Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 10

SETELAH tiba di dekat bangunan, mereka berdua melihat Puteri Wandansari duduk seorang diri di bawah bangunan terbuka yang berada di tepi sebuah kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai dan ikan emas. Puteri Wandansari agaknya sedang memberi makan ikan emas, menaburkan makanan itu ke air dan banyak sekali ikan emas berwarna merah, kuning putih dan hitam berebutan makanan membuat air berkecipak. Sang Puteri segera bangkit berdiri ketika melihat munculnya dua orang itu. Ia menyambut mereka dengan sikap yang tidak terlalu gembira, akan tetapi juga dengan senyum lembut. Agaknya ia belum dapat melupakan betapa ketika berada di pondok Resi Limut Manik, kedua kakak seperguruan ini pernah menyangkanya berbuat yang bukan-bukan dengan Sutejo, dan hendak memaksanya untuk menyerahkan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitab pelajarannya.

"Ah, kiranya Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini yang datang berkunjung! Bagaimana kabarnya dengan keadaan Bapa Guru?" Ia bertanya tentang keadaan gurunya, bukan tentang keadaan mereka berdua. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan bahwa hatinya tidak begitu sedang menyambut kunjungan mereka berdua dan tentu saja terasa oleh Maheso Seto dan Rahmini.

"Keadaan Bapa Guru baik-baik dan sehat saja, diajeng Wandansari." kata Maheso Seto.

"Bahkan kedatangan kami ini adalah untuk melaksanakan perintah Bapak Guru!" kata Rahmini dengan suara agak ketus karena iapun merasakan sikap Puteri Wandansari yang menyambut mereka dengan tawar itu.

"Hemm begitukah?" kata Puteri Wandansari tanpa mempersilakan mereka duduk.

"Apakah perintah Bapa Guru itu ada sangkut pautnya dengan aku?" Suara Puteri Wandansari juga terdengar ketus, mengimbangi suara Rahmini.

Melihat sikap kedua orang wanita itu sudah mendatangkan suasana panas, Maheso Seto lalu berkata dengan suara tenang dan sikap sabar. "Sesungguhnya begini, diajeng Wandansari. Kamiberdua hanyalah utusan Bapa Guru untuk menemuimu."

"Menemuiku? Ada urusan apakah Bapa Guru mengutus kalian untuk menemuiku?"

"Bukan lain, urusan Pedang Pusaka Kartika Sakti, diajeng. Bapa Guru mengutus kami untuk minta kepadamu agar engkau suka menyerahkan pedang pusaka dan kitab pelajarannya itu kepada kami untuk kami serahkan kepada Bapa Guru. Pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo, diajeng. maka yang berhak menyimpan hanya Bapa Guru sebagai ketua perguruan Jatikusumo."

"Dan engkau sebagai murid termuda harus mematuhi perintah Bapa Guru!" sambung Rahmini.

Mereka bicara sambil berdiri saja dan kini puteri Wandansari menegakkan tubuhnya dan matanya mengeluarkan sinar penuh keberanian "Sudah kukatakan saat kita saling bertemu di pondok Eyang Guru Resi Limut Manik dahulu, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, bahwa pedang dan kitab Kartika Sakti itu adalah pemberian Eyang Resi kepadaku. Eyang Resi memberikan benda pusaka itu sebagai pesan terakhir sebelum meninggal dunia, dengan pesan agar aku memiliki pusaka itu dan mempergunakannya untuk menentang kejahatan dan terutama untuk membela kerajaan Mataram. Aku tidak berani menentang pesan Eyang Resi. Pedang pusaka dan kitabnya itu adalah hakku, diberikan langsung oleh Eyang Resi. Karena itu tentu saja tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga!"

"Akan tetapi andika adalah murid Jatikusumo dan yang minta pusaka itu adalah guru kita. ketua Jatikusumo! Pedang pusaka itu merupakan pusaka perguruan Jatikusumo! Diajeng, ingatlah, apakah andika hendak berkhianat terhadap perguruan sendiri?" kata Maheso Seto yang mulai marah karena seperti yang dia khawatirkan sebelumnya, Puteri Wandansari tidak mau menyerahkan pusaka itu.

"Aku tidak mengkhianati siapapun juga. Bahkan, kalau kuserahkan pusaka itu kepada seseorang, berarti aku telah mengkhianati Eyang Resi. Tidak, Kakang Maheso Seto, aku tidak memberikan pusaka itu kepadamu."

"Ah, kalau begitu jelaslah sekarang. Sikapmu ini menunjukkan bahwa engkau memusuhi Jatikusumo, maka ada benarnyalah dugaan bahwa engkau telah bersekongkol dengan Sutejo untuk membunuh Eyang Resi dan mencuri dua pusaka itu, yaitu kitab Bajrakirana dan kitab Kartika Sakti berikut pedangnya!" teriak Rahmini sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Puteri Wandansari.

Merah sepasang pipi yang halus itu, berkerut sepasang alis yang hitam kecil melengkung itudan sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar kemarahan. "Mbakyu Rahmini, tutup mulutmu yang lancang itu! Kalau kalian berdua datang hanya untuk membikin ribut, aku usir kalian. Keluarlah dari sini!"

"Engkau berani mengusir kami, kakak-kakak seperguruanmu yang dulu ikut mengajarmu? Aku tidak akan pergi sebelum membawa pedang dan kitab Kartika Sakti. Kalau perlu akan kuambil dengan kekerasan karena kami telah memperoleh purbawasesa dari Eyang Guru!"

"Sesukamulah! Kalau engkau menggunakan kekerasan, akan kulawan!" jawab Puteri Wandansari.

"Wandansari, berani engkau melawan aku?" bentak Rahmini.

"Engkau yang mulai, mengapa harus takut?"

"Hemmm, murid murtad! Akulah yang akan mewakili Bapa Guru untuk menghajarmu! Sambut pukulanku!" Rahmini sudah menerjang dengan ganasnya. Wanita ini adalah murid kedua dari Bhagawan Sindusakti, maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, hanya sedikit di bawah tingkat kepandaian suaminya yang menjadi murid pertama.

"Wuuuutttt.....!" Akan tetapi pukulan itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Wandansari yang mengelak dengan gerakan ringan sekali. Ketika pukulan kedua menyambar, Wandansari menangkis dengan lengannya.

"Wuuuutttt..... dukkk!" Dua lengan itu bertemu dan akibatnya, Rahmini terdorong mundur beberapa langkah. Hal ini amat mengejutkan Rahmini, Juga Maheso Seto. Tidak mungkin Wandansari yang merupakan murid ke lima itu mampu menandingi tenaga sakti Rahmini! Kedua orang suami isteri ini tidak tahu bahwa dalam kitab Kartika Sakti bukan hanya diajarkan ilmu pedang, melainkan juga ilmu menghimpun tenaga sakti. Setelah berlatih beberapa bulan lamanya, kini tenaga sakti Wandansari bertambah besar dan iapun dapat bergerak dengan cepat.

Rahmini menjadi penasaran sekali dan juga amat marah. Kalau tadinya ia hanya menyerang untuk menundukkan Wandansari, kini ia menyerang dengan sungguh-sungguh dengan niat untuk merobohkan adik seperguruannya yang dianggapnya murtad dan membandel itu. Ia lalu mengerahkan Aji Gelap Musti, menyerang dengan dorongan kedua tangannya.

"Haaiiiiitt!" Ia melengking nyaring dan dorongan kedua tangannya dengan Aji Gelap Musti itu mengeluarkan angin menderu ke arah Wandansari. Akan tetapi puteri inipun mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan Aji Gelap Musti pula. Ia cepat merendahkan tubuhnya, mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan sambil memekik nyaring. "Yaaaaaaattt!"

"Desss......!" Kedua pasang telapak tangan itu bertemu di udara dan kembali tubuh Rahmini terdorong ke belakang! Ternyata dalam hal mengadu Aji Gelap Musti, iapun kalah kuat.

Maheso Seto yang melihat ini, ikut terkejut. Tadinya dia berniat melarang isterinya menyerang dengan hebat sehingga membahayakan keselamatan nyawa puteri itu. Akan tetapi melihat betapa isterinya bahkan terdorong mundur dan kalah kuat, diapun melompat maju. Rahmini juga sudah siap kembali lalu bersama suaminya melancarkan pukulan Gelap Musti lagi. Akan tetapi kini mereka menggabungkan tenaga dan dalam saat yang bersamaan mereka mendorongkan kedua telapak tangan ke arah Wandansari. Suami isteri yang sudah sehati sepikiran itu menyerang secara berbareng dengan Aji Gelap Musti!

Tidak ada pilihan lain bagi Puteri Wandansari untuk menghadapi serangan ganda ini kecuali dengan tangkisan. Maka iapun mengerahkan seluruh tenaganya dan menyambut serangan itu dengan Aji Gelap Musti pula.

"Wuuuuttt...... dessss!" Betapapun besarnya kemajuan dalam hal tenaga sakti yang diperoleh Puteri Wandansari setelah ia melatih diri dengan ilmu dari kitab Kartika Sari, namun menghadapi dua tenaga yang digabung dari suami isteri itu, ia masih kalah kuat dan tubuhnya terdorong mundur sampai terhuyung-huyung.

"Duh Gusti......!" Seruan ini muncul dari mulut seorang pria yang sudah berada di situ dan dia melihat Puteri Wandansari terhuyung. Dia lalu menggunakan tangan kirinya untuk mendorong ke depan, menyambut dorongan dua pasang tangan suami isteri itu. Dorongan tangan kiri pria itu sungguh amat dahsyat. Angin bagaikan badai bertiup ke depan menyambut pukulan ganda dengan Aji Gelap Musti dari suami isteri itu dan terjadilah benturan tenaga sakti yang amat dahsyat. "Blaaarrrrr........!"

Akibatnya, Maheso Seto danRahmini terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah. Tidak kuat mereka menahan tenaga dorongan yang keluar dari telapak tangan pria itu. Mereka tidak terluka namun terkejut bukan main. Guru mereka sendiri saja tidak mungkin dapat menyambut tenaga mereka yang dipersatukan dalam Aji Gelap Musti, apa lagi hanya dengan tangan kiri dan menyebabkan mereka terpental sampai jauh! Maklumlah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang amat sakti mandraguna. Mereka merangkak bangun, saling bantu dan keduanya memandang kepada pria itu.

Dia seorang pria yang berusia sekitar lima puluh tahun, berwajah tampan dan bundar, sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti, gerak geriknya lembut dan pada wajah yang tampan dan halus itu terkandung wibawa yang teramat kuat. Pakaiannya sederhana, namun masih dapat dikenali sebagai pakaian seorang raja. Tahulah Maheso Seto dan Rahmini dengan siapa mereka berhadapan. Pria yang demikian tampan dan berwibawa, memiliki kesaktian yang hebat, tentu bukan lain adalah Sang Prabu Pandan Cokrokusumo atau Sultan Agung Mataram sendiri! Tanpa terasa sepasang kaki mereka gemetar.

Sultan Agung memandang kepada puterinya dan merasa lega melihat puterinya tidak terluka. "Wandansari, siapakah kedua orang ini dan apa yang telah terjadi di sini?"

Puteri Wandansari bukan seorang dara yang cengeng. Ia tidak ingin mengadukan sikap kedua orang itu kepada ayahandanya. Bagaimanapun juga mereka adalah kakak-kakak seperguruannya dan urusannya dengan mereka adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan ayahnya. Maka ia tidak ingin ayahnya yang menjadi raja yang agung Itu mencampuri urusan pribadinya.

"Kanjeng Rama, mereka adalah Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, dua orang kakak seperguruan hamba sendiri. Mereka datang untuk suatu urusan pribadi dan terjadi sengketa di antara kami."

Sang Prabu yang arif bijaksana itu segera mengetahui bahwa puterinya tidak ingin dia mencampuri urusannya, maka diapun memandang kepada suami isteri itu dan berkata dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Mengingat bahwa kalian adalah kakak-kakak seperguruan puteri kami, maka sekali ini kami mengampuni kalian berdua. Pergilah dan jangan kembali lagi! Sekali lagi kami mendapatkan kalian datang ke sini dan membuat kekacauan, kami akan menangkap kalian dan memasukkan kalian dalam penjara! Pergilah!"

Suami isteri itu membungkuk, menyembah lalu memutar tubuh, meninggalkan taman sari itu dengan kepala ditundukkan dan hati merasa jerih. Keangkuhan yang sudah menjadi watak suami isteri ini tenggelam lenyap ke dalam wibawa yang teramat kuat dari Sultan Agung itu.

"Demikianlah, Adi Priyadi. Kami berdua terpaksa meninggalkan diajeng Wandansari, tidak kuat menghadapi kesaktian dan wibawa Sang Prabu yang teramat kuat. Terpaksa kami kembali ke sini dengan tangan hampa."

"Tidak aneh," Sang Bhagawan Sindusakti berkata sambil menarik napas panjang. "Tidak mungkin kalian akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu di Mataram. Akan tetapi sudahlah, kalau Pedang Pusaka Kartika Sakti dan kitabnya sudah berada di Mataram, kita boleh relakan saja pedang itu menjadi pusaka Mataram, Akan tetapi yang terpenting adalah Pecut Sakti Bajrakirana dan kitab pelajarannya, Pecut itu merupakan pusaka utama yang harus dihormati dan ditaati oleh seluruh murid Jatikusumo. Adi Bhagawan Jaladara sudah menjanjikan akan menyerahkan pecut itu kepadaku, hanya tinggal merampas kitabnya dari tangan Sutejo. Hal ini harus kita usahakan benar-benar karena pecut pusaka dan kitabnya itu teramat penting bagi perguruan kita."

"Akan tetapi, Bapa Guru. Kalau benar Sutejo dan diajeng Wandansari telah melakukan pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik, apakah kita dapat tinggal diam saja? Perbuatan itu harus dibalas dan pelaku pembunuhan itu harus dihukum!" kata Priyadi.

"Hemm, kita tidak boleh sembrono. Itu hanya merupakan tuduhan perkiraan Adi Jaladara saja. Dia menuduh kedua orang muda itu yang membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik, akan tetapi sebaliknya Sutejo dan Wandansari mengatakan bahwa Adi Jaladara dan taman-temannya yang membunuh Bapa Resi. Sebelum mendapatkan bukti-buktinya, tidak boleh kita menjatuhkan tuduhan kepada siapapun juga."

"Akan tetapi bagaimana kita akan mampu mencari buktinya, Bapa Guru? Bukti maupun saksi atas pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik dan kedua orang cantriknya itu sama sekali tidak ada dan kedua pihak yang dituduh telah menyangkal melakukan pembunuhan itu. Siapakah di antara kedua pihak itu yang harus kita percaya?" tanya pula Priyadi.

"Melihat betapa dua buah kitab pusaka dan pedang Kartika Sakti berada di tangan Sutejo dan Wandansari, sudah merupakan bukti bahwa mereka berdua itu yang telah membunuh Eyang Resi!" kata Rahmini yang masih panas hatinya karena dikalahkan oleh Wandansari ketika bertanding satu lawan satu.

"Hemm, kita tidak boleh mengambil kesimpulan dengan alasan yang masih mengambang. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Akhirnya yang bersalah tentu akan tampak juga." kata Bhagawan Sindusakti.

Kita akan melihat perkembangannya, kata Priyadi dalam hati. Aku akan melihat perkembangannya. Aku tidak boleh tergesa-gesa dan tidak akan bertindak sebelum Pecut Sakti Bajrakirana kembali ke perguruan Jatikusumo, demikian pemuda isi berpikir dan mengambil keputusan. Priyadi melanjutkan latihan-latihannya di malam hari, di tempat tersembunyi, jauh di luar perkampungan Jatikusumo. Sikapnya masih biasa saja sehingga baik gurunya maupun para saudara seperguruannya tidak ada yang mengetahui rahasianya.

********************

Sutejo menjadi penasaran sekali. Kalau dia dimusuhi oleh para murid Jatikusumo karena mereka hendak merampas kitab Bajrakirana, hal itu masih dianggapnya wajar saja. Diapun dapat memaklumi dan percaya bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang sejak dahulu menjadi pusaka perguruan Jatikusumo sehingga karena amat menjunjung tinggi pusaka itu dan mungkin patuh akan sumpah sebagai murid Jatikusumo, mendiang gurunya, Bhagawan Sidik Paningal tidak berani melawan ketika Bhagawan Jaladara menghajarnya dengan pecut pusaka itu. Bahkan Sang Resi Limut Manik sendiripun agaknya segan melawan ketika dia dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara yang memegang Pecut Sakti Bajrakirana bersama kawan-kawannya. Akan tetapi, hal yang membuat dia penasaran sekali adalah tuduhan mereka bahwa dia bersama Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik!

Tuduhan keji, pikirnya. Diapun mengerti bahwa semua ini tentu ulah Bhagawan Jaladara yang memutar-balikkan kenyataan. Hatinya menjadi panas sekali. Dia telah menerima pesan terakhir Resi Limut Manik. Selain menerima kitab Bajrakirana dan harus menguasai ilmu itu, diapun harus merampas Pecut Sakti Bajrakirana yang kini berada di tangan Bhagawan Jaladara. Bukan itu saja. Diapun harus membalas kematian gurunya, Bhagawan Sidik Paningal dan Eyang gurunya, Resi Limut Manik yang telah tewas ditangan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya.

Dia harus mencari Bhagawan Jaladara dan harus melenyapkan orang itu dari permukaan bumi selain merampas Pecut Sakti Bajrakirana. Orang seperti itu amat berbahaya bagi orang lain kalau dibiarkan hidup! Tidak, dia bukan semata-mata benci kepada Bhagawan Jaladara. Kalau dia hendak membunuhnya adalah karena orang itu memang jahat sekali, dan berbahaya bagi Mataram, berbahaya bagi orang-orang lain. Seorang yang sakti akan tetapi tidak menggunakan kesaktiannya untuk menentang kejahatan adalah seorang yang amat berbahaya bagi umum, karena kalau dia mempergunakan kesaktiannya untuk melakukan kejahatan, maka akibatnya akan hebat dan mendatangkan malapetaka bagi orang-orang lain.

Siang hari itu tidaklah terik seperti kemarin. Langit penuh awan mendung yang tebat menghitam sehingga sinar matahari tidak dapat menembus sepenuhnya. Cuaca menjadi gelap. Dia melanjutkan perjalanannya dengan cepat, akan tetapi daerah itu jarang terdapat dusun, bahkan setelah hari menjadi sore dan turun hujan deras, dia berada dijalan yang menerobos hutan lebat. Biarpun malam baru saja datang, cuaca sudah gelap sekali. Hujan turun bagaikan dituang dari langit. Sutejo berteduh di bawah sebatang pohon dadap yang besar. Akan tetapi daun pohon itu tidak cukup lebat untuk melindunginya, bahkan air yang berjatuhan melalui daun-daun pohon itu besar-besar.

Melihat ada sebatang pohon pisang tak jauh dari situ, dia lalu meraih sehelai daun pisang dan mempergunakan daun itu sebagai payung. Payung daun pisang itu lumayan juga, dapat melindungi kepala dan mukanya. Hujan semakin deras. Kini datang angin. Badai yang amat kuat sehingga pohon-pohon besar di hutan itu seperti mabok, seperti penari yang mabok, condong ke kanan dan ke kiri, seperti hendak ambruk, seperti ratusan raksasa yang hendak menubruknya. Kadang tampak kilat bercahaya disusul geledek menyambar dengan suara menggelegar.

Dalam cahaya kilat itu sejenak Sutejo dapat melibat keadaan, akan tetapi hanya sekilat lalu gelap kembali. Guntur dan kilat semakin sering dan badai tidak mereda. Titik-titik air yang menyerangnya terasa di badan seperti tusukan jarum-jarum. Pakaian Sutejo basah kuyup. Bukan hanya yang melekat di tubuhnya. Bahkan buntalan pakaiannya juga basah dan tentu menembus, membasahi semua pakaian bekalnya. Karena maklum bahwa dengan berdiri di situ, diapun tetap kehujanan dan tidak akan ada gunanya, apa lagi malam telah tiba.

Maka Sutejo lalu melangkah maju menggunakan cahaya kilat yang sering menerangi segalanya itu untuk tetap melangkah di atas jalan yang becek itu. Dia harus mencari tempat perlindungan, untuk menghindarkan serangan hujan, untuk bermalam. Syukur kalau dia dapat menemukan sebuah dusun, atau setidaknya sebuah gardu untuk tempat berteduh dan beristirahat. Dia melangkah maju terus, kadang-kadang terpaksa harus berhenti untuk menunggu sinar kilat agar dia tidak terperosok ke dalam parit atau solokan.

Tiba-tiba, diantara suara menggelegarnya guntur yang bersahut-sahutan dia mendengar jerit suara wanita! Tak salah lagi, yang menjerit itu adalah wanita. Datangnya dari arah kiri, dari dalam hutan. Jerit itu terdengar lagi. Sutejo tidak ragu-ragu lagi lalu melompat ke kiri di bawah sinar kilat. Sambil meraba-raba dan mengandalkan penerangan halilintar, dia terus berlari ke depan, ke arah suara tadi. Akhirnya, dia melihat cahaya berkelap-kelip di kejauhan! Tentu ada sebuah rumah dengan penerangannya disana !

Dia maju terus, meraba-raba dan kadang lari dan melompat kalau ada cahaya terang. Akhirnya dia tiba di luar sebuah pondok yang amat sederhana, terbuat dari bilik anyaman bambu, tiang-tiangnya juga dari bambu, payonnya dari daun klatas. Jendela rumah itu terbuka dan dari situlah sinar sebuah lampu menyorot keluar dan tampak oleh Sutejo tadi. Dia lalu menghampiri jendela, tidak perlu melangkah hati-hati karena suara badai yang menggerakkan pohon-pohonan cukup hiruk pikuk menutupi suara jejak kakinya.

Ada tiga orang laki laki di pondok itu, mereka duduk diatas bangku-bangku kayu mengelilingi sebuah meja yang, sederhana. Di sudut tampak sebuah dipan bambu dan diatas dipan bambu itu tampak seorang gadis muda mendeprok setengah rebah telungkup dengan ketakutan. Pakaiannya sudak koyak-koyak memperlihatkan kulit yang putih mulus dan matanya seperti mata seekor kelinci dalam cengkeraman harimau. Terbelalak ketakutan. Seorang gadis yang putih kuning dan berwajah manis sekali, berusia paling banyak enam belas tahun.

Pandang mata Sutejo kembali kepada tiga orang laki-laki itu. Mereka berotot dan tampak bertubuh kuat, kasar. Wajah mereka jelas membayangkan orang-orang yang terbiasa dengan tindak kekerasan, kasar dan liar seperti gerombolan penjahat yang biasa memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan dan kekuatan. Di pinggang mereka tergantung golok. Mereka ternyata sedang memutar dadu, seperti biasa kalau orang-orang sedang bermain judi.

"Kita masing-masing memutar satu kali. Yang mendapatkan angka terbanyak, dia menang dan mendapat giliran pertama. Yang keluar sebagai pemenang kedua, mendapatkan giliran kedua dan yang paling kalah mendapat bagian terakhir." kata seorang di antara mereka yang mempunyai luka codet melintang di mukanya.

"Aku mulai memutar lebih dulu!" Setelah berkata demikian, di bawah sinar lampu yaag tidak begitu terang, dia memutar dadu di atas meja. Tiga pasang mata mengikuti putaran dadu dengan terbelalak dan setelah dadu berhenti berputar, si codet bersorak.

"Angka lima!" Angka pada dadu yang terbanyak adalah enam, maka mendapatkan angka lima, si codet bergembira karena harapan untuk mendapatkan giliran pertama cukup besar.

"Sekarang aku yang memutar!" kata orang yang bermuka hitam seperti arang. Dia lalu memutar dadu itu, dan setelah dadu berhenti berputar, dia berseru, "Angka empat!"

"Ha-ha-ha engkau kalah, giliranmu sesudah aku, ha-ha!" tawa si codet.

"Masih ada aku!" kata orang ke tiga yang bibirnya tebal sekali. Dia hendak memutar dadu, akan tetapi tiba-tiba ada suara orang dari arah pintu.

"Apa yang kalian pertaruhkan itu? Hayo bebaskan gadis itu, atau aku terpaksa akan menghajar kalian bertiga!"

Tiga orang itu berlompatan dan memutar tubuh menghadap ke pintu. Ternyata pintu pondok itu telah terbuka dan di ambang pintu berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan ringkas. Baju lengan pendek sebatas siku, celana hitam sebatas lutut dan sehelai sarung dilingkarkan ke pundak. Punggungnya menggendong buntalan dan pakaiannya basah kuyup, dari rambut yang tertutup kain pengikat rambut sampai ke kakinya.

Melihat seorang pemuda berpakaian sederhana seperti petani berdiri dengan kaki terpentang, sikapnya tenang dan gagah, si codet berkata, "Ki sanak, kami sedang bersenang-senang, tidak menghendaki keributan. Maka jangan engkau mengganggu kami. Kalau engkau mau, mari ikut bersenang-senang dengan perawan ini dan engkau mendapatkan giliran yang terakhir. Bagaimana, Kisanak?"

"Ha ha-ha, kawan. Engkau beruntung.Tanpa ikut bersusah-payah ikut menikmati daging kijang muda, ha-ha-ha!" Si bibir tebal menyeringai.

Sutejo menjadi muak dan mukanya berubah kemerahan, sinar matanya berapi. "Keparat busuk kalian! Nimas, cepat engkau lari keluar dari sini!" katanya sambil menguak pintu lebar-lebar.

Gadis yang sedang ketakutan itu dengan tubuh menggigil turun dari dipan, memegangi kain yang robek di bagian dadanya, lalu berlari hendak keluar dari pintu. Akan tetapi si muka hitam sudah melompat dan menghalanginya, hendak menangkapnya. Akan tetapi pada saat itu, kaki Sutejo mencuat dan tepat menghantam pinggul si muka hitam.

"Dukkk!" Tubuh si muka hitam terjerembab dan terbanting menelungkup, Gadis itu terus berlari keluar dari pintu yang terbuka menghambur ke dalam kegelapan malam.

"Jahanam!" Si bibir tebal dan si codet menjadi marah, mencabut golok masing-masing dan menyerang kepada Sutejo. Akan tetapi dengan cepat Sutejo mengelak ke samping, lalu dari samping kedua tangannya menyambar, yang kiri menonjok dada bibir tebal, yang kanan menampar leher si codet.

"Dukk! Plakkk!" Kedua orang itu terpelanting seperti disambar petir. Sebelum mereka dapat bangkit kembali, Sutejo sudah menyusulkan dua kali tendangan ke arah mereka.

"Dess! Dess.....!"

"Tobaaat......!" Dua orang itu berseru kesakitan dan pada saat itu, si Muka Hitam sudah menghantam lampu gantung dengan goloknya. Lampu itu pecah dan padam sehingga keadaan dalam pondok itu gelap pekat. Keadaan ini dipergunakan oleh tiga pencoleng itu untuk melarikan diri. berhamburan keluar, tidak berani lagi melawan pemuda yang digdaya itu. Sutejo mengejar keluar. Dia bingung karena malam gelap sekali dan dia tidak dapat melihat ke mana larinya gadis tadi, juga ke mana larinya ketiga orang jahat itu. Dia masih mengkhawatirkan keselamatan gadis yang tadi hampir menjadi korban perkosaan.

Tiba-tiba terdengar lagi jeritan wanita. Jeritan itu yang menolong Sutejo menentukan arah. Dia melangkah dengan kedua lengan dijulurkan ke depan agar jangan sampai menubruk pohon. Ketika kilat bercahaya dia dapat melihat tubuh wanita itu di depan, tubuh yang meronta-ronta dari cengkeraman dua tangan kasar pria. Kilat padam dan dalam kegelapan diapun melompat ke depan. Tangannya bertemu dengan kulit daging yang lembut, yaitu bagian perut wanita itu. Tangannya meraba terus dan bertemu dengan sebuah lengan kokoh yang merangkul wanita itu. Cepat ditangkapnya lengan itu dan direnggutnya lepas dari rangkumannya terhadap wanita itu. Kilat menyambar dan bercahaya kembali. Tepat pada saat itu dia melihat betapa seorang laki-laki vang bercodet di mukanya itu mengayun tangannya yang memegang golok ke arah kepalanya.

Sutejo cepat menggerakkan tangan kirinya menyambut tangan yang memegang golok itu. Ditangkapnya tangan itu pada pergelangannya dan pada saat itu kilat padam lagi. Dalam kegelapan, Sutejo mengerahkan tenaganya dan menekuk lengan itu. Orang itu menggeram dan mengerahkan tenaganya, namun mana mungkin dia dapat melawan tenaga Sutejo yang penuh hawa sakti itu? Lengan, itu tertekuk dan tiba-tiba orang itu mengeluarkan pekik kesakitan lalu roboh terguling. Sutejo melepaskan pegangannya dan hanya mendengar orang itu bergulingan di atas tanah. Ketika kilat bercahaya lagi, dia melihat orang itu merangkak pergi melarikan diri dan pada saat itu, dua lengan yang kecil mungil merangkulnya dengan menggigil.

"Tolonglah aku, selamatkan aku.....!" Suara wanita itu gemetar dan ia melekatkan tubuhnya pada tubuh Sutejo minta perlindungan.

Sutejo tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdebar ketika tubuh yang lunak dan hangat itu menempel di tubuhnya, ketika debar jantung wanita itu terasa olehnya. Belum pernah selama hidupnya dia berdekatan dengan wanita dan pengalaman ini membuatnya berdebar tidak karuan. Akan tetapi cepat dia dapat mengatasi kebingungannya dan cepat tangannya mendorong kedua pundak wanita itu dengan gerakan lembut agar tubuh wanita itu tidak lagi melekat pada tubuhnya, "Engkaukah ini, nimas? Engkau yang tadi berada di pondok?"

"Benar.... tolong selamatkanlah aku...." terdengar wanita itu berkata lirih, suaranya masih gemetar bercampur isak. Tentu ia ketakutan setengah mati, merasa ngeri karena baru saja terbebas dari dekapan seorang laki-laki yang sudah berubah liar seperti seekor srigala.

"Jangan takut, nimas. Orang jahat itu telah pergi. Mari kita masuk ke pondok itu, hujan masih amat derasnya dan di luar gelap bukan main."

Ketika kilat bercahaya, Sutejo dapat melihat pondok itu dan dia menuntun gadis itu menuju ke pondok. Akan tetapi karena ketakutan yang amat sangat, gadis itu merapatkan tubuhnya pada Sutejo seperti seorang anak kecil minta perlindungan ibunya. Terpaksa dia merangkul pundak gadis itu untuk menenteramkan hatinya dan menuntunnya masuk ke dalam pondok yang pintunya terbuka lebar itu. Mereka masuk ku dalam pondok dan Sutejo meraba-raba sampai tangannya menyentuh ujung meja.

Dia meraba-raba, dengan girang menemukan sebuah geretan pembuat api di atas meja. Segera dibuatnya api dan di bawah penerangan kecil ini dia mengambil lampu yang tadi dipukul pecah oleh penjahat. Ternyata lampu itu masih dapat dipergunakan, Yang pecah hanya semprongnya saja. Tempat minyak dari kuningan itu tidak rusak dan masih mengandung minyak hampir penuh. Lalu disulutnya lampu itu.

Sementara itu, gadis tadi tidak pernah melepaskan lengan Sutejo! Seperti seekor lintah ia melekat pada Sutejo. Setelah menaruh lampu di atas meja dan menutup daun pintu dan jendela agar lampu yang tidak bersemprong lagi itu tidak padam oleh angin, baru dia merasa betapa gadis itu masih terus memegangi lengannya dan ikut ke manapun dia bergerak.

"Lepaskan lenganku, nimas. Jangan takut, bahaya sudah lewat."

"Aiih, denmas... jangan tinggalkan aku sendiri... ke manapun andika pergi, aku ikut..."

Sutejo tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkanmu malam ini dan jangan panggil aku denmas. Aku seorang biasa seperti engkau. Jangan takut, aku akan menjaga di sini sampai pagi dan kalau tiga orang itu berani kembali ke sini, tentu akan kuhajar! Duduklah di atas dipan itu, aku akan membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin." Sutejo menarik lengannya terlepas dari pegangan gadis itu dan gadis itu lalu melangkah ke dipan dan duduk di situ sambil tiada hentinya memandang kepada Sutejo.

Dua di antara tiga buah kursi kayu itu dipatah-patahkan oleh Sutejo, ditumpuk kemudian dibakar, dibuat api unggun. Setelah api unggun bernyala dengan baik sehingga pondok itu menjadi terang dan ada sedikit hawa hangat mengurangi kedinginan, Sutejo tampak puas dan barulah dia duduk di bangku atau di kursi kayu yang tinggal sebuah itu. Ketika dia mengangkat muka, pandang matanya bertemu dengan pandang mata gadis itu. Sepasang mata yang bening dan indah menatapnya dan Sutejo agak terpesona.

Tak disangkanya bahwa gadis itu seorang yang cantik manis. Wajahnya ayu dan manis sekali. Tubuhnya yang terbungkus kain yang koyak di sana sini terutama di bagian dada sehingga tangan kiri gadis itu selalu memegangi dan merapatkan kain yang basah kuyup itu, tampak membayang di balik kain yang basah. Tubuh yang sintal dan padat, kulitnya putih kuning mulus Seorang gadis dusun yang benar manis. Ketika pandang mata mereka bertemu, gadis itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan ia tersipu.

"Kakangmas.... saya mengucapkan banyak terima kasih kepadamu.... engkau telah membebaskan saya dari cengkeraman iblis, dari malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut. Entah bagaimana saya akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas ini..." Gadis itu terisak karena terharu.

"Sudahlah, nimas, Apa yang kulakukan itu hanyalah pemenuhan kawajibanku. Aku berkewajiban untuk menolong wanita mana saja yang terancam bahaya seperti yang kau alami tadi. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti ALLAH yang menuntunku ke sini sehingga aku dapat menolongmu. Hanya Gusti ALLAH yang memungkinkan aku menolongmu, yang memberi kekuatan kepadaku untuk menolongmu. Engkau Siapakah, nimas ? Dan mengapa pula bisa sampai di sini dan terjatuh ke tangan tiga orang penjahat itu?"

"Namaku Sumarni, aku dari dusun di timur itu. Aku baru pulang dari dusun tetangga, pulang dari mengunjungi kerabatku. Akan tetapi aku kemalaman dan di tengah perjalanan turun hujan. Aku terpaksa berteduh di bawah pohon, lalu muncul tiga orang itu. Mereka menangkapku dan menyeretku ke dalam hutan lalu ke pondok ini." Dia menggigil teringat akan pengalamannya itu. "Dan.... kalau aku boleh bertanya, andika sendiri siapakah, kakangmas?"

"Namaku Sutejo, seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya." jawab Sutejo dan agar perhatiannya terhadap gadis itu dapat beralih, dia lalu membuka buntalan pakaiannya, memeras pakaian itu sampai airnya habis dan merentangkan pakaian yang masih lembab itu ke dekat api unggun agar menjadi kering. Asyik benar dia dengan pekerjaannya ini sehingga dia tidak tahu betapa Sumarni mengamatinya dengan sinar mata penuh kagum. Pemuda itu demikian tampan dan gagah, mengingatkan ia akan seorang pemuda yang selama ini tidak pernah ia lupakan, akan tetapi yang selalu mendatangkan perasaan tertusuk nyeri dalam hatinya kalau teringat.

Ia teringat kepada pemuda yang mengaku bernama Permadi dan mengaku pula sebagai dewa sungai, pemuda yang merayunya dan menjatuhkan hatinya sehingga ia menyerahkan diri begitu saja dengan suka rela. Pemuda yang berjanji akan menikahinya, akan tetapi setelah merenggut kehormatannya, tidak pernah muncul kembali dan barulah ia tahu bahwa ia telah ditipu. Kini, bertemu dengan Sutejo, ia teringat kepada pemuda itu, Akan tetapi, biarpun sama-sama muda dan tampan, sama-sama sakti, alangkah bedanya antara mereka berdua!

Pemuda yang ini sama sekali tidak memperlihatkan sikap merayu, bahkan seperti tidak perduli akan dirinya, tidak melihat kecantikannya, tidak melihat tubuhnya yang menggairahkan, yang hanya tertutup kain yang sudah koyak-koyak di sana sini. Pemuda itu seolah tidak melihat itu semua dan diam-diam Sumarni menjadi penasaran! Ia, merasa dirinya tidak menarik lagi! Padahal, ia adalah kembang dusunnya dan semua pemuda, tergila-gila kepadanya.

Direntangkan dekat api unggun yang panas itu, pakaian Sutejo cepat menjadi kering dan hangat. Dia mendahulukan sehelai sarung dan setelah pakaian ini menjadi kering benar, dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sumarni sambil membawa sarung yang kering itu. Gadis itu masih duduk di atas dipan, memegangi kainnya yang terkoyak di bagian dadanya, biarpun berusaha sedapatnya untuk menutupkan kembali kain itu, tetap saja tampak sebagian dadanya yang berbentuk indah dan berkulit putih mulus itu.

"Kau bergantilah pakaian dengan sarung ini, Nimas. Sarung ini sudah kering. Kalau engkau terus memakai pakaian yang basah itu, engkau akan mudah masuk angin." kata Sutejo sambil menjulurkan tangannya yang memegang sarung kepada gadis itu.

Sumarni menerima uluran sarung itu dan mengambilnya dari tangan Sutejo, akan tetapi ia menjadi ragu karena bagaimana ia dapat berganti pakaian di depan seorang pria?

Agaknya Sutejo maklum akan hal ini. Dia menatap wajah gadis ayu itu dan berkata. "Engkau bergantilah pakaian dan Jangan hiraukan aku, nimas. Bergantilah agar engkau tidak menjadi kedinginan."

Setelah berkata demikian, Sutejo duduk di atas kursi yang tinggal sebuah itu, membelakangi meja dan menghadap api unggun sambil merentangkan pakaian lain dekat api unggun biar kering karena diapun perlu berganti pakaian yang telah basah kuyup dan membuat tubuh merasa tidak enak terbungkus pakaian basah itu. Biarpun kedua matanya tidak melihat, namun kedua telinganya mendengar gemersik pakaian yang dipakai ganti oleh Sumarni.

Matanya menatap api unggun, akan tetapi pikirannya membayangkan hal-hal yang membuat dia tidak lagi melihat api unggun. Terbayang olehnya betapa hangat dan lunak tubuh Sumarni ketika tadi mendekapnya dalam keadaan ketakutan, juga terbayang olehnya ketika dalam gelap, secara tidak disengaja tangannya menyentuh perut gadis itu yang berada dalam rangkulan penjahat. Terbayang pula di depan matanya wajah yang ayu, mata yang bening, mulut yang menggairahkan itu. Mata yang memandangnya penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Alangkah ayunya ia..." terdengar suara dalam telinganya, suara yang datangnya entah dari mana, seolah terdengar dari belakangnya dan membisikkan kata-kata pujian itu.

"Hemm, biarlah ayu-ayunya sendiri!" hatinya membantah suara itu karena suara itu mengandung dorongan untuk menarik hatinya.

"Matanya begitu indah bening, hidungnya mancung dan mulutnya! Ah, tak pernah aku melihat mulut seindah itu, demikian menggairahkan, Dan ia telah berhutang budi kepadamu, budi yang besar sekali." suara itu berceloteh terus.

"Aku tidak pernah melepas budi, semua yang kulakukan adalah kewajiban!" kata pula hatinya, agak geram karena suara itu mengutik hatinya.

"Akan tetapi ia menganggapnya sebagai budi, ia berhutang budi, berhutang keselamatan yang melebihi nyawa. Bukankah ia bilang bahwa engkau telah menyelamatkannya dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut? Lihat tubuhnya! Begitu indah, begitu sintal, begitu denok! Dan ia menanti uluran tanganmu, menanti rayuanmu. Ah. betapa akan mesra dan nikmatnya! Bisikan itu merayu.

"Hushh!" Hatinya meronta. "Ini tidak sopan! Seorang berjiwa satria tidak akan melakukan hal itu, tidak akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan, tidak akan menuruti nafsunya sendiri!"

"Ha-ha-ha, engkau munafik! Engkau berpura-pura! Padahal, hatimu tertarik sekali kepada gadis ini. Cantiknya! Hangatnya! Apa salahnya kalau engkau mencumbunya? Ia tentu akan senang karena ia berhutang budi kepadamu. Ia tentu akan menyambutmu dengan kedua lengan terbuka." bisikan itu menjadi-jadi.

"Hushh! Diam kau, jahanam!" maki hatinya, marah kepada diri sendiri yang membiarkan suara itu bicara berlarut-larut. Akan tetapi bisikan kuat itu semakin jelas "Kalau engkau rangkul ia dan menciumnya, siapa yang akan melihatnya? Kalian hanya berdua saja di tempat sunyi ini. Ia pasti senang menyambutmu. Ah, betapa akan mesranya.....! Lihat, ia sudah menanti-nantimu!" bisik suara itu.

Tanpa dapat ditahan lagi Sutejo memutar tubuhnya menghadapi gadis itu dan benar saja. Dia melihat Sumarni memandang kepadanya dengan sinar mata bening akan tetapi mulut tersenyum kecil, tersipu malu. Dalam penglihatannya, gadis itu seperti menantangnya, mengharapkan rayuan dan belaiannya.

"Nah, lihat! Ia sudah siap menerimamu, bukan? Engkau boleh memilikinya, seluruhnya boleh kau miliki, malam ini ia milikmu sepenuhnya..... cepat hampiri ia, rangkul dan rebahkan ia....."

Sutejo memutar tubuhnya dan menggunakan tenaga sakti memukul ke belakang, seolah hendak memukul yang berbisik-bisik itu. Tanpa disadarinya, pukulannya itu menimpa meja yang berada di dekatnya. "Braaakkkkk....!!" Terkena pukulannya, meja yang terbuat dari papan tebal itu pecah berantakan.

Sumarni membelalakkan kedua matanya, memandang kepada pemuda itu dan bertanya, agak takut. "Kakangmas Sutejo... apa... apa yang kau lakukan itu? Mengapa engkau memukul meja sampai hancur?"

Barulah Sutejo teringat dan sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tampak tolol sekali. "Aku... aku... ah, maaf kalau aku mengejutkanmu, nimas Sumarni. Aku... aku ingin membuat meja ini menjadi kayu bakar untuk memberi umpan api unggun yang hampir padam!" Lalu dia mengambil beberapa potong pecahan meja dan dilemparkannya ke api unggun sehingga nyala api membesar kembali.

"Kau tolol! Ada makanan lezat tidak dimakan, pada hal engkau lapar! Engkau munafik! Munafiiiiik...!" Suara itu makin melemah dan lenyap, seolah-olah iblis yang bersuara itu kini menjauhkan diri. Sutejo merasa hatinya tenteram.

Teringatlah dia akan wejangan yang pernah didengarnya dari eyang gurunya, mendiang resi Limut Manik. "Ingatlah engkau selalu, kulup, bahwa tidak ada musuh atau lawan yang lebih tangguh dan berbahaya dari pada nafsu-nafsumu sendiri. Nafsu mendorong dan menyeret kita ke dalam duka melalui kenikmatan dan kesenangan badan. Amatlah sukar untuk dapat mengendalikan nafsu sendiri yang teramat kuat, dan hanya Kekuasaan, Gusti Allah saja yang akan mampu mengalahkannya. Karena itu, bersandarlah kepada Kekuasaan Gusti Allah dengan penyerahan diri yang mutlak. Hanya dengan begitu engkau akan menerima bimbingan dan kekuatan untuk menundukkan nafsu-nafsumu sendiri."

Sadarlah dia bahwa yang berbisik-bisik tadi bukanlah setan, bukanlah iblis, melainkan nafsunya sendiri yang selalu haus akan kenikmatan dan kesenangan badan. Dia menghela napas panjang dan dalam hatinya dia memuji syukur ke hadirat Allah yang telah memberi dia kekuatan untuk membebaskan diri dari seretan nafsu. Kalau saja dia lemah dan tadi tidak kuat menundukkan nafsunya sendiri, tentu telah digaulinya gadis itu, secara suka rela atau paksa, secara kasar atau halus dan akhirnya dia akan merasa menyesal selama hidupnya!

Sunyi setelah itu. Sutejo termenung memandang api unggun. Waktu merayap lambat sekali.

"Kakangmas Sutejo...."

Sutejo tidak berani memutar tubuhnya, tidak berani memandang gadis itu karena takut kalau-kalau suara itu akan datang menggodanya lagi. Tanpa menoleh dia menjawab, "Ada apakah, nimas?"

"Kakangmas Sutejo, engkau mengingatkanaku akan seseorang. Kenalkah engkau kepada orang itu. kakangmas?"

"Hemm, siapakah orang itu nimas?"

"Orangnya masih muda, mungkin sedikit lebih tua dari padamu, kakangmas. Tampan dan gagah, juga sakti. Namanya Permadi. Kenalkah engkau kepadanya, kakangmas Sutejo?" Suara itu penuh harap.

Sutejo memutar tubuhnya. Dia kini melihat gadis itu sudah mengenakan sarungnya, diikatkan sebatas bawah pangkal lengan. Rambutnya terurai lepas dari gelungan, mungkin untuk membiarkan rambut itu mengering maka sengaja dilepas dari sanggulnya. Tampak ayu manis, akan tetapi tidak lagi menggairahkan hatinya, tidak lagi mengganggu dan kini dia dapat menatap wajah itu dengan hati lega dan bebas dari pada cengkeraman nafsu berahi.

"Aku tidak mengenal orang yang bernama Permadi, nimas. Nama yang bagus, seperti nama Raden Janoko. Apamukah orang itu, nimas?"

Ditanya demikian, tiba-tiba Sumarni menangis, air matanya bertetesan di atas sepasang pipinya. Sutejo mendiamkannya saja, maklum bahwa bagi seorang wanita, pelampiasan perasaan hatinya banyak melalui air matanya dan biasanya air mata itu dapat merupakan jalan keluar dari himpitan duka. Tidak lama Sumarni menangis. Ia menyusut air matanya dan sudah dapat menenangkan hatinya kembali. Entah bagaimana, timbul kepercayaan besar sekali dalam hatinya terhadap Sutejo, semenjak Sutejo memberikan sarung kepadanya tadi.

Sebelum itu, hatinya masih ragu-ragu apakah Sutejo tidak akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Permadi kepadanya. Akan tetapi setelah melihat Sutejo sama sekali tidak mempunyai niat mendekatinya, bahkan setelah menyerahkan sarung lalu membelakanginya dan tidak memperdulikannya lagi, timbul kepercayaan besar bahwa pemuda ini adalah seorang yang dapat dipercaya sepenuhnya. Kareta itu, baru satu kali ini ia mendapatkan kesempatan untuk mencurahkan semua penguneg-uneg hatinya keluar. Padahal, kepadaayah ibunya sendiripun ia tidak pernah bercerita tentang Permadi.

"Kalau engkau berkeberatan menceritakan, janganlah ceritakan, nimas,"kata Sutejo.

"Tidak, kakangmas. Aku bahkan ingin menceritakan semuanya kepadamu. Kurang lebih enam bulan yang lalu ketika aku sedang mandi di sungai, muncul seorang pemuda yang tampan. Dia mengaku sebagai Dewa Sungai dan mengaku bernama Permadi. Dia amat menarik hati dan dia memikat aku dengan bujuk rayunya. Aku jatuh... aku menyerah karena dia berjanji akan mengawiniku. Akan tetapi setelah dia pergi, dia tidak pernah muncul kembali... ahh, aku menyesal sekali kakangmas, akan tetapi.... aku sungguh mencintanya sepenuh jiwaku. Kalau engkau kebetulan bertemu dengan dia, tolonglah, bujuk dia agar dia mau menemuiku, kakangmas."

Sutejo mengerutkan alisnya. Di dalam hatinya dia mengutuk pemuda perayu yang berhati palsu itu. Akan tetapi diapun diam-diam menyalahkan Sumarni yang demikian mudah terbujuk dan mudah menyerahkan diri. Seorang gadis seharusnya teguh mempertahankan kehormatannya dan tidak mau menyerahkan diri kepada pria manapun sebelum dinikahinya. Kalau ia dengan mudah menyerahkan diri kepada seorang pria kemudian pria itu tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya, seperti halnya Sumarni, maka akan hancurlah masa depan gadis itu!

"Baiklah, nimas Sumarni," dia berjanji. "Aku pasti akan mengatakannya kepadanya kalau aku dapat bertemu dengan dia."

"Orangnya tampan, kakangmas. Ketampanan dan ketegapan tubuhnya seperti kakangmas, dan dia mempunyai sebuah tahi lalat di dagunya."

"Akan kuingat itu, nimas. Nah, hujan rupanya telah terhenti dan dengar, itu sudah terdengar suara ayam jantan berkeruyuk. Sebentar lagi akan datang pagi dan aku akan mengantarmu pulang ke dusunmu."

Sumarni bernapas lega. "Sekali lagi terima kasih kakangmas Sutejo. Engkau sungguh baik hati."

Tiba-tiba terdengar suara ramai banyak orang. Sutejo dan Sumarni menuju ke pintu dan Sutejo membuka daun pintu dari bambu itu dan memandang keluar. Dari jauh tampak belasan orang dusun berdatangan menghampiri pondok itu, ada yang membawa tampah, tutup panci dan barang-barang lain yang dipukuli beramai-ramai, dan di antara mereka banyak pula yang membawa tombak dan pentungan.

"Mereka adalah penduduk dusunku!" kata Sumarni sambil melangkah keluar menyambut.

Ketika para orang dusun itu melihat Sumarni keluar dari pondok itu dan ada seorang pemuda berdiri di ambang pintu, mereka segera berlarian datang. "Itu ia Sumarni!"

"Wah, pemuda itu tentu yang menculiknya!" "Hayo pukul orang kurang ajaritu!" Semua orang sudah berkumpul di situ, berhadapan dengan Sumarni dan Sutejo.

"Para paman dan saudara sekalian. Sabar dan tenang dulu!" seru Sumarni yang masih mengenakan sarung yang dipinjung sampai ke atas dadanya. "Kisanak ini sama sekali tidak menculikku, bahkan dia telah menolongku dari tangan tiga orang penjahat yang menculikku!"

Seorang pria setengah tua melangkah maju. "Sumarni, apa yang telah terjadi? Semalam hujan badai dan engkau tidak pulang, maka pagi ini kami ramai-ramai mencarimu, Siapa pemuda ini dan apa yang terjadi?"

Melihat ayahnya, Sumarni lalu berlari menghampiri dan memegang lengan ayahnya. "Bapa, Jangan salah mengerti. Semalam, ketika pulang dari bertandang ke dusun Kandangan, hujan turun dengan lebatnya, padahal hari sudah mulai gelap. Aku berteduh di bawah pohon dan muncullah tiga orang yang menyeramkan dan jahat. Mereka menangkap aku dan menyeretku ke dalam hutan, ke pondok ini. Aku terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut, bapa. Kemudian tiba-tiba muncul kisanak ini yang bernama Kakangmas Sutejo. Dia menghajar tiga orang itu sehingga mereka melarikan diri. Karena hujan turun disertai badai selama semalam suntuk, terpaksa kami berteduh di gubug ini, menunggu hujan reda sampai pagi."

"Akan tetapi, engkau mengenakan sarung siapa itu?"

"Pakaianku sudah dikoyak-koyak oleh tiga orang jahanam itu, bapa, dan Kakangmas Sutejo sudah begitu baik untuk memanggang pakaiannya dan setelah kering memberikan sarung ini untuk mengganti pakaianku yang koyak-koyak dan basah kuyup."

"Tidak mungkin! Seorang pemuda dan seorang gadis berduaan saja di dalam pondok kosong selama satu malam penuh! Tidak mungkin pemuda itu tidak berbuat mesum terhadap Sumarni!" terdengar suara seorang laki-laki, marah. Suara ini meracuni hati semua orang dan segera mereka menyerbu dengan tombak dan pentungan kearah Sutejo.

Sutejo menggerakkan kedua lengannya dan semua tombak dan pentungan itu terpental dan terlepas dari tangan para pemegangnya dan ketika dia mendorong ke depan, enam orang terdorong mundur dan terhuyung-huyung!

"Dengar kalian semua, orang-orang bodoh! Aku bukan seorang hina seperti yang kalian duga! Kalau kalian hendak benar-benar membela nimas Sumarni dan membersihkan dusun kalian dari ancaman orang jahat, carilah tiga orang penjahat yang semalam menculik Sumarni. Mereka itu dipimpin oleh seorang yang mukanya codet. Nah, aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi." Setelah berkata demikian, sekali melompat Sutejo telah lenyap dari depan mata orang-orang dusun itu.

"Kakangmas Sutejo...! Sumarni berseru akan tetapi Sutejo tidak memperdulikannya dan telah pergi jauh.

Sumarni membalikkan tubuhnya menghadapi orang orang dusun itu. "Kalian semua ini memang bodoh dan keterlaluan, tidak dapat mengenal orang baik atau jahat. Kakangmas Sutejo adalah seorang yang sakti mandraguna dan juga bijaksana. Kalau dia tadi marah, apakah kalian akan mampu menandinginya? Kalau dia mau, tentu kalian semua telah dibunuhnya! Aku yang telah dia tolong sehingga pagi hari ini masih dapat bernapas, tidak dapat membalas kebaikannya malah kalian membalasnya dengan pengeroyokan. Sungguh menyebalkan!!"

Orang-orang dusun itu hanya saling pandang dan merasa menyesal mengapa tadi mereka terburu nafsu. Beramai-ramai mereka lalu membakar pondok yang agaknya milik para penjahat sebagai tempat persembunyian dalam hutan itu, lalu mereka pulang ke dusun. Sutejo yang tadi sudah menyambar buntalan pakaiannya sebelum meninggalkan pondok, kini berlari cepat keluar diri hutan itu dan melanjutkan perjalanannya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bukan urusan Sumarni. Urusan gadis itu dan orang-orang dusun sudah dilupakan. Hal itu dianggapnya urusan kecil yang tidak ada gunanya dipikirkan lagi.

Yang membuat hatinya mengganjal adalah pertemuannya dengan Cangak Awu. Murid Jatikusumo itu hendak memaksanya menyerahkan kitab Bajrakirana. Hal inipun tidak membuat dia resah karena dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesan mendiang Resi Limut Manik, tidak akan menyerahkan kitab itu kepada siapapun juga. Akan tetapi yang meresahkan hatinya adalah tuduhan bahwa dia dan Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik dan dua orang cantriknya itu.

Tuduhan yang semena-mena dan urutan ini teramat penting. Harus segera dipecahkan dan dibikin terang. Untuk itu, dia harus pergi ke perguruan Jatikusumo, menghadap ketua Jatikusumo, paman gurunya sendiri. Bhagawan Sindusakti, untuk menjelaskan duduk persoalannya. Untuk memberitahukan bahwa bukan dia dan Puteri Wandansari yang membunuh Resi Limut Manik., melainkan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya. Dia dapat menduga bahwa tentu Bhagawan Jaladara yang mempunyai ulah licik dan palsu itu, memutar-balikkan kenyataan dan sengaja menjatuhkan fitnah terhadap dirinya. Dengan hati mantap dia lalu menujukan langkahnya ke selatan, menuju ke daerah Pacitan, di pantai Laut Selatan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dua orang kakek itu berdiri di depan gapura perkampungan Jatikusumo. Yang seorang adalah seorang kakek berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok seperti muka singa dan pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa. Dia ini bukan lain adalahKI Klabangkolo, kakek yang menjadi tokoh golongan sesat itu. Adapun orang kedua adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh lima tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, rambutnya sudah putih semua akan tetapi mukanya masih tampak seperti muka orang muda. Matanya tajam seperti mata burung elang ketika dia melayangkan pandangan dan menyapu keadaan sebelah dalam perkampungan Jatikusumo melalui pintu gerbang yang terbuka.

Melihat dua orang kakek longok-longok di depan gapura, lima orang murid Jatikusumo yang berjaga di garda penjagaan dekat pintu gerbang, segera menghampiri. Seperti yang telah menjadi watak para murid Jatikusumo yang terdidik baik, melihat dua orang kakek tua, para murid itu bersikap menghormat dan seorang di antara mereka yang menjadi kepala jaga menyapa, suaranya halus. "Paman berdua hendak mencari siapakah?"

Ki Klabangkolo memandang pemuda yang bertanya itu dengan alis berkerut, akan tetapi mulutnya menyeringai lebar. "Heh-heh, apakah engkau murid Jatikusumo?"

"Benar, paman." kata pemuda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu.

"Bagus, perlihatkan kepandaianmu!" tiba-tiba Ki Klabangkolo mendorongkan tangan kirinya ke arah dada murid Jatikusumo itu. Pemuda itu terkejut ketika ada angin menyambar ke arahnya. Dia mencoba untuk mengelak, akan tetapi tidak dapat menghindarkan sambaran angin pukulan yang membuat dia terjengkang dan terguling-guling. Biarpun dia tidak terluka namun kulit tubuhnya lecet-lecet karena dia terguling-guling itu. Empat orang kawannya menjadi terkejut dan mereka segera maju menghadapi dua orang kakek itu. Akan tetapi Ki Klabangkolo sudah melangkah maju dan kembali tangannya digerakkan mendorong ke depan sambil berseru.

揕awanlah kami satu lawan satu, jangan main keroyokan seperti segerombolan srigala!"

"Murid Jatikusumo tidak ada isinya!" Dorongannya kini semakin kuat dan empat orang itu merasa seperti disambar angin badai. Mereka tidak dapat bertahan dan keempatnya terjengkang dan terbanting sampai terguling guling.

Lima orang murid Jatikusumo itu terkejut. Mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang kakek yang amat sakti dan sama sekali bukan lawan mereka. Maka, mereka lalu berlari masuk ke dalam perkampungan untuk melapor kepada ketua mereka.

Sementara itu Ki Klabangkolo yang melihat lima orang murid Jatikusumo itu lari memasuki perkampungan, tertawa bergelak. Kemudian dia menengadah dan mengerahkan Aji Pekik Singanada. Terdengarlah suara gerengan yang dahsyat sekali, menggetarkan seluruh perkampungan Jatikusumo, kemudian disusul suaranya yang mengguntur. "Haiiii, wong Jatikusumo! Kalau di antara kalian ada yaag memiliki kepandaian, keluarlah...!"

Suara itu bergema di seluruh perkampungan. Bhagawan Sindusakti yang menerima laporan lima orang murid yang menjaga di gapura itu menjadi marah sekali. Diapun bergegas keluar dan mendengar teriakan itu. Hatinya semakin panas dan pada saat itu, murid-muridnya juga bermunculan dari semua penjuru. Maheso Seto, Rahmini, Priyadi dan Cangak Awu juga muncul dan mereka berempat itu menyertai guru mereka menuju ke gapura. Di belakang mereka, tiga puluh orang lebih para murid juga mengikuti keluar.

Pada saat itu, dari luar gapura masuk seorang pemuda yang bukan lain adalah Sutejo. Dia berkunjung ke perguruan Jatikusumo untuk memberi keterangan tentang fitnah yang dijatuhkan atas dirinya dan Puteri Wandansari, yang dituduh membunuh mendiang Resi Limut Manik. Dia melihat dua orang kakek berdiri di depan gapura. Karena tidak ada urusan dengan mereka walaupun dia mengenal Ki Klabangkolo sebagai kakek yang membikin keributan di dalam pesta ulang tahun perguruan Welut Ireng di mana kakek itu dikalahkan oleh pengeroyokan Maheso Seto dan Rahmini, dan melihat di gardu penjagaan itu tidak ada yang berjaga, dia lalu masuk saja ke dalam perkampungan. Kedua orang kakek itu yang tidak mengenal Sutejo, juga mendiamkannya saja, mengira bahwa pemuda itu tentu seorang di antara para murid di situ.

Setelah memasuki pintu gapura, Sutejo bertemu dengan rombongan Bhagawan Sindusakti dan empat orang muridnya serta puluhan orang murid yang berada di belakang mereka. Melihat Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu yang sudah dikenalnya, Sutejo dapat menduga bahwa kakek tua berwajah penuh wibawa dan bertubuh sedang itu tentu paman gurunya, Bhagawan Sindusakti. Melihat sikap mereka seperti orang sedang marah, diapun dapat menduga apa yang terjadi. Tentu dua orang kakek di luar itu datang membikin ribut dan pimpinan perguruan Jatikusumo ini tentu sedang keluar untuk menyambut dua orang kakek itu. Dia lalu melangkah maju menghadang dan memberi hormat sembah sambil berdiri kepada Bhagawan Sindusakti.

"Paman Guru, saya Sutejo menghaturkan sembah."

Bhagawan Sindusakti berhenti melangkah dan menatap wajah Sutejo dengan penuh perhatian. Dia tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi ketika Sutejo memperkenalkan namanya, dia segera dapat menduga bahwa tentu inilah Sutejo murid mendiang Bhagawan SidikPaningal itu. "Ada keperluan apakah engkau datang berkunjung?" tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ketus karena memang dia sedang marah mendengar, tantangan dari luar tadi.

"Maaf. paman. Saya datang hendak membicarakan tentang kitab Bajrakirana dan tentang kematian Eyang Resi Limut Manik." kata Sutejo dengan sikap tenang.

"Nanti saja. Kami sedang ada urusan penting!" kata Bhagawan Sindusakti dan dia melanjutkan langkahnya menuju keluar gapura.

Maheso Seto dan Rahmini iuga melangkah dan ketika tiba dekat Sutejo, Rahmini membentaknya. "Minggir kau! Dan tunggu sampai Bapa Guru" memanggilmu!" Maheso Seto hanya memandang kepada Sutejo dengan alis berkerut.

Priyadi yang belum mengenal Sutejo, memandang penuh perhatian, akan tetapi Cangak Awu juga mengerutkan alisnya yang tebal ketika memandang kepada Sutejo. Mereka semua menuju keluar, meninggalkan Sutejo. Akhirnya Sutejo terpaksa mengikuti keluar pula, sebagai yang terakhir, setelah tiba di luar, Sutejo menyelinap di antara para murid Jatikusumo yang tanpa diperintah telah mengepung dua orang kakek itu dan membuat lingkaran besar.

Dari belakang punggung para murid yang mengepung tempat itu, sutejo memandang ke dalam lingkaran. Dia melihat betapa dua orang kakek itu berdiri dengan kaki terpentang lebar dan sikap mereka menantang sekali. Dia sudah tahu betapa saktinya Ki Klabangkkolo yang baru bertema tanding setelah Maheso Seto dan Rahmini mengeroyoknya. Akan tetapi, Sutejo memandang kepada kakek kedua penuh perhatian.

Dia melihat betapa sepasang mata kakek yang kedua itu seperti mata elang, amat tajam dan memiliki pengaruh yang amat kuat. Juga muka itu masih seperti seorang pemuda saja. Dari sini dia dapat menduga bahwa kakek itu tentu memiliki kesaktian yang lebih hebat dibanding Ki Klabangkolo. Kalau tidak demikian, kiranya Ki Klabangkolo tidak akan berani menantang perguruan Jatikusumo karena dia sudah pernah dikalahkan oleh pengeroyokan dua orang murid kepala Jatikusumo. Agaknya kakek itu kini berani datang berkunjung untuk membalas kekalahannya, tentu ada yang diandalkan dan agaknya kakek tinggi kurus itulah yang menjadi andalannya.

Melihat Ki Klabangkolo, Rahmini tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka kakek itu sambil berseru, "Kiranya engkau, Ki Klabangkolo! Apakah engkau minta mati, maka berani datang menentang kami setelah engkau kami kalahkan dulu itu?"

"Ha-ha-ha, Bhagawan Sindusakti, agaknya di perguruan Jatikusumo ini, engkau hanya pandai mengajarkan ilmu keroyokan kepada murid-muridmu, seperti ilmunya segerombolan srigala yang pengecut!" Disindir begitu, Rahmini menjadi merah wajahnya. Akan tetapi Bhagawan Sindusakti masih bersikap tenang dan sabar walaupun mukanya berubah kemerahan.

"Andika berdua siapakan, Kisanak? Dan apa sebabnya datang-datang memukuli murid kami?" "Heh-heh, ternyata telingamu tidak dapat mendengar dan matamu tidak dapat melihat sampai jauh. Ketahuilah, aku bernama Ki Klabangkolo dan ini adalah kakak seperguruanku yang bernama Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas."

Diam-diam Bhagawan Sindusakti terkejut. Dia baru mendengar nama Ki Klabangkolo dari kedua orang muridnya, yaitu Maheso Seto dan Rahmini yang baru dapat mengalahkannya setelah mereka berdua mengeroyoknya. Diapun sudah pernah mendengar akan nama besar Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas yang kabarnya merupakan seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi dia masih bersikap tenang.

"Ah, kiranya Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo yang datang berkunjung. Tidak tahu ada keperluan apakah andika berdua berkunjung ke perguruan Jatikusumo?"

"Bhagawan Sindusakti, kami berdua menantang perguruan Jatikusumo untuk melakukan pertandingan adu kesaktian. Akan tetapi, kalau memang perguruan Jatikusumo mempunyai orang-orang pandai dan kalau berani, jangan main keroyokan, melainkan bertanding satu lawan satu! Aku tidak terima karena tempo hari aku pernah dikeroyok oleh dua orang muridmu ini. Aku sekarang menantang untuk bertanding satu lawan satu Akan tetapi kalau memang perguruan Jatikusumo terdiri dari orang orang pengecut dan beraninya hanya main keroyokan, kamipun tidak takut!"

Kata-kata yang penuh tantangan dan kesombongan itu tentu saja membakar hati Bhagawan Sindusakti dan para muridnya. Terutama sekali Cangak Awu yang berwatak keras, jujur dan kasar. Dia sudah melompat ke depan sambil membawa tongkatnya. "Ki Klabangkolo! Andika ini orang sudah tua akan tetapi masih sombong dan tidak tahu aturan! Apakah kau kira di duuia ini hanya engkau saja yang memiliki kepandaian? Kami orang-orang Jatikusumo bukan bangsa pengecut. Akulah yang berani menandingimu satu lawan satu!"

Maheso Seto dan Rahmini yang sudah mengetahui akan kesaktian Ki Klabangkolo, memandang dengan khawatir, akan tetapi karena adik seperguruan itu sudah maju, meeka tidak dapat menghalanginya. Juga Bhagawan Sindusakti tidak dapat mencegah muridnya yang hendak menandingi musuh itu Ki Klabangkolo tertawa, melihat majunya Cangak Awu. Sejenak dia memandang kepada pemuda tinggi besar itu, lalu katanya lantang. "Bocah masih berbau popok berani melawan aku? Minggirlah dan suruh gurumu saja yang maju, karena melawan murid Jatikusumo terlalu tanggung bagiku!"

Cangak Awu menjadi semakin marah. "Tua bangka sombong, lihat tongkatku!" serunya dan mulailah dia menyerang. Tongkatnya menyambar dan mengeluarkan suara mengiuk ketika menyambar ke arah kepala Ki Klabangkolo. Akan tetapi kakek ini dengan tenang mundur selangkah dan ketika tangan kirinya bergerak ke atas, dia sudah menangkis tongkat itu dengan lengannya.

"Dukkk!" tongkat yang keras itu bertemu lengan, dan akibatnya Cangak Awu terdorong dan terhuyung ke belakang. Akan tetapi pemuda yang pemberani ini tidak menjadi gentar dan dia menyerang terus dengan nekat dan dahsyat. Gerakannya memang amat kuat dan pemuda ini sudah mencapai tingkat tinggi dalam perguruan Jatikusumo.

Ki Klabangkolo melawan dengan seenaknya. Biarpun dia tidak memegang senjata apapun, akan tetapi kedua lengannya mampu menangkis tongkat dan kalau dia mengelebatkan lengan bajunya yang lebar, ujung lengan baju itu menyambar dan merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu. Agaknya dia mempermainkan Cangak Awu untuk memamerkan kepandaiannya Tampaknya saja Cangak Awu banyak menyerang, akan tetapi kenyataannya dia terdesak.

Hal itu adalah karena setiap kali menangkis, kakek itu langsung membalas dan setiap serangannya, baik dengan ujung lengan bajunya atau tamparan tangannya, merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu sehingga pemuda itu terdesak mundur. Akan tetapi dasar pemuda yang berwatak keras dan pantang mundur. Cangak Awu menjadi semakin penasaran dan pada suatu saat yang baik dia mempergunakan tongkatnya untuk menusuk ke, arah dada Ki Klabangkolo.

"Dukkk" Ki Klabangkolo menangkis sehingga tongkat itu terpental, akan tetapi secepat kilat Cangak Awu membalik tongkatnya dan mempergunakan ujung yang lain untuk ditusukkan ke arah perut lawan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Wuuuuttt.... cappp....!!" Tongkat itu seolah menancap ke dalam perut Ki Klabangkolo! Akan tetapi kakek itu malah terkekeh dan ketika Cangak Awu menarik tongkatnya, dia tidak mampu mencabut tongkat yang tampaknya seperti menancap ke dalam perut itu. Padahal, ujung tongkat itu tidak menancap melainkan tersedot "masuk"dan terlepit, tidak dapat ditarik lagi olehCangak Awu. Pemuda itu menjadi penasaran dan menarik lagi dengan tenaga sepenuhnya. Pada saat itu, Ki Klabangkolo melepaskan jepitan perutnya dan berbareng menendang dengan kaki kiri yang mengenai dada Cangak Awu.

"Desss........!" Tak dapat ditahan lagi, tubuh Cangak Awu yang terbawa tenaga betotannya sendiri, ditambah tenaga tendangan lawan, terlempar sampai jauh ke belakang dan jatuh terbanting keras! Untung tubuh pemuda itu kuat dan kebal sehingga dia tidak terluka parah, akan tetapi tetap saja kepalanya pening dan napasnya agak terengah

ketika dia bangkit berdiri dengan terhuyung. Priyadi menyambar lengannya dan membantu adik seperguruan itu agar dapat berdiri tegak. "Kakek sombong, akulah lawanmu!" terdengar bentakan nyaring dan Rahmini sudah melompat ke depan sebelum dapat dicegah suaminya. Melihat adik seperguruannya terpental dan roboh, wanita yang keras hati dan galak ini tidak dapat menahan kemarahannya. "Sambutlah cambukku ini!" Ia mencabut cambuk dan pinggangnya dan memutar lalu meledakkan cambuk itu di atas kepalanya.

"Tar-tar-tar.......! Pecut itu meledak-ledak, kemudian menyambar turun mematuk ubun-ubun kepala Ki Klabangkolo! Serangan itu dahsyat dan berbahaya sekail, namun Ki Klabangkolo tidak menjadi gentar, bahkan dengan tenangnya dia mengibaskan tangan kirinya dan ujung lengan baju yang panjang itu menangkis sambaran ujung cambuk yang melecut ke arah kepalanya.

"Prattt......!!" Ujung cambuk bertemu ujung lengan baju dan ujung cambuk itu terpental ke atas! Akan tetapi dengan putaran pergelangan tangan, Rahmini sudah dapat menyerang lagi dengan lecutan ke arah dada. Lecutan ini bukan sembarang lecutan karena dengan penggunaan tenaga saktinya ia dapat membuat ujung cambuk itu melecut tegang, ujungnya menjadi kaku dan keras sehingga dapat menotok jalan darah atau urat yang penting di dada dan kalau mengenai sasaran dapat membuat bagian atas tubuh menjadi lumpuh.

Namun, Ki Klabangkolo mengenal serangan yang dahsyat ini maka dengan menggeser kaki ke kiri dan menyampok dengan tangan kanan, dia dapat mengelak sekaligus menangkis ujung pecut itu. Kini dia membalas dengan tamparan dari kiri ke arah tengkuk Rahmini. Cepat dan kuat bukan main tamparan ini sehingga terpaksa Rahmini yang diserang dari sebelah kanannya itu membuang diri ke kiri dengan loncatan Untuk mencegah agar lawan tidak mendesaknya, ia memutar pecutnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang seolah menjadi perisai bagi dirinya.

Pertandingan berjalan seru, akan tetapi biarpun tingkat kepandaian Rahmini masih lebih tinggi dan matang dibandingkan tingkat yang dimiliki Cangak Awu, tetap saja ia masih belum mampu menandingi Ki Klabangkolo. Bahkan kadang-kadang lecutan cambuknya yang tidak terlalu berbahaya, diterima begitu saja oleh tangan Ki Klabangkolo dan beberapa kali ujung pecutnya dapat tertangkap jari-jari tangan Ki Klabangkolo dan setelah terjadi tarik menarik, ujung pecut itu putus sampai tiga kali!

Ki Klabangkolo yang agaknya tidak ingin lebih lama menandingi Rahmini, tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan auman seperti singa yang marah. "Haunggggg.... wirrrr....!" Angin keras sekali menyambar ke arah Rahmini.

Wanita itu cepat menyambut dengan dorongan kedua tangannya karena tidak sempat mengelak lagi. Akibat benturan dua tenaga sakti itu, tubuh Rahmini terjengkang dan untung ia dapat berjungkir balik sampai tiga kali sehingga tidak sampai terbanting seperti Cangak Awu. Akan tetapi napasnya agak terengah dan wajahnya pucat sekali.

Maheso Seto marah melihat kekalahan isterinya. Dia melompat ke depan dan dengan halus menarik tangan isterinya, disuruhnya mundur. Rahmini yang sudah merasa kalah, tidak membantah dan berdiri di dekat gurudan saudara-saudara seperguruannya, menonton dengan hati tegang karena ia maklum bahwa suaminya belum tentu akan mampu menandingi Ki Klabangkolo yang demikian saktinya. Dahulupun kalau suaminya tidak mendapat bantuannya sehingga mereka berdua yang mengeroyok Ki Klabangkolo, belum tentu kakek itu dapat dipukul mundur.

Maheso Seto juga maklum bahwa lawannya adalah seorang yang sakti mandraguna, oleh karena itu diam-diam dia sudah mengerahkan semua tenaga saktinya, disalurkan lewat kedua tangannya. Bhagawan Sindusakti yang melihat kekalahan Cangak Awu dan Rahmini, dapat menduga pula bahwa Maheso Seto sukar untuk mencapai kemenangan melawan Ki Klabangkolo. Akan tetapi dia tidak melarang murid kepala itu maju karena dia sendiri perlu untuk menyaksikan dan meneliti ilmu yang dipergunakan Ki Klabangkolo agar nanti dia dapat menguasai keadaan apa bila dia yang bertanding melawan kakek sombong itu.

Sementara itu, sejak tadi Sutejo mengamati jalannya pertandingan. Dia melihat bahwa dalam hal ilmu Silat, agaknya Cangak Awu bahkan Rahmini tidak kalah oleh Ki Klabangkolo. Ilmu silat para murid Jatikusumo itu memiliki dasar yang lebih baik dan lebih kuat. Juga dia melihat bahwa baik Cangak Awu maupun Rahmini telah menguasai ilmu-ilmu dari perguruan Jatikusumo seperti Aji Sihung Nila, Harina Legawa, dan Gelap Musti, dengan amat baiknya. Akan tetapi mereka berdua itu masih lemah dalam hal penggunaan tenaga sakti dibandingkan Ki Klabangkolo. Inilah yang membuat mereka kalah. Dia harus mengakui bahwa Ki Klabangkolo agaknya memiliki tenaga sakti yahg amat kuat, juga memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.

Maheso Seto adalah seorang murid kepala Jatikusumo yang sudah mencapai tingkat tinggi. Di samping wataknya yang gagah berani dan suka menentang kejahatan, diapun adil dan keras, sayang dia memiliki keangkuhan yang timbul dari kedudukannya sebagai murid kepala. Maka dia maju menghadapi Ki Klabangkolo dengan tangan kosong, karena dia tidak ingin disebut licik kalau meraih kemenangan mempergunakan senjatanya melawan orang yang tidak bersenjata! Biarpun kalah, dia harus kalah dalam keadaan yang gagah! Demikianlah, dia menghadapi Klabangkolo dengan tangan kosong pula.

Ki Klabangkolo mengerutkan alisnya melihat Maheso Seto maju hendak melawannya. "Hemm, engkau pernah mengalahkan aku, akan tetapi dengan pengeroyokan. Sekarang tiba saatnya aku membalas kekalahanmu itu!"

"Boleh kau coba, Ki Klabangkolo. Akulah lawanmu!"

"Ha-ha-ha, lebih baik engkau mundur dan suruh gurumu saja yang maju menghadapiku!" kata pula Ki Klabangkolo dengan suara tawa mengejek.

"Jangan banyak cakap, akulah yang akan menandingimu!" kata Maheso Seto sambil membuat pasangan kuda-kuda Jatikusumo yang amat gagah. Dia mengangkat kaki kanan ke atas, kedua tangan merangkap sebagai sembah ke depan dada dan kepalanya menoleh ke kanan menghadapi lawannya.

"Ha-ha-ha, engkau mencari penyakit, orang muda. Majulah!"

"Sambut seranganku!" Maheso Seto menyerang dengan cepat dan kuat sekali, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah muka dan tangan kanan menyusulkan pukulan ke arah dada. Gerakannya tangkas, cepat dan bertenaga sehingga pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan.

Ki Klabangkolo maklum bahwa lawannya ini tidak dapat disamakan dengan dua orang lawannya yang lalu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan cepat menghindar dari kedua serangan itu, membalikkan tubuh ke belakang kemudian dia membalik lagi, kakinya menyambar bagaikan palu godam ke arah muka Maheso Seto.

"Plakk!" Maheso Seto terpaksa menangkis karena untuk mengelak dia sudah tidak sempat lagi, demikian cepatnya kaki lawan itu menyambar ke arah mukanya. Akan tetapi tangkisan itu bertemu dengan kaki yang mengandung tenaga besar sekali sehingga Maheso Seio terpaksa melompat ke belakang untuk mencegah dirinya terhuyung.

Maheso Seto tidak menjadi jerih dan dia mendahului lawannya lagi, maju menyerang dengan kecepatan kilat. Dalam sedetik saja kedua tangannya sudah melakukan serangan beruntun ke arah dada dan lambung. Biarpun dia memiliki kekebalan tubuh yang hebat, namun Ki Klabangkolo tidak berani menerima serangan lawan itu dengan mengandalkan kekebalannya. Hal itu akan terlalu berbahaya melihat betapa pukulan-pukulan itu mendatangkan angin yang menerpa keras sekali. Maka diapun menggunakan kedua lengannya untuk menangkisi semua pukulan Maheso Seto, kemudian membalas pula dengan pukulan tangannya yang ampuh.

Terdengar dak-duk dak-duk dan plak-plak yang keras dan menggetarkan ketika dua pasang lengan itu seringkah bertemu di udara. Akan tetapi Maheso Seto harus mengakui dalam hatinya bahwa dalam bal tenaga sakti dia masih kalah kuat dibandingkan lawannya. Beberapa kali kalau mereka beradu tenaga sakti, dia terdorong mundur beberapa langkah sedangkan lawannya masih tegar berdiri kokoh di atas kedua kakinya. Lambat laun diapun terdesak mundur dan mundur terus walaupun dia masih mampu menangkis semua pukulan lawan.

"Mundurlah, Maheso Seto!" Bhagawan Sindusakti membentak ketika melihat murid kepala itu tidak mampu menandingi lawan. Akan tetapi dasar watak Maheso Seto yang keras dan sukar baginya untuk mundur dan mengaku kalah begitu saja, pada saat itu dia sudah mengumpulkan semua tenaganya dan menyerang lawan dengan pukulan jarak jauh, yaitu Aji Gelap Musti. Lawannya juga merendahkan diri dan menyambut pukulan itu dengan Aji Singorodra. Dua pasang tangan saling dorong dan dua tenaga sakti jarak jauh saling bertumbukan di udara dengan hebatnya.

"Blarrr......!" Semua orang merasakan pertemuan dua tenaga sakti yang membuat tempat itu seolah tergetar. Akibatnya sungguh hebat. Tubuh Maheso Seto terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, sedangkan Ki Klabangkolo masih berdiri tegak dan hanya napasnya sedikit terengah.

Rahmini cepat menyambar tangan suaminya dan membantunya berdiri tegak agar tidak sampai terbanting roboh. Akan tetapi Maheso Seto mengerutkan alisnya dan wajahnya pucat sekali, kemudian dia menjatuhkan diri duduk bersila untuk mengatur pernapasan karena di sebelah dalam dadanya terguncang hebat yang dapat menimbulkan luka parah kalau tidak cepat dipulihkan dengan hawa murni.

"Ha-ha-ha, cuma sebegitu saja kedigdayaan para murid Jatikusumo?"

Bhagawan Sindusakti memandang dengan alis berkerut. Tahulah dia bahwa kedatangan dua orang pendeta sesat itu merupakan malapetaka bagi perguruan Jatikusumo. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian murid kepala Maheso Seto sudah mencapai tingkat tinggi. Semua ilmu yang dia kuasai sudah dia ajarkan kepada murid kepala ini dan tingkat kepandaian Maheso Seto sudah sejajar dengan tingkatnya. Kalau Maheso Seto dapat dikalahkan Ki Klabangkolo sedemikian mudahnya, dia tahu bahwa dia sendiripun tidak akan mampu menandingi pendeta sesat itu. Akan tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia harus maju menandingi Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk mempertahankan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo.

Akan tetapi ketika dia bergerak kedepan, dengan nekat hendak melawan Ki Klabangkolo, tiba-tiba seseorang melompat dari kelompok para murid yang mengepung tempat itu. Orang ini ternyata adalah Sutejo yang sudah menghadap Bhagawan Sindusakti dan menyembah sambil berdiri membungkuk. "Paman, perkenankan saya untuk menghadapi Ki Klabangkolo dan menandinginya !" kata Sutejo.

Bhagawan Sindusakti mengerutkan alisnya dan memandang ragu. Kalau muridnya yang maju membela nama perguruan Jatikusumo, hal itu adalah sewajarnya. Akan tetapi Sutejo bukan murid langsung Jatikusumo, kalau sampai pemuda ini tewas dalam menandingi Ki Klabangkolo, sungguh dia akan merasa sangat tidak enak. Pemuda ini boleh dianggap sebagai orang luar. Pula, bagaimana mungkin Sutejo mampu menandingi Ki Klabangkolo sedangkan para muridnya juga tidak mampu? Bahkan dia tidak menyalahkan dan tidak mengharapkan Priyadi untuk maju karena selain hal itu percuma, juga membahayakan keselamatan muridnya itu.

"Sutejo, engkau tidak berhak mencampuri urusan kami perguruan Jatikusumo!" tiba-tiba Rahmini berseru ketus. "Lagi pula, apamukah yang kau andalkan untuk menandingi lawan sedangkan kami semua juga telah dikalahkannya? Mundurlah engkau dan jangan mengganggu Bapa Guru!"

Mendengar ucapan Rahmini itu, melihat sikap para murid Jatikusumo yang agaknya membenarkan ucapan itu dan melihat keraguan dalam pandang mata Bhagawan Sindusakti, Sutejo maklum bahwa kalau dia menanti perkenan dari pihak perguruan Jatikusumo, dia tidak akan pernah dapat menandingi Ki Klabangkolo yang masih berdiri dengan congkaknya.

"Ki Klabangkolo, melihat kesombonganmu membuat semua orang merasa muak dan aku sendiripun merasa penasaran. Aku bukanlah murid langsung dari Jatikusumo akan tetapi masih ada hubungan dekat karena guruku adalah adik seperguruan Paman Bhagawan Sindusakti. Sekarang aku, atas namaku sendiri, menantangmu untuk bertanding, Kalau aku terluka atau mati dalam pertandingan ini, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan Jatikusumo dan aku seudiri yang bertanggung jawab. Bagaimana, Ki Klabangkolo apakah engkau berani menyambut tantangan ku?"

Ki Klabangkolo tertawa bergelak memandang kepada Sutejo."Bocah cilik! Sepantasnya engkau masih menyusu didada ibumu, tidak keluyuran sampai kesini dan minta mati di tanganku!"

"Ki Klabangkolo, tidak perlu mengumbar kesombonganmu melalui mulutmu yang lebar. Katakan saja terus terang kalau engkau tidak berani yang akan menunjukkan bahwa engkau tiada lain hanyalah seorang pengecut hina!"

Sepasang mata Ki Klabangkolo terbelalak lebar dan mukanya yang penuh brewok itu berubah merah, kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri saking marahnya mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkannya itu. "Jahanam Sutejo! Kalau aku tidak mampu merobek mulutmu dan melumatkan kepalamu, jangan panggil aku Ki Klabangkolo lagi!" bentaknya dan dia sudah mengangkat kedua tangannya ke atas dan jari-jari tangan itu membentuk cakar harimau, kemudian dia mengeluarkan gerengan dengan Aji Singanada.

Suaranya menggetarkan seluruh tempat itu dan para murid Jatikusumo sampai melangkah mundur, hampir tidak kuat menahan guncangan jantung mereka akibat getaran yang ditimbulkan gerengan Aji Singanada itu. Akan tetapi Sutejo yang diserang langsung, diam-diam mengerahkan tenaga saktinya untuk menolak serangan itu dan dia melambaikan tangan sambil tersenyum dan berkata, "Sudahlah, Ki Klabangkolo. Gerenganmu itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil saja. Tidak ada gunanya kau perlihatkan di sini, menambah buruk mukamu saja!"

Diam-diam Bhagawan Sindusakti merasa heran dan terkejut sekali. Dia sendiri merasakan getaran hebat dari gerengan itu dan Sutejo yang diserang langsung masih enak-enak saja malah mengeluarkan kata-kata mengejek lawan. Mulailah dia memandang pemuda itu dengan perhatian penuh dan diam-diam muncul harapan dalam hatinya bahwa pemuda itu akan dapat menghindarkan perguruan Jatikusumo dari kehancuran dua orang kakek itu.

Ki Klabangkolo juga terkejut melihat pemuda itu tegar dan biasa saja menghadapi serangan pekik saktinya seolah tidak merasakan apa-apa. Hal ini membuatnya menjadi penasaran dan semakin marah. "Mampuslah!" bentaknya dan kedua tangan yang diangkat ke atas membentuk cakar itu tiba-tiba menghunjam ke bawah, menerkam ke arah tubuh Sutejo!

Bhagawan Sindusakti dan para muridnya memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang karena maklum betapa dahsyatnya Serangan yang dikeluarkan Ki Klabangkolo itu . Akan tetapi tubuh Sutejo bergerak dengan ringan dan cepat sekali sehingga terkaman Ki Klabang kolo itu hanya mengenai tempat kosong belaka karena tubuh pemuda itu sudah menghindar dengan kecepatan kilat. Ki Klabangkolo memutar tubuh dan cepat dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan ujung lengan baju kirinya yang menyambar ke arah dada Sutejo dan disusul tangan kanan yang menampar ke arah kepala pemuda itu.

Akan tetapi, kembali serangannya gagal sama sekali karena kedua serangan itupun hanya mengenai angin saja dan tubuh Sutejo telah menyelinap dengan cepatnya dan tahu-tahu telah berada di belakangnya! Biarpun tubuh Ki Klabangkolo tinggi besar seperti raksasa, namun ternyata dia dapat bergerak dengan gesit pula. Begitu tubuh Sutejo berkelebat dan lenyap, lolos dari dua serangannya, dia sudah dapat menduga bahwa lawannya itu tentu berada di belakangnya maka secepat kilat dia sudah membalikkan tubuh lagi dan menghadapi Sutejo.


Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 10

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 10

SETELAH tiba di dekat bangunan, mereka berdua melihat Puteri Wandansari duduk seorang diri di bawah bangunan terbuka yang berada di tepi sebuah kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai dan ikan emas. Puteri Wandansari agaknya sedang memberi makan ikan emas, menaburkan makanan itu ke air dan banyak sekali ikan emas berwarna merah, kuning putih dan hitam berebutan makanan membuat air berkecipak. Sang Puteri segera bangkit berdiri ketika melihat munculnya dua orang itu. Ia menyambut mereka dengan sikap yang tidak terlalu gembira, akan tetapi juga dengan senyum lembut. Agaknya ia belum dapat melupakan betapa ketika berada di pondok Resi Limut Manik, kedua kakak seperguruan ini pernah menyangkanya berbuat yang bukan-bukan dengan Sutejo, dan hendak memaksanya untuk menyerahkan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitab pelajarannya.

"Ah, kiranya Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini yang datang berkunjung! Bagaimana kabarnya dengan keadaan Bapa Guru?" Ia bertanya tentang keadaan gurunya, bukan tentang keadaan mereka berdua. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan bahwa hatinya tidak begitu sedang menyambut kunjungan mereka berdua dan tentu saja terasa oleh Maheso Seto dan Rahmini.

"Keadaan Bapa Guru baik-baik dan sehat saja, diajeng Wandansari." kata Maheso Seto.

"Bahkan kedatangan kami ini adalah untuk melaksanakan perintah Bapak Guru!" kata Rahmini dengan suara agak ketus karena iapun merasakan sikap Puteri Wandansari yang menyambut mereka dengan tawar itu.

"Hemm begitukah?" kata Puteri Wandansari tanpa mempersilakan mereka duduk.

"Apakah perintah Bapa Guru itu ada sangkut pautnya dengan aku?" Suara Puteri Wandansari juga terdengar ketus, mengimbangi suara Rahmini.

Melihat sikap kedua orang wanita itu sudah mendatangkan suasana panas, Maheso Seto lalu berkata dengan suara tenang dan sikap sabar. "Sesungguhnya begini, diajeng Wandansari. Kamiberdua hanyalah utusan Bapa Guru untuk menemuimu."

"Menemuiku? Ada urusan apakah Bapa Guru mengutus kalian untuk menemuiku?"

"Bukan lain, urusan Pedang Pusaka Kartika Sakti, diajeng. Bapa Guru mengutus kami untuk minta kepadamu agar engkau suka menyerahkan pedang pusaka dan kitab pelajarannya itu kepada kami untuk kami serahkan kepada Bapa Guru. Pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo, diajeng. maka yang berhak menyimpan hanya Bapa Guru sebagai ketua perguruan Jatikusumo."

"Dan engkau sebagai murid termuda harus mematuhi perintah Bapa Guru!" sambung Rahmini.

Mereka bicara sambil berdiri saja dan kini puteri Wandansari menegakkan tubuhnya dan matanya mengeluarkan sinar penuh keberanian "Sudah kukatakan saat kita saling bertemu di pondok Eyang Guru Resi Limut Manik dahulu, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, bahwa pedang dan kitab Kartika Sakti itu adalah pemberian Eyang Resi kepadaku. Eyang Resi memberikan benda pusaka itu sebagai pesan terakhir sebelum meninggal dunia, dengan pesan agar aku memiliki pusaka itu dan mempergunakannya untuk menentang kejahatan dan terutama untuk membela kerajaan Mataram. Aku tidak berani menentang pesan Eyang Resi. Pedang pusaka dan kitabnya itu adalah hakku, diberikan langsung oleh Eyang Resi. Karena itu tentu saja tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga!"

"Akan tetapi andika adalah murid Jatikusumo dan yang minta pusaka itu adalah guru kita. ketua Jatikusumo! Pedang pusaka itu merupakan pusaka perguruan Jatikusumo! Diajeng, ingatlah, apakah andika hendak berkhianat terhadap perguruan sendiri?" kata Maheso Seto yang mulai marah karena seperti yang dia khawatirkan sebelumnya, Puteri Wandansari tidak mau menyerahkan pusaka itu.

"Aku tidak mengkhianati siapapun juga. Bahkan, kalau kuserahkan pusaka itu kepada seseorang, berarti aku telah mengkhianati Eyang Resi. Tidak, Kakang Maheso Seto, aku tidak memberikan pusaka itu kepadamu."

"Ah, kalau begitu jelaslah sekarang. Sikapmu ini menunjukkan bahwa engkau memusuhi Jatikusumo, maka ada benarnyalah dugaan bahwa engkau telah bersekongkol dengan Sutejo untuk membunuh Eyang Resi dan mencuri dua pusaka itu, yaitu kitab Bajrakirana dan kitab Kartika Sakti berikut pedangnya!" teriak Rahmini sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Puteri Wandansari.

Merah sepasang pipi yang halus itu, berkerut sepasang alis yang hitam kecil melengkung itudan sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar kemarahan. "Mbakyu Rahmini, tutup mulutmu yang lancang itu! Kalau kalian berdua datang hanya untuk membikin ribut, aku usir kalian. Keluarlah dari sini!"

"Engkau berani mengusir kami, kakak-kakak seperguruanmu yang dulu ikut mengajarmu? Aku tidak akan pergi sebelum membawa pedang dan kitab Kartika Sakti. Kalau perlu akan kuambil dengan kekerasan karena kami telah memperoleh purbawasesa dari Eyang Guru!"

"Sesukamulah! Kalau engkau menggunakan kekerasan, akan kulawan!" jawab Puteri Wandansari.

"Wandansari, berani engkau melawan aku?" bentak Rahmini.

"Engkau yang mulai, mengapa harus takut?"

"Hemmm, murid murtad! Akulah yang akan mewakili Bapa Guru untuk menghajarmu! Sambut pukulanku!" Rahmini sudah menerjang dengan ganasnya. Wanita ini adalah murid kedua dari Bhagawan Sindusakti, maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, hanya sedikit di bawah tingkat kepandaian suaminya yang menjadi murid pertama.

"Wuuuutttt.....!" Akan tetapi pukulan itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Wandansari yang mengelak dengan gerakan ringan sekali. Ketika pukulan kedua menyambar, Wandansari menangkis dengan lengannya.

"Wuuuutttt..... dukkk!" Dua lengan itu bertemu dan akibatnya, Rahmini terdorong mundur beberapa langkah. Hal ini amat mengejutkan Rahmini, Juga Maheso Seto. Tidak mungkin Wandansari yang merupakan murid ke lima itu mampu menandingi tenaga sakti Rahmini! Kedua orang suami isteri ini tidak tahu bahwa dalam kitab Kartika Sakti bukan hanya diajarkan ilmu pedang, melainkan juga ilmu menghimpun tenaga sakti. Setelah berlatih beberapa bulan lamanya, kini tenaga sakti Wandansari bertambah besar dan iapun dapat bergerak dengan cepat.

Rahmini menjadi penasaran sekali dan juga amat marah. Kalau tadinya ia hanya menyerang untuk menundukkan Wandansari, kini ia menyerang dengan sungguh-sungguh dengan niat untuk merobohkan adik seperguruannya yang dianggapnya murtad dan membandel itu. Ia lalu mengerahkan Aji Gelap Musti, menyerang dengan dorongan kedua tangannya.

"Haaiiiiitt!" Ia melengking nyaring dan dorongan kedua tangannya dengan Aji Gelap Musti itu mengeluarkan angin menderu ke arah Wandansari. Akan tetapi puteri inipun mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan Aji Gelap Musti pula. Ia cepat merendahkan tubuhnya, mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan sambil memekik nyaring. "Yaaaaaaattt!"

"Desss......!" Kedua pasang telapak tangan itu bertemu di udara dan kembali tubuh Rahmini terdorong ke belakang! Ternyata dalam hal mengadu Aji Gelap Musti, iapun kalah kuat.

Maheso Seto yang melihat ini, ikut terkejut. Tadinya dia berniat melarang isterinya menyerang dengan hebat sehingga membahayakan keselamatan nyawa puteri itu. Akan tetapi melihat betapa isterinya bahkan terdorong mundur dan kalah kuat, diapun melompat maju. Rahmini juga sudah siap kembali lalu bersama suaminya melancarkan pukulan Gelap Musti lagi. Akan tetapi kini mereka menggabungkan tenaga dan dalam saat yang bersamaan mereka mendorongkan kedua telapak tangan ke arah Wandansari. Suami isteri yang sudah sehati sepikiran itu menyerang secara berbareng dengan Aji Gelap Musti!

Tidak ada pilihan lain bagi Puteri Wandansari untuk menghadapi serangan ganda ini kecuali dengan tangkisan. Maka iapun mengerahkan seluruh tenaganya dan menyambut serangan itu dengan Aji Gelap Musti pula.

"Wuuuuttt...... dessss!" Betapapun besarnya kemajuan dalam hal tenaga sakti yang diperoleh Puteri Wandansari setelah ia melatih diri dengan ilmu dari kitab Kartika Sari, namun menghadapi dua tenaga yang digabung dari suami isteri itu, ia masih kalah kuat dan tubuhnya terdorong mundur sampai terhuyung-huyung.

"Duh Gusti......!" Seruan ini muncul dari mulut seorang pria yang sudah berada di situ dan dia melihat Puteri Wandansari terhuyung. Dia lalu menggunakan tangan kirinya untuk mendorong ke depan, menyambut dorongan dua pasang tangan suami isteri itu. Dorongan tangan kiri pria itu sungguh amat dahsyat. Angin bagaikan badai bertiup ke depan menyambut pukulan ganda dengan Aji Gelap Musti dari suami isteri itu dan terjadilah benturan tenaga sakti yang amat dahsyat. "Blaaarrrrr........!"

Akibatnya, Maheso Seto danRahmini terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah. Tidak kuat mereka menahan tenaga dorongan yang keluar dari telapak tangan pria itu. Mereka tidak terluka namun terkejut bukan main. Guru mereka sendiri saja tidak mungkin dapat menyambut tenaga mereka yang dipersatukan dalam Aji Gelap Musti, apa lagi hanya dengan tangan kiri dan menyebabkan mereka terpental sampai jauh! Maklumlah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang amat sakti mandraguna. Mereka merangkak bangun, saling bantu dan keduanya memandang kepada pria itu.

Dia seorang pria yang berusia sekitar lima puluh tahun, berwajah tampan dan bundar, sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti, gerak geriknya lembut dan pada wajah yang tampan dan halus itu terkandung wibawa yang teramat kuat. Pakaiannya sederhana, namun masih dapat dikenali sebagai pakaian seorang raja. Tahulah Maheso Seto dan Rahmini dengan siapa mereka berhadapan. Pria yang demikian tampan dan berwibawa, memiliki kesaktian yang hebat, tentu bukan lain adalah Sang Prabu Pandan Cokrokusumo atau Sultan Agung Mataram sendiri! Tanpa terasa sepasang kaki mereka gemetar.

Sultan Agung memandang kepada puterinya dan merasa lega melihat puterinya tidak terluka. "Wandansari, siapakah kedua orang ini dan apa yang telah terjadi di sini?"

Puteri Wandansari bukan seorang dara yang cengeng. Ia tidak ingin mengadukan sikap kedua orang itu kepada ayahandanya. Bagaimanapun juga mereka adalah kakak-kakak seperguruannya dan urusannya dengan mereka adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan ayahnya. Maka ia tidak ingin ayahnya yang menjadi raja yang agung Itu mencampuri urusan pribadinya.

"Kanjeng Rama, mereka adalah Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, dua orang kakak seperguruan hamba sendiri. Mereka datang untuk suatu urusan pribadi dan terjadi sengketa di antara kami."

Sang Prabu yang arif bijaksana itu segera mengetahui bahwa puterinya tidak ingin dia mencampuri urusannya, maka diapun memandang kepada suami isteri itu dan berkata dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Mengingat bahwa kalian adalah kakak-kakak seperguruan puteri kami, maka sekali ini kami mengampuni kalian berdua. Pergilah dan jangan kembali lagi! Sekali lagi kami mendapatkan kalian datang ke sini dan membuat kekacauan, kami akan menangkap kalian dan memasukkan kalian dalam penjara! Pergilah!"

Suami isteri itu membungkuk, menyembah lalu memutar tubuh, meninggalkan taman sari itu dengan kepala ditundukkan dan hati merasa jerih. Keangkuhan yang sudah menjadi watak suami isteri ini tenggelam lenyap ke dalam wibawa yang teramat kuat dari Sultan Agung itu.

"Demikianlah, Adi Priyadi. Kami berdua terpaksa meninggalkan diajeng Wandansari, tidak kuat menghadapi kesaktian dan wibawa Sang Prabu yang teramat kuat. Terpaksa kami kembali ke sini dengan tangan hampa."

"Tidak aneh," Sang Bhagawan Sindusakti berkata sambil menarik napas panjang. "Tidak mungkin kalian akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu di Mataram. Akan tetapi sudahlah, kalau Pedang Pusaka Kartika Sakti dan kitabnya sudah berada di Mataram, kita boleh relakan saja pedang itu menjadi pusaka Mataram, Akan tetapi yang terpenting adalah Pecut Sakti Bajrakirana dan kitab pelajarannya, Pecut itu merupakan pusaka utama yang harus dihormati dan ditaati oleh seluruh murid Jatikusumo. Adi Bhagawan Jaladara sudah menjanjikan akan menyerahkan pecut itu kepadaku, hanya tinggal merampas kitabnya dari tangan Sutejo. Hal ini harus kita usahakan benar-benar karena pecut pusaka dan kitabnya itu teramat penting bagi perguruan kita."

"Akan tetapi, Bapa Guru. Kalau benar Sutejo dan diajeng Wandansari telah melakukan pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik, apakah kita dapat tinggal diam saja? Perbuatan itu harus dibalas dan pelaku pembunuhan itu harus dihukum!" kata Priyadi.

"Hemm, kita tidak boleh sembrono. Itu hanya merupakan tuduhan perkiraan Adi Jaladara saja. Dia menuduh kedua orang muda itu yang membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik, akan tetapi sebaliknya Sutejo dan Wandansari mengatakan bahwa Adi Jaladara dan taman-temannya yang membunuh Bapa Resi. Sebelum mendapatkan bukti-buktinya, tidak boleh kita menjatuhkan tuduhan kepada siapapun juga."

"Akan tetapi bagaimana kita akan mampu mencari buktinya, Bapa Guru? Bukti maupun saksi atas pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik dan kedua orang cantriknya itu sama sekali tidak ada dan kedua pihak yang dituduh telah menyangkal melakukan pembunuhan itu. Siapakah di antara kedua pihak itu yang harus kita percaya?" tanya pula Priyadi.

"Melihat betapa dua buah kitab pusaka dan pedang Kartika Sakti berada di tangan Sutejo dan Wandansari, sudah merupakan bukti bahwa mereka berdua itu yang telah membunuh Eyang Resi!" kata Rahmini yang masih panas hatinya karena dikalahkan oleh Wandansari ketika bertanding satu lawan satu.

"Hemm, kita tidak boleh mengambil kesimpulan dengan alasan yang masih mengambang. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Akhirnya yang bersalah tentu akan tampak juga." kata Bhagawan Sindusakti.

Kita akan melihat perkembangannya, kata Priyadi dalam hati. Aku akan melihat perkembangannya. Aku tidak boleh tergesa-gesa dan tidak akan bertindak sebelum Pecut Sakti Bajrakirana kembali ke perguruan Jatikusumo, demikian pemuda isi berpikir dan mengambil keputusan. Priyadi melanjutkan latihan-latihannya di malam hari, di tempat tersembunyi, jauh di luar perkampungan Jatikusumo. Sikapnya masih biasa saja sehingga baik gurunya maupun para saudara seperguruannya tidak ada yang mengetahui rahasianya.

********************

Sutejo menjadi penasaran sekali. Kalau dia dimusuhi oleh para murid Jatikusumo karena mereka hendak merampas kitab Bajrakirana, hal itu masih dianggapnya wajar saja. Diapun dapat memaklumi dan percaya bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang sejak dahulu menjadi pusaka perguruan Jatikusumo sehingga karena amat menjunjung tinggi pusaka itu dan mungkin patuh akan sumpah sebagai murid Jatikusumo, mendiang gurunya, Bhagawan Sidik Paningal tidak berani melawan ketika Bhagawan Jaladara menghajarnya dengan pecut pusaka itu. Bahkan Sang Resi Limut Manik sendiripun agaknya segan melawan ketika dia dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara yang memegang Pecut Sakti Bajrakirana bersama kawan-kawannya. Akan tetapi, hal yang membuat dia penasaran sekali adalah tuduhan mereka bahwa dia bersama Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik!

Tuduhan keji, pikirnya. Diapun mengerti bahwa semua ini tentu ulah Bhagawan Jaladara yang memutar-balikkan kenyataan. Hatinya menjadi panas sekali. Dia telah menerima pesan terakhir Resi Limut Manik. Selain menerima kitab Bajrakirana dan harus menguasai ilmu itu, diapun harus merampas Pecut Sakti Bajrakirana yang kini berada di tangan Bhagawan Jaladara. Bukan itu saja. Diapun harus membalas kematian gurunya, Bhagawan Sidik Paningal dan Eyang gurunya, Resi Limut Manik yang telah tewas ditangan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya.

Dia harus mencari Bhagawan Jaladara dan harus melenyapkan orang itu dari permukaan bumi selain merampas Pecut Sakti Bajrakirana. Orang seperti itu amat berbahaya bagi orang lain kalau dibiarkan hidup! Tidak, dia bukan semata-mata benci kepada Bhagawan Jaladara. Kalau dia hendak membunuhnya adalah karena orang itu memang jahat sekali, dan berbahaya bagi Mataram, berbahaya bagi orang-orang lain. Seorang yang sakti akan tetapi tidak menggunakan kesaktiannya untuk menentang kejahatan adalah seorang yang amat berbahaya bagi umum, karena kalau dia mempergunakan kesaktiannya untuk melakukan kejahatan, maka akibatnya akan hebat dan mendatangkan malapetaka bagi orang-orang lain.

Siang hari itu tidaklah terik seperti kemarin. Langit penuh awan mendung yang tebat menghitam sehingga sinar matahari tidak dapat menembus sepenuhnya. Cuaca menjadi gelap. Dia melanjutkan perjalanannya dengan cepat, akan tetapi daerah itu jarang terdapat dusun, bahkan setelah hari menjadi sore dan turun hujan deras, dia berada dijalan yang menerobos hutan lebat. Biarpun malam baru saja datang, cuaca sudah gelap sekali. Hujan turun bagaikan dituang dari langit. Sutejo berteduh di bawah sebatang pohon dadap yang besar. Akan tetapi daun pohon itu tidak cukup lebat untuk melindunginya, bahkan air yang berjatuhan melalui daun-daun pohon itu besar-besar.

Melihat ada sebatang pohon pisang tak jauh dari situ, dia lalu meraih sehelai daun pisang dan mempergunakan daun itu sebagai payung. Payung daun pisang itu lumayan juga, dapat melindungi kepala dan mukanya. Hujan semakin deras. Kini datang angin. Badai yang amat kuat sehingga pohon-pohon besar di hutan itu seperti mabok, seperti penari yang mabok, condong ke kanan dan ke kiri, seperti hendak ambruk, seperti ratusan raksasa yang hendak menubruknya. Kadang tampak kilat bercahaya disusul geledek menyambar dengan suara menggelegar.

Dalam cahaya kilat itu sejenak Sutejo dapat melibat keadaan, akan tetapi hanya sekilat lalu gelap kembali. Guntur dan kilat semakin sering dan badai tidak mereda. Titik-titik air yang menyerangnya terasa di badan seperti tusukan jarum-jarum. Pakaian Sutejo basah kuyup. Bukan hanya yang melekat di tubuhnya. Bahkan buntalan pakaiannya juga basah dan tentu menembus, membasahi semua pakaian bekalnya. Karena maklum bahwa dengan berdiri di situ, diapun tetap kehujanan dan tidak akan ada gunanya, apa lagi malam telah tiba.

Maka Sutejo lalu melangkah maju menggunakan cahaya kilat yang sering menerangi segalanya itu untuk tetap melangkah di atas jalan yang becek itu. Dia harus mencari tempat perlindungan, untuk menghindarkan serangan hujan, untuk bermalam. Syukur kalau dia dapat menemukan sebuah dusun, atau setidaknya sebuah gardu untuk tempat berteduh dan beristirahat. Dia melangkah maju terus, kadang-kadang terpaksa harus berhenti untuk menunggu sinar kilat agar dia tidak terperosok ke dalam parit atau solokan.

Tiba-tiba, diantara suara menggelegarnya guntur yang bersahut-sahutan dia mendengar jerit suara wanita! Tak salah lagi, yang menjerit itu adalah wanita. Datangnya dari arah kiri, dari dalam hutan. Jerit itu terdengar lagi. Sutejo tidak ragu-ragu lagi lalu melompat ke kiri di bawah sinar kilat. Sambil meraba-raba dan mengandalkan penerangan halilintar, dia terus berlari ke depan, ke arah suara tadi. Akhirnya, dia melihat cahaya berkelap-kelip di kejauhan! Tentu ada sebuah rumah dengan penerangannya disana !

Dia maju terus, meraba-raba dan kadang lari dan melompat kalau ada cahaya terang. Akhirnya dia tiba di luar sebuah pondok yang amat sederhana, terbuat dari bilik anyaman bambu, tiang-tiangnya juga dari bambu, payonnya dari daun klatas. Jendela rumah itu terbuka dan dari situlah sinar sebuah lampu menyorot keluar dan tampak oleh Sutejo tadi. Dia lalu menghampiri jendela, tidak perlu melangkah hati-hati karena suara badai yang menggerakkan pohon-pohonan cukup hiruk pikuk menutupi suara jejak kakinya.

Ada tiga orang laki laki di pondok itu, mereka duduk diatas bangku-bangku kayu mengelilingi sebuah meja yang, sederhana. Di sudut tampak sebuah dipan bambu dan diatas dipan bambu itu tampak seorang gadis muda mendeprok setengah rebah telungkup dengan ketakutan. Pakaiannya sudak koyak-koyak memperlihatkan kulit yang putih mulus dan matanya seperti mata seekor kelinci dalam cengkeraman harimau. Terbelalak ketakutan. Seorang gadis yang putih kuning dan berwajah manis sekali, berusia paling banyak enam belas tahun.

Pandang mata Sutejo kembali kepada tiga orang laki-laki itu. Mereka berotot dan tampak bertubuh kuat, kasar. Wajah mereka jelas membayangkan orang-orang yang terbiasa dengan tindak kekerasan, kasar dan liar seperti gerombolan penjahat yang biasa memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan dan kekuatan. Di pinggang mereka tergantung golok. Mereka ternyata sedang memutar dadu, seperti biasa kalau orang-orang sedang bermain judi.

"Kita masing-masing memutar satu kali. Yang mendapatkan angka terbanyak, dia menang dan mendapat giliran pertama. Yang keluar sebagai pemenang kedua, mendapatkan giliran kedua dan yang paling kalah mendapat bagian terakhir." kata seorang di antara mereka yang mempunyai luka codet melintang di mukanya.

"Aku mulai memutar lebih dulu!" Setelah berkata demikian, di bawah sinar lampu yaag tidak begitu terang, dia memutar dadu di atas meja. Tiga pasang mata mengikuti putaran dadu dengan terbelalak dan setelah dadu berhenti berputar, si codet bersorak.

"Angka lima!" Angka pada dadu yang terbanyak adalah enam, maka mendapatkan angka lima, si codet bergembira karena harapan untuk mendapatkan giliran pertama cukup besar.

"Sekarang aku yang memutar!" kata orang yang bermuka hitam seperti arang. Dia lalu memutar dadu itu, dan setelah dadu berhenti berputar, dia berseru, "Angka empat!"

"Ha-ha-ha engkau kalah, giliranmu sesudah aku, ha-ha!" tawa si codet.

"Masih ada aku!" kata orang ke tiga yang bibirnya tebal sekali. Dia hendak memutar dadu, akan tetapi tiba-tiba ada suara orang dari arah pintu.

"Apa yang kalian pertaruhkan itu? Hayo bebaskan gadis itu, atau aku terpaksa akan menghajar kalian bertiga!"

Tiga orang itu berlompatan dan memutar tubuh menghadap ke pintu. Ternyata pintu pondok itu telah terbuka dan di ambang pintu berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan ringkas. Baju lengan pendek sebatas siku, celana hitam sebatas lutut dan sehelai sarung dilingkarkan ke pundak. Punggungnya menggendong buntalan dan pakaiannya basah kuyup, dari rambut yang tertutup kain pengikat rambut sampai ke kakinya.

Melihat seorang pemuda berpakaian sederhana seperti petani berdiri dengan kaki terpentang, sikapnya tenang dan gagah, si codet berkata, "Ki sanak, kami sedang bersenang-senang, tidak menghendaki keributan. Maka jangan engkau mengganggu kami. Kalau engkau mau, mari ikut bersenang-senang dengan perawan ini dan engkau mendapatkan giliran yang terakhir. Bagaimana, Kisanak?"

"Ha ha-ha, kawan. Engkau beruntung.Tanpa ikut bersusah-payah ikut menikmati daging kijang muda, ha-ha-ha!" Si bibir tebal menyeringai.

Sutejo menjadi muak dan mukanya berubah kemerahan, sinar matanya berapi. "Keparat busuk kalian! Nimas, cepat engkau lari keluar dari sini!" katanya sambil menguak pintu lebar-lebar.

Gadis yang sedang ketakutan itu dengan tubuh menggigil turun dari dipan, memegangi kain yang robek di bagian dadanya, lalu berlari hendak keluar dari pintu. Akan tetapi si muka hitam sudah melompat dan menghalanginya, hendak menangkapnya. Akan tetapi pada saat itu, kaki Sutejo mencuat dan tepat menghantam pinggul si muka hitam.

"Dukkk!" Tubuh si muka hitam terjerembab dan terbanting menelungkup, Gadis itu terus berlari keluar dari pintu yang terbuka menghambur ke dalam kegelapan malam.

"Jahanam!" Si bibir tebal dan si codet menjadi marah, mencabut golok masing-masing dan menyerang kepada Sutejo. Akan tetapi dengan cepat Sutejo mengelak ke samping, lalu dari samping kedua tangannya menyambar, yang kiri menonjok dada bibir tebal, yang kanan menampar leher si codet.

"Dukk! Plakkk!" Kedua orang itu terpelanting seperti disambar petir. Sebelum mereka dapat bangkit kembali, Sutejo sudah menyusulkan dua kali tendangan ke arah mereka.

"Dess! Dess.....!"

"Tobaaat......!" Dua orang itu berseru kesakitan dan pada saat itu, si Muka Hitam sudah menghantam lampu gantung dengan goloknya. Lampu itu pecah dan padam sehingga keadaan dalam pondok itu gelap pekat. Keadaan ini dipergunakan oleh tiga pencoleng itu untuk melarikan diri. berhamburan keluar, tidak berani lagi melawan pemuda yang digdaya itu. Sutejo mengejar keluar. Dia bingung karena malam gelap sekali dan dia tidak dapat melihat ke mana larinya gadis tadi, juga ke mana larinya ketiga orang jahat itu. Dia masih mengkhawatirkan keselamatan gadis yang tadi hampir menjadi korban perkosaan.

Tiba-tiba terdengar lagi jeritan wanita. Jeritan itu yang menolong Sutejo menentukan arah. Dia melangkah dengan kedua lengan dijulurkan ke depan agar jangan sampai menubruk pohon. Ketika kilat bercahaya dia dapat melihat tubuh wanita itu di depan, tubuh yang meronta-ronta dari cengkeraman dua tangan kasar pria. Kilat padam dan dalam kegelapan diapun melompat ke depan. Tangannya bertemu dengan kulit daging yang lembut, yaitu bagian perut wanita itu. Tangannya meraba terus dan bertemu dengan sebuah lengan kokoh yang merangkul wanita itu. Cepat ditangkapnya lengan itu dan direnggutnya lepas dari rangkumannya terhadap wanita itu. Kilat menyambar dan bercahaya kembali. Tepat pada saat itu dia melihat betapa seorang laki-laki vang bercodet di mukanya itu mengayun tangannya yang memegang golok ke arah kepalanya.

Sutejo cepat menggerakkan tangan kirinya menyambut tangan yang memegang golok itu. Ditangkapnya tangan itu pada pergelangannya dan pada saat itu kilat padam lagi. Dalam kegelapan, Sutejo mengerahkan tenaganya dan menekuk lengan itu. Orang itu menggeram dan mengerahkan tenaganya, namun mana mungkin dia dapat melawan tenaga Sutejo yang penuh hawa sakti itu? Lengan, itu tertekuk dan tiba-tiba orang itu mengeluarkan pekik kesakitan lalu roboh terguling. Sutejo melepaskan pegangannya dan hanya mendengar orang itu bergulingan di atas tanah. Ketika kilat bercahaya lagi, dia melihat orang itu merangkak pergi melarikan diri dan pada saat itu, dua lengan yang kecil mungil merangkulnya dengan menggigil.

"Tolonglah aku, selamatkan aku.....!" Suara wanita itu gemetar dan ia melekatkan tubuhnya pada tubuh Sutejo minta perlindungan.

Sutejo tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh. Jantungnya berdebar ketika tubuh yang lunak dan hangat itu menempel di tubuhnya, ketika debar jantung wanita itu terasa olehnya. Belum pernah selama hidupnya dia berdekatan dengan wanita dan pengalaman ini membuatnya berdebar tidak karuan. Akan tetapi cepat dia dapat mengatasi kebingungannya dan cepat tangannya mendorong kedua pundak wanita itu dengan gerakan lembut agar tubuh wanita itu tidak lagi melekat pada tubuhnya, "Engkaukah ini, nimas? Engkau yang tadi berada di pondok?"

"Benar.... tolong selamatkanlah aku...." terdengar wanita itu berkata lirih, suaranya masih gemetar bercampur isak. Tentu ia ketakutan setengah mati, merasa ngeri karena baru saja terbebas dari dekapan seorang laki-laki yang sudah berubah liar seperti seekor srigala.

"Jangan takut, nimas. Orang jahat itu telah pergi. Mari kita masuk ke pondok itu, hujan masih amat derasnya dan di luar gelap bukan main."

Ketika kilat bercahaya, Sutejo dapat melihat pondok itu dan dia menuntun gadis itu menuju ke pondok. Akan tetapi karena ketakutan yang amat sangat, gadis itu merapatkan tubuhnya pada Sutejo seperti seorang anak kecil minta perlindungan ibunya. Terpaksa dia merangkul pundak gadis itu untuk menenteramkan hatinya dan menuntunnya masuk ke dalam pondok yang pintunya terbuka lebar itu. Mereka masuk ku dalam pondok dan Sutejo meraba-raba sampai tangannya menyentuh ujung meja.

Dia meraba-raba, dengan girang menemukan sebuah geretan pembuat api di atas meja. Segera dibuatnya api dan di bawah penerangan kecil ini dia mengambil lampu yang tadi dipukul pecah oleh penjahat. Ternyata lampu itu masih dapat dipergunakan, Yang pecah hanya semprongnya saja. Tempat minyak dari kuningan itu tidak rusak dan masih mengandung minyak hampir penuh. Lalu disulutnya lampu itu.

Sementara itu, gadis tadi tidak pernah melepaskan lengan Sutejo! Seperti seekor lintah ia melekat pada Sutejo. Setelah menaruh lampu di atas meja dan menutup daun pintu dan jendela agar lampu yang tidak bersemprong lagi itu tidak padam oleh angin, baru dia merasa betapa gadis itu masih terus memegangi lengannya dan ikut ke manapun dia bergerak.

"Lepaskan lenganku, nimas. Jangan takut, bahaya sudah lewat."

"Aiih, denmas... jangan tinggalkan aku sendiri... ke manapun andika pergi, aku ikut..."

Sutejo tersenyum. "Aku tidak akan meninggalkanmu malam ini dan jangan panggil aku denmas. Aku seorang biasa seperti engkau. Jangan takut, aku akan menjaga di sini sampai pagi dan kalau tiga orang itu berani kembali ke sini, tentu akan kuhajar! Duduklah di atas dipan itu, aku akan membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin." Sutejo menarik lengannya terlepas dari pegangan gadis itu dan gadis itu lalu melangkah ke dipan dan duduk di situ sambil tiada hentinya memandang kepada Sutejo.

Dua di antara tiga buah kursi kayu itu dipatah-patahkan oleh Sutejo, ditumpuk kemudian dibakar, dibuat api unggun. Setelah api unggun bernyala dengan baik sehingga pondok itu menjadi terang dan ada sedikit hawa hangat mengurangi kedinginan, Sutejo tampak puas dan barulah dia duduk di bangku atau di kursi kayu yang tinggal sebuah itu. Ketika dia mengangkat muka, pandang matanya bertemu dengan pandang mata gadis itu. Sepasang mata yang bening dan indah menatapnya dan Sutejo agak terpesona.

Tak disangkanya bahwa gadis itu seorang yang cantik manis. Wajahnya ayu dan manis sekali. Tubuhnya yang terbungkus kain yang koyak di sana sini terutama di bagian dada sehingga tangan kiri gadis itu selalu memegangi dan merapatkan kain yang basah kuyup itu, tampak membayang di balik kain yang basah. Tubuh yang sintal dan padat, kulitnya putih kuning mulus Seorang gadis dusun yang benar manis. Ketika pandang mata mereka bertemu, gadis itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan ia tersipu.

"Kakangmas.... saya mengucapkan banyak terima kasih kepadamu.... engkau telah membebaskan saya dari cengkeraman iblis, dari malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut. Entah bagaimana saya akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas ini..." Gadis itu terisak karena terharu.

"Sudahlah, nimas, Apa yang kulakukan itu hanyalah pemenuhan kawajibanku. Aku berkewajiban untuk menolong wanita mana saja yang terancam bahaya seperti yang kau alami tadi. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti ALLAH yang menuntunku ke sini sehingga aku dapat menolongmu. Hanya Gusti ALLAH yang memungkinkan aku menolongmu, yang memberi kekuatan kepadaku untuk menolongmu. Engkau Siapakah, nimas ? Dan mengapa pula bisa sampai di sini dan terjatuh ke tangan tiga orang penjahat itu?"

"Namaku Sumarni, aku dari dusun di timur itu. Aku baru pulang dari dusun tetangga, pulang dari mengunjungi kerabatku. Akan tetapi aku kemalaman dan di tengah perjalanan turun hujan. Aku terpaksa berteduh di bawah pohon, lalu muncul tiga orang itu. Mereka menangkapku dan menyeretku ke dalam hutan lalu ke pondok ini." Dia menggigil teringat akan pengalamannya itu. "Dan.... kalau aku boleh bertanya, andika sendiri siapakah, kakangmas?"

"Namaku Sutejo, seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya." jawab Sutejo dan agar perhatiannya terhadap gadis itu dapat beralih, dia lalu membuka buntalan pakaiannya, memeras pakaian itu sampai airnya habis dan merentangkan pakaian yang masih lembab itu ke dekat api unggun agar menjadi kering. Asyik benar dia dengan pekerjaannya ini sehingga dia tidak tahu betapa Sumarni mengamatinya dengan sinar mata penuh kagum. Pemuda itu demikian tampan dan gagah, mengingatkan ia akan seorang pemuda yang selama ini tidak pernah ia lupakan, akan tetapi yang selalu mendatangkan perasaan tertusuk nyeri dalam hatinya kalau teringat.

Ia teringat kepada pemuda yang mengaku bernama Permadi dan mengaku pula sebagai dewa sungai, pemuda yang merayunya dan menjatuhkan hatinya sehingga ia menyerahkan diri begitu saja dengan suka rela. Pemuda yang berjanji akan menikahinya, akan tetapi setelah merenggut kehormatannya, tidak pernah muncul kembali dan barulah ia tahu bahwa ia telah ditipu. Kini, bertemu dengan Sutejo, ia teringat kepada pemuda itu, Akan tetapi, biarpun sama-sama muda dan tampan, sama-sama sakti, alangkah bedanya antara mereka berdua!

Pemuda yang ini sama sekali tidak memperlihatkan sikap merayu, bahkan seperti tidak perduli akan dirinya, tidak melihat kecantikannya, tidak melihat tubuhnya yang menggairahkan, yang hanya tertutup kain yang sudah koyak-koyak di sana sini. Pemuda itu seolah tidak melihat itu semua dan diam-diam Sumarni menjadi penasaran! Ia, merasa dirinya tidak menarik lagi! Padahal, ia adalah kembang dusunnya dan semua pemuda, tergila-gila kepadanya.

Direntangkan dekat api unggun yang panas itu, pakaian Sutejo cepat menjadi kering dan hangat. Dia mendahulukan sehelai sarung dan setelah pakaian ini menjadi kering benar, dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Sumarni sambil membawa sarung yang kering itu. Gadis itu masih duduk di atas dipan, memegangi kainnya yang terkoyak di bagian dadanya, biarpun berusaha sedapatnya untuk menutupkan kembali kain itu, tetap saja tampak sebagian dadanya yang berbentuk indah dan berkulit putih mulus itu.

"Kau bergantilah pakaian dengan sarung ini, Nimas. Sarung ini sudah kering. Kalau engkau terus memakai pakaian yang basah itu, engkau akan mudah masuk angin." kata Sutejo sambil menjulurkan tangannya yang memegang sarung kepada gadis itu.

Sumarni menerima uluran sarung itu dan mengambilnya dari tangan Sutejo, akan tetapi ia menjadi ragu karena bagaimana ia dapat berganti pakaian di depan seorang pria?

Agaknya Sutejo maklum akan hal ini. Dia menatap wajah gadis ayu itu dan berkata. "Engkau bergantilah pakaian dan Jangan hiraukan aku, nimas. Bergantilah agar engkau tidak menjadi kedinginan."

Setelah berkata demikian, Sutejo duduk di atas kursi yang tinggal sebuah itu, membelakangi meja dan menghadap api unggun sambil merentangkan pakaian lain dekat api unggun biar kering karena diapun perlu berganti pakaian yang telah basah kuyup dan membuat tubuh merasa tidak enak terbungkus pakaian basah itu. Biarpun kedua matanya tidak melihat, namun kedua telinganya mendengar gemersik pakaian yang dipakai ganti oleh Sumarni.

Matanya menatap api unggun, akan tetapi pikirannya membayangkan hal-hal yang membuat dia tidak lagi melihat api unggun. Terbayang olehnya betapa hangat dan lunak tubuh Sumarni ketika tadi mendekapnya dalam keadaan ketakutan, juga terbayang olehnya ketika dalam gelap, secara tidak disengaja tangannya menyentuh perut gadis itu yang berada dalam rangkulan penjahat. Terbayang pula di depan matanya wajah yang ayu, mata yang bening, mulut yang menggairahkan itu. Mata yang memandangnya penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Alangkah ayunya ia..." terdengar suara dalam telinganya, suara yang datangnya entah dari mana, seolah terdengar dari belakangnya dan membisikkan kata-kata pujian itu.

"Hemm, biarlah ayu-ayunya sendiri!" hatinya membantah suara itu karena suara itu mengandung dorongan untuk menarik hatinya.

"Matanya begitu indah bening, hidungnya mancung dan mulutnya! Ah, tak pernah aku melihat mulut seindah itu, demikian menggairahkan, Dan ia telah berhutang budi kepadamu, budi yang besar sekali." suara itu berceloteh terus.

"Aku tidak pernah melepas budi, semua yang kulakukan adalah kewajiban!" kata pula hatinya, agak geram karena suara itu mengutik hatinya.

"Akan tetapi ia menganggapnya sebagai budi, ia berhutang budi, berhutang keselamatan yang melebihi nyawa. Bukankah ia bilang bahwa engkau telah menyelamatkannya dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut? Lihat tubuhnya! Begitu indah, begitu sintal, begitu denok! Dan ia menanti uluran tanganmu, menanti rayuanmu. Ah. betapa akan mesra dan nikmatnya! Bisikan itu merayu.

"Hushh!" Hatinya meronta. "Ini tidak sopan! Seorang berjiwa satria tidak akan melakukan hal itu, tidak akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan, tidak akan menuruti nafsunya sendiri!"

"Ha-ha-ha, engkau munafik! Engkau berpura-pura! Padahal, hatimu tertarik sekali kepada gadis ini. Cantiknya! Hangatnya! Apa salahnya kalau engkau mencumbunya? Ia tentu akan senang karena ia berhutang budi kepadamu. Ia tentu akan menyambutmu dengan kedua lengan terbuka." bisikan itu menjadi-jadi.

"Hushh! Diam kau, jahanam!" maki hatinya, marah kepada diri sendiri yang membiarkan suara itu bicara berlarut-larut. Akan tetapi bisikan kuat itu semakin jelas "Kalau engkau rangkul ia dan menciumnya, siapa yang akan melihatnya? Kalian hanya berdua saja di tempat sunyi ini. Ia pasti senang menyambutmu. Ah, betapa akan mesranya.....! Lihat, ia sudah menanti-nantimu!" bisik suara itu.

Tanpa dapat ditahan lagi Sutejo memutar tubuhnya menghadapi gadis itu dan benar saja. Dia melihat Sumarni memandang kepadanya dengan sinar mata bening akan tetapi mulut tersenyum kecil, tersipu malu. Dalam penglihatannya, gadis itu seperti menantangnya, mengharapkan rayuan dan belaiannya.

"Nah, lihat! Ia sudah siap menerimamu, bukan? Engkau boleh memilikinya, seluruhnya boleh kau miliki, malam ini ia milikmu sepenuhnya..... cepat hampiri ia, rangkul dan rebahkan ia....."

Sutejo memutar tubuhnya dan menggunakan tenaga sakti memukul ke belakang, seolah hendak memukul yang berbisik-bisik itu. Tanpa disadarinya, pukulannya itu menimpa meja yang berada di dekatnya. "Braaakkkkk....!!" Terkena pukulannya, meja yang terbuat dari papan tebal itu pecah berantakan.

Sumarni membelalakkan kedua matanya, memandang kepada pemuda itu dan bertanya, agak takut. "Kakangmas Sutejo... apa... apa yang kau lakukan itu? Mengapa engkau memukul meja sampai hancur?"

Barulah Sutejo teringat dan sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tampak tolol sekali. "Aku... aku... ah, maaf kalau aku mengejutkanmu, nimas Sumarni. Aku... aku ingin membuat meja ini menjadi kayu bakar untuk memberi umpan api unggun yang hampir padam!" Lalu dia mengambil beberapa potong pecahan meja dan dilemparkannya ke api unggun sehingga nyala api membesar kembali.

"Kau tolol! Ada makanan lezat tidak dimakan, pada hal engkau lapar! Engkau munafik! Munafiiiiik...!" Suara itu makin melemah dan lenyap, seolah-olah iblis yang bersuara itu kini menjauhkan diri. Sutejo merasa hatinya tenteram.

Teringatlah dia akan wejangan yang pernah didengarnya dari eyang gurunya, mendiang resi Limut Manik. "Ingatlah engkau selalu, kulup, bahwa tidak ada musuh atau lawan yang lebih tangguh dan berbahaya dari pada nafsu-nafsumu sendiri. Nafsu mendorong dan menyeret kita ke dalam duka melalui kenikmatan dan kesenangan badan. Amatlah sukar untuk dapat mengendalikan nafsu sendiri yang teramat kuat, dan hanya Kekuasaan, Gusti Allah saja yang akan mampu mengalahkannya. Karena itu, bersandarlah kepada Kekuasaan Gusti Allah dengan penyerahan diri yang mutlak. Hanya dengan begitu engkau akan menerima bimbingan dan kekuatan untuk menundukkan nafsu-nafsumu sendiri."

Sadarlah dia bahwa yang berbisik-bisik tadi bukanlah setan, bukanlah iblis, melainkan nafsunya sendiri yang selalu haus akan kenikmatan dan kesenangan badan. Dia menghela napas panjang dan dalam hatinya dia memuji syukur ke hadirat Allah yang telah memberi dia kekuatan untuk membebaskan diri dari seretan nafsu. Kalau saja dia lemah dan tadi tidak kuat menundukkan nafsunya sendiri, tentu telah digaulinya gadis itu, secara suka rela atau paksa, secara kasar atau halus dan akhirnya dia akan merasa menyesal selama hidupnya!

Sunyi setelah itu. Sutejo termenung memandang api unggun. Waktu merayap lambat sekali.

"Kakangmas Sutejo...."

Sutejo tidak berani memutar tubuhnya, tidak berani memandang gadis itu karena takut kalau-kalau suara itu akan datang menggodanya lagi. Tanpa menoleh dia menjawab, "Ada apakah, nimas?"

"Kakangmas Sutejo, engkau mengingatkanaku akan seseorang. Kenalkah engkau kepada orang itu. kakangmas?"

"Hemm, siapakah orang itu nimas?"

"Orangnya masih muda, mungkin sedikit lebih tua dari padamu, kakangmas. Tampan dan gagah, juga sakti. Namanya Permadi. Kenalkah engkau kepadanya, kakangmas Sutejo?" Suara itu penuh harap.

Sutejo memutar tubuhnya. Dia kini melihat gadis itu sudah mengenakan sarungnya, diikatkan sebatas bawah pangkal lengan. Rambutnya terurai lepas dari gelungan, mungkin untuk membiarkan rambut itu mengering maka sengaja dilepas dari sanggulnya. Tampak ayu manis, akan tetapi tidak lagi menggairahkan hatinya, tidak lagi mengganggu dan kini dia dapat menatap wajah itu dengan hati lega dan bebas dari pada cengkeraman nafsu berahi.

"Aku tidak mengenal orang yang bernama Permadi, nimas. Nama yang bagus, seperti nama Raden Janoko. Apamukah orang itu, nimas?"

Ditanya demikian, tiba-tiba Sumarni menangis, air matanya bertetesan di atas sepasang pipinya. Sutejo mendiamkannya saja, maklum bahwa bagi seorang wanita, pelampiasan perasaan hatinya banyak melalui air matanya dan biasanya air mata itu dapat merupakan jalan keluar dari himpitan duka. Tidak lama Sumarni menangis. Ia menyusut air matanya dan sudah dapat menenangkan hatinya kembali. Entah bagaimana, timbul kepercayaan besar sekali dalam hatinya terhadap Sutejo, semenjak Sutejo memberikan sarung kepadanya tadi.

Sebelum itu, hatinya masih ragu-ragu apakah Sutejo tidak akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Permadi kepadanya. Akan tetapi setelah melihat Sutejo sama sekali tidak mempunyai niat mendekatinya, bahkan setelah menyerahkan sarung lalu membelakanginya dan tidak memperdulikannya lagi, timbul kepercayaan besar bahwa pemuda ini adalah seorang yang dapat dipercaya sepenuhnya. Kareta itu, baru satu kali ini ia mendapatkan kesempatan untuk mencurahkan semua penguneg-uneg hatinya keluar. Padahal, kepadaayah ibunya sendiripun ia tidak pernah bercerita tentang Permadi.

"Kalau engkau berkeberatan menceritakan, janganlah ceritakan, nimas,"kata Sutejo.

"Tidak, kakangmas. Aku bahkan ingin menceritakan semuanya kepadamu. Kurang lebih enam bulan yang lalu ketika aku sedang mandi di sungai, muncul seorang pemuda yang tampan. Dia mengaku sebagai Dewa Sungai dan mengaku bernama Permadi. Dia amat menarik hati dan dia memikat aku dengan bujuk rayunya. Aku jatuh... aku menyerah karena dia berjanji akan mengawiniku. Akan tetapi setelah dia pergi, dia tidak pernah muncul kembali... ahh, aku menyesal sekali kakangmas, akan tetapi.... aku sungguh mencintanya sepenuh jiwaku. Kalau engkau kebetulan bertemu dengan dia, tolonglah, bujuk dia agar dia mau menemuiku, kakangmas."

Sutejo mengerutkan alisnya. Di dalam hatinya dia mengutuk pemuda perayu yang berhati palsu itu. Akan tetapi diapun diam-diam menyalahkan Sumarni yang demikian mudah terbujuk dan mudah menyerahkan diri. Seorang gadis seharusnya teguh mempertahankan kehormatannya dan tidak mau menyerahkan diri kepada pria manapun sebelum dinikahinya. Kalau ia dengan mudah menyerahkan diri kepada seorang pria kemudian pria itu tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya, seperti halnya Sumarni, maka akan hancurlah masa depan gadis itu!

"Baiklah, nimas Sumarni," dia berjanji. "Aku pasti akan mengatakannya kepadanya kalau aku dapat bertemu dengan dia."

"Orangnya tampan, kakangmas. Ketampanan dan ketegapan tubuhnya seperti kakangmas, dan dia mempunyai sebuah tahi lalat di dagunya."

"Akan kuingat itu, nimas. Nah, hujan rupanya telah terhenti dan dengar, itu sudah terdengar suara ayam jantan berkeruyuk. Sebentar lagi akan datang pagi dan aku akan mengantarmu pulang ke dusunmu."

Sumarni bernapas lega. "Sekali lagi terima kasih kakangmas Sutejo. Engkau sungguh baik hati."

Tiba-tiba terdengar suara ramai banyak orang. Sutejo dan Sumarni menuju ke pintu dan Sutejo membuka daun pintu dari bambu itu dan memandang keluar. Dari jauh tampak belasan orang dusun berdatangan menghampiri pondok itu, ada yang membawa tampah, tutup panci dan barang-barang lain yang dipukuli beramai-ramai, dan di antara mereka banyak pula yang membawa tombak dan pentungan.

"Mereka adalah penduduk dusunku!" kata Sumarni sambil melangkah keluar menyambut.

Ketika para orang dusun itu melihat Sumarni keluar dari pondok itu dan ada seorang pemuda berdiri di ambang pintu, mereka segera berlarian datang. "Itu ia Sumarni!"

"Wah, pemuda itu tentu yang menculiknya!" "Hayo pukul orang kurang ajaritu!" Semua orang sudah berkumpul di situ, berhadapan dengan Sumarni dan Sutejo.

"Para paman dan saudara sekalian. Sabar dan tenang dulu!" seru Sumarni yang masih mengenakan sarung yang dipinjung sampai ke atas dadanya. "Kisanak ini sama sekali tidak menculikku, bahkan dia telah menolongku dari tangan tiga orang penjahat yang menculikku!"

Seorang pria setengah tua melangkah maju. "Sumarni, apa yang telah terjadi? Semalam hujan badai dan engkau tidak pulang, maka pagi ini kami ramai-ramai mencarimu, Siapa pemuda ini dan apa yang terjadi?"

Melihat ayahnya, Sumarni lalu berlari menghampiri dan memegang lengan ayahnya. "Bapa, Jangan salah mengerti. Semalam, ketika pulang dari bertandang ke dusun Kandangan, hujan turun dengan lebatnya, padahal hari sudah mulai gelap. Aku berteduh di bawah pohon dan muncullah tiga orang yang menyeramkan dan jahat. Mereka menangkap aku dan menyeretku ke dalam hutan, ke pondok ini. Aku terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut, bapa. Kemudian tiba-tiba muncul kisanak ini yang bernama Kakangmas Sutejo. Dia menghajar tiga orang itu sehingga mereka melarikan diri. Karena hujan turun disertai badai selama semalam suntuk, terpaksa kami berteduh di gubug ini, menunggu hujan reda sampai pagi."

"Akan tetapi, engkau mengenakan sarung siapa itu?"

"Pakaianku sudah dikoyak-koyak oleh tiga orang jahanam itu, bapa, dan Kakangmas Sutejo sudah begitu baik untuk memanggang pakaiannya dan setelah kering memberikan sarung ini untuk mengganti pakaianku yang koyak-koyak dan basah kuyup."

"Tidak mungkin! Seorang pemuda dan seorang gadis berduaan saja di dalam pondok kosong selama satu malam penuh! Tidak mungkin pemuda itu tidak berbuat mesum terhadap Sumarni!" terdengar suara seorang laki-laki, marah. Suara ini meracuni hati semua orang dan segera mereka menyerbu dengan tombak dan pentungan kearah Sutejo.

Sutejo menggerakkan kedua lengannya dan semua tombak dan pentungan itu terpental dan terlepas dari tangan para pemegangnya dan ketika dia mendorong ke depan, enam orang terdorong mundur dan terhuyung-huyung!

"Dengar kalian semua, orang-orang bodoh! Aku bukan seorang hina seperti yang kalian duga! Kalau kalian hendak benar-benar membela nimas Sumarni dan membersihkan dusun kalian dari ancaman orang jahat, carilah tiga orang penjahat yang semalam menculik Sumarni. Mereka itu dipimpin oleh seorang yang mukanya codet. Nah, aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi." Setelah berkata demikian, sekali melompat Sutejo telah lenyap dari depan mata orang-orang dusun itu.

"Kakangmas Sutejo...! Sumarni berseru akan tetapi Sutejo tidak memperdulikannya dan telah pergi jauh.

Sumarni membalikkan tubuhnya menghadapi orang orang dusun itu. "Kalian semua ini memang bodoh dan keterlaluan, tidak dapat mengenal orang baik atau jahat. Kakangmas Sutejo adalah seorang yang sakti mandraguna dan juga bijaksana. Kalau dia tadi marah, apakah kalian akan mampu menandinginya? Kalau dia mau, tentu kalian semua telah dibunuhnya! Aku yang telah dia tolong sehingga pagi hari ini masih dapat bernapas, tidak dapat membalas kebaikannya malah kalian membalasnya dengan pengeroyokan. Sungguh menyebalkan!!"

Orang-orang dusun itu hanya saling pandang dan merasa menyesal mengapa tadi mereka terburu nafsu. Beramai-ramai mereka lalu membakar pondok yang agaknya milik para penjahat sebagai tempat persembunyian dalam hutan itu, lalu mereka pulang ke dusun. Sutejo yang tadi sudah menyambar buntalan pakaiannya sebelum meninggalkan pondok, kini berlari cepat keluar diri hutan itu dan melanjutkan perjalanannya. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Bukan urusan Sumarni. Urusan gadis itu dan orang-orang dusun sudah dilupakan. Hal itu dianggapnya urusan kecil yang tidak ada gunanya dipikirkan lagi.

Yang membuat hatinya mengganjal adalah pertemuannya dengan Cangak Awu. Murid Jatikusumo itu hendak memaksanya menyerahkan kitab Bajrakirana. Hal inipun tidak membuat dia resah karena dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesan mendiang Resi Limut Manik, tidak akan menyerahkan kitab itu kepada siapapun juga. Akan tetapi yang meresahkan hatinya adalah tuduhan bahwa dia dan Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik dan dua orang cantriknya itu.

Tuduhan yang semena-mena dan urutan ini teramat penting. Harus segera dipecahkan dan dibikin terang. Untuk itu, dia harus pergi ke perguruan Jatikusumo, menghadap ketua Jatikusumo, paman gurunya sendiri. Bhagawan Sindusakti, untuk menjelaskan duduk persoalannya. Untuk memberitahukan bahwa bukan dia dan Puteri Wandansari yang membunuh Resi Limut Manik., melainkan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya. Dia dapat menduga bahwa tentu Bhagawan Jaladara yang mempunyai ulah licik dan palsu itu, memutar-balikkan kenyataan dan sengaja menjatuhkan fitnah terhadap dirinya. Dengan hati mantap dia lalu menujukan langkahnya ke selatan, menuju ke daerah Pacitan, di pantai Laut Selatan.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Dua orang kakek itu berdiri di depan gapura perkampungan Jatikusumo. Yang seorang adalah seorang kakek berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok seperti muka singa dan pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa. Dia ini bukan lain adalahKI Klabangkolo, kakek yang menjadi tokoh golongan sesat itu. Adapun orang kedua adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh lima tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, rambutnya sudah putih semua akan tetapi mukanya masih tampak seperti muka orang muda. Matanya tajam seperti mata burung elang ketika dia melayangkan pandangan dan menyapu keadaan sebelah dalam perkampungan Jatikusumo melalui pintu gerbang yang terbuka.

Melihat dua orang kakek longok-longok di depan gapura, lima orang murid Jatikusumo yang berjaga di garda penjagaan dekat pintu gerbang, segera menghampiri. Seperti yang telah menjadi watak para murid Jatikusumo yang terdidik baik, melihat dua orang kakek tua, para murid itu bersikap menghormat dan seorang di antara mereka yang menjadi kepala jaga menyapa, suaranya halus. "Paman berdua hendak mencari siapakah?"

Ki Klabangkolo memandang pemuda yang bertanya itu dengan alis berkerut, akan tetapi mulutnya menyeringai lebar. "Heh-heh, apakah engkau murid Jatikusumo?"

"Benar, paman." kata pemuda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu.

"Bagus, perlihatkan kepandaianmu!" tiba-tiba Ki Klabangkolo mendorongkan tangan kirinya ke arah dada murid Jatikusumo itu. Pemuda itu terkejut ketika ada angin menyambar ke arahnya. Dia mencoba untuk mengelak, akan tetapi tidak dapat menghindarkan sambaran angin pukulan yang membuat dia terjengkang dan terguling-guling. Biarpun dia tidak terluka namun kulit tubuhnya lecet-lecet karena dia terguling-guling itu. Empat orang kawannya menjadi terkejut dan mereka segera maju menghadapi dua orang kakek itu. Akan tetapi Ki Klabangkolo sudah melangkah maju dan kembali tangannya digerakkan mendorong ke depan sambil berseru.

揕awanlah kami satu lawan satu, jangan main keroyokan seperti segerombolan srigala!"

"Murid Jatikusumo tidak ada isinya!" Dorongannya kini semakin kuat dan empat orang itu merasa seperti disambar angin badai. Mereka tidak dapat bertahan dan keempatnya terjengkang dan terbanting sampai terguling guling.

Lima orang murid Jatikusumo itu terkejut. Mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang kakek yang amat sakti dan sama sekali bukan lawan mereka. Maka, mereka lalu berlari masuk ke dalam perkampungan untuk melapor kepada ketua mereka.

Sementara itu Ki Klabangkolo yang melihat lima orang murid Jatikusumo itu lari memasuki perkampungan, tertawa bergelak. Kemudian dia menengadah dan mengerahkan Aji Pekik Singanada. Terdengarlah suara gerengan yang dahsyat sekali, menggetarkan seluruh perkampungan Jatikusumo, kemudian disusul suaranya yang mengguntur. "Haiiii, wong Jatikusumo! Kalau di antara kalian ada yaag memiliki kepandaian, keluarlah...!"

Suara itu bergema di seluruh perkampungan. Bhagawan Sindusakti yang menerima laporan lima orang murid yang menjaga di gapura itu menjadi marah sekali. Diapun bergegas keluar dan mendengar teriakan itu. Hatinya semakin panas dan pada saat itu, murid-muridnya juga bermunculan dari semua penjuru. Maheso Seto, Rahmini, Priyadi dan Cangak Awu juga muncul dan mereka berempat itu menyertai guru mereka menuju ke gapura. Di belakang mereka, tiga puluh orang lebih para murid juga mengikuti keluar.

Pada saat itu, dari luar gapura masuk seorang pemuda yang bukan lain adalah Sutejo. Dia berkunjung ke perguruan Jatikusumo untuk memberi keterangan tentang fitnah yang dijatuhkan atas dirinya dan Puteri Wandansari, yang dituduh membunuh mendiang Resi Limut Manik. Dia melihat dua orang kakek berdiri di depan gapura. Karena tidak ada urusan dengan mereka walaupun dia mengenal Ki Klabangkolo sebagai kakek yang membikin keributan di dalam pesta ulang tahun perguruan Welut Ireng di mana kakek itu dikalahkan oleh pengeroyokan Maheso Seto dan Rahmini, dan melihat di gardu penjagaan itu tidak ada yang berjaga, dia lalu masuk saja ke dalam perkampungan. Kedua orang kakek itu yang tidak mengenal Sutejo, juga mendiamkannya saja, mengira bahwa pemuda itu tentu seorang di antara para murid di situ.

Setelah memasuki pintu gapura, Sutejo bertemu dengan rombongan Bhagawan Sindusakti dan empat orang muridnya serta puluhan orang murid yang berada di belakang mereka. Melihat Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu yang sudah dikenalnya, Sutejo dapat menduga bahwa kakek tua berwajah penuh wibawa dan bertubuh sedang itu tentu paman gurunya, Bhagawan Sindusakti. Melihat sikap mereka seperti orang sedang marah, diapun dapat menduga apa yang terjadi. Tentu dua orang kakek di luar itu datang membikin ribut dan pimpinan perguruan Jatikusumo ini tentu sedang keluar untuk menyambut dua orang kakek itu. Dia lalu melangkah maju menghadang dan memberi hormat sembah sambil berdiri kepada Bhagawan Sindusakti.

"Paman Guru, saya Sutejo menghaturkan sembah."

Bhagawan Sindusakti berhenti melangkah dan menatap wajah Sutejo dengan penuh perhatian. Dia tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi ketika Sutejo memperkenalkan namanya, dia segera dapat menduga bahwa tentu inilah Sutejo murid mendiang Bhagawan SidikPaningal itu. "Ada keperluan apakah engkau datang berkunjung?" tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ketus karena memang dia sedang marah mendengar, tantangan dari luar tadi.

"Maaf. paman. Saya datang hendak membicarakan tentang kitab Bajrakirana dan tentang kematian Eyang Resi Limut Manik." kata Sutejo dengan sikap tenang.

"Nanti saja. Kami sedang ada urusan penting!" kata Bhagawan Sindusakti dan dia melanjutkan langkahnya menuju keluar gapura.

Maheso Seto dan Rahmini iuga melangkah dan ketika tiba dekat Sutejo, Rahmini membentaknya. "Minggir kau! Dan tunggu sampai Bapa Guru" memanggilmu!" Maheso Seto hanya memandang kepada Sutejo dengan alis berkerut.

Priyadi yang belum mengenal Sutejo, memandang penuh perhatian, akan tetapi Cangak Awu juga mengerutkan alisnya yang tebal ketika memandang kepada Sutejo. Mereka semua menuju keluar, meninggalkan Sutejo. Akhirnya Sutejo terpaksa mengikuti keluar pula, sebagai yang terakhir, setelah tiba di luar, Sutejo menyelinap di antara para murid Jatikusumo yang tanpa diperintah telah mengepung dua orang kakek itu dan membuat lingkaran besar.

Dari belakang punggung para murid yang mengepung tempat itu, sutejo memandang ke dalam lingkaran. Dia melihat betapa dua orang kakek itu berdiri dengan kaki terpentang lebar dan sikap mereka menantang sekali. Dia sudah tahu betapa saktinya Ki Klabangkkolo yang baru bertema tanding setelah Maheso Seto dan Rahmini mengeroyoknya. Akan tetapi, Sutejo memandang kepada kakek kedua penuh perhatian.

Dia melihat betapa sepasang mata kakek yang kedua itu seperti mata elang, amat tajam dan memiliki pengaruh yang amat kuat. Juga muka itu masih seperti seorang pemuda saja. Dari sini dia dapat menduga bahwa kakek itu tentu memiliki kesaktian yang lebih hebat dibanding Ki Klabangkolo. Kalau tidak demikian, kiranya Ki Klabangkolo tidak akan berani menantang perguruan Jatikusumo karena dia sudah pernah dikalahkan oleh pengeroyokan dua orang murid kepala Jatikusumo. Agaknya kakek itu kini berani datang berkunjung untuk membalas kekalahannya, tentu ada yang diandalkan dan agaknya kakek tinggi kurus itulah yang menjadi andalannya.

Melihat Ki Klabangkolo, Rahmini tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka kakek itu sambil berseru, "Kiranya engkau, Ki Klabangkolo! Apakah engkau minta mati, maka berani datang menentang kami setelah engkau kami kalahkan dulu itu?"

"Ha-ha-ha, Bhagawan Sindusakti, agaknya di perguruan Jatikusumo ini, engkau hanya pandai mengajarkan ilmu keroyokan kepada murid-muridmu, seperti ilmunya segerombolan srigala yang pengecut!" Disindir begitu, Rahmini menjadi merah wajahnya. Akan tetapi Bhagawan Sindusakti masih bersikap tenang dan sabar walaupun mukanya berubah kemerahan.

"Andika berdua siapakan, Kisanak? Dan apa sebabnya datang-datang memukuli murid kami?" "Heh-heh, ternyata telingamu tidak dapat mendengar dan matamu tidak dapat melihat sampai jauh. Ketahuilah, aku bernama Ki Klabangkolo dan ini adalah kakak seperguruanku yang bernama Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas."

Diam-diam Bhagawan Sindusakti terkejut. Dia baru mendengar nama Ki Klabangkolo dari kedua orang muridnya, yaitu Maheso Seto dan Rahmini yang baru dapat mengalahkannya setelah mereka berdua mengeroyoknya. Diapun sudah pernah mendengar akan nama besar Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas yang kabarnya merupakan seorang yang sakti mandraguna. Akan tetapi dia masih bersikap tenang.

"Ah, kiranya Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo yang datang berkunjung. Tidak tahu ada keperluan apakah andika berdua berkunjung ke perguruan Jatikusumo?"

"Bhagawan Sindusakti, kami berdua menantang perguruan Jatikusumo untuk melakukan pertandingan adu kesaktian. Akan tetapi, kalau memang perguruan Jatikusumo mempunyai orang-orang pandai dan kalau berani, jangan main keroyokan, melainkan bertanding satu lawan satu! Aku tidak terima karena tempo hari aku pernah dikeroyok oleh dua orang muridmu ini. Aku sekarang menantang untuk bertanding satu lawan satu Akan tetapi kalau memang perguruan Jatikusumo terdiri dari orang orang pengecut dan beraninya hanya main keroyokan, kamipun tidak takut!"

Kata-kata yang penuh tantangan dan kesombongan itu tentu saja membakar hati Bhagawan Sindusakti dan para muridnya. Terutama sekali Cangak Awu yang berwatak keras, jujur dan kasar. Dia sudah melompat ke depan sambil membawa tongkatnya. "Ki Klabangkolo! Andika ini orang sudah tua akan tetapi masih sombong dan tidak tahu aturan! Apakah kau kira di duuia ini hanya engkau saja yang memiliki kepandaian? Kami orang-orang Jatikusumo bukan bangsa pengecut. Akulah yang berani menandingimu satu lawan satu!"

Maheso Seto dan Rahmini yang sudah mengetahui akan kesaktian Ki Klabangkolo, memandang dengan khawatir, akan tetapi karena adik seperguruan itu sudah maju, meeka tidak dapat menghalanginya. Juga Bhagawan Sindusakti tidak dapat mencegah muridnya yang hendak menandingi musuh itu Ki Klabangkolo tertawa, melihat majunya Cangak Awu. Sejenak dia memandang kepada pemuda tinggi besar itu, lalu katanya lantang. "Bocah masih berbau popok berani melawan aku? Minggirlah dan suruh gurumu saja yang maju, karena melawan murid Jatikusumo terlalu tanggung bagiku!"

Cangak Awu menjadi semakin marah. "Tua bangka sombong, lihat tongkatku!" serunya dan mulailah dia menyerang. Tongkatnya menyambar dan mengeluarkan suara mengiuk ketika menyambar ke arah kepala Ki Klabangkolo. Akan tetapi kakek ini dengan tenang mundur selangkah dan ketika tangan kirinya bergerak ke atas, dia sudah menangkis tongkat itu dengan lengannya.

"Dukkk!" tongkat yang keras itu bertemu lengan, dan akibatnya Cangak Awu terdorong dan terhuyung ke belakang. Akan tetapi pemuda yang pemberani ini tidak menjadi gentar dan dia menyerang terus dengan nekat dan dahsyat. Gerakannya memang amat kuat dan pemuda ini sudah mencapai tingkat tinggi dalam perguruan Jatikusumo.

Ki Klabangkolo melawan dengan seenaknya. Biarpun dia tidak memegang senjata apapun, akan tetapi kedua lengannya mampu menangkis tongkat dan kalau dia mengelebatkan lengan bajunya yang lebar, ujung lengan baju itu menyambar dan merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu. Agaknya dia mempermainkan Cangak Awu untuk memamerkan kepandaiannya Tampaknya saja Cangak Awu banyak menyerang, akan tetapi kenyataannya dia terdesak.

Hal itu adalah karena setiap kali menangkis, kakek itu langsung membalas dan setiap serangannya, baik dengan ujung lengan bajunya atau tamparan tangannya, merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu sehingga pemuda itu terdesak mundur. Akan tetapi dasar pemuda yang berwatak keras dan pantang mundur. Cangak Awu menjadi semakin penasaran dan pada suatu saat yang baik dia mempergunakan tongkatnya untuk menusuk ke, arah dada Ki Klabangkolo.

"Dukkk" Ki Klabangkolo menangkis sehingga tongkat itu terpental, akan tetapi secepat kilat Cangak Awu membalik tongkatnya dan mempergunakan ujung yang lain untuk ditusukkan ke arah perut lawan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Wuuuuttt.... cappp....!!" Tongkat itu seolah menancap ke dalam perut Ki Klabangkolo! Akan tetapi kakek itu malah terkekeh dan ketika Cangak Awu menarik tongkatnya, dia tidak mampu mencabut tongkat yang tampaknya seperti menancap ke dalam perut itu. Padahal, ujung tongkat itu tidak menancap melainkan tersedot "masuk"dan terlepit, tidak dapat ditarik lagi olehCangak Awu. Pemuda itu menjadi penasaran dan menarik lagi dengan tenaga sepenuhnya. Pada saat itu, Ki Klabangkolo melepaskan jepitan perutnya dan berbareng menendang dengan kaki kiri yang mengenai dada Cangak Awu.

"Desss........!" Tak dapat ditahan lagi, tubuh Cangak Awu yang terbawa tenaga betotannya sendiri, ditambah tenaga tendangan lawan, terlempar sampai jauh ke belakang dan jatuh terbanting keras! Untung tubuh pemuda itu kuat dan kebal sehingga dia tidak terluka parah, akan tetapi tetap saja kepalanya pening dan napasnya agak terengah

ketika dia bangkit berdiri dengan terhuyung. Priyadi menyambar lengannya dan membantu adik seperguruan itu agar dapat berdiri tegak. "Kakek sombong, akulah lawanmu!" terdengar bentakan nyaring dan Rahmini sudah melompat ke depan sebelum dapat dicegah suaminya. Melihat adik seperguruannya terpental dan roboh, wanita yang keras hati dan galak ini tidak dapat menahan kemarahannya. "Sambutlah cambukku ini!" Ia mencabut cambuk dan pinggangnya dan memutar lalu meledakkan cambuk itu di atas kepalanya.

"Tar-tar-tar.......! Pecut itu meledak-ledak, kemudian menyambar turun mematuk ubun-ubun kepala Ki Klabangkolo! Serangan itu dahsyat dan berbahaya sekail, namun Ki Klabangkolo tidak menjadi gentar, bahkan dengan tenangnya dia mengibaskan tangan kirinya dan ujung lengan baju yang panjang itu menangkis sambaran ujung cambuk yang melecut ke arah kepalanya.

"Prattt......!!" Ujung cambuk bertemu ujung lengan baju dan ujung cambuk itu terpental ke atas! Akan tetapi dengan putaran pergelangan tangan, Rahmini sudah dapat menyerang lagi dengan lecutan ke arah dada. Lecutan ini bukan sembarang lecutan karena dengan penggunaan tenaga saktinya ia dapat membuat ujung cambuk itu melecut tegang, ujungnya menjadi kaku dan keras sehingga dapat menotok jalan darah atau urat yang penting di dada dan kalau mengenai sasaran dapat membuat bagian atas tubuh menjadi lumpuh.

Namun, Ki Klabangkolo mengenal serangan yang dahsyat ini maka dengan menggeser kaki ke kiri dan menyampok dengan tangan kanan, dia dapat mengelak sekaligus menangkis ujung pecut itu. Kini dia membalas dengan tamparan dari kiri ke arah tengkuk Rahmini. Cepat dan kuat bukan main tamparan ini sehingga terpaksa Rahmini yang diserang dari sebelah kanannya itu membuang diri ke kiri dengan loncatan Untuk mencegah agar lawan tidak mendesaknya, ia memutar pecutnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang seolah menjadi perisai bagi dirinya.

Pertandingan berjalan seru, akan tetapi biarpun tingkat kepandaian Rahmini masih lebih tinggi dan matang dibandingkan tingkat yang dimiliki Cangak Awu, tetap saja ia masih belum mampu menandingi Ki Klabangkolo. Bahkan kadang-kadang lecutan cambuknya yang tidak terlalu berbahaya, diterima begitu saja oleh tangan Ki Klabangkolo dan beberapa kali ujung pecutnya dapat tertangkap jari-jari tangan Ki Klabangkolo dan setelah terjadi tarik menarik, ujung pecut itu putus sampai tiga kali!

Ki Klabangkolo yang agaknya tidak ingin lebih lama menandingi Rahmini, tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan auman seperti singa yang marah. "Haunggggg.... wirrrr....!" Angin keras sekali menyambar ke arah Rahmini.

Wanita itu cepat menyambut dengan dorongan kedua tangannya karena tidak sempat mengelak lagi. Akibat benturan dua tenaga sakti itu, tubuh Rahmini terjengkang dan untung ia dapat berjungkir balik sampai tiga kali sehingga tidak sampai terbanting seperti Cangak Awu. Akan tetapi napasnya agak terengah dan wajahnya pucat sekali.

Maheso Seto marah melihat kekalahan isterinya. Dia melompat ke depan dan dengan halus menarik tangan isterinya, disuruhnya mundur. Rahmini yang sudah merasa kalah, tidak membantah dan berdiri di dekat gurudan saudara-saudara seperguruannya, menonton dengan hati tegang karena ia maklum bahwa suaminya belum tentu akan mampu menandingi Ki Klabangkolo yang demikian saktinya. Dahulupun kalau suaminya tidak mendapat bantuannya sehingga mereka berdua yang mengeroyok Ki Klabangkolo, belum tentu kakek itu dapat dipukul mundur.

Maheso Seto juga maklum bahwa lawannya adalah seorang yang sakti mandraguna, oleh karena itu diam-diam dia sudah mengerahkan semua tenaga saktinya, disalurkan lewat kedua tangannya. Bhagawan Sindusakti yang melihat kekalahan Cangak Awu dan Rahmini, dapat menduga pula bahwa Maheso Seto sukar untuk mencapai kemenangan melawan Ki Klabangkolo. Akan tetapi dia tidak melarang murid kepala itu maju karena dia sendiri perlu untuk menyaksikan dan meneliti ilmu yang dipergunakan Ki Klabangkolo agar nanti dia dapat menguasai keadaan apa bila dia yang bertanding melawan kakek sombong itu.

Sementara itu, sejak tadi Sutejo mengamati jalannya pertandingan. Dia melihat bahwa dalam hal ilmu Silat, agaknya Cangak Awu bahkan Rahmini tidak kalah oleh Ki Klabangkolo. Ilmu silat para murid Jatikusumo itu memiliki dasar yang lebih baik dan lebih kuat. Juga dia melihat bahwa baik Cangak Awu maupun Rahmini telah menguasai ilmu-ilmu dari perguruan Jatikusumo seperti Aji Sihung Nila, Harina Legawa, dan Gelap Musti, dengan amat baiknya. Akan tetapi mereka berdua itu masih lemah dalam hal penggunaan tenaga sakti dibandingkan Ki Klabangkolo. Inilah yang membuat mereka kalah. Dia harus mengakui bahwa Ki Klabangkolo agaknya memiliki tenaga sakti yahg amat kuat, juga memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.

Maheso Seto adalah seorang murid kepala Jatikusumo yang sudah mencapai tingkat tinggi. Di samping wataknya yang gagah berani dan suka menentang kejahatan, diapun adil dan keras, sayang dia memiliki keangkuhan yang timbul dari kedudukannya sebagai murid kepala. Maka dia maju menghadapi Ki Klabangkolo dengan tangan kosong, karena dia tidak ingin disebut licik kalau meraih kemenangan mempergunakan senjatanya melawan orang yang tidak bersenjata! Biarpun kalah, dia harus kalah dalam keadaan yang gagah! Demikianlah, dia menghadapi Klabangkolo dengan tangan kosong pula.

Ki Klabangkolo mengerutkan alisnya melihat Maheso Seto maju hendak melawannya. "Hemm, engkau pernah mengalahkan aku, akan tetapi dengan pengeroyokan. Sekarang tiba saatnya aku membalas kekalahanmu itu!"

"Boleh kau coba, Ki Klabangkolo. Akulah lawanmu!"

"Ha-ha-ha, lebih baik engkau mundur dan suruh gurumu saja yang maju menghadapiku!" kata pula Ki Klabangkolo dengan suara tawa mengejek.

"Jangan banyak cakap, akulah yang akan menandingimu!" kata Maheso Seto sambil membuat pasangan kuda-kuda Jatikusumo yang amat gagah. Dia mengangkat kaki kanan ke atas, kedua tangan merangkap sebagai sembah ke depan dada dan kepalanya menoleh ke kanan menghadapi lawannya.

"Ha-ha-ha, engkau mencari penyakit, orang muda. Majulah!"

"Sambut seranganku!" Maheso Seto menyerang dengan cepat dan kuat sekali, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah muka dan tangan kanan menyusulkan pukulan ke arah dada. Gerakannya tangkas, cepat dan bertenaga sehingga pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan.

Ki Klabangkolo maklum bahwa lawannya ini tidak dapat disamakan dengan dua orang lawannya yang lalu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan cepat menghindar dari kedua serangan itu, membalikkan tubuh ke belakang kemudian dia membalik lagi, kakinya menyambar bagaikan palu godam ke arah muka Maheso Seto.

"Plakk!" Maheso Seto terpaksa menangkis karena untuk mengelak dia sudah tidak sempat lagi, demikian cepatnya kaki lawan itu menyambar ke arah mukanya. Akan tetapi tangkisan itu bertemu dengan kaki yang mengandung tenaga besar sekali sehingga Maheso Seio terpaksa melompat ke belakang untuk mencegah dirinya terhuyung.

Maheso Seto tidak menjadi jerih dan dia mendahului lawannya lagi, maju menyerang dengan kecepatan kilat. Dalam sedetik saja kedua tangannya sudah melakukan serangan beruntun ke arah dada dan lambung. Biarpun dia memiliki kekebalan tubuh yang hebat, namun Ki Klabangkolo tidak berani menerima serangan lawan itu dengan mengandalkan kekebalannya. Hal itu akan terlalu berbahaya melihat betapa pukulan-pukulan itu mendatangkan angin yang menerpa keras sekali. Maka diapun menggunakan kedua lengannya untuk menangkisi semua pukulan Maheso Seto, kemudian membalas pula dengan pukulan tangannya yang ampuh.

Terdengar dak-duk dak-duk dan plak-plak yang keras dan menggetarkan ketika dua pasang lengan itu seringkah bertemu di udara. Akan tetapi Maheso Seto harus mengakui dalam hatinya bahwa dalam bal tenaga sakti dia masih kalah kuat dibandingkan lawannya. Beberapa kali kalau mereka beradu tenaga sakti, dia terdorong mundur beberapa langkah sedangkan lawannya masih tegar berdiri kokoh di atas kedua kakinya. Lambat laun diapun terdesak mundur dan mundur terus walaupun dia masih mampu menangkis semua pukulan lawan.

"Mundurlah, Maheso Seto!" Bhagawan Sindusakti membentak ketika melihat murid kepala itu tidak mampu menandingi lawan. Akan tetapi dasar watak Maheso Seto yang keras dan sukar baginya untuk mundur dan mengaku kalah begitu saja, pada saat itu dia sudah mengumpulkan semua tenaganya dan menyerang lawan dengan pukulan jarak jauh, yaitu Aji Gelap Musti. Lawannya juga merendahkan diri dan menyambut pukulan itu dengan Aji Singorodra. Dua pasang tangan saling dorong dan dua tenaga sakti jarak jauh saling bertumbukan di udara dengan hebatnya.

"Blarrr......!" Semua orang merasakan pertemuan dua tenaga sakti yang membuat tempat itu seolah tergetar. Akibatnya sungguh hebat. Tubuh Maheso Seto terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, sedangkan Ki Klabangkolo masih berdiri tegak dan hanya napasnya sedikit terengah.

Rahmini cepat menyambar tangan suaminya dan membantunya berdiri tegak agar tidak sampai terbanting roboh. Akan tetapi Maheso Seto mengerutkan alisnya dan wajahnya pucat sekali, kemudian dia menjatuhkan diri duduk bersila untuk mengatur pernapasan karena di sebelah dalam dadanya terguncang hebat yang dapat menimbulkan luka parah kalau tidak cepat dipulihkan dengan hawa murni.

"Ha-ha-ha, cuma sebegitu saja kedigdayaan para murid Jatikusumo?"

Bhagawan Sindusakti memandang dengan alis berkerut. Tahulah dia bahwa kedatangan dua orang pendeta sesat itu merupakan malapetaka bagi perguruan Jatikusumo. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian murid kepala Maheso Seto sudah mencapai tingkat tinggi. Semua ilmu yang dia kuasai sudah dia ajarkan kepada murid kepala ini dan tingkat kepandaian Maheso Seto sudah sejajar dengan tingkatnya. Kalau Maheso Seto dapat dikalahkan Ki Klabangkolo sedemikian mudahnya, dia tahu bahwa dia sendiripun tidak akan mampu menandingi pendeta sesat itu. Akan tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia harus maju menandingi Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk mempertahankan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo.

Akan tetapi ketika dia bergerak kedepan, dengan nekat hendak melawan Ki Klabangkolo, tiba-tiba seseorang melompat dari kelompok para murid yang mengepung tempat itu. Orang ini ternyata adalah Sutejo yang sudah menghadap Bhagawan Sindusakti dan menyembah sambil berdiri membungkuk. "Paman, perkenankan saya untuk menghadapi Ki Klabangkolo dan menandinginya !" kata Sutejo.

Bhagawan Sindusakti mengerutkan alisnya dan memandang ragu. Kalau muridnya yang maju membela nama perguruan Jatikusumo, hal itu adalah sewajarnya. Akan tetapi Sutejo bukan murid langsung Jatikusumo, kalau sampai pemuda ini tewas dalam menandingi Ki Klabangkolo, sungguh dia akan merasa sangat tidak enak. Pemuda ini boleh dianggap sebagai orang luar. Pula, bagaimana mungkin Sutejo mampu menandingi Ki Klabangkolo sedangkan para muridnya juga tidak mampu? Bahkan dia tidak menyalahkan dan tidak mengharapkan Priyadi untuk maju karena selain hal itu percuma, juga membahayakan keselamatan muridnya itu.

"Sutejo, engkau tidak berhak mencampuri urusan kami perguruan Jatikusumo!" tiba-tiba Rahmini berseru ketus. "Lagi pula, apamukah yang kau andalkan untuk menandingi lawan sedangkan kami semua juga telah dikalahkannya? Mundurlah engkau dan jangan mengganggu Bapa Guru!"

Mendengar ucapan Rahmini itu, melihat sikap para murid Jatikusumo yang agaknya membenarkan ucapan itu dan melihat keraguan dalam pandang mata Bhagawan Sindusakti, Sutejo maklum bahwa kalau dia menanti perkenan dari pihak perguruan Jatikusumo, dia tidak akan pernah dapat menandingi Ki Klabangkolo yang masih berdiri dengan congkaknya.

"Ki Klabangkolo, melihat kesombonganmu membuat semua orang merasa muak dan aku sendiripun merasa penasaran. Aku bukanlah murid langsung dari Jatikusumo akan tetapi masih ada hubungan dekat karena guruku adalah adik seperguruan Paman Bhagawan Sindusakti. Sekarang aku, atas namaku sendiri, menantangmu untuk bertanding, Kalau aku terluka atau mati dalam pertandingan ini, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan Jatikusumo dan aku seudiri yang bertanggung jawab. Bagaimana, Ki Klabangkolo apakah engkau berani menyambut tantangan ku?"

Ki Klabangkolo tertawa bergelak memandang kepada Sutejo."Bocah cilik! Sepantasnya engkau masih menyusu didada ibumu, tidak keluyuran sampai kesini dan minta mati di tanganku!"

"Ki Klabangkolo, tidak perlu mengumbar kesombonganmu melalui mulutmu yang lebar. Katakan saja terus terang kalau engkau tidak berani yang akan menunjukkan bahwa engkau tiada lain hanyalah seorang pengecut hina!"

Sepasang mata Ki Klabangkolo terbelalak lebar dan mukanya yang penuh brewok itu berubah merah, kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri saking marahnya mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkannya itu. "Jahanam Sutejo! Kalau aku tidak mampu merobek mulutmu dan melumatkan kepalamu, jangan panggil aku Ki Klabangkolo lagi!" bentaknya dan dia sudah mengangkat kedua tangannya ke atas dan jari-jari tangan itu membentuk cakar harimau, kemudian dia mengeluarkan gerengan dengan Aji Singanada.

Suaranya menggetarkan seluruh tempat itu dan para murid Jatikusumo sampai melangkah mundur, hampir tidak kuat menahan guncangan jantung mereka akibat getaran yang ditimbulkan gerengan Aji Singanada itu. Akan tetapi Sutejo yang diserang langsung, diam-diam mengerahkan tenaga saktinya untuk menolak serangan itu dan dia melambaikan tangan sambil tersenyum dan berkata, "Sudahlah, Ki Klabangkolo. Gerenganmu itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil saja. Tidak ada gunanya kau perlihatkan di sini, menambah buruk mukamu saja!"

Diam-diam Bhagawan Sindusakti merasa heran dan terkejut sekali. Dia sendiri merasakan getaran hebat dari gerengan itu dan Sutejo yang diserang langsung masih enak-enak saja malah mengeluarkan kata-kata mengejek lawan. Mulailah dia memandang pemuda itu dengan perhatian penuh dan diam-diam muncul harapan dalam hatinya bahwa pemuda itu akan dapat menghindarkan perguruan Jatikusumo dari kehancuran dua orang kakek itu.

Ki Klabangkolo juga terkejut melihat pemuda itu tegar dan biasa saja menghadapi serangan pekik saktinya seolah tidak merasakan apa-apa. Hal ini membuatnya menjadi penasaran dan semakin marah. "Mampuslah!" bentaknya dan kedua tangan yang diangkat ke atas membentuk cakar itu tiba-tiba menghunjam ke bawah, menerkam ke arah tubuh Sutejo!

Bhagawan Sindusakti dan para muridnya memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang karena maklum betapa dahsyatnya Serangan yang dikeluarkan Ki Klabangkolo itu . Akan tetapi tubuh Sutejo bergerak dengan ringan dan cepat sekali sehingga terkaman Ki Klabang kolo itu hanya mengenai tempat kosong belaka karena tubuh pemuda itu sudah menghindar dengan kecepatan kilat. Ki Klabangkolo memutar tubuh dan cepat dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan ujung lengan baju kirinya yang menyambar ke arah dada Sutejo dan disusul tangan kanan yang menampar ke arah kepala pemuda itu.

Akan tetapi, kembali serangannya gagal sama sekali karena kedua serangan itupun hanya mengenai angin saja dan tubuh Sutejo telah menyelinap dengan cepatnya dan tahu-tahu telah berada di belakangnya! Biarpun tubuh Ki Klabangkolo tinggi besar seperti raksasa, namun ternyata dia dapat bergerak dengan gesit pula. Begitu tubuh Sutejo berkelebat dan lenyap, lolos dari dua serangannya, dia sudah dapat menduga bahwa lawannya itu tentu berada di belakangnya maka secepat kilat dia sudah membalikkan tubuh lagi dan menghadapi Sutejo.