Alap Alap Laut Kidul Jilid 01

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Alap Alap Laut Kidul

Jilid 01
PAGI yang cerah, sinar matahari pagi dengan hangatnya menyelimuti bumi. Perlahan-lahan, bagaikan enggan berpisah dari bumi yang didekapnya semalam, embun mengapung meninggalkan bumi membubung lembut seolah tersedot sinar matahari pagi. Masih ada sisa burung yang berceloteh di antara daun-daun pohon, berkicau riang kemudian terbang menyusul kawan kawan mereka yang sejak pagi telah meninggalkan sarang mencari makan penyambung hidup.

Terdengar kerbau menguak, suaranya penuh kesabaran. Di kejauhan tampak dua ekor kerbau gemuk digiring seorang bocah berusia sepuluh tahun bercelana pendek hitam tanpa baju, berjalan di belakang dua ekor kerbau. Mereka serasi sekali. Angin bersilir lembut, namun cukup kuat untuk menggugurkan daun-daun pohon trembesi. Daun-daun kecil itu berguguran seperti segumpal kanak-kanak bersendau gurau berlari-larian.

Suara gemericik air anak sungai bercanda dengan batu-batu berdendang tiada henti-hentinya seperti dewi kahyangan sedang bertembang. Nun di sana, sawah ladang terbentang luas berwarna kehijauan dengan bercak-bercak kuning menjanjikan hasil cucuran keringat jerih payah para petani. Maha agunglah Sang Maha Pencipta!

Matahari, embun, daun berguguran, riak air, padi di sawah yang berombak, semua itu seolah-olah merupakan puja-puji dan sembah sujud kepada Yang Maha Pengasih, Pencipta semua keindahan itu. Anak sungai itu mengalirkan air yang jernih dan tidak dalam. Demikianlah jernihnya sehingga batu-batuan dan pasir pada dasrnya tampak. Ikan-ikan kecil yang warna kulitnya sama dengan air berenang menggerak-gerakkan ekor dalam upaya mereka untuk menahan arus.

Bagian yang paling dalam dari anak sungai itu, di tengah, hanya sebatas pinggang orang dewasa. Seorang gadis muda menuruni lereng yang menuju ke anak sungai itu. Gadis itu berjalan dengan langkah lembut namun pasti. Kedua kakinya yang telanjang itum sudah terbiasa dengan jalan setapak menuju anak sungai itu. Setiap pagi ia menyusuri jalan itu, bahkan terkadang pada sore harinya juga.

Langkahnya pendek-pendek dan pasti, agak berjingkat untuk menghindarkan injakan di atas batu runcing atau duri. Ia menjinjing sebuah keranjang bamboo berisi beberapa potong pakaian kotor. Gadis itu adalah seorang gadis dusun yang sederhana sekali, akan tetapi kesederhanaannya itu bahkan menonjolkan keindahan yang wajar, kemanisan yang mempunyai daya tarik yang kuat.

Badannya yang hanya tertutup sehelai tapih pinjung (kain sebatas dada) memperlihatkan kulit yang hitam manis halus lembut dan dengan lekuk lengkung tubuh yang sedang tumbuhm dewasa bagaikan buah yang ranum. Rambutnya yang hitam panjang itu digelung agak ke atas. Sepasang buah dada yang ranum menyembul di balik tapih pinjung seolah menantang. Bagian tubuh yang tidak tertutup kain, leher,dada bagian atas dan kedua lengan, juga kaki dari lutut ke bawah, tampak bersih dan mulus, tanpa hiasan sepotongpun.

Beberapa helai sinom (anak rambut) terurai di atas dahinya yang rata dan halus. Setelah tiba di tepi anak sungai, gadis itu berjongkok di atas batu-batuan terdekat dengan air yang jernih. Ia hendak mencuci kain kotor yang dibawanya lebih dulu sebelum mandi pagi. Dengan gerakan jari tangan yang cekatan dan lincah mulailah ia mencuci pakaian, menggunakan biji lerak yang mengeluarkan buih untuk membersihkan pakaian itu.

Suasana yang sunyi, bunyi air gemericik mengiringi kicau burung, ditimpa matahari pagi yang hangat mengimbangi semilirnya air pegunungan yang sejuk, mendatangkan rasa bahagia di hati dara itu. Mulailah ia bersenandung, rengeng-rengeng (bernyanyi tanpa kata) dalam tembang Sinom. Sama sekali ia tidak pernah mengira bahwa pada saat itu ada seorang laki-laki yang mengintai dari balik rumpun bamboo yang tumbuh di belakangnya, dalam jarak kurang lebih tujuh meter.

Laki-laki itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan penampilannya sungguh menyeramkan. Dia bertubuh tinggi besar, perutnya gendut dan tubuh itu membayangkan kekuatan otot yang dahsyat. Baju hitamnya terbuka sehingga tampak dadanya yang kokoh. Sebatang golok terselip di sabuk celananya yang hitam pula. Sepasang matanya besar melotot, sepasang alisnya tebal hitam dan mukanya tertutup brewok pendek.

Kepalanya memakai ikat kepala hitam pula. Sepasang laki-laki itu memandang kepada gadis itu bagaikan seekor serigala kelaparan memandang seekor kelinci muda yang gemuk. Mulutnya yang agak terbuka itu seolah penuh dengan air liur. Tangan kirinya berpegang kepada sebatang pohon bamboo dan tangan kanannya membentuk cakar seperti hendak segera menerkam dan mencengkeram tubuh yang bahenol itu!

Siapakah dara hitam manis, perawan dusun yang usianya baru sekitar tujuh belas tahun itu? Ia adalah seorang gadis yang tinggal di dusun Bakulan di jajaran Pegunungan Kidul tak jauh dari anak sungai itu. Namanya sederhana sekali seperti penampilannya. Pada jaman itu orang-orang tua condong untuk memberi nama sesederhana mungkin kepada anak-anak mereka, dengan maksud agar si anak tidak berat untuk menyangganya dan agar para setan dan demit tidak tertarik untuk menggoda anak yang namanya sederhana bahkan jelek itu.

Nama gadis itu adalah Warsiyem. Warsiyem hidup berdua dengan ayahnya. Ibunya sudah meninggal dunia ketika ia baru berusia sepuluh tahun dan sejak saat itu ayahnya hidup menduda. Ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan biarpun hidup mereka berdua sederhana dan tidak berlebihan, namun tidak sampai kelaparan. Kedua ayah dan anak ini tidak mempunyai keluarga lain di dusun Bakulan.

Mencuci pakaian dan mandi di anak sungai itu merupakan sebagian dari pekerjaan Warsiyem sehari-hari di samping mengurus pekerjaan rumah seperti masak, membersihkan rumah, dan sebagainya sedangkan pak Sutowiryo, ayahnya setiap hari bekerja di sawah ladang. Warsiyem sudah selesai mencuci pakaiannya. Ia meletakkan semua pakaian yang telah dicucinya ke dalam keranjang, kemudian iapun turun dari atas batu dan masuk ke dalam air anak sungai yang jernih dan yang dalamnya hanya sebatas pinggangnya itu.

Ia mandi tanpa menanggalkan tapih pinjungnya karena kadang-kadang di tempat itu datang orang-orang lain. Untuk pengganti kainnya ia sudah membawa kain bersih dari rumah yang setelah habis mandi nanti dan berganti kain, baru ia akan mencuci kain yang dipakainya mandi itu. Sambil masih rengeng-rengeng (bersenandung) Warsiyem mulai membersihkan kulit tubuhnya dengan menggosok-gosoknya dengan sebuah batu halus.

Rambutnya dibiarkan tersanggul agar tidak sampai menjadi basah karena baru kemarin ia berkeramas. Tiba-tiba ia terkejut sekali mendengar suara di belakangnya. Cepat ia membalikkan tubuhnya dan begitu melihat seorang laki-laki brewok tinggi besar telah berdiri diatas batu dan memandangnya dengan mata melotot seperti harimau kelaparan, otomatis Warsiyem lalu mendekap dadanya dengan kedua tangannya dan menahan jeritnya.

Ia merasa terkejut sekali karena ia tidak mengenal laki-laki itu. Andaikata laki-laki itu seorang penduduk dusunnya, tentu ia tidak akan sekaget itu. Akan tetapi laki-laki itu adalah seorang asing yang menyeringai kepadanya dengan sikap kurang ajar. "eh-heh-heh, manis, denok sayang, teruskan mandimu, aku senang melihatmu mandi. Akan tetapi kenapa kain itu tidak kau tanggalkan saja?" kata laki-laki itu dengan sikap ceriwis.

Dari sikap, pandang mata dan kata-kata orang itu, sadarlah Warsiyem bahwa ia berhadapan dengan seorang laki-laki jahat yang kurang ajar. Maka tanpamenjawab ia lalu berusaha naik ke tepi sungai dan hendak meraih keranjang pakaiannya. Akan tetapi laki-laki itu memegang keranjang pakaian itu sehingg Warsiyem tidak dapat menarik dan merebutnya. "epaskan keranjangku dan biarkan aku pergi," kata Warsiyem.

Akan tetapi laki-laki itu tidak melepaskan keranjangnya dan tertawa bergelak sambil memelintir kumisnya dengan tangan kiri. "Ha-ha-ha! Perawan manis, siapa namamu? Jangan taku kepadaku. Singowiro adalah seorang laki-laki yang bersikap mesra dan lembut kepada perawan manis seperti engkau, ha-ha-ha!"

Melihat sikap laki-laki itu menyebutkan namanya Singowiro itu, Warsiyem menjadi makin ketakutan. Ia melepaskan keranjang pakaiannya dan cepat bangkit berdiri lalu melarikan diri meninggalkan tepi sungai itu.

"ha-ha-ha-heh-heh! Jangan lari, manis. Mari kupondong, kugendong engkau, heh-heh!" Singowiro lalu mengejar dengan langkah-langkah lebar.

Saking takut dan gugupnya, beberapa kali Warsiyem jatuh bangun dan sambil membetulkan tapih pinjungnya yang hampir terlepas ia berlari lagi. Hatinya merasa ngeri sekali mendengar langkah-langkah kaki yang berat dan berada di belakangnya! "tolong... tolong... bapak, tolong...!!" Warsiyem menjerit-jerit.

"heh-heh-heh, percuma engkau menjerit, manis. Berhentilah dan biarkan aku memondongmu."

Pada saat itu Warsiyem sudah berhasil lari ke luar dari tepi sungai dan kini kakinya yang telanjang dan sudah terbiasa berjalan di tanah pegunungan yang kasar itu, berlari sambil mengangkat kainnya sampai ke paha sehingga pahanya yang berkulit mulus itu tampak, membuat pengejarnya menjadi semakin bergairah. Warsiyem adalah seorang gadis muda terbiasa bekerja berat sehingga ia memiliki tubuh yang sehat dan kuat.

Karena ketakutan, larinya kencang seperti seekor rusa muda sehingga agak payah si brewok yang berperut gendut itu mengejarnya. Akan tetapi karena langkah pengejar itu lebih panjang, maka biarpun napasnya ngos-ngosan Singowiryo hampir dapat menusul Warsiyem. Setelah tiba di luar dusun Bakulan, tiba-tiba muncul laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Laki-laki ini berpakaian seperti petani biasa, bajunya terbuka lebar memperlihatkan tubuh yang cukup berotot karena terbiasa bekerja keras di ladang. Dia berkumis sedang dan sikapnya tenang. Akan tetapi begitu melihat Warsiyem dikejar-kejar seorang laki-laki, orang itu membelalakkan matanya dan cepat meloncat ke depan menyambut Warsiyem yang berlari-larian.

Sedangkan gadis itu ketika melihat dia, lalu menghampirinya dan menubruknya sambil menangis. "Bapak...! aku... aku dikejar-kejar orang itu...!" serunya sambil merangkul bapaknya.

Laki-laki itu adalah Pak Sutowiryo, ayah Warsiyem. Mendengar ucapan anaknya, Pak sutowiryo lalu melepaskan rangkulannya. "engkau minggirlah, Yem," katanya dan dia menghadapi Singowiro yang juga sudah berhenti berlari dan memandang kepada Sutiwiryo dengan mata dilebarkan.

"Kisanak," kata Sutowiryo, menahan kesabarannya melihat seorang laki-laki asing yang bukan warga dusunnya. 鈥淪iapakah andika dan mengapa pula andika mengejar-ngejar anakku ini?"

"Hem, andika ayah perawan itu? Kebetulan sekali, aku bernama Singowiro gegedug (jagoan) Gunung Kidul. Kebetulan sekali sudah setahun aku menduda dan melihat anakmu, aku... heh-heh-heh, aku jatuh cinta! Karena itu aku minta kepadamu agar engkau mengijinkan aku memperisteri anakmu ini. Ia akan hidup mulia dan terhormat sebagai isteriku."

Ki Sutowiryo mengerutkan alisnya, "kisanak, tidak ada caranya orang baik-baik melamar anak orang di tengah jalan! Pula, andika sudah terlalu tua untuk menjadi suami anakku. Aku akan menjodohkan anakku dengan seorang pemuda dusun kami sendiri yang sepadan dengannya."

"Apa? Andika berani menolak pinanganku yang kuajukan secara baik-baik?" bentak Singowiro galak.

"Terpaksa aku menolaknya, ki sanak. Maafkan kami dan anggap saja bahwa anakku bukanlah jodohmu," jawab Ki Sutowiryo dengan sikap masih tenang.

"Bbo-babo, si keparat busuk. Berani andika menolak dan menentang Ki Singowiro jagoan Gunung Kidul? Apa engkau sudah bosan hidup?" Setelah berkata demikian dia mencabut goloknya yang tajam mengkilap. "kalau begitu, andika akan mampus di tanganku dan anakmu itu tetap saja akan menjadi isteriku!"

Tiba-tiba Singowiro menusukkan goloknya yang besar dan tajam itu ke arah dada Sutowiryo. Ki Sutowiryo adalah seorang petani biasa yang tidak pernah mempelajari ilmu pencak silat. Akan tetapi sebagai seorang ayah yang hendak melindungi kehormatan anak tunggalnya, tentu saja dia menjadi marah dan mencoba untuk melawan mati-matian.

Dia masih sempat mengelak dengan loncatan ke belakang sehingga tusukan mengarah dadanya itu luput. Dia lalu meraih dengan kedua tangannya, berusaha untuk menangkap lengan Singowiro yang memegang golok. Laki-laki ini sudah nekad sekali, karena dia sudah mengambil keputusan untuk mempertahankan kehormatan anaknya dengan taruhan nyawa.

Karena serangannya yang nekad, akhirnya dia berhasil menangkap lengan kanan Singowiro. Akan tetapi jagoan itu menendang perutnya sehingga Ki Sutowiryo tejengkang. Ketika Ki Sutowiryo melompat bangun lagi Singowiro membacok dengan goloknya. "Suuuttt... crattt!!!" Ujung golok itu mengenai batang leher Ki Sutowiryo. Dia berteriak dan darah muncrat. Golok itu menyambar lagi dan Ki Sutowiryo roboh mandi darah.

Warsiyem terbelalak dan menjerit. "bapak... bapaaaakkk...!" Warsiyem lari menubruk tubuh ayahnya yang sudah tidak bergerak lagi, rebah dalam genangan darahnya. Tanpa memperdulikan lengannya berlepotan darah Warsiyem memeluk tubuh ayahnya dan menangis mengguguk, memanggil-manggil bapaknya.

Ki Singowiro menyeringai dan menyarungkan kembali goloknya yang berlepotan darah. "sudahlah, nini perawan denok ayu, tidak perlu menangis lagi. Mari ikut denganku dan hidup bahagia sebagai istriku."

"Tdak, tidak sudi aku. Engkau pembunuh, penjahat keparat!" Warsiyem memaki-maki sambil menangis.

Akan tetapi pria itu sambil tertawa sudah menubruk dan mencengkeramnya lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas dan memanggulnya. Dara itu menelungkup di atas pundak kanannya, kepala di belakang dan kedua kaki di depan, pinggul dan pinggangnya dirangkul kedua lengan Ki Singowiro yang kokoh kuat. Biarpun dia menjerit-jerit, meronta-ronta sambil menangis, namun sama sekali ia tidak dapat terlepas dari, pondongan Ki Singowiro.

cerita silat online karya kho ping hoo

Sambil menyeringai senang Ki Singowiro melarikan Warsiyem yang dipondongnya itu lari dengan langkah lebar meninggalkan tempat itu, menjauhi dusun Bakulan. Warsiyem terus meronta sekuat tenaga sambil menangis, menjerit-jerit memanggil ayahnya. Ia bukan menangisi keadaan dirinya.

Pada saat itu ia seolah tidak ingat lagi keadaan dirinya yang terancam bahaya di tangan laki-laki yang hati dan akal pikirannya sedang dipengaruhi iblis itu. Yang tampak di depan matanya hanya bayangan ayahnya yang menggeletak bermandikan darahnya sendiri, ayahnya yang tewas dalam keadaan yang mengerikan. Ia berteriak-teriak, menjerit menagisi kematian ayahnya.

Warsiyem adalah seorang gadis yang sehat dan karena bergerak dan bekerja setiap hari, ia memiliki daya tahan dan kekuatan yang lumayan. Tiada hentinya ia meronta, menendang-nendang dengan kedua kakinya, memukul, mencakar punggung laki-laki itu dengan kedua tangannya. Rontaan yang kuat dan tiada hentinya ini tentu saja amat melelahkan Ki Singowiro yang membawanya lari.

Setelah lari hampir satu jam lamanya, Ki Singowiro sudah bermandikan keringat, napasnya terengah-engah dan kedua tangan dan kakinya terasa lelah sekali. Akhirnya, di luar sebuah hutan yang sunyi, dia terpaksa menurunkan Warsiyem untuk beristirahat. Akan tetapi begitu diturunkan dari pondongan, Warsiyem lalu melarikan diri, hendak kembali ke tempat dia dilarikan.

"Heii...! Ke mana engkau? Jangan lari! Berhenti!" Ki Singowiro mengejar gadis yang melarikan diri itu. Biarpun tubuhnya juga lelah sekali karena tiada hentinya ia meronta sekuat tenaga, Warsiyem yang dilanda duka dan takut itu masih dapat berlari cepat bagaikan seekor kelinci yang ketakutan dikejar harimau! Ki Singowiro terpaksa berlari juga, terengah-engah melakukan pengejaran.

Bagaimanapun juga, bagaimana mungkin Warsiyem dapat melepaskan diri dari pengejaran Ki Singowiro yang dapat melangkah jauh lebih lebar? Betapapun gesitnya Warsiyem, tetap saja ia seorang perawan yang gerakannya tidak leluasa terhalang tapih pinjung (kain) yang menyerimpat kedua kakinya ketika berlari. Langkahnya tidak dapat terlalu lebar dan akhirnya Ki Singowiro yang sudah tiba dekat di belakangnya itu dapat menubruk dari belakang, menerkam dan mendekapnya.

Mereka jatuh tersungkur di atas tanah berumput. Dengan kedua lengannya yang kokoh kuat Ki Singowiro mendekap tubuh gadis itu dengan kuat sehingga kedua lengan gadis itu tidak dapat bergerak. Akan tetapi bagaikan seekor harimau betina marah, tiba-tiba Warsiyem menggigit lengan yang memeluknya itu sekuat tenaga.

"Aduhhh...!" Ki Singowiro berteriak. Deretan gigi kecil putih itu ternyata kuat sekali dan telah merobek kulit lengannya pada pergelangan tangan kiri! Karena kesakitan, rangkulannya mengendur dan kesempatan ini dipergunakan Warsiyem untuk melompat berdiri lalu lari lagi sekuat tenaga! Ia sudah tidak memperhatikan lagi arah larinya. Yang penting baginya saat itu hanya lari menjauhi pria itu, sejauh mungkin.

Tentu saja Ki Singowiro tidak mau melepaskan calon mangsanya begitu saja! Ketika tadi memondong tubuh gadis itu kemudian menerkam dan mendekapnya, kedua tangannya sudah merasakan kelembutan dan kehangatan yang semakin mengobarkan gairah berahinya. Nafsu berahi telah memuncak memenuhi otaknya sehingga pertimbangannya sebagai manusia telah hancur dan dalam keadaan seperti itu tiada ubahnya dia tidak lebih dari seekor binatang buas.

"Hei, calon isteriku! Berhenti kau!" Dia berteriak dan melompat ke depan. Sekali tangannya meraih, dia telah berhasil menangkap pergelangan tangan kanan Warsiyem. Gadis itu menjerit dan meronta, memukul dengan tangan kirinya, akan tetapi kembali tangan kiri itu ditangkap pergelangannya sehingga Warsiyem tidak dapat berkutik lagi.

"ha-ha-ha, engkau seperti seekor kuda betina yang liar!" Singowiro tertawa. "engkau perlu dijinakkan dulu!" Dia lalu mengangkat tubuh Warsiyem dan dipanggulnya di atas pundaknya sambil dipegangi kedua pergelangan tangannya dengan satu tangan kiri yang besar. Lalu dia melangkah lebar ke arah sawah yang sunyi. Dari jauh dia melihat sebuah gubug berdiri di bawah pohon. Ke arah gubug itulah dia melangkah sambil terkekeh, agaknya gembira sekali merasakan betapa tubuh gadis yang dipanggulnya itu meronta-ronta.

Terasa olehnya betapa tubuh yang padat dan mengkal itu menggeser-geser dipundaknya. Rambut yang panjang lebat dan halus itu mengusap-usap lehernya seolah membelainya. "ha-ha, manis, engkau perawan denok ayu, sebentar lagi menjadi isteriku, ha-ha-ha!"

"Tidak! Tidaaaakkk! Lepaskan aku, aku tidak sudi menjadi isterimu!" Warsiyem menjerit-jerit dan meronta-ronta, akan tetapi makin keras ia meronta, gesekan tubuhnya lebih terasa lagi oleh Ki Singowiro yang membuat laki-laki itu menjadi semakin gembira dan terangsang.

Sesungguhnya nafsu merupakan anugerah sang Maha Pencipta bagi manusia, diikut sertakan pada saat manusia lahir di dunia. Di antara semua gairah nafsu, nafsu berahi merupakan nafsu yang amat kuat dan juga mengandung tugas yang amat suci. Dari gairah nafsu inilah manusia dapat berkembang biak. Gairah nafsu berahi yang menjadi bunga cinta kasih adalah luhur dan suci.

Tuhan Maha Murah! Nafsu diberikan kepada kita sehingga kita dapat merasakan segala macam kenikmatan melalui semua anggauta tubuh kita. Mata dapat mengenal keindahan, telinga dapat mengenal kemerduan, hidung dapat mengenal keharuman, mulut dapat mengenal kelezatan dan sebagainya, semua itu adalah karena adanya nafsu yang menjadi peserta kita. Akan tetapi justeru semua kenikmatan inilah yang menjerat kita.

Kalau nafsu tidak lagi menjadi peserta dan alat kita, sebaliknya kalau nafsu menjadi majikan dan memperalat kita, maka terseretlah kita ke dalam perbuatan sesat. Pengejaran kenikmatan menyeret kita ke dalam perbuatan yang jahat. Seperti Ki Singowiro yang telah sepenuhnya dikuasai dan diperalat daya rendah, yang ada dalam benaknya hanyalah pengejaran kenikmatan dengan menghalalkan segala cara.

Kalau nafsu berahi sudah memperalat dan mencengkeram kita, maka timbullah perbuatan sesat seperti perkosaan, perjinaan, pelacuran dan sebagainya. Hubungan pria dan wanita yang semestinya suci dan indah itu berubah menjadi kotor, hina dan menjijikkan!


Sambil tertawa-tawa Ki Singowiro membawa Warsiyem ke gubug kosong itu. Suasana di ladang dekat hutan itu sunyi. Tak tampak seorangpun manusia. Hal ini membuat Ki Singowiro menjadi semakin berani. Dia menurunkan Warsiyem ke atas panggung gubug yang terbuat daripada bambu itu. Warsiyem menjerit-jerit ketika Ki Singowiro mendekap dan mencoba untuk menciumnya.

Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan kehormatan perawan dusun itu, tiba-tiba terdengar bentakan suara yang terdengar kaku namun cukup dapat dimengerti. "heh-eh! Apa yang terjadi di sini? Sobat, jangan menghina dan memaksa seorang gadis yang tidak berdosa! Perbuatanmu ini salah sekali!"

Mendengar teguran yang keluar dari lidah asing ini, Ki Singowiro terkejut sekali. Dia melepaskan dekapannya kepada Warsiyem dan memutar tubuhnya dengan cepat, matanya terbelalak melotot kepada penegurnya. Ketika melihat bahwa yang menegurnya itu seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, dia menjadi marah sekali. Apalagi setelah dia mendapat kenyataan bahwa orang itu adalah orang biasa saja dengan pakaian sederhana.

"Jahanam busuk, berani engkau mencampuri urusanku? Pergi kau dari sini atau akan kubunuh kau!" bentaknya sambil mencabut goloknya.

Orang yang ramburnya diikat kain itu segera melompat agak menjauhi gubug, memilih tempat yang rata dan lapang, lalu berkata dengan sikap yang tenang. "Tobat, aku tidak mencari permusuhan. Aku hanya ingin mengingatkan engkau bahwa perbuatanmu terhadap gadis itu tidak baik!"

"Keparat. Engkau sudah bosan hidup!" Ki Singowiro marah sekali karena merasa kesenangannya terganggu dan dia sudah menyerang dengan goloknya, membacok ke arah orang itu dengan ayunan golok dari samping.

"Sing.... wuuttt! Plakkk!" Ki Singowiro mengeluarkan gerengan marah. Terjadinya demikian cepat. Goloknya menyambar tempat kosong ketika lawannya itu mengelak dengan menarik tubuh ke belakang kemudian memutar tubuhnya membalik, tangan kiri menangkis pergelangan tangannya yang memegang golok sedangkan tangan kanannya menampar ke arah perutnya yang gendut.

Tidak begitu nyeri karena lawannya itu agaknya tidak ingin mencelakainya, akan tetapi cukup kuat untuk membuat Ki Singowiryo terdorong ke samping dan terhuyung. Tentu saja dia marah bukan main. Ki Singowiro adalah seorang gegedug (jagoan) yang sudah terkenal di Gunung Kidul. Jarang ada orang berani menentangnya dan sekali ini, bertemu lawan bertangan kosong saja dia sudah kena tamparan pada perutnya.

Dasar dia seorang yang selalu mengagulkan kemampuan sendiri. Karena tamparan itu tidak terasa nyeri olehnya, dia tidak menyadari bahwa lawannya memang sengaja tidak ingin melukainya. Dia menganggap bahwa pukulan lawan itu lemah saja, tidak mampu menembus kekebalan perutnya yang gendut. "Setan alas! Mampus kau!" kembali dia membentak dan sekali ini dia menyerang dengan lebih ganas lagi.

Goloknya berkelebatan dan berdesingan saking kuatnya dia menggerakkan senjata tajam itu untuk membacok. Namun, lawannya benar-benar memiliki gerakan yang amat gesit. Ke manapun golok itu menyambar, orang itu selalu dapat mengelak dengan berloncatan ke sana sini dengan gerakan yang ringan dan cepat. Sementara itu, Warsiyem yang mendeprok di atas panggung gubug, menonton dengan muka pucat dan muka terbelalak.

Ia menutupi mulutnya dengan tangan kanan yang gemetar dan biarpun dia tidak mengenal siapa laki-laki itu, namun ia tahu bahwa orang itu membelanya. Ia merasa ngeri melihat sinar golok yang berkelebatan. Ia membayangkan penolongnya itu akan roboh mandi darah dan kebenciannya terhadap Ki Singowiro makin bertambah. Diam-diam tentu saja Warsiyem mengharapkan kemenangan bagi penolongnya, walaupun ia belum tahu orang macam apa adanya dia.

Perkelahian itu berlangsung semakin seru. Akan tetapi orang itu agaknya tidak mau membalas. Yang terus menerus menyerang secara bertubi-tubi adalah Ki Singowiro. Sampai dua puluh jurus lebih sudah dia menyerang, akan tetapi semua serangannya dapat dihindarkan oleh lawannya dengan cara mengelak ataupun menangkis. Sambil menghindarkan diri, dengan suara kaku namun cukup jelas orang itu membujuk Ki Singowiro agar menghentikan perkelahian. "Tobat, sudahlah, aku tidak ingin berkelahi denganmu."

"Kalau begitu minggatlah dari sini dan jangan mengganggu aku yang sedang bercumbu dengan isteriku!" bentak Ki Singowiro sambil menghentikan serangannya dan berdiri terengah-engah. Serangan beruntun yang dia lakukan dengan pengerahan seluruh tenaganya itu membuat dia kelelahan dan napasnya memburu, keringatnya membasahi dada, leher dan mukanya.

Laki-laki itu terkejut dan matanya yang jeli mengerling ke arah gubug. Kemudian dia membalikkan tubuhnya menghadapi Warsiyem yang masih duduk mendeprok di panggung gubug. Dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut. Warsiyem memandang heran karena baru sekarang dia dapat melihat jelas. Seorang laki-laki asing, pikirnya. Selama hidupnya Warsiyem tinggal di dusun Bakulan dan belum pernah melihat seorang asing seperti penolongnya itu.

Maka gadis itu terheran-heran. Laki-laki itu rambutnya panjang dan diikat kain. Kulitnya bersih dan wajahnya cukup tampan, akan tetapi matanya tajam sehingga tampak gagah. Akan tetapi sinar matanya itu penuh kelembutan dan wajahnya juga membayangkan ketengangan dan keramahan. Pakaiannya sederhana saja. Sebuah celana biru sampai betis, bajunya juga sederhana berwarna putih bersih. Kedua kakinya telanjang dan berkalung sarung.

"Nona, benarkah nona isteri sobat ini?" Akhirnya laki-laki itu bertanya.

Warsiyem menggeleng kepalanya keras-keras sehingga kedua titik air mata yang tadinya berada di bawah matanya terpercik jatuh. "Tidak.... tidak. Dia bohong! Aku bukan istrinya, dia... dia malah membunuh ayahku!" teriaknya dan jari telunjuk kanannya ditudingkan ke arah muka Ki Singowiro.

"Heh....! Jahat sekali! Kalau begitu dia bukan sobat, melainkan seorang penjahat!" kata laki-laki itu.

"Singg... !" Golok itu menyambar dari belakang tubuhnya, mengarah laki-laki itu. Ki Singowiro yang mendengar percakapan antara laki-laki itu dan Warsiyem tadi, mempergunakan kesempatan untuk menyerang lawannya dari belakang. Dia hampir merasa yakin bahwa sekali ini, bacokan goloknya tentu tidak akan dapat dihindarkan dan kepala lawannya itu tentu akan terlepas dari tubuhnya!

Akan tetapi laki-laki itu ternyata tangkas bukan main. Ketika golok menyambar berdesing, pendengarannya yang terlatih dan tajam dapat menangkap suara gerakan itu. Tiba-tiba tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk dan berbareng dia memnutar tubuh. Golok lewat di atas kepalanya dan sambil memutar tubuh tadi, tangan kirinya dengan jari-jari terbuka sudah menghantam ke depan, ke arah dada Ki Singowiro.

Sekali ini hantaman itu dilakukan dengan pengerahan tenaga. Setelah mendengar dari Warsiyem bahwa Ki Singowiro telah membunuh ayah gadis itu sehingga dia tahu bahwa orang tinggi besar gendut ini jahat dan kejam sekali, baru dia memukul dengan sungguh-sungguh. "Dukkk... !!" Dada yang bidang dan berotot itu terpukul tangan terbuka dan Ki Singowiro merasa seperti disambar petir.

