Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 13

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 13

SUTEJO menambahkan ranting pada api unggun dan ketika api bernyala lebih terang, ia memandang api dan termenung. Teringatlah dia akan semua wejangan yang pernah didengarnya dari mulut mendiang gurunya, Sang Bhagawan Sidik Paningal. Seolah terngiang di telinganya kata-kata mendiang gurunya ketika memberi wejangan kepadanya.

Hudup adalah perjuangan, demikian antara lain gurunya berkata. Perjuangan menghadapi segala macam tantangan berbentuk permasalahan, persoalan dan problema-problema. Segala tantangan itu harus dihadapi dengan tabah, dengan dasar pemasrahan diri lahir batin kepada Tuhan, dengan penuh kepercayaan bahwa Kekuasaan Tuhan pasti akan memberi bimbingan. Menghadapi segala tantangan itu, tidak melarikan diri, melainkan menanggulangi dan mengatasi.

Hati akal pikiran adalah sarang suka dan duka yang datang silih berganti, dan itulah romantika kehidupan yang harus kita terima dengan penuh kesadaran bahwa yang disebut suka dan duka itu bukan lain hanya sekadar penilaian dari hati akal pikiran, sesungguhnya semua yang terjadi adalah suatu kewajaran, terjadi karena memang telah digariskan demikian, terjadi karena sudah DIKEHENDAKI Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita tidak boleh tenggelam ke dalam duka di kala menghadapi peristiwa yang pada akhirnya merugikan, juga kita tidak boleh mabok dan lupa diri dalam suka dikala menghadapi peristiwa yang pada lahirnya menguntungkan. Dengan menjenguk dan melihat hikmah dari segala peristiwa yang menimpa diri kita, dengan penuh keyakinan bahwa segala yang terjadi itu dapat terjadi hanya karena telah dikehendaki Tuhan, maka kita akan terbebas dari seretan gelombang suka dan duka.

Hidup adalah pelaksanaan kewajiban-kewajiban. Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, sebagai seorang anak sebagai seorang saudara, sebagai seorang sahabat, sebagai seorang warga negara, sebagai seorang manusia. Semua kewajiban itu harus dilaksanakan sebaik mungkin, menjadi ayah yang baik, menjadi ibu yang baik, menjadi anak yang baik dan seterusnya. Dan untuk melaksanakan kewajiban dengan sebaiknya kita harus berusaha, berikhtiar sekuat kemampuan kita.

Menyerahkan diri lahir batin kepada Tuhan bukan berarti kita lalu tidak acuh, bukan berarti kepasrahan yang pasip atau penyerahan yang mati. Kita wajib berikhtiar, berusaha sekuat kemampuan kita. Namun semua usaha itu didasari kepasrahan, penyerahan kepada Tuhan dengan penuh keikhlasan dau ketawakalan. Kepasrahan yang disertai keyakinan sebulatnya bahwa Tuhan pasti akan memberi bimbingan kepada kita, dalam keadaan bagaimanapun juga. Yang mendorong kita bergerak dalam kehidupan ini adalah nafsu-nafsu kita.

Tanpa adanya nafsu, kita tidak mungkin hidup sebagai manusia yang demikian maju dalam keduniawian. Akan tetapi, tanpa bimbingan Tuhan, tanpa adanya Kekuasaan Tuhan yang bekerja dalam diri kita, kita dapat terseret oleh nafsu-nafsu kita sendiri yang mengakibatkan kehancuran lahir batin. Jiwa kita akan tertutup dan tak tampak sinarnya seperti sinar matahari yang tertutup awan mendung. Namun, dengan Kekuasaan Tuhan yang bekerja dalam diri kita. Kekuasaan yang membimbing, digerakkan oleh kepasrahan kita yang total, maka nafsu-nafsu kita tidak akan meliar dan bersimaharajalela! Hanya Tuhan yang dapat menjinakkan daya-daya rendah sehingga nafsu-nafsu itu kembali kepada fungsinya semula, ialah menjadi peserta dan pelayan kita dalam kehidupan di dunia ini.

Sutejo menghela napas panjang ketika teringat akan semua ini. Betapa mudahnya dipikirkan dan dibicarakan. Namun, betapa sukarnya untuk menyerah! Menyerah lahir batin, berarti penyerahan tanpa ikutnya hati akal pikiran karena kalau yang menyerah itu hati akal pikiran, pasti di situ muncul pamrihnya. Menyerah agar begini dan begitu, pokoknya agar menguntungkan lahir maupun batin! Penyerahan seperti itu jelas bukan penyerahan namanya, melainkan penyuapan! Penyogokan! Menyogok dengan kepasrahan untuk mendapatkan sesuatu yang tentu saja menyenangkan dan menguntungkan.

Nafsu yang dibiarkan meliar melahirkan keinginan-keinginan. Keinginan akan sesuatu yang lebih membuat apa saja yang telah didapatkan kehilangan keindahannya sehingga kita tidak lagi dapat menikmati apa yang telah kita dapatkan. Ini berarti bahwa kita tidak dapat menyukuri apa yang diberikan Tuhan kepada kita. Karena keinginan untuk mendapatkan yang lebih membuat apa yang berada di tangan tampak tidak berharga, tidak cukup dan kurang menyenangkan. Keinginan akan hal yang lebih membuat kita tidak pernah dapat merasakan kepuasan. Keinginan jugalah yang menyeret kita untuk melakukan pengejaran dan seringkah terjadi, dalam pengejaran ini kita lupa diri. mementingkan pengejarannya sehingga menghalalkan segala cara. Pada hal, bukan TUJUAN yang terpenting, melainkan CARA mencapai tujuan.

Berbahagialah orang yang tidak mengejar keinginan apapun juga. Karena orang demikian itu akan selalu menerima apa yang ada dengan penuh rasa sukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Orang demikian itu melihat keindahan pada apa yang didapatkannya dan dapat menikmati segala macam hasil pekerjaannya.


Sutejo tersenyum sendiri. Dia teringat akan kehidupan para petani di dusun-dusun. Para petani itu tidak mempunyai banyak keinginan dan karenanya dapat menikmati apa yang mereka dapatkan sehingga pada umumnya kehidupan mereka tenteram. Makin sederhana kehidupan seseorang, semakin sederhana pula kebutuhan hidupnya sehingga mudah terjangkau. Sebaliknya, orang-orang yang berkedudukan tinggi dan berharta memiliki kebutuhan yang semakin tinggi pula sehingga sukar dijangkau dan karenanya menimbulkan kesengsaraan batin.

Tanpa terasa tengah malam telah lewat. Sutejo mendengar gerakan di belakangnya. Dia menoleh dan melihat Retno Susilo menggeliat seperti seekor kucing manja. Dalam keadaan baru setengah sadar gadis itu menggeliat dan Sutejo terpaksa harus membuang muka dau tidak berani memandang lebih lama lagi karena penglihatan itu demikian menarik hatinya, membuat jantungnya berdebar. Dia pura-pura tidak tahu saja bahwa gadis itu hampir terbangun.

"Kakangmas Sutejo..." terdengar gadis itu menyapanya.

Sutejo menoleh. "Ah, engkau terbangun, diajeng Retno? Tidurlah kembali, malam semakin larut."

"Tidak, kakangmas. Aku harus menggantikanmu menjaga api unggun. Engkau mengasolah!" Gadis itu bangkit berdiri dan menghampiri api unggun, lalu duduk berhadapan dengan Sutejo, terhalang api unggun.

"Diajeng Retno, engkau adalah seorang wanita dan aku seorang pria. Sepantasnya kalau wanita mengaso dan tidur sedangkan pria melakukan penjagaan. Aku tidak mengantuk, biarlah aku yang berjaga sampai pagi."

"Aku sudah mengaso dan tidur. Sudah cukup bagiku dan sekarang aku tidak lelah atau mengantuk lagi. Pria atau wanita sama saja dalam hal menjaga keamanan, kakangmas. Apa lagi aku bukan seorang wanita lemah yang selalu harus dilindungi, melainkan seorang wanita yang mampu melindungi diri sendiri. Engkau tidurlah. Besok kalau kita berhadapan dengan Harjodento, engkau membutuhkan tenaga sepenuhnya. Retno Susilo membujuk dan karena kata-katanya tegas dan agaknya tidak dapat dibantah lagi, Sutejo mengangguk kemudian dia duduk di bawah pohon, bersandar pada pohon dan mengaso.

********************

Priyadi berjalan menghampiri pondok bambu itu. Wajahnya berseri dan mulutnya terhias senyuman yang makin melebar ketika dia melihat seorang wanita cantik keluar dari pondok itu dan berlari menyambutnya dengan kedua lengan dikembangkan. Priyadi juga mengembangkan kedua lengannya dan ketika dua orang itu bertemu, mereka saling berangkulan dengan mesra. Wanita itu bukan lain adalah Sekarsih yang telah beberapa lamanya menjadi kekasih Priyadi.

"Kau tampak semakin cantik saja, Sekarsih!" puji Priyadi setelah mencium wanita itu. Sekarsih merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan Priyadi dan mulutnya cemberut manja. "Kau bocah nakal! Mengapa sampai berbulan-bulan tidak muncul? Aku susah payah mencarimu tanpa hasil, Ke mana saja engkau pergi? Apakah engkau telah melupakan aku?"

"Aku sama sekali tidak pernah dapat melupakanmu, sayang. Bagaimana mungkin aku dapat melupakan wanita cantik jelita yang juga menjadi guruku dalam seni bercinta? Tidak, aku pergi karena untuk memperdalam ilmuku dan aku telah berhasil baik. Aku sekarang bahkan ingin agar engkau menguji kepandaianku, Sekarsih. Aku ingin melihat sampai di mana kemajuanku, maka engkaulah orang yang tepat untuk mengujiku. Dahulu, sukar sekali bagiku untuk menandingimu, terus terang saja aku masih kalah setingkat olehmu. Akan tetapi sekarang, mari kita coba-coba, Sekarsih."

Wajah wanita itu berseri dan matanya bersinar-sinar. "Ah, benarkah? Aku girang sekali kalau engkau memperoleh kemajuan dalam ilmu kanuragan, Priyadi. Mari aku mengujimu. Siap dan sambut seranganku!" Setelah berkata demikian, sambil tersenyum gembira Sekarsih menyerang dengan cengkeraman tangan kirinya yang membentuk cakar singa ke arah pundak Priyadi. Wanita ini mengira bahwa ilmu kepandaian Priyadi hanya maju begitu saja dan mengira bahwa pemuda itu tentu belum mampu menandinginya. Ia memang menyerang dengan Aji Singarodra, ilmu silat yang gerakannya seperti seekor singa, dengan membentak kedua tangan menjadi seperti cakar. Akan tetapi dalam penyerangannya, ia hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya.

Priyadi melihat ini. Dia tahu bahwa kekasihnya itu masih belum percaya bahwa dia telah menguasai ilmu ilmu yang hebat, maka melihat serangan yang lemah saja itu, dia lalu memutar lengannya dan menangkis ke atas dengan pengerahan tenaga. "Wuuutt ......desss ......!!" Tubuh Sekarsih terpelanting dan hampir saja ia jatuh. Ia terkejut sekali dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

"Salahmu sendiri Sekarsih. Engkau terlalu memandang rendah kepadaku. Sudah kukatakan bahwa kepandaianku telah maju pesat. Untuk dapat mengujiku dengan baik, engkau harus mengeluarkan semua ilmu simpananmu dan mengerahkan seluruh tenagamu. Mari seranglah, makin hebat makin baik!"

Timbul kegembiraan di hati Sekarsih, juga penasaran. Ia tahu benar bahwa biasanya, tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi sedikit dibandingkan ilmu kepandaian Priyadi. "Baik, Priyadi Awas, aku akan menyerangmu dengan Aji Singarodra. Haiiiit!"

Ia kini menerjang dengan dahsyatnya gerakannya seperti seekor harimau menerkam domba. Namun Priyadi yang kini telah memiliki tenaga sakti hebat, dapat bergerak cepat dan tahu-tahu dia sudah mengelak dengan mudah. Biarpun dia bersilat dengan Aji Gelap Musti dari aliran Jatikusumo, namun gerakannya kini jauh berbeda dengan dahulu. Gerakannya cepat bukan main seolah tubuhnya itu menjadi ringan sekali, dan gerakan tangannya mendatangkan angin yang amat kuat, tanda bahwa dia kini memiliki tenaga dalam yang hebat sekali. Sekarsih dapat melihat dan merasakan ini. Wanita itu menjadi kagum dan juga girang, namun juga penasaran dan ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya untuk mencoba mengalahkan Priyadi. Namun semua serangannya dapat dihindarkan Priyadi dengan elakan atau tangkisan dan setiap kali lengannya bertemu dengan lengan Priyadi yang menangkisnya, Sekarsih tentu terpental dan terhuyung!

Setelah lewat tiga puluh jurus, tiba tiba Priyadi berseru, "Sekarsih, sekarang aku akan membalas. Sambutlah!" Tangannya menampar dengan kecepatan kilat. Dia menggunakan Aji Margopati akan tetapi membatasi tenaganya karena dia tidak ingin mencelakai kekasihnya itu. Melihat tamparan yang demikian dahsyat, Sekarsih cepat mengerahkan tenaganya dan menangkis.

"Wuuuttt...... desss.....!!" Tubuh Sekarsih terlempar sampai jauh dan ia terpelanting jatuh. Priyadi sudah melompat dekat dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu bangkit Sekarsih meringis, dadanya terasa agak sesak akan tetapi ia memandang kepada Priyadi dengan mata terbelalak.

"Bukan main.....! Engkau hebat sekali, Priyadi! Dari mana engkau memperoleh kemajuan yang demikian hebatnya dalam waktu hanya beberapa bulan saja?"

Priyadi tersenyum. "Itu rahasiaku sendiri, Sekarsih. Tamparanku tadi mengandung kekuatan Aji Margopati, hanya kupergunakan setengahnya saja. Kalau aku mengerahkan seluruh tenagaku, tentu engkau sudah rebah untuk tidak dapat bangkit kembali. Akan tetapi bukan hanya itu ilmu-ilmu yang kukuasai. Coba kau pertahankan aji penyirepanku kalau engkau mampu" Priyadi lalu membungkuk untuk mengambil segenggam tanah, berkemak-kemik membaca mantra sambil mengerahkan kekuatan batinnya, kemudian dia menaburkan tanah itu ke arah Sekarsih. Tiba-tiba saja Sekarsih terkulai dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tidur pulas!

Priyadi tertawa bergelak sambil menengadahkan kepala. Hatinya merasa girang dan bangga sekali. Semenjak memperoleh ilmu-ilmu yang ampuh dari Resi Ekomolo, dia belum pernah mencoba ilmu-ilmu itu. Sekarang, dia dapat mencobanya kepada Sekarsih. Kalau seorang seperti Sekarsih yang dia tahu memiliki kesaktian dapat dia tundukkan dengan ilmu-ilmunya, hal itu berarti bahwa semua ilmu yang dikuasainya itu benar-benar ampuh dan dahsyat! Dia menggunakan Aji Penyirepan Begonondo membuat Sekarsih seketika jatuh tertidur, dan tadi dia menggunakan sedikit tenaga dari Margopati yang membuat wanita itu terlempar dan terjatuh!

Sambil tersenyum dengan wajah berseri Priyadi lalu menyadarkan Sekarsih dengan ilmunya itu. Sekarsih terbangun dan mengusap-usap. kedua matanya. Ia bangkit dan dibantu berdiri oleh Priyadi, "Apa yang telah terjadi...? Apa yang terjadi padaku...?" Sekarsih bertanya, agak bingung.

Priyadi tertawa. "Ha-ha-ha, engkau tadi tertidur pulas. Sekarsih. Engkau tidak tahan menghadapi Aji Penyirepan Begonondo yang kulepaskan padamu."

Sekarsih terkejut, terheran juga kagum sekali. Ia merangkul pemuda itu. "Priyadi, engkau sungguh hebat! Dua macam aji kesaktianmu tadi benar-benar telah mengalahkan aku!"

"Bukan hanya itu, Sekarsih. Masih ada aji-aji lain lagi yang kukuasai. Di antaranya ada yang akan membahagiakanmu. Mari kita masuk ke dalam pondokmu, di dalam pondok engkau nanti akan menikmati aji lain yang kukuasai, yaita Aji Pengasihan Mimi Mintuno!"

Mereka masuk ke dalam pondok sambil bergandeng tangan. Di dalam pondok itu Priyadi mencoba ajinya yang lain, mengerahkan Aji Pengasihan Mimi Mintuno dan Sekarsih demikian terpengaruh sehingga ia hampir gila tenggelam ke dalam buaian asmara sehingga Ia semakin tergila-gila kepada Priyadi.

Tanpa menggunakan aji apapun. Sekarsih memang sudah tergila-gila kepada Priyadi. Ia mencinta pemuda itu. Belum pernah wanita ini jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya, Biasanya, para pria yang jatuh ke dalam pelukannya hanya menjadi permainannya saja, pemuas nafsunya. Akan tetapi kepada Priyadi ia benar-benar jatuh cinta dan rasanya ia mau melakukan apa saja untuk pemuda ini. mau membelanya dengan taruhan nyawa sekalipun. Apa lagi setelah Priyadi menggunakan Aji Pengasihan Mimi Mintuno, wanita itu jatuh benar-benar dan rasanya rela menjadi budak dan pemuda itu. Lebih lagi setelah kini ia tahu bahwa Priyadi memiliki kepandaian yang amat tinggi, sakti mandraguna, membuat Ia tunduk dan takluk.

"Sekarsih," kata Priyadi setelah mereka puas berkasih mesra, "aku membutuhkan bantuanmu"

Sekarsih bangkit duduk dan memandang dengan wajah berseri. "Membutuhkan bantuanku? Katakanlah, Priyadi, bantuan apa yang dapat kuberikan kepadamu? Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membantumu!" Sikapnya penuh gairah seolah permintaan bantuan itu merupakan suatu hal yang amat menggembirakan hatinya.

"Kau sungguh mau membantuku sampai aku berhasil?"

"Aku mau membantumu, biarpun aku harus menyeberangi lautan api dan mempertaruhkan nyawa untuk itu!" kata Sekarsih penuh semangat.

Priyadi tersenyum. "Tidak perlu engkau harus mempertaruhkan nyawa, sayang. Aku hanya ingin engkau membantuku untuk membujuk gurumu, Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo itu agar mereka mau bersekutu denganku."

Sekarsih mengerutkan alisnya dan menjawab, "Tentu saja aku mau memenuhi permintaanmu untuk membujuk mereka. Akan tetapi, guruku dan Resi Wisangkolo adalah orang-orang yang berwatak aneh. Perguruan Jatikusumo pernah bermusuhan dengan mereka bahkan mereka telah dipukul mundur. Engkau adalah murid Jatikusumo, bagaimana mungkin mereka mau bersekutu denganmu, Priyadi?"

"Aku akan menguasai perguruan Jatikusumo. Aku yang akan menjadi ketua Jatikusumo dan aku sebagai ketua berhak memutuskan bahwa Jatikusumo tidak lagi menganggap mereka sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat."

"Akan tetapi engkau bukan murid kepala Jatikusomo dan perguruan itu masih dipimpin oleh Bhagawan Sindusakti, gurumu."

揂ku akan mengambil alih kedudukan ketua Jatikusumo!"

"Dengan kekerasan?"

"Kalau perlu dengan kekerasan!"

"Engkau akan melawan gurumu dan saudara-saudara seperguruanmu sendiri?"

"Apa boleh buat. Untuk mencapai cita-cita, kalau perlu harus mengorbankan sesuatu."

"Bagus sekali! Engkau memang hebat, kekasihku! Kalau engkau sudah menjadi ketua Jatikusumo, tentu guruku dan Resi Wisangkolo akan memandangmu sebagai orang yang sederajat. Akan tetapi aku mengenal watak mereka yang aneh. Mereka tentu akan menguji lebih dulu apakah engkau pantas untuk menjadi sekutu mereka."

"Aku siap untuk menguji kesaktian melawan mereka." kata Priyadi penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Akupun percaya bahwa engkau akan mampu menandingi mereka, Priyadi. Akan tetapi, apa maksudmu mengajak mereka untuk bersekutu denganmu? Apa tujuannya?"

