Social Items

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 31

TIBA-TIBA Endang Patibroto berkata dengan muka merah, "Kita semua sudah mendengar dan melihat kenyataan bahwa Jenggala berada dalam cengkeraman iblis-iblis laknat, bahkan pihak mereka telah berhasil menyelundupkan seorang manusia terkutuk seperti Warutama menjadi patih di Jenggala. Mau tunggu kapan lagi? Sebaiknya kita langsung menyerbu Jenggala dan membersihkan oknum-oknum pengacau itu, membinasakan dan membasmi mereka. Biarlah aku sendiri yang akan menghadap sang prabu di Panjalu untuk memimpin pasukan menghancur leburkan mereka itu!!"

Tejolaksono bertukar pandang dengan Pangeran Darmokusumo. Mereka berdua menahan senyum karena mereka telah mengenal watak wanita ini yang ternyata tidak berubah banyak. Dan mereka yakin bahwa kalau wanita ini memimpin pasukan menyerang ke Jenggala, pasti akan terjadi geger, sungguhpun sekali ini hasilnya belum dapat dipastikan mengingat betapa musuh menggunakan banyak orang-orang yang sakti.

"Aku sendiri pun telah mengajukan usul seperti itu, akan tetapi tidak diterima oleh gusti sinuwun. Dan memang kalau dipikir secara mendalam, penyerbuan dengan pasukan itu bisa menimbulkan salah duga, disangka Panjalu menyerang Jenggala. Musuh telah mempergunakan siasat halus, dan jalan satu-satunya menghadapi mereka dengan diam-diam pula," kata Tejolaksono.

"Tepat seperti yang dikatakan Adinda Patih Tejolaksono, biarlah saya yang menghadap Ramanda Prabu dan mohon perkenan beliau untuk membentuk pasukan rahasia yang tugasnya menentang para pengacau di Jenggala dengan secara rahasia dan diam-diam. Dan kita harus mengadakan kontak dengan orang-orang Jenggala sendiri yang masih setia kepada paman prabu dan bibi ratu di Jenggala agar perjuangan pasukan rahasia ini akan dapat berhasil."

Keluarga yang terdiri dari orang-orang sakti mandraguna ini mengadakan perundingan dan akhirnya diambil keputusan mengangkat Pangeran Darmokusumo sebagai pemimpin pasukan rahasia yang akan dibentuk, sedangkan Patih Tejolaksono menjadi komandan pasukannya dibantu oleh Endang Patibroto.

Akhirnya, keluarga Tejolaksono yang cerai-berai tidak karuan itu kini dapat berkumpul kembali, sungguhpun belum lengkap. Pusporini masih belum ada kabarnya, Bagus Seta masih belum diketahui berada di mana, sedangkan Retna Wilis pun lenyap digondol nenek iblis tanpa diketahui ke mana dibawanya.. Akan tetapi, berkumpulnya kembali Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan hal yang selain menggembirakan semua orang termasuk Ayu Candra, juga mendatangkan semangat dan kelegaan hati.

Semua orang, termasuk Pangeran Darmokusumo sendiri, merasa bahwa kalau kedua orang sakti yang saling mencinta ini bersatu, tidak akan ada kesulitan yang takkan dapat mereka atasi! Dan buktinya, begitu Endang Patibroto tiba, terus saja terbentuk pasukan rahasia yang tadinya tak pernah disinggung-singgung oleh Tejolaksono yang agaknya kehilangan semangat.

Kini, dengan hati girang Ayu Candra mendapat kenyataan betapa suaminya telah pulih kembali semangatnya, tidak pernah melamun, wajahnya selalu berseri, bahkan kalau menyinggung soal belum kembalinya Pusporini, Bagus Seta, dan Retna Wilis, ia kini penuh harapan seolah-olah kehadiran Endang Patibroto telah mempertebal keyakinan dan kepercayaan akan diri sendiri!

Sebagai langkah pertama dari pasukan rahasia ini, Pangeran Darmokusumo mengutus lima belas orang ahli-ahli penyelidik pilihan yang gagah perkasa untuk menyelundup ke Kota Raja Jenggala melakukan penyelidikan akan keadaan pengaruh jahat yang mencengkeram Jenggala, sedangkan Pangeran Panji Sigit bersama isterinya, Setyaningsih, menyamar sebagal rakyat biasa, memimpin selosin orang perajurlt pilihan untuk mulai dengan tugas mereka mencari jejak Nini Bumigarba yang membawa lari Retna Wilis.

********************

Pada waktu itu, telah genap lima tahun Pusporini dan Joko Pramono menjadi murid sang sakti Resi Mahesapati. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu, Wiraman dan Widawati yang menjadi korban racun ular Puspo Wilis sehingga di luar kesadaran mereka telah melakukan hubungan sanggama sehingga terpaksa Widawati semenjak saat itu menyerahkan jiwa raganya menjadi isteri Wiraman, juga diterima oleh Resi Mahesapati sebagai murid-muridnya.

Biarpun hanya menerima gemblengan selama dua tahun, namun Wiraman yang tadinya adalah seorang pengawal yang gagah perkasa itu mendapatkan kemajuan yang luar biasa, sedangkan Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala itu pun kini menjadi seorang wanita yang kosen. Akan tetapi yang tinggi sekali tingkat ilmu kepandaiannya adalah Pusporini dan Joko Pramono. Berkat sifat kedua orang muda ini yang selalu bersaing sampai tiga tahun lamanya, mereka memperoleh kemajuan pesat.

Baru setelah terjadi peristiwa penaklukan ular Puspo Wilis dan mereka itu hampir saja menjadi korban pengaruh hawa beracun ular itu, keduanya saling menginsyafi dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya mereka itu saling mencinta. Bahwa semua persaingan mereka itu sama sekali bukan berdasarkan iri dan benci, melainkan berdasarkan cinta kasih sehingga mereka selalu ingin menonjolkan diri di mata masing-masing orang yang dicintanya dengan dasar niat ingin dikagumi dan ingin dihargai atau lebih tepat lagi ingin dicinta!

Semenjak peristiwa itu, mereka tidak lagi bersaing, bahkan sering mereka itu memperlihatkan sikap mengalah, terutama sekali Joko Pramono, dan biarpun mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, namun pandang mata mereka sudah terang-terangan menyatakan isi hati yang penuh cinta.

Namun, tiadanya persaingan bukan berarti bahwa ketekunan mereka mengendur. Sama sekali tidak. Setelah mendengar penuturan Wiraman akan keadaan di Jenggala, kemudian mendengar wejangan Resi Mahesapati, mereka belajar makin rajin dan kini mereka mempunyai cita-cita dalam belajar, yaitu untuk kelak dipergunakan menolong Jenggala, membersihkan kerajaan itu dari manusia-manusia iblis yang berusaha mencengkeramnya.

Pagi hari itu Resi Mahesapati memanggil keempat orang muridnya itu menghadap. Dengan suara halus ia berkata, "Tugasku telah selesai memberi bimbingan kepada kalian mengejar ilmu. Joko Pramono dan Pusporini telah genap lima tahun kalian mempelajari ilmu dan sudah tiba saatnya kalian turun gunung memanfaatkan segala yang kalian telah pelajari. Seperti telah berkali-kali kutekankan adalah menjadi tugas kalian untuk berdarma bakti kepada kebajikan, kebenaran dan keadilan. Dan karena pada saat ini mendung telah meliputi Jenggala dan sebagian dari Panjalu, maka kalian harus turun gunung dan membantu usaha membersihkan mendung yang mengancam keselamatan rakyat kerajaan-kerajaan keturunan Mataram. Ingat bahwa mereka yang mengancam keselamatan itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ada di antara mereka yang lebih sakti daripada tokoh-tokoh kedua kerajaan, bahkan aku sendiri tidak akan mampu melawannya. Akan tetapi, untuk menghadapi mereka yang sakti mandraguna ini akan muncul seorang pendekar muda dan kepadanyalah kalian akan membantu. Apa yang akan kalian lakukan di hari depan, terserah kepada kebijaksanaan kalian, aku orang tua hanya dapat membekali doa restu. Juga engkau Ki Wiraman, engkau dan Widawati tidak terlepas pula daripada kewajiban untuk membantu usaha menentang pengaruh buruk itu. Pergilah kalian berempat dan aku dapat memandang kepergian kalian berempat dengan hati lapang karena kurasa, usahaku selama ini tidak akan sia-sia."

"Akan tetapi, Eyang resi. Kemanakah hamba berdua harus menuju?" tanya Pusporini yang sebetulnya ingin sekali kembali ke Selopenangkep mencari keluarganya.

"Rundingkanlah nanti bersama Joko Pramono, dan terutama sekali, dengarkan nasehat Ki Wiraman. Dia ini lebih berpengalaman dalam hal perjuangan dibandingkan dengan kalian berdua. Nah, berangkatlah tanpa ragu-ragu, karena setiap cita-cita harus dimulai dengan tekad bulat. Sedikit saja keraguan akan menghambat tercapainya cita-cita." Setelah berkata demikian, Resi Mahesapati yang duduk bersila itu meramkan mata, tanda bahwa dia mulai bersamadhi dan tidak mau diganggu lagi.

Empat orang itu lalu menyembah dan berpamit dengan hati terharu, teringat akan kebaikan budi kakek ini selama mereka berada di situ. Kemudian berangkatlah mereka meninggalkan tempat di mana mereka digembleng itu. Adapun batu mustika ular Puspo Wilis sejak lama telah diberikan kepada Pusporini dan kini menjadi penghias leher Pusporini sebagai sebuah mata kalung yang indah sekali, mengeluarkan sinar kehijauan.

Karena masih terpengaruh oleh rasa duka harus berpisah meninggalkan guru yang mereka cinta itu seorang diri di puncak gunung, empat orang itu menuruni gunung tanpa bicara dan baru setelah mereka tiba di kaki gunung dan untuk penghabisan kali menengadah ke puncak seolah-olah merupakan pandang penuh harapan dan permintaan doa restu, baru mereka berunding.

"Menurut pendapat saya, lebih baik kalau Andika berdua dari sini langsung memasuki Jenggala untuk melakukan penyelidikan tentang keadaan kerajaan itu sekarang. Andika berdua tidak dikenal, tentu saja akan lebih mudah melakukan perjalanan ke daerah yang kacau itu. Sedangkan saya sendiri bersama diajeng Widawati akan langsung menuju ke Panjalu, melaporkan segala keadaan dua tahun yang lalu kepada sang prabu di Panjalu." Demikian Wiraman menyatakan pendapatnya.

Joko Pramono dan Pusporini tak dapat membantah kebenaran pendapat ini dan mereka mengangguk.

"Benar sekali pendapat Paman. Kami akan menyelidiki keadaan Kota Raja Jenggala, kemudian kami akan pergi menyusul Paman ke Panjalu," kata Joko Pramono.

"Kalau Paman tiba di Panjalu, harap Paman kunjungi kediaman Kakangmas Tejolaksono dan ceritakan keadaanku kepada keluargaku. Akan tetapi, betulkah Kakangmas Tejolaksono kini telah menjadi patih muda di Panjalu seperti yang Paman ceritakan dahulu?"

Wiraman mengangguk. "Saya pun hanya mendengar beritanya saja bahwa setelah berhasil mengamankan kekacauan-kekacauan yang timbul di wilayah barat Adipati Tejolaksono diangkat menjadi patih muda. Tentu akan saya selidiki tentang keluarga Andika, dan saya akan menghadap Gusti Patih Tejolaksono."

Dari kaki gunung itu, rombongan mereka dipecah menjadi dua, Wiraman dan Widawati menuju ke Panjalu, sedangkan Joko Pramono dan Pusporini melanjutkan perjalanan mereka ke Jenggala untuk melakukan tugas menyelidiki sebelum mereka menyusul pula ke Panjalu. Kedua orang muda murid Sang Resi Mahesapati itu melanjutkan perjalanan dengan gembira.

Setelah lima tahun lamanya mereka mengejar ilmu di puncak gunung, kini mereka menghadapi dunia ramai dengan hati penuh ketegangan, apalagi kalau mereka mengingat akan cerita Ki Wiraman tentang keadaan Jenggala yang kacau-balau dan akan kekuasaan-kekuasaan jahat yang mencengkeram kerajaan itu.

Namun ketegangan ini hanya timbul karena mereka ingat akan tugas mereka sebagai orang-orang berkepandaian yang melaksanakan tugas menentang kejahatan, bukan sekali-kali karena rasa takut. Hati mereka besar dan mereka mempunyai penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Selama lima tahun digembleng oleh Sang Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedua orang muda ini memperoleh kemajuan yang hebat.

Mereka bukan lagi orang-orang muda remaja lima tahun yang lalu. Biarpun lima tahun yang lalu mereka telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun semua aji kesaktian mereka masih mentah, sama sekali berbeda dengan keadaan mereka sekarang yang telah menyempurnakan semua aji itu di bawah bimbingan Sang Resi Mahesapati. Pusporini telah berusia dua puluh satu tahun, sedangka Joko Pramono telah berusia dua puluh dua tahun, dan mereka berdua telah memiliki kedigdayaan yang matang.

"Mudah-mudahan saja tugas kita akan berjalan lancar sehingga kita dapat segera pergi ke Panjalu untuk mencari rakandamu Gusti Patih Tejolaksono," terdengar Joko Pramono berkata ketika mereka berdua berjalan seenaknya memasuki hutan belantara yang sudah dekat dengan Kota Raja Jenggala.

Mereka telah melakukan perjalanan selama tujuh hari dan tidak pernah mereka menemui halangan. Di sepanjang perjalanan mereka melalui dusun-dusun dan mendengar akan keadaan di Jenggala yang mengecilkan hati. Para penduduk dusun menceritakan betapa kini kekacauan dari kota raja itu menular menjalar ke dusun-dusun, di mana para ponggawa yang diangkat oleh petugas kerajaan, diganti secara paksa oleh ponggawa-ponggawa baru yang memerintahkan agar rakyat memuja-muja Sang Bathari Shiwa.

Berita ini hanya dicatat dalam hati oleh kedua orang muda itu untuk kelak mereka laporkan ke Panjalu. Akan tetapi karena mereka bertugas menyelidik, mereka tidak mau melibatkan diri dengan para ponggawa baru itu dan selalu menjauhkan diri dari pertentangan yang tidak ada artinya dan hanya akan mengganggu tugas penyelidikan mereka. Tujuan utama mereka adalah kota raja untuk menyelidiki keadaan di sana karena mereka tahu bahwa yang menjadi pusat biang keladi semua kekacauan adalah kota raja.

"Kenapa sih engkau ingin tergesa-gesa pergi ke Panjalu dan menemui Rakanda Patih Tejolaksono?" tanya Pusporini, di dalam hatinya mentertawakan pemuda itu karena tentu saja ia sudah dapat menduga sebabnya.

"Kenapa? Tentu saja untuk meminang adiknya yang cantik manis, galak, sakti mandraguna dan merupakan wanita paling mulia di dunia ini bagiku, puteri yang bernama Dyah Pusporini....!"

Pusporini meruncingkan bibirnya, mengejek. "Aku tidak mau bicara tentang perjodohan sebelum tugas kita selesai, sebelum semua anasir jahat dibasmi habis dari Jenggala dan Panjalu!"

"Wah, bagaimana kalau sampai belasan tahun belum selesai?" Joko Pramono mencela dan memandang gadis di samping kirinya dengan mata terbelalak lebar.

Pusporini mengerling ke kanan dan tersenyum. "Kalau sampai belasan tahun mengapa? Siapa sih yang tergesa-gesa?"

"Wah, aku akan menjadi jejaka tua dan engkau akan menjadi perawan tua!" kata Joko Pramono setengah berkelakar akan tetapi juga setengah bersungguh sungguh. "Kalau bertemu dengan rakandamu itu, aku akan nekad meminangmu hendak kulihat kalau keluargamu menetapkannya dan mendesakmu, engkau akan dapat berkata apa lagi!"

"Engkau memang orang nekad, lebih baik namamu dirubah menjadi Joko Nekad saja!" Pusporini menggoda sambil tertawa. Sesungguhnya di dalam hatinya ia pun tidak sabar lagi menanti pinangan pemuda yang dicintanya ini. Usianya sudah dua puluh satu tahun dan pada jaman itu, seorang wanita berusia dua puluh satu tahun biasanya tentu telah menjadi seorang ibu dari dua tiga orang anak!

"Sstttt.... di depan ada orang...." Joko Pramono berbisik dan gadis itu sudah dalam keadaan siap, hilang sikapnya berkelakar.

Kedua orang muda itu berjalan terus dengan langkah tenang, namun pandang mata mereka waspada dan penuh perhatian karena mereka maklum bahwa di dalam gerombolan alang-alang dan pohon di sebelah depan terdapat banyak orang bersembunyi. Ketika mereka tiba di tempat terbuka yang agak luas, dikelilingi pohon-pohon dan alang-alang, tiba-tiba terdengar bentakan keras, "Kisanak yang lewat, berhenti dulu!!"

Dari balik semak-semak di sekeliling tempat itu berloncatan keluar banyak orang laki-laki yang memakai kain dan celana seragam, bertubuh tinggi besar dan melihat betapa mereka itu lalu serempak membuat gerakan mengurung secara teratur, mudah diduga bahwa mereka itu bukanlah perampok, melainkan sebuah pasukan yang terlatih, akan tetapi sikap mereka tiada bedanya dengan perampok-perampok.

Pandang mata mereka kini menjalari wajah dan tubuh Pusporini dan gadis ini menghitung sembilan belas mulut yang menyeringai penuh nafsu kurang ajar terhadap dirinya. Hanya sebuah pasukan kecil yang terdiri dari tujuh belas orang yang dikepalai dua orang laki-laki tinggi besar yang dapat dibedakan dari para anak buahnya melihat pakaiannya yang lebih mewah.

Pusporini dan Joko Pramono yang terkurung di tengah-tengah itu berdiri dengan sikap tenang-tenang saja. Dua orang pimpinan pasukan itu lalu melangkah maju. Sejenak mereka memandang pemuda dan pemudi itu penuh selidik, dan seorang di antara mereka berdua, yang hidungnya besar mbengol yang menandakan bahwa dia seorang yang gila wanita, tertawa dan berkata,

"Kakang Maruto, aku tetap tidak percaya kalau perawan denok seperti ini menjadi mata-mata! Huah-ha-ha, kalau mereka mengirim mata-mata sedenok ini sungguh menyenangkan sekali. Biar dikirim empat losin pun aku masih kurang!"

"Adi Saru, jangan sembrono. Orang-orang Panjalu amat cerdik, tentu mengirim mata-mata yang pandai menyamar. Heh, kisanak!" kata orang ke dua itu yang jenggotnya berjuntai panjang sampai dua kilan. "Kalian berdua siapakah dan dari mana hendak ke mana?"

Joko Pramono yang selalu bersikap hati-hati tetap tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran sebelum mereka tiba di Kota Raja Jenggala menyelidiki keadaan dan dapat mencari Ki Mitra yang menjadi juru taman di rumah guru kesenian seperti yang mereka ketahui dari pesan Ki Wiraman, menjawab,

"Kami kakak beradik penghuni di kaki Gunung Kawi, hendak pergi ke kota raja mencari paman kami yang bekerja di sana."

"Hemm, Andika terlalu gagah dan tampan untuk menjadi seorang pemuda dusun biasa!" kata si jenggot panjang.

"Dan perawan ini terlalu denok untuk menjadi perawan gunung. Lihat kulitnya putih kuning dan halus, matanya yang masih membayangkan keturunan menak, jeli dan tajam pandangannya, bulu mata yang lentik, ha-ha-ha, perawan denok ini lebih cantik daripada puteri di istana! Kalian baru boleh lewat kalau aku sudah memeriksa dara ini!" kata si hidung besar sambil menyeringai kepada Pusporini.

"Memeriksa bagaimana maksudmu?" tanya Joko Pramono, suaranya dingin dan sinar matanya mengandung kemarahan yang ditahan-tahan.

Hatinya panas sekali melihat kekasihnya hendak diperlakukan secara kurang ajar, dan kalau menurutkan panasnya hati, ingin ia memukul remuk kepala si hidung besar saat itu juga. Akan tetapi pemuda ini masih menekan hatinya, ingin mencari penyelesaian secara damai agar tugas mereka tidak terganggu.

"Huah-ha-ha-ha, memeriksa bagaimana? Jangan khawatir, kisanak. Aku tidak akan menyusahkan adikmu, bahkan sebaliknya, dia akan senang sekali setelah kuperiksa nanti. Aku harus menggeledahnya, siapa tahu dia membawa surat-surat rahasia, membawa benda-benda rahasia yang disembunyikan di balik pakaiannya. Mari, manis, mari ikut bersamaku ke balik semak-semak tebal agar jangan ada mata lain melihatmu sehingga engkau akan menjadi malu, denok !" Si hidung besar mengulurkan tangan hendak memegang lengan Pusporini, akan tetapi gadis itu melangkah mundur sambil tersenyum manis sehingga si hidung besar yang melihat senyum yang mencipta lesung pipit di pipi yang manis sekali terpesona.

"Nanti dulu, kisanak!" Joko Pramono melangkah maju di depan Pusporini, memandang mereka berdua, tidak memperdulikan anak buah pasukan yang tertawa-tawa melihat lagak seorang di antara pemimpinnya tadi. "Sebelum Andika berdua mengambil tindakan, ingin kami bertanya, siapakah Andika berdua dan pasukan ini pasukan apa? Mengapa Andika hendak memeriksa kami dan dengan hak apakah?"

Si jenggot panjang tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, melihat wajah dan dandananmu, engkau seperti bukan bocah gunung, akan tetapi pertanyaanmu ini menyatakan bahwa engkau benar seorang dusun yang tidak tahu apa-apa. Dengarlah baik-baik, aku Maruto dan Adi Sarudigdo ini adalah dua orang perwira Jenggala yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal), pemimpin pasukan Pasopati yang tidak mengenal takut atau mundur atau kalah. Pasukan kami merupakan pasukan yang paling jagoan di Jenggala, menjadi kembang di antara pasukan pengawal di luar istana. Kini banyak berkeliaran mata-mata yang dikirim oleh Panjalu dan entah sudah berapa banyak mata-mata yang kami bunuh. Karena itu, kami berhak untuk memeriksa setiap orang yang kami curigai dan sudah menjadi hak Adi Sarudigdo yang memang mempunyai kepandaian khusus untuk menggeledah wanita untuk memeriksa adikmu ini. Nah, sudah jelaskah? Kalau kalian melawan, berarti kalian akan mati tanpa diperiksa lagi!"

Joko Pramono sudah menjadi marah sekali. Jelas olehnya sekarang betapa rendah watak pasukan ini dan dari sikap mereka ini saja ia sudah dapat menilai bahwa mereka ini tentulah bukan perajurit-perajurit sejati dari Jenggala yang dahulu terkenal sebagai perajurit-perajurit dan satria-satria utama. Kini pasukan ini tiada bedanya dengan segerombolan penjahat yang kasar dan liar dan sudah dapat diduga bahwa mereka ini tentulah menjadi anak buah daripada mereka yang kini menguasai Jenggala.

Kesabarannya lenyap dan hal ini tampak dari sinar matanya yang berkilat. Melihat keadaan pemuda in!, Pusporini lalu berkata lirih, "Biarkan aku menghadapi mereka."

Joko Pramono melangkah mundur karena ia tahu bahwa gadis yang dikasihinya itu tentu sudah marah luar biasa melihat sikap dan mendengar ucapan dua orang pemimpin pasukan Pasopati ini dan hendak turun tangan sendiri. Ia mengalah dan mundur.

Pusporini tersenyum-senyum dan melangkah maju, memandang kepada perwira yang tinggi besar yang berhidung besar, lalu berkata, suaranya merdu dan halus, matanya bersinar-sinar sehingga wajahnya menjadi makin jelita,

"Andika ini seorang perwira gagah perkasa dari Jenggala dan sudah lama aku mendengar bahwa perwira-perwira Jenggala adalah satria-satria perkasa. Apakah Andika ini juga menjadi anak buah Ki Patih Warutama yang kabarnya sakti mandraguna itu?"

Si hidung besar mengangkat dadanya sampai membusung, hidungnya berkembang-kempis mendenguskan hawa kebanggaan dan kesombongan.

"Heh-heh, tidak salah dugaanmu, puteri yang jelita seperti bidadari kahyangan! Aku Sarudigdo, perwira digdaya, sakti mandraguna dan menjadi tangan kanan gusti patih di Jenggala! Dengan kepalan tangan kiri aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau kumbang, dengan tangan kanan aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau gembong, dengan kedua kakiku aku sanggup menjegal roboh seekor gajah. Dengan golokku si dukun peminum darah aku sanggup..."

"Menyembelih ayam." Pusporini melanjutkan. "Cukuplah, yang penting sekarang engkau tadi mengatakan hendak menggeledah aku. Benarkah engkau ini seorang ahli menggeledah wanita?"

"Ha-ha-ha, Kakang Maruto hanya berkelakar! Akan tetapi yang jelas, setiap orang wanita yang kena kugerayang tubuhnya tentu akan bertekuk lutut, akan gandrung-gandrung kepadaku, karena aku memiliki Aji Asmaragama dan setiap orang dara, termasuk engkau, Manis, kalau sudah ku..."

"Cukup sudah! Dengan cara bagaimana engkau hendak menggeledahku?" Pusporini menahan kemarahannya.

"Heh-heh, tak perlu kukatakan, engkau nanti akan menikmatinya sendiri. Marilah, denok, kita bersembunyi di balik semak-semak yang tebal sana.... heh-heh"

"Seorang gagah tidak perlu sembunyi-sembunyi. Di sini pun mengapa?"

Perwira itu membelalakkan matanya sehingga hidungnya yang besar kelihatan makin mbengol. "Di sini? Dilihat semua orang?"

"Mengapa tidak? Bagaimana sih caranya?" Pusporini tetap menggoda.

"Wah, sayang dong kalau banyak yang lihat. Pertama-tama kau harus membuka kembenmu (ikat pinggang), kemudian... bajumu dan kutangmu dan..."

"Begini?" Pusporini mengudar (melepaskan) ujung kembennya sepanjang satu meter.

Kembennya yang dari sutera merah berkembang itu dibuka sedikit dan semua mata, terutama mata si hidung besar sudah membelalak penuh gairah. Akan tetapi tiba-tiba Pusporini dengan gerakan yang cepat sekali mengebutkan ujung kemben itu ke arah muka si hidung besar.

"Tarr.... plakkkk!"

cerita silat online karya kho ping hoo

"Waduhhhh..... Aduh biyung...!" Sarudigdo si hidung besar itu mendekap hidungnya dengan tangan sambil mengaduh-aduh. Hidungnya yang besar terkena sambaran ujung kemben menjadi remuk dan berubah menjadi segumpal daging yang berdarah. Pusporini sambil tersenyum menyelipkan lagi ujung kembennya di pinggang.

"Iblisss.... jahananm.... kurang ajang....!" Sarudigdo memaki-maki dengan suara bindeng, kemudian ia menubruk dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor harimau buas menubruk seekor domba. Namun Pusporini bukanlah domba betina yang lemah. Tubrukan itu mudah saja dielakkan dengan miringkan tubuhnya ke kiri, dan pada saat itu kakinya melayang naik sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.

"Siuuuuttt....ngekkkk!!" Ujung kakinya sudah bersarang ke dalam perut Sarudigdo.

Tubuh perwira ini memang kebal dan di antara kawan-kawannya ia terkenal sebagai seorang yang otot kawat balung wesi (urat kawat tulang besi), kulitnya juga tebal sekali. Akan tetapi karena tendangan itu amat kuatnya, biarpun kulitnya tidak apa-apa, akan tetapi isi perutnya terasa melilit-lilit seperti digiling atau ditusuk-tusuk seribu batang jarum karatan. la meringis-ringis mendekap perut dengan kedua tangan, terengah-engah dengan lidah terjulur keluar seperti seekor anjing kehausan, matanya mendelik dan sejenak ia lupa akan hidung besarnya yang remuk karena perutnya terasa lebih nyeri daripada hidungnya.

Kini ia tidak dapat memaki-maki dengan suara bindeng seperti tadi, melainkan hanya dapat mengeluarkan suara "nguuukkk.... nguuukkk...." seperti lutung ketakutan.

Maruto dan para anak buah pasukan yang disebut dengan nama garang Pasopati itu terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa seorang gadis cantik jelita seperti itu dapat merobohkan Sarudigdo dalam dua gebrakan saja. Padahal kedua orang itu, Sarudigdo dan Maruto adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama sendiri dan keduanya adalah bekas pentolan dari gerombolan Gagak Serayu!

"Perempuan iblis!" Maruto yang tadinya terbelalak itu membentak marah, golok besarnya terhunus dan cepat seperti angin menyambar ia telah menerjang maju, membacokkan goloknya ke leher Pusporini.

"...jangang... jangang... bunuh, tangkap untuk... untukku..." Sarudigdo masih dapat mengeluarkan kata-kata setelah mulas perutnya agak mereda. Melihat kesaktian Puspirini, nafsunya makin menggelora dan dia ingin memiliki wanita itu sebelum menyiksanya sekeji mungkin!

Akan tetapi Maruto tidaklah semata keranjang temannya dan dia sudah marah sekali, maka bacokannya itu dilakukan sepenuh tenaga dan tujuannya hanya satu, yaitu membunuh wanita ini. Joko Pramono hanya tersenyum memandang, siap menyerang apabila anggota-anggota pasukan itu maju mengeroyok. Akan tetapi para perajurit itu tidak berani maju tanpa komando. Biasanya, kedua orang pemimpin mereka itu tidak pernah terkalahkan, maka sekali ini pun mereka percaya bahwa Maruto tentu akan dapat membunuh gadis itu.

Pusporini tenang-tenang saja. Melihat golok berkelebat menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya sehingga golok menyambar dekat pundak, kemudian ia merendahkan diri secara otomatis dan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya menyodok ke depan, menggunakan Ajinya Pethit Nogo! Terdengar bunyi bercuit saking hebatnya tusukan jari dengan Aji Pethit Nogo yang kini telah mencapai kesempurnaannya berkat gemblengan Sang Resi Mahesapati.

Di dalam latihannya, dengan Aji Pethit Nogo ini, dari jarak satu meter Pusporini sanggup menggunakan angin pukulannya membuat air sungai terpecah dan muncrat-muncrat, dan sentuhan jari tangannya dapat membuat batu-batu gunung remuk menjadi bubuk! Batang pohon jati tua yang sudah keras seperti besi menjadi bolong-bolong kalau tercium jari-jarinya yang halus kecil dengan bentuk mucukbung (seperti rebung) itu.

Pusporini menyerang dengan Aji Pethit Nogo dari jarak satu meter sehingga jari-jari tangannya tidak menyentuh tubuh lawan. Memang ia tidak sudi menyentuhkan jari-jari tangannya pada tubuh laki-laki macam Maruto dan tadi pun ia menghajar hidung Sarudigdo yang baginya menjijikkan itu dengan tungkak kakinya! Akan tetapi, pukulan yang mengandung hawa sakti itu telah mengenai dada Maruto dan terdengarlah Maruto memekik keras, goloknya terlepas, tangan kirinya mendekap dada dan ia terjengkang roboh, berkelojotan dengan mata, hidung, mulut dan telinganya mengucurkan darah dan tewas seketika! Gegerlah para anak buah pasukan itu! Melihat kematian kawannya, Sarudigdo terkejut sampai lupa akan rasa nyeri di hidung dan perutnya.

"Serbu...! Bunguh...! Habiskan mereka...!!" teriaknya bindeng dan ia sendiri sudah menerjang dengan goloknya.

Karena sedikit banyak ia merasa gentar dan ngeri terhadap Pusporini, sekarang dia membacokkan goloknya kepada Joko Pramono yang masih berdiri tenang-tenang saja sambil tersenyum. Melihat datangnya golok ini, Joko Pramono sama sekali tidak mengelak dan setelah golok menyambar dekat, ia mengangkat tangannya memapaki golok dengan telapak tangan kosong! Sarudigdo girang sekali, mengira bahwa tangan pemuda itu pasti akan terbabat goloknya si dukun sampai putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika golok itu dapat dicengkeram tangan Joko Pramono yang dengan enaknya meremas golok itu menjadi patah-patah dan hancur berkeping-keping seperti orang meremas kerupuk saja!

Muka Sarudigdo yang sudah buruk sekali akibat hidungnya remuk itu, terbelalak dengan mata lebar dan pada saat itu, Joko Pramono menyambitkan remukan golok di tangannya yang seperti hujan menyambar ke arah muka yang buruk itu, amblas dan menancap masuk ke dalam dahi, mata, pipi dan mulut. Sarudigdo mengeluarkan suara seperti seekor kerbau disembelih, tubuhnya roboh dan kedua tangannya mencakar-cakar mukanya sendiri yang sudah penuh darah, kemudian berkelojotan dan mati dekat mayat Maruto.

"Rini, sudah kepalang tanggung, habiskan saja bedebah-bedebah ini!" kata Joko Pramono dan dua orang muda itu kini kembali berlomba.

Mereka berdiri saling membelakangi dan bersicepat merobohkan semua pengeroyok yang bersenjata golok dan tombak. Sepak terjang mereka seperti sepasang burung garuda menyambar-nyambar dan dari kedua telapak tangan mereka tersebar maut karena setiap kali telapak tangan bergerak menampar atau kaki berkelebat menendang, tentu ada pengeroyok yang roboh dan tewas!

Pasukan itu tadi disombongkan oleh dua orang pemimpinnya sebagai pasukan yang pantang mundur dan tidak mengenal takut, akan tetapi kini melihat betapa kawan-kawan mereka seperti mentimun melawan durian, ada dua orang di antara mereka yang terbirit-birit dan terkencing-kencing melarikan diri.

"Hemm, kalian hendak lari ke mana?" Pusporini berkata mengejek dan cepat memungut dua batang tombak yang berserakan di tanah, lalu bergerak hendak melontarkan dua. batang tombak itu ke arah dua orang yang hendak melarikan diri. Akan tetapi lengannya dipegang olehJoko Pramono dengan halus dan pemuda ini berkata,

"Jangan, Rini! Mereka tentu lari ke induk pasukan dan lebih baik kita mengikuti mereka. Kita sudah kelepasan tangan melibatkan diri dalam pertempuran dan sudah banyak membunuh anak buah para pengacau, tidak baik bekerja setengah-setengah kepalang tanggung. Mari kita selidiki keadaan induk pasukan mereka!"

Pusporini menoleh dan sejenak mereka berpandangan. Baru sekali ini selama mereka berkumpul, mereka melakukan pertempuran bersama-sama dan hasil pertandingan ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain. Perlahan-lahan sinar kemerahan yang membayangi wajah cantik itu dan memancar keluar dari sinar matanya, melunak dan akhirnya gadis itu tersenyum, senyum manis yang timbul dari lubuk hatinya, bukan seperti senyumnya kepada perwira Jenggala tadi yang merupakan senyum buatan untuk menyembunyikan kemarahan yang meluap-luap.

"Hampir aku lupa akan tugas kita..." kata Pusporini sambil membuang dua batang tombak itu, kemudian memandang ke arah mayat-mayat yang berserakan memenuhi tempat itu. Tujuh belas orang mati, termasuk si jenggot panjang dan si hidung besar, dan keadaan di situ sunyi sekali, sunyi yang mengerikan.

"Mari kita ikuti mereka!"

Sepasang orang muda yang perkasa ini lalu berkelebat meninggalkan tempat itu, mengikuti bayangan dua orang sisa pasukan Pasopati yang melarikan diri pontang-panting itu. Dari jauh mereka melihat dua orang itu lari terus, biarpun napas mereka telah kerenggosan hampir putus, dua orang itu tidak berani berhenti dan lari terus. Menjelang senja, barulah dua orang itu sampai di tempat tujuan dan ternyata mereka itu tidak lari ke induk pasukan seperti yang mereka sangka, melainkan lari memasuki sebuah rumah gedung yang berada di sebuah dusun, letaknya di pinggir.

Melihat adanya empat orang penjaga di pintu gerbang, Joko Pramono dan Pusporini dapat menduga bahwa rumah itu tentulah rumah seorang pembesar yang berkuasa, karena kalau hanya rumah seorang kepala dusun saja tidak mungkin dijaga empat orang pengawal yang pakaiannya indah seperti pengawal istana. Di pendopo luar tampak pondok sesajen yang seperti juga di dusun-dusun lain, dua orang muda itu melihat bahwa yang dipuja-puja oleh penghuni rumah gedung ini adalah Sang Bathara Shiwa. Dengan hati-hati mereka melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah itu, dan dengan hati-hati mereka menyelinap dan mengintai.

"Apa kau bilang? Pasukan Pasopati binasa semua oleh dua orang laki-laki dan wanita? Sungguh menggelikan!" bentak seorang laki-laki tinggi besar dan dengan sikap marah laki-laki ini mengelebatkan pedangnya yang panjang dan... "capp!" pedang itu amblas setengahnya ke dalam tiang rumah itu.

Laki-laki ke dua, yang juga tinggi besar, berdiri pula dari tempat duduknya, memandang penuh penghinaan kepada dua orang pelarian yang kini berlutut di lantai, lalu membentak, "Dan kalian tidak tahu nama mereka? Bahkan kalian berani meninggalkan pasukan membiarkan kawan-kawan tewas sedangkan kalian sendiri melarikan diri? Pengecut tak tahu malu! Beginikah perajurit-perajurit pilihan yang menjadi anggota pasukan Pasopati?"

Joko Pramono dan Pusporini yang mengintai, melihat bahwa dua orang laki-laki setengah tua yang marah-marah itu benar-benar kelihatan amat kuat, tidak saja hal ini terbayang pada tubuh mereka yang tinggi besar, akan tetapi juga gerak-gerik dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan ilmu kepandaian.

"Hamba... hamba berdua bukan melarikan diri karena takut... hanya ingin melaporkan hal itu kepada paduk..." kata seorang di antara mereka.

"Pengecut! Sama saja dengan menunjukkan tempat ini kepada musuh!" bentak orang yang berpedang dan cepat sekali tangannya sudah mencabut pedang di tiang tadi dan sekali pedang berkelebat, leher kedua orang itu telah terbabat putus! Gerakan pedang ini amat cepat dan mahir sekali, juga sekali babat membuntungi dua buah kepala menunjukkan tenaga yang amat kuat.

"Adi Kroda, kita harus cepat-cepat mengajak mereka berangkat dari sin!! Lekas kau persiapkan kuda dan memberi tahu Eyang Cekel Wisangkoro agar kita dapat cepat membawa pergi mereka. Karena dua orang itu adalah orang-orang Panjalu yang hendak merampas kedua orang tamu kita!"

"Engkau benar, Kakang Dwipa. Aku pergi!" kata kakek tinggi besar ke dua yang melangkah cepat keluar dari dalam ruangan itu.

Kakek pertama juga meninggalkan ruangan setelah memanggil dua orang pengawal dan memberi perintah menyingkirkan dua mayat tadi, dan tanpa diketahui kakek yang ahli bermain pedang ini, yang pergi sambil membawa pedang disarungkan di pinggang, Joko Pramono dan Pusporini mengikuti dengan jalan menyelinap dan berindap-indap melalui taman di luar gedung, dilindungi oleh kegelapan malam yang mulai tiba.

Dua orang kakek tinggi besar itu adalah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, dua di antara Lima Gagak Serayu, yaitu sisa dari tiga orang saudara mereka yang tewas ketika berperang melawan pasukan Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang kini telah menjadi patih muda di Panjalu. Dua orang Gagak Serayu ini masih mendendam kepada Panjalu dan telah mengumpulkan sisa gerombolan mereka kemudian mengabdikan dirinya kepada Wasi Bagaspati dan akhirnya memperoleh kedudukan sebagai kepala-kepala pasukan pengawal, menjadi hamba-hamba setia dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di Jenggala!

Seperti telah diketahui, Gagak Dwipa adalah seorang ahli pedang yang kuat sedangkan Gagak Kroda memiliki tubuh yang kebal. Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka kini sedang dibayangi oleh seorang muda yang sakti mandraguna, yang telah membasmi pasukan Pasopati yang menjadi anak buah mereka.

Gagak Dwipa memasuki ruangan dalam gedung itu dan dua orang muda yang elok bangkit berdiri menyambut kedatangannya. Gagak Dwipa segera menjura dengan penuh hormat kepada laki-laki muda yang tampan itu, juga kepada wanita cantik yang berdiri di sebelah kirinya lalu berkata,

"Mohon maaf, Gusti Pangeran, kalau hamba datang mengganggu Paduka berdua yang sedang beristirahat. Akan tetapi terpaksa hamba memberitahukan bahwa sekarang juga perjalanan harus dilanjutkan, harap Paduka berdua suka mempersiapkan diri."

Sementara itu, Pusporini yang mengintai di luar bersama Joko Pramono, tiba-tiba memegang lengan temannya itu. Ketika Joko Pramono merasa betapa jari tangan Pusporini yang memegang lengannya gemetar, ia cepat menengok dan alangkah terkejut hatinya ketika melihat wajah yang cantik itu menjadi pucat. Biarpun wajah itu hanya menerima penerangan suram-suram yang menyorot dari dalam gedung, namun Joko Pramono sudah mengenal betul wajah wanita ini dan ia segera memandang penuh pertanyaan. Pusporini mendekatkan mulutnya ke telinga temannya dan berbisik,

"Dia.... Setyaningsih...!"

Joko Pramono terkejut dan merasa heran sekali. Tentu saja ia sudah banyak mendengar penuturan gadis ini tentang keluarganya, maka nama Setyaningsih sudah dikenalnya baik-baik sebagai saudara tiri gadis ini dan adik kandung Endang Patibroto. Maka ia cepat memandang kembali ke sebelah dalam dan kini ia memandang wanita muda itu penuh perhatian. Ia melihat bahwa wanita itu sebaya dengan Pusporini dan amat cantik jelita, berkulit kuning langsat dan sinar matanya tajam berpengaruh, membayangkan kekerasan hati. Diam-diam ia menjadi kagum akan tetapi juga terheran-heran seperti Pusporini mendapatkan wanita itu berada di tempat ini dan seakan-akan menjadi tokoh penting yang dihormati kakek tinggi besar itu. Bahkan pemuda tampan yang berdiri di sebelah kanannya itu disebut gusti pangeran!

Melihat Pusporini seakan-akan tak dapat menahan kerinduan hatinya dan seperti hendak berseru memanggil, Joko Pramono cepat menyentuh lengan gadis itu dan menggelengkan kepala sambil member! Isyarat dengan telunjuk di depan mulut, minta gadis itu agar jangan mengeluarkan suara.

"Paman Dwipa, apa pula artinya ini?" Pemuda tampan yang disebut gusti pangeran itu berkata, alisnya yang hitam berkerut. "Telah dua hari kita mengadakan perjalanan dan isteriku lelah sekali, ingin beristirahat malam ini. Kita telah berada di wilayah Jenggala, di tempat sendiri, mengapa tergesa-gesa? Bukankah besok kita dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dan sore harinya dapat tiba di kota raja?"

"Mohon maaf, Gusti. Sesungguhnyalah apa yang Paduka katakan, akan tetapi telah terjadi hal-hal yang gawat. Hendaknya Paduka ketahui bahwa pada masa ini kita menghadapi banyak musuh yang dikirim oleh Panjalu..."

"Ah, betapa mungkin? Uwa Prabu di Panjalu..."

"Mungkin bukan oleh gusti sinuwun di Panjalu, akan tetapi semenjak pengkhianatan mendiang Patih Brotomenggala, kaki tangannya masih selalu berusaha mengacaukan Jenggala. Baru saja hamba mendapat keterangan bahwa ada beberapa orang mata-mata musuh yang akan menangkap Paduka berdua..."

"Eh? Aneh sekali! Aku dan isteriku berpakaian menyamar sebagai penduduk biasa, siapa mengetahui bahwa aku adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala dan ini isteriku?"

Ucapan ini kembali mengejutkan hati Pusporini sehingga di luar kesadarannya gadis ini memegang lengan Joko Pramono dan mencubitnya keras-keras!

Untung Joko Pramono dapat menahan diri, kalau tidak tentu ia akan memekik, bukan karena nyeri melainkan karena girang. Cubitan seorang gadis yang dicinta mendatangkan rasa nyeri yang sedap di hati!

"Ah, Paduka tidak tahu betapa pandai mendiang Patih Brotomenggala sehingga banyak kaki tangannya mendapat dukungan tokoh-tokoh di Panjalu. Maafkan hamba, demi keselamatan Paduka sendirilah terpaksa malam ini juga hamba akan mengiringkan Paduka berdua menuju ke kota raja. Setelah Paduka tiba di sana menghadap gusti sinuwun, baru akan legalah hati hamba dan akan bebas hamba daripada tanggung jawab yang berat..."

Pusporini dan Joko Pramono dapat menangkap isyarat yang terpancar keluar dari pandang mata Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit. Pangeran itu menarik napas panjang dan akhirnya berkata kepada Gagak Dwipa yang menundukkan muka dengan hormat,

"Baiklah kalau begitu, Paman. Engkau sudah begitu baik untuk mengantar kami, tentu saja kami akan menurut segala langkah yang kau ambil demi keselamatan kami."

Pada saat itu, masuklah Gagak Kroda. Setelah memberi hormat kepada pangeran muda bersama isterinya itu, ia lalu berkata kepada Gagak Dwipa, "Kakang Dwipa, kereta telah siap di luar."

Pangeran muda itu dan isterinya melangkah keluar dari gedung diikuti oleh kedua orang kakek tinggi besar. Sebuah kereta yang indah telah menanti di luar, dan berangkatlah suami isteri itu, dikawal oleh kedua orang kakek itu sendiri bersama tiga orang pengawal yang kelihatannya memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Joko Pramono dan Pusporini tetap mengikuti dari jauh. Mereka menggunakan aji kesaktian mereka sehingga lari mereka cepat sekali, tidak tertinggal oleh larinya kuda yang menarik kereta di sebelah depan. Sambil membayangi kereta itu dari jauh mereka bercakap-cakap.

"Sungguh aneh luar biasa!" kata Pusporini kemudian mengomel. "Mengapa kau melarang aku menjumpai Setyaningsih? Kau tidak tahu betapa rinduku kepadanya! Ingin sekali aku mendengar dari mulutnya sendiri bagaimana dia sampai bisa menjadi isteri seorang Pangeran Jenggala Luar biasa...!"

"Hemm, suaminya memang hebat. Seorang pangeran! Begitu tampan dan gagah! Wah, tentu kau akan dapat belajar dari dia bagaimana untuk dapat memancing hati seorang pangeran. Aku berani bertaruh, tentu akan banyak pangeran yang akan tergila-gila kepadamu!"

Tiba-tiba Pusporini berhenti dan memandang pemuda itu dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kemarahan. "Kau mendem (mabuk)!! Siapa ingin memancing hati pangeran? Apa maksudmu dengan ucapan gila itu?"

Joko Pramono terkejut dan merasa betapa rasa cemburu membuat ia kelepasan bicara. "Eh... ohh... maaf... aku... aku hanya bermaksud bahwa amat terhormat menjadi isteri pangeran... bahwa... bahwa aku seperti batu kerikil kalau dibandingkan dengan seorang pangeran yang seperti batu intan..."

"Wah, lebih gila lagi. Kau kira aku perempuan macam apa yang silau oleh ketampanan seorang pangeran? Jadi kau... kau cemburu...? Ceriwis kau! Genit kau! Cih, aku jemu! Sudahlah, aku tidak sudi bertemu dengan Setyaningsih...!" Gadis itu terisak, membalikkan tubuhnya dan lari pergi.

Sejenak Joko Pramono melongo, kemudian ia mengerahkan tenaga berlari cepat mengejar Pusporini. "Pusporini... berhentilah... ampunkanlah aku... berhenti...!"

Akan tetapi gadis itu berlari cepat sekali dan Joko Pramono menjadi bingung karena ia maklum bahwa kalau Pusporini tidak mau memperlambat larinya, tentu akan sukar baginya untuk menyusul dan tentu mereka tidak akan dapat mengikuti suami isteri dalam kereta itu.

"Pusporini...! Aku tobat minta ampun...! Tunggulah aku, mari kita mengejar mereka. Setyaningsih dan suaminya dalam bahaya...!

Mendengar kalimat terakhir itu, tiba-tiba Pusporini berhenti dan membalikkan tubuhnya. Pandang matanya berkilat dan pipinya basah air mata. Joko Pramono terkejut dan merasa menyesal sekali. Belum pernah ia melihat gadis itu menangis. Ia lalu melompat dekat dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!

"Pusporini... aku mengaku salah... aku telah gila, ampunkan aku! Ampunkan mulutku yang lancang, betapa gila aku pernah meragukan perasaanmu yang suci."

Pusporini tadinya marah sekali, akan tetapi melihat laki-laki yang dicintanya itu berlutut di depannya, ia menjadi terharu sekali. "Joko Pramono, bangkitlah. Tidak layak seorang pria berlutut di depan wanita. Kumaafkan engkau, akan tetapi jangan sekali-kali lagi bicara seperti tadi... kau telah menyayat hatiku."

Joko Pramono bangkit berdiri dan mereka berpandangan, penuh maaf dan penuh pengertian sehingga pandang mata mereka berubah mesra. Akhirnya Pusporini yang lebih dahulu menunduk dengan muka kemerahan.

"Apa maksudmu bahwa Setyaningsih terancam bahaya?"

"Aku tidak main-main. Aku mencurigai dua orang kakek itu. Tidak melihatkah engkau tadi Setyaningsih dan suaminya bertukar isyarat pandang mata? Tentu mereka itu tidak menjadi sekutu mereka, entah apa yang telah terjadi. Akan tetapi ada perasaan di hatiku seolah-olah mereka masuk perangkap."

"Ah, kalau begitu, kejar...!" Pusporini mendahului Joko Pramono dan berlari cepat sekali mengejar ke arah larinya kereta yang kini sudah tak tampak lagi.

Joko Pramono juga mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Di dalam hatinya terasa lega sekali karena ia merasa seolah-olah baru saja terhindar daripada malapetaka terbesar selama hidupnya!

Sebetulnya apa yang terjadi dengan Setyaningsih dan suaminya? Seperti telah kita ketahui, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih merupakan dua orang tokoh pasukan rahasia yang dipimpin Pangeran Darmokusumo dari Panjalu. Mereka ini bersama beberapa orang pengawal yang merupakan ahli-ahli penyelidik, menyelundup memasuki daerah Jenggala dan tugas mereka adalah mencari jejak Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis.

Lama mereka itu bersama anak buah mereka melakukan penyelidikan, namun tak seorang pun pernah mendengar nama Nini Bumigarba, apa lagi melihat nenek menyeramkan itu. Jejak nenek itu lenyap sama sekali dan mereka menjadi bingung karena tidak berhasil sedikit pun juga. Karena itu, Pangeran Panji Sigit dan isterinya lalu memisahkan diri dari para penyelidik dengan niat untuk memasuki Kota Raja Jenggala. Pangeran itu bertekad untuk menghadap ramandanya dengan resiko menghadapi musuh-musuh rahasia Kerajaan Jenggala. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa hanya di istana sajalah ia akan dapat mendengar tentang nenek itu.

Dua hari yang lalu, ketika mereka sedang berjalan memasuki sebuah dusun, mereka bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Di antara anak buah pasukan ini terdapat pula seorang perajurit Jenggala yang tentu saja segera mengenal Pangeran Panji Sigit, sungguhpun pangeran itu menyamar dalam pakaian penduduk biasa. Ia cepat memberitahukan hal ini kepada kedua orang kakek itu yang cepat mengatur siasat.

Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah mendengar tugas rahasia dari Pangeran Kukutan bahwa kalau mereka mendengar akan adanya Pangeran Panji Sigit, mereka harus membawanya ke istana! Kiranya Pangeran Kukutan telah mendengar bahwa adik tirinya itu pernah datang menghadap ratu yang diasingkan, maka timbul rasa khawatir di hatinya. Ia merundingkan hal ini dengan Suminten yang segera bangkit seleranya, bangun nafsunya mendengar akan kembalinya Pangeran Panji Sigit.

Seorang wanita seperti Suminten ini, yang setiap hari berganti kekasih, akan menjadi bosan dengan pria-pria tampan yang dengan senang hati melayani segala kehendak dan nafsunya. Sebaliknya, ia akan merasa tersiksa dan menderita penyakit wuyung (rindu asmara) kalau ada pria yang menolak cintanya! Dan pria yang menolaknya, satu-satunya pria tampan yang menolaknya adalah Pangeran Panji Sigit.

Bukan ini saja. Orang pertama yang membangkitkan berahinya, yang menjadi cinta pertamanya namun yang tak sudi melayaninya adalah Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto yang pertama. Bahkan kasih tak terbalas inilah yang sesungguhnya membuat perubahan besar dalam hidup Suminten, yang membuat dia dari seorang abdi menjadi wanita yang paling berkuasa di seluruh Jenggala. Cinta kasihnya yang gagal terhadap Pangeran Panjirawit ini pulalah yang menjadikan dia seorang wanita pengabdi nafsu berahi yang keranjingan, seorang wanita yang haus akan cinta kasih yang tak pernah dapat memenuhi hatinya. Dan Pangeran Panji Sigit mempunyai wajah yang mirip dengan kakak tirinya itu!

Gagak Dwipa dan Gagak Kroda menjadi girang sekali dan cepat-cepat dia bersama pasukannya bersembah sujut memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit. Tentu saja pangeran muda ini menjadi terkejut sekali. Dia bersama isterinya sudah menyamar dengan pakaian penduduk biasa, namun ternyata pasukan itu mengenalnya. Terpaksa, untuk menyembunyikan tugas rahasianya yang berbahaya, ia pun menyatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang ke kota raja untuk menghadap ramandanya sang prabu di Jenggala.

Demikianlah, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih dikawal oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, naik sebuah kereta dan sampai di dusun itu di mana mereka beristirahat di sebuah gedung besar yang menjadi tempat peristirahatan para petugas Kerajaan Jenggala yang melakukan tugas berjaga dan menyelidili wilayah perbatasan.

Ketika dua orang kakek itu memaksa mereka melanjutkan perjalanan di waktu malam, hati Pangeran Panji Sigit dan isterinya menjadi curiga. Akan tetapi kalau mereka menolak, tentu kedua orang kakek itu mencurigai mereka, maka mereka menurut dan diam-diam mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama bersinar di angkasa yang bersih dan cerah sehingga kalau saja tidak digoda oleh kecurigaan yang membuat hati mereka tidak nyaman, tentu perjalanan itu merupakan perjalanan yang amat menyenangkan. Kanan kiri jalan yang bermandikan cahaya bulan keemasan amatlah sedap dipandang.

Sudah hampir dua jam kereta berjalan cepat dan tiba-tiba di sebuah jalan perempatan, kereta berhenti. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih saling berpandangan kemudian mereka menyingkap tenda sutera penutup jendela kereta dan memandang keluar. Di bawah sinar bulan yang terang, tampak tiga orang penunggang kuda menghadang di depan kereta yang dihentikan.

Sejenak Pangeran Panji Sigit tertegun dan memandang penuh perhatian. Benarkah ucapan Gagak Dwipa bahwa ada orang-orang Panjalu yang hendak mengganggunya? Tidak mungkin! Kalau toh ada utusan dari Panjalu, tentu utusan itu adalah anggauta pasukan rahasia atau anak buah Pangeran Darmokusumo, atau juga anak buah Patih Tejolaksono.

Akan tetapi dia tidak mengenal mereka itu dan tampak olehnya bahwa tiga orang itu dipimpin oleh seorang kakek yang usianya sudah empat puluh tahun, berjubah kuning seperti pakaian pendeta, kakinya telanjang, rambutnya putih terurai sampai ke pinggang, mukanya kehitaman dengan hidungnya yang panjang berbentuk paruh burung kakatua, tubuhnya kurus tinggi.

"Pangeran Panji Sigit, kami atas nama kerajaan dan atas perintah gusti patih di Jenggala, ditugaskan menangkap Andika bersama wanita yang datang bersama Andika!" Kakek itu berkata, suaranya nyaring dan serak.

Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih cepat meloncat keluar dari kereta itu, berdiri dengan sikap siap. Sedikit pun mereka tidak menjadi gentar, apalagi Setyaningsih, dengan muka angkuh memandang kepada kakek itu, sinar matanya memancarkan kemarahan.

"Tidak mungkin! Mengapa pula Patih Jenggala hendak menangkap aku? Paman Dwipa dan Paman Kroda, apa artinya ini?" bentak Pangeran Panji Sigit.

Akan tetapi, dengan heran dan marah pangeran itu melihat betapa kedua orang kakek tinggi besar itu pun sudah melompat turun dan bergabung dengan tiga orang itu yang sudah melompat turun dari kuda masing-masing. Bahkan Gagak Dwipa tertawa mengejek lalu berkata,

"Pangeran Panji Sigit, ketahuilah bahwa paman ini adalah Paman Cekel Wisangkoro, kepercayaan dari Gusti Pangeran Kukutan. Sebaiknya Andika berdua menyerah saja agar dapat ditangkap secara terhormat, daripada harus dipergunakan kekerasan. Kalau gusti patih memerintah agar Andika ditangkap, tentu ada alasannya yang kuat!"

"Hemm, kiranya kalian berdua adalah orang-orang jahat yang sengaja hendak mencelakakan kami!" Tiba-tiba Setyaningsih berkata, suaranya dingin dan mengandung ancaman mengerikan. "Kakangmas Pangeran adalah putera gusti sinuwun di Jenggala yang hendak pulang ke istana ramandanya sendiri. Siapa pun tidak berhak menangkapnya!"

"Hemm, galak benar isteri pangeran ini! Kalian hendak melawan kami?" bentak Gagak Kroda yang wataknya berangasan.

Adapun lima orang yang tadi mengawal kereta, bersama dua orang perajurit yang bertugas memanggil Cekel Wisangkoro dan kini datang bersama kakek pendeta itu, telah maju mengurung Pangeran Panji Sigit dan isterinya.

"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, memang tadinya aku sudah curiga terhadap kalian. Semenjak kecil aku berada di Jenggala dan selalu aku melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal yang berjiwa satria, tidak seperti kalian orang-orang kasar melebihi gerombolan perampok. Kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak yang mengatur siasat untuk mencelakakan kami! Tunggu saja sampai aku menghadap ramanda prabu, pasti pengawal-pengawal palsu macam kalian ini akan dijatuhi hukuman mati!"

"Bodoh! Kenapa kalian melayani mereka bicara? Lekas tangkap!" Cekel Wisangkoro tak sabar lagi. "Gusti Pangeran Kukutan sudah tak sabar menanti!"

"Hayo tangkap mereka!" Gagak Dwipa memberi aba-aba kepada tujuh orang perajurit pengawal yang menjadi anak buahnya. Dia memandang rendah kepada pangeran yang halus sikapnya itu, juga isterinya yang cantik jelita dan lemah lembut, oleh karena itu ia memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan menangkap suami isteri itu.

Tujuh orang perajurit itu dengan penuh gairah lalu menubruk maju. Hanya dua orang yang menerjang Pangeran Panji Sigit, sedangkan yang lima orang lagi, yaitu mereka yang tadi mengawal kereta, seperti anjing-anjing kelaparan berebut tulang, telah berlomba menerkam Setyaningsih.

Mereka adalah orang-orang kasar, bekas anak buah gerombolan Gagak Serayu, orang-orang yang sudah biasa menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga sejak melihat Setyaningsih, sudah bergelora nafsu berahi mereka. Kini, mereka memperoleh kesempatan untuk menangkap, tentu saja mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekedar menggerayang dan meremas tubuh yang menggairahkan hati mereka itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan mereka bahwa wanita muda cantik jelita itu bukanlah makanan empuk seperti yang mereka kira. Bahkan sebaliknya! Begitu mereka menubruk, Setyaningsih yang sejak tadi sudah menahan-nahan kemarahannya, sama sekali tidak mengelak, bahkan menyambar mereka dengan tamparan-tamparan sakti.

"Wuut-wuut... plak-plak-plak...!" Tiga di antara lima orang itu terpelanting dan memegangi kepala yang serasa akan pecah!

Muka mereka bengkak-bengkak membiru akibat pukulan yang dikerahkan dengan Aji Gelap Musti yang pernah dipelajari dari ayundanya yaitu Endang Patibroto ketika ia berada di puncak Wilis!

Mereka semua terkejut setengah mati. Lima orang itu adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, bertubuh kebal, namun sekali gebrakan saja Setyaningsih telah merobohkan tiga orang yang agaknya takkan dapat bangkit lagi cepat-cepat. Mereka ini, dua orang perajurit yang lain menjadi gentar, akan tetapi juga marah. Mereka ini menerjang maju, tidak untuk menggerayang tubuh, melainkan untuk memukul roboh dan menangkap wanita perkasa itu dengan kekerasan.

Pangeran Panji Sigit mungkin tidak seganas isterinya, juga tidak sesakti isterinya. Akan tetapi, pangeran ini telah pula menerima gemblengan dan petunjuk Ki Datujiwa, maka menghadapi dua orang perajurit pengawal itu tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya. Dengan cekatan sekali pangeran muda ini mengelak dari setiap sergapan, cengkeraman atau pukulan, kemudian ia pun membalas dengan pukulan-pukulannya yang cukup ampuh.

Berbeda dengan Pangeran Panji Sigit yang sifatnya memang pemurah dan betapapun juga tidak ingin membunuh ponggawa kerajaan ramandanya sendiri, Setyaningsih yang sudah marah sekali itu kini mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dan terjangan kedua orang perajurit itu pun ia sambut dengan pukulan-pukulan Pethit Nogo!

"Werrr.... plak-plak...!" Dua orang perajurit itu roboh terjengkang dan tubuh mereka berkelojotan, tak mampu bangkit kembali...

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 32

Perawan Lembah Wilis Jilid 31

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 31

TIBA-TIBA Endang Patibroto berkata dengan muka merah, "Kita semua sudah mendengar dan melihat kenyataan bahwa Jenggala berada dalam cengkeraman iblis-iblis laknat, bahkan pihak mereka telah berhasil menyelundupkan seorang manusia terkutuk seperti Warutama menjadi patih di Jenggala. Mau tunggu kapan lagi? Sebaiknya kita langsung menyerbu Jenggala dan membersihkan oknum-oknum pengacau itu, membinasakan dan membasmi mereka. Biarlah aku sendiri yang akan menghadap sang prabu di Panjalu untuk memimpin pasukan menghancur leburkan mereka itu!!"

Tejolaksono bertukar pandang dengan Pangeran Darmokusumo. Mereka berdua menahan senyum karena mereka telah mengenal watak wanita ini yang ternyata tidak berubah banyak. Dan mereka yakin bahwa kalau wanita ini memimpin pasukan menyerang ke Jenggala, pasti akan terjadi geger, sungguhpun sekali ini hasilnya belum dapat dipastikan mengingat betapa musuh menggunakan banyak orang-orang yang sakti.

"Aku sendiri pun telah mengajukan usul seperti itu, akan tetapi tidak diterima oleh gusti sinuwun. Dan memang kalau dipikir secara mendalam, penyerbuan dengan pasukan itu bisa menimbulkan salah duga, disangka Panjalu menyerang Jenggala. Musuh telah mempergunakan siasat halus, dan jalan satu-satunya menghadapi mereka dengan diam-diam pula," kata Tejolaksono.

"Tepat seperti yang dikatakan Adinda Patih Tejolaksono, biarlah saya yang menghadap Ramanda Prabu dan mohon perkenan beliau untuk membentuk pasukan rahasia yang tugasnya menentang para pengacau di Jenggala dengan secara rahasia dan diam-diam. Dan kita harus mengadakan kontak dengan orang-orang Jenggala sendiri yang masih setia kepada paman prabu dan bibi ratu di Jenggala agar perjuangan pasukan rahasia ini akan dapat berhasil."

Keluarga yang terdiri dari orang-orang sakti mandraguna ini mengadakan perundingan dan akhirnya diambil keputusan mengangkat Pangeran Darmokusumo sebagai pemimpin pasukan rahasia yang akan dibentuk, sedangkan Patih Tejolaksono menjadi komandan pasukannya dibantu oleh Endang Patibroto.

Akhirnya, keluarga Tejolaksono yang cerai-berai tidak karuan itu kini dapat berkumpul kembali, sungguhpun belum lengkap. Pusporini masih belum ada kabarnya, Bagus Seta masih belum diketahui berada di mana, sedangkan Retna Wilis pun lenyap digondol nenek iblis tanpa diketahui ke mana dibawanya.. Akan tetapi, berkumpulnya kembali Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan hal yang selain menggembirakan semua orang termasuk Ayu Candra, juga mendatangkan semangat dan kelegaan hati.

Semua orang, termasuk Pangeran Darmokusumo sendiri, merasa bahwa kalau kedua orang sakti yang saling mencinta ini bersatu, tidak akan ada kesulitan yang takkan dapat mereka atasi! Dan buktinya, begitu Endang Patibroto tiba, terus saja terbentuk pasukan rahasia yang tadinya tak pernah disinggung-singgung oleh Tejolaksono yang agaknya kehilangan semangat.

Kini, dengan hati girang Ayu Candra mendapat kenyataan betapa suaminya telah pulih kembali semangatnya, tidak pernah melamun, wajahnya selalu berseri, bahkan kalau menyinggung soal belum kembalinya Pusporini, Bagus Seta, dan Retna Wilis, ia kini penuh harapan seolah-olah kehadiran Endang Patibroto telah mempertebal keyakinan dan kepercayaan akan diri sendiri!

Sebagai langkah pertama dari pasukan rahasia ini, Pangeran Darmokusumo mengutus lima belas orang ahli-ahli penyelidik pilihan yang gagah perkasa untuk menyelundup ke Kota Raja Jenggala melakukan penyelidikan akan keadaan pengaruh jahat yang mencengkeram Jenggala, sedangkan Pangeran Panji Sigit bersama isterinya, Setyaningsih, menyamar sebagal rakyat biasa, memimpin selosin orang perajurlt pilihan untuk mulai dengan tugas mereka mencari jejak Nini Bumigarba yang membawa lari Retna Wilis.

********************

Pada waktu itu, telah genap lima tahun Pusporini dan Joko Pramono menjadi murid sang sakti Resi Mahesapati. Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu, Wiraman dan Widawati yang menjadi korban racun ular Puspo Wilis sehingga di luar kesadaran mereka telah melakukan hubungan sanggama sehingga terpaksa Widawati semenjak saat itu menyerahkan jiwa raganya menjadi isteri Wiraman, juga diterima oleh Resi Mahesapati sebagai murid-muridnya.

Biarpun hanya menerima gemblengan selama dua tahun, namun Wiraman yang tadinya adalah seorang pengawal yang gagah perkasa itu mendapatkan kemajuan yang luar biasa, sedangkan Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala itu pun kini menjadi seorang wanita yang kosen. Akan tetapi yang tinggi sekali tingkat ilmu kepandaiannya adalah Pusporini dan Joko Pramono. Berkat sifat kedua orang muda ini yang selalu bersaing sampai tiga tahun lamanya, mereka memperoleh kemajuan pesat.

Baru setelah terjadi peristiwa penaklukan ular Puspo Wilis dan mereka itu hampir saja menjadi korban pengaruh hawa beracun ular itu, keduanya saling menginsyafi dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya mereka itu saling mencinta. Bahwa semua persaingan mereka itu sama sekali bukan berdasarkan iri dan benci, melainkan berdasarkan cinta kasih sehingga mereka selalu ingin menonjolkan diri di mata masing-masing orang yang dicintanya dengan dasar niat ingin dikagumi dan ingin dihargai atau lebih tepat lagi ingin dicinta!

Semenjak peristiwa itu, mereka tidak lagi bersaing, bahkan sering mereka itu memperlihatkan sikap mengalah, terutama sekali Joko Pramono, dan biarpun mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, namun pandang mata mereka sudah terang-terangan menyatakan isi hati yang penuh cinta.

Namun, tiadanya persaingan bukan berarti bahwa ketekunan mereka mengendur. Sama sekali tidak. Setelah mendengar penuturan Wiraman akan keadaan di Jenggala, kemudian mendengar wejangan Resi Mahesapati, mereka belajar makin rajin dan kini mereka mempunyai cita-cita dalam belajar, yaitu untuk kelak dipergunakan menolong Jenggala, membersihkan kerajaan itu dari manusia-manusia iblis yang berusaha mencengkeramnya.

Pagi hari itu Resi Mahesapati memanggil keempat orang muridnya itu menghadap. Dengan suara halus ia berkata, "Tugasku telah selesai memberi bimbingan kepada kalian mengejar ilmu. Joko Pramono dan Pusporini telah genap lima tahun kalian mempelajari ilmu dan sudah tiba saatnya kalian turun gunung memanfaatkan segala yang kalian telah pelajari. Seperti telah berkali-kali kutekankan adalah menjadi tugas kalian untuk berdarma bakti kepada kebajikan, kebenaran dan keadilan. Dan karena pada saat ini mendung telah meliputi Jenggala dan sebagian dari Panjalu, maka kalian harus turun gunung dan membantu usaha membersihkan mendung yang mengancam keselamatan rakyat kerajaan-kerajaan keturunan Mataram. Ingat bahwa mereka yang mengancam keselamatan itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ada di antara mereka yang lebih sakti daripada tokoh-tokoh kedua kerajaan, bahkan aku sendiri tidak akan mampu melawannya. Akan tetapi, untuk menghadapi mereka yang sakti mandraguna ini akan muncul seorang pendekar muda dan kepadanyalah kalian akan membantu. Apa yang akan kalian lakukan di hari depan, terserah kepada kebijaksanaan kalian, aku orang tua hanya dapat membekali doa restu. Juga engkau Ki Wiraman, engkau dan Widawati tidak terlepas pula daripada kewajiban untuk membantu usaha menentang pengaruh buruk itu. Pergilah kalian berempat dan aku dapat memandang kepergian kalian berempat dengan hati lapang karena kurasa, usahaku selama ini tidak akan sia-sia."

"Akan tetapi, Eyang resi. Kemanakah hamba berdua harus menuju?" tanya Pusporini yang sebetulnya ingin sekali kembali ke Selopenangkep mencari keluarganya.

"Rundingkanlah nanti bersama Joko Pramono, dan terutama sekali, dengarkan nasehat Ki Wiraman. Dia ini lebih berpengalaman dalam hal perjuangan dibandingkan dengan kalian berdua. Nah, berangkatlah tanpa ragu-ragu, karena setiap cita-cita harus dimulai dengan tekad bulat. Sedikit saja keraguan akan menghambat tercapainya cita-cita." Setelah berkata demikian, Resi Mahesapati yang duduk bersila itu meramkan mata, tanda bahwa dia mulai bersamadhi dan tidak mau diganggu lagi.

Empat orang itu lalu menyembah dan berpamit dengan hati terharu, teringat akan kebaikan budi kakek ini selama mereka berada di situ. Kemudian berangkatlah mereka meninggalkan tempat di mana mereka digembleng itu. Adapun batu mustika ular Puspo Wilis sejak lama telah diberikan kepada Pusporini dan kini menjadi penghias leher Pusporini sebagai sebuah mata kalung yang indah sekali, mengeluarkan sinar kehijauan.

Karena masih terpengaruh oleh rasa duka harus berpisah meninggalkan guru yang mereka cinta itu seorang diri di puncak gunung, empat orang itu menuruni gunung tanpa bicara dan baru setelah mereka tiba di kaki gunung dan untuk penghabisan kali menengadah ke puncak seolah-olah merupakan pandang penuh harapan dan permintaan doa restu, baru mereka berunding.

"Menurut pendapat saya, lebih baik kalau Andika berdua dari sini langsung memasuki Jenggala untuk melakukan penyelidikan tentang keadaan kerajaan itu sekarang. Andika berdua tidak dikenal, tentu saja akan lebih mudah melakukan perjalanan ke daerah yang kacau itu. Sedangkan saya sendiri bersama diajeng Widawati akan langsung menuju ke Panjalu, melaporkan segala keadaan dua tahun yang lalu kepada sang prabu di Panjalu." Demikian Wiraman menyatakan pendapatnya.

Joko Pramono dan Pusporini tak dapat membantah kebenaran pendapat ini dan mereka mengangguk.

"Benar sekali pendapat Paman. Kami akan menyelidiki keadaan Kota Raja Jenggala, kemudian kami akan pergi menyusul Paman ke Panjalu," kata Joko Pramono.

"Kalau Paman tiba di Panjalu, harap Paman kunjungi kediaman Kakangmas Tejolaksono dan ceritakan keadaanku kepada keluargaku. Akan tetapi, betulkah Kakangmas Tejolaksono kini telah menjadi patih muda di Panjalu seperti yang Paman ceritakan dahulu?"

Wiraman mengangguk. "Saya pun hanya mendengar beritanya saja bahwa setelah berhasil mengamankan kekacauan-kekacauan yang timbul di wilayah barat Adipati Tejolaksono diangkat menjadi patih muda. Tentu akan saya selidiki tentang keluarga Andika, dan saya akan menghadap Gusti Patih Tejolaksono."

Dari kaki gunung itu, rombongan mereka dipecah menjadi dua, Wiraman dan Widawati menuju ke Panjalu, sedangkan Joko Pramono dan Pusporini melanjutkan perjalanan mereka ke Jenggala untuk melakukan tugas menyelidiki sebelum mereka menyusul pula ke Panjalu. Kedua orang muda murid Sang Resi Mahesapati itu melanjutkan perjalanan dengan gembira.

Setelah lima tahun lamanya mereka mengejar ilmu di puncak gunung, kini mereka menghadapi dunia ramai dengan hati penuh ketegangan, apalagi kalau mereka mengingat akan cerita Ki Wiraman tentang keadaan Jenggala yang kacau-balau dan akan kekuasaan-kekuasaan jahat yang mencengkeram kerajaan itu.

Namun ketegangan ini hanya timbul karena mereka ingat akan tugas mereka sebagai orang-orang berkepandaian yang melaksanakan tugas menentang kejahatan, bukan sekali-kali karena rasa takut. Hati mereka besar dan mereka mempunyai penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Selama lima tahun digembleng oleh Sang Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedua orang muda ini memperoleh kemajuan yang hebat.

Mereka bukan lagi orang-orang muda remaja lima tahun yang lalu. Biarpun lima tahun yang lalu mereka telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun semua aji kesaktian mereka masih mentah, sama sekali berbeda dengan keadaan mereka sekarang yang telah menyempurnakan semua aji itu di bawah bimbingan Sang Resi Mahesapati. Pusporini telah berusia dua puluh satu tahun, sedangka Joko Pramono telah berusia dua puluh dua tahun, dan mereka berdua telah memiliki kedigdayaan yang matang.

"Mudah-mudahan saja tugas kita akan berjalan lancar sehingga kita dapat segera pergi ke Panjalu untuk mencari rakandamu Gusti Patih Tejolaksono," terdengar Joko Pramono berkata ketika mereka berdua berjalan seenaknya memasuki hutan belantara yang sudah dekat dengan Kota Raja Jenggala.

Mereka telah melakukan perjalanan selama tujuh hari dan tidak pernah mereka menemui halangan. Di sepanjang perjalanan mereka melalui dusun-dusun dan mendengar akan keadaan di Jenggala yang mengecilkan hati. Para penduduk dusun menceritakan betapa kini kekacauan dari kota raja itu menular menjalar ke dusun-dusun, di mana para ponggawa yang diangkat oleh petugas kerajaan, diganti secara paksa oleh ponggawa-ponggawa baru yang memerintahkan agar rakyat memuja-muja Sang Bathari Shiwa.

Berita ini hanya dicatat dalam hati oleh kedua orang muda itu untuk kelak mereka laporkan ke Panjalu. Akan tetapi karena mereka bertugas menyelidik, mereka tidak mau melibatkan diri dengan para ponggawa baru itu dan selalu menjauhkan diri dari pertentangan yang tidak ada artinya dan hanya akan mengganggu tugas penyelidikan mereka. Tujuan utama mereka adalah kota raja untuk menyelidiki keadaan di sana karena mereka tahu bahwa yang menjadi pusat biang keladi semua kekacauan adalah kota raja.

"Kenapa sih engkau ingin tergesa-gesa pergi ke Panjalu dan menemui Rakanda Patih Tejolaksono?" tanya Pusporini, di dalam hatinya mentertawakan pemuda itu karena tentu saja ia sudah dapat menduga sebabnya.

"Kenapa? Tentu saja untuk meminang adiknya yang cantik manis, galak, sakti mandraguna dan merupakan wanita paling mulia di dunia ini bagiku, puteri yang bernama Dyah Pusporini....!"

Pusporini meruncingkan bibirnya, mengejek. "Aku tidak mau bicara tentang perjodohan sebelum tugas kita selesai, sebelum semua anasir jahat dibasmi habis dari Jenggala dan Panjalu!"

"Wah, bagaimana kalau sampai belasan tahun belum selesai?" Joko Pramono mencela dan memandang gadis di samping kirinya dengan mata terbelalak lebar.

Pusporini mengerling ke kanan dan tersenyum. "Kalau sampai belasan tahun mengapa? Siapa sih yang tergesa-gesa?"

"Wah, aku akan menjadi jejaka tua dan engkau akan menjadi perawan tua!" kata Joko Pramono setengah berkelakar akan tetapi juga setengah bersungguh sungguh. "Kalau bertemu dengan rakandamu itu, aku akan nekad meminangmu hendak kulihat kalau keluargamu menetapkannya dan mendesakmu, engkau akan dapat berkata apa lagi!"

"Engkau memang orang nekad, lebih baik namamu dirubah menjadi Joko Nekad saja!" Pusporini menggoda sambil tertawa. Sesungguhnya di dalam hatinya ia pun tidak sabar lagi menanti pinangan pemuda yang dicintanya ini. Usianya sudah dua puluh satu tahun dan pada jaman itu, seorang wanita berusia dua puluh satu tahun biasanya tentu telah menjadi seorang ibu dari dua tiga orang anak!

"Sstttt.... di depan ada orang...." Joko Pramono berbisik dan gadis itu sudah dalam keadaan siap, hilang sikapnya berkelakar.

Kedua orang muda itu berjalan terus dengan langkah tenang, namun pandang mata mereka waspada dan penuh perhatian karena mereka maklum bahwa di dalam gerombolan alang-alang dan pohon di sebelah depan terdapat banyak orang bersembunyi. Ketika mereka tiba di tempat terbuka yang agak luas, dikelilingi pohon-pohon dan alang-alang, tiba-tiba terdengar bentakan keras, "Kisanak yang lewat, berhenti dulu!!"

Dari balik semak-semak di sekeliling tempat itu berloncatan keluar banyak orang laki-laki yang memakai kain dan celana seragam, bertubuh tinggi besar dan melihat betapa mereka itu lalu serempak membuat gerakan mengurung secara teratur, mudah diduga bahwa mereka itu bukanlah perampok, melainkan sebuah pasukan yang terlatih, akan tetapi sikap mereka tiada bedanya dengan perampok-perampok.

Pandang mata mereka kini menjalari wajah dan tubuh Pusporini dan gadis ini menghitung sembilan belas mulut yang menyeringai penuh nafsu kurang ajar terhadap dirinya. Hanya sebuah pasukan kecil yang terdiri dari tujuh belas orang yang dikepalai dua orang laki-laki tinggi besar yang dapat dibedakan dari para anak buahnya melihat pakaiannya yang lebih mewah.

Pusporini dan Joko Pramono yang terkurung di tengah-tengah itu berdiri dengan sikap tenang-tenang saja. Dua orang pimpinan pasukan itu lalu melangkah maju. Sejenak mereka memandang pemuda dan pemudi itu penuh selidik, dan seorang di antara mereka berdua, yang hidungnya besar mbengol yang menandakan bahwa dia seorang yang gila wanita, tertawa dan berkata,

"Kakang Maruto, aku tetap tidak percaya kalau perawan denok seperti ini menjadi mata-mata! Huah-ha-ha, kalau mereka mengirim mata-mata sedenok ini sungguh menyenangkan sekali. Biar dikirim empat losin pun aku masih kurang!"

"Adi Saru, jangan sembrono. Orang-orang Panjalu amat cerdik, tentu mengirim mata-mata yang pandai menyamar. Heh, kisanak!" kata orang ke dua itu yang jenggotnya berjuntai panjang sampai dua kilan. "Kalian berdua siapakah dan dari mana hendak ke mana?"

Joko Pramono yang selalu bersikap hati-hati tetap tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran sebelum mereka tiba di Kota Raja Jenggala menyelidiki keadaan dan dapat mencari Ki Mitra yang menjadi juru taman di rumah guru kesenian seperti yang mereka ketahui dari pesan Ki Wiraman, menjawab,

"Kami kakak beradik penghuni di kaki Gunung Kawi, hendak pergi ke kota raja mencari paman kami yang bekerja di sana."

"Hemm, Andika terlalu gagah dan tampan untuk menjadi seorang pemuda dusun biasa!" kata si jenggot panjang.

"Dan perawan ini terlalu denok untuk menjadi perawan gunung. Lihat kulitnya putih kuning dan halus, matanya yang masih membayangkan keturunan menak, jeli dan tajam pandangannya, bulu mata yang lentik, ha-ha-ha, perawan denok ini lebih cantik daripada puteri di istana! Kalian baru boleh lewat kalau aku sudah memeriksa dara ini!" kata si hidung besar sambil menyeringai kepada Pusporini.

"Memeriksa bagaimana maksudmu?" tanya Joko Pramono, suaranya dingin dan sinar matanya mengandung kemarahan yang ditahan-tahan.

Hatinya panas sekali melihat kekasihnya hendak diperlakukan secara kurang ajar, dan kalau menurutkan panasnya hati, ingin ia memukul remuk kepala si hidung besar saat itu juga. Akan tetapi pemuda ini masih menekan hatinya, ingin mencari penyelesaian secara damai agar tugas mereka tidak terganggu.

"Huah-ha-ha-ha, memeriksa bagaimana? Jangan khawatir, kisanak. Aku tidak akan menyusahkan adikmu, bahkan sebaliknya, dia akan senang sekali setelah kuperiksa nanti. Aku harus menggeledahnya, siapa tahu dia membawa surat-surat rahasia, membawa benda-benda rahasia yang disembunyikan di balik pakaiannya. Mari, manis, mari ikut bersamaku ke balik semak-semak tebal agar jangan ada mata lain melihatmu sehingga engkau akan menjadi malu, denok !" Si hidung besar mengulurkan tangan hendak memegang lengan Pusporini, akan tetapi gadis itu melangkah mundur sambil tersenyum manis sehingga si hidung besar yang melihat senyum yang mencipta lesung pipit di pipi yang manis sekali terpesona.

"Nanti dulu, kisanak!" Joko Pramono melangkah maju di depan Pusporini, memandang mereka berdua, tidak memperdulikan anak buah pasukan yang tertawa-tawa melihat lagak seorang di antara pemimpinnya tadi. "Sebelum Andika berdua mengambil tindakan, ingin kami bertanya, siapakah Andika berdua dan pasukan ini pasukan apa? Mengapa Andika hendak memeriksa kami dan dengan hak apakah?"

Si jenggot panjang tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, melihat wajah dan dandananmu, engkau seperti bukan bocah gunung, akan tetapi pertanyaanmu ini menyatakan bahwa engkau benar seorang dusun yang tidak tahu apa-apa. Dengarlah baik-baik, aku Maruto dan Adi Sarudigdo ini adalah dua orang perwira Jenggala yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal), pemimpin pasukan Pasopati yang tidak mengenal takut atau mundur atau kalah. Pasukan kami merupakan pasukan yang paling jagoan di Jenggala, menjadi kembang di antara pasukan pengawal di luar istana. Kini banyak berkeliaran mata-mata yang dikirim oleh Panjalu dan entah sudah berapa banyak mata-mata yang kami bunuh. Karena itu, kami berhak untuk memeriksa setiap orang yang kami curigai dan sudah menjadi hak Adi Sarudigdo yang memang mempunyai kepandaian khusus untuk menggeledah wanita untuk memeriksa adikmu ini. Nah, sudah jelaskah? Kalau kalian melawan, berarti kalian akan mati tanpa diperiksa lagi!"

Joko Pramono sudah menjadi marah sekali. Jelas olehnya sekarang betapa rendah watak pasukan ini dan dari sikap mereka ini saja ia sudah dapat menilai bahwa mereka ini tentulah bukan perajurit-perajurit sejati dari Jenggala yang dahulu terkenal sebagai perajurit-perajurit dan satria-satria utama. Kini pasukan ini tiada bedanya dengan segerombolan penjahat yang kasar dan liar dan sudah dapat diduga bahwa mereka ini tentulah menjadi anak buah daripada mereka yang kini menguasai Jenggala.

Kesabarannya lenyap dan hal ini tampak dari sinar matanya yang berkilat. Melihat keadaan pemuda in!, Pusporini lalu berkata lirih, "Biarkan aku menghadapi mereka."

Joko Pramono melangkah mundur karena ia tahu bahwa gadis yang dikasihinya itu tentu sudah marah luar biasa melihat sikap dan mendengar ucapan dua orang pemimpin pasukan Pasopati ini dan hendak turun tangan sendiri. Ia mengalah dan mundur.

Pusporini tersenyum-senyum dan melangkah maju, memandang kepada perwira yang tinggi besar yang berhidung besar, lalu berkata, suaranya merdu dan halus, matanya bersinar-sinar sehingga wajahnya menjadi makin jelita,

"Andika ini seorang perwira gagah perkasa dari Jenggala dan sudah lama aku mendengar bahwa perwira-perwira Jenggala adalah satria-satria perkasa. Apakah Andika ini juga menjadi anak buah Ki Patih Warutama yang kabarnya sakti mandraguna itu?"

Si hidung besar mengangkat dadanya sampai membusung, hidungnya berkembang-kempis mendenguskan hawa kebanggaan dan kesombongan.

"Heh-heh, tidak salah dugaanmu, puteri yang jelita seperti bidadari kahyangan! Aku Sarudigdo, perwira digdaya, sakti mandraguna dan menjadi tangan kanan gusti patih di Jenggala! Dengan kepalan tangan kiri aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau kumbang, dengan tangan kanan aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau gembong, dengan kedua kakiku aku sanggup menjegal roboh seekor gajah. Dengan golokku si dukun peminum darah aku sanggup..."

"Menyembelih ayam." Pusporini melanjutkan. "Cukuplah, yang penting sekarang engkau tadi mengatakan hendak menggeledah aku. Benarkah engkau ini seorang ahli menggeledah wanita?"

"Ha-ha-ha, Kakang Maruto hanya berkelakar! Akan tetapi yang jelas, setiap orang wanita yang kena kugerayang tubuhnya tentu akan bertekuk lutut, akan gandrung-gandrung kepadaku, karena aku memiliki Aji Asmaragama dan setiap orang dara, termasuk engkau, Manis, kalau sudah ku..."

"Cukup sudah! Dengan cara bagaimana engkau hendak menggeledahku?" Pusporini menahan kemarahannya.

"Heh-heh, tak perlu kukatakan, engkau nanti akan menikmatinya sendiri. Marilah, denok, kita bersembunyi di balik semak-semak yang tebal sana.... heh-heh"

"Seorang gagah tidak perlu sembunyi-sembunyi. Di sini pun mengapa?"

Perwira itu membelalakkan matanya sehingga hidungnya yang besar kelihatan makin mbengol. "Di sini? Dilihat semua orang?"

"Mengapa tidak? Bagaimana sih caranya?" Pusporini tetap menggoda.

"Wah, sayang dong kalau banyak yang lihat. Pertama-tama kau harus membuka kembenmu (ikat pinggang), kemudian... bajumu dan kutangmu dan..."

"Begini?" Pusporini mengudar (melepaskan) ujung kembennya sepanjang satu meter.

Kembennya yang dari sutera merah berkembang itu dibuka sedikit dan semua mata, terutama mata si hidung besar sudah membelalak penuh gairah. Akan tetapi tiba-tiba Pusporini dengan gerakan yang cepat sekali mengebutkan ujung kemben itu ke arah muka si hidung besar.

"Tarr.... plakkkk!"

cerita silat online karya kho ping hoo

"Waduhhhh..... Aduh biyung...!" Sarudigdo si hidung besar itu mendekap hidungnya dengan tangan sambil mengaduh-aduh. Hidungnya yang besar terkena sambaran ujung kemben menjadi remuk dan berubah menjadi segumpal daging yang berdarah. Pusporini sambil tersenyum menyelipkan lagi ujung kembennya di pinggang.

"Iblisss.... jahananm.... kurang ajang....!" Sarudigdo memaki-maki dengan suara bindeng, kemudian ia menubruk dengan kedua lengan dipentang, seperti seekor harimau buas menubruk seekor domba. Namun Pusporini bukanlah domba betina yang lemah. Tubrukan itu mudah saja dielakkan dengan miringkan tubuhnya ke kiri, dan pada saat itu kakinya melayang naik sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.

"Siuuuuttt....ngekkkk!!" Ujung kakinya sudah bersarang ke dalam perut Sarudigdo.

Tubuh perwira ini memang kebal dan di antara kawan-kawannya ia terkenal sebagai seorang yang otot kawat balung wesi (urat kawat tulang besi), kulitnya juga tebal sekali. Akan tetapi karena tendangan itu amat kuatnya, biarpun kulitnya tidak apa-apa, akan tetapi isi perutnya terasa melilit-lilit seperti digiling atau ditusuk-tusuk seribu batang jarum karatan. la meringis-ringis mendekap perut dengan kedua tangan, terengah-engah dengan lidah terjulur keluar seperti seekor anjing kehausan, matanya mendelik dan sejenak ia lupa akan hidung besarnya yang remuk karena perutnya terasa lebih nyeri daripada hidungnya.

Kini ia tidak dapat memaki-maki dengan suara bindeng seperti tadi, melainkan hanya dapat mengeluarkan suara "nguuukkk.... nguuukkk...." seperti lutung ketakutan.

Maruto dan para anak buah pasukan yang disebut dengan nama garang Pasopati itu terbelalak. Hampir mereka tak dapat percaya bahwa seorang gadis cantik jelita seperti itu dapat merobohkan Sarudigdo dalam dua gebrakan saja. Padahal kedua orang itu, Sarudigdo dan Maruto adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama sendiri dan keduanya adalah bekas pentolan dari gerombolan Gagak Serayu!

"Perempuan iblis!" Maruto yang tadinya terbelalak itu membentak marah, golok besarnya terhunus dan cepat seperti angin menyambar ia telah menerjang maju, membacokkan goloknya ke leher Pusporini.

"...jangang... jangang... bunuh, tangkap untuk... untukku..." Sarudigdo masih dapat mengeluarkan kata-kata setelah mulas perutnya agak mereda. Melihat kesaktian Puspirini, nafsunya makin menggelora dan dia ingin memiliki wanita itu sebelum menyiksanya sekeji mungkin!

Akan tetapi Maruto tidaklah semata keranjang temannya dan dia sudah marah sekali, maka bacokannya itu dilakukan sepenuh tenaga dan tujuannya hanya satu, yaitu membunuh wanita ini. Joko Pramono hanya tersenyum memandang, siap menyerang apabila anggota-anggota pasukan itu maju mengeroyok. Akan tetapi para perajurit itu tidak berani maju tanpa komando. Biasanya, kedua orang pemimpin mereka itu tidak pernah terkalahkan, maka sekali ini pun mereka percaya bahwa Maruto tentu akan dapat membunuh gadis itu.

Pusporini tenang-tenang saja. Melihat golok berkelebat menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya sehingga golok menyambar dekat pundak, kemudian ia merendahkan diri secara otomatis dan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya menyodok ke depan, menggunakan Ajinya Pethit Nogo! Terdengar bunyi bercuit saking hebatnya tusukan jari dengan Aji Pethit Nogo yang kini telah mencapai kesempurnaannya berkat gemblengan Sang Resi Mahesapati.

Di dalam latihannya, dengan Aji Pethit Nogo ini, dari jarak satu meter Pusporini sanggup menggunakan angin pukulannya membuat air sungai terpecah dan muncrat-muncrat, dan sentuhan jari tangannya dapat membuat batu-batu gunung remuk menjadi bubuk! Batang pohon jati tua yang sudah keras seperti besi menjadi bolong-bolong kalau tercium jari-jarinya yang halus kecil dengan bentuk mucukbung (seperti rebung) itu.

Pusporini menyerang dengan Aji Pethit Nogo dari jarak satu meter sehingga jari-jari tangannya tidak menyentuh tubuh lawan. Memang ia tidak sudi menyentuhkan jari-jari tangannya pada tubuh laki-laki macam Maruto dan tadi pun ia menghajar hidung Sarudigdo yang baginya menjijikkan itu dengan tungkak kakinya! Akan tetapi, pukulan yang mengandung hawa sakti itu telah mengenai dada Maruto dan terdengarlah Maruto memekik keras, goloknya terlepas, tangan kirinya mendekap dada dan ia terjengkang roboh, berkelojotan dengan mata, hidung, mulut dan telinganya mengucurkan darah dan tewas seketika! Gegerlah para anak buah pasukan itu! Melihat kematian kawannya, Sarudigdo terkejut sampai lupa akan rasa nyeri di hidung dan perutnya.

"Serbu...! Bunguh...! Habiskan mereka...!!" teriaknya bindeng dan ia sendiri sudah menerjang dengan goloknya.

Karena sedikit banyak ia merasa gentar dan ngeri terhadap Pusporini, sekarang dia membacokkan goloknya kepada Joko Pramono yang masih berdiri tenang-tenang saja sambil tersenyum. Melihat datangnya golok ini, Joko Pramono sama sekali tidak mengelak dan setelah golok menyambar dekat, ia mengangkat tangannya memapaki golok dengan telapak tangan kosong! Sarudigdo girang sekali, mengira bahwa tangan pemuda itu pasti akan terbabat goloknya si dukun sampai putus. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika golok itu dapat dicengkeram tangan Joko Pramono yang dengan enaknya meremas golok itu menjadi patah-patah dan hancur berkeping-keping seperti orang meremas kerupuk saja!

Muka Sarudigdo yang sudah buruk sekali akibat hidungnya remuk itu, terbelalak dengan mata lebar dan pada saat itu, Joko Pramono menyambitkan remukan golok di tangannya yang seperti hujan menyambar ke arah muka yang buruk itu, amblas dan menancap masuk ke dalam dahi, mata, pipi dan mulut. Sarudigdo mengeluarkan suara seperti seekor kerbau disembelih, tubuhnya roboh dan kedua tangannya mencakar-cakar mukanya sendiri yang sudah penuh darah, kemudian berkelojotan dan mati dekat mayat Maruto.

"Rini, sudah kepalang tanggung, habiskan saja bedebah-bedebah ini!" kata Joko Pramono dan dua orang muda itu kini kembali berlomba.

Mereka berdiri saling membelakangi dan bersicepat merobohkan semua pengeroyok yang bersenjata golok dan tombak. Sepak terjang mereka seperti sepasang burung garuda menyambar-nyambar dan dari kedua telapak tangan mereka tersebar maut karena setiap kali telapak tangan bergerak menampar atau kaki berkelebat menendang, tentu ada pengeroyok yang roboh dan tewas!

Pasukan itu tadi disombongkan oleh dua orang pemimpinnya sebagai pasukan yang pantang mundur dan tidak mengenal takut, akan tetapi kini melihat betapa kawan-kawan mereka seperti mentimun melawan durian, ada dua orang di antara mereka yang terbirit-birit dan terkencing-kencing melarikan diri.

"Hemm, kalian hendak lari ke mana?" Pusporini berkata mengejek dan cepat memungut dua batang tombak yang berserakan di tanah, lalu bergerak hendak melontarkan dua. batang tombak itu ke arah dua orang yang hendak melarikan diri. Akan tetapi lengannya dipegang olehJoko Pramono dengan halus dan pemuda ini berkata,

"Jangan, Rini! Mereka tentu lari ke induk pasukan dan lebih baik kita mengikuti mereka. Kita sudah kelepasan tangan melibatkan diri dalam pertempuran dan sudah banyak membunuh anak buah para pengacau, tidak baik bekerja setengah-setengah kepalang tanggung. Mari kita selidiki keadaan induk pasukan mereka!"

Pusporini menoleh dan sejenak mereka berpandangan. Baru sekali ini selama mereka berkumpul, mereka melakukan pertempuran bersama-sama dan hasil pertandingan ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain. Perlahan-lahan sinar kemerahan yang membayangi wajah cantik itu dan memancar keluar dari sinar matanya, melunak dan akhirnya gadis itu tersenyum, senyum manis yang timbul dari lubuk hatinya, bukan seperti senyumnya kepada perwira Jenggala tadi yang merupakan senyum buatan untuk menyembunyikan kemarahan yang meluap-luap.

"Hampir aku lupa akan tugas kita..." kata Pusporini sambil membuang dua batang tombak itu, kemudian memandang ke arah mayat-mayat yang berserakan memenuhi tempat itu. Tujuh belas orang mati, termasuk si jenggot panjang dan si hidung besar, dan keadaan di situ sunyi sekali, sunyi yang mengerikan.

"Mari kita ikuti mereka!"

Sepasang orang muda yang perkasa ini lalu berkelebat meninggalkan tempat itu, mengikuti bayangan dua orang sisa pasukan Pasopati yang melarikan diri pontang-panting itu. Dari jauh mereka melihat dua orang itu lari terus, biarpun napas mereka telah kerenggosan hampir putus, dua orang itu tidak berani berhenti dan lari terus. Menjelang senja, barulah dua orang itu sampai di tempat tujuan dan ternyata mereka itu tidak lari ke induk pasukan seperti yang mereka sangka, melainkan lari memasuki sebuah rumah gedung yang berada di sebuah dusun, letaknya di pinggir.

Melihat adanya empat orang penjaga di pintu gerbang, Joko Pramono dan Pusporini dapat menduga bahwa rumah itu tentulah rumah seorang pembesar yang berkuasa, karena kalau hanya rumah seorang kepala dusun saja tidak mungkin dijaga empat orang pengawal yang pakaiannya indah seperti pengawal istana. Di pendopo luar tampak pondok sesajen yang seperti juga di dusun-dusun lain, dua orang muda itu melihat bahwa yang dipuja-puja oleh penghuni rumah gedung ini adalah Sang Bathara Shiwa. Dengan hati-hati mereka melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah itu, dan dengan hati-hati mereka menyelinap dan mengintai.

"Apa kau bilang? Pasukan Pasopati binasa semua oleh dua orang laki-laki dan wanita? Sungguh menggelikan!" bentak seorang laki-laki tinggi besar dan dengan sikap marah laki-laki ini mengelebatkan pedangnya yang panjang dan... "capp!" pedang itu amblas setengahnya ke dalam tiang rumah itu.

Laki-laki ke dua, yang juga tinggi besar, berdiri pula dari tempat duduknya, memandang penuh penghinaan kepada dua orang pelarian yang kini berlutut di lantai, lalu membentak, "Dan kalian tidak tahu nama mereka? Bahkan kalian berani meninggalkan pasukan membiarkan kawan-kawan tewas sedangkan kalian sendiri melarikan diri? Pengecut tak tahu malu! Beginikah perajurit-perajurit pilihan yang menjadi anggota pasukan Pasopati?"

Joko Pramono dan Pusporini yang mengintai, melihat bahwa dua orang laki-laki setengah tua yang marah-marah itu benar-benar kelihatan amat kuat, tidak saja hal ini terbayang pada tubuh mereka yang tinggi besar, akan tetapi juga gerak-gerik dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan ilmu kepandaian.

"Hamba... hamba berdua bukan melarikan diri karena takut... hanya ingin melaporkan hal itu kepada paduk..." kata seorang di antara mereka.

"Pengecut! Sama saja dengan menunjukkan tempat ini kepada musuh!" bentak orang yang berpedang dan cepat sekali tangannya sudah mencabut pedang di tiang tadi dan sekali pedang berkelebat, leher kedua orang itu telah terbabat putus! Gerakan pedang ini amat cepat dan mahir sekali, juga sekali babat membuntungi dua buah kepala menunjukkan tenaga yang amat kuat.

"Adi Kroda, kita harus cepat-cepat mengajak mereka berangkat dari sin!! Lekas kau persiapkan kuda dan memberi tahu Eyang Cekel Wisangkoro agar kita dapat cepat membawa pergi mereka. Karena dua orang itu adalah orang-orang Panjalu yang hendak merampas kedua orang tamu kita!"

"Engkau benar, Kakang Dwipa. Aku pergi!" kata kakek tinggi besar ke dua yang melangkah cepat keluar dari dalam ruangan itu.

Kakek pertama juga meninggalkan ruangan setelah memanggil dua orang pengawal dan memberi perintah menyingkirkan dua mayat tadi, dan tanpa diketahui kakek yang ahli bermain pedang ini, yang pergi sambil membawa pedang disarungkan di pinggang, Joko Pramono dan Pusporini mengikuti dengan jalan menyelinap dan berindap-indap melalui taman di luar gedung, dilindungi oleh kegelapan malam yang mulai tiba.

Dua orang kakek tinggi besar itu adalah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, dua di antara Lima Gagak Serayu, yaitu sisa dari tiga orang saudara mereka yang tewas ketika berperang melawan pasukan Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang kini telah menjadi patih muda di Panjalu. Dua orang Gagak Serayu ini masih mendendam kepada Panjalu dan telah mengumpulkan sisa gerombolan mereka kemudian mengabdikan dirinya kepada Wasi Bagaspati dan akhirnya memperoleh kedudukan sebagai kepala-kepala pasukan pengawal, menjadi hamba-hamba setia dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di Jenggala!

Seperti telah diketahui, Gagak Dwipa adalah seorang ahli pedang yang kuat sedangkan Gagak Kroda memiliki tubuh yang kebal. Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka kini sedang dibayangi oleh seorang muda yang sakti mandraguna, yang telah membasmi pasukan Pasopati yang menjadi anak buah mereka.

Gagak Dwipa memasuki ruangan dalam gedung itu dan dua orang muda yang elok bangkit berdiri menyambut kedatangannya. Gagak Dwipa segera menjura dengan penuh hormat kepada laki-laki muda yang tampan itu, juga kepada wanita cantik yang berdiri di sebelah kirinya lalu berkata,

"Mohon maaf, Gusti Pangeran, kalau hamba datang mengganggu Paduka berdua yang sedang beristirahat. Akan tetapi terpaksa hamba memberitahukan bahwa sekarang juga perjalanan harus dilanjutkan, harap Paduka berdua suka mempersiapkan diri."

Sementara itu, Pusporini yang mengintai di luar bersama Joko Pramono, tiba-tiba memegang lengan temannya itu. Ketika Joko Pramono merasa betapa jari tangan Pusporini yang memegang lengannya gemetar, ia cepat menengok dan alangkah terkejut hatinya ketika melihat wajah yang cantik itu menjadi pucat. Biarpun wajah itu hanya menerima penerangan suram-suram yang menyorot dari dalam gedung, namun Joko Pramono sudah mengenal betul wajah wanita ini dan ia segera memandang penuh pertanyaan. Pusporini mendekatkan mulutnya ke telinga temannya dan berbisik,

"Dia.... Setyaningsih...!"

Joko Pramono terkejut dan merasa heran sekali. Tentu saja ia sudah banyak mendengar penuturan gadis ini tentang keluarganya, maka nama Setyaningsih sudah dikenalnya baik-baik sebagai saudara tiri gadis ini dan adik kandung Endang Patibroto. Maka ia cepat memandang kembali ke sebelah dalam dan kini ia memandang wanita muda itu penuh perhatian. Ia melihat bahwa wanita itu sebaya dengan Pusporini dan amat cantik jelita, berkulit kuning langsat dan sinar matanya tajam berpengaruh, membayangkan kekerasan hati. Diam-diam ia menjadi kagum akan tetapi juga terheran-heran seperti Pusporini mendapatkan wanita itu berada di tempat ini dan seakan-akan menjadi tokoh penting yang dihormati kakek tinggi besar itu. Bahkan pemuda tampan yang berdiri di sebelah kanannya itu disebut gusti pangeran!

Melihat Pusporini seakan-akan tak dapat menahan kerinduan hatinya dan seperti hendak berseru memanggil, Joko Pramono cepat menyentuh lengan gadis itu dan menggelengkan kepala sambil member! Isyarat dengan telunjuk di depan mulut, minta gadis itu agar jangan mengeluarkan suara.

"Paman Dwipa, apa pula artinya ini?" Pemuda tampan yang disebut gusti pangeran itu berkata, alisnya yang hitam berkerut. "Telah dua hari kita mengadakan perjalanan dan isteriku lelah sekali, ingin beristirahat malam ini. Kita telah berada di wilayah Jenggala, di tempat sendiri, mengapa tergesa-gesa? Bukankah besok kita dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dan sore harinya dapat tiba di kota raja?"

"Mohon maaf, Gusti. Sesungguhnyalah apa yang Paduka katakan, akan tetapi telah terjadi hal-hal yang gawat. Hendaknya Paduka ketahui bahwa pada masa ini kita menghadapi banyak musuh yang dikirim oleh Panjalu..."

"Ah, betapa mungkin? Uwa Prabu di Panjalu..."

"Mungkin bukan oleh gusti sinuwun di Panjalu, akan tetapi semenjak pengkhianatan mendiang Patih Brotomenggala, kaki tangannya masih selalu berusaha mengacaukan Jenggala. Baru saja hamba mendapat keterangan bahwa ada beberapa orang mata-mata musuh yang akan menangkap Paduka berdua..."

"Eh? Aneh sekali! Aku dan isteriku berpakaian menyamar sebagai penduduk biasa, siapa mengetahui bahwa aku adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala dan ini isteriku?"

Ucapan ini kembali mengejutkan hati Pusporini sehingga di luar kesadarannya gadis ini memegang lengan Joko Pramono dan mencubitnya keras-keras!

Untung Joko Pramono dapat menahan diri, kalau tidak tentu ia akan memekik, bukan karena nyeri melainkan karena girang. Cubitan seorang gadis yang dicinta mendatangkan rasa nyeri yang sedap di hati!

"Ah, Paduka tidak tahu betapa pandai mendiang Patih Brotomenggala sehingga banyak kaki tangannya mendapat dukungan tokoh-tokoh di Panjalu. Maafkan hamba, demi keselamatan Paduka sendirilah terpaksa malam ini juga hamba akan mengiringkan Paduka berdua menuju ke kota raja. Setelah Paduka tiba di sana menghadap gusti sinuwun, baru akan legalah hati hamba dan akan bebas hamba daripada tanggung jawab yang berat..."

Pusporini dan Joko Pramono dapat menangkap isyarat yang terpancar keluar dari pandang mata Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit. Pangeran itu menarik napas panjang dan akhirnya berkata kepada Gagak Dwipa yang menundukkan muka dengan hormat,

"Baiklah kalau begitu, Paman. Engkau sudah begitu baik untuk mengantar kami, tentu saja kami akan menurut segala langkah yang kau ambil demi keselamatan kami."

Pada saat itu, masuklah Gagak Kroda. Setelah memberi hormat kepada pangeran muda bersama isterinya itu, ia lalu berkata kepada Gagak Dwipa, "Kakang Dwipa, kereta telah siap di luar."

Pangeran muda itu dan isterinya melangkah keluar dari gedung diikuti oleh kedua orang kakek tinggi besar. Sebuah kereta yang indah telah menanti di luar, dan berangkatlah suami isteri itu, dikawal oleh kedua orang kakek itu sendiri bersama tiga orang pengawal yang kelihatannya memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Joko Pramono dan Pusporini tetap mengikuti dari jauh. Mereka menggunakan aji kesaktian mereka sehingga lari mereka cepat sekali, tidak tertinggal oleh larinya kuda yang menarik kereta di sebelah depan. Sambil membayangi kereta itu dari jauh mereka bercakap-cakap.

"Sungguh aneh luar biasa!" kata Pusporini kemudian mengomel. "Mengapa kau melarang aku menjumpai Setyaningsih? Kau tidak tahu betapa rinduku kepadanya! Ingin sekali aku mendengar dari mulutnya sendiri bagaimana dia sampai bisa menjadi isteri seorang Pangeran Jenggala Luar biasa...!"

"Hemm, suaminya memang hebat. Seorang pangeran! Begitu tampan dan gagah! Wah, tentu kau akan dapat belajar dari dia bagaimana untuk dapat memancing hati seorang pangeran. Aku berani bertaruh, tentu akan banyak pangeran yang akan tergila-gila kepadamu!"

Tiba-tiba Pusporini berhenti dan memandang pemuda itu dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kemarahan. "Kau mendem (mabuk)!! Siapa ingin memancing hati pangeran? Apa maksudmu dengan ucapan gila itu?"

Joko Pramono terkejut dan merasa betapa rasa cemburu membuat ia kelepasan bicara. "Eh... ohh... maaf... aku... aku hanya bermaksud bahwa amat terhormat menjadi isteri pangeran... bahwa... bahwa aku seperti batu kerikil kalau dibandingkan dengan seorang pangeran yang seperti batu intan..."

"Wah, lebih gila lagi. Kau kira aku perempuan macam apa yang silau oleh ketampanan seorang pangeran? Jadi kau... kau cemburu...? Ceriwis kau! Genit kau! Cih, aku jemu! Sudahlah, aku tidak sudi bertemu dengan Setyaningsih...!" Gadis itu terisak, membalikkan tubuhnya dan lari pergi.

Sejenak Joko Pramono melongo, kemudian ia mengerahkan tenaga berlari cepat mengejar Pusporini. "Pusporini... berhentilah... ampunkanlah aku... berhenti...!"

Akan tetapi gadis itu berlari cepat sekali dan Joko Pramono menjadi bingung karena ia maklum bahwa kalau Pusporini tidak mau memperlambat larinya, tentu akan sukar baginya untuk menyusul dan tentu mereka tidak akan dapat mengikuti suami isteri dalam kereta itu.

"Pusporini...! Aku tobat minta ampun...! Tunggulah aku, mari kita mengejar mereka. Setyaningsih dan suaminya dalam bahaya...!

Mendengar kalimat terakhir itu, tiba-tiba Pusporini berhenti dan membalikkan tubuhnya. Pandang matanya berkilat dan pipinya basah air mata. Joko Pramono terkejut dan merasa menyesal sekali. Belum pernah ia melihat gadis itu menangis. Ia lalu melompat dekat dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!

"Pusporini... aku mengaku salah... aku telah gila, ampunkan aku! Ampunkan mulutku yang lancang, betapa gila aku pernah meragukan perasaanmu yang suci."

Pusporini tadinya marah sekali, akan tetapi melihat laki-laki yang dicintanya itu berlutut di depannya, ia menjadi terharu sekali. "Joko Pramono, bangkitlah. Tidak layak seorang pria berlutut di depan wanita. Kumaafkan engkau, akan tetapi jangan sekali-kali lagi bicara seperti tadi... kau telah menyayat hatiku."

Joko Pramono bangkit berdiri dan mereka berpandangan, penuh maaf dan penuh pengertian sehingga pandang mata mereka berubah mesra. Akhirnya Pusporini yang lebih dahulu menunduk dengan muka kemerahan.

"Apa maksudmu bahwa Setyaningsih terancam bahaya?"

"Aku tidak main-main. Aku mencurigai dua orang kakek itu. Tidak melihatkah engkau tadi Setyaningsih dan suaminya bertukar isyarat pandang mata? Tentu mereka itu tidak menjadi sekutu mereka, entah apa yang telah terjadi. Akan tetapi ada perasaan di hatiku seolah-olah mereka masuk perangkap."

"Ah, kalau begitu, kejar...!" Pusporini mendahului Joko Pramono dan berlari cepat sekali mengejar ke arah larinya kereta yang kini sudah tak tampak lagi.

Joko Pramono juga mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat. Di dalam hatinya terasa lega sekali karena ia merasa seolah-olah baru saja terhindar daripada malapetaka terbesar selama hidupnya!

Sebetulnya apa yang terjadi dengan Setyaningsih dan suaminya? Seperti telah kita ketahui, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih merupakan dua orang tokoh pasukan rahasia yang dipimpin Pangeran Darmokusumo dari Panjalu. Mereka ini bersama beberapa orang pengawal yang merupakan ahli-ahli penyelidik, menyelundup memasuki daerah Jenggala dan tugas mereka adalah mencari jejak Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis.

Lama mereka itu bersama anak buah mereka melakukan penyelidikan, namun tak seorang pun pernah mendengar nama Nini Bumigarba, apa lagi melihat nenek menyeramkan itu. Jejak nenek itu lenyap sama sekali dan mereka menjadi bingung karena tidak berhasil sedikit pun juga. Karena itu, Pangeran Panji Sigit dan isterinya lalu memisahkan diri dari para penyelidik dengan niat untuk memasuki Kota Raja Jenggala. Pangeran itu bertekad untuk menghadap ramandanya dengan resiko menghadapi musuh-musuh rahasia Kerajaan Jenggala. Akan tetapi dia merasa yakin bahwa hanya di istana sajalah ia akan dapat mendengar tentang nenek itu.

Dua hari yang lalu, ketika mereka sedang berjalan memasuki sebuah dusun, mereka bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda. Di antara anak buah pasukan ini terdapat pula seorang perajurit Jenggala yang tentu saja segera mengenal Pangeran Panji Sigit, sungguhpun pangeran itu menyamar dalam pakaian penduduk biasa. Ia cepat memberitahukan hal ini kepada kedua orang kakek itu yang cepat mengatur siasat.

Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah mendengar tugas rahasia dari Pangeran Kukutan bahwa kalau mereka mendengar akan adanya Pangeran Panji Sigit, mereka harus membawanya ke istana! Kiranya Pangeran Kukutan telah mendengar bahwa adik tirinya itu pernah datang menghadap ratu yang diasingkan, maka timbul rasa khawatir di hatinya. Ia merundingkan hal ini dengan Suminten yang segera bangkit seleranya, bangun nafsunya mendengar akan kembalinya Pangeran Panji Sigit.

Seorang wanita seperti Suminten ini, yang setiap hari berganti kekasih, akan menjadi bosan dengan pria-pria tampan yang dengan senang hati melayani segala kehendak dan nafsunya. Sebaliknya, ia akan merasa tersiksa dan menderita penyakit wuyung (rindu asmara) kalau ada pria yang menolak cintanya! Dan pria yang menolaknya, satu-satunya pria tampan yang menolaknya adalah Pangeran Panji Sigit.

Bukan ini saja. Orang pertama yang membangkitkan berahinya, yang menjadi cinta pertamanya namun yang tak sudi melayaninya adalah Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto yang pertama. Bahkan kasih tak terbalas inilah yang sesungguhnya membuat perubahan besar dalam hidup Suminten, yang membuat dia dari seorang abdi menjadi wanita yang paling berkuasa di seluruh Jenggala. Cinta kasihnya yang gagal terhadap Pangeran Panjirawit ini pulalah yang menjadikan dia seorang wanita pengabdi nafsu berahi yang keranjingan, seorang wanita yang haus akan cinta kasih yang tak pernah dapat memenuhi hatinya. Dan Pangeran Panji Sigit mempunyai wajah yang mirip dengan kakak tirinya itu!

Gagak Dwipa dan Gagak Kroda menjadi girang sekali dan cepat-cepat dia bersama pasukannya bersembah sujut memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit. Tentu saja pangeran muda ini menjadi terkejut sekali. Dia bersama isterinya sudah menyamar dengan pakaian penduduk biasa, namun ternyata pasukan itu mengenalnya. Terpaksa, untuk menyembunyikan tugas rahasianya yang berbahaya, ia pun menyatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang ke kota raja untuk menghadap ramandanya sang prabu di Jenggala.

Demikianlah, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih dikawal oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, naik sebuah kereta dan sampai di dusun itu di mana mereka beristirahat di sebuah gedung besar yang menjadi tempat peristirahatan para petugas Kerajaan Jenggala yang melakukan tugas berjaga dan menyelidili wilayah perbatasan.

Ketika dua orang kakek itu memaksa mereka melanjutkan perjalanan di waktu malam, hati Pangeran Panji Sigit dan isterinya menjadi curiga. Akan tetapi kalau mereka menolak, tentu kedua orang kakek itu mencurigai mereka, maka mereka menurut dan diam-diam mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Malam itu bulan purnama bersinar di angkasa yang bersih dan cerah sehingga kalau saja tidak digoda oleh kecurigaan yang membuat hati mereka tidak nyaman, tentu perjalanan itu merupakan perjalanan yang amat menyenangkan. Kanan kiri jalan yang bermandikan cahaya bulan keemasan amatlah sedap dipandang.

Sudah hampir dua jam kereta berjalan cepat dan tiba-tiba di sebuah jalan perempatan, kereta berhenti. Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih saling berpandangan kemudian mereka menyingkap tenda sutera penutup jendela kereta dan memandang keluar. Di bawah sinar bulan yang terang, tampak tiga orang penunggang kuda menghadang di depan kereta yang dihentikan.

Sejenak Pangeran Panji Sigit tertegun dan memandang penuh perhatian. Benarkah ucapan Gagak Dwipa bahwa ada orang-orang Panjalu yang hendak mengganggunya? Tidak mungkin! Kalau toh ada utusan dari Panjalu, tentu utusan itu adalah anggauta pasukan rahasia atau anak buah Pangeran Darmokusumo, atau juga anak buah Patih Tejolaksono.

Akan tetapi dia tidak mengenal mereka itu dan tampak olehnya bahwa tiga orang itu dipimpin oleh seorang kakek yang usianya sudah empat puluh tahun, berjubah kuning seperti pakaian pendeta, kakinya telanjang, rambutnya putih terurai sampai ke pinggang, mukanya kehitaman dengan hidungnya yang panjang berbentuk paruh burung kakatua, tubuhnya kurus tinggi.

"Pangeran Panji Sigit, kami atas nama kerajaan dan atas perintah gusti patih di Jenggala, ditugaskan menangkap Andika bersama wanita yang datang bersama Andika!" Kakek itu berkata, suaranya nyaring dan serak.

Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih cepat meloncat keluar dari kereta itu, berdiri dengan sikap siap. Sedikit pun mereka tidak menjadi gentar, apalagi Setyaningsih, dengan muka angkuh memandang kepada kakek itu, sinar matanya memancarkan kemarahan.

"Tidak mungkin! Mengapa pula Patih Jenggala hendak menangkap aku? Paman Dwipa dan Paman Kroda, apa artinya ini?" bentak Pangeran Panji Sigit.

Akan tetapi, dengan heran dan marah pangeran itu melihat betapa kedua orang kakek tinggi besar itu pun sudah melompat turun dan bergabung dengan tiga orang itu yang sudah melompat turun dari kuda masing-masing. Bahkan Gagak Dwipa tertawa mengejek lalu berkata,

"Pangeran Panji Sigit, ketahuilah bahwa paman ini adalah Paman Cekel Wisangkoro, kepercayaan dari Gusti Pangeran Kukutan. Sebaiknya Andika berdua menyerah saja agar dapat ditangkap secara terhormat, daripada harus dipergunakan kekerasan. Kalau gusti patih memerintah agar Andika ditangkap, tentu ada alasannya yang kuat!"

"Hemm, kiranya kalian berdua adalah orang-orang jahat yang sengaja hendak mencelakakan kami!" Tiba-tiba Setyaningsih berkata, suaranya dingin dan mengandung ancaman mengerikan. "Kakangmas Pangeran adalah putera gusti sinuwun di Jenggala yang hendak pulang ke istana ramandanya sendiri. Siapa pun tidak berhak menangkapnya!"

"Hemm, galak benar isteri pangeran ini! Kalian hendak melawan kami?" bentak Gagak Kroda yang wataknya berangasan.

Adapun lima orang yang tadi mengawal kereta, bersama dua orang perajurit yang bertugas memanggil Cekel Wisangkoro dan kini datang bersama kakek pendeta itu, telah maju mengurung Pangeran Panji Sigit dan isterinya.

"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, memang tadinya aku sudah curiga terhadap kalian. Semenjak kecil aku berada di Jenggala dan selalu aku melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal yang berjiwa satria, tidak seperti kalian orang-orang kasar melebihi gerombolan perampok. Kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak yang mengatur siasat untuk mencelakakan kami! Tunggu saja sampai aku menghadap ramanda prabu, pasti pengawal-pengawal palsu macam kalian ini akan dijatuhi hukuman mati!"

"Bodoh! Kenapa kalian melayani mereka bicara? Lekas tangkap!" Cekel Wisangkoro tak sabar lagi. "Gusti Pangeran Kukutan sudah tak sabar menanti!"

"Hayo tangkap mereka!" Gagak Dwipa memberi aba-aba kepada tujuh orang perajurit pengawal yang menjadi anak buahnya. Dia memandang rendah kepada pangeran yang halus sikapnya itu, juga isterinya yang cantik jelita dan lemah lembut, oleh karena itu ia memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan menangkap suami isteri itu.

Tujuh orang perajurit itu dengan penuh gairah lalu menubruk maju. Hanya dua orang yang menerjang Pangeran Panji Sigit, sedangkan yang lima orang lagi, yaitu mereka yang tadi mengawal kereta, seperti anjing-anjing kelaparan berebut tulang, telah berlomba menerkam Setyaningsih.

Mereka adalah orang-orang kasar, bekas anak buah gerombolan Gagak Serayu, orang-orang yang sudah biasa menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga sejak melihat Setyaningsih, sudah bergelora nafsu berahi mereka. Kini, mereka memperoleh kesempatan untuk menangkap, tentu saja mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekedar menggerayang dan meremas tubuh yang menggairahkan hati mereka itu.

Akan tetapi sungguh di luar dugaan mereka bahwa wanita muda cantik jelita itu bukanlah makanan empuk seperti yang mereka kira. Bahkan sebaliknya! Begitu mereka menubruk, Setyaningsih yang sejak tadi sudah menahan-nahan kemarahannya, sama sekali tidak mengelak, bahkan menyambar mereka dengan tamparan-tamparan sakti.

"Wuut-wuut... plak-plak-plak...!" Tiga di antara lima orang itu terpelanting dan memegangi kepala yang serasa akan pecah!

Muka mereka bengkak-bengkak membiru akibat pukulan yang dikerahkan dengan Aji Gelap Musti yang pernah dipelajari dari ayundanya yaitu Endang Patibroto ketika ia berada di puncak Wilis!

Mereka semua terkejut setengah mati. Lima orang itu adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, bertubuh kebal, namun sekali gebrakan saja Setyaningsih telah merobohkan tiga orang yang agaknya takkan dapat bangkit lagi cepat-cepat. Mereka ini, dua orang perajurit yang lain menjadi gentar, akan tetapi juga marah. Mereka ini menerjang maju, tidak untuk menggerayang tubuh, melainkan untuk memukul roboh dan menangkap wanita perkasa itu dengan kekerasan.

Pangeran Panji Sigit mungkin tidak seganas isterinya, juga tidak sesakti isterinya. Akan tetapi, pangeran ini telah pula menerima gemblengan dan petunjuk Ki Datujiwa, maka menghadapi dua orang perajurit pengawal itu tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya. Dengan cekatan sekali pangeran muda ini mengelak dari setiap sergapan, cengkeraman atau pukulan, kemudian ia pun membalas dengan pukulan-pukulannya yang cukup ampuh.

Berbeda dengan Pangeran Panji Sigit yang sifatnya memang pemurah dan betapapun juga tidak ingin membunuh ponggawa kerajaan ramandanya sendiri, Setyaningsih yang sudah marah sekali itu kini mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dan terjangan kedua orang perajurit itu pun ia sambut dengan pukulan-pukulan Pethit Nogo!

"Werrr.... plak-plak...!" Dua orang perajurit itu roboh terjengkang dan tubuh mereka berkelojotan, tak mampu bangkit kembali...

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 32