Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 02
KANG UUN...!!” Warsiyem menjerit-jerit dan menangis ketika merasa dirinya didekap dan dipanggul oleh Ki Singowiro seperti seorang panglima perang memanggul wanita, diiringkan para penduduk dusun, Mbok Rondo Saritem berkata kepada pengantin pria itu.

“Nah, pondonglah pengantinmu baik-baik, Singowiro, jangan sampai ia terlepas dan lari lagi. Dasar anak bandel. Kalau orang jahat itu muncul lagi, biar kami yang akan menghajarnya!”

“Lepaskan aku, lepaskan!” Warsiyem meronta-ronta. “Mbokde, aku tidak sudi menjadi istri pembunuh ayah ini, lebih baik aku mati! Kang Uun...!!!”

Harun menghentikan larinya ketika dia mendengar jerit. Warsiyem, Dari ratap tangis itu tahulah dia bahwa Warsiyem kembali terjatuh ke tangan laki-laki bernama Singowiro itu. Seluruh hasrat hatinya mendorongnya untuk kembali dan menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman serigala berujud manusia itu. Akan tetapi dia menggeleng kepala keras-keras.

Tidak! Tidak pantas baginya yang bukan apa-apanya Warsiyem merebut gadis itu dari tangan mereka yang berhak. Akan tetapi, terbayanglah di benaknya betapa Warsiyem diperkosa laki-laki jahat dan kejam itu, bagaikan seekor domba yang dirobek-robek, berdarah-darah dan hanya dapat merintih dan mengembik lemah dan memelas, sepasang matanya basah memandang kepadanya dengan penuh permohonan.

“Jahanam!” Tiba-tiba dia memaki dan tubuhnya membalik, lalu dia melompat dan berlari cepat sekali mengejar rombongan itu.

Dengan hati senang Ki Singowiro memanggul tubuh Warsiyem membayangkan kesenangan yang akan dinimatinya nati bersama pengantin wanita di dalam kamar. Tiba-tiba, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Harun telah berada dibelakangnya. Kedua tangan Harun bergerak, yang kanan merenggut tubuh warsiyem dari atas pondongan Ki Singowiro dan tangan kirinya menghantam dengan kuatnya ke arah tengkuk laki-laki tinggi besar itu.

“Wuuttt.... desss.... !”

“Aughhh.... !” Tubuh Ki Singowiro terpelanting dan dia roboh tak berkutik lagi karena pingsan seketika. Tubuh Warsiyem sudah terlepas dari dekapan Ki Singowiro dan kini gadis itu berdiri di atas tanah, lengannya masih dipegang Harun.

“Kang Uun.... !” Warsiyem berseru girang.

“Mari kita pergi!” Harun menggandeng tangan Warsiyem dan diajaknya gadis itu melarikan diri.

Para penduduk dusun itu sejenak tertegun. Terlalu cepat peristiwa itu terjadi. Tahu-tahu mereka melihat Ki Singowiro sudah terpelanting dan Warsiyem melarikan diri dengan orang itu. Mbok Rondo Saritem segera sadar dari kagetnya. “Maling...! Rampok...! Cepat kejar mereka!” jeritnya.

Penduduk yang dua puluh orang jumlahnya itu baru menyadari dan merekapun melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak. Harun yang menggandeng dan menarik tangan Warsiyem melihat betapa gadis itu lemah dan tersaruk-saruk. Dia tahu bahwa gadis itu lelah sekali dan juga telah beberapa hari Warsiyem bersusah hati dan hampir tidak makan sehingga ia tidak memiliki sisa tenaga lagi.

“Dik War, engkau ingin kembali kepada mereka?” Tanya Harun yang terpaksa berhenti.

“Tidak! Ahh... tidak, kang!”

“Engkau ingin melarikan diri dari mereka?”

“Ya, aku tidak sudi kembali. Lebih baik aku mati daripada terjatuh ke dalam tangan mereka lagi. Aku akan bunuh diri...“

“Ke mana engkau hendak melarikan diri?”

“Ke mana saja, kang. Ke mana saja engkau membawa diriku pergi. Aku ikut denganmu....!” Para pengejar sudah datang dekat.

“Engkau tidak akan menyesal kelak kalau ikut aku? Aku orang miskin, dik War.”

“Tidak perduli! Aku ikut engkau, akang Uun!”

“Kalau begitu maaf, terpaksa aku harus memondongmu agar dapat berlari cepat!”

Setelah berkata demikian, Harun memondong tubuh Warsiyem yang begitu ringan sekali dan dia lalu melompat jauh dan berlari cepat sebelum ada orang dusun yang sempat menyerangnya. Larinya demikian cepat sehingga Warsiyem terpaksa harus memejamkan kedua matanya karena merasa ngeri, seperti dibawa terbang.

Mbok Rondo Saritem dan para pengikutnya masih mencoba untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi tak lama kemudian terpaksa mereka menghentikan pengejaran itu karena mereka kelelahan dan telah kehilangan jejak orang yang mereka kejar. Akhirnya, dengan lemas mereka semua kembali ke dusun Bakulan. Ketika mereka tiba di tempat di mana Ki Singowiro tadi roboh pingsan, mereka sudah tidak melihat lagi laki-laki itu. Agaknya kecewa, marah dan juga malu laki-laki ini diam-diam meninggalkan tempat itu.

********************

Air yang mancur keluar dari belahan batu batu itu jernih sekali. Hanya seperti cucuran air kendi, namun amat jernih dan dingin sejuk. Pegunungan itu disebut Pegunungan Seribu atau ada pula yang menyebutnya Pegunungn Kidul karena letaknya di selatan Nusa Jawa, memanjang dari barat ke timur, seolah menjadi barisan penjaga pantai Laut Kidul atau seperti sebuah bendungan raksasa yang mencegah agar air laut Laut Kidul yang amat luas itu jangan sampai membanjiri dan menenggelamkan Nusa Jawa.

Langit bersih dan pagi itu cerah sekali. Banyak diantara pegunungan yang mengandung ribuan bukit itu memiliki perbukitan berkapur yang tandus karena permukaannya mengandung kapur. Akan tetapi ada pula perbukitan yang cukup subur tanahnya dan hijau. Matahari mulai menyinarkan cahayanya yang hangat dan mengandung penuh daya hidup dan kekuatan. Setelah tiba di lereng sebuah di antara bukit-bukit yang kehijauan, Harun baru berhenti. Warsiyem merasa kagum bukan main.

Sudah berulang kali tadi ia meminta agar Harun menurunkannya dari pondongan untuk membiarkan laki-laki itu beristirahat, akan tetapi pemuda itu tidak mau dan berlari terus. Kadang dia berjalan kalau jalannya sukar, licin dan mendaki. Namun, sepanjang malam ia tidak pernah berhenti dan baru setelah tiba di lereng bukit, dia berhenti. Dia memang sengaja berhenti ditempat yang indah itu ketika dia melihat pancuran air yang bening itu.

“Kita berhenti mengaso di sini. Sudah aman sekarang, dik,” kata Harun sambil menekuk kedua lututnya dan duduk diatas sebuah batu.

“Engkau tentu lelah sekali, kang Uun. Salahmu, disuruh berhenti mengaso tidak juga mau,” kata Warsiyem seolah menegur halus.

Harun tersenyum. “Aku khawatir kalau kita akan tersusul.”

“Apa yang dikhawatirkan? Engkau akan mampu mengalahkan semua orang itu. Bukankah dengan mudah engkau dapat merobohkan jahanam busuk itu tadi?” kata Warsiyem sambil memandang kagum, teringat betapa dengan amat mudahnya laki-laki ini merebutnya dari tangan Ki Singowiro.

“Aku tidak mau berkelahi melawan penduduk dusun itu, dik War. Mereka tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja.”

Warsiyem juga duduk di atas sebuah batu, mengeluh. “Uhhh, benar penat sekali tubuhku... dan lapar... dan haus...!”

“Itu ada air jernih.” Harun menudingkan telunjuknya.

Warsiyem menoleh dan berseru girang ketika melihat air yang jernih memancur keluar dari belahan batu-batu di belakangnya. Heran sekali betapa kegembiraan mendapatkan air itu seolah telah mencuci bersih semua ketegangan, ketakutan, dan kesedihan perawan itu. Bagaikan anak kecil ia lalu berjingkat ke arah pancuran air dengan hati-hati karena di bagian bawah pancuran itu tanahnya basah dan licin.

“Aahhhh... segarnya... “ Warsiyem menadah air dengan kedua telapak tangan yang telah dicucinya terlebih dahulu, lalu minum air sepuasnya. Terasa segar sejuk, dingin dan manis. Setelah puas minum, ia lalu menadah air untuk mencuci mukanya, lehernya, kedua lengan dan kakinya dari lutut ke bawah.

Setelah selesai ia tampak segar kembali. Lenyaplah semua bekas air mata dan debu dari mukanya, membuat kulit wajahnya semringah segar berseri, hanya sekeliling matanya saja yang masih agak sembam karena terlalu banyak menangis. Ia bahkan sudah dapat tersenyum manis sekali, seolah telah melupakan semua perasaan takut dan sedihnya.

“Segar sekali mencuci muka dan minum air jernih itu. Cobalah, kang Uun!” Katanya sambil menghampiri Harun.

Pria muda itu mengangguk, cepat mengalihkan pandang matanya agar jangan ketahuan betapa matanya, memandang penuh kagum kepada wajah gadis itu. Dia lalu mencuci muka, kaki dan tangannya. Bahkan membiarkan air mengucuri rambut kepalanya sehingga rambutnya yang panjang menjadi basah semua. Diminumnya pula air jernih itu. Setelah selesai dia kembali ke atas batu sambil memeras rambutnya yang basah.

Pada saat itu, pendengaran Harun yang terlatih baik dan menjadi amat peka itu mendengar suara lirih berkeruyuk. Tentu saja warsiyem juga mendengarnya, karena suara itu keluar dari dalam perutnya yang lapar sekali. Wajah Warsiyem berubah kemerahan karena malu, akan tetapi Harun segera berkata.

“Ah, perutku terasa lapar sekali sampai perih.”

Mendengar ini, berkuranglah rasa malu di hati Warsiyem karena ucapan itu dapat berarti bahwa yang “berkeruyuk” tadi mungkin juga perut laki-laki itu. Ia menoleh ke kiri di mana terdapat seladang singkong (ketela pohon). “Itu disana ada singkong. Melihat pohonnya, tentu sudah tua dan singkong bakar enak sekali, kang Uun.”

Harun menoleh dan dia tersenyum. “Akan tetapi ladang singkong itu bukan milik kita, dik War.”

“Apa salahnya kalau kita mengambil dari sebatang pohon saja, kang? Harganya tidak seberapa dan andaikata yang mempunyai ladang melihatnya, dia tentu akan rela memberi kita yang kelaparan ini singkong dari sebatang pohonnya.”

Mendengar ucapan Warsiyem itu, Harun lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah ladang singkong. Dicabutnya sebatang pohon singkong dan hatinya gembira melihat bahwa pohon itu mempunyai umbi singkong yang sebesar lengannya empat batang banyaknya. Dia lalu membawa singkong itu ke tempat duduk mereka di tepi pancuran. Kemudian tanpa berkata-kata Harun membuat api unggun dan membakar umbi singkong yang empat batang itu. Segera tercium bau sedap.

“Wah, sedap sekali baunya. Perutku menjadi semakin lapar rasanya, kang.” Kata Warsiyem dan kini sikap gadis itu gembira sekali.

Tak lama kemudian kedua orang itu telah duduk di atas batu sambil makan singkong bakar. Panas, mempur, dan gurih manis rasanya, diterima pencernaan mereka dengan perasaan bersukur dan berterima kasih. Setelah minum air jernih, perut mereka menjadi kenyang dan nyaman rasanya. Mereka masih duduk berjemur matahari pagi di atas batu sambil bercakap￾cakap.

“dik War, sekarang ceritakan kepadaku semua yang telah terjadi menimpa dirimu.” Kata Harun sambil menatap wajah gadis itu.

Warsiyem juga mengangkat muka balas memandang. Dua pasang mata bertemu pandang dan saling menyelidiki. Harun menemukan sepasang mata jernih yang memandang penuh rasa berterima kasih, sebaliknya Warsiyem menemukan sepasang mata yang memandangnya penuh kesabaran dan pengertian, sepasang mata yang menimbulkan kepercayaan besar dalam hatinya.

“Semenjak kematian bapakku, karena aku tidak mempunyai anggauta keluarga lain. Maka Mbok Rondo Saritem lalu tinggal di rumahku dan ia menguasai rumah itu. Ia adalah kakak tiri mendiang ayahku. Karena ia bersikap baik dan mengurus semua keperluan pemakaman bapak, maka akupun menerima dengan senang hati ketika ia pindah ke rumahku, setelah menjual rumahnya sendiri. Akan tetapi ketika ia memaksaku untuk menikah karena ia sudah menerima mas kawin, seperti semua gadis dusun lainnya, aku tidak mampu menolak walaupun hatiku tidak merasa senang. Tidak ada gadis di dusun yang berani menolak perjodohan yang diatur orang tua, dan mbokde Saritem adalah pengganti orang tuaku. Aku hanya menangis. Ketika sepasang pengantin dipertemukan, baru aku melihat bahwa yang dijadikan calon suamiku itu adalah Ki Singowiro, pembunuh bapak itu! Tentu saja aku dikejar-kejar dan untung sekali engkau muncul dan menolongku, kang Uun. Kalau tidak ada engkau yang menolongku dan aku terjatuh ke tangannya lagi, pasti aku akan membunuh diri daripada dijamah jahanam pembunuh bapakku itu.”

“Engkau tidak mau kembali ke rumahmu, dik War?"

“Tidak! Mbokde Saritem tentu akan memaksaku menikah dengan Singowiro atau pria lain. Aku tidak sudi.”

“Akan tetapi, apakah engkau mempunyai seorang anggota keluarga lainnya yang dapat kau tumpangi?”

Warsiyem menggeleng kepala dengan wajah sedih, “Kang Harun, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Apakah... apakah engkau tidak sudi menerimaku, tidak sudi kuikuti?”

Harun menghela napas panjang, “Tentu saja aku suka menerimamu, karena aku siap membelamu dengan taruhan nyawa. Memang tidak ada lain jalan yang lebih baik bagimu kecuali ikut dengan aku. Akan tetapi, dik War, aku seorang pengembara yang miskin. Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, selalu berpindah-pindah, bahkan sekarangpun aku tidak mempunyai tempat tinggal. Engkau akan hidup sengsara dan serba kekurangan kalau ikut dengan aku.”

“Aku tidak perduli, kang Uun. Kita bisa bekerja mencari makan . Lebih baik hidup miskin namun aman tenteram daripada hidup kaya namun tidak berbahagia. Akan tetapi dari manakah engkau sebenarnya, kang? Engkau seorang asing dari jauh di barat, bagaimana bisa sampai ke sini?"

Harun menghela napas panjang. Kalau bukan kepada Warsiyem, gadis yang menimbulkan rasa iba dan sekaligus juga pesona di dalam hatinya itu, tentu dia tidak akan mau menceritakan riwayat dirinya. “Sepuluh tahun lebih yang lalu, aku tinggal di Negara Pasundan, di tepi laut. Ketika itu aku berusia dua puluh satu tahun dan aku sudah beristeri, mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia setahun.”

“ah, engkau sudah beristeri dan mempunyai anak?” Tanya Warsiyem mengulang dengan suara datar dan aneh, hatinya terasa kecewa sekali mendengar ini.

Harun mengangguk. “Benar. Kemudian malapetaka itu datang menimpa keluargaku. Seorang pembesar dari Galuh berpesiar ke pantai dan ketika dia melihat isteriku, dia tergila-gila. Dengan mengandalkan kekuasaannya dia mengerahkan pasukan pengawalnya untuk menculik isteriku. Aku mengamuk dan dikeroyok banyak pengawal, sedangkan isteriku dilarikan oleh pembesar itu. Ketika aku berhasil merobohkan para pengeroyok dan melakukan pencarian, aku mendapatkan isteriku telah membunuh diri karena diperkosa oleh pembesar itu...“

"Ahhh... keparat... ! Jahat sekali pembesar itu!” teriak Warsiyem penasaran.

"Di mana-mana kejahatan dilakukan orang-orang yang sudah kemasukan kekuasaan iblis, dik.”

“Kasihan engkau, kang Uun. Lalu bagaimana?”

“Aku lalu membalas dendam. Kudatangi pembesar itu dan akhirnya aku berhasil membunuhnya, Karena pembunuhan itu aku lalu menjadi seorang buruan. Pembesar itu orang kerajaan Galuh yang penting. Aku menjadi buruan kerajaan. Terpaksa aku melarikan diri dan karena aku tidak ingin membiarkan anakku ikut terancam bahaya, maka aku lalu meninggalkan anakku kepada seorang kawan dan aku melarikan diri. Aku dikejar-kejar terus sehingga akhirnya aku terpaksa melarikan diri ke sini, dik War. Kehidupan di kampung susah. Aku tidak bebas dan dikejar-kejar. Karena mendengar bahwa Mataram adalah sebuah kerajaan yang makmur, aku lalu merantau sampai ke Mataram. Akan tetapi, sekutu pembesar yang kubunuh itu masih terus mengejar dan mencariku di daerah ini. Mereka mengirim orang-orang berilmu tinggi untuk menangkap atau membunuhku. Oleh karena itu, biarpun sudah berada di Mataram, aku tetap saja masih terus menjadi buruan. Aku terpaksa berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak karena para pemburu itu adalah orang-orang yang amat tangguh. Selama sepuluh tahun lebih aku merantau di seluruh pelosok Mataram, tidak pernah tinggal di suatu tempat lebih lama dari setahun. Dan dalam perjalanan merantau itu tempo hari itu aku melihat engkau diculik Singowiro dan aku lalu menolongmu.”

“Engkau ikut melayat ketika jenasah bapak dikubur, lalu engkau pergi dan aku sudah tidak mengharapkan akan dapat bertemu lagi denganmu. Akan tetapi bagaimana tiba-tiba semalam engkau dapat muncul dan menyelamatkan aku untuk kedua kalinya, akang Uun?”

Harun menatap wajah gadis itu dan menghela napas panjang. “Agaknya Gusti Allah yang mengatur semua itu, dik.”

“Siapa Gusti Allah itu, akang Uun?”

“Dalam bahasamu adalah Hyang Maha Wisesa yang mengatur seluruh jagad raya! Setelah meninggalkan Bakulan, aku tidak pergi jauh, berkeliaran di pedusunan daerah pantai laut Kidul. Aku amat tertarik dengan daerah ini, mengingatkan aku akan kampung halamanku di pantai lautan ketika aku masih berada di Galuh.”

“Galuh?”

“Maksudku Negeri Pasundan. Nah, di suatu dusun aku mendengar bahwa di Bakulan akan ada pesta pernikahan. Entah mengapa hatiku tertarik dan malam tadi aku berada di luar pekarangan rumahmu. Aku melihat bahwa yang menjadi pengantin adalah engkau. Ketika aku melihat pengantin pria masuk, aku terkejut mengenal orang jahat itu. Kemudian aku melihat engkau melarikan diri, dikejar-kejar. Maka aku lalu berlari mendahului dan menghadang lalu menolongmu dari tangan penjahat itu. Begitulah, dik War. Engkau tahu sekarang bahwa aku hanyalah seorang pelarian, seorang buruan yang hidup merantau tanpa tempat tinggal yang tetap, orang miskin, seorang duda yang meninggalkan anaknya di barat sana. Bagaimana seorang gadis seperti engkau dapat ikut dengan aku dan hidup sengsara dan miskin?”

Warsiyem merasa terharu. “Akang Uun, akupun hanya seorang gadis dusun yang miskin dan bodoh. Bahkan aku sekarang dipandang sebagai seorang gadis yang tidak tahu aturan, yang melanggar adat di dusun, menolak dikawinkan bahkan melarikan diri dengan seorang laki-laki asing. Aku tentu dianggap kotor dan hina oleh penduduk dusunku.”

“Sama sekali tidak, dik War. Engkau seorang gadis yang bijaksana dan cantik,” kata Harun dengan suara tegas.

Senyum manis berkembang di bibir gadis itu dan ia memandang wajah Harun dengan geli karena merasa lucu. “Benarkah itu, kang? Aku cantik dan bijaksana? Hik-hik, betapa lucu dan anehnya. Padahal namaku hanya sebuah nama yang jelek dan tidak ada artinya. Diwaktu kecil dahulu aku suka merengek kepada orang tuaku karena tidak suka dengan nama ini.”

“Ah, dik War, apa artinya sebuah nama? Menilai seseorang bukan dari namanya. Nama hanya seperti pakaian. Yang penting adalah orangnya, sikap dan kelakuan orang itu. Dan bagiku, engkau adalah seorang gadis yang bijaksana dan baik budi.”

“Dan bagiku engkau adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, berjiwa satria, sopan dan berbudi luhur. Karena itu aku ingin ikut denganmu untuk selamanya, akang Harun.”

“Ah, dik War! Sadarlah engkau akan ucapanmu tadi? Kalau engkau ingin ikut dengan aku untuk selamanya, berarti engkau harus menjadi... isteriku..! Engkau... engkau mau menjadi isteri seorang miskin seperti aku?”

Kedua orang ini saling pandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Sepasang mata bertemu dan bertaut sampai lama. Akhirnya Warsiyem mengangguk dan mukanya berubah kemerahan.

“Dik War...!” Harun memegang kedua tangan gadis itu.

Jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. “Akan tetapi, kang. Bagaimana kita akan dapat menikah? Siapa yang akan mengesahkan pernikahan kita?” Tanya Warsiyem, suaranya berbisik penuh keharuan dan kesedihan.

“Jangan khawatir, dik. Perjodohan ditentukan oleh Tuhan dan disucikan oleh Tuhan. Kita dapat menikah di hadapan Allah dengan diresmikan oleh seorang penghulu atau Suranggama.”

“Apa maksudmu, kang?”

“Marilah kita berangkat, dik, dan engkau nati akan mengerti.”

********************

Biarpun pada waktu itu Agama Islam sudah mulai tersebar di Nusa Jawa, terutama di pesisir utara, bahkan Sultan Agung sebagai raja Mataram juga seorang muslim, namun agama ini merupakan agama baru bagi penduduk pedalaman, apalagi di daerah selatan. Ada memang beberapa orang yang sudah beragama Islam memperkenalkan agama ini di dusun-dusun daerah selatan, namun penduduk menerimanya tanpa meninggalkan tradisi yang terpengaruh agama lama, yaitu agama Hindu dan Buddha.

Karena itu, tidak mudah bagi Harun untuk menemukan seorang penghulu yang dapat mengesahkan pernikahannya dengan Warsiyem secara Islam, yaitu agama yang dianutnya. Akan tetapi, akhirnya disebuah dusun Klitren di daerah Gunung Kidul itu, dengan girang dia dapat menemukan seorang Suranggama yang dapat menikahkan mereka secara Islam. Upacara pernikahan dilakukan dengan sederhana sekali di rumah sang suranggama. Tidak ada tamu yang hadir dan sebagai saksinya adalah istri dan putera sang suranggama sendiri karena baik Harun maupun Warsiyem tidak mempunyai seorang sanak keluarga di daerha itu.

Kerena tidak memiliki apa-apa, sebagai emas kawin, Harun menyerahkan sebatang keris pusaka yang diberi nama Kyai Kukuhan. Dan bagi warsiyem yang belum pernah berkenalan dengan agama baru Islam, pada saat upacara pernikahan itu ia baru masuk agama Islam dan diwajibkan mengucapkan kalimah syahadat. Dengan penuh khidmat untuk menghormati calon suaminya, akan tetapi dengan suara yang agak kaku karena masih asing, Warsiyem menirukan suara sang suranggama mengucapkan syahadat.

“Asyhadu alla ilahailallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulallah!”

Untuk memasukkan pengertian kepada calon isterinya, Harun membisikkan arti daripada kalimah syahadat itu, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah” Setelah selesai upacara yang sederhana namun khidmat itu, pasangan suami isteri baru ini menyerahkan sebuah cincin emas milik Warsiyem kepada sang suranggama ditambah ucapan terima kasih.

“Selamat, selamat!” kata Suranggama Pak Wahab. “mulai sekarang kalian telah menjadi suami isteri yang sah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’allah selalu memberi taufik dan hidajat kepada kalian.”

Harun dan Warsiyem menghaturkan terima kasih dan meninggalkan rumah sederhana Pak Wahab di dusun Klitren itu. Setelah keluar dari dusun dan melangkah perlahan, tiba-tiba Warsiyem menangis.

“Eh? Ada apakah, Warsiyem?” Tanya Harun sambil menaruh kedua tangannya ke atas kedua pundak isterinya. “Aku... aku merasa nelangsa, kang... tidak ada seorangpun yang menghadiri dan menjadi saksi pernikahan kita... “ Ia terisak dan menangis dalam rangkulan Harun.

Harun mendekap kepala isterinya dan berkata menghibur, “Jangan bersedih, isteriku. Kalau pernikahan kita sudah disahkan di hadapan Gusti Allah, berarti seluruh jagad raya telah menjadi saksi. Marilah, mari kita pergi ke pantai Laut Kidul dan kita rayakan pernikahan kita di sana, disaksikan semua unsur ciptaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa.”

Warsiyem tidak tahu apa yang dimaksudkan suaminya, akan tetapi ia menurut saja ketika digandeng dan diajak berjalan menuju selatan oleh Harun.

********************

Pantai itu indah dan bersih hamparan pasir putih berkilauan tertimpa sinar matahari. Di perbatasan antara pantai berpasir putih dan daratan yang mengandung tanah berpadas tumbuh banyak pohon-pohon, diantaranya pohon nyiur yang batangnya tinggi dan buahnya lebat. Tempat itu sunyi sekali. Air laut yang bergelombang selalu bergerak dan menimbulkan suara bergemuruh, kadang mendesis, kadang seperti suara air mendidih dan sesekali terdengar menggelegar kalau ada ombak besar menghantam dinding batu karang di sebelah sana.

Laut Kidul terhampar luas tanpa tepi, membayangkan sebuah alam lain yang penuh rahasia, hanya tampak kebiruan dan sejauh mata memandang hanya tampak garis melintang lurus. Tak tampak sebuahpun perahu. Pantai Laut Kidul di daerah ini memang amat ganas ombaknya sehingga tak seorangpun nelayan berani menjelajahi bagian ini. Terlalu berbahaya bagi mereka. Harun dan Warsiyem bergandeng tangan melintasi pantai pasir putih menghampiri lautan.

Ketika mereka melangkah maju, muncul dua pasang tapak kaki di belakang mereka, sepasang kecil dan dangkal, sepasang lagi lebih besar dan lebih dalam. Akhirnya Harun berhenti di pesisir yang sekiranya tidak akan terjilat lidah ombak. Air berhenti sejauh kurang lebih sepuluh meter di depan kaki mereka.

“Lihat ke sekelilingmu, dik War. Di sini tampak lima unsur di jagad raya yang menjadi bukti akan kekuasaan Allah. Di sini ada bumi, lautan, matahari, udara, dan pohon-pohonan. Lima unsur yang menjadi landasan kehidupan kita. Tidak ada satu saja di antara mereka berlima, kita tidak akan dapat hidup dan lihatlah kita berdua. Kita ini, sama-sama manusia ciptaan Tuhan, jasmani kita diciptakan dari lima unsur yaitu air, api, kayu, logam dan tanah dan roh kita datang dari Sumbernya, yaitu Tuhan sendiri. Kalau kita mati kelak, jasmani kita kembali kepada tanah di mana lima unsur jagad raya dan roh kita kembali kepada Sang Sumber. Kita berdua ini sama, hanya secara lahiriah kita dibedakan oleh pakaian termasuk nama, rupa, bangsa, bahasa dan agama. Kita ini wanita dan pria, dua unsur yang memang sudah menjadi pasangan dan imbangan, karena itu tidak melanggar kehendak Tuhan kalau kita bersatu menjadi suami isteri, Biarlah kita merayakan pernikahan di hadapan Tuhan dan disaksikan Lautan, Langit, Bumi, Matahari dan Pepohonan.”

Warsiyem hanya mengangguk, terharu. Walaupun ia tidak mengerti seluruhnya akan apa yang diucapkan calon suaminya itu, namun ia dapat merasakan getaran yang terkandung dalam ucapan itu, yang mendatangkan suasana khidmat dan haru kepadanya. Harun mengajaknya berlutut, lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti menyembah. Gerakan ini diikuti Warsiyem dengan patuh.

“Gusti Allah Yang Maha kuasa, hamba berdua Harun Hambali dan Warsiyem saat ini bersumpah untuk menjadi suami isteri yang saling setia dan saling mencinta di hadapan Paduka dan disaksikan oleh Bumi, Langit, Lautan, Matahari dan Pohon-pohonan. Semoga Tuhan memberkati hamba berdua.”

Harun lalu bersujud sampai dahinya menyentuh tanah sebanyak tiga kali diikuti pula oleh Warsiyem. Setelah selesai melakukan upacara pernikahan yang amat bersahaja namun khidmat itu, Harun lalu bangkit berdiri dan menarik tangan Warsiyem supaya berdiri. Dia melihat betapa Warsiyem menangis. Dia memeluk dan Warsiyem balas merangkul.

“Dik War, kau isteriku...“

“Kang Harun, suamiku...“

Angin laut semilir. Ombak menggelegar menghantam batu karang, lalu mendesis dan bergemuruh. Lidah air mengalir dan makin menipis di pasir, kemudian lenyap terhisap pasir. Alun berkejaran, bermain-main seperti sekawanan kanak-kanak bersuka ria berlari-larian menuju pantai, bergelut, bertabrakan dan berteriak-teriak.

Selama seminggu sepasang suami isteri ini hidup berdua saja di tepi Laut Kidul. Mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang sukar dilukiskan kata-kata. Yang ada adalah kasih sayang dan kemesraan, biarpun mereka hidup dengan amat bersahaja. Makan buah-buahan seadanya, ikan-ikan yang ditangkap Harun dengan mempergunakan ranting yang runcing, atau menangkap binatang hutan atau burung, merobohkannya dengan sambitan batu, Mereka mandi dan minum dari air tawar yang keluar dari dinding batu karang.

Mereka mendapatkan tempat beteduh dalam sebuah goa yang cukup besar akan tetapi kalau malam sedang indah dan udara baik, terkadang mereka tidur di atas pantai berpasir. Dalam waktu seminggu itu, mereka berbulan madu dan merasa bahwa di dunia ini hanya terdapat sepasang manusia yaitu mereka berdua!

Kemudian Harun mengajak isterinya untuk mengunjungi sebuah dusun yang sudah didatangi sebelumnya, yaitu dusun di dekat pantai yang bernama dusun Gampingan. Dusun itu tampak tenang tenteram penuh kedamaian, dihuni oleh sekitar seratus rumah. Rumah-rumah di dusun itu mempunyai pekarangan yang luas.

Kehidupan penghuninya adalah sebagai petani merangkap menangkap ikan. Hasil pekerjaan mereka itu sebagian mereka jual ke dusun-dusun yang lebih besar dan jauh ke daratan, untuk ditukar dengan segala keperluan hidup mereka sehari-hari. Harun memiliki simpanan uang dari hasil pekerjaannya selama dalam perantauan dan dengan uang itu dia membeli sebidang tanah.

Didirikannya sebuah rumah sederhana dari bilik bambu di situ dan atas usul isterinya dia membuka sebuah warung nasi untuk melayani para penghuni dusun Gampingan. Setelah rumah dan warung berdiri, mulai hari itu mereka berdua hidup sederhana dan berbahagia di situ. Setiap hari Warsiyem berjualan nasi dan makanan serta minumannya di warung itu, dan Harun sendiri bekerja di ladang, atau pergi menangkap ikan di tepi laut.

Tenteram dan tidaknya kehidupan seseorang tergantung dari sikap dan kelakuan orang itu sendiri terhadap orang orang lain. Harun dan Warsiyem bersikap ramah kepada para tetangganya di dusun Gampingan, dan mereka berdua juga selalu membuka hati dan tangan untuk membantu apabila ada tetangga sedang kerepotan. Oleh karena itu, biarpun Harun merupakan seorang Sunda yang cara bicaranya menunjukkan bahwa dia seorang asing, namun dengan sikap dan kelakuan yang baik, penduduk dusun Gampingan menerimanya sebagai seorang tetangga yang baik dan mereka bergaul akrab dengannya.

Apalagi setelah Harun menunjukkan bahwa dia mengerti akan ilmu pengobatan, suka mengobati orang-orang sakit dan menyembuhkan mereka tanpa minta imbalan. Para penghuni Gampingan jadi semakin segan dan suka kepadanya. Baru sekarang Harun Hambali mengalami kehidupan yang benar-benar tenteram, tenang dan penuh kedamaian semenjak dia meninggalkan negerinya.

Kehidupan di dusun dekat lautan itu jauh dari kota besar, jauh dari kerajaan dan jauh dari keramaian. Dia merasa yakin bahwa para pemburunya, orang-orang yang datang dari Galuh itu, tidak akan sampai ke dusun yang jauh di selatan dan sunyi ini. Maka, dipun dapat mengerahkan seluruh tenaga dan perhatiannya untuk bekerja dengan hati mantap sehingga hasil sawah ladangnya ditambah hasil warung nasi isterinya lebih dari cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dia benar-benar dapat merasakan kebahagiaan orang berumah tangga. Isterinya amat mencintanya dan para tetangga juga akrab dan baik terhadap mereka. Setahun kemudian Warsiyem mengandung. Tentu saja suami isteri itu menjadi gembira dan merasa berbahagia sekali. Harun yang pernah mempelajari ilmu pengobatan menjaga agar isterinya selalu dalam keadaan sehat, agar kandungannya menjadi sehat pula dan kuat. Akan tetapi, ketika kandungan Warsiyem sudah berusia sembilan bulan, pada suatu pagi yang cerah, terjadilah bencana yang menggemparkan penghuni dusun Gampingan.

Pagi itu Warsiyem sudah membuka warungnya. “Dik War, kandunganmu sudah tua. Sudah dekat saatnya engkau melahirkan. Mengapa engkau tidak menutup saja warungmu dan beristirahat? Aku sendiripun sudah tidak tega meninggalkanmu ke ladang.”

“Ah, kang, pekerjaan melayani para langganan di warung ini tidak membutuhkan tenaga besar. Aku akan merasa tidak enak sekali kalau menganggur.” Jawab Warsiyem Harun tidak membantah lagi dan diapun tidak meninggalkan isterinya dan membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan berjualan nasi dan makanan minuman di warung itu.

Tak lama kemudian, empat orang laki-laki memasuki warung itu. Ketika mereka melihat Harun juga berada di warung, seorang dari mereka, laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berkata sambil tersenyum, “Eh, Harun, engkau tidak pergi ke ladang?” Harun tersenyum memandang kepada penanya itu.

“Wah, kakang Parto bagaimana aku tega meninggalkan ia dengan perut sebesar itu bekerja di warung seorang diri?”

Mendengar ucapan ini, empat orang laki-laki itu tertawa bergelak dan Warsiyem melempar kerling ke arah suaminya dan mulutnya senyum tersipu. Dibantu Harun, Warsiyem segera menyediakan empat pincuk nasi pecel yang dipesan mereka dan tak lama kemudian mereka sudah menikmati nasi pecel dan menghadapi air teh kental ditambah gula kelapa.

Akan tetapi tiba-tiba saja segala yang berada dalam rumah dan warung itu terguncang-guncang kuat sekali. Meja bergoyang-goyang, semua yang berada di atasnya tumpah. Warsiyem terhuyung dan untung cepat dirangkul suaminya sehingga ia tak sampai terpelanting roboh. Akan tetapi empat orang laki-laki yang sedang makan itu terpelanting jatuh dari bangku yang mereka duduki.

“Lini..! Aya Lini...!” (Gempa...! Ada gempa...!”) teriak Harun.

“Lindu...! Lindu...!” (Gempa...! Gempa...!”) teriak yang lain.

“Cepat lari ke luar...!!” Mereka berempat berlompatan dan menghambur ke luar. Harun segera maklum bahwa terjadi gempa bumi yang amat kuat. Dia harus cepat membawa istrinya ke luar, akan tetapi terlambat karena pada saat itu, atap warung itu runtuh ke bawah, ke arah mereka!

Melihat dua tihang penyangga atap yang melintang runtuh dan akan menimpa mereka, Harun cepat menyambut dan mengangkap dua tihang itu, menahan dengan kedua tangannya. Tentu saja tihang itu berat bukan main karena dibebani atap. Namun dengan pengerahan sekuatnya Harun dapat menahan atap itu, sedangkan Warsiyem yang berada di bawahnya karena wanita itu berjongkok saking takutnya, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, memandangnya dengan mata terbelalak.

Ketika empat orang laki-laki yang kini berada di luar rumah itu melihat betapa atap runtuh dan kini ditahan oleh kedua tangan Harun, mereka cepat berlari masuk untuk menolong. “Cepat, bawa isteriku keluar!” teriak Harun.

Mendengar ini, orang yang bernama Parto segera menangkap lengan Warsiyem dan menariknya keluar rumah. Tiga orang lainnya akan membantu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. “Kalian keluarlah, cepat!” kata pula Harun kepada mereka.

Dengan bingung mereka hanya dapat menurut. Setelah tiga orang laki-laki itu keluar, Harun mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong dua tiang penyangga itu sehingga atap itu roboh ke samping warung. Suaranya terdengar hiruk pikuk dan pada saat itu, Harun dengan cekatan telah melompat keluar warung.

“Kang Uun, engkau tidak apa-apa...?!” Warsiyem berteriak sambil lari merangkul suaminya, lalu saking tegang dan khawatirnya ia menjadi lemas terkulai dalam pelukan Harun.

“Dik War...!” Harun memanggil khawatir, “Ah, ia pingsan...!”

“Cepat bawa ke rumahku!” kata Parto sedangkan tiga orang kawan lainnya sudah lari untuk melihat keadaan rumah dan keluarga mereka masing-masing. Karena rumah Parto berada di sebelah rumah hanya terpisah kebun masing-masing, Harun menurut saran tetangganya itu. Untung bahwa rumah Parto tidak roboh dan isteri dan dua orang anaknya hanya terkejut dan bertangis-tangisan. Mereka menyambut Parto, Harun dan Warsiyem yang dipondong Harun dengan muka pucat dan cepat mereka mempersilakan Harun membawa Warsiyem masuk dan merebahkannya ke atas sebuah dipan.

Harun segera melakukan usaha menyadarkan isterinya. Dengan totokan jari tangan ke arah jalan darah di kedua pundak dan tengkuk, lalu mengurut punggung dan menekan titik bawah hidung akhirnya Warsiyem mengeluh panjang menggerakkan kepalanya dan membuka matanya. Begitu siuman, suara pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Akang... kang Uun... engkau tidak apa-apa...?”

Harun yang duduk di tepi dipan merangkul isterinya. “Tidak, dik, aku selamat, kita semua selamat.” Warsiyem menangis saking lega dan girangnya. rumah mereka yang roboh, atas kerja gotong royong penduduk yang rumahnya tidak roboh dapat dibangun kembali, demikian pula rumah-rumah lain yang roboh akibat gempa bumi yang kuat itu.

Akan tetapi malam itu Warsiyem melahirkan. Mungkin terdorong kekagetannya karena terjadinya gempa bumi pagi tadi, atau memang sudah tiba waktunya ia melahirkan. dengan bantuan seorang dukun bayi yang berpengalaman di dusun Gampingan itu, Warsiyem melahirkan seorang bayi laki-laki dalam keadaan sehat selamat dan ia sendiripun dalam keadaan sehat. Malam itu, dalam rumah mereka yang sudah dibangun kembali, walaupun keadaan dalam rumah masih morat-marit akibat gempa, Warsiyem rebah di atas dipan mengeloni bayinya dan Harun duduk di tepi dipan sambil memandang kepada isteri dan anaknya dengan wajah berbahagia.

“Lihat, kang Uun... anak kita ganteng, ya? Mulut dan matanya mirip engkau.” kata Warsiyem lirih sambil tersenyum, senyum lembut yang masih membayangkan keletihan melahirkan tadi.

Harun tersenyum dan mengelus dahi isterinya, menyingkirkan segumpal rambut halus yang terurai ke wajah Warsiyem. “Tentu saja ganteng, dik, dan yang penting, semoga dia menjadi seorang manusia yang baik dan berguna, tidak seperti ayahnya.”

Warsiyem menjulurkan tangan dan menangkap tangan Harun sambil memandang wajah suaminya penuh sinar kasih sayang. “ihh, kang, engkau adalah seorang yang amat baik dan amat berjasa, setidaknya bagiku. Eh, akan kau beri nama apakah anak kita ini, kang Uun?’ Warsiyem cepat mengalihkan percakapan. Hatinya selalu merasa tidak enak kalau Harun sudah bicara tentang dirinya sendiri yang dianggap tidak baik dan tidak berguna karena merasa menjadi seorang buruan dan tidak dapat memberi kehidupan yang lebih berkecukupan kepada isterinya tercinta.

“Namanya?” Harun mengerutkan alisnya, berpikir karena dia memang belum mencarikan nama untuk anaknya. Dia teringat akan gempa bumi itu yang seolah memberi pertanda bahwa anak itu akan lahir. “Bagaimana kalau anak kita beri nama dia Lini atau Lindu? ingat pagi tadi. demikian perkasa dan hebat gempa bumi itu. Aku ingin anak kita kelak akan menjadi perkasa dan hebat pula.” Lindu adalah bahasa Jawa dari gempa bumi, Lini adalah bahasa Sundanya.

“Lindu...?” Warsiyem mengulang. Ia teringat akan kebiasaan di dusun asalnya, Bakulan, betapa orang-orang tua selalu memilihkan nama yang amat sederhana bahkan condong jelek kepada anaknya. Dan nama Lindu sebaliknya sama sekali tidak sederhana, dan tidak jelek pula. Akan tetapi bagaimana nanti panggilan anak itu? Betapa ganjil dan anehnya. Kalau ada anak-anak berseru memanggil namanya, mungkin saja akan mendatangkan kekacauan karena orang mengira bahwa ada serangan gempa bumi!

“Aku setuju saja dengan pilihanmu itu, kang Uun. akan tetapi aku ingin memanggil anak kita ini Aji, maka kalau engkau setuju aku ingin memberinya nama Lindu Aji agar sebutannya menjadi Aji.”

Harun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Baiklah, anak kita ini bernama Lindu Aji. semoga dia kelak seperkasa gempa dan sekokoh bumi.”

Demikianlah, anak itu diberi nama Lindu Aji dan kehidupan mereka berjalan dengan lancer dan wajar. Harun dan Warsiyem membenahi warung mereka kembali dan Harun bekerja lagi seperti biasa. Harun adalah seorang yang amat memperhatikan pendidikan bagi puteranya. Dia maklum dari pengalaman hidupnya sendiri betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang untuk bekal hidup di dalam dunia ini.

Orang bodoh menjadi makanan orang pintar, dan orang lemah menjadi korban penindasan orang kuat. Oleh karena itu, sejak Lindu Aji berusia tujuh tahun, dia menggembleng anaknya itu dengan olah raga terutama ilmu silat dan diapun mengundang seorang penduduk dusun Gampingan yang pandai membaca dan menulis agar mengajar anaknya membaca dan menulis. Akan tetapi agaknya telah ditakdirkan bahwa dia dan istrinya hanya mempunyai seorang anak, karena biarpun Lindu Aji telah menjadi besar, Warsiyem tidak lagi mengandung.

Pada suatu senja, warung Warsiyem sudah tutup dan Harun juga sudah pulang dari ladang. Seperti biasa pada tiap hari senja kalau tidak turun hujan, Harun selalu melatih ilmu silat kepada Aji. Sudah tiga tahun dia melatih silat kepada anaknya sejak Aji berusia tujuh tahun. Pada senja hari itu, Aji yang sudah berusia sepuluh tahun dilatih jurus baru oleh ayahnya.

“Aji, jurus ini adalah untuk menghadapi serangan lawan dari samping kiri, serangan yang tiba-tiba datangnya. Kalau pukulan itu datang mengarah ke mukamu, engkau lalu mencondongkan tubuh ke kanan menjauhi pukulan, gerakan tangan kiri memutar untuk menangkis dan pada detik berikutnya, pukulan tangan kananmu dengan jari terbuka ke arah lawan dan saat berikutnya angkat kaki kirimu, bengkokkan ke kiri lalu susulkan tendangan ke arah perut lawan. Begini gerakannya. Perhatikan dan tirulah!”

Harun lalu melakukan gerakan jurus itu. Aji mengikuti gerakan ayahnya dengan seksama karena sudah menerima gemblengan dasar selama tiga tahun, gerakan anak itu sudah cukup tangkas dan ketika tangan kanannya memukul, sudah terdengar angin bersiut tanda bahwa pukulannya itu mengandung tenaga.

“Kaki kirimu itu, salah!” kata Harun yang menoleh untuk meneliti gerakan anaknya. “Ujung kaki kiri harus dibenkokkan ke kanan sehingga dengan demikian tendanganmu akan mengandung tenaga yang lebih kuat karena mendapat ancang-ancang.”

Aji menyadari kesalahannya lalu mengulang jurus itu. Sekali ini dengan gerakan yang benar. Harun menyuruh anaknya mengulang dan mengulang lagi jurus itu sampai hafal benar sehingga gerakannya sudah menyatu dan menjadi otomatis. Demikianlah, setiap senja Harun mengjarkan semua ilmu silat yang dikuasainya kepada Aji. Kalau hari hujan mereka berlatih di dalam rumah. Kalau malam Aji disuruh belajar membaca dan menulis dari Bapak Sastro, seorang penduduk Gampingan yang terpelajar dan diwaktu mudanya tinggal di Mataram.

Dalam usianya yang sepulu tahun itu Aji sudah pandai membaca dan menulis. Bahkan Pak Sastro mulai mengajarkan kesusasteraan kepadanya, mengajari tatakrama, bertembang, bahkan menabuh gambang, meniup suling dan menari! Semua itu tanpa imbalan karena Pak Sastro sendiri suka mengajar Aji yang ternyata cerdik dan mudah menguasai pelajarannya. Di samping itu, Pak Sastro merasa berhutang budi kepada Harun yang pernah mengobati dan menyembuhkan dia dari penderitaan penyakit yang berat dan gawat.

Pada masa itu, Agama Islam belum begitu diresapi secara mendalam sampai ke pelosok dan daerah yang terpencil. Umatnya yang benar-benar mendalami Agama Islam sebagian besar adalah mereka yang berdiam di pantai utara Nusa Jawa. Bahkan yang sempat mencapai daerah pedalaman di selatan, diterima setengah-setengah sehingga bercampur dengan tradisi yang berasal dari agama terdahulu, yaitu Agama Buddha yang juga sudah bercampur dengan tradisi berasal dari Agama Hindu.

Dari perpaduan agama-agama inilah muncul semacam filsafat Kejawen yang disesuaikan dengan tradisi dan kebudayaan. Aji dibesarkan dalam keadaan alam pikiran dan kebudayaan ini. Pak Sastro adalah seorang ahli filsafat Kejawen yang banyak mengandung pelajaran Agama Islam. Dia tidak sempat mendalami pelajaran Agama Islam maka tidak dapat dikatakan ahli dalam agama itu. Semua pengetahuan filsafatnya itu dia ajarkan pula kepada Aji. Semua ini ditambah lagi oleh filsafat yang diajarkan ayahnya sendiri.

Harun adalah seorang yang dahulu ketika masih hidup dinegerinya pernah mempelajari Agama Islam yang juga sudah bergaul dengan filsafat Agama Hindu dan agama Buddha. Dalam keadaan yang demikian itu, Aji berangkat dewasa didasari pelajaran filsafat kehidupan yang bersumber dari berbagai agama. Namun, atas bimbingan ayahnya sendiri, dia dapat menerima pelajaran agama itu karena kebijaksanaan yang ditekankan ayahnya untuk mencari inti dari semua filsafat yang pada dasarnya serupa.

Inti dari semua agama dan filsafat adalah agar menjadi seorang manusia yang baik budi, membangun, bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya, berbakti kepada Sang Maha Pencipta dengan memupuk perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat yang merugikan orang lain dan berserah diri kepadaNya.

Aji digembleng untuk memiliki watak yang baik. Dia mencari persamaan dalam semua agama itu dan mengabaikan perbedaannya karena maklum benar bahwa yang berbeda itu hanyalah soal kulitnya saja, upacara, sejarah dan cara beribadat. Intinya menuju ke arah Satu. hanya caranya menuju ke arah Satu itu yang berbeda.

********************

Sang waktu adalah suatu kekuasaan yang tak terkalahkan oleh siapapun juga. Sang waktu adalah Sang Bathara Kala yang melahap semua yang ada. waktu adalah satu di antara Kekuasaan Yang Maha Kuasa yang tak terhitung banyaknya. Tampaknya Sang waktu hanya diam, tidak melakukan apa-apa, namun kenyataannya, segala sesuatu dilahapnya, segala sesuatu akan lenyap digulung waktu.

Waktu juga dapat menjadi obat yang amat manjur bagi segala macam penderitaan batin. tidak ada kesusahan yang tidak lenyap pula bersama lewatnya waktu. Waktu amat ajaib. Apabila kita memperhatikan, maka Sang Waktu merayap lebih lambat daripada majunya seekor siput. Namun apabila kita lengah dan tidak memperhatikannya, dia akan melaju lebih cepat daripada kilat! Kalau tidak diperhatikan, waktu bertahun-tahun rasanya seperti baru kemarin saja, sebaliknya kalau kita memperhatikan, waktu sehari rasanya seperti bertahun-tahun.


Demikian pula dengan kehidupan keluarga Harun Hambali. Sang Waktu melesat sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu lima belas tahun telah lewat sejak Lindu Aji dilahirkan! Padahal kalau Harun dan Warsiyem mengenang kelahiran anak tunggal mereka itu, rasanya seperti baru terjadi kemarin! Lindu Aji kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun.

Tubuhnya tinggi tegap, kaki dan tangannya kokoh terlatih dan terbiasa dengan pekerjaan berat. Dadanya bidang dan menyembunyikan tenaga yang dahsyat. Wajahnya tampan, dengan dahi lebar, alis hitam tebal, sepasang matanya membayangkan kesabaran dan kelembutan, namun terkadang pandang mata itu mencorong dan bersinar penuh kekuatan dan wibawa. Hidungnya mancung dan mulut yang kecil serta dagunya membuat wajahnya tampak manis. Dia selalu berpakaian sederhana, dengan celana komprang sebatas betis dan baju dengan potongan bersahaja, bagian dadanya setengah terbuka.

Dalam usianya yang lima belas tahun, setelah digembleng selama kurang lebih sepuluh tahun, pemuda itu telah dapat menguasai semua ilmu silat yang diajarkan ayahnya. Namun sikapnya yang bersahaja yang rendah hati itu sama sekali tidak membayangkan bahwa dia adalah seorang ahli silat yang tangguh. Lebih mirip seorang pemuda tani yang polos dan jujur.

cerita silat online karya kho ping hoo

Padahal, dia pandai membaca, menulis seperti seorang pemuda bangsawan terpelajar, dan dia pandai menabuh gambang, meniup suling, bertembang bahkan menari seperti seorang seniman yang berbakat dan ahli! diapun tekun sekali membantu ayahnya di sawah ladang atau menangkap ikan di antara gelombang air Laut Kidul yang bermain-main dipantai.

Karena seringnya dia menangkap ikan menggunakan jala di lautan ini, Lindu Aji kini pandai pula berenang dan bermain-main di air. Harun Hambali merasa berbahagia sekali dalam hidupnya. Selama lebih dari enam belas tahun dia hidup berbahagia bersama isterinya di dusin Gampingan. Apa lagi setelah Aji terlahir. Kebahagiaannya terasa lengkap. Dia sudah terbebas sama sekali dari perasaan menjadi orang buruan.

Setelah lewat sedemikian lamanya dia yakin bahwa para pemburunya tentu sudah kembali ke Galuh dan dia tidak menjadi pelarian lagi. Dia dan anak isterinya hidup tidak kekurangan di dusun itu, tenang tenteram penuh damai dan seluruh penghuni dusun Gampingan yang hanya terdiri dari sekitar seratus keluarga akrab dengan keluarganya. Semua penghuni dusun Gampingan itu seakan-akan menjadi keluarga besar, hidup rukun dan bergotong royong.

Kebahagiaan pasti terasa setelah orang tidak membutuhkan atau tidak mengejar apa-apa. Merasa cukup dengan apa yang ada, selalu bersyukur kepada yang Maha Kasih atas segala yang diperolehnya meniadakan keinginan untuk mendapatkan apapun yang tidak dimilikinya. Pengejaran terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya inilah, apa lagi yang tidak akan terjangkau olehnya, akan meniadakan kebahagiaan. pengejaran terhadap sesuatu itu tentu didasari anggapan bahwa yang dikejar itu adalah lebih baik dan akan lebih menyenangkan daripada apa yang telah dimilikinya.

Keinginan mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki ini menghancurkan nilai dari apa yang telah kita miliki. Padahal, pengejaran ini hanya mendatangkan dua macam akibat. Kalau tidak bisa didapatkan, akan menimbulkan kecewa, marah dan duka. sebaliknya kalau bisa didapatkan, akhirnya akan menimbulkan kebosanan! Karena pengejaran terhadap sesuatu itu tiada lain adalah pengejaran terhadap kesenangan, dan kesenangan dunia ini pasti berakhir dengan kebosanan.

Inilah ulah nafsu setan. Setan selalu menyeret kita untuk mengejar kesenangan demi kesenangan sehingga kita manusia yang lemah ini terkecoh, terpikat dan lupa bahwa di dalam kesenangan yang dipamerkan setan dengan segala daya tariknya itu pada hakekatnya mengandung racun yang teramat berbahaya, yang akan dapat menyeret kita ke dalam kesesatan dan kedosaan. Demi untuk mencapai kesenangan, kita sering tidak memperdulikan lagi dengan cara apa kita mencapainya. Dengan cara apapun, halal atau haram, asal kita dapat mencapai kesenangan yang kita kejar-kejar itu.

Harun Hambali dan anak isterinya merasa menjadi orang yang berkecukupan. Hal ini karena mereka tidak pernah menginginkan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka. Seperti Harun itulah yang patut disebut sebenar-benarnya orang kaya. Dia tidak pernah merasa kekurangan dan merasa kecukupan. Orang yang berkecukupan berarti orang kaya! Sebaliknya, orang yang selalu masih merasa tidak cukup, merasa kekurangan, biarpun dia memiliki segudang emas, dia adalah orang miskin, orang kekurangan!

Jadi jelaslah bahwa kaya atau miskin itu tidak dapat diukur dari isi kantongnya, melainkan dilihat keadaan isi hatinya! Kekayaan materi manusia tidak mungkin dapat diukur. Tidak ada seorangpun dapat mengatakan dengan pasti berapakah ukuran banyaknya harta bagi seorang yang dapat disebut kaya? Kalau memakai angka, berapakah nolnya? Tidak ada yang kaya mutlak semua relatif adanya.

Sepeti banyak dan sedikit. Berapakah banyak itu? Berapakah sedikit itu? Yang kurang tentu menganggap yang lebih itu banyak, sebaliknya yang lebih tentu menganggap yang kurang itu sedikit. Yang Maha Kaya dan Maha Banyak hanyalah Hyang Maha Wisesa Hyang Maha Tunggal karena segala sesuatu di jagad raya ini sesungguhnya adalah milikNya. tidak terhingga, demikianlah kalau dibuat perhitungan.

Namun, tidak ada yang langgeng (abadi) di dunia ini. kehidupan manusia tidak mungkin dapat terlepas dari pengaruh dua unsur yang berlawanan. sudah demikianlah kenyataannya dan karena kemampuan pikiran manusia tidak akan mampu menagkap rahasia besar ini, maka kita hanya dapat mengatakan bahwa memang sudah demikianlah rupanya kehendak tuhan. Segala sesuatu di dunia ini pasti ada imbangannya atau lawannya. Justeru adanya lawan itulah yang membuat sesuatu itu ada.

Tidak akan ada siang kalau tidak ada malam, tidak akan ada yang disebut terang kalau tidak ada gelap. Yang satu menentang yang lain, akan tetapi justeru yang satu mendukung adanya yang lain. Saling bertentangan namun juga saling mendukung justeru unsur dua yang saling bertentangan inilah yang menjadikan sesuatu. Tuhan yang Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu melalui bersatunya dua unsur yang saling bertentangan ini bahkan diri manusia inipun terdiri dari kedua unsur yang saling bertentangan ini, yaitu baik dan buruk.

Roh baik dan roh buruk saling berebut menguasai diri manusia dan kita tidak mungkin sepenuhnya dikuasai oleh yang baik atau yang buruk saja. Kalau kita ini baik sepenuhnya, maka kita bukan manusia lagi, melainkan mungkin disebut malaikat. Sebaliknya kalau kita ini sepenuhnya buruk, kita bukan manusia lagi, melainkan setan! Susah senang silih berganti mengisi kehidupan manusia.


Demikian pula terjadi dalam kehidupan Harun sekeluarga. Setelah bertahun-tahun hidup tenteram di dusun Gampingan, pada suatu hari terjadi hal itu, yang akan mendatangkan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Pada suatu senja, seperti biasa Harun melihat Aji berlatih silat di pekarangan depan pemuda itu sudah mempelajari ilmu silat dengan menggunakan sebatang tongkat. Gerakannya gesit dan tangkas. Sambaran tongkatnya kuat skali sehingga setiap pukulan membuat ujung tongkat kayu itu bergetar dan mengeluarkan bunyi menggetar.

Harun menonton dengan penuh perhatian dan diam-diam dia merasa bangga sekali. Anaknya ini memiliki bakat besar, lebih besar daripada dirinya. Dia menyesal mengapa dia tidak dapat memberi pelajaran yang lebih tinggi kepada Aji. Semua ilmu silat yang dikuasainya telah dia turunkan kepada puteranya itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi “tok-tok-tok!” dan tampaklah seorang laki-laki memikul dua buah keranjang terisi bermacam barang kelontong berjalan di jalan depan rumah Harun, Dia adalah seorang laki-laki pedagang kelontong keliling. Selama ini belum pernah ada pedagang keliling yang sampai ke dusun Gampingan, maka munculnya orang itu menarik perhatian orang, terutama kanak-kanak yang banyak mengikutinya.

Melihat Aji bersilat tongkat, pedagang keliling yang usianya sekitar lima puluh tahun itu berhenti dan menonton dengan kagum dan heran. Kemudian pandang matanya bertemu dengan Harun yang juga memandang kepadanya. Harun bangkit dari tempat duduknya sedangkan Aji menghentikan latihannya dan dia memandang kepada laki-laki itu.

Harun melihat laki-laki itu dengan mata terbelalak. Seorang laki-laki yang usianya sebaya dengannya, kurang lebih lima puluh tahun, memakai baju tanpa leher dan celana komprang, kakinya memakai sandal dari kulit, rambutnya yang panjang diikat ke atas dengan kain sutera biru. Dia menurunkan pikulan sepasang keranjang dan memandang kepada Harun dengan bengong dan ragu.

Tiba-tiba Harun berseru, “Ujang...! Ujang Karim...! Engkau, engkau Ujang Karim, bukan?”

Harun lari menghampiri orang yang masih berdiri bengong di tepi jalan depan pekarangan rumahnya itu. Laki-laki itu memandangi Harun dengan penuh perhatian dan ragu. Rasanya dia mengenal betul laki-laki berusia hampir lima puluh tahun yang bertubuh jangkung, rambutnya sudah dipotong pendek seperti penduduk biasa, demikian pula pakaiannya. Akan tetapi wajah itu. Dia mengenal benar!

“Harun Hambali...engkaukah ini? Ya Tuhan, engkau benar Harun sahabatku itu?” Mereka tertawa dan berpelukan. “Ujang, mari kita ke dalam dan bicara. Engkau harus menceritakan segalanya kepadaku!” seru Harun dan dia membantu orang itu membawa barang dagangannya memasuki pekarangan dan rumah.

Aji dengan ramah menyuruh anak anak yang tadi mengikuti tukang kelontong itu bubaran dan diapun ikut memasuki rumah. Ibunya yang sudah menutup warungnya sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk mereka di dapur. Aji adalah seorang pemuda yang sejak kecil telah diajar sopan santun dan tatakrama. Maka, melihat ayahnya bercakap-cakap dengan asyiknya dengan tamunya itu dalam bahasa Sunda yang hanya dimengertinya sepotong-sepotong, diapun tidak berani mendekat dan membiarkan mereka bicara berdua saja di ruangan depan. Dia sendiri lalu masuk ke dalam, terus ke dapur menemui ibunya.

“aji, engkau sudah selesai latihan? Hayo cepat mandi dan sebentar lagi kita makan malam.”

“Baiklah, ibu.” Akan tetapi dia tidak beranjak dari tempatnya. “Ehh? kenapa tidak segera mandi?” tegur ibunya. “Ibu, di luar ayah bertemu dengan seorang asing yang berjualan kelontong keliling. Agaknya mereka telah bersahabat dan kalau aku tidak salah duga, dia tentu seorang yang datang dari Pasundan.”

“Ehhh...? Sekarang dia berada di mana?”

“Ayah mengajaknya masuk dan sekarang mereka berdua bercakap-cakap dalam ruangan depan. Mereka berbicara dalam bahasa Sunda, ibu.”

“Ah, aku girang ayahmu bertemu dengan seorang sahabat sesuku. Kasihan ayahmu di sini menjadi seorang yang terasing,” kata Warsiyem dengan wajah gembira. “Tentu dia girang sekali dapat bertemu dengan seorang yang datang dari kampung halamannya. Jangan ganggu mereka bercakap-cakap, aji, dan biarkan aku membuatkan minuman untuk tamu dan ayahmu, nanti engkau yang membawakan keluar dan menyuguhkannya"

Aji mengangguk senang. Ibunya adalah seorang wanita yang baginya terbaik di dunia. Wataknya lembut, ramah, dan bijaksana juga amat mencinta ayahnya.


Alap Alap Laut Kidul Jilid 02

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 02
KANG UUN...!!” Warsiyem menjerit-jerit dan menangis ketika merasa dirinya didekap dan dipanggul oleh Ki Singowiro seperti seorang panglima perang memanggul wanita, diiringkan para penduduk dusun, Mbok Rondo Saritem berkata kepada pengantin pria itu.

“Nah, pondonglah pengantinmu baik-baik, Singowiro, jangan sampai ia terlepas dan lari lagi. Dasar anak bandel. Kalau orang jahat itu muncul lagi, biar kami yang akan menghajarnya!”

“Lepaskan aku, lepaskan!” Warsiyem meronta-ronta. “Mbokde, aku tidak sudi menjadi istri pembunuh ayah ini, lebih baik aku mati! Kang Uun...!!!”

Harun menghentikan larinya ketika dia mendengar jerit. Warsiyem, Dari ratap tangis itu tahulah dia bahwa Warsiyem kembali terjatuh ke tangan laki-laki bernama Singowiro itu. Seluruh hasrat hatinya mendorongnya untuk kembali dan menolong gadis itu terlepas dari cengkeraman serigala berujud manusia itu. Akan tetapi dia menggeleng kepala keras-keras.

Tidak! Tidak pantas baginya yang bukan apa-apanya Warsiyem merebut gadis itu dari tangan mereka yang berhak. Akan tetapi, terbayanglah di benaknya betapa Warsiyem diperkosa laki-laki jahat dan kejam itu, bagaikan seekor domba yang dirobek-robek, berdarah-darah dan hanya dapat merintih dan mengembik lemah dan memelas, sepasang matanya basah memandang kepadanya dengan penuh permohonan.

“Jahanam!” Tiba-tiba dia memaki dan tubuhnya membalik, lalu dia melompat dan berlari cepat sekali mengejar rombongan itu.

Dengan hati senang Ki Singowiro memanggul tubuh Warsiyem membayangkan kesenangan yang akan dinimatinya nati bersama pengantin wanita di dalam kamar. Tiba-tiba, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Harun telah berada dibelakangnya. Kedua tangan Harun bergerak, yang kanan merenggut tubuh warsiyem dari atas pondongan Ki Singowiro dan tangan kirinya menghantam dengan kuatnya ke arah tengkuk laki-laki tinggi besar itu.

“Wuuttt.... desss.... !”

“Aughhh.... !” Tubuh Ki Singowiro terpelanting dan dia roboh tak berkutik lagi karena pingsan seketika. Tubuh Warsiyem sudah terlepas dari dekapan Ki Singowiro dan kini gadis itu berdiri di atas tanah, lengannya masih dipegang Harun.

“Kang Uun.... !” Warsiyem berseru girang.

“Mari kita pergi!” Harun menggandeng tangan Warsiyem dan diajaknya gadis itu melarikan diri.

Para penduduk dusun itu sejenak tertegun. Terlalu cepat peristiwa itu terjadi. Tahu-tahu mereka melihat Ki Singowiro sudah terpelanting dan Warsiyem melarikan diri dengan orang itu. Mbok Rondo Saritem segera sadar dari kagetnya. “Maling...! Rampok...! Cepat kejar mereka!” jeritnya.

Penduduk yang dua puluh orang jumlahnya itu baru menyadari dan merekapun melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak. Harun yang menggandeng dan menarik tangan Warsiyem melihat betapa gadis itu lemah dan tersaruk-saruk. Dia tahu bahwa gadis itu lelah sekali dan juga telah beberapa hari Warsiyem bersusah hati dan hampir tidak makan sehingga ia tidak memiliki sisa tenaga lagi.

“Dik War, engkau ingin kembali kepada mereka?” Tanya Harun yang terpaksa berhenti.

“Tidak! Ahh... tidak, kang!”

“Engkau ingin melarikan diri dari mereka?”

“Ya, aku tidak sudi kembali. Lebih baik aku mati daripada terjatuh ke dalam tangan mereka lagi. Aku akan bunuh diri...“

“Ke mana engkau hendak melarikan diri?”

“Ke mana saja, kang. Ke mana saja engkau membawa diriku pergi. Aku ikut denganmu....!” Para pengejar sudah datang dekat.

“Engkau tidak akan menyesal kelak kalau ikut aku? Aku orang miskin, dik War.”

“Tidak perduli! Aku ikut engkau, akang Uun!”

“Kalau begitu maaf, terpaksa aku harus memondongmu agar dapat berlari cepat!”

Setelah berkata demikian, Harun memondong tubuh Warsiyem yang begitu ringan sekali dan dia lalu melompat jauh dan berlari cepat sebelum ada orang dusun yang sempat menyerangnya. Larinya demikian cepat sehingga Warsiyem terpaksa harus memejamkan kedua matanya karena merasa ngeri, seperti dibawa terbang.

Mbok Rondo Saritem dan para pengikutnya masih mencoba untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi tak lama kemudian terpaksa mereka menghentikan pengejaran itu karena mereka kelelahan dan telah kehilangan jejak orang yang mereka kejar. Akhirnya, dengan lemas mereka semua kembali ke dusun Bakulan. Ketika mereka tiba di tempat di mana Ki Singowiro tadi roboh pingsan, mereka sudah tidak melihat lagi laki-laki itu. Agaknya kecewa, marah dan juga malu laki-laki ini diam-diam meninggalkan tempat itu.

********************

Air yang mancur keluar dari belahan batu batu itu jernih sekali. Hanya seperti cucuran air kendi, namun amat jernih dan dingin sejuk. Pegunungan itu disebut Pegunungan Seribu atau ada pula yang menyebutnya Pegunungn Kidul karena letaknya di selatan Nusa Jawa, memanjang dari barat ke timur, seolah menjadi barisan penjaga pantai Laut Kidul atau seperti sebuah bendungan raksasa yang mencegah agar air laut Laut Kidul yang amat luas itu jangan sampai membanjiri dan menenggelamkan Nusa Jawa.

Langit bersih dan pagi itu cerah sekali. Banyak diantara pegunungan yang mengandung ribuan bukit itu memiliki perbukitan berkapur yang tandus karena permukaannya mengandung kapur. Akan tetapi ada pula perbukitan yang cukup subur tanahnya dan hijau. Matahari mulai menyinarkan cahayanya yang hangat dan mengandung penuh daya hidup dan kekuatan. Setelah tiba di lereng sebuah di antara bukit-bukit yang kehijauan, Harun baru berhenti. Warsiyem merasa kagum bukan main.

Sudah berulang kali tadi ia meminta agar Harun menurunkannya dari pondongan untuk membiarkan laki-laki itu beristirahat, akan tetapi pemuda itu tidak mau dan berlari terus. Kadang dia berjalan kalau jalannya sukar, licin dan mendaki. Namun, sepanjang malam ia tidak pernah berhenti dan baru setelah tiba di lereng bukit, dia berhenti. Dia memang sengaja berhenti ditempat yang indah itu ketika dia melihat pancuran air yang bening itu.

“Kita berhenti mengaso di sini. Sudah aman sekarang, dik,” kata Harun sambil menekuk kedua lututnya dan duduk diatas sebuah batu.

“Engkau tentu lelah sekali, kang Uun. Salahmu, disuruh berhenti mengaso tidak juga mau,” kata Warsiyem seolah menegur halus.

Harun tersenyum. “Aku khawatir kalau kita akan tersusul.”

“Apa yang dikhawatirkan? Engkau akan mampu mengalahkan semua orang itu. Bukankah dengan mudah engkau dapat merobohkan jahanam busuk itu tadi?” kata Warsiyem sambil memandang kagum, teringat betapa dengan amat mudahnya laki-laki ini merebutnya dari tangan Ki Singowiro.

“Aku tidak mau berkelahi melawan penduduk dusun itu, dik War. Mereka tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja.”

Warsiyem juga duduk di atas sebuah batu, mengeluh. “Uhhh, benar penat sekali tubuhku... dan lapar... dan haus...!”

“Itu ada air jernih.” Harun menudingkan telunjuknya.

Warsiyem menoleh dan berseru girang ketika melihat air yang jernih memancur keluar dari belahan batu-batu di belakangnya. Heran sekali betapa kegembiraan mendapatkan air itu seolah telah mencuci bersih semua ketegangan, ketakutan, dan kesedihan perawan itu. Bagaikan anak kecil ia lalu berjingkat ke arah pancuran air dengan hati-hati karena di bagian bawah pancuran itu tanahnya basah dan licin.

“Aahhhh... segarnya... “ Warsiyem menadah air dengan kedua telapak tangan yang telah dicucinya terlebih dahulu, lalu minum air sepuasnya. Terasa segar sejuk, dingin dan manis. Setelah puas minum, ia lalu menadah air untuk mencuci mukanya, lehernya, kedua lengan dan kakinya dari lutut ke bawah.

Setelah selesai ia tampak segar kembali. Lenyaplah semua bekas air mata dan debu dari mukanya, membuat kulit wajahnya semringah segar berseri, hanya sekeliling matanya saja yang masih agak sembam karena terlalu banyak menangis. Ia bahkan sudah dapat tersenyum manis sekali, seolah telah melupakan semua perasaan takut dan sedihnya.

“Segar sekali mencuci muka dan minum air jernih itu. Cobalah, kang Uun!” Katanya sambil menghampiri Harun.

Pria muda itu mengangguk, cepat mengalihkan pandang matanya agar jangan ketahuan betapa matanya, memandang penuh kagum kepada wajah gadis itu. Dia lalu mencuci muka, kaki dan tangannya. Bahkan membiarkan air mengucuri rambut kepalanya sehingga rambutnya yang panjang menjadi basah semua. Diminumnya pula air jernih itu. Setelah selesai dia kembali ke atas batu sambil memeras rambutnya yang basah.

Pada saat itu, pendengaran Harun yang terlatih baik dan menjadi amat peka itu mendengar suara lirih berkeruyuk. Tentu saja warsiyem juga mendengarnya, karena suara itu keluar dari dalam perutnya yang lapar sekali. Wajah Warsiyem berubah kemerahan karena malu, akan tetapi Harun segera berkata.

“Ah, perutku terasa lapar sekali sampai perih.”

Mendengar ini, berkuranglah rasa malu di hati Warsiyem karena ucapan itu dapat berarti bahwa yang “berkeruyuk” tadi mungkin juga perut laki-laki itu. Ia menoleh ke kiri di mana terdapat seladang singkong (ketela pohon). “Itu disana ada singkong. Melihat pohonnya, tentu sudah tua dan singkong bakar enak sekali, kang Uun.”

Harun menoleh dan dia tersenyum. “Akan tetapi ladang singkong itu bukan milik kita, dik War.”

“Apa salahnya kalau kita mengambil dari sebatang pohon saja, kang? Harganya tidak seberapa dan andaikata yang mempunyai ladang melihatnya, dia tentu akan rela memberi kita yang kelaparan ini singkong dari sebatang pohonnya.”

Mendengar ucapan Warsiyem itu, Harun lalu bangkit berdiri dan berjalan ke arah ladang singkong. Dicabutnya sebatang pohon singkong dan hatinya gembira melihat bahwa pohon itu mempunyai umbi singkong yang sebesar lengannya empat batang banyaknya. Dia lalu membawa singkong itu ke tempat duduk mereka di tepi pancuran. Kemudian tanpa berkata-kata Harun membuat api unggun dan membakar umbi singkong yang empat batang itu. Segera tercium bau sedap.

“Wah, sedap sekali baunya. Perutku menjadi semakin lapar rasanya, kang.” Kata Warsiyem dan kini sikap gadis itu gembira sekali.

Tak lama kemudian kedua orang itu telah duduk di atas batu sambil makan singkong bakar. Panas, mempur, dan gurih manis rasanya, diterima pencernaan mereka dengan perasaan bersukur dan berterima kasih. Setelah minum air jernih, perut mereka menjadi kenyang dan nyaman rasanya. Mereka masih duduk berjemur matahari pagi di atas batu sambil bercakap￾cakap.

“dik War, sekarang ceritakan kepadaku semua yang telah terjadi menimpa dirimu.” Kata Harun sambil menatap wajah gadis itu.

Warsiyem juga mengangkat muka balas memandang. Dua pasang mata bertemu pandang dan saling menyelidiki. Harun menemukan sepasang mata jernih yang memandang penuh rasa berterima kasih, sebaliknya Warsiyem menemukan sepasang mata yang memandangnya penuh kesabaran dan pengertian, sepasang mata yang menimbulkan kepercayaan besar dalam hatinya.

“Semenjak kematian bapakku, karena aku tidak mempunyai anggauta keluarga lain. Maka Mbok Rondo Saritem lalu tinggal di rumahku dan ia menguasai rumah itu. Ia adalah kakak tiri mendiang ayahku. Karena ia bersikap baik dan mengurus semua keperluan pemakaman bapak, maka akupun menerima dengan senang hati ketika ia pindah ke rumahku, setelah menjual rumahnya sendiri. Akan tetapi ketika ia memaksaku untuk menikah karena ia sudah menerima mas kawin, seperti semua gadis dusun lainnya, aku tidak mampu menolak walaupun hatiku tidak merasa senang. Tidak ada gadis di dusun yang berani menolak perjodohan yang diatur orang tua, dan mbokde Saritem adalah pengganti orang tuaku. Aku hanya menangis. Ketika sepasang pengantin dipertemukan, baru aku melihat bahwa yang dijadikan calon suamiku itu adalah Ki Singowiro, pembunuh bapak itu! Tentu saja aku dikejar-kejar dan untung sekali engkau muncul dan menolongku, kang Uun. Kalau tidak ada engkau yang menolongku dan aku terjatuh ke tangannya lagi, pasti aku akan membunuh diri daripada dijamah jahanam pembunuh bapakku itu.”

“Engkau tidak mau kembali ke rumahmu, dik War?"

“Tidak! Mbokde Saritem tentu akan memaksaku menikah dengan Singowiro atau pria lain. Aku tidak sudi.”

“Akan tetapi, apakah engkau mempunyai seorang anggota keluarga lainnya yang dapat kau tumpangi?”

Warsiyem menggeleng kepala dengan wajah sedih, “Kang Harun, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Apakah... apakah engkau tidak sudi menerimaku, tidak sudi kuikuti?”

Harun menghela napas panjang, “Tentu saja aku suka menerimamu, karena aku siap membelamu dengan taruhan nyawa. Memang tidak ada lain jalan yang lebih baik bagimu kecuali ikut dengan aku. Akan tetapi, dik War, aku seorang pengembara yang miskin. Aku tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, selalu berpindah-pindah, bahkan sekarangpun aku tidak mempunyai tempat tinggal. Engkau akan hidup sengsara dan serba kekurangan kalau ikut dengan aku.”

“Aku tidak perduli, kang Uun. Kita bisa bekerja mencari makan . Lebih baik hidup miskin namun aman tenteram daripada hidup kaya namun tidak berbahagia. Akan tetapi dari manakah engkau sebenarnya, kang? Engkau seorang asing dari jauh di barat, bagaimana bisa sampai ke sini?"

Harun menghela napas panjang. Kalau bukan kepada Warsiyem, gadis yang menimbulkan rasa iba dan sekaligus juga pesona di dalam hatinya itu, tentu dia tidak akan mau menceritakan riwayat dirinya. “Sepuluh tahun lebih yang lalu, aku tinggal di Negara Pasundan, di tepi laut. Ketika itu aku berusia dua puluh satu tahun dan aku sudah beristeri, mempunyai seorang anak laki-laki yang berusia setahun.”

“ah, engkau sudah beristeri dan mempunyai anak?” Tanya Warsiyem mengulang dengan suara datar dan aneh, hatinya terasa kecewa sekali mendengar ini.

Harun mengangguk. “Benar. Kemudian malapetaka itu datang menimpa keluargaku. Seorang pembesar dari Galuh berpesiar ke pantai dan ketika dia melihat isteriku, dia tergila-gila. Dengan mengandalkan kekuasaannya dia mengerahkan pasukan pengawalnya untuk menculik isteriku. Aku mengamuk dan dikeroyok banyak pengawal, sedangkan isteriku dilarikan oleh pembesar itu. Ketika aku berhasil merobohkan para pengeroyok dan melakukan pencarian, aku mendapatkan isteriku telah membunuh diri karena diperkosa oleh pembesar itu...“

"Ahhh... keparat... ! Jahat sekali pembesar itu!” teriak Warsiyem penasaran.

"Di mana-mana kejahatan dilakukan orang-orang yang sudah kemasukan kekuasaan iblis, dik.”

“Kasihan engkau, kang Uun. Lalu bagaimana?”

“Aku lalu membalas dendam. Kudatangi pembesar itu dan akhirnya aku berhasil membunuhnya, Karena pembunuhan itu aku lalu menjadi seorang buruan. Pembesar itu orang kerajaan Galuh yang penting. Aku menjadi buruan kerajaan. Terpaksa aku melarikan diri dan karena aku tidak ingin membiarkan anakku ikut terancam bahaya, maka aku lalu meninggalkan anakku kepada seorang kawan dan aku melarikan diri. Aku dikejar-kejar terus sehingga akhirnya aku terpaksa melarikan diri ke sini, dik War. Kehidupan di kampung susah. Aku tidak bebas dan dikejar-kejar. Karena mendengar bahwa Mataram adalah sebuah kerajaan yang makmur, aku lalu merantau sampai ke Mataram. Akan tetapi, sekutu pembesar yang kubunuh itu masih terus mengejar dan mencariku di daerah ini. Mereka mengirim orang-orang berilmu tinggi untuk menangkap atau membunuhku. Oleh karena itu, biarpun sudah berada di Mataram, aku tetap saja masih terus menjadi buruan. Aku terpaksa berpindah-pindah untuk menghilangkan jejak karena para pemburu itu adalah orang-orang yang amat tangguh. Selama sepuluh tahun lebih aku merantau di seluruh pelosok Mataram, tidak pernah tinggal di suatu tempat lebih lama dari setahun. Dan dalam perjalanan merantau itu tempo hari itu aku melihat engkau diculik Singowiro dan aku lalu menolongmu.”

“Engkau ikut melayat ketika jenasah bapak dikubur, lalu engkau pergi dan aku sudah tidak mengharapkan akan dapat bertemu lagi denganmu. Akan tetapi bagaimana tiba-tiba semalam engkau dapat muncul dan menyelamatkan aku untuk kedua kalinya, akang Uun?”

Harun menatap wajah gadis itu dan menghela napas panjang. “Agaknya Gusti Allah yang mengatur semua itu, dik.”

“Siapa Gusti Allah itu, akang Uun?”

“Dalam bahasamu adalah Hyang Maha Wisesa yang mengatur seluruh jagad raya! Setelah meninggalkan Bakulan, aku tidak pergi jauh, berkeliaran di pedusunan daerah pantai laut Kidul. Aku amat tertarik dengan daerah ini, mengingatkan aku akan kampung halamanku di pantai lautan ketika aku masih berada di Galuh.”

“Galuh?”

“Maksudku Negeri Pasundan. Nah, di suatu dusun aku mendengar bahwa di Bakulan akan ada pesta pernikahan. Entah mengapa hatiku tertarik dan malam tadi aku berada di luar pekarangan rumahmu. Aku melihat bahwa yang menjadi pengantin adalah engkau. Ketika aku melihat pengantin pria masuk, aku terkejut mengenal orang jahat itu. Kemudian aku melihat engkau melarikan diri, dikejar-kejar. Maka aku lalu berlari mendahului dan menghadang lalu menolongmu dari tangan penjahat itu. Begitulah, dik War. Engkau tahu sekarang bahwa aku hanyalah seorang pelarian, seorang buruan yang hidup merantau tanpa tempat tinggal yang tetap, orang miskin, seorang duda yang meninggalkan anaknya di barat sana. Bagaimana seorang gadis seperti engkau dapat ikut dengan aku dan hidup sengsara dan miskin?”

Warsiyem merasa terharu. “Akang Uun, akupun hanya seorang gadis dusun yang miskin dan bodoh. Bahkan aku sekarang dipandang sebagai seorang gadis yang tidak tahu aturan, yang melanggar adat di dusun, menolak dikawinkan bahkan melarikan diri dengan seorang laki-laki asing. Aku tentu dianggap kotor dan hina oleh penduduk dusunku.”

“Sama sekali tidak, dik War. Engkau seorang gadis yang bijaksana dan cantik,” kata Harun dengan suara tegas.

Senyum manis berkembang di bibir gadis itu dan ia memandang wajah Harun dengan geli karena merasa lucu. “Benarkah itu, kang? Aku cantik dan bijaksana? Hik-hik, betapa lucu dan anehnya. Padahal namaku hanya sebuah nama yang jelek dan tidak ada artinya. Diwaktu kecil dahulu aku suka merengek kepada orang tuaku karena tidak suka dengan nama ini.”

“Ah, dik War, apa artinya sebuah nama? Menilai seseorang bukan dari namanya. Nama hanya seperti pakaian. Yang penting adalah orangnya, sikap dan kelakuan orang itu. Dan bagiku, engkau adalah seorang gadis yang bijaksana dan baik budi.”

“Dan bagiku engkau adalah seorang laki-laki yang gagah perkasa, berjiwa satria, sopan dan berbudi luhur. Karena itu aku ingin ikut denganmu untuk selamanya, akang Harun.”

“Ah, dik War! Sadarlah engkau akan ucapanmu tadi? Kalau engkau ingin ikut dengan aku untuk selamanya, berarti engkau harus menjadi... isteriku..! Engkau... engkau mau menjadi isteri seorang miskin seperti aku?”

Kedua orang ini saling pandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. Sepasang mata bertemu dan bertaut sampai lama. Akhirnya Warsiyem mengangguk dan mukanya berubah kemerahan.

“Dik War...!” Harun memegang kedua tangan gadis itu.

Jantungnya berdebar penuh kebahagiaan. “Akan tetapi, kang. Bagaimana kita akan dapat menikah? Siapa yang akan mengesahkan pernikahan kita?” Tanya Warsiyem, suaranya berbisik penuh keharuan dan kesedihan.

“Jangan khawatir, dik. Perjodohan ditentukan oleh Tuhan dan disucikan oleh Tuhan. Kita dapat menikah di hadapan Allah dengan diresmikan oleh seorang penghulu atau Suranggama.”

“Apa maksudmu, kang?”

“Marilah kita berangkat, dik, dan engkau nati akan mengerti.”

********************

Biarpun pada waktu itu Agama Islam sudah mulai tersebar di Nusa Jawa, terutama di pesisir utara, bahkan Sultan Agung sebagai raja Mataram juga seorang muslim, namun agama ini merupakan agama baru bagi penduduk pedalaman, apalagi di daerah selatan. Ada memang beberapa orang yang sudah beragama Islam memperkenalkan agama ini di dusun-dusun daerah selatan, namun penduduk menerimanya tanpa meninggalkan tradisi yang terpengaruh agama lama, yaitu agama Hindu dan Buddha.

Karena itu, tidak mudah bagi Harun untuk menemukan seorang penghulu yang dapat mengesahkan pernikahannya dengan Warsiyem secara Islam, yaitu agama yang dianutnya. Akan tetapi, akhirnya disebuah dusun Klitren di daerah Gunung Kidul itu, dengan girang dia dapat menemukan seorang Suranggama yang dapat menikahkan mereka secara Islam. Upacara pernikahan dilakukan dengan sederhana sekali di rumah sang suranggama. Tidak ada tamu yang hadir dan sebagai saksinya adalah istri dan putera sang suranggama sendiri karena baik Harun maupun Warsiyem tidak mempunyai seorang sanak keluarga di daerha itu.

Kerena tidak memiliki apa-apa, sebagai emas kawin, Harun menyerahkan sebatang keris pusaka yang diberi nama Kyai Kukuhan. Dan bagi warsiyem yang belum pernah berkenalan dengan agama baru Islam, pada saat upacara pernikahan itu ia baru masuk agama Islam dan diwajibkan mengucapkan kalimah syahadat. Dengan penuh khidmat untuk menghormati calon suaminya, akan tetapi dengan suara yang agak kaku karena masih asing, Warsiyem menirukan suara sang suranggama mengucapkan syahadat.

“Asyhadu alla ilahailallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulallah!”

Untuk memasukkan pengertian kepada calon isterinya, Harun membisikkan arti daripada kalimah syahadat itu, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan lain kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah” Setelah selesai upacara yang sederhana namun khidmat itu, pasangan suami isteri baru ini menyerahkan sebuah cincin emas milik Warsiyem kepada sang suranggama ditambah ucapan terima kasih.

“Selamat, selamat!” kata Suranggama Pak Wahab. “mulai sekarang kalian telah menjadi suami isteri yang sah, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’allah selalu memberi taufik dan hidajat kepada kalian.”

Harun dan Warsiyem menghaturkan terima kasih dan meninggalkan rumah sederhana Pak Wahab di dusun Klitren itu. Setelah keluar dari dusun dan melangkah perlahan, tiba-tiba Warsiyem menangis.

“Eh? Ada apakah, Warsiyem?” Tanya Harun sambil menaruh kedua tangannya ke atas kedua pundak isterinya. “Aku... aku merasa nelangsa, kang... tidak ada seorangpun yang menghadiri dan menjadi saksi pernikahan kita... “ Ia terisak dan menangis dalam rangkulan Harun.

Harun mendekap kepala isterinya dan berkata menghibur, “Jangan bersedih, isteriku. Kalau pernikahan kita sudah disahkan di hadapan Gusti Allah, berarti seluruh jagad raya telah menjadi saksi. Marilah, mari kita pergi ke pantai Laut Kidul dan kita rayakan pernikahan kita di sana, disaksikan semua unsur ciptaan Gusti Allah Yang Maha Kuasa.”

Warsiyem tidak tahu apa yang dimaksudkan suaminya, akan tetapi ia menurut saja ketika digandeng dan diajak berjalan menuju selatan oleh Harun.

********************

Pantai itu indah dan bersih hamparan pasir putih berkilauan tertimpa sinar matahari. Di perbatasan antara pantai berpasir putih dan daratan yang mengandung tanah berpadas tumbuh banyak pohon-pohon, diantaranya pohon nyiur yang batangnya tinggi dan buahnya lebat. Tempat itu sunyi sekali. Air laut yang bergelombang selalu bergerak dan menimbulkan suara bergemuruh, kadang mendesis, kadang seperti suara air mendidih dan sesekali terdengar menggelegar kalau ada ombak besar menghantam dinding batu karang di sebelah sana.

Laut Kidul terhampar luas tanpa tepi, membayangkan sebuah alam lain yang penuh rahasia, hanya tampak kebiruan dan sejauh mata memandang hanya tampak garis melintang lurus. Tak tampak sebuahpun perahu. Pantai Laut Kidul di daerah ini memang amat ganas ombaknya sehingga tak seorangpun nelayan berani menjelajahi bagian ini. Terlalu berbahaya bagi mereka. Harun dan Warsiyem bergandeng tangan melintasi pantai pasir putih menghampiri lautan.

Ketika mereka melangkah maju, muncul dua pasang tapak kaki di belakang mereka, sepasang kecil dan dangkal, sepasang lagi lebih besar dan lebih dalam. Akhirnya Harun berhenti di pesisir yang sekiranya tidak akan terjilat lidah ombak. Air berhenti sejauh kurang lebih sepuluh meter di depan kaki mereka.

“Lihat ke sekelilingmu, dik War. Di sini tampak lima unsur di jagad raya yang menjadi bukti akan kekuasaan Allah. Di sini ada bumi, lautan, matahari, udara, dan pohon-pohonan. Lima unsur yang menjadi landasan kehidupan kita. Tidak ada satu saja di antara mereka berlima, kita tidak akan dapat hidup dan lihatlah kita berdua. Kita ini, sama-sama manusia ciptaan Tuhan, jasmani kita diciptakan dari lima unsur yaitu air, api, kayu, logam dan tanah dan roh kita datang dari Sumbernya, yaitu Tuhan sendiri. Kalau kita mati kelak, jasmani kita kembali kepada tanah di mana lima unsur jagad raya dan roh kita kembali kepada Sang Sumber. Kita berdua ini sama, hanya secara lahiriah kita dibedakan oleh pakaian termasuk nama, rupa, bangsa, bahasa dan agama. Kita ini wanita dan pria, dua unsur yang memang sudah menjadi pasangan dan imbangan, karena itu tidak melanggar kehendak Tuhan kalau kita bersatu menjadi suami isteri, Biarlah kita merayakan pernikahan di hadapan Tuhan dan disaksikan Lautan, Langit, Bumi, Matahari dan Pepohonan.”

Warsiyem hanya mengangguk, terharu. Walaupun ia tidak mengerti seluruhnya akan apa yang diucapkan calon suaminya itu, namun ia dapat merasakan getaran yang terkandung dalam ucapan itu, yang mendatangkan suasana khidmat dan haru kepadanya. Harun mengajaknya berlutut, lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada seperti menyembah. Gerakan ini diikuti Warsiyem dengan patuh.

“Gusti Allah Yang Maha kuasa, hamba berdua Harun Hambali dan Warsiyem saat ini bersumpah untuk menjadi suami isteri yang saling setia dan saling mencinta di hadapan Paduka dan disaksikan oleh Bumi, Langit, Lautan, Matahari dan Pohon-pohonan. Semoga Tuhan memberkati hamba berdua.”

Harun lalu bersujud sampai dahinya menyentuh tanah sebanyak tiga kali diikuti pula oleh Warsiyem. Setelah selesai melakukan upacara pernikahan yang amat bersahaja namun khidmat itu, Harun lalu bangkit berdiri dan menarik tangan Warsiyem supaya berdiri. Dia melihat betapa Warsiyem menangis. Dia memeluk dan Warsiyem balas merangkul.

“Dik War, kau isteriku...“

“Kang Harun, suamiku...“

Angin laut semilir. Ombak menggelegar menghantam batu karang, lalu mendesis dan bergemuruh. Lidah air mengalir dan makin menipis di pasir, kemudian lenyap terhisap pasir. Alun berkejaran, bermain-main seperti sekawanan kanak-kanak bersuka ria berlari-larian menuju pantai, bergelut, bertabrakan dan berteriak-teriak.

Selama seminggu sepasang suami isteri ini hidup berdua saja di tepi Laut Kidul. Mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan yang sukar dilukiskan kata-kata. Yang ada adalah kasih sayang dan kemesraan, biarpun mereka hidup dengan amat bersahaja. Makan buah-buahan seadanya, ikan-ikan yang ditangkap Harun dengan mempergunakan ranting yang runcing, atau menangkap binatang hutan atau burung, merobohkannya dengan sambitan batu, Mereka mandi dan minum dari air tawar yang keluar dari dinding batu karang.

Mereka mendapatkan tempat beteduh dalam sebuah goa yang cukup besar akan tetapi kalau malam sedang indah dan udara baik, terkadang mereka tidur di atas pantai berpasir. Dalam waktu seminggu itu, mereka berbulan madu dan merasa bahwa di dunia ini hanya terdapat sepasang manusia yaitu mereka berdua!

Kemudian Harun mengajak isterinya untuk mengunjungi sebuah dusun yang sudah didatangi sebelumnya, yaitu dusun di dekat pantai yang bernama dusun Gampingan. Dusun itu tampak tenang tenteram penuh kedamaian, dihuni oleh sekitar seratus rumah. Rumah-rumah di dusun itu mempunyai pekarangan yang luas.

Kehidupan penghuninya adalah sebagai petani merangkap menangkap ikan. Hasil pekerjaan mereka itu sebagian mereka jual ke dusun-dusun yang lebih besar dan jauh ke daratan, untuk ditukar dengan segala keperluan hidup mereka sehari-hari. Harun memiliki simpanan uang dari hasil pekerjaannya selama dalam perantauan dan dengan uang itu dia membeli sebidang tanah.

Didirikannya sebuah rumah sederhana dari bilik bambu di situ dan atas usul isterinya dia membuka sebuah warung nasi untuk melayani para penghuni dusun Gampingan. Setelah rumah dan warung berdiri, mulai hari itu mereka berdua hidup sederhana dan berbahagia di situ. Setiap hari Warsiyem berjualan nasi dan makanan serta minumannya di warung itu, dan Harun sendiri bekerja di ladang, atau pergi menangkap ikan di tepi laut.

Tenteram dan tidaknya kehidupan seseorang tergantung dari sikap dan kelakuan orang itu sendiri terhadap orang orang lain. Harun dan Warsiyem bersikap ramah kepada para tetangganya di dusun Gampingan, dan mereka berdua juga selalu membuka hati dan tangan untuk membantu apabila ada tetangga sedang kerepotan. Oleh karena itu, biarpun Harun merupakan seorang Sunda yang cara bicaranya menunjukkan bahwa dia seorang asing, namun dengan sikap dan kelakuan yang baik, penduduk dusun Gampingan menerimanya sebagai seorang tetangga yang baik dan mereka bergaul akrab dengannya.

Apalagi setelah Harun menunjukkan bahwa dia mengerti akan ilmu pengobatan, suka mengobati orang-orang sakit dan menyembuhkan mereka tanpa minta imbalan. Para penghuni Gampingan jadi semakin segan dan suka kepadanya. Baru sekarang Harun Hambali mengalami kehidupan yang benar-benar tenteram, tenang dan penuh kedamaian semenjak dia meninggalkan negerinya.

Kehidupan di dusun dekat lautan itu jauh dari kota besar, jauh dari kerajaan dan jauh dari keramaian. Dia merasa yakin bahwa para pemburunya, orang-orang yang datang dari Galuh itu, tidak akan sampai ke dusun yang jauh di selatan dan sunyi ini. Maka, dipun dapat mengerahkan seluruh tenaga dan perhatiannya untuk bekerja dengan hati mantap sehingga hasil sawah ladangnya ditambah hasil warung nasi isterinya lebih dari cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dia benar-benar dapat merasakan kebahagiaan orang berumah tangga. Isterinya amat mencintanya dan para tetangga juga akrab dan baik terhadap mereka. Setahun kemudian Warsiyem mengandung. Tentu saja suami isteri itu menjadi gembira dan merasa berbahagia sekali. Harun yang pernah mempelajari ilmu pengobatan menjaga agar isterinya selalu dalam keadaan sehat, agar kandungannya menjadi sehat pula dan kuat. Akan tetapi, ketika kandungan Warsiyem sudah berusia sembilan bulan, pada suatu pagi yang cerah, terjadilah bencana yang menggemparkan penghuni dusun Gampingan.

Pagi itu Warsiyem sudah membuka warungnya. “Dik War, kandunganmu sudah tua. Sudah dekat saatnya engkau melahirkan. Mengapa engkau tidak menutup saja warungmu dan beristirahat? Aku sendiripun sudah tidak tega meninggalkanmu ke ladang.”

“Ah, kang, pekerjaan melayani para langganan di warung ini tidak membutuhkan tenaga besar. Aku akan merasa tidak enak sekali kalau menganggur.” Jawab Warsiyem Harun tidak membantah lagi dan diapun tidak meninggalkan isterinya dan membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan berjualan nasi dan makanan minuman di warung itu.

Tak lama kemudian, empat orang laki-laki memasuki warung itu. Ketika mereka melihat Harun juga berada di warung, seorang dari mereka, laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, berkata sambil tersenyum, “Eh, Harun, engkau tidak pergi ke ladang?” Harun tersenyum memandang kepada penanya itu.

“Wah, kakang Parto bagaimana aku tega meninggalkan ia dengan perut sebesar itu bekerja di warung seorang diri?”

Mendengar ucapan ini, empat orang laki-laki itu tertawa bergelak dan Warsiyem melempar kerling ke arah suaminya dan mulutnya senyum tersipu. Dibantu Harun, Warsiyem segera menyediakan empat pincuk nasi pecel yang dipesan mereka dan tak lama kemudian mereka sudah menikmati nasi pecel dan menghadapi air teh kental ditambah gula kelapa.

Akan tetapi tiba-tiba saja segala yang berada dalam rumah dan warung itu terguncang-guncang kuat sekali. Meja bergoyang-goyang, semua yang berada di atasnya tumpah. Warsiyem terhuyung dan untung cepat dirangkul suaminya sehingga ia tak sampai terpelanting roboh. Akan tetapi empat orang laki-laki yang sedang makan itu terpelanting jatuh dari bangku yang mereka duduki.

“Lini..! Aya Lini...!” (Gempa...! Ada gempa...!”) teriak Harun.

“Lindu...! Lindu...!” (Gempa...! Gempa...!”) teriak yang lain.

“Cepat lari ke luar...!!” Mereka berempat berlompatan dan menghambur ke luar. Harun segera maklum bahwa terjadi gempa bumi yang amat kuat. Dia harus cepat membawa istrinya ke luar, akan tetapi terlambat karena pada saat itu, atap warung itu runtuh ke bawah, ke arah mereka!

Melihat dua tihang penyangga atap yang melintang runtuh dan akan menimpa mereka, Harun cepat menyambut dan mengangkap dua tihang itu, menahan dengan kedua tangannya. Tentu saja tihang itu berat bukan main karena dibebani atap. Namun dengan pengerahan sekuatnya Harun dapat menahan atap itu, sedangkan Warsiyem yang berada di bawahnya karena wanita itu berjongkok saking takutnya, dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, memandangnya dengan mata terbelalak.

Ketika empat orang laki-laki yang kini berada di luar rumah itu melihat betapa atap runtuh dan kini ditahan oleh kedua tangan Harun, mereka cepat berlari masuk untuk menolong. “Cepat, bawa isteriku keluar!” teriak Harun.

Mendengar ini, orang yang bernama Parto segera menangkap lengan Warsiyem dan menariknya keluar rumah. Tiga orang lainnya akan membantu tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. “Kalian keluarlah, cepat!” kata pula Harun kepada mereka.

Dengan bingung mereka hanya dapat menurut. Setelah tiga orang laki-laki itu keluar, Harun mengerahkan seluruh tenaganya dan mendorong dua tiang penyangga itu sehingga atap itu roboh ke samping warung. Suaranya terdengar hiruk pikuk dan pada saat itu, Harun dengan cekatan telah melompat keluar warung.

“Kang Uun, engkau tidak apa-apa...?!” Warsiyem berteriak sambil lari merangkul suaminya, lalu saking tegang dan khawatirnya ia menjadi lemas terkulai dalam pelukan Harun.

“Dik War...!” Harun memanggil khawatir, “Ah, ia pingsan...!”

“Cepat bawa ke rumahku!” kata Parto sedangkan tiga orang kawan lainnya sudah lari untuk melihat keadaan rumah dan keluarga mereka masing-masing. Karena rumah Parto berada di sebelah rumah hanya terpisah kebun masing-masing, Harun menurut saran tetangganya itu. Untung bahwa rumah Parto tidak roboh dan isteri dan dua orang anaknya hanya terkejut dan bertangis-tangisan. Mereka menyambut Parto, Harun dan Warsiyem yang dipondong Harun dengan muka pucat dan cepat mereka mempersilakan Harun membawa Warsiyem masuk dan merebahkannya ke atas sebuah dipan.

Harun segera melakukan usaha menyadarkan isterinya. Dengan totokan jari tangan ke arah jalan darah di kedua pundak dan tengkuk, lalu mengurut punggung dan menekan titik bawah hidung akhirnya Warsiyem mengeluh panjang menggerakkan kepalanya dan membuka matanya. Begitu siuman, suara pertama yang keluar dari mulutnya adalah, “Akang... kang Uun... engkau tidak apa-apa...?”

Harun yang duduk di tepi dipan merangkul isterinya. “Tidak, dik, aku selamat, kita semua selamat.” Warsiyem menangis saking lega dan girangnya. rumah mereka yang roboh, atas kerja gotong royong penduduk yang rumahnya tidak roboh dapat dibangun kembali, demikian pula rumah-rumah lain yang roboh akibat gempa bumi yang kuat itu.

Akan tetapi malam itu Warsiyem melahirkan. Mungkin terdorong kekagetannya karena terjadinya gempa bumi pagi tadi, atau memang sudah tiba waktunya ia melahirkan. dengan bantuan seorang dukun bayi yang berpengalaman di dusun Gampingan itu, Warsiyem melahirkan seorang bayi laki-laki dalam keadaan sehat selamat dan ia sendiripun dalam keadaan sehat. Malam itu, dalam rumah mereka yang sudah dibangun kembali, walaupun keadaan dalam rumah masih morat-marit akibat gempa, Warsiyem rebah di atas dipan mengeloni bayinya dan Harun duduk di tepi dipan sambil memandang kepada isteri dan anaknya dengan wajah berbahagia.

“Lihat, kang Uun... anak kita ganteng, ya? Mulut dan matanya mirip engkau.” kata Warsiyem lirih sambil tersenyum, senyum lembut yang masih membayangkan keletihan melahirkan tadi.

Harun tersenyum dan mengelus dahi isterinya, menyingkirkan segumpal rambut halus yang terurai ke wajah Warsiyem. “Tentu saja ganteng, dik, dan yang penting, semoga dia menjadi seorang manusia yang baik dan berguna, tidak seperti ayahnya.”

Warsiyem menjulurkan tangan dan menangkap tangan Harun sambil memandang wajah suaminya penuh sinar kasih sayang. “ihh, kang, engkau adalah seorang yang amat baik dan amat berjasa, setidaknya bagiku. Eh, akan kau beri nama apakah anak kita ini, kang Uun?’ Warsiyem cepat mengalihkan percakapan. Hatinya selalu merasa tidak enak kalau Harun sudah bicara tentang dirinya sendiri yang dianggap tidak baik dan tidak berguna karena merasa menjadi seorang buruan dan tidak dapat memberi kehidupan yang lebih berkecukupan kepada isterinya tercinta.

“Namanya?” Harun mengerutkan alisnya, berpikir karena dia memang belum mencarikan nama untuk anaknya. Dia teringat akan gempa bumi itu yang seolah memberi pertanda bahwa anak itu akan lahir. “Bagaimana kalau anak kita beri nama dia Lini atau Lindu? ingat pagi tadi. demikian perkasa dan hebat gempa bumi itu. Aku ingin anak kita kelak akan menjadi perkasa dan hebat pula.” Lindu adalah bahasa Jawa dari gempa bumi, Lini adalah bahasa Sundanya.

“Lindu...?” Warsiyem mengulang. Ia teringat akan kebiasaan di dusun asalnya, Bakulan, betapa orang-orang tua selalu memilihkan nama yang amat sederhana bahkan condong jelek kepada anaknya. Dan nama Lindu sebaliknya sama sekali tidak sederhana, dan tidak jelek pula. Akan tetapi bagaimana nanti panggilan anak itu? Betapa ganjil dan anehnya. Kalau ada anak-anak berseru memanggil namanya, mungkin saja akan mendatangkan kekacauan karena orang mengira bahwa ada serangan gempa bumi!

“Aku setuju saja dengan pilihanmu itu, kang Uun. akan tetapi aku ingin memanggil anak kita ini Aji, maka kalau engkau setuju aku ingin memberinya nama Lindu Aji agar sebutannya menjadi Aji.”

Harun mengangguk-angguk dan tersenyum. “Baiklah, anak kita ini bernama Lindu Aji. semoga dia kelak seperkasa gempa dan sekokoh bumi.”

Demikianlah, anak itu diberi nama Lindu Aji dan kehidupan mereka berjalan dengan lancer dan wajar. Harun dan Warsiyem membenahi warung mereka kembali dan Harun bekerja lagi seperti biasa. Harun adalah seorang yang amat memperhatikan pendidikan bagi puteranya. Dia maklum dari pengalaman hidupnya sendiri betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi seseorang untuk bekal hidup di dalam dunia ini.

Orang bodoh menjadi makanan orang pintar, dan orang lemah menjadi korban penindasan orang kuat. Oleh karena itu, sejak Lindu Aji berusia tujuh tahun, dia menggembleng anaknya itu dengan olah raga terutama ilmu silat dan diapun mengundang seorang penduduk dusun Gampingan yang pandai membaca dan menulis agar mengajar anaknya membaca dan menulis. Akan tetapi agaknya telah ditakdirkan bahwa dia dan istrinya hanya mempunyai seorang anak, karena biarpun Lindu Aji telah menjadi besar, Warsiyem tidak lagi mengandung.

Pada suatu senja, warung Warsiyem sudah tutup dan Harun juga sudah pulang dari ladang. Seperti biasa pada tiap hari senja kalau tidak turun hujan, Harun selalu melatih ilmu silat kepada Aji. Sudah tiga tahun dia melatih silat kepada anaknya sejak Aji berusia tujuh tahun. Pada senja hari itu, Aji yang sudah berusia sepuluh tahun dilatih jurus baru oleh ayahnya.

“Aji, jurus ini adalah untuk menghadapi serangan lawan dari samping kiri, serangan yang tiba-tiba datangnya. Kalau pukulan itu datang mengarah ke mukamu, engkau lalu mencondongkan tubuh ke kanan menjauhi pukulan, gerakan tangan kiri memutar untuk menangkis dan pada detik berikutnya, pukulan tangan kananmu dengan jari terbuka ke arah lawan dan saat berikutnya angkat kaki kirimu, bengkokkan ke kiri lalu susulkan tendangan ke arah perut lawan. Begini gerakannya. Perhatikan dan tirulah!”

Harun lalu melakukan gerakan jurus itu. Aji mengikuti gerakan ayahnya dengan seksama karena sudah menerima gemblengan dasar selama tiga tahun, gerakan anak itu sudah cukup tangkas dan ketika tangan kanannya memukul, sudah terdengar angin bersiut tanda bahwa pukulannya itu mengandung tenaga.

“Kaki kirimu itu, salah!” kata Harun yang menoleh untuk meneliti gerakan anaknya. “Ujung kaki kiri harus dibenkokkan ke kanan sehingga dengan demikian tendanganmu akan mengandung tenaga yang lebih kuat karena mendapat ancang-ancang.”

Aji menyadari kesalahannya lalu mengulang jurus itu. Sekali ini dengan gerakan yang benar. Harun menyuruh anaknya mengulang dan mengulang lagi jurus itu sampai hafal benar sehingga gerakannya sudah menyatu dan menjadi otomatis. Demikianlah, setiap senja Harun mengjarkan semua ilmu silat yang dikuasainya kepada Aji. Kalau hari hujan mereka berlatih di dalam rumah. Kalau malam Aji disuruh belajar membaca dan menulis dari Bapak Sastro, seorang penduduk Gampingan yang terpelajar dan diwaktu mudanya tinggal di Mataram.

Dalam usianya yang sepulu tahun itu Aji sudah pandai membaca dan menulis. Bahkan Pak Sastro mulai mengajarkan kesusasteraan kepadanya, mengajari tatakrama, bertembang, bahkan menabuh gambang, meniup suling dan menari! Semua itu tanpa imbalan karena Pak Sastro sendiri suka mengajar Aji yang ternyata cerdik dan mudah menguasai pelajarannya. Di samping itu, Pak Sastro merasa berhutang budi kepada Harun yang pernah mengobati dan menyembuhkan dia dari penderitaan penyakit yang berat dan gawat.

Pada masa itu, Agama Islam belum begitu diresapi secara mendalam sampai ke pelosok dan daerah yang terpencil. Umatnya yang benar-benar mendalami Agama Islam sebagian besar adalah mereka yang berdiam di pantai utara Nusa Jawa. Bahkan yang sempat mencapai daerah pedalaman di selatan, diterima setengah-setengah sehingga bercampur dengan tradisi yang berasal dari agama terdahulu, yaitu Agama Buddha yang juga sudah bercampur dengan tradisi berasal dari Agama Hindu.

Dari perpaduan agama-agama inilah muncul semacam filsafat Kejawen yang disesuaikan dengan tradisi dan kebudayaan. Aji dibesarkan dalam keadaan alam pikiran dan kebudayaan ini. Pak Sastro adalah seorang ahli filsafat Kejawen yang banyak mengandung pelajaran Agama Islam. Dia tidak sempat mendalami pelajaran Agama Islam maka tidak dapat dikatakan ahli dalam agama itu. Semua pengetahuan filsafatnya itu dia ajarkan pula kepada Aji. Semua ini ditambah lagi oleh filsafat yang diajarkan ayahnya sendiri.

Harun adalah seorang yang dahulu ketika masih hidup dinegerinya pernah mempelajari Agama Islam yang juga sudah bergaul dengan filsafat Agama Hindu dan agama Buddha. Dalam keadaan yang demikian itu, Aji berangkat dewasa didasari pelajaran filsafat kehidupan yang bersumber dari berbagai agama. Namun, atas bimbingan ayahnya sendiri, dia dapat menerima pelajaran agama itu karena kebijaksanaan yang ditekankan ayahnya untuk mencari inti dari semua filsafat yang pada dasarnya serupa.

Inti dari semua agama dan filsafat adalah agar menjadi seorang manusia yang baik budi, membangun, bermanfaat bagi manusia dan alam sekitarnya, berbakti kepada Sang Maha Pencipta dengan memupuk perbuatan yang baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat yang merugikan orang lain dan berserah diri kepadaNya.

Aji digembleng untuk memiliki watak yang baik. Dia mencari persamaan dalam semua agama itu dan mengabaikan perbedaannya karena maklum benar bahwa yang berbeda itu hanyalah soal kulitnya saja, upacara, sejarah dan cara beribadat. Intinya menuju ke arah Satu. hanya caranya menuju ke arah Satu itu yang berbeda.

********************

Sang waktu adalah suatu kekuasaan yang tak terkalahkan oleh siapapun juga. Sang waktu adalah Sang Bathara Kala yang melahap semua yang ada. waktu adalah satu di antara Kekuasaan Yang Maha Kuasa yang tak terhitung banyaknya. Tampaknya Sang waktu hanya diam, tidak melakukan apa-apa, namun kenyataannya, segala sesuatu dilahapnya, segala sesuatu akan lenyap digulung waktu.

Waktu juga dapat menjadi obat yang amat manjur bagi segala macam penderitaan batin. tidak ada kesusahan yang tidak lenyap pula bersama lewatnya waktu. Waktu amat ajaib. Apabila kita memperhatikan, maka Sang Waktu merayap lebih lambat daripada majunya seekor siput. Namun apabila kita lengah dan tidak memperhatikannya, dia akan melaju lebih cepat daripada kilat! Kalau tidak diperhatikan, waktu bertahun-tahun rasanya seperti baru kemarin saja, sebaliknya kalau kita memperhatikan, waktu sehari rasanya seperti bertahun-tahun.


Demikian pula dengan kehidupan keluarga Harun Hambali. Sang Waktu melesat sedemikian cepatnya sehingga tahu-tahu lima belas tahun telah lewat sejak Lindu Aji dilahirkan! Padahal kalau Harun dan Warsiyem mengenang kelahiran anak tunggal mereka itu, rasanya seperti baru terjadi kemarin! Lindu Aji kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun.

Tubuhnya tinggi tegap, kaki dan tangannya kokoh terlatih dan terbiasa dengan pekerjaan berat. Dadanya bidang dan menyembunyikan tenaga yang dahsyat. Wajahnya tampan, dengan dahi lebar, alis hitam tebal, sepasang matanya membayangkan kesabaran dan kelembutan, namun terkadang pandang mata itu mencorong dan bersinar penuh kekuatan dan wibawa. Hidungnya mancung dan mulut yang kecil serta dagunya membuat wajahnya tampak manis. Dia selalu berpakaian sederhana, dengan celana komprang sebatas betis dan baju dengan potongan bersahaja, bagian dadanya setengah terbuka.

Dalam usianya yang lima belas tahun, setelah digembleng selama kurang lebih sepuluh tahun, pemuda itu telah dapat menguasai semua ilmu silat yang diajarkan ayahnya. Namun sikapnya yang bersahaja yang rendah hati itu sama sekali tidak membayangkan bahwa dia adalah seorang ahli silat yang tangguh. Lebih mirip seorang pemuda tani yang polos dan jujur.

cerita silat online karya kho ping hoo

Padahal, dia pandai membaca, menulis seperti seorang pemuda bangsawan terpelajar, dan dia pandai menabuh gambang, meniup suling, bertembang bahkan menari seperti seorang seniman yang berbakat dan ahli! diapun tekun sekali membantu ayahnya di sawah ladang atau menangkap ikan di antara gelombang air Laut Kidul yang bermain-main dipantai.

Karena seringnya dia menangkap ikan menggunakan jala di lautan ini, Lindu Aji kini pandai pula berenang dan bermain-main di air. Harun Hambali merasa berbahagia sekali dalam hidupnya. Selama lebih dari enam belas tahun dia hidup berbahagia bersama isterinya di dusin Gampingan. Apa lagi setelah Aji terlahir. Kebahagiaannya terasa lengkap. Dia sudah terbebas sama sekali dari perasaan menjadi orang buruan.

Setelah lewat sedemikian lamanya dia yakin bahwa para pemburunya tentu sudah kembali ke Galuh dan dia tidak menjadi pelarian lagi. Dia dan anak isterinya hidup tidak kekurangan di dusun itu, tenang tenteram penuh damai dan seluruh penghuni dusun Gampingan yang hanya terdiri dari sekitar seratus keluarga akrab dengan keluarganya. Semua penghuni dusun Gampingan itu seakan-akan menjadi keluarga besar, hidup rukun dan bergotong royong.

Kebahagiaan pasti terasa setelah orang tidak membutuhkan atau tidak mengejar apa-apa. Merasa cukup dengan apa yang ada, selalu bersyukur kepada yang Maha Kasih atas segala yang diperolehnya meniadakan keinginan untuk mendapatkan apapun yang tidak dimilikinya. Pengejaran terhadap sesuatu yang tidak dimilikinya inilah, apa lagi yang tidak akan terjangkau olehnya, akan meniadakan kebahagiaan. pengejaran terhadap sesuatu itu tentu didasari anggapan bahwa yang dikejar itu adalah lebih baik dan akan lebih menyenangkan daripada apa yang telah dimilikinya.

Keinginan mendapatkan sesuatu yang belum kita miliki ini menghancurkan nilai dari apa yang telah kita miliki. Padahal, pengejaran ini hanya mendatangkan dua macam akibat. Kalau tidak bisa didapatkan, akan menimbulkan kecewa, marah dan duka. sebaliknya kalau bisa didapatkan, akhirnya akan menimbulkan kebosanan! Karena pengejaran terhadap sesuatu itu tiada lain adalah pengejaran terhadap kesenangan, dan kesenangan dunia ini pasti berakhir dengan kebosanan.

Inilah ulah nafsu setan. Setan selalu menyeret kita untuk mengejar kesenangan demi kesenangan sehingga kita manusia yang lemah ini terkecoh, terpikat dan lupa bahwa di dalam kesenangan yang dipamerkan setan dengan segala daya tariknya itu pada hakekatnya mengandung racun yang teramat berbahaya, yang akan dapat menyeret kita ke dalam kesesatan dan kedosaan. Demi untuk mencapai kesenangan, kita sering tidak memperdulikan lagi dengan cara apa kita mencapainya. Dengan cara apapun, halal atau haram, asal kita dapat mencapai kesenangan yang kita kejar-kejar itu.

Harun Hambali dan anak isterinya merasa menjadi orang yang berkecukupan. Hal ini karena mereka tidak pernah menginginkan sesuatu yang berada di luar jangkauan mereka. Seperti Harun itulah yang patut disebut sebenar-benarnya orang kaya. Dia tidak pernah merasa kekurangan dan merasa kecukupan. Orang yang berkecukupan berarti orang kaya! Sebaliknya, orang yang selalu masih merasa tidak cukup, merasa kekurangan, biarpun dia memiliki segudang emas, dia adalah orang miskin, orang kekurangan!

Jadi jelaslah bahwa kaya atau miskin itu tidak dapat diukur dari isi kantongnya, melainkan dilihat keadaan isi hatinya! Kekayaan materi manusia tidak mungkin dapat diukur. Tidak ada seorangpun dapat mengatakan dengan pasti berapakah ukuran banyaknya harta bagi seorang yang dapat disebut kaya? Kalau memakai angka, berapakah nolnya? Tidak ada yang kaya mutlak semua relatif adanya.

Sepeti banyak dan sedikit. Berapakah banyak itu? Berapakah sedikit itu? Yang kurang tentu menganggap yang lebih itu banyak, sebaliknya yang lebih tentu menganggap yang kurang itu sedikit. Yang Maha Kaya dan Maha Banyak hanyalah Hyang Maha Wisesa Hyang Maha Tunggal karena segala sesuatu di jagad raya ini sesungguhnya adalah milikNya. tidak terhingga, demikianlah kalau dibuat perhitungan.

Namun, tidak ada yang langgeng (abadi) di dunia ini. kehidupan manusia tidak mungkin dapat terlepas dari pengaruh dua unsur yang berlawanan. sudah demikianlah kenyataannya dan karena kemampuan pikiran manusia tidak akan mampu menagkap rahasia besar ini, maka kita hanya dapat mengatakan bahwa memang sudah demikianlah rupanya kehendak tuhan. Segala sesuatu di dunia ini pasti ada imbangannya atau lawannya. Justeru adanya lawan itulah yang membuat sesuatu itu ada.

Tidak akan ada siang kalau tidak ada malam, tidak akan ada yang disebut terang kalau tidak ada gelap. Yang satu menentang yang lain, akan tetapi justeru yang satu mendukung adanya yang lain. Saling bertentangan namun juga saling mendukung justeru unsur dua yang saling bertentangan inilah yang menjadikan sesuatu. Tuhan yang Maha Kuasa menciptakan segala sesuatu melalui bersatunya dua unsur yang saling bertentangan ini bahkan diri manusia inipun terdiri dari kedua unsur yang saling bertentangan ini, yaitu baik dan buruk.

Roh baik dan roh buruk saling berebut menguasai diri manusia dan kita tidak mungkin sepenuhnya dikuasai oleh yang baik atau yang buruk saja. Kalau kita ini baik sepenuhnya, maka kita bukan manusia lagi, melainkan mungkin disebut malaikat. Sebaliknya kalau kita ini sepenuhnya buruk, kita bukan manusia lagi, melainkan setan! Susah senang silih berganti mengisi kehidupan manusia.


Demikian pula terjadi dalam kehidupan Harun sekeluarga. Setelah bertahun-tahun hidup tenteram di dusun Gampingan, pada suatu hari terjadi hal itu, yang akan mendatangkan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Pada suatu senja, seperti biasa Harun melihat Aji berlatih silat di pekarangan depan pemuda itu sudah mempelajari ilmu silat dengan menggunakan sebatang tongkat. Gerakannya gesit dan tangkas. Sambaran tongkatnya kuat skali sehingga setiap pukulan membuat ujung tongkat kayu itu bergetar dan mengeluarkan bunyi menggetar.

Harun menonton dengan penuh perhatian dan diam-diam dia merasa bangga sekali. Anaknya ini memiliki bakat besar, lebih besar daripada dirinya. Dia menyesal mengapa dia tidak dapat memberi pelajaran yang lebih tinggi kepada Aji. Semua ilmu silat yang dikuasainya telah dia turunkan kepada puteranya itu.

Tiba-tiba terdengar bunyi “tok-tok-tok!” dan tampaklah seorang laki-laki memikul dua buah keranjang terisi bermacam barang kelontong berjalan di jalan depan rumah Harun, Dia adalah seorang laki-laki pedagang kelontong keliling. Selama ini belum pernah ada pedagang keliling yang sampai ke dusun Gampingan, maka munculnya orang itu menarik perhatian orang, terutama kanak-kanak yang banyak mengikutinya.

Melihat Aji bersilat tongkat, pedagang keliling yang usianya sekitar lima puluh tahun itu berhenti dan menonton dengan kagum dan heran. Kemudian pandang matanya bertemu dengan Harun yang juga memandang kepadanya. Harun bangkit dari tempat duduknya sedangkan Aji menghentikan latihannya dan dia memandang kepada laki-laki itu.

Harun melihat laki-laki itu dengan mata terbelalak. Seorang laki-laki yang usianya sebaya dengannya, kurang lebih lima puluh tahun, memakai baju tanpa leher dan celana komprang, kakinya memakai sandal dari kulit, rambutnya yang panjang diikat ke atas dengan kain sutera biru. Dia menurunkan pikulan sepasang keranjang dan memandang kepada Harun dengan bengong dan ragu.

Tiba-tiba Harun berseru, “Ujang...! Ujang Karim...! Engkau, engkau Ujang Karim, bukan?”

Harun lari menghampiri orang yang masih berdiri bengong di tepi jalan depan pekarangan rumahnya itu. Laki-laki itu memandangi Harun dengan penuh perhatian dan ragu. Rasanya dia mengenal betul laki-laki berusia hampir lima puluh tahun yang bertubuh jangkung, rambutnya sudah dipotong pendek seperti penduduk biasa, demikian pula pakaiannya. Akan tetapi wajah itu. Dia mengenal benar!

“Harun Hambali...engkaukah ini? Ya Tuhan, engkau benar Harun sahabatku itu?” Mereka tertawa dan berpelukan. “Ujang, mari kita ke dalam dan bicara. Engkau harus menceritakan segalanya kepadaku!” seru Harun dan dia membantu orang itu membawa barang dagangannya memasuki pekarangan dan rumah.

Aji dengan ramah menyuruh anak anak yang tadi mengikuti tukang kelontong itu bubaran dan diapun ikut memasuki rumah. Ibunya yang sudah menutup warungnya sedang sibuk mempersiapkan makan malam untuk mereka di dapur. Aji adalah seorang pemuda yang sejak kecil telah diajar sopan santun dan tatakrama. Maka, melihat ayahnya bercakap-cakap dengan asyiknya dengan tamunya itu dalam bahasa Sunda yang hanya dimengertinya sepotong-sepotong, diapun tidak berani mendekat dan membiarkan mereka bicara berdua saja di ruangan depan. Dia sendiri lalu masuk ke dalam, terus ke dapur menemui ibunya.

“aji, engkau sudah selesai latihan? Hayo cepat mandi dan sebentar lagi kita makan malam.”

“Baiklah, ibu.” Akan tetapi dia tidak beranjak dari tempatnya. “Ehh? kenapa tidak segera mandi?” tegur ibunya. “Ibu, di luar ayah bertemu dengan seorang asing yang berjualan kelontong keliling. Agaknya mereka telah bersahabat dan kalau aku tidak salah duga, dia tentu seorang yang datang dari Pasundan.”

“Ehhh...? Sekarang dia berada di mana?”

“Ayah mengajaknya masuk dan sekarang mereka berdua bercakap-cakap dalam ruangan depan. Mereka berbicara dalam bahasa Sunda, ibu.”

“Ah, aku girang ayahmu bertemu dengan seorang sahabat sesuku. Kasihan ayahmu di sini menjadi seorang yang terasing,” kata Warsiyem dengan wajah gembira. “Tentu dia girang sekali dapat bertemu dengan seorang yang datang dari kampung halamannya. Jangan ganggu mereka bercakap-cakap, aji, dan biarkan aku membuatkan minuman untuk tamu dan ayahmu, nanti engkau yang membawakan keluar dan menyuguhkannya"

Aji mengangguk senang. Ibunya adalah seorang wanita yang baginya terbaik di dunia. Wataknya lembut, ramah, dan bijaksana juga amat mencinta ayahnya.