" Suroantani menghadapi lurah itu, lalu memperkenalkan diri, "Ki Lurah, ketahuilah bahwa aku adalah Senopati Mataram bernama Suroantani"

"Ah, Kanjeng Senopati....!" Ki Lurah cepat memberi salam.

"Cukup, Ki Lurah. Sekarang aku minta kepadamu agar suka mengurus dan mengubur jenasah kedua orang ini secara baik-baik biarpun mereka ini adalah penjahat-penjahat dan antek pemberontak Wirosobo. Aku harus menyingkirkan keluarga Nimas Sumarni dari dusun ini karena aku khawatir kalau-kalau para kawan kedua orang itu hendak mencari ke sini untuk menangkap Nimas Sumarni. Tanpa pengawalan yang kuat, keselamatan mereka bertiga terancam bahaya maut. Karena itu, aku harus mengungsikan mereka ke tempat yang aman dan terjaga."

"Kalau demikian yang paduka kehendaki, kami akan melaksanakan dengan baik." "Dan tolong sediakan seekor kuda yang baik untuk memboyong orang tua Nimas Sumarni dari dusun ini. Besok pagi-pagi kami berangkat."

"Baik, sendiko dawuh, kanjeng!" Ki Lurah lalu memerintahkan para pemuda untuk menyingkirkan dua mayat itu dari pendopo rumah Karyotomo. Kemudian semua orang bubaran untuk memberi kebebasan kepada keluarga itu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk membuat persiapan pergi besok dan untuk beristirahat.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Lurah sudah mengirimkan seekor kuda yang cukup besar dan kuat. Karena Ki Karyotomo dan isterinya tidak pernah menunggang kuda, maka disuruh berboncengan di atas punggung kuda pembelian Ki Lurah, sedangkan Suroantani dan Sumarni berboncengan di atas punggung kuda milik senopati itu. Banyak penduduk dusun mengantar keberangkatan mereka sampai ke pintu dusun...


Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 16

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 16

SUTEJO memandang kepadanya lalu kepada Sumarni yang masih menangis. Kemudian dia mengangguk. Biarlah Retno Susilo yang menghiburnya. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Dia mengangguk lalu meninggalkan dua orang wanita itu, kembali ke dalam gua, menambahkan kayu pada api unggun, lalu tertidur.

"Mbakayu Sumarni, aku Retno Susilo, aku kasihan kepadamu dan aku ingin memberi jalan kepadamu untuk melampiaskan dendam sakit hatimu. Bukankah engkau amat membenci Priyadi yang telah menyuguhkan dirimu kepada Ki Klabangkolo?"

"Aku... aku tadinya amat cinta kepadanya, den roro, akan tetapi sekarang aku amat benci kepadanya. Perbuatan itu amat menyakitkan hatiku."

"Engkau ingin membalas dendam dan melihat dia mati?"

"Akan tetapi bagaimana mungkin saya dapat membunuhnya? Dia digdaya sekali dan berkuasa di perkampungan Jatikusumo, mempunyai banyak pembantu pula."

"Mbakayu Sumarni Sebelum aku memberi jalan kepadamu untuk membalas dendam, lebih dulu ceritakanlah kepadaku tentang keadaan di Jatikusumo Kami memerlukan keterangan itu. Jawab saja pertanyaanku. Berapa banyak kira-kira Jumlah anak buah Jatikusumo?"

"Banyak sekali, den roro.Tidak kurang dari seratus Lima puluh orang dan setiap hari mereka berlatih kanuragan dan perang-perangan."

"Selain Ki Klabangkolo, ada siapa lagi yang membantu Priyadi di sana?"

"Banyak, den roro. Ada Resi Wisangkolo yang menyeramkan itu dan ada pula perempuan yang agaknya menjadi kekasih pula dari Priyadi. Wanita itu bernama Sekarsih, cantik dan genit sekali. Dan pernah pula datang empat orang tamu dari Wirosobo, akan tetapi mereka sekarang telah pergi."

"Bagus, keteranganmu ini amat berguna bagi kami. Ketahuilah, mbakayu Sumarni, kami berdua juga merupakan musuh besar Priyadi. Kami berusaha untuk membunuhnya karena dia adalah seorang jahat sekali. Dan kalau engkau mendendam kepadanya dan ingin Priyadi mati, engkau dapat membantu kami, malam ini juga."

"Den roro, saya adalah seorang gadis dusun yang bodoh dan lemah. Bagaimana saya dapat membantu andika berdua? Tentu saja saya bersedia membantu denmas Sutejo karena saya berhutang budi kepada ksatria yang budiman itu."

"Bagus sekali. Engkau memang harus menolong kakangmas Sutejo, karena kalau tidak kau tolong, mungkin besok pagi dia akan tewas di tangan si jahanam Priyadi."

"Ahh...!" Sumarni terkejut. "Saya akan bantu, akan tetapi bagaimana?"

"Begini, mbakayu Sumarni. Besok pagi setelah matahari terbit, Priyadi akan datang ke sini dan akan bertanding melawan kakangmas Sutejo. Sebetulnya kakangmas Sutejo dapat menandingi dan mengalahkan Priyadi. Akan tetapi Priyadi mempunyai sebatang pecut yang sebetulnya milik kakangmas Sutejo. Priyadi mendapatkan pecut itu secara curang. Nah, pecut itulah yang kalau dipergunakan Priyadi mungkin akan mengalahkan kakangmas Sutejo dan bisa jadi akan membunuhnya. Maka, kalau engkau benar-benar hendak membalas kejahatan Priyadi terhadap dirimu dan hendak membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu usahakanlah agar engkau dapat mencuri Pecut Bajrakirana itu dan membawanya kesini malam ini juga. Hanya dengan begitulah maka Priyadi akan dapat dihukum, bahkan juga Ki Klabangkolo yang membantunya. Kalau engkau tidak bersedia melakukannya, sakit hatimu tidak akan terbalas, engkau tetap menjadi barang permainan Priyadi dan Ki Klabangkolo yang terhina dan engkau tidak akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas Sutejo kepadamu. Bahkan mungkin kakangmas Sutejo akan tewas di tangan Priyadi. Nah, sekarang terserah kepadamu untuk memilih dan bertindak."

Sumarni sudah tidak menangis lagi. Ia termenung. "Hemm.... begitukah? Baik sekali, saya mendapat kesempatan untuk membalas terhadap jahanam-jahanam itu dan membalas budi kepada denmas Sutejo. Akan kulakukan itu, den roro. Akan ku usahakan. Saya tahu apa yang harus saya lakukan! Akan saya rayu dia malam ini sampai dia terlena dan kalau dia sudah tertidur pulas, akan saya curi pecut itu dan saya bawa ke sini."

Retno Susilo menjadi girang sekali. Melihat Sumarni hendak beranjak dari situ, ia berkata, "Tunggu dulu, Sumarni. Kalau engkau sudah berhasil membawa pecut ke sini dan menyerahkannya kepadaku, engkau harus segera meninggalkan tempat ini dan jangan sampai tertangkap oleh mereka. Sebaiknya engkau jangan pulang kedusunmu karena mungkin mereka akan mencarimu ke sana. Lebih baik engkau pergi ke daerah Ngawi, di tepi bengawan sana terdapat perkampungan Nogo Dento, yaitu tempat tinggal kami. Engkau pergilah ke sana dan engkau akan terlindung di sana. Tak seorangpun akan dapat mengganggumu lagi."

"Baik, den roro. Nah, saya pergi. Doakan saja usaha saya akan berhasil. Kalau saya berhasil, malam ini juga saya akan mengantarkan pusaka itu kesini, akan tetapi kalau saya tidak datang, berarti saya tidak berhasil dan mungkin sudah terbunuh."

"Selamat jalan dan selamat berjuang, mbakayu Sumarni. Sampai pagi aku akan menunggumu di sini," kata Retno Susilo dengan hati girang dan penuh harapan. Mereka duduk di sekeliling meja besar di ruangan belakang rumah induk Jatikusumo itu Sebuah ruangan yang luas dan tiga buah lampu gantung menerangi ruangan itu sehingga menjadi terang. Priyadi duduk di kepala meja dan di hadapannya, mengelilingi meja duduk Ki Klabangkolo Resi Wisangkolo. Sekarsih, dan tiga orang pembantu utamanya, yaitu yang merupakan perwira-perwira dari pasukan sebanyak seratus orang yang dikirim oleh Bhagawan Jaladara dari Wirosobo.

"Aku yakin akan dapat menang melawan Sutejo. Besok pagi. Pecut Bajrakirana tentu akan memecahkan kepalanya. Tadipun, kalau tidak keburu gelap, tentu aku sudah merobohkannya karena dia sudah terdesak." kata Priyadi.

"Memang andika tidak kalah" kata Ki Klabangkolo "akan tetapi menurut penglihatanku andika juga tidak akan mudah merobohkannya, Anak mas Priyadi. Si Sutejo itu benar-benar tangguh sekali, gerakannya luar biasa cepatnya sehingga ia mampu menghindar dari setiap sambaran pecut pusaka andika."

"Kurasa, lebih baik jangan main-main menghadapi orang berbahaya seperti dia," kata Sekarsih. "Untuk apa menunda-nunda lagi? Sebaiknya besok pagi, secara sembunyi kita semua mendatangi tempat itu. mengepung lalu menangkapnya."

"Hem. aku sendiri sudah merasakan ketangguhan Sutejo. Lebih baik memang begitu. Kita sergap dan kita bunuh dia agar lain waktu tidak akan mengganggu kita lagi," kata Resi Wisangkolo.

"Jangan kalian bergerak lebih dulu." kata Priyadi. "Kalian boleh datang mengepung tempat itu dan biarkan aku lebih dulu menandinginya. Hal ini menyangkut nama dan kehormatan, menyangkut harga diriku. Kalau ternyata memang sukar bagiku untuk mengalahkannya, barulah kalian boleh menyergap. Akan tetapi hati-hati, jangan sampai melukai atau membunuh Retno Susilo. Aku sudah mengambil keputusan antuk menjadikan gadis itu sebagai isteriku, mendampingiku dalam memimpin Jatikusumo!"

"Aku akan menjaga agar ia tidak sampai terluka atau terbunuh, akan tetapi kuharap, setelah ada yang baru, yang lama agar Jangan dilupakan!" kata Sekarsih dengan sikap genit dan tanpa malu-malu lagi. Priyadi tersenyum lalu bangkit berdiri.

"Jangan khawatir, aku tidak akan melupakan kawan-kawan semua yang telah membuat jasa. Sekarang aku harus mengaso dan tidur untuk menghadapi pertandingan besok, Kalau tidak ada hal yang teramat penting, jangan ada yang mengganggu tidurku."

Setelah berkata demikian, Priyadi meninggalkan ruangan besar itu dan menuju ke kamarnya yang berada di sebelah dalam. Baru saja dia tiba di depan kamarnya, Sumarni sudah menyongsongnya. Gadis itu mendekatdan Priyadi melihat betapa gadis itu tampak segar kedua pipinya kemerahan, matanya redup dan senyumnya manis sekali, juga keharuman bunga menerpa hidungnya.

"Kakangmas Priyadi...!"ucap gadisitu dengan suaramerdu merayu. Priyadi tertegun. Sejak kemarin Sumarni tampak lesu dan seperti marah kepadanya setelah kemarin dulu dia menyerahkan gadis itu ke dalam pelukan Ki Klabangkolo dan memaksanya melayani Ki Klabangkolo semalam suntuk. Hal ini dilakukannya untuk menyenangkan hati pembantu itu yang tampaknya tergila-gila kepada Sumarni.

"Engkau, Sumarni? Mau apa engkau menemuiku?"

"Kakangmas.... saya... saya rindu kepadamu, kalau boleh.... malam ini saya ingin menemani dan melayanimu. Bukanlah kakangmas habis bertanding seperti yang kudengar dari para anggota? Biarlah saya memijiti tubuh kakangmas agar hilang semua kelelahan......"

Priyadi tersenyum. Perempuan ini masih belum membuatnya bosan, masih memiliki daya tarik yang kuat untuk menggairahkannya. "Engkau tidak marah lagi setelah kusuruh melayani Ki Klabangkolo tempo hari?"

"Bagaimana saya dapat marah kepadamu, kakangmas? Saya amat mencintamu, apalagi baru diperintahkan seperti itu, biar kakangmas memerintahkan saya terjun ke lautan api sekalipun, akan saya lakukan dengan senang hati."

Tergerak hati Priyadi dan dia lalu merangkul leher Sumarni dan diciumuya bibir yang menantang itu. Sumarni membalas dengan gairah yang sama. Priyadi lalu menggandengnya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar dari dalam. Orang yang sedang dibuai nafsu berahi kehilangan kewaspadaannya. Priyadi menjadi terlena dan lengah.

Padahal kalau saja dia tidak mabok oleh nafsunya sendiri, dia akan melihat perubahan yang luar biasa pada sikap Sumarni. Belum pernah Sumarni memperlihatkan gairah yang demikian besar dan berlebihan, memperlihatkan kemesraan yang membuat dia mabok. Kalau dia waspada, tentu saja hal ini akan mendatangkan kecurigaan.