Dia terjengkang dan terbanting jatuh. Dadanya yang terpukul dan punggungnya yang terbanting terasa nyeri sehingga napasnya menjadi sesak. Akan tetapi dasar dia seorang jagoan yang bandel dan tidak pernah merasa kalah, dia bangkit lagi dengan terengah-engah, memegang goloknya dengan kuat dan dia menerjang lagi ke depan sambil mengeluarkan teriakan seperti seekor singa marah. Sekali ini, laki-laki itu menghindar ke samping, tangan kirinya menyambar ke depan memukul pergelangan tangan kanan Ki Singowiro dan kaki kanannya mencuat dan menendang ke arah perut gendut itu. "Plakk... bukkk!!!"

Golok itu terlepas dari pegangan dan untuk kedua kalinya Ki Singowiro terjengkang dan terbanting keras. Sekali ini dia tidak segera dapat bangun, melainkan merangkak dan akhirnya bangkit dengan sukar, meringis kesakitan kemudian terhuyung-huyung pergi meninggalkan lawannya. Setelah menyadari bahwa lawannya seorang yang tangguh sekali, dia memilih melarikan diri dan menyelamatkan dirinya. Laki-laki itu tidak mengejar, melainkan hanya berdiri tegak sambil memandang ke arah larinya bekas lawannya dan dia menghela napas panjang.

"ah, agaknya di segala tempat ada saja orang-orang yang jahat seperti dia." Gumamnya, teringat akan keadaan di kampung halamannya sendiri dari mana dia datang, teringat akan malapetaka yang menimpa keluarganya dan yang memaksanya meninggalkan kampungnya dan kini berada di sini. Kemudian dia mendengar isak tangis dan cepat dia memutar tubuhnya. Baru dia teringat akan wanita yang hampir saja menjadi korban kebiadaban orang jahat tadi. Dia melangkah maju menghampiri.

Warsiyem yang sedang terisak dan tubuhnya masih gemetaran sehingga ia tidak mampu turun dari gubug atau melarikan diri itu ketika melihat laki-laki itu menghampirinya, menjadi pucat dan cepat ia beringsut ke belakang sampai tubuhnya tertahan dinding gubug. Ia menggeleng-geleng kepalanya dengan ketakutan dan suaranya juga terdengar gemetar. "Jangan... jangan ganggu aku... jangan... ah, kasihanilah aku..." ratapnya.

Laki-laki itu berhenti melangkah dan berdiri dalam jarak dua meter dari gubug itu. Dia tersenyum. "Tenanglah dan janganlah takut, nona. Aku sama sekali tidak ingin menganggumu. Aku hanya ingin membantumu kalau memang engkau membutuhkan bantuan. Katakan di mana tempat tinggalmu dan di mana orang tuamu, aku akan mengantar nona pulang sampai di rumahmu."

Mendengar ini, dan memang ia tadi sudah menduganya bahwa laki-laki ini memang membela dan menolongnya, Warsiyem menjadi lega dan iapun melorot turun dari gubug dan langsung menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepada laki-laki itu. "kisanak, terima kasih banyak atas pertolonganmu."

Melihat ini, laki-laki itu hendak membangunkan, akan tetapi melihat betapa kedua pundak Warsiyem bertelanjang karena gadis itu hanya memakai tapih pinjung untuk menutupi tubuhnya, dia urungkan gerakannya lalu membalikkan tubuh membelakangi gadis itu! "nona, jangan begitu. Bangkitlah dan mari bicara baik-baik. Aku tidak suka engkau memberi hormat seperti itu."

Warsiyem lalu bangkit berdiri dan laki-laki itu agaknya dapat mendengar gerakannya. Dia sudah berbalik dan menghadapi warsiyem kembali. "nah, bagus begitu. Sekarang katakan siapa engkau dan di mana rumahmu."

"Namaku Warsiyem dan aku tinggal di dusun Bakulan sana bersama ayahku... ah, ayahku....!" Warsiyem teringat akan ayahnya dan iapun menangis.

"Tenanglah, nona. Engkau sudah terlalu banyak menderita dan menangis. Dengan tangis saja tidak akan menyelesaikan persoalan. Engkau tadi mengatakan bahwa ayahmu terbunuh oleh laki-laki jahat tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Warsiyem menghela napas panjang beberapa kali untuk menghentikan tangisnya, kemudian dengan lirih dan tersendat-sendat ia berceritera. "Aku sedang mandi dan mencuci pakaian di sungai tadi ketika tiba-tiba muncul orang yang menamakan dirinya Ki Singowiro tadi. Dia hendak menangkap aku. Aku melarikan diri dan dia mengejarku. Di dekat dusun Bakulan tempat tinggalku, muncul ayahku. Ayah bernama Ki Sutowiryo. Melihat aku dikejar-kejar, bapak membelaku. Akan tetapi dia... dia dibacok lehernya oleh penjahat tadi.... ! Bapak roboh mandi darah dan aku lalu dilarikan jahanam tadi sampai ke sini. Untung engkau muncul dan menolongku, ki sanak."

Laki-laki itu mengerutkan alisnya dan memandang gadis itu dengan hati iba yang terpancar pada wajahnya. "tabahkan hatimu, nona. Jangan khawatir, aku akan mengantarmu. Namaku Harun Hambali, orang-orang memanggilku Uun."

"Namamu aneh, ki sanak. Engkau orang manakah?" Tanya Warsiyem heran.

"Aku orang Sunda, aku datang jauh dari daerah barat, sepuluh tahun yang lalu. Mari kuantar engkau pulang dan kita melihat bagaimana keadaan ayahmu."

Teringat akan ayahnya, Warsiyem lalu cepat melangkah dan menjadi penunjuk jalan. Biarpun tubuhnya terasa lelah sekali, akan tetapi bayangan ayahnya yang menggeletak mandi darah membuat ia memperoleh semangat dan tenaga baru sehingga ia berjalan setengah berlari-lari.

Setelah akhirnya mereka tiba di luar dusun di mana tadi Ki Sutowiryo menggeletak mandi darah, tubuh ayah Warsiyem itu sudah tidak berada di situ lagi dan bekasnya hanya genangan darah di atas tanah. Pada saat itu, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang membawa keranjang rumput dan arit menghampiri mereka dan bertanya kepada Warsiyem.

"Mbakyu Siyem, kemana saja engkau? Semua orang mencarimu."

"Ah, Kahar! Tahukah engkau di mana bapakku....?"

Anak itu terbelalak. Dia belum menduga bahwa gadis itu telah mengetahui bahwa bapaknya telah meninggal dunia. "Dia.... dia... Paman Sutowiryo... dia telah tewas... kini jenasahnya sudah dibawa pulang," katanya tersendat-sendat.

Tentu saja Warsiyem tidak merasa kaget mendengar ini. "Mari kita susul ke rumah kami," katanya kepada penolongnya, pria Sunda yang bernama Harun atau Uun itu.

Harun mengangguk dan mereka berdua cepat memasuki dusun Bakulan, diikuti pandang mata Kahar yang merasa terheran-heran melihat Harun. Warsiyem menuju ke rumahnya, diikuti dari belakang oleh Harun. Rumah itu telah penuh oleh tetangga yang melayat. Warsiyem berlari masukm dan Harun tentu saja tidak berani mengikuti masuk ke dalam dan dia lalu duduk bersila di antara para tamu yang melayat di ruangan depan rumah itu. Melihat jenasah ayahnya berada di atas dipan di ruangan dalam, ditutup sehelai kain, Warsiyem lalu menjatuhkan diri di dekat dipan sambil menangis dan meratap.

"Bapak...! Bapak...! Uhu-hu-hu-hu.... bapak...!" Ia menjadi pening, terkulai lemas dan pingsan.

Ketika siuman, Warsiyem sudah berada di kamarnya, rebah di atas dipan dan seorang wanita berusia kurang lebih lima puluh tahun duduk di tepi dipan. Wanita itu rambutnya sudah berwarna dua, dan pada wajahnya ada raut yang membayangkan kegalakan dan kebawelan. Warsiyem segera mengenal bahwa nenek itu adalah Mbok Rondo Saritem. Ia merasa heran melihat kakak tiri ayahnya ini.

Sudah bertahun-tahun uwak atau mbokde tirinya ini tidak pernah mau berdekatan dengan ia dan ayahnya. Sudah lama terjadi ketidak cocokan antara ayahnya dan mbokde tiri ini. Akan tetapi sekarang tahu-tahu ia sudah berada di situ. "mbokde Saritem...!" Warsiyem menyapa lirih sambil bergerak untuk bangkit duduk. Mbok Rondo Saritem cepat membantu gadis itu bangkit duduk. Sikapnya ramah.

"Mengasolah saja, Siyem. Tidurlah..." ia membujuk.

"mbokde, aku harus mengurus jenasah bapak."

"hussshh, tenang sajalah. Aku sudah mengurus kesemuanya itu, Yem. Engkau tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali aku, mbakyu dari bapakmu. Aku yang akan mengurus jenasah adikku Sutowiryo sampai dikebumikan dan akulah yang selanjutnya akan mengurus rumah ini, mengurus dirimu. Serahkan saja segalanya kepadaku, nduk. Akulah sekarang pengganti orang tuamu."

Karena ucapan itu terdengar ramah dan manis, terharulah hati Warsiyem yang sedang kebingungan. Ia merangkul mbokdenya dan menangis. "terima kasih, mbokde Saritem." Harun yang ikut duduk bersila di atas tikar bersama para pelayat, sejak masuk dan duduk, dia diam saja.

Orang-orang yang melayat memandang kepadanya dengan alis berkerut dan pandang mata heran. Akan tetapi para penduduk dusun Bakulan itu tidak ada yang menyapanya. Maklum mereka adalah orang-orang dusun yang malu menegur seorang asing. Karena di tempat itu yang dikenal Harun hanya Warsiyem seorang dan dia melihat betapa gadis itu sibuk di dalam dan tidak pernah keluar, agaknya bahkan tidak ingat lagi kepadanya, maka diapun diam saja. Ikut makan dan minum ketika disuguhi makan dan minum.

Dia merasa tidak enak untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Pertama, dia memang ingin melayat untuk menyatakan ikut berduka cita dan kedua, dia tidak mungkin dapat pergi begitu saja meninggalkan Warsiyem tanpa pamit kepada gadis itu. Ketika jenasah Ki Sutowiryo diangkut menuju ke tanah kuburan yang terdapat di luar dusun Bakulan, Harun juga ikut dalam iring-iringan mereka yang ikut mengantar jenasah ke pekuburan.

Dia mengikuti dengan khidmat upacara yang diadakan orang orang itu ketika mengubur jenasah dan dengan hati penuh iba dia hanya memandang dari jarak agak jauh kepada Warsiyem yang menangis sambil mendeprok di depan gundukan tanah di mana jenasah ayahnya terkubur. Gadis itu tampak menyedihkan sekali. Pakainnya kusut. Rambut yang digelung sembarangan itu awut-awutan. Muka tanpa bedak itu agak pucat dan air matanya membasahi kedua pipinya.

Entah mengapa Harun sendiri tidak tahu, akan tetapi ada sesuatu yang terasa perih sekali dalam hatinya ketika dia memandang kepada Warsiyem. Dalam pandang matanya, gadis itu tidaklah terlalu cantik, akan tetapi dalam wajah yang manis itu terdapat sesuatu yang membuat Harun terharu dan menimbulkan hasrat hatinya untuk melindunginya. Bahkan timbul suatu keinginan dalam hatinya untuk menghibur kedukaan gadis itu, untuk membahagiakannya.

Satu demi satu para pelayat meninggalkan tanah kuburan itu sehingga akhirnya tinggal di situ hanya Warsiyem dan Mbok Rondo Saritem yang menghibur gadis yang masih menangis sedih itu. Harun juga masih berada di situ agak jauh, dalam jarak sepuluh meter dari kedua orang wanita yang masih berjongkok di depan gundukan tanah kuburan baru itu.

"Sudahlah Yem. Tidak ada gunanya ditangisi lagi. Engkau bahkan hanya akan membikin gelap perjalanan bapakmu ke alam kelanggengan. Sebaiknya kita pulang. Aku harus membereskan rumah yang mulai sekarang menjadi tempat tinggal kita berdua. Rumahku sendiri di ujung dusun akan kujual agar aku dapat tinggal denganmu di rumah kita yang baru."

Warsiyem dapat menenangkan hatinya dan pada saat itu teringatlah ia akan orang asing yang telah menolongnya. Sekelebatan tadi ia melihat Harun di antara para pelayat, akan tetapi karena hatinya dipenuhi kesedihan, ia tidak memperhatikan orang itu. Kini ia teringat dan tiba-tiba ia menyadari betapa ia telah menyia-nyiakan dan tidak mengacuhkan orang yang telah menyelamatkannya itu.

"Di mana dia...?" katanya lirih sambil menoleh ke segala jurusan.

"Dia siapa, Yem?" Tanya Mbok Rondo Saritem. Akan tetapi Warsiyem tidak menjawab karena ia sudah menemukan Harun dengan pandang matanya dan ia segera bangkit berdiri dan menghampiri pria muda yang duduk di atas sebuah batu besar itu. Melihat Warsiyem menghampiri, Harun segera turun dari atas batu dan mereka kini berdiri berhadapan saling pandang.

"Dik War..." kata Harun dan sebutan ini terdengar lucu dalam telinga Warsiyem. Harun menyebut "war" pada hal orang-orang lain biasa memanggilnya Siyem atau Yem begitu saja. "aku merasa ikut berduka cita atas kematian ayahmu."

Warsiyem mengusap air matanya. Ia tidak menangis lagi. "kisanak..."

"Dik War, jangan menyebut ki sanak padaku. Rasanya asing dan tidak enak. Namaku Harun, Harun Hambali atau Uun."

"Namamu aneh. Sukar aku menyebutnya."

"Sebut saja aku akang Uun agar lebih mudah," kata Harun.

"kang Uun," nada suara Warsiyem agak cerah karena ia dapat menyebut nama penolongnya itu. "Aku berterima kasih sekali kepadamu, kang dan maafkan aku bahwa sejak tadi aku sama sekali tidak memperhatikanmu karena aku...."

"Sudahlah, dik War. Hal itu tidak mengapa karena engkau sedang sibuk dan dilanda kesusahan."

Pada saat itu Mbok Rondo Saritem sudah menghampiri mereka. Dengan alis berkerut ia menegur, "Siyem, siapakah orang ini?" Matanya memandang kepada Harun penuh selidik. "Apakah dia yang membunuh bapakmu?"

"ah, sama sekali tidak, mbokde! Dia ini.... Harun, dia yang telah menolongku dari tangan penjahat yang menculikku!" kata Warsiyem cepat. "Yem, dia ini orang asing. Tidak boleh engkau bercakap-cakap dengan seorang laki-laki, apalagi dia orang asing. Kalau tidak salah, dia ini bukan orang sini! Aku tidak pernah melihatnya. Hayo kita pergi, jangan perdulikan dia!"

"Akan tetapi, mbokde....!"

"Tidak ada tetapi! Ingat, Siyem, sekarang akulah yang bertanggung jawab atas dirimu. Engkau harus menurut kata-kataku karena akulan pengganti orang tuamu. Mari kita pergi, semua orang sudah pergi. Jangan-jangan orang ini berniat buruk!" Mbok Rondo Saritem lalu memegang tangan gadis itu dan ditariknya pergi dari situ.

Harun memandang dengan alis berkerut, akan tetapi dia tidak berani mencampuri urusan keluarga. "Selamat tinggal, dik War!" katanya lirih.

Warsiyem yang digandeng dan ditarik mbokdenya menoleh. "kang Uun....!" Dalam pendengaran Harun, dalam suara panggilan Warsiyem itu terkandung sesuatu yang aneh. Semakin terasa dalam hatinya bahwa gadis itu membutuhkan bantuannya, membutuhkan perlindungannya. Dalam suara itu seperti terkandung keraguan, kekhawatiran dan juga harapan. Dia melihat betapa kedua orang wanita itu sudah memasuki dusun Bakulan.

Harun menepuk kepalanya sendiri, "Tolol kau! Ia sudah aman, dalam lindungan wanita itu. Tidak baik mencampuri urusan orang lain dan gadis itu bukan apa-apamu." Setelah berulang kali menghela napas panjang, Harun meninggalkan kuburan itu, meninggalkan dusun Bakulan. Akan tetapi entah mengapa, hatinya merasa amat tidak enak, tidak senang dan semangatnya seolah tertinggal di dusun itu.

********************

"Mbokde, aku belum ingin menikah! Aku tidak mau..." kata Warsiyem kepada Mbok Rondo Saritem.

Mereka berdua duduk di atas balai-balai bambu dalam rumah gadis itu. Telah satu bulan lebih Mbok Rondo Saritem tinggal di rumah Warsiyem dan menguasai rumah itu sebagai pengganti orang tua Warsiyem. Peristiwa ini agaknya disetujui oleh para tetangga karena janda itulah satu-satunya keluarga Warsiyem dan Mbok Rondo Saritem cukup kaya dan pandai membawa diri sehingga disegani penduduk dusun Bakulan.

"Yem, tidak bisa engkau menolak, Emas kawinnya telah kuterima dan kami telah sepakat bahkan ikatan perjodohan ini disaksikan pula oleh Bapak Lurah. Calon suamimu adalah seorang yang cukup kaya, cukup terhormat dan disegani di semua pedusunan daerah Gunung Kidul dan Pesisir Laut Kidul. Engkau akan hidup senang dan berkecukupan, juga terhormat"

"Akan tetapi mbokde, aku masih suka sendirian, belum ingin melayani..."

"Apa? Usiamu sudah hampir delapan belas tahun! Apakah engkau ingin menjadi perawan tua dan menjadi gonjingan orang-orang di seluruh pedusunan? Kalau begitu, aku yang akan malu karena aku sebagai pengganti orang tuamu. Juga aku akan merasa berdosa kepada mendiang adikku Sutowiryo kalau engkau tidak segera memperoleh jodoh. Pendeknya, engkau tidak bisa menolak lagi. Hari pernikahannya juga sudah ditentukan. Besok Senin Pahing, kurang sepuluh hari lagi!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap marah Mbok Rondo Saritem meninggalkan keponakannya dan melangkah ke luar. Warsiyem bangkit, lari memasuki kamarnya dan ia menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis tanpa suara. Ia menyadari bahwa nasibnya tiada bedanya dengan para perawan lain di dusun itu.

Dijodohkan dan akan dikawinkan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak pernah dilihat sebelumnya. Iapun tahu bahwa banyak kawannya yang dikawinkan jauh lebih muda dari pada usianya sendiri. Dan ia tahu pula bahwa andaikata ayahnya masih hidup, iapun akan dinikahkan seperti itu pula, menurut pilihan ayahnya. Akan tetapi kalau ayahnya yang memilih, ia tidak akan merasa seperti telalu dipaksa seperti ini. Ia merasa takut.

Takut membayangkan bagaimana rupa dan sikap suami yang belum pernah dilihatnya itu. Ia tidak berdaya. Siapa yang akan mampu menolongnya? Minta tolong kepada orang-orang? Pasti ia hanya akan ditertawakan. Mana ada perawan yang akan dikawinkan itu merasa malu-malu akan tetapi gembira karena merasa telah "aku" dan lebih gembira lagi karena tentu digoda oleh teman-temannya!

Kepada siapa ia dapat minta tolong? Tiba-tiba bayangan Harun menyelinap dalam benaknya. Ia baru sekarang teringat akan laki-laki itu setelah ia membutuhkan pertolongan! Akan tetapi bagaimana mungkin? Harun sudah pergi, entah ke mana dan sudah sebulan lebih ia tidak pernah melihat lagi orang itu. Pula, andaikata dia berada di Bakulan, bagaimana dia akan dapat menolong seorang perawan yang akan dikawinkan? Tentu menjadi buah tertawaan!

Ia menjadi bingung dan bantal menjadi satu-stunya tempat menumpahkan rasa sedihnya. Seperti para perawan dusun di masa itu, Warsiyem juga hanya dapat tunduk dan pasrah, menyembunyikan tangis di dalam hati. Setiap kali ia bersama kawan-kawannya, mandi, mencuci pakaian atau bekerja di lading, ia tentu menjadi bahan godaan teman-temannya. Akan tetapi sedikitpun tidak ada rasa gembira dalam hatinya, bahkan semua godaan itu semakin meremas perasaan hatinya.

Di waktu malam Warsiyem tidak dapat tidur, gelisah di atas pembaringannya dan sering kali menangis tanpa suara. Makin dekat waktu perkawinan menjelang, semakin gelisah pula rasa hatinya. Akhirnya, hari pernikahan itupun tiba. Rumah itu telah di hias dengan janur, daun-daunan dan bunga-bunga. Pesta perayaan itu diadakan besar-besaran dan menurut berita yang sampai ke telinga Warsiyem, semua itu atas biaya calon suaminya.

Akan tetapi, berita yang dibawa oleh kawan-kawannya dengan penuh kagum dan iri itu, sama sekali tidak membesarkan hatinya. Sejak sore hari, Warsiyem sudah di rias sebagai seorang pengantin. Bahkan pada saat pertemuan sepasang pengantin akan diadakan sebentar lagi, malam nanti, tetap saja ia masih belum mengetahui siapa nama dan bagaimana macamnya calon suaminya!

Air mata duka yang mengalir di kedua pipinya dianggap wajar oleh semua wanita yang merubungnya, ketika dirias. Sudah jamak kalau pengantin putri menangis karena ketika menghadapi upacara pernikahan. Kalau tidak menangis bahkan akan menjadi gunjingan dan mungkin cemoohan Karena itu, tangis yang sebetulnya keluar dari hati yang pedih dari Warsiyem dianggapnya biasa saja, dianggap tangis buatan seperti pada semua perawan yang dikawinkan.

Gamelan sudah ditabuh, mengiringi tembang yang dinyanyikan dua orang pesinden secara bergantian. Malam itu kebetulan bulan purnama dan langit bersih sehingga ruangan di rumah itu penuh tamu yang bergembira, bahkan di luar rumahpun penuh tamu yang kebagian duduk di bawah tarup. Dan di luar pekarangan rumah juga banyak berkumpul anak-anak. Malam yang indah dan tampak gembira karena Warsiyem terkenal sebagai kembang dusun Bakulan malam ini menikah!

Suara riuh menyambut kedatangan pengantin pria. Pengantin pria bertubuh tinggi besar dengan perut gendut memasuki ruangan diiringi para pengantarnya. Setelah upacara penyambutan, pengantin wanita lalu dituntun ke luar untuk menyambut. Warsiyem melangkah perlahan sambil menundukkan mukanya, berusaha menyembunyikan tangisnya. Setelah para pendampingnya berhenti melangkah sehingga iapun berhenti, baru ia memberanikan diri untuk sedikit mengangkat mukanya agar ia dapat melihat laki-laki calon suaminya yang sudah berdiri didepannya.

Begitu ia melihat wajah laki-laki tinggi besar gendut yang berpakaian pengantin pria itu, Warsiyem terbelalak dan melotot seperti tidak percaya akan pandang matanya sendiri. Yang berdiri di depannya itu bukan lain adalah Ki Singowiro! Orang yang dahulu menculiknya, hampir memperkosanya, bahkan orang yang telah membunuh ayahnya! Hanya ia dan Harun yang tahu akan hal itu.

Agaknya mbokdenya dan semua penduduk dusun Bakulan telah terkecoh dan tertipu dan mungkin saja mbokdenya telah diberi banyak uang oleh Ki Singowiro sehingga dengan senang hati menerima pinangannya dan menyerahkan keponakannya itu kepada orang yang dianggapnya kaya raya dan berpengaruh itu.

"aaaaiiihhh...! Tidak... tidaaaaakkk....!"

Warsiyem menjerit sekuat tenaga sehingga jeritannya melengking mengatasi suara gamelan yang sedang memainkan lagu Kodok Ngorek. Semua orang terkejut dan mereka semua seperti terpukau ketika tiba-tiba Warsiyem melarikan diri ke luar dari rumah itu. Sepasang sandalnya terlempar dan ia lari kencang seperti seekor kijang betina dikejar!

Seperti juga semua orang yang berada di situ, Ki Singowiro yang tadinya tersenyum-senyum itu tertegun, kaget karena tidak mengira sama sekali bahwa perawan yang membuatnya tergila-gila dan yang sudah hampir dapat dikuasainya sebagai isterinya yang sah itu tiba-tiba melarikan diri ke luar dari dalam rumah. Bahkan para pesinden dan penabuh gamelan juga menghentikan permainan mereka. Akan tetapi Ki Singowiro yang paling dulu menyadari keadaan. Dia tidak ingin kehilangan calon isterinya. Dia khawatir sekali kalau-kalau perawan denok ayu itu melakukan bunuh diri.

Maka, diapun melepaskan selopnya dan mencincingkan kainnya, melompat keluar dan berlari mengejar Warsiyem yang bayangannya masih tampak di antara kegelpan bayangan pohon. Tanpa disadarinya sendiri, Warsiyem yang merasa takut, ngeri dan marah itu berlari cepat sekali seperti telah kemasukan roh kijang. Iapun lari tanpa arah tertentu, akan tetapi di luar kesadarannya ia berlari menuju ke anak sungai.

Namun, betapapun cepatnya lari seorang perawan yang ketakutan, akhirnya ia terkejar juga oleh Ki Singowiro. Dara itu sudah mendengar jejak langkah kaki yang berat dari pengejarnya dan sudah mendengar dengus napasnya yang seperti kerbau berpacu. Tiba-tiba ketika ia berlari sekuatnya dan di bawah sebatang pohon sehingga tempat itu agak gelap oleh bayangan pohon itu, Warsiyem menabrak seseorang yang berdiri di situ.

Akan tetapi ia tidak merasa nyeri atau terjatuh karena orang yang ditabraknya itu telah menangkap lengannya dan menahannya sehingga ia tidak terjatuh. Warsiyem merasa terkejut dan takut sekali melihat bayangan hitam yang menangkapnya. "Dik War, jangan takut aku akan menolongmu," bisik bayangan itu.

"kang...! Ah, Kang Uun!" Warsiyem mengeluh, hatinya terasa lega seperti terlepas dari himpitan benda berat.

"Berdirilah di belakangku, dik. Biar aku yang menghadapinya," kata Harun. Ki Singowiro yang mengejar sudah tiba di situ dan melihat orang laki-laki yang bertubuh tidak berapa besar namun cukup tinggi dan tegap. Dia tidak dapat melihat wajah orang itu dengan jelas karena mereka berdiri did lam bayangan pohon.

"Keparat siapa engkau? Minggir kau!" kata Ki Singowiro sambil menggunakan tangan kanannya yang besar untuk mendorong dada orang itu. Akan tetapi sekali ini Harun marah melihat orang yang dulu menculik Warsiyem bahkan yang telah membunuh ayahnya kini hendak memaksa gadis itu menjadi isterinya. Dorongan tangan itu ditangkis dan sekaligus ditangkap, dipeluntir dan sekali menggerakkan tangan dengan sentakan kuat, tubuh Ki Singowiro terpelanting roboh!

Ki Singowiro terkejut dan marah sekali. Dia bangkit berdiri dan karena berpakaian pengantin, maka dia memakai sebatang keris. Dicabutnya keris itu dan kini dia dapat memandang wajah orang itu dengan jelas. Bukan main kagetnya ketika dia mengenal laki-laki yang pernah mengalahkannya sebulan lebih yang lalu. Hatinya merasa jerih, akan tetapi ketika mendengar langkah banyak kaki mendatangi, hatinya menjadi besar.

Penduduk dusun itu tentu akan membantunya karena mereka semua telah merasa setuju kalau dia menikah dengan Warsiyem dan tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu akan perbuatannya dahulu terhadap Warsiyem dan ayahnya. 鈥淛ahanam. lancang, berani engkau mencampuri urusanku dengan isteriku sendiri!"

Setelah berkata demikian, dia membentak dan menerjang maju, menikamkan kerisnya ke arah perut Harun. Namun, serangan yang hanya mengandalkan tenaga kasar ini tentu saja disambut dengan tenang oleh Harun yang pernah menjadi murid aliran Cimande yang cukup tangguh. Dengan miringkan tubuhnya kekiri, tusukan itu luput dan ketika tubuh Ki Singowiro lewat di sampingnya, tangan kanannya menghantam pundak kanan Ki Singowiro.

"Bresss..." tubuh Ki singowiro terpental dan terbanting sambil terguling-guling dan keris yang terpegang tangan kanannya juga terlepas dan terlempar kerena pundak kanannya terkena hantaman dengan tangan miring, seluruh lengan itu rasanya lumpuh. Pada saat itu, kurang lebih dua puluh orang laki-laki yang tadinya berada di tempat pesta pernikahan, telah tiba di situ.

Harun mundur dan baru berhenti setelah merasa betapa lengan kirinya dipegang erat-erat oleh sepasang tangan Warsiyem. Di antara mereka terdapat Mbok Rondo Saritem yang rupanya juga ikut mengejar sehinggaa napasnya megap-megap seperti ikan dilempar ke daratan.

"Siyem.... ! Apa yang kau lakukan ini? Ke sini kau!" bentak Mbok Rondo Saritem. Singowiro yang licik dan memang sejak tadi sudah merencanakan siasatnya ketika melihat adanya laki-laki yang menolong Warsiyem, cepat berkata dengan suara nyaring.

"Itulah dia! Orang itu yang dulu membunuh Bapak Sutiwiryo! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri!" Semua orang terkejut dan memandang marah kepada Harun.

"Bunuh dia! Tangkap pembunuh ini dan kita serahkan kepada Pak Lurah!" Terdengar teriakan-teriakan.

"Bohong! Semua itu bohong!" Warsiyem menjerit dan melangkah maju seolah hendak melindungi Harun yang kini berdiri di belakangnya. "Yang membunuh ayahku adalah jahanam Singowiro ini! Dia pula yang menculikku dan... kang Harun ini yang menolongku."

"Fitnah keji!" teriak Singowiro membela diri. "Aku cinta padanya dan hendak mengambilnya isteri, mana mungkin aku membunuh ayah mertuaku sendiri? Orang jahat itu yang membunuhnya!"

Penduduk Bakulan bergerak maju, Mbok Rondo Saritem juga maju dan berteriak, "Bunuh orang jahat itu! Agaknya dia telah mengguna-gunai Warsiyem sehingga anak itu membelanya. Dia membunuh adikku Sutowiryo dan kini hendak merusak kehormatan keponakanku Warsiyem!"

Penduduk dusun itu semakin marah. "kalian semua sudah buta!" jerit Warsiyem. "Kang Uun ini tidak bersalah. Singowiro itulah penjahat yang sebenarnya! Ah, mundur kalian. Kalian telah buta!" Akan tetapi orang-orang itu sudah terpengaruh lebih dulu oleh keterangan Ki Singowiro dan Mbok Rondo Saritem. Tentu saja mereka lebih percaya kepada dua orang itu dari pada kepada seorang asing yang mungkin benar saja telah mengguna-gunai Warsiyem. Mereka serentak maju untuk menyerang dan mengeroyok Harun.

Melihat ini, Harun melompat ke belakang. Dia tidak mau melawan orang-orang dusun itu, maklum bahwa mereka itu tidak bersalah dan terpengaruh kata-kata dua orang itu. Maka melihat mereka hendak mengeroyoknya, Harun lalu melompat dan melarikan diri. "Kang Uun...! Tunggu, jangan tinggalkan aku...!" Warsiyem menjerit-jerit sambil berlari mengejar.

"Dik War, maafkan aku. Aku tidak berhak!" jawab Harun sambil berlari terus. Dia tahu bahwa dia tidak berhak mempertahankan atau mencegah Warsiyem menikah dengan orang yang agaknya sudah dipilih oleh uwa gadis itu, bahkan disetujui oleh seluruh penduduk.

"Kang Uun...!" Harun berlari terus dan lenyap dalam keremangan sinar bulan purnama...


Thanks for reading Alap Alap Laut Kidul Jilid 01 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »