Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 03

SEMENTARA itu, dalam bahasa Sunda, Harun bercakap-cakap dengan tamunya. Tamu itu adalah seorang sahabat baiknya ketika dia masih berada di Galuh, bahkan tamunya ini yang dulu dia titipi anaknya! Orang itu bernama Ujang Karim. tentu saja melihat Ujang tiba-tiba datang ke dusun Gampingan dan bertemu dengan dia, Harun menjadi terkejut, heran dan girang karena dia ingin sekali mendengar tentang keadaan di perkampungannya, terutama sekali tentang anaknya.

“Kapan engkau datang ke Mataram, Ujang? Seperti mimpi rasanya aku dapat bertemu dan bercakap-cakap denganmu!” kata Harun.

“Aku juga merasa seperti mimpi, Uun. baru setahun aku datang di Mataram. Sebetulnya akupun ingin mencarimu, akan tetapi tidak ada orang Sunda yang berada di kota pasisiran mengetahui siapa engkau dan di mana engkau berada. Aku hampir putus asa untuk dapat berjumpa denganmu.”

“Nanti dulu, Ujang. Ceritakanlah dari permulaannya. tentang kehidupanmu di sana, bagaimana dengan anakku si Udin, dan bagaimana pula engkau sampai meninggalkan Galuh dan tiba di Mataram.” Harun bertanya dengan ingin tahu sekali.

Ujang menhela napas panjang dan pada saat itu, muncul Aji membawa baki terisi cerek air the dan dua buah cangkir. dengan membungkuk dan sikap hormat dia meletakkan teh poci dan dua buah cangkir itu di atas meja, lalu berkata kepada tamu itu dalam bahasa Sunda yang patah-patah. “Paman, silakan minum teh.” Kemudian dia membungkuk dan mengundurkan diri.

“Aih, Harun. Anak itu bisa bicara bahasa kita. siapakah dia?”

“Nanti saja kuceritakan semua tentang diriku, Ujang. sekarang lanjutkan dulu ceritamu, tentang keadaanmu di sana sampai engkau datang di Mataram dan bertemu dengan aku di sini.”

“Setelah engkau pergi dan engkau menitipkan Udin kepadaku, aku menjadi bingung. Aku mengira engkau pergi tidak akan lama, tidak tahunya engkau tidak pernah kembali ke dusun kita. Seorang laki-laki muda diserahi merawat seorang anak berusia satu tahun, tentu saja repot bukan main. Karena adanya anakmu itu, terpaksa aku menikah dengan gadis dari dusun lain.”

“Aih, engkau sudah menikah, Ujang?” Tanya Harun gembira.

Yang ditanya cemberut. Dia seorang laki-laki yang agak gemuk, mukanya bulat sehingga ketika dia bercemberut, mukanya tampak lucu, kedua matanya yang sipit itu seperti terpejam. “Sialan! Kesialan menimpaku bertubi-tubi dan semua ini biang keladinya hanya engkau, Harun!”

“Maafkan aku, Ujang. Akan tetapi apakah yang telah terjadi?”

“Mula-mula engkau meninggalkan anakmu begitu saja kepadaku, itu kesialan pertama karena engkau merepotkan aku dan memaksaku menikah, pada hal engkau tahu bahwa aku seorang yang miskin. menikah dengan gadis itu merupakan kesialan kedua karena ternyata ia seorang wanita yang cerewet pencemburu, galak dan kejam. Bukan itu saja. Orang-orangnya pembesar yang kau bunuh itu setelah tahu bahwa anakmu dititipkan padaku, memaksaku untuk memberitahu di mana adanya engkau. Mereka memukuli aku dan bahkan nyaris membunuhku!”

“Aih, maafkan aku, Ujang. Aku telah membuatmu sengsara. Sungguh mati aku tidak mengira bahwa karena kutitipi anakku, engkau mengalami itu semua. Maafkan aku.”

“Sudahlah, semua telah terjadi. Terpaksa aku membawa isteriku dan anakmu Udin pergi melarikan diri ke selatan. Kami hidup di dusun Kalipucang, jauh dari Galuh. aku hidup sebagai petani di tempat baru itu. akan tetapi karena daerah tempat tinggal kami itu sering dilanda banjir, aku gagal. Kami hidup dalam keadaan yang serba kekurangan, hidup miskin. Akhirnya isteriku pergi meninggalkan aku, minggat dengan laki-laki lain. Ketika itu Hasanuddin, anakmu itu, berusia kurang lebih tujuh tahun. Aku hidup menyendiri, kemudian aku menitipkan Udin kepada Aki Somad, seorang pertapa dari Nusa Kambangan yang sedang berkelana ke dusun kami. Aki Somad menyatakan suka kepada Udin dan mau menerimanya sebagai murid. Dia lalu membawa Udin pergi dan sampai bertahun-tahun aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia.”

“Apa? Kau serahkan anakku kepada orang lain?”

“Terpaksa, Harun. Bagaimana mungkin aku yang hidup menyendiri harus merawat dan mendidik dia? Pula, Aki Somad itu bukan orang sembarangan. Baru seminggu berada di dusun kami dan orang-orang mengabarkan bahwa dia itu seorang pertapa sakti, bahkan telah menyembuhkan banyak orang yang menderita sakit di dusun kami.”

“Dan engkau tidak menjenguknya?” Tanya Harun penasaran.

“Mana aku sempat? Hidupku susah, aku terpaksa berpindah-pindah karena takut kalau musuh-musuhmu itu tetap mencari aku. Akan tetapi ketika Udin sudah pergi selama delapan tahun, aku bertemu dengan seorang pemuda yang mengaku mengenal Aki Somad dan dia membawa kabar tentang Udin. Katanya Udin telah meninggalkan Aki Somad dan kabarnya... dia juga mencuri perhiasan berharga dan seekor kuda dari kepala dusun setempat.”

cerita silat online karya kho ping hoo

“Apa?” Harun menggebrak meja. “Ahh, celaka! Anakku Hasanudin menjadi terlantar, kurang pendidikan sehingga tersesat! Hemm, lalu bagaimana, Ujang?”

“Seperti kukatakan tadi, selama hampir dua puluh tahun aku tidak pernah bertemu dengan dia. Keadaanku yang susah memaksa aku mengambil keputusan untuk merantau ke Mataram dan mencarimu. Dan pada waktu aku bersiap-siap hendak pergi, muncullah seorang pemuda yang tidak kukenal. Akan tetapi ketika dia memperkenalkan dirinya, barulah aku tahu bahwa dia itu bukan lain adalah Hasanudin anakmu!”

“Dia... dia datang kepadamu? Ah, bagaimana keadaannya?”

“Ya, dia datang, kurang lebih setahun yang lalu ketika aku hendak berangkat ke timur, ke daerah Mataram. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Dia telah menjadi seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, akan tetapi sikapnya, Harun, ahh...“ Ujang Karim menghentikan pembicaraannya dan menghela napas sambil mengeleng-geleng kepalanya. “Dia memaksa dan mengancam aku agar aku segera pergi ke Mataram mencarimu. Sikapnya kasar sekali dan sama sekali tidak menghargai aku yang sudah lebih dari enam tahun memelihara dan membesarkannya, menjadi pengganti orang tuanya, bahkan dia sudah menganggap aku sebagai ayah sendiri, menyebut aku ayah dan diapun tidak tahu bahwa dia bukan anak kandungku.”

“Tapi... tapi bagaimana dia menyuruhmu pergi mencariku?” Tanya Harun bingung, hatinya penuh ketegangan dan juga penuh duka mengingat bahwa puteranya telah menjadi pemuda jahat yang mencuri, bahkan bersikap tidak selayaknya terhadap Ujang yang membesarkannya. “Bagaimana dia tahu tentang aku dan apa yang dia lakukan terhadap dirimu, Ujang?”

“Aku sendiri heran bagaimana dia tahu tentang dirimu. Aku dan istriku tidak pernah bercerita bahwa dia itu anakmu. Akan tetapi dia datang dengan sikap galak sekali, dan engkau tahu apa yang dia lakukan? Aku mempunyai sebuah arca kecil dari batu hitam yang amat keras dan kuat. Akan tetapi dia memegang arca itu dan meremasnya. Arca itu hancur lebur seperti tepung ketika dia meremasnya! Belum pernah selama hidupku aku melihat kekuatan tangan seperti itu! dan dia bilang, kalau aku tidak cepat menemukanmu, dia akan membikin kepalaku hancur seperti arca itu!”

“Bocah keparat!” Harun berseru marah sekali, akan tetapi diam-diam diapun terkejut bukan main. Kekuatan tangan yang meremas hancur batu hitam seperti membuktikan bahwa anak itu telah memiliki tenaga sakti yang amat hebat! “Lalu apa maksudnya dia memaksa engkau pergi mencariku sampai dapat kau temukan?”

Ujang Karim bangkit dan menghampiri dagangannya, mengambil sesuatu dari dalam keranjang dan memberikannya kepada Harun. “Dia memaksa aku mencarimu untuk menyerahkan ini kepadamu.”

Harun menerima benda itu yang ternyata sehelai kain putih yang ditulisi huruf-huruf hitam. Dia membuka gulungan kain surat itu akan tetapi cuaca dalam rumah itu sudah mulai gelap. “Aji...!” Harun memanggil anaknya. Aji yang membantu ibunya menutup warung, cepat memasuki ruangan. “Ya, ada apakah, Pak?”

“Aji, nyalakan lampu, cuaca sudah mulai gelap.”

“Baik, Pak.” Aji lalu cepat menyalakan lampu-lampu gantung dalam rumah itu. “Pergilah bantu ibumu mempersiapkan makan malam untuk kami. Sembelih seekor ayam, Aji.” kata pula Harun yang tidak menghendaki puteranya itu mendengar percakapan dia dan Ujang.

“Baik, Pak.” Aji lalu cepat keluar untuk membantu ibunya.

Setelah anaknya pergi, Harun mendekatkan kain bertulis itu kepada lampu gantung dan dia mulai membaca. Tulisan itu cukup terang dan huruf-hurufnya indah dan kuat,

Harun Hambali, Engkau adalah seorang pengecut dan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, menyelamatkan diri sendiri dan menyia-nyiakan anaknya. Tunggu saja, aku pasti datang membunuhmu!
Hasanudin.


“Ampun Gustiii...!” Harun menjadi lemas. surat itu terlepas dari tangannya yang menggigil, wajahnya pucat dan dia tentu akan jatuh terkulai kalau saja sesosok bayangan tidak dengan cepat berkelebat dan menangkap lalu merangkul tubuhnya.

Bayangan itu adalah Lindu Aji yang tadi telah mendengar seruan ayahnya dan cepat meloncat memasuki ruangan itu sehingga masih sempat mencegah ayahnya roboh terguling. Ketika melihat ayahnya pingsan, pemuda itu lalu memondongnya dan merebahkan tubuhnya di atas sebuah dipan yang berada di ruangan itu. Kemudian dia melihat sehelai kain bersurat yang tadi terlepas dari tangan ayahnya. Sekilas dibacanya isi surat itu, lalu dilipat disimpannya, diselipkan di ikat pinggang celananya. Kemudian dia menghampiri ayahnya dan menggunakan jari-jari tangannya mencubit otot besar di antara ibu jari dan telunjuk tangan ayahnya dan menekan-nekan bawah hidungnya.

Harun mengeluh dan siuman dari pingsannya. dia mengalami guncangan hebat sekali dan ada rasa nyeri di dalam dadanya. Perasaan hatinya seperti ditusuk-tusuk. Anaknya sendiri, darah dagingnya, mengancam akan membunuhnya dan dalam tulisannya itu terkandung kebencian yang amat hebat. Dia tidak takut oleh ancaman itu, sama sekali tidak, akan tetapi dia merasa sedih bukan main karena dimusuhi anak kandung sendiri. Dia bangkit duduk dan melihat Ujang dan Lindu Aji berada di situ, dia lalu ingat bahwa Aji tidak boleh mengetahui akan semua ini. Maka dia lalu memandang pemuda itu dan berkata.

“Aji, keluarlah dan bantu ibumu. Juga penuhi kolam kamar mandi dengan air. Aku dan pamanmu Ujang ini akan mandi dulu sebelum makan malam.” Ada perintah yang mendesak terkandung dalam suara ayahnya.

Aji mengangguk dan melihat ayahnya sudah tidak apa-apa, diapun keluar dari ruangan itu untuk memenuhi kolam kamar mandi dengan air dan membantu ibunya yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk suami dan tamunya. Setelah anaknya pergi, Harun menghela napas beberapa kali dan dia kembali duduk di atas kursi dekat meja, berhadapan dengan Ujang.

“Tenangkan hatimu, Harun. Udin itu tidak mungkin akan dapat menemukanmu di sini. tempat tinggalmu ini cukup tersembunyi. aku sendiri hanya secara kebetulan saja dapat bertemu denganmu di sini.

“Aku bukan takut menghadapi ancamannya itu, Ujang... eh, di mana suratnya tadi?” Harun memandang ke sekeliling, mencari-cari.

“Surat itu tadi di ambil anakmu,” kata Ujang.

“Aji...! Aji... ke sinilah!” teriak Harun sambil menoleh ke arah belakang.

Aji muncul dengan cepat. “Ya, Pak?”

“Engkau mengambil kain bersurat tadi?”

“Benar, Pak. Ini suratnya.” Aji mengambil surat itu dari balik ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Harun.

“Engkau tadi membacanya?” Aji mengangguk sambil menundukkan mukanya. “Benar, Pak.”

“Lupakan apa yang kau baca itu! Tidak ada artinya sama sekali.”

“Akan tetapi, Pak...“

“Aji, sejak kapan engkau membantah bapakmu? Turuti saja nasihatku, jangan pikirkan dan lupakan isi surat yang kau baca tadi. Mengerti?”

“Sumuhun, mangga, Pak.” kata Aji yang lalu mengundurkan diri, kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Anakmu yang ini sungguh patuh kepadamu. Tampaknya dia anak yang baik dan kulihat tadi ketika dia berlatih silat, dia sudah trampil dan mahir sekali.”

Harun menghela napas panjang. “Mudah-mudahan begitu. semoga Allah Subhanahu Wa Ta’allah selalu membimbingnya melalui jalan kebenaran dalam hidupnya.”

“Kulihat beda sekali dengan Udin. Dia memang tampan dan gagah tampaknya, akan tetapi sikapnya sungguh menyeramkan sekali. Ada yang aneh dalam pandang matanya, begitu menakutkan dan mengandung wibawa hebat, seperti mata harimau.”

“Semoga Tuhan mengampuninya. Biarlah kalau dia hendak membunuhku, Ujang, karena akupun merasa dan menyadari akan kesalahanku terhadap dia. Dia benar, aku seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, apa yang kau ketahui tentang orang-orang Galuh yang mencariku dan memukulimu? Aku memang menduga bahwa keluarga Aom Bahrudin pasti tidak akan berhenti begitu saja. Mendiang Aom Bahrudin adalah menak (bangsawan) yang tinggi kedudukannya dalam kerajaan Galuh.”

“Memang benar, harun. Mereka yang datang mencarimu dan memaksa aku mengaku di mana engkau berada adalah orang-orang yang menjadi anak buah Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin yang kau bunuh itu. Dan aku mendapat kabar bahwa Raden Banuseta itu adalah seorang yang digdaya dan sakti mandraguna.”

Harun menghela napas panjang. “Biarlah kalau mereka datang mencariku di sini, akan kuhadapi semua. Aku memang telah membunuh Aom Bahrudin. Akan tetapi seperti engkau juga telah mengetahui, aku membunuhnya karena dia telah memperkosa isteriku sehingga ia membunuh diri. Kalau sekarang anaknya hendak membalas dendam kematian ayahnya padaku, akan kuhadapi. Anakku Udin memang benar. Aku seorang pengecut. Mestinya dahulu aku tidak melarikan diri menjadi orang buruan, mestinya aku mempertanggung-jawabkan perbuatanku itu. karena aku melarikan diri dan meninggalkan anakku, maka aku menyeret banyak orang yang ikut menderita karena aku. Aku membuat Udin hidup terlantar, juga engkau telah menderita karena pelarianku itu. Bukan Udin dan engkau saja yang menderita akibat ulahku itu, bahkan kini istri dan anakku Aji juga ikut terancam. Ahh, aku menyesal sekali, Ujang.”

“Engkau tidak perlu menyesal, Harun. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Istrimu membunuh diri karena diperkosa orang dan engkau mengambil tindakan sendiri untuk membalas. Hal itu sudah sepantasnya, karena kalau engkau minta pengadilan kepada penguasa di Galuh mungkin engkau malah yang ditangkap dan dihukum. Kita semua tahu bahwa hukum diadakan hanya untuk melindungi orang-orang yang berkuasa saja.”

Harun menghela napas panjang. “Apa anehnya itu, Ujang? Kekuasaan itulah hukum yang berlaku. Orang-orang yang berkuasa menentukan hukum sendiri dan rakyat jelata harus tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi di Mataram ini lain keadaannya, Ujang. di sini terdapat banyak pejabat tinggi yang bijaksana dan yang membela rakyat. Sultan Agung adalah seorang raja yang bijaksana bertindak tegas terhadap para pamong praja yang lalim.”

Pada saat itu, Aji muncul dalam ruangan itu dan berkata kepada ayahnya, “Kamar mandi sudah siap, Pak. Airnya sudah penuh. silakan bapak dan paman mandi.” Setelah berkata demikian, Aji lalu mengundurkan diri lagi.

Harun mempersilakan temannya untuk mandi. Tak lama kemudian keduanya sudah mandi dan bertukar pakaian, lalu duduk kembali ke ruangan itu. Muncul Warsiyem dari dalam, mempersilakan suami dan tamunya untuk makan malam. Melihat isterinya, Harun lalu berkata kepada Ujang.

“Ah, engkau belum berkenalan dengan isteriku, Jang! Nah, ini Warsiyem isteriku, ibu Lindu Aji.” Kemudian kepada isterinya dia memperkenalkan temannya. “Dik War, ini Ujang Karim, seorang sahabatku yang datang dari Galuh.” Ujang bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk kepada Warsiyem.

“Maafkan kalau kunjungan saya ini mengganggu,” kata Ujang.

“Ah, sama sekali tidak. Mari, silakan kalian makan yang sudah kami siapkan di ruangan belakang,” kata Warsiyem dengan ramah.

Mereka berdua lalu bangkit dan memasuki ruangan belakang. Hidangan sudah disiapkan di atas meja dan ketika mereka berdua duduk menghadapi hidangan, Ujang berkata, “Mari mbakyu dan nak Lindu Aji makan sekalian!” katanya itu ditujukan kepada Warsiyem karena Aji tidak tampak berada di situ.

“Ah, silakan kalian berdua makan, aku dan Aji makan nanti saja.” kata Warsiyem yang melayani mereka makan.

Sementara itu, Lindu Aji duduk di dapur. Dia termenung dan tidak dapat melupakan isi surat yang tadi dibacanya. Dia tidak tahu siapa itu Hasanudin yang mengancam hendak membunuh ayahnya dan dia tidak mengerti pula mengapa ayahnya dikatakan pengecut dan ayahnya tidak bertanggung jawab. Hatinya merasa penasaran sekali dan semangatnya memberontak. Dia akan menghadapi orang yang mengancam hendak membunuh ayahnya itu!

Setelah selesai makan, Harun dan Ujang kembali bercakap-cakap, akan tetapi karena malam itu hawanya panas, Harun mengajak Ujang bercakap-cakap di pendapa rumahnya, di sebelah warung nasinya yang sudah tutup. Warsiyem memanggil Aji dan ibu ini makan bersama anaknya. Dalam kesempatan makan bersama ibunya ini, Aji tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya. “Ibu, siapakah orang yang bernama Hasanudin itu?”

“Hasanudin....?” Ibunya memandang dengan mata penuh selidik. “Apa yang kau maksudkan, Aji? Kenapa engkau menanyakan nama itu?”

“Aku hanya ingin tahu, ibu. Hasanudin itu mengirim surat kepada ayah, mengatakan ayah seorang pengecut dan ayah tidak bertanggung jawab. Apa artinya itu, ibu?”

Warsiyem memandang ragu. Tentu saja ia sudah mendengar pengakuan suaminya bahwa suaminya meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Hasanudin di galuh, Pasundan. suaminya melarang ia untuk menceritakan tentang hal itu kepada Aji, akan tetapi sekarang, entah bagaimana, Aji mengetahui nama itu. Ia tidak berani melanggar larangan suaminya.

“Aji, megapa engkau menanyakan itu? Aku sendiri juga tidak tahu benar.”

“Akan tetapi, aku harus tahu, ibu! Hasanudin itu mengancam ayah. aku harus membela ayah!” kata Aji dengan alis berkerut.

Ibunya menghela napas panjang. “Mengapa tidak kau tanyakan saja sendiri kepada ayahmu?”

“Aku akan bertanya sekarang juga, ibu!”

“Aji, habiskan dulu makanmu di piringmu!” kata Warsiyem dengan nada menegur. Lindu Aji tidak membantah. Dia segera menghabiskan nasi dan lauknya di atas piringnya dengan cepat, lalu minum air kendi, kemudian dia bangkit dan melangkah tegap menuju ke luar, ke pendapa di mana ayahnya dan tamunya sedang bercakap-cakap.

“Bapak...!” Harun dan Ujang menoleh dan melihat Aji berdiri di situ.

“Eh, ada apakah, Aji?” tanya Harun. Aji melangkah maju dan berdiri di depan ayahnya.

Sikapnya masih sopan seperti biasa, pandang mata yang ditujukan kepada ayahnya masih menyinarkan kasih sayang dan hormat, akan tetapi wajahnya membayangkan keseriusan. “Bapak, saya tadi telah membaca surat dari Hasanudin yang mengancam bapak, karena itu saya harap bapak suka memberitahukan saya, siapakah Hasanudin itu dan mengapa dia mengancam bapak?”

Harun menoleh kepada Ujang. Mereka saling pandang dan dari pandang mata Harun, Ujang tahu bahwa sahabatnya itu merasa bingung dengan pertanyaan anaknya. “Uun, apa salahnya kalau Aji mengetahui persoalannya? Dia sudah hampir dewasa, bukan anak kecil lagi.” Hubungan antara Ujang dan Harun sudah demikian dekatnya seperti saudara saja, maka Ujang berani menyarankan hal itu. Harun menghela napas panjang sambil memandang anaknya.

“Duduklah, Aji.” Aji duduk di depan ayahnya. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Harun lalu berkata, “Kupersingkat saja ceritanya, Aji. Kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu, atau mungkin sudah dua puluh tujuh tahun yang lalu, aku tinggal di Pasundan. Di sana aku mempunyai seorang isteri dan seorang anak berusia satu tahun. terjadilah malapetaka. Isteriku diganggu seorang pembesar sehingga membunuh diri. Aku membalas dendam. Kubunuh pembesar jahanam itu. Aku lalu dikejar-kejar, menjadi buruan. terpaksa aku meninggalkan anakku, kutitipkan kepada pamanmu Ujang Karim ini dan aku merantau ke daerah Mataram. Sepuluh tahun kemudian aku bertemu dengan ibumu dan kami menikah lalu terlahirlah engkau. Nah, tiba-tiba muncul pamanmu Ujang ini yang dititipi surat oleh anakku yang kutinggalkan di Pasundan. Hasanudin itu adalah anakku yang kutinggalkan di sana.”

Berdebar jantung Aji, penuh ketegangan dan penasaran. “Akan tetapi kalau dia anak bapak, kenapa mengancam hendak membunuh bapak?”

Harun menghela napas panjang, “Entahlah... agaknya kakakmu itu telah menyeleweng dan tersesat, atau mungkin dia marah dan mengandung dendam sakit hati kepadaku.”

“Akan tetapi dia mengancam hendak membunuh bapak! Ini sudah keterlaluan namanya dan aku akan menghadapinya!”

“Aji! Jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan pribadiku. Sudahlah, lupakan saja hal itu dan jangan pikirkan lagi. Sekarang tinggalkan kami, jangan ganggu percakapan kami dan pergilah membantu ibumu.” kata Harun agak keras karena memang dia terkejut melihat sikap Aji yang demikian keras, pada hal biasanya anak itu lembut dan penyabar.

Aji memang bangkit dan pergi, akan tetapi tidak kembali ke belakang melainkan melompat ke pekarangan dan lari meninggalkan rumah itu. Dia berlari cepat menuju ke selatan, menuju ke Laut Kidul. Malam itu bulan muncul dengan terangnya sehingga jalan kasar menuju ke selatan itu cukup terang. Aji berlari terus. Jantungnya berdebar tegang. Ayahnya mempunyai seorang anak laki-laki yang jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun. Dia mempunyai seorang kakak! Akan tetapi kakaknya itu mengancam hendak membunuh ayahnya. Kenyataan ini mengguncang hatinya yang selama ini penuh damai dan tenteram.

Setelah tiba di pantai Laut Kidul yang berpasir tebal, baru dia berhenti berlari. Keadaan di situ tenang dan sunyi sekali. Bahkan gemuruhnya suara ombak memecah di pantai makin mempertebal keheningan tempat itu. Akan tetapi hati Aji tidak hening. Dia membayangkan kakaknya yang bernama Hasanudin itu menyerang dan hendak membunuh ayahnya. Tiba-tiba dia bergerak, bersilat menyerang, memukul, menendang sekuat tenaga seolah orang yang hendak membunuh ayahnya itu berada di depannya dan dia menyerangnya penuh kemarahan. Dia terus bersilat, tidak memperdulikan air laut menjilat-jilat sampai ke kakinya. Dia bersilat sekuat tenaga sampai akhirnya, berjam-jam kemudian, dia terkulai lemas dan kelelahan di atas pasir.

“Hem, dia marah sekali. Belum pernah aku melihat dia marah. Biasanya dia lembut dan penyabar.” kata Harun sambil mengerutkan alisnya.

“Siapa yang tidak marah mendengar ayahnya diancam akan dibunuh orang, Harun. anakmu Lindu Aji itu tidak dapat disalahkan. tentu saja dia marah mendengar ada orang mengancam hendak membunuhmu, apa lagi kalau yang mengancam itu anakmu sendiri.”

Pada saat itu kedua orang sahabat yang sedang bercakap-cakap itu mendengar suara orang berdehem di pekarangan. ketika mereka memandang, mereka melihat dalam keremangan cahaya bulan, sesosok tubuh seorang laki-laki di pintu pekarangan, melangkah perlahan memasuki pekarangan itu. “Aji...?” panggil Harun yang mengira itu anaknya.

Akan tetapi bayangan itu tidak menjawab, hanya melangkah perlahan menghampiri pendapa rumah itu. Setelah agak dekat dan sinar lampu di pendapa dapat menerangi wajah orang itu, barulah Harun dan Ujang tahu bahwa orang itu bukan Lindu Aji. Seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus dan dari pakaiannya yang mewah mereka segera tahu bahwa dia tentu seorang menak (bangsawan) Sunda. Usianya sekitar empat pu;uj tahun, dengan ikat kepala yang khas Pasundan dan sarungnya diikatkan di pinggang. Wajahnya tampan dan sepasang matanya mencorong.

Harun segera bangkit berdiri untuk menyambut tamu yang tidak dikenalnya ini. juga Ujang ikut bangkit berdiri dengan muka pucat karena walaupun dia sendiri juga belum mengenal orang ini, akan tetapi pakaiannya sebagai menak sunda itu membuatnya gemetar, teringat bahwa Harun dumusuhi oleh bangsawan Galuh. “Udin...? “ bisik Harun kepada sahabatnya.

“Bukan... bisik Ujang kembali.

Kini laki-laki itu sudah berdiri dekat mereka, dalam jarak empat meter. Sejenak ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, tegak memandang ke arah kedua orang itu bergantian, kemudian dia bertanya dalam bahasa Sunda dengan sikap angkuh dan bahasa kasar, seperti sikap bahasa kebanyakan para bangsawan kalau bicara kepada rakyat kecil.

“Siapa di antara kalian yang bernama Harun Hambali?”

Harun segera dapat menduga bahwa orang ini tentu utusan keluarga mendiang Aom Bahrudin yang akan membalas dendam atas kematian bangsawan itu. Surat Hasanudin yang memaki dia sebagai pengecut telah membangkitkan semangatnya dan kini Harun mengambil keputusan untuk tidak lagi melarikan diri dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Maka dengan sikap gagah dia melangkah maju menghadapi orang itu dan berkata dengan tenang.

“Saya yang bernama Harun Hambali. Juragan (tuan) siapakah dan kepentingan apa yang membawa juragan datang menemui saya?”

Orang itu tidak menjawab melainkan memandang kepada Harun dari kepala sampai ke kaki dengan penuh perhatian. kemudian dia melirik ke arah Ujang dan bertanya, masih dalam bahasa Sunda, “Dan kamu ini tentu yang bernama Ujang Karim, bukan?”

Ujang takut dan menjawab dengan suara gemetar, “Be... betul, juragan”

Kembali orang itu menghadapi Harun yang sudah berdiri di depannya. “Harun Hambali, ingatkah akan peristiwa yang terjadi dua puluh enam tahun yang lalu di Galuh?”

Dengan sikap masih tenang Harun bertanya, “Peristiwa yang mana itu, juragan?”

“Kamu telah membunuh Aom Bahrudin, adik Bupati di Galuh!”

Harun mengangguk dan menjawab dengan suara tegas. “Siapapun andika, tentu sudah mengetahui bahwa saya membunuh Aom Bahrudin karena dia telah memperkosa istri saya sehingga isteri saya membunuh diri. Pembalasan itu sudah setimpal dan adil.”

“Jahanam keparat! Ketahuilah, aku adalah Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin! Aku datang untuk membalas kematian ayahku dan membunuhmu!” Harun masih tenang.

“Kalau andika tidak menyadari bahwa ayah andika yang bersalah dalam peristiwa itu dan hendak membalas dendam, silakan. Saya berani bertanggung jawab atas perbuatan saya itu!”

“Bagus! Bersiaplah untuk mati dan menghadap ayahku!” bentak orang yang mengaku bernama Raden Banuseta itu dan tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat ke depan seperti burung terbang saja dan kedua tangannya sudah menyambar dari kanan kiri ke arah kepala Harun.

Cepat bukan main gerakan orang itu dan ketika kedua tangannya menyambar terdengar angin bersiut menandakan bahwa serangan kedua tangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat. Harun mengenal gerakan cepat bagaikan burung terbang itu dan cepat dia melompat ke samping, menghindar lalu melompat ke tengah pekarangan, mencari tempat yang luas agar leluasa bersilat menghadapi lawan yang tangguh itu.

“Anda murid perguruan silat Dadali Sakti?” Tanya Harun yang biarpun hanya setahun lamanya, pernah belajar ilmu silat pada perguruan silat Dadali Sakti yang amat terkenal di daerah Pasundan itu. Perguruan Dadali sakti (Burung Walet Sakti) adalah sebuah perguruan silat yang mengajarkan ilmu silat yang mempunyai dasar kecepatan gerak seperti seekor walet.

Banuseta tersenyum menyeringai. “Engkau mengenal aliran silatku? Bagus, agar engkau tidak mati penasaran. Sambutlah!” Kembali Banuseta menyerang, gerakannya cepat sekali dan dia sudah mengirim serangkai serangan bertubi-tubi, tamparan, totokan dan tendangan.

Harun mengelak dan menangkis, akan tetapi setiap kali menangkis dan lengannya bertemu dengan lengan lawan, tubuhnya tergetar dan dia terhuyung ke belakang. Harun maklum bahwa tingkat kepandaian lawannya ini jauh lebih tinggi dari tingkatnya. akan tetapi dia sudah bertekad untuk menghadapi segala akibat perbuatannya, tidak akan lari lagi dan akan melawan mati-matian. Maka dia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menandingi lawannya. Dia berusaha untuk balas menyerang, akan tetapi karena memang kalah jauh tingkatnya, maka semua serangan balasannya kalau ditangkis lawan malah membuat tubuhnya terhuyung.

“Hyaaaaaahh....!” Dengan nekat Harun mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya dari atas ke arah kepala lawan. Tamparan kedua tangannya ini mengarah kedua pelipis kepala lawan dan karena dia mengerahkan seluruh tenaganya, maka kalau mengenai sasaran akan berbahaya sekali. Betapapun kuatnya lawan, akan sulitlah dapat bertahan menerima hantaman telapak tangan kanan kiri itu ke pelipisnya.

“Wuuuuuttt.... plakkk!!” kedua pergelangan tangan Harun ditangkap oleh Banuseta. Demikian kuatnya cengkeraman kedua tangan tokoh Dadali Sakti itu sehingga Harun merasa pergelangan tangannya seperti remuk dijepit catut baja.

Dengan nekat dia lalu menggunakan jurus Munding Kroda (Kerbau Marah) dan tiba-tiba dia menghantamkan kepalanya ke arah dada lawan! Jurus Munding Kroda adalah jurus yang hanya dilakukan dalam keadaan sudah tidak berdaya dan nekat, jurus mengadu nyawa karena kalau berhasil, nyawa lawan terancam maut, akan tetapi kalau gagal, nyawa sendiri taruhannya. Akan tetapi dengan jurus ini, kepala Harun dapat memecahkan buah kelapa dengan mudah dan dapat mematahkan balok kayu.

Serangan yang dilakukan tiba-tiba dari dekat ini tentu saja tidak keburu dielakkan oleh Banuseta, juga tidak dapat ditangkis karena kedua tangannya masih memegang kedua pergelangan tangan lawan. Maka diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya menerima terjangan kepala itu dengan dadanya.

“Wuuuttt.... prakkk....!!” terdengar suara keras ketika kepala bertemu dada dan tubuh Harun terpelanting dan roboh tak berkutik lagi. Kepalanya retak bertemu dengan dada yang dilindungi tenaga sakti amat kuat itu dan Harun tewas seketika. Melihat kawannya roboh, Ujang Karim yang sejak tadi menonton dengan muka pucat dan hati tegang, mejadi ketakutan dan dia segera mengangkat kaki melarikan diri.

“Hendak lari ke mana kamu? Kamu juga harus mati!” bentak Raden Banuseta dan tangannya sudah mencabut pisau belati. Sekali tangannya bergerak, pisau itu meluncur dan menancap di punggung Ujang yang melarikan diri. Ujang berteriak dan roboh menelungkup. Raden Banuseta tersenyum mengejek, menghampiri dan mencabut pisaunya, lalu pergi dari situ dengan cepat, menghilang dalam bayangan pohon-pohon karena diapun tidak ingin semua penduduk dusun itu datang mengeroyoknya.

Warsiyem juga tadi menonton perkelahian itu dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Ia khawatir sekali, akan tetapi apa yang dapat dilakukan seorang wanita lemah seperti dia? Ketika melihat suaminya roboh, disusul robohnya Ujang dan pembunuh suaminya itu sudah menghilang, baru ia dapat bergerak, berlari keluar sambil menjerit dan menubruk mayat suaminya.

“Kang Haruuuun... ahh, kang Haruuuunn...!” Ia menjerit-jerit dan melihat bahwa suaminya sudah tewas dengan kepala retak mengeluarkan banyak darah, Warsiyem menangis tersedu-sedu dan roboh pingsan sambil merangkul suaminya. Dusun Gampingan menjadi geger.

Rumah Harun penuh dengan para penduduk yang sama datang melayat. Jenasah Harun dan Ujang dibaringkan di atas sebuah dipan bambu, sedangkan Wrsiyem yang masih pingsan diangkat dan direbahkan ke atas pembaringan dalam kamarnya. Para wanita tetangga berusaha untuk menyadarkannya, akan tetapi Warsiyem tetap pingsan. Guncangan perasaan itu terlalu hebat menggempurnya sehingga wanita itu pingsan berat.

Lindu Aji akhirnya dapat menenteramkan hatinya kembali setelah dia duduk bersila di atas pasir pantai Laut Kidul bermandikan cahaya bulan. Keheningan suasana, kemurnian hawa itu melenyapkan gejolak hatinya, membuat hatinya yang tadinya bergelombang seperti diterpa badai, menjadi tenang kembali. dia teringat akan ayah ibunya yang tentu akan merasa khawatir kalau dia tidak segera pulang. selain itu, ada suatu perasaan tidak enak yang aneh, yang mendorongnya untuk segera pulang. dia mulai menyesal atas sikapnya terhadap ayahnya tadi.

Dia amat menghormati dan menyayang ayahnya, dan kini timbul perasaan iba terhadap orang yang dekat di hatinya itu. ayahnya sudah cukup menderita. istrinya diganggu orang sampai membunuh diri, kemudian karena membalas dendam, dia lalu menjadi buronan sampai bertahun-tahun. dan kini, betapa hancur hatinya mendapat surat dari anak kandungnya sendiri yng mengancam akan membunuhnya.

“Bapak...!” dia mengeluh. Ingin rasanya dia merangkul dan menghibur hati ayahnya tercinta. karena ingin segera pulang dan bertemu ayah ibunya, Lindu Aji lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari kembali ke dusun Gampingan.

Ketika dia memasuki dusun Gampingan, dia terheran-heran melihat para penduduk banyak yang masih berada di luar rumah masing-masing, bahkan banyak yang bergerombol membicarakan sesuatu dengan asyiknya. Wajah merekapun rata-rata tegang. Dan ketika melihat dia datang, mereka semua terdiam dan memandang dia dengan sinar mata aneh.

“Heii, ada apakah? Apa yang terjadi? Sikap kalian begini aneh!” tanyanya kepada beberapa orang pemuda yang juga memandangnya seperti mereka melihat setan.

“Aji, jangan banyak tanya. Cepat pulanglah, cepat!” kata seorang di antara mereka. Aji terbelalak. sikap mereka sudah jelas. Pasti terjadi sesuatu di rumah orang tuanya.

Maka, tanpa bertanya lagi diapun berlari cepat menuju rumahnya. Jantungnya berdebar keras ketika dia melihat betapa di rumahnya dipasangi banyak lampu sehingga terang benderang dan banyak sekali orang berada di rumahnya. Orang-orang memenuhi rumah, bahkan meluber sampai ke pekarangan, seolah-olah seluruh penduduk Gampingan berkumpul semua di situ.

Ketika Lindu aji muncul, semua orang menengok dan memandang kepadanya. Wajah Aji menjadi pucat dan cepat dia menerobos masuk ke ruangan depan. Dan di situ, dia berhenti terbelalak memandang ke arah dua buah dipan bambu di mana rebah dua sosok tubuh yang terselimut kain, yang berarti bahwa dua sosok tubuh manusia itu telah mati! jantungnya seperti meloncat menyumbat kerongkongannya, pandang matanya berkunang dan kekhawatiran yang amat sangat memenuhi hatinya.

Dia lalu melompat ke depan, menyingkap bagian kepala kain penutup mayat itu dan melihat wajah sahabat ayahnya yang bertamu malam itu, wajah Ujang. Biarpun dia terkejut melihat sahabat ayahnya telah tewas, namun dia agak lega bahwa mayat itu bukan ayahnya atau ibunya. Dia lalu menghampiri sosok mayat kedua, dengan tangan gemetar dia membuka kain yang menutupi kepala mayat kedua.

Wajah Lindu Aji seketika pucat sekali, matanya terbelalak, kedua tangan dikembangkan di depan dada, jari-jari tangannya menegang, mulutnya terbuka seolah mengeluarkan pekik yang tidak bersuara, lalu perlahan-lahan bibirnya bergerak, mengeluarkan kata-kata seperti berbisik meragu, tidak percaya apa yang dilihatnya sendiri.

“Bapak... bapak... bapak kenapakah...? Bapak... jawablah, bapak... kenapa...“ Dia menyentuh pundak ayahnya, diguncangnya lembut seolah hendak membangunkan ayahnya dari tidur. akan tetapi dia lalu melihat kepala yang retak-retak dan berlepotan darah itu. “Bapaaaaaakkk.... !!”

Dia menjerit, suara jeritnya melengking dan menggetarkan hati seluruh pelayat “Tidak... tidaaaak...!” Mata yang terbelalak itu basah dan air mata menetes-netes jatuh di atas kedua pipinya. Dia mengguncang-guncang pundak ayahnya dengan kuat seolah tidak percaya dan tidak mau percaya sehingga tubuh mayat itu bergoyang-goyang, kepalanya bergerak-gerak seperti mengeleng.

Sebuah tangan menyentuhnya. Parto, tetangga keluarga Harun yang menjadi sahabat baik keluarga itu, berkata lirih, suaranya menggetar penuh keharuan, “Angger Aji.... kuatkan hatimu, bapakmu telah meninggal dunia...“ Hening sejenak, yang terdengar hanya suara isak para wanita yang merasa terharu melihat adegan itu. Aji seperti orang kebingungan mendengar ucapan itu, dia menoleh ke kanan kiri seolah mengharapkan ada orang lain yang membantu ucapan Parto itu.

Semua orang yang bertemu pandang dengannya menundukkan pandang mata mereka. Aji lalu menoleh lagi kepada wajah ayahnya. “Bapak...? Bapak, benarkah... benarkah bapak.... bapak.... sudah mati?” Kemudian, bagaikan air bah yang dilepas bendungannya, dia menjerit, “Bapaaakkk...!!” Dia menubruk, merangkul ayahnya, menciumi muka jenasah itu lalu menangis meraung-raung di atas dada jenasah Harun.

Isteri Parto yang juga sudah seperti keluarga sendiri dengan Harun dan anak isterinya, merangkul Lindu Aji sambil sesenggukan. “Aji... ngger kuatkan hatimu... semua ini sudah kehendak Gusti... kasihani bapakmu... kasihani ibumu, ngger...“

Tiba-tiba Lindu aji menghentikan tangisnya dan mengangkat kepalanya. Mukanya masih pucat sekali, air mata bercucuran seperti hujan, matanya penuh air mata dan kemerahan. “Ibu.... mana ibu... bagaimana ibuku...?” Ucapan Mbok Parto tadi mengingatkan dia kepada ibunya sehingga sesaat dia melupakan kedukaannya yang terganti kekhawatiran akan keadaan ibunya.

“Ia berada dalam kamarnya, Aji...“ kata Mbok Parto. Mendengar ini, Aji lalu menguak semua orang agar minggir dan dia lalu melompat ke arah kamar ibunya.

“Ibuuu... !” Dia berteriak memanggil ketika memasuki kamar. melihat ibunya rebah telentang di atas pembaringan dan tidak bergerak seperti tidur, atau seperti mati, Aji menggigil dan sejenak terpukau, tidak mampu bergerak lagi, hanya berdiri memandang, matanya terbelalak liar penuh kekhawatiran kalau-kalau ibunya juga sudah mati. Akan tetapi, di bawah sinar lampu, dia melihat dada ibunya masih bergerak, ibunya masih bernapas, ibunya masih hidup!

Dia segera menghampiri dan meraba leher dan dahi ibunya. “Ibu.... !” panggilnya, mengguncang pelahan pundak ibunya. Akan tetapi ibunya tidak juga membuka mata, tidak juga bergerak.

“Aji, ibumu sejak tadi pingsan.” kata seorang wanita sambil menahan tangisnya. Aji lalu duduk di tepi pembaringan. Sedikit banyak dia telah mempelajari dari ayahnya cara pengobatan untuk hal-hal tertentu, seperti menyadarkan orang pingsan, mengobati luka-luka dan akibat keracunan. Melihat ibunya pingsan, dia lalu mengurut tengkuk ibunya, menjepit dan membetot urat di pangkal ibu jari dan di bawah pangkal lengan.

Tak lama kemudian ibunya merintih dan siuman. Begitu membuka mata dan melihat anaknya, Warsiyem bangkit duduk, merangkul anaknya dan menjerit. “Aji...! Bapakmu...!!”

“Ibuuu...!!” Ibu dan anak itu berangkulan dan menangis sesenggukan. Lindu Aji merasa betapa dalam rangkulannya ibunya menjadi lemas terkulai. “Ibuuu.... kuatkan hatimu, ibu....!” Dia mendekap ibunya denga kuat-kuat untuk mencegah ibunya pingsan lagi. Ketika dia melihat wajah ibunya yang tersayang itu megap-megap sperti sukar bernapas karena tangisnya, Aji lalu mencium muka ibunya yang basah air mata itu. Air mata ibu dan anak ini bercampur menjadi satu membasahi muka dan leher mereka.

“Ajiiii... bapakmu... ahh, bapakmu....“ Warsiyem terisak-isak.

Lindu Aji mengusap-usap rambut kepala ibunya. “Kita serahkan saja kepada Gusti Allah, ibu... marilah, ibu.... ibu masih ingat ajaran bapak...? Mari kita menyerahkan bapak kepaada Gusti Allah.” ibu dan anak itu dengan suara mengandung isak lalu berbisik, “Innalillahi wa innailaihi rojiun“ dan masih saling berangkulan lalu menangis.

Semua wanita yang melayat tak dapat menahan keharuan hati mereka dan mereka ikut menangis sehingga suasana menjadi riuh dalam kamar itu. Para pelayat pria juga tampak terharu dan bersusah payah menahan air mata yang siap keluar dari pelupuk mata yang terasa panas. Penguburan dua jenasah itu dilakukan pada keesokan harinya, pagi-pagi dan dilayat oleh semua penduduk Gampingan. Warsiyem dirangkul Aji mengantar jenasah ke kuburan dan kembali menangis tersedu-sedu ketika jenasah sudah dimasukkan lubang dan diurug tanah.

Setelah penguburan selesai dan para pelayat sudah berpamit kepada Warsiyem dan Lindu Aji, ibu dan anak itu masih tinggal di dekat gundukan tanah itu. Mereka berdua, terutama Warsiyem, enggan meninggalkan tanah kuburan itu. Ia seolah telah kehilangan segala-galanya. Seharian mereka berda di situ. Akhirnya, setelah menjelang senja, baru Warsiyem menuruti bujukan anaknya dan mereka pulang dengan tubuh terasa lemas, lelah dan juga lapar karena sejak malam tadi mereka tidak makan apapun. Dengan menguatkan hatinya sendiri yang penuh kedukaan dan kehilangan, Aji membujuk dan menghibur ibunya.

********************

Segala sesuatu di dunia ini dikikis habis oleh waktu. Bahkan segala macam perasaan akan berubah dan ditelan sang waktu. demikian pula perasaan duka. Warsiyem dan Lindu Aji duduk di ruangan depan rumah mereka. Warung nasi belum dibuka. tidak ada semangat bagi Warsiyem untuk berjualan seperti biasa. akan tetapi setelah lewat sepuluh hari sejak kematian suaminya, ia yang tadinya tenggelam ke dalam lautan duka, kini mulai muncul di permukaan. sudah mau mandi, bertukar pakaian, bahkan menikmati air teh hangat yang disuguhkan aji. Setelah melihat keadaan ibunya yang mulai mau bicara dan tidak tampak terlalu nelangsa lagi, Aji berani mengajak ibunya bicara.

“Ibu sebaiknya kalau kita mulai membuka warung dan berjualan lagi. Banyak penduduk dan para langganan yang menanyakan kepadaku kapan warung nasi ibu akan dibuka lagi.” kata Aji dengan hati-hati.

Warsiyem memandang anaknya, ia telah dapat menenangkan hatinya. Ia tidak boleh tenggelam terus dalam kedukaan. Ia harus hidup demi anaknya. Ia tidak hidup sendiri. Ia masih mempunyai Aji. Bangkit kembali semangatnya kalau ia ingat kepada puteranya.

”Besok kita boleh mulai berjualan, Aji. Besok pagi-pagi kita pergi ke pasar untuk belanja. Berasnyapun kulihat tinggal sedikit.”

Setelah mereka makan malam, Aji melihat ibunya sudah benar-benar kuat lahir batinnya, maka barulah dia mengajak ibunya bercakap-cakap dan menjawab pertanyaan yang selalu menggerogoti hatinya sejak kematian ayahnya namun ditahan-tahannya dia tidak ingin mengganggu ibunya yang sedang berduka.

“Ibu, aku ingin sekali mengetahui tentang kematian bapak. Aku ingin tahu siapa yang membunuh bapak dan apa yang telah terjadi pada malam hari itu, ibu?” Mereka duduk di ruangan dalam.

Warsiyem menghela napas panjang. “Kejadian itu terlalu tiba-tiba dan mengejutkan datangnya, Aji. Tadinyapun aku sendiri tidak mengenal siapa orang yang datang dan berkelahi dengan ayahmu itu. Akan tetapi aku mendengar percakapan mereka. Malam itu, datang seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi kurus dan berpakaian seperti seorang priyayi. ketika aku mendengar ribut-ribut di luar, aku segera keluar dan sempat melihat dan mendengar dia bercakap-cakap dengan ayahmu.”

“Dia berusia empat puluh tahun, ibu? Bukan seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh enam tahun?” Warsiyem menggeleng kepala.

“Bukan. Aku yakin bahwa usianya paling sedikit empat puluh tahun. Dalam percakapan dengan bapakmu dia mengaku bernama Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin yang datang dari tanah Pasundan.”

“Ahh...! Kiranya putera bangsawan yang dibunuh bapak itu?”

“engkau sudah tahu akan hal itu?”

“Bapak sudah menceritakan kepadaku, ibu, pada hari itu juga sebelum malapetaka itu datang.”

“Kalau begitu engkau sudah diceritakan bapakmu bahwa bapakmum adalah pelarian dari tanah Pasundan. Bertahun-tahun dia dikejar-kejar putera Aom Bahrudin sendiri yang datang sampai di sini dan menemukan bapakmu. Setelah mendengar nama bapakmu dan memperkenalkan diri, Raden Banuseta itu lalu menyerang bapakmu. Mereka berkelahi dan akhirnya bapakmu tewas ditangannya. Juga sahabat bapakmu bernama Ujang itu dibunuhnya ketika hendak melarikan diri.”

“Apakah Banuseta itu tidak mengatakan di mana dia tinggal, ibu?”

“Dia datang dari Galuh dan menurut pendengaranku ketika dia bertanding melawan bapakmu, dia ada mengatakan bahwa dia adalah murid perguruan Dadali Sakti. Akan tetapi, kenapa engkau tadi mengira bahwa pembunuh bapakmu baru berusia dua pulh enam tahun, Aji?”

“Tadi aku mengira bahwa yang membunuh bapak adalah Hasanudin, ibu.”

“Hasanudin? Ah, maksudmu Udin putera bapakmu yang ditinggal di Galuh itu? Engkau sudah tahu akan hal itu?”

“Bapak sudah menceritakan bahwa bapak mempunyai seorang putera bernama Hasanudin yang ditinggalkan di Pasundan, ibu. Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca surat dari Hasanudin yang dititipkan Paman Ujang untuk diberikan kepada bapak.”

“Surat? Aku malah belum mengetahuinya. Dia mengirim surat untuk bapakmu? Apa isi surat itu?”

Wajah Aji menjadi kemerahan dan dia mengepal tangannya. “Dia memaki bapak sebagai seorang pengecut dan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab“

“Hemmm...!” Warsiyem mengerutkan alisnya.

“Bukan itu saja, ibu. dia bahkan menulis ancaman bahwa dia pasti akan datang membunuh bapak.”

“Ahhh...! Durhaka...!” seru Warsiyem kaget.

“Itulah sebabnya ketika melihat bapak dibunuh orang, aku segera mengira bahwa Hasanudin yang membunuhnya. Akan tetapi ternyata bukan dia, melainkan Raden Banuseta.”

Sejak saat itu, dua buah nama itu Hasanudin dan Raden Banuseta, terukir dalam-dalam di hatinya. akan tetapi Lindu Aji tidak mengatakan sesuatu kepada ibunya. Dia membuka kembali warung nasinya dan melanjutkan pekerjaan ayahnya di sawah ladang. Beberapa bulan kemudian kehidupan ibu dan anak ini sudah menjadi biasa kembali. Biarpun suami yang dikasihinya telah tiada, namun karena ia mempunyai seorang anak, maka kepada anaknya itulah seluruh kasih sayangnya tertumpah.

Aji juga seorang anak yang amat berbakti dan menyayang ibunya, maka hati Warsiyem segera terhibur dan ia menemukan kembali gairah hidupnya. Warsiyem adalah seorang janda yang berusia tiga pulh tiga tahun, masih tampak muda dan cantik manis, memiliki daya tarik yang kuat sehingga mata banyak pria memandangnya dengan gairah dan rindu.

Akan tetapi karena Warsiyem seorang janda yang pandai membawa diri, pandai menjaga kehormatan tidak melayani senda-gurau laki-laki iseng, ditambah lagi orang-orang merasa segan terhadap mendiang suaminya, maka tidak ada laki-laki yang berani bersikap kurang ajar, walaupun banyak yang menjual lagak dan mencoba memikat janda itu dengan mermacam gaya. Adanya Aji juga merupakan perisai yang kuat bagi Warsiyem.

Semua orang tahu bahwa Aji, biarpun berusia lima belas tahun, namun merupakan seorang pemuda yang memiliki kedigdayaan. Selain itu, ibu dan anak ini bersikap ramah dan baik sekali kepada semua penduduk dusun Gampingan, ringan tangan dan lapang hati membantu orang lain yang sedang kesusahan.

Pada suatu siang seperti biasa Warsiyem menjaga warung nasinya. Biasanya, warung nasinya itu ramai dikunjungi para langganan di waktu pagi untuk sarapan, juga di waktu sore menjelang tutup. Kalau siang, tidak banyak yang datang makan karena kebanyakan penduduk Gampingan di waktu siang sibuk bekerja di sawah ladang atau pergi mencari ikan di laut. Siang itupun tidak banyak orang berkunjung dan di warung itu hanya ada dua orang penduduk Gampingan yang kebetulan lewat dan mereka hanya berhenti untuk sekedar mengopi.

Tiba-tiba muncul tiga orang yang lagak dan sikapnya menyeramkan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, tubuh mereka tinggi besar dengan perut gendut dan mereka muncul di depan pintu warung sambil menyeringai menakutkan. Warsiyem terbelalak dan terkejut bukan main. Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat orang terdepan. Biarpun laki-laki tinggi besar itu kini sudah berusia lima puluh tahun lebih dan tampak agak lebih tua dari pada dahulu, namun Warsiyem masih mengenalnya.

Dia bertubuh tinggi besar, gendut, bajunya terbuka sehingga tampak dadanya yang berbulu, mukanya bulat, sepasang mata lebar melotot dihias sepasang alis yang hitam tebal, brewoknya pendek dan kasar kaku, di pinggangnya tergantung sebatang golok. Dia adalah Singowiro yang pada enam belas tahun yang lalu pernah mencoba untuk menculiknya, kemudian akan menikahinya, bahkan yang telah membunuh ayahnya!

Sambil bertolak pinggang dan langkah digagah-gagahkan, Singowiro memasuki warung, diikuti dua orang temannya yang juga bermata liar. Melihat dua orang yang sedang ngopi, Singowiro mendekati dan menghardik dengan sikap galak, “Heii, kalian monyet-monyet busuk, cepat pergi dari sini!”

Dua orang petani itu terkejut dan memandang Singowiro dengan heran, akan tetapi melihat laki-laki tinggi besar itu meraih gagang golok dan mencabutnya sedikit, mereka menjadi ketakutan, bangkit berdiri lalu melarikan diri karena dapat melihat dengan jelas dari sikap tiga orang itu bahwa mereka bukan orang baik-baik dan pasti akan membuat keributan. Kini Singowiro memandang Warsiyem yang masih berdiri di belakang meja warungnya.

Laki-laki itu mengamati wajah dan tubuh Warsiyem, tersenyum senang karena baginya wanita itu masih seperti dulu, bahkan kini semakin denok dan matang! “Heh-heh-heh, Warsiyem, mana suamimu?” tanyanya sambil melangkah maju menghampiri.

Warsiyem tidak menjawab, melainkan perlahan mundur menjauhi. “Ha-ha-ha, setan itu sudah mampus, bukan? Hemm, kalau saja dulu engkau tidak menjadi isteri setan itu dan menjadi isteriku, sekarang engkau tidak menjadi janda! Akan tetapi sekarangpun belum terlambat, Warsiyem. engkau bisa menjadi isteriku yang ke tiga, Heh-heh-heh!” dia menghampiri dekat dan mengulur tangan hendak mengelus pipi wanita itu.

Warsiyem mengelak mundur, “Singowiro, engkau penjahat dan pembunuh keji! Jangan mengganggu aku dan pergi dari sini!” Warsiyem menuding ke arah pintu, “Pergi atau aku akan menjerit!”

“Menjerit? Ha-ha-ha, menjeritlah, aku suka mendengar jerit wanita cantik!” kata Singowiro dan kembali tangannya meraih ke depan.

Warsiyem mengelak, akan tetapi tangannya dapat ditangkap. Singowiro menyambar dengan tangan kirinya dan kini kedua pergelangan tangan Warsiyem telah dipegangnya. “Heh-heh-heh, hayolah manis. engkau sudah ditinggalkan mati suamimu, tentu kesepian. Hayo kita bersenang-senang sebentar. Mana kamarmu?” Singowiro menarik kedua tangan Warsiyem, hendak dipaksanya masuk ke dalam rumah itu.

Warsiyem menjerit-jerit. Dua orang kawan Singowiro terkekeh-kekeh dan menganggap adegan itu lucu sekali. “Tolong! Toloooongggg... Aji... tolooonggg...!!” Warsiyem menjerit-jerit dan hendak bertahan agar jangan terseret. Akan tetapi ia kalah tenaga.

Akan tetapi sebelum Warsiyem terseret sampai ke dalam rumah, dua orang kawan Singowiro menghampiri. “Kang Singo, jangan di sini! Kalau orang-orang datang, kan repot? Lebih baik dibawa saja perempuan ini, dan dibawa pulang. Di sana engkau kan lebih leluasa dapat bersenang-senang dengannya sepuas hatimu.”

Mendengar peringatan kawannya ini, Singowiro sadar. “Hemmm, benar juga kalian!” Setelah berkata demikian, dengan ringan dan mudah dia mengangkat dan memanggul tubuh Warsiyem dan memegangi dua pergelangan tangan wanita itu dengan satu tangan saja. “Mari kita pergi dari sini” kata Singowiro dan mereka bertiga cepat berlari keluar tanpa memperdulikan Warsiyem yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.

Pada saat itu para pria hampir semua meninggalkan dusun dan bekerja di sawah ladang atau di laut, maka yang berada di dusun hanyalah kaum wanita dan kanak-kanak. tentu saja mereka hanya kebingungan bahkan ketakutan mendengar jeritan Warsiyem, tidak berani keluar rumah, apa lagi melihat apa yang terjadi. Karena itu, dengan leluasa Singowiro dan dua orang kawannya melarikan diri keluar dari dusun Gampingan.

Setelah tiba di tempat yang cukup jauh dari dudun Gampingan, mereka berhenti dan dua orang kawan Singowiro itu berkata kepadanya. “nah, sekarang kita berpisah, Kang singo. Bawalah pengantinmu itu pulang dan bersenang-senanglah. Kami tidak mau mengganggumu. Besok saja kita bertemu lagi di rumahmu, kami akan datang berkunjung dan memberi selamat kepada sepasang pengantin.”

Singowiro terkekeh, “Heh-heh, baiklah, sekarang tidak akan ada yang berani mengganggu lagi. terima kasih, kawan-kawan. Sampai besok!” Dia lalu melangkah lebar memasuki jalan berbukit dan dua orang kawannya mengambil jalan lain.

Warsiyem tidak hentinya meronta dan menjerit-jerit sampai suaranya menjadi parau, akan tetapi Singowiro bahkan merasa senang sekali karena tubuh wanita itu bergerak-gerak di atas pundaknya. Ratap tangis dan jerit wanita bagaikan nyanyian merdu dan janji-janji mesra dan muluk memasuki telinganya. Tiba-tiba saja, Singowiro merasa pundaknya dan tangannya yang memegang kedua pergelangan tangan Warsiyem seperti lumpuh dan wanita itu sudah terlepas dari pondongannya!

Wanita yang tadi dipondongnya itu seperti melompat ke belakang, maka cepat dia memuter tubuh. Warsiyem telah berdiri dengan ketakutan, dan di dekatnya berdiri seorang pria tua renta yang rambutnya sudah hampir putih semua. laki-laki tua itu berusia lanjut, tentu kurang lebih delapan puluh tahun, tubuhnya jangkung kurus, akan tetapi berdirinya masih tegak. Bukan hanya rambutnya yang putih, juga sedikit kumis dan jenggotnya sudah putih.

Sepasang matanya bersinar lembut sekali penuh kesabaran dan pengertian. bajunya lurik penuh tambalan, terbuka di bagian dada. celananya dari kain tebal berwarna kekuningan yang sudah lusuh pula. kedua kakinya telanjang dan dia memegang sebatang tongkat kayu sederhana.


Alap Alap Laut Kidul Jilid 03

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 03

SEMENTARA itu, dalam bahasa Sunda, Harun bercakap-cakap dengan tamunya. Tamu itu adalah seorang sahabat baiknya ketika dia masih berada di Galuh, bahkan tamunya ini yang dulu dia titipi anaknya! Orang itu bernama Ujang Karim. tentu saja melihat Ujang tiba-tiba datang ke dusun Gampingan dan bertemu dengan dia, Harun menjadi terkejut, heran dan girang karena dia ingin sekali mendengar tentang keadaan di perkampungannya, terutama sekali tentang anaknya.

“Kapan engkau datang ke Mataram, Ujang? Seperti mimpi rasanya aku dapat bertemu dan bercakap-cakap denganmu!” kata Harun.

“Aku juga merasa seperti mimpi, Uun. baru setahun aku datang di Mataram. Sebetulnya akupun ingin mencarimu, akan tetapi tidak ada orang Sunda yang berada di kota pasisiran mengetahui siapa engkau dan di mana engkau berada. Aku hampir putus asa untuk dapat berjumpa denganmu.”

“Nanti dulu, Ujang. Ceritakanlah dari permulaannya. tentang kehidupanmu di sana, bagaimana dengan anakku si Udin, dan bagaimana pula engkau sampai meninggalkan Galuh dan tiba di Mataram.” Harun bertanya dengan ingin tahu sekali.

Ujang menhela napas panjang dan pada saat itu, muncul Aji membawa baki terisi cerek air the dan dua buah cangkir. dengan membungkuk dan sikap hormat dia meletakkan teh poci dan dua buah cangkir itu di atas meja, lalu berkata kepada tamu itu dalam bahasa Sunda yang patah-patah. “Paman, silakan minum teh.” Kemudian dia membungkuk dan mengundurkan diri.

“Aih, Harun. Anak itu bisa bicara bahasa kita. siapakah dia?”

“Nanti saja kuceritakan semua tentang diriku, Ujang. sekarang lanjutkan dulu ceritamu, tentang keadaanmu di sana sampai engkau datang di Mataram dan bertemu dengan aku di sini.”

“Setelah engkau pergi dan engkau menitipkan Udin kepadaku, aku menjadi bingung. Aku mengira engkau pergi tidak akan lama, tidak tahunya engkau tidak pernah kembali ke dusun kita. Seorang laki-laki muda diserahi merawat seorang anak berusia satu tahun, tentu saja repot bukan main. Karena adanya anakmu itu, terpaksa aku menikah dengan gadis dari dusun lain.”

“Aih, engkau sudah menikah, Ujang?” Tanya Harun gembira.

Yang ditanya cemberut. Dia seorang laki-laki yang agak gemuk, mukanya bulat sehingga ketika dia bercemberut, mukanya tampak lucu, kedua matanya yang sipit itu seperti terpejam. “Sialan! Kesialan menimpaku bertubi-tubi dan semua ini biang keladinya hanya engkau, Harun!”

“Maafkan aku, Ujang. Akan tetapi apakah yang telah terjadi?”

“Mula-mula engkau meninggalkan anakmu begitu saja kepadaku, itu kesialan pertama karena engkau merepotkan aku dan memaksaku menikah, pada hal engkau tahu bahwa aku seorang yang miskin. menikah dengan gadis itu merupakan kesialan kedua karena ternyata ia seorang wanita yang cerewet pencemburu, galak dan kejam. Bukan itu saja. Orang-orangnya pembesar yang kau bunuh itu setelah tahu bahwa anakmu dititipkan padaku, memaksaku untuk memberitahu di mana adanya engkau. Mereka memukuli aku dan bahkan nyaris membunuhku!”

“Aih, maafkan aku, Ujang. Aku telah membuatmu sengsara. Sungguh mati aku tidak mengira bahwa karena kutitipi anakku, engkau mengalami itu semua. Maafkan aku.”

“Sudahlah, semua telah terjadi. Terpaksa aku membawa isteriku dan anakmu Udin pergi melarikan diri ke selatan. Kami hidup di dusun Kalipucang, jauh dari Galuh. aku hidup sebagai petani di tempat baru itu. akan tetapi karena daerah tempat tinggal kami itu sering dilanda banjir, aku gagal. Kami hidup dalam keadaan yang serba kekurangan, hidup miskin. Akhirnya isteriku pergi meninggalkan aku, minggat dengan laki-laki lain. Ketika itu Hasanuddin, anakmu itu, berusia kurang lebih tujuh tahun. Aku hidup menyendiri, kemudian aku menitipkan Udin kepada Aki Somad, seorang pertapa dari Nusa Kambangan yang sedang berkelana ke dusun kami. Aki Somad menyatakan suka kepada Udin dan mau menerimanya sebagai murid. Dia lalu membawa Udin pergi dan sampai bertahun-tahun aku tidak pernah lagi bertemu dengan dia.”

“Apa? Kau serahkan anakku kepada orang lain?”

“Terpaksa, Harun. Bagaimana mungkin aku yang hidup menyendiri harus merawat dan mendidik dia? Pula, Aki Somad itu bukan orang sembarangan. Baru seminggu berada di dusun kami dan orang-orang mengabarkan bahwa dia itu seorang pertapa sakti, bahkan telah menyembuhkan banyak orang yang menderita sakit di dusun kami.”

“Dan engkau tidak menjenguknya?” Tanya Harun penasaran.

“Mana aku sempat? Hidupku susah, aku terpaksa berpindah-pindah karena takut kalau musuh-musuhmu itu tetap mencari aku. Akan tetapi ketika Udin sudah pergi selama delapan tahun, aku bertemu dengan seorang pemuda yang mengaku mengenal Aki Somad dan dia membawa kabar tentang Udin. Katanya Udin telah meninggalkan Aki Somad dan kabarnya... dia juga mencuri perhiasan berharga dan seekor kuda dari kepala dusun setempat.”

cerita silat online karya kho ping hoo

“Apa?” Harun menggebrak meja. “Ahh, celaka! Anakku Hasanudin menjadi terlantar, kurang pendidikan sehingga tersesat! Hemm, lalu bagaimana, Ujang?”

“Seperti kukatakan tadi, selama hampir dua puluh tahun aku tidak pernah bertemu dengan dia. Keadaanku yang susah memaksa aku mengambil keputusan untuk merantau ke Mataram dan mencarimu. Dan pada waktu aku bersiap-siap hendak pergi, muncullah seorang pemuda yang tidak kukenal. Akan tetapi ketika dia memperkenalkan dirinya, barulah aku tahu bahwa dia itu bukan lain adalah Hasanudin anakmu!”

“Dia... dia datang kepadamu? Ah, bagaimana keadaannya?”

“Ya, dia datang, kurang lebih setahun yang lalu ketika aku hendak berangkat ke timur, ke daerah Mataram. Usianya sekitar dua puluh lima tahun. Dia telah menjadi seorang pemuda tinggi besar yang gagah perkasa, akan tetapi sikapnya, Harun, ahh...“ Ujang Karim menghentikan pembicaraannya dan menghela napas sambil mengeleng-geleng kepalanya. “Dia memaksa dan mengancam aku agar aku segera pergi ke Mataram mencarimu. Sikapnya kasar sekali dan sama sekali tidak menghargai aku yang sudah lebih dari enam tahun memelihara dan membesarkannya, menjadi pengganti orang tuanya, bahkan dia sudah menganggap aku sebagai ayah sendiri, menyebut aku ayah dan diapun tidak tahu bahwa dia bukan anak kandungku.”

“Tapi... tapi bagaimana dia menyuruhmu pergi mencariku?” Tanya Harun bingung, hatinya penuh ketegangan dan juga penuh duka mengingat bahwa puteranya telah menjadi pemuda jahat yang mencuri, bahkan bersikap tidak selayaknya terhadap Ujang yang membesarkannya. “Bagaimana dia tahu tentang aku dan apa yang dia lakukan terhadap dirimu, Ujang?”

“Aku sendiri heran bagaimana dia tahu tentang dirimu. Aku dan istriku tidak pernah bercerita bahwa dia itu anakmu. Akan tetapi dia datang dengan sikap galak sekali, dan engkau tahu apa yang dia lakukan? Aku mempunyai sebuah arca kecil dari batu hitam yang amat keras dan kuat. Akan tetapi dia memegang arca itu dan meremasnya. Arca itu hancur lebur seperti tepung ketika dia meremasnya! Belum pernah selama hidupku aku melihat kekuatan tangan seperti itu! dan dia bilang, kalau aku tidak cepat menemukanmu, dia akan membikin kepalaku hancur seperti arca itu!”

“Bocah keparat!” Harun berseru marah sekali, akan tetapi diam-diam diapun terkejut bukan main. Kekuatan tangan yang meremas hancur batu hitam seperti membuktikan bahwa anak itu telah memiliki tenaga sakti yang amat hebat! “Lalu apa maksudnya dia memaksa engkau pergi mencariku sampai dapat kau temukan?”

Ujang Karim bangkit dan menghampiri dagangannya, mengambil sesuatu dari dalam keranjang dan memberikannya kepada Harun. “Dia memaksa aku mencarimu untuk menyerahkan ini kepadamu.”

Harun menerima benda itu yang ternyata sehelai kain putih yang ditulisi huruf-huruf hitam. Dia membuka gulungan kain surat itu akan tetapi cuaca dalam rumah itu sudah mulai gelap. “Aji...!” Harun memanggil anaknya. Aji yang membantu ibunya menutup warung, cepat memasuki ruangan. “Ya, ada apakah, Pak?”

“Aji, nyalakan lampu, cuaca sudah mulai gelap.”

“Baik, Pak.” Aji lalu cepat menyalakan lampu-lampu gantung dalam rumah itu. “Pergilah bantu ibumu mempersiapkan makan malam untuk kami. Sembelih seekor ayam, Aji.” kata pula Harun yang tidak menghendaki puteranya itu mendengar percakapan dia dan Ujang.

“Baik, Pak.” Aji lalu cepat keluar untuk membantu ibunya.

Setelah anaknya pergi, Harun mendekatkan kain bertulis itu kepada lampu gantung dan dia mulai membaca. Tulisan itu cukup terang dan huruf-hurufnya indah dan kuat,

Harun Hambali, Engkau adalah seorang pengecut dan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab, menyelamatkan diri sendiri dan menyia-nyiakan anaknya. Tunggu saja, aku pasti datang membunuhmu!
Hasanudin.


“Ampun Gustiii...!” Harun menjadi lemas. surat itu terlepas dari tangannya yang menggigil, wajahnya pucat dan dia tentu akan jatuh terkulai kalau saja sesosok bayangan tidak dengan cepat berkelebat dan menangkap lalu merangkul tubuhnya.

Bayangan itu adalah Lindu Aji yang tadi telah mendengar seruan ayahnya dan cepat meloncat memasuki ruangan itu sehingga masih sempat mencegah ayahnya roboh terguling. Ketika melihat ayahnya pingsan, pemuda itu lalu memondongnya dan merebahkan tubuhnya di atas sebuah dipan yang berada di ruangan itu. Kemudian dia melihat sehelai kain bersurat yang tadi terlepas dari tangan ayahnya. Sekilas dibacanya isi surat itu, lalu dilipat disimpannya, diselipkan di ikat pinggang celananya. Kemudian dia menghampiri ayahnya dan menggunakan jari-jari tangannya mencubit otot besar di antara ibu jari dan telunjuk tangan ayahnya dan menekan-nekan bawah hidungnya.

Harun mengeluh dan siuman dari pingsannya. dia mengalami guncangan hebat sekali dan ada rasa nyeri di dalam dadanya. Perasaan hatinya seperti ditusuk-tusuk. Anaknya sendiri, darah dagingnya, mengancam akan membunuhnya dan dalam tulisannya itu terkandung kebencian yang amat hebat. Dia tidak takut oleh ancaman itu, sama sekali tidak, akan tetapi dia merasa sedih bukan main karena dimusuhi anak kandung sendiri. Dia bangkit duduk dan melihat Ujang dan Lindu Aji berada di situ, dia lalu ingat bahwa Aji tidak boleh mengetahui akan semua ini. Maka dia lalu memandang pemuda itu dan berkata.

“Aji, keluarlah dan bantu ibumu. Juga penuhi kolam kamar mandi dengan air. Aku dan pamanmu Ujang ini akan mandi dulu sebelum makan malam.” Ada perintah yang mendesak terkandung dalam suara ayahnya.

Aji mengangguk dan melihat ayahnya sudah tidak apa-apa, diapun keluar dari ruangan itu untuk memenuhi kolam kamar mandi dengan air dan membantu ibunya yang sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk suami dan tamunya. Setelah anaknya pergi, Harun menghela napas beberapa kali dan dia kembali duduk di atas kursi dekat meja, berhadapan dengan Ujang.

“Tenangkan hatimu, Harun. Udin itu tidak mungkin akan dapat menemukanmu di sini. tempat tinggalmu ini cukup tersembunyi. aku sendiri hanya secara kebetulan saja dapat bertemu denganmu di sini.

“Aku bukan takut menghadapi ancamannya itu, Ujang... eh, di mana suratnya tadi?” Harun memandang ke sekeliling, mencari-cari.

“Surat itu tadi di ambil anakmu,” kata Ujang.

“Aji...! Aji... ke sinilah!” teriak Harun sambil menoleh ke arah belakang.

Aji muncul dengan cepat. “Ya, Pak?”

“Engkau mengambil kain bersurat tadi?”

“Benar, Pak. Ini suratnya.” Aji mengambil surat itu dari balik ikat pinggangnya dan menyerahkannya kepada Harun.

“Engkau tadi membacanya?” Aji mengangguk sambil menundukkan mukanya. “Benar, Pak.”

“Lupakan apa yang kau baca itu! Tidak ada artinya sama sekali.”

“Akan tetapi, Pak...“

“Aji, sejak kapan engkau membantah bapakmu? Turuti saja nasihatku, jangan pikirkan dan lupakan isi surat yang kau baca tadi. Mengerti?”

“Sumuhun, mangga, Pak.” kata Aji yang lalu mengundurkan diri, kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Anakmu yang ini sungguh patuh kepadamu. Tampaknya dia anak yang baik dan kulihat tadi ketika dia berlatih silat, dia sudah trampil dan mahir sekali.”

Harun menghela napas panjang. “Mudah-mudahan begitu. semoga Allah Subhanahu Wa Ta’allah selalu membimbingnya melalui jalan kebenaran dalam hidupnya.”

“Kulihat beda sekali dengan Udin. Dia memang tampan dan gagah tampaknya, akan tetapi sikapnya sungguh menyeramkan sekali. Ada yang aneh dalam pandang matanya, begitu menakutkan dan mengandung wibawa hebat, seperti mata harimau.”

“Semoga Tuhan mengampuninya. Biarlah kalau dia hendak membunuhku, Ujang, karena akupun merasa dan menyadari akan kesalahanku terhadap dia. Dia benar, aku seorang ayah yang tidak bertanggung jawab. Akan tetapi, apa yang kau ketahui tentang orang-orang Galuh yang mencariku dan memukulimu? Aku memang menduga bahwa keluarga Aom Bahrudin pasti tidak akan berhenti begitu saja. Mendiang Aom Bahrudin adalah menak (bangsawan) yang tinggi kedudukannya dalam kerajaan Galuh.”

“Memang benar, harun. Mereka yang datang mencarimu dan memaksa aku mengaku di mana engkau berada adalah orang-orang yang menjadi anak buah Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin yang kau bunuh itu. Dan aku mendapat kabar bahwa Raden Banuseta itu adalah seorang yang digdaya dan sakti mandraguna.”

Harun menghela napas panjang. “Biarlah kalau mereka datang mencariku di sini, akan kuhadapi semua. Aku memang telah membunuh Aom Bahrudin. Akan tetapi seperti engkau juga telah mengetahui, aku membunuhnya karena dia telah memperkosa isteriku sehingga ia membunuh diri. Kalau sekarang anaknya hendak membalas dendam kematian ayahnya padaku, akan kuhadapi. Anakku Udin memang benar. Aku seorang pengecut. Mestinya dahulu aku tidak melarikan diri menjadi orang buruan, mestinya aku mempertanggung-jawabkan perbuatanku itu. karena aku melarikan diri dan meninggalkan anakku, maka aku menyeret banyak orang yang ikut menderita karena aku. Aku membuat Udin hidup terlantar, juga engkau telah menderita karena pelarianku itu. Bukan Udin dan engkau saja yang menderita akibat ulahku itu, bahkan kini istri dan anakku Aji juga ikut terancam. Ahh, aku menyesal sekali, Ujang.”

“Engkau tidak perlu menyesal, Harun. Aku tidak bisa menyalahkanmu. Istrimu membunuh diri karena diperkosa orang dan engkau mengambil tindakan sendiri untuk membalas. Hal itu sudah sepantasnya, karena kalau engkau minta pengadilan kepada penguasa di Galuh mungkin engkau malah yang ditangkap dan dihukum. Kita semua tahu bahwa hukum diadakan hanya untuk melindungi orang-orang yang berkuasa saja.”

Harun menghela napas panjang. “Apa anehnya itu, Ujang? Kekuasaan itulah hukum yang berlaku. Orang-orang yang berkuasa menentukan hukum sendiri dan rakyat jelata harus tunduk kepada hukum mereka. Akan tetapi di Mataram ini lain keadaannya, Ujang. di sini terdapat banyak pejabat tinggi yang bijaksana dan yang membela rakyat. Sultan Agung adalah seorang raja yang bijaksana bertindak tegas terhadap para pamong praja yang lalim.”

Pada saat itu, Aji muncul dalam ruangan itu dan berkata kepada ayahnya, “Kamar mandi sudah siap, Pak. Airnya sudah penuh. silakan bapak dan paman mandi.” Setelah berkata demikian, Aji lalu mengundurkan diri lagi.

Harun mempersilakan temannya untuk mandi. Tak lama kemudian keduanya sudah mandi dan bertukar pakaian, lalu duduk kembali ke ruangan itu. Muncul Warsiyem dari dalam, mempersilakan suami dan tamunya untuk makan malam. Melihat isterinya, Harun lalu berkata kepada Ujang.

“Ah, engkau belum berkenalan dengan isteriku, Jang! Nah, ini Warsiyem isteriku, ibu Lindu Aji.” Kemudian kepada isterinya dia memperkenalkan temannya. “Dik War, ini Ujang Karim, seorang sahabatku yang datang dari Galuh.” Ujang bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk kepada Warsiyem.

“Maafkan kalau kunjungan saya ini mengganggu,” kata Ujang.

“Ah, sama sekali tidak. Mari, silakan kalian makan yang sudah kami siapkan di ruangan belakang,” kata Warsiyem dengan ramah.

Mereka berdua lalu bangkit dan memasuki ruangan belakang. Hidangan sudah disiapkan di atas meja dan ketika mereka berdua duduk menghadapi hidangan, Ujang berkata, “Mari mbakyu dan nak Lindu Aji makan sekalian!” katanya itu ditujukan kepada Warsiyem karena Aji tidak tampak berada di situ.

“Ah, silakan kalian berdua makan, aku dan Aji makan nanti saja.” kata Warsiyem yang melayani mereka makan.

Sementara itu, Lindu Aji duduk di dapur. Dia termenung dan tidak dapat melupakan isi surat yang tadi dibacanya. Dia tidak tahu siapa itu Hasanudin yang mengancam hendak membunuh ayahnya dan dia tidak mengerti pula mengapa ayahnya dikatakan pengecut dan ayahnya tidak bertanggung jawab. Hatinya merasa penasaran sekali dan semangatnya memberontak. Dia akan menghadapi orang yang mengancam hendak membunuh ayahnya itu!

Setelah selesai makan, Harun dan Ujang kembali bercakap-cakap, akan tetapi karena malam itu hawanya panas, Harun mengajak Ujang bercakap-cakap di pendapa rumahnya, di sebelah warung nasinya yang sudah tutup. Warsiyem memanggil Aji dan ibu ini makan bersama anaknya. Dalam kesempatan makan bersama ibunya ini, Aji tak dapat menahan hatinya lagi dan bertanya. “Ibu, siapakah orang yang bernama Hasanudin itu?”

“Hasanudin....?” Ibunya memandang dengan mata penuh selidik. “Apa yang kau maksudkan, Aji? Kenapa engkau menanyakan nama itu?”

“Aku hanya ingin tahu, ibu. Hasanudin itu mengirim surat kepada ayah, mengatakan ayah seorang pengecut dan ayah tidak bertanggung jawab. Apa artinya itu, ibu?”

Warsiyem memandang ragu. Tentu saja ia sudah mendengar pengakuan suaminya bahwa suaminya meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Hasanudin di galuh, Pasundan. suaminya melarang ia untuk menceritakan tentang hal itu kepada Aji, akan tetapi sekarang, entah bagaimana, Aji mengetahui nama itu. Ia tidak berani melanggar larangan suaminya.

“Aji, megapa engkau menanyakan itu? Aku sendiri juga tidak tahu benar.”

“Akan tetapi, aku harus tahu, ibu! Hasanudin itu mengancam ayah. aku harus membela ayah!” kata Aji dengan alis berkerut.

Ibunya menghela napas panjang. “Mengapa tidak kau tanyakan saja sendiri kepada ayahmu?”

“Aku akan bertanya sekarang juga, ibu!”

“Aji, habiskan dulu makanmu di piringmu!” kata Warsiyem dengan nada menegur. Lindu Aji tidak membantah. Dia segera menghabiskan nasi dan lauknya di atas piringnya dengan cepat, lalu minum air kendi, kemudian dia bangkit dan melangkah tegap menuju ke luar, ke pendapa di mana ayahnya dan tamunya sedang bercakap-cakap.

“Bapak...!” Harun dan Ujang menoleh dan melihat Aji berdiri di situ.

“Eh, ada apakah, Aji?” tanya Harun. Aji melangkah maju dan berdiri di depan ayahnya.

Sikapnya masih sopan seperti biasa, pandang mata yang ditujukan kepada ayahnya masih menyinarkan kasih sayang dan hormat, akan tetapi wajahnya membayangkan keseriusan. “Bapak, saya tadi telah membaca surat dari Hasanudin yang mengancam bapak, karena itu saya harap bapak suka memberitahukan saya, siapakah Hasanudin itu dan mengapa dia mengancam bapak?”

Harun menoleh kepada Ujang. Mereka saling pandang dan dari pandang mata Harun, Ujang tahu bahwa sahabatnya itu merasa bingung dengan pertanyaan anaknya. “Uun, apa salahnya kalau Aji mengetahui persoalannya? Dia sudah hampir dewasa, bukan anak kecil lagi.” Hubungan antara Ujang dan Harun sudah demikian dekatnya seperti saudara saja, maka Ujang berani menyarankan hal itu. Harun menghela napas panjang sambil memandang anaknya.

“Duduklah, Aji.” Aji duduk di depan ayahnya. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Harun lalu berkata, “Kupersingkat saja ceritanya, Aji. Kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu, atau mungkin sudah dua puluh tujuh tahun yang lalu, aku tinggal di Pasundan. Di sana aku mempunyai seorang isteri dan seorang anak berusia satu tahun. terjadilah malapetaka. Isteriku diganggu seorang pembesar sehingga membunuh diri. Aku membalas dendam. Kubunuh pembesar jahanam itu. Aku lalu dikejar-kejar, menjadi buruan. terpaksa aku meninggalkan anakku, kutitipkan kepada pamanmu Ujang Karim ini dan aku merantau ke daerah Mataram. Sepuluh tahun kemudian aku bertemu dengan ibumu dan kami menikah lalu terlahirlah engkau. Nah, tiba-tiba muncul pamanmu Ujang ini yang dititipi surat oleh anakku yang kutinggalkan di Pasundan. Hasanudin itu adalah anakku yang kutinggalkan di sana.”

Berdebar jantung Aji, penuh ketegangan dan penasaran. “Akan tetapi kalau dia anak bapak, kenapa mengancam hendak membunuh bapak?”

Harun menghela napas panjang, “Entahlah... agaknya kakakmu itu telah menyeleweng dan tersesat, atau mungkin dia marah dan mengandung dendam sakit hati kepadaku.”

“Akan tetapi dia mengancam hendak membunuh bapak! Ini sudah keterlaluan namanya dan aku akan menghadapinya!”

“Aji! Jangan mencampuri urusan ini. Ini adalah urusan pribadiku. Sudahlah, lupakan saja hal itu dan jangan pikirkan lagi. Sekarang tinggalkan kami, jangan ganggu percakapan kami dan pergilah membantu ibumu.” kata Harun agak keras karena memang dia terkejut melihat sikap Aji yang demikian keras, pada hal biasanya anak itu lembut dan penyabar.

Aji memang bangkit dan pergi, akan tetapi tidak kembali ke belakang melainkan melompat ke pekarangan dan lari meninggalkan rumah itu. Dia berlari cepat menuju ke selatan, menuju ke Laut Kidul. Malam itu bulan muncul dengan terangnya sehingga jalan kasar menuju ke selatan itu cukup terang. Aji berlari terus. Jantungnya berdebar tegang. Ayahnya mempunyai seorang anak laki-laki yang jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun. Dia mempunyai seorang kakak! Akan tetapi kakaknya itu mengancam hendak membunuh ayahnya. Kenyataan ini mengguncang hatinya yang selama ini penuh damai dan tenteram.

Setelah tiba di pantai Laut Kidul yang berpasir tebal, baru dia berhenti berlari. Keadaan di situ tenang dan sunyi sekali. Bahkan gemuruhnya suara ombak memecah di pantai makin mempertebal keheningan tempat itu. Akan tetapi hati Aji tidak hening. Dia membayangkan kakaknya yang bernama Hasanudin itu menyerang dan hendak membunuh ayahnya. Tiba-tiba dia bergerak, bersilat menyerang, memukul, menendang sekuat tenaga seolah orang yang hendak membunuh ayahnya itu berada di depannya dan dia menyerangnya penuh kemarahan. Dia terus bersilat, tidak memperdulikan air laut menjilat-jilat sampai ke kakinya. Dia bersilat sekuat tenaga sampai akhirnya, berjam-jam kemudian, dia terkulai lemas dan kelelahan di atas pasir.

“Hem, dia marah sekali. Belum pernah aku melihat dia marah. Biasanya dia lembut dan penyabar.” kata Harun sambil mengerutkan alisnya.

“Siapa yang tidak marah mendengar ayahnya diancam akan dibunuh orang, Harun. anakmu Lindu Aji itu tidak dapat disalahkan. tentu saja dia marah mendengar ada orang mengancam hendak membunuhmu, apa lagi kalau yang mengancam itu anakmu sendiri.”

Pada saat itu kedua orang sahabat yang sedang bercakap-cakap itu mendengar suara orang berdehem di pekarangan. ketika mereka memandang, mereka melihat dalam keremangan cahaya bulan, sesosok tubuh seorang laki-laki di pintu pekarangan, melangkah perlahan memasuki pekarangan itu. “Aji...?” panggil Harun yang mengira itu anaknya.

Akan tetapi bayangan itu tidak menjawab, hanya melangkah perlahan menghampiri pendapa rumah itu. Setelah agak dekat dan sinar lampu di pendapa dapat menerangi wajah orang itu, barulah Harun dan Ujang tahu bahwa orang itu bukan Lindu Aji. Seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus dan dari pakaiannya yang mewah mereka segera tahu bahwa dia tentu seorang menak (bangsawan) Sunda. Usianya sekitar empat pu;uj tahun, dengan ikat kepala yang khas Pasundan dan sarungnya diikatkan di pinggang. Wajahnya tampan dan sepasang matanya mencorong.

Harun segera bangkit berdiri untuk menyambut tamu yang tidak dikenalnya ini. juga Ujang ikut bangkit berdiri dengan muka pucat karena walaupun dia sendiri juga belum mengenal orang ini, akan tetapi pakaiannya sebagai menak sunda itu membuatnya gemetar, teringat bahwa Harun dumusuhi oleh bangsawan Galuh. “Udin...? “ bisik Harun kepada sahabatnya.

“Bukan... bisik Ujang kembali.

Kini laki-laki itu sudah berdiri dekat mereka, dalam jarak empat meter. Sejenak ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, tegak memandang ke arah kedua orang itu bergantian, kemudian dia bertanya dalam bahasa Sunda dengan sikap angkuh dan bahasa kasar, seperti sikap bahasa kebanyakan para bangsawan kalau bicara kepada rakyat kecil.

“Siapa di antara kalian yang bernama Harun Hambali?”

Harun segera dapat menduga bahwa orang ini tentu utusan keluarga mendiang Aom Bahrudin yang akan membalas dendam atas kematian bangsawan itu. Surat Hasanudin yang memaki dia sebagai pengecut telah membangkitkan semangatnya dan kini Harun mengambil keputusan untuk tidak lagi melarikan diri dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Maka dengan sikap gagah dia melangkah maju menghadapi orang itu dan berkata dengan tenang.

“Saya yang bernama Harun Hambali. Juragan (tuan) siapakah dan kepentingan apa yang membawa juragan datang menemui saya?”

Orang itu tidak menjawab melainkan memandang kepada Harun dari kepala sampai ke kaki dengan penuh perhatian. kemudian dia melirik ke arah Ujang dan bertanya, masih dalam bahasa Sunda, “Dan kamu ini tentu yang bernama Ujang Karim, bukan?”

Ujang takut dan menjawab dengan suara gemetar, “Be... betul, juragan”

Kembali orang itu menghadapi Harun yang sudah berdiri di depannya. “Harun Hambali, ingatkah akan peristiwa yang terjadi dua puluh enam tahun yang lalu di Galuh?”

Dengan sikap masih tenang Harun bertanya, “Peristiwa yang mana itu, juragan?”

“Kamu telah membunuh Aom Bahrudin, adik Bupati di Galuh!”

Harun mengangguk dan menjawab dengan suara tegas. “Siapapun andika, tentu sudah mengetahui bahwa saya membunuh Aom Bahrudin karena dia telah memperkosa istri saya sehingga isteri saya membunuh diri. Pembalasan itu sudah setimpal dan adil.”

“Jahanam keparat! Ketahuilah, aku adalah Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin! Aku datang untuk membalas kematian ayahku dan membunuhmu!” Harun masih tenang.

“Kalau andika tidak menyadari bahwa ayah andika yang bersalah dalam peristiwa itu dan hendak membalas dendam, silakan. Saya berani bertanggung jawab atas perbuatan saya itu!”

“Bagus! Bersiaplah untuk mati dan menghadap ayahku!” bentak orang yang mengaku bernama Raden Banuseta itu dan tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat ke depan seperti burung terbang saja dan kedua tangannya sudah menyambar dari kanan kiri ke arah kepala Harun.

Cepat bukan main gerakan orang itu dan ketika kedua tangannya menyambar terdengar angin bersiut menandakan bahwa serangan kedua tangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat. Harun mengenal gerakan cepat bagaikan burung terbang itu dan cepat dia melompat ke samping, menghindar lalu melompat ke tengah pekarangan, mencari tempat yang luas agar leluasa bersilat menghadapi lawan yang tangguh itu.

“Anda murid perguruan silat Dadali Sakti?” Tanya Harun yang biarpun hanya setahun lamanya, pernah belajar ilmu silat pada perguruan silat Dadali Sakti yang amat terkenal di daerah Pasundan itu. Perguruan Dadali sakti (Burung Walet Sakti) adalah sebuah perguruan silat yang mengajarkan ilmu silat yang mempunyai dasar kecepatan gerak seperti seekor walet.

Banuseta tersenyum menyeringai. “Engkau mengenal aliran silatku? Bagus, agar engkau tidak mati penasaran. Sambutlah!” Kembali Banuseta menyerang, gerakannya cepat sekali dan dia sudah mengirim serangkai serangan bertubi-tubi, tamparan, totokan dan tendangan.

Harun mengelak dan menangkis, akan tetapi setiap kali menangkis dan lengannya bertemu dengan lengan lawan, tubuhnya tergetar dan dia terhuyung ke belakang. Harun maklum bahwa tingkat kepandaian lawannya ini jauh lebih tinggi dari tingkatnya. akan tetapi dia sudah bertekad untuk menghadapi segala akibat perbuatannya, tidak akan lari lagi dan akan melawan mati-matian. Maka dia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menandingi lawannya. Dia berusaha untuk balas menyerang, akan tetapi karena memang kalah jauh tingkatnya, maka semua serangan balasannya kalau ditangkis lawan malah membuat tubuhnya terhuyung.

“Hyaaaaaahh....!” Dengan nekat Harun mengerahkan seluruh tenaganya, menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya dari atas ke arah kepala lawan. Tamparan kedua tangannya ini mengarah kedua pelipis kepala lawan dan karena dia mengerahkan seluruh tenaganya, maka kalau mengenai sasaran akan berbahaya sekali. Betapapun kuatnya lawan, akan sulitlah dapat bertahan menerima hantaman telapak tangan kanan kiri itu ke pelipisnya.

“Wuuuuuttt.... plakkk!!” kedua pergelangan tangan Harun ditangkap oleh Banuseta. Demikian kuatnya cengkeraman kedua tangan tokoh Dadali Sakti itu sehingga Harun merasa pergelangan tangannya seperti remuk dijepit catut baja.

Dengan nekat dia lalu menggunakan jurus Munding Kroda (Kerbau Marah) dan tiba-tiba dia menghantamkan kepalanya ke arah dada lawan! Jurus Munding Kroda adalah jurus yang hanya dilakukan dalam keadaan sudah tidak berdaya dan nekat, jurus mengadu nyawa karena kalau berhasil, nyawa lawan terancam maut, akan tetapi kalau gagal, nyawa sendiri taruhannya. Akan tetapi dengan jurus ini, kepala Harun dapat memecahkan buah kelapa dengan mudah dan dapat mematahkan balok kayu.

Serangan yang dilakukan tiba-tiba dari dekat ini tentu saja tidak keburu dielakkan oleh Banuseta, juga tidak dapat ditangkis karena kedua tangannya masih memegang kedua pergelangan tangan lawan. Maka diapun lalu mengerahkan tenaga saktinya menerima terjangan kepala itu dengan dadanya.

“Wuuuttt.... prakkk....!!” terdengar suara keras ketika kepala bertemu dada dan tubuh Harun terpelanting dan roboh tak berkutik lagi. Kepalanya retak bertemu dengan dada yang dilindungi tenaga sakti amat kuat itu dan Harun tewas seketika. Melihat kawannya roboh, Ujang Karim yang sejak tadi menonton dengan muka pucat dan hati tegang, mejadi ketakutan dan dia segera mengangkat kaki melarikan diri.

“Hendak lari ke mana kamu? Kamu juga harus mati!” bentak Raden Banuseta dan tangannya sudah mencabut pisau belati. Sekali tangannya bergerak, pisau itu meluncur dan menancap di punggung Ujang yang melarikan diri. Ujang berteriak dan roboh menelungkup. Raden Banuseta tersenyum mengejek, menghampiri dan mencabut pisaunya, lalu pergi dari situ dengan cepat, menghilang dalam bayangan pohon-pohon karena diapun tidak ingin semua penduduk dusun itu datang mengeroyoknya.

Warsiyem juga tadi menonton perkelahian itu dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Ia khawatir sekali, akan tetapi apa yang dapat dilakukan seorang wanita lemah seperti dia? Ketika melihat suaminya roboh, disusul robohnya Ujang dan pembunuh suaminya itu sudah menghilang, baru ia dapat bergerak, berlari keluar sambil menjerit dan menubruk mayat suaminya.

“Kang Haruuuun... ahh, kang Haruuuunn...!” Ia menjerit-jerit dan melihat bahwa suaminya sudah tewas dengan kepala retak mengeluarkan banyak darah, Warsiyem menangis tersedu-sedu dan roboh pingsan sambil merangkul suaminya. Dusun Gampingan menjadi geger.

Rumah Harun penuh dengan para penduduk yang sama datang melayat. Jenasah Harun dan Ujang dibaringkan di atas sebuah dipan bambu, sedangkan Wrsiyem yang masih pingsan diangkat dan direbahkan ke atas pembaringan dalam kamarnya. Para wanita tetangga berusaha untuk menyadarkannya, akan tetapi Warsiyem tetap pingsan. Guncangan perasaan itu terlalu hebat menggempurnya sehingga wanita itu pingsan berat.

Lindu Aji akhirnya dapat menenteramkan hatinya kembali setelah dia duduk bersila di atas pasir pantai Laut Kidul bermandikan cahaya bulan. Keheningan suasana, kemurnian hawa itu melenyapkan gejolak hatinya, membuat hatinya yang tadinya bergelombang seperti diterpa badai, menjadi tenang kembali. dia teringat akan ayah ibunya yang tentu akan merasa khawatir kalau dia tidak segera pulang. selain itu, ada suatu perasaan tidak enak yang aneh, yang mendorongnya untuk segera pulang. dia mulai menyesal atas sikapnya terhadap ayahnya tadi.

Dia amat menghormati dan menyayang ayahnya, dan kini timbul perasaan iba terhadap orang yang dekat di hatinya itu. ayahnya sudah cukup menderita. istrinya diganggu orang sampai membunuh diri, kemudian karena membalas dendam, dia lalu menjadi buronan sampai bertahun-tahun. dan kini, betapa hancur hatinya mendapat surat dari anak kandungnya sendiri yng mengancam akan membunuhnya.

“Bapak...!” dia mengeluh. Ingin rasanya dia merangkul dan menghibur hati ayahnya tercinta. karena ingin segera pulang dan bertemu ayah ibunya, Lindu Aji lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari kembali ke dusun Gampingan.

Ketika dia memasuki dusun Gampingan, dia terheran-heran melihat para penduduk banyak yang masih berada di luar rumah masing-masing, bahkan banyak yang bergerombol membicarakan sesuatu dengan asyiknya. Wajah merekapun rata-rata tegang. Dan ketika melihat dia datang, mereka semua terdiam dan memandang dia dengan sinar mata aneh.

“Heii, ada apakah? Apa yang terjadi? Sikap kalian begini aneh!” tanyanya kepada beberapa orang pemuda yang juga memandangnya seperti mereka melihat setan.

“Aji, jangan banyak tanya. Cepat pulanglah, cepat!” kata seorang di antara mereka. Aji terbelalak. sikap mereka sudah jelas. Pasti terjadi sesuatu di rumah orang tuanya.

Maka, tanpa bertanya lagi diapun berlari cepat menuju rumahnya. Jantungnya berdebar keras ketika dia melihat betapa di rumahnya dipasangi banyak lampu sehingga terang benderang dan banyak sekali orang berada di rumahnya. Orang-orang memenuhi rumah, bahkan meluber sampai ke pekarangan, seolah-olah seluruh penduduk Gampingan berkumpul semua di situ.

Ketika Lindu aji muncul, semua orang menengok dan memandang kepadanya. Wajah Aji menjadi pucat dan cepat dia menerobos masuk ke ruangan depan. Dan di situ, dia berhenti terbelalak memandang ke arah dua buah dipan bambu di mana rebah dua sosok tubuh yang terselimut kain, yang berarti bahwa dua sosok tubuh manusia itu telah mati! jantungnya seperti meloncat menyumbat kerongkongannya, pandang matanya berkunang dan kekhawatiran yang amat sangat memenuhi hatinya.

Dia lalu melompat ke depan, menyingkap bagian kepala kain penutup mayat itu dan melihat wajah sahabat ayahnya yang bertamu malam itu, wajah Ujang. Biarpun dia terkejut melihat sahabat ayahnya telah tewas, namun dia agak lega bahwa mayat itu bukan ayahnya atau ibunya. Dia lalu menghampiri sosok mayat kedua, dengan tangan gemetar dia membuka kain yang menutupi kepala mayat kedua.

Wajah Lindu Aji seketika pucat sekali, matanya terbelalak, kedua tangan dikembangkan di depan dada, jari-jari tangannya menegang, mulutnya terbuka seolah mengeluarkan pekik yang tidak bersuara, lalu perlahan-lahan bibirnya bergerak, mengeluarkan kata-kata seperti berbisik meragu, tidak percaya apa yang dilihatnya sendiri.

“Bapak... bapak... bapak kenapakah...? Bapak... jawablah, bapak... kenapa...“ Dia menyentuh pundak ayahnya, diguncangnya lembut seolah hendak membangunkan ayahnya dari tidur. akan tetapi dia lalu melihat kepala yang retak-retak dan berlepotan darah itu. “Bapaaaaaakkk.... !!”

Dia menjerit, suara jeritnya melengking dan menggetarkan hati seluruh pelayat “Tidak... tidaaaak...!” Mata yang terbelalak itu basah dan air mata menetes-netes jatuh di atas kedua pipinya. Dia mengguncang-guncang pundak ayahnya dengan kuat seolah tidak percaya dan tidak mau percaya sehingga tubuh mayat itu bergoyang-goyang, kepalanya bergerak-gerak seperti mengeleng.

Sebuah tangan menyentuhnya. Parto, tetangga keluarga Harun yang menjadi sahabat baik keluarga itu, berkata lirih, suaranya menggetar penuh keharuan, “Angger Aji.... kuatkan hatimu, bapakmu telah meninggal dunia...“ Hening sejenak, yang terdengar hanya suara isak para wanita yang merasa terharu melihat adegan itu. Aji seperti orang kebingungan mendengar ucapan itu, dia menoleh ke kanan kiri seolah mengharapkan ada orang lain yang membantu ucapan Parto itu.

Semua orang yang bertemu pandang dengannya menundukkan pandang mata mereka. Aji lalu menoleh lagi kepada wajah ayahnya. “Bapak...? Bapak, benarkah... benarkah bapak.... bapak.... sudah mati?” Kemudian, bagaikan air bah yang dilepas bendungannya, dia menjerit, “Bapaaakkk...!!” Dia menubruk, merangkul ayahnya, menciumi muka jenasah itu lalu menangis meraung-raung di atas dada jenasah Harun.

Isteri Parto yang juga sudah seperti keluarga sendiri dengan Harun dan anak isterinya, merangkul Lindu Aji sambil sesenggukan. “Aji... ngger kuatkan hatimu... semua ini sudah kehendak Gusti... kasihani bapakmu... kasihani ibumu, ngger...“

Tiba-tiba Lindu aji menghentikan tangisnya dan mengangkat kepalanya. Mukanya masih pucat sekali, air mata bercucuran seperti hujan, matanya penuh air mata dan kemerahan. “Ibu.... mana ibu... bagaimana ibuku...?” Ucapan Mbok Parto tadi mengingatkan dia kepada ibunya sehingga sesaat dia melupakan kedukaannya yang terganti kekhawatiran akan keadaan ibunya.

“Ia berada dalam kamarnya, Aji...“ kata Mbok Parto. Mendengar ini, Aji lalu menguak semua orang agar minggir dan dia lalu melompat ke arah kamar ibunya.

“Ibuuu... !” Dia berteriak memanggil ketika memasuki kamar. melihat ibunya rebah telentang di atas pembaringan dan tidak bergerak seperti tidur, atau seperti mati, Aji menggigil dan sejenak terpukau, tidak mampu bergerak lagi, hanya berdiri memandang, matanya terbelalak liar penuh kekhawatiran kalau-kalau ibunya juga sudah mati. Akan tetapi, di bawah sinar lampu, dia melihat dada ibunya masih bergerak, ibunya masih bernapas, ibunya masih hidup!

Dia segera menghampiri dan meraba leher dan dahi ibunya. “Ibu.... !” panggilnya, mengguncang pelahan pundak ibunya. Akan tetapi ibunya tidak juga membuka mata, tidak juga bergerak.

“Aji, ibumu sejak tadi pingsan.” kata seorang wanita sambil menahan tangisnya. Aji lalu duduk di tepi pembaringan. Sedikit banyak dia telah mempelajari dari ayahnya cara pengobatan untuk hal-hal tertentu, seperti menyadarkan orang pingsan, mengobati luka-luka dan akibat keracunan. Melihat ibunya pingsan, dia lalu mengurut tengkuk ibunya, menjepit dan membetot urat di pangkal ibu jari dan di bawah pangkal lengan.

Tak lama kemudian ibunya merintih dan siuman. Begitu membuka mata dan melihat anaknya, Warsiyem bangkit duduk, merangkul anaknya dan menjerit. “Aji...! Bapakmu...!!”

“Ibuuu...!!” Ibu dan anak itu berangkulan dan menangis sesenggukan. Lindu Aji merasa betapa dalam rangkulannya ibunya menjadi lemas terkulai. “Ibuuu.... kuatkan hatimu, ibu....!” Dia mendekap ibunya denga kuat-kuat untuk mencegah ibunya pingsan lagi. Ketika dia melihat wajah ibunya yang tersayang itu megap-megap sperti sukar bernapas karena tangisnya, Aji lalu mencium muka ibunya yang basah air mata itu. Air mata ibu dan anak ini bercampur menjadi satu membasahi muka dan leher mereka.

“Ajiiii... bapakmu... ahh, bapakmu....“ Warsiyem terisak-isak.

Lindu Aji mengusap-usap rambut kepala ibunya. “Kita serahkan saja kepada Gusti Allah, ibu... marilah, ibu.... ibu masih ingat ajaran bapak...? Mari kita menyerahkan bapak kepaada Gusti Allah.” ibu dan anak itu dengan suara mengandung isak lalu berbisik, “Innalillahi wa innailaihi rojiun“ dan masih saling berangkulan lalu menangis.

Semua wanita yang melayat tak dapat menahan keharuan hati mereka dan mereka ikut menangis sehingga suasana menjadi riuh dalam kamar itu. Para pelayat pria juga tampak terharu dan bersusah payah menahan air mata yang siap keluar dari pelupuk mata yang terasa panas. Penguburan dua jenasah itu dilakukan pada keesokan harinya, pagi-pagi dan dilayat oleh semua penduduk Gampingan. Warsiyem dirangkul Aji mengantar jenasah ke kuburan dan kembali menangis tersedu-sedu ketika jenasah sudah dimasukkan lubang dan diurug tanah.

Setelah penguburan selesai dan para pelayat sudah berpamit kepada Warsiyem dan Lindu Aji, ibu dan anak itu masih tinggal di dekat gundukan tanah itu. Mereka berdua, terutama Warsiyem, enggan meninggalkan tanah kuburan itu. Ia seolah telah kehilangan segala-galanya. Seharian mereka berda di situ. Akhirnya, setelah menjelang senja, baru Warsiyem menuruti bujukan anaknya dan mereka pulang dengan tubuh terasa lemas, lelah dan juga lapar karena sejak malam tadi mereka tidak makan apapun. Dengan menguatkan hatinya sendiri yang penuh kedukaan dan kehilangan, Aji membujuk dan menghibur ibunya.

********************

Segala sesuatu di dunia ini dikikis habis oleh waktu. Bahkan segala macam perasaan akan berubah dan ditelan sang waktu. demikian pula perasaan duka. Warsiyem dan Lindu Aji duduk di ruangan depan rumah mereka. Warung nasi belum dibuka. tidak ada semangat bagi Warsiyem untuk berjualan seperti biasa. akan tetapi setelah lewat sepuluh hari sejak kematian suaminya, ia yang tadinya tenggelam ke dalam lautan duka, kini mulai muncul di permukaan. sudah mau mandi, bertukar pakaian, bahkan menikmati air teh hangat yang disuguhkan aji. Setelah melihat keadaan ibunya yang mulai mau bicara dan tidak tampak terlalu nelangsa lagi, Aji berani mengajak ibunya bicara.

“Ibu sebaiknya kalau kita mulai membuka warung dan berjualan lagi. Banyak penduduk dan para langganan yang menanyakan kepadaku kapan warung nasi ibu akan dibuka lagi.” kata Aji dengan hati-hati.

Warsiyem memandang anaknya, ia telah dapat menenangkan hatinya. Ia tidak boleh tenggelam terus dalam kedukaan. Ia harus hidup demi anaknya. Ia tidak hidup sendiri. Ia masih mempunyai Aji. Bangkit kembali semangatnya kalau ia ingat kepada puteranya.

”Besok kita boleh mulai berjualan, Aji. Besok pagi-pagi kita pergi ke pasar untuk belanja. Berasnyapun kulihat tinggal sedikit.”

Setelah mereka makan malam, Aji melihat ibunya sudah benar-benar kuat lahir batinnya, maka barulah dia mengajak ibunya bercakap-cakap dan menjawab pertanyaan yang selalu menggerogoti hatinya sejak kematian ayahnya namun ditahan-tahannya dia tidak ingin mengganggu ibunya yang sedang berduka.

“Ibu, aku ingin sekali mengetahui tentang kematian bapak. Aku ingin tahu siapa yang membunuh bapak dan apa yang telah terjadi pada malam hari itu, ibu?” Mereka duduk di ruangan dalam.

Warsiyem menghela napas panjang. “Kejadian itu terlalu tiba-tiba dan mengejutkan datangnya, Aji. Tadinyapun aku sendiri tidak mengenal siapa orang yang datang dan berkelahi dengan ayahmu itu. Akan tetapi aku mendengar percakapan mereka. Malam itu, datang seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi kurus dan berpakaian seperti seorang priyayi. ketika aku mendengar ribut-ribut di luar, aku segera keluar dan sempat melihat dan mendengar dia bercakap-cakap dengan ayahmu.”

“Dia berusia empat puluh tahun, ibu? Bukan seorang pemuda yang usianya sekitar dua puluh enam tahun?” Warsiyem menggeleng kepala.

“Bukan. Aku yakin bahwa usianya paling sedikit empat puluh tahun. Dalam percakapan dengan bapakmu dia mengaku bernama Raden Banuseta, putera mendiang Aom Bahrudin yang datang dari tanah Pasundan.”

“Ahh...! Kiranya putera bangsawan yang dibunuh bapak itu?”

“engkau sudah tahu akan hal itu?”

“Bapak sudah menceritakan kepadaku, ibu, pada hari itu juga sebelum malapetaka itu datang.”

“Kalau begitu engkau sudah diceritakan bapakmu bahwa bapakmum adalah pelarian dari tanah Pasundan. Bertahun-tahun dia dikejar-kejar putera Aom Bahrudin sendiri yang datang sampai di sini dan menemukan bapakmu. Setelah mendengar nama bapakmu dan memperkenalkan diri, Raden Banuseta itu lalu menyerang bapakmu. Mereka berkelahi dan akhirnya bapakmu tewas ditangannya. Juga sahabat bapakmu bernama Ujang itu dibunuhnya ketika hendak melarikan diri.”

“Apakah Banuseta itu tidak mengatakan di mana dia tinggal, ibu?”

“Dia datang dari Galuh dan menurut pendengaranku ketika dia bertanding melawan bapakmu, dia ada mengatakan bahwa dia adalah murid perguruan Dadali Sakti. Akan tetapi, kenapa engkau tadi mengira bahwa pembunuh bapakmu baru berusia dua pulh enam tahun, Aji?”

“Tadi aku mengira bahwa yang membunuh bapak adalah Hasanudin, ibu.”

“Hasanudin? Ah, maksudmu Udin putera bapakmu yang ditinggal di Galuh itu? Engkau sudah tahu akan hal itu?”

“Bapak sudah menceritakan bahwa bapak mempunyai seorang putera bernama Hasanudin yang ditinggalkan di Pasundan, ibu. Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca surat dari Hasanudin yang dititipkan Paman Ujang untuk diberikan kepada bapak.”

“Surat? Aku malah belum mengetahuinya. Dia mengirim surat untuk bapakmu? Apa isi surat itu?”

Wajah Aji menjadi kemerahan dan dia mengepal tangannya. “Dia memaki bapak sebagai seorang pengecut dan seorang ayah yang tidak bertanggung jawab“

“Hemmm...!” Warsiyem mengerutkan alisnya.

“Bukan itu saja, ibu. dia bahkan menulis ancaman bahwa dia pasti akan datang membunuh bapak.”

“Ahhh...! Durhaka...!” seru Warsiyem kaget.

“Itulah sebabnya ketika melihat bapak dibunuh orang, aku segera mengira bahwa Hasanudin yang membunuhnya. Akan tetapi ternyata bukan dia, melainkan Raden Banuseta.”

Sejak saat itu, dua buah nama itu Hasanudin dan Raden Banuseta, terukir dalam-dalam di hatinya. akan tetapi Lindu Aji tidak mengatakan sesuatu kepada ibunya. Dia membuka kembali warung nasinya dan melanjutkan pekerjaan ayahnya di sawah ladang. Beberapa bulan kemudian kehidupan ibu dan anak ini sudah menjadi biasa kembali. Biarpun suami yang dikasihinya telah tiada, namun karena ia mempunyai seorang anak, maka kepada anaknya itulah seluruh kasih sayangnya tertumpah.

Aji juga seorang anak yang amat berbakti dan menyayang ibunya, maka hati Warsiyem segera terhibur dan ia menemukan kembali gairah hidupnya. Warsiyem adalah seorang janda yang berusia tiga pulh tiga tahun, masih tampak muda dan cantik manis, memiliki daya tarik yang kuat sehingga mata banyak pria memandangnya dengan gairah dan rindu.

Akan tetapi karena Warsiyem seorang janda yang pandai membawa diri, pandai menjaga kehormatan tidak melayani senda-gurau laki-laki iseng, ditambah lagi orang-orang merasa segan terhadap mendiang suaminya, maka tidak ada laki-laki yang berani bersikap kurang ajar, walaupun banyak yang menjual lagak dan mencoba memikat janda itu dengan mermacam gaya. Adanya Aji juga merupakan perisai yang kuat bagi Warsiyem.

Semua orang tahu bahwa Aji, biarpun berusia lima belas tahun, namun merupakan seorang pemuda yang memiliki kedigdayaan. Selain itu, ibu dan anak ini bersikap ramah dan baik sekali kepada semua penduduk dusun Gampingan, ringan tangan dan lapang hati membantu orang lain yang sedang kesusahan.

Pada suatu siang seperti biasa Warsiyem menjaga warung nasinya. Biasanya, warung nasinya itu ramai dikunjungi para langganan di waktu pagi untuk sarapan, juga di waktu sore menjelang tutup. Kalau siang, tidak banyak yang datang makan karena kebanyakan penduduk Gampingan di waktu siang sibuk bekerja di sawah ladang atau pergi mencari ikan di laut. Siang itupun tidak banyak orang berkunjung dan di warung itu hanya ada dua orang penduduk Gampingan yang kebetulan lewat dan mereka hanya berhenti untuk sekedar mengopi.

Tiba-tiba muncul tiga orang yang lagak dan sikapnya menyeramkan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam, tubuh mereka tinggi besar dengan perut gendut dan mereka muncul di depan pintu warung sambil menyeringai menakutkan. Warsiyem terbelalak dan terkejut bukan main. Yang membuat ia terkejut adalah ketika ia melihat orang terdepan. Biarpun laki-laki tinggi besar itu kini sudah berusia lima puluh tahun lebih dan tampak agak lebih tua dari pada dahulu, namun Warsiyem masih mengenalnya.

Dia bertubuh tinggi besar, gendut, bajunya terbuka sehingga tampak dadanya yang berbulu, mukanya bulat, sepasang mata lebar melotot dihias sepasang alis yang hitam tebal, brewoknya pendek dan kasar kaku, di pinggangnya tergantung sebatang golok. Dia adalah Singowiro yang pada enam belas tahun yang lalu pernah mencoba untuk menculiknya, kemudian akan menikahinya, bahkan yang telah membunuh ayahnya!

Sambil bertolak pinggang dan langkah digagah-gagahkan, Singowiro memasuki warung, diikuti dua orang temannya yang juga bermata liar. Melihat dua orang yang sedang ngopi, Singowiro mendekati dan menghardik dengan sikap galak, “Heii, kalian monyet-monyet busuk, cepat pergi dari sini!”

Dua orang petani itu terkejut dan memandang Singowiro dengan heran, akan tetapi melihat laki-laki tinggi besar itu meraih gagang golok dan mencabutnya sedikit, mereka menjadi ketakutan, bangkit berdiri lalu melarikan diri karena dapat melihat dengan jelas dari sikap tiga orang itu bahwa mereka bukan orang baik-baik dan pasti akan membuat keributan. Kini Singowiro memandang Warsiyem yang masih berdiri di belakang meja warungnya.

Laki-laki itu mengamati wajah dan tubuh Warsiyem, tersenyum senang karena baginya wanita itu masih seperti dulu, bahkan kini semakin denok dan matang! “Heh-heh-heh, Warsiyem, mana suamimu?” tanyanya sambil melangkah maju menghampiri.

Warsiyem tidak menjawab, melainkan perlahan mundur menjauhi. “Ha-ha-ha, setan itu sudah mampus, bukan? Hemm, kalau saja dulu engkau tidak menjadi isteri setan itu dan menjadi isteriku, sekarang engkau tidak menjadi janda! Akan tetapi sekarangpun belum terlambat, Warsiyem. engkau bisa menjadi isteriku yang ke tiga, Heh-heh-heh!” dia menghampiri dekat dan mengulur tangan hendak mengelus pipi wanita itu.

Warsiyem mengelak mundur, “Singowiro, engkau penjahat dan pembunuh keji! Jangan mengganggu aku dan pergi dari sini!” Warsiyem menuding ke arah pintu, “Pergi atau aku akan menjerit!”

“Menjerit? Ha-ha-ha, menjeritlah, aku suka mendengar jerit wanita cantik!” kata Singowiro dan kembali tangannya meraih ke depan.

Warsiyem mengelak, akan tetapi tangannya dapat ditangkap. Singowiro menyambar dengan tangan kirinya dan kini kedua pergelangan tangan Warsiyem telah dipegangnya. “Heh-heh-heh, hayolah manis. engkau sudah ditinggalkan mati suamimu, tentu kesepian. Hayo kita bersenang-senang sebentar. Mana kamarmu?” Singowiro menarik kedua tangan Warsiyem, hendak dipaksanya masuk ke dalam rumah itu.

Warsiyem menjerit-jerit. Dua orang kawan Singowiro terkekeh-kekeh dan menganggap adegan itu lucu sekali. “Tolong! Toloooongggg... Aji... tolooonggg...!!” Warsiyem menjerit-jerit dan hendak bertahan agar jangan terseret. Akan tetapi ia kalah tenaga.

Akan tetapi sebelum Warsiyem terseret sampai ke dalam rumah, dua orang kawan Singowiro menghampiri. “Kang Singo, jangan di sini! Kalau orang-orang datang, kan repot? Lebih baik dibawa saja perempuan ini, dan dibawa pulang. Di sana engkau kan lebih leluasa dapat bersenang-senang dengannya sepuas hatimu.”

Mendengar peringatan kawannya ini, Singowiro sadar. “Hemmm, benar juga kalian!” Setelah berkata demikian, dengan ringan dan mudah dia mengangkat dan memanggul tubuh Warsiyem dan memegangi dua pergelangan tangan wanita itu dengan satu tangan saja. “Mari kita pergi dari sini” kata Singowiro dan mereka bertiga cepat berlari keluar tanpa memperdulikan Warsiyem yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.

Pada saat itu para pria hampir semua meninggalkan dusun dan bekerja di sawah ladang atau di laut, maka yang berada di dusun hanyalah kaum wanita dan kanak-kanak. tentu saja mereka hanya kebingungan bahkan ketakutan mendengar jeritan Warsiyem, tidak berani keluar rumah, apa lagi melihat apa yang terjadi. Karena itu, dengan leluasa Singowiro dan dua orang kawannya melarikan diri keluar dari dusun Gampingan.

Setelah tiba di tempat yang cukup jauh dari dudun Gampingan, mereka berhenti dan dua orang kawan Singowiro itu berkata kepadanya. “nah, sekarang kita berpisah, Kang singo. Bawalah pengantinmu itu pulang dan bersenang-senanglah. Kami tidak mau mengganggumu. Besok saja kita bertemu lagi di rumahmu, kami akan datang berkunjung dan memberi selamat kepada sepasang pengantin.”

Singowiro terkekeh, “Heh-heh, baiklah, sekarang tidak akan ada yang berani mengganggu lagi. terima kasih, kawan-kawan. Sampai besok!” Dia lalu melangkah lebar memasuki jalan berbukit dan dua orang kawannya mengambil jalan lain.

Warsiyem tidak hentinya meronta dan menjerit-jerit sampai suaranya menjadi parau, akan tetapi Singowiro bahkan merasa senang sekali karena tubuh wanita itu bergerak-gerak di atas pundaknya. Ratap tangis dan jerit wanita bagaikan nyanyian merdu dan janji-janji mesra dan muluk memasuki telinganya. Tiba-tiba saja, Singowiro merasa pundaknya dan tangannya yang memegang kedua pergelangan tangan Warsiyem seperti lumpuh dan wanita itu sudah terlepas dari pondongannya!

Wanita yang tadi dipondongnya itu seperti melompat ke belakang, maka cepat dia memuter tubuh. Warsiyem telah berdiri dengan ketakutan, dan di dekatnya berdiri seorang pria tua renta yang rambutnya sudah hampir putih semua. laki-laki tua itu berusia lanjut, tentu kurang lebih delapan puluh tahun, tubuhnya jangkung kurus, akan tetapi berdirinya masih tegak. Bukan hanya rambutnya yang putih, juga sedikit kumis dan jenggotnya sudah putih.

Sepasang matanya bersinar lembut sekali penuh kesabaran dan pengertian. bajunya lurik penuh tambalan, terbuka di bagian dada. celananya dari kain tebal berwarna kekuningan yang sudah lusuh pula. kedua kakinya telanjang dan dia memegang sebatang tongkat kayu sederhana.