Namun, Priyadi tenggelam kedalam gelombang nafsu dan lupa segala. Akhirnya Priyadi tertidur karena kepuasan dan kelelahan. Sumarni pura-pura tertidur sambil merangkulnya, akan tetapi diam-diam sepasang mata wanita ini melirik ke arah Pecut Bajrakirana yang diletakkan di tepi bantal, di dekat dinding oleh Priyadi. Lewat tengah malam, setelah merasa yakin bahwa Priyadi telah benar-benar pulas, tertandai oleh dengkurnya yang dalam. Sumarni lalu bergerak perlahan dan hati-hati. Tangannya dijulurkan meraih pecut sakti itu. Dilibatkan ujung pecut yang panjang itu kepada batang pecut dan Ia lalu turun perlahan-lahan. Dibetulkan letak pakaiannya dan tanpa memperdulikan lagi akan pakaiannya yang kusut dan rambutnya yang terlepas dan terurai panjang, iapun berjingkat ke arah pintu kamar, membuka pintu kamar lalu melangkah menuju ke pintu belakang. Keadaan rumah itu telah sunyi, semua orang agaknya telah tertidur pulas, merasa aman karena perkampungan itu terjaga ketat.

Sumarni telah mempelajari keadaan perkampungan itu. Ia tahu bagian dinding mana yang dapat diterobosnya untuk keluar tanpa diketahui para penjaga. Untuk itu ia harus memanjat pagar kayu yang tinggi. Ia membelit dan mengikatkan pecut itu di pinggangnya, mengikatkan ujung kain di pinggang dan memanjat pagar itu. Akhirnya, dengan susah payah dan hati-hati ia berhasil meninggalkan perkampungan Jatikusumo tanpa terlihat oleh penjaga.

Larilah wanita ini menuju ke pantai. Untung baginya bahwa bulan purnama cukup terang sehingga dia dapat melihat jalan. Ia berlari menuju ke pantai berpasir di mana tadi ia hendak membunuh diri dan bertemu dengan Sutejo dan Retno Susilo. Retno susilo sudah kembali ke mulut gua dan menjaga api unggun supaya tidak sampai padam. Ia duduk di depan api unggun asan tetapi matanya selalu dilayangkan ke arah pantai pasir penuh harap, menanti kemunculan orang yang ditunggu-tunggu, yaitu Sumarni. Maka, begitu melihat bayangan Sumarni berlarian ke pantai pasir itu. Retno Susilo cepat bangkit berdiri, melompat dan berlari cepat sekali menghampiri Sumarni yang sudah berhenti di pantai dan memandang ke sekeliling.

"Mbakayu Sumarni....!" Retno Susilo memanggil dau dengan cepat ia telah berhadapan dengan wanita itu. "Ahh, engkau sudah datang, den roro!" kata Sumarni dengan lega. Nafasnya masih terengah-engah karena ia tadi berlari terus, pakaiannya kusut dan rambutnya terurai. Tanpa bicara lagi ia melepaskan libatan Pecut Bajrakirana dan menyerahkannya kepada Retno Susilo.

Retno Susilo menerima pecut itu. mengamatinya sejenak dan ia mengenal pecut pusaka yang pernah dimilikinya untuk beberapa hari dahulu. Dengan hati girang sekali ia memeluk Sumarni dan mencium kedua pipi wanita itu.

"Mbakayu Sumarni! Terima kasih, mbakayu, engkau telah menyelamatkan nyawa kakangmas Sutejo. Terima kasih, engkau baik sekali!"

Sumarni sesenggukan dalam rangkulan Retno Susilo. Wanita ini merasa nelangsa sekali. Ia telah mengorbankan perasaannya, menahan rasa benci dan muaknya terhadap Priyadi yang telah menghancurkan hatinya, dengan bersikap mesra dan penuh cinta kasih. Akan tetapi ia juga merasa bersedih karena ia harus mengkhianati orang yang sesungguhnya ia cinta. Tak disangkanya cintanya yang demikian tulus dan murni terhadap Priyadi telah dihancurkan pemuda itu dengan perbuatan keji, menyerahkan ia untuk diperkosa oleh Ki Klabangkolo!

"Den roro, semoga engkau hidup berbahagia dengan denmas Sutejo..." katanya lirih.

Retno Susilo melepaskan rangkulannya dan ia mengeluarkan sekantung uang yang tadi telah dipersiapkannya. "Terimalah ini, mbakayu, untuk bekalmu dalam perjalanan. Sekarang, cepat pergilah dari sini dan lakukan perjalanan, terus saja menuju keutara dan pergilah ke daerah Ngawi, tanayakan perkampungan Nogo Dento yang berada di tepi bengawan. Pergilah engkau kesana. katakan kepada Ki Harjodento yang menjadi ketua di sana bahwa engkau datang karena aku yang menyuruhmu dan ceritakan semua kepada mereka. Engkau akan diterima dengan baik dan engkau akan aman di sana. Cepat pergilah!"

Sumarni menoleh ke arah utara, lalu mengangguk. "Selamat tinggal, den roro!" katanya terisak.

"Selamat jalan, mbakayu!" Sumarni lalu melangkah pergi, menuju ke utara dan lenyap di balik batu-batu karang.

Dengan gembira sekali Retno Susilo memainkan pecut itu lalu berlari kembali ke dalam gua. Ia melihat Sutejo masih tidur pulas. Hatinya merasa khawatir. Bagaimana kalau Priyadi sudah tahu bahwa Pecut Bajrakirana telah dicuri oleh Sumarni? Tentu dia akan datang mencari ke sini dengan membawa para pembantunya. Gawat kalau begitu! Malam telah larut dan Sutejo telah tidur cukup. Dia harus dibangunkan untuk diberitahu akan kenyataan yang menggembirakan itu dan untuk berjaga-jaga kalau Priyadi dan kawan-kawannya datang mencari pecutnya.

"Kakangmas Sutejo.....!" Ia mengguncang pundak pemuda itu.

Sutejo tidur dalam keadaan siap, maka begitu terguncang pundaknya, dia segera bangkit duduk dan memandang Retno Susilo. "Diajeng Retno! Ada apakah, sudah pagi?"

"Belum, kakangmas. Akan tetapi sudah lewat lengah malam. Bangunlah, kakangmas, ada suatu kabar gembira untukmu!"

Sutejo tersenyum. Gadis aneh, membangunkannya hanya untuk memberi kabar gembira. Mana ada kabar gembira di situ?

"Kabar apakah, diajeng?" katanya sambil bangkit berdiri dan mengambil tempat duduk didepan api unggun, dekat Retno Susilo.

"Lihat ini...!" kata Retno Susilo sambil mengambil pecut yang tadi disembunyikan di belakang tubuhnya dan dia mengangkat pecut itu tinggi-tinggi sehingga terkena cahaya api unggun

Sutejo terbelalak, mengejap-ngejapkan matanya seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

"Bajrakirana....???" Dia berseru, kaget dan heran, juga penuh keraguan.

"Yang asli dan murni!" kata Retno Susilo gembira sambil menyerahkan pecut itu. "Kalau tidak percaya, periksalah sendiri, kakangmas."

Sutejo mengambil pecut itu dari tangan Retno Susilo dan mengamati pecut itu. Matanya terbelalak , wajahnya berseri dan jantungnya berdebar penuh rasa gembira luar biasa. Dia tidak ragu lagi. Ini memang Pecut Sakti Bajrakirana yang asli. Dia mencium pecut itu dan menjunjung tinggi di atas kepalanya, lalu memandang kepada Retno Susilo.

"Diajeng, mujijat apakah yang telah kau lakukan ini? Bagaimana mungkin pecut pusaka yang kemarin sore masih dipergunakan oleh Priyadi, kini dapat berada di tanganmu? Apakah yang telah kau lakukan? Apa yang telah terjadi?"

"Kecerdikan, kakangmas. Kalau kekuatan sudah tidak berdaya, maka kecerdikan dapat menolong. Dengan menggunakan akal aku dapat memperoleh Pecut Bajrakirana dari tangan si jahanam Priyadi."

"Bagaimana caranya, Diajeng?" tanya Sutejo kagum. "Apakah engkau tadi berkunjung kesana? berbahaya sekali!"

"Kalau aku sendiri berkunjung ke sana dan. menggunakan kekerasan, itu berarti perbuatan nekat dan bodoh. Tidak, aku tetap ada di sini, hanya menanti, kakangmas. Yang melakukan bukan aku, melainkan Sumarni."

"Sumarni?" Sutejo terbelalak. "Akan tetapi bagaimana...?"

"Engkau tentu tahu bahwa Sumarni mengandung dendam sakit hati yang besar sekali terhadap Priyadi, kakangmas. Ia demikian bersedih sehingga hampir saja ia membunuh diri kalau tidak tertolong olehmu. Nah, aku menggunakan dendamnya itu, memberi jalan kepadanya untuk membalas dendam dengan mencuri pecut pusaka ini untukku dan untukmu. Ia hendak membalas dendamnya kepada Priyadi dan membalas budimu dengan mencuri pecut pusaka ini untukmu, dan ia berhasil."

"Ahh.....! Itu berbahaya sekali! Dan dimana Sumarni sekarang?"

"Aku telah memberinya bekal cukup dan menyuruh ia pergi ke perkampungan Nogo Dento. Ia akan aman di sana. Baru saja ia telah pergi sehingga tidak mungkin akan tertangkap oleh Priyadi yang tentu tidak tahu ke mana ia melarikan diri."

"Bagus, mudah-mudahan ia dapat tiba disana dengan selamat. Akan tetapi, diajeng, perbuatan ini... mencuri Pecut Bajrakirana merupakan perbuatan yang curang...!"

Retno Susilo mengerutkan alisnya dan menatap wajah pemuda itu dengan marah. "Kakangmas Sutejo! Menghadapi seorang jahanam busuk seperti Priyadi itu, engkau masih hendak menggunakan kejujuran? Ingat, engkau sendiri yang bercerita tentang Pecut Sakti Bajrakirana, Bukankah pecut itu tadinya dicuri oleh Bhagawan Jaladara dari padepokan Resi Limut Manik? Kemudian engkau berhasil merampasnya. Kemudian Bhagawan Jaladara menggunakan kecurangan lagi, memaksamu mengembalikan pecut itu kepadanya dengan mengancam akan membunuh gurumu. Dua kali Bhagawan Jaladara menguasai pecut itu dengan kecurangan dan kejahatan, dan dia menyerahkan pecut kepada Priyadi. Kalau sekarang aku menggunakan akal, ingat aku dan bukan engkau yang menggunakan akal mencuri pecut itu dari tangan Priyadi, bukankah hal itu sudah sewajarnya? Aku yang mencuri, kakangmas, bukan engkau. Dan aku memberikan pecut itu kepadamu, seperti Bhagawan Jaladara memberikannya kepada Priyadi!"

Melihat gadis itu marah-marah dan mendengar ucapannya yang mengandung kebenaran, Sutejo tersenyum dan mengangguk-angguk. "Terima kasih, diajeng. Aku menerima pemberianmu dan sekarang aku melihat bahwa memang sudah sewajarnya dan sepantasnya kalau Pecut Bajrakirana ini kembali ke tanganku karena memang aku yang berhak."

Setelah berkata demikian. Sutejo lalu berlatih silat, memainkan pecut itu dengan ilmu pecut Aji Bajrakirana. Semenjak dia menguasai aji itu, baru sekali ini dia berlatih menggunakan pecut aslinya. Terasa cocok dan enak sekali bersilat dengan aji itu menggunakan Pecut Bajrakirana, sudah pas dan tepat sekali. Pecut meledak-ledak dan tampak bunga api berpilar ketika ujung pecut mematuk udara. Ledakan diselingi sinar bunga api sehingga cocok benar dengan nama pecut itu Bajrakirana (Sinar Kilat).

Retno Susilo menonton dengan takjub dan kagum sekali. Sungguh luar biasa sekali ilmu silat yang dimainkan kekasihnya itu dan ia merasa yakin bahwa Sutejo pasti akan mampu mengalahkan Priyadi kalau dia menggunakan Pecut Bajrakirana.

Akan tetapi padu saat itu terdengar suara nyaring, "Sutejo, pencuri hina. manusia curang. Kembalikan Bajrakirana kepadaku!"

Itu adalah teriakan Priyadi yang dilakukan dari jarak jauh dan tampaklah banyak obor dibawa banyak orang yang berlari-larian menuju ke gua itu. Melihat ini, Sutejo juga mengerahkan tenaga saktinya dan berteriak lantang.

"Priyadi, ini adalah pecut pusaka milikku! Engkaulah yang mencurinya dariku melalui tangan BhagawanJaladara!"

Akan tetapi Retno Susilo sudah menyambar tangan kiri Sutejo dan ditariknya pemuda itu, diajaknya lari dari situ. "Kakangmas Sutejo, mari kita lari!"

"Tidak. aku hendak menghajar Priyadi!"

"Kakangmas! Aku sudah mendengar dari mbakayu Sumarni bahwa Priyadi dibantu baayak orang.

Ada Resi Wisangkolo, Ki Klabangkolo, Sekarsih dan tiga orang perwira Wirosobo. Belum lagi diperhitungkan anak buahnya yang seratus lima puluh lebih banyaknya. Bagaimana kita mampu melawan mereka? Belum waktunya sekarang untuk membasmi mereka. Marilah kita lari!" Retno Susilo menarik lagi tangan Sutejo untuk diajak melarikan diri. Kini Sutejo juga tidak membantah lagi karena dia menyadari bahwa seorang diri, bahkan dibantu oleh Retno Susilo sekalipun, melawan demikian banyaknya orang, sama saja dengan membunuh diri. Perbuatan nekat yang tidak dapat perhitungkan dan bodoh.

"Mari!" katanya dan kedua orang itu lalu melompat keluar dari gua dan melarikan diri.

Para pengejar dapat melihat bayangan dua orang yang melarikan diri ini. Mereka berteriak-teriak dan dipimpin oleh Priyadi dan Resi Wisangkolo, mereka melakukan pengejaran. Akan tetapi Sutejo menggunakan Aji Harina Legawa yang sudah mencapai tingkat tertinggi sehingga tubuhnya meluncur Seperti terbang cepatnya. Retno Susilo juga tidak mau kalah. Dengan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya juga berlari cepat bukan main. Sebentar saja bayangan dua orang ini sudah lenyap dan para pengejar kehilangan jejak.

"Jahanam keparat!" Priyadi membanting-banting kaki dengan marah, kemudian dia teringat akan Sumarni. Bangkit kemarahannya karena dia menyadari bahwa tentu Sumarni yang telah melakukan pencurian terhadap pecut pusaka itu dan entah bagaimana wanita itu agaknya telah menyerahkan pecut pusaka itu kepada Sutejo.

"Cari Sumarni!" teriaknya sehingga terdengar oleh semua anak buahnya. "Cari perempuan khianat itu sampai ketemu, hidup atau mati!!" Karena sudah tidak mungkin mengejar kedua orang muda yang telah lenyap dan tidak diketahui lari ke arah mana itu, anak buah Priyadi kini melaksanakan perintah pimpinan mereka. Mereka mengira bahwa mencari Sumarni tentu lebih mudah karena Sumarni adalah seorang wanita lemah dan tentu belum lari jauh.

"Cari ia! Kalau perlu susul dan cari sampai ke desanya, di Jaten!" teriak pula Priyadi. Dia sendiri lalu ikut mencari dengan dada yang rasanya seperti mau meledak saking marahnya. Namun, semua pencari itu salah arah. Tidak ada yang mengira bahwa Sumarni sejak malam tadi sudah melarikan diri dan arahnya ke utara.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Pemuda gagah perkasa tinggi besar itu melangkah tanpa ragu menuju pintu gerbang keputren. yang berada di bagian belakang istana kerajaan Mataram. Dia memanggul sebatang tongkat dan sikapnya santai saja ketika dia menghampiri belasan orang perajurit yang bertugas menjaga pintu gerbang keputren itu. Daerah keputren ini merupakan daerah terlarang bagi orang luar, terutama pria untuk memasukinya dan kalau ada yang mempunyai keperluan penting dengan keputren, dia harus mempunyai surat ijin dari pejabat pengawas keamanan istana.

Pemuda itu adalah Cangak Awu. Seperti kita ketahui, dia datang ke kota raja untuk menemui adik seperguruannya, yaitu Puteri Wandansari untuk melaporkan tentang keadaan Jatikusumo yang telah dibasmi oleh Priyadi.

"Berhenti!!" bentak kepala jaga ketika melihat Cangak Awu menghampiri pintu gerbang dengan sikap santai dan melangkah seenaknya Cangak Awu berhenti melangkah dan menghadapi belasan orang penjaga yang menghadangnya dengan pandang mata galak penuh curiga. "Heii, siapa engkau dan mau apa engkau berani mendekati pintu gerbang keputren?"

Menghadapi teguran yang galak itu Cangak Awu bersikap tenang saja. Dia memang belum pernah berkunjung ke tempat tinggal Puteri Wandansari dan tidak tahu tentang peraturan di tempat itu. Berbeda dengan mendiang Maheso Seto dan Rahmini yang tempo hari datang berkunjung. Mereka tidak mau repot-repot dan memasuki keputren dengan cara menyelundup, mempergunakan kepandaian mereka untuk melompati pagar tembok yang mengelilingi keputren dan langsung menemui Puteri Wandansari di dalam. Cangak Awu adalah seorang yang kasar dan jujur, dia tidak mempunyai akal untuk melakukan hal seperti itu, melainkan langsung saja hendak masuk melalui pintu gerbang seperti memasuki perkampungan sendiri saja.

"Namaku Cangak Awu dan aku ingin memasuki pintu gerbang ini untuk bertemu dan bicara dengan Diajeng Wandansari" kata Cangak Awu dengan nada suara biasa saja.

Belasan orang perajurit itu saling pandang dengan kaget dan heran. Kepala jaga menjadi marah sekali. "Manusia kurang ajar! Berani engkau menyebut Gusti Puteri Wandansari dengan diajeng" "Sudah gilakah engkau? Hayo cepat minggat dari sini atau kami akan menangkapmu dengan tuduhan mempunyai niat buruk yang mencurigakan!"

"Saudara-saudara, aku bicara sebenarnya. Diajeng Wandansari adalah adik seperguruanku dan ingin bertemu dan bicara kepadanya karena, ada urusan penting sekali. Biarkanlah aku masuk dan mencarinya!"

Setelah berkata demikian, Cangak Awu sudah menggerakkan kakinya lagi untuk melangkah maju hendak memasuki pintu gerbang. Akan tetapi empat batang tombak dipalangkan menghadang di depan dadanya. Kepala para perajurit pengawal itu menjadi marah sekali.

"Orang gila! Tangkap dia!" Belasan orang perajurit pengawal yang berjaga di situ segera mengepung Cangak Awu dan empat orang yang berada paling depan sudah menubruk dan meringkus kaki tangan Cangak Awu. Diperlakukan demikian, Cangak Awu menjadi marah.

"Haaaaiiittt......!" Dia mengeluarkan teriakkan nyaring dan tubuhnya bergerak mengguncang. Empat orang yang meringkusnya itu terpental berpelantingan dan roboh terbanting! Melihat ini, para perajurit menjadi marah dan mereka segera mempergunakan tombak dan golok untuk menyerang Cangak Awu yang mereka, kira mengamuk.

Cangak Awu menggerakkan tongkatnya melakukan perlawanan. Gerakannya hebat sekali. Tombak dan golok yang bertemu tongkatnya tentu terpental dan pemegangnya terhuyung. Diam-diam seorang di antara para perajurit itu lari memasuki keputren untuk melaporkan amukan pemuda itu kepada Sang Puteri Wandansari.

Perkelahian yang terjadi di depan pintu gerbang keputren itu menarik perhatian banyak orang. Banyak orang datang menonton Cangak Awu mengamuk dengan tongkatnya. Perajurit yang berani menyerang dan mendekatinya tentu akan terpental dan terlempar. Akan tetapi pemuda ini tidak berwatak kejam. Dia tahu bahwa para rajurit itu adalah pengawal-pengawal Puteri Wandansari, bukan musuh. Maka diapun membatasi tenaganya dan hanya membuat mereka berpelantingan tanpa melukai mereka dengan parah.

BAGIAN 49 Para penjaga yang mengandalkan banyak kawan, masih terus mengeroyok. Yang roboh bangkit lagi dan hujan senjata menyerang tubuh Cangak Awu. Akan tetapi pemuda itu memutar tongkatnya. Terdengar suara berdentangan dan banyak senjata golok dan tombak beterbangan, terlepas dari pemegangnya.

"Berhenti semua!" Pada saat itu terdengar bentakan nyaring dan mendengar suara bentakan ini, para perajurit segera berlompatan ke belakang, menghentikan pengeroyokan mereka.

Cangak Awu memanggul tongkatnya dan memutar tubuh menghadapi orang yang mengeluarkan suara bentakan tadi. Wajahnya berseri ketika melihat bahwa yang datang adalah Puteri Wandansari sendiri. Sang Puteri mendengar pelaporan perajurit dan segera ia berlari keluar karena ia tahu bahwa kakak seperguruannya, Cangak Awu, adalah seorang yang berwatak kasar dan jujur sehingga mungkin akan terjadi keributan dengan para penjaga. Benar saja, ketika ia tiba di pintu gerbang, ia melihat kakak seperguruannya itu mengamuk dengan tongkatnya. Akan tetapi iapun dapat melihat betapa Cangak Awu tidak bermaksud mencederai para pengeroyok, maka ia membentak para perajurit itu untuk mundur.

"Diajeng Wandansari....!" Cangak Awu berseru dengan girang.

"Kiranya engkau, Kakang Cangak Awu!" kata Sang Puteri dan para perajurit pengawal saling pandang dan tertegun. Kiranya pengakuan pemuda kasar itu benar. Gusti Puteri mereka mengenal baik dan menyebut kakang kepada pemuda itu!

"Maafkan kalau kedatanganku ini membuat kekacauan. Habis, mereka tidak memperkenankan aku masuk menemuimu, diajeng." kata Cangak Awu sambil memandang kepada belasan orang perajurit yang berkumpul di depan gardu penjagaan.

"Maafkan mereka, Kakang Cangak Awu. Mereka hanya melaksanakan tugas menjaga keamanan dan keselamatan keputren. Mari, masuklah. Tentu ada keperluan penting sekali maka engkau datang menemuiku."

"Memang aku membawa berita yang teramat penting, diajeng." kata Cangak Awu yang melangkah masuk dan keduanya segera melangkah memasuki taman keputren yang luas. Sang Puteri Wandansari mengajak Cangak Awu untuk pergi ke tengah taman di mana terdapat sebuah anjungan, ruangan terbuka yang terlindung atap yang biasanya dipergunakan untuk duduk bersantai menikmati keindahan dalam taman.

"Duduklah, Kakang Cangak Awu dan ceritakan apa urusan penting yang hendak kau sampaikan kepadaku." kata Puteri Wandansari dengan sikap ramah Cangak Awu lalu duduk di atas bangku, berhadapan dengan puteri itu. Dia sudah biasa berhubungan dengan dara bangsawan yang cantik jelita itu sebagai saudara seperguruan, maka dia tidak merasa canggung dan, menganggap sang puteri itu seperti adiknya sendiri.

"Diajeng Wandansari. Berita yang kubawa ini teramat penting, akan tetapi juga amat menyedihkan. Hatiku masih seperti diremas-remas rasanya kalau teringat akan semua peristiwa itu."

Wandansari mengerutkan alisnya. Ia mengenal baik pemuda tinggi besar yang gagah perkasa ini. Cangak Awu adalah seorang pemuda yang keras, kasar dan jujur, tabah dan tidak cengeng. Maka kalau sekarang demikian bersedih dan merasa hatinya seperti diremas-remas, tentu telah terjadi sesuatu yang hebat sekali.

"Kakang Cangak Awu, berita apakah itu, cepat katakan kepadaku!" Wandansari mendesak, ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi.

"Dunia terasa kiamat, geger telah terjadi malapetaka hebat menimpa Jatikusumo, diajeng. Hampir semua murid Jatikusumo terbantai, Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini, bahkan Bapa Sindusakti telah tewas" Cangak Awu tidak dapat melanjutkan ceritanya karena lehernya seperti tercekik kesedihan dan keharuan.

Sepasang mata yang tajam indah itu terbelalak, wajah itu menjadi pucat dan Puteri Wandansari bangkit berdiri, mengepal kedua tangan. "Ya Tuhan...! Siapa yang melakukan semua pembunuhan itu?" tanyanya setengah berteriak.

"Kakang Priyadi manusia murtad yang durhaka itu!"

"Kakang Priyadi? Akan tetapi bagaimana mungkin! Kakang Priyadi adalah seorang murid yang baik dan berbakti, bahkan kita semua tahu bahwa dia adalah murid terkasih dari Bapa Guru!"

"Akan tetapi dia telah berubah, diajeng. Entah iblis mana yang telah memasuki dirinya. Dia merampas kedudukan ketua Jatikusumo dan dia tega membunuh Bapa Guru,"

"Maaf, kakang Cangak Awu. Bagaimana aku dapat mempercayai berita itu? Sepandai-pandainya Kakang Priyadi, tidak mungkin dia dapat mengalahkan Bapa Guru, apa lagi membunuhnya!"

"Entah apa yang telah terjadi dengan dirinya. Dia telah berubah seperti iblis sendiri, selain jahat kejam juga amat sakti mandraguna."

Akan tetapi, bagaimana mungkin dia mengalahkan semua murid Jatikusumo? Bukankah di samping Bapa Guru ada pula Kakang Mahesa Seto, Mbakayu Rahmini dan engkau sendiri, kakang? Tak mungkin dia dapat mengalahkan pengeroyokan kalian semua!"

"Dia tidak datang sendiri, diajeng Dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara dan kawan kawannya, para jagoan dari Wirosobo, bahkan di antara mereka terdapat Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo! Kami semua melawan mati-matian, akan tetapi pihak musuh lebih kuat sehingga akhirnya Bapa Guru. Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan banyak murid Jatikusumo tewas...."

Tiba-tiba Puteri Wandansari menatap wajah Cangak Awu penuh selidik dan ia bertanya, "Akan tetapi mengapa engkau masih dapat terhindar dari maut. Kakang Cangak Awu?"

"Itulah yang menyedihkan hatiku, diajeng. Seharusnya akupun melakukan pembelaan sampai titik darah terakhir. Akan tetapi ketika aku melihat betapa Bapa Guru dan kedua orang kakak seperguruan kita itu roboh, aku tahu bahwa kalau aku nekat, akupun akan mati. Pada saat itu kupikir, kalau aku juga mati, lalu siapa yang akan membalaskan semua sakit hati itu? Itulah sebabnya mengapa aku melarikan diri membawa luka tendangan yang amat parah."

"Hemm, kiranya Priyadi itu bersekutu dengan Bhagawan Jaladara yang menjadi kaki tangan kadipaten Wirosobo! Lalu bagaimana kakang? Lanjutkan ceritamu."

"Agaknya Priyadi hendak membawa Jatikusumo membantu gerakan kadipaten Wirosobo, diajeng. Aku telah terluka parah dan aku melarikan diri sekuat tenaga dan akhirnya aku jatuh pingsan di tepi sungai. Aku ditolong oleh nimas Pusposari puteri Paman Harjodento ketua perkumpulan Nogo Dento. Kiranya Paman Harjodento itu adalah ayah kandung Adi Sutejo, diajeng." Wajah sang puteri itu berseri. "Ah, benarkah? Jadi Kakangmas sutejo telah menemukan orang tuanya? Syukurlah, kabar ini cukup menggembirakan walaupun tidak mengurangi kedukaan mendengar Jatikusumo terbasmi."

"Paman Harjodento lalu menjodohkan aku dengan diajeng Pusposari"

"Begitukah, Kakang Cangak Awu? Aku ikut bergembira dan mengucapkan selamat kepadamu."

"Terima kasih, diajeng. Juga Adi Sutejo dijodohkan dengan Retno Susilo yang menjadi sahabat baik Sutejo dan yang telah banyak membantunya"

"Kakang Sutejo adalah seorang pemuda yang baik dan gagah perkasa, yang telah dipercaya mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk mewarisi AjiBajrakirana, sudahsepantasnya dia memperoleh jodoh yang sepadan dan pantas. Aku percaya bahwa gadis yang bernama Retno Susilo itu tentu seorang gadis yang amat baik, bijaksana dan juga sakti mandraguna."

"Dara itu adalah puteri Ki Mundingsosro ketua Sardula Cemeng dan ia memang memiliki kesaktian cocok sekali kalau menjadi jodoh Adi Sutejo," kata Cawak Awu dengan sejujurnya.

"Kakang Cangak Awu, berita yang kau bawa ini penting sekali karena menyangkut keamanan di Mataram, Kalau Jatikusumo kini dipimpin Priyadi yang bersekutu dengan Wirosobo, maka hal ini tidak boleh kami diamkan saja, karena berarti daerah Mataram telah kemasukan pengaruh Wirosobo. Mari, mari ikut aku menghadap Kanjeng Rama, karena hal ini perlu beliau ketahui dan aku akan minta ijin Kanjeng Rama untuk memimpin pasukan menggempur Priyadi dan antek-anteknya."

Cangak Awu berasa gentar untuk menghadap Sang Prabu, akan tetapi karena di situ ada Puteri Wandansari yang mengajaknya, maka biarpun jantungnya berdebar tegang, dia mengikuti sang puteri memasuki istana. Para pengawal tentu saja membiarkan sang puteri masuk, bahkan memberi hormat dan pengawal bagian dalam lalu melapor kepada Sultan Agung bahwa Puteri Wandansari mohon menghadap.

Pada waktu itu, Sultan Agung sedang berbincang-bincang dengan para senopatinya. Di antaranya yang hadir adalah Ki Mertoloyo yang melaporkan tentang penyelidikannya terhadap para kadipaten di sebelah timur. Juga hadir Ki Suroantani, Kyai Sujonopuro dan Kyai Juru Kiting, keduanya merupakan senopati-senopati yang terkenal dari Mataram. Mendengar pelaporan pengawal dalam bahwa puterinya. Puteri Wandansari dan seorang pemuda mohon menghadap, Sultan Agung segera memerintahkan pengawal untuk mempersilakan kedua orang muda itu masuk dan menghadap.

Ketika Puteri Wandansari dan Cangak Awu menghadap, dan menghaturkan sembah, Sultan Agung dan para senopati memandang kepada Cangak Awu dengan hati kagum. Cangak Awu memang merupakan seorang pemuda yang tinggi besar dan gagah perkasa seperti Sang Bimasena.

"Nini Wandansari. Siapakah pemuda yang gagah perkasa ini?" tanya Sang Prabu kepada puterinya sambil memandang dan mengamati wajah Cangak Awu yang membayangkan keterbukaan dan kejujuran.

"Kakang Cangak Awu, Kanjeng Rama hendak mengetahui keadaanmu. Perkenalkanlah dirimu sendiri kepada Kanjeng Rama."

Cangak Awu lalu menghaturkan sembah dengan sikap hormat. Biarpun dia seorang yang jujur dan kasar, akan tetapi di bawah bimbingan mendiang Bhagawan Sindusakti, diapun tahu akan sopan santun atau tata-krama di depan Sang Prabu. "Mohon paduka sudi mengampuni hamba yang berani menghadap tanpa dipanggil, Gusti Sinuwun, Hamba bernama Cangak Awu. murid perguruan Jatikusumo. Kedatangan hamba adalah untuk memberi laporan kepada Gusti Puteri Wandansari, dan oleh beliau hamba diajak menghadap paduka"

"Murid Jatikusumo? Kalau begitu masih saudara seperguruanmu nini Wandansari?"

"Memang demikianlah, Kanjeng Rama. Kakang Cangak Awu ini masih terhitung kakak seperguruan hamba, dia adalah murid kepala ke empat sedangkan hamba murid kepala ke lima."

"Lalu apa maksudmu mengajak Cangak Awu untuk menghadap kami?" tanya Sang Prabu dengan ramah. Dia merasa bangga dan sayang kepada puterinya ini karena biarpun seorang wanita, namun amat berbakat dan tekun mempelajari ilmu kanuragan sehingga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna dan berwatak gagah perkasa.

"Ampun, Kanjeng Rama, kalau hamba berdua telah lancang dan mengganggu kesibukan paduka. Akan tetapi karena kakang Cangak Awu datang membawa berita tentang malapetaka yang menimpa perguruan Jatikusumo dan juga tentang ancaman yang membahayakan keamanan di Mataram, maka hamba pikir berita ini penting sekali untuk paduka ketahui."

Sang Prabu memandang Cangak Awu dan bertanya, "Cangak Awu, berita apakah yang kau bawa? Malapetaka apakah yang telah menimpa perguruan Jatikusumo?"

"Kanjeng Gusti, perguruan Jatikusumo telah dihancur binasakan oleh seorang murid kepala yang murtad bernama Priyadi. Dalam kerusuhan itu, Bapa Guru Bhagawan Sindusakti, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, juga para murid Jatikusumo, telah terbunuh."

"Jagad Dewa Bathara...!" Sang Prabu berseru.

"Paman Bhagawan Sindusakti terbunuh, dan oleh muridnya sendiri? Jahat sekali murid durhaka yang bernama Priyadi itu! Akan tetapi, Wandansari, apa hubungannya ini dengan terancamnya keamanan di Mataram?"

"Kanjeng Rama, Priyadi yang murtad dan durhaka itu menguasai Jatikusumo untuk menjadi ketua di sana dan dia menyerbu Jatikusumo dengan bantuan para tokoh dari Kabupaten Wirosobo. Kini dia menyusun kekuatan di Jatikusumo untuk membantu Wirosobo yang berniat memberontak terhadap Mataram. Oleh karena itu. Kanjeng Rama, kalau paduka mengijinkan, hamba ingin memimpin pasukan untuk membantu Kakang Cangak Awu dan Kakang Sutejo yang dibantu oleh keluarga perkumpulan Nogo Dento untuk menyerang dan menghancurkan persekutuan gerombolan pemberontak itu, dan untuk membalaskan kematian Bapa Guru Bhagawan Sindusakti dan para saudara seperguruan hamba yang terbunuh oleh jahanam Priyadi itu."

"Ampunkan hamba, Kanjeng Sinuwun. Kalau hanya menumpas gerombolan pemberontak, perkenankan hamba yang memimpin pasukan untuk menumpas mereka, tidak perlu menyusahkan Gusti Puteri," kata Tumenggung Wiroguno, seorang senopati.

"Tidak, Paman Tumenggung Wiroguno. Penumpasan ini harus saya lakukan sendiri karena ini menyangkut kehancuran perguruanku. Kanjeng Rama, hamba mohon perkenan paduka."

Sang Prabu mengangguk-angguk, tersenyum."Nini Wandansari, kami percaya akan kemampuanmu untuk melakukan penumpasan terhadap gerombolan itu. Akan tetapi, engkau tadi mengatakan bahwa murid yang murtad dari Jatikusumo itu dibautu oleh tokoh tokoh Wirosobo. Siapakah mereka itu?"

"Kakang Cangak Awu lebih mengetahui akan hal itu, Kanjeng Rama."

"Siapakah mereka, Cangak Awu?" tanya Sang Prabu kepada pemuda itu.

"Selain Priyadi sendiri yang rupanya telah memiliki kesaktian luar biasa yang entah di dapatkannya dari mana, juga dia dibantu oleh Paman Bhagawan Jaladara yang menjadi antek Kadipaten Wirosobo bersama dua orang pembantunya, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Selain itu, dia dibantu pula oleh dua orang kakek sakti mandraguna dan jahat, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, juga seorang wanita iblis bernama Sekarsih. Karena para murid Jatikusumo melawan sampai tewas, tentu sekarang Priyadi membentuk pasukan baru di Jatikusumo yang terdiri dari orang-orang Wirosobo."

"Ahhhh! Kami pernah mendengar akan nama Resi Wisangkolo dan kabarnya dia sakti mandraguna. Dan yang membantu demikian banyak, terdiri dari jagoan-jagoan Wirosobo, bahkan tentu masih ada senopati Wirosobo yang membantu. Bukankah begitu, Cangak Awu?"

"Sepanjang pengetahuan hamba, senopati yang membantu adalah Tumenggung Janurmendo, Kanjeng Sinuwun." jawab Cangak Awu.

"Ampun, Kanjeng Sinuwun!" tiba-tiba Senopati Ki Suroantani menyembah.

"Apa yang hendak kau katakan, Suroantani?" tanya Sang Prabu.

"Tumenggung Janurmendo adalah seorang digdaya. Karena itu perkenankanlah hamba yang memimpin pasukan menghadapi dia!"

"Bagaimana. Nini Wandansari? Keadaan pihak musuh demikian kuat. apakah engkau seorang diri akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka?" tanya Sang Prabu kepada puterinya. "Terutama sekali Resi Wisangkolo, aku khawatir kalau engkau tidak mampu menandinginya."

"Harap paduka jangan khawatir. Kanjeng Rama. Di pihak hambapun banyak terdapat pembantu yang memiliki kesaktian. Terutama sekali Kakang Sutejo seperti pernah hamba ceritakan kepada paduka. Kakang Sutejo dan hamba merupakan dua orang yang menerima warisan aji kesaktian dari mendiang Eyang Resi Limut Manik. Biarlah hamba berdua bersama Kakang Sutejo yang mewakili mendiang Eyang Resi Limut Manik untuk menyelamatkan Jatikusumo dari tangan pengkhianat. Selain hamba berdua, di pihak hamba masih ada Kakang Cangak Awu ini. Adapula seorang gadis yang memiliki kesaktian bernama Retno Susilo dan juga pihak hamba dibantu oleh perkumpulan Nogo Dento dan ketuanya yang menurut Kakang Cangak Awu juga merupakan seorang pendekar yang gagah perkasa bernama Harjodento dan isterinya, Padmosari."

"Harjodento? Hemm, kami pernah mendengar nama besar pendekar itu!" kata Sang Prabu sambil mengangguk-angguk.

"Juga menurut keterangan Kakang Cangak Awu, Retno Susilo akan minta bantuan perkumpulan Sardula Cemeng yang dipimpin ayahnya yang bernama Ki Mnndingsosro dan pamannya Ki Mundingloyo. Hamba pikir kedudukan kami cukup kuat Kanjeng Rama, sehingga belum perlu para paman senopati turun tangan sendiri. Karena urusan ini menyangkut Jatikusumo dan belum menyangkut kerajaan, maka biarlah hamba yang turun tangan sendiri bersama Kakang Sutejo dan Kakang Cangak Awu."

Tiba-tiba Ki Mertoloyo menyembah. "Ampun, Kanjeng Sinumun, Hamba juga mempunyai keterangan tentang diri pendekar muda bernama Sutejo itu."

"Apa yang kau ketahui tentang Sutejo, Mertoloyo?"

"Ketika hamba dan anak perempuan hamba mengadakan penyelidikan ke daerah Wirosobo, anak hamba tertawan oleh Bhagawan Jaladara dan para pembantunya, di antara mereka terdapat pula Tumenggung Janurmendo. Untuk menghadapi mereka dan menolong anak hamba, muncul Sutejo dan hamba menyaksikan sendiri betapa saktinya pendekar muda itu. Dia mampu mengalahkan Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo yang mengeroyoknya. Karena itu, hamba tidak khawatir akan keselamatan Gusti Puteri Wandansari kalau Sutejo membantu beliau."

Sang Prabu mengangguk-angguk. "Kami telah mendengar dari puteri kami tentang pemuda itu. Dia dan puteri kami telah menerima warisan dua aji simpanan mendiang Resi Limut Manik dan kami sendiri telah menguji keampuhan aji yang dikuasai Nini Wandansari. Baiklah, Nini Wandansari. Kami memberi ijin kepadamu untuk memimpin seratus orang perajurit. Akan tetapi, Mertoloyo, agar engkau persiapkan pasukan pilihan yang kuat untuk dipimpin Nini Wandansari."

"Sendiko, Gusti." kata Ki Mertoloyo.

Persidangan dibubarkan dan Wandansari lalu membuat persiapan. Sepasukan perajurit gemblengan yang dikenal dengan pasukan Pasopati yang merupakan pasukan pengawal Sang Prabu yang rata-rata memiliki kedigdayaan, dipersiapkan dan pada keesokan harinya, berangkatlah Puteri Wandansari memimpin pasukan Pasopati itu. Pasukan itu berkuda dan melakukan perjalanan cepat. Cangak Awu juga ikut dalam pasukan ini...

********************

Pakaiannya compang camping, telapak kakinya yang halus itu pecah-pecah rambutnya kusut, namun semua itu tidak mengurangi kecantikannya. Perempuan muda yang berjalan seorang diri di atas jalan di tepi hutan itu Ia adalah Sumarni, gadis berusia delapan belas tahun yang telah melarikan diri dari Jatikusumo, setelah berhasil mencuri Pecut Bajrakirana dan menyerahkan pecut pusaka itu kepada Retno Susilo.

Sumarni menangis di sepanjang jalan, meratapi nasibnya. Kalau ia mengenangkan semua pengalaman yang menimpa dirinya, hatinya penuh penyesalan dan kesedihan. Baru sekarang ia menyesal bukan main mengapa ia demikian mudah terkecoh, terbujuk cumbu rayu pemuda yang mengaku sebagai Dewa Sungai bernama Permadi itu. Demikian mudahnya ia menyerahkan dirinya kepada pemuda itu. Kemudian pemuda itu muncul dan baru ia ketahui bahwa Permadi itu sebenarnya bernama Priyadi dan menjadi ketua Jatikusumo.

Pada mulanya, ia merasa gembira karena bagaimanapun juga, harus ia akui bahwa ia telah tergila-gila kepada pemuda yang tampan, halus dan sakti itu. Akan tetapi kemudian terjadilah hal yang menghancurkan hatinya, menghancurkan kehidupannya. Priyadi menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo. Malam itu, ketika Ki Klabangkolo mempermainkan dirinya, ia benar-benar hancur. Ingin rasanya mati saja.

Kenyataan bahwa dirinya ternoda oleh Ki Klabangkolo sudah merupakan hal yang menghancurkan hatinya. Akan tetapi yang lebih parah lagi yang membuat ia ingin mengakhiri hidupnya adalah kenyataan betapa Priyadi telah tega menyuguhkan dirinya kepada Ki Klabangkolo. Berarti Priyadi tidak mencintainya dan menganggapnya sebagai barang permainan dan hiburan saja yang mudah dipinjamkan kepada laki-laki lain!

Teringat akan itu semua, air mata bercucuran dari kedua mata Sumarni. Akan tetapi ketika ia teringat betapa ia telah mencuri pecut pusaka itu, menyerahkan kepada musuh Priyadi, hatinya agak terhibur seperti sebatang lilin dinyalakan di tengah kegelapan yang menyelimuti hatinya. Setidaknya ia telah dapat membalas dendam! Cintanya terhadap Priyadi yang tadinya menjulang setinggi langit penuh harapan dan cita cita, kini berubah menjadi kebencian yang sedalam lautan!

Tanpa kita sadari, cinta yang begitu kita agung-agungkan, kita anggap sebagai perasaan yang murni, yang suci, ternyata bergelimang nafsu untuk menyenangkan diri-sendiri. Sesungguhnya bukan si dia yang kita cinta, melainkan diri kita sendiri, kita menginginkan kesenangan diri sendiri melalui orang yang katanya kita cinta! Oleh karena itu, kala orang yang kita cinta itu, yang kita inginkan agar selalu menyenangkan hati kita, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka cinta kita terbalik menjadi benci!

Cinta yang kita dengung-dengungkan sebagai cinta suci itu, ternyata dasarnya demikian. Kita mencinta dia karena dia baik kepada kita dan menyenangkan hati kita dan kalau dia tidak lagi baik kepada kita dan menyusahkan hati kita, kita lalu membencinya! Dapatkah perasaan yang dapat berubah ini, yang berdasarkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri ini, kita sebut cinta? Apalagi cinta murni dan suci? Bukankah cinta seperti itu tiada lain adalah cinta nafsu belaka? Kalau kita mau membuka mata dan mengamati CINTA yang berada dalam hati kita, maka akan terbukalah mata batin kita dan melihat betapa hal yang kita agungkan dan sucikan itu ternyata amatlah kotornya.

Jelaslah bahwa yang kita sebut cinta itu tiada lain adalah merupakan jual-beli belaka. Kita beli dengan cinta kita dengan pamrih memperoleh imbalan atau balasan yang berlipat ganda. Mendapatkan cinta, perhatian, pelayanan, kesetiaan, pendeknya segala hal yang menyenangkan hati kita. Cinta yang kita tujukan kepada seseorang saja, sudah pasti mengandung pamrih dan yang begitu jelaslah bukan cinta, melainkan nafsu ingin menyenangkan diri sendiri.

Patut kita telusuri dan amati, adakah cinta yang lain? Cinta yang tidak ditujukan kepada seseorang tertentu saja, cinta yang tidak berpamrih, cinta yang benar-benar perasaan kasih sayang terhadap sesamanya? Adakah api itu masih bernyala dalam hati sanubari kita, walaupun hanya kecil? Ataukah api itu sudah padam sama sekali? Kalau demikian halnya, maka amat perlulah bagi kita untuk mohon kepada Tuhan Yang Maha Kasih, agar api cinta itu dapat dihidupkan kembali dalam hati sanubariki ta. Kalau api kasih sayang itu sudah benar-benar bernyala dalam hati sanubari kita, maka cinta asmara antara pria dan wanita tidak merupakan persoalan lagi! Nafsu hanya sebagai peserta dan hamba, bukan lagi menjadi pemimpin dan majikan!


Sumarni yang tenggelam ke dalam lamunannya, tidak tahu bahwa ada lima pasang mata mengikuti gerak geriknya, bahkan pemilik lima pasang mata itu lalu mengikutinya, membayanginya. Lima pasang mata yang liar dan yang memandang kepadanya penuh nafsu berahi, pakaian yang compang camping dari Sumarni itu tidak tampak oleh lima pasang mata itu. Yang tampak adalah kulit putih kuning mulus yang tampak disana sini, di antara pakaian yang compang camping itu. Sumarni memang seorang gadis muda yang ayu dan memiliki kulit dan tubuh yang mudah membangkitkan gairah nafsu para pria.

Sumarni baru terkejut setengah mati ketika tiba-tiba lima orang laki-laki tinggi besar dan kasar berlompatan menghadang di depannya. Muka mereka yang kasar dan bengis itu menyeringai bagaikan lima ekor srigala melihat seekor domba. Sumarni menoleh ke kanan kiri seperti hendak minta pertolongan, akan tetapi ia berada di atas jalan di tengah hutan. Sepi sekali di tempat itu, yang ada hanya ia dan lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun itu.

Seorang di antara lima orang laki-laki itu, yang berambut hitam bermata lebar dan kumisnya sekepal sebelah, agaknya merupakan pemimpin mereka melangkah maju dan sinar matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuh Sumarni.

"Heh-heh heh, wong ayu, wong manis denok merak ati! Siapakah engkau dan mengapa engkau seorang diri di sini, hendak pergi ke manakah, Sayang?"

Baru melihat sikap dan mendengar ucapan orang itu saja, seluruh bulu di tubuh Sumarni sudah bangkit meremang karena ia merasa ngeri dan takut. Jantungnya berdebar tegang sampai terdengar berdegup di dalam telinganya. Ia memandang laki-laki itu seperti mata seekor kelinci memandang harimau dan suaranya lirih gemetar ketika ia menjawab.

"Saya... saya bernama Sumarni... saya hendak pergi... ke Ngawi." hampir Sumarni tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking takutnya, Orang di depannya itu mengingatkan ia kepada Ki Klabangkolo dan hatinya menjadi ngeri dan takut sekali.

"Ha-ha ha, jangan takut, wong ayu! Aku Wiro Gembong tidak pernah galak terhadap wanita cantik seperti engkau! Engkau hendak pergi ke Ngawi? Mari kuantar, Sumarni cah ayu!" Berkata begini, laki laki bermuka hitam bermata lebar dan berkumis sekepal sebelah itu menjulurkan tangannya yang besar dan berbulu untuk memegang lengan tangan Sumarni.

Sumarni terkejut, menarik lengannya dan mundur ketakutan. "Tidak...!" katanya gemetar. "Saya... saya hendak berjalan sendiri, tidak ingin menyusahkan andika sekalian. Biarlah saya lewat...!"

"Ha-ha ha, tentu saja, bahkan aku akan mengantarmu sampai ka Ngawi. Akan tetapi engkau harus menjadi isteriku lebih dulu. Kebetulan sekali aku masih belum beristeri.

Sumarni, engkau akan hidup terhormat sebagai isteri Wiro Gembong!" kata laki-laki itu dan kembali dia bergerak ke depan, Sekali ini Sumarni tidak dapat mengelak dan dia sudah dirangkul Wira Gembong. Sumarni meronta-ronta, akan tetapi ia seperti seekor tikus dalam cengkeraman kucing. Empat orang kawan atau anak buah Wiro Gembong tertawa bergelak melihat ini. Karena Sumarni meronta-ronta, mencakar menggigit. Wiro Gembong lalu mengangkat tubuh wanita muda itu dan memanggulnya!

"Lepaskan aku...! Lepaskan...! Ahh, toloonggg...!" Sumarni meronta dan menjerit-jerit.

Pada saat itu terdengar derap kaki kuda dan seekor kuda datang dengan cepat sekali. Ketika tiba di tempat itu, penunggangnya, seorang laki-laki gagah berusia sekitar empat puluh tahun melompat dari atas punggung kuda dan menghadapi Wiro Gembong dan empat orang kawannya. Orang itu bertubuh sedang, akan tetapi sikap dan pandang matanya penuh wibawa dan kegagahan.

"Lepaskan gadis itu keparat!" bentaknya kepada Wiro Gembong, suaranya memerintah dan tegas.

Wiro Gembong memandang dengan alis berkerut dan mata penuh selidik. Dia melihat laki-laki itu bertubuh sedang saja, pakaiannya seperti seorang pejabat dan di pinggangnya terselip sebatang keris. Melihat sikap orang itu, dia menjadi marah dan menoleh kepada empat orang anak buahnya. "Bunuh dia, rampas bawaannya dan kudanya!"

Empat orang anak buah itu adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan dan memaksakan kehendak sendiri. Mereka sudah biasa membunuh orang. Entah sudah berapa banyaknya orang yang mereka bunuh. Kini mendengar perintah pimpinan mereka, empat orang itu sudah mencabut golok dari pinggang mereka dan sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring, mereka seolah berlomba untuk membunuh orang yang berani menentang mereka.

Akan tetapi ternyata orang itu cekatan bukan main menghadapi terjangan empat orang yang memegang golok itu sama sekali dia tidak gentar atau gugup. Dengan lincahnya tubuhnya bergerak cepat mengelak, kaki tangannya bergerak dan dua orang penyerang terkena tamparan tangan kirinya dan tendangan kaki kanannya. Dua orang itu terputar dan terpelanting, tak dapat bangun lagi!

Dua orang yang lain menjadi terkejut akan tetapi kemarahan membuat mereka seperti buta, tidak menyadari bahwa mereka berhadapan dengan orang yang digdaya. Dua orang itu menyerang dari, kanan kiri, golok mereka membacok ke arah kepala dan perut. Laki-laki itu menghindar kan diri dengan melangkah ke belakang Ketika dua batang golok itu menyambar dan lewat, kakinya bergerak mencuat ke kiri dan menghantam dada lawan yang berdiri di kiri.

"Dessss.....!!" Orang itu terjengkang dan terbanting keras. Orang yang berada di kanan kembali membacokkan goloknya ke arah kepala. Akan tetapi sekali ini, orang yang diserang itu tidak menjatuhkan diri, bahkan melangkah maju ke kanan, mendahului gerakan orang itu dan menangkap tangan yang membacokkan golok dari bawah. Sekali dia memutar dan memuntir lengan yang dipegangnya, penyerang itu berteriak dan tubuhnya terputar lalu terbanting ke bawah. Laki-laki yang gagah perkasa itu menyusulkan tendangan.

"Desss...!" Orang terakhir dari empat anggota gerombolan itu terpental dan tubuhnya terguling-guling, selelah berhenti tubuh itu terkapar tidak dapat bangun lagi!

WiroGembong terbelalak dan dia marah sekali. Dia menurunkan tubuh Sumarni dari pondongannya, mendorong wanita itu sehingga terhuyung dan roboh ke atas tanah, kemudian dia melompat ke depan laki-laki yang telah merobohkan empat orang anak buahnya.

"Babo babo, keparat jahanam! Siapakah engkau yang berani menjual lagak di deparok Wiro Gembong? Apakah engkau sudah bosan hidup?"

Laki-laki itu memandang dengan sinar mata tajam, setelah dia melirik ke arah Sumarni dan melihat bahwa gadis itu tidak terluka dan kini sudah bangkit berdiri dan memandang dengan sepasang mata ketakutan seperti mata seekor kelinci yang tersudut.

"Kiranya engkau yang bernama Warok Wiro Gembong! Kebetulan sekali karena sudah menjadi tugasku untuk membasmi gerombolan dan penjahat seperti engkau ini. Aku adalah Senopati Suroantani yang siap untuk menumpas dan mengakhiri kejahatanmu!"

Warok Wiro Gembong terkejut juga mendengar bahwa dia berhadapan, dengan seorang senopati dari Mataram. Akan tetapi karena dia sudah tidak dapat menyingkir lagi, timbul kenekatannya. Dia mengeluarkan suara gerengan seperti seekor biruang. Kemudian tanpa mengeluarkan kata-kata dia sudah menubruk ke depan, kedua lengannya dikembangkan dan kedua tangan menerkam ke arah leher senopati itu.

Ki Suroantani bergerak cepat. Dia menghindarkan diri ke kanan sehingga tubrukan itu luput dan selagi tubuh Wiro Gembong condong ke depan, kakinya bergerak menendang lutut warok itu. "Dukkk...!" tak dapat dicegah lagi tubuh warok itu roboh terlungkup! Akan tetapi dia sudah melompat bangun lagi dan kini mengamuk, menyerang bertubi-tubi ke arah tubuh Suroantani. Senopati itu mengandalkan kelincahan tubuhnya mengelak ke sana sini.

Saking bernafsunya Wiro Gembong menyerang, dia menggunakan seluruh tenaganya dan sebentar saja, karena semua serangannya luput, napasnya terengah-engah. Akhirnya dia berhenti menyerang dan sambil terengah-engah dia berkata mengejek. "Engkau bukan laki-laki! Bisanya hanya mengelak dan melarikan diri. Kalau memang engkau senopati Mataram yang gagah dan jantan, mari kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang seperti yang biasa kami para warok lakukan!"

"Hemm, apa yang kau maksudkan, Wiro Gembong?"

"Kita saling serang tanpa dielakkan, menerima pukulan dengan kekebalan kulit. Beranikah engkau?"

"Mengapa tidak berani? Bagaimana aturannya?" tanya Suroantani.

"Aku akan memukulmu menggunakan kolor (ikat pinggang) yang kupakai ini sebanyak tiga kali dan engkau harus menerimanya tanpa mengelak. Setelah itu engkau boleh membalas dengan tiga kali pukulan atau serangan, boleh menggunakan senjata apapun dan akan kuterima dengan kekebalanku!"

"Bagus! Aku setuju, akan tetapi dengan syarat, tidak boleh memukul kepala, hanya dari batas pinggang sampai ke leher!"kata Suroantani.

"Baik. Nah, bersiaplah menerima hantaman kolor pusakaku!" kata Wiro Gembong sambil memutar-mutar kolornya yang panjang.

Suroantani memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. "Aku sudah siap. Lakukanlah pukulanmu, Wiro Gembong!"

"Awas, terimalah pukulanku yang pertama. Pecah dadamu!" Kolor itu menyambar dengan amat cepat dan kuatnya, menimpa dada Suroantani yang sudah membuka bajunya sehingga menerima pukulan itu dengan dada telanjang.

"Dessss....!!" Hebat sekali pukulan itu dan Suroantani mundur selangkah, akan tetapi tidak menderita luka. Dia bahkan tersenyum. "Pukulanmu kurang kuat, Wiro Gembong!" katanya dan sudah memasang kuda-kuda lagi, membusungkan dadanya yang penuh Aji kekebalan.

"Ini pukulan kedua! Ambrol wadukmu!!!" Kolor melecut lebih dahsyat lagi.

"Darr...!!" Begitu hebatnya hantaman kolor itu mengenai perut sehingga tampak uap atau asap mengepul ketika kolor bertemu kulit perut. Suroantani terdorong mundur dua langkah,akan tetapi dia tetap tersenyum dan tidak terluka.

"Hanya sebegitukah kekuatanmu, Wiro Gembong?" dia mengejek. Wiro Gembong terbelalak. Mukanya merah dan dia merasa penasaran sekali. Dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan ajinya. Batu karang sekalipun akan pecah berantakan terkena pukulan kolornya tadi. Akan tetapi senopati ini sama sekali tidak roboh, terlukapun tidak!

"Masih ada sekali lagi!" katanya dan dia memutar kolornya, mulutnya berkemak kemik membaca mantera. "Sambutlah!" teriaknya dan ujung kolor menyambar dahsyat mengarah ulu hati Suroantani, Senopati ini mengerahkan aji kekebalannya ke tempat yang dihantam.

"Blarrr...!" Ujung kolor itu membalik dan Suroantani terdorong mundur dua langkah lagi, akan tetapi bibirnya masih tersenyum. Wiro Gembong terkejut, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk mundur. "Bagus, engkau memang digdaya, Suroantani. Sekarang giliranmu, keluarkan senjatamu dan inilah dadaku, boleh kau serang sampai tiga kali!"

"Aku tidakakan menggunakan senjata, Wiro Gembong. Cukup tanganku ini yang akan merobohkanmu dengan pukulanku"

Hati Wiro Gembong menjadi senangdan be sar. Dia memilki aji kekebalan cukup kuat untuk menyambut bacokan golok dan tusukan keris. Apa lagi kalau hanya kepalan tangan yang menyerangnya!

"Baik, lakukanlah dan boleh engkau memilih bagian yang paling lunak!" sumbarnya. "Wiro Gembong, dosamu sudah terlampau banyak. Kalau pukulanku menewaskanmu, itu merupakan hukuman yang setimpal bagimu dan jangan menjadi penasaran."

"Pukullah, jangan banyak cerewet lagi!" bentak Wiro Gembong.

Suroantani mengerahkan tenaga saktinya, dikumpulkan di telapak tangan kanannya, kemudian dia menerjang ke depan, memukulkan tangan kanannya dengan miring ke arah dada yang bidang dan berotot itu. "Haaiiiiitt... blarrrr...!!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras lalu rebah telentang, tidak bergerak lagi. Matanya terbelalak dan nyawanya putus karena isi dadanya terguncang dan remuk. Suroantani memeriksa keadaan lima orang itu. Yang tiga orang tewas dan dua orang masih hidup walaupun terluka.

"Urus dan kuburkan tiga orang kawan kalian yang tewas ini. Aku mengampuni kalian dan tidak akan membunuh kalian. Akan tetapi kalau lain kali aku masih mendengar kalian melakukan kejahatan, maka tidak ada ampun lagi bagi kalian. Mulai sekarang bertaubatlah dan hiduplah sebagai orang baik-baik!" demikian katanya kepada dua orang anak buah gerombolan itu. Setelah itu dia lalu menghampiri Sumarni yang masih berdiri ketakutan.

"Nimas, mari kita pergi dari sini. Jangan takut, aku akan mengawalmu."

Sumarni yang masih ketakutan hanya dapat mengangguk. Bagaimanapun juga, sikap pria ini menimbulkan kepercayaan dalam hatinya dan tidak dapat disangkal lagi bahwa pria ini telah menyelamatkannya dari ancaman yang akan menghancurkan diri dan kehormatannya. Ia masih bergidik ngeri kalau teringat akan perbuatan si muka hitam bernama Warok Wiro Gembong tadi kepadanya. Ketika pria itu menuntun kudanya, iapun mengikuti dari belakang meninggalkan tempatyang menyeramkan itu.

Mereka melangkah terus sampai keluar dari daerah berhutan itu. Setelah mereka keluar dari dalam hutan. Suroantani berhenti melangkah dau otomatis Sumarni juga menghentikan langkahnya dan memandang kepada pria itu. Suroantani juga menoleh kepadanya dan keduanya saling bertemu pandang. Barulah teringat oleh Sumarni bahwaia sama sekali belum mengucapkan terima kasih pada pria itu, pada hal pria itu baru saja membebaskannya dari cengkeraman bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut. Iapun teringat bahwa priaini tadi mengaku kepada Wiro Gembong sebagai seorang senopati Mataram yang bernama Suroantani. Seorang senopati! Seorang panglima! Teringat ini, Sumarni lalu menjatuhkan diri bersimpuh dan menyembah.

"Kanjeng Senopati, Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka kepada saya." Ia menyembah lagi. Suroantani tersenyum. Begitu berjumpa dan melihat Sumarni, senopati yang biarpun usianya sudah empat puluh tahun namun belum beristeri itu merasa tertarik dan iba sekali. Ada daya tarik luar biasa dalam diri wanita ini yang membuat hatinya bergetar.

"Nimas, bangkitlah dan tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang telah menuntun kudaku sehingga aku lewat di tempat ini pada saat engkau diganggu para gerombolan itu. Aku sendiri hanya melaksanakan kewajibanku untuk memberantas semua kejahatan yang dilakukan orang dan menolong mereka yang terancam bahaya."

Sumarni memandang kagum dan iapun bangkit berdiri ketika Suroantani menyentuh pundaknya dan menyuruhnya berdiri. "Kanjeng Senopati, paduka sungguh seorang yang luhur budi."

Suroantani tersenyum. Dia sendiri merasa heran mengapa hatinya merasa demikian senangnya mendengar pujian yang keluar dari mulut wanita ini. "Sudahlah, tidak perlu memuji, nimas. Sebenarnya, siapakah andika dan mengapa andika seorang wanita muda berada seorang diri di dalam hutan?"

"Nama saya Sumarni dan saya... saya..." Sumarni tidak dapat melanjutkan. Ia teringat akan keadaan dirinya dan kesedihan membuat ia menangis. Ia menangis terisak-isak sambil menutupkan kedua tangannya ke depan mukanya. Air matanya mengalir melalui celah-celah jari tangannya.

Suroantani membiarkan wanita itu menangis karena dia tahu bahwa bagi seorang wanita, tangis merupakan penyaluran rasa duka yang menekan batin. Setelah tangis itu agak mereda, barulah dia berkata dengan suaranya yang tenang penuh kesabaran. "Sudahlah, nimas Sumarni. Hentikan tangismu dan ceritakanlah kepadaku apa yang membuatmu bersedih. Siapa tahu, barangkali aku akan dapat menolongmu."

Setelah menyusut air matanya dan menghentikan isak tangisnya, Sumarni lalu bercerita. Ia telah demikian percaya kepada pria ini sehingga ia menumpahkan semua isihatinya "Saya adalah seorang yang bernasib malang sekali. Kanjeng Senopati."

"Namaku Suroantani, Sumarni. Rasanya tidak enak engkau menyebutku seperti itu. Sebut saja aku... eh, paman." kata senopati itu walaupun di dalam hatinya dia ingin disebut kakangmas, bukan paman!

"Terima kasih, Paman Suroantani. Akan tetapi saya hanya seorang gadis dusun..."

"Akupun berasal dari desa, Sumarni. Nah, ceritakan pengalamanmu sampai engkau terlunta-lunta seorang diri di sini."

Mereka duduk di bawah sebatang pohon asem dan Suroantani membiarkan kudanya makan rumput yang tumbuh subur di tepi jalan. Setelah menghela napas beberapa kali, Sumarni melanjutkan ceritanya. "Ketika saya masih tinggal di dusun Jaten, saya dirayu dan ditipu seorang pemuda yang mengaku sebagai dewa sungai bernama Permadi. Kemudian dia datang dan membawa saya pergi. Baru kemudian saya ketahui bahwa dia bukanlah dewa sungai dan namanya bukan Permadi melainkan Priyadi ketua Jatikusumo..."

"Ahhh! Priyadi ketua Jatikusumo?" seru Suroantani. Dia sendiri melaksanakan perintah Sultan Agung untuk mengamati gerakan Puteri Wandansari yang memimpin pasukan membantu perkumpulan Nogo Dento untukmenumpas persekutuan pemberontak yang dipimpin oleh Priyadi ketua Jatikusumo!

"Kenalkah paduka dengan dia, paman?"

"Tidak mengenal, akan tetapi aku tahu siapa jahanam itu!"

Lega rasa hati Sumarni mendengar Suroantani menyebut jahanam kepada Priyadi. Hal ini membuktikan bahwa senopati ini bukan sahabat Priyadi, melainkan musuhnya!

"Memang dia itu manusia berwatak iblis paman. Saya dijadikan barang mainannya, bahkan dia begitu keji telah tega menyuguhkan saya kepada seorang pembantunya yang menyeramkan, bernama Ki Klabangkolo! Hati saya hancur, paman dan malam itu saya mengambil keputusan untuk membunuh diri di Laut Kidul."

"Keparat jahanam, kejam benar manusia iblis itu!" kata Suroantani dengan geram. "Lalu bagaimana, nimas Sumarni?"

"Rupanya Gusti Yang Maha Kuasa belum menghendaki saya mati, paman. Saya ditolong oleh Denmas Sutejo dan Den Roro Retno Susilo. dua orang gagah perkasa yang memusuhi Priyadi."

Suroantani mengangguk-angguk. Dua nama itupun tidak, asing baginya karena dia sudah mendengar ketika Cangak Awu dan Puteri Wandansari melapor kepada Sang Prabu. "Untung mereka dapat mencegahmu membunuh diri, Sumarni."

"Sebetulnya saya tidak mau dihalangi niat saya membunuh diri. Akan tetapi Den Roro Retno Susilo memberi jalan kepada saya untuk dapat membalas dendam kepada Priyadi."

"Bagaimana jalan itu? Bagaimana caranya engkau dapat membalas dendam kepada Priyadi? Aku mendengar kabar bahwa dia seorang yang sakti mandraguna."

"Memang benar, paman. Den Roro Retno Susilo minta bantuanku agar saya dapat mencuri pecut pusaka yung bernama Bajrakirana karena hanya kalau kehilangan pecut saktinya itu Priyadi dapat dikalahkan dan dibinasakan."

"Ah, begitukah? Lalu engkau sudah melakukan itu?"

Sumarni mengangguk. "Saya sudah melakukannya, paman. Malam tadi kucuri pecut itu dan sudah kuserahkan kepada Den Roro Retno Susilo. Ia menasihati saya agar saya segera melarikan diri ke perkampungan Nogo Dento yang berada di daerah Ngawi, di tepi Bengawan Solo untuk berlindung kepada perkumpulan itu yang dipimpin ketuanya bernama Ki Harjodento. Karena saya merasa yakin bahwa Priyadi dan kaki tangannya tentu akan mencari saya, maka saya segera melarikan diri secepatnya, Sejak malam tadi, saya berjalan setengah berlari tanpa berhenti sampai pakaian saya compang camping dan telapak kaki saya luka- luka, sampai akhirnya saya tiba di sini dan dihadang oleh gerombolan tadi, paman. Untung bagi saya, paman datang dan menyelamatkan diri saya."

Suroantani menghela napas panjang. Selama Sumarni bercerita, pandang matanya bergantung kepada sepasang bibir yang bergerak-gerak indah itu. Betapa ayu dan manisnya wanita yang bernasib malang ini!

"Kasihan engkau, nimas Sumarni. Jadi sekarang engkau hendak pergi keperkampungan Nogo Dento? Kebetulan sekali akupun sedang menuju ke sana sehingga aku dapat mengantarmu ke sana."

"Terima kasih, paman. Akan tetapi hati saya gelisah sekali. Saya khawatir kalau Priyadi dan kaki tangannya mencari saya, ke dusun Jaten dan karena tidak menemukan saya di Sana, mereka lalu mencelakai orang tua saya.

"Hemm, kekhawatiranmu beralasan juga, Sumarni. Kalau begitu, mati kuantar engkau pulang dan ke dusun Jaten yang tidak berapa jauhnya dari sini. Kita perlu mengajak orang tuamu untuk meninggalkan dusun itu sementara waktu agar terbebas dari ancaman Priyadi dan anak buahnya."

Bukan main girangnya hati Sumarni mendengarini. Ia memandang wajah senopati itu dengan perasaan girang dan bersyukur. "Ah, paman Suro antani, budimu bertumpuk-tumpuk kepadaku. Bagaimana saya akan mampu membalasnya?"

Suroantani tersenyum. "Aku tidak mengharapkan bantuan apapun, nimas. Sudah kukatakan, aku membantumu karena hal itu merupakan kewajibanku, tidak mengandung pamrih apapun. Akan tetapi, aku hanya memiliki seekor kuda, dan akan amat melelahkanmu kalau kita melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Bagaimana kalau engkau kubocengkan di atas kuda? Maukah engkau, Sumarni? Kalau engkau merasa rikuh, akupun tidak memaksa. Engkau boleh duduk di atas kudaku dan aku akan menuntun kuda itu."

"Ah, tidak, paman. Saya percaya dan tidak rikuh kepadamu. Paman sudah begitu baik kepada saya. bagaimana saya dapat membiarkan paman berjalan kaki dan menuntun kuda, sedangkan saya menunggang kuda? Biarlah saya membonceng paman," kata Sumarni, akan tetapi wajahnya berubah kemerahan karena sesungguhnya, dalam hatinya ia merasa rikuh duduk berhimpitan di atas punggung seekor kuda bersama seorang pria yang baru saja dikenalnya. Akan tatapi, ia merasa kagum, suka dan percaya kepada Suroantani dan ia percaya sepenuhnya bahwa pria yang berwatak satria ini tidak akan, mempunyai pikiran yang tidak sopan terhadap dirinya.

Setelah Sumarni menyatakan persetujuannya, karena wanita itu belum pernah menunggang kuda. Suroantani lalu membantunya naik ke atas punggung kuda, kemudian dia sendiri duduk di belakang Sumarni. Dengan cara berboncengan seperti itu, kuda lalu dibalapkan dan mereka menuju ke dusun Jaten. Biarpun mereka duduk berhimpitan, Suroantani selalu bersikap sopan sehingga Sumarni merasa semakin suka dan kagum kepada pria itu.

Dasun Jaten merupakan sebuah dusun yang tanahnya subur sehingga para penduduk dusun itu hidup dalam keadaan cukup makmur dan tenang tenteram. Peristiwa perginya Sumarni yang dibawa "Dewa penjaga sungai!" merupakan cerita yang tersebar luas di dusun itu dan semua orang mempercaya cerita yang keluar dari mulut Ki Karyotomo dan isterinya, orang tua Sumarni itu, Sumarni telah diperisteri oleh dewa penjaga sungai, demikianlah anggapan mereka.

Para penduduk dusun itu masih amat terbelakang dan amat sederhana sehingga mereka percaya akan ketahyulan. Pula, bagaimana mereka tidak akan percaya kalau buktinya Ki Karyotomo kini menjadi kaya, dapat memperbaiki rumah dan membeli sawah, memiliki banyak uang yang didapatnya dari pemberian mantunya yang dewa itu? Ki Karyotomo sendiri dan isterinya juga tidak pernah meragukan bahwa anak perempuan mereka telah menjadi isteri dewa penjaga sungai. Demikian besar kepercayaan hati mereka sehingga setiap malam Jumat Kliwon, selapan (tiga puluh lima hari) sekali, mereka pasti mengirim sesaji dan membakar kemenyan di tepi sungai dan menghanyutkan sesaji itu! Rupanya Agama Islam belum memasuki dusun itu sehingga penduduknya masih dipengaruhi tahyul.

Pada suatu senja, ketika Ki Karyotomo dan isterinya sedang duduk di beranda depan rumah mereka, menghadapi singkong rebus dan wedang kopi sambil bercakap-cakap membicarakan Sumarni, anak perempuan yang mereka rindukan, tiba-tiba muncul dua orang laki laki. Mereka itu adalah dua orang yang usianya sudah lima puluh tahun lebih. Yang seorang bertubuh tinggi besar berkumis tebal dan seorang lagi bertubuh pendek kecil. Akan tetapi wajah mereka berdua tampak seram dan bengis. Mereka memasuki pekarangan rumah itu dan menghampiri suami isteri yang sedang duduk bercakap-cakap itu.

Tadinya Ki Karyotomo dan isterinya mengira bahwa yang datang adalah tetangga atau teman sedusun, akan tetapi setelah dua orang itu datang dekat dan suami isteri itutidak mengenalnya mereka segera bangkit berdiri untuk menyambut dua orang tamu yang tidak mereka kenal itu. Seperti yang menjadi kebiasaan bagi para penduduk dusun, mereka selalu menerima datangnya tamu dengan hati dan tangan terbuka dan penuhrasa keluargaan. Demikian pula Ki Karyotomo dan isterinya. Dengan senyum di mulut mereka menuruni anak tangga menyambut dua orangtamu mereka.

"Selamat datang. Ki Sanak!" sambut Ki Karyotomo dengan ramah. "Silakan masuk ke dalam gubuk kami yang tua daa buruk." Akan tetapi dua orang pendatang itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap sebagai tamu-tamu yang baik.

"Apakah ini rumah Sumarni?" tanya orang yang berkumis tebal, suaranya menghardik KiKaryotomo masih bersikap ramah dan lu nak. Dia mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Benar sekali, ini adalah rumah Sumarni dan kami berdua adalah ayah dan ibu Sumarni." Diam-diam dia menduga apakah dua orang tamu aneh ini merupakan utusan dewa sungai, mantu mereka?

Tiba-tiba orang yang bertubuh pendek kecil melangkah maju dau membentak dengan suara kasar, "Panggil ia keluar sekarang juga!"

Mulai terkejutlah hati Ki Karyotomo dan isterinya. Mereka memandang kepada dua orang itu dengan heran dan bingung. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dua orang itu adalah jagoan yang terkenal dari Wirosobo, orang-orang yang sudah biasa memaksakan kehendak dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan. Mereka adalah Ki Warok Petak yang tinggi besar berkumis tebal dan Ki Baka Kroda yang bertubuh pendek kecil.

"Memanggilnya keluar? Akan tetapi ia... ia tidak berada di sini..." kata Ki Karyotomo dengan alis berkerut. Mulai tidak senang hatinya melihat sikap kedua orang tamunya yang kasar itu, sikap yang tidak biasa mereka lihat di dusun itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda memang melaksanakan perintah Priyadi untuk mencari Sumarni di dusun tempat tinggal orang tuanya, yaitu di Jaten. Ki Warok Petak menjadi marah mendengar jawaban Ki Karyotomo. Tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya mencengkeram baju di dada tuan rumah itu, mengguncangnya dengan kuat sehingga tubuh Ki Karyotomo terguncang-guncang, lalu mendorong sehingga tubuh tuan rumah itu jatuh terjengkang.

"Kalau tidak mau mengaku, akan kuhancurkan kepalamu!" bentak Ki Warok Petak.

"Dan engkau perempuan dusun! Katakan di mana anakmu Sumarni itu atau kupatahkan lehermu!" bentak Ki Baka Kroda sambil mendorong Mbok Karyotomo sehingga wanita itu terpelanting dan jatuh di dekat suaminya.

Kedua orang suami isteri itu merangkak bangkit dan Ki Karyotomo masih mencoba untuk bersikap ramah dan sabar. "Ki Sanak, harap andika berdua bersabar hati dan silakan duduk. Mari kita bicara dengan baik-baik dan kami akan menceritakan di mana anak kami Sumarni berada."

"Nah. begitu lebih baik!" kata Ki Warok Petak sambil melangkah dan mendaki anak tangga menuju ke beranda, didahului oleh Karyotomo dan Isterinya, lalu bersama Ki Baka Kroda dia duduk di atas kursi menghadapi meja. Suami isteri itu tetap berdiri di depan mereka. "Hayo cepat katakan di mana Sumarni berada!"

"Sumarni ikut dengan suaminya. Ki Sanak." Dua orang jagoan itu terbelalak dan saling pandang. "Ikut suaminya? Di mana?" bentak Ki Baka Kroda tidak percaya.

"Kami sendiri tidak tahu. Mungkin dibawa ke sungai"

"Ke sungai? Mengapa ke sungai?" tanya Ki Warok Petak.

"Kami sungguh tidak tahu. Hanya karena suaminya adalah Dewa Penjaga Sungai yang bernama permadi, tentu saja ia dibawa ke sungai..." kata Ki Karyotomo lalu segera menerangkan, "sudah hampir tiga bulan ini Sumarni dibawa suaminya pergi dari sini..."

Dua orang jagoan itu bangkit berdiri, muka mereka marah dan mata mereka melotot saking marahnya karena mereka merasa dipermainkan. "Braakkk!!" Meja itu pecah berantakan dihantam tangan kiri Ki Warok Petak.

"Kau lihat ini? Kepalamu akan pecah seperti ini kalau engkau berani mempermainkan kami!"

"Bressss...!" Sebuah kursi ditendang Ki Baka Kroda dan kursi itu melayang dan menghantam tubuh suami isteri itu sehingga mereka roboh terjengkang. "Nyawa kalian berada di tangan kami dan kalian masih berani mempermainkan kami"

"Aduh ki Sanak... kami tidak main-main... suamiku tidak main-main! memang benar anak kami Sumarni dibawa pergi suaminya Dewa Penjaga Sungai!" Mbok Karyotomo berkata dengan ketakutan.

"Jahanam! Kalian berani membohongi kami?Kalian kira kami begitu bodoh untuk mempercayai omongan kalian? Hayo sekali lagi, katakan di mana Sumarni, atau kami akan menyembelih kalian!" hardik Ki Warok Petak sambil mencabut goloknya yang besar dan mengkilap tajam.

Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda me颅masuki pekarangan. Suroantani membantu Sumarni turun dari atas punggung kuda dan gadis itu segera menjerit ketika melihat ayah ibunya rebah di tanah diancam oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang ia kenal sebagai anak buah Priyadi, "Bapak...! Simbok...!" Sumarni lari menghampiri ayah ibunya dan berlutut, merangkul ibunya sambil menangis.

Melihat kemunculan Sumarni Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tertawa senang, "Ha-ha-ha, ternyata engkau muncul juga, Sumarni! Hampir saja ayah ibumu kami bunuh karena kebandelan mereka!"

"Sumarni, hayo engkau cepat ikut bersama kami. Denmas Priyadi sudah menunggu-nunggumu!" kata Ki Baka Kroda.

"Tentu engkau akan diberi hadiah, ha-ha-ha" kata Ki Warok Petak.

"Tidak! Aku tidak sudi ikut kalian!" Sumarni berteriak lantang dan berani.

"Begitukah? Ha ha ha, mau atau tidak mau engkau harus ikut dengan kami! Aku akan senang memondongmu dan membawamu pulang!" kata pula Ki Warok Petak.

Pada saat itu, Suroantani sudah memasuki beranda, "Nimas Sumarni, ajaklah ayah ibumu masuk, biar aku yang menghadapi dua orang berandal ini!" katanya dengan sikap tenang.

Ki Warok Petak dan Ki Buka Kroda terbelalak memandang kepada Suroantani. Tentu saja mereka berdua marah bukan main melihat ada orang berani melindungi Sumarni dan menghadapi mereka dengan sikap yang demikian menantang.

Sumarni membangunkan ayah ibunya dan mengajak mereka masuk, setelah lebih dulu menoleh kepada Suroantani dan berkata, "Paman, mereka ini adalah Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang anak buah Priyadi. Harap paman berhati-hati menghadapi mereka ini yang kejam dan jahat." Setelah berkata demikian, ia menggandeng ayah ibunya memasuki rumah, akan tetapi mereka mengintai dari dalam dengan hati tegang walaupun Sumarni sudah tahu bahwa penolongnya adalah seorang senopati yang digdaya dan gagah perkasa.

"Babo-babo. keparat! Siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?" bentak Ki Warok Petak.

"Kakang Warok Petak, agaknya orang ini sudah bosan hidup!" kata Ki Baka Kroda.

"Hemm, kiranya andika berdua inilah yang bernama Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang benggolan dari Wirosobo itu? Bagus! Hari ini andika berdua bertemu denganku, pasti tidak akan kuberi ampun, apa lagi karena kalian telah menjadi antek pemberontak. Ketahuilah, aku adalah Suroantani, senopati Mataram yang siap untuk menumpas gerombolan pemberontak macam kalian!"

Terkejut Juga dua orang jagoan itu mendengar bahwa mereka berhadapan dengan Senopati Suroantani yang nama besarnya sejajar dengan Senopati Mertoloyo dan lain-lain senopati di Mataram yang terkenal digdaya. Akan tetapi karena mereka sudah berhadapan dengan Suroantani, mereka memberanikan diri dan menjadi nekat. Apa lagi mereka berdua, sedangkan senopati itu hanya seorang diri.

"Bagus! Kiranya Senopati Suroantani yang berhadapan dengan kami. Sekaranglah saatnya engkau mampus di tangan kami!" kata Ki Warok Petak dan langsung saja dia menggunakan golok yang sudah berada di tangan kanannya untuk menyerang dengan bacokan cepat dan kuat ke arah leher sang senopati.

Suroantani maklum bahwa kedua orang lawannya ini adalah orang-orang yang digdaya, tidak dapat disamakan dengan mendiang Wiro gembong, maka diapun tidak berani sembarangan menerima serangan golok itu melainkan menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dengan merendahkan tubuh dan bergeser ke kiri. Golok itu meluncur lewat di atas kepalanya, lalu dengan cepat tangan kanannya menampar ke atas untuk menyerang siku kanan lawan yang memegang golok. Akan tetapi Ki Warok Petak sudah menarik lengannya sehingga sambaran itu luput.

Pada saat itu, terdengar suara bersiutan dan tampak tiga pucuk sinar berkilat menyambar ke arah tubuh Suroantani. Senopati yang sudah banyak pengalaman bertanding ini dapat menduga bahwa dia diserang dengan senjata rahasia. Memang benar dugaannya. Tiga sinar itu adalah tiga batang cundrik terbang yang meluncur ke arah leher, dada dan perutnya, dilepas oleh Ki Baka Kroda. Senopati Suroantani cepat melempar tubuh ke samping, terus bergulingan di atas lantai sehingga tiga batang cundrik itu luput. Ketika dia melompat bangun, Ki Baka Kroda yang merasa penasaran melihat serangan cundriknya tidak berhasil, telah menerkam maju sambil menusukkan kerisnya ke arah lambung Suroantani.

"Tranggg...!!" Tampak bunga api berpijar ketika dua batang keris itu beradu. Ternyata Sambil bergulingan tadi, Suroantani telah mencabut kerisnya karena dia maklum bahwa menghadapi dua orang lawan tangguh itu dia harus menggunakan kerisnya. Maka ketika Ki Baka Kroda menyerangnya dengan tusukan keris ke arah lambungnya, dia menangkis dengan kerisnya. Tangkisan itu membuat lengan tangan kanan Ki Baka Kroda tergetar hebat dan jagoan ini melompat ke belakang dengan terkejut. Tahulah dia bahwa senopati Mataram itu memang tangguh sekali, memiliki tenaga sakti yang bukan main besarnya.

Terjadilah pertandingan yang amat seru di pendopo yang cukup luas itu. Suara keris Ki Baka Kroda dan golok Ki Warok Petak bertemu dengan keris Suroantani berdentingan, bunga api berpijar-pijar menerangi cuaca yang mulai gelap. Tiga sosok tubuh yang bertanding itu berkelebatan sehingga orang tidak dapat melihat dengan jelas jalannya pertandingan. Di pekarangan rumah Ki Karyotomo penuh dengan penduduk dusun yang berdatangan mendengar soal ribut-ribut, apalagi ketika ada yang melihat Sumarni. Segera tersiar berita bahwa Sumarni yang dipercaya telah menjadi isteri dewa penjaga sungai telan pulang, maka berbondong-bondong orang berdatangan untuk melihat Sumarni. Akan tetapi mereka tertahan di pekarangan dan tidak berani mendekat ketika melihat ada perkelahian yang amat dahsyat terjadi di pendopo rumah itu.

Lurah dusun itupun hadir di pekarangan itu. Ki lurah yang tidak tahu mengapa dan siapa yang berkelahi, segera menyuruh orang-orang untuk menyalakan obor agar tempat itu menjadi terang. Akan tetapi lurah inipun seorang yang mengerti bahwa yang bertanding adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, maka dia tidak berani mendekat dan hanya menonton dari pekarangan.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya merasa yakin bahwa mereka berdua pasti akan mampu mengalahkan lawannya yang hanya seorang, kini mulai terkejut dan khawatir. Lawannya itu ternyata tangguh bukan main. Mereka sama sekali tidak dapat menekan lawan, bahkan mereka berdua yang terdesak oleh ancaman keris di tangan Senopati Suroantani yang bergerak cepat bagaikan kilat yang menyambar nyambar.

Apalagi melihat berkumpulnya banyak sekali orang di pekarangan itu. Mereka berdua merasa berada di pihak penyerang, pihak yang bersalah sehingga mungkin saja para penduduk dusun akan mengeroyok mereka. Dugaan ini membuat mereka mulai merasa ketakutan dan permainan silat mereka menjadi kacau. Suroantani mempergunakan kesempatan ini untuk mendesak mereka dengan permainan kerisnya. Ketika golok Ki Warok Petak menyambar dan raksasa itu mengerahkan seluruh tenaganya dalam bacokan, Suroantani mengelak dan Ki Warok Petak terbawa oleh tenaga bacokannya sendiri sehingga tubuhnya terhuyung ke depan. Kesempatan itu dipergunakan Suroantani untuk mengirim sebuah tendangan yang mengenai pinggang Ki Warok Petak sehingga raksasa itu terhuyung-huyung ke depan.

"Mampuslah!" Ki Baka Kroda membentak dan kerisnya meluncur ke arah perut lawan dari arah kanan. Ki Suroantani mundur selangkah, ketika keris meluncur lewat, dia cepat menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang keris dengan tangan kirinya, memutar lengan itu sehingga tubuh Ki Baka Kroda terputar. Pada saat itu, dada Ki Baka Kroda yang sebelah kanan terbuka dan Suroantani menusukkan kerisnya.

"Cappp...!" Cepat dia mencabut kembali keris yang sudah menancap sampai ke gagangnya itu dan mendorong tubuh Ki Baka Kroda dengan tangan kiri. Ki Baka Kroda mengeluh, keris di tangan kanannya terlepas, kedua tangan mendekap luka di dada kanan dan diapun terkulai roboh dau tak mampu bergerak lagi, Keris milik Suroantani adalah sebatang ketis pusaka yang ampuh, maka sekali keris itu memasuki dada sampai ke gagangnya, tewaslah ki Baka Kroda seketika.

Melihat kawannya roboh. Ki Warok Petak menjadi marah, dan juga gentar. Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, tidak mampu melarikan diri, dia menjadi nekat. Sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dia menyerbu lagi dan menyerang dengan golok nya secara membabi buta. Akan tetapi dengan tenang dan penuh kewaspadaan, Suroantani yang melihat golok itu menyambar dan membabat ke arah lehernya, segera dia merendahkan tubuhnya dan golok itu lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu, kerisnya kembali menusuk ke depan, tepat memasuki ulu hatiKi Warok Petak. Dia mencabut lagi kerisnya dan menendang perut lawan yang sudah terluka. Ki Warok Petak terlempar dan terbanting ke belakang dan tewas seketika karena lukanya bahkan lebih parah dibandingkan kawannya. Sumarni dan ayah ibunya yang mengintai dari dalam, merasa girang sekali melihat dua orang jahat itu roboh dan tewas. Sumarni lalu melangkah keluar, diikuti ayah ibunya dan dengan terharu saking gembira dan terima kasihnya, ia lari menghampiri Suroantani yang masih berdiri seperti sang Gatutkaca yang baru saja mengalahkan musuh-musuhnya.

"Paman... terima kasih... alangkah gagahnya paman...!" Ia memegang tangan senopati itu dan membawa tangan itu ke depan hidung dan mulutnya untuk dicium.

Suroantani terbelalak dan jantungnya berdebar kencang. Pada saat itu yakinlah dia bahwa dia telah jatuh cinta kepada wanita yang bernasib malang ini! Karyotomo dan isterinya tergopoh-gopoh menghampiri Suroantani. Mereka tadi sudah mendengar dari Sumarni siapa adanya pria yang gagah perkasa itu. Pria itu telah menolong anak mereka dari tangan gerombolan Wiro Gembong, dan sekarang malah menyelamatkan mereka semua dari tangan dua orang jahat itu.

"Kanjeng Senopati, kami sekeluarga menghaturkan terima kasih atas pertolongan paduka." kata Karyotomo sambil menyembah.

"Sudahlah, paman. Jangan banyak sungkan. Semua ini sudah menjadi kewajibanku. Yang penting sekarang membicarakan bahaya yang mengancam keluarga paman."

Sementara itu, melihat perkelahian sudah usai. Ki Lurah datang bersama para pemuda dusun yang membawa obor sehingga pendopo itu menjadi terang benderang. "Ki Lurah, silakan masuk." Karyotomo menyalami lurahnya.

"Ah, inikah Ki Lurah Jaten?" Suroantani menghadapi lurah itu, lalu memperkenalkan diri, "Ki Lurah, ketahuilah bahwa aku adalah Senopati Mataram bernama Suroantani"

"Ah, Kanjeng Senopati....!" Ki Lurah cepat memberi salam.

"Cukup, Ki Lurah. Sekarang aku minta kepadamu agar suka mengurus dan mengubur jenasah kedua orang ini secara baik-baik biarpun mereka ini adalah penjahat-penjahat dan antek pemberontak Wirosobo. Aku harus menyingkirkan keluarga Nimas Sumarni dari dusun ini karena aku khawatir kalau-kalau para kawan kedua orang itu hendak mencari ke sini untuk menangkap Nimas Sumarni. Tanpa pengawalan yang kuat, keselamatan mereka bertiga terancam bahaya maut. Karena itu, aku harus mengungsikan mereka ke tempat yang aman dan terjaga."

"Kalau demikian yang paduka kehendaki, kami akan melaksanakan dengan baik." "Dan tolong sediakan seekor kuda yang baik untuk memboyong orang tua Nimas Sumarni dari dusun ini. Besok pagi-pagi kami berangkat."

"Baik, sendiko dawuh, kanjeng!" Ki Lurah lalu memerintahkan para pemuda untuk menyingkirkan dua mayat itu dari pendopo rumah Karyotomo. Kemudian semua orang bubaran untuk memberi kebebasan kepada keluarga itu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk membuat persiapan pergi besok dan untuk beristirahat.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ki Lurah sudah mengirimkan seekor kuda yang cukup besar dan kuat. Karena Ki Karyotomo dan isterinya tidak pernah menunggang kuda, maka disuruh berboncengan di atas punggung kuda pembelian Ki Lurah, sedangkan Suroantani dan Sumarni berboncengan di atas punggung kuda milik senopati itu. Banyak penduduk dusun mengantar keberangkatan mereka sampai ke pintu dusun...