Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 14

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 14

“Aku akan minta secara baik baik agar Bapa Bhagawan Sindusakti mengundurkan diri sebagai ketua Jatikusumo dan menyerahkan kedudukan ketua kepadaku. Kalau dia menolak, apa boleh buat, aku akan mempergunakan kekerasan. Untuk gerakan ini, aku akan mendapat bantuan Paman Bhagawan Jaladara dan para pembantunya dan sekarang, aku mengharapkan paman berdua juga akan suka membantuku. Kalau aku sudah menjadi ketua Jatikusumo, kita bersama memperluas kekuasaan dengan menundukkan perkumpulan-perkumpulan lain sehingga Jatikusumo menjadi sebuah perkumpulan besar yang banyak cabangnya. Dengan demikian kita dapat mengumpulkan banyak anggota dan kemudian sekali kita kerahkan pasukan Jatikusumo untuk membantu Kadipaten Wirosobo menggempur Mataram. Kalau gerakkan Wirosobo itu berhasil dan Mataram dapat ditalukkan, kita semua tentu akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan mulia sebagai balas jasa."

Dua orang kakek itu mengangguk-angguk. Mereka belum pernah membayangkan kemungkinan itu. Menjadi seorang pembesar yang berkuasa dan mulia! Gambaran ini amat menarik hati mereka.

"Paman berdua tentu ingat akan kemunculan seorang pemuda bernama Sutejo. Sesungguhnya dia masih terhitung saudara seperguruan atau sealiran dengan aku, akan tetapi kemunculannya itu akan merupakan penghalang bagi kita. Paman berdua sudah merasakan betapa sakti mandraguna pemuda itu. Agaknya, yang akan mampu menandinginya hanyalah aku seorang. Kalau paman berdua membantuku, dengan mudah kita akan dapat membunuh Sutejo. Dia adalah seorang yang setia dan mendukung Mataram. Maka akan merupakan penghalang besar dan harus dilenyapkan."

"Kami dapat mengerti dan menghargai niatmu untuk bekerjasama, anak mas Priyadi. Baiklah, kami siap untuk membantumu." kata Ki Klabangkolo.

"Terima kasih, paman Klabangkoko. Kalau begitu, marilah kita pergi menghadap Paman Bhagawan Jaladara di Kadipaten Wirosobo agar paman berdua dapat berkenalan dengan dia. Setelah itu, bersama-sama kita akan pergi ke perguruan Jatikusumo dan aku akan merampas kedudukan sebagai ketua."

Dua orang kakek itu menyetujuinya dan berangkatlah mereka berempat menuju ke Kadipaten Wirosobo, Tentu saja kedatangan mereka disambut gembira oleh Bhagawan Jaladara. Dia merasa senang dan beruntung sekali mendapatkan tenaga bantuan yang demikian tangguh seperti empat orang itu. Akan tetapi, dia belum mau menyerahkan Pecut Bajrakirana sebelum Priyadi membuktikan kesanggupannya untuk merampas kedudukan ketua perguruan Jatikusumo. Dia lalu mengajak Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda, dan juga Tumenggung Janurmendo untuk bersama empat orang itu pergi menuju ke perguruan Jatikusumo di tepi daerah Pacitan, di tepi Laut Kidul.

********************

Bhagawan Sindusakti duduk bersila diatas dipan yang berada di ruangan depan rumahnya. Kakek yang usianya sudah enam puluh tujuh tahun dan rambut dan jenggotnya sudah putih semua itu tampak termenung dan murung sehingga dia tampak lebih tua dari pada biasanya. Agaknya ada sesuatu yang diresahkan ketua perguruan Jatikusumo itu.

Seorang pemuda tanggung yang menjadi murid Jatikusumo, juga yang bertugas sebagai pembantu ramah tangga, datang membawa baki terisi poci dan cangkir minuman air teh. Dengan sikap hormat dia menaruh poci dan cangkir itu ke atas meja kecil di dekat dipan.

"Bapa Guru, silakan minum teh." katanya dengan hormat.

Bhagawan Sindusakti melambaikan tangan. "Pergilah mencari kakak-kakakmu Maheso Seto, Rahmini, Priyadi dan Cangak Awu dan beritahukan kepada mereka bahwa aku memanggil mereka untuk menghadap sekarang juga."

"Baik, Bapa Garu." kata pemuda remaja itu yang segera keluar dari ruangan itu untuk melaksanakan perintah gurunya.

Tak lama kemudian Maheso Seto, Rahmini, dan Cangak Awu memasuki ruangan itu dan mereka lalu berlutut di depan guru mereka, menyembah dan duduk bersila di atas lantai. "Bapa Guru memanggil kami?" tanya Maheso Seto dengan hormat.

"Perintah apakah yang hendak Bapa Guru berikan kepada kami? Kami siap untuk melaksanakan perintah Bapa Guru." kata Cangak Awu yang suaranya lantang.

Bhagawan Sindusakti memandang kepada tiga orang muda itu, lalu bertanya dengan suaranya yang lembut. "Mana Priyadi? Kenapa aku tidak melihat dia datang menghadap bersama kalianbertiga?"

"Bapa Guru, Kakang Priyadi sudah ada sepekan ini pergi meninggalkan perkampungan kita." kata Cangak Awu.

"Hemm, pergi? Ke mana dia pergi? Kenapa dia tidak pamit kepadaku?" Bhagawan Sindusakti bertanya heran. Priyadi merupakan murid yang disayangnya, dan biasanya pemuda yang lembut wataknya itu amat berbakti, ke manapun dia pergi tentu pamit dan minta ijin dulu darinya. "Bapa Guru, Adi Priyadi pergi tanpa pamit. Kami semua juga tidak tahu ke mana dia pergi dan mengapa pula sampai sepekan lamanya dia belum juga pulang. Akan tetapi, ada urusan apakah yang hendak Bapa perintahkan kepada kami? Kami bertigapun kiranya sudah cukup untuk dapat melaksanakan perintah bapa." kata Maheso Seto.

Sang Bhagawan menghela napas panjang. "Aku hanya ingin mengajak kalian untuk bercakap-cakap. Hatiku selalu merasa tidak enak dan resah setelah peristiwa penyerbuan Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo tempo hari. Aku tidak memikirkan mereka berdua yang telah dipukul mundur oleh Sutejo, akan tetapi justeru kemunculan Sutejo lah yang membuat hatiku resah. Apa yang diceritakan tentang Adi Bhagawan Jaladara benar-benar membuatku merasa bingung dan khawatir. Cerita Sutejo dan Adi Jaladara saling bertentangan. Lalu siapa di antara mereka itu yang bicara benar?"

"Memang sukar mengambil keputusan mana yang bicara benar, Bapa Guru. Mereka berdua saling menuduh sebagai pembunuh Eyang Resi Limut Manik. Akan tetapi, yang jelas mereka berdua itu berpihak kepada dua kekuasaan yang saling bermusuhan. Adi Sutejo berpihak kepada Mataram dan sebaliknya Paman Bhagawan Jaladara berpihak kepada Kadipaten Wirosobo. Sikap Adi Sutejo yang mati-matian membela Jatikusumo ketika kita diserbu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo membuat hati kami para murid condong mempercayai Adi Sutejo. Akan tetapi tentu saja kami menyerahkan keputusannya kepada Bapa Guru. Bagaimana kalau menurut pendapat Bapa Guru?"

Bhagawan Sindusakti menghela napas panjang. "Sejak semula aku memang sudah curiga kepada Adi Bhagawan Jaladara. Aku sukar untuk mempercayai bahwa Nini Puteri Wandansari tega mengeroyok dan membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik. Pula, aku ingat benar bahwa biarpun Bapa Garu Limut Manik tidak turun tangan sendiri membela Mataram, namun dalam hatinya beliau setia terhadap Mataram. Maka, rasanya tidak mungkin kalau Puteri Wandansari dan Sutejo yang jelas membela Mataram itu membunuhnya. Sebaliknya, Adi Bhagawan Jaladara adalah seorang yang menghambakan dirinya kepada Kadipaten Wirosobo maka lebih masuk akal kalau dia yang melakukan pengeroyokan dan pembunuhan terhadap Bapa Resi Limut Manik."

"Kalau saya lebih condong untuk membenarkan Adi Sutejo, Bapa Guru. Kalaupun dia tidak mau menyerahkan kitab Bajrakirana kepada Bapa, hal itu tentu karena dia menaati pesan terakhir dari Eyang Resi limut Manik, Sutejo sudah membuktikan bahwa dia membela kita, membela Jatikusumo. Kalau dia mempunyai hati yang memusuhi Jatikusumo, tentu dia tidak akan mempertaruhkan nyawa untuk membela Jatikusumo menghadapi Resi Wisangkolo yang demikian sakti mandraguna dan berbahaya." kata Cangak Awu.

"Saya juga berpendapat seperti Adi Cangak Awu, Bapa Guru. Rasanya sama sekali, tidak dapat dipercaya kalau Diajeng Puteri Wandansari dan Sutejo mengeroyok dan membunuh Eyang Resi Limut Manik." kata Rahmini.

Bhagawan Sindusakti menghela napas panjang. "Pendapat kalian memang sejalan dengan apa yang kupikirkan. Akan tetapi kita tidak mempunyai bukti-bukti yang menunjukkan siapa sebetulnya yang telah membunuh Adi Bhagawan Sidik Paningal dan Bapa Resi Limut Manik. Sebaiknya kita tunggu saja untuk membuktikan apakah benar Adi bhagawan Jaladara akan menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana kepadaku,"

Pada saat itu, seorang murid muda tergopoh-gopoh memasuki ruangan itu dan berkata, "Bapa Guru, ampunkan kalau saya mengganggu. Akan tetapi saya hendak melaporkan peristiwa yang amat aneh dan membingungkan."

"Cepat katakan, apa yang hendak kaulaporkan?" kata Bhagawan Sindusakti dengan lembut walaupun alisnya berkerut mendengar ucapan murid muda itu.

"Kakang Priyadi datang bersama serombongan orang, di antaranya terdapat Paman Bhagawan Jaladara dan dua orang kakek yang tempo hari datang menyerbu ke sini, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo!"

Bhagawan Sindusakti dan para muridnya terbelalak, berloncatan bangkit dan Bhagawan Sindusakti berkata kepada murid-muridnya. "Kalian tenanglah, akan tetapi harus waspada dan mari kita bersama keluar untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi."

Dengan sikap tenang Bhagawan Sindusakti melangkah keluar dari ruangan itu, diikuti oleh Maheso Seto, Rahmini, dan Cangak Awu. Karena khawatir akan terjadi hal-hal yang buruk, mereka tidak lupa mempersiapkan senjata masing-masing. Mereka melihat Priyadi sudah berdiri di pekarangan yang luas itu, berdiri dengan tegak dan dibelakangnya berdiri Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda. Tumenggung Janurmendo, Ki Klabangkolo, Sekarsih dan Resi Wisangkolo! Melihat adik seperguruannya, Bhagawan Sindusakti lalu menegurnya.

"Kiranya Adi Bhagawan Jaladara yang datang. Keperluan apakah gerangan yang andika bawa datang ke sini?" Sambil bertanya, ketua Jatikusumo itu memandang ke arah Ki Klabangkolo, dan Resi Wisangkolo, akan tetapi kedua kakek itu hanya tersenyum-senyum saja, berdiri di belakang Priyadi, tidak bersikap sebagai pimpinan.

Bhagawan Jaladara tersenyum. "Kakang Bhagawan Sindusakti. Ketahuilah bahwa kami semua ini datang hanya untuk mengantarkan anak mas Priyadi yang, hendak bicara denganmu."

Mendengar ucapan adik seperguruannya ini tentu saja Bhagawan Sindusakti menjadi heran sekali dan otomatis pandang matanya kini menyambar ke arah muridnya. Akan tetapi Priyadi menyambut tatapan mata gurunya itu dengan berani, dan sinar matanyapun mencorong penuh tantangan, sedikitpun tidak ada sikap menghormat kepada gurunya itu.

"Priyadi! Apa maksudmu? Apa yang hendak kau bicarakan dengan aku dan kalau hendak bicara, kenapa kita tidak bicara di dalam saja?" Bhagawan Sindusakti masih mengira bahwa mungkin muridnya itu menjadi tawanan rombongan orang itu dan kini dipaksa untuk menghadapnya.

Akan tetapi sikap Priyadi bukan seperti seorang tawanan, bahkan dia tersenyum sinis. Pemuda itu bahkan tidak menjawab pertanyaan gurunya, melainkan menoleh kepada Bhagawan Jaladara dan mengulurkan tangan kanannya. "Paman, kini tiba saatnya paman menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadaku!"

Bhagawan Jaladara juga masih tersenyum dan kini tanpa ragu-ragu dia melolos sebatang pecut yang tadinya dilibatkan melingkari pinggangnya dan menyerahkan pecut itu kepada Priyadi. Itulah Pecut Sakti Bajrakirana! Tentu saja Bhagawan Sindusakti menjadi semakin heran melihat betapa Bhagawan Jaladara menyerahkan pecut pusaka itu kepada Priyadi. Kini Priyadi memegang pecut pusaka itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Dia memandang kepada Bhagawan Sindusakti, para muridnya dan semua anggota Jatikusumo yang telah berdatangan dan berkumpul di situ. Kurang lebih lima puluh orang murid Jatikusumo berdiri di belakang Bhagawan Sindusakti.

"Bhagawan Sindusakti dan kalian semua murid-murid Jatikusumo!" terdengar Priyadi yang biasanya bicara lembut itu kini berseru lantang. "Lihatlah kalian apa yang kupegang ini!" Akulah kini pemegang dan pemilik Pecut Sakti Bajrakirana dan aku yang berkuasa di Jatikusumo. Sebagai murid-murid Jatikusumo yang taat akan peraturan, aku perintahkan kalian semua berlutut menghormat Pecut Sakti Bajrakirana!"

"Priyadi!" Suara Bhagawan Sindusakti yang biasanya lembut itu kini terdengar keras membentak penuh kemarahan dan juga keheranan. "Apakah engkau sudah menjadi gila? Apa yang kau lakukan ini dan apa maksudmu?"

Karena melihat betapa Bhagawan Sindusakti tidak menjatuhkan diri berlutut menaati perintah yang keluar dari mulut Priyadi, maka semua murid Jatikusumo juga tidak ada yang berlutut.

"Maksudku. Bhagawan Sindusakti, bahwa mulai saat ini, akulah sebagai pemegang Pecut Sakti Bajrakirana yang berhak menjadi ketua Jatikusumo. Engkau harus mengundurkan diri dan kalau engkau dan semua murid Jatikusumo suka membantu aku, maka kalian semua akan diampuni dan selanjutnya menaati perintahku. Siapa yang membangkang dan melawan akan mati!"

Kemarahan Bhagawan Sindusakti memuncak. "Engkau murid murtad, murid durhaka, jahanam keparat yang terkutuk!" bentaknya dan dia sudah menerjang kepada muridnya itu dengan maksud untuk marampas Pecut Bajrakirana yang berada di tangan Priyadi. Akan tetapi Priyadi menyambut terjangan gurunya itu dengan tendangan kaki kirinya yang mencuat dengan cepat dan kuat sekali menyambar ke arah dada sang bhagawan. Bhagawan Sindusakti terkejut melihat perlawanan muridnya dan cepat tangan kirinya membuat gerakan memutar untuk menangkis tendangan itu.

"Plakk!" Tendangan itu dapat tertangkis akan tetapi Bhagawan Sindusakti kaget ketika merasa betapa lengannya tergetar hebat, tanda bahwa tenaga yang terkandung dalam tendangan muridnya yang ketiga itu amat kuatnya. Dia kini yakin bahwa muridnya itu benar-benar hendak melawannya, maka diapun lalu mengerahkan tenaganya dan menyerang dengan sungguh-sungguh untuk merobohkan murid yang murtad itu. Dia mengerahkan Aji Harina Legawa sehingga tubuhnya berkelebatan seperti bayang-bayang cepatnya dan gerakan kedua tangannya mengandung Aji Gelap Musti yang dahsyat dan mematikan!

Maheso Seto. Rahmini dan Cangak Awu hanya menonton melihat guru mereka hendak menghajar Priyadi yang mereka anggap kurang ajar dan murtad itu. Mereka merasa pasti bahwa guru mereka akan segera dapat merobohkan Priyadi dan merampas Pecut Sakti Bajrakirana, dan mereka hanya berjaga-jaga kalau-kalau ada peserta rombongan itu yang akan membantu Priyadi. Akan tetapi para peserta rombongan yang datang itu tidak ada yang bergerak membantu Priyadi, bahkan mereka menonton sambil tersenyum menyeringai.

Para murid Jatikusumo ini menjadi amat heran dan terkejut ketika melihat betapa Priyadi melawan guru mereka dengan gerakan yang sama, akan tetapi betapa gerakan Priyadi itu amat cepatnya melebihi kecepatan gerakan guru mereka. Juga mereka melihat betapa setiap kali dua lengan mereka yang bertanding itu saling bertemu, mereka melihat Bhagawan Sindusakti terdorong mundur dan terhuyung, tanda yang jelas menyatakan bahwa tenaga sakti Priyadi jauh lebih kuat dari tenaga gurunya!

Yang paling kaget dan merasa penasaran adalah Bhagawan Sindusakti sendiri. Semua ilmu yang dikuasai Priyadi adalah karena gemblengannya. Bagaimana mungkin kini dia kalah cepat dan kalah kuat dibandingkan murid ke tiga itu? Dan dari serangan yang dia lakukan terhadap Priyadi, yang semua dapat dipunahkan pemuda itu dengan elakan atau tangkisan, tahulah dia bahwa muridnya itu. entah secara bagaimana, telah dapat memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

"Tar-tar-tar!" Tiga kali pecut pusaka itu menyambar ke arah kepala Bhagawan Sindusakti dan ketua Jatikusumo ini cepat mengelak secara beruntun, membebaskan diri dari ancaman serangan pecut yang amat berbahaya itu. Kini tahulah dia bahwa Priyadi bersungguh-sungguh dalam membalas serangannya. Jelas bahwa lecutan dengan pecut itu merupakan serangan maut dan yang dapat mematikan. Karena itu, bangkit amarahnya dan Bhagawan Sindusakti lalu menyerang dengan pukulan ampuhnya, yaitu Aji Gelap Musti!

"Murid durhaka, engkau patut dienyahkan dari muka bumi!" bentaknya dan diapun mendorongkan kedua tangannya ke arah dada Priyadi dengan Aji Gelap Musti, dengan pengerahan tenaga sekuatnya. Akan tetapi, Priyadi menyambut pukulan kedua tangan gurunya itu dengan tangan kirinya saja, sambil mengerahkan tenaga Aji Margopati.

"Wuuuutttt.... blaarrrr... Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Bhagawan Sindusakti terjengkang. Sebelum kepala kakek itu terbanting dan membentur tanah, tiba-tiba Priyadi menggerakkan Pecut Bajrakirana.

"Tarrrr..... tarrrr......!" Dua kali pecut itu menyambar dan ujungnya melecut ke arah kepala Bhagawan Sindusakti yang sedang terjengkang, sekali mengenai ubun-ubun kepalanya dan yang kedua kalinya mengenai tengkuknya. Tubuh sang bhagawan itu terbanting roboh dan dia tidak da pat bergerak lagi karena dua kali lecutan pecut sakti itu telah merenggut nyawanya! Dapat dibayangkan betapa kaget dan marah nya tiga orang murid kepala Jatikusumo. Sekali pandang saja mereka dapat menduga bahwa guru mereka telah tewas oleh Priyadi.

"Murid durhaka!!" teriak Mahesa Seto dan dia sudah mencabut pedangnyan dan menyerang Priyadi dengan ganas, penuh dendam dan kemarahan.

"Jahanam busuk!!" Rahmini juga menjerit dan iapun sudah melolos cambuknya dan terdengar bunyi meledak-ledak ketika cambuknya menyerang Priyadi dengan dahsyat pula.

"Manusia iblis!" Cangak Awu juga membentakdan orang tinggi besar ini sudah maju sambil menggerakkan tongkatnya menyerang. Melihat guru mereka tewas dan tiga orang murid kepala itu sudah mulai maju menyerang, kurang lebih lima puluh orang murid atau anggota perguruan Jatikusumo itu serentak maju dengan bermacam senjata di tangan, menyerang rombongan orang yang datang bersama Priyadi itu.

Resi Wisangkolo yang melihat Priyadi memutar pecut sakti itu untuk menangkis serangan tiga orang murid kepala Jatikusumo, lalu menggerakkan tongkat hitamnya membantu Priyadi. Dia segera berhadapan dengan Maheso Seto yang bersenjata pedang dan mereka sudah bertanding dengan seru. Priyadi dikeroyok dua oleh Rahmini dan Cagak Awu. Akan tetapi Cangak Awu segera di sambut oleh Ki Klabangkolo yang juga membantu Priyadi.

