Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 36

SEBAGAI cucu puteri mendiang Ki Patih Brotomenggala, tentu saja Widawati segera menghormat ketika mendengar bahwa puteri cantik ini adalah isteri Pangeran Panji seorang mantu sang prabu!

"Ayunda, dia ini adalah Paman Wiraman yang telah kuceritakan padamu." Pusporini memperkenalkan bekas pengawal itu kepada Setyaningsih.

Setyaningsih memandang ke arah Widawati yang menundukkan mukanya sambil berkata, "Dan dia ini tentulah Widawati, cucu kepatihan Jenggala yang bernasib malang itu?"

Widawati mengangkat mukanya dan dengan pandang mata sayu ia menyembah dan menjawab, "Tepat seperti dugaan paduka, hamba adalah Widawati..."

Wiraman menarik napas panjang dan berkata, "Sungguh berbahaya sekali keadaan paduka bertiga, dan masih untung dapat meloloskan diri. Ketika saya mendengar paduka menyebut-nyebut nama Ki Mitra, maka yakinlah saya bahwa paduka telah ditipu karena Ki Mitra telah tewas beberapa bulan yang lalu. Hanya para penyelidik saya yang mengetahui bahwa Ki Mitra telah dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Kukutan dan mayatnya dikubur dalam hutan. Mereka mengira bahwa tidak ada orang yang mengetahui rahasia itu!"

"Ahh...!!" Hampir berbareng Setyaningsih, Pusporini dan Joko Pramono berseru kaget.

Kalau mereka ingat betapa mereka mengajak Ki Mitra bicara tentang rahasia perjuangan mereka! Kiranya Ki Mitra itu adalah Ki Mitra palsu! Kaki tangan Pangeran Kukutan dan Suminten! Terbukalah mata mereka kini bahwa sesungguhnya, semenjak menginjakkan kaki di Kerajaan Jenggala, mereka telah berada dalam cengkeraman Suminten dan sekutunya! Mengerti bahwa semua yang terjadi telah direncanakan oleh Suminten yang licin bagai belut dan cerdik bagai setan itu!

"Wah, kalau begitu, Kakangmas Pangeran terancam bahaya..." Suara Setyaningsih mengandung isak tertahan karena gelisahnya memikirkan keselamatan suaminya.

"Kita harus kembali ke sana sekarang juga untuk menolong Rakanda Pangeran!" kata Pusporini.

"Tidak ada lain jalan! Kita mengamuk di istana Jenggala!" kata pula Joko Pramono.

"Hendaknya paduka bertiga bersabar," kata Ki Wiraman dengan suara tenang dan penuh pengertian. "Memang hanya orang-orang sakti seperti paduka bertiga yang agaknya akan dapat memasuki kota raja dan istana Jenggala, akan tetapi hendaknya bersabar dan jangan menggunakan kekerasan. Di sana selain banyak pengawal, juga hamba tahu banyak terdapat pembantu-pembatu rahasia yang sakti mandraguna. Kalau. menggunakan kekerasan, selain paduka akan menghadapi perlawanan yang kuat dan berbahaya, juga hal ini akan membahayakan keadaan Gusti Pangeran Panji Sigit. Sebaiknya dilakukan secara diam-diam dan di waktu malam."

"Apakah tidak akan terlambat, Paman? Kami harus menyelamatkan Rakanda Pangeran dan tangan mereka," bantah Joko Pramono.

"Hamba kira tidak begitu. Gusti Sinuwun amat cinta kepada Gusti Pangeran Panji Sigit Sehingga mereka tidak akan begitu sembrono untuk mencelakai Gusti Pahgeran. Selain itu... hemmm.... harap maafkan hamba, hamba sudah tahu bahwa Suminten menaruh hati kepada Gusti Pangeran. Sebaiknya malam nanti saja paduka bertiga menyelundup ke dalam kota raja dan diam-diam mengusahakan agar Gusti Pangeran Panji Sigit dapat lolos dari sana. Adapun hamba akan berjaga di luar kota raja dan mengirim laporan mengenai paduka sekalian ke Panjalu."

Mereka mengadakan perundingan dan tiga orang muda yang perkasa namun dalam hal pengalaman dan siasat tentu saja tidak dapat menang dari Ki Wiraman itu selalu mendengarkan nasehat dan pendapat Ki Wiraman. Bahkan mereka banyak mendengar tentang keadaan Jenggala dari bekas pengawal ini dan terkejutlah hati mereka ketika mendengar bahwa sesungguhnya bukan hanya Pangeran Kukutan, Suminten dan Ki Patih Warutama yang menguasai Jenggala, melainkan kekuasaan-kekuasaan dari Sriwijaya dan Cola. Ketika mereka bertanya kepada Ki Wiraman tentang Nini Bumigarba, Ki Wiraman menarik napas panjang dan berkata,

"Sungguh kasihan kalau hamba mengingat akan nasib Gusti Patih Tejolaksono dan keluarganya. Dua orang puteranya, Bagus Seta dan Retna Wilis, pergi dibawa orang maha sakti, entah berada di mana dan sampai kini tiada berita. Banyak orang pernah mendengar nama Nini Bumigarba, dan hamba sendiri pernah mendengar nama yang dihubungkan dengan nama Ni Dewi Sarilangking, seorang wanita iblis yang sudah terkenal semenjak jaman Mataram dahulu. Akan tetapi siapakah orang yang pernah melihatnya? Agaknya hamba kira tak mungkin nenek sakti itu ada hubungannya dengan mereka yang mencengkeram Jenggala, bahkan hamba masih ragu-ragu apakah wanita yang sudah terkenal di jaman Mataram itu benar-benar sekarang masih hidup! Tentu dia sudah berusia tidak kurang dari dua ratus tahun!"

Hari itu juga, Ki Wiraman mengutus beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke Panjalu dan membawa laporan-laporannya mengenai peristiwa yang terjadi di Jenggala yang dialami oleh empat orang muda perkasa itu. Malamnya, sebelum bulan muncul dan keadaan masih gelap, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono menyelundup masuk ke kota raja melalui dinding tembok, mempergunakan kesaktian mereka melompati dinding tembok yang tinggi.

Adapun Ki Wiraman dan Widawati memimpin sisa anak buah mereka mengadakan penjagaan di luar kota raja sambil terus menghubungi anak buah mereka yang mereka selundupkan sebagai mata-mata di dalam kota raja untuk mendengar apa yang terjadi dengan tiga orang muda yang berusaha menolong Pangeran Panji Sigit itu.

********************

Dengan tubuh lemas dan semangat terbang, Pangeran Panji Sigit di malam hari itu melihat betapa Setyaningsih yang dipondong Pusporini dapat lolos, demikian pula Joko Pramono dan melihat betapa Pusporini, Joko Pramono bersama isterinya itu dapat keluar dari istana, dikejar-kejar oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Pangeran Kukutan sendiri.

Ia terlalu marah untuk dapat mengeluarkan suara, terlalu heran dan kaget menyaksikan adegan antara isterinya dan Joko Pramono sehingga ia seolah-olah sejak melihatnya telah berubah menjadi sebuah arca, tak dapat bergerak sama sekali, tubuhnya lemas kakinya menggigil. Sampai keadaan di dalam taman sunyi kembali karena suara pengawal yang melakukan pengejaran sudah terlalu jauh untuk dapat didengar dari situ, Pangeran Panji Sigit masih saja berdiri termenung dengan hati dan tubuh lemas.

Tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan lemas, menyentuh pundaknya dengan mesra, dan bisikan suara Suminten menyusup ke dalam telinga kirinya.

"Pangeran, jangan khawatir, orang-orang jahat yang menyakiti hatimu itu pasti akan dapat tertangkap dan diseret di depan kakimu, Pangeran..."

Suara bisikan yang lembut basah ini memasuki telinganya, mula-mula seperti air sewindu yang amat dingin, kemudian seperti ujung pisau runcing menusuk jantungnya, membuat Pangeran Panji Sigit tersentak kaget dari lamunannya dan ia cepat menoleh lalu membentak, "Tidak...! Aku tidak percaya... Ini semua tentu siasatmu...! tentu perbuatanmu...! Aku tidak percaya isteriku akan berbuat keji dan hina...!"

Bibir merah semringah itu tersenyum di belakang punggung Pangeran Panji Sigit yang sudah membuang muka membelakangi wanita itu. Karena senyum itu tidak sewajarnya timbul dari kegembiraan hati, maka bukan tersenyum lagi, melainkan menyeringai dan andaikata pangeran itu dapat melihatnya tentu akan makin curiga hatinya. Akan tetapi hanya sebentar, karena Suminten sudah berkata lagi, kini tidak berbisik karena dia ingin memaksa kata-katanya agar dapat sejelas mungkin menusuk kedua telinga pangeran yang tampan dan yang setiap kali ia temui membuat api dalam tubuhnya menggelora dan nafsunya menyengat-nyengat.

"Pangeran, mengapa andika tidak mau melihat kenyataan? Wanita adalah makluk lemah yang mudah tergoda. Lihatlah aku! Aku mencinta sang prabu, akan tetapi begitu melihat andika yang lebih gagah, aku tergila-gila dan bertekuk lutut terhadap gelora nafsu cintaku! Apalagi Setyaningsih yang masih muda belia! Dan Joko Pramono adalah seorang jantan muda yang memiliki daya tarik luar biasa sekali. Mungkin dalam hal ketampanan, dia tidak dapat mengatasimu, Pangeran. Akan tetapi, dia lebih gagah, tubuhnya lebih kuat seperti seekor banteng muda! Dan Setyaningsih adalah seorang wanita muda yang sejak kecil hidup bersama Endang Patribroto! Andika mangenal siapa Endang Patibroto! Isteri rakandamu Pangeran Panji Rawit dan belum lama ditinggal mati suaminya sudah menjadi kekasih Tejolaksono! Mana mungkin kesetiaannya dapat dipercaya? Andika baru melihat dia membelai Joko Pramono dan merangkul mesra, sayang keburu datang para pengawal dan Pusporini perempuan setan itu. Kalau tidak, tentu andika akan dapat menyaksikan adegan yang lebih mesra lagi antara Setyaningsih dan Joko Pramono... ahhh, kalau saja andika dapat melihat apa yang kusaksikan sendiri mereka berkasih-kasihan di luar taman, di atas rumput seperti dua ekor menjangan muda, bergelut mesra bercumbu-cumbuan..."

"Diam...!! Diammmmm...!! Diammmm...!!!"

Pangeran Panji Sigit berteriak-teriak seperti orang gila, menubruk ke depan dan menggunakan kepalan tangan kanannya menghantam batang pohon tanjung yang tumbuh di taman sari itu sehingga pohon itu berguncang dan daun-daun kuning rontok. Akan tetapi karena ia memukul batang pohon karena kemarahan dan sakit hati, tanpa mengerahkan aji kesaktiannya, maka kulit tangannya pecah-pecah berdarah dan tangannya membengkak. Kemudian pangeran ini terisak-isak dan menyandarkan dahinya pada batang pohon, mulutnya berteriak-teriak lemah seperti berbisik-bisik, "Tidak... tidak... tidak...!!!"

Akhirnya pangeran itu terkulai lamas dan roboh pingsan. Pukulan batin itu terlalu hebat baginya. Betapa pun ia menggunakan kekuatan batinnya untuk menolak dan tidak percaya bahwa isterinya akan berbuat serong, berjina dengan Joko Pramono, namun kedua matanya menyaksikan sendiri isterinya membelai-belai Joko Pramono, dan andaikata ada keraguan, maka keraguan ini disapu hilang oleh teriakan Pusporini yang memaki Joko Pramono ceriwis, cabul, dan mata keranjang !

Pangeran Panji Sigit tidak tahu betapa dalam keadaan pingsan itu, bibir dan seluruh mukanya diciumi oleh bibir Suminten yang sudah tak dapat menahan nafsunya, kemudian wanita ini dengan muka mangar-mangar kemerahan bertepuk tangan. Muncullah empat orang pelayan wanita kepercayaannya dan ia lalu memerintahkan mereka menggotong tubuh pria yang membuatnya tergila-gila ini ke dalam kamarnya.

Malam telah lama lewat dan hari telah menjelang siang ketika Pangeran Panji Sigit siuman dari pingsannya dan ia mendapatkan dirinya telah rebah di atas sebuah pembaringan yang lunak harum di dalam kamar yang indah dan sebuah lengan yang lunak. halus melintang di atas dadanya, pernapasan yang halus terdengar di sebelah kanannya. Ketika ia menoleh ke arah si pemilik lengan dan si pembuat napas, kiranya Suminten yang memeluknya dalam keadaan pulas! Suminten dengan wajahnya yang manis, rambut terurai lepas merupakan satu-satunya alat penutup tubuh, sama dengan keadaan dirinya sendiri yang hanya berselimut kain merah.

Raden Panji Sigit mengerutkan kening, teringat akan semua peristiwa semalam, tahu bahwa dia telah di bawa ke dalam kamar Suminten, dan tidur sepembaringan dengan ibu tirinya itu, pembaringam yang biasanya ditiduri ramandanya! Ia menjadi muak dan cepat menurunkan lengan yang melintang di atas dadanya, kemudian melompat turun, menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaian tergesa-gesa.

Suminten menggeliat, mengeluarkan suara seperti seekor anak kucing manja dan mau tidak mau Pangeran Panji Sigit harus memandang tubuh yang amat indah dan memiliki daya tarik menggairahkan dan merangsang nafsu berahi itu. Namun ia menekan semua gelora batinnya yang mulai bangkit ini dengan kesadaran betapa jahat, keji, dan berbahayanya selir ramandanya ini.

Suminten membuka mata, dimulai dengan berkejapnya bulu mata yang lentik itu, kemudian matanya terbuka dan seperti seorang kaget wanita ini bangkit duduk, membiarkan rambutnya yang panjang menjadi tirai jarang di depan dadanya yang telanjang sehingga mencipta penglihatan yang dapat meruntuhkan hati setiap orang pria.

"Ouhhhh... Pangeran, andika sudah siuman? Syukurlah... aduhh, andika amat mencemaskan hatiku... semalam suntuk kujaga di sini belum juga siuman, sampai akhirnya aku tertidur di sampingmu. Marilah ke sini, Pangeran..."

Pangeran Panji Sigit mengerutkan keningnya dan menggeleng. "Terima kasih, saya akan pergi..."

"Ehhh, jangan pergi, Pangeran. Andika masih perlu istirahat. Ke sinilah, mari rebah di sini, lupakan segala kesedihan. Suminten akan menghiburmu, Pangeran, Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hatinya, setiap helai bulu di tubuhnya mencintamu, Pangeran..."

cerita silat online karya kho ping hoo

Pangeran Panji Sigit bergidik. Bukan main wanita ini. Siapa yang terjerat oleh wanita seperti ini, yang memiliki wajah cantik manis, memiliki tubuh yang menggairahkan, memiliki suara yang merangsang nafsu, kiranya takkan mudah dapat melepaskan diri lagi.

Suminten sudah turun dari pembaringan sehingga kini tidak ada bagian tubuhnya yang tertutup selimut. Ia lari menghampiri dan memeluk pinggang pangeran itu dengan kemanjaan yang memikat hati.

"Pangeran, tak tahukah engkau betapa siang malam Suminten selalu merindukanmu? Marilah bersikapIah manis kepadaku, Pangeran, dan Suminten akan mencipta surga untukmu." Ia meraih ke atas, berdiri jinjit untuk mencapai bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya.

Pangeran itu membuang muka dan mendorong pundak Suminten sehingga wanita ini terjengkang dan jatuh terlentang di atas pembaringan. "Tak perlu andika merayuku! Aku sudah tahu siapa dan orang macam apa andika ini! Aku akan pergi dari istana terkutuk ini, sekarang juga!" Sambil berkata demikian, tanpa menoleh lagi Pangeran Panji Sigit sudah melangkah menuju pintu untuk keluar.

"Engkau kasar sekali, Pangeran! Tak tahu dicinta orang! Hi-hik, apa kau kira aku tidak tahu akan segala tugas rahasiamu? Engkau mata-mata Panjalu, mengkhianati kerajaan ramamu sendiri! Hihi-hik, kau kira akan mudah saja keluar dari sini? Ratusan orang pengawal sudah mengurung dan siap menanti tanda dariku untuk menyambutmu dengan seratus batang anak panah, seratus buah golok dan seratus batang tombak!"

Pangeran Panji Sigit telah tiba di pintu dan dibukanya daun pintu kamar itu. Ia melihat betapa tak jauh dari situ, di luar gedung telah berdiri barisan pengawal yang mengurung gedung itu dengan senjata lengkap di tangan! Wanita ini tidak membohong. Tak mungkin dia dapat lolos dari tempat ini dan agaknya untuk menerobos penjagaan demikian ketat merupakan hal yang berbahaya sekali. Ia menoleh dan melihat betapa Suminten sudah mengenakan pakaiannya, kini sedang memasang hiasan daun telinga sambil miringkan muka yang manis itu, yang memandangnya dengan kerling tajam dan senyum mengejek. Betapa ayu dan luwesnya wanita ini! Kalau bukan selir ramandanya dan bukan seorang wanita yang berwatak iblis!

Tiba-tiba Pangeran Panji Sigit tersenyum dan sinar matanya berkilat. Sekali melompat dia telah berada di dekat wanita itu yang memandangnya dengan mata terbelalak. Agaknya Suminten dapat melihat sinar mata itu dan terkejut.

"Engkau... mau apa...?" tanyanya dengan mata terbelalak.

"Tidak apa-apa, hanya akan keluar dengan aman dari istana ini, bahkan dari Kerajaan Jenggala, dan engkau yang akan menjadi pengawalku sampai aku terbebas dari ancaman orang-orangmu!"

"Apa...?" Akan tetapi seruan Suminten terpaksa berhenti karena Pangeran Panji Sigit telah menjabak rambutnya, rambut yang halus hitam dan panjang, yang amat lemas mengkilap karena setiap hari dikeramasi air bunga dan diminyaki yang harum dan selalu dikagumi setiap orang pria yang pernah merasai kenikmatan menemani wanita ini di kamarnya.

Kini rambut itu dijambak dengan kasar dan hampir Suminten tak dapat percaya akan kenyataan ini. Seluruh tubuhnya telah ia sediakan, dengan rela hendak ia serahkan kepada pemuda tampan ini, tubuhnya yang dapat meruntuhkan kerajaan yang ia yakin akan diperebutkan oleh laksaan orang pria. Akan tetapi sekali ini sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap pangeran yang mengingatkannya akan Pangeran Panji Rawit ini, yang sekaligus merampas hatinya, merampas cinta kasihnya yang selamanya belum pernah ia jatuhkan kepada seorang pria kecuali kepada mendiang Pangeran Panji Rawit. Baru sekali ini, semenjak Pangeran Panji Rawit, ada pria yang menolak tubuhnya, namun yang sekaligus malah membangkitkan gairahnya karena penolakan itu.

"Tidak perlu ribut-ribut. Mungkin kalau engkau berteriak, para anjing pengawalmu itu akan mengeroyokku sampai tewas, akan tetapi sebelum mereka sempat melakukan hal itu, lebih dulu aku akan memukul pecah kepalamu! Engkau menurut saja, kawal aku sampai lolos dari kerajaan dan aku tidak akan membunuhmu, biarpun engkau sudah sepatutnya dibunuh!" Sambil berkata demikian, Pangeran Panji Sigit lalu menggandeng tangan Suminten keluar dari kamar itu.

Suminten yang maklum bahwa kalau ia melawan, tentu pangeran ini tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, menjadi pucat mukanya, menggigit bibirnya dan mendesis, "Engkau kejam, engkau tak tahu dicinta orang. Ada jalan ke surga, mengapa memilih neraka?"

"Tak usah banyak rewel. Surgamu merupakan jalan menuju neraka bagiku!" jawab Pangeran Panji Sigit sambil menarik tangan ibu tirinya itu keluar dari gedung.

"Pangeran Panji Sigit, engkau dikhianati isterimu dan sahabatmu, mau apa engkau pergi dari sini? Apakah engkau hanya ingin dijadikan bahan tertawaan dan ejekan orang? Tinggal saja di sini sebagai seorang pangeran terhormat dan kalau engkau ingin menjadi pangeran pati"

"Cukup, tak usah banyak cakap lagi dan jangan mencoba untuk melawan. Aku tidak main-main dan engkaulah orangnya yang akan tewas lebih dahulu, kalau ada yang menghalangi aku."

Suminten mengeluarkan isak tertahan dan tidak bersuara lagi. Para pengawal yang melihat Suminten keluar bergandeng tangan dengan Pangeran Panji Sigit, tidak menjadi heran karena memang selir muda ini sudah biasa menggandeng para pangeran muda yang tampan. Akan tetapi keadaan dua orang muda itu yang mengherankan para pengawal. Pakaian mereka kusut, rambut juga belum disisir, bahkan agaknya baru bangun tidur. Wajah dua orang itu sama sekali tidak membayangkan kemesraan, bahkan kelihatan kaku dan keruh. Namun para pimpinan pengawal tidak berani bertanya, hanya memimpin anak buahnya untuk memberi hormat kepada selir muda yang sesungguhnya menjadi junjungan pertama mereka itu.

"Jaga di sini baik-baik, aku hendak pergi berjalan-jalan sebentar dengan puteranda pangeran," kata Suminten, suaranya tenang dan biasa sungguh pun mukanya keruh.

Pangeran Panji Sigit menarik napas lega. Ia tadi sudah siap untuk memukul pecah kepala wanita ini lebih dulu sebelum menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi, ucapan Suminten itu membuka jalan ke arah kebebasan baginya dan ia terus menggandeng tangan wanita itu yang mulai terasa dingin, keluar dari lingkungan istana.

Akan tetapi Pangeran Panji Sigit terlalu memandang rendah Suminten dan anak buahnya. Biarpun tadi Suminten mengeluarkan kata-kata yang membuka jalan kebebasan baginya, namun tanpa ia ketahui, Suminten telah membuat gerakan dengan jari tangannya yang dilihat oleh pimpinan pengawal. Gerakan jari tangan yang merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak beres sehingga begitu Suminten dan pangeran muda itu lewat, pemimpin pengawal segera lari menemui Pangeran Kukutan dan melaporkan hal itu.

"Hamba khawatir sekali, gusti. Kepergian beliau agaknya bukan sewajarnya, melihat dari wajah beliau yang keruh," demikian pengawal itu menutup pelaporannya.

Pangeran Kukutan mengerutkan keningnya. Hatinya sebetulnya sudah merasa tidak senang sekali melihat betapa Suminten mengeram Pangeran Panji Sigit dalam kamarnya. Dia bukan seorang pecemburu. Tidak, terhadap Suminten dia tidak bisa merasa cemburu lagi. Mereka sudah saling mengenal dan saling bersepakat untuk mendapat kebebasan sepenuhnya dalam memilih kekasih.

Setiap malam wanita itu boleh saja berganti pria yang menemaninya. Akan tetapi Pangeran Panji Sigit ini lain lagi. Bukankah pangeran muda itu satu-satunya pangeran yang amat disayang ramandanya? Bukankah sebelum ia diangkat menjadi pangeran pati, sebetulnya ramandanya lebih condong untuk memilih Pangeran Panji Sigit menjadi pangeran pati atau, pangeran mahkota? Kini Suminten merayu pangeran yang menjadi musuh utama atau menjadi saingan terberat baginya itu.

Setelah berhasil memecah-belah empat orang itu, mengapa tidak turun tangan menangkap Pangeran Panji Sigit? Saatnya tepat, kesempatan terbuka untuk menjatuhkan tuduhan bahwa pangeran itu mempunyai niat memberontak dan berkhianat kepada kerajaan, dengan bukti terbunuhnya banyak pengawal di tangan Pusporini dan Joko Pramono! Juga banyak saksi-saksi, di antaranya yang terpenting adalah pembantunya yang menyamar sebagai Ki Mitra, yang telah mendengar akan siasat mereka sebagai pembantupembantu Darmokusumo dan Tejolaksono dari Panjalu, menjadi mata-mata menyelidiki keadaan kerajaan ramandanya sendiri!

"Biar kukejar dan tangkap keparat itu" Pangeran Kukutan berkata lalu cepat pergi, tentu saja bukan untuk menangkap dengan kedua tangan sendiri karena dia merasa jerih terhadap Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi seorang pria yang amat sakti itu. Dia pergi menemul Cekel Wisangkoro yang kebetulan sekali malam tadi datang berkunjung secara diam-diam dan kini berada di dalam kamar yang disediakan untuk tamu-tamu rahasia yang dihormati.

Dengan mudah Pangeran Panji Sigit dapat lolos keluar dari istana, akan tetapi baru saja ia menggandeng Suminten keluar dari pintu gerbang lapis ke tiga, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan kuning dan dari atas pintu gerbang itu menerjangnya dengan sebatang tongkat yang berbentuk ular hitam. Serangan ini cepat sekali datangnya, tongkat berubah menjadi sinar hitam yang mengeluarkan suara mengaung
sebagai tanda betapa cepat dan kuatnya tongkat digerakkan menghantam ke arah kepala Pangeran Panji Sigit!

"Pengecut!" Pangeran muda itu mengelak dan menjatuhkan diri ke belakang terus berjungkir balik dan meloncat agak jauh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu.

Ketika ia berdiri tegak memandang, ia melihat Pangeran Kukutan sudah menggandeng tangan Suminten, dan di depannya menghadangi seorang kakek tinggi kurus bermuka halus kemerahan, akan tetapi hidungnya seperti paruh kakaktua, rambutnya yang penuh uban terurai panjang sampai di pinggangi jubahnya kuning baru dan bersih akan tetapi kakinya telanjang dan tongkat hitam yang berbentuk ular itu memang sesungguhnya seekor ular besar yang sudah dikeringkan! Di sebelah kanan kakek mi berdiri Ki Patih Warutama yang tersenyum mengejek sehingga Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.

"Ah, kiranya persekutuannya telah lengkap sekarang!" kata Pangeran Panji Sigit. "Aku ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan ramanda sinuwun kalau dapat menyaksikan selirnya, patihnya, dan puteranya untuk menjatuhkan aku, dibantu oleh seorang pendeta palsu!"

"Pangeran Panji Sigit, memang akan menarik sekali kalau andika mendengar perintah sang prabu yang baru saja dijatuhkan kepada saya, yaitu bahwa saya diberi wewenang untuk membasmi dan membunuh andika dan tiga orang sekutu andika yang telah berkhianat dan menjadi mata-mata yang menyelidiki Kerajaan Jenggala!"

"Omongan keji dan bohong! Andaikata kanjeng rama mengeluarkan perintah seperti itu pun hanya karena fitnah yang kalian jatuhkan! Kalian adalah persekutuan busuk yang hendak merampas Kerajaan Jenggala dengan cara keji dan halus, membunuhi para ponggawa setia, menjauhkan kanjeng rama dari hamba-hamba setia agar dapat kalian kuasai! Aku tahu! Ya, aku tahu akan semua kepalsuan kalian!"

"Keparat bermulut lancang kau!" Pangeran Kukutan memaki. "Paman patih dan Paman Cekel, harap lekas turun tangan membunuh pengkhianat ini!"

Cekel Wisangkoro, kakek itu, terkekeh dan kembali ia menerjang maju dengan tongkat ularnya. Pangeran Panji Sigit yang sudah menjadi marah dan nekad sekali melakukan perlawanan, mengelak ke kiri sambil balas memukul dengan sebuah tamparan ke arah kepala kakek itu. Namun, Cekel Wisangkoro adalah murid yang sakti dari Wasi Bagaspati, sambil terkekeh ia menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya sehingga kedua lengan itu beradu, membuat sang pangeran terjengkang ke belakang sambil terhuyung, sedangkan kakek itu hanya mundur dua langkah.

"Heh-heh, Pangeran Muda, lebih baik menyerah dan siap menerima hukuman!" kata kakek itu dengan nada memandang rendah.

"Paman Cekel, bunuh saja!" bentak Ki Patih Warutama yang telah berunding dengan Pangeran Kukutan dan mendapatkan kata sepakat untuk membunuh Pangeran muda yang berbahaya ini. Dia sendiri sudah menerjang maju, gerakannya seperti kilat menyambar, bahkan ki patih ini sekali maju telah mencabut kerisnya yang mengeluarkan sinar kehijauan, yaitu keris pusaka Naga-kikik yang berluk tujuh.

Melihat sambaran sinar hijau ini, Pangeran Panji Sigit terkejut dan kembali ia terpaksa membuang diri ke belakang dan melakukan loncatan berjungkir-balik. Namun baru saja ia berdiri tegak, sinar hitam tongkat Cekel Wisangkoro sudah menyambar dari arah samping. Biarpun pangeran ini cepat mengelak, namun ujung tongkat itu masih menciumnya, membuatnya jatuh terguling.

Betapa pun juga, pangeran muda ini bukan seorang lemah dan memiliki keberanian yang didorong kenekadan luar biasa. Ia mengerti bahwa lawan-lawannya akan mengirim serangan maut, maka begitu tubuhnya terjatuh, ia menggunakan kedua tangan menekan tanah dan sambil mengeluarkan teriakan keras, ia mencelat ke atas mengirim tendangan ke arah lawan terdekat, yaitu Ki Patih Warutama!

Serangan ini tidak terduga-duga datangnya sehingga biarpun ki patih yang sakti itu cepat miringkan tubuh, pahanya masih saja kena didupak sehingga ia pun terpelanting jatuh berbareng dengan terpelantingnya tubuh Pangeran Panji Sigit yang kembali kena dihantam pundaknya dengan tongkat ular di tangan Cekel Wisangkoro! Dengan gemas Pangeran Kukutan meloncat maju dengan pedang di tangan, siap ditabaskan ke batang leher adik tirinya, akan tetapi tiba-tiba terdengar jerit Suminten,

"Jangan bunuh! Tangkap saja dia!"

Suara selir raja ini amat berpengaruh sehingga pada saat itu, tiga orang yang sudah siap dengan senjata di tangan itu, menarik kembali senjata mereka dan Ki Warutama menubruk ke depan, menelikung kedua lengan Pangeran Panji Sigit yang masih merasa lumpuh tangannya karena pukulan tongkat pada pundaknya. Ia dibelenggu dan digiring kembali di dalam istana, kemudian atas perintah Suminten, pemuda bangsawan itu dijebloskan ke dalam kamar tahanan bawah tanah yang tersedia di dalam lingkungan istana.

Atas perintah yang sangat dari Suminten, pangeran muda itu biarpun menjadi seorang tawanan namun ia ditempatkan di dalam sebuah kamar di bawah tanah yang cukup indah dan menyenangkan, sama sekali bukan sebagai kamar tahanan, melainkan sebuah kamar tidur yang lengkap dengan pembaringan indah dan sutera-sutera berkembang menghias kamar. Akan tetapi, untuk mencegah pangeran muda yang berani dan nekat ini memberontak dan melarikan diri, kaki dan tangannya dibelenggu dengan belenggu baja, bahkan lehernya juga dibelenggu sehingga biarpun Pangeran Panji Sigit dapat bergerak bebas dalam kamar, namun sukarlah baginya kalau hendak mencoba melarikan diri.

Pangeran Panji Sigit termenung di dalam kamar tahanan itu. Hidangan dan minuman lezat yang disuguhkannya tidak disentuhnya. Ia duduk termenung di atas pembaringannya dengan wajah pucat dan Pandang mata yang suram, kening berkerut. Ia tidak merasa susah karena menjadi tawanan, bahkan menghadapi kematian pun ia tidak akan gentar. Ia merasa bahwa lebih baik mati daripada hidup menanggung siksa batin yang hebat.

Isterinya, Setyaningsih yang amat dicintanya, telah berjina dengan Joko Pramono! Ia terlalu mencinta isterinya dan setelah kini ia renungkan, ia rela mengalah, ia rela tersiksa asal isterinya berbahagia. Kalau isterinya menemukan kebahagiaan dengan Joko Pramono, biarlah ia yang mundur dan jalan terbaik untuk mundur mengalah adalah mati!

Kalau ia mati, berarti tidak akan ada kesukaran dan halangan lagi bagi Setyaningsih untuk melanjutkan hasrat hatinya berlangen-asmoro (bermain cinta) dengan Joko Pramono dan dia pun tidak akan menderita batin lagi karena kematian akan membebaskannya dari segala derita. Akan tetapi, sebagai seorang satria, tentu saja la tidak boleh mati begitu saja. Masih banyak sekali tugas menanti, terutama sekali menyelamatkan ramandanya dan Kerajaan Jenggala dari cengkeraman oknum-oknum jahat.

"Duhai Adinda Setyaningsih, betapa tega hatimu..." Ia mengeluh panjang dan pada saat itu masuklah sesosok bayangan melalui pintu yang dikunci dari luar.

Di dalam kamar itu mulai gelap karena Pangeran Panji Sigit tidak menyalakan lampu, sedangkan senja telah mendatang. Maka ia menjadi kaget ketika kamar itu tiba-tiba menjadi terang oleh lampu yang dibawa masuk orang. Ia cepat menengok dan kembali ia membuang muka ketika melihat bahwa yang datang adalah Suminten!

Malam itu Suminten berusaha benar-benar untuk mengambil hati Pangeran Panji Sigit. Ia bersolek dengan teliti dan pada saat itu ia tampak amat cantik. Kulitnya yang halus hitam manis itu kelihatan seperti keemasan, halus lembut dan seolah-olah kehangatan terpancar keluar dari balik kulit itu. Ketika ia melangkah masuk, kamar itu serta merta penuh dengan keharuman yang amat sedap dan seolah-olah segala macam bunga yang harum dikumpulkan dan sarinya berada di tubuh wanita ini.

Rambutnya yang hitam panjang dan halus mengkilap itu disisir rapi, sebagian disanggul dan dihias pengikat rambut dari emas bertabur batu permata, ujung rambut masih terurai panjang sampai ke pinggulnya. Sepasang telinganya hinggap di belakang rambut pelipis bagaikan sepasang kupu-kupu menghisap madu bunga, menjadi lebih manis lagi karena dihias anting-anting panjang terbuat dari mutiara yang diuntai seperti embun berantai tergantung di ujung daun. Alisnya amat hitam, menjerit bukan dibuat, memang sudah sewajarnya rambut alis itu tumbuh amat rapi melindungi sepasang matanya yang seolah-olah selalu mengeluarkan api gairah asmara yang membakar.

Sepasang mata dengan bulu mata lentik panjang, yang selalu agak meredup, apalagi di saat itu, di waktu hatinya bergelora oleh asmara, mata itu kelihatan seperti mata yang mengantuk dan justeru keredupan matanya inilah yang menambah daya tariknya yang luar biasa. Hidung kecil mancung itu amat bagus bentuknya, akan tetapi bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan mulut di bawahnya.

Memang keistimewaan Suminten, di samping seluruh bagian tubuhnya yang menarik, terutama sekali terletak pada mata dan mulutnya. Mata dan mulutnya itu merupakan sumber-sumber yang penuh api membara, api yang dapat membakar nafsu berahi setiap orang pria. Mata dan mulut yang indah bentuknya dan membayangkan ketelanjangan yang menantang!

Suminten menghampiri Pangeran Panji Sigit yang membuang muka. Ketika melangkah maju, pinggulnya yang ramping seperti patah-patah dan pinggulnya yang menonjol keras mengimbangi dadanya itu bergerak-gerak.

"Duh Pangeran..." Suminten merapatkan tubuhnya, sengaja menekankan dadanya yang membusung itu ke pangkal lengan Pangeran Panji Sigit suaranya menggetar ketika memanggil napasnya agak terengah karena begitu menyentuh pangeran itu, darahnya telah mendidih, nafasnya menggelora menuntut pelepasan. Tangan kirinya merangkul pundak, tangan kanannya menggerayang dada pangeran muda itu.

"Duh Pangeran, mengapa begini jadinya...??"

Suminten mengeluh lagi dan sekali ini dia tidak berpura-pura, bukannya merayu sembarang merayu, melainkan secara sungguh-sungguh karena dia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda ini. Dua titik air mata yang mengalir di atas pipinya bukanlah air mata palsu, melainkan timbul dari hatinya yang merasa nelangsa mengapa pemuda ini tidak mau menyambut cinta kasihnya, bahkan rela menjadi tawanan dan rela pula menghadapi maut.

Tanpa menoleh, Pangeran Panji Sigit berkata kasar, "Mau apa engkau, wanita iblis? Pergilah, aku sudah tertawan, mau bunuh atau mau siksa, terserah. Aku tidak takut mati!"

"Pangeran Panji Sigit, butakah engkau, wahai pria pujaan hamba? tidak tahukah atau memang pura-pura tidak tahu betapa Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya? Aduh Pangeran, sungguh, aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu! Tunjukkanlah bahwa engkau seorang pria yang suka kepadaku, akan membalas cinta kasihku, dan percayalah, aku dapat membuat engkau menjadi Putera Mahkota Kerajaan Jenggala! Kelak, kalau engkau sudah menjadi Raja Jenggala, aku Suminten akan cukup puas kalau engkau tidak melepaskanku, akan selalu mendampingiku, menguburku dengan timbunan cinta kasihmu, sayang..."

Pangeran Panji Sigit adalah seorang manusia biasa, seorang pria yang masih muda. Menghadapi cumbu rayu seorang wanita muda cantik jelita seperti Suminten ini benar-benar terasa amat berat baginya untuk mempertahankan hatinya. Ia merasa betapa daging lembut mendekap di bahunya, merasa betapa jantung di balik dada itu berdenyar-denyar penuh hembusan nafsu berahi, mendengar getaran penuh kemesraan dalam suara yang berbisik-bisik itu, merasa hembusan napas yang hangat dari mulut yang merah menantang, merasa betapa jari-jari tangan yang membelai dada dan lehernya mengeluarkan getaran-getaran yang membuat dia merinding.

Dapatkah kita menyalahkan Pangeran Panji Sigit kalau jantungnya sendiri mulai berdebar? Apalagi mendengar bujukan yang amat muluk itu. Dia akan dijadikan putera mahkota, calon pengganti ramandanya! Akan tetapi, ia mengingat akan kekejian wanita ini dan tanpa menoleh ia membentak, "Tak perlu membujukku, pergilah kau wanita berhati palsu!"

"Aduh, Pangeran Panji Sigit. Tak dapatkah engkau membedakah antara cinta sejati dan cinta palsu? Pangeran, kalau memang cintaku palsu, tentu aku tidak berani datang mengunjungimu di saat ini. Engkau dan aku tahu bahwa kalau engkau kehendaki, dengan mudah engkau akan dapat membunuhku di saat ini tanpa ada yang dapat menolongnya. Akan tetapi aku tidak perduli. Bunuhlah kalau kau mau membunuhku karena kalau engkau menolak cintaku, berarti engkau sudah setengah membunuhku! Duh Pangeran, dari debar jantungmu, aku tahu bahwa engkau bukan seorang pria berdarah dingin. Aku tahu bahwa di sudut hatimu, engkau juga mencinta Suminten..."

"Tidak pergilah...!!"

Akan tetapi Suminten telah merasa betapa di balik kulit dada bidang yang dibelai ujung jari tangannya itu berdebar, betapa rongga dada itu bergelora, kulitnya menjadi panas, urat-urat di leher pangeran itu menjadi berdenyut-denyut, mukanya kemerahan dan pandang matanya merenung, nafasnya memburu. Semua ini menjadi tanda akan bangkitnya nafsu berahi yang menjalar dari tubuhnya kepada pangeran itu.

Melihat tanda-tanda yang amat dikenalnya ini, Suminten tersenyum dan cepat ia menarik leher pangeran itu dengan kedua lengannya yang bulat panjang, seperti dua ekor ular lengannya membelit leher, bergantung sehingga muka pangeran itu menunduk dan dengan sepenuh cinta kasih dan kemesraannya, Suminten mencium bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya. Begitu mesra belaian dan ciuman wanita ini sehingga pangeran muda itu kehilangan akal dan kesadaran, hampir secara otomatis Pangeran Panji Sigit membalas ciuman itu dengan napas terengah karena dorongan nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Suminten yang amat pandai merayu.

Pada saat mulut mereka berciuman, Suminten tak dapat menahan hatinya, sehingga naiklah gelak tawa dari dalam dadanya yang tertahan di mulut yang sedang berciuman. Suara ini, suara gelak tertahan ini, memasuki telinga Pangeran Panji seperti suara ketawa iblis sendiri..yang mengejek dan menyorakinya. Jiwa satria dalam diri Pangeran Panji Sigit meronta mendengar ini, kesadarannya kembali dan ia cepat merenggut mukanya dari pagutan wanita itu, dari ciuman yang sepertl gigitan seekor lintah. Kemudian, terbawa oleh rasa sesal mengapa ia tadi melayani belaian dan cumbuan Suminten, Pangeran Panji Sigit menggerakkan tangan kanannya menampar pipi yang halus, harum dan hangat itu.

"Plakkk...!!"

Tamparan itu keras sekali dan tubuh Suminten terpelariting lalu roboh terguling di atas lantai. Wanita itu menjerit kecil, kini bangkit dengan muka merah dan pipi sebelah kirinya membiru. Ia mengelus pipi kirinya dengan tangan kiri, menengadah memandang pangeran itu dan tersenyum!

"Pangeran, tamparan keras itu tidak dapat menghapus kebahagiaan hatiku telah merasai belaianmu tadi. Pangeran, marilah... marilah ke sini... kita saling mencinta, tak perlu disangkal lagi mari bersama Suminten, Pangeran. Kemudian, engkau akan membunuhku, atau akan lebih suka menjadi calon raja, terserah kepadamu... aku siap menyerahkan jiwa dan ragaku kepadamu, Pangeran..."

Pangeran Panji Sigit terbelalak memandang wanita yang setengah rebah di atas lantai itu. Ketika terguling tadi, rambut Suminten terlepas sanggulnya dan terurai kacau, kembennya merosot dan kainnya tersingkap sampai ke paha. Tubuh yang ramping padat itu meliuk-liuk, seperti seekor ular kepanasan, penuh daya memikat sehingga ada dorongan hasrat di hati Pangeran Panji Sigit untuk melompat, menerkam wanita itu dan melahap hidangan yang disediakan untuknya dengan kerelaan yang menggila, bahkan hampir mengharukan!

Wanita ini, betapa pun jahat dan kejinya, benar-benar mencintanya, bukan hanya cinta nafsu, melainkan cinta tulus ikhlas yang aneh, cinta yang didasari kesiapan untuk berkorban apa juga. Akan tetapi saat itu Pangeran Panji Sigit sudah sadar betul sehingga semua dorongan nafsu berahi telah dapat ia tolak dan lenyapkan. Ia memandang dan sinar matanya menjadi dingin sekali.

Wanita ini telah mencelakakan ramandanya, telah mencelakakan kerajaan, telah melakukan banyak kekejaman, menyebabkan terbasminya keluarga Ki Patih Brotomenggala, menyebabkan sengsaranya permaisuri dan banyak orang tak berdosa menerima hukuman bahkan banyak pula yang ditewaskan. Biarpun dari luar kelihatan seperti seorang wanita yang amat cantik dan gerak-geriknya selalu membetot semangat dan cinta kasih pria, namun sesunggahnya iblis sendiri yang bersembunyi di balik segala keindahan tubuh wanita ini.

"Suminten, tidak ada gunanya lagi membujuk. Aku tidak akan terpikat olehmu karena aku merasa yakin bahwa engkau sesungguhnya adalah seekor ular beracun, seorang wanita yang menjadi alat iblis untuk menggoda dan menyeret manusia ke lembah kehinaan. Aku tidak mau membunuhmu karena engkau adalah selir kanjeng rama, akan tetapi aku pun tidak akan sudi lagi menjamahmu apalagi mencintamu karena setiap sentuhan akan mendatangkan dosa dan noda bagiku. Jiwamu rendah sehingga tubuhmu menjadi kotor menjijikkan, lebih baik seribu kali mati daripada menuruti cinta kasihmu yang hina dan rendah!"

Wajah Suminten menjadi pucat. Setelah kini yakin bahwa cinta kasihnya tidak akan terbalas pemuda yang dipujanya dan dicintanya ini, hatinya seperti disayat-sayat pisau dan terasa perih sekali. Sakit hati menimbulkan kebencian dan dendam. Bagi seorang seperti Suminten, mudah saja merubah cinta kasih berkobar menjadi benci yang mendalam. Ia bangkit, membenarkan sanggulnya, merapikan pakaiannya, sikapnya juga dingin sekali. Sejenak ia berdiri tegak memandang wajah pangeran itu, menahan isak dengan napas dihela panjang, kemudian berbalik yang terdengar seperti desis seekor ular,

"Aku bisa mencinta bisa pula membenci, bisa mendatangkan nikmat bisa pula mendatangkan derita! Kau kira dapat menentang kehendakku? Kita sama lihat saja, akan datang saatnya engkau bertekuk lutut di depanku, meratap mohon kasihan kepadaku!"

Setelah berkata demikian, Suminten keluar dari kamar tahanan itu. Pangeran Panji Sigit sejenak termenung, kemudian menghela napas dan duduk di atas pembaringan. Ia mendengar suara Suminten di luar kamar, agaknya bercakap-cakap dengan penjaga. Namun dia tidak perduli.

********************

"Akan tetapi, dua orang muda itu, Pusporini dan Joko Pramono, memiliki kesaktian yang luar biasa!" kata Ki Patih Warutama sambil mengerutkan keningnya yang tebal.

Mereka sedang berunding. Ki Patih Warutama, Suminten yang duduk di kursi paling tinggi dengan sikap seperti seorang ratu, Pangeran Kukutan dan di situ menghadap, pula Cekel Wisangkoro dan dua orang tokoh sakti lainnya yang sudah kita kenal yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Biarpun tidak atau belum berani berkunjung ke Jenggala secara berterang, namun kini tokoh-tokoh anak buah Wasi Bagaspati dan Biku Janapati sudah seringkali secara diam-diam, berkunjung ke Jenggala, bahkan telah diterima, sebagai sekutu oleh Suminten, Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama yang merupakan tiga serangkai yang pada saat itu memegang kendali Kerajaan Jenggala.

"Ha-ha-ha, hanya dua orang bocah, mengapa begitu dikhawatirkan? Serahkan saja kepada Ki Kolohangkoro, akan kutangkap mereka berdua dengan sebelah tanganku!" kata Ki Kolohangkoro yang sudah biasa menyombongkan diri dan bersikap kasar kepada slapa pun juga.

"Boleh jadi Ki Kolohangkoro agak sombong, akan tetapi kurasa, kalau hanya dua orang pemuda itu saja, tentu dia dapat mengalahkannya. Andaikata masih terlalu berat baginya, di sini ada aku dan ada pula Kakang Cekel Wisangkoro. Selain itu di sini banyak terdapat pengawal-pengawal yang cukup kuat, mengapa khawatir?" kata Ni Dewi Nilamanik sambil mengerling tajam ke arah Ki Patih Warutama yang tampan dan gagah itu.

Ki patih yang gagah itu sekali ini tidak melayani lirikan wanita cantik yang mengandung tantangan bagi kejantanannya. Dia mengerutkan alisnya dan berkata, "Saya sama sekali tidak hendak merendahkan kesaktian andika bertiga yang sudah saya ketahui dengan baik. Akan tetapi, saya telah menyaksikan pula malam tadi ketika Pusporini dan Joko Pramono dikeroyok oleh barisan pengawal pilihan. Sepak terjang mereka hebat bukan main dan... dan agaknya saya sendiri belum tentu dapat menandingi mereka. Memang kalau andika bertiga yang maju, saya tidak perlu khawatir lagi, hanya... ah, andaikata kami bisa mendapat kunjungan Paman Wasi Bagaspati sendiri atau Paman Biku Janapati, barulah hati saya akan menjadi lega karena yakin bahwa hanya beliau-beliau itulah yang akan dapat menundukkan mereka berdua tanpa ragu lagi."

Ni Dewi Nilamanik juga mengerutkan alisnya yang menjelirit hitam akan tetapi bukan sewajarnya melainkan buatan, kemudian ia berkata penuh penasaran, "Mengapa Ki Patih demikian berkecil hati? Sesungguhnya, kalau saya tidak salah ingat, saya dan Ki Kolohangkoro pernah menghadapi dua orang muda yang bernama Joko Pramono dan Pusporini itu, dan kami pernah menawan mereka dengan amat mudah!"

Ki Patih Warutama mengangkat mukanya memandang dan tercengang. "Benarkah itu?. Ah, kalau memang sudah terbukti andika dapat mengalahkannya, itulah baik sekali!"

Ki Kolohangkoro yang ingatannya tidak setajam ingatan Ni Dewi Nilamanik, dengan wajah bodoh bertanya, "Bunda Dewi, yang manakah mereka itu?"

"Ihh, apakah andika tidak ingat lagi?" Ni Dewi Nilamanik mencela.

Biarpun usia Ki Kolohangkoro lebih tua dari Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi ia selalu menyebut wanita cantik genit itu "Ibunda Dewi", hal ini adalah karena pertama, Ni Dewi Nilamanik adalah kekasih Wasi Bagaspati dan kedua karena Ki Kolohangkoro menganggap diri sendiri sebagai penitisan Sang Bathara Kala sedangkan Ni Dewi Nilamanik dianggap sebagai penitisan Sang Bathari Durgo, maka ia menyebutnya Ibunda Dewi. Raksasa yang menyeramkan itu menggeleng kepalanya sehingga rambutnya yang panjang dan gimbal bergoyang-goyang.

"Sudah terlalu banyak orang muda kita tangkap, mana bisa saya Mengingat mereka satu-satu?"

"Hemm, ingatkah engkau akan pertemuan kita dengan paman guruku, Paman Resi Mahesapati di dalam hutan itu?"

Raksasa itu membelalakkan matanya yang sudah lebar, lalu menyambar cawan berisi minuman tuwak yang disediakan untuknya, menggelogok isinya sampai kosong, kemudian berkata, "Ibunda maksudkan kakek jembel yang membawa batok kelapa dan sapu lidi itu? Ihhh, tentu saja aku masih ingat!" Raksasa itu menggerakkan pundaknya seperti orang kedinginan karena ia merasa serem kalau teringat akan kakek itu.

"Nah, waktu itulah kita menawan Joko Pramono dan Pusporini yang terpaksa kita tinggalkan karena pertemuan kita dengan paman guru itu."

"Oh-oh, ha-ha-ha! Mereka itu? Ah, mereka hanyalah bocah-bocah yang rupawan saja, biarlah kalau mereka datang, akan kutangkap mereka!"

Ki Patih Warutama memandang Ni Dewi Nilamanik dengan pandang mata penuh selidik. "Jadi ketika itu mereka ditolong oleh paman guru andika yang bernama Resi Mahesapati? Apakah paman guru andika itu sakti mandraguna?"

"Paman guru Mahesapati? Ihh, mengerikan sekali! Kesaktiannya seperti dewa! Kiranya setingkat dengan kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri!" jawab wanita itu.

Ki Patih Warutama mengangguk-angguk. Dia sudah menyaksikan kehebatan sepak terjang dua orang muda itu dan dalam urusan ini dia tidak mau bersikap sembrono seperti Ki Kolohangkoro yang memandang rendah semua urusan.

"Kalau begitu, siapa tahu kalau mereka lalu menjadi murid kakek sakti itu...!"

"Aihhh... Kalau begitu... memang mengkhawatirkan!" Ni Dewi Nilamanik berkata dan ketika mendengar kemungkinan dua orang muda itu menjadi murid Resi Mahesapati yang amat ditakutinya, Ki Kolohangkoro juga diam saja, tidak lagi berani membual.

Suminten yang tidak mengerti tentang kesaktian dan yang sejak tadi diam saja mendengarkan para pembantunya berunding, tiba-tiba membuka mulut berkata, "Mengadu kesaktian saja memang meragukan, akan tetapi jika menggunakan siasat kurasa tidak akan sukar menjatuhkan mereka, betapapun sakti mereka itu."

Semua mata memandang dan dalam pandang mata Ni Dewi Nilamanik terbayang kekaguman. Wanita ini sudah cukup berpengalaman, sudah banyak bertemu dengan pria atau wanita yang bagaimana pun. Akan tetapi baru sekali ini ia kagum melihat seorang wanita muda yang lemah tiada kesaktian namun dapat mengangkat dirinya secara sedemikian hebatnya, dari seorang abdi sampai menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Jenggala! Kini, wanita muda ini sengaja mengumpulkan mereka untuk berunding menghadapi dua orang muda yang sakti degan sikap sedemikian dingin, penuh perhitungan, dan matang! Dibandingkan dengan kematangan wanita muda ini, akal dan pikiran seorang kakek seperti Ki Kolohangkoro tiada bedanya dengan seorang bocah saja!

Suminten sengaja memanggil para pembantunya, langsung setelah ia keluar dari kamar tahanan, setelah gagal ia merayu Pangeran Panji Sigit. Kini, mendengar betapa orang-orang sakti ini seperti kehilangan akal mendengar kemungkinan bahwa dua orang muda lawan mereka itu benar-benar amat sakti dan murid Resi Mahesapati, dia menjadi hilang sabar.

"Kalau mereka datang, dan hal ini aku yakin pasti akan terjadi, mereka itu tentu bermaksud untuk membebaskan Pangeran Panji Sigit. Karena itu, kita bahkan sebaiknya menggunakan pangeran itu sebagai umpan. Di dalam penjara istana terdapat banyak alat-alat rahasia. Kalau kita tempatkan pangeran itu di dalam kamar yang sudah dipasangi perangkap, dan mereka datang, tentu akan mudah kita menangkap mereka tanpa mengerahkan banyak tenaga dan kerepotan lagi. Ada aku mendengar tentang kamar tahanan yang lantainya dapat menjebloskan penginjaknya ke dalam lubang di bawah tanah yang terbuat dari-pada baja, tanpa pintu dan jendela. Kalau kita menggunakan kamar itu..."

"Sayang hal itu tak mungkin dapat dilakukan karena adinda... eh, si bedebah Panji Sigit itu pun tahu akan rahasia kamar tahanan itu sehingga kalau para temannya datang, dia tentu akan dapat memperingatkan mereka," Pangeran Kukutan mencela.

Suminten tersenyum mentertawakan pendapat Pangeran Kukutan ini. Ketika ia tersenyum dan giginya yang putih mengkilat terkena cahaya lampu, semua yang hadir di situ memandang kagum. Dalam senyum ini terkandung segala yang mengagumkan dari diri atau pribadi Suminten karena senyum ini membayangkan kecerdikan yang mengerikan di samping kekejaman, keberanian dan ketenangan yang tersembunyi di balik kecantikan dan kemanisan yang mempesonakan.

"Ah, Pangeran, mengapa kekurangan akal? Apa sukarnya membuat Pangeran Panji Sigit pingsan? Dalam keadaan pingsan dia dibaringkan dalam kamar itu bukankah itu merupakan umpan yang amat baik? Setelah mereka terjeblos ke dalam lubang jebakan, terkurung dalam ruangan di bawah tanah itu, tinggal terserah kepada kita tentang nasib mereka."

"Akan kuhujani anak panah! Eh, tidak, akan kusuruh kumpulkan seratus ekor ular berbisa dan kumasukkan ular-ular itu ke dalam ruangan di bawah itu!" Pangeran Kukutan berkata dengan geram.

Suminten menarik napas panjang. "Hemm, amat tidak baik menurutkan hati panas. Hati boleh saja panas membara, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar kita dapat menggunakan kepala untuk menciptakan buah pikiran yang tepat. Mereka itu adalah orang-orang muda yang amat berguna karena memiliki kesaktian, di samping itu, Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera terkasih sang prabu, Setyaningsih dan Pusporini adalah adik-adik Endang Patibroto yang menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono di Panjalu. Tidak baik kalau membunuh mereka begitu saja karena mereka itu adalah orang-orang yang berharga, orang-orang yang penting dan masih banyak kegunaannya bagi kita. Membunuh mereka begitu saja berarti menyia-nyiakan kegunaan mereka. Kita laksanakan lebih dulu pancingan sampai berhasil, setelah mereka berhasil terjebak baru dicari jalan yang tepat"

"Saya amat kagum dan setuju dengan siasat itu. Harap paduka jangan khawatir, kalau mereka telah terjebak, saya mempunyai asap beracun untuk membuat mereka tak berdaya sehingga mudah ditawan," kata Ni Dewi Nilamanik.

Demikianlah, dengan rencana yang dikemukakan Suminten sebagai dasar, mereka dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan siasat itu. Mudah saja bagi Ni Dewi Nilamanik untuk membikin pingsan Pangeran Panji Sigit yang selain kalah jauh kedigdayaannya, juga sudah tertawan dan dibelenggu sehingga tidak dapat melawan ketika asap beracun memabukkan disemprotkan ke mukanya. Pangeran ini roboh pingsan seperti orang tertidur dan sama sekali tidak tahu bahwa dia digotong ke dalam sebuah kamar tahanan, dibaringkan di atas sebuah pembaringan batu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, malam hari itu juga, setelah berunding dan mendapat petunjuk-petunjuk dari Ki Wiraman, tiga orang muda perkasa, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono, menyelundup memasuki kota raja dengan niat menyerbu istana dan menolong Pangeran Panji Sigit yang masih tertinggal di istana.

Malam itu gelap karena udara tertutup mendung. Tiga bayangan berkelebat gesit sekali, berhasil meloncati pagar tembok istana dan bagaikan tiga ekor burung saja, Joko Pramono, Pusporini, dan Setyaningsih sudah melayang turun ke dalam taman istana yang paling ujung. Mereka itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedatagan mereka memang sudah diduga, bahkan telah direncanakan secara matang untuk menyambut mereka!

Joko Pramono selalu bergerak di sebelah depan sebagai pelopor. Setyaningsih di tengah karena kalau dibuat perbandingan, di antara mereka bertiga, Setyaningsih yang paling lemah. Pusporini berada di belakang menjaga bahaya tiba-tiba. Mereka berindap-indap bergerak maju, menuju ke gedung tamu di mana Pangeran Panji Sigit selama ini tinggal bersama isterinya.

Joko Pramono yang dapat bergerak seperti angin saja tanpa mengeluarkan suara telah mengintai jendela pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit, lalu menoleh dan memberi isyarat kepada Setyaningsih dan Pusporini agar jangan berisik. Mereka bertiga lalu berindap mengintai sinar jendela.Ternyata pondok yang tadinya menjadi tempat tinggal Pangeran Panji Sigit dan isterinya itu kini ditempati oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Cekel Wisangkoro!

Tiga orang sakti itu sedang duduk mengelilingi meja dan bercakap-cakap dengan asyiknya. Agaknya mereka itu sudah setengah mabuk karena di atas meja tersedia banyak minuman keras dan percakapan mereka sudah tidak karuan, tidak sopan sehingga Setyaningsih dan Pusporini yang mendengarnya menjadi tersipu-sipu, merah mukanya dan gemas.

"Ha-ha-ha, lbunda Dewi. Kalau ingin mencari kepuasan malam ini, marilah kulayani! Jarang sekali Ibunda mengajak aku, dan aku tanggung Ibunda Dewi akan puas sekali!" kata Ki Kolohangkoro.

"Heh-heh, jangan percaya dia, Ni Dewi! Biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi hal ini bukan kesenangannya, mana bisa dia memberi kepuasan? Kesenangannya hanya makan bocah. Mari kulayani engkau, Ni Dewi. Aku peranakan Hindu asli, dalam hal itu tidak kalah oleh guruku, Bapa Wasi sendiri, heh-heh!" kata Cekel Wisangkoro.

"Hushh, kalian jangan ribut-ribut. Bukan waktunya bersenang-senang. Bukankah kita ditugaskan menjaga datangnya musuh-musuh yang akan menolong Pangeran. Panji Sigit?"

Tiga orang muda di luar jendela yang tadinya merasa muak dan hendak pergi, kini mendengarkan dengan jantung berdebar.

"Aha! Panji Sigit sudah dikurung dalam kamar tahanan batu di ujung barat selain terjaga kuat juga sudah kita pasangi alat-alat sehingga setiap usaha untuk menolongnya berarti malah membunuhnya. Perlu apa khawatir?" kata Ki Kolohangkoro dengan suara keras.

"Andaikata dapat membebaskannya, tak mungkin akan dapat lolos dari pengejaran kita. Hayolah, Ni Dewi, kau layani aku... sudah tiga tahun aku tidak berdekatan dengan wanita..." kata pula Cekel Wisangkoro.

Tiga orang muda perkasa itu tidak mau mendengarkan lagi bahkan Joko Pramono sudah bergerak pergi meninggalkan pondok itu dibayangi oleh Setyaningsih dan Pusporini. Untung mereka mendengar percakapan itu sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari. Pangeran Panji Sigit ditahan dalam kamar tahanan batu di ujung barat! Selama mereka berada di istana, mereka sudah melakukan penyelidikan, akan tetapi mereka hanya tahu akan letak perumahan yang disediakan untuk tahanan rahasia di lingkungan istana. Mereka tidak mungkin menyelidiki keadaan kamar-kamar tahanan itu satu demi satu, akan tetapi mereka tahu di mana letaknya kamar tahanan batu di ujung barat.

Malam sudah larut sekali, keadaan, sudah sunyi tanda bahwa semua penghuni istana sudah tidur. Hanya sekali dua terdengar suara penjaga malam yang meronda. Joko Pramono dan Pusporini, dibantu pula oleh Setyaningsih, bersedakep di luar bangunan tahanan di ujung barat, mengheningkan cipta dan mengerahkan aji penyirepan. Dalam waktu yang tidak lama, keadaan di situ menjadi makin sunyi karena belasan orang penjaga yang bertugas menjaga di luar bangunan itu telah jatuh pulas semua, terpengaruh oleh aji panyirepan yang amat kuat.

Tiga orang muda perkasa itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aji panyirepan mereka tidak dapat mempengaruhi beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya, tiga orang sakti yang bukan lain adalah mereka yang tadi bercakap-cakap di dalam pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit! Mereka ini, Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro, telah lebih dulu memasang aji penolak sirep dan merekalah yang menjaga kamar tahanan siap untuk menggerakkan alat rahasia yang terpasang di lantai kamar!

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 37

Perawan Lembah Wilis Jilid 36

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 36

SEBAGAI cucu puteri mendiang Ki Patih Brotomenggala, tentu saja Widawati segera menghormat ketika mendengar bahwa puteri cantik ini adalah isteri Pangeran Panji seorang mantu sang prabu!

"Ayunda, dia ini adalah Paman Wiraman yang telah kuceritakan padamu." Pusporini memperkenalkan bekas pengawal itu kepada Setyaningsih.

Setyaningsih memandang ke arah Widawati yang menundukkan mukanya sambil berkata, "Dan dia ini tentulah Widawati, cucu kepatihan Jenggala yang bernasib malang itu?"

Widawati mengangkat mukanya dan dengan pandang mata sayu ia menyembah dan menjawab, "Tepat seperti dugaan paduka, hamba adalah Widawati..."

Wiraman menarik napas panjang dan berkata, "Sungguh berbahaya sekali keadaan paduka bertiga, dan masih untung dapat meloloskan diri. Ketika saya mendengar paduka menyebut-nyebut nama Ki Mitra, maka yakinlah saya bahwa paduka telah ditipu karena Ki Mitra telah tewas beberapa bulan yang lalu. Hanya para penyelidik saya yang mengetahui bahwa Ki Mitra telah dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Kukutan dan mayatnya dikubur dalam hutan. Mereka mengira bahwa tidak ada orang yang mengetahui rahasia itu!"

"Ahh...!!" Hampir berbareng Setyaningsih, Pusporini dan Joko Pramono berseru kaget.

Kalau mereka ingat betapa mereka mengajak Ki Mitra bicara tentang rahasia perjuangan mereka! Kiranya Ki Mitra itu adalah Ki Mitra palsu! Kaki tangan Pangeran Kukutan dan Suminten! Terbukalah mata mereka kini bahwa sesungguhnya, semenjak menginjakkan kaki di Kerajaan Jenggala, mereka telah berada dalam cengkeraman Suminten dan sekutunya! Mengerti bahwa semua yang terjadi telah direncanakan oleh Suminten yang licin bagai belut dan cerdik bagai setan itu!

"Wah, kalau begitu, Kakangmas Pangeran terancam bahaya..." Suara Setyaningsih mengandung isak tertahan karena gelisahnya memikirkan keselamatan suaminya.

"Kita harus kembali ke sana sekarang juga untuk menolong Rakanda Pangeran!" kata Pusporini.

"Tidak ada lain jalan! Kita mengamuk di istana Jenggala!" kata pula Joko Pramono.

"Hendaknya paduka bertiga bersabar," kata Ki Wiraman dengan suara tenang dan penuh pengertian. "Memang hanya orang-orang sakti seperti paduka bertiga yang agaknya akan dapat memasuki kota raja dan istana Jenggala, akan tetapi hendaknya bersabar dan jangan menggunakan kekerasan. Di sana selain banyak pengawal, juga hamba tahu banyak terdapat pembantu-pembatu rahasia yang sakti mandraguna. Kalau. menggunakan kekerasan, selain paduka akan menghadapi perlawanan yang kuat dan berbahaya, juga hal ini akan membahayakan keadaan Gusti Pangeran Panji Sigit. Sebaiknya dilakukan secara diam-diam dan di waktu malam."

"Apakah tidak akan terlambat, Paman? Kami harus menyelamatkan Rakanda Pangeran dan tangan mereka," bantah Joko Pramono.

"Hamba kira tidak begitu. Gusti Sinuwun amat cinta kepada Gusti Pangeran Panji Sigit Sehingga mereka tidak akan begitu sembrono untuk mencelakai Gusti Pahgeran. Selain itu... hemmm.... harap maafkan hamba, hamba sudah tahu bahwa Suminten menaruh hati kepada Gusti Pangeran. Sebaiknya malam nanti saja paduka bertiga menyelundup ke dalam kota raja dan diam-diam mengusahakan agar Gusti Pangeran Panji Sigit dapat lolos dari sana. Adapun hamba akan berjaga di luar kota raja dan mengirim laporan mengenai paduka sekalian ke Panjalu."

Mereka mengadakan perundingan dan tiga orang muda yang perkasa namun dalam hal pengalaman dan siasat tentu saja tidak dapat menang dari Ki Wiraman itu selalu mendengarkan nasehat dan pendapat Ki Wiraman. Bahkan mereka banyak mendengar tentang keadaan Jenggala dari bekas pengawal ini dan terkejutlah hati mereka ketika mendengar bahwa sesungguhnya bukan hanya Pangeran Kukutan, Suminten dan Ki Patih Warutama yang menguasai Jenggala, melainkan kekuasaan-kekuasaan dari Sriwijaya dan Cola. Ketika mereka bertanya kepada Ki Wiraman tentang Nini Bumigarba, Ki Wiraman menarik napas panjang dan berkata,

"Sungguh kasihan kalau hamba mengingat akan nasib Gusti Patih Tejolaksono dan keluarganya. Dua orang puteranya, Bagus Seta dan Retna Wilis, pergi dibawa orang maha sakti, entah berada di mana dan sampai kini tiada berita. Banyak orang pernah mendengar nama Nini Bumigarba, dan hamba sendiri pernah mendengar nama yang dihubungkan dengan nama Ni Dewi Sarilangking, seorang wanita iblis yang sudah terkenal semenjak jaman Mataram dahulu. Akan tetapi siapakah orang yang pernah melihatnya? Agaknya hamba kira tak mungkin nenek sakti itu ada hubungannya dengan mereka yang mencengkeram Jenggala, bahkan hamba masih ragu-ragu apakah wanita yang sudah terkenal di jaman Mataram itu benar-benar sekarang masih hidup! Tentu dia sudah berusia tidak kurang dari dua ratus tahun!"

Hari itu juga, Ki Wiraman mengutus beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke Panjalu dan membawa laporan-laporannya mengenai peristiwa yang terjadi di Jenggala yang dialami oleh empat orang muda perkasa itu. Malamnya, sebelum bulan muncul dan keadaan masih gelap, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono menyelundup masuk ke kota raja melalui dinding tembok, mempergunakan kesaktian mereka melompati dinding tembok yang tinggi.

Adapun Ki Wiraman dan Widawati memimpin sisa anak buah mereka mengadakan penjagaan di luar kota raja sambil terus menghubungi anak buah mereka yang mereka selundupkan sebagai mata-mata di dalam kota raja untuk mendengar apa yang terjadi dengan tiga orang muda yang berusaha menolong Pangeran Panji Sigit itu.

********************

Dengan tubuh lemas dan semangat terbang, Pangeran Panji Sigit di malam hari itu melihat betapa Setyaningsih yang dipondong Pusporini dapat lolos, demikian pula Joko Pramono dan melihat betapa Pusporini, Joko Pramono bersama isterinya itu dapat keluar dari istana, dikejar-kejar oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Pangeran Kukutan sendiri.

Ia terlalu marah untuk dapat mengeluarkan suara, terlalu heran dan kaget menyaksikan adegan antara isterinya dan Joko Pramono sehingga ia seolah-olah sejak melihatnya telah berubah menjadi sebuah arca, tak dapat bergerak sama sekali, tubuhnya lemas kakinya menggigil. Sampai keadaan di dalam taman sunyi kembali karena suara pengawal yang melakukan pengejaran sudah terlalu jauh untuk dapat didengar dari situ, Pangeran Panji Sigit masih saja berdiri termenung dengan hati dan tubuh lemas.

Tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan lemas, menyentuh pundaknya dengan mesra, dan bisikan suara Suminten menyusup ke dalam telinga kirinya.

"Pangeran, jangan khawatir, orang-orang jahat yang menyakiti hatimu itu pasti akan dapat tertangkap dan diseret di depan kakimu, Pangeran..."

Suara bisikan yang lembut basah ini memasuki telinganya, mula-mula seperti air sewindu yang amat dingin, kemudian seperti ujung pisau runcing menusuk jantungnya, membuat Pangeran Panji Sigit tersentak kaget dari lamunannya dan ia cepat menoleh lalu membentak, "Tidak...! Aku tidak percaya... Ini semua tentu siasatmu...! tentu perbuatanmu...! Aku tidak percaya isteriku akan berbuat keji dan hina...!"

Bibir merah semringah itu tersenyum di belakang punggung Pangeran Panji Sigit yang sudah membuang muka membelakangi wanita itu. Karena senyum itu tidak sewajarnya timbul dari kegembiraan hati, maka bukan tersenyum lagi, melainkan menyeringai dan andaikata pangeran itu dapat melihatnya tentu akan makin curiga hatinya. Akan tetapi hanya sebentar, karena Suminten sudah berkata lagi, kini tidak berbisik karena dia ingin memaksa kata-katanya agar dapat sejelas mungkin menusuk kedua telinga pangeran yang tampan dan yang setiap kali ia temui membuat api dalam tubuhnya menggelora dan nafsunya menyengat-nyengat.

"Pangeran, mengapa andika tidak mau melihat kenyataan? Wanita adalah makluk lemah yang mudah tergoda. Lihatlah aku! Aku mencinta sang prabu, akan tetapi begitu melihat andika yang lebih gagah, aku tergila-gila dan bertekuk lutut terhadap gelora nafsu cintaku! Apalagi Setyaningsih yang masih muda belia! Dan Joko Pramono adalah seorang jantan muda yang memiliki daya tarik luar biasa sekali. Mungkin dalam hal ketampanan, dia tidak dapat mengatasimu, Pangeran. Akan tetapi, dia lebih gagah, tubuhnya lebih kuat seperti seekor banteng muda! Dan Setyaningsih adalah seorang wanita muda yang sejak kecil hidup bersama Endang Patribroto! Andika mangenal siapa Endang Patibroto! Isteri rakandamu Pangeran Panji Rawit dan belum lama ditinggal mati suaminya sudah menjadi kekasih Tejolaksono! Mana mungkin kesetiaannya dapat dipercaya? Andika baru melihat dia membelai Joko Pramono dan merangkul mesra, sayang keburu datang para pengawal dan Pusporini perempuan setan itu. Kalau tidak, tentu andika akan dapat menyaksikan adegan yang lebih mesra lagi antara Setyaningsih dan Joko Pramono... ahhh, kalau saja andika dapat melihat apa yang kusaksikan sendiri mereka berkasih-kasihan di luar taman, di atas rumput seperti dua ekor menjangan muda, bergelut mesra bercumbu-cumbuan..."

"Diam...!! Diammmmm...!! Diammmm...!!!"

Pangeran Panji Sigit berteriak-teriak seperti orang gila, menubruk ke depan dan menggunakan kepalan tangan kanannya menghantam batang pohon tanjung yang tumbuh di taman sari itu sehingga pohon itu berguncang dan daun-daun kuning rontok. Akan tetapi karena ia memukul batang pohon karena kemarahan dan sakit hati, tanpa mengerahkan aji kesaktiannya, maka kulit tangannya pecah-pecah berdarah dan tangannya membengkak. Kemudian pangeran ini terisak-isak dan menyandarkan dahinya pada batang pohon, mulutnya berteriak-teriak lemah seperti berbisik-bisik, "Tidak... tidak... tidak...!!!"

Akhirnya pangeran itu terkulai lamas dan roboh pingsan. Pukulan batin itu terlalu hebat baginya. Betapa pun ia menggunakan kekuatan batinnya untuk menolak dan tidak percaya bahwa isterinya akan berbuat serong, berjina dengan Joko Pramono, namun kedua matanya menyaksikan sendiri isterinya membelai-belai Joko Pramono, dan andaikata ada keraguan, maka keraguan ini disapu hilang oleh teriakan Pusporini yang memaki Joko Pramono ceriwis, cabul, dan mata keranjang !

Pangeran Panji Sigit tidak tahu betapa dalam keadaan pingsan itu, bibir dan seluruh mukanya diciumi oleh bibir Suminten yang sudah tak dapat menahan nafsunya, kemudian wanita ini dengan muka mangar-mangar kemerahan bertepuk tangan. Muncullah empat orang pelayan wanita kepercayaannya dan ia lalu memerintahkan mereka menggotong tubuh pria yang membuatnya tergila-gila ini ke dalam kamarnya.

Malam telah lama lewat dan hari telah menjelang siang ketika Pangeran Panji Sigit siuman dari pingsannya dan ia mendapatkan dirinya telah rebah di atas sebuah pembaringan yang lunak harum di dalam kamar yang indah dan sebuah lengan yang lunak. halus melintang di atas dadanya, pernapasan yang halus terdengar di sebelah kanannya. Ketika ia menoleh ke arah si pemilik lengan dan si pembuat napas, kiranya Suminten yang memeluknya dalam keadaan pulas! Suminten dengan wajahnya yang manis, rambut terurai lepas merupakan satu-satunya alat penutup tubuh, sama dengan keadaan dirinya sendiri yang hanya berselimut kain merah.

Raden Panji Sigit mengerutkan kening, teringat akan semua peristiwa semalam, tahu bahwa dia telah di bawa ke dalam kamar Suminten, dan tidur sepembaringan dengan ibu tirinya itu, pembaringam yang biasanya ditiduri ramandanya! Ia menjadi muak dan cepat menurunkan lengan yang melintang di atas dadanya, kemudian melompat turun, menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaian tergesa-gesa.

Suminten menggeliat, mengeluarkan suara seperti seekor anak kucing manja dan mau tidak mau Pangeran Panji Sigit harus memandang tubuh yang amat indah dan memiliki daya tarik menggairahkan dan merangsang nafsu berahi itu. Namun ia menekan semua gelora batinnya yang mulai bangkit ini dengan kesadaran betapa jahat, keji, dan berbahayanya selir ramandanya ini.

Suminten membuka mata, dimulai dengan berkejapnya bulu mata yang lentik itu, kemudian matanya terbuka dan seperti seorang kaget wanita ini bangkit duduk, membiarkan rambutnya yang panjang menjadi tirai jarang di depan dadanya yang telanjang sehingga mencipta penglihatan yang dapat meruntuhkan hati setiap orang pria.

"Ouhhhh... Pangeran, andika sudah siuman? Syukurlah... aduhh, andika amat mencemaskan hatiku... semalam suntuk kujaga di sini belum juga siuman, sampai akhirnya aku tertidur di sampingmu. Marilah ke sini, Pangeran..."

Pangeran Panji Sigit mengerutkan keningnya dan menggeleng. "Terima kasih, saya akan pergi..."

"Ehhh, jangan pergi, Pangeran. Andika masih perlu istirahat. Ke sinilah, mari rebah di sini, lupakan segala kesedihan. Suminten akan menghiburmu, Pangeran, Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hatinya, setiap helai bulu di tubuhnya mencintamu, Pangeran..."

cerita silat online karya kho ping hoo

Pangeran Panji Sigit bergidik. Bukan main wanita ini. Siapa yang terjerat oleh wanita seperti ini, yang memiliki wajah cantik manis, memiliki tubuh yang menggairahkan, memiliki suara yang merangsang nafsu, kiranya takkan mudah dapat melepaskan diri lagi.

Suminten sudah turun dari pembaringan sehingga kini tidak ada bagian tubuhnya yang tertutup selimut. Ia lari menghampiri dan memeluk pinggang pangeran itu dengan kemanjaan yang memikat hati.

"Pangeran, tak tahukah engkau betapa siang malam Suminten selalu merindukanmu? Marilah bersikapIah manis kepadaku, Pangeran, dan Suminten akan mencipta surga untukmu." Ia meraih ke atas, berdiri jinjit untuk mencapai bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya.

Pangeran itu membuang muka dan mendorong pundak Suminten sehingga wanita ini terjengkang dan jatuh terlentang di atas pembaringan. "Tak perlu andika merayuku! Aku sudah tahu siapa dan orang macam apa andika ini! Aku akan pergi dari istana terkutuk ini, sekarang juga!" Sambil berkata demikian, tanpa menoleh lagi Pangeran Panji Sigit sudah melangkah menuju pintu untuk keluar.

"Engkau kasar sekali, Pangeran! Tak tahu dicinta orang! Hi-hik, apa kau kira aku tidak tahu akan segala tugas rahasiamu? Engkau mata-mata Panjalu, mengkhianati kerajaan ramamu sendiri! Hihi-hik, kau kira akan mudah saja keluar dari sini? Ratusan orang pengawal sudah mengurung dan siap menanti tanda dariku untuk menyambutmu dengan seratus batang anak panah, seratus buah golok dan seratus batang tombak!"

Pangeran Panji Sigit telah tiba di pintu dan dibukanya daun pintu kamar itu. Ia melihat betapa tak jauh dari situ, di luar gedung telah berdiri barisan pengawal yang mengurung gedung itu dengan senjata lengkap di tangan! Wanita ini tidak membohong. Tak mungkin dia dapat lolos dari tempat ini dan agaknya untuk menerobos penjagaan demikian ketat merupakan hal yang berbahaya sekali. Ia menoleh dan melihat betapa Suminten sudah mengenakan pakaiannya, kini sedang memasang hiasan daun telinga sambil miringkan muka yang manis itu, yang memandangnya dengan kerling tajam dan senyum mengejek. Betapa ayu dan luwesnya wanita ini! Kalau bukan selir ramandanya dan bukan seorang wanita yang berwatak iblis!

Tiba-tiba Pangeran Panji Sigit tersenyum dan sinar matanya berkilat. Sekali melompat dia telah berada di dekat wanita itu yang memandangnya dengan mata terbelalak. Agaknya Suminten dapat melihat sinar mata itu dan terkejut.

"Engkau... mau apa...?" tanyanya dengan mata terbelalak.

"Tidak apa-apa, hanya akan keluar dengan aman dari istana ini, bahkan dari Kerajaan Jenggala, dan engkau yang akan menjadi pengawalku sampai aku terbebas dari ancaman orang-orangmu!"

"Apa...?" Akan tetapi seruan Suminten terpaksa berhenti karena Pangeran Panji Sigit telah menjabak rambutnya, rambut yang halus hitam dan panjang, yang amat lemas mengkilap karena setiap hari dikeramasi air bunga dan diminyaki yang harum dan selalu dikagumi setiap orang pria yang pernah merasai kenikmatan menemani wanita ini di kamarnya.

Kini rambut itu dijambak dengan kasar dan hampir Suminten tak dapat percaya akan kenyataan ini. Seluruh tubuhnya telah ia sediakan, dengan rela hendak ia serahkan kepada pemuda tampan ini, tubuhnya yang dapat meruntuhkan kerajaan yang ia yakin akan diperebutkan oleh laksaan orang pria. Akan tetapi sekali ini sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap pangeran yang mengingatkannya akan Pangeran Panji Rawit ini, yang sekaligus merampas hatinya, merampas cinta kasihnya yang selamanya belum pernah ia jatuhkan kepada seorang pria kecuali kepada mendiang Pangeran Panji Rawit. Baru sekali ini, semenjak Pangeran Panji Rawit, ada pria yang menolak tubuhnya, namun yang sekaligus malah membangkitkan gairahnya karena penolakan itu.

"Tidak perlu ribut-ribut. Mungkin kalau engkau berteriak, para anjing pengawalmu itu akan mengeroyokku sampai tewas, akan tetapi sebelum mereka sempat melakukan hal itu, lebih dulu aku akan memukul pecah kepalamu! Engkau menurut saja, kawal aku sampai lolos dari kerajaan dan aku tidak akan membunuhmu, biarpun engkau sudah sepatutnya dibunuh!" Sambil berkata demikian, Pangeran Panji Sigit lalu menggandeng tangan Suminten keluar dari kamar itu.

Suminten yang maklum bahwa kalau ia melawan, tentu pangeran ini tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, menjadi pucat mukanya, menggigit bibirnya dan mendesis, "Engkau kejam, engkau tak tahu dicinta orang. Ada jalan ke surga, mengapa memilih neraka?"

"Tak usah banyak rewel. Surgamu merupakan jalan menuju neraka bagiku!" jawab Pangeran Panji Sigit sambil menarik tangan ibu tirinya itu keluar dari gedung.

"Pangeran Panji Sigit, engkau dikhianati isterimu dan sahabatmu, mau apa engkau pergi dari sini? Apakah engkau hanya ingin dijadikan bahan tertawaan dan ejekan orang? Tinggal saja di sini sebagai seorang pangeran terhormat dan kalau engkau ingin menjadi pangeran pati"

"Cukup, tak usah banyak cakap lagi dan jangan mencoba untuk melawan. Aku tidak main-main dan engkaulah orangnya yang akan tewas lebih dahulu, kalau ada yang menghalangi aku."

Suminten mengeluarkan isak tertahan dan tidak bersuara lagi. Para pengawal yang melihat Suminten keluar bergandeng tangan dengan Pangeran Panji Sigit, tidak menjadi heran karena memang selir muda ini sudah biasa menggandeng para pangeran muda yang tampan. Akan tetapi keadaan dua orang muda itu yang mengherankan para pengawal. Pakaian mereka kusut, rambut juga belum disisir, bahkan agaknya baru bangun tidur. Wajah dua orang itu sama sekali tidak membayangkan kemesraan, bahkan kelihatan kaku dan keruh. Namun para pimpinan pengawal tidak berani bertanya, hanya memimpin anak buahnya untuk memberi hormat kepada selir muda yang sesungguhnya menjadi junjungan pertama mereka itu.

"Jaga di sini baik-baik, aku hendak pergi berjalan-jalan sebentar dengan puteranda pangeran," kata Suminten, suaranya tenang dan biasa sungguh pun mukanya keruh.

Pangeran Panji Sigit menarik napas lega. Ia tadi sudah siap untuk memukul pecah kepala wanita ini lebih dulu sebelum menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi, ucapan Suminten itu membuka jalan ke arah kebebasan baginya dan ia terus menggandeng tangan wanita itu yang mulai terasa dingin, keluar dari lingkungan istana.

Akan tetapi Pangeran Panji Sigit terlalu memandang rendah Suminten dan anak buahnya. Biarpun tadi Suminten mengeluarkan kata-kata yang membuka jalan kebebasan baginya, namun tanpa ia ketahui, Suminten telah membuat gerakan dengan jari tangannya yang dilihat oleh pimpinan pengawal. Gerakan jari tangan yang merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak beres sehingga begitu Suminten dan pangeran muda itu lewat, pemimpin pengawal segera lari menemui Pangeran Kukutan dan melaporkan hal itu.

"Hamba khawatir sekali, gusti. Kepergian beliau agaknya bukan sewajarnya, melihat dari wajah beliau yang keruh," demikian pengawal itu menutup pelaporannya.

Pangeran Kukutan mengerutkan keningnya. Hatinya sebetulnya sudah merasa tidak senang sekali melihat betapa Suminten mengeram Pangeran Panji Sigit dalam kamarnya. Dia bukan seorang pecemburu. Tidak, terhadap Suminten dia tidak bisa merasa cemburu lagi. Mereka sudah saling mengenal dan saling bersepakat untuk mendapat kebebasan sepenuhnya dalam memilih kekasih.

Setiap malam wanita itu boleh saja berganti pria yang menemaninya. Akan tetapi Pangeran Panji Sigit ini lain lagi. Bukankah pangeran muda itu satu-satunya pangeran yang amat disayang ramandanya? Bukankah sebelum ia diangkat menjadi pangeran pati, sebetulnya ramandanya lebih condong untuk memilih Pangeran Panji Sigit menjadi pangeran pati atau, pangeran mahkota? Kini Suminten merayu pangeran yang menjadi musuh utama atau menjadi saingan terberat baginya itu.

Setelah berhasil memecah-belah empat orang itu, mengapa tidak turun tangan menangkap Pangeran Panji Sigit? Saatnya tepat, kesempatan terbuka untuk menjatuhkan tuduhan bahwa pangeran itu mempunyai niat memberontak dan berkhianat kepada kerajaan, dengan bukti terbunuhnya banyak pengawal di tangan Pusporini dan Joko Pramono! Juga banyak saksi-saksi, di antaranya yang terpenting adalah pembantunya yang menyamar sebagai Ki Mitra, yang telah mendengar akan siasat mereka sebagai pembantupembantu Darmokusumo dan Tejolaksono dari Panjalu, menjadi mata-mata menyelidiki keadaan kerajaan ramandanya sendiri!

"Biar kukejar dan tangkap keparat itu" Pangeran Kukutan berkata lalu cepat pergi, tentu saja bukan untuk menangkap dengan kedua tangan sendiri karena dia merasa jerih terhadap Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi seorang pria yang amat sakti itu. Dia pergi menemul Cekel Wisangkoro yang kebetulan sekali malam tadi datang berkunjung secara diam-diam dan kini berada di dalam kamar yang disediakan untuk tamu-tamu rahasia yang dihormati.

Dengan mudah Pangeran Panji Sigit dapat lolos keluar dari istana, akan tetapi baru saja ia menggandeng Suminten keluar dari pintu gerbang lapis ke tiga, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan kuning dan dari atas pintu gerbang itu menerjangnya dengan sebatang tongkat yang berbentuk ular hitam. Serangan ini cepat sekali datangnya, tongkat berubah menjadi sinar hitam yang mengeluarkan suara mengaung
sebagai tanda betapa cepat dan kuatnya tongkat digerakkan menghantam ke arah kepala Pangeran Panji Sigit!

"Pengecut!" Pangeran muda itu mengelak dan menjatuhkan diri ke belakang terus berjungkir balik dan meloncat agak jauh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu.

Ketika ia berdiri tegak memandang, ia melihat Pangeran Kukutan sudah menggandeng tangan Suminten, dan di depannya menghadangi seorang kakek tinggi kurus bermuka halus kemerahan, akan tetapi hidungnya seperti paruh kakaktua, rambutnya yang penuh uban terurai panjang sampai di pinggangi jubahnya kuning baru dan bersih akan tetapi kakinya telanjang dan tongkat hitam yang berbentuk ular itu memang sesungguhnya seekor ular besar yang sudah dikeringkan! Di sebelah kanan kakek mi berdiri Ki Patih Warutama yang tersenyum mengejek sehingga Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.

"Ah, kiranya persekutuannya telah lengkap sekarang!" kata Pangeran Panji Sigit. "Aku ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan ramanda sinuwun kalau dapat menyaksikan selirnya, patihnya, dan puteranya untuk menjatuhkan aku, dibantu oleh seorang pendeta palsu!"

"Pangeran Panji Sigit, memang akan menarik sekali kalau andika mendengar perintah sang prabu yang baru saja dijatuhkan kepada saya, yaitu bahwa saya diberi wewenang untuk membasmi dan membunuh andika dan tiga orang sekutu andika yang telah berkhianat dan menjadi mata-mata yang menyelidiki Kerajaan Jenggala!"

"Omongan keji dan bohong! Andaikata kanjeng rama mengeluarkan perintah seperti itu pun hanya karena fitnah yang kalian jatuhkan! Kalian adalah persekutuan busuk yang hendak merampas Kerajaan Jenggala dengan cara keji dan halus, membunuhi para ponggawa setia, menjauhkan kanjeng rama dari hamba-hamba setia agar dapat kalian kuasai! Aku tahu! Ya, aku tahu akan semua kepalsuan kalian!"

"Keparat bermulut lancang kau!" Pangeran Kukutan memaki. "Paman patih dan Paman Cekel, harap lekas turun tangan membunuh pengkhianat ini!"

Cekel Wisangkoro, kakek itu, terkekeh dan kembali ia menerjang maju dengan tongkat ularnya. Pangeran Panji Sigit yang sudah menjadi marah dan nekad sekali melakukan perlawanan, mengelak ke kiri sambil balas memukul dengan sebuah tamparan ke arah kepala kakek itu. Namun, Cekel Wisangkoro adalah murid yang sakti dari Wasi Bagaspati, sambil terkekeh ia menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya sehingga kedua lengan itu beradu, membuat sang pangeran terjengkang ke belakang sambil terhuyung, sedangkan kakek itu hanya mundur dua langkah.

"Heh-heh, Pangeran Muda, lebih baik menyerah dan siap menerima hukuman!" kata kakek itu dengan nada memandang rendah.

"Paman Cekel, bunuh saja!" bentak Ki Patih Warutama yang telah berunding dengan Pangeran Kukutan dan mendapatkan kata sepakat untuk membunuh Pangeran muda yang berbahaya ini. Dia sendiri sudah menerjang maju, gerakannya seperti kilat menyambar, bahkan ki patih ini sekali maju telah mencabut kerisnya yang mengeluarkan sinar kehijauan, yaitu keris pusaka Naga-kikik yang berluk tujuh.

Melihat sambaran sinar hijau ini, Pangeran Panji Sigit terkejut dan kembali ia terpaksa membuang diri ke belakang dan melakukan loncatan berjungkir-balik. Namun baru saja ia berdiri tegak, sinar hitam tongkat Cekel Wisangkoro sudah menyambar dari arah samping. Biarpun pangeran ini cepat mengelak, namun ujung tongkat itu masih menciumnya, membuatnya jatuh terguling.

Betapa pun juga, pangeran muda ini bukan seorang lemah dan memiliki keberanian yang didorong kenekadan luar biasa. Ia mengerti bahwa lawan-lawannya akan mengirim serangan maut, maka begitu tubuhnya terjatuh, ia menggunakan kedua tangan menekan tanah dan sambil mengeluarkan teriakan keras, ia mencelat ke atas mengirim tendangan ke arah lawan terdekat, yaitu Ki Patih Warutama!

Serangan ini tidak terduga-duga datangnya sehingga biarpun ki patih yang sakti itu cepat miringkan tubuh, pahanya masih saja kena didupak sehingga ia pun terpelanting jatuh berbareng dengan terpelantingnya tubuh Pangeran Panji Sigit yang kembali kena dihantam pundaknya dengan tongkat ular di tangan Cekel Wisangkoro! Dengan gemas Pangeran Kukutan meloncat maju dengan pedang di tangan, siap ditabaskan ke batang leher adik tirinya, akan tetapi tiba-tiba terdengar jerit Suminten,

"Jangan bunuh! Tangkap saja dia!"

Suara selir raja ini amat berpengaruh sehingga pada saat itu, tiga orang yang sudah siap dengan senjata di tangan itu, menarik kembali senjata mereka dan Ki Warutama menubruk ke depan, menelikung kedua lengan Pangeran Panji Sigit yang masih merasa lumpuh tangannya karena pukulan tongkat pada pundaknya. Ia dibelenggu dan digiring kembali di dalam istana, kemudian atas perintah Suminten, pemuda bangsawan itu dijebloskan ke dalam kamar tahanan bawah tanah yang tersedia di dalam lingkungan istana.

Atas perintah yang sangat dari Suminten, pangeran muda itu biarpun menjadi seorang tawanan namun ia ditempatkan di dalam sebuah kamar di bawah tanah yang cukup indah dan menyenangkan, sama sekali bukan sebagai kamar tahanan, melainkan sebuah kamar tidur yang lengkap dengan pembaringan indah dan sutera-sutera berkembang menghias kamar. Akan tetapi, untuk mencegah pangeran muda yang berani dan nekat ini memberontak dan melarikan diri, kaki dan tangannya dibelenggu dengan belenggu baja, bahkan lehernya juga dibelenggu sehingga biarpun Pangeran Panji Sigit dapat bergerak bebas dalam kamar, namun sukarlah baginya kalau hendak mencoba melarikan diri.

Pangeran Panji Sigit termenung di dalam kamar tahanan itu. Hidangan dan minuman lezat yang disuguhkannya tidak disentuhnya. Ia duduk termenung di atas pembaringannya dengan wajah pucat dan Pandang mata yang suram, kening berkerut. Ia tidak merasa susah karena menjadi tawanan, bahkan menghadapi kematian pun ia tidak akan gentar. Ia merasa bahwa lebih baik mati daripada hidup menanggung siksa batin yang hebat.

Isterinya, Setyaningsih yang amat dicintanya, telah berjina dengan Joko Pramono! Ia terlalu mencinta isterinya dan setelah kini ia renungkan, ia rela mengalah, ia rela tersiksa asal isterinya berbahagia. Kalau isterinya menemukan kebahagiaan dengan Joko Pramono, biarlah ia yang mundur dan jalan terbaik untuk mundur mengalah adalah mati!

Kalau ia mati, berarti tidak akan ada kesukaran dan halangan lagi bagi Setyaningsih untuk melanjutkan hasrat hatinya berlangen-asmoro (bermain cinta) dengan Joko Pramono dan dia pun tidak akan menderita batin lagi karena kematian akan membebaskannya dari segala derita. Akan tetapi, sebagai seorang satria, tentu saja la tidak boleh mati begitu saja. Masih banyak sekali tugas menanti, terutama sekali menyelamatkan ramandanya dan Kerajaan Jenggala dari cengkeraman oknum-oknum jahat.

"Duhai Adinda Setyaningsih, betapa tega hatimu..." Ia mengeluh panjang dan pada saat itu masuklah sesosok bayangan melalui pintu yang dikunci dari luar.

Di dalam kamar itu mulai gelap karena Pangeran Panji Sigit tidak menyalakan lampu, sedangkan senja telah mendatang. Maka ia menjadi kaget ketika kamar itu tiba-tiba menjadi terang oleh lampu yang dibawa masuk orang. Ia cepat menengok dan kembali ia membuang muka ketika melihat bahwa yang datang adalah Suminten!

Malam itu Suminten berusaha benar-benar untuk mengambil hati Pangeran Panji Sigit. Ia bersolek dengan teliti dan pada saat itu ia tampak amat cantik. Kulitnya yang halus hitam manis itu kelihatan seperti keemasan, halus lembut dan seolah-olah kehangatan terpancar keluar dari balik kulit itu. Ketika ia melangkah masuk, kamar itu serta merta penuh dengan keharuman yang amat sedap dan seolah-olah segala macam bunga yang harum dikumpulkan dan sarinya berada di tubuh wanita ini.

Rambutnya yang hitam panjang dan halus mengkilap itu disisir rapi, sebagian disanggul dan dihias pengikat rambut dari emas bertabur batu permata, ujung rambut masih terurai panjang sampai ke pinggulnya. Sepasang telinganya hinggap di belakang rambut pelipis bagaikan sepasang kupu-kupu menghisap madu bunga, menjadi lebih manis lagi karena dihias anting-anting panjang terbuat dari mutiara yang diuntai seperti embun berantai tergantung di ujung daun. Alisnya amat hitam, menjerit bukan dibuat, memang sudah sewajarnya rambut alis itu tumbuh amat rapi melindungi sepasang matanya yang seolah-olah selalu mengeluarkan api gairah asmara yang membakar.

Sepasang mata dengan bulu mata lentik panjang, yang selalu agak meredup, apalagi di saat itu, di waktu hatinya bergelora oleh asmara, mata itu kelihatan seperti mata yang mengantuk dan justeru keredupan matanya inilah yang menambah daya tariknya yang luar biasa. Hidung kecil mancung itu amat bagus bentuknya, akan tetapi bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan mulut di bawahnya.

Memang keistimewaan Suminten, di samping seluruh bagian tubuhnya yang menarik, terutama sekali terletak pada mata dan mulutnya. Mata dan mulutnya itu merupakan sumber-sumber yang penuh api membara, api yang dapat membakar nafsu berahi setiap orang pria. Mata dan mulut yang indah bentuknya dan membayangkan ketelanjangan yang menantang!

Suminten menghampiri Pangeran Panji Sigit yang membuang muka. Ketika melangkah maju, pinggulnya yang ramping seperti patah-patah dan pinggulnya yang menonjol keras mengimbangi dadanya itu bergerak-gerak.

"Duh Pangeran..." Suminten merapatkan tubuhnya, sengaja menekankan dadanya yang membusung itu ke pangkal lengan Pangeran Panji Sigit suaranya menggetar ketika memanggil napasnya agak terengah karena begitu menyentuh pangeran itu, darahnya telah mendidih, nafasnya menggelora menuntut pelepasan. Tangan kirinya merangkul pundak, tangan kanannya menggerayang dada pangeran muda itu.

"Duh Pangeran, mengapa begini jadinya...??"

Suminten mengeluh lagi dan sekali ini dia tidak berpura-pura, bukannya merayu sembarang merayu, melainkan secara sungguh-sungguh karena dia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda ini. Dua titik air mata yang mengalir di atas pipinya bukanlah air mata palsu, melainkan timbul dari hatinya yang merasa nelangsa mengapa pemuda ini tidak mau menyambut cinta kasihnya, bahkan rela menjadi tawanan dan rela pula menghadapi maut.

Tanpa menoleh, Pangeran Panji Sigit berkata kasar, "Mau apa engkau, wanita iblis? Pergilah, aku sudah tertawan, mau bunuh atau mau siksa, terserah. Aku tidak takut mati!"

"Pangeran Panji Sigit, butakah engkau, wahai pria pujaan hamba? tidak tahukah atau memang pura-pura tidak tahu betapa Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya? Aduh Pangeran, sungguh, aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu! Tunjukkanlah bahwa engkau seorang pria yang suka kepadaku, akan membalas cinta kasihku, dan percayalah, aku dapat membuat engkau menjadi Putera Mahkota Kerajaan Jenggala! Kelak, kalau engkau sudah menjadi Raja Jenggala, aku Suminten akan cukup puas kalau engkau tidak melepaskanku, akan selalu mendampingiku, menguburku dengan timbunan cinta kasihmu, sayang..."

Pangeran Panji Sigit adalah seorang manusia biasa, seorang pria yang masih muda. Menghadapi cumbu rayu seorang wanita muda cantik jelita seperti Suminten ini benar-benar terasa amat berat baginya untuk mempertahankan hatinya. Ia merasa betapa daging lembut mendekap di bahunya, merasa betapa jantung di balik dada itu berdenyar-denyar penuh hembusan nafsu berahi, mendengar getaran penuh kemesraan dalam suara yang berbisik-bisik itu, merasa hembusan napas yang hangat dari mulut yang merah menantang, merasa betapa jari-jari tangan yang membelai dada dan lehernya mengeluarkan getaran-getaran yang membuat dia merinding.

Dapatkah kita menyalahkan Pangeran Panji Sigit kalau jantungnya sendiri mulai berdebar? Apalagi mendengar bujukan yang amat muluk itu. Dia akan dijadikan putera mahkota, calon pengganti ramandanya! Akan tetapi, ia mengingat akan kekejian wanita ini dan tanpa menoleh ia membentak, "Tak perlu membujukku, pergilah kau wanita berhati palsu!"

"Aduh, Pangeran Panji Sigit. Tak dapatkah engkau membedakah antara cinta sejati dan cinta palsu? Pangeran, kalau memang cintaku palsu, tentu aku tidak berani datang mengunjungimu di saat ini. Engkau dan aku tahu bahwa kalau engkau kehendaki, dengan mudah engkau akan dapat membunuhku di saat ini tanpa ada yang dapat menolongnya. Akan tetapi aku tidak perduli. Bunuhlah kalau kau mau membunuhku karena kalau engkau menolak cintaku, berarti engkau sudah setengah membunuhku! Duh Pangeran, dari debar jantungmu, aku tahu bahwa engkau bukan seorang pria berdarah dingin. Aku tahu bahwa di sudut hatimu, engkau juga mencinta Suminten..."

"Tidak pergilah...!!"

Akan tetapi Suminten telah merasa betapa di balik kulit dada bidang yang dibelai ujung jari tangannya itu berdebar, betapa rongga dada itu bergelora, kulitnya menjadi panas, urat-urat di leher pangeran itu menjadi berdenyut-denyut, mukanya kemerahan dan pandang matanya merenung, nafasnya memburu. Semua ini menjadi tanda akan bangkitnya nafsu berahi yang menjalar dari tubuhnya kepada pangeran itu.

Melihat tanda-tanda yang amat dikenalnya ini, Suminten tersenyum dan cepat ia menarik leher pangeran itu dengan kedua lengannya yang bulat panjang, seperti dua ekor ular lengannya membelit leher, bergantung sehingga muka pangeran itu menunduk dan dengan sepenuh cinta kasih dan kemesraannya, Suminten mencium bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya. Begitu mesra belaian dan ciuman wanita ini sehingga pangeran muda itu kehilangan akal dan kesadaran, hampir secara otomatis Pangeran Panji Sigit membalas ciuman itu dengan napas terengah karena dorongan nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Suminten yang amat pandai merayu.

Pada saat mulut mereka berciuman, Suminten tak dapat menahan hatinya, sehingga naiklah gelak tawa dari dalam dadanya yang tertahan di mulut yang sedang berciuman. Suara ini, suara gelak tertahan ini, memasuki telinga Pangeran Panji seperti suara ketawa iblis sendiri..yang mengejek dan menyorakinya. Jiwa satria dalam diri Pangeran Panji Sigit meronta mendengar ini, kesadarannya kembali dan ia cepat merenggut mukanya dari pagutan wanita itu, dari ciuman yang sepertl gigitan seekor lintah. Kemudian, terbawa oleh rasa sesal mengapa ia tadi melayani belaian dan cumbuan Suminten, Pangeran Panji Sigit menggerakkan tangan kanannya menampar pipi yang halus, harum dan hangat itu.

"Plakkk...!!"

Tamparan itu keras sekali dan tubuh Suminten terpelariting lalu roboh terguling di atas lantai. Wanita itu menjerit kecil, kini bangkit dengan muka merah dan pipi sebelah kirinya membiru. Ia mengelus pipi kirinya dengan tangan kiri, menengadah memandang pangeran itu dan tersenyum!

"Pangeran, tamparan keras itu tidak dapat menghapus kebahagiaan hatiku telah merasai belaianmu tadi. Pangeran, marilah... marilah ke sini... kita saling mencinta, tak perlu disangkal lagi mari bersama Suminten, Pangeran. Kemudian, engkau akan membunuhku, atau akan lebih suka menjadi calon raja, terserah kepadamu... aku siap menyerahkan jiwa dan ragaku kepadamu, Pangeran..."

Pangeran Panji Sigit terbelalak memandang wanita yang setengah rebah di atas lantai itu. Ketika terguling tadi, rambut Suminten terlepas sanggulnya dan terurai kacau, kembennya merosot dan kainnya tersingkap sampai ke paha. Tubuh yang ramping padat itu meliuk-liuk, seperti seekor ular kepanasan, penuh daya memikat sehingga ada dorongan hasrat di hati Pangeran Panji Sigit untuk melompat, menerkam wanita itu dan melahap hidangan yang disediakan untuknya dengan kerelaan yang menggila, bahkan hampir mengharukan!

Wanita ini, betapa pun jahat dan kejinya, benar-benar mencintanya, bukan hanya cinta nafsu, melainkan cinta tulus ikhlas yang aneh, cinta yang didasari kesiapan untuk berkorban apa juga. Akan tetapi saat itu Pangeran Panji Sigit sudah sadar betul sehingga semua dorongan nafsu berahi telah dapat ia tolak dan lenyapkan. Ia memandang dan sinar matanya menjadi dingin sekali.

Wanita ini telah mencelakakan ramandanya, telah mencelakakan kerajaan, telah melakukan banyak kekejaman, menyebabkan terbasminya keluarga Ki Patih Brotomenggala, menyebabkan sengsaranya permaisuri dan banyak orang tak berdosa menerima hukuman bahkan banyak pula yang ditewaskan. Biarpun dari luar kelihatan seperti seorang wanita yang amat cantik dan gerak-geriknya selalu membetot semangat dan cinta kasih pria, namun sesunggahnya iblis sendiri yang bersembunyi di balik segala keindahan tubuh wanita ini.

"Suminten, tidak ada gunanya lagi membujuk. Aku tidak akan terpikat olehmu karena aku merasa yakin bahwa engkau sesungguhnya adalah seekor ular beracun, seorang wanita yang menjadi alat iblis untuk menggoda dan menyeret manusia ke lembah kehinaan. Aku tidak mau membunuhmu karena engkau adalah selir kanjeng rama, akan tetapi aku pun tidak akan sudi lagi menjamahmu apalagi mencintamu karena setiap sentuhan akan mendatangkan dosa dan noda bagiku. Jiwamu rendah sehingga tubuhmu menjadi kotor menjijikkan, lebih baik seribu kali mati daripada menuruti cinta kasihmu yang hina dan rendah!"

Wajah Suminten menjadi pucat. Setelah kini yakin bahwa cinta kasihnya tidak akan terbalas pemuda yang dipujanya dan dicintanya ini, hatinya seperti disayat-sayat pisau dan terasa perih sekali. Sakit hati menimbulkan kebencian dan dendam. Bagi seorang seperti Suminten, mudah saja merubah cinta kasih berkobar menjadi benci yang mendalam. Ia bangkit, membenarkan sanggulnya, merapikan pakaiannya, sikapnya juga dingin sekali. Sejenak ia berdiri tegak memandang wajah pangeran itu, menahan isak dengan napas dihela panjang, kemudian berbalik yang terdengar seperti desis seekor ular,

"Aku bisa mencinta bisa pula membenci, bisa mendatangkan nikmat bisa pula mendatangkan derita! Kau kira dapat menentang kehendakku? Kita sama lihat saja, akan datang saatnya engkau bertekuk lutut di depanku, meratap mohon kasihan kepadaku!"

Setelah berkata demikian, Suminten keluar dari kamar tahanan itu. Pangeran Panji Sigit sejenak termenung, kemudian menghela napas dan duduk di atas pembaringan. Ia mendengar suara Suminten di luar kamar, agaknya bercakap-cakap dengan penjaga. Namun dia tidak perduli.

********************

"Akan tetapi, dua orang muda itu, Pusporini dan Joko Pramono, memiliki kesaktian yang luar biasa!" kata Ki Patih Warutama sambil mengerutkan keningnya yang tebal.

Mereka sedang berunding. Ki Patih Warutama, Suminten yang duduk di kursi paling tinggi dengan sikap seperti seorang ratu, Pangeran Kukutan dan di situ menghadap, pula Cekel Wisangkoro dan dua orang tokoh sakti lainnya yang sudah kita kenal yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Biarpun tidak atau belum berani berkunjung ke Jenggala secara berterang, namun kini tokoh-tokoh anak buah Wasi Bagaspati dan Biku Janapati sudah seringkali secara diam-diam, berkunjung ke Jenggala, bahkan telah diterima, sebagai sekutu oleh Suminten, Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama yang merupakan tiga serangkai yang pada saat itu memegang kendali Kerajaan Jenggala.

"Ha-ha-ha, hanya dua orang bocah, mengapa begitu dikhawatirkan? Serahkan saja kepada Ki Kolohangkoro, akan kutangkap mereka berdua dengan sebelah tanganku!" kata Ki Kolohangkoro yang sudah biasa menyombongkan diri dan bersikap kasar kepada slapa pun juga.

"Boleh jadi Ki Kolohangkoro agak sombong, akan tetapi kurasa, kalau hanya dua orang pemuda itu saja, tentu dia dapat mengalahkannya. Andaikata masih terlalu berat baginya, di sini ada aku dan ada pula Kakang Cekel Wisangkoro. Selain itu di sini banyak terdapat pengawal-pengawal yang cukup kuat, mengapa khawatir?" kata Ni Dewi Nilamanik sambil mengerling tajam ke arah Ki Patih Warutama yang tampan dan gagah itu.

Ki patih yang gagah itu sekali ini tidak melayani lirikan wanita cantik yang mengandung tantangan bagi kejantanannya. Dia mengerutkan alisnya dan berkata, "Saya sama sekali tidak hendak merendahkan kesaktian andika bertiga yang sudah saya ketahui dengan baik. Akan tetapi, saya telah menyaksikan pula malam tadi ketika Pusporini dan Joko Pramono dikeroyok oleh barisan pengawal pilihan. Sepak terjang mereka hebat bukan main dan... dan agaknya saya sendiri belum tentu dapat menandingi mereka. Memang kalau andika bertiga yang maju, saya tidak perlu khawatir lagi, hanya... ah, andaikata kami bisa mendapat kunjungan Paman Wasi Bagaspati sendiri atau Paman Biku Janapati, barulah hati saya akan menjadi lega karena yakin bahwa hanya beliau-beliau itulah yang akan dapat menundukkan mereka berdua tanpa ragu lagi."

Ni Dewi Nilamanik juga mengerutkan alisnya yang menjelirit hitam akan tetapi bukan sewajarnya melainkan buatan, kemudian ia berkata penuh penasaran, "Mengapa Ki Patih demikian berkecil hati? Sesungguhnya, kalau saya tidak salah ingat, saya dan Ki Kolohangkoro pernah menghadapi dua orang muda yang bernama Joko Pramono dan Pusporini itu, dan kami pernah menawan mereka dengan amat mudah!"

Ki Patih Warutama mengangkat mukanya memandang dan tercengang. "Benarkah itu?. Ah, kalau memang sudah terbukti andika dapat mengalahkannya, itulah baik sekali!"

Ki Kolohangkoro yang ingatannya tidak setajam ingatan Ni Dewi Nilamanik, dengan wajah bodoh bertanya, "Bunda Dewi, yang manakah mereka itu?"

"Ihh, apakah andika tidak ingat lagi?" Ni Dewi Nilamanik mencela.

Biarpun usia Ki Kolohangkoro lebih tua dari Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi ia selalu menyebut wanita cantik genit itu "Ibunda Dewi", hal ini adalah karena pertama, Ni Dewi Nilamanik adalah kekasih Wasi Bagaspati dan kedua karena Ki Kolohangkoro menganggap diri sendiri sebagai penitisan Sang Bathara Kala sedangkan Ni Dewi Nilamanik dianggap sebagai penitisan Sang Bathari Durgo, maka ia menyebutnya Ibunda Dewi. Raksasa yang menyeramkan itu menggeleng kepalanya sehingga rambutnya yang panjang dan gimbal bergoyang-goyang.

"Sudah terlalu banyak orang muda kita tangkap, mana bisa saya Mengingat mereka satu-satu?"

"Hemm, ingatkah engkau akan pertemuan kita dengan paman guruku, Paman Resi Mahesapati di dalam hutan itu?"

Raksasa itu membelalakkan matanya yang sudah lebar, lalu menyambar cawan berisi minuman tuwak yang disediakan untuknya, menggelogok isinya sampai kosong, kemudian berkata, "Ibunda maksudkan kakek jembel yang membawa batok kelapa dan sapu lidi itu? Ihhh, tentu saja aku masih ingat!" Raksasa itu menggerakkan pundaknya seperti orang kedinginan karena ia merasa serem kalau teringat akan kakek itu.

"Nah, waktu itulah kita menawan Joko Pramono dan Pusporini yang terpaksa kita tinggalkan karena pertemuan kita dengan paman guru itu."

"Oh-oh, ha-ha-ha! Mereka itu? Ah, mereka hanyalah bocah-bocah yang rupawan saja, biarlah kalau mereka datang, akan kutangkap mereka!"

Ki Patih Warutama memandang Ni Dewi Nilamanik dengan pandang mata penuh selidik. "Jadi ketika itu mereka ditolong oleh paman guru andika yang bernama Resi Mahesapati? Apakah paman guru andika itu sakti mandraguna?"

"Paman guru Mahesapati? Ihh, mengerikan sekali! Kesaktiannya seperti dewa! Kiranya setingkat dengan kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri!" jawab wanita itu.

Ki Patih Warutama mengangguk-angguk. Dia sudah menyaksikan kehebatan sepak terjang dua orang muda itu dan dalam urusan ini dia tidak mau bersikap sembrono seperti Ki Kolohangkoro yang memandang rendah semua urusan.

"Kalau begitu, siapa tahu kalau mereka lalu menjadi murid kakek sakti itu...!"

"Aihhh... Kalau begitu... memang mengkhawatirkan!" Ni Dewi Nilamanik berkata dan ketika mendengar kemungkinan dua orang muda itu menjadi murid Resi Mahesapati yang amat ditakutinya, Ki Kolohangkoro juga diam saja, tidak lagi berani membual.

Suminten yang tidak mengerti tentang kesaktian dan yang sejak tadi diam saja mendengarkan para pembantunya berunding, tiba-tiba membuka mulut berkata, "Mengadu kesaktian saja memang meragukan, akan tetapi jika menggunakan siasat kurasa tidak akan sukar menjatuhkan mereka, betapapun sakti mereka itu."

Semua mata memandang dan dalam pandang mata Ni Dewi Nilamanik terbayang kekaguman. Wanita ini sudah cukup berpengalaman, sudah banyak bertemu dengan pria atau wanita yang bagaimana pun. Akan tetapi baru sekali ini ia kagum melihat seorang wanita muda yang lemah tiada kesaktian namun dapat mengangkat dirinya secara sedemikian hebatnya, dari seorang abdi sampai menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Jenggala! Kini, wanita muda ini sengaja mengumpulkan mereka untuk berunding menghadapi dua orang muda yang sakti degan sikap sedemikian dingin, penuh perhitungan, dan matang! Dibandingkan dengan kematangan wanita muda ini, akal dan pikiran seorang kakek seperti Ki Kolohangkoro tiada bedanya dengan seorang bocah saja!

Suminten sengaja memanggil para pembantunya, langsung setelah ia keluar dari kamar tahanan, setelah gagal ia merayu Pangeran Panji Sigit. Kini, mendengar betapa orang-orang sakti ini seperti kehilangan akal mendengar kemungkinan bahwa dua orang muda lawan mereka itu benar-benar amat sakti dan murid Resi Mahesapati, dia menjadi hilang sabar.

"Kalau mereka datang, dan hal ini aku yakin pasti akan terjadi, mereka itu tentu bermaksud untuk membebaskan Pangeran Panji Sigit. Karena itu, kita bahkan sebaiknya menggunakan pangeran itu sebagai umpan. Di dalam penjara istana terdapat banyak alat-alat rahasia. Kalau kita tempatkan pangeran itu di dalam kamar yang sudah dipasangi perangkap, dan mereka datang, tentu akan mudah kita menangkap mereka tanpa mengerahkan banyak tenaga dan kerepotan lagi. Ada aku mendengar tentang kamar tahanan yang lantainya dapat menjebloskan penginjaknya ke dalam lubang di bawah tanah yang terbuat dari-pada baja, tanpa pintu dan jendela. Kalau kita menggunakan kamar itu..."

"Sayang hal itu tak mungkin dapat dilakukan karena adinda... eh, si bedebah Panji Sigit itu pun tahu akan rahasia kamar tahanan itu sehingga kalau para temannya datang, dia tentu akan dapat memperingatkan mereka," Pangeran Kukutan mencela.

Suminten tersenyum mentertawakan pendapat Pangeran Kukutan ini. Ketika ia tersenyum dan giginya yang putih mengkilat terkena cahaya lampu, semua yang hadir di situ memandang kagum. Dalam senyum ini terkandung segala yang mengagumkan dari diri atau pribadi Suminten karena senyum ini membayangkan kecerdikan yang mengerikan di samping kekejaman, keberanian dan ketenangan yang tersembunyi di balik kecantikan dan kemanisan yang mempesonakan.

"Ah, Pangeran, mengapa kekurangan akal? Apa sukarnya membuat Pangeran Panji Sigit pingsan? Dalam keadaan pingsan dia dibaringkan dalam kamar itu bukankah itu merupakan umpan yang amat baik? Setelah mereka terjeblos ke dalam lubang jebakan, terkurung dalam ruangan di bawah tanah itu, tinggal terserah kepada kita tentang nasib mereka."

"Akan kuhujani anak panah! Eh, tidak, akan kusuruh kumpulkan seratus ekor ular berbisa dan kumasukkan ular-ular itu ke dalam ruangan di bawah itu!" Pangeran Kukutan berkata dengan geram.

Suminten menarik napas panjang. "Hemm, amat tidak baik menurutkan hati panas. Hati boleh saja panas membara, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar kita dapat menggunakan kepala untuk menciptakan buah pikiran yang tepat. Mereka itu adalah orang-orang muda yang amat berguna karena memiliki kesaktian, di samping itu, Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera terkasih sang prabu, Setyaningsih dan Pusporini adalah adik-adik Endang Patibroto yang menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono di Panjalu. Tidak baik kalau membunuh mereka begitu saja karena mereka itu adalah orang-orang yang berharga, orang-orang yang penting dan masih banyak kegunaannya bagi kita. Membunuh mereka begitu saja berarti menyia-nyiakan kegunaan mereka. Kita laksanakan lebih dulu pancingan sampai berhasil, setelah mereka berhasil terjebak baru dicari jalan yang tepat"

"Saya amat kagum dan setuju dengan siasat itu. Harap paduka jangan khawatir, kalau mereka telah terjebak, saya mempunyai asap beracun untuk membuat mereka tak berdaya sehingga mudah ditawan," kata Ni Dewi Nilamanik.

Demikianlah, dengan rencana yang dikemukakan Suminten sebagai dasar, mereka dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan siasat itu. Mudah saja bagi Ni Dewi Nilamanik untuk membikin pingsan Pangeran Panji Sigit yang selain kalah jauh kedigdayaannya, juga sudah tertawan dan dibelenggu sehingga tidak dapat melawan ketika asap beracun memabukkan disemprotkan ke mukanya. Pangeran ini roboh pingsan seperti orang tertidur dan sama sekali tidak tahu bahwa dia digotong ke dalam sebuah kamar tahanan, dibaringkan di atas sebuah pembaringan batu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, malam hari itu juga, setelah berunding dan mendapat petunjuk-petunjuk dari Ki Wiraman, tiga orang muda perkasa, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono, menyelundup memasuki kota raja dengan niat menyerbu istana dan menolong Pangeran Panji Sigit yang masih tertinggal di istana.

Malam itu gelap karena udara tertutup mendung. Tiga bayangan berkelebat gesit sekali, berhasil meloncati pagar tembok istana dan bagaikan tiga ekor burung saja, Joko Pramono, Pusporini, dan Setyaningsih sudah melayang turun ke dalam taman istana yang paling ujung. Mereka itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedatagan mereka memang sudah diduga, bahkan telah direncanakan secara matang untuk menyambut mereka!

Joko Pramono selalu bergerak di sebelah depan sebagai pelopor. Setyaningsih di tengah karena kalau dibuat perbandingan, di antara mereka bertiga, Setyaningsih yang paling lemah. Pusporini berada di belakang menjaga bahaya tiba-tiba. Mereka berindap-indap bergerak maju, menuju ke gedung tamu di mana Pangeran Panji Sigit selama ini tinggal bersama isterinya.

Joko Pramono yang dapat bergerak seperti angin saja tanpa mengeluarkan suara telah mengintai jendela pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit, lalu menoleh dan memberi isyarat kepada Setyaningsih dan Pusporini agar jangan berisik. Mereka bertiga lalu berindap mengintai sinar jendela.Ternyata pondok yang tadinya menjadi tempat tinggal Pangeran Panji Sigit dan isterinya itu kini ditempati oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Cekel Wisangkoro!

Tiga orang sakti itu sedang duduk mengelilingi meja dan bercakap-cakap dengan asyiknya. Agaknya mereka itu sudah setengah mabuk karena di atas meja tersedia banyak minuman keras dan percakapan mereka sudah tidak karuan, tidak sopan sehingga Setyaningsih dan Pusporini yang mendengarnya menjadi tersipu-sipu, merah mukanya dan gemas.

"Ha-ha-ha, lbunda Dewi. Kalau ingin mencari kepuasan malam ini, marilah kulayani! Jarang sekali Ibunda mengajak aku, dan aku tanggung Ibunda Dewi akan puas sekali!" kata Ki Kolohangkoro.

"Heh-heh, jangan percaya dia, Ni Dewi! Biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi hal ini bukan kesenangannya, mana bisa dia memberi kepuasan? Kesenangannya hanya makan bocah. Mari kulayani engkau, Ni Dewi. Aku peranakan Hindu asli, dalam hal itu tidak kalah oleh guruku, Bapa Wasi sendiri, heh-heh!" kata Cekel Wisangkoro.

"Hushh, kalian jangan ribut-ribut. Bukan waktunya bersenang-senang. Bukankah kita ditugaskan menjaga datangnya musuh-musuh yang akan menolong Pangeran. Panji Sigit?"

Tiga orang muda di luar jendela yang tadinya merasa muak dan hendak pergi, kini mendengarkan dengan jantung berdebar.

"Aha! Panji Sigit sudah dikurung dalam kamar tahanan batu di ujung barat selain terjaga kuat juga sudah kita pasangi alat-alat sehingga setiap usaha untuk menolongnya berarti malah membunuhnya. Perlu apa khawatir?" kata Ki Kolohangkoro dengan suara keras.

"Andaikata dapat membebaskannya, tak mungkin akan dapat lolos dari pengejaran kita. Hayolah, Ni Dewi, kau layani aku... sudah tiga tahun aku tidak berdekatan dengan wanita..." kata pula Cekel Wisangkoro.

Tiga orang muda perkasa itu tidak mau mendengarkan lagi bahkan Joko Pramono sudah bergerak pergi meninggalkan pondok itu dibayangi oleh Setyaningsih dan Pusporini. Untung mereka mendengar percakapan itu sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari. Pangeran Panji Sigit ditahan dalam kamar tahanan batu di ujung barat! Selama mereka berada di istana, mereka sudah melakukan penyelidikan, akan tetapi mereka hanya tahu akan letak perumahan yang disediakan untuk tahanan rahasia di lingkungan istana. Mereka tidak mungkin menyelidiki keadaan kamar-kamar tahanan itu satu demi satu, akan tetapi mereka tahu di mana letaknya kamar tahanan batu di ujung barat.

Malam sudah larut sekali, keadaan, sudah sunyi tanda bahwa semua penghuni istana sudah tidur. Hanya sekali dua terdengar suara penjaga malam yang meronda. Joko Pramono dan Pusporini, dibantu pula oleh Setyaningsih, bersedakep di luar bangunan tahanan di ujung barat, mengheningkan cipta dan mengerahkan aji penyirepan. Dalam waktu yang tidak lama, keadaan di situ menjadi makin sunyi karena belasan orang penjaga yang bertugas menjaga di luar bangunan itu telah jatuh pulas semua, terpengaruh oleh aji panyirepan yang amat kuat.

Tiga orang muda perkasa itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aji panyirepan mereka tidak dapat mempengaruhi beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya, tiga orang sakti yang bukan lain adalah mereka yang tadi bercakap-cakap di dalam pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit! Mereka ini, Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro, telah lebih dulu memasang aji penolak sirep dan merekalah yang menjaga kamar tahanan siap untuk menggerakkan alat rahasia yang terpasang di lantai kamar!

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 37