Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 12

SEPERTI kita ketahui, Ki Harya Baka Wulung adalah seorang tokoh Madura yang mendendam terhadap Mataram. Bukan itu saja karena Mataram telah menundukkan seluruh Madura, akan tetapi terutama sekali karena putera tunggalnya yang amat disayangnya, yang bernama Dibyasakti, telah tewas dalam pertempuran melawan pasukan Mataram. Dia bersumpah untuk membalas dendam dengan memusuhi Mataram. Berbagai upaya dilakukan.

Setelah Madura jatuh dan kalah melawan Mataram, Ki Harya Baka Wulung mati-matian membantu Surabaya dan Giri melawan Mataram, bersama dua rekannya, yaitu Wiku Menak Koncar datuk dari Blambangan dan Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten. Usahanya ini gagal pula karena Surabaya dan Giri juga jatuh dan menakluk kepada Mataram. Semua kegagalan ini bahkan membuat kebencian dan dendam dalam hatinya terhadap Mataram semakin menjadi-jadi.

Dia tidak pernah putus asa dalam usahanya membalas dendam, kepada Sultan Agung pada khususnya. Dia sudah berusaha untuk membujuk Adipati Cakraningrat, yang dahulu bernama Prasena putera Adipati Tengah Arisbaya dan telah diangkat oleh Sultan Agung menjadi adipati seluruh Madura, untuk memberontak. Akan tetapi muridnya ini menolak dan tetap setia kepada Mataram.

Akhirnya Ki Harya Baka Wulung mengajak Wiku Menak Koncar dari Blambangan untuk membunuh Puteri Wandansari, puteri Sultan Agung yang menikah dengan Pangeran Pekik Adipati Surabaya, selain untuk membuat Sultan Agung berduka juga untuk membuat hubungan antara Mataram dan Surabaya menjadi renggang. Akan tetapi usaha ini bukan hanya gagal karena Puteri Wandansari dibantu Aji, bahkan Wiku Menak Koncar tewas di tangan Puteri Wandansari!

Semua kegagalan ini tidak membuat Ki Harya Baka Wulung mundur. Ketika dia bertemu dengan Aki Somad dan dibujuk untuk membantu Kumpeni Belanda, dia segera menerimanya dengan senang. Sama sekali bukan karena dia suka menjadi antek Belanda. Tidak, dia sendiri juga membenci bangsa Belanda. Akan tetapi karena dia melihat betapa Mataram bermusuhan dengan Kumpeni Belanda, maka dengan membantu Belanda dia mendapatkan kesempatan untuk membalas dendamnya kepada Mataram!

Dendam kebencian selalu merupakan racun yang merusak pertimbangan akal budi dan menghilangkan kebijaksanaan demi pelampiasan dendam kebencian, orang tidak segan-segan melakukan segala cara! Kini, menghadapi Aji yang dia tahu sebagai seorang yang setia kepada Mataram dan pernah membela Puteri Wandansari, Ki Harya Baka Wulung menjadi marah sekali. Tanpa memperdulikan lagi kehormatan diri seorang datuk besar yang biasanya merasa malu dan pantang melakukan pengeroyokan, apa lagi terhadap seorang pemuda, Ki harya Baka Wulung mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk merobohkan Aji.

Akan tetapi ternyata pemuda itu tidak mudah dikalahkan begitu saja. Gerakannya tangkas, ringan dan juga tenaga saktinya kuat sekali. Dengan Aji Bayu Sakti, gerakan Aji seperti angin saja, tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua orang pengeroyoknya yang sudah tua. Juga keris di tangannya adalah sebuah pusaka ampuh, ditambah lagi Aji Surya Candra yang terkandung dalam tenaganya membuat kedua orang kakek itu terkadang sampai terhuyung apabila terpaksa mengadu tenaga.

Dua orang kakek itu maklum bahwa percuma saja menggunakan kekuatan sihir mereka karena semua sihir itu tidak mempan terhadap pemuda luar biasa ini. Mereka mengandalkan pengeroyokan untuk mendesak Aji. Berulang-ulang tongkat ular kering di tangan Aki Somad dan keris besar di tangan Ki Harya Baka Wulung bertemu dengan keris pusaka Nagawelang di tangan Aji. Setiap kali beradu senjata, bunga api berpijar dan setelah beberapa kali bertemu keris, ujung tongkat ular kering di tangan Aki Somad patah!

Hal ini membuat pertapa dari Nusakambangan itu terkejut dan marah sekali. Akan tetapi dia tetap tidak mampu mendesak Aji yang memiliki pertahanan amat kuatnya. Pertandingan antara Aji dan dua orang kakek itu berlangsung seru dan mati-matian. Yang gawat keadaannya adalah Sulastri. Sesungguhnya bahwa dara yang berusia delapan belas tahun ini telah mendapatkan gemblengan hebat dari Ki Ageng Pasisiran selama delapan tahun dan telah menguasai aji kanuragan yang amat hebat. Akan tetapi, dalam usianya yang masih muda itu ia belum memiliki banyak pengalaman dan sekali ini ia berhadapan dengan dua orang lawan yang amat tangguh.

Kalau saja ia harus bertanding satu lawan satu dengan kedua orang pengeroyoknya itu, agaknya ia masih akan mampu menandingi mereka. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan itu, setelah mengadakan perlawanan mati-matian, akhirnya ia mulai terdesak juga. Tingkat kepandaian Sulastri tak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian Nyi Maya Dewi sehingga melawan wanita itu saja keadaannya berimbang.

Kini dikeroyok oleh seorang lawan yang juga amat tangguh, yang tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah mereka, tentu saja Sulastri menjadi kewalahan. Laki-laki tinggi kurus, tampan gagah berusia empat puluh tahun itu adalah seorang tokoh yang kini menjadi ketua Perguruan Dadali Sakti menggantikan guru atau ketua perguruan itu yang meninggal dunia karena usia tua. Dia bernama Raden Banuseta yang tinggal di Galuh.

Kita masih ingat bahwa Raden Banuseta ini bukan lain adalah orang yang dulu membunuh Harun Hambali dan Ujang Karim di dusun Gampingan dekat pantai Laut Kidul. Raden Banuseta adalah putera mendiang Aom Bahrudin, seorang menak (priyayi) di Galuh yang terbunuh oleh Harun Hambali karena dia merampas dan memperkosa isteri Harun sehingga wanita itu membunuh diri.

Harun membalas kematian isterinya itu dengan membunuh Aom Bahrudin sehingga dia terpaksa melarikan diri meninggalkan Galuh karena dikejar-kejar. Ketika hal itu terjadi, Raden Banuseta berusia kurang lebih dua puluh tahun. Raden Banuseta tentu saja mendendam kepada Harun Hambali. Dia memperdalam ilmu silatnya di Perguruan Dadali Sakti. Setelah menjadi seorang yang digdaya, mulailah dia pergi mencari pembunuh ayahnya. Akhirnya, setelah belasan tahun ayahnya terbunuh, dia dapat menemukan Harun Hambali di dusun Gampingan dan membunuhnya, bersama teman Harun yang bernama Ujang Karim. Sudah lama Raden Banuseta berkenalan, bahkan berhubungan sebagai kekasih gelap dengan Nyi Maya Dewi.

Karena itu, ketika wanita itu membujuknya untuk membantu Kumpeni Belanda, dia setuju dan diam-diam Raden Banuseta juga menjadi komplotan yang mendukung Kumpeni Belanda memusuhi Mataram. Ketika dia berkunjung ke Nusakambangan untuk bertemu dengan Nyi Maya Dewi dan Aki Somad, kebetulan Ki Harya Baka Wulung juga datang berkunjung. Mendengar akan kekalahan Aki Somad dan Nyi Maya Dewi yang membantu Gerombolan Gagak Rodra melawan Ki Sumali yang dibantu Aji dan Sulastri, maka mereka berempat lalu bersepakat untuk menuntut balas dan kebetulan sekali di tengah perjalanan mereka melihat Aji dan Sulastri yang sedang menuju ke barat. Di dalam hutan di lembah Sungai Serayu ini mereka lalu menghadang sehingga terjadilah pertempuran itu.

"Heeiiiitttt....!" Sulastri berseru dengan suara melengking nyaring. Pedangnya menjadi sinar hijau yang menyambar ke arah Raden Banuseta, meluncur ke arah leher pria itu. Raden Banuseta terkejut, maklum akan hebatnya serangan ini karena tadi beberapa kali dia sudah merasakan betapa kuatnya tenaga gadis itu ketika senjatanya bertemu pedang. Serangan itu demikian cepat sehingga tidak mungkin menghindarkan diri dengan elakan. maka terpaksa dia menyambut lagi dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Tranggggg....!! Maya, cepat...!" Raden Banuseta yang menangkis pedang itu terpental dan terhuyung, akan tetapi selagi Sulastri mengejarnya dengan tusukan pedangnya, Nyi Maya Dewi dari belakang sudah menggerakkan sabuk cinde kencana. Sulastri dapat merasakan sambaran angin dari belakang itu. Ia membalikkan pedangnya, tidak jadi menusuk pria yang sudah terdesak itu, melainkan menggerakkan ke belakang untuk menangkis sabuk cinde kencana.

"Plakkk!" Ujung sabuk cinde yang lemas itu membelit pedang. sulastri mengerahkan tenaga dan hendak menarik pedangnya untuk membikin putus sabuk itu, akan tetapi pada saat itu Raden Banuseta sudah mengeluarkan sehelai kain berwarna merah dan sekali dia mengebutkan kain merah itu ke arah muka Sulastri, ada debu berwarna merah mengepul dan mengenai muka gadis itu. Sulastri yang tidak mengenal serangan ini, terkejut dan tanpa dapat dicegah lagi, ia telah menyedot debu merah ini ketika bernapas tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap dan iapun terkulai roboh.

Raden Banuseta Melihat gadis itu sudah dapat ditawan, Nyi Maya Dewi membentak ke arah Aji yang masih bertanding melawan pengeroyokannya dua orang kakek sakti. "Lindu aji menyerahlah kalau tidak ingin melihat gadis ini kami bunuh di depan matamu!"

Aji melirik dan terkejut bukan main melihat Sulastri terkulai lemas dalam rangkulan laki-laki berpakaian mewah itu. Dia menjadi serba salah. Dia tahu bahwa wanita itu seorang yang amat kejam, seorang yang melatih diri dengan ilmu keji sehingga tega untuk membunuhi anak-anak dengan menyedot habis darah mereka. Tentu ancaman wanita itu bukan kosong belaka. Dia akan menyesal selama hidupnya kalau dia tidak menyerah kemudian mereka benar-benar membunuh Sulastri di depan matanya. Sedangkan kalau dia menyerah, walaupun dia belum tahu bagaimana nanti jadinya dengan dirinya dan Sulastri, setidaknya dia masih mempunyai harapan untuk kemudian berusaha membebaskan dan menyelamatkan Sulastri. Maka, diapun cepat melompat ke belakang dan berkata, "Aku menyerah. Jangan bunuh gadis itu!"

Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung menghentikan serangan mereka. Mereka lebih suka melihat pemuda itu menyerah karena mereka tadi merasa betapa sukarnya mengalahkan pemuda yang memiliki kepandaian hebat itu. "Aji, kalau engkau benar-benar menyerah, lemparkan kerismu ke sini!" perintah Nyi Maya Dewi.

Wanita ini bersikap sebagai pimpinan dan memang sesungguhnyalah, dalam hal bekerja untuk Kumpeni Belanda, wanita ini merupakan orang penting. Ia yang berhubungan langsung dengan para pembesar Kumpeni Belanda di Batavia, dan ia pula yang melaksanakan perintah Kumpeni dan menyampaikannya kepada para tokoh lain. Biarpun Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari Nyi Maya Dewi, akan tetapi dalam hal bekerja membantu Kumpeni, wanita itu menjadi atasan mereka!

Melihat keadaan Sulastri yang agaknya pingsan, terkulai dalam rangkulan laki-laki yang tidak dikenalnya itu, Aji terpaksa lalu berkata, "Nyi Maya Dewi, aku mau menyerah, akan tetapi janjilah dulu bahwa gadis itu tidak akan diganggu!"

Biarpun janji orang-orang yang telah menjadi antek Kumpeni Belanda ini sama sekali tidak boleh dipercaya, akan tetapi dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, demi menyelamatkan Sulastri, Aji minta wanita itu berjanji. Aji lalu melemparkan kerisnya sambil mengerahkan tenaga dan keris itu meluncur cepat sekali menjadi sinar berkeredep menuju ke arah kaki wanita itu. Nyi Maya Dewi terkejut bukan main, tidak sempat mengelak. Keris meluncur terlalu cepat, bagaikan kilat menyambar.

"Celaka...!" Ia menjerit dan matanya terbelalak, mukanya pucat. "Sing... cappp...!!" Keris Kyai Nogowelang itu menancap di atas tanah sampai ke gagangnya, hanya beberapa senti di depan kaki Nyi Maya Dewi. Lontaran ini saja membuktikan bahwa kalau Aji menghendaki, keris itu tidak menancap di tanah, melainkan dapat menancap di tubuh wanita itu! Diam-diam perbuatan Aji ini mengandung peringatan kepada para antek Kumpeni Belanda itu agar mereka tidak main-main dengannya dan agar memegang janji tidak akan membunuh Sulastri!

Setelah Nyi Maya Dewi dapat menenangkan lagi hatinya yang tadi terguncang, ia membungkuk dan mencabut keris yang menancap di tanah itu. Ia mengamati keris itu lalu mendekati Ki Harya Baka Wulung. "Paman Harya, apakah andika mengenal pusaka ini?"

Ki Harya Baka Wulung menerima keris itu dari tangan Nyi Maya Dewi, mengamatinya lalu dia berseru sambil memandang kepada Aji. "Keris seperti ini merupakan pusaka Mataram, pasti milik Sultan Agung dan hanya diberikan kepada para senopatinya!"

"Kalau begitu dia seorang senopati Mataram! Tunggu apa lagi?" Aki Somad berseru dan dia sudah mengangkat tongkat ularnya. Juga Ki Harya Baka Wulung sudah mencabut lagi kerisnya. Agaknya dua orang kakek ini hendak menyerang Aji yang kini sudah tidak memegang senjata itu.

"Hemm. aku tahu bahwa kalian hanyalah pengecut-pengecut curang!" bentak Aji dan diapun sudah siap menghadapi dua orang lawan itu, walaupun dia tidak memegang senjata. Akan tetapi pada saat itu Nyi Maya Dewi sudah melompat ke depan dua orang kakek itu.

"Tahan! Paman berdua andika tidak boleh membunuh dia! Dia adalah senopati Mataram dan merupakan seorang tawanan yang teramat penting. Tuan Besar Jenderal tentu akan senang sekali mendapatkan tawanan ini dan merupakan jasa besar sekali kalau kita dapat menyerahkan dia hidup-hidup kepada Kumpeni."

Mendengar ucapan Nyi Maya Dewi itu, Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung menyimpan kembali senjata mereka. Mereka maklum bahwa dalam hal ini mereka harus menaati semua perintah Nyi Maya Dewi yang merupakan pemimpin mereka. Nyi Maya Dewi menjadi pemegang dinar emas yang ada gambarnya dua ekor singa sebagai tanda bahwa ia telah mendapatkan kepercayaan besar dari para pimpinan Kumpeni Belanda di Batavia.

"Nyi Maya Dewi, aku menyerah. karena itu kuharap engkau suka menyerahkan Sulastri kepadaku. Ia kelihatan pingsan, biarkan aku merawat dan menyadarkannya." kata Aji ketika melihat Sulastri masih terkulai dalam rangkulan laki-laki itu.

"Maya, jangan serahkan gadis ini kepadanya! Ia milikku, aku akan membawanya pergi dulu!" kata Banuseta sambil mengangkat tubuh Sulastri yang masih pingsan dan memondongnya.

Mendengar dan melihat ini, Aji terkejut bukan main. Dia merasa tertipu. Tadi Nyi Maya Dewi berjanji tidak akan membunuh Sulastri, akan tetapi orang laki-laki itu dapat melakukan bencana yang lebih hebat dari pada kematian bagi gadis itu! Dia lalu membentak dengan suaranya yang mengandung penuh getaran dan penuh wibawa karena dia mengerahkan tenaga saktinya. "Kalau Sulastri diganggu, aku bersumpah untuk melawan sampai mati dan akan membunuh kalian semua!" Aji bersiap melompat dan menerjang Banuseta.

Melihat ini, Nyi Maya Dewi lalu cepat berkata kepada kekasihnya itu. "Raden, lepaskan dulu gadis itu!"

"api, Maya..." Banuseta terkejut dan hendak membantah.

"Lepaskan kataku!"

Banuseta tidak berani membantah lagi dan dia melepaskan tubuh Sulastri sehingga tubuh yang masih lemas itu terkulai dan rebah miring di atas tanah. Aji tidak memperdulikan lagi kepada mereka. Dia cepat menghampiri Sulastri yang menggeletak miring dan memeriksa keadaannya. Gadis itu masih pingsan dan biarpun dia sudah memijit dan mengurut jalan darah di tengkuk dan kedua pundaknya, tetap saja gadis itu masih terus pungsan.

"Aji, ia pingsan oleh debu racun pembius. Tanpa obat penawar, ia tidak akan dapat siuman." kata Nyi Maya Dewi.

Aji mengerutkan alisnya. "Nyi Maya Dewi, sadarkan Sulastri!"

"Hemm, nanti dulu, orang muda. Engkau tidak berada dalam keadaan menuntut dan memerintah, melainkan harus menaati kami. Kalian berdua menjadi tawanan kami, ingat?"

Aji menahan kemarahannya. Memang wanita itu benar. Dalam keadaan seperti ini, dia terpaksa mengalah dan tuntuk. andaikata tidak ada Sulastri di situ, yang tidak berdaya dan terancam, pasti dia tidak akan mau tunduk begitu saja. Dia akan mengamuk dan mencari jalan untuk meloloskan diri. Akan tetapi demi keselamatan Sulastri, dia harus mengalah dan menahan kemarahannya. "Nyi Maya Dewi, sebetulnya apa yang kalian kehendaki dari kami?"

"Tidak banyak. pertama-tama, kalau engkau menghendaki kami menyadarkan gadis ini, engkau harus menceritakan kepada kami segala hal tentang keadaan Mataram, kekuatan pasukan, dan rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia."

Pikiran Aji bekerja dengan cepat. Dia sesungguhnya sama sekali tidak tahu bagaimana dan berapa kekuatan pasukan Mataram, juga dia sama sekali tidak tahu rencana penyerangan Mataram yang kedua kalinya ke Batavia. Tugasnya hanyalah membantu Mataram dalam perjalanannya ke Galuh dan Banten, membantu pihak-pihak yang mendukung Mataram dan menentang pihak-pihak yang membantu Kumpeni. Akan tetapi pikirannya bekerja dengan cepat dan dia segera berkata.

"Nyi Maya Dewi, aku tidak begitu bodoh untuk dapat kalian tipu begitu saja. Memang aku sebagai pembantu Sultan Agung mengetahui benar akan keadaan kekuatan pasukan Mataram. Adapun tentang rencana penyerangan Mataram ke Jayakarta, Sulastri lebih mengetahuinya karena ia bertugas sebagai penghubung para kadipaten di sepanjang pantai utara dengan pasukan Mataram. Akan tetapi kami berdua tentu saja tidak akan mau menceritakan kepada kalian sebelum kami yakin bahwa kalian tidak akan membunuh kami dan akan membebaskan kami setelah kami bercerita."

Aji memandang wajah Nyi Maya Dewi dengan penuh perhatian dan diapun melihat betapa wanita itu tampak tertarik sekali dan mencoba untuk menyembunyikan kegembiraan hatinya mendengar pengakuan Aji bahwa Aji dan Sulastri ternyata akan dapat menceritakan rahasia kekuatan dan rencana penyerbuan Mataram. Sungguh merupakan penemuan yang penting sekali! Kini yakinlah hati Aji bahwa untuk sementara keselamatan Sulastri pasti terjamin. Nyi Maya Dewi pasti tidak akan membiarkan gadis itu terganggu atau terbunuh karena gadis itu dapat menceritakan tentang rencana penyerbuan Mataram ke Batavia. Para pimpinan Kumpeni Belanda tentu akan senang sekali mendengar ini!

"Lindu Aji, akupun tidak begitu bodoh untuk membebaskan kalian begitu saja sebelum engkau dan gadis ini menceritakan segalanya di depan Kapten De Vos."

"Kapten De Vos?" Aji mengulang nama asing itu. "Dia atasanku. Baiklah, aku akan menyadarkan Sulastri ini. Akan tetapi ia akan tetap kami sandera dan kami jaga. Kalau engkau membuat ulah mencurigakan, kami tidak segan-segan membunuhnya. Mundurlah Paman Somad dan Paman Harya, harap andika berdua menjaga pemuda itu, jangan memberikan kesempatan kepadanya untuk melawan!"

"Nyi Maya Dewi, aku sudah berjanji untuk menyerah. Pula, aku tidak membawa senjata lagi, sedangkan Sulastri berada dalam keadaan tak berdaya. Kenapa engkau masih takut?" kata Aji, setengah mengejek.

"Mundur kau, orang muda!" Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad menodongkan senjata mereka menyuruh Aji menjauhi Sulastri. Aji mundur sampai agak jauh. Nyi Maya Dewi mengambil pedang Naga Wilis milik Sulastri dan mengambil pula sarungnya dari punggung gadis itu, lalu memakai pedang dan sarungnya di punggungnya sendiri. Sedangkan keris Nogowelang ia selipkan di ikat pinggang. Kemudian ia mengeluarkan sebatang jarum yang dibungkus kain kuning, lalu menusukkan jarum itu di kedua pundak Sulastri yang masih pingsan.

Aji mengira bahwa tusukan jarum pembius yang membuat Sulastri pingsan. Akan tetapi, dia melihat Nyi Maya Dewi berpaling kepadanya dan tersenyum. Senyum yang amat manis penuh ejekan. "Nah, Lindu Aji, kalau engkau membuat banyak ulah, nyawa Sulastri tidak akan tertolong lagi."

"Nyi Maya dewi! Apa yang kau lakukan kepadanya?" aji membentak dan dia sudah mengepal kedua tangannya, siap menerjang.

"Eit-eit... tenang, Aji. Aku sudah memasukkan racun penghancur jantung dalam tubuh Sulastri. Racun itu akan menjalar perlahan-lahan dan ia tidak merasakan apa-apa. Akan tetapi, kalau lewat tiga bulan ia tidak mendapatkan obat penawarku, ia akan mati dan tidak ada seorangpun di dunia dapat menyelamatkan nyawanya. Karena itu, selama tiga bulan ini, engkau jangan membuat ulah atau gadis ini akan tewas dalam keadaan yang amat menderita dan mengerikan!"

"Kau... manusia kejam bergati iblis!" Aji memaki marah.

"Aku belum habis bicara. dengarkan baik-baik, Aji. Aku akan membuat Sulastri sadar, akan tetapi beritahu kepadanya bahwa racun penghancur jantung itu bukan saja akan membunuhnya dalam waktu tiga bulan, akan tetapi kalau ia berani mengerahkan tenaga saktinya, tenaganya itu akan mempercepat jalannya racun dan ia akan mati seketika! Karena itu, jangan kalian berdua coba-coba untuk memberontak."

Aji merasa tak berdaya sama sekali. Dia dan Sulastri sudah benar-benar terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang amat jahat dan kejam. Dia harus bersikap cerdik. Dia menekan perasaan marahnya dan berkata. "Baik, sadarkanlah ia dan kami tidak akan melakukan perlawanan."

"Nah, begitu baru namanya ujang kasep (anak tampan)!" Nyi Maya Dewi tersenyum memuji. Kemudian ia menoleh kepada Banuseta dan berkata. "Raden, keluarkan obat penawarnya."

"Akan tetapi, ia akan kau berikan kepadaku, bukan?" Tanya pemuda jangkung itu. rupanya dia sudah tergila-gila benar Silastri.

"Hushh, Raden! Lupakah engkau akan tugas kita? Kita harus dapat menahan keinginan nafsu sendiri dan mementingkan tugas. Gadis ini mempunyai rahasia yang teramat penting. Ia sama sekali tidak boleh diganggu, sebelum dihadapkan Kapten De Vos, sebelum menceritakan rahasia itu, mengerti?"

Raden Banuseta menghela napas panjang. Dia merasa menyesal sekali telah terlibat dengan urusan menjadi telik sandi membantu Kumpeni Belanda karena merasa tidak bebas dan harus menurut perintah. Akan tetapi diapun maklum bahwa berkhianat merupakan bahaya maut. Pihak Kumpeni Belanda memiliki banyak antek yang berbahaya. baru Nyi Maya Dewi ini saja sudah amat berbahaya. Dia lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau. Dibukanya tutup botol itu dan botol itu dia dekatkan lubang hidung Sulastri sehingga dengan sendirinya isi botol tersedot ketika gadis itu bernapas.

Aji memandang penuh perhatian, bersiap siaga. Kalau sampai Sulastri tewas atau terancam kehormatannya, dia pasti akan mengamuk dan mengadu nyawa! Dia melihat Sulastri menggerakkan kedua tangannya, kemudian berbangkis tiga kali, membuka matanya. Agaknya begitu membuka mata, gadis itu menyadari keadaannya dan ia sudah melompat dengan cepat sekali, siap untuk berkelahi! Melihat ini, Nyi Maya Dewi dan Raden Banuseta cepat melangkah mundur, menjauhinya. Melihat Sulastri bersiap hendak menyerang, Aji cepat melompat mendekati.

"Lastri, jangan....!" Dia memegang lengan gadis itu. Sulastri memandang Aji dengan alis berkerut, matanya mencorong memandang ke arah empat orang lawan yang kini sudah berdiri berjajar itu. Hatinya lega melihat Aji dalam keadaan selamat. Ia tidak ingat lagi apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang diingat hanyalah bahwa ia dan Aji menghadapi empat orang lawan yang tangguh.

"Mas Aji, apa maksudmu mencegah aku? Mari kita hajar mereka. Eh, mana pedangku?"

"Hi-hi-hik! Pedangmu dan keris Aji sudah berada di tanganku, Sulastri!" kata Maya Dewi mengejek.

"Mas Aji, mari kita gempur mereka. Dengan tangan kosong aku masih sanggup untuk menjebol dada nenek genit itu!" Sulastri berseru marah.

Terdengar Nyi Mya Dewi tertawa terkekeh-kekeh dan Aji teringat ancaman wanita itu tadi. Maka dia cepat berkata, "Jangan Lastri, jangan melawan dan jangan mencoba untuk mengerahkan tenaga saktimu."

"Kenapa?" Sulastri bertanya penasaran dan ia mencoba untuk mengerahkan tenaga saktinya. Akan tetapi segera ia mengeluh kesakitan dan mukanya berubah pucat, bibirnya sitarik menahan rasa nyeri yang menusuk jantungnya sehingga tangan kirinya bergerak menekan dada kirinya. Kembali terdengar suara Nyi Maya Dewi tertawa terkekeh. Aji memegang lengan Sulastri dan menekannya agak kuat.

"Lastri, dengar baik-baik! Kita sudah tertawan, tidak berdaya. mereka telah memberimu racun penghancur jantung. Kalau kau kerahkan tenaga saktimu, engkau akan tewas. Engkau akan bertahan selama tiga bulan maka jangan melawan. Sulastri memandang kepada empat orang itu dengan mata mencorong penuh kemarahan.

"Akan tetapi apa yang mereka kehendaki dari kita?"

"Rahasia kita, Lastri. Engkau tahu akan rencana penyerangan Mataram kepada Kumpeni belanda dan aku tahu akan keadaan kekuatan pasukan Mataram."

Diam-diam Aji memberi isyarat dengan tekanan-tekanan pada lengan gadis itu yang masih dipegangnya. Tentu saja Sulastri merasa heran mendengar ucapan itu karena sesungguhnya ia sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana penyerangan Mataram. Akan tetapi ia adalah seorang gadis yang cerdik. Tekanan-tekanan pada lengannya itu membuat ia mengerti bahwa itu merupakan isyarat.

"Hemm, kalau begitu mengapa?" bersikap pura-pura memang menyimpan rahasia itu!

"Mereka ingin agar kita mengaku tentang rahasia itu. Akan tetapi kita tidak boleh bodoh. Kita tidak akan mengaku sebelum mereka memberimu obat penawar racun, dan sebelum mereka membebaskan kita. Rahasia itu harus ditukar dengan pembebasan kita."

"Begitukah?" Sulastri memandang kepada Nyi Maya Dewi dengan mulut tersenyum mengejek dan mata menantang. "Hei, nenek genit. Aku Sulastri bukan orang yang takut mati! Kalau engkau tidak memberi obat penawar dan membebaskan kami, aku tidak sudi membuka rahasia itu. Biar aku mati, akan tetapi Batavia pasti akan hancur diserang mataram dan engkau, nenek genit pengkhianat bangsa ini, akan ditangkap dan dihukum gantung kaki di atas kepala di bawah, dihukum picis, setiap orang lewat akan diharuskan mengerat kulit daging lalu mengoleskan asam dan garam pada lukanya!"

Ancaman Sulastri itu mengerikan sekali. Hukum picis yang dimaksudkan merupakan hukuman yang paling sadis dan mengerikan. Terhukum akan diikat di tepi jalan perempatan dan di situ disediakan pisau, garam dan asam. setiap orang lewat diharuskan menggunakan pisau untuk menoreh tubuh si terhukum sampai terluka berdarah, kemudian mengoleskan asam dan garam pada luka itu. Dapat dibayangkan betapa tersiksanya si terhukum dan dia akan menderita hebat dan mati sedikit demi sedikit! Bergidik juga Maya Dewi membayangkan hukuman seperti itu. Akan tetapi ia menutupi kengeriannya dengan senyum mengejek.

"Jangan khawatir, neng geulis (nona cantik), asal engkau dan Aji tidak banyak tingkah dan di depan Kumpeni mau membuka semua rahasia itu, kalian berdua pasti akan dibebaskan dan aku akan memberi obat penawar untukmu."

Rombongan itu lalu membawa kereta yang tadinya mereka sembunyikan dalam hutan itu. mereka memang sudah mempersiapkan segalanya. Kuda milik Aji lalu dipasang di depan kereta, menambah dua ekor kuda yang sudah ada. Kereta itu cukup besar. Raden Banuseta menjadi kusirnya. Aji dan Sulastri duduk di dalam dijaga oleh Ki Harya Baka Wulung , Aki Somad dan Nyi Maya Dewi sendiri. Nyi Maya Dewi sudah merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak akan membuat ulah karena keadaan Sulastri membuat mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berani memberontak.

Sementara itu, diam-diam Aji dan Sulastri juga memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat membebaskan diri. Untuk sementara mereka merasa aman. Dengan adanya "Rahasia" tentang Mataram yang mereka miliki seperti disangka oleh para antek Kumpeni Belanda itu, mereka tidak akan diganggu. Bahaya maut yang mengancam nyawa Sulastri juga baru akan tiba tiga bulan kemudian dan sementara itu mereka akan mencari jalan dan melihat perkembangannya nanti.

Di sepanjang perjalanan itu, Aji dan Sulastri memperhatikan keadaan para penawan mereka. Dari sikap mereka, tahulah Aji bahwa yang menjadi pemimpin adalah Nyi Maya Dewi walaupun bukan wanita itu yang paling sakti di antara mereka. Juga dia dapat mengerti bahwa Ki Harya Baka Wulung mau menjadi antek Kumpeni karena rasa bencinya terhadap Mataram. Tentang Aki Somad, dari sikap dan pembicaraan mereka, dia tahu bahwa kakek ini adalah seorang yang mudah terpikat oleh rajabrana (kekayaan) dan kedudukan dan dia mau menghambakan diri kepada Kumpeni Belanda tentu karena ingin memperoleh harta benda dan kedudukan. Yang masih menjadi teka-teki baginya adalah pria berusia empat puluh bertubuh jangkung itu.

Dia tidak pernah mendengar namanya disebut, Nyi Maya Dewi hanya memanggilnya dengan sebuta Raden saja yang menyatakan bahwa orang itu tentu masih keturunan bangsawan. Karena orang itu duduk sebagai kusir di depan kereta, maka Aji tidak dapat menilai lebih lanjut. Akan tetapi dia mencatat bahwa pria itu mempunyai niat kotor terhadap diri Sulastri. Pria itu agaknya tergila-gila kepada Sulastri dan kalau diberi kesempatan, tentu Sulastri berada dalam bahaya, Untunglah bahwa Nyi Maya Dewi menganggap Sulastri menyimpan rahasia yang amat penting sehingga untuk sementara Sulastri aman dari gangguan pria berpakaian mewah itu.

Setelah rombongan tiba di sungai Serayu, ternyata di situ telah siap anak buah Nyi Maya Dewi dengan sebuah perahu besar untuk menyeberangkan semua penumpang berikut kuda dan kereta. Akan tetapi Nyi Maya Dewi berkata kepada lima orang anak buahnya yang berada di situ. "Kami tidak akan menyeberang, kami akan melakukan perjalanan menuju Kadipaten Tegal di utara. Akan tetapi dua orang harap cepat memberi kabar ke Cirebon dan membawa suratku, kalian tahu ke mana suratku harus disampaikan!"

Aji hanya melihat betapa wanita itu menyerahkan surat kepada dua orang anak buahnya. Kemudian perjalanan kereta itu menuju ke utara. Dan di sepanjang pejalanan, kalau malam tiba, di setiap tempat ada saja anak buah Nyi maya Dewi yang menyambut dan memberi tempat penginapan yang pantas untuk mereka. Juga hidangan yang disuguhkan cukup mewah, setidaknya pasti ada yang menyembelih ayam. Perjalanan itu berjalan dengan lancar dan lima hari kenudian barulah kereta mereka memasuki Kadipaten Tegal.

Aji dan Sulastri merasa heran sekali ketika kereta itu memasuki kadipaten dengan aman. Agaknya para penjaga di kadipaten itu mengenal baik Nyi Maya Dewi! Agaknya tidak ada seorangpun yang curiga dan menduga bahwa wanita cantik itu sebetulnya adalah seorang telik sandi, seorang antek Kumpeni Belanda! Pada hal Aji pernah mendengar dari Senopati Suroantani bahwa Tumenggung Tegal dan juga Adipati di Cirebon sudah setuju untuk dijadikan lumbung beras bagi keperluan ransum balatentara Mataram kalau nanti menyerbu Batavia untuk kedua kalinya.

Dengan demikian berarti bahwa Tumenggung Tegal bersedia membantu Mataram. Akan tetapi kenyataannya kini, seorang telik sandi penting dari Kumpeni Belanda dapat masuk dan bergerak dengan leluasa di Tegal! Bahkan rombongan ini diterima oleh seorang laki-laki tinggi besar yang dari sikap dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang penting. Rumahnya besar dan rombongan itu disambut dengan hormat dan diadakan pesta. Aji dan Sulastri tidak diperkenalkan, akan tetapi mereka mendengar orang tinggi besar berusia sekita empat puluh tahun itu disebut Ki Warga. Rumah itu besar dan megah, tanda bahwa penghuninya orang yang kaya.

Aji dan Sulastri diberi masing-masing sebuah kamar dan dua orang tawanan ini dibiarkan berada dalam keadaan bebas, seperti tamu, namun mereka maklum bahwa mereka dijaga oleh sekelompok orang dengan ketat. Pula, mereka sama sekali tidak berani meloloskan diri karena keselamatan nyawa Sulastri terancam. Hal ini yang membuat mereka merasa tak berdaya dan terpaksa harus menyerah. Mereka bermalam di rumah orang bernama Warga ini sampai tiga hari. Aji tidak tahu apa yang mereka lakukan atau rencanakan.

Mereka berdua dapat saling bertemu karena mereka diberi kebebasan keluar dari kamar. Akan tetapi mereka tidak dapat saling bicara empat mata karena selalu ada saja penjaga yang mengamati dari dekat. Mereka hanya bicara seperlunya saja dan Aji hanya dapat menanyakan bagaimana keadaan Lastri. Sulastri selalu menggeleng kepala dan menghela napas panjang kalau ditanya tentang kesehatannya dan menjawab singkat, "Masih belum ada perubahan." Jawaban ini cukup bagi Aji.

Berarti gadis itu masih merasakan akibat keracunan itu dan kalau mengerahkan tenaga saktinya merasa dalam dadanya nyeri. Selama gadis itu masih menderita karena keracunan, mereka berdua tidak berdaya dan tidak berani meloloskan diri karena hal itu berarti ancaman bahay maut bagi Sulastri. Tentu saja selama menjadi tawanan itu, Aji tiada hentinya mencari kesempatan. Dia sendiri belum tahu kesempatan bagaimana yang dapat dia manfaatkan untuk keselamatan mereka berdua karena dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan dalam keadaan Sulastri keracunan seperti itu.

Dia merasa benar-benar tidak berdaya. Akan tetapi dia tidak pernah putus asa dan selalu waspada mencari jalan keluar untuk menanggulangi ancaman yang membayangi dia dan Sulastri. Beberapa kali Sulastri hampir tak dapat menahan kesabarannya dan gadis itu ingin mengamuk saja tanpa memperdulikan keselamatannya. Akan tetapi selalu Aji, dengan isyarat gerakan dan pandang matanya, dapat menyabarkannya.

"Selama kita masih hidup, selalu masih ada harapan." demikain dia berkata pada suatu kesempatan tanpa terdengar oleh para penjaga yang mengamati mereka. Sulastri cemberut, akan tetapi mengangguk tanda bahwa ia mematuhi ucapan pemuda itu. Malam itu udara dingin sekali. Aji duduk bersila dalam kamarnya. Dia maklum bahwa di luar kamarnya terdapat dua orang yang bertugas mengawasinya. Nanti lewat tengah malam, dua orang penjaga itu akan diganti dua orang lain.

Demikian yang dia ketahui pada malam-malam yang lalu. Dia sudah mengambil keputusan tetap. Malam itu adalah malam terakhir dia dan Sulastri berada di rumah itu. Siang tadi Nyi Maya Dewi sudah memberitahukan kepadanya bahwa besok pagi-pagi mereka akan melanjutkan perjalanan, entah kemana wanita itu tidak mau memberi tahu. Maka, malam ini dia harus dapat melakukan penyelidikan ke mana mereka akan dibawa pergi dan menyelidiki rahasia lain yang ada hubungannya dengan keselamatan Sulastri.

Dia ingin mengetahui di mana Nyi Maya Dewi menyimpan obat penawar racun yang mempengaruhi tubuh Sulastri. Setelah keadaan di rumah itu sunyi, tanda bahwa semua penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing, Aji perlahan-lahan membuka daun pintu kamarnya. Sedikit gerakan ini cukup membuat dua orang penjaga itu menengok lalu menhampiri.

"Andika hendak pergi ke mana?" Tanya mereka dan kedua orang itu berdiri di kanan kiri Aji.

"Aku melihat di sana itu yang berkilauan itu apakah?" Dia menuding ke depan. Dua orang penjaga itu tentu saja menoleh dan memandang ke arah yang ditunjuk Aji.

Pada saat itu, kedua tangan Aji bergerak cepat, menyambar ke arah tengkuk mereka dengan tangan miring. Tanpa dapat mengeluarkan keluhan, dua orang itu terkulai dalam keadaan pingsan. Aji menyambar tubuh mereka dengan kedua tangannya, mencegah mereka roboh, lalu membawa mereka ke tempat mereka berjaga tadi. Dia mendudukkan mereka di atas bangku yang tadi mereka duduki, menyandarkan tubuh itu ke dinding.

Setelah itu dia menutupkan daun pintu kamarnya dan berindap-indap dia menuju ke kamar besar di bagian kiri. Dia tahu bahwa kamar itu adalah kamar Nyi Maya Dewi, sedangkan kamar Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad dan laki-laki jangkung berada di bagian kanan. Dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, tubuh Aji bergerak seperti angin, cepat dan ringan dan tak lama kemudian dia sudah melakukan pengintaian di luar jendela kamar yang didiami Nyi Maya Dewi. Jantungnya berdebar tegang dan girang ketika dia melihat bayangan dua orang duduk di atas pembaringan dalam keadaan saling berpelukan mesra. Mereka itu bukan lain adalah Nyi Maya Dewi dan pria jangkung itu!

Aji merasa rikuh dan malu menyaksikan penglihatan itu, maka dia mengalihkan pandangan dan menempelkan telinganya pada jendela untuk dapat menangkap pembicaraan mereka sebaiknya. "Maya, sampai kapan engkau akan menggodaku seperti ini? Engkau selalu menahan-nahan dan menghalangi aku memiliki gadis itu. Maya, apakah ini berarti bahwa engkau cemburu dan tidak rela kalau aku menggauli gadis itu?" terdengar suara pria itu dengan nada menyesal dan menegur.

"Cemburu? Ah, sama sekali tidak, Raden, di antara kita sudah terdapat janji bahwa kita tidak akan saling mengikat, tidak ada cemburu dan kita boleh bercinta dengan siapa saja tanpa yang lain mencegahnya. Bersabarlah, Raden. Kita membutuhkan gadis itu, Kalau ia kuserahkan padamu sekarang, kemudian ia tidak mau membuka rahasia penyerangan Mataram itu, bukankah kita yang menderita rugi? Sabarlah. Kalau ia sudah membuka rahasia itu, pasti ia akan kuserahkan padamu."

"Bagaimana engkau dapat memastikan hal itu akan dapat terjadi, Maya?"

"Jangan khawatir, Raden. Bukankah obat penawar itu selalu ada padaku? Obat penawar itu adalah nyawa Sulastri! Selama obat penawar itu ada padaku, selama tiga bulan sejak dara itu keracunan, ia sepenuhnya berada di tanganku."

"Kalau begitu, berikan obat penawar itu kepadaku, Maya sayang? Setelah ia membuka rahasia, obat penawar itu akan dapat kupergunakan untuk membujuk dan mengancamnya agar ia suka menyerahkan diri dengan suka rela kepadaku. Aku tidak ingin mendapatkan ia secara paksa. Aku ingin ia menyerah dengan suka rela."

"Bodoh amat engkau, Raden. memang gadis itu cukup sakti dan kebal terhadap pengaruh sihir dan aji pengasihan, akan tetapi bukankah engkau memiliki racun perangsang yang amat ampuh? Kalau kau menggunakan racun itu, tentu ia akan jatuh."

"Aa, akan tetapi aku tidak suka karena ia hanya akan patuh seperti boneka hidup. Tidak, aku menghendaki ia menyerahkan diri karena ingin menyelamatkan nyawanya. Karena itu, berikanlah obat penawar itu padaku. Biar aku yang menyimpannya. Dengan obat itu padaku, aku akan merasa yakin dan dapat bersabar menanti."

"Hi-hi-hik, dasar mata keranjang engkau! Tiada pernah puasnya!" terdengar suara nyi Maya Dewi menggoda.

"Sama dengan engkau, Maya. Sudahlah, serahkan padaku. Akupun selalu membantumu kalau engkau menginginkan seorang pria, bukan? Ketika di Sumedang dulu, siapa yang membantumu sehingga engkau berhasil mendapatkan keponakan adipati yang tampan seperti Arjuna itu?"

"Baiklah, baiklah...! Akan tetapi malam ini engkau harus dapat menyenangkan hatiku!"

"Jangan khawatir, manis!" Terdengar suara cekikikan tawa dan senda gurau. Aji tidak mau mendengarkan lagi. Apa yang didengarnya sudah cukup baginya. Dia tahu bahwa mulai malam ini, obat penawar untuk menyembuhkan Sulastri berada di tangan pria bangsawan itu! Dia tahu sekarang ke mana harus mencari obat untuk menyelamatkan Sulastri dan dia hanya tinggal menanti kesempatan baik saja untuk dapat menangkap dan memaksa pria itu menyerahkan obat penawar. Dia akan mencari kesempatan terbaik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aji dan Sulastri sudah diajak keluar dari rumah besar milik Ki Warga itu. Yang mengawal mereka adalah Nyi Maya Dewi, Banuseta, Ki Harya Baka Wulung, dan Aki Somad. Selain empat orang sakti ini, masih ada Ki Warga. Tokoh ini sesungguhnya adalah seorang yang penting. Ki Warga ini merupakan orang yang memiliki hubungan dekat dengan Kumpeni Belanda. Bahkan dia dipergunakan Belanda untuk menjadi pimpinan semua telik sandi yang bergerak di sepanjang pantai Laut Utara.

Di samping itu, Ki Warga juga menjadi orang kepercayaan Kadipaten Tegal. Memang tidak dapat disangkal lagi bahwa Belanda amat pandai bersiasat. Tidak saja melakukan gerakan memecah belah persatuan dengan cara mengadu domba, akan tetapi juga pandai mempengaruhi para pejabat daerah dengan menggunakan pengaruh harta benda dan janji-janji kedudukan. Banyak kadipaten yang dapat dipengaruhi Kumpeni, sehingga walaupun pada lahirnya mereka takut dan menakluk kepada kekuasaan Mataram, namun diam-diam mereka mengadakan hubungan baik dengan Kumpeni Belanda dan mengadakan hubungan dagang yang dianggap menguntungkan.

Sesungguhnya, tidak adanya persatuan yang bulat di seluruh Nusantara dalam menghadapi Kumpeni Belanda inilah yang membuat semua usaha untuk menentang Kumpeni selalu gagal. Bahkan oleh sebab ini pula maka penyerangan besar-besaran pasukan Mataram ke Batavia telah mengalami kegagalan.

Aji dan Sulastri bersama empat orang pengawal mereka naik kereta seperti ketika mereka memasuki Tegal. Ki Warga sendiri menunggang kuda, malah dia mendahului kereta. Ternyata kedua orang tawanan itu dibawa kepantai dan dengan sebuah perahu mereka dibawa ke sebuah kapal yang berlabuh tak jauh dari pantai. Pantai itu terlalu dangkal bagi kapal itu sehingga tidak dapat berlabuh dekat daratan. Aji dan Sulastri dibawa naik ke atas kapal itu.

Diam-diam mereka memperhatikan keadaan kapal. Walaupun sikap mereka tenang saja, namun sebenarnya mereka merasa tegang dan memperhatikan keadaan dengan penuh selidik. Mereka melihat sebuah kapal yang besar dan dilengkapi dengan beberapa buah meriam besar. Di atas kapal terdapat belasan orang, hampir dua puluh banyaknya, semua adalah orang-orang kulit putih yang bertubuh tinggi besar, bermuka kemerahan dan rambut meraka tidak hitam, melainkan ada yang coklat, kemerahan dan kuning keemasan!

Sulastri sudah sering melihat orang kulit putih di Indramayu atau Dermayu, maka iapun tidak merasa heran. Akan tetapi Aji belum penah melihat orang Belanda, maka diam-diam dia memperhatikan dan merasa terheran-heran. Keadaan orang-orang tinggi besar itu mengingatkan dia akan tokoh-tokoh wayang, yaitu golongan buto (raksasa). Jadi inilah bangsa yang merupakan ancaman bahaya bagi nusa dan bangsanya. Diapun melihat bahwa mereka semua membawa senjata bedil.

Pernah dia mendengar cerita tentang bedil yang dapat menyemburkan api dan peluru, yang dapat membinasakan lawan dalam jarak jauh dan merupakan senjata yang amat berbahaya. Aji tahu bahwa dia harus berhati-hati sekali terhadap orang-orang bule ini. Mereka tampak kuat dan juga sinar mata mereka kejam. Ketika orang itu memandang ke arah Sulastri, tampak sekali gairah dalam pandang mata mereka dan mereka menyeringai secara kurang ajar. Akan tetapi ketika seorang Belanda setengah tua keluar dari bilik kapal itu, belasan orang itu berdiri tegak dalam keadaan siap.

Orang belanda setengah tua itu menyambut rombongan yang baru naik kapal dengan senyum ramah. Dari sikap ketika dia menjabat tangan Nyi Maya Dewi, tampak bahwa di antara mereka terdapat hubungan yang akrab. Orang itu berusia sekitar lima puluh tahun, berkumis dan berwajah tampan, tubuhnya tinggi kurus dan pakaiannya mewah dan gagah. Di pinggangnya tergantung sebuah senjata pistol. Inilah Kapten De Vos yang mejadi bos dari Nyi Maya Dewi. Kapten de Vos ini merupakan seorang perwira yang bertugas sebagai penyelidik dan amat dipercaya oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen di Batavia!

Bersama seorang perwira Belanda lainnya yang terkenal dengan sebutan Jakuwes (nama aslinya Jacques Levebre), De Vos inilah yang mengatur jaringan mata-mata kumpeni Belanda yang disebar di seluruh Nusantara! "Hallo, Nyi Maya Dewi yang manis, apa kabar? Kami mendengar kamu membawa tawanan yang amat penting bagi kami. Benarkah? Dan siapakah mereka semua ini?" Tanya De Vos setelah menjabat tangan wanita itu dengan hangat.

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan senyumnya yang manis, Maya Dewi memperkenalkan teman-temannya, setelah memberi isarat kepada Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad untuk melangkah maju. "ini adalah Ki Harya Baka Wulung dari Madura, tuan kapten. Dan yang ini adalah Aki Somad dari Nusa Kambangan. Mereka adalah pembantu-pembantu yang setia dan dapat diandalkan, sakti dan tangguh." Kemudian dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya ia melanjutkan sambil menunjuk kepada Ki Warga dan Raden Banuseta. "Dua orang ini tentu sudah tuan kenal dengan baik."

Kapten De Vos menyalami empat orang itu dan berkata. "Ya, ya, kami kenal baik mereka ini. Dan mana tawanan itu?" "Inilah mereka, tuan." kata Nyi Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Aji dan Sulastri.

Sepasang mata yang kebiruan itu memandang kepada dua orang muda itu dengan penuh selidik dan Kapten De Vos tampak terheran-heran. "Mereka ini orang-orang penting Mataram? Geweldig (hebat)! Begini muda, dan yang perempuan ini begini cantik, sudah jadi orang penting Mataram?"

Wanita cantik itu tersenyum dengan genitnya. "Nah, Tuan Kapten De Vos, jangan pandang rendah mereka ini! Biarpun mereka ini masih muda, akan tetapi mereka adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi dan berbahaya sekali!"

"Is dat zo (Begitukah)?" Kapten De Vos melihat ke atas. Dua ekor burung camar laut terbang di atas kapal itu. Cepat dia mengambil senapan yang dipegang oleh seorang anak buah yang berdiri di dekatnya. Dengan gerakan cepat sekali dia mengokang bedil itu, membidik dan ketika dia menarik pelatuknya, dua kali terdengar letusan. Api dan peluru menyambar keluar dari moncong bedil dan dua ekor burung berbulu putih itu jatuh ke atas dek kapal. Mati seketika. Aji dan Sulastri melihat semua ini dan diam-diam mereka terkejut. Apa yang mereka dengar tentang kehebatan senjata api itu kini mereka lihat sendiri. "Ha-ha-ha. Mereka ini sakti? Apakah mereka dapat terbang lebih cepat dari pada dua ekor burung itu?" Dia menuding ke arah bangkai dua ekor burung dan melemparkan kembali senapan itu kepada anak buahnya.

Ki Warga, Maya Dewi dan Banuseta tidak heran menyaksikan keahlian menembak itu. mereka sudah mengenal Kapten De Vos yang terkenal jago tembak. Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad juga merasa kagum. Orang Belanda ini cukup berbahaya, pikir mereka. Nyi Maya Dewi yang pandai mengambil hati orang, bertepuk tangan memuji.

"Hebat, tuan kapten, kepandaian tuan mempergunakan senjata api memang hebat sekali. Akan tetapi tuan harus berhati-hati terhadap mereka."

"Goed, goed (baik, baik). mari kita duduk di dalam dan bicara!" ajak Kapten De Vos sambil mengangguk-angguk.

Mereka semua lalu memasuki ruangan kapal di mana terdapat sebuah meja besar dengan banyak kursi disekelilingnya. Aji dan Sulastri dipersilahkan duduk di atas kursi, berhadapan dengan Kapten De Vos. Maya Dewi duduk di samping kiri Kapten Belanda itu dan Ki Warga yang sejak tadi diam saja duduk di sebelah kanannya. Tempat duduk ini saja sudah menunjukkan betapa kedudukan Ki Warga itu penting sekali dan dia dihargai oleh Kapten De Vos.

Aji duduk di depan kapten itu, Sulastri duduk disebelah kirinya. Mereka berdua diapit oleh Harya Baka Wulung dan Aki Somad, sedangkan Banuseta duduk di sebelah kanan Ki Warga. Jelaslah bahwa yang duduk di jajaran Kapten De Vos itu adalah orang-orang yang sudah dipercaya kapten Belanda itu, sedangkan Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad yang baru saja bertemu dengannya, merupakan pembantu-pembantu baru yang masih asing.

"Hemm, kalian berdua ini orang-orang penting Mataram, ya? Dan kamu berdua mau bekerja sama dengan kami dan mau menceritakan kekuatan dan rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia? Goed zo! Kamu berdua akan kami beri hadiah banyak. Lebih dulu, katakan siapa nama kamu berdua, he?"

"Namaku Aji dan ia itu Sulastri!" jawab Aji pendek.

"Pemuda ini bernama Lindu Aji dan dikenal sebagai Alap-alap Laut Kidul, tuan kapten! Dia digdaya dan berbahaya sekali!" kata Ki Harya Baka Wulung menjelaskan.

"Ha-ha, apa bedanya alap-alap dengan dua ekor burung yang aku tembak tadi?" tanya Kapten De Vos mencemoohkan.

"Alap-alap merupakan burung liar dan ganas. Burung Camar yang tuan tembak jatuh tadi dapat menjadi mangsanya." Maya Dewi menerangkan

"Ha-ha-ha, biarpun pandai terbang, sekali senapan di tanganku meletus, seekor alap-alap ganaspun tentu akan jatuh dan mati! Nah, sekarang cepat ceritakan kepada kami tentang keadaan pasukan Mataram, berapa kekuatan mereka dan bagaimana persiapan pasukan mereka. Juga ceritakan bagaimana rencana siasat mereka untuk menyerang Batavia!" Sambil berkata demikian, sepasang mata biru itu mengamati wajah Lindu Aji dan Sulastri penuh selidik.

Sulastri yang merasa tidak berdaya karena tubuhnya telah terancam maut oleh racun itu, hanya melirik ke arah Aji. Ia tahu akan siasat yang dipergunakan pemuda itu, ialah bahwa pemuda itu membiarkan lawan-lawannya percaya bahwa Aji dan ia mengetahui rahasia itu, maka mereka tidak akan membunuh Aji dan ia. Karena ia tidak tahu bagaimana siasat Aji selanjutnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk bicara berdua, maka iapun hanya menyerahkannya kepada pemuda itu. Aji juga telah mempersiapkan diri. Sebelumnya dia memang sudah mengatur siasat. Dia memiliki modal kuat, yaitu kepercayaan orang-orang itu bahwa dia dan Sulastri benar-benar dapat memberi keterangan penting tentang gerakan pasukan Mataram yang ditakuti Kumpeni Balanda!

"Tuan," katanya, suaranya tegas dan tenang. "Urusan ini penting sekali bagi kami berdua. Menceritakan semua itu kepada Kumpeni, berarti kami berdua telah berkhianat dan hukuman untuk pengkhianat amat berat dan mengerikan."

Aa, kamu berdua takut? Jangan takut! Kalau kamu berdua bekerja sama dengan kami, maka kamu berdua akan dilindungi. Jangan takut kepada Sultan Agung. Kami memiliki meriam-meriam besar dan senjata-senjata api yang ampuh. Hayo, ceritakan saja dan kamu akan memperoleh hadiah dan juga perlindungan dari kami!" kata Kapten De Vos.

Aji menghela napas lalu menggeleng kepala. "Sungguh, tuan. Urusan ini amat penting dan gawat bagi kami berdua. Oleh karena itu, kami minta agar kami berdua diberi kesempatan untuk berunding dan memperbincangkan hal ini berdua saja. Ketahuilah, tuan. Ini merupakan keputusan hidup mati kami, karena itu harus kami rundingkan dengan matang lebih dulu." Alis yang berwarna kelabu itu berkerut dan sepasang mata biru mencorong marah.

"Kamu harus menceritakan sekarang juga!" bentaknya.

Namun dengan tenang dan tegas Aji menggeleng kepala. "Besok pagi, tuan."

"Sekarang! Atau, kami akan menembak kamu berdua!" Kapten De Vos menggertak sambil mencabut pistolnya dan menodongkan senjata itu ke arah Aji dan Sulastri yang duduk di depannya. Dia menatap wajah dua orang muda itu dan diam-diam merasa heran dan kagum. Dua orang muda yang ditodongnya itu sedikitpun tidak tampak takut, dan balas menatapnya dengan sinar mata berapi.

"Kami tidak takut mati, tuan. Kalau tuan membunuh kami berdua sekarang, pasukan Mataram yang besar sekali jumlahnya akan membalaskan kematian kami, menyerbu dan membakar habis Batavia, membunuh semua Kumpeni Belanda!" aji juga menggertak dan karena ucapannya itu mendatangkan kesan yang kuat.

Menghadapi sikap tenang Aji ini, Kapten De Vos meragu. Dia lalu menoleh ke kanan dan bertanya kepada Ki Warga, "Bagaimana pendapatmu, Warga?"

Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum. "Apakah tidak sebaiknya kalau dijadikan taruhan saja? Kalau tuan yang menang mereka harus memberi keterangan sekarang juga, akan tetapi kalau mereka menang terpaksa tuan harus bersabar sampai besok pagi."

"Akan tetapi, laporan dua orang penjaga semalam?" Tanya kapten itu.

"Ah, mereka mungkin hanya mimpi, tuan." kata Ki Warga sambil tertawa. "Mereka hanya melapor melihat Aji ini lalu tiba-tiba mereka tidak ingat apa-apa lagi. Kalau laporan mereka itu betul, tentu semalam telah terjadi sesuatu. Buktinya tidak terjadi apa-apa."

"Kalau begitu baiklah. Kita buat taruhan. Wacht even (tunggu sebentar), bukankah Maya Dewi tadi mengatakan bahwa pemuda ini digdaya dan tangguh? Bagus, kita adu dia melawan Hendrik De Haan, jagoan kita itu! Heh, Lindu Aji, sekarang begini saja baiknya! Dari pada kita bersitegang memperebutkan apakah kalian harus memberi keterangan sekarang ataukah besok pagi, maka kita adakan pertandingan untuk menentukan. Kalau kamu dapat mengalahkan jagoan kami dalam perkelahian tangan kosong, biarlah kami mengalah dan kamu boleh malam ini berunding dengan Sulastri ini dan besok pagi memberi keterangan kepada kami. Akan tetapi kalau kamu kalah melawan jagoan kami itu, kamu harus menceritakan keterangan tentang pasukan Mataram itu sekarang juga! Bagaimana, Aji, beranikah kamu berkelahi menandingi jagoan kami?"

Aji berpikir sejenak, lalu bertanya, "pertandingan tangan kosong tanpa menggunakan senjata api?"

"Natuurlijk (tentu saja)! Kami bukan orang curang. Pertandingan boksen (tinju), tanpa senjata, satu lawan satu. Nah, beranikah kamu?"

Aji saling lirik dengan Sulastri, lalu dia memandang Kapten De Vos dan berkata tegas, "Aku berani, tuan! Akan tetapi tuan jangan melanggar janji. Kalau aku keluar sebagai pemenang, aku diberi kesempatan bicara empat mata dengan Sulastri dan baru besok pagi kami memberi keterangan kepadamu."

"Bagus!" Kapten itu tampak gembira sekali dan dia lalu berseru kepada seorang anak buahnya. "panggil Hendrik De Haan ke sini!"

Tak lama kemudian muncullah kapten itu. Sulastri terbelalak memandang laki-laki yang melangkah datang seperti seekor gajah itu! Seorang bule berambut kecoklatan, usianya sekitar tiga puluh tahun dan segalanya pada diri laki-laki ini hanya dapat dinilai dengan satu kata 'besar'! Seorang raksasa yang tingginya satu setengah kali tinggi tubuh Aji. Kedua lengan yang memakai kaos pendek itu tampak besar dan kokoh kuat, dengan otot melingkar-lingkar. Dadanya bidang dan tebal, penuh bulu coklat kekuningan, lehernya seperti leher badak.

Diam-diam hati Sulastri merasa ngeri juga. Selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang laki-laki setinggi besar dan sekokoh ini. Orang-orang bule yang pernah dilihatnya tampak kecil dibandingkan raksasa ini. Tampaknya, dengan sekali pukul saja kepala Aji akan dapat pecah dan tulang-tulang tubuhnya dapat remuk! Kedua kakinya juga panjang dan besar penuh bulu, tampak mengerikan karena dia mengenakan celana pendek.


Alap Alap Laut Kidul Jilid 12

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 12

SEPERTI kita ketahui, Ki Harya Baka Wulung adalah seorang tokoh Madura yang mendendam terhadap Mataram. Bukan itu saja karena Mataram telah menundukkan seluruh Madura, akan tetapi terutama sekali karena putera tunggalnya yang amat disayangnya, yang bernama Dibyasakti, telah tewas dalam pertempuran melawan pasukan Mataram. Dia bersumpah untuk membalas dendam dengan memusuhi Mataram. Berbagai upaya dilakukan.

Setelah Madura jatuh dan kalah melawan Mataram, Ki Harya Baka Wulung mati-matian membantu Surabaya dan Giri melawan Mataram, bersama dua rekannya, yaitu Wiku Menak Koncar datuk dari Blambangan dan Kyai Sidhi Kawasa, datuk dari Banten. Usahanya ini gagal pula karena Surabaya dan Giri juga jatuh dan menakluk kepada Mataram. Semua kegagalan ini bahkan membuat kebencian dan dendam dalam hatinya terhadap Mataram semakin menjadi-jadi.

Dia tidak pernah putus asa dalam usahanya membalas dendam, kepada Sultan Agung pada khususnya. Dia sudah berusaha untuk membujuk Adipati Cakraningrat, yang dahulu bernama Prasena putera Adipati Tengah Arisbaya dan telah diangkat oleh Sultan Agung menjadi adipati seluruh Madura, untuk memberontak. Akan tetapi muridnya ini menolak dan tetap setia kepada Mataram.

Akhirnya Ki Harya Baka Wulung mengajak Wiku Menak Koncar dari Blambangan untuk membunuh Puteri Wandansari, puteri Sultan Agung yang menikah dengan Pangeran Pekik Adipati Surabaya, selain untuk membuat Sultan Agung berduka juga untuk membuat hubungan antara Mataram dan Surabaya menjadi renggang. Akan tetapi usaha ini bukan hanya gagal karena Puteri Wandansari dibantu Aji, bahkan Wiku Menak Koncar tewas di tangan Puteri Wandansari!

Semua kegagalan ini tidak membuat Ki Harya Baka Wulung mundur. Ketika dia bertemu dengan Aki Somad dan dibujuk untuk membantu Kumpeni Belanda, dia segera menerimanya dengan senang. Sama sekali bukan karena dia suka menjadi antek Belanda. Tidak, dia sendiri juga membenci bangsa Belanda. Akan tetapi karena dia melihat betapa Mataram bermusuhan dengan Kumpeni Belanda, maka dengan membantu Belanda dia mendapatkan kesempatan untuk membalas dendamnya kepada Mataram!

Dendam kebencian selalu merupakan racun yang merusak pertimbangan akal budi dan menghilangkan kebijaksanaan demi pelampiasan dendam kebencian, orang tidak segan-segan melakukan segala cara! Kini, menghadapi Aji yang dia tahu sebagai seorang yang setia kepada Mataram dan pernah membela Puteri Wandansari, Ki Harya Baka Wulung menjadi marah sekali. Tanpa memperdulikan lagi kehormatan diri seorang datuk besar yang biasanya merasa malu dan pantang melakukan pengeroyokan, apa lagi terhadap seorang pemuda, Ki harya Baka Wulung mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk merobohkan Aji.

Akan tetapi ternyata pemuda itu tidak mudah dikalahkan begitu saja. Gerakannya tangkas, ringan dan juga tenaga saktinya kuat sekali. Dengan Aji Bayu Sakti, gerakan Aji seperti angin saja, tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua orang pengeroyoknya yang sudah tua. Juga keris di tangannya adalah sebuah pusaka ampuh, ditambah lagi Aji Surya Candra yang terkandung dalam tenaganya membuat kedua orang kakek itu terkadang sampai terhuyung apabila terpaksa mengadu tenaga.

Dua orang kakek itu maklum bahwa percuma saja menggunakan kekuatan sihir mereka karena semua sihir itu tidak mempan terhadap pemuda luar biasa ini. Mereka mengandalkan pengeroyokan untuk mendesak Aji. Berulang-ulang tongkat ular kering di tangan Aki Somad dan keris besar di tangan Ki Harya Baka Wulung bertemu dengan keris pusaka Nagawelang di tangan Aji. Setiap kali beradu senjata, bunga api berpijar dan setelah beberapa kali bertemu keris, ujung tongkat ular kering di tangan Aki Somad patah!

Hal ini membuat pertapa dari Nusakambangan itu terkejut dan marah sekali. Akan tetapi dia tetap tidak mampu mendesak Aji yang memiliki pertahanan amat kuatnya. Pertandingan antara Aji dan dua orang kakek itu berlangsung seru dan mati-matian. Yang gawat keadaannya adalah Sulastri. Sesungguhnya bahwa dara yang berusia delapan belas tahun ini telah mendapatkan gemblengan hebat dari Ki Ageng Pasisiran selama delapan tahun dan telah menguasai aji kanuragan yang amat hebat. Akan tetapi, dalam usianya yang masih muda itu ia belum memiliki banyak pengalaman dan sekali ini ia berhadapan dengan dua orang lawan yang amat tangguh.

Kalau saja ia harus bertanding satu lawan satu dengan kedua orang pengeroyoknya itu, agaknya ia masih akan mampu menandingi mereka. Akan tetapi menghadapi pengeroyokan itu, setelah mengadakan perlawanan mati-matian, akhirnya ia mulai terdesak juga. Tingkat kepandaian Sulastri tak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaian Nyi Maya Dewi sehingga melawan wanita itu saja keadaannya berimbang.

Kini dikeroyok oleh seorang lawan yang juga amat tangguh, yang tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah mereka, tentu saja Sulastri menjadi kewalahan. Laki-laki tinggi kurus, tampan gagah berusia empat puluh tahun itu adalah seorang tokoh yang kini menjadi ketua Perguruan Dadali Sakti menggantikan guru atau ketua perguruan itu yang meninggal dunia karena usia tua. Dia bernama Raden Banuseta yang tinggal di Galuh.

Kita masih ingat bahwa Raden Banuseta ini bukan lain adalah orang yang dulu membunuh Harun Hambali dan Ujang Karim di dusun Gampingan dekat pantai Laut Kidul. Raden Banuseta adalah putera mendiang Aom Bahrudin, seorang menak (priyayi) di Galuh yang terbunuh oleh Harun Hambali karena dia merampas dan memperkosa isteri Harun sehingga wanita itu membunuh diri.

Harun membalas kematian isterinya itu dengan membunuh Aom Bahrudin sehingga dia terpaksa melarikan diri meninggalkan Galuh karena dikejar-kejar. Ketika hal itu terjadi, Raden Banuseta berusia kurang lebih dua puluh tahun. Raden Banuseta tentu saja mendendam kepada Harun Hambali. Dia memperdalam ilmu silatnya di Perguruan Dadali Sakti. Setelah menjadi seorang yang digdaya, mulailah dia pergi mencari pembunuh ayahnya. Akhirnya, setelah belasan tahun ayahnya terbunuh, dia dapat menemukan Harun Hambali di dusun Gampingan dan membunuhnya, bersama teman Harun yang bernama Ujang Karim. Sudah lama Raden Banuseta berkenalan, bahkan berhubungan sebagai kekasih gelap dengan Nyi Maya Dewi.

Karena itu, ketika wanita itu membujuknya untuk membantu Kumpeni Belanda, dia setuju dan diam-diam Raden Banuseta juga menjadi komplotan yang mendukung Kumpeni Belanda memusuhi Mataram. Ketika dia berkunjung ke Nusakambangan untuk bertemu dengan Nyi Maya Dewi dan Aki Somad, kebetulan Ki Harya Baka Wulung juga datang berkunjung. Mendengar akan kekalahan Aki Somad dan Nyi Maya Dewi yang membantu Gerombolan Gagak Rodra melawan Ki Sumali yang dibantu Aji dan Sulastri, maka mereka berempat lalu bersepakat untuk menuntut balas dan kebetulan sekali di tengah perjalanan mereka melihat Aji dan Sulastri yang sedang menuju ke barat. Di dalam hutan di lembah Sungai Serayu ini mereka lalu menghadang sehingga terjadilah pertempuran itu.

"Heeiiiitttt....!" Sulastri berseru dengan suara melengking nyaring. Pedangnya menjadi sinar hijau yang menyambar ke arah Raden Banuseta, meluncur ke arah leher pria itu. Raden Banuseta terkejut, maklum akan hebatnya serangan ini karena tadi beberapa kali dia sudah merasakan betapa kuatnya tenaga gadis itu ketika senjatanya bertemu pedang. Serangan itu demikian cepat sehingga tidak mungkin menghindarkan diri dengan elakan. maka terpaksa dia menyambut lagi dengan goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

"Tranggggg....!! Maya, cepat...!" Raden Banuseta yang menangkis pedang itu terpental dan terhuyung, akan tetapi selagi Sulastri mengejarnya dengan tusukan pedangnya, Nyi Maya Dewi dari belakang sudah menggerakkan sabuk cinde kencana. Sulastri dapat merasakan sambaran angin dari belakang itu. Ia membalikkan pedangnya, tidak jadi menusuk pria yang sudah terdesak itu, melainkan menggerakkan ke belakang untuk menangkis sabuk cinde kencana.

"Plakkk!" Ujung sabuk cinde yang lemas itu membelit pedang. sulastri mengerahkan tenaga dan hendak menarik pedangnya untuk membikin putus sabuk itu, akan tetapi pada saat itu Raden Banuseta sudah mengeluarkan sehelai kain berwarna merah dan sekali dia mengebutkan kain merah itu ke arah muka Sulastri, ada debu berwarna merah mengepul dan mengenai muka gadis itu. Sulastri yang tidak mengenal serangan ini, terkejut dan tanpa dapat dicegah lagi, ia telah menyedot debu merah ini ketika bernapas tiba-tiba pandang matanya menjadi gelap dan iapun terkulai roboh.

Raden Banuseta Melihat gadis itu sudah dapat ditawan, Nyi Maya Dewi membentak ke arah Aji yang masih bertanding melawan pengeroyokannya dua orang kakek sakti. "Lindu aji menyerahlah kalau tidak ingin melihat gadis ini kami bunuh di depan matamu!"

Aji melirik dan terkejut bukan main melihat Sulastri terkulai lemas dalam rangkulan laki-laki berpakaian mewah itu. Dia menjadi serba salah. Dia tahu bahwa wanita itu seorang yang amat kejam, seorang yang melatih diri dengan ilmu keji sehingga tega untuk membunuhi anak-anak dengan menyedot habis darah mereka. Tentu ancaman wanita itu bukan kosong belaka. Dia akan menyesal selama hidupnya kalau dia tidak menyerah kemudian mereka benar-benar membunuh Sulastri di depan matanya. Sedangkan kalau dia menyerah, walaupun dia belum tahu bagaimana nanti jadinya dengan dirinya dan Sulastri, setidaknya dia masih mempunyai harapan untuk kemudian berusaha membebaskan dan menyelamatkan Sulastri. Maka, diapun cepat melompat ke belakang dan berkata, "Aku menyerah. Jangan bunuh gadis itu!"

Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung menghentikan serangan mereka. Mereka lebih suka melihat pemuda itu menyerah karena mereka tadi merasa betapa sukarnya mengalahkan pemuda yang memiliki kepandaian hebat itu. "Aji, kalau engkau benar-benar menyerah, lemparkan kerismu ke sini!" perintah Nyi Maya Dewi.

Wanita ini bersikap sebagai pimpinan dan memang sesungguhnyalah, dalam hal bekerja untuk Kumpeni Belanda, wanita ini merupakan orang penting. Ia yang berhubungan langsung dengan para pembesar Kumpeni Belanda di Batavia, dan ia pula yang melaksanakan perintah Kumpeni dan menyampaikannya kepada para tokoh lain. Biarpun Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari Nyi Maya Dewi, akan tetapi dalam hal bekerja membantu Kumpeni, wanita itu menjadi atasan mereka!

Melihat keadaan Sulastri yang agaknya pingsan, terkulai dalam rangkulan laki-laki yang tidak dikenalnya itu, Aji terpaksa lalu berkata, "Nyi Maya Dewi, aku mau menyerah, akan tetapi janjilah dulu bahwa gadis itu tidak akan diganggu!"

Biarpun janji orang-orang yang telah menjadi antek Kumpeni Belanda ini sama sekali tidak boleh dipercaya, akan tetapi dalam keadaan tidak berdaya seperti itu, demi menyelamatkan Sulastri, Aji minta wanita itu berjanji. Aji lalu melemparkan kerisnya sambil mengerahkan tenaga dan keris itu meluncur cepat sekali menjadi sinar berkeredep menuju ke arah kaki wanita itu. Nyi Maya Dewi terkejut bukan main, tidak sempat mengelak. Keris meluncur terlalu cepat, bagaikan kilat menyambar.

"Celaka...!" Ia menjerit dan matanya terbelalak, mukanya pucat. "Sing... cappp...!!" Keris Kyai Nogowelang itu menancap di atas tanah sampai ke gagangnya, hanya beberapa senti di depan kaki Nyi Maya Dewi. Lontaran ini saja membuktikan bahwa kalau Aji menghendaki, keris itu tidak menancap di tanah, melainkan dapat menancap di tubuh wanita itu! Diam-diam perbuatan Aji ini mengandung peringatan kepada para antek Kumpeni Belanda itu agar mereka tidak main-main dengannya dan agar memegang janji tidak akan membunuh Sulastri!

Setelah Nyi Maya Dewi dapat menenangkan lagi hatinya yang tadi terguncang, ia membungkuk dan mencabut keris yang menancap di tanah itu. Ia mengamati keris itu lalu mendekati Ki Harya Baka Wulung. "Paman Harya, apakah andika mengenal pusaka ini?"

Ki Harya Baka Wulung menerima keris itu dari tangan Nyi Maya Dewi, mengamatinya lalu dia berseru sambil memandang kepada Aji. "Keris seperti ini merupakan pusaka Mataram, pasti milik Sultan Agung dan hanya diberikan kepada para senopatinya!"

"Kalau begitu dia seorang senopati Mataram! Tunggu apa lagi?" Aki Somad berseru dan dia sudah mengangkat tongkat ularnya. Juga Ki Harya Baka Wulung sudah mencabut lagi kerisnya. Agaknya dua orang kakek ini hendak menyerang Aji yang kini sudah tidak memegang senjata itu.

"Hemm. aku tahu bahwa kalian hanyalah pengecut-pengecut curang!" bentak Aji dan diapun sudah siap menghadapi dua orang lawan itu, walaupun dia tidak memegang senjata. Akan tetapi pada saat itu Nyi Maya Dewi sudah melompat ke depan dua orang kakek itu.

"Tahan! Paman berdua andika tidak boleh membunuh dia! Dia adalah senopati Mataram dan merupakan seorang tawanan yang teramat penting. Tuan Besar Jenderal tentu akan senang sekali mendapatkan tawanan ini dan merupakan jasa besar sekali kalau kita dapat menyerahkan dia hidup-hidup kepada Kumpeni."

Mendengar ucapan Nyi Maya Dewi itu, Aki Somad dan Ki Harya Baka Wulung menyimpan kembali senjata mereka. Mereka maklum bahwa dalam hal ini mereka harus menaati semua perintah Nyi Maya Dewi yang merupakan pemimpin mereka. Nyi Maya Dewi menjadi pemegang dinar emas yang ada gambarnya dua ekor singa sebagai tanda bahwa ia telah mendapatkan kepercayaan besar dari para pimpinan Kumpeni Belanda di Batavia.

"Nyi Maya Dewi, aku menyerah. karena itu kuharap engkau suka menyerahkan Sulastri kepadaku. Ia kelihatan pingsan, biarkan aku merawat dan menyadarkannya." kata Aji ketika melihat Sulastri masih terkulai dalam rangkulan laki-laki itu.

"Maya, jangan serahkan gadis ini kepadanya! Ia milikku, aku akan membawanya pergi dulu!" kata Banuseta sambil mengangkat tubuh Sulastri yang masih pingsan dan memondongnya.

Mendengar dan melihat ini, Aji terkejut bukan main. Dia merasa tertipu. Tadi Nyi Maya Dewi berjanji tidak akan membunuh Sulastri, akan tetapi orang laki-laki itu dapat melakukan bencana yang lebih hebat dari pada kematian bagi gadis itu! Dia lalu membentak dengan suaranya yang mengandung penuh getaran dan penuh wibawa karena dia mengerahkan tenaga saktinya. "Kalau Sulastri diganggu, aku bersumpah untuk melawan sampai mati dan akan membunuh kalian semua!" Aji bersiap melompat dan menerjang Banuseta.

Melihat ini, Nyi Maya Dewi lalu cepat berkata kepada kekasihnya itu. "Raden, lepaskan dulu gadis itu!"

"api, Maya..." Banuseta terkejut dan hendak membantah.

"Lepaskan kataku!"

Banuseta tidak berani membantah lagi dan dia melepaskan tubuh Sulastri sehingga tubuh yang masih lemas itu terkulai dan rebah miring di atas tanah. Aji tidak memperdulikan lagi kepada mereka. Dia cepat menghampiri Sulastri yang menggeletak miring dan memeriksa keadaannya. Gadis itu masih pingsan dan biarpun dia sudah memijit dan mengurut jalan darah di tengkuk dan kedua pundaknya, tetap saja gadis itu masih terus pungsan.

"Aji, ia pingsan oleh debu racun pembius. Tanpa obat penawar, ia tidak akan dapat siuman." kata Nyi Maya Dewi.

Aji mengerutkan alisnya. "Nyi Maya Dewi, sadarkan Sulastri!"

"Hemm, nanti dulu, orang muda. Engkau tidak berada dalam keadaan menuntut dan memerintah, melainkan harus menaati kami. Kalian berdua menjadi tawanan kami, ingat?"

Aji menahan kemarahannya. Memang wanita itu benar. Dalam keadaan seperti ini, dia terpaksa mengalah dan tuntuk. andaikata tidak ada Sulastri di situ, yang tidak berdaya dan terancam, pasti dia tidak akan mau tunduk begitu saja. Dia akan mengamuk dan mencari jalan untuk meloloskan diri. Akan tetapi demi keselamatan Sulastri, dia harus mengalah dan menahan kemarahannya. "Nyi Maya Dewi, sebetulnya apa yang kalian kehendaki dari kami?"

"Tidak banyak. pertama-tama, kalau engkau menghendaki kami menyadarkan gadis ini, engkau harus menceritakan kepada kami segala hal tentang keadaan Mataram, kekuatan pasukan, dan rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia."

Pikiran Aji bekerja dengan cepat. Dia sesungguhnya sama sekali tidak tahu bagaimana dan berapa kekuatan pasukan Mataram, juga dia sama sekali tidak tahu rencana penyerangan Mataram yang kedua kalinya ke Batavia. Tugasnya hanyalah membantu Mataram dalam perjalanannya ke Galuh dan Banten, membantu pihak-pihak yang mendukung Mataram dan menentang pihak-pihak yang membantu Kumpeni. Akan tetapi pikirannya bekerja dengan cepat dan dia segera berkata.

"Nyi Maya Dewi, aku tidak begitu bodoh untuk dapat kalian tipu begitu saja. Memang aku sebagai pembantu Sultan Agung mengetahui benar akan keadaan kekuatan pasukan Mataram. Adapun tentang rencana penyerangan Mataram ke Jayakarta, Sulastri lebih mengetahuinya karena ia bertugas sebagai penghubung para kadipaten di sepanjang pantai utara dengan pasukan Mataram. Akan tetapi kami berdua tentu saja tidak akan mau menceritakan kepada kalian sebelum kami yakin bahwa kalian tidak akan membunuh kami dan akan membebaskan kami setelah kami bercerita."

Aji memandang wajah Nyi Maya Dewi dengan penuh perhatian dan diapun melihat betapa wanita itu tampak tertarik sekali dan mencoba untuk menyembunyikan kegembiraan hatinya mendengar pengakuan Aji bahwa Aji dan Sulastri ternyata akan dapat menceritakan rahasia kekuatan dan rencana penyerbuan Mataram. Sungguh merupakan penemuan yang penting sekali! Kini yakinlah hati Aji bahwa untuk sementara keselamatan Sulastri pasti terjamin. Nyi Maya Dewi pasti tidak akan membiarkan gadis itu terganggu atau terbunuh karena gadis itu dapat menceritakan tentang rencana penyerbuan Mataram ke Batavia. Para pimpinan Kumpeni Belanda tentu akan senang sekali mendengar ini!

"Lindu Aji, akupun tidak begitu bodoh untuk membebaskan kalian begitu saja sebelum engkau dan gadis ini menceritakan segalanya di depan Kapten De Vos."

"Kapten De Vos?" Aji mengulang nama asing itu. "Dia atasanku. Baiklah, aku akan menyadarkan Sulastri ini. Akan tetapi ia akan tetap kami sandera dan kami jaga. Kalau engkau membuat ulah mencurigakan, kami tidak segan-segan membunuhnya. Mundurlah Paman Somad dan Paman Harya, harap andika berdua menjaga pemuda itu, jangan memberikan kesempatan kepadanya untuk melawan!"

"Nyi Maya Dewi, aku sudah berjanji untuk menyerah. Pula, aku tidak membawa senjata lagi, sedangkan Sulastri berada dalam keadaan tak berdaya. Kenapa engkau masih takut?" kata Aji, setengah mengejek.

"Mundur kau, orang muda!" Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad menodongkan senjata mereka menyuruh Aji menjauhi Sulastri. Aji mundur sampai agak jauh. Nyi Maya Dewi mengambil pedang Naga Wilis milik Sulastri dan mengambil pula sarungnya dari punggung gadis itu, lalu memakai pedang dan sarungnya di punggungnya sendiri. Sedangkan keris Nogowelang ia selipkan di ikat pinggang. Kemudian ia mengeluarkan sebatang jarum yang dibungkus kain kuning, lalu menusukkan jarum itu di kedua pundak Sulastri yang masih pingsan.

Aji mengira bahwa tusukan jarum pembius yang membuat Sulastri pingsan. Akan tetapi, dia melihat Nyi Maya Dewi berpaling kepadanya dan tersenyum. Senyum yang amat manis penuh ejekan. "Nah, Lindu Aji, kalau engkau membuat banyak ulah, nyawa Sulastri tidak akan tertolong lagi."

"Nyi Maya dewi! Apa yang kau lakukan kepadanya?" aji membentak dan dia sudah mengepal kedua tangannya, siap menerjang.

"Eit-eit... tenang, Aji. Aku sudah memasukkan racun penghancur jantung dalam tubuh Sulastri. Racun itu akan menjalar perlahan-lahan dan ia tidak merasakan apa-apa. Akan tetapi, kalau lewat tiga bulan ia tidak mendapatkan obat penawarku, ia akan mati dan tidak ada seorangpun di dunia dapat menyelamatkan nyawanya. Karena itu, selama tiga bulan ini, engkau jangan membuat ulah atau gadis ini akan tewas dalam keadaan yang amat menderita dan mengerikan!"

"Kau... manusia kejam bergati iblis!" Aji memaki marah.

"Aku belum habis bicara. dengarkan baik-baik, Aji. Aku akan membuat Sulastri sadar, akan tetapi beritahu kepadanya bahwa racun penghancur jantung itu bukan saja akan membunuhnya dalam waktu tiga bulan, akan tetapi kalau ia berani mengerahkan tenaga saktinya, tenaganya itu akan mempercepat jalannya racun dan ia akan mati seketika! Karena itu, jangan kalian berdua coba-coba untuk memberontak."

Aji merasa tak berdaya sama sekali. Dia dan Sulastri sudah benar-benar terjatuh ke dalam tangan orang-orang yang amat jahat dan kejam. Dia harus bersikap cerdik. Dia menekan perasaan marahnya dan berkata. "Baik, sadarkanlah ia dan kami tidak akan melakukan perlawanan."

"Nah, begitu baru namanya ujang kasep (anak tampan)!" Nyi Maya Dewi tersenyum memuji. Kemudian ia menoleh kepada Banuseta dan berkata. "Raden, keluarkan obat penawarnya."

"Akan tetapi, ia akan kau berikan kepadaku, bukan?" Tanya pemuda jangkung itu. rupanya dia sudah tergila-gila benar Silastri.

"Hushh, Raden! Lupakah engkau akan tugas kita? Kita harus dapat menahan keinginan nafsu sendiri dan mementingkan tugas. Gadis ini mempunyai rahasia yang teramat penting. Ia sama sekali tidak boleh diganggu, sebelum dihadapkan Kapten De Vos, sebelum menceritakan rahasia itu, mengerti?"

Raden Banuseta menghela napas panjang. Dia merasa menyesal sekali telah terlibat dengan urusan menjadi telik sandi membantu Kumpeni Belanda karena merasa tidak bebas dan harus menurut perintah. Akan tetapi diapun maklum bahwa berkhianat merupakan bahaya maut. Pihak Kumpeni Belanda memiliki banyak antek yang berbahaya. baru Nyi Maya Dewi ini saja sudah amat berbahaya. Dia lalu mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna hijau. Dibukanya tutup botol itu dan botol itu dia dekatkan lubang hidung Sulastri sehingga dengan sendirinya isi botol tersedot ketika gadis itu bernapas.

Aji memandang penuh perhatian, bersiap siaga. Kalau sampai Sulastri tewas atau terancam kehormatannya, dia pasti akan mengamuk dan mengadu nyawa! Dia melihat Sulastri menggerakkan kedua tangannya, kemudian berbangkis tiga kali, membuka matanya. Agaknya begitu membuka mata, gadis itu menyadari keadaannya dan ia sudah melompat dengan cepat sekali, siap untuk berkelahi! Melihat ini, Nyi Maya Dewi dan Raden Banuseta cepat melangkah mundur, menjauhinya. Melihat Sulastri bersiap hendak menyerang, Aji cepat melompat mendekati.

"Lastri, jangan....!" Dia memegang lengan gadis itu. Sulastri memandang Aji dengan alis berkerut, matanya mencorong memandang ke arah empat orang lawan yang kini sudah berdiri berjajar itu. Hatinya lega melihat Aji dalam keadaan selamat. Ia tidak ingat lagi apa yang telah terjadi dengan dirinya. Yang diingat hanyalah bahwa ia dan Aji menghadapi empat orang lawan yang tangguh.

"Mas Aji, apa maksudmu mencegah aku? Mari kita hajar mereka. Eh, mana pedangku?"

"Hi-hi-hik! Pedangmu dan keris Aji sudah berada di tanganku, Sulastri!" kata Maya Dewi mengejek.

"Mas Aji, mari kita gempur mereka. Dengan tangan kosong aku masih sanggup untuk menjebol dada nenek genit itu!" Sulastri berseru marah.

Terdengar Nyi Mya Dewi tertawa terkekeh-kekeh dan Aji teringat ancaman wanita itu tadi. Maka dia cepat berkata, "Jangan Lastri, jangan melawan dan jangan mencoba untuk mengerahkan tenaga saktimu."

"Kenapa?" Sulastri bertanya penasaran dan ia mencoba untuk mengerahkan tenaga saktinya. Akan tetapi segera ia mengeluh kesakitan dan mukanya berubah pucat, bibirnya sitarik menahan rasa nyeri yang menusuk jantungnya sehingga tangan kirinya bergerak menekan dada kirinya. Kembali terdengar suara Nyi Maya Dewi tertawa terkekeh. Aji memegang lengan Sulastri dan menekannya agak kuat.

"Lastri, dengar baik-baik! Kita sudah tertawan, tidak berdaya. mereka telah memberimu racun penghancur jantung. Kalau kau kerahkan tenaga saktimu, engkau akan tewas. Engkau akan bertahan selama tiga bulan maka jangan melawan. Sulastri memandang kepada empat orang itu dengan mata mencorong penuh kemarahan.

"Akan tetapi apa yang mereka kehendaki dari kita?"

"Rahasia kita, Lastri. Engkau tahu akan rencana penyerangan Mataram kepada Kumpeni belanda dan aku tahu akan keadaan kekuatan pasukan Mataram."

Diam-diam Aji memberi isyarat dengan tekanan-tekanan pada lengan gadis itu yang masih dipegangnya. Tentu saja Sulastri merasa heran mendengar ucapan itu karena sesungguhnya ia sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana penyerangan Mataram. Akan tetapi ia adalah seorang gadis yang cerdik. Tekanan-tekanan pada lengannya itu membuat ia mengerti bahwa itu merupakan isyarat.

"Hemm, kalau begitu mengapa?" bersikap pura-pura memang menyimpan rahasia itu!

"Mereka ingin agar kita mengaku tentang rahasia itu. Akan tetapi kita tidak boleh bodoh. Kita tidak akan mengaku sebelum mereka memberimu obat penawar racun, dan sebelum mereka membebaskan kita. Rahasia itu harus ditukar dengan pembebasan kita."

"Begitukah?" Sulastri memandang kepada Nyi Maya Dewi dengan mulut tersenyum mengejek dan mata menantang. "Hei, nenek genit. Aku Sulastri bukan orang yang takut mati! Kalau engkau tidak memberi obat penawar dan membebaskan kami, aku tidak sudi membuka rahasia itu. Biar aku mati, akan tetapi Batavia pasti akan hancur diserang mataram dan engkau, nenek genit pengkhianat bangsa ini, akan ditangkap dan dihukum gantung kaki di atas kepala di bawah, dihukum picis, setiap orang lewat akan diharuskan mengerat kulit daging lalu mengoleskan asam dan garam pada lukanya!"

Ancaman Sulastri itu mengerikan sekali. Hukum picis yang dimaksudkan merupakan hukuman yang paling sadis dan mengerikan. Terhukum akan diikat di tepi jalan perempatan dan di situ disediakan pisau, garam dan asam. setiap orang lewat diharuskan menggunakan pisau untuk menoreh tubuh si terhukum sampai terluka berdarah, kemudian mengoleskan asam dan garam pada luka itu. Dapat dibayangkan betapa tersiksanya si terhukum dan dia akan menderita hebat dan mati sedikit demi sedikit! Bergidik juga Maya Dewi membayangkan hukuman seperti itu. Akan tetapi ia menutupi kengeriannya dengan senyum mengejek.

"Jangan khawatir, neng geulis (nona cantik), asal engkau dan Aji tidak banyak tingkah dan di depan Kumpeni mau membuka semua rahasia itu, kalian berdua pasti akan dibebaskan dan aku akan memberi obat penawar untukmu."

Rombongan itu lalu membawa kereta yang tadinya mereka sembunyikan dalam hutan itu. mereka memang sudah mempersiapkan segalanya. Kuda milik Aji lalu dipasang di depan kereta, menambah dua ekor kuda yang sudah ada. Kereta itu cukup besar. Raden Banuseta menjadi kusirnya. Aji dan Sulastri duduk di dalam dijaga oleh Ki Harya Baka Wulung , Aki Somad dan Nyi Maya Dewi sendiri. Nyi Maya Dewi sudah merasa yakin bahwa dua orang tawanan itu tidak akan membuat ulah karena keadaan Sulastri membuat mereka sama sekali tidak berdaya dan tidak berani memberontak.

Sementara itu, diam-diam Aji dan Sulastri juga memutar otak untuk mencari jalan keluar agar dapat membebaskan diri. Untuk sementara mereka merasa aman. Dengan adanya "Rahasia" tentang Mataram yang mereka miliki seperti disangka oleh para antek Kumpeni Belanda itu, mereka tidak akan diganggu. Bahaya maut yang mengancam nyawa Sulastri juga baru akan tiba tiga bulan kemudian dan sementara itu mereka akan mencari jalan dan melihat perkembangannya nanti.

Di sepanjang perjalanan itu, Aji dan Sulastri memperhatikan keadaan para penawan mereka. Dari sikap mereka, tahulah Aji bahwa yang menjadi pemimpin adalah Nyi Maya Dewi walaupun bukan wanita itu yang paling sakti di antara mereka. Juga dia dapat mengerti bahwa Ki Harya Baka Wulung mau menjadi antek Kumpeni karena rasa bencinya terhadap Mataram. Tentang Aki Somad, dari sikap dan pembicaraan mereka, dia tahu bahwa kakek ini adalah seorang yang mudah terpikat oleh rajabrana (kekayaan) dan kedudukan dan dia mau menghambakan diri kepada Kumpeni Belanda tentu karena ingin memperoleh harta benda dan kedudukan. Yang masih menjadi teka-teki baginya adalah pria berusia empat puluh bertubuh jangkung itu.

Dia tidak pernah mendengar namanya disebut, Nyi Maya Dewi hanya memanggilnya dengan sebuta Raden saja yang menyatakan bahwa orang itu tentu masih keturunan bangsawan. Karena orang itu duduk sebagai kusir di depan kereta, maka Aji tidak dapat menilai lebih lanjut. Akan tetapi dia mencatat bahwa pria itu mempunyai niat kotor terhadap diri Sulastri. Pria itu agaknya tergila-gila kepada Sulastri dan kalau diberi kesempatan, tentu Sulastri berada dalam bahaya, Untunglah bahwa Nyi Maya Dewi menganggap Sulastri menyimpan rahasia yang amat penting sehingga untuk sementara Sulastri aman dari gangguan pria berpakaian mewah itu.

Setelah rombongan tiba di sungai Serayu, ternyata di situ telah siap anak buah Nyi Maya Dewi dengan sebuah perahu besar untuk menyeberangkan semua penumpang berikut kuda dan kereta. Akan tetapi Nyi Maya Dewi berkata kepada lima orang anak buahnya yang berada di situ. "Kami tidak akan menyeberang, kami akan melakukan perjalanan menuju Kadipaten Tegal di utara. Akan tetapi dua orang harap cepat memberi kabar ke Cirebon dan membawa suratku, kalian tahu ke mana suratku harus disampaikan!"

Aji hanya melihat betapa wanita itu menyerahkan surat kepada dua orang anak buahnya. Kemudian perjalanan kereta itu menuju ke utara. Dan di sepanjang pejalanan, kalau malam tiba, di setiap tempat ada saja anak buah Nyi maya Dewi yang menyambut dan memberi tempat penginapan yang pantas untuk mereka. Juga hidangan yang disuguhkan cukup mewah, setidaknya pasti ada yang menyembelih ayam. Perjalanan itu berjalan dengan lancar dan lima hari kenudian barulah kereta mereka memasuki Kadipaten Tegal.

Aji dan Sulastri merasa heran sekali ketika kereta itu memasuki kadipaten dengan aman. Agaknya para penjaga di kadipaten itu mengenal baik Nyi Maya Dewi! Agaknya tidak ada seorangpun yang curiga dan menduga bahwa wanita cantik itu sebetulnya adalah seorang telik sandi, seorang antek Kumpeni Belanda! Pada hal Aji pernah mendengar dari Senopati Suroantani bahwa Tumenggung Tegal dan juga Adipati di Cirebon sudah setuju untuk dijadikan lumbung beras bagi keperluan ransum balatentara Mataram kalau nanti menyerbu Batavia untuk kedua kalinya.

Dengan demikian berarti bahwa Tumenggung Tegal bersedia membantu Mataram. Akan tetapi kenyataannya kini, seorang telik sandi penting dari Kumpeni Belanda dapat masuk dan bergerak dengan leluasa di Tegal! Bahkan rombongan ini diterima oleh seorang laki-laki tinggi besar yang dari sikap dan pakaiannya menunjukkan bahwa dia seorang penting. Rumahnya besar dan rombongan itu disambut dengan hormat dan diadakan pesta. Aji dan Sulastri tidak diperkenalkan, akan tetapi mereka mendengar orang tinggi besar berusia sekita empat puluh tahun itu disebut Ki Warga. Rumah itu besar dan megah, tanda bahwa penghuninya orang yang kaya.

Aji dan Sulastri diberi masing-masing sebuah kamar dan dua orang tawanan ini dibiarkan berada dalam keadaan bebas, seperti tamu, namun mereka maklum bahwa mereka dijaga oleh sekelompok orang dengan ketat. Pula, mereka sama sekali tidak berani meloloskan diri karena keselamatan nyawa Sulastri terancam. Hal ini yang membuat mereka merasa tak berdaya dan terpaksa harus menyerah. Mereka bermalam di rumah orang bernama Warga ini sampai tiga hari. Aji tidak tahu apa yang mereka lakukan atau rencanakan.

Mereka berdua dapat saling bertemu karena mereka diberi kebebasan keluar dari kamar. Akan tetapi mereka tidak dapat saling bicara empat mata karena selalu ada saja penjaga yang mengamati dari dekat. Mereka hanya bicara seperlunya saja dan Aji hanya dapat menanyakan bagaimana keadaan Lastri. Sulastri selalu menggeleng kepala dan menghela napas panjang kalau ditanya tentang kesehatannya dan menjawab singkat, "Masih belum ada perubahan." Jawaban ini cukup bagi Aji.

Berarti gadis itu masih merasakan akibat keracunan itu dan kalau mengerahkan tenaga saktinya merasa dalam dadanya nyeri. Selama gadis itu masih menderita karena keracunan, mereka berdua tidak berdaya dan tidak berani meloloskan diri karena hal itu berarti ancaman bahay maut bagi Sulastri. Tentu saja selama menjadi tawanan itu, Aji tiada hentinya mencari kesempatan. Dia sendiri belum tahu kesempatan bagaimana yang dapat dia manfaatkan untuk keselamatan mereka berdua karena dia sendiri tidak tahu apa yang dapat dia lakukan dalam keadaan Sulastri keracunan seperti itu.

Dia merasa benar-benar tidak berdaya. Akan tetapi dia tidak pernah putus asa dan selalu waspada mencari jalan keluar untuk menanggulangi ancaman yang membayangi dia dan Sulastri. Beberapa kali Sulastri hampir tak dapat menahan kesabarannya dan gadis itu ingin mengamuk saja tanpa memperdulikan keselamatannya. Akan tetapi selalu Aji, dengan isyarat gerakan dan pandang matanya, dapat menyabarkannya.

"Selama kita masih hidup, selalu masih ada harapan." demikain dia berkata pada suatu kesempatan tanpa terdengar oleh para penjaga yang mengamati mereka. Sulastri cemberut, akan tetapi mengangguk tanda bahwa ia mematuhi ucapan pemuda itu. Malam itu udara dingin sekali. Aji duduk bersila dalam kamarnya. Dia maklum bahwa di luar kamarnya terdapat dua orang yang bertugas mengawasinya. Nanti lewat tengah malam, dua orang penjaga itu akan diganti dua orang lain.

Demikian yang dia ketahui pada malam-malam yang lalu. Dia sudah mengambil keputusan tetap. Malam itu adalah malam terakhir dia dan Sulastri berada di rumah itu. Siang tadi Nyi Maya Dewi sudah memberitahukan kepadanya bahwa besok pagi-pagi mereka akan melanjutkan perjalanan, entah kemana wanita itu tidak mau memberi tahu. Maka, malam ini dia harus dapat melakukan penyelidikan ke mana mereka akan dibawa pergi dan menyelidiki rahasia lain yang ada hubungannya dengan keselamatan Sulastri.

Dia ingin mengetahui di mana Nyi Maya Dewi menyimpan obat penawar racun yang mempengaruhi tubuh Sulastri. Setelah keadaan di rumah itu sunyi, tanda bahwa semua penghuninya sudah memasuki kamar masing-masing, Aji perlahan-lahan membuka daun pintu kamarnya. Sedikit gerakan ini cukup membuat dua orang penjaga itu menengok lalu menhampiri.

"Andika hendak pergi ke mana?" Tanya mereka dan kedua orang itu berdiri di kanan kiri Aji.

"Aku melihat di sana itu yang berkilauan itu apakah?" Dia menuding ke depan. Dua orang penjaga itu tentu saja menoleh dan memandang ke arah yang ditunjuk Aji.

Pada saat itu, kedua tangan Aji bergerak cepat, menyambar ke arah tengkuk mereka dengan tangan miring. Tanpa dapat mengeluarkan keluhan, dua orang itu terkulai dalam keadaan pingsan. Aji menyambar tubuh mereka dengan kedua tangannya, mencegah mereka roboh, lalu membawa mereka ke tempat mereka berjaga tadi. Dia mendudukkan mereka di atas bangku yang tadi mereka duduki, menyandarkan tubuh itu ke dinding.

Setelah itu dia menutupkan daun pintu kamarnya dan berindap-indap dia menuju ke kamar besar di bagian kiri. Dia tahu bahwa kamar itu adalah kamar Nyi Maya Dewi, sedangkan kamar Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad dan laki-laki jangkung berada di bagian kanan. Dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, tubuh Aji bergerak seperti angin, cepat dan ringan dan tak lama kemudian dia sudah melakukan pengintaian di luar jendela kamar yang didiami Nyi Maya Dewi. Jantungnya berdebar tegang dan girang ketika dia melihat bayangan dua orang duduk di atas pembaringan dalam keadaan saling berpelukan mesra. Mereka itu bukan lain adalah Nyi Maya Dewi dan pria jangkung itu!

Aji merasa rikuh dan malu menyaksikan penglihatan itu, maka dia mengalihkan pandangan dan menempelkan telinganya pada jendela untuk dapat menangkap pembicaraan mereka sebaiknya. "Maya, sampai kapan engkau akan menggodaku seperti ini? Engkau selalu menahan-nahan dan menghalangi aku memiliki gadis itu. Maya, apakah ini berarti bahwa engkau cemburu dan tidak rela kalau aku menggauli gadis itu?" terdengar suara pria itu dengan nada menyesal dan menegur.

"Cemburu? Ah, sama sekali tidak, Raden, di antara kita sudah terdapat janji bahwa kita tidak akan saling mengikat, tidak ada cemburu dan kita boleh bercinta dengan siapa saja tanpa yang lain mencegahnya. Bersabarlah, Raden. Kita membutuhkan gadis itu, Kalau ia kuserahkan padamu sekarang, kemudian ia tidak mau membuka rahasia penyerangan Mataram itu, bukankah kita yang menderita rugi? Sabarlah. Kalau ia sudah membuka rahasia itu, pasti ia akan kuserahkan padamu."

"Bagaimana engkau dapat memastikan hal itu akan dapat terjadi, Maya?"

"Jangan khawatir, Raden. Bukankah obat penawar itu selalu ada padaku? Obat penawar itu adalah nyawa Sulastri! Selama obat penawar itu ada padaku, selama tiga bulan sejak dara itu keracunan, ia sepenuhnya berada di tanganku."

"Kalau begitu, berikan obat penawar itu kepadaku, Maya sayang? Setelah ia membuka rahasia, obat penawar itu akan dapat kupergunakan untuk membujuk dan mengancamnya agar ia suka menyerahkan diri dengan suka rela kepadaku. Aku tidak ingin mendapatkan ia secara paksa. Aku ingin ia menyerah dengan suka rela."

"Bodoh amat engkau, Raden. memang gadis itu cukup sakti dan kebal terhadap pengaruh sihir dan aji pengasihan, akan tetapi bukankah engkau memiliki racun perangsang yang amat ampuh? Kalau kau menggunakan racun itu, tentu ia akan jatuh."

"Aa, akan tetapi aku tidak suka karena ia hanya akan patuh seperti boneka hidup. Tidak, aku menghendaki ia menyerahkan diri karena ingin menyelamatkan nyawanya. Karena itu, berikanlah obat penawar itu padaku. Biar aku yang menyimpannya. Dengan obat itu padaku, aku akan merasa yakin dan dapat bersabar menanti."

"Hi-hi-hik, dasar mata keranjang engkau! Tiada pernah puasnya!" terdengar suara nyi Maya Dewi menggoda.

"Sama dengan engkau, Maya. Sudahlah, serahkan padaku. Akupun selalu membantumu kalau engkau menginginkan seorang pria, bukan? Ketika di Sumedang dulu, siapa yang membantumu sehingga engkau berhasil mendapatkan keponakan adipati yang tampan seperti Arjuna itu?"

"Baiklah, baiklah...! Akan tetapi malam ini engkau harus dapat menyenangkan hatiku!"

"Jangan khawatir, manis!" Terdengar suara cekikikan tawa dan senda gurau. Aji tidak mau mendengarkan lagi. Apa yang didengarnya sudah cukup baginya. Dia tahu bahwa mulai malam ini, obat penawar untuk menyembuhkan Sulastri berada di tangan pria bangsawan itu! Dia tahu sekarang ke mana harus mencari obat untuk menyelamatkan Sulastri dan dia hanya tinggal menanti kesempatan baik saja untuk dapat menangkap dan memaksa pria itu menyerahkan obat penawar. Dia akan mencari kesempatan terbaik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Aji dan Sulastri sudah diajak keluar dari rumah besar milik Ki Warga itu. Yang mengawal mereka adalah Nyi Maya Dewi, Banuseta, Ki Harya Baka Wulung, dan Aki Somad. Selain empat orang sakti ini, masih ada Ki Warga. Tokoh ini sesungguhnya adalah seorang yang penting. Ki Warga ini merupakan orang yang memiliki hubungan dekat dengan Kumpeni Belanda. Bahkan dia dipergunakan Belanda untuk menjadi pimpinan semua telik sandi yang bergerak di sepanjang pantai Laut Utara.

Di samping itu, Ki Warga juga menjadi orang kepercayaan Kadipaten Tegal. Memang tidak dapat disangkal lagi bahwa Belanda amat pandai bersiasat. Tidak saja melakukan gerakan memecah belah persatuan dengan cara mengadu domba, akan tetapi juga pandai mempengaruhi para pejabat daerah dengan menggunakan pengaruh harta benda dan janji-janji kedudukan. Banyak kadipaten yang dapat dipengaruhi Kumpeni, sehingga walaupun pada lahirnya mereka takut dan menakluk kepada kekuasaan Mataram, namun diam-diam mereka mengadakan hubungan baik dengan Kumpeni Belanda dan mengadakan hubungan dagang yang dianggap menguntungkan.

Sesungguhnya, tidak adanya persatuan yang bulat di seluruh Nusantara dalam menghadapi Kumpeni Belanda inilah yang membuat semua usaha untuk menentang Kumpeni selalu gagal. Bahkan oleh sebab ini pula maka penyerangan besar-besaran pasukan Mataram ke Batavia telah mengalami kegagalan.

Aji dan Sulastri bersama empat orang pengawal mereka naik kereta seperti ketika mereka memasuki Tegal. Ki Warga sendiri menunggang kuda, malah dia mendahului kereta. Ternyata kedua orang tawanan itu dibawa kepantai dan dengan sebuah perahu mereka dibawa ke sebuah kapal yang berlabuh tak jauh dari pantai. Pantai itu terlalu dangkal bagi kapal itu sehingga tidak dapat berlabuh dekat daratan. Aji dan Sulastri dibawa naik ke atas kapal itu.

Diam-diam mereka memperhatikan keadaan kapal. Walaupun sikap mereka tenang saja, namun sebenarnya mereka merasa tegang dan memperhatikan keadaan dengan penuh selidik. Mereka melihat sebuah kapal yang besar dan dilengkapi dengan beberapa buah meriam besar. Di atas kapal terdapat belasan orang, hampir dua puluh banyaknya, semua adalah orang-orang kulit putih yang bertubuh tinggi besar, bermuka kemerahan dan rambut meraka tidak hitam, melainkan ada yang coklat, kemerahan dan kuning keemasan!

Sulastri sudah sering melihat orang kulit putih di Indramayu atau Dermayu, maka iapun tidak merasa heran. Akan tetapi Aji belum penah melihat orang Belanda, maka diam-diam dia memperhatikan dan merasa terheran-heran. Keadaan orang-orang tinggi besar itu mengingatkan dia akan tokoh-tokoh wayang, yaitu golongan buto (raksasa). Jadi inilah bangsa yang merupakan ancaman bahaya bagi nusa dan bangsanya. Diapun melihat bahwa mereka semua membawa senjata bedil.

Pernah dia mendengar cerita tentang bedil yang dapat menyemburkan api dan peluru, yang dapat membinasakan lawan dalam jarak jauh dan merupakan senjata yang amat berbahaya. Aji tahu bahwa dia harus berhati-hati sekali terhadap orang-orang bule ini. Mereka tampak kuat dan juga sinar mata mereka kejam. Ketika orang itu memandang ke arah Sulastri, tampak sekali gairah dalam pandang mata mereka dan mereka menyeringai secara kurang ajar. Akan tetapi ketika seorang Belanda setengah tua keluar dari bilik kapal itu, belasan orang itu berdiri tegak dalam keadaan siap.

Orang belanda setengah tua itu menyambut rombongan yang baru naik kapal dengan senyum ramah. Dari sikap ketika dia menjabat tangan Nyi Maya Dewi, tampak bahwa di antara mereka terdapat hubungan yang akrab. Orang itu berusia sekitar lima puluh tahun, berkumis dan berwajah tampan, tubuhnya tinggi kurus dan pakaiannya mewah dan gagah. Di pinggangnya tergantung sebuah senjata pistol. Inilah Kapten De Vos yang mejadi bos dari Nyi Maya Dewi. Kapten de Vos ini merupakan seorang perwira yang bertugas sebagai penyelidik dan amat dipercaya oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen di Batavia!

Bersama seorang perwira Belanda lainnya yang terkenal dengan sebutan Jakuwes (nama aslinya Jacques Levebre), De Vos inilah yang mengatur jaringan mata-mata kumpeni Belanda yang disebar di seluruh Nusantara! "Hallo, Nyi Maya Dewi yang manis, apa kabar? Kami mendengar kamu membawa tawanan yang amat penting bagi kami. Benarkah? Dan siapakah mereka semua ini?" Tanya De Vos setelah menjabat tangan wanita itu dengan hangat.

cerita silat online karya kho ping hoo

Dengan senyumnya yang manis, Maya Dewi memperkenalkan teman-temannya, setelah memberi isarat kepada Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad untuk melangkah maju. "ini adalah Ki Harya Baka Wulung dari Madura, tuan kapten. Dan yang ini adalah Aki Somad dari Nusa Kambangan. Mereka adalah pembantu-pembantu yang setia dan dapat diandalkan, sakti dan tangguh." Kemudian dengan senyum tak pernah meninggalkan bibirnya ia melanjutkan sambil menunjuk kepada Ki Warga dan Raden Banuseta. "Dua orang ini tentu sudah tuan kenal dengan baik."

Kapten De Vos menyalami empat orang itu dan berkata. "Ya, ya, kami kenal baik mereka ini. Dan mana tawanan itu?" "Inilah mereka, tuan." kata Nyi Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah Aji dan Sulastri.

Sepasang mata yang kebiruan itu memandang kepada dua orang muda itu dengan penuh selidik dan Kapten De Vos tampak terheran-heran. "Mereka ini orang-orang penting Mataram? Geweldig (hebat)! Begini muda, dan yang perempuan ini begini cantik, sudah jadi orang penting Mataram?"

Wanita cantik itu tersenyum dengan genitnya. "Nah, Tuan Kapten De Vos, jangan pandang rendah mereka ini! Biarpun mereka ini masih muda, akan tetapi mereka adalah orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi dan berbahaya sekali!"

"Is dat zo (Begitukah)?" Kapten De Vos melihat ke atas. Dua ekor burung camar laut terbang di atas kapal itu. Cepat dia mengambil senapan yang dipegang oleh seorang anak buah yang berdiri di dekatnya. Dengan gerakan cepat sekali dia mengokang bedil itu, membidik dan ketika dia menarik pelatuknya, dua kali terdengar letusan. Api dan peluru menyambar keluar dari moncong bedil dan dua ekor burung berbulu putih itu jatuh ke atas dek kapal. Mati seketika. Aji dan Sulastri melihat semua ini dan diam-diam mereka terkejut. Apa yang mereka dengar tentang kehebatan senjata api itu kini mereka lihat sendiri. "Ha-ha-ha. Mereka ini sakti? Apakah mereka dapat terbang lebih cepat dari pada dua ekor burung itu?" Dia menuding ke arah bangkai dua ekor burung dan melemparkan kembali senapan itu kepada anak buahnya.

Ki Warga, Maya Dewi dan Banuseta tidak heran menyaksikan keahlian menembak itu. mereka sudah mengenal Kapten De Vos yang terkenal jago tembak. Akan tetapi Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad juga merasa kagum. Orang Belanda ini cukup berbahaya, pikir mereka. Nyi Maya Dewi yang pandai mengambil hati orang, bertepuk tangan memuji.

"Hebat, tuan kapten, kepandaian tuan mempergunakan senjata api memang hebat sekali. Akan tetapi tuan harus berhati-hati terhadap mereka."

"Goed, goed (baik, baik). mari kita duduk di dalam dan bicara!" ajak Kapten De Vos sambil mengangguk-angguk.

Mereka semua lalu memasuki ruangan kapal di mana terdapat sebuah meja besar dengan banyak kursi disekelilingnya. Aji dan Sulastri dipersilahkan duduk di atas kursi, berhadapan dengan Kapten De Vos. Maya Dewi duduk di samping kiri Kapten Belanda itu dan Ki Warga yang sejak tadi diam saja duduk di sebelah kanannya. Tempat duduk ini saja sudah menunjukkan betapa kedudukan Ki Warga itu penting sekali dan dia dihargai oleh Kapten De Vos.

Aji duduk di depan kapten itu, Sulastri duduk disebelah kirinya. Mereka berdua diapit oleh Harya Baka Wulung dan Aki Somad, sedangkan Banuseta duduk di sebelah kanan Ki Warga. Jelaslah bahwa yang duduk di jajaran Kapten De Vos itu adalah orang-orang yang sudah dipercaya kapten Belanda itu, sedangkan Ki Harya Baka Wulung dan Aki Somad yang baru saja bertemu dengannya, merupakan pembantu-pembantu baru yang masih asing.

"Hemm, kalian berdua ini orang-orang penting Mataram, ya? Dan kamu berdua mau bekerja sama dengan kami dan mau menceritakan kekuatan dan rencana Sultan Agung untuk menyerang Batavia? Goed zo! Kamu berdua akan kami beri hadiah banyak. Lebih dulu, katakan siapa nama kamu berdua, he?"

"Namaku Aji dan ia itu Sulastri!" jawab Aji pendek.

"Pemuda ini bernama Lindu Aji dan dikenal sebagai Alap-alap Laut Kidul, tuan kapten! Dia digdaya dan berbahaya sekali!" kata Ki Harya Baka Wulung menjelaskan.

"Ha-ha, apa bedanya alap-alap dengan dua ekor burung yang aku tembak tadi?" tanya Kapten De Vos mencemoohkan.

"Alap-alap merupakan burung liar dan ganas. Burung Camar yang tuan tembak jatuh tadi dapat menjadi mangsanya." Maya Dewi menerangkan

"Ha-ha-ha, biarpun pandai terbang, sekali senapan di tanganku meletus, seekor alap-alap ganaspun tentu akan jatuh dan mati! Nah, sekarang cepat ceritakan kepada kami tentang keadaan pasukan Mataram, berapa kekuatan mereka dan bagaimana persiapan pasukan mereka. Juga ceritakan bagaimana rencana siasat mereka untuk menyerang Batavia!" Sambil berkata demikian, sepasang mata biru itu mengamati wajah Lindu Aji dan Sulastri penuh selidik.

Sulastri yang merasa tidak berdaya karena tubuhnya telah terancam maut oleh racun itu, hanya melirik ke arah Aji. Ia tahu akan siasat yang dipergunakan pemuda itu, ialah bahwa pemuda itu membiarkan lawan-lawannya percaya bahwa Aji dan ia mengetahui rahasia itu, maka mereka tidak akan membunuh Aji dan ia. Karena ia tidak tahu bagaimana siasat Aji selanjutnya dan tidak mempunyai kesempatan untuk bicara berdua, maka iapun hanya menyerahkannya kepada pemuda itu. Aji juga telah mempersiapkan diri. Sebelumnya dia memang sudah mengatur siasat. Dia memiliki modal kuat, yaitu kepercayaan orang-orang itu bahwa dia dan Sulastri benar-benar dapat memberi keterangan penting tentang gerakan pasukan Mataram yang ditakuti Kumpeni Balanda!

"Tuan," katanya, suaranya tegas dan tenang. "Urusan ini penting sekali bagi kami berdua. Menceritakan semua itu kepada Kumpeni, berarti kami berdua telah berkhianat dan hukuman untuk pengkhianat amat berat dan mengerikan."

Aa, kamu berdua takut? Jangan takut! Kalau kamu berdua bekerja sama dengan kami, maka kamu berdua akan dilindungi. Jangan takut kepada Sultan Agung. Kami memiliki meriam-meriam besar dan senjata-senjata api yang ampuh. Hayo, ceritakan saja dan kamu akan memperoleh hadiah dan juga perlindungan dari kami!" kata Kapten De Vos.

Aji menghela napas lalu menggeleng kepala. "Sungguh, tuan. Urusan ini amat penting dan gawat bagi kami berdua. Oleh karena itu, kami minta agar kami berdua diberi kesempatan untuk berunding dan memperbincangkan hal ini berdua saja. Ketahuilah, tuan. Ini merupakan keputusan hidup mati kami, karena itu harus kami rundingkan dengan matang lebih dulu." Alis yang berwarna kelabu itu berkerut dan sepasang mata biru mencorong marah.

"Kamu harus menceritakan sekarang juga!" bentaknya.

Namun dengan tenang dan tegas Aji menggeleng kepala. "Besok pagi, tuan."

"Sekarang! Atau, kami akan menembak kamu berdua!" Kapten De Vos menggertak sambil mencabut pistolnya dan menodongkan senjata itu ke arah Aji dan Sulastri yang duduk di depannya. Dia menatap wajah dua orang muda itu dan diam-diam merasa heran dan kagum. Dua orang muda yang ditodongnya itu sedikitpun tidak tampak takut, dan balas menatapnya dengan sinar mata berapi.

"Kami tidak takut mati, tuan. Kalau tuan membunuh kami berdua sekarang, pasukan Mataram yang besar sekali jumlahnya akan membalaskan kematian kami, menyerbu dan membakar habis Batavia, membunuh semua Kumpeni Belanda!" aji juga menggertak dan karena ucapannya itu mendatangkan kesan yang kuat.

Menghadapi sikap tenang Aji ini, Kapten De Vos meragu. Dia lalu menoleh ke kanan dan bertanya kepada Ki Warga, "Bagaimana pendapatmu, Warga?"

Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu tersenyum. "Apakah tidak sebaiknya kalau dijadikan taruhan saja? Kalau tuan yang menang mereka harus memberi keterangan sekarang juga, akan tetapi kalau mereka menang terpaksa tuan harus bersabar sampai besok pagi."

"Akan tetapi, laporan dua orang penjaga semalam?" Tanya kapten itu.

"Ah, mereka mungkin hanya mimpi, tuan." kata Ki Warga sambil tertawa. "Mereka hanya melapor melihat Aji ini lalu tiba-tiba mereka tidak ingat apa-apa lagi. Kalau laporan mereka itu betul, tentu semalam telah terjadi sesuatu. Buktinya tidak terjadi apa-apa."

"Kalau begitu baiklah. Kita buat taruhan. Wacht even (tunggu sebentar), bukankah Maya Dewi tadi mengatakan bahwa pemuda ini digdaya dan tangguh? Bagus, kita adu dia melawan Hendrik De Haan, jagoan kita itu! Heh, Lindu Aji, sekarang begini saja baiknya! Dari pada kita bersitegang memperebutkan apakah kalian harus memberi keterangan sekarang ataukah besok pagi, maka kita adakan pertandingan untuk menentukan. Kalau kamu dapat mengalahkan jagoan kami dalam perkelahian tangan kosong, biarlah kami mengalah dan kamu boleh malam ini berunding dengan Sulastri ini dan besok pagi memberi keterangan kepada kami. Akan tetapi kalau kamu kalah melawan jagoan kami itu, kamu harus menceritakan keterangan tentang pasukan Mataram itu sekarang juga! Bagaimana, Aji, beranikah kamu berkelahi menandingi jagoan kami?"

Aji berpikir sejenak, lalu bertanya, "pertandingan tangan kosong tanpa menggunakan senjata api?"

"Natuurlijk (tentu saja)! Kami bukan orang curang. Pertandingan boksen (tinju), tanpa senjata, satu lawan satu. Nah, beranikah kamu?"

Aji saling lirik dengan Sulastri, lalu dia memandang Kapten De Vos dan berkata tegas, "Aku berani, tuan! Akan tetapi tuan jangan melanggar janji. Kalau aku keluar sebagai pemenang, aku diberi kesempatan bicara empat mata dengan Sulastri dan baru besok pagi kami memberi keterangan kepadamu."

"Bagus!" Kapten itu tampak gembira sekali dan dia lalu berseru kepada seorang anak buahnya. "panggil Hendrik De Haan ke sini!"

Tak lama kemudian muncullah kapten itu. Sulastri terbelalak memandang laki-laki yang melangkah datang seperti seekor gajah itu! Seorang bule berambut kecoklatan, usianya sekitar tiga puluh tahun dan segalanya pada diri laki-laki ini hanya dapat dinilai dengan satu kata 'besar'! Seorang raksasa yang tingginya satu setengah kali tinggi tubuh Aji. Kedua lengan yang memakai kaos pendek itu tampak besar dan kokoh kuat, dengan otot melingkar-lingkar. Dadanya bidang dan tebal, penuh bulu coklat kekuningan, lehernya seperti leher badak.

Diam-diam hati Sulastri merasa ngeri juga. Selama hidupnya belum pernah ia melihat seorang laki-laki setinggi besar dan sekokoh ini. Orang-orang bule yang pernah dilihatnya tampak kecil dibandingkan raksasa ini. Tampaknya, dengan sekali pukul saja kepala Aji akan dapat pecah dan tulang-tulang tubuhnya dapat remuk! Kedua kakinya juga panjang dan besar penuh bulu, tampak mengerikan karena dia mengenakan celana pendek.