Puluhan orang anak buah Jatikusumo itu diamuk oleh Bhagawan Jaladara yang dibantu Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda, Tumenggung Janurwendo dan Sekarsih. Lima orang ini adalah orang orang yang memiliki kesaktian, maka puluhan orang anak buah Jatikusumo menjadi kocar kacir diamuk mereka.

Pertandingan antara Maheso Seto yang mela­wan Resi Wisangkolo juga berat sebelah Maheso Seto maklum bahwa dia tidak akan mampu menandingi Resi Wisangkolo akan tetapi dia sudah menjadi nekat oleh dendam dan kemarahan melihat gurunya tewas Maka dia melawan sambil mengeluarkan seluruh kemampuannya dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, bagaimanapun juga, tingkatnya menang kalah jauh dibandingkan tingkat yang dimiliki Resi Wisangkolo, maka setelah nekat melawan selama kurang lebih lima puluh jurus, tongkat ular hitam di tangan Resi Wisangkolo menyambar dahsyat. Maheso Seto mengerahkan tenaga dan menangkis dengan pedangnya.

"Wuuuttt... trakkkk...!" Pedang itu patah menjadi tiga potong dan selagi tubuh Maheso Seto terhuyung, tongkat ular hitam sudah berubah menjadi sinar hitam yang menyambar ke arah kepala."Wuuuuttt.... praakkk....!!" Tubuh Maheso Seto terguling dan dia tawas seketika dengan kepala pecah.

Ki Klabangkolo juga merupakan lawan yang terlampau kuat bagi Cangak Awu. Ketika Cangak Awu melihat robohnya Maheso Seto, dia maklum bahwa tidak ada harapan bagi pihak perguruan Jatikusumo yang menang. Dia menghantamkan tongkatnya ke arah lawan. Ki Klabangkolo terkekeh, menyambut hantaman tongkat itu dengan lengan kanannya.

"Dukkkk......!" Tongkat di tangan Cangak Awu terpental dan sebuah tendangan kaki Ki Klabangkolo mengenal perut Cangak Awu yang membuat tubuh pemuda tinggi besar itu terpental jauh. Untung dia masih sempat mengerahkan aji kekebalan Kawoco sehingga di dalam perutnya tidak sampai menderita luka.

"Bukk....!" Dia terbanting keras dan melihat para murid atau anggota Jatikusumo banyak yang sudah bergelimpangan tewas, Cangak Awu menjadi putus asa dan diapun segera melarikan diri karena maklum bahwa melawan terus sama dengan bunuh diri.

Rahmini masih melawan Priyadi dengan nekat. Kedua orang saudara seperguruan ini sama-sama mempergunakan cambuk, akan tetapi kalau cambuk, di tangan Rahmini adalah senjata biasa, sebaliknya, di tangan priyadi terpegang pecut sakti Bajrakirana!

Kalau Priyadi menghendaki, kiranya wanita cantik itu tidak akan mampu bertahan terlalu lama. Akan tetapi agaknya Priyadi tidak ingin segera merobohkan Rahmini. Semenjak batinnya menjadi budak nafsu berahi, Priyadi memandang mbakayu seperguruannya ini dengan pandang mata lain! Kalau tadinya ia memandang wanita ini dengan rasa hormat dan sayang sebagai saudara, kini dia melihat kecantikan dan kemolekan yang dimiliki Rahmini, yang menggelitik nafsunya! Karena inilah maka dia tidak ingin membunuh Rahmini, melainkan ingin mempermainkan kakak seperguruan yang cantik ini.

"Mbakayu Rahmini, engkau menyerah sajalah kepadaku dan hidup senang bersamaku!" berulang kali Priyadi membujuk dengan kata-kata manis merayu. Akan tetapi dengan air mata bercucuran di sepanjang kedua pipinya katena melihat suaminya telah roboh dan tewas. Rahmini tidak menjawab, melainkan menyerang lebih ganas lagi dan mati-matian, tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri. Yang ada dalam hatinya hanya satu keinginan, yakni membunuh adik seperguruan yang murtad dan jahat sekali itu.

"Tar-tarr...." Ujung pecut Bajrakirana melecut dengan kecepatan kilat memagut tubuh Rahmini, "Brett-brettt...." Pakaian Rahmini di bagian dada dan pinggang terobek oleh lecutan Pecut Bajrakirana sehingga tampaklah kulit di balik robekan kain penutup tubuh itu. Rahmini terkejut sekali, akan tetapi ia tidak memperdulikan bajunya yang cabik-cabik dan menyerang terus semakin ganas. Namun semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis dengan mudahnya oleh Priyadi yang kini makin sering menyerang dengan lecutan ujung pecutnya.

"Tar-tar-tat-tarrr....!" Kembali ujung pecut itu merobek pakaian Rahmini sehingga kini dadanya tidak terlindung lagi! Rahmini menggunakan tangan kirinya untuk menutupkan robekan kain pada dadanya dan terus melancarkan serangan cambuknya dengan tangan kanan. Namun semua usahanya sia-sia belaka. Ujung pecut Bajrakirana masih menari-nari dan pakaiannya dicabik-cabik sedikit demi sedikit sehingga ia perlahan-lahan ditelanjangi.

Kini perutnya juga sudah tidak terlindung lagi dan pahanya juga sudah tampak. Rahmini mulai kebingungan dan merasa terhina sekali. Ia tahu bahwa ia sengaja hendak dipermalukan dan keadaannya akan lebih mengerikan dari pada mati. Ketika lecutan pecut bajrakirana merenggut kain yang terakhir Sebagai penutup tubuhnya, Rahmini melompat ke dekat mayat suaminya, lalu membalikkan gagang cambuknya dan memukul ubun-ubunnya sendiri dengan gagang cambuknya.

"Prakk..." Ubun-ubun kepalanya pecah dan tubuh yang sudah hampir telanjang bulat itu terkulai roboh menindih mayat Maheso Seto. Melihat ini, Priyadi sejenak tercengang, akan tetapi dia lalu mengangkat mukanya memandang para murid Jatikusumo yang masih diamuk oleh lima orang rekannya, lalu berseru lantang. "Para murid Jatikusumo! Siapa menyerah akan diampuni dan yang melawan akan dibunuh!"

Akan tetapi, para anggota Jatikusumo yang melihat betapa guru dan para murid kepala sudah tewas, tidak ada yang mau bertekuk lutut menyerah. Mereka melarikan diri cerai berai, tidak sudi dijadikan anak buah Priyadi yang durhaka dan kejam. Kurang lebih tiga puluh orang murid Jatikusumo tewas dalam pertempuran ini dan selebihnya melarikan diri cerai berai meninggalkan perkampungan Jatikusumo.

Tertegun juga hati Priyadi melihat kenyataan ini. Dia telah mengangkat diri sendiri menjadi ketua perguruan Jatikusumo, akan tetapi di situ tidak ada seorangpun anggota Jatikusumo! Bagaimana mungkin dia dapat menjadi ketua perkumpulan yang tidak ada anggotanya seorangpun? Ternyata tidak ada seorangpun bekas murid Jatikusumo yang mau menyerah kepadanya. Dia telah menjadi ketua baru Jatikusumo yang memegang Pecut Bajrakirana yang merupakan pusaka perguruan Jatikasumo, akan tetapi tanpa anggota. Bagaikan seorang raja tanpa seorangpun rakyatnya!

Melihat ini, Bhagawan Jaladara yang mengerti apa yang terkandung dalam hati Priyadi yang berwajah muram, tertawa dan berkata, "Ha- ha-ha, anak mas Priyadi. Jangan kecewa dan jangan gelisah Ada baiknya kalau seluruh anggota Jatikusumo pergi dari sini sehingga tidak ada di antara mereka yang mengandung dendam di hati tinggal di sini. Engkau dapat menghimpun anggota baru yang lebih dapat dipercaya. Jangan khawatir, aku akan mengirim beratus orang-orang muda dari Kadipaten Wirosobo untuk menjadi anggota Jatikusumo yang baru!"

"Aku juga akan membantumu mengumpulkan anggota baru, Priyadi. Kita kumpulkan orang-orang muda, laki-laki dan wanita yang kita gembleng dan latih sehingga menjadi pasukan Jatikusumo yang tangguh." kata Sekarsih menghibur. Wanita ini merasa girang sekali melibat betapa langkah-langkah pertama yang diambil Priyadi menuju ke tercapainya cita-cita telah berhasil dengan baik.

"Aku juga mempunyai dua puluhan orang pengikut dan aku dapat membawa mereka ke sini untuk menjadi anggota Jatikusumo, anak mas Priyadi." kata pula Ki Klabangkolo yang juga girang me lihat keberhasilan Priyadi mengangkat diri menjadi ketua Jatikusumo. Dia merasa senang bekerja sama dengan pemuda yang ternyata sakti mandraguna itu.

Mendengar ucapan para sekutunya itu, tentu saja hati Priyadi menjadi girang sekali. "Terima kasih, aku akan menerima semua anak buah itu dan akan menggembleng mereka sehingga Jatikusumo memiliki sebuah pasukan istimewa yang dapat diandalkan."

Janji Bhagawan Jaladara, Ki Klabangkolo dan Sekarsih itu segera dipenuhi dan tak lama kemudian, perkampungan Jatikusumo kembali menjadi ramai, bahkan kini memiliki anak buah yang jauh lebih banyak lagi. Kalau dahulu jumlah anak buah Jatikusumo hanya kurang lebih lima puluh orang jumlahnya, kini anak buah yang dipimpin Priyadi berjumlah hampir seratus lima puluh orang! Mulailah Priyadi membentuk dan menggembleng pasukannya, dibantu dengan setia oleh Sekarsih.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Cangak Awu melarikan diri dengan menahan rasa nyeri. Biarpun tadi dia sudah mengerahkan aji kekebalannya ketika Ki Klabangkolo menendang perutnya, namun tetap saja tendangan yang amat kuatnya itu mengguncangkan isi perutnya dan dia merasa nyeri. Dengan menahan rasa nyeri dia melarikan diri. Akan tetapi hatinya lebih nyeri lagi. Dia melihat tadi betapa gurunya, Bhagawan Sindusakti dan kakak seperguruannya, Maheso Meto, telah tewas.

Demikian pula banyak murid Jatikusumo bergelimpangan. Dia terpaksa melarikan diri karena dia tahu benar bahwa kalau dia melawan terus, diapun akan mati. Bukan sekali-kali dia berjiwa pengecut dan takut mati. Akan tetapi kalau dia mati pula, lalu siapa yang akan membalaskan sakit hati itu kelak? Dia harus hidup agar kelak dapat membalas dendam sakit hati yang besar ini kepada Priyadi! Dia melarikan diri terus tanpa hentinya, khawatir kalau-kalau Priyadi dan kawan-kawannya itu akan mengejarnya.

Sehari semalam Cangak Awu terus berlari tanpa henti dan pada keesokan harinya, pagi-pagi tibalah dia di tepi sebuah kali yang besar. Dia tidak tahu bahwa dia telah tiba di tepi Bengawan Solo yang airnya penuh karena semalam di daerah hulu sungai turun hujan lebat. Airnya kemerahan bercampur lumpur. Cangak Awu sudah tidak dapat menahan rasa nyeri dan lelahnya lagi. Dia terkulai lemas di tepi sungai itu, di atas rumput yang tebal dalam keadaan setengah pingsan. Dia rebah menelentangkan dirinya dan mengeluh lirih.

Perutnya terasa nyeri dan kepalanya pening. Ketika dia teringat akan peristiwa yang terjadi di perkampungan Jatikusumo, membayangkan gurunya dan kakak seperguruannya, juga saudara-saudara seperguruannya yang banyak jumlahnya bergelimpangan tewas, dia mengeluh lagi dan tak tertahankan lagi dia menangis, merasa hatinya seperti diremas-remas! Dia lalu teringat betapa dia terpaksa harus melarikan diri meninggalkan semua penghuni perkampungan Jati kusumo yang dibantai, tanpa berdaya menolong mereka dan tangisnya membuat dia sesenggukan dan hatinya seperti ditusuk rasanya. Cangak Awu mengeluh dan jatuh pingsan, tidak kuat menahan siksa dalam hatinya.

Cahaya matahari pagi menyinari muka Cangak Awu yang masih pingsan. Muka itu pucat. Tiba-tiba wajah yang disinari matahari pagi itu tertutup bayang-bayang hitam. Seorang wanita menghampirinya dan bayangan wanita inilah yang menutupi wajah Cangak Awu. Wanita muda itu seorang gadis yang manis sekali dengan kulit tubuh agak kehitaman, hitam manis. Usianya kurang lebih sembilan belas tahun, tubuhnya padat ramping dan gerak geriknya gesit! Ia seorang gadis yang pemberani. Kalau gadis lain melihat seorang pria seperti mati atau tidur di situ tentu akan menjauhkan diri. Akan tetapi gadis ini malah menghampiri dan mengamati wajah laki-laki itu penuh perhatian.

"Matikah dia....?" Gadis itu menggumam seorang diri. Akan tetapi ia lalu melihat bahwa dada laki-laki itu masih bernapas, walaupun pernapasan itu lemah sekali, dan di atas kedua pipi yang pucat itu masih terdapat butir-butir air mata!

"Tertidurkah dia? Kenapa ada orang tidur di atas rumput basah seperti ini?" kembali gadis itu bicara seorang diri. Lalu ia melihat betapa baju dan celana laki-laki itu cabik-cabik.

"Ki sanak, bangunlah. Kenapa engkau tidur di sini?" Gadis itu menyentuh pundak Cangak Awu dan mengguncang-guncangnya. Pundak dan kepala itu ikut bergoyang-goyang, akan tetapi Cangak Awu yang pingsan tidak dapat terbangun. Setelah mengguncang lebih keras dan tetap saja Cangak Awu tidak terbangun, gadis itu mengerutkan alisnya yang kecil hitam dan panjang melengkung, dan mengamati wajah Cangak Awu dengan seksama.

"Ah, jangan-jangan orang ini pingsan!" gumamnya. Jari telunjuk kanannya lalu digerakkan menotok bawah hidung Cangak Awu, di atas bibir bagian atas bagian tengahnya, lalu menepuk tengkuk pemuda itu beberapa kali. Terdengar Cangak Awu mengeluh lirih, pertanda bahwa dia telah siuman dari pingsannya. Gadis itu cepat berdiri dan mundur beberapa langkah.

Cangak Awu membuka kedua matanya dan otomatis dia menggerakkan keduatangannya untuk melindungi matanya yang tertimpa sinar matahari pagi sehingga dia menjadi silau. Ketika pandang matanya menyapu ke sekelilingnya, dia melihat seorang gadis yang berdiri tak jauh dari situ sedang memandangnya. Cangak Awu terkejut dan segera mengira bahwa wanita ini tentu seorang di antara kawan-kawan Priyadi karena dia melihat ada seorang wanita cantik datang bersama Priyadi ketika rombongan itu datang menyerbu Jatikusumo.

Teringat akan ini, sekali bergerak tubuhnya sudah meloncat bangun dan berdiri menghadapi gadis itu. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan siap di pinggang, siap menghadapi serangan dan sepasang matanya menatap tajam wajah gadis hitam manis itu. Akan tetapi gadis itu tersenyum melihat sikap Cangak Awu yang seperti menghadapi seorang musuh itu.

"Siapakah engkau?"

"Siapakah engkau?" Pertanyaan yang serupa itu keluar dari dua mulut hampir bersamaan sehingga suasana menjadi lucu. Akan tetapi karena Cangak Awu tetap mengira bahwa wanita itu tentu seorang musuh, dia tidak merasa lucu. Gadis itu yang tertawa, menyembunyikan mulutnya di balik punggung tangannya.

Pada saat itu terdengar gerakan orang dibelakangnya. Cangak Awu cepat memutar tubuhnya dan dia melihat belasan orang laki-laki kasar telah berdiri di hadapannya dengan sikap mengancam! Semakin keras dugaannya bahwa wanita hitam manis itu tentulah seorang musuh dan belasan orang ini tentu anak buahnya! Maka dia menjadi marah sekali siap untuk mengamuk.

"Kalian mau apa!" bentaknya, ditujukan kepada belasan orang itu, juga kepada wanita hitam manis tadi.

Seorang di antara belasan orang itu, yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok, melangkah maju menghadapi Cangak Awu dan tertawa bergelak sambil mencabut golok dari pinggangnya dan mengamangkan golok itu kepada Cangak Awu.

"Ha-ha-ha-ha,orang muda. Kalau engkau menghadiahkan gadis manis ini kepada kami, kami akan mengampunimudan engkau boleh pergi dari sini tanpa kami ganggu. Nah, pergilah sebelum aku mengubah pikiranku!"

Cangak Awu terkejut. Tahulah dia kini bahwa gadis manis itu sama sekali bukan kawan-kawan belasan orang itu. Dia menoleh dan memandang heran. Gadis itu sama sekali tidak tampak ketakutan, bahkan tersenyum manis! Padahal, biasanya seorang gadis yang melihat belasan orang laki-laki kasar yang jelas mempunyai sifat buruk terhadap dirinya, akan menjadi ketakutan dan menangis!

"Kalau aku tidak mau, kalian mau apa?" tantangannya sambil membusungkan dadanya yang bidang.

"Jahanam! Kalau begitu, engkau akan kami bunuh dan gadis ini akan kami rampas!" kata si brewok yang agaknya menjadi pimpinan gerombolan itu dan langsung saja dia sudah menerjang maju, mengayun goloknya dan agaknya dia hendak memenggal kepala Cangakawu dengan sekali tebas!

"Wuuuuttt...!" Golok yang mengkilap saking tajamnya itu menyambar.Cangak Awu mengelak dengan mudah dan golok itu luput tidak mengenai sasarannya.

Si brewok menjadi penasaran dan marah sekali. Dia mengayun balik goloknya yang kini menyambar ke arah pinggang Cangak Awu, agaknya dia hendak membabat putus tubuh pemuda itu menjadi dua potong! Kembali Cangak Awu mengelak, akan tetapi golok itu terus mengejarnya, dengan serangan-serangan mematikan yang cukup dahsyat. Ternyata si brewok itu, memiliki kepandaian lumayan dan goloknya amat berbahaya. Pada saat itu, empat orang anak buah gerombolan itu sudah menerjang dan mengeroyok Cangak Awu dengan golok mereka! Cangak Awu yang dikeroyok lima orang itu melompat dan bergulingan di atas tanah, ketika dia melompat bangkit lagi, tangannya sudah memegang sebatang tongkat dari dahan pohon, yang dia temukan di atas tanah.

Pada saat itu, empat orang anak buah itu sudah menerjangnya lagi dan empat batang golok menyambar ke arah tubah Cangak Awu dari empat jurusan. Cangak Awu tidak menjadi gentar. Menghadapi pengeroyok itu, dia seperti melupakan rasa nyeri dalam perutnya, sudah lupa bahwa dia telah terluka dalam yang cukup parah. Dia memutar tongkat kayunya dengan gerakan yang cepat dan kuat sekali sehingga bentuk tongkat lenyap menjadi amat panjang yang menangkis empat batang golok itu berturut-turut.

"Trang-trang-trang-trang...!!" Empat batang golok itu terpental dan terlepas dari pegangan empat orang anak buah gerombolan itu. Cangak Awu tidak berhenti sampai di situ saja. Kedua kakinya bergantian mencuat dan menyambar ke arah empat orang pengeroyok itu.

"Des-des-des-dess....!" Tubuh empat orang itu berpelantingan terpental dan terbanting ke atas tanah. Melihat ketangguhan Cangak Awu, belasan orang itu segera menyerbu maju dan mengeroyok. Cangak Awu tidak menjadi gentar. Bagaikan seekor banteng terluka dia mengamuk. Tongkat kayunya diputar menyambar-nyambar dan menghalau semua senjata tajam yang mendekatinya.

Sementara itu, si Brewok yang melihat betapa pemuda tinggi besar yang tangguh itu sudah dikeroyok oleh semua anak buahnya, lalu menghampiri gadis hitam manis sambil menyeringai memperlihatkan deretan gigi besar-besar yang hitam menguning.

"Heh-heh, marilah manis, ikut dengan kakangmas! Engkau akan hidup senang. Marilah kupondong, kutimang dan kuayun ambing! Setelah berkata demikian, si Brewok tiba-tiba menggunakan kedua lengannya yang panjang untuk merangkul. Kedua tangan itu menyambar dari kanan kiri untuk menangkap pinggang yang kecil ramping dari gadis itu.

"Wuuuuttt....!" Si Brewok terkejut sekalika rena kedua tangannya banyak menangkap angin dan dengan gerakan yang lincah sekali gadis itu telah dapat mengelak dan terhindar dari terkamannya. Bukan itu saja, bahkan tiba-tiba dari samping gadis itu menggerakkan kakinya yang mencuat dengan cepat sekali menyambar ke arah perut si Brewok yang sama sekali tidak menyangka sehingga perutnya kena disambar tendangan kaki kiri gadis itu.

"Dess......!!" Walaupun si Brewok sudah mengerahkan kekebalannya untuk melindungi perutnya yang tertendang tadi, namun karena tendangan gadis itu mengandung tenaga dalam yang cukup kuat tetap saja perutnya terasa mulas dan dia terhuyung ke belakang. Bukan main marahnya si Brewok ini. Dia memberi isyarat kepada sebagian anak buahnya yang mengeroyok Cangak Awu dan empat di antara mereka lalu membantu dia mengepung gadis itu. Dia sendiri sudah mencabut goloknya dan menyerang kalang kabut.

Gadis itu dengan lincah melompat jauh ke belakang dan iapun melihat betapa Cangak Awu terhuyung dikeroyok banyak orang itu. Ia tahu bahwa pemuda itu sedang sakit dan memang sesungguhnyalah demikian. Karena, andaikata Cangak Awu tidak sedang menderita sakit di perutnya yang terkena tendangan Ki Klabangkolo, tentu saja dia sudah mengamuk dan semua pengeroyoknya itu sudah dapat dia robohkan.

"Berhenti semua! Kalian berani mati mengganggu Nogo Dento?" teriak gadis itu yang meloncat ke atas sebuah batu besar dan berdiri dengan tegak dan wajahnya yang manis itu amat berwibawa.

Mendengar disebutnya Nogo Dento ini, Si Brewok dan anak buahnya terkejut dan mereka menahan gerakan senjata mereka dan semua memandang kepada gadis itu. "Nona... kau.... kau siapakah? Apa hubunganmu dengan Nogo Dento?" tanya si Brewok dengan gagap.

"Aku adalah Pusposari, murid dan anak angkat dari Ki Harjodento, ketua Nogo Dento!" jawab gadis itu.

Mendengar ini, si Brewok lalu merangkapkan kedua tangannya melakukan sembah, lalu berkata, "Maafkan kami, nona. Kami tidak tahu..." dia lalu memberi isarat kepada kawan-kawannya, "Mari kita pergi!" Dan mereka semua lalu pergi dengan cepat dari tempat itu, menyusup ke balik pohon-pohon dan semak-semak.

Cangak Awu yang tadi mengerahkan seluruh sisa tenaganya, sekarang batu merasakan kenyerian yang hebat pada perutnya. Dia memegangi perutnya lalu terkulai roboh. Pusposari melompat dan menghampirinya, berjongkok di dekat pemuda itu. "Engkau... sakitkah?" tanyanya. Gadis ini tadi melihat betapa Cangak Awu mengamuk dengan hebatnya biarpun dalam keadaan sakit, maka Pusposari merasa kagum bukan main. Juga melihat betapa pemuda itu berusaha melindunginya dari para penjahat tadi mendatangkan kesan baik dalam hatinya terhadap pemuda itu.

Mendapat pertanyaan itu, Cangak Awu mengangguk dan meringis kesakitan. "Siapakah engkau, ki sanak? Dan bagaimana engkau sampai terluka?" tanya pula Pusposari. Melihat pemuda itu agak meragu untuk menjawab, ia tahu bahwa pemuda itu bersangsi karena belum mengenalnya, maka disambungnya dengan cepat. "Aku Pusposari, murid dan anak angkat Ki Harjodento ketua perkumpulan Nogo Dento. Engkau tadi telah memaksa diri untuk melindungi aku, maka akupun ingin sekali menolongmu."

"Aku... bernama Cangak Awu... aku murid perguruan Jatikusumo... aku... aku terkena tendangan ampuh sekali dan menderita luka dalam yang parah..." Dia terbatuk dan muntahkan darah segar.

"Ah, lukamu parah, kisanak. Mari ikut aku pulang ke tempat tinggal kami. Ayah angkatku tentu akan dapat mengobatimu sampai sembuh. Marilah...!" Pusposari membantu Cangak Awu untuk berdiri, kemudian tanpa canggung dan rikuh lagi karena menganggap pemuda itu sebagai penolongnya, ia memapah pemuda itu melangkah perlahan-lahan dan tempat itu. Cangak Awu yang berada dalam keadaan tersiksa rasa nyeri dan setengah pingsan itupun tidak ingat lagi betapa dia merangkulkan sebelah lengannya pada pundak gadis itu untuk bertumpu agar tidak sampai terguling jatuh.

Keadaan Cangak Awu parah sekali. Walaupun sudah dipapah oleh Pusposari, dia harus mengerahkan seluruh sisa tenaganya dan itupun hanya membuat dia melangkah perlahan-lahan saja. Setelah mereka tiba di depan pintu gerbang perkampungan Nogo Dento, Cangak Awu tidak kuat lagi dan diapun roboh pingsan dan tentu telah terguling roboh kalau tidak dirangkul oleh Pusposari. Beberapa orang anak buah Nogo Dento datang berlari-lari ketika mereka melihat Pusposari datang bersama seorang pemuda yang agaknya terluka parah.

"Gotong dia masuk, cepat!" kata Pusposari. Empat orang murid Nogo Dento menggotong tubuh Cangak Awu yang berat ke dalam perkampungan Nogo Dento, didahului Pusposari yang menyuruh para murid Nogo Dento membawa tubuh Cangak Awu yang pingsan itu ke dalam rumah. Harjodento dan isterinya, Padmosari, menyambut kedatangan anak angkat mereka itu dengan heran.

"Pusposari, siapakah pemuda ini?" tanya Padmosari heran memandang kepada Cangak Awu yang sudah dibaringkan ke atas sebuah dipan.

"Apa yang telah terjadi?" tanya pula Harjodento.

"Bapa danIbu, orang ini bernama Cangak Awu. Dia adalah murid perguruan Jatikusumo. Semula saya menemukannya menggeletak pingsan di tepi sungai. Ketika saya menyadarkannya, mendadak muncul belasan orang penjahat yang berusaha untuk menangkap saya. Orang ini yang sedang menderita luka parah di sebelah dalam tubuhnya, membela saya mati-matian dan akhirnya kami berdua dapat mengusir para penjahat setelah saya menyebut nama Nogo Dento. Setelah semua penjahat pergi, orang ini lalu kuajak pulang ke sini untuk berobat, dan setibanya diluar perkampungan kita, dia jatuh pingsan kembali. Bapa, karena dia telah menolong saya dari ancaman para penjahat, maka saya membawanya ke sini agar Bapa suka mengobatinya. Salahkah tindakan saya itu, Bapa?"

Harjodento mengangguk-angguk. "Engkau tidak salah, Sari. Memang sudah semestinya kalau engkau membalas budi kebaikan orang yang diberikan kepadamu. Kau bilang tadi dia murid Jatikusumo?"

"Benar, Bapa. Demikianlah menurut pengakuannya."

Harjodento lalu membuka baju Cangak Awu dan mulai memeriksa keadaan tubuh pemudaitu. Dia kagum melibat tubuh yang kokoh kuatitu, dada yang bidang danlengan serta kaki yang berotot. Akan tetapi setelah memeriksa keadaan pe rut pemuda itu, dia mengerutkan alisnya.

"Hemm, dia telah terkena pukulan yang kuat sekali pada perutnya. Masih untung bahwa agaknya dia memiliki kekebalan maka isi perut itu tidak sampai hancur, hanya terguncang bebat. Dia memerlukan perawatan selama beberapa hari."

Harjodento lain membuatkan racikan jamu-jamu untuk diminumkan pada Cangak Awu, juga untuk dilumurkan pada bagian perut yang kulitnya ada tanda menghitam bekas tendangan. Tanpa diminta atau disuruh, Pusposari turun tangan sendiri merawat Cangak Awu. Pemuda itu siuman akan tetapi keadaannya amat lemah sehingga dia harus tetap beristirahat. Dia merasa rikuh dan juga terharu sekali melihat betapa Pusposari merawatnya, bahkan ketika dia masih belum kuat duduk, gadis itu yang menyuapinya untuk minum jamu atau makan bubur yang dimasak sendiri oleh tangan Pusposari.

Jamu yang diberikan olah Harjodento sungguh ampuh. Tiga hari kemudian Cangak Awu sudah sembuh dan tenaganya pulih kembali.Dia lalu bangkit duduk dan melihat Pusposari berada di dalam kamar itu, duduk di atas sebuah kursi, Cangak Awu lalu turun dari pembaringan.

"Eh, kakang Cangak Awu, engkau harus beristirahat dulu." Pusposari berkata sambil bangkit dari tempat duduknya.

"Aku telah sembuh dan sudah pulih kembali, nimas Pusposari. Aku sungguh berterima kasih sekali kepada keluargamu, terutama kepadamu yang telah begitu baik hati untuk mengurus dan merawatku sewaktu aku sakit Kalau aku tidak sempat membalas kebaikan hatimu, semoga Gusti Yang Maha Kasih yang akan membalasmu dengan berkah yang berlimpahan."

"Ah, kakang Cangak Awu, mengapa bicara seperti itu? Kalau mau bicara tentang budi, engakaulah yang lebih dulu melepas budi kepadaku, ketika engkau menolongku dari pengeroyokan gerombolan penjahat itu. Tanpa sengaja kita telah saling berjumpa dan saling menolong sehingga pertolongan itu sudah bukan merupakan pertolongan lagi melainkan merupakan kewajiban antara sesama hidup antara sahabat. Bukankah begitu?"

Cangak Awu memandang dengan kagum. Bukan main gadis ini. Masih begini muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, cantik manis, digdaya dan memiliki pandangan yang demikian bijaksana.

"Terima kasih, nimas. Aku merasa berbahagia sekali mendapatkan seorang sahabat sepertimu."

Pada saat itu, Harjodento dan Padmosari memasuki ruangan itu. Melihat mereka, Cangak Awu segera memberi hormat dengan sembah sambil berdiri. "Paman dan bibi, saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan paman dan bibi yang telah menampung dan menyembuhkan saya. Paman dan bibi telah menyelamatkan nyawa saya.”

"Tidak perlu berterima kasih, anak mas Cangak Awu. Engkau juga telah menolong dan menyelamatkan puteri kami Pusposari. Duduklah dan ceritakan bagaimana engkau sampai pingsan di tepi sungai itu. Ketahuilah bahwa antara Nogo Dento dan Jatikusumo pernah ada hubungan persahabatan yaitu antara aku dan gurumu Bhagawan Sindusakti ketua Jatikusumo."

Mendengar pertanyaan itu, teringatlah Cangak Awu akan semua yang telah terjadi dan terbayanglah kembali semua peristiwa pembantaian terhadap guru dan saudara-saudaranya di Jatikusumo. Ingin dia berteriak penuh penasaran, kedua tangannya mengepal tinju dan giginya berkerot matanya bersinar-sinar, mukanya kemerahan penuh kemarahan sehingga dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu.

"Tenangkanlah hatimu, anak mas. Jangan biarkan hatimu dikuasai nafsu amarah, karena hal itu amat tidak baik untuk kesehatanmu lahir batin. Sebutlah nama Tuhan untuk memperkuat hatimu."

Mendengar ucapan yang tenang dan tegas iniCangak Awu tersadar dan dia lalu mengusap mukanya dengan kedua telapak tangan sambil menghelanapas panjang dan keadaannya sudah tenang kembali.

"Paman, malapetaka besar telah menimpa perguruan kami. Malapetaka besar telah terjadi dan menewaskan guru saya dan kakak seperguruan saya, bahkan mungkin semua murid Jatikusumo menjadi bantaian!" Cangak Awu menahan isaknya, menahan tangis yang hendak membanjir keluar karena dia teringat akan guru dan kakak-kakaknya.

Mendengar ucapan ini, Harjodento, Padmosari dan Pusposari menjadi terkejut bukan main. "Jagad Dewa Bathara....!" Harjodento menyebut sambil berdongak, lalu memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penuh selidik, "Apa yang telah terjadi di Jatikusumo, anak mas Cangak Awu?"

Setelah menghela napas tiga kali untuk merendahkan badai kemarahan yang bergolak di dadanya, Cangak Awu berkata "Seorang kakak seperguruan saya telah murtad. Jahanam yang durhaka itu bergabung dengan paman guru Bhagawan Jaladara, merampas kedudukan, ketua Jatikusumo. Bersama Bhagawan Jaladara dan para jagoan Wirosobo, mereka menyerang dan kami semua mengadakan perlawanan mati-matian. Saya melihat betapa Bapa Guru Bhagawan Sindusakti, Kakang Mabeso Seto dan banyak murid Jatikusumo tewas dibantai orang-orang jahat itu. Melihat robohnya Bapa Guru dan Kakang Maheso Seto, maklumlah saya bahwa akan sia-sia saja kalau saya melawan terus. Saya tentu akan mati pula, oleh karena itu setelah terkena tendangan Ki klabangkolo, saya lalu menguatkan diri dan melarikan diri. Harap paman jangan salah mengerti. Saya lari bukan karena saya takut mati, sama sekali bukan! Saya rela mati membela Jatikusumo, akan tetapi pada waktu itu saya pikir bahwa kalau saya mati, lalu siapa lagi yang akan membalaskan dendam setinggi langit ini? Saya harus hidup agar kelak dapat membalaskan kematian Bapa Guru!" Cangak Awu mengepal kedua tinjunya.

"Ahhh, bagaimana sampai ada murid yang demikian murtad dan jahat?" seru Harjodento.

"Siapakah orang itu dan mengapa pula dia memberontak dan membunuh guru dan kakak-kakak seperguruannya sendiri?"

Cangak Awu menarik napas panjang. "Saya sendiri sungguh masih merasa heran, bingung dan tidak mengerti. Dia adalah Kakang Pnyadi dan biasanya dia adalah seorang murid yang amat dikasihi Bapa Guru, seorang pemuda yang bersikap lembut dan baik. Saya tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia berubah seperti iblis, Dia membunuh Bapa Guru bersama teman-temannya karena dia menghendaki kedudukan ketua Jatikusumo."

"Akan tetapi mengapa pula Bhagawan Jaladara yang menjadi adik seperguruan Bhagawan Sindusakti bahkan membantu murid keponakannya itu?" tanya pula Harjodento yang merasa penasaran sekali mendengar terjadinya peristiwa itu.

"Paman Bhagawan Jaladara adalah seorang pejabat tinggi dari Kadipaten Wirosobo. Tadinya dia membujuk Bapa Guru untuk membantu gerakan Kadipaten Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram, akan tetapi Bapa Guru masih ragu-ragu dan sangsi."

Tiba-tiba Pusposari yang sejak tadi mendengarkan saja penuh perhatian, kini bertanya, "Kakang Cangak Awu. Gurumu itu, Paman Bhagawan Sindusakti adalah ketua Jatikusumo, tentu seorang yang sakti mandraguna. Bagaimana dia sampai kalah, dan dapat terbunuh oleh muridnya dan adik seperguruannya sendiri?"

"Akupun tadi ingin mengajukan pertanyaan seperti itu." kata Padmosari. "Tentu tingkat kepandaian Bhagawan Sindusakti lebih tinggi dibandingkan adik seperguruan dan muridnya, bagaimana dia sampai dapat terbunuh? Dan bukankah di sana terdapat banyak murid Jatikusumo yang dapat membela guru mereka?"

"Priyadi yang murtad itu datang dengan banyak kawannya yang kesemuanya memiliki kesaktian. Selain Paman Guru Bhagawan Jaladara, ikut pula dalam rombongan iblis itu Ki Klabangkolo, Resi Wisangkolo, seorang wanita yang juga digdaya sekali. Ki Janurmendo, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, kesemuanya jagoan-jagoan dari Wirosobo. Terutama sekali Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo itu amat sakti sehingga tidak dapat terlawan oleh Bapa Guru. Juga si jahanam keparat Priyadi itu ternyata diam-diam telah menguasai aji-aji yang amat dahsyat, entah dari mana dia mendapatkan semua aji itu."

"Ah, sekarang aku ingat. Anak mas Cangak Awu, belum lama ini kami kedatangan seorang gadis yang berusaha membunuh kami. Ia ditemani seorang pemuda yang juga menyerang kami dan dari pukulannya aku mengenal Aji Gelap Musti, maka aku menduga bahwa pemuda itu tentu seorang murid Jatikusumo. Siapakah gerangan pemuda itu?" Cangak Awu memandang Harjodento dan bertanya, "Paman, seperti apakah wajah pemuda itu?"

"Dia berwajah tampan gagah dengan tubuh sedang dan ada tahi lalat di dagunya."

Cangak Awu mengepal tinjunya, "Itulah dia! Si laknat Priyadi, murid yang murtad itu!" "Akan tetapi... ketika beberapa bulan yang lalu dia membantu gadis itu datang menyerang kami, tingkat kepandaiannya tidak begitu bebat, walaupun sudah cukup tinggi sehingga merepotkan kami. Akan tetapi kami masih dapat memukul mundur mereka. Bagaimana mungkin pemuda itu mampu menandingi gurunya sendiri?"

"Entahlah, paman. Mungkin setelah itu dia menemukan ilmu-ilmu yang dahsyat. Saya sendiri juga tidak mengerti. Akan tetapi akibat ulahnya itu, guru saya dan mungkin semua murid Jatikusumo telah dibunuhnya!"

Suasana menjadi hening, keheningan yang membuat Cangak Awu tenggelam ke dalam kesedihan. Kemudian terdengar pertanyaan Pusposari dengan suara lirih dan penuh haru dau rasa iba kepada pemuda tinggi besar itu.

"Sekarang, apa yang kau lakukan, Kakang Cangak Awu? Kemana engkau hendak pergi?"

Ditanya begini, Cangak Awu menghela napas, panjang. "Aku tidak tahu, nimas Pusposari. Aku masih bingung, malapetaka yang menimpa Jatikusumo itu telah menghancurkan hatiku membuat aku seperti kehilangan akal dan tidak tahu apa yang harus kulakukan...." Jawaban pemuda tinggi besar dan kokoh kuat itu demikian lemas dan menyedihkan.

Padmosari menjadi kasihan kepada pemuda itu. "Anak mas Cangak Awu, di manakah orang tuamu tinggal? Tentu engkau akan pulang ke sana, bukan?"

Pertanyaan itu bagaikan pisau yang menikam hati yang telah luka itu Cangak Awu menundukkan mukanya dan suaranya demikian lirih sampai hampir tidak dapat didengar.

"ayah bunda saya telah tiada. Sejak kecil saya sudah sebatang kara tiada sanak keluarga. Saya diambil murid oleh mendiang Bapa Guru dan beliau yang menjadi pengganti orang tua saya. Dan sekarang beliau telah tiada pula... saya... saya kehilangan segala-galanya...."

Kembali suasana menjadi hening dan Harjodento yang berpemandangan tajam itu melihat betapa anak angkatnya, Pusposari, menjadi merah kedua matanya seperti menahan tangisnya. Dan tiba-tiba pada saat itu sebuah gagasan timbul dalam pikirannya. Mengapa tidak? Cangak Awu adalah seorang murid Jatikusumo dan jelas bahwa dia seorang pemuda yang gagah perkasa dan amat baik. Tidak akan mengecewakan kalau pemuda seperti ini menjadi suami Pusposari!

"Anak mas Cangak Awu...." katanya, akan tetapi hatinya diliputi keraguan dan kesungkanan sehingga kata-katanya tertahan.

Cangak Awu mengangkat mukanya menatap wajah pendekar besar yang menjadi ketua Nogo Dento itu dan sinar matanya memandang penuh selidik. "Ada apakah, paman?"

"Anak mas, kalau boleh kami mengetahui, apakah rencanamu selanjutnya? Apakah yang ingin kau lakukan sekarang?"

"Rencana dan keinginan saya hanya satu, paman, yaitu pergi berkelana mencari guru yang pandai untuk memperdalam ilmu kepandaian saya, kemudian saya akan kembali ke Jatikusumo untuk membalas dendam kepada si jahanam Priyadi!"

"Kalau begitu, anak mas Cangak Awu. kenapa engkau tidak tinggal saja bersama kami di sini? Di sini engkau dapat memperdalam ilmu kepandaianmu dan kami akan membantumu sedapat mungkin." kata Harjodento dan orang tua ini melihat betapa wejah puteri angkatnya sejenak bersinar dan berseri.

"Paman, saya hanya akan mendatangkan kerepotan kepada paman sekeluarga." kata Cangak Awu.

"Sama sekali tidak!" kata Padmosari. "Anak mas Cangak Awu, apa yang dikatakan suamiku tadi benar, Engkau dapat tinggal di sini dan memperdalam ilmu kepandaianmu. Biarpun ilmu aliran Nogo Dento tidak terlalu tinggi, akan tetapi kalau digabung dengan aliran Jatikusumo tentu akan menjadi, ilmu. yang cukup kuat. Dan sama sekali tidak membuat kami repot kalau engkau tinggal di sini."

Cangak Awu menjadi bimbang dan diapun menoleh kepada Pusposari. Biarpun ayah dan ibu gadis itu setuju kalau dia tinggal di situ, akan tetapi bagaimana kalau gadis itu merasa keberatan? Agaknya dalam pandang matanya mengandung pertanyaan ini yang terasa oleh Pusposari. Gadis inipun dengan sikap agak tersipu berkata lirih. "Akupun akan senang kalau engkau mau tinggal di sini, Kakang Cangak Awu."

Seluruh keluarga itu telah setuju. Perasaan lega menyusup dalam bati Cangak Awu. akan tetapi sebelum dia menjawab, dua orang murid Nogo Dento memasuki ruangan itu dengan sikap gugup dan tegang.

"Maafkan kami kalau mengganggu, Bapa Guru..." kata mereka gugup.

Harjodento mengerutkan alisny. "Hemm. apakah yang telah terjadi? Kalian hendak melaporkan apa? Katakanlah!"

"Bapa Guru, wanita yang dulu itu... ia datang lagi...!"

"Wanita yang mana?"

"Yang dulu menyerbu ke sini....!"

Harjodento tampak terkejut. Demikian pula Padmosari sudah melompat bangkit dari tempat duduknya. "Hemm, tentu orang yang mengaku murid Nyi Rukmo Petak dan yang hendak membunuh kita itu. katanya kepada isterinya. "Mari kita jumpai ia!" Suami isteri itu berlari keluar. Padmosari dan Cangak Awu tanpa diminta juga mengikuti mereka keluar.

Setelah tiba di luar perkampungan Nogo Dento, mereka berempat melihat Retno Susilo dan Sutejo telah berdiri di situ, Cangak Awu terheran melihat Sutejo berada di dekat seorang gadis yang menurut Harjodento pernah datang hendak membunuh Harjodento dan isterinya. Akan tetapi bukankah gadis itu kabarnya ditemani oleh Priyadi? Kenapa sekarang yang menemaninya ternyata Sutejo? Di lain pihak, Sutejo juga terkejut dan heran melihat Cangak Awu berada di antara keluarga yang dimusuhi oleh Retno Susilo dan gurunya itu.

"Adi Sutejo, mau apa engkau datang ke sini?" tegur Cangak Awu.

"Kakang Cangak Awu, kenapa engkau berada di situ?" tanya pula Sutejo dengan heran.

"Hemm, engkau mengenal mereka? Katakan, engkau hendak memihak aku atau mereka?"

Retno Susilo menoleh kepada Sutejo dan mengajukan pertanyaan itu dengan suara kaku.

"Eh, tentu saja aku berpihak padamu." kata Sutejo walaupun hatinya menjadi bimbang melihat kehadiran Cangak Awu di situ.

Kini Retno Susilo menghadapi Harjodento dan suaranya terdengar nyaring ketika ia berkata, "Nah, Harjodento. Sekarang aku bersama kawanku ini telah datang berhadapan denganmu, Aku tantang engkau untuk melakukan pertandingan satu lawan satu! Jangan main keroyokan kalau engkau memang seorang gagah!"

Harjodento tersenyum memandang wajah Retno Susilo yang cantik jelita dan sinar matanya yang mencorong tajam itu. Diam-diam pendekar ini harus mengakui bahwa gadis itu selain cantik jelita, juga gugah berani, patut menjadi seorang pendekar wanita. Akan tetapi mengapa gadis itu diutus oleh seseorang yang tidak dikenalnya untuk membunuh dia dan isterinya?

"Nona, kami sungguh tidak tahu mengapa engkau menantang kami untuk mengadu kepandaian. Akan tetapi kalau engkau menantang, tentu saja kami tidak dapat menolaknya. Kami bersedia melayani tantanganmu untuk bertanding satu lawan satu tanpa pengeroyokan. Akan tetapi katakan lebih dulu, mengapa sebenarnya gurumu mengutus engkau untuk membunuh kami?"

"Tidak perlu kau tanyakan. Pendeknya, aku harus membunuh kalian berdua dan itu merupakan tugasku sebagai seorang murid terhadap gurunya. Mari kita mulai. Siapa di antara kalian yang akan maju? Aku akan maju menandinginya, dan kalau aku kalah, masih ada temanku ini yang akan maju sebagai penggantiku!"

"Bapa, biar aku yang menandinginya!" tiba-tiba Pusposari berseru dan ia sudah melompat ke depan Retno Susilo. Karena gadis itu sudah maju, Harjodento tidak dapat mencegahnya karena mencegahnya menunjukkan kelemahan di pihaknya, maka ia dan isterinya hanya memandang dengan khawatir. Sutejo yang teringat bahwa Retno Susilo memiliki aji pukulan yang ampuh dan mematikan, berkata lirih kepadanya.

"Diajeng Retno, harap jangan mudah membunuh orang."

Retno Susilo tidak menjawab, hanya memandang calon lawannya dengan alis berkerut. Dua orang gadis yang sama centil dan menariknya ini sudah saling berhadapan dan sinar mata mereka mencorong, bagaikan dua ekor singa betina yang hendak berlaga. "Sebutkan dulu siapa namamu agar engkau tidak roboh tanpa nama!" kata Retno Susilo. Pusposari cemberut. "Engkau yang datang mengacau, katakan dulu siapa namamu baru engkau boleh mengenal aku!"

Retno Susilo tersenyum mengejek. "Aku Retno Susilo dan sebaiknya engkau ini anak kecil jangan ikut ikutan, Aku datang hanya uutuk membunuh Harjodento dan Padmosari!"

"Hemm, ketahuilah bahwa aku Pusposari yang siap membela ayah ibuku dengan taruhan nyawa!"

"Bagus! Kalau begitu aku akan menghajarmu! Jagalah!"

"Aku sudah siap!" jawab Pusposari gagah.

"Hyaaaattt... !" Retno susilo sudah menerjang dengan dahsyatnya. Pusposari mengelak dan tamparan yang amat kuat itu dan dari samping iapun membalas dengan pukulan tangan kanannya.

"Dukk!" Retno Susilo menepis dan lengan Pusposari tertangkis, membuat gadis manis ini hampir terpelanting. Pusposari terkejut, akan tetapi ia tidak takut dau menyerang lagi dengan kuat dan cepatnya. Retno susilo menyambutnya dan dua orang gadis ini sudah saling serang dengan seru. Akan tetapi segera dapat dinilai bahwa tingkat kepandaian Retno susilo masih jauh lebih unggul. "Haaaiiiit !" Tiba-tiba tangan Retno Susilo menyambar ke arah kepala Pusposari dan ketika gadis Nogo Dento ini mengelak dengan merendahkan tubuhnya, tiba-tiba kaki kiri Retno Susilo menyambar dan samping dan menyerampang, mengenai kaki Pusposari sehingga gadis ini terpelanting dan tidak dapat mengatur keseimbangan tubuhnya lagi. Pada saat itu, Cangak Awu sudah melompat maju menghadapi Retno Susilo sehingga gadis ini tidak dapat mengejar atau mendesak Pusposari yang sudah terpelanting.

"Gadis jahat! Mengapa engkau hendak membunuh orang-orang yang tidak berdosa ?" bentak Cangak Awu dengan sikap keren.

"Hemm, siapa kau?" tanya Retno Susilo sambil menatap wajah pemuda tinggi besar itu.

"Namaku Cangak Awu dan aku adalah murid Jatikusumo!" jawab pemuda itu.

Retno Susilo mengerling ke arah Sutejo, akan tetapi pemuda ini hanya menonton saja dau tidak bereaksi apa-apa, maka iapun membentak, "Engkau murid Jatikusumo, mengapa mencampuri urusanku dengan orang-orang Nogo Dento?"

"Aku adalah tamu dan sahabat mereka, tentu saja tidak kubiarkan engkau berbuat sewenang-wenang di sini!" kata Cangak Awu sambil memandang ke arah Sutejo dengan sinar mata mengandung penasaran.

"Kalau begitu, engkaupun perlu kuhajar !" teriak Retno Susilo dengan marah.

"Engkau yang pantas dihajar !" kata Cangak Awu.

"Keparat, terimalah ini!" bentak Retno Susilo dan gadis ini sudah menerjang maju dengan tamparan ke arah kepala.

Melihat betapa tamparan itu cukup hebat, Cangak Awu lalu mempergunakan Aji Harina Legawa untuk mengelak. Ilmu meringankan tubah ini membuat dia dapat bergerak dengan cepat dan diapun membalas dongan pukulan tangannya yang kokoh kuat. Akan tetapi, Retno Susilo dapat pula menghindarkan diri dengan mudah dari Serangan balasan Cangak Awu. Mereka saling serang dengan seru, akan tetapi Sutejo dapat melihat bahwa murid Jatikusumo yang tinggi besar itupun tidak dapat menandingi ketangguhan Retno Susilo.

Gadis Itu telah memperoleh kemajuan ang luar biasa. Akan tetapi dia terkejut ketika melihat Cangak Awu yang agaknya penasaran itu kini mempergunakan Aji Gelap Musti untuk menyerang Retno Susilo. Dia melihat betapa dengan berani gadis itupun menyambut pukulan jarak jauh dengan dorongan te­lapak tangannya pula. Retno Susilo mengerahkan Aji Gelap Sewu untuk memapaki serangan lawannya.

"Wuuuuttt......desss !!" Akibat dua tenaga sakti yang saling berbenturan di udara itu, tubuh Cangak Awu terdorong dan terpelanting roboh! Pemuda ini tidak menderita luka dalam, akan tetapi tentu saja dia menjadi terkejut bukan main Pada saat Itu, Padmosari sudah meloncat ke depan.

"Anak mas Cangak Awu, mundurlah. Ia ingin membunuhku, biar aku yang menghadapinya!" bentak wanita perkasa ini.

"Bagus, Padmosari! Memang kedatanganku ini untuk menghadapi engkau dan suamimu!" kata Retno Susilo.

"Diajeng Retno, harap jangan membunuh orang!" kembali Sutejo mengingatkan gadis itu.

Akan tetapi sebelum Retno Susilo menjawab, Padmosari yang sudah menjadi marah melihat anak angkatnya dan Cangak Awu kalah sudah maju menerjang sambil berseru. "Sambut seranganku!"

Serangan itu cepat dan kuat sekali, bahkan lebih cepat dari lebih kuat daripada serangan yang tadi dilakukan Cangak Awu. Maklum bahwa lawannya ini memiliki ilmu kepandaian tinggi dan merupakan lawan yang amat berbahaya, Retno Susilo juga mengerahkan tenaga dan kepandaiannya. Dengan Aji Kluwung Sakti, tubuhnya berkelebat cepat menghindar dari serangan lawan, kemudian dengan cepat sekali Ia membalas dengan tendangan menyamping.

Kakinya mencuat dan menyambar ke arah dada lawan. Akan tetapi Padmosari yang memiliki dasar ilmu silat tinggi dan banyak pengalamannya itupun dapat menghindar dengan cepat lalu menyerang lagi. Saling serang terjadi dan pertandingan sekali ini amat seru karena tingkat kepandaian mereka seimbang. Akan tetapi Sutejo melihat bahwa wanita cantik isteri ketua Nogo Dento itupun masih tidak akan mampu mengungguli kedigdayaan Retno Susilo. Dia hanya khawatir kalau Retno Susilo sampai membunuh wanita itu seperti yang dipesankan gurunya.

Harjodento juga memandang dengan hati khawatir. Gerakan kedua orang wanita itu cepat dan mereka tampak seimbang, akan tetapi dia juga melihat betapa cepatnva gerakan gadis penyerang itu sehingga dia khawatir bahwa isterinya akan tidak mampu menandinginya pula. Untuk maju menggantikan isterinya, dia merasa malu. Isterinya belum kalah, bagaimana mungkin menggantikannya? Tentu pihak lawan akan menganggapnya sebagal penakut. Maka diapun mengeraskan hatinya dan hanya menonton.

Tiba-tiba Padmosari yang merasa kewalahan dan penasaran karena semua serangannya dapat dielakkan atau ditangkis, sedangkan serangan lawan membuat ia repot sekali, melakukan penyerangan dengan dorongan kedua tangannya ke depan sambil mengerahkan tenaga saktinya, Itulah Aji pukulan Nogo Dento vang merupakan aji yang khas dari perguruan Nogo Dento. Aji ini belum dimiliki oleh para murid. Hanya Harjodento, Padmosari dan Pusposari saja yang sudah menguasai. Itupun baru dikuasai Pusposari sekitar setengah bagian saja. sedangkan Padmosari sudah memiliki tiga perempat bagian. Maka, pukulannya itu mendatangkan angin yang kuat menyambar ke arah Retno Susilo.

Akan tetapi Retno Susilo tidak menjadi gentar dan gadis ini segera menyambutnya dengan Aji Gelap Sewu, mendorongkan telapak tangannya menyambut serangan lawannya.

"Wuuuuttt.......desss......!" Dua tenaga sakti bertemu di udara dan kedua orang wanita itu sama-sama terdorong ke belakang sampai terhuyung-huyung Ternyata tenaga mereka seimbang dan hal ini membuat keduanya meniadi semakin penasaran. Padmosari hampir tidak dapat percaya betapa seorang gadis muda seperti itu mampu menandingi tenaga saktinya. Ia melompat lagi ke depan dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang lagi dengan Aji Nogo Dento dengan keyakinan bahwa sekali ini ia tentu ak»n dapat merobohkan gadis itu. Akan tetapi Retno Susilo yang sudah tahu akan kekuatan serangan lawan, sekali ini menyambutnya dengan Aji Wiso Sarpo yang hebat! Hawa sakti yang mengandung racun ular itu keluar dari telapak tangannya menyambut pukulan lawan.

"Wuuuttt.... bresss.....!!" Sekali ini Retno Susilo hanya mundur tiga langkah, akan tetapi tubuh Padmosari terjengkang dan roboh terguling-guling!

Harjodento, terkejut sekali dan dia cepat melompat ke depan. Maksudnya, untuk mencegah agar Retno Susilo tidak menyusulkan serangan kepada isterinya yang sudah roboh. Akan tetapi gadis itu salah mengerti. Ia mengira bahwa Harjodento akan menyerangnya, maka iapun mendahuluinya dengan serangan Aji Wiso Sarpo sambil mengerahkan tenaga sepenuhnya karena ia maklum betapa digdaya musuh gurunya ini. Menghadapi serangan ini, Harjodento tidak ada pilihan lain kecuali menyambutnya, Diapun mengerahkan Aji Nogo Dento yang sudah dikuasai sepenuhnya untuk menyambut pukulan Retno Susilo.

"Wuuuutttt.....blarrr...!" Pertemuan dua tenaga sakti sekali ini demikian bebatnya sehingga getarannya terasa oleh semua orang yang berada di sekeliling tempat itu. Retno Susilo terjengkang dan roboh terguling-guling sedangkan Harjodento hanya mundur dua langkah.

Sutejo cepat menangkap lengan Retno Susilo dan membantunya bangkit. Wajah gadis itu pucat dan napasnya terengah-engah. Sutejo menepuk punggungnya dan berkata, "Engkau cepat bersila dan mengatur pemapasan, diajeng." Retno Susilo yang maklum bahwa ia telah terluka karena pukulannya tadi membalik ketika berbenturan dengan hawa pukulan lawan, menurut. Ia duduk bersila di atas tanah dan mengatur pernapasannya.

"Kakangmas Sutejo, sekarang engkau majulah." katanya lirih, lalu ia memejamkan kedua matanya untuk mencurahkan perhatiannya kepada usahanya mengobati luka dalam yang dideritanya.

Sutejo mengangkat muka dan melihat bahwa Harjodento juga telah mengurut punggung isterinya dan kini Padmosari juga sedang duduk bersila di alas tanah. Kini Harjodento juga sudah bangkit berdiri dan memandang ke arah Sutejo yang melangkah menghampirinya. Mereka sudah saling berhadapan. Melihat mereka berhadapan, Cangak Awu segera berseru kepada Sutejo.

"Adi Sutejo, harap jangan berkelahi. Paman Harjodento tidak bersalah!"

"Kakang Cangak Awu, aku sudah berjanji untuk membantu diajeng Retno Susilo!" jawab Sutejo, lalu disambungnya. "Seperti engkau juga telah membantu mereka!"

"Biarlah, anak mas Cangak Awu. Seorang gagah tidak akan mundur menghadapi setiap tantangan. Orang muda, sekarang tinggal kita berdua untuk bertanding satu lawan satu. Majulah, aku telah siap!" kata Harjodento sambil menatap wajah Sutejo, pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya akan tetapi yang sikapnya mendatangkan rasa suka dalam hatinya.

"Andika sebagai golongan lebih tua, silakan mulai, paman!" kata Sutejo yang tidak dapat merasa benci kepada orang tua yang sikapnya gagah ini. Dia tidak percaya bahwa orang seperti ini dapat melakukan perbuatan jahat. Akan tetapi karena dia sudah berjanji kepada Retno Susilo, tentu saja dia tidak dapat mundur dan harus menghadapi lawan ini, Akan tetapi dia sudah mengambil keputusan dalam hatinya untuk tidak mengerahkan seluruh tenaganya menghadapinya agar tidak membahayakan keselamatan Harjodento.

"Orang muda, biarpun engkau masih muda, akan tetapi engkau datang Sebagai penantang. Maka jangan sungkan lagi, mulailah!" kata Harjodento.

Sutejo terpaksa mulai dengan pertandingan itu. "Awas seranganku!" bentaknya dan dia sudah menerjang maju sambil memukul dengan telapak tangan kanannya ke arah dada Harjodento. Ketua Nogo Dento ini mundur selangkah sambil memiringkan tubuh dan tangan kanannya membuat gerakan memutar untuk menangkis pukulan itu.

"Plaakkk...!" Lengan Sutejo tertangkis dan Harjodento membalas dengan serangan tangan kirinya yang menampar ke arah kepala Sutejo dari samping. Serangannya datang dengan cepat dan kuatnya, Sutejo mengerti bahwa lawannya memang tangguh, Hal ini dapat dilihatnya tadi betapa sekali mengadu tenaga saja Retno Susilo telah dapat dirobohkan, pada hal gadis itu memiliki pukulan yang mengandung hawa beracun. Kini melihat betapa tangkas dan cepatnya dan lawan membalas Serangannya, diapun mengelak ke kiri. Diapun menyerang lagi. Harjodento menangkisnya dan membalas. Dua orang itu segera bertanding dengan hebatnya. Gerakan mereka demikian mantap dan kuat. Makin lama gerakan mereka menjadi cepat sehingga yang tampak hanya dua bayangan yang berkelebatan.

Diam-diam Hariodento terkejut bukan main. Ternyata pemuda ini jauh lebih sakti dibandingkan murid Jatikusumo yang pernah membantu Retno Susilo ketika gadis itu pertama kali datang menantangnya. Karena pemuda itu jelas datang untuk membantu Retno Susilo yang bermaksud membunuh dia dan isterinya. maka Harjodento lalu mengerahkan seluruh tenaga dan menguras semua ilmunya untuk menangkan pertandingan itu.

Pertandingan itu memang hebat sekali. Cangak Awu kagum menyaksikan pertandingan itu dan diam-diam dia membandingkan Sutejo dengan Priyadi. Siapakah yang lebih tangguh di antara kedua orang muda itu? Seperti juga Sutejo. Priyadi telah memperoleh ilmu-ilmu yang membuatnya sakti mandraguna. Kini melihat pertandingan itu, diapun khawatir kalau-kalau Harjodento kalah.

Mungkin Sutejo tidak akan membunuh ketua Nogo Dento itu. akan tetapi bagaimana dengan gadis yang tampak garang dan galak itu? Apakah ia tidak akan membunuh suami isteri itu kalau mereka sudah kalah dan tidak berdaya? Bagaimanapun juga, kalau ada orang hendak membunuh suami isteri itu, dia akan mencegah dan membela mereka dengan taruhan nyawanya!

Setelah merasa betapa guncangan dalam dadanya sudah membaik dan rasanya tidak begitu nyeri lagi. Retno Susilo membuka matanya untuk mengikuti jalannya pertandingan itu. Iapun kagum bukan main. Ia tahu betapa saktinya orang yang harus dibunuhnya itu. Harjodento merupakan lawan yang amat tangguh. Akan tetapi kini orang itu mendapat lawan yang seimbang!

Pertandingan yang amat seru. Setiap kali kedua lengan mereka saling bertemu, seolah Retno Susilo dapat merasakan getaran hebat yang ditimbulkan karena pertemuan dua buah lengan itu. Saling tampar, saling jotos, saling tendang. Akan tetapi selalu dapat dihindarkan lawan dengan tangkisan atau elakan, kemudian dibalas dengan tidak kalah hebatnya...


Thanks for reading Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »