Perawan Lembah Wilis Jilid 40

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 40

TUBUH Bagus Seta menjadi demikian ringan sehingga setiap terkaman membuat tubuhnya bergerak menjauh terdorong oleh angin yang mendahului gerakan tangan lawan. Dilihat dari jauh, tampaknya Wasi Bagaspati seperti seorang anak-anak yang berusaha menangkap seekor kupu-kupu, atau seorang gila yang berusaha menangkap asap!

Melihat kehebatan putera mereka, Tejolaksono dan Endang Patibroto serta Ayu Candra terbelalak kagum, akan tetapi Tejolaksono yang bijaksana dan dapat mengenal kesaktian luar biasa yang dimiliki puteranya, cepat berkata, "Mari kita membantu mereka di bawah!" Tubuhnya melompat turun panggung diikuti Endang Patibroto dan Ayu Candra.

Di bawah panggung terjadi pertandingan yang lebih ramai, seru dan dahsyat sekali. Empat orang muda mengamuk seperti banteng-banteng terluka. Terutama sekali sepak terjang Pusporini dan Joko Pramono yang seakan-akan berlomba dan bersicepat merobohkan Cekel Wisangkoro membuat cekel itu kewalahan. Melawan seorang saja di antara dua orang murid Resi Mahesapati ini masih diragukan apakah dia akan sanggup mengalahkannya, apalagi kini dua orang murid itu maju bersama mengeroyoknya.

Cekel Wisangkoro memutar tongkat ularnya dengan nekat dan mengerahkan seluruh kedigdayaannya, mengeluarkan segala ilmunya, namun sia-sia. Segala macam mantera telah ia ucapkan, mantera-mantera yang mengandung kekuatan ilmu hitam yang biasanya akan dapat melumpuhkan kekuatan lawan, akan tetapi terhadap dua orang muda ini tidak mempan sama sekali. Gerakan tongkat ularnya yang cepat itu tidak dapat mengatasi gerak cepat kaki tangan Pusporini dan Joko Pramono sehingga ia terus didesak mundur.

Ketika untuk kesekian kalinya tongkatnya tidak menemui sasaran setelah ia sabetkan melingkar ke depan menghantam dua orang lawannya yang mengelak cepat, Joko Pramono mengirim pukulan yang ampuhnya menggila, yaitu pukulan dengan Aji Cantuka Sekti ke arah dada lawan. Cekel Wisangkoro tergesa-gesa membuang diri ke kiri menghindarkan pukulan maut itu.

Akan tetapi dari kiri menyambar tangan Pusporini yang menyerang dengan pukulan Pethit Nogo. Cekel Wisangkoro kaget sekali, cepat mengangkat tongkat ularnya, disabetkan ke arah pergelangan gadis itu. Akan tetapi Pusporini sudah memutar pergelangan tangannya dan merubah tamparan menjadi cengkeraman yang berhasil menangkap tongkat ular!

Cekel Wisangkoro terkejut, mengerahkan seluruh tenaga dan menggereng sambil membetot untuk merampas kembali tongkatnya, akan tetapi tongkat itu tidak dapat terlepas dari cengkeraman Pusporini. Pada saat itu Joko Pramono yang tidak mau kalah sudah memukul lagi dengan Aji Cantuka Sekti ke arah perut lawan.

Melihat, datangnya pukulan, Cekel Wisangkoro dapat mengenal bahaya maut, terpaksa ia melepaskan tongkatnya dan menggunakan lengan kanan untuk menangkis pukulan itu. Akan tetapi karena gerakannya ini agak terlambat dan tenaganya pun tidak cukup dipersiapkan dalam menghadapi pukulan sakti itu, ketika kedua lengan bertemu, tubuhnya terpental ke belakang, lengan kanannya seperti lumpuh dan ia jatuh terguling-guling.

"Toloooonggg... tolong, Bapak guru, tolong!!" Saking panik dan takutnya, kini Cekel Wisangkoro berteriak-teriak minta tolong.

Akan tetapi Wasi Bagaspati yang sibuk dan bernafsu sekali merobohkan Bagus Seta itu tidak memperdulikan teriakan muridnya ini. Belasan orang anak buah yang tadinya tak dapat membantu karena jalannya pertempuran amat cepat sehingga sukar bagi mereka untuk turun tangan mencampuri dan membantu, kini menerjang maju dengan tombak dan golok mereka yang datang bagaikan hujan menyerang Pusporini dan Joko Pramono.

Akan tetapi terjangan itu sama dengan terjangan sekumpulan laron terhadap api. Terdengar tombak patah golok terbang dan pekik-pekik kesakitan ketika sepuluh orang di antara mereka terpental kocar-kacir tercium tendangan-tendangan kaki Pusporini dan Joko Pramono.

Akan tetapi hambatan ini menyelamatkan Cekel Wisangkoro yang telah lari entah ke mana karena ketika Pusporini dan Joko Pramono memandang dan mencari, bayangan cekel pengecut itu telah lenyap. Dengan marah kedua orang muda perkasa ini lalu menoleh ke arah pertandingan di bagian lain di mana tadi Setyaningsih dan suaminya mengamuk.

Seperti halnya Joko Pramono dan Pusporini yang segera turun tangan menyerang orang-orang yang menjadi tokoh penting dari pihak lawan, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih juga langsung menerjang Sariwuni ketika mereka berdua meloncat turun dari atas panggung. Biarpun Sariwuni tidak sehebat Cekel Wisangkoro kesaktiannya, dia adalah kekasih Wasi Bagaspati dan tentu saja sudah banyak menerima petunjuk Sang Wasi. Bahkan Sariwuni menerima sebuah ilmu yang dahsyat dan mujijat, yaitu Aji Wisakenaka yang membuat sepuluh buah kuku jarinya merupakan sepuluh buah keris-keris kecil yang mengandung racun ampuh!

Begitu melihat turunnya Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit dari atas panggung, Sariwuni lalu menyambut mereka dengan cakaran-cakaran kukunya yang beracun. Akan tetapi dengan mudahnya suami isteri ini mengelak dan balas menyerang dengan pukulan-pukulan maut. Terutama sekali Setyaningsih yang telah menerima gemblengan ayundanya, Endang Patibroto, wanita muda ini segera mencecar Sariwuni dengan tamparan Pethit Nogo.

Dalam kemarahan mereka terhadap Sariwuni yang tadi menari-nari dan jelas mengandung niat kotor terhadap Tejolaksono, suami isteri muda ini mengambil keputusan tetap untuk membunuh wanita cabul ini. Tujuh orang wanita murid-murid Ni Dewi Nilamanik cepat maju dan membantu Sariwuni. Mereka adalah murid-murid Ni Dewi Nilamanik, tentu saja telah memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dalam pertempuran, tidak seperti para anak buah di situ yang hanya dapat bertempur berdasarkan ketaatan mereka terhadap perintah pimpinan.

Tujuh orang wanita yang masih berpakaian putlh tipis sehingga tubuh mereka membayang seperti orang bertelanjang bulat itu kini bergerak-gerak mengepung Pangeran Panji Sigit dan Setyaningslh. Dari tubuh mereka tercium wangi-wangian yang sengaja mereka pakai dalam pesta tadi. Bau wangi dan ketelanjangan mereka ini memuakkan hati Setyahingsih yang mengamuk makin hebat. Dua orang penari itu telah roboh dengan kepala pecah terkena sambaran aji pukulan Pethit Nogo, sedangkan Pangeran Panji Sigit yang merasa enggan untuk menyentuhkan tangannya kepada tubuh para pengeroyok yang seperti telanjang itu, telah merobohkan seorang penari dengan tendangan yang bersarang di lambung.

Sariwuni menjadi marah sekali melihat betapa dalam waktu singkat tiga orang pembantunya telah roboh binasa. Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan menerjang ke arah Setyaningsih dengan sebatang pedang yang ia cabut dari punggungnya. Setyaningsih sengaja menanti datangnya tusukan pedang. Melihat kelambatnya isterinya, Pangeran Panji Sigit berseru,

"Isteriku, awas....!" Akan tetapi pedang di tangan Sariwuni sudah datang menusuk sedangkan Pangeran Panji Sigit sendiri sedang dikeroyok dua orang wanita yang memegang golok.

Ketika pedang itu hampir menyentuh Setyaningsih, wanita perkasa ini secara tiba-tiba miringkan tubuh dan secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan Sariwuni, mengerahkan tenaga menambah tenaga serangan lawan terus mendorongkan tubuh Sariwuni ke depan, ke arah seorang di antara dua orang penari lain yang hendak menyerangnya dari belakang.

"Blessss....!"

Pedang di tangan Sariwuni tanpa dapat dicegah lagi memasuki perut seorang penari sampai tembus ke punggungnya saking kerasnya luncuran pedang yang ditambah oleh tenaga dorong Setyaningsih tadi. Terdengar jerit mengerikan ketika penari itu roboh membawa pedang Sariwuni yang melepaskan senjatanya dan berdiri memandang dengan mata terbelalak.

Kemudian ia menjadi demikian marah sehingga diterjangnya Setyaningsih dengan nekat, menggunakan kedua cakar tangannya yang berkuku hitam panjang beracun. Sebenarnya, kalau Sariwuni menggunakan kedua tangan yang memiliki sepuluh buah kuku beracun ini, dia malah lebih berbahaya daripada kalau bersenjatakan pedang. Kini ia menyerang dengan nekat saking marahnya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya terjangan kedua cakarnya ke arah tubuh Setyaningsih.

Setyaningsih maklum akan bahayanya serangan ini. Wanita yang pendiam ini memiliki keberanian luar biasa dan dalam detik penuh bahaya itu dia sudah dapat menemukan akal yang jarang berani dilakukan orang lain. Ia meloncat mundur mendekati seorang penari yang membawa golok kemudian kakinya tergelincir dan tubuhnya roboh! Melihat ini, Sariwuni menjadi girang dan menubruk. Juga penari itu mengangkat goloknya membacok.

"Setyaningsih...!" Pangeran Panji Sigit yang khawatir sekali cepat merobohkan dua orang penari yang mengeroyoknya dengan pukulan kedua tangannya.

Menghadapi isterinya terancam bahaya, pangeran ini tidak segan-segan lagi untuk menghantam dua tubuh berpakaian tipis semrawang itu sehingga mereka roboh dan tewas seketika karena yang seorang patah tulang tengkuknya sedangkan yang ke dua retak kepalanya terkena pukulan Pangeran Panji Sigit. Dia lalu membalikkan tubuh siap membantu isterinya, akan tetapi pangeran ini terbelalak kagum menyaksikan sepak terjang isterinya.

Ternyata Setyaningsih yang memang jatuhnya adalah buatan atau pancingan, melihat datangnya serangan Sariwuni dan penari itu, cepat menggulingkan tubuh mendekati penari, menangkap pergelangan tangannya, tubuhnya sendiri meloncat bangun secara tiba-tiba dan tubuh penari itu dipergunakan untuk menyerang Sariwuni yang sedang menerkamnya.

Sariwuni terkejut dan terpaksa menangkis dengan cengkeraman sehingga lima buah kuku hitam runcing menancap di pipi penari itu yang menjerit ngeri dan ketika tubuhnya dilepaskan, ia merintih-rintih, mencakari mukanya yang berubah menjadi hitam, berkelojotan menjerit-jerit sebentar kemudian selagi Sariwuni memandang korban ke dua ini dengan mata terbelalak, kesempatan ini dipergunakan oleh Setyaningsih untuk menubruk dan mengirim pukulan ke arah ulu hatinya.

Sariwuni berteriak marah dan menangkis dengan tangan kanannya bahkan balas mencengkeram dengan tangan yang menangkis itu, namun ia kalah cepat dan Setyaningsih sudah merubah pukulan Pethit Nogo itu dengan menangkap pergelangan tangan lawan. Pada saat itu, Pangeran Panji Sigit sudah meloncat datang dan tangan kiri Sariwuni yang mencakar ke arah Setyaningsih itu tiba-tiba ditangkap oleh Pangeran Panji Sigit. Tanpa berunding lagi suami isteri ini dengan gerakan serentak lalu memutar lengan yang mereka tangkap dari kanan kiri sambil mengerahkan tenaga.

"Krekkl Krekkk!" Sambungan sepasang lengan itu putus di tiga tempat, yaitu di pundak, siku, dan pergelangan.

Tentu saja kedua lengan Sariwuni menjadi lumpuh seketika. Dan pada saat itu, sebelum Setyaningsih dan suaminya melepaskan lengan yang sudah lumpuh, terdengar bentakan Endang Patibroto, "Ningsih! Pangeran! Minggir!!"

Tubuh Endang Patibroto yang baru saja meloncat turun dari panggung bersama Tejolaksono dan Ayu Candra, menyambar bagaikan seekor burung dan sebuah pukulan dahsyat menghantam kepala Sariwuni sehingga remuk dan isi kepalanya muncrat berhamburan. Untung Pangeran Panji Sigit dan isterinya sudah meloncat mundur ketika mendengar seruan ayunda mereka, kalau tidak tentu akan terkena percikan darah dan otak. Semua orang anak buah Sariwuni yang berada di situ memandang dengan muka pucat dan hati penuh ketakutan.

Memang Endang Patibroto kalau sedang marah amatlah menakutkan sepak-terjangnya. Dan dia amat marah kepada Sariwuni yang ia tahu hendak mempermainkan suaminya. Rasa marah karena cemburu. Setelah Cekel WiSangkoro melarikan diri dan Sariwuni tewas, tujuh orang perkasa itu tentu saja bukan lawan para anak buah di situ, apalagi karena tenaga yang agak boleh diandalkan, yaitu tujuh orang penari yang membantu Sariwuni juga sudah tewas. Terjadilah panik dan anak buah itu melawan dengan nekat dan ada yang mulai lari berserabutan saling tabrak.

Sementara itu, pertandingan antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta juga berlangsung dengan seru. Mula-mula tidak tepat disebut pertandingan kareria yang menyerang hanyalah sefihak, yaitu Wasi Bagaspati yang masih mempergunakan kecepatan dan tenaga dalam usahanya menagkap tubuh Bagus Seta yang ringan seperti asap itu.

Makin penasaran karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, bahkan membantu dengan pengerahan kekuatan batin untuk menundukkan dan mempengaruhi hati dan pikiran Bagus Seta. Namun semua itu sia-sia belaka, pemuda itu tetap bersikap tenang sekali, sedikit pun tidak goyah oleh tarikan tenaga mujijat dari kekuatan batin Sang Wasi, dan tubuhnya masih selalu berkelebat tak pernah dapat disentuh kedua tangan Wasi Bagaspati.

"Bocah keparat Bagus Seta! Apakah gurumu mengajar engkau menjadi pengecut yang hanya pandai mengelak dan menghindari semua pukulan lawan?" Bentak Wasi Bagaspati yang kehabisan akal untuk dapat menangkapnya dan kini berdiri dengan mata melotot.

Bagus Seta pun menghentikan gerakan tubuhnya, berdiri tenang dan balas bertanya, "Apakah yang kau kehendaki dariku, Sang Wasi?"

"Kalau andika memang sakti mandraguna, hayo hadapi aji pukulan dengan aji pukulan pula. Keluarkan kesaktianmu, keparat!"

"Sang Wasi Bagaspati, kekasaran takkan dapat mengatasi kehalusan, kekasaran takkan dapat menanggulangi kelunakan seperti juga kesalahan takkan dapat memenangkan kebenaran. SURO DIRO JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI, Sang Wasi. Mengapa andika hendak memaksakan keadaan yang sebaliknya? Andika menghendaki aku menggunakan kekerasan menghadapi kekerasanmu? Andika yang menghendaki, bukan aku. Nah, silahkan!" Setelah berkata demikian, Bagus Seta membuka kedua kakinya ke kanan kiri, tubuhnya agak merendah, pandang matanya tajam ke depan dan kedua tangan diangkat sedikit di kanan kiri lambung dengan jari-jari tangan terbuka.

Melihat ini, Wasi Bagaspati maklum bahwa itulah sikap dan kuda-kuda orang yang mengandalkan tenaga sakti untuk menghadapi lawan tangguh, maka ia bersikap hati-hati, diam-diam mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan tiba-tiba dari dalam dadanya keluar suara menggetar yang tak terdengar telinga saking rendahnya, namun yang wibawanya menggetarkan lawan sehingga tanpa memukul pun getaran itu akan dapat mengguncang jantung lawan dan menewaskannya.

Kemudian ia melompat ke depan dan memukul dengan kedua telapak tangannya didorongkan ke arah dada Bagus Seta. Hebat luar biasa kekuatan pukulan kedua lengan ini, dan sekiranya yang didorong ini sebarisan orang yang puluhan banyaknya, agaknya akan dapat didorong roboh oleh kedasyatan tenaga sakti yang keluar dari sepasang tapak tangan merah Sang Wasi Bagaspati. Bagus Seta sudah waspada akan kedahsyatan lawan, nemun dengan sikap tenang ia pun menggerakkan kedua lengannya didorongkan ke depan menerima dua telapak tangan lawan itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Dessss...!!" Dua pasang telapak tangan yang penuh hawa mujijat bertemu dan menimbulkan getaran hebat sehingga panggung itu hampir roboh karena terguncang. Tubuh Wasi Bagaspati terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan tubuh Bagus Seta tergoyang-goyang seperti pohon waringin tertiup badai.

Wajah Wasi Bagaspati yang biasanya merah sekali itu kini menjadi agak pucat dan maklumlah ia bahwa pemuda remaja itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat mengejutkan. Diam-diam ia merasa mendongkol sekali kepada Bhagawan Ekadenta yang agaknya sengaja menciptakan pemuda sakti ini untuk menentang usahanya. Pikiran ini membuat hatinya bergelora penuh penasaran dan kemarahan, membuat ia lupa diri dan mulutnya berkemak-kemik, kemudian ia membentak,

"Bagus Seta, engkau lebih sombong daripada gurumu! Kau kira berhasilkan mengalahkan Wasi Bagaspati, murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa? Lihatlah senjata ini yang akan menghancur lumatkan tubuhmu, keparat!" Kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang tiba-tiba saja sudah memegang senjatanya yang amat ampuh, senjata Cakra yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata. Melihat senjata itu, Bagus Seta mengerutkan alisnya.

"Sang Wasi Bagaspati, ingatlah akan kesucian pusaka itu. Hendakkah andika mencemarkannya dengan mempergunakan nafsu angkara murka?"

"Senjata ini adalah milikku, perduli apa engkau akan penggunaannya? Keparat, kalau engkau takut menghadapinya, hayo berlutut dan menyerah!" Suara ini amat berpengaruh karena terdorong oleh kekuatan mujijat maha dahsyat yang keluar dari cahaya senjata Cakra itu.

Maklum bahwa menghadapi senjata itu berarti menghadapi perjuangan mati hidup seperti yang dipesan gurunya, Bagus Seta lalu memejamkan mata sejenak, kemudian mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang setangkai bunga Cempaka Putih di atas kepala. Dengan mata menatap wajah Wasi Bagaspati dan setangkai bunga Cempaka Putih diangkat tinggi, bunga yang segar seakan-akan memang tumbuh di atas telapak tangan pemuda itu dan mengeluarkan cahaya gemilang, ia berkata,

"Sang Wasi Bagaspati, kalau andika menghendaki penentuan terakhir dalam hidup kita di dunia ini, aku sudah siap menghadapimu!"

Ketika Wasi Bagaspati melihat setangkai bunga Cempaka Putih di tangan Bagus Seta, seketika kedua kakinya menggigil dan jantungnya berdebar keras. Terbayanglah peristiwa puluhan tahun yang lalu ketika ia bertapa di bawah pohon Cempaka untuk mengisi kekuatan mujijat pada senjata Cakra yang terletak di depan dia duduk bersila. Dia sedang bersamadhi dengan tekun dan hening, kekuatan mujijat memancar melalui dirinya dan meluncur turun memasuki senjata Cakra itu.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara perlahan dan matanya yang terpejam seperti melihat cahaya putih berkelebat dan seketika perhatiannya terpecah dan kekuatan mujijat itu berhenti mengalir seperti air dibendung. Ketika ia membuka matanya, ternyata di atas senjata Cakra itu terdapat setangkai bunga Cempaka Putih yang agaknya rontok dari pohon dan jatuh menimpa senjata Cakra sehingga mengganggu keheningan samadhinya dan terhentilah pengisian tenaga sakti ke dalam senjata itu.

Hal ini dianggapnya sebagai peringatan dari dewata bahwa pengapesan yang merupakan pantangan bagi senjata pusaka itu adalah setangkai bunga Cempaka Putih. Dan sekarang, Bagus Seta memegang setangkai bunga Cempaka Putih yang mengeluarkan sinar gemilang!

Tangan Wasi Bagaspati yang memegang senjata Cakra menggigil ketika ia merasa betapa senjata pusakanya menggetar dan seperti seekor kelinci ketakutan yang berusaha untuk lari menyembunyikan dirinya. Dia bukan seorang bodoh dan tanda-tanda seperti itu tak berani ia menerjangnya. Cepat ia menyimpan kembali senjatanya dan meloncat ke atas sambil membentak marah,

"Auuunggghh! Bagus Seta manusia keparat!" Kemarahannya ini adalah ketika ia melihat tewasnya Sariwuni dan tujuh orang penari serta banyak anak buah di situ. "Awaslah engkau, akan tiba saatnya engkau menyesali sikapmu memusuhi aku!"

"Aku tidak memusuhimu, Wasi Bagaspati," jawab Bagus Seta akan tetapi tubuh Wasi Bagaspati sudah mencelat jauh, dalam sekejap mata saja sudah tak tampak lagi seolah-olah ditelan bumi.

Bagus Seta menghela napas panjang, menyimpan bunga Cempaka Putih dan menengok. Ketika ia melihat betapa ayah dan kedua bundanya, juga dua pasang bibi dan pamannya mulai mengamuk di antara para anak buah lawan yang lari berserabutan dengan panik, ia lalu meloncat turun dan berkata halus,

"Kangjeng Rama, Ibu, Bibi, dan Paman! Harap menaruh kasihan kepada mereka."

Tujuh orang sakti itu tertegun mendengar suara halus Bagus Seta dan serentak mereka menghentikan amukan dan menghampiri Bagus Seta. Akan tetapi Endang Patibroto membantah,

"Puteraku sang sakti Bagus Seta. Mereka adalah anak buah musuh yang mengacaukan negara, sudah sepatutnya kalau dibunuh. Bukankah kita sedang berjuang?"

Bagus Seta tersenyum dan baru senyum ini saja sudah mengusir sebagian besar kemarahan dan kebencian dari hati Endang Patibroto terhadap musuhnya.

"Ibunda benar, perang membela nusa bangsa adalah perjuangan yang menjadi kewajiban setiap orang satria. Akan tetapi, perang menghadapi pihak yang melawan barulah namanya perjuangan, adapun membunuhi pihak yang tidak mampu melawan dan tidak mau melawan lagi namanya penyembelihan yang lahir dari nafsu kebencian. Membunuh dalam perjuangan sama sekali bebas daripada benci, sebaliknya membunuh dengan hati membenci bukanlah perjuangan namanya. Bedanya amat besar, Kanjeng Ibu."

Endang Patibroto melongo dan menghela napas panjang. "Duhai puteraku, engkau membuka mata dan hatiku."

Ayu Candra sudah merangkul puteranya dan mengelus-elus rambut kepala puteranya penuh kasih sayang. Tidak ada kata-kata keluar dari mulut ibu akan tetapi getaran yang keluar dari sentuhan jari-jari tangan, pancaran pandang mata yang keluar dari sepasang mata yang basah itu, merupakan pengganti kata-kata yang lebih menyentuh perasaan dan mengharukan hati Bagus Seta yang betapapun juga adalah seorang manusia biasa.

"Kanjeng Ibu...." Hanya demikian ia dapat berbisik sambil menciumi ujung jari Ibunya.

Dengan sudah payah Ayu Candra dapat juga berbisik, "Puteraku.... Bagus Seta, tahukah engkau betapa berat penderitaanku selama kautinggalkan dan betapa bahagia hati ini setelah kau kembali?"

Bagus Seta tersenyum dan menahan hatinya jangan sampai meruntuhkan air mata. "Tentu saja, Kanjeng Ibu. Puteranda maklum..."

Terdengar isak tertahan dan ternyata Endang Patibroto, Pusporini, dan Setyaningsih sudah menangis, tidak tahan menyaksikan pertemuan antara ibu dan anak yang tidak dihias banyak kata-kata namun yang menyentuh perasaan menggugah keharuan itu. Terutama sekali Endang Patibroto yang teringat akan puterinya, Retno Wilis, hatinya nelangsa. Tejolaksono waspada akan semua ini dan untuk membuyarkan suasana keharuan yang mencekam dan menular itu cepat berkata, "Bagus Seta, bagaimana kesudahan pertandinganmu melawan Wasi Bagaspati? Ke manakah dia?"

Disebutnya nama ini benar saja membuat semua orang sadar dan perhatian mereka tertarik. Bahkan Ayu Candra sudah melepaskan rangkulannya untuk dapat lebih jelas memandang wajah puteranya dan mendengarkan jawabannya.

"Dia telah pergi...." jawab Bagus Seta.

Mereka lalu meninggalkan tempat itu untuk memberi kesempatan kepada sisa anak buah Sariwuni untuk mengubur para korban yang tewas dalam pertempuran itu. Dalam pertemuan yang menggembirakan itu ramailah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Bagus Seta dan Pusporini yang telah lama meninggalkan keluarga mereka.

Mereka bercakap-cakap di luar sebuah hutan di kaki gunung itu sambil menanti datangnya pagi karena malam telah mulai gelap setelah bulan purnama menyelam di barat. telah cukup mereka melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing, Tejolaksono lalu berkata,

"Mendengar penuturan kalian dan mengingat akan perkembangan di Jenggala pada saat ini yang amat buruk, tidak perlu lagi kita pergi ke Jenggala karena kita tentu akan menempuh tentangan dari pengaruh-pengaruh jahat yang kini mencengkeram Jenggala. Sebaliknya kita kembali ke Panjalu dan melaporkan segala keadaan Jenggala itu kepada sang prabu. Bagaimana pendapatmu, Bagus Seta?"

Tejolaksono yang maklum sepenuhnya bahwa kini tibalah saatnya apa yang dahulu diramalkan Ki Tunggaljiwa, sengaja menanyakan pendapat Bagus Seta karena puteraya inilah yang akan dapat diandalkan untuk menghadapi orang-orang sakti seperti Wasi Bagaspati yang berdiri di fihak pengacau.

"Pendapat Kanjeng Rama tepat sekali. Memang urusan yang terjadi di Jenggala sudah menjadi urusan besar yang menyangkut kerajaan dan kiranya hanyalah sang prabu diPanjalu saja yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap kekuasaan yang secara halus mencengkeram Jenggala."

Demikianlah, setelah sinar matahari pagi mulai menggantikan malam mengusir embun, delapan orang anggauta keluarga sakti mandraguna itu melakukan perjalanan menuju ke Kota Raja Panjalu. Rombongan keluarga yang amat hebat dan baru sekaranglah keluarga itu hampir lengkap, hanya sayang masih berkurang seorang, yaitu puteri Tejolaksono dari Endang Patibroto, Retna Wilis!

Adapun Joko Pramono sungguhpun belum menjadi suami Pusporini, namun sudah dianggap sebagai keluarga karena selain dia adalah kekasih dan tunangan Pusporini, juga kakak seperguruannya. Apalagi ketika pemuda ini malam tadi menceritakan riwayatnya, memperkenalkan diri sebagai keponakan Ki Adibroto yang menjadi ayah Ayu Candra, maka pemuda ini sesungguhnya masih adik keponakan Ayu Candra sendiri, jadi masih keluarga pula.

********************

Sang prabu di Panjalu menjadi terkejut sekali ketika mendengar pelaporan Tejolaksono tentang keadaan di Jenggala, mendengar betapa parah keadaan kerajaan adiknya itu. Lebih terkejut dan marah lagi ketika mendengar akan kenyataan bahwa mereka yang berkuasa di Jenggala sekarang adalah sekutu-sekutu dari utusan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola, terutama sekali Kerajaan Cola.

Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan gawatnya persoalan, maklum bahwa hal ini selain menyangkut jatuh-bangunnya Kerajaan Jenggala, juga menyangkut keamanan Kerajaan Panjalu sendiri. Juga sang prabu menyatakan kegirangannya akan berkumpulnya keluarga Ki Patih Tejolaksono, lebih-lebih melihat Bagus Seta sang prabu menjadi kagum dan seketika kepercayaannya tercurah kepada pemuda remaja ini.

"Kita harus turun tangan menyelamatkan Jenggala!" ujar sang prabu. "Akan tetapi karena kekuasaan jahat itu menggunakan jalan halus, amatlah tidak baik kalau kita menggunakan jalan kekasaran. Sebaiknya aku akan menulis sepucuk surat pribadi untuk yayi prabu di Jenggala, mengangkat Bagus Seta menjadi utusan pembawa surat. Karena surat ini bersifat pribadi, kita mendapat alasan untuk menyampaikan surat itu ketangan yayi prabu sendiri. Syukur kalau para pengacau itu memperbolehkan Bagus Seta menghadap yayi prabu sehingga selain menyerahkan surat, dapat pula membebaskan yayi prabu daripada hawa jahat yang mempengaruhinya agar sadar. Andaikata fihak pengacau menggunakan kekerasan mencegah, maka kita mendapat alasan pula untuk turun tangan menggunakan kekerasan. Untuk keperluan ini Patih Tejolaksono dan keluarganya yang sakti mandraguna kuperintahkan untuk mengawal Bagus seta, dan kepada Pangeran Darmokusumo dan Kakang Patih Suroyudo, kuperintahkan untuk mempersiapkan barisan pilihan untuk membayangi dari belakang sehingga apabila terjadi kekerasan, barisan kita akan dapat cepat menyerbu ke Jenggala. Kuperintahkan andika sekalian berusaha untuk membersihkan Jenggala dari semua oknum jahat, menagkapi atau membasmi para pengacau dan mengangkat kekuasaan yayi prabu di Jenggala. Puteraku Pangeran Panji Sigit, menjadi kewajiban utama bagimu untuk menyelamatkan kangjeng ramamu dari tangan Suminten yang jahat karena untuk mengingatkan penyelewengan seorang ayah menjadi kewajiban seorang anak."

Setelah persidangan di hadapan sang prabu di Panjalu bubar, para satria perkasa segera mempersiapkan tugas masing-masing sambil menanti surat sang prabu dan kelanjutan perintah untuk menentukan hari keberangkatan. Akan tetapi sebelum perintah penentuan ini tiba, datanglah penyelidik yang melaporkan hal yang amat mengejutkan hati sang prabu di Panjalu, yaitu bahwa sang prabu di Jenggala berada dalam keadaan sakit dan sebulan lagi di Jenggala akan diadakan upacara pengangkatan Pangeran Kukutan sebagai Raja Jenggala oleh sang prabu yang sedang sakit!

"Hemm, ini tentu siasat mereka. Sekali pengangkatan itu sudah dilakukan secara resmi, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi kecuali menyatakan perang. Namun sungguh akan menyedihkan hati sekali kalau menyatakan perang dengan kerajaan saudara sendiri! Kalau begitu, hari ini juga kalian harus berangkat dan suratnya kuubah berisi permintaan agar yayi prabu menunda pengangkatan raja baru sebelum bertemu dengan aku!"

Pesan sang prabu di Panjalu ini segera dilaksanakan oleh Bagus Seta yang menerima surat untuk raja di Jenggala, kemudian berangkatlah pemuda remaja yang sakti mandraguna ini bersama seluruh keluarganya, yaitu Tejolaksono, Ayu Candra, Endang Patibroto, Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini.

Rombongan keluarga sakti itu sepenuhnya berangkat untuk berjuang membebaskan Jenggala daripada cengkeraman kekuasaan jahat yang dikemudikan oleh Sang Wasi Bagaspati sendiri. Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Suroyudo mengatur sebuah barisan yang pilihan dan cukup besar, sejumlah sepuluh ribu orang mengiringkan rombongan keluarga sakti ini dari jauh. Ancaman perang agaknya takkan dapat dielakkan lagi!

Barisan Panjalu yang menuju ke Jenggala itu telah didahului oleh berita yang dibawa orang dari mulut ke mulut dan cukup menggegerkan. Rakyat Jenggala yang sudah muak menyaksikan peristiwa-peristiwa pembunuhan dan kekacauan, kenaikan pajak dan penindasan-penindasan terhadap para penyembah Bathara Wishnu yang setia, diam-diam menjadi gembira dan penuh harapan, bahkan di antara para orang mudanya banyak sudah bersiap-siap untuk membantu pihak Panjalu apabila pecah perang. Terutama sekali para panglima dan perajurit Jenggala yang terpaksa menghambakan diri kepada kekuasaan baru di Jenggala dengan pengorbanan perasaan, diam-diam juga bersiap untuk memberontak dan membantu barisan Panjalu apabila saat dan kesempatannya tiba.

Rombongan keluarga sakti yang berangkat lebih dahulu dengan kuda-kuda pilihan, terpaksa berhenti di perbatasan kota raja karena ditahan oleh rombongan penjaga yang ratusan orang perajurit banyaknya. Tejolaksono sebagai kepala rombongan segera maju menghampiri komandan pasukan, seorang perwira yang sudah setengah tua dan yang menyambut mereka dengan muka agak pucat karena perwira ini dengan kaget mengenal orang-orang sakti ini, terutama sekali ia gentar melihat bahwa Endang Patibroto berada di antara rombongan ini.

"Hai, perwira Jenggala. Mengapa andika menahan rombongan kami yang hendak lewat?"

Perwira itu memaksa diri membusungkan dada dan bersikap gagah karena akan amat memalukan kalau di hadapan seratus lebih anak buahnya ia memperlihatkan sikap lunak dan takut, maka jawabnya, "Kami menjunjung perintah gusti patih untuk menjaga di sini dan tidak memperbolehkan orang luar memasuki tapal batas kota raja sebelum lewat hari penobatan gusti pangeran pati menjadi raja."

Seorang perwira rendahan yang masih muda, yang merupakan ponggawa baru dan termasuk kaki tangan Patih Warutama, melangkah maju menyeret tombaknya yang panjang dan berat. Perwira muda ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat dan bersikap kasar ketika bertanya.

"Kalian ini rombongan dari mana? Apakah kalian kawula (rakyat) Jenggala?"

Pusporini tak dapat menahan kemarahannya lagi melihat lagak perwira muda ini. Ia meloncat maju mendekati perwira muda itu dan menudingkan telunjuknya ke hidung orang itu sambil membentak, "Apakah matamu buta? Tidakkah engkau melihat bahwa beliau ini adalah Gustimu Pangeran Panji Sigit, pangeran dari Jenggala?"

Perwira muda itu menodongkan tombaknya ke dada Pusporini dan menjawab kasar, "Aku mengenal dia sebagai seorang pemberontak dan pelarian. Juga engkau adalah seorang pelarian yang harus kami tangkap!"

Pusporini mengeluarkan seruan marah dan kaki tangannya bergerak. Cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu ia telah merampas tombak itu, dua kali mengayun tombak terdengar suara "krek, krek!" dan robohlah perwira muda itu dengan tulang kaki patah-patah. Kemudian Pusporini mematah-matahkan tombak seperti orang mematahkan biting raja sambil membentak, "Siapa lagi yang ingin dipatahkan kakinya?"

Semua perajurit Jenggala menjadi pucat wajahnya, akan tetapi mereka pun mulai bergerak hendak mengeroyok.

"Rini, jangan menggunakan kekerasan. Mundurlah!" Tejolaksono membentak adik iparnya.

Pusporini mundur sambil cemberut. Endang Patibroto di dalam hati menyetujui perbuatan Pusporini itu. Memang ada persamaan antara wataknya dan watak Pusporini atau lebih tepat lagi, wataknya sendiri lebih keras daripada watak Pusporini. Ia melangkah maju dan berkata kepada perwira komandan pasukan itu,

"Heh perwira lancang! Kalau kalian tidak mengakui Gustimu Pangeran Panji Sigit, apakah engkau begitu buta tidak mengenal suamiku Tejolaksono, Gusti Patih Panjalu?
Apakah kalian ini seratus orang lebih sudah bosan hidup dan minta kubunuh semua? Apakah engkau tidak mengenal siapa aku?"

Gentarlah hati perwira itu. Memang ia tadi sudah amat takut melihat Endang Patibroto yang pernah menggegerkan Jenggala, apalagi kini menyaksikan gadis muda Pusporini dan mendengar ancaman Endang Patibroto.

"Saya ... eh, hamba mengenal Gusti Patih Tejolaksono dan mengenal pula paduka Gusti Puteri Endang Patibroto, akan tetapi.... hamba hanyalah seorang petugas yang menjunjung perintah atasan.... yang tentu akan menerima hukuman apabila hamba melanggar perintah atasan.... harap paduka memaklumi keadaan hamba dan para perajurit."

Tejolaksono melangkah maju dan berkata, Perwira Jenggala, kami maklum keadaan andika dan pembantumu itu menerima hukuman atas sikapnya yang kasar. Ketahuilah, kami pun tidak ingin menggunakan kekerasan asal saja andika tidak menentang. Kami bukanlah pelanggar-pelanggar yang hendak mengacau, melainkan utusan-utusan pribadi dari gusti sinuwun di Panjalu, kami membawa surat gusti sinuwun untuk dipersembahkan kepada gusti sinuwun di Jenggala. Karena kedudukan kami adalah rombongan utusan, maka tidak ada lagi sebutan pelarian dan setiap rombongan utusan, apalagi utusan dari kerajaan yang masih berkeluarga dengan Jenggala, andika tidak boleh mengganggu kami dan bahkan harus mengantarkan kami sampai ke kota raja."

Ucapan Tejolaksono yang mempunyai dasar kuat itu tak dapat dibantah lagi oleh perwira itu, maka ia lalu mengeluarkan perintah agar pasukannya memberi jalan, bahkan kemudian dia sendiri bersama dua losin perajurit mengiringkan rombongan ini menuju ke kota raja.

Karena pengawalan pasukan ini maka rombongan keluarga sakti dapat sampai di luar pintu gerbang dinding Kota Raja Jenggala. Akan tetapi di pintu gerbang ini, mereka disambut oleh pasukan pengawal bersenjata lengkap terdiri dari lima puluh orang lebih dan melihat sikap mereka jelas dapat diduga bahwa mereka ini dari pengawal-pengawal pilihan yang muda-muda dan kuat-kuat yang dipimpin oleh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik!

"Heh, perwira tolol! Apa yang kau lakukan ini? Mengapa kau mengawal rombongan musuh ini sampai ke sini?" bentak Ni Dewi Nilamanik dengan suara marah sambil memandang dengan mata terbelalak kepada perwira tadi. Perwira ini dengan tubuh menggigil lalu melangkah maju dan berkata dengan suara gemetar,

"Hamba.... hamba terpaksa mengantar mereka karena mereka ini adalah utusan pribadi gusti sinuwun di Panjalu yang dipimpin oleh gusti patih muda dari Panjalu....!"

"Keparat bodoh!" Ki Kolohangkoro membentak, tangannya menyambar dan pecahlah kepada perwira itu yang tewas seketika.

Rombongan keluarga sakti marah sekali, akan tetapi karena hal yang terjadi adalah urusan dalam dan tidak menyangkut diri mereka, terpaksa mereka menahan sabar dan tidak mau mencampuri.

"Tejolaksono, andika muncul di sini bersama para pelarian yang telah memberontak terhadap Kerajaan Jenggala dan menjadi buronan kami, apakah kehendakmu?" Ni Dewi Nilamanik bertanya dengan sikap angkuh.

Tejolaksono tersenyum menjawab, "Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Hadirku di sini bukanlah hal mengherankan karena aku adalah Patih Muda Panjalu dan kini memimpin rombongan utusan pribadi gusti sinuwum di Panjalu. Akan tetapi melihat andika berdua memimpin pasukan pengawal di Jenggala benar-benar patut diherankan! Pada pertemuan antara kita yang terakhir sepuluh tahun yang lalu, kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengacau daerah Panjalu dan Jenggala. Bagaimana sekarang kalian dapat menjadi pimpinan pengawal di keraton Jenggala?"

Ni Dewi Nilamanik tertawa. "Hi-hik, apakah anehnya hal itu? Pangeran Panji Sigit adalah Pangeran Jenggala yang berdosa, kini tahu-tahu muncul sebagai anggota rombongan utusan Kerajaan Panjalu. Memang keadaan setiap orang selalu berubah. Sekarang, sebagai kepala pengawal penjaga, aku berhak untuk melarangmu memasuki kota raja sebelum engkau menjelaskan apa kehendakmu."

Hati Tejolaksono mendongkol sekali, akan ia menahan perasaannya. Ia maklum bahwa kalau sikap Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seberani ini, tentu mereka ini mempunyai andalan. Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang bodoh dan tentu saja cukup maklum bahwa menghadapi rombongan keluarganya, apalagi dengan hadirnya Bagus Seta yang selalu bersikap tenang dan pendiam itu, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro takkan dapat mengatasinya. Pula, melihat kenyataan bahwa memang kedua orang itu kini menjadi kepala pengawal, terpaksa ia menjawab sebagaimana mestinya,

"Seperti telah dikatakan perwira yang dibunuh itu, kami adalah rombongan utusan gusti sinuwun Panjalu."

"Diutus apa?" Ni Dewi Nilamanik memotong.

"Kami diutus menghadap gusti sinuwun Jenggala....!"

"Ada keperluan apa?"

Api kemarahan terpancar dari sepasang mata Tejolaksono, akan tetapi ia menekan perasaannya dan berkata sambil tersenyum menghina, "Wahai, pengawal apakah andika ini begini kurang ajar? Sedikitpun tidak menghormati junjunganmu sendiri! Atau kelirukah aku mengatakan bahwa gusti sinuwun di Jenggala adalah junjunganmu?"

"Tejolaksono, tidak perlu banyak rewel. Pendeknya, kalau ingin diperkenankan masuk kota raja, harus memberi tahu dengan jelas apa keperluanmu hendak menghadap gusti sinuwun. Aku adalah kepala penjaga di sini dan berhak menjaga keamanan dan setiap orang yang lewat, tahu?"

"Kami diutus mempersembahkan sepucuk surat pribadi dari gusti sinuwun Panjalu untuk gusti sinuwun Jenggala."

"Serahkan saja surat itu kepada kami!" kata Ni Dewi Nilamanik.

"Hemm, ucapan apakah ini? Surat junjungan yang dipercayakan kepada kami sama harganya dengan nyawa kami, hanya gusti sinuwun Jenggala yang berhak menerima dari tangan kami!" jawab Tejolaksono.

"Tidak mungkin menghadap gusti sinuwun. Beliau sedang sakit, tidak dapat menerima siapapun juga!"

"Kami telah mendengar akan berita itu. Justeru karena beliau sakit maka gusti sinuwum Panjalu mengutus kami untuk menjenguk dan mempersembahkan surat."

Ni Dewi Nilamanik tersenyum mengejek. "Andika semenjak dahulu keras kepala, Tejolaksono. Baiklah, kalian diperkenankan menghadap, akan tetapi harus kami kawal agar kalian jangan sampai mendatangkan kekacauan di sini!"

"Sesukamulah. Yang penting bagi kami melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh gusti sinuwun kepada kami sebagai utusan."

Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan seruan memerintah dan pasukan pengawal membuka jalan dan pintu gerbang pun dibuka lebar-lebar. Tejolaksono dapat merasakan sesuatu yang mengancam, akan tetapi ketika ia melirik puteranya, ia melihat wajah Bagus Seta tetap tenang saja, maka ia pun lalu mengangguk dan melangkah masuk diikuti oleh semua rombongannya dengan sikap penuh kewaspadaan.

Baru kurang lebih dua ratus langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari luar pintu gerbang masuk barisan yang besar jumlahnya dan pintu gerbang ditutup, kemudian terdengar suara ketawa disusul suara nyaring,

"Huah-ha-ha-ha, pintu gerbang maut. Ada jalan masuk tidak ada jalan keluar! Tejolaksono, serahkan surat rajamu itu kepada kami dan menyerahlah, dengan demikian ada kemungkinan kalian terbebas dari kematian!"

Keluarga sakti itu berdiri tegak dalam keadaan siap waspada dan mereka melihat munculnya Wasi Bagaspati dan Warutama yang memimpin barisan pengawal yang segera bergabung dengan barisan yang baru masuk dari luar pintu gerbang sehingga tempat itu kini terkurung oleh barisan yang jumlahnya tidak kurang dari seribu orang!

"Wasi Bagaspati! Kami adalah utusan-utusan raja! Biarpun andika datang dari Kerajaan Cola, akan tetapi kurasa di sana pun terdapat peraturan bahwa utusan tidak boleh diganggu!"

"Utusan atau bukan, engkau harus tunduk akan peraturan di sini. Sang prabu sedang sakit, tak boleh diganggu maka surat itu harus diberikan kepada kami. Kalau menolak, berarti engkau akan mengacaukan menjelang penobatan raja baru di sini!"

Endang Patibroto yang melihat munculnya Warutama, tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya dan sepasang matanya menyinarkan api yang seolah-olah hendak membakar patih itu.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Sindupati manusia keparat, jahanam berwatak iblis dan keji! Tibalah saatnya engkau mampus di tangan Endang Patibroto!" Sambil memaki Endang Patibroto sudah melompat seperti terbang saja, tubuhnya melayang dan menyambar ke arah Warutama dengan pukulan sakti Wisangnala selagi tubuhnya masih di udara.

Warutama tidak menjadi terkejut karena memang dia sudah bersiap-siap menghadapi pertemuan dengan musuh besarnya ini yang tentu saja takkan berani ia lakukan kalau saja ia tidak mengandalkan kesaktian Wasi Bagaspati, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro dan ribuan orang pengawal. Kini melihat wanita sakti yang ditakutinya itu menerjang maju dengan dahsyat, ia cepat menggulingkan tubuh ke atas tanah dan menggelinding pergi, lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam barisan pengawal.

"Tejolaksono, kalian hendak memberontak? Pengawal, tangkap mereka!" bentak Wasi Bagaspati sambil tertawa-tawa saking girangnya karena ia merasa yakin bahwa kalau keluarga sakti ini dapat dibasmi, tentu penghalang yang amat besar bagi cita-citanya akan lenyap. Yang paling kuat di antara rombongan itu adalah pemuda remaja aneh putera Tejolaksono, akan tetapi di situ ada dia yang akan dapat melawannya, dan dibantu oleh ribuan pengawal, tak mungkin fihaknya akan kalah.

Tejolaksono dan keluarganya diserbu oleh orang-orang tinggi besar, yaitu murid-murid Sang Wasi Bagaspati, juga Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik sudah menerjang maju. Tejolaksono dan keluarganya cepat bergerak membela diri, sedangkan Endang Patibroto segera melepas panah api yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk memberi tanda kepada barisan Panjalu yang menanti-nanti di luar kota raja untuk melihat munculnya tanda ini.

Wasi Bagaspati yang ingin cepat-cepat membasmi keluarga sakti yang merupakan penghalang besar bagi pelaksanaan tugasnya, bahkan merupakan ancaman bagi kemajuan yang telah dicapai, mengeluarkan pekik menyeramkan, kedua lengannya diangkat ke atas agak melengkung dan tiba-tiba dari sepuluh jari tangannya meluncur sinar merah seperti kilat membubung ke atas kemudian menukik turun menyerang kepala Tejolaksono sekeluarga yang delapan orang jumlahnya itu.

Karena Tejolaksono sekeluarga sedang dikeroyok banyak lawan, tentu saja serangan yang datangnya dari atas ini sukar untuk mereka hindarkan, akan tetapi pada saat itu, Bagus Seta yang masih belum turun tangan berseru,

"Wasi Bagaspati, tidak malukah andika bermain curang?" Pemuda remaja itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan dari telapak tangannya itu menyambar sinar putih yang melengkung panjang dan membentuk lingkaran besar sekali melindungi di atas kepala Tejolaksono sekeluarga.

Ketika sinar-sinar merah itu menukik turun dan bertemu dengan lingkaran putih, sinar-sinar merah itu terpental jauh kemudian lenyap disusul pekik Wasi Bagaspati yang menjadi marah sekali.

"Heh si keparat Bagus Seta! Sekali ini aku akan membasmi dan membunuh seluruh keluargamu, kemudian menghancurkan Panjalu!"

Bagus Seta tetap tenang ketika menjawab, "Wasi Bagaspati, andika siapakah berani bicara tentang membunuh? Seolah-olah andika berkuasa akan mati hidupnya manusia?"

"Kematian kalian telah berada di telapak tanganku, dan engkau masih berani bicara sombong? Huah-ha-ha-ha! Dikepung ribuan orang perajurit, masih ada lagi laksaan perajurit sebagai cadangan, kalian hendak terbang ke mana? Andaikan bersayap sekalipun, kalian takkan dapat lobos dari kematian!"

"Wasi Bagaspati, mati hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi, bagaimana andika berani mengeluarkan ucapan seperti itu? Apabila Hyang Widhi tidak menghendaki seseorang mati, biar dia dikeroyok anak panah sejuta pun tidak akan mengenainya. Sebaliknya apabila kematian orang itu sudah dikehendaki Hyang Widhi, tidak ada kekuasaan di dunia ini dapat mencegahnya! Karena itu, kami menyandarkan dan menyerahkan diri ke dalam tangan Hyang Widhi dan jika kematian kami belum dikehendaki-Nya, segala usahamu untuk membunuh kami takkan berhasil, Wasi Bagaspati!"

"Babo-babo, si keparat! Sang Hyang Shiwa berhak mencabut dan membinasakan setiap orang! Lihatlah ini!"

Wasi Bagaspati kembali mengangkat tangannya, kini hanya tangan kirinya yang mengeluarkan asap menghitam yang melayang ke arah kepala keluarga sakti itu. Asap tebal hitam dan seperti hidup gerakannya, bahkan mengeluarkan suara mendesis seperti ular mengamuk.

"Kanjeng Rama sekalian, harap menahan napas sejenak!" Bagus Seta berkata dengan suara lirih akan tetapi hebatnya, suara ini seolah-olah merupakan bisikan di dekat telinga tujuh orang ayah bunda dan paman bibinya yang sedang dikeroyok banyak musuh.

Untung mereka diberitahu oleh bisikan Bagus Seta karena asap hitam yang hanya menyerang mereka itu sebelum datang menyambar, dari jauh sudah lebih dulu menyerang dengan baunya yang mengandung hawa beracun.

Bagus Seta mengangkat pula tangan kirinya dan keluarlah asap putih yang bergerak cepat naik menyusul asap hitam. Terjadi pergumulan antara dua asap hitam putih di udara, akan tetapi jelas tampak betapa asap hitam itu digulung dan dihimpit dan akhirnya asap hitam seperti seekor anjing kalah bergumul, melayang kembali ke telapak tangan Wasi Bagaspati.

"Auuunggghhh.....!" Wasi Bagaspati memekik-mekik dan mukanya menjadi merah sekali dan mencorong seolah-olah telah menjadi bara api, kedua matanya berkilat-kilat, giginya berkerot-kerot, menyeramkan sekali.

Menurutkan kemarahannya ingin ia mengeluarkan senjata Cakranya yang sebetulnya tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan saja, akan tetapi ia teringat akan bunga Cempaka Putih yang dimiliki pemuda itu, maka ia menahan kemarahannya ini dan cepat menubruk maju dan menyerang Bagus Seta mempergunakan kedua tangannya. Kini ia hendak membunuh pemuda ini menggunakan tenaga kasar, karena dalam hal pertandingan menggunakan batin ia tidak berhasil.

Bagus Seta cepat menggerakkan tubuhnya menyambut dan mulailah kedua orang yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini bertanding dengan seru, tubuh mereka berkelebatan dan lenyap dari pandangan mata orang biasa, yang tampak hanyalah dua gulungan sinar merah dan putih dari pakaian mereka.

Sementara itu, anggota keluarga lain sedang mengalami pengeroyokan yang amat berat. Joko Pramono dan Pusporini yang ingin menebus kekalahan mereka dari Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik lima enam tahun yang lalu, sudah menerjang dua orang musuh ini dan mereka telah terlibat dalam pertandingan yang amat seru.

Joko Pramono menghadapi Ki Kolohangkoro dan Pusporini yang sudah marah sekali itu berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik. Untung bagi kedua orang muda ini yang menghadapi lawan berat karena gerakan mereka dalam pertandingan ini amat cepat sehingga pihak pengawal tidak ada yang berani ikut mengeroyok. Mereka tidak mampu mengikuti kecepatan empat orang yang bertanding ini sehingga kalau mengeroyok, besar bahayanya akan mengganggu pergerakan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik sendiri. Dan karena kini tingkat kepandaian dua orang murid Resi Mahesapati itu amat tinggi, maka mereka berdua dapat mendesak lawan yang makin lama merasa betapa kuat dan beratnya dua orang lawan muda itu.

Keadaan anggota keluarga sakti lainnya lebih payah lagi. Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah lebih banyak pengalamannya dalam perang dan pertandingan-pertandingan keroyokan, mengamuk dengan hebat dan sepak terjang suami isteri ini amat menggiriskan. Pasukan pengawal yang kena diterjang mereka seperti mentimun-mentimum bertemu durian, mawut dan kocar-kacir, banyak yang tewas. Makin banyak datangnya pengeroyokan, makin gembira dan bersemangat dua orang perkasa ihi mengamuk.

Ayu Candra juga mengamuk, akan tetapi seperti halnya Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit, kepalanya menjadi pening melihat banyaknya pengeroyokan yang makin banyak itu. Ia menjadi jijik dan ngeri seperti orang dikeroyok ribuan semut dan kalau pengeroyokan itu dilanjutkan terus, agaknya tiga orang inilah yang takkan kuat bertahan. Siapa yang tidak menjadi jijik dan ngeri kalau melihat para pengawal itu seperti kemasukan setan, roboh satu maju dua, roboh dua maju empat dan selalu berlipat ganda sehingga mayat telah bertumpuk malang melintang?

Karena ngeri dan gentar, sebuah mata tombak berhasil melukai ujung pundak Ayu Candra. Biarpun hanya kulit dan sedikit daging saja yang terluka, namun Ayu Candra terhuyung-huyung bukan karena luka itu melainkan karena pening kepalanya menyaksikan para pengeroyok yang amat besar jumlahnya, seperti ombak samudera hendak menelan dirinya. Dalam keadaan terhuyung ini, lima tombak meluncur ke arah tubuhnya, sedangkan dalam detik itu Ayu Candra memejamkan mata untuk mengusir kepeningan kepalanya.

"Dinda.... awas.... Tejolaksono berseru dan suara suaminya ini menyadarkan Ayu Candra. Ketika memejamkan matanya tadi, ia merasa betapa nikmatnya kehilangan semua pengeroyok yang tak tampak lagi, betapa nikmatnya menjauhkan diri dari pengeroyokan yang menjijikkan itu sehingga ia terlena dan lengah. Cepat ia membuka matanya dan kaget melihat lima ujung tombak sudah meluncur dekat. Ia segera melempar diri ke belakang dan bergulingan.

Tejolaksono sudah memaksa diri meninggalkan para pengeroyoknya dengan sebuah loncatan tinggi, kemudian tubuhnya menukik ke bawah dan menggunakan kakinya menerjang lima orang yang menyerang Ayu Candra itu. Lima orang itu menjerit dan tubuh mereka terpelanting ke kanan kiri seperti disambar halilintar. Dua orang di antara mereka pecah kepalanya dan yang tiga orang patah tulang lengannya.

"Kenapa, isteriku.....?" Tejolaksono memeluk Ayu Candra.

Ayu Candra tersenyum. "Tidak apa-apa, Kakangmas, hanya tadi agak pening melihat banyaknya setan-setan ini!"

Mereka tak sempat banyak bicara karena kembali mereka telah dikurung dan dikeroyok. Kini Tejolaksono bertanding dekat isterinya yang tidaklah begitu sakti seperti Endang Patibroto sehingga ia akan dapat melindunginya. Endang Patibroto memang amat menggiriskan sepak-terjangnya. Ke manapun ia berkelebat, di sana tentu tampak para pengawal bergelimpangan dan Cara Endang Patribroto mengamuk juga membikin kacau barisan lawan. Wanita sakti ini tidak hanya mengamuk di suatu tempat tertentu, melainkan berpindah-pindah, meloncat ke sana ke mari seperti tingkah seekor burung elang menyambari sekumpulan anak ayam.

Hal ini ada sebabnya. Endang Patibroto amat membenci Sindupati yang kini telah menjadi Patih Warutama. jahat yang pernah memperkosanya di puncak Wilis itu harus dibunuhnya karena kalau dia tidak dapat membalas dendam ini, selamanya ia akan hidup menderita penasaran dan sakit hati. Tadi ia tidak berhasil menyerang Warutama yang menyelinap di antara para pengawal, maka kini Endang Patibroto menerjang ke sana ke mari untuk mencari musuh besarnya itu.

Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih bertempur bahu-membahu dan tidak pernah berpisah jauh. Suami isteri ini maklum bahwa mereka berada dalam bahaya dan sungguhpun mereka sama sekali tidak merasa gentar karena penuh kepercayaan akan kemampuan keluarga mereka, akan tetapi mereka ingin selalu berdekatan sehingga apa pun yang akan terjadi, mereka takkan berpisah lagi dan dapat saling bantu dan saling melindungi. Baiknya di antara para pengawal dan perajurit, masih banyak terdapat orang-orang lama yang merasa segan dan suka kepada Pangeran Panji Sigit sehingga mereka mengeroyok secara terpaksa dan setengah hati. Betapapun juga, karena jumlah pengeroyok bukan main banyaknya, pangeran dan isterinya ini pun terdesak hebat.

Pertandingan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro berlangsung dengan hebat dan seru sekali. Mereka ini sama kuat dan sama digdaya, dan sungguhpun sepak-terjang Ki Kolohangkoro seperti seorang raksasa mabuk, kasar dan liar menggiriskan, namun Joko Pramono tetap tenang dan menyambut kekerasan dengan kekerasan pula. Perlahan akan tetapi tentu, Joko Pramono mulai dapat menindih dan mendesak Ki Kolohangkoro dengan pukulan-pukulannya yang ampuh, mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya yang mengatasi kecepatan Ki Kolohangkoro.

Pusporini menemui tanding yang lebih kuat daripada Ki Kolohangkoro. Ni Dewi Nilamanik memang lebih sakti kalau dibandingkan dengan Ki Kolohangkoro yang kasar. Wanita penyembah Durgo ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tubuh yang ringan di samping permainan kebutan merahnya yang amat menggiriskan. Biarpun kalau dibuat perbandingan, Pusporini masih menang setingkat mengingat gemblengan Resi Mahesapati telah membuat dara perkasa ini memiliki aji kesaktian dan hawa sakti yang bersih dan kuat, namun ia kalah pengalaman oleh Ni Dewi Nilamanik.

Cara wanita penyembah Durgo itu mainkan kebutannya benar-benar membuat Pusporini bingung dan terdesak sampai belasan jurus lamanya. Tiba-tiba ujung kebutan itu terpecah menjadi lima bagian menyerang Pusporini di bagian tubuh yang berbahaya. Ketika Pusporini menggunakan kedua tangannya sibuk menangkis dengan kibasan jari tangan yang mengandung hawa sakti Pethit Nogo, tiba-tiba bagian ke lima dari kebutan itu telah menyambar dan melibat pinggang Pusporini yang ramping!

Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan suara ketawa mengejek, dengan pengerahan tenaga sakti ia menyendal untuk menarik roboh Pusporini, akan tetapi suara ketawanya terhenti dan bahkan terganti suara ah-ah-uh-uh orang yang menghimpun seluruh tenaganya. ia menarik-narik dan menyendal-nyendal, namun sia-sia belaka seperti seekor monyet hendak mencabut pohon cemara. Tubuh Pusporini tidak bergeming. Hebat memang aji kesaktian Argoselo yang dipergunakan oleh Pusporini. Jangankan hanya Ni Dewi Nilamanik seorang, biar ditambah tiga orang lagi belum tentu akan dapat menarik roboh tubuh Pusporini yang ramping itu.

"Plakkk!" Sebagai balasan, Pusporini mempergunakan kesempatan selagi Ni Dewi Nilamanik berkutetan hendak menariknya roboh, Pusporini menempiling dengan Aji Pethit Nogo ke arah pelipis Ni Dewi Nilamanik, dari atas ke bawah.

Betapapun saktinya Ni Dewi Nilamanik, kalau tempilingan aji pukulan Pethit Nogo ini menyentuh pelipisnya, tentu bagian kepala ini akan retak dan nyawanya akan melayang. Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik biarpun sedang dalam keadaan penasaran, masih sempat mengelak dengan menarik kepala ke belakang sehingga yang kena ditampar hanya pundaknya saja. Namun hal ini cukup membuat tubuh Ni Dewi Nilamanik terpelanting dan libatan ujung kebutan di pinggang Pusporini terlepas. Ni Dewi Nilamanik cepat meloncat dan wajahnya menjadi merah sekali. Kalau saja ia tadi tidak cepat-cepat mengerahkan aji kekebalannya ke pundak, tentu tulang pundaknya sudah hancur. Kinipun rasa nyeri, panas dan menusuk-nusuk membuat ia menyeringai.

Kemarahannya memuncak dan ia memekik keras, tubuhnya menerjang maju, kebutannya mengeluarkan suara meledak-ledak ketika menyambar-nyambar di atas kepala Pusporini. Namun dara perkasa ini menyambutnya dengan gerakan yang tak kalah cepatnya dan membalas dengan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 41

Thanks for reading Perawan Lembah Wilis Jilid 40 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »