Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 14
NYI MAYA DEWI balas memandang Aji dan sikapnya tenang saja. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang banyak pengalaman, licik dan tidak mudah gugup. “Akan tetapi, Aji. Aku tidak dapat menyerahkan obat itu kepadamu di sini. Obat penawar itu kusimpan di daratan, yaitu di Tegal di rumah Ki Warga.”

“Hemm, Nyi Maya Dewi, tidak perlu lagi kau berbohong. Aku tahu pasti bahwa obat penawar itu ada padamu. Hayo cepat berikan! Ataukah aku harus menyiksa Kapten De Vos lebih dulu?”

Aji sengaja menekan pisau belati itu di leher De Vos sehingga kapten itu berteriak. “Ben je gek, Maya (Gilakah kamu, Maya)? Hayo cepat berikan obat penawar itu kepadanya!” Maya Dewi tampak bingung dan ia memandang kepada banuseta. Terpaksa ia mengangguk memberi isyarat kepada pria itu dan berkata lirih, “Berikanlah, Raden.”

Banuseta mengerutkan alisnya dan memandang kepada Sulastri. Dia tidak rela melepaskan kesempatan untuk menguasai gadis yang digandrunginya itu. “Akan tetapi... Maya... “

“Tidak ada tapi!” Kapten De Vos membentak marah. “Godverdomme, zeg! Berikan obat itu atau kuperintahkan orang-orangku untuk menembak kepalamu!”

Mendengar bentakan ini, Banuseta menjadi pucat mukanya dan dia segera merogoh ke balik ikat pinggangnya, mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dan menyodorkannya kepada Sulastri. Akan tetapi seperti yang sudah ia rencanakan bersama Aji, Sulastri tidak mau menerimanya, tidak mau memberi kesempatan dirinya ditangkap. “Letakkan di atas lantai dekat sini!” perintah Aji.

Banuseta menurut karena Kapten De Vos memandang kepadanya dengan mata mendelik dan memerintah. Dia meletakkan bungkusan obat penawar itu di atas lantai di depan Aji. “Tuan Kapten, sekarang perintahkan Maya Dewi mengembalikan keris dan pedang kami yang dirampasnya.” kata Aji.

“Kembalikanlah, Maya dan cepat!” perintah De Vos. Maya Dewi tidak berani membangkang. Ia mengeluarkan Pedang Nogo Wilis milik Sulastri dan Keris Nogowelang milik Aji, meletakkan dua buah pusaka, itu di atas lantai dekat bungkusan obat penawar.

“Lastri, ambillah semua itu.” kata Aji. Sulastri melangkah maju, dengan waspada ia mengambil bungkusan obat penawar dan menyimpan di ikat pinggangnya, kemudian menyerahkan Keris Nogo Welang kepada Aji dan menggantung sarung pedang Nogo Wilis di ikat pinggangnya. Kedua orang muda itu lalu membuang pisau belati dan kini memegang pusaka masing-masing untuk menodong Kapten De Vos dan melindungi diri sendiri.

Karena Kapten De Vos benar-benar berada dalam kekuasaan Aji dan Sulastri, dan keselamatan nyawanya terancam, maka biarpun di situ hadir orang-orang sakti seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, Nyi Maya Dewi, Ki Warga, Raden Banuseta, Hendrik dan para perajurit, mereka tidak berani berkutik. Bahkan Aki Somad dan Harya Baka Wulung juga tidak berani membuat ulah atau mencoba mempergunakan aji sihir mereka karena mereka maklum betapa saktinya kedua orang muda itu, terutama sekali Lindu Aji.

“Kapten, cepat perintahkan menurunkan perahu kecil itu!” kata Aji kepada tawanannya. “Juga sediakan tangga tali untuk turun!” Perintah itu diteriakkan Kapten De Vos.

Setelah perahu diturunkan ke air dan tangga tali dipasang, Aji memberi isyarat kepada Sulastri untuk menurunkan tangga tali dan masuk ke dalam perahu kecil yang sudah diturunkan di sisi perahu besar. Kemudian dia berkata kepada Nyi Maya Dewi dengan nada suara mengancam. “Kami akan menyandera Kapten ini. Nanti kalau ternyata bahwa obat penawar yang kau berikan itu manjur dan menyembuhkan Sulastri, kami pasti akan membebaskan dia. Kalau ternyata engkau menipu kami dan obat penawar itu tidak dapat menyembuhkan Sulastri, kapten ini akan kami bunuh!”

Mendengar ini, Kapten De Vos menjadi pucat wajahnya. “Maya, jangan main-main kamu! Kalau kamu menipu dan gadis itu tidak dapat disembuhkan sehingga aku terbunuh, Kumpeni tentu akan menangkap kalian semua dan menghukum kalian dengan siksaan yang paling berat!”

Mendengar ini Maya segera berkata kepada Aji. “Aji, kami telah menuruti semua permintaanmu, akan tetapi engkau harus berjanji bahwa engkau akan benar-benar membebaskan Tuan Kapten De Vos.”

“Aku pasti akan membebaskannya. Katakan bagaimana aturan minum obat penawar racun itu.”

“Mudah saja. Masukkan obat bubuk itu semua ke dalam secangkir air kelapa muda hijau, kemudian minum sampai habis dan pengaruh racun itu akan punah. Akan tetapi setelah itu engkau harus membebaskan tuan kapten.”

“Aku tidak akan melanggar janji!”

Setelah berkata demikian, Aji memegang lengan kanan De Vos, tetap menempelkan keris di punggungnya dan memaksa kapten itu menuruni tangga tali bersama dia. Mereka turun ke perahu di mana Sulastri telah menunggu. Aji lalu mendayung perahu itu dengan cepat meninggalkan kapal menuju ke pantai. Lampu-lampu yang menyorot dari rumah-rumah para nelayan di pantai memudahkan Aji menujukan arah perahunya.

Fajar mulai menyingsing ketika akhirnya perahu kecil itu mendarat. Aji dan Sulastri mengajak De Vos meninggalkan pantai menuju ke bagian barat yang jauh dari perkampungan karena mereka tidak ingin menarik perhatian penduduk pantai. Juga mereka hendak memasuki daerah yang tertutup oleh bukit karang agar tidak dapat tampak dari kapal karena mereka maklum bahwa mereka yang berada di kapal tentu akan berusaha untuk mengintai dengan alat teropong.

Mereka berhenti di sebuah tegalan di mana terdapat beberapa batang pohon kelapa. Melihat beberapa butir buah kelapa muda hijau bergantungan di pohon, Aji mempergunakan batu karang untuk menyambit dan dua butir buah kelapa muda hijau runtuh. Dengan pedang milik Sulastri, dia membelah buah kelapa muda itu dengan hati-hati sehingga airnya tidak tumpah. Dimintanya bungkusan obat dari Sulastri dan dimasukkan obat bubuk itu ke dalam air kelapa muda.

“Minumlah, Lastri. Mudah-mudahan engkau sembuh.”

“Maya pasti tidak berbohong.” kata De Vos. “Kalau ia berbohong dan obat itu tidak menolong, ia dan kawan-kawannya akan dihukum mati semua!”

“Mudah-mudahan engkau benar, tuan kapten, karena nyawamu juga tergantung kepada kesembuhan Sulastri.” kata Aji.

Sulastri minum air kelapa muda yang sudah dicampur obat bubuk itu. Setelah air kelapa muda diminumnya habis, ia lalu duduk bersila, mengatur pernapasan untuk membiarkan obat di dalam perutnya bekerja. Aji dan De Vos memandang dengan penuh perhatian dan perasaan tegang. Tiba-tiba gadis itu mengerutkan alisnya dan menggigit bibirnya sendiri. Ia tampak menahan perasaan nyeri yang hebat.

“Lastri, kenapa... ?” Aji bertanya khawatir.

“Perutku... mulai melilit-lilit... ah, aku tidak kuat lagi... harus ke sungai...!” Gadis itu melompat berdiri dan lari ke arah anak sungai yang tadi mereka lewati.

“God.... (Tuhan)! Apa yang terjadi dengannya...?” De Vos berkata dengan muka pucat sambil memandang ke arah menghilangnya bayangan gadis itu di balik pohon-pohon.

Aji masih tenang. Dia merasa yakin bahwa Maya Dewi pasti tidak berani menipunya, apa lagi mencelakai Sulastri dengan obat palsu karena Kapten De Vos masih berada di tangannya. Wanita itu tidak akan berani melanggar perintah De Vos yang merupakan orang penting dari Kumpeni.

“Mungkin itu pengaruh obat penawar yang akan menyembuhkan.” kata Aji tenang.

“Mudah-mudahan begitu...“ Kapten De Vos termenung, hatinya masih diliputi kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri gadis itu yang dapat menyebabkan dia dibunuh. Dia duduk dengan lemas di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah dan menanti. Dia merasa tidak berdaya sama sekali. Selama ini andalannya hanyalah senjata apinya dan pistol-pistolnya telah dilucuti sebelum dia ditawan tadi. Untuk nekad menyerang pemuda ini dengan kaki tangannya? Sama saja dengan membunuh diri! Dia sudah melihat akan kehebatan pemuda itu ketika tadi pemuda itu bertanding melawan Hendrik De Haan. Jagoan juara tinju itu saja tidak mampu berkutik melawan Aji, apalagi dia!

Tak lama kemudian Sulastri muncul. Gadis itu melangkah dengan lenggang gemulai seperti menari. Sinar matahari pagi yang kemerahan menimpa wajahnya, tampak cemerlang dan segar, masih basah. Sepasang matanya yang jeli tampak bersinar mencorong, berbeda dengan pandang matanya tadi yang mengandung penasaran dan agak gelisah. Sinar mata ini saja sudah menggirangkan hati Aji karena merupakan pertanda yang baik. Bahkan Kapten De Vos menyambutnya dengan penuh perhatian dan ketegangan. Keadaan gadis itu menentukan nasib dirinya.

“Bagaimana, lastri?” Tanya Aji sambil memandang wajah gadis itu penuh harapan.

“Ya, bagaimana, nona? Sudah sembuhkah kamu...?” De Vos bertanya.

Sulastri tersenyum kepada Aji dan berkata. “Engkau lihat sendiri, Mas Aji!” Ia menghampiri pohon kelapa, berdiri dalam jarak dua meter, menekuk sedikit kedua lutut kakinya, mengerahkan tenaga saktinya lalu mendorong dengan kedua telapak tangan terbuka sambil membentak nyaring. “Aji Margopati...!” Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah batang pohon kelapa sebesar pinggang gadis itu. “Wuuuttt... kraaakkk... bruuukkk...!”

Pohon kelapa itu tumbang! Kapten De Vos terbelalak dan mukanya berubah pucat. Kalau tidak melihat sendiri, pasti dia tidak akan percaya bahwa ada orang apalagi ia seorang gadis jelita, mampu merobohkan dan menumbangkan sebatang pohon kelapa hanya dengan pukulan jarak jauh.

“Lastri, engkau telah sembuh!” seru Aji dengan girang sekali. Gadis itu telah mampu mempergunakan pukulan tenaga sakti, berarti ia telah sembuh sama sekali.

“Obat itu memang manjur sekali, semua racun terkuras keluar dari perutku. Saking lega dan girang, aku tadi sekalian mandi, segar sekali rasanya.” kata Sulastri.

“Syukurlah! Kamu telah sembuh, ahhh... aku girang sekali...!” De Vos berseru sambil berloncatan seperti hendak menari-nari karena hal itu akan berarti dia dibebaskan!

Sulastri menoleh kepadanya dan alisnya berkerut. “Jangan girang dulu, kumpeni jahat! Hendak kulihat apakah badanmu lebih kuat dari pada batang pohon kelapa itu?”

Tiba-tiba Sulastri sudah menghantamkan tangan kirinya yang terbuka dengan dorongan dahsyat ke arah orang Belanda itu. “Haiiittt...!”

“Plakk...!!” Sulastri terdorong ke belakang dan ia memandang kepada Aji dengan mata terbelalak. “Kangmas Aji! Kenapa... kenapa kau lakukan itu? Kenapa engkau menangkis pukulanku dan... melindungi kumpeni musuh rakyat ini?”

“Tenanglah, Adi Sulastri. Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang yang melanggar janji sendiri. Kita sudah berjanji bahwa kalau obat penawar itu berhasil menyembuhkanmu, kita akan membebaskan Kapten De Vos ini.”

“Akan tetapi janji orang-orang seperti dia dan antek-anteknya itu, apakah dapat dipercaya?” Sulastri membantah dengan penasaran, sementara itu De Vos memandang dengan sinar mata gelisah.

“Mereka memang tidak dapat dipercaya dan bukan orang-orang yang baik, akan tetapi kita tidak sama dengan mereka, bukan? Kita adalah orang-orang yang menjaga kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Kita tidak perlu meniru kecurangan mereka. Kita adalah orang-orang yang tidak akan melanggar janji sendiri, bukan?”

Sulastri menarik napas panjang. “Sudahlah, aku takkan menang berdebat melawanmu. Bebaskan dia kalau engkau sudah memutuskan demikian.”

Aji bernapas lega. Tadinya dia merasa khawatir kalau gadis yang keras hati itu akan memaksakan kehendaknya membunuh orang Belanda ini. “Terima kasih, Lastri.”

Kemudian dia berkata kepada De Vos, “Tuan kapten, sekarang engkau boleh pergi. Aku membebaskanmu.”

Kapten De Vos adalah seorang yang sejak mudanya perajurit dan pelaut. Diapun seorang yang amat menghargai kegagahan dan dia merasa kagum sekali akan sikap dua orang muda yang dia anggap sebagai bangsa yang sederhana dan terbelakang itu, terutama sekali dia kagum melihat sikap Aji. “Tuan Lindu Aji,” katanya dan nada suaranya mengandung hormat. “Tidak akan menyesalkah tuan membebaskan saya? Ketahuilah bahwa kalau kelak kita saling berjumpa dalam sebuah pertempuran, saya tidak akan ragu-ragu untuk menembak kepala tuan dengan pistol saya.”

Aji tersenyum. “Itu sudah menjadi kewajibanmu, tuan. Akupun kalau bertemu denganmu dalam pertempuran, tidak akan ragu untuk membunuhmu.”

“Mas Aji, kenapa susah-susah? Bunuh saja dia sekarang! Bukankah dia musuh kita?” kata Sulastri.

“Tidak, di antara dia dan kita tidak ada permusuhan pribadi, Lastri. Tuan kapten, ketahuilah, kami adalah satria-satria Mataram yang tahu akan harga diri dan kehormatan. Yang bermusuhan adalah antara kerajaan kita. Karena itu, dalam perang membela kerajaan masing-masing mungkin kita akan saling bunuh. Akan tetapi antara kita pribadi tidak ada permusuhan apapun. Apalagi kami sudah berjanji akan membebaskan setelah Sulastri sembuh oleh obat penawar itu. Pergilah, tuan, mudah-mudahan engkau akan menyadari bahwa kerajaan tuan dari seberang lautan yang jauh itu sedang mengganggu dan mengacau tanah air kami!”

Kapten De Vos tersenyum dan menggerakkan pundaknya sebagai tanda bahwa dia tidak berdaya dalam hal itu. “Apa boleh buat, Tuan Aji, salah atau benar Belanda adalah kerajaanku yang harus kubela. Selamat tinggal!” Dia lalu melangkah pergi dengan cepat menuju ke pantai di mana tadi Aji meninggalkan perahu kecil yang mereka naiki untuk mendarat.

Setelah Kapten De Vos pergi, Sulastri menghela napas, memandang Aji dan berkata. “Mas Aji, siasat kita berjalan baik dan mulus seperti kita rencanakan. Untung sekali bahwa aku telah dapat disembuhkan. Akan tetapi hatiku merasa penasaran bukan main, bahkan sampai sekarang masih terasa panas dan tidak puas!”

“Wah, kenapa begitu, Lastri? Bukankah kita sepatutnya bersyukur kepada Gusti Allah karena kita berdua dapat meloloskan diri dari tangan mereka dengan selamat?”

“Benar, kakangmas, akan tetapi hatiku merasa penasaran karena kita tidak dapat membasmi orang-orang yang menjadi antek Kumpeni itu. Aku merasa muak dan benci kepada mereka dan ingin sekali menumpas mereka! Terutama nenek tak tahu malu Maya Dewi itu!”

“Hal itu tidak mudah, Lastri. Kalau hanya Maya Dewi seorang, tentu tidak sukar kita mengalahkannya. Akan tetapi ia memiliki sekutu orang-orang yang sakti mandraguna seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, laki-laki bangsawan tinggi kurus itu, dan kita tidak boleh memandang remeh orang yang tinggi besar, pandai berbahasa belanda yang disebut Ki Warga itu. Agaknya dia mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar dan menjadi orang penting dari Kumpeni Belanda. Belum lagi di sana ada Kapten de Vos dan anak buahnya yang amat berbahaya dengan senjata api mereka. Setidaknya kita sekarang mengetahui siapa-siapa yang menjadi antek dan mata-mata Kumpeni.”

“Hemm, kalau saja tadi aku membunuh Belanda itu, setidaknya akan tertebus rasa penasaranku.”

“Sebaliknya, Lastri. Perasaan kita akan tertekan karena kita telah melanggar janji sendiri. sudahlah, mari kita cepat pergi dari sini. Aku yakin bahwa kalau Kapten De Vos suadah kembali ke kapalnya, mereka semua akan mencari kita di sini. Mereka tidak ingin melepaskan kita begitu saja karena telah mengetahui semua rahasia mereka.”

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan wajah membayangkan ketidak puasan hati, Sulastri mengikuti Aji meninggalkan tempat itu dengan cepat menuju ke arah barat, Karena mereka melakukan perjalanan cepat, mempergunakan ilmu berlari cepat, maka seandainya gerombolan antek Kumpeni melakukan pengejaran, tetap saja mereka tidak akan dapat menemukan dua orang muda perkasa itu.

********************

Usaha penyerangan Sultan Agung dengan mengerahkan pasukan besar ke Batavia untuk pertama kalinya (tahun 1628) telah mengalami kegagalan besar. Senopati Baureksa yang diserahi tugas memimpin pasukan penyerbuan itu gugur dalam perang, tertembak peluru meriam Belanda. Banyak perwira Mataram gugur sehingga melemahkan semangat bertempur pasukan Mataram.

Selain itu, timbul pula gangguan yang teramat besar dan yang merupakan pukulan parah bagi pasukan Mataram yang mengepung Batavia, yaitu berjangkitnya penyakit malaria yang menewaskan banyak perajurit dan melemahkan sebagian besar dari mereka. Ditambah lagi karena kekurangan pangan karena gudang-gudang ransum mereka dibakar habis oleh antek-antek Kumpeni Belanda. Maka penyerbuan pertama itu gagal sama sekali.

Sultan Agung merasa kecewa, menyesal dan marah besar. Saking marahnya melihat usaha penyerbuan itu gagal dan melihat pasukan Mataram pulang membawa kehancuran, Sultan Agung amat marah karena pasukannya tidak melawan terus sampai Batavia dapat dirobohkan. Dia menganggap sebagian para perwira kurang semangat dan bersikap pengecut. karena itu dia memerintahkan Tumenggung Suro Agul-agul untuk menghukum mati para pasukan pengikut yang melarikan diri.

Akan tetapi perintah itu disalah artikan oleh Tumenggung Suro Agul-agul. Dia malah menangkap Adipati Mandureja dan Kyai Adipati Upasanta, lalu menghukum mati dua orang senopati ini. Hal itu tentu saja menggegerkan di kalangan pamong praja. apa lagi mengingat bahwa kedua orang senopati yang dihukum mati itu adalah cucu-cucu keturunan mendiang Ki Patih Mandaraka yang termasyhur, yang menjadi pembantu utama mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati.

Ketika Sultan Agung mendengar akan kekeliruan hukuman ini, dia menjadi semakin sedih dan marah. “Semua pimpinan penyerangan ke Batavia yang gagal itu ikut bertanggung jawab, bukan hanya kedua orang senopati itu!” katanya dan Sultan Agung lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul dan banyak bangsawan yang dianggap gagal memimpin penyerbuan itu.

Peristiwa yang amat menyedihkan ini, kegagalan penyerbuan ke Batavia, kehancuran pasukan dan banyaknya korban yang gugur dalam perang atau terserang penyakit, lalu banyaknya bangsawan yang dihukum mati, medatangkan kegelisahan di antara para menteri, senopati, para panglima dan perwira. Akan tetapi, kegagalan besar itu sama sekali tidak membuat jera hati Sultan Agung yang amat membenci sepak terjang Kumpeni Belanda yang semakin meluaskan kekuasaannya secara licik, mula-mula melalui perdagangan, lalu perlahan-lahan memperluas bumi Nusantara yang dicengkeramnya.

Sultan Agung membuat persiapan lagi untuk melakukan penyerangan kedua yang lebih besar. Untuk itu, dia mengangkat Tumenggung Singoranu yang tua sebagai senopati yang akan memimpin penyerbuan, memerintahkan Tumenggung Singoranu untuk melatih dan memperkokoh barisan Mataram, mengundang para pemuda yang perkasa untuk menjadi perajurit. Juga Sultan Agung menyerahkan kepada Senopati Suroantani untuk memimpin mempersiapkan penyerbuan dengan cara menyebar banyak telik sandi (mata-mata) ke kadipaten-kadipaten sampai menyusup ke Batavia, untuk menyelidiki siapa-siapa yang akan menjadi lawan dan siapa menjadi kawan, serta sampai di mana ketahanan dan kekuatan pihak Kumpeni Belanda.

Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman para antek kumpeni yang dipimpin Nyi Maya Dewi, Aji lalu mengajak Sulastri untuk pergi ke Kadipaten Cirebon. dari Senopati Suroantani Aji sudah mendengar bahwa Adipati di Cirebon dapat dipercaya dukungannya terhadap Mataram. Mereka lalu mohon menghadap dan setelah Aji memperlihatkan Keris Pusaka Nogo Welang hadiah yang juga merupakan tanda kekuasaan dari Sultan Agung, Sang Adipati Cirebon menerima kunjungan Aji dengan hormat.

Setelah memberi hormat dan kedua orang muda itu dipersilahkan duduk oleh Sang Adipati, Aji lalu berkata dengan hormat. “Gusti Pangeran, hamba mohon beribu ampun karena sudah berani mengganggu ketenangan paduka dan berani menghadap tanpa dipanggil. Hamba menerima perintah Gusti Sultan Agung, diperbantukan kepada Paman Senopati Suroantani, dan dalam tugas ini hamba diberi sebutan Alap-alap Laut Kidul. Gadis ini adalah seorang sahabat hamba yang telah membantu pekerjaan dan tugas hamba, namanya Sulastri.”

Adipati Cirebon adalah seorang pria yang sudah tua namun tubuhnya masih tampak sehat dan kuat. Dalam usianya yang sudah enam puluh lima tahun itu masih tampak penuh semangat. Matanya yang tajam mengamati wajah Lindu Aji dan sulastri dan dia tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Raja ini disebut Pangeran Ratu dan dia adalah cicit dari Sunan Gunung Jati yang pernah menjadi penguasa di Cirebon dan amat terkenal sebagai tokoh yang mengembangkan Agama Islam di Cirebon. Sang Adipati mengangguk-angguk.

“Kami telah melihat pusaka yang merupakan hadiah penghargaan dari Sultan Agung dan kami percaya kepadamu, orang muda. Sebutanmu Alap-alap Laut Kidul? Andika pantas menyandang sebutan itu, akan tetapi siapakah nama andika yang sebenarnya? Ataukah nama itu dirahasiakan?”

“Hamba tentu saja tidak merahasiakan terhadap paduka kalau memang paduka berkenan ingin mengetahui. Nama hamba adalah Lindu Aji.”

“Lindu Aji? Wah, nama yang bagus sekali! Nah, sekarang katakanlah kepada kami, kepentingan apa yang membawa andika menghadap?”

“Hamba hendak melaporkan bahwa keadaan di Kadipaten Tegal cukup mencurigakan, Gusti Pangeran. Di sana hamba berdua telah ditawan oleh segerombolan orang-orang yang menjadi kaki tangan Kumpeni Belanda. Beruntung sekali Gusti Allah masih melindungi hamba berdua sehingga hamba dapat membebaskan diri hamba dan hamba segera menghadap paduka untuk menceritakan hal ini karena siapa tahu mereka itu akan mengadakan kekacauan di daerah paduka.”

Adipati itu mengerutkan alisnya dan berseru, “Alhamdulillah bahwa kalian telah dapat melepaskan diri dari cengkeraman mereka. apa yang terjadi dan siapa mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda itu?”

Aji lalu menceritakan pengalamannya bersama Sulastri ketika bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya sampai mereka berdua tertawan dan dibawa ke kapal Belanda, dihadapkan kepada Kapten De Vos sampai akhirnya mereka berdua mempergunakan siasat dan dapat membebaskan diri dari cengkeraman mereka. Sang Adipati mendengarkan dengan penuh perhatian. setelah Aji mengakhiri ceritanya dia bertanya.

“Coba andika sebutkan lagi satu demi satu nama mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda.”

Aji menjawab dengan jelas. “Mereka adalah Ki Warga yang tinggal di Tegal dan agaknya dia orang penting dari Kumpeni. Kemudian Nyi Maya Dewi, Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad pertapa di Nusakambangan. Ki Harya Baka Wulung itu seorang tokoh besar dari Madura, dan seorang laki-laki berpakaian seperti bangsawan yang disebut Raden oleh Maya Dewi akan tetapi hamba tidak mengetahui namanya.”

Sang adipati mengangguk-angguk. “Hemm, kami mengenal nama-nama itu. Bukan nama yang asing. Akan tetapi baru sekarang kami yakin dari ceritamu bahwa mereka benar-benar telah merendahkan diri menjadi antek Kumpeni Belanda. Ki Harya Baka Wulung setahu kami adalah seorang tokoh besar dan pahlawan Madura yang dahulu membela Madura mati-matian dari serbuan Mataram. Kenapa dia mau merendahkan diri menjadi antek Belanda, padahal orang-orang Madura pada umumnya tidak suka kepada Belanda? Hemm, kukira dia hendak membalas dendam kepada Mataram dengan jalan membonceng kekuatan Kumpeni. Dan Nyi Maya Dewi? Kami mengenal wanita cantik sebagai puteri mendiang Resi Koloyitmo, seorang datuk sesat yang amat terkenal dari Parahyangan dan karena kejahatannya bahkan menjadi buronan Kerajaan Pajajaran. Kabarnya puterinya itu juga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna namun sesat seperti bapaknya, akan tetapi sungguh tidak disangka-sangka bahwa iapun begitu jauh tersesat untuk mengabdi kepada Bangsa Belanda memusuhi bangsa sendiri dan mengkhianati tanah airnya. Dan tentang Aki Somad? Wah, kami pernah juga mendengar nama tokoh dari Nusakambangan ini. Namanya juga tak dapat dibilang bersih. Kabarnya dia menjadi datuknya para bajak laut dan perampok di daerah Cilacap dan Banyumas. Akan tetapi juga sungguh mengejutkan kalau kini dia begitu merendahkan diri untuk menjadi antek Kumpeni Belanda. Adapun tentang Ki Warga, dia itu seorang yang aneh. Ada berita bahwa dia memang orang kepercayaan Adipati Tegal dan dialah orangnya yang menjadi perantara dalam semua urusan dengan pihak Kumpeni Belanda. Masih diragukan apakah dia itu antek Belanda ataukah sebetulnya dia alat Kadipaten Tegal untuk menyelidiki keadaan demi keuntungan Kadipaten Tegal yang sebetulnya tidak memperlihatkan tanda-tanda menentang Mataram, akan tetapi juga tidak berkeras menolak kehadiran kapal Kumpeni di pantainya. Bagaimanapun juga, berita yang andika sampaikan kepada kami ini amat penting sehingga kami dapat bersiap-siap dan waspada tehadap segala kemungkinan buruk.”

“Hal ini sudah menjadi tugas kewajiban hamba, gusti. Paman Senopati Suroantani memang memesan kepada hamba untuk menceritakan semua hal yang menyangkut gerakan Kumpeni Belanda melalui para mata-matanya kepada para kadipaten yang menjadi sekutu Mataram termasuk Kadipaten Cirebon. Karena itu, hamba mengharap paduka sudi mengirim utusan untuk mengabarkan semua ini kepada Paman Senopati Suroantani di Mataram.”

“Jangan khawatir. Kami akan mengabarkan semua kepada Senopati Suroantani di Mataram dan andika, Nini Sulastri, andika, telah dapat membantu anakmas Lindu Aji. Agaknya andika juga seorang gadis yang memiliki aji kesaktian, nini. Apakah andika tunggal guru dengan anakmas Lindu Aji?”

“Hamba bukan saudara seperguruan Kakangmas Aji, gusti. Guru hamba adalah Ki Ageng Pasisiran yang tinggal menyepi di daerah pantai Dermayu.”

“Hemm, Ki Ageng Pasisiran? Kami pernah mendengar akan adanya seorang pertapa yang tua renta di pantai Dermayu itu. Akan tetapi tidak pernah terdengar dia membuka perguruan pencak silat. Kiranya andika seorang wanita yang masih muda menjadi muridnya. Hebat sekali! Dari mana andika berasal, Nini Sulastri dan siapakah orang tuamu?”

“Orang tua hamba tinggal di Dermayu, ayah hamba bernama Ki Subali.”

“Ah, apakah bukan Ki Subali, sasterawan yang juga pandai menjadi dalang itu?”

“Benar dia, gusti.”

“Bagus! Kami mengenal Ki Subali. Pernah kami mengundang dia mendalang di kadipaten. Kalau begitu, nini, andika adalah orang sendiri yang dapat kami percaya. Dan andika anak mas Lindu Aji, siapakah guru andika?”

“Guru hamba adalah mendiang Eyang Tejobudi, gusti.”

“Mendiang Ki Tejobudi? Dia sudah meninggal dunia? Ah, belasan tahun yang lalu dia pernah menjadi tamu kami dan kami bersahabat baik! Bagus, sungguh kebetulan sekali. Agaknya memang Gusti Allah yang mengirim kalian ke sini untuk membantu kami. Anakmas Lindu Aji dan Nini Sulastri, kami membutuhkan pertolongan kalian dan kami harap kalian tidak berkeberatan untuk menyingkirkan duri yang mengganggu ketenteraman kadipaten kami.”

“Tentu saja hamba berdua siap untuk membantu, gusti. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk Kadipaten Cirebon?” Tanya Aji.

“Begini, anakmas. Sudah ada kurang lebih dua bulan ini daerah pinggiran kadipaten kami di sekitar Gunung Cireme, diganggu ketenteramannya oleh gerombolan yang mengacau dan melakukan perampokan dan penganiayaan. Bahkan mereka itu berani merampok sampai ke Majalengka dan Leuwimunding. Gerombolan itu memakai nama Munding Hideung dan memiliki pimpinan terdiri dari orang-orang yang digdaya. Beberapa kali kami mengirim pasukan untuk menumpasnya, namun sejauh ini belum berhasil bahkan kami kehilangan banyak perwira yang tewas ketika terjadi pertempurang. Gerombolan Munding Hideung itu bersarang di gunung Cireme. Nah, mengingat bahwa andika berdua adalah murid-murid tokoh sakti mandraguna dan juga merupakan orang kepercayaan sultan agung, kami harap andika berdua menolong kami. Hancurkan gerombolan itu dan tangkap hidup atau mati, para pimpinan Munding Hideung. Kami akan menyediakan pasukan yang kalian butuhkan.

Aji menoleh kepada Sulastri dan kebetulan gadis itupun sedang menoleh kepadanya sehingga mereka bertemu pandang sejenak. Namun pertautan pandang mata mereka yang sejenak itu sudah cukup untuk dapat saling mengerti perasaan masing-masing. mereka setuju untuk membantu Kadipaten Cirebon. Maka, tanpa ragu-ragu lagi Aji lalu berkata dengan sembah.

“Hamba berdua siap untuk membantu dan melaksanakan perintah paduka, gusti pangeran.” Adipati itu tampak gembira sekali.

“Bagus! Terima kasih, anakmas Lindu Aji dan Nini sulastri. lalu, berapa banyak perajurit yang kalian butuhkan?”

“Hamba berdua tidak akan membawa pasukan, gusti. Kalau membawa pasukan, tentu akan mudah ketahuan dan gerombolan itu dapat bersiap-siap, bersembunyi atau bahkan menjebak kami. Kami akan melakukan penyelidikan berdua saja dan akan berusaha untuk menangkap pemimpin gerombolan itu. Hamba kira kalau pemimpinnya sudah dapat ditangkap, para anak buahnya tidak akan merajalela lagi dan mudah untuk dibasmi.”

“Berdua saja? Apakah tidak berbahaya? Nini Sulastri, bagaimana pendapat andika?”

“Pendapat hamba sama dengan pendapat Kakangmas Aji, gusti. Dengan bekerja berdua saja, kami akan lebih mudah menyusup ke sarang mereka dan lebih leluasa bergerak.”

Sang adipati mengangguk-angguk, “Hebat! Kami kagum akan keberanian dan semangat kalian orang-orang muda. Mengingatkan kami puluhan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Ahh, petualangan-petualangan seperti inilah yang membangkitkan semangat dan gairah hidup. Menghadapi bahaya, rintangan, ancaman, dan tantangan dan berhasil mengatasi semua itu. Alangkah indahnya! Kalau begitu, katakan, apa saja yang kalian perlukan untuk bekal pelaksanaan tugasmu yang berat ini dan kami pasti akan mengadakannya untuk kalian.”

“Hamba menghaturkan banyak terima kasih. gusti pangeran. Akan tetapi sesungguhnya, hamba berdua tidak membutuhkan apapun.” kata Sulastri.

“Benar, gusti Pangeran. Hamba berdua hanya membutuhkan doa restu paduka.” sambung Aji dengan suara sungguh-sungguh.

Sang Adipati mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Tentu, tentu sekali. kami akan selalu berdoa semoga Gusti Allah melindungi andika berdua dan akan membimbing andika sehingga tugas berat ini dapat andika laksanakan dengan berhasil baik. Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Kasihan rakyat kami di pinggiran kalau kekacauan ini dibiarkan berlarut-larut.”

“Sendika, kami nyuwun pangestu, gusti.” kata Aji dan Sulastri sambil menyembah.

Sang adipati melambaikan tangan dan keduanya lalu keluar dari ruangan paseban. Akan tetapi begitu mereka tiba di pintu gerbang kadipaten, dua orang perajurit yang menuntun dua ekor kuda menghadang mereka dan memberi hormat lalu berkata, “Kami diperintahkan Gusti Pangeran Ratu untuk menyerahkan dua ekor kuda ini kepada andika berdua.”

Aji saling pandang dengan Sulastri dan kedua orang muda ini tertawa senang. Jalan pikiran mereka sejalan. Kalau bicara tentang kebutuhan mereka pada saat itu, yang mereka butuhkan memang dua ekor kuda sehingga mereka dapat melakukan perjalanan menuju pegunungan Careme dengan cepat. Mereka mengucapkan terima kasih, mencengklak kuda masing-masing dan melarikan kuda keluar dari Kadipaten Cirebon.

Menjelang senja tibalah mereka di sebuah dusun yang berada di kaki gunung Careme, yaitu dusun kecil yang disebut Dusun Kapayun. Karena di dusun sekecil itu tidak terdapat warung makan maupun penginapan, Aji dan Sulastri lalu langsung mencari rumah pamong dusun atau kepala dusun itu. Semua orang menunjuk ke sebuah rumah yang lebih besar dari pada sekitar tiga puluh rumah yang berada di dusun itu. Ki Sajali, pria berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus berkumis panjang yang menjadi pamong dusun Kapayun, menyambut dua orang muda itu dengan sinar mata penuh curiga. Sinar matanya memandang penuh selidik kepada dua orang muda yang sedang menambatkan kuda mereka di sebatang pohon di pekarangan rumahnya.

Setelah menambatkan kuda, Aji dan Sulastri melangkah menuju ke pendapa dan disambut oleh laki-laki yang tinggi kurus itu. Aji membungkuk dengan hormat lalu bertanya, “Maafkan kami, paman. Kami hendak bertemu dengan Paman Sajali yang menjadi pamong dusun ini.”

“Hemm, andika siapakah dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan pamong dusun?”

Mendengar pertanyaan yang dilakukan dengan sikap kasar dan galak itu, Sulastri tak sabar lagi dan menjawab dengan galak pula, “Kami adalah orang-orang kepercayaan dan utusan Gusti Pangeran Ratu di Cirebon untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Munding Hideung!”

Orang itu tampak terkejut, matanya terbelalak dan sikapnya berubah hormat, “Ah, kiranya andika berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu? Mohon maaf atas sikap saya tadi, den mas dan den roro! Saya adalah Ki Sajali, pamong dusun ini.”

Melihat Ki Sajali bersikap hormat, Aji segera berkata dengan lembut pula. Bagaimanapun juga, dia dan Sulastri membutuhkan bantuan kepala dusun itu untuk diberi makan malam dan tempat peristirahatan malam itu. “Maaf, Paman Sajali. Sesungguhnya bahwa kami berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu yang mengemban tugas membasmi gerombolan pimpinan Munding Hideung yang mengganas di sekitar Gunung Careme. Karena kami kemalaman di sini, maka saya mohon paman suka menampung kami untuk semalam ini. Saya bernama Aji dan nona ini adalah Sulastri.”

“Ah, silakan, silakan, denmas aji dan denroro Sulastri! Saya merasa girang dan mendapat kehormatan besar sekali andika berdua sudi bermalam di sini. mari silakan masuk, barangkali andika berdua ingin mandi-mandi dan mengaso dulu. Saya akan menyuruh orang mempersiapkan makan malam.”

“Wah, tidak usah terlalu merepotkan paman.” kata Aji agak rikuh.

“Tidak, sama sekali tidak repot, den mas!”

Kepala dusun itu melangkah masuk diikuti dua orang muda itu. Mereka mendapatkan dua buah kamar dan dengan ramah Ki Sajali mempersilakan mereka untuk mandi di kamar yang berada di belakang, lalu meninggalkan mereka untuk mempersiapkan makan malam. Aji dan Sulastri memasuki kamar masing-masing. Kamar yang kecil sederhana, namun cukup lumayan untuk melewatkan malam itu karena di situ terdapat sebuah amben (dipan) yang bertilamkan tikar yang cukup bersih. Aji bersikap hati-hati dan mereka mandi bergantian untuk dapat melakukan penjagaan atas barang-barang yang mereka tinggalkan dalam kamar.

Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian, mereka keluar dari kamar, meninggalkan buntalan pakaian mereka kecuali senjata mereka yang mereka bawa. Sulastri menggantungkan pedang Nogo Wilis di punggung sedangkan Aji menyelipkan Keris Nogo Welang di ikat pinggangnya. Mereka bertemu di luar kamar dan Sulastri berbisik.

“Mas Aji, engkau melihat sesuatu yang aneh?”

“Di rumah ini?”

“Di rumah ini dan di dusun ini.”

“Hemm, sikap Ki Sajali itu cukup mencurigakan. Tadinya dia bersikap angkuh, keras dan curiga, kemudian setelah dia tahu siapa kita, sikapnya berubah dan berlebihan, bahkan menjilat. Sikap seperti itu biasanya menyembunyikan niat tertentu yang tidak baik.”

“Aku melihat yang lebih aneh lagi.”

“Apa itu Lastri?”

“Apakah engkau tidak melihat di waktu pergi ke belakang untuk mandi tadi? Di rumah ini tidak tampak ada wanitanya. Semuanya laki-laki, bahkan aku melihat kesibukan di dapur juga dilakukan laki-laki dan mereka semua masih muda dan kelihatan kasar.”

“Ah, aku ingat sekarang. Pantas ketika aku memasuki dusun dan bertanya-tanya tentang kepala dusun, aku merasa ada sesuatu yang kurang di dusun ini, yaitu tidak tampak adanya wanita dan kanak-kanan di dusun ini.”

“Benar, bahkan tidak ada laki-laki tua. Semua laki-laki muda yang kelihatan kasar. Inilah yang kuanggap aneh dan tidak wajar.” kata Sulastri.

Aji mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa girang bahwa perjalanannya ditemani seorang gadis seperti Sulastri yang ternyata selain digdaya, juga cerdik dan waspada. “Kita sudah mengerti dan menaruh curiga, ini baik, Lastri. Akan tetapi kita besikap tidak tahu saja dan diam-diam waspada menjaga segala kemungkinan. Kalau kita diajak makan malam nanti, kau harus berhati-hati dan jangan menyentuh suatu hidangan sebelum tuan rumah mengambil dan memakannya lebih dulu.”

“Bagaimana kalau mereka menghidangkan minuman?”

“Sama saja, jangan diminum. Kita lihat saja nanti perkembangannya.”

“Engkau khawatir kalau mereka menggunakan racun, Mas Aji?”

“Orang-orang jahat tidak pantang menggunakan cara-cara yang licik dan jahat. Kita sudah mengalaminya sendiri ketika tertawan komplotan para antek Kumpeni Belanda itu. Karena kita tidak mengenal benar Ki Sajali dan keadaan di sini mencurigakan, maka kita harus berhati-hati.”

Sulastri mengangguk-angguk, lalu berbisik, “Sstt, dia datang.”

Ki Sajali yang kini sudah pula berganti pakaian menghampiri mereka. “Denmas dan denroro sudah mandi? Ah, kenapa andika berdua membawa-bawa senjata pusaka? Saya hanya ingin mengundang andika berdua untuk makan malam!”

Aji cepat menjawab, “Paman, kami adalah pengemban-pengemban tugas penting yang selalu menhadapi bahaya dimanapun kami berada. Oleh karena itu, terpaksa kami selalu membawa pusaka untuk melindungi diri kami.”

“Akan tetapi di sini andika berdua aman! Marilah, kita makan dulu sebelum beristirahat. Akan tetapi di dusun ini kami tidak dapat menyuguhkan makanan yang pantas untuk andika berdua.”

“Ah, sambutan paman ini saja sudah cukup menyenangkan hati kami dan kami berterima kasih sekali.” kata Aji dan bersama Sulastri dia mengikuti tuan rumah itu menuju ke ruangan makan yang berada di bagian kiri rumah.

Ketika mereka memasuki ruangan yang diterangi tiga lampu gantung yang cukup besar itu, mereka melihat di ruangan yang luas itu sebuah meja besar yang penuh dengan masakan sayur-sayuran dan daging ayam dan kambing! Cukup mewah bagi suguhan di dusun yang kecil dan sunyi itu. Juga masakan-masakan itu masih mengepulkan uap, tanda bahwa masakan itu masih hangat. Nasinya dalam bakul juga putih dan masih hangat.

Dua orang muda itu dipersilahkan duduk bersanding, berhadapan dengan tuan rumah terhalang meja yang penuh hidangan itu. Agaknya memang sudah diatur. Di depan mereka terdapat dua gelas minuman air teh. Akan tetapi di depan Ki Sajali tidak tersedia gelas terisi minuman teh, melainkan terdapat sebuah kendi besar hitam mengkilap.

“Mari denmas, denroro, silakan makan seadanya!” Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya.

Aji dan Sulastri melihat ada dua orang laki-laki muda bertubuh tinggi besar di dekat dinding, sikapnya seperti pelayan-pelayan yang siap menanti perintah. Sulastri melirik ke arah Aji. Gadis ini bersikap hati-hati, tidak mau sembarangan mengambil makanan. Ia hendak menanti apa yang akan diperbuat kawannya itu.

“silakan paman mengambil lebih dulu,” kata Aji dengan sikap menghormati tuan rumah yang lebih tua. Ki Sajali tersenyum. “Harap andika berdua tidak malu-malu,” katanya dan diapun mulai mengambil nasi di atas piringnya.

Aji dan Sulastri diam-diam mengusap piring kosong mereka dengan jari tangan untuk merasa yakin bahwa piring mereka itu bersih dari olesan atau taburan racun. Juga mereka mempergunakan ketajaman penciuman mereka. Piring mereka bersih. Merekapun baru berani mengambil nasi seperti yang dilakukan tuan rumah dan sengaja menyendok nasi di bekas yang disendok tuan rumah.

Demikian pula cara mereka mengambil masakan. Selalu mengambil sayuran atau daging yang lebih dulu diambil tuan rumah. Bahkan ketika mereka mulai makanpun, mereka selalu menyentuh dan makan hidangan setelah melihat tuan rumah memakannya. sikap hati-hati mereka itu agaknya tidak diketahui Ki Sajali dan mungkin dia menganggap kecanggungan dua orang tamu mudanya itu karena rikuh dan malu-malu.

Setelah selesai makan, Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya untuk minum air teh mereka. Dia sendiri minum dari kendi dengan mengucurkan air dari mulut kendi yang langsung diterima mulutnya yang ternganga. Melihat ini, Aji mengedipkan mata kepada Sulastri dan mengerling ke arah kendi yang dipergunakan tuan rumah untuk minum. Sulastri mengangguk.

Ki Sajali menurunkan kendinya ke atas meja. Melihat dua orang tamunya belum minum air teh mereka, dia kembali mempersilakan. “Mari, silakan minum air tehnya, denmas dan denroro, selagi masih hangat.”

Aji tersenyum dan berkata, “Paman Sajali, melihat paman minum air kendi itu kelihatannya segar sekali dan membuat saya ingin sekali minum air kendi itu pula!” Dia menuding ke arah kendi besar itu.

“Aku juga demikian! Kelihatan sejuk dan segar sekali!” kata Sulastri sambil memandang kendi besar itu penuh gairah.

“Ah, begitukah? Silakan!” kata Ki Sajali. Aji mengambil kendi itu dan menyerahkannya kepada Sulastri. Karena dia yakin bahwa minum air kendi itu tentu aman, seperti telah dilakukan oleh Ki sajali, maka dia membiarkan Sulastri minum lebih dulu. Tanpa ragu lagi Sulastri mengangkat kendi, mengucurkan air dari mulut kendi ke mulutnya yang dibuka sedikit tidak seperti Ki Sajali tadi yang mulutnya dingangakan lebar.

Setelah minum beberapa teguk air kendi, Sulastri bangkit dari duduknya, meletakkan kendi ke atas meja, lalu ia memegangi perutnya dan terhuyung, menabrak kursi yang tadi didudukinya sehingga kursi itu terpelanting.

“Lastri....!” Aji cepat bangkit dan memegang lengan gadis itu untuk menjaganya agar jangan sampai jatuh. Dia lalu menarik gadis itu dan didudukkan di kursinya sendiri.

Sulastri terkulai, kepalanya di atas meja dan kedua tangannya menekan-nekan perutnya. “Aduh... perutku... di ulu hati... nyeri dan perih... panas...!” Aji menendang kursi yang menghalanginya dan dia sudah melompati meja, tiba di dekat Ki Sajali dan memegang pergelangan tangan orang itu. Seketika dia tahu apa yang terjadi. Air kendi itu dicampuri racun! Kalau tadi Ki Sajali dapat minum dan tidak keracunan, tentu dia telah menelan obat penawarnya. “Engkau menaruh racun dalam air kendi itu!” bentak Aji sambil mencengkeram pergelangan tangan Ki Sajali dengan kuatnya. “Cepat keluarkan obat penawarnya!”

Akan tetapi tiba-tiba Ki Sajali bangkit dan tangan kanannya bergerak memukul ke arah kepala Aji. Angin yang berdesir menunjukkan bahwa orang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang hebat juga! Dan pada saat itu, dua orang laki-laki muda yang tadi berdiri dekat dinding dan bersikap sebagai pelayan, telah berlompatan mendekat sambil memegang pisau belati dan langsung menyerang Aji! Melihat gerakan mereka, jelas bahwa dua orang inipun bukan orang-orang lemah. Melihat serangan Ki Sajali, Aji menangkis dengan tangan kirinya lalu mendorong dada Ki Sajali sehingga laki-laki setengah tua itu terjengkang dan jatuh terguling.

Pada saat itu, serangan dua orang yang bersenjata pisau belati menyambar. Aji mengelak dengan loncatan ke kiri, kemudian sebelum dua orang itu sempat menyerang lagi, dari samping dia mengayun kedua tangannya menampar. “Plak-plakk!” Dua orang itu terpelanting roboh.

Ketika mereka bergerak untuk bangkit, Aji mengayun kakinya dua kali menendang, mengenai tangan mereka yang memegang pisau. Dua orang muda itu berseru kesakitan dan pisau belati mereka terlepas dari pegangan, terlempar jauh. Mereka agaknya maklum bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang sakti, maka cepat mereka merangkak dan melarikan diri. Aji melihat Ki Sajali juga sudah bangkit dan melarikan diri. Cepat dia melompat dan berhasil menangkap tengkuk orang itu, menekan sehingga tubuh Ki Sajali terpaksa berjongkok. Dengan tangannya yang terisi tenaga sakti, Aji menekan tengkuk itu.

“Aduhhh... aduhhh...!” Ki Sajali mengeluh kesakitan, merasa tengkuknya seperti dijepit catut baja yang amat kuat.

“Cepat berikan obat penawar itu!” bentak Aji lagi dan memperkuat cengkeraman tangannya pada tengkuk itu.

“Aduhhhh... baik... baik... akan tetapi.... lepaskan...“ keluh Ki Sajali yang wajahnya menjadi pucat sekali saking nyerinya.

Aji melepaskan cengkeramannya dan Ki Sajali bangkit berdiri, kedua tangan memegangi leher dan menjatuhkan diri duduk di atas kursi, terengah-engah. Lalu tangannya meraba-raba ikat pingang dan dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan putih, lalu menyerahkan botol kecil itu kepada Aji.

Cara menggunakannya?” Tanya Aji.

“Minumkan semua dan ia akan sembuh.”

“Awas, kalau engkau membohongiku, engkau akan dihukum seberat-beratnya.” kata Aji dan diapun cepat menghampiri Sulastri yang masih duduk dan menyandarkan kepalanya menelungkup di atas meja, berbantal lengan. Ia tampak pucat dan lemah, napasnya agak terengah. Pada saat ia duduk di atas kursi mendekati Sulastri, dia mendengar gerakan dibelakangnya. Cepat dia menoleh dan melihat Ki Sajali membuat gerakan melarikan diri. Disambarnya kendi yang berada di atas meja dan sekali menggerakkan tangan, kendi itu telah dilontarkan ke arah Ki Sajali yang melarikan diri.

“Wuuuttt.... prakkkk!” Kendi itu menghantam kepala Ki Sajali dan pecah berantakan. Air kendi muncrat dan tubuh Kim Sajali terpelanting roboh. Dia mengaduh dan merintih sambil berusaha untuk bangkit. Dengan beberapa langkah Aji sudah mendekatinya. “Manusia jahat, engkau hendak melarikan diri? Tunggu, engkau tidak boleh pergi ke manapun juga sebelum Sulastri sembuh dari keracunan. Engkau harus bertanggung jawab. Benarkah obat ini akan dapat menyembuhkannya? Jawab yang benar atau terpaksa aku akan menyakitimu!” Aji mencengkeram lengan kanan Ki Sajali sedemikian kuatnya sehingga orang itu merasa tulang lengannya seperti remuk.

“Aduh... ampuuun... obat... obat itu akan menyembuhkannya...“ dia meratap.

Aji cepat melepaskan lengannya dan kembali menghampiri Sulastri. Kini dia merasa yakin bahwa Ki Sajali pasti tidak akan berani berbohong setelah dapat hajaran keras itu. Dia membantu Sulastri, menengadahkan kepalanya dan membuka mulut gadis itu dengan tangan kirinya. Sulastri tidak pingsan, akan tetapi lemas dan pening. Akan tetapi ia masih menyadari bahwa Aji yang berusaha menolongnya, maka ia menurut saja ketika kepalanya didongakkan dan mulutnya dibuka. Iapun menelan saja ketika isi botol itu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian, Sulastri membungkuk dan muntah-muntah. Semua makanan dan juga air yang mengandung racun tadi ikut tumpah keluar semua dari dalam perutnya. Aji membantunya dan memijit-mijit tengkuknya, mengurut punggungnya sampai semua isi perutnya dimuntahkan. Tubuh gadis itu penuh keringat. Akan tetapi setelah muntah-muntah, peningnya hilang, ulu hatinya tidak nyeri lagi dan ia merasa ringan dan lemas. Aji menggandengnya dan didudukkan di kursi yang agak jauh dari meja itu. Sulastri duduk dan mengusap keringat dari dahinya.

“Bagaimana rasanya, Lastri?”

Gadis itu tersenyum! “Rasanya sudah sembuh, Mas Aji. tidak penting lagi, tidak nyeri lagi perutku, racun itu pasti telah keluar semua. Aku hanya merasa lemas... eh, mana dia manusia jahanam itu? Aku harus membunuhnya! Dia meracuni aku, keparat!” Sulastri bangkit dengan cepat, akan tetapi karena tubuhnya terasa lemas, ia terhuyung dan cepat dirangkul Aji dan dibantunya lagi duduk. Aji menengok ke arah di mana tadi ki Sajali berada, akan tetapi orang itu ternyata telah pergi. Agaknya Ki Sajali menggunakan waktu selagi dia menolong Sulastri tadi, diam-diam dia melarikan diri dari rumah itu.

“Hemm, keparat itu telah melarikan diri.” kata Aji.

“Kejar dia, Mas Aji. kejar dan tangkap. orang itu harus dipaksa mengaku siapa yang berada di belakangnya dan dia harus dibunuh!” Suara Sulastri masih lantang galak walaupun tubuhnya masih lemas.

“Percuma, Lastri. Dia sudah melarikan diri keluar dari rumah ini. Tentu akan sukar menemukannya di tempat gelap. Pula, aku tidak mau meninggalkanmu seorang diri di sini selagi engkau masih dalam keadaan lemah seperti ini. Mari, engkau harus beristirahat di kamarmu itu. aku akan mencari beras dan membuatkan bubur untukmu. Engkau lemas karena perutmu kosong sama sekali.”

Aji membantu Sulastri bangkit berdiri lalu memapahnya ke dalam, mengantarnya masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya. Untung bahwa di kamar itu, juga di ruangan lain dalam rumah itu, dipasangi lampu-lampu yang cukup terang. Setelah Sulastri merebahkan tubuhnya, Aji mengeluarkan sehelai kain dari buntalan pakaian gadis itu lau menyelimutinya. Dia menepuk-nepuk pundak Sulastri dan berkata. “Kasihan sekali engkau, Lastri. Dua kali berturut-turut engkau diracuni orang sehingga keselamatan dirimu terancam maut dan engkau menderita sekali.”

Sulastri menyentuh tangan Aji yang menepuk-nepuk pundaknya dan ia tersenyum. “Dan untuk kedua kalinya pula engkau yang menolong dan menyelamatkan aku, kakangmas Aji.”

“Akan tetapi engkaupun tahu bahwa engkau dua kali keracunan adalah karena engkau melakukan perjalanan bersama aku. aku yang menyebabkan engkau diserang orang jahat.”

“Sudahlah, apa kau kira aku akan diam saja dan tidak berusaha sekuat kemampuan untuk menolongmu kalau engkau yang terancam bahaya seperti yang kau lakukan tehadap diriku ini? Kita melakukan perjalanan bersama, harus menghadapi segala bahaya bersama pula. Bukankah begitu?”

Aji tersenyum dan memandang kagum. Dalam keadaan nyaris tewas dan baru saja lolos dari maut, gadis itu sudah bersikap sedemikian tabah dan gagahnya. “Sulastri, engkau... seorang gadis yang hebat! Mengasolah, aku akan membuatkan bubur untukmu.” katanya dan dia lalu keluar dari dalam kamar itu, dan memeriksa semua jendela dan pintu belakang dan depan. Dipalangnya semua jendela dan pintu.

Setelah memeriksa seluruh ruangan dalam rumah itu dan merasa aman meninggalkan Sulastri seorang diri di kamarnya, Aji lalu masuk ke dalam dapur. Dia mendapatkan prabot dapur yang cukup lengkap dan dapat menemukan beras dan garam. maka dengan girang dia lalu memasak bubur secukupnya untuk Sulastri. Selagi melakukan pekerjaan ini, dia selalu waspada, menggunakan ketajaman pendengarannya untuk menjaga keamanan Sulastri yang berada di dalam kamarnya. Setelah buburnya matang, dia membawa makanan itu dalam sebuah mangkok besar ke kamar Sulastri. Gadis itu ternyata tidak tidur, sedang rebah telentang memandang ke atap kamar. Ia tersenyum ketika Aji memasuki kamar sambil membawa semangkuk bubur panas dan sendoknya.

“Aah, Mas Aji. Engkau membuat aku merasa malu sekali.” kata gadis itu sambil bangkit duduk. Ia tidak begitu lemas lagi dan dapat bankit duduk sendiri tanpa bantuan.

Aji duduk di atas sebuah bangku dekat pembaringan. “Mengapa engkau merasa malu kepadaku, Sulastri?” tanyanya heran. “Kalau engkau masih lemas, mari kusuapi, jangan malu-malu.”

“Jangan, mas. kesinikan, aku dapat makan sendiri.” Ia menerima mangkuk bubur itu dengan tangan gemetar. “Masih agak panas, Lastri. Ditiup dulu agar lebih dingin.”

“Mas Aji, bagaimana aku tidak menjadi malu. Keadaan kita sungguh terbalik. Masa engkau yang malah melayani aku, memasak bubur untuk aku? Semestinya wanita yang sibuk di dapur membuat masakan!”

“Ah, kenapa engkau berpendapat begitu, Lastri? Dalam keadaan seperti ini, mengapa kita harus bersikap sungkan-sungkan lagi? Engkau keracunan, bahkan hampir saja tewas. Keadaanmu masih lemah, tentu saja harus aku yang membuatkan bubur untukmu! Dalam keadaan darurat seperti ini, tidak ada perbedaan antara tugas seorang laki-laki atau seorang perempuan. Makanlah, aku akan melakukan pemeriksaan dan penjagaan di luar, untuk menjaga segala kemungkinan.”

“Mas Aji!” Sulastri memanggil ketika Aji sudah bergerak ke pintu kamar.

Aji berhenti melangkah dan menoleh “Ada apakah, Lastri?”

“Aku berpendapat bahwa tuan rumah ini tentu mempunyai hubungan dengan gerombolan yang dipimpin Munding Hideung. Ketika dia mendengar bahwa kita bertugas menumpas gerombolan itu, dia lalu turun tangan hendak membunuh kita.”

“Akan tetapi dia kepala dusun ini...“ kata Aji meragu.

“Itu menurut orang-orang yang kita tanyai di dusun ini. Ingat, kita tidak melihat wanita atau kanak-kanak di dusun ini, hanya laki-laki muda. siapa tahu mereka itu semua anak buah gerombolan yang kita sedang selidiki.”

“Aku sependapat denganmu, Lastri. Akan tetapi malam ini kita tidak dapat berbuat sesuatu. Malam gelap sekali dan kita tidak mengenal medan. Makan lalu beristirahatlah. Engkau perlu menghimpun kembali tenagamu karena besok kita tentu akan menghadapi ancaman mereka. Aku akan melakukan pengintaian di luar pondok.”

“Baiklah, mas Aji. Akan tetapi berhati-hatilah.”

Aji melangkah keluar dan Sulastri mulai menyendok dan makan buburnya yang masih hangat. Setelah menghabiskan bubur semangkuk itu tubuhnya mulai pulih dan sehat kembali, tidak terlalu lemas seperti tadi. Ia lalu duduk bersila dan menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan keadaan tubuhnya. Sementara itu, Aji membuka daun pintu depan dengan hati-hati. Di luar pondok gelap dan sunyi. Bahkan rumah-rumah dalam perkampungan itu tampak gelap. Tidak ada sinar lampu sama sekali dari sekeliling pondok milik kepala dusun itu.

Agaknya semua rumah di dusun itu tidak memasang lampu! Atau Ki Sajali yang memerintahkan semua penduduk untuk memadamkan lampu di rumah mereka? Dia menyelinap keluar dengan cepat lalu menutupkan kembali daun pintu rumah dari luar. Dengan hati-hati dia membiasakan pandang matanya dengan kegelapan di luar rumah. Lambat laun tampaklah kelap-kelip beberpa kelompok bintang di langit dan pandang matanya mulai terbiasa dengan kegelapan di luar. Dia lalu melangkah perlahan dan berjalan mengelilingi pondok itu sambil memperhatian keadaan sekeliling. Sunyi saja di luar.

Tidak terdengar suara manusia, sesepi kuburan! Aji mendapat perasaan bahwa dusun itu telah ditinggalkan dan agaknya malam itu tidak ada lagi seorangpun berada di sini! Setelah melakukan pengamatan selama hampir dua jam, Aji masuk lagi ke dalam pondok dan dia menghampiri kamar Sulastri, membuka daun pintu kamar perlahan-lahan. Lampu kecil itu masih bernyala dan di atas meja dalam kamar dan dia melihat gadis itu rebah miring. Mangkuk bubur kosong berada di atas meja. Aji tersenyum lega. Gadis itu telah menghabiskan bubur dan dari pernapasannya yang lembut itu dia dapat mengetahui bahwa Sulastri telah tidur pulas!

Dengan hati-hati dia keluar dan menutupkan kembali daun pintu kamar, lalu ia duduk di atas sebuah kursi, di ruangan dalam. Dari situ dia dapat melihat ke pintu kamar yang ditiduri Sulastri. Karena maklum bahwa keadaan mereka terancam bahaya, maka Aji tidak tidur, melinkan duduk di atas kursi dengan bersila seperti orang sedang bersamadhi. Biarpun dia memejamkan kedua matanya, namun dia sama sekali tidak tidur, bahkan dia waspada sekali. Semua panca inderanya bekerja sepenuhnya, bahkan peka sekali, terutama pendengarannya. Sedikit saja ada suara yang tidak wajar pasti akan dapat didengarnya dan semua urat syarafnya siap bergerak menghadapi segala macam keadaan darurat dan bahaya.

Pada saat sudah jauh lewat tengah malam, tiba-tiba Aji terkejut. Biapun amat lirih, dia dapat mendengar berkesiurnya angin dari arah belakangnya. Dia memang duduk menghadap ke arah pintu depan dan membelakangi kamar di mana Sulastri tidur. Dengan cepat diapun memutar lehernya dan menengok. Alangkah herannya ketika dia melihat Sulastri yang mengakibatkan berkesiurnya angin lembut itu. Gadis itu sedang menghampirinya dan tubuhnya bagaikan bayangan saja, demikian ringan dan gesit. Dia merasa kagum sekali. Jelas dapat dia ketahui bahwa gadis itu mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang hebat.

“Kiranya engkau, Lastri? Mengapa engkau bangun? Malam telah larut, tidurlah lagi dan jangan bangun sebelum pagi.”

Gadis itu memandang Aji dengan sinar mata menyatakan kekagumannya yang tidak disembunyikan. Wah, Kakangmas Aji! Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk meringankan tubuh, namun tetap saja engkau dapat mengetahui kedatanganku. Tadinya aku hendak mengejutkanmu, akan tetapi aku kecelik.”

Aji bangkit berdiri dan tersenyum memandang gadis itu. “Aku cukup mendapat kejutan, Lastri, kejutan yang menggembirakan. Gerakan dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau telah sembuh dan tenagamu sudah pulih sama sekali. Sukurlah, Lastri. Akan tetapi kenapa engkau sudah bangun? Tidurlah lagi.”

“Tidak! Aku sengaja bangun untuk menggantikanmu, mas Aji. sekarang engkaulah yang harus istirahat, biar aku menjaga di sini."

“Tidak perlu, Lastri. Aku juga berjaga di sini juga sambil beristirahat.”

“Akan tetapi engkau perlu tidur agar besok pagi segar untuk bersamaku menghadapi gerombolan. Hayo, pergilah ke kamarmu dan tidur. Aku yang akan melanjutkan tugas berjaga di sini.”

“Tapi Lastri...“

“Tidak ada tapi, Mas Aji. Kalau engkau menolak, hatiku akan merasa tidak senang karena berarti engkau tidak menghargai kerja sama dengan aku. Hayo, pergilah mengaso!”

Melihat kesungguhan gadis itu, Aji menurut karena dia maklum bahwa Sulastri benar-benar akan merasa tersinggung dan akan marah kalau dia berkeras menolak. Pula, menyaksikan gerakan gadis itu tadi, demikian gesit dan ringan tubuhnya, dia percaya bahwa Sulastri akan mampu menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga. Diapun pergi ke kamarnya dan tanpa ragu-ragu lagi diapun merebahkan dirinya dan sebentar saja dia tenggelam ke dalam tidur yang pulas.

********************


Alap Alap Laut Kidul Jilid 14

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 14
NYI MAYA DEWI balas memandang Aji dan sikapnya tenang saja. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita yang banyak pengalaman, licik dan tidak mudah gugup. “Akan tetapi, Aji. Aku tidak dapat menyerahkan obat itu kepadamu di sini. Obat penawar itu kusimpan di daratan, yaitu di Tegal di rumah Ki Warga.”

“Hemm, Nyi Maya Dewi, tidak perlu lagi kau berbohong. Aku tahu pasti bahwa obat penawar itu ada padamu. Hayo cepat berikan! Ataukah aku harus menyiksa Kapten De Vos lebih dulu?”

Aji sengaja menekan pisau belati itu di leher De Vos sehingga kapten itu berteriak. “Ben je gek, Maya (Gilakah kamu, Maya)? Hayo cepat berikan obat penawar itu kepadanya!” Maya Dewi tampak bingung dan ia memandang kepada banuseta. Terpaksa ia mengangguk memberi isyarat kepada pria itu dan berkata lirih, “Berikanlah, Raden.”

Banuseta mengerutkan alisnya dan memandang kepada Sulastri. Dia tidak rela melepaskan kesempatan untuk menguasai gadis yang digandrunginya itu. “Akan tetapi... Maya... “

“Tidak ada tapi!” Kapten De Vos membentak marah. “Godverdomme, zeg! Berikan obat itu atau kuperintahkan orang-orangku untuk menembak kepalamu!”

Mendengar bentakan ini, Banuseta menjadi pucat mukanya dan dia segera merogoh ke balik ikat pinggangnya, mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dan menyodorkannya kepada Sulastri. Akan tetapi seperti yang sudah ia rencanakan bersama Aji, Sulastri tidak mau menerimanya, tidak mau memberi kesempatan dirinya ditangkap. “Letakkan di atas lantai dekat sini!” perintah Aji.

Banuseta menurut karena Kapten De Vos memandang kepadanya dengan mata mendelik dan memerintah. Dia meletakkan bungkusan obat penawar itu di atas lantai di depan Aji. “Tuan Kapten, sekarang perintahkan Maya Dewi mengembalikan keris dan pedang kami yang dirampasnya.” kata Aji.

“Kembalikanlah, Maya dan cepat!” perintah De Vos. Maya Dewi tidak berani membangkang. Ia mengeluarkan Pedang Nogo Wilis milik Sulastri dan Keris Nogowelang milik Aji, meletakkan dua buah pusaka, itu di atas lantai dekat bungkusan obat penawar.

“Lastri, ambillah semua itu.” kata Aji. Sulastri melangkah maju, dengan waspada ia mengambil bungkusan obat penawar dan menyimpan di ikat pinggangnya, kemudian menyerahkan Keris Nogo Welang kepada Aji dan menggantung sarung pedang Nogo Wilis di ikat pinggangnya. Kedua orang muda itu lalu membuang pisau belati dan kini memegang pusaka masing-masing untuk menodong Kapten De Vos dan melindungi diri sendiri.

Karena Kapten De Vos benar-benar berada dalam kekuasaan Aji dan Sulastri, dan keselamatan nyawanya terancam, maka biarpun di situ hadir orang-orang sakti seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, Nyi Maya Dewi, Ki Warga, Raden Banuseta, Hendrik dan para perajurit, mereka tidak berani berkutik. Bahkan Aki Somad dan Harya Baka Wulung juga tidak berani membuat ulah atau mencoba mempergunakan aji sihir mereka karena mereka maklum betapa saktinya kedua orang muda itu, terutama sekali Lindu Aji.

“Kapten, cepat perintahkan menurunkan perahu kecil itu!” kata Aji kepada tawanannya. “Juga sediakan tangga tali untuk turun!” Perintah itu diteriakkan Kapten De Vos.

Setelah perahu diturunkan ke air dan tangga tali dipasang, Aji memberi isyarat kepada Sulastri untuk menurunkan tangga tali dan masuk ke dalam perahu kecil yang sudah diturunkan di sisi perahu besar. Kemudian dia berkata kepada Nyi Maya Dewi dengan nada suara mengancam. “Kami akan menyandera Kapten ini. Nanti kalau ternyata bahwa obat penawar yang kau berikan itu manjur dan menyembuhkan Sulastri, kami pasti akan membebaskan dia. Kalau ternyata engkau menipu kami dan obat penawar itu tidak dapat menyembuhkan Sulastri, kapten ini akan kami bunuh!”

Mendengar ini, Kapten De Vos menjadi pucat wajahnya. “Maya, jangan main-main kamu! Kalau kamu menipu dan gadis itu tidak dapat disembuhkan sehingga aku terbunuh, Kumpeni tentu akan menangkap kalian semua dan menghukum kalian dengan siksaan yang paling berat!”

Mendengar ini Maya segera berkata kepada Aji. “Aji, kami telah menuruti semua permintaanmu, akan tetapi engkau harus berjanji bahwa engkau akan benar-benar membebaskan Tuan Kapten De Vos.”

“Aku pasti akan membebaskannya. Katakan bagaimana aturan minum obat penawar racun itu.”

“Mudah saja. Masukkan obat bubuk itu semua ke dalam secangkir air kelapa muda hijau, kemudian minum sampai habis dan pengaruh racun itu akan punah. Akan tetapi setelah itu engkau harus membebaskan tuan kapten.”

“Aku tidak akan melanggar janji!”

Setelah berkata demikian, Aji memegang lengan kanan De Vos, tetap menempelkan keris di punggungnya dan memaksa kapten itu menuruni tangga tali bersama dia. Mereka turun ke perahu di mana Sulastri telah menunggu. Aji lalu mendayung perahu itu dengan cepat meninggalkan kapal menuju ke pantai. Lampu-lampu yang menyorot dari rumah-rumah para nelayan di pantai memudahkan Aji menujukan arah perahunya.

Fajar mulai menyingsing ketika akhirnya perahu kecil itu mendarat. Aji dan Sulastri mengajak De Vos meninggalkan pantai menuju ke bagian barat yang jauh dari perkampungan karena mereka tidak ingin menarik perhatian penduduk pantai. Juga mereka hendak memasuki daerah yang tertutup oleh bukit karang agar tidak dapat tampak dari kapal karena mereka maklum bahwa mereka yang berada di kapal tentu akan berusaha untuk mengintai dengan alat teropong.

Mereka berhenti di sebuah tegalan di mana terdapat beberapa batang pohon kelapa. Melihat beberapa butir buah kelapa muda hijau bergantungan di pohon, Aji mempergunakan batu karang untuk menyambit dan dua butir buah kelapa muda hijau runtuh. Dengan pedang milik Sulastri, dia membelah buah kelapa muda itu dengan hati-hati sehingga airnya tidak tumpah. Dimintanya bungkusan obat dari Sulastri dan dimasukkan obat bubuk itu ke dalam air kelapa muda.

“Minumlah, Lastri. Mudah-mudahan engkau sembuh.”

“Maya pasti tidak berbohong.” kata De Vos. “Kalau ia berbohong dan obat itu tidak menolong, ia dan kawan-kawannya akan dihukum mati semua!”

“Mudah-mudahan engkau benar, tuan kapten, karena nyawamu juga tergantung kepada kesembuhan Sulastri.” kata Aji.

Sulastri minum air kelapa muda yang sudah dicampur obat bubuk itu. Setelah air kelapa muda diminumnya habis, ia lalu duduk bersila, mengatur pernapasan untuk membiarkan obat di dalam perutnya bekerja. Aji dan De Vos memandang dengan penuh perhatian dan perasaan tegang. Tiba-tiba gadis itu mengerutkan alisnya dan menggigit bibirnya sendiri. Ia tampak menahan perasaan nyeri yang hebat.

“Lastri, kenapa... ?” Aji bertanya khawatir.

“Perutku... mulai melilit-lilit... ah, aku tidak kuat lagi... harus ke sungai...!” Gadis itu melompat berdiri dan lari ke arah anak sungai yang tadi mereka lewati.

“God.... (Tuhan)! Apa yang terjadi dengannya...?” De Vos berkata dengan muka pucat sambil memandang ke arah menghilangnya bayangan gadis itu di balik pohon-pohon.

Aji masih tenang. Dia merasa yakin bahwa Maya Dewi pasti tidak berani menipunya, apa lagi mencelakai Sulastri dengan obat palsu karena Kapten De Vos masih berada di tangannya. Wanita itu tidak akan berani melanggar perintah De Vos yang merupakan orang penting dari Kumpeni.

“Mungkin itu pengaruh obat penawar yang akan menyembuhkan.” kata Aji tenang.

“Mudah-mudahan begitu...“ Kapten De Vos termenung, hatinya masih diliputi kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada diri gadis itu yang dapat menyebabkan dia dibunuh. Dia duduk dengan lemas di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah dan menanti. Dia merasa tidak berdaya sama sekali. Selama ini andalannya hanyalah senjata apinya dan pistol-pistolnya telah dilucuti sebelum dia ditawan tadi. Untuk nekad menyerang pemuda ini dengan kaki tangannya? Sama saja dengan membunuh diri! Dia sudah melihat akan kehebatan pemuda itu ketika tadi pemuda itu bertanding melawan Hendrik De Haan. Jagoan juara tinju itu saja tidak mampu berkutik melawan Aji, apalagi dia!

Tak lama kemudian Sulastri muncul. Gadis itu melangkah dengan lenggang gemulai seperti menari. Sinar matahari pagi yang kemerahan menimpa wajahnya, tampak cemerlang dan segar, masih basah. Sepasang matanya yang jeli tampak bersinar mencorong, berbeda dengan pandang matanya tadi yang mengandung penasaran dan agak gelisah. Sinar mata ini saja sudah menggirangkan hati Aji karena merupakan pertanda yang baik. Bahkan Kapten De Vos menyambutnya dengan penuh perhatian dan ketegangan. Keadaan gadis itu menentukan nasib dirinya.

“Bagaimana, lastri?” Tanya Aji sambil memandang wajah gadis itu penuh harapan.

“Ya, bagaimana, nona? Sudah sembuhkah kamu...?” De Vos bertanya.

Sulastri tersenyum kepada Aji dan berkata. “Engkau lihat sendiri, Mas Aji!” Ia menghampiri pohon kelapa, berdiri dalam jarak dua meter, menekuk sedikit kedua lutut kakinya, mengerahkan tenaga saktinya lalu mendorong dengan kedua telapak tangan terbuka sambil membentak nyaring. “Aji Margopati...!” Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah batang pohon kelapa sebesar pinggang gadis itu. “Wuuuttt... kraaakkk... bruuukkk...!”

Pohon kelapa itu tumbang! Kapten De Vos terbelalak dan mukanya berubah pucat. Kalau tidak melihat sendiri, pasti dia tidak akan percaya bahwa ada orang apalagi ia seorang gadis jelita, mampu merobohkan dan menumbangkan sebatang pohon kelapa hanya dengan pukulan jarak jauh.

“Lastri, engkau telah sembuh!” seru Aji dengan girang sekali. Gadis itu telah mampu mempergunakan pukulan tenaga sakti, berarti ia telah sembuh sama sekali.

“Obat itu memang manjur sekali, semua racun terkuras keluar dari perutku. Saking lega dan girang, aku tadi sekalian mandi, segar sekali rasanya.” kata Sulastri.

“Syukurlah! Kamu telah sembuh, ahhh... aku girang sekali...!” De Vos berseru sambil berloncatan seperti hendak menari-nari karena hal itu akan berarti dia dibebaskan!

Sulastri menoleh kepadanya dan alisnya berkerut. “Jangan girang dulu, kumpeni jahat! Hendak kulihat apakah badanmu lebih kuat dari pada batang pohon kelapa itu?”

Tiba-tiba Sulastri sudah menghantamkan tangan kirinya yang terbuka dengan dorongan dahsyat ke arah orang Belanda itu. “Haiiittt...!”

“Plakk...!!” Sulastri terdorong ke belakang dan ia memandang kepada Aji dengan mata terbelalak. “Kangmas Aji! Kenapa... kenapa kau lakukan itu? Kenapa engkau menangkis pukulanku dan... melindungi kumpeni musuh rakyat ini?”

“Tenanglah, Adi Sulastri. Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang yang melanggar janji sendiri. Kita sudah berjanji bahwa kalau obat penawar itu berhasil menyembuhkanmu, kita akan membebaskan Kapten De Vos ini.”

“Akan tetapi janji orang-orang seperti dia dan antek-anteknya itu, apakah dapat dipercaya?” Sulastri membantah dengan penasaran, sementara itu De Vos memandang dengan sinar mata gelisah.

“Mereka memang tidak dapat dipercaya dan bukan orang-orang yang baik, akan tetapi kita tidak sama dengan mereka, bukan? Kita adalah orang-orang yang menjaga kebenaran dan keadilan, menjunjung tinggi kehormatan dan kegagahan. Kita tidak perlu meniru kecurangan mereka. Kita adalah orang-orang yang tidak akan melanggar janji sendiri, bukan?”

Sulastri menarik napas panjang. “Sudahlah, aku takkan menang berdebat melawanmu. Bebaskan dia kalau engkau sudah memutuskan demikian.”

Aji bernapas lega. Tadinya dia merasa khawatir kalau gadis yang keras hati itu akan memaksakan kehendaknya membunuh orang Belanda ini. “Terima kasih, Lastri.”

Kemudian dia berkata kepada De Vos, “Tuan kapten, sekarang engkau boleh pergi. Aku membebaskanmu.”

Kapten De Vos adalah seorang yang sejak mudanya perajurit dan pelaut. Diapun seorang yang amat menghargai kegagahan dan dia merasa kagum sekali akan sikap dua orang muda yang dia anggap sebagai bangsa yang sederhana dan terbelakang itu, terutama sekali dia kagum melihat sikap Aji. “Tuan Lindu Aji,” katanya dan nada suaranya mengandung hormat. “Tidak akan menyesalkah tuan membebaskan saya? Ketahuilah bahwa kalau kelak kita saling berjumpa dalam sebuah pertempuran, saya tidak akan ragu-ragu untuk menembak kepala tuan dengan pistol saya.”

Aji tersenyum. “Itu sudah menjadi kewajibanmu, tuan. Akupun kalau bertemu denganmu dalam pertempuran, tidak akan ragu untuk membunuhmu.”

“Mas Aji, kenapa susah-susah? Bunuh saja dia sekarang! Bukankah dia musuh kita?” kata Sulastri.

“Tidak, di antara dia dan kita tidak ada permusuhan pribadi, Lastri. Tuan kapten, ketahuilah, kami adalah satria-satria Mataram yang tahu akan harga diri dan kehormatan. Yang bermusuhan adalah antara kerajaan kita. Karena itu, dalam perang membela kerajaan masing-masing mungkin kita akan saling bunuh. Akan tetapi antara kita pribadi tidak ada permusuhan apapun. Apalagi kami sudah berjanji akan membebaskan setelah Sulastri sembuh oleh obat penawar itu. Pergilah, tuan, mudah-mudahan engkau akan menyadari bahwa kerajaan tuan dari seberang lautan yang jauh itu sedang mengganggu dan mengacau tanah air kami!”

Kapten De Vos tersenyum dan menggerakkan pundaknya sebagai tanda bahwa dia tidak berdaya dalam hal itu. “Apa boleh buat, Tuan Aji, salah atau benar Belanda adalah kerajaanku yang harus kubela. Selamat tinggal!” Dia lalu melangkah pergi dengan cepat menuju ke pantai di mana tadi Aji meninggalkan perahu kecil yang mereka naiki untuk mendarat.

Setelah Kapten De Vos pergi, Sulastri menghela napas, memandang Aji dan berkata. “Mas Aji, siasat kita berjalan baik dan mulus seperti kita rencanakan. Untung sekali bahwa aku telah dapat disembuhkan. Akan tetapi hatiku merasa penasaran bukan main, bahkan sampai sekarang masih terasa panas dan tidak puas!”

“Wah, kenapa begitu, Lastri? Bukankah kita sepatutnya bersyukur kepada Gusti Allah karena kita berdua dapat meloloskan diri dari tangan mereka dengan selamat?”

“Benar, kakangmas, akan tetapi hatiku merasa penasaran karena kita tidak dapat membasmi orang-orang yang menjadi antek Kumpeni itu. Aku merasa muak dan benci kepada mereka dan ingin sekali menumpas mereka! Terutama nenek tak tahu malu Maya Dewi itu!”

“Hal itu tidak mudah, Lastri. Kalau hanya Maya Dewi seorang, tentu tidak sukar kita mengalahkannya. Akan tetapi ia memiliki sekutu orang-orang yang sakti mandraguna seperti Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, laki-laki bangsawan tinggi kurus itu, dan kita tidak boleh memandang remeh orang yang tinggi besar, pandai berbahasa belanda yang disebut Ki Warga itu. Agaknya dia mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar dan menjadi orang penting dari Kumpeni Belanda. Belum lagi di sana ada Kapten de Vos dan anak buahnya yang amat berbahaya dengan senjata api mereka. Setidaknya kita sekarang mengetahui siapa-siapa yang menjadi antek dan mata-mata Kumpeni.”

“Hemm, kalau saja tadi aku membunuh Belanda itu, setidaknya akan tertebus rasa penasaranku.”

“Sebaliknya, Lastri. Perasaan kita akan tertekan karena kita telah melanggar janji sendiri. sudahlah, mari kita cepat pergi dari sini. Aku yakin bahwa kalau Kapten De Vos suadah kembali ke kapalnya, mereka semua akan mencari kita di sini. Mereka tidak ingin melepaskan kita begitu saja karena telah mengetahui semua rahasia mereka.”

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan wajah membayangkan ketidak puasan hati, Sulastri mengikuti Aji meninggalkan tempat itu dengan cepat menuju ke arah barat, Karena mereka melakukan perjalanan cepat, mempergunakan ilmu berlari cepat, maka seandainya gerombolan antek Kumpeni melakukan pengejaran, tetap saja mereka tidak akan dapat menemukan dua orang muda perkasa itu.

********************

Usaha penyerangan Sultan Agung dengan mengerahkan pasukan besar ke Batavia untuk pertama kalinya (tahun 1628) telah mengalami kegagalan besar. Senopati Baureksa yang diserahi tugas memimpin pasukan penyerbuan itu gugur dalam perang, tertembak peluru meriam Belanda. Banyak perwira Mataram gugur sehingga melemahkan semangat bertempur pasukan Mataram.

Selain itu, timbul pula gangguan yang teramat besar dan yang merupakan pukulan parah bagi pasukan Mataram yang mengepung Batavia, yaitu berjangkitnya penyakit malaria yang menewaskan banyak perajurit dan melemahkan sebagian besar dari mereka. Ditambah lagi karena kekurangan pangan karena gudang-gudang ransum mereka dibakar habis oleh antek-antek Kumpeni Belanda. Maka penyerbuan pertama itu gagal sama sekali.

Sultan Agung merasa kecewa, menyesal dan marah besar. Saking marahnya melihat usaha penyerbuan itu gagal dan melihat pasukan Mataram pulang membawa kehancuran, Sultan Agung amat marah karena pasukannya tidak melawan terus sampai Batavia dapat dirobohkan. Dia menganggap sebagian para perwira kurang semangat dan bersikap pengecut. karena itu dia memerintahkan Tumenggung Suro Agul-agul untuk menghukum mati para pasukan pengikut yang melarikan diri.

Akan tetapi perintah itu disalah artikan oleh Tumenggung Suro Agul-agul. Dia malah menangkap Adipati Mandureja dan Kyai Adipati Upasanta, lalu menghukum mati dua orang senopati ini. Hal itu tentu saja menggegerkan di kalangan pamong praja. apa lagi mengingat bahwa kedua orang senopati yang dihukum mati itu adalah cucu-cucu keturunan mendiang Ki Patih Mandaraka yang termasyhur, yang menjadi pembantu utama mendiang Sang Prabu Panembahan Senopati.

Ketika Sultan Agung mendengar akan kekeliruan hukuman ini, dia menjadi semakin sedih dan marah. “Semua pimpinan penyerangan ke Batavia yang gagal itu ikut bertanggung jawab, bukan hanya kedua orang senopati itu!” katanya dan Sultan Agung lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Tumenggung Suro Agul-agul dan banyak bangsawan yang dianggap gagal memimpin penyerbuan itu.

Peristiwa yang amat menyedihkan ini, kegagalan penyerbuan ke Batavia, kehancuran pasukan dan banyaknya korban yang gugur dalam perang atau terserang penyakit, lalu banyaknya bangsawan yang dihukum mati, medatangkan kegelisahan di antara para menteri, senopati, para panglima dan perwira. Akan tetapi, kegagalan besar itu sama sekali tidak membuat jera hati Sultan Agung yang amat membenci sepak terjang Kumpeni Belanda yang semakin meluaskan kekuasaannya secara licik, mula-mula melalui perdagangan, lalu perlahan-lahan memperluas bumi Nusantara yang dicengkeramnya.

Sultan Agung membuat persiapan lagi untuk melakukan penyerangan kedua yang lebih besar. Untuk itu, dia mengangkat Tumenggung Singoranu yang tua sebagai senopati yang akan memimpin penyerbuan, memerintahkan Tumenggung Singoranu untuk melatih dan memperkokoh barisan Mataram, mengundang para pemuda yang perkasa untuk menjadi perajurit. Juga Sultan Agung menyerahkan kepada Senopati Suroantani untuk memimpin mempersiapkan penyerbuan dengan cara menyebar banyak telik sandi (mata-mata) ke kadipaten-kadipaten sampai menyusup ke Batavia, untuk menyelidiki siapa-siapa yang akan menjadi lawan dan siapa menjadi kawan, serta sampai di mana ketahanan dan kekuatan pihak Kumpeni Belanda.

Setelah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman para antek kumpeni yang dipimpin Nyi Maya Dewi, Aji lalu mengajak Sulastri untuk pergi ke Kadipaten Cirebon. dari Senopati Suroantani Aji sudah mendengar bahwa Adipati di Cirebon dapat dipercaya dukungannya terhadap Mataram. Mereka lalu mohon menghadap dan setelah Aji memperlihatkan Keris Pusaka Nogo Welang hadiah yang juga merupakan tanda kekuasaan dari Sultan Agung, Sang Adipati Cirebon menerima kunjungan Aji dengan hormat.

Setelah memberi hormat dan kedua orang muda itu dipersilahkan duduk oleh Sang Adipati, Aji lalu berkata dengan hormat. “Gusti Pangeran, hamba mohon beribu ampun karena sudah berani mengganggu ketenangan paduka dan berani menghadap tanpa dipanggil. Hamba menerima perintah Gusti Sultan Agung, diperbantukan kepada Paman Senopati Suroantani, dan dalam tugas ini hamba diberi sebutan Alap-alap Laut Kidul. Gadis ini adalah seorang sahabat hamba yang telah membantu pekerjaan dan tugas hamba, namanya Sulastri.”

Adipati Cirebon adalah seorang pria yang sudah tua namun tubuhnya masih tampak sehat dan kuat. Dalam usianya yang sudah enam puluh lima tahun itu masih tampak penuh semangat. Matanya yang tajam mengamati wajah Lindu Aji dan sulastri dan dia tampak puas dengan apa yang dilihatnya. Raja ini disebut Pangeran Ratu dan dia adalah cicit dari Sunan Gunung Jati yang pernah menjadi penguasa di Cirebon dan amat terkenal sebagai tokoh yang mengembangkan Agama Islam di Cirebon. Sang Adipati mengangguk-angguk.

“Kami telah melihat pusaka yang merupakan hadiah penghargaan dari Sultan Agung dan kami percaya kepadamu, orang muda. Sebutanmu Alap-alap Laut Kidul? Andika pantas menyandang sebutan itu, akan tetapi siapakah nama andika yang sebenarnya? Ataukah nama itu dirahasiakan?”

“Hamba tentu saja tidak merahasiakan terhadap paduka kalau memang paduka berkenan ingin mengetahui. Nama hamba adalah Lindu Aji.”

“Lindu Aji? Wah, nama yang bagus sekali! Nah, sekarang katakanlah kepada kami, kepentingan apa yang membawa andika menghadap?”

“Hamba hendak melaporkan bahwa keadaan di Kadipaten Tegal cukup mencurigakan, Gusti Pangeran. Di sana hamba berdua telah ditawan oleh segerombolan orang-orang yang menjadi kaki tangan Kumpeni Belanda. Beruntung sekali Gusti Allah masih melindungi hamba berdua sehingga hamba dapat membebaskan diri hamba dan hamba segera menghadap paduka untuk menceritakan hal ini karena siapa tahu mereka itu akan mengadakan kekacauan di daerah paduka.”

Adipati itu mengerutkan alisnya dan berseru, “Alhamdulillah bahwa kalian telah dapat melepaskan diri dari cengkeraman mereka. apa yang terjadi dan siapa mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda itu?”

Aji lalu menceritakan pengalamannya bersama Sulastri ketika bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya sampai mereka berdua tertawan dan dibawa ke kapal Belanda, dihadapkan kepada Kapten De Vos sampai akhirnya mereka berdua mempergunakan siasat dan dapat membebaskan diri dari cengkeraman mereka. Sang Adipati mendengarkan dengan penuh perhatian. setelah Aji mengakhiri ceritanya dia bertanya.

“Coba andika sebutkan lagi satu demi satu nama mereka yang menjadi antek Kumpeni Belanda.”

Aji menjawab dengan jelas. “Mereka adalah Ki Warga yang tinggal di Tegal dan agaknya dia orang penting dari Kumpeni. Kemudian Nyi Maya Dewi, Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad pertapa di Nusakambangan. Ki Harya Baka Wulung itu seorang tokoh besar dari Madura, dan seorang laki-laki berpakaian seperti bangsawan yang disebut Raden oleh Maya Dewi akan tetapi hamba tidak mengetahui namanya.”

Sang adipati mengangguk-angguk. “Hemm, kami mengenal nama-nama itu. Bukan nama yang asing. Akan tetapi baru sekarang kami yakin dari ceritamu bahwa mereka benar-benar telah merendahkan diri menjadi antek Kumpeni Belanda. Ki Harya Baka Wulung setahu kami adalah seorang tokoh besar dan pahlawan Madura yang dahulu membela Madura mati-matian dari serbuan Mataram. Kenapa dia mau merendahkan diri menjadi antek Belanda, padahal orang-orang Madura pada umumnya tidak suka kepada Belanda? Hemm, kukira dia hendak membalas dendam kepada Mataram dengan jalan membonceng kekuatan Kumpeni. Dan Nyi Maya Dewi? Kami mengenal wanita cantik sebagai puteri mendiang Resi Koloyitmo, seorang datuk sesat yang amat terkenal dari Parahyangan dan karena kejahatannya bahkan menjadi buronan Kerajaan Pajajaran. Kabarnya puterinya itu juga menjadi seorang gadis yang sakti mandraguna namun sesat seperti bapaknya, akan tetapi sungguh tidak disangka-sangka bahwa iapun begitu jauh tersesat untuk mengabdi kepada Bangsa Belanda memusuhi bangsa sendiri dan mengkhianati tanah airnya. Dan tentang Aki Somad? Wah, kami pernah juga mendengar nama tokoh dari Nusakambangan ini. Namanya juga tak dapat dibilang bersih. Kabarnya dia menjadi datuknya para bajak laut dan perampok di daerah Cilacap dan Banyumas. Akan tetapi juga sungguh mengejutkan kalau kini dia begitu merendahkan diri untuk menjadi antek Kumpeni Belanda. Adapun tentang Ki Warga, dia itu seorang yang aneh. Ada berita bahwa dia memang orang kepercayaan Adipati Tegal dan dialah orangnya yang menjadi perantara dalam semua urusan dengan pihak Kumpeni Belanda. Masih diragukan apakah dia itu antek Belanda ataukah sebetulnya dia alat Kadipaten Tegal untuk menyelidiki keadaan demi keuntungan Kadipaten Tegal yang sebetulnya tidak memperlihatkan tanda-tanda menentang Mataram, akan tetapi juga tidak berkeras menolak kehadiran kapal Kumpeni di pantainya. Bagaimanapun juga, berita yang andika sampaikan kepada kami ini amat penting sehingga kami dapat bersiap-siap dan waspada tehadap segala kemungkinan buruk.”

“Hal ini sudah menjadi tugas kewajiban hamba, gusti. Paman Senopati Suroantani memang memesan kepada hamba untuk menceritakan semua hal yang menyangkut gerakan Kumpeni Belanda melalui para mata-matanya kepada para kadipaten yang menjadi sekutu Mataram termasuk Kadipaten Cirebon. Karena itu, hamba mengharap paduka sudi mengirim utusan untuk mengabarkan semua ini kepada Paman Senopati Suroantani di Mataram.”

“Jangan khawatir. Kami akan mengabarkan semua kepada Senopati Suroantani di Mataram dan andika, Nini Sulastri, andika, telah dapat membantu anakmas Lindu Aji. Agaknya andika juga seorang gadis yang memiliki aji kesaktian, nini. Apakah andika tunggal guru dengan anakmas Lindu Aji?”

“Hamba bukan saudara seperguruan Kakangmas Aji, gusti. Guru hamba adalah Ki Ageng Pasisiran yang tinggal menyepi di daerah pantai Dermayu.”

“Hemm, Ki Ageng Pasisiran? Kami pernah mendengar akan adanya seorang pertapa yang tua renta di pantai Dermayu itu. Akan tetapi tidak pernah terdengar dia membuka perguruan pencak silat. Kiranya andika seorang wanita yang masih muda menjadi muridnya. Hebat sekali! Dari mana andika berasal, Nini Sulastri dan siapakah orang tuamu?”

“Orang tua hamba tinggal di Dermayu, ayah hamba bernama Ki Subali.”

“Ah, apakah bukan Ki Subali, sasterawan yang juga pandai menjadi dalang itu?”

“Benar dia, gusti.”

“Bagus! Kami mengenal Ki Subali. Pernah kami mengundang dia mendalang di kadipaten. Kalau begitu, nini, andika adalah orang sendiri yang dapat kami percaya. Dan andika anak mas Lindu Aji, siapakah guru andika?”

“Guru hamba adalah mendiang Eyang Tejobudi, gusti.”

“Mendiang Ki Tejobudi? Dia sudah meninggal dunia? Ah, belasan tahun yang lalu dia pernah menjadi tamu kami dan kami bersahabat baik! Bagus, sungguh kebetulan sekali. Agaknya memang Gusti Allah yang mengirim kalian ke sini untuk membantu kami. Anakmas Lindu Aji dan Nini Sulastri, kami membutuhkan pertolongan kalian dan kami harap kalian tidak berkeberatan untuk menyingkirkan duri yang mengganggu ketenteraman kadipaten kami.”

“Tentu saja hamba berdua siap untuk membantu, gusti. Apakah yang dapat hamba lakukan untuk Kadipaten Cirebon?” Tanya Aji.

“Begini, anakmas. Sudah ada kurang lebih dua bulan ini daerah pinggiran kadipaten kami di sekitar Gunung Cireme, diganggu ketenteramannya oleh gerombolan yang mengacau dan melakukan perampokan dan penganiayaan. Bahkan mereka itu berani merampok sampai ke Majalengka dan Leuwimunding. Gerombolan itu memakai nama Munding Hideung dan memiliki pimpinan terdiri dari orang-orang yang digdaya. Beberapa kali kami mengirim pasukan untuk menumpasnya, namun sejauh ini belum berhasil bahkan kami kehilangan banyak perwira yang tewas ketika terjadi pertempurang. Gerombolan Munding Hideung itu bersarang di gunung Cireme. Nah, mengingat bahwa andika berdua adalah murid-murid tokoh sakti mandraguna dan juga merupakan orang kepercayaan sultan agung, kami harap andika berdua menolong kami. Hancurkan gerombolan itu dan tangkap hidup atau mati, para pimpinan Munding Hideung. Kami akan menyediakan pasukan yang kalian butuhkan.

Aji menoleh kepada Sulastri dan kebetulan gadis itupun sedang menoleh kepadanya sehingga mereka bertemu pandang sejenak. Namun pertautan pandang mata mereka yang sejenak itu sudah cukup untuk dapat saling mengerti perasaan masing-masing. mereka setuju untuk membantu Kadipaten Cirebon. Maka, tanpa ragu-ragu lagi Aji lalu berkata dengan sembah.

“Hamba berdua siap untuk membantu dan melaksanakan perintah paduka, gusti pangeran.” Adipati itu tampak gembira sekali.

“Bagus! Terima kasih, anakmas Lindu Aji dan Nini sulastri. lalu, berapa banyak perajurit yang kalian butuhkan?”

“Hamba berdua tidak akan membawa pasukan, gusti. Kalau membawa pasukan, tentu akan mudah ketahuan dan gerombolan itu dapat bersiap-siap, bersembunyi atau bahkan menjebak kami. Kami akan melakukan penyelidikan berdua saja dan akan berusaha untuk menangkap pemimpin gerombolan itu. Hamba kira kalau pemimpinnya sudah dapat ditangkap, para anak buahnya tidak akan merajalela lagi dan mudah untuk dibasmi.”

“Berdua saja? Apakah tidak berbahaya? Nini Sulastri, bagaimana pendapat andika?”

“Pendapat hamba sama dengan pendapat Kakangmas Aji, gusti. Dengan bekerja berdua saja, kami akan lebih mudah menyusup ke sarang mereka dan lebih leluasa bergerak.”

Sang adipati mengangguk-angguk, “Hebat! Kami kagum akan keberanian dan semangat kalian orang-orang muda. Mengingatkan kami puluhan tahun yang lalu ketika kami masih muda. Ahh, petualangan-petualangan seperti inilah yang membangkitkan semangat dan gairah hidup. Menghadapi bahaya, rintangan, ancaman, dan tantangan dan berhasil mengatasi semua itu. Alangkah indahnya! Kalau begitu, katakan, apa saja yang kalian perlukan untuk bekal pelaksanaan tugasmu yang berat ini dan kami pasti akan mengadakannya untuk kalian.”

“Hamba menghaturkan banyak terima kasih. gusti pangeran. Akan tetapi sesungguhnya, hamba berdua tidak membutuhkan apapun.” kata Sulastri.

“Benar, gusti Pangeran. Hamba berdua hanya membutuhkan doa restu paduka.” sambung Aji dengan suara sungguh-sungguh.

Sang Adipati mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Tentu, tentu sekali. kami akan selalu berdoa semoga Gusti Allah melindungi andika berdua dan akan membimbing andika sehingga tugas berat ini dapat andika laksanakan dengan berhasil baik. Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Kasihan rakyat kami di pinggiran kalau kekacauan ini dibiarkan berlarut-larut.”

“Sendika, kami nyuwun pangestu, gusti.” kata Aji dan Sulastri sambil menyembah.

Sang adipati melambaikan tangan dan keduanya lalu keluar dari ruangan paseban. Akan tetapi begitu mereka tiba di pintu gerbang kadipaten, dua orang perajurit yang menuntun dua ekor kuda menghadang mereka dan memberi hormat lalu berkata, “Kami diperintahkan Gusti Pangeran Ratu untuk menyerahkan dua ekor kuda ini kepada andika berdua.”

Aji saling pandang dengan Sulastri dan kedua orang muda ini tertawa senang. Jalan pikiran mereka sejalan. Kalau bicara tentang kebutuhan mereka pada saat itu, yang mereka butuhkan memang dua ekor kuda sehingga mereka dapat melakukan perjalanan menuju pegunungan Careme dengan cepat. Mereka mengucapkan terima kasih, mencengklak kuda masing-masing dan melarikan kuda keluar dari Kadipaten Cirebon.

Menjelang senja tibalah mereka di sebuah dusun yang berada di kaki gunung Careme, yaitu dusun kecil yang disebut Dusun Kapayun. Karena di dusun sekecil itu tidak terdapat warung makan maupun penginapan, Aji dan Sulastri lalu langsung mencari rumah pamong dusun atau kepala dusun itu. Semua orang menunjuk ke sebuah rumah yang lebih besar dari pada sekitar tiga puluh rumah yang berada di dusun itu. Ki Sajali, pria berusia lima puluh tahun yang bertubuh tinggi kurus berkumis panjang yang menjadi pamong dusun Kapayun, menyambut dua orang muda itu dengan sinar mata penuh curiga. Sinar matanya memandang penuh selidik kepada dua orang muda yang sedang menambatkan kuda mereka di sebatang pohon di pekarangan rumahnya.

Setelah menambatkan kuda, Aji dan Sulastri melangkah menuju ke pendapa dan disambut oleh laki-laki yang tinggi kurus itu. Aji membungkuk dengan hormat lalu bertanya, “Maafkan kami, paman. Kami hendak bertemu dengan Paman Sajali yang menjadi pamong dusun ini.”

“Hemm, andika siapakah dan ada keperluan apakah hendak bertemu dengan pamong dusun?”

Mendengar pertanyaan yang dilakukan dengan sikap kasar dan galak itu, Sulastri tak sabar lagi dan menjawab dengan galak pula, “Kami adalah orang-orang kepercayaan dan utusan Gusti Pangeran Ratu di Cirebon untuk membasmi gerombolan yang dipimpin Munding Hideung!”

Orang itu tampak terkejut, matanya terbelalak dan sikapnya berubah hormat, “Ah, kiranya andika berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu? Mohon maaf atas sikap saya tadi, den mas dan den roro! Saya adalah Ki Sajali, pamong dusun ini.”

Melihat Ki Sajali bersikap hormat, Aji segera berkata dengan lembut pula. Bagaimanapun juga, dia dan Sulastri membutuhkan bantuan kepala dusun itu untuk diberi makan malam dan tempat peristirahatan malam itu. “Maaf, Paman Sajali. Sesungguhnya bahwa kami berdua adalah utusan Gusti Pangeran Ratu yang mengemban tugas membasmi gerombolan pimpinan Munding Hideung yang mengganas di sekitar Gunung Careme. Karena kami kemalaman di sini, maka saya mohon paman suka menampung kami untuk semalam ini. Saya bernama Aji dan nona ini adalah Sulastri.”

“Ah, silakan, silakan, denmas aji dan denroro Sulastri! Saya merasa girang dan mendapat kehormatan besar sekali andika berdua sudi bermalam di sini. mari silakan masuk, barangkali andika berdua ingin mandi-mandi dan mengaso dulu. Saya akan menyuruh orang mempersiapkan makan malam.”

“Wah, tidak usah terlalu merepotkan paman.” kata Aji agak rikuh.

“Tidak, sama sekali tidak repot, den mas!”

Kepala dusun itu melangkah masuk diikuti dua orang muda itu. Mereka mendapatkan dua buah kamar dan dengan ramah Ki Sajali mempersilakan mereka untuk mandi di kamar yang berada di belakang, lalu meninggalkan mereka untuk mempersiapkan makan malam. Aji dan Sulastri memasuki kamar masing-masing. Kamar yang kecil sederhana, namun cukup lumayan untuk melewatkan malam itu karena di situ terdapat sebuah amben (dipan) yang bertilamkan tikar yang cukup bersih. Aji bersikap hati-hati dan mereka mandi bergantian untuk dapat melakukan penjagaan atas barang-barang yang mereka tinggalkan dalam kamar.

Setelah selesai mandi dan bertukar pakaian, mereka keluar dari kamar, meninggalkan buntalan pakaian mereka kecuali senjata mereka yang mereka bawa. Sulastri menggantungkan pedang Nogo Wilis di punggung sedangkan Aji menyelipkan Keris Nogo Welang di ikat pinggangnya. Mereka bertemu di luar kamar dan Sulastri berbisik.

“Mas Aji, engkau melihat sesuatu yang aneh?”

“Di rumah ini?”

“Di rumah ini dan di dusun ini.”

“Hemm, sikap Ki Sajali itu cukup mencurigakan. Tadinya dia bersikap angkuh, keras dan curiga, kemudian setelah dia tahu siapa kita, sikapnya berubah dan berlebihan, bahkan menjilat. Sikap seperti itu biasanya menyembunyikan niat tertentu yang tidak baik.”

“Aku melihat yang lebih aneh lagi.”

“Apa itu Lastri?”

“Apakah engkau tidak melihat di waktu pergi ke belakang untuk mandi tadi? Di rumah ini tidak tampak ada wanitanya. Semuanya laki-laki, bahkan aku melihat kesibukan di dapur juga dilakukan laki-laki dan mereka semua masih muda dan kelihatan kasar.”

“Ah, aku ingat sekarang. Pantas ketika aku memasuki dusun dan bertanya-tanya tentang kepala dusun, aku merasa ada sesuatu yang kurang di dusun ini, yaitu tidak tampak adanya wanita dan kanak-kanan di dusun ini.”

“Benar, bahkan tidak ada laki-laki tua. Semua laki-laki muda yang kelihatan kasar. Inilah yang kuanggap aneh dan tidak wajar.” kata Sulastri.

Aji mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa girang bahwa perjalanannya ditemani seorang gadis seperti Sulastri yang ternyata selain digdaya, juga cerdik dan waspada. “Kita sudah mengerti dan menaruh curiga, ini baik, Lastri. Akan tetapi kita besikap tidak tahu saja dan diam-diam waspada menjaga segala kemungkinan. Kalau kita diajak makan malam nanti, kau harus berhati-hati dan jangan menyentuh suatu hidangan sebelum tuan rumah mengambil dan memakannya lebih dulu.”

“Bagaimana kalau mereka menghidangkan minuman?”

“Sama saja, jangan diminum. Kita lihat saja nanti perkembangannya.”

“Engkau khawatir kalau mereka menggunakan racun, Mas Aji?”

“Orang-orang jahat tidak pantang menggunakan cara-cara yang licik dan jahat. Kita sudah mengalaminya sendiri ketika tertawan komplotan para antek Kumpeni Belanda itu. Karena kita tidak mengenal benar Ki Sajali dan keadaan di sini mencurigakan, maka kita harus berhati-hati.”

Sulastri mengangguk-angguk, lalu berbisik, “Sstt, dia datang.”

Ki Sajali yang kini sudah pula berganti pakaian menghampiri mereka. “Denmas dan denroro sudah mandi? Ah, kenapa andika berdua membawa-bawa senjata pusaka? Saya hanya ingin mengundang andika berdua untuk makan malam!”

Aji cepat menjawab, “Paman, kami adalah pengemban-pengemban tugas penting yang selalu menhadapi bahaya dimanapun kami berada. Oleh karena itu, terpaksa kami selalu membawa pusaka untuk melindungi diri kami.”

“Akan tetapi di sini andika berdua aman! Marilah, kita makan dulu sebelum beristirahat. Akan tetapi di dusun ini kami tidak dapat menyuguhkan makanan yang pantas untuk andika berdua.”

“Ah, sambutan paman ini saja sudah cukup menyenangkan hati kami dan kami berterima kasih sekali.” kata Aji dan bersama Sulastri dia mengikuti tuan rumah itu menuju ke ruangan makan yang berada di bagian kiri rumah.

Ketika mereka memasuki ruangan yang diterangi tiga lampu gantung yang cukup besar itu, mereka melihat di ruangan yang luas itu sebuah meja besar yang penuh dengan masakan sayur-sayuran dan daging ayam dan kambing! Cukup mewah bagi suguhan di dusun yang kecil dan sunyi itu. Juga masakan-masakan itu masih mengepulkan uap, tanda bahwa masakan itu masih hangat. Nasinya dalam bakul juga putih dan masih hangat.

Dua orang muda itu dipersilahkan duduk bersanding, berhadapan dengan tuan rumah terhalang meja yang penuh hidangan itu. Agaknya memang sudah diatur. Di depan mereka terdapat dua gelas minuman air teh. Akan tetapi di depan Ki Sajali tidak tersedia gelas terisi minuman teh, melainkan terdapat sebuah kendi besar hitam mengkilap.

“Mari denmas, denroro, silakan makan seadanya!” Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya.

Aji dan Sulastri melihat ada dua orang laki-laki muda bertubuh tinggi besar di dekat dinding, sikapnya seperti pelayan-pelayan yang siap menanti perintah. Sulastri melirik ke arah Aji. Gadis ini bersikap hati-hati, tidak mau sembarangan mengambil makanan. Ia hendak menanti apa yang akan diperbuat kawannya itu.

“silakan paman mengambil lebih dulu,” kata Aji dengan sikap menghormati tuan rumah yang lebih tua. Ki Sajali tersenyum. “Harap andika berdua tidak malu-malu,” katanya dan diapun mulai mengambil nasi di atas piringnya.

Aji dan Sulastri diam-diam mengusap piring kosong mereka dengan jari tangan untuk merasa yakin bahwa piring mereka itu bersih dari olesan atau taburan racun. Juga mereka mempergunakan ketajaman penciuman mereka. Piring mereka bersih. Merekapun baru berani mengambil nasi seperti yang dilakukan tuan rumah dan sengaja menyendok nasi di bekas yang disendok tuan rumah.

Demikian pula cara mereka mengambil masakan. Selalu mengambil sayuran atau daging yang lebih dulu diambil tuan rumah. Bahkan ketika mereka mulai makanpun, mereka selalu menyentuh dan makan hidangan setelah melihat tuan rumah memakannya. sikap hati-hati mereka itu agaknya tidak diketahui Ki Sajali dan mungkin dia menganggap kecanggungan dua orang tamu mudanya itu karena rikuh dan malu-malu.

Setelah selesai makan, Ki Sajali mempersilakan dua orang tamunya untuk minum air teh mereka. Dia sendiri minum dari kendi dengan mengucurkan air dari mulut kendi yang langsung diterima mulutnya yang ternganga. Melihat ini, Aji mengedipkan mata kepada Sulastri dan mengerling ke arah kendi yang dipergunakan tuan rumah untuk minum. Sulastri mengangguk.

Ki Sajali menurunkan kendinya ke atas meja. Melihat dua orang tamunya belum minum air teh mereka, dia kembali mempersilakan. “Mari, silakan minum air tehnya, denmas dan denroro, selagi masih hangat.”

Aji tersenyum dan berkata, “Paman Sajali, melihat paman minum air kendi itu kelihatannya segar sekali dan membuat saya ingin sekali minum air kendi itu pula!” Dia menuding ke arah kendi besar itu.

“Aku juga demikian! Kelihatan sejuk dan segar sekali!” kata Sulastri sambil memandang kendi besar itu penuh gairah.

“Ah, begitukah? Silakan!” kata Ki Sajali. Aji mengambil kendi itu dan menyerahkannya kepada Sulastri. Karena dia yakin bahwa minum air kendi itu tentu aman, seperti telah dilakukan oleh Ki sajali, maka dia membiarkan Sulastri minum lebih dulu. Tanpa ragu lagi Sulastri mengangkat kendi, mengucurkan air dari mulut kendi ke mulutnya yang dibuka sedikit tidak seperti Ki Sajali tadi yang mulutnya dingangakan lebar.

Setelah minum beberapa teguk air kendi, Sulastri bangkit dari duduknya, meletakkan kendi ke atas meja, lalu ia memegangi perutnya dan terhuyung, menabrak kursi yang tadi didudukinya sehingga kursi itu terpelanting.

“Lastri....!” Aji cepat bangkit dan memegang lengan gadis itu untuk menjaganya agar jangan sampai jatuh. Dia lalu menarik gadis itu dan didudukkan di kursinya sendiri.

Sulastri terkulai, kepalanya di atas meja dan kedua tangannya menekan-nekan perutnya. “Aduh... perutku... di ulu hati... nyeri dan perih... panas...!” Aji menendang kursi yang menghalanginya dan dia sudah melompati meja, tiba di dekat Ki Sajali dan memegang pergelangan tangan orang itu. Seketika dia tahu apa yang terjadi. Air kendi itu dicampuri racun! Kalau tadi Ki Sajali dapat minum dan tidak keracunan, tentu dia telah menelan obat penawarnya. “Engkau menaruh racun dalam air kendi itu!” bentak Aji sambil mencengkeram pergelangan tangan Ki Sajali dengan kuatnya. “Cepat keluarkan obat penawarnya!”

Akan tetapi tiba-tiba Ki Sajali bangkit dan tangan kanannya bergerak memukul ke arah kepala Aji. Angin yang berdesir menunjukkan bahwa orang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang hebat juga! Dan pada saat itu, dua orang laki-laki muda yang tadi berdiri dekat dinding dan bersikap sebagai pelayan, telah berlompatan mendekat sambil memegang pisau belati dan langsung menyerang Aji! Melihat gerakan mereka, jelas bahwa dua orang inipun bukan orang-orang lemah. Melihat serangan Ki Sajali, Aji menangkis dengan tangan kirinya lalu mendorong dada Ki Sajali sehingga laki-laki setengah tua itu terjengkang dan jatuh terguling.

Pada saat itu, serangan dua orang yang bersenjata pisau belati menyambar. Aji mengelak dengan loncatan ke kiri, kemudian sebelum dua orang itu sempat menyerang lagi, dari samping dia mengayun kedua tangannya menampar. “Plak-plakk!” Dua orang itu terpelanting roboh.

Ketika mereka bergerak untuk bangkit, Aji mengayun kakinya dua kali menendang, mengenai tangan mereka yang memegang pisau. Dua orang muda itu berseru kesakitan dan pisau belati mereka terlepas dari pegangan, terlempar jauh. Mereka agaknya maklum bahwa yang mereka hadapi adalah orang yang sakti, maka cepat mereka merangkak dan melarikan diri. Aji melihat Ki Sajali juga sudah bangkit dan melarikan diri. Cepat dia melompat dan berhasil menangkap tengkuk orang itu, menekan sehingga tubuh Ki Sajali terpaksa berjongkok. Dengan tangannya yang terisi tenaga sakti, Aji menekan tengkuk itu.

“Aduhhh... aduhhh...!” Ki Sajali mengeluh kesakitan, merasa tengkuknya seperti dijepit catut baja yang amat kuat.

“Cepat berikan obat penawar itu!” bentak Aji lagi dan memperkuat cengkeraman tangannya pada tengkuk itu.

“Aduhhhh... baik... baik... akan tetapi.... lepaskan...“ keluh Ki Sajali yang wajahnya menjadi pucat sekali saking nyerinya.

Aji melepaskan cengkeramannya dan Ki Sajali bangkit berdiri, kedua tangan memegangi leher dan menjatuhkan diri duduk di atas kursi, terengah-engah. Lalu tangannya meraba-raba ikat pingang dan dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan putih, lalu menyerahkan botol kecil itu kepada Aji.

Cara menggunakannya?” Tanya Aji.

“Minumkan semua dan ia akan sembuh.”

“Awas, kalau engkau membohongiku, engkau akan dihukum seberat-beratnya.” kata Aji dan diapun cepat menghampiri Sulastri yang masih duduk dan menyandarkan kepalanya menelungkup di atas meja, berbantal lengan. Ia tampak pucat dan lemah, napasnya agak terengah. Pada saat ia duduk di atas kursi mendekati Sulastri, dia mendengar gerakan dibelakangnya. Cepat dia menoleh dan melihat Ki Sajali membuat gerakan melarikan diri. Disambarnya kendi yang berada di atas meja dan sekali menggerakkan tangan, kendi itu telah dilontarkan ke arah Ki Sajali yang melarikan diri.

“Wuuuttt.... prakkkk!” Kendi itu menghantam kepala Ki Sajali dan pecah berantakan. Air kendi muncrat dan tubuh Kim Sajali terpelanting roboh. Dia mengaduh dan merintih sambil berusaha untuk bangkit. Dengan beberapa langkah Aji sudah mendekatinya. “Manusia jahat, engkau hendak melarikan diri? Tunggu, engkau tidak boleh pergi ke manapun juga sebelum Sulastri sembuh dari keracunan. Engkau harus bertanggung jawab. Benarkah obat ini akan dapat menyembuhkannya? Jawab yang benar atau terpaksa aku akan menyakitimu!” Aji mencengkeram lengan kanan Ki Sajali sedemikian kuatnya sehingga orang itu merasa tulang lengannya seperti remuk.

“Aduh... ampuuun... obat... obat itu akan menyembuhkannya...“ dia meratap.

Aji cepat melepaskan lengannya dan kembali menghampiri Sulastri. Kini dia merasa yakin bahwa Ki Sajali pasti tidak akan berani berbohong setelah dapat hajaran keras itu. Dia membantu Sulastri, menengadahkan kepalanya dan membuka mulut gadis itu dengan tangan kirinya. Sulastri tidak pingsan, akan tetapi lemas dan pening. Akan tetapi ia masih menyadari bahwa Aji yang berusaha menolongnya, maka ia menurut saja ketika kepalanya didongakkan dan mulutnya dibuka. Iapun menelan saja ketika isi botol itu dimasukkan ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian, Sulastri membungkuk dan muntah-muntah. Semua makanan dan juga air yang mengandung racun tadi ikut tumpah keluar semua dari dalam perutnya. Aji membantunya dan memijit-mijit tengkuknya, mengurut punggungnya sampai semua isi perutnya dimuntahkan. Tubuh gadis itu penuh keringat. Akan tetapi setelah muntah-muntah, peningnya hilang, ulu hatinya tidak nyeri lagi dan ia merasa ringan dan lemas. Aji menggandengnya dan didudukkan di kursi yang agak jauh dari meja itu. Sulastri duduk dan mengusap keringat dari dahinya.

“Bagaimana rasanya, Lastri?”

Gadis itu tersenyum! “Rasanya sudah sembuh, Mas Aji. tidak penting lagi, tidak nyeri lagi perutku, racun itu pasti telah keluar semua. Aku hanya merasa lemas... eh, mana dia manusia jahanam itu? Aku harus membunuhnya! Dia meracuni aku, keparat!” Sulastri bangkit dengan cepat, akan tetapi karena tubuhnya terasa lemas, ia terhuyung dan cepat dirangkul Aji dan dibantunya lagi duduk. Aji menengok ke arah di mana tadi ki Sajali berada, akan tetapi orang itu ternyata telah pergi. Agaknya Ki Sajali menggunakan waktu selagi dia menolong Sulastri tadi, diam-diam dia melarikan diri dari rumah itu.

“Hemm, keparat itu telah melarikan diri.” kata Aji.

“Kejar dia, Mas Aji. kejar dan tangkap. orang itu harus dipaksa mengaku siapa yang berada di belakangnya dan dia harus dibunuh!” Suara Sulastri masih lantang galak walaupun tubuhnya masih lemas.

“Percuma, Lastri. Dia sudah melarikan diri keluar dari rumah ini. Tentu akan sukar menemukannya di tempat gelap. Pula, aku tidak mau meninggalkanmu seorang diri di sini selagi engkau masih dalam keadaan lemah seperti ini. Mari, engkau harus beristirahat di kamarmu itu. aku akan mencari beras dan membuatkan bubur untukmu. Engkau lemas karena perutmu kosong sama sekali.”

Aji membantu Sulastri bangkit berdiri lalu memapahnya ke dalam, mengantarnya masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya. Untung bahwa di kamar itu, juga di ruangan lain dalam rumah itu, dipasangi lampu-lampu yang cukup terang. Setelah Sulastri merebahkan tubuhnya, Aji mengeluarkan sehelai kain dari buntalan pakaian gadis itu lau menyelimutinya. Dia menepuk-nepuk pundak Sulastri dan berkata. “Kasihan sekali engkau, Lastri. Dua kali berturut-turut engkau diracuni orang sehingga keselamatan dirimu terancam maut dan engkau menderita sekali.”

Sulastri menyentuh tangan Aji yang menepuk-nepuk pundaknya dan ia tersenyum. “Dan untuk kedua kalinya pula engkau yang menolong dan menyelamatkan aku, kakangmas Aji.”

“Akan tetapi engkaupun tahu bahwa engkau dua kali keracunan adalah karena engkau melakukan perjalanan bersama aku. aku yang menyebabkan engkau diserang orang jahat.”

“Sudahlah, apa kau kira aku akan diam saja dan tidak berusaha sekuat kemampuan untuk menolongmu kalau engkau yang terancam bahaya seperti yang kau lakukan tehadap diriku ini? Kita melakukan perjalanan bersama, harus menghadapi segala bahaya bersama pula. Bukankah begitu?”

Aji tersenyum dan memandang kagum. Dalam keadaan nyaris tewas dan baru saja lolos dari maut, gadis itu sudah bersikap sedemikian tabah dan gagahnya. “Sulastri, engkau... seorang gadis yang hebat! Mengasolah, aku akan membuatkan bubur untukmu.” katanya dan dia lalu keluar dari dalam kamar itu, dan memeriksa semua jendela dan pintu belakang dan depan. Dipalangnya semua jendela dan pintu.

Setelah memeriksa seluruh ruangan dalam rumah itu dan merasa aman meninggalkan Sulastri seorang diri di kamarnya, Aji lalu masuk ke dalam dapur. Dia mendapatkan prabot dapur yang cukup lengkap dan dapat menemukan beras dan garam. maka dengan girang dia lalu memasak bubur secukupnya untuk Sulastri. Selagi melakukan pekerjaan ini, dia selalu waspada, menggunakan ketajaman pendengarannya untuk menjaga keamanan Sulastri yang berada di dalam kamarnya. Setelah buburnya matang, dia membawa makanan itu dalam sebuah mangkok besar ke kamar Sulastri. Gadis itu ternyata tidak tidur, sedang rebah telentang memandang ke atap kamar. Ia tersenyum ketika Aji memasuki kamar sambil membawa semangkuk bubur panas dan sendoknya.

“Aah, Mas Aji. Engkau membuat aku merasa malu sekali.” kata gadis itu sambil bangkit duduk. Ia tidak begitu lemas lagi dan dapat bankit duduk sendiri tanpa bantuan.

Aji duduk di atas sebuah bangku dekat pembaringan. “Mengapa engkau merasa malu kepadaku, Sulastri?” tanyanya heran. “Kalau engkau masih lemas, mari kusuapi, jangan malu-malu.”

“Jangan, mas. kesinikan, aku dapat makan sendiri.” Ia menerima mangkuk bubur itu dengan tangan gemetar. “Masih agak panas, Lastri. Ditiup dulu agar lebih dingin.”

“Mas Aji, bagaimana aku tidak menjadi malu. Keadaan kita sungguh terbalik. Masa engkau yang malah melayani aku, memasak bubur untuk aku? Semestinya wanita yang sibuk di dapur membuat masakan!”

“Ah, kenapa engkau berpendapat begitu, Lastri? Dalam keadaan seperti ini, mengapa kita harus bersikap sungkan-sungkan lagi? Engkau keracunan, bahkan hampir saja tewas. Keadaanmu masih lemah, tentu saja harus aku yang membuatkan bubur untukmu! Dalam keadaan darurat seperti ini, tidak ada perbedaan antara tugas seorang laki-laki atau seorang perempuan. Makanlah, aku akan melakukan pemeriksaan dan penjagaan di luar, untuk menjaga segala kemungkinan.”

“Mas Aji!” Sulastri memanggil ketika Aji sudah bergerak ke pintu kamar.

Aji berhenti melangkah dan menoleh “Ada apakah, Lastri?”

“Aku berpendapat bahwa tuan rumah ini tentu mempunyai hubungan dengan gerombolan yang dipimpin Munding Hideung. Ketika dia mendengar bahwa kita bertugas menumpas gerombolan itu, dia lalu turun tangan hendak membunuh kita.”

“Akan tetapi dia kepala dusun ini...“ kata Aji meragu.

“Itu menurut orang-orang yang kita tanyai di dusun ini. Ingat, kita tidak melihat wanita atau kanak-kanak di dusun ini, hanya laki-laki muda. siapa tahu mereka itu semua anak buah gerombolan yang kita sedang selidiki.”

“Aku sependapat denganmu, Lastri. Akan tetapi malam ini kita tidak dapat berbuat sesuatu. Malam gelap sekali dan kita tidak mengenal medan. Makan lalu beristirahatlah. Engkau perlu menghimpun kembali tenagamu karena besok kita tentu akan menghadapi ancaman mereka. Aku akan melakukan pengintaian di luar pondok.”

“Baiklah, mas Aji. Akan tetapi berhati-hatilah.”

Aji melangkah keluar dan Sulastri mulai menyendok dan makan buburnya yang masih hangat. Setelah menghabiskan bubur semangkuk itu tubuhnya mulai pulih dan sehat kembali, tidak terlalu lemas seperti tadi. Ia lalu duduk bersila dan menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan keadaan tubuhnya. Sementara itu, Aji membuka daun pintu depan dengan hati-hati. Di luar pondok gelap dan sunyi. Bahkan rumah-rumah dalam perkampungan itu tampak gelap. Tidak ada sinar lampu sama sekali dari sekeliling pondok milik kepala dusun itu.

Agaknya semua rumah di dusun itu tidak memasang lampu! Atau Ki Sajali yang memerintahkan semua penduduk untuk memadamkan lampu di rumah mereka? Dia menyelinap keluar dengan cepat lalu menutupkan kembali daun pintu rumah dari luar. Dengan hati-hati dia membiasakan pandang matanya dengan kegelapan di luar rumah. Lambat laun tampaklah kelap-kelip beberpa kelompok bintang di langit dan pandang matanya mulai terbiasa dengan kegelapan di luar. Dia lalu melangkah perlahan dan berjalan mengelilingi pondok itu sambil memperhatian keadaan sekeliling. Sunyi saja di luar.

Tidak terdengar suara manusia, sesepi kuburan! Aji mendapat perasaan bahwa dusun itu telah ditinggalkan dan agaknya malam itu tidak ada lagi seorangpun berada di sini! Setelah melakukan pengamatan selama hampir dua jam, Aji masuk lagi ke dalam pondok dan dia menghampiri kamar Sulastri, membuka daun pintu kamar perlahan-lahan. Lampu kecil itu masih bernyala dan di atas meja dalam kamar dan dia melihat gadis itu rebah miring. Mangkuk bubur kosong berada di atas meja. Aji tersenyum lega. Gadis itu telah menghabiskan bubur dan dari pernapasannya yang lembut itu dia dapat mengetahui bahwa Sulastri telah tidur pulas!

Dengan hati-hati dia keluar dan menutupkan kembali daun pintu kamar, lalu ia duduk di atas sebuah kursi, di ruangan dalam. Dari situ dia dapat melihat ke pintu kamar yang ditiduri Sulastri. Karena maklum bahwa keadaan mereka terancam bahaya, maka Aji tidak tidur, melinkan duduk di atas kursi dengan bersila seperti orang sedang bersamadhi. Biarpun dia memejamkan kedua matanya, namun dia sama sekali tidak tidur, bahkan dia waspada sekali. Semua panca inderanya bekerja sepenuhnya, bahkan peka sekali, terutama pendengarannya. Sedikit saja ada suara yang tidak wajar pasti akan dapat didengarnya dan semua urat syarafnya siap bergerak menghadapi segala macam keadaan darurat dan bahaya.

Pada saat sudah jauh lewat tengah malam, tiba-tiba Aji terkejut. Biapun amat lirih, dia dapat mendengar berkesiurnya angin dari arah belakangnya. Dia memang duduk menghadap ke arah pintu depan dan membelakangi kamar di mana Sulastri tidur. Dengan cepat diapun memutar lehernya dan menengok. Alangkah herannya ketika dia melihat Sulastri yang mengakibatkan berkesiurnya angin lembut itu. Gadis itu sedang menghampirinya dan tubuhnya bagaikan bayangan saja, demikian ringan dan gesit. Dia merasa kagum sekali. Jelas dapat dia ketahui bahwa gadis itu mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang hebat.

“Kiranya engkau, Lastri? Mengapa engkau bangun? Malam telah larut, tidurlah lagi dan jangan bangun sebelum pagi.”

Gadis itu memandang Aji dengan sinar mata menyatakan kekagumannya yang tidak disembunyikan. Wah, Kakangmas Aji! Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk meringankan tubuh, namun tetap saja engkau dapat mengetahui kedatanganku. Tadinya aku hendak mengejutkanmu, akan tetapi aku kecelik.”

Aji bangkit berdiri dan tersenyum memandang gadis itu. “Aku cukup mendapat kejutan, Lastri, kejutan yang menggembirakan. Gerakan dan sikapmu menunjukkan bahwa engkau telah sembuh dan tenagamu sudah pulih sama sekali. Sukurlah, Lastri. Akan tetapi kenapa engkau sudah bangun? Tidurlah lagi.”

“Tidak! Aku sengaja bangun untuk menggantikanmu, mas Aji. sekarang engkaulah yang harus istirahat, biar aku menjaga di sini."

“Tidak perlu, Lastri. Aku juga berjaga di sini juga sambil beristirahat.”

“Akan tetapi engkau perlu tidur agar besok pagi segar untuk bersamaku menghadapi gerombolan. Hayo, pergilah ke kamarmu dan tidur. Aku yang akan melanjutkan tugas berjaga di sini.”

“Tapi Lastri...“

“Tidak ada tapi, Mas Aji. Kalau engkau menolak, hatiku akan merasa tidak senang karena berarti engkau tidak menghargai kerja sama dengan aku. Hayo, pergilah mengaso!”

Melihat kesungguhan gadis itu, Aji menurut karena dia maklum bahwa Sulastri benar-benar akan merasa tersinggung dan akan marah kalau dia berkeras menolak. Pula, menyaksikan gerakan gadis itu tadi, demikian gesit dan ringan tubuhnya, dia percaya bahwa Sulastri akan mampu menghadapi ancaman yang bagaimanapun juga. Diapun pergi ke kamarnya dan tanpa ragu-ragu lagi diapun merebahkan dirinya dan sebentar saja dia tenggelam ke dalam tidur yang pulas.

********************