Perawan Lembah Wilis Jilid 22

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 22

"SERAHKAN saja kepadaku. Endang Patibroto bukanlah seorang lawan yang boleh dipandang ringan. Dalam kedigdayaan, mungkin dia lebih berbahaya daripada Tejolaksono sendiri. Kita harus berhati-hati, karena bukankah sang wasi telah berpesan agar kita menghemat tenaga dan tidak lagi menggunakan kekerasan? Kita tahu bahwa Endang Patibroto berbeda dengan Tejolaksono. Wanita itu ganas dan keras hati, beberapa kali menimbulkan geger di kedua kerajaan, tidak setia seperti Tejolaksono, malah dia adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro yang menjadi datuk golongan hitam. Alangkah baik dan menguntungkan kalau kita dapat menempel dan membujuknya. Selain itu, tentu dalam sayembara tanding yang diadakan kita akan bertemu banyak orang pandai. Kesempatan sebaik ini tidak harus dilewatkan saja. Akan besar jasa kita kalau kita berhasil membujuk mereka menjadi sekutu, maka kita harus bersikap halus, tidak menggunakan kekerasan."

"Bagaimana kalau tidak berhasil?" tanya Ki Kolohangkoro yang tidak biasa bersikap halus dan selalu haus darah ini.

"Kita lihat saja nanti dan serahkan semua akal kepadaku."

Setelah Ki Kolohangkoro menerima banyak petunjuk dari Ni Dewi Nilamanik, akhirnya kedua orang ini dengan gerak cepat mereka mendaki Gunung Wilis dari lereng sebelah timur. Pagi itu mereka sudah memasuki hutan dan terus mendaki. Gerakan mereka amat menyeramkan karena tidak seperti manusia lumrah, seperti setan penghuni hutan saja, seolah-olah kedua kaki mereka tidak menyentuh tanah. Ketika mereka tiba di lereng yang tinggi, keduanya berhenti karena Ki Kolohangkoro menunjuk ke arah utara. Mereka memandang sambil berdiri di atas puncak kecil itu, di daerah yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.

"Lihat, Bunda Dewi. Banyak sudah orang berkumpul di sana!" Si raksasa menudingkan telunjuknya.

"Kau benar. Akan ramai agaknya sayembara ini. Lihat, gerakan merekapun tangkas. Banyak pemuda-pemuda yang tampan... hemmm..."

"Wah, Bunda akan banyak senang, akan tetapi aku...?"

"Hushhh, siapa ingin bersenang-senang? Apakah kalau aku melihat pemuda tampan harus mendapatkannya? Dan kau boleh menahan nafsu dulu, Kolohangkoro. Kita menghadapi tugas penting sekali. Kalau berhasil akalku menarik Endang Patibroto dan orang-orang sakti sebagai sekutu, hal itu baik sekali. Andaikata tidak berhasil, barulah kita mencari akal untuk membalas dendam kepada Endang Patibroto atas kematian Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko!"

"Ha-ha-ha! Bicara itu mudah, namun pelaksanaannya yang sukar!"

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali dan bagaikan disambar petir mereka cepat meloncat dan membalikkan tubuh. Tahu-tahu di belakang mereka telah berdiri seorang laki-laki yang bertolak pinggang dan tersenyum-senyum. Karena terkejut melihat betapa ada orang mengintai dan mendengarkan percakapan tadi, Ni Dewi Nilamanik tidak membuang waktu lagi, melainkan cepat menubruk maju mengirim pukulan dengan tangan kirinya yang ampuh.

"Desss...!"

Dewi Nilamanik menahan pekik karena sakit dan kaget. Pukulannya telah ditangkis dan ternyata lengan tangan orang itu ampuh sekali, membuat ia terlempar ke belakang sampai tiga tombak lebih, sedangkan orang itu hanya terhuyung sedikit sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, sungguh nama Ni Dewi Nilamanik bukan nama kosong belaka! Selain sakti mandraguna, juga amat cantik jelita seperti bidadari kahyangan, ha-ha-ha!"

Merah wajah Ni Dewi Nilamanik. Ucapan orang ini bukan seperti seorang musuh. Ia menahan kemarahan dan memandang penuh perhatian. Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah sekali dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapih. Sepasang matanya tajam dan penuh kecerdikan dengan kerling yang menyambar-nyambar. Pakaian yang menutupi tubuhnya indah dan mewah, sedangkan tubuh laki-laki itu juga tegap dan kekar namun gerak-geriknya halus seperti seorang bangsawan. Seorang pria yang sudah "matang", dan sekaligus hati Ni Dewi Nilamanik tertarik. Laki-laki ini jelas memiliki kedigdayaan, tampan dan gagah, kaya dengan pengalaman, pandai merayu. Benar-benar merupakan seorang calon sahabat baik dan menyenangkan!

Akan tetapi Ki Kolohangkoro tak dapat menahan kemarahannya lagi. Jelas bahwa orang ini penyelidik musuh dan sudah berani menghina Ni Dewi Nilamanik. Sambil mengeluarkan gerengan keras Ki Kolohangkoro sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya yang sebesar buah kelapa, menyambar ke arah kepala laki-laki itu.

"Werrrr....!"

Dengan amat mudahnya laki-laki itu mengelak, kemudian dari bawah tangannya dengan jari-jari terbuka menyambar ke arah siku lengan Ki Kolohangkoro yang memukul. Raksasa ini kaget, maklum bahwa sambungan sikunya terancam bahaya, maka cepat ia menarik kembali lengannya dan melindunginya dengan tangkisan lengan kiri didorong ke depan.

"Dukkk...." Dua buah tangan yang sama kuatnya bertemu, saling dorong dan akibatnya tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang dan hampir roboh kalau saja kakek raksasa yang digdaya ini tidak cepat meloncat ke belakang. Laki-laki itu bertolak pinggang dan tertawa.

"Ha-ha-ha, Ki Kolohangkoro, engkaupun hebat dan kuat!"

Ki Kolohangkoro kaget. Orang ini sudah mengenal Ni Dewi Nilamanik dan dia. Juga tenaganya amat kuat. Musuh yang tangguh ini perlu cepat-cepat ditewaskan sebelum mendatangkan bahaya. Maka cepat ia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang nenggala yang menyeramkan, kemudian menubruk maju sambil mengeluarkan suara menggereng.

Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik hendak mencegah, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia ingin melihat sampai di mana kehebatan laki-laki ini sebelum ia mengambil keputusan untuk menjadikannya teman atau lawan. Ia hanya berdiri tenang dan diam-diam telah mengeluarkan kebutannya, dipegang di tangan kanan, siap-siap membantu temannya kalau sampai terdesak.

"Bagus! Akupun memang ingin menguji kalian!" laki-laki itu berkata lagi, masih tersenyum-senyum dan begitu nenggala itu menerjang dengan sebuah tusukan ke arah dadanya, ia cepat miringkan tubuh sambil mencabut sebatang keris dari pinggangnya. Gerakan orang itu cepat bukan main, tahu-tahu tubuhnya yang miring sudah meloncat ke atas dan turun ke sebelah kanan Ki Kolohangkoro, kerisnya menusuk lambung dengan cepat dan mendatangkan angin dingin. Ki Kolohangkoro bukan seorang lemah, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka sambil memutar tubuh ke kanan, nenggalanya bergerak menangkis keris lawan yang meluncur ke arah lambung.

cerita silat online karya kho ping hoo

"Tranggg....!" Bunga api berpijar, keris dan nenggala terpental ke belakang, meluncur maju lagi dan bertemu lagi mengakibatkan suara nyaring berkali-kali, "trang.... trang.... cring....!" Dan bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata.

