Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 11

KI KLABANGKOLO menyerang lagi secara bertubi-tubi, namun Sutejo tetap mengandalkan keringanan dan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini dan semua serangan berantai itu tidak pernah mengenai sasaran. Melihat gerakan pemuda yang selalu mengelak itu, Ki. Klabangkolo menduga bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu hanya memiliki keringanan tubuh yang hebat dan hanya mengandalkan kelincahannya untuk terus mengelak dan menghindar.

Dia menganggap bahwa Sutejo tidak memiliki ilmu kepandaian lain kecuali mengelak dengan lincahnya. Karena itu dia menyerang semakin hebat dan bertubi-tubi karena merasa yakin bahwa lambat laun tentu terkamannya akan mengenai sasaran juga dan pemuda itu tentu akan roboh kalau terkena satu kali tamparannya saja.

Bhagawan Sindusakti dan empat orang murid utamanya mengikuti gerakan Sutejo dan mereka terkagum-kagum. Mereka mengenal gerakan itu sebagai gerakan dasar aliran Jatikusumo dan mengandalkan Aji Harina Legawa yang membuat orang dapat bergerak ringan dan cepat. Akan tetapi, biarpun mereka sendiri telah menguasai aji itu, tak pernah mereka dapat membayangkan betapa Aji Harina Legawa dapat membuat orang bergerak seringan dan secepat itu. Mereka semua tidak tahu bahwa Sutejo telah menerima peralihan tenaga sakti dari tubuh mendiang Resi Limut Manik kedalam tubuhnya sendiri. Dia seolah kini telah menjadi Resi Limut Manik muda!

"Keparat! Kalau engkau memang gagah, Jangan hanya lari mengelak saja. Hadapi dan sambutlah seranganku" bentak Ki Klabangkolo yang merasa penasaran dan pening juga setelah semua serangannya hanya mengenai tempat kosong. Hal ini amat melelahkan karena tenaga yang dikeluarkan melalui serangan-serangannya tak pernah mengenai sasaran. Pengerahan tenaga yang mengenai tempat kosong ini amat melelahkan, karena bagaimanapun Juga dia berusaha selalu saja gagal maka dia lalu mengeluarkan makian itu.

"Kau kira aku takut menyambut seranganmu? Kau lihat saja!" kata Sutejo dan dia mengerahkan tenaga saktinya, disalurkan ke arah kedua lengannya. Pada saat itu tamparan tangan kiri Ki Klabangkolo sudah menyambar lagi ke arah mukanya. Untuk membuktikan ucapannya, Sutejo tidak lagi mengelak dan dia menggerakkan lengan kanannya dari bawah ke atas untuk menangkis tamparan tangan kiri lawan itu.

"Wuuuttt.... dukkkk!" Kedua lengan bertemu dengan kerasnya dan keduanya tergetar hebat, akan tetapi kalau Sutejo hanya melangkah ke belakang satu langkah saja, Ki Klabangkolo terhuyung mun­dur sampai tiga langkah!

Semua orang terkejut dan heran. Bhagawan Sindusakti hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya, Bagaimana mungkin Sutejo dapat menandingi bahkan melebihi kekuatan tenaga sakti Ki Klabangkolo yang demikian besar? Juga Maheso Seto yang kini sudah bangkit berdiri dan menonton bersama isterinya dan adik-adiknya, dibuat tercengang menyaksikan perlawanan Sutejo kepada Ki Klabangkolo. Rahmini menonton dengan kedua pipi berubah kemerahan. Ia merasa malu kepada diri sendiri kalau teringat betapa tadi ia memandang rendah dan menghina pemuda itu.

KiKlabangkolo sendiri terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu bukan hanya memliki. kelincahan yang luar biasa, melainkan juga memilik tenaga yang mampu menandingi bahkan melampaui tenaga saktinya! Dia semakin penasaran. Kalau seandainya dia dikalahkan oleh Bhagawan Sindusakti, hal itu masih belum memalukan karena Bhagawan Sindusakti, adalah ketua Jatikusumo dan usianya bahkan sudah jauh lebih tua darinya. Akan tetapi pemuda ini? Patut menjadi anak atau keponakannya, atau muridnya! Maka dia menjadi penasaran dan segera dia mengerahkan tenaganya dan merendahkan tubuhnya, hendak mengeluarkan aji yang paling diandalkan, yaitu Aji Singakroda yang mengandung tenaga dalam yang dapat dipergunakan untuk merobohkan lawan dan jarak jauh!

"Arrgghhhh.....!" Dia menggereng dan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan didorongkan ke arah Sutejo. Pemuda ini sudah maklum akan kedahsyatan serangan jarak jauh itu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menekuk kedua lututnya, mendorong kedua tangannya ke depan dengan Aji Gelap Musti.

"Wuttttt.... blaarrrr...!!" Dua tenaga sakti bertemu di udara dan sekali ini Ki Klabangkolo benar-benar bertemu tanding. Tubuhnya terjengkang dan dia roboh lalu bergulingan sampai ke dekat kaki Resi wisangkolo. Resi ini menggunakan sebatang tongkat ular hitam yang berada di tangan kanannya untuk menahan tubuh kawannya yang bergulingan itu. Ki Klabangkolo bangkit berdiri dengan muka pucat dan dari ujung mulutnya keluar darah, tanda bahwa dia telah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Sutejo sendiri tetap berdiri kokoh seperti batu karang, hanya napasnya saja yang memburu sedikit karena pengerahan tenaga dalam yang amat besar tadi. Terdengar sorak sorai dari semua murid Jatikusumo yang mengepung tempat itu. Rasa lega dan girang meledak di hati mereka yang sejak tadi amat tegang dan prihatin melihat betapa para murid kepala Jatikusumo berturut-turut mengalami kekalahan.

Kini, biarpun Sutejo bukan murid langsung perguruan Jatikusumo namun pemuda itu masih mengaku bahwa dia murid Jatikusumo maka tentu saja para murid itu merasa gembira bukan main melihat betapa Sutejo mampu mengalahkan Ki Klabangkolo. Maheso Seto Rahmini dan Cangak Awu tidak bersorak, akan tetapi wajah mereka juga berseri penuh kegembiraan dan kekaguman. Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, ikut bangga.

Hanya Priyadi yang menyambut kemenangan Sutejo itu dengan wajah dingin, alisnya berkerut sedikit dan dia membuat perbandingan apakah sekiranya Sutejo akan mampu menandinginya yang kini telah memiliki ilmu-ilmu yang ampuh. Akan tetapi dia diam saja dan menanti perkembangan lebih lanjut karena di situ masih terdapat seorang musuh lain yang agaknya lebih tangguh dibandingkan Ki Klabangkolo, yaitu Resi Wisangkolo.

Resi Wisangkolo menepuk tiga kali tengkuk adik seperguruannya dan dengan jari tangan kiri mengurut punggung Ki Klabangkolo. Setelah itu dia berkata, suaranya kecil tinggi seperti suara wanita. "Mundur dan mengasolah, Klabangkolo. Biar aku yang memberi hajaran kepada bocah ini." Ki Klabangkolo mundur dan Resi Wisangkolo menancapkan tongkat ular hitamnya di atas tanah, kemudian meninggalkan tempat itu dan melangkah maju menghampiri Sutejo. Wajahnya yang masih halus seperti wajah orang muda itu tersenyum dan mata elangnya bersinar penuh selidik ke arah wajah Sutejo.

"Sutejo, engkau masih muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan tetapi sayang, hari Ini semua ilmumu akan musnah!"

"Sang Resi Wisangkolo, bagaimanapun juga, pada akhirnya kesesatan akan kalah melawan kebenaran. Engkau membela kesesatan, karena itu aku berani melawanmu dan siapa yang akan kalah atau menang, kita sama lihat saja nanti!" jawab Sutejo dengan tenang.

"Sutejo, aku dapat menghilang dari pandang mata orang! Lihat, aku sudah menghilang!" Dan kakek itu mengeluarkan suara pekik melengking dan tiba-tiba tubuhnya hilang terbungkus asap hitam yang tebal.

Keadaan ini tentu saja amat berbahaya bagi Sutejo karena kalau lawan menyerang dia tidak dapat melihat gerakannya. Bukan Sutejo saja yang melihat kakek itu lenyap terbungkus asap hitam tebal, bahkan Bhagawan Sindusakti dan semua muridnya juga melihat demikian. Mereka terkejut dan merasa khawatir sekali. Akan tetapi Sutejo bersikap tenang, mengikatkan sarungnya di pinggang, kemudian dia melolos ikat kepalanya yang lebar dan panjang dan menghantamkan kain ikat kepala itu ke arah asap hitam tebal sambil membentak nyaring. "Haiiiittt.....!" Kain ikat kepala itu menyambar dengan amat kuatnya mendatangkan angin bersiutan.

"Wuusssss......!" Asap hitam tebal itu seketika membuyar dan tampaklah lagi tubuh Resi Wisangkolo yang tinggi kurus, rambutnya yang putih semua. Senyum yang tadinya menghias wajah Resi Wisangkolo menghilang dan dia membelalakkan matanya memandang kepada Sutejo, seolah masih tidak dapat percaya bahwa pemuda itu dapat memunahkan aji sihirnya sedemikian mudah. Dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk melepas ikatan tali pinggangnya dan sekarang tali pinggang itu merupakan kolor bercabang dua yang panjang.

"Sambutlah kolor pusakaku!" bentaknya dan begitu kedua tangannya bergerak, dua helai kolor itu telah menyambar, sehelai ke arah kepala dan sehelai lagi ke arah dada! Dan dua serangan itu dahsyat bukan main, kuat dan cepat sekali sehingga lenyap bentuk tali kotor, berubah menjadi sinar putih yang menyambar bagaikan kilat ke arah dua bagian tubuh Sutejo. Akan tetapi Sutejo tidak pernah lengah. Diapun memaklumi benar bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan, seorang yang sakti mandraguna dan berhati kejam, tidak ragu untuk mempergunakan segala ilmunya untuk membunuhnya.

Karena itu, melihat dua sinar putih meluncur ke arahnya, diapun menggerakkan kain pengikat kepalanya dan begitu kain itu diputarnya, saking cepatnya yang tampak hanyalah sinar kelabu yang bergulung-gulung dan membentuk perisai di depan tubuhnya. Ketika dua sinar putih itu bertemu dengan gulungan sinar kelabu yang membentuk perisai, dua sinar putih itu mental kembali karena sudah tertangkis kain ikat kepala.

Sutejo tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah kain pengikat kepalanya berhasil menangkis serangan lawan, dia langsung membalas. Dengan gerakan pergelangan tangannya, ujung kain pengikat kepala itu melejit dan mengeluarkah suara berciutan ketika menyambar ke arah dada Resi Wisangkolo. Biarpun yang dipergunakan untuk menyerang hanya sehelai kain, akan tetapi sama sekali tidak boleh dipandang rendah serangan ini karena ujung kain pengikat kepala itu telah disaluri tenaga sakti yang membuat ujung kain dapat menjadi kaku dan keras seperti baja! Resi Wisangkolo juga mengenal serangan ampuh, maka dia mundur ke belakang menghindarkan diri sehingga ujung kain pengikat kepala itu hanya menyambar angin.

Dua orang itu bertarung dengan seru sekali. Saling serang dan gerakan mereka sedemikian ringan dan cepatnya sehingga bentuk tubuh mereka tidak dapat tampak jelas lagi. Yang tampak hanyalah dua bayang-bayang berkelebatan di antara gulungan sinar putih dan kelabu. Dan pertarungan mereka itu terasa oleh semua orang karena injakan kaki kedua bayang-bayang itu menggetarkan sekeliling tempat pertempuran sampai belasan meter.

Bhagawan Sindusakti berkali-kali menghela napas panjang. Dia melihat jelas bahwa semua gerakan ilmu silat yang dilakukan Sutejo adalah ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat murni dari perguruan Jatikusumo. Akan tetapi gerakan itu sedemikian hebat dan sampurnanya sehingga dia seolah melihat mendiang gurunya, Resi Limut Manik sendiri, dalam usia yang masih muda, yang bersilat melawan Resi Wisangkolo!

Hal ini membuat alisnya berkerut dan dalam pikirannya terbayang akan cerita Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limuk Manik tewas di tangan Sutejo dan Puteri Wandansari. Kalau seperti ini kehebatan ilmu silat Sutejo, sama sekali bukan hal yang mustahil kalau pemuda ini bersama Puteri Wandansari berhasil membunuh kakek guru mereka. Akan tetapi, benarkah Sutejo yang membunuhnya?

Pemuda yang kini dengan mati-matian mau membela nama dan kehormatan Jatikusumo dari kehancuran? Hal itu tidak boleh dia terima begitu saja tanpa ada bukti-buktinya. Akan tetapi renungannya ini segera tersita oleh pertarungan yang amat hebat itu. Dia segera memperhatikan jalannya pertandingan dengan penuh perhatian dan di dalam hatinya tentu saja dia mengharapkan agar Sutejo keluar sebagai pemenang.

Pertarungan itu berjalan semakin hebat dan seru. Lecut-melecut dengan cepatnya seperti kilat menyambar, kadang terdengar semacam ledakan dari ujung kolor atau ujung kain pengikat kepala memukul udara, bahkan kadang tampak asap mengepul seolah senjata mereka mengeluarkan api. Akan tetapi semua serangan kedua pihak tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Kalau tidak dielakkan tentu ditangkis.

Telah lewat lima puluh jurus mereka saling serang dan keadaan menjadi amat menegangkan, Seolah-olah setiap saat mereka akan melihat seorang di antara kedua orang yang bertarung itu akan roboh dan menggeletak mati. Sutejo menyelinap di antara sinar kelabu, menyuruk ke bawah dan tiba-tiba saja dia mengirim lecutan dengan kain pengikat kepala itu ke arah dada Resi Wisangkolo.

"Wuuuuttt..... plak!" Resi Wisangkolo sekali ini tidak mengelak maupun menangkis, melainkan menyambut lecutan itu dengan dadanya yang kerempeng. Semua orang melihat ini dan menjadi terkejut karena lecutan ujung kain pengikat kepala itu seolah tidak terasa sama sekali oleh kakek tinggi kurus itu. Dadanya seolah berubah menjadi baja yang amat kuat sehingga tidak mempan disambar lecutan kain pengikat kepala yang sudah terisi tenaga sakti itu. Kiranya kakek itu memamerkan kekebalan tubuhnya. Begitu menerima sabetan kain pengikut kepala itu, sehelai di antara dua kolor Resi Wisangkolo sudah menyambar ke arah perut Sutejo.

"Syuuuuttt...... plakk!" Sutejo agaknya tidak mau kalah. Diapun telah mengerahkan Aji kekebalan Kawoco sehingga ketika kolor menghantam perutnya, senjata istimewa yang ampuh itu terpental kembali seolah memukul dinding baja yangtebal dan kokoh.

Kini terjadilah adu kekebalan. Senjata mereka silih berganti menghantam tubuh lawan, akan tetapi tidak pernah mereka berdua menangkis ataupun mengelak, melainkan menerima semua serangan itu dengan mengandalkan aji kekebalan mereka. Baju keduanya sudah terkoyak-koyak oleh serangan itu, namun tidak ada sedikitpun kulit mereka yang lecet apalagi terluka!

Agaknya Resi Wisangkolo maklum betul, biarpun dengan perasaan yang mengandung kekejutan dan penasaran, bahwa di luar dugaannya, pemuda itu dapat menandinginya dan sama sekali dia tidak mampu mendesaknya! Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan semuda ini akan tetapi sesakti ini. Dia menjadi penasaran sekali. Lawannya yang masih muda itu mampu menahan pukulan kolor pusakanya dengan mengandalkan aji kekebalannya, tidak ada gunanya lagi mengandalkan kolornya, pikirnya. Dia lalu melompat ke belakang dan membelitkan dua helai ujung kolor itu di pinggangnya, kemudian dia menyambar tongkat ular hitam yang tadi ditancapkan di atas tanah dan memutar-mutar tongkat itu. Tampak sinar hitam bergulung gulung, terdengar suara anuin berdesir dan bercuitan dan semua orang mencium bau amis yang memuakkan!

Sutejo terkejut juga. Dia dapat menduga bahwa senjata tongkat kakek itu ampuh dan berbahaya sekali dan agaknya kakek itupun memiliki ilmu tongkat yang hebat. Teringatlah dia akan Aji Bajrakirana yang telah dikuasainya. Akan tetapi Pecut Sakti Bajrakirana tidak berada di tangannya, dan untuk dapat memanfaatkan Aji Bajrakirana, setidaknya dia harus memiliki atau memegang sebatang pecut yang baik!

Sutejo memandang ke sekelilingnya dan berseru, "Siapakah di antara saudara-saudara yang memiliki sebatang senjata pecut? Kalau boleh, hendak saya pinjam sebentar untuk melawan Resi Wisangkolo!"

Tiba-tiba saja Rahmini berseru, "Terimalah dan pergunakan pecutku ini!" Wanita yang tadinya bersikap galak terhadap Sutejo itu sudah melemparkan pecutnya ke arah Sutejo.

"Terima kasih!" Sutejo berseru sambil menyambar pecut itu dengan tangan kanannya. Pecut itu ujungnya sudah putus tiga kali, ketika Rahmini bertandang melawan Ki Klabangkolo. Akan tetapi setelah memegang dan mencoba memutarnya, Sutejo dengan girang mendapat kenyataan bahwa pecut itu masih cukup baik baginya, untuk dipakai bersilat menurut ilmu pecut Bajrakirana yang telah dipelajari dan dikuasainya. Maka dia lalu menghadapi Resi Wisangkolo kembali dan memutar-mutar pecut itu di atas kepalanya.

Melihat pemuda itu memegang sebatang pecut, Resi Wisangkolo lalu menerjang dengan tongkat ular hitamnya. Gerakannya dahsyat sekali dan ujung tongkat ular hitam itu seperti seekor ular hidup mematuk ke arah muka Sutejo, diantara kedua matanya. Dahsyat dan berbahaya sekali serangan ini, merupakan serangan maut kalau mengenai sasaran. Akan tetapi, Sutejo sudah siap sedia menghadapi serangan yang paling ampuh sekalipun.

Dengan sebatang pecut di tangan kanannya, dia merasa mantap dan tenang. Biarpun pecut itu bukan Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi pecut itu adalah senjata pegangan Rahmini, tentu saja merupakan senjata yang cukup baik, lebih baik daripada pecut biasa yang suka dipergunakan Sutejo kalau dia berlatih ilmu dari Kitab Bajrakirana. Dia menggerakkan pergelangan tangan kanannya dan pecut itu menyambar ke depan, menangkis ujung tongkat.

"Tarr......!" Ujung cambuk melecut dan meledak, kemudian menyambar ke arah tongkat. "Prattt......! Tongkat itu ujungnya terpental ketika tertangkis ujung pecut. Akan tetapi Resi Wisangkolo sudah cepat menggerakkan tongkatnya untuk menyerang lagi. Gerakannya amat cepat sehingga sinar tongkatnya bergulung-gulung dan dari gulungan hitam itu kadang mencuat ujung tongkat untuk menyerang dengan tusukan, totokan atau pukulan. Akan tetapi Sutejo sudah mulai memainkan ilmu silat Bajrakirana. Gerakannya tangkas bukan main. Pecutnya juga menciptakan sinar merah yang bergulung-gulung. Pecut itu memang berwarna merah dan ke manapun tongkat itu menyerang, selalu tertangkis oleh pecut dan sebaliknya pecut itu juga menyambar-nyambar ganas dalam serangan balasannya.

Terjadilah pertandingan yang lebih seru dari pada tadi ketika keduanya mempergunakan kolor dan kain ikat kepala sebagai senjata. Kini mereka berdua mempergunakan senjata yang lebih ampuh dan mereka berdua mengerahkan segala kemampuan untuk mengalahkan lawan, bukan sekadar mengalahkan, bahkan serangan-serangan itu merupakan tangan maut yang menyambar-nyambar hendak merenggut nyawa!

Bau amis dari tongkat Resi Wisangkolo itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan. Namun, gerakan cambuk Sutejo mendatangkan angin yang demikian kuat menyambar ke depan sehingga bau amis itu dapat terusir. Mereka saling serang, saling desak, kadang maju kadang mundur dan pertarungan itu semakin seru dan menegangkan semua orang yang menontonnya.

Ki Klabangkolo sendiri sudah pulih kembali dan diapun menonton dengan mata terbelalak. Sekarang dia tidak merasa penasaran mengapa dirinya kalah oleh Sutejo. Kiranya pemuda itu sedemikian saktinya sehingga mampu menandingi Resi Wisangkolo! Mulailah hati Ki Klabangkolo menjadi resah. Kalau kakak seperguruannya tidak mampu mengalahkan Sutejo, jelas bahwa kedudukan dia dan kakak seperguruannya itu terancam bahaya. Kalau guru dan para murid Jatikusumo serentak maju, bagaimana dia akan mampu menandingi mereka? Mulailah dia menonton dengan hati gelisah.

Priyadi yang sejak tadi menonton, semakin terkejut kepada Sutejo. Pemuda itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Yang amat menarik hatinya adalah ilmu pecut yang dimainkan Sutejo. Bukan main hebatnya ilmu pecut itu dan diapun dapat menduga bahwa tentu itu yang disebut Aji Bajrakirana dan yang menjadi ilmu rahasia dari Jatikusumo yang tidak pernah diajarkan kepada para murid. Bahkan gurunya sendiripun tidak pernah mempelajarinya. Dan kini ilmu itu telah dikuasai Sutejo. Padahal Sutejo hanya menggunakan pecut milik Rahmini. Kalau dia memegang Pecut Sakti Bajrakirana, tentu akan lebih hebat dan dahsyat lagi permainan pecutnya. Timbul keinginan hatinya untuk dapat menguasai ilmu itu!

Pertandingan sudah berjalan lebih dari lima puluh jurus dan keadaan mereka berdua masih seimbang. Hanya bedanya kalau keadaan tubuh Sutejo masih segar dan tidak berkurang kegesitannya, Sebaliknya Resi Wisangkolo mulai mandi keringat dan uap putih mengepul di atas ubun-ubunnya, menandakan bahwa kakek itu sudah mulai kelelahan. Dalam pertandingan, di mana tenaga maupun tingkat kepandaian mereka seimbang, soal usia memang memegang peran penting. Resi Wisangkolo yang sudah berusia enam puluh tahun itu tentu saja tidak memiliki daya tahan tubuh sekuat Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun!

Resi Wisangkolo menjadi penasaran bukan main. Dia akan mendapat malu dan nama besarnya akan runtuh kalau dia tidak mampu keluar sebagai pemenang, mengalahkan lawan yang masih muda ini, Bagaimana mungkin dia sampai kalah oleh seorang murid muda dari perguruan Jatikusumo? Dia mulai merasa lelah, napasnya terengah dan dia sadar bahwa kalau dilanjutkan, dia akan semakin kehabisan napas dan kalau sudah begitu, tentu saja dia akan kalah. Karena itu, sebelum tenaganya terkuras, dia akan mempergunakan aji pamungkasnya, yaitu aji terakhir yang merupakan simpanannya dan juga andalannya. Dia melompat ke belakang lalu menancapkan tongkat ular hitamnya ke atas tanah.

"Heh, Sutejo! Kalau engkau memang digdaya, mari kita hentikan adu senjata ini dan mari kita mengadu tenaga sakti!"

Melihat sikap dan mendengar ucapan lawan ini, Sutejo maklum bahwa lawan hendak menyimpan tenaga dan hendak mempergunakan aji pamungkas untuk memaksakan kemenangan. Tadi beberapa kali mereka sudah saling mengadu tenaga sakti lewat senjata, maka diapun tidak merasa gentar dan dia lalu menyelipkan gagang pecut itu ke ikat pinggang di bagian punggung.

"Resi Wisangkolo! Engkau yang datang menantang, aku hanya melayani tantanganmu. Keluarkanlah semua ilmumu akan kulayani!" kata Sutejo, diam-diam siap dengan pengumpulan tenaganya karena dia maklum bahwa dia akan menghadapi benturan tenaga yang amat kuat.

"Sambut pukulan Aji Guntur Bumi!" kata Resi Wisangkolo sambil merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok dan kedua telapak tangannya terbuka, menempel pada tanah di depannya. Ketika dia mengerahkan tenaga, seolah menyedot tenaga dari bumi, tubuhnya menggigil, wajahnya perlahan-lahan berubah menghitam dan ketika dia mengangkat kedua tangannya untuk didorongkan ke depan, ke arah Sutejo, maka pada saat itu bumi bergoyang seperti terjadi gempa bumi yang amat kuat! Serangkum tenaga yang membawa getaran dahsyat menyergap ke arah Sutejo!

Pemuda ini dengan tenang, segera mengerahkan Aji Gelap Musti, merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut dan setelah menyembah ke atas, kedua telapak tangannya didorongkan untuk me­nyambut serangan lawan.

"Wuuuuuttt...... bresssss......!"

Dua tenaga sakti yang hebat bertemu di udara di antara mereka. Benturan tenaga ini terasa oleh semua orang yang menonton sehingga mereka terdorong ke belakang dan melangkah sampai tiga empat kali untuk mencegah agar jangan sampai terjengkang. Akan tetapi mata mereka tetap memandang ke arah kedua orang yang mengadu tenaga sakti itu. Sutejo terdorong ke belakang sampai dua depa, akan tetapi kedua kakinya masih memasang kuda-kuda, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang. Kedua kakinya tak pernah terangkat, akan tetapi dia terdorong ke belakang sehingga dua kakinya membuat guratan yang cukup dalam di atas tanah sepanjang dua depa, Akan tetapi Resi Wisangkolo juga terdorong mundur, bahkan terhuyung sampai lima langkah dan wajahnya menjadi pucat, keringatnya membasahi muka dan leher!

Resi Wisangkolo masib penasaran. Dia masih memiliki sebuah aji kesaktian lagi yang amat ampuh, maka dia lalu melangkah lagi maju lima langkah. "Sutejo, ternyata engkau memang pantas menjadi lawanku. Aku masih memiliki sebuah aji simpanan. Beranikah engkau menyambutnya?"

"Silakan, Resi Wisangkolo. Semua kehendakmu akan kulayani." kata Sutejo dan diapun maju sejauh dua depa sehingga mereka berdua kini berhadapan dalam jarak seperti tadi.

Kini kakek itu mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan telapak tangan menghadap ke atas seolah hendak menyedot hawa sakti dari angkasa, kemudian dia menurunkan kedua tangan itu dan dengan telapak tangannya dia mendorong ke depan, ke arah Sutejo sambil berteriak nyaring, "Aji Guntur Geni!!"

Sutejo masih tenang, akan tetapi sejak tadi dia sudah mengerahkan tenaga saktinya dan menghadapi serangan itu, diapun berseru, "Aji Bromo kendali!!" dan diapun mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan. Dua tenaga sakti yang lebih dahsyat dan pada tadi kembali bertumbukan di udara dan sekali ini bahkan mengeluarkan suara ledakan keras.

"Wuuuuuttt......blarrrr.....!" Banyak murid Jatikusumo terpental dan terpelanting seolah ada halilintar menyambar mereka. Demikian dahsyat pertemuan dua tenaga yang berlawanan itu. Akibatnya juga hebat. Sutejo terhuyung ke belakang dan wajahnya menjadi pucat, napasnya memburu, akan tetapi dia masih dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan tetap berdiri tegak. Akan tetapi Resi Wisangkolo terpelanting keras dan terbanting roboh. Lalu dia bergulingan sampai jauh, lalu bangkit duduk bersila dan mengatur, pernapasan karena dia telah menderita luka dalam yang cukup parah!

Kekalahan Resi Wisangkolo sudah jelas. Ki Klabangkolo sadar akan hal ini dan kekalahan ini menghancurkan keangkuhannya. Tanpa berkata apa-apa dia lalu menghampiri kakak seperguruannya, mengangkat dan memondong tubuh tinggi kurus yang kini tampak lemah itu, lalu dia membawanya pergi tanpa menoleh lagi!

Suasana hening sejenak, kemudian pecahlah kegembiraan para murid Jatikusumo dan mereka bersorak atas kemenangan Sutejo yang telah berhasil mengusir dua orang musuh yang sakti mandraguna itu. Sutejo menghampiri Rahmini dan menyerahkan kembali pecut itu sambil berkata. "Banyak terima kasih, mbakyu Rahmini. Pecut ini amat baik."

Rahmini menerima pecut dan masih belum dapat mengeluarkan kata-kata seperti halnya suaminya dan yang lain-lain, Bahkan Bhagawan Sindusakti masih berdiri terhenyak saking heran dan kagumnya menyaksikan kemenangan Sutejo menandingi dua orang kakek itu. Ketua Jatikusumo ini merasa serba salah. Di satu pihak dia masih terpengaruh kata-kata Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limut Manik dibunuh oleh Sutejo dan Puteri Wandansari, akan tetapi di lain pihak sekarang ternyata bahwa yang menyelamatkan Jatikusumo dari kehancuran adalah Sutejo!

"Sutejo, engkau telah berhasil mempertahankan kehormatan dan nama besar Jatikusumo. Mari kita bicara di dalam." Bhagawan Sindusakti berkata lembut.

Sutejo mengangguk dan mengikuti paman gurunya itu yang memasuki gapura lalu menuju ke rumah induk sebagai tempat tinggalnya, Maheso Seto, Rahmini, Priyadi, dan Cangak Awu mengikuti dari belakang. Mereka semua memasuki ruangan depan rumah Bhagawan Sindusakti dan mengambil tempat duduk. Bhagawan Sindusakti duduk di atas kursinya dan empat orang murid kepala duduk di kanan kirinya sedangkan Sutejo duduk di atas kursi yang berhadapan dengan ketua itu.

“Sutejo sebelum kita membicarakan urusan penting lainnya, terlebih dulu aku hendak mengucapkan terima kasih atas bantuanmu sehingga perguruan Jatikusumo terhindar dari penghinaan Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo. Sungguh kami menghargai sekali bantuanmu itu dan sama sekali kami tidak pernah dapat menyangka bahwa engkau akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka berdua."

"Maafkan aku yang pernah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo." kata pula Cangak Awu yang masih terkagum-kagum melihat sepak terjang Sutejo tadi.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kakangmas Cangak Awu." jawab Sutejo sambil memandang kepada pria tinggi besar itu.

"Kami juga merasa menyesal dan kecelik telah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo." kata Maheso Seto dengan muka berubah kemerahan, sementara itu Rahmini hanya menundukkan muka.

"Aku tidak merasa dipandang rendah, Kakangmas Maheso Seto. Sebaiknya urusan yang lalu itu kita lupakan saja. Seperti yang pernah dikatakan Kakang Cangak Awu, bagaimanapun juga di antara kita masih ada ikatan perguruan."

"Sutejo, tadi engkau mengatakan bahwa kedatanganmu adalah untuk bicara tentang Kitab Bajrakirana dan tentang kematian Bapa Resi Limut Manik. Sungguh kebetulan tekali karena akupun ingin sekali bicara denganmu tentang itu. Dan karena engkau juga menyadari bahwa engkau masih terhitung murid perguruan Jatikusumo, maka aku percaya bahwa engkau tentu akan bicara sejujurnya sebagai seorang murid yang baik."

"Paman Bhagawan, sesunguhnya saya merasa amat terkejut dan penasaran mendengar tuduhan yang diucapkan Kakang Cangak Awu bahwa saya dan Diajeng Wandansari telah membunuh Eyang Resi Limut Manik. Juga sama sekali saya tidak pernah merampas atau mencuri Kitab Bajrakirana. Semua itu adalah fitnah keji yang dijatuhkan kepada saya dan Diajeng Wandansari, Paman Bhagawan."

"Sutejo, kami tidak pernah menjatuhkan fitnah, kami hanya mendengar hal itu dan Adi Bhagawan Jaladara. Sebetulnya bagaimanakah? Menurut engkau, siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik?" tanya Bhagawan Sindusakti.

"Paman Bhagawan, agaknya Paman Jaladara telah memutar-balikkan kenyataan dan perbuatannya itu lebih membuktikan lagi betapa jahatnya Paman Bhagawan Jaladara. Sebelumnya dia telah membunuh Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal."

"Hemm, apakah engkau melihat sendiri ketika Adi Jaladara membunuh Adi Sidik Paningal?" tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ragu. "Kalau benar demikian, apa alasannya maka Adi Jaladara membunuh gurumu?"

"Begini permulaannya, Paman Bhagawan. Pada suatu malam Bapa Guru dan saya menghadapi serangan orang dengan ilmu Hitam santet. Akan tetapi Bapa Guru telah dapat menolaknya dan kami berdua terbebas dari ancaman bahaya. Pada keesokan harinya, muncul Paman Jaladara bersama dua orang anak buahnya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, keduanya merupakan jagoan dari Wirosobo. Paman Jaladara hendak memaksa Bapa Guru melakukan dua hal. Pertama agar Bapa Guru membantu gerakan di Wirosobo yang hendak memberontak, dan kedua agar Bapa Guru tidak mempelajari Agama Islam. Tuntutan ini ditolak oleh Bapa Guru sehingga timbul perkelahian karena Paman Jaladara memaksakan kehendaknya. Bapa Guru dapat memukul mundur Paman Jaladara dan dua orang kawannya itu. Akan tetapi tiba-tiba Paman Jaladara mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana dan melihat pecut pusaka itu Bapa Guru tidak berani melawan lagi dan membiarkan dirinya dihajar oleh Paman Jaladara. Ketika saya membela Bapa Guru, sayapun dihajarnya dan Bapa Guru melarang saya melawan karena kami harus menghormati dan tunduk kepada pemegang Pecut Sakti Bajrakirana. Akhirnya setelah puas memukuli Bapa Guru, Paman Jaladara pergi dan meninggalkan pesan bahwa kalau dalam waktu sebulan Bapa Guru tidak memenuhi permintaan-permintaannya tadi, dia akan datang kembali untuk membunuh Bapa Guru."

"Hemm, bagaimana sampai dapat terjadi hal seperti itu?" kata Bhagawan Sindusakti sambil mengerutkan alisnya. "Kemudian bagaimanakah, Sutejo?"

"Bapa Guru menderita luka-luka, akan tetapi dapat pulih kembali. Beliau mengutus saya untuk pergi ke puncak Gunung Semeru menghadap Eyang Resi Limut Manik dan melaporkan tentang perbuatan Paman Jaladara. Setelah menghadap Eyang Resi, saya mendengar dari Eyang Resi bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang dicuri oleh Paman Jaladara dari padepokan Eyang Resi. Mendengar akan perbuatan Paman Jaladara, Eyang Resi menurunkan tenaga saktinya kepada saya dan memerintahkan saya untuk merampas Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Jaladara."

Bhagawan Sindusakti mengelus-elus jenggotnya yang putih dan mengangguk-angguk. "Pantas engkau memiliki tenaga sakti yang demikian kuat, kiranya eyang gurumu telah menurunkan tenaga saktinya kepadamu. Engkau sungguh beruntung, Sutejo. Kemudian bagaimana? Lanjutkan ceritamu ."

"Setelah meninggalkan padepokan Eyang Resi Limut Manik, dalam perjalanan saya bertemu dengan Paman Jaladara. Kami bertengkar dan berkelahi. Paman Bhagawan Jaladara mempergunakan Pecut Sakti Bajrakirana dan akhirnya saya dapat merampas pecut pusaka itu dari tangannya." Sutejo berhenti dan teringat kepada Retno Susilo yang melarikan pecut itu akan tetapi kemudian dapat kembali ke tangannya.

"Lalu bagaimana, Sutejo? Lanjutkan ceritamu kata Bhagawan Sindusakti dengan hati tertarik.

"Setelah berhasil mendapatkan Pecut Sakti Bajrakirana, saya cepat kembali ke padepokan Bapa Guru di Lereng Gunung Kawi." Dia tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Retno Susilo yang membuat dia terlambat kembali ke padepokan gurunya sehingga dia terlambat pula melindungi gurunya dari serangan Bhagawan Jala­dara dan teman-temannya.

"Setelah tiba di sana, kiranya Paman Bhagawan Jaladara telah berada di sana pula bersama Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda dan seorang lagi, Tumenggung Janurmendo, seorang senopati Wirosobo yang sakti. Dalam pertandingan melawan Tumenggung Janurmendo, Bapa Guru terluka parah dan dia masih disiksa oleh Bhagawan Jaladara. Saya segera membantu Bapa Guru dan hendak melawan mereka, akan tetapi Bhagawan Jaladara telah mengancam akan membunuh Bapa Guru yang telah berada dalam cengkeramannya kalau saya tidak menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana kepadanya. Melihat keadaan Bapa Guru yang terancam maut, terpaksa saya menyerahkan pecut pusaka itu dan sebagai penukarannya, Bapa Guru dibebaskan. Setelah Bapa Guru dibebaskan, saya mengamuk dan berusaha untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi mereka melarikan diri membawa pecut pusaka itu. Demikianlah, Paman Bhagawan Sindusakti. Bapa Guru terluka parah dan meninggal dunia dan memesan kepada saya untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana."

"Kejam sekali Paman Bhagawan Jaladara!" kata Maheso Seto dengan suara penuh geram.

"Kejam dan jahat!" kata pula Rahmini. "Perbuatan itu tidak boleh didiamkan saja!" kata pula Cangak Awu dengan marah.

"Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan Adi Cangak Awu, kita hanya mendengar cerita ini dari satu pihak. Harap andika semua tenang dulu. Cerita Paman Jaladara lain lagi dan masih perlu dibuktikan kelak siapa di antara mereka berdua yang bicara benar dan siapa pula pembohong." kata Priyadi dengan suara tenang.

Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, agaknya setuju dengan pendapat Priyadi ini. Sambil mengelus jenggotnya dan memandang kepada Sutejo, dia berkata, "Sutejo, ceritakanlah bagaimana selanjutnya pengalamanmu, tentang kematian Bapa Resi Limut Manik dan tentang Kitab Bajrakirana."

"Baik. Paman Bhagawan. Saya akan bercerita sejujurnya dan terserah kepada paman dan para saudara untuk menilai benar tidaknya cerita saya ini. Setelah Bapa Guru meninggal dunia, saya pergi merantau dan pada suatu hari saya naik ke Gunung Semeru untuk menghadap Eyang Resi Limut Manik. Setibanya di sana, saya melihat kedua cantrik Penggik dan Pungguk sudah tewas, Eyang Resi Limut Manik menderita luka-luka parah dan diajeng Wandansari menghadapi pengeroyokan empat orang yang bukan lain adalah Paman Bhagawan Jaladara dan tiga orang rekannya yang juga mengeroyok dan menewaskan Bapa Guru itu. Saya lalu membantu diajeng Wandansari dan kami berdua berhasil mengusir keempat orang jahat itu. Akan tetapi keadaan Eyang Resi Limut Manik sudah payah dan hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja. Akan tetapi waktu beberapa hari itu dia pergunakan untuk memberi petunjuk kepada saya untuk mempelajari Kitab Bajrakirana dan diajeng Wandansari mempelajari Kitab Kartika Sakti. Eyang Resi memberikan Kitab Bajrakirana kepada saya dan memberikan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitabnya kepada diajeng Wandansari. Juga beliau memesan agar saya merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara. Demikianlah, Paman Bhagawan, keadaan sebenarnya bagaimana Eyang Resi Limut Manik menemui kematiannya dan bagaimana pula kedua Kitab Pusaka itu diberikan kepada saya dan diajeng Wandansari."

"Akan tetapi, kurasa Bapa Guru Resi Limut Manik tentu memesan kepadamu untuk menyerahkan Pecut Sakti dan Kitab Bajrakirana kepadaku karena pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo. Kedua pusaka itu sejak dahulu telah dipergunakan untuk membela perguruan Jatikusumo." kata Bhagawan Sindusakti dengan suara lembut.

"Maafkan kalau saya menyangkal, Paman Bhagawan. Akan tetapi Eyang Resi Limut Manik memesan wanti-wanti kepada kami berdua untuk mempergunakan kedua pusaka itu, pertama untuk membela Mataram yang menghadapi banyak pemberontakan, dan mempergunakan pula untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena itulah maka saya tidak dapat memenuhi kehendak Kakang Cangak Awu ketika dia minta agar pusaka yang berada pada saya, yaitu Kitab Bajrakirana, diserahkan kepadanya untuk dihaturkan kepada paman."

"Kalau begitu sebagai seorang murid Jatikusumo, engkau hendak mengingkari kewajibanmu untuk berbakti kepada perguruan. Seharusnya kitab Bajrakirana yang ada padamu itu diserahkan kepada Bapa Guru sebagai Ketua perguruan Jatikusumo!" berkata Maheso Seto.

"Maaf, Kakang Maheso Seto. Karena saya menerima pesan wasiat langsung dari mendiang Eyang Resi, dan saya tidak merupakan murid perguruan Jatikusumo, maka terpaksa saya lebih mengutamakan ketaatan kepada mendiang Eyang Resi daripada yang lain."

"Sudahlah, urusan Kitab Bajrakirana kita tunda dulu. Yang terpenting kami harus mengetahui dengan jelas siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik dan sesungguhnya kepada siapakah mendiang Bapa Guru menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana, karena buktinya pecut itu berada di tangan Adi Bhagawan Jaladara." kata Bhagawan Sindusakti melerai.

"Saya akan berusaha untuk merampas kembali pecut pusaka Itu, Paman Bhagawan Sindusakti!" kata Sutejo dengan tegas.

"Akan tetapi kalau pusaka itu sudah berada di tangan kami, pusaka itu menjadi hak kami dan siapapun juga tidak boleh mengambilnya dari tangan kami." kata Bhagawan Sindusakti. "Karena pusaka itu adalah pusaka lambang kejayaan perguruan Jatikusumo."

"Kita sama lihat saja nanti, paman. Sekarang ijinkan saya mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan saya."

Bhagawan Sindusakti mengangguk. Hatinya merasa tidak enak. Sebetulnya dia harus menahan Sutejo dan menuntut agar Kitab Bajrakirana diserahkan kepadanya. Akan tetapi bagaimana dia dapat memaksa? Bagaimanapun juga, baru saja Sutejo telah menyelamatkan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo, dan untuk memaksa pemuda itu menyerahkan kitab, siapa di antara murid Jatikusumo yang akan mampu menandinginya? Diapun mengangguk ketika Sutejo menyembah dan meninggalkan perkampungan Jatikusumo.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dua orang penunggang kuda itu melarikan kudanya menerabas hutan yang lebat itu. Dari cara mereka duduk dengan tegak di atas punggung kuda yang berlari cepat itu, dapat diduga bahwa mereka adalah dua orang penunggang kuda yang mahir. Yang melarikan kuda di depan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh sedang dan tegap, wajahnya tampan gagah dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa. Kumisnya yang melintang seperti kumis Raden Gatotkaca itu menambah keangkeran dan kegagahan wajahnya.

Sebatang keris terselip di pinggangnya, dan dari pakaiannya yang gemerlapan dengan tanda-tanda pangkat, dapat diduga bahwa orang ini adalah seorang ponggawa kerajaan yang berpangkat tinggi. Dugaan ini benar karena pria itu adalah Ki Mertoloyo, seorang senopati besar kerajaan Mataram, seorang di antara para ponggawa yang menjadi kepercayaan Sultan Agung.

Penunggang kuda kedua yang melarikan kudanya di belakang Ki Mertoloyo lebih mengagumkan lagi. Ia adalah seorang wanita muda, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berwajah cantik manis sekali. Rambutnya yang hitam disanggul agak mawut tertiup angin sehingga sebagian rambutnya terjurai menutupi sebagian mukanya. Matanya lebar dan bersinar tajam, mulutnya yang manis itu menyungging senyuman lembut. Hidungnya yang kecil mancung menambah kemanisan wajahnya. Gadis ini adalah Winarti, puteri Ki Mertoloyo.

Dari ayahnya yang gagah perkasa dan sakti mandraguna, gadis ini sejak kecil juga mendapat gemblengan olah kanuragan sehingga kini ia menjadi seorang gadis yang digdaya. Cara ia menunggang kuda juga sudah membayangkan ketangkasannya. Sebagai seorang senopati besar, Ki Mertoloyo mendapat tugas dari Sultan Agung untuk mempersiapkan pertahanan di daerah perbatasan, untuk bersiap siaga kalau-kalau ada para pemberontak yang melakukan gerakan menyerbu daerah Mataram.

Untuk keperluan itu, Ki Mertoloyo mengadakan perjalanan ke daerah perbatasan, menghubungi kepala-kepala daerah, lurah dan demang, untuk menyusun dan memperkuat pertahanan di daerah itu. Untuk melaksanakan tugas berkeliling dan melakukan pemeriksaan ini, senopati yang gagah perkasa itu tidak membawa pasukan pengawal, melainkan hanya ditemani puterinya, Winarti yang gagah perkasa. Berdua dengan puterinya, senopati itu merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman bahaya dari manapun datangnya. Dan buktinya, selama melakukan pemeriksaan di perbatasan sebulan lebih lamanya, dia dan puterinya tidak pernah menemui halangan yang berarti.

Pada siang hari itu, mereka membalapkan kuda menerobos hutan menuju ke dusun Pamrican, sebuah dusun yang berada di ujung utara daerah perbatasan. Pamrican adalah sebuah dusun kademangan dan yang menjabat demang di situ adalah Ki Demang Sengkali, Senopati Mertoloyo mengenal baik Ki Sengkali, maka kini dia hendak berkunjung ke Pamrican dan membicarakan tentang pertahanan Timur Laut itu dengan Ki Demang, Perjalanan ke Pamrican melalui daerah berhutan yang jaraknya hanya belasan pal dari Pamrican. Karena matahari telah naik tinggi dan dia tidak ingin terlalu larut tiba di Pamrican maka Senopati Mertoloyo membalapkan kudanya dan Winarti mengikuti dari belakang, Gadis ini sudah mahir sekali menunggang kuda sehingga ia dapat mengikuti ayahnya tanpa kesulitan.

Tiba-tiba mereka berdua melihat kobaran api menghadang di tengah jalan yang mereka lalui. "Tahan....!" kata Ki Mertoloyo sambil menarik kendali kuda dan mengangkat tangan kiri memberi isarat kepada puterinya untuk menahan larinya kuda. Dua ekor kuda yang ditahan itu meringkik ketika kendali ditarik oleh penunggangnya, juga karena terkejut melihat kobaran api.

Setelah dua ekor kuda berhenti berlari, tiba-tiba dari empat penjuru berloncatan dari balik batang pohon dan semak belukar belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis. Mereka semua memegang senjata, ada yang membawa golok, pedang atau keris dan mereka segera mengepung ayah dan anak yang menjadi terkejut itu. Ada sebagian orang dari mereka memadamkan api dengan menginjak-injak ranting dan daun kering yang tadi mereka bakar untuk menghentikan larinya dua ekor kuda itu.

Melihat dia dan puterinya dikepung orang-orang bersenjata yang jumlahnya hampir dua puluh orang itu, Ki Mertoloyo lalu melompat turun dari atas punggung kuda, diturut oleh Winarti yang juga melompat turun dari atas kudanya. Dua ekor kuda yang dilepas kendalinya itu mundur-mundur ketakutan melibat banyak orang dan mereka lalu ditangkap oleh dua orang pengepung dan dibawa keluar dari kepungan. Mertoloyo dan Winarti tidak dapat mencegah dirampasnya dua ekor kuda mereka itu karena mereka harus berjaga diri melihat belasan orang itu mengancam mereka.

Ki Mertoloyo mengerutkan alisnya, sikapnya tenang dan sama sekali tidak gentar. Dia melangkah maju menghampiri seorang di antara mereka yang bermuka hitam dan agaknya menjadi pemimpin mereka melihat pakaiannya yang berbeda dari yang lain. Pakaiannya agak mewah dan dia membawa sebatang keris yang sarungnya terukir indah terselip di pinggangnya.

"KiSanak," tegur Ki Mertoloyo sambil mengamati wajah orang-orang yang berhadapan dengannya. "Andika sekalian ini siapakah dan apa maksud andika sekalian menghadang perjalanan kami?"

Si muka hitam yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mengelebatkan golok di tangannya dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kawan-kawan ! Dia masih bertanya mengapa kita menghadangnya, ha-ha-ha!"

Seorang lain yang mukanya brewok, berusia kurang lebih empat puluh tahun juga tertawa. "Ha-ha-ha, mau kenal nama kami? Aku adalah Klabang Lorek, jagoan Wirosobo!" Dia mengamangkan goloknya.

"Dan aku adalah Klabang Belang, Juara Wirosobo!" kata yang bermuka hitam.

Ki Mertoloyo memandang tajam penuh selidik. Melihat sikap kedua orang ini agaknya mereka itu bukan perampok biasa. Mungkin mereka adalah kaki tangan Kadipaten Wirosobo yang sudah mengetahui siapa dia dan sengaja menghadang dan mengganggu.

"Kalian mau apakah menghadang perjalanan kami?" tanyanya.

"Tinggalkan gadis ini dan dua ekor kudamu, baru engkau boleh lewat di jalan ini!" kata Klabang Belang sambil mengerling ke arah Winarti dan menyeringai.

Wajah Ki Mertoloyo berubah merah, kumisnya tergetar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan.

"Klabang Belang dan Klabang Lorek, buka lebar-lebar mata dan telingamu! Aku adalah Senopati Mertoloyo dari Mataram! Apakah kalian sudah bosan hidup, berani menghadang dan mengganggu kami ayah dan anak?"

"Senopati Mertoloyo, kalau engkau tidak mau menyerahkan puterimu, kami akan merampasnya dengan paksa dan membunuhmu!" Setelah berseru demikian, Klabang Belang memberi isarat dengan tangan kirinya yang diangkat ke atas, menyuruh anak buahnya mengeroyok Ki Mertoloyo dan menangkap gadis cantik itu. Para anak buah itu menggerakkan senjata mereka menerjang Ki Mertoloyo, sedangkan Klabang Belang dan Klabang Lorek seperti berlomba hendak menangkap gadis yang cantik manis itu.

Ki Mertoloyo tidak mengkhawatirkan puterinya karena diapun maklum bahwa puterinya sudah memiliki bekal kedigdayaan yang memadai, yang tidak perlu khawatir kalau hanya dikeroyok dua orang kasar seperti Klabang Belang dan Klabang Lorek itu. Apa lagi kedua orang itu tidak berniat membunuhnya, melainkan menangkapnya, maka tentu akan lebih mudah bagi puterinya untuk membela diri. Akan tetapi, enam belas orang anak buan gerombolan itu menerjang dan mengeroyoknya dengan niat membunuh.

Hal ini dapat dilihat dari cara mereka maju menyerang, demikian ganas mereka mempergunakan senjata untuk menyerangnya. Dari empat penjuru mereka datang menyerangnya. Beberapa batang tombak, pedang, golok dan keris meluncur ke arah tubuhnya dalam serangan maut. Akan tetapi dia tidak menjadi jerih. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Ki Mertoloyo menyambut para pengeroyoknya dengan tendangan dan tamparan kedua kaki tangannya. Dia bahkan tidak menghindarkan tangan dan kakinya bertemu dengan senjata tajam runcing mereka.

Ternyata kedua lengan dan kakinya dilindungi Aji Kekebalan yang amat kuat, yang membuat kulit tubuhnya Seperti terbuat dari baja dan semua senjata yang bertemu dengan kaki dan tangannya terpental. Terdengar pekik-pekik kesakitan dan tubuh para pengeroyok itu berpelantingan. Akan tetapi agaknya mereka mengandalkan jumlah banyak, maka mereka yang jatuh digantikan oleh kawan dan yang tidak terluka parah segera bangkit dan mengeroyok kembali.

Ki Mertoloyo mengamuk bagaikan seekor harimau yang dikeroyok segerombolan anjing serigala. Dia adalah seorang senopati yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran, dan dia seorang senopati besar. Dia tidak mau sembarangan membunuh orang, dan hanya membuat para pengeroyok jungkir balik dan berpelantingan, tanpa menggunakan kerisnya atau pukulan mautnya.

Klabang Belang dan Klabang Lorek juga kecelik sekali. Ketika tadi mereka maju menghampiri Winarti, mereka mengira akan dapat segera merangkul dan mendekap gadis yang cantik manis itu. Akan tetapi ketika Klabang Belang menubruk, gadis itu dengan lincahnya mengelak sehingga tubrukan itu mengenai tempat kosong. Ketika Klabang Lorek menyambut dari depan untuta menangkap lengan Winarti, gadis ini menangkis dengan gerakan tangan kiri ke atas. Tangkisannya demikian kuat sehingga tangan kanan Klabang Lorek yang meraih itu terpental dan sebelum Klabang Lorek dapat mengelak, kaki kanan gadis itu mencuat dengan kecepatan kilat.

"Bukkk!" Perut Klabang Lorek yang agak gendut itu terkena tendangan dan dia terjengkang, walaupun tidak sampai roboh akan tetapi dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi perutnya Perutnya terasa mulas sekali, melilit-lilit, mungkin usus buntunya yang terkena tendangan kaki mungil Winarti!

Melihat temannya tertendang. Klabang Belang masih belum menyadari akan kehebatan gadis itu. Dia malah menertawakan Klabang Lorek yang meringis sambil mengelus perutnya.

"Ha-ha ha!" Dia tertawa dan tiba-tiba saja dia menubruk ke arah Winarti, dengan keyakinan bahwa sekali ini dia tentu akan mampu mendekap gadis yang menggairahkan hatinya itu. Namun kembali dia menubruk angin karena entah bagaimana caranya, gadis itu telah menyelinap dan mengelak dengan lincah sekali dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya.

Winarti menggerakkan tangan kirinya menempiling ke arah belakang telinga Klabang Belang "Prattt ...... !" Walaupun yang menempiling itu hanya sebuah tangan yang kecil dan berkulit halus, namun nyatanya Klabang Belang merasa seolah ada halilintar menyambar kepalanya. Dia terpusing dan jatuh duduk, memegangi kepalanya karena rasanya kepalanya berpusing atau bumi di sekelilingnya berputar aneh.

Sekali ini giliran Klabang Lorek yang menertawakannya. Si brewok gendut yang rasa nyeri di perutnya sudah mereda ini, berdiri sambil tertawa dan telunjuk kirinya menuding ke arah kawannya yang masih terduduk sambil memegangi kepalanya.

"Ha-ha ha-ha!" Klabang Lorek tertawa, akan tetapi pada saat itu diapun menyadari bahwa gadis yang mereka keroyok berdua itu ternyata adalah seorang gadis yang tangguh dan sakti! Dia menyadari hal ini lalu mengeluarkan senjatanya, sebatang golok besar yang tadi diselipkan di pinggang ketika dia hendak menangkap Winarti dengan kedua tangan kosong.

Klabang Belang juga sudah dapat bangkit berdiri biarpun kepalanya masih sedikit pening. Melihat kawannya mencabut golok, diapun mencabut goloknya dan berseru marah. "Gadis yang tak tahu disayang orang! Engkau agaknya memilih mati dari pada hidup senang dengan kami!" bentak Klabang Belang. Dia lalu menyerang dengan goloknya, disusul terjangan yang dilakukan Klabang Lorek ke arah kepala Winarti. Gadis itu mengelak ke belakang dengan cepat sekali sehingga luput dari sambaran dua batang golok para pengeroyoknya. Sambil melompat mundur itu Winarti mencabut kerisnya.

Pada saat itu, golok di tangan Klabang Belang telah menyambar lagi. Agaknya Si muka hitam ini merasa penasaran sekali ketika serangan pertamanya tadi dapat dielakkan dengan mudahnya oleh gadis jelita itu. Kini dia melompat ke depan sambil mengayun goloknya membacok ke arah kepala Winarti. Pada detik berikutnya, golok di tangan Klabang Lorek yang mukanya brewokan itupun menyambar dengan tusukan ke arah dada gadis itu! Akan tetapi dengan sigapnya Winarti miringkan kepalanya sehingga bacokan Klabang Belang luput dan ia menggerakkan kerisnya dari kiri ke kanan dengan putaran pergelangan tangan sambil menggerakkan tenaganya untuk menangkis tusukan golok ke arah dadanya.

"Wuuuttt...... trangggg....!" Golok di tangan Klabang Lorek terpental dan hampir terlepas dari tangan pemegangnya. Pada saat itu, kaki kiri Winarti mencuat dan menendang ke arah perut gendut Klabang Lorek.

"Bukk......!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras. Pantatnya menghantam tanah sampai mengebulkan debu dan Klabang Lorek meringis, merasa sakit pada perut dan pantatnya.

"Singgg......!" Golok Klabang Belang menyambar dahsyat. Akan tetapi Winarti yang sudah siap siaga itu mengelak ke belakang dan ketika golok menyambar turun, secepat kilat kerisnya meluncur dan menikam tangan yang menggenggam gagang golok.

"Crott.....!" Darah mengucur, golok terlepas dan Klabang Belang terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang terluka itu dengan tangan kirinya. Masih untung baginya bahwa keris di tangan gadis itu tidak mengandung racun sehingga dia hanya merasakan kepedihan karena kulit dagingnya terobek saja.

Melihat dua orang pimpinan mereka roboh, para anak buah lalu maju membantu sehingga di lain saat Winarti sudah dikeroyok banyak orang seperti juga ayahnya. Ayah dan anak ini mengamuk hebat dan para pengeroyok kocar-kacir tidak dapat menahan amukan ayah dan anak yang sakti itu.

"Mundur semua, biar aku yang menghadapinya!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Mendengar suara yang membentak ini, Klabang Lorek dan Klabang Belang berteriak kepada anak buahnya untuk mundur.

Ki Mertoloyo, Senopati Mataram yang sakti itu. bersama puterinya, Winarti, berdiri mengangkat muka memandang orang yang baru datang. Ki Mertoloyo terkejut karena dia mengenal siapa yang datang itu. Bukan lain adalah Tumenggung Janurmendo yang sakti mandraguna! Ki Tumenggung Janurmendo yang tampan dan gagah itu melangkah maju sambil tersenyum.

"Ah, kiranya Ki Senopati Mertoloyo yang mengamuk di sini. Dan ini puterimu ! Sungguh cantik jelita puterimu. Ki Mertoloyo!"

"Tumenggung Janurmendo! Sudah kuduga bahwa gerombolan Ini bukan perampok biasa. Setelah sekarang andika muncul, tahulah aku bahwa mereka adalah orang-orang Wirosobo yang hendak memberontak! Tumenggung Janurmendo, apa maksudmu mengerahkan orang orangmu untuk mengeroyok kami?" Suara Ki Mertoloyo terdengar lantang dan marah.

Tumenggung Janurmendo tertawa. "Ha-ha-ha, engkau berada di perbatasan Wirosobo dan keadaanmu telah terkepung, akan tetapi masih dapat bersuara lantang! Ki Mertoloyo, lebih baik andika menaluk saja, menjadi tawanan kami. Kalau andika mau membantu Wirosobo, tentu andika akan memperoleh kedudukan yang tinggi."

"Janurmendo! Jangan asal dapat membuka mulut! Aku adalah Senopati Mataram yang setia danaku siap membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Biarpun andika telah mempersiapkananak buah kami tidak akan mundur selangkahpun !" tantang Ki Mertoloyo.

"Hemm, Ki Mertoloyo. Kegagahanmu tidak ada artinya. Apakah engkau tega melihat puterimu celaka di tangan kami? Menyerahlah dan kalian berdua akan kami perlakukan dengan baik. kami hadapkan kepada Gusti Adipati di Wirosobo."

"Keparat! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lebih lanjut!" bentak Senopati Ki Mertoloyo.

Tumenggung Janurmendo menjadi marah sekali. Dia memberi isarat kepada dua orang pembantunya. Klabang Lorek dan Klabang Belang. Dua orang ini lalu mengerahkan sisa anak buahnya untukMengepung ayah dan anak itu.

"Ki Mertoloyo, agaknya andika sudah bosan hidup!" kata Tumenggung Janurmendo yang segera menerjang maju dengan pukulan tangan kirinya yang ampuh dan mendatangkan hawa panas sekali karena dia telah menggunakan Aji Wisang Geni.

Ki Mertoloyo adalah senopati Mataram yang sakti. Dia mengenal pukulan ampuh itu, maka dia cepat mengelak dan balas memukul dari samping. Tumenggung Janurmendo juga tidak berani memandang ringan lawannya dan dia sudah melompat ke belakang untuk menghindar, lalu dia mencabut kerisnya. Sinar yang mengandung hawa mengerikan terasa ketika keris pusaka Jalu Sarpo dicabut. Keris pemberian Adipati Wirosobo ini memang merupakan pusaka yang ampuh. Melihat ini, Ki Mertoloyo juga mencabut kerisnya dan ketika lawan menyerang dengan tusukan kerisnya, dia menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Tringgg......!" Tampak api berpijar ketika dua batang keris bertemu dan keduanya terdorong mundur. Akan tetapi mereka segera saling terjang lagi dan terjadilah perkelahian antara dua orang senopati itu dengan hebatnya.

Sementara itu, Winarti sudah dikeroyok oleh belasan orang yang dipimpin oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang. Gadis itu mengamuk dengan keris di tangannya, akan tetapi pihak lawan terlalu banyak sehingga sebentar saja ia sibuk mengelak dan menangkisi hujan senjata yang menyambar-nyambar tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.

Keadaan Ki Mertoloyo juga tidak lebih baik dari pada puterinya. Sebetulnya, tingkat ilmu kepandaiannya tidak berselisih jauh dibandingkan dengan tingkat Tumenggung Janurmendo. Akan tetapi senjata kerisnya kalah ampuh sehingga dia mulai terdesak. Lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus mendesak dengan tusukan tusukan maut yang amat dahsyat.

Kedua orang ayah dan anak itu berada dalam keadaan gawat. Mereka sudah berada di ambang kekalahan. Pada saat itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang. Pundak dan kedua lengannya kokoh, wajahnya tampan, dengan alis tebal mata lebar bersemangat, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengandung senyum ramah. Kulitnya putih kemuning. Rambutnya panjang digelung ke atas dan diikat dengan kain kepala berwarna biru. Bajunya berlengan pendek sebatas siku dan celananya hitam setinggi bawah lutut. Sehelai sarung dikalungkan di pundak. Pemuda ini bukan lain adalah Sutejo!

Melihat seorang laki-laki setengah tua bertanding melawan Tumenggung Janurmendo dan seorang gadis muda dikeroyok banyak orang dan keduanya terdesak hebat, mudah saja bagi Sutejo untuk memihak yang mana. Tentu saja dia menentang pihak Tumenggung Janurmendo yang pernah membantu Bhagawan Jaladara untuk menyerang guru yang juga ayah angkatnya, Bhagawan Sidik Paningal, kemudian menyerang pula eyang gurunya. Sang Resi Limut Manik.

"Janurmendo andika selalu berlaku curang dan jahat, mengeroyok orang mengandalkan banyak kawan!" bentak Sutejo dan dia segera menerjang maju ke arah Tumenggung Janurmendo.

Diserang Sutejo yang menggunakan Aji Gelap Musti. Janurmendo terkejut bukan main. apa lagi ketika dia mengenal pemuda ilu yang amat sakti ketika pemuda itu bersama Puteri Wandansari membela dan melindungi Sang Resi Limut Manik, Akan tetapi karena ketika itu dia sedang bertanding melawan Ki Mertoloyo yang juga cukup tangguh, dia tidak sempat mengelak lagi dan terpaksa menyambut pukulan Sutejo itu dengan dorongan tangannya sambil mengerahkan Aji Wisang Geni.

"Wuuuuttt... blaarrrr... !" Benturan hebat sekali terjadi antara dua kekuatan sakti itu dan akibatnya Tumenggung Janurmendo terjengkang dan terbanting roboh.

Akan tetapi Tumenggung Janurmendo ternyata memiliki kekebalan yang cukup kuat sehingga dia tidak terluka parah. Melihat betapa bantuan Sutejo kepada pihak lawan akan membuat dia terancam bahaya, senopati Wirosobo ini lalu meloncat dan cepat lari meninggalkan tempat itu memasuki hutan dan menyelinap diantara pohon dan semak belukar.

Sutejo melompat untuk mengejar, akan tetapi pada saat itu dia mendengar teriakan Ki Mertoloyo,"Winarti.....! Di mana engkau.....?"

Sutejo menahan lompatannya dan membalik. Dia melihat Ki Mertoloyo berdiri kebingungan, para pengeroyok sudah tidak berada di situ kecuali mereka yang terluka dan tidak mampu lari Akan tetapi gadis yang tadi mengamuk dan dikeroyok itupun sudah tidak tampak lagi.

"Paman, apa yang telah terjadi?" tanya Sutejo sambil menghampiri Ki Mertoloyo.

"Entahlah, anakku Winarti menghilang...! Mungkin dia tertawan dan dilarikan para penjahat." kata Ki Mertoloyo dengan wajah gelisah.

Sutejo menoleh dan melihat beberapa orang anak buah gerombolan yang terluka, dia segera menyambar lengan seorang di antara mereka yang terluka pundaknya, menariknya berdiri mencengkeram lengan itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan.

"Hayo katakan di mana sarang kalian!" bentaknya. "Kalau tidak mengaku, akan kupecahkan kepalamu!"

"Ampun.... ampun..." Orang itu meratap.

"Sarang kami di dalam hutan itu...." Dia menunjuk ke arah hutan lebat ke mana tadi Tumenggung Janurmendo melarikan diri.

"Hayo antarkan aku ke sana!" bentak Sutejo dan dia mendorong orang itu untuk menjadi penunjuk jalan. Sambil menyeringai karena pundaknya yang nyeri, orang itu terhuyung-huyung berjalan di depan, diikuti oleh Sutejo. Ki Mertoloyo juga mengikuti di belakang.

Tumenggung janurmendo dan anak buahnya yang tadi melarikan diri ke dalam hutan, tiba di sebuah rumah kayu besar yang berdiri di tengah hutan itu. Winarti berada pula di antara mereka, dipanggul oleh Klabang Lorek. Gadis itu dalam keadaan pingsan. Tadi ketika Sutejo datang membantu ayahnya, gadis itu telah berada dalam keadaan gawat sekali. Munculnya Sutejo bahkan membuat ia lengah karena ia menoleh ke arah pemuda itu dan sebuah hantaman tangan Klabang Lorek yang besar dan kuat itu mengenai batang lehernya.

Gadis itu terkulai pingsan tanpa sempat berteriak lagi. Klabang Lorek cepat menyambar tubuhnya dan memanggulnya. Melihat Tumenggung Janurmendo melarikan diri, Klabang Lorek dan Klabang Belang lalu melompat dan melarikan diri pula, diikuti oleh para anak buah yang tidak terluka. Winarti masih terbawa dan terpanggul oleh Klabang Lorek dalam keadaan pingsan. Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang memasuki rumah di tengah hutan itu sedangkan para anak buahnya tinggal di luar, bergabung dengan beberapa orang anak buah lain yang tidak ikut menghadang Ki Mertoloyo sehingga jumlah mereka kini tidak kurang dari dua puluh orang.

Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda ternyata telah berada di rumah itu, menyambut kedatangan tiga orang itu. Ki Klabang Lorek lalu menurunkan tubuh Winarti dari atas pundaknya, merebahkannya ke atas sebuah dipan bambu dan mengambil tali lalu mengikat kaki tangan gadis itu agar kalau siuman dari pingsannya tidak akan dapat mengamuk.

Melihat kedatangan Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang dalam keadaan tergesa-gesa, napas memburu dan wajah agak pucat itu, Bhagawan Jaladara merasa heran. Akan tetapi melihat bahwa mereka pulang sambil membawa tawanan seorang gadis, dia merasa lega karena hal itu menunjukkan bahwa mereka telah berhasil dalam tugas mereka.

"Bagaimana, Adi Tumenggung, sudah matikah Senopati Mertoloyo?" tanyanya kepada Tumeng­gung Janurmendo yang menyambar sebuah kendi dan minum airnya yang segar.

Tumenggung Janurmendo meletakkan kembali kendi itu, lalu memandang kepada Bhagawan Jaladara dan berkata, "Celaka, Kakang. Bhagawan. Tak tersangka-sangka ketika saya sudah hampir dapat membunuh Ki Mertoloyo, muncul pemuda setan itu!" katanya dengan gemas dan penasaran.

"Pemuda setan yang mana?" tanya Bhagawan Jaladara.

"Siapa lagi kalau bukan Sutejo murid Bhagawan Sidik Paningal itu? Dia muncul dengan tiba-tiba dan menggagalkan usaha kami untuk membunuh Ki Mertoloyo. Akan tetapi kami berhasil menawan puterinya!" kata Tumenggung Janurmendo sambil menuding ke arah gadis yang rebah miring dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya di atas dipan bambu itu.

"Ahh! Dia yang muncul?" seru Bhagawan Jaladara terkejut karena dia sendiri sudah beberapa kali bertemu dan bertanding dengan Sutejo dan dia harus mengakui ketangguhan pemuda yang sebetulnya masih murid keponakannya sendiri itu.

"Paman Bhagawan, gadis ini saya yang menangkapnya, Karena itu saya mohon agar diserahkan kepada saya!" kata Klabang Lorek sambil menyeringai.

"Klabang Lorek, lancang mulutmu!" bentak Ki Warok Petak marah. "Apa kau ingin kurobek mulutmu yang lebar itu?"

Dibentak demikian oleh Ki Warok Petak yang ditakutinya, Klabang Lorek terdiam dan mukanya menjadi merah.

Bhagawan Jaladara berkata, "Tidak ada yang boleh mengganggu puteri Ki Mertoloyo itu. Ia adalah seorang tawanan penting. Kita dapat mempergunakannya untuk memaksa Ki Mertoloyo taluk kepada kita."

"Akan tetapi, saya kira Ki Mertoloyo dan Sutejo tidak akan tinggal diam dan akan mengejar kami sampai ke sini untuk membebaskan gadis ini" kata Tumenggung Janurmendo yang merasa jerih terhadap Sutejo.

"Biarkan mereka datang. Kita telah siap menyambut mereka. Dengan adanya aku, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang membantu, mustahil kita tidak akan mampu mengalahkan mereka. Sekali ini Sutejo akan dapat kita bunuh! Anak itu merupakan penghalang besar bagi kita." kata Bhagawan Jaladara.

"Benar, kita harus atur sekarang juga untuk menghadapi mereka!" kata Janurmendo yang timbul semangatnya mengingat bahwa dia kini mempunyai banyak kawan yang membantu. Dengan adanya dia, Bhagawan Jaladara, Warok Petak, Baka Kroda, Klabang Lorek, Klabang Belang dan dua puluhan orang anak buah, kiranya mustahil kalau mereka tidak akan mampu mengalahkan Ki Mertoloyo dan Sutejo!

"Bawa gadis itu ke kamar belakang dan lima orang anak buah harus menjaganya dengan ketat. Kemudian para anak buah yang lain berjaga di bagian depan. Kalau mereka berdua muncul, cepat laporkan agar kita berlima dapat menyambut mereka." kata Bhagawan Jaladara yang memimpin rombongan orang Wirosobo itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang menjadi pembantu-pembantu Bhagawan Jaladara, segera melaksanakan perintah itu. Winarti diangkat dan dibawa ke dalam kamar belakang, kemudian lima orang anak buah menjaga di luar kamar itu dengan senjata siap di tangan. Winarti sudah siuman dari pingsannya akan tetapi setelah ia melihat bahwa ia rebah di atas sebuah dipan dalam kamar dengan kaki tangan terbelenggu sehingga ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, iapun diam saja. Ia membalikkan tubuhnya yang tadinya menghadap ke dinding dan melihat ke arah pintu.

Di luar pintu itu terdapat beberapa orang laki-laki yang duduk melakukan penjagaan. Tahulah ia bahwa ia telah tertawan dan dimasukkan dalam sebuah kamar dan dijaga ketat. Ia mengingat-ingat. Teringat ia ketika dikeroyok tadi, ia melihat seorang pemuda muncul membantu ayahnya. Ia menengok untuk memandang pemuda itu dan pada saat ia menengok itu, lehernya terkena pukulan keras dan ia tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu ia telah berada di dalam kamar ini.

Matahari telah naik tinggi ketika Ki Mertoloyo dan Sutejo yang ditunggu-tunggu oleh gerombolan orang-orang dari Wirosobo itu tiba di luar pagar rumah itu. Belasan orang anak buah Bhagawan Jaladara menghadang mereka dengan senjata golok di tangan.

"Panggil Tumenggung Janurmendo keluar! Kalau tidak, akan kami obrak abrik tempat ini!" bentak Ki Mertoloyo marah teringat akan puterinya yang hilang dan yang dia yakin tentu telah diculik oleh Janurmendo dan anak buahnya, Sutejo lalu mendorong orang tangkapannya yang menjadi penunjuk jalan. Orang itu terdorong jatuh tertelungkup, lalu merangkak berkumpul dengan teman-temannya.

Tiba-tiba terdengar suara lantang dan barisan anak buah yang belasan orang banyaknya itu tersibak dan terbukalah jalan. Dari belakang mereka muncul lima orang itu. Bhagawan Jaladara, Janurmendo, Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda, Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Melihat Bhagawan Jaladara yang tertawa-tawa, Sutejo menjadi marah sekali. "Bhagawan Jaladara, kiranya andika yang berdiri di belakang gerombolan ini!" Sutejo merasa kecewa karena tidak melihat Bhagawan Jaladara membawa Pecut Sakti Bajrakirana. Kakek itu memegang tongkat hitamnya yang ampuh.

Janurmendo juga sudah memegang keris pusaka Jalu Sarpo. Ki Warok Petak memegang goloknya, Ki Baka Kroda memegang kerisnya yang besar dan tiga batang pisau tajam runcing terselip di pinggangnya Klabang Lorek dan Klabang Belang memegang golok masing-masiog. Mereka berlima agaknya sudah siap untuk bertempur dan mengeroyok. Setelah lima orang pimpinan itu muncul, belasan orang anak buah itu cepat bergerak membuat kepungan sehingga Sutejo dan Ki Mertoloyo terkepung ketat Akan tetapi baik Sutejo maupun Ki Mertoloyo tidak merasa gentar. Bahkan Ki Mertoloyo menudingkan telunjuknya ke muka Janurmendo dan membentak marah.

"Tumenggung Janurmendo! Perbuatanmu menunjukkan bahwa andikabukan seorang jantan yang gagah perkara! Engkau menggunakan pengeroyokan dan menculik anakku. Hayo kembalikan anakku Winarti!"

Janurmendo diam saja. Yang menjawab adalah Bhagawan Jaladara. "Ki Mertoloyo dan engkau Sutejo. Kami memang menawan gadis itu, akan tetapi kami tidak mengganggunya dan kami tentu dengan senang hati akan membebaskannya kembali asalkan kalian berdua suka menaluk kepada Kadipaten Wirosobo dan suka membantu kami. Sutejo, kalau engkau berjanji mau membantu Wirosobo, aku akan memaafkan kesalahanmu yang lalu, bahkan aku akan menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadamu!"

"Bhagawan Jaladara tidak perlu menggunakan lidahmu yang beracun antuk membujuk aku! Engkau telah mencuri pecut Bajrakirana. Engkau telah menyebabkan kematian Bapa Guru dan Eyang Guru, dan sekarang engkau membujuk aku untuk menaluk dan membantumu? Hemm, jangan harap. Manusia iblis macam engkau ini sepantasnya kalau menerima hukuman yang berat!"

"Keparat! Kalau begitu engkau akan mampus hari ini di tangan kami! Bagaimana dengan andika, Ki Mertoloyo? Apakah andika tidak sayang kepada puteri andika dan tega melihat ia mati di tangan kami? Kalau andika menaluk dan membantu Wirosobo, kami akanmembebaskan puterimu dan andika akan memperoleh kedudukan tinggi di Wirosobo. Akan tetapi kalau andika menolak, terlebih dulu puteri andika akan kami bunuh, kemudian andika juga!"

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati Ki Mertoloyo. Sebagai seorang senopati besar, tentu saja dia tidak gentar menghadapi ancaman maut bagi dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai seorang anak yaitu Winarti, mendengar bahwa anaknya itu akan dibunuh dalam keadaan tidak berdaya, tentu saja hatinya menjadi bingung dan gelisah sekali. Akan tetapi menaluk dan membantu Wirosobo? Sampai matipun dia tidak akan sudi melakukannya. Hal itu berarti mengkhianati Mataram! Akan tetapi bagaimana dengan puterinya? Dia tidak mampu menyelamatkannya!

Tiba-tiba tampak cahaya terang dan asap mengepul tebal yang datangnya dari rumah itu bagian belakang. Semua orang terkejut dan menengok ke arah belakang rumah. Kini kelihatan kobaran api yang membubung tinggi.

"Kebakaran!" Terdengar teriakan para anak buah gerombolan itu. Keadaan menjadi kacau dan tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat dari belakang rumah itu.

"Bapa, jangan menyerah kepada mereka!" bayangan itu yang ternyata adalah seorang gadis, berseru.

"Winarti!" Ki Mertoloyo berteriak girang bukan main. Kiranya puterinya telah dapat meloloskan diri, bahkan membuat kebakaran di rumah itu bagian belakang.

Seperti mendapat aba-aba saja. Ki Mertoloyo dan Sutejo sudah menerjang ke depan. Ki Mertoloyo menggunakan kerisnya dan Sutejo mempergunakan kain pengikat rambutnya yang berwarna biru. Dengan kain pengikat kepala biru itu dia bersilat dengan Aji Sihung Nila, menerjang ke arah Janurmendo yang dia anggap paling berbahaya di antara mereka semua.

Janurmendo yang memang sudah merasa jerih terhadap Sutejo, mengelak dan melompat ke belakang Bhagawan Jaladara agar kakek itu membantunya. Sutejo mengebutkan kain pengikat kepalanya dan kini dia menyerang ke arah Bhagawan Jaladara yang menghadang antara dia dan Janurmendo. Bhagawan Jaladara melompat ke samping sambil menangkis dengan tongkatnya. Pada saat itu, Janurmendo sudah menerjang dari samping dan Sutejo sudah dikeroyok oleh dua orang itu.

Sementara itu, Ki Mertoloyo mengamuk, dikeroyok oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, Biarpun tingkat kepandaian senopati Mataram ini lebih tinggi dari tingkat kedua orang jagoan Wirosobo itu, akan tetapi karena dikeroyok dua, keadaan mereka menjadi seimbang. Mereka bertanding dengan seru dan beberapa kali senjata mereka beradu menimbulkan percikan bu­nga api.

Winarti sendiri sudah berhasil merobohkan seorang anak buah gerombolan, merampas goloknya dan dengan golok rampasan ini Winarti mengamuk, dikeroyok oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang yang dibantu oleh belasan orang anak buahnya. Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian ringkas dan mukanya ditutup sehelai sapu tangan merah sehingga tidak dapat dikenali karena yang tampak hanya sepasang mata yang mencorong tajam. Orang ini gerakannya gesit dan ringan sekali, bagaikan seekor burung menyambar nyambar dan ke manapun tubuhnya menyambar dan kedua tangannya bergerak, tentu ada dua orang pengeroyok yang roboh dan tidak mampu bangkit kembali!

Pukulan kedua tangan orang itu sungguh amat ampuh dan dalam waktu singkat saja dia sudah merobohkan delapan orang! Klabang Lorek dan Klabang Belang terkejut sekali, dan mereka menjadi gentar sehingga gerakan mereka kurang sigap. Golok di tangan Winarti menyambar dan Klabang Lorek berteriak keras dan roboh terpelanting dengan mandi darah yang mengucur deras dari luka parah di pundaknya yang terbacok golok! Klabang Belang terkejut dan saking jerihnya dia melompat untuk melarikan diri. Akan tetapi sial baginya, dia melompat ke dekat Orang bertopeng merah itu dan sekali orang itu menggerakkan tangan kirinya, Klabang Belang tersungkur dan terbanting ke atas tanah, tidak mampu bangkit lagi!

Sementara itu, pertandingan antara Sutejo yang dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo berlangsung seru. Akan tetapi, dua orang yang memang sudah gentar itu segera terdesak oleh sambaran sinar kain pengikat rambut biru yang bergulung-gulung itu. Ketika Bhagawan Jaladara dan Janurmendo yang sudah kewalahan itu lalu nekat mengeluarkan aji pukulan mereka yang amat ampuh, yaitu Bhagawan Jaladara menghantam dengan Aji Gelap Musti, sedangkan Janurmendo menggunakan Aji Wisang Geni, Sutejo lalu menyambut pukulan mereka dengan Aji Bromokendali.

"Wuuuutttt......blaarrrr......!!" Akibatnya, Bhagawan Jaladara dan Janurmendo terpental seperti layang-layang putus talinya. Mereka terhuyung ke belakang, kemudian mengerahkan sisa tenaganya dan menahan nyeri di dadanya untuk melompat dan melarikan diri. Melihat ini, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya masih ramai dan seimbang mengeroyok Ki Mertoloyo, juga cepat meninggalkan lawan dan melarikan diri secepat mungkin!

Sutejo tidak mengejar lawan yang sudah melarikan diri. Juga Ki Mertoloyo tidak mengejar karena puterinya sudah bebas. Dia lalu berlari menghampiri Winarti yang juga ditinggal pergi para pengeroyoknya yang tinggal beberapa orang lagi. Dia mendapatkan puterinya itu memandang ke kanan kiri mencari-cari.

"Di mana dia....? Ah, di mana dia tadi?" Winarti bicara seorang diri seperti kehilangan. Ki Mertoloyo memegang lengan puterinya dan menariknya agak menjauhi rumah yang mulai berkobar besar itu, mendekati Sutejo yang juga sudah menjauhi kobaran api yang melahap rumah yang tadinya dijadikan sarang gerombolan orang-orang Wirosobo itu.

"Di mana dia tadi, bapa?" Winarti masih mencari cari dengan pandang matanya.

Ki Mertoloyo memandang khawatir kepada puterinya, memegang pundak puterinya dan bertanya, "Winarti, siapakah yang kau cari?"

"Orang bertopeng tadi, bapa!" kata Winarti yang membuat Ki Mertoloyo menjadi semakin bingung. Dia tadi repot melayani pengeroyokan Warok Petak dan Baka Kroda sehingga tidak sempat menyaksikan ketika Winarti yang menghadapi pengeroyokan banyak anak buah itu dibantu oleh seorang yang bertopeng merah.

"Paman, tadi aku juga melihat Nimas Winarti dibantu oleh seorang yang bertopeng." kata Sutejo yang tadi melihat ketangkasan penolong itu.

"Siapakah dia, Winarti?" tanya Ki Mertoloyo heran. "Dan bagaimana engkau dapat meloloskan diri dan membakar rumah itu?"

"Orang bertopeng itulah yang melakukan, bapa. Tadi aku berada dalam sebuah kamar di bagian belakang rumah itu, terbelenggu kaki tanganku dan rebah di atas sebuah dipan bambu. Aku tidak mampu menggerakkan kaki tanganku. Bahkan aku tidak mampu berteriak karena mereka melibatkan kain penutup di depan mulutku. Aku mendengar akan kedatangan bapa, akan tetapi aku tidak berdaya. Bahkan aku mendengar terjadinya perkelahian di sini. Selagi aku kebingungan, aku melihat keributan di luar kamarku. Lima orang penjaga yang berjaga di luar kamarku berkelahi dengan seseorang. Dalam waktu singkat saja kelimanya roboh dan tidak dapat bergerak lagi, Kemudian muncullah dia, seorang yang mengenakan topeng merah di depan mukanya Hanya tampak sepasang matanya yang mencorong. Tanpa berkata sepatahpun dia melepaskan ikatan kaki tangan dan kain yang membalut mulutku. Kemudian kami keluar dan dia membakar rumah bagian belakang itu. Aku berlari ke sini dan melihat Bapa dan Ki sanak ini dikeroyok maka lalu aku terjun membantu. Aku segera dikepung dan dikeroyok banyak anak buah gerombolan. Akan tetapi dia muncul lagi, mengamuk dan merobohkan banyak penjahat. Ketika para penjahat itu melarikan diri, tahu-tahu diapun sudah menghilang, maka kucari-cari bapa."


Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 11

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 11

KI KLABANGKOLO menyerang lagi secara bertubi-tubi, namun Sutejo tetap mengandalkan keringanan dan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini dan semua serangan berantai itu tidak pernah mengenai sasaran. Melihat gerakan pemuda yang selalu mengelak itu, Ki. Klabangkolo menduga bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu hanya memiliki keringanan tubuh yang hebat dan hanya mengandalkan kelincahannya untuk terus mengelak dan menghindar.

Dia menganggap bahwa Sutejo tidak memiliki ilmu kepandaian lain kecuali mengelak dengan lincahnya. Karena itu dia menyerang semakin hebat dan bertubi-tubi karena merasa yakin bahwa lambat laun tentu terkamannya akan mengenai sasaran juga dan pemuda itu tentu akan roboh kalau terkena satu kali tamparannya saja.

Bhagawan Sindusakti dan empat orang murid utamanya mengikuti gerakan Sutejo dan mereka terkagum-kagum. Mereka mengenal gerakan itu sebagai gerakan dasar aliran Jatikusumo dan mengandalkan Aji Harina Legawa yang membuat orang dapat bergerak ringan dan cepat. Akan tetapi, biarpun mereka sendiri telah menguasai aji itu, tak pernah mereka dapat membayangkan betapa Aji Harina Legawa dapat membuat orang bergerak seringan dan secepat itu. Mereka semua tidak tahu bahwa Sutejo telah menerima peralihan tenaga sakti dari tubuh mendiang Resi Limut Manik kedalam tubuhnya sendiri. Dia seolah kini telah menjadi Resi Limut Manik muda!

"Keparat! Kalau engkau memang gagah, Jangan hanya lari mengelak saja. Hadapi dan sambutlah seranganku" bentak Ki Klabangkolo yang merasa penasaran dan pening juga setelah semua serangannya hanya mengenai tempat kosong. Hal ini amat melelahkan karena tenaga yang dikeluarkan melalui serangan-serangannya tak pernah mengenai sasaran. Pengerahan tenaga yang mengenai tempat kosong ini amat melelahkan, karena bagaimanapun Juga dia berusaha selalu saja gagal maka dia lalu mengeluarkan makian itu.

"Kau kira aku takut menyambut seranganmu? Kau lihat saja!" kata Sutejo dan dia mengerahkan tenaga saktinya, disalurkan ke arah kedua lengannya. Pada saat itu tamparan tangan kiri Ki Klabangkolo sudah menyambar lagi ke arah mukanya. Untuk membuktikan ucapannya, Sutejo tidak lagi mengelak dan dia menggerakkan lengan kanannya dari bawah ke atas untuk menangkis tamparan tangan kiri lawan itu.

"Wuuuttt.... dukkkk!" Kedua lengan bertemu dengan kerasnya dan keduanya tergetar hebat, akan tetapi kalau Sutejo hanya melangkah ke belakang satu langkah saja, Ki Klabangkolo terhuyung mun­dur sampai tiga langkah!

Semua orang terkejut dan heran. Bhagawan Sindusakti hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya, Bagaimana mungkin Sutejo dapat menandingi bahkan melebihi kekuatan tenaga sakti Ki Klabangkolo yang demikian besar? Juga Maheso Seto yang kini sudah bangkit berdiri dan menonton bersama isterinya dan adik-adiknya, dibuat tercengang menyaksikan perlawanan Sutejo kepada Ki Klabangkolo. Rahmini menonton dengan kedua pipi berubah kemerahan. Ia merasa malu kepada diri sendiri kalau teringat betapa tadi ia memandang rendah dan menghina pemuda itu.

KiKlabangkolo sendiri terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu bukan hanya memliki. kelincahan yang luar biasa, melainkan juga memilik tenaga yang mampu menandingi bahkan melampaui tenaga saktinya! Dia semakin penasaran. Kalau seandainya dia dikalahkan oleh Bhagawan Sindusakti, hal itu masih belum memalukan karena Bhagawan Sindusakti, adalah ketua Jatikusumo dan usianya bahkan sudah jauh lebih tua darinya. Akan tetapi pemuda ini? Patut menjadi anak atau keponakannya, atau muridnya! Maka dia menjadi penasaran dan segera dia mengerahkan tenaganya dan merendahkan tubuhnya, hendak mengeluarkan aji yang paling diandalkan, yaitu Aji Singakroda yang mengandung tenaga dalam yang dapat dipergunakan untuk merobohkan lawan dan jarak jauh!

"Arrgghhhh.....!" Dia menggereng dan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan didorongkan ke arah Sutejo. Pemuda ini sudah maklum akan kedahsyatan serangan jarak jauh itu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menekuk kedua lututnya, mendorong kedua tangannya ke depan dengan Aji Gelap Musti.

"Wuttttt.... blaarrrr...!!" Dua tenaga sakti bertemu di udara dan sekali ini Ki Klabangkolo benar-benar bertemu tanding. Tubuhnya terjengkang dan dia roboh lalu bergulingan sampai ke dekat kaki Resi wisangkolo. Resi ini menggunakan sebatang tongkat ular hitam yang berada di tangan kanannya untuk menahan tubuh kawannya yang bergulingan itu. Ki Klabangkolo bangkit berdiri dengan muka pucat dan dari ujung mulutnya keluar darah, tanda bahwa dia telah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Sutejo sendiri tetap berdiri kokoh seperti batu karang, hanya napasnya saja yang memburu sedikit karena pengerahan tenaga dalam yang amat besar tadi. Terdengar sorak sorai dari semua murid Jatikusumo yang mengepung tempat itu. Rasa lega dan girang meledak di hati mereka yang sejak tadi amat tegang dan prihatin melihat betapa para murid kepala Jatikusumo berturut-turut mengalami kekalahan.

Kini, biarpun Sutejo bukan murid langsung perguruan Jatikusumo namun pemuda itu masih mengaku bahwa dia murid Jatikusumo maka tentu saja para murid itu merasa gembira bukan main melihat betapa Sutejo mampu mengalahkan Ki Klabangkolo. Maheso Seto Rahmini dan Cangak Awu tidak bersorak, akan tetapi wajah mereka juga berseri penuh kegembiraan dan kekaguman. Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, ikut bangga.

Hanya Priyadi yang menyambut kemenangan Sutejo itu dengan wajah dingin, alisnya berkerut sedikit dan dia membuat perbandingan apakah sekiranya Sutejo akan mampu menandinginya yang kini telah memiliki ilmu-ilmu yang ampuh. Akan tetapi dia diam saja dan menanti perkembangan lebih lanjut karena di situ masih terdapat seorang musuh lain yang agaknya lebih tangguh dibandingkan Ki Klabangkolo, yaitu Resi Wisangkolo.

Resi Wisangkolo menepuk tiga kali tengkuk adik seperguruannya dan dengan jari tangan kiri mengurut punggung Ki Klabangkolo. Setelah itu dia berkata, suaranya kecil tinggi seperti suara wanita. "Mundur dan mengasolah, Klabangkolo. Biar aku yang memberi hajaran kepada bocah ini." Ki Klabangkolo mundur dan Resi Wisangkolo menancapkan tongkat ular hitamnya di atas tanah, kemudian meninggalkan tempat itu dan melangkah maju menghampiri Sutejo. Wajahnya yang masih halus seperti wajah orang muda itu tersenyum dan mata elangnya bersinar penuh selidik ke arah wajah Sutejo.

"Sutejo, engkau masih muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan tetapi sayang, hari Ini semua ilmumu akan musnah!"

"Sang Resi Wisangkolo, bagaimanapun juga, pada akhirnya kesesatan akan kalah melawan kebenaran. Engkau membela kesesatan, karena itu aku berani melawanmu dan siapa yang akan kalah atau menang, kita sama lihat saja nanti!" jawab Sutejo dengan tenang.

"Sutejo, aku dapat menghilang dari pandang mata orang! Lihat, aku sudah menghilang!" Dan kakek itu mengeluarkan suara pekik melengking dan tiba-tiba tubuhnya hilang terbungkus asap hitam yang tebal.

Keadaan ini tentu saja amat berbahaya bagi Sutejo karena kalau lawan menyerang dia tidak dapat melihat gerakannya. Bukan Sutejo saja yang melihat kakek itu lenyap terbungkus asap hitam tebal, bahkan Bhagawan Sindusakti dan semua muridnya juga melihat demikian. Mereka terkejut dan merasa khawatir sekali. Akan tetapi Sutejo bersikap tenang, mengikatkan sarungnya di pinggang, kemudian dia melolos ikat kepalanya yang lebar dan panjang dan menghantamkan kain ikat kepala itu ke arah asap hitam tebal sambil membentak nyaring. "Haiiiittt.....!" Kain ikat kepala itu menyambar dengan amat kuatnya mendatangkan angin bersiutan.

"Wuusssss......!" Asap hitam tebal itu seketika membuyar dan tampaklah lagi tubuh Resi Wisangkolo yang tinggi kurus, rambutnya yang putih semua. Senyum yang tadinya menghias wajah Resi Wisangkolo menghilang dan dia membelalakkan matanya memandang kepada Sutejo, seolah masih tidak dapat percaya bahwa pemuda itu dapat memunahkan aji sihirnya sedemikian mudah. Dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk melepas ikatan tali pinggangnya dan sekarang tali pinggang itu merupakan kolor bercabang dua yang panjang.

"Sambutlah kolor pusakaku!" bentaknya dan begitu kedua tangannya bergerak, dua helai kolor itu telah menyambar, sehelai ke arah kepala dan sehelai lagi ke arah dada! Dan dua serangan itu dahsyat bukan main, kuat dan cepat sekali sehingga lenyap bentuk tali kotor, berubah menjadi sinar putih yang menyambar bagaikan kilat ke arah dua bagian tubuh Sutejo. Akan tetapi Sutejo tidak pernah lengah. Diapun memaklumi benar bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan, seorang yang sakti mandraguna dan berhati kejam, tidak ragu untuk mempergunakan segala ilmunya untuk membunuhnya.

Karena itu, melihat dua sinar putih meluncur ke arahnya, diapun menggerakkan kain pengikat kepalanya dan begitu kain itu diputarnya, saking cepatnya yang tampak hanyalah sinar kelabu yang bergulung-gulung dan membentuk perisai di depan tubuhnya. Ketika dua sinar putih itu bertemu dengan gulungan sinar kelabu yang membentuk perisai, dua sinar putih itu mental kembali karena sudah tertangkis kain ikat kepala.

Sutejo tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah kain pengikat kepalanya berhasil menangkis serangan lawan, dia langsung membalas. Dengan gerakan pergelangan tangannya, ujung kain pengikat kepala itu melejit dan mengeluarkah suara berciutan ketika menyambar ke arah dada Resi Wisangkolo. Biarpun yang dipergunakan untuk menyerang hanya sehelai kain, akan tetapi sama sekali tidak boleh dipandang rendah serangan ini karena ujung kain pengikat kepala itu telah disaluri tenaga sakti yang membuat ujung kain dapat menjadi kaku dan keras seperti baja! Resi Wisangkolo juga mengenal serangan ampuh, maka dia mundur ke belakang menghindarkan diri sehingga ujung kain pengikat kepala itu hanya menyambar angin.

Dua orang itu bertarung dengan seru sekali. Saling serang dan gerakan mereka sedemikian ringan dan cepatnya sehingga bentuk tubuh mereka tidak dapat tampak jelas lagi. Yang tampak hanyalah dua bayang-bayang berkelebatan di antara gulungan sinar putih dan kelabu. Dan pertarungan mereka itu terasa oleh semua orang karena injakan kaki kedua bayang-bayang itu menggetarkan sekeliling tempat pertempuran sampai belasan meter.

Bhagawan Sindusakti berkali-kali menghela napas panjang. Dia melihat jelas bahwa semua gerakan ilmu silat yang dilakukan Sutejo adalah ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat murni dari perguruan Jatikusumo. Akan tetapi gerakan itu sedemikian hebat dan sampurnanya sehingga dia seolah melihat mendiang gurunya, Resi Limut Manik sendiri, dalam usia yang masih muda, yang bersilat melawan Resi Wisangkolo!

Hal ini membuat alisnya berkerut dan dalam pikirannya terbayang akan cerita Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limuk Manik tewas di tangan Sutejo dan Puteri Wandansari. Kalau seperti ini kehebatan ilmu silat Sutejo, sama sekali bukan hal yang mustahil kalau pemuda ini bersama Puteri Wandansari berhasil membunuh kakek guru mereka. Akan tetapi, benarkah Sutejo yang membunuhnya?

Pemuda yang kini dengan mati-matian mau membela nama dan kehormatan Jatikusumo dari kehancuran? Hal itu tidak boleh dia terima begitu saja tanpa ada bukti-buktinya. Akan tetapi renungannya ini segera tersita oleh pertarungan yang amat hebat itu. Dia segera memperhatikan jalannya pertandingan dengan penuh perhatian dan di dalam hatinya tentu saja dia mengharapkan agar Sutejo keluar sebagai pemenang.

Pertarungan itu berjalan semakin hebat dan seru. Lecut-melecut dengan cepatnya seperti kilat menyambar, kadang terdengar semacam ledakan dari ujung kolor atau ujung kain pengikat kepala memukul udara, bahkan kadang tampak asap mengepul seolah senjata mereka mengeluarkan api. Akan tetapi semua serangan kedua pihak tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Kalau tidak dielakkan tentu ditangkis.

Telah lewat lima puluh jurus mereka saling serang dan keadaan menjadi amat menegangkan, Seolah-olah setiap saat mereka akan melihat seorang di antara kedua orang yang bertarung itu akan roboh dan menggeletak mati. Sutejo menyelinap di antara sinar kelabu, menyuruk ke bawah dan tiba-tiba saja dia mengirim lecutan dengan kain pengikat kepala itu ke arah dada Resi Wisangkolo.

"Wuuuuttt..... plak!" Resi Wisangkolo sekali ini tidak mengelak maupun menangkis, melainkan menyambut lecutan itu dengan dadanya yang kerempeng. Semua orang melihat ini dan menjadi terkejut karena lecutan ujung kain pengikat kepala itu seolah tidak terasa sama sekali oleh kakek tinggi kurus itu. Dadanya seolah berubah menjadi baja yang amat kuat sehingga tidak mempan disambar lecutan kain pengikat kepala yang sudah terisi tenaga sakti itu. Kiranya kakek itu memamerkan kekebalan tubuhnya. Begitu menerima sabetan kain pengikut kepala itu, sehelai di antara dua kolor Resi Wisangkolo sudah menyambar ke arah perut Sutejo.

"Syuuuuttt...... plakk!" Sutejo agaknya tidak mau kalah. Diapun telah mengerahkan Aji kekebalan Kawoco sehingga ketika kolor menghantam perutnya, senjata istimewa yang ampuh itu terpental kembali seolah memukul dinding baja yangtebal dan kokoh.

Kini terjadilah adu kekebalan. Senjata mereka silih berganti menghantam tubuh lawan, akan tetapi tidak pernah mereka berdua menangkis ataupun mengelak, melainkan menerima semua serangan itu dengan mengandalkan aji kekebalan mereka. Baju keduanya sudah terkoyak-koyak oleh serangan itu, namun tidak ada sedikitpun kulit mereka yang lecet apalagi terluka!

Agaknya Resi Wisangkolo maklum betul, biarpun dengan perasaan yang mengandung kekejutan dan penasaran, bahwa di luar dugaannya, pemuda itu dapat menandinginya dan sama sekali dia tidak mampu mendesaknya! Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan semuda ini akan tetapi sesakti ini. Dia menjadi penasaran sekali. Lawannya yang masih muda itu mampu menahan pukulan kolor pusakanya dengan mengandalkan aji kekebalannya, tidak ada gunanya lagi mengandalkan kolornya, pikirnya. Dia lalu melompat ke belakang dan membelitkan dua helai ujung kolor itu di pinggangnya, kemudian dia menyambar tongkat ular hitam yang tadi ditancapkan di atas tanah dan memutar-mutar tongkat itu. Tampak sinar hitam bergulung gulung, terdengar suara anuin berdesir dan bercuitan dan semua orang mencium bau amis yang memuakkan!

Sutejo terkejut juga. Dia dapat menduga bahwa senjata tongkat kakek itu ampuh dan berbahaya sekali dan agaknya kakek itupun memiliki ilmu tongkat yang hebat. Teringatlah dia akan Aji Bajrakirana yang telah dikuasainya. Akan tetapi Pecut Sakti Bajrakirana tidak berada di tangannya, dan untuk dapat memanfaatkan Aji Bajrakirana, setidaknya dia harus memiliki atau memegang sebatang pecut yang baik!

Sutejo memandang ke sekelilingnya dan berseru, "Siapakah di antara saudara-saudara yang memiliki sebatang senjata pecut? Kalau boleh, hendak saya pinjam sebentar untuk melawan Resi Wisangkolo!"

Tiba-tiba saja Rahmini berseru, "Terimalah dan pergunakan pecutku ini!" Wanita yang tadinya bersikap galak terhadap Sutejo itu sudah melemparkan pecutnya ke arah Sutejo.

"Terima kasih!" Sutejo berseru sambil menyambar pecut itu dengan tangan kanannya. Pecut itu ujungnya sudah putus tiga kali, ketika Rahmini bertandang melawan Ki Klabangkolo. Akan tetapi setelah memegang dan mencoba memutarnya, Sutejo dengan girang mendapat kenyataan bahwa pecut itu masih cukup baik baginya, untuk dipakai bersilat menurut ilmu pecut Bajrakirana yang telah dipelajari dan dikuasainya. Maka dia lalu menghadapi Resi Wisangkolo kembali dan memutar-mutar pecut itu di atas kepalanya.

Melihat pemuda itu memegang sebatang pecut, Resi Wisangkolo lalu menerjang dengan tongkat ular hitamnya. Gerakannya dahsyat sekali dan ujung tongkat ular hitam itu seperti seekor ular hidup mematuk ke arah muka Sutejo, diantara kedua matanya. Dahsyat dan berbahaya sekali serangan ini, merupakan serangan maut kalau mengenai sasaran. Akan tetapi, Sutejo sudah siap sedia menghadapi serangan yang paling ampuh sekalipun.

Dengan sebatang pecut di tangan kanannya, dia merasa mantap dan tenang. Biarpun pecut itu bukan Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi pecut itu adalah senjata pegangan Rahmini, tentu saja merupakan senjata yang cukup baik, lebih baik daripada pecut biasa yang suka dipergunakan Sutejo kalau dia berlatih ilmu dari Kitab Bajrakirana. Dia menggerakkan pergelangan tangan kanannya dan pecut itu menyambar ke depan, menangkis ujung tongkat.

"Tarr......!" Ujung cambuk melecut dan meledak, kemudian menyambar ke arah tongkat. "Prattt......! Tongkat itu ujungnya terpental ketika tertangkis ujung pecut. Akan tetapi Resi Wisangkolo sudah cepat menggerakkan tongkatnya untuk menyerang lagi. Gerakannya amat cepat sehingga sinar tongkatnya bergulung-gulung dan dari gulungan hitam itu kadang mencuat ujung tongkat untuk menyerang dengan tusukan, totokan atau pukulan. Akan tetapi Sutejo sudah mulai memainkan ilmu silat Bajrakirana. Gerakannya tangkas bukan main. Pecutnya juga menciptakan sinar merah yang bergulung-gulung. Pecut itu memang berwarna merah dan ke manapun tongkat itu menyerang, selalu tertangkis oleh pecut dan sebaliknya pecut itu juga menyambar-nyambar ganas dalam serangan balasannya.

Terjadilah pertandingan yang lebih seru dari pada tadi ketika keduanya mempergunakan kolor dan kain ikat kepala sebagai senjata. Kini mereka berdua mempergunakan senjata yang lebih ampuh dan mereka berdua mengerahkan segala kemampuan untuk mengalahkan lawan, bukan sekadar mengalahkan, bahkan serangan-serangan itu merupakan tangan maut yang menyambar-nyambar hendak merenggut nyawa!

Bau amis dari tongkat Resi Wisangkolo itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan. Namun, gerakan cambuk Sutejo mendatangkan angin yang demikian kuat menyambar ke depan sehingga bau amis itu dapat terusir. Mereka saling serang, saling desak, kadang maju kadang mundur dan pertarungan itu semakin seru dan menegangkan semua orang yang menontonnya.

Ki Klabangkolo sendiri sudah pulih kembali dan diapun menonton dengan mata terbelalak. Sekarang dia tidak merasa penasaran mengapa dirinya kalah oleh Sutejo. Kiranya pemuda itu sedemikian saktinya sehingga mampu menandingi Resi Wisangkolo! Mulailah hati Ki Klabangkolo menjadi resah. Kalau kakak seperguruannya tidak mampu mengalahkan Sutejo, jelas bahwa kedudukan dia dan kakak seperguruannya itu terancam bahaya. Kalau guru dan para murid Jatikusumo serentak maju, bagaimana dia akan mampu menandingi mereka? Mulailah dia menonton dengan hati gelisah.

Priyadi yang sejak tadi menonton, semakin terkejut kepada Sutejo. Pemuda itu benar-benar merupakan lawan tangguh. Yang amat menarik hatinya adalah ilmu pecut yang dimainkan Sutejo. Bukan main hebatnya ilmu pecut itu dan diapun dapat menduga bahwa tentu itu yang disebut Aji Bajrakirana dan yang menjadi ilmu rahasia dari Jatikusumo yang tidak pernah diajarkan kepada para murid. Bahkan gurunya sendiripun tidak pernah mempelajarinya. Dan kini ilmu itu telah dikuasai Sutejo. Padahal Sutejo hanya menggunakan pecut milik Rahmini. Kalau dia memegang Pecut Sakti Bajrakirana, tentu akan lebih hebat dan dahsyat lagi permainan pecutnya. Timbul keinginan hatinya untuk dapat menguasai ilmu itu!

Pertandingan sudah berjalan lebih dari lima puluh jurus dan keadaan mereka berdua masih seimbang. Hanya bedanya kalau keadaan tubuh Sutejo masih segar dan tidak berkurang kegesitannya, Sebaliknya Resi Wisangkolo mulai mandi keringat dan uap putih mengepul di atas ubun-ubunnya, menandakan bahwa kakek itu sudah mulai kelelahan. Dalam pertandingan, di mana tenaga maupun tingkat kepandaian mereka seimbang, soal usia memang memegang peran penting. Resi Wisangkolo yang sudah berusia enam puluh tahun itu tentu saja tidak memiliki daya tahan tubuh sekuat Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun!

Resi Wisangkolo menjadi penasaran bukan main. Dia akan mendapat malu dan nama besarnya akan runtuh kalau dia tidak mampu keluar sebagai pemenang, mengalahkan lawan yang masih muda ini, Bagaimana mungkin dia sampai kalah oleh seorang murid muda dari perguruan Jatikusumo? Dia mulai merasa lelah, napasnya terengah dan dia sadar bahwa kalau dilanjutkan, dia akan semakin kehabisan napas dan kalau sudah begitu, tentu saja dia akan kalah. Karena itu, sebelum tenaganya terkuras, dia akan mempergunakan aji pamungkasnya, yaitu aji terakhir yang merupakan simpanannya dan juga andalannya. Dia melompat ke belakang lalu menancapkan tongkat ular hitamnya ke atas tanah.

"Heh, Sutejo! Kalau engkau memang digdaya, mari kita hentikan adu senjata ini dan mari kita mengadu tenaga sakti!"

Melihat sikap dan mendengar ucapan lawan ini, Sutejo maklum bahwa lawan hendak menyimpan tenaga dan hendak mempergunakan aji pamungkas untuk memaksakan kemenangan. Tadi beberapa kali mereka sudah saling mengadu tenaga sakti lewat senjata, maka diapun tidak merasa gentar dan dia lalu menyelipkan gagang pecut itu ke ikat pinggang di bagian punggung.

"Resi Wisangkolo! Engkau yang datang menantang, aku hanya melayani tantanganmu. Keluarkanlah semua ilmumu akan kulayani!" kata Sutejo, diam-diam siap dengan pengumpulan tenaganya karena dia maklum bahwa dia akan menghadapi benturan tenaga yang amat kuat.

"Sambut pukulan Aji Guntur Bumi!" kata Resi Wisangkolo sambil merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok dan kedua telapak tangannya terbuka, menempel pada tanah di depannya. Ketika dia mengerahkan tenaga, seolah menyedot tenaga dari bumi, tubuhnya menggigil, wajahnya perlahan-lahan berubah menghitam dan ketika dia mengangkat kedua tangannya untuk didorongkan ke depan, ke arah Sutejo, maka pada saat itu bumi bergoyang seperti terjadi gempa bumi yang amat kuat! Serangkum tenaga yang membawa getaran dahsyat menyergap ke arah Sutejo!

Pemuda ini dengan tenang, segera mengerahkan Aji Gelap Musti, merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut dan setelah menyembah ke atas, kedua telapak tangannya didorongkan untuk me­nyambut serangan lawan.

"Wuuuuuttt...... bresssss......!"

Dua tenaga sakti yang hebat bertemu di udara di antara mereka. Benturan tenaga ini terasa oleh semua orang yang menonton sehingga mereka terdorong ke belakang dan melangkah sampai tiga empat kali untuk mencegah agar jangan sampai terjengkang. Akan tetapi mata mereka tetap memandang ke arah kedua orang yang mengadu tenaga sakti itu. Sutejo terdorong ke belakang sampai dua depa, akan tetapi kedua kakinya masih memasang kuda-kuda, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang. Kedua kakinya tak pernah terangkat, akan tetapi dia terdorong ke belakang sehingga dua kakinya membuat guratan yang cukup dalam di atas tanah sepanjang dua depa, Akan tetapi Resi Wisangkolo juga terdorong mundur, bahkan terhuyung sampai lima langkah dan wajahnya menjadi pucat, keringatnya membasahi muka dan leher!

Resi Wisangkolo masib penasaran. Dia masih memiliki sebuah aji kesaktian lagi yang amat ampuh, maka dia lalu melangkah lagi maju lima langkah. "Sutejo, ternyata engkau memang pantas menjadi lawanku. Aku masih memiliki sebuah aji simpanan. Beranikah engkau menyambutnya?"

"Silakan, Resi Wisangkolo. Semua kehendakmu akan kulayani." kata Sutejo dan diapun maju sejauh dua depa sehingga mereka berdua kini berhadapan dalam jarak seperti tadi.

Kini kakek itu mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan telapak tangan menghadap ke atas seolah hendak menyedot hawa sakti dari angkasa, kemudian dia menurunkan kedua tangan itu dan dengan telapak tangannya dia mendorong ke depan, ke arah Sutejo sambil berteriak nyaring, "Aji Guntur Geni!!"

Sutejo masih tenang, akan tetapi sejak tadi dia sudah mengerahkan tenaga saktinya dan menghadapi serangan itu, diapun berseru, "Aji Bromo kendali!!" dan diapun mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan. Dua tenaga sakti yang lebih dahsyat dan pada tadi kembali bertumbukan di udara dan sekali ini bahkan mengeluarkan suara ledakan keras.

"Wuuuuuttt......blarrrr.....!" Banyak murid Jatikusumo terpental dan terpelanting seolah ada halilintar menyambar mereka. Demikian dahsyat pertemuan dua tenaga yang berlawanan itu. Akibatnya juga hebat. Sutejo terhuyung ke belakang dan wajahnya menjadi pucat, napasnya memburu, akan tetapi dia masih dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan tetap berdiri tegak. Akan tetapi Resi Wisangkolo terpelanting keras dan terbanting roboh. Lalu dia bergulingan sampai jauh, lalu bangkit duduk bersila dan mengatur, pernapasan karena dia telah menderita luka dalam yang cukup parah!

Kekalahan Resi Wisangkolo sudah jelas. Ki Klabangkolo sadar akan hal ini dan kekalahan ini menghancurkan keangkuhannya. Tanpa berkata apa-apa dia lalu menghampiri kakak seperguruannya, mengangkat dan memondong tubuh tinggi kurus yang kini tampak lemah itu, lalu dia membawanya pergi tanpa menoleh lagi!

Suasana hening sejenak, kemudian pecahlah kegembiraan para murid Jatikusumo dan mereka bersorak atas kemenangan Sutejo yang telah berhasil mengusir dua orang musuh yang sakti mandraguna itu. Sutejo menghampiri Rahmini dan menyerahkan kembali pecut itu sambil berkata. "Banyak terima kasih, mbakyu Rahmini. Pecut ini amat baik."

Rahmini menerima pecut dan masih belum dapat mengeluarkan kata-kata seperti halnya suaminya dan yang lain-lain, Bahkan Bhagawan Sindusakti masih berdiri terhenyak saking heran dan kagumnya menyaksikan kemenangan Sutejo menandingi dua orang kakek itu. Ketua Jatikusumo ini merasa serba salah. Di satu pihak dia masih terpengaruh kata-kata Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limut Manik dibunuh oleh Sutejo dan Puteri Wandansari, akan tetapi di lain pihak sekarang ternyata bahwa yang menyelamatkan Jatikusumo dari kehancuran adalah Sutejo!

"Sutejo, engkau telah berhasil mempertahankan kehormatan dan nama besar Jatikusumo. Mari kita bicara di dalam." Bhagawan Sindusakti berkata lembut.

Sutejo mengangguk dan mengikuti paman gurunya itu yang memasuki gapura lalu menuju ke rumah induk sebagai tempat tinggalnya, Maheso Seto, Rahmini, Priyadi, dan Cangak Awu mengikuti dari belakang. Mereka semua memasuki ruangan depan rumah Bhagawan Sindusakti dan mengambil tempat duduk. Bhagawan Sindusakti duduk di atas kursinya dan empat orang murid kepala duduk di kanan kirinya sedangkan Sutejo duduk di atas kursi yang berhadapan dengan ketua itu.

“Sutejo sebelum kita membicarakan urusan penting lainnya, terlebih dulu aku hendak mengucapkan terima kasih atas bantuanmu sehingga perguruan Jatikusumo terhindar dari penghinaan Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo. Sungguh kami menghargai sekali bantuanmu itu dan sama sekali kami tidak pernah dapat menyangka bahwa engkau akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka berdua."

"Maafkan aku yang pernah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo." kata pula Cangak Awu yang masih terkagum-kagum melihat sepak terjang Sutejo tadi.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kakangmas Cangak Awu." jawab Sutejo sambil memandang kepada pria tinggi besar itu.

"Kami juga merasa menyesal dan kecelik telah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo." kata Maheso Seto dengan muka berubah kemerahan, sementara itu Rahmini hanya menundukkan muka.

"Aku tidak merasa dipandang rendah, Kakangmas Maheso Seto. Sebaiknya urusan yang lalu itu kita lupakan saja. Seperti yang pernah dikatakan Kakang Cangak Awu, bagaimanapun juga di antara kita masih ada ikatan perguruan."

"Sutejo, tadi engkau mengatakan bahwa kedatanganmu adalah untuk bicara tentang Kitab Bajrakirana dan tentang kematian Bapa Resi Limut Manik. Sungguh kebetulan tekali karena akupun ingin sekali bicara denganmu tentang itu. Dan karena engkau juga menyadari bahwa engkau masih terhitung murid perguruan Jatikusumo, maka aku percaya bahwa engkau tentu akan bicara sejujurnya sebagai seorang murid yang baik."

"Paman Bhagawan, sesunguhnya saya merasa amat terkejut dan penasaran mendengar tuduhan yang diucapkan Kakang Cangak Awu bahwa saya dan Diajeng Wandansari telah membunuh Eyang Resi Limut Manik. Juga sama sekali saya tidak pernah merampas atau mencuri Kitab Bajrakirana. Semua itu adalah fitnah keji yang dijatuhkan kepada saya dan Diajeng Wandansari, Paman Bhagawan."

"Sutejo, kami tidak pernah menjatuhkan fitnah, kami hanya mendengar hal itu dan Adi Bhagawan Jaladara. Sebetulnya bagaimanakah? Menurut engkau, siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik?" tanya Bhagawan Sindusakti.

"Paman Bhagawan, agaknya Paman Jaladara telah memutar-balikkan kenyataan dan perbuatannya itu lebih membuktikan lagi betapa jahatnya Paman Bhagawan Jaladara. Sebelumnya dia telah membunuh Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal."

"Hemm, apakah engkau melihat sendiri ketika Adi Jaladara membunuh Adi Sidik Paningal?" tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ragu. "Kalau benar demikian, apa alasannya maka Adi Jaladara membunuh gurumu?"

"Begini permulaannya, Paman Bhagawan. Pada suatu malam Bapa Guru dan saya menghadapi serangan orang dengan ilmu Hitam santet. Akan tetapi Bapa Guru telah dapat menolaknya dan kami berdua terbebas dari ancaman bahaya. Pada keesokan harinya, muncul Paman Jaladara bersama dua orang anak buahnya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, keduanya merupakan jagoan dari Wirosobo. Paman Jaladara hendak memaksa Bapa Guru melakukan dua hal. Pertama agar Bapa Guru membantu gerakan di Wirosobo yang hendak memberontak, dan kedua agar Bapa Guru tidak mempelajari Agama Islam. Tuntutan ini ditolak oleh Bapa Guru sehingga timbul perkelahian karena Paman Jaladara memaksakan kehendaknya. Bapa Guru dapat memukul mundur Paman Jaladara dan dua orang kawannya itu. Akan tetapi tiba-tiba Paman Jaladara mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana dan melihat pecut pusaka itu Bapa Guru tidak berani melawan lagi dan membiarkan dirinya dihajar oleh Paman Jaladara. Ketika saya membela Bapa Guru, sayapun dihajarnya dan Bapa Guru melarang saya melawan karena kami harus menghormati dan tunduk kepada pemegang Pecut Sakti Bajrakirana. Akhirnya setelah puas memukuli Bapa Guru, Paman Jaladara pergi dan meninggalkan pesan bahwa kalau dalam waktu sebulan Bapa Guru tidak memenuhi permintaan-permintaannya tadi, dia akan datang kembali untuk membunuh Bapa Guru."

"Hemm, bagaimana sampai dapat terjadi hal seperti itu?" kata Bhagawan Sindusakti sambil mengerutkan alisnya. "Kemudian bagaimanakah, Sutejo?"

"Bapa Guru menderita luka-luka, akan tetapi dapat pulih kembali. Beliau mengutus saya untuk pergi ke puncak Gunung Semeru menghadap Eyang Resi Limut Manik dan melaporkan tentang perbuatan Paman Jaladara. Setelah menghadap Eyang Resi, saya mendengar dari Eyang Resi bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang dicuri oleh Paman Jaladara dari padepokan Eyang Resi. Mendengar akan perbuatan Paman Jaladara, Eyang Resi menurunkan tenaga saktinya kepada saya dan memerintahkan saya untuk merampas Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Jaladara."

Bhagawan Sindusakti mengelus-elus jenggotnya yang putih dan mengangguk-angguk. "Pantas engkau memiliki tenaga sakti yang demikian kuat, kiranya eyang gurumu telah menurunkan tenaga saktinya kepadamu. Engkau sungguh beruntung, Sutejo. Kemudian bagaimana? Lanjutkan ceritamu ."

"Setelah meninggalkan padepokan Eyang Resi Limut Manik, dalam perjalanan saya bertemu dengan Paman Jaladara. Kami bertengkar dan berkelahi. Paman Bhagawan Jaladara mempergunakan Pecut Sakti Bajrakirana dan akhirnya saya dapat merampas pecut pusaka itu dari tangannya." Sutejo berhenti dan teringat kepada Retno Susilo yang melarikan pecut itu akan tetapi kemudian dapat kembali ke tangannya.

"Lalu bagaimana, Sutejo? Lanjutkan ceritamu kata Bhagawan Sindusakti dengan hati tertarik.

"Setelah berhasil mendapatkan Pecut Sakti Bajrakirana, saya cepat kembali ke padepokan Bapa Guru di Lereng Gunung Kawi." Dia tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Retno Susilo yang membuat dia terlambat kembali ke padepokan gurunya sehingga dia terlambat pula melindungi gurunya dari serangan Bhagawan Jala­dara dan teman-temannya.

"Setelah tiba di sana, kiranya Paman Bhagawan Jaladara telah berada di sana pula bersama Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda dan seorang lagi, Tumenggung Janurmendo, seorang senopati Wirosobo yang sakti. Dalam pertandingan melawan Tumenggung Janurmendo, Bapa Guru terluka parah dan dia masih disiksa oleh Bhagawan Jaladara. Saya segera membantu Bapa Guru dan hendak melawan mereka, akan tetapi Bhagawan Jaladara telah mengancam akan membunuh Bapa Guru yang telah berada dalam cengkeramannya kalau saya tidak menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana kepadanya. Melihat keadaan Bapa Guru yang terancam maut, terpaksa saya menyerahkan pecut pusaka itu dan sebagai penukarannya, Bapa Guru dibebaskan. Setelah Bapa Guru dibebaskan, saya mengamuk dan berusaha untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi mereka melarikan diri membawa pecut pusaka itu. Demikianlah, Paman Bhagawan Sindusakti. Bapa Guru terluka parah dan meninggal dunia dan memesan kepada saya untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana."

"Kejam sekali Paman Bhagawan Jaladara!" kata Maheso Seto dengan suara penuh geram.

"Kejam dan jahat!" kata pula Rahmini. "Perbuatan itu tidak boleh didiamkan saja!" kata pula Cangak Awu dengan marah.

"Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan Adi Cangak Awu, kita hanya mendengar cerita ini dari satu pihak. Harap andika semua tenang dulu. Cerita Paman Jaladara lain lagi dan masih perlu dibuktikan kelak siapa di antara mereka berdua yang bicara benar dan siapa pula pembohong." kata Priyadi dengan suara tenang.

Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, agaknya setuju dengan pendapat Priyadi ini. Sambil mengelus jenggotnya dan memandang kepada Sutejo, dia berkata, "Sutejo, ceritakanlah bagaimana selanjutnya pengalamanmu, tentang kematian Bapa Resi Limut Manik dan tentang Kitab Bajrakirana."

"Baik. Paman Bhagawan. Saya akan bercerita sejujurnya dan terserah kepada paman dan para saudara untuk menilai benar tidaknya cerita saya ini. Setelah Bapa Guru meninggal dunia, saya pergi merantau dan pada suatu hari saya naik ke Gunung Semeru untuk menghadap Eyang Resi Limut Manik. Setibanya di sana, saya melihat kedua cantrik Penggik dan Pungguk sudah tewas, Eyang Resi Limut Manik menderita luka-luka parah dan diajeng Wandansari menghadapi pengeroyokan empat orang yang bukan lain adalah Paman Bhagawan Jaladara dan tiga orang rekannya yang juga mengeroyok dan menewaskan Bapa Guru itu. Saya lalu membantu diajeng Wandansari dan kami berdua berhasil mengusir keempat orang jahat itu. Akan tetapi keadaan Eyang Resi Limut Manik sudah payah dan hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja. Akan tetapi waktu beberapa hari itu dia pergunakan untuk memberi petunjuk kepada saya untuk mempelajari Kitab Bajrakirana dan diajeng Wandansari mempelajari Kitab Kartika Sakti. Eyang Resi memberikan Kitab Bajrakirana kepada saya dan memberikan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitabnya kepada diajeng Wandansari. Juga beliau memesan agar saya merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara. Demikianlah, Paman Bhagawan, keadaan sebenarnya bagaimana Eyang Resi Limut Manik menemui kematiannya dan bagaimana pula kedua Kitab Pusaka itu diberikan kepada saya dan diajeng Wandansari."

"Akan tetapi, kurasa Bapa Guru Resi Limut Manik tentu memesan kepadamu untuk menyerahkan Pecut Sakti dan Kitab Bajrakirana kepadaku karena pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo. Kedua pusaka itu sejak dahulu telah dipergunakan untuk membela perguruan Jatikusumo." kata Bhagawan Sindusakti dengan suara lembut.

"Maafkan kalau saya menyangkal, Paman Bhagawan. Akan tetapi Eyang Resi Limut Manik memesan wanti-wanti kepada kami berdua untuk mempergunakan kedua pusaka itu, pertama untuk membela Mataram yang menghadapi banyak pemberontakan, dan mempergunakan pula untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena itulah maka saya tidak dapat memenuhi kehendak Kakang Cangak Awu ketika dia minta agar pusaka yang berada pada saya, yaitu Kitab Bajrakirana, diserahkan kepadanya untuk dihaturkan kepada paman."

"Kalau begitu sebagai seorang murid Jatikusumo, engkau hendak mengingkari kewajibanmu untuk berbakti kepada perguruan. Seharusnya kitab Bajrakirana yang ada padamu itu diserahkan kepada Bapa Guru sebagai Ketua perguruan Jatikusumo!" berkata Maheso Seto.

"Maaf, Kakang Maheso Seto. Karena saya menerima pesan wasiat langsung dari mendiang Eyang Resi, dan saya tidak merupakan murid perguruan Jatikusumo, maka terpaksa saya lebih mengutamakan ketaatan kepada mendiang Eyang Resi daripada yang lain."

"Sudahlah, urusan Kitab Bajrakirana kita tunda dulu. Yang terpenting kami harus mengetahui dengan jelas siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik dan sesungguhnya kepada siapakah mendiang Bapa Guru menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana, karena buktinya pecut itu berada di tangan Adi Bhagawan Jaladara." kata Bhagawan Sindusakti melerai.

"Saya akan berusaha untuk merampas kembali pecut pusaka Itu, Paman Bhagawan Sindusakti!" kata Sutejo dengan tegas.

"Akan tetapi kalau pusaka itu sudah berada di tangan kami, pusaka itu menjadi hak kami dan siapapun juga tidak boleh mengambilnya dari tangan kami." kata Bhagawan Sindusakti. "Karena pusaka itu adalah pusaka lambang kejayaan perguruan Jatikusumo."

"Kita sama lihat saja nanti, paman. Sekarang ijinkan saya mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan saya."

Bhagawan Sindusakti mengangguk. Hatinya merasa tidak enak. Sebetulnya dia harus menahan Sutejo dan menuntut agar Kitab Bajrakirana diserahkan kepadanya. Akan tetapi bagaimana dia dapat memaksa? Bagaimanapun juga, baru saja Sutejo telah menyelamatkan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo, dan untuk memaksa pemuda itu menyerahkan kitab, siapa di antara murid Jatikusumo yang akan mampu menandinginya? Diapun mengangguk ketika Sutejo menyembah dan meninggalkan perkampungan Jatikusumo.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dua orang penunggang kuda itu melarikan kudanya menerabas hutan yang lebat itu. Dari cara mereka duduk dengan tegak di atas punggung kuda yang berlari cepat itu, dapat diduga bahwa mereka adalah dua orang penunggang kuda yang mahir. Yang melarikan kuda di depan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh sedang dan tegap, wajahnya tampan gagah dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa. Kumisnya yang melintang seperti kumis Raden Gatotkaca itu menambah keangkeran dan kegagahan wajahnya.

Sebatang keris terselip di pinggangnya, dan dari pakaiannya yang gemerlapan dengan tanda-tanda pangkat, dapat diduga bahwa orang ini adalah seorang ponggawa kerajaan yang berpangkat tinggi. Dugaan ini benar karena pria itu adalah Ki Mertoloyo, seorang senopati besar kerajaan Mataram, seorang di antara para ponggawa yang menjadi kepercayaan Sultan Agung.

Penunggang kuda kedua yang melarikan kudanya di belakang Ki Mertoloyo lebih mengagumkan lagi. Ia adalah seorang wanita muda, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berwajah cantik manis sekali. Rambutnya yang hitam disanggul agak mawut tertiup angin sehingga sebagian rambutnya terjurai menutupi sebagian mukanya. Matanya lebar dan bersinar tajam, mulutnya yang manis itu menyungging senyuman lembut. Hidungnya yang kecil mancung menambah kemanisan wajahnya. Gadis ini adalah Winarti, puteri Ki Mertoloyo.

Dari ayahnya yang gagah perkasa dan sakti mandraguna, gadis ini sejak kecil juga mendapat gemblengan olah kanuragan sehingga kini ia menjadi seorang gadis yang digdaya. Cara ia menunggang kuda juga sudah membayangkan ketangkasannya. Sebagai seorang senopati besar, Ki Mertoloyo mendapat tugas dari Sultan Agung untuk mempersiapkan pertahanan di daerah perbatasan, untuk bersiap siaga kalau-kalau ada para pemberontak yang melakukan gerakan menyerbu daerah Mataram.

Untuk keperluan itu, Ki Mertoloyo mengadakan perjalanan ke daerah perbatasan, menghubungi kepala-kepala daerah, lurah dan demang, untuk menyusun dan memperkuat pertahanan di daerah itu. Untuk melaksanakan tugas berkeliling dan melakukan pemeriksaan ini, senopati yang gagah perkasa itu tidak membawa pasukan pengawal, melainkan hanya ditemani puterinya, Winarti yang gagah perkasa. Berdua dengan puterinya, senopati itu merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman bahaya dari manapun datangnya. Dan buktinya, selama melakukan pemeriksaan di perbatasan sebulan lebih lamanya, dia dan puterinya tidak pernah menemui halangan yang berarti.

Pada siang hari itu, mereka membalapkan kuda menerobos hutan menuju ke dusun Pamrican, sebuah dusun yang berada di ujung utara daerah perbatasan. Pamrican adalah sebuah dusun kademangan dan yang menjabat demang di situ adalah Ki Demang Sengkali, Senopati Mertoloyo mengenal baik Ki Sengkali, maka kini dia hendak berkunjung ke Pamrican dan membicarakan tentang pertahanan Timur Laut itu dengan Ki Demang, Perjalanan ke Pamrican melalui daerah berhutan yang jaraknya hanya belasan pal dari Pamrican. Karena matahari telah naik tinggi dan dia tidak ingin terlalu larut tiba di Pamrican maka Senopati Mertoloyo membalapkan kudanya dan Winarti mengikuti dari belakang, Gadis ini sudah mahir sekali menunggang kuda sehingga ia dapat mengikuti ayahnya tanpa kesulitan.

Tiba-tiba mereka berdua melihat kobaran api menghadang di tengah jalan yang mereka lalui. "Tahan....!" kata Ki Mertoloyo sambil menarik kendali kuda dan mengangkat tangan kiri memberi isarat kepada puterinya untuk menahan larinya kuda. Dua ekor kuda yang ditahan itu meringkik ketika kendali ditarik oleh penunggangnya, juga karena terkejut melihat kobaran api.

Setelah dua ekor kuda berhenti berlari, tiba-tiba dari empat penjuru berloncatan dari balik batang pohon dan semak belukar belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis. Mereka semua memegang senjata, ada yang membawa golok, pedang atau keris dan mereka segera mengepung ayah dan anak yang menjadi terkejut itu. Ada sebagian orang dari mereka memadamkan api dengan menginjak-injak ranting dan daun kering yang tadi mereka bakar untuk menghentikan larinya dua ekor kuda itu.

Melihat dia dan puterinya dikepung orang-orang bersenjata yang jumlahnya hampir dua puluh orang itu, Ki Mertoloyo lalu melompat turun dari atas punggung kuda, diturut oleh Winarti yang juga melompat turun dari atas kudanya. Dua ekor kuda yang dilepas kendalinya itu mundur-mundur ketakutan melibat banyak orang dan mereka lalu ditangkap oleh dua orang pengepung dan dibawa keluar dari kepungan. Mertoloyo dan Winarti tidak dapat mencegah dirampasnya dua ekor kuda mereka itu karena mereka harus berjaga diri melihat belasan orang itu mengancam mereka.

Ki Mertoloyo mengerutkan alisnya, sikapnya tenang dan sama sekali tidak gentar. Dia melangkah maju menghampiri seorang di antara mereka yang bermuka hitam dan agaknya menjadi pemimpin mereka melihat pakaiannya yang berbeda dari yang lain. Pakaiannya agak mewah dan dia membawa sebatang keris yang sarungnya terukir indah terselip di pinggangnya.

"KiSanak," tegur Ki Mertoloyo sambil mengamati wajah orang-orang yang berhadapan dengannya. "Andika sekalian ini siapakah dan apa maksud andika sekalian menghadang perjalanan kami?"

Si muka hitam yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mengelebatkan golok di tangannya dan tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, kawan-kawan ! Dia masih bertanya mengapa kita menghadangnya, ha-ha-ha!"

Seorang lain yang mukanya brewok, berusia kurang lebih empat puluh tahun juga tertawa. "Ha-ha-ha, mau kenal nama kami? Aku adalah Klabang Lorek, jagoan Wirosobo!" Dia mengamangkan goloknya.

"Dan aku adalah Klabang Belang, Juara Wirosobo!" kata yang bermuka hitam.

Ki Mertoloyo memandang tajam penuh selidik. Melihat sikap kedua orang ini agaknya mereka itu bukan perampok biasa. Mungkin mereka adalah kaki tangan Kadipaten Wirosobo yang sudah mengetahui siapa dia dan sengaja menghadang dan mengganggu.

"Kalian mau apakah menghadang perjalanan kami?" tanyanya.

"Tinggalkan gadis ini dan dua ekor kudamu, baru engkau boleh lewat di jalan ini!" kata Klabang Belang sambil mengerling ke arah Winarti dan menyeringai.

Wajah Ki Mertoloyo berubah merah, kumisnya tergetar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan.

"Klabang Belang dan Klabang Lorek, buka lebar-lebar mata dan telingamu! Aku adalah Senopati Mertoloyo dari Mataram! Apakah kalian sudah bosan hidup, berani menghadang dan mengganggu kami ayah dan anak?"

"Senopati Mertoloyo, kalau engkau tidak mau menyerahkan puterimu, kami akan merampasnya dengan paksa dan membunuhmu!" Setelah berseru demikian, Klabang Belang memberi isarat dengan tangan kirinya yang diangkat ke atas, menyuruh anak buahnya mengeroyok Ki Mertoloyo dan menangkap gadis cantik itu. Para anak buah itu menggerakkan senjata mereka menerjang Ki Mertoloyo, sedangkan Klabang Belang dan Klabang Lorek seperti berlomba hendak menangkap gadis yang cantik manis itu.

Ki Mertoloyo tidak mengkhawatirkan puterinya karena diapun maklum bahwa puterinya sudah memiliki bekal kedigdayaan yang memadai, yang tidak perlu khawatir kalau hanya dikeroyok dua orang kasar seperti Klabang Belang dan Klabang Lorek itu. Apa lagi kedua orang itu tidak berniat membunuhnya, melainkan menangkapnya, maka tentu akan lebih mudah bagi puterinya untuk membela diri. Akan tetapi, enam belas orang anak buan gerombolan itu menerjang dan mengeroyoknya dengan niat membunuh.

Hal ini dapat dilihat dari cara mereka maju menyerang, demikian ganas mereka mempergunakan senjata untuk menyerangnya. Dari empat penjuru mereka datang menyerangnya. Beberapa batang tombak, pedang, golok dan keris meluncur ke arah tubuhnya dalam serangan maut. Akan tetapi dia tidak menjadi jerih. Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Ki Mertoloyo menyambut para pengeroyoknya dengan tendangan dan tamparan kedua kaki tangannya. Dia bahkan tidak menghindarkan tangan dan kakinya bertemu dengan senjata tajam runcing mereka.

Ternyata kedua lengan dan kakinya dilindungi Aji Kekebalan yang amat kuat, yang membuat kulit tubuhnya Seperti terbuat dari baja dan semua senjata yang bertemu dengan kaki dan tangannya terpental. Terdengar pekik-pekik kesakitan dan tubuh para pengeroyok itu berpelantingan. Akan tetapi agaknya mereka mengandalkan jumlah banyak, maka mereka yang jatuh digantikan oleh kawan dan yang tidak terluka parah segera bangkit dan mengeroyok kembali.

Ki Mertoloyo mengamuk bagaikan seekor harimau yang dikeroyok segerombolan anjing serigala. Dia adalah seorang senopati yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran, dan dia seorang senopati besar. Dia tidak mau sembarangan membunuh orang, dan hanya membuat para pengeroyok jungkir balik dan berpelantingan, tanpa menggunakan kerisnya atau pukulan mautnya.

Klabang Belang dan Klabang Lorek juga kecelik sekali. Ketika tadi mereka maju menghampiri Winarti, mereka mengira akan dapat segera merangkul dan mendekap gadis yang cantik manis itu. Akan tetapi ketika Klabang Belang menubruk, gadis itu dengan lincahnya mengelak sehingga tubrukan itu mengenai tempat kosong. Ketika Klabang Lorek menyambut dari depan untuta menangkap lengan Winarti, gadis ini menangkis dengan gerakan tangan kiri ke atas. Tangkisannya demikian kuat sehingga tangan kanan Klabang Lorek yang meraih itu terpental dan sebelum Klabang Lorek dapat mengelak, kaki kanan gadis itu mencuat dengan kecepatan kilat.

"Bukkk!" Perut Klabang Lorek yang agak gendut itu terkena tendangan dan dia terjengkang, walaupun tidak sampai roboh akan tetapi dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi perutnya Perutnya terasa mulas sekali, melilit-lilit, mungkin usus buntunya yang terkena tendangan kaki mungil Winarti!

Melihat temannya tertendang. Klabang Belang masih belum menyadari akan kehebatan gadis itu. Dia malah menertawakan Klabang Lorek yang meringis sambil mengelus perutnya.

"Ha-ha ha!" Dia tertawa dan tiba-tiba saja dia menubruk ke arah Winarti, dengan keyakinan bahwa sekali ini dia tentu akan mampu mendekap gadis yang menggairahkan hatinya itu. Namun kembali dia menubruk angin karena entah bagaimana caranya, gadis itu telah menyelinap dan mengelak dengan lincah sekali dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya.

Winarti menggerakkan tangan kirinya menempiling ke arah belakang telinga Klabang Belang "Prattt ...... !" Walaupun yang menempiling itu hanya sebuah tangan yang kecil dan berkulit halus, namun nyatanya Klabang Belang merasa seolah ada halilintar menyambar kepalanya. Dia terpusing dan jatuh duduk, memegangi kepalanya karena rasanya kepalanya berpusing atau bumi di sekelilingnya berputar aneh.

Sekali ini giliran Klabang Lorek yang menertawakannya. Si brewok gendut yang rasa nyeri di perutnya sudah mereda ini, berdiri sambil tertawa dan telunjuk kirinya menuding ke arah kawannya yang masih terduduk sambil memegangi kepalanya.

"Ha-ha ha-ha!" Klabang Lorek tertawa, akan tetapi pada saat itu diapun menyadari bahwa gadis yang mereka keroyok berdua itu ternyata adalah seorang gadis yang tangguh dan sakti! Dia menyadari hal ini lalu mengeluarkan senjatanya, sebatang golok besar yang tadi diselipkan di pinggang ketika dia hendak menangkap Winarti dengan kedua tangan kosong.

Klabang Belang juga sudah dapat bangkit berdiri biarpun kepalanya masih sedikit pening. Melihat kawannya mencabut golok, diapun mencabut goloknya dan berseru marah. "Gadis yang tak tahu disayang orang! Engkau agaknya memilih mati dari pada hidup senang dengan kami!" bentak Klabang Belang. Dia lalu menyerang dengan goloknya, disusul terjangan yang dilakukan Klabang Lorek ke arah kepala Winarti. Gadis itu mengelak ke belakang dengan cepat sekali sehingga luput dari sambaran dua batang golok para pengeroyoknya. Sambil melompat mundur itu Winarti mencabut kerisnya.

Pada saat itu, golok di tangan Klabang Belang telah menyambar lagi. Agaknya Si muka hitam ini merasa penasaran sekali ketika serangan pertamanya tadi dapat dielakkan dengan mudahnya oleh gadis jelita itu. Kini dia melompat ke depan sambil mengayun goloknya membacok ke arah kepala Winarti. Pada detik berikutnya, golok di tangan Klabang Lorek yang mukanya brewokan itupun menyambar dengan tusukan ke arah dada gadis itu! Akan tetapi dengan sigapnya Winarti miringkan kepalanya sehingga bacokan Klabang Belang luput dan ia menggerakkan kerisnya dari kiri ke kanan dengan putaran pergelangan tangan sambil menggerakkan tenaganya untuk menangkis tusukan golok ke arah dadanya.

"Wuuuttt...... trangggg....!" Golok di tangan Klabang Lorek terpental dan hampir terlepas dari tangan pemegangnya. Pada saat itu, kaki kiri Winarti mencuat dan menendang ke arah perut gendut Klabang Lorek.

"Bukk......!" Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras. Pantatnya menghantam tanah sampai mengebulkan debu dan Klabang Lorek meringis, merasa sakit pada perut dan pantatnya.

"Singgg......!" Golok Klabang Belang menyambar dahsyat. Akan tetapi Winarti yang sudah siap siaga itu mengelak ke belakang dan ketika golok menyambar turun, secepat kilat kerisnya meluncur dan menikam tangan yang menggenggam gagang golok.

"Crott.....!" Darah mengucur, golok terlepas dan Klabang Belang terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang terluka itu dengan tangan kirinya. Masih untung baginya bahwa keris di tangan gadis itu tidak mengandung racun sehingga dia hanya merasakan kepedihan karena kulit dagingnya terobek saja.

Melihat dua orang pimpinan mereka roboh, para anak buah lalu maju membantu sehingga di lain saat Winarti sudah dikeroyok banyak orang seperti juga ayahnya. Ayah dan anak ini mengamuk hebat dan para pengeroyok kocar-kacir tidak dapat menahan amukan ayah dan anak yang sakti itu.

"Mundur semua, biar aku yang menghadapinya!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. Mendengar suara yang membentak ini, Klabang Lorek dan Klabang Belang berteriak kepada anak buahnya untuk mundur.

Ki Mertoloyo, Senopati Mataram yang sakti itu. bersama puterinya, Winarti, berdiri mengangkat muka memandang orang yang baru datang. Ki Mertoloyo terkejut karena dia mengenal siapa yang datang itu. Bukan lain adalah Tumenggung Janurmendo yang sakti mandraguna! Ki Tumenggung Janurmendo yang tampan dan gagah itu melangkah maju sambil tersenyum.

"Ah, kiranya Ki Senopati Mertoloyo yang mengamuk di sini. Dan ini puterimu ! Sungguh cantik jelita puterimu. Ki Mertoloyo!"

"Tumenggung Janurmendo! Sudah kuduga bahwa gerombolan Ini bukan perampok biasa. Setelah sekarang andika muncul, tahulah aku bahwa mereka adalah orang-orang Wirosobo yang hendak memberontak! Tumenggung Janurmendo, apa maksudmu mengerahkan orang orangmu untuk mengeroyok kami?" Suara Ki Mertoloyo terdengar lantang dan marah.

Tumenggung Janurmendo tertawa. "Ha-ha-ha, engkau berada di perbatasan Wirosobo dan keadaanmu telah terkepung, akan tetapi masih dapat bersuara lantang! Ki Mertoloyo, lebih baik andika menaluk saja, menjadi tawanan kami. Kalau andika mau membantu Wirosobo, tentu andika akan memperoleh kedudukan yang tinggi."

"Janurmendo! Jangan asal dapat membuka mulut! Aku adalah Senopati Mataram yang setia danaku siap membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Biarpun andika telah mempersiapkananak buah kami tidak akan mundur selangkahpun !" tantang Ki Mertoloyo.

"Hemm, Ki Mertoloyo. Kegagahanmu tidak ada artinya. Apakah engkau tega melihat puterimu celaka di tangan kami? Menyerahlah dan kalian berdua akan kami perlakukan dengan baik. kami hadapkan kepada Gusti Adipati di Wirosobo."

"Keparat! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lebih lanjut!" bentak Senopati Ki Mertoloyo.

Tumenggung Janurmendo menjadi marah sekali. Dia memberi isarat kepada dua orang pembantunya. Klabang Lorek dan Klabang Belang. Dua orang ini lalu mengerahkan sisa anak buahnya untukMengepung ayah dan anak itu.

"Ki Mertoloyo, agaknya andika sudah bosan hidup!" kata Tumenggung Janurmendo yang segera menerjang maju dengan pukulan tangan kirinya yang ampuh dan mendatangkan hawa panas sekali karena dia telah menggunakan Aji Wisang Geni.

Ki Mertoloyo adalah senopati Mataram yang sakti. Dia mengenal pukulan ampuh itu, maka dia cepat mengelak dan balas memukul dari samping. Tumenggung Janurmendo juga tidak berani memandang ringan lawannya dan dia sudah melompat ke belakang untuk menghindar, lalu dia mencabut kerisnya. Sinar yang mengandung hawa mengerikan terasa ketika keris pusaka Jalu Sarpo dicabut. Keris pemberian Adipati Wirosobo ini memang merupakan pusaka yang ampuh. Melihat ini, Ki Mertoloyo juga mencabut kerisnya dan ketika lawan menyerang dengan tusukan kerisnya, dia menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Tringgg......!" Tampak api berpijar ketika dua batang keris bertemu dan keduanya terdorong mundur. Akan tetapi mereka segera saling terjang lagi dan terjadilah perkelahian antara dua orang senopati itu dengan hebatnya.

Sementara itu, Winarti sudah dikeroyok oleh belasan orang yang dipimpin oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang. Gadis itu mengamuk dengan keris di tangannya, akan tetapi pihak lawan terlalu banyak sehingga sebentar saja ia sibuk mengelak dan menangkisi hujan senjata yang menyambar-nyambar tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.

Keadaan Ki Mertoloyo juga tidak lebih baik dari pada puterinya. Sebetulnya, tingkat ilmu kepandaiannya tidak berselisih jauh dibandingkan dengan tingkat Tumenggung Janurmendo. Akan tetapi senjata kerisnya kalah ampuh sehingga dia mulai terdesak. Lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus mendesak dengan tusukan tusukan maut yang amat dahsyat.

Kedua orang ayah dan anak itu berada dalam keadaan gawat. Mereka sudah berada di ambang kekalahan. Pada saat itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda kurang lebih dua puluh tiga tahun. Tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang. Pundak dan kedua lengannya kokoh, wajahnya tampan, dengan alis tebal mata lebar bersemangat, hidungnya mancung dan mulutnya selalu mengandung senyum ramah. Kulitnya putih kemuning. Rambutnya panjang digelung ke atas dan diikat dengan kain kepala berwarna biru. Bajunya berlengan pendek sebatas siku dan celananya hitam setinggi bawah lutut. Sehelai sarung dikalungkan di pundak. Pemuda ini bukan lain adalah Sutejo!

Melihat seorang laki-laki setengah tua bertanding melawan Tumenggung Janurmendo dan seorang gadis muda dikeroyok banyak orang dan keduanya terdesak hebat, mudah saja bagi Sutejo untuk memihak yang mana. Tentu saja dia menentang pihak Tumenggung Janurmendo yang pernah membantu Bhagawan Jaladara untuk menyerang guru yang juga ayah angkatnya, Bhagawan Sidik Paningal, kemudian menyerang pula eyang gurunya. Sang Resi Limut Manik.

"Janurmendo andika selalu berlaku curang dan jahat, mengeroyok orang mengandalkan banyak kawan!" bentak Sutejo dan dia segera menerjang maju ke arah Tumenggung Janurmendo.

Diserang Sutejo yang menggunakan Aji Gelap Musti. Janurmendo terkejut bukan main. apa lagi ketika dia mengenal pemuda ilu yang amat sakti ketika pemuda itu bersama Puteri Wandansari membela dan melindungi Sang Resi Limut Manik, Akan tetapi karena ketika itu dia sedang bertanding melawan Ki Mertoloyo yang juga cukup tangguh, dia tidak sempat mengelak lagi dan terpaksa menyambut pukulan Sutejo itu dengan dorongan tangannya sambil mengerahkan Aji Wisang Geni.

"Wuuuuttt... blaarrrr... !" Benturan hebat sekali terjadi antara dua kekuatan sakti itu dan akibatnya Tumenggung Janurmendo terjengkang dan terbanting roboh.

Akan tetapi Tumenggung Janurmendo ternyata memiliki kekebalan yang cukup kuat sehingga dia tidak terluka parah. Melihat betapa bantuan Sutejo kepada pihak lawan akan membuat dia terancam bahaya, senopati Wirosobo ini lalu meloncat dan cepat lari meninggalkan tempat itu memasuki hutan dan menyelinap diantara pohon dan semak belukar.

Sutejo melompat untuk mengejar, akan tetapi pada saat itu dia mendengar teriakan Ki Mertoloyo,"Winarti.....! Di mana engkau.....?"

Sutejo menahan lompatannya dan membalik. Dia melihat Ki Mertoloyo berdiri kebingungan, para pengeroyok sudah tidak berada di situ kecuali mereka yang terluka dan tidak mampu lari Akan tetapi gadis yang tadi mengamuk dan dikeroyok itupun sudah tidak tampak lagi.

"Paman, apa yang telah terjadi?" tanya Sutejo sambil menghampiri Ki Mertoloyo.

"Entahlah, anakku Winarti menghilang...! Mungkin dia tertawan dan dilarikan para penjahat." kata Ki Mertoloyo dengan wajah gelisah.

Sutejo menoleh dan melihat beberapa orang anak buah gerombolan yang terluka, dia segera menyambar lengan seorang di antara mereka yang terluka pundaknya, menariknya berdiri mencengkeram lengan itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan.

"Hayo katakan di mana sarang kalian!" bentaknya. "Kalau tidak mengaku, akan kupecahkan kepalamu!"

"Ampun.... ampun..." Orang itu meratap.

"Sarang kami di dalam hutan itu...." Dia menunjuk ke arah hutan lebat ke mana tadi Tumenggung Janurmendo melarikan diri.

"Hayo antarkan aku ke sana!" bentak Sutejo dan dia mendorong orang itu untuk menjadi penunjuk jalan. Sambil menyeringai karena pundaknya yang nyeri, orang itu terhuyung-huyung berjalan di depan, diikuti oleh Sutejo. Ki Mertoloyo juga mengikuti di belakang.

Tumenggung janurmendo dan anak buahnya yang tadi melarikan diri ke dalam hutan, tiba di sebuah rumah kayu besar yang berdiri di tengah hutan itu. Winarti berada pula di antara mereka, dipanggul oleh Klabang Lorek. Gadis itu dalam keadaan pingsan. Tadi ketika Sutejo datang membantu ayahnya, gadis itu telah berada dalam keadaan gawat sekali. Munculnya Sutejo bahkan membuat ia lengah karena ia menoleh ke arah pemuda itu dan sebuah hantaman tangan Klabang Lorek yang besar dan kuat itu mengenai batang lehernya.

Gadis itu terkulai pingsan tanpa sempat berteriak lagi. Klabang Lorek cepat menyambar tubuhnya dan memanggulnya. Melihat Tumenggung Janurmendo melarikan diri, Klabang Lorek dan Klabang Belang lalu melompat dan melarikan diri pula, diikuti oleh para anak buah yang tidak terluka. Winarti masih terbawa dan terpanggul oleh Klabang Lorek dalam keadaan pingsan. Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang memasuki rumah di tengah hutan itu sedangkan para anak buahnya tinggal di luar, bergabung dengan beberapa orang anak buah lain yang tidak ikut menghadang Ki Mertoloyo sehingga jumlah mereka kini tidak kurang dari dua puluh orang.

Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda ternyata telah berada di rumah itu, menyambut kedatangan tiga orang itu. Ki Klabang Lorek lalu menurunkan tubuh Winarti dari atas pundaknya, merebahkannya ke atas sebuah dipan bambu dan mengambil tali lalu mengikat kaki tangan gadis itu agar kalau siuman dari pingsannya tidak akan dapat mengamuk.

Melihat kedatangan Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang dalam keadaan tergesa-gesa, napas memburu dan wajah agak pucat itu, Bhagawan Jaladara merasa heran. Akan tetapi melihat bahwa mereka pulang sambil membawa tawanan seorang gadis, dia merasa lega karena hal itu menunjukkan bahwa mereka telah berhasil dalam tugas mereka.

"Bagaimana, Adi Tumenggung, sudah matikah Senopati Mertoloyo?" tanyanya kepada Tumeng­gung Janurmendo yang menyambar sebuah kendi dan minum airnya yang segar.

Tumenggung Janurmendo meletakkan kembali kendi itu, lalu memandang kepada Bhagawan Jaladara dan berkata, "Celaka, Kakang. Bhagawan. Tak tersangka-sangka ketika saya sudah hampir dapat membunuh Ki Mertoloyo, muncul pemuda setan itu!" katanya dengan gemas dan penasaran.

"Pemuda setan yang mana?" tanya Bhagawan Jaladara.

"Siapa lagi kalau bukan Sutejo murid Bhagawan Sidik Paningal itu? Dia muncul dengan tiba-tiba dan menggagalkan usaha kami untuk membunuh Ki Mertoloyo. Akan tetapi kami berhasil menawan puterinya!" kata Tumenggung Janurmendo sambil menuding ke arah gadis yang rebah miring dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya di atas dipan bambu itu.

"Ahh! Dia yang muncul?" seru Bhagawan Jaladara terkejut karena dia sendiri sudah beberapa kali bertemu dan bertanding dengan Sutejo dan dia harus mengakui ketangguhan pemuda yang sebetulnya masih murid keponakannya sendiri itu.

"Paman Bhagawan, gadis ini saya yang menangkapnya, Karena itu saya mohon agar diserahkan kepada saya!" kata Klabang Lorek sambil menyeringai.

"Klabang Lorek, lancang mulutmu!" bentak Ki Warok Petak marah. "Apa kau ingin kurobek mulutmu yang lebar itu?"

Dibentak demikian oleh Ki Warok Petak yang ditakutinya, Klabang Lorek terdiam dan mukanya menjadi merah.

Bhagawan Jaladara berkata, "Tidak ada yang boleh mengganggu puteri Ki Mertoloyo itu. Ia adalah seorang tawanan penting. Kita dapat mempergunakannya untuk memaksa Ki Mertoloyo taluk kepada kita."

"Akan tetapi, saya kira Ki Mertoloyo dan Sutejo tidak akan tinggal diam dan akan mengejar kami sampai ke sini untuk membebaskan gadis ini" kata Tumenggung Janurmendo yang merasa jerih terhadap Sutejo.

"Biarkan mereka datang. Kita telah siap menyambut mereka. Dengan adanya aku, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang membantu, mustahil kita tidak akan mampu mengalahkan mereka. Sekali ini Sutejo akan dapat kita bunuh! Anak itu merupakan penghalang besar bagi kita." kata Bhagawan Jaladara.

"Benar, kita harus atur sekarang juga untuk menghadapi mereka!" kata Janurmendo yang timbul semangatnya mengingat bahwa dia kini mempunyai banyak kawan yang membantu. Dengan adanya dia, Bhagawan Jaladara, Warok Petak, Baka Kroda, Klabang Lorek, Klabang Belang dan dua puluhan orang anak buah, kiranya mustahil kalau mereka tidak akan mampu mengalahkan Ki Mertoloyo dan Sutejo!

"Bawa gadis itu ke kamar belakang dan lima orang anak buah harus menjaganya dengan ketat. Kemudian para anak buah yang lain berjaga di bagian depan. Kalau mereka berdua muncul, cepat laporkan agar kita berlima dapat menyambut mereka." kata Bhagawan Jaladara yang memimpin rombongan orang Wirosobo itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang menjadi pembantu-pembantu Bhagawan Jaladara, segera melaksanakan perintah itu. Winarti diangkat dan dibawa ke dalam kamar belakang, kemudian lima orang anak buah menjaga di luar kamar itu dengan senjata siap di tangan. Winarti sudah siuman dari pingsannya akan tetapi setelah ia melihat bahwa ia rebah di atas sebuah dipan dalam kamar dengan kaki tangan terbelenggu sehingga ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, iapun diam saja. Ia membalikkan tubuhnya yang tadinya menghadap ke dinding dan melihat ke arah pintu.

Di luar pintu itu terdapat beberapa orang laki-laki yang duduk melakukan penjagaan. Tahulah ia bahwa ia telah tertawan dan dimasukkan dalam sebuah kamar dan dijaga ketat. Ia mengingat-ingat. Teringat ia ketika dikeroyok tadi, ia melihat seorang pemuda muncul membantu ayahnya. Ia menengok untuk memandang pemuda itu dan pada saat ia menengok itu, lehernya terkena pukulan keras dan ia tidak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu ia telah berada di dalam kamar ini.

Matahari telah naik tinggi ketika Ki Mertoloyo dan Sutejo yang ditunggu-tunggu oleh gerombolan orang-orang dari Wirosobo itu tiba di luar pagar rumah itu. Belasan orang anak buah Bhagawan Jaladara menghadang mereka dengan senjata golok di tangan.

"Panggil Tumenggung Janurmendo keluar! Kalau tidak, akan kami obrak abrik tempat ini!" bentak Ki Mertoloyo marah teringat akan puterinya yang hilang dan yang dia yakin tentu telah diculik oleh Janurmendo dan anak buahnya, Sutejo lalu mendorong orang tangkapannya yang menjadi penunjuk jalan. Orang itu terdorong jatuh tertelungkup, lalu merangkak berkumpul dengan teman-temannya.

Tiba-tiba terdengar suara lantang dan barisan anak buah yang belasan orang banyaknya itu tersibak dan terbukalah jalan. Dari belakang mereka muncul lima orang itu. Bhagawan Jaladara, Janurmendo, Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda, Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Melihat Bhagawan Jaladara yang tertawa-tawa, Sutejo menjadi marah sekali. "Bhagawan Jaladara, kiranya andika yang berdiri di belakang gerombolan ini!" Sutejo merasa kecewa karena tidak melihat Bhagawan Jaladara membawa Pecut Sakti Bajrakirana. Kakek itu memegang tongkat hitamnya yang ampuh.

Janurmendo juga sudah memegang keris pusaka Jalu Sarpo. Ki Warok Petak memegang goloknya, Ki Baka Kroda memegang kerisnya yang besar dan tiga batang pisau tajam runcing terselip di pinggangnya Klabang Lorek dan Klabang Belang memegang golok masing-masiog. Mereka berlima agaknya sudah siap untuk bertempur dan mengeroyok. Setelah lima orang pimpinan itu muncul, belasan orang anak buah itu cepat bergerak membuat kepungan sehingga Sutejo dan Ki Mertoloyo terkepung ketat Akan tetapi baik Sutejo maupun Ki Mertoloyo tidak merasa gentar. Bahkan Ki Mertoloyo menudingkan telunjuknya ke muka Janurmendo dan membentak marah.

"Tumenggung Janurmendo! Perbuatanmu menunjukkan bahwa andikabukan seorang jantan yang gagah perkara! Engkau menggunakan pengeroyokan dan menculik anakku. Hayo kembalikan anakku Winarti!"

Janurmendo diam saja. Yang menjawab adalah Bhagawan Jaladara. "Ki Mertoloyo dan engkau Sutejo. Kami memang menawan gadis itu, akan tetapi kami tidak mengganggunya dan kami tentu dengan senang hati akan membebaskannya kembali asalkan kalian berdua suka menaluk kepada Kadipaten Wirosobo dan suka membantu kami. Sutejo, kalau engkau berjanji mau membantu Wirosobo, aku akan memaafkan kesalahanmu yang lalu, bahkan aku akan menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadamu!"

"Bhagawan Jaladara tidak perlu menggunakan lidahmu yang beracun antuk membujuk aku! Engkau telah mencuri pecut Bajrakirana. Engkau telah menyebabkan kematian Bapa Guru dan Eyang Guru, dan sekarang engkau membujuk aku untuk menaluk dan membantumu? Hemm, jangan harap. Manusia iblis macam engkau ini sepantasnya kalau menerima hukuman yang berat!"

"Keparat! Kalau begitu engkau akan mampus hari ini di tangan kami! Bagaimana dengan andika, Ki Mertoloyo? Apakah andika tidak sayang kepada puteri andika dan tega melihat ia mati di tangan kami? Kalau andika menaluk dan membantu Wirosobo, kami akanmembebaskan puterimu dan andika akan memperoleh kedudukan tinggi di Wirosobo. Akan tetapi kalau andika menolak, terlebih dulu puteri andika akan kami bunuh, kemudian andika juga!"

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati Ki Mertoloyo. Sebagai seorang senopati besar, tentu saja dia tidak gentar menghadapi ancaman maut bagi dirinya sendiri. Akan tetapi sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai seorang anak yaitu Winarti, mendengar bahwa anaknya itu akan dibunuh dalam keadaan tidak berdaya, tentu saja hatinya menjadi bingung dan gelisah sekali. Akan tetapi menaluk dan membantu Wirosobo? Sampai matipun dia tidak akan sudi melakukannya. Hal itu berarti mengkhianati Mataram! Akan tetapi bagaimana dengan puterinya? Dia tidak mampu menyelamatkannya!

Tiba-tiba tampak cahaya terang dan asap mengepul tebal yang datangnya dari rumah itu bagian belakang. Semua orang terkejut dan menengok ke arah belakang rumah. Kini kelihatan kobaran api yang membubung tinggi.

"Kebakaran!" Terdengar teriakan para anak buah gerombolan itu. Keadaan menjadi kacau dan tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat dari belakang rumah itu.

"Bapa, jangan menyerah kepada mereka!" bayangan itu yang ternyata adalah seorang gadis, berseru.

"Winarti!" Ki Mertoloyo berteriak girang bukan main. Kiranya puterinya telah dapat meloloskan diri, bahkan membuat kebakaran di rumah itu bagian belakang.

Seperti mendapat aba-aba saja. Ki Mertoloyo dan Sutejo sudah menerjang ke depan. Ki Mertoloyo menggunakan kerisnya dan Sutejo mempergunakan kain pengikat rambutnya yang berwarna biru. Dengan kain pengikat kepala biru itu dia bersilat dengan Aji Sihung Nila, menerjang ke arah Janurmendo yang dia anggap paling berbahaya di antara mereka semua.

Janurmendo yang memang sudah merasa jerih terhadap Sutejo, mengelak dan melompat ke belakang Bhagawan Jaladara agar kakek itu membantunya. Sutejo mengebutkan kain pengikat kepalanya dan kini dia menyerang ke arah Bhagawan Jaladara yang menghadang antara dia dan Janurmendo. Bhagawan Jaladara melompat ke samping sambil menangkis dengan tongkatnya. Pada saat itu, Janurmendo sudah menerjang dari samping dan Sutejo sudah dikeroyok oleh dua orang itu.

Sementara itu, Ki Mertoloyo mengamuk, dikeroyok oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, Biarpun tingkat kepandaian senopati Mataram ini lebih tinggi dari tingkat kedua orang jagoan Wirosobo itu, akan tetapi karena dikeroyok dua, keadaan mereka menjadi seimbang. Mereka bertanding dengan seru dan beberapa kali senjata mereka beradu menimbulkan percikan bu­nga api.

Winarti sendiri sudah berhasil merobohkan seorang anak buah gerombolan, merampas goloknya dan dengan golok rampasan ini Winarti mengamuk, dikeroyok oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang yang dibantu oleh belasan orang anak buahnya. Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian ringkas dan mukanya ditutup sehelai sapu tangan merah sehingga tidak dapat dikenali karena yang tampak hanya sepasang mata yang mencorong tajam. Orang ini gerakannya gesit dan ringan sekali, bagaikan seekor burung menyambar nyambar dan ke manapun tubuhnya menyambar dan kedua tangannya bergerak, tentu ada dua orang pengeroyok yang roboh dan tidak mampu bangkit kembali!

Pukulan kedua tangan orang itu sungguh amat ampuh dan dalam waktu singkat saja dia sudah merobohkan delapan orang! Klabang Lorek dan Klabang Belang terkejut sekali, dan mereka menjadi gentar sehingga gerakan mereka kurang sigap. Golok di tangan Winarti menyambar dan Klabang Lorek berteriak keras dan roboh terpelanting dengan mandi darah yang mengucur deras dari luka parah di pundaknya yang terbacok golok! Klabang Belang terkejut dan saking jerihnya dia melompat untuk melarikan diri. Akan tetapi sial baginya, dia melompat ke dekat Orang bertopeng merah itu dan sekali orang itu menggerakkan tangan kirinya, Klabang Belang tersungkur dan terbanting ke atas tanah, tidak mampu bangkit lagi!

Sementara itu, pertandingan antara Sutejo yang dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo berlangsung seru. Akan tetapi, dua orang yang memang sudah gentar itu segera terdesak oleh sambaran sinar kain pengikat rambut biru yang bergulung-gulung itu. Ketika Bhagawan Jaladara dan Janurmendo yang sudah kewalahan itu lalu nekat mengeluarkan aji pukulan mereka yang amat ampuh, yaitu Bhagawan Jaladara menghantam dengan Aji Gelap Musti, sedangkan Janurmendo menggunakan Aji Wisang Geni, Sutejo lalu menyambut pukulan mereka dengan Aji Bromokendali.

"Wuuuutttt......blaarrrr......!!" Akibatnya, Bhagawan Jaladara dan Janurmendo terpental seperti layang-layang putus talinya. Mereka terhuyung ke belakang, kemudian mengerahkan sisa tenaganya dan menahan nyeri di dadanya untuk melompat dan melarikan diri. Melihat ini, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya masih ramai dan seimbang mengeroyok Ki Mertoloyo, juga cepat meninggalkan lawan dan melarikan diri secepat mungkin!

Sutejo tidak mengejar lawan yang sudah melarikan diri. Juga Ki Mertoloyo tidak mengejar karena puterinya sudah bebas. Dia lalu berlari menghampiri Winarti yang juga ditinggal pergi para pengeroyoknya yang tinggal beberapa orang lagi. Dia mendapatkan puterinya itu memandang ke kanan kiri mencari-cari.

"Di mana dia....? Ah, di mana dia tadi?" Winarti bicara seorang diri seperti kehilangan. Ki Mertoloyo memegang lengan puterinya dan menariknya agak menjauhi rumah yang mulai berkobar besar itu, mendekati Sutejo yang juga sudah menjauhi kobaran api yang melahap rumah yang tadinya dijadikan sarang gerombolan orang-orang Wirosobo itu.

"Di mana dia tadi, bapa?" Winarti masih mencari cari dengan pandang matanya.

Ki Mertoloyo memandang khawatir kepada puterinya, memegang pundak puterinya dan bertanya, "Winarti, siapakah yang kau cari?"

"Orang bertopeng tadi, bapa!" kata Winarti yang membuat Ki Mertoloyo menjadi semakin bingung. Dia tadi repot melayani pengeroyokan Warok Petak dan Baka Kroda sehingga tidak sempat menyaksikan ketika Winarti yang menghadapi pengeroyokan banyak anak buah itu dibantu oleh seorang yang bertopeng merah.

"Paman, tadi aku juga melihat Nimas Winarti dibantu oleh seorang yang bertopeng." kata Sutejo yang tadi melihat ketangkasan penolong itu.

"Siapakah dia, Winarti?" tanya Ki Mertoloyo heran. "Dan bagaimana engkau dapat meloloskan diri dan membakar rumah itu?"

"Orang bertopeng itulah yang melakukan, bapa. Tadi aku berada dalam sebuah kamar di bagian belakang rumah itu, terbelenggu kaki tanganku dan rebah di atas sebuah dipan bambu. Aku tidak mampu menggerakkan kaki tanganku. Bahkan aku tidak mampu berteriak karena mereka melibatkan kain penutup di depan mulutku. Aku mendengar akan kedatangan bapa, akan tetapi aku tidak berdaya. Bahkan aku mendengar terjadinya perkelahian di sini. Selagi aku kebingungan, aku melihat keributan di luar kamarku. Lima orang penjaga yang berjaga di luar kamarku berkelahi dengan seseorang. Dalam waktu singkat saja kelimanya roboh dan tidak dapat bergerak lagi, Kemudian muncullah dia, seorang yang mengenakan topeng merah di depan mukanya Hanya tampak sepasang matanya yang mencorong. Tanpa berkata sepatahpun dia melepaskan ikatan kaki tangan dan kain yang membalut mulutku. Kemudian kami keluar dan dia membakar rumah bagian belakang itu. Aku berlari ke sini dan melihat Bapa dan Ki sanak ini dikeroyok maka lalu aku terjun membantu. Aku segera dikepung dan dikeroyok banyak anak buah gerombolan. Akan tetapi dia muncul lagi, mengamuk dan merobohkan banyak penjahat. Ketika para penjahat itu melarikan diri, tahu-tahu diapun sudah menghilang, maka kucari-cari bapa."