Perawan Lembah Wilis Jilid 42

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 42

Akan tetapi ia sama sekali melarang mereka mengganggu pedusunan. "Semua rakyat adalah calon rakyatku, mulai sekarang mereka harus diberi pengertian bahwa di Wilis terdapat Kerajaan Wilis yang jaya dan yang membutuhkan bantuan-bantuan rakyat sebagai pasukan-pasukan Wilis."

Dua hari kemudian, setelah mereka tiba di kaki Gunung Wilis, rombongan lima belas orang yang dipimpin Retna Wilis ini bertemu dengan perajurit pelarian lain dari Jenggala yang berjumlah lima puluhan orang, dikepalai oleh seorang bekas perwira yang ikut melarikan diri. Perwira ini bertubuh tinggi besar, dan sepasang matanya amat menakutkan, lebar dan agaknya tak pernah berkedip, melotot terus seperti mata orang yang selalu marah.

"Heh, kalian juga berkeliaran sampai di sini?" Laki-laki bermata lebar itu menegur bekas anak buahnya. "Dan kalian mendapatkan seorang dara begini hebat? Berikan kepadaku dan kalian lebih baik menggabung dengan pasukanku, kami hendak menyerbu Wilis dan menduduki puncak itu untuk menjadi markas kita." Mata yang melotot itu memandang Retna Wilis penuh gairah.

"Eh.... ahh.... Kakang Barun.... jangan bicara begitu.... beliau ini adalah junjungan dan pemimpin kami.... Gusti Puteri Retna Wilis. Lebih baik Andika semua menyerah dan menjadi anak buah Wilis, menyembah pemimpin kami yang sakti mandraguna ini...."

"Huah-ha-ha-ha! Apakah kalian sudah gila semua? Aku menyembah dara ini? Heh-heh, minggirlah biar kutangkap dia dan menjadi kekasihku!" Barun sudah melangkah maju akan tetapi Retna Wilis membentak, "Berhenti!!"

Bentakan dara ini mengandung wibawa mujijat sehingga Barun tersentak kaget, tidak dapat melangkah maju lagi. Akan tetapi dasar dia seorang yang telah menganggap diri sendiri amat digdaya, hanya sebentar ia terkejut dan tertawa lagi.

"Ha-ha, engkau sungguh denok akan tetapi galak. Aku senang akan dara yang penuh semangat sepertimu, manis. Namamu Retna Wilis? Aduh, terhadap aku jangan galak, bocah ayu."

"Barun dan semua anak buahmu, lekas kalian berlutut menyembah aku. Akulah calon ratu di Wilis dan calon ratu kerajaan besar yang menaklukkan seluruh kerajaan! Menyembahlah sebelum terlambat, karena sekali aku bergerak, engkau dan teman-temanmu yang melawanku akan mampus!" Sambil berkata demikian, ibu jari kaki Retna Wilis mencokel tanah dan segumpal tanah campur pasir melayang ke atas, disambarnya dengan tangan kanan.

Akan tetapi Barun menoleh ke belakang, memandang kawan-kawannya dan tertawalah laki-laki ini bergelak-gelak. Teman-temannya juga karena selama hidup mereka baru sekali ini melihat dan mendengar seorang gadis remaja mengeluarkan ancaman seperti itu.

"Huah-ha-ha-heh-heh, engkau sungguh lucu sekali! Hayo, kawan-kawan, kita maju dan melihat apa yang akan dilakukan dara jelita ini!" Sesungguhnya, biarpun hatinya tidak percaya dan tidak takut akan ancaman Retna Wilis, namun bertemu pandang dengan dara itu mendatangkan sesuatu yang menyeramkan hatinya, maka Barun mengajak teman-temannya maju bersama.

Ada tujuh orang yang dengan penuh gairah meloncat maju mendampingi Barun, siap untuk menangkap dara yang cantik itu. Delapan orang itu lalu menghampiri Retna Wilis dengan muka menyeringai.

"Heh-heh-heh, hayo engkau akan dapat berbuat apa, bocah kewek?" Barun mengejek, hatinya besar karena ada tujuh orang yang pembantunya mendampinginya.

Jarak antara delapan orang itu dengan Retna Wilis masih ada empat meter, dan Retna Wilis yang ingin mendapatkan anak buah sebanyaknya itu membentak lagi, "Berlututlah sebelum terlambat!"

Namun, tentu saja delapan orang laki-laki tinggi besar itu tidak suka mentaati perintah ini dan mereka tetap melangkah maju. "Mampuslah kalau begitu!" Retna Wilis mengayun tangannya dan sinar hitam ke arah delapan orang itu. Itulah tanah pasir yang dicongkel ibu jari kakinya tadi dan biarpun hanya pasir dan tanah biasa, namun berada di tangan Retna Wilis berubahlah menjadi senjata yang amat dahsyat mengerikan karena dia mempergunakan Aji Pasir Sakti!

Begitu sinar-sinar hitam itu menyambar, delapan orang itu menjerit-jerit dan roboh bergulingan, berkelojotan seperti cacing-cacing terkena abu panas karena muka mereka telah ditembusi pasir-pasir halus itu sampai masuk ke dalam otak!

Sisa anak buah Barun terbelalak dan pucat sekali. Barulah mereka kini percaya bahwa gadis remaja ini amatlah sakti. Seketika kecut dan takutlah hati mereka dan cepat-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun. Retna Wilis tersenyum senyum dingin yang menyeramkan, kemudian berkata, "Akulah Gusti Puteri Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis yang tidak suka dibantah. Siapa lagi yang sudah bosan hidup?"

Kini semua orang, termasuk lima belas orang pengikutnya tadi, berlutut semua dan tidak berani berkutik. Baru sekali ini selama hidup mereka, orang-orang kasar ini benar-benar kagum, tunduk dan takut, juga merasa bangga bahwa mereka dapat menghambakan diri kepada seorang yang sesakti ini. Dengan seorang pemimpin seperti dara ini, mereka percaya akan dapat menaklukkan seluruh kerajaan. Beramai-ramai mereka menyembah, "Hamba sekalian taat akan segala perintah Gusti Puteri!" Demikian mereka berkata.

Dari tempat yang agak jauh, ada seorang laki-laki yang bersembunyi di atas pohon dan menyaksikan semua peristiwa ia memandang dengan mata terbelalak, dan melihat sepak terjang Retna Wilis ketika membunuh delapan orang itu, ia bergidik dan menggumam,

"Hebat.... hebat.... selama hidupku baru sekali ini menyaksikan seorang dara remaja sehebat itu.... Ah, kiranya Endang Patibroto sendiri tidaklah sehebat itu kepandaiannya. Barun memiliki kesaktian lumayan, akan tetapi dengan tujuh orang kawannya terbunuh hanya oleh sambitan tanah pasir!" Laki-laki ini diam-diam menjadi kagum sekali dan juga jerih, padahal dia bukanlah seorang laki-laki biasa. Sama sekali bukan. Dia adalah seorang yang memiliki kedigdayaan, bahkan dapat disebut seorang yang sakti mandraguna karena dia ini bukan lain adalah bekas patih Jenggala, Ki Patih Warutama yang dahulu bernama Raden Sindupati!

"Ah, tidak salah. Tentu dia ini yang dahulu diambil murid Nini Bumigarba! Dan dia adalah puteri Endang Patibroto!"

Sindupati, sebaiknya kini kita menyebutnya Sindupati karena nama Warutama dahulu pun hanya nama samarannya saja, menarik napas panjang. Dia tidak berani memperlihatkan diri karena biarpun gadis itu murid Nini Bumigarba, akan tetapi karena puteri Endang Ptibroto, dia tidak tahu bagaimana sikap gadis itu kalau melihatnya. Akan tetapi, apakah gadis itu tahu kalau dia musuh Endang Patibroto? Ia memperkosa Endang Patibroto dan ia tidak percaya bahwa Endang Patibroto mau menceritakan aib yang dideritanya itu kepada orang lain, kepada puterinya sekalipun! Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan tidak berani memperlihatkan diri. Setelah Retna Wilis mengajak anak buahnya pergi mendaki Gunung Wilis, Sindupati hanya mengikuti mereka dari jarak yang jauh dan cukup aman.

Pria yang cerdik ini segera mencari akal dan karena Retna Wilis yang membawa pasukan itu melakukan perjalanan lambat, ia mengerahkan kesaktiannya dan lari mendahului rombongan itu untuk mendaki puncak Wilis. Mudah saja bagi Sindupati untuk mencari keterangan dan betapa girang hatinya bahwa Endang Patibroto kini tidak berada lagi di Wilis. Tadinya ketika ia melihat munculnya Endang Patibroto di Kota Raja Jenggala, ia mengira wanita itu masih memimpin Pondok Wilis. Akan tetapi setelah menyelidiki di puncak Wilis, ia mendapatkan berita yang amat menggirangkan hatinya, yaitu bahwa Wilis telah lama ditinggalkan wanita yang ditakutinya itu dan kini bahkan telah dipimpin oleh seorang raja baru, yang telah menaklukkan ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembatu-pembantu utama Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis.

Kepala atau raja baru ini adalah seorang manusia bertubuh raksasa yang bernama Ki Walangkoro, yang kabarnya amat digdaya dan ditakuti semua anak buah Wilis. Kalau dulu di bawah pimpinan Endang Patibroto di situ berdiri Padepokan Wilis dan para anak buahnya disebut satria-satria Wilis, kini keadaan mereka berubah sama sekali dan kembali mereka menjadi Gerombolan Wilis yang ditakuti penduduk di sekitar Gunung Wilis. Mendengar berita ini, Sindupati cepat membuat persiapan-persiapan.

Demikianlah, ketika Retna Wilis dan lima puluh orang lebih anak buahnya mendaki sampai di lereng Wilis, tiba-tiba perjalanan mereka dihadang oleh seorang pria yang tampan dan gagah dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun masih tampan ganteng dan menarik. Baik bentuk rambutnya, tarikan mukanya, dan pakaiannya, semua tidak ada bekas-bekasnya bahwa pria ini adalah bekas patih di Jenggala! Kini Sindupati telah berubah menjadi seorang yang sikapnya seperti seorang pertapa, halus gerak-geriknya, tenang pandang matanya. Bahkan lima puluhan orang pengikut Retna Wilis itu tidak ada yang mengenalnya, ketika pria itu berdiri menghadang dengan sikap tenang.

Melihat keadaan dan sikap pria ini, Retna Wilis yang dapat mengenal orang pandai, melarang anak buahnya turun tangan dan dia sendiri yang melangkah, maju paling depan, memandang pria itu penuh perhatian lalu berkata, "Siapakah Andika dan ada keperluan apakah Andika menghadang perjalanan kami?"

Sindupati mengambil sikap seperti orang tercengang dan keheranan, lalu berkata, suaranya halus, "Duhai puteri remaja yang mempunyai wibawa dan sinar kesaktian, adakah andika yang memimpin rombongan orang-orang gagah ini?"

Senang hati Retno Wilis mendengar ucapan yang halus dan penuh hormat ini. ia memandang dengan penuh perhatian, kemudian menjawab, "Sungguh tepat ucapan Paman yang awas paningal. Saya Puteri Retna Wilis yang memimpin pasukan ini, hendak menghadap Ibunda Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis. Siapakah andika, Paman?"

Mendengar ini Sindupati cepat membungkuk dan menyembah dengan hormat. "Duh Sang Puteri, kiranya paduka adalah puteri ketua Padepokan Wilis! Pantas saja menyinarkan cahaya cemerlang, cahaya kesaktian yang menakjubkan. Saya bernama Adiwijaya, seorang pertapa biasa yang bertapa di Pagunungan Seribu. Telah beberapa pekan saya datang ke Wilis dengan maksud mengunjungi Padepokan Wilis yang amat terkenal, untuk menghaturkan sembah hormat kepada ketua Wilis yang sakti mandraguna dan bijaksana, serta menawarkan bantuan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk perikemanusiaan. Siapa kira, sampai di sini saya merasa kecewa sekali karena tidak dapat berjumpa dengan ibunda yang mulia, bahkan menyaksikan kenyataan yang amat tidak menyenangkan hati."

Retna Wilis mengerutkan alisnya. "Ah Paman Adiwijaya, apakah yang terjadi? Kemanakah perginya ibuku dan siapa kini yang berada di puncak?"

"Saya mendengar bahwa telah lama sekali ibunda meninggalkan Wilis dan semenjak itu, kekuasaan Padepokan Wilis berada di tangan ketiga orang gagah Limanwilis dan dua orang adiknya."

"Ah, ketiga paman Wilis masih berada di puncak? Syukurlah!"

"Akan tetapi, Sang Puteri, ternyata keadaan tidaklah begitu menyenangkan seperti yang paduka kira. Kini puncak telah dikuasai oleh seorang ketua baru, dan Padepokan Wilis telah berubah menjadi Gerombolan Wilis!"

"Apa? Siapa yang berkuasa di sana?"

"Ketiga orang gagah Wilis telah ditundukkan oleh seorang tokoh jahat yang bernama Ki Walangkoro, seorang tokoh hitam yang kabarnya datang dari Madura."

"Apa? Si keparat!" Retna Wilis menoleh ke belakang dan berkata kepada anak buahnya, "Bersiaplah kalian membuktikan kesetiaan kalian kepadaku! Kita serbu puncak Wilis!"

"Hamba siap, Gusti Puteri!" Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para bekas perajurit Jenggala sehingga hati Sindupati yang kini berganti nama Adiwijaya menjadi makin kagum. Puteri remaja ini benar-benar hebat, pikirnya. Tidak saja memiliki kesaktian yang mengerikan, juga amat berwibawa.

"Saya pun siap membantu paduka, Gusti Puteri," katanya hormat.

Berseri wajah Retna Wilis. "Bagus, Paman Adiwijaya. Aku girang sekali menerima bantuanmu, dan percayalah, engkau tidak akan rugi menghambakan diri kepadaku. Kelak aku akan menaklukkan seluruh kerajaan dan kalau andika memang benar setia dan berjasa, aku tidak akan melupakan bantuan-bantuanmu."

"Hamba dapat melihat seorang yang sakti dan pandai, Gusti Puteri, dan hamba akan mempertaruhkan jiwa raga hamba untuk membela Paduka."

"Bagus! Hayo kita mendaki terus!"

Sebagai jawaban ucapan Retna Wilis yang penuh semangat ini terdengarlah sorak sorai lima puluh orang anak buahnya itu dan tiba-tiba terdengar sorakan jawaban yang bergemuruh dari atas. Retna Wilis mengangkat tangan mencegah anak buahnya bergerak maju dan sambil bertolak pinggang dara perkasa ini memandang ke depan.

Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis dan berdiri di sebelah kanannya, juga memandang ke depan. Pasukan yang turun dari atas puncak itu jumlahnya seratus orang lebih, dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar seperti raksasa. Sangat besar dan tinggi tubuh kakek ini sehingga tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis dan dua orang adiknya yang termasuk orang-orang tinggi besar kelihatan kecil, hanya setinggi pundak kakek itu!

Rombongan ini bersorak gembira ketika melihat ada rombongan lain yang mereka anggap sebagai calon-calon korban yang tentu akan dapat dipreteli pakaian dan senjatanya, apalagi melihat ada seorang gadis remaja cantik sekali berada di antara mereka. Akan tetapi tiba-tiba mereka itu berhenti ketika terdengar gadis remaja itu mengeluarkan suara yang amat nyaring dan membuat jantung mereka bergetar,

"Hai para satria Wilis! Beginikah kalian menyambut gusti puteri kalian? Paman Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, apakah mata kalian sudah lamur sehingga tidak mengenal aku?"

Limanwilis dan kedua adiknya, juga para bekas anak buah Endang Patibroto, memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi anak buah-anak buah baru yang tadinya merupakan anak buah Ki Walangkoro yang kini digabungkan dengan anak buah Wilis, tertawa bergelak.

"Waduh, perawan remaja yang genit dan galak!"

Adapun Ki Walangkoro yang juga memiliki kesaktian dan bermata awas, dapat mengenal sinar kesaktian memancar keluar dari wajah dara perkasa itu, menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya seperti geluduk di musim hujan, "Heh, babo-babo, siapakah andika bocah kemarin sore yang bermulut besar?"

"Hemm, engkau tentu si Walangkoro yang mengacau di Wilis! Mau tahu siapa aku? Akulah Perawan Lembah Wilis, akulah Puteri Retna Wilis. Setelah ibuku Endang Patibroto meninggalkan Wilis, andika lancang berani mengacau di sini, ya? Agaknya engkau sudah bosan hidup, Walangkoro!"

Kini terdengar seruan-seruan kaget dan heran dari mulut Limanwilis dan kedua orang adiknya, juga dari anak buah Wilis. Mereka teringat dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak. Anak perempuan yang dulu lenyap diculik nenek mengerikan itu kini telah pulang dan menjadi seorang dara remaja yang serupa benar dengan Endang Patibroto, sama cantik jelita dan sama gagah, bahkan jauh lebih galak dan berwibawa!

Akan tetapi karena mereka itu sudah merasa menyeleweng dan menghamba kepada pemimpin baru dan karena kehidupan sebagai gerombolan lebih menyenangkan bagi mereka daripada hidup sebagai anggota-anggota padepokan yang berdisiplin dan tidak memungkinkan mereka mengumbar nafsu angkara murka, mereka diam saja dan hendak melihat dulu bagaimana sikap pemimpin mereka yang baru dan yang sudah mereka ketahui kesaktiannya itu.

"Babo-babo, si keparat!" Ki Walangkoro memaki. "Dahulu aku mencari Endang Patibroto untuk kutundukkan dan kuangkat menjadi permaisuriku, akan tetapi dia telah minggat. Kini muncul puterinya yang lebih jelita, lebih denok dan lebih muda. Retna Wilis, eman-eman engkau bocah ayu kalau berani menentang Ki Walangkoro! Lebih baik engkau menyerah, menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sehingga engkau tetap akan disembah-sembah seluruh anak buah di Wilis. Menyerahlah, wong ayu!" Ki Walangkoro bukanlah seorang pria yang mata keranjang, akan tetapi menyaksikan seorang dara yang begini denok dan jelita, gairahnya timbul dan ia hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya, ingin terus memondong dara itu dan dibawa lari ke dalam kamarnya.

"Jahanam bermulut kotor!" Tiba-tiba Adiwijaya meloncat maju, gerakannya trengginas dan sikapnya masih tenang, namun matanya menyorotkan kemarahan.

Sekali ini Adiwijaya benar-benar marah, bukan pura-pura atau hendak mencari muka kepada Retna Wilis. Entah bagaimana, begitu bertemu dengan dara ini, hatinya benar-benar tunduk dan timbul rasa kagum, menyayang dan hormat, sehingga ia tidak suka mendengar orang lain memaki dan menghina gadis itu. Ia lalu menoleh kepada Retna Wilis dan berkata dengan halus,

"Gusti Puteri, perkenankanlah hamba menghajar buto (raksasa) yang bermulut lancang dan kotor ini!"

Berseri wajah Retna Wilis. "Paman Adiwijaya, dia memiliki sedikit kepandaian, apakah andika mampu melawannya?"

"Gusti Puteri, untuk memukul seekor anjing korengan mengapa harus menggunakan tongkat besar? Sayang tangan Paduka yang akan menjadi kotor kalau menyentuh tubuhnya yang menjijikkan. Hamba akan mencobanya dan hamba rela mati membela Paduka."

Retna Wilis tersenyum. Sikap orang tua ini benar-benar menyenangkan hatinya. "Jangan khawatir, Paman. Aku tidak akan membiarkan kadal buduk ini mencelakakan seorang pembantu sebaik Paman. Maju dan lawanlah!"

Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadapi Ki Walangkoro, dan dengan sikap tenang ia mencawatkan sarungnya ke belakang dan mengikatkan ujungnya kuat-kuat di pinggang. Kemudian ia berkata lantang,

"Ki Walangkoro! Wilis adalah milik Gusti Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis, akan tetapi engkau telah lancang merampasnya selagi ketuanya tidak ada. Kini Gusti Puteri Retna Wilis telah pulang dan kalau memang engkau tahu diri, sebaiknya engkau bertekuk lutut dan menakluk, bersama semua pengikutmu menghambakan diri kepada Gusti Puteri. Kalau engkau merasa kuat, cobalah engkau melawan aku. Adiwijaya siap menghadapimu membela kedaulatan Gusti Puteri Retna Wilis!"

Ki Walangkoro memandang Adiwijaya dengan tertawa mengejek dan memandang rendah. "Namamu Adiwijaya, heh? Omonganmu sungguh menjemukan! Dilihat jumlahnya pengikut, pasukanku dua kali lebih banyak daripada pengikut Retna Wilis! Dilihat pemimpinnya, aku jauh lebih patut dan lebih gagah daripada engkau yang mengaku menjadi pembantunya. Adiwijaya, kulihat engkau lumayan juga, memiliki kesaktian. Apakah tidak lebih baik engkau menjadi pembantuku saja dan Retna Wilis menjadi isteriku? Dengan demikian, keadaan kita menjadi lebih kuat!"

"Si bedebah!" Teriakan ini keluar dari mulut Retna Wilis dan gadis ini saking marahnya sudah mengipatkan lengan kanannya ke arah Ki Walangkoro, dan anehnya... tubuh raksasa yang tinggi besar itu terpelanting seolah-olah ditumbuk palu godam atau diseruduk banteng. Padahal jarak antara dia dan gadis itu ada tiga meter dan dia terpelanting roboh hanya oleh angin kipatan tangan dara perkasa itu!

Kembali Adiwijaya kagum dan ngeri. Dara itu benar-benar sakti mandraguna dan ia bergidik memikirkan betapa ngerinya kalau harus bertanding melawan gadis yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini!

Akan tetapi Ki Walangkoro adalah orang kasar. Dia hanya terbelalak dan merasa heran mengapa dadanya seperti didorong angin badai yang dahsyat tadi. Dia tidak mau mengerti bahkan menjadi marah karena malu. Dengan suara menggereng seperti harimau terluka ia menubruk maju, maksudnya hendak mencengkeram Retna Wilis akan tetapi ia disambut oleh pukulan tangan Adiwijaya ke arah dadanya.

"Desss !!" Ki Walangkoro menangkis dan kedua lengan yang amat kuat bertemu, akibatnya tubuh Adiwijaya terlempar ke belakang sedangkan Ki Walangkoro terhuyung saja.

"Huah-ha-ha-ha! Adiwijaya, sedemikian saja kekuatanmu dan engkau berani menantang Ki Walangkoro?" Raksasa itu terbahak dan anak buahnya juga tertawa-tawa girang karena dalam gerakan pertama ini jelas tampak bahwa pemimpin mereka lebih besar tenaganya.

Namun Retna Wilis memandang tenang dan diam-diam ia merasa kagum dan senang terhadap pembantunya ini. Dalam pertemuan tenaga tadi, ia pun maklum bahwa dalam hal tenaga kasar, Ki Walangkoro memang kuat, akan tetapi biarpun tubuh pembantunya mencelat ke belakang, bukan sekali-kali karena terpental, melainkan karena sengaja pembantunya itu menggunakan tenaga lawan untuk meloncat ke belakang sehingga mematahkan daya pukulan lawan.

Sebaliknya, Ki Walangkoro yang menerima pukulan itu dengan tangkisan yang didasari tenaga kasar, biarpun kelihatannya hanya terhuyung bahkan mengeluarkan ucapan mengejek, sebetulnya di dalam dada raksasa ini terasa sesak dan perutnya mual.

"Tertawalah, Ki Walangkoro. Akan tetapi aku belum kalah!" Adiwijaya menjawab dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan amat cepatnya, kemudian begitu kaki tangannya bergerak, dia sudah mengirim pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangan disusul tendangan kakinya mengarah lambung.

"Eh-eh.....!" Ki Walangkoro mendengus, agak bingung menyaksikan lawannya bergerak begitu cepat sehingga tubuh lawannya seolah-olah menjadi empat. Dia menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan kekar itu untuk menangkis, juga untuk balas menyerang dengan cengkeraman dan pukulan. Akan tetapi ia kalah cepat dan ketika ia terlambat menangkis, perutnya terkena tendangan Adiwijaya sehingga terdengar suara "bukkk!" yang keras.

Amat mengherankan ketika terlihat oleh para penonton akibat tendangan ini karena tubuh Adiwijaya sendiri yang terlempar ke belakang! Perut itu amat keras dan kuat, dan memang tubuh Ki Walangkoro memiliki kekebalan yang mengagumkan.

"Ha-ha-ha! Mampuslah kau, Adiwijaya!" Ki Walangkoro kini menubruk maju seperti seekor gajah menggulingkan diri.

Baru terhimpit tubuh raksasa itu saja sudah akan cukup membuat tubuh Adiwijaya gepeng. Akan tetapi dengan cekatan sekali tubuh Adiwijaya bergulingan dan Ki Walangkoro menubruk tanah sehingga debu mengebul tebal.

"Desss!" Sebelum Ki Walangkoro sempat mengelak ketika ia menerkam tanah tadi, Adiwijaya yang bergulingan sudah cepat menghantam ke arah tubuh raksasa itu sambil bergulingan. Gerakan ini tidak tersangka-sangka, bahkan Retna Wilis sendiri memandang kagum. Baru sekali ini ia melihat gaya yang sedemikian anehnya dalam pertempuran, mengelak sambil bergulingan akan tetapi dalam bergulung-gulung ini dapat menyerang lawan. Ternyata cara bergulingan itu bukan sembarang mengelak, melainkan bergulingan dengan teratur, seperti langkah-langkah yang diperhitungkan.

Retna Wilis tidak tahu bahwa itulah Aji Trenggilingwesi yang memang menjadi keahlian Adiwijaya atau Raden Sindupati. Seperti pernah diceritakan dahulu, Adiwijaya ini dahulunya seorang perwira Jenggala yang sebetulnya sudah mendapat kepercayaan sang prabu dan menjadi pengawal istana. Ketika ia berani mengganggu seorang puteri, maka ia melarikan diri ke Balidwipa dan di sana dalam perantauannya, dia mempelajari bermacam ilmu kepandaian sehingga ia menjadi seorang sakti.

Setelah memiliki kepandaian, dia menghambakan diri kepada Adipati Blambangan yang kemudian hancur oleh serbuan bala tentara gabungan dari Jenggala dan Panalu, yang dipimpin oleh Endang Patibroto dan Pangeran Darmokusumo. Kembali Raden Sindupati menjadi seorang kelana dan setelah berganti nama menjadi Warutama ia berhasil menduduki pangkat patih di Jenggala, menjadi sekutu Suminten dan Pangeran Kukutan.

Kini, kembali dia berganti nama Adiwijaya, mukanya telah berubah, jenggotnya yang rapi dan gemuk menutupi luka di dagu, kumisnya pendek, sikapnya berubah sama sekali dan memang Raden Sindupati memiliki kepandaian menyamar. Kalau perlu, dia dapat menyamar sebagai seorang wanita! Kepandaian seperti ini pada waktu itu disebut aji mencalaputera-mancala-puteri.

Pukulan Adiwijaya yang mengenai tengkuk Ki Walangkoro amat hebatnya. Biarpun raksasa ini terkenal kebal dan kuat, namun pukulan yang datangnya tak tersangka-sangka dan disertai tenaga sakti yang kuat, juga mengenai tengkuknya, membuat ia terjungkal dan beberapa lamanya dunia ini seperti diombang-ambingkan ombak besar baginya dan di siang hari itu turun hujan bintang!

Ki Walangkoro bangkit dan menggoyang-goyang kepalanya yang besar, seperti seekor harimau menggoyang badannya yang basah, kemudian matanya menjadi merah saking marahnya ketika ia memandang Adiwijaya yang berdiri tenang di depannya sambil bertolak pinggang. Ia menggereng, kemudian menerjang maju seperti badai mengamuk. Kedua lengannya yang panjang menyambar dan sebelum Adiwijaya sempat mengelak, ia sudah kena ditangkap pinggangnya, diangkat dan dibanting.

"Brukkkk....!!" Tubuh Adiwijaya dibanting, debu mengebul dan Adiwijaya hanya gelayaran (terhuyung) saja karena ketika dibanting dia telah dapat menggunakan kegesitannya sehingga dapat meloncat lagi ke atas.

"Engkau kuat sekali, Walangkoro!" kata Adiwijaya dan pada saat Walangkoro menubruk lagi, dia sudah melesat ke samping, menyambar lengan raksasa itu dari kanan dan memutar lengan, terus mengangkat dan membanting.

"Bresss....!!"

Debu mengebul lebih tebal dan tubuh raksasa yang terbanting itu sejenak tak dapat bergerak. Kepala Ki Walangkoro pening dan setengah merangkak, baru ia dapat bangun kembali. Keheranan mulai terbayang di sepasang matanya yang lebar. Tanpa menjawab ia lalu maju memukul Adiwijaya yang hendak memperlihatkan kedigdayaannya kepada Retna Wilis, sengaja mengerahkan tenaga dalam dan menerima pukulan lawan.

Dadanya terpukul, tubuhnya bergoyang dan kakinya mundur dua langkah, akan tetapi mulutnya tetap tersenyum. Kemudian ia balas memukul dan sekali ini agaknya Ki Walangkoro juga ingin memamerkan kekebalannya. Ketika kepalan tangan Adiwijaya mengenai dadanya, tubuhnya hanya bergoyang, ia tidak melangkah mundur, akan tetapi napasnya menjadi sesak dan tanpa dapat ditahannya lagi ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan dadanya!

Para anak buah kedua pihak bersorak-sorak menyaksikan pertandingan hebat ini. Dan bagaikan dua ekor ayam jantan, dua orang perkasa ini lalu saling menerjang lagi, lebih dahsyat daripada tadi. Mereka saling pukul, saling tendang, bergumul, piting-memiting, banting-membanting sehingga debu mengebul tinggi.

Diam-diam Retna Wilis yang memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi girang dan kagum. Dia maklum bahwa keduanya dapat menjadi pembantu-pembantunya yang cakap, maka dia tidak ingin melihat seorang di antara mereka tewas. Ketika melihat betapa makin lama Ki Walangkoro makin terdesak, makin sering menerima pukulan dan sudah terhuyung, ia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, raksasa yang amat berani dan pantang mundur itu tentu akan tewas.

"Cukuplah Paman Adiwijaya!" Ia berseru.

Mendengar ini, Adiwijaya yang sudah hampir menang itu cepat meloncat ke belakang. Ia pun seorang cerdik, maklum bahwa junjungannya yang baru ini ingin menarik raksasa itu sebagai pembantu. Ia pun maklum bahwa dalam menyusun kekuatan, makin banyak pembantu yang digdaya makin baik, maka ia mundur sambil tersenyum dan berkata kepada Ki Walangkoro, "Walangkoro, andika mengagumkan sekali! Andika seorang yang digdaya!"

Ki Walangkoro berdiri dengan napas terengah-engah dan tubuhnya yang besar dan kokoh seperti batang pohon beringin itu penuh keringat. Ia pun memandang kagum kepada Adiwijaya. Biarpun dia seorang yang kasar, namun dia tidak bodoh dan dia mengenal orang pandai, harus mengaku bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, dia tidak akan kuat bertahan lagi. Adiwijaya terlampau kuat baginya. Pukulan Adiwijaya tidak terlalu keras, akan tetapi mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan menggetarkan isi dadanya. Selain itu, juga Adiwijaya memiliki kecepatan gerakan yang sukar ia lawan sehingga dalam pertandingan itu, dia lebih banyak menerima pukulan daripada memukul.

"Heemmm.... harus kuakui bahwa andika amat digdaya. Kalau andika yang hendak merampas kedudukan di Wilis, aku suka mengalah dan suka menjadi pembantu andika karena jelas bahwa aku akan kalah kalau pertandingan dilanjutkan. Akan tetapi kalau dia ini.... hemmm, bagaimana seorang laki-laki perkasa macam kita ini harus menghambakan diri kepada seorang wanita yang masih bocah?"

"Ha-ha, Walangkoro, sungguh percuma saja menganggap dirimu digdaya dan berpengalaman kalau matamu masih begitu buta tidak dapat melihat seorang sakti mandraguna," kata Adiwijaya sambil tertawa.

Melihat kepala gerombolan Wilis itu agaknya belum mau tunduk kepadanya, Retna Wilis lalu melangkah maju dan berkata, "Paman Walangkoro, kalau dalam segebrakan saja aku dapat merobohkan engkau, apakah engkau masih belum percaya akan kesaktianku?"

"Apa? Andika akan merobohkan aku dalam segebrakan saja? Wahai, puteri muda belia yang suaranya nyaring melebihi halilintar, yang bicaranya tinggi mengatasi puncak Wilis! Kalau betul demikian, aku Ki Walangkoro akan menyembah telapak kaki andika!" kata Ki Walangkoro sambil menyeringai, tidak percaya akan ada orang yang sanggup merobohkannya dalam segebrakan saja, apalagi seorang wanita setengah dewasa seperti Retna Wilis. Retna Wilis tersenyum, akan tetapi senyumnya hanya sedetik, cemerlang seperti menyambarnya kilat di angkasa.

"Kalau begitu, mari kita coba, Paman Walangkoro. Seranglah aku!"

Walangkoro dapat mengerti bahwa kalau tidak memiliki kesaktian yang hebat, tidak nanti dara remaja ini berani menantang seperti itu. Dia tahu bahwa dara ini tentu digdaya sekali dan agaknya dia tidak akan dapat menang, buktinya Adiwijaya yang demikian sakti pun menjadi hambanya. Akan tetapi, kini dia tidak mengharapkan menang, melainkan hendak mempertahankan diri agar tidak sampai roboh dalam segebrakan.

Betapapun juga, dia tetap penasaran tidak dapat percaya bahwa dara ini betapapun saktinya, akan mampu merobohkannya dalam segebrakan. Maka ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, memusatkan perhatiannya dan bersiap menjaga diri sekokoh mungkin dengan memasang aji kekebalannya di seluruh tubuh sambil menjaga bagian tubuh yang tak dapat ia tembusi dengan aji kekebalan.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Jaga serangan!!" ia berseru keras untuk mengguncang ketenangan lawan, tubuhnya yang tinggi besar menerjang ke depan seperti serudukan seekor banteng. Terjangan ini kuat dan cepat, lengan kanan yang panjang dipergunakan untuk mendorong atau memukul ke arah perut Retna Wilis, sedang lengan kiri tetap menjaga depan tubuh sendiri, kedua kaki kokoh kuat menjaga segala kemungkinan. Pendeknya, dalam penyerangan ini, Walangkoro hanya mempergunakan setengah bagian tenaga dan perhatiannya untuk menyerang karena yang setengahnya lagi ia pergunakan untuk menjaga diri agar jangan sampai kena dirobohkan lawan dalam segebrakan.

Retna Wilis memandang lagak lawan dan mulutnya mengembangkan senyum tipis. ia tetap tenang menghadapi terjangan lawannya sambil mengukur jarak. Setelah tubuh lawan yang menerjangnya cukup dekat, hanya satu meter lagi di depannya, dara perkasa ini menggerakkan tangan kirinya seperti orang menampar dari kiri.

Akan tetapi gerakan ini bukanlah tamparan biasa saja karena dara ini telah mengerahkan hawa sakti dari tubuhnya, menyalurkan tenaga mujijat ke dalam tangan yang menampar dengan Aji Pancaroba. Kekuatan yang terkandung dalam aji ini seperti taufan mengamuk dan memang daya pukulan jarak jauh ini seperti hembusan angin tautan yang dahsyat sekali. Ketika kena disambar angin pukulan Pancaroba, seketika tubuh raksasa itu terpelanting, tak kuasa lagi kedua kakinya menahan tubuhnya dan ia roboh bergulingan!

Terdengar Adiwijaya tertawa bergelak dan diam-diam ia memuji diri sendiri yang berpemandangan awas, sudah percaya dan yakin akan kesaktian luar biasa dari dara ini, tidak seperti Walangkoro yang hendak mengujinya. Diam-diam Adiwijaya selain merasa kagum juga ngeri menyaksikan betapa seorang dara semuda itu telah memiliki kesaktian sehebat itu!

Akan tetapi Walangkoro adalah seorang yang bodoh dan kasar. Dia merasa terlalu aneh dapat dirobohkan benar-benar oleh gadis itu dalam segebrakan saja dan hal ini membuatnya penasaran sekali. ia meloncat bangun dengan mata merah saking marah dan penasaran.

"Wahai puteri yang sakti mandraguna! Andika menggunakan aji setan!"

"Hemm, bagaimanakah kehendakmu, Paman Walangkoro?"

"Coba andika merobohkan aku dengan tenaga, dengan tebalnya kulit dan kerasnya tulang!"

"Andika keras kepala! Majulah!" Retna Wilis menantang.

Walangkoro mendengus dan meloncat ke depan, kini ia menggunakan kedua lengannya yang sebesar kaki manusia biasa itu untuk memukul sambil mengerahkan tenaganya. Retna Wilis menyambut dengan tenang, mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menangkis kedua pukulan tangan lawan itu, tangannya yang miring menebas ke arah kedua lengan lawan yang besar dan kuat.

"Wuut-wuut..... krek-krekkk!"

Walangkoro menggereng kesakitan dan terhuyung ke belakang, kedua lengannya tergantung di kanan kiri dengan tulang patah! ia terbelalak, tidak merintih, memandang kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan, dan kekaguman yang mendalam. Kemudian, kedua kakinya bertekuk lutut dan ia menggerakkan kedua lengannya yang sudah patah tulangnya, berusaha menyembah kaku karena lengannya seperti lumpuh, mulutnya berkata,

"Hamba Walangkoro menghaturkan sembah kepada Gusti Puteri Retna Wilis yang mulai saat ini menjadi junjungan dan sesembahan hamba."

Retna Wilis tersenyum girang melihat Walangkoro yang berlutut menyembahnya, di belakang raksasa ini semua anak buah gerombolan Wilis juga berlutut dan menyembah dengan muka membayangkan rasa takut.

"Baiklah, Paman Walangkoro. Aku menerima engkau dan semua anak buahmu menjadi pasukanku. Engkau membantu Paman Adiwijaya, adapun para Paman Wilis ketiganya menjadi pembantu-pembantumu. Sekarang mari kita naik ke puncak." Berangkatlah mereka semua mendaki puncak Wilis setelah Walangkoro dibantu oleh Adiwijaya membalut kedua lengannya yang patah tulangnya dan oleh Adiwijaya diberi obat daun-daun yang mempunyai khasiat mempercepat penyambungan tulang patah.

Mulai hari itu, Retna Wilis menjadi pemimpin pasukan yang jumlahnya hampir dua ratus orang terdiri dari bekas-bekas anak buah pasukan Jenggala dan anak buah Padepokan Wilis yang ditambah anak buah gerombolan Wilis. Akan tetapi Retna Wilis tidak mempergunakan nama padepokan, apalagi gerombolan, dia kini mendirikan sebuah kerajaan kecil, yang disebut Kerajaan Wilis. Adapun Retna Wilis sendiri menjadi ratunya yang oleh para anak buahnya disebut Gusti Puteri Retna Wilis.

Mulailah dara remaja yang amat luar biasa ini menghimpun kekuatan dan mulailah ia memimpin sendiri anak buahnya untuk menaklukkan seluruh daerah. Banyak sekali gerombolan perampok ia taklukkan dan dijadikan anak buahnya, bahkan dusun-dusun di kaki Wilis mulai ia serbu, yang menentang dibunuh, yang takluk dijadikan anak buahnya sehingga dalam waktu beberapa bulan saja, kerajaan Wilis memiliki pasukan yang besar jumlahnya, ribuan orang, dan di lereng-lereng Wilis kini dibangun dusun-dusun baru yang dijadikan tempat tinggal para anak buahnya beserta keluarga mereka.

Retna Wilis sendiri hanya memiliki kesaktian yang luar biasa. Tentu saja dalam hal memimpin orang sedemikian banyaknya sebagai seorang ratu, ia tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Tidaklah mudah memimpin orang-orang yang terdiri dari pelbagai macam golongan itu, bahkan amat sukar menundukkan orang-orang yang tadinya adalah gerombolan perampok yang ganas. Akan tetapi, dengan bantuan Adiwijaya yang berpengalaman sebagai Patih Jenggala, dan Walangkoro yang sudah biasa memimpin gerombolan perampok, Kerajaan Wilis ini dapat berjalan dengan maju pesat. Bukan saja dapat mempergunakan tenaga para rakyatnya, juga dapat mendatangkan kesejahteraan.

Sudah terlalu lama rakyat tertindas oleh pembesar-pembesar lalim, apalagi ketika Jenggala mengalami kesuraman, dan banyak terjadi perang selama beberapa tahun ini. Kini mereka menyaksikan kemajuan Kerajaan Wilis, timbul harapan mereka untuk dapat hidup baik dan makin banyaklah rakyat dari daerah-daerah yang agak jauh berdatangan untuk mencari perlindungan di bawah pimpinan gusti puteri yang dikabarkan sebagai penjelmaan seorang Dewi yang turun dari kahyangan dan yang bertugas mendatangkan kebahagian bagi kehidupan mereka yang tertindas!

Dalam waktu beberapa bulan saja nama Kerajaan Wilis yang dipimpin oleh puteri sakti mandraguna itu menjadl terkenal sampai jauh dari Wilis. Daerah yang jauh di sekeliling Wilis menjadi geger dan gempar karena munculnya puteri jelita dengan pasukannya yang tidak berapa besar itu memang hebat sekali, setiap kali keluar pasti menaklukkan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari kabar tentang kesaktian yang luar biasa dari Puteri Retna Wilis ditambahi bumbu-bumbu yang berlebihan mengagetkan semua orang yang mendengarnya.

Di antara daerah yang agak jauh, hanya daerah Ponorogo yang masih belum takluk kepada Kerajaan Wilis. Daerah-daerah lain, yang lebih jauh sekali pun dari Ponorogo, banyak yang takluk tanpa diperangi. Akan tetapi Ponorogo lain lagi. Daerah ini memang merupakan daerah yang kuat dan yang sejak dahulu juga tidak tunduk kepada Kerajaan Mataram lama.

Hal ini adalah karena Ponorogo mempunyai banyak orang sakti dan kerajaan-kerajaan besar menganggap lebih aman untuk menarik Ponorogo sebagai kerajaan sahabat daripada sebagai musuh atau taklukan. Andaikata ditaklukkan sekali pun, sifat tokoh-tokohnya yang selalu tidak mau ditundukkan akan mengadakan pemberontakan setiap ada kesempatan. Warok-warok Ponorogo memiliki kesaktian yang menggiriskan dan bala tentaranya amat kuat.

Pada waktu itu, yang menjadi adipati di Ponorogo adalah Adipati Diroprakosa, seorang yang berusia empat puluh tahun lebih, selain sakti mandraguna, juga pandai mengatur pemerintahan. Sang adipati ini berhubungan baik sekali dengan Kerajaan Panjalu dan karena maklum akan kejayaan Panjalu, maka sungguhpun tidak secara resmi, namun Adipati Diroprakosa menganggap Panjalu sebagai kerajaan induk, atau sebagai kerajaan yang menjadi atasannya. Apalagi setelah ia menikah dengan puteri Ki Patih Suroyudo, hubungan antara Kadipaten Ponorogo dengan Panjalu menjadi makin baik.

Seperti keadaan Ponorogo semenjak dahulu, pada waktu itu Ponorogo juga mempunyai banyak sekali jagoan-jagoan yang membantu kadipaten, bahkan mereka itu, warok-warok yang digdaya, menjadi tulang punggung yang menegakkan ketenaran nama Kadipaten Ponorogo. Yang mengepalai para warok yang menjadi tokoh yang berpengaruh adalah Ki Warok Surobledug. Bukan karena dia yang paling sakti di antara para warok, sama sekali tidak karena masih ada yang lebih sakti daripada Ki Surobledug, akan tetapi karena Ki Surobledug adalah paman sang adipati, maka tentu saja dia berpengaruh dan berkuasa. Di samping ini, Surobledug seorang yang bijaksana dan pandai bersiasat di samping banyak sekali sahabat-sahabatnya di antara para orang sakti.

Pada waktu itu, Adipati Ponorogo dan para warok sudah mendengar akan nama kerajaan baru di puncak Wilis, dan mengikuti perkembangan kerajaan itu dengan penuh perhatian. Ki Surobledug sudah berkali-kali berunding dengan sang adipati dan para tokoh lain dan mulailah Kadipaten Ponorogo mempersiapkan diri untuk menanggulangi Kerajaan Wilis yang makin lama makin meluas wilayahnya itu. Penjagaan diperkuat, pasukan-pasukan dipersiapkan di perbatasan yang menjadi wilayah Ponorogo, setiap pasukan diperkuat oleh beberapa orang warok yang memiliki ilmu kedigdayaan.

"Dahulu Wilis dipimpin oleh Sang Puteri Endang Patibroto dan pada saat Padepokan Wilis masih berdiri, kita tidak pernah bentrok dengan Padepokan Wilis. Bahkan kita mengalami bantuan-bantuan para ksatria Wilis yang membersihkan perampok-perampok yang mengacau di perbatasan," demikian Adipati Diroprakosa berkata.

"Kemudian terdengar berita bahwa Sang Puteri Endang Patibroto yang namanya sudah terkenal di kolong langit meninggalkan Wilis, kemudian Wilis dikuasai oleh gerombolan liar yang dipimpin oleh seorang yang bernama Ki Walangkoro. Kita sudah mendengar akan keganasan mereka, akan tetapi karena mereka itu yang menamakan diri Gerombolan Wilis tidak pernah berani mengganggu wilayah kita, maka kita pun mendiamkan saja. Sekarang, terjadi perubahan besar di sana dan telah didirikan kerajaan yang menaklukkan banyak daerah. Agaknya mereka itu tentu akan menyerang kita, hanya menanti saatnya saja."

"Benarlah demikian, Puteranda Adipati," kata Ki Warok Surobledug. "Kabarnya yang memimpin Kerajaan Wilis juga seorang puteri, malah kabarnya masih remaja akan tetapi memiliki kesaktian yang dahsyat. Sungguh mengherankan dan saya ingin sekali menyaksikan sampai di mana kebenaran kabar-kabar yang kita dengar."

"Kakang Suro, aku mendengar bahwa puteri itu memiliki kepandaian yang tidak lumrah manusia, seperti siluman, bisa menghilang dan kalau membunuh lawan tidak usah menyentuh tubuh lawan itu!" kata Ki Warok Dwipasakti, seorang warok yang bertubuh kecil kurus akan tetapi sesungguhnya warok ini amat sakti karena dia adalah murid pertama dari Ki Ageng Kelud, seorang panembahan yang sakti mandraguna. Biarpun usianya masih muda, akan tetapi warok kurus ini sesungguhnya memiliki kedigdayaan yang melebihi Ki Surobledug sendiri.

"Hemm, berita-berita seperti itu sukar dipercaya, suka dilebih-lebihkan. Betapapun pandainya seorang manusia kalau dia melakukan hal-hal yang tidak benar, akhirnya tentu dia akan jatuh. Kita tidak perlu takut," kata Ki Surobledug penasaran.

"Wawasan Paman Suro benar dan tepat sekali," kata Adipati Diroprakosa. "Memang kita tidak usah gentar menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang. Apalagi Kerajaan Panjalu tentu tidak akan tinggal diam kalau kekuasaan itu makin merajalela. Betapapun juga, kita tidak boleh lengah dan sebaiknya kalau kita mengadakan penyelidikan ke sana."

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya para tokoh Ponorogo itu ketika penyelidikan dilakukan, mereka mendengar bahwa sang puteri yang kini menguasai Wilis, yang menjadi ratu di sana dan bernama Puteri Retna Wilis, adalah puteri dari Endang Patibroto!

"Ajaib!" seru Ki Surobledug ketika sang adipati mengadakan persidangan lagi. "Puteri Endang Patibroto adalah seorang puteri sakti mandraguna dan bijaksana, yang mendirikan Padepokan Wilis dan anak buahnya adalah satria Wilis, akan tetapi mengapa kini puterinya menjadi ratu yang menaklukkan seluruh daerah sekitarnya dan kabarnya amat ganas membunuh orang-orang yang tidak mau tunduk kepadanya?"

"Mengherankan," kata sang adipati. "Akan tetapi kita harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono. Sebaiknya kalau saya mengirim utusan ke sana, selain untuk memperkenalkan diri juga untuk mengajukan penawaran persahabatan. Kalau memang benar Kerajaan Wilis adalah puteri Endang Patibroto, sekali-kali kita tidak boleh memusuhinya. Apalagi mengingat bahwa puteri Endang Patibroto yang kita hormati itu adalah seorang tokoh Jenggala dan Panjalu."

"Benar," Ki Surobledug mengangguk mempenarkan.

"Malah kabarnya dalam perang yang dilakukan oleh Panjalu untuk menundukkan kekuasaan jahat di Jenggala, Puteri Endang Patibroto juga ikut berjasa."

"Sekarang begini, Paman Surobledug. Paman sendiri memimpin pasukan kecil pergi mendaki puncak Wilis, menghadap sang ratu untuk menyelidiki sendiri, membawa salam perkenalan dan hormat dari saya disertai beberapa barang hadiah sebagai tanda persahabatan."

Demikianlah, sebuah pasukan terdiri dari dua losin orang dibentuk dan pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Warok Surobledug sendiri memimpin pasukannya pergi ke Wilis. Baru saja tiba di perbatasan, mereka telah dihadang oleh pasukan Wilis yang pakaiannya serba hijau, terdiri dari orang-orang kasar yang kelihatannya kuat. Melihat pasukan yang terdiri dari lima puluh orang yang berpakaian serba hijau itu, Ki Surobledug lalu memberi tanda kepada pasukannya yang berpakaian serba hitam untuk berhenti, kemudian ia melangkah maju dan memberi hormat kepada komandan pasukan Wilis.

"Hei, pasukan dari manakah ini berani melanggar wilayah kami? Apakah tidak tahu bahwa wilayah ini adalah perbatasan yang dikuasai Kerajaan Wilis dan tidak boleh ada orang asing memasukinya tanpa izin?" berkata komandan pasukan yang masih muda dan berkumis tebal.

Biarpun komandan pasukan yang berkumis tebal itu termasuk seorang laki-laki gagah yang tinggi besar bentuk tubuhnya, namun dibandingkan dengan Ki Warok Surobledug, ia masih kelihatan kecil! Ki Surobledug menjawab dengan suara halus akan tetapi dengan sikap gagah,

"Kami adalah pasukan utusan sang adipati di Ponorogo, bermaksud naik ke puncak Wilis untuk menghadap Sang Ratu Wilis."

Pasukan berpakaian hijau itu mengeluarkan suara berisik ketika mendengar bahwa pasukan pakaian hitam ini adalah pasukan Ponorogo yang terkenal. Kemudian perwira berkumis itu berkata, "Hemm, ada keperluan apakah pasukan Ponorogo hendak menghadap ratu junjungan kami?"

Ki Surobledug mengerutkan alisnya yang tebal. "Eh, kisanak. Aku adalah seorang utusan adipati. Sebagai utusan, hanya kepada sang ratu di Wilis sajalah aku dapat menyampaikan apa yang ditugaskan oleh sesembahan kami. Hendaknya andika mengerti akan peraturan itu dan suka membawa kami menghadap sang ratu di Wilis."

Perwira itu berpikir sejenak. Dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi ratunya amat bengis terhadap anak buah yang salah tindak, sungguhpun di lain kesempatan ratunya itu amat ramah dan murah tangan terhadap anak buahnya. Ia tahu pula bahwa biarpun ada desas-desus bahwa ratu mereka merencanakan untuk menyerbu Ponorogo, namun kalau belum ada perintah, tidak berani ia berlancang tangan memusuhi pasukan Ponorogo yang berpakaian hitam dan rata-rata anak buahnya bertubuh tinggi besar dan bersikap angker ini.

"Hemm, baiklah, akan tetapi bersumpahlah bahwa kalian menghadap gusti puteri kami dengan itikad baik!"

Ki Warok Surobledug tertawa bergelak. "Andika ini lucu sekali, kisanak! Tanpa bersumpah sekali pun mudah dilihat bahwa kami membawa maksud baik dari junjungan kami. Kalau dengan niat buruk, masa kami hanya datang dengan dua losin perajurit yang membawa tiga buah peti besar berisi barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada ratu kalian?"

Perwira muda itu mengangguk-angguk dan matanya ditujukan kepada tiga buah peti berukir yang digotong oleh perajurit-perajurit berpakaian hitam itu. "Baiklah, mari kalian ikut bersama kami."

Di sepanjang perjalanan menuju ke gunung Wilis, rombongan perajurit berpakaian hitam itu menjadi tontonan orang dan mereka ini lebih tertarik lagi ketika mendengar bahwa mereka adalah pasukan Ponorogo yang terkenal digdaya. Namun berkat kawalan pasukan Wilis yang menjaga perbatasan, perjalanan mereka mendaki gunung Wilis berjalan dengan lancar tanpa gangguan. Diam-diam Ki Surobledug memperhatikan keadaan di sepanjang perjalanan, dan melihat dusun-dusun baru yang dibangun sepanjang jalan dari kaki sampai ke lereng Wilis, diam-diam ia kagum dan memuji kebijaksanaan ratu kerajaan baru ini.

Ketika Retna Wilis mendengar dari pelaporan para penjaga bahwa serombongan utusan Kadipaten Ponorogo mohon menghadap, dia cepat mempersiapkan penyambutan di pendopo istananya yang baru dibangun, bahkan yang belum selesai dibangun dan diperbaiki. Selain dia sendiri, juga Ki Adiwijaya yang ia angkat menjadi patih, dan Ki Walangkoro yang menjadi patih muda, ikut pula hadir menyambut rombongan dua losin perajurit yang dikepalai seorang warok tua yang bertubuh tinggi besar.

Sebagai seorang yang tahu akan tata susila, Ki Warok Surobledug menghadap Ratu Wilis dengan sembah sujud dan penuh hormat tanpa berani mengangkat muka memandang wajah sang ratu. Ia akan mencari kesempatan nanti untuk memandang dan mengenal wajah junjungan baru di Wilis yang dikabarkan sakti mandraguna seperti siluman itu. Di lain pihak, dialah yang menjadi pusat perhatian dan begitu Retna Wilis memandang wajah warok itu, dia mengerutkan kening. Dia merasa kenal kakek tinggi besar ini, akan tetapi dia telah lupa lagi entah di mana dia pernah berjumpa dengannya.

Adapun Adiwijaya dan Walangkoro memandang warok itu dan diam-diam harus mengakui bahwa kakek ini akan merupakan lawan yang berat. Kalau banyak tokoh Ponorogo seperti kakek ini, benarlah berita bahwa Ponorogo memiliki banyak tokoh sakti.

"Paman, andika siapakah dan apa maksudmu membawa pasukan menghadap padaku?" Retna Wilis bertanya dan diam-diam Ki Surobledug tercengang mendengar suara yang halus, merdu dan sama sekali tidak seperti suara orang-orang sakti mandraguna itu.

Namun ia menyembah dan menjawab, "Hamba pemimpin pasukan ini sebagai utusan gusti hamba adipati di Ponorogo dengan membawa salam persahabatan dan barang-barang persembahan untuk dihaturkan paduka, Gusti. Hamba Ki Surobledug menghaturkan sembah." Sambil berkata demikian, Ki Surobledug menyembah dan menggunakan kesempatan itu untuk menengadah dan memandang wajah sang ratu yang demikian menggegerkan daerah Wilis.

Retna Wilis dan Ki Surobledug mengalami guncangan hati pada saat yang sama. Ketika mendengar nama Ki Surobledug, teringatlah Retna Wilis kepada kakek ini. Di lain pihak, begitu menyaksikan wajah sang ratu, Ki Surobledug menjadi pucat wajahnya karena dia segera mengenal wajah dara perkasa yang dahulu membunuh empat orang anak murid Panembahan Ki Ageng Kelud, dan pernah merobohkannya, bahkan yang hampir saja membunuh dia dan Ki Ageng Kelud!

Kiranya murid Nini Bumigarba yang menjadi ratu di Wilis! Kenyataan ini membuat ia termangu penuh kegentaran hati. Pantas saja dianggap sebagai seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian seperti siluman, kiranya dara siluman itu sendiri yang menjadi ratu di sini! Akan tetapi, sebagai utusan kadipaten ia tidak berani mencampurkan urusan pribadinya dan ia pura-pura tidak mengenal ratu itu. Retna Wilis tersenyum dan suaranya mengandung hawa dingin ketika ia berkata,

"Hemm, Ki Surobledug. Kiranya andika yang menjadi utusan Ponorogo. Hemm, aku menerima baik uluran tangan Adipati Ponorogo untuk bersahabat. Akan tetapi persembahan hanya dapat kuterima sebagai persembahan Kadipaten Ponorogo yang tunduk dan mengakui Kerajaan Wilis sebagai kerajaan terbesar, mengakui kedaulatanku sebagai Ratu Wilis. Jika Kadipaten Ponorogo suka mentaati semua permintaanku, aku akan menganggapnya sebagai kadipaten yang membantu dan sepatutnya dijadikan sahabat. Pertama-tama aku akan mengajak barisan Kadipaten Ponorogo untuk membantuku menaklukkan semua kerajaan kecil dan kadipaten di sebelah timur sampai di Kerajaan Panjalu."

"Wah, ini tidak mungkin!" Ki Surobledug berseru kaget.

"Hemm, apanya yang tidak mungkin, Ki Surobledug? Lanjutkan ucapanmu."

Kini Ki Surobledug yang kaget sekali mendengarkan ucapan ratu itu, tidak ragu-ragu lagi memandang wajah cantik jelita dan masih remaja itu, dan sinar mata mereka saling menentang. Ki Surobledug merasa betapa tengkuknya menjadi dingin ketika bertemu pandang, akan tetapi dengan penuh semangat ia berkata,

"Ampunkan hamba, Gusti Puteri. Hamba tahu betul bahwa tidaklah mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang kadipaten-kadipaten dan kerajaan-kerajaan kecil di sebelah timur, untuk membantu kerajaan paduka. Oleh karena daerah itu adalah termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Panjalu. Tidak mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang daerah Panjalu, karena Kerajaan Panjalu merupakan Kerajaan yang dijunjung tinggi oleh Ponorogo. Tidak mungkin Gusti."

Tiba-tiba terdengar suara Ki Walangkoro yang besar dan nyaring. "Apa yang tidak mungkin bagi gusti puteri kami? Tidak ada hal yang tidak mungkin! Engkau lancang mulut, heh, utusan gemblung!"

Ki Surobledug menoleh dan sejenak kedua orang tinggi besar itu bertemu pandang. Kemudian terdengar suara Ki Patih Adiwijaya yang tegas dan mantap,

"Heh, utusan Ponorogo! Andika hanya seorang utusan. Tahukah andika kewajiban seorang utusan? Hanya menyampaikan pesan junjunganmu dan menerima balasan dari kerajaan yang kau kunjungi. Mengapa kini andika lancang sekali berani mengemukakan pandapat pribadi andika?"

Merah wajah Ki Surobledug ketika ia menatap wajah Adiwijaya. Merah karena malu. Tentu saja ia maklum bahwa memang sikapnya tidak dapat dikatakan benar, bahkan melanggar peraturan yang lajim. Menurut aturan, seorang utusan tidak boleh diganggu sama sekali, akan tetapi juga sebagai utusan sama dengan benda mati, hanya menyampaikan pesan dan menerima balasan. Kini diserang oleh ucapan Adiwijaya yang tepat, ia menjadi bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tadi ia kelepasan bicara saking kaget dan marahnya mendengar Ratu Wilis menganggap Ponorogo sebagai kerajaan yang lebih rendah dan mengajak, atau memerintahkan dengan halus, untuk mengkhianati Panjalu!

"Ki Surobledug, apa jawabmu?" Tiba-tiba Retna Wilis bertanya, suaranya tetap halus namun mengandung desakan yang tak mungkin dapat ditangkis lagi.

Ki Surobledug menahan napas panjang. Tidak ada jalan lain baginya untuk mengelak dan menarik kembali kata-katanya dan karena ia merasa benar, ia tidak menjadi takut lalu berkata,

"Mohon ampun, Gusti Puteri. Sesungguhnya hamba pun mengerti akan tugas dan kewajiban hamba sebagai utusan, mengerti bahwa sebagai utusan hamba tidak boleh bicara mengemukakan pendapat pribadi hamba. Akan tetapi, hamba yakin bahwa pendapat hamba ini juga menjadi pendapat gusti adipati di Ponorogo. Kadipaten Ponorogo mengulurkan tangan kepada Kerajaan Wilis, apalagi mengingat bahwa kabarnya paduka adalah puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto yang kami hormati, dan tentu saja Kadipaten Ponorogo mengakui kedaulatan paduka sebagai ratu di Wilis. Akan tetapi, kalau Kadipaten Ponorogo diajak untuk menyerang daerah Kadipaten Panjalu, hal ini sama sekali tidak mungkin dapat dilakukan oleh Kadipaten Ponorogo."

Hening sejenak setelah ki warok itu bicara dengan suara lantang. Semua orang menjadi ngeri. Belum pernah ada orang berani menentang keputusan atau perintah sang ratu, karena menentang sedikit saja berarti mati dalam keadaan mengerikan. Semua orang menanti, dan mereka tidak akan heran kalau pada saat itu sang ratu menggerakkan tangan, sekali bergerak saja membunuh utusan itu dengan hawa pukulan tangannya. Akan tetapi, hanya terdengar Retna Wilis menarik napas panjang dan berkata,

"Ki Surobledug, apakah andika tidak mengenalku?"

Ki Surobledug mengangguk. "Hamba mengenal paduka, Gusti Puteri yang sakti mandraguna."

"Engkau tahu betul bahwa sekali ada niat di hatiku, membunuhmu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku?"

Kembali Surobledug mengangguk. "Hamba mengerti, Gusti."

Suara Retna Wilis meninggi, penuh wibawa, "Kalau begitu, andika tentunya tidak buta untuk melihat bahwa Kadipaten Ponorogo tidak mungkin dapat menolak perintahku, tidak mungkin dapat menentangku? Menentangku berarti hancur lebur, Ki Surobledug!"

"Hamba mengerti, Gusti. Akan tetapi, negara yang besar harus memiliki pendirian sebagai seorang satria yang juga menjadi pendirian Sang Adipati Ponorogo. Kami adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kesetiaan. Biarpun hancur lebur, kalau Ponorogo tetap setia Panjalu, berarti hancur sebagai sebuah kerajaan besar. Apakah artinya hidup kalau menjadi pengkhianat? Ponorogo takkan pernah menjadi pengkhianat, Gusti."

"Eh, Ki Surobledug. Apakah pangkatmu di Ponorogo?"

"Hamba hanya seorang penasehat saja yang mengepalai warok-warok di Ponorogo."

"Bagaimana andika begitu yakin bahwa pendirian Adipati Ponorogo sama dengan pendirianmu?"

"Sang adipati adalah keponakan hamba dan pendiriannya dalam hal ini tidak ada bedanya dengan pendirian hamba."

"Wah-wah-wah, si keparat Surobledug! Gusti Puteri, perkenankan hamba menghancurkan kepala warok sombong ini!" tiba-tiba Ki Walangkoro berkata dengan mata melotot. Retna Wilis mengangkat tangan menyuruh patih muda itu diam, kemudian ia berkata kepada Surobledug,

"Alangkah mudahnya bagiku untuk membunuh andika dan anak buah andika, Surobledug. Dan alangkah mudahnya bagiku untuk menyerbu dan menghancurkan Ponorogo. Akan tetapi aku tidak akan membunuhmu dan aku masih memberi kesempatan kepada Ponorogo untuk mempertimbangkan perintahku. Aku kagum akan keberanianmu, akan tetapi juga geli hatiku menyaksikan kebodohanmu. Nah, sekarang pulanglah, andika, dan sampaikan kepada junjunganmu, juga keponakanmu, sang adipati di Ponorogo bahwa aku memberi waktu kepadanya selama satu bulan, dia sendiri harus datang menghadap padaku dan menyatakan ketaatannya akan perintahku, mempersiapkan bala tentara yang harus membantuku menaklukkan kadipaten-kadipaten lain di sebelah timur. Kalau dalam waktu sebulan dia tidak menghadap, berarti dia menentang dan jangan tanya tentang dosa kalau aku akan membikin Ponorogo menjadi karang abang (lautan api). Nah, pergilah engkau, bawa kembali barang-barangmu karena aku tidak membutuhkan persembahan orang yang tidak mau tunduk kepadaku!"

Surobledug maklum bahwa bicara lagi tidak akan ada gunanya, bahkan sama dengan bunuh diri, maka ia menyembah lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat kembali barang-barang persembahan sebanyak tiga peti itu dan keluar dari halaman istana dan kembali menuruni lereng Wilis, kembali ke Ponorogo. Setibanya di Ponorogo, Ki Surobledug langsung menghadap kadipaten dan betapa kagetnya sang adipati dan para tokoh Ponorogo ketika mendengar laporan Ki Surobledug yang berkata dengan suara cemas,

"Waduh, celaka, Puteranda Adipati! Kiranya siluman betina itu benar-benar siluman murid Nini Bumigarba! Sungguh mengherankan bagaimana puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto menjadi siluman betina seperti itu!" Dia lalu menuturkan semua pengalamannya ketika menghadap Ratu Wilis dan menutup penuturannya dengan kata-kata, "Kita pasti akan digempur dan agaknya amatlah sukar mencari orang yang akan sanggup menandingi kesaktian Retna Wilis!"

Sang Adipati Diroprakosa mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang. "Kita harus berusaha. Sikapmu benar sekali, Paman. Memang bagiku sendiri, lebih baik mati bersama kadipaten ini yang dihancurkan daripada hidup menjadi pengkhianat yang menyerang daerah Panjalu. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempersiapkan barisan, menjaga kuat-kuat Kadipaten Ponorogo dan kita harus mencari bala bantuan orang-orang sakti."

Demikianlah, Ponorogo lalu sibuk mengatur persiapan untuk menanggulangi ancaman bahaya hebat yang datangnya dari Kerajaan Wilis yang baru itu. Utusan-utusan dikirim ke pelbagai tempat untuk minta bantuan orang-orang sakti, di antaranya Panembahan Ki Ageng Kelud, para pertapa-pertapa dan orang-orang sakti lainnya. Juga ada utusan yang dikirim ke Kerajaan Panjalu untuk mencari bala bantuan, disertai surat dari Adipati Diroprakosa sendiri yang harus disampaikan secara pribadi kepada Ki Patih Tejolaksono karena menurut pendapat para tokoh Ponorogo, kiranya hanyalah Ki Patih Tejolaksono sajalah orangnya yang akan cukup kuat untuk menandingi Retna Wilis.

********************

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 43

Thanks for reading Perawan Lembah Wilis Jilid 42 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »