Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 11
"KALAU begitu, sesuai dengan kepercayaan kita tadi, kita bertiga inipun tidak bersih dari kesalahan dan dosa! Kita bertiga inipun hanya merupakan orang-orang yang berdosa, bukankah begitu?”

Gadis itu agak meragu, akan tetapi lalu mengangguk. “Ya, begitulah mestinya.”

“Nah, kalau kita sendiri inipun adalah manusia-manusia berdosa, mengapa kita menyalahkan orang-orang lain yang kita anggap jahat? Mereka dan kita sama saja, bukan? Sama berdosanya. Hanya dosa kita itu berbeda-beda sifatnya atau kadarnya, akan tetapi tetap saja kita sama-sama orang berdosa. Jadi sudah sepatutnyalah berdasarkan persamaan dan rasa prikemanusiaan kita memaafkan kesalahan orang lain.”

“Wah, wah! Ucapan dan pendapatmu makin mirip ayah, kakangmas. Akan tetapi aku masih merasa penasaran. Mereka itu orang-orang jahat dan berbahaya“

“Orang yang sedang melakukan perbuatan menyimpang dari kebenaran tiada bedanya dengan orang yang sedang sakit, nimas. Yang sakit itu batinnya, bukan badannya. Akan tetapi ingat, orang yang sakit itu dapat sembuh dan orang yang sedang sehat itu bisa saja tiba-tiba jatuh sakit, artinya, orang yang sekarang jahat itu dapat saja bertaubat dan menjadi baik, sebaliknya orang yang sekarang tampak baik itu bukan tidak mungkin jatuh dan melakukan perbuatan jahat. Karena itu, mencoba menyadarkan orang jahat sama dengan mencoba menyembuhkan orang sakit dan aku percaya seyakin-yakinnya, kalau Gusti Allah menghendaki, mereka yang tadinya jahat itu dapat menjadi orang-orang yang berguna dan baik.”

“Ah, betapa sukarnya untuk dapat memaafkan orang yang telah berbuat jahat kepada kita!” kata gadis itu.

“Engkau benar, Lastri. Memang memaafkan orang yang bersalah kepada kita itu sukar sekali.”

Pada saat itu muncul Winarsih. “Hei, tiada habis-habisnya kalian bicara. Mari, berhenti dulu bicaranya dan kita makan. Hari sudah siang, makanan sudah kupersiapkan di meja makan ruangan dalam. Silakan!”

Mereka berempat lalu memasuki ruangan dalam dan makan bersama. Sulastri merasa gembira setelah mendapat kenyataan bahwa uwanya ternyata adalah seorang yang ramah dan baik. Terlebih lagi senang hatinya melihat isteri uwanya itu ternyata seorang yang amat ramah dan lembut, bersikap demikian akrab kepadanya seolah mereka sudah lama sekali berkenalan. Akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah Aji. belum pernah sebelumnya dia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian lembut, sopan, berpemandangan luas, pandai berfilsafat seperti seorang kyai, dan memiliki kesaktian yang hebat pula!

Sampai tiga hari tiga malam lamanya Aji tinggal di rumah Ki Sumali. Dia selalu ditahan-tahan oleh suami isteri itu, bahkan Sulastri yang kini mulai akrab dengannya juga ikut membantu suami istri itu menahan Aji. Akan tetapi pada hari ke empatnya, pagi-pagi sekali Aji memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dan berpamit.

Setelah menikmati sarapan pagi, dia berkata kepada Ki Sumali. “Paman, pagi hari ini terpaksa saya mohon diri. Paman tentu maklum bahwa saya mengemban tugas, maka tidak dapat saya tinggal di sini lebih lama lagi. Saya harus melanjutkan perjalanan saya, saya harus melanjutkan perjalanan saya, saya harap Paman Sumali, Mbakayu Winarsih, dan Nimas Sulastri kali ini tidak akan menahan saya lagi.”

Ki Sumali mengangguk. “Kami mengerti, Anak mas Aji. Kami sudah cukup bersyukur bahwa anak mas mau tinggal di sini sampai tiga hari lamanya. Kalau anak mas sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan hari ini, kami hanya dapat memberi bekal doa keselamatan agar engkau selamat dalam perjalanan dan berhasil melaksanakan tugas-tugasmu.”

“Dan percayalah, Dimas Aji. Kami sekeluarga takkan pernah melupakan budimu yang telah menolong dan menyelamatkan kami. Semoga Gusti Allah membalas segala budi kebaikanmu itu.” kata Winarsih dan suaranya mengandung keharuan.

“Eh, Mas Aji, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke manakah? Atau hal itu merupakan rahasia besar dan aku tidak boleh mengetahuinya?” tiba-tiba Sulastri bertanya, sepasang mata yang jeli itu memandang penuh selidik.

Aji tersenyum. “Tentu saja engkau boleh mengetahui, Lastri!” Kini hubungan antara kedua orang muda itu begitu akrab sehingga Sulastri menyebut pemuda itu Mas Aji dan sebaliknya Aji menyebutnya Lastri begitu saja. “Aku akan pergi ke daerah Galuh, kemudian menyusup ke daerah Kumpeni Belanda di Batavia dan juga mungkin aku akan pergi ke Banten.”

Gadis itu memandang dengan wajah berseri dan kedua matanya bersinar-sinar. “Ke Galuh? Ah, sungguh kebetulan sekali! Aku pergi denganmu, Mas Aji. Akupun hendak pulang ke Galuh!”

“Lastri, baru tiga hari engkau di sini. Masa sudah hendak pergi lagi?” kata Winarsih.

“Lastri, Anak mas Aji melakukan perjalanan untuk melaksanakan tugas. Bagaimana engkau dapat melakukan perjalanan bersama dia?” kata pula Ki Sumali.

“Bude, aku berjanji kepada ayah ibu untuk tidak terlalu lama pergi, maka aku akan segera pulang. Dan, Pakde, aku tidak mengganggu Mas Aji. Melakukan perjalanan berdua tentu lebih asyik dan menyenangkan! Pula, kalau perlu, aku dapat membantu Mas Aji melaksanakan tugasnya!” kata gadis itu dengan lincah dan gembira.

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Dia adalah pakde (uwa) dari gadis itu. Dan sudah sepantasnya kalau dia mewakili adiknya untuk menasihati gadis itu dan menganggapnya sebagai anak sendiri. “Nini Sulastri.” katanya dan suaranya terdengar sungguh-sungguh dan penuh wibawa. “Dengarkan nasihatku karena di sini aku menjadi pengganti ayahmu. Engkau tidak boleh melakukan perjalanan berdua dengan Anak mas Aji. Seorang perawan dan seorang perjaka, bagaimana boleh melakukan perjalanan jauh berhari-hari hanya berdua saja? Apa anggapan orang nanti? Ini namanya tidak pantas dan kalian dapat disangka suami isteri!”

Mendengar ucapan pakdenya itu, Sulastri tertawa. “Hi-hik, sudah habiskah nasihat pakde? Kalau sudah habis, aku akan menjawab!”

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Biarpun baru berkumpul selama tiga hari dia sudah mengenal gadis itu sebagai seorang yang berwatak keras dan jujur. Akan tetapi dia tidak percaya bahwa gadis perkasa itu memiliki watak yang bandel dan keras kepala. “Jawablah, asal jawabanmu masuk akal.” katanya.

“Begini, pakde dan bude. Aku akan menjawab nasihat pakde tadi satu demi satu. Pakde bilang bahwa pakde menjadi pengganti ayahku, akan tetapi aku melihat bahwa pendapat pakde dan ayahku sama sekali berbeda, jauh berbeda. Buktinya, ayahku mengijinkan aku melakukan perjalanan ke sini seorang diri saja! Dan aku yakin akan pendirian ayah, pasti tidak akan memberikan nasihat seperti yang pakde berikan tadi. Sekarang tentang seorang perawan dan seorang perjaka melakukan perjalanan bersama. Mengapa tidak boleh? Biarpun melakukan perjalanan bersama yang jauh berhari-hari, hanya berdua saja, apa salahnya? Melakukan perjalanan berdua bukanlah dosa, pakde. Sekarang tentang anggapan orang! Hidup kita tidak ada sangkut pautnya dengan pendapat dan anggapan orang-orang lain! Pantas dan tidak pantas itu bergantung sepenuhnya kepada prilaku kita sendiri. Kalau ada orang menganggap kita melakukan perbuatan yang tidak pantas dan berdosa, yang penting kita harus mengamati diri sendiri. Kalau benar-benar kita melakukan perbuatan yang salah itu, kita harus mawas diri dan berusaha sekuat tenaga untuk bertaubat dan mengubah prilaku kita. Sebaliknya kalau kita bersih dari anggapan itu, maka kita tidak perlu menghiraukan semua anggapan itu. Aku yakin ayahku akan memberi nasihat seperti ini, pakde. Kalau kita terlalu menggantungkan kehidupan kita pada pendapat orang lain, kita akan sukar untuk melangkah, tentu akan tersandung-sandung pendapat dan anggapan orang lain yang hanya usil dan mau tahu urusan orang lain.”

Mau tidak mau Ki sumali tersenyum. Bantahan itu memang bernada keras, namun dia dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. “Wah, engkau ini pantas menjadi Srikandi, Lastri. Akan tetapi kita ini manusia yang bermasyarakat, tidak hidup sendiri, bagaimana kita akan dapat mengabaikan pendapat umum begitu saja?”

“Pendapat umum memang harus kita perhatikan, akan tetapi kita terima yang kita anggap benar dan baik saja, yang salah dan tidak baik tentu saja kita tolak! Wah, kita berbantahan panjang lebar tentang niatku melakukan perjalanan bersama mas Aji, sama sekali tidak ingat bahwa yang bersangkutan dan berkepentingan berada di depan hidung kita! Pada hal yang berhak menentukan adalah Mas Aji sendiri! Nah, Mas Aji, sekarang jawablah sejujurnya, tidak perlu rikuh-rikuh tidak perlu pura-pura. Bagaimana tanggapanmu? Maukah engkau kalau aku menemanimu melakukan perjalanan ke Galuh atau engkau merasa keberatan kalau kita melakukan perjalanan bersama?”

Dalam perbantahan antara pakde dan keponakan tadi, Aji dapat merasakan kebenaran kedua orang itu. Sebetulnya, kalau dia mau jujur terhadap dirinya sendiri, dia merasa senang akan tetapi juga rikuh melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang gadis yang demikian ayu manis merak ati! Menolak tentu saja tidak mungkin. Hal itu tentu akan membuat Sulastri tersinggung dan marah dan dia tidak menghendaki demikian. Dia tersenyum, memandang kepada Ki Sumali, lalu kepada Winarsih dan akhirnya kepada Sulastri yang menatap wajahnya dengan sinar mata mencorong penuh selidik. “Lastri, tentu saja aku tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bersamamu”

“Yahuuuu...!” Gadis itu bersorak sambil mengangkat kedua lengan ke atas dan membuat gerakan tari yang luwes dengan gerakan leher, pundak, dan pinggul sehingga tiga orang itu mau tidak mau tertawa melihatnya.

“Akan tetapi, Lastri...”

Sulastri tiba-tiba menghentikan tariannya, menghadap Aji dan bertanya keras, “Akan tetapi apa?”

“Karena aku mengemban tugas dari Gusti Sultan Agung, maka tentu saja perjalananku mengandung bahaya dan aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam bahaya.”

“Phuuuuhhhh! Bahaya? Bahaya itu makananku sehari-hari, mas! Kalau ada bahaya menghadang, aku malah dapat membantumu mengatasinya. Aku juga bukan seorang perempuan lemah yang membutuhkan perlindungan! Aku dapat melindungi diri sendiri bahkan dapat membantumu!”

“Lastri, engkau berlawanan dengan pendapat umum, berarti engkau menentang arus!” kata Ki Sumali.

Gadis itu memutar tubuh, kini menghadapi pakdenya. “Menentang arus, pakde? Harus! Harus! Seorang yang merasa dirinya gagah dan memiliki prinsip, mempunyai pendirian teguh, harus berani menentang arus! Kita sudah terbiasa mengaminkan saja semua pendapat umum seolah-olah pendapat umum itu pasti benar! Itu salah kaprah namanya, biarpun salah kalau sudah menjadi pendapat umum menjadi benar! Celakalah orang yang tidak punya pendirian. Contohnya pakde sendiri. Pakde adalah seorang yang memiliki pendirian teguh dan pakde tentu berani menentang arus. Misalnya orang seluruh Loano ini menjadi antek Belanda, apakah pakde juga mengikuti arus, menuruti pendapat umum ikut-ikutan menjadi antek Belanda? “Nah, itu namanya menentang arus karena pakde mempunyai prinsip berdasarkan kesetiaan pakde kepada Nusa dan Bangsa! Nah, sekarang contohnya yang jelas lagi seperti bude ini. Iapun wanita yang berani menentang arus karena mempunyai prinsip!”

“Eh! Aku?” Winarsih membelalakkan matanya yang indah dan lembut sinarnya itu. “Jangan bergurau, Lastri! Aku ini hanya seorang perempuan yang lemah dan bodoh!”

“Siapa bilang bude lemah dan bodoh? Maaf, aku bukan hendak menyinggung atau mengejek, aku bahkan kagum dan memuji, dan bicara dari hati tanpa tedeng aling-aling karena aku membicarakan kenyataan. Pakde dan bude, kukira umum akan berpendapat bahwa amat tidak baik dan tidak pantas bagi bude yang cantik dan muda menjadi istri pakde yang jauh lebih tua, bukan? Akan tetapi bude mempunyai prinsip yang kuat berdasarkan cinta kasih murni. Nah, karena prinsip itu, bude berani menentang arus, bertindak berlawanan dengan pendapat umum. Dan aku sama sekali tidak berpendapat bahwa tindakan yang diambil bude itu salah!”

Ki Sumali dan Winarsih saling pandang, akan tetapi mereka tidak merasa tersinggung karena gadis itu bicara blak-blakan, walaupun wajah mereka berubah kemerahan. “Ha-ha-ha! Sudahlah, sudahlah! Kami mengaku kalah. Mana bisa menang berdebat melawan seorang Srikandi?” kata Ki Sumali tertawa.

Isterinya, Winarsih tersenyum saja. Ia diam-diam harus membenarkan ucapakan keponakan suaminya itu. Semenjak ia menjadi isteri Ki Sumali, entah sudah berapa banyak kenalan sedusunnya, baik secara halus menyindir atau terang-terangan, menyatakan keheranan mereka, menyayangkan dirinya yang masih begitu muda menjadi isteri suaminya yang jauh lebih tua. Akan tetapi semua itu dianggapnya angin lalu saja karena di dasar hatinya ia harus mengakui bahwa ia amat kagum dan cinta kepada pria itu. Baginya tidak ada pria lain yang patut dikagumi, dikasihani, disayang kecuali Ki Sumali!

“Wah, Dimas Aji akan repot sekali menghadapimu dalam perjalanan. Engkau jangan selalu membantahnya, Lastri.” kata Winarsih sambil tersenyum.

“Aih, tidak bisa, bude! Kalau perlu, jika kuanggap dia keliru, pasti akan kubantah, bude!” kata dara itu sambil menatap wajah Aji dengan sinar mata menantang. Aji tersenyum.

“Nimas Lastri benar. Setiap orang perlu menerima kritik dari orang lain karena kalau tidak, dia tidak akan pernah dapat menyadari akan kesalahannya sendiri.”

“Nah, itu baru namanya jantan!” Sulastri berseru girang, merasa dibenarkan. “Mengakui kebenaran orang lain dan menyadari kesalahan sendiri akan tetapi juga melihat kesalahan umum dan berani menentangnya, itulah seyogyanya sikap seorang gagah!”

“Wah, melihat gelagatnya, agaknya Anakmas Aji yang akan kau lindungi, bukan sebaliknya!” kata Ki Sumali sambil tertawa.

“Ah, ya tidak, pakde. Orang hidup harus saling bantu, saling tolong, saling melindungi. Betul tidak, kangmas Aji?”

Aji tersenyum dan mengangguk. “Engkau benar, nimas.” Diam-diam Aji merasa senang. Gadis ini luar biasa. Belum pernah dia bertemu dengan gadis selincah ini, Sama cantik jelitanya dengan Puteri Wandansari, isteri Adipati Surabaya dan puteri Sultan Agung. Hanya bedanya, Puteri Wandansari yang juga gagah perkasa itu sikapnya lembut dan penuh wibawa, sedangkan Sulastri lincah jenaka dan keras kepala, seperti kuda betina liar yang sukar ditundukkan dan dijinakkan. Akan tetapi, gadis ini jelas boleh diandalkan. Sakti mandraguna dan penuh keberanian, memiliki jiwa pendekar yang gagah perkasa.

Setelah berkemas, Aji dan Sulastri pada hari itu juga meninggalkan Loano. Ki Sumali menyerahkan seekor kuda yang cukup baik untuk Sulastri dan kedua orang muda itu menyeberangi Kali Bogawanta lalu menunggang kuda menuju ke barat.

cerita silat online karya kho ping hoo

Benar seperti yang menjadi dugaan dan harapan Aji, perjalanan bersama Sulastri benar-benar amat menyenangkan hati. Dara itu selalu riang gembira, wajahnya cerah ceria dan sikapnya lincah jenaka sehingga suasananya selalu menyenangkan. Selain menjadi teman seperjalanan yang amat menyenangkan, juga Aji menganggap Sulastri dapat menolongnya menjadi penunjuk jalan dalam usahanya mencari kakak tirinya Hasanudin dan juga mencari Raden Banuseta yang telah membunuh ayahnya.

Di lain pihak, Sulastri juga semakin akrab dan suka kepada Aji. Dia mengagumi Aji yang dia tahu memiliki kesaktian yang luar biasa, dan pemuda ini sungguh amat berbeda daripada pemuda lain. Biasanya, para pemuda memandang kepadanya dengan sinar mata penuh gairah dan sikap mereka condong untuk menggodanya. Akan tetapi pandang mata Aji kepadanya lembut dan sopan, sikapnya terkendali dan menghormatinya. Hal ini membuat ia merasa senang sekali dan ia merasa semakin suka kepada pemuda itu. Akan tetapi kadang iapun dapat memperlihatkan kejengkelannya terhadap Aji yang dicelanya sebagai terlalu lamban, telalu sabar dan terlalu mengalah.

Dara yang cantik jelita, lincah jenaka dan gagah perkasa ini adalah anak tunggal dari Ki Subali yang tinggal di Indramayu. Ki Subali adalah seorang saterawan dan dia juga menjadi seorang dalang yang terkenal di Indramayu. Keahliannya sungguh berbeda dengan kakaknya, Ki Sumali. Kalau Ki Sumali sejak mudanya suka memperdalam olah kanuragan, sebaliknya Ki Subali suka mempelajari sastra dan seni. Dia pandai menari, menembang, mendalang dan ahli sastra, bahkan pandai mendalang wayang golek. Isterinyapun seorang waranggana (penembang) yang bersuara merdu dan sering menjadi pesindennya ketika suaminya mendalang. Mereka hanya memiliki seorang anak, yaitu Sulastri.

Tidaklah mengherankan kalau suami isteri itu amat memanjakan Sulastri sehingga anak ini tumbuh menjadi seorang anak yang manja dan keras hati, minta agar semua keinginannya dituruti. Sejak kecil Sulastri berwatak lincah dan nakal, seperti seorang anak laki-laki yang diam-diam didambakan ayah ibunya. Ia bahkan suka bergaul dengan anak laki-laki daripada dengan anak perempuan. Kebiasaan ini tentu saja membuat ia bertambah lincah dan nakal, seperti anak laki-laki.

Maka, tidak aneh kalau setelah ia berusia spuluh tahun, ia merengek kepada ayahnya, minta agar ia dibawa ayahnya untuk berguru ilmu bela diri kepada Ki Ageng Pasisiran, seorang kakek tua renta yang dikenal sebagai seorang yang sakti mandraguna. “Ah, kau kira mudah saja menjadi murid Ki Ageng Pasisiran?” teriak Ki subali terkejut dan heran ketika anaknya yang berusia sepuluh tahun itu merengek minta agar diantar ayahnya utnuk menjadi murid kakek sakti itu. “Hal itu sama sekali tidak mungkin, Lastri!”

“Aih, ayah ini! Mengapa tidak mungkin? Aku tahu bahwa ayah adalah sahabat Ki Ageng Pasisiran! Kalau ayah yang membawa ke sana, tentu dia akan mau menerimaku sebagai murid!” Sulastri membantah.

“Hemmm, anak tak tahu diri. Mau tahu mengapa tidak mungkin? Pertama karena engkau masih anak kecil dan perempuan lagi! Kedua, setahuku Ki Ageng Pasisiran tidak pernah menerima murid. Selama ini aku lihat dia hanya mempunyai dua orang murid, itupun yang seorang adalah puteranya sendiri. Dan ketiga, Ki Ageng Pasisiran kini sudah tua, usianya sudah tujuh puluh tahun, bagaimana dapat menerima murid seorang bocah perempuan berusia sepuluh tahun seperti engkau?”

Sulastri membanting-banting kaki dan menangis lalu lari ke pangkuan ibunya. “Ibu... ibu... kalau begitu ibu saja yang mengantar aku ke sana. Ayah tidak mau, ayah tidak sayang kepadaku...!”

Subali mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang ketika melihat betapa isterinya memandang kepadanya dengan penuh tuntutan. Selalu saja isterinya membela puteri mereka itu. “Lastri, engkau ini seorang anak perempuan, bagaimana ingin mempelajari olah kanuragan? Mau jadi apa engkau kelak?”

“Ayah, kalau aku menjadi orang kuat dan digdaya, akan kuhajar orang-orang jahat itu! Anak-anak lelaki yang suka menggangguku, mengejek aku cengeng, ringkih, penakut dan sebagainya, akan kusikat semua!”

“Hemmm, engkau ini anak perempuan ingin menjadi tukang pukul, ya?” Ki Subali menegur.

“Bukan tukang pukul, ayah, melainkan seorang wanita yang berjiwa satria. Apa salahnya kalau seorang wnita menjadi sakti mandraguna? Bukankah Srikandi itu juga wanita? Dan ia gagah perkasa, tidak takut menghadapi penjahat yang manapun juga. Aku ingin menjadi seperti srikandi!"

Ki subali menggeleng-geleng kepala. “Baiklah, kalau engkau ingin belajar pencak silat, akan kumasukkan perguruan silat.”

“Tidak mau, ayah! Aku hanya ingin menjadi murid Eyang Ageng Pasisiran!” Sulastri merengek dan menangis.

Seperti biasa, kalau sudah begitu, ibu anak itu mendesak suaminya dan akhirnya Ki Subali mengalah. Apa boleh buat, dia pada suatu pagi mengantar anak perempuannya yang berusia sepuluh tahun itu kepada Ki Ageng Pasisiran yang tinggal di daerah pesisir, tentu saja dengan dugaan bahwa kakek tua renta itu pasti menolak, tentu anaknya yang bandel ini tidak akan dapt memaksanya lagi. Rumah kediaman Ki Ageng Pasisiran berada di dekat laut utara, sebuah rumah yang kokoh namun sederhana.

Ki ageng Pasisiran ini datang dan bertempat tinggal di situ sebagai seorang duda kurang lebih lima tahun yang lalu. Usianya sekarang sudah tujuh puluh lima tahun dan dia hidup menyepi di rumah yang terpencil itu, hanya ditemani seorang cantrik atau pelayan laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tahun. Ketika datang dan bertempat tinggal di situ, dia dikenal sebagai seorang pertapa yang bernama Ki Ageng Pasisiran. Sebetulnya, kakek ini bukan lain adalah Ki Tejo Langit yang datang dari Banten.

Seperti kita ketahui, nama ini pernah disebut oleh Ki Tejo Budi sebagai kakak seperguruannya. Akan tetapi, kini Ki Tejo Langit muncul di pesisir Indramayu dengan nama Ki Ageng Pasisiran dan hidup menyendiri, hanya ditemani seorang pelayan atau cantrik. Di antara sedikit orang yang dikenal Ki Ageng Pasisiran, yang tak banyak juga jumlahnya, adalah Ki Subali. Kakek tua renta itu senang bercakap-cakap dengan Ki Subali tentang seni dan sastra. Sebaliknya Ki Subali juga mengagumi kakek tua renta itu karena luas pengalamannya.

Akan tetapi ketika Ki Subali berkunjung bersama puterinya, dia merasa ragu dan tegang juga. Tentu kakek sakti itu akan menganggap dia bergurau. Menggelikan memang kalau minta kakek tua renta sakti mandraguna itu mengambil Sulastri yang baru berusia sepuluh tahun, anak perempuan lagi, menjadi muridnya untuk mempelajari aji kesaktian!

Ki Ageng Pasisiran yang masih tampak tegap dan kuat itu menyambutnya dengan ramah. “Wah, kebetulan andika datang berkunjung, Ki Subali. Sudah lama tidak jumpa. Ini puterimu? Manis dan mungil!” Ki Ageng Pasisiran menyentuh pundak Sulastri. Akan tetapi begitu dia menyentuh pundak anak itu, dia memandang heran dan penuh perhatian, lalu kedua tangannya kini meraba-raba kedua pundak dan punggung, menelusuri tulang punggung dengan jari tangannya.

“Ada apakah, paman?” Tanya Ki Subali heran melihat kakek itu meraba-raba pundak dan punggung anaknya.

Ki Ageng Pasisiran seolah baru sadar. Dia melepaskan rabaannya dan berkata ramah. “Ah, tidak apa-apa. Mari, silakan duduk. Engkau juga duduklah, anak manis. Siapa namamu?”

“Nama saya Sulastri, eyang.” kata anak itu dengan tabah. Setelah mereka bertiga duduk, Ki Subali memberanikan diri berkata, “Paman, sebetulnya kedatangan saya sekali ini mengajak anak saya Sulastri bukan sekedar ingin bercakap-cakap seperti biasa, melainkan ada urusan yang hendak saya sampaikan kepada paman.”

Ki Ageng Pasisiran tersenyum sabar. “Ya, ya... urusan apakah itu, Ki Subali. Katakanlah.”

Ki Subali merasa agak rikuh dan tegang karena menganggap bahwa permintaannya tidak pantas. “begini, paman. Kedatangan saya ini, eh, kami ini... yaitu anak saya Sulastri ini... maksud saya ingin sekali... ah, bagaimana saya harus mengatakan...?”

Tiba-tiba Sulastri yang berkata lantang. “Eyang, saya ingin belajar aji kanuragan kepada eyang, saya ingin menjadi murid eyang!”

Ki Subali terkejut dan cepat berkata dengan sikap hormat kepada kakek itu. “Ah, mohon maaf sebanyaknya atas kelancangan kami, paman. Kami telah mengajukan permintaan yang bukan-bukan dan tidak pantas...“

Akan tetapi betapa heran dan girang hati Ki Subali ketika Ki Ageng Pasisiran tertawa dan berkata, “Heh-heh-heh, bagus sekali, bagus sekali! Inilah kesempatan baik bagiku, dalam tahun-tahun terakhir hidupku dapat mewariskan ilmu-ilmuku kepada seorang murid yang bertulang baik dan berbakat! Sulastri, aku suka menerimamu sebagai muridku!”

Sulastri memang anak yang luar biasa. Dalam usia sepuluh tahun itu, ia sudah pandai membawa diri dan begitu mendengar dirinya diterima menjadi murid Ki Ageng Pasisiran, langsung ia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah di depan kaki ki Ageng Pasisiran! “Terima kasih banyak bahwa eyang guru sudi menerima saya menjadi murid!”

Melihat ulah puterinya, ki Subali juga cepat menghaturkan terima kasih. Demikianlah, mulai hari itu, Sulastri menjadi murid Ki Ageng Pasisiran. Setiap hari ia datang ke rumah kakek itu dan mulai menerima gemblengan langsung dari Ki Ageng Pasisiran. Ia ternyata amat berbakat dan juga tekun sekali sehingga kakek tua renta itu semakin bersemangat mengajarkan semua ilmu yang dikuasainya kepada murid itu.

Akan tetapi Ki Subali juga tidak melalaikan pendidikan sastra dan seni kepada puteri tunggalnya itu karena dia maklum bahwa pelajaran ilmu kanuragan yang tidak dibarengi dengan ilmu pendidikan kerohanian akan dapat membawa anaknya menyeleweng dan hanya akan mengandalkan kekerasan saja. Hal ini amatlah berbahaya. Karena itu, dengan bertukar pendapat bersama Ki Ageng Pasisiran, dia menanamkan jiwa satria kepada anaknya itu agar semua aji kanuragan yang dipelajarinya itu akan dapat dipergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan seperti watak seorang pendekar atau satria.

Demikianlah, bertahun-tahun Sulastri mempelajari ilmu kanuragan dari Ki Ageng Pasisiran sampai berusia delapan belas tahun. Selama delapan tahun itu ia mempelajari semua aji yang dikuasai Ki Ageng Pasisiran sehingga ia menjadi seorang dara perkasa yang memiliki kedigdayaan. Ia menjadi seorang dara yang sakti mandraguna, akan tetapi biarpun ia berwatak keras dan lincah jenaka seperti pembawaannya sejak ia kecil, namun pelajaran budi pekerti, kesusilaan dan kerohanian yang ia terima dari ayahnya merupakan pengekang sehingga ia tidak sampai menjadi seorang yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan aji kesaktiannya.

Setelah berusia delapan belas tahun dan sudah menyerap sebagian besar ilmu dari Ki Ageng Pasisiran, pada suatu hari ia bertemu dengan dua orang laki-laki yang oleh gurunya diperkenalkan sebagai seorang puteranya dan seorang muridnya! Ketika pagi itu Sulastri seperti biasa datang berkunjung, dua orang laki-laki itu sudah berada di situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan seorang lagi yang berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tentu saja Sulastri menjadi terheran-heran, juga dua orang laki-laki itu memandang kepadanya dengan kagum. Lalu muncullah Ki Ageng pasisiran yang kini telah berusia delapan puluh tahun lebih.

Dia tersenyum melihat kedatangan Sulastri. “Ah, engkau, Lastri. Kebetulan sekali. Kenalkanlah, ini adalah puteraku, Sudrajat. Kini dia tinggal di Banten bersama keluarganya dan kebetulan dia datang berkunjung.” Kakek itu menunjuk kepada laki-laki yang berusia lima puluh tahun yang bertubuh sedang dan bersikap tenang dan lembut. “Ajat, inilah Sulastri, muridku seperti yang telah kuceritakan kepadamu semalam.”

Karena laki-laki itu diakui sebagai putera eyang gurunya, Sulastri membungkuk dengan hormat dan berkata ramah. “Paman Sudrajat, kapankah paman datang dan apakah paman sekeluarga baik-baik saja?”

Laki-laki itu adalah Sudrajat yang sebenarnya adalah anak tiri ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit karena sebenarnya Sudrajat ini adalah putera kandung Ki Tejo Budi atau Resi Tejo Budi, guru Lindu Aji. Melihat sikap dan mendengar tegur sapa Sulastri yang demikian ramah, dia memandang kagum. Jarang ada gadis yang demikian lincah, ramah dan sama sekali tidak tampak malu-malu seperti para gadis lain. Juga dia merasa heran bagaimana ayahnya yang sudah begitu tua mengambil murid dara yang begini muda, apalagi kalau diingat bahwa dara ini menjadi murid ayahnya sejak berusia sepuluh tahun!

“Sulastri, aku merasa girang sekali dapat bertemu dengan andika yang menjadi murid ayahku. Menurut cerita ayah, andika seorang murid yang baik dan patuh. Aku ikut berterima kasih kepadamu, Lastri, karena setidaknya andika telah membangkitkan semangat ayahku yang sudah tua untuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepadamu.”

“Terima kasih, Paman Sudrajat. Ternyata paman baik dan ramah sekali dan hal ini tidak mengherankan hati saya. Sebagai putera eyang guru, tentu saja paman bijaksana dan baik hati!”

“Aha, menurut ayah, andika baru berusia delapan belas tahun akan tetapi kulihat andika telah berpikiran dewasa dan pandai membawa diri. Aku bangga mempunyai seorang keponakan yang menurut tingkat juga adik seperguruan seperti andika, Sulastri!” kata Sudrajat sambil tersenyum. “Ayah, cucu ayah Jatmika sudah berusia dua puluh tahun. Alangkah cocoknya kalau Jatmika dijodohkan dengan Sulastri! Akan bahagia hati saya mempunyai seorang mantu seperti Sulastri!”

Pada saat itu, laki-laki kedua yang usianya sekitar tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, tubuhnya tingi tegap, berkumis pendek, tiba-tiba berkata, suaranya nyaring. “Eyang guru, apakah saya tidak akan diperkenalkan dengan adik seperguruan saya, Nimas Sulastri ini?”

“Heh-heh, sampai lupa aku,” kata kakek tua renta itu. “Lastri, ini adalah kakak seperguruanmu, namanya Hasanudin dan panggilannya adalah Udin.”

Sulastri memandang kepada pria itu. Wajah seorang pria dewasa yang sudah matang. Wajah yang ganteng dan menarik, akan tetapi melihat sinar mata yang tajam itu menggerayangi tubuhnya Sulastri mengerutkan alisnya dan rasa tidak suka memenuhi hatinya. Maka, biarpun ia telah diperkenalkan oleh gurunya kepada laki-laki yang menjadi kakak seperguruannya itu, ia diam saja, tidak seperti ketika diperkenalkan kepada Sudrajat yang langsung disapanya dengan ramah. Ia hanya memandang saja dengan alis berkerut dan sinar mata penuh selidik, seolah hendak mengetahui laki-laki macam apa yang berada di depannya itu.

Melihat gadis itu diam saja. pemuda itu tersenyum. Dia menganggap gadis jelita itu tentu malu kepadanya, tidak seperti kepada Sudrajat yng sudah tua tentu tidak merasa rikuh lagi. Maka diapun berkata dengan sikap manis. “Aeh, Nimas Sulastri, harap jangan malu-malu kepadaku. Aku adalah kakak perguruanmu sendiri.”

“Kakangmas Hasanudin...“

“Aeh, jangan panggil Hasanudin. Orang-orang yang dekat denganku menyebut aku Udin, lebih akrab!”

“Akan tetapi aku menyebutmu kakangmas Hasanudin!” kata Sulastri dengan suara datar. “Aku tidak malu hanya masih asing karena aku tidak mengira mempunyai seorang kakak seperguruan. Eyang guru tidak pernah bercerita tentang engkau.”

“Memang sudah lama aku tidak menghadap eyang guru, sudah lebih dari delapan tahun. Aku selalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku tinggal di Galuh“

“Tentu dengan keluargamu, bukan?” Sulastri memotong. “Aeh, Adik Sulastri, aku belum berkeluarga, belum beristeri kalau itu yang kau maksudkan. Aku masih perjaka tulen, ha-ha-ha! Dan akupun tidak mempunyai seorangpun keluarga, kecuali Paman Sudrajat dan Eyang Guru ini.” Dia berhenti sebentar lalu cepat-cepat disambungnya, “Tentu saja sekarang ada engkau yang boleh kuanggap sebagai keluargaku terdekat, ha-ha!” Sambil berkata demikian, sepasang mata itu memandang tajam dan penuh arti, berkedip beberapa kali.

Panas rasa perut gadis itu. Ia melihat kedipan mata yang jelas mengandung maksud tidak sopan itu, akan tetapi karena di situ terdapat eyang gurunya dan juga Ki Sudrajat, ia menahan kemarahannya dan untuk menutupi perasaan marahnya, ia bertanya sambil lalu. “Ayah ibumu?”

“Ibuku meninggal ketika aku masih kecil dan ayahku... dia juga sudah mati. Aku sebatang kara, akan tetapi sekarang... hemm, ada engkau di sini, Lastri.” kemudian tiba-tiba Hasanudin memandang Ki Ageng Pasisiran dan berkata, “Eyang guru, bagaimana kalau saya dan Sulastri menjadi suami isteri? Tentu eyang guru akan menyetujuinya, bukan?”

Sulastri terkejut dan marah sekali, matanya terbelalak dan mukanya berubah merah. Kalau tadi Ki Sudrajat mengusulkan perjodohan, hal itu dilakukan untuk puteranya, akan tetapi Hasanudin ini mengusulkan perjodohan untuk diri sendiri! Betapa beraninya! Ia merasa diremehkan sekali. Akan tetapi kemarahannya agak reda ketika melihat gurunya menegur laki-laki itu.

“Udin, jangan lancang engkau! Urusan perjodohan tidak bisa diputuskan begitu saja! Sulastri masih mempunyai ayah ibu, tanpa perkenan ayah ibunya, dan tanpa persetujuan ia sendiri, bagaimana mungkin perjodohan dapat dilakukan?”

“Aeh, eyang, bukankah sejak lama eyang selalu mendesak saya untuk menikah? Selama ini saya belum menemukan seorang gadis yang cocok dan tepat untuk menjadi isteri saya dan sekarang tiba-tiba saja saya bertemu dengan nimas Sulastri ini. Ia cocok sekali untuk menjadi isteri saya, eyang. Mohon eyang suka mengatur agar saya dapat berjodoh dengan nimas Sulastri ini, eyang.”

Tiba-tiba Sulastri tidak mampu menahan kemarahannya lagi. “Aku tidak sudi! Aku belum ingin menikah! Eyang guru, maafkan saya, saya akan pulang!” Setelah berkata demikian, Sulastri melompat dan berlari keluar, terus meninggalkan rumah gurunya.

Setelah gadis itu berlari pergi, Ki Ageng Pasisiran menghela napas panjang. Dia merasa dirinya telah tua dan lemah sehingga wibawanya berkurang banyak dan dia melihat betapa murid-muridnya berani bersikap kurang mengacuhkannya.

“Udin, kulihat engkau masih belum juga dapat mengendalikan keinginan perasaanmu. Setelah bertahun-tahun berpisah dariku, kulihat engkau masih tidak memiliki ketenangan dan kesabaran. Tidak semestinya engkau bersikap seperti tadi.” tegur Ki Ageng Pasisiran.

“Ayah berkata benar, Udin. sikapmu tadi tidak benar, engkau telah menyinggung perasaan Sulastri!” Sudrajat juga menegur. Hasanudin memandang kedua orang itu dengan alis berkerut. “Paman Sudrajat, paman sendiri tadi mengusulkan pernikahan antara Sulastri dan putera paman. Akan tetapi Jatmika itu masih belum dewasa benar, masih hijau dan belum waktunya menikah. Dan bukankah sepantasnya kalau paman gurunya menikah lebih dulu sebelum dia?” Kemudian Hasanudin berkata kepada gurunya, “Eyang, sejak dahulu saya menganggap eyang sebagai pengganti orang tua saya. Oleh karena itu, saya mohon agar melamarkan Nimas Sulastri untuk menjadi jodoh saya kepada orang tuanya.”

“Sabar... sabar Udin, jangan tergesa-gesa...“ kata kakek tua renta itu.

“Kalau eyang tidak mau, berarti eyang sesungguhnya tidak sayang kepada saya. Biarlah saya akan melamar sendiri kalau begitu!” kata Hasanudin dengan suara tegas.

“Hemm, Udin. Jangan bersikap kasar begitu. Urusan perjodohan ini harus kita rundingkan dulu baik-baik. Kalau memang sudah bulat kehendakmu, tentu ayah akan suka melamarkan Sulastri untukmu.” kata Ki Sudrajat menyabarkan hati pemuda itu karena dia tidak ingin terjadi ketegangan dalam hati ayahnya yang sudah tua sekali itu. Mereka lalu duduk dan membicarakan keinginan Hasanudin untuk minta tolong Ki Ageng Pasisiran melamar Sulastri.

Sementara itu Sulastri berlari pulang. Mukanya masih merah dan hatinya masih panas ketika ia tiba di rumah orang tuanya. Ki Subali merasa heran melihat puterinya begitu cepat pulang. Biasanya, kalau berkunjung ke rumah gurunya, gadis itu sedikitnya setengah hari baru pulang.

“Eh, kenapa engkau sudah pulang, Lastri? begitu cepat!” kata ayahnya

Ibunya memandang heran melihat wajah puterinya kemerahan dan matanya mencorong. “Lastri, ada apakah? Engkau kelihatan tidak senang!” Tanya ibunya.

Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas bangku di depan ayah ibunya. Mulutnya yang berbentuk indah itu cemberut, akan tetapi malah tampak manis dan menggemaskan. “Aku bertemu dengan dua orang murid eyang guru.” katanya dengan nada jengkel.

“Eh, ki Ageng Pasisiran masih mempunyai dua orang murid lain? Siapa mereka?” tanya Ki Subali. “Lho! Bertemu dengan dua orang saudara seperguruan mengapa menjadi tidak sengang dan marah-marah?” tegur ibunya heran.

“Mereka itu adalah Ki Sudrajat yang ternyata malah putera eyang guru sendiri, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang kedua bernama Hasanudin, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Bagaimana tidak akan menyebalkan hatiku? Ki Sudrajat itu ingin mengambil aku sebagai mantunya, dan Hasanudin itu ingin mengambil aku sebagai isterinya. memangnya aku ini apa? Diambil mantu dan isteri begitu saja! Menyebalkan!” Sulastri masih cemberut.

Suami isteri itu saling pandang dan mau tidak mau mereka berdua tersenyum lebar, menahan tawa yang hendak terlepas dari mulut mereka. “Akan tetapi, Lastri. kenapa marah-marah? itu berarti bahwa mereka suka sekali kepadamu!” kata Ki Subali menahan tawa.

“Ya, Lastri. mereka itu ingin mengambil mantu atau memperisteri engkau, berarti mereka kagum dan suka kepadamu!” kata pula ibunya, bangga betapa puterinya begitu dikagumi banyak orang!

“Ah, ayah dan ibu ini! Aku tetap saja tidak suka dan tidak sudi dianggap barang mainan indah yang boleh diambil begitu saja! Ayah, aku mau melaksanakan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kutunda, ingin pergi mengunjungi Paman Sumali di Loano!”

Ayah ibunya terkejut. “Akan tetapi Loano itu jauh sekali, lastri!” kata ibunya.

“Dan keadaan sekarang ini tidak aman! Sedang ada bahaya perang. Pasukan Mataram kabarnya akan menyerang lagi ke Jayakarta. tentu terjadi pergolakan di daerah-daerah. melakukan perjalanan dalam keadaan begini amat berbahaya!” kata pula Ki Subali.

“Ah, aku tidak takut, ayah. Aku sudah cukup kuat untuk menjaga dan membela diri. Hatiku sedang kesal dan aku merasa sebal kepada mereka. Kalau mereka benar-benar berani datang untuk melamarku, ayah harus menolaknya! Aku hendak pergi ke Loano, mengunjungi Paman Sumali!”

“aah, bagaimana ini, Lastri? Kalau Ki Ageng Pasisiran sendiri datang meminangmu, bagaimana aku berani menolaknya?” kata ayahnya.

“Apa susahnya? Ayah tinggal tinggal bilang saja bahwa aku tidak sudi, tidak ingin kawin, habis perkara. Bukan ayah yang menolak, melainkan aku yang tidak suka! Nah, aku akan berkemas karena hari ini juga aku akan pergi ke Loano.”

“Tetapi engkau belum pernah ke Loano yang jauh, Lastri. Juga, engkau baru satu kali bertemu dengan pamanmu, itupun ketika engkau baru berusia tiga tahun. Bagaimana engkau dapat mengenalnya?” cegah Ki Subali.

“Ayah, aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu bahwa Loano terletak di selatan. Aku dapat bertanya-tanya orang. Dan ayah sudah menceritakan keadaan Paman Sumali. Wajahnya mirip ayah dan dia seorang gagah yang sakti mandraguna, memiliki senjata istimewa yaitu sebatang suling dan keris. Mudah sekali mengenalnya, bukan?”

“Lastri, jangan pergi, anakku. Aku tidak akan enak makan dan nyenyak tidur memikirkanmu, takut kalau-kalau engkau menghadapi gangguan.” kata ibunya.

Sulastri merangkul ibunya dengan manja. “Aeh, ibu, apakah ibu masih menganggap aku seorang gadis yang lemah? Jangan khawatir, ibu. Aku adalah murid Ki Ageng Pasisiran yang terkasih! Kalau ada orang jahat berani menggangguku dalam perjalanan, berarti mereka itu mencari penyakit. Aku berpamit dengan baik-baik, harap ayah dan ibu suka melepas aku pergi dengan rela. Ayah dan ibu tidak menghendaki aku pergi dengan cara minggat, bukan?”

Ayah dan ibu itu maklum bahwa tidak mungkin mereka mengubah niat hati puteri mereka yang manja dan keras ini. Akhirnya terpaksa mereka membiarkan Sulastri berkemas, membawa bekal kemudian mengantar kepergian gadis itu sampai di luar kota Indramayu sebelah selatan.

Demikianlah, seperti kita ketahui, akhirnya dara perkasa yang keras hati ini berhasil juga bertemu dengan pamannya, Ki sumali, bahkan dapat membantu pamannya menghadapi musuh-musuh yang tangguh. Dan kini, Sulastri melakukan perjalanan menuju Galuh ditemani Aji. Kalau Sulastri semakin suka dan kagum kepada Aji yang ia lihat berbeda dari kebanyakan pemuda yang kalau memandang kepadanya mata mereka membayangkan gairah dan sikap mereka menjadi kurang ajar, di lain pihak Aji juga diam-diam kagum kepada gadis itu. Dia melihat bahwa Sulastri benar-benar seorang dara yang perkasa, tidak pemalu, sama sekali tidak lemah dan tidak cengeng walaupun terkadang agak manja. Seorang dara perkasa yang masih amat muda namun cerdik dan pemberani, juga yang dapat menghadapi segala kesukaran dengan sikap yang selalu lincah jenaka.

Terkadang dara itu bersikap ugal-ugalan dan kekanak-kanakan, akan tetapi harus dia akui bahwa semua sepak terjang Sulastri menyeretnya ke dalam suasana yang menggembirakan. Dia yang biasanya memandang dunia ini dengan sikap serius, kini seolah baru terbuka matanya bahwa di dunia ini orang dapat memandang dunia ini sebagai sebuah tempat yang indah dan serba menggembirakan. Apapun yang terjadi kepada mereka, gadis itu selalu dapat menanggapinya dengan gembira yang tidak dibuat-buat, melainkan dapat menerima apa adanya dan selalu dapat mengambil yang terbaik dan yang paling menggembirakan dari keadaan itu.

Seperti misalnya ketika mereka kehujanan sampai basah kuyup dan mereka berlari-lari mencari tempat untuk meneduh, gadis itu tertawa-tawa gembira. “Wah, mengingatkan aku ketika aku masih kecil dan berhujan-hujan, alangkah senangnya!” dan ketika mereka memasuki guha, membuat api unggun untuk menahan dingin, Sulastri berkata, “Untung sekali udara dingin menusuk tulang sehingga berapi-api begini terasa nyaman bukan main!” Ketika mereka berteduh di bawah pohon rindang di tengah hari yang terik panas membakar, iapun berkata dengan wajah ceria, “Wah, beruntung siang hari ini demikian panasnya sehingga kita dapat berteduh di sini menikmati kipasan angin dan sejuknya bayangan daun daun pohon!”

Pendeknya, Aji tidak pernah mendengar dara itu berkeluh kesah. Dalam segala keadaan ia tetap bergembira dan tidak pernah mengeluh. Apalagi setelah mereka semakin akrab dan saling mengenal, baru Aji mengetahui bahwa selain memiliki aji-aji kesaktian, dara inipun pandai sekali bertembang dengan suara merdu, mengenal seni tari, dan pengetahuannya tentang sastera juga cukup luas. Sungguh merupakan seorang gadis yang memiliki banyak keahlian, cantik jelita bertubuh indah, sakti mandraguna, gagah perkasa dan cerdik lagi pandai. Seorang gadis pilihan di antara seribu dan sukar dicari keduanya! Selain ini, kiranya baru Sang Puteri Wandansari saja yang dapat disejajarkan dengan Sulastri!

Aji sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dara yang setiap hari bersamanya itu mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang yang hendak dicarinya, yaitu kakak tirinya Hasanudin dan putera gurunya yang bernama Sudrajat! Memang Sulastri yang merasa kesal kepada dua orang itu tidak pernah bercerita kepada Aji tentang mereka berdua. Ia hanya menceritakan bahwa gurunya bernama Ki Ageng Pasisiran, seorang pertapa di pantai Laut Utara, di daerah Indramayu.

Pada suatu pagi yang cerah, tibalah mereka di dataran rendah yang penuh dengan hutan. Ada yang cukup baik untuk dapat dilalui dengan cepat. Di kanan kiri terbentang sawah yang luas dan subur kehijauan dan di depan tampak hutan yang lebat. Pagi yang cerah, matahari yang hangat itu mendatangkan kegembiraan dalam hati Sulastri.

“Mas Aji, mari kita berlomba balap kuda. Aku teringat bahwa tidak jauh lagi, di tengah hutan depan itu atau di sebelah sananya, terdapat Kali Serayu. Mari kita berlomba siapa yang dapat lebih dulu tiba di tepi sungai!”

Aji tersenyum, hanyut dalam kegembiraan yang dipancarkan wajah yang cantik itu. Pagi tadi Sulastri mandi di sebuah sungai yang airnya jernih sekali. Dengan menutup tubuhnya dengan tapih pinjung yang ujungnya dikaitkan di dada, dara itu mandi dengan gembira dan tanpa rikuh-rikuh lagi mengajak mandi pula! Ternyata Sulastri dapat juga berenang walaupun bukan ahli. Ia mandi dan mencuci rambutnya yang hitam panjang sampai ke punggung.

Setelah puas mandi dan bertukar pakaian di balik batu besar, dara itu tampak segar dan semakin ayu manis merak ati. Rambutnya dibiarkan terurai agar kering, wajahnya tampak putih mulus kemerahan, matanya bersinar-sinar penuh semangat hidup, bibirnya selalu merekah dengan senyum manis. Setelah menunggang kuda beberapa lamanya dan rambutnya yang berkibar itu dikeringkan oleh angin, kini ia menggelung rambutnya dengan sederhana namun membuatnya tampak lebih dewasa.

“Hai, Mas Aji jangan melamun. Aku hitung sampai tiga dan kita mulai berlumba. Siap! Satu-dua-tiga...!” Sulastri sudah membedal kudanya yang melompat jauh ke depan lalu membalap dengan cepat.

Aji tersenyum dan membalapkan kudanya pula. Dia merasa yakin bahwa kalau dia bersungguh-sungguh, kuda yang ditungganginya pasti mampu mengalahkan kuda yang dirunggangi Sulastri. Kudanya adalah pemberian Sultan Agung, seekor kuda Arab yang kuat dan dapat berlari cepat sekali. Akan tetapi dia sudah mulai mengenal watak dara itu. Seorang dara yang keras hati dan dara seperti itu tidak mudah mengaku kalah!

Bahkan kalau dikalahkan mungkin saja hatinya akan menjadi jengkel! Biarlah lebih baik membiarkan Sulastri yang menang karena dengan demikian gadis itu tentu akan senang hatinya. Maka diapun membatasi kecepatan larinya kuda dan hanya mengikuti dari belakang dalam jarak sekitar lima puluh meter. Cukup jauh akan tetapi dia masih dapat melihat bayangan gadis di atas kuda itu, setidaknya dia masih dapat melihat kepulan debu yang ditimbulkan keempat kaki kuda itu. Mereka berdua sudah memasuki daerah berhutan.

Aji melihat bayangan gadis itu lenyap, membelok di sebuah tikungan jalan. Dia membedal kudanya untuk mengejar lebih dekat karena daerah yang cukup gawat karena biasanya di tempat seperti itu munculnya orang-orang jahat yang suka mengganggu orang lewat. Setelah dapat melihat lagi Sulastri yang duduk di atas kudanya yang membalap, tiba-tiba terdengar seruan nyaring gadis itu dan Aji melihat betapa kuda yang ditunggangi Sulastri terjungkal!

Dia terkejut sekali akan tetapi legalah hatinya ketika dia melihat tubuh Sulastri itu tidak terbawa jatuh. Tubuh gadis itu melayang ke atas, berjungkir balik di udara sampai lima kali lalu gadis itu dengan ringannya turun dan hinggap di atas tanah. Bukan main tangkasnya gerakan itu, tangkas dan indah sekali sehingga Aji merasa kagum bukan main. Akan tetapi dia juga merasa khawatir karena terjungkalnya kuda yang ditunggangi Sulastri pasti ada sebabnya. Aji membalapkan kudanya dan setelah tiba di tempat itu, cepat dia menghentikan kudanya dan melompat, langsung tubuhnya melayang turun dekat Sulastri.

“Engkau tidak apa-apa, Lastri?” tanyanya khawatir.

Sulastri menggeleng kepala, mengerutkan alisnya memandang ke depan dan berkata sambil mengertakkan giginya. “Keparat, agaknya mereka itulah yang merobohkan kudaku!”

Aji memandang ke arah depan dan diapun melihat empat orang melangkah perlahan menghampiri mereka. Kuda yang tadi ditunggangi Sulastri telah menggeletak tak bergerak, agaknya telah mati. Ketika Aji mengenal tiga orang di antara empat orang yang melangkah perlahan menghampiri mereka, dia terkejut. Tiga orang yang dikenalnya dengan baik itu bukan lain adalah Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, dan Nyi Maya Dewi! Sedangkan seorang lagi laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang gagah dan tampan, berpakaian mewah, yang tidak dikenalnya.

Sulastri juga segera mengenal Aki Somad dan Nyi Maya Dewi, dua orang yang pernah menjadi lawan ketika ia membantu Ki Sumali dan gadis inipun maklum bahwa ia dan Aji berhadapan dengan lawan yang tangguh. Akan tetapi karena ia merasa mampu melawan Nyi Maya Dewi, sedangkan ia tahu bahwa Aji juga mampu melawan Aki Somad, hatinya besar dan ia memandang dengan berani dan marah. Ia sama sekali tidak mengenal Ki Harya Baka Wulung dan pria berpakaian mewah itu, tidak tahu bahwa Ki Harya Baka Wulung adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak kalah digdayanya dibandingkan Aki Somad sendiri sehingga mereka tentu saja merupakan lawan yang amat berat dan bernahaya.

Aji tahu akan hal ini, namun dia tetap bersikap tenang. Dia hendak memperingatkan Sulastri akan lawan-lawan yang berbahaya itu, akan tetapi dia tidak dapat mencegah Sulastri yang telah mendahuluinya. Gadis itu melangkah maju dan dengan suara lantang ia sudah memaki sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung Nyi Maya Dewi.

“Heii, nenek genit tak tahu malu, iblis betina Maya!” Sulastri sudah mendengar dari Aji bahwa wanita cantik genit itu bernama Maya Dewi, akan tetapi ia sengaja memanggilnya Iblis Betina Maya. “Sungguh mukamu tebal sekali. Engkau sudah kalah, kini muncul mengandalkan banyak orang, bahkan dengan curang sekali menyerang dan membunuh kudaku! Kalau kamu bukan pengecut hina yang tidak tahu malu, hayo lawan aku. Jangan sebut aku Sulastri kalau pedang pusakaku Naga Wilis ini tidak akan memenggal batang lehermu!”

Aji mengerutkan alisnya. gadis itu pemberani, akan tetapi sekali ini benar-benar sembrono dan terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Dia tahu benar bahwa mereka berdua saat ini berada dalam ancaman bahaya besar. Melawan Ki harya Baka Wulung atau Aki somad dia masih sanggup kalau satu lawan satu, akan tetapi kalau mereka berdua maju berbareng, sungguh merupakan lawan yang teramat tangguh dan berat. Dia tahu pula bahwa tingkat kepandaian Sulastri berimbang dengan tingkat Nyi Maya Dewi, bahkan Sulastri mungkin akan dapat mengatasinya, akan tetapi di sana ada seorang laki-laki yang tampak gagah perkasa dan mudah dilihat bahwa dia pasti bukan orang lemah!

Nyi Maya Dewi tertawa, suara tawanya masam dan jelas bahwa ia mencoba untuk menyembunyikan kemarahannya di balik sikap mengejek dan tertawa itu. “Bocah lancang dan sombong, engkaulah yang sekarang harus mati ditanganku. Engkau tidak akan dapat meloloskan diri dari kematian. Sayang, engkau harus mati dalam usia begini muda!”

Dengan gerakan perlahan penuh ancaman, dan mulutnya menyeringai penuh ejekan, Nyi Maya Dewi melolos sabuk cindenya. Sabuk Cinde Kencana itu berkilauan ketika tertimpa sinar matahari yang menerobos di antara celah-celah dedaunan. Akan tetapi Sulastri juga sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar hijau menyilaukan mata. Akan tetapi pada saat itu, laki-laki tampan gagah berusia empat puluhan tahun itu berkata, suaranya lembut dan kata-katanya teratur seperti biasanya kaum menak (priyayi) bicara.

“Nyi Maya Dewi, perlahan dulu dan tahan kemarahanmu. Aku merasa sayang sekali kalau dara ayu manis merak ati ini terbunuh. Aku menginginkan ia dapat ditawan hidup-hidup dan tidak sampai cidera berat.”

“Andika menginginkannya, raden?” kata Nyi Maya Dewi. “Ia ini seperti seekor kuda betina liar. Tidak mudah untuk menangkapnya hidup-hidup, maka andika harus membantuku.”

“Mari kita berdua menangkapnya!” Laki-laki itu mencabut sebatang golok bergagang emas. “Aku akan menahan pedangnya dan andika yang membuatnya tidak berdaya.”

“Baik, Raden, akan tetapi jangan melupakan aku kalau gadis itu sudah berhasil kau dapatkan!” Mendengar percakapan antara dua orang itu, Sulastri tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Jahanam-jahanam busuk!” bentaknya dan gadis itu sudah menerjang maju menyerang laki-laki itu. Yang diserang menggerakkan goloknya yang bergagang emas.

“Trang...!!” Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan laki-laki itu tampak terkejut bukan main ketika dia merasa betapa tangannya yang memegang golok tergetar hebat, tanda bahwa gadis muda itu memiliki tenaga sakti yang kuat bukan main. Akan tetapi pada saat itu, sinar keemasan menyambar ke arah pundak Sulastri. Gadis ini maklum bahwa Nyi Maya Dewi menyerangnya dari samping, maka ia cepat mengelak dan memutar pedangnya membalas. Segera dara perkasa itu dikeroyok dua dan ia mengamuk, memutar pedangnya sehingga pedang Nogo Wilis itu berubah menjadi gulungan sinar hujau.

Sementara itu, Aji sudah dihadapi dua orang kakek sakti itu. Dia berdiri dengan sikap tenang walaupun hatinya mengkhawatirkan keselamatan Sulastri yang dikeroyok dua. “Heh, orang muda! Dahulu andika menggagalkan kami membunuh Puteri Wandansari! Sekarang tiba saatnya kami membunuhmu atas dosamu mencampuri urusan kami dan menggagalkan usaha kami!” kata Ki harya Baka Wulung dengan suara nyaring sambil mencabut kerisnya yang besar berluk sembilan.

“Ki Harya Baka Wulung, aku telah mendengar dari sang puteri siapa sebenarnya andika. Kalau andika memusuhi Mataram sebagai seorang tokoh Madura, hal itu masih dapat kumengerti. Akan tetapi sekarang andika bergabung dengan Aki Somad ini dan Nyi Maya Dewi! Tidak tahukah andika siapa mereka? Mereka adalah telik sandi (mata-mata) Kumpeni Belanda, menjual tanah air kepada bangsa asing?”

“Orang muda sombong, tutup mulutmu! Kami semua adalah musuh-musuh Mataram. Siapa yang memusuhi Mataram adalah sekutu kami. Bersiaplah engkau untuk mampus di tanganku!” bentak Aki Somad yang menjadi marah sekali dan langsung saja dia sudah menggerakkan senjatanya tongkat ular kering, menyerang dengan tusukan ke arah tenggorokan Aji. Senjata kakek ini berbahaya sekali karena tongkat ular kering itu amat beracun. Sekali kulit tergores robek sudah cukup untuk mendatangkan kematian karena keracunan.

Maklum akan ketangguhan lawan ini, apa lagi di situ masih ada Ki Harya Baka Wulung, Aji cepat mencabut keris pusaka Kyai Nogowelang pemberian Sultan Agung dan diapun bergerak dengan ilmu silat Alap-alap sakti yang dirangkainya sendiri. Ilmu silat ini berdasarkan gerakan burung alap-alap ketika berkelahi melawan ular, mengandalkan kegesitan dan loncatan-loncatan seperti terbang. Karena tubuh Aji sudah terlatih baik dalam kelincahan ilmu silat Wanara Sakti yang dipelajarinya dari Resi Tejo Budi, maka dia dapat mainkan ilmu silat Alap-alap Sakti dengan baik sekali.

Dengan gerakan yang amat gesit, mudah saja dia menghindarkan tiga kali serangan berturut-turut yang dilakukan Aki Somad dengan elakan, bahkan segera membalasnya dengan tendangan kakinya yang mencuat dari samping dan hampir saja mengenai lambung Aki somad yang menjadi terkejut sekali. Kalau dia tidak cepat membuang dirinya ke samping, tentu lambungnya terkena sambaran kaki pemuda itu. Melihat Aki Somad sudah mulai bertanding melawan pemuda yang dia tahu amat digdaya itu, Ki Harya Baka Wulung cepat menggerakkan kerisnya mengeroyok Aji.


Alap Alap Laut Kidul Jilid 11

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 11
"KALAU begitu, sesuai dengan kepercayaan kita tadi, kita bertiga inipun tidak bersih dari kesalahan dan dosa! Kita bertiga inipun hanya merupakan orang-orang yang berdosa, bukankah begitu?”

Gadis itu agak meragu, akan tetapi lalu mengangguk. “Ya, begitulah mestinya.”

“Nah, kalau kita sendiri inipun adalah manusia-manusia berdosa, mengapa kita menyalahkan orang-orang lain yang kita anggap jahat? Mereka dan kita sama saja, bukan? Sama berdosanya. Hanya dosa kita itu berbeda-beda sifatnya atau kadarnya, akan tetapi tetap saja kita sama-sama orang berdosa. Jadi sudah sepatutnyalah berdasarkan persamaan dan rasa prikemanusiaan kita memaafkan kesalahan orang lain.”

“Wah, wah! Ucapan dan pendapatmu makin mirip ayah, kakangmas. Akan tetapi aku masih merasa penasaran. Mereka itu orang-orang jahat dan berbahaya“

“Orang yang sedang melakukan perbuatan menyimpang dari kebenaran tiada bedanya dengan orang yang sedang sakit, nimas. Yang sakit itu batinnya, bukan badannya. Akan tetapi ingat, orang yang sakit itu dapat sembuh dan orang yang sedang sehat itu bisa saja tiba-tiba jatuh sakit, artinya, orang yang sekarang jahat itu dapat saja bertaubat dan menjadi baik, sebaliknya orang yang sekarang tampak baik itu bukan tidak mungkin jatuh dan melakukan perbuatan jahat. Karena itu, mencoba menyadarkan orang jahat sama dengan mencoba menyembuhkan orang sakit dan aku percaya seyakin-yakinnya, kalau Gusti Allah menghendaki, mereka yang tadinya jahat itu dapat menjadi orang-orang yang berguna dan baik.”

“Ah, betapa sukarnya untuk dapat memaafkan orang yang telah berbuat jahat kepada kita!” kata gadis itu.

“Engkau benar, Lastri. Memang memaafkan orang yang bersalah kepada kita itu sukar sekali.”

Pada saat itu muncul Winarsih. “Hei, tiada habis-habisnya kalian bicara. Mari, berhenti dulu bicaranya dan kita makan. Hari sudah siang, makanan sudah kupersiapkan di meja makan ruangan dalam. Silakan!”

Mereka berempat lalu memasuki ruangan dalam dan makan bersama. Sulastri merasa gembira setelah mendapat kenyataan bahwa uwanya ternyata adalah seorang yang ramah dan baik. Terlebih lagi senang hatinya melihat isteri uwanya itu ternyata seorang yang amat ramah dan lembut, bersikap demikian akrab kepadanya seolah mereka sudah lama sekali berkenalan. Akan tetapi yang paling menarik hatinya adalah Aji. belum pernah sebelumnya dia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian lembut, sopan, berpemandangan luas, pandai berfilsafat seperti seorang kyai, dan memiliki kesaktian yang hebat pula!

Sampai tiga hari tiga malam lamanya Aji tinggal di rumah Ki Sumali. Dia selalu ditahan-tahan oleh suami isteri itu, bahkan Sulastri yang kini mulai akrab dengannya juga ikut membantu suami istri itu menahan Aji. Akan tetapi pada hari ke empatnya, pagi-pagi sekali Aji memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dan berpamit.

Setelah menikmati sarapan pagi, dia berkata kepada Ki Sumali. “Paman, pagi hari ini terpaksa saya mohon diri. Paman tentu maklum bahwa saya mengemban tugas, maka tidak dapat saya tinggal di sini lebih lama lagi. Saya harus melanjutkan perjalanan saya, saya harus melanjutkan perjalanan saya, saya harap Paman Sumali, Mbakayu Winarsih, dan Nimas Sulastri kali ini tidak akan menahan saya lagi.”

Ki Sumali mengangguk. “Kami mengerti, Anak mas Aji. Kami sudah cukup bersyukur bahwa anak mas mau tinggal di sini sampai tiga hari lamanya. Kalau anak mas sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan hari ini, kami hanya dapat memberi bekal doa keselamatan agar engkau selamat dalam perjalanan dan berhasil melaksanakan tugas-tugasmu.”

“Dan percayalah, Dimas Aji. Kami sekeluarga takkan pernah melupakan budimu yang telah menolong dan menyelamatkan kami. Semoga Gusti Allah membalas segala budi kebaikanmu itu.” kata Winarsih dan suaranya mengandung keharuan.

“Eh, Mas Aji, engkau hendak melanjutkan perjalanan ke manakah? Atau hal itu merupakan rahasia besar dan aku tidak boleh mengetahuinya?” tiba-tiba Sulastri bertanya, sepasang mata yang jeli itu memandang penuh selidik.

Aji tersenyum. “Tentu saja engkau boleh mengetahui, Lastri!” Kini hubungan antara kedua orang muda itu begitu akrab sehingga Sulastri menyebut pemuda itu Mas Aji dan sebaliknya Aji menyebutnya Lastri begitu saja. “Aku akan pergi ke daerah Galuh, kemudian menyusup ke daerah Kumpeni Belanda di Batavia dan juga mungkin aku akan pergi ke Banten.”

Gadis itu memandang dengan wajah berseri dan kedua matanya bersinar-sinar. “Ke Galuh? Ah, sungguh kebetulan sekali! Aku pergi denganmu, Mas Aji. Akupun hendak pulang ke Galuh!”

“Lastri, baru tiga hari engkau di sini. Masa sudah hendak pergi lagi?” kata Winarsih.

“Lastri, Anak mas Aji melakukan perjalanan untuk melaksanakan tugas. Bagaimana engkau dapat melakukan perjalanan bersama dia?” kata pula Ki Sumali.

“Bude, aku berjanji kepada ayah ibu untuk tidak terlalu lama pergi, maka aku akan segera pulang. Dan, Pakde, aku tidak mengganggu Mas Aji. Melakukan perjalanan berdua tentu lebih asyik dan menyenangkan! Pula, kalau perlu, aku dapat membantu Mas Aji melaksanakan tugasnya!” kata gadis itu dengan lincah dan gembira.

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Dia adalah pakde (uwa) dari gadis itu. Dan sudah sepantasnya kalau dia mewakili adiknya untuk menasihati gadis itu dan menganggapnya sebagai anak sendiri. “Nini Sulastri.” katanya dan suaranya terdengar sungguh-sungguh dan penuh wibawa. “Dengarkan nasihatku karena di sini aku menjadi pengganti ayahmu. Engkau tidak boleh melakukan perjalanan berdua dengan Anak mas Aji. Seorang perawan dan seorang perjaka, bagaimana boleh melakukan perjalanan jauh berhari-hari hanya berdua saja? Apa anggapan orang nanti? Ini namanya tidak pantas dan kalian dapat disangka suami isteri!”

Mendengar ucapan pakdenya itu, Sulastri tertawa. “Hi-hik, sudah habiskah nasihat pakde? Kalau sudah habis, aku akan menjawab!”

Ki Sumali mengerutkan alisnya. Biarpun baru berkumpul selama tiga hari dia sudah mengenal gadis itu sebagai seorang yang berwatak keras dan jujur. Akan tetapi dia tidak percaya bahwa gadis perkasa itu memiliki watak yang bandel dan keras kepala. “Jawablah, asal jawabanmu masuk akal.” katanya.

“Begini, pakde dan bude. Aku akan menjawab nasihat pakde tadi satu demi satu. Pakde bilang bahwa pakde menjadi pengganti ayahku, akan tetapi aku melihat bahwa pendapat pakde dan ayahku sama sekali berbeda, jauh berbeda. Buktinya, ayahku mengijinkan aku melakukan perjalanan ke sini seorang diri saja! Dan aku yakin akan pendirian ayah, pasti tidak akan memberikan nasihat seperti yang pakde berikan tadi. Sekarang tentang seorang perawan dan seorang perjaka melakukan perjalanan bersama. Mengapa tidak boleh? Biarpun melakukan perjalanan bersama yang jauh berhari-hari, hanya berdua saja, apa salahnya? Melakukan perjalanan berdua bukanlah dosa, pakde. Sekarang tentang anggapan orang! Hidup kita tidak ada sangkut pautnya dengan pendapat dan anggapan orang-orang lain! Pantas dan tidak pantas itu bergantung sepenuhnya kepada prilaku kita sendiri. Kalau ada orang menganggap kita melakukan perbuatan yang tidak pantas dan berdosa, yang penting kita harus mengamati diri sendiri. Kalau benar-benar kita melakukan perbuatan yang salah itu, kita harus mawas diri dan berusaha sekuat tenaga untuk bertaubat dan mengubah prilaku kita. Sebaliknya kalau kita bersih dari anggapan itu, maka kita tidak perlu menghiraukan semua anggapan itu. Aku yakin ayahku akan memberi nasihat seperti ini, pakde. Kalau kita terlalu menggantungkan kehidupan kita pada pendapat orang lain, kita akan sukar untuk melangkah, tentu akan tersandung-sandung pendapat dan anggapan orang lain yang hanya usil dan mau tahu urusan orang lain.”

Mau tidak mau Ki sumali tersenyum. Bantahan itu memang bernada keras, namun dia dapat melihat kebenaran yang terkandung di dalamnya. “Wah, engkau ini pantas menjadi Srikandi, Lastri. Akan tetapi kita ini manusia yang bermasyarakat, tidak hidup sendiri, bagaimana kita akan dapat mengabaikan pendapat umum begitu saja?”

“Pendapat umum memang harus kita perhatikan, akan tetapi kita terima yang kita anggap benar dan baik saja, yang salah dan tidak baik tentu saja kita tolak! Wah, kita berbantahan panjang lebar tentang niatku melakukan perjalanan bersama mas Aji, sama sekali tidak ingat bahwa yang bersangkutan dan berkepentingan berada di depan hidung kita! Pada hal yang berhak menentukan adalah Mas Aji sendiri! Nah, Mas Aji, sekarang jawablah sejujurnya, tidak perlu rikuh-rikuh tidak perlu pura-pura. Bagaimana tanggapanmu? Maukah engkau kalau aku menemanimu melakukan perjalanan ke Galuh atau engkau merasa keberatan kalau kita melakukan perjalanan bersama?”

Dalam perbantahan antara pakde dan keponakan tadi, Aji dapat merasakan kebenaran kedua orang itu. Sebetulnya, kalau dia mau jujur terhadap dirinya sendiri, dia merasa senang akan tetapi juga rikuh melakukan perjalanan berdua saja dengan seorang gadis yang demikian ayu manis merak ati! Menolak tentu saja tidak mungkin. Hal itu tentu akan membuat Sulastri tersinggung dan marah dan dia tidak menghendaki demikian. Dia tersenyum, memandang kepada Ki Sumali, lalu kepada Winarsih dan akhirnya kepada Sulastri yang menatap wajahnya dengan sinar mata mencorong penuh selidik. “Lastri, tentu saja aku tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bersamamu”

“Yahuuuu...!” Gadis itu bersorak sambil mengangkat kedua lengan ke atas dan membuat gerakan tari yang luwes dengan gerakan leher, pundak, dan pinggul sehingga tiga orang itu mau tidak mau tertawa melihatnya.

“Akan tetapi, Lastri...”

Sulastri tiba-tiba menghentikan tariannya, menghadap Aji dan bertanya keras, “Akan tetapi apa?”

“Karena aku mengemban tugas dari Gusti Sultan Agung, maka tentu saja perjalananku mengandung bahaya dan aku tidak ingin melibatkan dirimu dalam bahaya.”

“Phuuuuhhhh! Bahaya? Bahaya itu makananku sehari-hari, mas! Kalau ada bahaya menghadang, aku malah dapat membantumu mengatasinya. Aku juga bukan seorang perempuan lemah yang membutuhkan perlindungan! Aku dapat melindungi diri sendiri bahkan dapat membantumu!”

“Lastri, engkau berlawanan dengan pendapat umum, berarti engkau menentang arus!” kata Ki Sumali.

Gadis itu memutar tubuh, kini menghadapi pakdenya. “Menentang arus, pakde? Harus! Harus! Seorang yang merasa dirinya gagah dan memiliki prinsip, mempunyai pendirian teguh, harus berani menentang arus! Kita sudah terbiasa mengaminkan saja semua pendapat umum seolah-olah pendapat umum itu pasti benar! Itu salah kaprah namanya, biarpun salah kalau sudah menjadi pendapat umum menjadi benar! Celakalah orang yang tidak punya pendirian. Contohnya pakde sendiri. Pakde adalah seorang yang memiliki pendirian teguh dan pakde tentu berani menentang arus. Misalnya orang seluruh Loano ini menjadi antek Belanda, apakah pakde juga mengikuti arus, menuruti pendapat umum ikut-ikutan menjadi antek Belanda? “Nah, itu namanya menentang arus karena pakde mempunyai prinsip berdasarkan kesetiaan pakde kepada Nusa dan Bangsa! Nah, sekarang contohnya yang jelas lagi seperti bude ini. Iapun wanita yang berani menentang arus karena mempunyai prinsip!”

“Eh! Aku?” Winarsih membelalakkan matanya yang indah dan lembut sinarnya itu. “Jangan bergurau, Lastri! Aku ini hanya seorang perempuan yang lemah dan bodoh!”

“Siapa bilang bude lemah dan bodoh? Maaf, aku bukan hendak menyinggung atau mengejek, aku bahkan kagum dan memuji, dan bicara dari hati tanpa tedeng aling-aling karena aku membicarakan kenyataan. Pakde dan bude, kukira umum akan berpendapat bahwa amat tidak baik dan tidak pantas bagi bude yang cantik dan muda menjadi istri pakde yang jauh lebih tua, bukan? Akan tetapi bude mempunyai prinsip yang kuat berdasarkan cinta kasih murni. Nah, karena prinsip itu, bude berani menentang arus, bertindak berlawanan dengan pendapat umum. Dan aku sama sekali tidak berpendapat bahwa tindakan yang diambil bude itu salah!”

Ki Sumali dan Winarsih saling pandang, akan tetapi mereka tidak merasa tersinggung karena gadis itu bicara blak-blakan, walaupun wajah mereka berubah kemerahan. “Ha-ha-ha! Sudahlah, sudahlah! Kami mengaku kalah. Mana bisa menang berdebat melawan seorang Srikandi?” kata Ki Sumali tertawa.

Isterinya, Winarsih tersenyum saja. Ia diam-diam harus membenarkan ucapakan keponakan suaminya itu. Semenjak ia menjadi isteri Ki Sumali, entah sudah berapa banyak kenalan sedusunnya, baik secara halus menyindir atau terang-terangan, menyatakan keheranan mereka, menyayangkan dirinya yang masih begitu muda menjadi isteri suaminya yang jauh lebih tua. Akan tetapi semua itu dianggapnya angin lalu saja karena di dasar hatinya ia harus mengakui bahwa ia amat kagum dan cinta kepada pria itu. Baginya tidak ada pria lain yang patut dikagumi, dikasihani, disayang kecuali Ki Sumali!

“Wah, Dimas Aji akan repot sekali menghadapimu dalam perjalanan. Engkau jangan selalu membantahnya, Lastri.” kata Winarsih sambil tersenyum.

“Aih, tidak bisa, bude! Kalau perlu, jika kuanggap dia keliru, pasti akan kubantah, bude!” kata dara itu sambil menatap wajah Aji dengan sinar mata menantang. Aji tersenyum.

“Nimas Lastri benar. Setiap orang perlu menerima kritik dari orang lain karena kalau tidak, dia tidak akan pernah dapat menyadari akan kesalahannya sendiri.”

“Nah, itu baru namanya jantan!” Sulastri berseru girang, merasa dibenarkan. “Mengakui kebenaran orang lain dan menyadari kesalahan sendiri akan tetapi juga melihat kesalahan umum dan berani menentangnya, itulah seyogyanya sikap seorang gagah!”

“Wah, melihat gelagatnya, agaknya Anakmas Aji yang akan kau lindungi, bukan sebaliknya!” kata Ki Sumali sambil tertawa.

“Ah, ya tidak, pakde. Orang hidup harus saling bantu, saling tolong, saling melindungi. Betul tidak, kangmas Aji?”

Aji tersenyum dan mengangguk. “Engkau benar, nimas.” Diam-diam Aji merasa senang. Gadis ini luar biasa. Belum pernah dia bertemu dengan gadis selincah ini, Sama cantik jelitanya dengan Puteri Wandansari, isteri Adipati Surabaya dan puteri Sultan Agung. Hanya bedanya, Puteri Wandansari yang juga gagah perkasa itu sikapnya lembut dan penuh wibawa, sedangkan Sulastri lincah jenaka dan keras kepala, seperti kuda betina liar yang sukar ditundukkan dan dijinakkan. Akan tetapi, gadis ini jelas boleh diandalkan. Sakti mandraguna dan penuh keberanian, memiliki jiwa pendekar yang gagah perkasa.

Setelah berkemas, Aji dan Sulastri pada hari itu juga meninggalkan Loano. Ki Sumali menyerahkan seekor kuda yang cukup baik untuk Sulastri dan kedua orang muda itu menyeberangi Kali Bogawanta lalu menunggang kuda menuju ke barat.

cerita silat online karya kho ping hoo

Benar seperti yang menjadi dugaan dan harapan Aji, perjalanan bersama Sulastri benar-benar amat menyenangkan hati. Dara itu selalu riang gembira, wajahnya cerah ceria dan sikapnya lincah jenaka sehingga suasananya selalu menyenangkan. Selain menjadi teman seperjalanan yang amat menyenangkan, juga Aji menganggap Sulastri dapat menolongnya menjadi penunjuk jalan dalam usahanya mencari kakak tirinya Hasanudin dan juga mencari Raden Banuseta yang telah membunuh ayahnya.

Di lain pihak, Sulastri juga semakin akrab dan suka kepada Aji. Dia mengagumi Aji yang dia tahu memiliki kesaktian yang luar biasa, dan pemuda ini sungguh amat berbeda daripada pemuda lain. Biasanya, para pemuda memandang kepadanya dengan sinar mata penuh gairah dan sikap mereka condong untuk menggodanya. Akan tetapi pandang mata Aji kepadanya lembut dan sopan, sikapnya terkendali dan menghormatinya. Hal ini membuat ia merasa senang sekali dan ia merasa semakin suka kepada pemuda itu. Akan tetapi kadang iapun dapat memperlihatkan kejengkelannya terhadap Aji yang dicelanya sebagai terlalu lamban, telalu sabar dan terlalu mengalah.

Dara yang cantik jelita, lincah jenaka dan gagah perkasa ini adalah anak tunggal dari Ki Subali yang tinggal di Indramayu. Ki Subali adalah seorang saterawan dan dia juga menjadi seorang dalang yang terkenal di Indramayu. Keahliannya sungguh berbeda dengan kakaknya, Ki Sumali. Kalau Ki Sumali sejak mudanya suka memperdalam olah kanuragan, sebaliknya Ki Subali suka mempelajari sastra dan seni. Dia pandai menari, menembang, mendalang dan ahli sastra, bahkan pandai mendalang wayang golek. Isterinyapun seorang waranggana (penembang) yang bersuara merdu dan sering menjadi pesindennya ketika suaminya mendalang. Mereka hanya memiliki seorang anak, yaitu Sulastri.

Tidaklah mengherankan kalau suami isteri itu amat memanjakan Sulastri sehingga anak ini tumbuh menjadi seorang anak yang manja dan keras hati, minta agar semua keinginannya dituruti. Sejak kecil Sulastri berwatak lincah dan nakal, seperti seorang anak laki-laki yang diam-diam didambakan ayah ibunya. Ia bahkan suka bergaul dengan anak laki-laki daripada dengan anak perempuan. Kebiasaan ini tentu saja membuat ia bertambah lincah dan nakal, seperti anak laki-laki.

Maka, tidak aneh kalau setelah ia berusia spuluh tahun, ia merengek kepada ayahnya, minta agar ia dibawa ayahnya untuk berguru ilmu bela diri kepada Ki Ageng Pasisiran, seorang kakek tua renta yang dikenal sebagai seorang yang sakti mandraguna. “Ah, kau kira mudah saja menjadi murid Ki Ageng Pasisiran?” teriak Ki subali terkejut dan heran ketika anaknya yang berusia sepuluh tahun itu merengek minta agar diantar ayahnya utnuk menjadi murid kakek sakti itu. “Hal itu sama sekali tidak mungkin, Lastri!”

“Aih, ayah ini! Mengapa tidak mungkin? Aku tahu bahwa ayah adalah sahabat Ki Ageng Pasisiran! Kalau ayah yang membawa ke sana, tentu dia akan mau menerimaku sebagai murid!” Sulastri membantah.

“Hemmm, anak tak tahu diri. Mau tahu mengapa tidak mungkin? Pertama karena engkau masih anak kecil dan perempuan lagi! Kedua, setahuku Ki Ageng Pasisiran tidak pernah menerima murid. Selama ini aku lihat dia hanya mempunyai dua orang murid, itupun yang seorang adalah puteranya sendiri. Dan ketiga, Ki Ageng Pasisiran kini sudah tua, usianya sudah tujuh puluh tahun, bagaimana dapat menerima murid seorang bocah perempuan berusia sepuluh tahun seperti engkau?”

Sulastri membanting-banting kaki dan menangis lalu lari ke pangkuan ibunya. “Ibu... ibu... kalau begitu ibu saja yang mengantar aku ke sana. Ayah tidak mau, ayah tidak sayang kepadaku...!”

Subali mengerutkan alisnya dan menghela napas panjang ketika melihat betapa isterinya memandang kepadanya dengan penuh tuntutan. Selalu saja isterinya membela puteri mereka itu. “Lastri, engkau ini seorang anak perempuan, bagaimana ingin mempelajari olah kanuragan? Mau jadi apa engkau kelak?”

“Ayah, kalau aku menjadi orang kuat dan digdaya, akan kuhajar orang-orang jahat itu! Anak-anak lelaki yang suka menggangguku, mengejek aku cengeng, ringkih, penakut dan sebagainya, akan kusikat semua!”

“Hemmm, engkau ini anak perempuan ingin menjadi tukang pukul, ya?” Ki Subali menegur.

“Bukan tukang pukul, ayah, melainkan seorang wanita yang berjiwa satria. Apa salahnya kalau seorang wnita menjadi sakti mandraguna? Bukankah Srikandi itu juga wanita? Dan ia gagah perkasa, tidak takut menghadapi penjahat yang manapun juga. Aku ingin menjadi seperti srikandi!"

Ki subali menggeleng-geleng kepala. “Baiklah, kalau engkau ingin belajar pencak silat, akan kumasukkan perguruan silat.”

“Tidak mau, ayah! Aku hanya ingin menjadi murid Eyang Ageng Pasisiran!” Sulastri merengek dan menangis.

Seperti biasa, kalau sudah begitu, ibu anak itu mendesak suaminya dan akhirnya Ki Subali mengalah. Apa boleh buat, dia pada suatu pagi mengantar anak perempuannya yang berusia sepuluh tahun itu kepada Ki Ageng Pasisiran yang tinggal di daerah pesisir, tentu saja dengan dugaan bahwa kakek tua renta itu pasti menolak, tentu anaknya yang bandel ini tidak akan dapt memaksanya lagi. Rumah kediaman Ki Ageng Pasisiran berada di dekat laut utara, sebuah rumah yang kokoh namun sederhana.

Ki ageng Pasisiran ini datang dan bertempat tinggal di situ sebagai seorang duda kurang lebih lima tahun yang lalu. Usianya sekarang sudah tujuh puluh lima tahun dan dia hidup menyepi di rumah yang terpencil itu, hanya ditemani seorang cantrik atau pelayan laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh tahun. Ketika datang dan bertempat tinggal di situ, dia dikenal sebagai seorang pertapa yang bernama Ki Ageng Pasisiran. Sebetulnya, kakek ini bukan lain adalah Ki Tejo Langit yang datang dari Banten.

Seperti kita ketahui, nama ini pernah disebut oleh Ki Tejo Budi sebagai kakak seperguruannya. Akan tetapi, kini Ki Tejo Langit muncul di pesisir Indramayu dengan nama Ki Ageng Pasisiran dan hidup menyendiri, hanya ditemani seorang pelayan atau cantrik. Di antara sedikit orang yang dikenal Ki Ageng Pasisiran, yang tak banyak juga jumlahnya, adalah Ki Subali. Kakek tua renta itu senang bercakap-cakap dengan Ki Subali tentang seni dan sastra. Sebaliknya Ki Subali juga mengagumi kakek tua renta itu karena luas pengalamannya.

Akan tetapi ketika Ki Subali berkunjung bersama puterinya, dia merasa ragu dan tegang juga. Tentu kakek sakti itu akan menganggap dia bergurau. Menggelikan memang kalau minta kakek tua renta sakti mandraguna itu mengambil Sulastri yang baru berusia sepuluh tahun, anak perempuan lagi, menjadi muridnya untuk mempelajari aji kesaktian!

Ki Ageng Pasisiran yang masih tampak tegap dan kuat itu menyambutnya dengan ramah. “Wah, kebetulan andika datang berkunjung, Ki Subali. Sudah lama tidak jumpa. Ini puterimu? Manis dan mungil!” Ki Ageng Pasisiran menyentuh pundak Sulastri. Akan tetapi begitu dia menyentuh pundak anak itu, dia memandang heran dan penuh perhatian, lalu kedua tangannya kini meraba-raba kedua pundak dan punggung, menelusuri tulang punggung dengan jari tangannya.

“Ada apakah, paman?” Tanya Ki Subali heran melihat kakek itu meraba-raba pundak dan punggung anaknya.

Ki Ageng Pasisiran seolah baru sadar. Dia melepaskan rabaannya dan berkata ramah. “Ah, tidak apa-apa. Mari, silakan duduk. Engkau juga duduklah, anak manis. Siapa namamu?”

“Nama saya Sulastri, eyang.” kata anak itu dengan tabah. Setelah mereka bertiga duduk, Ki Subali memberanikan diri berkata, “Paman, sebetulnya kedatangan saya sekali ini mengajak anak saya Sulastri bukan sekedar ingin bercakap-cakap seperti biasa, melainkan ada urusan yang hendak saya sampaikan kepada paman.”

Ki Ageng Pasisiran tersenyum sabar. “Ya, ya... urusan apakah itu, Ki Subali. Katakanlah.”

Ki Subali merasa agak rikuh dan tegang karena menganggap bahwa permintaannya tidak pantas. “begini, paman. Kedatangan saya ini, eh, kami ini... yaitu anak saya Sulastri ini... maksud saya ingin sekali... ah, bagaimana saya harus mengatakan...?”

Tiba-tiba Sulastri yang berkata lantang. “Eyang, saya ingin belajar aji kanuragan kepada eyang, saya ingin menjadi murid eyang!”

Ki Subali terkejut dan cepat berkata dengan sikap hormat kepada kakek itu. “Ah, mohon maaf sebanyaknya atas kelancangan kami, paman. Kami telah mengajukan permintaan yang bukan-bukan dan tidak pantas...“

Akan tetapi betapa heran dan girang hati Ki Subali ketika Ki Ageng Pasisiran tertawa dan berkata, “Heh-heh-heh, bagus sekali, bagus sekali! Inilah kesempatan baik bagiku, dalam tahun-tahun terakhir hidupku dapat mewariskan ilmu-ilmuku kepada seorang murid yang bertulang baik dan berbakat! Sulastri, aku suka menerimamu sebagai muridku!”

Sulastri memang anak yang luar biasa. Dalam usia sepuluh tahun itu, ia sudah pandai membawa diri dan begitu mendengar dirinya diterima menjadi murid Ki Ageng Pasisiran, langsung ia menjatuhkan diri berlutut dan menyembah di depan kaki ki Ageng Pasisiran! “Terima kasih banyak bahwa eyang guru sudi menerima saya menjadi murid!”

Melihat ulah puterinya, ki Subali juga cepat menghaturkan terima kasih. Demikianlah, mulai hari itu, Sulastri menjadi murid Ki Ageng Pasisiran. Setiap hari ia datang ke rumah kakek itu dan mulai menerima gemblengan langsung dari Ki Ageng Pasisiran. Ia ternyata amat berbakat dan juga tekun sekali sehingga kakek tua renta itu semakin bersemangat mengajarkan semua ilmu yang dikuasainya kepada murid itu.

Akan tetapi Ki Subali juga tidak melalaikan pendidikan sastra dan seni kepada puteri tunggalnya itu karena dia maklum bahwa pelajaran ilmu kanuragan yang tidak dibarengi dengan ilmu pendidikan kerohanian akan dapat membawa anaknya menyeleweng dan hanya akan mengandalkan kekerasan saja. Hal ini amatlah berbahaya. Karena itu, dengan bertukar pendapat bersama Ki Ageng Pasisiran, dia menanamkan jiwa satria kepada anaknya itu agar semua aji kanuragan yang dipelajarinya itu akan dapat dipergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan seperti watak seorang pendekar atau satria.

Demikianlah, bertahun-tahun Sulastri mempelajari ilmu kanuragan dari Ki Ageng Pasisiran sampai berusia delapan belas tahun. Selama delapan tahun itu ia mempelajari semua aji yang dikuasai Ki Ageng Pasisiran sehingga ia menjadi seorang dara perkasa yang memiliki kedigdayaan. Ia menjadi seorang dara yang sakti mandraguna, akan tetapi biarpun ia berwatak keras dan lincah jenaka seperti pembawaannya sejak ia kecil, namun pelajaran budi pekerti, kesusilaan dan kerohanian yang ia terima dari ayahnya merupakan pengekang sehingga ia tidak sampai menjadi seorang yang suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan aji kesaktiannya.

Setelah berusia delapan belas tahun dan sudah menyerap sebagian besar ilmu dari Ki Ageng Pasisiran, pada suatu hari ia bertemu dengan dua orang laki-laki yang oleh gurunya diperkenalkan sebagai seorang puteranya dan seorang muridnya! Ketika pagi itu Sulastri seperti biasa datang berkunjung, dua orang laki-laki itu sudah berada di situ. Seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan seorang lagi yang berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tentu saja Sulastri menjadi terheran-heran, juga dua orang laki-laki itu memandang kepadanya dengan kagum. Lalu muncullah Ki Ageng pasisiran yang kini telah berusia delapan puluh tahun lebih.

Dia tersenyum melihat kedatangan Sulastri. “Ah, engkau, Lastri. Kebetulan sekali. Kenalkanlah, ini adalah puteraku, Sudrajat. Kini dia tinggal di Banten bersama keluarganya dan kebetulan dia datang berkunjung.” Kakek itu menunjuk kepada laki-laki yang berusia lima puluh tahun yang bertubuh sedang dan bersikap tenang dan lembut. “Ajat, inilah Sulastri, muridku seperti yang telah kuceritakan kepadamu semalam.”

Karena laki-laki itu diakui sebagai putera eyang gurunya, Sulastri membungkuk dengan hormat dan berkata ramah. “Paman Sudrajat, kapankah paman datang dan apakah paman sekeluarga baik-baik saja?”

Laki-laki itu adalah Sudrajat yang sebenarnya adalah anak tiri ki Ageng Pasisiran atau Ki Tejo Langit karena sebenarnya Sudrajat ini adalah putera kandung Ki Tejo Budi atau Resi Tejo Budi, guru Lindu Aji. Melihat sikap dan mendengar tegur sapa Sulastri yang demikian ramah, dia memandang kagum. Jarang ada gadis yang demikian lincah, ramah dan sama sekali tidak tampak malu-malu seperti para gadis lain. Juga dia merasa heran bagaimana ayahnya yang sudah begitu tua mengambil murid dara yang begini muda, apalagi kalau diingat bahwa dara ini menjadi murid ayahnya sejak berusia sepuluh tahun!

“Sulastri, aku merasa girang sekali dapat bertemu dengan andika yang menjadi murid ayahku. Menurut cerita ayah, andika seorang murid yang baik dan patuh. Aku ikut berterima kasih kepadamu, Lastri, karena setidaknya andika telah membangkitkan semangat ayahku yang sudah tua untuk mengajarkan ilmu-ilmunya kepadamu.”

“Terima kasih, Paman Sudrajat. Ternyata paman baik dan ramah sekali dan hal ini tidak mengherankan hati saya. Sebagai putera eyang guru, tentu saja paman bijaksana dan baik hati!”

“Aha, menurut ayah, andika baru berusia delapan belas tahun akan tetapi kulihat andika telah berpikiran dewasa dan pandai membawa diri. Aku bangga mempunyai seorang keponakan yang menurut tingkat juga adik seperguruan seperti andika, Sulastri!” kata Sudrajat sambil tersenyum. “Ayah, cucu ayah Jatmika sudah berusia dua puluh tahun. Alangkah cocoknya kalau Jatmika dijodohkan dengan Sulastri! Akan bahagia hati saya mempunyai seorang mantu seperti Sulastri!”

Pada saat itu, laki-laki kedua yang usianya sekitar tiga puluh tahun, berwajah tampan dan gagah, tubuhnya tingi tegap, berkumis pendek, tiba-tiba berkata, suaranya nyaring. “Eyang guru, apakah saya tidak akan diperkenalkan dengan adik seperguruan saya, Nimas Sulastri ini?”

“Heh-heh, sampai lupa aku,” kata kakek tua renta itu. “Lastri, ini adalah kakak seperguruanmu, namanya Hasanudin dan panggilannya adalah Udin.”

Sulastri memandang kepada pria itu. Wajah seorang pria dewasa yang sudah matang. Wajah yang ganteng dan menarik, akan tetapi melihat sinar mata yang tajam itu menggerayangi tubuhnya Sulastri mengerutkan alisnya dan rasa tidak suka memenuhi hatinya. Maka, biarpun ia telah diperkenalkan oleh gurunya kepada laki-laki yang menjadi kakak seperguruannya itu, ia diam saja, tidak seperti ketika diperkenalkan kepada Sudrajat yang langsung disapanya dengan ramah. Ia hanya memandang saja dengan alis berkerut dan sinar mata penuh selidik, seolah hendak mengetahui laki-laki macam apa yang berada di depannya itu.

Melihat gadis itu diam saja. pemuda itu tersenyum. Dia menganggap gadis jelita itu tentu malu kepadanya, tidak seperti kepada Sudrajat yng sudah tua tentu tidak merasa rikuh lagi. Maka diapun berkata dengan sikap manis. “Aeh, Nimas Sulastri, harap jangan malu-malu kepadaku. Aku adalah kakak perguruanmu sendiri.”

“Kakangmas Hasanudin...“

“Aeh, jangan panggil Hasanudin. Orang-orang yang dekat denganku menyebut aku Udin, lebih akrab!”

“Akan tetapi aku menyebutmu kakangmas Hasanudin!” kata Sulastri dengan suara datar. “Aku tidak malu hanya masih asing karena aku tidak mengira mempunyai seorang kakak seperguruan. Eyang guru tidak pernah bercerita tentang engkau.”

“Memang sudah lama aku tidak menghadap eyang guru, sudah lebih dari delapan tahun. Aku selalu sibuk dengan urusan pekerjaanku. Aku tinggal di Galuh“

“Tentu dengan keluargamu, bukan?” Sulastri memotong. “Aeh, Adik Sulastri, aku belum berkeluarga, belum beristeri kalau itu yang kau maksudkan. Aku masih perjaka tulen, ha-ha-ha! Dan akupun tidak mempunyai seorangpun keluarga, kecuali Paman Sudrajat dan Eyang Guru ini.” Dia berhenti sebentar lalu cepat-cepat disambungnya, “Tentu saja sekarang ada engkau yang boleh kuanggap sebagai keluargaku terdekat, ha-ha!” Sambil berkata demikian, sepasang mata itu memandang tajam dan penuh arti, berkedip beberapa kali.

Panas rasa perut gadis itu. Ia melihat kedipan mata yang jelas mengandung maksud tidak sopan itu, akan tetapi karena di situ terdapat eyang gurunya dan juga Ki Sudrajat, ia menahan kemarahannya dan untuk menutupi perasaan marahnya, ia bertanya sambil lalu. “Ayah ibumu?”

“Ibuku meninggal ketika aku masih kecil dan ayahku... dia juga sudah mati. Aku sebatang kara, akan tetapi sekarang... hemm, ada engkau di sini, Lastri.” kemudian tiba-tiba Hasanudin memandang Ki Ageng Pasisiran dan berkata, “Eyang guru, bagaimana kalau saya dan Sulastri menjadi suami isteri? Tentu eyang guru akan menyetujuinya, bukan?”

Sulastri terkejut dan marah sekali, matanya terbelalak dan mukanya berubah merah. Kalau tadi Ki Sudrajat mengusulkan perjodohan, hal itu dilakukan untuk puteranya, akan tetapi Hasanudin ini mengusulkan perjodohan untuk diri sendiri! Betapa beraninya! Ia merasa diremehkan sekali. Akan tetapi kemarahannya agak reda ketika melihat gurunya menegur laki-laki itu.

“Udin, jangan lancang engkau! Urusan perjodohan tidak bisa diputuskan begitu saja! Sulastri masih mempunyai ayah ibu, tanpa perkenan ayah ibunya, dan tanpa persetujuan ia sendiri, bagaimana mungkin perjodohan dapat dilakukan?”

“Aeh, eyang, bukankah sejak lama eyang selalu mendesak saya untuk menikah? Selama ini saya belum menemukan seorang gadis yang cocok dan tepat untuk menjadi isteri saya dan sekarang tiba-tiba saja saya bertemu dengan nimas Sulastri ini. Ia cocok sekali untuk menjadi isteri saya, eyang. Mohon eyang suka mengatur agar saya dapat berjodoh dengan nimas Sulastri ini, eyang.”

Tiba-tiba Sulastri tidak mampu menahan kemarahannya lagi. “Aku tidak sudi! Aku belum ingin menikah! Eyang guru, maafkan saya, saya akan pulang!” Setelah berkata demikian, Sulastri melompat dan berlari keluar, terus meninggalkan rumah gurunya.

Setelah gadis itu berlari pergi, Ki Ageng Pasisiran menghela napas panjang. Dia merasa dirinya telah tua dan lemah sehingga wibawanya berkurang banyak dan dia melihat betapa murid-muridnya berani bersikap kurang mengacuhkannya.

“Udin, kulihat engkau masih belum juga dapat mengendalikan keinginan perasaanmu. Setelah bertahun-tahun berpisah dariku, kulihat engkau masih tidak memiliki ketenangan dan kesabaran. Tidak semestinya engkau bersikap seperti tadi.” tegur Ki Ageng Pasisiran.

“Ayah berkata benar, Udin. sikapmu tadi tidak benar, engkau telah menyinggung perasaan Sulastri!” Sudrajat juga menegur. Hasanudin memandang kedua orang itu dengan alis berkerut. “Paman Sudrajat, paman sendiri tadi mengusulkan pernikahan antara Sulastri dan putera paman. Akan tetapi Jatmika itu masih belum dewasa benar, masih hijau dan belum waktunya menikah. Dan bukankah sepantasnya kalau paman gurunya menikah lebih dulu sebelum dia?” Kemudian Hasanudin berkata kepada gurunya, “Eyang, sejak dahulu saya menganggap eyang sebagai pengganti orang tua saya. Oleh karena itu, saya mohon agar melamarkan Nimas Sulastri untuk menjadi jodoh saya kepada orang tuanya.”

“Sabar... sabar Udin, jangan tergesa-gesa...“ kata kakek tua renta itu.

“Kalau eyang tidak mau, berarti eyang sesungguhnya tidak sayang kepada saya. Biarlah saya akan melamar sendiri kalau begitu!” kata Hasanudin dengan suara tegas.

“Hemm, Udin. Jangan bersikap kasar begitu. Urusan perjodohan ini harus kita rundingkan dulu baik-baik. Kalau memang sudah bulat kehendakmu, tentu ayah akan suka melamarkan Sulastri untukmu.” kata Ki Sudrajat menyabarkan hati pemuda itu karena dia tidak ingin terjadi ketegangan dalam hati ayahnya yang sudah tua sekali itu. Mereka lalu duduk dan membicarakan keinginan Hasanudin untuk minta tolong Ki Ageng Pasisiran melamar Sulastri.

Sementara itu Sulastri berlari pulang. Mukanya masih merah dan hatinya masih panas ketika ia tiba di rumah orang tuanya. Ki Subali merasa heran melihat puterinya begitu cepat pulang. Biasanya, kalau berkunjung ke rumah gurunya, gadis itu sedikitnya setengah hari baru pulang.

“Eh, kenapa engkau sudah pulang, Lastri? begitu cepat!” kata ayahnya

Ibunya memandang heran melihat wajah puterinya kemerahan dan matanya mencorong. “Lastri, ada apakah? Engkau kelihatan tidak senang!” Tanya ibunya.

Gadis itu menjatuhkan dirinya di atas bangku di depan ayah ibunya. Mulutnya yang berbentuk indah itu cemberut, akan tetapi malah tampak manis dan menggemaskan. “Aku bertemu dengan dua orang murid eyang guru.” katanya dengan nada jengkel.

“Eh, ki Ageng Pasisiran masih mempunyai dua orang murid lain? Siapa mereka?” tanya Ki Subali. “Lho! Bertemu dengan dua orang saudara seperguruan mengapa menjadi tidak sengang dan marah-marah?” tegur ibunya heran.

“Mereka itu adalah Ki Sudrajat yang ternyata malah putera eyang guru sendiri, berusia kurang lebih lima puluh tahun dan yang kedua bernama Hasanudin, berusia kurang lebih tiga puluh tahun. Bagaimana tidak akan menyebalkan hatiku? Ki Sudrajat itu ingin mengambil aku sebagai mantunya, dan Hasanudin itu ingin mengambil aku sebagai isterinya. memangnya aku ini apa? Diambil mantu dan isteri begitu saja! Menyebalkan!” Sulastri masih cemberut.

Suami isteri itu saling pandang dan mau tidak mau mereka berdua tersenyum lebar, menahan tawa yang hendak terlepas dari mulut mereka. “Akan tetapi, Lastri. kenapa marah-marah? itu berarti bahwa mereka suka sekali kepadamu!” kata Ki Subali menahan tawa.

“Ya, Lastri. mereka itu ingin mengambil mantu atau memperisteri engkau, berarti mereka kagum dan suka kepadamu!” kata pula ibunya, bangga betapa puterinya begitu dikagumi banyak orang!

“Ah, ayah dan ibu ini! Aku tetap saja tidak suka dan tidak sudi dianggap barang mainan indah yang boleh diambil begitu saja! Ayah, aku mau melaksanakan keinginanku yang sudah bertahun-tahun kutunda, ingin pergi mengunjungi Paman Sumali di Loano!”

Ayah ibunya terkejut. “Akan tetapi Loano itu jauh sekali, lastri!” kata ibunya.

“Dan keadaan sekarang ini tidak aman! Sedang ada bahaya perang. Pasukan Mataram kabarnya akan menyerang lagi ke Jayakarta. tentu terjadi pergolakan di daerah-daerah. melakukan perjalanan dalam keadaan begini amat berbahaya!” kata pula Ki Subali.

“Ah, aku tidak takut, ayah. Aku sudah cukup kuat untuk menjaga dan membela diri. Hatiku sedang kesal dan aku merasa sebal kepada mereka. Kalau mereka benar-benar berani datang untuk melamarku, ayah harus menolaknya! Aku hendak pergi ke Loano, mengunjungi Paman Sumali!”

“aah, bagaimana ini, Lastri? Kalau Ki Ageng Pasisiran sendiri datang meminangmu, bagaimana aku berani menolaknya?” kata ayahnya.

“Apa susahnya? Ayah tinggal tinggal bilang saja bahwa aku tidak sudi, tidak ingin kawin, habis perkara. Bukan ayah yang menolak, melainkan aku yang tidak suka! Nah, aku akan berkemas karena hari ini juga aku akan pergi ke Loano.”

“Tetapi engkau belum pernah ke Loano yang jauh, Lastri. Juga, engkau baru satu kali bertemu dengan pamanmu, itupun ketika engkau baru berusia tiga tahun. Bagaimana engkau dapat mengenalnya?” cegah Ki Subali.

“Ayah, aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu bahwa Loano terletak di selatan. Aku dapat bertanya-tanya orang. Dan ayah sudah menceritakan keadaan Paman Sumali. Wajahnya mirip ayah dan dia seorang gagah yang sakti mandraguna, memiliki senjata istimewa yaitu sebatang suling dan keris. Mudah sekali mengenalnya, bukan?”

“Lastri, jangan pergi, anakku. Aku tidak akan enak makan dan nyenyak tidur memikirkanmu, takut kalau-kalau engkau menghadapi gangguan.” kata ibunya.

Sulastri merangkul ibunya dengan manja. “Aeh, ibu, apakah ibu masih menganggap aku seorang gadis yang lemah? Jangan khawatir, ibu. Aku adalah murid Ki Ageng Pasisiran yang terkasih! Kalau ada orang jahat berani menggangguku dalam perjalanan, berarti mereka itu mencari penyakit. Aku berpamit dengan baik-baik, harap ayah dan ibu suka melepas aku pergi dengan rela. Ayah dan ibu tidak menghendaki aku pergi dengan cara minggat, bukan?”

Ayah dan ibu itu maklum bahwa tidak mungkin mereka mengubah niat hati puteri mereka yang manja dan keras ini. Akhirnya terpaksa mereka membiarkan Sulastri berkemas, membawa bekal kemudian mengantar kepergian gadis itu sampai di luar kota Indramayu sebelah selatan.

Demikianlah, seperti kita ketahui, akhirnya dara perkasa yang keras hati ini berhasil juga bertemu dengan pamannya, Ki sumali, bahkan dapat membantu pamannya menghadapi musuh-musuh yang tangguh. Dan kini, Sulastri melakukan perjalanan menuju Galuh ditemani Aji. Kalau Sulastri semakin suka dan kagum kepada Aji yang ia lihat berbeda dari kebanyakan pemuda yang kalau memandang kepadanya mata mereka membayangkan gairah dan sikap mereka menjadi kurang ajar, di lain pihak Aji juga diam-diam kagum kepada gadis itu. Dia melihat bahwa Sulastri benar-benar seorang dara yang perkasa, tidak pemalu, sama sekali tidak lemah dan tidak cengeng walaupun terkadang agak manja. Seorang dara perkasa yang masih amat muda namun cerdik dan pemberani, juga yang dapat menghadapi segala kesukaran dengan sikap yang selalu lincah jenaka.

Terkadang dara itu bersikap ugal-ugalan dan kekanak-kanakan, akan tetapi harus dia akui bahwa semua sepak terjang Sulastri menyeretnya ke dalam suasana yang menggembirakan. Dia yang biasanya memandang dunia ini dengan sikap serius, kini seolah baru terbuka matanya bahwa di dunia ini orang dapat memandang dunia ini sebagai sebuah tempat yang indah dan serba menggembirakan. Apapun yang terjadi kepada mereka, gadis itu selalu dapat menanggapinya dengan gembira yang tidak dibuat-buat, melainkan dapat menerima apa adanya dan selalu dapat mengambil yang terbaik dan yang paling menggembirakan dari keadaan itu.

Seperti misalnya ketika mereka kehujanan sampai basah kuyup dan mereka berlari-lari mencari tempat untuk meneduh, gadis itu tertawa-tawa gembira. “Wah, mengingatkan aku ketika aku masih kecil dan berhujan-hujan, alangkah senangnya!” dan ketika mereka memasuki guha, membuat api unggun untuk menahan dingin, Sulastri berkata, “Untung sekali udara dingin menusuk tulang sehingga berapi-api begini terasa nyaman bukan main!” Ketika mereka berteduh di bawah pohon rindang di tengah hari yang terik panas membakar, iapun berkata dengan wajah ceria, “Wah, beruntung siang hari ini demikian panasnya sehingga kita dapat berteduh di sini menikmati kipasan angin dan sejuknya bayangan daun daun pohon!”

Pendeknya, Aji tidak pernah mendengar dara itu berkeluh kesah. Dalam segala keadaan ia tetap bergembira dan tidak pernah mengeluh. Apalagi setelah mereka semakin akrab dan saling mengenal, baru Aji mengetahui bahwa selain memiliki aji-aji kesaktian, dara inipun pandai sekali bertembang dengan suara merdu, mengenal seni tari, dan pengetahuannya tentang sastera juga cukup luas. Sungguh merupakan seorang gadis yang memiliki banyak keahlian, cantik jelita bertubuh indah, sakti mandraguna, gagah perkasa dan cerdik lagi pandai. Seorang gadis pilihan di antara seribu dan sukar dicari keduanya! Selain ini, kiranya baru Sang Puteri Wandansari saja yang dapat disejajarkan dengan Sulastri!

Aji sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dara yang setiap hari bersamanya itu mempunyai hubungan dekat dengan orang-orang yang hendak dicarinya, yaitu kakak tirinya Hasanudin dan putera gurunya yang bernama Sudrajat! Memang Sulastri yang merasa kesal kepada dua orang itu tidak pernah bercerita kepada Aji tentang mereka berdua. Ia hanya menceritakan bahwa gurunya bernama Ki Ageng Pasisiran, seorang pertapa di pantai Laut Utara, di daerah Indramayu.

Pada suatu pagi yang cerah, tibalah mereka di dataran rendah yang penuh dengan hutan. Ada yang cukup baik untuk dapat dilalui dengan cepat. Di kanan kiri terbentang sawah yang luas dan subur kehijauan dan di depan tampak hutan yang lebat. Pagi yang cerah, matahari yang hangat itu mendatangkan kegembiraan dalam hati Sulastri.

“Mas Aji, mari kita berlomba balap kuda. Aku teringat bahwa tidak jauh lagi, di tengah hutan depan itu atau di sebelah sananya, terdapat Kali Serayu. Mari kita berlomba siapa yang dapat lebih dulu tiba di tepi sungai!”

Aji tersenyum, hanyut dalam kegembiraan yang dipancarkan wajah yang cantik itu. Pagi tadi Sulastri mandi di sebuah sungai yang airnya jernih sekali. Dengan menutup tubuhnya dengan tapih pinjung yang ujungnya dikaitkan di dada, dara itu mandi dengan gembira dan tanpa rikuh-rikuh lagi mengajak mandi pula! Ternyata Sulastri dapat juga berenang walaupun bukan ahli. Ia mandi dan mencuci rambutnya yang hitam panjang sampai ke punggung.

Setelah puas mandi dan bertukar pakaian di balik batu besar, dara itu tampak segar dan semakin ayu manis merak ati. Rambutnya dibiarkan terurai agar kering, wajahnya tampak putih mulus kemerahan, matanya bersinar-sinar penuh semangat hidup, bibirnya selalu merekah dengan senyum manis. Setelah menunggang kuda beberapa lamanya dan rambutnya yang berkibar itu dikeringkan oleh angin, kini ia menggelung rambutnya dengan sederhana namun membuatnya tampak lebih dewasa.

“Hai, Mas Aji jangan melamun. Aku hitung sampai tiga dan kita mulai berlumba. Siap! Satu-dua-tiga...!” Sulastri sudah membedal kudanya yang melompat jauh ke depan lalu membalap dengan cepat.

Aji tersenyum dan membalapkan kudanya pula. Dia merasa yakin bahwa kalau dia bersungguh-sungguh, kuda yang ditungganginya pasti mampu mengalahkan kuda yang dirunggangi Sulastri. Kudanya adalah pemberian Sultan Agung, seekor kuda Arab yang kuat dan dapat berlari cepat sekali. Akan tetapi dia sudah mulai mengenal watak dara itu. Seorang dara yang keras hati dan dara seperti itu tidak mudah mengaku kalah!

Bahkan kalau dikalahkan mungkin saja hatinya akan menjadi jengkel! Biarlah lebih baik membiarkan Sulastri yang menang karena dengan demikian gadis itu tentu akan senang hatinya. Maka diapun membatasi kecepatan larinya kuda dan hanya mengikuti dari belakang dalam jarak sekitar lima puluh meter. Cukup jauh akan tetapi dia masih dapat melihat bayangan gadis di atas kuda itu, setidaknya dia masih dapat melihat kepulan debu yang ditimbulkan keempat kaki kuda itu. Mereka berdua sudah memasuki daerah berhutan.

Aji melihat bayangan gadis itu lenyap, membelok di sebuah tikungan jalan. Dia membedal kudanya untuk mengejar lebih dekat karena daerah yang cukup gawat karena biasanya di tempat seperti itu munculnya orang-orang jahat yang suka mengganggu orang lewat. Setelah dapat melihat lagi Sulastri yang duduk di atas kudanya yang membalap, tiba-tiba terdengar seruan nyaring gadis itu dan Aji melihat betapa kuda yang ditunggangi Sulastri terjungkal!

Dia terkejut sekali akan tetapi legalah hatinya ketika dia melihat tubuh Sulastri itu tidak terbawa jatuh. Tubuh gadis itu melayang ke atas, berjungkir balik di udara sampai lima kali lalu gadis itu dengan ringannya turun dan hinggap di atas tanah. Bukan main tangkasnya gerakan itu, tangkas dan indah sekali sehingga Aji merasa kagum bukan main. Akan tetapi dia juga merasa khawatir karena terjungkalnya kuda yang ditunggangi Sulastri pasti ada sebabnya. Aji membalapkan kudanya dan setelah tiba di tempat itu, cepat dia menghentikan kudanya dan melompat, langsung tubuhnya melayang turun dekat Sulastri.

“Engkau tidak apa-apa, Lastri?” tanyanya khawatir.

Sulastri menggeleng kepala, mengerutkan alisnya memandang ke depan dan berkata sambil mengertakkan giginya. “Keparat, agaknya mereka itulah yang merobohkan kudaku!”

Aji memandang ke arah depan dan diapun melihat empat orang melangkah perlahan menghampiri mereka. Kuda yang tadi ditunggangi Sulastri telah menggeletak tak bergerak, agaknya telah mati. Ketika Aji mengenal tiga orang di antara empat orang yang melangkah perlahan menghampiri mereka, dia terkejut. Tiga orang yang dikenalnya dengan baik itu bukan lain adalah Ki Harya Baka Wulung, Aki Somad, dan Nyi Maya Dewi! Sedangkan seorang lagi laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang gagah dan tampan, berpakaian mewah, yang tidak dikenalnya.

Sulastri juga segera mengenal Aki Somad dan Nyi Maya Dewi, dua orang yang pernah menjadi lawan ketika ia membantu Ki Sumali dan gadis inipun maklum bahwa ia dan Aji berhadapan dengan lawan yang tangguh. Akan tetapi karena ia merasa mampu melawan Nyi Maya Dewi, sedangkan ia tahu bahwa Aji juga mampu melawan Aki Somad, hatinya besar dan ia memandang dengan berani dan marah. Ia sama sekali tidak mengenal Ki Harya Baka Wulung dan pria berpakaian mewah itu, tidak tahu bahwa Ki Harya Baka Wulung adalah seorang yang sakti mandraguna, tidak kalah digdayanya dibandingkan Aki Somad sendiri sehingga mereka tentu saja merupakan lawan yang amat berat dan bernahaya.

Aji tahu akan hal ini, namun dia tetap bersikap tenang. Dia hendak memperingatkan Sulastri akan lawan-lawan yang berbahaya itu, akan tetapi dia tidak dapat mencegah Sulastri yang telah mendahuluinya. Gadis itu melangkah maju dan dengan suara lantang ia sudah memaki sambil menudingkan telunjuknya ke arah hidung Nyi Maya Dewi.

“Heii, nenek genit tak tahu malu, iblis betina Maya!” Sulastri sudah mendengar dari Aji bahwa wanita cantik genit itu bernama Maya Dewi, akan tetapi ia sengaja memanggilnya Iblis Betina Maya. “Sungguh mukamu tebal sekali. Engkau sudah kalah, kini muncul mengandalkan banyak orang, bahkan dengan curang sekali menyerang dan membunuh kudaku! Kalau kamu bukan pengecut hina yang tidak tahu malu, hayo lawan aku. Jangan sebut aku Sulastri kalau pedang pusakaku Naga Wilis ini tidak akan memenggal batang lehermu!”

Aji mengerutkan alisnya. gadis itu pemberani, akan tetapi sekali ini benar-benar sembrono dan terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Dia tahu benar bahwa mereka berdua saat ini berada dalam ancaman bahaya besar. Melawan Ki harya Baka Wulung atau Aki somad dia masih sanggup kalau satu lawan satu, akan tetapi kalau mereka berdua maju berbareng, sungguh merupakan lawan yang teramat tangguh dan berat. Dia tahu pula bahwa tingkat kepandaian Sulastri berimbang dengan tingkat Nyi Maya Dewi, bahkan Sulastri mungkin akan dapat mengatasinya, akan tetapi di sana ada seorang laki-laki yang tampak gagah perkasa dan mudah dilihat bahwa dia pasti bukan orang lemah!

Nyi Maya Dewi tertawa, suara tawanya masam dan jelas bahwa ia mencoba untuk menyembunyikan kemarahannya di balik sikap mengejek dan tertawa itu. “Bocah lancang dan sombong, engkaulah yang sekarang harus mati ditanganku. Engkau tidak akan dapat meloloskan diri dari kematian. Sayang, engkau harus mati dalam usia begini muda!”

Dengan gerakan perlahan penuh ancaman, dan mulutnya menyeringai penuh ejekan, Nyi Maya Dewi melolos sabuk cindenya. Sabuk Cinde Kencana itu berkilauan ketika tertimpa sinar matahari yang menerobos di antara celah-celah dedaunan. Akan tetapi Sulastri juga sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar hijau menyilaukan mata. Akan tetapi pada saat itu, laki-laki tampan gagah berusia empat puluhan tahun itu berkata, suaranya lembut dan kata-katanya teratur seperti biasanya kaum menak (priyayi) bicara.

“Nyi Maya Dewi, perlahan dulu dan tahan kemarahanmu. Aku merasa sayang sekali kalau dara ayu manis merak ati ini terbunuh. Aku menginginkan ia dapat ditawan hidup-hidup dan tidak sampai cidera berat.”

“Andika menginginkannya, raden?” kata Nyi Maya Dewi. “Ia ini seperti seekor kuda betina liar. Tidak mudah untuk menangkapnya hidup-hidup, maka andika harus membantuku.”

“Mari kita berdua menangkapnya!” Laki-laki itu mencabut sebatang golok bergagang emas. “Aku akan menahan pedangnya dan andika yang membuatnya tidak berdaya.”

“Baik, Raden, akan tetapi jangan melupakan aku kalau gadis itu sudah berhasil kau dapatkan!” Mendengar percakapan antara dua orang itu, Sulastri tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

“Jahanam-jahanam busuk!” bentaknya dan gadis itu sudah menerjang maju menyerang laki-laki itu. Yang diserang menggerakkan goloknya yang bergagang emas.

“Trang...!!” Bunga api berpijar ketika pedang bertemu golok dan laki-laki itu tampak terkejut bukan main ketika dia merasa betapa tangannya yang memegang golok tergetar hebat, tanda bahwa gadis muda itu memiliki tenaga sakti yang kuat bukan main. Akan tetapi pada saat itu, sinar keemasan menyambar ke arah pundak Sulastri. Gadis ini maklum bahwa Nyi Maya Dewi menyerangnya dari samping, maka ia cepat mengelak dan memutar pedangnya membalas. Segera dara perkasa itu dikeroyok dua dan ia mengamuk, memutar pedangnya sehingga pedang Nogo Wilis itu berubah menjadi gulungan sinar hujau.

Sementara itu, Aji sudah dihadapi dua orang kakek sakti itu. Dia berdiri dengan sikap tenang walaupun hatinya mengkhawatirkan keselamatan Sulastri yang dikeroyok dua. “Heh, orang muda! Dahulu andika menggagalkan kami membunuh Puteri Wandansari! Sekarang tiba saatnya kami membunuhmu atas dosamu mencampuri urusan kami dan menggagalkan usaha kami!” kata Ki harya Baka Wulung dengan suara nyaring sambil mencabut kerisnya yang besar berluk sembilan.

“Ki Harya Baka Wulung, aku telah mendengar dari sang puteri siapa sebenarnya andika. Kalau andika memusuhi Mataram sebagai seorang tokoh Madura, hal itu masih dapat kumengerti. Akan tetapi sekarang andika bergabung dengan Aki Somad ini dan Nyi Maya Dewi! Tidak tahukah andika siapa mereka? Mereka adalah telik sandi (mata-mata) Kumpeni Belanda, menjual tanah air kepada bangsa asing?”

“Orang muda sombong, tutup mulutmu! Kami semua adalah musuh-musuh Mataram. Siapa yang memusuhi Mataram adalah sekutu kami. Bersiaplah engkau untuk mampus di tanganku!” bentak Aki Somad yang menjadi marah sekali dan langsung saja dia sudah menggerakkan senjatanya tongkat ular kering, menyerang dengan tusukan ke arah tenggorokan Aji. Senjata kakek ini berbahaya sekali karena tongkat ular kering itu amat beracun. Sekali kulit tergores robek sudah cukup untuk mendatangkan kematian karena keracunan.

Maklum akan ketangguhan lawan ini, apa lagi di situ masih ada Ki Harya Baka Wulung, Aji cepat mencabut keris pusaka Kyai Nogowelang pemberian Sultan Agung dan diapun bergerak dengan ilmu silat Alap-alap sakti yang dirangkainya sendiri. Ilmu silat ini berdasarkan gerakan burung alap-alap ketika berkelahi melawan ular, mengandalkan kegesitan dan loncatan-loncatan seperti terbang. Karena tubuh Aji sudah terlatih baik dalam kelincahan ilmu silat Wanara Sakti yang dipelajarinya dari Resi Tejo Budi, maka dia dapat mainkan ilmu silat Alap-alap Sakti dengan baik sekali.

Dengan gerakan yang amat gesit, mudah saja dia menghindarkan tiga kali serangan berturut-turut yang dilakukan Aki Somad dengan elakan, bahkan segera membalasnya dengan tendangan kakinya yang mencuat dari samping dan hampir saja mengenai lambung Aki somad yang menjadi terkejut sekali. Kalau dia tidak cepat membuang dirinya ke samping, tentu lambungnya terkena sambaran kaki pemuda itu. Melihat Aki Somad sudah mulai bertanding melawan pemuda yang dia tahu amat digdaya itu, Ki Harya Baka Wulung cepat menggerakkan kerisnya mengeroyok Aji.