"Hemm, mereka adalah orang-orang sakti mandraguna yang patut untuk kujadikan sekutu. Bersama mereka aku dapat meraih kedudukan tinggi. Kita dapat membantu gerakan kadipaten Wirosobo untuk bersama para kadipaten lain meruntuhkan Mataram. Kalau usaha itu berhasil, aku akan dapat meraih kedudukan tinggi. Selain itu, aku juga ingin disebut pendekar tanpa tanding di seluruh nusantara!"

"Bagus sekali cita-citamu. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku, Akan tetapi apakah engkau sudah mengadakan hubungan dengan pihak kadipaten Wirosobo?" tanya Sekarsih, merasa gembira sekali mendengar cita-cita Priyadi yang muluk-muluk itu. Cita cita semuluk itu tidak pernah terpikirkan oleh Sekarsih. Gurunya juga tidak pernah memiliki cita-cita setinggi itu sehingga kini ia merasa gembira bukan main.

"Tantang kadipaten Wirosobo, mudah. Seorang paman guruku, Bhagawan Jaladara telah menjadi seorang pembantu Wirosobo yang berpengaruh. Kalau aku dapat membujuk dan meyakinkannya sehingga pusaka Jatikusumo yaitu Pecut Sakti Bajrakirana dapat dia serahkan kepadaku, maka kadipaten Wirosobo temu akan menerima bantuanku dengan senang hati. Sekarang kita membagi tugas, Sekarsih. Eagkau temuilah gurumu dan Resi Wisangkolo membujuk meieka agar mau bergabung dan membantuku. Aku sendiri akan pergi menemui Paman Guru Bhagawan Jaladara di kadipaten Wirosobo."

"Jangan sekarang, Priyadi!" Sekarsih membujuk sambil merangkul. "Biar malam ini kita bersama di sini, besok baru kita berpisah melakukan tugas masing-masing"

Priyadi tertawa dan diapun menuruti kehendak wanita yang sudah tergila-gila kepadanya itu. Dia merasa gembira sekali. Dalam diri Sekarsih dia menemukan seorang kekasih yang amat mencintanya dan amat menyenangkan hatinya, juga sebagai seorang pembantu yang boleh diandalkan dan dapat dipercaya kesetiaannya.

********************

Bhagawan Jaladara lelah diangkat menjadi penasihat oleh Adipati Wirosobo. Pangkat ini cukup tinggi dan berpengaruh, bahkan lebih tinggi dari pada pangkat senopati karena dalam banyak hal, Sang Adipati Wirosobo banyak minta pendapat dan nasehat Bhagawan Jaladara. Diapun mendapatkan sebuah rumah gedung sebagai tempat tinggalnya. Dua orang yang sejak semula membantunya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, juga tinggal di gedung itu dan ikut membonceng kemuliaan yang dinikmati Bhagawan Jaladara.

Bhagawan Jaladara adalah seorang yang memiliki keinginan muluk. Dia ingin menjadi seorang yang memiliki kekuasaan karena dia tahu benar bahwa kekuasaan dapat mendatangkan kemuliaan, dapat mendatangkan kekayaan dan kesenangan. Biarpun sejak mudanya dia sudah mendapat gemblengan dan mendiang Resi Limut Manik, bukan hanya gemblengan jasmani melainkan juga gemblengan rohani namun nafsunya yang merajalela, menyeretnya kedalam pengejaran kesenangan dengan menghalalkan segala cara.

Dia bukan lupa akan semua pelajaran tentang budi pekerti itu, melainkan dia sengaja tidak mengacuhkannya karena semua anggota jasmaninya, termasuk hati akal pikirannya, telah dikuasai oleh nafsunya sendiri sehingga apapun yang dilakukannya untuk mengejar kesenangan, dibenarkan belaka oleh hati akal pikirannya. Manusia yang berada dalam keadaan seperti itu seperti orang mabok, bisikan hati nuraninya sudah amat lemah, hanya bisik-bisik dan lapat-lapat sehingga hampir tidak terdengar. Kalah oleh suara bujukan yang lantang dan manis dari nafsu daya rendah yang memegang tampuk kendali.

Rumah kediaman Bhagawan Jaladara besar dan megah. Di pintu halaman terdapat sebuah gardu yang siang malam dijaga oleh lima orang perajurit, sebagaimana layaknya seorang pejabat tinggi atau orang penting. Juga dia mempunyai belasan orang pelayan wanita, masih muda-muda dan cantik-cantik yang siap melayaninya untuk keperluan apapun juga dikehendakinya.

Pada suatu pagi yang cerah. Lima orang perajurit baru saja datang untuk menggantikan lima orang perajurit yang telah berjaga sepanjang malam di gardu depan pekarangan rumah gedung Bhagawan Jaladara itu. Karena baru saja memulai dengan tugas mereka hari itu, lima orang perajurit ini masih segar dan bersemangat. Mereka berdiri menjaga di depan gardu, tegak dan gagah, memegang tombak dan berwajah keren sehingga tampak menyeramkan bagi orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya depan gedung itu.

Kepala jaga, seorang laki-laki tinggi besar dan gagah yang membawa sebatang pedang di pinggangnya duduk di atas bangku sambil mengamati orang yang berlalu-lalang dengan sikap angkuh. Pada saat seperti itu, sadar akan kekuasaan yang dipegangnya dalam regunya yang melakukan penjagaan, dia tidak merasa sebagai seorang kepala jaga biasa, melainkan merasa sebagai seorang senopati yang memimpin sepasukan perajurit!

Priyadi melangkah dengan tenang menghampiri gardu di depan pekarangan rumah Bhagawan Jaladara. Para penjaga segera memalangkan tombaknya menghadang dan mata mereka memandang kepada Priyadi dengan melotot galak.

"Ki sanak, siapakah engkau dan mau apa engkau datang ke sini?" tanya kepala jaga yang tinggi besar dan kumisnya sekepal sebelah itu, tangan kanannya meraba gagang pedang dengan sikap mengancam.

Priyadi tetap bersikap tenang. "Aku bernama Priyadi dan aku datang untuk menghadap Paman Bhagawan Jaladara dan bicara dengannya. Harap laporkan kedatanganku kepadanya"

Kepala jaga itu mengerutkan alisnya yang tebal dan sepasang matanya mengamati wajah Priyadi penuh kecurigaan. "Mau apa engkau hendak menghadap Sang Bhagawan?"

Priyadi tersenyum. "Aku mempunyai urusan pribadi yang penting dengan dia dan aku hanya dapat membicarakan urusan itu dengan dia, tidak dengan orang lain."

"Hemm kau kira mudah saja hendak bertemu dengan Sang Bhagawan? Tidak mudah sobat!"

"Hemm, apa syaratnya untuk dapat bertemu dengan Sang Bhagawan?"

"Engkau harus membawa surat ijin dari seorang pejabat tinggi di sini,"

"Akan tetapi aku tidak mempunyai kenalan pejabat tinggi, Sobat, harap laporkan saja kepada Paman Bhagawan bahwa Priyadi hendak menghadap. Tentu dia akan menerimaku."

Kepala jaga itu tampak ragu-ragu. "Akan tetapi sepagi ini dia belum bangun. Sebaiknya engkau kembali siang nanti saja."

"Akan tetapi aku perlu bicara sekarang."

"Tidak bisa. Pergilah dan kembali nanti siang saja?" hardik kepala Jaga itu.

"Kalau aku nekat masuk?"

Kepala jaga itu mencabut pedangnya. "Berarti engkau mencari penyakit. Kami akan menangkapmu sebagai seorang penjahat!"

Priyadi tersenyum, membungkuk dan mengambil segenggam tanah. Dia memandang lima orang perajurit yang menghadapinya dengan sikap galak itu dan diam-diam dia mengerahkan Aji Penyirepan Begonondo. Lalu menyebarkan tanah itu ke arah muka lima orang itu. Lima orang perajurit itu terkejut dan hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba mereka semua terhuyung. Kepala jaga memasuki gardu dan menjatuhkan diri di atas bangku, meletakkan kepala di atas meja dan tidur mendengkur.

Empat orang anak buahnya juga sudah terkulai, ada yang duduk di atas lantai bersandarkan gardu, ada yang menjatuhkan diri di atas bangku dan semuanya sudah tertidur. Sungguh merupakan penglihatan yang lucu sekali melihat semua penjaga itu tertidur di pagi hari itu. Orang-orang yang berlalu lalang di jalan depan gedung itu memandang dengan terheran-heran, juga ada yang menahan ketawa melihat lima orang penjaga itu tidur mendengkur di pos penjagaan mereka. Tidak ada yang melihat ketika Priyadi menyerang mereka dengan Aji Penyirepan Begonondo tadi.

Dengan langkah tenang Priyadi memasuki halaman rumah. Ketika dia tiba di ruangan depan, seorang pelayan wanita melihatnya dan pelayan ini ketakutan melihat seorang asing memasuki ruangan depan. Ia segera berlari masuk ke dalam dan memberi laporan kepada Bhagawan Jaladara yang baru saja terbangun dari tidurnya. Melihat pelayan wanita itu berlari-lari, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda segera mengejarnya dan memasuki ruangan di mana Bhagawan Jaladara sedang duduk menghadapi minuman panas.

Pelayan wanita yang berlari-larian itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bhagawan Jaladara. Kakek itu mengerutkan alisnya dan menjadi semakin heran melihat Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda juga berlari memasuki ruangan itu.

"Eh, ada apakah ini? Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, kenapa kalian berlarian masuk ke ruangan ini tanpa dipanggil?"

"Kami melihat pelayan wanita ini berlari-lari, maka kami mengejar dan ingin tahu apa yang telah terjadi." kata Ki Warok Petak.

"Heii kamu! Kenapa berlari-larian seperti dikejar setan?"

"Ampun, Kanjeng Bhagawan. Ada seorang pemuda asing memasuki ruangan depan. Karena curiga dan khawatir maka saya datang melaporkan."

"Siapa dia?" Bhagawan Jaladara berseru kaget.

"Aku yang datang menghadap, Paman Bhagawan Jaladara!" terdengar jawaban dan Priyadi muncul di pintu ruangan itu. Tiga orang Jagoan Wirosobo itu terkejut, akan tetapi Bhagawan Jaladara segera mengenal Priyadi.

"Hemm, bukankah engkau murid Jatikusumo, murid Kakang Bhagawan Sindusakti?" tanyanya.

"Benar, Paman Bhagawan. Aku adalah Priyadi. murid Jatikusumo."

"Hei, orang muda! Berani engkau masuk tanpa ijin? Engkau hendak membuat kekacauan di sini?" bentak Ki Warok Petak yang berwatak brangasan dan dia sudah melangkah lebar menghampiri Priyadi dengan sikap mengancam.

"Ki Warok Petak, mundurlah! Dia adalah murid keponakanku sendiri!" bentak Bhagawan Jaladara dan mendengar ini, Ki Warok Petak menahan langkahnya dan mundur.

"Maafkan aku, Paman Bhagawan Jaladara kalau kunjunganku ini mengganggu dan mengagetkan paman." kata Priyadi dengan sikap lembut.

"Ah, tidak mengapa, Priyadi. Engkau sama sekali tidak mengganggu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat masuk ke sini. Bukankah di luar terdapat para perajurit berjaga di gardu?" tanya Bhagawan Jaladara. Pada saat itu, seorang laki-laki yang bekerja sebagai tukang kebun datang dengan wajah pucat dan napas terengah.

"Celaka, Kanjeng... para perajurit yang berjaga di gardu itu... mereka semua tertidur pulas....!"

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya, akan tetapi dia lalu menoleh kepada Priyadi. "Engkau yang melakukan itu, Priyadi?"

"Maaf, paman. Mereka tadi tidak memperkenankan aku masuk. Terpaksa aku menggunakan aji penyirepan untuk membuat mereka tertidur."

Bhagawan Jaladara tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, ampuh sekali aji penyirepanmu itu, Priyadi. Sekarang bangunkan mereka!"

Priyadi mengambil segenggam tanah dari pot bunga yang berada di ruangan itu dan meniupnya, lalu menyerahkannya kepada tukang kebun. "Taburkan tanah ini ke muka mereka dan mereka akan terbangun." katanya.

Tukang kebun menerima segenggam tanah Itu dan bergegas keluar dari ruangan.

"Ha-ha-ha, engkau pantas menjadi murid Jatikusumo, Priyadi. Aku kagum kepadamu. Sekarang, katakan apa keperluanmu datang menghadapku? Apakah engkau diutus oleh Kakang Bhagawan Sindusakti?"

"Tidak, paman. Aku datang atas kehendakku sendiri karena ada hal yang teramat penting hendak kubicarakan dengan paman."

"Ah, begitukah? Urusan penting apakah itu? Cepat katakan!"

Priyadi melirik ke arah dua orang pembantu Bhagawan Jaladara dan wanita pembantu yang masih berlutut di situ. Bhagawan Jaladara mengerti akan isyarat ini.

"Engkau mundurlah!" katanya kepada wanita pembantu yang segera menyembah dan mengundurkan diri. Ketika melihat Priyadi masih melirik kepada Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dia berkata dengan halus kepada mereka berdua.

"Kalian mundurlah dulu, aku hendak bicara berdua saja dengan murid keponakanku ini," Dua orang jagoan itu mengerutkan alisnya memandang kepada Priyadi, akan tetapi mereka tidak berani membantah lalu keluar dari ruangan itu.

"Nah, sekarang katakan apa sebenarnya yang hendak kau bicarakan, Priyadi?" Dia berhenti sebentar, menduga-duga. "Tentu gurumu yang mengutusmu untuk mengatakan bahwa dia sudah menyetujui usulku untuk membantu Wirosobo, bukan?"

"Sayang sekali tidak begitu, Paman Bhagawan." kata Priyadi sambil menggeleng kepalanya.

"Lalu apa yang hendak kau bicarakan? Duduklah."

Priyadi duduk di atas sebuah bangku berhadapan dengan Bhagawan Jaladara, kemudian dia berkata dengan sikap tenang. "Justeru Sebaliknya, paman. Bapa guru mengajak kami para muridnya berbincang-bincang mengenai penawaran paman, Bapa Bhagawan Sindusakti, didukung oleh Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan Adi Cangak Awu, menyatakan bahwa mereka itu setia kepada Mataram dan sekali-kali tidak mau membantu Wirosobo yang dianggap memberontak."

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya. "Akan tetapi di depanku Kakang Sindusakti tidak menyatakan demikian!"

"Tentu saja, paman. Bapa Guru menyatakan setuju karena dia menghendaki agar paman menyerahkan Pecut Bajrakirana! Kalau pecut pusaka itu telah paman serahkan, baru Bapa Guru akan menyatakan pendiriannya dan menentang paman."

"Akan tetapi mengapa bisa demikian?"

"Karena Sutejo telah datang dan pemuda itu yang mengadu kepada Bapa Guru bahwa Paman Bhagawan Jaladara yang membunuh Eyang Resi Limut Manik dan mencuri Pecut Sakti Bajrakirana."

Bhagawan Jaladara bangkit berdiri dengan marah. "Ahh! Bedebah Sutejo itu! Dan gurumu percaya?"

"Harap paman duduk dengan tenang. Agaknya Bapa Guru percaya walaupun masih meragu. Akan tetapi yang jelas, Bapa Guru menghendaki agar paman menyerahkan Pecut Bajrakirana dan aku yakin Bapa Guru tidak akan mau membantu Wirosobo. Bahkan ada tanda-tandanya Bapa Guru dan para muridnya, kecuali aku, akan menentang paman."

"Kenapa kecuali engkau, Priyadi? Setelah gurumu dan semua saudara seperguruanmu menentangku, kenapa engkau tidak dan mau apa pula engkau datang menemui aku?" Sepasang mata Bhagawan Jaladara mengamati wajah Priyadi penuh selidik.

"Aku tidak sependapat dengan Bapa Guru dan para saudara seperguruanku. Aku datang menemui paman untuk mengajak bekerja sama! Aku dapat menghimpun tenaga dan kelak membantu Kadipaten Wirosobo menggempur Mataram."

"Hemm, engkau orang muda dapat berbuat apakah? Apa usulmu dalam kerja sama ini?" tanya Bhagawan Jaladara yang tentu saja memandang rendah murid keponakannya yang masih muda itu.

"Paman, aku mengusulkan agar paman suka menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadaku."

"Hemm, enak saja kau katakan demikian! Lalu apa yang dapat kau lakukan untukku?"

"Aku dapat menguasai Jatikusumo dan mengangkat diriku menjadi ketua Jatikusumo dan aku dapat menarik Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, dua orang yang sakti mandraguna, untuk bergabung dan membantu gerakan Kadipaten Wirosobo!" kata Priyadi dengan suara mengandung penuh keyakinan.

Bhagawan Jaladara tertawa. "Ha-ha-ha, sumbarmu seperti geledek di tenga hari terik, Priyadi! Apa yang dapat kau lakukan terhadap Kakang Bhagawan Sindusakti, Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu? Engkau tidak akan mampu menandingi gurumu dan kakak-kakak seperguruanmu sendiri! Belum lagi para murid perguruan Jatikusumo yang tentu saja akan membela guru mereka dan menentangmu."

"Aku dapat mengalahkan Bapa Guru dan para saudara seperguruanku, dan dengan Pecut Bajrakirana di tanganku, akan dapat kukuasai semua anak buah Jatikusumo, Paman Bhagawan Jaladara."

揌emm, jangan main-main dan jangan mempermainkan aku, Priyadi. Aku sendiri saja tidak akan mampu menandingi Kakang Bhagawan Sindusakti, apa lagi engkau! Apa yang kau andalkan?"

"Paman, aku telah mempelajari banyak ilmu yang akan cukup untuk mengalahkan Bapa Guru Sindusakti. Kalau paman tidak percaya, paman boleh menguji kemampuanku."

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya. "Benarkah itu? Baik, aku akan mengujimu. Akan tetapi jangan salahkan aku kalau engkau cedera karena hal itu pantas untuk menghukummu yang mempermainkan seorang tua." Bhagawan Jaladara bertepuk tangan tiga kali dan muncullah Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang pembantunya yang setia dan tangguh.

Dua orang pembantu itu memandang heran kepada atasan mereka. Di situ tidak ada bahaya apapun, mengapa Bhagawan Jaladara memberi isyarat panggilan seperti dalam keadaan bahaya? "Kakang Bhagawan memanggil kami?" tanya Ki Warok Petak yang bertubuh tinggi besar dan kumisnya tebal sekepal sebelah itu.

"Benar," kata Bhagawan Jaladara. "Aku memanggil kalian berdua karena ada keperluan penting. Priyadi beranikah engkau menghadapi mereka

Priyadi mengangguk tenang. "Tentu saja aku berani, paman."

"Nah. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Aku ingin menguji kedigdayaan murid keponakanku ini dan kalian sudah mendengar sendiri. Dia berani menghadapi pengeroyokan kalian berdua. Coba kalian maju bersama menguji sampai di mana kemampuannya dan jangan sungkan, keluarkan semua kemampuan kalian untuk merobohkan dan mengalahkannya."

Ki Warok Petak saling pandang dengan Ki Baka Kroda lalu mereka tertawa. "Ah, kakang Bhagawan harap jangan main-main! Mana bisa kami berdua harus maju mengeroyok pemuda ini? Seorang dari kami saja kiranya sudah cukup untuk menandinginya!" kata Ki Baka Kroda yang bertubuh pendek kecil namun gerak geriknya gesit sekali.

"Tidak, kalau Priyadi hanya mampu mengalahkan seorang di antara kalian, itu masih belum ada artinya bagiku. Akan tetapi kalau sudah mampu mengalahkan pengeroyokan kalian berdua, barulah aku mau percaya bahwa dia memang digdaya dan aku sendiri yang akan mengujinya. Priyadi, sekali lagi aku bertanya, beranikah engkau menandingi pengeroyokan mereka berdua ini?"

"Tentu saja aku berani, paman. Kedua paman ini tampaknya tangguh dan sakti, akan tetapi aku yakin akan dapat menandingi dan mengalahkan mereka." jawab Priyadi dengan sikap tenang dan serius.

Dua orang jagoan itu merasa ditantang. Mereka sebenarnya merasa tidak senang diharuskan mengeroyok seorang pemuda. Hal ini mereka anggap merendahkan martabat mereka sebagai jagoan-jagoan terkenal di Wirosobo. Akan tetapi karena ini merupakan perintah Bhagawan Jaladara, tentu saja mereka tidak berani menolak dan mereka ingin melampiaskan kedongkolan hati mereka kepada Priyadi. Pemuda yang mereka anggap sombong itu perlu diberi hajaran biar tahu rasai Demikian pikir mereka. Kakang Bhagawan, kapan kita harus mengujinya dan di mana?" tanya Ki Warok Petak.

"Sekarang juga dan di ruangan ini cukup luas untuk mengadu ilmu. Bersiaplah engkau menghadapi mereka berdua, Priyadi!"

Priyadi bangkit dari bangku yang didudukinya dap berdiri di tengah ruangan yang luas itu. "Aku sudah siap, paman." katanya, berdiri santai dengan kedua tangan bergantung di kanan kiri tubuhnya. "Nah, kalian boleh mulai dan ingat, Jangan sungkan dan main-main, kerahkan semua tenaga dan keluarkan semua kepandaian kalian! Mulailah!" kata Bhagawan Jaladara. Biarpun merasa direndahkan karena harus mengeroyok seorang pemuda.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tidak berani membantah dan diam-diam mereka mengambil keputusan untuk cepat merobohkan pemuda sombong itu. "Orang muda, waspadalah dan sambut serangan kami!" Ki Warok Petak berseru dan diapun sudah menerjang maju dengan pukulan tangan kiri ke arah kepala Priyadi. Kepalan tangan Ki Warok Petak ini hampir sebesar kepala Priyadi dan menyambar dengan dahsyat sehingga kalau mengenai sasaran, sangat boleh jadi kepala pemuda itu akan menjadi pecah!

Namun dengan sikap tenang sekali Priyadi menarik bagian tubuh atasnya ke belakang sehingga pukulan itu hanya mengenai tempat kosong. Akan tetapi pada detik berikutnya, tamparan tangan kanan Ki Baka Kroda sudah menyambar ke arah lehernya. Biarpun tubuhnya pendek kecil, namun Ki Baka Kroda dapat menggerakkan tangannya yang kecil itu dengan tenaga yang dahsyat, tidak kalah berbahaya serangan itu dibandingkan serangan Ki Warok Petak tadi, bahkan datangnya lebih cepat lagi.

Priyadi melihat betapa cepat gerakan Ki Baka Kroda, Juga serangan Ki, Warok Petak tadi cukup berbahaya. Dia tidak dapat melindungi dirinya hanya dengan mengelak saja. Maka diapun menggerakkan tangan kiri menangkis sambaran tangan kanan Ki Baka Kroda yang menamparnya. "Wuuuut... dukkkk!" tangkisan yang dilakukan Priyadi itu mengandung tenaga Aji Margopati yang demikian kuatnya sehingga tubuh Ki Baka Kroda terpental dan terdorong ke belakang sehingga terhuyung-huyung!

Pada saat itu serangan Ki Warok Petak sudah datang lagi, dengan tamparan tangan kanan ke arah pelipis Priyadi dan tangan kirinya menyambar dalam bentuk cengkeraman ke arah dada. Serangan berganda yang bebat sekali. Namun Priyadi yang telah membuat Ki Baka Kroda terhuyung itu menghadapinya dengan tenang saja. Sekali ini dia tidak mengelak. Tamparan tangan Ki Warok Petak itu ditangkisnya dengan tangan kiri. sedangkan tangan kanannya menyambar dan menangkap pergelangan tangan kiri lawan yang tangannya mencengkeram ke arah pundaknya itu.

"Plakk ! Plakk !" Tamparan Ki Warok Petak itu tertangkis dan tahu-tahu tangan kirinya telah ditangkap oleh Priyadi sehingga tidak mampu bergerak. Ki Warok Petak mengerahkan tenaga untuk merenggut lepas tangannya yang tertangkap, namun tidak berhasil Tangan Priyadi yang menangkap pergelangan lengan itu sepetti jepitan baja saja. Ki Warok Petak menjadi penasaran. Dia terkenal dengan tenaga badaknya, bagaimana mungkin kini tangannya itu dipegang oleh seorang pemuda dan dia tidak mampu merenggutnya lepas?

Dia mengerahkan lagi seluruh tenaganya dan membetot, dan pada saat itu, Priyadi melepas tangkapannya sambil mendorong dengan kuatnya. Tak dapat tertahankan lagi, tubuh KI Warok Petak terlempar ke belakang dan terbanting keras ke atas tanah, di dekat tubuh Ki Baka Kroda yang tadi telah roboh terlebih dulu!

Dua orang jagoan itu terkejut bukan main. Baru beberapa gebrakan saja mereka berdua telah dapat dirobohkan oleh pemuda itu! Mereka menjadi penasaran sekali dan mereka merangkak bangkit sambil meraba gagang senjata mereka. Ki Warok Petak meraba gagang golok yang menempel di punggungnya sedangkan Ki Baka Kroda meraba gagang kerisnya. Akan tetapi mereka tidak berani mencabut senjata seoelum mendapat perkenan Bhagawan Jaladara. Maka, mereka hanya meraba gagang senjata sambil memandang ke arah sang bhagawan.

Bhagawan Jaladara sendiri terbelalak heran dan hampir saja dia tidak dapat mempercayai penglihatannya sendiri. Mungkinkah kedua orang pembantunya yang tangguh itu dirobohkan Priyadi hanya dalam beberapa gebrakan saja? Bagaimana mungkin ini? Ataukah hal itu hanya kebetulan saja karena kedua orang pembantunya memandang rendah dan kurang berhati-hati? Melihat dua orang pembantunya meraba gagang senjata dan memandang kepadanya dia lalu mengangguk. Biarlah mereka menguji Priyadi karena diapun ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga pemuda ini berani bersumbar untuk mengalahkan Bhagawan Sindusakti.

"Priyadi, keluarkanlah senjatamu untuk melawan senjata mereka!" teriaknya kepada pemuda itu.

Akan tetapi Priyadi memandang ke arah kedua orang lawannya itu dan tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Tentu saja dia kini sudah dapat mengukur tingkat kepandaian dua orang pengeroyoknya itu dan merasa sanggup untuk mengalahkan mereka walaupun mereka berdua menggunakan senjata dan dia sendiri bertangan kosong.

"Paman berdua boleh menggunakan senjata, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Silakan!" katanya sambil tersenyum dan berdiri tegak di depan kedua orang itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda menjadi marah sekali. Wajah mereka berubah kemerahan karena sekali Ini mereka benar-benar merasa dipandang rendah sekali oleh seorang pemuda. Akan tetapi karena mereka harus mengakui bahwa dengan bertangan kosong mereka telah kalah, keduanya melupakan rasa malunya dan mencabut senjata masing-masing. "Bocah sombong jangan sesalkan kami kalau nanti engkau tewas di ujung senjata kami!" bentak Ki Warok Petak.

"Sambutlah ini, bocah sombong!" Ki Baka Kroda berseru dan kedua tangannya bergerak bergantian. Tiga sinar menyambar ke arah Priyadi! Ternyata jagoan yang kecil pendek itu telah mempergunakan tiga batang cundrik terbangnya yang kini menyambar berturut-turut ke arah tubuh Priyadi. Yang dijadikan sasaran, adalah leber, dada, dan perut!

Priyadi tidak mengelak dari sambaran tiga batang cundrik terbang itu. Dia hanya menggerakkan kedua tangannya dengan cepat sekali dan tahu-tahu tiga batang cundrik itu telah ditangkapnya, dua dengan tangan kanan dan satu dengan tangan kiri. Sambil tersenyum dia lalu membuang tiga batang senjata rahasia itu ke atas lantai sehingga menimbulkan suara berdencing. Dia lalu memandang kepada dua orang lawannya sambil tersenyum.

Ki Warok Petak mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau dan tiba-tiba tubuhnya melompat ke depan dan dia sudah menerjang Priyadi dengan bacokan goloknya. Ki Baka Kroda juga bergerak kedepan sambil menggerakkan keris di tangan kanannya untuk menyerang. Akan tetapi tiba-tiba mereka kehilangan pemuda yang mereka serang, Demikian cepatnya gerakan Priyadi yang menggunakan Aji Tunggang Maruto sehingga tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu telah tiba di belakang dua orang pengeroyoknya.

Dia berdeham seperti memberi tanda kepada kedua orang lawannya yang tampak bingung kehilangan dia. Dua orang jagoan Wirosobo itu cepat memutar tubuh dan melihat Priyadi ternyata telah berdiri di belakang mereka, keduanya lalu menyerang lagi dengan dahsyat dan cepat. Priyadi ingin memperlihatkan kesaktiannya di depan Bhagawan Jaladara, maka dia lalu mengerahkan Aji Tunggang Maruto. Tubuhnya berkelebatan dengan cepat menyelinap di antara gulungan sinar golok dan keris lawan yang menyambar-nyambar.

Dua orang jagoan Wirosobo itu menjadi penasaran sekali karena ke manapun senjata mereka menyerang, selalu mengenai tempat kosong belaka, tidak pernah dapat menyentuh tubuh Priyadi! Bhagawan Jaladara terbelalak kaget dan kagum. Dari mana Priyadi mendapatkan semua ilmu itu? Dia sendiri akan berpikir dua kali untuk menghadapi pengeroyokan Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang bersenjata itu dengan tangan kosong saja. Akan tetapi pemuda itu agaknya malah dapat mempermainkan kedua orang pengeroyoknya!

"Roboh!" tiba-tiba terdengar bentakan suara Priyadi. Tiba-tiba tangannya yang kiri membuat gerakan membacok, dengan tangan miring ia memukul dan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Ki Warok Petak. Keras sekali pukulan ini sehingga Ki Warok Petak berseru dan goloknya terlepas dari pegangan. Pada saat itu kaki Priyadi mencuat dalam tendangan yang mengenai perut Ki Warok Petak.

"Bukk...!" Tubuh Ki Warok Petak terjengkang dan terlempar lalu jatuh terbanting ke atas lantai. Ki Baka Kroda merasa mendapat kesempatan. Dia cepat menerjang maju dari samping dan menusukkan kerisnya ke arah lambung Priyadi. Akan tetapi dengan cekatan sekali Priyadi memutar tubuh ke kanan, menangkap pergelangan tangan yang memegang keris itu, menekuknya dan selagi mereka bersitegang mengadu tenaga, Priyadi mengangkat lutut kirinya dengan sentakan tiba-tiba tekukan lututnya mengenai perut Ki Baka Kroda.

"Ngekk....!" Ki Baka Kroda terjengkang dan roboh pula. Dua orang jagoan itu sudah jelas kalah, akan tetapi mereka masih merasa penasaran. Mereka seolah tidak dapat percaya bahwa mereka berdua yang bersenjata dapat dikalahkan pemuda itu. Dengan wajah geram mereka merangkak bangkit. Bhagawan Jaladara bangkit dari tempat duduknya, mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru.

"Cukup! Kalian berdua mundurlah!" Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda mengundurkan diri dengan wajah berubah kemerahan. Selama hidup baru sekali ini mereka merasa kecil dan tidak berguna.

"Paman Bhagawan Jaladara, apakah paman sudah percaya akan kemampuanku sekarang?" tanya Priyadi sambil tersenyum.

"Engkau memang hebat, Priyadi. Akan tetapi untuk menerimamu sebagai sekutu, aku sendiri harus mengujimu lebih dulu. Aku akan menyerangmu dengan kekuatan Aji Gelap Musti. Sambutlah agar aku dapat mengukur tenaga saktimu!"

Sang Bhagawan itu lalu merendahkan tubuhnya dan dia mengerahkan tenaga Aji Gelap Musti, lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Priyadi. Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah Priyadi. Pemuda ini sudah siap. Diapun menggunakan Aji Gelap Musti untuk menandingi paman gurunya, menyambut serangan dengan tenaga sakti itu dengan dorongan kedua telapak tangannya.

"Syuuuttt... dess....!" Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Bhagawan Jaladara terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan Priyadi masih berdiri tegak! Bhagawan Jaladara hampir tidak percaya. Kenyataan ini menjadi bukti bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang jauh lebih kuat dari pada tenaga saktinya! Akan tetapi dia belum yakin benar. Dia harus menguji sampai dia yakin benar bahwa pemuda ini memang sakti mandraguna dan boleh diandalkan. Di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda sudah disuruh mengundurkan diri keluar dari ruangan itu.

"Priyadi, coba engkau menyerangku dengan ajimu yang paling tinggi. Aku ingin mendapat keyakinan bahwa engkau memang berharga untuk menjadi sekutuku!" katanya sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menjaga diri, bahkan mengerahkan Aji Kawoco, yaitu aji kekebalan yang membuat tubuhnya seolah terlapis baja.

"Paman Bhagawan, bersiaplah. Aku menyerang dengan Aji Margopati!" seru Priyadi dan diapun menerjang dengan aji pukulan yang amat ampuh itu yang dipelajarinya dari Resi Ekomolo. Akan tetapi karena dia membutuhkan Bhagawan Jaladara yang dapat dia manfaatkan untuk meraih cita-citanya, maka dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya melainkan membatasi agar jangan sampai membunuh bhagawan itu.

"Wuuuutttt.... blarrrr....!" Bhagawan Jaladara merasa seolah dirinya disambar geledek. Biarpun dia telah mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan, bahkan telah melindungi tubuhnya dengan Aji Kawoco, tetap saja dia merasa seluruh tenaga seperti lenyap dan tanpa dapat dipertahankan lagi tubuhnya terkulai roboh!

"Paman! Engkau tidak apa-apa...?" Priyadi lari menghampiri dan membantunya bangkit berdiri. Untung Priyadi membatasi tenaganya, kalau tidak, keampuhan Aji Margopati tentu telah merenggut nyawa Bhagawan Jaladara. Bhagawan itu bangkit dengan tubuh lemas dan dia dituntun oleh Priyadi sehingga dapat duduk kembali di atas kursinya. Dia memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasan sejenak. Setelah guncangan dalam dadanya mulai tenang, dia membuka matanya dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh keheranan.

"Priyadi, sekarang aku percaya kepadamu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat memiliki kesaktian seperti itu? Aji Gelap Musti yang kau kerahkan tadi dahsyat bukan main dan tenaga pukulan terakhir tadi aji apakah itu dan dari siapa engkau mempelajarinya?"

Priyadi tidak ingin membuka rahasia Resi Ekomolo, maka dia tersenyum dan menjawab, "Aku secara kebetulan menemukan kitab-kitab kuno dari kitab-kitab itulah aku belajar semua aji kesaktian tadi, paman. Bagaimana tanggapan paman tentang usulku tadi? Ingat, paman. Paman mempunyai seorang musuh yang amat tangguh, yaitu Sutejo dan kiranya hanya akulah seorang yang akan mampu menandinginya. Kalau aku sudah menjadi ketua Jatikusumo dan memegang Pecut Bajrakirana, bergabung dengan paman dan dengan dua orang sakti yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, membunuh Sutejo merupakan hal yang amat mudah bagiku. Dan dengan kekuatan kita bersama, kita pasti akan mampu menghan璫urkan Mataram! Kadipaten Wirosobo akan menjadi jaya!"

Bhagawan Jaladara mengangguk-angguk. "Aku percaya padamu, Priyadi. Akan tetapi aku belum yakin akan maksud baikmu sebelum aku melihat engkau merampas kedudukan sebagai ketua Jatikusumo. Setelah engkau menjadi ketua, baru aku akan menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadamu."

"Baik, paman. Aku akan membuktikan janjiku, akan tetapi kalau saatnya tiba, aku mengharapkan bantuan paman, selain untuk menjadi saksi, juga untuk membantu kalau-kalau aku menghadapi pengeroyokan."

"Aku setuju. Kalau saatnya tiba, beritahukan padaku dan aku akan membawa para pembantuku untuk membantumu. Priyadi."

"Kalau begitu aku mohon pamit, paman. Aku akan menghubungi kedua orang sakti yang kuceritakan tadi, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk mengajak mereka bergabung dengan kita." Priyadi lalu meninggalkan Kadipaten Wirosobo. Setelah keluar dari Kadipaten, dia melakukan perjalanan cepat sekali, langsung menuju ke tempat tinggal Sekarsih.

Sekarsih menyambut kedatangannya dengan gembira karena wanita itu sudah amat rindu kepadanya. Setelah keduanya melepaskan kerinduan masing-masing, Priyadi bertanya tentang tugas yang diserahkan kepada wanita kekasihnya itu.

"Bagaimana hasilnya usahamu menghubungi dan membujuk Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk bekerja sama dengan aku Sekarsih?

"Seperti yang telah kuduga sebelumnya, mereka ingin melihat dulu orang macam apa yang mengajak mereka untuk bekerja sama. Mereka ingin melihat dulu kemampuanmu untuk mempertimbangkan apakah engkau pantas untuk menjadi sekutu mereka."

"Hemm, mereka tidak percaya kepadaku! Apakah engkau belum bercerita kepada mereka akan kemampuanku?"

"Sudah, Priyadi. Akan tetapi orang-orang seperti mereka itu bagaimana dapat mempercayai sesuatu kalau mereka belum membuktikan sendiri?"

"Baiklah! Aku akan memperlihatkan kemampuanku kepada mereka. Di mana mereka sekarang?"

"Mereka berdua berada di padepokan Resi Wisangkolo yang berada di Lembah Kali Brantas."

"Mari kita ke sana. Sekarsih."

Keduanya lalu berangkat pada hari itu juga, menuju ke Lembah Brantas. Mereka melakukan perjalanan berdua dan bersenang-senang di sepanjang perjalanan.

********************

Pondok yang berada di tepi Kali Brantas itu cukup besar, terbuat dari pada kayu jati yang kokoh kuat. Pondok itu berdiri terpencil di tepi kali itu, jauh dari pedesaan. Suasana di situ sepi sekali. Pondok itu menghadap ke sungai dan di kanan kiri dan belakang pondok itu terdapat ladang yang cukup luas dan subur. Empat orang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahun sedang bekerja di ladang. Mereka adalah para cantrik yang membantu Sang Resi Wisangkolo yang bertempat tinggal di pondok itu.

Pada pagi hari yang cerah itu Resi Wisangkolo duduk di ruangan depan, ditemani adik seperguru璦nnya, yaitu Ki Klabangkolo. Dua orang kakek ini duduk di atas tikar menghadapi meja rendah dimana terdapat hidangan ketela rebus dan air teh panas.Namun wajah kedua orang kakek sakti Itu tampak termenung dan keruh. Mereka berdua masih merasa penasaran dan mendongkol sekali karena teringat akan kekalahan mereka melawan Sutejo di perguruan Jatikusumo beberapa waktu yang lalu.

Setelah kedua orang kakek itu makan beberapa potong ketela dan minum beberapa teguk air teh. Ki Klabangkolo menghela napas dan berkata. "Aku masih penasaran dan tidak mengerti akan kegagalan kita di perguruan Jatikusumo itu, Kakang Resi. Sudah jelas bahwa para murid Jatikusumo memiliki kedigdayaan yang biasa-biasa saja. Murid kepala yang terpandai adalah Maheso Seto. Memang aku pernah kewalahan menghadapi pengeroyokan yang dilakukan Maheso Seto dan isterinya yang bernama Rahmini itu. Akan tetapi ketika mereka itu maju satu lawan satu, aku dapat mengalahkan mereka tanpa banyak kesukaran. Akan tetapi, dari mana datangnya pemuda bernama Sutejo itu yang memiliki kesaktian yang demikian hebat? Sungguh aku tidak mengerti!"

Resi Wisangkolo menghela napas panjang. "Akupun merasa heran sekali. Adi Klabangkolo. Belum pernah selama hidupku aku bertemu lawan yang demikian tangguh, padahal dia masih begitu muda. Semua kekuatan sihirku dapat dia punahkan. Ilmu silat simpananku juga dapat dikalahkannya, bahkan ajiku Guntur Bumi dan Guntur Geni dapat dia lawan sehingga aku sampai terluka. Luar biasa sekali dan sukar untuk dipercayai"

"Kurasa dia bukan murid Jatikusumo, Kakang Resi.

"Akan tetapi dia dapat menggunakan Aji Gelap Musti yang merupakan aji aliran Jatikusumo, hanya tenaganya luar biasa kuatnya. Dia tentu murid Jatikusumo."

"Akan tetapi, ketika menghadapi seranganmu yang terakhir, dia menggunakan aji yang disebutnya Aji Bromokendali. Aji ini tentu bukan milik Jatikusumo.

"Siapapun adanya dia, pemuda itu merupakan lawan yang berbahaya sekali. Lain kali kalau kita bertemu dengannya, kita harus maju berdua. Kalau kita maju berdua, aku yakin pasti kita akan mampu membunuhnya." kata Resi Wisangkolo dengan penasaran.

"Kakang Resi, aku masih merasa heran dan menduga-duga siapakah orangnya yang hendak di perkenalkan kepada kita oleh Sekarsih. Kata Sekarsih, dia seorang pemuda murid Jatikusumo, akan tetapi mengapa dia mengajak kita untuk bergabung dan bekerja sama membantu Kadipaten Wirosobo?"

"Hemm, kita lihat saja nanti orang macam apa adanya dia. Kita sudah melihat bahwa ke pandaian para murid Jatikusumo tidak berapa tinggi, akan tetapi mengapa Sekarsih mengatakan bahwa kepandaian orang itu tinggi sekali?"

"Tadinya aku mengira dia adalah Sutejo yang pernah mengalahkan kita, akan tetapi ternyata bukan Sekarsih mengatakan bahwa pemuda itu bernama Priyadi dan katanya memiliki kesaktian yang luar biasa."

Percakapan mereka berhenti ketika mereka melihat Sekarsih memasuki pekarangan itu, bersama seorang pemuda yang tampan dan gagah. Karena yana datang adalah Sekarsih, murid Ki Klabangkolo dan seorang pemuda, maka kedua orang tokoh sakti itu tidak bangkit dari tempat duduknya, hanya memandang dengan sinar mata penuh selidik.

Sekarsih adalah seorang wanita yang aneh dan berwatak liar, Apa lagi karena sebagai sekarang murid, iapun dapat dibilang menjadi kekasih gurunya sendiri, maka ia biasa bersikap terbuka terhadap gurunya, sama sekali tidak bersikap menghormat sebagaimana seharusnya sikap, seorang murid terhadap gurunya. Bahkan terhadap Resi Wisangkolo yang masih terhitung uwa gurunya ia bersikap biasa-biasa saja. Melihat kedua orang kakek itu duduk menghadapi meja, Sekarsih juga mengajak Priyadi duduk di atas lantai bertilam tikar pandan itu. Priyadi duduk bersila dan Sekarsih duduk bersimpuh.

"Bapa Guru dan Uwa Guru, aku datang untuk memperkenalkan pemuda yang pernah kuceritakan tempohari. Inilah dia Priyadi, murid perguruan Jatikusumo itu!" Sekarsih memperkenalkan dengan suara mengandung kebanggaan mengingat bahwa pemuda yang diperkenalkannya itu adalah kekasihnya.

Dua orang kakek itu mengamati wajah Priyadi dan mereka berdua meragukan kebenaran keterangan Sekarsih. Pemuda ini masih muda, paling banyak dua puluh enam tahun usianya. Bagaimana seorang semuda itu mengajak mereka berdua untuk bekerja sama? Apalagi hanya seorang murid perguruan Jatikusumo! Akan tetapi karena dia teringat akan Sutejo, seorang lain yang bahkan lebih muda namun telah dapat mengalahkan dia, Ki Klabangkolo bersikap hati-hati dan bertanya dengan suaranya yang besar.

"Anak mas. engkau ingin bertemu dengan kami, apa yang hendak kau bicarakan?"

Priyadi tersenyum dan sikapnya tenang sekali. "Mungkin Sekarsih telah menceritakan kepada paman berdua akan maksudku. Aku mengajak paman berdua untuk bekerja sama membantu Kadipaten Wirosobo menggempur Mataram. Kalau usaha kita berhasil, maka kelak kita akan, mendapatkan kedudukan tinggi dan kekuasaan sehingga kita akan hidup penuh kemuliaan, dihormati semua orang."

"Hemm, anak mas Priyadi. Menurut Sekarsih, engkau adalah murid perguruan Jatikusumo. Murid Bhagawan Sindusakti yang keberapakah engkau?"

"Aku murid ke tiga, paman." jawab Priyadi sejujurnya.

Mendengar jawaban ini, dua orang kakek itu saling pandang lalu tertawa bergelak. Priyadi hanya memandang sambil tersenyum, maklum bahwa dua orang kakek itu memandang rendah kepadanya.

"Kenapa paman berdua tertawa? tanyanya tanpa memperlihatkan kemarahan.

"Ha-ha-ha, engkau hanya murid ke tiga dari Bhagawan Sindusakti dan engkau berani mengajak kami berdua untuk bekerja sama? Orang muda, engkau tidak pantas untuk menjadi sekutu kami, bahkan menjadi pembantu kamipun masih harus dilihat dulu sampai di mana kemampuanmu."

"Paman Klabangkolo, aku telah melihat sepak terjang paman berdua di Jatikusumo tempo hari dan menurut penilaianku, kesaktian paman berdua juga terbatas, buktinya dapat dikalahkan oleh pemuda bernama Sutejo itu."

"Hemm, engkau merasa bahwa engkau memiliki kesaktian yang hebat! Kalau begitu, mengapa ketika kami menyerbu Jatikusumo, engkau tidak maju menandingi kami?" Klabangkolo bertanya, mukanya agak kemerahan karena diingatkan akan kekalahannya terhadap pemuda bernama Sutejo itu.

"Aku memang tidak berniat menandingi paman berdua karena memang padasaat i tu telah timbul niatku untuk bekerja sama dengan paman berdua, untuk menjadi kawan bukan menjadi lawan. Dan itu merupakan bukti bahwa aku benar-benaringin bersekutu dengan paman berdua."

Resi Wisangkolo yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, kini berkata dengan suaranya yang tinggi seperti suara wanita. "Orang muda, apakah engkau bermaksud mengatakan bahwa engkau mampu menandingi kesaktianku?"

"Kukira aku mampu, Paman Resi Wisangkolo!" kata Priyadidengan tegas. Jawabannya ini tentu saja mengejutkan dan membuat penasaran hati Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo.

"Babo-babo,orang muda. Hal iniperlu dibuktikan dulu. Kalau engkau mampu menahan lima kali seranganku, baru aku percaya dan barulah engkau pantas untuk bekerja sama dengan kami. Beranikah engkau menghadapi lima kali seranganku, dengan kemungkinan engkau tewas oleh seranganku?"

"Tentu saja aku berani Paman Resi!"kata Priyadi dengan gagah.

"Bagus, aku yang menjadi saksi, anak mas Priyadi. Mari kita pergi ke ruangan belakang yang lebih luas." kata Ki Klabangkolo dan mereka berempat lalu bangkit dan pergi ke ruangan belakang, didahului oleh Ki Klabangkolo. Hanya Sekarsih yang tampak mengerutkan alisnya karena wanita cantik ini bagaimanapun juga mengkhawatirkan Priyadi. Ia tahu betapa saktinya uwa gurunya dan tentu saja ia khawatir kalau-kalau ia akan kehilangan Priyadi yang merupakan kekasih barunya yang amat menyenangkan hatinya.

Mereka memasuki ruangan belakang yang luas. "Kalian berdua dapat bertanding di sini!" kata Ki Klabangkolo sambil duduk di atas sebuah bangku yang berada di sudut.

Sekarsih tidak dapat menahan kegelisahan hatinya dan iapun berkata kepada Resi Wisangkolo. "Uwa guru, saya harap uwa guru suka menahan diri untuk tidak mengerahkan seluruh tenaga dan tidak mencelakai Priyadi."

Resi Wisangkolo tertawa mendengar ini. "Ha-ha-ha, kalau dia tidak berani, dan takut mati, lebih baik pertandingan untuk menguji kesaktian ini dibatalkan saja dan selanjutnya tidak perlu bicara lagi tentang kerja sama!"

"Sekarsih, jangan khawatir. Aku pasti dapat menghadapi dan menahan lima kali Serangan Paman Resi Wisangkolo ini kata Priyadi yang lalu berdiri di tengah ruangan itu dan berkata kepada calon pengujinya. "Paman Resi, aku sudah siap menyambut seranganmu!"

Terpaksa Sekarsih juga mengambil tempat duduk di sudut ruangan. Kini Resi Wisangkolo sudah berhadapan dengan Priyadi di tengah ruangan. Dua orang ini saling pandang seperti dua ekor ayam jago yang saling mengamati dan menilai calon lawan. Suasana menjadi hening dan amat menegangkan hati, terutama bagi Sekarsih.

Resi Wisangkolo adalah seorang pertapa yang batinnya tersesat. Dia bertapa dan menguasai ilmu-ilmu tinggi bukan dengan niat untuk mencari jalan ke arah kebaikan dan kesempurnaan, melainkan untuk menjadi sarana mengejar dan mencapai kesenangan, pengumbaran nafsu-nafsunya. Sifat ini membentuk watak yang kejam dan kadang tidak mengenal prikemanusiaan, merasa puas kalau melihat orang lain menderita dan segala tindakannya didasari pamrih untuk menyenangkan dan memuaskan dirinya sendiri. Kini menghadapi Priyadi, dia bukan sekadar untuk menguji, melainkan bermaksud memperlihatkan kesaktiannya, kalau perlu membunuh pemuda itu. Tentu saja kalau pemuda itu sanggup menahan serangannya, pemuda itu patut menjadi sekutunya karena hal itu akan menguntungkan dirinya.

Karena dia bermaksud untuk menyerang dengan sungguh-sungguh, maka setelah berhadapan dengan Priyadi, diam-diam Resi Wisangkolo sudah mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melakukan penyerangan pertama dengan ilmu sihirnya!

"Priyadi, sambutlah seranganku yang pertama ini!" katanya dengan suaranya yang tinggi dan dia lalu bersedakap melipat kedua lengan di atas dadanya, matanya mencorong memandang kepada Priyadi. Dari dalam dadanya keluar suara gerengan aneh dan tiba-tiba dari kepalanya keluar uap hitam membubung tinggi ke atas dan uap hitam itu bergerak membentuk bayangan seekor harimau hitam yang besar sekali!

Melihat ini. Priyadi juga sudah bersiap-siap. Dia mengerahkan tenaga batinnya untuk menghadapi serangan pertama yang dilakukan dengan ilmu sihir itu.

"Priyadi. sambutlah!" teriak Resi Wisangkolo dan terdengar gerengan seperti seekor harimau. Harimau hitam yang berada diatas udara itu tiba-tiba menubruk ke depan, hendak mencengkeram kepala Priyadi! Melihat ini Sekarsih menjadi pucat wajahnya dan ia menaruh punggung tangan kirinya ke depan mulut untuk mencegah mulutnya yang hendak mengeluarkan jeritan.

Tiba-tiba Priyadi yang berdongak memandang harimau hitam itu mengeluarkan suara melengking. Lengkingan suaraini seolah menggetarkan ruangan itu. Itulah Aji Jerit Nogo yang dipelajarinya dari Sang Resi Ekoroolo, jeritan yang mengandung kekuatan hebat dari tenaga saktinya. Jeritan melengking ini seolah menghantam harimau hitam itu dan bayangan harimau itupun membuyar! Gumpalan uap hitam itu buyar dan kacau seperti asap tertiup angin dan surut kembali memasuki kepala Resi Wisangkolo.

Resi Wisangkolo menggoyang-goyang kepalanya seperti mengusir kepeningan dan kedua lengannya yang tadinya dilipat di atas dada, kini diturunkan. Dia terbelalak memandang kepada Priyadi, seolah tidak percaya bahwa pemuda itu dapat membuyarkan ilmu sihirnya dengan pekik melengking tadi. Betapa mudahnya pemuda itu membuyarkan pengaruh sihirnya.

"Priyadi, sambutlah seranganku yang kedua." hentaknya dan tangan kanannya melepaskan kolor yang diikat pinggangnya. Dia memutar-mutar tali kolor yang panjangnya ada satu meter itu dan kolor itu berubah menjadi gulungan sinar yang mengeluarkan angin menderu-deru! Kemudian dia menerjang ke depan, gulungan sinar kolor itu menyambar dengan amat dahsyatnya ke arah Priyadi.

Sekarsih yang tadinya memandang dengan wajah berseri melihat betapa kekasihnya mampu membuyarkan ilmu sihir yang mengerikan itu, kini kembali memandang ke arah Priyadi dengan khawatir ia telah mengetahui kedahsyatan senjata kolor sakti dari uwa guronva Itu. Kolor itu bukan benda biasa, bukan senjata biasa, melainkan benda yang dikeramatkan, "ditapai dan diisi" dengan kekuatan sihir. Biarpun hanya merupakan benda terbuat dari pada lawe. akan tetapi kalau kolor itu dipergunakan sebagai senjata oleh Resi Wisangkolo, hebatnya bukan alang kepalang. Batu karang sekalipun akan remuk dihantam kolor sakti itu, apa lagi kepala manusia.

Priyadi sudah mempersiapkan diri sejak tadi. Diapun maklum akan kehebatan kolor sakti itu! Untung baginya bahwa dia pernah melihat kakek Sakti ini bertanding melawan Sutejo sehingga dia sudah pernah melihat kakek itu mengeluarkan semua ajiannya. Kini, melihat kolor sakti itu menyambar dalam bentuk sinar ke arah kepalanya, diapun mengerahkan tenaga sakti ke dalam kedua lengannya, disalurkannya tenaga sakti itu sehingga membuat kedua lengannya kebal dan terisi kekuatan dahsyat. Dia lalu menggerakkan kedua lengan keatas menyambut hantaman kolor yang menerpa kepalanya itu.

"Blarrrr....!!" Kolor itu bertemu dua buah lengan yang amat kuatnya. Tampak asap mengepul ketika kolor itu bertemu dengan kedua lengan dan beberapa helai lawe runtuh bertebaran!

Kembali resi Wisangkolo tertegun. Pemuda itu menangkis hantaman kolor saktinya dengan lengan telanjang!

"Bagus.....!" Sekarsih berseru saking gembiranya dan hal ini membuat Resi Wisangkolo merasa diejek. Wajahnya berubah merah dan dia lalu menyambar tongkatnya yang berbentuk ular hitam dan yang tadi diletakkan di atas sebuah meja. Dia berdiri tegak, memalangkan tongkat ular hitamnya di depan dada lalu berkata.

"Priyadi, engkau telah mampu menyambut dua kali seranganku. Sekarang awas, sambutlah seranganku yang ke tiga!" Setelah berkata demikian, dia memutar-mutar tongkatnya di atas kepala. Bentuk tongkat lenyap berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dibarengi suara yang bercuitan mengerikan. Untuk ketiga kalinya Sekarsih terbelalak memandang penuh dengan kekhawatiran.

Namun, Priyadi sudah memperhitungkan. Ketika sinar hitam itu menyambar dahsyat ke arah kepalanya, diapun menggunakan tangan kanannya yang terbuka untuk menyambut dengan pukulan dan Karena dia tahu betapa berbahayanya tongkat ular, hitam itu, dia sudah mengerahkan Aji Margopati untuk menyambutnya.

"Darr......!" Terdengar suara seperti ledakan dan tongkat ular hitam itu terpental, hampir saja terlepas dari pegangan tangan Resi Wisangkolo yang cepat menahan dengan pengerahan tenaga agar tongkat itu tidak sampai terlepas. Akan tetapi dia terhuyung tiga langkah ke belakang.

Melihat tongkatnya terpukul membalik, kakek itu menjadi semakin penasaran. Dia membuang tongkatnya ke samping sehingga jatuh berkerontangan di atas lantai, kemudian dia menggerak-gerakkan kedua tangannya di udara.

"Priyadi,sambut seranganku ke empat ini." Dia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah pemuda itu sambil membentak dengan suara nyaring.

"Aji Guntur Bumi.....!" Ruangan itu bagaikan dilanda gempa bumi ketika Resi Wisangkolo mengerahkan aji ini dan serangkum hawa yang dahsyat dan kuat sekali seperti gelombang menyerang ke arah Priyadi. Akan tetapi pemuda ini telah mempersiapkan diri sejak tadi. Diapun menekuk kedua lututnya dan mendorongkan kedua tangan kedepan menyambut sambil berseru lantang.

"Aji Gelap Musti!" Dia mengerahkan aji aliran Jatikusumo yang telah dikuasainya dengan baik itu. Bahkan setelah dia digembleng Resi Ekomolo, Aji Gelap Musti yang dikuasainya itu menjadi berlipat ganda kuatnya.

"Desss......!" Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara. Demikian hebat benturan tenaga sakti itu sehingga terasa benar oleh Sekarsih maupun Ki Klabangkolo. Akibat dari benturan tenaga ini, tubuh Resi Wisangkolo terhuyung ke belakang sampai tiga langkah sedangkan Priyadi yang juga terdorong, dapat mempertahankan diri dan hanya mundur satu langkah!

Resi Wisangkolo terkejut bukan main dan menjadi semakin penasaran. Ajinya Guntur Bumi itu amat hebat, akan tetapi pemuda itu mampu menandingi kekuatannya, bahkan lebih kuat dari padanya. Karena penasaran, dia menjadi marah dan untuk serangan terakhir, dia mengerahkan seluruh kekuatannya pada kedua lengannya. "Hemm, sekarang sambutlah seranganku yang kelima, yang terakhir!" Setelah berkata demikian, dia menggereng seperti seekor harimau, kemudian dia melontarkan pukulan melalui kedua telapak tangannya sambil membentak. "Aji Guntur Geni......!!!"

Dari kedua telapak tangan kakek itu mengepul asap dan hawa di seluruh ruangan itu menjadi panas sekali. Itulah pengaruh aji yang amat dahsyat ini. Hawa yang seolah mengandung api berkobar yang tidak tampak menyerbu ke arah Priyadi. Itulah Aji Guntur Geni yang dapat membakar lawan yang terlanda pukulan aji itu sehingga tubuh lawan akan terbakar sampai hangus dan dapat tewas seketika.

Akan tetapi Priyadi yang pernah melihat Resi Wisangkolo mengeluarkan aji ini ketika menghadapi Sutejo, sudah mengerahkan aji pamungkas yang menjadi andalannya, yaitu Aji Margopati yang hebat. "Aji Margopati.....!" Serunya sambil menghantamkan kedua telapak tanganaya ke depan, menyambut serangan lawan.

"Blaarrrr.....!" sekali ini pertemuan dua tenaga sakti itu sedemikian hebatnya sehingga meja dan bangku yang berada di ruangan itu terpental seperti dilontarkan orang yang amat kuat. Sekarsih sudah cepat memejamkan kedua matanya dan mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi dirinya agar isi dadanya tidak sampai terguncang oleh benturan tenaga yang demikian dahsyatnya. Juga Ki Klabangkolo memejamkan kedua mata dan mengerahkan tenaga saktinya.

Tubuh Resi Wisangkolo terdorong jauh ke belakang dan terhuyung-huyung. Wajahnya pucat dan napasnya terengah-engah. Masih untung baginya bahwa tadi Priyadi hanya menyambut dan menahan serangannya saja. Pemuda itu tidak menggunakan ajiannya untuk menyerang maka dia hanya terpukul oleh tenaganya sendiri yang membalik dan tidak mengalami luka berat dalam dadanya.

Setelah dapat menguasai dirinya, Resi Wisangkolo mengangkat kedua tangannya ke atas dan memuji. "Anak mas Priyadi, engkau hebat! Aku harus mengakui bahwa engkau memang pantas untuk menjadi sekutuku dan bekerja sama denganku. Kesaktianmu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Dengan bekerja sama kita akan mampu menaklukkan apa saja"

"Bagus! Engkau telah lulus ujian kami, anak mas Priyadi. Duduklah dan mari kita bicara baik-baik. Sebenarnya, apakah rencanamu maka engkau mengajak kami untuk bekerjasama? Sekarsih belum menjelaskan segara terperinci kepada kami." Ki Klabangkolo berkata dan mempersilakan Priyadi Untuk duduk. Mereka membetulkan lagi letak meja dan bangku yang tadi terlempar berserakan dan mereka berempat duduk menghadapi meja.

"Anak mas Priyadi. Perguruan Jatikusumo bermusuhan dengan kami. Bagaimana mungkin sekarang engkau mengajak kami untuk bekerja sama?" tanya Resi Wisangkolo sambil menatap wajah pemuda itu dengan rasa kagum dan hormat.

"Inilah yang akan kubicarakan, Paman Resi dan Paman Klabangkolo. Setelah paman, berdua menerima usulku untuk bekerja sama, maka pertama-tama yang kulakukan adalah merampas kedudukan ketua di Jatikusumo."

"Apa? Engkau hendak menentang dan melawan gurumu sendiri, Bhagawan Sindusakti?" tanya KiKlabangkolo dengan kaget dan heran. Biarpun dia tergolong tokoh sesat, akan tetapi mendengar ada murid hendak menentang dan melawan gurunya sendiri, dia merasa heran dan terkejut...


Thanks for reading Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 13 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »