Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 04

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 04

Kembali Ki Mundingsosoro menghela napas panjang. “Biarlah anakmas. Di antara kita tidak ada janji apa-apa, tidak ada ikatan apa-apa. Hanya kami harap anakmas tidak akan melupakan kami yang telah menjadi sahabat baik.”

Siang itu kembali Sutejo dijamu makan siang yang mewah. Retno Susilo ikut makan semeja dan ia bersikap masih sekali terhadap Sutejo yang dikaguminya. Ia melayani Sutejo dengan ramah, mengambilkan dan menambahkan lauk pauk, mengisi cangkir minumannya setiap kali kosong.

“Kalau saja aku dapat mempunyai guru seperti andika, kakang Sutejo, akan puaslah hidupku. Aku ingin menjadi sakti mandraguna seperti andika.”

“Engkau sudah cukup digdaya sebagai seorang gadis, ,nimas.Pula aku tidak mempunyai waktu untuk menjadi seorang guru. Aku harus berkelana, melaksanakan tugas sebagai seorang satria membela kebenaran dan keadilan, dan terutama aku hendak mengabdi kepada Yang Mulia Sultan Agung di Mataram.”

“Ah, engkau akan berkelana kakang Sutejo? Tidak tinggal dulu beberapa lamanya di sini menjadi tamu kami?”

“Tidak, nimas. Aku bahkan akan berangkat hari ini juga meninggalkan tempat ini.”

“Apa?” Retno Susilo bangkit dari tempat duduknya. “Pergi sekarang juga? Ayah, aku boleh ikut kakang Sutejo pergi, bukan? Ikut berkelana? Boleh, ya, ayah?” ia membujuk ayahnya.

Ayahnya saling pandang dengan pamannya, kemudian menggerakan kedua pundaknya dan berkata, “Tentu saja boleh kalau anakmas Sutejo tidak berkeberatan.”

“Kakang Sutejo tentu tidak berkeberatan ya kakang? Boleh ya aku ikut denganmu merantau?”

Sutejo tersenyum dengan hati merasa tidak enak.“Tentu saja tidak mungkin, nimas. Dalam perantauanku, aku banyak menempuh bahaya dan aku akan mengabdikan diriku kepada Yang Mulia Sultan Agung di Mataram menjadi prajurit. Bagaimana andika seorang gadis muda hendak ikut? Pula, bukankah akan tidak pantas sekali dilihat orang kalau seorang gadis muda melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang pria?”

“Aku tidak takut menempuh bahaya, asal bersamamu, kakang!Dan siapa bilang tidak pantas? Aku bisa bilang bahwa aku adikmu atau aku akan menyamar menjadi Joko Susilo, siapa akan tahu aku seorang wanita?”

Sutejo mengerutkan alisnya. Dia harus berani berkeras hati menghadapi gadis manja ini. Dia menggeleng kepalanya dan suaranya terdengar tegas. Tidak mungkin, nimas. Maafkan aku, terpaksa aku menolak keinginanmu. Aku tidak bisa melakukan perjalanan bersamamu, karena banyak yang harus kuurus dan selesaikan. Keikutanmu akan merupakan hambatan bagiku. Sekali lagi maaf, aku harus pergi seorang diri saja.”

Retno susilo mengerutkan alisnya dan duduk kembali, cemberut dan kedua matanya basah. Ia tida mau makan lagi.

“Sudahlah, Retno, anakmas Sutejo mempunyai banyak urusan yang harus dilaksanakan. Kalau dia tidak mengijinkan engkau ikut, engkat tidak boleh memaksa.” Kata Ki Mundingsosro menghibur anaknya.

“Siapa yang memaksa?” kata Retno Susilo galak dan iapun bangkit berdiri lalu meninggalkan ruangan makan itu.

Sutejo menghela napas, merasa tidak enak sekali. “Maafkan, paman Mundingsosro, aku telah membuat Retno marah.”

“Ah, tidak mengapa anakmas. Anak itu memang manja, minatnya selalu harus dituruti kemauannya.”

Jamuan makan itupun selesai dan Sutejo segera berkemas untuk meninggalkan perkampungan Sardulo Cemeng. Kemudian dia berpamit dari Ki Mundingsosro dan Ki Mundingloyo. Seluruh keluarga tuan rumah ikut mengantar tamu kehormatan mereka keluar dari perkampungan. Hanya Retno Susilo yang tidak tampak. Ki Mundingsosro sudah mencari anak perempuannya itu, namun tidak berhasil. Gadis itu tetap tidak tampak sampai Sutejo meninggalkan perkampungan. Setelah melewati Hutan Kolojambe di luar perkampungan itu, tibalah dia di lereng bukit.

“Kakang Sutejo!” Dia mendengar panggilan. Suara Retno Susilo! Akan tetapi ketika dia menengok kebelakang dan ke sekelilingnya, tidak tampak gadis itu. Akhirnya dia melihat gadis itu berada di depan, duduk di atas cabang pohon dengan kedua kaki ongkang-ongkang. Gadis itu telah mengenakan pakaian sebagai pemuda remaja! “Eh, engkau nimas Retno!”

Dengan gerakan yang amat gesit, gadis itu berjungkir balik beberapa kali dan turun di depan Sutejo. “Aku bukan Retno. Aku Joko Susilo!” katanya tegas. “Dan tidak ada seorangpun di dunia ini dapat melarang seorang pemuda remaja seperti aku untuk merantau ke mana saja aku suka!”

Sutejo menghela napas panjang. “Tidak ada yang melarangmu merantau hanya aku tidak mungkin mengajakmu, nimas. Bagaimanapun juga, aku tahu bahwa andika seorang wanita, dan ini amat tidak baik. Apa akan kata orang kalau melihat aku melakukan perjalanan dengan seorang gadis? Dan aku masih mempunyai banyak tugas yang harus kuselesaikan.”

“Tidak perduli! Aku akan ikut denganmu, dan kalau engkau melarang, engkau harus dapat menggunakan kekerasan. Selama kedua kakiku dapat digerakkan, aku akan ikut engkau, kakang!” kata Retno Susilo dengan suara mengandung tangis.

Sebenarnya Sutejo merasa kasihan sekali kepada gadis ini, akan tetapi dia juga jengkel menghadapi kekerasan hatinya. Seorang gadis berkepala batu! Segala kehendaknya harus dituruti! “Aku tetap tidak mau membawamu. Aku akan pergi!” setelah berkata demikian Sutejo hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan lereng bukit itu. Akan tetapi dengan sebuah lompatan yang sigap, tubuh retno susilo telah mendahuluinya dan kini ia berdiri di depan Sutejo, matanya yang lebar dan bening itu bersinar-sinar penuh penasaran dan kemarahan, kedua pipi yang bentuknya indah itu merah sekali, napasnya agak memburu ketika ia bertolak pinggang menghadang di depan Sutejo.

“Kakang Sutejo, demikian kejamkah hatimu untuk tidak mau mengajaku dan hendak meninggalkan aku begitu saja?" tanyanya dengan suara penuh tuntutan.

Sutejo mengbela napai. "Aku tidak kejam Retno. Akan tetapi sungguh tidak mungkin aku mengajakmu pergi merantau. Banyak sekali tugas yang harus kuhadapi. Aku harus menghadap Bapa Guru di Gunung Kawi, kemudian pergi menghadap Eyang Guru di puncak Semeru. Setelah itu aku harus menghambakan diri kepada Sinuhun dan berbakti untuk Nusa dan Bangsa. Untuk memenuhi semua tugas itu, aku harus menempuh perjalanan yang jauh dan berat. Bagainana mungkin aku dapat membawamu?"

"Akan tetapi aku tidak minta digendong, tidak minta dituntun. Aku berjalan dengan kakiku sendiri dan aku dapat menjaga diri dengan kaki tanganku sendiri. Engkau tidak perlu repot-repot mengurusku, kakang, hanya membolehkan aku mengikutimu ke mana engkau pergi."

"Ini hal yang tidak mungkin, Retno. Engkau seorang wanita, seorang gadis. Bagaimana dapat melakukan perjalanan bersamaku seorang pemuda? Sunguh tidak pantas dan melanggar kesusilaan. Namamu adalah Retno Susilo, maka engkau harus tahu apa artinya kesusilaan itu. Seorang gadis melakukan perjalanan bersama seorang pemuda yang bukan apa-apanya marupakan pelanggaran susila yang besar."

"Akan tetapi aku menyamar sebagai seorang pemuda bernama Joko Susilo. Tidak akan ada yang tahu bahwa aku seorang gadis!" bantah Ratno Susilo.

"Rahasia itu tidak akan dapat dipertahankan untuk selamanya. Akhirnya orang akan tahu bahwa engkau seorang gadis dan habislah nama baik dan kehormatan kita. Bagiku masih tidak begitu buruk akibatnya karena aku seorang laki-laki, akan tetapi bagimu! Namamu sebagai seorang gadis akan menjadi rusak dan terhina. Tidak, aku tidak dapat mengajakmu, Retno Susilo!" "Aku tetap akan mengikutimu!"

"Dan aku tetap menolak untuk mengajakmu!" Sutejo sudah menjadi marah sekali. Gadis ini sungguh bandel dan tidak mau tahu urusan hendak mambawa kehendaknya sendiri saja, hendak memaksakan kahendaknya.

"Kalau begitu engkau juga tidak boleh pergi begitu saja. Aku akan menghalangimu pergi!" Setelah berkata demikian, Retno Susilo bergerak cepat sekali. Tubunya berkelebatan seperti terbang saja karena ia sudah mengerahkan aji meringankan tubah yang disebut Kluwung Sakti. Cepat bukan main gerakan tubuhnya dan tiba-tiba saja ia sudah menyerang Sutejo dengan tamparan tangan kirinya ke arah dada!

"Wuuuuuuttt....!" Sutejo cepat mengelak. Pemuda inipun merasa marah dan jengkel sekali menghadapi gadis yang liar dan binal ini. Dia mengelak sambil melangkah ke samping. Namun gerakan Retno Susilo amat cepatnya.tubuhnya sudah membuat gerakkan berputar dan kembali tangannya sudah menyambar dengan tamparan yang lebih kuat lagi ke arah wajah Sutejo.

"Hemmm, kepala batu!" Sutejo mengomel dan dia cepat mengangkat lengannya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga.

"Wuutttt..... dukk!" Tangan itu tertangkis dan tubuh Retno Susilo terlempar sedikit saking kuatnya tangkisan itu. Akan tetapi dalam keadaan berputar tubuhnya itu, siku kanan Retno Susilo mencuat dan menyerang ke arah dada Sutejo!

"Dess........!" Karena serangan ini tidak disangka-sangka, Sutejo kena disiku dadanya sehingga agak terhuyung ke belakang. Siku yang runcing itu cukup mendatangkan rasa nyeri karena dia tidak melindungi tubuhnya dengan aji kekebalan. Dengan marah tangannya menyambar untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu. Namun, gadis itu memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Cepat bukan main gerakaanya dan ia sudah dapat menarik tangannya sehingga luput dari cengkeraman Sutejo, bahkan kini ia menghujamkan serangan lagi dengan tangannya yang menyambar-nyambar, menampar dan menonjok.Cepat sekali gerakan kedua tangannya sehingga seolah ia memiliki enam buah tangan, bukan hanya dua. Dan tubuhnya berkelebatan gesit seperti seekor burung walet.

Penasaran juga rasa hati Sutejo. Diam-diam ia harus mengakui bahwa dia masih kalah setingkat dalam hal kecepatan dan keringanan gerakan tubuh dibandingkan dara itu. Dia tahu bahwa kalau hanya mengadalkan kecepatan, tidak akan pernah dapat menundukkan gadis bandel ini. Maka dia mengubah siasat. Ketika kedua tangan gadis itu kembali menamparnya ke arah dada dan leher, diam-diam dia mengerahkan aji kekebalan Kawoco dan menerima pukulan itu dengan dada dan leher terbuka, sama sekali tidak dielakkan atau ditangkis.

"Plaakk! Plaakk!!" Dua kali tamparan tepat mengenai dada dan lehernya akan tetapi akibatnya Retno Susilo menahan jeritnya karema merasa betapa kedua telapak tangannya terasa panas dan pedih seperti telah menampar dinding baja! Kedua tangannya itu terpental dan pemuda itu berdiri tenang saja, memasang tubuhnya untuk dipukul.

"Silakan pilih mana bagian yang paling lunak, Retno Susilo! Pukullah dengan tanganmu yang lunak seperti agar-agar itu!" Sutejo sengaja mengejek karena diapun sudah mendongkol sekali melihat kebandelan gadis ini.Mendengar ejekan bahwa tangannya lunak seperti agar-agar, Retno Susilo membalalakkan matanya dan menjadi marah bukan main. Tanpa memperdulikaa kedaa tanganaya yang terasa panas dan nyeri, ia memukul terus, daridepan, dari belakang, memukuli dengan ngawur saja asal kena, terdengar suara plak-plok dan bak-bok ketika tubuh Sutejo dihujani pukulan, akan tetapi semua pukulan itu membalik dan tangan yang memukul terpental.

Sutejo baru mengelak atau menangkis kalau pukulan itu mengarah kepala atau mukanya, akan tetapi di bagian tubuh lainnya, dia menerima begitu saja. Akhirnya, Retno Susilo tidak tahan. Kedua tangannya sudah menjadi kemerahan dan nyeri sekali dan hatinya sedemikian kesal dan gemasnya sehingga kedua matanya sudah basah air mata. Ia menangis tanpa suara.

"Keparat!" Ia memaki dan tiba-tiba ia mencabut sebatang pedang dari punggungnya. Begitu dicabut, tampak sinar kehijauan. Itulah sebatang pedang pusaka pemberian gurunya. Pedang pusaka Nogo Wilis yang mengeluarkan sinar kehijauan. Begitu pedang Nogo Wilis berada di tangannya, Retno Susilo sudah menerjang dengan ganas dan dahsyat, tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Serangannya bertubi-tubi dan dahsyat sekali karena selain cepat, juga mengandung tenaga sakti dan pedang itu sendiri mempunyai kandungaa hawa yang amat berbahaya.

"Heeiiiittttt.......!" Sutejo sudah waspada, maklum betapa besar bahayaa pedang pusaka di tangan gadis yang liar dan binal itu. Diapun menggunakan kelincahannya untuk melompat dan mengelak. Akan tetapi Ratno Susilo mengejar dan tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menjauh. Pedangnya menyambar-nyambar seperti seekor naga bermain-main di angkasa, di antara awan yang bergulung-gulung. Repot juga Sutejo didesak oleh rangkaian serangan pedang yang dahsyat Maklum bahwa kalau dia hanya menghadapinya dengan tangan kosong keadaaannya dapat berbahaya, dia lalu melolos kain pengikat rambutnya. Kain kepala itu cukup panjang dan lebar dan sekali dikelebatkan, tampak gulungan sinar putih seperti awan yang menyambut gulungan sinar pedang yang kehijauan.

"Plak-plak cringgg...... !" Kain yang lunak itu di tangan Sutejo dapat berubah menjadi keras dan kaku seperti terbuat dari logam dan beberapa kali pedang itu tertangkis dan terpental. Akan tetapi Retno Susilo mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan semua tenaganya sehingga gerakannya selain cepat, juga trengginas sehingga Sutejo lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang. Karena sampai puluhan jurus belum juga dapat mengalahkan pemuda itu, Retno Susilo menjadi semakin penasaran.

“Hyaaaattt.......!" tiba-tiba tubuhnya melayang dan pedangnya menyambar ganas bagaikan seekor burong garuda dara itu melompat dan mengirim serangan dari udara. Pedangnya menyambar ke arah kepala Sutejo secaradahsyat sekali. Pemuda ini mengambil keputusan untuk menyudahi perkelahian itu sebelum perkelahianmenjadi semakin berbahaya. Dia tidak ingin mencelakai Retno Susilo, akan tetapi tentu saja diapun tidak ingin kalah di tangan gadis bandel ini. Melihat pedang itu menyambar dahsyat, dia mengelak, menyelinap di bawah sambaran pedang, Kemudian ketika lengan yang memegang pedang itu lewat, dia menggunakan kain pengikat kepalanya untuk mengebut atau melecut ke arah pergelangan tangan Retno Susilo yang memegang pedang.

"Pssstttt....... !!" Gadis itu menjerit kecil dan pedangnya terlepas dari pegangan, terlempar sampai jauh. Sejenak gadis itu terbelalak, kemudian mukanya menjadi merah sekali. Diserangnya Sutejo dengan kedua tangannya dan di lain saat ia telah menghujankan pukulan dan tamparan kepada tubuh Sutejo, akan tetapi pemuda itu menerimanya sambil tersenyum. Karena semua pukulannya tidak mempan, akhirnya gadis itu menjatuhkan diri berlutut sambil manangis, menutupi mukanya dengan kedua tangannya!

Sutejo memandang kepada gadis itu, kemudian perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan melompat pergi menuruni lereng bukit itu, tidak memperdulikan lagi kepada gadis berpakaian pria yang sedang menangis kesal dan marah itu. Dua orang laki-laki yang gagah dan bertubuh tinggi besar perlahan-lahan menghampiri Retno Susilo yang sedang menangis itu. Mereka itu bukan lain adalah Ki Mundingsosro ketua Sardula Cemeng dan adiknya, Ki Munidngloyo. Mereka saling pandang lalu memandang kepada Retno Susilo sambil menghela napas dan menggeleng-geleng kepala.

"Retno Susilo, engkau kenapakah?" Mengapa engkau menangis di sini?" tanya Ki Mundingsosro, pura-pura tidak tahu padahal tadi dia dan adiknya telah melihat dari jauh betapa puterinya itu bertanding melawan Sutejodan dikalahkan pemuda itu.

Mendengar suara ayahnya, Retno Susilo tidak menurunkan kedua tangannya dari depan muka, bahkan menangis semakin mengguguk! Ayah dan paman itu dengan suara halus membujuknya agar tidak menangis lagi.

"Sudahlah, anakku. Kalau ada urusan baiknya dirundingkan dulu dengan kami, ditangisi saja tidak ada gunanya. Pula, engkau adalah seorang gadis yang gagah perkasa, bagaimana masih dapat menangis seperti seorang anak perempuan yang lemah dan cengeng? Katakanlah, siapa yang telah berani menyakitimu? Kami tidak akan tinggal diam saja." kata pula Ki Mundingsosro.

Retno Susilo menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya. Ia lalu mengambil pedangnya yang tadi terlempar jauh, kemudian berkata kepada ayahnya. "Bapa, aku mau pergi mencari guruku untuk memperdalam ilmu agar lain kali tidak sampai dihina orang!"

"Eh, Siapa yang telah menghinamu, anakku?" tanya ayahnya.

"Kakang Sutejo itu! Aku ingin ikut dia mengembara, akan tetapi dia menolak, bahkan ketika aku memaksa, dia mengalahkan aku. Aku harus belajar lagi dari guruku Nyi Rukmo Petak, kemudian aku akan mencari Sutejo menantangnya lagi untuk menebus kekalahanku hari ini!"

Ki Mundingsosro saling pandang dengan Ki Mundingloyo dan keduanya tersenyum. Maklumlah Ki Mundingsosro akan isi hati puterinya. Puterinya yang keras hati ini tidak tidak salah lagi telah jatuh hati kepada Sutejo dan hendak ikut pemuda itu merantau akan tetapi menjadi marah ketika ditolak dan lalu menantang akan tetapi dapat dikalahkan.

"Baiklah, akan tetapi mari pulang dulu. Engkau harus pikirkan dulu baik-baik dan juga berpamit kepada ibumu, bukan pergi mendadak seperti ini." ayahnya dan pamannya membujuk dan akhirnya gadis bandel itu mau juga diajak pulang.

Akan tetapi sepekan kemudian, Retno Susilo meninggalkan perkampungan Sardulo Cemeng di hutan Kebon Jambe. Semua alasan yang diajarkan ayahnya dan pamannya, juga ibunya untuk mencegah kepergiannya, tidak didengarnya lagi sehingga akhirnya mereka terpaksa membiarkan gadis itu pergi. Retno Susilo membawa bekal emas untuk biaya perjalanan dan ia tidak lagi menyamar sebagai seorang pemuda, melainkan berdandan seperti seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, dengan pakaian serba ringkas, tidak lupa, Pedang Nogo Wilis tergantung di punggungnya.

********************

cerita silat online karya kho ping hoo

Sang Adipati Wirosobo tampak marah sekali. Tubuhnya yang tinggi besar itu tampak semakin kokoh, wajahnya yang penuh brewok itu berubah kemerahan, matanya yang lebar terbelalak menonjol seolah hendak keluar dari pelupuknya, tangan kirinya memuntir kumisnya yang sekepal sebelah.

"Babo-babo keparat ! Andika kalah oleh murid Bhagawan Sidik Paningal, Paman Bhagawan Jaladara? Bahkan Pecut Sakti Bajrakirana telah dirampas oleh pemuda itu? Siapa namanya? Sutejo?"

Sang Bhagawan Jaladara menundukkan mukanya. "Sesungguhnya saya tidak seharusnya kalah oleh Sutejo anakmas Adipati. Bagaimanapun dia adalah murid keponakan saya sendiri dan ilmu kami sealiran. Akan tetapi agaknya dia telah mendapat dukungan dari Bapa guru Resi Limut Manik sehingga dia memiliki kekuatan yang luar biasa. Maafkan bahwa saya terpaksa tidak mampu mempertahankan Pecut Sakti Bajrakirana."

"Celaka!" Sang Adipati menggebrak meja di depannya sehingga ruangan itu tergetar.

Seorang laki-laki berusia sepantar dengan Sang Adipati, yaitu kurang lebih empat puluh lima tahun, yang berwajah tampan dan bersikap gagah dan tenang, yang ikut pula menghadap di situ bernama Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, mengangkat mukanya dan menyembah kepada Sang Adipati.

"Ampunkan hamba kalau berani mengajukkan usul, Gusti Adipati. Hamba kira sekarang belum terlambat. Karena yang merampas Pecut Sakti itu adalah murid Sang Bhagawan Sidik Paningal, tentu pecut itu dibawa ke Gunung Kawi oleh pemuda bernama Sutejo itu. Belum terlambat bagi kita untuk mengejarnya menyusul dan merampasnya kembali, sekalian memberi hajaran kepada Bhagawan Sidik Paningal dan muridnya. Kalau hamba pergi bersama Paman Bhagawan Jaladara. Kakang Warok Petak dan Kakang Baka Kroda, mustahil kami tidak akan dapat mengalahkan mereka."

Sang Adipati mengangguk-angguk. Pembicara itu adalah Tumanggung Janurmendo, jagoan nomer satu dari Wirosobo yang memiliki kesaktian tinggi dan dapat diandalkan. Kalau dia yang pergi, Sang Adipati yakin akan memperoleh hasil. "Bagus sekali, Adi tumenggung Janurmendo. Agaknya hanya andikalah yang menjadi tumpuan harapan kami untuk mendapatkan kembali Pecut Bajrakirana itu dan memberi pelajaran kepada Bhagawan Sidik Paningal dia tidak mau menuruti kehendak kami membantu Wirosobo. Biar dia tahu bahwa Kadipaten Wirosobo tidak boleh dibuat main-main! Untuk memperkuat kedudukanmu, terimalah Keris Pusaka Jalu Sarpo ini. Pusaka ini menjadi milikmu dan pergunakan sesuka hatimu untuk mengakhiri hidup Bhagawan Sidik Paninggal" Tumenggung Janurmendo bergerak menghaturkan sembah dan menerima pusaka sambil menghaturkan terima kasih. Keris Jalu Sarpo adalah sebatang keris lurus yang ampuh sekali karena mengandung racun yang mematikan.

Setelah mendapat restu dari Sang Adipati Wirosobo dan mengadakan persiapan, berangkatlah empat orang itu. Tumenggung Janurmendo, Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Mereka menunggang empat ekor kuda pilihan dan mereka membalapkan kuda mereka menuju Ke lereng Gunung Kawi.

********************

Bhagawan Sidik Paningal menghela napai dalam. Sebagai seorang pertapa yang sudah tajam dan peka perasaannya, pada pagi hari itu dia merasa hatinya amat tidak tenang. Jantungnya berdebar tanpa sebab dan dia maklum bahwa hal ini merupakan tanda bahwa akan ada sesuatu yang tidak baik menimpa dirinya. Mukanya yang biasanya berseri itu kini tampak muram dan berulang kali dia, menghela napas panjang, Lalu diam-diam dia membisikkan doa ke hadirat Illahi menyerahkan diri sebulatnya kepada Kehendak Yang Maha Kuasa.

"Seorang manusia, siapapun adanya dia, tidak dapat mengubah apa yang sudah dikehendaki Yang Maha Kuasa," pikirnya dan dengan pikiran ini Diapun menyerah dan hatinya menjadi tenang kembali.

Dia kini berada seorang diri di padepokannya. Dia tidak mempunyai seorangpun cantrik. Biasanya dia hidup berdua saja dengan muridnya yang sudah dianggap sebagai puteranya sendiri,yaitu Sutejo. Semenjak Sutejo pergi, diapun hidup seorang diri dan pagi hari itu dia melaksanakan tugas sehari-hari seperti biasa. Setelah mengisi kolam air di tempatpemandian dan dapur, diapun memasak air untuk membuat minuman air teh. Apakah muridnya hari ini akan pulang?

Pikiran yang menjadi harapannya ini menyelinap dalam hatinya. Muridnya mempunyai tugas penting, yaitu merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Bhagawan Jaladara. Dia yakin bahwa kini Sutejo tidak akan kalah kalau melawan Bhagawan Jaladara karena muridnya itu telah dibekali AjiGelap Musti. Dia mengharapkan mudah-mudahan muridnya itu sudah mampu merampas kembaliPecut Sakti Bajrakirana untuk dikembalikan kepada gurunya, Resi Limut Manik di puncak Gunung Semeru.

Bhagawan Sidik Paningal menuangkan air teh panas dari poci ke dalam cangkir. tiba-tiba dia menghentikan gerakannya itu dan meletakkan kembali poci air teh ke ataa meja di depannya. Matanya menatap ke arah depan pondoknya. Dia mendengar derap kaki kuda yang mendatangi pondoknya. Perasaannya menjadi semakin tidak enak. Dia bangkit berdiri Lalu melangkah menuju keluar.

Empat orang penunggang kuda itu berhenti di depan pondok. Mereka masih duduk di punggung kuda dan mereka semua memandang ke arah pintu pondok dari mana Bhagawan Sidik Paningal muncul. Pendeta ini mengerutkan alisnya ketika mengenal siapa yang datang. Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak, Baka Kroda, dan seorang laki-laki gagahperkasa dantampan berusia sekitar empat puluh lima tahun yang tidak dikenalnya.

"Adi Jaladara, andika datang lagi?" tegur Bhagawan Sidik Paningal kepada adik seperguruannya itu.

"Kakang Sidik Paningal! Sudah kukatakan kepadamu bahwa aku akan datang lagi dan kalau sekarang andika masih juga belum menurut untuk meninggalkan Agama Islam dan membantu kadipaten Wirosobo, terpaksa aku akan membunuhmu."

Bhagawan Sidik Paningal memandang adi seperguruannya dengan sinar mata tajam namun lembut, lalu dia menggelengkan kepalanya. "Apapun yang terjadi, aku yang sedang mempelajari agama Islam tidak akan meninggalkan agama baru itu, dan aku tidak akan membantu Kadipaten Wirosobo kalau kadipaten itu hendak memberontak terhadap Mataram. Tentang andika hendak membunuhku, nyawaku bukan berada di tanganmu, adi Jaladara, melainkan di tangan Hyang Widhi.

"Babo-babo, kalau begitu kami akan mengantar nyawamu!" kata Bhagawan Jaladara sambil mengamangkan tongkat hitamnya.

Melihat ini Bhagawan Sidik Paningal melompat keluar karena dia tidak Ingin menghadapi Perkelahian di dalam pondoknya. Empat orang itupun berlompatan turun dari kuda mereka dan menambatkan kuda mereka di batang pohon yang tumbuh di depan pondok itu.

"Kakang Sidik Paningal, bersiaplah untuk mampus!" bentak Bhagawan Jaladara dan dia menerjang ke depan dengan tongkat hitamnya. Bhagawan Sidik Paningal merasa lega bahwa Bhagawan jaladara tidak mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana. Ke manakah pecut itu, pikirnya? Apakah Sutejo telah berhasil merampasnya? Kalau pecut itu masih berada pada Bhagawan Jaladara, tentu sudah dikeluarkan untuk menundukkannya dan dia tidak akan berani melawan.

Akan tetapi Bhagawan Jaladara tidak mengeluarkan pecut itu, sebaliknya menyerang dengan tongkat hitamnya. Karena dia maklum betapa dahsyatnya tongkat itu, Bhagawan Sidik Paningal lalu melolos kain pengikat kapalanya yang berwarna kuning. Ketika tongkat menyambar ke arah kepalanya, diapun menangkis dengan kebutan kain kuning itu.

"Wuuuttt...... desss.....!!" Hebat sekali pertemuan antara kedua senjata yang mengandung tenaga sakti itu.

Akan tatapi karena memang Bhagawan Jaladara masih tidak mampu menandingi kakak seperguruannya, tubuhnya terdorong ke belakang dan terhuyung.

"Paman Bhagawan Jaladara, serahkan dia kepadaku!" tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Tumenggung Janurmendo telah melompat ke depan. Gerakannya tangkas sekali dan Tumenggung yang gagah perkasa itu kini telah berhadapanan dengan Bhagawan Sidik Paningal. Pertapa ini memandang dengan ragu karena dia belom mengenal orang ini. Karena merasa tidak semestinya berkelahi melawan orang yang sama Sekali tidak dikenalnya, maka diapun bertanya dengan suara tenang.

"Siapakah andika, Kisanak dan mengapa mencampuri urusan antara dua orang kakak beradik yang tidak ada sangkut pautnya denganmu?" Tumenggung Janurmendo tersenyum dan menjawab dengan lantang.

"Bhagawan Sidik Paningal. aku adalah Tumenggung Janurmendo, utusan sang Adipati Wirosobo. Menyerahlah andika untuk kubawa menghadap Sang Adipati, dari pada aku harus terpaksa mempergunakan kekerasan terhadap dirimu!"

Mengertilah kini Bhagawan Sidik Paningal bahwa dia berhadapan dengan seorang jagoan Wirosobo. "Hmmm, mengapa aku harus pergi menghadap Sang Adipati Wirosobo? Aku tidak mempunyai urusan dengan beliau!"

"Bhagawan Sidik Paningal. Ingatlah bahwaandika berasal dari daerah Wirosobo, berarti andika adalah kawula Wirosobo. Oleh karena itu Adipati berhak memanggil kawulanya yang manapun juga, dan sudah menjadi kewajibanmu sebagai kawula Wirosobo untuk datang menghadap apabila dipanggil."

"Aku tahu bahwa aku dipanggil, hanya untuk membantu Wirosobo yang hendak memberontak terhadap Mataram. Aku tidak mau terlibat dalam perang pemberontakan, karena itu sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tidak mau menghadap Kadipaten Wirosobo. Kalian mau apa?"

"Babo-babo! Ketahuilah, Bhagawan Sidik Paningal bahwa semua purbowasesonya telah diserahkan ke dalam tanganku. Kalau engkau membangkang, terpaksa dikau akan kutangkap dan kuseret menghadap Sang Adipati!"

Bhagawan Sidik Paningal mengerutkan alisnya. Karena dia sudah yakin kini bahwa Bhagawan Jaladara tidak membawa Pecut Bajrakirana, maka timbul ketabahan dalam hatinya. Dia tidak takut menghadapi mereka semua. "Tumenggung Janurmendo, cobalah kalau andika memang mampu menangkap aku !"

Tumenggung yang gagah perkasa itu lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, yang kiri di depan, yang kanan di belakang agak ditekuk lulutnya, kedua lengannya dikembangkan, kemudian mulutnya berseru, "Sambutlah.....!! Auurrrrhhhhh!" Kedua tangan itu lalu dirangkap menyembah di depan dada dan tiba-tiba tangan kanannya meluncur depan dibarengi Kaki kanannya yang melangkah lebar ke depan. Telapak tangan kanan didorongkan ke depan dan ada angin dahsyat menyambar ganas ke arah tubuh Bhagawan Sidik Paningal.

Sang Bhagawan mengenal pukulan ampuh, maka diapun cepat mengelak dengan gerakan kaki ke samping, tubuhnnya condong ke kiri mengelak dan ketika pukulan itu lewat di samping tubuhnya, diapun membalas dengan pukulan tangan yang terbuka ke arah lambung lawan. Namun, Sang Tumenggung Janurmendo ternyata begitu tangkas sekali. Begitu pukulannya luput lengan kanan itu sudah ditekuk dan membuang kesamping sebagai tangkisan sehingga ketika tangan kiri Bhagawan Sidik Paningal datang memukul, tangan itu tertangkis oleh tangan kanan Tumenggung Janurmendo.

Pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri Sutejo dengan Pecut Sakti Bajrakirana di tangan. Sepasang mata pemuda itu terbelalak dan dia berseru nyaring, "Apa yang terjadi di sini? Apa yang kalian lakukan di sini?"

Melihat munculnya pemuda ini, Bhagawan Jaladara yang cerdik itu cepat memegang punggung baju Bhagawan Sidik Paningal dan membantu pendeta yang sudah lemah itu untuk berdiri. "Sutejo, jangan bergerak dan cepat serahkan pecut itu kepadaku atau aku akan membunuh Kakang Sidik Paningal lebih dulu!" Tongkat hitam di tangannya ditempelkan ke kepala Bhagawan Sidik Paningal.

Sutejo memandang dan terkejut sekali, karena sekali pandang saja tahulah dia akan keadaan gurunya yang Agaknya Demikian lemah dan terluka parah, luka sebelah dalam tubuhnya Karena tidak berdarah. "Apa yang kalian lakukan terhadap Bapa Guru....?" katanya dengan gelisah ketika dia melihat keadaan Bhagawan Sidik Paningal.

"Kami akan membunuhnya kalau engkau tidak segera menyerahkan pecut Bajrakirana kepada kami!" Kembali Bhagawan Jaladara membentak dan mengancam. "Cepat serahkan atau......!" Dia mengangkat tongkatnya dipukulkan ke arah kepala Bhagawan Sidik Paningal.

Melihat ini sutejo tidak mempunyai pilihan lain. Tentu saja dia memberatkan keselamatan gurunya dari pada Pecut Bajrakirana itu. Akan tetapi dia agak ragu. Dia tahu bahwa paman gurunya itu adalah seorang yang berwatak tidak baik, bagaimana kalau nanti menipunya, setelah menerima pecut lalu tidak mau membebaskan gurunya? "Berjanjilah dulu untuk membebaskan Bapa Guru sebelum aku menyerahkan Pecut ini!" katanya.

"Aku berjanji!" kata Bhagawan Jaladara dan dia memberi isarat kepada Ki Warok petak untuk menerima pecut itu. Ki Warok Petak menghampiri Sutejo dan mengulurkan tangannya. Terpaksa Sutejo menyerahkan pecut yang segera diterima oleh Ki Warok Petak dan diserahkan kepada Bhagawan Jaladara. Sang Bhagawan senang sekali dan dia menerima sambil tertawa, kemudian didorongnya tubuh Bhagawan Sidik Paningal sehingga jatuh tersungkur.

"Bapa.....!" Sutejolari menghampiri gurunya dan merangkulnya.

"Sutejo..... engkau keliru..... tidak seharusnya.... engkau menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadanya...." kata Bhagawan Sidik Paningal terengah-engah.

"Akan tetapi Bapa...... "Rampaslah kembali.......!" perintah Bhagawan Sidik Paningal sambil menahan rasa nyeri di dadanya.

Mendengar ketegasan dalam suara gurunya, Sutejo tidak berani membantah lagi. Dia bangkit berdiri perlahan-lahan dan memandang kepada Bhagawan Jaladara yang memegang tongkat di tangan kirinya dan Pecut Bajrakirana di tangan kanan.

"Sutejo, aku pemegang Pecut Sakti Bajrakirana!" Sebagai murid perguruan Jatikusumo, berlututlah engkau!" bentak Bhagawan Jaladara sambil mengangkat pecut itu ke atas.

Akan tetapi Sutejo memandang dengan mata bersinar penuh kemarahan. "Aku tidak pernah menjadi murid perguruan Jatikusumo!" katanya. "Bhagawan Jaladara, kembalikan pecut itu kepadaku!"

Akan tetapi Bhagawan Jaladara berdiri di antara tiga orang temannya danempat orang itu telah siap dengan senjata masing-masing. Bhagawan Jaladara sendiri memegang Pecut Bajrakirana dan tongkat hitamnya. Tumenggung Janurmendo juga sudah menghunus sebatang keris pemberian Adipati Wirosobo, yaitu pusaka Jalu Sarpo. Ki Warok Petak memegang sebatang golok besar dan Ki Baka Kroda memegang sebatang keris pula. Mereka siap untuk mengeroyok Sutejo.

Sutejo mengerti bahwa dia berhadapan dengan empat orang lawan yang tangguh. Akan tetapi dia sudah marah dan sama sekali tidak merasa jerih. Cepat dia melolos kain pengikat kepalanya dan dengan pekik melengking tinggi dia sudah menerjang ke depan, kain pengikat kepala itu diputar berubah menjadi gulungan sinar biru dan dia langsung saja memainkan senjata itu dengan Aji Sihung Nila. Hebat bukan main serangannya ini, mendatangkan angin bergelombang karena dia mengerahkan tenaga saktinya yang dia dapatkan dari kakek gurunya. Empat orang lawannya menggerakkan senjata menyambut, akan tetapi keempatnya terhuuyung ke belakang oleh sergapan angin serangan yang amat dahsyat itu. empat orang itu terkejut sekali dan Bhagawan Jaladara menjadi khawatir.

Pembantu yang dapat dia andalkan adalah Tumenggung Janurmendo. Tumenggung ini agaknya merupakan satu-satunya orang di antara mereka yang akan mampu menandingi Sutejo. Akan tetapi pada saat itu sang Tumenggung sudah menderita luka dalam akibat adu tenaga melawan Bhagawan Sidik Paningal tadi sehingga tentu saja gerakannya menjadi kurang kuat. Maka, Bhagawan Jaladara lalu mengamuk, mempergunakan pecut pusaka di tangannya yang merupakan senjata ampuh sekali.

"Tar-tar-tarr.........!" Pecut Sakti Bajrakirana meledak-ledak di atas kepala Sutejo. Pemuda itu tidak berani mempergunakan kekebalan Kawoco untuk menyambut pecut yang amat ampuh itu. Terpaksa dia mengelak dan kadang menangkis dengan kebutan kain pengikat kepalanya. Akan tetapi setiap kali ujung kain bertemu ujung pecut, kain itu robek ujungnya! Ujung pecut Bajrakirana itu seolah mengeluarkan api atau kilat yang luar biasa panas dan tajamnya. Sementara itu, biarpun sudah terluka dalam, ilmu silat Tumenggung Janormendo masih amat kuat. Keris pusaka Jalu Serpo di tangannya jaga berbahaya bukan main karena keris ini mengandung racun yang ampuh. Ki Warok Petak dan Baka Kroda juga merupakan dua orang |awan yang kuat.

Akan tetapi pada saat itu, Sutejo sudah tidak memikirkan keselamatan diri sendiri, bahkan dia sudah melupakan Pecut Bajrakirana. Yang teringat olehnya hanya bahwa gurunya telah terluka parah oleh orang-orang ini dan dia bertekad untuk membalas. Maka sepak terjangnya menggiriskan dan amukannya seperti seekor naga terluka! Kain pengikat kepala itu berubah menjadi segulungan sinar kebiruan yang dahsyat sekali. Baru angin pukulannya saja menyambar-nyambar ganas, didukung tenaga dalam yang diwarisi dari Resi Limut Manik, didorong kecepatan gerak Aji Harina Legawa yang membuat tubuhnya berkelebatan seperti bayang-bayang!

"Trang...... Trakk....!" Ki Warok petak dan Ki Baka Kroda terhuyung ke belakang. Hampir saja golok dan keris mereka terlepas dari tangan ketika bertemu dengan ujung kain, kemudian gelombang sinar hitam itu menyambar ke arah dada Bhagawan Jaladara dan sebatang kaki mencuat dan menendang ke arah perut Tumenggung Janurmendo! Begitu hebat serangan ini sehinggga Bhagawan Jaladara cepat melompat ke belakang, demikian pula Tumenggung Janurmendo membuang diri ke belakang sambil berjungkir balik sehingga terbebas dari tendangan berputar itu. Bhagawan Jaladara menjadi kecut hatinya. Tumenggung Janurmendo tidak dapat diandalkan lagi dan pemuda itu mengamuk sedemikian hebatnya. Pecut Pusaka sudah berada ditanganya, maka tidak menguntungkan kalau dia terus menyerang pemuda perkasa itu. Dia lalu berseru dengan nyaring.

"Mundur....!" Dan dia sendiri melompat ke atas punggung kudanya. Perbuatan ini dicontoh Tumenggung Janumendo. Ki Warok dan Ki Baka Kroda. Bagaikan berlomba, membalapkan kuda mereka dan pergi meninggalkan tempat itu. Dalam kemarahannya Sutejo hendak mengejar, akan tetapi dia teringat akan keadaan gurunya, maka ditahan niatnya untuk mengejar dan dia berlutut di dekat gurunya.

Diangkatnya tubuh gurunya dan dibawa masuk ke dalam pondok. Setelah merebahkan tubuh Bhagawan Sidik Paningal ke atas dipan, Sutejo memeriksa tubuh gurunya dan dia mendapat kenyataan bahwa gurunya memang menderita yang parah. Napas gurunya terengah-engah dan dia menahan rasa nyeri yang hebat, wajahnya pucat sekali. "Bapa, biarlah saya berusaha mengobati dengan pengerahan hawa sakti." kata Sutejo, siap hendak menempelkan kedua tangan di dada kakek itu.

Bhagawan Sidik Paningal menggeleng kepalanya dan menghela napas untuk menegangkan pernapasannya. "Tiada gunanya lag!, Sutejo Kurasa.... lukaku tidak dapat.... disembuhkan lagi......."

"Bapa....!"

"Tenanglah, angger..... usia berada di tangan Hyang Widhi.... tidak ada yang disesalkan..... sekarang dengarlah baik-baik....."

Dengan hati prihatin karena merasa bahwa gurunya hendak meninggalkan pesan terakhir, Sutejo duduk di tepi. dipan dan mendekatkan mukanya agar dapat mendengarkan dengan baik.

"Pertama-tama akan kupesankan tugas-tugas kewajiban untukmu," kata Bhagawan Sidik Paningal dengan suara lirih dan terputus-putus. "Karena hidup berarti memenuhi kewajiban-kewajiban. Tanpa adanya kewajiban-kewajiban hidup tidak ada artinya. Pertama, engkau harus berusaha untuk merampas kembali Pecut sakti Bajrakirana. Pecut itu adalah pusaka keramat dari perguruan Jatikusumo, menjadi lambang keadilan dan penegak kebenaran. Kalau pusaka itu sampai jatuh ke tangan orang jahat dan dipergunakan untuk kejahatan, nama baik perguruan Jatikusumo akan tercemar. Engkau harus mendapatkan kembali pecut itu dan menyerahkannya kepada Bapa Guru Resi Limut Manik atau Para tokoh Jatikusumo, dalam ini kakak seperguruanku Bhagawan Sindusakti di pantai Laut Kidul daerah Pacitan menjadi tokoh utamanya setelah eyang gurumu. Setelah itu, kewajibanmu yang kedua, engkau harus menghambakan diri kepada Kanjeng Sultan Agung, Sang Prabu Pandan Cokrokusumo Raja Mataram, Berbaktilah kepada Negara dan Bangsa, kulup, karena itu merupakan kewajiban seorang satria sejati. Nah, sanggupkah engkau melaksanakan dua tugas itu?"

"Saya sanggup, Bapa." jawab Sutejo dengan suara mantap.

"Sekarang soal kedua yaitu mengenai dirimu dan riwayatmu....."

Berdebar rasa jantung Sutejo mendengar ini. Dia memang ingin sekali mendengar tentangriwayat dirinya, tentang ayah bundanya. Selama ini kalau ditanya, Bhagawan Sidik Paningal hanya mengatakan bahwa dia sendiri hanya mengatakan siapa ayah bundanya dan tidak memberi keterangan lebih jauh. Sekali ini agaknya di saat terakhir, gurunya itu akan membuka rahasianya!

"Berulang kali engkau menanyakan siapa ayah bundamu, Sutejo dan aku tidak berbohong ketika aku menjawab bahwa aku tidak tahu. Begini riwayatnya. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, ketika aku merantau sampai di kaki Gunung Anjasmoro, pada suatu pagi aku mendengar tangis seorang anak kecil di dalam hutan. Karena merasa curiga mendengar anak itu terus menerus menangis, aku cepat memasuki hutan dan mencari dari mana suara itu datang. Kemudian aku melihat seorang wanita cantik berambut panjang, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, masih muda dan cantik, sedang duduk menangis dan ia memangku seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga tahun. Anak itulah yang menangis keras, sedangkan wanita itu hanya terisak perlahan saja. Kemudian wanita itu membentak, menyuruh anak itu diam. Si anak tidak mau diam bahkan menangis semakin keras. Tiba-tiba wanita itu menotok leher anak itu dengan dua jari tangannya dan seketika tangis itu terhenti, atau anak itu tetap menangis akan tetapi tidak mengeluarkan sedikitpun suara! Aku menjadi curiga melihat kekejaman wanita itu, dan wanita itu berkata, "Mengingat sakit hatiku terhadap orang tuamu, sudah sepatutnya kalau engkau kubunuh sekarang juga. Akan tetapi aku bukan orang sekejam itu!"

Setelah berkata demikian, ia memodong anak itu dan hendak melompat pergi." Sutejo mendengarkan dengan jantung berdebar debar penuh ketegangan dan dugaan. Mudah saja menduga bahwa dialah kiranya anak berusia tiga tahun itu. Akan tetapi dia diam saja, menanti gurunya mengatur pernapasannya sebelum melanjutkan. "Aku menghadangnya dan minta kepadanya agar ia melepaskan anakyang kusangka diculiknya itu. Ia menjadi marahdan menantangku, menanyakan namaku dan juga mengakui dirinya seorang wanita bernama Ken Lasmi. Kami bertanding dan harus ku akui bahwa ia merupakan seorang lawan yang amat tangguh. Dengan susah payah akhirnya aku dapat mengalahkannya dan ia melarikan diri meninggalkan anak itu. Dan anak itu adalah...."

"Sayalah anak itu,bukan, Bapa?" tanya Sutejo penuh gairah.

"Benar, engkau anak itu . Aku membebaskan engkau dari pengaruh totokan yang membuat engkau tidak dapat bersuara. Engkau menyebut namamu Tejo, maka kuberi nama Sutejo. Adadua buah tanda kudapati pada dirimu. Pertama adalah ini. "Bhagawan Sidik Paningal mengambil sebuah benda dari saku jubahnya dan memberikan benda itu kepada Sutejo. Dengan tangan agak gemetar karena terharu Sutejo menerima benda itu. Itu adalah sehelai kalung emas dengan mainan yang indah sekali berbentuk seekor naga berwarna putih, terbuat dari gading terukir. "Benda ini kutemukan tergantung di lehermu. Entah itu hanya mainan biasa ataukah ada artinya, akan tetapi sedikitnya itu merupakan tanda ketika engkau kutemukan. Pakaialah kalung itu, Sutejo."

Sutejo mengenakan kalung itu di lehernya "Dan apakah adanya tanda kedua Bapa?"

"Tanda kedua adalah sebuah tembong di punggungmu, sebesar tiga buah jari tangan Tembong itu tidak hilang sampai sekarang dan dapat menjadi tanda bagimu. Mereka yang menjadi ayah bundamu tentu masih ingat akan adanya tembong di punggungmu itu." Sutejo mengangguk-angguk. Tidak banyak memang untuk dipakai mencari ayah ibunya, akan tetapi setidaknya ada tanda-tanda itu. "Satu-satunya jalan bagimu untuk mencari orang tuamu....." tiba-tiba pertapa itu itu terhenti bicara dan napasnya semakin terengah-engah. Ternyata dia telah terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk bicara sejak tadi. Mukanya pucat sekali dan napasnya tinggal satu-satu.

Sutejo memandang dengan gelisah. "Sudahlah, Bapa, harap jangan memaksa diri banyak bicara." katanya walaupun sebetulnya dia ingin sekali tahu apa yang akan di katakan selanjutnya oleh gurunya itu. Akan tetapi Bhagawan Sidik Paningal menggeleng kepala, menggigit bibirnya dan memaksa dirinya bicara. "kau carilah Ken Lasmi.... ia tahu.... siapa.... orang tuamu.... Sutejo.... sesudah aku mati... kuburkanlah..... aku sudah mantap... .masuk agama baru.... Agama Islam.....!" Kakek itu memejamkan Kedua matanya, mulutnya tersenyum dan napasnya tinggal satu-satu.

Sutejo mendekatkan mulutnya di telinga gurunya dan berbisik dengan hati terharu. "Bapa, sebutlah Nama Hyang Widhi.....!" "Allahhu Akbar.... Allahhu Akbar.... Laillah Hailallah...!" Bhagawan Sidik Paningal menghembuskan napas terakhir dengan Nama Tuhan di bibirnya!

Sutejo dengan khidmat menggunakan jari tangannya untuk merapatkan mata dan bibir gurunya. Barulah dia melepas perasaan hatinya dan menangis mengguguk disamping jenazah Gurunya. Guru ini baginya juga merupakan pengganti orang tuanya, sahabatnya dan pembimbingnya. Kurang lebih dua puluh tahun dia tidak pernah terpisah dari gurunya dan sekarang dia ditinggal mati!

Setelah puas menangisi kematian gurunya, Sutejo lalu duduk termenung. Masih terngiang pesan terakhir gurunya agar dia memenuhi kewajiban-kewajibannya. Hidup memang tidak ada artinya tanpa adanya kewajiban- kewajiban itu. Kewajiban sebagai seorang murid yang menaati pesan terakhir gurunya, dia harus merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana! dan mengembalikan kepada eyang gurunya walaupun eyang gurunya pernah menyatakan bahwa pecut sakti itu diberikan kepadanya untuk dipakai membela Mataram.

Kewajiban sebagai seorang anak membuat dia harus mencari keterangan tentang orang tuanya. Dia harus mencari wanita yang bernama Ken Lasmi, yang menurut gurunya dahulu menculik dia dari orang tuanya. Hanya Ken Lasmi seorang yang akan Dapat memberitahu kepadanya siapa adanya ayah bundanya! Dia akan mencari tokoh sakti itu sampai dapat ditemukan! Setelah memenuhi dua kewajibannya ini dengan tuntas, barulah dia akan memenuhi kewajibannya sebagai seorang Kawulo Mataram, yaitu menghambakan diri kepada Kanjeng Sultan Agung, untuk membela Nusa dan Bangsa.

Gurunya pernah memberi wejangan bahwa dia harus menjadi seorang manusia utama yang seutuhnya, yakni yang memenuhi semua kewajibannya sebagai manusia. Apa artinya menjadi sorang satria yang baik kalau dia tidak menjadi seorang anak yang baik? Apa artinya menjadi anak yang baik kalau dia tidak menjadi seorang kawulo yang baik? Kebaikan ini harus meliputi seluruh kehidupan, bukan hanya sebagian saja. Kebaikan harus berada pada sumbernya, seperti matahari yang cahayanya menyinari semua perbuatan dalam kehidupannya.

Setelah hatinya tenang, Sutejo lalu mengubur jenazah gurunya di belakang pondok, di bukit kecil. Setelah Itu, dia berkemas, Dibawanya pakaiannya yang tidak banyak dan sederhana, kemudian dia meninggalkan pondok, mulai dengan perantauannya. Dia tidak tahu harus mencari Ken Lasmi ke mana, akan tetapi dia tahu ke mana harus mencari Pecut Sakti Bajrakirana, yaitu ke Kadipaten Wirosobo. Dia harus berhati-hati karena di Wirosobo terdapat banyak orang pandai yang pasti akan menyambutnya sebagai musuh.

********************

Bukit itu disebut Bukit Ular, bukan karena bentuknya Seperti ular, melainkan karena di bukit Itu terkenal banyak ularnya. Ular yang besar seperti pohon kelapa sampai yang kecil sebesar kelingking. Akan tetapi yang kecil itu bahkan lebih berbahaya dari pada yang besar karena ular-ular besar sebangsa Ular Sanca Kembang itu tidak akan menyerang orang bila tidak sedang kelaparan, hanya berdiam di gua-gua atau melibatkan dirinya di batang pohon. Sebaliknya, ular sebesar kelingking seperti Ular Welang dan sebangsanya itu mudah menggigit kaki orang yang tanpa sengaja menginjaknya dan gigitannya merupakan taring maut. Sekali gigit dapat melayangkan nyawa manusia!

Thanks for reading Pecut Sakti Bajrakirana Jilid 04 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »