Perawan Lembah Wilis Jilid 14

Cerita Silat Karya Kho Ping Hoo

Perawan Lembah Wilis Jilid 14

SETELAH berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik lalu menghampiri Wasi Bagaspati, menggandeng tangannya dan berkata. "Marilah, Rakanda Wasi, kita berteduh di dalam dan menantinya."

Dua orang pimpinan kaum sesat itu sudah berjalan cepat-cepat meninggalkan lapangan menuju ke bangunan pondok-pondok yang berada di puncak. Adapun Sariwuni sambil bersungut-sungut terpaksa meninggalkan Gagak Dwipa lagi, lari ke arah panggung di mana tadi Pusporini berdiri bingung. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia tidak melihat dara remaja itu di sana! Cepat ia meloncat ke tempat yang tinggi itu dan memandang, lalu terkekeh genit dan keji ketika melihat bayangan Pusporini berlari-lari pergi dari tempat itu! Beberapa obor yang masih bisa bertahan terhadap serangan angin dan hujan, menerangi tempat itu sehingga ia dapat melihat ke mana Iarinya Pusporini.

Keadaan Pusporini tadi masih setengah sadar setengah mabuk jamu yang membiusnya. Pemandangan yang mengerikan itu mengguncang perasaannya dan membantunya untuk cepat sadar ketika air hujan menimpa kepalanya, Pusporini merasa seakan-akan ia disiram air embun suci dari surgaloka. Seketika ia menjadi sadar dan dara remaja ini cepat menutup mulut menahan jerit yang akan keluar dari mulutnya. Pemandangan yang terbentang di depannya terlalu hebat. Ia meramkan matanya, kemudian meloncat turun dari panggung dan ketakutan dan penuh kengerian. Ia harus lari dari tempat itu. Harus cepat pergi menjauhi mereka ini!

Kini teringatlah ia. Tadinya ia berada di taman sari Kadipaten Selopenangkep. Lapat-lapat ia teringat betapa ia berada di dalam kekuasaan wanita-wanita genit yang menyeramkan. Kemudian teringat bahwa ia dibawa ke dalam sebuah pondok di puncak bukit itu, melihat wajah seorang wanita cantik yang pandang matanya mengerikan, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.

Bagaimana ia tahu-tahu bisa berada di panggung itu? Dan pemandangan yang ia lihat di atas rumput, lhhh, mengerikan sekali! Perutnya menjadi muak dan mual, membuat ia hampir muntah. Akan tetapi karena ia maklum bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang jahat yang amat sakti, ia tidak mau berhenti, terus berlari sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti. Namun tubuhnya terasa lemas dan lelah. Kepalanya masih pening berdenyut-denyut. Pandang matanya berkunang dan malam amat gelap. Hujan turun makin deras sehingga jalan liar yang dilaluinya menjadi licin sekali.

"Heeeeiii... Pusporini! Berhenti kau! Hendak lari ke mana?"

Mendengar suara dari sebelah belakang ini, Pusporini terkejut sekali. Ia menoleh dan di antara sinar obor yang bergoyang-goyang hampir mati ia melihat bayangan seorang wanita yang mengejarnya dengan gerakan tangkas dan larinya cepat bukan main. Pusporini bukanlah seorang penakut, akan tetapi apa yangdisaksikan di sana tadi benar-benar telah melenyapkan semua keberaniannya.

Terlalu ngeri dan terlalu menakutkan baginya sehingga kini seluruh hati dan pikirannya dicekam rasa takut yang hebat. Maka ia mengeluh pendek dan terus berlari makin cepat lagi. Beberapa kali ia jatuh tersandung, akan tetapi ia bangkit lagi. Bahkan ia jatuh tersungkur dan terguling-guling, namun setelah mendapat kesempatan meloncat bangun, ia terus berlari lagi tidak memperdulikan betapa kakinya babak-belur dan kainnya robek di sana-sini. Sanggul rambutnya terlepas sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai.

Untung bagi Pusporini bahwa sinar bulan lenyap tertutup mendung dan malam gelap pekat sehingga agak sukarlah bagi Sariwuni untuk mengejarnya. Biarpun Pusporini tidak dapat melakukan perjalanan cepat menuruni bukit di dalam gelap itu, namun sama pula halnya dengan Sariwuni yang juga harus berhati-hati sekali karena selain jalan amat licin, juga amat gelap dan banyak jurang di situ. Akhirnya Sariwuni berteriak keras memanggil nama Gagak Dwipa dan Gagak Kroda untuk membantunya mengejar Pusporini. Kedua orang Gagak ini tentu saja cepat bangkit berdiri dan berlari ke arah datangnya suara Sariwuni. Mereka ingin menyenangkan hati wanita cantik yang membuat mereka tergila-gila ini.

Seperti kita ketahui, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda adalah kedua orang di antara Lima Gagak Serayu. Semenjak gerombolan mereka gagal menyerang Selopenangkep bahkan dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Adipati Tejolaksono sendiri, mereka menyembunyikan diri di dalam hutan-hutan dengan hati penuh dendam. Kemudian tibalah saat bagi mereka untuk membalas dendam ketika melihat pasukan-pasukan asing yang dipimpin oleh orang-orang Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola. Mereka lalu membawa pasukan yang masih ada untuk menggabungkan diri dan bahkan menghambakan diri kepada pasukan asing yang dipimpin banyak orang pandai itu.

Setelah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda mendekat, Sariwuni dan kedua orang laki-laki tinggi besar ini melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pusporini. Dara remaja itu terus berlari ke depan, menuruni bukit, meraba-raba dan merangkak-rangkak dalam gelap, sebentarpun tidak berani berhenti. Apalagi ia mendengar suara tiga orang pengejarnya di belakang! Tiga orang itu biarpun tidak tampak olehnya, namun selalu berada di belakang, suara mereka kadang-kadang jauh, akan tetapi kadang-kadang amat dekat.

Malam telah berganti pagi, cuaca gelap menjadi remang-remang ketika akhirnya Pusporini tiba di kaki gunung. karena kini cuaca tidak segelap tadi sehingga jalan di depan tampak remang-remang, Pusporini menjadi girang hatinya.

"Heee, itu dia... !" Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang, suara seorang laki-laki yang parau..

"Pusporini, hendak lari ke mana engkau?"

"Kejar...!!"

Mendengar suara-suara ini, Pusporini tanpa menoleh lagi lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, lari secepatnya ke depan memasuki sebuah hutan di kaki gunung itu. Karena khawatir, ia lupa akan kelelahannya, lupa bahwa tubuhnya sudah lelah sekali, kedua kakinya lemas dan pandang matanya berkunang. Ia berlari terus, secepatnya masuk hutan. Teriakan-teriakan itu masih terdengar di belakang, akan tetapi makin perlahan yang berarti bahwa jarak di antara mereka makin jauh.

Sambil berlari cepat, Pusporini memutar otaknya yang tadi digelapkan oleh rasa ngeri dan takut. Ah, mengapa ia lari-lari seperti orang dikejar setan? Pengejarnya hanya tiga orang! Takut apa? Kalau mereka dapat menyusulku, akan kulawan saja. Belum tentu aku kalah, demikian dara remaja yang tadinya ketakutan karena pengalaman hebat di puncak Gunung Mentasari itu kini mulai mendapatkan kembali ketabahannya.

Pada hakekatnya, Pusporini adalah seorang dara yang pemberani. Dia keturunan orang sakti. Ayahnya yang tak pernah dilihatnya karena telah meninggal dunia di waktu ia masih dalam kandungan ibunya, Pujo, adalah seorang ksatria perkasa. Juga ibunya, Roro Luhito bukanlah wanita sembarangan, melainkan murid Sang Resi Telomoyo pertama yang memuja Hanoman. Selain menuruni watak ksatria ayah bundanya, juga sejak kecil Pusporini telah digembleng oleh kakak misannya, Adipati Tejolaksono yang menjadi gurunya.

Tidak, Pusporini bukanlah seorang dara penakut. Dia seorang dara perkasa yang biarpun belum matang ilmunya, namun telah mempelajari pelbagai aji kesaktian yang hebat-hebat. Kalau semalam ia melarikan diri penuh kengerian dan ketakutan adalah karena ia mengalami goncangan batin yang hebat menyaksikan peristiwa mengerikan di puncak Gunung Mentasari. Kini, berbareng dengan munculnya sinar matahari pagi, batinnya mulai tenang kembali dan keberaniannya mulai timbul.

Tiba-tiba dara ini menahan jeritnya dan tubuhnya roboh terguling ke atas sepasang paha manusia. Ketika ia memandang, hampir ia menjerit kaget dan marah karena mendapat kenyataan bahwa ia jatuh terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki muda yang tampan! Ketika lari tadi, cuaca masih remang-remang dan kakinya tersandung sehingga tubuhnya terguling. Ternyata yang menyandung kakinya bukanlah akar pohon melainkan dua buah kaki pemuda itu yang dilonjorkan, sedangkan tubuh pemuda itu bersandar pada pohon cemara.

Pemuda itu tadinya tertidur melenggut dan kini berseru kaget sambil membuka matanya. Sejenak ia tertegun, memandang muka yang amat cantik, yang amat dekat dan kini sepasang mata indah itu terbelalak. Kemudian pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan mencubit telinganya sendiri sambil berkata,

"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi...! Masih mimpikah aku...? Mimpi bulan jatuh di pangkuanku, akan tetapi... ah, Andika tentulah seorang bidadari dari bulan... !"

Saking kagetnya, Pusporini sampai kesima dan sampai lama ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu. Mereka saling pandang dengan muka berdekatan, wajah pemuda itu penuh kekaguman dan heran, wajah Pusporini penuh kekagetan dan kemarahan. Setelah dapat menguasal rasa kagetnya, kemarahan memuncak di dalam hati Pusporini. Ia merasa malu dan marah bukan main. Sungguh seorang pemuda yang kurang ajar, berani mati memangkunya!

"Plak-plak.... !!" Dua kali tamparan tangannya yang dilakukan keras sekali membuat pemuda itu mencelat dan bergulingan beberapa kali.

Tamparan bukan sembarang tamparan, melainkan pukulan telapak tangan dengan Aji Pethit Nogo yang tepat mengenai pipi dan leher. Akan tetapi, sungguhpun pemuda itu terlempar dan bergulingan, namun ia segera bangkit duduk kembali, mengelus-elus pipinya yang menjadi merah dan matanya memandang terbelalak, mulutnya mengomel,

"Aduh-aduh.... ada bidadari kok begini keji dan tangannya seperti besi panas....!"

Melihat betapa pemuda kurangajar itu tidak mati, bahkan lukapun tidak oleh pukulannya, Pusporini menjadi makin penasaran dan marah. Ia sudah berdirl dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu sambil membentak, "Heh, engkau manusia keparat, tak tahu susila, kurangajar!"

Pemuda yang masih duduk itu terbelalak, menoleh ke belakangnya akan tetapi karena tidak melihat lain orang, baru ia mau mengerti bahwa dirinyalah yang dimaki. Karena telunjuk dara itu menuding tepat ke arah hidungnya, iapun lalu menunjuk hidungnya sendiri dan berkata, "Siapa kurangajar? Aku? Kurangajar...? Mengapa...?"

"Siapa lagi kalau bukan engkau? Ihh, manusia tak tahu malu, mengapa engkau berani mati memangku aku?"

Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal, lalu meloncat bangun dan bertolak pinggang. Baru sekarang Pusporini melihat bahwa pemuda itu masih remaja, sepantar dengannya, tubuhnya, tegap jangkung dan wajahnya tampan, matanya bersinar seperti mata harimau. Pemuda itu tersenyum mengejek dan makin panaslah hati Pusporini.

"Eh-eh, nanti dulu... Enak benar kau bicara, gadis! Aku memangkumu? Hemm, aku sedang tidur dan tahu-tahu kau menjatuhi pangkuanku sampai kedua pahaku seperti akan remuk, dan kau bilang aku kurangajar memangkumu? Ini namanya maling teriak maling!"

Kemarahan Pusporini makin menjadi. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya berkilat dan ia mengepal kedua tinjunya.

"Siapa maling? Engkau maling! Engkau kecu (perampok), engkau copet! Engkau menjegal kakiku ketika aku sampai aku terjatuh! Hemm, bedebah, apa kau masih mau menyangkal? Berani berbuat tidak berani mengaku, apa ini laki-laki namanya?"

Pemuda itu menggosok-gosok hidungnya, makin terheran dan makin marah. "Aku menjegalmu? Walah-walah, engkau ini perawan galak seperti sarak gadungan! Aku sedang tidur dan kakiku terlonjor, kau yang jalan tidak melihat-lihat, nabrak saja masih hendak menyalahkan aku?"

Baru kali ini Pusporini bertemu dengan seorang laki-laki yang dianggapnya cerewet dan selalu membantahnya. Kemarahannya membuat ia hampir menangis. Ia membanting kaki kanan dan membentak,

"Laki-laki bosan hidup! Kenapa menaruh kaki sembarangan saja?"

Pemuda itupun marah dan membalas gerakan Pusporini dengan membanting kaki kanannya juga, selain untuk meniru mengejek juga karena tidak mau kalah, lalu berkata,

"Dan engkau ini perempuan yang agaknya semalam kesurupan setan dan sekarang masih marah-marah tidak karuan. Pagi-pagi buta sudah menabrak seperti maling kesiangan, sudah begitu masih memaki-maki orang tidak karuan. Benar-benar perempuan tidak genap kau ini!"

"Jahanam busuk! Berani kau, ya...?"

"Mengapa tidak berani?"

Dua orang muda remaja itu sudah saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan siap untuk saling serang. Keduanya sudah marah sekali, mereka sebelum bertanding tangan sudah bertanding pandang mata, sekan-akan hendak saling bakar dengan pandang mata masing-masing. Biarpun sedang marah, kini Pusporini teringat bahwa pemuda ini tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo dan hal ini membuktikan bahwa pemuda kurang-ajar ini memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.

Di lain pihak, setelah mencicipi aji Pethit Nogo tadi, si pemudapun maklum bahwa gadis betapapun galak dan kasarnya, adalah seorang dara yang sakti. Maka keduanya bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menahan nafsu amarah. Inilah pula sebabnya mengapa mereka tidak segera turun tangan menyerang, bahkan saling menanti lawan turun tangan lebih dulu.

"Pusporini, hendak lari ke mana engkau?"

Suara ini mengejutkan Pusporini yang cepat membalikkan tubuh. Kiranya tiga orang pengejarnya sudah berada di situ, di hadapannya! Akan tetapi Sariwuni yang sudah melompat ke depan Pusporini, tiba-tiba melihat pemuda itu dan la berdiri seperti orang kesima. Tanpa mengalihkan pandang mata dari pemuda itu, Sariwuni berkata kepada dua orang temannya, "Kakang Gagak berdua, harap bantu aku menangkap dara itu!"

Dua orang laki-laki tinggi besar yang tadinya merasa kecewa dan menyesal bahwa mereka terganggu kesenangan mereka di puncak Mentasari tadi dan pengaruh anggur darah masih membuat darah mereka bergolak panas, kini menjadi girang mendapat tugas menangkap dara remaja yang jelita itu. Dengan mata berkilat-kilat dan mulut menyeringai, kedua tangan dikembangkan mereka kini mengurung dan mendekati Pusporini, sikap mereka seperti dua orang anak nakal hendak menangkap seekor anak itik!

Pusporini tidak takut, hanya agak jijik menghadapi wajah dua orang yang beringas menyeramkan itu, sepasang mata mereka merah terbelalak, mulut menyeringai penuh nafsu. Ia mundur-mundur dan memasang sikap siap untuk bertanding mati-matian.

Adapun Sariwuni kini melangkah maju mendekati pemuda itu dengan pandang mata penuh gairah dan ujung lidahnya yang merah dan kecil menjilat-jilat bibir. Sikapnya seperti seekor ular kelaparan melihat seekor katak hijau yang montok gemuk, seolah-olah hendak ditelannya pemuda itu bulat-bulat! Pada saat itu, seperti juga kedua orang temannya, wanita yang pada dasarnya memang berwatak cabul ini masih berada di bawah pengaruh anggur darah. Kini melihat seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan ganteng, jauh bedanya dengan semua pria yang dilihatnya malam tadi di puncak Gunung Mentasari, tentu saja ia menjadi tertarik sekali.

"Duhai, bocah bagus. Andika siapakah? Dan ada hubungan apakah dengan gadis ini?" Pemuda ini tidak menjawab, melainkan menoleh ke arah Pusporini yang menghadapi ancaman dua orang laki-laki tinggi besar yang liar itu. Gagak Dwipa mengembangkan kedua lengannya yang besar dan berbulu, menyeringai lebar dan berkata,

"Marilah, manis, kau menyerah saja, kupondong kembali ke puncak..... ha-ha-ha!"

"Eh, bocah ayu, engkaupun boleh memilih aku. Kuemban.... kupundak..... ataukah kau ingin gendong-pekeh? Ha-ha-ha, Gagak Kroda siap, cah denok!"

Pusporini tidak takut, akan tetapi menyaksikan sikap mereka dan mendengar kata-kata mereka, ia mengkirik, kedua kakinya menggigil saking jijik dan ngeri. Pada saat itu, Gagak Dwipa menubruk hendak memeluk pinggang yang ramping itu dan pada saat berikutnya, Gagak Kroda juga menyambar lengannya. Namun dengan gerakan amat manis dan indah, tubuh yang kecil ramping itu sudah menyelinap dan kedua orang raksasa itu menubruk angin belaka. Jangankan tubuh dara jelita, ujung kainnyapun tak dapat mereka sentuh!

Pemuda itu tertawa dengan dada lapang. Ia tidak khawatir lagi. Melihat gerakan Pusporini, tahulah ia bahwa tidak akan mudah bagi dua orang raksasa itu untuk dapat menangkap dara remaja yang amat lincah itu. Ia tertawa sambil menghadapi Sariwuni lagi.

"Andika ingin tahu namaku? Aku Joko Pramono, bocah gunung kabur kanginan (tertiup angin) yang tidak menentu tempat tinggalku. Hubunganku dengan dia itu? Ah, bukan apa-apa. Bukan sanak bukan kadang akan tetapi kalau mati ikut kehilangan. Engkau dan dua orang raksasa itu mau apakah? Mengapa mengganggu orang?"

Sariwuni tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rata dan putih menghias rongga mulut yang merah. "Hihi-hik, bocah bagus, engkau lucu juga. Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami. Lebih baik kau mendekat sini, kita omong-omong yang enak. Engkau mau bukan? Engkau tentu suka bercakap-cakap dengan Sariwuni, ya? Aduh, bocah bagus, bocah ganteng, sinilah mendekat!" Sariwuni yang sudah tergila-gila akan ketampanan wajah pemuda itu melangkah maju, tangannya meraih, jari-jarinya hendak mencubit dagu.

Pemuda itu melangkah mundur sehingga cubitan Sariwuni tidak mengenai sasaran. Kini pemuda itu memandang penuh perhatian, melihat betapa wanita cantik di depannya itu pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang sehingga tampak sebagian besar dada dan pahanya. Pemuda itu mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng kepala lalu berkata,

"Aduh-aduh, sialan benar hari ini aku! Mimpi kejatuhan bulan kiranya dalam kenyataan bertemu dengan bidadari galak lalu disambung bertemu dengan iblis-iblis laknat yang menyeramkan. Engkau ini siapakah dan mau apa...?"

Sariwuni yang sudah mabuk itu melangkah maju lagi, membusungkan dada dan langkahnya lenggang-lenggok penuh daya tarik, matanya melirik tajam seakan-akan membetot-betot sukma, semyumnya makin panas,

"Cah bagus, jangan menjual mahal, ya? Aku Sariwuni dan aku... ah, aku amat cinta kepadamu. Kau tampan seperti Harjuna! Aihh... jangan mundur menjauhkan diri, ke sinilah kau.... !" Kembali Sariwuni meraih dan kali ini dengan kedua tangannya, hendak memeluk dan merangkul.

Akan tetapi dengan gerakan yang tenang namun cepat pemuda itu sudah melangkah mundur dan mengelak. "Wah-wah, celaka tiga belas, aku bertemu dengan siluman seperti ini! Engkau ini manusia apa kok begini nekat? Pergilah dan ajak pergi pula dua orang kawanmu yang menjemukan itu. Lekas, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku Joko Pramono terpaksa harus turun tangan dan memaksa kalian bertiga menggelinding pergi dari sini!" Kini pemuda itu berdiri tegak dan bertolak pinggang, sikapnya menantang.

Sariwuni memandang makin kagum. Pemuda ini tidak hanya tampan akan tetapi juga gagah berani. Tentu saja ia merasa geli menyaksikan betapa pemuda remaja ini dengan sikap amat gagah menantangnya! Alangkah lucunya dan ia sama sekali tidak memandang mata kepada seorang pemuda seperti ini. Kembali ia melangkah maju dan tertawa.

"Joko Pramono, bocah bagus. Marilah kau turuti hasratku, aaahhh, kau bocah menggemaskan sekali!" Sariwuni menubruk maju hendak memeluk, akan tetapi kembali ia menubruk tempat kosong. Heranlah hati wanita ini. Tubrukannya cepat sekali dan ia sudah memperhitungkan bahwa pemuda itu tak mungkin dapat mengelak, akan tetapi nyatanya tubrukannya itu luput! "Aehhh, jangan mengelak, cah bagus..." Kembali ia menerjang maju, kini lengan kiri hendak memeluk pinggang dan tangan kanan meraih hendak merenggut leher.

"Perempuan tak tahu malu!" Joko Pramono tidak lagi mengelak, melainkan miringkan tubuh membebaskan diri daripada renggutan dan menangkis lengan kiri Sariwuni yang hendak memeluk pinggang.

"Dukk....!"

Sariwuni memekik lirih dan meloncat ke belakang dengan mata terbelalak. Ia kaget bukan main ketika benturan lengan pemuda pada lengannya itu mendatangkan hawa panas yang menusuk tulang lengannya. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini dapat menangkis seperti itu dan mengertilah ia kini bahwa pemuda ini, sungguhpun masih remaja, namun telah memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Berubahlah pandangannya, makin kagum hatinya, dan timbul kemauan hatinya hendak menaklukkan dan menguasai pria muda yang hebat ini.

"Bagus! Engkau mempunyai sedikit kepandaian, ya? Baik, mari kita main-main sebentar untuk membangkitkan kegembiraan dan memanaskan darah, hihik!"

Sariwuni lalu menyerbu ke depan, kini dengan langkah-langkah dan gerak-gerak silat yang cepat bagaikan badai menyerbu. Sambil membuat gerakan memutar seperti angin lesus, Sariwuni menerjang maju, tangan kiranya mencengkeram ke arah pusar bawah, tangan kanannya dengan dua jari menusuk ke arah mata. Inilah serangan yang amat keji, ganas dan hebat sekali!

"Hemmm.... keji seperti orangnya!" Joko Pramono menghadapi serangan yang dahsyat ini dengan sikap tenang sekali. Pemuda ini jenaka dan sikapnya gembira, juga berwatak nakal suka menggoda akan tetapi berbeda dengan watak dan sikapnya, gerakannya dalam menghadapi lawan bertempur amatlah tenangnya. Tubuhnya membuat gerakan ke samping, menggeser kaki mengganti kuda-kuda, kedua lengannya bergerak ke atas dan ke bawah menyambut kedua serangan lawan. Tusukan ke arah mata ia biarkan saja, akan tetapi jari-jari tangannya sudah menghadang di depan mata, mengancam pergelangan tangan lawan yang hendak menusuk, sedangkan cengkeraman lawan ke arah pusarnya itu ia tangkis dengan kipatan lengannya dari atas ke bawah.

"Aihhh, kau boleh juga!" Sariwuni terpaksa menarik kembali kedua serangannya, kalau dilanjutkan ia akan menderita rugi. Akan tetapi ia menarik kembali untuk mengirim serangan ke dua yang dahsyat sekali, kakinya menendang dari samping menuju lambung, disusul tubuhnya yang mendoyong ke depan mengirim pukulan dengan kepalan tangan kanan menuju ke ulu hati.

Joko Pramono ternyata bukanlah seorang pemuda sembarangan. Serangan yang dilakukan Sariwuni dengan amat cepatnya ini tentu akan merobohkan seorang jagoan, atau setidaknya akan membuat lawan terdesak dan bingung. Akan tetapi, pemuda itu dengan tenang saja menanti datangnya sambaran kaki, kemudian secara tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dari bawah ke atas dan tangan kanannya dari atas ke bawah menangkis pukulan.

Sariwuni terkejut karena kakinya kini tertangkap pergelangannya. Ia memekik dan kaki kirinya menyusul dengan tendangan berantai, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terlontar ke belakang tanpa dapat ia cegah lagi, karena Joko Pramono telah menyentak kaki kanannya itu ke atas lalu mendorong. Hanya dengan gerak loncat jungkir-balik di udara sampai tiga kali saja yang mencegah tubuh Sariwuni terbanting. Hampir saja ia menderita malu dan kini wajahnya yang tadi berseri menjadi merah, matanya berkilat-kilat, tanda bahwa kekaguman dan cinta kasihnya tertutup oleh hawa amarah yang mendidih.

"Bocah keparat! Kau tidak mengenal cinta kasih orang, kau tidak ingin senang dan sudah bosan hidup? Baik, kau mampuslah!" Setelah berkata demikian, Sariwuni menerjang maju lagi dengan kecepatan kilat sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Hebat bukan main ilmu kepandaian wanita ini. Sebelum menjadi anak buah Wasi Bagaspati, Sariwuni sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apalagi setelah ia menjadi murid Wasi Bagaspati, murid tersayang dan juga kadang-kadang menjadi kekasih sang wasi, ia menerima pelbagai aji kesaktian yang dahsyat, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang tidak mudah dipelajari sembarang orang.

Terhadap pemuda itu, ia maslh menaruh rasa sayang dan hanya ingin merobohkan tanpa membunuhnya karena ia masih menaruh harapan untuk menaklukkan dan menguasai pemuda yang menimbulkan seleranya dan membuatnya mengilar itu. Maka biarpun ia kini menerjang dengan dahsyat, ia masih belum mengeluarkan ajinya yang hebat itu, juga masih belum menyentuh gagang pedangnya yang terselip di pinggang.

Akan tetapi sekali ini ia benar-benar kecelik. Serangannya yang dahsyat itu disambut dengan sikap tenang saja oleh Joko Pramono, bahkan kini pemuda itu yang tahu akan kesaktian lawan, membalas dengan pukulan-pukulan yang juga cepat dan antepnya tidak kalah oleh lawan! Terjadilah pertempuran yang amat seru di antara mereka sehingga debu mengebul di pagi hari itu dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali.

Pusporini sekarang telah menemukan kembali kepribadiannya, menemukan kembali ketangkasan dan ketabahannya, setelah mengalami guncangan batin yang hebat di puncak Gunung Mentasari. Menghadapi pengeroyokan dua orang Gagak, makin lama makin timbul kembali kegembiraannya bertanding, bangkit kembali semangatnya.

Mula-mula, kedua orang Gagak itu seakan berlomba untuk menangkapnya, untuk memeluk mendekapnya dan memondongnya kembali ke puncak agar mereka selain dapat mendekap tubuh yang muda menggairahkan itu, juga akan mendapat pujian dari Sang Wasi Bagaspati. Akan tetapi ternyata gadis itu lebih licin daripada belut, lebih tangkas daripada monyet dan tubuh yang langsing itu dapat berkelebatan laksana seekor burung srikatan! Berkali-kali mereka menubruk, namun selalu menangkap angin dan ketika Pusporini sudah bangkit benar-benar semangatnya, dara remaja ini bahkan mengelak sambil menampar!

"Plak! Plenggg.....

Tubuh dua orang raksasa itu terpelanting. Gagak Dwipa jatuh terduduk, megap-megap seperti ikan terlempar di darat karena dadanya terkena dorongan telapak tangan yang halus, yang kecil, akan tetapi mengandung tenaga mujijat itu. Serasa terhenti jalan napasnya dan ia terengah-engah sambil memandang dengan mata melotot, penuh keheranan, kekagetan, dan juga kemarahan. Adapun Gagak Kroda yang kena ditempiling pelipisnya, terpelanting dan bergulingan di atas tanah, lalu bangkit duduk dengan mata juling. Bumi dan pohon-pohon di sekelilingnya serasa berputaran, tanah yang didudukinya bergelombang. Setelah ia menggoyang-goyang kepalanya dengan keras, barulah agak reda kepeningan kepalanya.

Pusporini berdiri tegak menanti, bibirnya yang manis tersenyum mengejek. Dia kurang pengalaman sehingga ia tidak tahu bahwa dua orang yang terkena pukulan Aji Pethit Nogo hanya terpelanting dan tidak tewas atau terluka itu sesungguhnya merupakan hal yang aneh, menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya itu memiliki kekebalan yang luar biasa. Maka ia cukup girang melihat betapa tamparan tangannya membuat kedua lawan itu roboh.

"Demi iblis.... ! Tangan kecil halus itu... kuat benar pukulannya!" Gagak Dwipa berseru sambil melompat bangun.

"Huh-huh, kita telah bersikap ceroboh tadi, Kakang Dwipa. Kita lupa bahwa gadis ini adalah adik Tejolaksono, tentu saja bukan sembarangan bocah." Diapun sudah melompat bangun dengan gerakan yang sigap.

Gagak Dwipa melangkah maju menghampiri Pusporini, sikapnya penuh ancaman, wajahnya bengis ketika ia berkata,

"Hamm, bocah, jangan kau tertawa-tawa dulu dan mengira akan dapat mengalahkan kami! Kau bocah kemarin sore masih bau pupuk dringo, lebih baik kau menyerah baik-baik agar kami bawa kembali ke puncak menghadap sang wasi karena kalau kau tetap berkeras menolak dan terpaksa kami mempergunakan paksaan, tidak urung kau akan mengalami sakit-sakit dan kalau hal ini terjadi, sungguh sayang kalau kulitmu yang halus sampai lecet-lecet, dagingmu yang muda ranum akan terluka."

Pusporini yang sudah "mendapat hati" melihat betapa tadi ia dapat merobohkan kedua orang lawannya, kini tersenyum mengejek.

"Dua ekor lutung korengen yang menjemukan! Kalian masih banyak cakap lagi! Sungguh tak tahu diri. Lebih baik kalian cepat-cepat minggat dari depanku sebelum kupatahkan batang leher kalian! Aku Pusporini sama sekali tidak gentar menghadapi gertak sambelmu!"

Gagak Dwipa melebarkan matanya dan menoleh kepada saudaranya. "Wah....wah, bocah ini memang tidak boleh diberi hati. Hayo, kita beri hajaran biar dia kapok, adi Kroda!"

Dua orang Gagak itu kini menyerbu maju, masih seperti tadi hendak mencengkeram dan menangkap, akan tetapi kalau tadi melakukan hal ini secara sembrono, kini mereka berhati-hati. Pusporini seorang dara remaja yang cerdik sekali. Biarpun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan, namun ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentu bertenaga besar sekali dan kalau ia harus mengadu tenaga, la akan menderlta rugi. Oleh karena Itu, la segera mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan biarpun Aji Bayu Sakti yang ia pelajari belum sempurna benar, namun sudahlah cukup untuk membuat tubuhnya berkelebatan cepat sekali sehingga dengan mudah ia dapat mengelak dari tubrukan-tubrukan kedua orang itu.

Gagak Dwipa melengak heran ketika ia menubruk tempat kosong dan tahu-tahu lawannya sudah hilang. Akan tetapi Gagak Kroda cepat menyusul gerakan saudaranya dan menyambar pinggang Pusporini dari belakang. Kembali gadis itu menyelinap dan hanya hawa pukulan Gagak Kroda saja yang mampu menyentuh pinggangnya. Sambil mengelak, Pusporini sudah menotolkan ujung kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya melayang naik, dan cepat ia turun di belakang Gagak Dwipa, tangan kirinya menampar ke arah punggung.

Gagak Dwipa juga bukan seorang lemah. Dia adalah orang pertama dari Lima Gagak Serayu, ilmu kepandaiannya tinggi dan tentu saja ia maklum akan datangnya tamparan dari belakang ini. Kalau tadi dia dan adiknya sampai menjadi korban tamparan tangan Pusporini adalah karena mereka berdua memandang rendah dan mengira bahwa tamparan tangan dara yang halus itu akan menimpa tubuh mereka yang kebal seperti pijatan mesra. Kini ia cepat miringkan tubuhnya, menekuk siku tangannya dan menangkis tamparan itu. Pusporini tidak menarik kembali tangannya melainkan mengerahkan tenaga dan sengaja mengadu lengannya untuk mengukur tenaga lawan.

"Dukk...!" Lengan yang kecil berkulit halus itu beradu dengan lengan yang besar kasar berbulu, dan akibatnya tubuh Pusporini terpental ke belakang! Akan tetapi hal ini hanya berarti bahwa dara itu kalah dalam hal tenaga kasar, sebaliknya, ia menang dalam tenaga dalam, buktinya raksasa itu kini meringis dan menggosok-gosok lengannya yang beradu dengan lengan dara itu, yang kini terasa panas seperti bertemu besi merah bernyala dan seperti ditusuk-tusuk jarum!

"Rebahlah !" bentak Gagak Kroda yang marah sekali dan penasaran. Ia menubruk dari belakang, tangannya menghantam ke arah pundak dara itu.

Pusporini hanya memutar tumit menggeser kaki. Lengan yang panjang besar lewat di samping pundaknya, dara ini cepat menusuk dengan jari tangan ke lambung lawan.

"Ngekkk....!" Gagak Kroda sudah mengeraskan lambung bahkan disusul gerakan tangan menangkis, namun karena lambungnya sudah "dimasuki" jari tangan yang menotok dengan tenaga mujijat itu, seketika tubuhnya berputaran dan ia memegangi lambungnya sambil meringis-ringis. Perutnya mendadak terasa mulas sekali, seperti diremas-remas dari dalam, seperti orang terlalu banyak makan lombok sehingga kalau saja ia tidak memiliki hawa sakti untuk menahannya, tentu pada saat itu juga ia sudah kecirit-cirit terberak-berak di dalam celana saking nyerinya!

cerita silat online karya kho ping hoo

Kemarahan dua orang Gagak itu membuat mereka menjadi gelap mata, tidak ingat lagi bahwa dara ini harus ditangkap hidup-hidup dan dibawa kembali kepada Wasi Bagaspati. Mata mereka menjadi merah, menyinarkan nafsu membunuh, tidak ingat apa-apa lagi. Dengan teriakan seperti lolong srigala, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda mencabut senjata mereka, yaitu sebuah golok yang melengkung dan tajam sekali sampai berkilau tertimpa matahari pagi.

"Perempuan setan, kuminum darahmu!" bentak Gagak Dwipa.

"Kuganyang dagingmu!" terlak pula Gagak Kroda.

Mereka berdua sudah menerjang maju, membacok dengan golok. Senjata mereka itu menyambar dengan cepat dan kuat sehingga mengeluarkan suara berdesing.

Pusporini maklum akan bahaya serangan mereka itu, maka iapun cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menyelamatkan diri, berkelebat ke sana ke mari menghindarkan sambaran dua batang golok. Pertandingan ini kini berjalan cepat sekali karena dua buah golok yang diputar-putar itu berubah menjadi gulungan dua sinar yang menggulung-gulung tubuh dua orang Gagak itu dan menyambar-nyambar ke arah Pusporini.

Namun gadis inipun hebat, tubuhnya berkelebatan dan yang tampak hanya bayangannya saja yang menyelinap di antara sambaran sinar golok. Untung bagi Pusporini bahwa kedua orang lawannya mempergunakan senjata golok karena justeru dia adalah seorang ahli permainan senjata golok seperti yang diajarkan rakandanya, yaitu Ilmu Golok Lebah Putih. Biarpun kini ia bertangan kosong, namun ia yang sudah mengenal sifat senjata golok dengan amat baiknya, kini tidaklah begitu terancam dan biarpun tampaknya terdesak, namun selalu dapat menghindar dan menanti kesempatan baik untuk merobohkan dua orang lawannya yang kuat.

Sementara itu, pertempuran antara Sariwuni yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada Gagak Dwipa atau Gagak Kroda, melawan Joko Pramono pemuda remaja yang jenaka dan aneh itu, makin lama menjadi makin seru dan hebat sekali. Tadinya Sariwuni yang tergila-gila kepada pemuda ganteng ini tidak mengirim serangan maut, karena ia merasa sayang kalau membunuhnya, hanya ingin menaklukkan dan menguasainya. Akan tetapi makin lama wanita ini menjadi makin penasaran karena semua terjangannya dapat dielakkan atau ditangkis pemuda itu dan setiap lengan mereka bertemu, Sariwuni merasa betapa lengannya tergetar.

Ketika dengan rasa penasaran Sariwuni untuk ke sekian kalinya meloncat tinggi dan dari atas tubuhnya menyambar turun, menubruk dan hendak memeluk pemuda itu agar dapat ia ringkus dan dibuat tidak berdaya, Joko Pramono tertawa mengejek, akan tetapi membiarkan diri terjengkang ke belakang dan terjatuh. Ia seolah-olah sudah tidak berdaya lagi dan Sariwuni girang bukan main. Melihat pemuda itu terjengkang dan kedua lengannya terbuka seolah-olah menanti dia menubruk untuk dipeluk, Sariwuni tertawa dan berkata,

"Aduh, bocah bagus, akhirnya kau menyerah...." la menubruk dengan kedua lengan terpentang.

"Aiilhhhh.... dessss....!!" Tubuh Sariwuni terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya dan ia terbanting ke atas tanah lalu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan.

Kiranya ketika ia menubruk tadi, Joko Pramono yang kelihatan tidak berdaya itu mengirim sebuah tendangan yang tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka sama sekali sehingga tepat mengenai perut lawan!

Wajah yang cantik dan tadinya tersenyum-senyum genit itu seketika berubah. Kini pandang matanya penuh kemarahan, sepasang mata yang indah bentuknya itu kini menjadi melotot merah, hidungnya kembang-kempis dan mulutnya cemberut, wajahnya diliputi kemarahan. Sariwuni menjadi marah bukan main. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak, jari tangannya bergerak seperti kuku harimau dan terdengar suara berkerotokan ketika kedua tangannya itu perlahan-lahan berubah warnanya, mula-mula kemerahan, lalu merah tua kehitaman, akhirnya berubah menjadi hitam sama sekali, dari pergelangan tangan sampai ke ujung kuku jari tangannya! Kini sinar maut membayang di wajahnya, memancar keluar dari matanya ketika ia melangkah maju menghampiri Joko Pramono, mulutnya menyeringai dan membuat wajahnya yang cantik menjadi mengerikan.

"Keparat, tak tahu disayang...kau memang patut mampus!" Mulutnya mengeluarkan ucapan ini lirih dan lambat, namun secara tiba-tiba ia sudah menerjang maju, kedua tangannya seperti cakar harimau, gerakannya cepat dan kuku serta tangan itu menjadi bayangan hitam yang mengeluarkan bau busuk memuakkan, amis dan keras seperti bau bangkai!

Joko Pramono cepat menghindarkan diri dengan loncatan tinggi ke kiri. Pemuda ini tidak mau senyum-senyum lagi, tidak berani main-main lagi karena ia maklum betapa hebat dan jahatnya kedua tangan wanita itu. Biarpun ia tidak tahu jelas aji sesat apakah yang digunakan wanita itu, namun ia dapat menduga bahwa tentu kuku-kuku tangan wanita itu mengandung racun yang ampuhnya menggila. Oleh karena dugaan ini, maka ia tidak berani sembarangan menangkis beradu lengan, malah berdekatan pun ia tidak berani melainkan mengelak dan mengandalkan kecepatan dan kelincahannya urituk menghindar ke sana ke marl.

Tanpa disengaja atau diatur terlebih dahulu, keadaan pemuda ini sama benar dengan keadaan Pusporini. Juga dara remaja ini berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri daripada pengeroyokan dua buah golok lawan yang menyambar-nyambar laksana sepasang tangan maut. Dan karena pertandingan yang tadinya menjadi dua rombongan ini sifatnya sama, yaitu dua orang muda itu berloncatan ke sana-sini dan lawan-lawannya melakukan pengejaran dan desakan, maka lambat-laun pertandingan itu saling berdekatan, bahkan kini bayangan Pusporini dan Joko Pramono kadang-kadang bertukar tempat dan bersilang!

Tanpa disengaja oleh dua orang remaja itu, hal ini amat menguntungkan. Di dalam kemarahan para lawan, baik dua orang Gagak yang mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada Pusporini, maupun Sariwuni yang mencurahkan perhatian kepada Joko Pramono tanpa memperdulikan hal-hal lain, dua orang remaja ini mendapat kesempatan untuk balas memukul bukan kepada lawan sendiri, melainkan kepada lawan lain yang tidak menyerang mereka!

Demikianlah, ketika Pusporini meloncat jauh ke belakang, mengelak daripada sambaran dua batang golok para pengeroyoknya, secara kebetulan sekali ia tiba di dekat Sariwuni yang mendesak Joko Pramono. Pemuda inipun meloncat jauh dan Sariwuni membalikkan tubuh untuk mengejar. Saat ini pundaknya menyentuh pundak Pusporini dan dara remaja itu dengan kemarahan meluap-luap karena belum juga dapat membalas dua orang lawannya, lalu memutar lengan mengirim hantaman sambil mengerahkan Aji Bojro Dahono!

Aji pukulan yang ampuhnya menggiriskan ini baru ia latih setengah bagian, belum matang, namun akibatnya hebat sekali. Sariwuni yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat hantaman dari Pusporini karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada Joko Pramono, menjerit lirih dan tubuhnya terputar-putar, kedua tangannya memegangi kepala yang tadi kena hantaman. Seluruh kepalanya terasa panas seperti dibakar, membuat air matanya bercucuran tak dapat ia cegah lagi dan akhirnya Sariwuni jatuh terduduk di atas tanah sambil meramkan mata. Wanita ini maklum bahwa ia menderita luka pukulan sakti, maka ia cepat mengerahkan hawa sakti di tubuhnya untuk memulihkan keadaan dirinya.

Pusporini yang tanpa sengaja sudah merobohkan Sariwuni, kini menengok dan alangkah mendongkol hatinya ketika ia melihat betapa pemuda kurang ajar itu kini menggantikan dia menandingi kedua orang Gagak. Ia mendengus dan menerjang maju, saking marahnya maka terjangannya pun hebat bukan main. Gagak Dwipa dan Gagak Kroda kini sedang mengeroyok Joko Pramono, melihat robohnya Sariwuni hati mereka menjadi giris, juga marah terhadap Pusporini. Tadi mereka terpaksa melayani pemuda ini karena si pemuda menerjang mereka kalang-kabut seperti orang gila, akan tetapi sekarang melihat Pusporini, mereka cepat memalingkan perhatian mereka dan segera mendesak dara itu dengan kelebatan golok mereka yang makin cepat dan makin kuat saja. Pusporini terpaksa kembali mengandalkan kelincahan tubuhnya, berkelebat mengelak.

"Eh, Bajul, tidurlah!" tiba-tiba Joko Pramono berteriak.

"Takkk!! Aduhhh... Gagak Kroda tiba-tiba membuang goloknya dan berjingkrak-jingkrak memegangi kaki kanannya dengan kedua tangan, berloncatan di atas kaki kirinya, berputar-putar dan mengaduh-aduh, meringis dan menangis karena rasa nyeri yang datang dari kakinya itu menembus ke tulang sumsum.

Orang yang pernah mengalami betapa nyerinya gares kaki (tulang kering) digajul, tentu akan memaklumi penderitaan Gagak Kroda ini. Kiranya Joko Pramono yang tadi turun tangan membantu Pusporini, dari belakang ia menyapu kaki dan menggajul gares raksasa itu.

Pusporini makin marah, bukan terhadap lawan melainkan terhadap pemuda kurang ajar itu yang telah berlancang tangan merobohkan musuhnya. Ia mengerahkan tenaga, menyalurkan Aji Pethit Nogo menampar lengan Gagak Dwipa yang datang menyerang dengan golok. Sambil melejit ke samping, ia menyambut serangan itu dengan tamparan yang menangkis, kemudian terus disusul dengan tusukan jari tangan ke dada lawan dengan Aji Pethit Nogo.

"Trangg... huuukkk!" Gagak Dwipa yang tadinya terkejut menyaksikan, adiknya berjingkrakan, menjadi terpecah perhatiannya. Ketika lengannya berciuman dengan jari-jari tangan yang penuh berisi hawa sakti Aji Pethit Nogo, lengan itu sendiri menjadi lumpuh sehingga goloknya terlepas, kemudian totokan jari tangan pada dadanya membuat napasnya seketika terhenti. Gagak Dwipa menekuk tubuhnya ke depan, terbatuk-batuk dan terengah-engah. Kemudian iapun lari tunggang-langgang karena melihat betapa Sariwuni dan Gagak Kroda juga sudah lari mendaki bukit. Gagak Kroda masih mengaduh-aduh dan terpincang-pincang, Sariwuni lari sambil memegangi kepala seolah-olah wanita itu khawatir kalau-kalau kepalanya copot, sedangkan Gagak Dwipa lari dengan membungkuk-bungkuk dan terengah-engah.

Joko Pramono berdiri menolak pinggang dan tertawa bergelak memandang ke arah tiga orang yang sedang berlomba melarikan diri itu. Akan tetapi tiba-tiba ia melempar tubuhnya ke kiri, menjatuhkan diri dan bergulingan, mengelak dari serangan Pusporini yang memukulnya bertubi-tubi dan gencar.

"Eh-eh.... wah.... Apa-apaan ini?" Joko Pramono sudah melompat berdiri dan kini berdiri menghadapi Pusporini yang memandangnya dengan sepasang mata marah. "Tidak ada hujan tidak ada angin, kau menyerang seperti kilat menyambar-nyambar! Apa.... kau..... begini.....?" Joko Pramono meraba dahi dengan telunjuk dimiringkan.

Terbelalak mata Pusporini saking marahnya. Cuping hidungnya kembang-kempis, mendengus-dengus, dadanya turun naik bergelombang.

"Apa? Kau anggap aku gila? Kau yang miring otakmu, tidak jejeg! Engkau yang gila, gendeng, edan, goblok, tolol!"

"Heeitit, heeittt, cukup! Kalau kau tidak miring, kenapa engkau marah-marah dan menyerangku seperti seekor kucing terpijak ekornya?"

Mata yang jernih bersinar-sinar itu makin lebar. "Apa? Kau maki aku kucing? Berani benar kau, keparat jahanam! Engkau monyet munyuk, lutung kethek! Engkau celeng-gotheng, bajul darat, engkau tikus kadal coro..."

"Walah-walah.... cukup! Katakan saja aku ini segala macam binatang di hutan, kan lebih lengkap dan tidak perlu menghambur-hamburkan kata-kata? Eh, engkau bocah perempuan yang galak seperti kucing beranak, kenapa engkau marah-marah dan membenci aku begini rupa? Kita saling kenalpun tidak, kenapa engkau memusuhiku?"

Pusporini menudingkan telunjuknya ke arah hidung Joko Pramono dan kembali pemuda ini merasa tidak enak kalau tidak meraba-raba hidungnya yang ditunjuk.

"Engkau pemuda keparat. Engkau bocah yang masih hijau berani bertingkah di depanku! Engkau telah melakukan dosa dua kali dan masih pura-pura bertanya lagi! Hemm, aku tidak akan sudah kalau belum memenggal batang lehermu!"

Joko Pramono kini meraba lehernya dan bergidik. Galak benar wanita ini, akan tetapi juga amat lucu.

"Hemm, memang aku masih hijau, akan tetapi setidaknya hijau tua seperti daun, sedangkan kau masih hijau pupus! Kau bilang aku mempunyai dua macam dosa? Wahai, ampunilah kiranya hambamu, Sang Hyang Dewi dari kahyangan! Kalau hamba berdosa sampai dua kali, dosa apakah gerangan?" Pemuda itu sengaja mengejek karena ia merasa penasaran sekali.

"Dasar laki-laki bajul yang lidahnya bercabang!"

Mendengar ini, otomatis Joko Pramono menjulurkan lidahnya keluar dari mulut dan matanya sampai menjadi juling, kedua manik mata mendekati hidung ketika ia berusaha sedapat mungkin melihat ujung lidahnya, untuk melihat apakah lidahnya benar-benar bercabang seperti lidah ular. Gerakan ini tidak dibuat-buat dan amatlah lucunya sehingga hampir saja Pusporini tertawa. Gadis inipun berwatak lincah periang, akan tetapi karena ia ingat bahwa pada saat itu ia sedang marah, maka tentu saja ia tidak sudi tertawa, bahkan segera menyambung kata-katanya,

"Manusia tak tahu diri! Pertama, engkau tadi secara kurang ajar dan tidak sopan telah melanggar susila, berani mampus engkau memangku aku setelah menjegal kakiku ketika aku lari. Dosa ini saja sudah cukup menjadi sebab mengapa aku memusuhimu, kemudian kau susul dengan dosa ke dua, yaitu kau berani sekali membantu aku merobohkan seorang di antara pengeroyokku! Ini namanya penghinaan dan kau memandang rendah kepadaku. Apa kaukira aku butuh akan bantuanmu? Apa kau kira engkau ini yang paling gagah, yang paling pandai; yang paling perkasa di dalam dunia maka kauanggap perlu sekali membantuku?"

Joko Pramono menjadi penasaran sekali. Ia membusungkan dadanya yang bidang, dagunya berkerut sehingga lekuk di tengahnya tampak nyata, giginya berkerot dan matanya yang tajam itu bersinar-sinar.

"Eh-eh-eh, nanti dulu. Enak saja engkau menjatuhkan fitnah. Memfitnah lebih keji daripada membunuh, kau tahu? Pertama-tama kau fitnah aku menjegal kakimu dan memangkumu. Padahal sesungguhnya, seperti kukatakan tadi, aku sedang tidur dan kakiku kulonjorkan, siapa menjegal orang? Apakah engkau sendiri yang tidak dapat menggunakan mata dengan baik, tidak melihat kakiku, kautendang dan sandung saja sampai kau terjatuh ke atas kedua pahaku. Bukan aku menjegal dan memangku, malah engkau sendiri yang menyandung dan menjatuhi pangkuanku! Sekarang hal ke dua yang kaukatakan dosaku itu. Kau bilang aku membantumu? Sama sekali tidak! Malah engkau sendirilah yang mula-mula membantuku dan memukul iblis betina tadi sampai ia roboh. Karena dua orang laki-laki raksasa tadi adalah kawan-kawan si iblis betina, tentu saja aku lalu menyerang mereka dan berhasil merobohkan seorang di antara mereka. Aku sama sekali tidak membantumu, justeru engkaulah yang pertama kali membantuku dengan merobohkan iblis betina itu!"

"Wah, memang kau pintar bicara seperti Patih Sangkuni, atau Pendeta Durna! Kalau aku tersandung kakimu dan terjatuh, itu tidak kusengaja, keparat! Dan kalau aku menyerang si perempuan rendah Sariwuni atau membunuhnya sekalipun, sama sekali bukan membantumu. Kau ini apaku maka aku membantu-bantu? Huh! Bukan membantumu, memang dia musuh besar keluarga kami, musuh besar rakanda Adipati Tejolaksono!" Dalam ucapan ini, selain menyangkal dan membantah, juga dara remaja ini setengah sengaja menyebut nama rakandanya yang ia tahu amat terkenal untuk menaikkan "gengsinya" di mata pemuda itu. Hati dara ini girang bukan main karena ternyata dugaannya tepat. Pemuda itu kelihatan terkejut sekali dan wajahnya berubah, tidak tersenyum-senyum seperti tadi, bahkan lalu berkata,

"Apa? Engkau keluarga Sang Adipati Tejolaksono di Selopenangkep?"

Pusporini mengangkat dadanya yang membusung, matanya bercahaya, wajahnya berseri penuh kebanggaan ketika ia berkata,

"Aku Raden Ajeng Pusporini, adik misan gustimu Adipati Tejolaksono!" Ia percaya bahwa pemuda ini sekarang tentu akan lenyap watak dan sikapnya yang sombong, tentu akan cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepadanya, menggigil ketakutan karena telah berani bersikap kurang ajar terhadap sang puteri bangsawan sehingga ia akan dapat dengan sepuas hati menegur dan menghukumnya.
Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu tertawa mengejek, lalu berkata,

"Ah, pantas saja engkau begini galak dan sombong! Kiranya engkau adalah anggota keluarga kadipaten yang terkenal sombong itu! Hemm... !

Pusporini kaget dan marah sekali. Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini sama sekali tidak menaruh hormat bahkan mengejek dan menyatakan bahwa keluarga Kadipaten Selopenangkep sombong. Ia membanting kaki dan menudingkan telunjuknya, mukanya merah dibakar kemarahan.

"Heh, si keparat bocah gunung nangnung yang kurang ajar! Berani kau menghina Kadipaten Selopenangkep? Sebelum aku turun tangan membunuhmu, mengakulah siapa gerangan engkau ini agar kelak aku dapat menerangkan kepada rakanda adipati. Kalau sudah terlanjur aku turun tangan, tentu mayatmu tidak akan dapat memberi keterangan lagi!"

Pemuda itu tertawa lagi, tertawa mengejek. Wajahnya yang tampan itu membuat Pusporini makin marah karena ketampanan dan senyum itu mengejeknya!

"Sombongnya bukan main! Eh, perawan bangsawan, kau dengarlah. Aku bernama Joko Pramono. Rumahku adalah jagat ini, asalku dari atas angin. Hidupku di alam bebas, beratap langit berlantai tanah bertilam rumput, berdinding batu dan pohon, siang hari berdian surya, malam hari berdian bulan dan bintang..."

"Stop... Aku hanya ingin mengetahui namamu. Tidak perduli kau datang dari dasar neraka, hari ini adalah saat ajalmu.... !"

"Wah, sumbarmu seperti kicau burung nuri! Boleh coba-coba kalau kau mampu membunuhku, kalau tidak mampu, aku akan menawanmu, bocah sombong...!"

cerita silat online karya kho ping hoo

"Setan mampuslah!" Pusporini berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju, mengirim pukulan dengan Aji Pethit Nogo mengarah pelipis kiri lawan.

Joko Pramono bukanlah seorang pemuda yang sembrono. Biarpun wataknya periang dan jenaka, bahkan agak ugal-ugalan, akan tetapi ia cukup mengerti bahwa dara remaja yang galaknya kepati-pati (amat luar biasa) ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan bahwa pukulan yang dilancarkan ini adalah aji yang amat ampuh. Maka ia tidak berani menerimanya, apalagi pelipis merupakan bagian kepala yang ringkih (lemah). Tanpa merubah kedudukan tubuh karena ingin menguji keampuhan tangan lawan, Joko Pramono mengangkat tangan kiri ke atas, sengaja menerima dan menangkis telapak tangan dara itu dengan telapak tangannya yang dikipatkan.

"Plakkk....!!" Dua tangan bertemu dan akibatnya Joko Pramono terpelanting ke belakang dan hampir saja ia roboh kalau ia tidak cepat melompat ke atas dan berjungkir-balik. Matanya terbelalak memandang dara itu, penuh kekaguman dan kekagetan. la sudah menyangka bahwa Pusporini seorang dara sakti, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa pukulannya ampuhnya bukan buatan!

"Ihh, takutkah engkau? Laki-laki macam apa, baru sekali gebrakan saja mukanya sudah berubah hijau!" Pusporini mengejek dan menerjang maju lagi.

"Aehh, sombongnya. Siapa takut padamu!" Joko Pramono panas juga perutnya oleh ejekan ini, ketika Pusporini menghantamnya lagi dengan Aji Pethit Nogo, ia cepat miringkan tubuh mengelak dan secara tiba-tiba tubuhnya merendah, hampir berjongkok dan dari bawah ia mendorong dengan kedua tangannya ke arah tubuh lawan.

Pusporini terkejut ketika merasa betapa dari kedua tangan pemuda itu menyambar keluar hawa pukulan yang amat kuat dan panas. Cepat ia mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tangan kanannya.

"Wesss...!" Sebelum tangannya yang menangkis itu bertemu dengan kedua tangan lawan, tubuhnya sudah terdorong ke belakang tanpa dapat dicegahnya lagi, kakinya terhuyung-huyung ke belakang dan hampir ia roboh.

Untungnya tangan kirinya dapat menyambar ranting sebatang pohon sehingga ia dapat meloncat dan mengatur keseimbangan tubuhnya. Kini ia memandang dengan penuh kemarahan. Kedua pipinya merah dan matanya menyinarkan cahaya berapi.

"Heh-heh-heh, kau kenapa? Jerih sekarang, ya? Belum lecet belum benjol sudah jerih. Wanita gagah macam apa ini?" Joko Pramono balas mengejek.

"Ooohhh, kau.... kau..... rasakan pembalasanku, bocah dusun!" Dengan kemarahan yang meluap-luap kini Pusporini menerjang maju, mengerahkan kegesitan dengan Aji Bayu Sakti sambil menggerak-gerakkan kedua lengan mengirim pukulan-pukulan ampuh. Saking jengkel dan marahnya menghadapi pemuda yang pandal mengejek dan tidak kalah sombongnya ini, ia menyerang seperti seekor banteng terluka, menyeruduk saja tanpa perhitungan lagi, penuh nafsu dan keinginannya hanya satu, yakni merobohkan pemuda sombong kurang ajar ini!

Justeru kemarahan meluap-luap inilah kesalahan Pusporini. Dara remaja ini sesungguhnya telah memiliki ilmu kesaktian yang hebat dan jarang ada tandingnya, dan sungguhpun pemuda itupun ternyata sakti mandraguna, namun tingkat kepandaiannya tidaklah jauh lebih unggul daripada Pusporini. Tingkat mereka seimbang dan biarpun Pusporini agaknya kalah sedikit dalam hal tenaga, namun dara ini menang sedikit dalam kecepatan sehingga kalau mereka bertanding dalam keadaan sama tenangnya, tentu tidak akan ada yang dapat dikalahkan dalam waktu singkat.

Akan tetapi, Pusporini seperti terbakar saking gemas dan marahnya, sebaliknya pemuda itu tenang-tenang saja bahkan kadang-kadang tertawa mengejek dan tersenyum-senyum. Di sinilah letak kekalahan Pusporini yang makin lama menjadi makin marah karena terdorong oleh hati yang penasaran. Sampai sejam lebih ia menerjang dan mengeluarkan pelbagai aji pukulan yang ampuh-ampuh, namun selalu dapat dihindarkan pemuda itu dengan mengelak atau menangkis. Belum pernah satu kali juga ia berhasil mengenai tubuh pemuda itu maka ia menjadi makin ganas dan nekat.

"Sudahlah, sampai habis seluruh kepandaianmu, sampai putus napasmu, tidak mungkin kau dapat mengalahkan aku, heh-heh!" Joko Pramono mengejek.

"Ssssetan...!" Pusporini mendesis marah dan menghantam dengan aji pukulan Bojro Dahono yang ampuhnya menggiriskan itu. Biarpun belum sepenuhnya ia menguasai aji pukulan ini, namun kalau mengenai kepala lawan, kepala itu akan hancur berikut isi kepalanya, kalau mengenai dada tentu akan ambrol dengan tulang iga patah-patah.

"Heeeiiiittt!" Dengan gerakan indah dan lagak mengejek memanaskan hati Joko Pramono merendahkan tubuhnya sehingga dua pukulan tangan dara itu lewat di atas kepalanya. Dari bawah, dengan cepat sekali kini Joko Pramono mengirim pukulan dorongan seperti tadi, pukulan dorongan yang berhawa panas dan kuat sekali, ke arah lambung Pusporini. Dara itu cepat mencelat ke atas sambil menangkis, akan tetapi tiba-tiba ia menjerit dan tubuhnya terguling. Kiranya pemuda itu tadi memukul hanya sebagai gertakan atau pancingan saja karena begitu dara itu mengelak, kakinya menjegal dan tepat mengenai kedua kaki Pusporini, mengait betis sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Pusporini terguling. Sebelum dara itu sempat memperbaiki posisinya, Joko Pramono sudah menubruk, menangkap kedua lengan Pusporini, memutar dan menelikungnya ke belakang.

"Kau curang...! Lepaskan aku... ! Lepaskan... !" Pusporini meronta-ronta dan berteriak-teriak marah. Ia marah sekali sampai hidungnya mendengus-dengus dan mulutnya terengah-engah.

"Enak saja dilepaskan. Susah-susah aku merobohkanmu...!"

"Kau curang...! Kau menjegal! Mana ada aturannya bertanding pakai jegal-jegalan?" Pusporini memprotes. Akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikannya, bahkan kini dara itu merasa betapa kedua pergelangan tangannya dibelenggu dengan ikat kepala pemuda itu!

"Keparat! Bedebah! Setan kurang ajar kau! Lepaskan aku kalau tidak....!!"

"Kalau tidak.... mau apa.... ?" Enak saja Joko Pramono bertanya, suaranya penuh ejekan.

"Kubunuh kau.... Kucekik kau.... Ku.... !"

"Cobalah kalau mampu!"

Pusporini marah sampai hampir menangis. Ia membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya tak dapat digerakkan, akan tetapi kakinya masih bebas dan tiba-tiba ia mengirim tendangan berantai dengan kedua kakinya. Kedua kaki itu bagaikan kitiran angin saja bergerak menendang bergantian mengarah lutut, pusar sampai ke dada.

"Heh-heh, kau benar-benar seperti seekor kuda betina! Hanya kuda yang menendang-nendang kalau marah!"

Makin jengkel Pusporini dan tendangannya yang terakhir terlalu keras sampai tubuhnya terbawa dan karena kedua tangannya dibelenggu ke belakang, maka ia kehilangan keseimbangan dan..."bukkk!" pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai terasa pegal dan linu. Sebelum ia sempat bangun, Joko Pramono sudah menyambar tubuhnya dan memondongnya. Lengan kiri pemuda itu merangkul kedua kaki, perut Pusporini menumpang di pundak dan dara itu meronta-ronta makin keras.

"Setan kurang ajar kau! Berani kausentuh aku! Berani kau memanggulku! Hayo lepaskan... lepaskan...."

Dengan kedua tangan yang terbelenggu, Pusporini memukul-mukul pundak dan punggung Joko Pramono, akan tetapi pemuda itu hanya terkekeh dan lari cepat membawa pergi tubuh dara itu menuju ke utara.

PERAWAN LEMBAH WILIS JILID 15

Thanks for reading Perawan Lembah Wilis Jilid 14 I Tags:

Share Article:

Previous
Next Post »