Ki Kolohangkoro terkejut dan juga penasaran. Senjatanya adalah senjata wasiat yang ampuh, pula amatlah berat. Sebaliknya, senjata lawan hanya sebatang keris yang ringan. Bagaimana setiap kali beradu, tangannya yang memegang nenggala menjadi amat panas telapaknya dan lengannya seolah-olah akan lumpuh? Ia makin marah dan sambil menggereng-gereng la memutar nenggalanya, menerjang lawan dengan gerakan cepat dan kuat.

Namun, ternyata lawannya itu memiliki keringanan tubuh yang mentakjubkan. Tubuh itu berkelebatan seperti burung srikatan terbang saja, tak pernah dapat tersenggol ujung senjata nenggala. Sebaliknya, setiap kali Ki Kolohangkoro berseru kaget karena tahu-tahu keris lawan sudah dekat sekali dengan tubuhnya dan hanya karena kewaspadaannya saja ia berhasil menghindar. Dengan kemarahan meluap Ki Kolohangkoro menubruk maju, mengirim serangan dahsyat, nenggalanya meluncur ke arah dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram mengikuti gerakan nenggala.

"Bagus....!" Laki-laki itu masih dapat tersenyum tenang, tubuhnya miring kemudian pada saat kerisnya menangkis nenggala, kakinya terayun keduanya, susul-menyusul, yang kanan menangkis cengkeraman tangan lawan, yang kiri menendang dan tepat mengenaI pergelangan tangan kanan lawan membuat nenggala itu terlepas dan terlempar karena Ki Kolohangkoro merasa tangan kanannya lumpuh!

"Kepandaianmu hebat, Ki Kolohangkoro, andika patut menjadi sahabat dan sekutuku!" kata laki-laki itu.

Akan tetapi Ki Kolohangkoro marah sekali. Wajahnya yang seperti wajah raksasa liar itu menjadi merah, matanya yang lebar melotot dan tiba-tiba tubuhnya merendah, seperti berjongkok, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri, seluruh tubuh menggigil dan dari dalam perutnya keluar suara aneh, seperti suara tangis anak kecil.

Melihat ini laki-laki itu tercengang dan mundur dua langkah. Sedangkan Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali dan cepat ia maju. Wanita ini maklum bahwa Ki Kolohangkoro sudah menjadi nekat dan hendak mempergunakan ajinya yang baru, yaitu Aji Kolokrodo yang sedang dilatihnya, hasil dari ajaran Sang Wasi Bagaspati. Untuk menyempurnakan Aji Kolokrodo inilah maka Ki Kolohangkoro suka makan bocah hidup-hidup, diminum darahnya dan diganyang dagingnya!

Ni Dewi Nilamanik maklum betapa dahsyatnya ilmu ini, dan karena belum dilatih sempurna, maka kalau gagal, berarti akan menewaskan Ki Kolohangkoro sendiri. Cepat ia meloncat maju ke depan Ki Kolohangkoro dan berkata halus,

"Kolohangkoro, simpanlah kembali ajimu dan jangan menurutkan nafsu amarah yang hanya akan merugikan dirimu sendiri. Biarlah aku menghadapi orang ini." Di dalam kehalusan suara Ni Dewi Nilamanik terkandung wibawa yang menggetar dan menyadarkan Ki Kolohangkoro yang dapat menekan perasaannya. Sambil bersungut-sungut raksasa ini kembali bangkit, memungut nenggalanya dan mundur berdiri di pinggir.

Ni Dewi Nilamanik melangkah maju dan menghadapi laki-laki itu dan berkata, suaranya halus, diiring kerling tajam dan senyum manis, "Eh, satria perkasa, siapakah nama andika yang sudah mengenal kami dan apa pula kehendakmu menghadang perjaIan kami?"

"Ni Dewi Nilamanik yang cantik manis, namaku adalah Raden Warutama, tempat asalku dari Bali-dwipa. Aku tidak berniat buruk terhadap andika berdua, melainkan tadi mendengar akan percakapan kalian yang cocok sekali dengan hasrat hatiku, maka aku ingin berkenalan dan bersahabat dengan kedua orang sakti mandraguna seperti kalian."

"Hemmm, tidak saja engkau digdaya, Raden Warutama, juga engkau pandai sekali bicara, kata-katamu mengelus hati melalui telinga. Kami tidak tahu sesuatu tentang andika, sebaliknya apakah yang andika ketahui tentang kami?"

Laki-laki yang bernama Raden Warutama itu tertawa dan tampak deretan giginya yang masih utuh, kuat dan putih mengkilat. "Ni Dewi, biarpun aku seorang bodoh, seorang pengembara yang sedang berkelana, namun sudah banyak aku mendengar akan segala peristiwa di dunia ini. Bukankah andika berdua ini adalah pemimpin-pemimpin dari barisan yang datang dari Cola, dibawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati, yang baru-baru ini berperang melawan Kerajaan Panjalu dan dikalahkan? Bukankah andika berdua kalah dalam perang melawan Adipati Tejolaksono? Ahhh, tentu saja kalah karena untuk dapat berhasil seharusnya menggunakan cara yang halus..."

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali. Kiranya orang ini benar-benar telah mengenaI mereka dan tahu pula akan keadaan mereka. Ni Dewi Nilamanik maklum akan bahayanya orang ini, maka ia cepat mengerahkan ajinya, memasang aji Guna Sakti untuk menguji dan kalau mungkin mengalahkan orang ini agar tunduk di bawah pengaruhnya.

Dengan kerling mata yang mengelus hati dan senyum yang manis mengalahkan madu, suaranya halus menggetar penuh hawa sakti yang mengandung aji guna-guna, Ni Dewi Nilamanik berkata,

"Duhai sang bagus yang perkasa, andika benar-benar amat mengagumkan hatiku! Sudah dua kali andika mendebar-debarkan jantungku dengan menyebut aku orang wanita yang cantik jelita dan manis. Benarkah itu, Raden Warutama? Pandanglah wajahku baik-baik. Benarkah aku cantik jelita? Pandang mataku, lihat baik-baik, tidakkah andika melihat sesuatu dalam sinar mataku? Tidakkah melihat cinta kasih..."

Raden Warutama memandang, tersenyum dan mengangguk. "Andika memang cantik jelita, matamu hebat..."

"Aduh, Raden.... adakah andika mencintaku...?"

Kembali Warutama tersenyum lebar. "Alangkah mudahnya mencinta seorang wanita seperti andika..."

"Engkau mencintaku?"

"Aku mencintamu."

Diam-diam hati Ni Dewi Nilamanik girang bukan main, juga bangga. Betapapun saktinya lawan, kalau dia itu seorang pria, jarang yang akan mampu melawan aji pengasihannya dan jelas bahwa laki-laki inipun sudah tercengkeram oleh ajinya yang ampuh.

"Raden Warutama, kalau benar engkau mencintaku, tentu engkau akan suka melakukan segala permintaanku, bukan? Engkau akan tunduk kepadaku? Melakukan segala perintahku?"

Warutama menunduk dan mengangguk. "Tentu, kalau saja perintah itu menyenangkan, misalnya.... diperintah menciummu!"

Ihh, dasar laki-laki pemogoran, demikian Ni Dewi Nilamanik mengumpat di dalam hatinya. Sudah terpengaruh juga masih ceriwis! Akan tetapi ia tetap tersenyum dan memperkuat getaran aji pengasihan Guna Saktinya....

"Tentu saja boleh! Orang mencinta tentu boleh mencium. Dan kau boleh menciumku, Raden Warutama, akan tetapi sesudah mencium engkau harus berlutut menyembah di depan kakiku, mengerti?"

Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk sambil melangkah maju. Ni Dewi Nilamanik menjulurkan mukanya, agak berpaling, memberikan pipi kirinya.

"Nah, kau boleh mengambung pipi kiriku, lalu berlututlah, Raden Warutama! Engkau akan menurut segala perintahku!"

Perintah ini dikeluarkan dengan suara menggetar penuh hawa sakti yang akan menundukkan hati setiap orang pria. Warutama melangkah makin dekat, lalu memeluk tubuh Ni Dewi Nilamanik yang ramping dan padat, kemudian ia menundukkan mukanya mencium mulut wanita itu dengan mesra dan penuh nafsu!

Kagetlah Ni Dewi Nilamanik. Gerakan ini sama sekali bukan gerakan orang yang telah tunduk dan terpengaruh aji pengasihan! Cepat ia menggerakkan kedua tangan hendak mendorong, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh Warutama dan sama sekali tidak dapat ia gerakkan lagi!

Ia hendak meronta dan berseru, akan tetapi mulutnya telah tercium, bibirnya tergigit mulut Raden Warutama sehingga ia hanya dapat menahan nafas dan terpaksa mandah saja membiarkan laki-laki itu menciumnya sepuas hatinya. Sampai terengah-engah Ni Dewi Nilamanik ketika Warutama melepaskan ciumannya, lalu menatap wajahnya dengan pandang mata yang tajam melebihi ujung pedang dan yang mengandung sinar aneh sekali, langsung menembus jantungnya. Terdengar oleh Ni Dewi Nilamanik bisikan-bisikan mesra laki-laki itu dan suaranya halus penuh getaran hawa sakti,

"Ni Dewi Nilamanik, kau telah membuktikan betapa kuatnya aku, betapa nikmatnya ciumanku, engkau jatuh cinta kepadaku dan akan melakukan segala perintahku. Beranikah engkau menyangka!? Engkau mencintaku, bukan?"

Bagaikan telah luluh semua kemauannya, Ni Dewi Nilamanik yang memandang wajah pria itu dari balik bulu matanya yang setengah terpejam, mengangguk.

Raden Warutama tertawa dan melepaskan pelukannya. "Ni Dewi yang manis, kekasihku kau berlutut dan menyembahlah kepadaku!"

Ni Dewi Nilamanik menjatuhkan diri berlutut di depan Raden Warutama yang tertawa bergelak. Ia hendak menyembah, akan tetapi Ki Kolohangkoro sudah meloncat maju dan membentak keras, "Bunda Dewi! Sadarlah, andika terkena guna asmara!!"

Bentakan Ki Kolohangkoro bukanlah sembarang bentakan, melainkan bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga batin sehingga mengandung getaran amat kuat. Ni Dewi Nilamanik tersentak kaget, membuka matanya dan ketika ia melihat betapa ia berlutut di depan kaki Raden Warutama yang tertawa bergelak, ia memekik nyaring dan melompat bangun, cepat mencabut bulu merahnya dan hendak menerjang maju. Akan tetapi Raden Warutama sudah mendahuluinya, cepat menyambar dan memegang ujung kebutan sambil berkata, suaranya berbeda dengan tadi, kini berpengaruh dan sungguh-sungguh,

"Ni Dewi Nilamanik! Hentikan main-main ini terhadap aku! Engkau tahu bahwa aku bukan sembarang orang yang boleh dibuat main-main. Sudah kubuktikan bahwa aku tidak kalah olehmu dalam kesaktian. Juga andika, Ki Kolohangkoro, simpan senjatamu dan mari bicara secara baik-baik. Kalau kalian berkeras, biarpun aku belum tentu akan mudah menang, akan tetapi jangan harap andika berdua akan mudah mengalahkan Raden Warutama! Kesudahannya kita bertiga akan rugi, apalagi kalau ketahuan oleh Endang Patibroto. Mari kita bicara secara sahabat, maukah?" Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro saling pandang. Warutama lalu memberi isyarat, "Mari ikut bersamaku, kita bicara di tempat sembunyi agar jangan terlihat dan terdengar orang lain."

Pergilah mereka berdua mengikuti laki-laki perkasa itu memasuki semak-semak dan tak lama kemudian mereka sudah bercakap-cakap di dalam sebuah guha yang terdapat di balik semak-semak itu. Mereka bicara dengan serius sambil berbisik-bisik.

"Ketahuilah kalian, aku bukanlah lawan kalian, melainkan sekutu karena kita mempunyai hasrat yang sama sungguhpun dengan alasan lain. Kalian ingin membujuk Endang Patibroto menjadi sekutu menghancurkan Panjalu dan Jenggala? Akupun ingin mendapatkan Endang Patibroto si janda jelita perkasa itu sebagai kekasih! Kalian ingin membunuhnya kalau gagal? Demikian pula aku yang mendendam kepadanya! Kalian ingin melaksanakan tugas atasan kalian untuk menjatuhkan kerajaan-kerajaan keturunan Mataram? Aku juga! Dan kini tiba saatnya untuk kita bergerak. Akan tetapi, kalian harus selalu menurut dan tunduk atas petunjuk-petunjukku..."

Melihat kedua orang itu mengerutkan kening, Raden Warutama cepat menyambung, "Harap kalian jangan ragu-ragu, Aku lebih mengetahui keadaan Endang Patibroto, aku lebih mengetahui pula keadaan kerajaan-kerajaan itu. Menggunakan kekerasan terhadap Endang, amat berbahaya dan takkan berhasil. Tak usah kau berkecil hati, Ki Kolohanghoro. Ketahuilah, dahulu kakak seperguruan andika, mendiang Wiku Kalawisesa, adalah seorang pembantuku pula."

Mendengar ini, kedua orang ini makin percaya. Apalagi setelah kini Ni Dewi Nilamanik yakin bahwa pria ini benar-benar menarik, selain pandai dan tampan, juga ahli dalam soal-soal yang disukainya, yaitu bermain cinta.

"Raden Warutama, katakanlah bagaimana rencanamu, kalau memang baik tentu kami tidak akan berkeberatan untuk membantumu." Warutama bangkit kembali kejenakaan dan kenakalannya terhadap wanita.

"Andika memang cantik manis, Dewi, dan aku percaya, di antara kita berdua pasti akan dapat dibangun kerja sama yang mesra dan erat, yang akan membawa kita berdua ke arah hasil gilang-gemilang di kemudian hari. Percayalah, aku Raden Warutama adalah seorang yang sudah tergembleng bertahun-tahun, sudah mengunjungi semua pendeta-pendeta sakti di Bali-dwipa untuk memperdalam ilmu, dan ketahuilah pula, bahwa aku adalah keturunan dari mendiang Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna."

"Ahhh....???" Kedua orang itu terkejut sekali, akan tetapi Raden Warutama tidak memberi kesempatan mereka mengeluarkan kata-kata.

"Nenekku adalah adik misan Ki Patih Narotama, akan tetapi sudahlah, hal itu tidak ada pentingnya dibicarakan. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita dapat menundukkan Endang Patibroto. Jangan lupa, dia itu sakti luar biasa. Aku mengenal segala ilmunya yang dahsyat. Aji Pethit Nogo dan Wisangnala yang menyeramkan, apalagi pukulan Gelap Musti yang mengerikan. Belum lagi panah tangan yang beracun dan semua itu ditambah gerakan-gerakannya yang amat lincah. Dalam hal kesaktian, dia tidak berada di sebelah bawah tingkat Adipati Tejolaksono. Karena itu, kita harus mempergunakan akal. Syukur-syukur kalau selain dapat membujuknya, juga dapat menarik sebagian orang-orang gagah yang memasuki sayembara agar suka menjadi sekutu kita."

"Bagaimana siasatmu, Raden?" tanya Kolohangkoro yang diam-diam bergidik ngeri juga mendengar akan kesaktian Endang Patibroto, pemimpin Padepokan Wilis yang sudah lama ia dengar namaya itu. Apalagi kalau ia teringat bahwa Endang Patibroto adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro, belum apa-apa tengkuknya sudah terasa tebal dan mengkirik.

"Kita harus dapat bersabar dan melihat gelagat. Sebaiknya kalau kita turun tangan sebelum sayembara diadakan tiga hari lagi. Kalian temuilah Endang Patibroto di puncak, dan cobalah kalian membujuknya untuk suka bekerja sama. Bangkitkan hatinya, ingatkan kepadanya akan perlakuan Jenggala terhadap dirinya agar ia timbul rasa marah kepada Jenggala. Ingat, sasaran yang paling lunak adalah Jenggala. Panjalu merupakan negara yang kuat tidak boleh dibuat main-main, apalagi Tejolaksono berada di sana. Sebaiknya kita mencurahkan perhatian kepada Jenggala yang pada dewasa ini sedang lemah sekali dan aku kelak akan mencari jalan untuk mendapatkan kedudukan dan pengaruh di sana. Nah, kalau dia terpikat dan suka bersekutu, syukurlah dan kita akan menentukan sikap dan siasat selanjutnya."

"Kalau dia menolak?" tanya Ni Dewi Nilamanik.

"Kalau dia menolak, kita harus dapat mengambil keuntungan pula dari penolakan ini. Kalian tantang dia bertanding dan aku akan muncul membantunya!"

"Hah...!" Ki Kolohangkoro melompat ke atas, memandang marah.

Raden Warutama mengangkat tangannya dan tersenyum. "Duduklah, Ki Kolohangkoro dan simpan dulu kemarahanmu. Aku membantunya hanya siasat belaka. Tentu saja akan kuusahakan agar kalian berdua lolos dan selanjutnya aku yang akan membujuk-bujuknya. Tentu lebih mudah bagiku setelah aku membantunya melawan kalian. Malamnya, aku datang ke tempat ini dan kalian harap menanti di sini."

Ni Dewi Nilamanik mengangguk-angguk, juga Ki Kolohangkoro mulai mengerti dan diam-diam mereka merasa kagum bukan main orang ini. Siasatnya demikian halus, akan tetapi seperti sebatang pedang yang tajam pada kedua pinggirnya. Kalau bujukan berhasil berarti untung, atau ditolakpun dapat untung.

"Kapan kami berdua harus menjumpainya?" tanya Ni Dewi Nilamanik, suaranya jelas mengandung kepercayaan sepenuhnya.

"Jangan sekarang. Nanti saja menjeang senja kita mendaki puncak dan berpencar sehingga andaikata gagal dan terpaksa kalian bertanding, akan mudah untuk meloloskan diri di dalam gelap," kata Raden Warutama sambil meraih lengan Ni Dewi Nilamanik yang mandah saja sehingga tubuhnya roboh di pangkuan Raden Warutama yang memeluknya.

"Senja nanti masih terlalu lama. Sekarang masih pagi," Ki Kolohangkoro membantah.

"Memang masih banyak waktu. Aku dan Dewi hendak bercakap-cakap mempererat perkenalan. Kalau andika lapar di hutan ini banyak kancil dan kijang, boleh sekalian tangkap dan bakar dagingnya untuk kami," kata Raden Warutama sambil mendekap dan mencium Ni Dewi Nilamanik yang membalas belaiannya dengan senyum gembira. Laki-lakI ini benar-benar menyenangkan hatinya. Tampan, gagah perkasa, juga penuh wibawa, pandai pula merayu.

Ki Kolohangkoro bersungut-sungut, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu bangkit dan tak lama kemudian ia menyusup semak-semak, meninggalkan kedua orang itu yang sedang bercinta dengan mesra. Tentu saja seorang yang sakti seperti Ki Kolohangkoro, dengan mudahnya dapat membunuh seekor kijang besar, kemudian merobek tubuh binatang itu dan membakar dagingnya. Untuk memuaskan nafsunya, Ki Kolohangkoro menjilat-jilat darah kijang dan mengunyah daging mentah yang dipilihnya dari bagian yang paling lunak. Agak redalah kekesalan hatinya melihat dua orang itu bermesraan tanpa memperdulikan dirinya, dan daging mentah serta darah kijang itu membangkitkan semangatnya kembali.

********************

Endang Patibroto berada di taman bunga di puncak Wilis bersama puterinya. Retno Wilis telah berusia hampir enam tahun, dan anak ini benar-benar amat luar biasa. Sudah jelas tampak betapa tubuhnya padat dan di balik kulitnya yang kuning halus itu membayang urat-urat membaja. Terutama sekali keluar biasaannya tampak pada sinar matanya yang jernih namun tajam bagaikan dapat menembus dada setiap orang yang dipandangnya. Wajahnya cantik manis dan mungil sekali, namun jelas pula tampak membayang kekerasan hati dalam tarikan bibir dan lekuk dagunya seperti yang dimiliki Endang Patibroto.

Taman itu indah bukan main. Taman alam yang hanya diatur dengan penambahan tanaman bunga di sana sini oleh Endang Patibroto dan Setyaningsih. Pada saat itu, Endang Patibroto sedang melatih puterinya. Latihan yang amat berat dan amat aneh. Retno Wilis tengah berdiri tegak di depan ibunya, yang juga berdiri menghadapi puterinya itu, di bawah sebatang pohon nangka yang besar.

"Retno, mulai senja hari ini sampai semalam suntuk, kau harus berlatih samadhi seperti seekor kalong. Tahukah engkau apa yang harus kau lakukan?"

Bocah ini mengangguk. "Seperti yang ibu ajarkan, aku harus menggantungkan kaki di cabang pohon, menggantung dan melemaskan seluruh urat di tubuh, menyatukan semua pikiran dan perasaan, memusatkannya di pusar dan...."

"Cukup. Baik kalau kau masih ingat semua. Ketahuilah bahwa bertapa seperti ini merupakan tapa brata yang amat berat, namun mengandung kemujijatan luar biasa dan amatlah gaib. Seorang manusiapun harus bertapa seperti itu dalam kandungan ibu sebelum dapat terlahir sebagai manusia. Ulatpun baru dapat menjadi kupu setelah bertapa secara menggantung. Maka, latihan samadhi dengan menggantung ini hebat sekali hasilnya, Anakku. Tekunlah engkau berlatih agar kelak engkau menjadi pendekar yang tiada bandingnya di seluruh jagat ini! Ingat apapun yang terjadi malam ini, sebelum aku menyadarkanmu, engkau tidak sekali-kali boleh melepaskan samadhimu. Mengerti?"

"Baik, Ibu. Akupun ingin sekali menjadi wanita paling sakti di dunia ini, seperti ibu!"

"Ahhh, tidak seperti ibu, Retna Wills, melainkan jauh lebih sakti daripada ibumu."

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto menyambar lengan puterinya dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah meloncat ke atas dan mereka sudah berada di atas cabang pohon nangka itu. Endang Patibroto dengan penuh perhatian dan kasih sayang lalu memberi petunjuk dan akhirnya bergantunglah tubuh Retna Wilis dengan kedua kaki mengait cabang pohon! Setelah melihat betapa mata anaknya tidak bergerak-gerak lagi dan napasnya mulai teratur, Endang Patibroto melayang turun dengan ringan sehingga cabang itu tidak bergoyang sedikitpun.

Latihan anaknya amat berat dan biarpun Endang Patibroto tampaknya keras dalam mengajar anaknya, namun sesungguhnya ia merasa amat sayang dan kasihan kepada Retna Wilis. lapun tidak tega meninggalkan puterinya, melainkan duduk bersila di bawah pohon, menjaga. Tiba-tiba Endang Patibroto bangkit berdiri dan menoleh ke kanan, lalu terdengar suaranya, halus namun penuh wibawa,

"Siapa berani lancang memasuki taman mengganggu anakku berlatih?"

Endang Patibroto yang berpendengaran tajam telah mendengar gerakan orang di sebelah kanan di balik semak-semak, dan mengira tentu ada anak buah Padepokan Wills yang datang. Akan tetapi alis yang kecil panjang dan amat hitam itu berkerut ketika ia melihat bahwa yang muncul dari balik semak-semak adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Seorang wanita cantik dan seorang laki-laki tinggi besar muncul keluar dan sekali pandang saja maklumlah Endang Patibroto bahwa dua orang ini bukanlah orang sembarangan, maka ia lalu bersikap waspada dan memandang tajam. Setelah tahu bahwa dua orang itu ternyata bukan anak buahnya, ia bersikap angkuh dan diam, hanya memandang dan menanti, sesuai dengan sikap seorang kepala padepokan yang ternama dan berwibawa.

Ni Dewi Nilamanik memandang Endang Patibroto dengan kagum. Sudah lama ia mendengar nama wanita sakti ini yang pernah menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang kabarnya memiliki kedigdayaan yang menggiriskan dan jarang bertemu tanding dan yang kini menjadi pemimpin Padepokan Wills dan berhasil menggembleng Gerombolan Wilis menjadi satria-satria Wilis yang terkenal. Ia tidak menyangka bahwa wanita hebat itu ternyata begitu cantik jelita dengan sepasang mata yang luar biasa tajam dan beningnya, sinar mata yang mengandung hawa dingin membuat bulu tengkuk meremang.

Adapun Ki Kolohangkoro yang tidak sewaspada temannya karena memang raksasa ini agak sombong mengandalkan kesaktian sendiri memandang rendah lawan, kini lebih tertarik kepada Retno Wilis, anak perempuan yang kini sedang menggantung dengan kepala di bawah seperti seekor kalong di cabang pohon itu. Raksasa yang sedang melatih diri dengan aji kesaktian dahsyat Kolokroda dan yang masih belum sempurna itu, kini melihat seorang anak seperti Retna Wilis, tentu saja mengilar sekali dan tanpa dapat menguasai hatinya lagi mulutnya berseru,

"Aduh, toblas-toblas! Bukan main bocah ini... darah daging dan tulangnya... waah, hebat, tiada keduanya di dunia ini..."

Ni Dewi Nilamanik melirik tajam ke arah Ki Kolohangkoro, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto akan menjadi tak senang hati menyaksikan dan mendengar ucapan kasar itu. Akan tetapi ia tidak tahu bahwa Endang Patibroto, sebagai murid mendiang Sang Dibyo Mamangkoro dan tinggal di Pulau Iblis bertahun-tahun lamanya bersama gurunya, sudah biasa akan sikap kekasaran kaum sesat ini. Bahkan melihat bentuk tubuh Ki Kolohangkoro yang tinggi besar, melihat sikap kasar dan kata-kata yang kasar pula, timbul rasa senang di hatinya dan girang bahwa puterinya dipuji-puji, biarpun pujiannya amat kasar. Orang yang sekali pandang dapat melihat keadaan puterinya, tentunya seorang yang memiliki kepandaian. Maka tersenyumlah Endang Patlbroto dan lenyaplah sikapnya yang angkuh, malah dengan ramah ia mendahului berkata,

"Terima kasih atas pujian andika terhadap puteriku Retna Wilis. Siapakah gerangan andika berdua dan apakah maksud kunjungan andika yang tiba-tiba ini?"

Girang hati Ni Dewi Nilamanik melihat sikap wanita sakti itu yang tadi membuat hatinya tergetar. Cepat ia memberi hormat, membungkuk dan dengan suara ramah dan sikap hormat ia cepat mendahului Ki Kolohangkoro sebelum si raksasa kasar itu menjawab,

"Kami berdua mohon maaf sebanyaknya kalau kami dapat mengganggu andika yang sedang melatih puteri andika. Karena telah lama mendengar nama besar andika, mengagumi kebesaran Padepokan Wilis, apalagi mendengar akan diadakannya sayembara tanding, kami memberanlkan diri lancang memasuki puncak ini dengan harapan dapat bertemu dan berwawancara dengan andika yang kami kagumi. Kami berdua adalah saudara-saudara seperguruan, nama saya Dewi Nilamanik, sedangkan dia ini adik seperguruanku bernama Kolohangkoro. Harap maafkan sikapnya yang kasar karena memang demikianlah wataknya."

Endang Patibroto diam-diam mengingat-ingat. Tidak pernah ia mendengar dua nama ini sungguhpun ia merasa yakin bahwa mereka berdua ini bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang sakti dan yang ia belum tahu apa kehendaknya.

"Andika berdua terlalu memujiku dan terlalu merendahkan diri. Memang aku mengadakan sayembara tanding sebagai syarat adik kandungku mencari jodohnya, akan tetapi sayembara dimulai dua hati lagi. Andika datang terlampau pagi."

Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan kilatan giginya yang putih membuka mata Endang Patibroto yang dapat menangkap sebuah gaya yang tidak menyenangkan hatinya pada diri wanita ini. Genit dan senyum serta pandang matanya membayangkan watak cabul, pikirnya dengan waspada.

"Maaf, kedatangan kami sama sekali bukan untuk sayembara tanding itu. Sama sekali bukan. Adik seperguruanku ini sudah terlalu tua untuk memikirkan soal itu. Kami datang untuk mengajak andika berwawancara, untuk menawarkan persekutuan dalam menghadapi dan menghancurkan musuh kita bersama."

Berdebar jantung Endang Patibroto. Hem, apa yang dimaksudkan orang-orang ini? Musuh bersama? Siapa? Akan tetapi karena maklum bahwa dua orang ini ingin membicarakan urusan penting, maka ia lalu menggerakkan tangan kanan mempersilahkan mereka duduk di atas tanah sambil berkata, "Aku sedang menjaga puteriku berlatih. Silahkan andika berdua duduk, kita dapat bercakap-cakap di sini."

Ni Dewi Nilamanik mengerutkan kening dan menengadah, memandang ke arah tubuh kecil yang menggantung pada cabang pohon. Melihat kesangsian wanita itu, Endang Patibroto cepat berkata, "Harap andika tenangkan hati karena puteriku dalam keadaan hening, tidak akan dapat mendengarkan percakapan kita."

Ki Kolohangkoro yang juga memandang ke atas, kembali berseru, "Waahh, sekecil itu sudah dapat menutup panca indra dan hening dalam samadhi dengan keadaan seperti itu.... bukan main....!"

Mereka duduk di bawah pohon itu, saling berhadapan. Sejenak Endang Patibroto menyapu wajah kedua orang tamunya penuh selidik, kemudian berkata,

"Nah, silahkan andika berdua keluarkan apa yang menjadi isi hati andika." Sikap Endang Patibroto amat berwibawa dan angker sehingga diam-diam Ni Dewi Nilamanik merasa betapa jantungnya berdebar.

"Telah lama kami mendengar nama besar andika," ia memulai. "Bahkan kami telah mendengar akan segala peristiwa yang menimpa andika di Kerajaan Jenggala. Kami telah mendengar pula betapa suami andika yang mulia, Sang Pangeran Panjirawit, tewas karena kejahatan Jenggala, sehingga kini andika yang tadinya hidup mulia sebagai mantu raja, sampai berada di puncak gunung yang sunyi ini sebagai ketua Padepokan Wilis."

"Hemmm, kalau sudah demikian, mengapa? Harap andika lanjutkan." Di dalam suara Endang Patibroto terkandung pengaruh yang dingin dan menyeramkan, membuat Ni Dewi Nilamanik menelan ludah dan memberanikan hati untuk melanjutkan,

"Karena kami mengetahui keadaan andika inilah maka kami mempunyai harapan untuk dapat menarik andika sebagai seorang kawan seperjuangan. Kerajaan Jenggala amat buruk keadaannya, rajanya tidak bijaksana, tergila-gila oleh selir barunya yang bernama Suminten dan yang ingin merebut kekuasaan

"Suminten....?" Endang Patibrot bertanya kaget, teringat ia akan bekas pelayannya.

"Benar, mengapakah? Apakah andika mengenalnya?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. Tak mungkin, pikirnya, tentu hanya namanya saja yang kebetulan sama. "Tidak apa-apa, harap teruskan."

"Karena itu, terus terang saja kami sebagai anak buah Sang Wasi Bagaspati utusan Kerajaan Cola, melihat kesempatan baik untuk merobohkan Jenggala dari dalam. Dan untuk ini kami membutuhkan bantuan dan kerja sama orang-orang sakti, terutama sekali andika. Bukankah hal ini merupakan kesempatan baik sekali bagi andika untuk membalas dendam kematian suami andika Pangeran Panjirawit? Percayalah, jasa andika akan dihargai dan Sang Wasi Bagaspati adalah seorang yang selain sakti mandraguna, juga amat bijaksana."

Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik menghentikan bujukannya karena melihat betapa Endang Patibroto menggeleng kepala dengan gerakan yang tegas, kemudian terdengar suaranya yang dingin,

"Tidak, aku tidak dapat menerima ajakan andika. Aku tidak sudi mengikatkan diri dengan persoalan luar, di luar dari Padepokan Wills. Kedatangan andika berdua sia-sia kalau hanya untuk maksud itu. Soal ini tidak perlu dilanjutkan lagi, tidak perlu dibicarakan dan kuharap andika berdua suka meninggalkan tempat ini."

Ucapan ini sudah jelas, tegas dan singkat yang berarti penolakan penuh untuk bekerja sama! Baik Ni Dewi Nilamanik maupun Ki Kolohangkoro maklum bahwa membujuk wanita dingin ini tidak akan ada gunanya lagi. Ki Kolohangkoro meloncat bangun dan berkata sambil tertawa,

"Ha-ha-ha, Bunda Dewi, sudah kukatakan bahwa percuma saja mengajak bicara! Eh, Endang Patibroto, soal kerja sama tidak perlu kita bicarakan lagi, akan tetapi setelah tiba di depanmu, aku Ki Kolohangkoro tidak akan merasa puas kalau belum mencoba sampai di mana kedigdayaanmu sehingga engkau berani bersikap begini sombong dan dingin terhadap kami berdua!"

Endang Patibroto mengerling ke arah Ni Dewi Nilamanik, bibirnya bergerak dan terdengarlah pertanyannya, tenang dan dingin, "Apakah begini pula pendirianmu?"

Ni Dewi Nilamanik tak dapat menghindari lagi, maka sambil tersenyum mengejek ia mencabut kebutannya dan bangkit berdiri, "Begitulah, Endang Patibroto. Kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Tidak berhasil bekerja sama, setidaknya kami ingin menguji sampai di mana kepandaianmu:"

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan muncullah tiga orang tinggi besar diikuti oleh belasan orang. Mereka muncul dari dalam gelap, seperti iblis-iblis hutan.

"Tidak perlu paduka yang bergerak, Gusti Puteri. Biarkan hamba menghancurkan kepala dua orang kurang ajar ini!"

Endang Patibroto memandang mereka dengan kening berkerut. "Kakang Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis. Mundurlah kalian dan bawa saudara-saudara kita pergi dari sini. Biarkan aku sendiri menghadapi dua orang tamuku. Perkuat penjagaan dan aku tidak memerlukan bantuan kalian di sini. Tak seorangpun boleh turun tangan, bahkan tidak boleh masuk taman. Mengerti?"

Tiga orang laki-laki tinggi besar itu memberi hormat dan sekali berkelebat belasan orang itu lenyap di dalam gelap. Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro diam-diam menjadi lega hatinya. Akan tetapi mereka tersenyum mengejek lalu berkatalah Ki Kolohangkoro,

"Mengapa mereka disuruh pergi, Endang Patibroto? Biarkan mereka mengeroyok kami agar enak aku membabat mereka Ha-ha-ha!"

"Hemm, kalian menantang aku seorang. Apa kamu kira aku takut, Kolohangkoro? Biar ada sepuluh orang lawan macam kalian, aku tidak akan undur selangkah! Majulah kalian kalau sudah bosan hidup."

"Babo-babo.... sumbarmu seperti dapat memecahkan Gunung Mahameru! Endang Patibroto, biarpun andika telah berhasil menewaskan.... eh, banyak orang sakti, jangan memandang ringan Ki Kolohangkoro!" teriak Ki Kolohangkoro yang masih sempat menahan diri dan tidak menyebut-nyebut nama Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko yang sudah hampir terluncur keluar dari mulutnya tadi.

"Terserah bagaimana wawasanmu," jawab Endang Patibroto dengan suara dingin dan sikap tenang memandang rendah, "kalau kalian berani dan menantangku, majulah. Kalau tidak, minggatlah dari sini jangan banyak tingkah lagi!"

"Phuaaahhh, sombongnya!" bentak Ki Kolohangkoro, agak tertegun karena belum pernah selama hidupnya ada orang berani memandang rendah kepadanya seperti sikap dan kata-kata wanita tokoh Padepokan Wills ini.

Juga Ni Dewi Nilamanik menjadi merah telinganya. Ia mendenguskan napas dari hidungnya, menggerak-gerakkan pengebut di depan dada lalu berkata,

"Tajam sekali lidahmu, Endang Patibroto! Ingin aku melihat apakah kepandaianmu juga sehebat mulutmu!" Baru saja habis kata-kata ini keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, tokoh pemuja Bathari Durga ini sudah menerjang maju. Cepat bukan main gerakannya ketika ia meloncat, tahu-tahu sudah berada di depan Endang Patibroto dan kebutannya menyambar ke arah leher, sebuah pukulan maut yang mendatangkan angin pukulan panas!

"Wuuuuutttt.... plakkkk..... !"

"Aihhh...!" Ni Dewi Nilamanik merintih perlahan dan terhuyung mundur.

Ketika ujung kebutannya tadi menyambar, Endang Patibroto diam saja dengan tenang. Baru setelah ujung kebutan hampir menyentuh lehernya, secara tiba-tiba ia mengelak dan tangan kirinya dengan jari terbuka mengirim pukulan bawah mengarah perut Ni Dewi Nilamanik! lnilah gerak tipu yang amat hebat dan amat curang, sesuai dengan ilmu tata kelahi kaum sesat dan yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Ni Dewi Nilamanik.

Begitu melihat perutnya terancam pukulan maut yang tak mungkin dapat ia tahan, Ni Dewi Nilamanik cepat menggerakkan tangannya pula menerima dorongan telapak tangan lawan yang ampuh itu dengan telapak tangannya sendiri. Akibatnya, ia terhuyung mundur, wajahnya pucat, isi dadanya seperti ditusuk-tusuk pisau dingin dan ia merintih. Akan tetapi tentu saja Ni Dewi Nilamanik yang sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi itu tidak dapat dirobohkan hanya dengan pertemuan telapak tangan. Karena merasa kalah dalam segebrakan, Ni Dewi Nilamanik menjadi marah bukan main, tubuhnya sampai menggigil.

Pada saat itu, Ki Kolohangkoro sudah maju pula menubruk, menggerakkan senjata nenggala menghunjam ke arah pelipis kiri Endang Patibroto, disusul dengan kepalan tangan kirinya yang sebesar buah kelapa itu menghantam dada lawan.

"Hemmm...!" Endang Patibroto hanya mendengus pendek, tubuhnya berkelebat ke belakang, sengaja memperlambat gerakannya sehingga kedua serangan itu hampir mengenainya dan membesarkan hati Ki Kolohangkoro yang cepat mengejar ke depan. Inilah yang diharapkan Endang Patibroto. Tubuhnya tadinya agak terhuyung, akan tetapi begitu melihat gerakan lawan mengejar maju, tiba-tiba sekali kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diduga sebelumnya, tahu-tahu kedua kakinya sudah melakukan tendangan berantai mengarah bawah pusar Ki Kolohangkoro, bagian paling lemah bagi seorang pria!

"Ougghhhh...!!" Ki Kolohangkoro terkejut setengah mati. Tubuhnya sudah condong ke depan, maka secepat kilat mengenjotkan kakinya meloncat mundur. Ia terbebas daripada bahaya maut, akan tetapi tidak cukup cepat untuk ,menghindarkan diri sama sekali dari tendangan berantai.

"Trokkkk!!"

"Aduhhh...tohobaatt...!" Ki Kolohangkoro yang meloncat mundur masih kena disambar tulang keringnya oleh tendangan Endang Patibroto. Biarpun ia bertubuh kebal, akan tetapi tulang keringnya serasa remuk-remuk, sumsum di dalamnya rontok, kiut-miut nyerinya sampai menusuk ulu hati. Ia berjingkrak-jingkrak mengangkat kaki yang tertendang dan mengelus-elus tulang kering yang tampak membiru. Setelah rasa nyeri agak mengendur, ia menjadi marah, matanya terbelalak sebesar jengkol, mukanya merah seperti yuyu dipanggang. Seperti dikomando saja, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro lalu menyerbu ke depan, senjata nenggala berseling dengan kebutan merah, merupakan cakar-cakar maut yang hendak merenggut nyawa Endang Patibroto.

cerita silat online karya kho ping hoo

Wanita perkasa ini cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan-lawan berat. Kalau satu lawan satu, dalam waktu pendek ia masih akan sanggup merobohkan lawan. Akan tetapi setelah mereka maju berdua, ia tidak mau bersikap sembrono dan menghadapi senjata-senjata dengan tangan kosong lagi.

"Cattt.... catttt.... !!"

Dua sinar menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang menjadi terkejut dan cepat menggunakan senjata menyampok runtuh dua batang anak panah tangan itu. Akan tetapi alangkah terkejut hati dua orang ini ketika melihat tubuh Endang Patibroto sudah menyambar ke depan, sebatang keris luk tujuh menusuk ke arah dada Ki Kolohangkoro sedangkan tangan kiri wanita sakti ini menampar ke arah muka Ni Dewi Nilamanik. Demikian ganas dan dahsyat serangan itu sehingga sukar bagi kedua orang lawannya untuk mengelak lagi.

Ki Kolohangkoro menangkis keris dengan senjata nenggalanya, adapun Ni Dewi Nilamanik menangkis sambil menyabetkan kebutan ke arah tangan kiri yang menghantamnya.

"Tranggg..." Bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu. Ujung kebutan yang menangkis, dapat dicengkeram oleh Endang Patibroto, lalu dihentakkan ke kiri. Akibatnya, tubuh Ni Dewi Nilamanik terhuyung dan hampir terbanting ke kiri, sedangkan tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang ke belakang saking hebatnya tenaga yang tersalur melalui keris.

Keadaan dua orang itu dalam bahaya karena posisi mereka yang terhuyung itu dalam keadaan terbuka. Kalau saja Endang Patibroto melanjutkan serangan dengan susulan, tentu mereka akan celaka. Akan tetapi pada saat itu, tampak bayangan berkelebat cepat disusul bentakan,

"Sungguh tak tahu diri berani mengacau puncak Wilis!"

Bayangan itu bukan lain Raden Warutama yang sudah mendahului Endang Patibroto, menerjang ke arah dua orang itu dengan gerakannya yang cepat seperti burung menyambar. Dua kali kakinya menendang dan.... tubuh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik terkena tendangan sampai roboh bergulingan. Namun kedua orang ini bergulingan sampai jauh dan terus melompat, melarikan diri!

Saking heran dan kagetnya, Endang Patibroto berdiri memandang laki-laki itu, tidak memperdulikan larinya Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Memang ia tidak ingin bermusuhan dengan mereka. la heran dan kaget melihat betapa laki-laki ini sekali serang saja berhasil menendang roboh kedua orang yang ia tahu bukan orang-orang lemah itu. Alangkah sigap dan cepatnya. Tentu bukan sembarang orang, pikirnya sambil menentang wajah yang gagah dan tampan itu.

Jantungnya berdebar dan otaknya diperas untuk mengingat-ingat. Ia merasa pernah mengenal, pernah melihat orang ini, atau orang yang mirip dengan pria ini. Hatinya tidak senang seperti telah menjadi wataknya, bahwa ia tadi dibantu dalam perkelahian, akan tetapi setelah kini menjadi seorang pemimpin padepokan, Endang Patibroto cukup dapat menahan perasaannya dan dengan sikap angker ia bertanya,

"Andika ini siapakah dan siapakah pula yang memperkenankan andika datang ke puncak dan mencampuri urusanku, tanpa diminta membantuku? Apakah andika mengira bahwa aku jerih melawan kedua orang itu dan bahwa hanya andika yang memiliki kedigdayaan sehingga perlu mengalahkan mereka?"

Raden Warutama tersenyum, wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan keramahan, kemudian ia membungkuk penuh hormat sambil berkata,

"Mohon maaf sebesarnya atas kelancangan saya berani melanggar wilayah kekuasaan andika yang saya telah dengar adalah ketua Padepokan Wilis yang sakti mandraguna, dan bukan sekali-kali pula saya merendahkan kesaktian andika. Akan tetapi karena saya menaruh rasa curiga terhadap kedua orang itu yang saya jumpai di lereng, maka diam-diam saya mengikuti mereka ke sini dan melihat kekurangajaran mereka, saya sampai lupa diri dan menyerang mereka. Sekali lagi, mohon maaf dan baiklah saya memperkenalkan diri. Saya adalah Raden Warutama dari Bali-dwipa."

Endang Patibroto mengerutkan keningnya. Siapapun adanya pria ini, merupakan hal yang tidak menyenangkan hatinya kalau ada orang berani naik ke puncak begitu saja, dengan alasan apapun juga dan mengganggu puterinya yang sedang berlatih keras. Ia melirik ke atas dan melihat bayangan anaknya masih tergantung di pohon. Malam mulai tiba dan keadaan mulai gelap.

"Apakah kedatangan andika ke Wilis ada hubungannya dengan sayembara tanding yang kami adakan besok lusa?"

"Memang sebenarnyalah, karena mendengar tentang sayembara tanding itu maka saya datang ke Wilis."

"Kalau andika datang untuk itu, mengapa tidak menanti di kaki Wilis seperti orang-orang lain?"

"Maaf, sudah saya ceritakan sebabnya. Pula, kedatangan saya tidak ingin memasuki sayembara tanding."

"Habis, untuk apa?"

Raden Warutama tersenyum lebar. "Terus terang saja saya katakan bahwa saya harus mengawasi dan melindungi andika sekeluarga. Ketahuilah bahwa saya masih terhitung anak keponakan dari mendiang Sang Sakti Narotama."

Diam-diam Endang Patibroto terkejut. Memang dia sudah tahu bahwa baik Sang Prabu Airlangga maupun Ki Patih Narotama adalah orang-orang dari Balidwipa. Hal-hal mengenai raja dan patihnya yang sakti Itu banyak ia dengar dahulu dari suaminya, yaitu mendiang Pangeran Panjirawit yang terhitung cucu Sang Prabu Airlangga. Jadi pria ini adalah keponakan Ki Patih Narotama yang sakti? Pantas saja gerakan-gerakannya tadi hebat. Berkuranglah kemarahannya, akan tetapi ia masih mendesak,

"Apa hubungannya itu dengan kami?"

Warutama kelihatan tertegun, akan tetapi kemudian ia menjawab tenang,

"Mungkin bagi andika tidak ada hubungannya, akan tetapi bagi saya amatlah penting artinya. Hendaknya diketahui bahwa kami keturunan Sang Sakti Narotama adalah orang-orang yang mementingkan arti kata setia terhadap raja. Sayapun mengikuti jejak Sang Narotama yang amat setia terhadap Sang Prabu Airlangga. Andika adalah cucu mantu Sang Prabu Airlangga. Biarpun sekarang telah menjadi janda, akan tetapi puteri andika itu..." la menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Retna Wilis yang menggantung, "adalah keturunan Sang Prabu Airlangga. Tentu saja andika dan puteri andika harus saya lindungi sekuat tenaga saya. Demikianlah sebabnya, begitu mendengar bahwa andika membuka sayembara tandang untuk memilihkan jodoh adik kandung andika, saya langsung mengunjungi Wilis."

Hati Endang Patibroto tertusuk. Pria ini belum tahu bahwa Retna Wills bukanlah puteri Pangeran Panjirawit, melainkan puteri Tejolaksono! Akan tetapi ia tidak menyalahkannya, karena memang jarang ada yang mengetahuinya dan iapun tidak perduli. Hanya kIni pandangannya terhadap prla ini berubah dan tidak mungkin lagi Ia bersikap kasar setelah mengetahui latar belakang sikap orang Ini.

"Kalau begitu, ternyata andika bermaksud baik dan biarlah saya menghaturkan terima kasih kepada iktikad baik andika. Andika saya terima sebagai seorang tamu dan sahabat, dan marilah, persilahkan mengaso di pondok kami." Endang Patibroto mengajak tamunya untuk meninggalkan tempat itu menuju ke pondok. Warutama girang sekali, akan tetapi dengan ragu-ragu ia berkata,

"Akan tetapi... puteri andika...?"

Endang Patibroto tersenyum. "Biarkan saja. Dia sedang berlatih dan baru akan selesai besok pagi. Sudah biasa dia berlatih begitu. Marilah, Raden Warutama, silahkan."

Raden Warutama menggeleng-geleng kepala penuh kagum. "Hebat sekali puteri andika, sungguh tidak mengecewakan menjadi cucu buyut mendiang Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna.'

Ibu mana di dunia ini yang tIdak akan menjadi senang hatinya mendengar pujian terhadap anaknya? Endang Patibroto senang sekali dan makin suka ia kepada pria yang gagah perkasa dan ramah serta halus budi bahasanya ini. Di dalam pondok, para pelayan lalu mengeluarkan hidangan dan dijamulah Raden Warutama oleh Endang Patibroto, kemudian dipersllahkan ke ruangan dalam di mana mereka berdua lalu bercakap-cakap dengan asyiknya. Dalam percakapan inilah dengan cerdik sekali Raden Warutama menyinggung-nyinggung soal Kerajaan Jenggala.

"Sungguh sayang sekali," demikian katanya sambil lalu, "usaha baik Sang Prabu Airlangga dirusak oleh penyelewengan puteranya yang menjadi raja di Jenggala. Saya banyak mendengar tentang kekacauan di Jenggala, gara-gara penyelewengan sang prabu yang hanya memikirkan kesenangan diri pribadi saja. Seyogyanya, orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian seperti saya, terutama sekali seorang sakti mandraguna seperti andika, turun tangan dan ikut menyelamatkan keadaan Kerajaan Jenggala yang terancam keruntuhan. Bagaimana pendapat andika?"

Endang Patibroto menghela napas panjang. "Dunia ini penuh dengan orang-orang yang saling memperebutkan kedudukan. Memang banyak sekali yang mula-mula didasari iktikad baik, menyelamatkan negara dan rakyat. Akan tetapi sekali mereka sudah mencapai kedudukan tinggi, negara dan rakyat dilupakan, bahkan lebih buruk lagi, negara dan rakyat dipergunakan sebagai modal untuk mencarl kesenangan pribadi! Karena itulah, Raden, aku tidak sudi mencampuri urusan kerajaan. Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro tadipun membujukku untuk membantu mereka memusuhi Jenggala, akan tetapi sudah bulat tekad dan pendirianku, aku tidak akan sudi mencampuri urusan Jenggala dan tidak perduli siapa pula yang menang atau kalah, siapa pula yang menjadi raja."

Dalam suara wanita sakti ini terdengar jelas oleh Raden Warutama kekerasan yang tak mungkin dapat dibelokkan lagi. Sia-sia belaka menarik Endang Patibroto untuk bersekutu menghadapi Jenggala. Takkan berhasil semua bujukan, maka iapun tidak mau membujuk terus, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto menjadi curiga kepadanya, kemudian tamu ini dipersilahkan mengaso dalam sebuah kamar yang bersih dan indah. Endang Patibroto sendiripun lalu beristirahat di kamarnya. Peristiwa-peristiwa yang dialami tadi membuat ia agak lengah, sejenak melupakannya kepada Retna Wilis yang berlatih seorang diri tanpa penjaga.

Peristiwa yang terjadi itu membuat Endang Patibroto teringat akan semua pengalaman hidupnya yang lalu. Apalagi peristiwa mendatang, yaitu sayembara tanding yang akan terjadi dua hari lagi, membuatnya terkenang akan ibunya, kepada Tejolaksono, dan membuatnya merasa kesunyian dan merana. Benarkah ia sudah begitu hampa perasaan hatinya sehingga ia tidak sudi mencampuri urusan kerajaan maupun urusan orang lain? Ataukah hal ini hanya timbul karena kekosongan hatinya, karena kesunyian hidupnya dan karena kekecewaannya setelah ia gagal mencapai rumah tangga bahagia bersama Tejolaksono yang dikasihinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini ada dalam hatinya, namun ia sendiri tidak dapat menjawab. Hatinya yang sudah mengeras seperti baja itu mendadak menjadi cair dan tak dapat dikuasainya lagi wanita sakti yang dingin dan keras hati ini menitikkan air mata sehingga membuatnya menjadi lemas dan akhirnya Endang Patibroto tertidur di atas pembaringannya, lupa kepada puterinya.

Memang tepatlah kata-kata para cerdik pandai bahwa manusia harus dapat mengatasi pengaruh perasaan. Perasaan apapun, terutama sekali marah, senang, dan susah, dapat menguasai manusia dengan pengaruhnya dengan membuat manusia menjadi lengah dan bahkan buta. Dari perasaan yang meluap tak terkendalikan lagi, muncullah perbuatan-perbuatan yang tidak wajar dan yang akan merugikan diri sendiri. Perasaan yang tak terkendalikan akan membuat pertimbangan akal budi menjadi miring, keteguhan hati menjadi goyah dan kesadaran menjadi lalai.

Demikian pula dengan keadaan Endang Patibroto. Ia terpengaruh rasa sedih dan merana sehingga ia menjadi lalai, berkurang kewaspadaannya, tidak sadar bahwa bahaya besar mengancam keluarganya.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 23

Thanks for reading Perawan Lembah Wilis Jilid 22 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »